Anak Rajawali Lanjutan (Beruang Salju) Jilid 10

Mode Malam
 
Anak rajawali Jilid 10
Cepat-cepat Yo Him mengurangi tenaga serangannya itu, dia menarik pulang sebagian besar tenaganya sehingga cengkeramannya itu tidak terlalu hebat, segera juga Yo Him telah mencengkeram baju Bun Kie Lin. Dia menghentaknya.

Namun Bun Kie Lin rupanya benar-benar telah nekad, karena dia membiarkan saja tanpa ada perlawanan, dia telah meneruskan pekerjaannya menguruti jalan darah-jalan darah di tubuh Hok An.

Dan dengan demikian, waktu Yo Him menariknya, tubuh Bun Kie Lin tertarik ke belakang.

Yo Him jadi tidak tega. Jika dia menarik sedikit lagi, Bun Kie Lin akan terjengkang. Tentu ini akan membuat hati Yo Him tidak enak, sebab sikap mencegahnya hanyalah disebabkan dia ingin memancing adat aneh orang ini belaka. Dan sebenar-benarnya malah dia mengharapkan sekali pertolongan atas pengobatan di diri Hok An.

Cepat-cepat Yo Him melepaskan cengkeramannya, dia melompat beberapa tombak, kemudian bentaknya:

“Kau berdirilah, marilah kita main-main seratus jurus! Aku tidak akan bertindak sepengecut itu, menyerang orang yang tidak melawan!”

Bun Kie Lin hanya melirik, katanya dengan suara menggumam, “Aku tidak sempat melayani dirimu, aku tengah mengobati kawanmu ini. Jika aku telah selesai, maka kalau kau masih ingin main-main denganku, aku akan melayaninya.....!”

Sambil menggumam seperti itu, tampak Bun Kie Lin terus juga mengurut dengan urutan yang teratur, sama sekali dia tidak memperlihatkan sikap kuatir dirinya akan diterjang dan dihantam oleh Yo Him.

Sedangkan Yo Him memang sengaja mencari-cari alasan, agar ia bisa berhenti menerjang pada Bun Kie Lin, karena itu, sengaja menonjolkan tentang kesatriaan, dan juga kegagahan yang tidak akan menyerang seseorang yang tidak melawan. Katanya:

“Hemmm, engkau lancang sekali mencoba mengobati kawanku itu! Tentu kawanku itu bukannya sembuh, malah akan bertambah celaka! Karena itu, setelah engkau mengobati kawanku itu hemm, hemmm, aku akan membuat engkau bercacad!

“Tetapi aku tidak menginginkan engkau ini menerima seranganku dengan berdiam diri tanpa memberikan perlawanan. Itulah yang tidak kuinginkan. Maka, jika memang engkau mau untuk main-main seratus jurus denganku, mari, ke marilah.....!”

Tetapi Bun Kie Lin tidak memperdulikannya, terus juga dia telah mengobati dengan cara mengurut sekujur tubuh dari Hok An.

Di waktu itu Yo Him juga berdiam diri, karena dia memang ingin sekali membiarkan dan memberikan kesempatan kepada Bun Kie Lin buat mengobati Hok An. Kata-katanya tadi hanya sebagai alasan buat memancing adat anehnya orang she Bun tersebut. Ternyata siasatnya itu berhasil, sehingga dia bisa membiarkan Bun Kie Lin mengobati Hok An.

Setelah lewat sekian lama, rupanya Bun Kie Lin sangat letih sekali, keringat telah mengucur deras dari kening, muka dan tubuhnya.

Sasana dan Giok Hoa telah menghampiri Yo Him, berdiri di samping Yo Him. Hati mereka girang sekali.

Sedangkan Ho Sin-se hanya mengawasi cara pengobatan yang tengah dilakukan oleh Bun Kie Lin, dia tertarik sekali, karena diam-diam, dia telah mengingatnya cara mengurut tersebut, yang akan dipraktekkannya kelak kepada pasien-pasiennya penduduk kampung di mana dia tinggal.

Dengan begitu, menurut Ho Sin-se, inilah suatu keberuntungannya, karena dia telah berhasil untuk menyaksikan cara pengobatan dengan mengurut seperti itu. Dan juga dilihatnya betapapun juga memang Bun Kie Lin memiliki kepandaian yang luar biasa dalam hal pengobatan.

Tubuh Hok An yang semula membengkak itu berangsur-angsur mulai mengempis kembali. Dan juga terlihat Hok An mulai pulih kesehatannya. Penderitaannya berkurang. Dia sudah tidak mengigau dan merintih kesakitan lagi. Mukanya yang semula membengkak besar itu berangsur-angsur mengempis dan warna memerah mulai tampak di pipinya.

Sedangkan Bun Kie Lin masih terus mengurut dengan mengerahkan tenaga lweekangnya pada ke dua tangannya, di mana dia mengurut semua jalan darah terpenting di tubuh Hok An.

Dalam keadaan seperti itu, Yo Him diam-diam memuji di dalam hatinya. Dia kagum juga atas ilmu pengobatan yang dimiliki oleh Bun Kie Lin. Karena, hanya dalam waktu yang sangat singkat sekali, dia telah berhasil untuk mengobati Hok An, di mana sudah terlihat kemajuan pada diri Hok An.

Jika sebelumnya muka Hok An, dan juga tubuhnya membengkak, sekarang ini justeru mulai mengempis dan Hok An pun dapat tertidur. Tampaknya tenang sekali.

Kemudian tampak Bun Kie Lin telah menghembuskan napasnya dalam-dalam, dia melompat berdiri sambil katanya: “Sudah! Kawanmu ini sudah sembuh.....”

Dikala itu, Yo Him sengaja tertawa mengejek.

“Hemmm, sekarang engkau telah selesai, mari, ke marilah, mari kita mulai main-main.....!” ajak Yo Him.

Tetapi Sasana menimpali.

“Tentu saja tidak bisa sekarang. Jika memang Bun Lopeh itu melayani engkau, berarti engkau menarik keuntungan dari kesempatan yang ada ini buat keuntungan yang tidak kecil, karena sekarang Bun Lopeh itu tengah letih sekali. Dia telah mempergunakan lweekangnya buat menguruti dan mengobati luka pada diri Hok Lopeh.....!”

Mendengar perkataan Sasana, Yo Him tertawa, dia telah berkata menimpalinya: “Benar. Biarkanlah dia mengasoh dulu, dan nanti setelah letihnya berkurang, barulah kita main-main seratus jurus. Jika sekarang, tentu engkau akan menuduh aku sebagai seorang yang menarik keuntungan di saat engkau tengah letih dan engkau jika kurubuhkan dengan mudah, tentunya engkau akan penasaran dan tidak menerima kekalahanmu itu.....!”

Setelah berkata begitu, tampak Yo Him mengangguk kepada Sasana, memberikan isyarat agar isterinya itu menimpali lagi kata-katanya:

“Ya, itulah baru perbuatan seorang enghiong yang tidak mau menarik kesempatan dikala lawan tengah letih, karena itu, jika memang nanti setelah Bun Lopeh itu segar kembali, dan kalian main-main seribu jurus, tentunya hal itu dapat ditentukan oleh kepandaian kalian yang sejati! Jika sampai kau berhasil merubuhkan Bun Lopeh, tentunya diapun akan kalah dengan hati yang puas.....!”

Bun Kie Lin tertawa dingin, katanya: “Untuk beberapa hari ini aku tidak bisa melayani engkau! Aku harus mengobati terus kawanmu ini.....!”

“Sudah kukatakan, aku tidak mengijinkan engkau menyentuh kawanku itu karena bukannya dia bisa diobati, malah tentunya dia akan kau binasakan dan celakakan dengan obatmu yang tidak keruan itu..... .....!” kata Yo Him.

Bukan main-main mendongkolnya Bun Kie Lin, dia bilang: “Jika memang kawanmu ini bercelaka oleh obatku, maka aku akan membiarkan leherku ini dipenggal olehmu! Kau bisa melihatnya nanti hasil pengobatanku, apakah kawanmu ini akan sembuh atau tidak......!”

Waktu itu Hok An tidur tenang sekali, ia seperti sudah tidak merasakan sakit, dan juga napasnya telah berjalan teratur. Dia sudah tidak mengigau seperti tadi, dan juga Ho Sin-se yang berada di sampingnya bukan main kagumnya melihat keliehayan dari Bun Kie Lin, yang dapat mengobati dan juga mengurangi rasa sakit Hok An di dalam waktu yang begitu singkat.

◄Y►

Yo Him melirik kepada Sasana, katanya perlahan: “Mari kita pergi ke sana.....” Dan Yo Him berkata begitu, dia menunjuk kepada sebatang pohon yang terpisah cukup jauh dari tempat mereka.

Setelah Sasana mengangguk, sengaja Yo Him berkata kepada Bun Kie Lin: “Baiklah, walaupun aku tidak mempercayai bahwa engkau akan dapat mengobati luka dari kawanku itu, tetapi aku justeru hendak melihatnya, apakah benar kata-katamu itu, yang menyatakan bahwa engkau akan berhasil mengobati luka kawanku itu!

“Jika memang engkau dapat mengobati kawanku itu, inilah suatu urusan yang benar-benar tidak bisa kupercaya, bahwa orang seperti engkau bisa mengobati luka kawanku sampai sembuh! Tetapi jika memang kawanku itu bertambah parah lukanya dan juga kemungkinan meninggal, engkau tidak akan mungkin lolos dari hukumanku, yaitu engkau kubuat bercacad......!”

