Anak Rajawali Lanjutan (Beruang Salju) Jilid 09

Mode Malam
 
Anak rajawali Jilid 09
Kali ini Yo Him tidak memanggul tubuh Hok An, karena luka-luka Hok An tampaknya semakin parah, juga tubuhnya semakin membengkak. Jika ia memanggulnya, tentu Hok An akan menderita sekali, malah Yo Him kuatir akan membuat luka Hok An tergesek-gesek oleh pakaiannya sehingga menambah luka itu semakin berat dan parah.

Sedangkan Sasana telah bantu mengangkat sepasang kakinya Giok Hoa, tangan kirinya, Ho Sin-se tangan kanannya, dan Yo Him mengangkat kepala sampai ke leher.

Mereka telah melakukan perjalanan yang tidak terlalu cepat. Sedangkan di atas mereka, terbang rajawali putih, sekali-kali terdengar suara pekiknya yang panjang, tampaknya burung rajawali itu ikut berduka.

Ia seperti juga mengetahui bahwa majikannya itu tengah mengalami luka yang berat sekali, di mana jiwanya tengah terancam. Maka telah membuat burung rajawali itu yang memiliki perasaan sangat tajam, berulang kali mengeluarkan suara pekiknya, seperti juga dia itu ikut berduka.

Tampak Yo Him sudah tidak sabar. Berulang kali dia bertanya kepada Ho Sin-se, apakah tempat dari orang yang mereka cari itu masih jauh.

Ho Sin-se berulang kali mengatakan bahwa mereka akan segera tiba. Tidak lama setelah mereka melakukan perjalanan lagi, memang mereka telah tiba di dekat sebuah tebing yang tinggi sekali. Pada tebing itu tampak sebuah goa yang cukup besar, mungkin dapat masuk dua orang dewasa, karena bentuk goa yang melebar ke samping.

“Itulah tempat kediaman dari orang yang kumaksudkan!” kata Ho Sin-se sambil menunjuk goa itu. Kemudian dengan wajah ragu-ragu dia telah bilang: “Aku..... aku harus segera meninggalkan tempat ini.....!”

Tetapi Yo Him menggeleng.

“Jangan..... kau harus menemani kami dulu sampai kami bertemu dengan orang itu. Jika memang kau meninggalkan kami, bagaimana mungkin kami mengetahui orang yang mana yang dimaksudkan olehmu, jangan-jangan nanti kami hanya dapat bertemu dengan orang yang bukan kami maksudkan itu.....!”

Ho Sin-se walaupun merasa ngeri, berada di tempat itu, tokh diapun tidak berani membantah permintaan Yo Him, dia telah mengiyakan dan tidak jadi meninggalkan tempat tersebut.

Dengan hati-hati mereka meletakkan Hok An di bawah sebungkah batu. Sedangkan Yo Him menghampiri mulut goa, dia merangkapkan sepasang tangannya, katanya: “Boanpwee Yo Him datang menghunjuk hormat..... harap Locianpwe mau menerima kedatangan kami.....!”

Sunyi, tidak terdengar suara sahutan dari dalam goa itu.

Yo Him mengulangi lagi sampai dua kali dan tetap tidak memperoleh jawaban. Hal ini membuat Yo Him harus dapat menahan diri, dia telah dua kali berkata dengan suara yang nyaring, sampai akhirnya dia habis sabar.

“Jika memang Locianpwe tidak mau menerima kunjungan kami, biarlah boanpwe bertindak agak kurang ajar dan akan masuk menghadap kepada Locianpwe. Maafkanlah kelancangan Boanpwe!”

Setelah berkata begitu Yo Him menjejakkan kakinya, tubuhnya melesat akan melompat masuk ke dalam goa itu.

Akan tetapi, Yo Him jadi kaget. Dari dalam goa itu, yang gelap gulita, tampak melesat beberapa titik sinar putih yang berkilauan menyambar kepadanya, pada beberapa jalan darah terpenting di tubuhnya. Waktu itu Yo Him tengah berada di tengah udara dengan ke dua kaki tidak menginjak bumi, sehingga dia tidak bisa untuk berkelit.

Yo Him masih dapat menggerakkan tangannya, mengibas senjata rahasia yang menyambar kepadanya, membuat senjata-senjata rahasia itu telah terpental dan kemudian mencong arahnya menancap dalam sekali di dinding goa itu.

Hal ini mengejutkan Yo Him, sebab dilihatnya bahwa tenaga timpukan senjata rahasia tersebut kuat sekali, sehingga dapat menembusi dinding itu. Dengan demikian tentunya orang yang telah melontarkan senjata rahasia itu memiliki kekuatan tenaga dalam yang tangguh sekali.

Apalagi waktu itu Yo Him telah meluncur turun dan mendekati bagian dinding goa yang tertancap senjata rahasia itu, dia melihatnya bahwa senjata rahasia itu adalah sebatang jarum, dua batang paku perak, dan tiga bilah pisau kecil.

Yo Him memandang heran, sampai akhirnya, ia menghela napas dalam-dalam.

Segera ia menyadari bahwa mereka tengah menghadapi seseorang yang beradat sangat aneh. Karena dia telah berseru beberapa kali mohon bertemu, tetapi orang di dalam goa itu tidak mau mecerima kunjungannya dan juga tidak mau menyahutinya. Dengan begitu, membuat Yo Him ingin lancang memasuki goa tersebut.

Akan tetapi dirinya justeru telah disambut dengan jarum dan paku perak itu. Maka Yo Him terpaksa harus dapat berlaku lebih waspada, jika ceroboh, dikuatirkan kelak akan menghadapi kesukaran, karena di dalam goa yang gelap itu tidak bisa dilihat dengan jelas.

Sedangkan keadaan di dalam goa itu tetap sunyi. Yo Him merangkapkan sepasang tangannya, katanya:

“Harap Locianpwe mau menerima hormat Boanpwe Yo Him..... Kami datang berkunjung ke mari, karena kami tengah berada dalam kesulitan dan bermaksud ingin memohon pertolongan Locianpwe......!”

Belum lagi suara Yo Him habis diucapkan, diwaktu itu telah terdengar suara orang tertawa dingin, kemudian dibarengi dengan perkataannya yang tawar: “Siapa yang berani melangkahkan kakinya dengan lancang memasuki goa ini, orang itu akan kubinasakan......!”

Yo Him jadi merandek diam, dia raga-ragu. Tampaknya orang di dalam goa itu memang seorang yang memiliki hati yang keras, dan juga tidak bersedia menerima kunjungan siapapun juga.

Tetapi mengingat akan keadaan Hok An yang kian parah juga, maka Yo Him telah mengeraskan hati, katanya: “Kami terpaksa sekali menggganggu ketenangan Locianpwe, karena kami memang ingin sekali memohon bantuan dan pertolongan Locianpwe, di mana kawan kami tengah terancam jiwanya, ia terluka hebat sekali.....!”

“Itu urusan kalian, bukan urusanku!” menyahuti orang di dalam goa itu, ketus dan juga ia sudah tidak memperdulikan lagi pada keadaan Yo Him, yang mungkin tersinggung oleh kata-katanya yang ketus.

“Jika memang kalian tetap memaksa hendak berdiam di tempat ini guna merusak ketenanganku, maka kalian akan menanggung akibatnya. Dan bila kalian berani lancang memasuki goa ini, kalian akan kutangkap dan kubinasakan dengan cara yang sebaik-baiknya, agar kalian dapat pergi ke akherat dengan hati yang “puas”!”

Yo Him mengerutkan sepasang alisnya. Mendengar perkataan orang di dalam goa, tentu dia bukan sebangsa manusia baik-baik. Bukankah tampaknya orang di dalam goa itu sama sekali tidak mau memberikan kesempatan pada Yo Him untuk menjelaskan maksud kedatangannya, juga bukankah orang di dalam goa itu tidak memperlihatkan sambutan yang baik?

Karena terpikir begitu, menduga bahwa orang di dalam goa itu bukan sebangsa manusia baik-baik, sikap menghormat Yo Him berkurang, dan iapun telah berkata dengan suara tidak sehormat tadi:

“Baiklah, jika memang kau tidak dapat menerima kedatangan kami, itupun memang tidak bisa kami paksakan..... Tetapi yang jelas..... kawan kami membutuhkan sekali pertolonganmu, karena itu, kami mohon dengan sangat, agar engkau mengobati kawan kami itu, dan kami akan segera meninggalkan tempat ini.”

“Hemmm!” terdengar suara tertawa dingin dari dalam goa itu. “Atau engkau menduga bahwa aku ini budakmu, sehingga seenakmu saja engkau meminta pertolongan dan memerintahkan kepadaku, agar aku ini mengobati kawanmu itu? Hemmm, hemmm, hemmm!”

Dan kata-katanya itu telah diakhirinya dengan suara mendengus, seperti juga orang itu tidak senang dan mendongkol sekali!

Yo Him jnga mendongkol, karena dia memperoleh penerimaan seperti itu. Dia telah mengambil keputusan, jika orang di dalam goa itu tetap menolak buat mengobati Hok An, maka dia akan mempergunakan kekerasan memaksa orang tersebut buat mengobati Hok An.

Sasana waktu itu mengawasi dengan hati yang berdebar, karena dia telah mendengar percakapan Yo Him dengan orang di dalam goa tersebut. Dengan begitu, Sasana juga telah memakluminya bahwa orang di dalam goa itu tentunya tidak bermaksud hendak menolongi, bahkan mengusir mereka dengan kasar disertai ancaman akan membunuh mereka.

Sehingga Sasana kuatir jika Yo Him tidak bisa cepat-cepat menguasai orang itu, agar dia bersedia menolongi Hok An, maka keadaan Hok An bertambah parah dan tidak dapat ditolong lagi.

