Anak Rajawali Lanjutan (Beruang Salju) Jilid 22

Mode Malam
 
Anak rajawali Jilid 22

Hatinya memang berbisik begitu, namun nyatanya dia tidak bisa menjelaskan yang sebenar-benarnya kepada Giok Hoa.

“Ko Tie Koko..... bagaimana?” tanya Giok Hoa yang jadi heran bercampur lucu melihat sikap Ko Tie.

Ko Tie seperti baru tersadar dari tidurnya, dia gelagapan.

“Oya, aku sedang memberitahukan kepadamu tentang kesulitanku itu!” katanya kemudian. “Dan seperti aku telah jelaskan, aku memang sesungguhnya tidak memiliki keberanian buat menanyakan kepada suhu apakah suhu cocok dengan tempat ini, karena.....!

“Karena apa, Ko Tie Koko?” tanya Giok Hoa ingin sekali mengetahuiuya. “Katakanlah, aku ingin sekali mendengarnya Ko Tie Koko..... Jika benar engkau memiliki kesulitan, siapa tahu aku bisa membantunya?!”

“Tetapi ini..... ini……!” Dan Ko Tie tidak bisa meneruskan perkataannya, dia mengangkat kepalanya memandang ragu kepada si gadis.

“Tetapi apa, Ko Tie Koko?!” mendesak Giok Hoa.

“Apakah engkau tidak akan marah jika hal ini kukatakan terus, terang?!” tanya Ko Tie.

Giok Hoa menggeleng.

“Tidak!” katanya kemudian. “Mengapa aku harus marah jika engkau terus terang menceritakan persoalanmu itu?!”

“Sesungguhn ya..... urusan ini menyangkut urusan kita berdua!” akhirnya Ko Tie bisa juga berkata seperti itu.

Tetapi waktu dia mengucapkan kata-kata itu, dia amat likat dan menundukkan kepalanya dalam-dalam. Dia malu dan jengah serta tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Dia seperti juga ingin cepat-cepat berlari menjauhi si gadis, karena perasaan malunya itu, diapun serasa ingin menyembunyikan mukanya di bantal.

Giok Hoa mementang matanya lebar-lebar, tampaknya dia tambah heran dan bingung.

“Menyangkut urusan kita berdua?!” tanya Giok Hoa akhirnya. “Ko Tie Koko, katakanlah yang jelas, aku sungguh-sungguh tidak mengerti..... maksudmu?!”

Ko Tie menghela napas, buat sementara dia tidak bisa berkata-kata, dia melirik si gadis beberapa kali, dan berusaha menenangkan hatinya, lalu katanya:

“Apakah benar-benar engkau tidak akan marah jika aku menjelaskan, Hoa-moay? Berjanjilah Hoa-moay!”

“Ya, katakanlah, apa saja yang kau katakan, aku tidak akan marah!” menegaskan si gadis.

“Sesungguhnya..... suhuku telah mengetahui bahwa aku...... aku…..!”

“Kenapa dengan kau, Ko Tie Koko?!”

“Aku..... menyukaimu..... Hoa-moay, aku mencintaimu!” menjelaskan Ko Tie.

Giok Hoa tertegun sejenak, kemudian dengan muka berobah merah terasa panas, dia menunduk dalam-dalam. Inilah pernyataan Ko Tie yang membuat hatinya bergoncang hebat sekali. Dia tidak menyangka bahwa pemuda itu akan menyatakan isi hatinya begitu saja.

Melihat si gadis berdiam diri dengan kepala tertunduk dalam-dalam, Ko Tie tambah bingung.

“Hoa-moay, apakah engkau marah?” tanya tergagap, sebab ia menduga Giok Hoa tersinggung dan marah mendengar pertanyaannya.

Giok Hoa masih menunduk, namun dia menggeleng perlahan dan dengan suara yang perlahan serak ia menyahuti: “Tidak.....!”

Dan kemudian setelah hatinya tenang kembali, dia mengangkat kepalanya. Dia memandang kepada Ko Tie dengan sinar mata penuh arti, katanya: “Dan apa hubungannya antara kau menyukai aku dengan putusan gurumu senang atau tidak tinggal di tempat ini?!”

Ko Tie sudah bisa menenangkan hatinya, karena melihat si gadis tidak marah.

“Sesungguhnya….. jika saja guruku tidak mengetahui bahwa aku menyukaimu, tentu aku bisa menanyakannya langsung soal keputusannya itu, sekarang justeru lain!”

“Mengapa lain?!”

“Dengan telah diketahuinya isi hatiku, jika aku menanyakannya, walaupun guruku merasa cocok, tentu dikatakannya tidak cocok buat mempermainkan aku!”

“Mengapa mempermainkan engkau jika gurumu mengatakan tidak cocok puncak Heng-san buat tempat pengasingannya ?!” tanya Giok Hoa tidak mengerti.

“Karena suhuku hendak mempermainkan aku, sebab jika suhuku tidak cocok, tentu dia akan mengajak aku meninggalkan Heng-san, berarti berpisah dengan kau, Hoa-moay!”

Waktu menjelaskan suara Ko Tie perlahan sekali, dia menunduk dalam-dalam. Giok Hoa sendiri senang bukan main mendengar ucapan Ko Tie seperti itu, hatinya bahagia sekali.

“Dan jika gurumu merasa cocok, Ko Tie Koko..... bagaimana..... apakah kau senang?” tanya Giok Hoa akhirnya.

“Tentu! Karena aku berarti bisa terus tinggal di sini, dan aku juga akan selalu berdekatan dengan kau, Hoa-moay!” menyahuti Ko Tie.

“Kau tidak akan marah Hoa-moay, aku telah menyampaikan apa yang kurasakan selama ini tersimpan di hatiku?!”

Giok Hoa mengangkat kepalanya, menatap si pemuda. Mata mereka bicara banyak sekali, si gadis menggeleng perlahan, dengan suara yang lirih dia hilang: “Akupun memiliki perasaan yang sama seperti yang engkau rasakan!”

Mata Ko Tie terbuka lebar-lebar, hatinya berdebar keras, wajahnya sebentar pucat dan sebentar merah, ia jadi tegang sendirinya, kemudian tanyanya: “Perasaan apakah yang kau rasakan itu, Hoa-moay?”

Si gadis menghela napas dalam-dalam, tampaknya dia ragu-ragu, sampai akhirnya dia bilang dengan kepala tertunduk:

“Akupun beberapa hari belakangan ini selalu gelisah saja karena aku ingin sekali menyampaikan sesuatu kepada suhu, namun aku tidak memiliki keberanian buat mengatakannya……!”

Hati Ko Tie jadi lemas lagi mendengar kata-kata si gadis. Semula dia mengharapkan si gadis akan membuka isi hatinya. Tadinya dia menduga tentunya Giok Hoa akan membuka isi hatinya sama halnya seperti yang telah diungkapkannya.

Tapi kenyataannya, si gadis maksudkan hatinya memiliki perasaan yang sama dengannya hanyalah disebabkan si gadis mengalami kegelisahan belaka. Namun untuk menutupi kekecewaannya itu, agar tidak terlihat Giok Hoa, dia bertanya juga:

“Mengapa engkau bisa bergelisah seperti itu, Hoa-moay? Bukankah jika engkau mengutarakannya kepada gurumu, beliau akan dapat membantu banyak padamu?!”

Giok Hoa menggeleng perlahan, kemudian katanya: “Sayang sekali, ku kira guruku tidak mungkin bisa membantu!”

“Mengapa begitu?!”

“Karena aku justeru ingin sekali pergi merantau, berkelana dari kota yang satu ke kota lainnya, untuk menambah pengalaman. Tentu guruku, walaupun mengijinkan, hatinya sebetulnya sangat berat sekali. Itulah sebabnya mengapa aku tidak mengatakannya!”

“Engkau ingin merantau?!” tanya Ko Tie sambil membuka matanya lebar-lebar. Dia heran sekali.

“Ya!” mengangguk si gadis. “Aku ingin berkelana untuk menambah pengalaman!”

“Jika demikian, mengapa engkau tidak mengatakannya saja kepada gurumu! Tentu itu merupakan maksud yang sangat baik-baik yang tidak akan ditentang oleh gurumu!”

Giok Hoa menghela napas dalam-dalam, kemudian katanya perlahan.

“Entahlah aku sendiri tidak tahu bagaimana harus menyampaikan perasaan hatiku ini! Dan setelah peristiwa hari itu, di mana aku dirubuhkan pemuda cebol yang jahat itu dalam keadaan tertotok, aku melihat sesungguhnya di luar dari gunung Heng-san ini masih banyak orang-orang yang memiliki kepandaian sangat tinggi! Hanya satu-dua jurus saja aku dapat dirubuhkan, karena dari itu, kukira tidak bisa aku selamanya belajar silat di gunungHeng-san ini tanpa mengenal dunia, aku harus berkelana untuk menambah pengalaman!”

“Jika demikian, kalau memang engkau tidak keberatan, aku bersedia menemani engkau berkelana, Hoa-moay!” Ko Tie menawarkan jasa baiknya.

Si gadis tersenyum.

“Kau sangat baik sekali, Ko Tie Koko!” kata si gadis menunduk malu. “Mengapa engkau demikian baik kepadaku!”

