Cersil Mandarin Online Karya Yi Wen

Mode Malam

Karya Siau Siau


“Anak Harimau Bagian 04 - "Aku pernah berpesan kepada Soat ji dan Thi gou berdua agar menyambut kedata-nganmu di mulut lembah, selain itu memberi penjelasan, kepadamu apa yang sesung-guhnya terjadi, sungguh tak disangka mereka berdua begitu binal."

Mendengar perkataan itu Si Cay soat segera tertawa geli, mukanya nampak sangat binal, sebaliknya Siau thi gou hanya duduk tenang tanpa mengucapkan sepatah katapun, seolah-olah persoalan ini sama sekali tiada hubungan dengan dirinya.

Lan See giok segera terbayang kembali perjumpaan mereka yang pertama kali di dusun nelayan, sejak waktu itu dia sudah merasa kalau Si Cay soat adalah seorang nona cilik yang sukar dilayani, selanjutnya dia berjanji akan bertindak lebih berhati -hati.

Sewaktu To seng cu melihat sepasang mata Siau thi gou berputar tiada hentinya di atas buah anggur tersebut, sambit tertawa, kem-bali ujarnya kepada Lan See giok.

"Anak giok, ayo cicipi buah buahan ter-se-but!"

Sambil berkata dia mengambil seuntai buah anggur dan diberikan kepada Lan See giok kemudian mengambil seuntai lagi untuk siau thi gou.

Setelah menerima buah anggur itu Lan See giok teringat kembali akan peristiwa lima ca-cad dari tiga telaga yang datang mencuri ki-tab, dengan nada tidak mengerti kembali dia bertanya:

"Locianpwe. dengan cara apa Oh Tin san sekalian berhasil mencuri kitab pusaka tersebut pada sepuluh tahun berselang?"

To seng cu tertawa dan manggut-manggut:

"Persoalan ini panjang sekali untuk di ceritakan, apalagi malam sudah semakin la-rut, biar kita bicarakan di kemudian hari saja.

Melihat To seng cu enggan berbicara, su-dah barang tentu Lan See giok sungkan un-tuk bertanya lebih jauh, untung saja masa mendatang masih panjang, dia masih mem-punyai banyak kesempatan untuk membica-rakan persoalan itu lagi.

Begitulah, ke empat orang itupun sambil makan buah anggur membicarakan serba serbi dunia persilatan, suasana dilalui de-ngan penuh riang gembira.

Akhirnya To seng cu berkata:

"Anak giok sudah menempuh perjalanan cukup jauh, malam ini beristirahatlah de-ngan cepat, anak giok kau boleh tidur bersa-ma Siau thi gou"

Mendengar perkataan itu, ke tiga orang muda mudi itu segera minta diri kepada To seng cu dan berjalan menuju ke depan pintu ruangan batu itu.

Lan See giok mengikuti Siau thi gou menuju ke pintu ruangan sebelah kiri, se-dang kan Si Cay soat seorang diri menuju ke pintu ruangan sebelah kanan, baru saja Lan See giok ingin mengucapkan sesuatu kepada gadis itu, tahu-tahu bayangan merah berkelebat lewat, Si Cay soat sudah lenyap dari pandangan.

Sementara itu terdengar Siau thi gou telah berseru:

"Engkoh giok, aku akan naik lebih dulu" Mendengar seruan tersebut Lan See giok segera berpaling, tampak bayangan hitam berkelebat lewat, tubuh Siau thi gou telah melayang ke atas langit-langit ruangan.

Ketika dia mendongakkan kepalanya, ter-nyata di atas langit-langit ruangan itu ter-da-pat sebuah gua yang luasnya tiga depa dan tinggi dua kaki dari permukaan tanah diataspun terpancar sinar yang terang.

Terdengar Siau thi gou berseru dari atas:

"Engkoh Giok, cepat naik!"

Lan See giok mengiakan dan segera melompat naik ke atas ruangan itu, ketika hampir mencapai ujung langit-langit, Siau thi gou mengulurkan tangannya dan menarik tangannya sehingga melayang tiga depa ke samping.

Ternyata di situ terdapat sebuah ruangan berbentuk bulat, di langit-langit ruangan tertera tiga butir mutiara, sekeliling dinding ruangan terdapat enam buah lubang sebesar kepalan yang berfungsi sebagai ventilasi udara,

Pada permukaan lantainya dilapisi perma-dani yang sama tebalnya dengan permadani yang berada di bawah, di sisi kiri bertumpuk selimut tebal yang pada satu bagian merupa-kan lapisan kain sutera sedang pada lapisan yang lain adalah bulu kambing yang berwar-na putih, nampaknya sangat lembut dan halus.