Baru saja Sasana ingin melompat ke samping Yo Him, tiba-tiba dari dalam goa itu telah terdengar bentakan lagi: “Apakah engkau tetap tidak mau meninggalkan tempat ini?!”

Yo Him tertawa tawar, katanya: “Kami datang dengan cara baik-baik, karena memang kamipun membutuhkan sekali pertolonganmu. Tetapi engkau menerima kami dengan cara yang tidak baik dan ketus, maka terpaksa aku harus berlaku lancang, bahwa aku harus tetap meminta engkau mengobati luka kawanku itu. Jika engkau menolak, aku akan memaksanya juga.....!”

Setelah berkata begitu, tampak Yo Him bermaksud menjejakkan kakinya, tubuhnya hendak menerjang masuk ke dalam goa itu.

Namun, belum lagi dia melompat, dari dalam terdengar orang berkata tawar: “Hentikan! Jangan kau memaksa masuk ke dalam goaku, atau engkau akan mati dengan percuma!”

Tetapi Yo Him sudah tidak memperdulikan lagi ancaman orang di dalam goa itu. Dia telah menjejakkan kakinya, tubuhnya melesat sangat gesit, menerobos ke dalam goa.

Dan seperti ancaman orang di dalam goa, begitu tubuh Yo Him meluncur akan menerjang masuk ke dalam goa itu, justeru diwaktu itu tampak beberapa puluh titik sinar yang kemilau menyambar berbagai tubuh Yo Him.

Namun Yo Him sekarang telah bersiap-siap, dia menggerakkan ke dua tangannya tanpa menahan tubuhnya. Dengan ke dua tangan yang dikibaskan beruntun, dia membuat senjata-senjata rahasia yang menyambar kepadanya telah diruntuhkan dan terpencar menyambar ke segala penjuru dinding goa itu. Tubuh Yo Him sendiri masih tetap meluncur akan menerobos masuk ke dalam goa itu.

Terdengar seruan kaget dari orang di dalam goa tersebut, rupanya dia heran juga melihat Yo Him dapat meruntuhkan semua senjata rahasia yang dilontarkannya.

Sebetulnya, orang di dalam goa tersebut melontarkan senjata rahasianya itu bukan dengan cara menimpuk biasa saja, karena dia menimpuk dengan serentak dan senjata-senjata rahasia tersebut menyambar bagaikan bentuk bunga bwee, yang mengepung Yo Him dari segala penjuru.

Namun, Yo Him dapat mengibas runtuh semua senjata rahasia tersebut, tentu saja membuat dia kaget, karena dengan demikian Yo Him memperlihatkan dia bukan seorang lawan biasa.

Waktu itu tubuh Yo Him telah berhasil menerobos ke dalam goa. Keadaan di dalam goa cukup gelap, namun Yo Him yang memang memiliki penglihatan sangat tajam, telah melihat seorang laki-laki tua duduk bersemedhi di tengah-tengah ruangan goa itu, di mana pada dalam goa tersebut tidak terdapat barang apapun juga selain sebuah meja yang terbuat dari batu yang dipahat kasar.

Rupanya orang tua itupun telah melihat Yo Him, dia mengeluarkan seruan tertahan lagi, karena dia melihat yang berhasil menerobos masuk tidak lain seorang pemuda. Tetapi kepandaian pemuda ini tinggi sekali.

“Siapa kau?” akhirnya orang tua itu telah menegur dengan suara yang dingin, setelah dapat menenangkan dirinya.

Karena dia tahu jika ia menyerang lagi tokh pemuda itu akan dapat meruntuhkan senjata rahasianya, juga di waktu itu, iapun tengah diliputi rasa heran, menduga-duga entah siapa adanya pemuda itu. Maka dia menanyakan dulu perihal keadaan Yo Him.

Yo Him pun yang telah melihat orang tua yang berusia sangat lanjut dan memelihara jenggot dan yang panjang sampai tumbuh terjuntai di pangkuannya, tidak berani bersikap terlalu lancang, dia merangkapkan sepasang tangannya:

“Maafkan Locianpwe..... sesungguhnya boanpwe hanya ingin memohon pertolongan Locianpwe agar mau mengobati kawanku..... Jika memang kawanku itu dapat ditolong, maka bukan alang kepalang terima kasih Boanpwe pada Locianpwe!”

“Terima kasih? Hemmm, apakah jika aku bersedia mengobati kawanmu itu, engkau hanya akan mengucapkan terima kasih?!” tanya orang tua itu, sikapnya ku-koay sekali, aneh luar biasa.

Yo Him melengak tertegun mendengar pertanyaan orang tua itu, sampai akhirnya dia bertanya dengan ragu: “Lalu, apa yang harus kuberikan kepada Locianpwe sebagai ucapan terima kasih atas budi kebaikan Locianpwe.....!”

“Kau bersedia memberikan sesuatu kepadaku, sebagai imbalan jika aku berhasil menyembuhkan kawanmu itu?!” tanya orang tua tersebut.

Yo Him mengangguk segera, ia menduga paling tidak orang tua ini tentu akan meminta sejumlah uang yang tinggi sekali sebagai imbalan atas jasanya mengobati Hok An.

“Ya...., berapa yang harus kubayar untuk biaya pengobatan itu?!” tanya Yo Him kemudian.

Orang tua itu tertawa.

“Aku tidak menghendaki uang.....!” katanya.

Yo Him kembali melengak.

“Lalu apa yang diingini Locianpwe?!” Tanya Yo Him sambil mengawasi tajam pada orang tua itu.

Orang tua aneh itu tertawa kecil, suaranya begitu sinis, dan sikapnya juga acuh tak acuh.

“Sudah kukatakan bahwa aku tidak menghendaki uang.....!” kata orang tua tersebut.

“Lalu apa yang dikehendaki oleh Locianpwe.....?” tanya Yo Him.

“Ada dua syaratku, jika memang engkau memenuhi ke dua syaratku itu, maka kawanmu itu akan kuobati! Walaupun bagaimana parahnya luka kawanmu itu, pasti aku akan dapat mengobatinya!” kata orang tua itu.

Yo Him walaupun mendongkol melihat lagak orang tua ini, yang seperti juga sengaja untuk mengulur-ulur waktu, namun ia bertanya juga: “Apa ke dua syarat dari Locianpwe itu!”

“Syarat yang pertama, aku menghendaki imbalan sebagai pembayaran atas jerih payahku mengobati kawanmu itu dengan pembayaran!”

“Pembayaran dengan apa?!” tanya Yo Him tidak sabar memotong perkataan orang tua itu.

“Pembayaran itu adalah jiwamu! Engkau harus memberikan jiwamu kepadaku! Maka kawanmu itu akan segera kuobati!” menjawab orang tua itu.

Yo Him tertegun, dia kaget dan heran bercampur mendongkol.

“Locianpwe, Boanpwe harap kau si orang tua tidak bergurau!” kata Yo Him kemudian “Hal itu mana mungkin.....!”

“Mungkin atau tidak itu urusanmu..... tetapi memang begitulah syaratku.....!” kata orang tua itu.

Yo Him berdiri menjublek.

Orang tua ini benar-benar luar biasa sekali, dia mengajukan syarat yang benar-benar mengejutkan. Bagaimana mungkin, sebagai pembayaran untuk mengobati Hok An, Yo Him harus menyerahkan jiwanya kepada orang tua itu? Bagaimana mungkin dia bisa untuk menerimanya? Karena itu, segera juga dia berkata dengan suara yang dingin: “Tidak mungkin syarat itu dapat dipenuhi olehku!”

“Hemmm, jika memang engkau tidak bisa memenuhi syaratku itu, aku tidak akan memaksa. Bukankah yang meminta pertolongan adalah engkau, bukan aku yang menawarkan? Dan jika memang engkau tidak dapat memenuhi syaratku yang pertama itu, silahkan engkau angkat kaki meninggalkan tempat ini......!”

Mendengar perkataan orang tua itu. Yo Him berdiam diri, sampai akhirnya dia telah bilang dengan sikap tidak senang: “Jika memang Locianpwe mengajukan syarat seperti itu, berarti sama saja Locianpwe menolak permohonan kami agar Locianpwe menolongi kawanku itu......!”

“Aku tidak mau tahu apa yang hendak kau katakan, tetapi yang pasti, aku akan menolongi kawanmu itu, jika engkau dapat memenuhi ke dua syaratku!”

“Lalu bagaimana bunyi syarat yang kedua,” tanya Yo Him, yang ingin mengetahui syarat yang kedua itu.

Orang tua itu berdiam tidak segera menyahuti, dia mengawasi Yo Him dengan mata yang tajam, sampai akhirnya dia telah bilang: “Apakah engkau menyetujui dan menerima syaratku yang pertama itu?”

Yo Him berdiam sejenak, akhirnya dia mengangguk: “Setelah mendengar syaratmu yang kedua, barulah aku akan mempertimbangkannya.....!”

“Hemmm, jika engkau tidak bisa menerima syaratku yang pertama itu, kukira tidak ada perlunya kalau aku menyebutkan syarat yang kedua……”

Tetapi Yo Him telah berkata dengan sikap tidak senang: “Mengapa tidak mau menyebutkan syaratmu yang kedua itu? Siapa tahu aku bisa menerima syaratmu itu?!”

“Dalam urusan ini aku tak memaksamu. Jika engkau ingin mengatakan bahwa aku menindas kau dengan syarat yang terlalu berat, aku pun tidak memaksa engkau meminta pertolongan kepadaku,” kata orang tua itu.

Yo Him mengangguk.

“Benar. Maka dari itu, aku ingin sekali mendengar syaratmu yang kedua,” kata Yo Him.

“Syaratku yang kedua itu sangat ringan!” ujar orang tua tersebut. “Aku akan mengobati kawanmu, yang katamu itu terluka parah, dan setelah dia sembuh, orang yang telah kuobati itu harus menjadi pelayanku!” menjawab orang tua itu dengan suara yang sangat dingin membuat Yo Him jadi gusar sekali.

