Anak Rajawali Lanjutan (Beruang Salju) Jilid 03

Mode Malam
 
Anak rajawali Jilid 03
Jurang itu ternyata sangat dalam sekali. Waktu Hok An tiba di dasar jurang tersebut, di saat itu hampir menjelang sore hari.

Yang pertama-tama dilihatnya adalah Bin Hujin, yang rebah tengkurap dengan keadaan yang sangat mengiriskan hati. Tubuhnya hancur dan juga tentunya tulang-tulang di tubuhnya telah patah dan remuk.

Hok An segera menjatuhkan dirinya berlutut di dekat mayat Bin Hujin. Dengan air mata berlinang-linang dia berkata:

“Kim Hoa, Kim Hoa..... aku tidak menyangka bahwa engkau akan pergi lebih dulu meninggalkan aku..... Kim Hoa..... Kim Hoa..... mengapa engkau begitu nekad, sehingga engkau membunuh diri? Bukankah segala persoalan apapun juga masih bisa diselesaikan? Bukankah masih ada aku, yang bersedia buat melakukan suatu apapun juga demi kebahagiaanmu?!”

Terus menerus Hok An menangis dan juga menyesali kenekadan Kim Hoa, sampai akhirnya dia telah menangis terisak-isak.

Selama bertahun-tahun dia telah berkelana mencari jejak Kim Hoa. Selama itu pula Hok An selalu diliputi oleh khayalannya.

Jika saja dia berhasil menemui jejak Kim Hoa, betapa akan membahagiakannya. Secuil kegembiraan tentu akan diperolehnya, dan juga sedikit kebahagiaan yang masih bersisa di hatinya pasti akan hidup kembali..... Tentu Kim Hoa pun akan gembira dan bahagia bisa bertemu dengannya. Masih mencintai dan mengasihinya.

Akan tetapi kenyataan yang ada justeru berlainan sama sekali dengan apa yang dikhayalkannya itu, bahkan juga memang di waktu itu Kim Hoa telah menjadi milik orang. Dengan demikian membuat kandas seluruh harapan Hok An.

Dan sekarang justeru diapun harus menghadapi peristiwa seperti ini, di mana Kim Hoa telah menghabisi jiwanya sendiri dengan membuang diri ke dalam jurang. Sedangkan suami Kim Hoa juga telah menghembuskan napasnya, karena telah terluka berat di tangan Lung Hie.

Malah yang membuat Hok An semakin sedih, karena puteri Bin Wan-gwe pun telah terbinasa dilempar ke dalam jurang ini. Semua kehancuran keluarga Bin tersebut sejak kemunculannya, membuat Hok An menjadi menyesal bukan kepalang.

Teringat kepada puteri Bin Wan-gwe, segera juga dia menoleh ke kiri ke kanan, dia mencari-cari mayat puteri Bin Wan-gwe.

Di saat itu, dia tidak melihat mayat puteri Bin Wan-gwe, sehingga membuat Hok An terheran-heran. Dia berdiri dari duduknya dengan segera dan matanya telah memandang ke sana kemari mencari-cari mayat puteri Bin Wan-gwe.

Tetap saja dia tidak berhasil menemui mayat puteri Bin Wan-gwe.

“Ohhh, ke manakah mayat puteri Bin Wan-gwe, apakah memang mayat puteri Bin Wan-gwe telah dibawa oleh binatang buas yang mendiami dasar jurang ini?!” menggumam Hok An dengan hati yang berdebar keras. “Apakah mayatnya telah dijadikan santapan binatang buas itu.....?!”

Hok An jadi penasaran, dia telah mencari terus ke sana ke mari.

Sampai akhirnya hatinya berdebar keras sekali, dia melihat sesosok tubuh kecil yang rebah di atas tumpukan rumput, rebah dalam keadaan diam tidak bergerak sedikitpun juga.

Cepat-cepat Hok An melompat dan memeriksa sosok tubuh kecil itu.

Seorang gadis cilik dan tidak lain dari puteri Bin Wan-gwe!

Waktu Hok An memeriksa keadaannya, dia memperoleh kenyataan puteri Bin Wan- gwe itu masih bernapas. Hati Hok An semakin berdebar.

Tidak terlihat luka sedikitpun juga di tubuh puteri Bin Wan-gwe.

Diam-diam Hok An pun heran, mengapa puteri Bin Wan-gwe bisa terlontar dan jatuh di tempat yang sejauh ini dari sasaran tempat jatuhnya yang semula? Malah mengapa bisa jatuh di atas tumpukan rumput-rumput yang tumbuh tebal sekali di bagian tempat tersebut?

Hok An dongak mengawasi ke atas, dia melihat ke mulut jurang itu, dan juga memperoleh kenyataan, seperti ada kekuatan yang tidak tampak, yang pasti telah melemparkan puteri Bin Wan-gwe ke arah tumpukan rumput ini! Dan itulah kekuasaan Tuhan, di mana puteri Bin Wan-gwe belum saatnya menemui ajal.

Gembira juga hati Hok An, dia merasa agak terhibur setelah memperoleh kenyataan puteri Bin Wan-gwe itu tidak mati terbanting di dasar jurang.

Akan tetapi tiba-tiba sekali Hok An teringat sesuatu. Perasaan menyesal jadi tumbuh hebat di hatinya, dia sampai membanting-banting kakinya dengan penyesalan yang hebat menggoda hatinya, dan diapun menangis dengan keras.

“Kim Hoa.....! Kim Hoa! Ohhh, engkau terlalu kalap dan tergesa-gesa menghabisi jiwamu sendiri! Sesungguhnya, jika saja engkau mau bersabar dulu, sampai aku memeriksa keadaan di dalam jurang ini, mencari puterimu tentu kau tidak akan menemui ajalmu. Karena puterimu sendiri sesungguhnya tidak mati terbanting di dasar jurang ini.....! Kim Hoa! Kim Hoa! Ohhh, Kim Hoa.....!”

Dan Hok An terus menerus menangis setengah harian dengan hati yang berduka dan luluh sekali. Di waktu itu sudah menjelang malam dan keadaan gelap sekali.

Mengapa puteri Bin Wan-gwe bisa berada ditumpukan rumput yang tebal itu?

Sesungguhnya, semua itu terjadi karena memang atas kekuasaan Thian juga, sehingga puteri Bin Wan-gwe tidak menemui ajalnya di dasar jurang tersebut.

Waktu dia dilontarkannya, tubuh puteri Bin Wan-gwe memiliki daya lempar dari Lung Hie, dan juga waktu Hok An menjambret mengenai tempat kosong karena dihantam oleh pukulan Lung Hie, angin pukulan itu seperti juga mendorong tubuh puteri Bin Wan-gwe, sehingga terpental ke samping.

Karena itu, waktu tubuhnya meluncur jatuh, diapun dalam keadaan pingsan, sehingga tidak melakukan gerakan yang bisa merobah arah meluncur tubuhnya. Dia telah terdorong ke samping dan tubuhnya kebetulan jatuh di atas tumpukan rumput yang tumbuh tebal sekali.

Dengan demikian, walaupun terbanting keras sekali, puteri Bin Wan-gwe tidak mengalami cidera apapun juga, hanya saja dia tentu akan merasa sakit-sakit pada sekujur tubuhnya, namun tidak membahayakan keselamatan jiwanya.

Lama juga Hok An menangisi kemalangan nasibnya, yang selain kandas dalam cintanya, dan juga harus menghadapi semua peristiwa yang menyedihkan ini. Dengan begitu Hok An tidak menyesali akan kemalangan diri dan nasibnya.

Sedangkan puteri Bin Wan-gwe, yang telah pingsan satu hari satu malam, akhirnya bergerak perlahan mulai siuman, juga mengeluarkan suara rintihan perlahan.

Hok An jadi terhenti dari tangisnya, dia telah memandang dengan penuh perhatian kepada puteri Bin Wan-gwe tersebut.

Waktu itu tubuh Puteri Bin Wan-gwe telah bergerak perlahan-lahan dan kemudian bangun duduk.

“Ibu..... Thia (ayah).....!” berseru gadis kecil itu yang seketika menangis keras sekali, waktu memperoleh kenyataan di sekelilingnya gelap pekat.

Hok An cepat-cepat melompat berdiri dari duduknya. Dia telah mengulurkan ke dua tangannya memegang ke dua lengan gadis cilik tersebut.

“Jangan takut, jangan menangis, ada paman di sini! Jangan takut! Tidak ada orang jahat yang akan mengganggumu lagi! Diamlah, jangan menangis....!” menghibur Hok An.

Sedangkan waktu itu puteri Bin Wan-gwe masih menangis dengan keras, dia juga meronta dari cekalan tangan Hok An.

“Jangan ganggu aku..... lepaskan! Kau orang jahat! Kau telah menculikku dan menganiaya ayahku dan ibuku......!”

“Bukan aku..... orang itu sudah melarikan diri!” kata Hok An dengan segera.

“Kau! Kau yang telah menganiaya ayahku dan juga menculikku!” kata puteri Bin Wan-gwe tersebut.

Hok An tertawa di antara sendat tangisnya karena gembira melihat anak tersebut telah tersadar dari pingsannya.

“Coba kau perhatikan dengan seksama dan baik-baik, apakah paman yang telah menganiaya ayah dan ibumu atau menculik engkau?!” kata Hok An dengan suara yang sabar sekali.

Gadis cilik tersebut berhenti menangis, dia menyusut air matanya dan memperhatikan Hok An dengan sejelas-jelasnya, dia mementang ke dua matanya lebar-lebar.

Lama sekali gadis cilik itu memperhatikan Hok An, keadaan di dasar jurang itu gelap sekali, sampai akhirnya dia berkata: “Ohh..... memang bukan engkau..... bukan engkau! Lalu kau siapa..... tetapi..... tetapi engkau......engkau adalah orang yang telah datang bersama-sama dengan orang jahat itu.....!”

