Anak Rajawali Lanjutan (Beruang Salju) Jilid 26

Mode Malam
 
Anak rajawali Jilid 26

Wanita setengah baya itu melirik gusar kepada gadis tersebut, kemudian katanya: “Gadis tidak tahu malu! Pergi kau!”

Dibentak begitu, gadis tersebut tidak juga meninggalkan tempat itu, dia malah merangkapkan ke dua tangannya menjura dalam-dalam kepada si wanita setengah baya itu:

“Ampunilah dia....... janganlah dia dibinasakan jika memang engkau hendak membunuhnya juga, bunuhlah aku terlebih dulu!” Dan setelah berkata begitu dengan suara yang gemetar, tampak gadis itu menggigil diiringi tangisnya.

Giok Hoa jadi berkasihan melihat gadis itu yang tentu mencintai pemuda tersebut. Iapun jadi teringat akan hubungannya dengan Ko Tie yang juga disukai dan disenanginya. Diwaktu itu telah timbul niat di hati Giok Hoa, walaupun bagaimana dia akan membantu gadis itu menolongi si pemuda dari tangan si wanita setengah baya tersebut.

Sedangkan wanita setengah baya itu telah berkata dengan suara yang dingin:

“Hemmm….. engkau jadi menyediakan dirimu sebagai pengganti jiwa murid durhaka ini? Dia seorang pemuda yang paling buruk di dunia jika tokh memang menyatakan suka padamu dan mengambil engkau sebagai isterinya, engkau akan menderita! Sebagai murid pintu perguruan kami, orang luar tidak berhak mencampuri urusan di dalam pintu perguruan kami, terlebih lagi kau….. pergilah…..!”

Gadis itu menggeleng perlahan sambil menyusut air matanya.

“Tidak…… tidak..... apapun yang dikatakan locianpwe, akan tetap dengan keputusanku, bahwa aku memang harus dapat menolonginya..... aku rela jika sampai harus mengorbankan jiwa buat dia……!”

“Hemmmm, sedemikian cintakah engkau kepada manusia busuk ini?!” kata wanita setengah baya.

Bola matanya memain, setidaknya hatinya jadi mengiri juga melihat akan kebetulan cinta gadis itu kepada pemuda yang tidak berdaya di dalam tangannya dan akan dibinasakan itu.

“Apakah engkau telah memikirkannya masak-masak buat membela mati-matian manusia busuk ini?!”

Gadis itu mengangkat kepalanya memandang wanita setengah baya itu, air matanya tetap mengucur deras sekali, dia merangkapkan tangannya, dia bilang.

“Benar..... jika memang locianpwe masih menghadapi jiwanya, lebih dulu locianpwe bunuhlah aku! Aku tidak sanggup menyaksikan dia mati di tangan locianpwe.”

Wanita setengah baya itu tertawa bergelak-gelak mendengar perkataan si gadis, yang seperti memelas meminta belas kasihan darinya.

Giok Hoa jadi terharu bukan main, dia melihat ketulusan hati akan cinta si gadis terhadap pemuda itu, yang rela mengorbankan jiwanya, asalkan pemuda yang dicintainya itu bisa diselamatkan jiwanya dari maut.

Dan Giok Hoa diam-diam semakin bertekad, walaupun bagaimana dia harus menolongi pemuda itu. Dia memang ingin membantu gadis itu menyelamatkan si pemuda.

Setelah puas ia tertawa bergelak-gelak seperti itu, tampak muka wanita setengah baya tersebut berobah menjadi keras dan bengis. Bola matanya memain tidak hentinya, memancarkan sinar yang tajam sekali, katanya:

“Hemm, jika tetap engkau ingin membela manusia busuk ini! Sayang sekali aku tidak bisa kesakitan kepada dirimu! Terserahlah kepada dirimu sendiri, engkau mau mampus atau tidak, tetapi yang pasti, orang busuk ini harus dihukum mati. Dia merupakan murid murtad dari pintu perguruannya……!”

Sambil berkata begitu, si wanita setengah baya tersebut mengangkat kakinya tinggi-tinggi. Dia menyedot hawa udara, karena dia mengerahkan sin-kangnya dan dia bermaksud akan menghantam batok kepala pemuda yang sudah tidak berdaya di dalam cengkeraman tangan kanannya.

“Jangan…… oooohhhh, ampunilah dia!” menjerit si gadis dengan suara memelas sekali, bahkan dia menubruk nekad hendak memeluk pemuda itu dan menghalangi maksud wanita setengah baya tersebut.

Tapi wanita setengah baya itu sama sekali tidak memperdulikan sikap si gadis, karena tangan kirinya itu dibatalkan buat menghantam kepala si pemuda yang telah jadi tawanannya itu, hanya saja tangan kiri itu dikibaskan kepada si gadis.

“Bukkk!” seketika tubuh gadis itu terpental sangat keras sekali, karena kibasan tangan wanita setengah baya itu memang sangat kuat.

Sambil mengeluarkan jeritan nyaring, tubuh si gadis terpelanting akan rubuh dari atas genting rumah penduduk.

Giok Hoa kaget, dia melihat si wanita setengah baya itu memang memiliki tangan yang agak telengas.

Segera juga Giok Hoa bermaksud hendak keluar dari tempat bersembunyinya, karena ia ingin memberikan pertolongan kepada gadis itu dan menyelamatkan si pemuda yang tidak berdaya berada dalam cengkeraman tangan si wanita setengah baya.

Cuma saja, belum lagi, Giok Hoa keluar dari tempat persembunyiannya itu, justeru telah terlihat tiga sosok tubuh dengan gerakan yang gesit sekali diiringi dengan seruannya:

“Ohhh, wanita kejam! Sungguh telengas! Gadis yang tidak berdaya seperti itu telah kau hantam sedemikian kuat tanpa mengenal kasihan!”

Bukan hanya berkata saja, salah seorang dari ke tiga sosok tubuh itu, telah melompat dengan sebat, dia berhasil menahan tubuh gadis itu, agar tidak terpelanting jatuh di bawah genting rumah penduduk.

Muka gadis itu pucat sekali, dia menangis terisak-isak, karena dia merasakan dadanya sakit bukan main akibat hantaman tangan kiri si wanita setengah baya yang disertai sin-kangnya. Tentu saja gadis itu itu terluka di dalam yang tidak ringan, malah dirasakan nyeri sampai ke ulu hati.

Orang yang telah menolongnya, ternyata seorang pengemis berusia empatpuluh tahun lebih, dengan tubuh tinggi tegap, memelihara berewokan yang kasar, telah menghiburnya.

“Nona berdiri di sana saja…… biar kami yang mengurus wanita bertangan telengas dan berhati iblis itu!” katanya dengan suara yang sangat sabar sekali, di mana dia telah membiarkan si gadis duduk di atas genting rumah penduduk. Tubuhnya kembali melompat ke dekat si wanita setengah baya.

Ke dua orang kawannya, yang juga dua orang pengemis, telah melompat menghampiri wanita setengah baya itu. Bola mata wanita setengah baya tersebut telah memain tidak hentinya memancarkan kemarahan hatinya.

“Siapa kau sebenarnya!” bentak si wanita setengah baya dengan hati yang gusar bukan main, karena melihat ke tiga orang pengemis ini tampaknya hendak mencampuri urusannya.

Pengemis yang tadi telah menahan tubuh si gadis jatuh dari atas genting rumah penduduk segera berkata: “Kami adalah manusia-manusia yang tidak punya harganya di matamu, tapi kami memberanikan diri buat memohon agar pemuda itu dibebaskan……!”

Si wanita setengah baya itu tertawa dingin katanya: “Aku telah menerima mandat dari gurunya, buat mewakilinya, agar membunuh dan memusnahkan muridnya yang murtad ini…..... Karena itu, sebagai orang-orang Kang-ouw tentu kalian menyadari tidak bisa kalian mencampuri urusan ini, urusan di dalam pintu perguruan yang tengah mengurus orang-orangnya……”

Pengemis itu mengangguk.

“Tepat! Memang kami tidak berhak buat mencampuri urusan di dalam sebuah pintu perguruan, jika memang pintu perguruan itu tidak ingin urusan rumah tangganya dicampuri orang luar!

“Tapi kamipun tidak bisa menyaksikan begitu saja, betapa engkau dengan tangan telengas dan kejam sekali, ingin membunuh pemuda yang tidak berdaya. Dan juga menurunkan tangan begitu kejam terhadap seorang gadis yang lemah!

“Apakah engkau tidak sadari bahwa itulah tindakan dan perbuatan pengecut? Dan kami juga tidak bisa tinggal diam menyaksikan tindakan pengecut seperti itu!”

Tegas sekali si pengemis berkata-kata seperti itu, sikapnya juga sangat gagah sekali.

Bola mata wanita setengah baya itu mencilak tidak hentinya, dia mendengus, lalu katanya: “Hemmm, aku Siangkoan Lo Sian tidak akan gentar menghadapi siapapun juga, apa lagi hanya menghadapi kalian yang tentunya merupakan tiga ekor tikus kurcaci dari Kay-pang!”

Pengemis yang seorang itu tertawa tawar, katanya: “Memang kami adalah anggota Kay-pang, yang tentu tidak bisa menyaksikan seseorang bertindak sewenang-wenang….. terlebih lagi di depan mata kami!

“Seperti kau juga tentunya telah mengetahui, bahwa Kay-pang tidak akan membiarkan suatu perbuatan yang di luar batas keadilan berlaku di permukaan bumi ini!

“Siangkoan Lo Sian, engkau merupakan seorang tokoh rimba persilatan yang memiliki nama sangat terkenal dan juga engkau dihormati oleh orang-orang rimba persilatan dengan kepandaiaa yang tinggi! Tapi…… mengapa hari ini justeru engkau bersikap begitu rendah, menghina kaum muda!”