“Lalu apa artinya pertolonganmu itu pada kawanku?!” tegur Yo Him.

Orang tua itu membuka matanya lebar-lebar, kemudian tertawa dingin.

“Hemmm, apa artinya buat kawanmu itu? Bukankah engkau tentunya mengetahui, bahwa jika aku menolonginya jiwa orang itu dapat diselamatkan dan dia dapat hidup terus?!”

“Tetapi dengan menolong dan menyelamatkan kawanku itu berarti aku harus membuang jiwa. Apa artinya semua itu? Dan juga setelah kawanku itu sembuh, dia harus menjadi pelayanmu..... Hal ini keterlaluan sekali. Kau manusia atau iblis, heh?!”

Rupanya Yo Him sudah tidak bisa menahan luapan darahnya lagi. Dia gusar bukan main. Karena orang tua ini pasti bukan sebangsa manusia baik-baik, karena dia memiliki syarat yang sangat jahat dan buruk seperti itu. Dan juga apa artinya jika Hok An ditolongi orang ini, dan selanjutnya Hok An harus menjadi budaknya.

Memang Yo Him bisa saja menyatakan bahwa dia menerima ke dua syarat dari orang tua itu. Namun setelah Hok An sembuh, ia akan mengadakan perlawanan kepada orang tua itu, karena dia yakin, sehebat-hebatnya kepandaian orang tua tersebut, dia akan dapat menghadapinya dengan baik-baik.

Namun sebagai seorang yang selalu bertindak jujur pada garis yang lurus, Yo Him tidak mau berdusta. Dia keberatan dengan syarat itu dan langsung mengatakan keberatannya.

Orang tua tersebut setelah melihat Yo Him berdiam diri, segera tanyanya dengan suara yang dingin: “Bagaimana, apakah engkau menerima syaratku itu?!”

Setelah berdiam diri beberapa saat pula, Yo Him telah menggelengkan kepalanya: “Sayang sekali aku tidak bisa menerima syaratmu itu.....!” katanya disertai oleh langkahnya yang telah maju setindak, mendekati orarg tua itu.

“Diam di tempatmu!” bentak orang tua itu melihat Yo Him melangkah mendekatinya.

Yo Him menahan langkah kakinya, katanya kemudian, “Baiklah jika memang engkau tidak mau menolongi kawanku itu, walaupun aku telah memohonnya dengan cara baik-baik, akupun tidak bisa mengatakan sesuatu apapun juga, selain akan memaksamu!”

Orang tua itu tertegun sejenak, namun akhirnya tertawa bergelak-gelak.

“Hahaha.....!” tertawa orang tua itu dengan suara menggelegar, seperti juga menggoncangkan dalam goa itu, dinding-dinding goa tersebut tergetar seperti akan runtuh. “Kau hendak memaksa aku? Kepandaian apa yang kau miliki sehingga engkau begitu tekebur hendak memaksaku.....?”

Belum lagi Yo Him menyahuti, Sasana telah melompat ke mulut goa, dia memanggil Yo Him dua kali.

Cepat-cepat Yo Him memutar tubuhnya, dia keluar dari goa itu.

“Ada apa?” tanya Yo Him kemudian pada isterinya.

Sasana tampak bingung dan gelisah sekali, tanyanya: “Bagaimana, apakah orang di dalam goa itu bersedia menolong Hok Lopeh? Keadaannya sekarang ini bertambah parah juga. Jika memang kita berlama-lama lagi, dan waktu berjalan terus, maka keadaan Hok Lopeh lebih sulit lagi diobati.....!”

Yo Him menghela napas dalam-dalam.

“Orang tua di dalam goa itu sangat aneh dan jahat sekali. Dia mengajukan dua syarat untuk menotongi Hok Lopeh!”

Dan Yo Him telah menjelaskan percakapan apa yang telah dilakukannya dengan orang tua di dalam goa itu.

Dalam keadaan seperti itu, Sasana sebetulnya tengah bingung memikirkan keselamatan Hok An, karena Hok An telah mengigau terus menerus tidak hentinya, keadaannya sangat parah dan menguatirkan, juga Giok Hoa menangis terus menambah kebingungan Sasana. Dan sekarang mendengar cerita Yo Him, dia tambah bingung, malah sampai menjadi gusar bukan main.

“Orang tua di dalam goa itu keterlaluan sekali, karena jika memang dia bermaksud menolongi Hok Lopeh, mengapa dia mengajukan syarat yang tidak-tidak?!” Setelah berkata begitu, Sasana menoleh ke dalam goa itu, dia memperhatikan keadaan goa itu, kemudian katanya: “Biarlah kita paksa saja.....!”

“Tetapi kepandaian orang tua itu cukup tinggi, mungkin juga sulit untuk merubuhkan begitu saja, mungkin dia akan berlaku nekad. Jika dia sampai terbinasa, kita lebih sulit lagi, berarti selanjutnya Hok Lopeh tidak bisa kita tolong.....

“Inilah yang membuat aku jadi ragu-ragu buat memaksanya dengan kekerasan. Jika tidak, sejak tadi aku telah memaksanya. Justeru kenekadannya itu, kukuatir dia nantinya mengadakan perlawanan yang gigih, akhirnya dia terbinasa.....!”

Sasana mengerti apa yang dimaksudkan suaminya. Memang jika orang di dalam goa itu terbunuh, tentu akan sia-sia belaka usaha mereka. Beruntung jika mereka berhasil merubuhkannya dan juga memaksanya buat mengobati Hok An. Tetapi jika orang itu terbinasa, lalu bagaimana keadaan Hok An.

Setelah berpikir sejenak, segera juga Sasana teringat sesuatu akal.

“Aku mempunyai pikiran,” katanya kemudian. “Jika memang engkau menyetujuinya, aku dapat melakukannya.”

“Akal apa?!” tanya Yo Him segera.

Sasana menoleh dan melihat Giok Hoa tengah menangis di samping Hok An, katanya: “Jika memang engkau menyetujui, aku akan menyuruh Giok Hoa agar mau perintahkan burung rajawali di depan goa itu mengibaskan sepasang sayapnya terus menerus. Aku tidak yakin bahwa orang tua itu dapat bertahan terus di dalam goanya.....!”

Tetapi Yo Him segera menggeleng.

“Itu kurang baik dan tidak sempurna.....!” kata Yo Him. “Bisa mencelakai burung itu.”

Mendengar perkataan Yo Him itu, Sasana membuka matanya lebar-lebar.

“Kenapa?!” tanyanya.

“Tentu orang tua itu akan mempergunakan senjata rahasianya. “Kitapun belum mengetahui apakah senjata rahasia itu beracun atau tidak?!”

Sasana seperti baru tersadar, dia mengangguk beberapa kali, katanya: “Baiklah, aku akan perintahkan Giok Hoa saja masuk ke dalam goa itu, memohon kepada orang tua itu untuk menolongi paman Hok nya. Aku tidak yakin bahwa orang di dalam goa itu akan mencelakai Giok Hoa.....!”

“Tetapi jika orang tua itu mencelakai Giok Hoa?!” tanya Yo Him.

Sasana tidak segera menyahuti, kemudian sahutnya: “Kukira tidak mungkin.....!”

“Aku telah melihatnya bahwa orang tua di dalam goa itu merupakan seorang yang benar-benar memiliki adat yang sangat ku-koay sekali. Jika memang Giok Hoa kita perintahkan masuk ke dalam goa itu, aku kuatir jika ia dianiaya dan juga terbinasa di tangan orang tua tersebut.

“Malah, jika orang tua itu menawan Giok Hoa dan kemudian mengancam akan membunuhnya jika kita tidak meninggalkan tempat ini, bukankah kita yang akan repot lagi? Waktu berjalan terus, dan jika terjadi urusan seperti itu, tentu Hok An akan terbinasa tanpa ditolong pula.....!”

Sasana mengangguk.

“Benar, apa yang kau katakan itu memang ada benarnya juga......!” kata Sasana seperti juga bingung dan berusaha memutar otak untuk mencari-cari jalan yang sekiranya paling baik guna mempengaruhi orang tua di dalam goa itu.

Sedangkan Yo Him menghela napas dalam-dalam.

“Biarlah aku akan mencobanya untuk memaksanya dengan kekerasan walaupun kepandaiannya memang tinggi, tetapi mudah-mudahan saja aku dapat menawannya.....”

“Tetapi jika engkau dapat menawannya, dan kemudian memaksa dia mengobati Hok Lo peh, namun dia bukannya memberikan obat yang sebenarnya, malah meracunkan Hok Lo peh sampai mati keracunan, bukankah hal ini malah lebih hebat lagi keadaannya?”

Mendengar pertanyaan Sasana seperti itu Yo Him telah memandang bengong, karena dia pun segera berpikir. Bisa saja memang bahwa orang tua di dalam goa itu akan berlaku nekad. Karenanya, dia berdiri diam tidak mengetahui apa yang harus dilakukan.

Orang tua di dalam goa itu telah memperdengarkan suara tertawa mengejek, kemudian katanya: “Jika memang kalian tidak segera berlalu, maka biarlah aku akan melontarkan kalian dari tempat ini seperti melontarkan anjing.....”

Yo Him mendengar teriakan orang tua itu, sudah tidak tahu tindakan apa yang harus dilakukannya. Dilihatnya Hok An mengigau tidak hentinya, sedangkan Giok Hoa masih saja menangis sedih.

Karena itu, dia telah memutar tubuhnya, melangkah memasuki goa, dan ketika berada di hadapan orang tua itu, yang mengawasinya dengan pandangan mata yang sangat tajam, segera juga Yo Him berkata dengan suara yang tawar.