Ditanya demikian Ko Tie jadi berdebar lagi hatinya, namun kini ia telah “nekad”, maka dia bilang: “Karena…… karena engkau cantik seperti bidadari, engkau lembut dan baru sekali ini aku melihat di dunia ternyata ada seorang gadis secantik engkau!”

Si gadis mencibirkan bibirnya, tapi mukanya memerah senang, matanya berkilat-kilat cerah sekali.

“Kau ternyata selain memiliki ilmu silat yang tinggi, pun mempunyai kepandaian merayu wanita!” kata Giok Hoa tersenyum malu-malu. “Aku seburuk ini, mukaku jelek, seorang gadis gunung yang bodoh, mana mungkin bisa membuat hatimu tertarik?!”

“Hoa-moay, engkau selalu suka merendah. Apa yang kukatakan tadi bukan hanya sekedar memuji, tapi memang sesungguhnya begitu!”

Si gadis melirik dengan kerlingan yang tajam, dan bibirnya tersenyum manis sekali, pipinya merah membuat dia tambah cantik. Namun tanpa mengatakan sesuatu apa, dia memutar tubuhnya dan berlari kembali ke dalam rumah. Samar-samar terdengar tawanya yang penuh kebahagiaan.

Ko Tie terkejut melihat gadis itu ingin pergi meninggalkannya, dia memanggil, namun Giok Hoa tetap berlari dan sebentar saja lenyap dari pandangan Ko Tie. Pemuda itu tidak mengejarnya, dia berdiri tertegun di tempatnya, menghela napas dalam-dalam.

Dia telah memberitahukan isi hatinya, dan dari si gadis dia belum lagi memperoleh kepastian, apakah cintanya itu disambut atau memang dia hanya sekedar bertepuk sebelah tangan belaka?

Tetapi Ko Tie mengambil keputusan, bahwa ia akan, menegaskan hal tersebut, meminta kepastian dari Giok Hoa, apakah gadis itu menyambut cintanya atau memang menolaknya?

Tetapi Ko Tie yakin, dilihat dari sikap si gadis, tentu dia bukan gila basah mencintai si gadis seorang diri. Ia yakin seperti gayung bersambut, cintanya akan diterima gadis itu. Teringat akan hal itu, Ko Tie tersenyum sendirinya. Bukankah Giok Hoa memperlakukannya dengan baik-baik? Bahkan tidak jarang terlihat sikapnya yang mesra dan memperhatikannya?

Bukankah Giok Hoa pun telah mempercayai dia menceritakan isi hatinya padanya, hal itu menunjukkan bahwa si gadis telah menganggapnya sebagai orang yang paling dekat hubungannya dengannya?

Dan banyak lagi sikap si gadis yang menunjukkan bahwa dia memang memperhatikan Ko Tie. Dan Ko Tie tersenyum dengan langkah perlahan kembali ke dalam rumah, merebahkan diri di pembaringan, tapi pikirannya terus melayang-layang tidak juga mau tidur. Menjelang fajar barulab dia tertidur…….!”

Lam-yang merupakan kota yang cukup ramai terlebih lagi letaknya memang berdekatan dengan Siang-yang, sehingga boleh dibilang Lam-yang merupakan kota yang cukup hidup siang maupun malam hari.

Jika malam telah menyelimuti bumi dan daerah sekitar Lam-yang, maka mulai terdengarlah musik dan nyanyian dari beberapa tempat hiburan yang memang banyak terdapat di segala penjuru kota Lam-yang.

Pada sore itu, di luar kota Lam-yang berlari dua sosok tubuh gesit sekali. Mereka tampaknya memiliki gin-kang yang tinggi, karena kaki mereka masing-masing bagaikan tidak menyentuh tanah, tubuh mereka berkelebat begitu cepat menuju ke pintu kota Lam-yang sebelah barat. Sebentar lagi tentu malam akan tiba, maka mereka ingin segera tiba di kota Lam-yang untukmencari rumah penginapan dan beristirahat di sana.

Setelah berlari tidak lama, karena mereka berlari pesat sekali seperti itu, maka mereka telah tiba di pintu kota Lam-yang. Banyak orang yang memandangi mereka dengan sorot mata heran mengandung kagum karena gin-kang mereka yang menakjubkan, tapi kedua orang itu tidak acuh. Cuma saja, begitu memasuki kota Lam-yang, mereka segera berjalan biasa, karena keadaan sangat ramai, tidak leluasa buat mereka berlari terlalu cepat.

Mereka adalah dua orang berpakaian seragam sebagai tentara kerajaan dengan pangkat mereka sedikitnya sebagai perwira tinggi. Wajah mereka angker dan ke duanya memelihara berewokan yang tebal. Cuma perbedaannya, yang seorang bertubuh tinggi tegap, sedangkan yang seorang jauh lebih gemuk, walaupun gerakannya tetap sama lincahnya seperti kawannya yang seorang itu.

Mereka memandang sekeliling Lam-yang, lalu yang bertubuh tinggi tegap itu bilang, “Memang tidak salah pepatah tua yang menyatakan. Dengan selaksa renceng uang melibat pinggang, jangan kuatir kekurangan kegembiraan dan kenangan di Lam-yang!”

Kota ini dalam beberapa tahun saja telah mengalami banyak kemajuan, telah menjadi kota yang sangat ramai dengan gedungnya yang bertingkat.

“Ya!” menyahuti kawannya. “Cing Toako, tampaknya kita akan menghadapi cukup banyak lawan tangguh. Mulai sekarang kita harus berwaspada, karena jika sampai tugas kita ini bocor, niscaya kita akan menghadapi kesulitan yang lebih besar……”

“Hemmm, tetapi biarpun bagaimana banyak lawan kita, semua itu tidak akan menimbulkan kesulitan bagi kita! Percuma kita menjabat sebagai Komandan Gie-lim-kun dan Komandan Kim-ie-wie!”

Kawannya tertawa.

“Ya, memang sikap berhati-hati tidak ada salahnya. Apa jeleknya kita berwaspada, terlebih lagi kitapun mengetahui lawan-lawan kita bukanlah lawan yang ringan.”

Orang yang bertubuh tinggi menggepris baju dari debu, kemudian katanya: “Baiklah Kang Laote…… jika memang demikian, tentu urusan soal kewaspadaan menghadapi lingkungan engkau memang lebih pandai, karena selama ini engkau yang menjabat sebagai Komandan Gie-lim-kun (pasukan pribadi Kaisar), lebih banyak mengatur segala sesuatu tentang keselamatannya Kaisar kita, yang jika Kaisar pergi pesiar, engkau yang harus mengatur penjagaan dan pengawasan yang ketat di seluruh penjuru tempat! Sedangkan aku sebagai Komandan pasukan Kim-ie-wie (Pasukan baju sulam emas hanya khusus menjaga keamanan istana!”

Kawannya tertawa, dan mereka melanjutkan perjalanan menyusuri jalan raya, di mana cukup banyak perwira atau tentara kerajaan Boan-ciu yang berkeliaran. Tetapi pakaian seragam mereka yang mewah sebagai perwira, tentu saja membuat semua orang tertarik dan terlebih lagi sikap dan wajah mereka gagah, angker sekali penuh wibawa.

Waktu ke dua perwira tinggi kerajaan itu memasuki sebuah rumah penginapan, mereka disambut pelayan dengan sikap hormat sekali sampai tubuhnya terbungkuk-bungkuk.

“Silahkan masuk Tayjin, silahkan! Kami akan mempersiapkan kamar terbaik buat jie- wie Tayjin…..!” kata pelayan itu hormat sekali.

Sedangkan ke dua perwira tinggi itu hanya mendengus, “Hemm!” saja dan terus masuk.

Pelayan itu dan beberapa orang pegawai rumah penginapan bekerja cepat menghormati ke dua tamu agung mereka ini, dan memherikan kamar yang benar-benar bersih dan besar, merupakan kamar utama di rumah penginapan tersebut.

Namun ke dua orang perwira kerajaan yang duduk di sebuah meja penuh hidangan, beristirahat sambil mengobrol dan tertawa-tawa tidak mengacuhkan sekeliling mereka.

Sesungguhnya, memang ke dua perwira tinggi kerajaan ini adalah Komandan Gie-lim-kun dan Komandan Kim-ie-wie, yang tengah melakukan tugas yang cukup penting dari Kaisar. Yang bertubuh tinggi besar tegap itu adalah Komandan Kim-ie-wie, pasukan istana berbaju sulam emas.

Dia she Cing bernama Kiang Wie. Kepandaiannya tinggi sekali, ilmunya lihay, otaknya pun cerdik sekali, karena dia termasuk orang yang licik. Selalu bertindak tegas dan bertangan besi menghadapi lawan.

Karena kepandaiannya yang bisa diandalkan, setelah melewati penyaringan yang ketat, dialah yang terpilih menduduki jabatan yang tinggi sebagai Komandan Kim-ie-wie, pasukan yang mengawal dan menjaga keamanan di istana Kaisar.

Lalu yang bertubuh gemuk itu adalah orang she Kang bernama Wei. Dia Komandan Gie-lim-kun, pasukan yang khusus menjaga keselamatan Kaisar. Jika Kaisar tengah keluar dari istana, tugas menjamin keselamatan Kaisar berada di tangannya. Karena dari itu, selalu Kang Wei harus berikhtiar buat mengamankan setiap tempat yang akan dikunjungi Kaisar.

