Anak Rajawali Lanjutan (Beruang Salju) Jilid 38

Mode Malam
 
Anak rajawali Jilid 38

Akhirnya dia berpikir sesuatu. Dari berdiam diri saja di situ, bukankah lebih baik dia meminta burung rajawali tersebut agar membawa terbang ke sebuah tempat, yang sekiranya ada manusianya dan di sana nanti bisa dimintai pertolongannya?

Karena berpikir begitu, segera juga Ko Tie bersiul, yang berarti dia meminta agar burung rajawali itu membawanya terbang di punggungnya.

Burung rajawali itu mengerti maksud siulan tersebut. Akan tetapi burung rajawali itu pun tengah terluka sayapnya, tulang sayapnya patah.

Dengan demikian tentu saja telah membuat dia bimbang. Dia tidak mengetahui apakah dia akan sanggup membawa terbang pemuda itu.

Karenanya burung rajawali tersebut telah berdiam diri saja, dengan mengeluarkan suara pekikan perlahan.

Di waktu itu terlihat Ko Tie bersiul satu kali lagi, karena dia menduga burung rajawali itu tidak mengerti maksudnya.

Burung rajawali itu telah bimbang sejenak, akhirnya dia menekukkan ke dua kakinya, dia mengambil sikap siap untuk membawa Ko Tie terbang pergi meninggalkan tempat itu.

Ko Tie berusaha untuk membalikkan tubuhnya, kemudian merangkak bangun.

Usahanya itu sakit bukan main bagi tubuhnya, karena dadanya seperti akan pecah, demikian juga halnya dengan isi perutnya, seperti terbalik.

Penderitaan pemuda itu luar biasa hebatnya, akan tetapi dia masih dapat mempertahankan. Mati-matian dia berusaha merangkak. Untuk bangun saja, agar dapat merangkak mendekati burung tersebut, yang tidak terpisah jauh dari dia, sulitnya tak terkira, dan hanya dapat bergerak sedikit demi sedikit.

Burung rajawali itu tetap mendekam di atas tanah dengan sabar, sama sekali dia tidak berusaha untuk berdiri. Dia menantikan sampai Ko Tie berhasil menaiki punggungnya.

Seperti biasanya, untuk naik ke atas punggung rajawali bukanlah pekerjaan yang sulit buat Ko Tie. Tapi sekarang ini, di mana dia terluka dengan parah sekali, membuat dia sulit untuk naik ke atas punggung burung itu.

Akhirnya, dengan mengerahkan seluruh tenaga dan kemampuannya, dengan menahan rasa sakit yang sangat pada tubuhnya. Dia berhasil untuk merangkak naik sampai di punggung burung rajawali itu.

Cuma saja dia dalam keadaan rebah, dengan ke dua tangannya melingkari leher burung tersebut, kemudian pingsan tidak sadarkan diri lagi........

Burung rajawali itu, setelah merasakan bahwa Ko Tie berhasil menempatkan dirinya di punggungnya dengan baik, barulah dia berdiri di atas ke dua kakinya. Lalu perlahan-lahan dia menggerakkan sayapnya.

Sakit bukan main.

Namun burung rajawali itu berusaha melawan rasa sakit itu, dia terus juga mengibaskan ke dua sayapnya. Dan perlahan-lahan tubuhnya telah melambung ke angkasa.

Dia terbang perlahan-lahan, seakan juga dia mengetahui bahwa Ko Tie dalam keadaan pingsan dan jika dia terbang terlalu keras dan cepat, niscaya akan membuat Ko Tie kemungkinan terjatuh dari atas punggungnya.

Karena itu, semakin lambat dia terbang, burung rajawali itu memperoleh kesulitan yang semakin besar. Karena di waktu itu segera juga dia merasakan bobot berat tubuhnya ditambah dengan berat bobot tubuh Ko Tie.

Hal ini membuat ia sulit sekali terbang, dan harus mengeluarkan tenaga yang lebih kuat lagi pada ke dua sayapnya itu, membuat sayap kanannya yang terluka dan tulangnya patah pada ujungnya itu mendatangkan rasa sakit yang tidak terkira……

Tapi burung rajawali itu menahan rasa sakitnya, dia terbang terus dan di waktu itu, dia telah terbang semakin tinggi di udara. Tujuannya adalah perkampungan di sebelah barat dari tempat itu.

Tentu saja burung rajawali yang memang jinak dan telah terdidik itu mengetahui, di dalam kampung itu tentunya Ko Tie akan memperoleh pertolongan dari penduduk kampung itu.

Hanya saja bagi Ko Tie sendiri, belum berarti dia akan tertolong dengan dia dibawa ke kampung itu. Sebagai sebuah kampung yang tidak begitu besar, tentunya perkampungan tersebut tidak memiliki tabib yang pandai.

Tapi Ko Tie sendiri sudah tidak sadarkan diri, dan semuanya keputusan itu diambil oleh burung rajawali tersebut, tanpa diperintah lagi oleh Ko Tie.

Setelah terbang beberapa saat, dengan menahan sakit pada sayapnya, burung rajawali itu telah terbang cukup jauh.

Dan samar-samar sudah terlihat perkampungan yang ditujunya, di waktu mana burung rajawali tersebut jadi girang dan terbangun semangatnya, dia terbang agak lebih cepat dari sebelumnya.

Dikala itu terlihat perkampungan yang tidak begitu besar dan penduduk tidak begitu padat, karena waktu burung rajawali ini tengah terbang di atas perkampungan tersebut, hanya terlihat beberapa orang saja yang berlalu lalang.

Segera juga burung rajawali itu terbang meluncur turun perlahan-lahan di tengah-tengah perkampungan itu.

Dia hinggap di tengah jalan raya.

Beberapa orang penduduk kampung yang berada di situ, jadi mengeluarkan seruan kaget karena melihat seekor burung rajawali yang begitu besar dan tahu-tahu telah menukik turun dan hinggap di jalan raya tersebut.

Akan tetapi burung itu tidak memperlihatkan tanda-tanda ganas, juga sama sekali tidak berusaha untuk menyerang, mereka jadi agak tenang.

Dan di saat itu burung rajawali itu mengeluarkan suara pekik perlahan yang lirih, seakan memohon pertolongan orang-orang itu.

Waktu orang-orang itu menegasi, segera juga mereka melihat sesosok tubuh yang rebah di punggung burung rajawali itu.

Malah sosok tubuh itu tidak bergerak, mungkin dalam keadaan pingsan.

Cepat-cepat beberapa orang penduduk kampung itu berlari untuk menghampirinya, dan setelah mereka melihat jelas seorang pemuda yang pingsan tidak sadarkan diri berada di punggung burung rajawali itu, dan burung rajawali itu mendekam di atas tanah, seakan juga mempersilahkan orang-orang itu menurunkan Ko Tie, rasa takut penduduk kampung itu berkurang.

Merekapun segera mendekati, selangkah demi selangkah, dalam keadaan bersiap dan waspada, karena mereka kuatir kalau-kalau burung rajawali itu akan menerjang mereka.

Namun setelah mereka mendekati lebih jauh, burung itu tetap saja mendekam di tanah tanpa berusaha menyerang mereka, penduduk kampung itu semakin berani, dan mereka segera menurunkan Ko Tie dari punggung rajawali itu.

Burung rajawali tersebut segera berdiri dan mengembangkan sayapnya, kepalanya dianggukkan beberapa kali, seakan juga dia tengah memberi hormat dan mengucapkan terima kasih, sehingga membuat beberapa orang penduduk kampung itu jadi merasa lucu dan tertarik sekali. Bahkan mereka jadi menyukai burung rajawali.

Di kala itu tampak orang-orang kampung itu telah membawa Ko Tie, yang dalam keadaan tetap pingsan tidak sadarkan diri, ke sebuah rumah.

Burung rajawali itu tidak terbang pula ke tengah udara. Dia hanya berdiam diri saja di samping dekat rumah itu.

Ko Tie direbahkan di pembaringan, dan telah coba untuk ditolong, agar dia tersadar dari pingsannya.

Tapi usaha dari beberapa penduduk kampung itu sama sekali tidak berhasil, sebab Ko Tie tetap saja dalam keadaan pingsan tidak ingat orang. Mukanya pucat pias, malah pada ujung mulutnya, tampak bekas-bekas darah yang telah mengering dan berubah warnanya kehitam-hitaman.

Salah seorang dari penduduk kampung itu telah berlari-lari buat pergi memanggil tabib.

Tidak lama kemudian, datang seorang tabib yang berusia lanjut sekali. Dialah tabib di kampung itu, yang sangat diandalkan sekali. Pengetahuannya tentang pengobatan sesungguhnya tidak terlalu hebat, karena dia hanya mengerti penyakit-penyakit biasa.

Melihat keadaan Ko Tie seperti itu, tabib tua itu telah menghela napas berulang kali sambil ia menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Keadaannya terluka parah demikian, sulit buat menyelamatkan jiwanya……!” menggumam tabib itu ketika dia mencekal dan memegang nadi di pergelangan tangan si pemuda.

Tabib itu merasakan betapa ketukan atau denyutan nadi di pergelangan tangan Ko Tie demikian kacaunya. Sebentar cepat dan sekejap mata berobah jadi perlahan sekali, lemah.

Juga muka pemuda itu pucat pias. Dengan melihat keadaan si pemuda seperti itu, segera juga tabib tersebut mengambil kesimpulan bahwa ia memang sulit menyembuhkan pemuda ini.

Di waktu itu, tampak dua orang penduduk telah menjura kepada tabib itu.

