--> -->

Sin Tiaw Hiap Lu (Kembalinya Pendekar Rajawali) Jilid 1

I. TAMU ANEH DITENGAH MALAM.

Zaman pemerintahan Song-li-cong pada dinasti Song, di daerah Oh-ciu, daerah Kanglam, ada sebuah kota kecil, namanya Leng-oh-tin.

Waktu itu dekat pertengahan musim rontok, daun teratai mulai kering, teratai padat. Di sungai kecil pinggir kota kecil itu lima gadis cilik berada di sebuah perahu kecil sedang bernyanyi dan bersenda gurau dengan asyiknya sambil mendayung perahu untuk memetik biji teratai

Di antara kelima gadis cilik itu usia tiga orang kurang lebih lima belasan, dua orang lagi hanya berusia delapan atau sembilan tahun saja. Kedua dara cilik itu adalah saudara misan, Piauci (kakak misan) bernama Thia Eng, sedangkan Piaumoay (adik misan) she Liok bernama Bu-siang, timur keduanya hanya selisih setengah tahun saja, tapi Thia Eng lebih pendiam dan lemah lembut, sebaliknya Liok Bu-siang sangat lincah, perangai keduanya sama sekali berbeda.

Ketiga gadis yang lebih tua-an masih terus bernyanyi sambil mendayung perahu menyusun semak daun teratai itu.

"Eh Piaumoay, lihatlah, paman aneh itu berada di situ!" seru Thia Eng sambil menuding seorang yang berduduk di bawah pohon tepi sungai sana.

Orang yang dimaksud itu berambut kusut masai tapi kaku, kumis dan jenggotnya juga semrawut dan kaku seperti duri landak, namun baik rambut maupun jenggot dan kumisnya masih hitam mengkilap, mestinya usianya belum begitu lanjut, namun mukanya penuh keriput dan cekung sehingga tampaknya seperti kakek berusia 70-80 tahun.

Yang paling aneh dan lucu adalah pakaian-nya, bajunya yang menyerupai kaos oblong adalah sebuah karung goni yang sudah compang-camping, sedangkan celananya terbuat dari satin dan masih baru, malahan bagian bawah bersulamkan kupu-kupu yang berwarna warni, Tangan kakek itu memegang sebuah kelentungan (kelontong) mainan kanak-kanak, kelentungan itu tiada hentinya di putar sehingga menimbulkan bunyi kelentang-keluntung, tapi kedua mata kakek itu menatap kaku ke depan seperti orang kehilangan ingatan,

"Orang gila ini sudah berduduk selama tiga hari di sini, mengapa dia tidak lapar?" kata Liok Bu-siang.

"He, jangan panggil dia orang gila, kalau dengar nanti dia marah," ujar Thia Eng.

"Kalau dia marah akan tambah menarik," kata Liok Bu-siang sambil menjemput sebuah ubi teratai terus dilemparkan ke arah kakek aneh itu.

Jarak antara perahu kecil itu dengan si kakek aneh ada belasan meter jauhnya, tapi tenaga Bu-siang ternyata tidak lemah meski usianya masih kecil. Lemparannya itupun sangat jitu, ubi teratai itu langsung menyamber ke muka si kakek aneh

"Jangan, Piaumoay !" Thia Eng berseru men cegah, namun sudah terlambat, ubi teratai itu sudah terlanjur menyambar ke sana.

Akan tetapi keajaiban segera terjadi, tiba-tiba kakek aneh itu menengadah, dengan tepat ubi teratai itu tergigit olehnya. iapun tidak menggunakan tangan, hanya lidahnya yang bekerja, ubi teratai itu digeragotinya dengan lahap.

Padahal biji teratai mentah itu rasanya pahit, apalagi kulitnya juga tidak dikupas, tapi kakek aneh itu sama sekali tidak ambil pusing, Melihat cara makan orang aneh itu, ketiga gadis yang agak besaran tadi menjadi geli dan mengikik tawa.

Liok Bu-siang juga merasa senang, serunya: "Ini makan satu lagi!" - Segera ia lemparkan pula sebuah ubi teratai kepada si kakek

Waktu itu separuh daripada umbi teratai pertama masih belum habis termakan dan tergigit di mulutnya, mendadak kakek itu memapak ubi teratai kedua yang dilemparkan Bu-siang dengan ubi teratai yang tergigit di mulutnya itu, sedikit mencungkit, ubi teratai kedua lantas mencelat ke atas, jatuhnya ke bawah tepat hinggap di atas kepalanya, Rambut si kakek semrawut kaku sehingga ubi teratai itu dapat tertahan di atas kepalanya tanpa bergoyang sedikitpun.

Serentak kelima gadis cilik itu bersorak gembira.

"Ini masih ada ! "" seru Bu siang pula, kembali melemparkan sebuah ubi teratai

Lagi-lagi kakek aneh itu mencungkit dengan ubi teratai di mulutnya seperti tadi dan kembali ubi teratai itu mencelat ke atas dan jatuh persis menumpuk di atas ubi teratai yang duluan.

Melihat permainan akrobat itu, kelima gadis bertambah senang, tangan Liok Bu-siang juga bekerja berulang-ulang, dalam sekejap saja di atas kepala kakek aneh itu sudah bersusun belasan ubi teratai sehingga tingginya hampir satu meter.

Setelah ubi teratai pertama tadi termakan, si kakek sedikit miringkan kepalanya dan ubi teratai yang paling atas mendadak menggelinding ke bawah, tapi tepat jatuh di mulut si kakek, sebentar saja ubi teratai inipun dimakan habis, lalu ubi teratai yang lain menggelinding jatuh ke bawah pula dan dimakan lagi. Dalam waktu singkat ubi teratai yang tersunggi di atas kepala-nya itu hanya tersisa dua saja.

Senang dan heran Liok Bu-siang serta Thia Eng melihat permainan kakek aneh itu, segera mereka mendayung perahunya ke tepian dan mendarat.

Thia Eng berhati welas asih dan berbudi halus, dia mendekati si kakek dan menarik-narik bajunya serta berkata: "Empek (paman) tua, caramu makan begitu tidak enak!" - Lalu ia mengambil sebuah ubi teratai kulitnya dikupasnya, bijinya dibuang, sumbu ubi yang pahit juga diambilnya, kemudian diberikannya kepada kakek aneh itu.

Kakek itupun tidak menolak, ubi teratai itu lantas dimakannya dan terasa lebih gurih dan enak daripada yang dimakannya tadi, tiba-tiba ia menyeringai kepada Thia Eng dan manggut-manggut. Aneh juga, kedua ubi teratai yang masih bersusun di atas kepalanya itu cuma bergoyang sedikit saja dan tidak terperosot jatuh.

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara mengkuiknya anjing kecil di seberang sungai sana terseling suara teriakan dan bentakan anak-anak kecil yang riuh ramai.

Waktu Thia Eng menoleh ke sana, tertampak seekor anjing kecil budukan sambil mencawat ekor sedang berlari-lari ketakutan melalui jembatan kecil sana, di belakang anjing budukan itu mengejar tujuh atau delapan anak nakal, ada yang memegang bambu, ada yang menyambit dengan batu disertai suara bentakan segala.

Anjing kecil itu memang sudah jelek karena kulitnya budukan, kini dihajar pula hingga babak belur oleh kawanan anak. nakal itu, tentu saja keadaannya bertambah konyol.

Biasanya Thia Eng suka kasihan kepada anjing kecil ini dan sering memberi sisa makanan padanya, Rupanya anjing kecil itu melihat Thia Eng dari kejauhan, maka dengan mati-matian ia lari ke sini, lalu sembunyi di belakang Thia Eng.

Ketika kawanan anak nakal itu mengejar tiba dan hendak menghajar pula anjing kecil itu, cepat Thia Eng mencegahnya sambil berseru: "He, jangan memukulnya, jangan memukulnya !"

"Anak perempuan minggir, bukan urusanmu !" damperat seorang anak yang paling nakal, berbareng tangannya mendorong tubuh Thia Eng.

Tapi sedikit mengegos saja Thia Eng dapat menghindarinya. Bu-siang berdiri di sebelah sang Piauci, melihat anak nakal itu kurang ajar, segera ia menjegal dengan sebelah kakinya sambil menahan pelahan di bahu anak itu. Tanpa ampun anak nakal itu jatuh tersungkur mencium tanah, bahkan dua gigi depan copot semuanya, saking kesakitan anak itupun menjerit menangis.

Bu-siang bertepuk senang, sedangkan Thia Eng merasa kasihan, ia membangunkan anak itu dan menghiburnya: "Jangan menangis! Apakah sakit ?" - Melihat mulut anak itu penuh darah, ia menjadi gugup dan mengeluarkan sapu tangan untuk mengusap darahnya.

Tapi anak nakal itu terus mendorongnya sambil memaki: "Tidak perlu kau mengusap, kau budak busuk yang tidak punya ayah ibu !"

Kuatir dihajar pula oleh Bu-siang, anak nakal itu lantas berlari menyingkir sambil mencaci maki, setelah agak jauh, ia terus menjemput batu kecil dan menyambiti kawanan gadis ku.



Dengan gesit Thia Eng dan Bu-siang dapat menghindarinya, akan tetapi ketiga gadis yang agak besaran itu tidak mahir ilmu silat, mereka menjadi kesakitan tertimpuk oleh batu-batu kecil itu. Beberapa potong batu itupun mengenai badan si kakek aneh, tapi orang tua itu tidak menjadi gusar juga tidak menghindar seperti tidak berasa apa-apa tersambit oleh batu-batu itu.

Melihat itu, kawanan anak nakal itu menjadi heran dan merasa tertarik, segera mereka mengam-

************************************

Hal 9 dan 10 Hilang

************************************

tanah, Muka Thia Eng sudah berubah, menjadi pucat pasi, sebaliknya wajah Bu-siang tampak merah padam, Waktu mereka memandang sekelilingnya, kiranya tempat itu adalah tanah pekuburan kedua anak dara itu belum pernah mendatangi tempat sesunyi itu, mau-tak-mau hati mereka menjadi berdebar.

"Kongkong (kakek)", kata Thia Eng dengan lemah lembut, "kami ingin pulang saja, tak mau lagi bermain dengan kau."

Tapi kakek aneh itu menatapnya dengan tajam tanpa menjawab.

Melihat sinar mata si kakek memancarkan semacam perasaan sedih dan memilukan, meski masih kecil dan tidak paham seluk-beluk kehidupan insaniah, namun secara naluri timbul rasa simpatiknya terhadap orang tua itu, katanya kemudian dengan halus: "Apabila engkau tidak punya teman memain, besok saja engkau datang ke tepi sungai sana, nanti akan ku kupaskan ubi teratai pula untukmu."

Tiba-tiba kakek aneh itu menghela napas dan berkata: "Ya, sudah 40 tahun, selama 40 tahun ini tiada orang menemani aku bermain." - Sampai di sini mendadak sorot matanya berubah menjadi beringas, tanyanya dengan suara bengis: "Di mana Ho Wan-kun ? Kau pernah apa dengan Ho Wan-kun ?"

Thia Eng menjadi takut melihat perubahan sikap si kakek, jawabnya dengan suara gemetar: "Aku... aku"

Mendadak si kakek mencengkeram lengannya dan menggoyang-goyangkan tubuhnya beberapa kali lalu bertanya pula dengan suara parau: "Mana Ho Wan-kun?"

Hampir saja Thia Eng menangis, air matanya berlinang-linang dalam kelopak matanya, tapi tidak sampai menetes.

"Hayo menangis! Menangis!" mendadak kakek aneh itu menghardik dengan mengertak gigi "Kenapa tidak menangis ? Hm, beginilah kau pada 40 tahun yang lalu, Kau mengatakan menikah dengan dia secara terpaksa, tapi mengapa kau tidak mau minggat bersamaku? Ya, kau anggap aku miskin, anggap aku berwajah jelek jika benar kau berduka mengapa kau tidak menangis?"

Dengan gemas si kakek pandang Thia Eng, tapi aneh juga, meski ketakutan, namun air mata Thia Eng tetap tidak menetes, Ketika kakek itu menyuruhnya menangis sambil menggentak-gentak tubuhnya, Thia Eng bahkan menggigit bibir dan berkata di dalam hati: "Tidak, aku pasti tidak menangis !"

"Hm, jadi kau tidak mau meneteskan setetes air mata bagiku ? setetes air mata saja kau tidak sudi ? Lantas untuk apa aku hidup lagi ?" mendadak kakek itu melepaskan Thia Eng, lalu dengan setengah berjongkok ia membenturkan kepalanya ke batu nisan yang berada di sampingnya,

Batu nisan itu terbuat dari batu hijau dan tertanam kuat di dalam tanah. Karena benturan keras itu, batu nisan itu terus mencelat keluar dari tanah dan jatuh agak jauh dengan mengeluarkan suara keras, Sedang si kakek juga lantas menggeletak pingsan,

"Lekas, lari, Piauci !" seru Bu-siang, segera ia tarik tangan Thia Eng dan mengajaknya kabur.

Thia Eng ikut berlari beberapa langkah, ketika menoleh, ia lihat kepala si kakek mengucurkan darah ia menjadi tidak tega, katanya: "Jangan-jangan paman tua itu terbentur mati, marilah kita memeriksanya."

"Kalau mati kan jadi setan ?" ujar Bu-siang.

Thia Eng terkejut, ia takut si kakek akan menjadi setan, iapun takut kalau si kakek mendadak siuman, lalu mencengkeramnya pula sambil mengucapkan perkataan yang sama sekali tidak dipahami apa maksudnya. Akan tetapi iapun tidak tega dan merasa kasihan melihat muka si kakek penuh darah, ia coba menghibur dirinya sendiri: "Tidak, kakek aneh itu bukan setan, aku tidak takut, iapun takkan mencengkeram aku lagi."

Segera ia lepaskan pegangan tangan Bu-siang dan mendekati si kakek sambil berseru: "Kong-kong, apakah kau kesakitan ?"

Terdengar orang aneh itu merintih satu kali, tapi tidak menjawab.

Thia Eng menjadi tabah sedikit, ia keluarkan sapu tangan untuk menutupi luka si kakek Tapi luka itu agaknya cukup hebat, hanya sekejap saja sapu tangan Thia Eng itu sudah basah kuyup oleh darah yang terus mengucur keluar, ia pikir sejenak tiba-tiba ia merobek ujung baju sendiri untuk menggantikan sapu tangan yang penuh darah itu.

"He, kalau pulang nanti tentu kau akan dimarahi ayah," ujar Bu-siang.

"Betapapun juga akan dimarahi, biar saja," kata Thia Eng. ia tekan luka si kakek sehingga darah tidak merembes lagi.

Selang tak lama, pelahan kakek itu membuka matanya, melihat Thia Eng duduk di sampingnya, katanya sambil menghela napas: "Buat apa kau menolong aku? Lebih baik aku mati saja."

Thia Eng gembira melihat si kakek telah siuman, dengan suara lembut ia bertanya: "Kepalamu sakit tidak ?"

"Kepala tidak sakit, hati yang sakit," jawab si kakek dengan suara pedih.

Thia Eng menjadi heran, sungguh aneh, luka pada kepala separah itu katanya tidak sakit, tapi hatinya yang dikatakan sakit malah, iapun tidak tanya lagi, kembali ia merobek sepotong kain bajunya untuk membalut lukanya.

Si kakek menghela napas pula dan berbangkit katanya: "Kau tak mau bertemu lagi dengan aku, apakah kita akan berpisah dengan begini saja ? Satu titik air mata saja kau tak mau meneteskan bagiku ?"

Mendengar suara ucapannya sedemikian memilukan sedemikian berduka, dilihatnya pula wajah si kakek yang jelek itu penuh darah, tapi sorot matanya memancarkan perasaan memohon dengan sangat, tanpa terasa hati Thia Eng men-jadi terharu dan ikut berduka, air matapun bercucuran tak tertahankan Bahkan tanpa kuasa ia terus merangkul si kakek, tiba-tiba ia merasa orang tua aneh ini seperti orang yang paling dekat dan paling rapat dengan dirinya.

Menyaksikan mereka tanpa sebab saling rangkul dan menangis dengan lucu itu, Liok Bu-siang menjadi geli, tak tertahan ia tertawa terbahak-bahak

Mendengar suara tertawanya, mendadak orang aneh itu melepaskan Thia Eng, ia berlari ke depan Bu-siang dan menatapnya tajam, tiba-tiba ia menengadah dan berkata dengan gegetun: "Ya, kau sering kasihan padaku, tapi juga selalu mengejek aku, kau telah menyiksa diriku sedemikian."

Habis menggumam, tiba-tiba ia ingat sesuatu, ia memandang Bu-siang pula dengan teliti, lalu memandang Thia Eng, kemudian berkata: "Tidak, tidak kau bukan dia, kau masih kecil Pernah apa Ho Wan-kun dengan kalian ? Mengapa kalian sedemikian mirip dia ?"

Usia Thia Eng dan Bu-siang memang sebaya, tapi gerak-gerik mereka dan sifat masing-masing boleh dikatakan berlawanan sama sekali, wajah merekapun tidak sama. Kalau raut muka Thia Eng berbentuk bulat telur, kulit badannya putih mulus, sedangkan muka Bu-siang berbentuk daun sirih, kulitnya hitam manis, meski usianya lebih muda setengah tahun, tapi perawakannya ramping semampai sehingga lebih tinggi daripada sang Piauci malah.

Karena merasa bingung atas ucapan si kakek tadi, Bu-siang lantas menanggapi: "Aku tidak tahu siapa yang kau tanyakan, cuma aku dan Piauci sama sekali tidak mirip, mana bisa menyerupai seseorang ?"

Kakek itu mengamat-amati pula kedua anak dara itu, mendadak ia mengetok kepalanya sendiri dan berkata: "Ya, aku benar-benar goblok Kau she Liok bukan ?"

"Ya, darimana kau mendapat tahu ?" jawab Bu-siang.

Orang tua itu tidak menjawab, ia bertanya pula: "Kakekmu bernama Liok Tian-goan bukan?" "Benar," jawab Bu-siang sambil mengangguk



Untuk sejenak kakek itu termenung, sekonyong-konyong ia pegang bahu Thia Eng terus diangkat tinggi-tinggi ke atas, katanya dengan suara halus: "Anak dara yang baik, kau she apa ? Cara bagaimana kau memanggil Liok Tian-goan ?"

Kini Thia Eng tidak punya rasa takut lagi, jawabnya: "Aku she Thia, Gwakong (kakek luar) she Liok, ibuku juga she Liok."

"Ya, ya, tahulah aku, Liok Tian-goan dan Ho Wan-kun melahirkan seorang putera dan seorang puteri," kata orang aneh itu. Lalu ia tuding Bu-siang dan melanjutkan: "Puteranya ialah ayah-mu." - Kemudian ia menurunkan Thia Eng dan berkata sambil menudingnya: "Dan puterinya ialah ibumu, Pantas kalian berdua menyerupai Ho Wan-kun separo-separo, yang satu pendiam, yang lain nakal, yang satu welas asih, yang lain kejam." Thia Eng tidak tahu bahwa nenek-luarnya bernama Ho Wan-kun, juga Bu-siang tidak kenal nama neneknya, hanya dalam hati samar-samar ia merasakan si kakek aneh ini pasti mempunyai

Untuk sejenak kakek itu termenung, se-konyong2 "Thia Eng diangkatnya tinggi di atas kepala, katanya dengan suara halus: "Anak dara baik, kau she apa ? Pernah apa kau dengan Liok Tian-goan ?"

hubungan yang erat dengan leluhurnya sendiri, dengan melenggong mereka memandangi kakek aneh itu.

"Mana Gwakongmu ? Maukah kau membawa aku menemuinya ?" kata si kakek pula.

"Gwakong sudah tidak ada lagi," jawab Thia Eng.

"Tidak ada lagi ? Mengapa tidak ada, kami sudah berjanji akan bertemu besok lusa," tukas kakek itu dengan melengak.

"Sudah beberapa bulan Gwakong telah meninggal dunia," jawab Thia Eng. "Lihatlah, bukankah kami berkabung semua ?"

Benar juga si kakek melihat pada kuncir rambut kedua anak dara itu sama terikat oleh pita putih sebagai tanda berkabung, seketika hati si kakek menjadi limbung, ia menggumam sendiri: "Dia telah paksa aku memakai celana wanita selama 40 tahun dan kini dia tinggal pergi begitu saja ? Hm, hm, ketekunan belajarku selama 40 tahun ini jadi cuma sia-sia belaka." - Habis berkata mendadak ia menengadah dan tertawa terbahak-bahak, suara tertawanya berkumandang jauh dan penuh mengandung perasaan sesal dan penasaran yang tak terhingga,

Sementara itu hari sudah dekat magrib, suasana sudah remang-remang. Liok Bu-siang menjadi rada takut, ia tarik lengan baju sang Piauci dan berkata: "Piauci, marilah kita pulang saja !"

Mendadak si kakek berkata pula: "Jika begitu tentu Wan-kun juga sangat berduka dan kesepian, "Eh, anak dara yang baik, bawalah aku menemui nenek-luarmu."

"Tidak ada, nenek-luar juga sudah tidak ada," jawab Thia Eng.

"Apa katamu ?" mendadak kakek itu melonjak tinggi sekali sambil berteriak menggeledek: "Di mana nenek-luarmu ?"

Muka Thia Eng menjadi pucat, jawabnya dengan gemetar: "Nenek juga tidak ... tidak ada, nenek dan kakek meninggal ber... bersama, Kongkong, janganlah kau menakuti aku, ak...aku takut !"

"Dia sudah mati ? jadi dia sudah mati!" mendadak kakek aneh itu memukul-mukul dada sendiri "Tidak, tidak ! Dia belum bertemu dengan aku dan mohon diri padaku, dia pasti tak boleh mati Dia telah berjanji padaku pasti akan bertemu: sekali lagi dengan aku."

Kakek itu berteriak-teriak dan berjingkrak seperti orang gila, mendadak sebelah kakinya menyapu, "krak", sebatang pohon kecil tersapu patah menjadi dua. Memangnya kakek itu sudah angin-anginan, kini dia mengamuk, tampaknya menjadi tambah gila dan menakutkan.

Thia Eng menggandeng tangan Bu-siang dan menyingkir jauh ke sana, mereka ketakutan dan tak berani mendekat.

Si kakek mendadak merangkul sebatang pohon Liu dan digoyang-goyangkan sekuatnya, Tapi pohon Liu itu cukup besar sehingga si kakek tidak mampu membetotnya keluar, ia menjadi murka dan berteriak: "Kau sendiri sudah berjanji, apakah kau telah lupa ? Kau mengatakan akan bertemu lagi dengan aku !" Semakin berteriak, akhirnya suaranya menjadi parau dan masih terus berusaha membetot keluar pohon Liu tadi.

Mendadak ia berjongkok dan mengerahkan segenap tenaganya sambil membentak: "Keluar !" - Namun pohon Liu itu tetap sukar terbetot keluar, sebaliknya tertarik oleh tenaga si kakek yang maha kuat, pohon itu menjadi patah bagian tengah.

Sambil merangkul potongan pohon Liu, kakek itu termangu sejenak, tiba-tiba ia menggumam pula: "Dia sudah meninggal, sudah meninggal !" - Ketika ia ayun potongan pohon itu terus dilemparkan bagaikan payung raksasa saja pohon Liu itu terlempar jauh dan jatuh ke tanah,

Sejenak kemudian air muka si kakek tampak berubah menjadi tenang, dengan ramah ia mendekati Thia Eng berdua dan berkata dengan tersenyum: "Kongkong telah menakuti kalian ya? Di manakah kuburan kakek dan nenekmu ? Coba bawalah aku ke sana."

Bu-siang meremas tangan sang Piauci, maksudnya supaya Thia Eng jangan memberitahukan padanya, Namun dalam hati Thia Eng merasa sangat kasihan kepada kakek aneh itu, tanpa pikir ia terus menuding pada dua pohon besar di kejauhan dan berkata: "Itu, berada di bawah kedua pohon itu !"

Mendadak kakek itu mengempit pula kedua anak dara itu dan dibawa lari ke arah pohon yang ditunjuk tadi. Dia lari lurus ke depan tanpa perduli rintangan apapun, kalau terhalang oleh sungai kecil, sekali lompat saja sungai itu lantas dilintasinya. Biasanya Liok Bu-siang sangat kagum terhadap Ginkang ayah-ibunya jika mengikuti latihan mereka, tapi kini kecepatan berlari si kakek dengan mengempit dua anak dara ternyata jauh terlebih hebat daripada ayah-ibu Bu-siang.

Hanya sekejap saja mereka sudah sampai di bawah kedua pohon besar tadi. Kakek aneh itu melepaskan Thia Eng berdua, lalu berlari ke depan kuburan tertampak dua kuburan berjajar, setiap kuburan terdapat sebuah batu nisan dengan pahatan huruf-huruf yang diberi cat kuning yang kelihatan masih baru. Rumput di atas kuburan juga masih jarang-jarang, suatu tanda kedua kuburan itu memang belum lama didirikan.

Air mata si kakek berlinang-linang sambil memandangi kedua batu nisan kuburan, jelas terbaca tulisan di atas batu-batu nisan itu menyebut kuburan Liok Tian-goan dan isterinya: Ho Wan-kun.

Kakek itu berdiri terpaku di depan kuburan itu sampai sekian lamanya, mendadak pandangannya serasa kabur, kedua batu nisan seperti berubah menjadi dua sosok bayangan manusia, yang satu adalah gadis jelita yang sedang tersenyum manis dan yang lain adalah pemuda tampan romantis.

Dengan mata mendelik si kakek mendadak membentak: "Bagus, celana wanita ini kukembalikan padamu !" - Berbareng ia melangkah "maju, sebelah tangannya menghantam dada pemuda itu.

"Plak", bubuk batu bertaburan pukulannya itu mengenai batu nisan, sedangkan bayangan pemuda telah lenyap,

"Mau lari ke mana ?" bentak pula si kakek, tangan Iain lantas menghantam sekalian, "plak-plak", batu nisan itu sampai rompal sebagian, betapa hebat tenaga pukulan si kakek sungguh luar biasa.

Semakin memukul semakin mengamuk, tenaga pukulannya juga semakin hebat, sampai pukulan ke sembilan, kedua tangannya menghamtam sekaligus, "blang", batu nisan itu patah menjadi dua.

Sambil terbahak-bahak ia berteriak: "Nah, kau sudah mampus sekarang, untuk apa lagi aku memakai celana perempuan?" - Habis itu ia lantas merobek-robek celana wanita bersulam kupu-kupu yang dipakainya sendiri itu hingga hancur, lalu dilemparkan ke atas kuburan, maka tertampaklah celana pendek dari kain belacu yang dipakainya di bagian dalam.

Selagi tertawa terbahak-bahak, mendadak suara tertawanya berhenti, setelah tertegun sejenak, segera ia berteriak pula: "Aku harus melihat mukamu, aku harus melihat mukamu !" - Ketika kedua tangannya menjojoh, serentak kesepuluh jarinya menancap ke dalam kuburan Ho Wan-kun, waktu ia tarik kembali tangannya, dua gumpal tanah ikut tergali keluar.



Begitulah kedua tangan si kakek terus bekerja dengan cepat laksana cangkul saja, tanah bergumpal-gumpal tergali olehnya sehingga sebentar lagi peti mati, pasti akan kelihatan.

Thia Eng dan Bu-siang menjadi ketakutan, tanpa terasa mereka terus putar tubuh dan lari bersama, Karena asyik menggali kuburan, kakek aneh itu tidak memperhatikan kaburnya kedua anak dara itu.

Setelah berlari-lari dan membelok ke sana ke sini beberapa kali dan tidak nampak dikejar si kakek barulah kedua anak dara itu merasa lega. Mereka tidak kenal jalanan di situ, terpaksa bertanya kepada orang kampung, karena itulah sampai hari sudah gelap baru mereka tiba kembali di rumah.

"Wah, celaka, celaka !" Ayah, ibu, lekas kemari ada orang menggali kuburan nenek !" begitulah Bu-siang berteriak sambil berlari menerobos ke dalam rumah, setiba di ruangan tamu, dilihatnya sang ayah sedang bicara dengan tiga orang tamu yang tidak dikenalnya.

Ayah Bu-siang bernama Liok Lip-ting, baik Lwekang maupun Gwakang sudah mencapai tingkatan yang cukup sempurna, hanya sejak kecil kedua orang tua mengawasinya dengan sangat ketat dan melarangnya berkecimpung di dunia Kangouw, maka namanya sama sekali tidak terkenal di dunia persilatan walaupun ilmu silatnya tergolong kelas: tinggi

Pada hari itu dia sedang duduk iseng di ruang tamu dan mengenangkan ayah-bunda yang sudah wafat, tiba-tiba terdengar suara ringkik kuda di luar, tiga penunggang kuda berhenti di halaman luar dan seorang diantaranya lantas berseru: "Wanpwe mohon bertemu dengan Liok-locianpwe!"

Di daerah Kanglam pada umumnya orang jarang naik kuda karena jalanan sempit dan banyak sungai dan kali yang bersimpang siur, maka hati Liok Lip-ting tergerak ketika mendengar suara ringkik kuda tadi, demi mendengar suara seruan, cepat ia memapak keluar, Dilihatnya tiga lelaki baju hijau dengan penuh debu sudah berdiri di luar pintu.

Melihat Liok Lip-ting, ketiga orang itu lantas memberi hormat dan berkata: "Kami datang dari jauh dan mohon bertemu dengan Liok-locianpwe."

Mata Liok Lip-ting menjadi merah, jawabnya: "Sungguh menyesal, ayah sudah wafat tiga bulan yang lalu, Mohon tanya nama tuan-tuan yang terhormat."

Sejak berhadapan tadi sikap ketiga orang sudah kelihatan gelisah dan kuatir, demi mendengar jawaban Liok Lip-ting, air muka mereka menjadi pucat seperti mayat dan saling pandang. dengan melenggong,

Lalu Liok Lip-ting bertanya pula: "Tuan-tuan ingin bertemu dengan ayah, entah ada keperluan apakah ?"

Ketiga orang itu tetap tidak menjawab, seorang diantaranya menghela napas dan menggumam: "Sudahlah, biarlah kita terima nasib saja !"

Mereka lantas memberi hormat pula kepada Liok Lip-ting, lalu hendak mencemplak kuda ma-sing-masing. Tapi seorang diantaranya tiba-tiba berkata: "Liok-locianpwe ternyata sudah wafat, biarlah kita memberi hormat ke depan layonnya."

Liok Lip-ting menyatakan terima kasih dan anggap tidak perlu maksud orang itu, tapi ketiga orang itu memohon pula dengan sangat dan terpaksa Liok Lip-ting menyilakan mereka masuk

Lebih dulu ketiga orang itu mengebut debu di atas tubuh agar bersih, lalu ikut Liok Lip-ting ke ruangan belakang untuk memberi hormat di depan abu layon Liok Tian-goan dan isterinya, Ho Wan-kun. Seperti lazimnya, Liok Lip-ting berlutut di samping meja sembahyang itu untuk membalas hormat.

Selesai menjalankan penghormatan, waktu ketiga orang itu berbangkit, tak tertahankan lagi mereka menangis dengan sedih, Karena tangisan mereka ini, Liok Lip-ting menjadi berduka juga, iapun menangis keras-keras,

Yang bertubuh gemuk pendek di antara ketiga orang itu berkata kepada kawannya yang mengucurkan air mata itu: "Cu-hiante, marilah kita mohon diri kepada tuan rumah !"

Orang she Cu itu mengusap air matanya, ia memberi hormat kepada Liok Lip-ting dan lantas mohon diri.

Melihat gerak-gerik ketiga orang itu tangkas dan gesit, jelas memiliki ilmu silat yang lumayan, entah mengapa datang terburu-buru dan berangkat pula tergesa-gesa, tapi Liok Lip-ting tidak enak untuk bertanya, terpaksa ia mengantar keberangkatan mereka.

Setiba di luar, ketiga orang itu memberi salam perpisahan pula, lalu mencemplak ke atas kuda masing-masing. Ketika orang she Cu itu naik ke atas kudanya lengan baju agak tergulung sedikit sehingga tertampak sebagian lengannya berwarna merah hangus.

Liok Lip-ting terkejut, dilihatnya kedua orang dibagian depan sudah melarikan kudanya, tanpa pikir ia terus melayang ke sana dan menghadang di depan kuda.

Tentu saja kedua ekor kuda itu berjingkrak kaget dan meringkik Syukur kedua orang itu mahir menguasai kudanya sehingga tidak sampai terperosot jatuh,

"Apakah Cu-heng ini terkena Jik-lian-sin-ciang ?" tanya Liok Lip-ting.

Mendengar disebutnya "Jik-lian-sin-ciang" (pukulan sakti ular belang berbisa), pula terlihat gerakan Liok Lip-ting yang hebat. serentak ketiga orang itu melompat turun dari kudanya dan menyembah, kata mereka: "Mata kami benar-benar lamur sehingga tidak kenal kesaktian Liok-tayhiap, mohon Liok-tayhiap sudi menolong jiwa kami."

"Ah, jangan sungkan," jawab Liok Lip-ting sambil membangunkan ketiga orang itu. "Silahkan masuk ke dalam untuk bicara pula."

Begitulah maka Liok Lip-ting lantas menyilakan ketiga tamunya masuk ke rumah pula dan baru saja berduduk, belum sempat bertanya lebih lanjut, pada saat itulah Liok Bu-siang berlari-lari masuk sambil berteriak-teriak

ia tidak jelas apa yang diledakkan anak perempuannya, tapi ia lantas membentaknya: "Anak perempuan tidak tahu aturan, hayo ribut apa ? Lekas masuk sana !"

Tapi Bu-siang lantas berteriak pula: "Ayah, orang itu sedang menggali kuburan nenek !"

Baru sekarang Liok Lip-ting terkejut, serentak ia melonjak bangun dan membentak: "Apa katamu ? Ngaco-belo !"

"Memang betul, paman," pada saat itu pula Thia Eng juga sudah masuk

Liok Lip-ting tahu anak perempuan sendiri sangat nakal dan jahil, tapi Thia Eng tidak pernah berdusta, maka ia lantas tanya lebih jelas apa yang telah terjadi

Dengan terputus-putus dan tak teratur Liok Bu-siang menceritakan apa yang dilihat dan dialaminya tadi

Tidak kepalang terkejut dan gusar Liok Lip-ting, segera ia samber golok yang tergantung di dinding, ia minta maaf kepada ketiga tamunya, lalu berlari menuju makam ayah-bundanya. Ketiga tetamunya juga lantas menyusulnya ke sana,

Setiba di depan makam, tak terperikan pedih hati Liok Lip-ting, hampir saja ia jatuh kelengar, Ternyata makam ayah-ibunya sudah dibongkar orang, bahkan kedua rangka peti mati juga sudah terbuka. jenazah di "dalam peti mati sudah lenyap, benda-benda yang biasanya disertakan di dalam peti juga berserakan tak keruan.

sedapatnya Liok Lip-ting menenangkan diri, dilihatnya tutup peti mati sama meninggalkan bekas lima kuku jari yang dalam, jelas bangsat pencuri mayat itu telah mencongkel tutup peti mati secara paksa dengan tenaga jarinya yang hebat Padahal kedua peti mati itu terbuat dari kayu yang keras, diberi pantek dan dipaku pula sehingga sangat kuat, tapi orang itu mampu membongkarnya dengan bertangan kosong, maka betapa hebat ilmu silat orang itu sungguh sukar diperkirakan

-oooo000oooo-

2. JIK - LIAN - SIN - CIANG

Tidak keruan rasa hati Liok Lip-ting, ya sedih ya gusar, ya kejut ya sangsi, tapi ia tidak mendengarkan cerita Bu-siang secara jelas sehingga tidak diketahui bangsat pencuri mayat ini ada permusuhan kesumat apa dengan ayah-bundanya sehingga sesudah kedua orang tua itu sudah meninggal masih dirasakan perlu merusak kuburannya serta memusnahkan mayatnya.

Sejenak dia terlongong di depan kuburan, segera pula ia mengejar, tapi hanya beberapa langkah, ia ragu2, ia memeriksa tapak kaki disekitar kuburan, namun jejak yang dicarinya tak diketemukan, ia bertambah heran, pikirnya: "Seorang diri dia membawa jenazah ayah bunda-ku, betapapun tinggi Ginkangnya pasti juga meninggalkan tapak kaki ?"

Biasanya dia cukup cermat, namun mengalami kejadian yang tak terduga ini, pikirannya menjadi kacau, tidak sempat lagi ia memeriksa dengan teliti, segera ia lari mengejar mengikuti jalan raya. Ketiga tamu tadi kuatir akan keselamatannya, merekapun mengintil dengan kencang.



Begitu Liok Lip-ting kembangkan Ginkang, larinya secepat kuda membedal, mana bisa ketiga orang itu menyusulnya ? sekejap saja sudah kehilangan bayangannya, Liok Lip-ting berlari memutar beberapa kali, cuaca pun sudah gelap, terpaksa dia kembali ke kuburan pula, dilihatnya ketiga tamu itu berdiri menunggu di pinggir kuburan, Liok Lip-ting berlutut di depan kuburan, ia memeluk peti mati ibunya dan menangis tergerung-gerung.

setelah orang puas menangis, barulah ketiga laki2 itu maju membujuk: "Liok-ya, harap tenangkan hati dan berpikirlah dengan jernih. Mungkin kami bisa memberi sedikit keterangan latar belakang kejadian ini."

Melotot kedua mata Liok Lip-ting, teriaknya: "Siapa bangsat keparat itu ? Dimana dia ? Lekas katakan !"

Kata salah seorang itu: "Cukup panjang cerita ini, tidak perlu Liok-ya gugup, marilah pulang dulu nanti kita rundingkan persoalan ini."

Liok Lip-ting anggap omongan orang memang benar, katanya: "Aku terlalu gugup sampai berlaku kurang hormat."

"Ah, kenapa Liok-ya berkata demikian," sahut ketiga tamu itu.

Maka mereka kembali ke rumah Liok Lip-ting. Setelah menghaturkan teh kepada tamu-tamunya, tak sempat tanya nama para tamunya, Liok Lip-ting: lantas masuk ke dalam hendak memberitahukan isterinya, tak tahunya sang isteri sudah mendapat laporan Bu-siang dan keluar mengejar bangsat itu dan belum kembali. Bertambah pula kekuatiran Liok Lip-ting, terpaksa ia kembali ke ruang tamu dan bicara dengan ketiga tamunya,

Ketiga tamunya lantas memperkenalkan diri, kiranya mereka adalah para Piausu An-wan Piaukiok dari Ki-lam di Soatang, seorang she Liong, she So dan she Cu.

Mendengar mereka hanya kawanan Piausu, seketika berubah dingin sikap Liok Lip-ting, hatinya kurang senang, katanya: "Selamanya aku tidak pernah berhubungan dengan Piausu, hari ini kalian kemari, entah ada keperluan apa ?"

Ketiga orang itu saling pandang lalu serentak berlutut, serunya: "Harap Liok-ya suka tolong jiwa kami!"

Liok Lip-ting sudah dapat meraba beberapa bagian, katanya tawar: "Berdirilah kalian, Entah cara bagaimana Cu-ya sampai terkena Jit-lian-sin-ciang ?"

Liong-piausu dan So-piausu berkata berbareng: "Kami berduapun terkena juga." Sembari berdiri mereka menyingkap lengan baju, tampak ke-empat lengan mereka sama berwarna merah darah dan mengerikan.

Liok Lip-ting terkejut katanya ragu2: "Tiga irang semua kena ? Siapa yang menyerang kalian ? )ari mana pula kalian mendapat tahu ayahku asa menolong ?" -

"Tujuh hari yang lalu, kami bertiga membara se-partai barang kawalan menuju ke Hokkianwat Yangciu, di jalan hawa sangat panas, kami berteduh di sebuah gardu minum di pinggir jalan, kami bersyukur sepanjang jalan ini tidak terjadi pa-apa, agaknya barang kawalan akan tiba di tempat tujuan dengan selamat," demikian tutur Liong-piausu.

"Pada saat itulah dari jalan raya sana berlari mendatangi seekor keledai berbulu loreng dengan langkah cepat, penunggangnya adalah seorang Tokoh setengah umur berjubah kuning. ia turun dari keledai dan masuk ke dalam gardu pula, Cu-hiante memang masih muda dan suka iseng lagi, melihat orang berparas elok, ia cengar-cengir dan main mata kepadanya.

Tokoh itupun balas tersenyum manis padanya, Cu-hiante kira orang ada maksud, segera ia menghampiri dan meraba pakaian orang, katanya tertawa: "Seorang diri menempuh perjalanan, apa tidak takut diculik perampok dan dijadikan isteri muda ?" - Tokoh itu tertawa, ujarnya: "Aku tidak takut perampok, hanya takut pada Piausu." - sembari bicara iapun menepuk ringan dipundaknya, Mendadak Cu-hiante seperti kesetrom, seluruh badan bergetar hebat, gigi berkerutukan.

"Sudah tentu aku dan So-hiante sangat kaget. Lekas aku memburu maju memayang Cu-hiante, sementara So-hiante segera menjambret si Tokoh dan bentaknya: "Kau gunakan ilmu sihir apa ? Tokoh itu hanya tersenyum saja, ia menepuk pula sekali di pundak kami berdua, seketika seluruh badan terasa panas seperti di-panggang, panasnya sukar tertahan, namun sekejap lain terasa seperti jatuh ke dalam sumur es, tak tertahan seluruh badan menggigil kedinginan.

"Para kerabat Piaukiok yang lain mana berani maju ? si Tokoh tertawa, ujarnya: "Kepandaian begini saja berani mengibarkan bendera Piaukiok, huh, bikin malu saja, sungguh besar nyali kalian, Kalau tidak kupandang muka kalian yang tebal, pastilah ku persen beberapa kali tamparan lagi", Kupikir sekali tepuk saja tidak tertahan, apalagi ditambah beberapa kali pukulan lagi, tentulah jiwa kami melayang.

Tokoh itu tertawa pula: "Kalian mau tunduk tidak kepadaku ? Masih berani main gila dijalan raya ?" -Lekas aku menyahut: "Kami menyerah ! Tidak berani lagi!" - si Tokoh mengetuk sekali belakang leherku dengan gagang kebutnya, seketika rasa dingin dalam badanku hilang, namun badan masih terasa kaku dan gatal, sudah tentu jauh lebih mending dari pada semula, Lekas aku menjura:

"Kami punya mata tapi lamur sehingga berbuat salah kepada Sian-koh. Harap Sian-koh tidak pikirkan kesalahan kami ini dan sukalah memberi ampun kepada kedua saudaraku."

"Tokoh itu tersenyum: "Dulu guruku hanya mengajarkan cara memukul orang, tidak pernah mendidik aku cara menolong orang, Tadi kalian sudah merasakan sekali tepukan ku, kalau badan kalian kuat, rasanya dapat bertahan sepuluh malam, Kalau hawa merah sudah merembes sampai ke dada, tibalah saatnya kalian pulang ke neraka." - lalu ia tertawa cekikikan, dengan kebutnya ia bersihkan kotoran di jubahnya terus keluar dan cemplak keledainya tinggal pergi.

Sudah tentu kejutku bukan kepalang, tanpa hiraukan pamor segala, lekas aku memburu maju dan berlutut di depannya serta berteriak memohon: "Harap Sian-koh bermurah hati, sudilah memberi ampun dan menolong jiwa kami!"

Mendengar sampai di sini Liok Lip-ting mengerut kening, Liong-piausu tahu perbuatannya terlalu rendah dan hina, segera ia menambahkan: "Xiok-ya, kami datang untuk mohon pertolonganmu, maka apa yang terjadi waktu itu harus kami ceritakan, sedikitpun kami tidak merahasiakannya kepadamu."

"O, ya, teruskan ceritamu." ujar Liok Lip-ting.

Tutur Liong-piausu lebih lanjut: "Tokoh itu hanya tersenyum saja, sesaat kemudian baru berkata: "Baiklah, akan kuberi petunjuk kepadamu. Dia sudi menolong tidak terserah pada keberuntunganmu sendiri, Nah, lekas kalian pergi ke Ling: ok-tin di Oh-ciu, mintalah pertolongan kepada Liok Tian-goan, Liok-lo-enghiong. Dalam dunia ini hanya dia saja seorang yang dapat mengobati luka-luka ini. Katakan pula kepadanya, dalam waktu dekat akupun akan menemui dia."

Tersentak hati Liok Lip-ting, teriaknya kaget:

"Memangnya orang yang mencuri jenazah ayah bundaku itu ada sangkut paut dengan persoalan ini ? ini wah sulit!"

"Begitulah Cayhe berpikir," kata Liong-piausu "Setelah mendengar kata2nya aku masih ingin memohon padanya, tapi dia lantas menukas: "Perjalanan ke Oh-ciu cukup jauh, memangnya kalian hendak membuang-buang waktu," - Tanpa kelihatan dia angkat kakinya, entah bagaimana tahu2 badannya sudah melayang ke punggung keledainya. Cepat sekali keledai itu mencongklang pergi, dikejar pun tidak keburu lagi Aku melongo sekian lamanya, kulihat So dan Cu-hiante masih gemetar, terpaksa ku payang mereka naik ke atas kereta,

"Begitu tiba di kota segera ku panggil tabib terpandai, namun para tabib itu mana dapat mengobati ? Waktu kami buka baju, di atas pundak kami masing2 ada tapak tangan merah darah yang menyolok sekali Sampai besok paginya, rasa, dingin kedua saudaraku baru hilang dan tidak gemetar lagi, namun warna merah tapak tangan itu semakin membesar, kuingat pesan si Tokoh, kalau hawa merah ini sampai merembes sampai ke dada dan ujung jari, jiwa kami bertiga akan tak tertolong lagi, maka kami tidak perdulikan lagi barang kawalan itu, selama beberapa hari ini siang-malam kami memburu kemari, siapa tahu Liok-loenghiong ternyata sudah wafat Memang Cayhe terlalu gegabah, kami hanya ingat kata-kata si Tokoh, tak tahunya Liok-ya telah mendapat ajaran warisan leluhur, engkaulah yang menjadi harapan sebagai tuan penolong jiwa kami."



Dasar banyak pengalaman dan pandai bicara lagi, belum Liok Lip-ting memberi jawaban, dia sudah sebut orang sebagai tuan penolong jiwa mereka, maksudnya supaya orang tidak enak menolak"

Liok Lip-ting tersenyum ewa, katanya: "Sejak kecil aku mendapat didikan keluarga, tapi tidak berani berkelana di Kangouw, jika kalian tidak kenal namaku yang rendah, inipun tidak perlu dibuat heran." Lahirnya dia bersikap merendah, sebetulnya amat tinggi hati, pelahan ia angkat kepala mendadak ia melonjak dan berteriak kaget:

"Apa itu ?" - di bawah sinar pelita jelas sekali kelihatan di atas dinding tembok putih itu berderet sembilan tapak tangan darah.

Mereka berempat terlongong mengawasi ke sembilan tapak tangan merah itu, seperti orang tersihir dan linglung, sesaat lamanya tak mampu bicara, Para Piausu dari An-wan Piaukiok tidak tahu asal-usul tapak tangan darah itu, namun melihat Liok Lip-ting begitu terkejut, serta merta mereka merasa ke sembilan tapak tangan itu pasti berlatar belakang, Ke sembilan tapak tangan itu berjajar tinggi di atas tembok dekat atap rumah, dua yang paling atas berjajar, demikian terus menurun ke bawah masing2 berjajar dua, paling bawah berjarak rada jauh dan berjumlah tiga, Ketiga tapak terbawah inipun tingginya kira-kira tiga meter lebih, kalau tidak naik tangga, tidak mungkin bisa menjajarkan cap2 tangan itu sedemikian rapi.

"lblis itu, untuk apa iblis itu mencari aku ?" demikian gumam Liok Lip-ting.

Dasar orang kasar, Cu-piauthau itu segera bertanya: "Liok-ya, apa maksud ke sembilan tapak tangan darah ini ?"

Hati sedang gundah, menguatirkan keselamatan istrinya lagi, maka Liok Lip-ting tidak hiraukan pertanyaannya, ia keluar rumah dan melihat isterinya, Liok-toanio, sedang mendatangi sambil menggandeng Thia Eng dan Liok-Bu-siang, begitu berhadapan dengan sang suami, nyonya itu hanya menggeleng kepala saja.

Supaya sang istri tidak kuatir, Liok Lip-ting tidak menyinggung tapak tangan darah di atas dinding itu, segera ia iringi orang masuk ke dalam kamar di belakang, lalu ia tuturkan ketiga Piau-thau yang terkena pukulan Ji-lian-sin-ciang dan minta diobati

"Lip-ting," ujar Liok-toanio, "malam ini jangan kita tidur di rumah, bagaimana pendapatmu ?"

"Kenapa ?" Liok Lip-ting menegas,

Liok-toanio suruh Thia Ing dan Liok Bu-siang keluar, setelah tutup pintu ia berkata lirih: "Kejadian hari ini amat ganjil, ayam dan anjing dalam rumah kita ini sudah tiada satupun yang hidup."

"Apa ?" teriak Liok Lip-ting kaget.

"Tiga ekor anjing penjaga pintu, empat ekor kucing, tujuh ekor babi puluhan itik dan dua puluhan ayam, semuanya sudah mati"

Belum lagi habis istrinya menutur, Liok Lip-ting sudah berlari keluar langsung ke belakang, Kim-seng, jongos tuanya menyapa: "Siauya !" -saking sedih hampir saja ia mengucurkan air mata.

Tampak oleh Liok Lip-ting anjing, kucing, ayam dan itik terkapar di atas tanah, semua sudah mati kaku tak bergerak lagi

Pelahan Liok Lip-ting berjongkok di depan anjing kesayangannya, didapatinya batok kepala binatang sudah hancur, terang bukan terkena pukulan atau hantaman benda keras, se-olah2 seperti dipukul dengan suatu benda keeiJ yang lemas, namun tidak mungkin hal itu terjadi ? Sedikit me-renung, tiba-tiba Liok Lip-ting teringat penuturan Liong-piauthau, si Tokok itu memegang sebuah kebutan, terang binatang itu mati dibawah pukulan kebutnya, Tapi kebutan itu terbuat dari barang lemas, cuma sekali kebut orang dapat membunuh anjing" dan babi, malah batok kepalanya hancur luluh, kekuatan lwekang orang itu sangat tinggi dan mengejutkan.

"Ayam anjing tidak ketinggalan ayam anjing tidak ketinggalan !" tanpa terasa mulutnya menggumam pikirnya: "Sejak kecil aku tidak pernah berkecimpung di Kangouw, mana mungkin aku ikat permusuhan ? Orang ini menyerang secara keji, tentu tujuannya hendak mencari perhitungan dengan ayah bunda."

"Segera ia masuk ke kamar tamu, katanya kepada ketiga Piauthau: "Bukan aku tidak suka menahan kalian, soalnya keluarga kami bakal tertimpa bencana, harap kalian suka segera pergi, saja supaya tidak terembet."

Ketiga Piausu ini tadinya mengira orang sudah, sudi memberi pertolongan kini mendengar tuan rumah mengusir mereka secara halus, mereka menjadi gugup dan bingung pula, kata mereka serempak sambil berdiri: "Liok-ya... Liok-ya... engkau...." gelisah dan cemas membuat mereka tidak kuasa meneruskan kata-katanya.

Liok Lip-ting mengerut kening, tiba2 ia masuk ke kamar dan mengeluarkan dua puluh tujuh batang jarum emas, setiap batangnya panjang sembilan incij tanpa suruh orang membuka pakaian, langsung ia tusukkan kedua puluh tujuh jarum itu ke badan ketiga Piausu, setiap orang sembilan batang, Gerak-geriknya amat cekatan, setiap tusukan jarum langsung menancap di Hiat-to penting dalam badan, Belum lagi ketiga Piausu tahu apa yang terjadi tahu2 kedua puluh tujuh batang jarum itu sudah menancap di atas badan mereka Kejadiannya memang aneh, meski jarum2 itu menusuk masuk tujuh-delapan inci ke dalam badan mereka, tapi karena semua Hiat-to itu sudah mati rasa, maka sedikitpun tidak terasakan sakit

"Lekaslah kalian cari tempat yang sepi dan sembunyi atau menetaplah di rumah petani, tiga hari lagi boleh kemari Kalau jiwaku masih hidup, nanti aku memberi pengobatan lebih lanjut."

Ketiga Piauthau itu amat kaget tanyanya: "Liok-ya bakal menghadapi bencana apa ?"

Liok Lip-ting tidak sabar untuk bicara lagi sahutnya: "Kalian terkena Jik-sin-ciang, sebetulnya racun bakal menyerang dalam sepuluh hari dan kalian akan meninggal kini aku sudah menusuk dengan jarum emas, kadar racun akan tertahan sementara, hawa merah itu tidak akan menjalar Tiga hari lagi biar kuberi pertolongan lebih lanjut dan pasti tidak akan terlambat."

"Kalau tiga hari lagi Liok-ya mengalami se suatu, lalu bagaimana ?" tanya Cu-piau-thau.

Mata Liok Lip-ting mendelik jengeknya: "Kecuali aku tiada orang Iain yang mampu mengobati luka-luka Jik-lian-sin-ciang. Kalau aku mati biarlah kalian mengiringi aku."

Liong dan So masih berkukuh hendak mohon pengobatan selekasnya, tapi Liok Lip-ting sudah berkata pula: "Kalian masih tunggu apa lagi Orang yang mencari perkara kepadaku bukan lain adalah Tokoh itu, sebentar dia akan tiba di sini.

Seketika ciut nyali ketiga piausu itu dan mereka berani tanya lagi, cepat mereka pamit dan mohon diri.

Liok Lip-ting tidak antar tamu2nya, ia duduk di kursi sambil mengawasi ke sembilan tapak tangan di atas dinding itu.

Entah berapa lama ia terlongong mengawasi tapak2 tangan itu, tiba2 dilihatnya A Kin jongos berlari masuk ter-gesa2 dan melapor "Siauya, di luar ada datang seorang tamu."

"Katakan aku tidak dirumah," ujar Liok Lip-ting.

"Siauya, Toanio nyonya itu mengatakan tidak mencari kau, dia sedang menempuh perjalanan dan mohon menginap semalam saja di sini," kata si A Kin.

"Apa ? jadi dia perempuan ?" teriak Lip-ting kaget.

"Benar, Toanio itu malah membawa dua anak, mungil dan elok sekali "

Mendengar tamu perempuan membawa anak, barulah Liok Lip-ting merasa lega, tanyanya menegas: "Dia bukan Tokoh ?"

"Bukan," sahut A Kin menggeleng, "Pakaian-nya bersih, kelihatannya nyonya dari keluarga baik-baik."

"Baik, bawalah masuk ke kamar tamu, siapkan makanan dan sediakan ala kadarnya," A Kin mengiakan sambil mengundurkan diri.

Liok Lip-ting berdiri, baru saja ia hendak ke dalam, ternyata Liok-toanio sudah berada di luar ruangan katanya segera sambil mengerut alis: Lip-ting, kedua bocah itu harus kita sembunyi-kan

Kedua bocah itupun masuk hitungan," kata Liok Lip-ting sambil menuding tapak tangan di atas dinding, "Iblis itu sudah memberikan tanda darah ini, sampai ke ujung langitpun kau tidak akan lolos dari kekejamannya."



Dengan termangu Liok-toanio mengamati ke sembilan tapak tangan darah di dinding itu, tapak-tapak tangan itu se-olah2 semakin besar, semakin merah dan seakan-akan menubruk ke arahnya, tan-pa terasa ia menjerit kaget dan memegangi sandaran kursi, katanya: "Kenapa ada sembilan tapak tangan, keluarga kita kan hanya tujuh orang." Sehabis berkata kaki tangan sudah terasa lemas tak bertenaga, dengan terlongong ia awasi suaminya, hampir saja ia mengucurkan air mata,

Lekas Liok Lip-ting memegang lengannya, dan berkata: "Isteriku, bencana sudah di depan mata, takut pun tiada gunanya. Dua tapak teratas ditujukan kepada ayah-ibu, dua di bawahnya terang untuk kita berdua. Dua lagi di baris ketiga ditujukan kepada Bu-siang dan Thia Eng, tiga yang lain adalah A Kin dan dua pelayan lain, Hehehe, inilah yang dinamakan banjir darah dalam keluarga, ayam, anjing tidak ketinggalan."

Bergidik Liok-toanio dibuatnya mendengar kata2 suaminya, "Ayah dan ibu ?" ia menegas tak mengerti

"Akupun tidak tahu ada permusuhan apa antara gembong iblis ini dengan ayah dan ibu. Ayah bunda lama wafat, dia suruh orang membongkar kuburan dan mengeluarkan jenazah mereka, mungkin setiap orang harus menerima sekali pukulan baru dianggap selesai membalas sakit hati."

"Kau kira orang gila itu adalah utusannya ?

"Sudah tentu."

Baru mereka bicara dilihatnya A Kin berlari masuk dengan ber-sungut2, katanya: "Siauya, pintu besar kita entah kenapa tidak bisa dibuka, seperti terpantek dari luar".

Berubah air muka Liok Lip-ting berdua, lekas mereka memburu keluar, tertampak daun pintu yang bercat hitam itu masih tertutup rapat Ke-dua tangan Liok Lip-ting terukir menangkap gelang tembaga pintu dan ditariknya ke belakang, terdengarlah suara berkereyot, daun pintu hanya bergoyang sedikit, namun tidak dapat dibukanya, Liok-hujin memberi isyarat, segera ia melompat ke atas tembok, di luar sunyi senyap tidak kelihatan bayangan manusia. Sambil melintangkan pedang ia lompat turun keluar pintu, seketika alisnya berdiri, makinya: "Terlalu menghina orang !"

Ternyata daun pintu itu sudah terpantek oleh dua batang besi panjang yang di paku di atas daun pintu, Di atas batang besi itu tergantung secarik kain yang berlepotan darah, kelihatannya amat mengerikan.

Waktu itu Liok Lip-ting pun sudah menyusul keluar, melihat palang besi dan kain belacu (tanda duka cita), ia tahu musuh semakin mendesak dalam dua jam mendatang, pasti gembong iblis itu akan menurunkan tangan jahatnya. ia tertegun sebentar, rasa gusarnya mulai menipis, katanya: "Niocu (isteriku), kalau seluruh keluarga Liok kita hari ini harus mati bersama, biarlah kita mati tanpa merendahkan pamor ayah bunda."

Liok-toanio manggut2, saking haru suaranya tertelan dalam tenggorokannya,

Mereka melompati tembok kembali ke dalam rumah langsung menuju ke belakang, tiba2 terdengar sesuatu suara di atas tembok sebelah timur, kiranya di atas sana ada orang, Liok-Lip-ting memburu ke depan menghadang di depan isterinya, waktu ia angkat kepala, dilihatnya di atas tembok sedang duduk seorang anak laki2, rambut kepalanya dikuncir dua menegang, bocah itu sedang memetik kembang di atas pohon, Lalu terdengar orang berteriak di sebelah bawah: "Awas lho, jangan sampai terjatuh !" kiranya Thia Eng, Liok Bu-siang dan seorang anak laki2 lain sedang menunggu di kaki tembok sana, Liok Lip-ting berpikir: "Kedua bocah ini minta menginap di rumah-ku, kenapa begini nakal ?"

Anak laki2 di atas tembok itu sedang memetik sekuntum bunga, Liok Bu-siang segera berteriak: "Nah, berikan padaku, berikan kepadaku !"

Anak laki2 itu tertawa, ia melempar bunga itu ke arah Thia Eng, lekas Thia Eng ulur tangan menangkapnya, lalu diangsurkan kepada sang Piau-moay, Tapi Liok Bu-siang naik pitam, ia meraih kembang itu terus dibanting dan di-injak2.

Melihat ke empat bocah ini bermain dengan riang gembira, sedikitpun tidak tahu bencana besar yang bakal menimpa mereka sekeluarga, Liok Lip-ting suami istri menghela napas, mereka masuk ke dalam kamar.

"Piaumoay, kenapa kau marah ?" bujuk Thia Eng.

Liok Bu-siang merengut, katanya: "Aku tidak sudi, aku sendiri bisa memetik !" - sekali kaki kanannya menutul tanah, badannya melejit ke atas serta meraih akar rotan yang merambat di atas tembok, sekali meminjam tenaga, seketika badannya melambung ke atas pula beberapa kaki lalu melayang ke arah sebatang dahan pohon,

Anak laki-laki di atas tembok itu bersorak gembira, teriaknya: "Lekas kemari!"

Kedua tangan Liok Bu-siang menarik dahan pohon, di tengah udara ia jumpalitan dua kali, badannya mendadak melambung ke tengah udara, terus menubruk ke atas tembok."

Dinilai dari Ginkangnya, apa yang Bu-siang lakukan sekarang boleh dikata sangat berbahaya namun hatinya sedang panas dan dongkol kepada si anak laki2 yang melempar bunga kepada Piau-cinya tadi, memang sifat pembawaan anak perempuan ini suka menangnya sendiri, maka tanpa hiraukan keselamatan dirinya ia telah main lompat di tengah udara.