Hok An tersenyum.

“Akan tetapi aku tidak bermaksud jahat kepada keluargamu, malah aku telah berusaha menolongi engkau dari tangan orang yang menculik kau itu..... hanya sayang aku gagal, engkau telah dilemparkan masuk ke dalam jurang ini.....!” kata Hok An menjelaskan.

Gadis cilik itu jadi tidak begitu ketakutan lagi, dia telah berkata dengan suara agak ragu-ragu: “Mana ibuku..... mana ibuku?!”

“Ibumu?!” Hok An seperti tersentak kaget, untuk sejenak dia ragu-ragu dan kemudian dia telah berkata dengan suara tidak lampias: “Nanti aku akan menceritakan mengenai ibumu?!”

“Mengapa tidak sekarang saja?!” tanya puteri Bin Wan-gwe tersebut.

“Nanti..... nanti jika engkau telah sehat benar! Sekarang engkau perlu istirahat..... engkau perlu mengasoh dulu. Nanti jika engkau telah sehat kembali, di waktu itu barulah aku akan menceritakan perihal diri ibumu itu.....!”

Gadis cilik tersebut berdiam diri, namun tiba-tiba sekali dia menangis terisak-isak lagi.

“Sudahlah anak..... kau jangan menangis lagi, kau tidak perlu merasa takut, paman berada disini yang akan melindungi dirimu....., engkau tidak perlu takut dan tidak akan ada orang yang mengganggu dirimu.....!”

Gadis cilik tersebut masih juga menangis terisak-isak memanggil-manggil ibunya.

Bukan main bingungnya Hok An, dia menghela napas berulang kali dengan bingung karena tidak tahu dengan cara bagaimanakah dia harus menghibur gadis tersebut, dan juga bagaimana dia harus menghentikan tangis dari gadis cilik itu, sampai akhirnya dia bilang,

“Baiklah adik kecil, jika memang engkau hendak menangis terus, menangislah..... menangis sampai puas, dan nanti setelah air matamu habis, barulah engkau berhenti!”

Gadis cilik tersebut masih juga menangis dengan terisak-isak, bagaikan ia tengah dirundung kedukaan yang sangat. Sesungguhnya gadis cilik itu tengah dicekam rasa takut pula, dia mengetahui dan mengenal siapa adanya Hok An, orang yang pernah datang mengacau di rumahnya dan hendak membunuh ayahnya.

Di samping itu Hok An pun pernah membantu orang yang menculiknya, untuk menimbulkan kekacauan ke dua kalinya di rumahnya. Dengan demikian jelas gadis cilik tersebut memiliki dugaan bahwa Hok An bukanlah sebangsa manusia baik-baik.

Sekarang mereka berada di dasar jurang seperti ini, telah membuat gadis cilik puteri dari Bin Wan-gwe tambah ketakutan, sedih dan penasaran, karena untuk selanjutnya sulit buat dia meninggalkan dasar jurang tersebut. Sulit pula buat menghadapi Hok An, karena di dekat mereka sudah tidak ada orang lain yang bisa menolongnya jika saja Hok An hendak membunuhnya atau menyiksanya.

Terlebih lagi gadis cilik ini teringat, sebelum dia diculik oleh Bin Lung Hie, yang ternyata adalah pamannya, dia mengetahui ayahnya telah meninggal akibat luka yang parah. Dan sekarang ia menangis disebabkan teringat kepada nasibnya, di mana ia telah kehilangan ayahnya.

Kini dia terkurung di dasar jurang, membuat gadis cilik ini tidak mengetahui apakah dia harus menangis terus atau berhenti menangis di saat dia mendengar perkataan Hok An yang terakhir itu.

Bin Wan-gwe merupakan seorang hartawan yang terkaya di kampung mereka, karena itu gadis cilik ini juga telah diperlakukan oleh penduduk kampung dengan penuh hormat dan sanjung. Dia biasa hidup mewah di dalam gedung dengan seluruh barang-barang yang serba mahal harganya, semua kebutuhannya selalu terpenuhi.

Akan tetapi sekarang dia berada di dasar jurang, dengan begitu sulit buat dia mengecap kenikmatan seperti di masa yang lalu, di mana dia hidup sebagai puteri hartawan kaya raya. Sekarang dia kedinginan, ketakutan dan juga tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

Gadis cilik itupun belum lagi mengetahui bahwa ibunya kini telah meninggal dunia juga menyusul ayahnya buat selama-lamanya, sehingga puteri Bin Wan-gwe itu jadi hidup sebatang kara, di masa-masa mendatang sebagai anak yatim piatu. Jika memang dia mengetahui ibunya telah meninggal dunia, niscaya gadis cilik itu akan menangis keras dan jatuh pingsan.

Hok An yang telah kewalahan sebab gadis cilik itu tidak juga mau berhenti menangis, telah membiarkannya saja, karena Hok An pikir jika tokh dia membujuknya akan sia-sia, gadis cilik itu tetap menangis saja.

Ketika melihat Hok An berdiam diri saja, gadis cilik itu jadi sering melirik kepadanya, sampai akhirnya dia berhenti menangis dengan sendirinya. Malah kemudian gadis cilik itu yang berkata lebih dulu: “Kau..... kau harus mengantarkan aku pulang ke rumahku.....!”

Melihat gadis cilik itu telah berhenti menangis, dan mau berbicara, Hok An jadi girang.

“Tentu! Tentu! Jika memang kau hendak pulang ke rumahmu, aku tentu bersedia mengantarkan engkau pulang ke rumahmu..... Akan tetapi, apakah di dalam rumah itu masih ada orang yang memiliki hubungan dekat denganmu,” kata Hok An kemudian.

Gadis cilik tersebut menyusut air matanya yang bersisa di pelupuk matanya, kemudian katanya: “Masih ada ibuku..... memang ayahku telah meninggal dunia, akan tetapi ibuku masih berada di sana..... Tentu ibuku berkuatir sekali memikirkan aku yang telah diculik oleh laki-laki jahat itu......!”

Hok An tertegun sejenak di tempatnya, lama dia tidak bisa berkata-kata, karena waktu itu dia menyadari bahwa gadis cilik ini sebenarnya memang belum mengetahui perihal kematian ibunya. Untuk menyampaikan hal itu kepada gadis cilik tersebut, Hok An merasakan bibirnya berat sekali mengucapkannya.

Melihat Hok An berdiam diri, gadis cilik itu sambil membuka matanya lebar-lebar, telah bertanya: “Apakah engkau tidak bersedia menolongku dan mengantarkan pulang ke rumahku?”

Hok An cepat-cepat mengangguk. “Aku bersedia..... aku bersedia. Akan tetapi ibumu.....!”

“Ibuku? Ibuku tentu menantikan dengan kuatir dan tengah menangis..... karena ibuku tentu memikirkan keselamatanku!” Harap kau mau cepat-cepat mengantarkan aku pulang ke rumah agar cepat-cepat dapat bertemu dengan ibuku, sehingga ibuku tidak akan menangis terlalu lama dan berduka terus menerus......!”

Hok An menghela napas dalam-dalam, kemudian katanya: “Dengarlah baik-baik, nak, sebenarnya..... sebenarnya ibumu telah meninggal dunia..... karena jika engkau pulang ke rumahmu, itupun akan sia-sia belaka, engkau tidak akan menemui ibumu itu......!”

Gadis cilik itu memandang Hok An dengan mata terbuka lebar-lebar, seperti juga tidak mempercayai apa yang diucapkan Hok An.

“Kau..... kau bilang ibuku sudah meninggal juga? Ohhh, tentu kau ingin mendustai aku.....!” kata gadis cilik itu kemudian dengan suara tergagap.

“Sungguh...... aku tidak bermaksud mendustaimu..... memang sebenarnya ibumu telah meninggal.....! Bahkan meninggal di dasar jurang itu juga......!” kata Hok An sambil menghela napas dalam-dalam.

“Gadis cilik itu jadi menangis sejadinya, katanya: “Tentu..... tentu dicelakai oleh laki-laki jahat itu.....!”

“Bukan.....!” kata Hok An ingin menjelaskan.

Akan tetapi, gadis cilik itu telah memotongnya: “Tentu saja kau membela lelaki jahat itu, karena dia memang kawanmu yang ingin membunuh ayah dan ibuku! Sekarang kalian telah berhasil membinasakan ayah dan ibuku..... Kau tidak memiliki perasaan dan kejam! Kau telah mencelakai ayah dan ibuku tanpa mengenal kasihan.....!” Sambil berkata seperti itu gadis cilik tersebut menangis terisak-isak sedih sekali.

Hok An jadi bengong, diapun tidak mengetahui apa yang harus dikatakannya. Sikapnya seperti orang tolol saja, hanya mengawasi bengong pada gadis cilik yang tengah menangis terisak-isak.

Tiba-tiba gadis cilik tersebut mengangkat kepalanya, dengan air mata mengucur deras dari sepasang matanya, dia bilang dengan suara yang cakup nyaring: “Jika memang kalian telah berhasil membinasakan ayah dan ibuku, mengapa sekarang kau tidak membunuhku? Bunuhlah! Aku tidak takut!”

Hok An masih tetap tertegun di tempatnya, dia tidak tahu apa yang harus dikatakannya, sampai akhirnya dia bilang: “Tenanglah..... tenanglah nak...... aku bukan orang jahat, dan akupun tidak bermaksud buat mencelakai ayah dan ibumu......, percayalah..... tidak pernah aku berpikir hendak mencelakai ke dua orang tuamu.....!”

“Kan bohong! Kau dusta!” teriak gadis cilik itu. “Pertama-tama engkau yang datang hendak membunuh ayahku kemudian engkau datang dengan laki-laki jahat itu, di mana ayahku terluka oleh pukulannya, akhirnya ayahku meninggal karena luka-lukanya! Kemudian malam ini, laki-laki jahat itu telah menculikku dan menurut keterangan yang kau berikan tadi, ibuku pun telah dibinasakan olehnya......”