“Tolonglah Sin-se mengobatinya…… tampak dia bukan sebangsa manusia tidak baik-baik. Dia seorang pemuda yang mungkin telah mengalami sesuatu di tangan para begal.....” kata penduduk itu.

Malah yang seorang pun telah menyambungi: “Diapun dibawa ke mari oleh rajawali yang besar, yang ada di luar itu, tentunya pemuda ini bukan sebangsa pemuda sembarangan.

Tabib itu menghela napas beberapa kali, kemudian memeriksa lagi tubuh Ko Tie.

“Baiklah, aku akan berusaha menolongi dengan memberikan obat, tapi aku tidak bisa memastikan bahwa jiwa pemuda ini akan dapat ditolong!”

Setelah berkata begitu, tabib tersebut meminta peralatan tulis, ia membuat resep. Seorang penduduk segera berlari-lari pergi ke rumah obat untuk membeli obat itu.

Sedangkan tabib itu setelah menerima bayaran lima bun dan tiga cie, dia kemudian pergi. Dia memang melihat bahwa Ko Tie tipis sekali harapan bisa diselamatkan. Diam-diam tabib itu pun berpikir, siapakah pemuda ini, yang tampaknya terluka di dalam tubuh demikian parah dan hebat?

Malah tabib itu segera hendak berpikir, bahwa mungkin juga pemuda ini adalah sebangsa begal yang memiliki kepandaian tinggi dan kebetulan telah bertemu dengan lawan yang tangguh, membuatnya benar-benar jadi terluka begitu parah.

Tapi akhirnya tabib itu tidak mau dipusingkan lagi urusan itu, karena yang terpenting baginya dia telah menerima bayaran, dan tadi dia telah membuka resep dengan obat yang benar, untuk berusaha menolongi pemuda itu.

Walaupun berulang kali dia berusaha meyakinkan penduduk bahwa pemuda itu tidak mungkin dapat ditolonginya, tapi penduduk mendesak buat menolonginya. Karena itu dia segera juga membuka resep obat.

Dia tidak tahu apakah obatnya itu akan manjur dan menyembuhkan pemuda itu, karena yang diketahuinya justeru bahwa pemuda itu tidak akan hidup lebih lama dari tiga hari……

Ko Tie telah diminumkan obat yang dibuka resepnya oleh tabib itu. Obat itu dimasak dengan cara digodok, kemudian airnya diminumkan kepada Ko Tie sesendok demi sesendok.

Ko Tie masih dalam keadaan pingsan, namun dengan sabar penduduk kampung yang berusia lanjut, pemilik rumah itu, telah meminumkan obat itu. Dengan sekali memasukan sesendok obat itu dia memijit rahang Ko Tie, sehingga obat itu dapat mengalir masuk lewat tenggorokan Ko Tie.

Dan akhirnya satu mangkok obat itu telah habis diminumkan buat Ko Tie.

Tapi Ko Tie masih tetap dalam keadaan pingsan tidak ingat orang......

Sedangkan di saat itu terlihat, beberapa orang penduduk kampung tengah berunding.

Mereka bermaksud menemui Yang Sin-se, untuk meminta dan mendesaknya, berusaha menolongi pemuda itu.

“Tapi Yang Sin-se sendiri yang mengatakan bahwa harapan pemuda itu tertolong jiwanya sangat tipis sekali..... bagaimana kita bisa mendesaknya lagi? Bukankah akan percuma saja? Dengan berkata begitu Yang Sin-se juga seakan ingin mengatakan.bahwa ia sudah tidak memiliki daya buat menolongi pemuda ini, yang lukanya demikian parah!”

Yang lainnya terdiam, mereka tampaknya memang membenarkan juga kata-kata kawannya.

Waktu itu salah seorang di antara mereka berkata: “Atau kita mencari tabib lainnya?”

“Tabib lain?” tanya kawannya.

Orang itu mengangguk.

“Ya!” sahutnya.

“Tabib mana lagi? Sedangkan Yang Sin-se merupakan tabib yang paling pandai di kampung ini!”

“Tapi kita bisa mencari tabib lain di tempat lain!”

“Di tempat lain di mana?” tanya kawannya sambil mengawasi dengan tidak percaya.

“Ke kota yang terdekat misalnya?!”

“Hu! Pemuda itu tentu sudah keburu mati!” kata kawannya. “Pergi ke kota Tiang-an, yang terdekat, yang hanya limapuluh lie, untuk pulang pergi hampir memakan waktu dua hari. Lalu siapa yang bersedia untuk pergi?

“Jika memang di kota itu terdapat tabib itu yang pandai, kalau tidak? Juga kesulitan lainnya, apakah tabib itu mau diundang ke mari? Berapa biayanya?!”

Mendengar perkataan kawannya seperti itu, orang tersebut jadi terdiam.

Memang benar apa yang dibilang kawannya, banyak kesulitan yang mereka hadapi jika saja bermaksud mengundang tabib lainnya dari tempat lain.

Di waktu itu tampak penduduk kampung ini memang berusaha menolongi Ko Tie sekuat kemampuan mereka. Terlebih lagi mereka menduganya bahwa Ko Tie tentunya bukanlah sebangsa pemuda biasa.

Setidak-tidaknya tentu merupakan pemuda yang memiliki kepandaian tinggi, juga memang ia pun memiliki rajawali yang begitu besar dan tampaknya luar biasa sekali.

Tapi penduduk kampung itu tidak berdaya untuk melakukan sesuatu apa-apa lagi.

Ko Tie masih pingsan tidak sadarkan diri


Burung rajawali di luar rumah itu masih berdiri diam dengan sabar.

Seorang penduduk yang tertarik sekali melihat burung rajawali yang besar seperti burung raksasa itu, jinak sekali dan tidak ganas, memberanikan diri.

Dia mengawasi burung itu, sampai akhirnya ketika burung itu merintih perlahan dengan pekikan lirih, dan mengeluarkan sayap kanannya, maka orang itu melihat sayap burung itu terluka, tulangnya patah.

Burung rajawali itu bersikap demikian karena dia mengharapkan orang itu dapat mengobati luka pada sayapnya tersebut.

Orang itu memang benar-benar mengobatinya, karena dia telah mengambil sebatang kayu dan mengikatkan pada sayap burung rajawali itu. Dia juga mengurutinya dengan arak gosok.

Burung rajawali itu memekik perlahan dan lirih, bagaikan dia mengucapkan terima kasih atas pengobatan yang diberikan oleh orang tersebut.

Segera juga tersiar di dalam kampung itu perihal burung rajawali yang besar seperti burung raksasa, namun tidak ganas dan jinak sekali, seperti mengerti akan perkataan manusia.

Banyak penduduk yang berdatangan buat melihat burung rajawali itu, malah ada beberapa orang di antara mereka yang berani, telah mengulurkan tangannya buat mengusap-usap burung rajawali itu.

Tiauw-jie atau burung rajawali itu berdiam diri saja, dia tampak begitu jinak. Setiap kali diusap oleh tangan penduduk kampung itu, ia mengeluarkan suara yang lirih dan tampak sama sekali tidak ada tanda-tanda bahwa dia ganas.

Penduduk kampung itu segera mengetahui bahwa burung rajawali ini memang bukan sejenis rajawali yang ganas. Mereka jadi semakin berani. Malah ada beberapa orang anak laki-laki penduduk kampung itu yang naiki punggung burung itu.

“Melihat burung rajawali ini, yang tampaknya memang tidak ganas, rupanya pemuda itu memang seorang pemuda baik-baik……!” begitulah menggumam beberapa orang penduduk kampung itu.

“Cuma saja anehnya, mengapa justeru dia bisa terluka begitu hebat? Dan burung rajawali ini pun sudah membela pemuda itu, sehingga diapun terluka pada sayapnya itu.....!”

Pandangan penduduk pada burung rajawali itu segera berubah jadi baik. Merekapun yakin bahwa Ko Tie seorang pemuda yang memiliki sifat baik bukan sebangsa manusia telur busuk.


Hari sudah mendekati sore, waktu itu Ko Tie masih juga pingsan tidak sadarkan diri.

Penduduk kampung itu mulai panik, mereka kuatir pemuda itu tidak tertolong.

Orang tua pemilik rumah itupun telah menghela napas berulang kali.

“Tampaknya memang ia terluka berat sekali, bukankah Yang Sin-se (tabib Yang) telah mengatakan bahwa ia tidak menjamin bahwa pemuda ini akan dapat ditolongnya?!”

Sambil berkata begitu, orang tua pemilik rumah tersebut menghela napas berulang kali, lalu melanjutkan lagi kata-katanya: “Tampaknya nasib pemuda ini buruk sekali, jika sampai dia meninggal dunia, harus dibuat sayang, karena dia mati muda dan tentunya diapun bukan pemuda sembarangan, dia pasti memiliki kepandaian ilmu silat yang tinggi! Diapun sangat tampan sekali…… Hai, hai, hai……!”

Rupanya penduduk kampung itu memang menyukai Ko Tie, mereka menyayangkan sekali bahwa Ko Tie terluka begitu berat dan juga tampaknya sulit untuk ditolong.

Tapi menjelang tengah malam ia tersadar, dia mengeluh dan kemudian pingsan lagi.

Baru mendekati fajar, Ko Tie tersadar lagi.

Pemilik rumah itu, si orang tua, yang melihat Ko Tie telah tersadar dari pingsannya, jadi girang bukan main. Dengan siumannya si pemuda, jelas hal ini memiliki harapan bahwa pemuda itu akan tertolong jiwanya.

Akan tetapi kenyataan yang ada justeru pemuda itu pingsan pula. Dua kali siuman, tapi dua kali pula ia jatuh pingsan tidak sadarkan diri.

