Anak Rajawali Lanjutan (Beruang Salju) Jilid 06

Mode Malam
 
Anak rajawali Jilid 06
Waktu itu hati Hok An kurang tenteram, karena sebagai seorang yang berpengalaman dalam rimba persilatan, dia mengetahui ada tiga orang Boan yang berpakaian sipil memiliki tingkah mencurigakan sekali. Ke tiga orang itu selalu menguntit Hok An berdua Giok Hoa, di mana ke tiga orang itu seperti juga memperhatikan sekali Hok An berdua.

Hok An telah mengajak Giok Hoa agar meninggalkan pasar tersebut. “Mari kita kembali ke rumah penginapan saja, aku letih dan ingin beristirahat.....!” ajak Hok An.

“Tunggu dulu paman Hok.....!” kata Giok Hoa. “Aku ingin melihat bunga-bunga bwee yang indah-indah itu.....!”

Terpaksa Hok An menemani Giok Hoa melihat-lihat bunga yang menarik itu, sedangkan sikap waspadanya tidak menurun, karena Hok An kuatir kalau-kalau ke tiga orang Boan itu menimbulkan keributan dengan mencari gara-gara padanya.

Benar saja apa yang dikuatirkan Hok An, ke tiga orang yang memiliki hidung mancung dengan mata yang kebiru-biruan, menunjukkan dia bukan orang Han, melainkan orang Boan, telah menghampiri Hok An. Kemudian bergantian mereka mengawasi Hok An dan Giok Hoa. Malah salah seorang di antara ke tiga orang itu telah menepuk perlahan pundak Hok An.

Jika Hok An ingin mengelakkan diri dari tepukan orang Boan itu, bisa saja dilakukannya dengan segera, akan tetapi hal itu pasti akan menimbulkan kecurigaan yang lebih besar pada mereka. Itulah sebabnya Hok An akhirnya membiarkan pundaknya ditepuk orang Boan tersebut, dia hanya pura-pura memperlihatkan sikap terkejut dan menoleh.

Muka ke tiga orang Boan itu tampak tidak sedap dilihat, malah yang seorang di antara mereka segera menegur dengan dialek Han yang kaku: ”Kau orang Kay-pang?!”

Hok An memperlihatkan sikap terheran-heran dengan mementang sepasang matanya.

“Kay-pang? Apa itu Kay-pang?!” dia balik bertanya.

“Hemmm, engkau tidak perlu pura-pura, kami mengetahui engkau tentu anggota Kay- pang.....!” kata orang itu yang nada suaranya tetap saja bengis dan tidak enak didengar.

“Aku tidak mengerti apa maksud kalian!” kata Hok An.

“Kau harus ikut bersama kami.....!” kata ke tiga orang itu. “Nanti setelah diperiksa dan engkau memang benar-benar bukan orang Kay-pang, kami akan membebaskan kau lagi!”

Setelah berkata begitu, orang itu menoleh memandang Giok Hoa, katanya lagi: “Gadis cilik itu masih ada hubungan apa denganmu? Bawa saja sekalian ikut bersama kami!”

“Ini.... mana boleh begitu?!” tanya Hok An yang menahan kemendongkolan hatinya.

“Jangan banyak rewel..... ayo ikut bersama kami!” perintah orang itu dengan suara yang bengis, sedangkan ke dua kawannya telah berdiri di sisi kiri kanan Hok An dan Giok Hoa.

Sebenarnya Hok An melihat, jika saja dia mempergunakan kepandaiannya buat menghantam rubuh ke tiga orang itu, dia bisa melakukannya dengan mudah, tapi niscaya akan timbul keributan. Di kampung inipun orang-orang Boan bukan hanya mereka bertiga.

Karena itu, jika timbul keributan, orang-orang Boan itu akan mencari jejaknya, dan dia akan dicap sebagai pemberontak. Maka Hok An akhirnya memutuskan untuk ikut bersama ke tiga orang itu, buat melihat apa yang ingin dilakukan mereka.

“Baiklah!” Hok An mengangguk.

Salah seorang di antara ke tiga orang itu mendorong punggung Hok An. Hampir saja Hok An tidak bisa menahan kemendongkolan hatinya dan ingin menghajar orang itu.

Namun akhirnya memikirkan keselamatan Giok Hoa, yang tentu akan terkejut jika saja terjadi keributan, akhirnya Hok An berdiam diri saja. Dia hanya berjalan mengikuti orang-orang Boan itu dengan menuntun Giok Hoa.

Hok An diajak ke sebuah gedung yang cukup besar. Dari kejauhan dia telah melihat di gedung itu berkumpul banyak sekali orang-orang Boan.

Rupanya tentara Mongolia yang diperintahkan berkumpul di kampung itu, dengan dalih “menjaga ketertiban dan keamanan” buat kampung, di tempatkan di gedung tersebut.

Sesungguhnya apa yang dilakukan oleh orang-orang Boan itu adalah untuk mengejar anggota-anggota Kay-pang, yang sangat dibenci oleh Kaisar mereka, yaitu Kublai Khan, karena Kublai Khan beranggapan Kay-pang lah yang telah membunuh Koksu, guru negara, Tiat To Hoat-ong dan beberapa orang pahlawannya. Itulah sebabnya Kublai Khan sangat memusuhi Kay-pang.

Dengan kasar Hok An didorong masuk ke dalam gedung itu. Di dalam gedung terdapat banyak sekali orang-orang Boan.

Dua orang Boan yang bertubuh tinggi besar mengawasi bengis pada Hok An.

“Borgol dia!” kata yang seorang. Sedangkan yang lainnya menarik tangan Giok Hoa.

Hok An kaget memperoleh perlakuan yang semakin kasar ini. Waktu dia ingin diborgol tangannya, dia telah mengelak ke samping. Kemudian bersamaan dengan itu kaki kanannya menendang orang Mongolia yang hendak menarik tangan Giok Hoa, membuat orang Boan itu terjungkal dan menjerit kesakitan.

Orang-orang Boan lainnya kaget, namun seketika mereka jadi gusar.

“Hemmm, benar-benar engkau pemberontak!” kata mereka hampir berbareng.

Malah tiga orang di antara mereka menubruk akan membekuk Hok An.

Akan tetapi mana bisa orang-orang Boan itu menghadapi Hok An? Tidak mudah buat mereka menangkap Hok An, malah begitu mereka menubruk maju, justru di saat itu ke dua tangan Hok An digerakkan.

Ke tiga orang Boan itu seketika terpental terpelanting di lantai, gigi mereka masing-masing ada yang rontok dua atau tiga buah. Mereka meringis kesakitan.

Tiba-tiba Hok An jadi terkejut, ketika dia merubuhkan ke tiga orang Boan tersebut, perhatiannya pada Giok Hoa terpecah.

Seorang Boan yang bertubuh tinggi tegap berewokan, tengah berdiri di pinggir Giok Hoa. Tangan si gadis cilik dicekal kuat, tepat pada jalan darah kematian di pergelangan tangannya.

Hok An mengerti apa artinya semua itu. Jika dia menerjang juga untuk menolongi Giok Hoa, niscaya orang Boan itu akan memijit jalan darah Giok Hoa, berarti gadis cilik itu akan mengalami kecelakaan. Karenanya Hok An berdiri tertegun di tempatnya saja.

“Hemmm, borgol tangannya!” perintah lelaki berewok yang tinggi besar itu, dengan suara yang tawar. Matanya yang bersinar tajam memperlihatkan bahwa dia merupakan seorang yang memiliki kepandaian cukup tinggi.

“Kwee Tayjin.....!” kata salah seorang Boan itu. “Dia pasti anggota Kay-pang yang tengah menyamar.....!”

Orang berewok tersebut, yang dipanggil dengan sebutan Kwee Tayjin, hanya mengangguk saja.

Seorang Boan lainnya maju dan memborgol ke dua tangan Hok An.

“Bawa ke sel dalam!” perintah orang yang dipanggil dengan sebutan Kwee Tayjin tersebut.

Dua orang Boan mengiyakan, dengan kasar Hok An didorong agar jalan.

“Kalian..... oooh, kalian membabi buta dalam memusuhi Kay-pang! Aku sama sekali tidak memiliki sangkut paut apapun juga dengan Kay-pang!” berseru Hok An gusar.

Akan tetapi waktu Hok An berteriak seperti itu, salah seorang Boan yang menggiringnya, yang berada di sebelah kanan, menghantamkan tangan kanannya pada mulut Hok An, sehingga Hok An merasakan mulutnya pedas sakit.

Baru saja Hok An ingin memaki kalang kabutan, dia segera tersadar semua itu tidak ada gunanya. Ke dua tangannya telah diborgol dan juga dirinya berada di bawah ancaman orang Boan berewok yang masih mencekal pergelangan tangan Giok Hoa.

Gadis cilik itu sendiri memandang Hok An ketakutan, hampir saja Giok Hoa menangis karena ketakutan.

Orang berewok itu tanpa mengatakan suatu apapun juga, dengan masih mencekal pergelangan tangan Giok Hoa telah menarik tangan gadis cilik itu untuk pergi ke ruangan dalam, ke tempat di mana Hok An dibawa oleh orang-orang Boan itu.

