Anak Rajawali Lanjutan (Beruang Salju) Jilid 28

Mode Malam
 
Anak rajawali Jilid 28

Ciu Yang Cin pun ikut menyaksikan, maka sendirinya muka begal itu jadi pucat. Hebat ilmu pedang si ”pemuda”. Coba dia membalas menyerang, tentu mudah saja dia merebut kemenangan.

Juga pisuwsu lainnya ikut jadi kagum.

Sebentar saja sudah lewat delapan jurus. Hati Siam Ki berdebaran. Wajahnya telah jadi guram dan memerah. Ia heran dan penasaran sekali. Ia jadi berkuatir.

Ia berduka juga ketika ia berpikir akan runtuhlah namanya. Sudah delapan jurus tanpa ada hasilnya. Tinggal lagi dua jurus. Bagaimana hasilnya.

“Akh, habislah aku, habislah aku..........!” pikirnya pada akhirnya ia jadi putus asa.

Tepat disaat jago ini mau menyerang untuk kesembilan kalinya, mendadak terlihat lari datang tujuh orang, gerakannya sangat cepat. Dengan melompat dari tempat yang tinggi sampailah orang-orang tersebut di antara mereka ini.

Giok Hoa dan Siam Ki mundur sendirinya.

Ketika Ciu Yang Cin telah melihat jelas rombongan itu, ia jadi berseru kegirangan: “Kauw Supek!”

Giok Hoa sebaliknya mengawasi tajam, sehingga dia dapat melihat jelas mereka itu.

Empat orang adalah orang-orang tua yang kepalanya lanang, lanang juga alis dan kumisnya. Bajunya serupa, yaitu baju panjang berwarna kuning, cuma wajah mereka.

Yang satu belang mukanya, pipi kirinya warna merah ungu, banyak bekas tapaknya. Yang kedua matanya besar-besar sipit, yang ketiga mukanya keriputan dan kulit muka itu seperti juga permukaan kawah gunung berapi. Sedangkan yang ke empat seorang pendeta muka celong dan mata yang tajam.

Tiga yang pertama berusia pertengahan, berdiri di belakang yang bermata celong itu. Dan tiga orang lainnya lagi berdiri di belakang ke empat orang tersebut.

Tiga orang yang lainnya itu berusia pertengahan juga, pakaian mereka hitam semuanya. Wajahnya licin.

Setelah berseru memanggil, Ciu Yang Cin melompat menghampiri ke empat orang tua itu, guna memberi hormat.

Si muka belang tertawa dan bertanya, “Ciu Hiantit, apakah gurumu baik-baik saja?” Kemudian matanya menyapu, lantas ia menegaskan pertanyaannya: “Mengapa kalian bentrok?”

“Terima kasih supek, guruku baik!” menyahuti Yang Cin sambil berdiri dengan sikap yang amat menghormat sekali! Ke dua tangannya diturunkan lurus. Setelah itu ia memberikan keterangannya.

Orang yang mukanya belang tersebut memperdengarkan suara tertawanya.

“Sudah beberapa puluh tahun aku tidak turun gunung. Aku tidak sangka sekarang ada beberapa bocah yang berani menyebut dirinya sebagai ahli pedang!” katanya, jumawa sekali. “Dan orangpun berani berebutan!”

Lagi sekali setelah berkata begitu ia tertawa keras dan lama.

Ke tiga orang tua lainnya berdiam saja, wajahnya dingin, sehingga mereka mirip dengan pendeta-pendeta mayat hidup.....

Waktu itu wajah Boan Siam Ki berobah, rupanya ia mendongkol sekali. Karena ia menyadari, kata-kata si pendeta muka belang itu ditujukan buat dirinya juga.

Tong Teng Bun sendiri segera menghampiri Ko Tie.

“Aku telah mendengar berita, dari Tiong-goan muncul banyak sekali jago-jago muda!” Terdengar lagi pendeta muka belang itu telah meneruskan kata-katanya! “Aku Kauw Hie Hweshio, terpaksa harus turun gunung untuk membuktikannya sendiri.....!”

Ko Tie tertawa dingin, sikapnya memandang ringan kepada para pendeta itu. Giok Hoa yang mendengar kekasihnya tertawa dingin sampai melirik padanya.

Si pendeta muka belang tertawa nyaring, dia bilang lagi: “Tidak perduli kalian pandai mempergunakan pedang dan memiliki kepandaian yang tinggi, tetap saja aku tidak akan membiarkan kalian malang melintang sesumbar sekehendak hati di dalam rimba persilatan!”

“Hemmm!” Ko Tie sengaja memperkeras tertawa dinginnya, dan dengusannya.

Pendeta muka belang menoleh mengawasi tajam kepada Ko Tie, karena ia mendengar suara dengusan itu, kemudian dia bilang:

“Inilah yang disebut anak kijang tidak gentar pada harimau!”

Dan ia melirik kepada Giok Hoa, lalu tertawa, katanya lagi: “Ke dua bocah ini sangat tampan sekali! Jika kaIian berpikir untuk menjadi jago, baiklah lewat lagi satu tahun kalian cari aku si orang tua di puncak Ku-ing-hong di gunung Bie San!”

Setelah berkata, dia melompat dengan gesit sekali, diikuti oleh enam orang di belakangnya. Maka dalam waktu sebentar saja mereka sudah memisahkan diri beberapa puluh tombak.

Berulang kali Ko Tie memperdengarkan suara, “Hemmm!” seraya ia mengawasi terus dengan tajam.

“Bie Laote,” kata Tong Teng Bun, yang tidak mengerti sikap pemuda ini, “Ke empat orang itu adalah orang-orang yang empatpuluh tahun lalu merupakan orang-orang terhebat, yang dapat merubuhkan lima orang pendeta sakti dari Siauw-lim-sie.

“Juga mereka telah memperoleh nama di puncak Hoa-san. Cuma saja, ia rupanya masih jeri berurusan dengan Lima Jago Luar Biasa, yaitu Oey Yok Su, Ong Tiong Yang, Ang Cit Kong, It Teng Taysu dan Auwyang Hong!

“Nama mereka menggetarkan rimba persilatan! Semenjak waktu itu mereka berempat hidup menyendiri, tidak pernah mereka turun gunung.

Sekarang mereka telah turun gunung, tentunya mereka ingin melakukan yang hebat! Menurut penglihatanku, tentunya dunia rimba persilatan akan bermandikan darah lagi......!”

“Hemmm!” Ko Tie tersenyum, tapi tidak mengucapkan kata-kata apapun.

Waktu itu Boan Siam Ki menghadapi Giok Hoa, sambil tertawa ia bilang: “Laote, ilmu pedangmu benar lihay, aku kagum sekali! Baiklah, dengan memandang kau, mau aku menyudahi perselisihanku dengan Tong Lo-piauwtauw. Sampai bertemu pula!”

Ia memutar tubuhnya segera ia ngeloyor pergi meninggalkan tempat itu.

Selama itu Ciu Yang Cin semua sudah tidak terlihat lagi, sekalipun bayangannya.

Tong Teng Bun memandang ke sekitarnya, ia mengerutkan alisnya.

“Ciu Yang Cin seorang manusia yang sangat licik!” ia bilang. “Tadi dia angkat kaki karena dia melihat gelagat! Dilain kali, Laote baiklah kalian waspada.”

“Terima kasih!” kata Ko Tie menyahuti. “Sekarang ini jalanan sudah aman, karena keretaku dapat jalan lebih cepat. Ijinkanlah kami berjalan lebih dulu, agar kami dapat cepat tiba di Lok-yang. Lain waktu, bila ada kesempatan, pasti kami akan pergi berkunjung untuk unjuk hormat pada Tong Lo-piauwtauw.”

Tong Teng Bun tampak berat berpisah dengan Ko Tie dan Giok Hoa.

“Aku harap laote berdua datang dengan pasti, karena aku si tua sangat mengharapkan dan menanti sekali!” katanya.

Ko Tie terharu, ia dipanggil laote, iapun malu sendirinya. Tidak dapat ia dipanggil dengan sebutan adik, seperti itu. Seharusnya ia dipanggil sebagai seorang boanpwe yang tingkatnya jauh di bawah jago tua tersebut.

Bersama Giok Hoa, ia telah naik ke keretanya. Ia tersenyum waktu keretanya itu bergerak berangkat.

Kereta dilarikan ke arah kecamatan Tiang-tie. Angin berhembus keras sekali, sedangkan hawa udara dingin bukan main, karena waktu itu hujan salju mulai turun bagaikan kapas yang berguguran ke bumi.

Langit bersinar layung dan sangat indah dengan warna putih salju yang tengah turun tipis, sehingga sepanjang mata memandang, segala apa menjadi putih. Hanya warna putih belaka yang menyilaukan mata terlihat!

Y

Hari itu tanggal lima bulan pertama, akan tetapi di gunung Hong-san tidak terdapat suasana musim semi. Puncak gunung penuh dengan salju, pohon-pohon gundul atau kering.

Hanya sang angin yang memberikan hawa dingin di samping dinginnya salju. Burung-burungpun tak terdengar suaranya. Suasana tetap merupakan suasana musim dingin.

Justeru waktu itu di jalan pegunungan terdapat dua orang pemuda yang tengah berlari-lari gesit sekali, juga pakaian mereka sama, warnanya abu-abu. Di punggung masing-masing tergemblok pedang.

Kepala mereka tertutup kopiah bulu. Muka mereka dilapisi dengan topeng kulit yang tipis dan buatannya sangat indah. Yang beda dari mereka ialah seorang lebih langsing tubuhnya.

Mereka berdua tidak bicara satu dengan yang lainnya. Setelah melintasi rimba jurang barulah mereka berhenti di depannya sebuah goa.

Namanya goa, sebenarnya sebuah selokan besar yang lebarnya dua tombak, Berliku-liku, ada airnya mengalir, airnya pun jernih sehingga tampak dasarnya.