“Locianpwe, aku telah memohon dengan cara yang baik agar kau orang tua mengobati dan menolongi kawanku itu, tetapi kau tetap mengada-ada dengan syarat yang tidak karuan! Sekarang begini saja, mari kita main-main, aku jadi ingin mengetahui, sesungguhnya berapa tinggikah kepandaianmu itu?”

Mendengar perkataan Yo Him, muka orang tua tersebut berobah, kemudian dia tertawa bergelak-gelak.

“Jadi engkau menantangku?!” tanyanya.

“Ya!” mengangguk Yo Him. “Tetapi kita bertaruh!”

“Bertaruh?”

“Ya, jika dalam sepuluh jurus aku bisa merubuhkan engkau, maka engkau harus mengobati kawanku itu sampai sembuh! Tetapi jika aku tidak berhasil merubuhkan engkau dalam sepuluh jurus, biarlah kami berangkat meninggalkan tempat ini dan meminta maaf padamu.”

Orang itu tertegun sejenak, namun akhirnya ia menganggukkan kepala.

“Baik! Baik!” katanya, rupanya dia tertarik juga mendengar tantangan Yo Him. “Jika engkau hendak bertaruh seperti itu, aku melayaninya!”

Tantangannya diterima, Yo Him girang. Dia yakin, dalam sepuluh jurus tentu dia bisa merubuhkan orang tua itu. Dan diapun yakin jika telah dapat merubuhkannya, orang tua itu tentu tidak akan banyak rewel lagi.

Segera Yo Him bertanya: “Apakah kita sudah boleh mulai?”

Orang tua itu mengangguk lagi.

“Ya.....!” katanya. “Jika memang demikian kehendakmu, mari sekarang kita mulai.”

Dan orang tua itu tetap duduk di tempatnya, sama sekali tidak bergerak.

Sedangkan Yo Him menanti lagi sejenak lamanya, setelah melihat orang tua itu tetap tidak bergerak dari tempat duduknya, dia jadi tidak sabar.

“Mengapa kau belum bersiap-siap?” tanyanya.

Orang tua itu berkata dengan suara yang tawar: “Aku sudah bersiap, silahkan engkau membuka serangan!”

Yo Him mendongkol juga, dengan tetap duduk di tempatnya, orang tua itu seperti juga sengaja meremehkan Yo Him.

Karena itu, Yo Him tidak membuang-buang waktu pula segera bersiap untuk membuka serangan.

Orang tua itu pun telah bersiap-siap, karena sepasang tangannya sudah tidak terjuntai lagi ke bawah, dia telah mengingkat ke dua tangannya itu, dengan sikap seperti menantikan pukulan pertama dari Yo Him.

Yo Him juga berpikir, ia harus mempergunakan taktik secepat mungkin, di mana dia tidak boleh menyerang tanggung-tanggung. Jika memang dia menyerang tanggung-tanggung, tentu akan membuat orang tua itu dapat menghindar selama beberapa jurus, maka kesempatan untuk meraih kemenangan akan sedikit sekali.

Begitu orang tua itu mempersilahkan dia memulai dengan serangannya, tanpa membuang waktu lagi, segera juga Yo Him menggerakkan tangan kanannya. Dia mengambil sikap seperti seekor garuda yang hendak menerkam, gerakannya sangat gesit sekali, dan kaki kanannya telah menyepak dengan kuat, disusul dengan tangan kanannya yang telah terpisah beberapa dim dari pundak orang tua itu.

Namun orang tua tersebut tidak merobah kedudukan dirinya, dia tetap duduk di tempatnya tanpa bergerak, hanya sepasang matanya saja yang terpentang lebar-lebar mengawasi datangnya tangan Yo Him yang menyambar dan kakinya yang menendang ke dadanya dengan kuat sekali.

Orang tua itu rupanya memang telah bersiap-siap, dalam waktu yang sekejap mata dan kecepatan yang sulit diikuti oleh pandangan mata, tahu-tahu tangan kanannya meluncur ke selangkangan Yo Him.

Itulah cara penyerangan yang benar-benar membuat Yo Him kaget. Dia tidak menyangka bahwa orang tua itu dapat menyerangnya dengan cara seperti itu.

Jika sampai selangkangannya itu terserang, jangan kata terserang telak, jika terpegang saja, tentu akan membuat Yo Him hilang kesadaran dirinya akibat kesakitan yang hebat. Karenanya Yo Him telah menarik pulang tangan dan kakinya, membatalkan serangannya, tubuhnya melompat ke belakang.

“Sudah jurus pertama!” berseru orang tua itu dengan suara yang nyaring.

“Ya, jurus pertama.....!” menyahuti Yo Him, tetapi dia bukan hanya menyahuti saja, juga telah membarengi dengan ke dua tangan disampokkan kepada orang tua itu, dari ke dua telapak tangannya meluncur kekuatan yang sangat dahsyat.

Orang tua itu mengetahui, bahwa dia dalam keadaan duduk, dengan begitu, tidak mungkin dia dapat menghadapi dan menerima serangan tersebut dengan kekerasan, karena tubuhnya tentu tidak mungkin dapat bertahan dengan baik.

Begitu angin pukulan ke dua telapak tangan dari Yo Him telah menyambar dekat padanya, tahu-tahu tubuh orang tua itu kejengkang ke belakang, rebah rata dengan tanah, dia mengambil sikap tetap dengan sepasang kaki tertekuk bersemedhi.

Karuan saja, hal itu membuat Yo Him kehilangan sasarannya, dan angin pukulannya hanya menyampok ke dinding goa itu.

Seketika dinding itu gempur dan rontok, meluruk jatuh di dekat orang tua itu.

Namun cepat sekali orang tua itu telah dapat bangun duduk pula dan tangan kanannya telah meluncur lagi.

Yo Him waktu itu tengah menarik pulang kekuatan tenaga dalamnya dan akan menyerang pula dengan jurus ketiga. Tetapi tenaga serangan dari orang tua itu menyambar datang, maka dia batal menarik pulang tenaganya dan telah menangkisnya.

“Bukkk!” benturan tenaga mereka berdua benar-benar kuat sekali, Yo Him merasakan napasnya menyesak. Begitulah sampai jurus keenam Yo Him telah menyerang, namun orang tua tersebut dapat menghadapinya dengan baik, sehingga Yo Him jadi bingung dibuatnya.

Sedangkan mereka telah bertaruh, dalam sepuluh jurus Yo Him harus merubuhkan orang tua itu. Jika dia tidak dapat merubuhkan orang tua tersebut, berarti dia yang dihitung sebagai pecundang dan harus meninggalkan tempat ini.

Kini hanya tinggal empat jurus. Karena berpikir begitu, di mana waktu telah terlalu mendesak sekali, Yo Him tidak mau membuang buang waktu lagi.

“Aku harus mempergunakan ilmu pukulan yang terhebat.....” Dan sambil berpikir begitu, Yo Him telah mengempos lweekangnya, dia telah mengerahkan sebagian besar dari tenaga dalamnya, dan akan mempergunakan salah satu jurus dari ilmu pukulan yang akan dapat menghancurkan bungkahan batu, warisan dari ayahnya, yaitu jurus andalan yang diwarisi oleh Yo Ko padanya berupa jurus-jurus yang diolah dari sari Kiu-im-cin-keng dan Kiu-yang-cin-keng.

Dan memang Yo Him jarang sekali mau mempergunakan kepandaian andalannya itu, jika saja ia tidak dalam keadaan terpaksa sekali.

Sekarang karena hanya tinggal empat jurus, dan jika ia gagal merubuhkan orang itu niscaya akan membuat ia gagal memaksa orang tua tersebut menolongi Hok An yang keadaannya sangat parah itu, maka Yo Him terpaksa mengandalkan ilmu andalannya itu. Yang pertama-tama dipergunakannya adalah jurus Kesedihan Yang Memuncak di mana dia telah menghantam kepada orang tua itu.

Tubuh Yo Him mengambil sikap seperti seekor biruang, yang bergerak sangat lincah sekali, dia bergoyang-goyang seakan ingin menari. Hal ini membuat orang tua itu bingung tidak bisa menerkanya dengan segera, ke arah mana sasaran yang diincar oleh Yo Him.

Dan tahu-tahu oranq tua itu merasakan dirinya diterjang oleh satu kekuatan yang luar biasa dahsyatnya, membuat napasnya menyesak, cepat-cepat dia mengempos semangat nya, lalu menangkisnya.

Jalan untuk berkelit memang sudah tidak ada. Dengan begitu terpaksa dia mempergunakan kekerasan buat menangkisnya, tenaganya itu saling membentur.

“Gelegar.....!” suara yang sangat keras bergema di dalam goa itu.

Kesudahannya? Sangat luar biasa!

Tubuh orang tua itu, dalam posisi tetap duduk seperti bersemedhi, telah meluncur ke belakang, dan punggungnya menghantam dinding goa tersebut. Malah seketika tubuhnya itu melesak ke dalam dinding, dia seperti juga duduk di atas dinding itu, di dalam legokan dari dinding goa itu!

Batu dari dinding goa yang terhantam oleh punggung orang tua itu telah meluruk hancuran batu, menimbulkan lobang yang cukup dalam, beberapa dim.

Sedangkan Yo Him juga menghela napas dia kuatir kalau-kalau nanti orang tua itu mengalami sesuatu yang tidak diinginkan.

Tetapi ternyata tidak, orang tua tersebut segera melompat turun dalam sikap tetap seperti bersemedhi.

Di waktu itu Yo Him merasa kagum juga. Selain orang tua itu sama sekali tidak terluka juga tampaknya dia tidak mengalami sesuatu yang merugikan dirinya. Karenanya, Yo Him menyadari orang tua itu memiliki lweekang yang cukup tangguh.

Dan dia tadi menyerang begitu hebat, membuat punggung orang tua itu menghantam dinding goa tersebut, namun dia tidak mengalami cidera apa-apapun juga. Malah dinding itu sampai berlobang mencetak bentuk tubuh di bagian punggung dari orang tua tersebut.

