Anak Rajawali Lanjutan (Beruang Salju) Jilid 24

Mode Malam
 
Anak rajawali Jilid 24

Jika diperlukan, Cing Kiang Wie dan Kang Wei hendak menjadikan pasukan tentara kerajaan itu sebagai barisan pemanah. Buat penyediaan anak panah, jelas sangat banyak sekali.

Di gudang senjata dalam Kota Lam-yang, belum lagi mencukupi, segera dibuat anak-anak panah dengan mengerahkan ahli-ahli panah, sehingga meminta waktu buat menyiapkan anak-anak panah itu dengan jumlah yang diinginkan selama seminggu lamanya.

Tetapi persiapan yang diadakan buat penyerbuan kepada sarang pemberontak itu telah matang benar. Juga Kiang Wie dan Kang Wei telah perintahkan beberapa orang ahli silat kelas satu yang membantu An-busu atau Penguasa Kota Lam-yang, buat pergi menyelidiki, juga puluhan orang tentara yang terampil diperintahkan mengadakan penyelidikan di sekitar Kota Lam-yang.

Laporan-laporan telah sampai di tangan Cing Kiang Wie dan Kang Wei, mereka mempelajari semua laporan itu. Dan mereka memperoleh kesimpulan bahwa para pemberontak itu tidak memperlihatkan tanda-tanda mengadakan persiapan buat menyambut penyerbuan itu, membuktikan juga bahwa kaum pemberontak itu rupanya belum lagi mengetahui perihal rencana penyerbuan tersebut.

“Bagus!” berseru Cing Kiang Wie dengan suara nyaring. “Inilah sangat baik sekali…… karena dengan mereka tidak bersiap-siap, kita akan dapat menghancurkan mereka lebih mudah!”

Kang Wei juga mengangguk-angguk senang, mereka bekerja dengan dibantu oleh beberapa orang panglima perang yang berada di Kota Lam-yang.

Karena Cing Kiang Wie berdua membawa firman kaisar yang memberikan kekuasaan sepenuhnya pada mereka, semua panglima perang di kota itu dan juga semua perwira tingginya, tunduk pada perintah Cing Kiang Wie berdua. Mereka berdua sebagai panglima tertingginya dalam penyerangan kepada kaum pemberontak itu, dan semuanya harus patuh.

Y

Pengemis tua Thio Kim Beng ketika matahari memancarkan sinarnya cukup terang, baru terbangun dari tidurnya. Dia teringat semalam telah bertempur dengan ke dua orang perwira tinggi kerajaan, yaitu Cing Kiang Wie dan Kang Wei, yang masing-masing memiliki kepandaian lihay sekali.

Dengan begitu, besar dugaan dari Thio Kim Beng, ke dua orang tersebut tentu kembali ke Lam-yang buat menghimpun kekuatan. Dan dalam beberapa hari akan menimbulkan kekacauan lagi, guna memusuhi orang-orang gagah yang bermaksud berjuang mengusir kaum penjajah.

Karena dari itu, setelah berlatih ilmu tongkatnya beberapa saat di dalam hutan itu, buat mempersegarkan dirinya, tampak Thio Kim Beng dengan tubuh yang agak dibungkukkan, dan langkah yang perlahan-lahan ke luar dari hutan itu. Dia menuju ke Kota Lam-yang, karena memang Thio Kim Beng bermaksud menyelusup ke dalam kota buat melakukan penyelidikan.

Dalam keadaan seperti ini, Thio Kim Beng memang telah bermaksud menyelidiki segalanya, yang kelak hasil penyelidikannya itu akan disampaikan kepada kaum orang gagah yang tengah berjuang untuk membela tanah air mereka yang terjajah.

Di dalam Kota Lam-yang ramai sekali. Penduduk tampak dalam keadaan seperti biasa, di mana mereka berdagang, bekerja dan rumah-rumah makan tetap buka seperti biasanya.

Thio Kim Beng tidak melihat ada kelainan di dalam kota, dan juga tidak terlihat kegiatan-kegiatan dalam menghadapi sesuatu kerusuhan. Mereka, semua penduduk itu dalam keadaan tenang saja, melakukan tugas mereka masing-masing.

Tetapi sebagai seorang berpengalaman, Thio Kim Beng segera memaklumi, bahwa pihak tentara kerajaan tentu tengah mempersiapkan diri diam-diam. Mungkin mereka tidak ingin diketahui oleh rakyat tentang maksud mereka yang ingin menumpas kaum pemberontak.

Mereka tidak menginginkan jika rakyat mengetahui akan menimbulkan kekacauan, dan kemungkinan besar, sebagian besar dari rakyat, akan berpihak kepada para orang gagah pembela tanah air, berbalik mengadakan perlawanan kepada tentara kerajaan di Lam-yang. Dengan demikian akibat itu membuat tentara kerajaan menghadapi lawan yang tidak sedikit.

Jika saja seluruh rakyat di Lam-yang mengadakan kerja sama yang kompak dan mempersatukan diri mengadakan perlawanan kepada tentara kerajaan, niscaya mereka akan merupakan suatu kekuatan yang tidak kecil. Penduduk Kota Lam-yang hampir meliputi duapuluh ribu jiwa lebih……!”

“Aku harus menyelidikinya di tempat-tempat para pembesar Boan, di markas-markas mereka……!” berpikir Thio Kim Beng.

Dan dia segera berusaha menyelidiki di mana kantor-kantor Kerajaan Pemerintah Boan, terutama sekali pembesar yang khusus mengurus tentara kerajaan.

Namun di saat dia tengah berjalan di jalan raya, dengan tubuh yang sengaja dibungkukkan dan kepala tertunduk dalam-dalam, sebab dia tidak mau kalau sampai ada orang yang mengenalinya, terutama sekali Cing Kiang Wie daa Kang Wei, dia terpikir lainnya lagi.

“Atau lebih baik aku pergi menyelidiki di rumah-rumah makan. Bukankah banyak kaum pembesar yang bersenang-senang di rumah makan, meminum arak sampai mabok dan kemudian mengoceh tidak karuan. Dengan demikian tentu akan membuat mereka mengeluarkan segala apa yang mereka ketahui…..

“Karena dari itu, walaupun bagaimana jelas aku bisa mengorek keterangan yang lebih jelas lagi. Aku bisa menawannya, dan kemudian mengkompresnya, memaksanya agar dia memberikan keterangan yang lebih terperinci! Para Pembesar Boan-ciu umumnya merupakan gentong-gentong nasi yang sayang akan jiwanya. Mereka tentu akan ketakutan setengah mati dan menceritakan sejelas-jelasnya apa yang mereka ketahui…..!”

Karena berpikir begitu, segera juga Thio Kim Beng mengalihkan langkah kakinya, menuju kepada sebuah rumah makan yang terletak tidak jauh dari jalan itu.

Rumah makan itu memasang merek “Ang-tiauw-tiam”, merupakan sebuah rumah makan yang tidak terlalu besar. Namun di rumah makan yang bertingkat dua tersebut, sangat ramai sekali. Dan disamping itu, memang tampaknya orang-orang yang berkunjung ke rumah makan tersebut terdiri dari bermacam-macam golongan.

Thio Kim Beng berdiri di depan pintu rumah makan itu, di sebelah pinggir kanan dia berdiri dengan tubuh yang dibungkukkan walaupun matanya tajam mengawasi keadaan di sekitarnya. Dia telah pura-pura berdiri di situ seperti tengah menantikan sisa makanan yang akan diberikan pelayan.

Dua orang pelayan melihat kehadirannya Thio Kim Beng, tampaknya tidak senang.

Mereka beranggapan tentu dengan adanya pengemis mesum dan kotor itu, merupakan halangan yang tidak kecil buat rumah makan ini, di mana para tamu tentu akan merasa segan buat memasuki rumah makan tersebut. Karenanya, ke dua nelayan itu menghampiri Thio Kim Beng, katanya dengan sikap tidak senang:

“Pengemis bau, jika engkau menghendaki makanan, engkau jangan menghalangi jalan masuk di pintu ini. Pergilah engkau di samping sana! Jika nanti telah ada sisa makanan, kami tentu akan memberikannya kepadamu! Jika engkau berdiri di sini, tentu para tamu akan segan masuk ke rumah makan kami! Selain kami akan rugi, juga sisa makanan tidak ada!”

Thio Kim Beng menyeringai, dan ia berkata dengan suara yang sabar:

“Sebetulnya..... di dalam hal itu merupakan urusan yang tidak terlalu penting, karena biar bagaimana jelas aku tidak akan mengganggu para tamu..... karena dari itu, biarlah aku di sini. Siapa tahu ada tamu yang memang berkasihan kepadaku, dan akan memberikan derma dan amal mereka……!”

Setelah berkata begitu, kembali Thio Kim Beng tertawa menyeringai, katanya: “Tuan-tuan, tentu sangat baik hati dan membiarkan aku mencari hidup di sini bukan?”

Ke dua pelayan itu mengerutkan sepasang alisnya, tadi mereka berusaha mengusir pengemis tua ini dengan baik hati, dengan cara yang halus, agar pengemis itu tidak tersinggung. Namun sekarang melihat Thio Kim Beng bersikeras untuk berdiri di depan pintu itu.

Karena dari tempatnya itu Thio Kim Beng memang dapat melihat jelas semua tamu yang berada di dalam rumah makan tersebut, tidak mau pindah tempat beranjak dari situ, membuat ke dua pelayan itu tambah tidak senang, maka mereka berdua hampir berbareng telah berkata dengan suara yang tidak senang:

“Jika memang engkau tidak bisa diberitahukan dengan baik-baik, kami akan menyingkirkan engkau dengan cara paksa!”

