coba

Pendekar Sakti Suling Pualam Bagian 08

Mode Malam
Bagian 08

"Hay Thian!" Lim Peng Hang menatapny "Seng Hwee Sin Kun membunuh ayahmu, memang pantas engkau membalas dendam! Tapi tidak boleh bertindak ceroboh, alangkah baiknya berunding dulu dengan Hui San."

"Ya, Kakek Lim." Kam Hay Thian mengangguk pasti.

"Bagus! Bagus!" Lim Peng Hang manggut manggut sambil tersenyum. "Kalian harus ingat jangan ada kendala apa pun lagi di antara kalian!"

"Ya," ujar Kam Hay Thian menambahkaij "Aku berjanji, pasti menuruti perkataan Hui San”

"Kakak Hay Thian...." Wajah Lu Hui Sal langsung berseri.

"Engkau...."

"Adik Hui San," ujar Kam Hay Thian sungguh, sungguh. "Aku pernah bersalah terhadapmu, maka kini aku harus menuruti semua perkataanmu."

"Kakak Hay Thian!" Lu Hui San terharu. "Aku menuruti semua perkataanmu."

"Itu yang disebut saling mengerti, saling melindungi dan saling mencinta," ujar Lim Peng Ha sambil tertawa gelak. "Ha ha ha...!"

"Oh ya, Kakek Lim," tanya Lu Hui San mendadak. "Apakah Kakak Bun Yang sudah bertemu Goat Nio?"

"Sudah." Lim Peng Hang menutur tentang itu "Kini mereka semua berada di Pulau Hong Hoang To."

"Kakek Lim, apakah Beng Kiat dan Soat Lan juga berada di Pulau Hong Hoang To?" tanya Kam Hay Thian.

"Sudah lama mereka pulang ke Tayli." Lim Peng Hang memberitahukan. "Bun Yang mengajak Bokyong Sian Hoa ke sana, karena Bu Ceng Sianli mengacau di istana Tayli...."

Lim Peng Hang menutur, Kam Hay Thian dan Lu Hui San mendengar dengan penuh perhatian. Seusai Lim Peng Hang menutur, Kam Hay Thian bertanya dengan nada terkejut.

"Tayli Lo Ceng terluka oleh pukulan Bu Ceng Sianli?"

"Ya." Lim Peng Hang mengangguk. "Tapi sudah sembuh. Sedangkan Bokyong Sian Hoa malah tinggal di Tayli."

"Oh?" Lu Hui San heran. "Kenapa Sian Hoa tinggal di sana?"

"Sebab...." Lim Peng Hang tersenyum. "Ternyata Sian Hoa

dan Beng Kiat saling jatuh hati."



"Oooh!" Lu Hui San manggut-manggut sambil tertawa gembira. "Syukurlah kalau begitu!"

"Kakek Lim," tanya Kam Hay Thian. "Apakah Bun Yang akan menikah dengan Goat Nio di Pulau Hong Hoang To?"

"Itu sudah pasti, namun tidak begitu cepat." Lim Peng Hang menggeleng-gelengkan kepala.

"Lho? Kenapa?" Kam Hay Thian bingung.

"Karena terhalang oleh kemunculan Kui Bin Pang." Lim Peng Hang memberitahukan. "Oleh karena itu, mereka tidak akan begitu cepat langsungkan pernikahan, mungkin harus menunggu...."

"Menunggu urusan dengan Kui Bin Pang itu selesai?" Kam Hay Thian mengerutkan kening

"Kira-kira begitu." Lim Peng Hang manggut manggut.

"Tapi pernikahan mereka tiada kaitannya dengan urusan itu, kenapa mereka tidak mau segera melangsungkan pernikahan?" Lu Hui San menggeleng-gelengkan kepala. "Lagi pula mereka sudah berada di Pulau Hong Hoang To."

"Yaah!" Lim Peng Hang menghela nafas. "Yang jelas mereka belum mau menikah, jadi tidak bisa dipaksa."

"Kakek Lim," tanya Lu Hui San mendadak "Bolehkah kami ke Pulau Hong Hoang To?"

"Tentu boleh." Lim Peng Hang mengangguk "Tapi alangkah baiknya kalian tinggal di sini dulu beberapa hari."

"Kakek  Lim...."  Lu  Hui  San  tercengang.  "Ke  napa  kami

harus tinggal di sini dulu beberapa hari ?”

"Itu...." Lim Peng Hang tidak melanjutkan cuma menghela

nafas panjang.

"Kalau dalam beberapa hari ini terjadi sesuatu dalam rimba persilatan, bukankah kalian bisa memberitahukan kepada



pihak Hong Hoang To?" lanjut Gouw Han Tiong. "Sebab baru-baru ini, situasi rimba persilatan agak lain. Sepertinya diselimuti suatu bencana."

"Oh?" Kam Hay Thian mengerutkan kening. "Kok Kakek Gouw tahu akan itu?"

"Yaah!" Gouw Han Tiong menghela nafas panjang. "Kami dapat merasakannya, itu membuat kami cemas sekali."

"Mungkinkah Kui Bin Pang akan menimbuliean bencana?" tanya Lu Hui San.

"Kira-kira begitulah," sahut Gouw Han Tiong dan menambahkan. ”Oleh karena itu, kami mengutus Cian Chiu Lo Kay (Pengemis Tua Lengan Seribu), wakil Pangcu bergerak di luar untuk menyelidiki situasi dalam rimba persilatan.”

“Kalau begitu...” ujar Lu Hui San. “Kami akan tinggal di sini beberapa hari, setelah itu barulah berangkat ke Pulau Hong Hoang To.”

”Ngmmm!” Lim Peng Hang manggut-manggut, kemudian bertanya mendadak sambil tersenyum. ’Oh ya, kapan kalian menikah?”

”Masih lama,” jawab Kam Hay Thian.

”Lebih cepat lebih baik lho, ” ujar Lim Peng Hang sambil tertawa gelak. ”Ha ha ha...!”

-oo0dw0oo-


Bagian ke lima puluh empat

Tujuh Partai Besar dilanda bencana

Di ruang tengah markas Kui Bin Pang, duduk beberapa orang dengan wajah serius. Mereka adalah ketua Kui Bin Pang, Dua Pelindung dan Lima Setan Algojo. Berselang sesaat, ketua Kui Bin Pang tertawa gelak seraya berkata.



"Ha ha ha! Kini Seng Hwee Sin Kun telah pulih, bahkan aku telah mempengaruhinya dengan ilmu hitam, maka dia selalu mematuhi perintah ku."

"Kalau begitu, kapan Ketua akan perintahkan dia beraksi dalam rimba persilatan?" tanya Ton Sat Kui.

"Tentunya dalam beberapa hari ini. Ha hii ha!" Ketua Kui Bin Pang tertawa gelak lagi. "Aku pun telah mengajarnya Toh Hun Ciang (Pukulan Perusak Sukma), siapa yang terkena pukulan itu pasti jadi gila."

"Jadi Seng Hwee Sin Kun tidak membunuh para ketua tujuh partai besar?" Tanya Toa Sal Kui.

"Cukup membuat mereka gila," sahut ketua Kui Bin Pang. "Namun dia akan membunuh para murid partai besar."

"Lalu bagaimana dengan Kay Pang?" tanya salah satu Pelindung.

"Setelah memberesiean para ketua partai besar itu, barulah turun tangan terhadap Lim Peng liang dan Gouw Han Tiong," sahut ketua Kui Bin Pang.

"Ketua akan perintahkan Seng Hwee Sin Kun memukul mereka dengan Toh Hun Ciang?" tanya Sam Sat Kui.

"Tidak." Ketua Kui Bin Pang menggelengkan kepala. "Itu akan kuatur nanti. Ha ha ha!"

"Ketua!" Salah satu Pelindung memberitahukan. "Kay Pang sangat kuat, itu harus dipikirkan masak-masak."

"Sudah kupikirkan masak-masak," sahut ketua kui Bin Pang lalu menatap Ngo Sat Kui seraya hertanya. "Apakah kalian sudah memperoleh informasi mengenai para penghuni Pulau Hong Hoang To?"

"Sudah," jawab Toa Sat Kui. "Para penghuni Pulau Hong Hoang To terdiri dari Tio Tay Seng, Sam Gan Sin Kay, Kim Siauw Suseng, Kou Hun Itijin, Tio Cie Hiong, Lim Ceng Im, Lie



Man Chiu, Tio Hong Hoa, Tio Bun Yang, Siang Koan iioat Nio, Lie Ai Ling dan Sie Keng Hauw."

"Ngmmm!" Ketua Kui Bin Pang manggut-kanggur.

"Tapi Tio Cie Hiong punya hubungan dengan Tayli." Toa Sat Kui memberitahukan. "Yang berkepandaian paling tinggi adalah Tayli Lo Ceng!"

"Ha ha ha!" Ketua Kui Bin Pang tertawa terbahak-bahak bernada angkuh. "Aku sama sekali tidak takut kepada mereka!"

"Apakah kepandaian Ketua lebih tinggi dari mereka?" tanya salah satu Pelindung mendadak

"Tentu," sahut ketua Kui Bin Pang. "Kalau tidak, bagaimana mungkin aku berani memunculiean Kui Bin Pang dalam rimba persilatan?"

"Tapi...." Pelindung itu menggeleng-gelengkan kepala. "Kita

masih belum menemukan Tetua”

"Itu tidak jadi masalah," ujar ketua Kui Bin Pang. "Sebab kini sudah saatnya Kui Bin Pang muncul di rimba persilatan secara resmi. Seng Hwee Sin Kun merupakan perintis. Ha ha ha...l”

-oo0dw0oo-

Lim Peng Hang, Gouw Han Tiong, Kam Hay Thian dan Lu Hui San duduk di ruang depan sambil bercakap-cakap.

"Sudah beberapa hari kami tinggal di sini. namun masih belum ada kejadian apa pun dalam rimba persilatan," ujar Kam Hay Thian. "Kakek Lim, apakah kami masih harus tinggal di sini?"

"Kalian sudah tidak betah di sini?" Lim Peng Hang tersenyum. "Kalau memang kalian sudah tidak betah tinggal di sini, besok kalian boleh berangkat ke Pulau Hong Hoang To."




"Ya." Kam Hay Thian manggut-manggut.

Di saat mereka sedang bercakap-cakap, mendadak muncul seorang pengemis tua, yang tidak lain adalah Cian Chiu Lo Kay, wakil ketua Kay Pang.

"Pangcu...." Wajahnya tampak serius sekali.

"Duduklah!" sahut Lim Peng Hang.

Cian Chiu Lo Kay duduk, kemudian menghela nafas panjang seraya berkata.

"Pangcu, tujuh partai besar telah dilanda bencana."

"Apa?" Bukan main terkejutnya Lim Peng Uang. "Bencana apa yang menimpa tujuh partai besar itu?"

"Puluhan murid tujuh partai besar mati terbumuh dan para ketua pun...." Cian Chiu Lo Kay menggeleng-gelengkan kepala. "Para ketua sudah jadi gila semua."

"Haah...?" Mulut Gouw Han Tiong ternganga lebar saking terkejut. "Siapa yang melakukan itu?"

"Seng Hwee Sin Kun," sahut Cian Chiu Lo kay.

"Seng Hwee Sin Kun?" seru Lim Peng Hang dan lainnya tak tertahan.

"Ya." Cian Chiu Lo Kay mengangguk. "Seng Hwee Sin Kun kelihatan dikendalikan orang, lagi pula dia memiliki semacam ilmu pukulan aneh."

"Oh?" Lim Peng Hang mengerutkan kening.

"Ilmu pukulan apa?"

"Entahlah." Cian Chiu Lo Kay menggelengkan kepala. "Para ketua terkena pukulannya, maka jadi gila."

"Kalau begitu..." ujar Gouw Han Tiong. "Seng Hwee Sin Kun pasti dikendalikan oleh ketua Ku Bin Pang. Mungkin juga



ketua Kui Bin Pang yangjj mengajarkan ilmu pukulan aneh itu."

"Memang tidak salah," ujar Cian Chiu Lo Kay "Seng Hwee Sin Kun mengaku dirinya utusan Kun Bin Pang."

"Ternyata begitu...." Lim Peng Hang manggut manggut.

"Pihak Kui Bin Pang menolongnya hanya ingin mengendalikannya. Kalau begitu, kita harus bersiap siap. Sebab sasaran berikutnya past kita."

"Benar." Gouw Han Tiong manggut-manggut

"Lo Kay," ujar Lim Peng Hang memberi perintah. "Engkau harus segera ke markas cabang-suruh mereka berhati-hati menghadapi segala ke mungkinan!"

"Ya, Pangcu." Cian Chiu Lo Kay menganggu sambil memberi hormat, lalu meninggaliean markas pusat itu.

"Aaaah...!" Lim Peng Hang menghela nafas panjang. "Kini Kui Bin Pang sudah bertindak, rimba persilatan telah dibanjiri darah."

"Kakek Lim," ujar Kam Hay Thian. "Karnj harus segera berangkat ke Pulau Hong Hoang To untuk memberitahukan tentang kejadian ini."

"Ya." Lim Peng Hang mengangguk. "Kalau begitu, kalian harus berangkat sekarang. Tapi kalian harus berhati-hati!"

"Ya. Kakek Lim." Kam Hay Thian dan Lu Hui San langsung berpamit.

Setelah mereka berdua meninggaliean markas pusat Kay Pang, Lim Peng Hang dan Gouw Han liong saling memandang, kemudian menghela nafas panjang.

"Entah kapan Seng Hwee Sin Kun akan ke mari?" Lim Peng Hang menggeleng-gelengkan kepala.



"Kalau dia ke mari, kita berdua terpaksa bertarung mati-matian dengan dia," sahut Gouw Han Tiong. "Kita harus mati secara gagah."

"Kita berdua bukan tandingannya, jangan-jangan kita pun akan jadi gila terkena pukulan ilu," ujar Lim Peng Hang sambil menghela nafas panjang.

"Mudah-mudahan pihak Pulau Hong Hoang To segera tiba di sini!" ujar Gouw Han Tiong. "Kalau tidak, Kay Pang pasti akan mengalami nasib yang serupa dengan partai-partai besar itu."

-oo0dw0oo-

Di dalam markas Kui Bin Pang, terdengari suara tawa yang bergema-gema, itu adalah suara tawa ketua Kui Bin Pang.

"Ha ha ha! Ha ha ha! Para ketua tujuh partai besar sudah jadi gila, itu berarti partai-partai itu telah lumpuh! Ha ha ha...!"

"Kini apa rencana Ketua?" tanya Toa Sat Kui.

"Tentunya giliran Kay Pang," sahut ketua Kui Bin Pang. "Namun harus dengan rencana istimewa."

"Ketua!" Toa Sat Kui memberitahukan. "Kam Hay Thian dan Lu Hui San berangkat ke Pulau Hong Hoang To, perlukah kami menangkap mereka?"

"Tidak perlu." Ketua Kui Bin Pang menggelengkan kepala. "Biar mereka ke Pulau itu untuk melapor, jadi pihak Pulau Hong Hoang To pasti ke markas pusat Kay Pang. Nah, itu yang kuharapkan. Ha ha ha...!"

"Maksud ketua ingin membunuh mereka di markas pusat Kay Pang?" tanya salah satu Pelindung.

"Yang akan kubunuh adalah Tio Bun Yang Tio Cie Hiong, Tio Tay Seng dan Tio Hong Hoa Sebab mereka adalah turunan Tio Po Thian, maka harus dibunuh. Sedangkan yang lain



cukup dibuat gila saja. Ha ha ha...!" sahut ketua Kui Bin Pang sambil tertawa terkekeh-kekeh. "Aku harus mencincang Tio Bun Yang."

"Ketua!" tanya salah satu Pelindung. "Apakah Ketua punya dendam pribadi terhadap Tio Bun Yang?"

"Tidak salah. Kebetulan aku punya dendam piibadi dengan dia," sahut ketua Kui Bin Pang. "Aku jatuh ke dalam jurang gara-gara dia."

"Ketua," ujar salah satu Pelindung. "Kami dengar, Tio Bun Yang berkepandaian tinggi sekali. Apakah Ketua mampu mengalahkannya?"

"Aku pasti mampu mengalahkannya," sahut ketua Kui Bin Pang yakin. "Pokoknya aku akan membuatnya menderita dan tersiksa, sebab aku tahu dia sudah punya kekasih bernama Siang Koan Goat Nio yang cantik jelita. He he he...!"

"Ketua...." Salah satu Pelindung ingin mengatakan sesuatu,

tapi dibatalieannya.

"Aku      tahu...."               Ketua    Kui          Bin          Pang      manggut-manggut.

"Kalian khawatir aku tidak mampu melawan Tio Bun Yang, bukan?"

"Ya." Salah satu Pelindung itu mengangguk.

"Aku telah mencoba kepandaian kalian semua. Kalau satu lawan satu, kalian memang bukan tandingannya," ujar ketua Kui Bin Pang sungguh-sungguh. "Tapi kalau dua lawan satu atau Ngo Sat Kui menggunakan Ngo Kui Tin (Formasi Lima Setan), aku yakin kalian bisa menang."

"Kami berdua melawan satu, Ngo Sat Kui mnggunakan Ngo Kui Tin bisa melawan berupa orang, namun..." ujar salah satu pelindung sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Pihak Pulau Hong Hoang To rata-rata memiliki kepandaian tinggi sekali."