Keadaannya tidak menjadi lebih baik, malah semakin memburuk, karena ia jadi begitu lemah, dan waktu ia sempat berkata-kata, suaranya tidak keras, terlalu perlahan, kata-katanya juga tidak jelas.

Dengan sabar pemilik rumah tersebut telah mengompres kening Ko Tie dengan air dingin agar pemuda itu berkurang panas pada tubuhnya. Tapi Ko Tie tetap saja pingsan.

Barulah setelah matahari naik tinggi, Ko Tie tersadar benar-benar. Ia tidak pingsan lagi.

Pertama kali yang dilihatnya adalah orang tua pemilik rumah tersebut, ia segera berusaha tersenyum.

Orang tua itu juga tersenyum, dia telah satu malaman menggadangi Ko Tie.

“Tenanglah, kau berada di tempat yang cukup baik dan aman, Kongcu!” kata orang tua itu.

“Di mana….. di mana aku sekarang ini?!” tanya Ko Tie dengan suata yang serak.

Orang tua itu tidak segera menyahuti, dengan perlahan-lahan dan sabar ia memakai sendok untuk meminumkan pemuda itu.

“Kongcu berada di kampung Pu-an-cung, sebuah kampung yang kecil tapi aman..... di sini tidak ada orang jahat. Kongcu bisa beristirahat dengan tenang jangan terlalu banyak bergerak dan bicara dulu, keadaanmu masih lemah! Obat yang diberikan Yang Sin-se tampaknya pun membawa kebaikan juga.....!”

“Terima kasih atas pertolongan Lopeh!” kata Ko Tie dengan suara yang lemah.

“Bukan aku yang menolongimu, Kongcu, tapi penduduk kampung ini, mereka melihat kau dibawa oleh seekor burung rajawali..... !” kata orang tua itu.

Mendengar disebutnya perihal burung rajawali, segera juga Ko Tie teringat kepada Tiauw-jie,

“Di.....di mana Tiauw-jie?!” tanya Ko Tie kemudian dengan suara lemah dan serak.

“Tiauw-jie? Siapa Tiauw-jie?!” tanya orang tua itu heran dan tidak mengerti.

“Burung…… rajawali itu!” menyahuti Ko Tie dengan suara yang tetap lemah.

Orang tua itu tersenyum, dia baru mengerti, dia pun mengangguk.

“Tenanglah, burung rajawali pun dalam keadaan selamat…… Kau jangan gelisah, dia berada di luar, diapun memperoleh perawatan yang baik dari kawan-kawanku…… luka pada sayapnya telah diobati……!”

Ko Tie mengangguk perlahan. Waktu ia ingin berkata-kata lagi, orang tua itu telah mengulap-ngulapkan tangannya, mencegah Ko Tie berkata-kata.

Di kala itu, di luar rumah terdengar suara langkah kaki yang cukup ramai, bukti bahwa beberapa orang tengah mendatangi dan memasuki rumah tersebut.

Orang tua itu menoleh, Ko Tie juga telah ikut melirik ke arah pintu. Ternyata telah masuk delapan orang penduduk kampung.

“Bagaimana keadaannya, Ang Lotoa?!” tanya salah seorang di antara mereka kepada pemilik rumah itu.

Orang tua itu telah mengangguk.

“Jangan berisik, Kongcu ini telah siuman, tapi dia perlu istirahat, tampaknya keadaannya membaik juga……!” kata Ang Lotoa kemudian.

Penduduk kampung itu segera mendekat ke pembaringan. Mereka melihat Ko Tie memang telah tersadar.

Mereka segera mengangguk sambil tersenyum.

Ko Tie pun membalas senyum mereka, senyuman yang lemah sekali, karena ia memang masih dalam keadaan yang lemah bukan main. Dadanya pun dirasakan sakit sekali.

Ini karena dia telah dipukuli oleh kera bulu kuning dan tenaga dalamnya yang baru disembuhkan oleh kakek tua Bun Siang Cuan, telah berbalik kembali menggempur dirinya sendiri ketika dia mempergunakan tenaganya yang melebihi takaran.

“Terima kasih atas pertolongan kalian!” kata Ko Tie kemudian dengan suara yang lemah. “Aku..... aku tidak tahu dengan cara apa membalas kebaikan kalian......!”

“Jangan Kongcu berkata begitu, kami senang jika bisa menolongimu……!” kata orang-orang kampung itu.

Ko Tie mengucapkan terima kasih satu kali lagi, dan ia kemudian memejamkan matanya.

Sedangkan penduduk kampung itu yang melihat Ko Tie memejamkan matanya dan mereka menyadari bahwa keadaan Ko Tie masih lemah sekali, maka merekapun segera meninggalkan ruangan itu dan keluar.

“Obat yang diberikan Yang Sin-se ternyata memang manjur!” kata salah seorang di antara mereka setelah berada di ruang luar.

Kawan-kawannya mengangguk.

“Ya…… maka kita tidak perlu tergesa-gesa, karena obat itu bekerja perlahan. Buktinya saja sekarang, ia telah siuman! Hemmm, jika kita sembarangan memanggil tabib, bukankah jadi berbalik dari apa yang kita harapkan, yaitu bisa membahayakan jiwa pemuda itu?

“Memang kita sudah mengetahui Yang Sin-se memang seorang tabib yang pandai dan obatnya pun sangat manjur. Maka, nanti sore kita undang lagi Sin-se itu buat mengobati kongcu itu pula….. Siapa tahu Yang Sin-se berhasil menyembuhkannya dan menyelamatkan jiwanya……!”

Yang lainnya mengangguk.

Ko Tie terharu mendengar percakapan mereka. Ia sangat berterima kasih sekali, karena penduduk kampung itu ternyata memang seorang yang baik dan juga mau menolonginya dengan bersungguh-sungguh hati.

Dia pun tidak menguatirkan burung rajawalinya, dengan melihat penduduk kampung itu yang semuanya ramah dan baik hati. Dia tidak menguatirkan Tiauw-jie akan menerima perlakuan yang tidak baik.

Karena itu, Ko Tie telah memejamkan matanya untuk mengasoh.

Diam-diam dia mengerahkan sin-kangnya, karena dia bermaksud untuk menyalurkan tenaga dalamnya, menyembuhkan sendiri luka di dalam tubuhnya.

Begitu Ko Tie mengerahkan tenaga dalamnya, dia jadi tercekat, karena di waktu itu segera juga dia merasakan dadanya sakit, sampai dia mengeluh.

Orang tua pemilik rumah itu, Ang Lotoa, jadi kaget tidak terkira. Dia memang masih mendampingi Ko Tie dengan sabar. Mendengar keluhan pemuda itu, tanyanya dengan sabar:

“Apakah ada sesuatu yang Kongcu rasakan?!”

“Dada..... dadaku sangat sakit sekali……!” kata Ko Tie dengan suara perlahan dan tubuhnya pun tampak agak merengkat, mukanya juga meringis seperti menahan sakit.

“Diamlah dulu, beristirahat……!” kata orang tua itu. “Mungkin tadi Kongcu terlalu banyak bicara dan bergerak. Kongcu belum boleh terlalu banyak bergerak..... kau harus beristirahat dulu baik-baik.....!”

Ko Tie cuma mengangguk. Dia tidak bermaksud menjelaskan sebab-sebabnya kepada Ang Lotoa tersebut, karena dia yakin, jika tokh dia menjelaskannya, tokh orang tua itu tidak akan mengerti.

Kembali Ko Tie berusaha mencoba sekali lagi menyalurkan tenaga dalamnya. Dia berhasil mengalirkan pernapasannya dan juga sin-kangnya lewat pintu Kong, Cun dan Tan.

Tapi ketika hawa murni di tubuhnya akan melewati pintu Bun, waktu itulah dia merasakan perutnya seperti mau terbalik-balik dan seakan juga isi perutnya akan digores-gores oleh pisau yang tajam, ngilu dan sakit sekali.

Dia menahan tenaga dalamnya dan tidak berusaha menyalurkannya menerobos pintu Bun, dia telah berdiam diri. Keringat dingin mengalir keluar dari sekujur tubuhnya.

Diwaktu itu juga terlihat betapa Ang Lotoa dengan telaten sekali telah merawatnya. Dia masih mengompres kepala Ko Tie, karena tubuh pemuda itu masih menguap panas sekali.

Ko Tie memejamkan matanya sejenak lamanya, barulah dia meneruskan lagi mengerahkan tenaga dalamnya. Kali ini dia berhasil menembusi jalan darah yang disebut Pintu Bun.

Dia juga telah menyedot udara dalam-dalam, dan ingin menyalurkan tenaga dalamnya itu kepada pintu Sie, dan dia telah berhasil menembusi.

Tapi begitu pintu Sie ditembusi tenaga dalamnya, pandangan mata Ko Tie berkunang-kunang. Dia merasakan kepalanya seperti dihantami oleh martil, di samping itu juga dia mengeluh kesakitan.

Orang tua itu jadi kebingungan, terlebih lagi kemudian dia melihat Ko Tie jatuh pingsan tidak sadarkan diri.

Cepat-cepat Ang Lotoa memanggil beberapa orang penduduk kampung buat membantuinya.

Juga dua orang di antara mereka berlari-lari pergi ke rumah Yang Sin-se.

Tidak lama kemudian Yang Sin-se telah tiba, dan segera memeriksa keadaan Ko Tie.

Dia menghela napas, katanya: “Tampaknya pemuda ini semakin lemah dan parah.....!” kata Sin-se itu.

“Tapi Sin-se, tadi dia telah siuman, namun akhirnya mengeluh dan kemudian tidak sadarkan diri lagi..... tadi dia malah sempat bercakap-cakap dengan kami, dia mengutarakan perasaan terima kasihnya!” kata Ang Lotoa.