Thio Kim Beng tertawa.

“Jangan begitu tuan-tuan…… aku si pengemis melarat hanya mencari sekedar hidup di sini.....” katanya kemudian seperti juga pengemis yang tidak berdaya.

Salah seorang pelayan itu mengulurkan tangannya. Dia mencekal tangan Thio Kim Beng maksudnya hendak menarik Thio Kim Beng menyingkir ke samping rumah makan itu.

Thio Kim Beng membiarkan tangannya dicekal, sama sekali dia tidak memberikan perlawanan. Sampai akhirnya waktu pelayan itu menariknya dengan kuat, dia jadi kaget sendirinya.

Pelayan itu sampai mengeluarkan suara seruan tertahan. Karena biarpun dia menarik cukup kuat, pengemis tua yang kurus kering dan tampaknya lemah itu tidak bergeming dari tempatnya. Pelayan itu segera menariknya lebih kuat lagi, namun tetap saja tidak bisa me narik tubuh si pengemis tua tersebut.

Kawannya, pelayan yang seorangnya lagi, ketika melihat rekannya tidak dapat menarik pengemis tua itu, segera bantu menariknya.

Tetap saja Thio Kim Beng berdiri tenang-tenang di tempatnya, tubuhnya tidak bergeming. Dia membiarkan saja ke dua pelayan itu menarik-nariknya, namun dia sama sekali tidak bergeming atau beranjak dari tempatnya berada.

Ke dua pelayan itu jadi tambah penasaran. Mereka segera mengerahkan seluruh tenaga mereka, tapi tetap saja, walau mereka menariknya dengan kuat, tidak berhasil menarik pengemis tersebut.

Malah tidak lama kemudian, mereka merasakan dari lengan pengemis tua itu, yang dicekal oleh tangan mereka, seperti mengepul hawa panas bukan main, sehingga ke dua pelayan itu merasakan tangannya pedih sekali.

Kaget dan heran, ke dua pelayan itu melepaskan cekalan mereka dan memandang termangu-mangu kepada pengemis tua itu. Hati kecil mereka segera menduga bahwa pengemis tua di hadapan mereka itu tentunya seorang pengemis yang tangguh dan memiliki ilmu yang lihay, karena segera juga ke dua pelayan rumah makan itu menduga, tentunya pengemis ini anggota Kay-pang.

Memang banyak orang telah mengetahui, umumnya pengemis yang masuk dalam anggota Kay-pang, dan mereka juga biasanya memiliki kepandaian yang tidak rendah. Karena memiliki dugaan tersebut, ke dua pelayan itu, yang telah gagal dengan usaha mereka buat menarik menyingkir pengemis tua tersebut, memandang dengan sorot mata tidak senang, tapi mereka tidak berani memaksa Thio Kim Beng menyingkir lagi.

Si pengemis tua tersenyum-senyum belaka.

Waktu itulah tampak di jalan raya berlari-lari dua ekor kuda, yang berhenti di depan rumah makan tersebut. Ke dua penunggang kuda tersebut adalah sepasang muda-mudi.

Seorang pemuda yang tampan dan gagah dengan seorang gadis jelita yang tampak keren dengan gagang pedang tersembul dari pundaknya! Matanya jeli, hidungnya bangir dan bibirnya tipis yang selalu tersenyum, namun memperlihatkan kekerasan hatinya.

Mereka melompat ringan sekali turun dari kudanya masing-masing dan si pelayan telah menghampiri mereka buat menerima kuda ke dua tamu ini.

Thio Kim Beng melihat sepasang muda-mudi tersebut, jadi tercekat hatinya. Dia kenal dengan mereka. Ternyata ke dua pemuda-pemudi tersebut yang bertemu dengannya di puncak Heng-san.

Siapakah mereka? Tentu pembaca telah dapat menduganya.

Benar! Mereka adalah Ko Tie dan Giok Hoa! Mengapa mereka tiba-tiba sekali bisa berada di Lam-yang? Dan melakukan perjalanan tampaknya hanya berdua?

Ini ada ceritanya tersendiri.

Y

Seperti diketahui Giok Hoa ingin sekali merantau, namun tidak berani mengemukakannya di hadapan gurunya mengenai maksudnya itu. Karenanya, ia selalu gelisah sendirinya, sampai pada malam itu dia telah mengutarakan isi hatinya dan perasaannya pada Ko Tie.

Sedangkan Ko Tie pada malam itu juga telah membuka isi hatinya, malah lebih dari segalanya. Dia telah menyatakan perasaan cintanya pada gadis tersebut yang memang telah dapat menggetarkan kalbu dan jiwanya!

Pagi itu Ko Tie terbangun agak siang dan dia baru saja salin pakaian. Gurunya telah duduk menghadapinya dengan tatapan mata yang agak luar biasa.

Gurunya duduk di pembaringannya, yang berseberangan dengan pembaringan Ko Tie. Dia menyaksikan muridnya tengah salin pakaian, sampai akhirnya setelah Ko Tie selesai dan waktu muridnya itu canggung ditatapi terus seperti itu, Swat Tocu telah tersenyum memanggilnya.

“Ko Tie, ke mari kau!” panggilnya sambil menunjuk ke sampingnya, agar pemuda itu duduk di tepi pembaringan di dekatnya.

Ko Tie menghampiri gurunya, dia memberi hormat sambil menanyakan kesehatan gurunya. Barulah dia duduk di dekat gurunya dengan hati agak berdebar.

“Aku ingin menyampaikan sesuatu kepadamu!” kata Swat Tocu.

“Silahkan suhu!”

“Kulihat beberapa hari ini engkan gelisah sekali, apa yang engkau rasakan?!”

Merah muka Ko Tie mendengar pertanyaan gurunya seperti itu, cepat-cepat dia memaksakan diri buat tersenyum, katanya: “Tidak suhu..... tidak...... tidak ada yang dipikirkan tecu!” kata-kata itu agak tergetar, karena dia kuatir justeru rahasia hatinya diketahui gurunya.

Swat Tocu tersenyum.

“Muridku, aku sebagai gurumu, telah cukup lama hidup bersamamu. Aku telah mengenal tabiat dan watakmu, sifat-sifatmu! Karena dari itu, engkau jangan coba-coba mendustai aku! Dan aku pun ingin menanyakan kepadamu, apakah menurut anggapanmu puncak Heng-san ini sesuai denganku……!”

“Tecu...... tecu tidak mengetahui dengan pasti, tetapi menurut tecu justeru tempat ini cukup baik!”

“Bagus! Jika demikian. Apakah engkau menghendaki kita tinggal di sini?!”

Mendengar perkataan “kita” yang diucapkan gurunya dengan tekanan nada yang lebih panjang, mulut Ko Tie berobah merah lagi.

“Terserah pada suhu, jika memang suhu cocok dengan tempat ini, tecu hanya menurut saja. Tapi menurut tecu memang tempat ini cukup baik buat suhu.....!”

“Hemmmm, engkau memperlihatkan Heng-san sebagai tempat yang baik buatku. Apakah dibalik semua ini terkandung maksud-maksud tertentu?”

Pipi Ko Tie berobah merah lagi.

“Ti…… tidak suhu!”

“Sungguh?!”

Ko Tie tidak berani berdusta, memang sejak dia dididik oleh Swat Tocu, dia mengenal baik watak gurunya ini, yang paling tidak senang jika dia berdusta. Maka dia segera juga bangun dari duduknya, dan menekuk ke dua kakinya, dia berlutut di hadapan gurunya.

“Suhu..... ampunilah tecu, memang sesungguhnya tecu mengharapkan suhu dapat menerima Heng-san sebagai tempat hidup mengasingkan diri melewati hari tua, itu memang menjadi harapan tecu!”

“Mengapa begitu?!”

“Karena…… karena tempat ini sangat indah dan cocok sekiranya dipergunakan sebagai tempat mengasingkan diri.”

“Bohong.....!” kata Swat Tocu tersenyum, tapi tidak memperlihatkan kemarahan pada wajahnya. “Engkau telah mendustai aku lagi!”

Muka Ko Tie berobah merah untuk sekian kalinya, hatinya berdebar.

“Sesungguhnya suhu…… sesungguhnya suhu, jika memang kita tinggal di puncak Heng-san, kita tidak akan kesepian, karena di sini ada Yo Cici dan Giok...... Giok Hoa!”

“Hemm, memang telah kuduga!” kata Swat Tocu sambil mengangguk-angguk.

Ko Tie tetap berlutut tanpa berani mengangkat kepalanya menatap gurunya, hatinya tergoncang keras dan dia sangat malu sekali terpaksa telah membuka isi hatinya.

“Sesungguhnya, aku mengerti bahwa engkau adalah seorang pemuda, yang tentu tidak dapat hidup senang dan gembira di tempat yang sunyi! Itu memang kuketahui! Dan engkaupun memang perlu merantau, buat menambah pengetahuan dan pengalaman!

“Dengan mempelajari kepandaian yang tinggi, tetapi tanpa pengalaman, maka kepandaian yang telah engkau pelajari itu, tidak ada gunanya! Juga kepandaian yang liehay setelah engkau miliki tanpa diamalkan melakukan perbuatan menolong orang-orang yang membutuhkan pertolongan dan bantuanmu, itulah bukan perbuatan seorang ho-han...... Karenanya, akupun ingin menyampaikan kepadamu, bahwa aku memang merasa cocok dengan tempat ini!”