Setelah berkata begitu, gadis cilik puteri Bin Wan-gwe ini menangis terisak-isak lagi, tampaknya dia sedih bukan main.

Hok An baru saja mau menghibur gadis cilik itu, tiba-tiba tubuh gadis cilik tersebut terkulai dan pingsan tidak sadarkan diri......!

Cepat-cepat Hok An memeriksanya, dia berusaha menotok beberapa jalan darah gadis itu, agar kedukaan si gadis yang terlalu hebat itu tidak menyebabkannya terluka di dalam tubuhnya. Selesai menotok beberapa jalan darah di tubuh gadis cilik itu, Hok An duduk bengong.

Dia jadi teringat semua peristiwa yang telah dialaminya, semua peristiwa yang begitu manis antara dia dengan Un Kim Hoa. Sampai akhirnya sekarang dia harus menghadapi kenyataan yang pahit.

Dalam saat hatinya tengah hancur karena melihat Kim Hoa telah menjadi isteri Bin Wan-gwe, juga seperti tidak mengacuhkannya, lalu sekarang diapun harus melihat Un Kim Hoa menemui kematiannya yang mengenaskan seperti itu! Malah puteri Un Kim Hoa, yang merupakan keturunan yang diperoleh dari Bin Wan-gwe, telah menuduh dirinya sebagai manusia jahat.

Angin di dasar lembah tersebut dingin sekali, Hok An menoleh kepada gadis cilik itu yang masih rebah pingsan tidak sadarkan diri. Akhirnya Hok An menghela napas dalam-dalam. Betapa miripnya wajah gadis cilik itu dengan wajah Un Kim Hoa.

Perlahan-lahan Hok An bangkit dari duduknya, dia membuka baju luarnya dan menyelimuti gadis cilik tersebut, agar terhindar dari siliran angin yang begitu dingin. Barulah kemudian Hok An duduk termenung lagi mengenang seluruh pengalamannya, baik pengalaman yang manis maupun yang pahit. Akan tetapi sekarang Hok An bagaikan memiliki rasa tanggung jawab dan kasihan terhadap puterinya Bin Wan-gwe, di mana jika memang gadis cilik tersebut tidak keberatan, Hok An berhasrat melindunginya, merawat dan membesarkannya.

Lama juga gadis cilik tersebut pingsan, sampai akhirnya waktu dia siuman, yang pertama-tama dilakukannya adalah menangis terisak-isak sedih sekali.

“Sudahlah jangan menangis. Mari kutunjukkan padamu di mana jenasah ibumu berada.....!” kata Hok An.

Gadis cilik itu tidak menyahuti dia hanya mengawasi Hok An yang pada waktu itu tengah berdiri, dengan air mata yang tetap berlinang deras sekali dari matanya.

Tanpa memperdulikan gadis cilik itu bersedia atau tidak ikut dengannya, Hok An telah melangkah untuk menuju ke tempat di mana mayat Bin Hujin berada.

Gadis cilik itupun merasa takut jika harus berada di dasar jurang ini, dia kuatir kalau-kalau Hok An akan meninggalkannya. Terlebih lagi mendengar Hok An akan menunjukkan padanya tempat di mana beradanya mayat ibunya. Segera dia berdiri dan mengikuti Hok An.

Berjalan belum jauh, gadis cilik itu telah melihat sesosok tubuh yang rebah di dasar jurang ini juga. Segera pula dia mengenali bahwa sosok tubuh itu tidak lain dari ibunya!

Dengan disertai pekik dan tangis, gadis cilik itu menubruk mayat ibunya, yang digoncang-goncangkan dan berseru dalam menangis: “Ibu..... ibu..... mengapa kau meninggalkan aku pula? Ibu.....?!”

Hok An membiarkan gadis cilik itu menangis, dia mengambil sebatang cabang pohon yang cukup besar, kemudian dia menggali tanah. Setelah menggali lobang yang cukup besar, dia bilang pada gadis cilik itu: “Sudahlah jangan ditangisi seperti itu. Walaupun engkau menangisi sampai mengeluarkan air mata darah, tetap saja ibumu tidak bisa hidup lagi...... lebih baik-baik engkau membantuku buat menguburnya.”

Gadis cilik itu tidak tahu apa yang harus dilakukannya, dia hanya menangis sambil memanggil-manggil ibunya.

Hok An bekerja cepat, dia telah memasukkan mayat Bin Hujin ke dalam lobang yang telah digalinya, kemudian ditutupnya kembali dengan tanah. Kuburan yang sederhana sekali, sedangkan gadis cilik itu yang tidak bisa menahan kedukaan hatinya, dalam ketakutan dan kebingungan juga, akhirnya jatuh pingsan tidak sadarkan diri.

Hok An menghela napas dalam-dalam sambil menghapus keringat di keningnya, karena dia pun letih sekali.

Kasihan gadis cilik ini, tampaknya menderita sekali menerima gempuran perasaan harus kehilangan ke dua orang tuanya dan wajar pula dia memiliki kesan buruk padaku, di mana dia menduga akulah yang telah mencelakai ke dua orang tuanya bersama-sama dengan pemuda itu.....!” Dan Hok An menghela napas lagi beberapa kali.

Kali ini gadis cilik itu pingsan tidak terlalu lama, tetapi tetap saja seperti tadi, begitu tersadar dari pingsannya ia menangis lagi.

Hok An menyadarinya, tidak bisa ia membuang-buang waktu di dasar jurang yang sangat dingin ini. Jika saja gadis cilik ini masuk angin jahat dan jatuh sakit, niscaya dia yang akan menghadapi kesulitan lagi buat merawatnya.

“Baiklah nona kecil.....!” kata Hok An akhirnya. “Mari kita tinggalkan tempat ini..... nanti terserah kepadamu, apakah engkau ingin ikut serta denganku atau memang ingin kembali ke rumahmu, tetapi yang terpenting sekarang engkau bersamaku harus meninggalkan dasar jurang ini......!”

Gadis cilik itu masih menangis beberapa saat lamanya, sampai akhirnya dia berdiri juga ketika melihat Hok An bersiap-siap hendak berlalu.

“Kau jangan takut, pejamkan mata rapat-rapat..... aku akan menggendongmu dan membawa naik ke atas tebing ini!” kata Hok An.

Gadis cilik itu membuka matanya lebar-lebar.

“Ini..... ini.....” tergagap sekali suaranya, tangisnya berkurang, tampaknya dia ketakutan sekali. “Aku....., aku tidak berani…..!”

Namun Hok An tanpa membuang-buang waktu pula, belum lagi gadis cilik tersebut selesai demgan kata-katanya, dia telah melompat ke dekatnya, tangannya segera menjambret pinggang gadis itu, yang dipeluknya kuat-kuat. Kemudian membawa lari dengan segera.

Dengan mempergunakan ginkangnya, Hok An mudah saja membawa gadis cilik itu mendaki tebing tersebut, sebentar saja ia sudah berhasil membawa puteri Bin Wan-gwe tiba di atas tepi jurang tersebut, barulah gadis cilik itu diturunkannya!”

“Kita telah sampai!” kata Hok An kemudian.

Sejak tadi gadis cilik itu telah memejamkan matanya rapat-rapat karena diapun merasakan tubuhnya seperti melayang-layang di tengah udara. Hatinya juga berdebar-debar keras sekali, waktu dia merasakan tubuhnya diturunkan oleh Hok An memberitahukan mereka telah sampai, gadis cilik tersebut membuka matanya perlahan-lahan, sedangkan tubuhnya masih bergoyang-goyang dengan kepala pening, dia masih merasakan tubuhnya seperti juga dibawa lari oleh Hok An, agak pening.

Hok An tersenyum.

“Sekarang apakah kau ingin kembali ke rumahmu?!” tanya Hok An.

Gadis cilik itu hanya mengangguk saja.

Hok An telah mengangguk sambil katanya: “Baik! Baik! Aku akan mengantarkan kau ke rumahmu. Akan tetapi untuk mempersingkat waktu agar kita sampai ke rumah lebih cepat, aku akan menggendongmu!”

Setelah berkata begitu, tanpa menantikan jawaban gadis cilik itu, Hok An telah menggendong gadis cilik itu lagi dengan tangan kanan melingkari pinggangnya. Kemudian melesat cepat sekali.

Dalam waktu yang singkat mereka telah tiba di depan gedung Bin Wan-gwe.

Waktu itu menjelang larut malam, rupanya mereka berada di dasar jurang tersebut selama hampir dua hari. Dan waktu itu keadaan di gedung Bin Wan-gwe sangat sunyi sekali.

Hok An menjejakkan kakinya, dia memasuki gedung itu tanpa mengetuk pintu lagi, melainkan melewati dinding yang cukup tinggi itu.

Setelah berada di dalam gedung Hok An melepaskan lingkaran tangannya pada pinggang gadis cilik itu.

“Sudah sampai!” kata Hok An. “Nah, masuklah kau ke dalam, aku ingin pergi lagi. Mungkin masih ada para pembantu ke dua orang tuamu.....!”

Gadis cilik itu melihat keadaan di dalam gedung tersebut gelap sekali, entah mengapa dia jadi menggidik. Lebih-lebih teringat ayahnya baru saja meninggal dan tidak ada api penerangan di dalam gedung. Rupanya lilin-lilin dan lentera tidak dinyalakan oleh para pembantu rumah tangga Bin Wan-gwe.

“Aku..... aku takut.....!” kata gadis cilik itu kemudian.

Hok An tersenyum.

“Mari kuantarkan ke dalam.....!” katanya sambil melangkah lebih dulu untuk masuk ke dalam gedung tersebut. Gadis cilik itu mengikuti di belakangnya dengan hati berdebar-debar.