Setelah berkata begitu, Yo Him memperhatikan keadaan Bun Kie Lin, dia ingin melihat reaksi orang tersebut. Tetapi Bun Kie Lin tetap duduk bersemedhi, sama sekali dia tidak memperdulikan perkataan Yo Him, dan dia masih terus mengatur jalan pernapasannya.

Yo Him berkata lagi lebih nyaring: “Sekarang karena engkau memang tidak mau memberikan perlawanan kepadaku, akupun tidak bisa memaksamu..... karenanya, walaupun sampai kapan, aku akan menunggu engkau, sampai engkau mau main-main bertempur denganku sebanyak seribu jurus..... Aku akan menunggu, walaupun seminggu, sebulan ataupun setahun.”

Setelah berkata begitu, Yo Him menoleh lagi kepada Sasana dan Giok Hoa, dan telah mengajak mereka ke bawah sebatang pohon itu, untuk menjauhi Bun Kie Lin.

Waktu mereka telah duduk di bawah batang pohon yang cukup tinggi dan besar itu, Sasana sudah tidak sabar, segera bertanya dengan hati yang agak gelisah, yaitu kuatir dan gembira: “Bagaimana Yo Him..... Apakah Hok Lopeh akan tertolong? Tampaknya memang Bun Kie Lin memiliki ilmu pengobatan yang luar biasa, di mana dalam waktu yang sangat singkat sekali, dia telah berhasil mengurangi bengkak di tubuh Hok Lopeh.....!”

Yo Him mengangguk.

“Ya, menurut apa yang kulihat juga begitu..... akan tetapi, tampaknya dia memang memiliki sifat yang sangat aneh, jika kita memohon, maka dia akan menolak. Walaupun harus mati, dia tetap akan menolak.

“Tetapi jika kita menolak keinginannya, malah dia akan menjadi nekad memperjuangkan keinginannya itu, buat mencapai maksudnya itu. Dan walaupun dia akan dihantam mampus, tetap saja dia akan melaksanakan keinginannya itu!

“Memang tampaknya Hok Lopeh akan tertolong lihatlah, sekarang saja dia telah .dapat tidur dengan tenang, tanpa mengigau lagi, dan juga bengkak pada tubuhnya mulai mengempis......”

Sasana memperlihatkan sikap yang girang bukan main, sedangkan Giok Hoa tertawa berseri-seri.

“Benarkah paman Hok akan sembuh?” tanya Giok Hoa kemudian

Yo Him mengangguk sambil tersenyum.

“Karena itu, engkau jangan salah paham. Memang tadi sengaja aku merintanginya, agar dia semakin kuat keinginannya untuk mengobati paman Hok mu itu..... dan sekarang, benar-benar dia mengobati paman Hokmu itu......

“Tampaknya paman Hok mu itu telah memperoleh kemajuan yang pesat sekali, tidak lama lagi dia tentu akan sembuh keseluruhannya! Bun Kie Lin ternyata memiliki ilmu pengobatan yang benar-benar mengagumkan sekali!”

Setelah berkata begitu, Yo Him melirik kepada Bun Kie Lin yang waktu itu telah selesai dengan pengaturan napasnya dan mulai menguruti lagi sekujur tubuh Hok An.

Setiap urutan tangannya itu mengandung kekuatan tenaga dalam. Diapun mengurut pada jalan darah terpenting saja, di mana pada jalan darah yang mengandung hawa murni, sehingga dapat beredar lancar kembali, membuat kesegaran tubuh Hok An pulih kembali, dan “hawa” kotor yang membuat tubuh Hok An membengkak itu mulai berkurang.

Sedangkan disampingnya duduk bersila Ho Sin-se, yang terus mengawasi dengan tatapan mata yang mengandung kekaguman. Dilihatnya bahwa betapapun juga, dia memang harus memperlajari lagi lebih giat ilmu pengobatan.

Sampai dia berpikir, alangkah girangnya dan berterima kasihnya ka1au saja Bun Kie Lin mau mewarisi seluruh kepandaian ilmu pengobatannya itu kepadanya, sehingga dia bisa benar-benar memiliki kepandaian ilmu pengobatan yang sangat tinggi dan dapat mengobati berbagai penyakit yang paling berat sekalipun.

Tidak seperti sekarang, dimana Ho Sin-se hanya dapat mengobati penyakit yang mudah disembuhkan karena penyakit itu ringan. Sedangkan jika ia bertemu dengan seseorang yang menderita penyakit yang berat dan parah, tentu dia tidak bisa mengobatinya.

Sambil mengawasi bengong, Ho Sin-se juga terus memperhatikan cara gerak jari-jari tangan Bun Kie Lin yang tengah mengurut sekujur tubuh Hok An, sehingga walaupun tidak keseluruhannya, tokh dia bisa mengingatnya sebagian besar dari cara mengurut tersebut. Dia yakin jika dia bertemu dengan seseorang yang menderita penyakit yang cukup berat, kalau saja dia mengikuti cara mengurut seperti yang dilakukan Bun Kie Lin, tentu dia akan dapat mengobati luka orang itu. Walaupun tidak keseluruhannya, tokh dia dapat juga untuk mengobatinya.

Dalam keadaan seperti itu, Ho Sin-se juga telah memeras seluruh ingatannya. Dia telah berusaha untuk mengingat selengkap atau sebanyak mungkin dari cara mengurut yang dilakukan oleh Bun Kie Lin.

Waktu itu Bun Kie Lin telah selesai mengatur pernapasannya, dan dia mulai bekerja lagi, menguruti jalan darah terpenting di tubuh Hok An, dengan demikian tampaknya memang Bun Kie Lin tidak kenal lelah buat menyembuhkan Hok An. Dan dia berusaha keras, agar Hok An dapat disembuhkan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.

Malam sangat sunyi sekali. Tetapi pendengaran Yo Him yang sangat tajam telah mendengar suara berkeresek yang perlahan sekali, seperti juga jatuhnya daun kering.

Sasana yang mendengar juga suara berkeresek tersebut, telah melirik kepada Yo Him. katanya: “Jika memang tidak salah di sebelah kanan.....!” dia memberitahukan Yo Him dengan berbisik.

Dan Yo Him mengangguk.

“Lindungi Giok Hoa!” hanya itu pesan Yo Him, yang juga membisiki Sasana.

Sasana mengangguk.

Bagitulah, dengan penuh kewaspadaan Yo Him telah mengawasi sekitar tempat itu. terutama sekali pada sumber suara berkeresek tadi, yaitu di sebelah kanan.

Tiba-tiba berkelebat bayangan putih yang bergerak sangat perlahan sekali, seperti juga tengah mengindap-indap.

Tidak lama kemudian, tampak sesosok bayangan putih lainnya. Jarak mereka terpisah dari Yo Him belasan tombak, dan berada di dekat tempat beradanya Bun Kie Lin yang tengah mengobati Hok An.

Yo Him jadi kuatir, kalau sampai orang-orang itu melompat keluar dengan serentak dan juga menghantam kepada Bun Kie Lin yang seluruh perhatiannya tengah dicurahkan kepada Hok An yang tengah diurutinya, niscaya dia tidak akan keburu buat menolonginya. Karena itu, segera juga Yo Him berdiri, dia melangkah mendekati Bun Kie Lin, herdiri di sampingnya, membawa sikap seperti juga tengah memperhatikan cara pengobatan yang dilakukannya Bun Kie Lin terhadap Hok An.

Sosok bayangan putih itu masih tetap bersembunyi di tempatnya. Akan tetapi melihat pakaian mereka yang serba putih seperti itu, seketika Yo Him menyadari dan dapat menerka siapa adanya mereka.

Dikala itu tampak Bun Kie Lin rupanya telah mengetahui akan kedatangan orang-orang tidak diundang yang tengah bersembunyi. Dia hanya melirik, tetapi ke dua tangannya terus juga mengurut pada jalan darah di sekujur tubuh Hok An, seperti juga dia tidak begitu memperhatikan dan seluruh perhatiannya dicurahkan untuk mengurut terus sekujur tubuh Hok An.

Sesungguhnya, pada waktu itu benar-benar merupakan detik-detik yang cukup berbahaya buat Bun Kie Lin. Dia tengah mengurut dengan mengerahkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya yang disalurkan pada ke dua tangannya.

Jika memang dia, mengurut dengan terpecah perhatiannya, dan kemudian diserang sehingga dia harus membagi tenaganya buat menghadapi penyerangan tersebut, maka yang akan berbahaya adalah dirinya Hok An. Karena waktu itu seluruh pembuluh darah di tubuh Hok An telah dibuka sebagian besar.

Dan jika pengurutan itu ditinggal dan berhenti niscaya akan membuat pembuluh darah itu menjadi macet dan darah yang tengah mengalir dengan deras, dan juga hawa murni yang tengah tersalurkan itu, akan terhambat dengan mendadak. Berarti akan membuat getaran yang sangat hebat dan menyebabkan Hok An akan terluka di dalam yang parah.

Yo Him sendiri walaupun kurang begitu memahami ilmu pengobatan tetapi ia mengetahui betapa ancaman yang tengah dihadapi oleh Hok An dan juga Bun Kie Lin, maka dia tetap bantu dan melindungi Bun Kie Lin dan Hok An.

