Anak Rajawali Lanjutan (Beruang Salju) Jilid 01

Mode Malam
 
Anak rajawali Jilid 01
Serombongan anak-anak berjumlah kurang lebih tujuh atau delapan orang, tengah bersorak-sorai di belakang seorang laki-laki berusia empatpuluh tahun lebih. Anak-anak yang berusia di antara sepuluh atau sembilan tahun itu ramai sekali meneriaki, mengejek dan mentertawai lelaki tua berpakaian aneh di depan mereka.

“Ayo tangkap kakinya.....!” teriak salah salah seorang anak dengan suara yang nyaring dan diiringi dengan tertawanya.

“Ya, ya, tangkap kakinya!” berseru yang lainnya memperkuat anjuran tersebut.

“Tangannya saja..... ayo tangkap tangannya!” teriak anak kecil yang lainnya.

Maka dua orang di antara rombongan anak-anak itu telah maju dua orang. Mereka segera menyambar kaki orang berusia empatpuluh tahun lebih dengan pakaian yang kumal itu. Ke dua anak itu berani sekali, masing-masing mencekal kaki dari lelaki itu, yang seorang untuk kaki kiri dan yang seorang lagi kaki kanan, yang mereka peluk kuat-kuat, sehingga lelaki berpakaian mesum tersebut tidak bisa melangkah lagi.

Keadaan lelaki berusia empatpuluh tahun lebih itu agak luar biasa, rambutnya awut- awutan dan juga wajahnya tampak penuh oleh kerut-kerut menyatakan bahwa ia selama hidupnya penuh dengan penderitaan.

Akan tetapi, walaupun diganggu oleh anak-anak yang nakal itu demikian rupa, tampaknya lelaki berusia empatpuluh tahun lebih itu tidak menjadi marah. Malah waktu ke dua kakinya diganduli oleh ke dua anak tersebut, dia telah berhenti melangkah, sambil menghela napas ia bilang:

“Lepaskanlah, nak..... aku harus pergi ke suatu tempat yang jauh dan perlu cepat-cepat..... Jika kalian memegangi ke dua kakiku seperti ini bagaimana mungkin aku bisa berjalan? Bagaimana aku bisa mengurus urusanku itu?!”

Meledak tertawa rombongan anak nakal tersebut, mereka menganggapnya lucu sekali.

Memang empat hari belakangan ini lelaki dengan pakaian yang begitu mesum, telah muncul di kampung mereka ini, yaitu kampung Pang-tat-cung, dan sejak saat itu lelaki tersebut selalu menjadi sasaran dan korban godaan kenakalan dari anak-anak nakal di kampung tersebut. Akan tetapi selama empat hari itu, lelaki berpakaian mesum tersebut berkeliaran di kampung Pang-tat-cung, tidak pernah pergi ke manapun, walaupun selalu saja dia mengatakan ingin pergi ke suatu tempat yang jauh buat mengurus sesuatu yang penting.

Ke dua orang anak lelaki itu, yang mengganduli ke dua kaki lelaki berpakaian mesum tersebut menggelengkan kepalanya, katanya: “Tidak! Kami tidak akan melepaskan kakimu! Jika memang kau dapat, lepaskanlah sendiri!”

Lelaki berusia pertengahan baya tersebut menghela napas dalam-dalam, kemudian katanya: “Anak-anak nakal..... sudahlah lepaskan rangkulan kalian, nanti aku akan membagikan kalian seorangnya satu chie!”

“Mana?! Mana?! Berikan dulu!” teriak beberapa orang anak-anak lainnya. “A Kie, A Bun, kalian jangan melepaskan dulu kakinya..... lihatlah, dia ingin mendustai kita! Cekal dan peluk yang keras.....!”

A Kie dan A Bun, ke dua anak lelaki yang mengganduli ke dua kaki dari lelaki berpakaian mesum tersebut telah mengerahkan seluruh tenaga mereka buat memeluk kuat-kuat ke dua kaki lelaki berpakaian mesum itu, muka mereka sampai memerah karena mempergunakan tenaga yang berkelebihan.

“Ya, ya, begitu, terus cekal yang kuat..... jangan dilepaskan dulu!” teriak beberapa orang anak-anak lainnya.

Lelaki berpakaian mesum itu mau atau tidak jadi tersenyum melihat lagak dari anak-anak ini katanya dengan sabar: “Sudahlah..... lepaskanlah dulu....., aku pasti akan membagikan pada kalian seorangnya satu chie, bisa kalian pergunakan buat membeli gula-gula!”

“Tidak! Berikan dulu!” berteriak beberapa orang anak-anak itu.

“Baiklah!” kata lelaki berpakaian mesum tersebut sambil merogoh sakunya, dia benar-benar mengeluarkan pecahan dan hancuran uang perak, kemudian dibagi-bagikan kepada anak-anak itu.

Ke dua orang anak itu, A Kie dan A Bun, yang melihat lelaki setengah baya tersebut telah membagikan uangnya, segera melepaskan rangkulan mereka masing-masing pada kaki lelaki berpakaian mesum tersebut, dan meminta bagian mereka. Hanya saja waktu mereka menerima bagian tersebut mereka tidak puas.

“Tambah!” berseru A Kie. “Kami yang telah mengeluarkan tenaga berkelebihan buat merangkul kakimu, jelas kami harus memperoleh bagian yang lebih banyak!”

“Ya, tambah!” menimpali A Bun.

Lelaki setengah baya itu tidak mau rewel dia telah menambahkan. Kemudian dia melangkah lagi, memutar tubuhnya buat meninggalkan rombongan anak-anak itu.

Akan tetapi biarpun tampaknya dia selalu sibuk dan melangkah dengan tergesa-gesa, seperti ada sesuatu yang hendak dikerjakan, tokh tetap dia berkeliaran di sekitar tempat itu. Sampai akhirnya dia kembali ke tempat di mana rombongan anak-anak itu berada.

“Nah..... kau kembali lagi!” teriak rombongan anak-anak nakal tersebut dengan suara yang nyaring. “Nah, harus membagi kami uang lagi!”

Lelaki setengah baya itu memang telah mengangguk, sambil katanya: “Nanti..... aku nanti akan membagikan kalian uang lagi.....!”

Setelah berkata begitu, lelaki mesum tampaknya agak terganggu pikirannya tersebut telah duduk di bawah sebatang pohon. Kemudian tangan kanannya melambai memanggil salah seorang anak, agar anak itu mendekat padanya.

Karena memang selama empat hari ini lelaki berpakaian mesum tersebut selalu membagikan uang kepada mereka, sehingga anak-anak itu semakin yakin bahwa lelaki berusia setengah baya itu tidak pernah marah jika digoda dan juga tangannya terbuka.

Anak-anak itupun jadi semakin berani menggodanya. Dengan demikian anak-anak itupun tidak merasa takut walaupun melihat keadaan lelaki itu yang berpakaian mesum dan mukanya kotor.

A Kie telah menghampiri lelaki setengah baya tersebut.

“Kau ingin membagi padaku uang lagi, bukan?” tanyanya berani sambil nyengir.

Lelaki berusia setengah baya, dengan rambut yang awut-awutan dan telah ada uban yang tumbuh di sebagian kepalanya itu, terlihat menggeleng perlahan. “Aku ingin menanyakan sesuatu padamu!”

“Apa yang ingin kau tanyakan?!” tanya A Kie, sedangkan A Bun dan anak-anak lainnya telah mendekati juga.

“Duduklah dulu disini, nanti aku akan menanyakan sesuatu pada kalian! Jika memang kalian bisa memberitahukan kepadaku sesuatu, aku akan membagikan kalian lagi uang, bukan satu chie lagi, tapi seorangnya sepuluh chie.”

Mendengar janji orang setengah baya tersebut, segera juga A Kie dan A Bun serta anak-anak yang lainnya mendekati. Mereka jadi tertarik sekali buat mengetahuinya apa yang ingin ditanyakan oleh lelaki mesum tersebut, yang selama empat hari ini mereka jaili dan menjanjikan hadiah yang demikian besar pada mereka.

“Ayo katakan, apa yang ingin kau tanyakan?!” tanya A Kie sudah tidak sabar.

“Tunggu dulu..... kalian dengarlah baik-baik!” kata lelaki setengah baya tersebut. “Yang ingin kutanyakan kepada kalian, apakah kalian kenal seseorang..... dan jika kalian bisa memberitahukan alamat orang itu kepadaku, maka jangan kuatir hadiah yang akan kuberikan kepada kalian sangat besar sekali!”

“Ya, ya, katakanlah, siapa yang sedang kau cari?!” desak A Kie.

Lelaki setengah baya tersebut menghela napas, kemudian dia bilang dengan suara yang sabar:

“Orang itu she Un bernama Kim Hoa.”

“Un Kim Hoa?!” anak-anak itu jadi mengerutkan alisnya saling pandang satu dengan yang lainnya.

Mereka seperti juga tengah berpikir keras, sampai akhirnya A Kie berseru nyaring kegirangan dengan menepuk lututnya keras-keras: “Aku tahu! Tentu yang kau maksudkan itu nyonya Un yang tinggal di sebelah barat kampung ini, bukan?”

Bola mata lelaki setengah baya tersebut mencilak dan mengawasi anak-anak itu dengan sorot mata yang bersinar, tampak timbul harapan pada dirinya.

“Ya, coba kau jelaskan, nyonya Un itu bagaimana rupanya. Apakah dia seorang nyonya berusia tigapuluh tahun lebih? Dia memiliki tubuh yang langsing, dengan lesung pipit yang manis di pipi sebelah kanan dan juga dengan sebuah tahi lalat yang sebesar biji kacang hijau di pipi sebelah kirinya ke bawah dekat dagu?”

A Kie jadi bengong sejenak, kemudian lemas sambil menggelengkan kepalanya.

“Nyonya Un yang kumaksudkan itu adalah neneknya si Wang Sin..... Nyonya Un itu telah berusia hampir tujuhpuluh tahun.....”