"Ha ha ha!" Ketua Kui Bin Pang tertawa gelak



”Kalian harus tahu, aku memiliki ilmu hitam yang dapat mengendalikan pikiran mereka.”

"Tapi lweekang mereka begitu tinggi, bagi bagaimana mungkin mereka terpengaruh oleh ilmu hitam Ketua?" ujar salah satu Pelindung, seakan tidak percaya akan kehebatan ilmu hitam yang dimiliki ketuanya.

"Kalian ragu memang tidak salah, sebab kalian belum menyaksikan ilmuku itu," ujar ketua K" Bin Pang. "Karena itu, aku terpaksa memperlihatkan ilmu tersebut."

Mendadak ketua Kui Bin Pang memandang kedua Pelindung itu sambil membentak keras.

"Kalian berdua!" Suara bentakan ketua Kui Bin Pang mengandung suatu kekuatan yang tak dapat dilawan.

”Ketua..” Kedua Pelinduing itu langsung berdiri mematung.

”Kalian Berdua harus berlutut ” ujar ketua Kui Bin Pang dengan suara parau.

”Ya ” Kedua pelindung itu segera menjatuhkan diri berlutut.

"Ha ha ha!" Ketua Kui Bin Pang tertawa geli otomatis menyadarkan kedua Pelindung itu.

"Haaah...?" Betapa terkejutnya kedua Pelindung itu, karena diri mereka berlutut di situ. "Apa yang telah terjadi?"

"Kalian telah terpengaruh oleh ilmu ketua." Toa Sat Kui memberitahukan. "Kalian sama sekali bisa melawan kekuatan ilmu itu"

"Oh?" Ketua Pelindung itu bangkit berdiri sekaligus kembali ke tempat duduk masing-masing "ilmu hitam itu sungguh lihay sekali”

"Ha ha ha!" Ketua Kui Bin Pang tertawa gelak. Iweekang kalian sangat tinggi, tapi toh tetap tidak mampu melawan kekuatan ilmu hitamku."



"Kalau begitu, pihak Pulau Hong Hoang To ama sekali tidak mampu melawan kekuatan ilmu hitam Ketua?" tanya salah satu Pelindung.

"Ya,        kecuali...."           Ketua    Kui          Bin          Pang      memberitahukan.

"Kecuali mereka memiliki ilmu Penakluk Iblis, barulah tidak akan terpengaruh oleh ilmu hitamku "

"Ilmu Penakluk Iblis?"

"Tidak salah. Itu merupakan semacam ilmu kebatinan tingkat tinggi, tidak gampang mempelajari ilmu itu. Maka aku yakin Pulau Hong Hoang To tidak memiliki ilmu tersebut ”

”Oooooh” Kedua Pelindung dan Lima Setan Algojo manggut-manggut.

”Lagi pula aku memiliki sebuah genta maut, bila aku membunyikan genta itu, pihak lawan pasti akan mati muntah darah." Ketua Kui Bin Pang memberitahukan sambil tertawa terbahak-bahak. "Ha ha ha...!"

"Dari mana Kelua memperoleh genta maut itu?" tanya Toa Sat Kui.

"Ketika terpukul jatuh ke dalam jurang, Pek Kut Lojin masih kuat merangkak ke dalam sebuah goa di dasar jurang itu." Ketua Kui Bin Panj memberitahukan. "Ketua lama mendapat sebuah genta maut di dalam goa tersebut, berikut sebuah kitab kecil yang mengajarkan cara membunyikan genta itu. Kini kalian sudah tahu, maka tidak perlu takut terhadap pihak Pulau Hong Hoang To."

Kedua Pelindung dan Ngo Sat Kui manggut manggut. Ketua Kui Bin Pang memandang mereka, kemudian tertawa terbahak-bahak.

"Ha ha ha! Kita harus menuntut balas terhadap pihak Pulau Hong Hoang To! Sebab Tio Po Thian, majikan lama Pulau Hong Hoang yang memukul jatuh Pek Kut Lojin!"



"Kita harus menuntut balas! Kita harus menuntut balas!" seru kedua Pelindung dan Ngo Sat Kui serentak. "Hidup Kui Bin Pang! Hidup Ketua!"

"Ha ha ha! Ha ha ha...!" Kelua Kui Bin Pa terus tertawa gelak.

-ooo0dw0ooo-

Sementara itu, Kam Hay Thian dan Lu Hui San telah tiba di Pulau Hoa Hoang To, kebetulan Tio Bun Yang, Siang Koan Goat Nio, Sie leng Hauw dan Lie Ai Ling berada di luar. Kemunculan Kam Hay Thian dan Lu Hui San sungguh mengejutkan mereka, sekaligus menggembirakan pula. "Kalian...." Lie Ai Ling terbelalak. "Kalian...."

"Ai Ling!" panggil Lu Hui San sambil tersenyum malu-malu.

"Kapan engkau bertemu orang yang tak punya perasaan itu?" tanya Lie Ai Ling dengan mata tak berkedip, gadis itu terus menatap mereka.

"Ai Ling!" Lu Hui San tertawa kecil dengan wajah ceria. "Kini dia sudah punya perasaan."

"Oh?" Lie Ai Ling masih kurang percaya, la menuding Kam Hay Thian seraya membentak. ”Kini engkau sudah sadar dan sudah memiliki perasaan serta nurani?"

"Ya." Kam Hay Thian mengangguk. "Kalau tidak, bagaimana mungkin aku berkunjung ke mari bersama dia?"

"Oooh!" Lie Ai Ling manggut-manggut. "Syukurlah kalau begitu!"

"Hay Thian!" Sie Keng Hauw segera memberi hormat. "Aku mengucapkan selamat kepada kalian berdua!"

"Terimakasih! Terimakasih!" ucap Kam Hay thian sambil balas memberi hormat dengan wajah berseri-seri.



"Hay Thian!" Tio Bun Yang memegang bahu nya. "Kami ikut gembira, karena kalian berdua sudah saling mencinta."

"Terimakasih, Bun Yang!" Kam Hay Thian menarik nafas panjang. "Semua itu adalah kesalahanku, tapi aku sudah mohon maaf kepat Hui San, dan dia sudi memaafkan aku."

"Syukurlah!" Tio Bun Yang tersenyum.

"Hay Thian," ujar Lie Ai Ling. "Tahukah kalian, kami di sini sangat mencemasiean kalian”

"Terimakasih untuk itu!" ucap Kam Hay Thiaj "Kami tidak akan melupakan kebaikan kalian."

"Jangan berkata begitu!" Tio Bun Yang tersenyum lagi. "Kita semua adalah kawan baik."

"Bun Yang...." Kam Hay Thian menundukkan kepala. "Aku

merasa malu sekali atas kejadian itu."

"Itu telah berlalu, lagi pula kini kalian berdua sudah saling mencinta, jadi tidak perlu diungkit itu lagi," ujar Tio Bun Yang sungguh-sungguh.

"Ya." Kam Hay Thian mengangguk.

"Oh ya!" tiba-tiba Lu Hui San menengok kesana kemari. "Kok Yatsumi tidak kelihatan? Di berada di mana?"

"Dia sudah pulang ke Jepang." Lie Ai Ling memberitahukan. "Dia berhasil membunuh Takara Nichiba, ketua ninja itu."

"Oooh!" Lu Hui San manggut-manggut.

"Hui San!" Siang Koan Goat Nio memancingnya seraya bertanya, "Selama itu engkau berada di mana?"

"Aku...."               Lu           Hui         San         menggeleng-gelengkan                kepala.

"Entahlah!"



"Lho?" Siang Koan Goat Nio terbelalak. "Kok entahlah? Jadi engkau sama sekali tidak tahu dimana keberadaanmu selama itu?"

"ya." Lu Hui San mengangguk. "Sebab aku sudah gila."

"Apa?" Kening Siang Koan Goat Nio ber-nit. "Engkau sudah gila selama itu?"

"Ya." Lu Hui San mengangguk lagi.

"Kok engkau tahu itu?" Lie Ai Ling tercengang. ”Orang gila mana bisa tahu dirinya gila sih?"

"Aku tahu setelah sembuh," sahut Lu Hui san.

"Siapa yang menyembuhkanmu?" tanya Lie Ai ling.

"Bu Ceng Sianli-Tu Siao Cui." Lu Hui San memberitahukan.

"Kakak Siao Cui yang menyembuhkanmu?" tanya Tio Bun Yang dengan wajah berseri.

"Ya." Lu Hui San mengangguk dan melanjutkan. "Setelah aku sembuh, aku mengambil keputusan untuk menjadi biarawati. Maka, Bu Ceng sianli menyuruhku ke Pek Yun Am. Aku langsung ke kuil biarawati itu dan kemudian tinggal di sana."

"Oooh!" Lie Ai Ling manggut-manggut. "Lalu cara bagaimana engkau bertemu Kam Hay Thian?"

"Aku bertemu Bu Ceng Sianli di dalam kedai arak. Dia menghajarku setelah tahu siapa diriku” sahut Kam Hay Thian memberitahukan. "Kemudian dia menyuruhku ke Pek Yun Am."

"Hui San," ujar Lie Ai Ling. "Engkau begini cepat memaafkannya? Dia begitu tak punya perasaan."

"Aku berlutut tiga hari tiga malam di depan Pek Yun Am tanpa makan, minum dan tidur” Kam Hay Thian memberitahukan lagi. "Barulah dia ke luar menemuiku."



"Bagus! Bagus!" Lie Ai Ling tertawa. "Memang harus begitu! Seharusnya engkau berlutut tujuh hari tujuh malam."

"Aku pasti mati, dan itu akan membuat Hu San menderita sekali," sahut Kam Hay Thian.

"Kakak Hay Thian...." Wajah Lu Hui Sian memerah.

"Waduh!" Lie Ai Ling tertawa geli. "Bukan main mesranya suaramu, itu sungguh menggetarkan kalbu!"

"Ai          Ling...." Wajah   Lu           Hui         San         bertambah         memerah.

"Engkau mulai menggoda aku ya?" "Boleh kan?" Lie Ai Ling tersenyum.

"Oh ya!" Kam Hay Thian memandang Tio Bun Yang seraya bertanya, "Engkau kenal Bu Ceng Sianli kan ?”

"Kenal. Kenapa?" sahut Tio Bun Yang.

"Engkau tahu berapa usianya?"

"Tentu tahu." Tio Bun Yang manggut-manggut. "Usianya sudah hampir sembilan puluh. Ketika pertama kali bertemu dia, aku sama sekali tidak percaya!"

"Sama." Kam Hay Thian menggeleng-gelengkan kepala. "Siapa akan percaya dia sudah berusia sembilan puluh? Padahal kelihatannya baru berusia dua puluhan."

"Bu Ceng Sianli-Tu Siao Cui..." gumam Siang koan Goat Nio. "Dia sudah berusia hampir sembilan puluh?"

"Adik Goat Nio, kenapa engkau bergumam?" tanya Tio Bun Yang heran.

"Ketika aku menuju ke Gunung Thian San, tengah jalan bertemu Bu Ceng Sianli itu..." sambil tersenyum jawab Siang Koan Goat Nio dan menutur, "....aku tidak percaya dia sudah

berusia hampir sembilan puluh. Dia... dia sungguh cantik sekali!"




Untung dia sudah berusia segitu, kalau tidak..." ujar Lu Hui San sambil tersenyum-senyum.

"Kakak Bun Yang bukan pemuda semacam itu, gampang tergoda oleh gadis cantik lain. Sekalipun bidadari yang turun dari kahyangan, diapun tidak akan tergoda," ujar Lie Ai Ling sungguh-sungguh.

"Oh, ya?" Lu Hui San tersenyum. "Kok engkau berani mengatakan begitu?"

”Aku dan dia kakak beradik. Sejak kecil kami sudah bersama, jadi aku tahu jelas bagaimana sifatnya," sahut Lie Ai Ling.

"Terimakasih, Adik Ai Ling!" ucap Tio Bu Yang sambil tersenyum

"Kalau Ai Ling tidak mengatakan begitu, aku pun akan mengatakan begitu juga," sela Sia Koan Goat Nio sambil tersenyum manis.

“Adik Ai Ling, bagaimana aku?” tanya Sie Keng Hauw mendadak.

“Harus seperti Kakak Bun Yang!” sahut Lie Ai Ling, kemudian merendahkan suaranya. “Aku yakin engkau pasti mcncintai dan menyayangiku selama-lamanya.”

“Pasti! Itu sudah pasti!” Sie Keng Hauw ter tawa.

“Kakak!” panggil Lu Hui San dan memberi tahukan. “Aku dan Kam Hay Thian sudah pergi menemui paman.”

“Oh?” Wajah Sie Keng Hauw berseri. “Bagaimana keadaan ayah, baik-baik saja?”

“Paman baik-baik saja.” Lu Hui San manggut manggut. “Aku pun memberitahukannya, bahwa Kakak sudah punya



kekasih. Oleh karena itu paman berpesan apabila engkau sempat, ajaklah Ai Ling ke sana!”

“Ya.” Sie Keng Hauw mengangguk. “Aku memang sudah rindu pada ayah!”

Mereka bercakap-cakap, berselang sesaat mendadak wajah Kam Hay Thian berubah serius sekali.

“Kami ke mari ingin menyampaikan sesuatu yang teramat penting, maka kami harus segera menemui Kakek Tio dan lainnya.” Kam Hay Thian memberitahukan.

“Oh?” Tio Bun Yang menatapnya. “Kalau begitu, mari kita ke dalam!”

Mereka masuk ke dalam langsung menuju ruang tengah, karena Tio Tay Seng dan lainnya rdang berkumpul di situ.

“Eeeeh?” Kou Hun Bijin terbelalak ketika melihat Lu Hui San bersama Kam Hay Thian. kalian berdua sudah akur ya?”

“Bijin....”              Wajah   Lu           Hui         San         kemerah-merahan.

Sedangkan Kam Hay Thian segera memberi hormat kepada mereka semua, begitu pula Lu Hui San.

“Ha ha ha!” Sam Gan Sin Kay tertawa gelak. Syukurlah kalau kalian sudah akur dan... saling mencinta!”

“Hi hi hi!” Kou Hun Bijin tertawa cekikikan, kalian berdua kok bisa bertemu dan akur kembali?”

“Itu atas jasa Bu Ceng Sianli-Tu Siao Cui.” h.un Hay Thian memberitahukan sekaligus menutur tentang itu.

“Tak disangka....” Tio Tay Seng menghela nafas panjang.

“Bu Ceng Sianli berbuat kebaikan!

“Kalau begitu...” ujar Sam Gan Sin Kay. “Dia tidak jahat, mungkin akan berada di pihak kita

“Dia memang sudah berada di pihak kita, sela Kim Siauw Suseng. “Maka kita boleh berlega hati.”



“Ayah!” Tio Bun Yang memberitahukan. “Kan Hay Thian dan Lu Hui San ingin menyampaikan sesuatu yang amat penting.”

“Oh?” Kening Tio Cie Hiong berkerut. “Kalau begitu, kalian duduklah!”

Mereka duduk. Kemudian Kam Hay Thian berkata, “Kami ingin menyampaikan tentang Kui Bin Pang. Kami datang dari markas pusat Kay Pang”

“Cepat beritahukan apa yang telah terjadi di markas pusat Kay Pang!” Lim Ceng Im tidak sabar wajah pun tampak tegang.

“Di markas pusat Kay Pang tidak terjadi apa apa, namun dalam rimba persilatan telah terjadi sesuatu yang sangat menggemparkan,” ujar Kai Hay Thian melanjutkan. “Para murid tujuh partai besar banyak yang mati, dan ketua sudah gila.”

“Apa?” Sam Gan Sin Kay terbelalak. “Itu perbuatan siapa?”

“Seng Hwee Sin Kun,” sahut Kam Hay Thian menambahkan. “Kini Seng Hwee Sin Kun telah dikendalikan oleh ketua Kui Bin Pang.”

“Aaaah...!” Tio Tay Seng menghela nafas panjang. “Sasaran berikutnya pasti Kay Pang, sebab Kui Bin Pang tidak berani menyerbu ke sini.”

“Kalau begitu....” Wajah Lim Ceng Im langsung tampak

cemas. “Ayahku dan paman Gouw pasti celaka.”

“Maka Kakek Lim mengutus kami kemari memberitahukan,” ujar Kani Hay Thian. “Karena kay Pang dalam bahaya.”

“Itu... itu....” Lim Ceng Im semakin cemas. Ayahku....”

“Adik Im, tenanglah!” bisik Tio Cie Hiong.



“Kakak  Cie          Hiong....”             Air          mala      Lim         Ceng      Im           mulai

meleleh. “Ayahku sudah tua....”

“Tenang!” Tio Cie Hiong menggenggam lengannya erat-

erat.

“Kalau begitu...” ujar Sam Gan Sin Kay. “Aku harus segera ke markas pusat Kay Pang.”

“Pengemis bau,” sahut Kim Siauw Suseng. Engkau sudah tua sekali, jangan cari mati di sana! lebih baik tetap hidup tenang di pulau ini saja!”

“Tapi....”  Kening  Sam  Gan  Sin  Kay  yang  keriput  itu

berkerut-kerut. “Itu menyangkut Kay Pang.”