Kata-kata pengemis itu rupanya telah dapat memanasi hati Siangkoan Lo Sian, karena tahu-tahu dia melepaskan cengkeraman pada pundak pemuda. Dia bilang: “Baik, baik, aku justeru ingin melihat berapa tinggi kepandaian orang-orang Kay-pang yang merupakan manusia-manusia pendekar gagah itu?!”

Sambil berkata begitu, Siangkoan Lo Sian, wanita setengah baya tersebut, berdiri dengan sikap seperti tengah menantikan penyerangan dari ke tiga orang pengemis itu, katanya menantang: “Ayo...... ayo majulah, mari kita melihat, siapa yang bicara besar….. Kay-pang yang benar-benar gagah atau memang aku Siangkoan Lo Sian merupakan manusia yang gampang dihina?!”

Ke tiga pengemis itu saling pandang, lalu pengemis yang seorang, yang bertubuh gagah dan tadi telah menolongi si gadis sehingga ia tidak sampai terbanting dari atas genting. telah melangkah maju setindak, sedangkan ke dua kawannya telah menyingkir ke samping, buat menyaksikan.

“Baiklah! Kami tidak pernah bertempur main koroyok, terlebih lagi terhadap seorang wanita! Biarlah aku Kie Pa Kay yang akan menghadapi engkau buat main-main seratus jurus!” Dan dia pun bersiap-siap untuk menyerang.

Siangkoan Lo Sian menyadari bahwa pengemis bertubuh tinggi besar ini memiliki kepandaian tidak rendah dan tidak boleh dipandang remeh, karena tadi waktu dia bergerak begitu gesit menolongi gadis yang akan rubuh dari atas genting, juga sinar matanya yang tajam membuktikan bahwa dia memiliki kepandaian.

Di waktu itu terlihat betapa Siangkoan Lo Sian sudah tidak bisa menahan diri, dia bilang, “Mengapa masih tidak menyerang, apakah memang kebiasaan Kay-pang buat main saling pandang saja?!”

Siangkoan Lo Sian tidak mau memperlihatkan kelemahan dirinya, biarpun dia mengetahui lawannya tentu seorang yang liehay, tokh dia memperlihatkan sikap seperti dia tidak memandang sebelah mata kepada lawannya.

Tiba-tiba Kie Pa Kay berseru: “Maaf!” tahu-tahu tubuhnya mencelat sangat gesit sekali, tangan kirinya diulur buat mencengkeram, sedangkan tangan kanannya menghantam.

Siangkoan Lo Sian menangkis dengan tangan kanannya menghalau tangan kiri lawan. Tangan kanan lawan yang meluncur disertai tenaga yang kuat, telah dihadapinya dengan kelitan yang manis sekali.

Malah Siangkoan Lo Sian tidak berhenti sampai di situ saja, berhasil memusnahkan serangan lawannya, dia balas menyerang dengan hebat. Beruntun enam kali saling susul ke dua tangannya menyerang kepada si pengemis.

Apa yang dilakukannya semuanya merupakan jurus-jurus yang bisa membinasakan lawan. Karena selain tenaga dalam yang dipergunakannya sangat kuat, juga setiap sasaran yang diincar merupakan tempat kematian dari lawan.

Kie Pa Kay tertawa dingin, empat kali beruntun dia mengelakkan diri. Kemudian dua serangan lawannya ditangkis dengan kekerasan pula.

“Bukkk!” terdengar nyaring sekali. Disusul “Tukkk” yang tidak begitu nyaring. Pukulan ke lima dari Siangkoan Lo Sian yang telah ditangkis, membuat tubuh Siangkoan Lo Sian tergoncang hebat, dan pukulan ke enamnya tiba tidak begitu keras, sehingga waktu Kie Pa Kay menangkis pukulan ke enam itu, suara benturan tangan mereka tidak terlalu nyaring.

Sedangkan muka Siangkoan Lo Sian merah padam karena marah, ia berseru nyaring dan melompat pula dengan sepasang tangan bergerak sangat sebat sekali.

Kie Pa Kay juga tidak mau membuang-buang waktu, dia menangkis dan balas menyerang. Duapuluh jurus dilewatkan dengan sangat cepat.

Mereka memiliki kepandaian yang tampaknya sama tingginya, sehingga di waktu itu belum terlihat siapa di antara mereka yang terdesak di bawah angin atau siapa yang menang di atas angin.

Giok Hoa yang masih mendekam bersembunyi di tempatnya, menyaksikan pertempuran dengan tertarik. Tetapi ketika melihat munculnya tiga orang pengemis itu segera juga timbul perasaan tidak senangnya pada pengemis itu, karena ia teringat bahwa orang yang telah mengambil pauw-hoknya berpakaian sebagai pengemis!

Tapi setelah mendengar percakapan yang berlangsung antara Kie Pa Kay dengan Siangkoan Lo Sian, pandangan Giok Hoa terhadap pengemis-pengemis itu berobah. Dia memperoleh kenyataan para pengemis itu merupakan Ho-han atau orang gagah yang mementingkan keadilan. Dan tidak mungkin pengemis-pengemis seperti itu mau melakukan perbuatan rendah mencuri pauw-hok si gadis.

Tengah Giok Hoa menyaksikan dengan hati ragu-ragu terhadap ke tiga pengemis itu, dia melihat gadis yang tadi hampir saja dibikin terpelanting oleh kibasan tangan Siangkoan Lo Sian, telah menghampiri si pemuda, yang dipeluknya.

“Tang Koko...... kau tidak apa-apa?!” tanyanya dengan penuh perhatian dan kekuatiran.

Si pemuda menggeleng.

“Kui-moay…… kau jangan mencampuri urusan ini. Tidak seharusnya kau menempuh bahaya.....!” kata si pemuda.

Si gadis menggelengkan kepalanya, air matanya menitik turun.

“Bagaimana mungkin aku bisa tenang, jika menyaksikan engkau terancam bahaya maut?!” kata gadis itu yang menghapus air matanya.

“Sudahlah Kui-moay..... bukankah aku tidak apa-apa?!” kata si pemuda dengan suara yang menghibur dan diiringi senyumnya.

“Lebih baik kau mempergunakan kesempatan buat melarikan diri, karena jika para pengemis itu telah dirubuhkan Siangkoan Lo Sian, niscaya engkau terancam bahaya yang tidak kecil! Ayo, kau cepat menyingkirkan diri.....!” menganjurkan si gadis.

Pemuda itu tidak segera menyahuti. Dia memandang ke arah pertempuran yang tengah berlangsung.

Dia melihat Kie Pa Kay tengah bertempur seru sekali dengan Siangkoan Lo Sian, sehingga tubuh mereka berkelebat-kelebat cepat sekali. Disebabkan terlalu gesit, tnbuh mereka menyerupai bayangan belaka, yang bergerak ke sana ke mari tidak bisa dilihat dengan jelas.

“Aku tidak boleh pergi dari tempat ini……!” Akhirnya pemuda itu berkata perlahan kepada si gadis. “Aku bisa ditolong oleh para pengemis itu. Bagaimana mungkin aku bisa melarikan diri begitu saja, sedangkan dia tengah mempertaruhkan jiwanya bertempur dengan perempuan celaka itu?!”

Si gadis tampak gelisah sekali, tapi dia tidak memaksa lebih jauh.

Sedangkan ke dua orang pengemis yang menjadi kawan Kie Pa Kay telah memandang pertandingan dengan penuh perhatian. Sebab mereka melihat Siangkoan Lo Sian memang memiliki kepandaian yang tinggi. Jika saja Kie Pa Kay terancam bahaya dan jatuh di bawah angin, mereka berdua akan turun tangan buat membantunya.

Pemuda itu tampaknya memang memiliki hati yang baik, di mana dia tidak bisa melupakan budi orang, dan tidak bisa menjadi manusia rendah, meninggalkan para penolongnya di saat para penolongnya itu tengah menghadapi pertempuran yang hebat.

Dia tidak mau menyingkirkan diri. Si gadis yang mendengar pernyataan si pemuda, menduga bahwa Tang Kokonya ini bersungguh-sungguh. Dan ia jadi tambah mencintainya, karena beranggapan Tang kokonya ini seorang jantan sejati.

Tetapi sebetulnya, dibalik ucapannya yang gagah perkasa itu, terselip maksud yang licik sekali.

Si pemuda berbaju hitam itu melihat bahwa kepandaian Kie Pa Kay sangat tinggi sekali. Dalam pertempuran menghadapi Siangkoan Lo Sian, tidak terlihat tanda-tanda bahwa Kie Pa Kay terdesak atau jatuh di bawah angin. Dengan demikian terbukti bahwa kepandaian Kie Pa Kay akan dapat diandalkannya.

Dan kepandaian ke dua kawan Kie Pa Kay itupun merupakan dua orang pengemis yang sangat tangguh, karena mereka tentunya sama tingginya memiliki kepandaian seperti Kie Pa Kay. Karena dari itu, si pemuda berbaju hitam itu telah yakin, jika sampai Kie Pa Kay terdesak, tentu ke dua kawannya akan maju buat membantui. Dikeroyok bertiga dengan pengemis itu, jelas Siangkoan Lo Sian tidak akan sanggup menghadapinya.

Maka pemuda ini yang sebenarnya bernama Sam Lu Tang, tenang-tenang untuk menyaksikan jalannya pertempuran tersebut, dia tidak gentar lagi. Diapun merasa kagum dengan kepandaian ke tiga pengemis tersebut.

Jika memang Siangkoan Lo Sian dapat diusir dari tempat itu atau dirubuhkan, maka ia akan membujuk ke tiga orang pengemis itu, agar menerima dirinya sebagai murid mereka! Atau setidak-tidaknya, Sam Lu Tang berharap bisa diajarkan ilmu yang hebat dari ke tiga pengemis tersebut.