Di dalam ruangan tersebut telah berdiri belasan orang Boan, yang tampaknya mengerti ilmu silat dan tampang mereka rata-rata bengis.

Kwee Tayjin itu waktu melangkah masuk, telah disambut dengan sikap menghormat sekali. Rupanya Kwee Tayjin ini seorang yang sangat disegani.

“Mari kita periksa orang ini!” kata Kwee Tayjin sambil menghampiri kursinya dan duduk di situ dengan wajah yang angker dan bengis.

Diapun lalu menoleh kepada salah seorang Boan di sampingnya, seorang laki-laki berusia empatpuluh tahun lebih yang memiliki wajah bengis. “Borgol juga anak ini!”

Orang itu mengiyakan, dan segera mengeluarkan borgol untuk memborgol tangan Giok Hoa.

Gadis cilik itu berusaha meronta, namun dia mana bisa melawan tenaga orang tersebut, dengan mudah ke dua tangannya diborgol.

Karena bingung dan ketakutan Giok Hoa menangis sedih sekali.

“Jangan menangis Giok Hoa..... mereka salah paham dan menduga kita dari Kay-pang..... tetapi nanti mereka akan melepaskan kita dan meminta maaf atas kekeliruan mereka!” menghibur Hok An yang hatinya seperti ditusuk-tusuk melihat Giok Hoa menangis seperti itu.

Sesungguhnya kegusaran Hok An sudah meluap sampai di kepala. Jika saja dia tidak memikirkan keselamatan Giok Hoa, niscaya dia sudah mengamuk.

Walaupun sepasang tangannya diborgol, akan tetapi dia akan mempertaruhkan jiwanya untuk menghantam belasan orang Boan itu. Cuma saja, karena memikirkan keselamatan Giok Hoa juga, membuat Hok An mengalah sampai begitu jauh.

Kwee Tayjin itu tertawa dingin, dia seperti juga mengejek dan mentertawai hiburan Hok An pada Giok Hoa.

“Ya, kami akan segera meminta maaf, jika ternyata nanti engkau benar-benar bukan orang Kay-pang!” kata Kwee Tayjin itu. “Nah, mari kita sekarang mulai buka kartu! Apakah engkau mau mengakui secara terus terang bahwa dirimu adalah anggota Kay-pang yang tengah menyamar atau memang perlu kami yang mengorek sendiri pengakuan darimu?!”

Hok An memandang Kwee Tayjin itu dengan sorot mata tajam, kemudian katanya: “Sesungguhnya, aku bukan orang Kay-pang. Sama sekali aku tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Kay-pang. Aku tidak mengerti mengapa kalian bisa menuduh aku sebagai anggota Kay-pang! Dan jika tokh aku orang Kay-pang, ada urusan apakah sehingga kalian perlu menangkapi orang-orang Kay-pang?!”

“Kau bukan orang Kay-pang? Bagus! Nah, mulai!” kata Kwee Tayjin.

Begitu perkataan “mulai!” diucapkan Kwee Tayjin, Hok An merasakan rambutnya dijambak dan kepalanya digentak ditengadahkan, sakit sekali. Sebagai seorang yang memiliki kepandaian tinggi, Hok An hendak meronta memberikan perlawanan. Namun belum keburu dia meronta, dia merasakan mulutnya dihantam benda keras.

“Bukkk!” sakit bukan main, giginya terasa rontok beberapa biji. Rupanya, waktu rambutnya itu ditarik ke belakang sampai dia menengadah, maka berbareng dengan itu orang Boan yang lainnya mengayunkan sepotong besi yang cukup besar kepada mulutnya.

Waktu jambakan pada rambutnya itu dilepaskan, tidak heran mulut Hok An telah bengkak besar, darah juga telah mengalir keluar dari bibirnya yang pecah akibat hantaman besi itu.

“Kau bukan orang Kay-pang?!” tanya Kwee Tayjin itu dengan suara yang tawar.

Giok Hoa yang menyaksikan apa yang dialami paman Hok nya, jadi menjerit keras dan menangis sejadi-jadinya. Akan tetapi sama sekali orang-orang Boan itu tidak memperhatikan Giok Hoa.

Saking marahnya, Hok An sampai merasakan dadanya seperti ingin meledak.

“Aku memang bukan orang Kay-pang kalian biadab..... kalian manusia-manusia berhati serigala.....!” teriak Hok An gusar. Dia mengempos semangat dan tenaganya, berusaha untuk mematahkan borgolan ke dua tangannya, sambil kakinya juga menendang.

Namun orang-orang Boan yang berdiri di sisi kiri kanannya sudah mengetahui apa yang akan dilakukannya, mereka dapat menyingkir dengan cepat. Malah salah seorang Boan lainnya di belakang Hok An telah menghantam dengan potongan besi lagi ke punggung Hok An.

“Bukkk!” Hok An merasakan matanya jadi berkunang-kunang gelap, tubuhnya terjerembab ke depan. Orang-orang Boan itu bekerja sangat cepat sekali, karena mereka segera mengikat ke dua kaki Hok An.

“Sekarang kau ingin mengakui atau tidak bahwa engkau sesungguhnya anggota Kay-pang?!” Kwee Tayjin berkata dengan suara yang tawar, bagaikan tidak terjadi suatu apapun juga. Dia bertanya bagaikan penyiksaan terhadap diri Hok An tidak mempengaruhi perasaannya.

Hok An tidak bisa segera menyahuti, karena dia menggeliat menahan sakit yang luar biasa pada punggungnya, di mana dirasakan tulang punggungnya bagaikan hendak patah.

“Baik-baik, jika kau mengambil sikap menutup mulut, akupun bisa saja mengambil sikap membuka mulut.....!” kata Kwee Tayjin. “Buka mulutnya.....!”

Hok An tahu, itulah perintah untuk menyiksanya lagi. Akan tetapi dalam keadaan diborgol dan diikat ke dua kakinya seperti itu, Hok An hanya dapat gusar tanpa berdaya mengadakan perlawanan. Dia menyesal setengah mati, mengapa tadi dia membiarkan dirinya dibawa ke gedung ini dan diborgol seperti itu.

Dua orang Boan telah maju, mereka menjambak rambut Hok An, kemudian kepala Hok An ditengadahkan. Salah seorang lainnya telah memegang sebatang obor, yang apinya menyala cukup besar.

“Kau mau buka mulut atau terpaksa kami yang akan membuka mulutmu?!” tanya Kwee Tayjin pula, suaranya begitu dingin tidak mengandung perasaan.

“Kalian..... manusia-manusia biadab! Kalian..... ohhh, sungguh kalian manusia-manusia biadab!” seru Hok An dengan suara mengguntur.

Waktu Hok An tengah memaki seperti itu, justeru orang Boan yang seorang tersebut telah menyodokkan obornya ke mulut Hok An, api itu segera menjilat langit-langit mulut Hok An, bibir dan sebagian mukanya.

Giok Hoa yang menyaksikan penyiksaan begitu hebat pada diri paman Hok nya, menjerit keras di antara isak tangisnya dan segera pingsan tidak sadarkan diri.

“Kami memang nanti akan meminta maaf kepadamu, jika terbukti engkau bukan orang Kay-pang!” kata Kwee Tayjin dengan suara yang tawar. “Kamipun akan membebaskanmu! Maka engkau jangan berpikir buat menutup mulut rapat-rapat, karena hal itu hanya membuat engkau menderita sekali!”

“Aku memang sesungguhnya aku tidak memiliki hubungan apapun juga dengan Kay-pang. Bagaimana mungkin kalian bisa memaksa agar aku mengakui sebagai anggota Kay-pang? Atau kalian bisa saja menyelidiki dulu, apakah benar-benar aku orang Kay-pang?!”

“Hemmm.....!” tertawa Kwee Tayjin itu dengan sikap yang tawar, diapun telah berkata lagi: “Jika memang engkau tetap menutup mulut, akupun tidak bisa berbuat lain, hanya membiarkan mereka dengan cara-cara mereka buat membuka mulutmu..... Laksanakanlah secepatnya!”

“Baik!” menyahuti beberapa orang Boan itu, bahkan salah seorang di antara mereka yang memegang potongan besi telah menghantam ke punggung Hok An lagi.

“Bukkk! Bukkk!” dua kali besi itu menghantam punggung Hok An.

Jika tadi satu kali pukulan potongan besi pada tulang punggungnya membuat Hok An menderita kesakitan hebat karena tulang punggungnya itu seperti juga patah hancur. Sekarang tulang punggungnya telah dihantam dua kali. Dengan demikian, Hok An menjerit sekuat suaranya, dia merasakan pandangan matanya berkunang-kunang.

Akan tetapi orang-orang Boan itu bukan hanya menganiaya sampai di situ saja, waktu Hok An menjerit, justru mulutnya tengah terbuka, maka salah seorang Boan lainnya telah menghantam lagi mulut Hok An dengan sepotong besi, beberapa gigi Hok An hancur patah lagi.

Bukan main menderitanya Hok An, namun dia benar-benar dalam keadaan tidak berdaya, karenanya dia hanya dapat merasakan penderitaan tersebut tanpa dapat melawannya.