Anak laki2 itu menjadi kaget, teriaknya memperingatkan: "Awas ! Hati2! - segera ia ulur tangan hendak menangkap tangan Bu-siang.

Kalau dia tidak mengulurkan tangan, Liok Bu-siang sebetulnya bisa mencapai pagar tembok tapi ketika melihat anak laki-laki itu hendak menarik dirinya, segera ia menghardik: "Minggir" - badanpun menyingkir ke samping hendak menghindari tarikan tangan orang, Kepandaian jumpalitan ditengah udara adalah ilmu Ginkang tingkat tinggi, walau dia pernah melihat ayah bundanya memainkannya, dia sendiri belum pernah mempelajarinya, dengan sedikit berkisar itu, jari2-nya sudah tidak dapat meraih tembok, ditengah teriakan kagetnya, badannya langsung jatuh ke bawah,

Melihat Bu-siang jatuh, anak laki-laki yang berada di kaki tembok segera memburu maju dan ulur tangan memeluk badannya. Tapi tembok itu setinggi beberapa tombak, meski badan Bu-siang kecil, tenaga luncuran setinggi ,itu jelas amat berat, meski anak laki2 itu berhasil memeluk pinggangnya, tak tertahan keduanya terbanting jatuh dengan keras. Terdengarlah suara "krak", tulang kaki kiri Liok Bu-siang "patah, demikian pula jidat anak laki-laki itu kebentur batu runcing, darah mengucur keluar,

Thia Eng dan anak laki2 di atas tembok itu memburu maju untuk menolong. Anak laki2 itu merangkak bangun sambil mendekap jidatnya yang bocor, sementara Liok Bu-siang jatuh semaput. Sambil memeluk Piaumoaynya Thia Eng segera berteriak: "lh-tio, Ah-i (paman, bibi), lekas datang !"

Mendengar teriakannya, Liok-toanio segera memburu keluar, tiba2 terasa di atas kepalanya angin kencang menyamber, sesuatu benda berat menindih kepalanya Sebat sekali Liok-toanio berkelit ke samping, dilihatnya yang dilempar ke arahnya itu ternyata mayat seseorang. Tak sempat membawa goloknya segera ia melompat ke wuwungan rumah, belum lagi ia berdiri tegak, dua sosok mayat tahu2 dilempar pula memapak mukanya, ketika Liok-toanio membungkukkan tubuh, tahu2 kedua lututnya menjadi lemas dan tidak kuasa berdiri tegak, kontan ia terjungkal jatuh ke pelataran.

Kebetulan Liok Lip-ting sedang memburu keluar, melihat Liok-toanio terjungkal jatuh dari atas, segera ia melompat ke depan dengan ilmu Ginkang yang dia yakinkan selama berpuluh tahun, meski jaraknya masih tiga tombak jauhnya, namun sekali lompat badannya melesat seperti anak panah, telapak tangannya sempat menyanggah punggung istrinya, Karena tenaga sanggahan ini badan Liok-toanio terlempar naik, diwaktu meluncur turun pula, Liok Lip-ting dengan ringan dapat menurunkan badan istrinya di atas tanah.

Tak sempat menanyai keadaan istrinya, sekilas dilihatnya tidak apa-apa, segera ia melompat ke atas rumah, matanya menjelajah sekelilingnya, tertampak bulan sabit tergantung tinggi di cakrawala, angin menghembus sepoi2, namun tidak kelihatan bayangan seorangpun Liok Lip-ting segera kembangkan Ginkang, dalam sekejap saja ia sudah meronda keadaan rumahnya satu keliling, namun tidak menemukan apa-apa, segera ia melompat turun ke bawah pelataran dan masuk ke dalam rumah.



Di situ terlihat seorang nyonya pertengahan umur sedang membopong Liok Bu-siang dan anak laki-laki tadi masuk ke ruang tengah, tanpa menghiraukan kucuran darah anak laki-laki itu, si nyonya berusaha menyambung dulu tulang kaki Liok Bu-siang yang patah.

Liok Lip-ting semula mengira puterinya sudah dicelakai orang, kini melihat hanya tulang kaki yang patah, hatinya rada lega, tanyanya kepada istrinya: "Kau tidak apa-apa bukan ?"

Liok-toanio menggeleng kepala, ia sobek lengan baju untuk membalut jidat anak laki2 itu yang terluka, ingin dia memeriksa luka kaki puterinya, tak terduga baru saja melangkah, kaki sendiri terasa linu lemas, tanpa kuasa ia jatuh terduduk.

Nyonya pertengahan umur itu menutuk Hiat-to Pek-hay-hiat dan Hwi-tiong-hiat dikedua paha Liok Bu-siang untuk menghilangkan rasa sakit, lalu kedua tangan menekan pada kedua sisi tulang yang patah untuk menyambungnya.

Melihat gerak-gerik orang yang cekatan, ilmu tutuknya terang tingkat tinggi, makin curigalah Liok Lip-ting, serunya: "Siapakah Toanio ini ? Ada petunjuk apa berkunjung ke sini ?"

Nyonya itu tumplek seluruh perhatian untuk menyambung tulang kaki Liok Bu-siang yang patah, sedikitpun tidak menghiraukan pertanyaannya, Diam-diam Liok Lip-ting perhatikan tangan kiri orang yang memegangi kaki puterinya, sementara tangan kanan diangkat dan berputar setengah lingkaran terus menutuk turun pelan-pelan, itulah gerakan It-yang-ci yang menurut cerita ayahnya merupakan kepandaian khas musuh besarnya, maka tanpa ragu2 lagi, kedua telapak tangan Liok Lip-ting terus menghantam ke punggung orang.

Mendengar deru angin dari belakang, tangan kanan nyonya itu tetap menutuk Pek-hay-hiat Liok Bu-siang, telapak tangan lain menepuk balik ke belakang menangkis pukulan Liok Lip-ting. Kontan Liok Lip-ting merasakan tenaga dahsyat mendorong ke arah dirinya, seketika dada terasa sesak, tanpa kuasa ia tergentak mundur dua langkah.

Karena menggunakan telapak tangan kiri sehingga si nyonya tidak dapat memegangi sebelah kaki Liok Bu-siang, maka telunjuk jarinya yang menutuk turun itu ikut tergetar miring, tulang kaki Liok Bu-siang yang patah itu kembali lepas, sekali menjerit seketika anak dara itu jatuh pingsan lagi.

Pada saat itulah dari atas genteng terdengar suara tertawa seorang, serunya: "Aku hanya membunuh sembilan jiwa keluarga Liok, orang luar harap segera keluar!"

Waktu Liok Lip-ting angkat kepala, dilihatnya di atap genteng berdiri seorang Tokoh, di bawah cahaya bulan yang remang2, jelas kelihatan parasnya yang elok, berusia delapan atau sembilan belas, kulitnya putih halus, sikapnya garang, di punggungnya terselip sepasang pedang.

Liok tip-ting segera berseru lantang: "Aku inilah Liqk Ljp-ting, apa Toyu datang dari Jik-lian-to ?"

Si Tokoh mendengus: "Baik sekali kalau sudah tahu, lekas kau bunuh isteri dan puteri serta semua pembantumu, lalu kau bunuh diri pula supaya aku tidak perlu turun tangan !" - sikapnya congkak, kata2-nya pedas, sedikitpun tidak pandang sebelah mata pada tuan rumah,

Meski Liok Lip-ting tidak pernah angkat nama di kalangan Kangouw, betapapun dia keturunan seorang pendekar besar, mana mandah dihina di hadapan orang luar, segera ia memburu keluar dan melompat ke atas seraya membentak: "Biar kau kenal dulu kelihayanku !"


Sikap si Tokoh acuh tak acuh, disaat kedua kaki Liok Lip-ting hampir menginjak genteng, badan masih terapung di udara, mendadak kedua pedangnya bergerak laksana bianglala, tahu-tahu sinar pedang lawan itu sudah mengurung seluruh badannya, serangan kedua pedang ini amat lihay dan hebat sekali, meski ilmu silat Liok Lip-ting amat tinggi, betapapun dia kurang pengalaman menghadapi musuh tangguh, tahu2 hawa pedang musuh yang dingin itu sudah menyamber lehernya, dalam keadaan begitu jelas dia tidak akan mampu menangkis atau menyelamatkan diri, terpaksa ia pejamkan mata menunggu ajak

"Trang," tiba2 seseorang telah menangkiskan pedang yang menyerang lehernya itu, waktu Lip-ting membuka mata, dilihatnya nyonya setengah umur tadi sedang menempur si Tokoh dengan bergaman sebatang pedang panjang,

Nyonya itu berpakaian warna abu2, sementara Tokoh muda itu mengenakan jubah kuning, tertampak bayangan abu2 dan kuning saling berputar menari di bawah cahaya bulan diselingi samberan sinar kemilau yang berhawa ,dingin, sedemikian sengit pertempuran itu, namun tidak terdengar suara benturan kedua senjata masing2.

Betapapun Liok Lip-ting keturunan keluarga persilatan, meski gerak-gerik kedua orang yang bertempur itu amat cepat, setiap jurus dan tipu serangan kedua pihak dapat diikutinya dengan jelas, Tertampak Tokoh itu menyerang dan menjaga diri dengan rapat, ganti-berganti ia mainkan ilmu pedangnya yang hebat, sebaliknya si Nyonya melayaninya dengan tenang dan mantap, setiap kesempatan pasti tidak disia-siakan untuk melancarkan serangan yang mematikan.

Se-konyong2 terdengar "tring", dua pedang beradu, pedang di tangan kiri si Tokoh mencelat terbang ke udara, Sebat sekali ia melompat mundur keluar dari arena pertempuran, mukanya yang putih halus bersemu merah, matanya mendelik gusar, bentaknya: "Aku mendapat perintah guru untuk membunuh habis keluarga Liok, apa sangkut pautnya dengan kau ?"

Nyonya itu menjengek dingin: "Kalau gurumu berani dan punya kepandaian, seharusnya dia mencari Liok Tian-goan sendiri, kini dia sudah mati, tapi gurumu tidak tahu malu mencari perkara kepada keturunannya ?"

Si Tokoh kebutkan lengan bajunya, tiga batang jarum menyamber, dua batang menyamber si nyonya, jarum ketiga ternyata menyerang Liok Lip-ting yang berdiri di pekarangan serangan mendadak dan cepat lagi, lekas si nyonya ayunkan pedangnya menangkis, terdengar Liok Lip-ting menggerung gusar, dua jarinya dapat menjepit batang jarum yang menyerang tenggorokannya itu.

Si Tokoh tersenyum dingin, dengan tangkas ia jumpalitan terus keluar, tiba2 terdengar suitan panjang di kejauhan sana, dalam sekejap saja dia sudah berlari puluhan tombak jauhnya.

Melihat Ginkang orang begitu hebat, nyonya itupun rada tercengang, lekas ia melompat turun kembali ke dalam ruangan, melihat Liok Lip-ting sedang pegangi sebatang jarum, segera ia berseru: "Lekas buang !"

sekarang Liok Lip-ting tidak curiga lagi kepada orang, lekas ia lemparkan jarum itu ke tanah, Cepat nyonya itu mengeluarkan seutas tali kain dari dalam bajunya terus mengikat pergelangan tangan Lip-ting dengan kencang,

Baru sekarang Liok Lip-ting dibuat kaget, serunya: "Jarum itu berbisa ?"

"Ya, racun yang tiada bandingannya." sahut nyonya itu, lalu ia keluarkan sebutir pil dan suruh Lip-ting menelannya.

Liok Lip-ting rasakan kedua jarinya sudah mati rasa, tak lama kemudian melepuh sebesar tebak Lekas si nyonya bekerja pula mengirisnya dengan ujung pedang, darah hitam segera mengalir keluar dan berbau busuk,

Sungguh kejut Liok Lip-ting bukan kepalang, batinnya: "Jariku tidak lecet atau terluka, hanya tersentuh sedikit saja, racun sudah bekerja sedemikian lihay, kalau jariku kena tertusuk sedikit saja, jiwaku tentu sudah melayang ?"

Baru sekarang nyonya itu sempat memayang Liok-toanio, lalu ia memeriksa luka-lukanya. Ternyata Hui-tiong-hiat di bagian lututnya masing2 terkena sambitan sebatang jarum, Tapi jarum2 ini adalah jarum emas milik Liok Lip-ting yang biasanya untuk menolong orang,

Meski bencana belum berlalu, namun sementara keluarganya masih dalam keadaan selamat, hati Liok Lip-ting rada bersyukur, waktu ia berpaling melihat ketiga mayat tadi, berkobar pula amarahnya disamping bergetar hatinya. Ternyata ketiga mayat itu bukan lain adalah Liong, So dan Cu-piauthau dari An-wan Piaukiok, Waktu ia periksa luka mereka bertiga, dilihatnya jarum2 yang dia gunakan kini sudah berpindah tempat, semula tusukan jarumnya untuk menghilangkan rasa sakit, kini jarum2 itu menusuk pada Hiat-to yang mematikan.



Cukup sebatang saja sudah amat men-derita, apa lagi tertusuk sembilan batang ? Cuma tusukan jarum pada badan Liong-piauthau rada meleset, maka jiwanya belum melayang, sorot matanya memancarkan rasa belas kasihan, se-olah2 mohon pertolongan pada Liok Lip-ting.

Liok Lip-ting tidak tega, namun melihat luka2-nya, meski ada obat dewapun tidak akan bisa menolong jiwanya, katanya sambil menghela napas: "Liong-piauthau, berangkatlah dengan tenang."

Liong-piauthau menarik napas panjang, ia angkat badan bagian atas, katanya tersendat:

"Liok... Liok-ya, aku tiada harapan lagi, kau lekas kau lari. iblis itu berkata, dikolong langit ini hanya Liok Tian-goan yang boleh mengobati aku, putera tunggalnya pun tidak boleh... kau lekas lari, sebentar dia akan tiba !" - beberapa patah kata terakhir diucapkan dengan suara lirih hampir tidak terdengar, kejap lain iapun sudah menutup mata dan berhenti bernapas.

Nyonya itu mendengus gusar: "Hm, iblis keparat! iblis keparat!"

Liok Lip-ting menjura serta bertanya: "Aku punya mata tapi tak bisa melihat, mohon tanya siapa she dan nama Toanio ?-"

"Suamiku she Bu," sahut nyonya itu. "Kiranya tepat dugaanku, Melihat kepandaian It-yang-ci Toanio, sudah lantas kuduga pastilah anak murid It-teng Taysu dari Tayli di Hun-lam, Silahkan masuk ke dalam menikmati secangkir teh."

Maka mereka lantas masuk ke dalam rumah. Liok Lip-ting membopong Bu-siang tertampak mukanya pucat, namun sedapatnya menahan sakit, tidak menangis dan tidak mengeluh, timbul rasa kasih sayang Lip-ting tak terhingga kepada puteri tunggalnya ini.

Bu Sam-nio, nyonya tadi berkata: "Begitu murid iblis itu pergi, gembong iblis itu segera akan datang sendiri Liok-ya, bukan aku pandang rendah dirimu, kalau cuma tenaga kalian berdua suami isteri, meski ditambah aku seorang juga bukan tandingan iblis ganas itu. Kukira laripun tak berguna, terpaksa kita pasrah nasib, biarlah kita tunggu kedatangannya di sini saja."

Liok-toanio bertanya: "Sebetulnya orang macam apa gembong iblis itu ? Ada dendam permusuhan apa pula dengan keluarga kita ?"

Bu Sam-nio melirik kepada Liok Lip-ting, katanya kemudian: "Memangnya Liok-ya tidak menjelaskan kepadamu ?"

"Katanya persoalan menyangkut mertuaku yang sudah meninggal itu, sebagai putera yang berbakti, tidak enak membicarakan persoalan ayah bundanya, dia sendiripun tidak begitu jelas akan seluk-beluk persoalan ini," tutur Liok-toanio.

"Disitulah soalnya", ujar Bu Sam-nio menghela napas, "Aku orang luar, tiada halangan kuterangkan Mertuamu Liok Tian-goan, Liok-loenghiong diwaktu mudanya adalah pemuda ganteng, dia disebut pemuda romantis nomor satu di kalangan Bu-lim. Gembong iblis Jik-lian-sian-cu Li Bok-chiu itu..."

Mendengar nama Li Bok-chiu disebut, Liok Lip-ting seketika merinding seperti dipagut ular berbisa, Bu Sam-nio melihat perubahan air muka orang, katanya lebih lanjut: "Sekarang kaum persilatan bila menyinggung nama Jik-lian-sian-ci, pasti gemetar ketakutan, tapi puluhan tahun yang lalu dia adalah gadis rupawan yang halus budi dan lemah lembut.

Mungkin memang sudah takdir, begitu bertemu dengan mertuamu, hatinya lantas jatuh cinta, Belakangan setelah mengalami berbagai rintangan, perubahan dan pertikaian mertuamu akhirnya menikah dengan Ho Wan-kun, mertua perempuan sekarang, Bicara soal mertua perempuanmu, mau tidak mau aku harus menyinggung suamiku juga. Soal ini cukup memalukan bila dituturkan, tapi keadaan hari ini sudah amat mendesak, terpaksa aku tidak perlu! simpan rahasia lagi."

Sejak kecil Liok Lip-ting sudah mendengar penuturan ayah bundanya bahwa selama hidup mereka mempunyai dua musuh besar yang paling tangguh, seorang adalah Jik-lian-sian-cu, seorang lain adalah Bu Sam-thong, salah seorang murid kesayangan It-teng Taysu dari negeri Tayli di Hunlam, Semula It-teng Taysu adalah raja negeri Tayli, tapi ia meninggalkan " takhta dan cukur rambut menjadi Hwesio, lalu menerima empat murid, satu diantaranya ialah Bu Sam-thong !

Sewaktu mudanya Bu Sam Thong menjabat pangkat yang tinggi di negeri Tayli, Cuma bagaimana Liok Tian-goan suami isteri sampai mengikat permusuhan dengan dia tidak pernah dituturkan kepada puteranya. Maka waktu melihat Bu Sam-nio menggunakan It-yang-ci menyambung tulang kaki puterinya yang patah tadi, sudah tentu Liok Lip-ting kaget dan curiga, tak nyana Bu Sam-nio malah bantu menghalau murid Jik Lian~ sian-cu dan menolong jiwanya, hal ini sungguh di luar dugaannya.

Bu Sam-nio mengelus pundak anak laki2 yang terluka jidatnya itu, matanya mendelong mengawasi api lilin: "Suamiku dan mertuamu sejak kecil bertentangan, hubungan mereka sangat intim, meski sifat2 mereka tidak cocok, namun suamiku amat mencintainya. Siapa tahu akhirnya dia menikah dng mertuamu, saking gusar suamiku lantas minggat jauh ke Tayli, menjabat panglima pemimpin tentara, menjadi anak buah Toan-hongya, Pernah suamiku bertemu dengan mertuamu terjadilah perang tanding yang seru, suamiku memang berangasan dan terlalu mengumbar nafsu karena patah hati, akhirnya dia bukan tandingan mertuamu, sejak itu tindak tanduknya agak sin-ting, baik sahabat karibnya atau aku sendiri tak dapat menyadarkan dia, Dulu dia pernah berjanji dengan mertuamu bahwa lima belas tahun kemudian bertanding lagi, siapa tahu kedatangannya kali ini, kedua mertuamu ternyata sudah meninggal."

Liok Lip-ting amat gusar, serunya sambil menggablok meja: "Kalau dia punya kepandaian, kenapa tidak datang sejak dulu, kini setelah tahu ayahku sudah almarhum baru meluruk datang dan menculik jenazahnya, terhitung perbuatan orang gagah macam apa ?"

"Omelan Liok-ya memang benar," ujar Bu Sam-nio. "Suamiku sudah kehilangan kesadaran-nya, tingkah laku dan tutur katanya sudah tidak genah lagi, Hari ini aku membawa kedua anakku ini kemari, bukan lain adalah hendak mencegah perbuatannya yang tidak keruan, dalam dunia sekarang ini, mungkin hanya aku seorang saja yang rada ditakutinya." Sampai di sini segera ia berkata kepada kedua puteranya: " Lekas menyembah kepada Liok-ya dan Liok-toanio." Kedua anak laki2 itu segera berlutut dan menyembah, Liok-toanio . lekas membimbingnya bangun serta menanyakan nama mereka. Yang jidatnya terluka bernama Bu Tun-ji, usianya dua belas tahun, adiknya bernama Bu Siu-bun, satu tahun lebih muda.

"Sungguh tak nyana suamiku tidak kunjung tiba, malah Jik-lian-sian-pu keburu membuat perkara di rumahmu... ai," demikian kata Bu Sam-nio lebih lanjut, "Dua pihak sama2 tidak dapat melupakan cinta masa lalu, cuma yang satu lelaki dan yang lain perempuan."

Baru dia bicara sampai di sini, mendadak di-atas rumah ada orang berteriak: "Anak Ji, anak Bun, ayo keluar !" suara ini datangnya tiba2, sedikitpun tidak terdengar suara langkah di atas genteng, mendadak suaranya kumandang ditengah malam buta, keruan Liok Lip-ting suami istri sangat kaget, mereka tahu Bu Sam-thong telah tiba, Thia Eng dan Liok Bu-siang pun kenal suara si orang gila yang mereka temui siang tadi.

Tertampak sesosok bayangan berkelebat, Bu Sam-thong melompat turun, seorang satu tangan, ia angkat kedua puteranya terus lari secepat angin, sebentar saja ia sudah tiba di hutan pohon Liu, tiba2 ia turunkan Bu Siu-bun, dengan hanya membawa Bu Tun-ji bayangannya lantas lenyap dalam sekejap mata, putera kecilnya dia tinggal demikian saja didalam hutan itu.

Bu Siu-bun berteriak2: "Ayah ! Ayah !".

Tapi Bu Sam-thong sudah menghilang, terdengar suaranya berkumandang dari kejauhan: "Kau tunggu di situ, sebentar aku kembali menjemput kau."

Bu Siu-bun tahu tindak tanduk ayahnya rada sinting, maka ia tidak heran, Tapi seorang diri berada dalam hutan yang gelap, hatinya rada takut, namun teringat sebentar sang ayah akan kembali, maka dengan termenung ia duduk saja dibawah pohon.

Duduk punya duduk, teringat olehnya akan kata2 ibunya bahwa ada musuh lihay entah yang mana hendak menuntut balas, belum tentu sang ibu bisa menandingi lawan, Meski usianya masih kecil, namun Siu-bun sudah tahu berkuatir akan keselamatan ibunya, Setelah menunggu sekian lamanya dan sang ayah tidak kunjung datang, akhirnya dia menggumam sendiri: "Biar aku pulang mencari ibu saja !" - lalu ia menggeremet dan meraba2 menuju ke arah datangnya tadi,



Bocah kecil berada dalam hutan seorang diri, apalagi malam pekat, mana bisa menentukan arah dan tujuan ? Semakin jalan ia menuju ke arah hutan belukar yang makin dalam, Akhirnya ia tiba di sebuah lekukan gunung, di bawah adalah selokan setinggi tujuh delapan tombak, selayang pandang sekelilingnya hitam melulu. Saking gugup dan ketakutan Bu Siu-bun lantas berteriak: "Ayah, ayah ! Ibu, ibu !" - Terdengar gema suaranya berkumandang dilembah pegunungan

Disaat hatinya cemas dan gundah itulah tiba-tiba hidungnya mengendus bau amis yang memualkan disusul hembusan angin keras, ditengah kegelapan tampak dua titik sinar seperti pelita minyak sedang bergerak ke arahnya.

Bu Siu-bun heran, mendadak didengarnya suara gerangan yang keras, kedua titik terang seperti sinar pelita itu memburu cepat ke arahnya, Sungguh kagetnya bukan main, teriaknya: "Harimau !" - tanpa banyak pikir segera ia melompat ke atas menangkap dahan pohon terus merayap naik dengan mengerahkan segenap tenaganya, terasa pantatnya se-o!ah2 kena terpukul oleh sesuatu, segera kaki tangan bekerja sekuat tenaga merambat ke puncak pohon.

Didengarnya binatang buas itu menggerung2 serta berputar2 mengitari pohon, Melihat binatang itu tidak bisa naik ke atas pohon barulah hati Siu-bun sedikit lega, tiba2 terasa pantatnya pedas dan perih, waktu ia merabanya, ternyata celananya sudah robek tercakar kaki harimau tadi, Dasar bocah nakal, segera teringat olehnya akan , cerita ibunya bahwa harimau tidak bisa naik pohon, maka sambil menuding ke bawah ia lantas memaki kalang kabut: "Harimau keparat, harimau brengsek, harimau busuk !"

Mendengar suara manusia, harimau itu menggerung semakin keras.

Begitulah satu sama lain bertahan di atas dan berputar di bawah pohon, meski Bu Siu-bun sangat kantuk dan letih, mana dia berani tidur ? sebentar lagi hari akan terang tanah, maka pandangan mulai jelas keadaan sekelilingnya, Semula dia tidak berani langsung mengawasi harimau di bawahnya, akhirnya ia membesarkan nyali menunduk ke bawah, saking kejutnya hampir saja ia terjungkal jatuh dari atas pohon, Ternyata harimau loreng di bawah itu kira-kira sebesar anak sapi,: duduk menengadah sambil menyeringai buas, matanya menatap dengan penuh nafsu, mulut melelehkan liur kental.

Memang harimau itu sedang kelaparan, menunggu semalam suntuk tanpa - dapat mencaplok mangsa di depan mata, rasa laparnya makin mengobarkan kebuasannya, mendadak ia menggerung sekeras-kerasnya terus menerjang ke atas. Lompatan ini setombak lebih tingginya, cakar depannya berhasil mencapai batang pohon sehingga sesaat lamanya badannya tergantung ditengah udara.

Harimau ini cukup besar dan rada gemuk, berat badannya tidak kurang dua ratus kati, sudah tentu batang pohon itu tidak kuat menahan berat badannya, "peletak", sekali membal dahan pohon itu patah dan jatuh ke bawah, Bu. Siu-bun ikut terpental dan terjungkal ke bawah, Sejak kecil ia dididik ilmu silat oleh ayah bundanya, waktu meluncur ke bawah dia bisa kendalikan badan dan menggelinding ke samping, sedikitpun tidak terluka, begitu merangkak bangun segera ia lari sipat kuping. Tanpa hiraukan rasa sakitnya, harimau itu segera mengejar dengan kencang.

Walau Bu Siu-bun sudah punya dasar latihan Ginkang, namun usianya masih kecil, kaki pendek lagi, maka langkahnya tidak bisa cepat dan jauh, mana bisa menandingi kecepatan lari seekor harimau, terpaksa ia lari berputar-putar mengitari pohon,

ia bermain petak dengan pengejarnya, Kalau lari lurus harimau itu memang cepat dan gesit, tapi untuk putar2 dan main menyelinap kian kemari gerak geriknya menjadi lamban, maka gerungan-nya semakin keras, ia menubruk membabi buta, debu pasir dan dedaunan sama beterbangan

Melihat harimau itu tidak bisa berbuat apa-apa terhadap dirinya, Bu Siu-bun menjadi senang, sambil memaki kalang kabut ia berlari pula berputar mengelilingi pohon dan batu. Saking senang sehingga kurang ber-hati2 dan menginjak sebutir batu bundar, kontan ia tergelincir dan jatuh, Tanpa ayal harimau itu lantas menubruk ke arahnya.

Bu Siu-bun berteriak: "Ibu, ibu l" Se-konyong2 dilihatnya dua gulung bayangan hitam meluncur dari tengah angkasa menubruk ke arah dirinya, tahu2 harimau itu terangkat naik ke tengah udara, menyusul badan sendiripun ikut terapung ke angkasa,

Kaget dan takut pula Bu Siu-bun, waktu ia membuka mata, pohon di bawah tertampak menjadi kecil, dirinya sedang terbang di-awang2 waktu ia menengadah ternyata se-ekor burung besar mencengkeram baju punggungnya sedang terbang dengan pentang sayap yang lebar.

Semula hatinya amat takut, tak lama kemudian, ia merasa burung raksasa itu tidak bermaksud jahat. Tiba2 didengarnya gerungan keras di sebelah belakang, ia berpaling, tertampak harimau besar itu dicengkeram oleh seekor burung raksasa lainnya dan dibawa terbang juga, kakinya mencak2 sambil menggerung keras, cakar burung raksasa itu mencengkeram kuduk dan pangkal ekornya hingga tergantung ditengah udara.

Sekali kembangkan kedua sayap, burung raksasa di belakang itu terbang lebih tinggi memasuki awan, tiba2 cengkeraman kedua cakarnya dilepaskan, kontan harimau itu meluncur jatuh ke bawah dari ketinggian ratusan tombak dan akhirnya terbanting hancur lebur.

Melihat adegan yang mengerikan ini, seketika Bu Siu-bun berteriak kaget, teringat olehnya: "Kalau burung besar inipun melepaskan diriku, mustahil aku tidak akan hancur lebur ?" - karena takut cepat ia memeluk ujung kaki burung besar itu.

Se-konyong2 terdengar lengking suitan panjang di bawah, suaranya nyaring dan merdu, terang suitan dari mulut perempuan, Kedua ekor burung besar itu pelahan terbang turun, lalu meletakkan Bu Siu-bun di atas tanah, Gesit sekali Siu-bun melompat bangun, tertampak sekelilingnya pohon Liu melulu, bumi seperti ditabur bunga yang mekar beraneka warnanya, suatu tempat yang indah dan permai, Dari balik pohon sana berlenggang keluar seorang anak perempuan, sekilas ia melirik kepada Bu Siu-bun, lalu ia tepuk2 kedua paha burung besar tadi, katanya: "Tiau-ji elok, Tiau-ji bagus !"

Bu Siu-bun membatin: "Kiranya kedua burung ini bernama "Tiau-ji" (rajawali), dilihatnya kedua burung itu berdiri gagah dan angker, jauh lebih besar dan tinggi daripada anak perempuan itu.

Bu Siu-bun tidak paham berterima kasih segala, katanya sambil mendekat anak perempuan itu: "Apakah kedua ekor Tiau-ji ini peliharaanmu ?"

Anak perempuan itu mencibirkan bibir, sikapnya memandang hina, jengeknya: "Aku tidak kenal kau, tidak sudi bermain dengan kau !"

Bu Siu-bun tidak perduli akan sikap kasar orang, ia ulur tangan mengelus kaki burung besar itu. Anak perempuan itu mendadak bersiul ringan, sayap burung besar itu segera terpentang dan menyapu dengan ringan, kontan Bu Siu-bun tersabet jumpalitan dan terguling di tanah, lalu kedua ekor burung itu segera terbang rendah menubruk ke arah mayat harimau tadi dan mulai berpesta pora.

Cepat Bu Siu-bun melompat bangun dan mengawasi kedua rajawali itu, hatinya amat ketarik, katanya: "Sepasang burung ini amat bagus, mau dengar perintahmu, kalau pulang biar akupun minta ayah menangkapnya sepasang untukku !"

Anak perempuan itu mendengus: "Hm, memangnya ayahmu mampu menangkapnya ?"

Berulang-ulang menghadapi sikap yang kurang simpatik, barulah Bu Siu-bun sekarang sempat mengamati anak perempuan di hadapannya ini, tertampak orang mengenakan pakaian yang amat mewah, lehernya mengenakan kalung mutiara sebesar kelengkeng, kulit mukanya halus putih seperti air susu, biji matanya jeli, mulutnya kecil mungil

sepasang biji mata anak perempuan itupun sedang mengawasi seluruh badan Bu Siu-bun, tanyanya: "Siapa namamu ? Kenapa keluar bermain seorang diri, tidak takut digigit harimau ?"

"Aku bernama Bu Siu-bun, sedang menunggu ayahku, Dan siapa namamu ?"

Anak perempuan itu mencibirkan bibir, katanya: "Aku tidak bermain dengan anak liar !" -. lalu ia putar badan tinggal pergi.

Bu Siu-bun tertegun, "Aku bukan anak liar !" teriaknya sambil mengintil,

Melihat anak perempuan itu berusia dua-tiga tahun lebih muda, badan rendah kaki pendek, ia pikir untuk mengejar tentu tidak sukar, siapa tahu baru saja ia kembangkan Ginkang, bagai anak panah terlepas dari busurnya anak perempuan itu sudah lari tujuh-delapan tombak jauhnya, sehingga dirinya ketinggalan jauh di belakang,

Lari beberapa langkah pula mendadak anak perempuan itu berhenti katanya sambil berpaling: ""Hm, kau mampu mengejarku ?"

Sambil berlari Bu Siu-bun menyahut: "Tentu bisa !"

3. TOKOH JUBAH PUTIH YANG CANTIK

Anak perempuan itu putar badan terus lari kencang pula, tiba-tiba ia menyelinap ke depan dan sembunyi di belakang pohon, Tak lama kemudian Bu Siu-bun sudah menyusul tiba, sesudah dekat, tiba2 kaki kiri anak dara itu diulur keluar menjegal kaki orang.

Bu Siu-bun tidak ber-jaga2, kontan badannya doyong ke depan, cepat ia gunakan cara mengendalikan keseimbangan badan tapi tahu2 kaki kanan anak perempuan itu mendepak sekali lagi pada pantatnya, tanpa ampun Bu Siu-bun jatuh terjungkal hidungnya menerjang sepotong batu runcing, darah segera membasahi pakaiannya.

Melihat darah bercucuran, anak perempuan itu menjadi gugup juga, tiba-tiba didengarnya orang membentak di belakangnya: "Hu-ji, kau nakal lagi dan menganiaya orang ya ?"

Anak perempuan itu tidak berpaling, sahutnya: "Siapa bilang ? Dia jatuh sendiri, perduli amat dengan aku ? jangan kau sembarangan lapor kepada ayah lho!"

Bu Siu-bun meraba hidung, sebetulnya tidak sakit, namun melihat kedua tangan berlepotan darah, hatinya gugup juga. Mendengar anak perempuan itu bicara dengan orang, segera ia angkat kepala, dilihatnya seorang kakek pincang dan bertongkat rambut sudah jarang2 dan jenggot pun sudah ubanan, badannya kurus kerempeng, namun semangatnya masih menyala-nyala.

Terdengar orang tua itu mendengus: "Jangan kau sangka mataku buta tidak bisa melihat, apa yang terjadi dapat kudengar dengan jelas, Kau budak kecil ini sekarang sudah begini nakal, kelak kalau sudah besar pasti lebih nakal lagi ?"

Anak perempuan itu maju menghampiri serta menarik lengan si kakek, katanya memohon dan merengek: "Kongkong, jangan kau katakan kepada ayah ya ? Hidungnya keluar darah, lekas kau mengobatinya !"

Kakek pincang itu maju setapak, sekali raih ia tangkap lengan Bu-siau-bun, lalu memijat beberapa kali di Bun-hiang-hiat di pinggir hidungnva, hanya sekali urut dan usap, darah kontan berhenti mengalir Terasa oleh Bu Siu-bun jari2 tangan orang seperti jepitan besi mencengkeram lengannya, hatinya menjadi takut, ia meronta, tapi sedikitpun tak bergeming.

Pelahan tangannya ditarik lalu diputar, ia lancarkan Siau-kim-na-jiu-hiat yang diajarkan ibunya, telapak tangannya ikut berputar setengah lingkaran, terus melintir dari dalam untuk melepaskan pegangan si kakek, Kakek itu tidak menduga dan ber-jaga2, sungguh tak nyana bocah sekecil ini ternyata membekal ilmu silat selincah itu, karena gerakan ronta membalik itu, pegangannya terlepas, sambil bersuara heran tangannya menyamber pula menangkap tangan orang, Bu Siu-bun kerahkan sepenuh tenaganya berusaha membebaskan diri, namun pegangan orang tak bergeming lagi

"Adik kecil jangan takut," kata kakek itu, "Aku tidak melukai kau, kau she apa?"

"Aku she Bu," jawab Siu-bun.

Kakek itu menengadah seperti mengingat sesuatu, lalu katanya menegas: "She Bu ? Ayahmu murid It-teng Taysu bukan ?"

Bu Siu-bun berjingkrak girang, "Ya, kau kenal Hong-ya kami ? Kau pernah melihatnya tidak ? Aku sendiri tidak pernah melihatnya,"

"Dimana ayah bundamu ? Kenapa seorang diri kau kelayapan di sini ?" kata si kakek sambil lepaskan tangannya.

Bu Siu-bun mewek2 ingin menangis teringat pada kejadian semalam dan terkenang kepada ayah ibunya.

Anak perempuan itu lantas mengolok-olok: "Cis, tidak tahu malu, sudah besar suka menangisi."

Bu Siu-bun tegak kepala dan berkata: "Hm, siapa bilang aku menangis." - lalu ia ceritakan bahwa ibunya sedang menunggu kedatangan musuh di Liok-keh-cheng. Ayah entah pergi kemana membawa kakaknya, lalu dirinya kepergok harimau buas itu. Karena gugup dan pikiran tidak tenang, ceritanya putar balik tak teratur, namun kakek itu dapat memahami sebagian besar ceritanya itu, tanyanya: "Tahukah kau siapa musuh yang di tunggu ayah bundamu ?"

"Seperti bernama Jik-lian-coa apa, pakai Chiu apa lagi," tutur Siu-bun.

Kakek itu menengadah pula, mulutnya menggumam: "Jik-lian-coa apa ?" mendadak ia ketuk tongkat besinya di atas tanah, teriaknya keras: "Pastilah Jik-lian-sian-cu Li Bok-chiu adanya !"

"Betul, betul!" Bu Siu-bun bersorak gembira, "Memang Jik-lian-sian-cu"

Karena tebakan si kakek yang tepat itu, maka ia kegirangan, namun si kakek ternyata sangat tegang, katanya: "Kalian berdua boleh bermain di sini, setapakpun jangan meninggalkan tempat ini, biar kutengok kesana !"

"Kongkong, aku ikut kau !" rengek anak perempuan tadi.

Kakek itu menjadi gugup: "Ai, ai, tidak boleh ! iblis perempuan itu sangat jahat, aku sendiri bukan tandingannya. Soalnya tahu teman baik sedang menghadapi bahaya, terpaksa aku harus menyusul kesana, Kalian harus menurut kataku. Habis berkata segera ia berlalu dengan langkah terincang-incut.

Meski pincang, tapi dengan bantuan tongkat besi segera ia kembangkan Ginkang, larinya amat cepat, tidak kalah dari pada tokoh2 silat kelas tinggi

Tatkala itu hari sudah terang, para petani sudah bekerja di sawah, dengan riang gembira sedang menuai padi sambil berdendang, Kakek itu berlari bagai terbang tanpa hiraukan suasana gembira kaum tani yang bekerja keras itu. sekejap saja dia sudah tiba di depan Liok-keh-cheng. Kedua matanya memang buta, namun daya pendengarannya amat tajam, jaraknya masih kira2 satu li, namun dari kejauhan ia sudah mendengar suara bentrokan senjata keras, suara orang sedang bertempur dengan sengit.

Ia tidak kenal keluarga Bu atau keluarga Liok dan tiada hubungan, iapun tahu ilmu silat sendiri jauh bukan tandingan Jik-lian-sian-cu, kedatangan dirinya ini mungkin hanya mengantar jiwa belaka, namun selama hidupnya selalu bantu kaum lemah demi kebenaran dan keadilan, selamanya ia tidak hiraukan keselamatan diri sendiri, Maka langkah kakinya dipercepat waktu tiba di depan perkampungan didengarnya di atas genteng ada empat orang sedang bertempur dengan seru. Sebelah kanan satu orang melawan tiga orang, tapi agaknya ketiga orang itu terdesak di bawah angin malah.

Ternyata setelah Bu Sam-thong membawa pergi Tun-ji dan Siu-bun, Liok Lip-ting - suami isteri semakin cemas dan heran, mereka tidak tahu apa maksud orang gila itu. sebaliknya Bu Sam-nio menjadi senang, katanya tertawa: "Selamanya suamiku bertindak angin2an, kali ini ternyata bisa tahu kasih sayang dan dapat melihat bahaya."

Liok-toanio mohon keterangan, tapi Bu Sam-nio hanya tersenyum saja, katanya: "Nanti sebentar kau akan tahu sendiri."

Waktu itu sudah larut malam, Liok Bu-siang sudah tertidur dalam pangkuan ayahnya, Thia Engpun sudah kantuk dan tidak kuasa membuka matanya lagi. Liok-toanio berdiri hendak membawa kedua anak itu masuk kamar, lekas Bu Sam-nio berseru mencegah: "Tunggulah lagi sebentar".

Benar juga tak lama kemudian, terdengar suara di atas genteng: "Lemparkan ke atas !"

Itulah suara Bu Sam-thong. Pergi datangnya ternyata tidak berbekas, Liok Lip-ting suami istri sebelumnya tidak tahu sama sekali.

Segera Bu Sam-nio bopong Thia Eng keluar terus dilemparkan ke atas, Bu Sam-thong ulur tangan meraihnya. Baru saja Liok Lip-ting berdua kaget dan ingin tanya, Bu Sam-nio sudah lemparkan Liok Bu-siang ke atas pula, Keruan Liok Lip-ting kuatir, serunya: "Apa yang kau lakukan ?" - segera ia melompat ke atas genteng, namun sekelilingnya sunyi sepi, bayangan Bu Sam-thong dan kedua anak perempuan itu sudah tidak kelihatan Baru saja Liok Lip-ting hendak mengejar, dari bawah Bu Sam-nio keburu berteriak: "Liok-ya tidak perlu kejar, dia bermaksud baik,"

Liok Lip-ting ragu2, segera ia turun ke pelataran tanyanya kuatir: "Maksud baik apa ?"

Liok-toanio sudah maklum lebih dulu, katanya: "Bu-samya kuatir iblis perempuan itu turun tangan keji kepada anak2, maka sebelumnya hendak disembunyikan di tempat yang rahasia!"



Baru sekarang Liok Lip-ting sadar, ber-kali2 ia mengiakan, namun teringat Bu Sam-thong juga mencuri jenazah ayah bundanya, hatinya berkuatir pula.

Bu Sam-nio tertawa, ujarnya: "Biasanya suamiku tidak suka anak perempuan, entah kenapa kali ini dia mau melindungi kedua puterimu, benar2 di luar dugaanku, Waktu dia membawa pergi anak Ji dan anak Bun tadi, beberapa kali ia melirik kepada putri2mu, sikapnya amat prihatin, betul juga dia kembali membawa mereka. Ai, semoga sejak kini wataknya berubah, tidak linglung lagi." - Lalu ia menghela napas, katanya lebih lanjut: "Silahkan kalian pergi istirahat, iblis itu amat membanggakan kepandaian sendiri, selamanya tidak mau menyergap musuh diwaktu malam, sebelum terang tanah pasti dia tidak akan datang."

Semula Liok Lip-ting suami isteri memang menguatirkan keselamatan puteri dan keponakannya, kini setelah kekuatiran itu tidak membebani benak mereka, rasa takutpun hilang, timbul keberanian mereka untuk menghadapi musuh. Mereka sudah membekal senjata masing2, semua duduk bersimpuh di ruang besar itu, bertiga dengan Bu Sam-nio mulai semadi menghimpun tenaga.

Sang waktu berjalan cepat, tidak lama fajar pun menyingsing, biasanya waktu seperti itu, suasana diramaikan oleh kokok ayam dan gonggongan anjing, namun sekarang keadaan sepi nyenyak

Di tengah kesunyian pagi itulah tiba2 terdengar suara "blang" yang menggetarkan hati, entah diterjang apa pintu besar itu tiba2 terbuka dan semplak pecah, Pintu besar itu sudah dipantek dengan dua batang besi, menurut kebiasaan A Kin, si jongos, setiap malam juga palang pula pintu itu dengan batang kayu. Kini palang besi dan kayu luar dalam itu sama putus, tahu-tahu seorang Tokoh pertengahan umur mengenakan jubah putih mulus melangkah masuk, dia bukan lain adalah Jik-lian-sian-cu Li Bok-chiu.

Saat itu A Kin sedang menyapu di pelataran, segera ia membentak: "Siapa itu ?"

Cepat Liok Lip-ting berteriak: "A Kin, lekas menyingkir !"

Tapi sudah terlambat, sekali kebut di tangan Li Bok-chiu terayun, seperti pula kematian anjing, babi dan lain, tanpa bersuara kepala A Kin terpukul remuk dan melayanglah jiwanya tanpa bersuara.

Liok Lip-ting segera menjinjing golok menerjang keluar terus membacok, Li Bok-chiu miringkan badan berkelit terus melesat lewat disamping-nya, sekali kebutnya bergerak pula, dua pelayan perempuan seketika tersabet mati, lalu tanyanya dengan tertawa: "Dimana kedua bocah itu ?"

Melihat musuh bertindak begitu ganas, meski sadar bukan tandingan lawan, namun Liok Lip-ting berdua tetap merangsak dengan sengit dengan senjata masing2. Li Bok-chiu sudah angkat kebut hendak memukul, tiba2 dilihatnya Bu Sam-nio berdiri disamping, ia tersenyum manis, katanya: "O, masih ada orang luar di sini, terpaksa aku bunuh kalian di luar rumah saja," -. suaranya merdu, gerak geriknya genit, tak terlihat bagaimana dia bergerak, tahu2 badannya mengapung ke atas genteng, segera mengejar juga ke atas, Belum lagi mereka berdiri tegak, kebut Li Bok-chiu sudah menyapu datang sehingga senjata" mereka terpental balik, Agaknya ia sengaja hendak permainkan ketiga lawannya, dalam puluhan jurus itu ia tidak pernah melancarkan serangan mematikan, ia cuma desak ketiga lawannya berputar2 seperti kucing mempermainkan tikus layaknya, Keruan Liok Lip-ting bertiga mandi keringat dan gusar pula dibuatnya.

"Mau bunuh lekas bunuh saja!" damperat Liok Lip-ting.

Tiba2 Li Bok-chiu bersiul nyaring panjang ia melayang turun ke tanah langsung menubruk ke arah seorang kakek pincang bertongkat be yang berdiri di pinggir kali, Dimana kebut Li Bo chiu bergerak, tahu2 kebutnya membelit ke leher si kakek pincang dan buta itu.

jurus serangan ini dilancarkan disaat kakinya belum menyentuh tanah, namun kebutnya bagai ular hidup tahu.2 sudah menyerang tempat mematikan dibadan lawan,

Walau kakek tua itu buta, namun kupingnya dengan jelas mendengar serangan musuh yang lihay ini, lekas tongkatnya terangkat dan mendadak menutul ke depan, ia balas menjojoh pergelangan tangan kanan musuh,

Tongkat besi merupakan senjata berat, umumnya piranti untuk menyapu, menggebuk, mengemplang atau menggencet, namun kakek tua ini justru menjojoh dengan gaya seperti pedang menusuk, tongkat seberat itu ternyata dapat ia mainkan dengan ringan dan lincah seperti pedang.

Lekas Li Bok-chiu sedikit gentakan kebutnya, ujung kebut memutar balik untuk membelit ujung tongkat terus ditarik dan disendal sambil membentak: "Lepas tangan !"

jurus ini merupakan ilmu pinjam tenaga lawan untuk memukul lawan, ujung kebutnya meminjam tenaga jojohan tongkat tadi serta ditarik dan disendal, seketika si kakek merasakan seluruh lengannya bergetar hebat, hampir saja ia tidak kuasa pegang tongkatnya, dalam keadaan yang gawat itu, lekas ia melompat miring mengikuti tarikan orang, dengan begitu barulah ia berhasil punahkan daya tarikan kebutan lawan, diam2 ia terkejut: "Gembong iblis ini ternyata tidak bernama kosong."

Li Bok-chiu tadi sudah menyerukan "lepas tangan," namun ia tidak berhasil merebut tongkat besi lawan, hal ini betul2 di luar dugaannya, pikirnya: "Siapa kakek pincang yang punya kepandaian selihay ini ?"

Sekilas dilihatnya biji mata orang memutih, kiranya seorang buta, barulah ia sadar dan teringat teriaknya: "Kau ini Tin-ok ?"

Kakek pincang buta ini memang tertua Kang-lam-chit-koay (tujuh manusia aneh dari Kanglam) Hwi-thian-pian-kok (si kelelawar) Kwa Tin-ok adanya, seperti diketahui sejak Hoa-san-lun-kiam pertandingan ilmu pedang di Hoa-san dulu. Kwe Ceng dan Ui Yong menikah setelah mendapat restu Ui Yok-su, lalu mereka mengasingkan diri di pulau Tho-hoa-to.

Sifat Ui Yok-su memang lain dari pada yang lain, suka menyepi tidak suka keramaian, setelah beberapa bulan berkumpul bersama puteri dan menantunya, lama kelamaan ia menjadi bosan dan tidak kerasan tinggal dirumah, secara diam-diam ia meninggalkan Tho-hoa-to, ia hanya meninggalkan sepucuk surat, katanya ia hendak mencari tempat lain yang sepi dan nyaman.

Ui Yong kenal watak ayahnya, meski hati merasa berat, namun apa boleh buat dan tidak bisa berbuat apa-apa. Semula ia mengira dalam beberapa bulan Ui Yok-su pasti akan pulang atau paling tidak mengirim kabar, tak tahunya seka!i berpisah tahunan sudah lewat, namun Ui Yong tidak pernah mendapat kabar berita sang ayah, Karena kangen pada ayahnya, Ui Yong ajak suami-nya, Kwe Cerig keluar untuk mencarinya, selama beberapa bulan mereka berkelana di Kangouw, terpaksa mereka pulang ke Tho-hoa-to, sebab waktu itu Ui Yong ternyata sedang hamil.

Perangai Ui Yong biasanya jahil dan suka aneh2, hampir tidak suka ketentraman sekejap pun, karena hamil segala sesuatunya dirasakan serba repot dan kurang leluasa, hatinya menjadi kesal dan risau, dalam keadaan itu ia menjadi uring-uringan, ia anggap biang keladi yang membikin susah padanya itu ialah Kwe Ceng, Bagi perempuan yang sedang hamil memang sering bersifat kasar dan suka marah, walau Ui Yong amat mencintai Kwe Ceng, ada kalanya ia sengaja mencari kesalahan orang dan mengajak bertengkar Dasar Kwe Ceng berwatak polos dan lugu, jika sang istri sedang marah tanpa alasan, paling2 ia hanya tertawa-tawa saja tanpa menghiraukan-nya.

Tanpa terasa sepuluh bulan telah berselang, akhirnya Ui Yong melahirkan seorang anak perempuan dan diberi nama Kwe Hu.,, Waktu hamil hatinya kurang senang, setelah melahirkan ia amat kasih sayang kepada puterinya, selalu dimanjakan Belum lagi genap satu tahun puterinya ini sudah teramat nakal. Ada kalanya Kwe Ceng merasa anaknya keterlaluan lalu dia memarahinya, namun Ui Yong segera membela dan melindunginya, lama kelamaan sang puteri semakin menjadi nakal Waktu Kwe Hu berusia tiga tahun, Ui Yong mulai mengajarkan ilmu silat padanya, Karena itu, celakalah binatang piaraan di Tho-hoa-to, kalau bukan bulunya digunduli, tentu ekornya dicabuti Tho-hoa-to yang biasanya aman tenteram dan damai itu, lama kelamaan menjadi tempat jagal binatang.

Hari berganti bulan dan beberapa tahun telah berselang pula, Suatu hari mereka kedatangan seorang tamu, dia bukan lain adalah guru Kwe Ceng, Kwa Tin-oh adanya. Setelah menetap beberapa tahun dikampung halamannya di Kang-lam, dulu di sana ada Cu Jong, Han Po-ki, Lam Hi-jin, Thio Ah-seng, Coan Kim-hoat dan Han Siau-eng, mereka bertujuh biasa malang melintang ke mana saja, sekarang tinggal Kwa Tin-ok seorang, usia semakin lanjut lagi, lama kelamaan ia merasa kesepian Hari itu ia teringat akan muridnya suami istri, segera ia jual segala harta miliknya buat ongkos menuju ke Tho-hoa-to.



Kedatangan sang guru sudah tentu membuat Kwe Ceng dan Ui Yong sangat senang, maka mereka tahan beliau menetap saja di pulau itu, betapapun mereka tidak mengijinkan Tin-ok meninggalkan mereka lagi, Kwa Tin-ok menganggur tak punya pekerjaan, maka ia menjadi teman bermain Kwe Hu yang paling setia, satu tua satu anak, ternyata mereka dapat bergaul rukun dan menjadi sahabat kental.

Hari itu Ui Yong merasa kangen kepada sang ayah, maka esoknya ia meninggalkan pulau bersama Kwe Ceng untuk mencari ayahnya, sebelum berangkat ia berpesan kepada Kwa Tin-ok untuk tinggal dirumah saja menemani puterinya, Siapa tahu usia Kwe Hu meski kecil, namun dia sudah mewarisi watak pemberani dan tidak takut tingginya langit dan tebalnya bumi setelah ayah bundanya pergi, segera ia merengek2 kepada Kwa Tin-ok agar mengajaknya keluar untuk mencari kakeknya juga, Ui Yok-su.

Keruan Kwa Tin-ok kaget, ia goyang tangan dan berteriak: "Tidak boleh jadi ? Tidak boleh jadi ?"

Kalau ada ayah bundanya Kwe Hu sih tidak berani mengumbar adat, setelah ayah, ibunya pergi, tiada yang perlu dia takuti lagi Segera ia lari ke pinggir, laut lalu terjun ke dalam air, teriaknya: "Baiklah Kwa-kongkong, biar aku berenang saja kesana sendiri!".

Kwa Tik-ok tidak bisa berenang, mendengar deburan ombak yang besar itu, ia menjadi gugup sendiri, kuatir Kwe Hu ketimpa malang, lekas ia berteriak: "Kembali, lekas kembali, dari sini ke daratan sana ratusan li jauhnya, mana bisa kau berenang ke sana ?"

"Aku tidak perduli, kalau kau mati tenggelam, kaulah penyebabnya!" seru Kwe Hu.

Saking gugup Kwa Tin-ok sampai garuk-garuk kepala tak berdaya, terpaksa teriaknya pula: "Lekas kau naik sini, marilah berunding dulu."

"Kalau kau berjanji mau bawa aku pergi mencari Gwakong, baru aku mau naik ke atas."

Kwa Tin-ok kewalahan, terpaksa ia berkata: "Baiklah, ku lulusi permintaanmu."

Kwe Hu menirukan cara2 orang dewasa, serunya: "Seorang Kuncu (laki2 sejati) hanya sepatah kata !"

Tanpa terasa Kwa Tin-ok segera menyambung: "Kuda lari sekali pecut !"

Sebagai seorang kawakan Kangouw yang pernah malang melintang puluhan tahun, sekali Kwa Tin-ok sudah keluarkan janjinya, selama hiduppun tidak akan menyesal Dulu dia pernah bertaruh dengan Khu Ju-ki, hingga selama delapan belas tahun ia menyekap diri di padang pasir yang berhawa panas dingin itu, tidak lain juga cuma untuk memenuhi janji kedua kalimat yang diucapkannya itu.

Begitulah Kwe Hu lantas naik ke daratan, sebaliknya Kwa Tin-ok menghela napas berulang kali, terpaksa mereka berkemas dan menunggang kedua ekor rajawali terbang ke barat menuju ke daratan besar.

-oooo000oooo-

4. PEMUDA PENGGEMBALA ULAR.

Hari itu mereka tiba di kabupaten Ouwciu, Kwa Tin-ok mengajak Kwe Hu bermalam di rumah seorang petani, maklum sudah tua, gampang capai sehingga tidurnya teramat nyenyak, di luar tahunya pagi-pagi benar Kwe Hu sudah membawa kedua ekor rajawali itu keluyuran di luar. Memang kebetulan juga, secara tidak terduga ia berhasil menolong Bu Siu-bun dari terkaman harimau buas.

Begitulah setelah beberapa gebrakan melawan Li Bok-chiu, Kwa Tin-ok tahu bahwa dirinya bu kan tandingan orang, segera ia kembangkan ilmu permainan tongkat, Hok-mo-tiang-hoat, dengan rapat ia mempertahankan diri

Diam2 Li Bok-chiu memuji dalam hati: "Tua bangka ini dikenal sebagai pentolan Kang-lam chit-koay, kiranya tidak bernama kosong, matanya buta kakinya pincang, sudah tua dan tenaga lemah lagi, namun masih kuat melawan puluhan jurus seranganku."

Didengarnya Liok Lip-ting dan isterinya ber-kaok2 sedang memburu datang bersama Bu Sam-nio, diam2 ia berkeputusan: "Kabarnya tua bangka ini adalah guru Kwe Ceng, Kwe-tayhiap, jangan aku sampai melukainya, kalau sampai Kwe Ceng suami isteri mencari perkara padaku, tentu akan serba menyulitkan, biarlah hari ini aku memberi kelonggaran kepadanya."

Segera kebutnya bergerak, ujung kebut mendadak tegak kaku, seperti ujung sebuah tombak terus didorong menusuk ke dada Kwa Tin-ok. Meski kebut itu terdiri dan benda2 lemas, namun dengan Lwekangnya yang hebat, daya tusukan ini sungguh luar biasa.

Lekas Kwa Tin-ok ketukan tongkat besinya ke tanah, badannya lantas tertolak mundur ke belakang beberapa langkah, Li Bok-chiu maju se-tapak, agaknya seperti hendak mengejar dan menyerang, siapa tahu se-konyong2 badannya mendorong ke belakang, pinggangnya lemas gemulai se-olah2 tidak bertulang, tahu2 pundaknya hanya terpaut satu dua kaki di depan Bu Sam-nio.

Keruan Bu Sam-nio kaget, lekas ia lancarkan ilmu It-yang-ci, ia menutuk ke jidat orang, Sayang ilmunya ini belum mencapai tingkat tinggi, gerak geriknya kurang cekatan dan cepat, begitu pinggang li Bok-chiu meliuk, se-olah2 setangkai bunga teratai yang tertiup angin, tahu2 ia sudah menggeliat ke samping, malah "plak", tahu2 perut Liok-toanio terkena sekali gablokannya.

Jik-lian-sin-ciang Li Bok-chiu sudah termasyhur dan menggetarkan setiap jago persilatan, kontan Liok-toanio roboh terguling, Liok Lip-ting tidak lagi menghiraukan keselamatan jiwa sendiri, golok segera ia timpukan ke arah Li Bok-chiu, berbareng ia pentang kedua tangannya menubruk maju hendak memeluk pinggang orang untuk mengadu jiwa,

sebagai perawan suci bersih, karena patah hati perangai Li Bok-chiu berubah sadis dan tidak kenal kasihan lagi, terutama ia amat membenci hubungan asmara muda mudi, kini melihat Liok Lip-ting hendak memeluk badannya, terlihat raut mukanya lapat2 rada mirip ayahnya diwaktu muda dulu, rasa bencinya semakin berkobar, setelah ia pukul jatuh golok orang dengan kebutnya, sekali ayun pula, "sret", telak sekali kebutnya memukul batok kepala Liok Lip-ting. Kasihan Liok Lip-ting yang membekal ilmu silat warisan keluarga yang tinggi, selama hidup tidak pernah menanam permusuhan dengan orang lain, tak nyana hari ini dia terjungkal habis-habisan.

Beruntun ia melukai Liok Lip-ting suami istri, kejadian berlangsung dalam waktu yang amat pendek Kwa Tin-ok dan Bu- Sam-nio berusaha meno-long, namun terlambat.

Li Bok-chin, serunya: "Dimana" kedua bocah perempuan itu ?"

Tanpa menanti jawaban, bayangan berkelebat langsung ia melesat masuk ke dalarn perkampungan dalam sekejap saja ia sudah periksa setiap pelosok rumah, namun tidak kelihatan bayangan Thia Eng dan Liok Bu-siang. Dari tungku di dapur ia mengambil api terus menyulutnya di-gudang kayu bakar, tak lama kemudian dia sudah berlari keluar pula, katanya dengan tersenyum: "Dengan Tho-hoa-to dan It-teng Taysu aku tidak bermusuhan kalian silahkan pergi saja !"

Kwa Tin-ok dan Bu Sam-nio terhitung golongan pendekar, mereka menyaksikan orang meng-ganas panta dapat berbuat banyak, keruan gusar mereka bukan kepalang, sebatang tongkat dan sebilah pedang serempak menubruk maju pula, Li Bok-chiu bergerak lincah seperti kupu2 menari, ia miringkan badan menghindari sambaran tongkat besi, sementara kebutnya terayun membelit pedang Bu Sam-nio, tenaga dalam tersalur melalui ujung kebutnya, sekali tarik dan dorong pula, terdengar "pletak !", pedang itu putus menjadi dua potong, ujung pedang melesat ke arah Bu Sam-nio, sementara gagang pedang menyamber ke muka Kwa Tin-ok.