Disamping itu kuping dan matanya harus tajam, dia harus dapat mengetahui tempat-tempat mana yang sekiranya kurang aman, dan juga bagaimana mengatur pasukannya agar benar-benar dapat menjamin keselamatan Kaisar, selama raja itu tengah berada di luar istana. Tanggung jawabnya memang tidak ringan.

Kang Wei memiliki kepandaian yang setingkat dengan Cing Kiang Wie. Ia merupakan akhli lweekeh (tenaga dalam) yang ilmunya tinggi sekali.

Senjata andalannya adalah joan-pian, pecut lemas yang terbuat dari otot dan urat harimau maupun ular, yang digabungkan menjadi satu dan diolah dengan emas murni yang dicampur dengan bubuk berlian, sehingga senjatanya itu lemas dan kuat alot seperti juga baja yang tidak akan terputuskan oleh senjata apapun, mungkin malah lebih kuat dari baja sendiri!

Ia terkenal sebagai seorang jago yang memiliki tangan dingin. Setiap lawannya selalu dapat dirubuhkan dengan mudah, dan lawan yang dirubuhkannya selalu diberikan hadiah bercacad. Itu paling ringan, karena umumnya kematian!

Di istana Kaisar, ke dua orang ini disegani sekali oleh para pahlawan Kaisar. Dan justeru mereka pun jarang turun tangan sendiri dalam menyelesaikan urusan. Di bawah kekuasaan mereka, berada orang-orang pandai yang memiliki ilmu tidak rendah, bekerja buat mereka.

Tetapi kali ini, ke dua Komandan dari dua pasukan istimewa istana Kaisar turun tangan sendiri, melakukan perjalanan meninggalkan istana. Berarti urusan yang ingin ditangani mereka merupakan urusan yang sangat penting sekali!

Pelayan menyampaikan pada ke dua perwira tinggi ini bahwa kamar telah disiapkan dan ke dua perwira tinggi itu segera pergi ke kamar mereka. Waktu itu tampak jelas sekali, betapapun juga, memang mereka ingin cepat-cepat beristirahat.

Sebagai pembesar yang hidup mewah di istana, mereka setiap harinya tidak pernah bekerja. Sekali ini mereka telah melakukan perjalanan yang cukup jauh dan meletihkan, karenanya mereka hendak cepat-cepat beristirahat. Itupun disebabkan urusan yang mereka ingin kerjakan merupakan tugas penting sekali yang diberikan oleh Kaisar.

Cing Kiang Wie telah membuka baju kebesarannya. Dia melepaskan juga sepatunya dan rebah di pembaringan sambil memejamkan matanya. Kang Wei pun rebah di pembaringan. Buat sekian lama, di antara mereka berdua tidak ada yang bicara.

Cuma, selang beberapa saat, dengan tubuh tetap rebah di pembaringan dan mata tetap terpejamkan rapat, tiba-tiba sekali Kang Wei telah melontarkan sesuatu dengan gerakan yang sangat sebat, meluncur dua titik sinar kuning menyambar ke arah jendela.

Terdengar seruan “Ihhh!” dan tubuh Kang Wie pesat sekali melompat ke jendela. Dia mendorong daun jendela dan disusul dengan tangan kanannya menghantam keluar, sehingga angin itu berkesiuran sangat kuat, barulah dia melompat keluar melalui jendela.

Pukulan yang dilakukannya itu hanya mencegah jangan sampai ada orang yang membokongnya. Ketika sampai di luar, dia mengawasi ke arah sekelilingnya.

Tidak terlihat seorang manusia pun juga. Malam telah tiba dan sunyi sekali, di kejauhan terdengar suara musik dan nyanyian dari tempat-tempat hiburan dan pelesiran.

“Hemmm, tikus mana yang berani main gila di depan pucuk hidung kami?!” Dia membentak dengan suara yang angker penuh kemendongkolan, bola matanya berkilat-kilat tajam sekali.

Tidak terdengar jawaban. Sedangkan Cing Kiang Wie telah melompat keluar dan berdiri di sampingnya, dia tanya kepada kawannya: “Apakah tikus-tikus itu dapat ditangkap?!”

Namun bertanya begitu, dia melihat kawannya hanya berdiri diam tanpa membekuk seorang pun juga segera dia dapat menduga.

“Tentu kepandaian orang-orang itu cukup tinggi...... dan gin-kangnya lumayan!” kata Cing Kiang Wie akhirnya, karena dia menyadari tentunya musuh-musuh yang tadi mengintai dari jendela telah melarikan diri.

Dan tadi memang dia telah mendengar suara kelisik yang perlahan sekali di atas genting, dan juga ia mengetahui ada orang yang mengintai dari jendela. Namun dia tetap berdiam diri saja dengan tubuh rebah dan mata terpejamkan. Siapa tahu, kawannya telah lebih dulu turun tangan, mengejutkan orang-orang itu, sehingga mereka melarikan diri.

Hanya saja yang membuatnya kagum tentunya orang-orang yang mengintai lewat jendela adalah orang-orang yang berkepandaian liehay, karena mereka dapat bergerak begitu gesit sekali. Walaupun Kang Wei telah bergerak begitu cepat, ternyata tidak berhasil untuk memergoki mereka.

“Sudahlah! Mari kita masuk!” kata Kang Wei dengan suara mengandung penasaran. Dia pun telah melompat masuk ke dalam kamar, diikuti oleh Cing Kiang Wie.

Daun jendela telah ditutup lagi, dan Cing Kiang Wie bersama Kang Wei telah merundingkan, bagaimana dan langkah-langkah apa yang akan mereka lakukan, dalam memancing musuh-musuh mereka agar keluar memperlihatkan diri.

“Aku yakin Cing Toako, dalam beberapa hari mereka akan muncul memperlihatkan diri..... Kita tidak perlu terlalu untuk memusingi mereka, karena tokh mereka yang akan menyatroni kita!”

Cing Kiang Wie mengangguk mengiyakan, dan kemudian merebahkan tubuhnya lagi. Kang Wei sebelum rebah di pembaringan, telah mengibaskan tangannya memadamkan api penerangan di dalamkamarnya. Sebentar saja di dalam kamar itu, yang gelap gulita, terdengar suara dengkur yang saling bersambut.

“Hemmm, babi-babi busuk, mengapa harus tidur terus menerus! Bangunlah, keluar buat menghadapi kami!” Tiba-tiba terdengar suara orang yang menantang dengan nada yang dingin, mengandung ejekan.

Ke dua orang perwira tinggi itu mengerti, bahwa mereka ditantang oleh orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi. Sesungguhnya Cing Kiang Wie maupun Kang Wei memang pura-pura tidur, mereka sengaja memperdengarkan dengkur mereka. Dan juga, mereka telah memadamkan api penerangan di kamar, agar lebih mudah buat memergoki musuh.

Dan ternyata dugaan mereka tidak meleset, di mana musuh memang datang menyatroni mereka. Tanpa membuang waktu lagi, Kang Wei yang bulat gemuk itu, dengan lincah dan ringan sekali, tahu-tahu melesat ke jendela, dia tidak membuka daun jendela melainkan tangannya bergerak begitu sebat, menghantam kuat sekali jendela tersebut sampai menjeblak.

Menyusuli terbukanya daun jendela, tubuh Kang Wei juga telah melompat keluar, sebelumnya dia melontarkan beberapa senjata rahasia. Dengan demikian dia berhasil mencegah jangan sampai dibokong oleh lawan.

Begitu hinggap di tanah, segera Kang Wei melihat bahwa di tempat itu telah ada belasan orang, yang semuanya bertubuh tinggi tegap. Dan juga terlihat, mereka semuanya membekal senjata tajam, terdiri dari berbagai senjata tajam, ada golok, pedang, joan-pian, poan-koan-pit dan lain-lainnya. Mereka semuanya merupakan orang-orang yang memiliki paras angker dan juga memancarkan sikap yang keras.

Dikala itu tampak Cing Kiang Wie pun telah melompat keluar, dia berdiri di samping Kang Wei dengan sikap yang agung dan angker. Matanya menyapu sekelilingnya, dia telah melihat bahwa semua orang mengambil sikap mengurung.

Segera juga Cing Kiang Wie tertawa bergelak.

“Bagus! Bagus! Memang telah kami duga, tikus-tikus keparat tentu akan menampakkan diri…… untuk kami gusur ke kota raja! Ayo siapa di antara kalian yang ingin merasakan tanganku!”

Tiba-tiba dari rombongan orang yang mengurung ke dua perwira kerajaan tersebut, telah maju seorang lelaki tua berusia hampir limapuluh lima tahun. Jenggot dan kumisnya telah memutih, sebagian terbesar rambutnya juga sudah putih keperak-perakan. Rambutnya itu digelung dan dikonde terikat oleh sehelai ang-kin berwarna kuning gading.

Berbeda dengan perintah dari kerajaan Boan, bahwa seluruh lapisan rakyat, bagi kaum laki-lakinya, harus mentoa-cang rambutnya. Rupanya orang tua ini tidak mau mematuhi perintah kerajaan penjajah itu tetap dengan cara berpakaian seorang Han, sikapnya gagah sekali. Di tangannya tercekal sebatang golok besar yang berkilauan putih keperak-perakan, tampaknya tajam sekali.