Mendengar penjelasan A Kie, lelaki setengah baya tersebut jadi lemas dan lenyap semangatnya. Dia pun memandang dengan mata yang guram lagi.

“Bukan, bukan dia..... orang yang kumaksudkan itu seorang wanita yang cantik, manis, dan juga memiliki bentuk tubuh yang elok, perangai yang halus, dan juga murah senyumnya. Disamping itu juga orang itu selalu mengenakan baju berwarna kuning dan kuntum bunga mawar di sebelah kanan bagian dadanya. Itulah kebiasaannya, dan kalian bisa cepat mengenalinya, jika melihat wanita yang memiliki kebiasaan dengan pakaian selalu berwarna kuning dengan kuntum bunga mawar di sebelah kanan bagian dadanya.”

Dan setelah berkata begitu, lelaki berpakaian mesum tersebut menghela napas berulang kali.

A Kie sendiri tampaknya kecewa, ia telah mengawasi lelaki berpakaian mesum tersebut.

“Jadi yang kau cari itu bukan nyonya Un yang kukatakan tadi?!” tanya A Kie kemudian

Lelaki bermuka mesum tersebut telah menggeleng perlahan. “Bukan, bukan..... usianya tidak setua itu!” katanya kemudian.

A Kie telah memandang kepada kawan-kawannya, kemudian katanya: “Coba kalian pikir, apakah kalian tahu wanita yang dicari oleh orang tua ini?!”

Kawan-kawan A Kie telah saling pandang kemudian mereka semuanya menggeleng.

Tiba-tiba A Bun berseru: “Aku tahu! Aku tahu! Tentu yang dimaksudkannya itu adalah Bin Hujin, ibu dari Bin An!”

“Bin Hujin (nyonya Bin)?!” tanya anak-anak yang lainnya.

A Bun mengangguk.

“Ya, memang sering kudengar dari ibuku bahwa Bin Hujin bernama Un Kim Hoa, itu nama kecilnya, sebelum menikah dengan Bin Wan-gwe!” menyahuti A Bun.

Muka lelaki berpakaian mesum tersebut jadi terang sedikit dan matanya bersinar agak terang, dengan sikap yang gelisah dia bertanya: “Apakah kau..... kau benar-benar mengetahui di mana beradanya orang yang kucari itu?”

A Bun mengangguk cepat, akan tetapi kemudian dia batal meagucapkan kata-kata yang hampir meluncur dari mulutnya. Dia mengulurkan tangannya sambil katanya: “Berikan dulu hadiahmu, aku yakin pasti Bin Hujin yang tengah kau cari itu!”

Lelaki berpakaian mesum tersebut jadi ragu-ragu, akan tetapi tangan kanannya telah merogoh sakunya,dia mengeluarkan lima tail perak diberikan kepada A Bun.

“Jika memang kau menunjukkan orang yang kucari itu dengan benar, nanti akan ku tambah lagi limapuluh tail perak!” janji lelaki berpakaian mesum tersebut.

Wajah A Bun jadi berseri-seri karena lima tail perak bukanlah jumlah yang kecil. Apa lagi mendengar janji lelaki herpakaian mesum tersebut yang menyatakan, jika benar Bin Hujin yang tengah dicarinya, akan diberi hadiah limapuluh tail perak lagi. Maka segera juga, dengan gembira ia menjelaskan keadaan wajah Bin Hujin.

Semakin mendengar penjelasan A Bun, mata si lelaki setengah baya tersebut semakin bersinar, pipinya yang semula pucat kuning, kini memerah, dan wajahnya berseri-seri.

“Sekarang..... sekarang dia berada di mana?!” tanya lelaki berpakaian mesum tersebut.

A Bun tidak segera menjawab pertanyaan itu, dia malah balik bertanya, “Benarkah orang yang tengah kau cari itu Bin Hujin adanya?!”

Lelaki berpakaian mesum tersebut mengangguk-angguk.

“Jika memang kau tidak berdusta, di dengar dari ceritamu, memang dialah yang tengah kucari......!” menyahuti lelaki berpakaian mesum tersebut. “Ayo cepat tunjukkan kepadaku, di mana tempat berdiamnya dia......!”

“Tunggu dulu....., ceritakan dulu kepada kami, kau masih memiliki hubungan apa dengan Bin Hujin? Dan juga hadiah sebesar limapuluh tail perak kau belum lagi memberikan kepada kami, aku kuatir nanti kau menipu kami!”

Lelaki bermuka mesum itu tersenyum pahit, walanpun dia berpakaian mesum dan dekil sekali, akan tetapi dia ternyata memiliki uang yang sangat banyak. Tangannya telah merogoh sakunya dan memberikan pada A Bun sebanyak limapuluh tail.

Waktu lelaki berpakaian mesum tersebut memberikan uang yang limapuluh tail yang diambilnya dari dalam sebuah kantong yang dekil pula. Anak-anak itu melihat lelaki ini masih memiliki uang yang sangat banyak, muugkin meliputi ratusan tail perak.

“Ayo antarkan aku ke tempat berdiamnya Bin Hujin....!” kata lelaki berpakaian mesum itu sambil memasukkan kantong uangnya ke dalam sakunya.

A Bun menyimpan uangnya, ia juga bilang; “Kami akan mengantarkan kau, akan tetapi kami tidak berani terlalu dekat dengan Gedung Bin Wan-gwe. Kau boleh datang sendiri ke sana!

Bola mata lelaki berpakaian mesum tersebut mencilak.

“Kenapa?!” tanyanya tidak sabar.

“Karena tidak ada seorangpun penduduk kampung kami ini yang diijinkan berada di dekat gedung Bin Wan-gwe.....!” menyahuti A Kie, mewakili A Bun.

“Benar! Benar!” berseru anak-anak yang lainnya. “A Bun dan A Kie tidak berbohong.....!”

Muka lelaki berpakaian mesum tersebut berobah menjadi marah.

“Bin Wan-gwe itu suami dari..... dari Bin Hujin yang kau katakan?!” tanya lelaki berpakaian mesum. “Dia suami Un..... Un Kim Hoa?”

A Kie mengangguk.

“Benar......!” sahutnya.

“Jangan takut! Jika Bin Wan-gwe itu berani mengganggu kalian, aku akan menghajarnya!” kata lelaki berpakaian mesum tersebut.

“Ohhh, hebat sekali!” berseru A Kie dan A Bun serta anak-anak itu sambil tertawa. “Wan-gwe memiliki puluhan orang tukang pukul, mana mungkin kau yang bertubuh kerempeng dan kurus seperti ini bisa mengalahkannya?!”

Lelaki berpakaian kumal tersebut telah tertawa dingin, mukanya semakin memerah.

“Begitu jahatkah suami Un Kim Hoa, sehingga Kim Hoa selalu dikurungnya dan tidak diperkenankan bergaul dengan penduduk kampung ini? Hemm jika memang nanti aku memperoleh kenyataan Kim Hoa menderita di tangannya, hemm, hemm, akan kupatahkan seluruh tulang-tulang di tubuh Bin Wan-gwe itu......!”

Sambil berkata begitu, lelaki berpakaian mesum tersebut menghampiri sebuah batu-batuan yang berbentuk singa-singaan, dia telah mengayunkan tangan kanannya, memukul dengan perlahan.

Terdengar suara “plakkk!” yang tidak begitu keras, sedangkan anak nakal itu mengawasi terheran-heran, mereka tidak mengetahui apa yang dilakukan orang berpakaian kumal tersebut. Mereka hanya mengetahui, jika memang orang berpakaian mesum tersebut memukul singa-singaan dari batu tersebut, niscaya dia yang akan menderita kesakitan.

Akan tetapi apa yang terjadi benar-benar mengejutkan anak-anak itu.

Singa-singaan batu itu seketika menjadi hancur berkeping-keping, seperti juga singa-singaan dari batu tersebut telah dipukul dengan pukulan besi yang berat dan kuat sekali.

Anak-anak itu jadi memandang bengong akan tetapi akhirnya mereka telah bersorak dengan gembira.

“Horee..... permainan sihir yang menarik sekali!” berseru A Kie, A Bun serta anak-anak itu.

Sedangkan lelaki berpakaian mesum tersebut, dengan muka yang masih merah padam telah bertanya: “Bagaimana, apakah tukang pukul dari Bin Wan-gwe memiliki tenaga yang begitu kuat?”

Anak-anak itu segera bersorak lagi, sambil ada yang berseru juga: “Mari kita menyaksikan keramaian! Mari kita melihat keramaian!”

A Kie dan A Bun yang menyaksikan bahwa lelaki berpakaian mesum tersebut ternyata memiliki tenaga yang kuat sekali, telah timbul keberaniannya, mereka segera juga mengiyakan buat mengantar orang berpakaian mesum itu ke rumahnya Bin Wan-gwe.

Waktu mereka ingin berangkat, pemilik rumah tersebut, yang patung singa-singaan batunya telah dihancurkan oleh orang berpakaian mesum tersebut telah keluar dari dalam rumah karena mendengar suara ribut-ribut. Betapa terkejutnya dia waktu melihat singa-singaan batu yang berada di luar rumahnya telah dihantam hancur seperti itu.

“Ohhh, siapa yang telah melakukan perbuatan terkutuk ini? Siapa? Cepat katakan?!” berseru-seru pemilik rumah tersebut.

Akan tetapi lelaki berpakaian mesum itu telah merogoh sakunya, kemudian melemparkan uang lima tail perak kepada pemilik rumah itu: “Pergi kau membeli yang baru, paling tidak hanya dua tail..... yang tiga tail buat kau!”

Memperoleh ganti rugi seperti itu, pemilik rumah tersebut tidak rewel lagi, malah sebaliknya dia telah mengucapkan terima kasih, karena dengan dihancurkan singa-singaan batu tersebut, dia malah memperoleh untung.