Bahwa pedangnya terkebut lawan Bu Sam-nio sudah amat kaget, di luar dugaan orang dapat mematahkan pedangnya dengan kebut yang lemas saja untuk menyerang dirinya pula, kutungan pedang itu melesat cepat, lekas ia menunduk kepala untuk berkelit, terasa kepala menjadi dingin dan silir, ujung pedang menyamber lewat memotong sebagian gelungan rambutnya.

Dilain pihak, mendengar samberan angin ke-keras, ujung tongkat Kwa Tin-ok sapukan ke depan untuk menyampuk gagang pedang itu ke samping, didengarnya Bu Sam-nio menjerit kaget. dan ketakutan, lekas ia putar tongkatnya hingga menderu kencang dan merangsak maju, sebetulnya tangan kirinya sudah menggenggam senjata rahasia, tapi ia tahu Ping-pok-ciau milik Jik-lian-sian-cu amat ganas dan keji, mata sendiri tidak bisa melihat, jangan2 malah memancing orang mengeluarkan jarumnya yang berbisa itu, sudah tentu dirinya tidak akan mampu melawan, oleh karena itu meski situasi sangat gawat, ia tidak berani sembarangan menimpukkan senjata rahasianya.

Sejak mula Li Bok-chiu selalu memberi kelonggaran kepadanya, pikirnya: "Kalau tidak ku unjuk kelihaianku yang sejati, tua bangka ini tentu tidak tahu aku sengaja mengalah kepadanya." Ujung kebutnya segera membelit ujung tongkat orang, Kontan (Kwa Tin-ok merasa segulung tenaga hebat membetot tongkatnya, lekas ia, kerahkan tenaga untuk menarik balik, siapa tahu baru saja tenaganya tersalur ke ujung tongkat, mendadak" kekuatan betotan kebut musuh sirna tanpa bekas, seketika ia merasakan kaki tangan menjadi lemas se-olah2 kosong melompong tak kuasa mengerahkan tenaga lagi.



Sedikit menggerakkan tangan kirinya Li Bok-chiu sendal tongkat orang ke samping, telapak tangannya hanya satu dua dim saja di depan dada Kwa Tin-ok, katanya tertawa: "Kwa-loyacu, Jik-lian-sin-ciang sudah mengusap di depan dadamu lho!"

Dada Kwa Tin-ok terbuka lebar dan tidak mampu menangkis atau membela diri, tapi ia lantas memaki dengan gusar: "Perempuan keparat, tepukkan saja ke dadaku, kenapa cerewet ?"

Melihat gelagat yang jelek ini Bu Sam-nio kaget dan memburu hendak menolong. Tangkas sekali Li Bok-chiu sudah melejit ke udara, disaat badannya masih terapung di udara, telapak tangannya sempat mengusap sekali dimuka Bu Sam-.nio. Katanya tertawa: "Kau berani mengggebah muridku, nyalimu cukup besar juga!" - Habis berkata ia tertawa cekikikan, sekali lompat badannya melayang jauh dan sekejap saja sudah tidak kelihatan lagi,

Terasa oleh Bu Sam-nio jari orang yang meraba mukanya itu sedemikian halus dan licin, kulit mukanya terasa dingin nyaman, dilihatnya bayangan orang berkelebat ke dalam hutan dan menghilang, Hanya beberapa jurus saja ia melabraknya, namun gebrakan yang berlangsung tadi boleh dikata berbahaya sekali, ia kerahkan seluruh kekuatannya, akhirnya toh roboh dan tak mampu bergerak Kwa Tin-ok tadipun merasakan dadanya seperti ditindih batu besar ribuan kati, napas sesak terasa mual, segera ia menarik napas dalam2 beberapa kali, barulah pernapasannya dapat lancar kembali.

Dengan susah payah Bu Sam-nio merangkak bangun, didengarnya suara gemuruh dan angin menderu, hawa terasa sangat panas, ternyata Liok-keh-ceng sudah tertelan jago merah yang membara, Dengan Kwa Tin-ok mereka mengangkat tubuh Liok Lip-ting suami isteri, tampak kedua orang sudah kempas kempis, terang tinggal menunggu ajal saja, pikirnya: "Kalau memindahkan mereka, tentu ajalnya akan tiba lebih cepat, namun tak mungkin Kubiarkan mereka di sini, bagaimana baiknya ?"

Disaat serba susah itulah tiba2 dari jauh di dengarnya seseorang berteriak: "Niocu, apa kau selamat ?" - itulah suara Bu Sam-thong.

Girang dan dongkol pula Bu Sam-nio, pikirnya kau si gila ini entah berbuat apa saja dan sampai sekarang baru datang, Dilihatnya pakaian sang suami sudah robek dan penuh tambalan," sedang berlari cepat mendatangi sambil ber-kaok2 selamanya Bu Sam-nio belum pernah menghadapi sikap suaminya yang begitu mesra terhadap dirinya, hatinya menjadi senang, sahutnya lantang: "Aku di sini!"

Cepat sekali Bu Sam-thong meluncur tiba, tanpa berhenti ia raih badan Liok Lip-ting berdua terus dibawa pergi sambil berteriak: "Lekas ikut aku !"

Kwa Tin-ok belum saling memperkenalkan diri, namun ia yakin orang adalah sekaum dari golongan pendekar, maka segera ia ikut jejak orang, sekaligus mereka lari sejauh beberapa li, Bu Sam-thong menjinjing dua orang, Kwa Tin-ok pincang berjalan dengan menggunakan tongkat, namun Bu Sam-nio malah ketinggalan paling jauh.

Bu Sam-thong menyusup ke timur dan berputar ke barat, akhirnya ia bawa kedua orang memasuki sebuah gua di sebuah lekukan gunung, Begitu masuk ke dalam gua itu, Bu Sam-nio melihat Tun-ji dan Siu-bun, kedua puteranya itu selamat tak kurang suatu apapun, ia merasa lega, Dilihat-nya kedua puteranya sedang bermain, batu di tanah bersama Liok Bu-siang dan Thia Eng.

Di ujung sana berdiri seorang gadis cilik lain yang berpakaian mewah, Usianya lebih kecil dari Liok dan Thia, namun sikap dan tindak tanduknya kelihatan sombong, ia tidak sudi bermain dengan mereka berempat, Dia bukan lain adalah puteri kesayangan Kwe Ceng dan Ui Yong, Kwe Hu adanya.

Melihat Kwa Tin-ok ikut datang segera Kwe Hu berteriak: "Kwa-kongkong, kedua burung itu entah pergi kemana, tidak kelihatan bayangannya, ku panggil berulang kali juga tidak mau kembali!"

Sementara itu Thin Eng dan Liok Bu-siang lantas memeluk badan Liok-toanio dan Liok Lip-ting serta menangis sambil menjerit2. Mendengar jerit tangis kedua anak perempuan ini, seketika Kwa Tin-ok teringat akan kata2 Li Bok-chiu, serunya kuatir: "Wah, celaka ! Kita memancing setan masuk pintu, sebentar iblis laknat itu pasti menyusul kemari!"

"Bagaimana bisa ?" tanya Bu Sam-nio bingung.

"Gembong iblis itu hendak mencabut nyawa kedua "bocah dari keluarga Liok ini, tapi dia tidak tahu dimana mereka berada."

Seketika Bu Sam-nio sadar, ujarnya: "Ya, benar,, dia sengaja tidak melukai kami, tapi mengintil di belakang kita secara diam2."

Bu Sam-thong menjadi gusar, teriaknya: Se-tan keparat itu berani mengganas, sebentar biar aku yang menempurnya."

Batok kepala Liok Lip-ting sudah remuk, namun ada satu hal yang belum dia selesaikan maka ia bertahan sampai sekarang, dengan suara lemah katanya kepada Thia Eng: "Ah-ing, ambillah sapu... sapu.... sapu tangan di dalam bajuku."

Thia Eng menyeka air mata, lalu merogoh keluar sehelai sapu tangan sutera dari baju sang paman. Sapu tangan ini terbuat dari sutera putih, tiap ujungnya tersulam bunga merah, Bentuk dan warna bunga itu amat aneh dan lain dari bunga biasanya, kelihatan indah menyolok tapi menyeramkan pula, selintas pandang membuat berdiri bulu kuduk orang.

Kata Liok Lip-ting: "Ah-Eng, ikatlah sapu tangan ini di lehermu, jangan kau copot lagi, tahu tidak ?"

Thia Eng tidak tahu maksudnya, namun pamannya berpesan wanti2, maka ia mengangguk serta mengiakan,

Saking kesakitan Liok-toanio sudah jatuh pingsan berulang kali, mendengar suara suaminya, segera ia membuka mata, katanya: "Kenapa tidak kau berikan kepada anak Siang ? Berikan kepada Siang-ji!"

"Tidak!" sahut Liok Lip-ting tegas, "Mana boleh aku mengingkari pesan ayah bundanya ?"

"Kau... kau sungguh kejam, puterimu sendiri tidak kau hiraukan lagi keselamatannya ?" mata Liok-toanio memutih, suarapun serak dan jatuh semaput lagi.

Liok Bu-siang tidak tahu soal apa yang dipertengkarkan ayah bundanya, sambil menangis ia berteriak: "lbu Ayah !"

"Niocu!" ujar Liok Lip-ting dengan suara lembut: "Kau amat sayang kepada Siang-ji, biarlah dia ikut berangkat bersama kita ?"

Sapu tangan sutera putih bersulam bunga merah itu adalah pemberian Li Bok-chiu kepada Liok Tian-goan dimasa mudanya sebagai tanda mengikat janji, Menjelang ajal, Liok Tian-goan tahu dosa2 mereka suami isteri bertumpuk dan banyak musuh, anak cucunya kelak pasti terlibat banyak urusan, maka ia wariskan sapu tangan itu kepada puteranya.

Dengan wanti2 ia berpesan, bila Bu Sam-thong meluruk datang menuntut balas, kalau bisa menghindari adalah baik, kalau tidak bolehlah dilawan sekuat tenaga dan rasanya jiwa tidak akan melayang cuma2. Tapi kalau Li Bok-chiu yang datang, orang ini amat keji dan ganas pula, ilmu silatnya juga tinggi, satu2-nya jalan untuk menyelamatkan diri ialah mengalungkan sapu tangan sutera putih itu di leher. ingat akan asmara dimasa mudanya, mungkin si iblis itu tidak tega turun tangan,

Tapi Liok Lip-ting sendiri tinggi hati, meski menjelang ajal, namun ia sendiri tidak mau unjuk sapu tangan itu.

Thia Eng adalah puteri saudara~ perempuan Liok Lip-ting yang dititipkan padanya, Biasanya ia bersikap keras kepada keponakan ini, sering ia memarahinya dan mendidiknya dengan keras, tapi urusan sudah berlarut sedemikian jauh, malah dia berikan sapu tangan penyelamat itu kepada Thia Eng.

Betapapun Liok-toanio berjiwa lebih sempit, kasih sayangnya kepada puteri sendiri lebih besar, melihat sang suami tidak perdulikan keselamatan jiwa puteri sendiri, saking dongkol dan gusar, kontan ia jatuh semaput lagi.

Karena soal sapu tangan sampai bibi dan pamannya bertengkar segera Thia Eng angsurkan sapu tangan itu kepada Piaumoay-nya, katanya: "Bibi bilang untuk kau, nah, terimalah !"



Tapi Liok " Lip-ting segera membentak: "Siang-ji, jangan kau terima !"

Bu Sam-nio tahu dalam hal ini pasti ada latar belakang yang dirahasiakan segera ia tampil bicara: "Bagaimana kalau sapu tangan ini disobek menjadi dua potong ? Satu orang separoh, boleh tidak ?"

Liok Lip-ting hendak bicara, namun keadaannya sudah sangat payah, mana bisa mengeluarkan suara pula, terpaksa ia hanya mengangguk saja,

Bu Sam-nio segera minta sapu tangan itu "bret" ia sobek menjadi dua dan dibagikan kepada Liok Bu-siang dan Thia Eng.

Bu Sam-thong berdiri di mulut gua, mendengar jerit tangis di sebelah "dalam, tak tahu apa yang terjadi, segera ia berpaling, entah mengapa dilihatnya separuh muka isterinya berwarna hitam separuh yang lain putih halus seperti salju, keruan ia kaget dan kuatir, katanya sambil menuding muka sang isteri: "Ke... kenapa begini ?"

"Kenapa ?" tanya Bu Sam-nio sambil meraba mukanya, terasa kulit mukanya seperti kaku dan mati rasa, mencelos hatinya, seketika teringat akan rabaan tangan li Bok-chiu pada mukanya tadi, apa tangan halus dan lembut itu menggunakan racun dalam rabaannya tadi ?

Baru saja Bu Sam-thong hendak bertanya pula, mendadak didengarnya seorang tertawa di luar gua, katanya: "Kedua bocah perempuan itu di sini bukan ? Perduli mati atau hidup, lekas lempar keluar!" suaranya nyaring seperti kelintingan.

Bu Sam-thong segera melompat keluar gua, dilihatnya Li Bok-chiu sedang berdiri di luar gua, seketika hatinya tergetar: "Puluhan tahun tidak bertemu, kenapa dia masih sedemikian cantik ?"

Tapi dilihatnya kebut di tangan Li Bok-chiu bergoyang gontai, sikapnya adem-ayem, pandangan matanya tajam, kedua pipinya bersemu merah, bagi orang yang tidak kenal iblis yang suka mengganas ini, orang pasti mengira orang adalah putri hartawan yang sengaja menjadi Tokoh (pendeta wanita agama Tao).

Melihat kebut baru Bu San-thong ingat dirinya tidak membekal senjata, kalau balik mengambil ia kuatir orang akan menerjang masuk dan melukai Thia Eng atau Liok Bu-siang, sekilas dilihatnya di pinggir gua tumbuh sebatang pohon, segera ia rangkul dengan kedua tangan serta menghardik keras: "Naik !" Waktu ia kerahkan tenaga, pohon itu seketika kena dicabut sampai akar-akarnya,

Li Bok-chiu tersenyum genit: "Amat besar tenagamu !"

Bu Sam-thong segera melintangkan batang pohon itu, katanya: "Nona Li, puluhan tahun tidak bertemu, kau baik-baik saja ?"

Dahulu ia biasa panggil orang nona Li, kini meski orang sudah masuk agama menjadi pendeta To, namun ia tidak mengubah panggilannya, selama dua puluhan tahun terakhir ini Li Bok-chiu tidak pernah mendengar orang memanggil dirinya dengan sebutan "nona Li", seketika tergerak hati-nya, terbayang olehnya akan kehidupan manis mesra masa mudanya dahulu, namun kilas lain ia pun berpikir: sebetulnya aku dapat hidup rukun sampai hari tua bersama pujaan hatiku, siapa tahu dalam dunia ini muncul seorang yang bernama Ho Wan-kun yang membuat aku malu dan kehilangan, pamor, aku hidup menderita sampai hari tua. Se gera rasa manis mesra yang menggejolak tadi se ketika tersapu bersih, perasaan berubah menjadi benci dan dendam.

Seperti Li Bok-chiu Bu Sam-thong juga seorang yang patah hati dalam gelanggang asmara boleh dikatakan mereka mengalami pendeta dan siksaan batin yang sama. Sepuluhan tahun yang lalu Bu Sam-thong pernah melihat seorang diri Li Bok-chiu membunuh puluhan Piausu dari Ho-si Piaukiok secara kejam dan tak berperi-kemanusiaan, kalau dibayangkan sampai sekarang masih terasa seram, Para Piausu itu sebetulnya tiada salah dan tiada dosa kepadanya, merekapun tiada sangkut paut dengan Ho Wan-kun soalnya hanya karena merekapun she Ho, di kala kepedihan hati tak terlampiaskan, ia luruk ke Ho-si Piau kiok serta membunuh habis semua penghuninya, Kini dilihat pula oleh Bu Sam-thong raut muka perempuan ini sebentar mengunjuk kelembutan hatinya, namun saat lain berubah bengis dan menyeringai dingin, diam2 ia sangat menguatirkan keselamatan kedua anak perempuan Liok dan Thia itu.

Berkata Li Bok-chiu: "Di atas dinding sudah kuberikan tanda sembilan telapak tangan, aku tidak akan berhenti sebelum membinasakan sembilan orang, Nah, Bu-samko, silahkan kau menyingkir !"

"0rang2 yang kau musuhi sudah sama mati, putera dan bininya pun sudah kau lukai, cucu perempuannya yang masih kecil itu, harap kau ampuni saja !" kata Bu Sam-thong.

Li Bok-chiu menggeleng sambil tersenyum, katanya: "Bu-samko, silahkan kau minggir."

Bu Sam-thong pegang batang pohon itu lebih kencang, teriaknya: "Nona Li, kau memang terlalu kejam, Ho Wan-kun."

Seketika berubah air muka Li Bok-chiu mendengar nama itu, katanya: "Aku sudah bersumpah barang siapa di hadapanku menyinggung nama orang itu, maka kalau bukan aku yang mati pasti dia yang mampus, Nah, Bu-samko, kau sendiri yang salah, jangan kau menyalahkan aku." Kebut-nya segera mengebas ke atas kepala Bu Sam-thong.

Jangan pandang kecutnya itu kecil pendek, namun kebasannya ini cepat dan keras sekali, rambut kepala Bu Sam-thong yang awut2an itu seketika seperti diterpa angin ribut

Li Bok-chiu tahu orang adalah murid kesayangan It-teng Taysu, meski tindak tanduknya ling-lung, namun ilmu silatnya mempunyai keistimewaannya sendiri, maka sekali turun tangan segera ia lancarkan serangan maut yang mematikan

Cepat Bu Sam-thong angkat batang pohon itu dan mendadak terulur maju terus menyapu dengan keras.

Melihat sapuan keras dan lihay ini, badan Li Bok-chiu berkelebat melayang mengikuti deru angin, sebelum daya kekuatan sapuan pohon itu melanda tiba, ia sudah melompat ke depan terus menyerang ke muka lawan.

Hebat memang kepandaian Bu Sam-thong, tidaklah sia2 Toan-hongya menggemblengnya selama puluhan tahun, melihat orang merangsak maju, tangan kanan segera terangkat, jari tengahnya terjulur menutuk jidat orang.

It-yang-ci yang dia lancarkan ini tidak bisa dibandingi dengan permainan isterinya tadi, kelihatannya gerak tangannya tidak begitu cepat dan hebat, namun serba rumit dijajagi atau diraba perubahannya, aneh dan ajaib.

Tapi badan Li Bok-chiu mendadak mencelat mundur beberapa tombak jauhnya,

Melihat orang bergerak segesit kera selincah kupu menyelusuri kembang, datang pergi seenteng asap, dalam sekejap saja merangsak maju dan mundur beberapa kali, mau-tidak-mau Bu Sam-thong sangat kagum dan tergetar.

Segera ia kerahkan tenaga mengabitkan dahan pohon itu dengan hebatnya, serentak ia desak lawan mundur puluhan tombak jauhnya, tapi sedikit ada peluang, Li Bok-chiu segera menyelinap maju secepat kilat, untung It-yang-ci amat lihay, kalau tidak tentu sejak tadi dia sudah terkapar roboh.".

Meski demikian, betapapun bobot dahan pohon itu terlalu berat, diputar sedemikian kencangnya, lama-kelamaan ia merasa letih dan kehabisan tenaga, sebaliknya Li Bok-chiu bergerak semakin gesit dan mendesak semakin dekat

Mendadak bayangan putih berkelebat, tahu2 Li Bok-chiu melompat ke pucuk pohon sembari mengayun kebutnya menyerang ke bawah dari tengah udara.

Bu Sam-thong terkejut, lekas ia putar balik batang pohon terus dihantamkan ke tanah, sambil tertawa Li Bok-chiu berlari maju melalui dahan pohon. segera Bu San-thong memapak dengan tutukan jarinya. Tapi sekali menggeliat gemulai, badan lawan tahu2 sudah menyurut mundur ke pucuk pohon pula.

Begitulah beruntun puluhan jurus, bagaimanapun Bu Sam-thong kerahkan tenaga menggentak pohon atau menyapukannya dengan hebat menghantam batang pohon yang lain untuk menjatuhkan orang, namun Li Bok-chiu seperti lengket dengan dahan pohon di tangannya itu, malah setiap kali kalau gerakan dahan pohon lamban ia lantas menyerang maju dengan serangan ganas.

Lama kelamaan Bu Sam-thong merasa payah juga, meski badan orang tidak terlalu besar dan berat, paling tidak menambah beban di atas dahan pohon besar itu, dengan berdiri di . pucuk pohon, dahan pohon itu tidak akan mampu mengenai dia, sebaliknya orang lebih leluasa menyerang dirinya, terang dirinya dalam posisi yang terdesak

Inysaf akan kedudukan yang berbahaya ini, bila dirinya sedikit ayal atau lena, jiwa sendiri tidak menjadi soal, tapi semua penghuni gua baik tua dan muda bakal menjadi mangsa keganasannya pula.



Segera ia ayun batang pohon itu lebih kencang, ia berusaha menjatuhkan orang dari dahan pohon di tangannya, Tepat pada saat itulah, tiba2 dari belakang didengarnya seruan nyaring disusul dua bayangan abu2 menubruk turun dari atas

Karena pahanya tersambit jarum berbisa, Bu Sam-thong rebah tengkurap tak mampu bangun Jagi, sementara Li Bok-chiu sedang sibuk dikerubuti dua ekor rajawali dan seekor burung merah kecil berparuh panjang.

Waktu Bu Sam-thong angkat kepala, dilihatnya dua ekor rajawali menukik turun bagai meteor jatuh menyerang ke arah Li Bok-chiu dari kanan kiri, Melihat luncuran kedua burung raksasa yang pesat dan dahsyat ini, cepat Li Bok-chiu menjungkir ke bawah dengan kaki kiri tetap menggantol dahan pohon, Karena tidak berhasil mengenai musuh, kedua rajawali itu terbang ke udara pula.

Baru saja Bu San-thong keheranan, tiba2 didengarnya suara anak perempuan di belakangnya: "Tiau-ji, ayo turun gigit perempuan jahat itu !"

Kedua ekor burung rajawali itu amat cerdik dan tahu kata2 orang, seekor dari kiri ke kanan, yang lain dari kanan ke kiri, empat cakar besinya serentak mencengkeram ke bawah pohon.

Pernah Li Bok-chiu dengar bahwa Kwe Ceng dan Ui Yong dari Tho-hoa-to ada memelihara sepasang burung rajawali sakti, menghadapi serangan kedua burung sakti ini, terhadap rajawali itu sendiri ia tidak takut, namun ia jeri bila Kwe Ceng suami isteri berada tidak jauh dari situ, hal itu tentu akan membawa kesulitan dan menggagalkan urusannya, dengan gerakan gemulai segera ia berkelit beberapa kali, tiba2 ia ayun kebut-nya, "plok", ia berhasil menyabet sayap kiri rajawali jantan, ^saking kesakitan rajawali itu berpekik dan beberapa tangkai bulunya rontok berhamburan di udara.

Melihat burung rajawalinya cidera, Kwe Hu berteriak pula: "Tiau-ji jangan takut, gigit perempuan galak itu."

Sekilas Li Bok-chiu melirik, dilihatnya anak perempuan itu berkulit halus bagai salju, cantik melek dan menawan hati, tergeraklah hatinya: "Sejak lama kudengar bahwa Kwe-hujin adalah perempuan tercantik nomor satu angkatan muda, memangnya anak perempuan ini adalah puterinya ?" - Karena menggunakan pikiran, gerak gerik kaki tangannya menjadi sedikit lamban,

Walaupun mendapat bantuan sepasang rajawali namun Bu Sam-thong masih tidak kuasa merobohkan lawannya, keruan hatinya semakin gelisah, Se-konyong2 pohon itu ia lempar ke tengah udara bersama orangnya.

Agaknya Li Bok-chiu tidak menduga akan perbuatannya ini, tanpa kuasa badannya ikut terlempar beberapa tombak tingginya di udara.

Seperti diketahui tenaga sakti Bu Sam-thong memang amat mengejutkan, dulu waktu Kwe Ceng dan Ui Yang hendak minta bertemu dengan It Teng Taysu, di tepi jurang dia mengangkat sepotong batu besar yang diatasnya rebah pula seekor sapi jantan yang besar, ia kuat bertahan hampir setengah jam lebih,

Kepandaian silat Li Bok-chiu memang tinggi namun karena dilempar sekuat itu, ia tidak kuasa menyingkirkan diri lagi.

Melihat dia melambung ke udara,, kedua rajawali itu segera menukik turun pula seraya menutuk

Kalau di atas tanah datar kedua rajawali ini tidak dapat mengapakan dirinya, sekarang Li Bok-chiu terapung di tengah udara dan tiada tempat untuk pengerahan tenaga, mana kuat melawan terjangan kedua rajawali yang hebat ini!

Dalam gugupnya kebut terayun untuk melindungi mukanya, berbareng lengan baju mengebas, sekaligus ia timpuk tiga batang jarum Peng-pok-gin-ciam. Dua batang menerjang kedua rajawali sebatang ke arah dada Bu Sam-thong. Tiga batang senjata rahasia dia timpukan ke tiga arah sasaran yang berlainan dengan tepat, sungguh lihay sekali.

Kedua rajawali itu rupanya tahu kelihaian jarum musuh, cepat pentang sayap melambung tinggi pula ke tengah udara, tapi jarum perak itu menyamber teramat cepat, "sret, sret" jarum menyerempet lewat sela2 cakar kaki dan mengelupas sedikit sisik kulitnya,

Ketika Bu Sam-thong tiba2 melihat sinar perak berkelebat lekas ia jatuhkan diri, namun jarum perak itu masih mengenai juga paha kiri-nya, sebat sekali ia hendak berdiri pula, siapa tahu kaki kirinya itu, ternyata tidak mau menurut perintah lagi, lututnya tertekuk dan berlutut dengan tangan menyanggah tanah, ia. kerahkan tenaga murni, baru saja hendak merangkak bangun pula, rasa kaku dengan cepat sudah menjalar sekejap saja kedua kakinya sudah pati rasa, kontak ia jatuh tengkurap, kedua tangan masih bertahan dan meronta hendak berdiri, namun akhirnya ia rebah tak bergerak lagi.

"Tiau-ji, Tiau-ji!" teriak Kwe Hu keras, "Lekas kemari!"

Kedua ekor rajawali itu ternyata terbang entah kemana dan tidak mau mendengar teriakannya lagi,

"Adik cilik", tegur Li Bok-chiu tersenyum, "apa kau she Kwe ?"

Melihat orang bicara manis budi, Kwe Hu pun tertawa, sahutnya: "Ya, aku she Kwe. Kau she apa ?"

"Mari sini, ku ajak kau bermain," perlahan Li Bok-chiu menghampiri hendak menggandeng tangannya.

Dengan mengetuk tongkatnya lekas Kwa Tin-ok menerjang keluar dari gua dan menghadang di depan Kwe Hu, teriaknya: "Hu-ji, lekas masuk !"

"Memangnya kau takut aku bakal menelannya bulat2 ?" ujar Li Bok-chiu tertawa cekikikan Kaki kirinya sedikit mencungkit tongkat besi orang berbareng tangan kiri meraih menangkap ujung tongkat.

Kwa Tin-ok lekas menyendal serta menariknya, namun ia tidak berhasil melepaskan cekalan orang, teriaknya: "Hu-ji lekas lari."

Kwe Hu malah bersungut dan berkata "Bibi ini hendak bermain dengan aku." Tidak lari ia malah hendak menarik tangan Li Bok-chiu.

Kwa Tin-ok kaget, selagi kehabisan akal, tiba2 terdengar suara pekik kedua rajawali yang telah terbang balik.

"Tiau-ji, lekas ke sini!" Kwe Hu berseru.

Tiba2 samar merah berkelebat, seekor burung kecil warna merah yang berparuh panjang mendadak menubruk langsung ke arah kepala Li Bok-chiu dari sela2 kedua burung rajawali.

Keruan Li Bok-chiu terkejut lekas kebutnya menyamber namun burung merah itu melayang pergi datang dengan cepat, tiba2 badannya mundur tiga kaki ditengah udara meluputkan diri dari kebutan itu. . Tapi secepat itu pula ia sudah menerjang maju pula, gerak geriknya tidak kalah dari pada tokoh kosen dunia persilatan.

Kaget dan senang pula Li Bok-chiu, katanya sambil tertawa: "Burung kecil ini menyenangkan juga!"

Tiba2 didengarnya suara desiran aneh yang kumandang dari belakang gunung, entah dari mana berbondong2 merayap keluar ular hijau yang tak terhitung banyaknya, Seorang anak laki2 berbaju hijau sedang mendatangi sambil berdendang dengan bertepuk tangan, Ular-ular itu mengiringi nyanyiannya, sebaris dari sebaris amat teratur merubung ke arah Li Bok-chiu.

Anak laki2 berusia 14 - 15 tahun itu lalu duduk di tanah untuk menonton burung merah tadi menempur sengit Li Bok-chiu.

Burung merah kecil itu amat gesit dan tangkas, maju mundur bagai kilat, sabetan kebut Li Bok-chiu meski sangat kencang, namun lawan kecil ini selalu dapat lolos.

Dilihatnya anak laki2 itu bermuka cakap, bibir merah gigi putih, tampan dan menyenangkan serta merta timbul rasa kasih sayangnya, melihat orang menggusur ular menghadang di depannya, diam2 ia berpikir: "Kabarnya di Pek-tho-san daerah Se-ek benua barat ada seorang Bu-lim Cianpwe tokoh persilatan tua bernama Auwyang Hong yang pandai menguasai ular untuk menyerang musuh, mungkin pemuda ini punya hubungan erat dengan dia ?"

Semula ia berniat melancarkan serangan ganas untuk membinasakan burung merah itu, berpikir sampai di situ, ia jadi ragu2 dan batalkan niatnya semula.

Harus diketahui Li Bok-chiu adalah seorang yang licik dan banyak tipu dayanya, sebelum bertindak ia selalu memikirkannya lebih dulu secara seksama, kalau dirinya tidak terdesak kalah, dia tidak akan segera menurunkan tangan jahatnya. pikirnya:



"Kenapa hari ini begini kebetulan ? It Teng Taysu, Pek-tho-san dan Tho-hoa-to masing2 ada orang kumpul di sini, memangnya sebelum ini mereka sudah berjanji untuk bersatu menghadapi aku ? Biarlah kucari tahu dulu keadaan yang sebenarnya."

Sambil mengebaskan kebutnya, Li Bok-chiu bertanya: "Adik cilik, siapa namamu ? Apa kau datang dari Pek-tho-san ?"

Melihat orang bicara dengan lemah-lembut, pemuda itu berdiri sahutnya dengan, tertawa: "Aku she Nyo, Pek-tho-san apa yang kau maksudkan ?"

Melihat orang tidak bersiap, se-konyong2 burung merah tadi menyergap pula serta mematuk dengan paruhnya yang runcing panjang.

Sebat sekali Li Bok-chiu ulur tangan kiri terus meraih, gerak-gerik burung merah kecil itu amat cepat dan tangkas, namun gerak tangan Li Bok-chiu lebih cepat lagi, tahu2 burung merah itu tergenggam oleh tangannya. Keruan pemuda itu kaget, teriaknya: "Hai, jangan kau melukai dia !"

"Baik, nih, kukembalikan padamu !" sahut Li Bok-chiu sambil membuka telapak tangannya,

Begitu mendapat kebebasan burung merah itu segera pentang sayap hendak terbang, tapi baru saya sayapnya terbentang, Li Bok-chiu kerahkan lwekang melalui telapak tangannya, sehingga burung merah itu seakan-akan melengket pada tangannya, biarpun beberapa kali burung kecil itu menggelepai2 sayapnya tetap tidak mampu terbang lolos dari telapak tangannya.

Maklumlah Jik-lian-sin-ciang Li Bok-chiu sudah mencapai puncaknya, tenaga yang dikerahkan pada telapak tangannya bisa dia gunakan sesuka hatinya, dalam sekejap saja ia bisa mengubah kekuatan pukulan telapak tangan beberapa kali, sekali serang pukulannya bisa menimbulkan gelombang kekuatan yang menderu hebat, tenaga dipusatkan di tengah2 telapak tangan, sementara jarinya bisa mengendon sehingga orang yang terkena pukulannya tidak mampu mengerahkan tenaga untuk melawan.

Bagi jago yang berilmu silat tinggi, kalau badannya terkena pukulan, secara reflek akan mengerahkan tenaga untuk melawan, baik menangkis atau untuk mematahkan Tapi ilmu pukulan Li Bok-chiu ini lain dari pada yang lain, sekali pukul didalamnya mengandung bermacam kekuatan yang dahsyat, oleh karena itu ia amat tenar dan ditakuti karena ilmu pukulan Jik-lian-sin-ciang, siapa yang tidak akan kuncup nyalinya bila mendengar atau melihat ilmu pukulannya ini.

Begitulah burung merah tadi masih terus kerupukan di tengah telapak tangan Li Bok-chiu dan tidak mampu terbang meloloskan diri.

Bu Sam-nio dan lain2 juga terkurung oleh barisan ular yang banyak itu, merekapun kaget dan heran pula, Melihat burung merah itu tidak mampu lepas dari telapak tangan orang, mereka pun kuatir akan keselamatannya, tapi takut di-gigit u!ar2 berbisa itu, setapak pun mereka tidak berani bergerak.

Melihat suaminya terkapar di tanah tanpa bergerak, entah mati atau masih hidup, betapapun mereka sudah menjadi suami isteri sekian puluh tahun lamanya, Bu Sam-nio amat prihatin akan keadaan suaminya, segera ia berseru memanggil: "Samko, bagaimana kau ?"

Bu Sam-thorig mengerang, punggungnya terangkat beberapa kali, namun tetap tidak mampu menegakkan badan.

Kwe Hu, tampak celingukan kian kemari dan tidak melihat bayangan kedua burungnya, segera ia berteriak: "Tiau-ji, Tiau-ji, lekas kembali!"

Setelah menunggu cukup, lama tidak melihat apa2, maka Li Bok-chiu sudah bertekad: "Seumpama Kwe Ceng suami isteri dan Auwyang Hong berada di sekitar sini, jika aku segera turun tangan masakah mereka sempat berbuat apa-apa kepadaku ?" - Maka dengan tersenyum kecil ia melangkah ke depan.

"Eh, jangan bergerak !" teriak anak muda tadi. "Awas digigit ular!" - Tapi dilihatnya di mana kaki Li Bok-chiu beranjak ke depan, kawanan ular itu entah kenapa sama menyurut mundur seperti amat takut kepadanya, saling desak dan menyingkir ke pinggir.

Tiba2 Li Bok-chiu melompat lewat di samping si pemuda terus menerjang ke dalam gua.

Bu Sam-nio ayun pedangnya seraya membentak: "Keluar !"

Tangan kiri Li Bok-chiu masih pegang burung kecil dan tangan kanan menyongsong tajam pedang terus menepuk.

Keruan Bu Sam-nio heran, "Memangnya tanganmu terbuat dari baja ?"

Siapa tahu jari2 orang ternyata bergerak selincah ular hidup, tahu2 sudah mencomot batang pedang terus digentak ke depan, ujung pedang malah membal balik memotong ke jidat Bu Sam-nio sendiri, perubahan ini terjadi dalam waktu yang amat cepat, "sret", belum sempat ia berkelit pedangnya sendiri sudah membacok jidatnya.

"Maaf !" ujar Li Bok-chiu tertawa, burung ditangan kirinya segera dilepaskan, kedua tangannya segera menjinjing Thia Eng dan Liok Bu-siang, kaki sedikit menutul badannya segera mencelat keluar gua, dalam kesibukannya itu ia sempat pula menendang tongkat besi Kwa Tin-ok yang menyerampang datang dan menimpuk sebatang Ping-pok-ciam di kuncir Kwe Hu.

Mendengar jeritan kedua anak dara Thia dan Liok, tahu keadaan sangat gawat, si pemuda segera bangun dan menubruk maju memeluk Li Bok-chiu sambil teriaknya: "Hai, hai, lekas lepaskan !"

Tangan Li Bok-chiu masing2 menjinjing satu orang, sedikitnya ia tidak menduga si pemuda bakal memeluk pinggangnya, tahu2 ia merasa bawah ketiak sudah dijepit sepasang tangan kecil seketika hatinya terkesiap, entah bagaimana seketika seluruh badan menjadi lemas lunglai.

Supaya Thia dan Liok kedua anak perempuan itu tidak tergigit ular, ia kerahkan tenaga di telapak tangan terus melemparkan mereka beberapa tombak jauhnya, cepat sekali tangannya membalik mencengkeram punggung si pemuda.

Usia Li Bok-chiu sudah mencapai lima puluhan tahun, namun dia masih seorang perawan yang suci, semasa mudanya bergaul dan main asmara dengan Liok Tian-goan, namun " masing2 memegang teguh adat istiadat, maka selama hidupnya belum pernah ia bersentuhan tubuh dengan laki2 manapun jua.

Banyak laki2 kalangan Kangouw yang terpikat akan kecantikannya, tapi sekali orang mengunjuk nafsu jahat atau tingkah laku yang tidak sopan, maka jiwa orang itu pasti melayang di bawah Jik-lian-sin-ciangnya.

Walau pemuda ini baru berusia belasan, betapapun dari badannya sudah mengeluarkan bau kelakian yang merangsang dan memabukkan, se-konyong2 Li Bok-chiu menghadapi keadaan ini, seketika ia terkesima dan luluh hatinya.

Begitu mencengkeram punggung si pemuda sebetulnya ia sudah kerahkan tenaga hendak menghancurkan isi perut orang untuk mencabut nyawanya, siapa tahu tenaga ternyata tak kuasa dikerahkan, hal seperti ini selama hidup belum pernah dia alami, keruan tak terkatakan rasa kejut dan herannya.

Pada saat itulah burung merah itu tahu2 menubruk pula mematuk matanya sebelah kiri sedikitpun Li Bok-chiu tidak menduga, tahu-tahu sebelah matanya seperti ditusuk sesuatu benda dan sakitnya luar biasa, biji matanya sudah dipatuk buta oleh burung merah itu. Keruan murkanya tidak kepalang, "plok", ia ayun tangannya secepat kilat, pukulan ini dilandasi kekuatan Lwekangnya selama hidup ini, burung kecil itu seketika terpental jatuh dengan leher putus sayap kutung, Cepat sekali tangan kanannya mengangkat si pemuda serta memakinya: "Keparat cilik, kau ingin mampus ya !"

Segera ia putar badan pemuda itu dengan kaki di atas dan kepala di bawah, segera pula ia hendak benturkan kepala orang pada batu gunung agar mampus,

Meski dalam bahaya, namun si pemuda sedikitpun tidak gugup atau takut, malah katanya sambil tertawa: "Kokoh (bibi), jangan kau puntir kakiku hingga kesakitan !"



suaranya sedemikian lembut dan aleman, sorot matanya halus mesra dan membuat orang yang menghadapinya luluh hatinya dan kuncup amarahnya, apapun yang diminta rasanya sulit untuk menolaknya.

Sekilas Li Bok-chiu melenggong, belum lagi hatinya ambil keputusan, didengarnya pekik sepasang rajawali di angkasa, kedua rajawali itu sedang terbang mendatangi dari kejauhan, tahu2 menukik serta menyerangnya pula.

Mata kirinya sudah buta, rasa gusar dan penasaran ini belum sempat terlampias, segera ia kebutkan lengan baju kirinya, dua batang Ping-pok-ciam memapak kedua rajawali itu.

Senjata rahasianya ini amat ganas dan berbisa lagi, kedua rajawali ini tadi sudah merasakan kelihayannya, lekas mereka pentang sayap melambung pula ke atas, namun jarum2 perak itu menyamber dengan kecepatan luar biasa, meski kedua rajawali terbang amat cepat, luncuran kedua batang jarum perak itu terlebih cepat lagi, saking kaget dan ketakutan kedua rajawali sampai bersuit nyaring, tampaknya jiwa mereka bakal tak tertolong lagi, kedua rajawali yang gagah perkasa ini bakal melayang oleh jarum berbisa itu.

Mendadak terdengar suara mendering keras, sesuatu benda meluncur amat kencang dari kejauhan memecah angkasa, Sungguh cepat sekali kedatangan benda kecil ini, baru saja kuping mendengar dering luncurannya, dalam sekejap saja sudah melayang tiba dan tahu2 membentur jatuh kedua batang jarum berbisa itu.

Datangnya senjata rahasia ini sungguh sangat mengejutkan meski li Bok-chiu seorang kejam, tak urung iapun terperanjat Segera ia melompat ke depan sambil melemparkan si pemuda untuk menjemput benda itu, kiranya hanya sebutir batu kerikil biasa, Pikirnya: "Orang yang menimpukkan batu kerikil ini ilmu silatnya pasti tinggi luar biasa, mataku sudah cidera, biarlah aku menghindarinya saja."

Serta merta ia bergerak menuruti jalan pikirannya, telapak tangannya segera menepuk ke punggung Thia Eng, tujuannya hendak membinasakan Thia Eng dan Liok Bu-siang sesuai tanda peringatan sembilan tapak tangan berdarah yang ditinggalkan di dinding rumah Liok Lip-ting itu.

Akan tetapi pada waktu telapak tangannya hampir menyentuh punggung Thia Eng, sekilas mata kanan yang masih jeli itu tiba2 melihat leher anak dara itu terikat selembar saputangan bersulam bunga merah indah yang dia kenal adalah buah tangan sendiri dahulu yang diberikan pada kekasihnya sebagai tanda mata.

Karena ini, seketika ia merandek, tenaga gablokannya tadi dengan cepat ia tarik kembali segala cumbu-rayu dimasa silam sekilas terbayang kembali olehnya. Melihat saputangan sulaman ini iapun lantas tahu maksud kemauan Liok Tian-goan, pikirnya dalam hati: "Walaupun ia telah menikah dengan perempuan hina she Ho itu, namun dalam hatinya nyata ia tidak pernah melupakan diriku terbukti sapu tangan ini masih dia simpan baik2, karena itu ia mohon agar aku mengampuni keturunannya, lantas aku harus mengampuni atau tidak ?"

Demikianlah sesaat ia menjadi ragu2, tidak bisa ambil keputusan Sejenak pula ia putuskan akan bunuh dulu Liok Bu-siang saja.

Maka kebutnya segera ia angkat hendak menyabet gadis cilik itu, namun di bawah cahaya matahari yang terang, lagi2 tertampak olehnya pada leher gadis ini berkabung selembar saputangan bersulam yang sama.

"Eh !" Li Bok-chiu bersuara heran, pikirnya pula: "Mana mungkin ada dua saputangan yang sama ? Satu diantaranya pasti palsu."

Oleh karena itu, kebutnya yang menghantam tadi ia ubah menjadi membelit dan dengan tepat leher Liok Bu-siang kena dililit oleh ekor kebut, anak dara ini terus dia seret ke dekatnya.

Tetapi pada saat itu juga, suara mendesing tadi kembali menggema, sebutir batu lagi2 menyamber dari belakang mengarah punggungnya, lekas Li Bok-chiu baliki kebutnya untuk menyampuk batu yang cepat sekali datangnya ini, tangkisannya sangat jitu, dengan tepat batu itu kena disamplok pergi namun demikian, Li Bok-chiu merasakan juga genggaman tangannya sakit pedas.

Batu sekecil itu ternyata membawa tenaga begitu kuat, maka betapa hebat ilmu silat penyambit batu itu dapat dibayangkan keruan Li Bok-chiu tak berani tinggal lebih lama lagi, ia samber Liok Bu-siang terus dikempit, ia keluarkan Gin-kang atau ilmu entengkan tubuh yang tinggi, secepat terbang dalam sekejap saja ia sudah menghilang kabur.

Nampak Piamoay atau adik misannya digondol orang, tentu saja Thia Eng menjadi ribut "Piaumoay-Piaumoay !" demikian, ia ber-teriak2 sambil menyusul dari belakang dengan kencang.

Akan tetapi dengan kecepatan berlari Li Bok-chiu, mana bisa Thia Eng menyusulnya ? Namun sejak kecil gadis ini sudah punya kemauan keras, dengan kertak gigi ia masih terus mengudak.

Di daerah Kanglam banyak terdapat sungai, tak lama Thia Eng mengudak, ia telah terhalang oleh sebuah sungai kecil hingga tak berdaya buat maju lagi, Tetapi dara ini tidak putus asa, sambil jalan menyusut gili2 sungai, mulutnya masih memanggil terus.

Se-konyong2 pada sebuah jembatan kecil di sebelah kiri sana ada berkelebatnya bayangan putik tiba2 satu orang mendatangi dari seberang Thia Eng tercengang karena tahu2 Li Bok-chiu sudah berdiri di hadapannya, cuma Liok Bu-siang sudah tak kelihatan di bawah kempitannya.

Dalam hati Thia Eng sangat ketakutan, tetapi ia lantas ingat lagi pada Liok Bu-siang, maka dengan tabahkan hati ia tanya: "Dimanakah adik-misanku ?"

Sekilas Li Bok-chiu melihat raut muka Thia Eng memper sekali dengan mendiang Ho Wan-kun yang menjadi lawan asmaranya, maka rasa bencinya seketika timbul dan panas hatinya membakar, tanpa pikir lagi ia angkat kebutnya terus, menyabet ke kepala si nona.

Dengan ilmu silat seperti Liok Lip-teng yang begitu tinggi saja tidak mampu menangkis tipu serangan Li Bok-chiu yang lihay ini, apalagi hanya gadis sekecil Thia Eng ? Maka tampaknya dengan segera senjata kebut itu akan bikin kepala berikut dada anak dara itu hancur lebur.

Di luar dugaan, baru saja Li Bok-chiu ayun kebutnya, mendadak terasa olehnya tarikannya menjadi kencang, ujung kebutnya se-akan2 kena dibetot oleh sesuatu dan tak mampu diayunkan ke depan.

Tidak kepalang kejutnya, ia hendak menoleh buat melihat, tapi tahu2 tubuhnya terapung ke atas terus melompat beberapa tombak ke bela-kang, habis ini baru turun kembali.

Sungguh bukan buatan kejut Li Bok-chiu oleh kejadian ini, lekas ia putar tubuh, namun ia menjadi melongo karena di belakangnya kosong melompong tanpa sesuatu yang dia dapatkan.

Li Bok-chiu sudah biasa menghadapi lawan tangguh, tahu gelagat kurang menguntungkan dirinya, ia putar kebutnya hingga berwujut satu lingkaran secepat roda angin, dengan demikian, dalam jarak lima kaki musuh sukar mempedayai-nya, setelah ini baru dia berani memutar tubuh lagi.

Maka tertampaklah olehnya di samping si dara cilik Thia Eng kini sudah berdiri seorang aneh berjubah hijau, perawakannya tinggi kurus, air, mukanya kaku tanpa menunjuk sesuatu perasaan, seperti manusia tapi lebih memper mayat pula hingga membikin orang yang melihatnya akan timbul semacam rasa jemu dan muak.

Li Bok-chiu tidak kenal orang aneh ini, ia pikir ilmu silat orang jauh di atas dirinya, tetapi ia justru tidak ingat dalam kalangan Bu-lim ada tokoh siapakah yang begini lihay dan bermuka seperti dia ini, Selagi ia hendak menegur, tiba2 ia dengar orang itu sudah buka suara!

"Orang ini terlalu kejam, nak, hayo, kau pukul dia!" demikian orang itu berkata pada Thia Eng.

Sudah tentu Thia Eng tidak berani menghantam Li Bok-chiu seperti apa yang diajarkan itu.

"Aku tak berani," ia menjawab dengan mengkeret.

"Kenapa takut ? Hantam saja dia," kata orang itu lagi.

Akan tetapi Thia Eng masih tetap tak berani Akhirnya orang itu jadi tak sabar, mendadak ia pegang tengkuk Thia Eng terus dilemparkan ke tubuh Li Bok-chiu.

Kini Li Bok-chiu tak berani hantam anak dara ini dengan kebutnya lagi, ia ulur tangan kirinya buat menyambut datangnya tubuh kecil itu, tetapi baru saja tangannya hampir menyentuh pinggang Thia Eng, se-konyong2 terdengar suara mendesir, sikutnya terasa linu pegal hingga seketika tangannya tak kuat diangkat



Keruan dengan tepat kepala Thia Eng lantas menumbuk pada dadanya, bahkan berbareng pula gadis itu menambahi dengan sekali tamparan keras hingga mengeluarkan suara "plak" pada "pipinya.

Seumur hidup Li Bok-chiu belum pernah dihina sedemikian ini, tentu saja ia gusar, secepat kilat kebutnya memutar terus menyabet kepala gadis cilik itu, Akan tetapi kembali terdengar sambaran angin, tangkai kebutnya kena dibentur sesuatu benda kecil hingga hampir terlepas dari cekalannya.

Kiranya orang aneh tadi telah gunakan pula sebutir batu kecil dan disentilkan dengan jari dan tepat mengenai gagang kebutnya, sementara itu Thia Eng ingat Li Bok-chiu telah membunuh A Kin dan pelayan perempuan dirumahnya, pula nasib paman dan bibinya sampai kini, belum diketahui, tiba2 rasa takutnya tadi berubah menjadi dendam dan murka, tanpa ayal lagi susul menyusul ia kerjakan kedua tangannya yang kecil dengan cepat, beruntun-runtun ia persen pipi Li Bok-chiu dengan empat kali tempelengan pula.

Percuma Li Bok-chiu selama ini malang-melintang di seluruh jagat, tetapi kini telah digenjot anak dara ini sesuka hati tanpa bisa membalas sedikitpun

Li Bok-chiu pandai berpikir dan juga pintar. menyimpan perasaan hatinya, ia mengerti keadaan" tidak menguntungkan dirinya, maka iapun tidak mau tinggal lebih lama, tiba2 ia ketawa ngikik, lalu ia putar tubuh hendak kabur, Baru beberapa langkah, sekonyong-konyong ia kebaskan lengan bajunya ke belakang beberapa kali, berbareng itu terlihatnya sinar perak yang kemilauan, belasan jarum "Peng-pek-gin-tjiam" telah menyamber pada orang aneh berjubah hijau tadi.

Cara Li Bok-chiu melepaskan Am-gi atau senjata gelapnya ini, tidak memutar tubuh dulu, juga tanpa menoleh, akan tetapi setiap jarumnya dengan tepat mengarah tempat yang berbahaya di atas tubuh orang aneh itu.

Orang itu sama sekali tidak menduga akan serangan ini, ia tidak menyangka senjata rahasia Li Bok-chiu bisa begini keji dan begini lihay, terpaksa ia enjot kakinya, secepat kilat ia melompat mundur.

Datangnya jarum perak luar biasa cepatnya, namun cara melompat mundurnya ternyata terlebih cepat lagi, pula sekali lompat ia telah mundur sejauh beberapa tombak, dengan mengeluarkan suara gemerisik, jarum2 perak tadi jatuh semua di depan orang itu.

Li Bok-chiu sendiri sudah mengetahui bahwa serangannya ini tidak bakal berhasil dengan menghamburkan belasan jarum ini tujuannya hanya buat desak orang menyingkir saja, karena itu, ketika ia dengar suara lompatan orang di belakang, kembali ia kebaskan lengan bajunya lagi, dua jarum perak yang lain menyusul dia arahkan ulu hati Thia Eng.

Sudah dipastikan Li Bok-chiu bahwa kedua jarumnya ini tidak nanti meleset dari sasarannya, tetapi karena takut orang aneh berjubah hijau itu menubruk maju dan menghajar padanya, maka tanpa menoleh lagi buat melihat hasil serangannya itu, segera ia "tancap gas" terus lari pergi dengan cepat, hanya sekejap saja ia sudah menyeberangi jembatan dan menghilang di antara hutan yang lebat.

Sementara itu karena serangan mendadak tadi, orang berbaju hijau itu berseru kaget, ketika ia maju dan membangunkan Thia Eng, ia lihat dua jarum perak yang rada panjang telah menancap di dada anak dara itu, tanpa terasa air muka orang aneh ini berubah. Setelah ter-mangu2 sejenak, segera ia pondong Thia Eng terus lari cepat menuju ke arah barat.

Kembali pada Kwa Tin-ok dan lain2. Mereka menjadi jeri oleh ketangkasan Li. Bok-chiu yang pergi-datang cepat luar biasa itu, Hanya si anak muda tadi ternyata bernyali sangat besar.

"Biar aku pergi menolong kedua Moaymoay !" demikian serunya, Sambil berkata ia" terus mengejar pergi mengikuti arahnya Li Bok-chiu tadi

Anak muda ini sama sekali tidak kenal jalanan, sesudah belok sini dan putar sana beberapa kali, akhirnya ia kesasar, terpaksa ia harus berhenti untuk tanya orang di pinggir jalan.

Meski begitu, sesudah jalan terus secara ngawur, tiba2 ia dengar dari jauh ada suara teriakan Thia Eng yang me-manggil2: "Piaumoay, Piaumoay !"

Kedengarannya suara itu berada tidak jauh, tanpa ayal lagi segera ia percepat langkahnya mengudak ke depan.

sungguhpun anak muda ini baru sekali ini bertemu dengan Thia Eng dan Liok Bu-siang, akan tetapi dalam hati mudanya tanpa terasa sudah timbul perasaan suka pada mereka, sudah terang ia tahu lihaynya Li Bok-chiu, namun ia tetap menguber terus tanpa memikirkan risikonya sendiri.

Setelah ber-lari2 tak lama menurut arah datangnya suara tadi ia taksir seharusnya sudah sampai di tempat suara Thia. Eng, akan tetapi aneh, meski ia menengok sana-sini, bayangan kedua anak dara itu sama sekali tidak tertampak.

Ketika tanpa sengaja ia berpaling, tiba2 ia lihat di atas tanah berserakan belasan buah jarum perak yang mengeluarkan sinar mengkilap, tiap2 jarum itu panjangnya kira2 setengah dim, pada batang jarumnya lapat2 kelihatan terukir kembangan sangat bagus dan menarik.

Karena itu ia jemput sebuah jarum itu dan digenggam pada tangan kirinya. Tetapi mendadak ia dapatkan sesuatu yang aneh, ia lihat pada samping jarum2 perak yang berserakan itu ada seekor kelabang besar yang telah mati dengan perut terbalik ia jadi lebih ketarik oleh kejadian ini, tatkala ia menunduk dan periksa lebih teliti, ia lihat pula di atas tanah itu terdapat banyak sekali sebangsa semut, tawon, belalang dan jangkrik, semuanya sudah mati

Tentu saja anak muda ini merasa heran., waktu ia menyingkap semak-semak rumput bagian lain, sama saja keadaannya, di sekitar tempat yang terdapat jarum perak itu banyak kutu2 dan serangga2 yang mati,

Tetapi setelah dia menjauh beberapa tindak di sana serangga2 kedapatan masih hidup segar, sebaliknya. ketika ia gunakan jarum yang dia pegang itu untuk menyentuh serangga2 itu, luar biasa cepatnya, hanya sejenak saja segera bina-tang2 kecil itu mati kaku, Beberapa kali ia coba dengan beberapa jenis binatang kecil, keadaan serupa saja.

Akhirnya anak muda ini menjadi girang, ia pikir dengan jarum perak ini untuk alat perangkap nyamuk dan lalat, hasilnya tentu akan sangat memuaskan.

Di luar dugaan, sesaat kemudian, mendadak ia merasa tangan kiri sendiri telah kaku kejang, gerak-geriknya tidak leluasa.

Dasar anak muda ini memang punya kecerdasan otak yang luar biasa, se-konyong2 ia terkejut dan sadar: "He, jarum perak ini beracun yang luar biasa jahatnya, sangat berbahaya bila aku memegangnya !"

Karena itu cepat ia buang semua jarum itu, segera ia lihat telapak tangan sendiri sudah berubah menjadi hitam semua, lebih2 tangan sebelah kiri, begitu hitam hingga seperti kena tinta, .

Saking takutnya hampir2 saja ia menangis, tangannya di-gosok2kan pada pahanya dengan kuat, namun pe!ahan2 ia merasa tangannya mulai kaku kesemutan dan menaik ke bagian lengan, bahkan tangan kiri sudah pegal sampai di siku.

Sejak kecil anak muda ini sudah biasa berkawan dengan ular berbisa, ia tahu bahayanya orang terkena racun, karena itu akhirnya ia menangis sedih.

"Nah, sudah tahu lihaynya bukan, nak ?" tiba2 di belakangnya ada suara teguran orang.

Suara orang ini nyaring, tetapi pecah dan sangat menusuk telinga, datangnya mendadak hingga se-akan2 timbul dari bawah tanah saja. Maka dengan cepat si anak muda balik ke belakang.

Tetapi segera ia kaget hingga ternganga, karena apa yang dia lihat ialah seorang yang berdiri di belakangnya, tetapi cara "berdiri" orang.

ini aneh sekali bin ajaib, bukannya dia berdiri dengan kakinya, tetapi dengan kepalanya, jadi kepala yang menyanggah tubuhnya, sedang kedua kakinya rapat tegak ke atas.



Dalam kagetnya anak muda itu melompat mundur beberapa tindak.

"Kau... kau ini siapa ?" serunya kemudian dengan tak lancar.

Tetapi aneh, entah cara bagaimana gerakanmu tahu2 orang itu telah enjot tubuhnya maju tiga kaki dan dengan tepat turun di depan si anak muda.

"Aku... aku ini siapa ? - Ha, jika aku tahu siapa aku ini tentu akan baik sekali," demikian sahutnya.

Keruan anak muda itu semakin ketakutan oleh kelakuan orang, tanpa pikir lagi segera ia angkat kaki dan lari kesetanan cepatnya, namun ia dengar di belakangnya selalu diikuti dengan suara "tok-tok-tok" yang keras, ketika ia menoleh, tanpa terasa arwah hampir terbang dari raganya si-king kagetnya. Kiranya orangku dh. menggunakan kepala sebagai kaki, dengan menjungkir tubuhnya me-lompat2 dengan kecepatan yang tiada bandingannya, jarak jauhnya selalu tidak lebih dari be berapa kaki saja di belakangnya.

Tentu saja ia berlari semakin kencang dan mati-matian. Akan tetapi tiba2 ia dengar menderunya angin, tahu2 orang aneh itu sudah melompat lewat di atas kepalanya dan turun di hadapan-nya.

"Mak !" dalam takutnya anak muda itu sampai berteriak memanggil ibu.

Segera ia putar tubuh hendak lari ke jurusan lain, tetapi percuma saja, tidak perduli kemana ia berlari, orang aneh itu selalu dengan kecepatan luar biasa tahu2 sudah melompat lewat dan turun! di depannya. Percuma saja ia mempunyai sepasang kaki, sebab ternyata tidak bisa lebih cepat dari pada orang yang berlari pakai kepala.

Kemudian ia mendapat akal, ia sengaja berputar dan be.r-ganti2 beberapa arah, ia tunggu orang aneh itu makin dekat, lalu mendadak ia ulur tangan hendak mendorong orang, Tak terduga, lengannya ternyata sudah kaku dan tidak, mau turut perintah lagi, keringatnya gemerobyos," ia menjadi bingung dan kehabisan akal, akhirnya ia merasakan kedua kakinya menjadi lemas dan jatuh terduduk.

"Semakin kau lari kian kemari, racun di tubuhmu semakin cepat pula kerjanya," demikian ia dengar orang aneh itu berkata.

Seperti orang yang dapat rejeki dan mendadak menjadi pintar sendiri, segera anak muda itu bertekuk lutut ke hadapan orang sambil berseru: "Mohon Lo-kongkong (kakek) menolong jiwaku !"

Di luar dugaan, orang aneh itu hanya geleng2 kepala.

"Susah ditolong, susah ditolong !" demikian ia menjawab.

Karena ia gunakan kepala untuk menahan tubuhnya, maka sekali menggeleng kepala, otomatis tubuhnya ikut menggeleng juga hingga bergoncang.

"Kepandaianmu begini tinggi, kau pasti bisa menolong aku," kata anak muda itu pula.

Rupanya kata2 umpakan ini membikin orang aneh itu menjadi senang sekali Karena itu, ia tersenyum.

"Darimana kau tahu kepandaianku tinggi ?" ia tanya,

Mendengar lagu suara orang sudah berubah menjadi halus dan tampaknya umpakannya membawa hasil segera anak muda itu mengikuti arah angin, lekas ia tambahi pula pujian2nya.

"Ya, mengapa tidak tahu! Dengan jungkir-balik begini saja bisa berlari secepat ini, di kolong langit terang tiada orang kedua lagi yang bisa melebihi kau."

Kata umpakan terakhir ini sebenarnya terlalu berlebihan dan diucapkan semaunya saja, siapa duga kata2 "di kolong langit ini tiada orang kedua lagi yang melebihi kau" dengan tepat justru kena betul. di lubuk hati orang aneh itu, Maka terdengarlah suara ketawanya yang ter-bahak2.

"Baliki tubuhmu, biar aku pandang kau," demikian ia berteriak kemudian.

Anak muda itu pikir: "Betul juga, aku berdiri tegak dan orang ini berjungkir-balik, memang benar tidak bisa terang melihatnya, dia tidak mau berdiri cara biasa, tiada jalan lain kecuali aku yang harus ikut menjungkir."