Memandangi selokan tersebut, pemuda yang seorangnya bersenandung dengan suara perlahan dan lembut sekali:

“Air yang jernih sebenarnya tidak ada kedukaan,
adalah sang angin yang membuat mukanya berkerut-kerut.....

Gunung hijau sebenarnya tidak tua,
adalah sang salju yang membuat kepalanya putih……”

Pemuda yang seorang tertawa, dia bilang, “Engko Tie, kau hebat! Di waktu seperti ini kau masih memiliki kegembiraan untuk bersyair! Sebenarnya juga selokan ini indah sekali, maka aku percaya di dekat sini pasti ada rumah orang..... Menurut dugaanku, sarang Kwee Lu, si bangsat tengik itu, tidak jauh dari sekitar tempat ini.”

Si pemuda berhenti bersenandung, dia tertawa. Dialah Ko Tie. Dan yang seorang lagi itu adalah Giok Hoa, kekasihnya, yang memang menyamar selama dalam perjalanan sebagai pria.

“Mari kita jalan mengikuti selokan ini?” katanya, “Sarang Kwee Lu tentu tidak jauh dari di tempat sejauh sepuluh lie di sekitar tempat ini!”

Ia menengadah ke atas, melihat cuaca. Ia menduga waktu sudah mendekati tengah hari.

Kawannya itu mengangguk setuju, segera mereka berjalan bersama di tepian selokan yang mirip sungai kecil.

Mereka berada di Hong-san, duapuluh lima lie di selatan kota Lok-yang, di kota mana mereka telah tiba. Dan segera mereka bekerja mencari tempat berdiamnya Kwee Lu.

Justeru waktu mereka tiba di kota Lok-yang, mereka telah mendengar sepak terjang Kwee Lu, seorang tokoh rimba persilatan yang termasuk dalam golongan sesat. Iblis yang sangat telengas malang melintang di tempat ini.

Karena dari itu, Ko Tie dan Giok Hoa bermaksud mencari iblis yang telah membanjirkan darah tidak sedikit ke bumi karena haus akan korban-korbannya!

Mereka melakukan perjalanan mengikuti selokan itu dengan bernyanyi-nyanyi kecil dan juga sering menyelinginya dengan tertawa mereka yang cerah. Mereka pun telah banyak berbicara mengenai hubungan mereka berdua.

Ko Tie berjalan di sebelah belakang si gadis. Ia sendiri sering bimbang hatinya, yang tergoncang sangat keras sekali, melihat lenggok dan lenggang gadis pujaannya ini, yang sangat menggiurkan. Betapa cantiknya Giok Hoa.

Tiba-tiba Giok Hoa berseru perlahan: “Engko Tie, coba kau lihat……!” tangan si gadis pun telah menunjuk ke suatu arah.

Ko Tie memandang ke arah yang ditunjuk itu. Di sana, tidak jauh dari ujung selokan, terdapat jurang. Dan dari jurang itu meluncur air tumpah yang cukup deras, jatuhnya keras, suaranya nyaring bergemuruh, berkumandang di lembah.

Karena waktu itu angin utara berhembus santer, suaranya berisik di antara daun-daun dan cabang pohon di rimba situ. Suara berisik itu sering tersamar. Itulah sebabnya mengapa mereka tidak dapat mendengarnya dari jauh-jauh.

Juga uap air merupakan seperti mega yang tebal, sehingga tidak mudah untuk melihat jelas di sekitar air tumpah itu.

Ko Tie memandang tajam sekian lama. Di balik uap air terjun itu, ia melihat sebidang tempat bagaikan paso. Di tengah-tengah tempat itu ada sekelompok bangunan rumah yang cukup rapi letaknya.

Giok Hoa tidak dapat melihat sejelas Ko Tie. Si pemuda jauh lebih mahir, tenaga dalamnya, itulah sebabnya mengapa Ko Tie bisa melihat lebih jelas.

“Pastilah itu sarangnya si bangsat Kwee Lu!” kata Ko Tie girang setelah mengawasi sekian lama. “Mari kita pergi melihatnya!” Ia segera juga menarik tangan si gadis, guna diajaknya berlari separuh diseret.

Giok Hoa pun mulai dapat melihat lebih jelas, hatinya memukul keras.

Setelah datang lebih dekat, dengan berani Ko Tie mengajak si gadis melompat turun ke tempat yang tadi mereka awasi itu, yang diduga adalah sarangnya Kwee Lu.

Justru di waktu itu terdengarlah seruan yang nyaring sekali: “Tahan.....!”

Ke duanya segera juga menunda gerakan mereka, bahkan mereka telah mengawasi arah dari mana datangnya suara bentakan itu.

Segera dari sisi air terjun terlihat muncul tiga sosok tubuh yang merupakan tiga orang berusia pertengahan, yang tubuhnya kurus dan semua matanya tajam serta bengis. Salah seorang di
antaranya memiliki apa yang biasanya disebut sebagai kumis kambing gunung.

“Tuan-tuan, mengapa kalian tidak dengar kata?” Orang itu menegur, dengan suara yang bengis.

“Kami memanggil beberapa kali, mengapa kalian diam saja? Apakah kalian mengira Kwee-san-cung tempat yang depat didatangi oleh sembarangan orang?”

Suara orang itu keras dan dingin, juga di balik nada kata-katanya itu terdapat sikap tekeburnya. Ia tidak memandang sebelah mata pada Ko Tie dan Giok Hoa.

Ko Tie jadi tidak senang, ia malah sengaja memperdengarkan suara tertawa dingin.

“Tuan, mengapa kau bicara begitu tidak tahu aturan?” ia malah balik menegur, “Kau dengar sendiri, suara air terjun demikian berisik, mana kami bisa mendengar teriakanmu yang seperti suara nyamuk?”

Orang yang kumisnya seperti kambing gunung itu jadi gusar bukan main, tapi dia tertawa bergelak dengan nada yang hebat sekali, bengis dan mengandung kekejaman hatinya.

“Bocah ingusan keparat, kau benar-benar tidak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi!” Dia bilang kemudian dengan suara mengguntur.

“Kami Sam-lang-hun (Arwah Tiga Serigala) bukanlah sahabat dari orang-orang Kwee-san-cung itu! Hemmm, bahkan kami adalah musuh dari Kwee Lu!

“Kami telah berlaku baik hati mencegah kalian, agar kalian tidak memasuki tempat mereka. Kalian tahu, jika kalian lompat turun dan memasuki tempat itu tiga lie, kalian akan terbinasa oleh panah beracun!

“Lagipula di sana, kecuali Kwee Lu, ada lagi dua orang yang sangat lihay sekali. Ialah dua orang tokoh rimba persilatan yang sangat ternama!

“Kami mengetahui tentunya kedatangan kalian ke mari untuk berurusan dengan pihak Kwee Lu. Karena itu kami hendak mencapaikan lidah, agar kalian tidak tertimpah bencana!”

Dua orang kawannya yang lain tertawa.

“Tuan-tuan jangan kecil hati!” kata salah seorang di antara mereka, “Bagaimana jika kita bekerja sama? Sebenarnya kamipun memiliki urusan dengan pihak Kwee-san-cung!”

Ko Tie tersenyum, karena mereka adalah musuh Kwee Lu. Dengan mengajak bekerja sama, jelas mereka hendak mempergunakan dan memperalat tenaga Ko Tie dan Giok Hoa berdua.

Maka dari itu iapun telah berpikir mengapa justeru ia bersama Giok Hoa tidak mau mempergunakan kesempatan ini untuk memanfaatkan tenaga mereka bertiga itu?

“Sam-wi, siapakah kalian?” tanyanya kemudian. “Apakah Sam-wi mau, menyebutkan she dan nama kalian yang mulia? Sam-wi bersedia bekerja sama, tolong Sam-wi utarakan bagaimana caranya itu?”

“Kami Sam-lang-hun, dan aku bernama Liang An. Ini adikku yang kedua, Liang Ie, dan ini yang bungsu bernama Liang Oh,” menjelaskan orang dengan kumis seperti kumis kambing gunung, sambil menunjuk kepada ke dua orang kawannya. “Dan ji-wi berdua siapa?”

Ko Tie memberi hormat.

“Terima kasih, itulah nama-nama yang telah lama kudengar sangat terkenal sekali,” katanya.

“Aku sendiri she Bie bernama Lim, dan ini adik angkatku. Ia she Un dan bernama Lie.”

Giok Hoa berdiam saja, ia sama sekali tidak mengucapkan sepatah perkataan pun juga. Hanya di dalam hatinya ia memuji akan hebatnya engko Tie nya ini bersandiwara.

“Oh Bie Siauwhiap dan Un Siauwhiap!” kata Liang An. “Aku girang sekali dengan pertemuan ini!” kemudian ia berhenti sebentar, baru kemudian ia menambahkan.

“Waktu kami belum datang ke mari, telah kami dengar perihal lihaynya Kwee Lu! Maka dari itu, walaupun kita bekerja sama berlima, kalau memang kita tidak berhati-hati, tentu kita tidak akan berhasil. Sulit untuk diperoleh hasil yang memuaskan.....!”

Ko Tie mengawasi ke rimba di samping kanannya, sikapnya acuh tak acuh, dengan segera ia berpaling lagi.

“Segala apa di dunia ini tergantung kepada usaha manusia,” katanya sambil tersenyum. “Jika orang main jeri, takut kepala dan takut ekornya, lebih baik orang jangan datang kemari!”

Liang An jengah, mukanya berobah merah dan kemudian memperlihatkan sinar mata yang licik sekali!

Justru dikala itu di sebelah kanan mereka terdengar suara tertawa mengejek. Segera melompat keluar seorang tosu dengan wajah menyeramkan.