“Suhu?!” Ko Tie mengangkat kepalanya memandang kepada gurunya, “Benarkah…… benarkah itu, suhu?”

“Ya……” mengangguk Swat Tocu. “Aku memang telah menetapkan untuk berdiam di puncak Heng-san ini……!”

“Oh suhu……!” Ko Tie girang bukan main.

“Bangunlah muridku, duduklah di sini, aku ingin menyampaikan kepadamu banyak persoalan dan kata-kata!”

Ko Tie bangun dari berlututnya, dia telah duduk di samping gurunya.

Swat Tocu memandanginya beberapa saat barulah dia bilang:

“Muridku, engkau seorang pemuda yang cerdik dan juga memiliki kepandaian yang tinggi! Karena dari itu, engkau harus pandai-pandai membawa diri! Engkaupun seorang pemuda yang tampan, yang tentu banyak sekali gadis-gadis yang menghendakimu...... hanya satu pesanku, untuk sementara ini, engkau tidak boleh melibatkan diri dalam percintaan!

“Engkau boleh mencintai seorang gadis, tetapi engkau tidak boleh membiarkan dirimu dilibat oleh cinta! Engkau masih memerlukan waktu yang cukup panjang, guna berjuang! Tahukah engkau, bahwa di daratan Tiong-goan sekarang ini banyak para penjajah?

“Waktu aku berada dalam perjalanan ke Heng-san, aku telah bertemu seorang sahabat lama. Dia menyatakan keinginannya memohon agar aku turun tangan membantu perhimpunan orang gagah, guna membantu mereka berjuang!

“Sayang hatiku telah tawar. Aku hanya ingin hidup menyendiri di sini...... Namun biarpun aku menolak permintaannya, aku telah mengatakan kepada sahabatku itu, bahwa aku akan mengirim muridku sebagai wakilku!”

Ko Tie mengawasi gurunya beberapa saat lamanya kemudian dia bilang: “Jika demikian...... jika demikian suhu hendak perintahkan tecu pergi turun gunung buat membantu Ho-han itu?”

“Tidak salah!” menyahuti Swat Tocu. “Karena dari itu, ingatlah pesanku, bahwa sekarang ini bukan waktunya buat bermain cinta!”

Pipi Ko Tie terasa panas, dia merasa telah tersindir oleh gurunya.

“Ya, ya……!” menyahuti pemuda itu.

“Dengarlah baik-baik Ko Tie! Aku telah melihat gerak-gerikmu, atau juga gerak-gerik Giok Hoa. Di antara kalian berdua seperti juga masing-masing memiliki perasaan sama!

“Aku mengetahui bahwa kalian merupakan remaja yang membutuhkan cinta kasih. Kalian juga wajar jika saling menyintai!

“Tetapi yang engkau harus ingat, kalian tidak boleh terperosok oleh perbuatan hina. Karena itu, kau harus menjaga hubunganmu dengan nona Giok Hoa baik-baik! Kelak jika memang telah waktunya dan di waktu itu engkau telah mengenal lebih baik lagi sifat-sifat dari nona Giok Hoa, barulah kalian menikah! Mengertikah engkau, Ko Tie?”

Ko Tie mengangguk.

“Mengerti suhu……!” menyahuti Ko Tie sambil menunduk.

“Sekarang ini yang terpenting engkau harus mengerahkan seluruh perhatianmu buat membantu perjuangan para Ho-han, yang akan berusaha mengusir kaum penjajah itu……!” menegaskan Swat Tocu.

“Engkau tentu ingat betapa perjuangan Kay-pang, juga perjuangan para tokoh-tokoh sakti seperti Sin-tiauw-tay-hiap Yo Ko, Kwee Ceng, Oey Yok Su, dan lain-lainnya. Karena dari itu, sebagai murid tunggalku, engkau harus memperlihatkan kepada dunia, bahwa Swat Tocu tidak percuma memelihara dan mendidik seorang murid, sebab muridnya itu akan menjadi manusia yang berjiwa luhur dan lihay, yang berjuang membantu para kaum pendekar dalam hal mengusir penjajah! Engkau harus menjadi manusia yang memiliki jiwa yang bersih dan dihormati di dalam rimba persilatan!”

Mendengar kata-kata gurunya yang terakhir, yang nada suaranya semakin meninggi. Ko Tie terkejut. Belum pernah gurunya bicara bersungguh-sungguh seperti itu, karenanya dia cepat-cepat bangun dari duduknya dan telah berlutut lagi.

“Ko Tie berjanji akan mengingat selalu pesan suhu, juga tecu akan segera melaksanakan perintah suhu guna membantu kaum pendekar mengusir penjajah.....

“Tecu berusaha akan menjaga nama baik suhu, berusaha untuk memiliki nama yang bersih di dalam rimba persilatan. Jika memang tecu terpengaruh suatu perbuatan yang tidak baik, biarlah tecu mati dengan tubuh tidak diterima langit dan bumi!”

“Bagus! Bangunlah muridku!” kata Swat Tocu kemudian sambil mengusap kepala muridnya. “Dengan demikian, engkau tentu tidak akan mengecewakan harapanku.......!”

Ko Tie telah duduk di samping gurunya lagi, di waktu itu Swat Tocu telah berkata pula.

“Ko.Ti, sebetulnya, aku menginginkan engkau menjadi seorang yang terpandai di dalam rimba persilatan agar semua orang melihat Swat Tocu bukan orang sembarangan dalam mendidik murid, di mana engkau berhasil muncul sebagai pendekar muda, yang walaupun usianya masih muda, namun kepandaiannya sudah luar biasa!

“Karena itu, engkau juga harus membuktikan, betapapun engkau memang akan sekuat tenaga membantu para pendekar itu! Kemuliaan dan juga nama baik, merupakan hal yang terpenting, karena dari sanalah tercermin akan jiwamu yang baik……!”

“Tecu akan mengingat selalu nasehat suhu!”

“Ya, dan engkau lusa boleh turun gunung dan kau boleh pamitan pada Yo Kouw-nio dan muridnya itu! Dan untuk sementara waktu ini, engkau harus menindih perasaanmu. Tidak boleh engkau menuruti hati kecilmu belaka, yang belum lagi dapat melakukan perbuatan besar engkau bermain cinta!”

“Tecu akan mematuhi pesan suhu!” kata Ko Tie.

Waktu Ko Tie ingin memohon pamit kepada gurunya buat keluar dari kamarnya, tiba-tiba terdengar suara langkah yang ringan, dan pintu kamar diketuk seseorang dari luar.

“Swat Locianpwe........ bisakah boanpwe mengganggu sebentar?” terdengar suara Yo Kouw-nio, dari luar kamar.

Swat Tocu kaget dia menyahuti dengan segera: “Ya, ya, rupanya Yo Kouw-nio mempunyai persoalan yang penting! Ko Tie, cepat bukakan pintu buat Yo Kouw-nio!”

Segera juga tanpa berayal Ko Tie membuka daun pintu kamar. Tampak Yo Kouw-nio dengan pakaian serba kuning, tengah berdiri tersenyum. Ko Tie memberi hormat kepadanya dan mempersilahkan masuk.

Setelah memberi hormat kepada Swat Tocu, Yo Kouw-nio duduk di kursi yang disediakan Ko Tie.

“Swat Locianpwe, ada sedikit persoalan yang hendak kusampaikan kepadamu dengan empat mata saja. Bisakah?” tanya Yo Kouw-nio sambil melirik ke arah Ko Tie.

Swat Tocu mengangguk, sedangkan Ko Tie sendiri mengetahui bahwa Yo Kouw-nio tentunya ingin menyampaikan sesuatu yang penting hanya empat mata dengan gurunya. Walaupun hatinya bertanya-tanya entah apa yang ingin disampaikan Yo Kouw-nio kepada gurunya. Dia telah memberi hormat kepada Swat Tocu dan Yo Kouw-nio, lalu keluar dari kamar.

Setelah Ko Tie mengundurkan diri, Yo Kouw-nio tersenyum, belum lagi dia bicara. Swat Tocu telah bilang:

“Yo Kouw-nio. silahkan kau mengemukakan apa yang ingin kau sampaikan? Tampaknya urusan yang cukup penting……!”

Yo Kouw-nio mengangguk.

“Semua ini menyangkut urusan muridku…… Giok Hoa!” menjelaskan Yo Kouw-nio.

Muka Swat Tocu berobah. Dia kaget dan heran. Dia pun segera memiliki dugaan yang tidak baik, bahwa Ko Tie tentu telah melakukan sesuatu yang kurang ajar pada Giok Hoa, sehingga gurunya si gadis perlu buat menyampaikan teguran padanya.

Dengan muka merah ia tertegun sejenak. Namun segera Swat Tocu bisa mengendalikan hati pada perasaannya.

“Yo Kouw-nio, ceritakanlah, apakah muridku...... Ko Tie, telah melakukan sesuatu….. sesuatu yang kurang ajar dan hina pada muridmu?”

Yo Kouw-nio cepat sekali menggelengkan kepalanya sambil mengulap-ulapkan tangannya.

“Ohhh, bukan….. bukan.....!” katanya cepat. “Urusan ini tidak ada sangkut pautnya dengan murid locianpwe!”

Tenang hati Swat Tocu. Ketegangannya yang menguatirkan Ko Tie melakukan sesuatu yang hina dan bisa memalukannya jadi hilang.

Sambil tersenyum dia bilang: “Nah, sekarang Yo Kouw-nio silahkan menyampaikan urusan yang ingin kau ceritakan itu!”