Sedangkan lelaki berpakaian mesum tersebut telah mengajak rombongan anak-anak itu buat meninggalkan tempat itu, menuju ke rumah Bin Wan-gwe.

Begitulah, A Kie dan A Bun yang telah memimpin rombongan anak-anak tersebut mengantarkan orang berpakaian mesum itu. Sampai akhirnya mereka telah tiba di muka sebuah gedung yang besar dan mewah, yang bertingkat dua.

Dan juga di sekeliling gedung itu terdapat pagar tembok yang cukup tinggi, hampir dua tombak lebih. Pintu gedung tersebut berwarna coklat tua, dengan diberi garis air emas.

Orang berpakaian mesum itu telah menoleh kepada A Bun.

“Sepi..... tidak terlihat seorang manusiapun juga di rumah itu!” kata orang berpakaian mesum itu.

A Bun mengangguk.

“Ya, mereka berada di dalam.....!” katanya.

“Kau ketuklah, bilang bahwa aku mencari Un Kim Hoa dan ingin bertemu dengannya!?” kata lelaki berpakaian mesum tersebut.

“Kami yang pergi mengetuknya? Oh, kami berani, bisa-bisa kepala kami berpisah dari leher kami!” kata A Bun cepat sambil memperlihatkan sikap ketakutan.

Anak-anak yang lain juga tidak berani.

Akhirnya lelaki berpakaian mesum tersebut telah menghampiri sendiri pintu gedung itu. Dia mengetuknya dengan keras. Walaupun tangannya tampak digerakan perlahan, tokh ketukannya menimbulkan suara gedoran yang sangat keras sekali.

Rupanya ketokan yang menyerupai gedoran tersebut mengejutkan penghuni gedung, di mana telah berlari-lari seorang pelayan yang membukakan pintu dengan muka cemberut.

“Oh kau.....?!” katanya dengan sikap yang sinis sekali waktu melihat tamu yang datang itu tidak lain dari seorang lelaki berpakaian mesum dan kotor sekali. “Apa maksudmu datang kemari? Kau mencari siapa?!”

Lelaki bertubuh kurus dengan pakaian yang mesum tersebut telah menyahuti: “Aku ingin bertemu dengan Un Kim Hoa!”

“Un Kim Hoa? Siapa dia......?!” tanya pelayan tersebut.

Dan waktu itu muka si pelayan telah berobah merah padam, dengan mendongkol dia mau meaggabruki pintu buat menutup kembali. “Lain kali jangan mengetuk pintu sekeras itu, atau memang kau sudah gila, heh? Lain kali kau harus tahu adat!”

Dimaki begitu, lelaki berpakaian mesum tersebut tidak memperdulikan, dan dia telah mengulurkan tangan kanannya buat menahan pintu yang akan tertutup lagi itu.

Dengan ditahan oleh jari telunjuknya saja, pintu yang digabruki itu akan ditutup dengan keras oleh pelayan tersebut, jadi tidak bisa bergerak lebih jauh dan tetap berada di tempatnya, walaupun pelayan itu telah mengerahkan seluruh tenaganya buat menutup pintu itu.

“Eh, kurang ajar! Di siang hari bolong seperti ini engkau hendak mengacau dan menggarong rupanya?!” memaki pelayan itu sengit dan marah.

Tetapi orang bepakaian mesum tersebut telah berkata dengan suara yang dingin: “Aku ingin bertemu dengan Un Kim Hoa!”

“Un Kim Hoa! Un Kim Hoa! Kenalpun tidak aku akan orang itu! Pergi kau mencari ke tempat lain......!” teriak pelayan itu mendongkol sekali.

Muka lelaki berpakaian mesum itu berobah, dia telah bertanya bersungguh-sungguh: “Jadi Un Kim Hoa tidak tinggal di rumah ini? Bukankah dia..... telah menjadi isteri dari Bin Wan-gwe?”

Rombongan anak-anak itu, A Bun, A Kie dan juga kawan-kawannya, waktu melihat pelayan Bin Wan-gwe telah bergusar seperti itu mereka beramai-ramai meninggalkan tempat tersebut.

Sedangkan pelayan itu sendiri waktu mendengar perkataan terakhir dari orang berpakaian mesum tersebut, telah bertanya dengan kaget: “Apa kau bilang? Isteri Bin Wan-gwe? Kau sinting atau tengah bermimpi..... yang ingin kau jumpai itu Bin Hujin?!”

Lelaki berpakaian mesum itu mengangguk dia mengiyakan.

“Ya, anak-anak itu mengatakan, Bin Hujin adalah Un Kim Hoa.....!” menyahuti lelaki berpakaian mesum tersebut.

Sedangkan si pelayan telah mengawasi beberapa saat pada lelaki berpakaian mesum itu, kemudian tersenyum sinis sambil geleng-gelengkan kepalanya.

“Benar juga, tampaknya engkau memang seorang yang sinting..... engkau telah bertindak dan berkata begitu kurang ajar! Hemm, kau menyebut-nyebut bahwa Bin Hujin adalah Un Kim Hoa dan engkau ingin bertemu dengannya..... Inilah lelucon yang tidak lucu........!” Dan pelayan itu menggerakkan tangannya lagi dia telah mengerahkan seluruh kekuatan dan tenaganya buat menutup pintu itu.

Akan tetapi walaupun dia telah mengerahkan seluruh kekuatannya, tokh dia gagal sama sekali, dia tidak berhasil menggerakkan daun pintu tersebut.

“Cepat panggilkan Un Kim Hoa!” kata lelaki berpakaian mesum tersebut.

Akan tetapi pelayan itu telah membentak marah: “Cepat kau menggelinding pergi sebelum nanti kulemparkan kau jauh, anjing busuk!”

Muka lelaki berpakaian mesum itu jadi berobah merah, dia mendorong daun pintu itu, yang tadi dia tahan dengan jari telunjuknya.

Tampaknya dia menggerakkan tangannya itu perlahan sekali, akan tetapi kenyataannya yang ada tenaga yang terpancar keluar dari dorongannya tersebut sangat kuat sekali, karena daun pintu itu telah menjeblak terbuka dan seketika menghantam muka si pelayan rumah Bin Wan-gwe, yang tubuhnya terpental dengan mata yang berkunang-kunang dan juga telah mengucur deras sekali darah dari hidungnya! Tubuh terpelanting bergulingan di tanah.

Waktu itu tampak lelaki berpakaian mesum itu dengan sikap yang bersungguh-sungguh berkata: “Cepat kau panggilkan Un Kim Hoa, katakan aku ingin bertemu.....!”

Pelayan itu jadi kaget dan semangatnya seperti terbang setelah mengetahui bahwa lelaki berpakaian mesum tersebut memiliki tenaga yang sangat kuat sekali. Sedangkan pelayan ini memang seorang yang licik, dia menyadari tidak mungkin dia bisa menghadapi lelaki berpakaian mesum tersebut, maka dia mengangguk sambil berusaha tersenyum manis.

“Baik, baik, aku akan segera memanggilnya, kau tunggulah.....!” kata pelayan itu, seraya cepat-cepat memutar tubuhnya berlari ke dalam dengan hati yang kebat-kebit takut bercampur marah.

Sedangkan lelaki berpakaian mesum itu telah berdiri di tempatnya menanti dengan tidak sabar.

Tidak lama kemudian tampak pelayan itu telah kembali keluar dengan langkah lebar. Di belakangnya tampak mengikuti enam lelaki bertubuh tinggi besar dan semuanya memiliki potongan wajah yang mengerikan sekali.

“Itu dia orangnya!” teriak pelayan sambil menunjuk ke arah si lelaki berbaju kumal dan mesum tersebut.

Seorang dari ke enam lelaki bertubuh tinggi besar tersebut telah menghampiri lelaki berpakaian mesum itu, dan berkata dengan suara yang parau menyeramkan: “Apa maksudmu menimbulkan kekacauan seperti ini?!”

“Aku ingin bertemu dengan Un Kim Hoa!” menyahuti si lelaki berpakaian mesum dengan sikap yang tidak sabar. Sama sekali dia tidak memperlihatkan perasaan jeri walaupun melihat ke enam orang bertubuh tinggi besar itu yang tentunya tukang pukul dari Bin Wan-gwe.

“Hemmm,” mendengus lelaki bertubuh tinggi besar itu. “Siapa orang yang ingin kau temui itu? Kami tidak mengenalnya!”

“Un Kim Hoa adalah isteri Bin Wan-gwe!” menyahuti lelaki berpakaian mesum itu.

Kemudian dia menoleh kepada si pelayan yang berdiri cukup jauh, karena tampaknya pelayan itu takut buat dekat-dekat dengan lelaki berpakaian mesum tersebut.

“Mana dia Un Kim Hoa, mengapa kau tidak memanggilnya keluar?!” tanya lelaki berpakaian mesum itu lagi.

Sedangkan tukang-tukang pukul Bin Wan-gwe waktu itu terkejut dan bercampur marah.

“Ohhh, sungguh kurang ajar sekali, kau!” kata salah seorang di antara mereka. “Mulutmu yang kurang ajar seperti itu harus dirobek! Kami saja tidak mengetahui siapa nama kecil Bin Hujin, akan tetapi kau begitu kurang ajar berani menduga-duga siapa nama Bin Hujin dan coba-coba menyebutkan nama sembarangan saja!”

Setelah berkata begitu, tukang pukul yang seorang itu tidak berdiam diri saja, dia telah melangkah mendekati, dan mengulurkan tangannya menghantam ke mulut lelaki berpakaian mesum tersebut.

Akan tetapi lelaki berpakaian mesum tersebut tidak berusaha mengelakkan diri dari pukulan yang sebenarnya sangat kuat dan bisa membahayakan mukanya dan mungkin jika pukulan itu mengenai sasarannya dengan tepat akan merontokkan seluruh gigi dari lelaki bertubuh kerempeng dan berpakaian mesum tersebut.

“Mana dia Un Kim Hoa?!” masih juga lelaki berpakaian mesum tersebut sempat bertanya seperti itu.