Dengan suara yang gagah ia bilang: “Anjing-anjing keparat, kalian menyerah buat kami ringkus, sehingga tidak perlu kami membuang-buang tenaga percuma! Dan juga, dengan menyerah secara baik-baik, kami akan memperlakukan engkau selayaknya! Tetapi jika kalian berdua memberikan perlawanan dan membandel, hemmm, hemmm, hemmmm, kalian berdua akan mengalami nasib yang lebih buruk dari seekor anjing kudis!”

Dan setelah berkata begitu, orang tua itu mengibaskan golok besarnya sehingga berkelebat sinar putih keperak-perakan, menyilaukan mata yang melihatnya.

Cing Kiang Wie dan Kang Wei berdua tertawa bergelak-gelak. Walaupun lawan yang mengurung mereka berjumlah sangat banyak, namun mereka tidak gentar, sebab mereka tidak memandang sebelah mata terhadap lawan-lawan mereka itu. Dan juga memang mereka yakin, bahwa kepandaian mereka lihay dan mahir, dengan mudah mereka akan dapat menghadapi dan merubuhkan semua lawan mereka.

Waktu itu tampak ke duanya tertawa bergelak sangat lama, baru saja orang tua yang rupanya menjadi pemimpin dari rombongan orang tersebut ingin berkata lagi, Kang Wei telah bilang dengan suara yang nyaring:

“Baik! Kami akan menyerahkan diri, nah, silahkan, siapa di antara kalian yang ingin meringkus kami?”

Orang tua itu melengak sejenak, mendengar ke dua perwira tinggi itu malah mengatakan mereka bersedia buat diringkus. Tapi tidak lama, segera dia bilang: “Bagus! Jika memang kalian sungguh-sungguh mau menyerahkan diri secara baik-baik, kami pun tidak akan terlalu mempersulit diri kalian!”

Setelah berkata begitu, dia mengisyaratkan kepada dua orang anak buahnya, dua orang laki-laki setengah baya, yang memiliki tubuh sangat tinggi dan tegap, dengan otot-otot yang kuat. Mereka menyimpan golok masing-masing dan melangkah maju sambil mengeluarkan seutas tali yang dipergunakan mengikat dan meringkus kedua perwira tinggi itu.

Ke dua orang komandan dari pihak istana Kaisar sama sekali tidak memperlihatkan sikap untuk memberikan perlawanan, mereka ber diri tenang-tenang di tempat mereka, seperti juga mereka memang ingin menyerahkan diri buat ditawan oleh rombongan orang tersebut.

Ke dua orang anak buah si kakek tua itu semula ragu-ragu, dan menduga begitu mereka mendatangi dekat, ke dua orang perwira itu akan menyerang mereka, karenanya ke dua orang tersebut telah bersiap siaga. Tetapi ke dua perwira dari istana Kaisar itu hanya diam saja, mereka sama sekali tidak memperlihatkan tanda-tanda akan menyerang.

Karenanya ke dua orang anak buah si kakek tua itu tambah berani. Mereka telah dekat dan akan mengikat tangan ke dua perwira tersebut.

Waktu itulah, dengan gerakan yang sulit diikuti oleh pandangan mata, tahu-tahu Cing Kiang Wie dan Kang Wei telah mengayunkan tangan mereka. Cepat sekali mereka telah menghantam masing-masing dada seorang anak buah dari kakek tua itu.

Ke dua orang anak buah si kakek terkejut, namun mereka sudah tidak keburu berkelit, karena memang waktu itu jarak mereka terlalu dekat. Maka segera juga terdengar suara,

“Bukkkkk! Bukkk!” yang nyaring disusul dengan suara jerit ke dua orang itu yang terpental dengan dada melesak dan jiwanya telah melayang. Mereka menggeletak tidak bergerak lagi di tanah, di mana mereka sudah menjadi korban telengas dari ke dua orang perwira kerajaan tersebut.

Kawan-kawan si kakek jadi terkejut, mereka mengeluarkan seruan marah. Berbeda dengan ke dua perwira kerajaan, yang tertawa bergelak, tampaknya mereka puas sekali.

“Ayo, siapa lagi yang ingin meringkus kami, ayo silahkan maju, kami akan membiarkan diri kami diringkus kalian!” Itulah ejekan belaka, karena ke dua perwira tersebut ternyata memang hendak memberikan perlawanan.

Orang tua dengan jenggot dan kumis telah memutih itu murka bukan main, dengan diiringi bentakannya yang bengis mengandung kemarahan, dia melompat maju membacok dengan goloknya.

“Anjing-anjing laknat keji! Akan aku adu jiwa dengan kalian!” teriaknya dan goloknya itu berkelebat dalam bentuk sinar putih perak menyambar ke batok kepala Cing Kiang Wie.

Tapi Cing Kiang Wie tersenyum mengejek, dia sama sekali tidak memandang sebelah mata terhadap kepandaian si kakek. Cepat sekali dia telah bergerak lincah buat menghantam dengan telapak tangan kosong, dia tidak mencabut keluar senjatanya.

Angin serangan itu menerjang dada si kakek. Tenaga lweekang Cing Kiang Wie memang hebat. Tadi saja telah terbukti, betapa ke dua orang anak buah dari kakek tua itu telah dapat dibinasakan dengan dada melesak hanya satu kali hantam saja.

Kakek tua itu telah menahan meluncur goloknya. Karena menyadari akan hebatnya hantaman tangan lawannya, dia berkelebat. Namun waktu dia tengah melompat mengelak, justeru tangan Kang Wei telah melesat menyambar pinggangnya. Dengan demikian dia jelas dikurung dari dua jurusan.

Jika dia menghindari serangan Cing Kiang Wie, berarti pinggangnya yang akan kena dicengkeram Kang Wei, dan cengkeraman itu tidak kalah hebatnya. Jika sampai pinggangnya kena dicengkeram, berarti buah pinggangnya akan kena diremas hancur. Karena dari itu ke dua serangan dari ke dua lawannya sama berbahayanya.

Dalam keadaan terancam seperti itu rupanya kakek tua yang memiliki kepandaian lie-hay tersebut, tidak kehabisan akal, dia tidak menjadi bingung karenanya. Sebab cepat sekali dia telah menggerakkan goloknya berputar ke seluruh penjurunya.

Jika memang ke dua lawannya meneruskan serangan mereka, niscaya akan menyebabkan mereka terkena tabasan golok itu. Sambil memutar goloknya, dia juga telah melompat mundur buat menjauhi diri.

Cing Kiang Wie maupun Kang Wei melihat ancaman golok kakek tua tersebut, segera menarik pulang tangan mereka. Waktu mereka akan menyusuli dengan pukulan berikutnya, kakek tua itu telah melompat mundur menjauhi mereka.

Malah kakek tua itu telah berseru, “Sekarang……!!” menganjurkan anak buahnya agar maju mengeroyok, untuk membinasakan ke dua perwira tinggi kerajaan Boan tersebut!

Seketika semua anak buah si kakek tua tersebut yang jumlahnya belasan orang, telah menyerbu dengan berbagai senjata tajam mereka karena mereka mempergunakan seluruh kekuatan mereka buat menyerang, maka angin sambaran senjata tajam itu berkesiuran menderu-deru.

Belasan orang anak buah kakek tua itupun semuanya memang bukan orang lemah. Mereka memiliki kepandaian tinggi, terlebih lagi mereka tengah dalam keadaan murka melihat ke dua orang kawan mereka telah terbunuh dengan tangan begitu telengas oleh ke dua perwira kerajaan tersebut, membuat mereka menyerang dengan jurus yang ganas untuk membalas sakit hati ke dua orang kawan, agar dapat membunuh ke dua perwira tersebut.

Kakek tua itupun membentak nyaring: “Aku Wang Sun akan membalas sakit hati ke dua orang kawan kami!”

Dan sambil membentak begitu, goloknya yang sangat besar telah menyambar-nyambar ke bagian yang mematikan pada tubuh ke dua perwira tersebut. Dengan demikian membuat ke dua perwira itu menghadapi keroyokan yang tidak ringan, sebab semua senjata tajam itu dengan serentak telah menyerang mereka.

Dalam keadaan seperti itu Cing Kiang Wie maupun Kang Wei sama sekali tidak merasa jeri, mereka malah memperdengarkan suara tertawa bergelak-gelak. Karena mereka yakin bahwa mereka memiliki kepandaian yang tinggi dan liehay, maka tentu mereka tidak akan dapat dirubuhkan oleh belasan orang itu.

Sambil tertawa bergelak seperti itu, ke duanya telah bergerak lincah sekali, tubuhnya telah berkelebat ke sana ke mari mengelakkan diri dari semua serangan senjata lawan. Dan dalam waktu singkat, dua orang anak buah Wang Sun telah dapat dihantam binasa oleh mereka.

Kemudian menyusul lagi seorang lawan yang mereka rubuhkan dengan kepala yang hancur berantakan, sehingga otak dan darah yang bercampur menjadi satu telah mengalir keluar di tanah!