Kie Pa Kay telah berulang kali mengempos semangatnya, menyerang semakin hebat. Serangan, yang dilakukan merupakan pukulan bertubi-tubi, yang selalu mengincar bagian yang berbahaya di tubuh Siangkoan Lo Sian.

Sedangkan Siangkoan Lo Sian juga berusaha buat menghalau pukulan tersebut dengan sebaik-baiknya, yang setelah menangkis dan memunahkan pukulan lawannya, dia akan membalas menyerang. Karena tampaknya kepandaian mereka memang berimbang, sehingga mereka dapat bertempur terus tanpa memperlihatkan tanda-tanda siapa di antara mereka yang akan rubuh.

Dikala itu jelas sekali ke dua kawan Kie Pa Kay sudah tidak sabar, karena tampaknya mereka sudah ingin cepat-cepat menyelesaikan pertempuran tersebut.

Siangkoan Lo Sian berpikir diam-diam di hatinya: “Hemmmm, pengemis Kay-pang ini tampaknya bukan lawan yang mudah kurubuhkan. Biarpun seratus jurus lagi kami bertempur, belum tentu kami akan dapat menyudahi pertempuran ini dan aku tidak mungkin dapat merubuhkannya!

“Apa lagi jika ke dua kawannya itu ikut maju mengeroyok! Hemmmm, hemm…… dilihat demikian, lebih baik-baik aku mendahului menurunkan tangan maut padanya……!”

Karena telah berpikir seperti itu, segera juga terlihat tubuh Siangkoan Lo Sian mengalami perobahan dalam gerakannya. Tubuhnya mencelat ke sana ke mari seperti juga bayangan, yang sulit diikuti oleh pandangan mata manusia biasa.

Dia bergerak begitu lincah, setiap kali menghantam dengan pukulan yang mematikan. Karena Siangkoan Lo Sian telah mempergunakan ilmu pukulan andalannya, yang selain memang hebat dan setiap jurusnya mengalami perobahan yang aneh dan sulit sekali buat diterka, dengan sendirinya telah membuat lawanmya, yaitu Kie Pa Kay terdesak juga.

Selama belasan jurus, Kie Pa Kay hanya main mundur dan mengelak saja, karena dia belum bisa memecahkan ilmu pukulan Siangkoan Lo Sian. Dia mempelajarinya, di mana letak kelemahan dari ilmu pukulan wanita setengah baya tersebut.

Kemudian setelah lewat lagi lima jurus, cepat sekali dia menyerang ke arah perut Siangkoan Lo Sian. Biarpun Siangkoan Lo Sian bisa mengelakkannya, tokh dia terus juga merangsek, selalu mengincar bagian perut dari wanita setengah baya itu, di bagian tengah itulah kelemahan dari ilmu pukulan Siangkoan Lo Sian.

Bukan main gusarnya Siangkoan Lo Sian karena penyerangan yang gencar dari Kie Pa Kay selalu menuju kepada arah tengah bagian tubuhnya. Dengan demikian gerakannya jadi memperoleh kesulitan, tidak bisa terlalu lincah dan juga disaat ia selalu harus dapat menjaga pertahanan dirinya sebaik mungkin.

Hati Kie Pa Kay jadi girang sebab ia melihat bahwa dugaannya memang benar, di mana dia telah berhasil mendesak lawannya, sehingga Siangkoan Lo Sian tidak bisa mempergunakan secara leluasa ilmu pukulan andalannya itu.

Ke dua kawan Kie Pa Kay menyaksikan hal itu, ikut girang. Mereka telah berseru agar kawannya itu dapat menyudahi pertempuran tersebut secepat mungkin.

Kie Pa Kay tertawa bergelak, dia memperhebat rangsekannya.

Siangkoan Lo Sian walaupun tengah terdesak, dia bukanlah seorang berkepandaian rendah, karena dari itu, dia tidak menjadi gugup. Dia telah menghadapi serangan dan rangsekan lawannya sebaik-baiknya.

Mereka bertempur terus, lebih dari empatpuluh jurus. Sedangkan Kie Pa Kay berulang kali telah berusaha untuk memukul bagian yang menentukan, menyerang bagian anggota tubuh yang mematikan.

Juga di waktu itu, Siangkoan Lo Sian sendiri mulai letih, napasnya memburu dan tenaganya berkurang, di mana wanita setengah baya itu jika harus bertempur seratus atau duaratus jurus lagi, niscaya akan menyebabkan dia kehabisan napas dan akhirnya rubuh sendirinya, walaupun andaikata tidak terkena pukulan lawan, karena kehabisan tenaga!

Rupanya Siangkoan Lo Sian menyadari akan kelemahannya itu. Dia mengetahui jika ia kehabisan napas, niscaya dirinya akan dapat dirubuhkan dengan mudah oleh lawannya. Atau jika memang dia telah letih, ke dua kawan Kie Pa Kay ikut menerjang maju, niscaya dia tidak berdaya buat menghadapinya.

Karena menghadapi kenyataan seperti itu sambil bertempur, Siangkoan Lo Sian juga berpikir untuk mencari jalan keluar meloloskan diri. Jika mungkin, ia ingin melepaskan diri dari libatan Kie Pa Kay dan kemudian meninggalkan tempat tersebut……

Hanya saja kesempatan yang dikehendakinya itu tidak kunjung datang. Tidak ada lowongan buat dia melepaskan diri dari libatan pukulan Kie Pa Kay.

Karena pengemis itu menyerang dia dengan beruntun. Dan setiap serangan yang dilakukan oleh Kie Pa Kay merupakan rangkaian jurus-jurus yang melibatnya terus, sama sekali tidak memberikan sedikitpun kesempatan kepadanya buat mengelakkan diri.

Siangkoan Lo Sian karena sudah tidak memiliki kesempatan buat meloloskan diri, maka ia telah mengeluarkan bentakan penuh amarah, ke dua tangannya pun telah berkelebat-kelebat. Ia pun berusaha buat menyerang berangkai kepada Kie Pa Kay.

Ke dua orang itu terlibat dalam pertempuran yang semakin lama semakin seru, sedangkan ke dua orang kawan Kie Pa Kay telah mengawasi jalannya pertempuran itu dengan mata yang terpentang lebar-lebar dan mereka berwaspada.

Jika memang Kie Pa Kay mengalami ancaman dari Siangkoan Lo Sian, mereka segera akan turun tangan buat membantuinya. Hanya saja, disebabkan sejak semula mereka melihat Kie Pa Kay menang di atas angin, malah tampaknya Siangkoan Lo Sian terdesak.

Disamping itu, memang karena usianya yang telah lanjut itu membuat Lo Sian tentu tidak bisa bertahan terlalu lama, dan akan membuatnya letih, berarti ia akhirnya akan kehabisan tenaga, membuat ke dua kawan Kie Pa Kay jadi tenang. Walaupun demikian mereka tetap saja bersikap waspada.

Sam Lu Tang telah memandang dengan sorot mata bersinar. Ia girang sekali, karena ia yakin bahwa Siangkoan Lo Sian akan dapat dirubuhkan oleh Kie Pa Kay, sedangkan ia memang mengharapkan sekali pengemis itu, tuan penolongnya, yang memperoleh kemenangan, agar kelak ia bisa memohon kepadanya buat minta diterima menjadi murid atau setidak-tidaknya diajarkan ilmu silat yang tinggi.

Dikala itu Siangkoan Lo Sian merasakan tenaganya semakin menyusut dan berkurang, karena itu ia juga berpikir keras, ia harus meloloskan diri. Tidak bisa ia bertempur terus dengan cara seperti ini.

Setelah mengetahui bahwa Kie Pa Kay sengaja melibatnya dalam pertempuran yang panjang, yang akan menghabisi tenagaaya, membuat Siangkoan Lo Sian berlaku nekad. Dengan berani, ia menjejakkan ke dua kakinya, ia mencelat ke tengah udara, dan waktu terapung di tengah udara, ke dua tangannya menghantam.

Sesungguhnya, jika seseorang tidak dalam keadaan terpaksa begitu, tentu jarang ada yang mau memakai gerakan terapung seperti itu. Karena dengan terapung di tengah udara, berarti orang tersebut “kosong” dan akan dapat diserang dengan mudah oleh lawannya.

Cuma saja, karena Siangkoan Lo Sian memang memiliki kepandaian yang tinggi. Dia juga membarengi disaat tubuhnya tengah terapung seperti itu dengan serangan mempergunakan jurus ilmu silatnya yang ampuh, memaksa Kie Pa Kay melesat mundur ke belakang buat mengelakkan diri.

Dan mempergunakan kesempatan itulah Siangkoan Lo Sian tahu-tahu melesat ke kanan. Gerakannya cepat sekali, tubuhnya seperti kapas ringannya, dan dia telah menjauhi diri dari Kie Pa Kay, malah ia telah menjejak lagi kakinya begitu kakinya tersebut menyentuh tanah, sehingga tubuhnya telah melesat lebih jauh, dia bermaksud menjauhi diri dari lawannya.

Ke dua kawan Kie Pa Kay bermaksud hendak menghalangi, namun gerakan mereka terlambat, karena Siangkoan Lo Sian telah melesat jauh, dan malah ia telah berlari terus dengan mempergunakan gin-kangnya menjauhi tempat tersebut.

Hanya samar-samar terdengar suara teriakannya itu:

“Suatu waktu nanti Siangkoan Lo Sian akan mencari kalian! Hemmm, Siangkoan Lo Sian tidak akan menghabisi persoalan ini sampai di sini saja!”

Dan suara Siangkoan Lo Sian semakin menjauh, sedangkan tubuhnya akhirnya lenyap dari penglihatan.

Kie Pa Kay tidak mengejarnya, karena memang ia tidak bermaksud mendesak Siang- koan Lo Sian. Ia beranggapan, antara dirinya dengan Siangkoan Lo Sian tidak ada hubungan apapun juga, tidak ada permusuhan. Karena ia hanya bermaksud hendak menolongi orang belaka, maka Kie Pa Kay tidak bermaksud menanam permusuhan dengan Siangkoan Lo Sian.