Tanpa berkata lagi ia lantas menjungkir tubuhnya, ia sanggah tubuhnya dengan kepala, tangan kanannya yang masih punya daya- rasa ia gunakan pula buat menahan.

Sementara sesudah orang aneh itu mengamat-amati dia beberapa lama, wajahnya tampak mengunjuk ragu dan sedang pikir2.

Kini setelah anak muda itu ikut menjungkir, maka iapun bisa melihat jelas muka orang, ia lihat orang aneh ini berhidung besar, matanya mendelong dalam, mukanya penuh bulu, berbeda sekali dengan manusia2 biasa, ia dengar pula orang itu kemat-kemit menggumam sendiri, ia tidak paham bahasa aneh apa yang diucapkan itu karena sukar didengar.

"Kongkong yang baik, tolonglah diriku," demikian ia memohon pula,

Dipihak lain, demi melihat anak muda ini bermuka cakap, cara bicaranya pun membawa semacam daya tarik yang sukar ditolak orang, hati orang aneh itu menjadi girang,

"Baik, tidak susah buat tolong kau, tetapi kau harus terima suatu permintaanku." sahutnya kemudian.

"Apa yang kau katakan pasti akan ku turut," kata si anak muda, "Permintaan apakah yang harus ku penuhi, katakanlah, Kongkong!"

"Haha, justru aku ingin kau terima permintaanku itu," sahut orang aneh itu dengan tertawa lebar. "Ialah segala apa yang kukatakan, kau harus menurut."

Mendengar syarat ini, mau-tak-mau anak muda ini berpikir, ia menjadi ragu2. "Harus menurut semua apa yang dikatakannya ? Kalau dia suruh aku menjadi anjing dan makan kotoran, apa harus aku turuti juga ?"

Dalam pada itu demi nampak anak ini ragu2, orang aneh itu menjadi gusar.

"Baiklah, biar kau mati saja !" teriaknya segera, Habis ini sekali lehernya mengkeret dan menonjol lagi, tiba2 tubuhnya telah mencelat pergi sejauh beberapa kaki.

Karena kuatir ditinggal pergi orang, untuk mengubernya dan memohon pertolongannya tidak mungkin ia menirukan cara jalan dengan berjungkir maka dengan cepat anak muda itu berjumpalitan dan berdiri kembali, segera pula ia angkat kaki memburu.

"Kongkong, Kongkong!" ia ber-teriak2, "baiklah, aku berjanji apa saja yang kau-katakan, pasti akan ku turut semua."

Mendengar syaratnya diterima, mendadak orang aneh itu berhenti dan putar balik, "Baik, "tetapi kau harus bersumpah dahulu," katanya.

Tatkala itu si anak muda merasa kaku pegal di tangannya telah menanjak sampai di pundaknya, ia insyaf apabila sampai rasa kaku itu merembes sampai di dada, maka jiwanya pasti akan melayang, maka terpaksa ia menurut dan sumpah.

"Baiklah, aku bersumpah, jika Kongkong menolong jiwaku dan membersihkan semua racun di tubuhku, pasti aku akan menurut semua "kata'2 mu. Apabila aku membantah, biarlah racun jahat itu balik kembali pada tubuhku."

Pembawaan anak muda ini memang licin, maka sewaktu ia mengucapkan sumpahnya, dalam hati ia berpikir: "Asal selanjutnya aku tidak menyentuh jarum perak itu lagi, cara bagaimana racun itu bisa balik kembali di tubuhku ? Entah orang aneh ini mau terima tidak sumpahku ini ?"

Ketika ia lirik orang, ternyata muka orang aneh itu mengunjuk rasa senang, suatu tanda merasa puas atas sumpahnya tadi Kemudian nampak ia manggut2, habis ini mendadak ia berjumpalitan bangun, lengan anak muda itu dia pegang dan dengan kuat ia pijat2 dan di-urut2 beberapa kali.

"Bagus, bagus, kau adalah anak baik", demikian ia berkata.

Karena dipijat dan diurut itu, segera si anak muda merasa lengannya menjadi berkurang rasa pegal kakunya:

"Kongkong, pijatlah beberapa kali lagi!" pintanya pula.

Tiba2 orang aneh itu mengkerut kening demi mendengar panggilannya ini.

"Jangan kau panggil aku Kongkong (kakek), tetapi harus panggil ayah !" demikian ia membetulkan.

"Tidak, ayahku sudah mati, aku tak punya ayah," sahut si anak muda.

Jawaban ini membikin orang aneh itu menjadi gusar:

"Kurang ajar, baru pertama kali aku berkata kau sudah membantah, guna apa lagi mempunyai anak semacam kau ini ?" bentaknya segera.

"O, kiranya dia hendak terima aku sebagai anak," pikir anak muda itu.

Oleh karena sejak kecil ia tak punya bapak, maka ia sangat iri apabila melihat anak lain mendapat kasih sayang ayah, ia menjadi pingin mempunyai ayah pula, tapi melihat kelakuan orang aneh yang berlainan dengan orang biasa ini dan seperti orang gila, maka kini berbalik ia tidak sudi mengaku ayah padanya.

"Kau tak mau panggil aku sebagai ayah ?" bentak orang aneh itu lagi "Baiklah ! hm, orang lain hendak panggil ayah padaku, belum tentu aku mau terima."

Namun anak muda itu masih tetap tidak mau memanggil, bahkan mulutnya menjengkit tanda mencemoohkan, iapun tidak gubris kata2 orang lagi, hanya dalam, hati ia sedang berpikir cara bagaimana supaya dapat mengakali orang agar mau menyembuhkan racun di badannya.

Dalam pada itu terdengar orang aneh itu komat-kamit entah apa yang dikatakan, berbareng bertindak pergi pula dengan cepat

Keruan si anak muda menjadi gugup,

""Ayah, ayah!" terpaksa ia berseru memanggil "Hendak kemana, ayah ?"

Mendengar panggilan itu, orang aneh itu tertawa ngakak senang: "Hahaha, anakku sayang, marilah kuajarkan kau cara melenyapkan hawa racun di dalam tubuhmu."

Dengan cepat anak muda itu mendekati.

""Racun yang kena dirimu itu adalah racun jarum Peng-pek-gin-ciam milik Li Bok-chiu, di jagat ini melulu dua orang saja yang mampu menyembuhkannya," "demikian kata si orang aneh pula, ""Yang seorang ialah Hwesio tua, tetapi untuk menolong kau ia harus mengorbankan jerih-payah latihannya selama beberapa tahun, Dan seorang lagi ialah ayahmu ini." "

Lalu ia ajarkan kunci ilmu penyembuhannya dengan lisan, anak muda itu disuruh menurut ajarannya itu untuk mengatur napas, Cara ini adalah cara bernapas yang terbalik dan harus dilakukan terbalik pula orangnya, yakni dengan berjungkir kepala di bawah dan kaki di atas, supaya hawa dan darah berjalan bertentangan arahnya, dengan demikian hawa racun itu lantas terdesak kembali dan keluar dari tempat masuk semula.

Tetapi karena baru belajar dan mulai berlatih, setiap hari hanya sedikit saja racun itu bisa didesak keluar, sedikitnya harus lebih sebulan baru bisa dikuras semua hawa berbisa itu.

Setelah orang aneh itu ajarkan cara2 melakukannya, si anak muda ternyata sangat pintar, sekali tunjuk saja ia sudah paham, begitu dengar sudah teringat baik2. Oleh karena itu ia lantas kerjakan menurut cara yang diajarkan itu. Betul juga rasa kaku pegal tadi lambat laun mulai berkurang ia atur jalan napasnya sejenak pula, akhirnya dari ujung jari kedua tangannya mengucurkan beberapa tetes air hitam.

"Nah, cukuplah sudah, hari ini tidak perlu berlatih lagi, biarlah besok kuajarkan cara baru padamu, "ujar orang aneh itu dengan girang demi nampak menetesnya air hitam, "Marilah, sekarang kita pergi !"

"Pergi ke mana ?" tanya anak itu dengan bingung.

"Kau adalah anakku, kemana saja sang ayah pergi, dengan sendirinya kau ikut ke sana," sahut si orang aneh.

Sebelum anak itu menjawab, saat itu juga tiba-tiba terdengar beberapa kali suara mencicitnya burung, menyusul tertampak sepasang burung rajawali melayang lewat di angkasa dan disusul pula dengan suara seruan orang yang nyaring-keras yang sayup2 berkumandang dari jauh.

Seketika air muka orang aneh itu berubah demi mendadak mendengar suara tadi.

"Tidak, aku tidak mau bertemu dengan dia, tak mau bertemu dia !" se-konyong2 ia berteriak, berbareng itu iapun melangkah pergi dengan cepat.

Langkahnya begitu cepat hingga dalam beberapa tindak saja orang aneh itu sudah menghilang dibalik lereng gunung sana,

Keruan si anak muda tadi yang kelabakan "Ayah, ayah!" ia ber-teriak2 sambil menguber.

Akan tetapi baru saja ia melewati satu pohon Yang-liu besar, tiba2 ia dengar samberan angin dari belakang, begitu keras angin itu hingga kulit kepalanya terasa sakit, menyusul ini pandangannya menjadi gelap se-akan2 tertutup selapis awan tebal. Kiranya kedua burung rajawali tadi telah melayang dari belakang dan turun didepaknya.

Pada saat yang sama itu dari belakang pohon muncul seorang laki2 dan seorang perempuan, kedua rajawali itu menghinggap di pundak kedua orang itu sambil bercuat-cuit seperti sedang melaporkan sesuatu.

Laki2 itu bermata besar dan beralis tebal, dadanya lebar dan punggungnya tegak, umurnya antara 3435 tahun, di atas bibirnya terpelihara kumis tebal, wajahnya sedikitpun tidak menunjukkan perasaannya. Sedang yang wanita usianya 30 tahunan, meski sudah setengah umur, tetapi diantara mata-alisnya masih jelas kelihatan sifat aleman yang menarik dan seperti masih polos,

dengan tangannya ia sedang mengelus sayap burung rajawali dengan rasa sayang,

""Menurut pendapatmu, anak ini mirip siapa?" tiba2 wanita itu berkata pada lelaki disampingnya sesudah mengamat-amati si anak beberapa kali.

Akan tetapi lelaki itu ternyata tidak menjawab, sebaliknya ia berkata ke jurusan lain; "Kenapa Tiao-ji (si rajawali) bisa berada di sini ? jangan2 di atas pulau telah terjadi sesuatu ?"

Kiranya kedua orang ini ialah Kwe Ceng dan Ui Yong suami-isteri, mereka telah keluar pulau buat mencari Ui Yok-su, tetapi meski sudah mereka jelajahi antero kota2 di daerah Kanglam, belum juga mereka ketemukan jejak ayah dan ayah mertua mereka itu.

Ui Yong kenal watak ayahnya yang suka pada keindahan alam daerah Kanglam, apabila orang tua ini sampai mencari tempat tirakat lain, maka bisa dipastikan tidak akan melintasi utara sungai Tiangkang dan tentu pula tidak lebih selatan dari Sian-he-nia.

Kebetulan hari itu mereka berdua sampai di kota kecil Ling-oh dari kabupaten Oh-tjiu-hu, di sini tiba2 mereka melihat ada mengepulnya asap dan berkobarnya api yang meninggi ke langit Mereka dengar pula orang udik pada berteriak. ""He. Liok-keh-ceng kebakaran!"

Mendengar nama pedesaan yang disebut itu, hali Kwe Ceng tertarik, ia ingat bahwa di daerah Ling-oh ini terdapat seorang Liok Tian-goan, Liok-loeng-hiong, walaupun selama ini belum pernah bertemu, tapi sudah lama ia kagumi nama orang

yang tersohor Ketika ia menanyakan, betul juga apa yang dikatakan orang udik tadi adalah rumah kediaman Liok Tian-goan.

Mereka berdua buru2 menuju ke tempat kebakaran, setiba di sana, perumahan2 yang terbakar itu sudah menjadi puing, hanya di antara sisa2 gundukan api terdapat beberapa mayat yang sudah hangus dengan bau yang sangit busuk.

"Engkoh Ceng, kukira dalam kejadian ini terdapat sesuatu yang aneh?" demikian kata Ui Yong pada sang suami.

"Kenapa ?" tanya Kwe Ceng.

"Ya, ingat saja itu Liok Tian-goan adalah seorang Enghiong yang namanya gilang-gemilang. kabarnya sang isteri Ho Wan-kun juga seorang pendekar wanita pada jaman ini, kalau hanya kebakaran biasa saja, mustahil tiada seorangpun keluarganya tak bisa menyelamatkan diri? Aku menduga tentu musuhnya yang tangguh telah datang menuntut balas padanya!" demikian pendapat Ui Yong.

Kwe Ceng pikir betul juga pendapat isteri nya ini, ia adalah golongan manusia yang berbudi luhur dan suka menolong, meski kini usiamu sudah menanjak, pengalamannya pun banyak bertambah, namun hatinya yang bajik dan mulia itu sedikitpun tidak berkurang daripada waktu mudanya.

Oleh karenanya segera ia menyatakan akur. ""Betul pendapatmu marilah kita periksa, coba lihat siapakah musuhnya, kenapa turun tangan secara begini keji ?"

Dan setelah mereka berdua mengitar sekali perkampungan yang terbakar itu, sedikitpun tiada tanda2 mencurigakan yang mereka dapat, Tetapi mata Ui Yong yang jeli tiba2 tertarik pada sesuatu, se-konyong2 ia berteriak sambil menuding pada dinding rumah yang tinggal separuh itu.

"Lihat, apakah itu ?" serunya.

Kwe Ceng memandang ke arah yang ditunjuk, tertampaklah di atas dinding itu terdapat bekas lima cap tangan, karena habis tergarang asap, maka cap tangan itu kelihatan bertambah seram.

Seperti diketahui, cap tangan yang berada di dinding itu semuanya ada sembilan buah, tetapi karena dinding temboknya sudah ambruk separoh, maka yang masih ketinggalan hanya lima buah.

Kwe Ceng kaget ketika mengenali tanda telapak tangan itu.

"Jik-lian Sian-cu !" tanpa terasa ia menyebut nama orang.

"Ya, betul dia," ujar Ui Yong, "Sudah lama kita dengar bahwa Jik-lian Sian-cu Li Bok-Chiu dari Hunlam memiliki ilmu silat yang maha hebat, caranya pun sangat keji tiada taranya dan tidak kalah dengan Se-tok Auyang IJong dahulu, jika dia berani menginjak Kanglam sini, kita boleh coba2 ukur tenaga padanya."

"Ya, tetapi iblis ini sangat ulet? dan tidak gampang dilawan" sahut Kwe Ceng memanggut. "Paling baik kalau kita bisa ketemukan Gakhu (mertua)"

"He, semakin berumur, nyalimu jadi semakin kecil!" goda Ui Yong dengan tertawa.

"Memang," sahut Kwe Ceng." Kalau ingat dahulu, tanpa mengenal tingginya langit dan tebalnya bumi, kita berani naik ke Hoa-san untuk berebut gelar jago silat nomor satu dikolong langit ini, jika seperti aku sekarang ini, sekalipun aku digotong kesana dengan joli delapan orang, pasti aku tidak berani pergi"

"Huuh ? Harus digotong pakai joli segala!" goda sang isteri.

Begitulah sambil besenda-gurau, tapi dalam hati mereka diam2 berlaku waspada, mereka terus periksa, akhirnya di tepi sebuah kolam mereka melihat dua buah jarum Peng-pek-gin-ciam yang be-racun. Ujung sebuah jarum diantaranya terendam air, karena itu, beberapa ratus ikan piaraan yang berada dalam kolam itu sama mati dengan perut terbalik ke atas, suatu tanda betapa jahat racun yang terdapat pada jarum itu.

Ui Yong melelet lidahnya, dari buntalannya ia keluarkan sepotong baju, ia lempit beberapa kali, dengan dialingi kain baju ini ia jemput jarum perak itu, ia bungkus baik2 dan dimasukkan ke dalam kantong rangsalnya.

Habis ini mereka berdua tidak bicara lagi melainkan percepat memeriksa dan mencari jejak orang pula, akhirnya di belakang pohon Liu tadi mereka dapatkan sepasang burung rajawali dan ketemu pula si anak tanggung itu.



Dari rajawali yang menclok di atas pundak mereka, tiba2 Ui Yong mencium bau yang aneh, berapa kali ia sedot, segera dadanya menjadi sesak dan rasanya menjadi nek.

Kwe Ceng pun mencium bau busuk itu, bau itu seperti datang dari tempat yang sangat dekat dengan hidungnya, waktu ia men-cari2 dari mana datangnya bau busuk itu, tiba2 ia melihat pada kaki kedua burungnya terdapat luka lecet, waktu ia dekatkan hidungnya, betul saja bau busuk itu datangnya dari luka ini.

Suami-isteri ini terkejut, lekas2 mereka periksa luka burung2 itu dengan teliti, meski luka itu sebenarnya hanya lecet kulit saja, tetapi sudah menimbulkan bengkak, pula sebagian kulit daging kakinya sudah mulai busuk.

"luka apakah ini, kenapa begini lihay?" demikian Kwe Ceng berpikir sambil menunduk Tiba2 pula ia lihat tangan kiri si anak muda tadi telah berubah menjadi hitam semua, keruan ia kaget pula.

"Kaupun terkena racun ini ?" serunya kuatir.

Dengan cepat Ui Yong mendekati anak muda itu ia angkat tangannya dan diperiksa, habis ini cepat2 ia gulung lengan bajunya, ia keluarkan pula sebuah pisau kecil, dengan senjata ini ia sayat tangan orang sebelah bawah, lalu dengan kuat ia pencet agar darah yang berbisa mengalir keluar.

Akan tetapi ia menjadi heran sekali ketika melihat darah yang menetes keluar dari tangan anak muda itu ternyata berwarna merah segar, padahal telapak tangannya je!as2 sudah berubah hitam seluruhnya, dan kenapa darah yang mengucur keluar tidak beracun ?

Nyata ia tidak tahu bahwa setelah si anak muda mendapatkan ilmu ajaib ajaran orang aneh

yang suka menjungkir itu, kini darah berbisa dalam tubuhnya sudah didesak ke ujung jaring dan untuk sementara tidak akan menjalar

Setelah ragu2 sejenak, kemudian Ui Yong keluarkan sebutir pil "Kiu-hoa-giok-lo-wan", obat pil yang terbuat dari sari sembilan macam bunga2 an.

"Kunyah dan telan ini," katanya sambil memberikan pil itu pada si anak

Anak muda itu tidak menolak, ia terima pemberian pil itu terus masukkan ke dalam mulut, rasanya manis dan harum.

Lalu Ui Yong keluarkan pula empat pil dan dibagikan kepada kedua burung rajawalinya yang terluka itu.

Sesudah memikir sebentar, mendadak Kwe Ceng bersiul panjang, Suara siulan ini berkumandang jauh sekali, begitu keras suaranya hingga menggema lembah pegunungan sampai dahan pohon Liu yang menjulur ikut tergoncang,

Dalam pada itu belum lenyap suara siulan pertama, menyusul Kwe Ceng menggembor dengan suaranya yang keras, begitu hebat suara teriakan itu susul menyusul hingga bikin seluruh lembah gunung penuh dengan suara sahut-menyahut yang menggelegar

Karena teriakan ini sama sekali di luar dugaan, si anak muda tadi dibikin kaget, tanpa tertahan air mukanya berubah hebat karena belum pernah mendengar suara yang luar biasa ini.

Sebaliknya Ui Yong mengerti maksud tujuan sang suami, ia tahu dengan suara itu suaminya bermaksud menantang tanding pada Li Bok-chiu. Ketika pekikan ketiga sang suami dilontarkan, segera pula ia kumpulkan tenaga dan menyusuli dengan teriakannya.

Kalau suara pekikan Kwe Ceng agak rendah tetapi kuat, maka suara Ui Yong sebaliknya tinggi tetapi nyaring sekali, perpaduan suara yang hebat ini makin lama semakin jauh dan semakin keras, susul menyusul tiada putusnya, se-akan2 satu sama lain tidak ingin ketinggalan.

Kiranya Kwe Ceng dan Ui Yong sudah berlatih diri di Tho-hoa-to dengan giat, tenaga dalam mereka sudah terlatih sampai puncaknya kesempurnaan, dengan suara pekikan yang berkumandang jauh ini, orang2 yang berada dalam jarak belasan li sama terkejut dan ter-heran2 tidak mengerti suara aneh ini datang dari mana.

Sementara itu suara pekikan hebat ini telah didengar oleh beberapa orang tertentu. Orang aneh yang suka menjungkir itu telah "tancap gas" mempercepat larinya demi mendengarnya.

Sebaliknya orang aneh berjubah hijau yang pondong Thia Eng itu ketawa waktu dengar suara "Haha, mereka telah datang juga, aku harus menyingkir jauh, supaya tidak banyak rewel."

Dalam pada itu Li Bok-chiu dengan mengempit Liok Bu-siang sedang lari dengan cepatnya, ketika mendadak dengar suara siulan pertama, se-konyong2 ia berhenti, ia ayun kebutnya dan memutar tubuh, "Hm, nama Kwe-tayhiap menggoncangkan Bu-lim, aku justru ingin membuktikannya apakah namanya bukan bikinan belaka," demikian katanya dengan ketawa dingin.

Tetapi tiba2 pula diantara suara pekikan panjang tadi diseling pula dengan suara siulan nyaring yang menimpali suara yang duluan hingga menambah keangkeran suara2 itu.

Hati li Bok-chiu menjadi jeri, teringat olehnya Kwe Ceng dan Ui Yong suami-isteri selama berkelana selalu berdampingan dan bahu-membahu, sebaliknya dirinya hanya sebatang-kara, seketika perasaannya menjadi hampa dan putus asa, ia menghela napas panjang, habis ini dengan mencengkeram punggung Liok Bu-siang terus bertindak pergi.

Pada kala itu Bu-sam-nio sedang memayang sang suami yang terluka dan membawa kedua puteranya pergi jauh setelah berpisah dengan Kwa Tin-ok.

Setelah mengalami pertarungan sengit tadi, kuatir kalau Li Bok-chiu balik kembali buat mencelakai Kwe Hu, maka lekas2 Kwa Tin-ok bawa lari dara cilik ini dengan maksud mencari satu tempat untuk bersembunyi, tetapi ia keburu mendengar suara siulan Kwe Ceng dan Ui Yong yang keras itu, maka hatinya menjadi girang.

"He, ayah, ibu !" Kwe Hu berseru juga ketika mengenali suara orang tuanya.

Habis ini segera ia angkat kaki terus lari menuju kearah datangnya suara, Tetapi tiba2 ia berpikir pula: "Aku telah ngeluyur keluar, tentu nanti akan didamperat ayah, bagaimana baiknya ini ?"

Dalam bingungnya ia tarik2 lengan baju Kwa Tin-ok, ia coba membujuk orang tua ini: "Kong-kong, nanti kalau bertemu dengan ayah, katakanlah kau yang bawa aku keluar buat memain, ya?" demikian ia memohon.

"Tidak, aku tidak mau berbohong untuk kau!" sahut Kwa Tin-ok dengan menggeleng kepala.

Tetapi Kwe Hu tidak kurang akal, tiba2 ia meloncat dan merangkul leher si orang tua, dengan kata2 halus ia membujuk . lagi: "Kongkong, sayanglah padaku sekali ini, seterusnya aku tak akan nakal lagi."

Namun masih tetap Kwa Tin-ok geleng2 kepala.

"Baiklah, biar aku minggat pergi," teriak Kwe Hu tiba2 sambil lompat turun dari rang-kula.nnya. "Selamanya aku tak akan menjumpai kau lagi, juga tidak akan menemui ayah-bunda."

Mendengar kata2 ini, Tin-ok menjadi kaget dan kuatir, ia kenal watak dara cilik ini berani berkata berani berbuat pula, sedang dirinya buta, kalau sampai sikecil ini pergi, maka susah lagi untuk mencarinya.

"Baik, baik, kululuskan keinginanmu," terpaksa ia menyerah.

Kwe Hu ketawa senang dengan kemenangannya ini.

"Memang aku sudah tahu kau bakal meluluskan, tidak nanti kau tega membiarkan aku diomeli ayah dan ibu," kata si nakal ini.

Maka dua sejoli, satu tua dan satu bocah ini lantas berlari ke tempat beradanya Kwe Ceng dan isteri sesudah dekat, dengan serta-merta Kwe Hu menjatuhkan diri ke dalam pelukan ibunya dengan laku aleman.

"Bu, Kongkong yang membawa aku ke sini mencari kalian, kau tentu senang bukan?" demikian si nakal ini berkata pada sang ibu.

Akan tetapi Ui Yong yang kepintarannya tiada ban dingannya itu, hanya sedikit permainan sandiwara sang puteri ini mana bisa mengelabui dia, cuma bisa bertemu anaknya di sini, sebenarnya ia memang juga senang, maka ia hanya tertawa saja, lalu bersama sang suami mereka menjalankan penghormatan pada Kwa Tin-ok dan tanyakan kesehatan si orang tua.

Kwe Hu masih kuatir kalau disemprot ayahnya, maka sesudah menyapa sekali, lantas ia tarik tangan si anak muda tadi menyingkir pergi.

"Pergilah kau memetik bunga, buatkan lah mahkota bunga untukku" demikian pintanya.

Pemuda itu tidak menolak, ia ikut pergi bersama, perawakan Kwe Hu ternyata jauh lebih pendek, tingginya hanya sedada orang, maka dengan gampang saja ia dapat melihat telapak tangan pemuda itu yang hitam, mendadak sontak ia kipatkan tangan orang yang tadinya dia gandeng.

"Hiiii, tanganmu kotor, tak mau aku bermain dengan kau," demikian ia meng-olok2.

Watak pemuda itu ternyata tidak gampang mengalah, iapun tinggi hati, maka kontan ia jawab dengan ketus: "Siapa pingin bermain dengan kau?"

Habis berkata dengan langkah lebar ia lantas bertindak pergi sendiri

"Eh, eh, saudara cilik, jangan pergi dulu, sisa racun dalam tubuhmu masih belum hilang seluruhnya, kalau sampai kambuh pasti akan luar biasa lihaynya," seru Kwe Ceng ketika melihat si anak muda ini hendak pergi.

Anak itu paling benci kalau orang katai dia jelek, oleh karena itu, olok2 Kwe Hu tadi telah menusuk perasaannya, maka dengan tegang leher ia masih jalan terus tanpa gubris teriakan Kwe Ceng,

Tabiat Kwe Ceng memang welas-asih, maka buru2 ia menguber.

"Cara bagaimanakah kau terkena racun ?" demikian ia menanya pula, "Marilah kami sembuhkan kau dulu."

"Aku toh tidak kenal kau, perduli apa dengan kau?" sahut anak muda itu dengan ketus. Berbareng ia percepat langkahnya dan bermaksud menerobos lewat disamping Kwe Ceng.



Sekilas Kwe Ceng dapat melihat wajah si anak muda yang menunjukkan rasa marah ini, diantara mata-alis-nya tertampak sangat mirip seseorang, tiba2 hatinya tergerak.

"Eh, saudara cilik, kau she apa?" segera ia tanya.

Namun pemuda itu tidak menjawab, sebaliknya ia melolototi orang, lalu tubuhnya sedikit miring dengan maksud hendak menerobos lewat, Di luar dugaan secepat kilat Kwe Ceng sudah mencekal sebelah tangannya.

Dalam kagetnya si anak muda itupun menjadi gusar, ia me-ronta2 beberapa kali, sesudah tak berhasil mendadak ia angkat tangan kirinya terus menggenjot perut Kwe Ceng.

Kwe Ceng tidak urus pukulan ini, ia membiarkan perutnya kena dihantam dengan tersenyum saja.

Ketika anak muda itu bermaksud menghantam lagi, tahu2 kepalannya ambles di-tengah2 perut orang, bagaimanapun juga meski ia tarik2 tetap tak bisa melepaskan diri, ia tidak putus asa, masih terus ia tarik2, saking keras ia keluarkan tenaga hingga mukanya merah padam, tetapi tangannya seperti melengket saja diperut Kwe Ceng, sebaliknya ia rasakan lengan sendiri kesakitan karena di-betot2.

"Nah, beritahu padaku kau she apa dan segera ku lepaskan kau," dengan tertawa Kwe Ceng tanya lagi.

Namun si anak muda memang sangat kepala batu, ia pikir tidak nanti aku mau omong, jika mau, akan kusebutkan she palsu dan nama bikinan saja, oleh karenanya ia lantas menjawab: "Aku she Cin dan bernama Coa-ji, sianak ular, Lekas lepaskan aku."

Di lain pihak demi mendengar nama orang ini, Kwe Ceng merasa kecewa, ia lantas kendorkan tenaga: perutnya yang menyedot kepalan pemuda itu.

Sesudah tangannya terlepas, pemuda itu pandang Kwe Ceng dengan luar biasa kagumnya atas kepandaian orang tadi.

Di sebelah sana Kwe Hu sedang asyik menceritakan pengalaman selama berpisah dengan ibunya, akhirnya ia ceritakan tentang bagaimana sepasang rajawalinya berkelahi dengan seorang wanita jahat, lalu datang seekor burung merah kecil telah membantu rajawali2nya.

Mendengar "burung merah kecil" itu, Ui Yong jadi ketarik sekali..

"Apa burung merah kecil itu Koko (kakak) inikah yang membawanya datang ?" ia tanya dengan cepat.

"Ya," sahut Kwe Hu, "Burung merah kecil itu menotol biji wanita jahat itu hingga buta, cuma sayang burung itupun kena digaplok mati oleh dia."

Mendengar penuturan ini, Ui Yong tidak ragu2 lagi, segera ia melompat maju dan memegang pundak si anak muda tadi dengan kedua tangannya, dengan tajam ia pandang orang,

"Kau she Nyo bernama Ko, ibumu yang she Cin, ya bukan ?" demikian ia menegas sekata demi sekata.

Pemuda ini memang benar she Nyo dan bernama Ko, Ketika mendadak nama aslinya disebut Ui Yong, darah di rongga dadanya menaik ke atas hingga hawa racun ditangannya se-konyong2 menjalar kembali, ia merasa kepala puyeng dan pikiran menjadi butek, akhirnya ia jatuh pingsan.

Dalam kejutnya lekas2 Ui Yong memegang tubuh orang supaya tidak sampai roboh.

"Dia... dia kiranya putera adikku Nyo Khong." kata Kwe Ceng terkejut bercampur girang.

Sementara itu kelihatan Ui Yong mengkerut alis, ia lihat racun menjalar terlalu hebat di tubuh Nyo Ko, ia kuatir, karena sesungguhnya ia sendiri tidak punya sesuatu pegangan untuk menyembuhkan orang.

"Marilah kita cari tempat pondokan dulu, kemudian kita cari pula beberapa racikan obat," ajaknya kemudian dengan suara terharu.

Kwe Ceng lantas pondong Nyo Ko, bersama Kwa Tm-ok, Ui Yong dan si nakal Kwe Hu serta membawa pula sepasang burung Tiao mereka mencari hotel di-kota, bahan obat yang mereka perlukan ternyata sukar dicari, meski sudah dikumpulkan akhirnya masih kurang juga empat macam.

Melihat keadaan Nyo Ko yang masih tak sadar, Kwe Ceng merasa sedih dan kuatir sekali, sampai Ui Yong beberapa kali memanggilnya ternyata tidak di dengarnya.

Ui Yong cukup mengerti perasaan hati sang suami waktu itu, sejak terbinasanya Nyo Khong (tentang lelakon Kwe Ceng, Ui Yong dan hubungannya dengan Nyo Khong akan diceritakan tersendiri) pikirannya selalu sedih dan menyesal maka dengan sendirinya luar biasa girangnya kini demi bisa ketemukan anak keturunan saudara angkatnya itu, tetapi anak ini justeru terkena racun dan belum bisa diketahui bakal mati atau hidup.

"Ceng-koko, marilah kita coba keluar mencari pelengkapnya obat," ia mengajak.

Kwe Ceng sendiri mengerti juga sifat2 Ui Yong, ia tahu bila ada sedikit harapan bisa mengobati, pasti sang isteri sudah menghibur padanya, kini nampak wajah isterinya sangat prihatin, hatinya semakin tak tenteram. Segera ia pesan Kwe Hu jangan sembarangan ngeloyor pergi, lalu mereka suami-isteri keluar buat mencari obat2an.

Dalam pingsannya Nyo Ko masih terus tertidur, meski hari sudah gelap masih belum juga sadar.

Beberapa kali Kwa Tin-ok masuk kamar memeriksanya, namun orang tua inipun tak berdaya, iapun kuatir kalau si nakal Kwe Hu ngeluyur pergi, maka tiada hentinya ia bujuk dara cilik ini lekas tidur.

Dalam keadaan remang2 entah sudah lewat berapa lama, tiba2 Nyo Ko merasa ada orang me-mijat2 dan meng-urut2 dadanya, karena itu pelahan2 pikirannya jernih kembali, waktu ia buka matanya, ia lihat dalam kegelapan ada berkelebat satu bayangan entah apa meloncat keluar jendela dengan cepat.

Nyo Ko paksakan diri buat berdiri meski rasanya masih lemas, ia coba melongok keluar jendela, tertampaklah olehnya di atas emper rumah berdiri satu orang dengan kepala menjungkir di bawah, siapa lagi kalau bukan orang aneh yang siang hari tadi menerima dirinya sebagai anak angkat itu.

Kepala orang aneh yang menyanggah badannya itu ternyata ada separohnya menempel di luar emper, tubuhnya yang tegak terbalik ke atas itu kelihatan ber-goyang2, agaknya setiap waktu bisa terbanting jatuh ke bawah.

"He, kau!" seru Nyo Ko kaget tercampur girang.

"Kenapa tidak panggil ayah?" tegur orang aneh itu.

Karenanya Nyo Ko lantas memanggil: "Ayah!" -hanya lagu suara panggilannya sangat dipaksakan.

Namun orang aneh itu sudah kegirangan "Naiklah sini," katanya.

Nyo Ko menurut, ia merangkak ke ambang jendela untuk kemudian meloncat ke atas payon.

Tetapi karena badannya masih lemah, tenaganya menjadi tak cukup, maka sebelum tangannya memegang emper rumah atau dia sudah terjungkal ke bawah Dalam kagetnya sampai ia berteriak.

Orang aneh itu tadinya berjungkir di atas payon, tetapi demi nampak Nyo Ko terjungkal, mendadak manusia tubuhnya roboh ke bawah seperti batang kayu saja yang terbanting hanya kepalanya masih tetap melekat di atas emper rumah.

Dengan demikian secepat kilat tangannya menjambret punggung Nyo Ko, habis ini tubuhnya kembali menegak lagi ke atas, Nyo Ko diletakkannya ke atas payon dengan enteng saja.

Dan selagi ia hendak bicara, tiba2 ia dengar di kamar sebelah barat ada suara orang meniup memadamkan api. ia tahu jejaknya telah diketahui orang, tanpa ayal lagi ia pondong Nyo Ko dan melangkah pergi dengan cepat, hanya sekejap saja beberapa deretan rumah penduduk sudah ia lintasi.

Waktu Kwa Tin-ok melompat ke atas rumah, namun di sekelilingnya sudah sepi nyenyak.

Setelah Nyo Ko dibawa sampai di suatu tempat sunyi di luar kota, orang aneh itu baru menurunkannya.

"Coba kau gunakan cara yang pernah kuajarkan padamu itu, hawa berbisa dipaksa keluar lagi sedikit." demikian ia memberi petunjuk pada Nyo Ko.

Pemuda ini menurut, maka tidak antara lama, dari ujung jarinya menetes keluar beberapa titik darah hitam, berbareng rasa sesak di dadanya pun menjadi lega,

"Sungguh kau ini anak pintar, sekali tunjuk lantas paham, jauh lebih cerdas dibanding almarhum putera kandungku dahulu," kata orang aneh itu. Teringat pada puteranya sendiri itu, tiba2 ia meratap: "O, anakku, anakku"

Air matanya lantas berlinang juga karena terkencing puteranya sendiri yang sudah mati, ia elus2 kepala Nyo Ko sambil menghela napas pelahan.

Nyo Ko sendiri sejak belum lahir sudah ditinggal bapaknya, ibu pun tewas oleh pagutan ular berbisa dikala ia baru berumur lima tahun, selama 8 9 tahun paling belakang ini, ia terluntang-lantung sebatang kara di Kangouw, dj-mana2 ia dihina orang sehingga menjadikan tabiatnya yang eksentrik, benci pada sesama manusia serta cemburu pada keadaan sekitarnya, Kini meski orang aneh ini belum pernah kenal dia, namun ternyata begitu baik terhadap dirinya, ini boleh dikatakan belum pernah terjadi selama hidupnya.

Karena darah keturunan ayah-bundanya, maka watak Nyo Ko luar biasa pula anehnya, kalau dia sudah baik pada seseorang, maka dia bela mati2an tanpa pikirkan jiwa sendiri sebaliknya jika ada orang lain menghina dan pandang rendah padanya, maka selama hidup akan dia ingat2 terus dan dendam, dia pasti berusaha dengan segala daya-upaya untuk menuntut balas.

Kini si orang aneh itu mengunjuk rasa kasih sayang murni padanya, hati pemuda ini luar biasa terharunya hingga ia melompat terus merangkul leher orang sambil berulang kali memanggil "Ayah, ayah!"

Sejak Nyo Ko berumur 2 3 tahun ia sudah berharap mempunyai seorang ayah yang akan cinta dan melindungi dia. Bahkan dalam mimpi kadang2 mendadak muncul seorang ayah yang gagah perkasa yang dia cintai, tapi bila terjaga dari tidurnya, ayah khayalan itu lantas hilang lagi tak berbekas, oleh karenanya seringkali ia suka menangis sendirian dengan sedih.



Kini harapan yang sudah lama ia impikan itu tiba2 berwujut, dua kali panggilan tadi keluar dari lubuk hatinya yang penuh cinta kasih seorang anak kepada bapaknya.

Jika hati Nyo Ko terharu sekali, maka dalam hati orang aneh itu ternyata jauh lebih girang daripada dia. Waktu mereka mula2 berjumpa di mana Nyo Ko dipaksa memanggil ayah, dalam hati anak muda itu sesungguhnya seribu kali tidak sudi, tetapi kini dua hati telah kontak seperti ayah dan anak kandung.

"O, anak baik, anak manis, coba panggil ayah sekali lagi!" demikian kata orang aneh itu dengan bergelak ketawa.

Betul juga Nyo Ko lantas memanggil ayah, bukan hanya sekali, malahan dia panggil lagi dua kali, lalu ia menggelendot dibadan orang dengan laku yang aleman.

"Aha, anak baik, marilah kuajarkan kau ilmu silatku yang paling kubanggakan selama hidup ini," dengan tertawa orang aneh itu berkata pula,

Sambil berkata, lantas ia berjongkok, dari mulutnya terdengar suara "kuk-kuk-kuk" tiga kali, menyusul kedua tangannya dia dorong ke depan, maka terdengarlah suara gemuruh yang keras,, setengah tembok pagar yang berada di depannya telah ambruk seketika sehingga debu dan batu berhamburan.

Nampak orang memiliki ilmu silat selihay ini, girang sekali hati Nyo Ko. "Ayah, ilmu apakah itu, dapatkah aku mempelajarinya ?" dengan cepat ia tanya,

"Ini namanya Ha mo-kang (ilmu weduk kodok)," sahut orang itu, "Asal kau mau berlatih dengan giat, tentu kau dapat mempelajarinya."

"Setelah aku pandai, apakah tiada orang lain lagi yang berani menganiaya diriku ?" tanya Nyo Ko lagi.

"Tentu saja," sahut orang aneh itu sambil menarik alis "Siapa yang berani menghina puteraku, biar aku patahkan tulangnya dan beset kulitnya."

Kiranya orang aneh yang kosen ini bernama Auwyang Hong yang namanya telah disinggung bagian atas tadi.

Sejak Hoa-san-lun-kiam atau pertandingan silat di atas Hoa-san (salah satu gunung tersohor di daerah propinsi Siamsay), Auwyang liong kena diakali Ui Yoeg hingga otaknya rada miring, selama belasan tahun, ini ia terluntang-lantung di daerah sunyi, yang dia selalu pikir adalah: "Siapakah aku ini sebenarnya ?"

Tetapi tahun2 terakhir ini, sesudah dia berlatih Kiu-im-cin-keng, maka Lwekangnya sudah ada banyak kemajuan, otaknya juga banyak lebih terang, walaupun masih tetap tak beres kelakuannya dan suka gila2an.

Tetapi banyak kejadian lama pelahan2 dan satu persatu sudah mulai dia ingat, cuma saja tentang "siapakah dirinya sendiri" inilah yang tetap belum dia ingat pontang Hoa-san-lun-kian serta mengapa Auwyang Hong bisa diakali Ui Yong hingga menjadi gila dan sebab apa dia berlatih ilmu Kiu-im-cin-keng secara terbalik, pada kesempatan lain akan dibukukan tersendiri.

Begitulah, maka Auwyang Hong lantas mcngajar-Nyo Ko dasar2 permulaan ilmu Ha-mo-kang.

Hendaklah diketahui bahwa Ha-mo-kang yang menjadi ilmu kebanggaan Auwyang Hong ini terhitung ilmu silat kelas satu dalam dunia persilatan Dahulu meski putera kandung sendiri belum pernah Auwyang Hong mengajarkan padanya, tetapi kini karena guncangan perasaannya, ternyata pikir segalanya lagi diajarkannya pada anak angkatnya yang baru dia terima ini.

Ha-mo kang ini sangat sulit dan dalam sekali, Nyo Ko sendiri masih belum punya landasan, meski dia coba baik2 semua apa yang diuraikan Auwyang Hong, tetapi sama sekali ia tidak paham akan arti yang terkandung dalam rahasia ilmu yang dia terima itu.

Oleh karena itu, sesudah hampir setengah hari Auwyang Hong mengajar, tetapi ia lihat Nyo Ko masih ngawur saja kalau ditanya, sama sekali belum paham dasar yang diajarkan, akhirnya Auwyang Hong menjadi keki, dalam dongkolnya ia hendak menampar anak muda itu.

Namun sebelum tangannya menyentuh pipi orang, dibawah sinar sang dewi malam ia lihat muka Nyo Ko yang putih bersih dengan matanya yang jeli menarik itu, ia menjadi tidak tega menghajarnya.

"Sudahlah, kau tentu sudah letih, pulang saja sekarang, besok aku mengajarkan kau lagi," katanya kemudian dengan menghela napas.

Tak tahunya, sejak Nyo Ko dikatai Kwe Hu bahwa tangannya kotor, terhadap anak dara itu telah timbul rasa benci dalam hatinya, maka demi mendengar dirinya disuruh kembali kepada Kwe Ceng, ia menjadi sedih.

"Tidak, ayah, aku ikut kau saja, aku tak mau pulang ke sana," katanya.

Siapa dirinya sendiri, soal ini bagi Auwyang Hong masih belum jelas hingga kini, tetapi mengenai urusan umum pikirannya sudah cukup terang dan jernih, maka atas permintaan Nyo Ko itu ia menjawab: "Jangan. otakku masih rada kurang beres, ku kuatir kau nanti ikut menderita. Kau pulang saja dahulu, nanti kalau aku sudah bikin terang sesuatu soal barulah kita berkumpul untuk selamanya."

Kata2 Auwyang Hong yang penuh kasih sayang ini meresap sekali ke lubuk hati Nyo Ko, boleh dikatakan sejak, ibunya mangkat, belum pernah ia mengenyam rasa simpatik seperti sekarang ini, maka dengan cepat ia merangkul orang..

"Kalau begitu harap lekas kau datang menjemput aku, ayah," katan'ya.

"jangan kuatir, nak, sementara diam2 senantiasa akan kuikuti kau, kemanapun kau pergi, pasti aku mengetahuinya," sahut Auwyang Hong manggut2. Kemudian ia membopong Nyo Ko lagi dan diantar pulang ke dalam hotel.

Selama itu Kwa Tin-ok sudah pernah datang sekali mencari Nyo Ko, ia me-raba2 dan tidak mendapatkan anak muda ini di atas ranjangnya, Kwa Tin-ok menjadi kuatir sekali. Tetapi tatkala untuk kedua kalinya ia datang mencari Nyo Ko lagi, ia mendapatkan pemuda ini sudah ada di situ, selagi ia hendak bertanya tadi kemana atau tiba2 ia dengar di atas wuwungan rumah ada suara mendesirnya angin.

Meski mata Kwa Tin-ok buta, tetapi daya pendengarannya luar biasa tajamnya, ia tahu ada dua orang "ya-heng-jin" (orang jalan diwaktu malam) yang berilmu silat sangat tinggi lewat di atas rumah, Untuk menjaga segala kemungkinan, lekas2 orang tua ini membopong Kwe Hu, sedang senjata tongkatnya segera ia siapkan kian berjaga di dekat jendela, ia kuatir kalau2 kedua tamu malam itu putar kembali lagi.

Betul saja, sejenak kemudian suara mendesirnya angin kembali kedengaran lagi dari jauh mendekat, begitu cepat hingga sekejap saja sudah sampai di atas rumah hotel, lalu ia dengar suatu diantaranya lagi berkata: "Yong-ji, kau kira siapakah dia tadi ?" demikian sahut seorang lain.

Mendengar suara percakapan ini, Kwa Tin-ok tahu Kwe Ceng dan Ui Yong suami isteri. Karena itulah ia merasa lega, segera ia membuka pintu agar kedua orang itu masuk.

"Baik2kah disini, Suhu?" segera Ui Yong tanya Kwa Tin-ok begitu melangkah masuk.

"Ya, tiada terjadi apa2," sahut Kwa Tin-ok.

"Aneh, apa mungkin kita telah salah lihat ?" kata Ui Yong kepada sang suami.

"Tidak, tidak bisa, orang ini sembilan bagian pasti dia," sahut Kwe Ceng sambil menggeleng kepala.

"Dia ? Dia siapa ?" Tin-ok ikut bertanya.

Lekas Ui Yong me-narik2 lengan baju suaminya dengan maksud agar jangan mengatakan Akan tetapi tidak bisa menghormatnya Kwe Ceng terhadap gurunya yang banyak menanam budi padanya, tidak berani ia berdusta meski barang sedikit saja, maka. ia lantas menerangkan: "Dia Auwyang Hong !"

Justru seumur hidupnya paling takut pada orang ini karuan seketika air muka Kwa Tin-ok berubah hebat.

"Auwyang Hong?" ia menegas dengan suara tertahan.

"Betul! dia belum mampus ?"

"Tadi ketika kami kembali dari memetik obat2-an, di pinggir rumah kami melihat berkelebatnya bayangan orang, gerak tubuhnya sangat cepat lagi aneh, waktu kami mengejarnya, sayang tak tertampak bayangannya lagi. Cuma kelihatannya sangat mirip Auwyang Hong," demikian Kwe Ceng ceritakan.

Kwa Tin-ok mengerti muridnya ini sangat jujur dan suka terus terang, semakin menanjak umurnya semakin tulus, kalau dia bilang Auwyang Hong, maka pasti bukan orang lain lagi.

Sementara itu karena kuatirkan diri Nyo Ko, Kwe Ceng telah memeriksanya ke tempat tidurnya dengan membawa lilin, ia lihat air muka pemuda ini merah segar, napasnya teratur dengan haik, tidurnya nyenyak, ia menjadi girang sekali oleh keadaan bocah ini.

"Dia sudah baik, Yong-ji !" saking girangnya ia teriaki isteri.

Padahal waktu itu Nyo Ko hanya pura2 tidur saja, ia pejamkan matanya buat mencuri dengar percakapan ketiga orang, Ketika lapat2 mendengar ayah angkatnya - orang aneh itu - bernama Auw-yang Hong, sedang ketiga orang ini sangat jeri padanya, tentu saja dalam hati kecilnya diam2 ia merasa bangga dan senang.

Dalam pada itu sesudah TJi Yong melihat kea.da-an Nyo Ko, menjadi ter-heran2, Terang ia lihat hawa racun di lengannya menjalar terus ke atas, sesudah lewat beberapa jam ini, semestinya bertambah hitam bengkak dan merembes lebih luas, siapa tahu hawa berbisa itu sebaliknya malah menghjlang, sungguh kejadian yang sukar dimengerti.

Setelah keluar bersama sang suami sekian lama, namun rumput obat2an yang dia cari tetap belum lengkap, terpaksa seadanya ia gilasi dan racik beberapa macam bahan obat, air perasannya lalu ia minum kan pada Nyo Ko.

Besok paginya, Kwa Tin-ok bersama Kwe Ceng dan Ui Yong melanjutkan perjalanan bersama dua anak kecil, mereka ambil keputusan buat pulang ke Tho-hoa-to dahulu untuk menyembuhkan lukanya Nyo Ko.



Malamnya terpaksa mereka harus menginap lagi di hotel, Kwa Tin-ok tinggal sekamar dengan Nyo Ko, sedang suami isteri Kwe Ceng dan Ui Yong sekamar dengan puteri mereka.

Tengah malam sedang enak2nya mereka tidur, mendadak terdengar suara "krak" yang keras di atas rumah, menyusul mana terdengar pula suara teriakan di kamar sebelah, rupanya ada orang merusak daun jendela dan melompat keluar.

Cepat Kwe Ceng dan Uj Yong melompat "bangun, melalui jendela mereka lihat di atas rumah sudah ada dua orang yang sedang bergebrak dengan sengit. Baru saja bisa lihat jelas bentuk tubuh kedua orang itu, tiba2 terdengar suara "plak", berbareng itu satu diantaranya telah menjerit terus terbanting ke bawah itu sudah dalam keadaan lumpuh, kaki tangannya kelihatan kaku dan menjulai ke bawah dengan lurus.

Menurut kebiasaan, orang yang berilmu silat tinggi, sekalipun tergelincir jatuh dari tempat tinggi secara tiiba2 pasti akan menekuk badan dan tarik kaki, dengan demikian waktu sampai di tanah, tidak bakal terluka berat, akan tetapi orang itu sudah lebih dulu dihantam semaput di atas rumah, maka dengan tefbantingnya ini tulangnya pasti akan patah dan mungkin kepalanya akan remuk,

Pada detik yang berbahaya itu, tiba2 dari jendela kamar sebelah melayang keluar seorang wanita, orang ini adalah Ui Yong, segera ia hendak menangkap tubuh orang, Namun ia masih kalah cepat, sebab Kwe Ceng sudah menyerobot di depannya dan dengan enteng sekali ia tarik tengkuk orang pada waktu hampir membentur tanah, terus diangkat ke atas dan kemudian dia turunkan pelahan, habis ini sekali ia enjot kakinya, segera ia melompat ke atas rumah.

Tetapi sekali ini ia yang ketinggalan ia lihat sang isteri sudah saling gebrak dengan serunya melawan satu orang, Lawannya berperawakan jangkung dan berjenggot pendek, kaki, hidungnya besar, matanya celong, siapa lagi kalau bukan musuh kebuyutan mereka yang sudah tak bertemu selama belasan tahan, Se-tok Auwyang Hong, Si racun dari Barat.

(Se-tok atau Si racun dari Barat adalah julukan Auwyang Hong sebagai satu diantara lima tokoh silat kelas wahid pada jamannya. Empat rekannya ~ yang juga menjadi musuhnya - masing2 adalah: Tong-sia- Ui Yok-su, Si Latah dari Timur (ia adalah ayah Ui Yong), Lam-te Toan Hong-ya, Si raja dari Selatan, Pak-kay Ang Tjhit-kong, Si langit di Tengah. Urut2an nama mereka berlima disebut: Tong-sia, Se-tok, Lam-te, Pak-kay, Tiong-kian-khun).

Begitulah tadi, Ui Yong yang sudah banyak maju kepandaiannya, dalam belasan jurus itu tipu2 pukulannya ternyata sukar diraba, karena itu, sedikitpun Auwyang liong tidak lebih unggul.

"Aha, Auwyang-sianseng, baik2kah selama berpisah ini ?" demikian Kwe Ceng menyapa setelah tancapkan kakinya di atas wuwungan rumah.

"Apa kau bilang ? Kau panggil aku apa ?" tanya Auwyang Hong tiba-tiba.

Begitulah wajahnya mengunjuk rasa bingung, maka terhadap serangan Ui Yong ia hanya menangkis saja tanpa batas menyerang, sedang dalam hati . ia sedang ingat2 nama yang diucapkan Kwe Ceng tadi, lapat2 ia merasa kata2 "Auwyang" seperti punya hubungan erat dengan dirinya.

Karena pertanyaan tadi, maka Kwe Ceng bermaksud akan menjelaskan namun betapa pintarnya Ui Yong, ketika melihat penyakit otak miring orang belum sembuh, lekas2 ia mencegah, Malahan ia sengaja berseru:

"Kau bernama Tio-Tji-Sun-Li, TJiu-Go-Tan-Ong !"

Auwyang Hong tampak terkejut dan semakin bingung.

"Apa ?" ia mengulangi "aku bernama Tio-Tji-Sun-Li dan Tjiu-Go-Tan-Ong ?"

"Ya, betul, namamu Pang-The-Tju-Wi dan Tjio-Sim-Ham-Yang," sahut Ui Yong mengacau.

Apa yang- diucapkan Ui Yong itu semuanya adalah She atau nama keluarga umum. Dasar pikiran Auwyang Hong memang belum waras, kini sekaligus Ui Yong melontarkan balasan she yang dikatakan adalah namanya, keruan pikiran Auwyang Hong menjadi semakin ruwet dan tambah butek otaknya.

Berlainan sekali dengan sang isteri, Kwe Ceng adalah orang yang baik budi dan jujur, ia menjadi kasihan melihat keadaan Auwyang Hong- yang hilang ingatan dan linglung itu,

"Sudahlah, lekaslah kau pergi saja, selanjutnya paling" baik kita jangan bertemu lagi untuk selama-nya," katanya kemudian.

"He, siapa kau dan siapa aku ?" demikian Auwyang Hong masih bertanya.

"Kau adalah Si Racun tua yang telah membinasakan lima saudaraku !" mendadak suatu suara bentakan menjawabnya dari belakang.

Belum lenyap suara bentakan itu atau sebuah tingkat besi telah menyambar pula, itu adalah senjatanya Hui-thian-pian-hok Kwa Tin-ok.

Tetapi pada saat itu juga terdengar pula seruan Kwe Ceng: "Awas, Suhu !"

Namun sudah terlambat, kemplangan tongkat Kwa Tin-ok itu dengan tepat kena di punggung Auwyang Hong, tetapi yang terdengar hanya "buk" se-kali, tahu2 tongkat malah membal balik, saking keras tenaga menbalnya hingga Tin-ok tak tahan memegangnya, maka baik tongkatnya maupun orangnya sama terperosot jatuh dari wuwungan rumah.

Luar biasa kerasnya hantaman tadi, pula tongkat itu mempunyai bobot beberapa puluh kati, ditambah lagi goncangan membalik, maka tongkat itu telah menyusup masuk ke bawah untuk kemudian dengan tepat menghantam di atas ranjang tamu hotel,

Tamu itu sebenarnya lagi terombang-ambing di sorga impiannya, siapa tahu ketiban malang mendadak, sial baginya, tulang kakinya tertindih patah oleh tongkat yang tidak ringan itu, saking sakitnya ia men-jerit2 minta tolong !

Dalam pada itu Kwe Ceng tahu meski gurunya terbanting jatuh ke bawah tentu tidak bakal berhalangan, ia hanya kuatir kalau kesempatan itu digunakan Auwyang Hong untuk menguber dan menghantam, maka kejadiannya pasti akan luar biasa he-batnya, karenanya, tidak pikir lagi segera ia berteriak: "Awas pukulan !"

Berbareng itu tangan kanan ia putar sekali terus didorong lurus ke depan, ini adalah satu diantara tipu pukulan Hang-liong-sip-pat-ciang yang disebut "Kong-liong-yu-hwe" atau Naga pembawa sesal, ilmu pukulan "Hang-liong-sip-pat-ciang" (delapan belas jurus ilmu pukulan penakluk naga) ini adalah ajaran guru Kwe Ceng yang lain, yakni Pak-kay Ang Tjhit-kong, itu pemimpin besar dari Kay-pang atau persatuan kaum jembel.

Selama ini tipu pukulan "Kong-liong-yu-hwe" ini dia latih dengan giat, apalagi ditambah kegiatan latihan selama belasan tahun ini, maka tekanan pukulan ini boleh dikata sudah sampai di" puncak yang paling sempurna.

Pada mula2 dia dorong ke depan tampaknya seperti seenaknya saja dan enteng sekali, tetapi bila ketemukan tenaga rintangan, maka dalam sekejap saja he-runtun2 bisa bertambah dengan tiga belas tenaga susulan yang satu lebih kuat dari pada yang lain secara ber-tumpuk2, sungguh tiada sesuatu yang tak bisa dihancurkan dan tiada lawan yang tak bisa dirobohkan.

Puncak kesempurnaan tipu pukulannya ini dipelajari dan diketemukan dia dari dalam kitab ilmu silat Kiu-im-cin-keng, suatu kitab yang selamanya dibuat sasaran perebutan diantara lima tokoh tersebut di atas, sekalipun Ang Tjhit-kong dahulu, kalau cuma tipu pukulan "Kong-liong-yu-hwe" ini saja juga tidak selihay seperti Kwe Ceng sekarang ini.

Dalam pada itu baru saja Auwyang Hong berhasil bikin terpental Kwa Tin-ok, segera terasa olehnya ada samberan angin yang datang dari muka, meski tenaga samberan angin itu tak begitu kerns, tetapi pernapasannya toh sesak hingga susah bernapas sebagai seorang jago kelas satu, ia tahu keadaan berbahaya, maka lekas2 ia sedikit berjongkok, menyusul kedua tangannya dia dorong ke depan sambil mulutnya mengeluarkan suara "kok", ini adalah ilmu "Ha-mo-kang", ilmu weduk kodok yang menjadi kebanggaan seumur hidupnya.


Oleh karena itu, saling beradunya tiga telapak tangan tak bisa dihindarkan lagi, namun tubuh kedua orang hanya sama2 tergetar saja dan tidak sampai ada yang terguling.

Tetapi Kwe Ceng tidak berhenti sampai di situ saja, dengan cepat ia tambahi tenaga pukulannya yang susu)-menyusul dan satu lebih kuat dari pada yang lain seperti gelombang ombak yang ber-gulung2 kepantai.

Sebaliknya dari mulut Auwyang Hong pun tiada hentinya terdengar suara "kok-kok-kok" yang keras, tubuhnya kelihatan ber-goyang2, agaknya setiap saat bisa terbanting roboh oleh daya tekanan Kwe Ceng.

Tapi sungguh aneh, semakin kuat dan semakin bertambah daya tekanan tenaga pukulan Kwe Ceng, maka tenaga tangkisannya yang membalik dari Auwyang Hong juga ikut bertambah menurut kebutuhan.

Sudah ada belasan tahun mereka berdua ini tidak ukur tenaga, kini bertemu kembali didaerah Kanglam, dengan sendirinya masing2 ingin bisa menjajal sampai di mana kemajuan pihak lain.

Dahulu ketika Hoa-san-lun-kiam atau pertandingan silat di Hoa-san tatkala itu Kwe Ceng masih bukan tandingan Auwyang Hong, tetapi sesudah sekian lama, berpisah dan kemajuannya yang pesat, ilmu silat Kwe Ceng boleh dikatakan telah sampai tarap yang paling masak, Namun demikian Auwyang Hong yang berlatih ilmu dari kitab "Kiu-im-cin-keng" secara terbalik (peristiwa diakali Ang Tjhit-kong hingga Auwyang Hong tertipu dan mempelajari Kiu-im cin-keng secara terbalik kelak akan diceritakan), dengan sendirinya juga ada kemajuan tertentu, yang satu betul dan yang lain terbalik, akhirnya tetap yang betul menangkan yang terbalik, maka dengan saling labraknya sekarang, Kwe Ceng sudah bisa melawan orang dengan sama kuat.



Supaya tahu bahwa atap rumah di daerah utara jauh berlainan dengan daerah selatan, Oleh karena harus menahan salju di musim dingin, maka atap rumah daerah utara dibuat dengan sangat kuat dan kokoh, tetapi di daerah aliran sungai Hoay karena genteng yang disusun secara tindih-menindih, maka atap yang genteng tetapi praktis.

Auwyang Hong saling ukur tenaga, mereka harus salurkan tenaga pada kedua kaki agar bisa berdiri dengan kokoh. Diluar dugaan, selang beberapa lama terdengarlah suara "kreyat-kreyot" di bawah kaki mereka, menyusul mana terdengar pula suara "kraaak" yang keras secara tiba2, tahu2 beberapa usuk rumah telah patah hingga anjlok ke bawah, atap rumah itu berlubang hingga kedua orang yang saling adu tenaga itu sama2 kejeblos ke bawah.