Dan waktu pukulan dari tukang pukul yang galak itu hampir tiba di mukanya, dengan gerakan yang cepat sekali dia telah mengangkat tangan kanannya tahu-tahu dia telah mencekal pergelangan tangan orang itu.

Terdengar suara “Krekkk” dan tukang pukul yang seorang tersebut menjerit keras sekali, tubuhnya sempoyongan ke belakang, mukanya pucat pias, karena tulang pergelangan tangannya yang tadi telah kena, dicekal oleh lelaki berpakaian mesum tersebut telah hancur. Rupanya cekalan lelaki berpakaian mesum tersebut seperti juga remasan jari-jari baja.

Lima orang tukang pukul Bin Wan-gwe yang lainnya waktu melihat keadaan teman mereka seperti itu, segera mengeluarkan bentakan marah. Mereka telah mencabut senjata masing-masing yaitu pedang dan golok mereka, yang dipergunakan mengancam untuk menyerang kepada lelaki berbaju mesum tersebut.

Sedangkan waktu itu tampak lelaki berbaju mesum itu dengan jengkel, tanpa memperlihatkan perasaan jeri, walaupun ke lima orang tukang pukul Bin Wan-gwe itu telah mencabut senjata mereka membanting-banting kakinya.

“Cepat panggilkan Un Kim Hoa! Cepat panggilkan! Atau memang kalian menginginkan aku pergi masuk mencarinya sendiri?”

Sambil berkata begitu, dia juga telah memperlihatkan sikap tidak senangnya.

Akan tetapi ke lima tukang pukul Bin Wan-gwe dengan wajah yang menyeramkan, telah melompat ke dekat lelaki berbaju mesum tersebut, golok dan pedang mereka telah menyambar untuk menikam dan membacok.

Gerakan yang dilakukan oleh mereka memang telengas sekali, karena mereka memang kejam dan berhati bengis terhadap siapapun juga, karenanya mereka telah menyerang kepada sasaran yang bisa mematikan dan berbahaya di tubuh lelaki berbaju mesum tersebut.

Sedangkan lelaki berbaju mesum itu sama sekali tidak berkisar dari tempatnya. Dia hanya berseru-seru agar orang-orang itu mau memanggilkan Un Kim Hoa keluar dari rumah itu.

Dan waktu dua batang golok tiba lebih dulu ke dekat leher dan perutnya, cepat sekali dia melakukan gerakan yang aneh sekali, di mana tangannya seperti juga japit, telah menjapit dengan kuat ke dua senjata itu, yang kemudian menjadi patah. Waktu orang berpakaian mesum tersebut mengibaskan tangannya, seketika juga tampak tubuh ke dua penyerangnya itu telah terpental bergulingan di atas tanah, dari mulut dan hidung mereka telah keluar darah.

Sedangkan ke empat orang kawan tukang pukul dari Bin Wan-gwe, termasuk tukang pukul yang seorang itu yang pergelangan tangannya telah dihancurkan dengan remasan lelaki berbaju mesum tersebut, jadi kaget bukan main. Yang tiga orang segera menerjang maju dengan terjangan yang hebat sekali, karena mereka begitu marah dan sudah tidak memperdulikan apakah itu merupakan serangan senjata tajam mereka itu bisa membinasakan lelaki berbaju mesum ini atau tidak.

Sedangkan lelaki berbaju mesum itu telah berseru: “Mana dia Un Kim Hoa? Mana dia? Mengapa kalian tidak memanggilnya keluar?!”

Sambil berseru-seru seperti itu, tampak lelaki berbaju mesum tersebut telah mengibaskan tangannya dengan perlahan, namun berhasil membuat ke tiga senjata tajam di tangan ke tiga orang tukang pukul Bin Wan-gwe tersebut terpental terlepas dari cekalan mereka masing-masing.

Lelaki berbaju mesum tersebut tiba-tiba mencelat ringan sambil menggerakkan ke dua tangannya, tahu-tahu ke tiga batang senjata dari tukang pukulnya Bin Wan-gwe telah berada dalam tangannya, yang dicekal menjadi satu di tangan kanannya. Dan malah kemudian dengan gerakan yang hampir sulit diikuti oleh pandangan mata manusia biasa, waktu itu senjata di tangan kanan lelaki berbaju mesum itu bergerak.

Seketika terdengar suara jeritan ke tiga orang tukang pukul Bin Wan-gwe karena di waktu itu telinga mereka masing-masing telah terpotong putus, darah mengucur deras sekali. Masing-masing putus telinga sebelah kanan.....

Tukang pukul Bin Wan-gwe yang tadi tulang pergelangan tangannya telah hancur segera memutar tubuhnya dan berlari masuk ke dalam rumah.

Pelayan Bin Wan-gwe, yang wajahnya masih dilumuri darah juga telah memutar tubuhnya berlari dengan keras.

Saat itu tampak orang berpakaian mesum tersebut telah membuang ke tiga senjata rampasan itu ke atas tanah, dia menoleh kepada ke lima orang tukang pukul Bin Wan-gwe, yang belum melarikan diri ke dalam.

“Cepat kalian panggil keluar Un Kim Hoa!” katanya.

“Kami....., kami sesungguhnya tidak kenal dengan orang yang kau maksudkan bernama Un Kim Hoa itu..... karena kami sendiri sebenarnya memang tidak mengetahui siapa nama kecil dari Bin Hujin, majikan kami itu.....!” kata salah seorang tukang pukul Bin Wan-gwe dengan suara tergagap.

“Panggil keluar dulu Bin Hujin itu! Biar nanti aku yang melihatnya benarkah dia yang bernama Un Kim Hoa atau memang bukan dan anak-anak itu telah mendustai aku!” kata lelaki berpakaian mesum itu.

Waktu itu dari dalam telah berlari tujuh atau delapan orang tukang pukul Bin Wan-gwe yang lainnya. Mereka telah mengurung lelaki berpakaian mesum tersebut.

“Hati-hati....., dia lihay!” memperingati salah seorang kawan mereka, yaitu tukang pukul yang tadi telah dihajar lelaki berbaju mesum dan telinga sebelah kanannya telah putus itu.

Tetapi delapan orang tukang pukul Bin Wan-gwe yang baru keluar itu rupanya sangat sombong sekali, mereka tidak memperdulikan peringatan kawannya. Berdelapan mereka telah maju mengurung lelaki berbaju mesum itu.

Akan tetapi belum lagi mereka menyerang, waktu itu, dari dalam gedung telah berlari-lari keluar seorang lelaki bertubuh tinggi besar, dan berperut buncit, dia berseru: “Siapa yang ingin bertemu dengan isteriku? Siapa orangnya?”

Tetapi waktu dia telah ke ruangan depan, dan melihat lelaki berpakaian mesum tersebut, dia merandek dan mengawasi sesaat lamanya, dengan sikap yang tidak senang.

“Oh..... kau?!” dia bilang. “Kukira siapa, tidak tahunya seorang pengemis! Apakah pantas seorang pengemis seperti kau ingin bertemu dengan isteriku yang terhormat dan memiliki kedudukan yang agung?!”

Lelaki berbaju mesum itu tidak memperdulikan ejekan Bin Wan-gwe, hartawan yang baru keluar dengan bentuk tubuh yang gemuk besar tersebut.

“Aku ingin bertemu dengan Un Kim Hoa cepat panggil keluar....., atau memang terpaksa aku harus mencarinya sendiri ke dalam!”

Bin Wan-gwe waktu itu telah mengawasi sekian lamanya lagi pada lelaki berbaju mesum itu, lalu bertanya: “Siapa kau sebenarnya? Dan apa maksudmu mencari Kim Hoa, isteriku itu?!”

Semua tukang pukul Bin Wan-gwe jadi terkejut dan heran. Sekarang mereka baru mengetahuinya bahwa nama kecil dari nyonya majikan mereka memang Un Kim Hoa, dan lelaki berbaju mesum tersebut tidak berdusta.

Lelaki berbaju mesum itu tertawa sambil memperlihatkan sikap yang getir karena menelan banyak penderitaan, dengan suara yang tawar dia bilang: “Aku ingin mencari Un Kim Hoa. Jika kau bisa menolongku, agar dia mau keluar menemui aku, akan kuhadiahkan engkau sepuluh tail perak!”

Mendengar perkataan lelaki berbaju mesum tersebut, meledaklah tertawanya Bin Wan-gwe.

“Kau anggap apa aku ini? Akulah Bin Wan-gwe, hartawan terkaya di kampung ini! Apakah untuk memanggilkan isteriku, maka aku akan temaha terhadap uang sepuluh tail perakmu itu? Kepalamu masih dapat kupisahkan dari batang lehermu! Katakan dulu siapa namamu?!”

“Aku..... aku Hok An.....!” menyahuti lelaki berbaju mesum itu setelah ragu-ragu sejenak, melihat Bin Wan-gwe tertawa bergelak-gelak seperti itu.

“Lalu..... bagaimana engkau bisa kenal nama isteriku?!” tanya Bin Wan-gwe.

Tiba-tiba wajah orang berbaju mesum tersebut jadi berseri-seri.

“Jadi........ jadi benar bahwa isterimu itu adalah Un Kim Hoa?!” tanyanya sambil memperlihatkan wajah berseri-seri dan mata bersinar.

Bin Wan-gwe mengangguk terpaksa.

“Ya. Benar!” sahutnya.

“Bagus!” berseru lelaki berbaju mesum itu.

“Apa yang bagus!” tanya Bin Wan-gwe mulai gusar melihat tingkah laku orang itu.

“Bagus sekali! Ternyata tidak sia-sia. Lima tahun lebih aku telah mencari ke sana ke mari, akhirnya aku berhasil menemui jejaknya juga..... akh, memang Thian memiliki mata dan telah menuntunku sehingga bisa mencari tempat dia berdiam, walaupun di tempat sesepi ini......”