Sam Lu Tang telah menghampiri dengan segera, ia menekuk ke dua kakinya memberi hormat kepada Kie Pa Kay sambil katanya.

“Terima kasih atas pertolongan locianpwe, jika tidak ada locianpwe tentu boanpwe telah dibunuh orang she Siangkoan itu!”

Sambil berkata begitu, tampak Sam Lu Tang telah menganggukkan kepalanya beberapa kali, untuk menyatakan terima kasihnya. Sedangkan si pengemis cepat-cepat membangunkan si pemuda, di mana ia telah perintahkan Sam Lu Tang agar berdiri dan jangan memakai adat peradatan.

“Sudahlah! Sekarang kau sudah tidak terancam bahaya lagi, pergilah..........!”

Sambil berkata begitu, tampak Kie Pa Kay melirik kepada si gadis. Sampai akhirnya ia berpikir sesuatu, karenanya ia bertanya lagi, “Mengapa kau hendak dibunuh oleh orang she Siangkoan itu?”

Pemuda itu menghela napas, ia berkata:

“Sebetulnya, Siangkoan Lo Sian adalah seorang yang berpengaruh di tempat ini, di mana ia menjagoi. Tidak boleh ada seorangpun yang dapat membantah perintahnya!

“Aku kebetulan berhubungan rapat dengan nona ini, dan ia melarangnya, karena memang Siangkoan Lo Sian bermaksud menjodohkan keponakannya dengan nona tersebut…….

“Kami masih berhubungan diam-diam. Karena dari itu, ia bermaksud membunuhku, dianggapnya bahwa aku telah meremehkan larangannya…… Untung saja ada locianpwe yang telah menolongi. Jika tidak tentu aku telah membuang jiwa dengan konyol!”

Lebih jauh pemuda itu telah menjelaskan, sebetulnya ia bernama Sam Lu Tang, dan si gadis yang bernama Thio Lin Kui. Mereka itu memang telah berhubungan dengan rapat selama setahun lebih. Tapi justeru Siangkoan Lo Sian yang memiliki seorang keponakan laki-laki, yang berusia duapuluh lima tahun dan memiliki kepandaian yang cukup tinggi, bermaksud hendak menjodohkan keponakannya dengan Thio Lin Kui.

“Hanya saja sayangnya keponakan Siangkoan Bu itu seorang yang ceriwis dan tidak boleh melihat pipi licin, selalu mengganggu wanita. Mengetahui tabiat buruk dari pemuda itu, tentu saja Thio Lin Kui telah menolaknya, terlebih lagi memang ia pun telah mencintai Sam Lu Tang itu.

Demikianlah, disebabkan Siangkoan Lo Sian merupakan orang yang sangat berpengaruh di kota mereka, karena itu pula membuat Sam Lu Tang dan Thio Lin Kui, jadi ketakutan.

Mereka tidak berani terang-terangan untuk menjalin hubungan mereka. Maka Sam Lu Tang selalu mengunjungi kekasihnya secara diam-diam di kelarutan malam.

Giok Hoa yang mendengar keterangan seperti itu baru mengerti, diam-diam dia mengangguk-anggukan kepalanya beberapa kali.

Kie Pa Kay dan ke dua orang pengemis lainnya juga mengangguk, lalu Kie Pa Kay berkata: “Siangkoan Lo Sian hendak mementangkan pengaruhnya dengan sewenang-wenang. Sungguh tidak memandang semua orang rimba persilatan lainnya!

“Bagaimana mungkin dia bisa mempergunakan cara memaksa seperti itu untuk menjodohkan keponakannya! Hemm, dia memang pantas jika dihajar!”

“Sayang kepandaian boanpwe sangat rendah sekali. Jika tidak, tentu boanpwe akan dapat menghadapinya dengan baik!” berkata Sam Lu Tang kemudian dengan suara memelas.

“Dan juga, jika saja Boanpwe memperoleh seorang guru yang pandai, sehingga bisa mendidik boanpwe mempelajari ilmu silat yang tinggi, tentu boanpwe tidak akan dihina seperti sekarang ini……!” Setelah berkata begitu, tampak Sam Lu Tang menghela napas beberapa kali, mukanya sangat guram.

Sedangkan Kie Pa Kay tertawa, ia bilang: “Engkau bisa memiliki kepandaian yang tinggi jika saja engkau rajin dan tekun mempelajari ilmu silatmu! Sekarang ini aku lihat kepandaian yang kau miliki juga tidak terlalu rendah……!”

Sam Lu Tang telah mengangkat kepalanya, dia berkata dengan suara yang memelas: “Jika memang locianpwe tidak keberatan, boanpwe ingin sekali menerima petunjuk dari locianpwe!”

Kie Pa Kay tertawa terbahak-bahak.

“Kau ingin agar aku mengajari engkau beberapa jurus ilmu silat?”

“Ya!” mengangguk Sam Lu Tang.

“Hemmm, untuk itu mudah saja!” kata Kie Pa Kay, “Memang aku melihat engkau memiliki bakat yang baik dan juga tampaknya semangatmu tinggi. Aku bersedia buat menurunkan beberapa jurus kepandaian kepadamu…….”

“Tunggu dulu! Kau tertipu oleh kentut busuk bocah setan itu!”

Tiba-tiba terdengar suara bentakan, diiringi dengan tertawa yang nyaring sekali, membuat sesama orang yang berada di tempat itu, termasuk Kie Pa Kay, terkejut bukan main. Malah di waktu itu disusul dengan berkelebatnya sesosok bayangan yang gesit sekali, sehingga tidak bisa dilihat dengan jelas, dan tahu-tahu telah berada di depan Kie Pa Kay.

Tentu saja semua orang kaget, itulah ilmu meringankan tubuh yang sangat tinggi, di mana orang itu dapat bergerak begitu ringan dan cepat sekali, membuat ia seperti juga gumpalan awan saja, dan malah tahu-tahu, tanpa mengeluarkan suara sedikitpun juga, ia telah berada di depan Kie Pa Kay.

Sedangkan Kie Pa Kay dan ke dua pengemis lainnya, waktu melihat jelas orang di depan mereka, tambah kaget tidak terkira, sepasang mata mereka terpentang lebar-lebar, dan muka mereka berobah. Orang itu, seorang pengemis tua dengan bambu hijau di tangannya berdiri sambil memperdengarkan suara tertawa dingin.

Cepat-cepat, tanpa berayal lagi, Kie Pa Kay dan ke dua orang pengemis lainnya telah menekuk ke dua kaki mereka, memberi hormat dengan berlutut kepada pengemis tua itu.

“Thio Tiang-lo……!” kata mereka bertiga hampir berbareng. “Kami menanyakan kesehatan Tiang-lo!”

Pengemis tua itu ternyata bukan lain dari Thio Kim Beng. Ia tertawa bergelak-gelak.

Sedangkan Giok Hoa dari tempat persembunyiannya, jadi panas hatinya. Itulah pengemis tua yang telah memancing keluar dari kamarnya, bahkan telah menggondol buntalannya, karena di waktu itu, setelah mengawasi sekian lama, Giok Hoa bisa terlihat di punggung Thio Kim Beng, tergemblok buntalannya!

Belum lagi Gok Hoa melompat keluar buat mendamprat pengemis tua itu, di saat itu Thio Kim Beng justeru telah menoleh ke arah tempat di mana Giok Hoa bersembunyi, malah disusul dengan tertawanya dan kata-katanya:

“Nona, mengapa kau masih tidak mau keluar? Apakah sampai mau diseret keluar baru akan memperlihatkan diri?”

Kie Pa Kay dan yang lainnya jadi saling pandang dengan heran, karena mereka tidak mengetahui bahwa di tempat itu bersembunyi seorang lainnya.

Giok Hoa yang memang tengah bersiap-siap hendak melompat keluar dari tempat bersembunyinya itu, telah menjejakkan ke dua kakinya. Tubuhnya melesat dengan cepat sekali.

Belum lagi kedua kakinya hinggap dan berdiri tetap, ia sudah mementang mulutnya: “Pengemis tua yang busuk! Mengapa engkau mencuri barang-barangku? Cepat kau kembalikan?”

Thio Kim Beng tertawa bergelak lagi, ia bilang dengan suara yang sabar: “Sabar! Sabar!! Mengapa begitu muncul engkau telah menuduhku sebagai pencuri? Dengarkanlah dulu baik-baik…… Jangan terburu napsu……!”

Giok Hoa menuding kepada Thio Kim Beng dengan muka yang merah padam, dia pun telah mencabut keluar pedangnya karena ia benar-benar mendongkol sekali, di mana ia bersiap-siap hendak menerjang kepada Thio Kim Beng yang dianggapnya sebagai pengemis tua yang telah mempermainkannya. Justeru Giok Hoa kuatir ia akan kehilangan jejak pengemis tua itu lagi.

“Kau pengemis busuk, yang tidak tahu malu. Engkau telah memancing aku meninggalkan kamar, kemudian engkau menggasak barang-barangku……

“Sekarang kau hendak memutar lidah dan tidak mau mengembalikan cepat-cepat barang nona mudamu…… Apakah engkau mau menunggu sampai lehermu itu kutabas putus?!”

Sambil berkata begitu, tampak Giok Hoa mengibaskan pedangnya, sampai memperdengarkan suara mendengung. Di samping itu berkelebat sinar putih keperak-perakkan, di mana pedangnya itu merupakan sebatang pedang mustika yang baik sekali.

