Anak Rajawali Lanjutan (Beruang Salju) Jilid 29

Mode Malam
 
Anak rajawali Jilid 29

Waktu tengah berjalan untuk pulang ke rumah penginapan, mereka lewat di muka sebuah rumah pelesiran. Rumah yang diterangi oleh teng-to-leng memancarkan sinarnya yang merah itu, dengan suara musik terdengar dari dalam, juga suara tertawa cekikikkan dari para wanita pelesiran di dalam, genit dan centil, membuat muka Giok Hoa jadi berobah merah dan merasa panas sekali.

“Jika kelak engkau sebagai seorang suami, tentunya engkau pun tidak akan berbeda dengan para pria-pria lainnya, sering mengisi waktu senggang dengan mendatangi tempat-tempat pelesiran seperti ini? Bukankah begitu, engko Tie??” kata Giok Hoa sambil melirik.

“Hemmmmm, itu masih belum bisa kupastikan!” menjawab Ko Tie, tertawa.

Muka Giok Hoa semakin merah, tapi sekarang terlihat sikap tidak puasnya.

“Mengapa belum bisa dipastikan? Jika demikian jelas memang kelak engkau pun termasuk seorang laki-laki bedodoran yang tidak punya malu! Tentu suatu saat kelak engkau pun akan datang di rumah-rumah pelesiran ini!”

Ko Tie tertawa, dia bilang: “Adikku yang manis, engkau jangan cepat cemburu seperti itu! Jika memang aku memperoleh seorang isteri yang buruk sekali, yang tidak cantik, yang cerewet dan senang sekali mengomel, mengapa aku tidak mungkin datang ke rumah pelesiran ini buat menghibur diri? Tentu saja aku bisa datang ke rumah-rumah pelesiran ini!

“Tapi jika andaikata aku memperoleh isteri secantik engkau, semanis engkau, mana mungkin aku datang ke tempat-tempat pelesiran, sedangkan isteriku itu seorang yang cantik, seorang yang sangat manis, yang sangat kucintai! Di rumah-rumah pelesiran seperti itu mana ada yang menang dengan kecantikan isteriku?” Dan Ko Tie tertawa, lagi.

Muka Giok Hoa berobah merah.

“Boleh aku tahu siapa calon isterimu yang cantik itu?” tanyanya sambil mengerling.

“Ya, aku sendiri belum tahu. Tapi aku pasti tidak akan datang ke rumah-rumah pelesiran seperti ini. Jika saja aku bisa memperoleh seorang isteri secantik engkau, misalnya!”

Pipi Giok Hoa berobah semakin merah, dia menunduk, namun tangannya meluncur mencubit lengan Ko Tie.

“Kau laki-laki buaya!” kata Giok Hoa. “Cissss siapa yang kesudian menjadi isterimu? Aku seorang gadis bermuka buruk, memiliki adat yang jelek, mana mungkin cocok menjadi isterimu, seperti yang kau idam-idamkan!”

“Justeru aku mengatakannya kalau saja aku bisa memperoleh isteri seperti engkau, betapa bahagianya aku, dan tentu tidak akan pernah datang ke rumah-rumah pelesiran.....” kata Ko Tie setelah menjerit dan menggosok-gosok tangannya yang terasa sakit karena cubitan si gadis.

“Aku buruk dan juga tabiatku jelek. Jika aku menjadi isterimu, tentu aku akan menderita dan juga berduka sepanjang hari!” kata Giok Hoa, suaranya halus, ia juga bilang dengan perlahan sekali, kepalanya tertunduk dalam-dalam.

“Mengapa begitu?!”tanya Ko Tie sambil senyum lebar.

“Karena aku tidak cocok dengan idaman kau!”menyahuti Giok Hoa. “Aku telah mendengarnya, engkau mengharapkan seorang isteri yang cantik, yang manis yang memiliki perangai sangat baik, baru engkau tidak akan datang ke tempat-tempat pelesiran ini.

“Tapi jika aku yang buruk dan bertabiat jelek ini menjadi isterimu, bukankah engkau akan menjadi si pemuda bedodoran, yang setiap malam mendatangi rumah-rumah pelesiran, sedangkan aku hanya sepanjang malam menangis seorang diri……!?”

Ko Tie tertawa, ia tahu-tahu memegang ke dua lengan si gadis, kemudian ia mendekapnya.

“Justeru engkau yang ku idam-idamkan. Engkau cantik seperti seorang bidadari, engkau pun memiliki hati yang lembut dan juga baik sekali. Aku bersedia bersumpah tidak akan pernah menginjakkan kaki walaupun hanya setengah langkah ke tempat-tempat seperti itu, jika saja engkau bersedia kelak menjadi isteriku!”

Bahagia sekali Giok Hoa, ia membiarkan tangan Ko Tie mengusap-usap lembut rambutnya. Malah, tangan kanan Ko Tie tahu-tahu telah memegang dagunya, mengangkatnya, sehingga si gadis menengadah dan Ko Tie menundukkan kepalanya mencium bibir si gadis.

Untuk sementara Giok Hoa merasakan dirinya seperti melayang-layang hangat sekali. Baru pertama kali ini ia dicium oleh lawan sejenisnya. Ia merasakan betapa nikmat dan hangat membahagiakan sekali.

Tapi, mendadak sekali, seperti tersentak, Giok Hoa mempergunakan ke dua tangannya mendorong dada Ko Tie, sampai pemuda itu terhuyung mundur ke belakang.

“Adik Hoa……!?” Ko Tie terkejut.

“Laki-laki buaya tidak tahu malu…… Apakah engkau tidak takut nanti jadi tontonan orang ramai? Ini tokh jalan raya?”

Kata si gadis sambil menjejakkan ke dua kakinya. Tubuhnya melesat meninggalkan tempat itu, dan di waktu itu juga terlihat ia tersenyum malu, tapi bahagia sekali hatinya.

Walaupun ia tadi berkata dengan sikap marah, namun hatinya sesungguhnya bahagia bukan main. Malah ia mengharapkan lagi, di suatu saat kelak, ia bisa dicium seperti itu lagi oleh Ko Tie!

Ko Tie tersenyum, ia mengetahui bahwa Giok Hoa sesungguhnya tidak marah oleh perbuatannya. Ia mengejar sambil memanggil-manggil si gadis.

Akhirnya ia bisa mengejar sampai di sisi si gadis.

“Adik Hoa, kau marah?!” tanya Ko Tie kemudian, dengan suara yang halus.

Giok Hoa memperlahankan larinya, dia mengerling sambil katanya: “Aku takut berteman dengan laki-laki buaya seperti kau!”

“Aku tidak akan melakukan perbuatan itu lagi, adik Hoa. Tentunya engkau tidak marah bukan?” Ko Tie bilang.

“Cissss, jika lain kali engkau melakukannya lagi, aku akan menampar mulutmu itu agar gigimu rontok!” kata si gadis dengan pipi berobah merah.

Tapi Ko Tie melihat, gadis itu memang tidak marah. Sambil tersenyum si pemuda telah berlari terus mengikuti Giok Hoa di sisinya!

Giok Hoa telah berlari terus, kembali ke rumah penginapan. Waktu akan tidur, tampak Ko Tie masih sempat bilang: “Selamat tidur adikku yang manis, semoga engkau bermimpi.”

“Mimpi apa?” bentak Giok Hoa sambil cemberut marah. Padahal hatinya waktu itu senang dan bahagia sekali.

Dan Ko Tie melihat si gadis tengah cemberut seperti itu jadi tertegun. Karena dilihatnya, di bawah cahaya api lilin, yang redup-redup di dalam kamar mereka, waktu cemberut seperti itu Giok Hoa benar-benar cantik menawan hati.

Dan jika ia tidak kuatir nanti si gadis memiliki prasangka yang tidak-tidak dan salah, tentu dia akan menubruk, untuk mencium dan menggigit bibir si gadis yang tengah cemberut itu. Dan Ko Tie cuma menahan liurnya.

“Bermimpi indah tentunya.....” kata Ko Tie pada akhirnya, suaranya serak dan perlahan hampir lenyap tidak terdengar. “Dan akupun memohon kepada Thian, agar diberikan impian yang indah, impian yang memberikan kesempatan kepadaku mencium..... mencium.....”

“Mencium apa?” bentak Giok Hoa, pipinya telah berobah merah.

“Mencium gulingku!”menyahuti Ko Tie akhirnya.

Si gadis tahu, bahwa ia tengah diperolok-olok. Namun ia girang. Walaupun mukanya sengaja semakin cemberut, sedangkan bantalnya telah dilontarkan kepada Ko Tie, sambil makinya seperti marah:

“Cissss, laki-laki-buaya tidak tahu malu..... Jikalau bersikap kurang ajar sekali lagi saja, untuk selamanya aku tidak mau tidur sekamar lagi denganmu..... Biarlah aku akan pindah kamar saja.”

“Ohhhhh, jangan! Tidak! Aku berjanji, aku bersumpah, tidak akan berlaku kurang ajar lagi kepadamu..... aku akan menjadi laki-laki yang alim, jika memang buaya, buaya yang alim dan tenang mengapung di permukaan air……!”

Sambil berkata begitu Ko Tie menyambuti bantal si gadis. Ia tertawa keras! Kemudian dengan sikap yang disengaja seperti tengah memperlihatkan sikap yang menghormat sekali, Ko Tie mengembalikan bantal si gadis.

Pipi Giok Hoa berobah merah, tapi senang sekali hatinya. Ia menyambuti bantal itu, namun tangan kirinya telah meluncur, mencubit lengan Ko Tie, sampat Ko Tie berseru kesakitan.