Orang tua itu juga telah menghela napas dalam-dalam, dia berkata dengan suara yang tawar: “Hemm, ternyata engkau murid Sin-tiauw-tay-hiap Yo Ko.....!”

Yo Him tersenyum.

“Bukan.....!” sahut Yo Him.

“Bukan?!” memotong orang tua itu tanpa menantikan sampai Yo Him menyelesaikan perkataannya itu. “Kau hendak mendustai aku? Sudah jelas bahwa jurus pukulan yang engkau pergunakan itu adalah ilmu andalan dari Sin-tiauw-tay-hiap Yo Ko..... engkau tidak bisa mendustai aku.....!”

Yo Him tersenyum, dia merangkapkan ke dua tangannya memberi hormat kepada orang tua itu katanya: “Bukan...... memang sesungguhnya Boanpwe bukan murid Sin-tiauw-tay-hiap Yo Ko, namun Sin-tiauw-tay-hiap Yo Ko adalah ayah Boanpwe.....!”

“Kau..... kau putera Sin-tiauw-tay-hiap Yo Ko?!” tanyanya sambil memandang heran.

Yo Him menganggukkan kepala, cepat-cepat dia merangkapkan sepasang tangannya, “Benar!”

“Hemmmmm, apakah kau tidak berdusta?” tanya orang tua itu.

“Mengapa Boanpwe harus membohongi Locianpwe?” sahut Yo Him.

“Tetapi.....!” berkata sampai di situ, orang tua tersebut berdiam diri sejenak, namun kemudian dia telah menganggguk-angguk,

“Boleh jadi! Mungkin juga benar bahwa engkau putera Sin-tiauw-tay-hiap Yo Ko, kepandaianmu memang cukup tinggi, dan semuanya merupakan kepandaian dari Sin-tiauw-tay-hiap Yo Ko.....!”

Gembira Yo Him melihat perobahan sikap dari orang tua itu. Dia mau menduga tentu orang tua itu sebagai seorang yang pernah memiliki hubungan baik dengan ayahnya. Tentu orang tua itu akan merobah keputusannya dan bersedia untuk menolongi Hok An.

“Locianpwe.....!” kata Yo Him sambil merangkapkan ke dua tangannya. “Siapakah Locianpwe sesungguhnya? Bolehkah Boanpwe mengetahui nama gelaran Locianpwe?”

Orang tua itu tidak segera menyahuti, dia mengamat-amati Yo Him sampai akhirnya dia bilang: “Jika memang tidak salah, Sin-tiauw-tay-hiap telah bertemu kembali dengan Siauw Liong Lie bukan?”

Yo Him telah mengangguk.

“Ya, kini ayah telah berkumpul dengan ibu.....!” katanya.

“Hemmm, sungguh beruntung! Sungguh beruntung! Dulu aku mengetahui benar akan penderitaan dari Sin-tiauw-tay-hiap waktu berpisah dengan ibumu itu.....!”

Setelah berkata begitu, orang tua itu duduk termenung berdiam diri, dia seperti juga tengah membayangkan sesuatu peristiwa yang telah lalu itu.

Yo Him melihat sikap orang tua itu, dia berdiam diri juga, karena dia tidak mau mengganggu ketenangan orang tua tersebut. Setelah dilihatnya orang tua itu menghela napas berulang kali, barulah dia berkata:

“Locianpwe, tentunya kau orang tua adalah sahabat dari ayahku itu bukan..... dan bolehkah aku mengetahui nama dan gelaranmu yang mulia? Banyak yang telah diceritakan ayah mengenai kawan-kawannya, hanya sayang, Boanpwe tidak mengetahui siapakah Locianpwe sebenarnya.....?”

Orang tua itu menghela napas satu kali lagi, baru kemudian dia bilang: “Dalam urusan seperti ini memang aku seharusnya menyatakan perasaan syukur, telah dipertemukan dengan putera dari seorang yang sangat kukagumi tetapi justeru pertemuan ini memojokkan aku agar dapat melakukan sesuatu buat putera dari sahabatku itu.....!”

Dan orang tua itu setelah menggumam menghela napas lagi, baru melanjutkan perkataannya: “Kau ingin mengetahui siapa aku? Aku she Bun dan bernama Kie Lin!”

“Bun Kie Lin.....?!” tanya Yo Him. Dia heran, karena belum pernah mendengar dari ayahnya nama seperti itu.

“Ya!” mengangguk orang tua itu.

“Ohhh, sudah cukup banyak yang Boanpwe dengar dari ayah mengenai kebesaran nama Bun Locianpwe..... juga telah banyak pula yang Boanpwe dengar mengenai kehebatan Locianpwe!” memuji Yo Him.

“Kentutmu!” tiba-tiba orang tua itu menbentak dengan suara yang nyaring.

Yo Him kaget dan heran, ia tertegun. “Locianpwe…..?!” dia tidak bisa meneruskan perkataannya hanya memandangi orang tua itu.

Orang tua she Bun tersebut menghela napas lagi.

“Hemmm, engkau mengatakan telah banyak mendengar perihal diriku dari ayahmu, telah mendengar juga perihal sepak terjangku dari ayahmu! Kau berbohong! Engkau seorang pendusta besar!”

Muka Yo Him berobah merah. Memang walaupun dia tidak pernah mendengar perihal Bun Kie Lin, namun ia sengaja memuji untuk sekedar basa-basi.

Tetapi siapa sangka orang tua itu benar-benar memiliki adat yang ku-koay dan malah tidak lama kemudian dia telah bertanya lagi: “Bagaimana dengan sisa tiga jurus, apakah kita teruskan.....!”

“Tunggu dulu, Locianpwe.....!” kata Yo Him, tergesa-gesa.

Yo Him mana mau merusak suasana yang telah mulai membaik ini. Tampaknya orang tua yang mengaku sebagai Bun Kie Lin sangat menghormati ayahnya, karena itu, jika mereka melanjutkan pula pertandingan sebanyak tiga jurus, itu bisa merobah keadaan mereka yang mulai membaik. Justeru Yo Him hendak memanfaatkan kesempatan ini buat mendekati orang tua she Bun itu, membujuknya agar dia mau menyudahi pertaruhan mereka dan mengobati Hok An.

Waktu itu Yo Him telah bilang lagi: “Locianpwe, sesungguhnya memang Boanpwe hanya mendengar sekali-sekali saja mengenai nama locianpwe..... akan tetapi tadi Boanpwe telah melihat dan menyaksikan sendiri, betapapun juga Locianpwe merupakan seorang tua yang memiliki kepandaian yang sangat hebat sekali! Secara pribadi Boanpwe sangat tunduk dan juga kagum sekali!”

Mendengar pujian Yo Him itu, Bun Kie Lin tertawa dingin.

“Kembali engkau menyebar kentut busukmu!” katanya kemudian dengan suara yang tawar. “Sudah jelas tadi aku yang didesak olehmu, kau telah berhasil membuat aku terpental untung saja tidak sampai aku terluka di dalam atau cedera. Dan sekarang engkau malah bermaksud hendak mengejekku, dengan memuji kosong seperti itu..... hemmm, hemmm, hemmm, sesungguhnya kau seorang pemuda yang pandai sekali berdusta.....”

“Locianpwe jangan salah paham. Jika tadi Locianpwe berdiri dengan ke dua kaki berpijak pada tanah, tentu Locianpwe akan dapat menahan dan menerima serangan Boanpwe sebaik-baiknya. Tetapi tadi justeru Locianpwe dalam keadaan duduk, sehingga lweekang Locianpwe tidak tersalurkan, dan tubuh Locianpwe telah terpental.

“Tetapi yang benar-benar luar biasa dan membuat Boanpwe kagum sekali, justeru tampaknya Locianpwe telah berhasil melindungi tubuh Locianpwe dengan lweekang yang tinggi sekali. Bukankah, biarpun telah menghantam dinding goa itu dengan punggung Locianpwe, namun tubuh Locianpwe tidak mengalami cidera apapun juga.

“Malah dinding goa itu telah meluruk jatuh dan timbul sebuah lobang yang mencetak bentuk tubuh bagian punggung Locianpwe? Bukan itu menunjukkan bahwa kekuatan lwekang seperti itu jarang sekali dimiliki orang biasa?”

Mendengar pujian dari Yo Him, malah dilihatnya pemuda itu sambil memperlihatkan sikap sungguh-sungguh, girang juga hati orang tua itu, dan rupanya iapun juga terhibur juga.

“Baiklah, engkau telah berusaha memujiku. Akupun tidak akan memaksa engkau untuk bertanding terus! Tetapi terus terang saja, ayahmu tidak mungkin kenal denganku. Karena waktu dulu, aku memang sering kali bertemu dengan ayahmu, hanya aku sebagai anak buah dari Tiat To Hoat-ong belaka, karena itu, aku tidak dapat menonjolkan diri. Sekali saja Sin-tiauw-tay-hiap menghantamku, tentu aku akan terbinasa.....!”

Mendengar sampai di situ, maka Yo Him segera mengerti. Tentunya Bun Kie Lin ini seorang bangsa Tiong-goan yang menghambakan diri pada pihak Mongolia, dan kemudian bekerja di bawah perintah Tiat To Hoat-ong, hanya saja sebagai orang bawahan Tiat To Hoat-ong, tentunya Bun Kie Lin memang memiliki kepandaian yang cukup tinggi.

“Lalu mengapa Locianpwe tidak meneruskan untuk ikut pemerintah Boan itu.....?” tanya Yo Him ingin mengetahuinya.

Muka Bun Kie Lin berobah merah, kemudian dengan sikap yang sengit katanya: “Apakah engkau kira aku bekerja pada orang-orang Mongolia buat mengharapkan pangkat? Tidak! Justeru aku hanya ingin meminjam tenaga Tiat To Hoat-ong buat menyelesaikan urusanku!