“Pengemis bau, bukankah masih ada Tio Cie Hiong dan lainnya? Nah, engkau sudah begitu tua, tidak usah mencampuri urusan Kay Pang lagi!”

“Aaaah...!” Sam Gan Sin Kay menghela nafas ranjang. “Aku....”

“Pengemis bau!” Kou Hun Bijin memandang nya sambil tertawa. “Hi hi hi! Engkau tidak usah turut campur, biar tingkatan muda yang memberesi urusan itu!”

“Betul,” sela Lim Ceng Im. “Kakek tidak usah memusingkan urusan itu, biar kami yang mem beresinya!”

“Tujuan Kui Bin Pang terhadap kita, namun sasarannya justru tujuh partai besar dan Kay Pang itu untuk memancing kita ke Tionggoan,” ujar Tio Tay Seng sambil mengerutkan kening.

“Kalau begitu, mari kita ke Tionggoan saja!” sahut Sam Gan Sin Kay dan menambahkan. “Biar aku sudah tua sekali, masih cukup kuat untuk bertarung dengan pihak Kui Bin Pang.”



“Yang jelas engkau pasti akan mampus!” ujai Kou Hun Bijin. “Dari pada harus mampus di sana bukankah lebih baik tenang di sini?”

“Ha ha ha!” Sam Gan Sin Kay tertawa gelak “Aku tidak menyangka Kou Hun Bijin takut mati Ha ha ha...!”

“Pengemis bau!” bentak Kou Hun Bijin mc lotot. “Engkau jangan menghinaku! Kalau perlu kita bertarung di sini!”

“Ha ha ha!” Sam Gan Sin Kay masih tertawn gelak. “Dari pada kita yang bertarung lebih bail kita bertarung dengan pihak Kui Bin Pang?”

“Baik. Kapan kita berangkat ke Tionggoan?' tanya Kou Hun Bijin.

“Eeeh? Bijin!” Kim Siauw Suseng terbelalak. Betulkah engkau ingin berangkat ke Tionggoan?”

“Ya.” Kau Hun Bijin mengangguk. “Pengemis bau itu menantangku, maka aku harus berangkat ke Tionggoan.”

“Tenanglah, isteriku!” ujar Kim Siauw Suseng, kemudian melototi Sam Gan Sin Kay. “Engkau laki laki, tidak pantas menantang wanita! Ayoh, tandinglah aku!”

“Engkau mana punya nyali untuk bertarung dengan pihak Kui Bin Pang? Buktinya dari tadi dia, saja!” sahut Sam Gan Sin Kay menyindir.

“Pengemis bau!” Kim Siauw Suseng menudingnyaa. “Kalau aku tidak memandang Tio Tocu, aku sudah hajar engkau!”

“Engkau dapat menghajarku?” Sam Gan Sin ly tertawa. “Ha ha ha! Kita berdua adalah Bu mi Jie Khie, bahkan sering bertanding pula. ngkau... pernah kalah sejurus kan?”

“Sekarang kita boleh bertarung lagi!” tantang im Siauw Suseng.



“Ayah!” tegur Siang Koan Goat Nio. “Ayah kok seperti anak kecil sih? Kita sedang mengharu' masalah, Ayah, Ibu dan Sam Gan Sin Kay ulah ribut tidak karuan! Bukannya berpikir harus bagaimana baiknya, tapi malah ribut! Sungguh keterlaluan!”

“Adik Goat Nio,” bisik Tio Bun Yang. “Tidak baik menegur orang tua!”

“Kalau tidak ditegur, mereka pasti ribut terus,” ujar Siang Koan Goat Nio sambil menggeleng-gelengkan kepala.

“Adik Goat Nio....” Tio Bun Yang memberi isyarat agar

gadis itu diam, namun Siang Koa Goat Nio masih tampak cemberut.

“Nak!” Kou Hun Bijin tersenyum lembut “Engkau benar, kami yang salah karena terus ribut. Maafkan kami ya!”

“Ibu....” Siang Koan Goat Nio menghela nafas panjang.

“Ha ha ha!” Sam Gan Sin Kay tertawa. “Kau yang sudah mau mampus ini memang keterlaluan dan tak tahu diri! Ha ha ha...!”

“Sekarang kuharap tenang semua!” ujar Tu Tay Seng. “Kita masing-masing harus berpikii jalan keluarnya!”

Ucapan Tio Tay Seng membuat hening suasana, sebab mereka mulai berpikir keras. Ber selang beberapa saat kemudian, barulah Sam Gai Sin Kay membuka mulut berbicara.

“Menurut aku, lebih baik urusan itu kita serahkan kepada Tio Cie Hiong dan Lim Ceng lm.”

“Benar.” Kim Siauw Suseng dan Kou Hi Bijin mengangguk.

“Maaf!” ucap Tio Cie Hiong. “Kami sudah bersumpah tidak akan mencampuri urusan rimba persilatan, maka kami tidak boleh melanggar sumpah itu.”



“Kakak  Cie          Hiong....”             Lim         Ceng      Im           memancangnya.

“Ayahku dan Paman Gouw dalam bahaya.”

“Aku tahu.” Tio Cie Hiong manggut-manggut. Begini, kita utus Bun Yang ke markas pusat Kay l'ang.”

“Dia... dia seorang diri?” Lim Ceng Im menggeleng-gelengkan kepala.

“Aku pasti ikut,” ujar Siang Koan Goat Nio.

“Kami pun tidak mau ketinggalan,” sambung Lie Ai Ling.

“Betul.” Sie Keng Hauw mengangguk. “Kami pasti ikut ke Tionggoan.”

“Apakah kami akan makan angin di pulau ini?” ujar Lu Hui San sambil melirik Kam Hay thian. “Kami pun harus ikut ke Tionggoan.”

“Tidak salah.” Kam Hay Thian manggut-mangut. “Kami semua harus membantu Kay Pang.”

“Bagus! Bagus! Ha ha ha!” Sam Gan Sin Kay tertawa terbahak-bahak. “Biar generasi muda saja memberesi urusan itu.”

“Setuju,” sambung Kim Siauw Suseng dan Kou hun Bijin serentak.

“Tapi....” Tio Tay Seng menggeleng-gelengkan kepala.

“Mereka masih kurang berpengalaman.”

“Justru itu akan menambah pengalaman mereka,” sahut Sam Gan Sin Kay. “Jadi biarlah mereka pergi membantu Kay Pang.”

“Cie Hiong, bagaimana menurut engkau?” tanya Tio Tay Seng sambil menatapnya.

“Aku setuju, Paman.” Tio Cie Hiong mengangguk.



“Tapi....” Lie Ceng Im mengerutkan kening “Aku tidak

begitu berlega hati, karena pihak Ku Bin Pang berkepandaian tinggi sekali.”

“Adik Im!” Tio Cie Hiong tersenyum. “Bu Yang dan lainnya juga berkepandaian tinggi. Aku yakin mereka sanggup menghadapi Kui Bin Pang”

“Yaaah...!” Lim Ceng Im menghela nafas panjang. “Baiklah! Aku setuju!”

“Ayah, kapan kami boleh berangkat ke Tionggoan?” tanya Tio Bun Yang.

“Lebih cepat lebih baik,” sahut Tio Cie Hiong “Kalian boleh berangkat besok pagi.”

“Ya, Ayah.” Tio Bun Yang mengangguk.

“Nak,” pesan Lim Ceng Im. “Kalian semua harus berhati-hati, jangan ceroboh!”

“Ya, Ibu.” Tio Bun Yang mengangguk lagi.

Tio Tay Seng, Sam Gan Sin Kay, Kim Siauw Suseng, Kou Hun Bijin dan lainnya juga ikut memberikan berbagai wejangan.

“Ai Ling,” bisik Tio Hong Hoa. “Engkau tidak boleh bersikap seperti anak kecil lagi, harus menuruti perkataan Keng Hauw!”

“Ya, Ibu.” Lie Ai Ling mengangguk.

“Juga harus menuruti perkataan Bun Yang! tambah Lie Man Chiu. “Dia kakakmu!”

“Ya, Ayah.” Lie At Ling mengangguk lagi.

“Keng Hauw,” pesan Lie Man Chiu sungguh-sungguh. “Engkau harus baik-baik menjaga Ai Ling!”



“Ya, Paman.” Sie Keng Hauw mengangguk pasti. “Aku berjanji itu, Paman dan Bibi tidak usah khawatir!”

“Ngmm!” Lie Man Chiu dan Tio Hong Hoa manggut-manggut sambil tersenyum.

Keesokan harinya, berangkatlah mereka ke Tionggoan menuju markas pusat Kay Pang.

-oo0dw0oo-


Bagian ke lima puluh lima Pertarungan di Markas Kay Pang

Dalam perjalanan ke Tionggoan, mereka sama sekali tidak mendapat halangan apa pun. Walau hati mereka agak tercekam, namun masih bisa bersenda gurau.

“Sayang sekali!” ujar Lie Ai Ling. “Sian Hoa berada di Tayli, kalau tidak, kita semua akan berkumpul di markas pusat Kay Pang.”

“Entah kapan Sian Hoa dan Beng Kiat akan mengunjungi kita?” ujar Lu Hui San. “Kalau tidak menyangkut urusan dengan Kui Bin Pang, ingin rasanya pesiar ke Tayli.”

“Benar.” Tio Bun Yang manggut-manggut “Pemandangan di Tayli indah sekali, siapa yang pernah ke Tayli, pasti tidak akan melupaku negeri kecil itu.”

“Oh ya!” Siang Koan Goat Nio teringat sesuatu, dan segeralah ia memberitahukan. “Ketika aku mencuri dengar pembicaraan ketua Kui Bin Pang, itu membuatku tidak habis pikir.”

“Memangnya kenapa?” tanya Tio Bun Yang heran.



“Kedengarannya dia sangat dendam kepada mu,” jawab Siang Koan Goat Nio “Apakah engkau punya musuh?”

“Aku tidak punya musuh, lagi pula aku tidak kenal ketua Kui Bin Pang itu.” Tio Bun Yang mengerutkan kening. “Kenapa dia dendam pada ku?”

“Ketua lama Kui Bin Pang mendendam pada majikan lama Pulau Hong Hoang To, otomatis ketua baru itu pun dendam pada pihak Pulau' Hong Hoang To,” ujar Lie Ai Ling. “Maka tidak usah merasa heran.”

“Tapi....” Siang Koan Goat Nio menggeleng gelengkan

kepala. “Menurut aku, ketua Kui Bin Pang itu punya dendam pribadi dengan Kakak Bun Yang!”

“Itu....”  Tio  Bun  Yang  menggeleng-gelengkan  kepala.

“Itu tidak mungkin, sebab aku sama sekali tidak punya musuh.”

“Sudahlah!” landas Lie Ai Ling. “Tentang itu tidak usah dipusingkan, yang jelas Kui Bin Pang memang memusuhi kita.”

“Aaaah...!” Mendadak Sie Keng Hauw menghela nafas panjang.

“Eeeh?” Lie Ai Ling menatapnya heran. “Kenapa engkau menghela nafas panjang? Apa yang terganjel dalam hatimu?”

“Aku teringat guruku. Entah bagaimana keadaan beliau?” sahut Sie Keng Hauw. “Aku... rindu kepadanya.”

“Oooh!” Lie Ai Ling manggut-manggut. “Kukira engkau teringat gadis lain!”

“Aku mana punya gadis lain?” sahut Sie Keng Hauw sambil tersenyum. “Aku... hanya mencintai egkau seorang.”

“Kakak Keng Hauw....” Lie Ai Ling tersenyum bahagia.

“Asyiiik!” seru Lu Hui San. “Cinta nih ya!”



“Wuah!” Lie Ai Ling memandangnya, lalu balas menggodanya. “Ketika Kam Hay Thian meninggalkanmu, siang malam engkau terus-menerus menangis.”

“Ai Ling!” Wajah Lu Hui San langsung memerah. “Engkau....”

“Makanya jangan coba-coba menggodaku! Nah, rasakan!” sahut Lie Ai Ling sambil bertawa.

“Kalian masih bisa bergurau!” Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala. “Aku justru merasa khawatir....”

“Mengkhawatirkan apa?” tanya Lie Ai Ling

“Aku khawatir telah terjadi sesuatu di markas pusat Kay Pang,” jawab Tio Bun Yang sambi menghela nafas panjang.

“Kalau begitu, kita harus cepat-cepat ke sana, ujar Sie Keng Hauw. “Jangan bergurau lagi.”

-oo0de0oo-

Betapa leganya hati mereka ketika tiba di markas pusat Kay Pang, karena yang menyambu kedatangan mereka adalah Lim Peng Hang dai Gouw Han Tiong.

“Kakek! Kakek Gouw!” panggil Tio Bun Yang

“Bun Yang!” Sungguh gembira sekali Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong. “Duduk, du duklah!”

Tio Bun Yang dan lainnya segera duduk kemudian saling memandang sambil menarik nafas lega.

“Kakek, selama ini tidak terjadi sesuatu di sini?” tanya Tio Bun Yang.

“Tidak,” sahut Lim Peng Hang dan menambahkan-“Hanya saja... banyak pesilat golongan putih yang mati terbunuh.”

“Siapa yang membunuh mereka?” tanya Kam hay Thian.



“Kalau tidak salah pihak Kui Bin Pang. Kelihatannya pihak Kui Bin Pang berniat menguasai rimba persilatan,” jawab Gouw Han Tiong.

“Pihak Kui Bin Pang tidak membunuh para anggota Kay Pang?” tanya Tio Bun Yang.

“Itu yang membual kami tidak habis pikir, sebab pihak Kui Bin Pang sama sekali tidak mengganggu para anggota Kay Pang.” Lim Peng lang memberitahukan.

“Kakek, mungkinkah ketua Kui Bin Pang punya renana lain terhadap kita?” ujar Tio Bun Yang.

“Yaah!” Lim Peng Hang menghela nafas panjng. “Mungkin saja. Sebab kini tujuh partai besar sudah lumpuh, karena para ketua partai itu dalam keadaan gila.”

,               “Oh ya! Kenapa para ketua itu jadi gila?” tanya Tio Bun Yang. “Apa yang menyebabkan mereka jadi gila?”

“Berdasarkan informasi yang kami terima....” liwab Gouw

Han Tiong dengan wajah serius. , mereka terkena semacam ilmu pukulan yang dilancarkan Seng Hwee Sin Kun.”

“Oh?” Kening Tio Bun Yang berkerut. “Ilmu pukulan apa itu? Kok bisa menyebabkan orang yang terkena pukulan itu berubah jadi gila?”

“Mungkin semacam ilmu pukulan sesat.” tukas Lim Peng Hang dan menambahkan. “Sebab ketua Kui Bin Pang memiliki ilmu hitam.”

“Aaaah...!” Gouw Han Tiong menghela nafas panjang. “Entah bagaimana keadaan para ketua itu?”

“Bun Yang!” IJm Peng Hang memandangn seraya berkata, “Engkau mahir ilmu pengobatan maka alangkah baiknya engkau ke kuil Siauw Lim memeriksa Hui Khong Taysu.”

'Tapi di sini....”



'Tidak jadi masalah. Sebab ada Kam Hay Thian dan lainnya berada di sini. Engkau dan Goat Nio berangkat ke kuil Siauw Lim saja!”

“Baiklah.” Tio Bun Yang mengangguk. “Kapan kami boleh berangkat, Kakek?”

“Sekarang juga boleh,” sahut Lim Peng Han “Cepat pergi bisa cepat juga pulang.”

“Kalau begitu, aku dan Goat Nio berangkai sekarang,” ujar Tio Bun Yang sekaligus berpamit lalu berangkai ke kuil Siauw Lim.

-oo0dw0oo-

Dua hari kemudian setelah Tio Bun Yaa dan Siang Koan Goat Nio berangkat ke kuil Siauv Lim, di markas pusat Kay Pang justru terjadi sesuatu Malam itu ketika Lim Peng Hang. Gouw lan Tiong dan lainnya sedang bercakap-cakap di uang depan, mendadak terdengar suara siulan aneh yang menyeramkan.

“Hah?” Air muka Lim Peng Hang langsung berubah hebat. “Kui Bin Pang “

“Tidak salah,” ujar Lie Ai Ling. “Aku pernah mendengar suara siulan aneh yang menyeramkan ini.”

“Mari kita ke luar!” seru Lim Peng Hang sambil melesat ke luar, diikuti Gouw Han Tiong, kam Hay Thian dan lainnya dari belakang.

Mereka berdiri di halaman dengan perasaan mencekam dan tegang, sementara suara siulan aneh yang menyeramkan itu masih bergema. Berselang beberapa saat, melayang turun delapan sosok bayangan putih.

“Kui Bin Pang muncul! Semua harus mati!” seru mereka serentak menggunakan lweekang, sehingga memekakkan telinga,



“Aku ketua Kay Pang!” ujar Lim Peng Hang. ”Setahuku kami Kay Pang tidak bermusuhan depan kalian Kui Bin Pang! Kenapa kalian muncul di sini?”

“Perintah dari ketua, maka kami ke mari mau membunuh kalian!” sahut salah seorang yang memakai kedok setan warna hijau. Ternyata mereka adalah Ngo Sat Kui, yang dua orang lagi memakai ledok setan warna kuning, tidak lain adalah Dua Pelindung. Sedangkan yang seorang lagi tidak memakai kedok setan, dia adalah Seng Hwee Sin Kun, berdiri diam di tempat seperti patung.