Sedangkan Sasana tidak kurang waspada. Dia telah bersiap-siap hendak menghadapi segala kemungkinan, untuk melindungi Giok Hoa, yang waktu itu tengah tertidur nyenyak.

Begitulah keadaan di tempat itu jadi hening sekali. Sampai akhirnya terdengar lagi suara keresekan, dan juga disusul dengan kata-kata yang dingin sekali nadanya:

“Hemmm, engkau telah menolak buat menyembuhkan kami tetapi kau justeru telah memaksa hendak mengobati orang yang tidak membutuhkan pertolonganmu. Engkau harus dibinasakan, manusia she Bun.....”

Menyusul dengan kata-kata itu, tampak melompat bayangan putih yang gesit sekali yang langsung menerjang kepada Bun Kie Lin. Juga dia telah mengayunkan sebatang tongkat ke punggung Bun Kie Lin. Kemplangannya itu mengandung kekuatan lweekang yang bisa mematikan.

Akan tetapi Yo Him tidak mau membiarkan orang itu tercapai maksudnya. Begitu tongkat menyambar, tanpa menanti tongkat dapat mendekati punggung Bun Kie Lin, tubuh Yo Him melesat menyambuti, dengan mengibaskan tangannya yang kanan, tangan kirinya menyelonong masuk ke arah iga orang tersebut.

Sosok bayangan putih itu mendengus dingin.

“Hemmmm, manusia tidak tahu diuntung, engkau lagi bermaksud hendak merintangi kami.....!” dan membarengi perkataannya itu, tongkat orang tersebut telah terputar sangat cepat sekali seperti titiran.

Namun Yo Him menerima kemplangan dan tikaman tongkat itu dengan tenang dan juga selalu dapat memunahkan serangan itu dengan mudah.

Yo Him telah dapat melihatnya bahwa penyerang yang berpakaian serba putih ini tidak lain dari wanita setengah baya yang belum lama yang lalu telah dapat dipukul mundur.

Dia tentunya beberapa sosok bayangan putih yang masih bersembunyi, adalah cucu-cucu dari wanita setengah baya tersebut, yang tengah menantikan kesempatan buat keluar guna melakukan pengeroyokan lagi.

Wanita setengah baya tersebut telah menggerakan tongkatnya semakin lama makin hebat sehingga tongkat itu menyambar seliwiran tidak hentinya, menimbulkan angin yang menderu-deru sangat hebat sekali.

Keadaan Yo Him waktu itu agak sulit, di samping dia menghadapi wanita setengah baya, diapun tidak hentinya memasang mata buat mengawasi beberapa sosok tubuh putih lainnya yang bersembunyi. Karena Yo Him kuatir orang-orang itu akan menerjang keluar dan mempergunakan kesempatan di kala dia tengah dilibat oleh wanita setengah baya tersebut, buat menyerang kepada Bun Kie Lin, yang tentunya akan membuat Bun Kie Lin terancam oleh bahaya yang tidak kecil!

Waktu itu keadaan Bun Kie Lin benar-benar sangat menentukan sekali. Dia tengah memusatkan tenaga dalamnya dan telah berhasil membuka seluruh pembuluh darah di tubuh Hok An. Dengan begitu sama sekali dia tidak boleh terpecah perhatiannya. Sekali saja terpecah perhatiannya, niscaya akan membuat dia terancam bahaya hebat.

Di waktu itu Yo Him juga telah menghantam dengan tangan kanannya, dari telapak tangannya itu telah meluncur angin serangan yang dahsyat sekali.

Tongkat dari wanita setengah baya itu telah dapat dihantamnya. Dengan mengeluarkan suara “Plakkk!” yang sangat nyaring sekali, tongkat itu telah patah menjadi dua.

Sedangkan Yo Him mengulangi lagi hantamannya, dia telah memukul dengan tangan kirinya, yang tenaga dalamnya itu berkesiuran tidak lebih lemah dari kekuatan tenaganya yang pertama tadi.

Hal ini membuat wanita setengah baya itu terpaksa harus melompat mundur, karena dia menyadari, jika dia menangkis dengan kekerasan juga, niscaya akan membuat dia yang menderita kerugian, karena tadi saja tongkatnya telah terpatahkan menjadi dua.

Dalam keadaan seperti itulah Yo Him telah mendesak terus, dia telah bergerak dengan cepat sekali, tubuhnya melesat ke sana ke mari dengan lincah, mengepung dan mengurung wanita setengah baya tersebut.

Sedangkan wanita-wanita lainnya yang berpakaian putih, yang tengah bersembunyi di balik pohon-pohon yang rindang dan juga batu-batu gunung, melihat nenek mereka telah terkurung seperti itu oleh kekuatan tenaga dalam Yo Him, mereka tidak tinggal diam. Dengan mengeluarkan suara seruan, mereka telah menjejakkan ke dua kaki mereka.

Dengan gerakan yang lincah sebagian dari mereka, dua orang telah menerjang kepada Yo Him. Untuk membantui wanita setengah baya itu, mereka telah menyerang dengan tongkat masing-masing berusaha untuk melindungi wanita setengah baya itu dan mendesak Yo Him agar tidak memiliki kesempatan lagi buat mendesak pada wanita setengah baya itu.

Memang kepandaian mereka tidak sehebat kepandaian wanita setengah baya itu, akan tetapi mereka telah menyerang bergantian. Jika yang seorang terdesak, maka yang lain akan menoloog dan membantunya.

Yo Him jadi mendongkol juga. Terlebih lagi dia telah melihatnya bahwa tiga orang wanita berpakaian putih lainnya telah menerjang kepada Sasana. Dua orang menyerang Sasana, sedangkan yang seorang menyerang pada Bun Kie Lin.

Dengan demikian membuat Yo Him jadi berkuatir sekali, di mana dia telah berusaha hendak melompat membantui Sasana. Akan tetapi ke dua wanita itu tetap melibatnya, apalagi sekarang wanita setengah baya itu telah berhasil untuk ikut menyerang lagi, mereka telah bekerja sama untuk menyerang Yo Him.

Dengan demikian telah membuat Yo Him seperti dilibat terus menerus tanpa diberikan kesempatan untuk melompat keluar dari kalangan guna membantui Sasana dan melindungi Bun Kie Lin.

Akhirnya cara hertempur seperti itu telah membuat Yo Him naik darah. Dia mengeluarkan bentakan mengguntur, kemudian sepasang tangannya bergerak sangat cepat sekali. Dia telah menghantam ke sana ke mari dengan dahsyat, membuat wanita setengah baya tersebut melompat ke belakang, dan kesempatan itu digunakan oleh Yo Him menerobos keluar.

Ringan sekali tubuh Yo Him telah meluncur ke arah Sasana.

Diwaktu itu, Yo Him juga bukan hanya sekedar mendekati Sasana, waktu ke dua kakinya akan hinggap, Yo Him telah menghantam punggung salah seorang wanita berpakaian putih yang tengah mengepung Sasana.

“Bukkk!” kuat sekali tenaga pukulan itu, yang membuat tubuh wanita itu terhuyung mundur dan telah terjungkal.

Dengan demikian telah membuat kepungan pada Sasana terbuka. Wanita berpakaian putih yang seorangnya lagi, tidak berani terlalu mendesak, dia mengetahui, untuk menghadapi Sasana seorang saja, dia belum tentu dapat menandinginya, apa lagi sekarang ada Yo Him.

Karena itu, bukannya dia menerjang maju, dia malah melompat mundur mendekati pada si wanita setengah baya.

Seorang wanita berpakaian putih yang ingin menghantam Bun Kie Lin, yang melihat keadaan seperti itu, segera mempercepat pukulannya itu.

“Bukkk!” punggung Bun Kie Lin kena dihantamnya, tetapi hantaman itu tidak membuat Bun Kie Lin menangkis atau mengelak, juga walaupun punggungnya telah kena dihantam, dia tidak sampai terjungkal.

Malah yang luar biasa, wanita berpakaian putih yang menyerangnya, telah menjerit kesakitan sambil memegangi tangan kanannya yang segera membengkak.

Dengan muka yang berobah pucat, dia juga telah melompat ke dekat wanita setengah baya itu. Dia berdiri dengan muka yang meringis.

Sedangkan wanita setengah baya itu dengan gusar membentak: “Mari kita binasakan mereka semua.....!” Dan setelah berkata begitu, mereka dengan serentak, telah melompat ke dekat Yo Him dan Sasana.

Sedangkan Giok Hoa dilindungi oleh Yo Him dan Sasana berada di tengah-tengah. Sama sekali gadis cilik itu tidak gentar, karena dia yakin bahwa Yo Him dan Sasana memiliki kepandaian yang sangat tinggi sekali, yang mungkin tidak bisa dihadapi oleh lawan-lawannya itu.

Yo Him dan Sasana waktu melihat terjangan dari wanita setengah baya itu, yang telah menggunakan tongkat buntungnya buat menghantam ke pundak Yo Him, segera juga berseru: “Turun tangan keras, kita tidak perlu sungkan-sungkan terhadap mereka!”

Sambil berteriak begitu menganjurkan Sasana untuk turun tangan keras tanpa sungkan-sungkan lagi, Yo Him juga telah menghantam dengan tangan kanannya, mengerahkan sebagian besar tenaga, sehingga membuat nenek tua itu terhuyung mundur.