Dia melompat ke dekat Sam-lang-hun, tetapi dia tidak memandang mata kepada ketiga jago tersebut. Dia bahkan bertindak secara angkuh dan sangat jumawa sekali.

Dia bukan menghadapi mereka, justeru ia memandang ringan kepada Ko Tie dan menegurnya dengan bengis: “Bocah busuk tidak tahu mampus, besar sekali mulutmu! Benarkah kau percaya di Kwee-san-cung tidak ada orang yang dapat menguasai kau?”

“Tua bangka, siapa kau?” menegur Giok Hoa yang tidak mau kalah dengan tosu itu.

Tosu itu menjadi gusar sekali, segera saja ia mengeluarkan sepuluh jari tangannya.

Melihat penyerangan tosu itu, Sam-lang-hun terkejut bukan main, sampai mereka mundur tiga tindak.

Dengan melihat sepuluh jari tangan yang hitam dari tosu itu, Sam-lang-hun segera teringat kepada seseorang. Mereka jadi takut luar biasa, bahkan Liang An segera bertanya:

“Bukankah........ bukankah kau Cap-hek-cie Mo-ie Cinjin!?”

Tosu itu, yang disebut Cap-hek-cie, sepuluh jari hitam, Mo-ie Cinjin, memperdengarkan suara tertawa mengejek perlahan, sedangkan sepuluh jarinya itu perlahan-lahan, ujung jari tersebut bergerak. Rupanya pertanyaan ini telah menahan gerakan tangannya.

“Eh bocah, ternyata matamu tajam!” ia menyahuti, segera ia maju lagi. Sekarang dengan langkah kakinya, yang melangkah setindak demi setindak.

Mo-ie Cinjin memang sangat terkenal sekali untuk kekejaman hatinya dan telengas tangannya. Dia maju tanpa bisa diterka apa sasaran penyerangannya. Sikapnya itu dapat membuat orang bingung menerkanya.

Begitu memang biasanya. Setelah datang dekat, barulah dia akan menyerang dengan yang sesungguhnya.

Bahkan setiap kali ia menyerang, tentu serangannya dengan tiba-tiba dan gerakannya sangat aneh sekali, membuat setiap lawannya harus celaka. Sebab sepuluh jari tangannya yang hitam itupun mengandung racun yang dapat bekerja dengan cepat.

Waktu itu, angin gunung berhembus keras ditambah berisiknya suara air terjun.

Sam-lang-hun mengawasi dengan muka yang muram, hati mereka tegang bukan main.

Giok Hoa bersikap sungguh-sungguh, ia mengawasi dengan penuh kewaspadaan menantikan serangan.

Ko Tie menonton dengan ke dua tangan digendong dan mukanya tetap tenang, hanya tersenyum tawar.

Tiba-tiba tangan Cap-hek-cie Mo-ie Cinjin bergerak menyambar ke muka Giok Hoa.

“Ahh!” menjerit Sam-lang-hun, karena terlalu kaget melihat cepatnya serangan itu!

Mo-ie Cinjin berhenti di depan Giok Hoa, tidak ada satu kaki jaraknya, maka dari itu tangannya dapat meluncur ke muka si pemuda, dengan cepat sekali.

Akan tetapi belum lagi si gadis bergerak, Ko Tie yang berdiri di sisinya sudah berseru sambil tangannya menyambar ke dua lengan Mo-ie Cinjin. Dia menyambar luar biasa cepatnya karena dia mempergunakan jurus Tie-liong-ciu atau “Mengekang Naga”.

“Krekkk,” demikianlah terdengar suara keras di tempat itu, maka patahlah lengan Mo-ie Cinjin.

Menyusul dengan itu sebelah kaki si pemuda terangkat naik, tubuhnya Mo-ie Cinjin segera terpental melayang di tengah udara. Dari mulutnya terdengar jeritan dahsyat sekali. Tubuhnya itu jatuh ke dalam rimba jauhnya belasan tombak.

Sam-lang-hun heran bukan kepalang. Bukankah Mo-ie Cinjin sangat lihay dan terkenal sekali akan kekejamannya dan ilmunya yang sangat tinggi? Mengapa dia bisa rubuh dalam hanya satu gebrakan saja?

Mereka pun terkejut. Coba tadi Liang An, toako mereka, main gila terhadap pemuda itu. Bukankah berarti bahwa toako mereka sudah pergi ke neraka? Untung saja tadi, Liang Oh telah menengahi mereka.

Sam-lang-hun telah banyak pengalaman! Dan mereka menganggap sepasang pemuda ini masih hijau. Dengan usia mereka yang masih muda seperti itu, tentu kepandaian mereka belum seberapa.

Mereka juga berpikir lebih baik ke dua pihak bekerja sama, agar ke dua pemuda itu yang maju di depan. Mereka sendiri akan jadi si nelayan yang menerima hasil yang menguntungkan.

Sekarang ternyata ke dua orang, pemuda itu sangat lihay luar biasa. Mereka segera bertukar siasat!

“Sungguh kau sangat lihay sekali, Bie Siauwhiap,” kata Liang An, mengumpak!

Ko Tie berdiam saja, demikian pula halnya dengan Giok Hoa, yang tidak melayani pujian itu.

Liang An melihat ke dua pemuda itu berdiam diri saja, wajah mereka bersungguh-sungguh, ia mengetahui apa yang harus dilakukannya. Ia tertawa dan berkata:

“Ji-wi, kami bertiga kenal baik tempat ini, mari kami yang membuka jalan!”

Ia segera melambai kepada ke dua orang saudaranya, dan terus berjalan di sebelah depan.

Dengan segera mereka bertiga melompat turun ke bawah!

Sebelum menyusul tiga orang itu, Giok Hoa mencekal lengan engko Tie nya.

“EngKo Tie, hebat gerakan tanganmu tadi!” pujinya perlahan. “Dapatkah kau memberikan petunjuk kepadaku?!”

“Baiklah!” sahut Ko Tie.

Tapi ia bukan segera mengajari, sebaliknya ia mencekal tangan si gadis, untuk ditarik, maka dilain saat mereka sudah bersama-sama lompat turun ke bawah. Di situ si pemuda membawa kawannya ke dalam pepohonan yang sangat lebat.

“Begini!” katanya. “Ia mempelajari jurus yang tadi, jurus “Memutuskan Otot, Memotong Nadi”, yang terdiri dari tiga gerakan.

Giok Hoa girang bukan kepalang, terlebih lagi ketika ia segera dapat mempergunakannya. Ia memang sangat cerdas, sedang satu jurus dengan tiga gerakan adalah pelajaran yang sangat luar biasa sekali.

“Jurus ini dapat dipergunakan berbareng denpan ilmu apapun juga. Dengan begitu, engkau dapat merubuhkan lawan dengan mudah!

“Kau cerdik adikku, tentu kau dapat menjalankannya tanpa petunjuk lebih jauh dariku. Nah, mari kira menerobos maju!”

Pemuda itu melompat ke depan, diikuti si gadis yang sangat lincah sekali.

Sedangkan Sam-lang-hun telah pergi jauh, mereka tidak terlihat bayangannya. Namun Ko Tie berdua dapat mengikuti tapak kaki mereka di tanah.

Kwee-san-cung dari Kwee Lu memiliki hawa udara yang istimewa. Di sini sekalipun musim dingin, matahari keluar seperti biasa dan hawanya hangat.

Di pihak lain, di dalam tiga musim semi, panas dan rontok, seluruh hari tampak kabut, jarang ada satu hari saja yang cuacanya cerah. Maka itu, tempat ini menyenangkan sekali untuk ditinggali. Letaknya rendah, tapi hawanya tidak lembab dan demak menyenangkan sekali.

Di saat mereka tengah menerobos maju, Ko Tie dan Giok Hoa mendengar suara bentakan-bentakan yang samar-samar.

Si pemuda memegang tangan kawannya buat diajak berhenti. Ia pun segera berkata perlahan:

“Rupanya Sam-lang-hun kena dipergoki. Kita belum mengetahui maksud mereka bertiga. Lebih baik kita jangan terlalu sembrono turun tangan.

“Mari kita maju dengan jalan di atas pohon. Lebih dulu kita harus melihat orang-orang lihay macam apa saja yang berada di Kwee-san-cung!”

Giok Hoa menyatakan setuju dengan saran pemuda ini, ia kagum sekali untuk ketelitian Ko Tie.

Setelah mereka maju lagi beberapa saat, Giok Hoa mengemukakan pikirannya: “Engko Tie,” katanya. “Bukankah kau berjanji akan bekerja sama dengan Sam-lang-hun? Aku pikir, lebih baik kita bekerja begini saja.

“Kau pergi menghampiri mereka, buat membantui mereka, sedangkan aku menantikan agak jauh. Jika memang aku gagal dengan usaha kita, kita bertemu di muka air terjun itu! Bagaimana, kau setuju?”

“Jadi kau ingin menanti sambil bekerja, menyelesaikan anak buah orang she Kwee itu dengan jalan menyelusup dari belakang?”

“Itulah yang kupikirkan! Kau pandai sekali menerka, engko Tie,” menyahuti si gadis sambil mengangguk dengan pipi yang berobah merah.

“Baiklah,” mengangguk Ko Tie.

Begitulah, mereka segera berpisah. Ko Tie maju terus, sedangkan Giok Hoa mengambil jalan memutar.

Ko Tie menanti sampai si gadis sudah tidak terlihat lagi, barulah dia pergi ke arah dari mana bentakan-bentakan tadi datangnya. Segera juga ia telah tiba di sana, tetapi ia menyembunyikan diri di belakang lebatnya pohon-pohonan.

Pertempuran tengah berlangsung antara Sam-lang-hun dengan beberapa orang. Sekarang mereka tidak lagi saling membentak, hanya tubuh mereka yang berkelebat ke sana ke mari dengan lincah dan gesit sekali. Masing-masing juga telah mengeluarkan ilmu andalan mereka, buat mendesak dan merubuhkan lawan.