Setelah berkata begitu, lelaki berbaju mesum tersebut telah menekuk ke dua kakinya, dia telah berlutut sambil mengangguk-anggukan kepalanya kepada langit, seakan-akan juga dia ingin menyatakan syukur dan terima kasihnya kepada Thian.

Sedangkan Bin Wan-gwe telah mengawasi dengan muak dan mendongkol.

Yang membuat dia jadi gusar, justru orang berbaju mesum tersebut mengakui bahwa dia kenal dengan isterinya, malah orang ini mengetahui jelas nama dan she isterinya. Inilah yang mendatangkan kecurigaan pada hati hartawan kaya raya tersebut.

Sedangkan lelaki berbaju mesum yang mengaku bernama Hok An tersebut telah bangun berdiri, dan dia telah membalikkan tubuhnya menghadapi Bin Wan-gwe.

“Mana dia Un Kiam Hoa?” tanyanya kemudian. “Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengannya?!”

Muka Bin Wan-gwe berobah semakin tidak enak dilihat, dan dia gusar sekali.

“Jangan kurang ajar seperti itu!” bentak salah seorang tukang pukul Bin Wan-gwe, waktu melihat kegusaran majikannya. “Nanti lidahmu akan kupotong......!”

Hok An seperti tidak mengacuhkan perkataan tukang pukul tersebut, dia hanya mengawasi Bin Wan-gwe, sambil katanya: “Mana dia Kim Hoa?!”

Bin Wan-gwe sudah tidak bisa menahan kemarahannya, dia membentak gusar: “Apa hubunganmu dengan Kim Hoa? Bagaimana kau bisa kenal dan mengetahui she dan namanya?!”

“Tentu saja, aku mengetahui she dan nama Kim Hoa, karena dia adalah calon isteriku.....! Telah lima tahun lebih aku mencari-carinya, tidak habisnya setiap detik aku berdoa kepada Thian, agar kami dipertemukan, ternyata akhirnya aku bisa menemui tempat berdiamnya.....!”

Muka Bin Wan-gwe merah padam seperti juga kepiting yang direbus. Dia mengibaskan tangan kanannya sedikit, dengan gerakan yang hampir tidak terlihat.

Akan tetapi semua tukang pukulnya telah mengerti apa arti dari kibasan tangan majikan mereka.

Dengan diiringi bentakan bengis, ke delapan tukang pukul Bin Wan-gwe telah menyerang Hok An.

Begitu juga dengan ke empat tukang pukul yang tadi telah disapatkan telinganya dan yang patah tulang pergelangan tangannya kanannya, mereka menyerang dengan penuh kebencian dan kemarahan.

Hok An seperti tidak melihat serangan dari orang-orang itu, dia masih memandang kepada Bin Wan-gwe dengan tidak hentinya mulutnya mengoceh: “Mana Kim Hoa?!” tanyanya berulang kali.

Serangan dari tiga orang tukang pukul Bin Wan-gwe telah tiba lebih dulu.

Akan tetapi seperti juga memiliki mata di belakang punggungnya, maka tampak Hok An telah bergerak lincah dan mengibaskan tangannya.

Terdengar suara jeritan dari ke tiga orang tukang pukul Bin Wan-gwe, tubuh mereka terpental dan bergelinding di tanah, malah yang lebih celaka, senjata mereka secara luar biasa telah menancap di paha masing-masing dalam sekali, sampai senjata itu tembus ke bagian lainnya!

Dengan sendirinya ke tiga orang tukang pukul Bin Wan-gwe tidak bisa segera bangkit. Sedangkan tukang pukul Bin Wan-gwe yang lainnya jadi tidak berani sembrono menyerang. Mereka yang tengah menerjang maju telah menahan gerakan tangan dan senjata mereka.

Bin Wan-gwe juga terkejut melihat hebatnya Hok An, yang bisa merubuhkan ke tiga orang tukang pukulnya dengan satu gerakan yang begitu mudah.

“Bunuh dia!” seru Bin Wan-gwe gusar.

Tukang pukulnya hartawan ini sebenarnya tengah diliputi perasaan ngeri, karena mereka mulai jeri melihat liehaynya Hok An.

Akan tetapi waktu mendengar bentakan Bin Wan-gwe penuh kegusaran, mereka juga tidak berani berayal, segera mereka menyerang.

Namun sama seperti nasib ke tiga orang kawan mereka, sisa dari tukang-tukang pukul Bin Wan-gwe, yang berjumlah enam orang yang tengah menerjang maju itu, telah dibuat terpental lagi, dan senjata mereka telah menancap di paha masing-masing.

Sedangkan tiga orang tukang pukul Bin Wan-gwe yang tengah menyerang, jadi menarik pulang dan membatalkan serangan mereka.

Dalam keadaan seperti ini muka Bin Wan-gwe telah berobah pucat. Hartawan ini segera meayadarinya bahwa Hok An seorang yang memiliki kepandaian tinggi, karena dari itu, dia tidak berani meremehkannya lagi, walaupun melihat pakaian Hok An begitu mesum.

“Mana Kim Hoa!? Cepat suruh dia keluar?!!” teriak Hok An berulang kali.

Bin Wan-gwe mengambil sikap lain, dia telah merangkapkan ke dua tangannya, membungkukkan tubuhnya sedikit memberi hormat.

“Siapakah sebenarnya Heng-tay? Mengapa Heng-tay mencari isteriku? Dan juga, apa maksud Heng-tay menimbulkan kerusuhan di rumahku ini, dengan melukai semua orang-orangku?!” Sabar suara Bin Wan-gwe, tidak seperti tadi begitu sinis dan bengis.

“Sudah kukatakan..... aku Hok An..... cepat panggil Kim Hoa keluar..... aku ingin bi- cara dengannya!” kata Hok An kemudian.

Bin Wan-gwe menggelengkan kepalanya.

“Tidak bisa! Sebelum aku mengetahui dengan baik asal usulmu, tidak dapat istriku bertemu dengan Heng-tay!” kata Bin Wan-gwe.

Muka Hok An jadi berobah.

“Apa kau bilang?!” tanyanya. “Kau ingin menghalang-halangi pertemuan kami?!”

Bin Wan-gwe memaksakan diri tersenyum.

“Sama sekali aku tidak bermaksud menghalang-halangi pertemuan kalian, akan tetapi selama aku belum mengetahui dengan jelas asal-usulmu, bagaimana mungkin aku bisa mengijinkan kau bertemu dengan isteriku?!”

Mendengar jawaban Bin Wan-gwe itu muka Hok An jadi beringas sekali.

Dia telah melompat mendekati Bin Wan-gwe dengan mata yang memancarkan sinar yang sangat menyeramkan, tubuhnya menggigil.

“Jika kau berusaha menghalang-halangi pertemuan kami..... akan kubunuh.....!” kata Hok An dengan suara yang bengis dan gemetar.....

Melihat sikap Hok An seperti itu, Bin Wan-gwe jadi ketakutan, terlebih lagi waktu itu semua tukang pukulnya tengah tidak berdaya, jelas mereka tidak bisa melindungi dirinya. Maka Bin Wan-gwe telah melangkah mundur dengan muka yang pucat.

Dengan memaksakan diri dia berusaha bersenyum, katanya: “Tenang..... sabarlah mari kita bicara secara baik-baik!”

Mendengar perkataan Bin Wan-gwe itu Hok An agak berkurang beringasnya.

“Cepat panggil Kim Hoa keluar....., biarkan kami bertemu, banyak yang ingin kukatakan kepadanya!” kata Hok An kemudian.

Sedangkan Bin Wan-gwe mengangguk beberapa kali sambil menelan air ludahnya.

“Ya, untuk itu mudah saja, aku akan segera memanggilnya keluar. Akan tetapi katakanlah dulu, siapa kau sebenarnya dan bagaimana caranya engkau bisa berkenalan dengan isteriku itu?”

Ditanya begitu Hok An seketika terdiam, seperti juga tertegun. Tetapi akhirnya mukanya memperlihatkan kegetiran dari perasaan yang tertekan, dengan suara tidak lancar dia bilang: “Sebenarnya..... sebenarnya hal itu akan kau ketahui dengan jelas, kalau saja aku telah dipertemukan dengan Kim Hoa......!”

Bin Wan-gwe memandang curiga, dia menggeleng perlahan, katanya: “Tidak bisa aku meluluskan permintaanmu itu! Sayangnya engkau tidak mau memberitahukan asal usulmu dengan jelas, sehingga aku bisa mempertimbangkannya, apakah aku akan memperkenankan engkau buat menemui isteriku itu atau tidak.....!”

Setelah berkata begitu, Bin Wan-gwe memberi isyarat kepada semua tukang pukulnya, maksudnya agar semua tukang pukulnya itu bersiap-siap buat menghadapi sesuatu yang tidak diinginkan jika saja Hok An mengamuk.

Benar saja, Hok An telah memperlihatkan sikap yang beringas lagi, dia telah berseru marah.

“Hemmmm, engkau memang seorang manusia jahat yang ingin merintangi dan menghalangi pertemuan kami!” teriak Hok An dengan suara bengis dan telah melompat ke dekat Bin Wan-gwe.

Gerakan Hok An begitu gesit, jangankan Bin Wan-gwe memang tidak mengerti ilmu silat, jika dia memiliki kepandaian yang lumayan, belum tentu bisa menghindar dari Hok An.

Dengan cepat tangan Hok An pun telah terangkat, dia bersiap-siap hendak memukul kepala Bin Wan-gwe.

Bin Wan-gwe jadi ketakutan bukan main, semangatnya seperti juga terbang meninggalkan raganya, dia berseru kaget bercampur takut.

Hok An yang sedang mengayunkan tangan melihat betapa Bin Wan-gwe sangat ketakutan. Hatinya jadi tidak tega, dia membentaknya lagi: “Katakan, kau masih berusaha menghalangi pertemuanku dengan Kim Hoa atau tidak!”