Di waktu itu, Ko Tie kembali ke pembaringannya, ia telah tertidur dengan bibir tersenyum lebar.

Giok Hoa tidak segera tidur. Pengalamannya hari ini benar-benar luar biasa.

Ia bahagia sekali. Ia malu bukan main. Tapi ia pun mengharapkan bisa mengalaminya satu kali lagi, Ko Tie menciumnya.

Pemuda itu memang dicintainya. Ko Tie seorang pemuda sejati. Ia sangat dihormatinya karena sikapnya yang halus dan tidak pernah berlaku kurang ajar. Dan Giok Hoa memang menyukainya.

Oleh karena itu, iapun telah melirik berulang kali kepada Ko Tie yang telah tidur di pembaringan di seberangnya. Si gadis jadi tersenyum beberapa kali dengan sendirinya.

Dilihatnya Ko Tie tertidur dengan tubuh yang merengket dan juga muka yang berseri-seri, bibirnya tersenyum. Dilihat juga oleh Giok Hoa, betapa kelopak mata Ko Tie yang tertutup rapat itu bergerak-gerak.

Dan si gadis jadi tersenyum sendiri! Tentu Ko Tie pun sama seperti dia, tidak bisa segera tidur pulas, hanya saja pemuda itu sengaja menutup rapat matanya, untuk pura-pura tidur.

Giok Hoa sengaja membalikkan tubuhnya ke arah lain, memunggungi Ko Tie. Dan ia tertidur dengan bibir tersenyum manis sekali......

Iapun memang bermimpi indah sekali, bermimpi bergurau dengan Ko Tie, bercumbu dan berciuman. Sampai gadis itu kaget sendirinya terbangun dari tidurnya. Karena dalam mimpinya justeru ia yang merangsek Ko Tie, ia merangkul kuat-kuat dan geregetan, dia yang melumat bibir pemuda itu.

Tapi waktu tersadar dari tidurnya, keadaan di dalam kamar tetap sunyi, gelap gulita, api penerangan di dalam kamar telah dipadamkan. Dan ketika ia melirik ke pembaringan Ko Tie, dilihatnya pemuda itu tengah tidur nyenyak dengan mendengkur.

Gadis ini jadi tenang hatinya, walaupun pipinya berobah merah panas, hatinya senang karena itu hanya impian belaka, yang tidak mungkin diketahui oleh Ko Tie. Ia pun telah memejamkan matanya lagi buat tidur..... bibirnya tersenyum bahagia.

Begitu fajar menyingsing, Giok Hoa terbangun dari tidurnya. Waktu ia menoleh, dilihatnya Ko Tie masih tertidur nyenyak sekali.

Perlahan-lahan si gadis turun dari pembaringannya. Agar tidak menimbulkan suara, ia keluar dari kamar, memanggil pelayan, buat mempersiapkan santapan pagi. Ia telah salin pakaian dikala ia menantikan tibanya santapan pagi itu.

Setelah pelayan mengantarkan santapan yang dipesannya, Giok Hoa yang mengatur sendiri di atas meja. Ia memesan cukup banyak makanan, dan juga ia telah menyusunnya dengan rapi. Kemudian si gadis duduk di kursi mengawasi Ko Tie yang masih tertidur lelap.

Dipandangi seperti itu, walaupun semula Ko Tie tertidur nyenyak, tiba-tiba ia seperti tersentak, perasaan halusnya telah menyatakan bahwa ada seseorang tengah mengawasinya. Ia terbangun dari tidurnya, dan menoleh kepada si gadis. Justeru dilihatnya Giok Hoa tengah duduk di depan meja, dekat pembaringannya, tengah mengawasi sambil tersenyum manis sekali.

Ko Tie jadi malu. Cepat-cepat ia mengucek-ucek matanya, katanya sambil turun dari pembaringan: “Maafkan adik Hoa, aku tertidur terlampau nyenyak sekali……”

Segera juga Ko Tie pergi ke kamar mandi untuk salin pakaian, barulah kemudian setelah cuci muka ia duduk di depan si gadis.

“Sudah lama kau bangun, adik Hoa?” tanya Ko Tie.

Giok Hoa mengangguk.

“Ya, sudah cukup lama aku menantikan kau bangun,” menyahuti si gadis. “Mimpi apa kau tadi malam?”

Muka Ko Tie jadi berobah merah, tapi ia tertawa.

“Aku memang bermimpi, tapi jika aku memberitahukan kepadamu, tentu engkau akan marah.....” menyahuti Ko Tie.

“Ayoh beritahukan padaku mimpi itu!” desak Giok Hoa ingin mengetahui.

Ko Tie mennggeleng.

“Jangan ahh, nanti engkau marah!”

“Tidak! Kau harus memberitahukannya kepadaku!” desak si gadis.

“Kau mau berjanji tidak marah jika aku menceritakan mimpiku itu?” tanya Ko Tie sambil tetap tersenyum.

Si gadis jadi cemberut.

“Kau mau memberitahukan atau tidak?”

“Jika kau tidak mau berjanji bahwa engkau tidak marah mendengar mimpiku itu, barulah aku menceritakannya!”

“Baiklah!” mengangguk Giok Hoa, “Aku berjanji tidak akan marah. Nah, sekarang kau ceritakanlah mimpimu itu!”

“Aku semalam bermimpi……” berkata sampai di situ Ko Tie berhenti dulu, ia tersenyum.

“Ayo katakan!” desak Giok Hoa tak sabar.

“Aku bermimpi mencium kau adik Hoa!” menjelaskan Ko Tie pada akhirnya.

“Cisssssss! Tidak tahu malu!” berkata Giok Hoa yang mukanya seketika berobah merah.

Ko Tie tertawa.

“Tapi kau berjanji tidak akan marah bukan?” kata Ko Tie kemudian. “Justeru dalam mimpiku itu, engkau tidak marah dicium malah minta lagi……”

Tiba-tiba tangan kanan si gadis meluncur, dia mencubit tangan Ko Tie kuat-kuat.

“Aouwwwww!” menjerit Ko Tie kesakitan tapi tertawa. “Tadi kau berjanji tidak akan marah?!”

“Engkau laki-laki tidak tahu malu!” kata Giok Hoa dengan pipi berobah merah. Ia jadi malu sekali.

Diam-diam dia jadi bingung juga, mengapa si pemuda bisa bermimpi yang sama seperti yang dimimpikannya semalam. Di mana ia yang merangsek si pemuda, yang melumat lahap bibir si pemuda itu.

Karena itu, Giok Hoa jadi malu bukan main. Dia menunduk dalam-dalam, dan masih menggumam: “Selanjutnya aku tidak ingin bicara lagi dengan kau!”

“Ihhhhh, kok begitu?” kata Ko Tie cepat dan agak gugup. “Bukankah engkau telah mendesak agar aku menceritakan mimpiku itu?!”

“Tapi engkau memiliki pikiran yang kotor!” kata Giok Hoa kemudian cemberut.

“Mengapa pikiranku kotor, bukankah mimpi datang tidak bisa ditolak. Jika memang bisa ditolak, tapi jika mimpi bisa mencium engkau, adikku manis, tentu aku seribu kali tidak akan menolaknya!”

Tangan Giok Hoa ingin bergerak mencubit Ko Tie lagi, tapi pemuda itu telah mendoyong tubuhnya ke belakang, bersiap-siap menghindar.

“Adikku yang manis.....!” kata pemuda itu sambil tertawa. “Tentunya engkau..... engkau juga senang sekali jika saja kita bisa berhubungan lebih intim. Aku sangat mencintaimu..... aku sangat mencintaimu.....!”

Pipi Giok Hoa semakin berobah merah.

“Sudah, jangan ngoceh terus!” katanya kemudian. “Aku tidak mau bicara dengan kau!”

Ko Tie tertawa. Mereka bersantap. Tapi, namun akhirnya dia sendiri yang banyak bicara, bercerita perihal pengalamannya yang telah dialaminya beberapa waktu yang lalu, di mana ia mengatakan dia senang sekali bisa mencoba kepandaiannya dengan membasmi penjahat.

Ko Tie juga sudah tidak menyinggung-nyinggung lagi, walaupun Giok Hoa mengancam tidak mau bicara lagi dengan Ko Tie, dan berpikir, soal “Cium-ciuman” itu, karena ia kuatir nanti si gadis akan marah. Karena itu, diapun tidak pernah menyinggung-nyinggung atau menggoda si gadis lagi.

Dia telah bersantap dengan lahap sekali. Demikian juga si gadis yang makan dengan gembira, merekapun bermaksud untuk keluar pesiar ke tempat-tempat yang indah di Bu-ciu.

Dan Ko Tie menyetujuinya karena dengan pesiar ke tempat-tempat yang indah, mereka jelas memiliki waktu yang cukup banyak untuk menjalin kemesraan mereka berdua.

Begitulah, setelah berpakaian rapi, ke duanya keluar meninggalkan rumah penginapan. Di depan rumah penginapan Ko Tie bertanya kepada seorang pelayan, tempat mana yang indah di Bu-ciu ini.

Pelayan itu mengawasi ke dua tamunya ini. Ia kagum melihat tampannya Ko Tie dan Giok Hoa yang masih tetap menyamar sebagai seorang pemuda. Sampai akhirnya pelayan itu bilang:

“Jika memang tuan berdua ingin mencari tempat yang indah, kebetulan sekali hari ini Ang-kie-pay (Perkumpulan Bendera Merah) tengah mengadakan pesta di telaga Bie-ouw, duapuluh lie dari Bu-ciu..... Hari ini di sana berkumpul kurang lebih ratusan orang-orang rimba persilatan yang memiliki kepandaian tinggi.