Di antara lawan dari Sam-lang-hun, terdapat seorang wanita tua, yang tubuhnya pendek dan kurus, mukanya telah keriputan, rambutnya juga telah ubanan semua, tangannya mencekal sebatang tongkat panjang berkepala naga-nagaan. Matanya sangat tajam dan tubuhnya dapat bergerak sangat lincah sekali, menunjukkan bahwa ia memang sangat lihay!

Dalam keadaan seperti itu, Ko Tie tidak memperlihatkan diri. Ia ingin menyaksikan dulu, berapa tinggi kepandaian dari Sam-lang-hun, maka dari itu, ia hanya berdiam diri saja.

Liang An tengah menggerakkan tangan kirinya dengan jurus “Kunci Besi Tenggelam di Sungai” untuk menutup tangan kanan lawan lain, ia juga telah membarengi dengan menggerakkan tangan kanannya meninju kepada lawan. Ia telah mengerahkan tenaganya dan mempergunakan kecepatannya, sedang kakinya melangkah mengiringinya.

Lawannya terkejut. Itulah tidak disangkanya. Tidak keburu ia menangkis. Maka itu ia melengak, lompat jumpalitan, setelah menaruh kaki di tanah, ia menekuk ke dua dengkulnya guna memasang kuda-kuda itu. Dengan demikian iapun dapat mempertahankan diri agar tidak rubuh.

Liang Ie beradat keras, perangainya berangasan, ingin sekali ia segera merubuhkan lawannya dan tidak mau memberikan kesempatan kepada lawannya. Maka ia merangsek dengan hebat.

Tangan kanannya diajukan ke muka, untuk menghajar lagi. Jika ia berhasil, pastilah patah atau remuk tulang-tulang dada lawannya.

Sedangkan lawan Liang An bukan musuh ringan, di mana ia pun sempat memasang kuda-kuda, ia mendesak Liang An. Dua lawan Liang Ie pun sama kuatnya, ia telah menggeser tubuhnya, tangan kirinya menangkis, tangan kanannya membalas menyerang, dengan ke dua jari tangannya ia menotok jalan darah Khi-hay-hiat dari penyerangnya yang galak itu.

Liang Ie terkejut. Waktu itu Liang An pun terkejut sekali, karena ia melihat betapa dirinya tengah terdesak, lalu menyaksikan Liang Ie pun terancam keselamatan jiwanya.

Terlebih lagi Liang Ie. Ia tidak menyangka musuhnya demikian hebat. Ia menarik pulang tangannya sebelum mengenai sasarannya, dan memakai untuk menangkis berbareng dengan mana iapun melompat ke kiri.

Waktu itu lawannya ingin menyelamatkan diri. Ia juga melompat ke kanan dengan gesit.

Sedangkan Ko Tie yang tengah menyaksikan semua itu, telah memuji akan kebolehan dari Liang An dan kawan-kawannya. Kepandaian mereka memang tidak rendah.

Setelah itu terdengar tertawa dingin dari Liang An, yang tertawanya menyeramkan sekali.

“Aku tidak menyangka, bahwa Thian-san-ngo-kui (Lima Setan dari Thian-san) merupakan manusia tidak tahu malu. Namanya yang begitu terkenal di dalam kalangan Kang-ouw ternyata hanya sia-sia belaka, karena mereka merupakan manusia yang tidak tahu malu, yaitu hitam memakan hitam!

“Sekarang cepat kalian mengeluarkan peti emas dan mutiara untuk membeber itu di muka kaum rimba persilatan. Dengan demikian ada jalan buat kalian berdamai dengan kami Sam-lang-hun!”

Mendengar perkataan Liang An itu, diam-diam Ko Tie berkata di dalam hatinya “Hemmmmm, kiranya kalian merupakan satu bangsa dan satu aliran! Jika begitu, Sam-lang-hun juga bukan sebangsa manusia baik-baik!”

Di saat itu lawan Liang An telah tertawa lebar keras sekali. Iapun telah menyambut perkataan lawannya dengan tertawa mengejek dan sikap tidak memandang sebelah mata.

“Saudara Liang, kau keliru! Harta itu bagian yang menemukannya, dan siapa yang memperolehnya, dialah yang lihay! Kalian harus menyesalkan kepandaian kalian yang memang tidak mahir dan dangkal! Barang yang telah diperoleh dan telah berhasil dirampas kembali!

“Siapakah yang hendak kalian sesalkan? Bahkan di waktu itu, karena mengingat kalian sesama rekan, maka kami sudah tidak mau mencelakai kalian!

“Siapa duga sekarang. Perbuatan baik-baik dari kami tidak memperoleh balasan yang baik. Buktinya kalian berani datang kemari!

“Hemmmm, kalian muncul ke mari untuk mengacau! Karena itu, apakah kalian berpikir bahwa kalian semua dapat berdiam lama-lama di sini?!”

Liang An jadi gusar bukan main, hanya belum lagi ia membuka mulut, ia sudah didului oleh Liang Oh. Dia memang paling sabar di antara Sam-lang-hun, tapi sekarang tidak menguasai diri lagi. Ia segera juga melompat ke depan musuh dan berkata nyaring:

“Kau mengatakan bahwa kami rekanmu, siapakah sebenarnya rekanmu? Kami Sam-lang-hun, kamilah laki-laki sejati! Benar kami menjadi penjahat dan mengambil aliran hitam, tapi cuma merampas harta. Kami biasa menghindar untuk melukai atau membunuh orang!

“Kami tidak seperti kalian, orang-orang dengan muka manusia tetapi berhati binatang! Bukan saja kalian telah merampas barang yang diperoleh kami, malah kalian juga sudah membunuh habis tua dan muda.

“Segera kalian memfitnah kami! Apakah maksud yang sebenarnya dari kalian?!”

Baru saja Liang Oh menutup mulutnya, lawannya sangat murka, dan melangkah maju. Namun nenek-nenek tua yang bersamanya telah melompat ke depan. Ia berada lima tombak jauhnya, tapi sekejap mata saja ia telah sampai di dekat Liang Oh.

Menyaksikan kegesitan nenek tua tersebut, bukan main kagumnya Ko Tie. Itulah gin-kang yang benar-benar sangat tinggi.

Sedangkan lima orang lawan dari Sam-lang-hun dengan mata yang mendelik bengis mata mereka memancarkan sinar yang mengandung hawa pembunuhan.

Waktu itu si nenek tua telah berkata dengan sikap dan suara yang aseran.

“Sahabat-sahabat, kalian masih belum mengetahui aturan yang diadakan di Kwee-san-cung ini,” katanya kemudian dengan suara yang dingin.

“Adalah aturan kami, setelah bekerja, kami harus menutup mulut orang, guna mencegah ancaman malapetaka di belakang hari! Kalian tokh bukan orang-orang yang tersangkut dalam persoalan tersebut. Buat apa tampil ke muka, untuk mendesak kami?

“Benar apa yang dikatakan anakku ini, maka cepatlah kalian angkat kaki berlalu dari sini. Karena semakin cepat kalian angkat kaki, semakin baik pula buat kalian! Hari ini aku si nenek tua tidak mau membuka larangan membunuh.”

Belum lagi Liang An atau juga salah seorang di antara ke dua saudaranya itu, menjawab akan perkataan nenek tua tersebut, dari arah rumah terlihat seseorang berlari-lari mendatangi. Setelah datang dekat, dia berbisik kepada salah seorang lawan Liang An tadi. Dia tampaknya jadi kaget bukan main.

“Ibu....., ada bahaya di rumah kita!” ia bilang dengan segera. “Anak Su, keadaannya terancam sekali! Ia telah diculik! Sam-lang-hun tidak dapat dibiarkan hidup, maka dari itu cepatlah bereskan mereka!”

Muka Thian-san-ngo-kui tampak berobah bengis, ia terkejut berbareng marah sekali. Dengan tiba-tiba saja mereka telah mengambil sikap mengepung.

Sedangkan si nenek tua itupun telah menggerakkan tongkatnya, melintang menyerang kepada Sam-lang-hun. Ia mempergunakan jurus “Naga gusar menggoyangkan ekor”. Hebat serangan itu, anginnya tongkat tersebut sampai menderu-deru dahsyat sekali.

Sam-lang-hun tidak menyangka mereka akan diserang secara begitu. Ketika itu mereka tengah berbaris bertiga. Tapi mereka tabah dan cukup lihay, dengan serentak mereka melompat mundur, lalu menghunus senjata masing-masing.

Waktu itu Ko Tie melihat salah seorang dari Thian-san-ngo-kui telah berlari ke arah rumah. Ia menduga tentunya Giok Hoa yang berhasil untuk mengacaukan keadaan di dalam rumah itu.

Ia segera bermaksud untuk menyusul. Akan tetapi belum lagi ia bertindak, ia ingat pesan si gadis, untuk tidak melenyapkan kepercayaan terhadap Sam-lang-hun.

Sekarang ia memperoleh kenyataan, walaupun sama-sama beraliran hitam dan dari kalangan penjahat, Sam-lang-hun berbeda dari Thian-san-ngo-kui tampaknya memang memiliki tangan yang telengas dan hati yang kejam sekali.

Ketika Ko Tie tengah berpikir seperti itu, ia melihat si nenek sudah menyerang hebat kepada Sam-lang-hun, yang seperti dikurung oleh tongkatnya nenek tersebut. Jago wanita yang sudah tua itu mau menuruti perkataan dari Thian-san-ngo-kui, karena ia tidak hendak memberikan kesempatan hidup lagi kepada Sam-lang-hun, di mana ia menyerang begitu hebat, karena ia bermaksud untuk membunuh ke tiga orang itu.