Kie Pe Kay melihat Tiang-lonya dibentak-bentak seperti, jadi tidak senang. Ia melangkah maju ke depan, dan telah membentak kepada Giok Hoa dengan sepasang mata yang dipentang lebar, ia bilang:

“Hemmm, hati-hati dengan mulutmu, nona....... inilah Thio Tiang-lo kami, yang sangat kami hormati, di mana jika memang Tiang-lo menghendaki jiwamu itu sama mudahnya dengan membalik telapak tangannya!”

Sambil berkata begitu, tampak Kie Pa Kay bersiap-siap hendak maju ke depan, guna mewakili Tiang-lonya menghadapi si gadis.

Tapi Thio Kim Beng sambil tertawa tawar, dia memberikan isyarat kepada Kie Pa Kay dan ke dua pengemis lainnya agar tidak mencampuri urusan itu. Ia juga mengibaskan bambu hijau di tangannya sehingga berkelebat sinar hijau.

“Nona yang tidak berbudi!” katanya kemudian dengan suara yang tawar. “Hemm, aku si pengemis tua yang belum lagi mau mampus ini bersusah payah telah menolongi engkau, tetapi engkau ternyata bukannya berterima kasih malah telah menuduhku sebagai pencuri! Baiklah! Aku akan membuka kartunya!”

Berkata sampai di situ, tahu-tahu tubuh Thio Kim Beng melesat gesit sekali dia juga menyambungi perkataannya: “Hendak kabur ke mana kau?”

Giok Hoa menduga pengemis tua ini hendak menyerangnya. Dia bersiap-siap menyambutnya dengan pedang di lintangkan di depan dadanya.

Tapi ternyata Thio Kim Beng bukan menyerang kepadanya, hanya saja tampak ia telah melesat ke samping, kepada Sam Lu Tang, di mana tangan kanan dari Thio Kim Beng mudah sekali menjambak baju di punggung pemuda itu. Dan ia menghentaknya, sampai tubuh Sam Lu Tang terlempar ke tengah udara, lalu terbanting di atas tanah dengan keras!

Ternyata Sam Lu Tang bermaksud melarikan diri, di kala pengemis tua she Thio itu bercakap-cakap dengan Giok Hoa. Ia hendak mempergunakan kesempatan tersebut untuk menyingkir secara diam-diam.

Tadi waktu melihat datangnya Thio Kim Beng, muka Sam Lu Tang berobah hebat. Sedangkan waktu itu ia memang sudah berpikir untuk melarikan diri meninggalkan tempat itu.

Dia melirik kepada si gadis, Kui-moy atau adik Kui nya, ia tidak mengatakan apa-apa, karena si gadis waktu itu tengah mengawasi Thio Kim Beng penuh perhatian. Ia kagum dan takjub melihat gin-kang Thio Kim Beng yang begitu sempurna.

Di waktu itu tampak Giok Hoa telah muncul, membuat muka Sam Lu Tang berobah semakin pucat, dan tubuhnya agak menggigil, rupanya ia ketakutan bukan main. Ia semakin cepat bergerak untuk menyingkirkan dirinya dengan diam-diam meninggalkan tempat tersebut.

Siapa tahu bahwa Thio Kim Beng telah mengawasi setiap gerak-gerik pemuda itu. Dan dikala Sam Lu Tang hendak angkat kaki, di waktu itulah ia bergerak untuk membekuk¬nya. Malah dia telah melemparkan pemuda itu sampai terbanting di tanah, membuat mata Sam Lu Tang berkunang-kunang dan kepalanya pusing, sementara waktu ia tidak bisa segera bangkit berdiri.

Giok Hoa dan yang lainnya tidak mengerti apa yang tengah terjadi ini. Karena mereka tidak mengerti mengapa Thio Kim Beng justeru mencekuk pemuda she Sam itu dan telah membantingnya, sedangkan waktu itu mereka telah membicarakan urusan pencurian buntalan Giok Hoa, yang dituduh oleh si gadis dilakukan oleh Tiang-lo Kay-pang she Thio tersebut.

Thio Lin Kui menjerit dan melompat turun berusaha membantui Sam Lu Tang untuk bangun.

“Tang Koko…… kau…… kau tidak apa-apa?!” tanya si gadis dengan suara mengandung kekuatiran yang sangat.

Sam Lu Tang menggeleng-gelengkan kepalanya yang pusing bukan main, matanya juga berkunang-kunang masih gelap. Ia telah bilang perlahan tidak lancar: “Dia….. dia….. pengemis jahat, cepat kau pergi meninggalkan aku di sini, cepat kau loloskan diri!”

Tapi Thio Lin Kui menggeleng.

“Tidak!” katanya. Malah si gadis telah bangun dan bertolak pinggang, berdiri dengan mata mendelik menghadapi Thio Kim Beng.

“Pengemis busuk, mengapa kau menganiaya Tang Koko?!” bentaknya berani dan nekad, walaupun ia mengetahui bahwa pengemis tua ini sangat dihormati oleh Kie Pa Kay dan ke dua pengemis lainnya itu........ “Tidak hujan tidak angin engkau telah melontarkan dan menganiaya Tang Koko! Di manakah keadilan?”

Thio Kim Beng tersenyum, dia bilang: “Nona, selama ini engkau telah menjadi korban kelicikannya pemuda busuk itu!”

“Menjadi korkan kelicikan Tang Koko? Apa maksudmu? Hemmmm, engkau jangan bicara sembarangan!” bentak Thio Lin Kui bertambah marah.

Waktu itu Thio Kim Beng menoleh kepada Giok Hoa, ia bilang: “Inilah penjahat yang malam itu kuhajar…… hemmm, dia bukan pemuda baik-baik, dia seorang Jai-hwa-cat, seorsng pemetik bunga……!”

Semua orang kaget. Termasuk Kie Pa Kay sampai pengemis ini dan ke dua pengemis Kay-pang lainnya menatap kepada Sam Lu Tang dengan tertegun.

Pemuda itu telah dapat merangkak berdiri, ia cepat-cepat bilang: “Bohong….. apa yang dikatakannya dusta besar.......... semua itu bohong belaka!”

Kie Pa Kay menyadari, yang bicara adalah Tiang-lo mereka, dan tidak mungkin Tiang-lo mereka, dengan kedudukannya yang begitu terhormat, akan menuduh tanpa bukti dan sembarangan memfttnah.

Karenanya Kie Pa Kay jadi marah mendengar perkataan Sam Lu Tang tahu-tahu tubuhnya telah melesat berada di samping Sam Lu Tang, tangan kanannya, bergerak, terdengar suara “Ploookkk,” yang nyaring sekali.

Muka Sam Lu Tang bengap, dia terjungkal bergulingan di tanah. Waktu dia merangkak bangun, mulutnya pecah mengeluarkan darah, sedangkan giginya telah rontok tiga.

“Mulutmu jangan kurang ajar, bocah!” bentak Kie Pa Kay dengan suara bengis.

“Aduhhh........ aduhhh…..!” merintih Sam Lu Tang kesakitan.

Sedangkan Thio Lin Kui jadi bingung dan berkuatir sekali, dia telah menubruk Tang Kokonya itu dan juga memaki kalang kabutan: “Kalian kaum pengemis, kalian bertindak sewenang-wenang…… kalian bukan manusia-manusia baik….. Kalian manusia-manusia busuk…….!”

Thio Kim Beng menghela napas, dia bilang, “Nona, tahukah engkau, bahwa dia sesungguhnya hendak memperkosamu pada malam itu? Dia ingin mempergunakan asap pulas untuk membuat engkau tidak sadarkan diri.

“Untung saja aku telah menyaksikan perbuatannya, sehingga aku dapat menghajarnya dan menggagalkan niat busuknya itu! Hemmmm........ jika saja memang engkau tidak mengucapkan terima kasih, berarti engkau seorang yang tidak kenal budi!”

Giok Hoa memandang bingung sejenak. Namun akhirnya ia bimbang, ia menoleh kepada Sam Lu Tang.

“Benarkah apa yang dikatakannya itu?!” bertanya Giok Hoa.

“Bohong…… semua itu bohong..........?!” Sam Lu Tang berusaha untuk menyangkalnya.

Muka Thio Kim Beng berobah, dia bilang: “Bagus bocah, kau masih berani menyangkal! Baik! Aku ingin melihat, sampai di mana nyalimu itu, sehingga engkau berani menyangkal atas perbuatan busukmu itu!”

Setelah berkata begitu, dengan muka bengis, Thio Kim Beng menghampiri, setelah dekat, tahu-tahu tangan kanannya bergerak menotok jalan darah Kie-bun di dekat ketiak dari pemuda she Sam tersebut.

Segera Sam Lu Tang menderita kesakitan luar biasa. Totokan itu membuat sekujur tubuhnya sakit seperti ditusuki ribuan jarum.

Dia merintih, keringat telah mengucur deras dari sekujur tubuhnya.

Di saat itulah, Thio Kim Beng telah berkata dengan suara yang dingin: “Hemmm, sekarang engkau hendak mengakuinya atau tidak!?”

Sedangkan Thio Lin Kui menjerit-jerit menangis dengan marah: “Kau…… kau pengemis tua yang busuk, mengapa engkau menyiksa Tang Koko demikian rupa……?”

Tapi waktu Thio Lin Kui berkata begitu, justeru Sam Lu Tang sudah tidak dapat lagi menahan penderitaannya, siksaan yang menderanya hebat sekali. Dengan menotok jalan darah Kie-bun seperti itu, Thio Kim Beng membuat pemuda itu menderita kesakitan yang jauh lebih hebat dibandingkan disayat-sayat dengan pisau.

Muka pemuda itu berobah pucat, tubuhnya menggigil keras, ia pun sudah berkata dengan suara terbata-bata: “Ya, ya.......... aku mengakuinya……!”

“Apa yang kau akui!?” tanya Thio Kim Beng sambil memperdengarkan suara tertawa dingin.