Yang Sin-se menghela napas, kemudian katanya: “Sayangnya lukanya memang benar-benar sangat parah sekali, sehingga sulit buat menyembuhkannya.....

“Coba, aku ganti saja obat yang kuberikan kepadanya dengan obat yang lebih keras daya kerjanya. Siapa tahu obat itu baru cocok buat dia mempertahankan diri dalam beberapa hari!

“Terus terang saja kukatakan kepada kalian, obat yang akan kuberikan itu tidak mungkin bisa menyembuhkannya, dan hanya bisa memperpanjang umurnya beberapa hari saja, mencegah sakit pada tubuhnya. Agar begitu dia siuman, dia tidak terlalu menderita kesakitan......!”

Muka semua penduduk kampung itu jadi muram, mereka menyesal sekali bahwa Ko Tie tidak bisa ditolong jiwanya.

Dan obat yang diberikan oleh Yang Sin-se hanya merupakan obat yang memperpanjang umur si pemuda selama beberapa hari saja. Dengan begitu, mereka jadi putus asa, karena toh akhirnya pemuda itu akan mati juga......!

Yang Sin-se telah menulis resep obatnya lagi, dan seorang penduduk cepat-cepat membelinya di rumah obat.

Begitu pulang membawa obat, segera ia memasaknya. Dan setelah hangat-hangat, diberikan kepada Ko Tie, untuk meminumnya.

Cara meminumkannya sama seperti tadi, yaitu mempergunakan sendok dan setiap sesendok obat itu dimasukkan ke dalam mulut Ko Tie, rahangnya dipijit, sehingga obat itu tertelan.

Semua penduduk kampung segera juga bisik-bisik, karena mereka menyayangkan sekali kalau sampai Ko Tie benar-benar tidak tertolong.

Pemuda itu tampak demikian tampan, juga tubuhnya tegap dan gagah. Dia merupakan seorang pemuda yang jarang sekali terlihat di kampung ini.

Hanya sayang menurut Yang Sin-se umurnya hanya beberapa hari lagi.

Dengan begitu, penduduk kampung jadi membicarakan perihalnya, malah beberapa orang gadis kampung itu juga membicarakan perihal ketampanan pemuda tersebut.

Burung rajawali yang masih berada di luar rumah menerima perawatan yang baik.

Selain sayapnya yang luka itu diobati juga dia selalu diberi makan.

Di waktu itu, burung rajawali itu tampak gelisah sekali, karena telah dua hari dia tidak melihat Ko Tie.

Justeru dia ingin mengetahui juga, bagaimana keadaan Ko Tie, sayang tubuhnya sangat besar, sehingga dia tidak bisa masuk ke dalam rumah penduduk itu.

Hanya penduduk yang mengerti akan perasaan burung rajawali itu, telah menghiburnya dan burung rajawali seperti juga mengerti kata-kata manusia itu, dan tampak jauh lebih tenang dari sebelumnya.

Pada pagi hari ke tiga, kembali Yang Sin-se datang pula ke situ untuk memeriksa keadaan Ko Tie.

Keadaan Ko Tie sangat payah dan lemah sekali, karena sejak kemarin di mana dia telah pingsan pula, dia tidak sadarkan diri terus sampai sekarang, karenanya melihat keadaan demikian. Yang Sin-se yakin tidak lama lagi tentu pemuda ini akan menghembuskan napasnya mati, di mana keadaannya memang semakin lemah itu.

Penduduk kampung pun tampak berduka, wajah mereka muram. Walaupun mereka memang tidak kenal dan tidak mengetahui siapa adanya Ko Tie, akan tetapi merekapun memang ingin sekali dapat menyelamatkan dan menolong Ko Tie.

Di waktu itu terlihat betapapun juga, memang Ko Tie dalam keadaan sekarat.

Sejak waktu kemarin dia pingsan terus sampai satu hari satu malam itu ia tidak sadarkan diri. Namun ketika Yang Sin-se tengah memeriksa hong-menya, di waktu itulah Ko Tie membuka pelupuk matanya, dia siuman.

Yang Sin-se mengawasinya sesaat, memeriksa matanya, yang agak kuning. Yang Sin-se menghela napas, kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya.

Waktu itu Ko Tie bersuara perlahan. “Aku..... aku..... di mana?!” seakan juga ia mengigau.

Yang Sin-se menoleh kepada Ang Lotoa dan para penduduk kampung lainnya yang telah berkumpul di kamar itu dengan berkuatir.

“Dia sudah tidak dapat ditolong lagi!” Kata Yang Sin-se kemudian, sambil memutar tubuhnya, bermaksud hendak berlalu.

Para penduduk kampung itu mengerubungi Sin-se tersebut.

“Apakah Sin-se tidak bisa usahakan agar ia dapat ditolong dan diselamatkan?!” tanya mereka dengan sikap yang sangat berkuatir sekali.

Yang Sin-se menggeleng.

“Sayang sekali keadaannya sudah tidak memungkinkan untuk ditolong lagi!” kata Sin-se itu kemudian. Dan katanya lagi penuh penyesalan. “Maafkanlah..... aku benar-benar tidak dapat mengusahakan lebih dari apa yang sanggup kulakukan!”

Setelah berkata begitu, dia memutar tubuhnya dan berlalu.

Seketika itu juga para penduduk kampung jadi bisik-bisik, karena mereka benar-benar menguatirkan sekali keselamatan Ko Tie. Mereka menyesal sekali bahwa Yang Sin-se mengatakan bahwa ia tidak sanggup menyembuhkan dan menyelamatkan jiwa pemuda itu.

Sedangkan muka Ang Lotoa murung sekali, ia sangat berduka. Selama tiga hari dia merawat Ko Tie, entah mengapa dia memiliki perasaan senang padanya.

Disaat itu tampak Ang Lotoa telah menghampiri pembaringan, mengawasi Ko Tie yang dalam keadaan sadar, tengah diam dengan mata terbuka:

“Bagaimana keadaanku......, apakah dapat disembuhkan?!”

Tampak Ang Lotoa tersenyum, senyum yang pahit sekali, diapun bilang. “Maafkanlah..... kami telah berusaha sekuat tenaga. Tapi Kongcu tidak perlu kuatir, karena kami akan berusaha mencari tabib lainnya.....!” menghibur Ang Lotoa.

Dia berkata begitu, karena dia yakin bahwa Ko Tie tentunya telah mendengar apa yang dikatakan oleh Yang Sin-se.

Penduduk kampung lainnya telah menghampiri juga, mereka telah mengawasi Ko Tie, yang keadaannya begitu lemah, dengan wajah yang sangat pucat pias.

“Aku..... aku..... memang tampaknya sudah sulit untuk diselamatkan.....” kata si pemuda kemudian dengan suara yang lemah sekali!

Ang Lotoa memaksakan dirinya buat tersenyum, dia menghibur lagi.

Tapi Ko Tie mengetahui bahwa dia tentunya memang sulit buat diselamatkan, karena lukanya yang memang demikian parah.

Dia masih berusaha mengerahkan sin-kangnya, untuk menyembuhkan luka di dalam tubuhnya itu dengan mempergunakan sin-kangnya.

Akan tetapi kenyataannya, dia tidak berhasil juga menembusi pintu Sie.

Malah ketika dia mengerahkan sin-kangnya ke jalan pintu Sie, pada jalan darah di tubuhnya, dia merasakan kesakitan yang bukan main. Dan dia mengeluh, setengah menjerit, lalu pingsan lagi.

Ang Lotoa dan yang lainnya tampak begitu bingung. Mereka tidak mengetahui, entah apa yang harus mereka lakukan.

Dikala itu, di luar terdengar seara keliningan, yang terdengarnya begitu nyaring!

Menyusul dengan itu terdengar juga suara orang berseru: “Tabib dari Sorga..... penyakit apapun dapat disembuhkan. Walaupun orang yang arwahnya hampir meninggalkan tubuhnya akan dapat disembuhkan…… Siapa yang sakit, boleh berobat, siapa yang sakit boleh berobat.

Teriakan orang itu sangat nyaring sekali.

Ang Lotoa dan kawan-kawannya jadi tertegun. Mereka saling pandang.

Kemudian beramai-ramai mereka berlari keluar.

Ternyata di depan rumah Ang Lotoa lewat seorang laki-laki tua sekali. Jenggot dan kumisnya telah memutih, memakai baju warna hijau dengan kopiah warna hijau juga.

Di tangan kanannya memegang tongkat kayu cendana, sedangkan tangan kirinya memegang pelakat yang besar sekali yang bertulisan:

“Tabib dari Sorga, dapat mengobati berbagai penyakit yang paling sukar sekalipun! Ada jaminan. Jika tidak sembuh. uang akan dikembalikan menjadi tiga kali lipat……!”

Di punggungnya tampak bergemblok sebuah kotak kayu, mungkin berisikan obat-obatan.

Semua orang kampung itu saling pandang. Siapakah tabib dari Sorga itu? Mereka belum pernah melihatnya, dan mereka memang tidak mengenalnya.

Namun melihat pelakat yang dibawa Tabib itu, dan juga teriakannya, yang begitu tekebur, bukankah tabib ini merupakan tabib yang sangat pandai? Dan bukankah sangat kebetulan sekali Ko Tie dalam keadaan sekarat?

Mereka melihat, tabib itu tampaknya buta karena dia berjalan dengan mata terpejamkan cuma tongkatnya yang mengetuk-ngetuk jalanan, karena tongkat itu sebagai penunjuk jalannya, yang menuntunnya.

Segera juga Ang Lotoa tanpa membuang-buang waktu lagi telah menghampiri.