Sedangkan Sam-lang-hun benar-benar lihay. Dengan segera mereka mengadakan perlawanan. Merekapun tidak sudi kena dikepung. Serangan mereka ganas semuanya.

Demikianlah mereka bertempur sampai belasan jurus.

Rupanya, setelah berselang sesaat lagi, habislah sabarnya nenek tua itu. Dia bilang dengan suara yang nyaring:

“Kalian bertiga tidak tahu gelagat harus mundur atau maju. Maka kalian jangan sesalkan aku si wanita tua tidak mau berbuat baik lagi!”

Kata-kata itu dibarengi dengan rambutnya pada menegak berdiri dan ke dua matanya bersinar sangat bengis.

“Hemmm,” Sam-lang-hun mendengus. Bukannya mereka mundur, malah mereka berusaha merangsek maju.

Walaupun begitu, maka mereka tenang. Hati mereka saja yang gentar melihat kelihayan nenek tua tersebut.

Mereka berusaha menghadapi serangan si nenek tua itu dengan sebaik-baiknya, dengan tenang, tapi di dalam hati, mereka gentar dan kuatir sekali. Sebab memang mereka mengetahui kepandaian nenek tua ini berada di atas kepandaiannya.

Si nenek tua itu telah segera membuktikan ancamannya. Ia menyerang dengan tangan kanannya, yang diluncurkan dengan cepat sekali.

Sam-lang-hun segera merasakan tubuhnya seperti tertolak keras, sehingga tubuh mereka terhuyung, hanya sedikit, mereka berdiri pula dengan tegak. Liang An menyerang dengan Coa-tauw-pian, cambuknya yang berkepala ular-ularan. Ia mencari jalan darah Kie-bun. Sedangkan Liang Ie telah mempergunakan tempulingnya, yaitu Sam-leng-ngo Bie-ce, menikam ke jalan darah Hok-kiat.

Dan Liang Oh, dengan sebat sekali telah mempergunakan tombak Long-gee-sok, menusuk jalan darah Giok-cim di batok kepala, untuk mana ia sudah mencelat dengan gerakan tubuh yang sangat ringan ke belakang si nenek. Maka terancamlah nenek tua itu.

Tidak kecewa nenek tua itu menjadi jago di kalangan Kang-ouw yang disegani. Walaupun ia seorang wanita yang usianya sudah lanjut, hatinya tabah, tubuhnyapun cukup gesit, di samping memang kepandaiannya sangat tinggi.

Ia telah memutar tongkat dengan jurus “Badai Mengibas Yang-liu”, dengan begitu, satu kali bergerak saja ia dapat menutup dirinya membuat gagal serangan dari ke tiga orang lawannya, walaupun serangan ke tiga lawannya itu merupakan serangan yang hebat sekali dan seharusnya sulit dipunahkan.

Waktu itu jago tertua dari Thian-san-ngo-kui telah pergi jauh, ia segera disusul dengan tiga orang jago Thian-san-ngo-kui lainnya. Mereka berempat meninggalkan tempat itu, karena mereka yakin nenek tua itu akan dapat menghadapi dan melayani Sam-lang-hun.

Yang masih menanti adalah beberapa orang anak buah mereka, yang umumnya mengagumi akan ilmu tongkat nenek tua tersebut. Dan juga Thian-san-ngo-kui yang terkecil, yang tetap berdiam di situ, Thian-san-ngo-kui yang ke lima yang bungsu.

Sam-lang-hun terkejut sekali. Ilmu silat musuh mereka yang tua ini membuat mereka tidak dapat menyerang masuk.

Senjata mereka juga setiap kali tertangkis tentu terpental, sehingga sering-sering tubuh mereka jadi terbuka. Mereka tahu itulah ancaman bahaya yang tidak kecil buat mereka.

Dugaan dari Sam-lang-hun, cepat juga jadi kenyataan, bahwa mereka bertiga tidak akan sanggup menghadapi nenek tua tersebut, yang sangat lihay. Tidak berselang lama, tampak si nenek tua itu tanpa ingin memperlambat waktu lagi, telah meluncurkan tangan kanannya, dari kanan ke kiri, ia menabas dengan jurus “Menyapu Tentara Seribu Jiwa”. Untuk merubuhkan ke tiga musuhnya itu, ia berpikir untuk tidak berlaku sungkan lagi dan tentu saja dibutuhkan tangan besi.

Sam-lang-hun kaget tidak terkira, semuanya segera juga melompat mundur. Disaat itulah, senjata mereka sudah tersampok mental, sehingga tubuh mereka jadi kosong. Mereka semua melompat dengan cepat akan tetapi angin pukulan dari nenek tua itu tokh tetap saja mengenai pundak mereka……

Tiba-tiba sekali terdengarlah suara siulan yang jernih dan panjang. Dikala Sam-lang-hun terancam bahaya terlihat sesosok tubuh melompat bagaikan terbang, sehingga dia tampaknya seperti bayangan.

Dikala itu Sam-lang-hun jadi kaget dan heran. Mereka bebas dari serangan angin pukulan si nenek yang begitu hebat. Tubuh mereka juga terpental tiga tombak, sehingga mau atau tidak mereka terhuyung, dan akhirnya rubuh.

Walaupun demikian mereka, mereka tidak takut bahkan mereka merasa lega hati. Jelas, mereka telah ditolongi oleh seseorang, keluar dari pintu akherat.

Setelah melompat bangun dan melihatnya, mereka jadi girang. Di depannya si nenek berdiri si pemuda yang mereka ketahui sangat lihay.

Dialah Ko Tie, yang berdiri tenang, sedangkan si nenek tua itu telah mendelik padanya. Namun Ko Tie berdiri dengah sepasang tangan yang digendong, sikapnya sabar sekali, hanya wajahnya belaka yang tampak keren dan berwibawa.

Si nenek tua sudah kena dipaksa mundur sampai dua tindak ke belakang. Karenanya dia heran dan tercengang bukan main. Dia merasakan bahwa tenaga dalam pemuda ini kuat luar biasa.

Waktu dia mengawasi pemuda yang berdiri di depannya dia bertambah heran. Dia melihat orang yang masih berusia muda sekali. Tentu saja dia tidak mengetahui orang tengah memakai topeng. Dia pun jadi murka bukan main.

“Bocah, hendaklah kau mencampuri urusanku si orang tua?” dia menegur bengis.

Ko Tie tertawa, ia sikap memandang remeh kepada nenek tua itu.

Sedangkan nenek tua itu menantikan jawaban. Sambil menanti, ia mengawasi tajam, bengis dan sinar matanya mengandung hawa pembunuhan.

Dia benar-benar tidak puas terhadap pemuda ini, untuk sikapnya yang menghina itu. Tapi dia tidak dapat membaca hati orang dan juga tidak tahu siapa pemuda ini, tidak mengetahui asal usulnya.

Ko Tie berkata juga kemudian, dengan suara yang tawar dan perlahan.

“Nenek tua, bukankah engkau yang di dalam rimba persilatan dinamakan Jie Sian (Dewi Kedua)?” tanya Ko Tie kemudian dengan sikap yang tawar!

“Dan kukira, aku tidak akan perduli dengan urusan kalian! Aku tidak mau tahu apa urusan kalian ke dua belah pihak. Aku datang untuk urusan lain.

“Aku hendak bertanya kepada kau. Apakah dengan mengandalkan kepandaianmu itu, yang kau anggap sangat lihay, engkau satu-satunya orang yang paling pandai dan memiliki kepandaian tertinggi di dalam rimba persilatan?”

Waktu itu angin berhembus dan membawa hawa hangat. Sinar matahari memancar cukup keras. Hawanya panas!

Akan tetapi tanpa merasa, nenek tua itu menggigil keras, seperti juga ia tengah kedinginan, karena ia memang sangat murka bukan main. Sedapat mungkin ia berusaha bersikap tenang menindih kemarahannya yang seakan juga hendak meledakkan dadanya, membuat tubuhnya itu menggigil.

“Benar! Jika engkau tidak berhasil merubuhkan aku, berarti akulah satu-satunya orang terpandai di dalam kalangan Kang-ouw!

“Tapi kukira engkau tidak layak untuk beradu tangan dengan nenekmu. Engkau perlu kembali lagi kepangkuan ibumu, buat minta menetek!

“Hemmm, bocah masih bau popok, ternyata engkau tidak mengenal tingginya langit dan tebalnya bumi! Baiklah! Justru aku yang akan membuka matamu, agar engkau mengetahuinya. Betapapun juga, memang engkau perlu memperoleh hajaran yang pantas.....”

Kata-katanya itu belum lagi habis nenek tua tersebut, yang disebut oleh orang rimba persilatan sebagai Jie Sian, sudah tidak bisa membendung lagi kemarahan hatinya. Ia telah membentak bengis, mengandung hawa pembunuhan, disusul dengan tubuhnya yang melesat gesit sekali, tubuhnya seperti bayangan, tangan kirinya telah menyerang, angin serangan itu berkesiuran dahsyat, sedangkan tongkatnya itupun menderu-deru dengan hebat.

Dengan demikian, tampaknya memang nenek tua itu, bermaksud sekali menyerang dia sudah bisa membunuh Ko Tie.

Ko Tie tetap berdiri tenang di tempatnya. Walaupun Jie Sian telah melompat dalam jarak yang begitu dekat dengannya.

Malah, angin serangan tangan kirinya dan tongkatnya telah mulai menerjang dirinya dengan dahsyat. Ko Tie hanya memperhatikan dengan sinar mata yang sangat tajam sekali kepada nenek tua itu di mana ia ingin menantikan sampai serangan dari nenek tua itu benar-benar dekat dengannya.

Setelah serangan nenek tua tersebut dekat sekali, Ko Tie tidak berdiam diri terus. Karena iapun untuk mempertahankan diri telah membarengi ketika Jie Sian menarik dengan keras, ia mengerahkan tenaga di tiga jarinya. Lalu:

“Takkk!” maka patahlah ujung tongkat sepanjang lima dim. Ia terus melemparkan patahan itu, yang terbang meayambar batang pohon yang tidak jauh dari mereka, menancap masuk ke dalamnya!