“Aku mempunyai seorang musuh yang tangguh dan karena itu, aku tidak bisa melayaninya sendiri. Aku segera menghamba pada Tiat To Hoat-ong, dengan harapan musuhku itu tidak bisa berbuat banyak padaku. Memang aku berhasil, Tiat To Hoat-ong berhasil kubujuk dan mau menolongi aku, dia membinasakan musuhku itu.....!”

“Ohhh.....!” Yo Him hanya mengeluarkan perkataan itu saja, dia mendengarkan terus cerita, orang tua itu.

“Setelah musuhku itu terbunuh,” melanjutkan orang tua tersebut setelah menelan air liurnya dua kali. “Maka akupun segera meminta berhenti. Namun Tiat To Hoat-ong tidak mengijinkan, malah dia jadi mencurigai aku hendak berkhianat kepada pemerintah Boan-ciu dan juga ingin kembali berpihak kepada para pahlawan-pahlawan dari daratan Tiong-goan, karenanya aku diawasi ketat.

“Namun aku menyatakan sungguh-sungguh padanya, bahwa aku ini hanya ingin mengasingkan diri dan hidup menyendiri. Tokh tetap saja Tiat To Hoat-ong tidak mengijinkan, sampai akhirnya ia terbinasa di tangan Sin-tiauw-tay-hiap dan kawan-kawannya. Waktu itulah aku telah menyingkirkan diri dan hidup menyendiri di sini.....”

Waktu mendengar cerita Bun Kie Lin sampai di situ, Yo Him memotong, tanyanya: “Lalu..... maafkanlah Locianpwe, dari manakah kepandaian ilmu pengobatan yang dimiliki Locianpwe yang kabarnya sangat hebat itu, sehingga Boanpwe telah menggantungkan harapan bahwa Locianpwe akan dapat menolongi kawanku itu?!”

Mendengar partanyaan Yo Him, Bun Kie Lie tersenyum tawar, katanya: “Memang bicara soal ilmu silat, aku tidak seujung kukunya Sin-tiauw-tay-hiap ataupun Tiat To Hoat-ong. Justeru mengenai ilmu pengobatan, hemmmm, hemmmm, aku boleh dibandingkan dengan siapa saja, tentu aku tidak akan berada di sebelah bawah!

“Engkau tentu belum mengetahui bahwa Tiat To Hoat-ong seorang yang sangat teliti sekali. Orang-orang yang dapat dipercayanya benar, baru bisa bekerja sebagai orang yang selalu herada di dekatnya.

“Justeru Tiat To Hoat-ong mengetahui bahwa aku memiliki keahlian yang luar biasa dalam ilmu pengobatan. Karena itu walaupun dia akhir-akhirnya mencurigai aku ingin memihak kepada para pahlawan Tiong-goan, tokh dia hanya perintahkan anak buahnya agar tetap mengawasi aku saja, namun tidak membunuhnya! Coba, jika dia tidak mengharapkan bahwa aku dapat memberikan obat-obat mujarab kepadanya, seperti waktu-waktu sebelumnya, tentu siang-siang aku sudah dikirimnya ke neraka!”

Mendengar keterangan orang tua she Bun tersebut, barulah Yo Him teringat akan perkataan dari Bun Kie Lin, bahwa ia memang waktu meminta berhenti hendak mengundurkan diri, Tiat To Hoat-ong mencurigainya.

Dengan begitu, kini Yo Him baru yakin bahwa ia sebenarnya memiliki ilmu pengobatan yang tinggi, sehingga Tiat To Hoat-ong sendiri mengharapkan berbagai macam obat dari dia. Dengan demikian, tentunya semua obat-obat mujarab yang dimiliki Tiat To Hoat-ong semasa hidupnya, dan juga tokoh-tokoh persilatan yang bekerja di bawah Tiat To Hoat-ong, memperoleh obat-obat itu dari Bun Kie Lin.

Diam-diam Yo Him girang.

“Jika demikian, kawanku itu pasti akan tertolong!” kata Yo Him dalam kegembiraannya itu.

Bun Kie Lin mencilak matanya.

“Siapa yang mengatakan bahwa aku bersedia mengobati kawanmu itu?!” tanyanya.

Pertanyaan Bun Kie Lin membuat semangat Yo Him seperti terbang sebagian meninggalkan raganya, dia tertegun memandang Bun Kie Lin.

Apa yang dikatakan Bun Kie Lin memang benar. Ia belum pernah menyanggupi buat mengobati Hok An.

Cepat-cepat Yo Him merangkapkan sepasang tangannya memberi hormat, sambil katanya: “Locianpwe, memandang muka terang ayahku, maka aku memohon agar Locianpwe mau mengobati luka kawanku itu.....!”

Bun Kie Lin menggeleng.

“Sayang, aku tidak dapat memenuhi permintaanmu itu!” katanya.

“Apa.....?” tanya Yo Him terkejut.

“Ya, sayang sekali, aku tidak bisa memenuhi permintaanmu. Benar, aku merasa kagum pada ayahmu yang kepandaiannya tinggi, tetapi aku dengannya tidak ada hubungan apa-apa, maka jangan harap engkau bisa menjual nama ayahmu itu buat meminta pertolonganku.....!” kata Bun Kie Lin.

Mendongkol juga hati Yo Him mendengar perkataan Bun Kie Lin seperti itu.

“Ilmu pengobatan adalah semacam ilmu yang perlu diamalkan, buat menolongi orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Jika memang Locianpwe tidak bersedia menolongi kawanku itu, apa gunanya ilmu pengobatan Locianpwe?”

“Hemmm!” mendengus Bun Kie Lin dengan sikap angkuhnya lagi, bola matanya mencilak ke sana ke mari: “Jika memang kau berkata begitu, maka sama saja seperti juga engkau hendak mengatur diriku.....! Untuk apa ilmu pengobatan yang kumiliki itu? Sudah tentu akan ditentukan olehku sendiri!”

Melihat adat dari orang tua she Bun yang begitu ku-koay, benar-benar membuat Yo Him tambah mendongkol, dia telah bilang:

“Jika memang begitu, baiklah! Kita lanjutkan lagi sisa yang tiga jurus itu. Jika memang sisa tiga jurus ini aku bisa merubuhkan dirimu, berarti engkau tokh masih tetap terikat oleh pertaruhan kita itu!”

Bun Kie Lin tersenyum tawar.

“Jangan harap engkau bisa merubuhkan diriku, percuma saja. Jika memang aku masih bisa bertahan, aku tentu akan bertahan, tetapi jika tidak, hemmm, berarti aku terbinasa di tanganmu dan engkau juga tetap saja tidak bisa meminta pertolongan yang kau harapkan. Berarti kawanmu itu tetap saja tidak akan terobati dan sembuh.....!”

Benar-benar ku-koay sekali adat Bun Kie Lin. Dan memang apa yang dikuatirkan Yo Him, tampaknya akan terjadi, bahwa orang tua she Bun itu akan nekad.

Cepat-cepat Yo Him merobah sikap, dia menindih perasaan gusarnya, katanya: “Baiklah jika demikian, sekarang kita lihat saja, apakah engkau masih akan menepati janjimu jika telah kurubuhkan.....?” Sambil berkata begitu, cepat tangan Yo Him menyambar ke arah pundak Bun Kie Lin.

Kali ini Bun Kie Lin tidak mengelak atau menangkis, dia tetap duduk bersemedhi. Dengan begitu membuat Yo Him membatalkan cengkeramannya, menarik pulang tangannya. Kemudian diapun telah berkata dengan suara yang tawar: “Nah, jika memang engkau tidak mau meneruskan pertaruhan ini, kau tolonglah sahabatku!”

“Baik-baik! Aku akan menolongi sahabatmu, tetapi bagaimana dengan ke dua syaratku itu?” tanya Bun Kie Lin, dan juga ia telah mengawasi Yo Him dengan sorol mata yang tajam, seakan menantikan jawaban si pemuda itu.

Yo Him benar-benar mati daya buat meminta pertolongan orang she Bun ini. Dikerasi salah, dilunaki juga salah, karena itu membuat Yo Him benar-benar jadi sangat kewalahan. Dia telah melangkah mendekati Bun Kie Lin. kemudian katanya:

“Benar-benar engkau tidak mau menolongi kawanku itu?”

Bun Kie Lin menggeleng.

“Tidak.....!” sahutnya. “Biarpun bagaimana tidak dapat aku menolongi kawanmu itu sebelum engkau memenuhi ke dua syaratku itu.!”

Baru saja Yo Him yang sudah habis sabar hendak menerjang kepada orang she Bun tersebut justeru terdengar panggilan Sasana. “Yo Him.....!”

Waktu Yo Him menoleh, dilihatnya Sasana dan Giok Hoa telah berada di dalam goa itu terpisah tidak jauh dari tempatnya berada. Segera juga Yo Him menghampiri mereka.

“Bagaimana? Apakah kau berhasil untuk membujuk orang itu menolongi paman Hok?!” tanya Sasana dengan sikap gelisah. “Kita tidak boleh terlalu lama membuang-buang waktu, karena keadaan Hok Lopeh mulai parah tampaknya dia semakin tidak tahan.

Yo Him melihat Giok Hoa pun menangis menitikkan air mata yang cukup banyak, sehingga berulang kali dia harus menyusutnya.

Melihat keadaan seperti ini membuat Yo Him jadi habis sabar.

“Biarlah aku akan memaksanya dengan kekerasan, tampaknya orang ini memang tidak bisa diajak bicara baik-baik!” Dan setelah berkata begitu Yo Him memutar tubuhnya, kembali untuk menghadapi Bun Kie Lin.

Waktu itu bola mata Bun Kie Lin mencilak-cilak mengawasi Yo Him, kemudian beralih kepada Sasana dan Giok Hoa.