Keadaan waktu itu sangat mengerikan sekali. Ramai oleh suara bentakan belasan orang tersebut dan caci maki Wang Sun, juga suara tertawa ke dua perwira yang sangat menyeramkan itu. Ke dua perwira itu telah mengeluarkan kepandaian andalan mereka, sehingga mereka berhasil merubuhkan dua orang lawan lagi.

Dengan demikian mereka berhasil mengurangi jumlah lawan mereka. Tapi belasan orang Wang Sun tetap mengeroyoknya seperti nekad, mereka gusar sekali melihat kawan mereka telah rubuh seorang demi seorang, membuat mereka semakin marah dan penuh dendam hendak mengeroyok mati ke dua perwira tersebut.

Tamu-tamu rumah penginapan dan juga beberapa orang pelayan dan rumah penginapan itu, semuanya mendengar suara ribut-ribut itu, tapi tidak seorang pun di antara mereka yang berani keluar memperlihatkan diri. Sebab mereka kuatir yang datang menyerbu ke rumah penginapan adalah para penjahat yang ingin merampok. Jika mereka keluar akan menjadi korban dari para penjahat itu.

Mereka telah bersembunyi dan para tamu berdiam di dalam kamar dengan tubuh menggigil ketakutan. Dan mereka cuma mendengar betapa suara jerit dan teriakan membentak bengis dicampur dengan suara tertawa bergelak-gelak dari kedua perwira kerajaan tersebut.

Cing Kiang Wie dan Kang Wei benar-benar merupakan dua orang perwira kerajaan yang tangguh dengan ilmu silat yang lihay. Mereka sama sekali tidak terdesak dan malahan telah berhasil mendesak lawan-lawan mereka yang berjumlah banyak itu.

Disaat itulah, terlihat Cing Kiang Wie telah mengeluarkan senjatanya, yaitu sebatang pedang panjang. Dia telah memutar pedangnya cepat sekali, sehingga menyerupai sinar putih keperak-perakan menyambar ke sana ke mari. Segera terdengar dua kali suara jerit kematian, karena dua orang lawannya telah berhasil ditikam binasa!

Dan juga Kang Wei telah mengeluarkan senjatanya, yaitu joan-piannya. Dengan joan-pian yang berukuran panjang itu, dia telah menyerang ke sana ke mari, sehingga membuat lawan-lawannya tidak bisa mendekatinya.

Begitulah pertempuran tersebut berlangsung terus, dengan jumlah korban di pihak kakek tua itu semakin banyak. Wang Sun pada waktu itu telah murka bukan main, wajahnya merah padam, dia nekad sekali buat mendesak kepada ke dua perwira itu. Goloknya telah digerakkan dengan bacokan-bacokan mengandung maut!

Namun keadaan ke dua perwira itu telah menang di atas angin, mereka berhasil membuat para pengepungnya itu tidak berdaya buat mendesak mereka.

Sedangkan ke dua perwira itu malah telah berhasil buat merubuhkan lawan mereka seorang demi seorang. Dalam keadaan seperti itulah terlihat, bahwa ke dua perwira kerajaan tersebut telah berusaha merubuhkan lawannya lebih banyak.

Kakek Wang Sun melihat keadaan yang tidak menguntungkan pihaknya, maka dia berseru nyaring: “Angin keras! Biar aku yang menghadapi mereka!”

Dan sambil berseru begitu, dia memutar golok besarnya itu, menghadapi Cing Kiang Wie dan Kang Wei, karena dia ingin memberi kesempatan pada kawan-kawannya melarikan diri.

Anak buahnya sendiri telah menyadari bahwa mereka biarpun berjumlah beberapa kali lipat lebih banyak dari ke dua perwira itu, keadaan mereka sama sekali tidak menguntungkan. Ke dua perwira tersebut sangat tangguh sekali, di mana mereka telah bertempur dengan pembelaan diri yang ketat, sedangkan korban kian bertambah juga.

Maka anak buah Wang Sun tidak membantah ketika Wang Sun perintahkan mereka melarikan diri, dan menyingkir dari tempat itu. Sedangkan beberapa orang di antara mereka juga membawa pergi kawan-kawan mereka yang telah terbunuh dalam pertempuran tersebut.

Mereka pergi dengan cepat, dan tinggal Wang Sun yang mati-matian sekarang ini menghadapi ke dua orang lawannya yang lihay itu. Di mana terlihat betapa Wang Sun biarpun terdesak hebat sekali, namun dia terus juga memberikan perlawanan yang gigih, dia memutar golok besarnya itu dengan cepat dan kuat.

Dia hanya bisa membela diri belaka, tanpa sempat membalas menyerang. Walaupun demikian, Wang Sun tampaknya puas, dia telah bisa merintangi ke dua perwira itu, sehingga kawan-kawannya dapat melarikan diri meninggalkan tempat tersebut.

“Tua bangka yang tidak tahu diri, engkau akan mampus di tangan kami!” berseru Cing Kiang Wie gusar bukan main dan penasaran, pedangnya telah berkelebat-kelebat menikam dan menabas kepada Wang Sun selama beberapa jurus dengan gerakan yang sebat sekali.

Sedangkan Kang Wei tidak ketinggalan, pecutnya telah menyambar ke sana ke mari, dia terus merangsek, berusaha agar ujung cambuknya itu melibat leher Wang Sun.

Tetapi Wang Sun benar-benar dapat mengadakan pembelaan diri yang rapat, dia masih bisa bertahan. Malah Wang Sun juga telah beberapa kali berusaha meloloskan diri dari kepungan ke dua perwira tersebut, karena dilihatnya semua anak buahnya telah sempat melarikan diri.

Waktu itu, dia juga telah memutar goloknya, sambil tubuhnya melesat ke arah tembok. Tetapi Cing Kiang Wie yang mengerti maksud si kakek,telah berseru: “Jangan harap engkau bisa meloloskan diri dari kami!”

Baru saja dia berkata begitu, tangan Wangsun yang kiri bergerak dan menimpukkan belasan senjata rahasia ke arah ke dua lawannya.

Cing Kiang Wie dan Kang Wei jadi terkejut, mereka tidak menyangka kakek itu ahli melepas senjata rahasia, sebab di saat dia tengah memutar goloknya mengadakan pembelaan diri dengan rapat, namun kenyataanya dia masih sanggup melepaskan senjata rahasia yang jumlahnya tidak sedikit. Karena dari itu, cepat sekali ke duanya memutar senjata mereka buat menghalau senjata rahasia itu.

Namun gerakan mereka jadi terlambat dan telah membuat Wang Sun dapat mempergunakan kesempatan itu buat melompat ke atas tembok dan hilang di kegelapan malam.

Cing Kiang Wie dan Kang Wei bermaksud mengejar, namun waktu mereka telah berada di atas tembok, segera Kang Wei teringat sesuatu.

“Tidak! Kita tidak boleh terpancing mereka! Mungkin mereka hendak mempergunakan tipu memancing harimau keluar dari kandang! Biarlah mereka pergi, tokh beberapa waktu lagi mereka akan muncul menyatroni kita pula……!” Setelah berkata begitu, segera Kang Wei mengajak Cing Kiang Wie kembali ke kamar mereka.

Wang Sun yang waktu itu melarikan diri keluar kota telah memasuki sebuah hutan.

Rumah penginapan itu segera ramai oleh suara bisik-bisik ketika para tamu dan pega- wai rumah penginapan itu tidak mendengar suara ribut-ribut lagi, dan mereka telah melihat pertempuran itu selesai, di mana keadaan menjadi sunyi sekali. Tidak seorangpun yang berani segera keluar buat melihat apa yang telah terjadi.

Setelah lewat beberapa saat lagi dan keadaan tetap sepi, maka dua orang pelayan dengan takut-takut telah pergi keluar melihatnya. Mereka tidak melihat seorang manusia pun juga, hanya darah dan juga pakaian yang banyak tercecer di tempat itu, bersama beberapa senjata tajam, yang rupanya tidak keburu dibawa pergi oleh anak buah Wang Sun.

Di waktu itu Kang Wei dan juga Cing Kiang Wie telah rebah di pembaringan mereka, buat beristirahat, sambil berwaspada kalau-kalau musuh kembali lagi. Cuma saja, Kang Wei yakin bahwa lawan malam ini tidak akan muncul lagi, sebab mereka telah mengalami kerusakan yang cukup berat, dan dalam satu dua hari barulah mereka akan muncul lagi!

Cing Kiang Wie dan Kang Wei merasa girang, karena tanpa sulit-sulit menyelidiki, orang-orang yang hendak diselidiki jejaknya malah menampakkan diri. Walaupun mereka belum dapat menangkap buat mengorek keterangan, tokh sedikitnya mereka telah melihatnya, bahwa mereka akan sanggup melaksanakan tugas yang diberikan raja mereka.

Sesungguhnya, memang Cing Kiang Wie dan Kang Wei tengah menerima tugas yang cukup berat dari Kaisarnya. Mereka diharuskan memberantas dan membasmi orang-orang Han yang masih bersetia kepada kerajaan Song yang telah dihancurkan.

Karena dari itu, ke dua komandan dari Kim-ie-wie dan Gie-lim-kun tersebut diperintahkan agar pergi menyelidiki, siapa-siapa saja yang bergerak untuk mengadakan pemberontakan dan membasmi mereka.