Sambil menjatuhkan diri berbaring di atas lantai, Siau thi gou segera berseru.

"Engkoh giok, tidurlah!"

Sambil berkata dia melemparkan selembar selimut kulit kepada Lan See giok.

Melihat gerak gerik yang polos dan lincah dari Siau thi gou, Lan See giok merasa bocah itu memang rada mirip seperti kerbau kecil, karena itu setelah menerima selimut pembe-riannya dia bertanya sambil tertawa:

"Adik Thi gou, mengapa sih namamu Thi gou atau kerbau baja? Mengapa tidak ber-nama Kim gou (kerbau emas) saja?"

Siau thi gou melototkan matanya bulat- bulat dan menggelengkan kepalanya ber-ulang kali, jawabnya dengan wajah ber-sungguh sungguh:

"Tidak boleh, tidak boleh."

Kemudian sambil menunjuk pada jari ta-ngannya, dia melanjutkan:

"Kongcou ku bernama Kim liong (naga emas), engkongku bernama Gin hou (harimau perak), sedang ayah bernama Tong kou (kuda tembaga) maka aku bernama Thi gou (kerbau baja)"

Lan See giok segera menjadi tertarik se-kali dengan susunan keluarga tersebut, cepat dia bertanya:

"Adik Thi gou, seandainya kau punya anak di kemudian hari, akan kau namakan siapa anakmu itu?"!

"Akan kunamakan Sikou (anjing platina),"

Lan See giok yang mendengar jawaban tersebut menjadi tertegun, sepasang alis matanya segera berkerut, kemudian berkata:

"Adik Thi gou, aku rasa urutan ini kurang sesuai, masa dari emas perak merosot terus menjadi tembaga, besi dan platina, dari naga dan harimau merosot menjadi kuda kerbau lantas anjing, bukankah dengan demikian satu generasi lebih jelek dari generasi beri-kutnya?"

Baru selesai dia berkata, tiba-tiba dari balik sebuah lubang bulat di atas dinding terdengar suara seseorang sedang tertawa cekikikan:

Dengan perasaan terkejut Lan See giok segera berpaling, namun dari balik tutup lubang itu gelap tak bersinar sehingga sulit baginya untuk menentukan dari liang yang manakah suara tertawa tersebut, berasal.

Melihat Lan See giok tertegun, Siau thi gou segera tertawa terbahak bahak sambil ber-kata:.

"Kau jangan bingung, enci Soat yang se-dang tertawa dia seringkali membicara-kan soal kau dengan diriku---"

Belum selesai dia berkata, dari balik liang tersebut, kembali terdengar Si Cay soat ber-seru:

"Adik Thi gou, bila kau cerewet terus, hati-hati besok!"

Mendengar teguran tersebut, Sian thi gou segera menjulurkan lidahnya yang kecil dan segera memejamkan matanya rapat-rapat.

Lan See Giok sendiri hanya bisa meman-dang lubang-lubang angin di atas dinding tersebut dengan wajah tertegun, sebenarnya dia ingin bertanya kepada Siau thi gou, apa saja yang telah diperintahkan To seng cu locianpwe kepada Si Cay soat mengapa pula gadis itu tidak menuruti perintah gurunya malahan mempermainkan dia. tapi setelah mendengar ancaman dari gadis tersebut. diapun tak berani bertanya lebih jauh.

Sementara dia masih termenung, tiba-tiba dari sisi tubuhnya bergema suara orang mendengkur, ketika berpaling. ternyata Siau thi gou sudah tertidur nyenyak.

Dengan perasaan apa boleh buat Lan See -giok segera menggelengkan kepalanya beru-lang ulang kali, dengan cepat dia menarik selimut dan ditutupkan ke atas tubuh sendiri.

Walaupun sudah berbaring, namun se-pasang mata yang belum juga mau terpejam, termangu mangu ditatapnya ke tiga butir mutiara di atas langit-langit ruangan tanpa berkedip, sementara dalam benaknya dipe-nuhi berbagai kejadian yang dialaminya se-lama ini, termasuk kejadian-kejadian yang sama sekali tak pernah diduga sebelumnya...


Kini, segala sesuatunya berjalan dengan lancar, ternyata dia telah mengalami banyak kejadian yang semula dianggap bahaya tahu-tahu berubah menjadi rejeki.

Dari pikiran yang bergolak, pelan-pelan perasaannya berhasil ditenangkan kembali. ditambah pula Siau Thi gou yang berbaring di sisinya telah mendengkur sedari tadi, tanpa terasa diapun tertidur nyenyak.