“Siapa mereka?!” tanya Bun Kie Lin sebelum Yo Him membuka suara.

“Dia adalah isteriku, dan gadis kecil itu adalah murid dari orang yang tengah terluka itu!” menjelaskan Yo Him.

“Hemmm, jadi kau ingin meminta mereka untuk merengek-rengek padaku, agar aku mau mengobati luka kawanmu itu?!” suara Bun Kie Lin tampak mengejek sekali.

Yo Him menggeleng.

“Tidak!!” sahutnya dengan tegas.

“Tidak?!” tanya Bun Kie Lin mementang matanya lebar-lebar. “Kau tidak mengharapkan pertolonganku lagi buat mengobati luka pada kawanmu itu!”

Yo Him mengangguk segera, dengan sikap memperlihatkan kemendongkolan Yo Him telah bilang: “Benar aku sudah tidak mengharapkan pertolonganmu. Aku telah memutuskan, biarlah kawanku itu mati karena luka-lukanya yang parah itu! Tetapi kini aku justeru akan membuat engkau bercacad.....” Setelah berkata begitu, Yo Him melangkah mendekati Bun Kie Lin.

“Tunggu dulu!” cegah Bun Kie Lin sambil mengangkat tangan kanannya. “Aku mau bicara dulu denganmu!”

Yo Him jadi menahan langkah kakinya, sampai akhirnya dia telah bertanya tidak sabar: “Apa yang kau bicarakan lagi? Bukankah engkau telah menolak permintaanku itu? Apa pula yang ingin engkau katakan kepadaku?”

Orang tua she Bun itu telah mengawasi Yo Him dengan sorot mata yang tajam sekali, katanya kemudian: “Jika memang engkau mau bicara lebih jujur, aku baru akan menyampaikan perkataanku itu!”

“Sejak tadi aku bersikap jujur padamu mengapa engkau yang telah berusaha untuk mempermainkan aku?” tanya Yo Him kemudian. “Jika sekarang engkau mau bicara, bicara, jika tidak, ya sudah..... mengapa pula masih harus banyak bicara seperti itu! Yang terpenting sekarang aku harus membuat engkau bercacad.”

Yo Him selesai berkata bersiap-siap akan memulai dengan jurus penyerangannya yang pertama.

Akan tetapi kembali Bun Kie Lin telah menggoyang-goyangkan tangan kanannya, katanya: “Jangan, kita tidak bertindak sekarang, karena jika memang engkau ingin membuatku bercacad, itulah suatu pemikiran yang tidak ada gunanya, kau percaya tidak?”

Yo Him mengawasi orang she Bun tersebut, lalu tanyanya: “Kenapa?”

“Karena jika engkau membuatku bercacad engkau akan mengorbankan temanmu, yang tidak mungkin diobati olehku!”

“Biarlah, aku sudah tidak mengharapkan pertolonganmu lagi?” kata Yo Him sudah habis sabar.

“Benar-benar engkau sudah tidak mengharapkan pertolonganku?” tanya Bun Kie Lin.

Yo Him mengangguk.

“Benar, tidak ada gunanya banyak bicara dengan manusia seperti kau!” kata Yo Him.

“Tunggu dulu..... aku justeru sebaliknya ingin menolong kawanmu itu, aku malah ingin mengobati luka-luka pada kawanmu itu.....” kata Bun Kie Lin kemudian.

“Apa?” Yo Him jadi kaget sekali, dia juga memandang tertegun.

“Kau mau jika kawanmu itu kuobati?” tanya Bun Kie Lin sambil mengawasi Yo Him dengan melontarkan senyuman yang tawar.

Yo Him jadi girang, wajahnya jadi berseri-seri dan kemudian dia telah mengangguk dan katanya: “Tentu! Tentu saja aku memang mengharapkan bahwa kau dapat menolong kawanku ini!”

“Jadi kau mengharapkan pertolonganku itu?” tanya Bun Kie Lin.

“Benar!” sahut Yo Him sambil mengangguk.

“Oh, maaf, aku justeru sekarang berpikir mengobati kawanmu itu tidak ada gunanya, aku tidak bersedia untuk mengobati kawanmu itu, aku membatalkannya.....”

Meluap kemarahan Yo Him, yang merasakan dadanya seakan juga ingin meledak, karena merasa dirinya dipermainkan.

“Manusia tidak tahu diuntung dan tidak dapat dihormati!” seru Yo Him yang sudah tidak sabar lagi, segera maju sambil menghantam dengan tangan kanannya.

Dalam keadaan gusar, tentu saja hantaman tangan Yo Him bukan merupakan pukulan yang bisa dipandang remeh. Itulah serangan yang mengandung tenaga lwekang sangat dahsyat.

Bun Kie Lin rupanya menyadari juga bahwa ia tengah terancam oleh pukulan yang hebat tersebut. Dia mempergunakan jari telunjuk tangannya menotol tanah, seketika tubuhnya melambung pindah tempat ke samping.

Angin pukulan telapak tangan Yo Him menghantam tempat yang tadi diduduki oleh Bun Kie Lin. Segera terdengar suara menggelegar dan juga tanah telah berhamburan muncrat ke mana-mana, karena dahsyatnya tenaga pukulan itu, malah tempat di mana tadi Bun Kie Lin duduk telah tercipta sebuah lobang yang cukup besar.

Bukan main terkejutnya Bun Kie Lin, karena dilihatnya bahwa tempat di mana tadi dia duduk, telah berlobang besar seperti itu. Tetapi dia malah tertawa untuk tenangkan hatinya.

“Apakah engkau benar-benar tidak menginginkan lagi aku menolongi kawanmu itu?” tanyanya dengan suara yang agak nyaring.

“Tidak! Biarlah kawanku itu tidak tertolong, tetapi engkau harus kubuat bercacad juga. Karena biarpun engkau memiliki ilmu pengobatan yang tinggi, aku justeru hendak melihat apa yang bisa kau lakukan buat mengobati dirimu sendiri!” Sambil berkata begitu Yo Him telah melompat ke dekat orang tua she Bun itu.

Bun Kie Lin menegasi: “Benar-benar engkau tidak ingin menolong kawanmu itu?”

“Tidak!” Dan Yo Him hendak menggerakkan pula tangan kanannya.

“Jika engkau sudah tidak mengharapkan, malah aku ingin menolongi kawanmu itu,” kata Bun Kie Lin dengan suara yang nyaring.

“Tidak! Aku sudah tidak akan mengijinkan engkau mengobati luka kawanku itu!” teriak Yo Him

“Aku justeru hendak mengobati!” teriak Bun Kie Lin, “Aku tentu akan mengobatinya!”

“Tidak boleh!” teriak Yo Him.

“Ohhh, kau tidak mungkin dapat mencegahku, karena aku akan mengobati kawanmu itu.....” teriak orang tua she Bun itu, benar benar dia telah melompat dengan tubuh yang ringan dalam keadaan duduk bersemedhi itu.

Yo Him yang cukup cerdas telah dapat melihat bahwa Bun Kie Lin seorang yang ku-koay. Semakin orang memohon dan memintanya, walaupun ia dipukul sampai mati, ia tidak akan mengabulkan atau meluluskan permintaan itu. Tetapi jika ia ditolak maksudnya melakukan sesuatu, semakin kuat dan keras juga keinginannya itu, buat dapat melaksanakan apa yang diinginkannya itu.

Karenanya, waktu Bun Kie Lin bertanya apakah Yo Him sudah tidak mengharapkan lagi pertolongannya agar mengobati luka kawannya itu, Yo Him segera mencegahnya, dan memang dilihatnya Bun Kie Lin jadi memaksa hendak menolongi Hok An.

Maka, melihat Bun Kie Lin melompat ingin menolongi Hok An, Yo Him justeru sengaja telah melompat menghadang di depannya, dia mencegahnya:

“Tidak! Tidak! Kau tidak boleh mengobati luka kawanku itu. Aku sudah tidak mengharapkan lagi bantuanmu.....!” Sambil berkata begitu, Yo Him memperlihatkan sikap seperti hendak merintangi orang she Bun itu keluar dari goa tersebut.

Sasana yang menyaksikan keadaan seperti ini telah tersenyum, karena ia pun telah dapat melihat watak yang aneh dari orang she Bun tersebut dan Sasana mengetahui bahwa Yo Him tengah melaksanakan tipu muslihatnya memanfaatkan kelemahan dan keanehan watak dari orang she Bun tersebut buat mencapai maksudnya, agar Bun Kie Lin mau menolongi Hok An.

Akan tetapi berbeda dengan Sasana, Giok Hoa jadi memandang bengong. Dia benar-benar tidak mengerti mengapa Yo Him merintangi dan mencegah Bun Kie Lin untuk mengobati Hok An, sedangkan Bun Kie Lin tampaknya ingin sekali mengobati Hok An. Diam-diam gadis ini gelisah bukan main, dia jadi menangis terisak-isak.

Sasana mengetahui kesusahan hati gadis cilik itu, dia membelai rambutnya, katanya: “Jangan menangis, jangan menangis!” katanya menghibur. “Yo Koko sedang berusaha memancing orang itu agar mau mengobati paman Hok mu itu..... Kau tenang-tenang saja!”

“Tetapi..... orang itu telah bersedia untuk mengobati paman Hok, lalu mengapa Yo Koko, itu menghalanginya dan menolak keinginannya?”

Sasana tersenyum, dia mendekati mulutnya ke telinga si gadis cilik, membisikkan sesuatu.

Barulah Giok Hoa mengerti, dia mengangguk-angguk dan menghapus air matanya, hanya mengawasi lagi orang she Bun yang tengah berusaha untuk menerobos rintangan Yo Him, agar dapat keluar guna mengobati Hok An. Akan tetapi Yo Him tetap merintanginya, tidak mengijinkan Bun Kie Lin keluar.

“Aku harus mengobati kawanmu itu.....!” teriak Bun Kie Lin mulai gusar.