Bin Wan-gwe cepat-cepat berseru: “Aku akan segera memanggil Kim Hoa keluar..... aku akan segera memanggilnya!”

Hok An membatalkan maksudnya buat menghantam tangannya pada kepala Bin Wan-gwe.

Akan tetapi waktu itu dari dalam telah terdengar suara seorang anak kecil yang bertanya: “Tahan..... apa yang terjadi?!”

Hok An menoleh. Ternyata yang bertanya itu seorang gadis cilik berusia empat tahun lebih. Wajahnya yang kecil mungil tampak manis sekali, dengan sepasang mata yang jeli dan senyumnya yang berlesung pipit.

Waktu itu gadis cilik tersebut, yang mengenakan kun warna merah dengan kombinasi bajunya berwarna kuning, telah menghampiri Bin Wan-gwe.

Ternyata gadis cilik itu adalah puteri dari hartawan she Bin tersebut. Sedangkan Bin Wan-gwe jadi tambah gugup.

“Kun-jie, cepat masuk..... cepat masuk!” berseru hartawan itu dengan gugup.

Gadis cilik itu telah memandang kepada ayahnya, beberapa saat kemudian memandang pada Hok An, lalu tanyanya: “Paman, mengapa kau tampaknya begitu galak? Dan apa yang ingin kau lakukan terhadap ayahku itu?!”

Ditanya begitu, Hok An tidak menyahuti. Memang sejak tadi melihat gadis cilik tersebut, entah mengapa perasaan Hok An jadi tergoncang.

Dan juga dia merasakan sesuatu yang aneh menyelusuri hatinya. Dia jadi begitu menyukai gadis cilik tersebut, yang mirip dengan seseorang, dan memang sejak tadi Hok An hanya memandang tertegun saja.

Sedangkan gadis cilik tersebut telah menoleh kepada Bin Wan-gwe, tanyanya: “Thia..... apa yang ingin dilakukan paman ini terhadapmu?!” kemudian dengan sikap yang manja sekali ia menggelendot di samping Bin Wan-gwe.

Hok An menghela napas, dilihatnya Bin Wan-gwe telah mengusap-usap kepala anak itu.

“Kun-jie, pergilah kau masuk dulu..... ayah akan segera menyusul masuk ke dalam, sekarang ayah ingin bicara dulu dengan paman itu!”

“Ya! Ya!” kata si gadis cilik tersebut. Dan diapun telah menoleh kepada Hok An, ka tanya: “Paman, kau tidak boleh menggalakkan ayahku, karena jika kau galak-galak, aku akan beritahukan pada ibu, biar ibu menghajarmu nanti!”

Hok An mencoba tersenyum.

“Siapa namamu?!” tanya Hok An, dan wajahnya yang tadi beringas, kini jadi lembut, berobah sangat ramah sekali.

“Aku biasa dipanggil dengan sebutan Kun-jie, akan tetapi namaku Sian Kun. Dan tentunya paman mau main-main nanti denganku, memetik bunga atau juga kita bermain petak, lari dan main sembunyi-sembunyian?!”

Hok An tersenyum mendengar perkataan Kun-jie. Lucu sekali sikap gadis cilik tersebut.

“Baik! Aku akan menemani kau main-main dan juga memetik bunga!” kata Hok An kemudian. “Akan tetapi sekarang kau membantuku dulu.....!”

“Membantumu? Membantu untuk melakukan apa, paman?!” tanya Kun-jie.

“Pergilah kau panggilkan dulu ibumu, agar keluar menemui aku..... nanti aku akan menemani kau bermain!” janji Hok An.

Gadis cilik tersebut tersenyum girang.

“Jadi, kau juga ingin mengajak ibu bermain-main bersama kita?!” tanyanya.

Hok An mengangguk.

“Ya.....!” mengangguk Hok An segera melanjutkan perkataannya itu: “Dan kita akan bermain gembira sekali!”

“Baiklah! Kau tunggulah sebentar.....!” kata Kun-jie kemudian.

“Kun-jie!” bentak Bin Wan-gwe dengan muka yang berobah merah padam, dia kaget mendengar putrinya ingin memanggil istrinya.

Kun-jie dibentak begitu jadi terkejut menoleh kepada ayahnya.

“Kenapa ayah? Apakah kau tak mengijinkan Kun-jie memanggil ibu untuk mengajak ibu bermain-main bersama Kun-jie dan paman itu?”

Muka Bin Wan-gwe waktu itu telah berobah merah padam, dia bilang: “Sekarang kau pergi masuk, nanti aku akan menjelaskannya dan engkau tidak boleh keluar lagi! Orang ini bukan sebangsa manusia baik-baik, karena dari itu tidak bisa kau bermain-main dengannya.”

Kun-jie mementang sepasang matanya lebar-lebar tampaknya gadis cilik ini tidak mengerti akan perkataan ayahnya tersebut.

“Jadi....., jadi paman ini bukan orang baik-baik.....?!” tanyanya kemudian, “Akan tetapi apa yang Kun-jie lihat, paman itu sangat baik dia mau mengajak Kun-jie main-main, mau mengantarkan Kun-jie memetik bunga dan juga nanti ingin mengajak Kun-jie main sembunyi-sembunyian. Malah paman itu juga ingin mengajak ibu buat bermain-main bersama kami..... Mengapa ayah menyebut paman itu bukan orang baik-baik!”

Bin Wan-gwe kewalahan menghadapi anaknya ini, dia telah memperlihatkan sikap yang sungguh-sungguh, kemudian dengan suara membentak dia berkata singkat: “Pergilah kau masuk dulu!”

Melihat ayahnya marah seperti itu Kun jie rupanya tidak berani berayal juga. Dia meleletkan lidahnya, kemudian memutar tubuhnya untuk masuk ke dalam gedung itu lagi. Waktu menoleh kepada Hok An, dia telah tersenyum manis dan tampaknya anak gadis ini sangat menyukai Hok An, yang menurut pandangannya sangat baik, karena Hok An hendak mengajaknya main-main dan memetik bunga.

“Paman, jika urusanmu dengan ayah telah selesai, kau harus menepati janjimu, mengajak Kun-jie main-main.....!” katanya kemudian.

“Ya!” menyahuti Hok An.

Sedangkan Bin Wan-gwe telah berkata dengan sikap tidak senang: “Sekarang kau katakanlah, bagaimana caranya kau bisa mengetahui she dan nama isteriku! Lagi pula, ada hubungan apa di antara kalian berdua?!”

Hok An telah tersenyum.

“Kim Hoa adalah calon isteriku......... hanya saja sayang sekali, telah lima tahun lebih dia menghilang dan aku tidak mengetahuinya berada di mana. Baru belakangan ini aku mengetahui bahwa dia berada di gedung ini, maka aku datang buat menjemputnya.....” menyahuti Hok An kemudian dengan suara yang tenang.

Sedangkan muka Bin Wan-gwe telah berobah merah padam, dan dia rupanya telah diliputi kemarahan.

“Hemm, Un Kim Hoa! Un Kim Hoa!” berseru Bin Wan-gwe. Tampak jelas betapa dia tengah gusar. “Kukira isteriku tidak begitu rendah dan hina pernah berhubungan dengan seorang manusia seperti itu! Mungkin kau telah salah mengenali orang, atau mungkin hanya disebabkan nama yang bersamaan belaka! Karena isteriku itu puteri dari keluarga baik-baik dan berpangkat, dia puteri seorang pembesar negeri yang memiliki pangkat tidak rendah.....!”

Dengan berkata begitu, Bin Wan-gwe ingin memberitahukan bahwa isterinya itu adalah puteri dari sebuah keluarga berada, seorang pembesar negeri yang memangku pangkat tinggi, sehingga tidak ada kemungkinan isterinya itu berhubungan dengan Hok An, yang tampaknya begitu mesum.

Akan tetapi, tidak disangka-sangkanya bahwa Hok An telah menepuk pahanya sambil berseru:

“Tepat! Memang Un Kim Hoa yang tengah kucari itu adalah puteri dari seorang pembesar negeri, yang korup..... dan juga jahat!” berseru Hok An kemudian. “Mana dia? Di mana Kim Hoa?! Jika memang isterimu itu bernama Un Kim Hoa dan memang benar dia puteri dari seorang pembesar negeri, memang benarlah dia orang yang tengah kucari!”

Dan setelah berkata begitu, dengan sikap yang tidak sabar, Hok An mengawasi Bin Wan-gwe.

Sedangkan hati Bin Wan-gwe semakin tidak tenang. Dia mengawasi Hok An beberapa saat lamanya, sampai akhirnya dia berkata,

“Baiklah, sekarang kau katakan, jika memang kau telah bertemu dengan Un Kim Hoa, apa yang ingin kau lakukan?!”

“Aku ingin mengajak dia ikut bersama denganku!” menyahuti Hok An dengan segera dan nada suaranya itu mengandung kepastian.

“Mengajaknya ikut bersamamu?!” tanya Bin Wan-gwe sambil mementang matanya lebar-lebar. “Tahukah engkau, bahwa Un Kim Hoa telah resmi menjadi isteriku? Malah kami telah memperoleh seorang puteri?”

“Aku tidak perduli! Akan tetapi aku yang pasti akan mengajak Kim Hoa ikut bersamaku,” menjawab Hok An dengan segera.

Bin Wan-gwe jadi kewalahan juga menghadapi Hok An, yang memiliki adat dan sikap beringas serta berandalan. Katanya kemudian: “Jika engkau bermaksud mengganggu rumah tangga seorang, apakah engkau sudah tidak takut pada hukum yang ada? Apakah engkau tidak kuatir kalau kulaporkan hal ini kepada pihak yang berwajib? Engkau akan ditangkap dan menjalani hukuman?!”

Hok An telah mementang matanya lebar-lebar dan kemudian berteriak: Aku tidak perduli semua itu! Cepat panggil keluar Kim Hoa! Mana Kim Hoa? Mana dia?!”