“Cukup!” kata Kwee Tayjin itu. “Aku ingin memberikan kesempatan kepadamu buat mengakui bahwa sesungguhnya engkau anggota Kay-pang masih ada kesempatan!”

“Bagaimana mungkin aku bisa mengakui bahwa aku orang Kay-pang, jika sebenarnya aku tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Kay-pang?!” teriak Hok An, suaranya lemah dan juga kata-katanya itu diucapkan agak kabur, dikarenakan bibirnya yang telah bengkak besar dan berdarah karena luka yang tidak ringan itu.

“Hemmm..... jadi engkau tetap tidak bersedia mengakui dengan terus terang..... perlu dipaksa baru mengakui?!” tanya Kwee Tayjin. Waktu bertanya seperti itu, suaranya sangat kejam sekali.

Hok An pikir, sudah tidak ada gunanya dia berdebat dan membantah, karena memang akhirnya tokh dia akan disiksa juga. Hanya saja, hatinya sakit bukan main, di mana dia telah melihat Giok Hoa pingsan, dan dirinya dianiaya demikian hebat.

Waktu mendengar Hok An mengeluh perlahan, bagaikan merintih, Kwee Tayjin tertawa kecil mengejek.

“Semua itu belum apa-apa.....!” kata Kwee Tayjin kemudian. “Belum..... belum apa-apa..... aku jamin, begitu aku perintahkan buat membuka mulutmu mengatakan yang sebenarnya, selanjutnya engkau tidak akan membandel seperti itu.....!” Dan setelah berkata begitu, Kwee Tayjin menepuk mejanya cukup keras.

Dengan sinar mata yang tajam Hok An mengawasi Kwee Tayjin itu penuh kebencian, di mana waktu Kwee Tayjin itu menepuk mejanya, tampak seorang Boan telah menarik ke dua tangan Hok An yang terborgol itu.

“Mulai!” kata Kwee Tayjin itu. “Dan jika dia belum juga ingin buka mulut, cabut ke sepuluh-sepuluhnya, tanpa disisakan.....!”

“Baik Tayjin.....!” kata orang-orang Boan itu.

Seorang di antara mereka memegang ke dua tangan Hok An, sedangkan yang seorang lagi dengan jepit besi, tahu-tahu telah mencabut kuku jari telunjuk Hok An, yang dicabutnya dengan digentakkan.

Bukan kepalang sakit yang diderita Hok An, dia sesungguhnya paling pantang menyerah pada kesulitan, dan tidak akan menyerah menjerit kesakitan. Tetapi bisa dibayangkan, kuku tangan yang dicabut begitu mendadak sekali, mendatangkan sakit yang bukan main. Darahpun telah mengucur dari jari telunjuknya itu.

“Satu!” kata Kwee Tayjin dengan suara yang agak nyaring.

Sedangkan orang Boan itu telah menggerakkan japitnya lagi, dia telah mencabut kuku jari tengah tangan kanan Hok An.

Kembali Hok An menjerit kesakitan sejadi-jadinya. Kemudian waktu orang Boan itu mencabut kukunya yang ke tiga, Hok An sudah tidak merasakan kesakitan lagi, karena dia sudah merasakan kesakitan yang terlalu hebat, maka perasaan sakit berikutnya seperti tertindih dan tidak dirasakan terlalu hebat pula olehnya.

“Dua! Tiga! Empat!” berseru Kwee Tayjin setiap anak buahnya telah mencabut kuku jari tangan Hok An.

Setelah mencabut ke lima kuku jari tangan kanan Hok An, Kwee Tayjin itu mengangkat tangannya memberi isyarat agar tidak dilanjutkan penyiksaan tersebut.

“Apakah engkau ingin bicara terus terang.....?!” tanya Kwee Tayjin dengan suara yang tidak sebengis tadi. Diam-diam dia kagum sekali melihat daya tahan Hok An, walaupun disiksa sehebat itu, masih tetap tidak pingsan.

Hok An menderita kesakitan yang hebat, pikirannya seperti telah melayang-layang..... Dia juga mengeluh dengan suara yang dalam dan mengandung segala macam kegusaran, kebencian, kesakitan, yang semuanya bergolak di dalam hatinya. Dia seorang yang memiliki kepandaian cukup tinggi, ternyata sekarang telah dapat disiksa begitu rupa oleh orang-orang Boan tersebut tanpa dia berdaya memberikan perlawanan.

Dan bukan main menyesalnya Hok An terhadap ketololannya yang tadi mau menyerah begitu saja untuk diborgol dan akhirnya sepasang kakinya telah diikat, dengan demikian dia dapat disiksa dengan mudah, tanpa dia berdaya mengadakan perlawanan. Hanya demi keselamatan Giok Hoa pula, maka orang-orang Boan tersebut dapat menguasai dan menyiksanya.

“Aku..... aku akan bicara terus terang..... aku akan bicara terus terang.....” kata Hok An akhirnya dengan suara yang susah payah, karena mulutnya bengkak, sulit untuk digerakkan.

“Bagus!” berseru Kwee Tayjin, karena dia menduga Hok An setelah disiksa hebat seperti itu, jadi jera dan sekarang bersedia untuk bicara terus terang. Lalu dengan sikap bersungguh-sungguh dia bertanya: “Sekarang kau katakan! Benarkah engkau anggota Kay-pang?!”

“Bukan!” menyahuti Hok An segera.

“Bukkk!” Kwee Tayjin itu telah menepuk mejanya dengan keras. “Bicara terus terang!”

“Aku telah bicara terus terang, apa yang sebenarnya, bahwa aku bukan orang Kay-pang!” kata Hok An.

“Apakah engkau menyadari siksaan-siksaan yang jauh lebih hebat lagi tengah menanti dirimu jika engkau tidak bicara terus terang?!” tanya Kwee Tayjin dengan ancamannya.

“Aku..... aku tahu! Kau bunuhlah aku jika memang kalian menduga aku orang Kay-pang. Percuma saja! Jika kalian menyiksa aku terus menerus, dan memang sebenarnya aku bukan orang Kay-pang, tokh tetap saja aku bukan orang Kay-pang.....!”

Mendengar perkataan Hok An yang terakhir itu, muka Kwee Tayjin berobah memerah, sampai akhirnya dia bilang: “Bagus! Bagus! Engkau seorang berkepala batu, dan akupun akan memperlihatkan kepadamu, bahwa aku tidak mudah begitu saja mempercayai perkataanmu.....!”

Setelah berkata begitu, segera juga dia perintahkan dengan isyaratnya kepada anak buahnya. Begitu dia mengangkat tangannya, maka salah seorang Boan yang memegang obor telah maju ke dekat kaki Hok An, segera api obor itu dipergunakan buat membakar telapak kaki Hok An.

Seketika Hok An menjerit lagi.....

Yang dibakar obor itupun bukannya telapak kaki saja, kemudian naik ke pergelangan kaki, lalu ke tumit..... naiknya begitu perlahan-lahan. Setiap kulit kaki yang terbakar api obor itu seketika menjadi melembung membesar bengkak dan kemudian hangus dengan air yang muncrat karena kulit dan daging yang terbakar. Bau hangus daging terbakarpun tersiar di dalam ruangan itu.

“Cukup!” perintah Kwee Tayjin agar anak buahnya menghentikan penyiksaan tersebut. “Sekarang kuulangi, apakah engkau mau bicara terus terang? Kuingatkan kepadamu, jika memang engkau telah menjalani penyiksaan lebih jauh, jika nanti engkau mengakuinya terus terang, tentu tubuhmu telah rusak! Terlebih baik-baik sekarang saja engkau mengakuinya!”

Hok An tetap menggeleng, dan dia setengah pingsan. Hanya saja mulutnya terus mengoceh: “Bukan..... bukan Kay-pang..... bukan..... bukan..... bukan.....!”

Melihat sampai di situ, seketika Kwee Tayjin ini dapat mengambil kesimpulan bahwa Hok An memang benar-benar bukan orang Kay-pang. Akan tetapi, dia masih penasaran, dia ingin mencoba cara lain. Maka dia menoleh kepada orang Boan yang berdiri di samping kanannya, dia memberikan isyarat agar Giok Hoa dibawa ke dekatnya.

“Siram dengan air!” perintah Kwee Tayjin kemudian sambil memegang pergelangan tangan Giok Hoa.

Segera seorang Boan telah menyiram muka Hok An dengan segayung air dingin. Dan Hok An yang sebelumnya dalam keadaan setengah pingsan, telah menjadi lebih segar.

“Kau lihat ke mari!” perintah Kwee Tayjin.

Dengan lemah Hok An mengangkat kepalanya, dia telah melihat dengan pandangan mata yang kabur. Namun setelah melihat lebih lama lagi, dia segera dapat mengenali Giok Hoa tengah dicekal pergelangan tangannya oleh Kwee Tayjin itu, sedangkan Giok Hoa dalam keadaan pingsan tidak sadarkan diri.

“Gadis cilik ini masih pingsan, akan tetapi aku segera dapat menyadarkannya menjadi siuman. Aku ingin melihat, apakah engkau tetap akan menutup mulut jika apa yang tadi semua kau rasakan itu dipindahkan kepada gadis cilik ini.....