Perjalanan jauh selama berbulan bulan membuat pemuda ini tak pernah beristirahat dengan perasaan tenang, dia selalu kuatir kotak kecilnya dicuri orang.

Kini setelah beban pikirannya hilang, diapun tertidur dengan nyenyak sekali.

Ketika sadar kembali, Siau thi gou yang semula tidur di sisinya kini sudah tak nam-pak lagi batang hidungnya.

Cepat-cepat dia melompat bangun, ditemu-kan pada dinding ruangan di sisinya bertam-bah dengan sebuah pintu batu yang lebarnya dua depa dan tingginya mencapai langit-langit ruangan.

Lan See giok sungguh tak habis mengerti mengapa setelah mendusin diri tidurnya di sana telah bertambah lagi dengan sebuah pintu batu?"

Setelah melompat bangun dan diperiksa ternyata dinding ruangan telah digeserkan orang, pada bagian tengah pintu batu itu ter-dapat pula sebuah lubang angin yang sama besarnya dengan lubang angin di sisi lain.

Ke luar di pintu dia temukan sebuah un-dak undakan batu menuju ke atas yang en-tah menghubungkan ke tempat mana sedang pada bagian lain terdapat pula sebuah pintu yang lebarnya lebih kurang dua depa.

Dengan perasaan tak habis mengerti dia segera menuju ke pintu yang lain serta melongok ke dalam..

Ternyata ruangan itu hanya berisikan per-madani merah, selimut bulu serta sebuah cermin tembaga putih, bau harum semerbak yang sangat aneh memancar ke luar dari sana.

Tak terlukiskan rasa kaget Lan See giok dengan cepat dia mundur beberapa langkah sepasang matanya dengan cekatan menengok ke kiri dan kanan, sementara wajahnya segera memperlihatkan perasaan menyesal, jantungnya berdebar keras.

Selain itu diapun mengerti, ruangan ter-se-but sudah pasti merupakan kamar tidur Si Cay soat, bila sampai ketahuan gadis itub bahwa dia telajh memasuki kamagrnya, nisca-ya bmartabatnya akan dinilai sangat rendah.

Sebenarnya dia hendak menelusuri undak undakan batu itu untuk melongok ke atas, tapi sekarang ia sudah tak berani sembara-ngan bergerak lagi.

Baru saja dia akan berjalan balik, men-dadak ia mendengar suara teriakan Siau thi gou yang bergema datang secara lambat-lam-bat.

"Enci Soat, cepat kemari, disini terdapat seekor kelinci liar yang amat besar"

Mendengar teriakan itu, Lan See giok tahu Siau thi gou serta, Si Cay soat sedang berada di atas, maka ia segera menelusuri undak undakan batu itu dia berlari ke atas.

Sesudah berbelok ke kiri menikung ke kanan dan bergerak naik terus ke atas, akhirnya sampailah pemuda itu di ujung un-dak -undakan tersebut.

Pada ujung undak undakan itu, dia men-jumpai mulut ke luar berada di belakang se buah meja batu ruangan batu, di dalam ru-ang batu Itu tersedia pula meja bambu dan bangku kayu. namun semua perabot diatur dengan amat rapi.

Lan See giok lari ke luar pintu, dia melihat cahaya matahari telah memancarkan cahaya keemas-emasannya ke empat penjuru, aneka bunga tumbuh subur dimana mana, peman-dangan alam sangat indah dan me-nawan hati.

Rumah batu itu dikelilingi pepohonan siong yang mengitarinya pada jarak tujuh delapan kaki, segalanya kelihatan rapi dan teratur, sedikitpun tidak kelihatan acak-acakan.

Ketika pandangan matanya dialihkan ke sekitar sana, tampak tiga buah puncak bukit menjulang ke angkasa, ternyata di mana ia berada sekarang tak lain adalah dinding te-bing yang terlihatnya se-malam, punggung puncak Giok li hong.

Puncak Giok Ii hong tingginya mencapai ratusan kaki, di sisi kirinya terdapat sebuah air terjun, pemandangan indah sekali.

Menyaksikan kesemuanya itu. tiba-tiba saja Lan See giok merasakan dadanya men-jadi terbuka dan nyaman sekali.

Pada saat itulah, dari balik hutan ber-ku-mandang lagi suara teriakan dari Siau thi gou.

"Enci Soat, disini terdapat seekor kijang kecil--."

Belum habis Siau thi gou berteriak, terde-ngar suara Si Cay soat telah menukas:

"Jangan kita usik dia, mari kibts menangkap ikjan saja di telagga Cui oh?

Menbdengar suara pembicaraan mereka. Lan See giok segera berlarian menuju ke hu-tan itu sambil berteriak.