Memang laporan yang terakhir masuk ke tangan Kaisar menyatakan, banyak sekali orang-orang Han yang berkumpul di Lam-yang, karena suatu waktu mereka akan mengadakan gerakan pemberontakan melawan kerajaan.

Maka Kaisar telah perintahkan kepada ke dua orang kepercayaannya itu, yang diketahuinya memiliki kepandaian yang tinggi, buat pergi membasmi orang-orang yang bermaksud bergabung dan mengadakan pemberontakan melawan kerajaan. Tugas itu sebetulnya hendak diserahi kepada Panglima Perang yang khusus menangani persoalan tersebut, guna mengerahkan pasukan menindas pemberontak itu.

Tapi jika hal itu dilakukan, tentu akan membuat rakyat berkuatir menimbulkan kekacauan dan juga akan membuat rakyat cemas, sehingga keamanan agak terganggu. Juga akan ada pihak lain yang memanfaatkan kesempatan tersebut.

Karena dari itu, akhirnya Kaisar telah memutuskan, buat perintahkan Kiang Wie dan Kang Wei melaksanakan tugasnya itu, guna secara diam-diam memberantas orang-orang hendak memberontak.

Dan Kiang Wie serta Kang Wei memang yakin, bahwa mereka berdua memiliki kepandaian yang tinggi, mereka pasti akan dapat menghadapi lawan-lawan mereka. Memang tugas ini merupakan tugas yang tidak ringan dan akan memakan waktu yang cukup lama. Sehingga sementara ini pimpinan Gie-lim-kun dan Kim-ie-wie mereka serahkan kepada wakil masing-masing.

Keterangan yang telah masuk ke dalam tangan mereka menyatakan, kurang lebih duaribu pemberontak telah berhimpun di Lam-yang, semuanya terdiri dari kaum rimba persilatan yang memiliki kepandaian tinggi. Itulah sebabnya mengapa ke dua Komandan dari Gie-lim-kun maupun Kim-ie-wie sengaja berpakaian seragam agar menarik perhatian dan memancing orang-orang itu memperlihatkan diri.

Dan rencana mereka memang berjalan sangat baik sekali. Karena belasan orang pemberontak itu, di bawah pimpinan Wang Sun, sudah menyatroni mereka! Inilah yang memang diinginkan oleh ke dua perwira tinggi kerajaan tersebut!

Y

Sekarang mari kita melihat keadaan Wang Sun, di mana kakek tua itu telah masuk ke dalam sebuah hutan yang liar dan lebat sekali, berada di luar kota Lam-yang. Semua kawan-kawannya memang telah berkumpul di dalam hutan tersebut.

Ketika Wang Sun tiba, mereka menyambut dengan gembira, semula mereka menduga Wang Sun bercelaka di tangan ke dua perwira tersebut. Karena dari itu, ketika melihat Wang Sun muncul, mereka semuanya bersorak dengan gembira.

Dikala itu, Wang Sun segera perintahkan anak buahnya agar bersiap-siap. Dia kuatir ke dua perwira itu mengejarnya dan mengerahkan tentara kerajaan melakukan penggerebekan ke tempat ini, yaitu hutan lebat tersebut. Segera juga tampak kesibukan di antara orang-orang Wang Sun yang mengadakan penjagaan dengan ketat sekali.

Wang Sun letih bukan main, napasnya agak memburu, tadi dia telah mengeluarkan seluruh kemampuan dan tenaganya, sehingga dia sangat letih sekali. Sekarang mereka duduk di bawah sebatang pohon, beristirahat mengatur pernapasan, sampai akhirnya diapun telah melihat kesibukan di antara anak buahnya, barulah dia melompat bangun, sambil katanya:

“Aku akan pergi menghubungi kawan-kawan kita, dengan jumlah kecil mengenakan penjagaan di garis depan, tentu akan membahayakan sekali, jika saja ke dua perwira itu sempat mengerahkan pasukan mereka melakukan penyerangan ke mari!”

Anak-anak buahnya, yang sebagian waktu itu tengah mengubur mayat dari beberapa orang kawan mereka, mengiyakan segera.

“Tetapi kalian harus mengadakan penjagaan yang ketat, jika memang terbukti bahwa ke dua perwira itu mengerahkan pasukannya, dua orang di antara kalian tanpa membuang waktu harus segera memberitahukan kepada kami…… karena jika terlambat, tentu akan membahayakan kedudukan kita!”

Yang lainnya telah mengiakan lagi.

Wang Sun memasukkan goloknya, di mana dia telah menyorenkannya dan menjejakkan ke dua kakinya. Tubuhnya melesat sangat cepat dan ringan memasuki hutan lebat itu.

Setelah berlari-lari belasan lie menerobos hutan itu dia telah sampai di luar hutan tersebut, dan segera mengambil jalan ke arah barat. Dia telah sampai di depan sebuah bangunan yang besar tapi terpencil.

Bangunan itu mirip sebuah kuil yang tua yang telah dirombak, sangat luas sekali, dan juga bertingkat dua. Cepat-cepat Wang Sun menghampiri pintu mengetuknya tiga kali, disusul dengan ketukan sebanyak dua kali.

Dan pintu terbuka, Wang Sun menyelinap masuk, dan dia kemudian diantar oleh seorang pemuda menuju ke ruangan dalam. Di ruangan dalam tampak belasan orang yang tengah duduk bercakap-cakap.

Semuanya memakai baju singsat dan ketat, karena mereka tampak setiap waktu bersiap-siap untuk bertempur. Melihat Wang Sun, semuanya melompat berdiri, mereka telah menegur sambil tersenyum.

Wang Sun memberi hormat, menyambut teguran mereka, dan kemudian katanya: “Aku ingin memberitahukan kepada pimpinan bahwa kita baru saja menyatroni dua orang perwira kerajaan, yang kabarnya datang dari kotaraja. Kami telah kehilangan beberapa orang kawan yang terbinasa di tangan ke dua perwira itu…….!”

Muka belasan orang tersebut berobah menjadi merah padam karena gusar, mereka telah berseru sengit sekali. Dan waktu Wang Sun memasuki ruangan itu lebih jauh, semuanya telah mengikuti di belakang Wang Sun.

Pemuda yang mengantar Wang Sun telah sampai di depan sebuah kamar, meminta Wang Sun dan yang lainnya agar menanti dulu, dia sendiri masuk ke dalam. Tidak lama kemudian dia telah muncul lagi, katanya: “Tang Lo-ya mempersilahkan tuan-tuan masuk!”

Wang Sun mengiyakan, dan ia melangkah masuk ke dalam kamar. Di antara belasan orang lainnya, ada tiga orang yang telah turut masuk.

Ternyata di dalam kamar itu terdapat seorang tua berpakaian sebagai pelajar, dia berusia hampir enampuluh tahun, tengah duduk dengan wajah murung

Wang Sun segera memberi hormat, demikian juga dengan ke tiga orang kawannya itu.

Orang tua itu mengangguk sambil tersenyum, malah katanya: “Wang Sun, kudengar kau telah kehilangan beberapa orang kawan......., benarkah itu?”

Terkejut juga Wang Sun melihat bahwa pimpinannya ini memiliki pendengaran yang tajam sekali, karena dalam waktu yang begitu singkat, apa yang telah dialami anak buahnya telah diketahuinya. Tapi Wang Sun mengangguk juga.

“Benar…… dan kami justeru ingin memberitahukan apa yang telah kami alami……!” menyahuti Wang Sun.

“Duduklah!” kata Tang Lo-ya itu dengan suara yang sabar, kemudian setelah Wang Sun dan ke tiga orang kawannya duduk, dia baru meneruskan perkataannya:

“Sesungguhnya, memang tidak ada baiknya jika ke dua perwira kerajaan yang datang dari kotaraja itu diserang kalian, mereka memiliki kepandaian yang tinggi sekali. Karena dari itu, jika mengerahkan orang-orang yang memiliki kepandaian setengah-setengah, niscaya kita yang akan menderita kerugian, akan jatuh korban yang tidak sedikit di pihak kita!”

Wang Sun menunduk, katanya: “Semua ini karena terdorong oleh perasaan penasaran, mereka bersikap begitu congkak dan juga tampaknya memiliki pangkat tidak rendah. Mereka baru saja datang dari kotaraja. Dengan demikian, kalau saja mereka berhasil ditangkap, tentu kita akan bisa memperoleh keterangan yang lebih lengkap tentang kekuatan kerajaan.....!”

Tang Lo-ya mengangguk-angguk beberapa kali, kemudian katanya: “Ya, kamipun memang mengerti akan maksud baik kalian, yang hendak mendirikan pahala buat kita semua, di mana buat menangkap ke dua perwira itu. Tapi tahukah engkau, siapakah adanya ke dua perwira itu?!”

Waktu bertanya begitu, mata Tang Lo-ya bersinar tajam sekali memandang Wang Sun.

Wang Sun tertegun sejenak, namun akhirnya dia menggeleng. “Dilihat dari kepandaian mereka, tentu di istana Kaisar dia bukan orang sembarangan..........!” menyahuti Wang Sun.

Tang Lo-ya mengangguk.