Ui Yong kaget sekali oleh kejadian ini, lekas2 ia menyusul turun melalui lubang atap rumah itu, namun segera terlihat olehnya kedua orang itu masih tetap tangan beradu tangan, sedang kaki mereka menginjak pada beberapa usuk yang patah tadi, sebalik-!!"v usuk2 itu justru menindih di atas badan seorang tamu hotel penghuni kamar yang ketiban malapetaka itu.

Mungkin saking kaget dan saking sakitnya oleh "rejeki tiban" itu, tamu hotel yang sial itu telah jatuh pingsan.

Buat Kwe Ceng sebenarnya tidak sampai hati bikin celaka orang lain yang tak berdosa, tetapi Auwyang Hong tidak pusingkan mati hidup orang lain, Kekuatan mereka sebenarnya seimbang, tetapi kini Kwe Ceng harus pikirkan orang yang ketindih itu dan tak tega tambahi tenaga injakannya sehingga tenaga yang saling adu itu tidak mendapatkan tempat sandaran yang kuat, maka lambat laun ia mulai terdesak di bawah angin.

Melihat tubuh sang suami rada mendoyong ke belakang, meski hanya mundur sedikit saja, Ui Yong sudah tahu Kwe Ceng bakal kecundang.

"He, Thio-sam-Li-si, Tio-ngo-Ong-liok, awas pukulan!" demikian ia lantas berteriak Menyusul tampaknya ia ayun sebelah tangannya menabok ke pundak Auwyang Hong.

Meski tampaknya sangat enteng pukulannya ini, tetapi justru adalah pukulan lihay dari ilmu pukulan "Lok-eng-cio-hoat". Bila sampai kena digebuk, maka tenaga pukulannya akan terus meresap sampai kebagian dalam tubuh, sekalipun jago silat kelas berat seperti Auwyang liong pasti juga akan terluka parah.

Akan tetapi Auwyang Hong bukan Se-tok kalau dia gampang dipukul. Semula ia memang terkejut sejenak ketika mendengar orang menyebut namanya yang aneh dan tak keruan itu, tetapi demi mendadak nampak pukulan orang tiba, secepat kilat ia dorong tangannya sekuat tenaganva, ia desak tenaga tangan Kwe Ceng dahulu, habis ini ia putar tangannya dan berhasil mencengkeram pundak Ui Yong, ia kumpul tenaga dalam pada ujung jarinya untuk merobek kulit daging lawan.

Cengkeraman maut ini sekaligus telah bikin tiga orang terkejut berbareng, Yakni Auwyang Hong, Kwe Ceng dan Ui Yong.

Auwyang Hong segera merasakan ujung jarinya tidak kepalang sakitnya, kiranya ia telah kena menjambret pada duri lancip "kutang berduri landak" yang dipakai Ui Yong dibagian dalam. Tetapi karena luar biasa kuat tenaga jarinya, dengan sekali jambret tak kurang duri landak yang terbuat dari anyaman benang emas dan tak mempan senjata itu kena terobek sepotong.

Pada waktu itu juga tenaga pukulan Kwe Ceng sudah mendatang lagi setelah didorong oleh Auwyang Hong tadi, dengan sendirinya Auwyang Hong kembali menyambut dengan telapak tangannya, maka terdengarlah suara "plak" yang keras, kedua orang sama2 mundur dengan cepat, menyusul tertampaklah debu pasir berhamburan, dinding roboh dan rumah ambruk.

Kiranya beradunya tangan kedua orang tadi benar2 keras lawan keras dengan sepenuh tenaga sehingga kedua pihak sania2 tersentak mundur, tetapi mundurnya mereka telah membobol dinding tembok sampai keluar, sebab itulah setengah dari atap rumah itu telah ambruk dan menerbitkan suara gemuruh.

Ui Yong sendiri yang pundaknya kena dijambret meski belum sampai terluka, namun tidak urung iapun terkejut sekali, dalam seribu kerepotannya syukur ia masih sempat melayang keluar dari rumah yang roboh separoh itu.

Setibanya di luar, terlihat olehnya jarak antara Auwyang Hong dan Kwe Ceng tidak lebih hanya setengah tombak saja, mereka sama2 berdiri tegak tanpa bergerak, terang mereka sudah terluka dalam semua.

Ui Yong tak pikirkan untuk menyerang musuh lagi lebih dulu ia mendekati sang suami untuk melindunginya. Dalam pada itu ia lihat kedua orang ini sama2 pejamkan mata sedang menjalankan pernapasan: lalu terdengar suara batuk dua kali, tanpa berjanji kedua orang itu sama muntahkan darah segar berbareng.

"Haha, sungguh hebat, sungguh hebat!" teriak Auwyang Hong tiba2. Habis ini, disertai gelak-ketawa yang keras memanjang, ia lantas bertindak pergi dan sekejap saja sudah menghilang tanpa bekas.

Sementara itu berhubung terjadinya onar ini dan karena tetamu yang ketimpa malang tadi, di dalam hotel menjadi geger dan ribut.

Ui Yong tahu tempat ini tak bisa ditinggali terus, maka ia lantas gendong Kwe Hu, lalu kepada Tin-ok ia berkata: "Suhu, harap kau payang engkoh Ceng, marilah kita berangkat saja!"

Sesudah tak lama mereka berialan, tiba2 Ui Yong teringat pada Nyo Ko, ia tidak tahu anak ini telah kabur kemana, karena kuatirkan luka yang diderita suaminya, urusan2 lain terpaka dikesampingkannya dahulu.

Pikiran Kwe Ceng pun cukup terang, lantaran pernapasannya kena tekanan tenaga pukulan Auwyang Hong, maka ia merasa sesak dan susah buat buka mulut, Setelah atur napas dengan menggemblok di atas pundak Kwa Tin-ok, sesudah jalan tujuh atau delapan li akhirnya semua urat nadinya berjalan lancar kembali.

"Sudah baik, Suhu," katanya kemudian.

"Sudah tiada apa2?" tanya Kwa Tin-ok sambil melepaskannya.

"Ya, tidak apa2," sahut Kwe Ceng, "Sungguh lihay sekali!"

Dalam pada itu terlihat puterinya yang semalam suntuk tak tidur, mungkin saking letihnya kini sedang tertidur nyenyak di atas pundak sang ibu, hatinya menjadi terkesiap dan ingat sesuatu.

"He, di manakah Ko-ji?" ia tanya cepat.

Meski Kwa Tin-ok mengerti adanya anak muda itu, tapi dia belum tahu siapa namanya, maka pertanyaan Kwe Ceng ini membuatnya bingung tak bisa menjawab.

"Jangan kuatir. kita cari suatu tempat dulu untuk mengaso, habis itu baru kita pergi mencarinya lagi," sahut Ui Yong.

Sementara itu fajar sudah menyingsing pemandangan sekitar jalan remang2 sudah kelihatan.

"Lukaku tak berhalangan, marilah kita pergi mencarinya," ujar Kwe Ceng.

"Anak ini luar biasa cerdiknya, tak perlu kau kuatir baginya," jawab Ui Yong mengkerut kening.

Baru berkata sampai di sini, se-konyong2 tertampak olehnya belakang tembok bobrok di tepi jalan sana bayangan orang berkelebat dengan cepat, hanya melongok terus mengkeret lagi.

Mana bisa Ui Yong dikelabui, gerak tubuhnya pun cepat luar biasa, dengan gesit ia melompat ke sana terus menjambret siapa lagi dia kalau bukan si Nyo Ko yang mereka bicarakan itu.

Meski sudah konangan, bocah ini hanya tertawa haha-hihi saja.

"Kalian baru sampai, bibi? Sudah lama aku me... menunggu di sini."

Nampak kelakuan anak muda ini, hati Ui Yong, merasa curiga, maka sekenanya ia menjawab: "Ya,, marilah kau ikut berangkat!"

Nyo Ko ketawa terus ikut di belakang mereka.

"Kemana kau telah pergi ?" tiba2 Kwe Hu bertanya.

"Aku pergi mencari jangkerik, wah, senang sekali," sahut Nyo Ko.

"Apanya yang menyenangkan ?" ujar Kwe Hu.

"Hm, siapa bilang tidak menyenangkan ?" Nyo Ko menjengek "Ada seekor jangkerik besar telah tarung melawan tiga jengkerik kecil, kemudian datang pula dua jangkerik kecil lain membantu kawannya, pertandingan menjadi lima jangkerik kecil melawan satu jangkerik besar, Yang besar ini melompat kian kemari, yang ini diselentik dengan kakinya, yang sana digigit mulutnya."

Menutur sampai disini, tiba2 Nyo Ko berhenti, ia tidak melanjutkan lagi.

Dilain pihak Kwe Hu rupanya menjadi ketarik oleh cerita itu hingga ia ternganga, "Lalu, bagaimana ?" tanpa tertahan ia tanya ketika orang tidak melanjutkan ceritanya.

"Tadi kau bilang tidak menyenangkan, kenapa sekarang kau tanya?" sahut Nyo Ko.

Jawaban ini membuat Kwe Hu menjadi marah, segera ia berpaling ke jurusan lain dan tidak gubris Nyo Ko lagi.

Siapa tahu hati mudanya Ui Yong ternyata belum hilang sama sekali, ketika mendengar cerita Nyo Ko itu, cukup tegang dan menarik, pula Nyo Ko memang pandai bicara, maka iapun tak tahan dan lantas tanya: "Coba terangkan pada bibi, akhirnya mana yang menang?"

Nyo Ko ketawa oleh pertanyaan orang. Dengan gampang dan secara diplomatis ia menjawab: "Pada saat yang sangat menarik itu, kalian keburu datang hingga semua jangkerik itu lari."



Melihat lagak anak ini, Ui Yong tahu ia sengaja jual mahal, ia pikir anak ini memang pandai dan banyak akal, dari kejadian kecil ini saja kelihatan hal ini.

Tengah bicara, sementara mereka sudah sampai di suatu desa.

Meski Kwe Ceng terluka dalam, tapi ia masih gagah dan bisa bergerak leluasa, maka ia telah mohon bertemu dengan tuan rumah pada satu gedung besar.

Tuan rumah itu ternyata sangat simpatik dan suka terima tamu, ketika mendengar ada orang luka dan sakit, lekas ia perintahkan centingnya menyediakan kamar tamu.

Setelah makan, kemudian Kwe Ceng duduk bersila di pembaringannya buat merawat lukanya.

Melihat pernapasan sang suami teratur dan semangatnya segar, Ui Yong tahu sudah tiada bahaya lagi. Waktu ia lepaskan baju luar dan diperiksa, ia lihat kutang lemas berduri landak yang dia pakai di lapis dalam itu terobek sebagian persis di atas pundaknya, sungguh sayang sekali dan terasa kaget pula, Kutang wasiat ini adalah pusaka Tho-hoa-to yang menjadi pusaka ayahnya pula, benda ini sudah beberapa kali telah menolong jiwanya dari ancaman maut, tak terduga hari ini bisa terusak ditangan Auwyang Hong.

Sambil duduk menjaga disamping suaminya, Ui Yong meng-ingat2 kelakuan Nyo Ko sejak bertemu, Entah mengapa, ia selalu merasa meski anak ini masih kecil usianya, tetapi banyak sekali terdapat hal2 aneh pada diri anak itu yang sukar dimengerti.

Teringat olehnya pada waktu Bu Sam-thong terjungkal ke bawah oleh hantaman Auwyang Hong, kalau tidak salah ia melihat Nyo Ko berdiri menonton di sebelah samping, kemudian ketika dirinya suami isteri bergebrak melawan Auwyang Hong, tertampak juga Nyo Ko masih berdiri di atas atap rumah, begitu juga pada waktu Kwe Ceng dan Auwyang liong terjeblos ke bawah, bocah itupun masih berdiri di ttmpatnya. Kenapa anak ini punya nyali begitu be-s,ir? Mengapa ia tidak takut ? Dan kenapa Auwyang Hong pun tidak mencelakai dia?

Paling akhir sesudah Kwe Ceng dan Auwyang Hong menderita luka, dalam keadaan ribut2 anak itu mendadak menghilang untuk kemudian muncul l?gi ditengah jalan.

Ui Yong biasa berpikir secara teliti, ia pikir tidak perlu tanya dia sekarang, asal seterusnya ge-rafc-geriknya diawasi saja.

Begitulah, siang hari telah lalu, petangnya sesudah bersantap mereka lantas pergi mengaso sendiri2.

Nyo Ko tidur sekamar dengan Kwa Tin-ok, sampai tengah malam, diam2 ia bangun, ia membuka pintu kamar dan ngeluyur keluar. Waktu ia menoleh, ia lihat Kwa Tin-ok sedang menggeros nyenyak.

Maka dengan berindap-indap ia mendekati pagar tembok, ia panjat ke atas satu pohon, dari sini ia melompat ke atas pagar tembok dan kemudian merosot turun keluar dengan pelahan.

Mencium bau manusia, dua ekor anjing di luar pagar itu menyalak, Tetapi Nyo Ko sudah siap sedia, dari bajunya dikeluarkan dua tulang daging yang dia sengaja simpan pada siang harinya, dia lemparkan pada anjing-2 itu. Dapat tulang daging, anjing2 itu lupa, akan manusianya dan segera berhenti menyalahi untuk gerogoti tulang2 itu.

Setelah pilih jurusannya, kemudian Nyo Ko menuju ke arah barat-daya, setelah beberapa li ia tem-puh, akhirnya sampailah dia pada sebuah kelenteng bobrok, ia dorong pintu kelenteng itu dan masuk ke dalam.

"Ayah !" demikian ia lantas memanggil.

Maka terdengarlah suara sahutan yang berat dari dalam, yang ia kenali adalah suara Auwyang Hong.

Girang sekali Nyo Ko, ia mendekatinya, ia lihat Auwyang Hong rebah di atas beberapa kasuran bundar di depan patung pemujaan, keadaannya loyo dan napasnya lemah.

Kiranya keadaan luka yang diderita Auwyang Hong serupa dengan Kwe Ceng, cuma Kwe Ceng masih muda kuat, sebaliknya ia sudah lanjut usianya, dengan sendirinya daya tahannya jauh kalah daripada Kwe Ceng.

"Makanlah ini, ayah", sementara Nyo Ko berkata lagi sambil mengeluarkan beberapa bakpau dan diserahkan pada Auwyang Hong.

Memangnya Auwyang Hong sudah kelaparan sehari suntuk, ia hendak keluar, tapi kuatir kepergok musuh, maka sepanjang hari ia terus sembunyi di dalam kelenteng bobrok ini dengan kelaparan, kini sesudah beberapa bakpau ia jejalkan ke dalam perutnya, segera semangatnya terbangkit kembali.

"Dimanakah mereka berada kini ?" ia tanya.

Maka berceritalah Nyo Ko apa yang diketahuinya.

Ketika Nyo Ko bermalam di hotel bersama Kwe Ceng, tengah malam kembali Auwyang Hong datang menjenguk padanya.

Tak terduga malam itu Bu Sam-thong yang terluka oleh pukulan Li Bok chiu juga kebetulan menginap di hotel yang sama. Oleh karena bekerjanya racun di tubuhnya akibat pukulan Li Bok-chiu itu, semalam suntuk ia kelabakan tak bisa tidur, ketika mendadak mendengar di atas rumah ada suara keresekan, Bu Sam-thong menyangka Li Bok-chiu telah menyusul datang lagi, maka tanpa menghiraukan luka yang sudah dideritanya segera ia lompat ke atas rumah untuk menghadapi musuh.

Di luar dugaan, musuh baru itu tidak datang, sebaliknya yang dihadapi adalah musuh kawakan. Dahulu Auwyang Hong hendak menghancurkan ilmu silat Toan Hong-ya untuk itu pernah sengaja ia melukai Bu Sam-thong dengan pukulan yang berbisa.

Kini demi berhadapan lagi, musuh yang sudah lama ditunggu ini membikin mata Bu Sam-thong merah berapi, tanpa pikir lagi segera ia labrak maju.

Dengan sendirinya se-kali2 Bu Sam-thong bukan tandingan Auwyang Hong, baru bergebrak belasan jurus ia sudah kena dihantam sekali hingga terjungkal ke bawah rumah.

Waktu datangnya Auwyang Hong ke hoicl itu Nyo Ko memang sudah mendusin, tatkala ayah angkatnya ini ber-turut2 bergebrak dengan Bu Sam-thong dan suami isteri Kwe Ceng dan Ui Yong, selama itu Nyo Ko terus berdiri menonton di samping.

Kemudian setelah Auwyang Hong dan Kwe Ceng sama2 terluka dan ada orang yang memperhatikan dirinya, maka diam2 ia telah menyusul Auwyang Hong.

jalannya Auwyang Hong mula2 sangat cepat, sudah tentu Nyo Ko tak mampu menyandaknya, tetapi sesudah lukanya bekerja hingga melangkah saja terasa susah, maka dapatlah Nyo Ko menyusul dan memayangnya ke kelenteng bobrok.

Walaupun umur Nyo Ko masih kecil, tetapi segala hal ternyata ia paham, ia tahu kalau dirinya tidak kembali tentu Ui Yong dan Kwa Tin-ok cs. akan mencarinya, jika terjadi begini tentu akan membahayakan jiwa Auwyang Hong yang terluka parah itu, maka lebih dulu ia telah tunggu orang di tepi jalan hingga akhirnya bertemu lagi dengan Kwe Ceng dan tengah malam ia datang pula menjenguk ajah angkatnya lagi,

Begitulah sesudah dengar penuturan Njo Ko baru Auwyang Hong merasa lega, Tetapi bila teringat olehnya Kwa Tin-ok tidak berhasil dia binasakan pada siangnya, kembali ia menjadi kuatir.

"Orang she Kwe itu telah merasakan pukulanku, dalam tujuh hari terang dia tak akan bisa sembuh," demikian katanya kemudian, "lsterinya harus melayani suaminya. tentu tak berani sembarang tinggal pergi, maka kini kita hanya kuatirkan si buta she

Kwa seorang saja. Kalau malam ini dia tidak datang, pasti besok dia akan mencari kesini, sungguh sayang sedikitpun aku tak bertenaga, Ai, aku sudah membunuh lima saudara angkatnya, kalau kini aku mati di tangannya rasanya juga... juga..."

Berkata sampai disini, ia lantas ter-batuk2.

Sementara itu Nyo Ko duduk di lantai dengan tangan menunjang janggut, sekejap itu saja timbul macam2 pikirannya. ia lihat Auwyang Hong rebah dengan kedua tangan digunakan sebagai bantah meski rebah dengan melintang, tetapi kedua kaki orang tua ini masih tetap pasang kuda2 seperti biasanya kalau berlatih ilmu Ha-mo-kang, jadi kuda2nya mirip kodok saja.

"Ah, aku ada akal," tiba2 Nyo Ko berpikir, "biar aku taruh beberapa macam benda tajam di atas lantai, kalau si buta itu masuk begitu saja, biar dia merasakan sedikit luka dahulu."

Karena pikiran ini, segera ia turunkan empat buah Cektay, yakni tempat menancapkan lilin yang biasa dipakai di meja sembahyang, ia buang sisa lilinnya, ia pasang cektay di mulut pintu secara berjajar dengan bagian yang lancip tajam menghadap ke atas, Habis ini ia tutup pintu kelenteng itu dengan setengah rapat, lalu ia angkat sebuah Hio-lo (tempat abu) yang terbuat dari besi, ia manjat ke atas dan pasang Hio-lo itu di atas daun pintu yang setengah rapat itu,

Kemudian ia memeriksa sekitarnya lagi, ia ingin mendapatkan jebakan lain yang bisa dipasang untuk pedayai orang, tetapi tiada yang terdapat lagi kecuali di atas ruangan kelenteng bagian timur dan barat m:ising2 tergantung sebuah genta raksasa.

Begitu besar genta itu hingga sedikitnya lebih dua ribu kati beratnya dan tidak cukup dirangkul tiga orang sejajar. Di atas genta masing2 terdapat satu gantolan besi yang sangat besar pula dan terikat kencang di atas kerangka kayu yang terbuat dari balok2 besar.

Kelenteng ini rupanya sudah sangat tua dan bobrok, tetapi kedua genta raksasa ini karena pembikinannya sangat kokoh dan kuat maka masih dalam keadaan baik.

"Jika betul-betul si buta she Kwa itu masuk ke sini, aku nanti manjat ke atas kerangka genta itu, tanggung dia tak akan bisa ketemukan aku," demikian Nyo Ko berkata dalam hati.

Waktu Nyo Ko hendak pergi ke bagian belakang untuk mencari sesuatu alat senjata yang cocok baginya, tiba2 terdengar dari jalan besar di luar berkumandang suara "tak-tek-tak-tek" yang diterbitkan oleh ketokan tongkat "besi".

Air muka Nyo Ko seketika berubah, ia tahu betul2 Kwa Tin-ok telah datang, maka cepat ia sirapkan api lilin. Tapi segera ia ingat perbuatannya ini hanya berlebihan saja, ia pikir: "Mata si buta itu tak bisa melihat sebenarnya tidak perlu aku padamkan lilin."

Dalam pada itu suara "tak-tek" tadi sudah makin dekat, mendadak Auwyang Hong bangkit berduduk, ia hendak kumpulkan seluruh tenaga yang masih ada padanya itu di tangan kanannya, ia hendak mendahului musuh dengan sekali pukul membinasakannya.



Nyo Ko sendiri juga ber-debar2, ia pegang Cek-tay itu dengan bagian lancip menghadap keluar, ia jaga disamping Auwyang Hong siap melawan musuh.

Memang tidak salah suara "tak-tek" tadi adalah suara tongkat Kwa Tia-ok yang meng-ketok2 tanah bila berjalan.

Meski mata Tin-ok buta, tetapi orangnya luar biasa cerdiknya, ia menduga sesudah Auwyang Hong terluka, pasti akan sembunyi di sekitar tempat ini, maka sebelum bersantap malam, di tempat pondok nya ia sudah mencari tahu dengan jelas bahwa di sekitar sini hanya terdapat sebuah kelenteng kuno yang bobrok, kecuali ini hanya rumah penduduk melulu, maka ia sudah menaksir sembilan bagian pasti Auwyang Hong sembunyi di dalam kelenteng ini.

Bila teringat olehnya kelima saudara angkatnya semua dibinasakan Auwyang Hong secara keji di pulau Tho-hoa, kini ada kesempatan bagus untuk menuntut balas, sudah tentu tidak dia lewatkan begitu saja. Maka setelah tengah malam, dengan pelahan kemudian ia me-manggil2: "Ko-ji, Ko-ji !"

Tetapi ia tidak mendapatkan jawaban, ia sangka tentu anak ini sedang nyenyak tidur, maka ia tidak mendekatinya lagi buat periksa melainkan terus keluar rumah pondok dengan melompati pagar tembok. Kedua anjing tadi masih menggerogoti tulang yang dilempar Nyo Ko itu, maka munculnya Kwa, Tin-ok tidak di-gonggong mereka, hanya terdengar suara geraman saja beberapa kali untuk kemudian menggeragoti tulang lagi.

Pe-lahan2, akhirnya sampai juga di depan kelenteng itu, ketika Kwa Tin-ok pasang kuping, betul saja di ruangan dalam terdengar ada suara bernapasnva orang.

"Hayo, Auwyang Hong, Si buta she Kwa sudah berada di sini, kalau kau jantan, lekas keluar!" segera ia berteriak menantang.

Sambil berkata, ia ketok tongkatnya ke tanah dengan keras.

Akan tetapi Auwyang Hong tidak menyahut, ia kuatir tenaga yang sudah dikumpulkan sejak tadi itu gembos, maka tak berani ia buka suara.

Setelah ber-teriak2 beberapa kali lagi dan tetap tiada jawaban, akhirnya Kwa Tin-ok menjadi tak sabar, begitu ia angkat tongkatnya, segera ia dorong pintu kelenteng terus melangkah masuk.

Tak tersangka, mendadak terasa olehnya ada samberan angin yang berat, semacam benda antap tahu2, menghantam dari atas kepalanya, berbareng itu pula kaki kirinya yang melangkah masuk itu tepat menginjak pada tancapan lilin yang tajam itu hingga sol sepatunya tembus, telapak kakinya seketika kesakitan,

Karena matanya buta, sesaat itu Kwa Tin-ok tidak mengerti apa yang terjadi, hanya lekas2 ia ayun tongkatnya ke atas, maka terdengarlah suara "trang" yang keras dan nyaring memekak telinga, Hio-lo yang jatuh dari atas itu kena dia hantam hingga terpental, menyusul ini ia jatuhkan diri pula agar kakinya tidak sampai tertancap tembus oleh benda tajam tadi.

Tak ia duga bahwa disamping lain masih terdapat beberapa Cektay pula yang sama tajamnya, keruan segera pundaknya terasa sakit sebuah tancapan lilin itu telah menusuk tubuhnya, Ketika ia pegang Cektay itu dan dicabut keluar, maka mengucurlah darah membasahi pakaiannya.

Ia tak berani lagi cerohoh, ia pasang kuping pula dan dapat mendengar suara bernapasnya Auwyang Kong, maka setindak demi setindak ia maju pelahan, sekira tiga kaki dihadapan orang, segera ia angkat tongkatnya ke atas.

"Ayo, Lo-ok but (Si binatang tua berbisa), sekarang apa yang hendak kau katakan lagi?" bentak Tin-ok.

Sementara itu Auwyang Hong sudah kumpulkan seluruh tenaga yang ada padanya dan dipusatkan pada telapak tangan kanannya, ia tunggu bila tongkat Hui-thian-pian-hok benar2 mengemplang, maka sekaligus iapun akan menghantamnya, dengan demikian supaya binasa ber-sama2.

Begitu!ah karena sama2 tidak mau serang lebih dulu, mereka berdua menjadi berdiri berhadapan saja dan sama2 tidak bergerak.

Kemudian dengan telinga Tin-ok yang tajam, akhirnya ia dengar suara napas orang yang berat dan sesak, tiba2 terkilas pula suara dan wajah kelima saudara angkatnya: Cu Jong, Han Po-ki, Lam Hi-jin dan Han Siaueng, yang menjadi korban Auwyang Hong, yang se-olah2 muncul dan be-ramai2 sedang menganjurkan padanya agar lekas turun tangan, Oleh karena itu, tidak bisa tahan lagi, dengan sekali geraman yang keras, dengan gerak tipu "Cin-ong-pian-sek" (raja Cin merangket batu), Tin-ok ayun tongkatnya menggepruk ke atas kepala orang.

Namun Auwyang Hong masih keburu berkelit, dan selagi ia hendak lontarkan hantaman balasan, tetapi apa daya? Keinginan ada, tenaga kurang. Baru tangannya terangkat atau napasnya sudah tak bisa menyambung lagi, keruan ia menjadi lemas hingga ngusruk jatuh.

Maka terdengarlah suara "bang" yang keras dibarengi dengan muncratnya lelatu api, ujung tongkat Kwa Tin-ok telah menghancurkan beberapa ubin hingga hancur.

Kwa Tin-ok tidak memberi kelonggaran pada lawannya, sekali serang tidak kena, serangan kedua segera menyusul pula, kini tongkatnya menyerampang dari samping,

jika dalam keadaan biasa, serangan Kwa Tin-ok ini cukup Auwyang Hong sambut dengan sedikit senggol saja pasti akan bikin tongkat terpental dari cekalan atau paling tidak dapat pula menghindar dengan melompat ke atas.

Tetapi kini seluruh badan Auwyang Hong lemas linu, tenaga sedikitpun tak bisa dikeluarkan, terpaksa untuk kedua kalinya ia harus robohkan diri dengan menggelinding kesamping.

Dalam pada itu dengan cepat Kwa Tin-ok sudah mainkan ilmu tongkat "Hang-mo-tiang-hoat" (ilmu tongkat penakluk iblis), ia menyerang dengan hebat, satu serangan lebih cepat dari serangan yang lain, sebaliknya gerak-gerik Auwyang liong makin lama semakin lamban dan kaku, hingga akhirnya mau-tak-mau ia kena digebuk sekali dipundak kirinya.

Menyaksikan pertarungan ini, hati Nyo Ko menjadi ber-debar2, maksud hatinya hendak maju membantu sang ayah angkat, tetapi apa daya, ia mengerti ilmu silat sendiri terlalu cetek dan tidak tahan sekali digebuk musuh, kalau berani ikut2 maju, maka tiada bagian lain kecuali antar nyawa belaka, Tetapi ia saksikan tongkat Kwa Tin-ok susul menyusul kena menghantam di atas badan Auswyang Hong, ia menjadi ngeri pula.

Agaknya memang sudah nasib Auwyang Hong yang harus alami ajaran ini, untung dia bukan jago silat sembarangan ia punya tenaga dalam yang terlatih tinggi sekali, meski dalam keadaan tak mampu membalas, tetapi ia masih mampu mematahkan serangan orang, tiap2 tenaga gebukan yang Kwa Tin-ok lontarkan selalu dia singkirkan kesamping, meski tubuhnya kena dihajar hingga babak-belur, tetapi jerohannya tiada yang terluka.

Diam2 Kwa Tin-ok menjadi heran, dalani hati ia pikir "Lo-tok-but" atau Si-binatang tua berbisa (julukan Auwyang Hoag) ini sungguh bukan main lihaynya, tiap2 hantaman tongkatnya ternyata seperti mengenai kasur saja, hanya mengeluarkan suara ""bluk" yang keras, tetapi Auwyang Hong seperti tidak berasa saja, ia pikir kalau tidak hantam bagian kepalanya, meski seribu kali gebuk lagi belum tentu bisa mampuskan dia. Tidak ayal lagi Kwa Tin-ok lantas ayun tongkatnya semakin cepat, kini yang dia incar hanya kepala orang.

Bermula Auwyang Hong masih bisa mengkeret kepalanya untuk menghindar beberapa kali serangan itu, tetapi sekejap kemudian ia sudah terkurung rapat dibawah samberan angin tongkat musuh yang selalu berkisar di tepi telinganya saja, keruan ia me-ngeluh, ia mengerti kalau sampai kepalanya kena di-kemplang, dapat dipastikan akan mati seketika.

Sementara itu ia lihat tongkat Kwa Tin-ok telah mengemplang lagi, dalam keadaan kepepet terpaksa Auwyang Hong harus ambil risiko dan adu untung bukannya hindarkan diri lagi, sebaliknya mendadak ia menubruk maju, dengan kencang ia berhasil jam-bret dada orang.

Tentu saja tidak kepalang kaget Kwa Tin-ok, dalam gugupnya ia sempat gunakan gagang tongkatnya menyodok ke punggung orang, Tentu saja hantaman ini tak bisa dihindarkan Auwyang Hong.

Terdengar suara tertahan, Auwyang Hong terkena hantaman itu mentah2, luar biasa sakit punggungnya hingga hampir2 ia kelengar.

Sebaliknya Kwa Tin-ok mengira hantamannya itu tak berguna sama sekali dan tidak mampu melukai lawan lagi, seketika ia menjadi habis akal, terpaksa dengan tangan kiri ia jambret orang. Harus diketahui bahwa sebelah kaki Kwa Tin-ok memang pincang, ia bisa menubruk dan menyerang karena bantuan imbangan tongkatnya, kini karena tubuhnya kena dirangkul orang, maka setelah sekali dua kali gebrak, akhirnya tak sanggup lagi ia berdiri tegak dan jatuh terguling.

Namun belum mau Auwyang Hong lepaskan jambretan di dadanya, bahkan sebelah tangan yang lain ia hendak merangkul pinggang Kwa Tin-ok, tetapi tiba2 ia merasa tangannya menyentuh sesuatu benda keras, tidak ayal lagi ia cabut dengan cepat, waktu dia tegasi, kiranya adalah sebilah belati tajam.

Belati ini adalah senjata tinggalan Thio A Seng, salah satu saudara angkat Kwa Tin-ok, namanya 'To-gu-to" atau belati jagal sapi, meski namanya belati jagal, tetapi sebenarnya tidak pernah dibuat sembelih sapi, Belati ini luar biasa tajamnya, Karena Thio A Seng tewas di tangan Tan Lip-hong di daerah monggol dahulu, belati ini lantas jatuh di tangan Kwa Tin-ok dan selalu dibawanya seperti selalu berdampingan dengan saudara angkatnya yang sudah tewas itu.

Mengetahui belati ini kena direbut Auwyang Hong dan justru mereka dalam pergulatan secara mati-matian, keruan ia terkejut, lekas2 ia ayun kepalan kiri menjotos sebelum tikaman Auwyang sampai, karena jototan ini Auwyang Hong terpelanting jatuh, menjusul mana tongkatnya Kwa Tjn-ok segera menghantam pula.

Jotosan yang tepat kena pelipisnya itu membikin Auwyang Hong merasa matanya ber-kunang2, lekas2 ia ayun tangannya, ia timpukan belati itu kepada musuh.



Kwa Tin-ok masih keburu berkelit, maka terdengarlah suara "Trang" yang nyaring, kiranya belati itu dengan tepat mengenai genta raksasa yang berada di tengah ruangan kelenteng itu.

Meski sambitan Auwyang Hong itu tidak membawa tenaga keras, tetapi saking tajamnya belati itu tingga menancap masuk setengah senti di atas genta itu, gagang belatinya sampai ter-goyang2 tiada hentinya.

Waktu itu kebetulan Nyo Ko berdiri di samping genta, belati itu menyamber lewat hingga hampir2 pipinya keserempet, dalam kagetnya lekas2 anak muda ini memanjat ke atas kerangka genta dengan cepat.

Dipihak lain, tiba2 Auwyang Hong mendapat akal juga, ia mertgitar ke belakang genta yang tergantung itu. Pada waktu itu suara genta yang menggema masih belum lenyap, Kwa Tin-ok hendak mendengarkan di mana Auwyang Hong bernapas, maka dengan miring kepala dan pasang kuping ia sedang mendengarkan secara teliti.

Di bawah sorotan sinar bulan, tertampaklah rambut orang tua yang kusut ini sedang mendengarkan sambil menunjang tongkat, sikapnya sangat menakutkan.

Nyo Ko memiliki otak sangat tajam, sesaat itu ia sudah dapat mengetahui sebab musababnya, maka sekuatnya cabut belati jagal sapi yang menancap tadi, lalu ia tabuh sekali lagi genta itu dengan keras, maka terdengarlah suara "trang" yang nyaring hingga suara pernapasan mereka berdua - Nyo Ko dan Auwyang Hong - tertutup hilang.

Ketika mendadak mendengar suara genta lagi, dengan cepat Kwa Tin-ok menubruk maju, namun Auwyang Hong sudah memutar pergi lagi ke belakang genta, ketika Kwa Tin-ok memukul dengan tongkatnya, tongkat itu mengenai genta hingga kembali suara "trang" yang lebih keras menggema sampai memekak telinga.

Suara keras yang susul-menyusul itu membikin anak telinga Nyo Ko se-akan2 hendak pecah, maka sesaat itu iapun tidak dengar suara lain, dalam pada itu Kwa Tin-ok telah mengamuk, dengan ayun tongkatnya ia hantam genta terus-menerus hingga suara genta semakin keras.

Melihat perbuatan orang, Auwyang Hong pikir tidak menguntungkan dirinya, bila Kwa Tin-ok mengetok genta terus, meski Kwe Ceng menderita luka, tetapi dikuatirkan Ui Yong akan menyusul datang buat membantunya.

Oleh karenanya, pada saat suara genta berbunyi hebat itu, secara berindap-indap pelahan ia bermaksud menggeluyur pergi melalui pintu belakang.

Siapa duga telinga Kwa Tin-ok memang tajam sekali, walaupun dalam menggemanya suara genta, masih bisa juga ia membedakan suara yang lain, begitu ia dengar suara menggeser tindakan Auwyang Hong, ia pura2 tidak tahu, ia masih ayun tongkatnya menabuh genta, ia menanti orang sudah bertindak pergi beberapa tindak dan sudah agak jauh meninggalkan genta, mendadak ia lantas melompat maju, ia ajun tongkatnya terus mengemplang kepala orang",

Meski Auwyang Hong sudah kehilangan daya tahannya, tetapi selama hidupnya entah sudah mengalami berapa banyak badai dan tipumenipu diwaktu bertempur dengan sendirinya ia sudah ber-jaga2. Ma-ka begitu melihat tubuh orang bergerak, segera ia tahu maksud Kwa Tin-ok, belum sampai tongkat orang mengemplang atau lebih dulu ia sudah sembunyi kembali ke belakang genta.

Keruan Kwa Tin-ok menjadi gusar, "Biarpun aku tak bisa pukul mampus kau, pasti juga aku akan bikin kau mati letih !" demikian teriaknya murka, Habis ini dengan mengitar genta segera ia mengudak.

Nampak kedua orang itu berkejaran mengitari genta, Nyo Ko insaf apabila waktu ber-Iarut2, pasti Auwyang Hong akan kehabisan tenaga, sedang keadaan sudah sangat berbahaya. Tiba2 ia mendapat satu akal, dari atas kerangka genta ia geraki kedua tangannya memberi isyarat.

Waktu itu Auwyang Hong sedang curahkan seluruh perhatiannya untuk menghindari udakan musuh, maka ia belum lihat kode orang, setelah mengitar dua kalangan lagi baru kemudian ia lihat bayangan Nyo Ko di lantai yang lagi memberikan tanda supaya dia menyingkir semula ia tidak mengerti apa maksud anak muda ini, tetapi ia pikir kalau Nyo Ko berani suruh aku menyingkir tentu ada maksud tujuannya, maka dengan menghadapi bahaya ia lantas bertindak keluar.

Sementara itu Kwa Tin-ok telah berhenti dan tidak bergerak untuk mem-beda2kan ke jurusan mana perginya musuh.

Saat itu juga diam2 Nyo Ko copot sepatunya, lalu ia lemparkan ke bagian belakang ruangan, maka terdengarlah suara "blak-bluk" dua kali, suara jatuhnya benda di lantai.

Tentu saja Kwa Tin-ok ter-heran2 dan menjadi bingung pula, sudah terang ia dengar Auwyang Hong jalan menuju ke pintu depan, tapi mengapa di bagian belakang ada suara orang lagi. Dan justru pada saat yang meragukan itu, Nyo Ko cepat angkat belatinya terus memotong tali gantolan yang menggantung genta raksasa itu.

Gantolan genta itu sebenarnya cukup kuat, meski belatinya sangat tajam toh sekali potong tidak nanti bisa terputus, tetapi karena beratnya genta yang tergantung, hanya setengah saja tali gantolan itu terpotong sudah tidak tahan lagi bobot genta.

Tanpa ampun lagi, dengan membawa samberan angin santer genta itu menutup ke atas kepala Kwa Tin-ok yang tepat berdiri di bawahnya.

Hebat sekali daya menurunnya genta ini hingga sewaktu Kwa Tin-ok mendengar suara angin sudah tak keburu buat melompat pergi, dalam seribu kerepotannya tiba2 ia tegakkan tongkatnya, maka terdengarlah suara "trang" pula, dengan persis genta itu menindih di atas tongkat, karena tangkisan ini, pada kesempatan mana Tin-ok berhasil meloncat keluar dari bawah genta. Apabila lompatannya ini sedikit kasip saja dapat dipastikan tubuhnya akan ter-tindih genta hingga hancur.

Dalam pada itu lantas terdengar suara "dung... gerubyak...klontang" secara susul - menyusul.

Tongkat tadi telah patah menjadi dua, genta pun menggelinding ke samping hingga menyeruduk bokong Kwa Tin-ok hingga orang cacat ini terlempar keluar dari pintu kelenteng, bahkan masih terguling beberapa kali, darah mengucur pula dari hidungnya dan batok kepalanya benjut.

Kasihan Kwa Tin-ok yang matanya tak bisa melihat, ia tidak tahu mengapa dan sebab apa kejadian yang mendadak itu, ia kuatir jangan2 dalam kelenteng itu terdapat pula makhluk2 aneh lain yang mengacau maka sesudah merangkak bangun, dengan ter-pincang2 lekas ia bertindak pergi.

Menyaksikan kejadian ini, mau-tak-mau hati Auwyang Hong terkesiap juga, ber-ulang2 ia mengatakan: "Sayang !"

"Baiklah, sekarang si buta ini tak berani datang lagi ayah," demikian kata Nyo Ko dengan senang sesudah merangkak turun dai atas kerangka genta.

Di luar dugaan, Auwyang Hong masih geleng2 kepala saja.

"Orang ini setinggi gunung dendamnya padaku, asal dia masih bisa bernapas, pasti dia akan datang mencari aku lagi," katanya kemudian.

"Kalau begitu lekas kita berangkat pergi," ujar Nyo Ko.

"Percuma," sahut Auwyang Hong sambil geleng kepala pula, "Lukaku terlalu parah, tidak bisa jauh kita lari."

"Lantas bagaimana baiknya ?" kata Nyo Ko menjadi kuatir.

"Ada satu akal," sahut Auwyang Hong sesudah berpikir "Kau potong putus lagi gantolan genta yang lain itu, biar aku tertutup di dalamnya."

"Dan cara bagaimana ayah akan keluar ?" tanya Nyo Ko.

"Aku akan sekap diriku selama tujuh hari di bawah genta, sesudah pulih tenaga asliku, aku sendiri sanggup keluar dengan membuka genta itu," kata Auwyang Hong, "Dalam tujuh hari ini, sekali pun si buta itu datang mencari aku lagi, kalau hanya dengan sedikit kepandaiannya saja tidak mungkin mampu membuka genta sebesar ini."

Nyo Ko pikir baik juga akal itu, tetapi ia masih ragu2, ia tanya lagi apa betul Auwyang Hong sanggup membuka genta buat keluar sendiri, sesudah yakin benar2 barulah ia panjat ke atas lagi buat melakukan apa yang diminta Auwyang Hong.

"Kau holeh ikut pergi saja dengan manusia she Kwe itu, kelak aku akan mencari kau ke sana," demikian Auwyang Hong berpesan.

Nyo Ko mengiakan pesan itu. Dan sesudah Auwyang Hong duduk tepat di bawah genta, lalu ia potong gantolan genta pula hingga Auwyang Hong tertutup rapat di dalamnya.

Dari luar Nyo Ko memanggil beberapa kali, tetapi ia tidak mendapat sahutan, ia tahu di dalam genta tidak dengar suara dari luar, maka ia lantas ber-kemas2 buat pergi, Tetapi sebelum itu, tiba2 lahir pula satu akalnya, ia pergi ke ruang belakang dan mendapatkan sebuah mangkok rusak dan sebuah sikat bobrok, ia isi penuh mangkok itu dengan air jernih. Setelah mangkok ditaruk di lantai, kemudian ia sendiri berjungkir sambil tangan kiri dimasukkan ke dalam mangkok yang berisi air itu.

Kiranya ia telah lakukan ilmu menolak hawa berbisa dalam tubuhnya menurut ajaran Auwyang Hong, ia desak keluar beberapa tetes darah beracun dari tangannya.

Ilmu ini sangat makan tenaga, sedang Nyo Ko baru mempelajari dasar2nya saja, meski dapat juga ia desak keluar beberapa tetes darah hitam, tidak urung ia sudah mandi keringat.

Kemudian dengan sikat yang tersedia itu ia celup air itu untuk semir sekitar genta, ia pikir kalau padri2 kelenteng ini kembali atau si buta she Kwa itu berani datang lagi dan bermaksud menyongkel genta ini, begitu tubuh mereka menyentuh genta-pasti mereka akan merasakan jahatnya racun ini.

Selesai ia atur tipu jebakannya, dengan langkah lebar Nyo Ko lantas pulang kepondoknya, Pada waktu melintasi pagar tembok untuk masuk kamar, dalam hati ia rada kuatir kalau2 kepergok Kwa Tin-ok. siapa tahu sesudah dia masuk kamar, Kwa Tin-ok sendiri, malah belum kembali, ini sama sekali di luar dugaannya.



Setelah rebah dipembaringannya, Nyo Ko hanya gulang-guling saja tak bisa tidur, keadaan ini berlangsung terus sampai hari sudah terang, baru kemudian ia dengar ada suara ketokan pintu kamar dengan pentung.

Dengan cepat Nyo Ko melompat bangun buat buka pintu, maka tertampaklah olehnya dengan mencekal sebatang pentung kayu muka Kwa Tin-ok pucat lesi, begitu orang buta ini melangkah masuk segera terbanting jatuh di lantai.

Demi nampak kedua tangan Tin-ok berwarna hitam, Nyo Ko tahu jebakan beracun yang dia pasang di genta itu telah kena sasarannya, maka diam2 ia merasa girang, tetapi ia pura2 kaget dan ber-teriak2: "He, Kwa-kongkong, kenapakah kau?"

Ketika mendengar suara teriakan Nyo Ko, Kwe Ceng dan Ui Yong lantas datang memeriksanya dan setelah tahu Kwa Tin-ok menggeletak di lantai, keruan mereka terkejut.

Waktu itu Kwe Ceng sudah bisa bebas bergerak, hanya tenaganya yang masih kurang, maka Ui Yong yang dukung Tin-ok ke tempat tidurnya.

"Toa-suhu, Toa-suhu, kenapakah kau?" demikian ber-ulang2 ia tanya.

Tetapi Tin-ok hanya menggeleng kepala saja, ia tidak menjawab juga tidak menerangkan.

Sesudah Ui Yong melihat bengkak hitam pada telapak orang tua itu, tahulah dia apa yang telah terjadi "Kurangajar, kembali perbuatan itu perempuan hina-dina she Li lagi Ceng-koko, biar aku pergi melabraknya," katanya dengan gemas, ia menyangka itu adalah perbuatan Li Bok-chiu.

Habis berkata, setelah bikin ringkas pakaiannya, segera Ui Yong melangkah keluar.

"Bukan perempuan itu!" tiba2 Tin-ok berseru.

Tentu saja Ui Yong heran, ia berhenti dan menoleh.

"Bukan dia? Lalu siapa lagi?" tanyanya tak mengerti.

Akan tetapi Kwa Tin-ok tidak menjelaskan lebih lanjut, ia merasa malu karena tak mampu melayani seorang yang boleh dikata sudah tak punya tenaga, bahkan dirinya sendiri kena dikibuli sehingga pulang menderita luka, sungguh boleh dikatakan terlalu tak becus. Karena itu, turuti wataknya yang keras kepala, maka ia bungkam saja.

Di lain pihak Kwe Ceng dan Ui Yong cukup kenal tabiat orang tua ini, kalau mau bilang, sejak tadi ia sendiri sudah menutur, kalau dia sudah tak mau cerita, makin ditanya hanya akan makin menambah kegusarannya.

Baiknya luka yang keracunan hanya kulit tangan saja dan tidak lihay, meski orangnya kelengar sesaat, tetapi kelak tidak menjadi halangan.

Sementara itu Ui Yong telah ambil keputusan di dalam hati, Kwe Ceng dan Kwa Tin-ok sudah terluka, sedang kekejian Li Bok-chiu susah diukur, terpaksa angkut kedua orang luka dan antar pulang dahulu kedua bocah ini ke Tho-hoa-to, kemudian ia sendiri akan mencari Li Bok-chiu lagi dan melabraknya.

Sesudah mengaso setengah hari, sorenya mereka lantas sewa sebuah perahu kecil buat berlayar ke muara laut, Dekat magrib, perahu membuang sauh dan tukang perahunya hendak menanak nasi,

Didalam perahu itu, karena Nyo Ko masih tetap tak gubris padanya, Kwe Hu menjadi dongkol dan melengos pula, ia bersandar di jendela perahu untuk memandang ke daratan, tiba2 ia lihat di bawah pohon Lui yang rindang sana ada dua anak kecil sedang menangis dengan sedih sekali, tampaknya kedua anak ini justru Bu Tun-si dan Bu Siu-bun berdua saudara.

Terhadap kedua bocah ini rupanya Kwe Hu lebih cocok, maka segera ia berseru menegur: "Hai, apa yang kalian lakukan di situ?"

"Kami sedang menangis, tidakkah kau melihat ?" sahut Bu Siu-bun setelah berpaling dan mengenali Kwe Hu.

"Sebab apakah? Kalian telah di hajar ibumu bukan ?" tanya Kwe Ha lagi.

"Tidak, ibu telah mati!" sahut Siu-bun dengan menangis guguk.

Jawaban ini membikin Ui Yong ikut terkejut dengan cepat ia melompat ke-gili2. Betul saja ia lihat kedua bocah itu menangis dengan sedih sambil meratapi mayat ibu mereka.

Waktu Ui Yong memeriksanya, ia lihat muka Bu-sam-nio hitam hangus, tampaknya sudah lama putus napasnya terang mukanya yang kena ditowel Li Bok-chiu tempo hari dengan Jik-lian-sin-ciang, meski bisa tahan beberapa hari, tetapi akhirnya mati karena bekerjanya racun.

Kemudian Ui Yong bertanya di mana beradanya Bu Sam-thong.

"Entahlah, tak tahu kemana ayah pergi." sahut Bu Tun-si dengan masih menangis.

"Melihat ibu rneninggal, pikiran ayah tiba2 ling-lung lagi," demikian Bu Siu-bun menambahkan, "Meski kami memanggil dia, namun sama sekali dia tidak menggubris kami."

Hahis menutur, kembali bocah ini menangis terguguk pula.

"Kalian tentu sudah lapar bukan ?" tanya Ui Yong.

Kedua saudara Bu ini mengangguk. Maka Ui Yong lantas perintahkan tukang perahu bawa kedua bocah ini ke dalam perahu dan diberi makan, ia sendiri lantas pergi ke kota yang terdekat buat membeli sebuah peti mati buat Bu-samnio. Karena hari sudah petang, besok paginya baru dicarikan sebidang tanah untuk menguburnya.

Meski masih bocah, tetapi kedua saudara she Bu itu menangis sesambatan sambil meng-gabruk2 peti mati ibunya, sungguh rasanya mereka ingin ikut mangkat sekalian.

Saking harunya Kwe Ceng, Ui Yong dan Kwa Tin-ok ikut mengucurkan air mata, Nyo Ko yang berperasaan halus dan gampang tergoncang, meski sedikitpun dia tiada hubungan dengan Bu-samnio, tetapi melihat orang2 lain pada mengalirkan air mata, tanpa tahan iapun ikut menangis meng-gerung2.

Hanya Kwe Hu seorang saja yang tidak ikut menangis, Kesatu karena anak ini memang masih belum kenal adat kehidupan, kedua dia memang mempunyai hati yang keras, maka ia hanya duduk disamping memain sendiri dengan sapu tangannya.

"Yong-ji," kata Kwe Ceng kemudian pada sang isteri sesudah puas menangis, "marilah kita bawa serta kedua anak ini ke Tho-hoa-to, cuma selanjutnya kau harus lebih banyak perhatian buat merawatnya."

Ui Yong angguk2 tanda setuju, lalu mereka menghibur kedua saudara Bu itu dan Nyo Ko agar berhenti menangis, mereka lantas lanjutkan perahunya sampai di laut, dari sini mereka ganti perahu yang besaran untuk berlayar ke arah Timur, menuju ke Tho-hoa-to atau pulau bunga Tho.

Kalau sekarang Kwe Ceng dan Ui Yong mau pelihara anak2 piatu ini adalah karena kemauan baik mereka, siapa tahu berkumpulnya keempat bocah ini di suatu tempat, kelak menimbulkan mala-petaka yang sukar diakhiri.

Begitulah rombongan mereka akhirnya sampai di Tho-hoa-to dengan selamat.

Waktu masih di atas perahu Kwe Ceng telah menyembuhkan sendiri dengan Lwekangnya yang tinggi, maka lukanya sebagian besar sudah sembuh, kini dirawat pula beberapa hari di atas pulau, maka keadaannya sudah pulih kembali seperti sediakala.

Ketika mereka suami isteri percakapkan diri Auwyang Hong yang sudah belasan tahun tak berjumpa, bukan saja tidak nampak loyo dan mundur ilmu silatnya, bahkan melebihi masa yang lalu, maka mereka menjadi heran dan ber-ulang2 menghela napas.

Berbicara tentang asal-usul diri Nyo Ko, segera Kwe Ceng keluar melihat bocah itu, ia lihat anak muda ini sedang bermain dengan puteri kesayangannya dan lagi mencari jangkerik di semak2 rumput, dia panggil anak muda itu dan diajak ke dalam kamar, ia tanya semua kejadian yang lalu padanya.

Kiranya selama itu Nyo Ko hidup berdampingan dengan ibunya, Cin Lam-khim dan tinggal di kaki bukit Tiang-nia di propinsi Kangsay, mereka hidup dari menangkap ular hingga lewat belasan tahun.

Selama itu pelahan2 Nyo Ko tumbuh besar juga, ibunya Cin Lam-khim, telah turunkan dasar2 Lwekang yang dahulu diperolehnya dari Kwe Ceng kepada puteranya ini.

Dasar Nyo Ko memang sangat pintar dan otaknya encer, serta banyak pula tipu akalnya, ketika berumur tujuh atau delapan tahun, kepandaiannya menangkap ular sudah melampaui sang ibu. Pernah ia dengar cerita ibunya bahwa di jagat ini ada orang yang bisa mengerahkan ular hingga berwujut barisan, dalam hatinya diam2 ia sangat kagum dan ketarik, maka diwaktu senggang ia suka tangkap beberapa ekor ular hijau untuk memain dan dipelihara, lama kelamaan, dia paham betul watak ular, bila ia bersuit sekali, kawanan ular lantas menurut perintah dan berbaris sendiri.

Perlu diterangkan bahwa Auwyang Hong yang berjuluk Se-tok diperoleh dari keahliannya memelihara segala macam binatang berbisa terutama ular2 yang berbisa jahat, ia tinggal di gunung Pek-to-san (gunung Ohta putih) di daerah barat, banyak dia pelihara lelaki tukang angon ular, tetapi cara angon ular kaum Pek-to-san ini adalah turun temurun, sedangkan Nyo Ko mendapatkan kepandaian ini dari bakatnya sendiri, meski cara-nya berlainan, tetapi dasarnya sebenarnya sama.

Belakangan karena kurang hati2 ibu Nyo Ko telah dipagut oleh semacam ular aneh, obat pemunah racun yang selalu dibawanya ternyata tak mempan mengobati pagutan itu hingga mengakibatkan kematiannya.

Habis itu Nyo Ko menjadi sebatang-kara, seorang diri ia ter-lunta di Kangouw, kawan satu2nya yang selalu berdampingan dengan dia boleh dikatakan melulu burung merah yang bercucuk panjang itu, siapa duga hari itu kebentur Li Bok-chiu hingga burung merah itu terbinasa ditangannya.

Hendaklah diketahui bahwa burung merah bercucuk panjang itu dahulunya adalah piaraan Ui lcong, kini demi mendengar burung itu terbinasa, berulang-ulang Kwe Ceng menyatakan sayang, rasa gemasnya pada Li Bok-chiu menjadi bertambah juga.

Kemudian ia tanya Nyo Ko pula di mana anak ini berada ketika Bu Sam-thong bergebrak dengan Auwyang Hong, ia tanya pula apa Nyo Ko kenal dengan Auwyang Hong, Namun Nyo Ko sama sekali tidak memperlihatkan sesuatu tanda, bahkan ia berbalik tanya siapakah Auwyang Hong? ini adalah akalnya Nyo Ko yang sengaja mendahului tanya supaya urusan ini bisa dia cuci bersih.

Tak terduga, Ui Yong adalah wanita terpandai dan cerdik dijagat ini dengan usia Nyo Ko yang masih muda dan meski air mukanya tidak unjuk sesuatu tanda, tetapi hendak mengelabui Ui Yong, itulah tidak gampang baginya.

"Baiklah, boleh kau pergi bermain dengan kedua saudara Bu," kata Ui Yong kemudian, ia tidak ingin tanya lebih lanjut.

Jika di antara Ui Yong dan Nyo Ko diam2 telah adu kecerdasan maka Kwe Ceng yang berpembawaan sederhana otaknya sama sekali tidak mengetahuinya, ia tunggu sesudah Nyo Ko keluar, barulah ia berkata pada sang isteri.

"Yong-ji", demikian katanya, "Sudah lama aku punya satu janji dalam hati, tentunya kau mengetahui, kini berkat kemurahan Thian bisa bertemu dengan anak Ko, maka janji hatiku dapatlah terlaksana."

Hendaklah diketahui bahwa mendiang ayah Kwe Ceng, Kwe Siau-thian, adalah saudara angkat Engkongnya Nyo Ko yang bernama Nyo Thi-sim. Di waktu isteri kedua keluarga ini sama2 duduk perut, mereka berdua telah saling janji bahwa bila kelak yang dilahirkan itu adalah laki2 semua, maka mereka harus menjadi saudara angkat lagi, begitu pula kalau sama2 perempuan. Tetapi kalau satu laki2 dan yang lain perempuan maka mereka harus menjadi suami-isteri.

Belakangan yang dilahirkan ternyata adalah laki2 semua, yakni Kwe Ceng dan Nyo Khong, ayah Nyo Ko, maka mereka mentaati sumpah itu dan bersaudara angkat. Tetapi karena Nyo Khong telah khianat dan mengaku musuh sebagai bapak hingga nasibnya berakhir dengan mengenaskan ia tewas secara menyedihkan di suatu kelenteng di kota Ka-hin.

Mengingat akan hubungan orang tua itulah, maka Kwe Ceng tidak pernah melupakannya. Kini ia berkata, segera pula Ui Yong tahu akan maksud suaminya.

"Tidak, aku tidak setuju," demikian ia menjawab dengan menggeleng kepala.

Keruan Kwe Ceng menjadi heran.

"Kenapa ?" tanyanya.

"Mana boleh anak Hu dapatkan jodoh bocah seperti dia ini," sahut Ui Yong.

"Meski kelakuan ayahnya tidak baik, tetapi mengingat keluarga Kwe kita dengan keluarga Nyo yang turun temurun berhubungan dengan baik, asal kita mengajar dia dengan baik, menurut pendapatku, jika melihat tampangnya yang cakap dan tindak-tanduknya yang cerdik, kelak bukan tidak mungkin akan di atas orang lain," ujar Kwe Ceng.

"Ya, justru aku kuatir dia terlalu pintar," kata Ui Yong lagi.

"He, aneh, bukankah kau sendiri sangat pintar, kenapa kau malah cela orang pintar ?" sahut Kwe Ceng.

"Tetapi aku justru lebih menyukai Engkoh tolol seperti kau ini," kata Ui Yong dengan tertawa.

"Tetapi kalau anak Hu sudah besar, belum tentu serupa dengan kau," ujar Kwe Ceng ikut tertawa, "kukira dia tidak menyukai seorang anak tolol. Lagi pula, orang tolol seperti aku ini, di jagat ini agaknya sukar dicari keduanya lagi."

"Waduh, tidak malu!" demikian Ui Yong meng-olok2.

Begitulah sesudah bersenda-gurau, lalu Kwe Ceng mengulangi lagi pada maksudnya tadi.

"Ayahku pernah meninggalkan pesan, begitu pula sebelum mangkat paman Nyo Thi-sun juga pernah pesan wanti2 padaku, maka sekarang kalau aku tidak pandang anak Ko seperti anak sendiri, mana bisa aku menghadapi ayah dan paman Nyo dialam baka."

Habis berkata Kwe Ceng menghela napas panjang yang penuh mengandung rasa haru dan menyesal "Baiknya kedua bocah masih kecil, urusan inipun tidak perlu buru2 diselesaikan," ujar Ui Yong kemudian dengan suara lunak, "Kelak apabila betul Ko-ji tidak jelek kelakuannya, bagaimana kau suka boleh diputuskan sendiri."

Mendengar jawaban ini, tiba2 Kwe Ceng berdiri dan membungkuk memberi hormat pada sang isteri, "Terima kasih Niocu (isteriku) telah setuju, sungguh tak terhingga rasa syukurku," demikian ia berkata.

"Aku tidak bilang setuju," tiba2 Ui Yong menjawab dengan sungguh2. "Tetapi aku bilang harus melihat dahulu bagaimana kelakuan anak itu kelak."

Saat itu Kwe Ceng membungkuk dan belum tegak kembali, ketika dengar jawaban isterinya ini, ia melongo. Tetapi menyusul segera ia bilang lagi: "Ayahnya berubah menjadi busuk karena sejak kecil ia dibesarkan dalam keraton negeri Kim, tetapi sekarang Ko-ji tinggal dipulau kita, tak mungkin ia berubah menjadi jelek, janganlah kau kuatir."

Maka tertawalah Ui Yong, segera ia alihkan pembicaraan ke urusan lain.

Kembali pada diri Nyo Ko yang tadi sedang mencari jangkerik bersama Kwe Hu.

Tatkala kedua bocah ini mulai berkenalan memang terjadi perselisihan paham, tetapi dasar watak kanak2, lewat beberapa hari saja perselisihan paham itu sudah terlupa semua maka sesudah Nyo Ko dipanggil Kwe Ceng, sekembalinya dia lantas mencari Kwe Hu lagi.


Tetapi pada waktu hampir sampai di-semak2 tadi, ia dengar suara tertawa ngikik yang ramai, kiranya kedua saudara Bu sedang berjongkok dan lagi bongkar batu dan singkap rumput untuk mencari jengkerik juga.