“Ha ha ha!” Lim Peng Hang tertawa gelak. “Kalian kira gampang membunuh kami?”

“Kalau kami tidak mampu membunuh kalian semua, tentunya kami tidak akan ke mari!” sahut Toa Sat Kui.

“Toa Sat Kui,” bisik Toa Hu Hoat (Pelindung Tertua). “Ketua menyuruh kita menangkap Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong hidup-hidup.”

“Aku tahu itu,” sahut Toa Sat Kui dengan suara rendah. “Kalian berdua menangkap Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong, kami berlima dan Seng Hwee Sin Kun akan membunuh yang lain.”

“Ng!” Kedua Pelindung itu mengangguk.

“Ha ha ha!” Mendadak Toa Sat Kui tertawa gelak. “Malam ini kalian harus mati! Seng Hwee Sin Kun! Serang mereka!”

Seng Hwee Sin Kun segera menyerang Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong, namun mendadak Kam Hay Thian meloncat ke arah Seng Hwee Sin Kun.

“Hati-hati, Kakak Hay Thian!” seru Lu Hui San cemas.

Blaaam! Terdengar suara benturan dahsyat.



Ternyata Kam Hay Thian menangkis pukulan yang dilancarkan Seng Hwee Sin Kun. Kam Hay thian lerhuyung-huyung ke belakang beberapa langkah, sedangkan Seng Hwee Sin Kun cuma dua langkah.

“Seng Hwee Sin Kun! Cepat bunuh pemuda itu!” seru Toa Sat Kui. Mereka berlima mendadak menyerang ke arah Lu Hui San, Lie Ai Ling dan Sie Keng Hauw.

Sedangkan kedua Pelindung pun mulai menyerang Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong. Terjadilah pertarungan yang amat seru dan sengit.

Kam Hay Thian bertarung mati-matian melawan Seng Hwee Sin Kun, bahkan bertekad membunuhnya, karena Seng Hwee Sin Kun pembunuh ayahnya.

Seng Hwee Sin Kun mengeluarkan Seng Hwee Ciang Hoat (Ilmu Pukulan Api Suci) yang mengandung api, sedangkan Kam Hay Thian mengeluarkan Pak Kek Sin Ciang (Ilmu Pukulan Kutub Utara) yang mengandung hawa dingin.

Setelah dibimbing oleh Tio Cie Hiong, Iweekang Kam Hay Thian bertambah tinggi, begitu pula ilmu pukulannya, sebab Tio Cie Hiong telah menyempurnakan ilmu pukulan tersebut.

Akan tetapi, lweekang Kam Hay Thian tetap di bawah tingkat Seng Hwee Sin Kun, maka puluhan jurus kemudian, pemuda itu mulai terdesak.

Sementara Lim Peng Hang dan Gouw Han Liong juga sudah terdesak oleh kedua Pelindung.

Puluhan jurus kemudian, kedua Pelindung itu berhasil menotok jalan darah Lim Peng Hang dari Gouw Han Tiong, sehingga membuat mereka roboh tak bergerak lagi. Setelah berhasil menotol jalan darah Lim Peng Hang dan Gouw Han Tio kedua Pelindung pun berdiri di tempat sambil menyaksikan pertarungan itu.



Sie Keng Hauw, Lie Ai Ling dan Lu Hui San juga sudah mulai terdesak. Mereka bertiga cuma dapat bertahan. Beberapa jurus kemudian, bahkan Lie Ai Ling sudah terluka. Betapa terkejutnya Sie Keng Hauw, kemudian mati-matian melindungi kekasihnya. Akan tetapi tak seberapa lama kemudian, tangannya pun terluka oleh pukulan Toa Sat Kui. Kini keadaan mereka sungguh dalan bahaya! Di saat itulah mendadak terdengar suara tawa yang amat nyaring, menyusul melayang turui sosok bayangan.

“Hi hi hi! Asyik sekali! Ada orang bertarung” “Kakak!” seru Lu Hui San girang, “Tolong, kami! Kakak!”
“Jangan khawatir, Adik!” Terdengar suara sahutan yang sangat merdu. “Kakak pasti bantl kalian!”

Siapa orang itu? Ternyata Bu Ceng Sianli Ti Siao Cui. Ia langsung menyerang ke arah Ngo San Kui dengan Hian Goan Ci.

Betapa terkejutnya Ngo Sat Kui. Mereak berlima cepat-cepat meloncat ke belakang.

“Siapa engkau?” bentak Toa Sai Kui. “Jangan turut campur urusan ini!”

“Hi hi hi! Aku Bu Ceng Sianli, namaku Tu siao Cui! Aku justru harus mencampuri urusan ni! Hi hi hi...!” sahut Tu Siao Cui sambil tertawa nyaring.

Sedangkan kedua Pelindung saling memandang, kemudian mendadak membopong Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong lalu melesat pergi seraya berseru, “Ngo Sat Kui! Mari kita pergi!”

Begitu mendengar suara seruan kedua Pelindung, Ngo Sat Kui pun langsung melesai pergi lan berseru pula.

“Seng Hwee Sin Kun, cepat pulang ke markas!”



Kelika Seng Hwee Sin Kun mau melesat pergi, Bu Ceng Sianli-Tu Siao Cui menyerangnya lengan Hian Goan Ci.

Cesss! Lengan jubah Seng Hwee Sin Kun berlubang.

Sementara Kam Hay Thian sudah dapat bernafas, setelah itu ia mulai menyerang Seng Hwee sin Kun menggunakan Pak Kek Sin Ciang.

Seng Hwee Sin Kun menggeram, kemudian secepat kilat menghindar sekaligus balas menyerang dengan ilmu Seng Hwee Sin Ciang.

Blaaam! Terdengar suara benturan.

Seng Hwee Sin Kun tak bergeming sedikit pun, sedangkan Kam Hay Thian terdorong kebelakang beberapa langkah.

“Chu Ok Hiap!” seru Bu Ceng Sianli. “Engkau mundurlah! Biar aku yang melawannya!”

“Tidak!” sahut Kam Hay Thian. “Dia pembunuh ayahku, aku harus membunuhnya dengan tanganku sendiri!”

“Baik! Aku akan membantumu menyerang nya!” ujar Bu Ceng Sianli sambil tertawa. “Hi hi hi...!”

Sementara Seng Hwee Sin Kun terus meng geram sambil melotot-lotot. Mendadak ia memekik keras, kemudian sepasang telapak tangannya berubah kehijau-hijauan.

“Chu Ok Hiap! Hati-hati!” Bu Ceng Sianli mengingatkan. “Dia telah mengerahkan Iweekang nya pada puncaknya!”

Kam Hay Thian mengangguk, kemudian cepat-cepat mengerahkan Pak Kek Sin Kang, sedangkan Bu Ceng Sianli mengerahkan Hian Goan Sin Kang.

Sie Keng Hauw, Lie Ai Ling dan Lu Hui San tegang bukan main. Mereka menyaksikan itu dengan wajah pucat pias, terutama Lu Hui San.



Mendadak Seng Hwee Sin Kun memekik keras lagi, sekaligus menyerang Kam Hay Thian dengan jurus Seng Hwee Sauh Thian (Api Suci Membakar Langit). Bukan main dahsyatnya serangan itu, sebab pukulan itu mengandung api kehijau-hijauan.

Kam Hay Thian tidak berkelit, melainkan menangkis serangan itu dengan jurus Leng Swat leng Hai (Salju Menutupi Laut), yang penuh mengandung hawa dingin. Di saat bersamaan Bu Ceng Sianli juga menyerang Seng Hwee Sin Kun.

Blaaam! Terdengar suara benturan dahsyat memekakkan telinga. Pada waktu bersamaan terdengar pula suara jeritan.

“Aaaakh...!” Ternyata Seng Hwee Sin Kun yang menjerit, karena punggungnya telah berlubang terserang Hian Goan Ci.

Sedangkan Kam Hay Thian terpental beberapa depa, pakaiannya juga telah hangus, kemudian terkulai.

“Kakak Hay Thian!” seru Lu Hui San sambil hrrlari menghampirinya. “Engkau... engkau terluka?”

“Aku....”  Kam  Hay  Thian  menarik  nafas  dalam-dalam.

“Aku tidak apa-apa.”

Kam Hay Thian bangkit berdiri, lalu mendekati Seng Hwee Sin Kun. Sementara Seng Hwee Sin Kun membalikkan badannya, lalu menatap Bu Ceng Sianli dengan mata membara.

“Hi hi hi!” Bu Ceng Sianli tertawa cekikikan. ”Engkau sudah tidak punya sukma, lebih baik mati !”

Tiba-tiba Seng Hwee Sin Kun menggeram, sekaligus menyerang Bu Ceng Sianli menggunakan jurus Thian Te Seng Hwee (Api Suci Langit Bumi), yakni jurus yang paling lihay dan dahsyat “Hi hi hi!” Bu Ceng Sianli tertawa nyaring kemudian mendadak jari tangannya bergerak secepat kilat dan memancarkan cahaya putih. Ternyata ia menggunakan jurus



Cian Ci Keng Thian (Ribuan Jari Mengejutkan Langit) untuk me nangkis serangan yang dilancarkan Seng Hwee Sin Kun.

Blaaam! Cesss! Cesss! Itu adalah suara benturan kedua lweekang yang memekakkan telinga Seng Hwee Sin Kun terpental beberapa depa Dada dan perutnya telah berlubang dan darah segar pun mengucur dari lubang itu. Sedangkan Bu Ceng Sianli terdorong ke belakang lima enam langkah, wajahnya tampak pucat pias.

Di saat Seng Hwee Sin Kun terpental, di saat itu pula Kam Hay Thian menyerangnya dengan jurus Han Thian Soh Swat (Menyapu Salju Hai Dingin).

Blaaam! Punggung Seng Hwee Sin Kun terkena pukulan

itu.

“Aaaakh...!” jeritnya. Badannya terpental lagi ke arah Bu Ceng Sianli yang sedang mengatur pernafasannya.

“Hi hi hi!” Bu Ceng Sianli tertawa cekikikat sambil menggerakkan jari tangannya.

“Eeekh!” Seng Hwee Sin Kun mengeluarkan suara tenggorokan, kemudian terkulai tak bergerak iagi, nyawanya sudah melayang.

“Kakak Hay Thian!” seru Lu Hui San sambil mendekatinya. “Kakak Hay Thian....”

“Adik Hui San....” Kam Hay Thian memanjangnya sambil

tersenyum, namun wajahnya agak jiucat dan pakaian pun telah hangus. “Aku tidak apa-apa. Engkau tidak usah khawatir!”

“VVuah! Hi hi hi!” Bu Ceng Sianli tertawa geli. “Kini sudah mesra ya!”

“Kakak....”           Wajah   Lu           Hui         San         memerah.           “Jangan

menggoda aku!”



“Oh, ya?” Bu Ceng Sianli menatapnya sambil tertawa cekikikan. “Hi hi hi! Masih mau jadi biarawati?”

“Kakak....” Lu Hui San menundukkan kepala.

“Celaka!” seru Sie Keng Hauw mendadak dengan wajah pucat pias. “Betul-betul celaka!”

“Anak muda,” tanya Bu Ceng Sianli heran. ”Apa yang celaka?”

“Kakek Lim dan Kakek Gouw...” sahut Sie Keng Hauw. “Mereka telah dibawa kabur.”

“Haaah...?” Barulah Lie Ai Ling, Kam Hay Thian dan Lu Hui San tersentak, wajah mereka lalu berubah pucat pias. “Celaka... “

“Mereka tidak akan celaka. Kalau mereka celaka, berarti mereka sudah mati dari tadi,” sahut Bu Ceng Sianli dan menambahkan. “Sekarang kita kedalam, jangan terus berdiri di sini!”

“Bagaimana dengan mayat Seng Hwee Sin Kun?” tanya Lu Hui San.

“Suruh saja anggota Kay Pang menguburnya!' jawab Bu Ceng Sianli sambil menengok ke sara ke mari. “Lho? Kok anggota Kay Pang tidak tampak seorang pun? Apakah mereka sudah marnpus semua?”

“Celaka!” seru Sie Keng Hauw. Pemuda itu segera melesat pergi, tapi tak lama kemudian sudah kembali dan berkata. “Ternyata para anggota Kay Pang yang bertugas di luar markas masih dalam keadaan tertidur, karena terkena semacam obat bius!”

“Pantas mereka tidak kelihatan!” ujar Lie Ai Ling. “Syukurlah mereka kalau tidak mati!”

“Celaka!” seru Bu Ceng Sianli mendadak.



“Ada apa. Kakak?” Lu Hui San terkejut.

“Ketularan kalian yang dari tadi terus menyebut 'Celaka', maka aku pun ikut-ikutan menyebut celaka. Hi hi hi!” Bu Ceng Sianli tertawl geli.

“Kakak ada-ada saja!” Lu Hui San cemberut

”Ayolah, mari kita ke dalam!” ajak Bu Ceng Sianli sambil melesat ke dalam markas, yang lain mengikutinya dari belakang. Sampai di ruang depan, mereka lalu duduk.

“Kakak adalah Tu Siao Cui?” tanya Lie A Ling mendadak sambil menatapnya dengan mata tak berkedip.

“Tidak salah. Kenapa?” sahut Bu Ceng Sianli

“Bukan main! Sungguh bukan main!” ujar Lie Ai Ling sambil menggeleng-gelengkan kepala.

“Eh? Kenapa engkau gadis manis?” tanya Bu Ceng Sianli. “Apanya yang bukan main?”

“Kakak sungguh cantik sekali, kelihatannya baru berusia dua puluhan!” jawab Lie Ai Ling, ”Tapi sesungguhnya sudah berusia hampir sembilan puluh. Nah, itu bukan main, kan?”

“Hi hi hi!” Bu Ceng Sianli tertawa cekikikan, ”gadis manis, beritahukanlah namamu!”

“Namaku Lie Ai Ling.” Gadis itu memperkenalkan diri sambil tersenyum, lalu memandang kekasihnya seraya berkata, “Dia bernama Sie Keng Hauw, dia....”

”Aku sudah tahu, dia kekasihmu.” Bu Ceng sianli tertawa cekikikan.

“Ya, Kakak.” Lie Ai Ling mengangguk.

“Oh ya!” Bu Ceng Sianli menengok ke sana kemari seraya bertanya, “Kok tidak tampak Tio Bun Yang? Dia tidak berada di sini?”



“Dia dan Goat Nio pergi ke kuil Siauw Lim,” jawab Kam Hay Thian memberitahukan. “Sebab “Ketua partai Siauw Lim jadi gila terkena pukulan Ceng Hwee Sin Kun, maka dia ke sana untuk mengobatinya.”

“Oh?” Bu Ceng Sianli tertegun. “Bun Yang mahir ilmu pengobatan?”

“Dia memang mahir ilmu pengobatan, kepandaiannya pun sangat tinggi sekali.” Lie Ai Ling memberitahukan dengan wajah berseri-seri. “Bahkan dia juga mahir meniup suling.”

“Aku sudah tahu itu.” Bu Ceng Sianli manggut-manggut. “Oh ya, engkau punya hubungan apa dengan Bun Yang?”

“Aku adiknya.”

“Apa?” Bu Ceng Sianli mengerutkan kening “Bagaimana mungkin engkau adiknya?”

“Ayahnya dan ibuku bersaudara, sedangkan kakeknya dan kakekku saudara kandung.” Lie Ai Ling menjelasiean.

“Oooh!” Bu Ceng Sianli manggut-manggut “Pantas, engkau begitu bangga, ternyata engkau memang termasuk adiknya!”

“Kakak....” Lu Hui San mengerutkan kening “Kini Kakek

Lim dan Kakek Gouw tidak ada, kita harus bagaimana?”

“Anggap saja kita tuan rumah!” sahut Bu Ceng Sianli. “Beres, kan?”

“Tapi....”  Lu  Hui  San  menggeleng-gelengkan  kepala.

“Wakil ketua pun tidak ada di sini, kita...

“Tentunya kita harus menunggu Kakak Bun Yang dan Goat Nio, sebab Kakak Bun Yan adalah cucu ketua Kay Pang ini. Biar dialah yang mengatur!” ujar Lie Ai Ling.

“Betul.” Bu Ceng Sianli manggut-manggu “Kita semua memang harus menunggu Bun Yan pulang.”



“Kakak juga menunggu di sini?” tanya Lu Hui San girang.

“Aku mengucapkan 'kita semua', berarti termasuk diriku,” sabut Bu Ceng Sianli. “Dasar goblok!”

“Aku memang goblok, Kak,” ujar Lu Hui San sambil tersenyum.

“Kalian  sungguh....”       Bu           Ceng      Sianli      menggeleng-

gelengkan kepala. “Padahal bahu dan lengan kalian terluka, namun masih bisa bergurau.”

“Lukaku ringan, tidak apa-apa,” sahut Kam Hay Thian. “Oh ya, aku harus mengucapkan terimakasih kepada Kakak, sebab Kakak telah membantuku membalas dendam.”