Semua orang yang menyaksikan kejadian itu jadi kaget dan heran. Semuanya sampai menahan napas dan muka mereka pun telah berobah.

Diam-diam Jie Sian menyedot napas dingin. Benar-benar ia tidak menyangkanya. Karena itu, mendadak sekali ia melemparkan tongkatnya yang sudah buntung, dengan ke dua kakinya segera menjejak tanah. Ia melompat mundur ke luar dari kalangan.

Disaat semua orang heran menyaksikan sikap si nenek Jie Sian, waktu itu Ko Tie segera berpikir: “Kukira aku telah cukup melayaninya. Aku tidak perlu buang-buang waktu untuk ini!”

Karena berpikir seperti itu, segera juga Ko Tie mengeluarkan siulannya yang nyaring. Tahu-tahu tangan kanannya telah bergerak lagi, mengibas dengan mempergunakan Tenaga Inti Es nya, yang menimbulkan sambaran angin yang sedingin es.

Kemudian tubuhnya juga melesat tidak menghiraukan nyonya tua ini, ia melompat buat terus lari ke arah rumah. Bagaikan terbang melayang ia lewat di depan nyonya tersebut.

Jie Sian terkejut sekali, karena tubuhnya menggigil kedinginan. Sambaran angin kibasan tangan dari Ko Tie mendatangkan hawa yang sedingin es. Ia memang memiliki lweekang yang tinggi, maka ia masih bisa mempertahankan diri tidak sampai rubuh.

Yang membuat ia lebih kaget lagi, sekarang anak buahnya yang berada di belakangnya, dengan mengeluarkan suara jeritan yang lirih, terjungkal rubuh dengan tubuh yang kaku dan juga telah diselubungi oleh lapisan es yang tipis! Itulah akibat anak buah Jie Sian kena disambar oleh angin pukulan Inti Es nya Ko Tie.

Dan kembali Jie Sian lebih kaget, sebab waktu itu tubuh Ko Tie berkelebat di depannya seperti bayangan saja. Belum lagi ia bisa berpikir, di waktu itu si pemuda telah pergi jauh!

Tapi sebagai seorang jago tua yang memiliki kepandaian tinggi, Jie Sian dapat menentukan dalam waktu yang singkat, apa yang harus dilakukannya! Ia melompat dengan gesit menyusul Ko Tie, dan tangan kanannya menghantam punggung Ko Tie.

Namun Ko Tie tidak menghiraukan serangan itu, ia cuma menangkis ke belakang dengan tangan kirinya, ke dua kakinya berlari terus.

Akibatnya memang hebat buat Jie Sian. Ia menyerang sangat keras sekali, kesudahannya ia sendiri yang tertolak mundur dua tindak, sampai dia menjerit saking kagetnya, heran dan kagum sekali.

Sekarang Jie Sian tidak tercengang lagi, maka itu, iapun segera mengejar pula. Karena kini ia diliputi penasaran dan murka yang bukan main.

Waktu itu di dalam Kwee-san-cung terlihat asap mengepul di empat penjuru, api tampak mulai berkobar-kobar tinggi sekali.

Ko Tie segera sampai di dalam. Ia mendapatkan sebuah rumah yang besar dan indah, yang tiang-tiangnya berukiran, tetapi tidak sempat ia menikmati itu semua, ia masuk terus mencari Giok Hoa.

Ia telah `menemui beberapa orang yang rebah di lantai, tangan dan kaki mereka patah, tapi jiwa mereka belum lenyap. Hanya darah berlepotan. Di antara mereka juga terdengar rintihan yang menyayatkan hati.

Ia mengerti pasti Giok Hoa sudah membuka pantangan membunuh dengan mengerjakan pedangnya. Waktu Ko Tie masuk lebih jauh ke dalam, ia masih menemukan orang-orang yang terluka, mungkin sebanyak limapuluh orang. Di antaranya ada beberapa orang wanita, yang semuanya merintih dan menangis.

Di sudut tembok, di luar, ia melihat seorang anak kecil tengah merengket ketakutan. Ia menghampiri dan bertanya dengan bengis sekali.

“Apakah kau melihat seorang nona…… akh…… seorang pemuda yang membawa pedang?”

Hampir ia membuka rahasia Giok Hoa. Bukankah Giok Hoa telah menyamar sebagai seorang pemuda?

Bocah itu tengah ketakutan bukan main. Dia juga merengket sambil menangis, maka dari itu tidak bisa ia menyahuti pertanyaan Ko Tie. Tubuhnya menggigil dan matanya yang basah oleh air mata itu terbuka lebar-lebar.

“Kau mau bicara atau tidak?” bentak Ko Tie dengan sikap bengis.

Anak kecil itu tambah ketakutan, tapi sekarang dapat juga ia berkata: “Jangan gusar tuan..... jangan bunuh aku…… dia telah membawa puteri Su……. Ia pergi lari cepat sekali!”

“Dia lari ke mana?” tanya Ko Tie menegaskan.

“Aku….. aku tidak tahu…… setelah melukai orang, ia pergi……. aku hanya melihat ke empat Chung-cu muda bersama dua tosu mengejarnya, dan baru saja Chung-cu (kepala kampung) pergi menyusul.”

Ko Tie segera menduga, tentu yang dimaksudkan dengan bocah itu sebagai Chung-cu adalah Kwee Lu. Ia mengangguk dan tanpa membuang waktu lagi, segera tubuhnya melesat untuk meninggalkan tempat itu.

Di belakangnya Jie Sian bersama orang-orangnya tengah berlari menyusul! Wanita tua itu berteriak-teriak,

“Binatang, kau telah membunuh orang dan membakar rumah, apakah kau dapat meloloskan diri secara demikian mudah?”

Ko Tie mengerutkan alis! Kedatangannya Giok Hoa ke tempat ini adalah untuk membasmi orang-orang Kwee Lu!

Tapi tentu saja yang terpenting sekali adalah Kwee Lu, sedangkan anak buahnya hanya bisa dinasehati dan dibubarkan, tidak perlu mereka dibunuh. Namun melihat betapa Jie Sian dan anak buahnya mengejar terus, habislah kesabaran Ko Tie.

Ia berhenti berlari. Kemudian dengan segera ia memutar tubuhnya. Ia telah melompat ke depan Jie Sian!

Bukannya dia menyingkir, sekarang malah dia telah memapaknya, dimana begitu ke dua kakinya hinggap, seketika ia menghantam dengan saling susul mempergunakan ke dua tangannya.

Dan sekali ini memang Ko Tie tidak tanggung-tanggung dalam mempergunakan Pukulan Inti Es nya, di mana dari kedua telapak tangannya itu menyambar angin yang sangat dingin sekali, dan membuat semua orang pengejarnya jadi menggigil keras.

Ma1ah dua orang di antara mereka yang memang kepandaiannya paling rendah, telah rubuh terjungkal, di mana mereka terbungkus oleh lapisan es yang tipis. Merekapun pingsan tidak sadarkan diri.

Jie Sian menggigil, namun ia bisa menolak hawa dingin itu dengan mengerahkan lweekangnya. Dia berusaha untuk mengejar terus, maju ke depan.

Waktu itu jarak mereka memang terpisah tidak begitu jauh. Dengan bengis dan bernafsu sekali Jie Sian menghantam saling susul dengan ke dua tangannya.

Dia telah mempergunakan sebagian terbesar tenaga dalamnya, karena memang dia tengah penasaran dan juga murka sekali. Itulah sebabnya dia menghendaki dengan pukulannya ini dapat membunuh Ko Tie.

Ko Tie mendengus memperdengarkan suara tertawa dingin. Tahu-tahu ke dua tangan pemuda itu memapak tangan nenek tua itu, cepat dan sebat sekali, sukar diikuti oleh pandangan mata. Bahkan Jie Sian sendiri tidak bisa melihat jelas arah sambaran ke dua tangan pemuda itu, yang tahu-tahu telah berhasil mencekal kuat sekali ke dua pergelangan tangannya!

Waktu Ko Tie mengempos semangatnya, maka terdengarlah suara “Kreekkk, kreekkk,” berulangkali. Tulang-tulang di seluruh tubuh Jie Sian telah patah dan hancur.

Waktu Ko Tie melepaskan cekalannya,tubuh nenek tua itu lunglai lesu tidak bergerak lagi. Setelah terbanting di tanah napasnya telah putus!

Semua orang Kwee-san-cung berdiri tertegun, ngeri dan gentar. Mereka tidak menyangka pemuda ini demikian tangguh. Mereka berdiam sejenak, sampai akhirnya tersadar waktu Ko Tie membentak dengan suara dan sikap bengis:

“Kalian jika tidak mau cepat-cepat meninggalkan dunia kejahatan ini, dan insyaf menjadi manusia benar, maka kalian akan menemui kematian yang sama mengerikan seperti nenek tua itu!”

Tidak berjanji lebih dulu, anak buah Kwee san-cung seketika menekuk lututnya. Dan mereka telah sesambatan meminta jiwa mereka diampuni.

Di antara mereka bahkan ada yang menangis menyebut-nyebut anak isterinya, dan mohon diampuni.

“Baiklah!” kata Ko Tie kemudian. “Memang aku menghendaki agar kalian insaf dan menyadari apa yang selama ini kalian lakukan adalah salah. Karena dari itu, jika memaag kalian mau tersadar dari kekeliruan itu, kalian akan kuampuni! Pergilah!

“Tapi ingat, kalau kelak kalian bertemu denganku lagi, dan ternyata kalian masih bergelimang di antara kejahatan, di waktu itu aku tidak akan mengampuni lagi kalian……!”