“Benar…… memang mereka orang-orang penting di istana Kaisar, karena mereka itu adalah Komandan Gie-lim-kun dan Komandan Kim-ie-wie. Mereka masing-masing bernama Cing Kiang Wie dan Kang Wei!”

Mendengar penjelasan itu, Wang Sun mengangguk-angguk beberapa kali.

“Pantas kepandaian mereka tinggi sekali...........!” katanya kemudian.

“Karena dari itu aku sendiri sesungguhnya hendak perintahkan orang kita agar pergi memberitahukan kepadamu, buat membatasi diri dalam menghadapi ke dua perwira dari kerajaan itu, agar berhati-hati. Ternyata kalian telah berangkat menyatroni mereka, malah dengan berakhir kalian mengalami kerusakan yang tidak kecil.”

Muka Wang Sun berobah memerah, tampaknya dia merasa malu, sampai akhirnya dia bilang: “Semua ini adalah kesalahan Wang Sun yang sangat ceroboh, harap Lo-ya mau mengampuni……!”

Tang Lo-ya tersenyum.

“Engkau tidak bersalah...... dan juga engkau tidak perlu minta diampuni. Semua ini hanya disebabkan karena kurang cepatnya keterangan yang sampai padamu. Jika memang orang yang kukirim itu tiba pada waktunya, sehingga engkau mengetahui siapa adanya ke dua perwira tersebut, niscaya engkau tidak akan bertindak salah seperti itu……!” Setelah berkata begitu, Tang Lo-ya menghela napas beberapa kali.

Wang Sun kemudian bangun dari duduknya, katanya dengan bersemangat sekali, “Tang Lo-ya, karena ini atas perbuatan Wang Sun yang menyebabkan beberapa orang kita terbinasa, maka biarlah malam ini juga Wang Sun pergi mencari ke dua perwira itu, buat bertempur mengadu jiwa dengan mereka membalas sakit hati kita dan sebagai penebus dosa Wang Sun!” kata-kata itu diucapkannya dengan bersemangat sekali.

Di waktu itu tampak jelas sekali, Tang Lo-ya tengah berduka. Dia menggeleng.

“Ingatlah Wang Sun, tindakan yang ceroboh membawa kerugian yang tidak kecil buat pihak kita! Seperti yang baru saja engkau alami, dimana kau telah mengalami kerusakan dengan terbinasanya beberapa orang-orangmu!

“Hemmmmm, sekarang jika memang engkau pergi ke sana seorang diri, buat mencari ke dua perwira itu, engkau akan mengalami bencana. Berarti jika engkau dicelakai oleh ke dua perwira kerajaan itu, niscaya anak buahmu akan kehilangan engkau.

“Sebagian dari pertahanan kita akan kacau-balau seluruhnya! Segala sesuatu harus di pikirkan masak-masak dan penuh perhitungan yang baik, tidak dapat engkau bertindak sekehendak hati menuruti hati kecilmu, Wang Sun!”

Mendengar perkataan Tang Lo-ya, seketika Wang Sun seperti baru tersadar. Dan segera menunduk dengan wajah bersusah hati, katanya penuh penyesalan:

“Baiklah Tang Lo-ya, karena aku telah memberitahukan apa yang telah terjadi, aku akan minta diri untuk kembali di tengah kawan-kawan! Semua nasehat yang diberikan Tang Lo-ya akan kuingat baik-baik dan Wang Sun berjanji akan bertindak lebih hati-hati di masa mendatang.....!” Sambil berkata begitu, Wang Sun menjura memberi hormat.

“Tunggu dulu……!” panggil Tang Lo-ya mencegah Wang Sun berlalu. “Ada yang ingin kukatakan kepadamu, Wang Sun!”

Wang Sun menahan langkahnya, dia memutar tubuhnya sambil katanya: “Katakanlah Tang Lo-ya...... apakah yang hendak Lo-ya perintahkan, akan segera Wang Sun laksanakan.”

Tang Lo-ya tidak segera berkata, dia memandang kepada ke tiga orang kawan-kawan lainnya yang duduk di tempat mereka, tangannya memberi isyarat, maka ke tiga orang itu keluar meninggalkan ruangan tersebut. Rupanya memang mereka menyadari Tang Lo-ya ada kata-kata yang hanya disampaikan kepada Wang Sun di bawah empat mata.

Wang Sun sendiri diliputi tanda tanya, entah apa yang ingin dikatakan Tang Lo-ya.

“Duduklah!” kata Tang Lo-ya sambil tersenyum dan menunjuk kepada kursi yang tadi diduduki Wang Sun, “Urusan yang ingin kusampaikan kepadamu, menyangkut keselamatan gerakan kita juga!”

Wang Sun duduk di kursi itu sambil memasang telinganya baik-baik penuh perhatian, dan menyadari bahwa tentunya urusan yang hendak disampaikan kepadanya merupakan urusan yang sangat penting sekali.

“Wang Sun……!” panggil Tang Lo-ya setelah mendehem beberapa kali. “Tahukah engkau, sekarang ini sudah beberapa banyak orang-orang gagah yang terhimpun bersama kita?!”

Wang Sun seperti berpikir, kemudian katanya: “Sayangnya Wang Sun tidak mengetahui dengan jelas angka-angka itu...... dapatkah Tang Lo-ya memberitahukan berapa banyak para orang gagah yang telah tergabung dalam gerakan kita?”

Tang Lo-ya tersenyum katanya: “Seperti engkau ketahui, dua bulan yang lalu jumlah para orang gagah yang tergabung dengan kita baru berjumlah duaribu tigaratus orang! Tetapi sekarang jumlah itu meningkat pesat sekali hampir meliputi limaribu orang!”

Wang Sun memperlihatkan sikap girang.

“Inilah kemajuan yang pesat sekali. Berarti gerakan kita didukung oleh para orang gagah. Dengan demikian jelas kita juga akan memperoleh dukungan yang jauh lebih besar lagi di waktu-waktu berikutnya.

Tang Lo-ya mengangguk.

“Itupun memang sudah menurut rencana kita, karena biar bagaimana kitapun harus lebih hati-hati dalam menentukan tindakan! Dengan bertambahnya anggota perhimpunan kita, jelas kitapun harus dapat lebih memperketat rahasia di dalam perhimpunan ini, yang tidak boleh sembarangan disiarkan.

“Sebab tidak jarang pula terjadi di dalam tubuh perhimpunan kita telah masuk menyelusup orang-orang kerajaan! Karena dari itu, jika memang kita kurang hati-hati, kukuatirkan jika kelak kits sendiri yang akan tertimpah bencana kareaa semua rahasia perhimpunan kita akan sampai pada Kaisar yang sekarang……”

Wang Sun mengangguk mengerti, dia bilang: “Jika demikian ada perintah apakah yang ingin disampaikan Tang Lo-ya?”

Tang Lo-ya menghela napas dulu sebelum menjawab pertanyaan Wang Sun, sampai akhirnya dia bilang:

“Di dalam persoalan ini sesungguhnya merupakan urusan yang sangat penting sekali, di mana bulan mendatang aku bermaksud untuk membentuk tujuh dewan penasehat, yang mengepalai setiap bagian dari angkatan kita. Karena dengan demikian, dapat kita atur semua rahasia-rahasia penting tidak sembarangan jatuh dan diketahui oleh para anggota biasa!

“Dan engkau telah kupilih sebagai salah seorang di antara ke tujuh anggota dewan tersebut! Karenanya Wang Sun, engkau harus lebih berhati-hati dan waspada dalam menghadapi kerajaan penjajah di mana engkau tidak boleh terlalu menuruti suara hati kecilmu dan bertindak kalap. Sesuatunya harus dilakukan dengan penuh perhitungan, walau bagaimana kau akan menjadi salah seorang pemimpin di antara kita.....!”

Wang Sun cepat-cepat hangun dari duduknya, merangkapkan sepasang tangannya. Dia mengucapkan terima kasih kepada Tang Lo-ya dengan membungkukkan tubuhnya tiga kali.

“Duduklah Wang Sun......!” kata Tang Lo-ya. “Dan ada lagi yang hendak kukatakan ke padamu!”

“Silahkan Tang Lo-ya perintahkan!” kata Wang Sun.

“Untuk urusan ke dua perwira itu, engkau tidak perlu turun tangan, karena sesungguhnya sejak aku menerima laporan tentang kedatangan mereka di Lam-yang, akupun telah mempersiapkan orang-orang yang lebih pantas menghadapi mereka. Aku telah mengutus tiga orang kita buat membereskan mereka......! Maka engkau sendiri, lebih baik-baik mencurahkan waktumu buat memberikan pengertian dan semangat berjuang kepada anak buahmu!”

“Baik Tang Lo-ya, Wang Sun akan melaksanakan perintah dengan sebaik-baiknya!” kata Wang Sun kemudian.

Tang Lo-ya mengangguk-angguk beberapa kali, dan dia kemudian membiarkan Wang Sun berlalu, buat kembali ke tengah hutan di antara kawan-kawannya.

Siapakah Tang Lo-ya ini, yang tampaknya demikian berpengaruh sekali di dalam perhimpunan para orang gagah itu?