Setelah Nyo Ko mendekati, ia lihat tangan Bu Tun-si memegangi sebuah bumbung bambu, sedang Kwe Hu membawa sebuah belanga, Bu Siu-bun sendiri lagi membongkar dan membalik batu. Dalam pada itu, tiba2 seekor jangkerik besar meloncat keluar dari tempat sembunyinya, lekas2 Siu-bun menubruk dan menangkapnya, maka bersoraklah dia kegirangan.

"Berikan padaku! Berikan padaku!" demikian Kwe Hu ber-teriak2.

"Baiklah, buat kau," kata Siu-bun sambil membuka tutup belanga yang dipegang Kwe Hu dan memasukkannya ke dalam.

Ia lihat jangkerik yang baru ditangkap itu kepalanya bundar besar, kakinya panjang kuat, tubuhnya bulat dan gagah sekali.

"Ha, jangkerik ini pasti jagoan yang tiada tandingannya." demikian Bu Siu-bun berkata, "Nyo-koko, semua jangkerikmu pasti tidak bisa menangkan dia."

Tentu saja Nyo Ko tidak mau menyerah, segera ia pilih satu di antara jangkerik tangkapannya yang paling besar dan paling berangasan untuk diadu.

Akan tetapi baru sekali gebrag saja, jangkerik Nyo Ko telah kena digigit jangkrik besar tadi dibagian tengah pinggang terus dilempar keluar dari belanga, atas kemenangan ini jangkerik itu lantas berbunyi "krik-krik" dengan senang sekali.

"Hura, aku punya yang menang", demikian Kwe Hu kegirangan sambil bertepuk tangan.

"Jangan senang2 dulu, ini masih ada yang lain," kata Nyo Ko. Lalu ia ajukan jagonya yang lain lagi.

Diluar dugaan, meski be-runtun2 tiga kali ia tukar jangkeriknya, tiap2 kali selalu dikalahkan jangkerik orang, bahkan jagonya yang ketiga malahan kena digigit jangkerik musuh yang besar itu hingga terkutung menjadi dua.

Dengan sendirinya Nyo Ko merasa kehilangan muka. "Sudahlah, tidak mau lagi!" katanya terus bertindak pergi.

Pada saat itu juga, tiba2 diantara semak2 rumput di belakang sana terdengar ada suara "krok-krok" yang aneh.

"Ha, ada satu lagi," seru Bu Tun-si.

Habis ini ia lantas singkap rumput yang lebat itu, di luar dugaan mendadak ia mencelat mundur sambil berteriak kaget: "He ular, ada ular!"

Mendengar kata "ular", Nyo Ko yang sudah melangkah pergi seketika berhenti, bahkan ia putar kembali buat melihatnya, Betul saja ia lihat disitu ada seekor ular belang-bonteng yang jelas kelihatan jenis ular berbisa, sedang melelet lidah dan tegak kepala sambil menyembur, hanya badannya yang masih meringkuk diantara semak2 rumput itu.

Sejak kecil Nyo Ko sudah tergolong ahli tangkap ular, sudah tentu ia tidak pandang sebelah mata pada binatang ini, segera ia maju dan begitu ulur tangannya, seketika leher ular dia tangkap terus dibanting ke atas batu dengan kuat, tanpa ampun lagi ular itu terbanting mati.

Diluar dugaan, tempat dimana ular tadi meringkuk ternyata ada lagi seekor jangkrik hitam kecil, rupanya aneh dan jelek, tapi sedang geraki sayapnya dan mengeluarkan suara "krik-krik" yang nyaring.

"Nah, tangkaplah setan hitam kecil itu saja, Nyo-koko", dengan tertawa Kwe Hu mengejek Nyo Ko yang kalah beberapa kali tadi. Watak Nyo Ko justru paling tidak senang kalau dihina orang. "Baik, tangkap ya tangkap," sahutnya ketus.

Segera jangkerik hitam kecil itu ditangkapnya terus di lepaskan ke dalam belanga yang dipegang Kwe Hu.

Sungguh aneh bin ajaib, jangkrik yang besar tadi begitu melihat jangkrik hitam kecil ini seketika mengunjuk rasa jeri, bahkan terus mundur2 dan hendak lari.

Namun Kwe Hu dan kedua saudara Bu masih ber-teriak2 untuk membangkitkan semangat jagonya.

Sementara itu jangkrik hitam kecil itu telah melompat maju dengan tegang leher, sebaliknya jangkrik yang besar ternyata tak berani menyambut tantangan itu dan bermaksud melompat keluar dari tempurung, tak terduga gerak-gerik jangkrik hitam ternyata sebat dan aneh luar biasa, ia melompat maju dan gigit ekor jangkrik besar tadi, dengan kuat dia kunyah sekali, tahu2 jangkrik besar itu berkelejetan beberapa kali terus terbalik dan mati.

Kiranya diantara jangkrik itu terdapat semacam jangkrik yang suka tinggal bersama dengan binatang berbisa lain, kalau tinggal bersama kelabang disebut "jangkrik kelabang", kalau tinggal bersama ular disebut "jangkrik ular".

Oleh karenanya tubuh mereka terjalar hawa berbisa dari binatang yang tinggal bersama dia itu, maka jenis biasa tidak sanggup melawannya.



Jangkrik yang ditangkap Nyo ko tadi justru adalah seekor jangkrik ular.

Dilain pihak, sesudah Kwe Hu melihat jangkrik besarnya mati, ia menjadi kurang senang.

"Nyo-koko, kau punya setan hitam kecil ini berikan padaku saja," katanya kemudian sesudah berpikir.

"Berikan padamu sebenarnya tidak menjadi soal, tapi kenapa kau memaki dia sebagai setan hitam kecil ?" sahut Nyo Ko.

Kwe Hu menjadi jengkel oleh jawaban ini.

"Tak mau beri ya sudah, siapa kepingin ?" katanya dengan mulut menjengkit, Berbareng itu ia tuang belanganya dan banting jangkrik hitam kecil itu ke tanah, bahkan ia injak pula dengan kakinya hingga binatang kecil itu mecotot perutnya.

Nampak jangkriknya diinjak mati, Nyo Ko terkejut tercampur gusar, perasaan halus pemuda ini paling gampang tertusuk, seketika itu ia naik darah hingga mukanya merah padam, tanpa pikir lagi ia baliki telapak tangannya terus menampar pipi Kwe Hu.

Pukulan ini cukup keras hingga Kwe Hu merasa pipinya panas pedas, ia terlongong sesaat dan belum mengambil putusan apa harus menangis atau tidak, tiba2 ia dengar Bu Siu-bun sudah mendamperat.

"Kau berani pukul orang !" bentak anak itu, Berbareng ia lantas menjotos ke dada Nyo Ko.

Karena terlahir dalam keluarga jago silat, pula sejak kecil ia sudah peroleh ajaran dari ibunya sendiri, maka ilmu silat Siu-bun sudah mempunyai dasar yang kuat, jotosannya tadi dengan tepat kena sasarannya.

Dengan sendirinya Nyo Ko menjadi gusar, kontan ia balas meninju, Tetapi Siu-bun sempat berkelit hingga pukulannya luput

Nyo Ko masih penasaran, ia mengudak maju terus menubruk dan menghantam pula. Diluar dugaannya, se-konyong2 Bu Tun-si ulur kakinya men-jegal hingga Nyo Ko mencium tanah, ia jatuh ngusruk ke depan.

Kesempatan ini segera digunakan kedua saudara Bu itu dengan baik, dengan cepat Bu Siuhun menunggangi tubuh Nyo Ko, Bu Tun-si pun ikut maju dan menahan bokongnya dengan kencang, menyusul empat kepalan mereka terus menghujani tubuh Nyo Ko dengan gebukan2.

Sungguhpun usia Nyo Ko lebih tua dari kedua saudara Bu itu, tetapi karena satu lawan dua, pula Siu-hun dan Tun-si sudah pernah berlatih silat sebaliknya Nyo Ko hanya belajar sedikit dasar lwe-kang saja dari ibunya dan belum terlatih sempurna, dengan sendirinya ia bukan tandingan kedua lawan ciliknya. Namun demikian, ia tidak menyerah mentah2, ia kertak gigi menahan sakit pukulan orang, sedikitpun ia tidak merintih.

"Lekas minta ampun, kami lantas lepaskan kau," kata Bu Tun-si.

"Kentut !" sahut Nyo Ko dengan gusar.

Karena itu, susul-menyusul Bu Siu-hun menggebuk lagi dua kali di punggungnya.

Melihat kedua saudara Bu itu membela dirinya dan hajar Nyo Ko, Kwe Hu merasa senang sekali.

Siu-bun dan Tun-si juga cukup cerdik, mereka tahu kalau hantam orang di bagian kepala atau muka tentu akan meninggalkan bekas babak-belur, nanti kalau dilihat Kwe Ceng dan Ui Yong pasti akan didamperat, oleh karena itu kepalan dan kaki mereka selalu mengarah di atas badan Nyo Ko.

Dalam pada itu melihat makin hebat gebukan yang menghujani Nyo Ko itu, akhirnya Kwe Hu sendiri rada takut dan meresa ngeri, tetapi bila ia meraba pipi sendiri yang masih terasa sakit pedas, segera pula ia merasa belum puas hajaran itu.

"Hantam dia, hantam yang keras !" demikian dia ber-teriak2 pula.

Mendengar seruan Kwe Hu, benar juga Tun-si dan Siu-bun kerjakan kepalan mereka semakin cepat dan menjotos lebih ganas lagi.

Sudah tentu seruan Kwe Hu tadi didengar juga oleh Nyo Ko yang kena ditindih di atas tanah, "Kau si budak ini sungguh kejam, kelak aku Nyo Ko pasti membalas "sakit hati ini," demikian katanya dalam hati.

Tetapi segera ia merasakan pinggang, punggung dan bagian bokong tidak kepalang sakitnya, pelahan2 ia mulai tidak tahan.

Harus diketahui meski kecil, tapi kedua saudara Bu sudah berlatih silat sejak kecil, kalau mereka menjotos, meski orang tua sekalipun tak akan tahan, kalau bukan Nyo Ko yang sudah mempunyai dasar2 wekang tentu sejak tadi ia sudah semaput.

Dalam keadaan terpaksa Nyo Ko mengertak gigi menahan sakit sekuatnya, tiba2 pandangannya menjadi gelap, kedua tangannya meraba dan me-raup2 serakutan di atas tanah, mendadak pula sebelah tangannya menyentuh sesuatu benda yang licin dingin, seketika pikirannya tergerak, ia tahu itu adalah bangkai ular "berbisa tadi yang dia banting mati itu, tanpa ayal lagi segera ia cekal terus disabetkan ke belakang.

Nampak ular yang sudah mati dengan kulitnya yang belang-bonteng, kedua saudara Bu menjadi kaget dan menjerit ngeri.

Kesempatan mana segera digunakan Nyo Ko dengan baik, sekali membalik ia telah berdiri kembali, menyusul ia putar tinjunya terus manghantam, tepat sekali hidung Bu Tun-si kena dia genjot hingga keluar kecapnya, Habis ini, segera Nyo Ko angkat kaki dan lari ke belakang pulau sana.

Sudah tentu kedua saudara Bu menjadi gusar, segera mereka mengudak.

Kwe Hu memang suka dengan keonaran, iapun ingin tahu lanjutannya, maka ia menyusul dari belakang, bahkan tiada hentinya ia ber-teriak2 : "Tangkap, tangkap dia !"

Sesudah ber-lari2, ketika ketika Nyo Ko menoleh, ia lihat muka Tun-si penuh darah, baju bagian dada lebih2 nyata lagi dengan bekas2 darah yang mengucur itu hingga rupanya sangat beringas sekali kelihatannya.

Nyo Ko insaf bila sampai dirinya kena ditangkap kedua saudara Bu lagi, maka pukulan2 yang bakal ia terima pasti akan jauh lebih lihay daripada tadi, oleh karenanya ia berlari semakin cepat, ia lari menuju tebing gunung dan memanjat ke atas.

Sesungguhnya meski hidung Bu Tun-si kena di-jotos, tetapi tidak begitu sakit, cuma demi melihat darah mengucur, ia menjadi panik dan gusar pula, maka ia menguber semakin kencang.

Makin lama makin tinggi Nyo Ko panjat ke atas, tapi sedikitpun kedua saudara Bu belum mau berhenti mengejar. Sedang Kwe Hu sesudah sampai di tengah tebing gunung itu lantas berhenti, dari sini ia mengikuti orang udak2an dengan mendongak saja.

Dalanm pada itu Nyo Ko telah sampai di tempat buntu, di depannya adalah tebing curam dan tiada jalan lalu lagi buat lari terus, Pemuda ini mempunyai kecenderungan pikiran yang nekat, dalam keadaan kepepet ia pikir : "Hm, sekalipun aku harus mati terjun ke dalam jurang, tidak nanti aku rela ditangkap kedua bocah itu untuk dihina mentah2."

Karena pikiran itulah, maka ia lantas putar balik dan membentak: "Hayo berhenti, jika berani mengejar setapak lagi, segera aku terjun ke bawah !"

Gertakan ini bikin Bu Tun-si rada terkejut juga anak ini tertegun sejenak, berlainan dengan adiknya, Bu Siu-bun, bocah ini malah menantang akan!"

"Hm, kalau mau terjun lekas terjun saja, siapa kena kau gertak ?" demikian ia mengejek, berkata ia mendesak maju lagi beberapa tindak.

Melihat ini, seketika Nyo Ko naik darah dan timbul pikiran pemdek, mendadak ia berjongkok hendak terjun ke dalam jurang, syukur sebelum itu sekilas terlihat olehnya di samping terdapat sebuah batu besar dan letaknya miring.

Dalam keadaan gusar, Nyo Ko sudah tidak memikirkan akibat2nya lagi segera ia dorong batu besar itu yang memang kelihatan miring, betul juga ia merasakan batu besar ini ber-goyang2, segera ia melompat mundar ke belakang batu, sekuatnya ia dorong, maka terdengarlah suara gemuruh hebat memecah angkasa, batu besar itu menggelinding ke bawah bukit dengan cepat luar biasa, batu, kedua saudara Bu menyadari juga gelagat jelek.

Di lain pihak demi melihat Nyo Ko mendorong muka mereka menjadi pucat, segera akan menyingkir namun sudah kasip, dengan mata terbelalak mereka lihat pasir berhamburan dari atas kepala, seketika mereka tidak tahu apa yang harus diperbuat.

Dalam detik yang sangat berbahaya itu, mendadak mereka merasa punggung mereka se-akan2 ditarik, tahu2 tubuh mereka mumbul ke udara, menyusul mana terdengarlah suara kaokan burung rajawali tubuh mereka sudah dibawa terbang melintasi bukit.

Kiranya sepasang burung rajawali itu lagi terbang memain di atas udara, menggelindingnya batu besar tadi telah dilihat mereka, syukurlah dengan cepat kedua burung ini masih sempat menolong jiwa Tun-si dan Siu-bun.

Sementara batu besar tadi dengan menerbitkan suara gemuruh keras, tidak sedikit pepohonan telah diterjangnya hingga akhirnya menggelinding masuk kelaut.

Ui Yong mendengar juga suara kaokan rajawali yang menandakan rasa kuatir tadi disusul pula suara gemuruh yang aneh, maka lekas2 ia berlari keluar dari rumah, tertampak olehnya debu pasir berhamburan puterinya kelihatan bersembunyi di semak2 pinggir gunung, dalam takutnya sampai anak perempuan ini tak sanggup mengeluarkan suara tangisan.

Dalam pada itu kedua burung rajawali yang mencengkeram kedua saudara Bu dengan pelahan kemudian turun kehadapan Ui Yong sambil tegang leher dan pentang sayap, kedua burung ini seperti lagi unjuk jasa mereka dihadapan sang majikan.



Dengan aleman Kwe Hu menjatuhkan diri ke dalam pangkuan sang ibu, lalu menangis ter-sedu2, sesudah menangis sejenak, kemudian baru ia ceritakan cara bagaimana ia telah dipukul Nyo Ko. ia ceritakan juga bagaimana kedua saudara Bu telah membela dirinya dan Nyo Ko telah mendorong batu besar itu hendak menggilas mati kedua bocah itu.

Demikianlah ia tumplekkan semua kesalahan pada Nyo Ko, tetapi ia sendiri menginjak mati jangkerik orang dan cara bagaimana kedua saudara Bu memukul Nyo Ko, semua ini dia tutup dan tidak dituturkan

Sehabis mendengar, Ui Yong kelihatan termangu2, ia tidak bersuara.

Dalam pada itu Kwe Ceng sudah menyusul datang juga, waktu ia lihat muka dan baju Tun-si berlepotan darah, ia kaget ia tanya sebab-musababnya, dalam hati iapun merasa marah.

Tetapi ia kuatir pula terjadi sesuatu atas diri Nyo Ko, maka lekas2 ia lari ke atas bukit buat mencarinya.

Akan tetapi meski ia sudah mencari kian kemari, dari depan sampai belakang bukit ternyata sama sekali tidak nampak bayangan bocah itu.

"Ko-ji, Ko-ji!" ia berteriak, Namun tetap tidak ada suara sahutan.

Teriakannya ini dia lakukan dengan keras dan di atas bukit, dalam lingkaran seluas belasan li pasti dengar akan suaranya, tetapi aneh, tetap Nyo Ko tidak kelihatan.

Sesudah menunggu lagi dan tetap masih belum berhasil, Kwe Ceng menjadi makin kuatir, segera ia dayung sebuah perahu kecil mengelilingi pulau buat mencari, tetapi sampai petang masih belum juga diketemukan jejak Nyo Ko.

Kiranya sehabis dorong batu pegunungan yang besar itu dan menyaksikan pula kedua rajawali berhasil menolong kedua saudara Bu, dari jauh Nyo Ko melihat pula Ui Yong keluar dari rumah, ia tahu sekali ini dirinya pasti akan didamperat habis2an, oleh karena itu ia lantas sembunyi di sela2 batu cadas yang besar dan tak berani keluar, ia dengar juga suara panggilan Kwe Ceng, namun ia tak berani menyahut.

Begitulah dengan menahan lapar Nyo Ko sembunyi di antara sela2 batu cadas, ia tak berani sembarang bergerak, ia lihat cuaca mulai remang2 hingga akhirnya menjadi gelap.

Selang tak lama, kerlipan bintang2 di langit diiringi pula hembusan angin laut yang silir semilir, Nyo Ko merasakan badannya rada menggigil.

Ia keluar dari tempat sembunyinya dan memandang ke bawah, ia lihat rumah yang terbangun bagus dibawah sana sudah ada sinar lampu, ia membayangkan saat itu tentunya Kwe Ceng dan Ui Yong suami isteri, Kwe Hu dan kedua saudara Bu sedang mengitari meja dan bersantap, terbayang pula olehnya diatas nnya yang penuh dengan lauk-pauk, daging ayam, itik dan lain2 yang enak2, tanpa terasa ia menelan liur beberapa kali.

Akan tetapi segera terpikir pula olehnya pasti mereka sedang mencaci maki habis2an padanya, teringat akan ini, tanpa tertahan Nyo Ko meluap juga amarahnya.

Bocah berusia sekecil dia ini, dalam malam gelap yang diselingi tiupan angin laut berdiri di atas bukit karang, dalam hatinya yang dipikir adalah nasibnya jing selalu dihina orang saja, maka terasalah olehnya se-akan2 setiap manusia di bumi ini semuanya memandang rendah padanya, perasaannya seketika bergolak, ia merasakan getirnya seorang anak piatu dan sesalkan akan nasib sendiri.

Padahal apa yang Nyo Ko bayangkan ini sebenarnya salah sama sekali justru karena tidak ketemukan Nyo Ko, Kwe Ceng tak bisa bersantap dengan hati tenteram ?

Nampak suaminya merasa kesal, Ui Yong tahu percuma saja meski dia menghiburnya, maka iapun tidak jadi makan sendirian melainkan terus kawani sang suami duduk terdiam saja menghadap meja.

Begitulah suami-isteri itu tidak bisa tidur semalaman, Besok paginya, belum terang tanah kedua orang sudah lantas keluar buat mencari Nyo Ko lagi.

Dilain pihak sesudah Nyo Ko menderita lapar sehari semalam, besoknya pagi2 sekali bocah ini sudah tak tahan lagi, ia mengeluyur turun, ditepi sungai ia berhasil menangkap beberapa ekor Swike atau kodok hijau, ia beset kulitnya dan kumpulkan kayu kering, ia bermaksud akan makan kodok panggang, ia sudah biasa bergelandangan maka cara makan sedemikian ini sudah biasa dilakukannya.

Tetapi karena kuatir asap apinya dilihat Kwe Ceng, maka ia membakar kayu kering itu di dalam sebuah gua, selesai paha kodok yang dia panggang segera ia sirapkan api terus menggerogoti kodok itu dengan lahap, mungkin saking laparnya, ia merasakan lezat dan nikmat sekali Swike panggang itu.

Selagi ia mengunyah daging kodoknya dengan penuh cita rasa, tiba2 ia dengar ada suara kresekan di luar gua dan disusul dengan suara yang mendesis, ia kenali itu adalah suara merayap dan menyemburnya sebangsa ular.

Sambil masih menggerogoti paha kodoknya, segera Nyo Ko jalan ke mulut gua, betul saja di sana ia lihat ada seekor katak sedang menghadapi seekor ular kembang yang panjangnya hampir tiga kaki, kedua binatang ini sedang saling pandang tanpa bergerak, Selang tak lama, mendadak ular kembang itu melonjak terus terjang katak itu.

Namun katak itu sudah siap sedia, tiba2 terdengar suara "kok-kok" dua kali, katak ini mengap mulutnya dan menyemburkan uap yang tipis, berbareng ini tubuhnya berkelit sedikit untuk hindarkan tubrukan ular tadi.

Karena kena uap berbisa yang disemburkan katak tadi, ular kembang itu lantas berjumpalitan terus jatuh terjungkal ke tanah, habis ini segera ular itu melingkar dan tegak kepala menghadapi lawannya pula.

Nyo Ko jadi ketarik oleh pertarungan katak lawan ular ini, ia pikir tubuh katak kasar dan berat, pula tidak punya gigi, akan tetapi ternyata berani bertarung melawan seekor ular yang tidak terbilang kecil itu, sungguh harus dibuat heran.

Ia lihat kedua binatang itu masih saling gebrak dengan ramainya, tiap2 kali ular kembang itu menyerang dan menubruk, pasti si katak ada jalan buat batas menyerang, Kalau yang menyerang aneka macam gaya perubahannya, maka yang bertahan pun banyak sekali tipu akalnya untuk menjaga diri. Meski gigi ular kembang itu sangat tajam, namun tetap tak dapat mengalahkan si katak.

Tak lama lagi, karena ber-ulang2 kena disembur uap berbisa si katak, gerak-gerik ular kembang itu mulai lamban dan kaku, makin lama malah makin terdesak di bawah angin, sampai akhirnya rupanya insaf bukan tandingan lawannya lagi, mendadak ular itu putar tubuh terus menyelinap masuk ke dalam semak.

Katak itu ternyata tidak membiarkan musuhnya lari begitu saja, sambil mengeluarkan suara "kok-kok-kok", segera ia menguber.

Melihat gerak-gerik katak itu dan mendengar suaranya, hati Nyo Ko tergerak, ia merasa gerak-gerik katak ini meski sangat aneh, tetapi tanpa terasa dirinya seperti lebih suka padanya, apa sebabnya, inilah ia sendiri tidak mengerti.

Waktu duduk di dalam gua, iapun mendengar suara panggilan Kwe Ceng, "Hm, kau panggil aku keluar untuk kemudian menghajarku, kalau aku mau keluar kan tolol!" demikian ia membatin.

Begitulah malamnya ia tidur dalam gua itu sambil terduduk, dalam keadaan layap2 tiba2 ia lihat Auwyang Hong masuk ke dalam gua dan berkata padanya: "Marilah anakku, biar aku ajar kau berlatih ilmu!"

Nyo Ko menjadi girang, ia ikut keluar gua, di sana ia lihat Auwyang Hong lantas berjongkok sambil bersuara "kok-kok" beberapa kali, lalu kedua telapak tangannya mendorong ke depan.

Entah mengapa, Nyo Ko merasakan seluruh tubuhnya luar biasa gesitnya, ia tiru cara2 orang dan berlatih, terasa olehnya tiap pukulan dan tendangannya tiada satupun yang keIiru.

Hingga suatu saat tiba2 Auwyang Hong memukulnya, karena tak keburu berkelit "plak", ubun2 kepalang kena diketok hingga terasa sakit tidak kepalang, saking tak tahannya sampai ia menjerit dan melonjak.

Akan tetapi kembali terdengar suara "plok", lagi kepalanya kena diketok, dalam kagetnya Nyo Ko menjadi sadar dan... busyet, hanya mimpi belaka.

Waktu ia raba2 kepalanya, ternyata sudah benjol benjut karena benturan pada dinding gua tadi. ia menghela napas panjang dan keluar gua, ia lihat keadaan sunyi senyap, cakrawala yang membentang lebat di atas itu se-akan2 berlapiskan layar hitam, hanya beberapa bintik bintang yang berkelap-kelip sekedar penghias alam.

Nyo Ko coba merenungkan apa yang diajarkan Auwyang Hong dalam mimpi tadi, namun sedikitpun dia tidak ingat lagi, tatkala ia coba berjongkok sambil mulutnya menirukan suara "kok-kok" beberapa kali, ia bermaksud menggunakan Ha-mo-kang yang diperolehnya dari Auwyang Hong didekat kota Ling-oh-tin tempo hari untuk dipraktekkan sekarang, tapi bagaimanapun ia meng-ingat2nya tetap tidak dapat disalurkan melalui tangan atau kakinya.

Seorang diri ia berdiri dipuncak bukit sambil memandangi lautan yang begitu luas, terasa kekosongan hatinya semakin menjadi hampa.

Tiba2 dari arah lautan sana sayup2 terdengar suara teriakan orang yang keras panjang sedang memanggil-manggilnya: "Ko-ji, Ko-ji!"

Mendengar suara panggilan yang penuh daya tarik ini, tanpa kuasa lagi Nyo Ko ber-lari2 turun ke bawah gunung, "Aku berada disini, aku berada disini." demikian ia berseru menjawab.

Walaupun suara anak ini tidak begitu keras, tetapi Kwe Ceng sudah dapat mendengarnya, maka lekas2 perahunya didayung menuju ke tempat Nyo Ko berada, sesudah berjarak beberapa tombak dari pesisir, dengan sekali lompat segera Kwe Ceng meninggalkan perahunya, maka tertampaklah di bawah cahaya bintang yang remang2 dua sosok bayangan orang pe-lahan2 makin mendekat, dengan kencang kemudian Kwe Ceng telah berangkul Nyo Ko ke dalam pangkuannya.

"Marilah lekas pulang bersantap," demikianlah kata2 yang tercetus dari mulut Kwe Ceng, Saking terharunya sampai suaranya rada serak dan gemetar.

Begitulah, setelah kedua orang berada kembali dalam rumah, segera Ui Yong siapkan nasi hangat dan lauk-pauk untuk Nyo Ko, terhadap kejadian yang telah lalu, sepatah-katapun tidak di-ungkat2nya.



Besok paginya, keempat anak: Nyo Ko, Kwe Hu dan kedua saudara Bu, Tun-si dan Siu-bun, oleh Kwe Ceng telah dikumpulkan diruangan besar, lalu Kwa Tin-ok diundang hadir pula, kemudian keempat anak itu disuruh menjura di hadapan abu pemujaan Kanglam-lak-koay (enam orang kosen dari Kanglam) yang sudah dialam baka itu.

"Toa-suhu," demikian Kwe Ceng berkata kepada Kwa Tin-ok, "hari ini Tecu (anak murid) mohon idzin Suhu agar diperbolehkan menerima empat cucu muridmu ini."

"Bagus, bagus sekali," sahut Kwa Tin-ok bergirang. "Nah, terimalah ucapan selamatku ini!"

Nyo Ko bersama Tun-si dan Siu-bun lantas menjura pada Kwa Tin-ok. habis ini baru memberi hormat pada Kwe Ceng dan Ui Yong sebagai upacara pengangkatan guru.

"Apa akupun harus menjura, ibu?" dengan tertawa Kwe Hu bertanya.

"Sudah tentu," sahut Ui Yong.

Karena itu, dengan tertawa haha-hihi anak nakal inipun menyembah pada ketiga orang tua itu.

Mulai hari ini kalian berempat adalah saudara seperguruan demikian Kwe Ceng memberi petuah dengan sungguh2 dan keren, oIeh karena itu juga seterusnya kalian harus hormat-menghormati daa cinta-mencintai, ada kesulitan sama2 dipikul. Kalau kalian berempat berani berkelahi lagi, pasti tidak akan kuampuni."

Habis berkata ia pandang pula sekejap pada Nyo Ko.

"Tentu saja kau mengeloni anakmu sendiri," demikian Nyo Ko membatin dalam hati, "Biarlah selanjutnya aku tidak akan sentuh dia lagi."

MenyusuI sebagai kakek gurunya, Kwa Tin-ok ikut menjelaskan juga peraturan perguruan yang sudah umum, yakni tak boleh menganiaya orang yang lebih lemah, tak boleh membantu yang jahat sehingga semakin jahat, tak boleh mencelakai orang yang tak berdosa dan lain sebagainya.

"llmu silat yang kupelajari terlalu banyak macamnya," demikian Kwe Ceng berkata lagi, "kecuali dasar yang kudapat dari Kanglam-chit-koay (tujuh orang aneh dari Kanglam, Lak-koay tersebut di atas sudah wafat, ditambah Kwa Tin-ok), ilmu Lwekang dari Coan-cin-pay dan ilmu silat ketiga aliran persilatan terbesar dari Tang-Lam-Pak (Timur-Selatan-Utara, maksudnya, dari Tang-sia, Lam-te dan Pak-kay), tentang ini akan diceritakan tersendiri, kesemua meski hanya sedikit, tetapi kacang jangan lupa akan kulitnya, sebagai orang jangan lupa akan asalnya, biarlah hari ini aku ajarkan kalian kepandaian asal dari Kwa-suco (kakek guru she Kwa, maksudnya Kwa Tin-ok)."

Dan selagi ia hendak uraikan titik2 pokok ajarannya, tiba2 Ui Yong melihat Nyo Ko sedang menunduk dengan terkesima, pada wajah anak ini ada semacam tanda aneh yang sukar diucapkan, tanpa terasa ia jadi ingat pada berbagai kejadian yang mencurigakan tempo hari itu.

"Meski ayahnya bukan aku sendiri yang membunuhnya, tapi boleh dikatakan juga mati di tangan-ku, jangan2 piara macan mendatangkan bencana hingga menjadi bibit malabetaka yang besar," demikian pikir Ui Yong.

Setelah putar otak sejenak, segera ia mendapatkan suatu jalan.

"Seorang diri kau terlalu berat mengajar empat anak, biarlah aku yang mengajar Ko-ji," katanya kemudian.

"Bagus, bagus sekali usulmu !" seru Kwa Tin-ok dengan ketawa sebelum Kwe Ceng menjawab, "Dan kalian suami isteri boleh berlomba, lihat saja murid siapa kelak yang terpandai."

Mendengar usul isterinya ini, dalam hati Kwe Ceng bergirang juga, ia tahu kepintaran Ui Yong beratus kali di atas dirinya, cara mengajarnya pasti jauh lebih baik daripadanya, maka ber-ulang-2 ia pun menyatakan bagus dan akur.

"Tetapi kita harus menetapkan satu syarat," demikian Ui Yong kemukakan pendapatnya lagi, "Sekali-kali tak boleh kau mengajarkan Ko-ji, sebaliknya akupun tidak boleh mengajar mereka bertiga. Pula diantara keempat anak inipun tak boleh saling belajar, sebab kalau ilmu yang dilatihnya bercampur aduk, hanya ada jeleknya dan tiada paedahnya."

"Ya, sudah tentu." sahut Kwe Ceng setuju lagi.

"Nah, Ko-ji, ikutlah padaku," kata Ui Yong.

Memang-nya Nyo Ko sedang benci pada Kwe Hu serta kedua saudara Bu itu, kini mendengar keinginan Ui Yong bahwa dirinya tidak akan berlatih setempat dengan mereka, ini justru cocok dengan pikirannya, maka ia lantas ikut Ui Yong masuk ke ruangan dalam.

Di luar dugaannya, bukannya Ui Yong membawanya ke lapangan berlatih silat melainkan ia dibawa ke kamar baea, disini Ui Yong- mengambil sebuah kitab dari rak buku dan berkata padanya:

"Gurumu mempunyai tujuh orang Suhu yang dijuluki Kanglam-chit-koay, Toasuhu ialah Kwa-kong-kong itu, Jisuhu (guru kedua) bernama Cu Jong dan berjuluk Biau-jiu-su-seng si sastrawan bertangan sakti), maka kini lebih dulu aku ingin ajarkan kepandaian Cu-suco saja."

Sembari berkata ia lantas buka kitab yang dia ambil dari rak tadi, dengan suara lantang segera ia membacanya.

Dalam hati Nya Ko menjadi heran, namun ia tak berani banyak bertanya, terpaksa ia ikut membaca dan belajar menulis,

Begitulah be-runtun2 beberapa hari ia hanya di-ajar membaca oleh Ui Yong dan selamanya tidak pernah menyinggung tentang ilmu silat.

Suatu hari, sehabis berseko!ah, seorang diri Nyo Ko ber-jalan2 iseng ke atas gunung, tiba2 ia teringat pada nyali angkatnya yaitu Auyang Hong yang tidak diketahuinya berada dimana kini, Teringat pada sang ayah angkat tak tahan lagi ia lantas berjumpalitan dan menjungkir tubuh, ia menirukan cara yang pernah dipelajarinya itu, tubuhnya yang menjungkir itu segera berputar cepat

Setelah ber-putar2 dengan menjungkir, kemudian ia ikuti petunjuk yang pernah diterimanya dari Auw-yang Hong untuk menjalankan jalan darah secara terbalik, terasa olehnya semakin berputar semakin lancar. Kemudian waktu ia melompat bangun, mendadak ia berseru "kok" sekali berbareng kedua telapak tangannya dipukulkan ke depan, habis ini ia merasa seluruh badan menjadi segar dan enak sekali, segera pula mengeluarkan keringat hingga membasahi sekujur badan. Nyata ia tidak tahu bahwa dengan latihannya ini tenaga dalamnya sudah maju jauh sekali.

Hendaklah diketahui bahwa ilmu yang diciptakan Auwyan Hong yang khas itu meski bukan tergolong ilmu yang baik, tetapi justru merupakan semacam ilmu kepandaian yang luar biasa lihaynya, pula pembawaan Nyo Ko memang berotak encer dan mudah menerima, apa yang dia pelajari dalam tempo yang singkat meski cuma sedikit, namun tanpa terasa dan diluar tahu ia sudah menuju ke aliran ilmu silat Pak to-san (gunung Onta putih).

Sejak itulah, maka tiap2 hari Nyo Ko lantas belajar sekolah dengan Ui Yong, kalau pagi atau petang-nya ada kesempatan segera ia pergi ke tempat sunyi di kaki bukit untuk melatih diri, sebenarnya bukan maksudnya ingin melatih diri agar bisa menjadikan seorang kosen yang disegani, tetapi entah mengapa, tiap2 kali sehabis ia berlatih, selalu dirasakannya luar biasa enak dan segar badannya.

Demikianlah secara diam2 Nyo Ko melatih ilmu sendiri, Kwe Ceng dan Ui Yong sedikitpun ternyata tidak tahu.

Maka tiada sebulan, kitab 'Lun-gi' (salah satu kitab ajaran Nabi Khongcu) yang Ui Yong jadikan mata pelajaran untuk Nyo Ko sudah selesai semua, Begitu apal isi kitab tsb, sampai Nyo Ko sanggup membaca-di luar kepala, cuma isi dan arti kitab yang diajarkan itu, sama sekali ia anti, tidak setuju, maka seringkali ia sengaja kemukakan bantahan2.

Padahal Ui Yong sendiripun seribu kali tidak sepaham dengan segala isi kitab yang diajarkan Khong-hucu itu, ia sendiri sesungguhnya juga jemu, hanya lapat2 perasaannya se-akan2 punya firasat: "Kalau anak ini diberi pelajaran ilmu silat, kelak pasti akan menjadi bibit bencana saja, lebih baik kalau ajarkan dia ilmu sastra, biar dia kenyang dengan teori2 isi kitab saja, buat dia dan buat orang lain mungkin malah ada baiknya."

Dengan ketetapan itulah, dengan maksud baik ia mengajar Nyo Ko bersekolah, Maka sehabis kitab "Lun-gi" lantas disusul dengan kitab "Beng-cu".

Karenanya, beberapa bulan sudah lewat, selama itu tidak pernah Ui Yong berbicara sepatah-katapun tentang ilmu silat.

Nyo Ko cukup tahu diri juga, melihat orang tidak omong, iapun tidak mau tanya, hanya hidup di pulau ini dirasakan semakin hampa, ia tahu pula meski Kwe Ceng menerima dirinya sebagai murid, tetapi ilmu silat pasti tidak akan diajarkan padanya, Sedang kini saja ia bukan tandingan Bu Tun-si dan Bu Siu-bun, apalagi setahun atau dua tahun lagi jika mereka mendapat pelajaran silat dari Kwe Ceng, bila mereka berkelahi lagi pasti ia akan mampus ditangan mereka. Karena pikiran inilah, ia ambil keputusan, apabila ada kesempatan segera ia akan berdaya-upaya buat meninggalkan pulau,

Pada satu sore hari, sehabis Nyo Ko belajar membaca pada Ui Yong, seorang diri ia ber-jalan2 iseng di tepi laut, dengan memandangi ombak laut yang men-dampar2 berdeburan, dalam hati ia pikir entah kapan baru bisa melepaskan diri dari kurungan ini, bila terlihat olehnya burung laut yang terbang kian kemari, ia menjadi terharu dan kagum akan kebebasan burung2 yang tak terbatas itu.

Tengah ia ter-menung2, tiba2 ia dengar di balik hutan pohon Tho sana ada suara berkesiurnya angin, ia jadi tertarik, diam2 ia memutar ke sebelah sana dan mengintip, maka tertampaklah olehnya, Kwe Ceng sedang memberi pelajaran silat pada kedua saudara Bu disuatu tanah lapang.

Ia lihat Kwe Ceng sedang memberi petunjuk3 sambil kaki-tangannya memberi contoh dan menyuruh ketiga saudara Bu itu menirukannya.

Bagi Nyo Ko yang cerdas, hanya sekali lihat saja ia sudah tahu di mana letak intisari jurus tipu ini, tapi bagi Bu Tun-si dan Bu Siu-bun, walau sudah belajar pergi datang, masih belum juga mereka pahami.



Kwe Ceng sendiri memangnya juga berotak puntuI, pada waktu kecilnya ia sendiri sudah merasakan pahit-getirnya belajar, maka kini sedikitpun ia tidak merasa jemu dan masih terus memberi dengan petunjuk dengan penuh sabar.

"Hm, jika Kwe-pepek mau ajarkan padaku, tidak nanti aku begitu goblok seperti mereka," kata Nyo Ko di dalam hati sambil menghela napas diam2. Oleh karena kesal hati, dia lantas kembali ke kamarnya untuk tidur.

Petangnya sehabis bersantap dan setelah mengulangi pelajaran kitabnya terasa olehnya luar biasa isengnya, maka ia pergi ke tepi laut lagi, di sana ia menirukan gerak-gerik ilmu silat yang dimainkan Kwe Ceng siang tadi. Namun tipu silat yang cuma dua tiga gerakan ini, sesudah dimainkan pergi datang, akhirnya ia merasa bosen juga.

Tiba2 hatinya tergerak, "Mulai besok, diam2 akan mengintip dan mencuri belajar ilmu silatnya, siapa yang melarang aku?" demikian ia pikir.

Oleh karenanya rasa mendongkolnya yang tertahan sekian lamanya segera menjadi lapang, dengan berpeluk dengkul ia duduk bersandar batu karang tepi laut, akhirnya iapun tertidur.

Entah sudah berapa lama ia tenggelam dalam alam impiannya ketika tiba2 ia dikagetkan bunyi suara rantai besi yang gemerincing hingga ia terjaga dari tidurnya, waktu ia mengintai dari belakang batu karang itu, kiranya di tepi laut sana telah bertambah dengan sebuah perahu layar, suara gemerincing rantai tadi kiranya disebabkan perahu layar itu membuang sauh buat berlabuh.

Tak antara lama, dari perahu itu muncul dua orang terus melompat ke daratan, gerak tubuh mereka ternyata cepat dan sebat luar biasa.

Setelah berada di daratan, mula2 kedua orang itu mendekam dan melongak-longok dahulu ke sekeliling habis ini pe-lahan2 mereka merayap maju ke tengah pulau.

Melihat kelakuan kedua orang ini terang tidak mengandung maksud baik, Nyo Ko berpikir: "Jalanan di pulau ini belak-belok dan lika-liku, kalian ini hanya antar kematian belaka."

Oleh karena itu, ia mengkeret tubuhnya supaya tidak dilihat kedua orang itu, ia tidak berani bergerak, dalam pada itu kedua orang tadi sudah merayap semakin jauh.

Ketika pandangannya mengikuti bayangan kedua orang itu, mendadak ia lihat sesuatu di tempat jauh, tanpa tertahan ia terkejut.

Kiranya dibawah satu pohon Liu ada sesosok bayangan orang yang kecil berbaju putih dengan berjungkir sedang memutar dengan cepat dengan cara sebagaimana biasanya kalau dirinya berlatih ilmu ajaran Auwyang Hong itu, melihat bentuk tubuh orang berjungkiran itu jelas bukan lain lagi dari pada Kwe Hu adanya.

Tentu saja Nyo Ko ter-heran2 melihat kelakuan dara cilik itu, "Apa Kwe-pepek juga ajarkan ilmu kepandaian semacam ini ?" demikian ia ber-tanya2 dalam hati. Tetapi segera pula ia mengerti : "Aha, tentu pada waktu aku sedang berlatih telah dapat dilihat dia dan sekarang dia menirukan caraku itu untuk main-main."

Dalam pada itu, kedua sosok bayangan tadi sudah makin dekat dengan Kwe Hu, Mungkin saking asyiknya berputar kayun dengan tubuhnya itu, sama sekali Kwe Hu tidak berasa kalau ada orang lain mendekatinya, sesaat kemudian, mendadak kedua orang itu melompat maju, tubuh anak perempuan ini terus dirangkul, seorang lagi dekap mulut yang mungil itu dengan tangannya, sedang yang satu lagi, keluarkan seutas tali terus meringkus seluruh badan Kwe Hu, bahkan mulutnya disumbat dengan sepotong saputangan.

Perbuatan kedua orang itu ternyata cepat dan berhasil dengan baik, hanya sekejap saja mereka sudah meletakkan Kwe Hu yang tak bisa berkutiik itu ke dalam semak2, habis ini mereka melanjutkan merayap ke depan.

Menyakksikan kejadian aneh ini, mulut Nyo Ko sampai ternganga, hatinya pun berdebar-debar dan kuatir pula, ia tidak tahu apa maunya kedua pendatang itu.

Mata Nyo Ko cukup tajam, meski dalam keadaan gelap ia masih bisa melihat jelas gerak-gerik kedua orang tadi, ia lihat sesudah merangikak-rangkak maju lagi, setelah hampir sampai di jalan masuk ke perkampungan, rupanya mereka mengerti juga lihaynya Tho-hoa-to yang sudah diatur oleh Ui Yok-sau, maka mereka tak berani maju lagi, mereka lantas keluarkan sehelai kertas putih, seorang lantas meng-gambar2 di atas kertas itu dengan menggunakan alat tulis, melihat kelakuan mereka, rupanya mereka sedang mencuri melukis peta keadaan pulau ini untuk digunakan kemudian kalau melakukan penyerbuan ke sini.

"Jika sekarang juga aku bertariak, sebelum Kwe- pepek sempat keluar tentu aku sudah dibunuh mereka lebih dulu," demikian diam2 Nyo Ko membikin perhitungan dalam hati. .

Mendadak pikirannya tergerak, tiba2 ia ambil suatu keputusan yang luar biasa beraninya, "Ya, biar diam2 aku masuk ke dalam perahu mereka, jika beruntung tidak konangan mereka, tentu aku akan berhasil melarikan diri dari pulau ini," demikian ia berpikir.

Sesudah ambil keputusan ini, iapun tidak pusing apa perbuatannya ini berbahaya tidak, segera ia me-rayap2 mendekati perahu yang berlabuh itu.

Setelah dekat, selagi ia hendak merayap ke atas perahu, tiba2 terdengar suara "krak" dari dalam perahu, menyusul ini papan geladak perahu itu terbuka, dari dalamnya menongol satu orang untuk kemudian melompat ke pesisir.

Tidak kepalang kaget Nyo Ko oleh munculnya orang yang se-konyong2 ini, lekas2 ia mendekam ke bawah lagi.

Sementara kedua orang yang duluan tadi rupanya telah mendengar juga, yang seorang memondong Kwe Hu, satunya lagi lantas kembali ke perahu hendak memeriksa apa yang terjadi.

Akan tetapi orang yang muncul belakangan ini telah sembunyi di belakang gundukan pasir tepi laut, ia tidak memapaki kedua orang yang duluan, nyata mereka bukan kawan sendiri.

Waktu itu Nyo Ko berada di belakang orang yang muncul belakangan itu, maka ia bisa menyakitkan semua dengan terang, makin lihat ia semakin heran, ia lihat yang pondong Kwe Hu itu telah kembali ke dalam perahu, sedang kawannya menengok sekelilingnya dan mendekati gundukan pasir tadi, namun orang yang sembunyi itu masih belum ber-gerak, ia menunggu ketika orang sudah dekat, se-konyong2 ia melompat keluar, diantara berkelebatnya sinar putih, sekali serang saja ia telah tancapkan belatinya di atas dada orang.

Tidak ampun lagi tanpa bersuara sedikitpun, orang yang diserang itu roboh terguling.

Mendengar suara gedebukan karena jatuhnya tubuh itu, orang yang berada di atas perahu tadi rupanya menjadi curiga. "Lo-toa, ada apa ?" ia coba tanya sang kawan.

Lekas2 penyerang tadi mencabut belatinya, ia sembunyi pula ke belakang gundukan pasir dan menjawab dengan suara yang ditahan dan di-bikin2:

""Aneh, aneh !"

Mendengar suara yang samar2, tetapi lama juga tidak melihat kawannya kembali orang di dalam perahu menjadi khawatir, dengan langkah lebar segera ia menuju gundukan pasir tadi.

Melihat orang tinggalkan perahunya, Nyo Ko pikir jangan sia2kan kesempatan baik ini, maka dengan cepat ia merayap ke tepi perahu, ia niat mengangkat sauh untuk kemudian menjalankan perahunya.Pada saat itu juga terdengar olehnya suara jeritan ngeri, nyata belati si pembunuh tadi telah ambil korban lagi.

Sementara itu Nyo Ko lagi angkat rantai jangkar tapi sebelum jangkar kena ditarik, rantai besi itu sudah mengeluarkan suara gemerincing lebih dulu. Karenanya ia tahu gelagat jelek, segera ia hendak melarikan diri, namun sudah terlambat, ia lihat si pembunuh tadi dengan mulut menggigit belati yang masih-teteskan darah telah melompat ke atas perahu.

Di bawah sinar bulan Nyo Ko dapat melihat pakaian orang yang compang-camping, mukanya penuh noda darah, rupanya beringas menakutkan.

Keruan Nyo Ko menjadi kelabakan bingung, Dalam keadaan demikian otomatis ia berjongkok, mulutnya bersuara "kak-kok" dua kali, kedua telapak tangannya mendadak didorong kedepan pula.

Tatkala itu kaki orang tadi belum sempat menancap di atas perahu, karena serangan Ha-mo-kang ini dalam keadaan masih terapung di udara orang itu mendadak jatuh terjengkang kebelakamg dan terbanting masuk laut habis ini sedikitpun tidak berkutik lagi.

Karena serangan ini, Nyo Ko berbalik terkesima malah, ia terpaku di tempatnya dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya lebih lanjut.

"He, Ha-mo-kang ini kau dapat belajar dari mana ? Dan Auwyang Hong mana dia ?" tiba2 terdengar suara teriakan Ui Yong dari jauh.

Ketika Nyo Ko angkat kepalanya, terlihat bagaikan terbang cepatnya Kwe Ceng dan Ui Yong sedang mendatangi. Agaknya karena mendengar suara2 yang mencurigakan dan kehilangan Kwe Hu, maka mereka lekas2 datang mencarinya.

Dalam pada itu saking ketakutan tadi, semangat Nyo Ko masih belum pulih, lebih2 ia tidak mengerti Ha-mo-kang yang biasa dilatihnya untuk main2 belaka ternyata bisa begini lihay, oleh karena itulah ia masih ter-mangu2 dan tidak menjawab seruan Ui Yong tadi.

Waktu kemudian Kwe Ceng menarik dan memeriksa orang yang kecemplung ke laut itu, tiba2 ia berseru kaget: "Yong-ji, ini kawan dari Kay-pang" (kaum pengemis)."

Pada dada orang itu terdapat noda darah, napasnya sudah lama putus.

Ui Yong menjadi gusar bercampur kaget, nampak keadaan luka orang itu, dengan sekali cengkeram ia pegang lengan Nyo Ko dan menanya dengan suara bengis : "Hayo, katakan !"

Cengkeraman Ui Yong ini dirasakan sakit sekali pada lengan Nyo Ko, tetapi ia mengertak gigi dengan kencang, ia menahan sakit dan tetap tutup mulut tanpa menjawab.



Ketika Kwe Ceng menoleh, tertampak olehnya di belakang gundukan pasir sana menggeletak dua orang puIa, lekas ia melompat ke sana buat memeriksanya, ia dapatkan pula peta yang digambar kedua orang itu, "He, Yong-ji, lekas sini!" serunya pada sang isteri.

Segera Ui Yong melepaskan Nyo Ko dan mendekati Kwe Ceng, di belakang gundukan pasir itu mereka berembuk dengan suara pelahan sampai lama.

Dalam pada itu kejadian ini telah diketahui Kwa Tin-ok juga, orang inipun menyusul tiba, maka mereka lantas berunding bertiga orang.

Sesudah bicara agak lama, kemudian Kwe Ceng melepaskan puterinya dahulu dari ringkusan musuh tadi, habis ini ia berkata pada Nyo Ko: "Ko-ji, kau kurang cocok tinggal di pulau ini, biar aku antar kau ke Tiong-yang-kiong di Cong-lam-sam, di sana kau bisa belajar silat di bawah petunjuk Tiang-jim-cu Khu-cinjin dari Coan-cin-kau."

Keputusan yang diambil Kwe Ceng secara tiba2 ini, seketika Nyo Ko menjadi bingung se-akan2 kehilangan sesuatu, maka ia hanya mengangguk pelahan saja.

Maka besok paginya, setelah membekal perlengkapan seperlunya berangkatlah Kwe Ceng bersama Nyo Ko sesudah mohon diri pada Ui Yong serta Kwe Hu dan kedua saudara Bu, mereka berlayar menuju pantai timur daerah Tjiatkang.

Sesudah mendarat, Kwe Ceng beli dua ekor kuda dan melanjutkan perjalanan ke utara bersama Nyo Ko.

Selamanya belum pernah Nyo Ko menunggang kuda, tetapi karena Lwekang yang dia latih sudah ada dasarnya, maka setelah berlari beberapa hari sudah cukup pandai dan bisa menguasai binatang tunggangannya, Bahkan karena hati-mudanya, setiap hari ia malah melarikan kudanya didepan Kwe Ceng.

Tidak seberapa hari, sesudah menyeberangi Hong-ho (Huangho, sungai Kuning), mereka telah memasuki daerah Siamsay.

Tatkala itu negeri Kim (Chin) sudah dibasmi oleh bangsa Mongol (Jengis Khan beserta putera2nya), maka di utara Hong-ho boleh dikatakan merupakan dunianya bangsa Mongol.

Dimasa mudanya Kwe Ceng sendiri pernah menjabat sebagai panglima dalam pasukan Mongol (ia pernah diangkat menjadi menantu Tumujin yang kemudian terkenal sebagai Jengis Khan), ia kuatir kalau kesamplok dengan bekas bawahannya dan mungkin akan mendatangkan kesulitan, maka dia lantas tukarkan kuda mereka dengan keledai yang kurus dan jelek, ia ganti pakaian pula dengan baju yang terbuat dari kain kasar, ia menyamar seperti orang desa atau kaum petani saja.

Berlainan dengan Nyo Ko yang berhati muda, sesungguhnya dalam hati ia seribu kali tidak sudi memakai baju yang berbau kampungan seperti Kwe Ceng itu, tetapi selamanya ia tak berani bantah kata2 sang paman, maka terpaksa dia mengenakan baju kasar, kepalanya dibelebat pula dengan ikat kain biru. dan menunggang keledai yang kurus jelek.

Justru keledai yang dia tunggangi ini buruk pula wataknya, jalannya sudah lambat, berulang kali masih ngambek lagi, maka sepanjang jalan selalu Nyo Ko cekcok saja dengan binatang tunggangannya ini.

Hari itu mereka telah sampai di daerah Hoanjoan, tempat ini indah permai pemandangan alamnya. Melihat keindahan alam semesta yang menarik ini, meski sejak meninggalkan Tho-hoa-to dan karena mendongkol hatinya hingga selama ini tidak pernah Nyo Ko menyebut lagi tentang pulau bunga Tho itu, namun kini tanpa tertahan ia membuka suara.

"Kwe-pepek, tempat ini hampir mirip dengan Tho-hoa-to kita," demikian ia bilang pada Kwe Ceng.

Hati Kwe Ceng memang luhur dan berbudi, mendengar anak ini bilang "Tho-hoa-to kita", tanpa terasa ia jadi terharu.

"Ko-ji," sahutnya kemudian, "Cong-lam-san sudah tidak jauh lagi dari sini, ilmu silat Coan-cin-kau adalah ilmu kepandaian terkemuka di bumi ini, selanjutnya kau harus belajar secara baik2. Beberapa tahun lagi tentu aku akan datang lagi buat menjemput kau pulang ke Tho-hoa-to."

Mendengar kata2 terachir ini, cepat Nyo Ko melengos.

"Tidak, selama hidupku ini tidak akan kembali lagi ke Tho-hoa-to," katanya kemudian.

Sama sekali diluar dugaan Kwe Ceng bahwa anak semuda Nyo Ko ini bisa mengucapkan kata2 yang begitu ketus dan tegas, maka dia tertegun seketika tiada kata2 lain yang bisa dia ucapkan.

"Apa kau marah pada Kwe-pekbo (bibi)?" tanyanya kemudian.

"Mana Titji (keponakan) berani ?" sahut Nyo Ko. "Malahan Titji selalu membikin Kwe-pekbo marah." jawaban yang tajam ini bikin Kwe Ceng bungkam, memangnya dia tidak pandai bicara, maka ia tidak menyambung lagi.

Perjalanan selanjutnya mulai menanjak, diwaktu lohor mereka sudah sampai di suatu kelenteng di atas bukit. Waktu Kwe Ceng mendongak, ia lihat papan nama yang tergantung di atas pintu kelenteng itu tertulis tiga huruf besar 'Gu-tap-si" atau kelenteng kepala kerbau.

Mereka tambat keledai pada satu pohon di luar kelenteng, mereka masuk ke dalam untuk minta sedekah sekedar isi perut.

Didalam kelenteng itu ternyata ada tujuh-delapan paderi, nampak dandanan Kwe Ceng yang sederhana dan kotor, mereka mengunjuk sikap dingin, maka sedekah yang diberikan dua mangkok bubur dingin serta beberapa potong kue.

Namun Kwe Ceng menerima saja sedekah makanan seperti itu, bersama Nyo Ko mereka lantas duduk di atas bangku batu di bawah pohon cemara untuk makan. Pada saat lain, ketika Kwe Ceng berpaling tiba2 ia lihat ada pilar batu di belakang pohon yang sebagian besar tertutup oleh rumput alang2 yang lebat, lapat2 hanya nampak dua huruf "Tiang-jun" pada pilar batu itu.

Kwe Ceng tergerak hatinya oleh tulisan itu, ia mendekati dan memeriksanya lebih jelas dengan menyingkap rumput alang2 yang menutupi batu itu, kemudian baru ia ketahui di atas batu itu terukir sebuah syair gubahan Tiang-jun-cu Khu Ju-ki, salah satu tokoh terkemuka angkatan kedua dari Coan-cin-kau yang hendak didatanginya sekarang ini.

Syair itu menyesalkan kehancuran negara yang terjatuh di tangan bangsa lain, Karenanya Kwe Ceng terbayang kembali pada kejadian di gurun Mongol belasan tahun yang lalu, ia terharu, sambil meraba pilar batu itu ia ter-mangu2 saja. Ketika teringat tidak lama lagi bisa bertemu dengan Khu Ju-ki maka hatinya rada terhibur dan bergirang.

"Kwe-pepek, apakah maksud syair diatas batu ini ?" demikian Nyo Ko tanya.

"lni adalah syair buah karya kau punya Khu-cosu (kakek guru), Murid kesayangan Khu-cosu dahulu bukan lain adalah mendiang ayahmu," sahut Kwe Ceng sambil menjelaskan sekadarnya arti yang terkandung pada syair itu. "Mengingat ayahmu, tentu Khu-cosu akan layani kau baik2, maka kau harus belajar dengan giat pula agar kelak besar gunanya untuk nusa dan bangsa."

"Kwe-pepek, maukah kau beritahukan satu hal padaku," tiba2 Nyo Ko berkata pula.

"Hal apa ?" tanya Kwe Ceng.

"Cara bagaimana meningggalnya ayahku ?" kata Nyo Ko.

Muka Kwe Ceng berubah seketika oleh pertanyaan ini, teringat olehnya peristiwa di dalam kelenteng Thi-cio-bio di Kahin di mana Nyo Khong - ayah Nyo Ko - telah tewas, maka tubuhnya gemetar sedikit ia tidak menjawabnya.

"Siapakah sebenarnya yang menewaskan ayah ?" tanya Nyo Ko pula.

Tetapi Kwe Ceng tetap tidak menjawab.

"Kau dan Kwe-pekbo yang menewaskan dia, ya bukan ?" seru Nyo Ko tiba2 dengan bernapsu.

Kwe Ceng menjadi gusar, ia angkat tangannya dan menggablok sekerasnya sambil membentak: "Tutup mulut, siapa yang suruh kau sembarang omong ?"

Tenaga dalam Kwe Ceng sekarang entah sudah betapa lihaynya, maka gablokan dalam keadaan gusar itu seketika membikin pilar batu tadi yang kena digebuk itu berantakan, batu krikil pun berhamburan.

Kelihatan sang paman naik darah, Nyo Ko jadi mengkeret.

"Ya, Titji mengaku salah, selanjutnya tidak berani sembarangan omong lagi, harap paman jangan marah," lekas2 ia minta maaf dengan kepala menunduk.

Sesungguhnya Kwe Ceng sangat sayang pada anak ini, kini demi mendengar ia mau mengaku salah, segera amarahnya lenyap. Dan selagi ia hendak menghibur Nyo Ko agar jangan takut, tiba2 terdengar di belakang ada suara tindakan kaki yang pelahan, waktu ia menoleh, dilihatnya ada dua To-su (imam penganut Tao-isme) setengah umur berdiri di ambang pintu sedang memperhatikan gablokannya dipilar batu tadi, tentu perbuatannya tadi telah dilihat oleh kedua imam ini.

Sesudah saling pandang sekejap, cepat kedua To-su itu keluar meninggalkan kelenteng itu.

"Tindakan kedua imam yang cepat dan gesit itu dapat dilihat Kwe Ceng dengan jelas, terang tidak lemah ilmu silat kedua orang itu. Kwe Ceng pikir letak Tiong-yang-kiong dari gunung Cong-lam-san itu tidak jauh dari kelenteng di mana dia berada ini, maka ia menduga kedua imam ini pasti orang dari Tiong-yang-kiong. Kalau melihat umur keduanya sudah kira2 empat puluhan, maka besar kemungkinan mereka adalah anak murid Coan-cin-chit-cu (tujuh tokoh dari Coan-cin-kau), itu aliran persilatan yang paling terkemuka dan disegani di kalangan Bu-lim.

Memang sudah lama Kwe Ceng tinggal di Tho-hoa-to dan tidak saling memberi kabar dengan Ma Giok bertujuh, (Ma Giok adalah orang pertama dari Coan-cin-chit-cu), oleh karenanya anak murid Coan-cin-kau itu hampir tidak dikenal seluruhnya, ia hanya tahu bahwa paling belakang ini penganut Coan-cin-kau semakin banyak dan maju dengan pesat, Ma Giok, Khu Ju-ki dan Ju-it cu, banyak menerima anak murid yang berbakat maka nama Coan-cin-kau di kalangan Bu-lim makin lama semakin cemerlang, tiada satupun orang kalangan Kangouw yang tidak menaruh hormat bila menyebut nama Coan-cin-kau.