“Jika kau memang merasa kasihan pada gadis cilik ini, kau harus buka mulut berterus terang mengakui bahwa dirimu adalah orang Kay-pang. Jika memang engkau tidak merasa kasihan kepada gadis cilik ini, engkau boleh bungkam terus, tetapi semua yang tadi kau rasakan, akan dirasakan juga oleh gadis cilik ini!”

Semangat Hok An seperti terbang meninggalkan raganya, dia gusar sampai sekujur tubuhnya gemetaran dan dadanya bagaikan hendak meledak.

“Kau..... kau.....!” dia berkata dengan suara tergagap. Diwaktu itulah, entah dari mana datangnya semangatnya, dia telah mengempos seluruh kekuatan tenaga dalamnya, berusaha untuk memutuskan tambang yang mengikat ke dua kakinya.

Sedangkan Kwee Tayjin itu telah berkata dengan sikap mengejek: “Sekarang aku memberikan kesempatan kepadamu buat berpikir dengan sebaik-baiknya. Aku akan menghitung sampai sepuluh, jika aku telah menghitung sampai sepuluh dan engkau masih tidak segera buka mulut mengakui terus terang siapa dirimu, maka gadis cilik ini akan segera merasakan apa yang tadi engkau rasakan.....!”

Hok An tetap berdiam diri saja, hanya matanya telah mencilak-cilak memandang sekelilingnya, dia seperti ingin melihat apa yang sekiranya bisa dilakukan buat menyelamatkan Giok Hoa.

Terancamnya keselamatan Giok Hoa justeru telah membangunkan semangat Hok An, dan seperti juga seseorang yang tengah terancam sesuatu, sehingga bisa muncul suatu kekuatan mujijat pada dirinya, membuat Hok An waktu itu dapat mengerahkan hawa murninya pada ke dua kakinya.

Walaupun salah satu dari kakinya itu, yaitu kaki kanannya, telah hangus terbakar, namun dia sudah seperti tidak memperdulikan perasaan sakitnya itu. Dia seperti tidak merasakan lagi perasaan sakit pada tulang punggung atau mulutnya, yang diingatnya bagaimana dia harus menolongi Giok Hoa.

Setelah mengerahkan seluruh kekuatan dan tenaga dalamnya pada ke dua kakinya, tiba-tiba dia merentangkan ke dua kakinya sambil berseru nyaring sekali, dia telah membuat tambang itu putus......

Bahkan Hok An telah membarengi dengan lompatannya, begitu tambang tersebut putus, segera juga tubuhnya telah melesat dengan kecepatan yang tidak terkira. Dia telah mengulurkan ke dua tangannya yang masih terborgol itu untuk menjambret Giok Hoa.

Dan tanpa membuang waktu lagi, dengan tidak memperdulikan kaki kanannya yang terbakar hangus dan terluka parah itu, dia telah membawa Giok Hoa berusaha melarikan diri.

Kwee Tayjin dan orang-orang Boan lainnya tidak menyangka sama sekali, bahwa Hok An bisa memiliki kekuatan memutuskan tambang yang mengikat ke dua kakinya.

Maka ketika Hok An menyambar tubuh Giok Hoa, Kwee Tayjin seperti juga orang kesima, dia tidak melakukan suatu gerakan apapun juga. Demikian pula halnya dengan orang-orang Boan lainnya, yang tidak bisa mencegah perbuatan Hok An.

Sedangkan orang-orang Boan lainnya yang berdiri di depan pintu, segera mengepung Hok An. Akan tetapi Hok An mengandalkan ginkangnya, dia melesat ke sana ke mari menghindarkan diri dari serangan.

Sayang saja ke dua tangannya terborgol dan di waktu itu dia tengah mencekal Giok Hoa, sehingga tidak leluasa buat dia menyerang. Jika tidak, walaupun ke dua tangannya terborgol, tentu dia masih bisa menghantam lawan-lawannya itu.

Kwee Tayjin segera juga tersadar dengan cepat dari tertegunnya.

“Semua mundur!” teriaknya dengan suara yang nyaring. Lalu tubuhnya melesat kehadapan Hok An.

“Hemmm, engkau ingin melarikan diri, heh? Jadi sungguh-sungguh engkau adalah orang Kay-pang! Kulihat kepandaianmu tidak lemah, kukira sekarang, walaupun engkau tidak mengakui, kami sudah mengetahui dan yakin bahwa engkau adalah orang Kay-pang!”

Kwee Tayjin bukan hanya berkata begitu saja, tangan kanannya menghantam kepada Giok Hoa yang berada di dalam cekalan Hok An.

Mati-matian Hok An berusaha melindungi Giok Hoa dengan memiringkan tubuhnya, sehingga posisi tubuh Giok Hoa berada di sampingnya. Kaki Hok An juga bergerak buat menendang tubuh Kwee Tayjin itu.

Ternyata pembesar negeri Boan ini memiliki kepandaian yang liehay, selain serangannya hebat, juga dia bisa mengelakkan tendangan kaki kiri Hok An. Hanya saja, disebabkan Hok An berdiri di kaki tunggal dari kaki kanannya yang memang telah terluka hebat itu, sehingga waktu menginjak lantai, ada sebagian dagingnya yang terluka itu copot dan menempel di lantai, Kwee Tayjin bisa membarengi menghantam lagi. Tidak ampun pula Hok An telah terjungkir balik di lantai.

Kwee Tayjin tidak bekerja hanya sampai di situ. Waktu Hok An mati-matian melompat berdiri buat mengadakan perlawanan lagi, justru Kwee Tayjin telah menghantam lagi, maka tubuh Hok An terpelanting pula, malah sekali ini dia terpelanting dengan keras sekali, sampai tubuh Giok Hoa yang semula berada dalam cekalannya terlempar cukup jauh dari dia.

Hok An menjerit keras dan kalap, dia berusaha melompat bangun lagi.

Namun gerakannya kalah cepat, empat orang Boan telah menubruk kepadanya dan meringkusnya, tiga orang Boan lainnya telah menangkap Giok Hoa lagi. Gadis cilik yang dalam keadaan pingsan itu telah diringkus dan dibawa menjauhi dari Hok An.

Dengan kalap Hok An menjerit-jerit, dia berkuatir sekali Giok Hoa benar-benar akan disiksa seperti dirinya.

Dalam keadaan seperti itu memang Hok An sudah tidak memikirkan keselamatan dirinya, dia telah meronta sekuat tenaganya.

Kwee Tayjin telah melangkah maju, dia menggerakkan tangan kanannya menghantam ulu hati Hok An.

“Engggkkk!” hanya itu saja yang keluar dari mulut Hok An, kemudian tubuhnya terkulai lemas tidak bertenaga, diapun telah pingsan tidak sadarkan diri di bawah cekalan dari orang-orang Boan tersebut.....

Melihat Hok An telah pingsan tidak sadarkan diri, Kwee Tayjin tertawa bergelak-gelak, kemudian dia memberi isyarat kepada anak buahnya, agar ke dua kaki Hok An diborgol dengan borgol besi, lalu dibawa pergi ke sebuah ruangan, untuk dilemparkannya ke dalam kamar tahanan tersebut, karena jika nanti Hok An telah tersadar dari pingsannya, dia akan disiksa kembali.

Giok Hoa yang masih dalam keadaan pingsan, diperintahkan untuk dibawa ke kamar tahanan lainnya.

Kwee Tayjin yang menemani Giok Hoa di dalam kamar tahanan yang satu itu. Gadis itu direbahkan di lantai, sedangkan Kwee Tayjin duduk di sebuah kursi.

Lama juga, barulah Giok Hoa tersadar dari pingsannya. Waktu pertama kali dia membuka kelopak matanya, pandangan matanya kabur. Namun kemudian dia bisa melihat jelas di hadapannya duduk Kwee Tayjin, pembesar Boan berparas menyeramkan itu.

“Hemmm, bagus! Engkau telah siuman!” kata Kwee Tayjin sambil mengangguk-anggukkan kepalanya

“Mana..... mana paman Hok ku?!” tanya Giok Hoa, itulah kata-kata yang pertama dilontarkan begitu dia tersadar, bahkan gadis cilik ini telah menangis terisak-isak ketakutan.

“Jangan menangis! Engkau sayang pada paman Hok mu itu, bukan?!” tanya Kwee Tayjin.

Giok Hoa menghapus air matanya dan menganggukkan kepalanya, kemudian katanya lagi: “Tetapi..... tetapi kalian telah menyiksanya begitu hebat..... kalian telah menganiayanya.....”

“Itulah disebabkan sikap kepala batunya! Jika memang sejak mula dia bersedia bicara baik-baik, dia tidak akan menderita seperti itu! Sekarang untuk kau, jika memang engkau sayang pada paman Hok mu itu, engkau harus bicara sejujurnya..... karena jika engkau menjawab terus terang semua pertanyaanku, maka aku akan membebaskan pamanmu dan kau juga.....!”

“Apa yang harus kukatakan?!” tanya Giok Hoa dengan sikap masih ketakutan.

“Coba kau katakan terus terang, apakah pamanmu itu memang anggota Kay-pang?!” tanya Kwee Tayjin.

Giok Hoa membuka matanya lebar-lebar.