Semua anak buah Kwee-san-cung mengucapkan terima kasih mereka! Baru saja mereka bangkit dan hendak meninggalkan tempat itu, tiba-tiba sekali Ko Tie membentak: “Tahan!”

Muka mereka seketika berobah pucat, tubuh mereka menggigil, karena mereka menduga Ko Tie telah merobah keputusannya.

“Kalian juga mengajak kawan-kawan kalian yang lainnya untuk insyaf dengan segera meninggalkan tempat ini! Dalam waktu dekat ini, jika aku masih melihat ada orang di Kwee-san-cung ini, berarti dialah seorang yang tidak mau insyaf dan dia perlu dibinasakan!”

Semua anak buah Kwee-san-cung itu mengiyakan, tergesa-gesa mereka berlalu buat mengemasi barang-barang mereka, sambil mengajak kawan-kawan mereka yang lainnya.

Ko Tie telah mendengar juga bahwa Kwee Lu merupakan seorang yang memiliki kepandaian tinggi. Tapi dia tidak memandang sebelah mata.

Karena ia yakin akan dapat merubuhkan orang she Kwee itu, yang selama ini merupakan momok buat penduduk di sekitar tempat itu, main bunuh, memperkosa dan merampok. Itulah sebabnya mengapa Ko Tie bersama Giok Hoa telah memutuskan datang ke sarangnya Kwee Lu buat menumpasnya.

Setelah melihat semua anak buah Kwee-san-cung itu pergi, Ko Tie berlari lagi dengan pesat, di mana ia hendak mencari Giok Hoa.

Waktu itu berkelebat sesosok bayangan yang gesit sekali, dibarengi juga dengan berkelebat sinar putih di depan muka Ko Tie. Itulah penyerangan dengan senjata tajam.

Ko Tie awas dan iapun memang lihay, karenanya segera juga ia menyentil.

Ternyata golok yang menyambar kepadanya kena disentil jauh terpental dari mukanya, hampir saja terlepas dari cekalan orang yang baru muncul itu. Terdengar seruan tertahannya.

Ko Tie sekarang telah melihatnya, penyerangnya itu, tidak lain adalah seorang lelaki tua berusia antara limapuluh lima tahun, dengan kumis dan jenggot yang telah berwarna putih semuanya, juga tampak betapa mukanya bengis sekali.

“Hemmm, kau kira mudah lolos dari Kwee-san-cung?” bentak orang tua itu. “Cepat katakan, di mana kawanmu yang menculik anakku itu?”

Seketika Ko Tie menduganya, tentunya orang tua ini, adalah Kwee Lu. Dan yang diculik oleh Giok Hoa tentunya puterinya, yaitu yang disebut sebagai anak Su.

Dengan tertawa dingin, Ko Tie telah berkata tawar: “Ohh. kiranya aku tengah berhadapan dengan seorang pendekar besar Kwee Lu, bukankah benar dugaanku?”

“Tidak salah! Jangan harap kau bisa lolos dari tanganku! Kwee Lu bukan seorang mudah diperhina dan dipermainkan!”menjawab orang itu bengis, dan memang dia tidak lain dari Kwee Lu.

Sambil tertawa keras, tubuh Ko Tie tergoncang. Ia kemudian bilang, tidak kalah bengisnya:

“Bagus! Memang engkau tengah kucari! Telah luber dari takaran kejahatan yang engkau lakukan, karena itu, engkau harus dihajar dan dimusnahkan!”

Setelah berkata begitu, Ko Tie kembali memperdengarkan suara tertawa mengejek, sama sekali dia tidak memandang sebelah mata kepada orang she Kwee ini.

Kwee Lu tidak membuang waktu lagi. Disertai raungannya yang penuh kemurkaan, mukanya juga merah padam karena marah. Goloknya telah berkelebat berulang kali menyambar kepada Ko Tie.

Ko Tie menghindari serangan senjata lawan. Di dalam hatinya ia berpikir: “Hemmm, memang tidak kecewa ia memiliki nama yang cukup ditakuti, tidak tahunya ilmu goloknya memang hebat juga!”

Setelah berpikir begitu, dengan ringan, tubuh Ko Tie tahu-tahu berkelebatan seperti mengelilingi Kwee Lu, membuat mata Kwee Lu jadi kabur dan berkunang-kunang. Dia kaget tidak terkira.

Dan belum lagi dia bisa memutuskan apa yang harus dilakukannya, selain memutar goloknya buat menutup dirinya, di saat itulah terlihat betapa tubuh Ko Tie telah melambung tinggi sekali ke tengah udara. Dan tahu-tahu telapak tangan kanan Ko Tie telah menepuk pundak Kwee Lu.

Tepukan yang dilakukan Ko Tie tampaknya perlahan, akan tetapi kesudahannya memang sangat luar biasa sekali. Di mana jalan darah yang ditepuk oleh Ko Tie adalah jalan darah Kie-bun, sehingga seketika dari mutut Kwee Lu menyembur darah yang banyak sekali.

Matanya mendelik, mulutnya terbuka dan lidahnya terjulur ke luar. Kemudian ia rubuh terguling di tanah tanpa bernapas lagi!

Ko Tie mengeluarkan tertawa yang nyaring, tubuhnya segera melesat meninggalkan tempat tersebut.

Berlari belum lagi begitu jauh, tampak beberapa sosok tubuh tengah berlari dengan gesit sekali, disertai juga dengan bentakan-bentakan mereka yang sangat berisik sekali.

Waktu Ko Tie menegasi, ternyata Giok Hoa sambil menggendong seorang gadis kecil berusia tiga atau empat tahun. Dengan di tangan kanannya tercekal sebatang pedang yang diputarnya sangat cepat bergulung-gulung, tengah berlari dengan dikejar oleh empat orang. Mereka tidak lain dari Thian-san-ngo-kui, empat orang dari ke lima Thian-san-ngo-kui.

Tanpa membuang waktu lagi Ko Tie menjejak ke dua kakinya, tubuhnya melesat ke depan seperti bayangan saja. Dengan tidak diketahui lagi oleh ke empat orang Thian-san-ngo-kui segera juga tubuhnya meluncur turun dengan ke dua tangannya bekerja.

“Aduhhhh! Aduhhh!” beruntun terdengar suara jeritan dari ke empat orang Thian-san-ngo-kui, karena tubuh mereka segera terjungkal rubuh dan terbinasa!

Giok Hoa girang bukan main ketika melihat munculnya Ko Tie.

“Engko Tie!” berseru si gadis, yang segera menghampiri.

“Mengapa kau menculik anaknya Kwee Lu?” bertanya Ko Tie tidak mengerti.

“Dia…... dia akan kupergunakan sebagai pancingan, karena tadi penjagaan di dalam sangat ketat sekali, aku sengaja menculiknya buat perisai belaka……!” menjelaskan Giok Hoa sambil tersenyum.

Ko Tie mengangguk tanda mengerti.

Giok Hoa waktu itu menurunkan gadis kecil itu, Ko Tie telah menceritakan bahwa ia telah membereskan Jie Sian, juga Kwee Lu. Hanya tinggal Thian-san-ngo-kui yang bungsu, yang belum kelihatan mata hidungnya.

“Dia tentu bersembunyi, karena dia mengetahui, tidak mungkin dia bisa menghadapi kita!” begitu kata Giok Hoa menjelaskan.

“Ya!” Ko Tie mengangguk, “Tapi, kita telah cukup menumpas Kwee Lu dengan pembantu-pembantunya. Anak buahnya telah kuperintahkan agar bubar, tentu tidak ada kejahatan yang terjadi lagi di sekitar tempat ini.....”

Baru saja Ko Tie berkata sampai di situ, mendadak dia merasakan sambaran angin yang kuat sekali dari arah belakangnya. Ia lihay, tanpa menoleh, dengan menekuk kaki kanannya, tahu-tahu tubuhnya itu berjongkok sambil berputar dan tangan kanannya meluncur ke atas, dengan ke lima jari tangannya terbuka.

“Bukkkk!” nyaring sekali telapak tangan Ko Tie telah menghantam dada penyerang gelap itu, yang rupanya hendak membokongnya. Karena ia menyerang dengan melompat, telak sekali telapak tangan Ko Tie menghantam dadanya.

Tulang dadanya juga terdengar berbunyi, tubuhnya ambruk di tanah. Dia tidak lain adalah Thian-san-ngo-kui yang ke lima, yang bungsu.

Ko Tie menghela napas.

“Tugas kita telah selesai....!” kata Ko Tie kemudian. “Tapi bagaimana dengan anak ini? Kwee Lu sudah.....!”Ko Tie tidak meneruskan perkataannya, karena dia telah menoleh mengawasi gadis kecil itu.

Sedangkan Giok Hoa menggaruk-garuk kepalanya.

“Kupikir ada baiknya dia kita serahkan kepada salah seorang penduduk di sekitar tempat ini!” berkata Giok Hoa kemudian.

“Dengan demikian, ada baiknya juga buat anak ini, karena ayahnyapun ia kelak akan menjadi manusia yang jahat. Untung dia telah dapat disingkirkan dari ayahnya, yang telah berhasil kita tumpas. Kalau memang anak ini memperoleh didikan dan bimbingan dari orang yang baik-baik, kelak tentunya dia menjadi gadis yang manis dan jiwanya baik…...!”

Ko Tie menyetujui pikiran Giok Hoa. Ia segera mengajak si gadis buat meneruskan perjalanan mereka meninggalkan tempat itu.

Mendadak sekali berlari-lari mendatangi tiga orang, yang berseru-seru: “Ji-wi Siauwhiap, jangan pergi dulu!”

Ko Tie dan Giok Hoa menoleh. Tidak lain ke tiga orang itu adalah Sam-lang-hun.

Cepat sekali mereka tiba di depan Ko Tie dan Giok Hoa. Mereka tersenyum-senyum, di mana baju mereka tampak berat dan padat terisi sesuatu.