“Tidak usah berterimakasih kepadaku. Seharusnya engkau berterimakasih kepada Lu Hui San,” ujar Bu Ceng Sianli. “Ingat! Engkau harus baik-baik terhadapnya! Kalau engkau masih berani menyakiti hatinya, aku pasti membunuhmu!”

“Ya, Kakak.” Kam Hay Thian mengangguk dan berjanji, “Aku pasti mencintai dan menyayanginya selama-lamanya!”

“Bagus! Bagus!” Bu Ceng Sianli tertawa cekikikan. “Hi hi hi...!”

“Hi hi hi!” Mendadak Lie Ai Ling juga tertawa cekikikan, itu membuat Bu Ceng Sianli terheran- inian.

“Hei!” Bu Ceng Sianli melotot. “Kenapa engkau ikut tertawa seperti aku? Menyindir ya?”

“Mana berani aku menyindir Kakak?” sahut Lie Ai Ling tersenyum-senyum. “Aku teringat Kou Hun Bijin yang suka tertawa seperti Kakak.”

“Oh, dia!” Bu Ceng Sianli manggut-manggut.

. “Dia dan suaminya berada di mana?”

“Di Pulau Hong Hoang To.” Lie Ai Ling memberitahukan.



“Ngmm!” Bu Ceng Sianli manggut-manggut lagi seraya berkata, “Apabila aku sempat, pasti berkunjung ke sana.”

“Kakak jangan ingkar janji lho!” ujar Lie Ai Ling.

“Eh? Aku cuma bilang mau berkunjung ke sana, namun tidak berjanji,” sahut Bu Ceng Sianli.

“Kakak....” Wajah Lie Ai Ling tampak kecewa. “Kalau

sempat, Kakak berkunjung ke Pulau Hong Hoang To ya!”

“Itu kalau aku sempat. Tapi tidak berjanji lho!” sahut Bu Ceng Sianli.

Di saat itulah muncul beberapa pengemis tua. Mereka memberi hormat kepada Kam Hay Thian, Sie Keng Hauw dan lainnya.

“Maafkan kami...” ucap salah seorang dari mereka. “Karena kami terkena semacam obat bius, sehingga membuat kami....”

“Kami sudah tahu itu,” sahut Sie Keng Hauw dan bertanya, “Oh ya, di mana wakil ketua?”

“Beliau ditugasiean ke markas cabang, mungkin dalam waktu belasan hari ini beliau akan pulang.”

“Kakek Lim dan Kakek Gouw ada urusan, maka meninggaliean markas pusat ini,” ujar Sie Keng Hauw dan menambahkan. “Sekarang kalian boleh pergi, sekaligus kuburkan mayat yang di luar markas itu!”

“Ya.” Beberapa pengemis tua itu langsung pergi.

“Kakak Keng Hauw, kenapa engkau berdusta?” tanya Lie Ai Ling.

“Kalau aku tidak berdusta, Kay Pang pasti menjadi kacau,” sahut Sie Keng Hauw dan melanjutkan. “Kita tunggu Bun Yang dan Goat Nio pulang, barulah kita berunding bersama.”



“Oh ya!” ujar Bu Ceng Sianli mendadak. “Apakah ada kamar kosong? Aku sudah lelah sekali, mau beristirahat.”

“Ada, Kakak,” sahut Lie Ai Ling dan Lu Hui San serentak. “Kami antar Kakak ke kamar itu.”

“Hi hi hi!” Bu Ceng Sianli tertawa. Kalian cukup baik terhadapku! Bagus! Bagus! Aku sungguh gembira sekali!”

Beberapa hari kemudian, Tio Bun Yang dan Siang Koan Goat Nio sudah pulang. Betapa gembiranya hati Tio Bun Yang ketika melihat Bu Ceng Sianli-Tu Siao Cui. Ia langsung berseru dengan wajah berseri-seri, “Kakak! Kakak!”

“Hi hi hi! Adik Bun Yang, engkau sudah pulang?” Bu Ceng Sianli tertawa cekikikan.

“Kakak Siao Cui!” panggil Siang Koan Goa Nio. “Masih ingat padaku?”

“Engkau....” Bu Ceng Sianli menatapnya dengan penuh

perhatian. “Aku ingat! Kita pernai bertemu di kedai teh, kemudian muncul belasan anggota Seng Hwee Kauw. Mereka kuajak ke tempat sepi lalu kubunuh. Ya, kan?”

“Betul.” Siang Koan Goat Nio tertawa gem bira. “Kukira Kakak sudah lupa.”

“Hi hi hi!” Bu Ceng Sianli memandang merek; sambil tertawa. “Ternyata Adik Bun Yang kekasih mu! Engkau memang tidak salah pilih. Kalian berdua memang pasangan yang serasi.”

“Kakak.....” Wajah Siang Koan Goat Nio agak kemerah-

merahan.

Sementara Tio Bun Yang terus memandang Kam Hay Thian dan Sie Keng Hauw. Dari wajah mereka, ia sudah tahu telah terjadi sesuatu di markas pusat Kay Pang ini

“Keng Hauw,” tanya Tio Bun Yang. “Di mana kakekku dan Kakek Gouw?”



“Mereka....” Sie Keng Hauw memandang Bu Ceng Sianli.

“Adik Bun Yang,” ujar Bu Ceng Sianli. “Telah teradi sesuatu di markas ini. Kalau aku terlambat datang, mereka pasti sudah jadi mayat.”

“Oh?” Air muka Tio Bun Yang berubah hebat. ”Apa yang telah terjadi?”

“Seng Hwee Sin Kun dan beberapa anggota ,Kui Bin Pang ke mari...” tutur Kam Hay Thian, kemudian menghela nafas panjang.

“Apa?” Wajah Tio Bun Yang langsung berubah pucat pias. “Kakekku dan Kakek Gouw ditangkap mereka?”

“Ya.” Kam Hay Thian mengangguk.

“Kakek! Kakek...!” seru Tio Bun Yang cemas. „Aaaah! Aku harus bagaimana? Harus bagaimana?”

“Tenanglah, Adik Bun Yang'“ ujar Bu Ceng Sianli. “Kakekmu dan Kakek Gouw tidak akan terjadi apa-apa. Sebab seandainya Seng Hwee Sin Kun dan para anggota Kui Bin Pang itu menghendaki nyawa kakekmu dan Kakek Gouw, di saat itu juga kakekmu dan Kakek Gouw pasti sudah mati.”

“Betul, Kakak Bun Yang!” ujar Lie Ai Ling. ”Kalau Kakak Siao Cui terlambat datang, kami pasti sudah jadi mayat. Kepandaian mereka sangat tinggi sekali.”

“Aaaah...!” Tio Bun Yang menghela nafas panjang, kemudian jatuh terduduk di kursi. “Entah bagaimana keadaan kakekku dan Kakek Gouw?”

“Adik Bun Yang,” tegas Bu Ceng Sianli. “Pokoknya engkau harus tenang, tidak boleh kacau! Ingat, engkau pemuda gagah, maka tidak boleh cengeng!”

“Ya, Kakak!” Tio Bun Yang mengangguk.



“Oh ya!” Bu Ceng Sianli menatapnya seraya bertanya, “Bagaimana keadaan ketua Siauw Lim Pay? Engkau dapat menyembuhkannya?”

Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala kemudian menghela nafas panjang.

“Kakak Bun Yang tidak bisa menyembuhkan Hui Khong Taysu?” tanya Lie Ai Ling kurang percaya.

“Hui Khong Taysu dipasung karena sering mengamuk. Aku telah memeriksanya, ternyatwa syaraf otaknya telah rusak tergempur oleh semacam ilmu pukulan.” Tio Bun Yang memberi tahukan.

“Tiada obat yang dapat menyembuhkannya? tanya Bu Ceng Sianli.

“Ada,” jawab Tio Bun Yang. “Hanya rumput obat Liong Kak Cauw (Rumput Tanduk Naga) yang dapat menyembuhkannya.”

“Kalau begitu, cepatlah Kakak Bun Yang pergi mengambil rumput obat itu!” ujar Lie Ai Ling.

“Adik Ai Ling!” Tio Bun Yang menggeleng gelengkan kepala.

“Tidak gampang mencari Liong Kak Cauw, sebab rumput Tanduk Naga itu cuma tumbuh di daerah Miauw.”

“Oh?” Lie Ai Ling terbelalak.

“Ayah dan aku kenal baik ketua suku Miauw, bahkan aku pernah ke sana,” Tio Bun Yang memberitahukan. “Tapi....”

“Adik Bun Yang!” Bu Ceng Sianli menatapnya. “Engkau merasa berat berangkat ke daerah Biauw, karena memikirkan kakekmu?”

“Ya.” Tio Bun Yang mengangguk.



“Menurut aku...” ujar Bu Ceng Sianli. “Pihak Kui Bin Pang tidak akan membunuh kakekmu maupun Kakek Gouw, paling juga mereka akan dibikin gila. Berarti kelak engkau pun membutuhhkan rumput Tanduk Naga untuk menyembuhkan mereka. Maka, apa salahnya engkau berangkat ke daerah Miauw untuk mengambil rumput obat itu?”

“Ini....” Tio Bun Yang masih ragu. “Kakak, bagaimana

kalau aku ke Pulau Hong Hoang To memberitahukan kedua orang tuaku?”

“Jangan!” Bu Ceng Sianli menggelengkan kepala. “Itu akan mencemaskan semua orang di sana. engkau sudah dewasa, jadi engkau harus menanganinya, jangan masih bersikap seperti anak kecili!”

“Ya, Kakak.” Tio Bun Yang mengangguk. ”Tapi bagaimana di sini?”

“Serahkan pada kami!” sahut Kam Hay Thian dan Sie Keng Hauw serentak. “Kami tetap berada disini menunggu engkau pulang.”

“Terimakasih!” ucap Tio Bun Yang.

“Kakak Bun Yang,” tanya Lie Ai Ling. “Engkau cuma memeriksa Hui Khong Taysu saja?”

“Ya.”

“Kenapa Kakak Bun Yang tidak pergi memeriksa ketua partai lain?”

“Itu tidak perlu, sebab penyakit mereka pasti sama. Lagi pula aku harus memburu waktu.”

“Adik Bun Yang!” Bu Ceng Sianli memandangnya. “Aku mau pergi sekarang, kelak kita akan berjumpa lagi!”

“Kakak...!” panggil Tio Bun Yang, Siang Koan Goat Nio dan Lie Ai Ling serentak, mereka merasa berat berpisah dengan wanita itu.



“Hi hi hi!” Bu Ceng Sianli tertawa cekikikan “Kalian jangan cengeng, aku pergi karena harus membantu kalian mencari Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong!”

“Oooh!” Tio Bun Yang manggut-manggut “Terimakasih, Kakak!”

“Baiklah.” Bu Ceng Sianli bangkit berdiri “Sampai jumpa!”

“Kakak...!” panggil Siang Koan Goat Nio.

Namun Bu Ceng Sianli sudah melesat pergi tinggal terdengar sayup-sayup seruannya.

“Kelak kita akan berjumpa lagi! Hi hi hi...!”

“Aaaah...!” Siang Koan Goat Nio menghela nafas panjang. “Ketika pertama kali aku bertemu Bu Ceng Sianli, aku anggap dia wanita jahat dan sadis! Kini aku baru tahu, dia berhati bajik!”

“Semula aku pun beranggapan begitu, sebab dia membunuh Hek Sim Popo, bahkan ingin membunuh yang lain juga. Oleh karena itu, aku berusaha mencegahnya...” ujar Tio Bun Yang dan menutur. “Maka aku menganggapnya gadis berhati sadis. Pada waktu itu, aku tidak percaya kalau usianya sudah hampir sembilan puluh.”

“Siapa yang akan percaya?” ujar Lu Hui San .ambil menggeleng-gelengkan kepala. “Entah siapa akan menjadi jodohnya?”

“Sepertinya....”  Lie  Ai  Ling  mengerutkan  kening.  “Dia

sama sekali tidak tertarik pada lelaki yang mana pun.”

“Aku harap dia akan ketemu pemuda yang baik!” ucap Siang Koan Goat Nio.

“Oh ya!” Lu Hui San menatapnya. “Goat Nio, kapan kalian akan berangkat ke daerah Miauw?”



“Besok pagi,” sahut Tio Bun Yang. “Kami harus cepat berangkat dan cepat pulang.”

“Kami tetap tinggal di sini. Sebelum kalian pulang, kami tidak akan ke mana-mana,” ujar Kam Hay Thian.

“Terimakasih!” ucap Tio Bun Yang.

-oo0dw0oo-


Bagian ke lima puluh enam Kejadian yang mencemaskan
Tio Bun Yang dan Siang Koan Goat Nio sudah berangkat ke daerah Miauw. Tujuh delapan hari kemudian, mereka berdua sudah tiba di daerah itu dan langsung menemui kepala suku Miauw.

Dapat dibayangkan, betapa girangnya Cing Cing, putri kepala suku Miauw itu. Ia memeluk Tio Bun Yang erat-erat, sekaligus mengecup pipi nya.

“Cing Cing....” Wajah Tio Bun Yang langsung memerah.

“Maaf!” ucap ibu Cing Cing kepada Siang Koan Goat Nio. “Itulah adat kami di sini, maka Nona jangan salah paham! Putriku itu sudah punya suami.”

“Oooh!” Siang Koan Goat Nio manggut-manggut.

“Kakak Bun Yang,” tanya Cing Cing. “Nona itu kekasihmu

ya?”

“Ya.” Tio Bun Yang mengangguk. “Namanya Siang Koan Goat Nio.”

“Kakak Goat Nio, aku bernama Cing Cing,” ujar putri kepala suku Miauw sambil tersenyum “Jangan salah paham ya! Aku sudah punya suami, aku girang sekali atas kedatangan kalian.”



“Adik Cing Cing!” Siang Koan Goat Nio tersenyum lembut. “Aku tidak akan salah paham.”

“Syukurlah!” ucap Cing Cing.

“Bun Yang!” Ibu Cing Cing menatapnya seraya bertanya, “Engkau ke mari tentu ada suatu penting. Ya, kan?”

“Ya.” Tio Bun Yang mengangguk. “Aku ke mari mencari Liong Kak Cauw.”

“Liong Kak Cauw?” Ayah Cing Cing mengerutkan kening. “Sulit sekali mengambil Liong Kak Cauw itu, sebab tumbuhnya di tebing yang sangat licin. Sudah banyak orang yang mati karena ingin mengambil rumput obat itu.”

“Ayah, Kakak Bun Yang pasti berhasil mengambil rumput obat itu, karena kepandaian Kakak Hun Yang tinggi sekali,” ujar Cing Cing sambil tersenyum.

“Oh?” Ayah Cing Cing manggut-manggut. “Aku masih ingat, engkaulah yang menyelamatkan kami.”

“Kepandaian Pahto begitu tinggi, tapi Kakak Hun Yang masih dapat merobohkannya, itu pertanda kepandaian Kakak Bun Yang tinggi sekali.'

“Ngmm!” Ayah Cing Cing mengangguk sambil insenyum. “Kalau begitu, aku yakin engkau akan berhasil mengambil rumput obat itu.”

”Paman, rumput Tanduk Naga itu tumbuh di tebing mana?” tanya Tio Bun Yang.

“Di Gunung Tanduk Naga.” Ayah Cing Cing nenunjuk ke arah utara. “Lihatlah gunung itu, bukankah mirip tanduk naga?”

Tio Bun Yang memandang ke arah utara, dilihatnya sebuah gunung menjulang tinggi, yang bentuknya memang mirip tanduk naga.



“Rumput Tanduk Naga tumbuh di tebing gunung itu?”

“Ya.” Ayah Cing Cing mengangguk dan memberitahukan. “Gunung itu sangat berbahaya, maka engkau harus berhati-hati! Di sana terdapat rawa hidup, siapa yang terpeleset ke rawa itu, jangan harap bisa ke luar lagi.”

“Aku pasti berhati-hati,” ujar Tio Bun Yang, kemudian memandang Siang Koan Goat Nio seraya berkata, “Goat Nio, engkau di sini saja! Jangan ikut aku ke gunung itu, sebab akan mem bahayakan dirimu.”

“Kakak Bun Yang, aku... aku ikut!” sahut gadis itu.

“Goat Nio,” ujar ibu Cing Cing. “Lebih baik engkau tinggal di sini, Cing Cing akan menemani mu. Karena apabila engkau ikut Bun Yang ke gunung itu, justru akan memecahkan perhatian nya. Jadi engkau harus mengerti itu!”

“Aku....” Siang Koan Goat Nio menundukkan kepala.

“Kakak Goat Nio!” Cing Cing memegang bahunya, “kalau engkau ikut, tentunya Kakak Bun Yang harus menjagamu. Nah, bukankah engkau akan merepotkannya? Mungkin juga akan mem buatnya tidak bisa memusatkan perhatiannya, sungguh berbahaya sekali!”

“Ya,” Siang Koan Goat Nio mengangguk. “Aku mengerti dan tidak ikut.”

“Adik Goat Nio!” Tio Bun Yang membelainya. “Engkau memang gadis yang berpengertian.”

“Tapi Kakak Bun Yang harus berhati-hati lho!” pesan Siang Koan Goat Nio sambil menatapnya mesra.

“Ya.” Tio Bun Yang mengangguk.

“Bun Yang,” tanya ayah Cing Cing. “Kapan engkau akan berangkat ke gunung itu?”