“Kay-pang? Apa itu Kay-pang?!” tanyanya dengan sikap sesungguhnya, karena dia sendiri tidak mengetahui apa sebenarnya Kay-pang itu.

Kwee Tayjin tertawa mengejek, tampaknya dia gusar.

“Hemmm, engkau pun ingin membawa lagak seperti pamanmu itu? Bagus! Atau engkau ingin disiksa dulu seperti pamanmu itu, baru engkau ingin bicara terus terang?!”

Mendengar ancaman itu, Giok Hoa tambah ketakutan, sehingga gadis cilik itu tidak bisa berkata apa-apa selain menangis terisak-isak.

Sedangkan Kwee Tayjin telah berkata lagi: “Nah, sekarang kau katakanlah terus terang, benarkah pamanmu itu berasal dari Kay-pang.....?!”

“Aku sungguh-sungguh tidak tahu.....!” menyahuti Giok Hoa.

“Kay-pang adalah sebuah perkumpulan pengemis, yang telah mengadakan pemberontakan! Karena dari itu, setiap anggota Kay-pang harus ditangkap dan dihukum!” menjelaskan Kwee Tayjin akhirnya, karena dia menyadari Giok Hoa sebagai gadis cilik, tentu dalam ketakutan seperti itu tidak bisa berdusta, dan sikapnya itu mencerminkan bahwa gadis cilik ini memang benar-benar tidak mengetahui hal itu.

“Tetapi..... tetapi pamanku itu bukan seorang pengemis.....” kata Giok Hoa kemudian. “Telah dua tahun lebih aku selalu bersama-sama dengannya dan aku mengetahui benar bahwa pamanku itu bukan pengemis.....!”

Bola mata Kwee Tayjin mencilak-cilak beberapa saat, sampai akhirnya dia bilang: “Hemmm, benarkah apa yang kau katakan itu?!”

“Sungguh..... memang pamanku itu bukan seorang pengemis!” menjelaskan Giok Hoa. “Kami kami baru saja turun dari puncak gunung Hoa-san.....!”

“Hemmm!” mendengus Kwee Tayjin, kemudian melirik kepada beberapa orang Boan yang berdiri di sampingnya.

“Bukan orang Kay-pang.....!” menggumam Kwee Tayjin.

“Biarlah..... untuk menambahkan jumlah orang yang telah kita tawan, sehingga kelak jika Tayjin memberikan laporan kepada Kaisar, tentu jumlah itu merupakan bukti dari hasil kerja keras kita.....!” menyahuti salah seorang dari orang-orang Boan itu.

Kwee Tayjin tidak segera menyahuti, setelah merenung sejenak, barulah dia bilang: “Lalu bagaimana dengan gadis cilik ini......!”

“Anggap saja dia sebagai pengemis cilik.....!” menyahuti orang Boan itu.

Kwee Tayjin telah menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan, dia ragu-ragu.

Orang Boan yang tadi berkata itu telah bilang lagi: “Keterangan yang diberikan gadis cilik inipun tidak bisa kita percayai dulu sepenuhnya..... mungkin dia pandai bersandiwara buat melindungi pamannya itu......!”

“Akan tetapi..... dia masih kecil dan tentunya sangat jujur..... Dia tidak mungkin dapat bersandiwara seperti itu.....!” kata Kwee Tayjin ragu-ragu.

“Kita siksa dulu buat memaksa dia buka mulut, nanti kita bisa melihatnya, apakah dia bicara yang sebenarnya atau tidak!” kata orang Boan yang satunya itu.

Tetapi Kwee Tayjin menggelengkan kepalanya beberapa kali. Dia tidak setuju dengan saran tersebut, karena jika memang dia menyiksa gadis kecil itu, hatinya tidak tega. Dia teringat kepada puterinya yang sebaya dengan gadis cilik ini, itulah sebabnya mengapa dia tidak tega jika harus menyiksa gadis cilik ini.

Rupanya perasaan Kwee Tayjin ini telah diketahui oleh anak buahnya, orang Boan yang seorang itu berkata lagi: “Baiklah Tayjin beristirahat dulu, serahkan gadis cilik ini kepada kami, dan kelak kami akan melaporkan hasilnya......!”

Kembali Kwee Tayjin itu menggelengkan kepalanya berulang kali.

“Jangan!” katanya kemudian. “Gadis cilik ini jangan disiksa! Akupun sejak semula memang telah yakin mereka ini bukan berasal dari Kay-pang!”

“Lalu bagaimana Tayjin?!” tanya orang Boan itu. “Apakah gadis cilik ini akan kita bebaskan?!”

Kwee Tayjin ragu-ragu.

“Jika kita bebaskan, tentu gadis cilik ini akan banyak bicara dengan orang-orang di luar, di mana dia akan menceritakan apa yang diketahuinya dan dilihatnya terhadap diri pamannya itu.....!” kata orang Boan itu.

Kwee Tayjin tambah ragu-ragu.

“Lebih baik-baik gadis cilik inipun kita tahan..... dengan demikian kita memperkecil resiko.....!” kata orang Boan itu lagi.

Kwee Tayjin yang tengah bimbang tidak bisa segera mengambil keputusan. Dan di saat itu juga telah menghampiri seorang Boan lainnya, yang baru datang dari luar.

“Kwee Tayjin, ada orang yang hendak bertemu dengan Kwee Tayjin!” melapor orang Boan tersebut.

“Siapa?!”

“Mereka tidak mengatakan siapa adanya mereka, hanya saja mereka mengatakan bahwa mereka berdua adalah pasangan suami isteri. Yang pria berusia duapuluh tahun lebih hampir tigapuluh tahun, sedangkan yang wanita baru berusia duapuluh tiga atau duapuluh empat tahun.....!”

“Mengapa kau tidak menanyakan siapa nama mereka dan apa keperluan mereka hendak menemui aku?!” kata Kwee Tayjin mendongkol.

“Sudah kutanyakan, namun ke dua orang itu tidak mau menyebutkannya. Mereka hanya menyatakan bahwa mereka memiliki urusan yang penting sekali!”

“Hemmm, perintahkan mereka menantiku di ruangan luar!” kata Kwee Tayjin kemudian.

Orang Boan itu menganggukkan kepalanya, lalu Kwee Tayjin menoleh kepada orang Boan yang tadi menganjurkan kepadanya agar gadis cilik itu, Giok Hoa, ditahannya. Maka diapun telah menoleh kepada Giok Hoa sejenak, baru katanya: “Kau awasi dia baik-baik! Tetapi tanpa perintahku, kau tidak boleh turunkan tangan buat menyiksanya!”

Orang Boan itu mengiyakan.

“Nanti aku akan menentukannya, hukuman apa yang pantas buat dia dan pamannya, apakah dia akan kita tahan terus atau akan dibebaskan......!”

Setelah berkata begitu tanpa menoleh lagi Kwee Tayjin telah memutar tubuhnya pergi ke ruang depan.

Ke dua tamu yang berada di ruang depan itu ternyata seorang pemuda yang tampan dan seorang gadis yang cantik. Sikap ke dua orang ini, yang mengaku sebagai pasangan suami isteri, sangat tenang sekali.

Kwee Tayjin ketika keluar, telah mengawasi ke dua tamu yang tidak dikenalnya itu dengan sorot mata yang tajam menyelidik.

Sedangkan pemuda itu telah merangkapkan sepasang tangannya katanya: “Kami datang menghunjuk hormat buat Kwee Tayjin!”

Demikian juga halnya dengan gadis itu yang telah memberi hormat juga kepada Kwee Tayjin. Cepat-cepat Kwee Tayjin membalas hormat mereka, juga dia telah mempersilahkan ke dua tamunya buat duduk.

“Sebenarnya, ada urusan apakah kalian berdua mencariku? Dan siapa kalian sebenarnya ini?” tanya Kwee Tayjin.

Pemuda itu tersenyum.

“Aku she Yo......”

Baru saja pemuda berkata sampai di situ menyebutkan she nya justeru Kwee Tayjin telah melompat dari duduknya, sepasang matanya terbuka lebar-lebar mengawasi pemuda itu dan si wanita dalam-dalam.

“Kau..... kau she Yo?” tanyanya.

Pemuda itu mengangguk.

“Benar..... memang aku she Yo..... dan bernama Him!” berani sekali pemuda itu dengan sikapnya yang sangat tenang menyebutkan namanya yang bernama Yo Him, putera Sin-tiauw-tay-hiap Yo Ko.

Walaupun belum pernah bertemu muka dengan Yo Him, akan tetapi Kwee Tayjin telah sering mendengar sepak terjang Yo Him. Sekarang pemuda itu mengakuinya dengan sikap yang begitu tenang dan berterus terang, bahwa dia adalah Yo Him, pemuda yang menjadi musuh pemerintah Boan.

Kwee Tayjin hanya terkejut sejenak, kemudian dia berhasil menenangkan goncangan hatinya.

“Ada keperluan apa kalian mencariku?” tanya Kwee Tayjin kembali, dengan sikapnya yang tidak semanis tadi, malah matanya telah memandang tajam dan juga dia memperlihatkan sikap yang berwaspada sekali.

Yo Him tersenyum.