Waktu sampai di dekat ruangan tengah, tiba-tiba Hok An mencium bau anyir yang amis sekali. Dia jadi mengerutkan sepasang alisnya, memperhatikan sekitar tempat tersebut. Segera juga dilihatnya, sesosok tubuh menggeletak di lantai tidak bergerak.

Cepat Hok An melompat mendekatinya, dan dia terkejut, sebab itulah sesosok mayat dengan luka-luka di sekujur tubuhnya. Sepasang mata mayat tersebut juga terpentang lebar-lebar seperti juga orang itu sebelum menemui ajalnya sangat menderita dan ketakutan sekali.

Gadis cilik puteri Bin Wan-gwe menjerit perlahan ketakutan, dia sampai menubruk Hok An dan memegang lengan Hok An erat-erat.

“Dia..... dia telah dibunuh.....!” kata puteri Bin Wan-gwe ketakutan.

“Tenang..... mari kita tanya kepada pembantu rumah tangga orang tuamu yang lainnya, tentu mereka bisa memberikan keterangan.....!” kata Hok An.

Dengan menuntun tangan gadis cilik tersebut, Hok An memasuki ruangan tersebut lebih jauh. Tiba-tiba dia melihat ada dua sosok tubuh yang menggeletak di lantai sebelah dalam, dalam keadaan tidak bergerak. Itupun dua sosok mayat!

Rupanya dua orang pembantu rumah tangga dari Bin Wan-gwe telah dibinasakan orang pula! Malah bau anyir dan busuk dari tubuh mereka menerjang hidung. Tampaknya mereka telah dibinasakan dalam waktu yang lebih dari sehari.

Hok An segera menduga, pasti telah terjadi sesuatu yang hebat di dalam rumah ini. Setelah memeriksa sejenak pada ke dua sosok mayat tersebut, segera juga Hok An mengajak puteri Bin Wan-gwe memasuki lebih dalam lagi.

Kembali mereka menemui empat sosok mayat kemudian dua sosok mayat lagi, lalu di dekat ruangan belakang enam sosok mayat! Semuanya mati dengan mata mendelik lebar-lebar.

Hok An sendiri yang menyaksikan mayat-mayat malang melintang di dalam rumah ini, dengan bau anyir dan busuk, membuatnya jadi bergidik juga. Terlebih lagi di dalam gedung ini tidak ada api penerangan.

Puteri Bin Wan-gwe sudah tidak bisa menahan isak tangisnya, di samping ketakutan bukan main gadis cilik itu juga segera menduga bahwa seluruh isi rumah ini telah dibinasakan seseorang.

Hok An segera mengajak gadis cilik itu memeriksa bagian lainnya dari rumah itu. Peti mati Bin Wan-gwe masih terdapat di ruang depan, dan juga di samping peti mati itu menggeletak tiga sosok mayat!

Hok An menghela napas dalam-dalam.

“Pembunuhan masal yang kejam luar biasa!” menggumam Hok An dengan suara mengandung kemarahan, karena walaupun bagaimana menyaksikan kekejaman seperti itu membuat darahnya meluap juga.

Tiba-tiba dari sudut ruangan yang gelap di sebelah kanan terdengar suara rintihan perlahan. Hok An gesit sekali melompat ke arah sudut ruangan itu. Sesosok bayangan menggeletak di lantai, dengan sepasang tangannya masih bisa bergerak perlahan. Orang inilah yang telah mengeluarkan suara rintihan perlahan.

Gadis cilik itu yang ketakutan berada di dalam rumah yang penuh dengan mayat yang malang melintang, segera menyusul Hok An memegang tangan Hok An kuat-kuat dengan jari-jari tangan terasa dingin.

Sedangkan orang yang rebah di lantai masih juga merintih perlahan, tampaknya dia menderita kesakitan, disusul lagi dengan suaranya yang lemah: “Apakah..... apakah Bin Kouwnio?”

Gadis cilik itu kaget, dia memperhatikan orang itu. Ternyata seorang wanita tua yang rambutnya sudah putih.

“Lo Ma.....!” seru si gadis cilik itu yang segera menubruknya dan menangis. “Mengapa bisa terjadi semua ini, Lo Ma?”

Ternyata wanita tua itu tidak lain dari pengasuh puteri Bin Wan-gwe ini. Rupanya dari sekian banyak pegawai rumah tangga dan pelayan Bin Wan-gwe, hanya dia yang belum menemui ajal dan hanya terluka parah.

“Pemuda itu..... pemuda itu datang lagi..... dia kejam sekali..... dia..... dia yang telah menyiksa dan membunuh kami.....!” kata Lo Ma dengan suara yang lemah.

“Pemuda yang telah melukai ayahku?” tanya puteri Bin Wan-gwe menahan isak tangisnya dan menyusut air matanya.

“Benar dia..... dia..... dia begitu kejam..... ooh sungguh mengerikan sekali, seperti juga di dalam rumah ini tidak diijinkannya ada makhluk berjiwa. Dia membasmi semua penghuni rumah ini, baik laki-laki maupun perempuan, tua atau muda dan juga para binatang semuanya ingin dibinasakannya dengan kejam!”

Setelah berkata sampai di situ, napas Lo Ma mendesah keras memburu seperti juga dia sangat letih. Sedangkan puteri Bin Wan-gwe jadi menangis terisak-isak.

Hok An jadi gusar bukan main. Dia bisa menduga tentunya yang dimaksudkan Lo Ma adalah Bin Lung Hie. Dia tidak menyangka tangan pemuda yang tampaknya tampan dan lemah lembut itu begitu telengas. Setelah membinasakan Bin Wan-gwe, kemudian secara tidak langsung merupakan penyebab kematian Bin Hujin, dan sekarang telah membasmi dan membunuh seluruh penghuni keluarga Bin Wan-gwe tersebut.

“Jadi tidak seorangpun yang lolos dari kematian?!” tanya Hok An pada akhirnya.

“Ya..... ya..... tidak ada seorangpun yang lolos dari kematian..... dia begitu kejam dan telengas sekali, melebihi kejamnya iblis..... sungguh mengerikan sekali..... Ohh!” Dan Lo Ma telah mengerang lagi kesakitan, suaranya semakin lemah di samping napasnya semakin memburu.

Gadis cilik itu menangis semakin keras saja. “Lo Ma, jangan tinggalkan aku..... Lo Ma..... ayah telah meninggal, dan ibupun telah dibunuhnya......!”

Lo Ma menghela napas, dia mengusap-usap tangan gadis cilik itu.

“Kasihan nasibmu Bin Kouwnio..... aku..... aku memikirkan bagaimana keadaanmu nanti dengan segalanya yang terjadi ini, ke dua orang tuamu telah dibinasakan pemuda jahat itu..... kami semuanya telah dicelakai..... oooh, kau sudah tidak mempunyai orang-orang yang bisa memperhatikan dirimu lagi.....!” Berkata sampai di situ, Lo Ma telah mengerang kesakitan lagi.

Hok An menghela napas, katanya menghibur: “Kau tenangkan hatimu, aku yang akan merawat nona majikan kecilmu ini..... aku akan berusaha merawatnya......!”

“Kau.....!” berkata sampai di situ, kembali Lo Ma mengerang kesakitan. Malah selanjutnya dia tidak bisa berkata-kata lagi.

Sesungguhnya masih banyak yang hendak dikatakannya, akan tetapi dia sudah tidak bisa mengeluarkan kata-kata pula. Dia hanya mengerang kesakitan, sampai akhirnya, dengan tubuh berkelejotan, napasnya berhenti dan dia telah meninggal.

Gadis kecil itu menangis terisak-isak, puteri hartawan she Bin tersebut tidak mengetahui kepada siapa dia harus mengadu dan akan menggantungkan nasibnya.

Hok An menepuk bahunya, katanya: “Dia sudah mati..... mari kita pergi..... kita harus mencari pemuda she Bin itu, dia harus dihajar untuk mempertanggung jawabkan semua perbuatannya yang sangat kejam ini..... tentu dia belum pergi jauh!”

“Tetapi..... tetapi ayahku..... ayahku belum lagi dikubur.....!” kata gadis cilik itu.

“Nanti bisa kita minta bantuan dari pemilik toko peti mati untuk bantu mengurus jenazah ayahmu..... juga semua pembantu rumah tangga keluargamu ini..... sedangkan kita bisa pergi mencari jejak pembunuh kejam itu......!”

Gadis cilik yang memang masih kanak-kanak itu tidak mengetahui apa yang harus dilakukannya. Apa yang dialaminya selama beberapa hari ini benar-benar membuat hatinya tergempur hebat dan jiwanya mengalami goncangan tidak kecil.

Hok An tanpa menantikan persetujuan gadis cilik itu, telah menyambar pinggangnya dan membawanya lari meninggalkan rumah tersebut. Pertama-tama Hok An mendatangi sebuah toko peti mati, kepada pemiliknya Hok An meminta agar pemilik toko peti mati itu mengurus semua mayat-mayat yang terdapat di dalam gedung Bin Wan-gwe sebaik-baiknya dengan penguburan yang sederhana. Seluruh biaya perongkosan untuk mengubur telah diberikan Hok An.

Kemudian dengan mengajak gadis cilik itu, Hok An meninggalkan perkampungan itu, karena dia ingin mencari jejak Bin Lung Hie, kepada siapa Hok An ingin melakukan perhitungan dengan pemuda she Bin itu. Apa yang telah dilakukan Bin Lung Hie benar-benar melewati batas dan membuat hati Hok An diliputi kemarahan yang luar biasa.

Satu alasan lainnya membuat Hok An jadi begitu marah dan berusaha mencari jejak Bin Lung Hie, ialah kematian Bin Hujin, wanita yang sangat dicintainya. Hok An beranggapan, jika saja Bin Lung Hie tidak menculik puteri Bin Wan-gwe dan membawa tingkahnya seperti itu, niscaya Bin Hujin tidak akan berlaku nekad menghabisi jiwanya sendiri dengan terjun ke dalam jurang......