“Mereka akan bertanding bermacam cara untuk memeriahkan pesta itu. Di sana ada juga musik-musik yang akan diperdengarkan oleh para pemain musik terkenal di Bu-ciu!

“Cuma nasibku dasar sial. Aku sebagai pelayan rumah penginapan ini, aku tidak ijinkan oleh majikanku buat pergi menyaksikan keramaian, karena majikanku kuatir banyak tamu yang perlu dilayani! Hai! Hai! Jika saja memang aku bisa menyaksikan keramaian itu…….”

Ko Tie tidak menanti sampai ocehan dari pelayan itu habis, ia telah menarik tangan Giok Hoa, diajaknya pergi.

“Ang-kie-pay mengadakan pesta, tentu memang meriah! Perkumpulan apakah Ang-kie-pay itu? Tentunya merupakan lintah darat dan buaya-buaya darat di kota ini….. Para jagoan kota!

“Hemmm, tampaknya, Ang-kie-pay merupakan perkumpulan yang tidak kecil. Karena menurut pelayan itu, yang akan berkumpul di tempat pesta mereka itu, jumlahnya lebih dari ratusan orang-orang rimba persilatan, yang semuanya berasal dari kalangan Kang-ouw.

“Tentunya memang di sana akan ramai. Karena dari itu, ada baiknya kita pergi ke sana untuk menyaksikan keramaian.……!”

Giok Hoa setuju.

“Ya, memang kita perlu keramaian!” katanya kemudian mengangguk beberapa kali.

“Adikku, cuma saja, ada sesuatu yang membuat aku menyesal jika kita pergi ke sana……!” kata Ko Tie bersungguh-sungguh.

Giok Hoa kaget.

“Kenapa?” tanyanya heran.

“Karena di sana sangat ramai sekali, tentu aku tidak memiliki kesempatan walaupun satu detik buat menciummu!” menggoda Ko Tie,

Muka si gadis berubah merah, dia malu sekali. Dia juga berkata galak sambil mengayunkan tangannya: “Akan kutampar mulutmu, engko Ko Tie.”

Tapi Ko Tie memang tahu penyakit, dia telah berlari sambil tertawa. Si gadis mengejarnya.

Namun akhirnya Ko Tie membiarkan pundaknya dipukul oleh Giok Hoa. Tentu saja bukan pukulan yang keras, hanya pukulan yang lunak. Ko Tie sengaja mengaduh-aduh.

“Kalau mulutmu kurang ajar lagi, aku akan memukul sampai kau berlutut minta ampun!” mengancam si gadis dengan muka yang berubah merah.

Ko Tie merangkapkan ke dua tangannya, sambil menahan senyum, ia bilang: “Siauw-jin akan mematuhi perintah Toa-ya.”

Mau atau tidak Giok Hoa tertawa juga. Dan mereka melanjutkan perjalanan pula dengan hati yang bahagia.

Sepanjang perjalanan, memang mereka seringkali bertemu dengan orang-orang yang berpakaian sebagai orang Kang-ouw, dengan berbagai senjata tajam terlihat berada di punggung dan di pinggang mereka.

Semua orang Kang-ouw yang bertemu dengan mereka, tidak memperhatikan mereka. Karena mereka berdua adalah pemuda-pemuda tampan, yang tidak mirip-miripnya sebagai seorang rimba persilatan.

Tampaknya sebagai kutubuku-kutubuku belaka. Dan jika ada yang tertarik juga memperhatikan mereka, karena ke dua pemuda itu sangat tampan sekali.

Waktu itu mereka telah tiba di dekat telaga, di mana mereka semakin banyak bertemu dengan orang rimba persilatan. Bermacam-macam orang rimba persilatan itu.

Ada yang tua, ada yang muda, ada yang kejam dan bengis, tapi ada juga yang mukanya memancarkan sikap penyabar. Tapi yang terbanyak umumnya mereka merupakan orang-orang dengan tampang menyeramkan.

Ko Tie dan Giok Hoa segera dapat menduga, bahwa Ang-kie-pay tentunya merupakan perkumpulan dari aliran hitam. Melihat tamu-tamunya yang sebagian terbesar terdiri dari orang-orang Kang-ouw aliran hitam, tentunya Ang-kie-pay memang merupakan perkumpulan yang tidak baik.

Karena itu, sambil menoleh kepada Giok Hoa, Ko Tie berbisik, “Jika memang perlu, kita turun tangan. Karena tampaknya Ang-kie-pay bukan perkumpulan manusia-manusia baik!”

Giok Hoa mengangguk mengiyakan.

Di waktu itu, orang Kang-ouw yang berkumpul di tepi telaga tersebut, ramai sekali. Mereka tengah bercakap-cakap dengan gembira dan berisik sekali.

Di tepi telaga Bie-ouw telah ramai bukan main, di sebelah barat telaga itu dibangun sebuah panggung yang cukup tinggi dan mewah. Sedangkan di pinggir kiri kanannya terdapat tetarap yang dibangun untuk menampung para tamu yang berdatangan.

Ko Tie dan Giok Hoa mengambil tempat di belakang di sebelah kanan dari panggung. Mereka duduk dengan tenang sambil memperhatikan keadaan di sekitar tempat itu, mengawasi semua orang yang berkumpul di situ.

Banyak orang-orang yang bekerja sebagai pelayan Ang-kie-pay, melayani tamu-tamu. Mereka sibuk menyediakan minuman dan makanan.

Waktu itu, di tengah telaga, terdapat sebuah kapal yang cukup besar dan angker sekali dengan segala hiasan.

Rupanya, pemimpin-pemimpin Ang-kie-pay berada di dalam kapal itu. Maka Ko Tie dan Giok Hoa memperhatikannya ke arah kapal itu, yang rupanya di dalam kapal tersebut terdapat tidak sedikit orang-orang lihay.

Apa yang diduga oleh Ko Tie dan Giok Hoa memang tidak meleset, sebab waktu itu tampak sesosok tubuh telah melayang keluar dari kapal, dan telah menuju ke panggung. Gin-kang yang diperlihatkannya memang mahir dan tinggi.

Ko Tie yang melihat gerakan orang itu, hanya tersenyum saja. Giok Hoa bilang dengan suara tawar: “Hemmm, mereka mulai menjual lagak!”

“Ya!” Ko Tie mengangguk.

Orang yang hinggap di atas punggung itu, ternyata seorang lelaki tua berusia kurang lebih enampuluh tahun, dengan kumis dan jenggot yang telah memutih dan kulit muka yang keriputan. Matanya yang sipit itu memancarkan sinar yang sangat tajam, seakan juga ingin menembusi semua orang yang berkumpul di situ karena sebelum berbicara, ia telah menyapu memandang semua orang yang berada di situ, barulah kemudian dia telah merangkapkan sepasang tangannya, dia menjurah sambil katanya dengan suara yang parau keras:

“Saudara-saudara sekalian, juga para Ho-han yang berkumpul di sini, yang telah meringankan kaki hadir dalam pesta yang kami adakan! Atas nama Pang-cu, aku menyampaikan syukur dan terima kasih kami……!”

Setelah berkata begita orang tua tersebut menjurah tiga kali. Ia mengawasi sekelilingnya, di mana semua orang yang hadir, di sebelah kanan maupun sebelah kiri panggung itu bertepuk tangan ramai sekali.

Setelah keadaan meredah kembali, barulah orang tua itu meneruskan perkataannya:

“Sebenarnya, maksud kami menyelenggarakan pesta ini, hanyalah untuk memperingati perkumpulan kami telah berusia lima tahun! Berkat dari kesetiaan kawan-kawan Kang-ouw, kami dapat hidup terus dengan subur dan juga dapat menancapkan kaki di dalam kalangan Kang-ouw.

“Karena itu, tidak lupa, untuk menyatakan terima kasih kami dengan menyelenggarakan pesta ini! Dan juga di samping untuk ucapan terima kasih, Pang-cu kami memiliki maksud satu lagi, yaitu ingin memperkenalkan diri kepada kawan-kawan Kang-ouw di Bu-ciu ini tentang perkumpulan kami, yaitu Ang-kie-pay!”

Setelah berkata begitu, orang tua itu mementangkan ke dua tangannya, disambut oleh tepuk tangan yang riuh dan ramai.

Sedangkan Ko Tie dan Giok Hoa segera dapat menduga, tentunya Ang-kie-pay, memang bermaksud hendak mementangkan sayap dan kekuasaannya di Bu-ciu ini, di mana mereka hendak mengunjukkan gigi dan juga bermaksud hendak menanamkan kekuasaannya di Bu-ciu.

Dengan demikian, sengaja mereka membangun panggung. Jelas Ang-kie-pay akan memajukan orang-orangnya, untuk dapat memperlihatkan betapa anggota Ang-kie-pay memang semuanya memiliki kepandaian yang lihay dan juga akan dapat merubuhkan dan menghadapi jago Bu-ciu yang mana saja!

Itulah suatu maksud untuk kepentingan kekuasaan dari orang-orang Ang-kie-pay belaka maka telah membuat Ko Tie dan Giok Hoa semakin memiliki kesan tidak baik pada perkumpulan tersebut.

Sedangkan orang tua itu setelah mementangkan ke dua tangannya, dan tepuk tangan maupun pujian meredah, mereka semua telah berdiam diri, barulah ia berkata dengan suara yang lebih nyaring lagi:

“Untuk menambah meriah pesta kami ini, karena itu kami akan menampilkan dua orang anggota muda kami, untuk dapat main-main di panggung, guna memperlihatkan kejelekan mereka…… Harap para tamu tidak menertawainya……!”