“Ini adalah isteriku, namanya Sasana, puteri dari pangeran Ghalik! Menurut keterangan dari isteriku ini, panglima Ghalik merupakan atasanmu dan kau semasa ayahnya berkuasa, merupakan anak buahnya yang setia!”

Mendengar perkataan Yo Him itu, Kwee Tayjin kaget tidak terkira, dia sampai melompat mundur tiga langkah dengan sepasang mata mendelik mengawasi wanita itu dalam-dalam.

“Kau..... kau puteri Pangeran Ghalik?” tanya Kwee Tayjin kemudian.

Sasana tersenyum.

“Benar!” menyahuti Sasana tenang, sama sekali tidak terlihat sikap kuatir atau gentar.

Kwee Tayjin terdiam sejenak, sampai akhirnya dia mengangguk-angguk beberapa kali.

“Memang benar!” katanya kemudian. Walaupun otaknya dipenuhi oleh berbagai persoalan di dalam waktu yang sesingkat itu, di mana dia harus menentukan tindakan apa yang perlu dilakukannya dalam menghadapi pasangan suami-isteri ini. Dia menekan perasaannya agar nada suaranya terdengar ramah dan halus sekali.

“Dahulu semasa hidupnya Pangeran Ghalik merupakan atasanku..... namun perbuatan Pangeran Ghalik telah menyebabkan ratusan anak buahnya yang setia menjadi korban, menerima hukuman dari Kaisar. Karena dari itu, di mata para pembesar Boan-ciu, Pangeran Ghalik merupakan orang yang kurang memperoleh tempat dan simpati!”

Sasana tersenyum.

“Jadi Tayjin ingin mengatakan bahwa engkaupun tidak menaruh simpati terhadap mendiang ayahku itu!” tanyanya.

Kwee Tayjin mendehem beberapa kali untuk menenangkan goncangan hatinya, barulah kemudian dia manjawab: “Untuk berkata begitu tentu saja aku tidak berani, karena walaupun bagaimana tidak bisa aku membusuki atasanku sendiri, walaupun bekas atasanku itu telah berkhianat!”

Sasana tersenyum tawar.

“Hemmm, tegasnya sekarang Tayjin sudah tidak mau tahu dan tidak mau ingat budi besar yang telah dilepaskan ayahku itu, sehingga Tayjin bisa memperoleh kedudukan seperti sekarang ini?” tanya Sasana.

Kwee Tayjin tersenyum, walaupun hatinya mendongkol.

“Untuk hal budi dan kebaikan, sekarang ini sulit dibicarakan di antara kita!” katanya kemudian. “Karena sebagai orang pemerintahan yang makan minum dari gaji yang kuterima dari negara, jelas aku harus bersetia pada negara dan juga tunduk terhadap semua perintah Kaisar..... karena Kaisar telah menyatakan bahwa Pangeran Ghalik sebagai pemberontak, maka akupun dapat menganggapnya sebagai pemberontak, yang akhirnya telah menghabisi jiwanya sendiri dengan jalan menggantung diri!”

Sasana memang telah menduga jawaban apa yang akan didengarnya, maka dia mengangguk beberapa kali, sambil katanya: “Baiklah, jika memang Tayjin berpandangan seperti itu! Akan tetapi kami datang berkunjung ke kantor Tayjin untuk memohon sedikit bantuan Tayjin, entah kami dapat mengajukan permintaan tolong kami atau tidak?!”

Waktu itu Kwee Tayjin sendiri tengah berpikir keras. Yo Him merupakan putera Yo Ko yang diduga merupakan dalang dari keributan di dalam rapat besar Kay-pang, di samping sumber kematian Tiat To Hoat-ong beberapa waktu yang lalu. Dengan demikian, Yo Ko dan orang-orang gagah lainnya, termasuk Kay-pang, sebagai pemberontak.

Dan dengan sendirinya Yo Him pun merupakan salah seorang pemberontak, yang jejaknya tengah dicari oleh pemerintah. Dan akan dijatuhi hukuman mati jika tertangkap, karena pihak kerajaan tengah berusaha sekuat tenaga untuk membasmi orang-orang yang bisa menimbulkan kegoncangan pada pemerintah kerajaan Boan yang baru didirikan itu. Sekarang justeru Yo Him muncul di hadapannya.

Demikian juga halnya dengan Sasana, puteri dari Pangeran Ghalik merupakan musuh kerajaan juga, dan Kaisar Kublai Khan telah mengeluarkan firman untuk menangkap wanita ini, yang akan dijatuhi hukuman mati. Jika ayahnya pemberontak, maka puterinya dicap sebagai keluarga pemberontak juga, dan akan menerima hukuman yang sama beratnya seperti dosa-dosa ayahnya.

Sekaligus Yo Him dan Sasana berdua telah muncul di hadapannya, membuat Kwee Tayjin berpikir keras, karena dia tengah memikirkan, dengan cara dan langkah apa sebaiknya menghadapi orang ini. Sasana dan Yo Him, mereka berdua masing-masing memiliki kepandaian yang tinggi, karena itu Kwee Tayjin tidak berani bertindak sembarangan.

Sedangkan Yo Him sambil tersenyum telah bilang: “Jika memang Tayjin masih mau bermurah hati, bisakah Tayjin menolong kami dalam suatu urusan?”

Akhirnya Kwee Tayjin mengangguk, dia bilang: “Nah, kalian katakanlah, permintaan tolong apakah yang kalian harapkan dariku?”

“Sesungguhnya kami tidak menghendaki apapun juga dari Tayjin, kami hanya mengharapkan Tayjin bisa membantu kami untuk membebaskan dua orang yang berada dalam pengawasan Tayjin.....!” kata Yo Him.

Segera kecurigaan Kwee Tayjin kepada ke dua orang ini semakin hebat, karena ke dua orang tersebut telah datang justeru buat meminta orang. Dengan demikian, niscaya akan menimbulkan keributan yang tidak kecil. Namun sebagai seorang pembesar negeri yang berpengalaman, Kwee Tayjin tetap tersenyum dan di wajahnya tidak terlihat perasaan apa pun juga.

“Siapakah yang ingin kalian minta itu?” tanya Kwee Tayjin akhirnya.

“Dia seorang lelaki tua dengan seorang gadis cilik!” sahut Sasana. “Kami mengetahui benar, bahwa mereka tidak seharusnya berurusan dengan Tayjin dan orang-orang juga, karena mereka sama sekali tidak memiliki hubungan dengan orang-orang yang tengah dicari Tayjin..... Mereka telah datang di kampung ini, dan menurut apa yang kami dengar, justeru mereka telah dibawa oleh orang-orang Tayjin ke gedung ini.

“Kami bisa membayangkan bahwa mereka akan mengalami siksaan yang hebat! Karena itu, agar Tayjin tidak menyiksa orang yang tidak bersalah, alangkah baiknya jika saja Tayjin membebaskan mereka.....!”

Setelah berkata begitu, Yo Him merangkapkan sepasang tangannya menjura memberi hormat.

Kwee Tayjin tengah berpikir keras, dia mengawasi Yo Him dan Sasana, dengan sorot mata yang tajam, dia membawa sikap yang berwaspada. Malah, diam-diam dia telah memberikan isyarat kepada beberapa orang bawahannya yang diam mengawal di ruang depan gedungnya ini.

Dan dua orang di antara mereka telah keluar ruangan, untuk mengumpulkan kawan-kawan mereka yang lainnya, guna mengadakan penjagaan, di mana tentu saja mereka baru bergerak kalau memang Yo Him dan Sasana berusaha untuk mempergunakan kekerasan. Sehingga di depan pintu ruangan depan itupun telah dikepung rapat sekali oleh orang-orang Boan itu, anak buah dari Kwee Tayjin.

Sedangkan Kwee Tayjin sambil tersenyum berkata tawar: “Menyesal sekali! Menyesal sekali!” katanya. “Semula aku yakin bahwa laki-laki tua mesum itu dan si gadis cilik memang bukan orang Kay-pang, akan tetapi dengan kedatangan kalian ini membuat aku jadi bimbang kembali! Sebelumnya aku telah berpikir untuk membebaskan mereka berdua, namun sekarang, justeru benar-benar aku jadi bimbang!”

“Mengapa begitu!” tanya Yo Him pura-pura tidak mengerti.

“Karena justeru aku tambah curiga bahwa mereka sesungguhnya memiliki hubungan yang erat dengan Kay-pang. Bukankah begitu mereka tertawan, segera kalian datang buat meminta orang?!”

Waktu berkata begitu, suara Kwee Tayjin meninggi, rupanya diapun sudah bersiap-siap hendak menghadapi Yo Him dan Sasana dengan mempergunakan kekerasan.

Yo Him tertawa tawar.

“Kwee Tayjin, seperti apa yang kami dengar dari penduduk kampung ini, seluruh pasukan tentara Boan yang berdiam di sekitar perkampungan ini di bawah pimpinanmu, untuk mencari dan menumpas orang-orang Kay-pang.

“Jika kalian melihat ada pengemis, segera kalian akan menangkapnya dan menyiksanya dengan hebat, karena kami mengetahui benar bahwa lelaki tua itu dengan gadis cilik tersebut bukan orang Kay-pang, maka kami segera bergegas datang ke mari agar mereka tidak menerima penasaran dari Kwee Tayjin.....!”