“Tidak! Aku tidak mengijinkan, biarlah kawanku itu mati, dan sebagai balasannya engkau akan kubuat bercacad.....” teriak Yo Him. “Hemmm, jika memang engkau ingin mengobati kawanku itu, aku tidak bisa mempercayai engkau lagi, karena kemungkinan bukan mengobati engkau akan mencelakainya, akupun meragukan akan kehebatan ilmu pengobatanmu itu..... Aku tidak mengijinkan engkau mengobati kawanku, jangan coba-coba kau dekati kawanku itu.....”

Dan Yo Him tetap memperlihatkan sikap merintangi.

Bu Kie Lin seperti juga tidak bisa menahan diri lagi, dia berseru-seru gusar.

“Kau kawan yang berhati busuk, melihat kawan yang terluka parah itu hendak kuobati, justeru engkau yang menghalanginya..... Hemmm, rupanya memang engkau memiliki hati yang busuk dan ingin menyaksikan kawanmu itu terbinasa karena lukanya itu.....!” teriak Bun Kie Lin.

Tetapi Yo Him telah menggeleng, sambil katanya: “Tidak! Tidak bisa kuijinkan engkau menghampiri kawanku itu. Tidak dapat engkau pergi mengobati kawanku, karena walaupun bagaimana tetap saja engkau tidak kuperbolehkan mengobati kawanku itu.....!”

“Kenapa?!” bentak Bun Kie Lin dengan suara yang mengandung kemarahan. “Kau tidak mempercayai padaku bahwa aku bisa menyembuhkan kawanmu itu?!”

Yo Him menggeleng.

“Tidak! Engkau tidak bisa dipercaya, juga kepandaian ilmu pengobatanmu itu belum tentu dapat diandalkan buat mengobati luka kawanku itu..... Aku tidak mengijinkan engkau mengobati kawanku, karena belum tentu dia dapat disembuhkan, bahkan sebaliknya dia akan bercelaka denganmu......

“Hemmm, aku tidak mengijinkan engkau pergi menyentuh kawanku itu. Biarlah kawanku itu mati, dan engkau akan kubuat bercacad!”

Setelah berkata begitu, Yo Him menggerakkan tangan kanannya menyerang Bun Kie Lin.

Tetapi berbeda seperti tadi, dimana Yo Him menyerang dengan kekuatan tenaga dalam yang dahsyat sehingga membuat tempat duduk dari Bun Kie Lin berlobang, justeru sekarang ini dia menyerang hanya buat menggertak belaka.

Bun Kie Lin mengelak cepat sekali, dia melompat mundur beberapa langkah ke belakang. Di waktu itulah dengan gusar ia telah berteriak: “Aku harus menolongi kawanmu itu...... harus!”

“Tidak! Tidak boleh!” teriak Yo Him tetap merintangi.

“Harus! Walaupun bagaimana aku harus menolongi kawanmu itu.....!” teriak Bun Kie Lin dengan suara yang mengandung penasaran.

“Aku tetap tidak akan mengijinkan! Walaupun engkau membayar selaksa tail tetap saja aku tidak akan mengijinkan engkau menolongi kawanku itu.....!”

“Hemmm, apakah engkau mengira bahwa aku ini jeri padamu? Atau kau kira aku takut oleh ancamanmu itu yang akan membuat aku bercacad?

“Hemmm, walaupun engkau akan menghantam mati padaku, aku tetap harus berusaha menolongi kawanmu itu! Aku ingin memperlihatkan kepadamu, apakah ilmu pengobatanku ini, tidak memiliki arti sama sekali, atau memang merupakan ilmu pengobatan yang luar biasa!”

“Aku tidak perlu melihatnya, karena sudah pasti bahwa ilmu pengobatanmu itu tidak ada artinya.....!” kata Yo Him sengaja memperlihatkan sikap mengejek.

Bukan main gusarnya Bun Kie Lin.

“Aku bermaksud baik hendak menolongi kawanmu, aku tidak kenal padanya, tetapi aku mau menolong dan mengobatinya, namun engkau sebagai kawannya malah menghalang-halangi dan menghendaki kawanmu itu mati. Cara apa yang kau pergunakan ini? Kawan apa kau yang berhati begitu busuk?”

Mendengar perkataan Bun Kie Lin seperti itu, Yo Him tersenyum sejenak, katanya: “Aku tidak mau tahu apakah engkau akan dapat mengobati atau tidak, tetapi aku tetap tidak mengijinkan. Aku tidak mau jika kawanku itu dijadikan kambing percobaan olehmu, di mana dia akan dijadikan sebagai bahan percobaan ilmu pengobatanmu itu yang belum tentu memiliki khasiat yang berarti. Karenanya, aku tidak dapat mengijinkan engkau mengobati kawanku itu.....!”

Bun Kie Lin jadi semakin penasaran, dan dari penasaran diapun jadi nekad, karena kemarahannya telah meluap. Ia melompat ke depan, jari telunjuknya telah menekan tanah, tubuhnya ringan sekali melesat ke mulut goa menerjang Yo Him.

“Aku akan mengadu jiwa dengan kau! Walaupun engkau tetap merintangi, aku harus keluar dan mengobati kawanmu itu, dan juga aku akan mempertaruhkan jiwaku buat kesembuhan kawanmu itu. Aku mau lihat, apa yang dapat engkau katakan nanti setelah engkau melihat betapapun hebatnya ilmu pengobatanku itu, yang dapat mengobati dan menyembuhkan luka-luka pada kawanmu itu?!”

Setelah berkata begitu, seperti juga sudah tidak memperhatikan lagi keselamatan dirinya Bun Kie Lin, dengan mempergunakan totolan jari tangannya, dia membuat tubuhnya itu melambung ringan sekali, menerjang kepada Yo Him yang berdiri melintang di depannya.

Namun Yo Him masih tetap berpura-pura menghalangi jalan keluar bagi Bun Kie Lin.

Tetapi walaupun demikian, Yo Him sengaja melakukan gerakan yang sangat gesit mengelak dari terjangan Bun Kie Lin. Dia memperlihatkan sikap seakan juga ia terpaksa harus berkelit karena terjangan Bun Kie Lin, sehingga membuka lowongan yang cukup besar, membuat Bun Kie Lin dapat melompat menerobos keluar goa itu, lewat di samping tubuh Yo Him

Dalam keadaan seperti itu, Yo Him memang sengaja memperlambat gerakannya. Dia girang bahwa diwaktu itu Bun Kie Lin jadi begitu bernafsu sekali ingin menolongi Hok An.

Memang itulah yang diharapkannya, maka dia sengaja memperlambat gerakannya, karena dia memang ingin membiarkan Bun Kie Lin menolongi Hok An.

Bun Kie Lin begitu dapat keluar dari goanya, dengan sikap tetap bersemedhi, yaitu ke dua kaki saling tumpang terkunci, hanya jari-jari tangannya yang menotol tanah, sehingga jari-jari tangannya yang disaluri tenaga dalamnya itu dapat melontarkan tubuhnya mendekati Hok An.

Ketika berada di samping Hok An, dia segera memeriksa keadaan Hok An tergesa sekali, karena ia kuatir bahwa Yo Him akan menyusul dan nanti menghalangi dia mengobati Hok An.

Sedangkan Yo Him berseru-seru: “Jangan, aku tidak mengijinkan engkau mengobati luka kawanku itu, aku tidak akan mengijinkan, engkau tidak boleh menyentuh kawanku itu.....!”

Sambil berseru begitu, Yo Him telah melesat ke dekat Bun Kie Lin, tetapi gerakannya itu telah diperhitungkan. Dia melakukannya dengan gerakan yang lambat. Dengan demikian membuatnya jadi memberikan kesempatan kepada Bun Kie Lin untuk dapat memeriksa keadaan luka dari Hok An.

Bun Kie Lin yang mendengar cegahan Yo Him, segera lebih cepat lagi memeriksa keadaan luka dari Hok An. Sebagai seorang yang memang memiliki ilmu pengobatan yang tinggi, dia dapat segera mengetahui bahwa itulah luka-luka yang menyebabkan infeksi yang cukup berat. Dia telah mengambil semacam obat dari sakunya, dan segera memasukkan ke dalam mulut Hok An.

Semua itu dilakukannya dengan cepat, karena memang dia ingin “mengejar” waktu agar Yo Him tidak bisa mencegahnya.

Yo Him yang memang sengaja memperlambat gerakannya, walaupun dia masih tetap berseru-seru mencegah, namun ia telah menahan gerakannya ketika melihat Bun Kie Lin memberikan obat kepada Hok An. Memang dia sengaja agar Bun Kie Lin memiliki kesempatan buat memberikan obat kepada Hok An.

Dan setelah melihat Bun Kie Lin berhasil memasukkan obat itu ke dalam mulut Hok An, Yo Him mempercepat gerakannya. Ia juga mengulurkan tangannya akan menjambret, teriaknya: “Aku akan buat kau bercacad! Aku tak percaya engkau bisa memiliki ilmu pengobatan yang berarti, kawanku itu tentu akan lebih celaka lagi memakan obatmu yang tidak ada khasiatnya apa-apa.....!” Sambil berkata begitu, Yo Him hanya menjambret setengah hati.

Bun Kie Lin ternyata nekad, dia tidak berkelit, dia hanya diam bersemedhi di dekat Hok An, dengan ke dua tangannya sibuk sekali menguruti jalan darah di tubuh Hok An. Dia membiarkan punggungnya dijambret Yo Him.

Waktu tangan Yo Him hanya terpisah beberapa dim saja dari punggung Bun Kie Lin segera juga hal ini membuat Yo Him jadi kaget tidak terkira, karena ia melihat Bun Kie Lin sama sekali tidak berkelit.

0 Response to "Anak Rajawali Lanjutan (Beruang Salju) Jilid 09"

Post a Comment