Begitulah, karena Kwe Ceng pikir dirinya toh akan naik ke atas gunung untuk menemui Khu Ju-ki, Khu-cin-jin (cinjin adalah sebutan pada imam Taoisme yang berilmu), maka ia merasa kebetulan bisa jalan bersama dengan kedua imam tadi.

Karena itu, segera ia percepat langkahnya berlari keluar kelenteng ia lihat kedua imam tadi dengan langkah secepat terbang sudah berlari sejauh beberapa puluh tombak, sama sekali mereka tidak menoleh lagi.

"Hai, kedua Toheng (saudara yang berilmu), yang di depan itu berhentilah dahulu, ada sesuatu aku ingin tanya," demikian Kwe Ceng teriaki mereka.

Suara Kwe Ceng memangnya lantang, pula tenaga dalamnya hebat, maka sekali menggembor suaranya se-akan2 menggetar lembah gunung.

Kedua imam itu rada terkejut mendengar suara tapi bukannya berhenti, sebaliknya mereka berlari lebih cepat.

"Eh, apa kedua orang ini tuIi?" demikian pikir Kwe Ceng.

Sekali dia tutul kakinya, tiba2 ia melayang ke depan, hanya beberapa kali naik-turun saja tahu2 ia sudah mendahului di depan kedua imam itu.

"Baik2kah kedua To-heng," Kwe Ceng menyapa sambil saja (memberi hormat dengan mengepal kedua tangan) dan membungkuk pula.

Nampak gerak tubuh yang begini cepat, kedua imam itu kaget, ketika melihat Kwe Ceng membungkuk memberi hormat, mereka menyangka orang akan serang dengan tenaga dalam, maka dengan cepat pula mereka berkelit ke kanan dan kiri.

"Apa kau lakukan ?" demikian mereka membentak berbareng.

"Apa kalian adalah Toheng dari Tiong-yang-kiong di Cong-lam-san?" tanya Kwe Ceng.

"Kalau ya mau apa?" sahut salah satu imam itu dengan menarik muka.

"Cayhe (aku yang rendah) adalah kenalan lama Tiang-jun-cinjin Khu-totiang, maksud kedatanganku justru ingin ke atas gunung buat menemuinya, maka diharap Toheng suka menunjukkan jalannya," kata Kwe Ceng pula.

"Kalau kau berani pergi sana sendiri! Hayo menyingkir!" sahut imam satunya lagi yang pendek gemuk.

Habis ini mendadak sebelah tangannya menyapu dari samping, serangan ini luar biasa cepatnya, terpaksa Kwe Ceng harus berkelit ke kanan. Diluar dugaan, imam satunya yang kurus itu segera menyerang pula berbareng ia memukul dari sebelah kanan, dengan demikian Kwe Ceng jadi tergencet di tengah.

Kedua serangan yang dilontarkan ini disebut "Tay-kwan-bun-sik" atau gerakan menutup pintu, adalah tipu serangan yang lihay dari Coan-cin-pay, dengan sendirinya Kwe Ceng dapat mengetahuinya, cuma yang dia tidak mengerti ialah kenapa kedua imam ini mendadak menyerangnya dengan tipu yang mematikan, inilah yang bikin dia bingung,

Oleh karena itu, dia tidak patahkan serangan orang2, juga tidak menghindar maka terdengarlah suara "plak-plok" yang keras, kedua telapak tangan imam itu kena menghantam di bawah bahunya, tetapi rasanya, seperti kena menghantam karung kosong saja.

Dengan menerima gebukan ini, segera Kwe Ceng dapat mengukur tinggi rendahnya ilmu silat lawan, ia pikir kalau bicara tentang kepandaian, kedua imam ini memang betul adalah anak murid Coan-cin-chit-cu dan masih terhitung seangkatan dengan dirinya pula, Tadi ia sudah kumpulkan tenaga untuk menahan pukulan kedua orang itu, ia bisa gunakan tenaga dalamnya dengan tepat sekali, ia bikin diri sendiri sedikitpun tindak terluka juga tidak sakit, sebaliknya ia pentalkan kembali tenaga pukulan lawan hingga tangan kedua imam itu terasa sakit dan bengkak.

Keruan tidak kepalang kejut kedua imam itu, sebab dengan keuletan silat mereka yang sudah dilatihnya lebih dua puluh tahun, ternyata pukulan mereka tadi hanya seperti kena di tempat kosong saja. Maka mereka tidak berani ayal lagi, sekali teriak, mereka menerjang bersama, dua pasang kaki mereka segera menyamber mengarah dada Kwe Ceng.

Pembawaan Kwe Ceng memang sabar dan peramah, tidak gampang dia naik darah atau menjadi gusar, nampak kedua imam ini seruduk sini dan terjang sana tanpa sebab, diam2 ia menjadi heran, "Coan-cin-chit-cu semuanya adalah imam berilmu, kenapa anak murid mereka bisa bersikap kasar?" demikian ia membatin.

Dalam pada itu tendangan orang secara berantai dengan lihay sudah dekat tubuhnya, namun Kwe Ceng masih tetap tidak bergerak seperti tidak gubris, Maka terdengarlah segera "plak-plok, plak-plok" berulang sampai belasan kali, dadanya bertambah debu kotoran bekas kaki.

Kalau Kwe Ceng tetap anggap sepi saja, sebaliknya kedua imam itu entah berlipat berapa kali ngerinya daripada tadi demi nampak tendangan mereka tidak bikin orang tergoyah sedikitpun, bahkan tendangan mereka sama saja seperti mengenai karung pasir.

"Orang ini sebenarnya manusia atau setan ? Meski tingkatan guru dan paman2 guru kamipun tidak mempunyai kepandaian setinggi ini?" demikian mereka berpikir dengan jeri

Waktu mereka meng-amat2i orang, terlihat Kwe Ceng bermata besar, alisnya tebal, mukanya kotor dengan debu, pakaiannya terbikin dari kain kasar, serupa saja seperti orang udik, sedikitpun tidiik nampak sifat2 istimewa, keruan mereka menjadi kesima tanpa bisa bersuara,

Di lain pihak Nyo Ko yang menyaksikan pamannya digebuk dan ditendang kedua imam itu, sedangkan Kwe Ceng sama sekali tidak membalas, diam2 ia menjadi gusar.

"Hai, kalian imam busuk ini kenapa memukuli pamanku?" segera ia membentak.

"Ko-ji, tutup mulut," cepat Kwe Ceng mencegah anak ini mencaci maki lebih ianjut, "Lekas kemari dan memberi hormat kepada Totiang ini."

Mendengar kata2 Kwe Ceng ini, Nyo Ko tercengang dan penasaran. "Kwe-pepek sungguh aneh, masa takut pada mereka ?" pikirnya.

Dalam padu itu, kedua imam tadi agaknya belum kapok, sesudah saling pandang sekejap, mendadak mereka lolos pedang, dengan cepat mereka menyerang, imam yang pendek menusuk ke bagian bawah Kwe Ceng dengan tipu "tam-hai-to-liong" atau menjelajahi laut membunuh naga, sedang imam yang kurus membacok kaki Nyo Ko dengan gerakan "King-hong-sau-yap" atau angin lesus menyapu daun.

Sebenarnya Kwe Ceng masih pandang enteng serangan2 orang ini, tetapi demi melihat Nyo Ko yang tak berdosa ikut diserang juga dengan tipu yang cukup keji, mau-tak-mau hatinya jadi dongkol juga, "Anak ini toh tiada permusuhan dengan kalian, kenapa harus diserang dengan tipu yang ganas ini? Dengan bacokanmu ini apa kakinya takkan menjadi buntung ?" demikian ia pikir dengan gemas.

Karena itu segera ia tolong dulu Nyo Ko yang terancam itu, ia mengegos tubuh sedikit ke samping, berbareng ini dengan gerak tipu "sun-cui-tui-du" atau menurut arus air menyurung perahu, dengan tangan kiri ia tempel batang pedang imam pendek yang serang dia tadi, lalu dengan pelahan ia dorong ke kiri, dengan demikian imam pendek itu tidak mampu pegang kencang senjatanya higgga memutar balik, pedang yang membalik ini saling beradu dengan demikian terdengarlah suara "trang" yang nyaring, pedang kawannya sendiri, si-imam kurus, hingga dengan demikian tanpa ditangkis tipu serangan imam kurus itu kena digagalkan temannya sendiri.

Tentu saja kedua imam itu merasakan tangan mereka kaku kesemutan, kembali mereka pandang Kwe Ceng dengan mata melotot, dalam hati mereka lagi2 tidak kepalang terkejutnya, tapi juga kagum atas kepandaian orang yang tinggi itu, Meski demikian, toh mereka masih penasaran, dengan berteriak kembali mereka merangsak maju.

Nampak gerak serangan orang, diam2 Kwe Ceng pikir: "Kepandaian kalian ini sungguhpun terhitung Kiam-hoat yang hebat, tetapi kalian hanya berdua, pula belum matang latihanmu, apa gunanya kalian pamer dihadapanku?"

Tetapi karena kuatir Nyo Ko akan keserempet senjata mereka, maka sambil hindarkan sabetan pedang lawan, segera pula ia samber tubuhnya Nyo Ko.

"Cayhe adalah kenalan lama Khu-cinjIn, hendaklah kalian jangan bergurau lagi," ia berteriak.

Akan tetapi kedua imam itu ternyata tidak kenal aturan.

"Kau bilang kenal Ma-cinjin juga percuma", kata imam yang kurus.

"Ya, Ma-cinjin memang pernah juga mengajarkan kepandaian pada Cayhe," sahut Kwe Ceng.

Imam yang kate tadi wataknya paling berangasan segera ia mendamperat lagi.

"Bangsat, jangan kau asal ngoceh, jangan2 nanti kau bilang Tiong-yang Cosu kami juga pernah ajarkan kepandaian padamu ?" teriaknya murka, Menyusul ini, dengan sekali tusuk, ujung pedangnya mengarah dada Kwe Ceng puIa.

Kwe Ceng yang berpikiran sederhana, jadi tidak habis mengerti, kedua imam ini sudah terang adalah anak murid Coan-cin-kau, tapi mengapa dia dianggap sebagai musuh besar saja?

Tetapi karena Kwe Ceng memang berbudi luhur, pula ia pikir Nyo Ko bakal belajar silat di Tiong-yang-kiong, maka sedapat mungkin jangan menyakiti hati imam2 itu, oleh karenanya, terus menerus ia hanya berkelit saja atas serangan lawan dan tidak pernah balas menyerang.

Oleh sebab tipu serangan mereka tetap tidak mampu mengenai sasarannya, akhirnya kedua imam tadi menjadi kewalahan sendiri, mereka menjadi gelisah, mereka insaf ilmu silat Kwe Ceng jauh diatas mereka, kalau hendak melukainya jelas tidak gampang, maka mereka lantas ganti siasat, tiba2 mereka ubah Kiam-hoat yang dimainkan tadi, be-runtun2 beberapa kali tusukan mereka dialihkan sasaran pada diri Nyo Ko.

Melihat kekurangajaran orang, sungguhpun Kwe Ceng orang sabar, akhirnya rada naik darah juga.

Sementara itu ia lihat imam yang kate sedang menusuk dengan gerakan yang cukup ganas, mendadak Kwe Ceng ulur tangan kanannya, dengan kedua jari- menjepit senjata orang, habis ini ia sodok batang hidung lawan dengan sikutnya.



Ketika senjata dijepit jari orang, imam pendek itu menarik2 sekuatnya, tetapi tidak berhasil, sebaliknya tahu2 sikut orang telah menyodok tiba, ia insaf kalau sampai mukanya dicium sikut orang, kalau tidak mampus sedikitnya akan luka parah juga, oleh karena itu terpaksa ia lepaskan senjatanya dan melompati mundur.

Kepandaian Kwe Ceng pada waktu ini boleh dikatakan sudah ditarap yang tiada taranya, ia bisa berbuat apa maunya, setiap kali tangannya bergerak atau kakinya melayang tentu kena sasaran dengan tepat dan hebat, maka ketika dengan pelahan ia menyentil dengan kedua jarinya, dengan mengeluarkan suara "creng" yang nyaring, tiba2 pedang yang dia rampas tadi menegak dan mental ke atas.

Dalam pada itu imam yang kurus sedang ayun pedangnya menusuk ke leher Nyo Ko, karena itu, ujung pedangnya telah kena ditumbuk oleh pedang yang disentil oleh Kwe Ceng ini, begitu keras benturan itu hingga si-imam kurus merasakan tangannya panas pedas, tubuhnya pun ikut tergetar, maka terpaksa iapun-melepaskan senjatanya terus melompat mundur.

"Maling cabul ini memang lihay, lekas lari!" seru kedua imam itu berbareng, Baru kini, mereka merasa kapok, Segera mereka putar tubuh terus angkat langkah seribu.

Mendengar cacian orang, semula Kwe Ceng tertegun sejenak, tetapi segera ia menjadi gusar, Selama hidupnya memang sering dia dimaki orang seperti "bangsat", "jahanam", "tolol", "goblok" dan macam2 lagi, tetapi kata2 "maling cabul" selamanya belum pernah orang memaki padanya.

Dalam marahnya, iapun tidak turunkan Nyo Ko lagi, sambil menggendong anak ini segera ia mengudak dengan langkah cepat

Setelah menyusul sampai di belakang kedua imam itu, begitu kakinya menutul, segera tubuhnya melayang lewat di atas kepala kedua To-su atau imam itu dan dalam keadaan masih terapung di udara segera ia membentak: "He, tadi kalian memaki apa padaku ?" kedua imam itu luar biasa terperanjatnya imam pendek itu oleh kelihayan orang, walaupun jeri dalam hati, tapi mulutnya ternyata belum mau kalah, ia masih berani balas membentak.

"Bukankah kau ingin memiliki itu perempuan hina she Liong? Lalu untuk apa kau datang ke Ciong-lam-san?" demikian damperatnya.

Meski keras di mulut, tapi kuatir kalau Kwe Ceng menghajarnya, maka tanpa terasa ia malah mundur ke belakang.

Mendengar damperatan orang yang tak keruan juntrungnya ini, seketika Kwe Ceng hanya melongo, "Aku ingin memiliki perempuan hina she Liong? siapakah perempuan she Liong itu? Kenapa aku ingin memiliki dia?" demikian serentetan pertanyaan timbul dalam hatinya hingga ia bingung sendiri.

Melihat orang ter-mangu2 seperti orang linglung, kedua imam itu pikir kesempatan baik jangan disia-siakan, maka sesudah saling memberi tanda, segera mereka menyerobot lewat di samping Kwe Ceng dengan langkah cepat terus lari pula ke atas gunung.

Melihat Kwe Ceng masih ter-mangu2, Nyo Ko lantas meronta turun dengan pelahan dari gendongannya.

"Kwe-pepek, kedua imam busuk itu sudah lari," kata Nyo Ko.

Karena itu, Kwe Ceng mengiakan sekali seperti orang baru sadar dari mimpi.

"Tadi mereka bilang aku ingin memiliki itu perempuan she Liong," siapakah dia itu?" kata Kwe Ceng kemudian dengan masih bingung.

"Titji pun tidak tahu," sahut Nyo Ko. "Tetapi melihat kedua imam itu tanpa membedakan merah atau putih lantas menyerang kita, agaknya mereka telah salah wesel."

"Ya, ya, tentu begitu," ujar Kwe Ceng dengan ketawa geli sendiri, "Kenapa aku tidak pikir sampai disitu, Marilah kita naik ke atas gunung!"

Waktu Nyo Ko mengambil kedua pedang yang ditinggalkan kedua imam tadi, Kwe Ceng melihat pada batang pedang masing2 terukir tiga huruf kecil "Tiong-jang-kiong"

Mereka lantas mendaki ke atas gunung. setelah lebih satu jam, akhirnya mereka sampai di puncak "Bo-cu-giam" atau puncak ibu gendong anak, sesuai dengan namanya, puncak ini menonjol seperti seorang wanita yang membopong seorang anak.

Di puncak ini mereka duduk mengaso.

"Apa kau letih, Ko-ji?" tanya Kwe Ceng.

Nyo Ko tersenyum "Tidak," sahutnya kemudian dengan geleng kepala.

"Baiklah kalau begitu, mari kita naik ke atas lagi," kata Kwe Ceng.

Maka mereka lantas melanjutkan lagi perjalanan. Tidak antara lama, tertampak oleh mereka di depan ada sebuah batu cadas yang sangat besar dengan corak yang seram, batu cadas raksasa ini setengah menggelantung di udara bagai seorang nenek yang sedang membungkuk melongok ke bawah.

Saking seramnya hati Nyo Ko terasa agak takut.

Dalam pada itu, tiba2 terdengar beberapa kali suitan kecil, lalu dari belakang batu besar itu melompat keluar empat Tosu atau imam, di tangan mereka masing2 menghunus pedang dan menghadang di tengah jalan, tetapi semuanya bungkam saja.

"Cayhe adalah Kwe Ceng dari Tho-hoa-to dan ingin naik ke atas gunung untuk menjumpai Khu-cin-jin," demikian kata Kwe Ceng sambil maju memberi hormat.

Untuk sementara tiada satupun dari empat imam itu menjawab. Kemudian satu di antaranya yang berperawakan jangkung lantas melangkah maju.

"Hm, Kwe-tayhiap namanya dikenal di seluruh jagat, dia adalah menantu Ui-locianpwe dari Tho-hoa-to, mana bisa dia begini tak kenal malu seperti kau ini, lekas2 kau enyah turun gunung saja." demikian kata imam itu dengan tertawa dingin.

"Aneh, dalam hal apakah aku tidak kenal malu?" demikian Kwe Ceng membatin, Akan tetapi ia coba sabarkan diri, lalu berkata lagi: "Cayhe betul2 Kwe Ceng ada-nya harap kalian memberi jalan, soalnya tentu akan menjadi jelas kalau sudah berhadapan dengan Khu-cin-jin."

Namun imam jangkung ini masih tidak mau mengerti, bahkan ia membentak.

"Hm, kau berani main gila dan pamer kepandaian ke Cong-lam-san sini mungkin kau sudah bosan hidup," damperatnya. "Hm, kalau kau tidak diberi sedikit rasa, mungkin kau mengira semua imam yang tinggal di Tiong-yang-kiong adalah manusia2 tak berguna semua".

Ia mendamperat orang dengan kata2 yang menyinggung-juga kedua imam pendek dan kurus tadi, setelah berkata, segera ia melangkah maju, pedangnya bergerak dengan tipu hun-hoa hud liu> atau memetik bunga mengebut pohon Liu, tiba2 ia tusuk pinggang Kwe Ceng.

Nampak orang tanpa sebab dan tanpa alasan terus menyerang, diam2 Kwe Ceng merasa aneh.

"Sudah belasan tahun aku tidak berkecimpung di kalangan Kangouw, semua peraturan rupanya sudah berubah ?" demikian ia heran. Berbareng pula ia menghindar tusukan tadi, ia pikir berkelit saja dahulu untuk kemudian ajak orang bicara secara baik2.

Di luar dugaan, ketiga imam lainnya segera mengerubut maju juga, mereka kepung Kwe Ceng dan Nyo Ko di-tengah2.

"Apa yang Si-wi (tuan berempat) inginkan, cara bagaimana baru mau percaya Cayhe betul2 adalah Kwe Ceng?" seru Kwe Ceng sebelum balas serangan orang.

"Kecuali kalau kau mampu merebut pedang di tanganku ini," bentak imam jangkung tadi, Sambil berkata, kembali ia menusuk pula, sekali ini ia arah dada Kwe Ceng, cara menyerangnya seenaknya saja se-akan2 tidak pandang sebelah mata pada lawannya.

Tentu saja akhirnya Kwe Ceng marah juga, "Untuk merebut pedangmu, apa susahnya ?" demikian ia pikir.

Dalam pada itu, pedang orang sudah menusuk sampai di depan dadanya, cepat Kwe Ceng papaki senjata musuh dengan sekali jentikan jarinya, sungguh hebat sekali tenaga jarinya ini, dengan mengeluarkan suara "creng" yang nyaring, tiba2 imam jangkung itu merasakan genggamannya terguncang, tahu2 pedangnya mencelat ke udara. Dalam kaget dan gugupnya lekas2 ia melompat keluar kalangan pertempuran.

Di lain pihak, tidak sampai menunggu pedangnya jatuh ke bawah, terdengar suara nyaring tiga kail lagi, susul-menyusul Kwe Ceng taiah menjentik, maka pedang ketiga Imam yang lain senasib pula dengan imam jangkung tadi, semuanya kena disentil terbang ke angkasa.

"Bagus !" teriak Nyo Ko kegirangan oleh kepandaian sang paman ini. "Nah, sekarang kalian mau bercaya tidak ?" demikian ia tegur para imam itu. . sebenarnya kalau Kwe Ceng bergebrak dengan brang selalu memberi kelonggaran dan berlaku murah hati pada pihak lawan, tetapi kini karena marah pada imam jangkung yang menyerang dengan kiam-hoat yang sifatnya rendah, maka ia telah unjuk tenaga sentilan jari yang lihay, ilmu kepandaian menjentik dengan jari ini sebenarnya adalah kepandaian tunggal yang sangat dirahasiakan oleh Ui Yok-su, ayah Ui Yong, tetapi Kwe Ceng sudah tinggal beberapa tahun di Tho-hoa-to bersama bapak mertua itu, maka ia sudah mewarisi seluruh kepandaiannya, ditambah pula tenaga Kwe Ceng sudah terlatih sedemikian tingginya, sudah tentu bukan main hebatnya temaga sentilannya tadi, sebaliknya ke-empat imam tadi meski pedang sudah terpental dari tangan mereka masih belum tahu pihak lawan menggunakan ilmu silat apa.

"Maling cabul ini bisa main ilmu sihir, hayo lari," seru imam jangkung ketika melihat gelagat jelek, habis ini ia mendahului angkat kaki dan disusul oleh tiga kawannya, dalam sekejap saja mereka sudah menghilang di balik batu cadas tadi.

Tadi Kwe Ceng dimaki orang dengan kata2 "maling cabul", kini ditambahi pula dituduh "bisa main ilmu sihir", keruan ia merasa mendongkol dan terhina. Watak Kwe Ceng memang jujur dan polos, semakin tidak mengerti tapi juga semakin ingin jelas semua hal-ikhwalnya .



"Ko-ji, beberapa pedang ini letakkan di atas batu dengan baik," katanya pada Nyo Ko.

Nyo Ko menurut, ia ambil keempat pedang yang ditinggal lari oleh imam2 itu, bersama dua pedang yang duluan tadi ia taruh di atas batu. Dalam hati mudanya sungguh tidak habis kagumnya terhadap ilmu kepandaian sang paman, mulutnya sebenarnya sudah berulang-ulang tercetus kata2: "Kwe-pepek, aku tidak ingin belajar silat pada imam busuk itu, tetapi ingin belajar padamu saja."

Akan tetapi bila teringat pada kejadian di Tho-hoa-to yang dialaminya, akhirnya ia telan kembali kata2 yang sebenarnya ingin dia ucapkan itu.

Begitulah sesudah mereka melanjutkan lagi, setelah membelok dua kali, tiba2 tanah di depan kelihatan rada lapang, tetapi segera terdengar pula suara nyaring beradunya senjata sebagai isyarat, menyusul dari hutan disamping jalan lantas keluar tujuh orang imam dengan pedang terhunus.

Melihat munculnya ketujuh imam ini dengan mengambil kedudukan di kiri empat orang dan di kanan tiga orang, segera Kwe Ceng kenal ini adalah "Thian-keng-pak-tau-tin" atau barisan ilmu bintang2 yang sengaja dipasang, dalam hati ia terperanjat.

"Kalau harus menggempur barisan ini, agaknya rada sulit juga," demikian ia batin.

Oleh karena itu ia tak berani gegabah, dengan suara pelahan ia pesan Nyo Ko: "Kau sembunyi ke belakang batu besar sana, lebih jauh lebih baik, supaya perhatianku tidak terbagi dalam pertempuran nanti."

Nyo Ko mengangguk, tetapi anak ini memang cerdik, tidak sudi ia unjuk lemah di hadapan para imam itu, maka ia berlagak lepas kolor celana sambil berkata: "Kwe-pepek, aku pergi kencing dahulu !" sambil berkata ia putar tubuh dan lari ke belakang satu batu besar.

Diam2 dalam hati Kwe Ceng bersyukur melihat kepintaran dan kecerdasan anak ini, ia mengharap hendaklah anak ini bisa menuju jalan yang benar dan jangan tersesat lagi seperti ayahnya.

Ketika ia menoleh, dibawah sinar bulan yang remang-2 ia lihat ketujuh imam itu, enam yang berada di depan, seperti memelihara jenggot usia merekapun tidak muda lagi, sedang orang ketujuh berperawakan kecil, agaknya seperti seorang Tokoh atau imam wanita.

Nampak barisan ini segera Kwe Ceng paham bahwa mereka telah menirukan cara Coan-cin-chit cu dahulu, di antara Coan-cin-chit-cu itu terdapat seorang imam wanita, yakni Jing-ceng Sanjin Sun Put-ji, kini kedudukan juga dipegang oleh seorang imam wanita.

"Apa gunanya aku terlibat dalam pertempuran dengan mereka, lebih baik lekas naik ke atas buat menemui Khu-cinjin untuk menjelaskan kesalahan paham ini." tiba2 pikiran Kwe Ceng tergerak.

Karenanya, begitu bergerak, segera ia mendahului menyerobot ke sebelah kiri, ia rebut kedudukan bintang "Pak-kek" (kutub utara).

Melihat orang mendadak berlari ke sebelah kiri, cepat imam yang menduduki tempat bintang "Thian-koan" (kekuasaan langit), berteriak dengan suara ter-tahan, ia kerahkan barisan bintang2nya terus memutar ke kiri dengan tujuan hendak kepung Kwe Ceng di tengah.

Siapa duga, begitu ketujuh imam ini bergerak, Kwe Ceng lantas ikut bergerak juga, selalu ia mendahului pihak lawan untuk menduduki tempatnya. Dan begitulah seterusnya sampai beberapa kali meski para imam itu ber-ganti2 dengan beberapa tipu gerakan, tetapi selalu didahului Kwe Ceng, hingga mereka kewalahan dan serba salah.

Hendaklah diketahui bahwa "Thian-keng-pak-tau-tin" ini adalah suatu ilmu kepandaian tertinggi dari kaum Coan-cin-kau, barisan yang teratur rapi dan dilakukan tujuh orang ini, sekalipun lawannya beratus piau beribu orang dapat pula ditahan.

Akan tetapi dihadapan Kwe Ceng, barisan bintang2 yang hebat ini ternyata tiada gunanya, sebab Kwe Ceng sudah paham akan ilmu barisan bintang2 ini, apalagi ketujuh imam ini hanya anak murid Coan-cin-kau angkatan muda," kalau barisan ini dipasang dengan Coan-cin-chit-cu, mungkin Kwe Ceng tidak gampang merebut tempat kedudukan sesukanya. Oleh karenanya, meski sudah ber-ubah2 beberapa kali gerak tipu barisan para imam itu, sebenarnya sekali pukul Kwe Ceng sudah bisa bikin kocar-kacir barisan lawan, namun ia sengaja membodoh dan pura2 tidak mengerti, dengan ke-tolol2an sengaja ia berdiri menjublek di tempatnya, hanya kalau barisan orang bergerak, maka segera pula ia ikut menggeser.

Begitulah sampai lama sekali walaupun si-imam menjadi poros barisan bintang2 itu telah beberapa kali bergerak dengan cepat, namun tetap tidak berhasil mengepung Kwe Ceng, Dalam terkejutnya imam itu menjadi gusar pula, ia tidak mau menyerah mentah2, segera ia putar barisannya pula dengan cepat.

Nampak pertarungan yang ramai ini, yang paling senang adalah Nyo Ko. ia lihat ketujuh imam itu seperti orang gila saja ber-Iari2 cepat mengitari Kwe Ceng, sebaliknya dengan tenang saja Kwe Ceng melangkah beberapa tindak ke kiri atau ke kanan, ke timur atau ke barat menurut keadaan musuh, dari mula sampai akhir ketujuh imam itu ternyata tak berani sembarang menyerang dengan senjata mereka, makin menonton semakin ketarik hingga saking senangnya Nyo Ko bertepuk tangan.

Dalam pada itu tiba2 terdengar Kwe Ceng berseru: "Maaf!"

Habis ini mendadak ia menyerobot cepat dua langkah ke kiri, sekarang barisan bintang2 itu berbalik berada di bawah ke arah maka Kwe Ceng menyerobot kalau ketujuh imam itu tidak ikut menggeser ke arah yang sama, tentu mereka harus menghadapi bahaya yang mengancam jiwa mereka, Oleh karena itu terpaksa ketujuh imam ini harus mengikuti gerak arah Kwe Ceng.

Dengan demikian, maka ketujuh imam ini sudah terjeblos dalam keadaan tak dapat melepaskan diri lagi, kemana Kwe Ceng pergi, ketujuh orang ikut ke sana, Kwe Ceng cepat, para imam pun cepat dan kalau lambat mereka turut lambat.

Diantara ketujuh imam ini rupanya To-koh atau imam wanita itu yang paling cetek kepandaiannya, setelah dibawa putar belasan kali oleh Kwe Ceng, ia sudah merasa kepala pusing dan napas ter-sengal2, tampaknya segera akan terbanting jatuh, Tetapi ia insaf kalau barisan bintang2 mereka kehilangan seorang saja, maka seketika akan menjadi pincang dan daya pertahanan mereka akan runtuh. Dalam keadaan terpaksa ia hanya bisa mengertak gigi bertahan sekuatnya.

Walaupun usia Kwe Ceng boleh dibilang tidak muda lagi, tetapi semenjak ia tirakat di Tho-hoa-to. bersama isterinya Ui Yong, paling akhir ini sudah jarang bergaul dengan dunia luar, selama itu pula hati kanak2-nya ternyata belum menjadi hilang, Kini nampak ketujuh imam itu dapat dipancing hingga lari2, ia menjadi senang dan timbul kembali hati mudanya.

"Hari ini tanpa sebab tanpa alasan kalian telah mendamperat padaku, kalian mencaci aku sebagai maling cabul, menuduh aku bisa gunakan ilmu sihir pula, kini kalau aku tidak betul2 unjuk sedikit ilmu sihir padamu, mungkin kalian sangka aku boleh dihina begitu saja ?" demikian ia pikir.

Karena itu, ia lantas berteriak pada Nyo Ko: "Lihat Ko-Ji, saksikan ilmu sihir yang aku keluarkan ini !" Habis ini mendadak dengan sekali loncat, ia melompat ke atas satu batu cadas.

Ketujuh imam itu kini sudah berada di bawah pengaruh Kwe Ceng, maka begitu dia loncat ke atas batu, jika ketujuh imam ini tidak ikut meloncat, segera titik kelemahan barisan mereka akan kelihatan. Oleh sebab itu diantaranya ada beberapa imam jadi ragu2, namun imam yang menduduki tempat Thian-toan atau pemimpinnya, dengan sekali bersuit, segera ia pimpin barisannya melompat ke-atas.

Di luar dugaan, belum sampai mereka menancap kaki di atas, sekoyong2 Kwe Ceng melompat turut lagi, habis ini ia lantas ganti tempat yang lain, keruan teraksa para imam itu memburu dan meniru pula dan begitu seterusnya terjadi uber2an. Sampai akhirnya tiba2 Kwe Ceng meloncat ke atas puncak satu pohon.

"Sungguh celaka, entah darimana munculnya iblis seperti dia ini, pamor Coan-cin-kau hari ini pasti akan runtuh seturuhnya", demikian diam2 para imam itu mengeluh.

Sekalipun dalam hati mereka memikir, tetapi kaki mereka tidak berani berhenti, mereka masing2 mencari dahan pohon sendiri2 yang bisa dibuat singgah dan terus ikut meloncat ke atas.

"Lebih baik di bawah saja !" Kwe Ceng menggoda dengan ketawa dan betul saja ia lantas lompat turun pula, bahkan berbareng ia ulur tangan hendak menjambret kaki imam yang menduduki tempat Khay-yang.

Sebenarnya letak kelihayan Pak-tau-tin atau barisan bintang2 itu adalah karena bisa bahu-membahu dengan kerja sama yang rapat sekali, kini Kwe Ceng menyerang pada satu tempat, otomatis dua imam yang menduduki tempat serangkaian terpaksa melompat turun buat membantu dan karena turunnya yang dua ini, mau tidak mau imam2 yang lain ikut turun pula dan dengan demikian seluruh barisan menjadi terpengaruh.

Yang paling senang oleh karena pertarungan ramai ini adalah Nyo Ko, ia terpesona dalam girang tercampur kejut, Katanya dalam hati: "Apabila pada suatu hari aku bisa belajar hingga sehebat kepandaian Kwe-pepek sekalipun seumur hidupku harus menderita juga aku rela"

Tetapi lantas terpikir pula: "Namun seumur hidupku ini mana bisa belajar kepandaian setinggi ini dari dia kecuali si budak Kwe Hu dan kedua saudara Bu yang beruntung itu, Hm, sudah jelas ia maksudnya Kwe Ceng) tahu kepandaian orang coan-cin-kau jauh dibawahnya, tapi ia justru sengaja kirim aku untuk belajar silat pada imam2 busuk ini."

Begitulah makin dipikir Nyo Ko semakin dongkol hingga ia berpaling ke jurusan lain, ia tidak mau lihat Kwe Ceng mempermainkan ketujuh imam tadi Akan tetapi sifat anak2 mana bisa tahan lama, tidak antara lama ia menjadi kepingin tahu apa jadinya dengan imam2 yang digoda itu, maka tidak tahan lagi ia berpaling kembali untuk menyaksikan pertempuran ramai dan lucu itu.

Sementara itu sesudah puas mempermainkan para imam, diam2 Kwe Ceng berpikir: "Sesudah begini, tentunya mereka harus percaya bahwa aku betul2 adalah Kwe Ceng, Jadi orang hendaklah jangan keterlaluan harus jaga kebaikan di hadapan Khu-cin-jin nanti."

Dalam pada itu ia sedang goda ketujuh imam tadi hingga putar kayun dengan kencang, mendadak ia berdiri diam sambil Kiongciu serta berkata : "Tujuh To-heng, maaf saja, sekarang silahkan menunjuk jalannya."



Diluar dugaan, imam yang menduduki tempat Thian-koan dan sebagai pemimpin tadi ternyata berwatak sangat keras, karena melihat ilmu silat lawannya semakin kuat, ia semakin yakin orang pasti tidak bermaksud baik terhadap perguruan mereka, maka meski menghadapi musuh setangguh ini, sama sekali ia pantang mundur.

"Hm, maling cabul." demikian segera ia menjawab dengan suara lantang, "Coan-cin-kau kami paling benci pada segala perbuatan kejahatan, maka se-kali2 jangan kau harap bisa melakukan perbuatan2 yang tidak tahu malu di Cong-lam-san ini !"

Kwe Ceng bingung oleh damperatan yang tak keruan juntrungannya ini, "Apa perbuatanku yang tidak kenal malu ?" demikian ia tanya.

""Hm, pura2 bodoh." jengek imam Thian-koan itu. "Melihat kepandaianmu yang tinggi ini, tentunya kau bukan sebangsa manusia yang suka berbuat kotor, aku nasehati kau, lekas kau turun kembali, sana !"

Meski imam ini masih mendamperat, tetapi di balik kata-kata yang diucapkan ini ia telah unjuk juga rasa kagumnya terhadap ilmu kepandaian Kwe Ceng.

"Jauh2 Cayhe sengaja datang dari selatan dan ingin bertemu Khu-cinjin untuk sesuatu keperluan, sebelum bertemu mana boleh kembali turun gunung ?" demikian jawab Kwe Ceng.

Mendengar jawaban ini, tiba2 air muka imam hian-koan itu berubah hebat.

"Hm, jadi kau ingin ketemu Khu-cinjin ? Baiklah, coba katakan, sebenarnya ada urusan apa ?" tanyanya dengan dingin.

"Sejak kecil Cayhe menerima budi besar dari Ma cinjin dan Khu-cinjin, karena sudah belasan tahun tidak bertemu, maka aku menjadi kangen sekali," sahut Kwe Ceng.

Namun jawaban ini ternyata makin menambah sikap permusuhan dari imam itu. Kiranya soal "budi" dan dendam" dalam kalangan Kangouw paling di-utamakan, sering kali karena soal sakit hati, di mulut dia bilang datang buat balas budi padahal yang benar maksudnya hendak membalas dendam, Imam Thian-koan itu suka pegang teguh pandangannya sendiri, maka kata2 Kwe Ceng yang diucapkan dengan setulus hati justru diterima kebalikannya.

"Jangan2 guruku Giok-yang Cinjin juga kau katakan ada budi padamu," demikian ia menjengek lagi.

Karena kata2 ini, Kwe Ceng jadi ingat pada masa yang silam, masa mudanya dengan peristiwa yang terjadi dalam istana Thio-ong-hu, dimana Giok-yang-cu (atau Giok-yang Cinjin) Ong Ju-it tanpa pikirkan bahaya telah menandingi gerombolan musuh yang jauh lebih banyak untuk menolong dirinya, atas kejadian itu memang tidak sedikit budi yang dia terima dari Ong Ju-it. Oleh sebab ini, tanpa ragu2 lagi ia lantas jawab : "O, kiranya To-heng adalah murid Giok-yang Cinjin, memang betul juga 0ng-cinjin ada budi terhadap Cayhe, bila dia juga berada di atas gunung, sudah tentu akan lebih baik lagi."

Diluar dugaan, ketujuh imam ini malah menjadi gusar, dengan suara bentakan yang murka, senjata mereka segera menyamber, dengan cepat mereka menyerang tujuh tempat di tubuh Kwe Ceng secara serentak.

Akan tetapi mana bisa Kwe Ceng diserang dengan gampang dengan sedikit mengegos ia sudah melangkah ke samping, kembali ia duduki tempat bintang Pak-kek atau kutub utara yang menjadi kelemahan barisan para imam itu.

"He, bicara dulu," demikian ia teriaki imam2 Coan-cin-kau ini, "Cayhe Kwe Ceng sama sekali tidak mengandung maksud jahat kesini, dengan cara bagaimana baru-kalian mau percaya bahwa aku benar2 Kwe Ceng adanya ?"

"Kau sudah merebut enam pedang anak murid Coan-cin-kau yang duluan, kenapa tidak sekalian rampas lagi tujuh pedang kami ini ?" sahut imam Thian-coan tadi.

Dalam pada itu imam yang menduduki tempat Thian-koan yang sejak tadi sebenarnya tutup mulut saja, kini mendadak ikut menyela dengan suara yang pecah.

"Maling cabul anjing, rupanya kau hendak pamer kepandaianmu di hadapan sundel kecil keluarga Liong itu ? Hm, apa kau kira Coan-cin-kau kami gampang kau hina ?" demikian ia mencaci maki

Keruan Kwe Ceng menjadi gusar.

"Apa kau bilang ?" sahutnya dengan muka merah. "Nona keluarga Liong ?" Siapa dia ? aku Kwe Ceng selamanya tidak pernah kenal dia."

"Haha, jika kau berani, kenapa kau tidak memaki dia sebagai perempuan busuk, sebagai sundel cilik !" kata imam Thian-koan pula dengan bergelak tawa.

Mendengar orang mengumbar kata2 kotor, Kwe Ceng menjadi tertegun, dasarnya ia memang jujur dan patuh pula adat peraturan, ia pikir wanita she Liong yang disebut itu entah orang macam apakah, mana boleh tanpa sebab dan alasan aku mencaci makinya. Karena pikiran ini, ia lantas menjawab: "Kenapa aku harus memaki dia ?"

"Hahaha!" tertawa beberapa imam itu berbareng "Nah, bukankah kau sudah mengaku sendiri ?"

Dasar Kwe Ceng memang tidak pandai menggunakan otak, kini orang secara serampangan memaksakan suatu tuduhan padanya, semakin lama ia merasa semakin ruwet, ia hanya pikir dengan paksa terjang saja ke Tiong-yang-kiong untuk menemui Khu Ju-ki dan Ong Ju-it tentu segala urusan akan menjadi beres.

"Kini Cayhe akan naik ke atas, kalian merintangi lagi, jangan kalian menyesali Cayhe tidak segan2," dengan dingin ia memberi peringatan.

Tapi ketujuh imam itu tiba2 melangkah maju setindak dengan senjata siap sedia.

"Jangan kau pakai ilmu sihir, kita boleh coba ukur kepandaian dalam ilmu sejati," dengan suara keras imam Thian-soan tadi menantang.

Kwe Ceng hanya tertawa, segera ia ambil satu keputusan, maka ia lantas menjawab: "Aku justru hendak unjuk -- sedikit ilmu sihir pada kalian, tanpa tanganku menyenggol senjata kalian sedikitpun aku, sanggup merampas ketujuh pedang kalian,"

Ketujuh imam itu saling pandang, dari wajah mereka tertampak perasaan tidak percaya.

"Bagus, kami akan coba2 ilmu kepandaianmu dalam hal tendangan," seru salah satu imam.

"Akupun tidak perlu gunakan kaki," sahut Kwe Ceng., "Pendeknya tidak nanti aku menyenggoI barang sedikitpun senjata maupun anggota badan kalian, tetapi senjata kalian akan kurampas, kalau sampai tersentuh, anggap saja aku kalah dan segera aku turun gunung untuk selamanya tidak akan naik ke sini lagi."

Mendengar orang buka mulut besar, ketujuh imam itu menjadi marah semua, Tanpa tunggu lagi, Begitu imam Thian-koan geraki pedangnya, segera ia bawa barisannya mengerubut maju.

Namun dengan kepala menunduk Kwe Ceng lantas menerjang dengan cepat, ia menduduki titik bintang Pak-kek lagi dan dengan langkah cepat mengarah ke kiri, ia menyerang sajap kiri barisan para imam.

Imam Thian-koan yang menjadi pemimpin barisan kenal lihaynya orang, maka lekas2 ia bawa barisannya memutar ke kanan, dengan demikian supaya bisa berhadapan dengan Kwe Ceng dan supaya kelemahan barisannya tidak kentara.

Diluar dugaan., sekali Kwe Ceng sudah mengincar sayap kiri, tetap ia serang bagian kiri dan tidak putar balik, meski tempo2 cepat dan kadang2 lambat, tetap ia berlari mengincar bagian kiri, oleh karena ia bisa menduduki tempat bintang Pak-kek dengan kukuh, mau tidak mau ketujuh imam itu harus ikut memutar ke kiri juga.

Begitulah makin lari semakin cepat Kwe Ceng juga menguber, sampai akhirnya kecepatannya boleh dikatakan melebihi kuda, makin lama makin luas pula tempat yang dibuat putar hingga berupa satu lingkaran selebar belasan tombak.

Tetapi ketujuh imam ini tergolong tidak lemah juga, meski mereka dipaksa dalam kedudukan yang terbalik dipengaruhi orang, namun barisan mereka sedikitpun belum kacau, mereka bertujuh masih menduduki tempatnya masing2 dengan kuat dan tetap, hanya tubuh mereka saja yang tidak bisa dikuasai lagi masih terus ikut lari terbawa oleh Kwe Ceng.

Diam2 Kwe Ceng harus puji juga keuletan tujuh imam Coan-cin-kau ini, maka langkahnya tidak pernah ia kendurkan, tiba2 dia malah pergiat kakinya hingga berlari memutar sebagai roda angin saja.

Mula2 ketujuh imam itu masih bisa paksakan diri ikut berlari terus, tetapi lama kelamaan Gin-kang atau ilmu entengkan tubuh imam2 itu lantas tertampak, imam Thian-koan paling tinggi Ginkangnya, ia lari paling depan dan disusul dengan imam yang menduduki tempat Thian-ki dan Thian-heng, sedang imam yang lain pe-lahan2 menjadi ketinggalan hingga barisan mereka lambat laun makin renggang, Tentu saja mereka terperanjat, pikir mereka: "Jika musuh mau gempur barisan kita pada saat ini mungkin barisan bintang ini tidak bisa dipertahankan lagi."

Walaupun mereka sudah tahu bakal celaka, tapi karena sudah terlanjur, mereka tak pikirkan lain lagi, mereka hanya bisa berbuat sepenuh tenaga dan keluarkan seluruh kepandaian untuk lari lebih cepat mengikuti Kwe Ceng yang masih terus berputar.

Sebagai contoh dapat dilukiskan umpamanya kita ikat sepotong batu dengan seutas tali lalu kita putar secepat mungkin, diwaktu batu berputar kencang dan mendadak kita lepaskan, maka batu itu, pasti akan mencelat jauh dengan tali pengikatnya tadi.

Sama halnya sekarang dengan ketujuh imam itu, mereka telah dipengaruhi Kwe Ceng yang makin putar makin cepat sampai pedang mereka terangkat di atas kepala, makin cepat mereka berlari, makin tidak kuat memegang pedang mereka se-akan2 ada satu tenaga maha besar yang menariknya dan hendak merebut pedang dari tangan mereka.

"Lepas!" se-konyong2 terdengar Kwe Ceng membentak. Berbareng ini ia meloncat cepat ke kiri.

Oleh karena tidak men-duga2 akan kejadian itu, ketika imam2 itu mendadak lihat Kwe Ceng meloncat ke atas, terpaksa mereka harus ikut melompat ke-atas juga. Dan aneh, entah mengapa ketujuh pedang yang mereka pegang itu semuanya tidak bisa mereka pertahankan lagi, seluruhnya telah terlepas dari cekalan, seperti tujuh ular perak saja ketujuh pedang itu menyamber ke dalam hutan yang berjarak belasan tombak jauhnya.

Dalam pada itu mendadak pula Kwe Ceng berdiri tegak, dengan ketawa kemudian ia berpaling.

Sebaliknya wajah ke tujuh imam itu menjadi pucat seperti mayat, mereka berdiri terpaku di tempatnya, hanya masing masing tetap menduduki tempat barisannya, barisan mereka sama sekali belum menjadi kacau. Melihat keadaan ini diam2 Kwe Ceng memuji juga atas kegigihan imam2 itu.

Sementara imam Thian-koat tadi tiba2 bersuit sekali, menyusul ini semuanya lantas mundur ke belakang batu2 cadas dan menghilang.

"Ko-ji, marilah kita naik gunung sekarang," teriak Kwe Ceng.

Tapi meski sudah dua kali ia memanggil, belum juga ada sahutan dari Nyo Ko, waktu ia coba mencari namun bayangan Nyo Ko sudah tak tertampak lagi, yang dia ketemukan hanya sebuah sepatu kecil yang ketinggalan di semak2 di belakang pohon sana.

Tentu saja Kwe Ceng terkejut, ia mengerti ke-Tho-hoa-to, meski setiap hari ia tetap berlatih diri lain yang mengira di samping dan telah menculik si Nyo Ko. Tetap bila ia pikir para imam tadi hanya salah paham saja terhadap dirinya, pula Coan-cing-kau selamanya suka bantu yang lemah dan berantas kejahatan, tidak nanti satu anak kecil dibikin susah oleh mereka, maka ia tidak menjadi kuatir lagi.

Dengan kumpulkan tenaganya, segera ia berlari cepat mendaki keatas.

Sudah ada belasan tahun Kwe Ceng tirakat di Thoa-hoa-to, meski setiap hari ia tetap berlatih diri, namun sudah sekian lamanya belum pernah ia bergebrak dengan orang, karena itu kadang2 terasa kesepian olehnya, kini kebetulan bisa bergebrak seru dengan para imam tadi, maka diam2 ia merasa cukup puas.

Sementara di jalannan pegunungan semakin sulit ditempuh, tak antara lama, bahkan awan hitam menutup raut sang dewi malam, mendadak udara-pegunungan cerah menjadi gelap guIita, Karena keadaan ini, Kwe Ceng menjadi ragu2, ia pikir: "Tempat ini aku belum apal, jangan2 para To-heng itu main tipu muslihat, betapapun aku harus waspada."

Karenanya ia lantas lambatkan langkahnya, ia jalan pelahan saja. sesudah maju lagi, tiba2 awan hitam tadi terpencar di tiup angit, rembulan memancarkan sinarnya dengan terang benderang, ia dengar di balik gunung sana sayup2 ada suara napas orang yang hampir ratusan banyaknya, meski suara napas itu sangat pelahan, namun karena jumlah orangnya banyak, maka Kwe Ceng dapat mengetahuinya. Tetapi ia tidak menjadi gentar, sesudah kencangkan ikat pinggangnya, segera ia melanjutkan perjalanan pula, setelah melintasi satu lereng gunung, tiba-tiba ia menjadi kaget.

Kiranya di depannya terdapat satu lapangan yang sangat luas dengan sekelilingnya dikitari gunung2, keadaannya sangat angker dan bagus sekali, Di bawah gunung yang terdapat lapangan luas itu terdapat pula satu kolam besar, karena sorotan sinar bulan, maka air kolam menjadi berkelap-kelip kemilauan.

Di depan kolam besar kelihatan ratusan imam yang berdiri terpencar, para imam ini semuanya memakai kopiah kuning dan jubah kelabu, tangan menghunus pedang, sinar pedang yang gemerdepan menyilaukan mata.

Ketika Kwe Ceng mengawasi kiranya para imam itu tiap2 tujuh orang tergabung menjadi satu kelompok hingga seluruhnya ada empat belas barisan bintang Thian-keng-pak-tau-tin. Tiap2 tujuh Pak-tau-tin kecil ini terbentuk pula menjadi satu Pak-tau-tin yang besar, sungguh hebat sekali keadaan barisan bintang raksasa ini, karena itu diam2 Kwe Ceng berkuwatir.

Dalam pada itu tiba2 terdengar satu imam dalam barisan raksasa itu bersuit, habis ini di 98 imam itu dengan cepat terpencar, ada yang di depan ada yang di belakang, sekaligus berubahlah barisan bintang mereka, segera Kwe Ceng terkurung di-tengah2. Tiap-tiap imam itu siap sedia dengan pedang terhunus, mereka memandang dengan mata tak berkedip dan semuanya bungkam.

"Dengan hati tulus Cayhe mohon bertemu Khu-cin-jin, maka harap para To-heng jangan merintangi," segera Kwe Ceng menyapa dengan memberi hormat kepada para imam itu.

"llmu kepandaianmu cukup hebat, kenapa kau tidak tahu harga diri dan mau berkomplot dengan kaum siluman ? Hendaklah kau lekas insaf bahwa selamanya wanita suka menyesatkan orang, sayang kalau puluhan tahun latihan kepandaianmu hanya dibuang dalam sekejap saja !" demikian imam berjenggot panjang dalam barisan itu menjawab Nada suaranya rendah, tetapi setiap, kata diucapkannya dengan jelas, suatu tanda tenaga dalamnya sudah kuat sekali, lagu kata2nya juga sungguh2 nyata ia menasihati orang dengan setulus hati.

Sudah tentu Kwe Ceng merasa geli dan mendongkol pikirnya dalam hati: "Para imam hidung kerbau ini entah anggap aku ini manusia macam apa? Coba kalau Yong-ji berada didampingku, pasti tidak akan terjadi kesalahan paham seperti sekarang ini."

Oleh karena itu, dia lantas menyahut: "Siluman apa dan wanita apa yang kau maksudkan ? Sungguh Cayhe sama sekali tidak tahu-menahu, jika Cayhe bertemu dulu dengan Khu-cinjin, tentu segalanya akan menjadi terang"

"Kau bisa ketemu beliau jika mampu boboIkan Pak-tau-tin dari Coan-cin-kau kami ini," kata imam berjenggot pandang tadi.

"Cayhe hanya seorang diri, pula ilmu kepandaianku terlalu rendah, mana berani melawan ilmu mujijat kalian ? Harap saja anak yang aku bawa itu dibebaskan dan silakan memberi kesempatan padaku buat menemui Khu-cin-jin," sahut Kwe Ceng.

"Hm, kau masih coba berlagak dan putar lidah? Di depan Tiong-yang-kiong di Cong-lam-san ini mana boleh kau maling cabul ini berbuat tidak se-mena2?" mendadak imam jenggot panjang membentak. Habis ini pedangnya memutar ke atas dengan membawa samberan angin yang santar hingga menerbitkan suara ngaungan yang bergema.

Karena inilah imam yang lain serentak gerakan senjata mereka juga, sekaligus 98 batang pedang berputar kian kemari hingga menerbitkan angin yang keras, sinar pedang yang berpantulan tersusun seperti satu jaringan sinar perak

Diam2 Kwe Ceng mengeluh oleh susunan barisan bintang2 ini, ia pikir dengan seorang diri mana mungkin bisa menandingi lawan yang begitu banyak?

Dalam pada itu sebelum dia bisa ambil sesuatu keputusan, ke-96 imam itu sudah lantas merubung maju dri kedua belah, sinar pedang mereka menyamber rapat hingga boleh dikatakan lalat saja sukar menerobos.

"Hayo, senjata apa yang kau pakai, lekas kau keluarkan!" terdengar si imam jenggot panjang membentak.

"Rupanya barisan Pak-tau-tin mereka tidak gampang dipecahkan, tetapi kalau hendak mencelakai aku, rasanya mereka juga tidak mampu, Biarlah aku melihat cara bagaimana permainan barisan mereka ini," demikian Kwe Ceng membatin.

Maka dengan se-konyong2 ia memutar pergi, ia lari menduduki tempat di ujung barat-daya, berbareng ia keluarkan tipu pukulan "ciam-liong-bat-yong" atau naga selulup jangan digunakan, satu tipu pukulan yang lihay dari ilmu pukulan "Hang-liong-sip-pat-ciang" (ilmu pukulan penakluk naga)" yang meliputi delapan belas jurus. Sekali tangannya diulur lalu ditarik pula terus mendadak didorong lagi ke samping.

Karena serangan ini, ketujuh imam muda yang menjaga barisan ujung barat-daya itu lekas2 pindahkan pedang mereka ke tangan kiri, lalu sambil bergandengan tangan mereka ulur telapak tangan kanan untuk menyambut pukulan Kwe Ceng tadi.

Tak tahunya ilmu pukulan ini sudah dilatih Kwe Ceng sedemikian rupa sehingga di atas puncaknya kesempurnaan, tenaga dorongannya tadi luar biasa kerasnya, yang paling lihay justru terletak pada tenaga tarikan kembalinya tadi. Oleh karena itu, sepenuh tenaga ketujuh imam itu menahan dorongannya, diluar dugaan menyusul satu kekuatan yang maha besar malah menarik lagi ke depan, keruan ketujuh imam muda ini tak bisa tancap kaki lebih kuat lagi, tanpa kuasa mereka terbanting jatuh, Meski segera mereka bisa melompat bangun, namun tidak urung muka mereka sudah kotor penuh debu hingga mereka merasa malu.

Nampak betapa lihaynya Kwe Ceng, sekali turun tangan tujuh anak muridnya kena dibanting roboh, tentu saja imam jenggot panjang tadi sangat terkejut, segera ia bersuit panjang, ia geraki ke-14 Pak-tau-tin mereka dan bergandeng menjadi satu secara ber-deret2.

Dalam keadaan demikian, sekalipun berlipat ganda pula tenaga pukulan Kwe Ceng juga tidak mungkin sanggup mendorong ke-98 imam yang banyak ini. Maka ia tak berani menyerang secara keras lawan keras lagi, segera ia keluarkan Gin-kang atau ilmu entengi tubuh, ia menerobos ke sana kemari diantara barisan orang, ia pikir mencari lubang dahulu untuk kemudian baru turun tangan mematahkan barisan lawan.



Sesudah lari sini dan lompat sana, ia sengaja pancing barisan musuh supaya berubah tempat, namun segera ia tahu kalau hanya kekuatan seorang diri saja sungguh sulit untuk mematahkan barisan bintang2 ini, sementara itu makin lama barisan itu semakin ciut garis kepungan mereka, Kwe Ceng merasa hendak berkelit atau hindarkan diri makin lamapun semakin sulit.

Karenanya diam2 Kwe Ceng berusaha cara bagaimana untuk menerjang keluar kepungan musuh Ketika mendadak ia mendongak, ia lihat jauh di Iamping gunung sebelah kanan sana berdiri satu kuil yang sangat megah, ia taksir tentu itulah Tiong-yang-kiong, ia lihat kira2 belasan li jauhnya kuil itu, ia memperhitungkan suara teriakannya masih bisa mencapai istana itu, maka diam2 ia kumpulkan seluruh tenaga dalamnya, sesudah siap, mendadak ia berseru keras: "Tecu (anak murid) Kwe Ceng mohon bertemu! Tecu Kwe Ceng mohon bertemu !"

Begitu keras suara teriakan hingga seperti bunyi guntur di siang hari sampai kuping para imam itu terasa pekak, bahkan tergetar sampai kepala pusing dan mata kabur, seketika daya serangan mereka menjadi kendor.

"Awas, jangan sampai kena dikibuli maling cabul ini," lekas2 jenggot panjang tadi memberi semangat pada kawan-kawannya.

Kwe Ceng menjadi gusar mendengar orang berulang kali memaki dirinya, ia pikir : "Barisan bintang2 ini berada dibawah pimpinannya, asal aku hantam roboh orang ini, ular tanpa kepala, tentu barisan ini tidak sulit lagi untuk dihancurkan." - Karena itu, segera ia buka serangan lagi, ia selalu incar si-imam jenggot panjang.

Di luar dugaannya, keistimewaan barisan bin-tang2 ini justru adalah memancing musuh untuk menggempur pucuk pimpinannya, dengan demikian barisan2 dalam kelompok kecil lainnya segera mengepung dari kedua sayap, kalau terjadi begini berarti musuh sudah terjebak ke dalam jaring2 mereka.

Syukur Kwe Ceng bukan sembarang orang, baru beberapa langkah ia menguber imam jenggot panjang itu, segera ia merasa gelagat tidak menguntungkan, tiba2 ia merasakan daya tekanan dari belakang bertambah hebat, begitu pula dari kedua sayap mengerubut maju secara ber-bondong2. Satu kali ia hendak belok ke kanan, tetapi dua barisan kecil dari depan telah menyerang berbareng dengan 14 pedang.

Tempat yang diarah ke 14 pedang para imam ini ternyata tepat dan bagus hingga Kwe Ceng hendak berkelit tak bisa, hendak mengegos pun tak sempat.

Namun begitu menghadapi bahaya demikian ini, dalam hati Kwe Ceng bukannya menjadi takut, sebaliknya hawa amarahnya semakin memuncak, pikirnya dalam hati: "Sekalipun kalian dakwa aku sebagai maling cabul segala, tapi sebagai orang beragama seharusnya berwelas-asih, kenapa tiap2 seranganmu begini keji? Apa memang sengaja hendak melenyapkan jiwaku ?"

Mendadak ia meloncat ke samping, berbareng sebelah kaki melayang, sekali tendang ia bikin satu imam muda terpental, sedang tangan kiri di-ulur pula buat merebut pedang orang, dengan senjata rampasan ini ia tangkis tujuh pedang yang sementara itu telah menyerang lagi dari sebelah kanan, Maka terdengarlah suara nyaring beradunya senjata, tahu2 ketujuh pedang musuh sudah ter-kutung semua, sebaliknya pedang yang Kwe Ceng pegang masih baik2 saja tanpa rusak.

Hendaklah diketahui bahwa pedang yang dirampas Kwe Ceng itu tiada bedanya dengan pedang para imam yang terkutung itu dan bukannya lebih tajam, soalnya karena tenaga dalamnya sengaja dia salurkan ke ujung pedangnya dan sekali gus bikin tujuh pedang musuh tergetar putus.

Mungkin saking kaget oleh ketangkasan Kwe Ceng ini hingga muka ketujuh imam tadi jadi pucat dan mulut temganga.

Nampak barisan kawannya bobol, lekas2 dari samping dua barisan kecil merubung maju untuk melindungi barisan yang duluan, Diam2 Kwe Ceng ingin men-coba2 lagi kekuatannya sendiri demi nampak 14 imam kedua kelompok barisan pendatang ini tangan bergandeng tangan, tenaga 14 orang telah tergabung menjadi satu. Maka sengaja ia ajun pedang rampasannya, sekali tempel, senjata ke -14 imam itu segera melengket dengan pedang Kwe Ceng ini.

"Awas !" tiba2 Kwe Ceng berseru, berbareng tangannya sedikit diangkat, maka terdengar suara "krak" yang riuh, ternyata ada duabelas batang pedang para imam itu yang patah. Masih dua batang lagi telah mencelat terbang ke udara.

Tentu saja luar biasa terperanjatnya imam2 itu, lekas2 mereka melompat mundur.

Walaupun sekaligus senjata para imam itu kena dipatahkan dan dilempar pergi, namun Kwe Ceng tidak merasa puas seluruhnya, pikirnya: "Nyata kepandaianku masih belum sampai pada tingkatan yang paling tinggi, maka dua pedang tadi masih belum bisa kubikin patah sekalian."