Kwee Tayjin itu tersenyum.

“Justeru aku jadi heran, jika memang kalian tidak memiliki hubungan apa-apa dengan lelaki tua dan gadis cilik itu, mengapa kalian berdua jadi demikian sibuk, sampai mau merendahkan diri guna memohon kepadaku buat membebaskan mereka? Justeru sekarang aku semakin curiga bahwa ke dua orang itu terdapat hubungan istimewa dengan pihak Kay-pang.....!”

Berkata sampai di situ, Kwee Tayjin merangkapkan sepasang tangannya dengan membungkukkan tubuhnya memberi hormat, lalu katanya: “Nah, memandang pada bekas atasanku, yaitu Pangeran Ghalik, silahkan kalian meninggalkan tempat ini.....! Janganlah menimbulkan keonaran dan akupun tidak bermaksud menahan kalian! Hanya saja, besok begitu fajar menyingsing, kalian harus sudah angkat kaki dari perkampungan ini dan tidak berdiam lebih lama di perkampungan ini.....”

Sasana tertawa.

“Terima kasih! Terima kasih atas budi kebaikan Kwee Tayjin! Itulah budi kebaikan yang sangat besar sekali, yang mimpipun kami tidak berani mengharapkannya.....” kata Sasana kemudian dengan tersenyum mengejek, “Hanya saja, kami memang sudah bertekad, jika kami tidak bisa meminta pertolongan Kwee Tayjin agar membebaskan ke dua orang itu, maka kami akan mengambil tindakan menurut cara kami!

“Kami berdua adalah orang-orang gunung dan dusun yang tidak mengerti aturan, maka jika sebelumnya kami tidak menghubungi Kwee Tayjin dan mohon bantuan Kwee Tayjin, kami kuatir tindakan kami nanti salah dan kurang ajar. Namun tampaknya Kwee Tayjin juga tidak mau memberikan kesempatan kepada kami, agar kami dapat membebaskan ke dua orang yang tidak bersalah itu......!”

Mendengar perkataan Sasana itu, Kwee Tayjin menyadarinya bahwa keributan memang sukar dielakkan lagi. Karena dari itu, dia telah memberi isyarat kepada anak buahnya agar bersiap-siap.

Kwee Tayjin sendiri bersiap-siap dengan penuh kewaspadaan, karena begitu Yo Him dan Sasana melakukan suatu gerakan, segera juga dia akan menghadapinya dengan kekerasan. Kwee Tayjin juga diam-diam telah memusatkan seluruh kekuatan tenaga dalam dan hawa murninya, dia tengah menantikan perkembangan berikutnya. Cuma saja, dia telah bilang dengan sikap yang tetap biasa.

“Jika memang kalian berdua tidak mau memandang dan memberi sedikit muka terang kepadaku, maka akupun tidak bisa bilang apa-apa pula. Jelas akupun tidak bisa memaksa kalian akan memberikan muka terang dan memandang sedikit kepadaku!

“Terpaksa akupun hanya melihat perkembangan yang ada. Maafkanlah, bukan aku tidak ingat budi kepada ayahmu, nona.....

“Akan tetapi memang aku makan gaji negara, karena dari itu, aku pun harus bekerja buat negara. Dan sekarang jika memang kalian berdua menimbulkan keonaran, niscaya akan memaksa aku harus mengambil tindakan yang kurang ajar dan tidak berbudi......”

Sasana telah tertawa, dia memotong perkataan Kwee Tayjin.

“Tidak usah Kwee Tayjin terlalu sungkan seperti itu, justru yang membuat kami merasa segan, semula kami menduga Kwee Tayjin terpaksa bekerja pada negara dan juga telah berjuang dengan setengah hati, sebab masih bersetia kepada ayahku almarhum.

“Jika memang kenyataan yang ada seperti sekarang ini di mana Kwee Tayjin memang sudah tidak mau menoleh sedikitpun pada mendiang ayahku akan perbuatannya di masa lalu terhadap Tayjin, inipun tidak bisa kami bilang apa-apa. Hanya saja, kami harap, jika memang kami terjatuh ke dalam tangan Tayjin, harap Tayjin mau berlaku murah hati kepada kami.....!”

Setelah berkata begitu, Sasana menoleh kepada Yo Him. “Him Koko..... mari kita pergi!”

Yo Him mengangguk.

“Nah Kwee Tayjin, maafkan, memang kami datang terlalu tiba-tiba sekali, dan juga kami tidak bisa menemani terlalu lama lagi, kami harus segera berlalu......!”

Kwee Tayjin merangkapkan sepasang tangannya sambil membungkuk.

“Silahkan.....!” katanya dengan sikap yang biasa saja. Akan tetapi sebenarnya, sambil membungkuk seperti itu, matanya telah mengedip memberi isyarat kepada anak buahnya.

Orang-orang Boan, yang sesungguhnya merupakan tentara negeri yang tengah menyamar sebagai penduduk biasa, yang waktu itu telah bersiap-siap dengan senjata tajam mereka, melihat isyarat yang diberikan Tayjin, tanpa membuang waktu lagi mereka segera menerjang maju, karena mereka mengetahui apa maksud isyarat tersebut, yaitu harus menangkap hidup atau mati pada Sasana dan Yo Him.

Waktu itu Yo Him telah memutar tubuhnya buat keluar dari ruangan gedung tersebut namun mereka merasakan dari arah belakang, berkesiuran angin serangan senjata-senjata tajam.

Yo Him tertawa dingin, tanpa menoleh dia telah mengibaskan tangan kanannya ke belakang.

Kibasan yang dilakukan Yo Him tampaknya biasa dan perlahan saja, namun hebat kesudahannya. Lima batang golok telah terlepas dari cekalan yang empunya, karena ke lima batang golok yang tengah menyambar ke arah Yo Him dan Sasana itu telah tersampok keras sekali.

Ke lima orang Boan yang sebagai pemilik senjata tajam tersebut pun merasakan telapak tangan mereka nyeri dan sakit bukan main. Segera juga mereka melompat mundur dengan wajah yang pucat.

Orang-orang Boan yang menanti di luar ruangan, ketika mendengar suara ribut-ribut di dalam, mereka dapat menduganya bahwa keributan telah berlangsung. Tanpa menantikan perintah lagi belasan orang Boan telah menerobos masuk ke dalam ruaagan buat mengepung dan menyerang Yo Him.

Sasana dan Yo Him tersenyum.

“Bagus sekali jamuan yang kau selenggarakan buat kami, Kwee Tayjin?” seru Sasana.

Kwee Tayjin rupanya sudah tidak memperdulikan ejekan Yo Him dan Sasana, dia hanya merangkap ke dua tangannya dengan membungkuk dan berulang kali berkata: “Maaf, maaf, sambutan yang tidak berarti..... sambutan yang tak berarti!”

Belasan orang Boan itu serentak telah menerjang Yo Him dan Sasana, mereka semuanya rata-rata memiliki tenaga yang cukup kuat.

Dalam keadaan seperti itu, Sasana dan Yo Him pun tidak tinggal diam. Dengan lincah mereka berkelit ke sana ke mari, tangan Yo Him bergerak juga, tiga orang lawannya telah terjungkal rubuh tertotok.

Sasana juga tidak tinggal diam, cepat sekali dia telah menyerang belasan orang Boan itu. Gerakan Sasana pun sangat gesit karena belakangan ini banyak sekali petunjuk yang diperoleh Sasana dari suaminya tersebut.

Dalam waktu yang singkat belasan orang Boan itu telah dapat dibuat jungkir balik oleh Yo Him dan Sasana. Hanya saja, belasan orang Boan itu benar-benar tangguh sekali, di mana begitu mereka terjungkel, seketika mereka melompat bangun lagi, dan telah menyerang kalap dan nekad kepada Yo Him dan Sasana.

Kwee Tayjin yang menyaksikan jalannya pertempuran tersebut, seketika menyadari, bahwa tidak bisa dia membiarkan belasan orang bawahannya menghadapi Yo Him dan Sasana dengan cara seperti itu, sebab akan percuma saja. Kepandaian Yo Him dan Sasana memang sangat tinggi sekali, dan akhirnya tokh belasan orang anak buahnya akan dapat dirubuhkan atau mungkin juga sebagian dari mereka akan ada yang terbinasa. Karenanya, dalam waktu yang singkat Kwee Tayjin telah mengambil keputusan.

Dengan menjejakkan ke dua kakinya, tubuhnya melesat dengan ringan menuju ke pintu, di mana dia mengunci pintu rapat-rapat. Kuncinya dikantonginya. Dengan demikian dia bermaksud hendak mencegah Yo Him maupun Sasana dapat melarikan diri.

Kwee Tayjin sendiri setelah mengantongi kunci pintu, segera melompat ke dekat Yo Him. Waktu itu Yo Him telah menghantam pundak salah seorang pengepungnya.

Tanpa mengatakan suatu apapun juga Kwee Tayjin menggerakkan tangannya menghantam dengan pukulan Tok-see-ciang.