Menyelesaikan perkataannya itu, tampak orang tua ini telah menepuk ke dua tangannya, di mana dia telah menepuknya sebanyak tiga kali, dan suaranya juga sangat nyaring sekali.

Segera tampak dari kapal itu melesat dua sosok tubuh. Sama halnya seperti yang dilakukan oleh orang tua itu, ke dua sosok tubuh itu juga berjumpalitan di tengah udara.

Dan mereka melompat enam kali untuk dapat tiba di lantai panggung tersebut. Ke dua orang itu adalah dua orang pemuda berusia duapuluh tahun lebih, ke duanya memakai baju warna merah yang singsat, dengan pedang tergemblok di tubuh masing-masing.

Mereka memberi hormat kepada orang tua itu, lalu memutar tubuh memberi hormat kepada para tamu.

“Harap cianpwe dan juga tuan-tuan tidak mentertawai keburukan kami.....!” kata mereka hampir berbareng. “Sekarang kami hendak meramaikan pesta pangcu Ang-kie-pay, agar para Cianpwe dan tuan-tuan tidak menjadi kesepian karenanya.....!”

Setelah berkata begitu, dengan gesit ke dua pemuda itu memisahkan diri. mereka telah berdiri berhadapan dan juga tangan mereka dengan sebat telah mancabut pedang masing-masing, yang berkilauan terkena sinar matahari pagi.

Segera juga di sekitar tempat itu ramai oleh tepuk tangan dan suara memuji, karena orang-orang kagum dengan gerakan dan kesebatan tangan ke dua pemuda itu.

Semangat ke dua pemuda tersebut terbangun dan mereka segera juga melompat dengan gesit dimana mereka telah menyerang satu dengan yang lainnya.

Gerakan yang dilakukannya sebenarnya hanya merupakan kembang ilmu pedang belaka, karena biarpun tampaknya mereka gesit dan menyerang dengan hebat, namun tidak mungkin akan dapat mencelakai lawan masing-masing.

Ko Tie yang menyaksikan cara bertanding ke dua pemuda itu, jadi tidak tertarik. Demikian juga Giok Hoa. Karena ke dua pemuda itu memang benar-benar hanya memperlihatkan permainan yang tidak berarti, cuma hendak meramaikan pesta tersebut.

Setelah lewat duapuluh jurus, ke dua pemuda itu melompat mundur memisahkan diri.

Orang tua enampuluhan tahun yang tadi telah maju pula ke depan, ia merangkapkan ke dua tangannya, kemudian katanya:

“Siapakah di antara tuan-tuan yang hendak memanaskan darah untuk main-main dengan gembira di atas panggung? Mereka merupakan anggota muda kami yang memiliki kepandaian belum berarti, karena itu, mereka telah memperlihatkan permainan ilmu yang kurang baik!”

Setelah berkata begitu, dengan sikap mempersilakan, tampak tangan orang tua itu telah diacungkan. Dia mempersilakan jika di antara tamu-tamu itu ada yang bersedia uutuk maju ke atas panggung, untuk pibu.

Tiba-tiba Ko Tie dan Giok Hoa melihat, seorang pemuda berusia hampir tigapuluh tahun telah melompat naik ke atas panggung. Gerakan tubuhnya begitu ringan waktu ke dua kakinya hinggap di atas panggung. Sama sekali tidak mengeluarkan suara dan juga mereka melihat bahwa mata pemuda itu memiliki sinar tajam.

Di kala itu terlihat pemuda itu merangkapkan ke dua tangannya memberi hormat, sambil katanya,

“Maaf, boanpwe Tie Koay Cie ingin sekali main-main untuk menambah kegembiraan. Dan siapakah di antara tuan-tuan yang bersedia menemani?!”

Terdengar suara tertawa tawar, disusul dengan melesatnya sesosok bayangan ke atas panggung.

“Aku yang rendah Wu Cie Lin ingin sekali main-main untuk menambah pengalaman!”

Dan orang itu ternyata seorang pemuda berusia duapuluh lima tahun, memakai baju di sebelah atas berwarna putih, sedangkan celananya warna coklat. Ia membawa sepasang pedang di punggungnya.

Demikianlah, ke dua pemuda itu setelah basa-basi, segera mulai bergerak.

Semua orang menyaksikan pertempuran kali ini lebih tertarik, karena ke dua pemuda yang tengah mengukur ilmu tersebut merupakan orang-orang yang jauh lebih lihay dibandingkan dengan ke dua orang anggota muda dari Ang-kie-pay.

Ko Tie dari Giok Hoa yang tengah menyaksikan pertempuran itu, tiba-tiba mendengar orang di samping mereka berkata perlahan kepada kawannya: “Kita sudah boleh mulai bertindak!?”

“Tunggu dulu, sabar, kita tidak boleh ceroboh! Sekarang mereka berkumpul semuanya, yang terdiri dari orang-orang yang kepandaiannya tidak rendah! Jika kita meleset dalam perhitungan, niscaya kita yang celaka……!”

Ko Tie melirik. Dia melihat orang yang tengah bercakap-cakap itu adalah dua orang laki-laki setengah baya, yang masing-masing memiliki wajah yang kejam dan bengis. Mata mereka tengah memandang tajam sekali ke panggung.

Pakaian orang yang satunya, yang berada di samping Ko Tie berwarna hijau, sedangkan yang seorang lagi berwarna kuning. Di saat itu yang berpakaian hijau telah berkata perlahan sekali:

“Walaupun bagaimana usaha kita kali ini harus berhasil. Jika gagal berarti untuk selanjutnya tidak ada kesempatan buat kita menancapkan kaki di Bu-ciu……!”

Yang memakai baju warna kuning cuma mengangguk.

Ko Tie jadi tertarik. Entah apa yang hendak dilakukan ke dua orang ini.

Tapi melihat cara berkata-kata mereka, tampaknya mereka memang bukan hendak melakukan sesuatu yang baik. Karenanya diam-diam Ko Tie jadi memperhatikan gerak gerik mereka.

Ko Tie dan Giok Hoa memakai baju warna abu-abu sebagai anak sekolahan. Karena itu, orang yang memakai haju hijau dan kawannya yang memakai baju kuning, sama sekali tidak mencurigai Ko Tie maupun Giok Hoa. Mereka bicara walaupun bisik-bisik, tampaknya mereka leluasa sekali dan sangat berani.

Ko Tie masih memperhatikan beberapa saat, akhirnya ia mendengar yang memakai baju warna hijau itu telah berkata perlahan kepada kawannya: “Mari kita mulai……!”

Kawannya cuma mendengus saja, dan ikut bangun berdiri. Mereka meninggalkan tempat duduk mereka, untuk menyelusup ke tempat lain.

Ko Tie pesan kepada Giok Hoa, agar kawannya tetap berdiam di situ, sedangkan dia sendiri telah mengikuti ke dua orang itu.

Giok Hoa mengangguk sambil tersenyum.

Ternyata ke dua orang yang diikuti oleh Ko Tie menuju ke tepi telaga sebelah utara di mana keadaan di situ sepi, tidak terdapat seorang manusiapun juga. Orang-orang Ang-kie-pay pun justeru berkumpul di sekitar panggung.

Ko Tie menjejakkan ke dua kakinya, tubuhnya melesat ke atas sebatang pohon. Dia menyembunyikan diri di situ, mengawasi gerak-gerik ke dua orang tersebut.

Orang yang memakai baju hijau telah mendekatkan tangannya pada bibirnya, maka terdengarlah suara siulan yang nyaring dan disusul kemudian dari tempat yang rimbun, melesat keluar beberapa orang. Gerakan mereka sangat gesit sekali, dan telah sampai pada ke dua orang itu, yang segera berkata:

“Kita akan gembira bekerja…… waktunya telah tiba.....!”

“Ya Tong-cu……!” menyahuti orang-orang yang baru keluar, yang semuanya mengenakan baju singsat dan usia mereka rata-rata pertengahan umur.

Ko Tie semakin heran, entah apa yang hendak dilakukan mereka, karena mereka seperti juga telah merencanakan untuk melakukan sesuatu yang diperhitungkan benar.

Waktu itu orang yang memakai baju warna hijau telah berkata dengan sikap sungguh-sungguh,

“Jika sekali ini kita gagal, maka habislah kita…… karena Ang-kie-pay memang bermaksud menelan perkumpulan kita. Karena itu, kalian harus bekerja sebaik-baiknya!”

“Ya…… kami mengerti!” menyahuti beberapa orang itu.

“Nah, pergilah kalian melaksanakan perintah!” kata orang yang memakai baju warna kuning.

Orang-orang yang berjumlah delapan orang itu telah berlari ke tepi telaga, lalu mereka menyelam ke dalam air, lenyap tidak terlihat lagi. Hanya terlihat air yang bergerak perlahan. Rupanya mereka berdelapan telah menyelam sambil berenang menghampiri kapal besar itu.

Orang yang memakai baju hijau dan kuning memperdengarkan tertawa dingin mereka. Keduanya segera pergi ke balik sebatang pohon untuk menempatkan diri mereka di situ.

Baru saja Ko Tie hendak berlalu, pergi ke atas kapal besar itu, guna melihat, siapakah sebenarnya orang-orang yang berkumpul di dalam kapal itu, mendadak sekali terdengar suara orang tertawa dingin.

“Hemmm, kami tidak pernah menyangka sama sekali bahwa Houw-sim-pay (Perkumpulan Hati Harimau) ternyata hanya terdiri dari manusia-manusia rendah dan tidak tahu malu!”

Ko Tie melirik ke arah datangnya suara itu. Tampak seorang Tojin tua berusia hampir tujuhpuluh tahun, melangkah keluar dengan langkah yang ringan. Mukanya lancip seperti muka burung. Matanya bersinar sangat tajam sekali.