“Sin-se.....!” panggilnya.

Tabib itu berhenti melangkah.

“Ada yang memanggilku?!” tanyanya kemudian, matanya masih tetap terpejam, dan mereka yakin bahwa tabib ini tentunya seorang tabib yang buta.

Seorang tabib yang buta, bagaimana bisa mengobati orang yang terluka atau sakit?

Tapi dari kata-katanya dan pelakat yang dibawanya, tampaknya tabib ini memang sangat mengandalkan sekali ilmu pengobatannya, sehingga dia berani menjanjikan, jika memang tidak sembuh uang akan dikembalikan dengan berlipat kali lebih besar.

“Sin-se! kami ingin meminta pertolongan kepada Sin-se, untuk mengobati seseorang!” kata Ang Lotoa kemudian.

Tabib itu berdiam diri beberapa saat, kemudian mengangguk.

“Boleh! Siapa yang sakit?!” tanyanya kemudian. “Sakit apa? Atau sudah lama sakitnya itu? Apa memang masih penyakit baru yang beberapa hari ini saja?!”

Ang Lotoa segera menyahuti: “Kawan kami tampaknya terluka pada tubuhnya, sakitnya berat sekali, dia sudah pingsan beberapa kali dalam tiga hari ini! Itulah luka baru..... harap Sin-se mau menolonginya!”

Tabib itu mengangguk-angguk perlahan.

“Hemmm, dia terluka baru tiga hari? Dan selalu jatuh pingsan tidak sadarkan diri, sudah tua atau masih mudakah orang itu?!” tanya tabib tersebut.

“Dia mungkin baru berusia duapuluh lima tahun.....!”

“Hemmm, ya, ya, aku akan dapat mengobatinya. Pasti akan dapat menyembuhkannya. Tapi, sebelumnya aku ingin memberitahukan, bahwa setiap kali aku menolongi orang, menyembuhkan sakit seseorang, aku meminta imbalan yang cukup tinggi, untuk sekali pengobatan sampai sembuh, aku meminta seratus tail.

Mendengar jumlah uang pengobatan itu, Ang Lotoa jadi tertegun. Itulah jumlah yang sangat besar sekali, dari mana dia bisa memiliki uang sebanyak itu.

“Bagaimana?” tanya tabib itu ketika mengetahui lawan bicaranya berdiam diri saja dan tidak mendengar penyahutannya. “Apakah kau sanggupi akan ongkos pengobatan itu?”

Ang Lotoa tampak berdiri tertegun.

Sedangkan orang-orang lainnya telah mendekati.

“Bagaimana Ang Lotoa?” tanya beberapa orang penduduk kampung tersebut, ketika melihat Ang Lotoa berdiri tertegun begitu di tempatnya.

Ang Lotoa menghela napas.

“Sin-se ini memang menyanggupi untuk menyembuhkan Kongcu itu, tapi ongkos pengobatan yang dimintanya sangat tinggi dan mahal sekali…..!”

“Sangat mahal? Berapa yang dimintanya?” tanya dua orang penduduk kampung serentak.

“Ia meminta seratus tail.....!” kata Ang Lotoa kemudian sambil menghela napas lagi.

Muka orang-orang itu jadi berobah.

“Itulah permintaan yang tidak layak, bagaimana mungkin bisa meminta biaya pengobatan semahal itu,” kata mereka yang jadi mendongkol kepada tabib buta itu, “Belum lagi pasti bahwa ia akan dapat mengobati orang itu!”

Tabib itu tampak tersenyum.

“Aku pasti akan dapat menyembuhkannya jika memang kalian berani menyediakan pembayaran seratus tail. Jika memang aku gagal, berarti aku harus mengembalikannya kepada kalian tiga ratus tail.....!”

Itulah tantangan yang benar-benar sangat berani dari tabib buta ini.

Atau memang dia memiliki ilmu pengobatan yang sangat mahir sekali dan pandai, sehingga dia berani bicara tekebur itu. Bukankah tabib buta itu belum lagi mengetahui bagaimana keadaan si sakit? Dan juga, bukankah Ko Tie dalam keadaan sakit yang parah sekali?

Tapi tabib buta itu malah telah berkata lagi:

“Bagaimana? Apakah kalian setuju? Jika memang kalian keberatan buat memberikan biaya pengobatan sebesar yang kuminta, maka aku tidak bisa membuang waktu di sini terlalu lama.”

Ang Lotoa dan kawan-kawannya jadi bingung, mereka saling pandang beberapa saat lamanya.

“Bagaimana? Baiklah, kalian tampaknya memang keberatan memberikan biaya pengobatan seperti yang kuminta maka aku pun tidak akan memaksa!”

Setelah berkata begitu, tabib tersebut segera juga melangkah meninggalkan tempat itu sambil berseru dengan suara yang nyaring sekali:

“Tabib dari Sorga, dapat menyembuhkan segala macam penyakit yang sudah payah dan sakitnya berat, pasti dapat diobati sembuh..... jika tidak berhasil, uang akan dikembalikan tiga kali lipat?!”

Waktu itu ada salah seorang penduduk kampung itu yang berkata kepada Ang Lotoa: “Bagaimana jika kita bersama-sama menyediakan biaya itu? Bukankah jika dia tidak berhasil kita tidak perlu membayarnya?

“Dan juga malah dia berjanji akan membayar kembali kepada kita sebesar tiga kali lipat? Bukankah itu untung? Jika memang dia berhasil, kita boleh bersenang hati, karena pemuda itu yang keadaannya sudah begitu sekarat ternyata masih bisa diobati!”

Mendengar perkataan orang tersebut, yang lainnya segera menyatakan persetujuan mereka.

Ang Lotoa jadi girang bukan main, karena dengan begitu berarti mereka tidak perlu terlalu banyak mengeluarkan biaya pengobatan buat Ko Tie, mereka bisa bersama-sama menanggungnya.

Karena itu, cepat-cepat Ang Lotoa telah mengangguk mengiakan.

“Baiklah!” katanya kemudian kepada tabib itu. “Tolonglah Sin-se mengobati pemuda itu, kawan kami.!”

Tabib itu yang belum begitu jauh melangkah pergi, telah merandek, dia menahan langkah kakinya.

“Kalian setuju dengan harga pengobatan yang kuminta?!” tanyanya.

Ang Lotoa mengiakan. “Mari Sin-se ikut dengan kami!” katanya sambil mengulurkan tangannya buat menuntun tongkat si tabib buta itu.

Tabib itu tersenyum.

“Walaupun bagaimana beratnya penyakit kawan kalian, tentu aku akan dapat mengobatinya!” kata tabib itu.

Tapi Ang Lotoa tidak melayani kata-kata tabib itu, karena dia telah membawa tabib tersebut ke dalam rumahnya, memberitahukan di mana Ko Tie berada.

“Tunggu dulu!” kata tabib itu kemudian.

“Apalagi?!” tanya Ang Lotoa melihat tabib itu bukannya memeriksa Ko Tie, malah telah berdiri dengan tegak.

“Bukankah telah kukatakan tadi, bahwa aku meminta pembayaran sebesar seratus tail?” Kata tabib itu.

Ang Lotoa jadi mendongkol.

“Sin-se, apakah Sin-se beranggapan bahwa kami ini terlalu miskin sehingga tidak memiliki kemampuan buat membayar ongkos pengobatan itu? Apakah memang Sin-se tidak mempercayai kami?” tanya Ang Lotoa dalam keadaan gusar dan mendongkol.

Sebab keadaan Ko Tie sudah demikian parah, akan tetapi tabib itu bukannya segera menolonginya, malah membicarakan soal tetek bengek. Karena itu, Ang Lotoa sesungguhnya hendak memaki tabib tersebut.

Di waktu itu tampak tabib tersebut mengulap-ulapkan tangannya. Dia bilang: “Bukan begitu. Kalian jangan marah dulu! Dengarkan dulu kata-kataku.....!

“Sudah menjadi kebiasaanku, bahwa sebelum aku mengobati si sakit, maka aku harus menerima dulu uangnya! Ini sudah menjadi peraturanku dan tidak bisa ditawar menawar.

Ang Lotoa dan kawan-kawannya jadi bimbang. Tapi Mereka yakin, walaupun tabib itu gagal mengobati Ko Tie, tidak mungkin tabib itu bisa melarikan uang mereka. Bukankah mereka berjumlah banyak? Maka sibuklah mereka pada pulang ke rumah masing-masing buat mengambil uang.

Setelah uang itu dikumpulkan, dan jumlahnya genap 100 tail, lalu diberikan kepada si tabib.

Demikian telitinya tabib itu, karena dia segera menghitungnya dengan baik.

Barulah dia memasukkan ke dalam sakunya setelah menghitung bahwa jumlah yang diterimanya itu seratus tail.

“Baiklah! Kalian telah membayar kepadaku ongkos pengobatan, dan aku harus berusaha sekuat kemampuanku buat mengobati kawan kalian itu! Ayo tunjukkan, di mana beradanya kawanmu itu!” kata tabib tersebut.

Ang Lotoa menuntun tabib itu mendekati pembaringan.

Waktu itu Ko Tie masih dalam keadaan pingsan tidak sadarkan diri, dan tabib itu telah mengulurkan tangannya perlahan-lahan. Dia merabah-rabah tubuh Ko Tie.

Tapi setelah merabah-rabah sekian lama, tiba-tiba dia berseru nyaring, seakan juga tabib itu terkejut.

“Ihhh, lukanya begitu berat dan parah sekali?!” kata tabib tersebut dengan suara yang mengandung kekuatiran.

Ang Lotoa mendongkol bukan main.