"Adik Thi gou, tunggu aku---"

Sambil berseru di segera berlarian masuk menuju ke dalam hutan yang terbentang di hadapannya.

Berpuluh puluh kaki dia telah menembusi hutan tersebut, tapi anehnya belum juga pe-muda tersebut berhasil ke luar dari lingku-ngan hutan tadi, kejadian tersebut dengan cepat menimbulkan perasaan-perasaan tak habis mengerti baginya.

Pada saat itulah, tiba-tiba terdengar Siau thi gou sedang memohon dari tempat yang tak jauh darinya.

"Enci Soat, cepat beritahu kepada engkoh Giok, bila guru tahu, kau pasti akan dimaki sebagai si binal lagi!"

Mendengar perkataan tersebut, Lan See giok segera menyadari kalau keadaan di situ kurang beres dengan cepat dia menghentikan gerakan tubuhnya.

Tiba-tiba terdengar Si Cay soat men-dengus dingin, lalu berseru dengan nada tak senang hati:

"Yang dia panggil kan adik Thi gou, Siapa sih yang memanggil aku"

Sekali lagi Lan See giok berpekik di dalam hati:

"Aduh celaka, yaa, mengapa aku lupa me-manggil Si Cay soat? Tidak heran kalau dia menjadi tak senang hati---"

Berpikir demikian, dengan nada minta maaf dia segera berseru. "Adik Soat, Ih--heng segera datang!"

Baru selesai dia berseru, tiba-tiba terde-ngar Siau thi gou sudah berteriak sambil tertawa:

"Engkoh Giok, turuti perkataanku, belok tiga kali ke kiri, belok lima kali ke kanan melihat tujuh jalan serong, berjumpa delapan maju ke depan-"

Lan See giok bukan anak bodoh, begitu peroleh petunjuk dia segera menjadi paham.

Sementara Siau thi gou masih berteriak te-riak dengan suara lantang, Lan See giok su-dah menerobos ke luar dari hutan tersebut.

Waktu itu Siau thi gou sedang berdiri sam-bil memegang seekor kelinci besar, melihat Lan See giok munculkan rdiri, sambil tezrtawa terbahak wbahak ia segerar berseru:

"Nah, itulah dia telah munculkan diri!"

Lan See giok segera berlari mendekat, menarik tangan Siau thi gou dan berterima kasih kepadanya, tapi oleh karena tidak di jumpai Si Cay soat, pemuda itu jadi celingu-kan----

Akhirnya dari jarak tujuh delapan kaki di depan sana, ia saksikan ada sesosok baya-ngan merah sedang berlarian menuju ke arah air terjun dengan kecepatan tinggi.

Sambil menuding ke arah bayangan Si Cay soat, Siau thi gou segera berseru:

"Engkoh giok ayo berangkat, mari kita lihat enci Soat menangkap ikan!"

Mereka berdua segera menyusul dari bela-kangnya dengan gerakan cepat.

Setelah berlarian sekian waktu, Si Cay soat yang sedang berlarian di depan telah menghentikan langkahnya.

Lan See giok tahu, tempat dimana Si Cay soat berdiri sekarang bisa jadi adalah telaga Cui oh, waktu itu si nona sedang membung-kus rambutnya dengan kain merah.

Ketika maju beberapa puluh kaki, lagi dia dapat melihat permukaan telaga yang luas-nya mencapai beberapa bau, airnya berwarna hijau dan beriak terhembus angin, peman-dangan alam di situpun amat indah.

Setelah berjalan mendekat, Lan See giok baru menjumpai tempat dimana Si Cay soat berdiri sekarang adalah sebuah tebing yang tinggi, jarak antara tempat itu dengan per-mukaan telaga paling tidak masih mencapai enam tujuh kaki.

Walaupun dalam hati kecilnya merasa terkejut, namun dia tak lupa menyampaikan salam untuk Si Cay soat, sekarang ia dapat melihat pakaian yang dikenakan Si Cay soat adalah sebangsa pakaian renang yang kulit bukan kulit sutera, namun terbuat dari seje-nis bahan istimewa.

Setelah mengenakan pakaian renang ini, perawakan tubuh Si Cay soat nampak lebih indah, semua lekukan tubuhnya tertera amat jelas, payudaranya yang montok nampak menonjol besar dibagian dada, pinggangnya amat ramping, pahanya berbentuk manis se-dang kakinya terbungkus sepatu kulit ber-warna merah, rambutnya yang panjang juga telah dibungkus kain merah.”

------
Serial Pedang Kayu Harum sudah beres semua diupload gan, untuk membacanya silahkan klik disini 😉🤗
------

0 Response to "Cersil Mandarin Online Karya Yi Wen"

Post a Comment