Di waktu itu orang yang memakai baju hijau dan kuning kaget bukan main. Namun mereka cepat bisa menguasai diri, karena mereka telah melompat berdiri dan menghadapi si Tojin.

“Ohhhhh, tidak tahunya Oey Tojin!” kata yang memakai baju hijau. “Tidak kami sangka bahwa Oey Tojin yang memiliki nama sangat terkenal di dalam rimba persilatan, tidak hanya seorang manusia rendah tukang mengintip dan mencuri dengar percakapan orang lain……”

Muka Tojin itu berobah bengis. Memang mukanya sudah bengis, sekarang dia dalam keadaan gusar, maka dia tampaknya jadi lebih bengis, sedangkan matanya juga memancarkan sinar yang sangat tajam.

“Jangan bicara sembarangan ngaco balau!” bentak Tojin itu dengan suara mengandung kemarahan. “Siapa yang mencuri dengar percakapan kalian? Hemmm, memang beruntung pinto mengetahui kalian memiliki maksud buruk, maka pinto telah menguntit kalian.

“Benar saja kecurigaan kami itu memperoleh kenyataan, bahwa kalian merupakan manusia-manusia rendah! Apa maksud kalian untuk menghancurkan kami?

“Hemm, beruntung saja kami telah menduga sebelumnya. Kami telah mengadakan persiapan! Nah, sekarang coba kalian berpaling. Lihatlah! Apa yang terjadi itu.....!”

Sambil berkata begitu, Tojin tersebut memperdengarkan suara tertawanya, tertawa mangejek.

Sedangkan orang berbaju hijau dan kuning itu telah mendatangi ke tengah telaga. Benar saja air telaga telah berubah menjadi merah, disusul dengan mengambangnya beberapa sosok tubuh.

Tidak lain yang mengambang sosok mayat di tengah-tengah telaga itu adalah kawan-kawan mereka. Saling susul satu demi satu telah mengambang, akhirnya jumlahnya genap delapan orang, yang telah mati…… mengambang menjadi mayat!”

“Hemmm!” Tojin itu mendengus mengejek, waktu melihat muka orang berbaju hijau dan kuning itu memandang tertegun dengan wajah yang berobah memucat. “Sekarang kalian telah menyaksikan, betapapun juga Ang-kie-pay bukanlah sebangsa perkumpulan yang mudah untuk dipermainkannya.....!”

Dan Tojin tersebut segera memperdengarkan suara tertawanya yang sangat nyaring sekali. Suara tertawanya itu seperti juga menggema di sekitar tempat tersebut.

Sedangkan dari dalam telaga telah bermunculan beberapa orang yang berpakaian serba merah. Mereka berjumlah lima orang.

Di tangan masing-masing tergenggam pedang, yang waktu itu berkilauan, karena darah di pedang itu telah tercuci oleh air telaga. Dan pedang-pedang itulah yang telah menghabisi jiwa dari delapan orang anak buah orang yang memakai baju hijau dan kuning itu.

“Oey Tojin, betapa rendahnya kalian!” bentak orang yang memakai baju hijau dengan sengit sekali. “Engkau telah memasang jaring buat kami!”

“Menghadapi manusia-manusia rendah seperti kalian, mengapa harus sungkan?!” menyahuti Tojin itu dengan suara yang tawar. “Hemm, bukankah kalian justeru bermaksud buruk terhadap kami? Jika kami tidak mengadakan penjagaan yang ketat, niscaya kalian dapat melaksanakan maksud buruk kalian……!”

Setelah berkata begitu, Tojin tersebut telah tertawa bergelak-gelak.

Orang yang memakai baju hijau dan kuning tidak bisa menahan kemarahan mereka lagi. Seperti juga mereka berdua telah berjanji, dengan gesit sekali dan sangat cepat, ke duanya telah menjejakkan kaki mereka masing-masing dan tubuh mereka telah melesat ke depan Tojin itu.

Tangan mereka buat menghantam. Kuat sekali tenaga pukulan mereka, yang datang dari sebelah samping kanan dan kiri Tojin itu, karena orang yang memakai baju hijau dan kuning itu telah memperhitungkan serangan mereka tersebut, di mana memang mereka bermaksud buat menyerang serentak, agar Tojin itu tidak memiliki kesempatan lagi buat mengelakkan diri dari serangan mereka.

Tapi Tojin itu memang tabah dan lihay. Ia tidak gentar menghadapi pukulan ke dua orang lawannya tersebut, karena dengan segera ia telah mengeluarkan tertawanya yang panjang, tahu-tahu ke dua tangannya diputar.

Akibat tangannya yang diputar cepat seperti itu, menimbulkan angin yang berkesiuran dan juga telah membuat pukulan ke dua lawannya terbendung. Dan dikala orang yang memakai baju hijau dan juga yang memakai baju kuning, tengah terkejut. Mereka hendak menarik pulang tenaga mereka ketika melihat serangan mereka gagal.

Di waktu itulah dengan cepat sekali terlihat betapa Oey Tojin telah menghantam dengan kedua tangannya lagi, maka seketika terlihat tubuh orang yang berbaju hijau dan kuning itu terpental, sebab mereka tidak bisa menangkis. Juga datangnya pukulan itu sangat cepat, di samping ilmu pukulan Tojin tersebut memang merupakan ilmu pukulan yang lihay.

Ko Tie yang tengah mengintai, diam-diam, terkejut.

“Telengas sekali tangan Tojin itu!” pikir Ko Tie yang segera dapat mengenali ilmu pukulan Tojin tersebut adalah ilmu pukulan yang dinamakan “Menghancurkan Jantung Memutuskan Otot” semacam ilmu pukulan sesat yang sangat ganas sekali.

Sedangkan orang yang memakai baju hijau dan kuning, terpental cukup jauh. Dan mereka berusaha untuk berdiri. Memang berhasil mereka berdiri kembali, namun dari mulut mereka segera memuntahkan darah segar……!

Melihat muka orang yang memakai baju hijau dan kuning itu pucat pias, tampak Oey Tojin tertawa bergelak-gelak.

“Hemmm, seperti delapan orang kawan kalian, maka kalian berdua juga tidak dapat meloloskan diri dari tangan kami, Ang-kie-pay!”

Mengetahui bahwa Tojin ini sebagai anggota dari Ang-kie-pay memiliki tangan yang begitu telengas, dan hati yang sangat kejam, seketika Ko Tie memperoleh kesan yang pasti, bahwa Ang-kie-pay pasti sebuah perkumpulan yang kejam dan jahat, yang termasuk dalam golongan hitam!

Di waktu itu, Oey Tojin telah melangkah setindak demi setindak menghampiri ke dua orang lawannya. Orang yang memakai baju hijau dan baju kuning jadi panik juga.

Mereka gentar setelah mengetahui bahwa Tojin itu sangat lihay, dan juga mereka memang bukan jadi tandingannya. Apa lagi dikala itu mereka telah terluka di dalam yang tidak ringan.

Melihat Oey Tojin menghampiri mereka, ke dua orang ini, yang memakai baju hijau dan kuning mundur setindak demi setindak ke belakang. Dan mereka bermaksud untuk meloloskan diri saja.

Hanya, ke lima orang pemuda yang memakai baju berwana merah, telah menghampiri dan mengurung mereka, berusaha buat mencegah mereka melarikan diri. Pedang mereka telah melintang, siap dipergunakan sembarang waktu yang diperlukan.

Orang yang memakai baju warna hijau dan kuning itu menyadari, bahwa mereka sulit ingin meloloskan diri, maka yang memakai baju hijau segera jadi nekad, katanya dengan suara yang bengis:

“Hemmm, Oey Tojin, jika memang engkau memiliki kepandaian yang tinggi, bunuhlah kami! Memang kami tidak berdaya kali ini terhadapmu, tapi kau jangan gembira dulu!

“Kami tidak takut buat mati, tapi kematian kami tidak akan sudah sampai di sini saja. Pangcu kami tentu akan mengadakan pembalasan yang jauh lebih hebat lagi kepada kalian.”

Waktu berkata begitu, muka si baju hijau yang memang telah pucat itu, tampak bengis mengandung kekecewaan, putus asa dan nekad.

Sedangkan yang berpakaian warna kuning, juga jadi nekad. Namun ia tidak banyak bicara, karena tahu-tahu tubuhnya telah melesat menerjang kepada Oey Tojin.

Dia menerjang sambil mengulurkan ke dua tangannya, karena ia bermaksud hendak mencengkeram batok kepala imam itu.

Belum lagi kakinya terpisah jauh dari tanah, orang yang memakai baju kuning itu telah menjerit, jerit kematian. Dia kemudian rubuh di tanah, karena dia telah ditabas oleh pedang salah seorang anak buah Ang-kie-pay.

Waktu melihat orang memakai baju kuning hendak maju, dengan segera pedangnya itu bergerak menabas punggung orang berbaju kuning. Dia rubuh di tanah, dan hanya menggeliat satu kali, kemudian diam tidak herkutik lagi, karena memang napasnya telah putus.

Sedangkan kawannya yang memakai baju warna hijau, jadi berdiri menjublek.

Dia menyadari, kalau saja memang hendak melakukan pembalasan, berarti diapun akan menemui ajal seperti kawannya. Karena memang di waktu itu diapun tengah terluka parah dan tidak berdaya.

Dengan muka yang pucat pias, dikala si imam telah tertawa bergelak-gelak, orang yang memakai baju hijau itu bilang:

“Bunuhlah aku..... jangan harap kalian bisa menghina kami! Aku tidak akan gentar menghadapi kematian!” Oey Tojin tertawa mengejek.