“Aku…… aku bermaksud hendak…… hendak menodai kesucian nona itu……!” menyahuti Sam Lu Tang dengan suara terbata-bata tidak lancar. “Tolong…… tolong kau bebaskan aku dari totokanmu..... aku….. aduhhhh..... aku tidak kuat........!”

“Bagus!” berseru Thio Kim Beng. “Sekarang engkau telah mengakui apa yang hendak kau perbuat. Sekarang kau jawab lagi pertanyaanku, jika memang engkau mengakuinya dengan jujur, aku akan segera membebaskan engkau dari totokan itu!”

“Ya, ya....... aku akan menjawabnya dengan jujur!” jawab Sam Lu Tang.

“Apa pekerjaanmu selama ini?!”

“Aku….. aku.......... aku hanya seorang pemuda pelajar dan mengerti ilmu silat sedikit- sedikit. Aku berusaha bekerja sebagai seorang piauw-su…….!”

Mata Thio Kim Beng mendelik.

“Pemuda tidak kenal mampus, bocah busuk berlidah bercambang! Engkau masih hendak berdusta?!”

Dia setelah berkata begitu, segera tangan kanan Thio Kim Beng menotok lagi beberapa jalan darah di tubuh pemuda she Sam tersebut, maka seketika tubuh pemuda itu menggelinjang sambil meraung-raung.

Menyaksikan penderitaan Sam Lu Tang itu, rupanya Thio Lin Kui, tidak bisa menahan diri. Sambil menangis dia menjerit-jerit ia telah berusaha menerjang kepada Thio Kim Beng.

Dia berteriak-teriak: “Pengemis busuk, ayo kau bebaskan Tang Koko dari siksaanmu…… apakah engkau sudah tidak takut pada undang-undang negara?!”

Tetapi Thio Kim Beng tidak mau diganggu oleh gadis itu. Ia mengibaskan tangannya, jalan darah si gadis tertotok, tepatnya jalan darah yang membuatnya tidak bisa bergeming lagi, tubuhnya telah terjungkal dan rebah diam di atas tanah.

Thio Kim Beng dengan muka yang bengis bertanya kepada Sam Lu Tang: “Aku memberikan kesempatan kepadamu hanya beberapa detik. Jika engkau masih tidak mau mengakui terus terang apa yang selama ini kau lakukan, hemmm, hemmm, aku akan mengirim engkau ke akherat.....!”

Sam Lu Tang ketakutan, ia mengetahui bahwa si pengemis tua ini tegas dan ancamannya itu bukan ancaman kosong belaka. Karenanya ia ketakutan sekali ia berkata:

“Baik! Baik! Aku akan mengakuinya! Aku memang sering melakukan perbuatan mesum itu, aku sering merusak kehormatan gadis-gadis dan wanita...... dan aku..... aku seorang pemuda bejat.....!”

Mendengar pengakuan pemuda she Sam sampai di situ, segera juga Giok Hoa menggerakkan pedangnya. Ia ingin menabas putus batang leher pemuda itu.

Dalam keadaan seperti itu, Thio Kim Beng yang memang memiliki mata sangat tajam, telah dapat melihatnya. Dengan gerakan yang sangat cepat ia mencekal tangan si gadis, sehingga pedang itu tidak dapat meluncur terus.

“Jangan......! Biarkan dia hidup!” kata Thio Kim Beng kemudian.

Sesungguhnya Kie Pa Kay waktu itu bertiga dengan ke dua pengemis lainnya, jadi murka bukan main. Mereka mengetahui bahwa Sam Lu Tang yang baru saja mereka tolongi dari Siangkoan Lo Sian, ternyata merupakan seorang pemuda bejat yang tidak tahu malu, yang seringkali merusak kehormatan seorang wanita.

Karena dari itu, merekapun menyesal dan malu, bahwa mereka telah diakali dan ditipu oleh pemuda itu. Karenanya merekapun bermaksud hendak menghajarnya.

Tapi melihat Tiang-lo mereka telah menahan si gadis, Giok Hoa, agar tidak menabaskan pedangnya, mereka tersadar bahwa persoalan pemuda she Sam tersebut sekarang memang telah berada di tangan Tiang-lo mereka. Maka ke tiga pengemis itu berdiam diri saja, cuma mata mereka yang memandang mendelik kepada Sam Lu Tang, dengan pancaran sinar mata mengandung kemarahan yang sangat.

Sam Lu Tang ketakutan bukan main, dengan menangis ia menghiba-hiba: “Ampunilah aku…… aku berjanji bahwa kelak aku akan merobah kelakuan burukku ini. Aku tidak akan melakukan pekerjaan hina itu lagi.......!”

Sambil berkata begitu, ia mengerang kesakitan karena totokan pada beberapa jalan darahnya belum lagi dibuka oleh Thio Kim Beng.

Sedangkan Thio Kim Beng tertawa dingin katanya: “Hemmm, pemuda bejat seperti engkau jika dibiarkan tentu merupakan ancaman yang tidak kecil buat kaum wanita, juga akan mendatangkan malapetaka bagi gadis-gadis yang lemah…….!”

“Tapi aku bersumpah locianpwe..... aku akan merobah kelakuanku!” menangis Sam Lu Tang dan ia juga kemudian merintih.

Muka Giok Hoa merah padam, karena ia marah sekali mendengar dirinya hampir saja diasap pulasan oleh pemuda itu, yang mengandung maksud hendak memperkosanya.

Thio Kim Beng telah tertawa dia bilang, “Baiklah, aku bersedia buat mengampuni kau!”

“Manusia seperti dia tidak perlu dibiarkan hidup terus!” berkata Giok Hoa dengan marah.

Thio Kim Beng tersenyum.

“Ya, memang dia seharusnya tidak perlu dibiarkan hidup terus. Biarlah kali ini, aku akan mengampuninya!”

Setelah berkata begitu, tampak tangan kanan si pemuda tua she Thio tersebut telah bergerak, mencengkeram pundak kiri dan kanan pemuda itu.

Sam Lu Tang meraung kesakitan, tubuhnya bergulingan, dan sepasang tangannya seketika lemas dan tidak memiliki tenaga, karena dia selanjutnya menjadi manusia bercacad, di mana dia sudah tidak memiliki tenaga dalam. Sebab seluruh kepandaiannya telah dipunahkan.

Dengan demikian membuat dia selanjutnya hanyalah merupakan pemuda yang lemah. Dan jika ia mempelajari lagi ilmu silat, tentu dia tidak akan berhasil, karena ke dua tulang piepenya telah dihancurkan. Jelas, seorang manusia tanpa tulang piepe yang utuh, ia tidak punya lagi……!”

Di waktu ita tampak Thio Kim Beng sambil tertawa tawar berkata: “Baiklah, sekarang kau boleh pergi……!”

Sambil berkata begitu, tongkat bambu hijaunya bergerak, dimana dia telah membuka totokan pada tubuh Sam Lu Tang, dan pemuda itu terjungkal. Dengan terseok-seok kemudian dia meninggalkan tempat tersebut.

Sedangkan Thio Lin Kui juga telah dibuka totokan pada jalan darahnya, sambil menangis gadis itupun telah pergi! Betapa kecewa hatinya setelah mendengar sendiri pengakuan dari Tang Kokonya yang sesungguhnya sangat dicintainya.

Dikala itu Giok Hoa menghela napas, dia bilang: “Locianpwe, kalau begitu maafkanlah..... karena memang boanpwe yang telah salah menduga yang benar tentang locianpwe!”

“Kau tidak perlu meminta maaf kepadaku!” kata si pengemis tua itu. “Karena memang sesungguhya aku mempermainkan engkau! Namun, karena sifat jailku itu, telah membuat akupun memiliki kesempatan buat menolongi engkau, menggagalkan maksud busuk dari pemuda she Sam itu!”

“Sesungguhnya, apa yang terjadi?” tanya si gadis itu kemudian.

Thio Kim Beng tidak keberatan menceritakannya. Sedangkan Kie Pa Kay bersama ke dua pengemis Kay-pang yang lainnya telah mendengarkan juga.

Y

Sebetulnya, memang Thio Kim Beng telah mendengarnya, bahwa di kota tersebut sering kali terjadi gangguan yang sangat mengerikan di mana seorang Jai-hwa-cat berkeliaran. Banyak sekali merusak kehormatan gadis-gadis dan wanita isteri orang. Dengan demikian penduduk seringkali diliputi perasaaa takut yang bukan main.

Jai-hwa-cat itu juga seorang yang memiliki gin-kang atau ilmu meringankan tubuh yang cukup tinggi, karena dia bisa bergerak dengan lincah di atas genting rumah penduduk. Di samping itu juga, setiap kali ingin mencelakai korbannya, mempergunakan semacam obat asap hio pulas, sehingga dia bisa dapat melaksanakan maksud buruknya itu dengan mudah.

Dan juga, di malam itu, Thio Kim Beng bermaksud hendak mencari Jai-hwa-cat itu. Namun ia tidak mengetahui, di mana tempat berdiamnya manusia busuk itu.

Kebetulan sekali, dikala ia hendak mempermainkan si gadis, ia melihat seorang pemuda tengah berlari-lari dengan gesit di atas genting rumah penduduk. Pemuda itu mendatangkan kecurigaan di hati pengemis tua itu, yang segera mengikutinya secara diam-diam.

Pemuda itu telah hinggap di sisi kamar rumah penginapan Giok Hoa. Setelah mengintai ia juga telah mengeluarkan sesuatu, lalu membakarnya, sehingga tersiar asap yang menyiarkan harum semerbak.

Thio Kim Beng seketika tersadar, bahwa Jai-hwa-cat yang hendak dicarinya, tidak lain adalah si pemuda. Sungguh sangat kebetulan sekali, pemuda itu telah menampakkan dirinya. Maka dengan segera ia mengambil sebutir batu, dan menimpuknya, sehingga hio di tangan pemuda itu jatuh dan apinya padam.