Yo Him menghela napas dalam-dalam, kemudian mengawasi dengan sikap yang angker kepada wanita setengah baya itu, katanya: “Sekali ini aku bebaskan kalian buat angkat kaki, tetapi di lain waktu, jika kalian mengganggu pula kami, hemmm, hemmmm, jangan harap kepala kalian itu bisa utuh.....!”

Wanita setengah baya itu rupanya memang menyadari bahwa tidak mungkin dia bersama cucu-cucunya untuk melakukan perlawanan lagi, karenanya dia memutuskan buat mengajak cucu-cucunya untuk berlalu meninggalkan tempat itu.

“Baiklah, tetapi ingatlah, suatu saat kami akan datang buat memperhitungkan semua ini.....!” kata wanita setengah baya itu dengan suara mengandung kebencian yang sangat. “Dan kau, engkau akan kubunuh dalam suatu kesempatan yang ada kelak!” Kata-kata terakhir itu ditujukan kepada Bun Kie Lin.

Memang sebelum kedatangan Yo Him beramai, rupanya wanita setengah baya ini telah tiba lebih dulu bersama-sama dengan cucu-cucunya itu. Dan dia telah memaksa Bun Kie Lin buat menolongi beberapa orang cucunya, yang telah mengalami luka yang tidak ringan, yaitu mengalami luka di mana mereka itu terkena semacam racun, yang akhirnya akan membuat lweekang mereka musnah.

Tetapi Bun Kie Lin tetap saja tidak bersedia menolongi mereka. Bahkan Bun Kie Lin telah menolak dengan ketus tidak mau bertemu dengan mereka.

Walaupun wanita setengah baya itu memaksa dengan kekerasan, tetap saja Bun Kie Lin tidak mau melayani mereka. Setiap kali wanita setengah baya itu bersama cucu-cucunya hendak menerjang masuk ke dalam goa, maka Bun Kie Lin telah membendung mereka dengan hantaman telapak tangan atau juga lontaran senjata rahasianya.

Dengan begitu, wanita setengah baya itu jadi tidak berdaya, dan terpaksa telah mundur dan menanti di luar goa selama beberapa hari, dengan harapan bahwa Bun Kie Lin akhirnya akan merobah keputusannya dan bersedia buat membantu mereka, menolong untuk mengobati luka yang diderita oleh cucu-cucunya tersebut.

Akan tetapi selama beberapa hari itu, justeru Bun Kie Lin malah tidak memperdulikan mereka, dan tetap berwaspada. Setiap kali wanita setengah baya tersebut ingin menerjang masuk, maka dia akan membendungnya dengan hujan senjata rahasia, memaksa wanita setengah baya itu tidak berdaya untuk memaksanya terus.

Dikala itulah Yo Him bersama dengan Sasana dan Giok Hoa membawa Hok An ke tempat tersebut, bertemu dengan wanita setengah baya itu. Hal ini membuat mereka bertempur, dengan berhasilnya Yo Him memukul mundur mereka.

Rupanya wanita setengah baya itu sebelum kedatangan Yo Him ke tempat tersebut, untuk melampiaskan kemendongkolan mereka, semua anak buah dari Bun Kie Lin, yang khusus untuk melayaninya mencari makanan, telah dibinasakan semua oleh wanita setengah baya itu. Dengan demikian mereka mengharapkan Bun Kie Lin akhirnya tokh harus keluar dari goanya, karena dia tidak memiliki makanan.

Tidak mungkin Bun Kie Lin dapat mengurung diri terus menerus di dalam goa itu, karena tokh akhirnya dia akan kelaparan dan keluar dari goa.

Keadaan seperti itu berlangsung selama beberapa hari, namun waktu usaha dari wanita setengah baya itu hampir berhasil, justeru muncul Yo Him beramai, sehingga membuat wanita setengah baya itu menumpahkan kemendongkolan dan kemarahannya kepada Yo Him beramai.

Akan tetapi Yo Him dan Sasana memiliki kepandaian yang sangat tinggi sekali. Mereka yang telah dapat dipukul mundur.

Wanita setengah baya itu tetap tidak berlalu, bersama dengan cucu-cucunya mereka memperhatikan apa yang dilakukan Yo Him, sampai akhirnya Yo Him dapat “memaksa” Bun Kie Lin mengobati Hok An.

Melihat Bun Kie Lin mau mengobati Hok An, malah memaksa hendak mengobati, walaupun Yo Him melarangnya, dan walaupun wanita setengah baya itu mengetahuinya bahwa hal itu memang tipu daya dari Yo Him yang liehay, tokh tidak urung wanita setengah baya itu meluap hawa amarahnya. Dia bermaksud hendak membinasakan Bun Kie Lin.

Dan apes bagi mereka, karena Yo Him benar-benar memiliki kepandaian yang tinggi sekali, berada di atas tingkat kepandaian mereka sehingga merekapun dapat dilukai lagi oleh Yo Him.

Setelah berkata begitu, wanita setengah baya itu memutar tubuhnya untuk mengajak cucu-cucunya berlalu. Dan juga, para wanita berpakaian serba putih itu telah mengikuti nenek mereka meninggalkan tempat itu.

Giok Hoa yang melihat wanita setengah baya itu mengajak cucu-cucunya berlalu, dia telah tertawa. Katanya: “Hemmm, galak-galak akhirnya sipat ekor juga.....!”

Bukan main marahnya wanita setengah baya itu, akan tetapi tokh dia menyadari bahwa dia tidak mungkin dapat menghadapi Yo Him yang berkepandaian sangat tinggi itu, karenanya, setelah melirik mendelik kepada Giok Hoa, diapun melanjutkan langkahnya meninggalkan tempat itu.

Setelah melihat wanita setengah baya itu bersama-sama dengan cucunya telah berlalu, maka Yo Him menghela napas lega.

◄Y►

Ketika matahari pagi muncul dan keadaan di depan goa dari Bun Kie Lin terang benderang, maka tampak jelas bahwa Bun Kie Lin sangat letih sekali.

Selama semalaman itu dia telah beberapa kali menguruti terus menerus pada Hok An, sehingga boleh dibilang dia sama sekali tidak memiliki kesempatan buat beristirahat.

Yo Him dan Sasana telah melompat berdiri dari duduk mereka, membiarkan Giok Hoa masih meringkuk tertidur nyenyak. Sepasang suami isteri tersebut telah menghampiri Bun Kie Lin yang tengah duduk terpekur mengawasi Hok An.

“Hemmm, sudah kukatakan bahwa engkau tidak mungkin bisa menyembuhkan luka pada diri kawanku itu..... kau masih bicara besar..... sekarang buktinya saja, engkau telah gagal dan kawanku itu masih pingsan tidak sadarkan diri.....!” mengejek Yo Him.

Mendengar perkataan Yo Him itu, Bun Kie Lin tidak menoleh, juga dia tidak menyahuti, tetap duduk terpekur mengawasi Hok An sampai akhirnya dia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Baru kemudian dia menggumam: “Hemm, dia telah sembuh benar-benar..... sudah tidak ada yang perlu kulakukan lagi!”

Setelah berkata begitu Bun Kie Lin menotolkan jari-jari tangannya pada tanah, tubuhnya segera melesat cepat sekali ke samping, duduk tetap bersila menghadapi Yo Him, katanya lagi: “Dia telah sembuh, besok kesehatannya telah pulih sebagaimana biasa! Jika dia beristirahat beberapa hari, tentu dia akan sehat kembali tidak kurang suatu apapun juga.....!”

Setelah berkata begitu, tampak Bun Kie Lin hendak menotol kembali tanah dengan jari tangannya, tetapi Yo Him melompat kepadanya katanya: “Kau jangan pergi dulu..... aku tidak akan mengijinkan engkau pergi!”

Bola mata dari Bun Kie Lin mencilak-cilak tidak hentinya, kemudian dia telah berkata dengan suara mengandung perasaan tidak senang. “Mengapa tidak boleh pergi?!”

“Bukankah telah kukatakan, bahwa engkau akan kubuat cacad. Sekarang sebelum kau bisa membuktikan bahwa kawanku itu telah sembuh, jangan harap engkau akan kulepaskan begitu saja.....!”

Bun Kie Lin telah memandang dengan sikap tidak tenang, malah kemudian dia bilang dengan suara yang bengis sekali: “Hemm, engkau manusia tidak tahu berterima kasih.....!!”

“Ya..... tetap aku akan membuktikan perkataanku itu, bahwa engkau tidak akan kulepaskan, engkau akan kubuat bercacad, karena engkau tetap tidak kuijinkan menyentuh kawanku, tetap engkau sengaja ingin mengobatinya. Sekarang terbukti bahwa kawanku ini masih pingsan, dia belum lagi diketahui tertolong atau tidak! Dan juga engkau telah berjanji, jika engkau telah mengobati kawanku itu, maka engkau akan bersedia main-main denganku sebanyak ratusan jurus!”

Setelah berkata begitu, Yo Him mengibaskan tangannya, ia memang bermaksud hendak merintangi kepergian Bun Kie Lin. Karena Yo Him kuatir Hok An benar-benar belum bisa ditolong sepertinya, di mana dia masih tertidur nyenyak.

Jika memang nanti lukanya itu kumat kembali, sedangkan Bun Kie Lin sudah tidak berada di tempat itu, bukanlah hal yang itu akan membuatnya jadi sibuk kembali? Karenanya Yo Him sengaja mencari alasan seperti itu, dengan maksud hendak merintangi kepergian dari Bun Kie Lin.