“Kau ingin mampus? Justeru aku tidak bermaksud kau mati cepat-cepat. Aku menginginkan engkau berangkat ke akherat tidak terburu-buru, perlahan-lahan. Itulah kematian yang paling menyenangkan!

“Hemm, sekarang engkau harus menjelaskan dulu, apa maksudmu datang untuk mengacaukan pesta yang diselenggarakan Ang-kie-pay?!” Waktu bertanya seperti itu, muka Oey Tojin bengis bukan main, matanya mendelik memancarkan sinar yang tajam.

Sebetulnya, Ko Tie melihat orang yang memakai baju kuning telah dibunuh mati, hendak turun tangan, guna melindungi orang yang memakai baju hijau. Namun, ia jadi tertarik mendengar Oey Tojin itu menanyakan apa maksud dari orang berbaju hijau itu mengacau di situ.

Segera juga Ko Tie tersadar, walaupun bagaimana memang dia belum lagi mengetahui, urusan apa yang sesungguhnya terjadi antara Ang-kie-pay dengan perkumpulan dari orang berbaju hijau itu. Maka dari itu, Ko Tie batal melompat keluar dari tempat persembunyiannya. Dia berdiam diri saja, ingin menantikan jawaban dari orang berbaju hijau tersebut.

Sedangkan orang berbaju hijau itu tertawa dingin,

“Jika ingin bunuh, bunuhlah! Mengapa harus banyak bicara lagi? Tidak sepatah katapun juga aku akan memberikan keterangan kepada kalian!”

Melihat ketegasan sikap dari orang berbaju hijau itu, Oey Tojin mengangguk-angguk dengan wajah yang bengis. Dia melangkah dua tindak menghampiri.

“Baiklah, rupanya engkau memang mencari mampus!”

Sambil berkata begitu, tangan kirinya bergerak. Tangan kanannya membarengi menyambar. Itulah merupakan pukulan mengandung maut, telengas sekali.

Tapi, waktu orang berpakaian serba hijau itu putus asa dan memejamkan matanya, tahu-tahu berkelebat sesosok bayangan, yang menyampok dengan tangan kanannya buat menangkis pukulan yang dilakukan Oey Tojin.

Tubuh Oey Tojin terhuyung sampai tiga tindak. Karena terlalu kaget, dia sampai menjerit.

Sedangkan orang berpakaian baju hijau segera membuka matanya. Dia jadi heran. Penolongnya adalah pemuda pelajar yang saat itu duduk di sebelahnya, yang sebelumnya dipandang ringan dan tidak sebelah mata olehnya.

Siapa tahu, pemuda pelajar yang semula diduganya lemah itu, kini telah memperlihatkan bahwa ia memiliki kepandaian yang tinggi sekali, juga dia telah menolongnya.

Belum lagi orang berbaju hijau tersebut mengucapkan terima kasihnya, waktu itu, dengan sebat Tojin tersebut telah menghantam lagi kepada Ko Tie.

Rupanya Oey Tojin penasaran sekali. Dia kaget waktu serangannya ditangkis dan telah membuat tubuhnya sampai terpental seperti itu. Segera juga dia mengawasi orang yang telah menangkis serangannya tersebut.

Dan dia tambah heran, karena itulah seorang pemuda remaja yang mungkin usianya baru duapuluh tahun lebih, dan ternyata memiliki kepandaian yang sangat tinggi. Maka segera juga tampak Oey Tojin telah melesat dengan lincah dia menghantam kepada Ko Tie.

Pukulan yang dilakukannya jauh lebih hebat dibandingkan dengan pukulannya yang tadi. Angin pukulan itu juga berkesiuran menderu-deru.

Ko Tie tertawa dingin, dia bilang: “Hemm, engkau mencari mampus……!” Dan sambil berkata begitu, segera juga ia menangkis. Kali ini ia menangkis dengan mempergunakan Pukulan Inti Esnya.

Karena itu, begitu tangannya saling bentur dengan tangan Oey Tojin, seketika imam itu terhuyung mundur empat langkah ke belakang, dan mukanya pucat. Tubuhnya menggigil keras, karena ia merasakan tubuhnya seperti juga direndam di dalam kolam es!

Ke lima orang anak buahnya yang menyaksikan keadaan Oey Tojin seperti itu, segera juga membentak bengis. Mereka menggerakkan pedang masing-masing.

Lima batang pedang telah menyambar berseliweran, mengancam bagian-bagian yang mematikan di tubuh Ko Tie.

Tapi Ko Tie memang sangat lihay. Dia mana memandang sebelah mata terhadap penyerangan dari ke lima orang itu.

Sambil tertawa dingin, dia telah melesat ke sana ke mari, tahu-tahu ke lima batang pedang itu telah pindah tangan.

Tapi ke lima orang anggota Ang-kie-pay itu benar-benar manusia kepala batu.

Setelah mereka tertegun sejenak, dan tersadar, mereka cepat sekali melompat sambil mengayunkan ke dua tangan masing-masing, yang menyerang dengan sekuat tenaga mereka. Dengan demikian, mereka bermaksud untuk merubuhkan pemuda yang tidak mereka kenal ini.

Ko Tie jadi mendongkol melihat kepala batu ke lima anggota Ang-kie-pay, terlebih lagi ia menyaksikan sendiri, betapa semua anggota Ang-kie-pay memiliki tangan telengas.

Cepat luar biasa dia melontarkan ke lima batang pedang rampasannya. Ke lima batang pedang itu meluncur dengan mengeluarkan suara mendengung, karena kuatnya timpukan Ko Tie dan ke lima pedang itu menancap serentak di batang pohon, melesak dalam sekali.

Membarengi dengan itu, tubuh Ko Tie juga berkelebat-kelebat menangkis pukulan ke lima orang anggota Ang-kie-pay tersebut. Tangan mereka saling bentur, disusul dengan terdengarnya suara hancur dan patahnya tulang tangan ke lima orang itu, yang menjerit kesakitan dan telah melompat mundur dengan muka yang pucat dan tubuh menggigil keras.

Masing-masing ke dua tangan mereka telah hancur dan lunglai tidak bertenaga serta sudah tidak dapat dipergunakan lagi!

Ko Tie tertawa dingin.

“Hemmm, manusia bertangan telengas dan berhati kejam seperti kalian tidak perlu diampuni……!” dingin sekali suaranya

Waktu itu Oey Tojin tengah berusaha menahan hawa dingin yang menyerang dirinya, dan tangan kanannya dipakai bersiul nyaring dengan ditempelkan pada bibirnya. Suara siulan itu bergema di sekitar tempat itu.

Ko Tie tertawa, katanya: “Hemm, engkau memang hendak memanggil kawanmu, bala bantuanmu?”

Dan dia telah berkata begitu sambil tubuhnya dengan cepat sekali bergerak, di mana tangannya melayang menghantam lagi. Maka seketika tubuh dari orang tua itu, imam yang lanjut usia tersebut, seperti juga daun kering yang tidak berbobot lagi, terpental dan ambruk di tanah, dengan tubuh yang menggigil keras.

Tubuhnya juga telah dibungkus oleh selapisan salju yang tipis sekali, di waktu mana dia menggigil keras dengan gigi yang bercatrukan satu dengan yang lainnya. Akhirnya karena menahan hawa dingin yang luar biasa hebatnya membuat dia pingsan tidak sadarkan diri.

Dalam keadaan seperti itulah, dia juga telah menggeletak diam dengan napas yang tidak berhembus lagi, karena begitu ia pingsan, begitu jantungnya tidak bekerja lagi, dan telah menutup mata buat selama-lamanya.

Ko Tie memang telah menurunkan tangan yang keras seperti itu, karena memang dia melihatnya betapa Oey Tojin seorang pendeta yang bertangan telengas sekali.

Karena itu, dalam turun tangan dia tidak tanggung-tanggung. Dia telah membunuhnya tidak mengenal kasihan lagi.

Di waktu itu juga tampak dari kejauhan berlari-lari beberapa orang. Gerakan orang-orang itu sangat gesit sekali. Dalam waktu yang singkat, mereka telah sampai di tempat tersebut.

Mereka adalah lima orang tua yang jenggot dan juga kumisnya telah memutih semuanya. Disamping itu, mereka semuanya memakai jubah warna merah.

Ke lima orang tua itu kaget bukan kepalang melihat Oey Tojin menggeletak tidak bernapas lagi, tubuhnya telah terbungkus oleh salju yang tipis.

Mereka memandang kepada Ko Tie dengat sorot mata yang tajam. Karena di waktu itu mereka juga melihat ke lima orang anggota Ang-kie-pay menggeletak tidak bernapas lagi.

“Tuan……!” kata salah seorang di antara mereka sambil merangkapkan sepasang tangannya memberi hormat kepada Ko Tie. “Sesungguhnya, apa kesalahan mereka, sehingga kau turunkan tangan begitu keras kepada mereka?!”

Ko Tie tertawa dingin.

“Mereka merupakan manusia-manusia yang tidak berperikemanusiaan! Mereka memang memiliki muka manusia, tapi berhati binatang!”

Ke lima orang tua itu berobah mukanya jadi merah padam, dan mereka murka bukan main. Tapi orang tua yang tadi berkata-kata itu telah bilang lagi, sambil menindih kegusarannya: “Siapakah kau sebenarnya tuan?”

“Kalian tidak berderajat buat menanyakan namaku.....” kata Ko Tie dengan suara yang dingin: “Hemmm, kalian dari Ang-kie-pay, ternyata kalian hanya dapat menyelenggarakan pesta untuk banjir darah dari orang-orang yang tidak berdaya!