◄Y►

Waktu matahari naik cukup tinggi, Hok An mengajak gadis cilik itu telah cukup jauh meninggalkan perkampungan tersebut, di mana Hok An masih tidak berhasil menemui jejak Bin Lung Hie. Akan tetapi Hok An bertekad, walaupun bagaimana ia akan mencari jejak Bin Lung Hie sampai berhasil ditemuinya, buat mengadakan perhitungan dengannya. Belasan jiwa yang terbinasa ditangan Bin Lung Hie dengan cara yang begitu mengerikan.

Hok An dapat menduga-duga peristiwa yang terjadi itu, di mana setelah melemparkan puteri Bin Wan-gwe ke dalam jurang dan Bin Lung Hie melarikan diri. Dia bukan pergi ke mana-mana, melainkan kembali ke gedung Bin Wan-gwe.

Semua penghuni gedung itu dibinasakannya, tidak besar tidak kecil, tidak muda tidak tua, semuanya telah dibinasakan dengan tangan yang telengas dan kejam sekali. Bahkan Bin Lung Hie kemudian membawa uang dan harta kekayaan Bin Wan-gwe, yang telah digondolnya pergi.

Karena dari itu, Hok An ingin mengadakan perhitungan dengan Lung Hie, sebab yang benar-benar menyakit hatinya, dia menyaksikan belasan pembantu rumah tangga Bin Wan-gwe yang telah dibinasakan begitu kejam oleh Lung Hie, sehingga dia dapat menduganya bahwa Bin Lung Hie bukan sebangsa pemuda baik-baik! Disamping itu juga kematian Bin Hujin merupakan salah satu alasan mengapa Hok An berusaha mencari jejak Bin Lung Hie.

Puteri Bin Wan-gwe yang telah diajak berlari-lari oleh Hok An meninggalkan perkampungan itu, letih bukan main. Akhirnya ketika mereka tiba di persimpangan jalan, di mana pada ke dua tepi jalan tersebut tumbuh banyak pohon yang tinggi dan besar, dengan daun-daunnya yang rindang, puteri Bin Wan-gwe meminta Hok An agar mau beristirahat dulu.

Hok An seperti baru tersadar dari tidurnya, dia segera ingat keadaan gadis cilik itu. Memang buat Hok An sendiri, walaupun dia tidak tidur tiga hari tiga malam, hal itu tidak menjadi persoalan haginya, akan tetapi bagi gadis cilik itu, niscaya perjalanan ini meletihkan sekali. Terutama sekali memang puteri Bin Wan-gwe tengah berduka sangat atas kematian ke dua orang tuanya.

Cepat-cepat Hok An mengiyakan, diapun telah menurunkan puteri Bin Wan-gwe tersebut, katanya: “Bin Kouwnio..... kau beristirahatlah.......!”

Puteri Bin Wan-gwe hanya mengangguk, dia menjatuhkan diri duduk di bawah sebatang pohon yang rindang, kemudian dengan sikap ragu-ragu katanya: “Aku..... aku lapar.....!”

Hok An mengangguk, katanya: “Kau tunggu di sini sebentar saja, aku akan pergi mengambil makanan, segera akan kembali....!”

Sebenarnya puteri Bin Wan-gwe tengah ketakutan, namun dia memaksakan diri buat mengangguk juga.

Selama berada di tempat itu seorang diri, puteri Bin Wan-gwe telah memandang sekitarnya tidak hentinya. Dia kuatir kalau-kalau Bin Lung Hie, pemuda yang diketahuinya sangat kejam itu, bisa muncul di situ.

Akan tetapi Hok An pergi tidak lama, karena dia segera kembali membawa ayam panggang dan beberapa macam sayur. Hok An juga segera mempersilahkan puteri Bin Wan-gwe buat memakan barang makanan yang dibawanya.

Karena perutnya terlampau lapar, gadis cilik tersebut tanpa malu-malu lagi telah memakan ayam panggang dan beberapa macam sayur yang dibawa Hok An. Rupanya Hok An telah membeli makanan itu dari seorang penduduk di sekitar tempat tersebut.

Sambil mengawasi gadis cilik yang tengah makan dengan lahap, Hok An menghela napas berulang kali. Sampai akhirnya puteri Bin Wan-gwe mengangkat kepalanya, dia melihat sikap Hok An yang tengah memandanginya seperti itu! Gadis cilik ini jadi malu dengan sendirinya.

“Paman, kau tidak ikut makan?!” tanyanya perlahan.

Hok An menggeleng perlahan.

“Kau makanlah..... aku tidak lapar.....!” kata Hok An kemudian. “Jika aku lapar, aku akan makan.....!”

Gadis cilik itu tidak memaksa, sedangkan Hok An masih mengawasi gadis cilik itu dengaa berbagai perasaan, di mana dia merasa berkasihan sekali atas nasib gadis cilik ini, yang tampaknya begitu buruk, di mana dia harus menjadi seorang anak yatim piatu, kehilangan orang tua dan juga kini hidup terlunta-lunta di luar rumahnya. Sesungguhnya gadis cilik ini hidup bahagia, jika saja ke dua orang tuanya tidak dibinasakan oleh Bin Lung Hie.

Dan Hok An sendiri teringat, betapa buat kebahagiaan Un Kim Hoa, sesungguhnya dia sendiri rela mengorbankan perasaannya dan membiarkan Un Kim Hoa hidup bahagia di sisi suami dan puterinya ini. Akan tetapi justru dengan munculnya Bin Lung Hie, telah membawa perobahan besar atas nasib si gadis cilik ini.

“Siapa namamu?” tanya Hok An setelah melihat gadis cilik itu selesai makan, sebagian dari ayam panggangnya tidak dihabisinya.

Gadis cilik itu mengangkat kepalanya, dia telah mengawasi Hok An beberapa saat lamanya. Jika dilihat dari apa yang dilakukan Hok An selama ini, gadis cilik tersebut melihatnya bahwa Hok An tidak memiliki maksud buruk, baik kepada dirinya maupun terhadap keluarganya.

Malah selama dalam perjalanan Hok An telah menjelaskan padanya, bahwa dia ingin mencari Bin Lung Hie buat melakukan perhitungan, karena Lung Hie telah melakukan pembunuhan kejam seperti itu pada keluarga Bin Wan-gwe.

Setelah ragu-ragu sejenak, akhirnya gadis cilikitu berkata: “Panggil saja aku si Giok.....!” kata gadis cilik tersebut dengan disusul juga pertanyaannya: “Sebenarnya kau memusuhi keluargaku atau tidak?!”

Hok An menghela napas. Wajahnya seketika berobah muram.

“Jika kuceritakan, engkaupun tidak mengerti, karena engkau masih terlampau kecil?!” kata Hok An. “Karenanya, jika nanti engkau telah dewasa, engkau akan mengetahuinya dengan jelas! Hanya saja di sini kukira ada baiknya jika kujelaskan, bahwa sebenarnya aku sama sekali tidak memiliki maksud buruk terhadap keluargamu.....!”

“Lalu mengapa waktu pertama kali kau datang ke rumah kami, kau marah-marah dan hendak memukul ayah?!” tanya gadis cilik itu.

Hok An tertegun, wajahnya tambah muram malah dia telah menghela napas beberapa kali.

“Sebenarnya..... sebenarnya......!” kata Hok An yang kemudian tidak bisa meneruskan perkataannya.

“Sebenarnya kenapa? Bukankah memang benar, bahwa pertama kali engkau datang, engkau memperlihatkan sikap bermusuhan kepada ayahku?!”

Hok An akhirnya mengangguk, dia menyahut: “Bukan permusuhan, waktu itu memang benar aku marah sekali, sebab mengetahui ayahmu telah mengawini ibumu.....!”

“Mengapa begitu? Ada sangkutan apakah dengan kau perihal perkawinan ke dua orang tuaku itu?!” tanya si Giok sambil membuka matanya lebar-lebar mengawasi Hok An.

Hok An tambah muram, dia menunduk, lama..... lama sekali sampai akhirnya dari pelupuk matanya menitik butir-butir air mata.

“Ibumu telah mengkhianati cinta kami..... sebenarnya antara aku dengan ibumu itu saling mencintai! Akan tetapi akhirnya dia menikah dengan ayahmu, bahkan waktu bertemu dengan ku, dia memperlihatkan sikap tidak acuh sama sekali, bagaikan aku orang yang sangat memuakkan di matanya, membuat aku marah.

“Namun setelah kupikir-pikir, dan kuketahui mereka telah memiliki seorang anak, yaitu engkau, maka aku mengambil keputusan buat membiarkan ibumu hidup bahagia bersama ayahmu dan engkau! Sama sekali aku tidak memiliki maksud buruk. Sebab aku malah ingin melihat ibumu itu hidup bahagia. Siapa tahu, justru akhirnya aku harus menyaksikan kematian ibumu itu, wanita yang sangat kucintai itu, tanpa aku berdaya dan tidak berhasil menolonginya.....!”

Si Giok ini memang masih kecil, karena itu dia hanya bisa mengawasi Hok An tanpa mengerti. Dan si Giok memang merupakan gadis yang masih polos, dia belum mengerti apa yang dimaksudkan Hok An dengan mencintai ibunya. Dia hanya mengetahui bahwa Hok An memang membawa sikap seperti seorang yang merasa bingung dan kaku.

Hok An waktu itu telah berkata lagi dengan suara yang perlahan mengandung sesal. “Jika saja aku mengetahui sebelumnya bahwa ibumu itu hendak bunuh diri dengan terjun ke dalam jurang, niscaya aku akan berusaha menahannya dan menyelamatkannya. Justeru aku tidak mengetahuinya, waktu dia melompat ke dalam jurang, aku hanya berhasil menjambret ujung bajunya yang robek dan tubuhnya meluncur ke dasar jurang, akhirnya dia terbanting di dasar jurang.....!”