Dan sambil berseru-seru seperti itu, Hok An telah melangkah mendekati Bin Wan-gwe.

“Apakah kau benar-benar tidak ingin memanggilkan Kim Hoa agar keluar menemui aku? Kau bermaksud menghalangi pertemuan kami heh?!” tanya Hok An kemudian.

Bin Wan-gwe jadi gemetar menahan amarah, dipandanginya Hok An dengan sorot mata mengandung kebencian.

Hanya saja karena mengetahui bahwa Hok An seorang yang memiliki kepandaian tinggi, jika mempergunakan kekerasan tidak mungkin Bin Wan-gwe bisa menghadapinya, karenanya dia jadi serba salah dalam kemarahannya seperti itu.

Sedangkan Hok An telah menghampiri. Bin Wan-gwe semakin bingung, sehingga setengah panik dia telah berulang kali memberi isyarat kepada tukang-tukang pukulnya agar segera mengepung dan “mengurus” Hok An.

Waktu itu tukang-tukang pukul Bin Wan-gwe telah maju buat mengurung Hok An, hanya saja mereka tidak berani menyerang.

Mereka telah merasakan tadi betapa dengan hanya sekali menggerakkan tangannya, maka mereka telah berhasil diporak porandakan dan dilukai. Karena dari itu, mereka tidak berani untuk segera menyerang, walaupun melihat majikan mereka tengah terancam bahaya.

Sedangkan Hok An telah menghampiri lebih dekat lagi, di mana dia telah memperlihatkan sikap yang beringas dan mengancam sekali.

Bin Wan-gwe juga menyadarinya bahwa dia tengah terancam, dan beberapa kali dia telah memberi tanda kepada anak buahnya agar segera menyerbu maju.

Dalam keadaan seperti itu, Hok An rupanya memang sudah tidak bisa mengendalikan dirinya, dia ingin memaksa Bin Wan-gwe agar memanggil keluar isterinya.

Ketika sampai di dekat Bin Wan-gwe dan hartawan tersebut masih juga belum ingin menyatakan kesediaannya buat memanggil keluar isterinya, Hok An jadi habis sabar. Tiba-tiba sekali dia telah mengulurkan tangan kanannya, mencekal lengan Bin Wan-gwe.

“Kau tetap tidak mau memanggil Kim Hoa keluar, heh?!” serunya dengan beringas.

“Tunggu dulu..... dengar dulu.....!” kata Bin Wan-gwe tambah ketakutan, karena dia merasakan betapa cengkeraman tangan Hok An pada lengannya seperti juga japit besi yang sangat kuat dan menyakitkan sekali.

Sedangkan Hok An telah menggoncangkan tubuh Bin Wan-gwe, berulangkali dia telah bilang:

“Jika memang engkau tidak mau memanggil keluar Kim Hoa, biarlah nanti aku yang masuk sendiri buat bertemu dengannya, akan tetapi engkau harus dibinasakan dulu, sebab jika tidak dibinasakan tentu kau akan jadi penghalang......!”

“Lepaskan dia!” tiba-tiba terdengar suara seorang wanita dari belakang Hok An.

Hok An serasa mengenal suara tersebut dia melepaskan cengkeraman pada lengan Bin Wan-gwe, kemudian menoleh ke belakangnya.

Untuk sejenak lamanya Hok An jadi berdiri tertegun dengan muka berobah pucat sekali.

“Kim Hoa?” hanya perkataan itu belaka yang meluncur keluar dari bibirnya.

Ternyata yang telah mencegah agar Hok An melepaskan cengkeramannya pada lengan Bin Wan-gwe tidak lain dari seorang wanita yang cantik jelita. Wajahnya berpotongan tirus daun sirih, dan juga matanya yang begitu indah, dengan hidungnya yang bangir berisi dan bibirnya yang tipis. Benar-benar merupakan seorang wanita yang sangat cantik, bagaikan seorang dewi.

Wanita itu memang tidak lain dari Bin Hujin, nyonya hartawan she Bin tersebut. Dia berdiri agung di tempatnya, walaupun dengan wajah pucat dan mata yang guram.

Sedangkan waktu itu terlihat betapa Hok An perlahan-lahan melangkah mendekati, dari mulutnya terdengar ia berulang kali menyebut: “Kim Hoa..... Kim Hoa.....?!”

“Diamlah di situ, jangan mendekat!” tiba-tiba Bin Hujin telah membentak dengan suara yang nyaring.

Bagaikan bentakan tersebut mengandung kekuatan yang tidak bisa dibantah lagi, Hok An jadi menahan langkah kakinya, dia berdiri diam di tempatnya tanpa bergerak.

“Kim Hoa..... ternyata kau disini! Akhhh, kau tetap cantik seperti dulu, tidak ada perobahan suatu apapun juga pada dirimu.....!” hanya mulut Hok An tidak hentinya menggumam seperti itu.

Sedangkan Bin Hujin dengan wajah yang dingin dan memucat telah berkata: “Apa maksudmu mencari-cariku?!”

“Kim Hoa..... tidakkah kau menyadari apa yang kualami selama ini? Aku sangat menderita mencari-carimu, dan telah lima tahun lebih aku berkelana, barulah sekarang aku bisa bertemu dengan kau.....!”

“Hemm, lalu setelah bertemu denganku, apa yang kau inginkan dariku?!” tanya Bin Hujin dengan suara yang semakin dingin.

Sedangkan Bin Wan-gwe telah mengasi dengan sorot mata yang mengandung kecemasan dan kekuatiran, sebab dia kuatir isterinya yang cantik itu dilukai oleh Hok An.

Hok An telah memperlihatkan wajah yang merana sekali, dia telah bilang: “Kim Hoa..... seperti kau ketahui, aku sangat mencintaimu....., dan kau......, mengapa kau selalu berusaha menghindar dariku?! Lihatlah, betapa menderita dan sengsaranya aku ini..... Kim Hoa.....!”

Wajah Bin Hujin semakin memucat. Dia telah mengawasi Hok An beberapa saat lamanya, sampai akhirnya dia berkata dengan suara tawar: “Memang dulu kita pernah saling kenal, akan tetapi sekarang di antara kita sudah tidak terdapat hubungan apapun lagi! Pergilah kau.....!”

“Kau?!” muka Hok An jadi pucat pias.

“Pergilah kau.....!”

“Kau mengusirku?!”

“Kita tidak ada hubungan apa-apa lagi........!”

“Kau sudah tidak mencintaiku?!”

“Sejak dulu akupun tidak pernah mencintaimu!” menyahuti Bin Hujin.

“Ohhh, jika begitu dulu semua janji dan kata-katamu itu hanya palsu belaka!” berseru Hok An sambil memperlihatkan sikap yang beringas. “Kau..... kau telah menipuku..... Dulu kau mengatakan sangat mencintaiku, kau mencintaiku sepenuh hati, tetapi sekarang? Apa yang kau katakan?!”

Muka Bin Hujin jadi berobah semakin pucat, dia telah bilang: “Jika memang aku mencintaimu, tentu aku tidak menikah dengan orang lain! Dan sekarang aku telah resmi menjadi isteri Bin Wan-gwe..... kami sangat bahagia, dan kami telah memperoleh seorang anak.....!”

Berkata sampai di situ, suara Bin Hujin semakin tersendat, akhirnya dia menangis.

Dengan ke dua tangan menutupi mukanya dan menangis terisak, Bin Hujin terus juga menangis dan memutar tubuhnya membelakangi Hok An dan Bin Wan-gwe.

Sepasang mata Bin Wan-gwe terpentang lebar-lebar. Dilihat semua ini memang kenyataan yang ada, benar adanya bahwa Hok An pernah mengadakan hubungan dengan isterinya. Hanya saja, sekarang tampaknya Bin Hujin, isterinya itu, tidak mau kenal lagi pada Hok An.

Waktu itu Hok An telah berseru nyaring: “Jadi..... kau memang sungguh-sungguh tidak pernah mencintaiku?!”

Bin Hujin mengangguk di antara isak tangisnya dan menyahuti dengan suara sember: “Ya.....!”

Hok An tiba-tiba menjerit dengan suara yang lirih sekali, dia memutar tubuhnya dan menotolkan ujung kakinya, tubuhnya melesat meninggalkan tempat tersebut.

Bin Wan-gwe telah berdiri mematung di tempatnya, begitu juga semua tukang pukulnya. Sedangkan Bin Hujin masih juga menangis terisak dan kemudian berlari masuk ke dalam gedung, menghilang dari tatapan suaminya......

◄Y►

Hok An yang waktu itu merasakan hatinya sangat hancur. telah berlari-lari dengan cepat sekali tanpa arah tujuan yang pasti. Dia berlari-lari ke mana saja ke dua kakinya itu membawanya.

Setelah berlari-lari sekian lama dan telah berada di luar perkampungan tersebut, Hok An baru berhenti berlari. Dengan sikap kalap dia memukuli kepalanya.

“Kim Hoa! Kim Hoa! Betapa kejamnya kau!” menjerit-jerit Hok An beberapa kali.

Dan Hok An telah menangis duduk mendeprok di tanah. Waktu itu terlihat betapa Hok An tengah merenungkan kesedihan hatinya.

Dia tidak menyangka, bahwa setelah lima tahun lebih mencari-cari Kim Hoa, dan akhirnya dia berhasil bertemu dengan wanita yang sangat dicintainya itu, dia harus menelan kepahitan seperti sekarang ini. Karenanya, betapa perih luka di hati Hok An.

Setelah puas menangis, akhirnya Hok An berdiri dan melangkah perlahan-lahan. Dia bersenandung, membawakan lagu percintaan yang sangat sedih dan merana sekali..... Suaranya itu tergetar, bagaikan berada di antara jurang kedukaan dan di antara getar isak tangisnya.

Ketika Hok An tengah melangkah dengan keadaan seperti juga kehilangan semangat, di saat itulah tampak betapa dari arah depannya telah mendatangi seseorang, dengan tindakan kaki yang cepat sekali.