Bun Kie Lin mengawasi Yo Him dengan sorot mata yang tajam, kemudian katanya: “Ya memang benar..... engkau memang bukan manusia yang mengenal budi, dan akupun bersedia melayani engkau sebanyak ratusan jurus.....!”

Setelah berkata begitu, dia mengibaskan tangannya, katanya: “Nah, majulah!”

Tetapi Yo Him menggeleng.

“Engkau telah letih, karena engkau baru saja mempergunakan lweekangmu itu buat menolongi kawanku, dan engkau belum lagi pulih kesegaranmu! Jika memang kita bertempur sekarang, walau tokh aku bisa merubuhkan engkau dengan mudah, tentu hal itu akan membuat engkau penasaran sekali, dan tidak akan menerimanya dengan hati yang puas. Disebabkan inilah aku ingin membiarkan engkau beristirahat dulu, agar semangat dan tenagamu pulih kembali!”

Bun Kie Lin mendelik mengawasi Yo Him lalu tanyanya: “Apa yang engkau inginkan?”

“Aku hendak melihat dulu, guna membuktikan apakah perkataanmu itu benar, bahwa engkau sanggup mengobati luka kawanku itu..... dan juga terpenting aku tidak akan membiarkan engkau berlalu sebelum engkau bercacad!”

Bola mata Bun Kie Lin mencilak-cilak, sampai akhirnya dia telah bilang dengan suara yang tawar: “Baik-baik! Baik-baik! Aku akan berdiam disini, sampai nanti kawanmu itu telah tersadar benar dan memperlihatkan bahwa aku benar-benar dapat menyembuhkannya!”

Dan setelah berkata begitu, segera juga Bun Kie Lin menotol lagi tanah dengan ujung jari tangannya, tubuhnya melesat sangat ringan, ke samping Hok An pula.

Waktu itu Hok An masih tertidur nyenyak, dia telah memperlihatkan sikap yang tidak menderita kesakitan lagi, wajahnya tampak memerah mulai sehat, dan bengkak-bengkak pada sekujur tubuhnya pun telah lenyap.

Dengan demikan membuat Yo Him girang bukan main, berhasil menahan kepergian Bun Kie Lin.

Yo Him telah kembali ke bawah pohon, menghampiri Sasana dan Giok Hoa.

Sedangkan Ho Sin-se tidak sabar telah berdiri.

“Yo Kongcu, dia telah sembuh!” kata Ho Sin-se sambil menunjuk kepada Hok An, yang masih tertidur itu.

Maksud Ho Sin-se, dia ingin sekali buat mengambil hati Bun Kie Lin karena dia mengharapkan kemungkinan besar dapat membujuknya nanti agar Bun Kie Lin mau menurunkan kepandaian ilmu pengobatannya kepadanya.

Yo Him hanya mendengus saja.

“Sesungguhnya, jika memang Sin-se ini pergi, juga kawanmu ini telah sembuh benar.....!” kata Ho Sin-se lagi.

Tetapi Yo Him tidak memperdulikannya, di waktu itu terlihat bahwa Bun Kie Lin telah menoleh kepada Ho Sin-se, katanya: “Apakah engkau mengerti ilmu pengobatan juga??”

Cepat-cepat Ho Sin-se merangkapkan sepasang tangannya. Dia menjura memberi hormat. Katanya: “Dalam persoalan ilmu pengobatan sesungguhnya aku hanya mengerti sedikit-sedikit, tidak seperti kau yang bagaikan Tabib Dewa saja, yang dapat menyembuhkan penyakit dari orang ini dalam waktu yang sangat singkat. Walaupun orang tersebut menderita luka yang demikian parah!”

Setelah berkata begitu, segera juga Ho Sin-se membungkuk dalam-dalam memberi hormat, katanya: “Jika memang tidak keberatan, mau aku menjadi pengikutmu, untuk mempelajari ilmu pengobatan.”

“Cusss.....” tiba-tiba Bun Kie Lin meludah, katanya dengan bola mata yang mencilak-cilak, “Hemmm, enak saja engkau bicara, apakah engkau ini hendak meminta aku menjadi gurumu?”

Sambil tersenyum nyengir, tampak Ho Sin-se telah berkata. “Tetapi walaupun Sin-se tidak bermaksud menurunkan kepandaianmu itu secara resmi dan tidak bermaksud mengangkat murid, akupun tidak keberatan menjadi pelayanmu, yang akan membantu Sin-se untuk meramu obat-obatan......!”

Bun Kie Lin tersenyum dingin, dia telah mengawasi Ho Sin-se beberapa saat lamanya, kemudian baru berkata dengan suara yang tawar: “Baiklah jika engkau mau menjadi pelayanku, aku akan menerimanya, karena memang beberapa orang pelayanku telah dibinasakan oleh wanita setengah baya yang berpakaian serba putih itu. Engkau akan melayani segala kebutuhanku.....”

Bukan main girangnya Ho Sin-se, segera juga dia menjatuhkan diri berlutut di hadapan Bun Kie Lin, diapun telah mengangguk-anggukkan kepalanya berulang kali.

“Tentu saja tecu bersedia untuk menjadi pelayan Sin-se..... semua tugas yang akan diberikan Sin-se, tecu akan lakukan sebaik-baiknya.....”

Bun Kie Lin mengangguk, dia melirik kepada Yo Him, bertiga dengan Sasana dan Hok An, yang masih duduk di bawah pohon itu. Kemudian katanya dengan suara yang nyaring: “Kawanmu ini bermaksud hendak menjadi pelayanku, apakah engkau tidak keberatan?”

Yo Him tersenyum saja, dia tidak menyahuti.

Melihat sikap Yo Him seperti itu, segera juga Bun Kie Lin menegur lagi: “Hei, aku bertanya kepadamu, apakah kau mengijinkan aku mengambil kawanmu untuk menjadi pelayanku?”

“Urusan itu tidak ada sangkut pautnya denganku. Jika memang dia bersedia menjadi pelayanmu, mengapa aku harus melarangnya?”

Bun Kie Lin tersenyum. “Baiklah, biarlah aku menerimanya menjadi pelayanku! Nah, mulai detik ini engkau resmi menjadi pelayanku dan selanjutnya engkau harus patuh terhadap semua perintahku!”

Ho Sin-se cepat-cepat mengiyakan sambil mengangguk, diapun kemudian berkata: “Tentu, tentu saja Sin-se. Semua perintah Sin-se akan kulakukan dengan senang hati.”

“Nah, ini adalah perintahku yang pertama dan harus engkau lakukan dengan sebaik-baiknya,” kata Bun Kie Lin kemudian. “Dengarlah baik-baik, aku akan perintahkan kepadamu melakukan sesuatu!”

“Katakanlah Sin-se.....!” kata Ho Sin-se kemudian dengan bersemangat.

“Kau harus menyingkirkan orang-orang itu.....!” kata Bun Kie Lin sambil tunjuk Yo Him dan Sasana. “Engkau harus menyingkirkan mereka agar tidak menggangguku lagi! Jika memang engkau berhasil, aku akan mewarisi satu dari sekian banyak ilmu pengobatanku, yang sekiranya akan membawa suatu keuntungan tidak kecil buatmu.....!”

Ho Sin-se jadi tertegun memandang bengong kepada Bun Kie Lin, mukanya berobah pucat dan tampaknya dia bingung sekali. Dia telah memandang Bun Kie Lie dan kemudian beralih kepada Yo Him dan Sasana. Dia jadi bingung, entah apa yang harus dilakukannya.

Apa yang telah diperintahkan Bun Kie Lin merupakan perintah yang tidak pernah disangka-sangkanya. Semula dia menduga bahwa dia hanya akan diperintahkan untuk pergi mengambil daun obat-obatan belaka. Siapa tahu justeru dia telah diperintahkan untuk menyingkirkan Yo Him dan Sasana.

Mana mungkin dia sanggup melakukan perintah itu untuk menyingkirkan Yo Him dan Sasana? Karena itu, Ho Sin-se sendiri tidak mengetahui entah jawaban apa yang harus diberikannya.

Setelah berdiam diri sejenak lamanya, diapun berkata dengan suara yang ragu-ragu: “Untuk urusan ini..... sesungguhnya..... sesungguhnya......”

Bun Kie Lin tertawa tawar, kemudian katanya: “Kenapa? Apakah perintah yang kuberikan itu sangat sulit sekali?!”

Ho Sin-se menelan air liurnya, kemudian mengangguk ragu.

“Ya..... sulit sekali buatku melaksanakan perintah itu.....” kata Ho Sin-se kemudian. “Aku aku tidak memiliki kepandaian apa-apa, aku tidak mengerti ilmu silat, sehingga mana mungkin aku bisa menghadapi mereka yang berkepandaian begitu tinggi?!”

Bun Kie Lin tertawa dingin, kemudian katanya: “Bagaimana mungkin engkau menjadi pelayanku sedangkan untuk menjalankan perintahku yang pertama saja engkau tidak dapat dan tidak sanggup melakukannya.....?”

Setelah berkata begitu, matanya mendelik: “Kau mau menjadi pelayanku atau tidak? Jika engkau telah menjadi pelayanku dan tidak melaksanakan perintahku, maka engkau akan memperoleh hukuman yang berat dariku!”

Ho Sin-se benar-benar jadi bingung. Dia mengiler sekali buat mengetahui ilmu pengobatan yang dimiliki oleh Bun Kie Lin, di mana dia mengiler untuk menerima warisan ilmu pengobatan itu.