“Sekarang,” jawab Tio Bun Yang.



“Baiklah.” Ayah Cing Cing manggut-manggut. “Walau engkau berkepandaian tinggi, namun engkau tetap harus berhati-hati!”

“Ya, Paman.” Tio Bun Yang mengangguk dan k-rpamit, lalu berangkat ke Gunung Tanduk Naga.

Setelah Tio Bun Yang pergi, Siang Koan Goat Nio terus melamun. Cing Cing memandangnya «ambil tersenyum, kemudian ujarnya.

“Kakak Goat Nio, jangan melamun! Lusa kakak Bun Yang pasti pulang.”

“Dia... dia pergi menempuh bahaya, sedangkan aku malah enak-enak duduk di sini. Aku....” Siang Koan Goat Nio menghela nafas panjang.

“Kakak Goat Nio!” Cing Cing tersenyum, kepandaian Kakak Bun Yang begitu tinggi, dia pasli selamat. Engkau tidak usah mengkhawatirkannya. Percayalah! Lusa dia pasti pulang.”

“Goat Nio!” Ibu Cing Cing tersenyum lembut.

“Bun Yang pasti pulang dengan membawa rumput Tanduk Naga, engkau tidak usah mencemasieannya!”

“Ya.” Siang Koan Goat Nio mengangguk.

“Baiklah,” ujar ibu Cing Cing. “Kalian mengobrollah di sini, kami mau ke dalam!”

Kedua orang tua Cing Cing masuk ke dalam, sedangkan Cing Cing dan Siang Koan Goat Nio tetap duduk di situ.

“Oh ya!” Siang Koan Goat Nio memandangnya seraya bertanya. “Di mana suamimu? Kok tidak kelihatan?”

“Dia pergi menengok orang tuanya. Dalam beberapa hari ini dia akan pulang.” Cing Cing memberitahukan.

“Kenapa engkau tidak ikut?”



“Malas.”

“Kok malas?” Siang Koan Goat Nio tersenyum. “Itu tidak baik lho!”

“Kebetulan pada waktu itu aku kurang enak badan, maka malas ikut ke rumah orang tuanya,” ujar Cing Cing, yang kemudian menatapnya. “Kakak Goat Nio, engkau dan Kakak Bun Yang sudah lama saling mencinta?”

“Cukup lama.”

“Dia... dia pemuda baik, jujur, gagah dan tampan. Engkau beruntung sekali mendapatkan dia.”

“Oh?”

“Ketika pertama kali aku bertemu dia, aku sangat tertarik kepadanya. Bahkan boleh dikatakan aku telah jatuh hati kepadanya,” ujar Cing Cing terus terang. “Namun dia menganggapku sebagai adiknya, maka aku tidak berani memikirkannya lagi.”

“Oooh!” Siang Koan Goat Nio manggut-manggut. “Oh ya! Aku masih tidak tahu, bagaimana dia bisa kenal kedua orang tuamu? Bolehkah engkau memberitahukan padaku?”

“Tentu boleh. Kedua orang tuaku ditangkap oleh Pahto yang berkepandaian sangat tinggi, maka ibuku menyuruhku ke Tionggoan minta bantuan kepada Paman Cie Hiong...” tutur Cing cing sejelas-jelasnya dan menambahkan. “Dia berhasil mengalahkan Pahto.”

“Oooh!” Siang Koan Goat Nio manggut-mang- j'ut. “Ternyata begitu! Lalu di mana Pahto sekarang?”

-oo0dw0oo-



Jilid : 12



"Entahlah." Cing Cing menggelengkan kepala. "Hingga kini dia tidak pernah muncul di daerah Miauw ini."

"Oh ya!" Siang Koan Goat Nio memandangnya kiiaya bertanya, "Engkau pernah belajar ilmu Silat?"

"Pernah." Cing Cing mengangguk. "Siapa yang mengajarmu ilmu silat!"

"Ibuku. Setelah bertemu Kakak Bun Yang, tlia pun mengajarku Iweekang dan ilmu pedang."

"Kakak Bun Yang mengajarmu Iweekang apa dan ilmu pedang apa?"

"Giok Li Sin Kang dan Lui Tian Kiam Hoat."

"Oooh!" Siang Koan Goat Nio tersenyum "Ibuku mengajarkan Giok Li Sin Kang pada ibu nya. ibunya mengajarkan padanya, setelah itu dia pun ajarkan padamu!"

"Kalau begitu, kepandaian Kakak pasti lihay sekali," ujar Cing Cing. *Engkau mahir ilmu pedang?"

"Kakak Bun Yang tidak mengajarmu Gio Li Kiam Hoat?" tanya Siang Koan Goat Nio.

"Tidak."

"Kalau begitu..." ujar Siang Koan Goat Ni sambil tersenyum. "Aku akan mengajarmu Gio Li Kiam Hoat, sebab engkau sudah memiliki Gio Li Sin Kang, maka harus belajar Giok Li Kiam Hoat."

"Terimakasih, Kakak!" ucap Cing Cing girang. "Terimakasih!"

Siang Koan Goat Nio mulai mengajar Cing Cing Giok Li Kiam Hoat. Pada hari berikutnya Cing Cing sudah dapat menguasai jurus-jurus Giok Li Kiam Hoat. Karena gadis itu telah memiliki Giok Li Sin Kang, maka tidak sulit baginya mempelajari Giok Li Kiam Hoat.



Sore harinya, ketika Siang Koan Goat Nio sedang memberi petunjuk kepada Cing Cing mengenai ilmu pedang itu, mendadak melayang turun seseorang, yang ternyata Tio Bun Yang.

"Kakak Bun Yang!" seru Siang Koan Goat Nio girang, dan langsung memeluknya mesra "Kakak Bun Yang...."

"Adik Goat Nio!" Tio Bun Yang membelainya. "Aku sudah pulang."

"Engkau berhasil mengambil rumput Tanduk Naga?" tanya Siang Koan Goat Nio.

"Ng!" Tio Bun Yang mengangguk.

"Syukurlah!" ucap Siang Koan Goat Nio.

"Kakak Bun Yang!" panggil Cing Cing. "Sudah melupakan aku ya?"

"Adik Cing Cing...." Wajah Tio Bun Yang kemerah-merahan.

"Maaf, aku...."

"Aku tahu...." Cing Cing manggut-manggut. "Kalian saling

merindukan. Ketika engkau berangkat ke gunung itu. Kakak Goat Nio terus melamun lho!"

"Oh?" Tio Bun Yang tersenyum.

"Cing Cing...." Siang Koan Goat Nio cemberut.

"Hi hi!" Cing Cing tertawa geli. "Kenapa malu-malu kucing?"

Di saat bersamaan, muncullah kedua orang tua Cing Cing.

Betapa gembiranya mereka ketika melihat Tio Bun Yang.

"Bun Yang, engkau berhasil mengambil rumput Tanduk Naga itu?" tanya ibu Cing Cing.

"Berhasil, Bibi." Tio Bun Yang mengangguk sambil memperlihatkan rumput obat itu. "Khasiat rumput Tanduk



Naga ini menyembuhkan syaraf orang yang terganggu, bahkan juga dapat menyembuhkan penyakit lain."

"Betul." Ayah Cing Cing mengangguk.

"Aku mengambil cukup banyak," ujar Tio Bun Yang sambil memberikan Liong Kak Cauw itu kepada ayah Cing Cing. "Paman, simpanlah rumput obat ini!"

"Bun Yang..." ayah Cing Cing terbelalak. "Bukankah engkau sangat membutuhkan rumput obat ini?"

"Memang." Tio Bun Yang mengangguk. "Tapi dalam bajuku sudah cukup banyak, maka yang in untuk Paman simpan."

"Terimakasih!" ucap ayah Cing Cing sambi menerima rumput obat itu. "Oh ya! Kalian berdua tinggallah di sini beberapa hari, kami ingin menjamu kalian!"

"Itu tidak perlu, Paman!" tolak Tio Bun Yang "Sebab kami harus buru-buru kembali ke Tiong goan."

"Kenapa Kakak Bun Yang harus begitu buru buru pulang ke Tionggoan?" tanya Cing Cing heran.

"Sebab...." Tio Bun Yang memberitahukan tentang para

ketua tujuh partai yang menjadi gila "Oleh karena itu, kami harus buru-buru pulang ke Tionggoan."

"Oooh!" Ayah Cing Cing manggut-manggut. "Kalau begitu, kami tidak akan menahan kalian!

"Kakak Bun Yang kapan berangkat?" tanya Cing Cing dengan mata basah.

"Sekarang," sahut Tio Bun Yang.

"Sekarang?" Cing Cing terbelalak. "Sekarang hari sudah mulai gelap, lebih baik esok pagi saja”

"Cing Cing!" Tio Bun Yang menghela nafas panjang. "Kami harus buru-buru kembali ke Tiong-goan. sebab...."



Tio Bun Yang memberitahukan juga tentang Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong yang diculik Kui Bin Pang.

"Kakak Bun Yang...." Cing Cing terisak-isak. "Kapan kalian

akan ke mari lagi?"

"Kalau ada kesempatan, kami pasti ke mari!"

"Kakak Bun Yang jangan bohong lho!"

"Cing Cing!" Tio Bun Yang tersenyum. "Aku tidak pernah bohong, namun aku pun tidak berani berjanji pasti ke mari, sebab masih banyak urusan yang harus kuselesaikan."

"Kakak Bun Yang...."' Air mata Cing Cing meleleh.

"Adik Cing Cing!" Siang Koan Goat Nio memegang bahunya. "Apabila ada kesempatan, kami pasti ke mari menengok kaiian!"

"Terimakasih, Kakak Goat Nio!" ucap Cing Cing.

"Paman, Bibi, kami mohon pamit!" ucap Tio Bun Yang dan kemudian membelai Cing Cing. "Sampai jumpa!"

"Selamat jalan. Kakak Bun Yang dan Kakak Goat Nio!" sahut Cing Cing dengan terisak-isak. "Kelak kalian harus ke mari tengok kami ya!"

"Ya!" Tio Bun Yang mengangguk. "Paman, Bibi! Sampai jumpa!"

"Selamat jalan, Bun Yang!" ucap ibu Cing Cing. "Selamat jalan, Goat Nio!"

Tio Bun Yang dan Siang Koan Goat Nio melangkah pergi, sedangkan Cing Cing masih berdiri di tempat dengan air mata berderai-derai

"Kakak Bun Yang! Kakak Goat Nio! Jangan lupa ke mari lagi kelak!" seru Cing Cing sambil melambai-lambaikan tangannya.



"Ya!" sahut Tio Bun Yang sekaligus bala» melambaikan tangannya ke arah Cing Cing. "San| pai jumpa...!"

Beberapa hari kemudian, Tio Bun Yang dai Siang Koan Goat Nio sudah memasuki daerah Tionggoan. Ketika sampai di sebuah kota, mereka mencari rumah penginapan karena hari sudah mulai gelap.

Mereka memasuki sebuah rumah penginapan. Seorang pelayan segera menghampiri mereka dengan sikap hormat.

"Tuan dan Nyonya membutuhkan kamar?"

"Kami...."  Wajah Tio  Bun Yang  agak kemerah-merahan.

"Kami membutuhkan dua buah kamar."

"Oooh!" Pelayan manggut-manggut tapi tidak banyak bertanya. "Tuan, Nona, mari ikut aku ke dalam untuk melihat-lihat kamar!"

Tio Bun Yang mengangguk, kemudian mereka berdua mengikuti pelayan ke dalam. Sampai di dalam, pelayan itu menunjuk dua buah kamar.

"Bagaimana kedua kamar itu? Tuan dan Nona merasa cocok?"

"Ng!" Tio Bun Yang mengangguk.

"Tuan, Nona," ujar pelayan memberi saran. "Lebih baik satu kamar saja. Itu tidak jadi masalah, karena Tuan dan Nona adalah sepasang kekasih. Ya. kan?"

"Kami belum menikah, tidak baik tidur dalam ,atu kamar," sahut Tio Bun Yang sambil tersenyum.

"Baiklah!" Pelayan itu manggut-manggut. "Tuan dan Nona mau pesan teh atau arak dan makanan lilin?"

"Cukup teh saja," sahut Tio Bun Yang.

Pelayan itu mengangguk, lalu segera pergi.



Tio Bun Yang dan Siang Koan Goat Nio melangkah ke dalam kamar, lalu duduk berhadapan.

Pelayan itu muncul dengan membawa sebuah teko dan dua buah cangkir. Ditaruhnya cangkir-cangkir itu di atas meja, kemudian dituangkannya teh itu ke dalam ke dua cangkir.

"Silakan minum!" ucap pelayan itu dengan sopan.

"Terimakasih!" ucap Tio Bun Yang. Kemudian memberikan setael perak kepada pelayan itu.

"Tuan...."  Pelayan  itu  tidak  berani  menerimanya,  sebab

tiada seorang tamu pun pernah memberinya setael perak.

"Ambillah!" desak Tio Bun Yang.

"Terimakasih, Tuan!" ucap pelayan itu dengan wajah berseri. "Terimakasih!"

"Sama-sama," sahut Tio Bun Yang. "Permisi!" ucap pelayan itu dan segera per

"Goat  Nio...."  Tio  Bun  Yang  menghela  nafas  panjang.

"Entah bagaimana keadaan di markas pusat Kay Pang?"

"Tidak akan terjadi apa-apa," sahut Siang Koan Goat Nio bernada menghibur.

"Aaaah...!" Tio Bun Yang menghela nafas panjang lagi. "Entah berada di mana kakekku dan Kakek Gouw?"

Siang Koan Goat Nio diam saja. Gadis itu, tidak tahu harus menjawab apa.

Setelah malam, Siang Koan Goat Nio bangkit berdiri lalu memandangnya seraya berkata,

"Kakak Bun Yang, aku mau ke kamarku. Besok kila berjumpa lagi."

"Baik." Tio Bun Yang manggut-manggut, lalu mengantar Siang Koan Goat Nio ke kamar laini



"Selamat malam, Kakak Bun Yang!" ucap Siang Koan Goat Nio sambil melangkah ke kamal

"Selamat tidur, Adik Goat Nio!" sahut Tio Bun Yang lembut. "Sampai besok!"

Siang Koan Goat Nio menutup pintu kamar, dan Tio Bun Yang kembali ke kamarnya. Pemuda itu tidak langsung tidur, melainkan duduk di pinggir tempat tidur dengan pikiran menerawang. Setelah larut malam, ia membaringkan dirinya ke tempat tidur, tetapi lama sekali barulah bisa pulas.

-oo0dw0oo-

Pagi-pagi sekali Tio Bun Yang sudah bangun, la langsung pergi ke kamar Siang Koan Goat Nio. Begitu sampai di depan kamar itu, keningnya berkerut karena pintu kamar itu terbuka sedikit.

Perlahan-lahan Tio Bun Yang mendorong pintu itu, dan ia terbelalak seketika karena tidak melihat Siang Koan Goat Nio di dalam kamar itu.

"Adik Goat Nio! Adik Goat Nio!" teriak Tio Bun Yang. "Tuan!" Muncul pelayan. "Ada apa?"
"Di mana Adik Goat Nio? Di mana Adik Goat Nio?" tanya Tio Bun Yang dengan wajah pucat pias.

"Maksud Tuan.... Nona yang kemarin itu?"

"Ya. Engkau melihat dia?"

"Tidak." Pelayan itu menggelengkan kepala.

"Aku tidak melihat Nona itu."

"Aaaah...!" keluh Tio Bun Yang. "Kemari dia? Kemana dia?"

"Mungkinkah dia pergi ke luar sebentar?" ujaj pelayan. "Tuan tunggu di sini saja!"



Tio Bun Yang menghela nafas panjang, ke mudian duduk dengan wajah cemas. Sedangkaj pelayan itu melangkah pergi sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Tio Bun Yang terus duduk menunggu dj dalam kamar. Tak terasa hari sudah siang, namuT Siang Koan Goat Nio masih belum muncul, lu membuat hati Tio Bun Yang semakin cemas, la bangkit dari duduknya lalu berjalan mondar-maij dir di depan kamar itu.

"Tuan...." Muncul pelayan sambil memandan nya. "Nona

sudah kembali?"

"Belum." Tio Bun Yang menggelengkan k pala. "Dia... dia pasti diculik penjahat!"

"Tuan...." Pelayan itu menarik nafas panjang, kemudian

melangkah pergi. Namun berselang se saat, ia kembali lagi dengan wajah serius. "Tuan..“

"Ada apa?" tanya Tio Bun Yang kesal.

"Tadi ada seseorang menitip sepucuk suri untuk Tuan," sahut pelayan itu sambil menyerahkan sepucuk surat kepada Tio Bun Yang.

Tio Bun Yang cepat-cepat menerima sur itu, sekaligus membacanya. Surat tersebut berbunyi demikian.

Tio Bun Yang:

Kini  kekasihmu  lelah     berada  di            tanganku!           Ha  Ini    Ini!

Rasakan pembalasanku! Ha ha ha!

Seusai membaca surat itu, kening Tio Bun Yang terus berkerut. Ia sama sekali tidak tahu siapa pengirim surat itu, lagi pula bunyi surat lersebut bernada membalas dendam padanya, itu membuat Tio Bun Yang tidak habis pikir.