“Maafkan sebelumnya locianpwe karena ini sebenarnya merupakan urusan dalam rumah tangga perguruan boanpwe, tapi karena adanya locianpwee di sini, maka boanpwe bermaksud hendak meminta pertimbangan dari locianpwe mengenai murid Boanpwe itu!

“Sesungguhnya selama beberapa hari belakangan ini, boanpwe telah memperhatikan murid boanpwe, dia tampak selalu gelisah. Tadi pagi, boanpwe telah mendesaknya dan dia baru mengakuinya terus terang…… bahwa dia……!”

“Kenapa?!” tanya Swat Tocu mulai tidak tenang. Dia menduga murid Yo Kouw-nio mengakui telah menjalin hubungan mesra dengan Ko Tie.

“Dia mengatakan, bahwa dia ingin sekali pergi merantau, untuk mencari pengalaman!” menjawab Yo Kouw-nio.

“Oh begitu?!” Swat Tocu bernapas lega.

“Ya..... dan boanpwe berpikir, memang keinginannya itu wajar, juga sangat bagus. Bukankah seseorang yang telah selesai mempelajari ilmu silat, harus berkelana, buat mencari pengalaman, disamping juga mengamalkan kepandaiannya itu, melakukan perbuatan yang mulia menolong orang-orang yang tengah dalam kesulitan? Karena dari itu juga, boanpwe ingin meminta pendapat locianpwe!”

“Bukankah kau bisa saja membiarkan dia turun gunung, dengan pesan setiap tahun dia harus kembali ke puncak Heng-san ini buat menjengukmu?” kata Swat Tocu.

“Bukan begitu locianpwe.......... Persoalannya bukan demikian! Jika tokh kelak dia menjenguk boanpwe selama dua tahun sekali, boanpwe juga tidak keberatan! Tetapi Giok Hoa belum pernah turun gunung, dia belum pernah berkelana, dia tidak mengenal dunia luar……

“Terlebih lagi sekarang ini, di mana dia harus merantau seorang diri. Tentu sangat membahayakan dirinya! Dia belum memiliki pengalaman yang berarti.”

“Maksudmu?”

“Karena dari itu…… boanpwe meminta pertimbangan locianpwe….. Maafkan locianpwe atas kelancangan boanpwe.

“Bagaimana jika memang murid locianpwe, Ko Tie, ikut serta dengan murid boanpwe, menemani sementara waktu membimbingnya. Agar murid boanpwe itu tidak seperti si buta menunggang kuda, yang tidak mengetahui arah tujuan? Bukankah murid locianpwe memang selalu berkelana dan telah memiliki pengalaman yang walaupun belum banyak, namun setidaknya dia telah mengenal keadaan di dalam rimba persilatan……”

Swat Tocu mengangguk-angguk mengerti. Dia berpikir sejenak lamanya sampai akhirnya dia bilang:

“Baiklah! Nanti aku akan perintahkan Ko Tie agar dia pergi menemani Giok Hoa selama muridmu itu ingin merantau! Tetapi tentu saja, kita berdua harus memesannya, agar mereka tidak terlalu rapat dikala merantau, karena jika mereka berdua berhubungan terlampau bebas, akan menyebabkan kita yang sibuk jika kelak Giok Hoa membawa tambur sebelum nikah!”

Pipi Yo Kouw-nio berobah merah mendengar kelakar Swat Tocu, tapi dia tersenyum mengiringi tertawa Swat Tocu.

Waktu itu Swat Tocu setelah tertawa, dia bilang lagi.

“Dan yang terpenting sekali adalah engkau yang harus memberikan nasehat-nasehat kepada muridmu itu, nona Yo……! Karena walaupun bagaimana, dia yang harus membatasi diri, agar dia tidak bergaul terlalu rapat dengan Ko Tie….

“Dengan nona Giok Hoa membatasi diri, tentu tidak akan terjadi hal-hal yang tidak menggembirakan! Bukankah begitu Yo Kouw-nio?”

Yo Kouw-nio mengangguk mengiyakan.

Begitulah, ke dua orang ini Yo Kouw-nio dan Swat Tocu telah merundingkan lebih jauh bagaimana ingin mengatur dan menasehati murid-murid mereka. Tapi di antara mereka telah dicapai kata sepakat, bahwa mereka akan memerintahkan murid-murid mereka turun gunung.

Lebih jauh Swat Tocu juga menjelaskan kepada Yo Kouw-nio, bahwa dia telah memilih puncak Heng-san sebagai tempatnya, di mana dalam tiga hari ini dia ingin membangun sebuah rumah sederhana di puncak gunung Heng-san, karena dia memang bermaksud menetap di sana. Hidup mengasingkan diri di tempat hening dan sunyi itu, menjadi tetangganya Yo Kouw-nio.

Yo Kouw-nio menyambut gembira niat dari pendekar tua yang sakti itu, di mana diapun telah menyatakan kesediaannya buat membantu Swat Tocu membangun rumahnya di puncak gunung Heng-san.

“Terima kasih, tidak usah, karena aku bersama dengan Ko Tie saja telah cukup. Dalam dua hari rumah sederhana itu telah sudah selesai dibangun dan Ko Tie boleh segera menemani muridmu turun gunung.......!”

Yo Kouw-nio mengangguk, dia pun pamitan sambil memberi hormat, karena dia bermaksud akan memberitahukan kepada muridnya. Keinginan muridnya dapat dikabulkan, asalkan muridnya itu turun gunung didampingi oleh Ko Tie.

Juga dia bermaksud akan memberikan nasehat-nasehat kepada Giok Hoa. Agar muridnya itu kelak kalau merantau berdua dengan Ko Tie, dapat menjaga harga dirinya sebagai seorang gadis.

Dapat juga membatasi diri tidak terlalu bebas bergaul dengan Ko Tie. Walaupun sang guru ini juga menyatakan pada muridnya itu, bahwa dia tidak keberatan kalau antara Giok Hoa dengan Ko Tie terjalin hubungan yang baik.

Sedangkan Giok Hoa waktu mendengar gurunya meluluskan permintaannya, buat turun gunung dan merantau, bukan main girangnya. Dia sampai menangis dan mengucapkan terima kasihnya tidak hentinya.

Swat Tocu siang itu bersama-sama Ko Tie membangun rumah di puncak Heng-san. Sebuah rumah yang sederhana sekali, juga mempergunakan batu gunung dan kayu-kayu yang terdapat di sekitar tempat itu.

Karena kepandaian dan tenaga mereka yang luar biasa, pekerjaan itu dapat dilakukan mereka dengan mudah dan cepat. Dalam dua hari saja, telah rampung sebuah rumah sederhana yang pantas buat ditinggali oleh Swat Tocu agar tidak kedinginan dan kepanasan.

Di dalam itu Swat Tocu telah memesan kepada Ko Tie bahwa besok pagi muridnya boleh turun gunung. Namun diapun menyampaikannya, bahwa bersama Ko Tie akan ikut serta Giok Hoa, yang akan turun gunung guna mencari pengalaman.

Berulang kali Swat Tocu menasehati muridnya, agar baik-baik menjaga diri dan memelihara hubungan baiknya dengan Giok Hoa, berhubungan tidak terlalu bebas dan tidak mendatangkan aib dan malu buat gurunya.

Ko Tie berjanji, hatinya bersorak girang, karena dia akan turun gunung berdua dengan Giok Hoa! Apa yang sama sekali tidak pernah diduganya!

Karena dari itu, dia berlutut sambil mengangguk-anggukkan kepalanya pada gurunya. Hanya saja dia masih bisa menahan diri tidak sampai mengucapkan terima kasih atas kebaikan hati gurunya yang ternyata telah mengaturnya sedemikian rupa, sehingga membuat dia bisa turun gunung dan berkelana berdua dengan Giok Hoa.

Giok Hoa sendiripun tak menyangka bahwa gurunya akan mengijinkannya turun gunung, malah Ko Tie yang katanya akan menemani si gadis, yang akan merupakan teman seperjalanan yang pasti menggembirakan dan menyenangkan itu.

Begitulah, sepasang muda mudi pada keesokan harinya, telah turun gunung. Masing-masing telah mengucapkan selamat berpisah kepada guru mereka.

Giok Hoa sendiri menitikkan butir-butir air mata, karena terharu juga buat berpisah dengan gurunya.

Hanya saja justeru keinginannya buat berkelana memang jauh lebih besar menggebu-gebu di hatinya, membuat dia menguatkan hatinya untuk berpisah sementara dengan gurunya.

Setelah sampai di sebuah kampung di kaki gunung Heng-san, mereka membeli dua ekor kuda. Mereka melakukan perjalanan dengan menunggang kuda.

Dan Ko Tie banyak bercerita mengenai dunia persilatan, yang didengari oleh si gadis dengan gembira. Banyak yang mereka percakapkan, karena ada saja yang selalu ditanyakan si gadis.

Tampaknya Giok Hoa gembira sekali, karena sekarang dia bisa melihat betapa dunia yang terbuka lebar, membutuhkan dia dengan kepandaiannya guna melakukan perbuatan-perbuatan mulia dan luhur, membela orang-orang yang tengah dalam kesulitan…… Apalagi sekarang di sisinya ada Ko Tie, dengan demikian jelas akan membuat dia tidak memperoleh kesulitan dalam melaksanakan tugasnya berkelana di dalam rimba persilatan.

Ko Tie sendiri, karena telah menerima nasehat dan pesan dari gurunya, walaupun dia girang dapat melakukan perjalanan berdua dengan si gadis pujaan hatinya, dia membatasi diri, tidak berani bersikap lebih dari antara sesama dua orang sahabat belaka.