Dalam pada itu, para imam sudah bertambah waspada, cara mereka menyerang pun lebih hati2, tetapi semakin kencang pula kepungan mereka, sebaliknya karena belum bisa membikin patah semua pedang tadi, Kwe Ceng merasa barisan musuh dijaga lebih kuat, dalam hati ia menjadi ragu2, ia pikir jangan sampai diriku akhirnya kecundang, urusan jangan sampai terlambat lebih baik turun tangan lebih dulu.

Habis ini dengan sedikit mendak tubuh, mendadak Kwe Ceng meloncat ke sudut timur laut, dengan tindakan ini ia tahu kedua kelompok barisan kecil dari jurusan barat-daya pasti akan putar maju, namun ia sudah siap, meski hanya sebatang pedang yang dia pegang, tapi dalam sekejap saja ia sudah menusuk empatbelas kali, 14 titik putih gemerdep menyamber berbareng, tiap2 tusukannya tepat mengenai "yang-kok-hiat" di pergelangan tangan ke - 14 imam itu.

Meski cara menggeraki tangan Kwe Ceng tidak keras, tetapi para imam itu sudah rasakan tangan mereka tak bertenaga lagi, ke 14 pedang merekapun terjatuh ke tanah.

Luar biasa kejut para imam itu, dengan ter-sipu2 mereka melompat mundur, dan ketika pergelangan tangan mereka periksa, nyata "Yong-kok-hiat" yang kena ditutul tadi sedikit tanda merah, tetapi setetes darahpun tidak mengucur keluar, Sungguh hebat serangan Kwe Ceng ini, dia gunakan ujung pedang yang tajam itu untuk menusuk Hiat-to, tetapi sedikitpun tidak bikin lecet kulit daging, sungguh suatu kepandaian yang luar biasa.

Keruan para imam itu terperanjat, dalam hati mereka bisa membayangkan juga apabila Kwe Ceng mau tabas putus tangan mereka tadi sebenarnya bukan urusan sulit.

Kini sudah ada 5 kali 7 atau 35 pedang yang telah terlepas dari cekalan.

Imam yang berjenggot panjang tadi semakin gusar, ia tahu juga Kwe Ceng masih belum keluarkan seluruh kepandaiannya, tetapi untuk menjaga pamor Coan-cin-kau tidak merosot, berulang kali ia memberi perintah lagi, ia persempit pula lingkaran barisannya, ia pikir dengan kepungan 98 imam, secara desak-mendesak saja akan gencet mampus lawannya.

Sebaliknya hati Kwe Ceng menjadi gemas juga, batinnya : "Para To-heng ini sungguh tidak kenal baik dan jelek, agaknya terpaksa aku harus hajar mereka supaya kapok."

Tanpa ayal lagi segera ia mulai buka serangan baru, dengan Ginkang yang lihay ia menyusur kesana dan memutar kemari, hanya sekejap saja barisan bintang para imam itu sudah tampak rada kacau.

Melihat gelagat jelek, lekas2 imam jenggot panjang tadi memberi perintah agar kambrat2nya berlaku tenang dan tetap jaga rapat kedudukan barisan mereka, ia insyaf apabila sampai ikut Kwe Ceng berlari, maka akhirnya barisan mereka pasti akan kocar-kacir dipatahkan. Tetapi demi mereka berdiri tenang tak bergerak, Kwe Ceng sendiri jadi gagal usahanya.

"To-heng ini (maksudnya imam jenggot panjang) sangat paham akan rahasia barisannya, nyata dengan cepat ia bisa ambil tindakan," demikian diam2 Kwe Ceng membatin. "Biarlah aku berteriak beberapa kali lagi, coba ada suara sahutan dari Khu-totiang atau tidak"

Selagi ia mendongak hendak buka mulut, sekilas tertampak olehnya pada pojok kuil yang megah di atas gunung sana lapat2 ada berkelebatnya sinar putih, agaknya seperti ada orang sedang bertempur dengan senjata tajam, hanya sayang karena jaraknya terlalu jauh, maka gerak tubuh orangnya tidak jelas, lebih2 suara beradunya senjata tidak bisa kedengaran.

Hati Kwe Ceng tergerak "Siapakah yang bernyali begitu besar, berani dia ngacau ke Tiong-yang-kiong ? Rupanya kejadian malam ini ada sesuatu yang mencurigakan"

Karena itu, ia ingin lekas memburu ke kuil di atas gunung untuk melihat apa yang terjadi, cuma para imam masih terus merintanginya dengan mati-matian.



Akhirnya Kwe Ceng menjadi tak sabar, tiba2 tangan kirinya memukul dengan gerak tipu "kian-liong-cay-thian" (melihat naga di sawah), sedang tangan kanan dengan tipu pukulan "kong-liong-yu-hwe" (naga pembawa sial), sekali serang ia keluarkan ilmu kepandaiannya hantam kanan-kiri dengan kedua tangannya.

Karena serangan kanan-kiri ini, maka barisan bintang raksasa itu terpaksa membagi 49 orang buat menahan serangan dari kiri dan 49 orang lainnya menahan hantaman dari sebelah kanan.

Diluar dugaan, belum penuh gerak serangan Kwe Ceng tadi dilontarkan, ditengah jalan tiba2 berubah, gerak tipu "kian-liong-tjay-thian" mendadak berubah menjadi "kong-liong-yu-hwe" dan sekaligus Kwe Ceng gerakkan kedua tangan dengan tipu pukulan Kian-liong-cay-dian dan Kong-liong-yu-hwe kekanan dan kiri lalu diputar balik secara berlawanan sebaliknya.

Sebenarnya ilmu pukulan, dari kanan-kiri, kedua tangan sekaligus mengeluarkan tipu serangan yang berlainan, bahkan ditengah jalan tipu serangan itu bisa berubah, sungguh orang tidak pernah dengar atau menyaksikannya (dari mana Kwe Ceng memperoleh ajaran ilmu pukulan kanan-kiri dengan serangan yang berlainan, pada kesempatan lain akan diceritakan tersendiri).

Padahal barisan Pak-tau-tin besar sebelah kiri sedang keluarkan tenaga buat menahan tipu "kian-liong-cay-thian" dan barisan sebelah kanan menangkis tipu "kong-liong-yu-hwe", karena perubahan yang terbalik ini, maka tertampaklah bayangan Kwe Ceng berkelebat, tahu2 dia telah meloncat keluar dari celah2 himpitan kedua barisan besar itu, sebaliknya masing2 pihak dari ke-49 imam itu karena tidak pernah menyangka akan tindakan lawan itu, keruan lantas terdengar suara gedebukan yang ramai, kedua barisan itu telah saling tumbuk dan saling seruduk, banyak pedang yang patah dan tangan terluka, ada pula yang muka babak belur dan hidung mancur, beberapa puluh orang telah menderita luka semua.

Imam berjenggot panjang tadi meski sempat hindarkan diri lebih cepat, namun tidak urung ia ikut kelabakan juga, saking gemasnya, segera ia kerahkan seluruh barisannya terus mengudak pula. Tetapi karena amarahnya ini justru telah melanggar pantangan ilmu silat dari golongan Coan-cin-kau yang mengutamakan ketenangan sementara itu Kwe Ceng berlari cepat di depan dan dari belakang ke-98 imam itu mengudak dengan kencang.

Tatkala sampai ditepi sebuah kolam besar, Kwe Ceng lihat di depan hanya air belaka, namun ia tidak kurang akal, mendadak ia lemparkan pedang rampasannya lurus kepermukaan air.

Meski pedang ini terbuat dari baja, namun kekuatan yang Kwe Ceng gunakan begitu tepat, maka batang pedang ini me-loncat2 terapung di atas air beberapa kali Kesempatan inilah digunakan Kwe Ceng dengan baik, ia melayang ke tengah kolam, dengan kaki kanan ia tutul pelahan di atas batang pedang, Pada saat pedang itu tenggelam kedalam kolam, namun Kwe Ceng sudah pinjam tenaga tutulan tadi untuk melompat sampai di seberang.

Sebaliknya para imam itu yang sial, mereka sedang mengudak dengan kencangnya dan tak keburu mengerem lagi, maka terdengarlah suara "plang-plung" yang ramai beberapa puluh kali, nyata ada 40-50 orang yang telah kecemplung ke dalam kolam. Sedang beberapa puluh yang di belakang menginjak punggung imam2 yang depan, karena inilah mereka bisa berhenti ditepi kolam.

Sedang imam2 yang kecemplung tadi karena tak bisa berenang, banyak yang megap2 dan ber-teriak-teriak minta tolong, cepat imam2 lainnya yang bisa berenang memberi pertolongan dan dengan sendirinya tidak sempat buat menguber Kwe Ceng lagi.

Diwaktu para imam ini tunggang langgang, tiba2 Kwe Ceng dengar suara genta yang ditabuh keras berkumandang dari Tiong-yang-kiong, itu istana kaum Coan-cin-kau. Suara genta itu dibunyikan secara titir, keras dan kerap, agaknya seperti tanda bahaya.

Waktu itu Kwe Ceng baru lepaskan diri dari rintangan para imam dan lagi berlari menuju Tiong-yang-kiong secepatnya, ketika ia dengar suara genta rada aneh, ia telah merandek dan mendongak maka terlihatlah olehnya di belakang kuil suci itu ada sinar api yang ber-kobar2 menjulang tinggi.

Tentu saja Kwe Ceng kaget, pikirnya : "Kiranya hari ini memang benar ada orang hendak gempur Coan-cin-kau, aku harus lekas pergi menolongnya." Dalam pada itu ia dengar suara teriakan para imam tadi telah menyusul dari belakang lagi.

Kini Kwe Ceng baru mengerti tentunya imam2 ini telah salah sangka dirinya adalah musuhnya, kuil mereka sedang terancam bahaya, sudah tentu mereka lebih kalap dan hendak adu jiwa dengan dirinya, Namun iapun tidak urus mereka lagi melainkan dengan cepat ia lari terus ke atas.

Dengan Ginkang atau ilmu entengi tubuh yang Kwe Ceng dapat belajar juga dari Coan-cin-kau, yakni ajaran Ma Giok, maka tidak sampai waktu satu tanakan nasi ia sudah tiba sampai di depan Tiong-yang-kiong, ia lihat api sudah berkobar dan menjalar hebat, Tetapi aneh, ratusan To-su atau imam dari Coan-cin-kau yang masing2 memiliki ilmu silat tinggi itu ternyata tiada satu-pun yang keluar buat memadamkan api.

Diam2 Kwe Ceng merasa kuatir. Waktu ia mengamati lagi, kiranya api menjalar dari bagian belakang istana yang megah itu terbukti bagian depannya masih utuh.

Cepat ia melintasi pagar tembok yang tinggi itu dan melompat masuk pelataran depan kuil itu, maka terlihatlah olehnya dipendopo sana sudah ber-jubel2 orang yang lagi saling hantam dengan mati-matian.

Waktu Kwe Ceng menegasi pula, ia lihat ada 49 orang imam berjubah kuning yang tersusun menjadi tujuh barisan Pak-tau-tin sedang menandingi serangan 60 atau 70 orang musuh. Para musuh pendatang itu ada yang tinggi ada yang pendek, gemuk atau kurus, seketikapun tak dapat dilihat dengan terang.

Hanya kepandaian silat dan golongan para pendatang ini masing2 berlainan, ada yang memakai senjata dan ada yang menggunakan tangan kosong, mereka terus merangsak dengan penuh tenaga.

Sebenarnya tidak lemah ilmu silat para penyerang ini pula jumlahnya lebih banyak, maka para imam Coan-cin-kau sudah mulai terdesak di bawah angin, cuma lawan mereka menyerang dan menghantam secara perseorangan, sebaliknya ke-tujuh barisan bintang para imam itu bisa bahu-membahu dan bantu membantu, mereka menjaga diri dengan sangat rapat, Meski para musuh sangat lihay tak mampu mendesak para imam itu barang selangkahpun.

Melihat pertarungan besar2an ini, Kwe Ceng menjadi heran, Selagi ia hendak membentak dan tanya, tiba2 ia dengar di dalam istana kuil itu ada suara samberan angin yang men-deru2, ternyata di dalam sana masih ada rombongan lain lagi yang sedang bertempur.

Dari angin pukulan yang kedengaran itu, agaknya orang yang bergebrak di dalam istana itu ilmu silatnya jauh lebih tinggi daripada para penyerang yang berada di luar.

Lekas2 Kwe Ceng memburu maju, ia mengegos dan menerobos masuk, ia berkelit ke kiri terus menyusup ke kanan, tahu2 ia sudah menyelip masuk melalui Pak-tau-tin para imam, Tentu saja imam2 Coan-cin-kau sangat kaget, berbareng mereka saling memperingatkan kawannya, tapi karena musuh dari luar terlalu hebat tekanannya, maka mereka tidak sanggup membagi sebagian untuk mengudak Kwe Ceng.

Di dalam istana itu sebenarnya terang benderang oleh belasan lilin yang besar, tatkala itu api yang berkobar dari ruangan belakang sudah menjalar ke depan, dari pancaran sinar api yang berkobar itu bercampurkan asap tebal yang menghembus terbawa angin, sinar lilin di dalam ruangan hanya kelihatan remang2 saja.

Sementara Kwe Ceng lihat di dalam istana itu ber-deret2 tujuh imam duduk sila di atas ka-suran yang bundar, telapak tangan kiri mereka saling tempel, hanya tangan kanan mereka yang dikeluarkan untuk menahan kepungan belasan orang musuh.

Begitu datang Kwe Ceng tidak periksa pihak musuh melainkan terus pandang dulu pada ketujuh imam Coan-cin-kau, ia lihat di antara tujuh orang itu yang tiga sudah berumur dan yang empat masih muda, yang tua itu masing2 ialah Ma Giok, Khu Ju-ki dan Ong Ju-it, sedang empat imam yang muda hanya seorang saja yang dia kenal, yakni In Ci-peng, murid Khu Ju-ki.

Ketujuh imam inipun memasang jaring2 barisan Pak-tau-tin, mereka berduduk saja tanpa bergerak Diantara tujuh imam ini ada satu di antaranya yang kepalanya menunduk dan sedikit membungkuk hingga mukanya tidak tertam-pak jelas.

Demi nampak Ma Giok bertujuh berada dalam keadaan terancam, seketika darah Kwe Ceng jadi panas, iapun tidak peduli lagi siapa dan darimana adanya musuh itu, dengan sekali bentakan yang menggeledek segera ia mendamperat : "Kawanan bangsat yang kurangajar, berani kalian main gila ke Tiong-yang-kiong sini ?"



Berbareng itu kedua tangan mengulur, sekaligus ia dapat mencengkeram punggung dua orang musuh, selagi ia bermaksud membanting sasaran pertama ini, tak terduga kedua orang ini ternyata tergolong jagoan tinggi, walaupun punggung mereka kena dijamberet, namun kedua kaki mereka ternyata masih terpaku di lantai dan tidak kena dibanting.

Tentu saja Kwe Ceng terkejut, pikirannya: "Darimanakah mendadak bisa datang lawan keras begini banyak ? Pantas kalau Coan-cin-kau hari ini harus menderita kekalahan."

Sambil berpikir iapun sembari kerjakan serangan lain, mendadak ia kendurkan jamberetan-nya tadi, menyusul kakinya lantas melayang, ia serampang kaki kedua orang lawannya.

Pada waktu itu kedua lawannya sedang mengeluarkan kepandaian "Cian-kin-tui" atau tindihan seberat ribuan kati, yakni semacam ilmu yang bikin tubuhnya menjadi berat untuk melawan tarikan pwe Ceng tadi, sama sekali tidak mereka duga bahwa Kwe Ceng bisa ubah serangannya secepat itu.

Tanpa ampun lagi mereka kena diserampang hingga tubuh mereka mencelat keluar pintu.

Tentu saja pihak penyerang itu terkejut tatkala mengetahui pihak lawan kedatangan bala bantuan, Akan tetapi karena mereka yakin pasti akan dipihak pemenang, maka datangnya Kwe Ceng tidak mereka perhatikan, hanya ada dua orang yang segera maju dan membentak "Siapa kau ?"

Namun Kwe Ceng tidak menggubris, tanpa berkata ia sambut kedua orang ini dengan gablokan kedua telapak tangannya secara susul-menyusul.

Sungguh tidak pernah diduga kedua orang itu, belum mereka mendekat atau mendadak tenaga pukulan Kwe Ceng sudah bikin tergetar mereka hingga tak bisa berdiri tegak, tanpa ampun lagi dupiali suara "bluk" terdengar, punggung mereka tertumpuk pada dinding tembok dengan keras hingga darah segar muncrat keluar dari mulut mereka.

Nampak empat kawan mereka roboh beruntun-runtun, keruan para musuh yang lain menjadi jeri, seketika tiada lagi yang berani maju buat mencegat.

Di lain pihak Ma Giok, Khu Ju-ki dan Ong Ju-it segera mengenali Kwe Ceng dalam hati mereka menjadi girang luar biasa, "Orang ini datang, Coan-cin-kau kami tidak perlu kuatir lagi!" demikian kata mereka dalam hati.

Sementara Kwe Ceng sama sekali tidak pandang sebelah mata pada para musuh itu, bahkan ia lantas berlutut ke hadapan Ma Giok buat memberi hormat tanpa gubris musuh2 yang lain. "Tecu Kwe Ceng memberi hormati" demikian ia berkata.

Tatkala itu rambut alis Ma Giok, Khu Ju-ki dan Ong Ju-it sudah putih karena usia mereka yang sudah menanjak, mereka hanya memanggut sambil bersenyum dan angkat tangan buat balas hormat.

"Awas, Kwe-heng!" tiba2 In Ci-peng berseru memperingatkan Kwe Ceng.

Dalam pada itu, Kwe Ceng sudah merasa di belakang kepalanya ada mendesisnya angin, ia tahu ada musuh melakukan pembokongan, tetapi iapun tidak menoleh atau berpaling, dengan tangan menahan di lantai, tubuhnya lantas terangkat ke atas dan diwaktu turunnya, kedua lututnya dengan tepat menindih di atas punggung kedua pembokong ini Dengan demikian Kwe Ceng masih tetap berlutut, hanya di bawah lututnya telah bertambah dengan dua orang pengganjel.

Kiranya dengan secara tepat dan hebat sekali Kwe Ceng telah gunakan lututnya untuk menumbuk jalan darah penyerang gelap tadi, keruan dengan lemas kedua orang itu terkulai ke lantai dan dipakai sebagai kasur pengganjel Kwe Ceng.

Ma Giok tersenyum melihat kejadian ini, katanya: "Bangunlah, Ceng-ji, belasan tahun tak berjumpa, rupanya kepandaianmu sudah jauh lebih maju!"

"Cara bagaimana harus selesaikan beberapa orang ini, harap Totiang memberi petunjuk," kata Kwe Ceng sambil berdiri.

Tetapi sebelum Ma Giok menjawab, tiba2 Kwe Ceng mendengar di belakangnya ada dua orang secara berbareng bersuara tertawa "haha", suara tertawaan ini sangat aneh sekali, kalau yang satu tajam menusuk telinga, adalah yang lain sebaliknya nyaring menarik. Cepat Kwe Ceng menoleh, maka tertampaklah olehnya di belakangnya sudah berdiri dua orang.

Kedua orang ini yang satu adalah paderi Tibet yang berjubah merah, kepalanya memakai kopiah berlapis emas, wajahnya kurus, Sedang yang satu lagi memakai baju kuning, tangan mencekal sebuah kipas lempit, angkuh dan tampan, nyata sekali seorang putera bangsawan.

Kedua orang ini berdiri dengan sikap yang tenang dan tidak banyak bicara, terang sekali mereka adalah dua musuh tangguh, sama sekali berbeda dengan para musuh yang lain. Oleh karenanya Kwe Ceng tak berani pandang enteng kedua musuh yang lain.

Oleh karenanya Kwe Ceng tak berani pandang enteng kedua musuh ini, dengan membungkuk badan ia lantas memberi hormat dahulu.

"Siapakah kalian berdua? Ada keperluan apakah datang ke sini?" demikian ia menegur.

"Dan kau sendiri siapa? Untuk apa kau datang kemari ?" dengan tertawa putera bangsawan tadi balas bertanya.

"Tayhe (aku yang rendah) she Kwe bernama Ceng, adalah murid beberapa guru yang berada di sini ini," sahut Kwe Ceng tetap dengan ramah.

"Sungguh tidak nyana dalam Coan-cin-kau ternyata masih ada tokoh seperti kau ini," ujar si putera bangsawan itu dengan tertawa.

Meski umur putera bangsawan itu belum ada tiga puluhan, namun cara mengucapkan kata2nya ternyata berlagak seperti orang tua saja, seperti tidak pandang sebelah mata pada Kwe Ceng.

Sebenarnya Kwe Ceng hendak terangkan bahwa dirinya bukan anak murid Coan-cin-kau, tetapi karena kata2 orang yang pandang rendah padanya, mau-tak-mau rada panas juga hatinya.

Memangnya iapun tidak pandai bicara, maka ia tidak ingin banyak pmong, ia hanya menjawab singkat saja: "Kalian berdua ada permusuhan apakah dengan Coan-cin-kau ? (Mengapa perlu mengerahkan kekuatan begini banyak dan kobarkan api membakar kuil ini ?"

"Siapakah kau ini ? Berdasarkan apa kau berani jikut campur urusan ?" sahut Kui-kong-cu (putera bangsawan) itu dengan ketawa.

"Aku justru ingin ikut campur tahu," sahut Kwe Ceng ketus.

Dalam pada itu berkobarnya api semakin hebat dari telah menjalar lebih dekat lagi, tampaknya tidak lama lagi kuil Tiong-yang-kiong itu pasti akan terbakar menjadi tumpukan puing.

Tiba2 putera bangsawan itu geraki kipas lempitnya, dikembangkan terus ditutup lagi, maka sekilas tertampaklah pada kertas kipasnya yang putih itu terlukis setangkai bunga Bo-tan yang indah.

"Kawan2 ini aku yang bawa kemari," kemudian ia berkata dengan ketawa sambil melangkah maju, "asal kau mampu menerima tiga puluh gebrakan dari aku, segera aku mengampuni kawanan imam hidung kerbau ini!"

Mendengar kata2 orang yang sombong ini, Kwe Ceng pun sungkan bicara lebih banyak lagi, tiba2 ia ulur tangan kanannya, sekali bergerak ia pegang kipas lempit orang terus ditarik dengan keras.

Dengan tarikan ini, kalau putera bangsawan itu tidak melepaskan kipasnya, maka seluruh tubuhnya pasti akan ikut terseret.

Diluar dugaan, begitu Kwe Ceng membetot badan Kui-kong-tju itu hanya sempoyongan sedikit saja, sedang kipasnya masih belum terlepas dari cekalannya.

Tentu saja Kwe Ceng terkejut, pikirnya: "Orang ini masih begini muda, namun sudah sanggup menahan tenaga tarikanku tadi, di jagat ini ternyata masih ada orang pandai seperti dia, kenapa selamanya aku belum pernah mendengarnya ?"

Oleh karena pikiran itu, segera pula ia tambah tenaga tarikannya terus menjambret lagi sambil membentak : "Lepas !"

Se-konyong2 muka putera bangsawan itu bersemu guram, tetapi hanya sekilas saja lantas lenyap lagi, mukanya kembali sudah putih bersih pula. Kwe Ceng mengerti orang lagi menahan tenaga tarikannya dengan Lwekang yang tinggi, jika pada saat ini juga ia tambahi tenaga tarikan-nya, asal muka orang tiga kali mengunjuk semu guram, maka dapat dipastikan jerohannya (isi perut) akan terluka parah.

Akan tetapi hati Kwe Ceng memang berbudi, ia pikir orang ini bisa berlatih diri sampai tingkatan sedemikian, sesungguhnya bukan soal gampang, maka ia tidak ingin melukai orang dengan tenaga berat, ia tersenyum dan mendadak lepaskan tangannya.

Meski Kwe Ceng sudah buka tangannya, tapi nyatanya kipas lempit itu masih terletak di telapak tangannya, pula tenaga Kui-kong-cu yang membetot kembali masih tetap besar, namun aneh, tenaga telapak tangan Kwe Ceng ternyata telah dia salurkan dari kipas ke tangan lawan, meski putera bangsawan itu sudah merebut dengan sekuat tenaga, toh tenaga menariknya selalu dipatahkan Kwe Ceng, dengan demikian kedua belah pihak menjadi bertahan, tidak maju dan tidak mundur, sungguhpun putera bangsawan itu sudah mengeluarkan seluruh kemahirannya, tetapi satu sentipun belum sanggup ia tarik kepihaknya. Maka insaflah dia bahwa ilmu silat lawan masih jauh di atasnya, karena ingin memberi muka padanya, maka lawan tidak rebut kipasnya.

Mengingat akan ini, segera ia lepaskan tangannya terus melompat pergi, mukanya menjadi merah malu.

"Mohon tanya she dan nama tuan yang terhormat," katanya kemudian sambil membungkuk badan.

"Ah, nama Tjayhe tiada harganya disebut, cuma Ma-cinjin, Khu-cinjin dan Ong-cinjin yang berada di sini ini memang semuanya adalah guru Tjayhe yang berbudi," sahut Kwe Ceng.

Karena jawaban ini, Kui-kong-cu itu setengah percaya setengah sangsi, ia pikir tadi pihaknya sudah gempur Coan-cin-chit-to (tujuh imam Coan-cin-kau) dan yang tertampak lihay hanya barisan bintang Thian-keng-pak-tau-tin mereka, jika bergebrak satu lawan satu, maka tiada satupun Tosu itu mampu menandingi dirinya, kenapa anak muridnya malah bisa begini lihay ?

Dalam sangsinya, kembali ia mengamat-amati Kwe Ceng lagi, sudah tentu yang tertampak olehnya, Kwe Ceng memakai baju dari kain kasar yang tiada bedanya dengan petani biasa saja.

Dan selagi ia hendak buka mulut pula mengucapkan beberapa kata2 halus untuk kemudian membawa begundalnya buat mundur teratur, tiba2 dari luar terdengar suara mengaungnya tabuhan khim (kecapi), suara khim ini sangat lembut tetapi merdu, karena itu setiap orang yang mendengar sama tergetar hatinya.

Mendengar suara tabuhan khim itu, air muka Kui-kong-cu itu kelihatan rada berubah. "llmu silatmu sungguh mengejutkan orang, aku merasa sangat kagum, sepuluh tahun lagi aku akan datang kembali minta petunjuk, karena masih ada urusan lain yang belum selesai, baiklah sekarang juga aku mohon diri," demikian katanya pada Kwe Ceng. Habis berkata, kembali ia memberi hormat pula,

"Sepuluh tahun kemudian tentu aku tunggu kau disini," sahut Kwe Ceng membalas hormat orang.

Sementara itu putera bangsawan itu sudah putar tubuh dan jalan keluar, tetapi baru sampai depan pintu, tiba2 ia menoleh dan berkata pula: "Urusanku dengan Coan-cin-kau hari ini aku terima mengaku kalah, hanya kuharap To-yu (kawan dalam agama) dari Coan-cin-kau janganlah ikut campur lagi atas urusan pribadiku."

Menurutt peraturan Kangouw, kalau seseorang sudah mengaku kalah dan terima menyerah, pula sudah menentukan harinya untuk kemudian adu kepandaian lagi, maka sebelum tiba hari yang dijanjikan meskipun saling pergok lagi di tengah jalan, sekali-kali tidak boleh saling labrak dulu.

Oleh karena itulah, maka Kwe Ceng lantas menjawab : "Ya, sudah tentu."

Maka tersenyumlah Kui-hong-cu itu, segera ia hendak melangkah pergi pula.

Diluar dugaan, mendadak Khu Ju-ki telah menyentaknya dengan suara keras: "Tidak perlu sampai sepuluh tahun aku Khu Ju-ki pasti pergi mencari kau."

Mendengar suara bentakan yang kuat hingga anak telinga tergetar se-akan2 pecah, hati putera bangsawan itu menjadi keder, ia ragu2 apa orang tadi belum mengeluarkan seluruh kepandaian untuk melawannya? Karenanya ia tak berani tinggal lebih lama lagi, segera ia bertindak pergi dengan cepat.

Sesudah memandang Kwe Ceng sekejap dengan mata melotot, paderi Tibet itu pun ikut pergi bersama kawan2nya yang lain.

Kwe Ceng lihat kawanan musuh ini berwajah lain dari biasanya, hidung besar dan berewokan, rambut keriting serta mata dekuk, tampaknya seperti bukan orang dari negeri sendiri maka dalam hati ia tidak habis mengerti serta menaruh curiga, sementara ia dengar suara saling adunya senjata dan suara bentakan di ruangan depan sudah mulai berhenti juga, ia tahu tentu musuh sudah mundur pergi

Dalam pada itu ia lihat Ma Giok bertujuh sudah pada berdiri, disamping itu terdapat pula satu orang yang menggeletak terlentang di lantai, waktu Kwe Ceng maju melihatnya, ia kenal bukan lain dari Kong-ling-cu Hek Tay-thong, satu diantara Coan-cin-chit-cu atau tujuh tokoh dari Coan-cin-kau.

Kiranya Ma Giok dan lain meski terancam oleh bahaya api, tapi mereka tetap duduk tenang tanpa bergerak sebabnya karena ingin melindungi kawan yang terluka ini.

Waktu Kwe Ceng memeriksanya, ia lihat muka Hek Tay-thong pucat seperti kertas, napasnya lemah dan matanya tertutup rapat, terang sekali menderita luka berat, Ketika Kwe Ceng buka jubah orang, ia menjadi lebih terkejut lagi, ia lihat di dada imam terdapat bekas lima jari tangan dengan terang sekali, warna bekas jari ini matang biru dan dekuk ke dalam daging.

"Di kalangan Bu-lim belum pernah kudengar ada yang mempunyai ilmu kepandaian semacam ini. Apa karena belasan tahun aku terasing di Tho-hoa-to dan semua kejadian di bumi ini sudah berubah jauh?" demikian ia pikir, Maka segera ia berjongkok dan mengeluarkan ilmu It-yang-ci atau tutukan jari sakti, berulang dua kali ia tutuk bagian bawah bahu Hek Tay-thong.

Dua kali tutukan ini meski tidak bisa menyembuhkan luka dan hilangkan racun pada luka Hek Tay-thong itu, namun dalam duabelas jam keadaan luka boleh dipercaya tidak bakal meluas dan memburuk,

Sementara itu api sudah makin hebat berkobarnya dan sukar ditolong lagi, lekas2 Khu Ju-ki angkat Hek Tay-thong. "Hayo, lekas keluar !" demikian ajaknya cepat.

"He, dimanakah anak yang aku bawa ? siapakah yang menahan dia? jangan sampai ia dimakan api!" tanya Kwe Ceng tiba-tiba.

Tadi Khu Ju-ki cs. sedang melawan musuh dengan segenap perhatian mereka, dengan sendirinya ia tidak tahu seluk-beluk urusan Nyo Ko yang dibawa kemari mereka menjadi bingung.

"Anak ? Anak siapa? Dimana dia?" demikian tanya mereka berbareng.

Dan sebelum Kwe Ceng menjawab, diantara sinar api yang ber-kobar2 itu, tiba2 ada berkelebatnya bayangan orang, sesosok tubuh yang kecil tahu2 telah melompat turun dari atas belandar rumah.

"Aku berada di sini, Kwe-pepek," demikianlah seru anak kecil itu dengan ketawa. Siapa lagi dia kalau bukan Nyo Ko ?

Tentu saja Kwe Ceng terkejut bercampur girang. "Kenapa kau bisa sembunyi di atas belandar rumah ?" lekas ia tanya.

"Tadi, waktu aku dengan ketujuh imam busuk itu..."

"Hus, kurangajar !" bentak Kwe Ceng memotong sebelum Nyo Ko meneruskan "Hayo, lekas memberi hormat kepada para Co-su-ya (kakek guru)."

Karena bentakan itu, Nyo Ko me-lelet2 lidah-nya, ia tak berani membantah, segera ia berlutut ke hadapan Ma Giok, Khu Ju-ki dan Ong Ju-it bertiga untuk menjura.

Ketika sampai gilirannya harus menjura pada In Ci-peng, Nyo Ko lihat orang masih muda, maka lebih dulu ia berpaling menanya Kwe Ceng: "Kwe-pepek, apakah dia Co-su-ya juga ? Agaknya tidak perlu lagi aku menjura, ya ?"

"Dia ini In-supek (paman guru), lekas menjura," sahut Kwe Ceng.

Terpaksa Nyo Ko harus menjura lagi, sungguhpun dalam hati seribu kali tidak sudi.

Habis ini, Kwe Ceng lihat Nyo Ko lantas berdiri dan tidak menjura pula pada tiga imam setengah umur yang lain, maka kembali ia membentak: "Ko-ji, kenapa kurangajar ? Hajo, menjura lagi!"



"Kalau harus menunggu aku selesai menjura, mungkin tidak keburu lagi, nanti jangan Kwe-pepek salahkan aku," dengan tertawa Nyo Ko menjawab.

Kwe Ceng sudah kenal anak ini kelakuannya sangat aneh dan nakal, banyak pula tipu akalnya, Maka ia lantas tanya : "Soal apa yang tidak keburu lagi ?"

"ltu, di sana ada satu paman To-su diringkus orang dalam kamar, kalau tidak ditolong, mungkin akan terbakar mati oleh api," sahut Nyo Ko.

"Kamar yang mana? Lekas katakan !" tanya Kwe Ceng dengan cepat.

"Eeeh, nanti dulu, coba aku ingat2 dulu, ai, kenapa aku jadi lupa," demikian Nyo Ko menjawab dengan ketawa.

Tentu saja In Ci-peng menjadi gemas, ia melototi sekejap pada Nyo Ko, habis ini dengan langkah cepat ia berlari ke kamar sebelah timur, ia dobrak pintu kamar, tapi tiada seorangpun yang tertampak, kembali ia berlari ke kamar murid angkatan ketiga yang biasa buat melatih, ketika ia tendang terpentang pintu kamar ini, ternyata seluruh kamar sudah penuh dengan asap yang tebal, remang2 kelihatan pada satu imam yang teringkus di tiang ranjang, mulutnya menganga dan sedang ber-teriak2 minta tolong dengan suara yang serak, mungkin saking lamanya ia men-jerit2.

Melihat keadaan sudah mendesak, cepat In Ci-peng cabut pedangnya, dengan sekali tabas, ia potong tali pengikat dan bebaskan imam itu dari ancaman maut.

Sementara itu Khu Ju-ki, Kwe Ceng, Nyo Ko dan lain sudah selamatkan diri keluar kuil, mereka sudah berdiri di atas tanah tanjakan dan sedang menyaksikan mengamuknya jago merah yang men-jilat2 semakin hebat itu, oleh karena diatas gunung memang tidak gampang didapatkan air yang cukup, maka tanpa berdaya mereka menyaksikan kuil yang megah itu lambat laun ambruk untuk achirnya menjadi tumpukan puing belaka.

Watak Khu Ju-ki sangat keras dan berangasan kini menyaksikan kuil mereka yang bersejarah ini ditelan mentah2 oleh api, ia mengutuk tidak habisnya pada musuh yang mengobarkan api itu.

Selagi Kwe Ceng hendak tanya siapakah sebenarnya musuh yang datang itu dan kenapa turun tangan sejara keji begini, tiba2 ia lihat sebelah tangan In Ci-peng mengempit satu imam sedang menerobos keluar di antara gumpalan yang tebal.

Karena kepelepekan oleh asap tebal itu, imam yang dikempit In Ci-peng masih ter-batuk2 hingga kedua matanya mengucurkan air mata,tapi demi nampak Nyo Ko, dadanya hampir meledak saking gusarnya, tanpa pikir lagi segera ia ulur tangan terus menubruk bocah itu.

Akan tetapi perbuatan orang hanya diganda tertawa oleh Nyo Ko, ketika imam itu menubruk tiba, dengan cepat ia sembunyi kebelakang Kwe Ceng.

Rupanya imam itu belum kenal siapa adanya Kwe Ceng, maka dia telah mendorong dadanya dengan maksud kesampingkan orang agak lebih leluasa menangkap Nyo Ko, Siapa duga dorongannya itu laksana kena pada dinding saja, sedikitpun Kwe Ceng tidak bergerak

Karena itu, sesaat imam itu menjadi kesima, tapi segera ia tuding Nyo Ko dan mencaci maki: "Anak jadah, berani kau pedayai To-ya (tuan imam), hampir aku terbakar mampus karena perbuatanmu !" demikian teriaknya murka.

"Ceng-kong, apa yang kau katakan ?" tiba2 Ong Ju-it membentaknya dari samping.

Kiranya Tosu atau imam yang kena "dikerjai" Nyo Ko ini adalah cucu-murid Ong Ju-it dan bernama Ceng-kong, tadi ia beruntung bisa diselamatkan dari elmaut atas pertolongan In Ci-peng, dalam sengitnya begitu nampak Nyo Ko segera ia menubruk maju untuk adu jiwa, sama sekali tidak terpikir olehnya bahwa para paman guru dan kakek gurunya juga berada disitu.

Kini mendadak dibentak Ong Ju-it, baru dia ingat telah berlaku kurang sopan, keruan ia berkeringat dingin saking takutnya.

"Ya, Tecu patut mampus", katanya kemudian dengan tangan lurus ke bawah.

"Urusan apakah sebenarnya, katakan ?" bentak Ong Ju-it lagi.

"Semuanya karena Tecu sendiri yang tak becus, harap Cosuya memberi ampun," sahut Ceng-kong.

Karena jawaban yang lain daripada yang ditanya, Ong Ju-it mengkerut kening.

"Memangnya siapa yang bilang kau becus ? Aku hanya tanya ada urusan apakah sebenarnya?" ulangi Ong Ju-it.

"Tadi, Tecu diperintah Thio Ci-goan-Susiok menjaga di belakang, kemudian Thio-susiok membawa anak... anak..."

sebenarnya Ceng-kong hendak berkata "anak jadah," untung ia lantas ingat sedang berhadapan dengan Cosuya, maka tak berani ia keluarkan kata2 kotor, lekas ia ganti: "anak... anak kecil ini dan diserahkan padaku, ia bilang anak ini ikut naik gunung bersama musuh tetapi dapat ditawan Thio-susiok, maka aku diperintahkan mengawasinya, dan jangan sampai anak ini melarikan diri. Oleh karena itu, Tecu lantas membawanya ke dalam kamar latihan di sebelah timur itu, Siapa duga, duduk tidak lama mendadak anak... anak kecil ini pakai tipu muslihat, katanya ingin kencing, dan minta aku lepaskan tali yang meringkus tangannya itu, Tecu tidak mau diakali, maka dengan tanganku sendiri kubukakan celananya biar kencing, Siapa tahu, bocah ini memang berhati jahat, habis kencing hingga bikin sebagian lantai basah kuyup, waktu aku mengikat celananya lagi, mendadak dia dorong aku dengan keras."

Bercerita sampai disini, mendadak terdengar Nyo Ko ketawa ngikik, karuan Ceng-kong menjadi gusar.

"Anak... anak apa yang kau tertawakan ?" damperatnya dengan gemas.

Tetapi Nyo Ko hanya angkat kepala ke atas, pandang saja tidak ia menjawab : "Aku tertawa sendiri, peduli apa dengan kau ?"

Sudah tentu Ceng-kong tidak menyerah mentah2, ia hendak adu mulut dengan bocah ini kalau saja Ong Ju-it tidak membentaknya.

"Tak perlu kau ribut2 dengan anak kecil, lekas teruskan ceritamu," kata Ong Ju-it.

"Ya, ya," sahut Ceng-kong ketakutan, "Engkau tak tahu, Cosuya, anak ini licin luar biasa. Pada waktu aku didorong jatuh telentang di atas lantai yang basah kuyup dengan air kencingnya itu dan selagi aku hendak melompat bangun buat persen dia beberapa kali tamparan, tiba2 dengan cengar-cengir ia malah mendekati aku dan berkata : "Wah, To-ya, aku telah bikin kotor pakaianmu !"

Mendengar cara Ceng-kong menirukan suara perkataan Nyo Ko yang masih kanak2 hingga kedengaran lucu sekali, semua orang diam-diam merasa geli. Hanya Ong Ju-it yang mengkerut kening lagi, dalam hati ia damperat habis-habisan cucu-muridnya yang bikin malu di depan orang banyak ini.

"Mendengar kata2-nya itu, aku mengira dorongannya padaku tadi disebabkan tidak sengaja, maka akupun tidak menyalahkan dia lebih jauh," demikian Ceng-kong melanjutkan ceritanya, "Sementara itu ia mendekati aku, tampaknya seperti hendak bantu membangunkan aku, tapi kedua tangannya terikat, maka tidak bisa berbuat apa-apa, tak tahunya, mendadak dia melompat dan mencemplak ke atas tubuhku, ia menunggangi aku yang masih telentang, bahkan mulutnya terus ditempelkan keleherku dan menggigit tenggorokanku".

Bercerita sampai di sini, tanpa terasa Ceng-kong me-raba2 lehernya, agaknya masih terasa sakit oleh bekas gigitan tadi itu.

"Dengan sendirinya aku terperanjat," sambungnya lagi, "aku berusaha membaliki tubuh buat banting dia, siapa duga, ia menggigit lebih kencang, kalau sekali lagi dia gigit mungkin jalan pernapasanku bisa putus, Karena terpaksa, aku tak berani berkutik, dengan jalan halus aku lantas memohon: "Sudahlah, tentu kau ingin aku lepaskan tali pengikatmu, bukan ?" ia angguk2 atas pertanyaanku ini, sebaliknya aku masih ragu-ragu, maka kembali ia perkeras lagi gigitannya, saking sakitnya sampai aku ber-teriak2.

Pikirku waktu itu: "Biarlah aku lepaskan talinya, asal dia tidak menggigit lagi, masakan satu anak kecil saja aku kalah ?" Maka aku lantas lepaskan tali pengikatnya, Tak terduga, begitu tangannya merdeka, segera ia cabut pedangku terus menodong ulu hatiku dan mengancam, bahkan senjata berbalik makan tuan, ia malah gunakan tali yang mengikat dia tadi untuk meringkus diriku pada tiang ranjang, ia mengiris sepotong kain bajuku pula dan menyumbat mulutku, belakangan kuil kita terbakar hendak lari aku tak dapat, ingin berteriak juga tak bisa, kalau bukan In-susiok tadi yang menolong, tentu Tecu sudah terbakar hidup2 karena anak kecil ini?"



Habis bercerita, dengan mata melotot ia pandang Nyo Ko dengan murka.

Sesudah mendengar penuturunnya, semua orang sebentar pandang Nyo Ko, saat lain memandang Ceng-kong pula, yang satu tubuhnya kurus kecil, sedang yang lain berperawakan tinggi besar, tetapi yang gede kena dikibuli hingga tak berdaya, saking gelinya, semua orang itu sama tertawa ter-bahak-bahak.

Ceng-kong menjadi bingung, ia cakar2 kuping dan garuk2 kepala dan tidak tahu apa yang harus diperbuatnya.

"Ceng-ji," kata Ma Giok kemudian dengan tertawa, "apakah ini puteramu? Agaknya dia telah lengkap menurunkan tabiat sang ibu, oleh karena itu begini nakal dan cerdik."

"Bukan," sahut Kwe Ceng, "dia adalah putera tinggalan dalam perut dari adik angkatku, Nyo Khong."

Ketika mendadak dengar nama Nyo Khong disebut, hati Khu Ju-ki terkesiap, Kemudian ia coba mengamat-amati Nyo Ko, betul juga ia lihat wajah bocah ini rada2 mirip dengan Nyo Khong.

Khu Ju-ki ada hubungan guru dan murid dengan Nyo Khong, walaupun kemudian Nyo Khong berkelakuan kurang baik, tamak kedudukan dan serakah akan kemewahan, terima mengaku musuh sebagai bapak, namun bila Khu Ju-ki ingat semua itu, selalu ia merasa dirinya kurang sempurna mendidik anak muridnya itu, hingga akibatnya Nyo Khong tersesat, maka seringkali dalam hati ia merasa menyesal. Kini demi mendengar Nyo Khong mempunyai keturunan tentu saja ia sangat girang, lekas2 ia bertanya lebih jelas.

Begitulah tanpa menghiraukan Tiong-yang-kiong mereka sudah habis ditelan api, sebaliknya Ma Giok dan Khu Ju-ki mendengarkan penuturan Kwe Ceng tentang diri Nyo Ko dengan penuh perhatian.

"Ceng-ji, dengan ilmu silatmu seperti sekarang ini boleh dikatakan sudah jauh di atas tingkatan kami, kenapa tidak kau sendiri mengajar dia?" demikian kata Khu Ju-ki kemudian setelah mendengar bahwa Kwe Ceng sengaja membawa Nyo Ko ke Cong-lam-san buat belajar silat."

Hal ini akan kuterangkan kelak," sahut Kwe Ceng, "Hanya kedatangan Tecu sekarang telah banyak bikin ribut para To-heng, inilah, yang bikin hatiku terasa tidak enak sekali."

Habis ini ia lantas menuturkan pula tentang kesalahan paham sewaktu ia naik gunung tadi sehingga saling gebrak dengan para imam yang memasang jaring2 Pak-tau-tin buat mencegatnya.

Mendengar cerita ini, seketika Khu Ju-ki menjadi marah.

"Sungguh tak berguna, Ci-keng memimpin barisan luar, kenapa kawan atau lawan tidak bisa mem-beda2kan," katanya, "Memangnya aku merasa heran kenapa barisan yang kita pasang begitu kuat di luar itu bisa begitu cepat dibobol musuh hingga menerjang ke atas gunung, kita diserang dalam keadaan belum siap. Hm, kiranya dia telah kerahkan Pak-tau-tin yang dia pimpin untuk merintangi kedatanganmu."

Semakin berkata, tertampak Khu Ju-ki semakin menjadi gusar.

"Mungkin itu disebabkan salah paham," ujar Kwe Ceng, "ketika berada di bawah gunung, tanpa sengaja Tecu telah tepuk hancur batu pilar yang terukir syair buah tangan Totiang, mungkin inilah yang menimbulkan salah paham." mendengar keterangan ini, air muka Khu Ju-ki berubah menjadi tenang kembali.

"O, kiranya begitu, kalau demikian tidak bisa menyalahkan mereka," ujarnya, "Memangnya begitu kebetulan, sebab musuh yang hendak menyerang Tiong-yang-kiong kita hari ini justru diketahui memakai tanda serangan dengan menepuk pilar batu yang kau katakan itu."

"Siapakah sebenarnya orang2 yang datang tadi? Kenapa begitu besar nyali mereka?" tanya Kwe Ceng.

"Cerita ini terlalu panjang, Ceng-ji," sahut Khu Ju-ki dengan menghela napas, "lni, biar aku tunjukan sesuatu benda dulu padamu."

Habis ini ia lantas berjalan menuju ke belakang gunung.

"Ko-ji, kau tinggal disini, jangan sembarang pergi," pesan Kwe Ceng pada Nyo Ko, Lalu ia ikut di belakang Kho Ju-ki.

Agak lama mereka menanjak, akhirnya mereka sampai di atas satu puncak yang tinggi, Khu Ju-ki membawa Kwe Ceng menuju belakang satu batu pegunungan yang besar, "Disini juga terukir tulisan2," katanya.

Waktu itu hari sudah magrib, di belakang batu besar ini terlebih gelap lagi, ketika Kwe Ceng meraba batu yang diunjuk, betul juga ia rasakan di atas batu itu terukir tulisan, ia meraba lagi tiap2 huruf, akhirnya tahulah dia, kiranya itu adalah sebaris syair.

Oleh karena ia meraba huruf2 itu menuruti goresan yang terukir di atas batu, mendadak Kwe Ceng terkejut, terasa olehnya bahwa goresan tulisan itu persis cocok dengan jari tangannya, seperti orang itu menulis di batu ini dengan jari tangan saja, "Ditulis dengan tangan?" tanpa tertahan ia berseru.

"Ya, kejadian ini kalau diceritakan memang terlalu mengejutkan orang, memang betul ditulis dengan jari tangan !" kata Khu Ju-ki.

"Mana bisa? Apa di dunia ini terdapat dewa?" kata Kwe Ceng ragu2.

"Orang yang menulis ini bukan saja ilmu silatnya sangat tinggi tiada bandingannya, bahkan banyak tipu akalnya, meski bukan dewa, namun terhitung seorang luar biasa yang sukar diketemukan," sahut Khu Ju-ki.

Tentu saja Kwe Ceng menjadi sangat kagum.

"Siapakah dia? Dapatkah lotiang memperkenalkannya pada Tecu?" tanyanya cepat.

"Aku sendiri belum pernah melihat orang-nya," sahut Ju-ki. "Duduklah kau, biar aku ceritakan sebab musababnya sehingga terjadi peristiwa seperti hari ini."

Kwe Ceng menurut, ia duduk di atas batu itu.

"Arti bunyi syair ini apa kau paham?" tiba2 Khu Ju-ki menanya.

Waktu itu usia Kwe Ceng sudah menginjak setengah umur, tetapi lagu suara pertanyaan Khu Ju-ki masih tetap seperti belasan tahun yang lalu sewaktu Kwe Ceng masih muda, akan tetapi Kwe Ceng sedikitpun tidak pikirkan hal ini, ia tetap menjawabnya dengan sangat menghormat.

"Bagian depan Tecu masih paham, tetapi bagian belakang yang menguraikan urusan pribadi Tiong-yang Cosu, itulah Tecu tidak begitu mengerti," demikian sahutnya.

"Tahukah kau orang macam apakah Tiong-yang Co-su itu?" tanya Khu Ju-ki lagi.

Kwe Ceng jadi tercengang mendengar orang mendadak tanya tentang diri Ong Tiong-yang, itu cakal-bakal dari Coan-cin-kau.

"Tiong-yang Cosu adalah "Khay-san-pi-co" (cakal-bakal) Coan-cin-kau, dahulu ketika Hoa-san-lun-kiam, ilmu silatnya diakui nmnor satu di jagad ini," sahutnya kemudian.

"Itu memang tidak salah, tetapi waktu mudanya?" tanya Ju-ki pula.

"ltulah aku tidak tahu," sahut Kwe Ceng sambil menggoyang kepala.

"Nah, tahulah kau bahwa asalnya Tiong-yang Co-su bukan imam," kata Khu Ju-ki. "Diwaktu mudanya dia sangat benci pada tentara Kim yang menjajah tanah air kita dan membunuhi rakyat kita, pernah dia kerahkan pasukan sukarela untuk melawan pasukan Kim hingga terjadi suatu pergerakan yang menggemparkan belakangan karena pasukan Kim terlalu kuat, beberapa kali ia mengalami kekalahan hingga banyak panglimanya tewas dan perajuritnya hancur, saking menyesalnya kemudian dia menjadi To-su (imam), Tatkala itu ia menyebut dirinya sebagai "Hoat-su-jin" (orang mati yang masih hidup), terus-menerus beberapa tahun ia menetap di dalam satu kuburan kuno di atas gunung ini, selangkahpun tak pernah ia keluar dari pintu kuburan itu, maksud kiasannya, yalah meski orangnya masih hidup, namun tiada seperti orang yang sudah mati, ia hidup tidak sudi hidup berdampingan di tanah air sendiri dengan musuh bangsa Kim."

"O, kiranya begitu," ujar Kwe Ceng.

"Kejadian itu berlangsung sampai beberapa tahun," Ju-ki melanjutkan pula, "tidak sedikit sobat-andai mendiang guruku itu telah datang mencari padanya, banyak yang minta dia keluar dari kuburan untuk membikin pergerakan yang lebih hebat lagi, Akan tetapi mendiang guruku rupanya sudah putus asa dan patah hati, iapun merasa tiada muka buat bertemu dengan bekasnya di kalangan Kangouw, maka ia tetap tidak mau keluar dari kuburan.

Keadaan demikian itu berlangsung sampai delapan tahun kemudian, tiba2 kedatangan seorang lawan yang dianggapnya paling kuat, musuh ini telah mencaci-makinya dengan segala kata2 yang mencemoohkan dan menghina diluar kuburan, ber-turut2 musuh itu memancing selama tujuh hari tujuh malam, agaknya Sian-su (mendiang guruku) menjadi tak tahan, ia lantas keluar dari kuburan buat bergebrak dengan musuh tadi.



Tak terduga, begitu dia keluar, segera orang itu menyambut padanya dengan bergelak ketawa: "Haha, akhirnya kau keluar juga, maka tidak perlu lagi kau kembali kedalam!" Karena itu Sian-su sadar bahwa dirinya telah kena tertipu, tetapi maksud tujuan orang itu adalah baik, yalah sayang terhadap kepandaian Siau-su yang begitu bagus harus terpendam lenyap di dalam kubur, oleh karenanya sengaja pakai kata2 yang pedas untuk memancingnya keluar dari kuburan.

Setelah mengalami kejadian itu, kedua orang dari lawan berubah menjadi kawan dan dengan bahu-membahu pergi mengembara Kangouw lagi."

"Siapakah gerangan cianpwe (orang angkatan tua) itu ?" tanya Kwe Ceng dengan kagum. "Apa dia satu di antara Tong-sia, Se-tok, Lam-te atau Pak-kay ?"

"Bukan," jawab Khu Ju-ki. "Kalau soal ilmu silat, orang ini masih berada di atas keempat tokoh besar itu, cuma karena dia adalah wanita, biasanya tidak suka unjuk diri di kalangan umum, maka orang luar jarang yang tahu akan dia, namanya pun tidak tersohor."

"Ah, kiranya dia seorang wanita, itulah lebih hebat lagi," ujar Kwe Ceng rada kaget.

"Ya, sebenarnya cianpwe ini menaruh hati terhadap Sian-su, ia sudah menyerahkan diri untuk mengikat perjodohan dengan Sian-su," tutur Ju-ki lagi "Tetapi Sian-su mengatakan bahwa musuh belum dihancurkan, mana boleh berumah tangga, Oleh karena itu, terhadap asmara yang dilontarkan Cianpwe itu ia hanya berlagak bodoh dan pura2 tidak tahu saja.

Tak tahunya cianpwe itu juga berambekan besar dan tinggi hati, ia menyangka Sian-su telah pandang rendah padanya, ia menjadi gusar sekali, Kedua orang yang tadinya lawan dan sudah berubah menjadi kawan itu, oleh karena cinta berbalik menjadi sakit hati lagi, mereka kemudian berjanji untuk bertanding di atas Cong lam-san ini untuk menentukan siapa yang lebih unggul"

"ltu sebenarnya tidak perlu," kata Kwe Ceng.

"Memangnya !" ujar Khu Ju-ki. "Sian-su pun tahu akan maksud baik orang, maka sepanjang jalan ia selalu mengalah, Siapa tahu cianpwe itu ternyata berwatak aneh, ia bilang: Semakin kau mengalah, semakin nyata kau pandang rendah padaku - Karena tiada jalan lain, terpaksa Sian-su bergebrak dengan dia, sampai beberapa ribu jurus mereka bertempur, selama itu Sian-su tidak keluarkan tipu serangan yang mematikan.

Tak tahunya cianpwe itu menjadi gusar malah, katanya: "Baik, memang kau tidak niat bertarung dengan aku, kau anggap aku ini orang macam apa?" - Tetapi kata Sian-su : "Daripada bertanding secara kasar, tidakkah lebih baik bertanding secara halus ?" - jawab orang itu: "Begitupun boleh, jika aku kalah, selamanya tidak akan kutemui kau lagi, dengan demikian biar kau merasa tenang dan senang"

Tetapi Sian-su balas menanya : "Dan jika kau yang menang, lalu apa yang kau inginkan ?" - Karena pertanyaan guruku itu, cianpwe wanita itu menjadi merah mukanya, ia menjadi gelagapan tak bisa menjawab, akhirnya dengan kertak gigi ia menjawab : "Jika aku me-nang, kau punya kuburan Hoat-su-jin-bong ini harus serahkan untuk aku tinggal."

Syarat ini bikin Sian-su menjadi serba susah, harus diketahui sekali tinggal dia sudah delapan tahun mendiami kuburan kuno itu, tidak sedikit tinggalan karya jeri-payahnya, kini jika begitu saja direbut orang, inilah yang dia sayangkan, tapi Sian-su membatin kepandaiannya masih sedikit lebih tinggi daripada orang, ia pikir terpaksa harus kalahkan dia agar kelak tidak banyak rewel dan di-goda tiada habisnya, maka ia lantas tanya.

Cara bagaimana akan bertanding, "Hari ini kita sudah sama2 letih, biarlah besok malam kita tentukan siapa yang menang atau kalah," demikian sahut Cianpwe itu.

"Besok malamnya, kembali kedua orang bersua lagi di sini, Kata orang itu: "Sebelum kita bertanding, kita harus sama2 bersumpah dahulu." jawab guruku: "Bersumpah apa lagi ?"

"Begini," kata cianpwe itu," jika kau bisa mengalahkan aku, segera juga aku bunuh diri di sini, dengan begitu pasti tidak akan bertemu dengan kau lagi, sebaliknya jika aku yang menang, kau harus sucikan diri, terserah kau mau menjadi Hwesio atau menjadi Tosu. Tapi tidak peduli jadi Hwesio atau Tosu, kau harus mendirikan kuil di atas gunung ini dan mengawani aku selama sepuluh tahun." Dalam hati mendiang guruku mengerti bahwa dengan syarat itu, dirinya disuruh menjadi Hwesio atau Tosu, itu berarti selama hidupnya diharuskan tidak beristri

"Tetapi buat apa aku harus menangkan kau hingga memaksa kau bunuh diri ? Dan kalau aku harus mengawani kau sepuluh tahun di atas gunung ini, hal inipun sulit," demikianlah pikir guruku, Oleh karenanya ia menjadi ragu2 tidak bisa menjawab.

"Kemudian cianpwe itu lantas berkata pula: "Pertandingan secara halus kita ini sangat mudah begini, kau gunakan jari tanganmu untuk mengukir beberapa tulisan di atas batu ini, demikian pula akupun mengukirnya beberapa huruf, lalu kita lihat tulisan siapa yang lebih baik, itulah dia yang menang."

Mendengar cara ini, Sian-su tercengang, katanya : "Menulis di atas batu dengan jari tangan ?"

"Ya, itu namanya bertanding ilmu tenaga jari, kita boleh lihat siapa yang mengukir lebih dalam." - Namun Sian-su geleng2 kepala saja, jawabnya kemudian: "Aku toh bukan dewa, mana sanggup aku mengukir tulisan di atas batu dengan jari tangan ?" -

"Tetapi kalau aku bisa, apa kau mau mengaku kalah ?" tanya orang itu. Dalam keadaan demikian Sian-su jadi di pojokkan pada keadaan yang serba susah, maju salah, mundurpun keliru, Tetapi kemudian ia pikir dijagad ini pasti tidak mungkin ada orang yang sanggup mengukir tulisan di atas batu dengan jari tangan, kebetulan urusan ini bisa di selesaikan sampai disini, dengan demikian pertandingan ini dapat dianggap tidak pernah ada, maka ia lantas berkata:

"Sudah tentu jika kau bisa, aku lantas ngaku kalah, Tetapi kalau kaupun tak bisa, kita boleh anggap seri, tiada yang menang dan tiada yang kalah, selanjutnya kita pun tidak perlu bertanding lagi."

Karena itu, tiba2 orang itu tertawa dengan rasa pedih : "Bagus, kalau begitu sudah pasti kau akan jadi Tosu," demikian katanya sambil dengan tangan kiri me-raba2 sejenak di atas batu, habis ini ia ulur jari telunjuk tangan kanan terus menggores di atas batu itu.

"Sian-su menjadi ternganga ketika menyaksikan debu, batu itu bertebaran, betul saja orang telah menulis sehuruf demi sehuruf, dalam kagetnya sampai tak sanggup ia bicara lagi, Dan tulisan yang terukir dengan tangan itu bukan lain adalah bagian depan dari syair ini.

"Tentu saja Sian-su menjadi lesu dan terima kalah, ia tidak bisa bicara lagi, besoknya dia lantas sucikan diri menjadi Tosu, dia mendirikan sebuah kuil kecil di dekat kuburan itu, dan itu adalah Tiong-yang-kiong yang asli."

Kwe Ceng jadi ter-herah2 oleh cerita itu, waktu ia merabanya lebih terang, betul saja memang tulisan di atas batu itu bukannya ditatah, juga bukan ukiran, melainkan betul2 digores dengan jari tangan.

"Kalau begitu, ilmu kepandaian dalam hal tenaga jari cianpwe itu sesungguhnya sangat mengejutkan orang," katanya kemudian.

Karena ucapannya ini, tiba2 Khu Ju-ki mendongak dan ketawa ter-bahak2.

"Ceng-ji, kejadian ini bisa mengelabui mendiang guruku, bisa menipu aku, juga bisa menipu kau, tetapi kalau waktu itu isterimu berada disini, pasti tidak bisa mengelabui matanya," demikian katanya.

Kwe Ceng menjadi lebih heran hingga kedua matanya terpentang lebar.

"Apa? Apa didalam hal ini terdapat sesuatu yang tidak beres?" tanyanya.