"Siapa orang itu? Kenapa dia menulis begitu? l'adahal aku tidak punya musuh." gumam Tio Bun Yang lalu bertanya



kepada pelayan. "Siapa yang memberikan surat ini kepadamu?"

"Seorang pemuda," jawab pelayan. "Setelah memberikan surat itu kepadaku, dia langsung pergi."

"Engkau kenal dia?"

"Maaf, Tuan! Aku sama sekali tidak kenal dia."

"Aaaah...!" Tio Bun Yang nyaris pingsan seketika. "Adik Goat Nio! Adik Goat Nio!"

"Tuan...."             Pelayan                menggeleng-gelengkan                ke-jiala.

"Kemarin aku sudah bilang, lebih baik kalian lidur sekamar."

"Engkau...." Tio Bun Yang tersentak. "Engkau sudah tahu

akan kejadian ini? Engkau pelakunya”

"Bukan." Pelayan itu memberitahukan. "Belum lama ini, sudah banyak anak gadis hilang mendadak."

"Kenapa kemarin engkau tidak memberitahukan kepadaku?" bentak Tio Bun Yang.

"Aku...."  Pelayan  itu  menggeleng-gelengka  kepala.  "Aku

justru tidak mau membuat kalian takut, maka aku tidak beritahukan."

"Aaaah...!" Tio Bun Yang jatuh terduduk di kursi. "Sudahlah! Engkau boleh pergi!"

"Ya, Tuan." Pelayan itu melangkah pergi sari bil menghela nafas panjang. "Sudah ada gadis yang hilang di sini! Kalau berita ini tersiar ke luar, penginapan ini pasti sepi."

Sementara Tio Bun Yang terus duduk dengan wajah cemas. Ia tidak tahu harus berbuat apa Akhirnya ia mengambil keputusan untuk kembali ke markas pusat Kay Pang. Maka, setelah membayar ongkos kamar, berangkatlah ia ke markas Kay Pang dengan wajah murung.

-oo0dw0oo-



Beberapa hari kemudian, Tio Bun Yang sudah tiba di markas pusat Kay Pang. Yang menyambutnya adalah Cian Chiu Lo Koay, wakil ketul Kay Pang.

"Tuan!" panggil Cian Chiu Lo Koay, kemudian menghela nafas panjang.

"Lo Koay," tanya Tio Bun Yang sambil duduk. ”Di mana Kam Hay Thian dan lainnya?"

"Mereka... mereka...." Cian Chiu Lo Koay ergagap.

"Apa yang terjadi atas diri mereka?" tanya Tio Bun Yang cemas. "Cepat ceritakan!"

"Beberapa hari lalu, aku baru pulang. Kam Hay Thian menceritakan tentang Pangcu dan ketua..." tutur Cian Chiu Lo Koay. "Malam harinyaa justru mendadak muncul Kui Bin Pang...."

"Apa?" Bukan main terkejutnya Tio Bun Yang. 'Jadi mereka ditangkap semua?"

"Ya." Cian Chiu Lo Koay mengangguk. "Kebelulan pada waktu itu aku berada di luar. Begitu mendengar suara siulan aneh yang menyeramkan itu, tak lama aku dan para anggota Kay Pang jatuh pingsan. Entah berapa lama kemudian, baru-lah kami siuman, tapi Kam Hay Thian dan lainnya sudhi tidak ada di tempat."

"Aaaah!" keluh Tio Bun Yang. "Mereka pasti diculik oleh Kui Bin Pang!"

"Tuan!" Cian Chiu Lo Koay memandangnya, ”kalau tidak salah, Tuan pergi bersama Nona Goat Nio. Kenapa dia tidak kembali bersama tuan?"

"Dia...." Tio Bun Yang menghela nafas panjang. "Dia hilang

di penginapan."

"Apa?" Bukan main terkejutnya Cian Chiu Lo Koay. "Apakah dia juga diculik oleh pihak Kui Bin Pang?"



"Mungkin juga," sahut Tio Bun Yang, lalu memperlihatkan sepucuk surat.

"Aku menerima surat ini dari pelayan penginapan, katanya dari seorang pemuda."

"Aku yakin itu perbuatan pemuda tersebut” ujar Cian Chiu Lo Koay dan melanjutkan. "Pemuda itu pasti punya dendam pada Tuan, coba Tuan ingat! Kira-kira siapa pemuda itu?"

Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala, "Aku tidak punya musuh, bagaimana mungkin aku mengingatnya?"

"Kalau begitu..." gumam Cian Chiu Lo Koay "Sungguh mengherankan dan membingungkan!”

"Lo Koay, aku cemas sekali," ujar Tio Bun Yang. "Tidak tahu harus berbuat apa. Kakekku, Kakek Gouw, Goat Nio, Kam Hay Thian dan lainnya telah diculik oleh Kui Bin Pang. Apakah aku harus memberitahukan kepada orang tuaku”

"Seharusnya Tuan memberitahukan. Tapi...” Cian Chiu Lo Koay menghela nafas panjang. "Itu pasti akan menggemparkan Pulau Hong Hoang To, sekaligus mencemaskan mereka. Jadi lebih baik sementara ini Tuan tidak usah kembali ke Pulau Hong Hoang To, selidiki saja sendiri!"

"Oh ya! Tuan sudah memperoleh rumput obat ilmu hitamku." itu?" tanya Cian Chiu Lo Koay.

"Sudah." Tio Bun Yang mengangguk

"Kalau begitu, alangkah baiknya tuan segera ke kuil Siauw Lim mengobati Hui Kong Taysu sekaligus menyelidiki jejak Pangcu dan lainnya

"Baik." Tio Bun Yang manggut-manggut. "Aku akan berangkat sekarang."



"Hati-hati!" pesan Cian Chiu Lo Koay dan Lcnambahkan. "Kalau sudah tiada jalan, barulah kian ke Pulau Hong Hoang To!"

"Ya." Tio Bun Yang mengangguk, lalu berangkat ke kuil Siauw Lim.

-ooo0dw0oo-

Sementara itu, di markas pusat Kui Bin Pang terdengar suara tawa terbahak-bahak. Yang tertawa itu adalah Ketua Kui Bin Pang, yang kelihatan gembira sekali.

"Ha ha ha! Kini Lim Peng Hang, Gouw Han liong, Kam Hay Thian dan lainnya sudah berada di tangan kita! Ha ha ha...!"

'Ketua," tanya Toa Sat Kui. "Perlukah kita menyiksa mereka?"

"Tidak perlu." sahut ketua Kui Bin Pang..

"Ng!" Tio Bun Yang mengangguk. Sebab aku akan mengendalikan mereka dengan ilmu hitamku”

"Betul. Ha ha ha!" Toa Sat Kui tertawa "Ketua bisa memerintah mereka untuk menyerang Pulau Hong Hoang To."

"Tujuanku memang begitu. Tapi...." Mendadak ketua Kui

Bin Pang tertawa terkekeh-keke "Kalian harus baik-baik memperlakukan gadis yang bernama Goat Nio!"

"Ya," sahut Ngo Sat Kui dan kedua Pelindung serentak

"He he he!" Ketua Kui Bin Pang tertaw terkekeh-kekeh lagi. "Gadis itu sungguh cantik Tio Bun Yang akan menggigit jari!"

"Ketua," ujar Toa Hu Hoat (Pelindung Tertua). "Bu Ceng Sianli itu berkepandaian tinggi sekali, Ngo Sat Kui agak kewalahan menghadapinya."

"Benar." Toa Sat Kui mengangguk. "Sunggu lihay dan dahsyat ilmu jari tangannya!"



"Oh? Dia berani melawan kita? Hmm!" dengus ketua Kui Bin Pang. "Aku akan turun tangan membunuhnya!"

"Ketua!" Toa Sat Kui memberitahukan. "Bu Ceng Sianli itu cantik sekali, sayang kalau di bunuh."

"Siapa yang lebih cantik, Siang Koan Goal Nio atau Bu Ceng Sianli itu?" tanya ketua Kui Bin Pang mendadak.

"Bu Ceng Sianli lebih cantik, sebab dia agak ivlindung itu pun satu kamar. Setelah berada di genit," jawab Toa Sat Kui. "Sedangkan Siang Koan Goat Nio agak dingin."

"Betul," sambung Toa Hu Hoat. "Siang Koan Goat Nio tidak dapat menyenangkan Ketua. Tapi aku yakin Bu Ceng Sianli pasti dapat menyenangkan Ketua."

"Oh, ya?" Ketua Kui Bin Pang tertawa gelak. Kalau begitu, bila kalian bertemu Bu Ceng Sianli, undanglah kemari!"

"Bagaimana kalau dia tidak mau?" tanya Toa lu Hoat.

"Dengan cara apa pun kalian harus mengun-langnya ke mari," tegas ketua Kui Bin Pang.

"Tapi kepandaiannya sangat tinggi sekali. Kami tidak sanggup melawannya," ujar Toa Hu Hoat dengan jujur.

"Aku tidak menyuruh kalian melawannya, melainkan mengundangnya ke mari dengan cara baik-laik! Mengerti?" bentak ketua Kui Bin Pang.

"Mengerti," sahut mereka serentak. "Kami pasti berusaha mengundang Bu Ceng Sianli kemari?

"Bagus! Bagus! Ha ha ha...!" Ketua Kui Bin Pang tertawa gelak. "Nah! Sekarang silakan kalian pergi beristirahat."

"Terimakasih, Ketua!" Ngo Sat Kui dan Toa He Hu Hoat itu segera ke kamar.

Ternyata Ngo Sat Kui satu kamar, kedua Pelindung itu pun satu kamar, kedua Pelindung naik ke tempat tidur. Mereka



berdua tidak tidur, melainkan duduk berhadapan di atas tempat tidur itu.

"Hari ini capek sekali, mari kita tidur!" aja Pelindung Tertua.

"Benar. Lebih baik kita tidur," sahut Pelir dung Kedua.

Walau mereka mengatakan begitu, tapi keduanya sama sekali tidak tidur, melainkan menulis di atas tempat tidur dengan jari telunjuk.

"Cara bagaimana kita memberi kabar kepada Tetua itu?" Tulis Pelindung Tertua lalu memandang Pelindung Kedua.

Pelindung Kedua menggelengkan kepala, kemudian ia pun menulis.

"Kita harus berhati-hati, sebab kalau kita menimbulkan kecurigaan ketua, nyawa kita pasti melayang."

Pelindung Tertua manggut-manggut dan menulis.

"Kita harus mencari jalan untuk memberi kabar kepada Tetua. Kalau tidak, Lim Peng Hai dan lainnya pasti celaka."

Pelindung Kedua mengangguk. Mereka berdua diam lalu berpikir dengan kening berkerut kerut.

-oo0dw0oo-


Bagian ke lima puluh tujuh

Masuk perangkap

Toan Beng Kiat dan Bokyong Sian Hoa bersenda gurau di halaman istana, kemudian mereka berdua pun saling mengejar sambil tertawa riang gembira.

"Hi hi!" Bokyong Sian Hoa tertawa. "Kalau engkau dapat mengejarku, maka engkau boleh...."

"Boleh menciummu?" tanya Toan Beng Kiat.



"Ya." Bokyong Sian Hoa mengangguk. "Nah, kejarlah aku!"

"Baik." Toan Beng Kiat segera melesat ke arah Bokyong Sian Hoa.

Akan tetapi, gadis itu bergerak cepat menghindar. Oleh karena itu, Toan Beng Kiat menangkap angin.

"Hi hi hi!" Bokyong Sian Hoa tertawa geli. "Engkau mau menangkapku atau menangkap angin?"

"Engkau curang!" sahut Toan Beng Kiat.

"Kok aku curang? Engkau tidak dapat menangkapku malah bilang aku curang! Dasar licik!" ujar Bokyong Sian Hoa.

"Engkau menggunakan Kui Kiong San Tian Pou (Ilmu Langkah Kilat), itu berarti curang."

"Engkau menggunakan ginkang, apakah itu tidak curang?"

"Sudahlah! Mari kita duduk saja!" ajak Bokyong Sian Hoa. "Lebih baik kita bercakap-cakap."

"Baik." Toan Beng Kiat mengangguk.

Mereka duduk di dekat taman bunga. Toa Beng Kiat terus memandangnya dengan mata berbinar-binar.

"Eeeh?" Wajah Bokyong Sian Hoa memerahi "Kenapa engkau terus memandangku sih?"

"Adik Sian Hoa," sahut Toan Beng Kiat sambi tersenyum. "Terus terang, engkau makin dipandang makin cantik lho!"

"Idiiih!" Bokyong Sian Hoa tertawa cekikikan "Hi hi hi! Engkau sudah pandai merayu ya!"

"Aku tidak merayu, melainkan berkata sesungguhnya," ujar Toan Beng Kiat. "Engkau memang cantik sekali."

"Sudahlah, jangan terus memuji diriku! Kalau aku sudah jadi nenek-nenek, engkau pasti menjauhiku."



"Kalau engkau sudah jadi nenek-nenek, tentu aku pun sudah jadi kakek-kakek. Ya, kan? Nah bagaimana mungkin aku menjauhimu? Sebaliknya aku pasti terus mendampingimu."

"Engkau memang pandai merayu. Oh ya, sebelum engkau kenal aku, apakah pernah jatuh cinta terhadap gadis lain?"

"Tidak pernah," jawab Toan Beng Kiat dengan jujur. "Tapi aku pernah tertarik pada seorang gadis."

"Oh? Siapa gadis itu?"

"Siang Koan Goat Nio!"

"Eh? Engkau gila ya?" Bokyong Sian Hoa melotot. "Bukankah Siang Koan Goat Nio kekasih Kakak Bun Yang?"

"Benar." Toan Beng Kiat menjelaskan. "Tapi pada waktu itu. Siang Koan Goat Nio belum bertemu Tio Bun Yang."

"Oooh!" Bokyong Sian Hoa manggut-mang-put. "Lalu bagaimana?"

"Aku pernah bilang kepada Goat Nio, bahwa aku tertarik padanya. Akan tetapi...." Toan Beng Kiat tersenyum. "Dia

memang gadis yang tegas. Dia langsung bilang tidak tertarik padaku. Sejak itu, aku tidak berani mendekatinya lagi. Ternyata diam-diam dia sangat tertarik kepada Tio Bun Yang, walau belum bertemu pemuda itu."

"Kalau begitu..." goda Bokyong Sian Hoa sambil tertawa kecil. "Engkau pasti kecewa sekali. Ya, kan?"

"Tidak juga." Toan Beng Kiat menggelengkan kepala. "Aku cuma tertarik kepadanya, bukan berarti telah mencintainya. Lagi pula... cinta tidak boleh cuma sepihak, tiada gunanya sama sekali."

"Oh ya," tanya Bokyong Sian Hoa mendadak. "Kok Goat Nio bisa tertarik kepada Kakak Bun Yang? Padahal dia belum pernah bertemu Kakak Bun Yang."



"Itu dikarenakan Ai Ling sering menceritakan kepadanya tentang Bun Yang, lagi pula mereka memang berjodoh," ujar Toan Beng Kiat. "Tio Bun Yang memiliki suling kumala, sedangkan Goat Nio memiliki suling emas. Nah, bukankah mereka berjodoh?"

"Benar." Bokyong Sian Hoa manggut-manggut dan menambahkan. "Mereka pun mahir meniup suling. Kelak bila bertemu mereka, aku ingin menyuruh mereka meniup suling."

"Bagus." Toan Beng Kiat tertawa. "Aku memang ingin mendengar suara suling mereka."

"Kakak Beng Kiat, aku merasa kasihan pada Soat Lan," ujar Bokyong Sian Hoa mendadak.

"Lho, memangnya kenapa?" Toan Beng Kiat heran.

"Karena...."        Bokyong              Sian        Hoa        menggeleng-gelengkan

kepala. "Dia belum ketemu pemuda idaman hatinya."

"Oh, itu!" Toan Beng Kiat tersenyum. "Kalau sudah waktunya, dia pasti akan ketemu pemuda idaman hatinya! Percayalah!"

"Ng!" Bokyong Sian Hoa manggut-manggut "Kakak Beng Kiat...."

"Ada apa, sayang?" Toan Beng Kiat memandangnya. "Katakanlah!"

"Sudah cukup lama aku tinggal di sini, maksudku..." ujar Bokyong Sian Hoat dengan suara rendah. "Bagaimana kalau kita ke Tionggoan?"

"Adik Sian Hoa," tanya Toan Beng Kiat. "Apakah engkau sudah tidak betah tinggal di sini?”

"Bukan masalah itu, melainkan... aku sangat rindu kepada Kakak Bun Yang dan lainnya. Bagal mana kalau kita ke markas pusat Kay Pang menemui mereka?"



"Aku sih setuju saja. Tapi... harus minta ijin dulu kepada orang tuaku. Kita tidak boleh pergi secara diam-diam."

"Eeeh?" Bokyong Sian Hoa cemberut. "Siapa yang mengajakmu pergi secara diam-diam?"

"Maaf, maaf!" ucap Toan Beng Kiat cepat. ”Aku...."

"Hi hi!" Bokyong Sian Hoa tertawa geli. "Kok engkau jadi kalut sih?"

"Aku... aku takut engkau marah," sahut Toan Beng Kiat. "Engkau tidak marah kan?"