Namun siapa tahu, justeru dia telah memperoleh perintah yang membuatnya jadi berada dalam kesulitan yang tidak kecil. Karena itu, dia telah memandang dengan sikap ragu kepada Bun Kie Lin, antara maju dan mundur.

Jika dia maju, berarti dia menerima perintah Bun Kie Lin dan dia harus berusaha untuk menyingkirkan Yo Him dan Sasana. Tetapi dia mana memiliki kepandaian untuk menyingkirkan ke dua orang itu?

Namun jika dia tidak menyanggupi perintah dari Bun Kie Lin, berarti dia tidak jadi diterima Bun Kie Lin sebagai pelayannya, berarti juga kepandaian ilmu pengobatan Bun Kie Lin tidak mungkin diwarisi.

“Bagaimana? Apakah engkau ingin .membatalkan permintaanmu agar aku menerima engkau sebagai pelayanku?!” tanya Bun Kie Lin. “Jika engkau ingin membatalkan niatmu itu, engkau masih memiliki kesempatan yang luas. Tetapi jika tidak, dan engkau tetap bertekad hendak menjadi pelayanku, maka engkau selalu harus patuh melaksanakan perintahku itu, dengan sebaik-baiknya! Sekali saja engkau membangkang, maka aku akan menghukum dirimu.....!”

Ho Sin-se jadi tambah ragu-ragu, namun akhirnya dia mengangguk nekad.

“Baiklah, aku menerima perintah!” kata Ho Sin-se, diapun telah memutar tubuhnya, kemudian melangkah menghampiri Yo Him dan Sasana.

Setelah berada di hadapan Yo Him, Ho Sin-se merangkapkan sepasang tangannya, dia memberi hormat sambil berkata dengan nada memohon. “Harap Yo Kongcu mau menolongku, agar tidak mempersulit diriku! Maukah Kongcu menolongku?!”

“Menolong bagaimana?!” tanya Yo Him sambil tersenyum, padahal dia mengerti, tentunya Ho Sin-se ini ingin meminta mereka berlalu.

“Menolongku agar majikanku itu melihat engkau berlalu dari tempat ini, agar dia menerimaku menjadi pelayannya! Dengan menjadi pelayannya, aku akan diwarisi ilmu pengobatannya, yang kelak dapat kupergunakan buat menolong manusia lainnya yang membutuhkan pengobatan dariku..... dan..... maukah Yo Kongcu menolongku?!”

Yo Him tersenyum lagi, kemudian katanya: “Sayang sekali aku tidak bisa menolongmu, karena walaupun bagaimana aku tidak bisa membawa-bawa kawanku yang tengah dalam keadaan belum sembuh benar..... sedangkan sembuh atau tidaknya kawanku itu belum lagi kuketahui dengan pasti! Tunggulah sampai kawanku itu sembuh, barulah aku akan angkat kaki tanpa mengganggu orang she Bun itu.”

Mendengar perkataan Yo Him, wajah Ho Sin-se berobah berseri-seri, dia kemudian telah berkata dengan suara yang mengandung kegembiraan: “Baiklah! Terima kasih Kongcu, aku akan berusaha menjelaskan kepada majikanku itu, agar dia mau mengerti!”

Dan setelah berkata begitu, cepat-cepat Ho Sin-se kembali ke tempat di depan Bun Kie Lin, kemudian katanya: “Sin-se, aku telah melaksanakan perintah!”

Bola mata Bun Kie Lin mencilak-cilak memandang tidak senang pada Ho Sin-se.

“Hemmm, apa yang kau lakukan? Bukankah ke dua orang itu masih tidak pergi dari tempat ini? Mereka masih berada di situ?!”

Ho Sin-se nyengir dan katanya: “Jangan marah Sin-se, sesungguhnya mereka akan pergi meninggalkan tempat ini tanpa mengganggu ketenangan Sin-se. Tetapi justeru mereka tengah menguatirkan kawan mereka yang masih belum sadarkan diri. Janji mereka, begitu kawan mereka siuman, segera mereka akan meninggalkan tempat ini.....!”

“Hemmm!” mendengus Bun Kie Lin tanpa mengatakan suatu apapun juga.

Ho Sin-se jadi salah tingkah.

“Sin-se, dengarlah dulu.....!”

Tetapi belum lagi Ho Sin-se berkata selesai, justeru Bun Kie Lin telah memotongnya, katanya: “Jika memang engkau tidak bisa melaksanakan perintahku, engkau akan kuhukum! Dan, apa bunyinya perintahku tadi?!”

Ho Sin-se jadi tambah salah tingkah, namun akhirnya dia berkata juga ragu-ragu. “Sesungguhnya Sin-se, mereka memang mau pergi sekarang juga..... tetapi mereka meminta kebijaksanaan Sin-se, menanti sampai kawan mereka itu sembuh dan tersadar.....!”

“Hemm, aku tidak mau tahu! Tetapi apa bunyinya perintahku tadi? Jawab!”

“Sin-se perintahkan agar aku mengusir ke dua orang itu!” menyahuti Ho Sin-se dengan kepala tertunduk dalam-dalam.

“Lalu, apa kau telah melaksanakan perintahku itu?” tanya Bun Kie Lin dengan suara yang meninggi.

“Sudah!” menyahuti Ho Sin-se dengan kepala mengangguk ragu-ragu. “Tetapi..... tetapi.....” Dan berkata sampai di situ dia berdiam sejenak, dan kemudian berkata dengan suara tambah ragu: “Mereka pasti pergi..... tetapi memohon kebijaksanaan Sin-se.....!”

“Hemm, tidak bisa aku memberi pengampunan kepadamu, aku akan segera menghukummu!” kata Bun Kie Lio sambil memperlihatkan sikap akan segera menggerakkan tangannya.

Ho Sin-se jadi gugup.

“Tunggu dulu Sin-se..... tunggu dulu.....!” gugup bukan main tampaknya Ho Sin-se. “Kalau..... kalau begitu aku batal saja menjadi pelayanmu.....!”

“Kau batal menjadi pelayanku?!” tanya Bun Kin Lin sambil mendelik.

Ho Sin-se mengangguk ragu katanya: “Ya, ya, aku batal menjadi pelayan Sin-se, karena jika tokh aku menjadi pelayanmu, aku akan memperoleh kesulitan oleh sikap Sin-se yang luar biasa ini. Biarlah, aku tidak jadi untuk menghamba kepadamu, biarlah aku tidak bisa memperoleh kepandaian yang kukehendaki, yaitu ilmu pengobatan. Tetapi yang terpenting aku batal untuk menjadi pelayanmu, dari pada menjadi pelayanmu, tetapi membawa kecelakan buat diriku!”

Bola mata Bun Kie Lin memain lagi tidak henti, dan kemudian katanya: “Baiklah, jika memang engkau menarik diri tidak menjadi pelayanku, akupun tidak akan menghukummu lagi!” Dan tampak Bun Kie Lin mengibaskan tangannya.

Ho Sin-se menoleh kepada Yo Him, kemudian tanpa berkata suatu apapun juga dia telah memutar tubuhnya, cepat-cepat angkat kaki dari tempat itu.

Waktu berlari-lari meninggalkan tempat itu, hati Ho Sin-se herdebar-debar, karena dia kuatir kalau-kalau Yo Him tidak mengijinkan dia pergi.

Tetapi nyatanya Yo Him membiarkan saja dia pergi, dan tidak mencegahnya. Dengan begitu, dia bisa berlari terus meninggalkan tempat itu.

Yo Him memang tidak bermaksud mencegah kepergian Ho Sin-se, dan membiarkan saja Ho Sin-se berlalu, karena dia pikir tokh Ho Sin-se berada di situ sudah tidak ada gunanya lagi. Bukankah dia telah mengantarkan mereka bertemu dengan Bun Kie Lin dan sekarang malah Hok An telah berangsur sembuh.

Sebagai seorang yang mengerti sedikit pengobatan, maka Yo Him mengerti bahwa Hok An tidak lama lagi, paling tidak satu atau dua hari, tentu akan sembuh.

Tampak Bun Kie Lin telah memandang kepada Yo Him dengan sorot mata yang tajam sekali, bentaknya: “Apakah engkau hendak main-main sekarang ini denganku?!”

Yo Him mendengar bentakan Bun Kie Lin itu, segera menghampiri. Sambil melangkah ia telah menggeleng, katanya dengan suara yang tawar:

“Nanti, itu urusan nanti. Sekarang yang terpenting ingin membuktikan dulu, apakah perkataanmu itu dapat dipercaya bahwa engkau dapat menyembuhkan luka dari kawanku itu, karena aku masih ragu-ragu, di mana sekarang ini kawanku masih belum tersadar.....!”

Setelah berkata begitu, Yo Him mempergunakan kesempatan itu buat memeriksa keadaan Hok An.

Dan hati Yo Him jadi tambah girang, karena dilihatnya pipi Hok An telah berobah merah sehat dan juga tampaknya dia tertidur nyenyak sekali tidak menderita kesakitan lagi. Malah diapun sudah tidak mengigau, yang menggembirakan bengkak-bengkak di tubuhnya telah lenyap sama sekali, tidak terlihat tanda-tandanya lagi.