Giok Hoa sendiri juga telah menerima nasehat dari gurunya, diapun membatasi diri.

Karena dari itu, selama dalam perjalanan, mereka tampaknya seperti juga kakak dan adik saja. Hubungan mereka dan sikap mereka hanya terbatas sebagai sikap seorang sahabat terhadap kawannya.

Setiap mereka singgah di rumah penginapan, mereka mengambil dua kamar. Ko Tie satu kamar, juga Giok Hoa satu kamar. Dan tentu saja, kalau seandainya Ko Tie memesan satu kamar, Giok Hoa yang akan menentangnya.

Hanya saja, sejauh itu tidak pernah terjadi Ko Tie menginginkan mereka tidur sekamar, karena Ko Tie selalu berpesan agar pelayan mempersiapkan dua kamar tanpa memperdulikan pandangan heran dari pelayan dan para tamu, yang melihat sepasang muda mudi ini berpisah kamar, karena setiap mereka datang di suatu tempat, banyak yang menduga, jika mereka berdua bukan kakak beradik tentunya sepasang suami-isteri muda.

Banyak juga yang mereka lakukan selama dalam perjalanan, yaitu membela orang-orang yang tengah dalam kesulitan, dengan demikian menambah kegembiraan Giok Hoa, karena gadis ini baru pertama kali merantau.

Ko Tie juga banyak sekali memberitahukan tentang peraturan-peraturan di dalam rimba persilatan, yaitu tidak dapat sembarangan seseorang mencampuri urusan balas dendam dari golongan yang satu dengan golongan yang lain.

Dan semua ini merupakan salah satu pantangan dari orang-orang yang berkelana di dalam rimba persilatan. Apa lagi mencampuri dendam pribadi, akan membuat timbulnya salah pengertian yang memungkinkan orang tersebut yang bermaksud baik mencampuri urusan itu, akan dimusuhi ke dua belah pihak!

Justeru sekarang mereka tiba di Lam-yang dan gadis itu merasa telah lapar mengajak Ko Tie singgah di sebuah rumah makan. Siapa tahu kedatangan mereka dilihat oleh Thio Kim Beng, yang kenal siapa mereka!

Pengemis tua itu menundukkan kepalanya dalam-dalam, agar Ko Tie dan Giok Hoa tidak melihatnya.

Si gadis dan Ko Tie telah memasuki rumah makan itu. Benar mereka melewati si pengemis tua yang berdiri di pinggir pintu, tapi mereka tidak melihat siapa adanya pengemis tua itu, sebab mereka memang tidak memperhatikannya.

Thio Kim Beng sendiri mengenali bahwa pemuda itu adalah Ko Tie, murid dari Swat Tocu, orang yang telah membuat dia penasaran. Sedangkan si gadis itu adalah muridnya Yo Kouw-nio, si gadis anak angkatnya Sin-tiauw-tay-hiap Yo Ko.

Seketika itu juga melihat Ko Tie dan Giok Hoa, timbul penasarannya, karena dia segera ingat betapa ia diperlakukan tidak pantas oleh Swat Tocu. Karenanya, timbul juga sifat isengnya.

Dia ingin mempermainkan muda mudi itu. Segera juga dia telah menyingkir dan meninggalkan rumah makan tersebut.

Dikala itu, pelayan telah melayani Ko Tie dan Giok Hoa, ke dua tamu ini yang berpakaian sangat bersih, dan juga tampaknya merupakan orang-orang yang memiliki uang tidak sedikit, telah dilayani oleh pelayan dengan hormat sekali.

Memang dugaan pelayan itu tidak meleset karena tidak lama kemudian, setelah bersantap Giok Hoa menghadiahkan pelayan itu dua tail.

“Dimana rumah penginapan yang cukup baik di kota ini?” tanya Giok Hoa setelah dia memberikan hadiahnya itu.

“Ohhh, banyak nona, banyak!” kata pelayan itu segera. “Tiga rumah terpisah dari rumah makan ini, terdapat sebuah rumah penginapan yang cukup baik, kamarnya bersih-bersih!”

Giok Hoa mengangguk. Dan dia mengajak Ko Tie buat meninggalkan rumah makan itu.

Waktu itu, Ko Tie telah membereskan pauw-hoknya, dia kemudian menentengnya. Mereka keluar dari rumah makan. Namun dari arah luar, ketika mereka tengah melewati pintu, mendatangi seorang pemuda berpakaian necis dan sikapnya keagung-agungan.

Di belakang orang itu mengikuti beberapa orang laki-laki bertubuh tegap. Lagak orang yang berpakaian mewah itu, sangat tengik sekali. Dan malah, dia berjalan di tengah-tengah tanpa memperdulikan dari dalam tengah keluar Giok Hoa dan Ko Tie, sehingga pundaknya terbentur sedikit oleh Ko Tie.

“Ehhhh, manusia kurang ajar? Mengapa kau berani begitu kurang ajar tidak mau menyingkir melihat tuan mudamu ingin masuk, sehingga engkau telah mengotori bajuku?!” bentak pemuda berpakaian mewah tersebut.

Ko Tie tersenyum, dia bilang: “Maafkan, kamipun kebetulan sekali hendak keluar....... Kami tidak sengaja, maklum pintu ini memang tidak terlalu besar.....!”

Tetapi pemuda yang berpakaian mewah itu, yang berusia kurang lebih tigapuluh tahun, tidak mau mengerti juga. Baru saja dia mau memaki, dia melihat Giok Hoa, yang cantik jelita.

Bola matanya seketika memain, dan dia batal memaki lebih jauh. Dia malah tersenyum katanya: “Eh, eh, kukira siapa, tidak tahunya dengan seorang nona manis! adikmu? Atau memang kawanmu?”

Ko Tie melihat lagak pemuda itu yang demikian ceriwis, jadi mendongkol bukan main. Dia tidak menyukai pemuda itu, dan dia telah berkata: “Ya, adikku……!” Sambil hendak berjalan meninggalkan pemuda tersebut.

Sikap Ko Tie yang acuh tak acuh, membuat pemuda itu mendongkol lagi. Dia menarik lengan baju Ko Tie, sambil menggentak dan membentak: “Tunggu dulu! Apakah setelah bersalah kepada tuan mudamu engkau hendak pergi begitu saja tanpa meminta maaf dengan menjura sebanyak tiga kali?!”

Tubuh Ko Tie tertarik perlahan. Sikap kasar dari pemuda ini membuat Ko Tie pun tambah tidak senang.

Dia telah memutar tubuhnya menghadapi pemuda itu, katanya: “Ini adalah rumah makan umum, dan pintu ini memang satu. Jika saling bersentuhan apa salahnya? Mengapa engkau bertindak keterlaluan seperti itu? Aturan mana yang engkau pergunakan?!”

Mendengar teguran Ko Tie yang sama sekali tidak memperlihatkan perasaan jeri atau takut padanya, pemuda berpakaian mewah tersebut melengak, namun segera dia tersadar dari tertawa bergelak-gelak.

“Bagus! Bagus! Rupanya engkau belum mengenal siapa tuan mudamu ini, heh?” kata pemuda itu dengan congkak dan membusungkan dadanya.

Ko Tie tersenyum sinis, katanya: “Ya, memang kami belum lagi mengetahui siapa kau, dan jika engkau mau memperkenalkan diri, sebutkanlah namamu, karena kami juga ingin sekali mengetahui sebenarnya siapa engkau ini seorang pemuda yang congkak dan tidak tahu aturan!”

“Apa kau bilang? Kau berani berbuat kurang ajar di hadapan majikan kami?” berseru seorang lelaki bertubuh tinggi tegap yang berada di dekat pemuda itu. Malah sambil membentak dia mengulurkan tangan kanannya, bermaksud mencengkeram baju di dada Ko Tie.

Ko Tie memiringkan tubuhnya sedikit. Jambretan tangan itu gagal mengenai sasarannya dan jatuh di tempat kosong. Hal ini membuat orang itu jadi penasaran.

“Ehhhh…… engkau berani melawan, heh?” bentaknya, tinju tangan kirinya melayang akan menghantam muka Ko Tie.

Tindakan orang ini sudah melampaui batas, karenanya Ko Tie juga tidak bisa berdiam diri dan mengalah terus. Dia memiringkan kepalanya, menghindar dari tinju orang itu dan membarengi dengan itu, cepat sekali tangan kirinya menyampok.

“Dukkkk!” tubuh orang tersebut seketika kena disampoknya terpental keras sekali dan terbanting di tanah. Dalam keadaan seperti itu segera juga tampak, tubuh orang itu menggelepar-gelepar di tanah tanpa bisa segera bangun, seperti orang ayan.

Dan juga, dia mengerang-erang kesakitan. Dari mulutnya telah memuntahkan darah, hidungnya juga mengucurkan darah. Sebab waktu dia jatuh terjerembab akibat terkena sampokan tangan Ko Tie, dia mencium tanah, sehingga hidungnya bocor dan darah mengucur keluar!

Bukan main kagetnya pemuda berpakaian perlente itu. Dia memandang tersenyum dan mundur dua langkah karena kuatir Ko Tie memukulnya.

Sedangkan empat orang laki-laki lainnya yang semuanya bertubuh tinggi tegap, tampaknya pengawal pemuda itu, segera melompat mengurung Ko Tie. Merekapun bergerak buat menyerang Ko Tie.