Dari Sasana, Yo Him memang telah mendengarnya bahwa Kwee Tayjin ini seorang ahli Tok-see-ciang, Tangan Pasir Beracun, maka Yo Him tidak berani berayal. Dia telah mengeluarkan kepandaiannya. Setelah berkelit dia telah menghantam dengan telapak tangannya, dari jurus Termenung Bersedih, ilmu simpanan warisan ayah. Karena dari itu, bukan main dahsyat dada Kwee Tayjin kena dihantamnya.

Belum lagi Kwee Tayjin sempat menyerang untuk menghalangi, Yo Him menyerang lagi, tangan Yo Him telah bergerak lebih cepat menghantam lambungnya dengan jurus Di antara Bunga Bersedih Hati, sehingga tubuh Kwee Tayjin itu terpental keras sekali, berguling-guling di tanah.

Sedangkan anak buah Kwee Tayjin cepat-cepat mengepung lebih rapat, untuk mencegah Yo Him menyerang lebih lanjut pada atasan mereka tersebut.

Namun di saat seperti itu, Yo Him telah memutuskan untuk turunkan tangan keras pada mereka, mana bisa anak buah Kwee Tayjin menghadapinya? Tidak ampun lagi tiga orang telah terpental kena dihantam Yo Him dengan tulang pundak mereka yang pada patah!

Sasana sendiri telah melukai dua orang, dan waktu itu Sasana telah dikeroyok tiga orang lawannya yang lain.

Yo Him melompat ke dekat Sasana, dan cepat sekali menghantam ke tiga orang itu sekaligus. Tubuh ke tiga orang bagaikan layang-layang putus tali, terpental dan ambruk di lantai dengan tulang iga mereka berantakan. Walaupun luka mereka itu tidak sampai membawa mereka kepada ajalnya, namun luka itu merupakan luka yang berat dan akan membuat mereka bercacad seumur hidup.

Yo Him dan Sasana bekerja cepat sekali, mereka telah merubuhkan lagi sisa anak buah Kwee Tayjin.

Ketika itu Kwee Tayjin telah berhasil merangkak bangun dan bersiap-siap hendak melarikan diri.

“Kwee Tayjin, mau ke mana kau!” tanya Yo Him dengan suara mengejek. Tubuhnya melesat ke samping Kwee Tayjin, yang dicengkeramnya dan telah dibantingnya tubuh pembesar tersebut.

Dengan mengeluarkan suara yang nyaring tampak tubuh Kwee Tayjin telah terbanting dan bergulingan di lantai.

Walaupun Yo Him telah berlaku ringan dan tidak menurunkan tangan kematian buat Kwee Tayjin, namun dia telah cukup keras menghajar pembesar itu, membuat Kwee Tayjin terluka di dalam yang tidak ringan.

Sedangkan Sasana juga telah melompat ke dekat Kwee Tayjin, dia ingin menyerang Kwee Tayjin, akan tetapi Yo Him telah mencegahnya.

Kwee Tayjin benar-benar sama sekali tidak berdaya buat mempergunakan Tok-see-ciang nya, karena diwaktu itu dia telah dibuat terluka tidak ringan oleh Yo Him. Malah dia tengah merintih menahan sakit.

Selama menjabat kedudukan sebagai pembesar negeri, maka dia jarang sekali berlatih diri, kepandaiannya dan ilmu silatnya seperti dilalaikannya. Hidup mewah dan senang dengan kekuasaan yang ada membuat pertumbuhan tubuh Kwee Tayjin jadi pesat dan subur. Dia jadi gemuk, dan kegesitannya banyak berkurang.

Sehingga sekarang menghadapi keributan seperti ini, membuat Kwe Tayjin tidak bisa berbuat banyak. Terutama sekali orang yang dihadapinya adalah Yo Him, pendekar muda yang memiliki kepandaian sangat liehay!

“Berdirilah, Kwee Tayjin!” perintah Yo Him dengan suara tetap sabar.

Kwee Tayjin telah merangkak buat berdiri, dia kemudian telah berkata dengan suara yang agak gemetar: “Jangan..... jangan menyiksaku.....!”

Yo Him tertawa melihat kelakuan Kwee Tayjin seperti itu.

“Hemmm..... engkau yang selalu menyiksa korban-korbanmu..... sekarang mengapa engkau harus jeri buat disiksa? Bukankah selama ini telah banyak orang-orang yang menjadi korban keganasanmu?!” kata Sasana mengejek.

Muka Kwee Tayjin berobah merah, dia telah berkata dengan kepala tertunduk: “Aku..... aku akan segera membebaskan ke dua orang yang kalian minta.....!”

“Nah, itulah tindakan yang paling bijaksana!” kata Yo Him. “Rupanya Kwee Tayjin seorang pembesar negeri yang bijaksana dan adil, sehingga setelah mengetahui bahwa ke dua orang yang baru saja ditawannya itu bukan orang-orang yang tengah diburunya dan tidak memiliki sangkut paut apapun juga, dia bersedia membebaskannya......!”

Muka Kwee Tayjin berobah semakin merah.

Sedangkan Sasana telah berkata: “Cepat kau perintahkan orangmu buat membawa ke dua orang itu kepada kami, agar kami dapat membawanya pergi.....!”

Kwee Tayjin mengiyakan, segera juga dia membuka pintu itu, dan memanggil beberapa orang anak buahnya, yang waktu itu ketakutan dan tubuh mereka agak menggigil. Walaupun dipanggil Kwee Tayjin, mereka tidak berani segera masuk ke dalam, menantikan di dekat pintu saja.

“Cepat ambil gadis cilik itu bersama pamannya yang tadi kita tangkap!” perintah Kwee Tayjin.

Orang-orang Boan itu mengiyakan. Tidak lama kemudian tampak tiga orang Boan yang telah membawa Giok Hoa dan Hok An ke dalam ruangan itu. Dua orang Boan memayang Hok An yang keadaannya sangat mengenaskan sekali, sedangkan yang seorangnya lagi menggiring Giok Hoa.

Melihat keadaan Hok An seperti itu, muka Yo Him dan Sasana berobah hebat.

“Sungguh keterlaluan sekali!” menggumam Yo Him dengan suara mengandung kegusaran. “Kau telah menyiksa orang ini demikian kejam dan hebat..... sungguh keterlaluan sekali Kwee Tayjin.....!”

Kwee Tayjin yang mukanya sebentar berobah pucat dan merah telah cepat-cepat berkata: “Sesungguhnya..... aku..... aku tidak tahu menahu soal mereka..... Aku belum lagi dilapori perihal mereka..... semua ini tentu hasil perbuatan dari beberapa orang anak buahku..... biarlah nanti aku akan menghukum mereka sepantasnya..... sesuai dengan perbuatan mereka ini!”

Ternyata Kwee Tayjin yang dalam keadaan ketakutan, ingin melepaskan tanggung jawabnya kepada anak buahnya.

Yo Him dan Sasana mengetahui bahwa ini semua tentu perbuatan Kwee Tayjin sendiri. Maka Yo Him tertawa dingin.

“Seharusnya dengan melihat keadaan orang ini demikian mengenaskan sekali kau sendiri seharusnya memperoleh hukuman yang setimpal, Kwee Tayjin!” kata Yo Him dengan suara mengandung kegusaran.

Kwee Tayjin tidak berani memandang Yo Him, dia menunduk dengan hati kebat-kebit.

Begitulah, Yo Him telah menggendong Hok An, dan meminta kepada Sasana agar menggendong Giok Hoa.

“Baiklah, kami tidak akan menarik panjang urusan ini, akan tetapi, ini harus menjadi pelajaran bagimu, jika memeriksa seseorang. Janganlah terlalu mengumbar hukumanmu..... Jika memang terjadi lagi seperti ini, di mana engkau menyiksa orang-orang yang tidak bersalah, maka kami pun akan turunkan tangan kejam padamu.....!”

Kwee Tayjin yang tengah ketakutan hanya berulang kali berkata: “Ya, ya, ya.....!” dengan kepala yang mengangguk-angguk tidak hentinya. Dia membiarkan saja Yo Him dan Sasana membawa pergi Hok An dan Giok Hoa.

Waktu tiba di luar gedung, Yo Him dan Sasana melihat beberapa orang Boan anak buah Kwee Tayjin lainnya. Mereka semuanya seperti juga anjing kena penggebuk menyembunyikan diri, hanya berdiri mengkeret belaka tak berani memandang Yo Him dan Sasana, semuanya menunduk dalam-dalam dan sekali-sekali saja mereka melirik.

Dengan ringan Yo Him melompati dinding pekarangan itu diikuti oleh Sasana, dan kemudian ke duanya telah berlari-lari dengan cepat membawa Giok Hoa dan Hok An.

Mereka telah keluar dari perkampungan itu karena Yo Him bersama Sasana hendak menghindarkan diri dari kemungkinan pengejaran yang akan dilakukan oleh Kwee Tayjin dan orang-orangnya.

Waktu Yo Him dan Sasana tengah berlari-lari, mereka melihat di tengah udara mengikuti seekor burung rajawali putih yang besar sekali.

*** ***
Note 22 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hidup itu sederhana, kita yang membuatnya sulit."

(Regards, Admin)

0 Response to "Anak Rajawali Lanjutan (Beruang Salju) Jilid 06"

Post a Comment

close