Dalam keadaan seperti inilah Yo Him sesungguhnya hendak memuji akan kehebatan Bun Kie Lin, namun dia berhasil menahan diri untuk tidak memujinya. Karena Yo Him segera teringat bahwa sikap dan tabiat dari Bun Kie Lin sangat aneh sekali dan luar biasa ia kuatir jika memujinya akan membuat Bun Kie Lin berobah pikiran pula, dia bisa-bisa nanti mencelakai Hok An, dengan memberikan obat yang tidak tepat.

Setelah memeriksa keadaan Hok An, Yo Him berdiri. Diapun bilang: “Hemmm, mana engkau mengatakan bahwa engkau dapat mengobati luka kawanku itu dengan segera? Sedangkan sekarang saja dia belum tersadar.

Bukan main mendongkol dan penasarannya Bun Kie Lin, sampai dia berseru nyaring: “Siapa yang mengatakan aku tidak bisa mengobatinya dengan segera? Sekarang dia telah sembuh. Dia hanya perlu beristirahat saja. Jika memang engkau hendak membangunkan sekarang, itupun tidak menjadi persoalan, karena dia akan segera segar kembali!”

Dan berkata begitu, Bun Kie Lin telah menotol tanah, tubuhnya melesat ke dekat Hok An, kemudian dia bermaksud menggerakkan tangannya guna membangunkan Hok An.

Menyaksikan itu, Yo Him segera mencegahnya: “Jangan engkau hendak membangunkannya berarti engkau ingin memperlihatkan telah berhasil mengobatinya, bukan? Tetapi dengan cara seperti itu aku tidak bisa menerimanya.”

“Kenapa?” Bun Kie Lin masih penasaran sekali.

“Karena dia dipaksa bangun, dan belum tentu dia telah sembuh! Aku justeru hendak melihatnya dia tersadar sendirinya, itu membuktikan bahwa kawanku itu memang benar-benar telah sembuh.....

“Tetapi terus terang saja kukatakan, bahwa aku tidak percaya bahwa dia telah sembuh! Maka kita tunggu satu hari lagi, sampai dia telah tersadar benar. Di saat itulah baru kita akan berbicara pula.....!”

Keinginan Bun Kie Lin buat membangunkan Hok An dapat dicegah, dia batal membangunkan Hok An, melainkan dia telah menoleh kepada Yo Him, lalu katanya: “Apakah engkau benar-benar putera Sin-tiauw-tay-hiap?!”

“Tidak perlu aku mendustai engkau. Karena sebagai seorang pendekar besar seperti ayahku itu, jelas aku tidak dapat berdusta walaupun hanya untuk sepatah perkataan sekalipun! Tetapi engkau....., engkau justeru kuragukan tetah mendustai aku dengan mengatakan bahwa engkau berhasil mengobati kawanku ini!”

Bola mata Bun Kie Lin mencilak semakin cepat, dengan gusar dia bilang: “Aku tidak mendustaimu! Hemmm, apakah engkau seorang saja yang tidak berdusta? Baik! Baik! Kita tunggu saja sampai kawanmu itu tersadar.....”

Setelah berkata begitu, Bun Kie Lin terdiam sejenak lamanya, dia tidak mengatakan sepatah perkataanpun juga.

◄Y►

Tangan Yo Him bermaksud akan menghampiri Sasana, diwaktu itulah terdengar orang bertanya: “Siapa puteranya Sin-tiauw-tay-hiap Yo Ko?”

Suara itu terdengar sangat menyeramkan sekali. Jika suara itu terdengarnya sumbang sekali, sengau, membuat telinga yang mendengarnya jadi sakit.

Dalam keadaan seperti itu, Yo Him telah menoleh ke arah datangnya suara pertanyaan tersebut, tidak dilihatnya seorang manusiapun juga.

“Aku!” menyahuti Yo Him segera. “Akulah putera dari Sin-tiauw-tay-hiap Yo Ko!”

“Hemmm, inilah kebetulan yang sangat membawa keberuntungan buatku!” kata suara sengau yang mengerikan. Memang aku mengharapkan dapat suatu saat menemui detik-detik sebaik ini.”

Menyusul dengan perkataan tersebut, tiba-tiba terdengar suara ledakan, yang terjadi tidak begitu jauh dari Yo Him, di mana dia merasakan itu demikian kuat dan panas menggetarkan tempat berpijaknya.

Ringan sekali Yo Him telah melesat ke samping, dengan demikian dia tidak perlu sampai terkena tanah yang telah berhamburan itu.

Sedangkan Sasana menyaksikan itu kaget tidak terkira, dia sampai berseru nyaring, dan Giok Hoa yang tengah tertidur jadi bangun.

Tubuh Yo Him telah melesat cepat sekali ke arah dari mana menyambarnya benda hitam yang tadi bisa meledak, di mana dia ingin mencekuk orang yang telah menyerangnya secara membokong dan pengecut seperti itu. Akan tetapi dia telah tiba di tempat yang sepi sekali, tidak ada seorang manusiapun juga.

Yo Him sesungguhnya memiliki mata yang awas dan juga pendengaran yang sangat tajam, dia telah melihat memang keadaan di sekitar tempat itu sepi sekali, tidak ada seorang manusiapun juga. Jangan kata manusia, seekor burung yang terbang sekalipun dia masih sanggup untuk melihat dan juga mendengar suara berkereseknya.

Diam-diam Yo Him jadi menduga, tentunya orang yang tengah menyerangnya secara menggelap itu memiliki kepandaian yang tinggi. Maka dari itu dia berwaspada.

Sewaktu Yo Him bermaksud untuk memasuki tempat itu lebih jauh, tiba-tiba telah terdengar pertanyaan Bun Kie Lin: “Hemm, engkau rupanya ingin ikut berkecimpung dalam urusanku ini, bukan?”

Segera juga secepat terbang Yo Him telah melasat ke arah tempatnya semula. Dilihatnya Bun Kie Lin masih duduk bersila di tempatnya, di mana dia tengah bertanya kepada salah seorang yang bentuk tubuhnya tinggi kurus, yang di dekatnya itu.

Seketika itu Yo Him menduga bahwa orang itulah yang tadi telah melemparkan padanya bahan peledak itu. Maka segera juga dia bilang: “Hmmmm, tidak tahunya engkau di sini!”

Orang bertubuh tinggi kurus itu memiliki muka yang runcing dengan sepasang alis yang hitam gompiok, dia menoleh sedikit mendengarkan perkataan Yo Him, dam dia tertawa bergelak, kemudian katanya: “Kau mengaku sebagai putera Sin-tiauw-tay-hiap Yo Ko, tetapi mana kepandaianmu yang tertinggi. Apakah putera dari Sin-tiauw-tay-hiap hanya sebegini saja?!”

Mendongkol Yo Him mendengar ejekan dari orang tersebut, segera juga dia berkata dengan suara yang mengandung kegusaran: “Hemmm, siapa engkau sebenarnya? Ada hubungan apa kau dengan ayahku, sampai engkau berani mengeluarkan kata-kata kurang ajar seperti itu ditujukan kepada ayahku?!”

Mendengar pertanyaan tersebut, orang bertubuh tinggi kurus itu tertawa dingin.

“Jika aku memberitahukan siapa adanya diriku, mungkin engkau akan kaget dan semaput tidak sadarkan diri.....!” kata orang tersebut. “Kukira, cukup aku memberitahukan saja bahwa ayahmu sendiri tidak berani berlaku kurang ajar seperti itu kepadaku, maka engkau lagi. Jika engkau berani bersikap lancang dan kurangajar kepadaku, hemmm, hemmm, tentu akan kupatahkan batang lehermu, sekali hantam tentu batok kepalamu itu akan hancur.....!”

Belum lagi orang itu menyelesaikan perkataannya, Yo Him menjejakkan kakinya. Dia telah berseru: “Justeru aku ingin melihat dengan cara bagaimana engkau hendak menghantam hancur batok kepalaku.....?” Dan sambil berkata begitu tangan Yo Him bergerak cepat sekali.

Orang bertubuh tinggi kurus itu mengejek dengan senyuman sinis. Melihat tangan Yo Him yang menyambar ke arahnya begitu cepat, dia juga tidak berayal, segera dia menangkisnya.

“Duk, duk, dukk!” beberapa kali tangan mereka saling bentur.

Dan orang bertubuh tinggi itu jadi kaget juga karena setiap kali tangannya tertangkis oleh benturan tangan Yo Him, setiap kali dia membalas menyerang maka dia merasakan tangannya panas tergetar. Begitu juga setiap kali dia menangkis tangan Yo Him, dia merasakan tulang pergelangan tangannya sakit.

Dalam keadaan seperti itu Yo Him telah mendesak lebih gencar. Dia sendiri tidak kurang kagetnya, padahal tadi Yo Him telah mempergunakan tujuh bagian dari tenaga dalamnya, namun begitu tangannya saling membentur tertangkis oleh pergelangan tangan orang bertubuh tinggi kurus tersebut, dia merasakan tangannya panas sakit, tubuhnya tergetar. Maka dia semakin kuat lagi dalam mengerahkan tenaga dalamnya.

Begitulah, ke dua orang itu terlibat dalam pertempuran selama puluhan jurus.

Namun setelah terjadi bentrokan tangan beberapa kali itu, orang bertubuh kurus tinggi tersebut merobah cara bertempurnya, karena dia menghadapi Yo Him dengan mengandalkan kegesitannya. Tubuhnya telah bergerak lincah ke sana ke mari dengan kecepatan seperti angin saja, di mana tubuhnya berkelebat-kelebat tidak hentinya, membuat Yo Him terpaksa harus mengawasinya dengan mata yang tajam dan cermat.