Tapi Ko Tie bersikap tenang sekali. Dia telah menggerakkan pauw-hoknya, menghantam sekaligus ke empat orang itu sehingga jungkir balik semuanya.

Pemuda berpakaian perlente itu semakin ketakutan, dia tidak menyangka Ko Tie merupakan seorang pemuda yang tangguh.

“Kau….. kau berani memukul anak buah Cin Wan-gwe?” bentak seorang tukang pukul pemuda itu, yang telah melompat bangun. “Benar-benar engkau mencari mampus!”

“Hemmm, aturan apa yang kalian pergunakan sehingga malang melintang sekehendak kalian dan juga turun tangan mau memukul orang tidak pada tempatnya?!” tegur Ko Tie.

Orang yang bertubuh tinggi tegap itu, yang tadi membentak, dengan muka merah padam dan menakutkan telah mencabut goloknya. Dengan goloknya dia membacok.

Semua orang yang menyaksikan hal ini mengeluarkan jerit kaget, begitu juga para pelayan dan tamu-tamu di rumah makan atau orang-orang yang kebetulan lewat di depan rumah makan tersebut menyaksikan peristiwa tersebut.

Sedangkan pemuda berpakaian perlente itu tampak senang, hilang kagetnya, karena melihat anak buahnya mempergunakan goloknya. Dia yakin pemuda yang tangguh itu dapat dilukainya.

Giok Hoa berdiri di pinggir, dengan tenang dia mengerti segala macam bangsa buaya darat ini tak mungkin berdaya menghadapi Ko Tie. Dan Ko Tie tentunya tidak akan memperoleh kesulitan. Maka dari itu si gadis tetap berdiri tenang-tenang di tempatnya.

Ko Tie melihat menyambarnya golok, sama sekali dia tidak berusaha menyingkir, dia mengawasi saja golok yang tengah meluncur menyambar kepada dirinya.

Setelah golok itu menyambar dekat, tahu-tahu Ko Tie mengulurkan tangannya. Dia mementang ke dua jari tangannya, jari telunjuk dan jari tengah, menjepit golok itu.

Para pelayan rumah makan dan para tamu kaget tidak terhingga. Mereka membayangkan tentu tangan Ko Tie akan terbabat pecah dan robek oleh golok itu. Karenanya, mereka sampai ada yang menutup matanya dengan tangan tidak berani menyaksikan lebih jauh dan juga mereka telah mengeluarkau seruan tertahan.

Di kala itu golok yang telah dijepit oleh Ko Tie ternyata tidak bisa bergerak lebih jauh lagi, karena golok itu seperti telah dijepit oleh jepit besi.

Orang yang tadi membacok itu kaget. Dia semula girang karena melihat pemuda lawannya mengulurkan jari tangannya hendak menjepit goloknya. Dia mengerahkan tenaganya lebih besar, sehingga golok itu menyambar lebih cepat. Dia yakin tangan pemuda itu akan buntung terbelah dua.

Tapi kagetnya tidak terkira waktu goloknya itu terjepit sangat kuat sekali oleh jari tangan Ko Tie seperti juga goloknya tengah dijepit oleh japitan besi, sama sekali tidak bisa bergerak.

Mati-matian dia menarik goloknya itu, agar terlepas dari jepitan jari tangan pemuda tersebut tapi tetap saja tidak berhasil. Golok itu telah terjepit kuat sekali.

Bahkan diwaktu itu telah beberapa kali dia menambah tenaganya, mengemposnya dengan kuat, namun tetap tidak berhasil, membuat dia tambah penasaran dan mulai jeri.

Ko Tie tertawa dingin, katanya: “Hemmm manusia kejam, dengan sembarangan engkau memainkan senjata tajam buat bertindak sewenang-wenang. Jika saja orang yang engkau serang itu seorang yang tidak memiliki kepandaian apa-apa, tentu ia telah bercelaka dan terjadi urusan jiwa...... maka manusia seperti engkau harus dihajar.......!”

Sambil berkata begitu, Ko Tie telah mengerahkan tenaga dalamnya pada ke dua jari telunjuk dan jari tengahnya. Dia menggentaknya sedikit, maka terdengar suara “Tranggg!” nyaring sekali golok itu telah menjadi patah dua.

Semua orang yang menyaksikan peristiwa tersebut jadi memandang bengong. Mereka kaget dan kagum, sebab dengan hanya menggunakan jari tangannya, Ko Tie bisa mematahkan golok tersebut.

Pemuda berpakaian parlente itu juga jadi ciut nyalinya, dia segera tersadar bahwa Ko Tie merupakan seorang yang tangguh dan tentunya bukan pemuda sembarangan.

Kawan-kawan orang bertubuh tinggi besar itu juga tergetar hati mereka, dan nyalinya telah ciut. Mereka tidak berani maju menyerang lagi, semuanya hanya memandang bengong.

Ko Tie sendiri tanpa menoleh lagi telah mengajak Giok Hoa buat berlalu meninggalkan rumah makan tersebut. Semua orang hanya mengawasi bengong saja.

Ko Tie mengajak Giok Hoa sambil menuntun kuda mereka masing-masing, pergi ke rumah penginapan yang letaknya tidak jauh dari rumah makan itu, hanya terpisah empat rumah saja. Mereka meminta pada pelayan rumah penginapan tersebut, agar disiapkan dua kamar untuk mereka.

Pelayan rumah penginapan itu juga tadi waktu ada ribut-ribut telah keluar melihatnya dan mengetahui bahwa Ko Tie seorang pemuda yang memiliki kepandaian tinggi. Biasanya tidak ada seorangpun di kota ini yang berani melawan anak buah Cin Wan-gwe, pemuda berpakaian perlente itu.

Namun Ko Tie dengan mudah merubuhkan anak buah dari Cin Wan-gwe itu. Dengan demikian pelayan tersebut memperlakukannya dengan hormat sekali.

Ko Tie dan Giok Hoa memperoleh dua kamar yang saling sebelah menyebelah. Dan mereka duduk bercakap-cakap di luar kamar, di sebuah meja yang memang disediakan oleh penginapan tersebut.

Tengah mereka bercakap-cakap menceritakan kelancangan pemuda kurang ajar dan juga anak buahnya itu tiba-tiba pelayan rumah penginapan yang tadi melayani mereka, telah berlari-lari masuk. Wajahnya pucat pias, sikapnya yang gugup bukan main. Dia berkata dengan terbata-bata:

“Celaka Kongcu, Kouw-nio…… celaka...... mereka….. mereka datang……!”

Ko Tie tersenyum.

“Tenanglah, katakanlah apa yang terjadi!” kata Ko Tie kemudian menenangkan pelayan itu.

Pelayan tersebut dengan wajah masih pucat dan tubuh mengigil takut, telah berkata dengan suara masih tergagap.

“Cin Wan-gwe..... mereka datang......! Cin Wan-gwe datang bersama belasan orang tukang pukulnya. Semuanya membekal senjata tajam. Mereka..... mereka galak sekali, tentu rumah penginapan ini akan mengalami kerusakan…..

“Harap Kongcu dan Kouw-nio segera angkat kaki saja meninggalkan rumah penginapan ini melalui jendela! Karena mereka sekarang masih berada di luar!

“Jika memang kalian tidak sempat melarikan diri, niscaya akan menyebabkan mereka keburu masuk, kalian tidak akan dapat menyelamatkan jiwa masing-masing…… Mereka biasa membunuh manusia seperti membunuh binatang.....!”

Ko Tie tersenyum dan berterima kasih atas maksud baik pelayan itu, yang menganjurkannya agar melarikan diri, dan menghindar dari Cin Wan-gwe dan orang-orangnya itu. Dia merogoh sakunya, mengeluarkan lima tail perak.

“Ini untukmu, Lopeh…… terima kasih buat kebaikan hatimu!” kata Ko Tie.

Pelayan itu jadi bengong, mukanya masih pucat, dia mengawasi Ko Tie dan uang di tangannya.

“Ini..... ini……!” katanya gugup sekali, karena pemuda ini bukan cepat-cepat mengajak si gadis melarikan diri dengan ketakutan, malah dengan tersenyum tenang telah menghadiahkannya uang banyak itu.

“Ambillah, kami akan menghadapi mereka, Lopeh jangan kuatir, kami tidak akan mengalami sesuatu yang tidak enak……!”

Baru saja Ko Tie berkata sampai di situ, telah terdengar suara berisik dari luar rumah penginapan.

Disusul juga kemudian dengan seruan. “Mana anjing kurap itu.....! Hari ini tentu kami akan memperlihatkan bahwa Cin Wan-gwe bukan sebangsa manusia yang mudah dihina!”

Dan tampak belasan tubuh menerobos masuk ke dalam rumah penginapan,

Beberapa tamu yang kebetulan berada di ruangan tersebut, segera melarikan diri masuk ke dalam kamar mereka masing-masing.

Ko Tie dengan tenang melangkah maju mendekati orang-orang itu, katanya: “Aku di sini…… apa yang diinginkan oleh kalian heh? Atau memang tadi kurang puas dan minta dihajar lagi?!”

Belasan orang itu mengeluarkan seruan yang berisik sekali, mereka umumnya memiliki wajah yang sangat galak dan tubuh tinggi besar:

“Itu dia…… anjing kurap tidak tahu diuntung, kau akan kami cincang……!”

Sambil berkata begitu, dua orang anak buah Cin Wan-gwe telah melompat ke depan Ko Tie, golok di tangan mereka menyambar cepat sekali, akan membacok kepada pemuda itu.