Masih gadis cilik yang minta agar dipanggil si Giok itu tidak mengerti urusannya, dia bertanya. “Mengapa ibu sampai membunuh diri seperti itu?”

“Karena dia mendengar engkau telah mati dilempar ke dalam jurang tersebut oleh si pemuda yang bertangan telengas itu!” kata Hok An. “Karena dalam kedukaan yang sangat seperti itu, dan juga putus asa, di mana suaminya juga telah menemui ajalnya.

“Kini mengetahui engkau telah dilempar ke dalam jurang itu, di mana tidak mungkin ada seorang manusia yang terjerumus ke dalam jurang itu bisa mempertahankan hidupnya, pasti tubuhnya akan terbanting di dasar jurang dan menemui kematian..... maka dari itu, ibumu tidak menyangka sama sekali akan terjadi suatu kemujijatan pada dirimu. Engkau ternyata tidak mati, sedangkan ibumu dalam keputus asaan dan juga kedukaan yang sangat mendalam itu telah terjatuh ke dalam jurang dan menemui ajalnya.....!”

Gadis cilik itu baru mengerti sedikit duduk persoalannya, tanya: “Jadi kau ingin mengatakan, bahwa orang yang melemparkan diriku ke dalam jurang itu adalah pemuda jahat bertangan telengas dan berhati kejam itu?!”

Hok An mengangguk.

“Waktu dia melihatku dan yakin tidak bisa menandingi kepandaianku, pemuda itu rupanya jadi bingung, dia melemparkan engkau ke dalam jurang setelah gagal dengan ancamannya padaku, di mana waktu tengah sibuk berusaha menolongi dirimu, dia mempergunakan kesempatan tersebut buat melarikan diri. Aku tidak berhasil menahan dirimu yang meluncur dengan cepat ke dalam jurang, sampai akhirnya ibumu telah datang menyusul. Waktu aku memberitahukan apa yang telah terjadi, dia akhirnya mengambil jalan nekad seperti itu.....!”

Setelah berkata begitu Hok An menghela napas dalam-dalam, dia mengambil sepotong sisa ayam panggang yang tidak dihabisi oleh puteri Bin Wan-gwe.

Gadis cilik yang minta dipanggil dengan sebutan Giok itu, jadi berdiam diri dengan sikap tertegun. Dia seperti tengah membayangkan, betapa dirinya dilemparkan ke dalam jurang oleh Bin Lung Hie, kemudian ibunya datang menyusul dan telah ikut menerjunkan diri ke dalam jurang buat membunuh diri. Betapa menyedihkan sekali.

Hok An melihat gadis cilik itu berdiam diri, telah menghela napas, katanya: “Sekarang engkau tidak perlu bersedih hati lagi, karena semuanya terjadi..... dan engkau masih boleh bersyukur, karena jika kelak engkau telah dewasa, engkau bisa membalas dendam dan sakit hatimu, mencari jejak orang she Bin itu!

“Memang sekarang aku pun ingin sekali mencari jejaknya, buat memperhitungkan segalanya padanya namun aku kurang yakin bisa mencari jejaknya, sebab aku berada di dasar jurang cukup lama, di mana aku tengah berusaha menolongi dirimu! Karena itu, engkau jangan terlalu berduka. Dan mulai sekarang, engkau memikirkan, bagaimana caranya engkau bisa mempelajari ilmu silat yang liehay buat kelak dipergunakan mengadakan perhitungan dengan Bin Lung Hie!”

Gadis cilik itn berdiam diri bagaikan tengah berpikir dengan hati dan pikiran yang melayang-layang. Sampai akhirnya dia bilang: “Jika memang demikian, baiklah! Aku mau mempercayai keteranganmu itu..... ternyata engkau bukan seorang jahat..... engkau hanya mempunyai urusan dengan ibuku belaka dan kepada ayahku merasa marah karena ayahku kau anggap telah merebut kekasihmu, yaitu ibuku! Benarkah itu?!” tanya gadis cilik tersebut.

Hok An mengangguk.

“Ya, garis besarnya memang begitu, akan tetapi urusan demikian berbelit, karenanya jika aku menjelaskan sejelas-jelasnya sekarang kepadamu, pun akan sia-sia belaka, akan percuma di mana engkau tidak akan dapat memahami keseluruhannya..... Nanti saja jika memang engkau telah dewasa dan kita masih bisa bertemu, aku akan menceritakan yang sejelas-jelasnya.....!”

Gadis cilik itupun tidak memaksa, sampai akhirnya dia merebahkan dirinya buat tidur.

Hok An membiarkan gadis cilik itu tidur sedangkan dia sendiri telah duduk termenung, memikirkan nasibnya yang selalu sial.

Tengah Hok An duduk terpekur seperti itu, tiba-tiba terdengar samar-samar suara bentakan yang tidak begitu jelas. Dia memasang pendengarannya lebih tajam, sampai dia bisa mendengar lebih jelas, bahwa bentakan-bentakan yang didengarnya itu bagaikan ada beberapa orang yang tengah bertempur dan saling serang di tempat yang terpisah cukup jauh.

Cepat-cepat Hok An berdiri, akan tetapi waktu dia ingin membangunkan gadis cilik itu, dia bimbang. Dilihatnya gadis cilik itu tengah tertidur nyenyak sekali, karenanya dia tidak sampai hati buat membangunkannya, mengganggu tidurnya.

Akhirnya Hok An tidak membangunkan gadis cilik itu, hanya dengan mempergunakan ginkangnya, dia berlari pesat sekali ke arah datangnya suara bentakan-bentakan tersebut. Hok An ingin melihat siapakah yang tengah bertempur itu, dan dia pikir, meninggalkan si Giok sebentar saja pun tidak ada halangannya.

◄Y►

Setelah berlari-lari beberapa saat, akhirnya Hok An tiba di sebuah persimpangan jalan, di hadapannya tampak sebuah ladang rumput yang subur, di kejauhan juga terlihat sebuah empang yang cukup besar. Di dalam empang itu terdapat banyak sekali pohon-pohon bunga teratai yang tengah bermekaran, yang mengambang di permukaan air empang tersebut. Pemandangan di sekitar tempat itupun cukup indah.

Akan tetapi yang membuat Hok An jadi berdiri tertegun, dia melihat empat sosok tubuh yang tengah bergerak-gerak di atas daun-daun pohon teratai itu dengan gerakan yang ringan sekali, melompat ke sana kemari dengan lincah.

Dengan melihat seperti itu saja Hok An dapat mengetahui ke empat orang tersebut tentunya orang-orang liehay yang memiliki kepandaian tinggi. Jika saja ginkang mereka tidak tinggi, niscaya mereka tidak akan bisa melompat-lompat di atas daun-daun pohon teratai itu, dari daun teratai yang satu melompat ke daun pohon teratai yang satunya lagi, namun daun pohon teratai yang diinjaknya itu tidak melesak tenggelam ke dalam air walaupun menahan berat tubuhnya.

Malah air empang itupun tidak bergerak sama sekali. Hal ini benar-benar membuktikan bahwa ginkang ke empat orang itu tinggi sekali.

Lama Hok An tertegun di tempatnya menyaksikan pemandangan yang ada seperti itu, sampai akhirnya Hok An menghampiri lebih dekat.

Ke empat orang yang tengah bergerak-gerak dan melompat dari daun teratai yang satu ke daun teratai yang lainnya pula seperti juga tidak memperdulikan kehadiran Hok An, mereka tetap saja dengan saling serang satu dengan yang lain, karena ke empat orang tersebut tengah terlibat dalam suatu pertempuran yang seru.

Yang membuat Hok An heran, setelah mengawasi sekian lama, ke empat orang yang tengah bertempur di atas pohon teratai di permukaan air empang itu, adalah empat orang lawan, mereka saling serang satu dengan yang lainnya, tanpa pilih bulu, karena seperti juga memang pertempuran itu berlangsung di antara mereka berempat dan juga tidak ada di antara mereka yang berkawan. Jadi jika memang yang seorang gagal dengan penyerangannya kepada lawannya yang satu, dia akan menyusuli menyerang kepada lawannya yang lain.

Jika sebelumnya Hok An menduga bahwa ke empat orang ini pasti merupakan dua pasang musuh yang tengah saling bertempur, di mana dari ke empat orang itu, menjadi dua kelompok. Akan tetapi dugaan Hok An meleset sama sekali. Ke empat orang itu masing-masing tidak memiliki kerja sama satu dengan yang lainnya.

Tegasnya mereka berempat bertempur terus tanpa saling ada kerja sama di antara mereka. Dengan begitu pula, maka mereka selalu menyerang kepada lawan yang terdekat dengan mereka.

Yang membuat Hok An jadi kagum justeru ginkang ke empat orang ini yang sangat tangguh, yang dapat bertempur di atas daun teratai dan juga di permukaan empang itu. Malah setiap gerakan mereka tidak menyebabkan teratai itu tenggelam atau air empang itu bergerak.

Setelah menantikan sekian lama, dan menyaksikan jalannya pertempuran itu, Hok An sempat menyaksikan, seorang lelaki yang berpakaian biru tua, dengan kumis panjang sampai di dadanya. Salah seorang di antara ke empat orang yang tengah bertempur itu, telah menghantam dengan gerakan tangan yang aneh sekali, karena dia bukan menyerang ke arah dada atau bagian lain di tubuh lawannya, dia hanya menyerang bagian kaki dari lawannya yang diserang.

Sebagai orang yang memiliki kepandaian tinggi, Hok An segera dapat menduganya maksud orang itu menyerang lawannya dengan cara seperti itu, karena orang tersebut tentu ingin menyerang kelemahan lawannya, yaitu kuda-kuda kedua kakinya. Jika kuda-kuda ke dua kaki lawannya bisa digempur, sehingga lawannya kehilangan keseimbangan tubuhnya, menyebabkan dia menginjak daun teratai itu lebih keras dan kuat, sehingga kakinyapun akan tenggelam!”