Tangan pemuda itu kesemutan dan cepat-cepat karena kaget, dia melarikan diri. Dia berusaha meninggalkan tempat itu.

Namun, tampak Thio Kim Beng mengejarnya, membuat dia panik sekali, apa lagi memang di waktu itu Thio Kim Beng dapat mengejarnya dengan pesat sekali.

Sayangnya Thio Kim Beng melihat jendela kamar Giok Hoa terbuka dan melesat keluar sesosok bayangan. Itulah si gadis sendiri, yang malah telah mengejar Thio Kim Beng, membuat pengemis tua ini segera merobah pikirannya.

Dia tidak mengejar terus Jai-hwa-cat itu, malah Thio Kim Beng telah mengalihkan arah larinya. Dia memancing si gadis mengejarnya jauh sekali di luar kota.

Kemudian si pengemis telah merobah arah larinya, dia meninggalkan Giok Hoa, berlari ke rumah penginapan dan mengambil buntalan si gadis. Dia melakukan semua ini, selain hendak mempermainkan Giok Hoa, iapun hendak memberikan pelajaran kepada gadis itu, agar di lain waktu ia bersikap hati-hati.

Dengan terkena pancingan itu dan main keluar dari kamar dan mengejar lawan, tanpa memperdulikan keadaan di dalam kamarnya, tentu akan dapat mempermudah penjahat mengambil barangnya.

Tetapi siapa sangka, justeru Giok Hoa menduga bahwa Thio Kim Beng memang sengaja memancingnya untuk dapat mencuri barang-barangnya.

Pada malam itu, Thio Kim Beng pun telah melihat si gadis keluar dari rumah penginapan. Ia mengintai dan mengikuti diam-diam saja. Di dalam hati Thio Kim Beng mentertawai gadis tersebut.

Waktu itu, kebetulan pula Thio Kim Beng melihat pemuda yang diduga adalah si Jai- hwa-cat, dia jadi girang, terlebih lagi memang Giok Hoa telah mengikuti pemuda itu terus, maka pengemis tua ini berpikir, jika telah tiba waktunya, dia hendak turun tangan buat membekuk dan memberikan hajaran kepada maling pemetik bunga itu.

Sedangkan ketika Siangkoan Lo Sian bertempur dengan Kie Pa Kay, dia sudah bermaksud hendak keluar dari tempat persembunyiannya, dia ingin menyelesaikan persoalan tersebut. Siapa sangka, justeru di waktu itu memang rupanya Siangkoan Lo Sian tidak bisa bertahan terus buat menghadapi lawannya, dia telah meninggalkan tempat itu!

Waktu melihat pemuda itu pandai mengambil hati dan membuat Kie Pa Kay malah bersedia hendak mengajarkannya beberapa jurus ilmu silatnya Thio Kim Beng segera merasa bahwa dia tidak boleh berlaku ayal dan terlambat. Karena jika sampai pemuda itu diajarkan ilmu kepandaian Kie Pa Kay, niscaya akan membuat segalanya terlanjur.

Diapun kuatir kalau-kalau pemuda itu akan terlepas dari tangannya lagi. Maka dia segera menampakkan dirinya.

Maka semua urusan yang menyangkut dengan diri Sam Lu Tang telah dapat dibereskan.

Giok Hoa setelah mendengar cerita Thio Kim Beng, jadi menghela napas dalam-dalam. Dia membungkukkan tubuhnya memberi hormat waktu menyambuti buntalannya yang dikembalikan oleh Thio Kim Beng, diapun mengucapkan terima kasihnya.

Sedangkan Thio Kim Beng telah bilang. “Jika di lain saat, engkau harus lebih berhati-hati nona……!” kata Thio Kim Beng menasehatinya.

Si gadis mengiyakan dan mengucapkan terima kasihnya lagi.

Di waktu itu, Kie Pa Kay bertiga telah meminta pengampunan dari Tiang-lo mereka, karena justeru mereka telah salah dalam membantu dan menolongi orang. Rupanya orang yang mereka tolongi itu tidak lain dari seorang pemuda bejad yang tidak bermoral! Dan mereka bertiga berjanji akan mencari Siangkoan Lo Sian, guna meminta maaf padanya.

Senang dan puas Thio Kim Beng mendengar ke tiga pengemis itu berjanji seperti itu dan dia tidak menegurnya lagi. Begitulah, mereka telah berpisah.

Dan Thio Kim Beng mengirim salam buat Ko Tie, agar Giok Hoa menyampaikan pesannya, supaya pemuda itu bersikap lebih hati-hati, walaupun kepandaian Ko Tie tinggi, tokh ia masih kurang pengalaman.

Giok Hoa tertawa melihat sikap jenaka Kim Beng, ia bilang: “Locianpwe, kau menguatirkan kami, tapi engkau mempermainkan kami! Tentunya dalam perjalanan kami ini lebih baik lagi jika saja locianpwe mau mencampurinya!” Maksud Giok Hoa ialah Thio Kim Beng melindungi mereka secara diam-diam.

Thio Kim Beng mengerti maksud si gadis, dia tertawa.

“Budak setan, engkau mungkin menyangka aku kebanyakan waktu buat kalian, heh?” Dan setelah berkata begitu, Thio Kim Beng menjejakkan ke dua kakinya, tubuhnya melesat, dalam sekejap mata saja telah lenyap dari pandangan mata.

Giok Hoa masih berdiri tertegun melihat kepandaian pengemis tua itu.

Sedangkan Kie Pa Kay bertiga juga sudah berlalu.

Giok Hoa kembali ke rumah penginapan, ia menceritakan kepada Ko Tie apa yang telah dialaminya.

Dan Ko Tie tertawa sambil katanya: “Anak nakal, kau mencari penyakit sendiri! Beruntung ada Thio locianpwe, jika tidak?”

“Jika tidak kenapa?” kata Giok Hoa manja, timbul sikap alemannya.

“Jika tidak, tentu engkau tidak akan memperoleh kembali buntalanmu itu,” menyahuti Ko Tie.

Giok Hoa cemberut, namun dia bilang: “Engkau yang tidak bisa melindungi aku!”

“He, he, he, aku melindungi kau sebaik mungkin!” kata Ko Tie. “Tentunya akupun akan melindungimu, asal engkau tidak menjadi anak yang nakal!”

Mulut Giok Hoa dimonyongkan, ia tampaknya manja sekali dan aleman, dia bilang tidak mau kalah: “Sudah! Sudah! Beruntung aku memperoleh kembali buntalanku ini….. hemmmm, engkau hanya bisa mempermainkan aku!”

Ko Tie hanya tertawa.

“Walaupun bagaimana, semua ini ada baiknya juga, di mana sebagai pelajaran yang berharga buat kita, agar dilain waktu kita bersikap lebih hati-hati dan waspada.....!”

Giok Hoa berdiam diri saja, kemudian ia bilang, hari telah malam dan ia kembali ke kamarnya, buat tidur.

Y

Keesokan harinya mereka melanjutkan perjalanan, di mana mereka mengambil arah ke Utara.

Wakta itu hujan salju turun cukup lebat karena sudah memasuki musim dingin dan hampir tiba harian Tahun Baru.

Ko Tie dan Giok Hoa masing-masing menunggang kuda mereka perlahan-lahan. Yang satu berpakaian sebagai seorang pelajar, tampan sekali, sedangkan yang seorangnya adalah searang gadis yang cantik jelita.

Mereka berpakaian sebagai pemuda dan pemudi dari golongan hartawan. Dengan melintasi jalan kecil, mereka telah sampai di jalan besar.

Sudah dua hari salju berhenti turun, hawa udara tetap dingin. Dan hanya sekali-sekali masih turun salju, dalam waktu yang tidak begitu lama. Jalanan pun basah, dari itu sepatu dan kaus kaki mereka jadi demak.

Terlebih lagi, dikala mereka melanjutkan perjalanan ini, salju telah turun, sehingga pakaian mereka pun basah. Mereka melanjutkan perjalanan, karena waktu di rumah penginapan salju sudah berhenti turun, dan mereka menduga bahwa hujan salju memang telah berhenti dan tidak akan turun hujan lagi.

Ko Tie dan Giok Hoa menuju kecamatan Kie-koan. Di sepanjang jalan mereka menemui orang-orang yang pergi menjenguk sanak famili, guna memberi ucapan selamat tahun baru, dari itu jalanan ramai karenanya. Itulah disaatnya tahun baru yang dirayakan oleh seluruh rakyat di daratan Tiong-goan.

Terkadang juga, lewat orang rimba persilatan, yang melarikan kudanya keras-keras, akan tetapi tidak ada yang menduga atau mencurigai Ko Tie dan Giok Hoa.

Jika tokh mereka menarik perhatian juga, itulah disebabkan mereka tampan dan cantik, mereka merupakan pasangan yang setimpal. Di tempat mereka berada, masih termasuk di dalam wilayah Shoa-say, memang jarang sekali ada pasangan muda-mudi yang tampan dan cantik seperti Ko Tie dan Giok Hoa.

Akhirnya mereka telah tiba di Chin-su dan mereka mencari sebuah rumah penginapan.

Pelayan rumah penginapan menyangka mereka adalah pengantin baru, mereka di antar ke sebuah kamar.

Seberlalunya pelayan, Ko Tie tertawa, sampai muka Giok Hoa berubah jadi merah sendirinya, sehingga ia mendelik kepada engko Tie nya tersebut.

Walaupun ia polos dan bebas merdeka, tidak urung Giok Hoa likat juga. Ia bermaksud keluar dari kamar itu, untuk meminta pelayan menyediakan kamar lainnya buat dia, tapi ia kuatir akan menarik perhatian orang.

Dan memang, biasanya ia selalu pisah kamar dengan Ko Tie, baru kali ini, ia diantar ke sebuah kamar oleh pelayan rumah penginapan, membuat ia canggung untuk meminta kamar lainnya. Dan ia mengharapkan Ko Tie yang pergi meminta sebuah kamar lain kepada pelayan.