Karena sekali saja dia lengah, niscaya dia akan menjadi korban dari tangan orang bertubuh tinggi kurus itu. Karenanya, Yo Him juga terbangun semangatnya, dia mengempos tenaga lweekangnya dan balas menyerang dengan beruntun,

Bun Kie Lin yang melihat pertempuran yang tengah berlangsung, jadi memandang dengan mata yang terpentang lebar-lebar. Dilihatnya Yo Him memang memiliki kepandaian yang tinggi.

Juga orang bertubuh tinggi kurus itu memiliki kepandaian yang cukup tinggi. Jika Bun Kie Lin yang harus menghadapinya, tentu dia tidak mungkin dapat menghadapinya, karena kepandaiannya masih kalah setingkat dari kepandaian ke dua orang itu.

Diam-diam Bu Kie Lin pun menyadari, telah belasan tahun ia berlatih diri dengan giat. Di samping memperdalam ilmu pengobatannya iapun melatih lweekang dan ilmu silatnya.

Namun ternyata latihannya yang selama belasan tahun itu belum memberikan hasil yang terlalu banyak buatnya. Di samping lweekangnya yang belum dapat menandingi lweekang Yo Him dan orang bertubuh tinggi kurus itu, juga belum pasti bahwa ia akan dapat menghadapi ilmu silat dan ilmu pukulan mereka.

Sebelumnya Bun Kie Lin yakin bahwa ia telah mempelajari ilmu silat tingkat tinggi dan lweekang yang sempurna. Karena itu diam-diam dia yakin bahwa jarang ada orang yang bisa menandingi kepandaiannya. Disebabkan itu pula, maka ia selalu bersikap angkuh terhadap siapapun juga.

Namun sesungguhnya di hati kecilnya Bun Kie Lin itu sekarang terdapat perasaan kagum tidak terhingga kepada Yo Him. Hal ini disebabkan dia memang mengetahui Yo Him sebagai putera dari Sin-tiauw-tay-hiap Yo Ko, juga melihat usianya yang masih begitu muda, tetapi telah berhasil memiliki kepandaian yang begitu tinggi, disamping lweekangnya pun cukup kuat, melebihi lweekangnya, maupun lweekang dari orang bertubuh tinggi kurus itu.

Sasana sendiri yang menyaksikan cara bertempur Yo Him, diam-diam merasa heran, mengapa Yo Him selama itu masih juga belum bisa merubuhkan lawannya, dan yang membuat Sasana jadi heran, tampaknya kepandaian Yo Him tidak menang banyak dibandingkan orang bertubuh tinggi kurus itu. Diam-diam, Sasana menduga-duga entah siapa adanya orang bertubuh tinggi kurus itu dan diapun telah memperhatikan cara bertempurnya orang bertubuh tinggi kurus tersebut, jurus demi jurus.

Semakin memperhatikan cara bertempur dari orang bertubuh tinggi kurus itu. Sasana semakin heran, karena dilihatnya bahwa orang bertubuh tinggi kurus itu mempergunakan semacam ilmu silat yang tidak dikenalnya. Dengan begitu, Sasana mengawasi dengan tertegun.

Giok Hoa berbeda dari Sasana. Jika hatinya memang tertarik menyaksikan jalannya pertempuran seru itu, tokh ia tetap saja menguatirkan keselamatan jiwa paman Hok nya, karena dari itu perhatiannya lebih banyak dicurahkan kepada Hok An.

Dilihatnya pelupuk mata Hok An mulai bergerak, juga telah mengeluarkan suara keluhan yang perlahan sekali, kemudian matanya terbuka, perlahan-lahan.

Bukan main gembiranya hati Giok Hoa melihat Hok An telah tersadar.

“Paman Hok.....!” panggilnya dengan suara yang agak sember, dan air matanya telah menitik turun. “Kau telah sadar paman Hok.....!”

Hok An telah melirik kepada gadis cilik itu, menggerakkan tangan kanannya, dia telah menggenggam tangan Giok Hoa.

“Ya, ya..... sekarang kita berada di mana?” tanya Hok An.

“Kita berada di tempat yang cukup aman paman Hok.... Kau telah menerima pengobatan yang sangat baik dari Bun Sin-se, karena itu tenanglah paman Hok. Tidak lama lagi tentu kau akan segera sembuh dan kesehatanmu pulih sebagaimana sedia kala!” menghibur Giok Hoa.

“Siapakah Bun Sin-se itu?!” tanya Hok An sambil bola matanya bergerak-gerak berusaha memandang sekitarnya, sehingga dia melihat Bun Kie Lin duduk tidak jauh dari tempatnya berada, tengah mengawasi ke arahnya.

“Aku yang telah mengobatimu......!” kata Bun Kie Lin dengan suara yang tawar.

“Ohhh, terima kasih..... terima kasih atas budi kebaikan Sin-se......!” kata Hok An. “Maafkanlah, aku belum bisa bangun buat menyatakan rasa terima kasih......!”

Bun Kie Lin tidak memperlihatkan perasaan apapun juga di wajahnya. Dia telah memandang tawar kepada Hok An, katanya:

“Di antara kita tidak terdapat perkataan budi dan kebaikan. Aku bukan bermaksud menolongimu, karena merasa kasihan melihat keadaanmu, tetapi aku tengah bertaruh dengan kawanmu yang tidak mempercayai bahwa aku bisa menyembuhkan luka-lukamu, dan sekarang telah terbukti bahwa aku tidak mendustainya, serta sanggup mengobati luka-lukamu, sampai sembuh!

“Engkau telah dapat bicara. Engkau mulai berangsur sembuh dan sehat lagi, maka dari itu kawanmu tidak mungkin dapat mengatakan bahwa aku ini mendustainya.....!”

Hok An tidak mengerti apa yang dikatakan Bun Kie Lin, sehingga dia hanya mengawasi saja, sampai akhirnya dia bilang:

“Jika demikian, baiklah.... Kalau memang terlihat kawanku itu tidak mempercayai akan keteranganmu, biarlah nanti aku yang memberitahukan kepadanya, bahwa aku benar-benar telah sembuh. Tentu kawanku itu akan meminta maaf kepadamu dan juga akan menyatakan terima kasihnya.....”

Tetapi Bun Kie Lin hanya tertawa tawar saja, dia seperti tidak mengacuhkan perkataan Hok An.

Giok Hoa yang melihat keadaan Bun Kie Lie seperti itu, segera maju ke depan. Dia telah menjatuhkan diri berlutut di hadapan Bun Kie Lin, sambil mengangguk-anggukan kepalanya, dia telah berkata:

“Terima kasih atas bantuan dan pertolongan dari Bun Sin-se, tidak dapat kami lupakan budi kebaikan Bun Sin-se..... Dengan ini aku mewakili paman Hok buat menyatakan terima kasih yang sebesar-besarnya......”

Tetapi Bun Kie Lin mengibaskan tangannya, dia telah bilang: “Tidak perlu engkau mengucapkan terima kasih, akupun tidak membutuhkan terima kasihmu.....!”

Karena dia mengibas dengan tenaga yang cukup kuat pada pergelangan tangannya, maka tubuh Giok Hoa telah terpental dan terguling di tanah.

Menyaksikan itu, segera juga Hok An hendak memaksakan diri buat melompat guna menolongi Giok Hoa. Hanya saja, tubuhnya masih lemah, sehingga dia tidak bisa bangun.

Dengan perasaan kaget dan tidak senang, ia telah membentak: “Kau..... kau mengapa kau menganiaya Giok Hoa?!”

Bun Kie Lin tertawa tawar, katanya: “Sudah kukatakan, bahwa aku tidak membutuhkan terima kasih kalian! Yang terpenting aku telah memenangkan pertaruhan kami, di mana aku dapat menyembuhkan luka-lukamu itu!

“Hemmmm, apa gunanya ucapan terima kasih kalian? Sekarang kalian menyatakan terima kasih kepadaku, tetapi setelah kita berpisah, tentu kalian akan melupakannya begitu saja! Tetapi, yang terpenting sekali, memang aku sesungguhnya bukan hendak menolongi engkau, maka engkau tidak perlu berterima kasih kepadaku, karena aku hanya tengah bertaruh belaka dengan kawanmu itu......!”

Sambil berkata begitu, tampak Bun Kie Lin telah menoleh menyaksikan lagi jalan pertempuran antara Yo Him dengan orang bertubuh tinggi kurus itu.

Giok Hoa merangkak bangun mukanya agak merah, karena membengkak. Semua itu akibat mukanya tadi telah menubruk tanah, sehingga terbentur cukup keras. Dengan begitu telah membuat Giok Hoa menderita kesakitan.

Namun walaupun hatinya mendongkol, tokh Giok Hoa tidak memperlihatkan kemendongkolannya itu, dia telah merangkak bangun dan berdiam di samping Hok An tanpa mengucapkan sepatah perkataan pun juga.

“Engkau..... kau terluka, Giok Hoa?” tanya Hok An sambil melirik terharu kepada gadis kecil itu.

*** ***
Note 03 Desember 2020
Belajarlah rendah hati, rendahkan hatimu serendah-rendahnya hingga tidak ada seorangpun yang bisa merendahkanmu.
|Serial Si Pisau Terbang Siao Li telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Si Pisau Terbang Siao Li (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Anak Rajawali Lanjutan (Beruang Salju) Jilid 10"

Post a Comment

close