Mungkin di antara ke empat orang itu terdapat satu pertaruhan, yaitu siapa yang kakinya menginjak tenggelam daun teratai atau juga kakinya itu menginjak air empang tersebut, dialah yang dihitung kalah.

Akan tetapi lawan dari si baju biru itu, seorang laki-laki yang tua, yang berusia hampir enampuluh tahun, dengan kumis yang tipis terpilin rapi dan mengenakan baju singsat warna jingga telah tertawa.

“Aha, licik sekali kau, Lam-siong.....!” katanya, nyaring suaranya. Berbeda dengan wajah nya yang tampaknya bengis, namun suaranya halus sekali.

“Bukan licik! Pak-kiang! Dengarlah baik-baik, walaupun bagaimana Lam-siong harus memperoleh kemenangan hari ini! Pak-kiang, See-bun dan Tong-ling, semuanya harus tunduk pada Lam-siong.....!”

“Jangan bicara tekebur!” kata orang yang memakai baju warna jingga ketika orang yang berbaju biru itu selesai dengan kata-katanya. “Karena bukannya aku yang rubuh, malah hari ini merupakan keruntuhan dari Lam-siong.....!”

Setelah berkata begitu, orang yang dipanggil dengan sebutan Pak-kiang, tertawa terbahak-bahak, dia menggerakkan ke dua kakinya dengan lincah dan ringan, belum lagi serangan dari Lam-siong mengenai sepasang kakinya, Pak-kiang telah pindah ke daun teratai lainnya pula.

Sedangkan seorang lainnya, yang mengenakan baju warna merah, dengan celananya juga warna merah, telah berkata: “Kalian berdua jangan mengoceh tidak karuan, karena semua itu hanya kentut kosong belaka! Baik Lam-siong maupun Pak-kiang ataupun Tong-ling, semuanya harus mengakui keunggulan See-bun! Kalian boleh membuktikan hari ini, bahwa See-bun merupakan satu-satunya jago yang paling hebat di kolong jagat ini!”

Setelah berkata begitu, orang tersebut, yang menyebut dirinya sebagai See-bun, tertawa gelak-gelak.

“Tidak mungkin!” tiba-tiba salah seorang di antara ke empat orang itu, yaitu yang memakai baju warna hijau dengan celana warna abu-abu, telah berteriak dengan suara yang nyaring sekali: “Tong-ling yang akan memegang peranan dan menjagoi rimba persilatan di seluruh jagat ini..... See-bun, Pak-kiang atau juga Lam-siong, kalian semua tidak mungkin nempil dengan kepandaianku.....!”

Akan tetapi Lam-siong dan Pak-kiang sudah tidak banyak bicara lagi, karena ke duanya telah saling menerjang maju dan menyerang.

Kepandaian mereka memang tinggi dan sama liehaynya, di mana walaupun mereka bertempur di tengah-tengah empang, dengan daun teratai sebagai tempat menginjak, tokh mereka bisa bergerak gesit sekali.

Hok An yang menyaksikan pertandingan yang tengah berlangsung di antara ke empat orang itu, diam-diam jadi merasa kagum sekali.

Sedangkan Lam-siong waktu itu dengan diiringi peringatan agar Pak-kiang berlaku hati-hati, menyerang beruntun sampai empatpuluh jurus.

Namun memang kepandaian Lam-siong maupun Pak-kiang tampaknya berimbang, usahanya itu tidak berhasil. Malah lawannya telah balas menyerang.

Berbareng dengan itu, See-bun juga telah menyerang kepada Lam-siong, dengan begitu Lam-siong menghadapi seranganan dari dua jurusan. Sedangkan Tong-ling tidak tinggal diam, diapun menyerang Pak-kiang.

Dengan begitu, mereka jadi saling serang silih berganti, mereka tidak memiliki sistim kawan, karena ke empat orang ini sama-sama bertempur dan merupakan lawan! Mereka bertempur untuk kepentingan dan keselamatan diri mereka. Jika dapat mereka masing-masing ingin sekaligus merubuhkan ke tiga orang lawan mereka.

Sedangkan Tong-ling yang nampaknya agak berangasan, dan juga selalu menyerang dengan mempergunakan kekuatan dan tenaga yang dahsyat, sudah tidak sabar, karena dia berulang kali membuka serangan tanpa memperdulikan lagi apakah serangannya itu bisa menimbulkan goncangan pada air permukaan empang itu. Padahal, setiap kali tenaga serangan dari Tong-ling berhasil dielakkan lawannya, tenaga serangannya menghantam permukaan air empang, membuat air empang itu bergolak cukup keras.

Dengan terjadinya gerakan pada permukaan air empang, juga terjadi gerakan pada daun-daun teratai itu, sehingga membuat ke empat orang yang tengah bertempur di atas daun-daun teratai di permukaan air empang tersebut, lebih sulit lagi mengimbangi dirinya.

Tong Ling berulang kali gagal dengan serangannya, sampai akhirnya Lam-siong membentak nyaring, menyusul mana dia bilang: “Kau hanya mengacau saja. Jangan anggap bahwa ginkangmu yang paling sempurna, walaupun air permukaan empang ini bergolak, aku tidak akan menyerah.....!”

Setelah berkata begitu, Lam-siong melayani setiap serangan Tong-ling. Dan juga tenaga pukulan yang dipergunakannya memiliki kekuatan yang sangat dahsyat.

Tong-ling tidak menyahuti bentakan dan ejekan Lam-siong, hanya saja dia menyambuti serangan lawannya itu. Akan tetapi begitu tenaga dalamnya tengah berusaha membendung tenaga serangan Lam-siong, justru di saat bersamaan, Pak-kiang telah menyerang kepadanya dengan pukulan yang tidak kurang kuatnya.

Dengan bersiul nyaring, Tong-ling kemudian melompat ke tengah udara. Gerakan yang dilakukannya luar biasa gesitnya. Dengan melompat seperti itu, tenaga serangan dari Lam-siong jadi lenyap karena tenaga itu tidak memperoleh tenaga melawan, dan lenyap di udara. Sedangkan gempuran dari Pak-kiang pun telah mengenai tempat kosong.

Namun Tong-ling sendiri tidak tinggal diam. Dia melihat ke dua lawannya telah gagal menyerangnya, cepat sekali dia membarengi buat menyerang Lam-siong.

Di waktu tubuh Lam-siong tengah doyong ke depan, waktu itulah tenaga serangan dari Tong-ling telah tiba. Memang Tong-ling menyerang di saat tubuhnya berada di tengah udara, diapun telah menghantam begitu tiba-tiba sekali, di saat dia telah berhasil memunahkan dan mengelakkan serangan ke dua lawannya.

Walaupun diserang secara hebat seperti itu, Lam-siong pun bukan orang lemah. Tiba-tiba dia membuka mulutnya, dia memonyongkan dan menyemburnya dengan kuat. Luar biasa sekali. Angin semburan mulut Lam-siong justru telah berhasil menangkis dan memunahkan tenaga serangan Tong-ling.

Waktu itu See-bun pun tidak tinggal diam, melihat tubuh Tong-ling tengah meluncur turun, dia membarengi dengan uluran tangan kanannya, yang hendak mencengkeram. Yang membuat Hok An jadi memandang terpaku di tempatnya menyaksikan cara menyerang See-bun, waktu tangan See-bun diulurkan seperti itu, justru telah keluar asap yang tebal dari telapak tangannya! Itulah menunjukkan lwekang See-bun telah mencapai tingkat yang tinggi!

Tong-ling tidak gugup.

“Hu, hu, cara permainan anak-anak hendak dipergunakan di hadapanku! Jika memang, terkena air empang ini, tentunya panas telapak tanganmu itu akan lenyap.....!”

Walaupun berkata begitu, di saat tubuhnya tengah meluncur turun, Tong-ling tidak tinggal diam. Dia bukan menangkis, hanya saja dia mengelakkan dengan tubuh yang dimiringkan dengan gerakan yang manis sekali.

See-bun penasaran bukan main, dia tidak menarik pulang tangannya yang masih mengeluarkan asap tebal dari telapak tangannya itu, dia hanya memiringkan telapak tangannya dan merobah arah serangannya, tetap mengincar ke arah diri Tong-ling, ke arah perutnya.

Tong-ling telah menjejakkan kakinya waktu hinggap di atas sehelai daun teratai, sehingga dia melompat menjauhi See-bun. Dan sebagai pengganti Tong-ling, justru Pak-kiang yang berada dekat dengan See-bun, karena dari itu, serangan telapak tangan See-bun, yang rupanya mengandung hawa panas seperti api menyambar kepada Pak-kiang.

Pak-kiang sesungguhnya waktu itu tengah bersiap-siap hendak menyerang kepada See-bun juga, dan justru sekarang melihat See-bun telah mendahului menyerang kepadanya. Dia tertawa, dan menangkisnya dengan berani sekali.

“Tasss.....!” suara ini seperti juga api yang disiram air, kemudian tampak See-bun melompat mundur, begitu juga Pak-kiong melompat mundur ke daun teratai di seberangnya.

“Oho, rupanya engkau telah memperoleh kemajuan dengan telapak apimu itu....!” mengejek Pak-kiang, “Akan tetapi terhadap Pak-kiang, walaupun bagaimana liehaynya telapak api mu itu, tetap saja tidak berarti apa-apa malah tadi jika aku hendak mempergunakan serangan telapak Es, niscaya kau akan terluka di dalam.....!”

See-bun menyadari, dengan disebutnya Telapak Es, memang Pak-kiang hendak menyindirnya, karena ilmu yang dipergunakan See-bun merupakan ilmu yang mengandung unsur panas, yang diberi nama Telapak Api.

“Tunggu saja, sekarang tokh kita baru mulai..... nanti juga engkau akan mengakui bahwa See-bun merupakan satu-satunya jago yang terliehay di jagat ini.....!” kata See-bun sambil memperdengarkan suara tertawa dingin.