Ko Tie kuatir kalau-kalau Giok Hoa keliru sangka, maka ia bilang: “Adik Hoa, sebenarnya aku gembira sekali, di mana kita telah lebih dari tiga bulan berkelana. Dan selama ini, kitapun telah banyak melakukan perbuatan mulia menoloagi orang-orang yang dalam kesulitan!

“Kitapun bisa bersahabat demikian rapat, dan dapat menikmati keindahan tempat-tempat yang indah! Bukankah itu sangat menyenangkan sekali? Aku jadi girang bukan main!”

Giok Hoa mengerti, maka ia bilang di dalam hatinya; “Dasar aku curiga tidak karuan juntrungannya. Memang kalau ia bermaksud buruk, tidak usah ia menunggu sampai hari ini!”

Si gadis segera mengawasi pemuda tersebut yang sebaliknya mendelong mengawasi keluar jendela itu, tangannya digendongkan.

“Engko Tie,” katanya kemudian. “Selama dalam perjalanan berkelana di dalam rimba persilatan, telah banyak yang kita lihat! Memang benar, apa yang dikatakan oleh orang-orang tua tidak meleset, betapa buruknya dunia Kang-ouw!”

“Mengapa begitu, adik Hoa?” tanya Ko Tie kemudian.

“Karena, kita telah menyaksikan banyak sekali peristiwa yang di luar dari kepantasan.”

Ko Tie hanya mengangguk.

“Benar!” sahutnya. “Justeru itu, mempergunakan kesempatan kita diberikan waktu untuk berkelana, harus dapat melakukan perbuatan mulia menolong orang-orang yang dalam kesukaran.”

Si gadis menghela napas dalam-dalam.

“Tapi kepandaianku masih belum berarti apa-apa, banyak yang telah kulihat, bahwa sebenarnya ilmu silat itu tidak ada batasnya! Seperti dengan kau, kepandaianmu jauh berada di atas kepandaianku!”

Ko Tie tersenyum, ia menatap si gadis beberapa saat lamanya. Barulah dia kemudian berkata:

“Itulah disebabkan tenaga dalammu belum cukup! Kau berlatih terus, nanti kau akan memperoleh tenaga tambahan yang lebih baik lagi! Kaupun harus rajin bersemedhi. Aku tanggung tidak sampai tiga bulan, kau akan berhasil”

Giok Hoa berdiam, tapi matanya menatap dan wajah tersenyum.

Ko Tie juga balas mengawasi. Dan ia sampai tersengsem. Di matanya, pada waktu itu, Giok Hoa cantik luar biasa. Gadis itu memakai baju warna serba hijau, hanya mantelnya yang berwarna hitam, Dia memang elok sekali, dandanannya itu menambah kementerengan parasnya yang cantik.

Menyaksikan sikap si pemuda, Giok Hoa kian menatap. Dan mereka baru tersadar waktu terdengar pintu kamar dibuka, disusul munculnya seorang pelayan, yang telah mengantar minuman buat mereka itu.

Setelah pelayan itu berlalu mereka bercakap-cakap sampai jauh malam. Barulah ke duanya tidur.

Di kamar itu terdapat dua pembaringan karena mereka adalah orang-orang Kang-ouw yang bebas dan merdeka, walaupun memang Giok Hoa selalu teringat pada pesan gurunya, agar ia pandai-pandai membawa diri dan menjaga kesuciannya sebagai seorang gadis, tokh ia melihat pemuda ini adalah seorang pemuda yang halus tutur bahasanya, baik jiwanya.

Karena itu ia tidak bercuriga lebih jauh, ia melihat Ko Tie adalah seorang pemuda yang jiwanya sangat besar dan tidak akan melakukan perbuatan rendah dan hina. Mereka walaupun belum secara resmi mengeluarkan dan memuntahkan isi hati dan perasaan mereka, bahwa saling mencintai, namun di hati kecil masing-masing telah merasakan, betapapun mereka berdua memang saling mencintai.

Malam telah larut, angin meniupkan hawanya yang dingin dan bersuara di kertas jendela. Ko Tie dan Giok Hoa di dalam kamar di rumah penginapan sudah tertidur nyenyak. Tapi segera juga mereka terbangun dan tersadar dari tidur masing-masing oleh suara berkeresek perlahan di atas genting. Mereka segera menduga jelek.

Memang mereka tidur tanpa menukar pakaian lagi, karenanya, mereka dapat segera turun dari pembaringan, pergi ke sudut kamar. Di situ mereka berdiam sambil memasang mata.

Umumnya jendela rumah di propinsi Shoa-say terdiri dari dua lembar, ukuran daun jendelanya yang panjang itu dibuka keluar, ke atas dan ke bawah. Sekarang daun jendela rumah penginapan terdengar berkeresek.

Lantas terlihat yang sebelah atas diangkat, rupanya untuk ditunjang. Ko Tie melihat bergerak-geraknya sebuah tangan. Giok Hoa segera mempersiapkan sebutir biji uang tembaga.

Dengan terbukanya daun jendela, angin menerobos masuk ke dalam, dingin sekali, Ko Tie dan Giok Hoa merasakan siliran angin, tapi mereka berdiam diri saja.

Penjahat di luar tidak mendengar suara sesuatu di dalam kamar walaupun daun jendela dibukanya, hati mereka jadi besar, segera juga terlihat mereka masuk. Mereka berdua, tangan mereka masing-masing mencekal pedang, mukanya ditutup topeng.

Dengan perlahan mereka menghampiri pembaringan, lalu dari dekat, mereka melompat untuk menotok, mungkin mereka bermaksud membikin korbannya tidak berdaya dan tidak bergerak akibat totokan.

Tapi tangan mereka, jari tangan itu, menotok pembaringan yang kosong. Mereka kaget. Mereka bukan menotok tubuh manusia!

Ke duanya segera juga melompat mundur, untuk melarikan diri dari jendela atau di waktu itu segera terdengar jeritan mereka, yang seorang telah rubuh terguling di lantai.

Giok Hoa telah menimpuk tepat pada kaki penjahat yang seorang itu, membuat dia jadi terguling rubuh di lantai.

Orang yang ke dua kaget dan bingung sekali, tapi ia menyadari bahaya, terus juga tanpa menghiraukan kawannya. Dia pun melompat ke jendela.

“Kembali!” dia mendengar seruan nyaring.

Segera terasa kakinya terjepit sakit, lantas tubuhnya tertarik keras, sampai dia membentur tembok. Setelah merasakan matanya berkunang-kunang, kepalanya yang pusing bukan main, dia rubuh tidak sadarkan diri!

Berbareng dengan itu, lilin menyala. Giok Hoa menghampiri ke dua penjahat itu. Dengan ujung sepatunya ia mencongkel topeng muka orang itu, secarik kain berwarna merah. Ia juga telah melihat wajah orang itu bengis dan menakutkan.

Penjahat yang terluka kakinya, matanya mendelik, terus dia tertawa dingin.

“Bocah, kau ternyata mengerti ilmu silat. Kami ternyata telah terlanjur berbuat salah, kami kurang teliti, sehingga tidak mempergunakan asap pembius……!” berkata penjahat itu. “Hemmm, jika kau berani mengganggu kami seujung rambut saja, tentu kalian tidak akan dapat meninggalkan kota ini besok paginya!”

Itulah ancaman. Dan Giok Hoa bersama Ko Tie menduga bahwa mereka adalah maling-maling yang menginginkan harta mereka.

Namun Ko Tie yang memang lebih cerdas dan juga memiliki pengalaman yang lebih banyak dalam rimba persilatan, akhirnya dapat menduga lain. Ia tadi menyaksikan betapa ke dua orang itu menyergap ke pembaringan dan bermaksud menotok. Tentunya mereka ini adalah penjahat-penjahat pemetik bunga!

“Kalian tentunya jai-hoa-cat busuk yang harus dibikin mampus!” kata Ko Tie bengis, memancing.

“Hemmm, siapa yang suruh kawanmu itu terlalu cantik?!” menyahuti penjahat itu berani sekali. “Dan jika memang kalian berani mengganggu seujung rambut kami saja kalian tentu tidak akan dapat meninggalkan tempat ini……!”

Mengetahui bahwa penjahat ini adalah jai-hoa-cat, bukan kepalang marahnya Giok Hoa. Tubuhnya sampai menggigil menahan amarah yang serasa ingin meledakkan dadanya.

“Manusia hina dina!” makinya kemudian, “Baiklah malam ini aku memberikan kepada kalian kematian utuh, agar selanjutnya kalian tidak perlu lagi meninggalkan bencana buat khalayak ramai!”

Setelah berkata begitu, gadis ini hendak menotok jalan darah kematian di tubuh si penjahat.

“Tahan dulu!” cegah Ko Tie. Ia mendengar bahwa penjahat ini adalah Jai-hoa-cat, penjahat pemetik bunga, berarti tukang pemerkosa gadis dan isteri penduduk, dan inilah penjahat yang paling hina. Ia pun sangat marah sekali, dan ia tahu, memang penjahat seperti ini tidak layak dibiarkan hidup.

Tapi, mereka berada di rumah penginapan. Ia bilang lagi: “Di sini tidak dapat kita sembarangan membunuh orang……!”

Dan Ko Tie telah menghampiri. Pundak penjahat ditepuknya perlahan sambil katanya:

“Sahabat, kau pergilah! Dilain waktu, tidak nantinya engkau akan, mendapat kebaikan seperti sekarang kalau sampai kita bertemu lagi!”

*** ***
Note 22 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hidup itu sederhana, kita yang membuatnya sulit."

(Regards, Admin)

0 Response to "Anak Rajawali Lanjutan (Beruang Salju) Jilid 26"

Post a Comment

close