“Bukankah Sin-se sendiri yang mengatakan luka dan penyakit yang berat bagaimana pun juga engkau akan sanggup buat mengobatinya!” katanya.

Tabib itu telah tersenyum, wajahnya telah pulih sebagaimana biasa, dia juga mengangguk-anggukkan kepalanya, tenang kembali sikapnya.

“Ya, ya…… memang luka dan penyakit yang bagaimana berat sekalipun aku pasti akan dapat menyembuhkannya…… kalian tidak perlu kuatir. Hanya saja tadi aku terkejut sekali setelah mengetahui bahwa kawan kalian ini terluka demikian parah, karena jika memang dalam dua hari dia tidak diobati dengan baik dan benar, niscaya dia akan mati......!”

Ang Lotoa mengangguk-angguk, berkurang perasaan mendongkolnya. Demikian juga halnya dengan para penduduk kampung lainnya.

Jika sebelumnya mereka kurang mempercayai bahwa tabib itu memiliki ilmu pengobatan yang lihay dan ampuh. Sekarang justeru mereka mulai mempercayainya bahwa memang tabib itu memiliki pengetahuan yang sangat luas sekali dalam ilmu pengobatan.

Karena dengan memegang saja dia segera mengetahui bahwa keadaan Ko Tie sangat parah sekali dan hanya memiliki kesempatan buat hidup dua hari saja

“Apakah...... apakah pemuda itu dapat ditolong, Sin-se?!” tanya Ang Lotoa ketika melihat Sin-se itu berdiri termenung lagi, seperti tengah memikirkan sesuatu.

Tabib itu mengangguk.

“Ya..... dia pasti akan dapat tertolong, tapi aku harus mengerahkan seluruh pengetahuanku buat mengobatinya..... sama sekali tidak boleh gagal..... dalam satu hari dia sudah harus tersadar!”

Mendengar perkataan tabib itu, Ang Lo-toa dan kawan-kawannya beranggapan bahwa tabib itu bicara terlalu besar dan terkebur, karena itu, mereka memandang tidak mempercayainya. Keadaan Ko Tie demikian parah sekali, bagaimana mungkin dia bisa membuat si pemuda tersadar hanya dalam satu hari?

Tapi mereka tidak ada yang memberikan komentar, sedangkan waktu itu si tabib mulai bekerja.

Pertama-tama dia memeriksa sekujur tubuh Ko Tie, dia memeriksanya dengan teliti sekali. Setelah memeriksa sekian lama, tiba-tiba ia melakukan penotokan di beberapa tempat.

Semuanya dilakukan begitu sebat dan juga setiap totokannya mengenai setiap jalan darah dan tepat sekali, dengan begitu telah membuat orang yang melihatnya akan kagum sekali, kalau saja orang itu memang memiliki ilmu silat.

Hanya saja penduduk kampung itu dan Ang Lotoa tidak mengerti ilmu silat, namun mereka tetap saja kagum karena melihat tangan si tabib yang bergerak begitu lincah dan juga sebat sekali. Keringat pun telah mengucur deras di sekujur tubuh tabib itu.

Keadaan pada waktu itu sangat tegang sekali, karena semua penduduk kampung itu mengawasi apa yang dilakukan oleh si tabib dengan mata terbuka lebar-lebar.

Tampak tabib ini telah menguruti berbagai anggota tubuh Ko Tie. Dia melakukannya dengan sikap yang bersungguh-sungguh, dan dia bekerja tanpa mengeluarkan sepatah perkataan pun juga.

Setelah lewat setengah jam, barulah tabib itu berhenti mengurut.

“Selesai tingkat pertama!” kata tabib itu kemudian sambil mengeluarkan sehelai kain dan menghapus keringatnya.

Di waktu itu juga terlihat dia telah berkata kepada Ang Lotoa, buat meminta air minum.

Ang Lotoa kaget, dia segera juga menyediakan air minum buat tabib itu.

Tabib itu walaupun buta, akan tetapi dia dapat menotok dan mengurut dengan baik dan tangannya dapat bergerak begitu sebat. Inilah yang tidak pernah diduga oleh semua orang.

Setelah minum, tabib itu mulai menguruti lagi sekujur tubuh Ko Tie. Sedangkan Ko Tie masih tetap dalam keadaan pingsan tidak sadarkan diri, di waktu mana dia memiliki paras yang pucat dan sepasang matanya terpejamkan rapat-rapat.

Dikala itu terlihat bahwa tabib itu telah berkata dengan suara perlahan, dia juga telah membuka kotak obatnya, mengeluarkan beberapa macam obat.

Dia memaksa memasukkan ke dalam mulut si pemuda.

Ang Lotoa dan beberapa orang penduduk kampung itu coba membantunya, tapi tabib itu membentak: “Jangan mencampuri…..!” Dan semuanya jadi melompat mundur.

Tabib ini dengan tangannya yang sebat telah berulang kali memasukkan obat ke mulut Ko Tie. Dan barulah dia duduk beristirahat, sambil mengipas-ngipas.

“Jiwa pemuda ini jika tidak memperoleh pengobatan yang baik, niscaya akan mati.....! Jika saja terlambat satu hari, besok kalian meminta aku mengobati, walaupun aku memiliki obat dewa, tentu aku tak akan dapat mengobatinya, berarti aku akan rugi……!”

Setelah berkata begitu, tabib tersebut menghela napas berulang kali.

“Mengapa sin-se mengatakan Sin-se akan rugi jika memang besok kami meminta pertolongan Sin-se?!” tanya Ang Lotoa yang heran dan tidak mengerti maksud perkataan Sin-se itu.

“Karena aku akan gagal mengobatinya dan berarti aku akan mengganti uang kalian tiga kali lipat. Bukankah itu suatu kerugian yang sangat besar sekali?!” menyahuti tabib buta itu.

Ang Lotoa jadi heran dan takjub, diapun berdebar-debar, tanyanya: “Kalau begitu...... maksud Sin-se..... pemuda itu akan dapat diselamatkan jiwanya?!”

Tabib itu mengangguk.

“Itu sudah pasti.....!” dia menyahuti sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, “Jika tidak, mengapa aku harus mengatakan dapat mengobatinya.

“Jika memang tidak dapat mengobatinya, dengan hanya memegang tubuhnya saja aku sudah dapat mengetahui apakah dia akan dapat diobati atau tidak..... Aku tentu akan memberitahukan kepada kalian jika memang aku tidak memiliki kesanggupan buat mengobatinya lagi……!”

Bukan main girangnya Ang Lotoa dan yang lainnya, segera timbul harapan mereka.

“Terima kasih Sin-se, jika memang benar Sin-se dapat mengobatinya, biarpun kami harus mengeluarkan uang sejumlah banyak itu, kami tidak akan menyesal. Kami puas sekali, karena telah berhasil menyelamatkan jiwa seseorang...... seorang manusia..... berarti kami telah sempat melakukan suatu kebaikan!”

Tabib itu mengangguk-angguk.

“Seharusnya aku meminta duaratus tail mengingat bahwa lukanya demikian berat dan hebat!” kata tabib itu. “Tapi memang aku sudah terlanjur dengan permintaanku, sudahlah, aku juga tidak akan meminta tambah lagi!”

Sambil berkata begitu, segera dia mulai menguruti lagi tubuh Ko Tie, dan juga telah menotok beberapa jalan darah di tubuh pemuda itu.

Telah terjadi suatu perobahan yang menggembirakan hati semua orang.

Wajah Ko Tie yang semula pucat pias itu perlahan-lahan telah berobah menjadi memerah.

Tentu saja hal ini membuat mereka sangat bersyukur dan harapan mereka jadi besar bahwa tabib ini memang akan berhasil menolongi Ko Tie dan menyelamatkan jiwanya.

Mereka juga melihatnya, betapa napas Ko Tie berjalan teratur dan tidak lemah seperti tadi.

Di waktu itu si tabib terus juga bekerja, sama sekali dia tidak berhenti, walaupun tampaknya dia sangat letih dan sekujur tubuhnya telah mengucur keringat yang deras.

Setelah menguruti lagi sekian lama tubuh Ko Tie, barulah dia berhenti. Dia menghela napas.

“Krisisnya telah dilewatkan, sekarang tinggal menyadarkannya dari keadaannya ini…… membuat dia siuman!” bilang tabib itu perlahan.

Tapi dia tidak melakukan sesuatu, karena dia telah duduk mengasoh dulu, dia beristirahat.

Ang Lotoa mengawasi Ko Tie yang telah berubah pipinya memerah, menandakan pemuda itu memang telah mengalami kemajuan dalam kesehatannya. Dan dengan adanya kemajuan seperti itu menunjukkan bahwa pemuda ini memang akan berhasil di tolong.

Sedangkan tabib buta itu telah duduk mengasoh beberapa saat, barulah kemudian dia mulai menotoki lagi sekujur tubuh Ko Tie.

Setiap totokannya ternyata memiliki sin-kang yang dahsyat sekali.

Hanya saja semua orang kampung itu tak mengerti ilmu silat, mereka cuma kagum terhadap kesebatan jari tangan tabib itu yang menotok ke sana ke mari.

Tapi kemudian, terlihat betapa Ko Tie telah mengeliat, dan mengeluarkan suara keluhan.

Disusul lagi, setelah ditotok beberapa kali, pelupuk matanya terbuka!

Ko Tie telah siuman!

Bukan main girangnya semua penduduk kampung itu, mereka telah mengucapkan syukur atas kebesaran Thian, karena lewat tabib buta ini Ko Tie telah dapat diselamatkan.

Di waktu itu terlihat si tabib telah menghela napas.

“Akh, akhirnya engkau telah terssdar juga……!” halus suaranya.