Ko Tie bersikap tenang, begitu golok menyambar datang, ke dua tangannya bergerak sebat sekali. Dia telah menepuk ke dua tangan orang itu, yang seketika lenyap tenaganya, karena masing-masing merasakan tangan mereka seperti semper dan golok mereka terlepas dari cekalan masing-masing, berkontrang jatuh di lantai.

Belum lagi ke dua orang itu mengetahui apa-apa, ke dua tinju Ko Tie telah meluncur, masing-masing singgah di dada dari lawannya, sehingga tubuh ke dua orang itu terpental sambil mengeluarkan suara jeritan yang mengandung kesakitan. Mereka telah terbanting di lantai dan mengerang-erang kesakitan tidak bisa segera bangun.

Sedangkan waktu itu, beberapa orang kawannya dengan segera menerjang maju. Mereka membacok dan menabas dengan berbagai senjata tajam. Tetapi Ko Tie dengan lincah mengelakkan ke sana ke mari dari sambaran senjata tajam lawan-lawannya itu.

Dengan demikian, lawannya seperti juga kehilangan sasaran, karena di waktu itu tubuh Ko Tie berkelebat-kelebat dan tidak bisa dilihat dengan jelas.

Disaat itulah Ko Tie turun tangan. Mereka telah dipukulnya seorang demi seorang, yang pada malang melintang jungkir balik terbanting di lantai.

Suara jeritan mereka juga terdengar beruntun saling susul. Dalam waktu yang singkat belasan orang itu telah malang melintang menggeletak di lantai tidak bisa bergerak, karena semuanya pingsan.

Saat itu, Cin Wan-gwe, waktu datangnya dengan membusungkan dada dan angkuh, sekarang nyalinya pecah dan ketakutan setelah menyaksikan belasan orang tukang pukulnya menggeletak malang melintang di lantai tanpa berdaya. Dia berdiri dengan tubuh menggigil keras sekali.

Tadi memang dia penasaran dan telah membawa belasan tukang pukulnya buat membunuh Ko Tie, namun ia tidak menyangka bahwa pemuda itu memang tangguh sekali. Karena di dalam waktu yang sangat singkat sekali Ko Tie telah berhasil merubuhkan orang-orangnya. Jelas hal ini membuat dia berbalik jadi ketakutan bukan main.

Ko Tie tertawa dingin, tubuhnya melesat sangat cepat sekali. Tangannya diulurkan menjambret baju orang she Cin itu yang segera diangkat dan dibantingnya di atas lantai sehingga Cin Wan-gwe itu menjerit-jerit kesakitan. Dia juga meraung meminta ampun.

Tapi Ko Tie telah menginjak tubuhnya membuat Cin Wan-gwe tidak bisa merangkak bangun. Dan dia memohon tidak hentinya kepada Ko Tie agar dia jangan disiksa.

Di waktu itu Ko Tie tertawa dingin, dia bilang: “Engkau biang keladinya, dan engkau yang harus dibunuh!”

Bukan main ketakutannya Cin Wan-gwe. Biasanya dia merupakan seorang hartawan kaya yang muda usia, paling galak dan bertindak sewenang-wenang di kota Lam-yang.

Tidak ada yang ditakutinya, karena dia memang memiliki banyak sekali kaki tangan dan tukang pukul yang selalu siap buat menindas orang-orang yang tidak disukai oleh Cin Wan-gwe. Malah, diapun telah mempergunakan kekuatan uangnya buat mempengaruhi para pembesar.

Dengan demikian, dia bisa saja menjebloskan orang-orang yang tidak disukainya itu ke dalam penjara. Dan itulah yang akhirnya membuat Cin Wan-gwe jadi tambah kepala besar dan dia telah malang melintang di kota Lam-yang sebagai cabang atas yang ditakuti dan disegani penduduk.

Ketika dia berusia belasan tahun, ayahnya yang kaya raya telah meninggal dunia. Dengan demikian membuat warisan orang tuanya jatuh di tangannya. Tapi dia tidak mempergunakan uang warisan itu dengan baik-baik, malah dia berfoya-foya dan juga telah memelihara tukang pukul yang banyak sekali jumlahnya.

Dimana dengan mengandalkan uangnya, dan juga dengan usianya yang masih muda, Cin Wan-gwe telah malang melintang. Selama itu memang tidak ada orang yang berani menentangnya.

Tapi sekarang ini, siapa tahu justeru dia telah kena batunya, dengan demikian membuatnya benar-benar ketakutan, sebab Ko Tie merupakan pemuda yang tangguh sekali.

Belasan orang tukang pukulnya yang lengkap dengan senjata tajam mereka, dengan mudah sekali telah dirubuhkan oleh Ko Tie. Dan sekarang Ko Tie mengatakan bahwa dia hendak membunuh Cin Wan-gwe ini, membuatnya jadi ketakutan bukan main.

“Ampun…… aku tidak berani bertindak jahat lagi….. aku akan merobah kelakuanku yang buruk...... dan aku akan menghadiahkan Siauwhiap uang yang cukup banyak……!” sesambatan si pemuda she Cin yang kaya raya namun buruk hati dan sifatnya itu.

“Plakkkk!” muka Cin Wan-gwe telah ditampar Ko Tie.

Mata Cin Wan-gwe berkunang-kunang, kepalanya juga jadi mabok, karena tamparan itu keras sekali. Malah dia merasa sakit pada mulutnya, karena bibirnya telah pecah akibat kuatnya tamparan itu dan dua giginya telah copot sebagian.

“Baik! Kali ini aku mengampuni jiwa anjingmu, tapi ingat, jika memang suatu saat engkau melakukan perbuatan yang tidak baik…… hemmmmm, hemmmm, walaupun di waktu itu engkau sesambatan memohon-mohon pengampunan dariku, tentu aku tidak akan mengampuni jiwa busukmu.....! Mengerti?”

“Mengerti…… terima kasih Siauwhiap..... terima kasih!” kata Cin Wan-gwe sesambatan. Hatinya lega juga mendengar dia akan diampuni. “Aku berjanji akan merobah kelakuanku dan tidak akan melakukan kejahatan lagi!”

Baru saja dia berkata begitu, dia menjerit, “Aduhhhhh!” yang keras sekali, karena kaki kanan Ko Tie telah melayang menendangnya, sehingga tubuh Cin Wan-gwe terpental keluar pintu rumah penginapan tersebut.

Dengan tenang Ko Tie mengajak Giok Hoa kembali ke tempat duduk mereka.

Sedangkan belasan orang anak buah Cin Wan-gwe telah tersadar. Mereka juga cepat-cepat angkat kaki, karena menyadari bahwa lawan mereka merupakan pemuda yang tangguh, yang sulit sekali dihadapi.

Giok Hoa tertawa geli.

“Sungguh lucu manusia-manusia busuk itu. Terhadap orang yang lemah, mereka memperlihatkan taring, tetapi jika kena batunya mereka menjadi manusia yang paling pengecut di dalam dunia ini.....!”

“Ya, demikianlah keadaan di dalam dunia persilatan. Karena dari itu, betapa pentingnya seseorang mempelajari ilmu silat yang tinggi, sehingga tidak akan menerima perlakuan yang bisa membuatnya penasaran!” menyahuti Ko Tie

Setelah bercakap-cakap lagi beberapa saat, akhirnya mereka berpisahan buat kembali ke kamar masing-masing, untuk beristirahat.

Y

Malam itu keadaan di luar rumah penginapan di kota Lam-yang sangat sepi. Tamu-tamu di rumah penginapan itu juga telah terlelap di dalam tidur mereka, dan dibuai oleh mimpi-mimpi yang mengasyikkan.

Ko Tie sendiri telah tertidur nyenyak, mereka seharian suntuk melakukan perjalanan yang cukup melelahkan. Karena dari itu, Ko Tie telah tertidur lelap begitu dia merebahkan tubuhnya di pembaringan.

Tapi Giok Hoa justeru belum bisa tidur, walaupun dia telah memejamkan matanya rapat-rapat dan berusaha tidur. Entah mengapa, timbul perasaan rindunya kepada gurunya, Yo Kouw-nio. Telah sebulan mereka berpisah, dan sekarang barulah Giok Hoa merasakan, betapa dia merindukan untuk bersama-sama dengan gurunya, bercakap cakap dengan gembira.

Dan juga Giok Hoa tengah memikirkan, betapa di dalam rimba persilatan dia menemui sekali peristiwa-peristiwa yang semula belum pernah dia menyaksikannya.

“Ya, dengan berkelana seperti ini, memang aku akan bertambah pengalaman, tetapi akupun harus berusaha menegakkan keadilan! Dengan demikian, aku tidak mengecewakan harapan suhu, agar aku menjadi seorang yang berbudi luhur dan mulia menegakkan nama besar suhu dan perguruanku.........! Ya, memang aku harus berusaha menjaga nama baik suhu, agar tidak sampai ternoda oleh perbuatan yang tidak terpuji.....!”

Sambil berkata begitu, si gadis tersenyum manis sambil memandangi langit-langit, karena di saat itu dia segera teringat kepada Ko Tie.

Dulu waktu mereka masih berada di puncak Heng-san, Ko Tie pernah menyampaikan isi hatinya.

Dan sekarang, mereka telah melakukan perjalanan berkelana hanya berdua. Namun sejauh itu Ko Tie memperlihatkan sikap yang sopan dan lembut, sama sekali tidak terlihat tanda-tanda bahwa dia ingin bersikap kurang ajar padanya.