Ko Tie tersenyum, karena segera juga ia dapat menduganya. Tentunya di saku mereka itu terisi barang-barang permata rampasan mereka di dalam rumah Kwee Lu.

“Berkat bantuan jiwi siauwhiap berdua, maka kami berhasil memperoleh bagian kami!” berkata mereka dengan tersenyum-senyum.

“Dan memang kami bermaksud hendak menyatakan terima kasih kami kepada ji-wi siauwhiap berdua”.

Ko Tie tetap tersenyum, dia menepuk ke tiga orang itu bergantian, sambil katanya: “Tidak usah! Tidak usah! Dilain waktu kalian harus hidup baik-baik, tidak melakukan kejahatan lagi!”

Justeru tepukan dari Ko Tie membuat tubuh Sam-lang-hun seketika menjadi lemas. Liang An yang ditepuk paling dulu, segera juga meloso terduduk di tanah, mukanya pucat, kemudian disusul dengan Liang Ie dan Liang Oh!

“Harta yang ada disaku kalian, boleh di bawa, buat bekal kalian berdagang dan menuntut penghidupan yang baik!” kata Ko Tie lagi. “Kalian sebangsa dengan Kwee Lu, seharusnya kalian juga menerima hukuman yang sama beratnya! Tapi aku hanya memusnahkan kepandaian kalian, agar kelak kalian hidup baik-baik!”

Setelah berkata begitu, Ko Tie menarik tangan Giok Hoa, mereka melesat lenyap dari pandangan Sam-lang-hun. Sedangkan Giok Hoa berlari sambil menggendong gadis kecil itu, puteri Kwee Lu, yang bernama Kwee Su.

Sam-lang-hun berdiri bengong, setelah mereka merangkak bangun, mereka tertegun tidak bisa melangkah, karena merasakan tubuh mereka lemas. Maka mereka hanya bisa mengawasi ke arah mana tadi Ko Tie dan Giok Hoa pergi.

Dan juga, memang terlihat jelas sekali, bahwa ke dua pemuda itu memiliki kepandaian yang luar biasa sekali, yang baru pertama kali mereka saksikan seumur hidup mereka.

Di dalam hati mereka berjanji, kelak untuk menuntut penghidupan baik-baik, karena tidak ada bagusnya buat mereka, kalau memang mereka masih berkecimpung dalam dunia kejahatan. Sebab sekarang mereka telah memiliki harta yang cukup buat berdagang dan hidup baik-baik……

Angin di Kwee-san-cung dingin sekali, samar-samar terdengar suara air terjun……

Y

Waktu itu musim semi, pohon-pohon tampak mulai bermekaran dengan indah dan segar. Seluruh perkampungan Bu-ciu terlihat permai oleh bunga beraneka ragam, yang mulai bersemi dan juga tampaknya memang seluruh kota penuh oleh keindahan yang ada, juga wajah penduduk tampak begitu berseri-seri.

Dari arah jurusan barat Bu-ciu, terlihat dua orang penunggang kuda. Merupakan dua orang pemuda yang mirip dengan dua orang pemuda kembar. Masing-masing mengenakan baju abu-abu. Muka mereka sama-sama tampan, sikap mereka sangat gagah.

Hanya mereka memiliki perbedaan cuma satu, yaitu yang seorang bertubuh langsing, Mereka tidak lain dari Ko Tie dan Giok Hoa, yang baru tiba di daerah Bu-ciu tersebut, setelah melakukan perjalanan setengah bulan lebih dari Kwee-san-chung.

Kwee Su telah dititipkan kepada seorang wanita setengah baya, penduduk di kaki gunung yang bersedia merawat Kwee Su. Dengan begitu Ko Tie dan Giok Hoa bisa melanjutkan perjalanan mereka. Dengan gembira.

Memang melakukan perjalanan di musim semi, di saat bunga bermekaran dan juga hawa udara mulai hangat, merupakan hal yang menyenangkan sekali. Banyak yang dibicarakan muda-mudi ini dengan gembira sekali, terdengar tertawa mereka yang mengisi kesunyian perjalanan mereka.

Hati mereka telah semakin terpaut dengan sekian lamanya mereka melakukan perjalanan bersama. Ko Tie semakin mencintai si gadis pujaan hatinya.

Giok Hoa pun semakin tambah berpengalaman setelah berkelana sekian lama dalam rimba persilatan. Kini iapun menyadari bahwa ia membutuhkan dan mencintai sekali engko Tie nya tersebut.

Mereka merencanakan buat singgah di Bu-ciu, beristirahat beberapa hari di sana.

Tanpa Ko Tie dan Giok Hoa sadari bahwa nama mereka sudah menggemparkan dunia persilatan, karena mereka telah melakukan beberapa pekerjaan besar dengan menumpas para penjahat. Dan merekapun telah membuat orang-orang rimba persilatan banyak membicarakan mereka.

Dibasminya Kwee Lu dengan anak buahnya, tersiar luas sekali. Banyak orang rimba persilatan yang merasa heran, bahwa telah muncul jago-jago rimba persilatan memiliki kepandaian tinggi seperti mereka, padahal usia mereka masih muda sekali. Kematian Jie Sian pun telah menggoncangkan rimba persilatan, karena nenek tua itu adalah seorang tokoh rimba persilatan yang memiliki nama sangat terkenal.

Terlebih lagi seorang dari Thian-san-ngo-kui, yaitu yang bungsu sempat meloloskan diri. Ia telah menceritakan kepada kawan-kawannya dari aliran hitam tentang kemalangan pihaknya dan kematian Jie Sian.

Tidak mengherankan, diwaktu itu banyak juga orang-orang dari aliran hitam yang berusaha untuk mencari jejak Ko Tie dan Giok Hoa, karena mereka hendak membalas sakit hati Kwee Lu dan Jie Sian.

Nama Ko Tie dan Giok Hoa pun semakin terkenal. Cuma saja, disebabkan mereka hanya dikenal sebagai “Bie Siauwhiap dan Un Siauwhiap” seperti yang mereka perkenalkan diri kepada Sam-lang-hun, dengan demikian dalam rimba persilatan cuma mengenal Bie Un Ji-hiap.

Tidak seorang pun yang mengetahui siapa sebenarnya mereka berdua, pemuda luar biasa itu.

Sam-lang-hun cuma menceritakan kepada kawan-kawannya, betapa Ko Tie dan Giok Hoa melumpuhkan Kwee-san-chung dengan mudah sekali, mendatangkan kagum luar biasa di kalangan kawan-kawan Sam-lang-hun.

Memang dimusnahkannya kepandaian mereka membuat Sam-lang-hun bersakit hati, namun mereka jeri buat menuntut balas. Banyak kawan-kawannya yang menganjurkan agar Sam-lang-hun meminta kesediaan dari orang-orang rimba hijau untuk mencari Ko Tie dan Giok Hoa membalaskan sakit hati mereka.

Namun usul itu telah ditolak oleh Sam-lang-hun karena mereka yakin, kawan-kawannya itu tidak mungkin bisa menghadapi Ko Tie dan Giok Hoa.

Demikianlah, Ko Tie dari Giok Hoa yang tidak mengetahui pergolakan yang tengah terjadi di belakang mereka, yang tengah mencari jejak mereka dan berusaha menyelidiki siapa mereka sebenarnya, telah melakukan perjalanan dengan gembira.

Waktu tiba di Bu-ciu, Ko Tie mengajak Giok Hoa mencari rumah penginapan. Setelah mereka memperoleh sebuah kamar yang memiliki dua buah pembaringan, mereka memesan makanan yang enak-enak. Sambil bercakap-cakap dengan gembira, mereka bersantap di dekat jendela maka dari mana mereka bisa memandang keluar, ke jalan raya.

Menjelang malam, Giok Hoa mengajak Ko Tie untuk jalan-jalan menyaksikan keramaian kota, dan Ko Tie tidak menolaknya. Memang sepasang muda mudi yang tengah dilanda asmara itu selalu saja merasa gembira dan asyik dengan percakapan yang mesra dan juga menggembirakan, di mana merekapun membicarakan tentang hubungan, juga tentang masa depan mereka, tentang segala macam hal.

Keadaan di kota Bu-ciu memang ramai, karena penduduk kota tersebut padat. Di samping itu memang juga terlihat jelas penduduk kota banyak yang berdagang sampai jauh malam, toko-toko tidak segera tutup walaupun malam telah cukup larut.

Terlebih lagi rumah makan dan tempat pelesiran, di mana mereka membuka semalam suntuk. Banyak orang yang berkumpul di rumah makan di antara sahabat-sahabatnya buat bercakap-cakap, dengan gembira.

Disamping itu, banyak juga pengemis yang berkeliaran di kota, terutama sekali di rumah-rumah makan, karena mereka mengharapkan sekali memperoleh makanan sisa.

Ko Tie dan Giok Hoa telah mengelilingi kota tersebut sampai mendekati tengah malam. Mereka mendatangi tempat-tempat yang memiliki pemandangan yang indah permai. Di samping itu mereka juga telah pergi ke sebuah rumah makan, untuk bersantap malam dengan perlahan-lahan, bercakap-cakap mesra dan juga membicarakan segala yang serba indah.

Dilihat dari sikap mereka berdua, ke duanya seperti sudah tidak pernah dipusingkan oleh urusan rimba persilatan. Mereka tidak mirip-miripnya sebagai orang Kang-ouw, malah lebih tidak cocok lagi sebagai orang-orang yang baru-baru ini menggemparkan rimba persilatan dengan sepak terjang mereka.

*** ***
Note 26 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hari Minggu itu weekend tapi kalau cinta kita will never end"

(Regards, Admin)

0 Response to "Anak Rajawali Lanjutan (Beruang Salju) Jilid 28"

Post a Comment

close