Ko Tie memandang kepada tabib itu.

“Kau..... locianpwe.....?!” katanya kemudian ketika melihat tabib itu.

“Jika memang engkau ingin sembuh, engkau tidak boleh bicara dulu!” kata tabib buta itu. “Engkau harus menuruti nasehatku!”

Ko Tie mematuhi pesan tabib itu, dia tidak berkata-kata lebih jauh lagi. Sedangkan pada waktu itu, tabib itu terus juga menotoki sekujur tubuh Ko Tie. Setelah menotoki beberapa puluh kali, barulah dia berhenti.

Ang Lotoa dan kawan-kawannya jadi memuji betapa hebatnya tabib ini.

Sedangkan di waktu itu terlihat betapa Ko Tie telah bisa tersenyum, pipinya memerah dan matanya mulai bersinar.

“Jika memang nanti engkau telah kukirimi lweekang, yang pada puncaknya engkau akan memuntahkan darah segar..... Kau jangan terkejut, karena jika memang berhasil kau memuntahkan darah itu, berarti selanjutnya engkau tidak mengalami ancaman maut lagi, engkau dapat tertolong.....!”

Ko Tie hanya mengangguk saja.

Penduduk kampung itu memandang girang bukan main, malah Ang Lotoa telah menghampiri tepi pembaringan. Dia bermaksud akan menyeka keringat di kening Ko Tie.

Tapi tabib buta itu telah membentak: “Jangan mencampuri dulu..... atau aku tidak akan mau mengobatinya.....!”

Ang Lotoa terkejut, dia cepat-cepat segera mundur beberapa langkah. Dia pun segera meminta maaf.

Tabib itu tanpa berkata apa-apa lagi, telah membuka kopiahnya yang berwarna hijau, sehingga terlibat rambutnya yang berwarna putih semuanya. Dia duduk di tepi pembaringan, kemudian dia meletakkan telapak tangannya di dada Ko Tie.

Seketika Ko Tie merasakan betapa dari telapak tangan tabib itu telah mengalir keluar hawa yang hangat sekali, yang menyelusup masuk sampai ke dalam dadanya.

Hawa hangat itu dalam bentuk seperti bola dan berputar-putar, dan terus juga menuju ke perutnya, ke Tan-tiannya.

Ko Tie memejamkan matanya.

Dengan adanya hawa hangat itu, Ko Tie merasakan betapa tubuhnya jadi jauh lebih segar.

Sedangkan waktu itu si tabib juga telah memejamkan matanya, dia mengempos semangatnya, mengerahkan tenaga dalamnya yang disalurkan lewat telapak tangannya.

Ternyata tabib ini memiliki sin-kang yang luar biasa mahirnya. Jika seseorang yang sin-kangnya belum mahir, tentu tidak akan dapat mengirimkan hawa murni dengan cara seperti itu.

Sedangkan waktu itu Ko Tie semakin lama semakin segar. Namun bersamaan dengan dirasakannya rasa segar itu, dia pun merasakan dadanya sakit sekali.

Dia membuka matanya, hendak menanyakan sesuatu pada tabib itu, akan tetapi segera juga dia teringat kapada pesan tabib itu yang melarang dia bicara.

Maka Ko Tie segera memejamkan matanya lagi, dia telah menahan sakit itu, karena dia tahu bahwa tabib ini memang bermaksud hendak menyembuhkannya.

Perasaan sakit itu semakin lama semakin sakit, malah dia merasakan napasnya seperti tersumbat, karena dadanya jadi sesak sekali.

Dan karena tidak kuat menahan rasa sakit itu, Ko Tie hendak menanyakan sesuatu dia membuka mulutnya, buat menyatakan kepada tabib itu bahwa dia menderita kesakitan yang hebat. Namun begitu dia membuka mulutnya, seketika dia telah memuntahkan darah yang kehitam-hitaman banyak sekali.

Si Tabib telah tersenyum.

“Berhasil.....!” katanya kemudian.

Sedangkan Ko Tie telah pingsan lagi tidak sadarkan diri, dia rebah dengan mata yang terpejamkan.

Sedangkan Ang Lotoa dan kawan-kawannya ketika melihat keadaan Ko Tie seperti itu, jadi kaget tidak terkira.

“Sin-se.....!” kata mereka serentak dengan hati yang berkuatir sekali.

“Tidak apa-apa..... kalian jangan gugup.....!” katanya kemudian.

Di waktu itu terlihat betapa Ko Tie rebah dengan napasnya yang perlahan sekali, dadanya bergerak lemah, juga mulutnya dilumuri oleh darah yang menghitam itu.

Si tabib dengan gesit telah membuka kotak obatnya.

Memang dia tampaknya buta, akan tetapi segalanya dilakukannya dengan cepat sekali. Dia telah mengambil beberapa macam obat, lalu memberikannya kepada Ko Tie, dipaksa masuk ke dalam mulutnya.

Dikala itu, Ko Tie telah dipijit rahangnya, sehingga mulutnya terbuka dan obat itu tertelan.

Setelah meminumkan obat tersebut, tabib ini kemudian berkata kepada Ang Lotoa dan penduduk kampung lainnya.

“Kalian semua keluar dulu, berikan kesempatan kepadanya buat bernapas dan memperoleh udara yang segar, karena dia pengap sekali dengan kalian memenuhi kamar ini.....!”

Ang Lotoa mengiyakan, bersama dengan kawan-kawannya mereka keluar.

Tampak si tabib menotoki lagi beberapa jalan darah di tubuh Ko Tie.

Lewat beberapa saat, napas Ko Tie lancar kembali dan juga mukanya telah memerah kembali.

Tabib itu berhenti sejenak, dia menghela napas.

“Bakat yang sangat memuaskan, tulang yang benar-benar sangat baik!” menggumam tabib itu dengan suara yang perlahan.

Kemudian dia duduk mengasoh, menyenderkan tubuhnya di dinding seakan tengah tertidur.

Hening sekali keadaan di dalam kamar itu.

Ang Lotoa dan kawan-kawannya jadi tegang sendirinya, telah lama mereka mendengarkan, dan hening terus. Mereka kuatir kalau-kalau tabib itu gagal menolongi Ko Tie.

Tapi, ketika Ang Lotoa beranikan diri buat mengintip ke dalam, dia melihat tabib itu tengah duduk menyenderkan tubuhnya di dinding, seakan tengah tidur. Sedangkan Ko Tie tampak rebah dengan pipi yang telah memerah sehat. Tampaknya juga seperti tengah tertidur nyenyak.

“Dia..... dia sudah tidak pingsan..... dia telah disembuhkan……!” kata Ang Lotoa memberitahukan kepada kawan-kawannya dengan kegembiraan yang meluap.

Sedangkan kawan-kawannya juga girang. Bergantian mereka telah silih berganti mengintip ke dalam kamar.

Dan di waktu itu juga terlihat betapa mereka bermaksud untuk masuk ke dalam kamar.

Tapi Ang Lotoa telah mencegah.

“Ingat Sin-se itu belum lagi memanggil kita……!” kata Ang Lotoa. “Kita tidak boleh terlalu ceroboh, karena Sin-se itu tampaknya juga seorang tabib yang aneh, karenanya kita tidak bisa sembarangan masuk ke dalam kamar……!”

Yang lainnya telah mengangguk.

Di waktu itu terlihat Ko Tie perlahan-lahan telah menggerakkan pelupuk matanya, tampaknya dia telah sadar. Dan juga, dia mengeluarkan suara keluhan, begitu matanya terbuka.

Dia telah memanggil: “Locianpwe.....!”

Tajam sekali pendengaran tabib itu, karena segera juga dia telah bangun berada di sisi pembaringan.

“Telah sehat?!” tanyanya.

Ko Tie mengangguk.

“Tadi aku telah mencoba menyalurkan tenaga dalamku dan sin-kangku itu dapat disalurkan dengan lancar.....!” kata Ko Tie sambil tersenyum.

“Bagus..... karenanya, di lain waktu, engkau tidak perlu membawa sikap kepala besar.....!” kata tabib itu. “Jika tidak, tentu siang-siang aku telah mengobati kau sembuh dari lukamu itu.....!”

Muka Ko Tie bertambah memerah, dia tersenyum, tidak marah atau menjadi tidak senang oleh kata-kata tabib itu.

“Ya locianpwe, memang apa yang dikatakan locianpwe benar..... maafkanlah kelakuan boanpwe.... karena boanpwe kurang pengalaman dan pengetahuan.....!” kata Ko Tie.

Tabib itu mengangguk.

“Ya, urusan yang telah lalu sudahlah....... bukankah sekarang aku berhasil mengobatimu?!”

Ko Tie mengangguk.

“Apakah sekarang aku sudah boleh bangun, Locianpwe?!” tanya Ko Tie.

“Tunggu beberapa saat lagi engkau masih perlu rebah dulu di situ. Nanti aku beritahukan jika memang engkau telah boleh duduk buat menyalurkan tenaga dalammu.....!”

“Locianpwe.....!”

“Ya?!”

“Apakah boanpwe boleh bertanya?!”

“Apa yang ingin kau tanyakan?!”

“Jika memang boanpwe telah disembuhkan, apakah kepandaian boanpwe tidak akan punah atau menjadi cacad?!” tanya Ko Tie lagi sambil mengawasi tabib itu.

Tabib itu menggeleng.

“Sudah tentu tidak..... kau telah sembuh keseluruhannya.....!” kata si Tabib.

Setelah berdiam sejenak, dia berkata lagi: “Ada sesuatu yang hendak kuberitahukan kepadamu.....!”

“Apa itu locianpwe?!”