“Berusaha menancapkan kaki di Bu-ciu, hanyalah untuk memperluas kekuasaan kalian belaka, tanpa memikirkan lagi korban yang akan jatuh karenanya.....! Sekarang tuan mudamu ingin melihat, sesungguhnya perkumpulan macam apakah itu yang disebut Ang-kie-pay?”

Setelah berkata begitu, Ko Tie berdiri sambil memperlihatkan sikap mengejek.

Muka ke lima orang tua itu berobah hebat. Inilah baru pertama kali mereka alami, seorang pemuda, yang usianya baru duapuluh tahun lebih, telah menantang mereka dengan sikap kurang ajar seperti itu.

Seumur mereka, belum pernah mereka menghadapi sikap seperti itu walaupun seorang tokoh rimba persilatan, mereka dihormati, dan tidak ada yang berani bersikap kurang ajar seperti itu. Karenanya, tampak mereka telah memandang dengan sikap yang bengis sekali, yang seorang itu telah berkata dengan suaranya yang tawar:

“Baik, engkau tidak mau menyebutkan namamu dan tidak mau menjelaskan siapa adanya kau. Inipun tidak menjadi persoalan buat kami! Tetapi yang jelas, memang kau yang telah membunuh Oey Tojin dan ke lima orang anggota Ang-kie-pay kami itu bukan?”

“Benar..... memang aku yang telah mengirim mereka ke neraka!” menyahuti Ko Tie berani sekali, bahkan sambil menyahuti seperti itu, dia telah memperdengarkan suara tertawa mengejek, sikapnya tidak memandang sebelah mata kepada lawan-lawannya itu.

Orang yang memakai baju hijau, yang telah ditolongi jiwanya oleh Ko Tie, jadi memandang dengan mata terbuka lebar-lebar. Dia telah menyaksikan sendiri betapa lihaynya pemuda ini.

Tapi, dia juga berkuatir sekali, karena ke lima orang tua itu adalah jago-jago tertinggi dari Ang-kie-pay, yang bergelar Kim-hong-ngo-sian (Lima Dewa Dari Puncak Emas), di mana kepandaian mereka sulit dijajaki dan juga memang mereka itu merupakan manusia-manusia aneh di dalam rimba persilatan.

Mereka memiliki kedudukan tertinggi di Ang-kie-pay, setelah Pangcu mereka. Dan kepandaian mereka memang menggetarkan rimba persilatan. Karena itu, orang berbaju hijau tersebut berkuatir kalau-kalau nanti pemuda penolongnya itu tidak sanggup menghadapi ke lima tokoh Ang-kie-pay tersebut.

Dengan sorot mata mengandung kekuatiran yang sangat, orang yang memakai baju hijau tersebut hanya mengawasi saja.

Sedangkan orang Ang-kie-pay, yang tadi telah menanyakan halnya kematian Oey Tojin kepada Ko Tie, melangkah perlahan-lahan, ia menghampiri Ko Tie dengan sikapnya yang mengancam.

Namun Ko Tie tetap berdiri tegak di tempatnya dengan tenang, sama sekali dia tidak memperlihatkan perasaan gentar sedikit pun juga. Dia telah melihatnya, betapa empat orang tua lainnya pun telah melangkah maju serentak berlima.

Ko Tie diam-diam telah memusatkan tenaga dalamya. Dia mengetahui, ke lima orang tokoh dari Ang-kie-pay bukanlah sebangsa manusia baik-baik. Ilmu silat mereka walaupun ilmu silat tersesat, namun mereka lihay sekali.

Karenanya, Ko Tie juga bermaksud ingin melihatnya, berapa tinggi kepandaian ke lima orang itu.

Sedangkan orang tua yang seorang itu telah berkata dengan suara yang dingin menahan kemurkaannya. “Tuan, baiklah, aku ingin sekali minta pengajaran dari kau..........!”

Dan menyusul dengan perkataannya itu, cepat bukan main dia telah melompat dan menyerang dengan dahsyat sekali. Tenaga pukulannya itu mengandung kekuatan yang bisa merubuhkan sebatang pohon yang cukup besar.

Ko Tie juga memang merasakan, sambaran angin pukulan itu memang kuat sekali, tapi dia tidak gentar. Sedangkan orang tua itu, karena mengetahui pemuda ini yang telah membinasakan Oey Tojin dan ke lima anak buah Ang-kie-pay lainnya.

Sedangkan kepandaian Oey Tojin sesungguhnya tinggi sekali, maka dapat menduganya bahwa Ko Tie tentunya memiliki kepandaian yang hebat. Maka begitu dia turun tangan, seketika dia menyerang dengan dahsyat.

Pukulan yang dilakukannya itu disertai delapan bagian tenaga dalamnya. Waktu itulah dia melihatnya, betapa Ko Tie sama sekali tak menangkis pukulannya tersebut, hanya berdiri tersenyum-senyum dengan tenang.

Dia jadi girang, dia yakin, begitu pemuda ini berusaha menangkis, tentu sudah terlambat. Karena jarak pukulan itu sudah terlalu dekat. Karena itu, dia memperhebat pukulannya, dia bermaksud dapat merubuhkan Ko Tie dalam sekali hantam saja.

Waktu pukulan itu menyambar lebih dekat, di saat itulah tahu-tahu tubuh Ko Tie telah lenyap dari penglihatan orang tua tersebut. Gerakannya begitu gesit, sehingga si orang tua itupun jadi kabur matanya, karena dia tidak bisa melihat jelas gerakan Ko Tie.

Tahu-tahu Ko Tie telah berada di belakangnya, dengan tangan kanannya dia menepuk pundak orang tua itu. Perlahan tepukannya, tapi akibatnya memang luar biasa buat orang tua itu

Sambil menjerit keras, tubuhnya terjerunuk ke depan. Hampir saja dia ambruk rebah di tanah, kalau saja dia tidak cepat-cepat mengendalikan kuda-kuda ke dua kakinya.

Di saat itu ke empat orang tua lainnya, yang kaget melihat kawan mereka telah ditepuk terjerunuk seperti itu, segera juga menjejakkan ke dua kaki mereka, menerjang serentak. Ilmu pukulan mereka merupakan pukulan yang telengas sekali, yang bisa mematikan.

Tubuh Ko Tie berkelebat-kelebat ke sana ke mari dengan lincah, dan setiap pukulan lawannya dapat dihindarkan dengan mudah.

Malah, setiap kali ada kesempatan dia telah membalas menyerang. Serangan Ko Tie bukan berupa pukulan, dia cuma menepuk, dan selalu berhasil.

Serangan demi serangan. Ke empat orang tua itupun telah kena ditepuk pundaknya, dan mereka telah dimusnahkan ilmu silat dan tenaga dalam mereka, seperti orang tua yang pertama itu!

Ke lima orang tua itu berdiri dengan wajah yang pucat dan tubuh yang menggigil. Tampak mereka berdiam diri dengan mata yang memandang penuh dendam.

Ko Tie juga telah berdiri di depan mereka sambil tertawa mengejek.

“Hanya sebegitu sajakah kepandaian dari anggota-anggota Ang-kie-pay?” ejeknya.

Sedangkan orang yang memakai baju hijau itu memandang tertegun mematung. Karena dia tidak menyangka betapa hebatnya Ko Tie. Ke lima tokoh dari Ang-kie-pay, yang diketahuinya memiliki kepandaian yang sangat tinggi, hanya dalam beberapa gebrakan saja. Dia telah berhasil merubuhkannya.

Malah, bukan sekedar merubuhkannya, juga telah memusnahkan kepandaian dan tenaga dalam mereka. Dengan demikian, tentu saja membuat orang yang memakai baju hijau itu seperti juga tidak mempercayai apa yang dilihatnya, seakan juga tidak mempercayai apa yang disaksikannya.

Semua itu seperti berada dalam dongeng saja. Dia hampir tidak bisa mempercayainya, bahwa di dalam rimba persilatan terdapat seorang pemuda yang memiliki kepandaian dan ilmu silat sehebat itu.

Sedangkan Ko Tie telah berkata: “Kali ini aku masih berlaku murah hati, karena kalian belum pernah berbuat salah kepadaku! Tapi di lain kali, jika aku bertemu dengan kalian dan masih tidak meninggalkan dunia hitam, kalian hemmm, hemmm, hemmm, di waktu itu sudah tidak ada tawar menawar lagi dan kalian harus pulang ke neraka!

“Sekarang kalian pergilah menggelinding dari tuan muda kalian!” Sambil berkata begitu, Ko Tie memperlihatkan sikap yang bengis dan juga bersungguh-sungguh angker.

Ke lima jago dari Ang-kie-pay itu menghela napas dalam. Mereka merasakan betapa sekujur tubuh mereka lemas tidak memiliki tenaga apa-apa.

“Tuan, apakah tuan adalah seorang dari ke dua pelajar yang belakangan ini muncul di, dalam rimba persilatan?” tanya orang tua yang seorang itu. “Yaitu pelajar she Bie dan she Un itu?!”

“Sudah kukatakan tadi bahwa kalian tidak sederajat buat menanyakan diriku! Jika kalian tidak mau cepat-cepat angkat kaki menggelinding meninggalkan tempat ini, tuan mudamu tidak akan sungkan-sungkan lagi dan akan mengirim kalian ke neraka.....!” Setelah berkata begitu, segera juga ia telah melangkah maju.

Muka ke lima orang tokoh Ang-kie-pay yang memang telah pucat itu jadi semakin pucat, dan mereka tanpa berani menanyakan sesuatu lagi telah memutar tubuh dan berlari.