Ternyata Tang Lo-ya tidak lain dari Tang Bun, dia seorang pelajar yang bun-bu-coan-cay seorang yang mengerti ilmu silat dan ilmu surat secara baik sekali. Dia seorang pahlawan yang mementingkan tanah air dari segala-segalanya. Waktu para orang gagah berjuang melawan tentara penjajah Mongolia, dia ikut berjuang, maka dari itu, ia memiliki banyak sekali kawan-kawan di antara para pejuang itu.

Dia sesungguhnya seorang yang kaya raya, namun Tang Bun mengorbankan seluruh hartanya. Dia membagi-bagikan di antara para pejuang, agar mereka bisa memberikan kepada anak isteri mereka.

Dengan demikian para pejuang dapat berjuang tanpa bimbang lagi. Mereka bisa mengerahkan seluruh kemampuan dan keterampilan mereka buat menghadapi tentara penjajah.

Akan tetapi justeru tentara perang Mongalia memiliki kekuatan yang besar dengan perlengkapan senjata yang jauh lebih lengkap. Dan di samping itu, memang mereka telah menyerbu secara besar-besaran, sehingga Siang-yang dapat direbut. Tang Bun yang merasa sedih melihat Siang-yang berhasil jatuh di tangan musuh, membuatnya tidak rela dan menghimpun sahabat-sahabatnya, semua para orang gagah, buat suatu waktu nanti mengadakan gerakan memberontak mengusir penjajah.

Semula yang bersedia ikut dengannya hanya sedikit sekali, jumlahnya hanya ratusan orang. Hal ini disebabkan tentara kerajaan Boan-ciu tengah giat-giatnya mengadakan pembersihan dengan ketat.

Tetapi semakin lama jumlah anggota perhimpunan Tang Bun meningkat. Sebagai pemimpin yang baik, dia tidak mementingkan pribadinya dan kepentingan diri sendiri. Dia malah telah menyerahkan jabatan serta kedudukan ketua kepada seorang yang benar-benar memiliki kepandaian tinggi bernama Siangkoan Lu Cie.

Siangkoan Lu Cie seorang gagah perkasa dengan kepandaian silatnya yang luar biasa, dan dia memang memiliki perhitungan militer. Karenanya kedudukan ketua diserahkan Tang Bun kepadanya.

Namun semua anggota perhimpunannya tetap menganggap Tang Lo-ya sebagai ketua mereka. Dan Siangkoan Lu Cie cuma sebagai wakilnya. Karena dari itu, Tang Bun tidak bisa menolak desakan dari anggota perhimpunannya, dia tetap turun tangan memimpin sendiri segalanya.

Waktu itu kerajaan Boan tengah makmur dan sedang kuat-kuatnya, juga tengah mengadakan pembersihan yang ketat sekali. Karenanya Tang Bun mengambil taktik lain, yaitu semua anggota perhimpunan itu tidak boleh berkumpul di sebuah tempat.

Mereka terpecah menjadi sepuluh bagian. Dengan demikian, sewaktu-waktu kerajaan hendak menumpas mereka, tentu tidak akan semuanya berhasil ditumpas.

Dan juga jika mereka telah semakin kuat, jelas mereka sekaligus dapat mengepung dan menyerang kerajaan, akan membuat kekuatan mereka tampaknya jauh lebih besar, terbagi sepuluh kelompok.

Peraturan seperti itu masih tetap dijalankan sampai anggota perhimpunan tersebut hampir mencapai limaribu orang. Dan mereka telah semakin kuat.

Tang Bun telah merencanakan, jika anggota perhimpunannya mencapai sepuluhribu, barulah ia akan mengadakan serangan terbuka kepada kerajaan.

Yang membesarkan hati Tang Bun justeru semua anggota perhimpunannya itu terdiri dari orang-orang rimba persilatan yang memiliki ilmu silat lihay. Maka dari itu, walaupun jumlah mereka sedikit, apa yang mereka lakukan pasti bisa berhasil jauh lebih besar dibandingkan dengan apa yang dilakukan tentara biasa.

Itulah yang membuat semangat berjuang dari para orang gagah itu semakin memuncak dan mereka bertekad hendak mengusir tentara penjajah tersebut.

Tang Bun sendiri telah bekerja keras siang dan malam. Walaupun usianya sebetulnya baru limapuluh lima tahun, namun wajahnya tampak sudah demikian tua, sehingga ia terlihat jauh lebih tua dari usia sebenarnya.

Perihal kedatangan Cing Kiang Wie dan juga Kang Wei, ke dua komandan dari Gie-lim-kun dan Kim-ie-wie itu memang telah diketahui oleh Tang Bun, yang menerima laporan dari anak buahnya.

Segera juga ia menyusun suatu kekuatan buat menghadapi ke dua perwira itu.

Menurut perhitungannya maka kedatangan ke dua perwira itu, pasti di belakangannya akan muncul puluhan ribu tentara kerajaan, yang akan menyapu bersih pemberontak tersebut. Karena dari itu, Tang Bun telah mempersiapkan pasukannya di berbagai tempat, yang sekiranya dapat dijadikan pertahanan yang kuat.

Dia pun telah perintahkan tiga orang ahli silat kelas utama buat pergi menyatroni Cing Kiang Wie dan Kang Wei, guna membinasakan mereka, atau juga jika tidak bisa membunuh, membuat mereka bercacad.

Dia menghubungi Wang Sun agar Wang Sun tidak melakukan gerakan apa-apa, mengingat dia memang berada di garis depan dekat dengan Lam-yang. Tapi orang yang dikirim menemui Wang Sun datang terlambat. Wang Sun telah pergi menyatroni Cing Kiang Wie dan Kang Wei dengan mengajak kawan-kawannya, berakhir dengan kerusakan cukup parah buat kelompok Wang Sun.

Semua itu dilaporkan orang Wang Sun, membuat Tang Lo-ya ini bersedih hati. Kematian beberapa orang anggota perhimpunannya bukan saja akan mengurangi jumlah anggota, juga akan dapat mempengaruhi semangat berjuang anggota-anggota lainnya, di mana mereka tentu akan tergoncang hatinya, semangat berjuangnya akan menurun.

Itulah sebabnya Tang Lo-ya juga memberikan wejangan kepada Wang Sun, agar dia jangan bertindak terlalu ceroboh, dan menjelaskan juga bahwa Tang Bun telah perintahkan tiga orang ahli silat kelas satu buat menghadapi Cing Kiang Wie dan Kang Wei.

Tang Lo-ya menghela napas, dia membuka sepucuk surat laporan dari barisan kelompok ke enam, yang berada dalam posisi sebelah Selatan. Pimpinan rombongan tersebut adalah seorang ahli silat ternama di bilangan daerah Kang-say, dan telah ikut menggabungkan diri. Ilmu silatnya lihay.

Dia melaporkan bahwa di sekitar daerah dia berada bersama kawan-kawannya, tidak ada tanda-tanda mencurigakan. Juga tidak terlihat tanda-tanda bahwa pihak kerajaan mengerahkan pasukannya.

“Hemmm.... memang kali ini kedatangan Cing Kiang Wie dan Kang Wei merupakan tanda tanya yang cukup mengherankan. Tidak mungkin dia datang ke Lam-yang hanya berdua saja..... tanpa membawa pasukan!”

Menggumam Tang Bun perlahan sambil mengerutkan alisnya, kemudian perlahan-lahan dia menggulung surat itu, dia memasukkan ke dalam bajunya, menghela napas lagi panjang-panjang, sambil memikirkan dengan cara bagaimana dia harus dapat mengetahui rahasia kerajaan lebih banyak dari apa yang telah diketahuinya. Dan yang pasti tentu saja sepak terjang Kiang Wie selama berada di Lam-yang, harus diawasi dengan lebih ketat lagi!

Pagi itu Cing Kiang Wie dan Kang Wei tengah bersantap pagi, dengan tertawa-tawa.

Para pelayan melayani mereka lebih telaten dan hormat, karena selain pangkat perwira tinggi ini tampaknya tidak rendah, juga kepandaian mereka sangat hebat sekali. Bukankah semalam di penginapan ini telah datang belasan orang perampok, yang dapat diusir oleh mereka berdua dengan mudah?

Sedangkan Cing Kiang Wie tengah berkata kepada Kang Wei diiringi senyum dan wajah berseri-seri: “Jika Hong-siang mendengar hasil kerja kita, tentu Hong-siang akan cepat-cepat akan mempersiapkan hadiah menarik hati buat kita.....!”

Kang Wei tersenyum juga, namun dia menggeleng perlahan.

“Engkau jangan mengharapkan yang tidak-tidak dulu, karena sekarang ini tugas kita tidak ringan! Semalam yang datang bukanlah manusia-manusia berarti di mata kita, karena pihak merekapun hanya ingin melihat sampai berapa tinggi kepandaian kita, maka mereka sengaja mengorbankan orang-orangnya itu, sehingga jika kita melihat kemenangan yang telah kita capai semalam, niscaya kita akan congkak dan sombong, lenyap kewaspadaan kita. Di waktu itulah mereka akan bertindak dengan mengirim orang-orangnya yang memiliki kepandaian lebih lihay!”

*** ***
Note 22 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hidup itu sederhana, kita yang membuatnya sulit."

(Regards, Admin)

0 Response to "Anak Rajawali Lanjutan (Beruang Salju) Jilid 22"

Post a Comment

close