Memang dia pun merasakan, bahwa dia memiliki perasaan aneh terhadap Ko Tie. Cuma saja, dia ingat benar akan nasehat gurunya, yang berpesan agar dia baik-baik menjaga diri, dan walaupun dia tidak dilarang bergaul intim dan akrab dengan Ko Tie, tetapi harus memiliki batas-batas.

Waktu menasehati dirinya, gurunya juga telah memohon satu janji darinya, yaitu Giok Hoa tidak akan mencemarkan nama baik-baik gurunya dan dapat menjaga diri baik-baik!

“Suhu…… tentu saja aku akan dapat menjaga diri baik-baik! Memang aku menyukai Ko Tie Koko....... tetapi, jelas aku akan menghajarnya jika saja dia berani berlaku tidak baik dan kurang ajar padaku, jika perlu membunuhnya!” menggumam gadis itu sambil tersenyum manis.

Dan berkelana berdua dengan Ko Tie, pemuda yang disenanginya itu, benar-benar membawa kegembiraan buatnya. Karena dari itu, dia sendiri semakin kerasan buat berkelana di dalam rimba persilatan.

Rasa rindu kepada gurunya berangsur mulai berkurang pula, karena dia telah dapat mengendalikan hati dan perasaannya. Si gadis memejamkan matanya dan coba tidur.

Di luar rumah penginapan itu, kegelapan malam, tampak sesosok bayangan berlari-lari lincah sekali di atas genting. Gerakannya begitu ringan, sehingga kakinya, setiap kali hinggap di genting rumah penduduk dan akhirnya berada di atas genting rumah penginapan tersebut, sama sekali tidak memperdengarkan suara sedikit pun juga. Itu telah membuktikan bahwa gin-kang orang tersebut tinggi dan mahir sekali.

Satu demi satu jendela kamar di rumah penginapan itu diperiksanya. Dia seperti tengah mencari-cari dan menyelidiki seseorang yang menginap di rumah penginapan tersebut.

Sampai akhirnya dia mengintai kamar di mana Giok Hoa berada. Bibir sosok bayangan itu tersenyum, ternyata, di bawah sinar rembulan, dia adalah seorang pengemis tua yang tidak lain dari pada Thio Kim Beng!

Kedatangannya di rumah penginapan ini di malam hari, memang dia hendak mempermainkan Giok Hoa dan Ko Tie. Dia sengaja menyatroni kamar si gadis.

Di waktu itu, dia juga melihat api penerangan kamar si gadis belum dipadamkan. Bibir si gadis tengah tersenyum-senyum, dengan sepasang mata yang tertutup rapat, tampaknya ada sesuatu yang tengah dipikirkan oleh si gadis, yang sangat menyenangkan sekali, sehingga dia tersenyum-senyum begitu.

Thio Kim Beng mengangkat tangannya, dia mengetuk tiga kali jendela si gadis.

“Selamat malam, nona……!” panggilnya dengan suara perlahan.

Tapi semua itu sempat membuat Giok Hoa melompat dari pembaringannya, seperti juga disengat oleh kalajengking, dengan muka berobah sebentar merah dan sebentar pucat dia telah memandang tajam ke arah jendela! Diapun berada dalam sikap bersiap-siap buat menghadapi kemungkinan serangan menggelap dan membokong!

Thio Kim Beng yang masih berdiam di luar jendela kamar si gadis, telah memperdengarkan tertawanya, katanya: “Mengapa terkejut nona manis……!”

Giok Hoa tidak bisa menahan diri lebih lama lagi. Dia menyambar pedangnya, kebetulan memang dia belum salin pakaian.

Cepat sekali tubuhnya melesat ke jendela kamarnya, di bukanya sambil memutar pedangnya buat melindungi dirinya dari serangan membokong, kemudian tubuhnya melesat keluar dengan muka merah padam karena marah!

Di bawah cahaya rembulan yang redup, dilihatnya sesosok bayangan tengah berlari menjauhi diri.

“Kejarlah jika engkau berani!” tantang sosok bayangan itu, yang tidak dapat dilihatnya dengan jelas.

Giok Hoa penasaran, segera juga dia berlari dengan cepat sekali, tubuhnya bagaikan bayangan melesat mengejar orang itu. Namun sosok bayangan itu berlari dengan pesat sekali.

Semakin cepat Giok Hoa mengejarnya, semakin cepat pula dia berlari. Begitulah jarak di antara mereka tetap terpisah dalam jarak yang tertentu, di mana gadis ini tidak bisa menghampiri jarak antara mereka.

Semakin lama Giok Hoa semakin penasaran, dan dia telah mengempos seluruh gin-kang nya, berlari sekuat tenaganya berusaha mengejar sosok tubuh itu. Sampai akhirnya dia mengejar di luar kola Lam-yang.

Waktu melompat keluar dari perbentengan kota, sesungguhnya Giok Hoa sudah ragu-ragu. Namun sosok tubuh itu terus juga mengejeknya membuat gadis ini jadi tambah penasaran dan marah.

Tanpa memikirkan sesuatu apapun lagi, dia telah mengejarnya dengan pedang terhunus tercekal di tangan kanannya, siap akan dipergunakan menyerang kepada sosok tubuh tersebut, jika saja ia berhasil mengejarnya.

Tapi sosok tubuh tersebut berlari ke arah hutan lebat, dan kemudian hilang tidak tampak jejaknya pula. Giok Hoa semakin penasaran, dia mencari-cari di sekitar hutan itu.

Namun sudah sekian lama, akhirnya dia kembali ke rumah penginapan dengan jengkel sekali, sebab merasa telah dipermainkan oleh orang yang tidak dikenalnya itu. Dia mengetuk pintu kamar Ko Tie waktu tiba di rumah penginapan, karena ia memang bermaksud hendak memberitahukan kepada Ko Tie apa yang telah dialaminya itu.

Ko Tie bangun dengan segera, iapun tampak tidur tanpa membuka pakaiannya, karena ia masih berpakaian lengkap, dan dapat membuka pintu kamarnya dalam waktu yang singkat sekali.

Dengan napas masih memburu, si gadis telah menceritakan apa yang telah dialaminya. Dan juga telah dikatakannya, bahwa orang yang mengganggunya itu tampaknya dilihat dari bentuk tubuhnya adalah seorang laki-laki tua.

“Malah, jika memang tidak salah, aku telah melihat samar-samar. Dia adalah seorang pengemis, karena dalam kegelapan malam kulihat pakaiannya itu penuh tambalan!” Menambahkan gadis tersebut.

Ko Tie tampak terkejut, diapun berseru: “Celaka!”

“Kenapa?” tanya si gadis, yang memandang heran kepada Ko Tie, di mana wajah Ko Tie memperlihatkan ketegangan.

“Cepat kita harus memeriksa kamarmu! Ku duga engkau telah dipancing orang lain…..!” Menjelaskan Ko Tie sambil menarik tangan si gadis.

Sedangkan Giok Hoa mengikuti saja, dia membuka pintu kamarnya. Keadaan di dalam kamarnya masih tetap seperti semula, tidak ada perobahan. Dan juga terlihat daun jendela masih terbuka lebar, dari mana bersilir angin yang sejuk sekali.

“Cepat kau periksa apakah di antara barang-barangmu ada yang hilang?” kata Ko Tie kemudian, sambil memandang sekelilingnya.

Giok Hoa heran, tapi dia sangat cerdik, maka cepat sekali dia bisa mengerti apa yang dikuatirkan Ko Tie. Dia segera pergi ke tepi pembaringannya, buat memeriksa buntalannya. Namun, si gadis jadi berseru kaget. Dan dia telah menoleh kepada Ko Tie dengan wajah yang berobah pucat.

“Barangku…… pauw-hokku telah hilang.....” kata si gadis kemudian.

Ko Tie menghela napas dalam-dalam.

“Tentu orang yang memancingmu itu bukan orang baik-baik. Tentunya dia si pencuri tangan panjang…… Dia sengaja memancing kau meninggalkan kamar ini dengan tipu “Memancing Harimau Meninggalkan Sarangnya”, dan dia berhasil.

“Engkau telah kena diperdayanya, di mana engkau kena dipancing meninggalkan kamar ini, kemudian dia menghilang, meninggalkan engkau kembali ke kamar ini buat menggasak barang-barangmu!

“Maka dari itu, di lain waktu engkau harus lebih waspada dan hati-hati! Demikianlah di dalam rimba persilatan memang seringkali terjadi urusan seperti ini…… karena itu, jika saja kita kurang berhati-hati, niscaya akan membuat engkau akhirnya menderita kerugian-kerugian yang tidak kecil!

“Ini bagus, hanya pauw-hokmu saja yang hilang, karena di dalam pauw-hokmu itu tidak terdapat barang berharga yang harus dilindungi! Jika memang engkau membawa mustika yang harus dilindungi, sekarang kena diambil pencuri tangan panjang itu, bagaimana engkau bisa mempertanggung jawabkannya?!”

Si gadis tampak bersedih dan juga bercampur marah, dengan geram katanya: “Jika memang aku berhasil mencari jejak pencuri laknat itu, akan kupatahkan batang lehernya.....!”

Ko Tie tertawa kecil.

“Kita sulit mencari jejaknya, karena dia telah membawa kabur pauw-hokmu, tentu ia tidak berani berkeliaran di tempat ini lagi! Sehingga bagaimana kita harus mencarinya?”

*** ***
Note 20 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Saat hidup tidak memberimu senyuman, beri dia sedikit gelitikan."

(Regards, Admin)

0 Response to "Anak Rajawali Lanjutan (Beruang Salju) Jilid 24"

Post a Comment

close