Sedangkan Pak-kiang beberapa kali telah berusaha melompat menyerang Tong-ling, setelah gagal dengan serangannya, dia menyerang kepada Lam-siong. Begitulah, mereka berempat memang terdapat saling serang satu dengan yang lainnya.

Hok An yang menyaksikan jalannya pertandingan ke empat orang itu, yang memang aneh sekali, karena mereka bertempur bukan di darat, melainkan di atas daun-daun teratai yang memang banyak sekali di permukaan air empang itu.

Pertandingan seperti ini jarang sekali terjadi dan dapat disaksikan di dalam rimba persilatan, juga orang-orang yang bisa bergerak begitu ringan di atas daun-daun teratai di permukaan air empang itu memiliki ginkang yang telah mahir sekali.

Sebagai orang berpengalaman di dalam rimba persilatan, Hok An juga kaget mendengar ke empat orang itu saling menyebut dan membahasakan diri mereka masing-masing mempergunakan sebutan Pak-kiang (Si Edan dari Utara), Lam-siong (Si Alim dari Selatan), Tong-ling (Si Bego dari Timur), dan See-bun (Si Bengis dari Barat). Hok An mengetahui siapa ke empat orang itu, yang tidak lain dari empat orang tokoh rimba persilatan, yang masing-masing memiliki daerah kekuasaan di Selatan, Utara, Timur dan Barat.

Dan sekarang, ke empat tokoh sakti dari empat penjuru rimba persilatan telah berkumpul di tempat itu, tengah mengadakan pertandingan di atas permukaan air empang itu, di mana mereka saling mengukur ilmu dan kepandaian. Karenanya, Hok An sampai menyaksikan dengan tubuh yang berdiri tertegun tanpa bergerak sama sekali, dia telah mengawasi tertarik sekali.

Ke empat orang yang tengah bertanding itu pun bukannya tidak mengetahui kedatangan Hok An, akan tetapi mereka tidak acuh atas kehadiran Hok An di tempat itu. Karena ke empat orang ini, tokoh-tokoh sakti dari empat penjuru rimba persilatan, tengah asyik dengan permainan mereka, yaitu bertempur di atas permukaan air empang, di atas daun-daun teratai itu.

Apa yang diduga oleh Hok An memang tidak meleset, karena Lam-siong, Pak-kiang, Tong-ling san See-bun merupakan empat orang tokoh rimba persilatan yang memiliki keharuman nama tidak kecil.

Hanya saja ke empat orang ini memiliki perangai yang aneh, sama halnya dengan bunyi julukan mereka yang tidak karuan itu, yaitu mereka sama sekali tidak usil terhadap urusan di dalam rimba persilatan. Sejak berusia duapuluh tahun lebih, waktu mereka berempat berusia muda, ke empat orang ini selalu mengadakan pertemuan buat mengadu kepandaian.

Dan mereka selalu bertanding hanya berempat, tidak pernah mengundang jago rimba persilatan lainnya. Walaupun mereka mendengar juga perihal banyaknya jago-jago sakti lainnya di dalam rimba persilatan, ke empat tokoh sakti rimba persilatan yang memiliki perangai aneh ini tidak tertarik buat piebu dengan mereka. Dan ke empat tokoh sakti ini hanya berkenan jika mereka dapat bertanding berempat, buat menemukan kepandaian siapa di antara mereka yang tertinggi.

Akan tetapi, selama itu mereka tidak pernah dapat merubuhkan atau dikalahkan. Mereka tidak pernah berhasil untuk merebut kedudukan yang terjago di antara mereka berempat. Itulah sebabnya, setiap lima tahun sekali ke empat orang ini mengadakan pertemuan buat bertanding.

Tempat bertanding ke empat orang inipun tidak tetap. Mereka selalu menemukannya selang satu tahun sebelum tiba waktunya pertandingan itu. Karenanya, mereka selalu memilih tempat-tempat yang aneh, dan tidak diduga. Misalnya seperti sekarang.

Ke empat jago itu telah memilih empang tersebut, buat bertanding di atas daun-daun teratai. Karena dari itu, ke empat tokoh rimba persilatan ini memang selalu berusaha membuktikan kepandaian mereka sangat tinggi dan berlomba juga buat merebut kedudukan sebagai jago nomor satu di antara mereka berempat.

Dengan demikian, tempat-tempat yang sulit dan juga keadaan yang boleh dibilang hampir tidak memungkinkan dipergunakan sebagai arena pertempuran, telah mereka pilih dan sangat menarik hati mereka.

Sekarang ke empat orang itu masing-masing telah berusia enampuluh tahun lebih, namun kebiasaan mereka untuk setiap lima tahun sekali mengadakan pertemuan buat mengadu kepandaian tetap saja berlangsung.

Jika memang ada seseorang yang sakit atau berhalangan, sehingga tidak bisa datang buat bertanding, maka tiga orang lainnya mengundurkan waktu pertandingan itu. Mereka akan menantikan sampai yang seorang dapat hadir.

Dalam pertandingan itupun mereka telah mengeluarkan seluruh kepandaian mereka yang dapat diandalkan. Jika dalam pertempuran yang pertama mereka seri dan tidak ada yang menang atau kalah, maka segara juga mereka berjanji lima tahun lagi akan bertemu dan mengadakan pertandingan lagi. Mereka mempergunakan waktu selama lima tahun itu buat melatih diri dengan giat, untuk menciptakan ilmu yang lebih dahsyat.

Karena keranjingan sampai begitu untuk melatih dan menciptakan ilmu silat yang lebih hebat, ke empat orang itu boleh dibilang sudah tidak mau diganggu dengan urusan lainnya.

Mereka sama sekali tidak mau mencampuri urusan di dalam rimba persilatan, seperti juga mereka berempat hanya dapat mengurusi diri mereka masing-masing belaka.

Apa yang telah disaksikan oleh Hok An sekarang ini, benar-benar tidak pernah diduganya, karena tidak mudah orang bisa menyaksikan ke empat tokoh persilatan yang sangat dimalui oleh orang-orang rimba persilatan, bisa dijumpainya tengah bertempur secara luar biasa ini.

Malah, perkembangan selanjutnya di antara ke empat orang yang tengah bertanding di permukaan air empang itu berlangsung lebih aneh lagi. Waktu itu, setelah mengelakkan diri dari totokan tangan Pak-kiang, tampak See-bun telah duduk di atas sehelai daun teratai, dia duduk bersila, tubuhnya seperti juga mengambang, ringan sekali! Itulah ginkang yang benar-benar terlatih mahir sekali.

Pak-kiang yang gagal dengan serangannya, cepat-cepat membarengi dengan serangan berikutnya. Dia melatih semacam ilmu yang luar biasa sekali, di mana setiap kali dia menyerang, angin serangan yang dipergunakannya sangat dingin sekali, juga tidak terasa berkesiuran.

Jika lawan yang memiliki kepandaian tanggung-tanggung menghadapi serangan Pak-kiang seperti itu, siang-siang lawan tersebut akan terbinasa. Tanpa adanya kesiuran angin tentu lawannya tidak akan dapat mengetahui ke arah mana sasaran yang tengah diincar Pak-kiang. Karena itu, di situlah letak keistimewaan ilmu Pak-kiang.

Sedangkan See-bun yang telah duduk di atas sehelai daun teratai sama sekali tidak bergerak. Dia tetap saja duduk diam malah dengan sepasang mata terpejam.

Benar-benar See-bun seperti tidak mengetahui serangan Pak-kiang yang tidak menerbitkan kesiuran angin itu, tengah datang menyambar ke dadanya.

“Bukkkk!” telapak tangan Pak-kiang telah hinggap di dada See-bun namun segera juga tubuh See-bun seperti dapat ciut, dadanya itu seperti juga balon, setelah melesak dan menyebabkan tenaga serangan Pak-kiang lenyap, dia mengembang lagi, membusung dan memiliki daya tarik yang kuat sekali pada telapak tangannya Pak-kiang.

Sebagai orang yang memiliki kepandaian tinggi, Pak-kiang mengetahui bahwa lawannya tengah mempergunakan tenaga dalam menghisap. Karena itu, jika dia mengempos semangatnya dan berusaha untuk menarik tetapak tangannya, dia akan menghadapi kesukaran.

Semakin kuat dia mengerahkan dan mempergunakan tenaga dalamnya, semakin kuat juga tenaga menghisap di dada See-bun. Maka dari itu menyadari bahaya yang bisa menimpah dirinya, karena jika dia mengerahkan pula tenaga yang mengandung kekerasan, injakannya pada daun teratai itu akan bertambah berat dan daun teratai itu akan tenggelam, juga kaki Pak-kiang akan menginjak permukaan air empang itu. Karenanya, segera dia cepat-cepat duduk bersila, diapun mengempos semangat dan hawa murninya.

See-bun tetap diam dalam keadaan memejamkan sepasang matanya dan duduk bersila di atas daun teratai itu. Hanya saja, dia tidak tinggal diam belaka dengan tenaga dalamnya, karena dia telah mengempos dan menyalurkan kekuatan tenaga dalamnya itu untuk berusaha menindih kekuatan lawannya.

Belum lagi See-bun bisa mengatasi kekuatan tenaga Pak-kiang, yang telah mempergunakan tenaga menghisap dan mendorong ke dada See-bun, waktu itu Tong-ling yang rupanya tertarik dengan cara bertempur seperti itu, cepat-cepat telah duduk. Diapun kemudian menghantam dengan ke dua telapak tangannya. Dia menyerang bukan ke tubuh See-bun, karena setiap kali telapak tangannya hampir mengenai sasarannya di tubuh See-bun dia memiringkan dan mengalihkan sasaran ke arah lainnya..

0 Response to "Anak Rajawali Lanjutan (Beruang Salju) Jilid 03"

Post a Comment