Tapi gin-kang mereka telah lenyap, tubuh mereka tidak bisa diringankan kembali, dengan begitu lari mereka sangat lambat sekali.

Orang yang memakai baju warna hijau tersebut berdiri tertegun beberapa saat lamanya, sampai akhirnya ia menghampiri Ko Tie dengan merangkapkan ke dua tangannya. Dia membungkukkan tubuhnya memberi hormat, menyatakan terima kasihnya.

“Syukur Siauw-hiap telah menolongiku, jika tidak, niscaya jiwaku telah melayang.....!” katanya dengan penuh rasa syukur.

Melihat wajah orang, dan apa yang dilakukannya, Ko Tie mengetahuinya, tentunya orang yang berpakaian serba hijau ini pun bukanlah sebangsa manusia baik-baik, karena itu dia kurang memiliki kesan baik buat orang tersebut. Walaupun demikian, ia tersenyum tawar, katanya:

“Bangunlah, jangan terlalu banyak peradatan......! Dan dapatkah kau menjelaskan kepadaku, mengapa kalian saling bermusuhan?”

Orang yang berpakaian baju hijau tersebut, telah menceritakannya. Ia menjelaskan bahwa ia sesungguhnya berasal dari Hauw-sim-pay, di mana dia memang merupakan orang-orang yang menjagoi di Bu-ciu ini, selama puluhan tahun.

Akan tetapi disebabkan memang di saat belakangan ini pihak Ang-kie-pay hendak mengembangkan sayap dan pengaruh di Bu-ciu, karena itu, mereka berusaha menentangnya. Mereka menyadarinya, jika saja pihak Ang-kie-pay berhasil mengembangkan sayap dan kekuasaan di Bu-ciu, niscaya akhirnya Hauw-sim-pay akan terdesak.

Itulah sebabnya, Pangcu Hauw-sim-pay telah perintahkan kepada anak buahnya, untuk menggagalkan pertemuan dalam bentuk pesta yang diselenggarakan oleh pihak Ang-kie-pay, karena dengan menyelenggarakan pestanya itu, Ang-kie-pay memang bermaksud hendak mengunjukkan gigi dan pengaruh.

Tapi sayangnya, orang-orang Ang-kie-pay justeru merupakan orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi. Di samping itu juga memang mereka telah mengadakan penjagaan yang kuat.

Dengan demikian telah membuat orang-orang Hauw-sim-pay jadi dapat dirontokan. Maksud mereka yang semula hendak membobolkan kapal di mana terdapat para tokoh dari Ang-kie-pay, dapat digagalkan, bahkan mereka telah dibinasakan, yang tinggal hanyalah orang yang mangenakan baju hijau tersebut.

Beruntung saja Ko Tie telah turun tangan menolonginya. Jika tidak, tentu diapun telah dikirim ke neraka oleh orang-orang Ang-kie-pay. Itulah sebabnya, betapa ia sangat bersyukur sekali kepada Ko Tie yang telah menyelamatkan dirinya.

Di waktu itu Ko Tie sambil mendengarkan cerita orang berpakaian serba hijau tersebut, juga berpikir: “Hemm, baik Ang-kie-pay maupun Hauw-sim-pay, ke duanya merupakan perkumpulan manusia-manusia tidak benar. Kare¬na itu, aku tidak boleh berdiri di tengah-tengah mereka membela salah satu pihak.....

“Walaupun bagaimana, memang aku justeru harus membubarkan mereka, ke dua golongan itu. Cuma saja, Ang-kie-pay tampaknya memiliki orang-orang yang berkepandaian tinggi dalam jumlah tidak sedikit. Rupanya lebih sulit untuk menghancurkannya dibandingkan dengan Hauw-sim-pay.”

Sambil berpikir begitu, terlihat betapa Ko Tie telah mengangguk-angguk beberapa kali. Kemudian dengan sikap yang angker, dia bilang:

“Baiklah! Kau boleh pulang ke markasmu. Katakan kepada ketuamu bahwa aku akan datang menemuinya! Aku harap kalian membubarkan diri dan selanjutnya tidak mengunjuk gigi lagi di Bu-ciu ini! Siapa yang membandel, hemmm, hemmm, aku tidak akan segan-segan membasmi kalian……!”

Sambil berkata begitu, Ko Tie berdiri tegak dengan sikap yang angker sekali. Dengan demikian membuat orang berbaju hijau tersebut tidak berani menantang tatapannya, dia hanya menunduk dan mengiyakan beberapa kali.

Semula orang berpakaian hijau dari Hauw-sim-pay tersebut girang bukan main. Ia menyangka bahwa Ko Tie akan membela pihaknya.

Siapa sangka justeru pemuda itu perintahkan kepadanya agar menyampaikan kepada ketuanya bahwa Hauw-sim-pay harus dibubarkan, karena itu dia jadi kecele. Namun dia mengetahui bahwa pemuda itu memang memiliki kepandaian yang tinggi dan sangat lihay, maka ia tidak berani membantah sepatah perkataan pun juga, biarpun ia tidak puas.

Dikala itu, dari kejauhan mendatangi tiga sosok tubuh, yang gerakannya sangat ringan. Begitu cepat mereka mendatangi, dan malah salah seorang di antara mereka telah membentak bengis sekali: “Mana pemuda she Bie itu……!”

Rupanya, ke lima orang tokoh dari Ang-kie-pay telah kembali di tengah-tengah kawan mereka dan menceritakan apa yang mereka alami. Juga mereka menyampaikan dugaan mereka bahwa Ko Tie adalah salah seorang dari ke dua pemuda yang menggemparkan rimba persilatan sebagai Bie Siauw-hiap dan Un Siauw-hiap itu. Dan dugaan jatuh bahwa Ko Tie adalah yang disebut Bie Siauw-hiap itu.

Karena itu, Pangcu dari Ang-kie-pay segera mengutus tiga orang tokoh Ang-kie-pay buat mengurus Ko Tie. Ia tidak leluasa pergi sendiri, karena dia tengah pesta dan juga mendampingi banyak sekali tamu-tamunya, yang terdiri dari para tokoh rimba persilatan.

Ke tiga orang itu dengan cepat sekali telah sampai di depan Ko Tie. Orang dari Hauw-sim-pay yang belum lagi angkat kaki, jadi batal buat pergi, karena dia sangat ingin buat menyaksikan pertempuran antara orang-orang Ang-kie-pay dengan Ko Tie, yang pasti terjadi.

Di waktu itu Ko Tie berdiri tenang di tempatnya. Dia hanya mengeluarkan suara mendengusnya beberapa kali: “Hemmm! Hemmm! Hemmm!!”

Dilihatnya ke tiga orang tokoh Ang-kie-pay yang baru datang adalah tiga orang Tojin, yang berpakaian sangat rapih dan bersih. Usia mereka telah lanjut sekali, mungkin tujuhpuluh tahun lebih. Merekalah kakak-kakak seperguruan dari Oey Tojin.

“Hemmm jadi engkau yang telah membunuh Oey sute kami?” kata salah seorang Tojin, yang usianya paling tua, dengan suara dan sikap yang bengis.

Dengan berani Ko Tie mengangguk.

“Apakah yang kalian maksudkan adalah tosu bau ini?!” Sambil Ko Tie menunjuk kepada mayat Oey Tojin.

Bola mata ke tiga orang tosu itu mencilak-cilak memain tidak hentinya, betapa murkanya mereka. Dan segera juga terlibat bahwa salah seorang di antara mereka berkata: “Kau terlalu tekabur, bocah busuk……”

Sambil berkata begitu, cepat sekali ke dua tangannya bergerak.

Kagum juga Ko Tie menyaksikan cepatnya gerakan tangan tosu yang seorang ini, terlebih lagi ia menyerang dengan mempergunakan lweekang yang dahsyat, sehingga angin serangannya halus sekali, namun tajam dan kuat sekali, berkesiuran kepada Ko Tie.

Ko Tie dengan sigap telah mengelak. Sedangkan ke dua tosu lainnya tidak tinggal berdiam diri saja. Mereka segera juga telah bergerak buat membantu saudara seperguruan mereka dan mendesak Ko Tie.

Benar-benar Ko Tie lihay karena biarpun dia dikepung oleh ke tiga orang Tojin yang masing-masing memiliki kepandaian tinggi, namun dia bisa menghadapinya dengan baik. Dia telah mengelakkan diri ke sana ke mari.

Selama itu Ko Tie tidak membalas menyerang, karena memang dia sengaja mengelak saja untuk bisa melihat berapa tinggi kepandaian ke tiga Tojin ini.

Setelah bergerak lima kali, melewati enam jurus dari ke tiga orang lawannya, di waktu itulah segera Ko Tie dapat mengambil kesimpulan bahwa kepandaian dari ke tiga orang lawannya ini yang berada di atas Oey Tojin, karena itu tidak terlalu mengherankan jika ke tiga orang lawan ini memang jauh lebih hebat, dan juga jauh lebih sulit untuk dirubuhkan dalam waktu yang singkat.

Terlihat betapa ke tiga Tojin itu bernafsu sekali untuk menyerang kepada Ko Tie. Setiap kali tangan mereka itu menyambar, maka berkesiuran angin yang hebat sekali!

Di kala itu, Ko Tie dengan segera merobah cara bertempurnya. Dia memutar ke dua tangannya, yang segera memancarkan angin serangan yang mengandung hawa dingin luar biasa, yang menyelubungi tubuhnya.

*** ***
Note 20 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Saat hidup tidak memberimu senyuman, beri dia sedikit gelitikan."

(Regards, Admin)

0 Response to "Anak Rajawali Lanjutan (Beruang Salju) Jilid 29"

Post a Comment

close