“Kau memiliki bakat dan tulang yang sangat bagus..... karena itu, jika memang engkau berhasil melatih diri dengan sebaik-baiknya, tentu engkau akan berhasil menguasai ilmu silatmu dengan sempurna……!”

“Terima kasih locianpwe dan boanpwe mengharapkan sekali petunjuk dari locianpwe!”

“Itu urusan nanti, jika engkau telah sembuh barulah kita membicarakan lagi.....!” kata tabib tersebut.

Ko Tie mengangguk.

Dia memejamkan matanya lagi, sedangkan tabib itu duduk di tepi pembaringan, dia menotok beberapa jalan darah terpenting di tubuh Ko Tie dengan totokan yang diperhitungkan kekuatan tenaga dalamnya, setiap totokan memiliki kekuatan lweekang tersendiri.

Sedangkan Ko Tie sendiri, setiap kali ditotok dia merasakan betapa darahnya beredar lebih baik lagi, napasnya lebih lurus dan lancar, membuat dia girang, karena pemuda ini menyadarinya bahwa dia tengah diberikan bantuan tenaga dalam.

Jika kelak telah sembuh, dia tentu bisa melatih lweekangnya lebih mudah, karena memang dia telah memperoleh kekuatan lweekang yang diberikan oleh tabib itu dengan cara terselubung oleh totokannya.

Sedangkan tabib itu terus juga menotok sekujur tubuh Ko Tie, pada beberapa bagian jalan darahnya.

Siapakah tabib buta itu?

Tidak lain adalah Oey Yok Su.


Pada hari itu dia lewat di kampung ini. Dia melihat rajawali yang besar itu. Tiauw-jie.

Seketika dia teringat kepada Ko Tie, karena dia memang pernah mendengar bahwa Ko Tie memiliki hubungan yang intim dengan Giok Hoa. Dengan demikian dia menduga Ko Tie niscaya dalam keadaan terluka parah.

Dia segera dengan mudah mengintai. Benar saja, Ko Tie dalam keadaan sekarat.

Kemudian dia menulis pelakatnya dan pura-pura menjadi seorang tabib buta. Dia ingin mengetahui apakah penduduk kampung itu menolongi Ko Tie dengan kesungguhan hati.

Dan ternyata memang semua penduduk kampung itu bermaksud menolong Ko Tie dengan kesungguhan hati, membuat Oey Yok Su jadi terharu sekali. Hatinya tergerak.

Sedangkan beberapa waktu yang lalu, walaupun dia bermaksud menolongi Ko Tie, tapi dia pun sama seperti hendak mempermainkan Ko Tie, yang akhirnya telah ditinggalkannya.

Maka sekarang, setelah melihat kebaikan penduduk kampung yang begitu bersungguh-sungguh dan rela untuk mengeluarkan uang mereka dalam jumlah yang tidak kecil, buat pembayaran biaya pengobatan itu, hati Oey Yok Su tergerak dan diapun jadi bersikap lembut kepada Ko Tie. Lenyap juga sifat ku-koaynya.

Di waktu itu tampak dia pun telah berusaha menyalurkan sin-kangnya, untuk membantu Ko Tie agar kelak dapat mengerahkan sin-kangnya dengan mudah.

Oey Yok Su pun telah berusaha membuka beberapa bagian jalan darah terpenting di tubuh Ko Tie. Dan dia bermaksud untuk menggembleng pemuda ini, karenanya bahwa pemuda ini selain memiliki bakat yang sangat baik juga tulang yang bagus.

Sikapnya kali inipun terhadap Ko Tie sangat benar, dia sama sekali tidak membawa sikap ku-koaynya.

Semua ini berlangsung dengan cepat dan dia telah selesai menotok sebanyak seratusdelapan jalan darah di tubuh si pemuda, dan juga dia telah mengurutinya beberapa kali.

Barulah kemudian Oey Yok Su mengasoh lagi. Dia beristirahat beberapa saat lamanya, sampai akhirnya dia telah menghela napas.

Ia teringat kepada Oey Yong, puterinya, kepada mendiang isterinya, teringat juga kepada cucunya. Namun di saat-saat hari tuanya seperti ini, dia bagaikan sebatang kara, karena dia hidup sendiri, tidak memiliki isteri dan jauh dari anak.

Dengan begitu dia berkelana ke mana ke dua kakinya membawanya, dia pergi ke tempat-tempat yang disenanginya.

Karena itu, walaupun usianya telah lanjut benar, namun Oey Yok Su memang memiliki pengalaman yang luas sekali. Dia telah mendatangi tempat-tempat yang terpencil sekalipun. Dia melewati hari tuanya dengan berkelana ke sana ke mari.

Di waktu itu, Ko Tie sesungguhnya beruntung sekali bertemu dengan Oey Yok Su. Sebab selain kebetulan luka yang dideritanya bisa disembuhkan, diapun telah diberikan hawa murni dari Oey Yok Su, dibantu juga dengan dibukanya beberapa jalan darah terpenting di tubuhnya yang membantu banyak kepadanya buat melatih sin-kangnya kelak mencapai kesempurnaan.


Sekarang kita kembali dulu kepada Kam Lian Cu yang telah kita tinggalkan cukup lama.

Gadis itu rebah di dalam keadaan lemah di dalam goa. Dia telah membuka matanya perlahan-lahan. Yang dirasakannya pada waktu itu adalah tubuhnya yang sangat lemah sekali.

Dia mengeluh.

Tapi kemudian Kam Lian Cu tercekat hatinya, dia teringat apa yang telah terjadi.

Dia menjerit keras ketika dia menundukkan kepalanya, melihat tubuhnya dalam keadaan telanjang tanpa ada penutupnya, tak sehelai benangpun menempel di tubuhnya.

Bagaikan sinting, dia telah menjerit-jerit, menjambaki rambutnya dan menangis sejadi-jadinya. Apa yang telah dilihatnya merupakan kenyataan yang benar-benar sangat pahit, karena segalanya telah terjadi.

Dengan mata jelalatan liar dia memandang sekeliling goa itu. Dia tidak melihat Kim Go. Juga dia tidak melihat Bun Siang Cuan.

Hanya dilihatnya, di atas tanah dalam goa itu, pakaiannya yang berserakan di sana-sini. Dengan tangis terisak-isak dia mengambili pakaiannya dan mengenakan kembali.

Sebetulnya, setelah mengetahui segala apa telah terjadi dengan kera bulu kuning itu, Kam Lian Cu bermaksud membunuh diri, menghabisi jiwanya.

Dengan sekali menabaskan pedangnya, yang menggeletak di luar goa itu, tentu dia bisa menghabisi jiwanya sendiri. Namun ketika dia mengambil pedang itu dan menghunusnya, tiba-tiba terpikir sesuatu olehnya.

Jika memang dia membunuh diri, niscaya sakit hatinya yang sedalam lautan ini tidak akan dapat dibalas.

Juga dia tidak mungkin akan dapat membunuh kera bulu kuning itu, yang telah menjerumuskan dirinya, demikian juga Bun Siang Cuan.

Karenanya pedang yang telah terhunus itu akhirnya dimasukkan kembali ke dalam sarungnya.

Gadis ini menangis terisak-isak menyedihkan sekali. Hatinya hancur sekali. Betapa dia membahayakan dirinya telah melakukan hubungan bathin dengan seekor kera!

Dan urusan ini jika tersiar di dalam rimba persilatan, akan ditaruh dimana mukanya?

Tangis Kam Lian Cu terus juga tidak berhenti sampai lama sekali. Dia kaget ketika tiba-tiba ada sesosok bayangan di mulut goa diiringi tertawa yang dikenalnya dan dibencinya sekali.

“Mengapa harus menangis? Apakah engkau menyesal menjadi mantuku?!” suara Bun Siang Cuan dingin sekali, seperti juga mengejek si gadis.

Kam Lian Cu menoleh dengan mata yang liar. Tiba-tiba dengan diiringi suara bentakan bengis dan mengandung kekecewaan serta kebencian yang sangat, Kam Lian Cu telah menghunus pedangnya, yang dipergunakan buat menikam kepada perut Bun Siang Cuan.

Kepandaian Kam Lian Cu memang masih beberapa tingkat di bawah kepandaian Bun Siang Cuan. Karena itu, mana mungkin dia bisa berhasil dengan serangannya itu, walaupun telah melakukannya dengan sekuat tenaga dan secepat kilat.

Pedangnya itu meluncur dengan cepat sekali, tapi menikam tempat kosong, karena Bun Siang Cuan telah berkelit ke belakang beberapa tombak jauhnya.

“Bangsat keparat, akan kubunuh kau!” teriak Kam Lian Cu dengan suara yang mengandung kebencian yang meluap-luap.

Dia menyerbu keluar goa itu.

Bun Siang Cuan tertawa dingin.

“Kau ingin membunuhku? Bisakah?” tanyanya dengan mengejek dan dia mengelak.

Begitu gesit gerakan dari Bun Siang Cuan, sehingga tahu-tahu dia seperti telah lenyap dari hadapan Kam Lian Cu.

Kam Lian Cu menangis terisak-isak dan mengawasi sekelilingnya mencari kakek tua yang telah menjerumuskannya itu.

“Sebagai seorang mantu tidak boleh berlaku dan bersikap kurang ajar kepada mertuanya!” terdengar lagi suara dari Bun Siang Cuan yang dingin dari belakangnya.

*** ***
Note 27 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Suatu pekerjaan yang paling tak kunjung bisa diselesaikan adalah pekerjaan yang tak kunjung pernah dimulai."

(Regards, Admin)

0 Response to "Anak Rajawali Lanjutan (Beruang Salju) Jilid 38"

Post a Comment

close