Dia seorang pemuda berusia di antara duapuluh empat tahun, berpakaian sebagai seorang pelajar, dengan kopiah warna coklat tua, dengan jubah pelajar berwarna abu-abu. Waktu melihat keadaan Hok An, pemuda pelajar tersebut memperlihatkan sikap terheran-heran, sampat akhirnya dia berseru nyaring dan bertanya:

“Ohhh, kesulitan dan kesusahan hati apakah yang tengah melanda dirimu, wahai manusia yang cepat putus asa?!”

Hok An tengah berduka, dan dia jadi tersinggung mendengar pemuda pelajar tersebut yang dianggapnya tengah mengejeknya.

Dia telah berhenti melangkah, menoleh dengan sorot mata yang beringas, sampai akhirnya dengan geram dia bilang: “Tidak perlu kau mencampuri urusanku.....!”

Pemuda pelajar itu tersenyum, dia bilang: “Benar, benar, memang tidak seharusnya aku mencampuri urusan seseorang yang tidak kukenal..... Akan tetapi, kulihat, engkau demikian bersedih, apakah terdapat sesuatu kesulitan yang tidak bisa kau pecahkan?!”

Hok An yang tengah bersedih jadi tidak bisa menguasai dirinya, tahu-tahu dia telah melompat cepat sekali ke dekat pemuda pelajar itu.

“Kau terlalu rewel sekali.....!” bentaknya.

Dan Hok An pun bukan hanya membentak begitu saja, sebab diapun telah menggerakkan tangan kanannya memukul kepada pemuda itu.

Pemuda pelajar tersebut kaget bukan main, karena dia merasakan, belum lagi serangan itu tiba, pakaiannya telah berkibaran terkena angin serangan yang sangat kuat sekali. Maka dia bisa memakluminya, tentu Hok An bukan orang sembarangan, karena pada pukulannya tersebut terlihat kekuatan tenaga lweekang yang dahsyat sekali.

Maka cepat-cepat pemuda pelajar tersebut mengelakkan diri dengan melompat ke samping kanan.

“Ohoi..... betapa berbahaya sekali! Betapa berbahaya sekali!” kata pemuda pelajar itu kemudian dengan suara bergurau. “Dan, mengapa kau harus marah-marah beringas seperti itu?”

Hok An tampak tambah gusar, karena dia melihat betapa pukulannya itu dapat dihindarkan oleh pemuda pelajar tersebut dengan mudah. Dia tidak berkata apa-apa, hanya menyerang lebih dahsyat pula.

Pemuda pelajar tersebut kali ini tidak berkelit, dia menantikan di saat serangan itu telah menyambar dekat padanya, barulah pemuda pelajar tersebut menangkisnya.

Tangkisan yang dilakukan oleh pemuda pelajar tersebut berhasil membuat serangan Hok An tertangkis, malah waktu itu Hok An merasakan pergelangan tangan kanannya jadi sakit sekali, sampai dia mengeluarkan seruan tertahan dan melompat mundur beberapa langkah.

Hok An telah melompat mundur lagi dan kemudian menjatuhkan diri duduk mendeprok di tanah sambil menangis menggerung-gerung.

Pemuda pelajar itu jadi memandang tambah terheran-heran atas sikap Hok An. Tadi dia begitu beringas dan telah menyerangnya dengan serangan yang hebat sekali. Akan tetapi, sekarang Hok An menangis menggerung-gerung.

Dilihat dari tenaga pukulannya, kepandaian Hok An tentunya bukan kepandaian yang rendah, dan tidak seharusnya karena gagal dengan ke dua serangannya itu dia jadi menangis begitu sedih.

“Kenapa kau?!” tanya pemuda tersebut akhirnya karena terheran-heran dan terdorong dengan penasaran ingin tahunya.

Akan tetapi Hok An masih juga menangis dengan sedih, seakan-akan dia tidak memperdulikan pemuda pelajar itu, dia tengah melampiaskan kesedihan hatinya.

Dikala itu terlihat si pemuda pelajar tersebut semakin digeluti oleh perasaan terheran-herannya dan juga perasaan tidak mengerti.

“Apakah memang benar engkau tengah menghadapi kesulitan yang tidak bisa dipecahkan olehmu sendiri? Jika memang kau mau menceritakan kesulitan itu kepadaku, siapa tahu aku bisa membantumu?!”

Mendengar pertanyaan terakhir dari pemuda pelajar ini, tiba-tiba Hok An mengangkat kepalanya.

“Hemmm, engkau hendak membantuku? Benarkah itu?!” tanya Hok An sambil menyusut air matanya

Pemuda pelajar tersebut mengangguk dengan segera dan pasti.

“Ya, kau ceritakanlah, kesulitan apa yang tengah kau hadapi? Jika memang aku bisa membantumu, tentu aku ingin sekali membantu kau dari kesulitan yang ada itu.....!”

Hok An tidak segera bicara, dia berdiam dengan air mata yang terus turun berlinang, setelah menyusut lagi, barulah dia bilang: “Sebenarnya..... sebenarnya, aku tengah merasa terhina sekali.....

“Merasa terhina? Oleh siapa? Mengapa begitu?!” tanya pemuda pelajar tersebut.

Hok An tidak segera menyahuti, dia mengangkat kepalanya mengawasi pelajar tersebut. Sampai akhirnya dia menghela napas dalam-dalam dan menghapus air matanya, karena dia rupanya memang telah berhasil menguasai dirinya.

“Sebenarnya,” kata Hok An akhirnya. “Aku tengah bersakit hati dihina oleh seseorang.....!”

“Siapa yang menghinamu?!” tanya pemuda pelajar tersebut dengan perasaan ingin tahunya. “Menurut apa yang kulihat, engkau mimiliki kepandaian yang cukup tinggi, dan tidak sembarangan orang bisa menghinamu.....!”

Hok An mengangguk.

“Benar..... akan tetapi orang itu menghinaku bukan tubuh atau juga diriku..... dia menghinaku dengan kata-katanya......!” menyahuti Hok An akhirnya, dengan suara yang tersendat di antara isak tangisnya.

“Mengapa engkau membiarkan begitu saja dirimu dihina oleh orang itu?!” tanya pelajar tersebut.

“Aku..... aku..... apa yang harus kulakukan?!” tanya Hok An seperti tergagap.

“Mengapa engkau membiarkan dirimu dihina oleh orang itu tanpa kau berusaha menghajarnya?!” tanya pemuda pelajar itu lagi sambil mengawasi Hok An berapa saat lamanya.

Hok An menghela napas.

“Apa yang bisa kau lakukan..... justru yang telah menghina diriku itu adalah orang yang sangat kucintai!” kata Hok An pada akhirnya.

“Apa…..?!” tanya pemuda pelajar itu tambah terheran-heran lagi dan tidak mengerti

Hok An menghela napas sambil mengangguk.

“Ya, orang yang telah menghina diriku itu adalah orang yang sangat kucintai, akan tetapi dia telah menghina diriku, memperlakukan aku tidak baik, dan juga mendustai diriku sehingga perasaanku jadi hancur.....!” kata Hok An akhirnya.

Pemuda pelajar tersebut telah mengawasi Hok An beberapa saat, kemudian barulah dia bilang:

“Jadi menghina dirimu itu seorang wanita?”

Hok An mengangguk.

“Ya, wanita yang sangat kucintai!” sahutnya kemudian.

“Jadi kau mencintai wanita itu?!” tanya pemuda pelajar itu lagi.

“Benar!”

“Hanya saja wanita itu telah menolak cintamu?!” tanya pemuda pelajar itu lagi.

Hok An tidak segera mengiyakan, dia mengangkat kepalanya mengawasi pemuda pelajar tersebut beberapa saat lamanya. Sampai akhirnya dia bilang perlahan-lahan: “Sebenarnya wanita itu juga sangat mencintai aku.....!”

Pemuga pelajar ini tambah terheran-heran.

“Aku tidak mengerti maksud dari perkataanmu, tadi kau mengatakan bahwa engkau dihina oleh wanita yang engkau cintai itu, tentunya dia mengeluarkan kata-kata yang kasar dan menghina. Akan tetapi sekarang engkau mengatakan bahwa wanita itu juga sangat mencintaimu! Jika memang wanita itu mencintaimu, mengapa dia bisa menghina dirimu? Menyakiti perasaan dan hatimu?!”

Hok An tidak segera menyahuti, untuk sementara waktu dia menghela napas beberapa kali barulah kemudian menjelaskannya:

“Sebenarnya, kami berkenalan enam tahun yang lalu, waktu mana memang di antara aku dengan wanita itu saling mencintai. Akan tetapi, suatu hari, aku telah berurusan dengan pihak pemerintah, sehingga aku ditangkap oleh yang berwajib, dan akhirnya ditahan selama setahun lebih!

“Hal itu terjadi memang atas dasar kesalahanku juga, di mana aku telah minum arak terlalu banyak sehingga mabok, dan dalam keadaan mabok seperti itu aku telah bertengkar dengan seorang tentara kerajaan, sehingga akhirnya aku telah membunuhnya..... Maka dari itu, aku telah tertangkap dan diadili oleh pihak Tie-kwan, di mana aku ditahan dan dimasukkan ke dalam penjara selama setahun lebih!

“Setelah bebas dari tahanan itu, aku segera mencari wanita yang sangat kucintai itu. Akan tetapi dia sudah tidak berada di kampung kami, dia telah pergi entah ke mana! Akhirnya kuputuskan buat mencarinya sampai dapat menemuinya. Begitulah, selama lima tahun lebih aku telah mencari-carinya, sampai akhirnya aku menemuinya, di kampung itu.....!”

*** ***
Note 19 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Jangan lupa makan dan tetap jaga kesehatan Gan!!!."

(Regards, Admin)

0 Response to "Anak Rajawali Lanjutan (Beruang Salju) Jilid 01"

Post a Comment

close