"Bagaimana mungkin aku marah?" Bokyong Sian Hoa tertawa lagi. "Aku bukan gadis pemarah lho!"

"Adik     Sian        Hoa...." Toan      Beng      Kiat        menggenggam

tangannya. "Kita sudah saling mencinta, bagaimana kalau kita... menikah?"

"Kakak  Beng  Kiat...."  Bokyong  Sian  Hoa  menundukkan

kepala "Aku tidak mau cepat-cepat menikah."

"Kenapa?"

"Karena usiaku masih terlalu muda. Lagi pula aku tidak mau cepat-cepat punya anak, karena aku tidak bisa mengurusi anak."

"Adik Sian Hoa," ujar Toan Beng Kiat lembut. "Engkau sudah cukup umur. Seandainya kita menikah dan punya anak, engkau tidak akan repot mengurusi anak."

"Aku tahu." Bokyong Sian Hoa manggut manggut. "Maksudmu dayang-dayang di sini bisa bantu mengurusi anak kita. Ya, kan?"

"Ya."

"Kakak Beng Kiat!" Bokyong Sian Hoa me mandangnya seraya berkata. "Seorang ibu harus mengurusi anaknya sendiri, tidak boleh orang lain yang mengurusinya."



"Kenapa?"

"Sebab kalau sang ibu tidak mengurusi anak nya sendiri, maka kelak akan terasa jauh dengan anaknya."

"Oooh!" Toan Beng Kiat manggut-manggut "Adik Sian Hoa...."

"Kakak Beng Kiat." ujar Bokyong Sian Uni lembut. "Aku sangat mencintaimu, namun aku belum mau menikah sekarang, tunggu satu dua tahun lagi!"

"Baiklah." Toan Beng Kiat mengangguk

"Eeeeh?" Terdengar suara seruan, lalu munci Lam Kiong Soat Lan menghampiri mereka. "Kalian berdua sudah mau menikah?"

"Ti... tidak." Bokyong Sian Hoa menggelengkan kepala dengan wajah tampak agak kemerah- merahan.

"Jangan menyangkal...."

"Soat Lan!" Toan Beng Kiat tersenyum. "Aku memang ingin menikahinya, namun dia belum siap."

"Oh?" Lam Kiong Soat Lan memandang mereka. "Bukankah lebih cepat menikah lebih baik, kok Sian Hoa belum mau sih?"

"Karena aku... belum bisa mengurusi anak, lagi pula lebih baik tunggu satu dua tahun," ujar Bokyong Sian Hoa.

"Oooh!" Lam Kiong Soat Lan manggut-manggut, kemudian menghela nafas panjang.

"Soat Lan!" Toan Beng Kiat heran. "Kenapa engkau menghela nafas panjang?"

"Aku rindu kepada Kakak Bun Yang, Goat Nio dan lainnya," sahut Lam Kiong Soat Lan. "Oh ya, bagaimana kalau kita ke Tionggoan?"



"Tadi aku telah mengusulkan kepada Kakak Beng Kiat." Bokyong Sian Hoa memberitahukan. "Katanya harus minta ijin dulu kepada orang tuanya."

"Itu memang benar, kita harus minta ijin dulu." Lam Kiong Soat Lan manggut-manggut. "Kalau tidak, orang tua kami pasti gusar."

"Kalau begitu...." Bokyong Sian Hoa memandang mereka.

"Kapan kita minta ijin?"

"Nanti," sahut Toan Beng Kiat.

"Kakak Beng Kiat," tanya Bokyong Sian Hoa mendadak. "Apakah Kakak Bun Yang sudah bertemu Goat Nio?"

"Mudah-mudahan mereka sudah bertemu!" jawab Toan Beng Kiat, kemudian menghela nafas pula. "Entah bagaimana Kam Hay Thian dan Li Hui San...."

"Mudah-mudahan mereka bertemu kembali dan... saling mencinta!" sahut Bokyong Sian Hoa

"Yaaah!" Toan Beng Kiat menggcleng-gclengj| kan kepala. "Kam Hay Thian begitu keras hati bagaimana mungkin dia...."

"Ayohlah!" potong Lam Kiong Soat Lan. "Mari kita ke ruang tengah menemui orang tua kita untuk minta ijin ke Tionggoan!"

"Baik." Toan Beng Kiat mengangguk lalu menarik Bokyong Sian Hoa ke dalam.

-oo0dw0oo-


Sementara itu. di ruang tengah juga sedang berlangsung pembicaraan serius. Mereka adalah Toan Wie Kie, Gouw Sian Eng, Lam Kiong Bl Liong dan Toan Pit Lian.



"Menurut aku, lebih baik Beng Kiat dan Sian Hoa dinikahkan, sebab mereka sudah saling mencinta." ujar Lam Kiong Bie Liong.

"Kami memang bermaksud demikian," sahut Toan Beng Kiat. "Tapi... itu pun tergantung pada mereka berdua, kami tidak boleh memaksanya.”

"Lho?" Gouw Sian Eng heran. "Memangnya kenapa?"

"Mungkin mereka masih ingin bebas." Toan Beng Kiat tersenyum. "Kalau mereka sudah manikah, tentunya akan punya anak. Nah, itu cukup merepotkan mereka."

"Mengurusi anak memang sudah merupakan tugas kewajiban orang tua, begitu pula mereka berdua," ujar Gouw Sian Eng dan menambahkan. ”Kakak Wie Kie, lebih baik suruh mereka cepat-cepat menikah!"

"Adik Sian Eng!" Toan Wie Kie tersenyum. "Kita boleh mengusulkan, namun tidak boleh memaksa, lho!"

"Ya." Gouw Sian Eng mengangguk. "Kalian berdua sudah tenang," ujar Toan Pit Lian sambil menarik nafas dalam-dalam. "Sedangkan kami...."

"Kenapa kalian?" tanya Toan Wie Kie heran. "Hingga kini Soal Lan masih belum punya kekasih," sahut Toan Pit Lian sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Entah kapan dia akan bertemu pemuda idaman hatinya?"

"Jangan khawatir?" Lam Kiong Bie Liong lertawa. "Aku yakin tidak lama lagi Soat Lan akan bertemu pemuda idaman hatinya."

"Oh?" Toan Pit Lian tersenyum. "Suamiku, putri kita tinggal di Tayli ini. Bagaimana mungkin akan bertemu pemuda idaman hatinya?"



"Kalau bintang jodohnya sudah terbuka, dia pasti akan bertemu pemuda idaman hatinya. Percayalah!" ujar Lam Kiong Bie Liong. "Kalau dia sudah menikah, legalah hatiku."

Bersamaan itu, muncullah Toan Beng Kiat, Bokyong Sian Hoa dan Lam Kiong Soat Lan.

"Ayah, Ibu!" panggil Toan Beng Kiat dan La Kiong Soat Lan.

"Paman, Bibi!" panggil Bokyong Sian Hoa.

"Duduklah!" sahut Toan Beng Kiat.

"Wajah Ayah dan Ibu tampak serius sekali, apa yang sedang dibicarakan ayah dan ibu?" tanya Toan Beng Kiat.

"Oooh!" Toan Wie Kie tersenyum sambf manggut-manggut. "Ayah dan ibu sedang membicarakan engkau dan Sian Hoa."

"Oh? Kenapa kami?" tanya Toan Beng Kiat dengan wajah agak kemerah-merahan, karena dapat menerka apa yang dibicarakan kedua orang tuanya.

"Engkau dan Sian Hoa sudah saling mencinta, maka..." sahut Gouw Sian Eng dan menambahkan "Alangkah baiknya kalian berdua melangsungkan pernikahan saja!"

"Ibu!" Toan Beng Kiat tersenyum. "Tadi kami berdua telah membicarakan tentang ini, namun..,

"Kenapa?" tanya Gouw Sian Eng sambil memandang mereka. "Sian Hoa belum mau menikah?"

"Ya." Toan Beng Kiat mengangguk.

"Alasannya?" tanya Gouw Sian Eng lagi.

"Ibu...." Toan Beng Kiat tersenyum. "Terus terang, kami

berdua memang tidak ingin cepat-icpat menikah."

"Memangnya kenapa?" Gouw Sian Eng mengerutkan kening. "Kalau kalian berdua sudah menikah, legalah hati kami."



"Ibu...." Toan Beng Kiat tersenyum lagi. "Kami bermaksud

ke Tionggoan. karena kami sangat rindu kepada Bun Yang dan lainnya."

"Kalian semua ingin ke Tionggoan?" tanya Toan Wie Kie.

"Ya." Toan Beng Kiat mengangguk. "Maka kami ke mari untuk minta ijin. Ayah dan ibu tidak akan melarang kami ke Tionggoan kan?"

"Aku juga ikut!" sela Lam Kiong Saot Lan.

"Soat Lan!" Lam Kiong Bie Liong menatapnya. "Engkau juga ingin ke Tionggoan?"

"Ya. Ayah." Lam Kiong Soat Lan mengangguk. "Ayah dan Ibu tidak akan melarangku ke Tionggoan kan?"

"Itu...."  Lam  Kiong  Bie  Liong  dan  Toan  Pit  Lian  saling

memandang, kemudian mereka memandang Toan Wie Kie dan Gouw Sian Eng.

"Baiklah." Toan Wie Kie manggut-manggut. "Kita memang tidak boleh mengekang mereka, biarlah mereka ke Tionggoan menemui Bun Yang dan lainnya."

"Kapan kalian akan berangkat ke Tionggoan?" tanya Gouw Sian Eng.

"Besok pagi, Ibu," jawab Toan Beng Kiat.

"Besok pagi?" Toan Wie Kie memandang mereka, kemudian manggut-manggut seraya berkata "Baiklah, kalian boleh berangkat besok pagi."

"Terimakasih, Ayah!" ucap Toan Beng Kiat.

"Terimakasih, Paman! Terimakasih, Bibi!" ucap Bokyong Sian Hoa dengan wajah berseri.

"Ayah, Ibu," ujar Lam Kiong Soat Lan. "Aku boleh ikut kan?"



"Tentu boleh," sahut Toan Pit Lian. "Tapi engkau tidak boleh nakal dan jangan suka menimbulkan masalah!"

"Ya, Ibu." Lam Kiong Soat Lan mengangguk "Terimakasih Ayah, Ibu!"

Keesokan paginya, berangkatlah mereka bei tiga menuju Tionggoan. Tujuan mereka adalah markas pusat Kay Pang. Beberapa hari kemudian mereka bertiga sudah memasuki daerah Tiong goan.

-oo0dw0oo-

Toan Beng Kiat, Bokyong Sian Hoa dan Lam Kiong Soat Lan terus melanjutkan perjalanan sambil bercanda ria. Dalam perjalanan ini, yang paling gembira adalah Toan Beng Kiat dan Bokyong Sian Hoa. Kegembiraan mereka justru membuat Lam Kiong Soat Lan kadang melamun. Ketika mereka beristirahat di bawah pohon. Toan Beng Kiat memandangnya seraya bertanya.

"Soat Lan, kenapa kadang-kadang engkau melamun?" "Aku...." Lam Kiong Soat Lan menundukkan kepala.

"Aku tahu," sela Bokyong Sian Hoa sambil tersenyum. "Dia belum ketemu pemuda idaman batinya, maka sering melamun."

"Eh? Engkau...." Lam Kiong Soat Lan cemberut.

"Tidak salah, kan?" Bokyong Sian Hoa tertawa kecil dan menambahkan, "Soat Lan, engkau tidak perlu melamun. Aku yakin, tidak lama lagi engkau akan bertemu pemuda idaman hatimu."

"Betul," Toan Beng Kiat mengangguk sambil lersenyum. "Aku pun yakin begitu...."

Ucapan Toan Beng Kiat terhenti, karena tiba-tiba melavang turun lima orang di hadapan mereka. Kelima orang itu



berpakaian serba putih dan memakai kedok setan warna hijau.

Mereka ternyata Ngo Sat Kui.

Betapa terkejutnya Toan Beng Kiat, Bokyong Sian Hoa dan Lam Kiong Soat Lan. Mereka bertiga langsung meloncat bangun, sekaligus bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan.

Akan tetapi, salah seorang berpakaian serba putih itu justru tertawa gelak, kemudian membeil hormat seraya berkata.

"Selamat bertemu! Kami tahu kalian dari Tayli."

"Maaf!" sahut Toan Beng Kiat. "Kalian dari perkumpulan mana?"

"Kui Bin Pang," ujar Toa Sat Kui memberitahukan. "Maaf kehadiran kami di sini telah mengganggu ketenangan kalian!"

"Ada urusan apa kalian ke mari menemui kami?" tanya Lam Kiong Soat Lan sambil menatap mereka dengan dingin sekali.

"Ha ha ha!" Toa Sat Kui tertawa terbahak bahak. "Kami ke mari menemui kalian dengan maksud baik."

"Oh?" Toan Beng Kiat mengerutkan keningj

"Kami pun tahu, kalian sedang menuju marka pusat Kay Pang kan?" ujar Toa Sat Kui.

"Betul." Toa Beng Kiat mengangguk dan ber tanya, "Sebetulnya siapa kalian? Bolehkah kami tahu?"

"Kami berlima adalah Ngo Sat Kui," sahut Toa Sat Kui memberitahukan. "Kami ke mari dengan maksud mengundang kalian ke markas kami."

"Kalau kami tidak mau?" tanya Lam Kiong' Soat Lan dingin.

"Kalian harus tahu," ujar Toa Sat Kui denga nada serius. "Kini Lim Peng Hang, Gouw Han Tiong, Siang Koan Goat Nio, Kam Hay Thian dan Lie Ai Ling sudah berada di maikas kami



sebagai tamu terhormat, maka kami mengundang kalian bertiga ke sana."

"Oh?" Kening Toan Beng Kiat berkerut-kerut. "Betulkah mereka berada di markas kalian?"

"Tidak salah," sahut Jie Sat Kui dan menambahkan. "Bahkan Sie Keng Hauw dan Lu Hui San pun berada di sana."

"Oh?" Toan Beng Kiat mengerutkan kening lagi. "Apakah Tio Bun Yang juga berada di sana?"

"Tidak." Toa Sat Kui menggelengkan kepala.

"Kenapa dia tidak berada di sana?" tanya Lam Kiong Soat Lan curiga.

"Ha ha ha!" Toa Sat Kui tertawa gelak. "Karena dia sedang sibuk mengobati para ketua tujuh partai besar."

"Kenapa para ketua tujuh partai besar?" tanya Toan Beng Kiat terkejut.

"Mereka sudah menjadi gila semua," sahut Toa Sat Kui memberitahukan. "Karena terpukul oleh pukulan Seng Hwee Sin Kun."

"Oh?" Air muka Toan Beng Kiat berubah, "Siapa yang menyuruh kalian mengundang kami ke sana?"

"Ketua Kui Bin Pang dan teman-temanmu, sebab mereka sudah sangat rindu kepada kalian," sahut Toa Sat Kui.

"Kalian tidak berdusta?" tanya Lam Kiong Soat Lan.

"Ha ha ha!" Toa Sat Kui tertawa terbahak bahak. "Untuk apa kami harus berdusta? Tiada gunanya kan?"

Lam Kiong Soat Lan mengerutkan kening kemudian memandang Toan Beng Kiat serta bertanya.

"Bagaimana? Apakah kita harus memenuhi undangan mereka?"



"Itu...."  Toan  Beng  Kiat  berpikir  keras  Ia  memandang

Bokyong Sian Hoa dan bertanja

"Adik Sian Hoa, bagaimana menurutmu?"

"Menurut aku..." jawab Bokyong Sian H serius. "Lebih baik kita penuhi saja undang mereka."

"Baiklah." Toan Beng Kiat manggut-manggut dan berkata kepada Toa Sat Kui. "Kami ikut kalian."

"Bagus! Bagus!" Toa Sat Kui tertawa. "Kali memang tahu diri. Ha ha ha...!"

-oo0dw0oo-


Tio Bun Yang telah tiba di kuil Siauw Lim Ngo Khong Taysu, adik seperguruan Hui Kho Taysu menyambut kedatangannya dengan hormat. Hui Khong Taysu, yang dalam keadaan dipasung

"Omitohud!" ucap Ngo Khong Taysu. "Engkau sudah ke mari, syukurlah!"

"Taysu!" Tio Bun Yang memberitahukan. "Aku telah memperoleh rumput Liong Kak Cauw."

"Omitohud! Omitohud!" ucap Ngo Khong Taysu dengan wajah berseri. "Mari ikut aku ke dalam!"

Tio Bun Yang mengangguk, lalu mengikuti Ngo Khong Taysu ke ruang dalam tempat Hui Khong Taysu dipasung. Karena ketua partai Siauw Lim itu sering mengamuk, maka terpaksa dipasung.

"Jangan cemas. Taysu!" ujar Tio Bun Yang sambil mengeluarkan sebatang rumput Tanduk Naga. "Hui Khong Taysu pasti sembuh."

"Omitohud!" ucap Ngo Khong Taysu. "Apabila kakak seperguruan bisa sembuh, itu betul-betul jasamu!"



"Aaaah...!" Tio Bun Yang cuma menggeleng-gelengkan kepala. "Oh ya! rumput Tanduk Naga ini harus digodok dengan semangkok air. Berselang beberapa saat setelah mendidih, barulah dituang ke mangkok lagi, lalu diberikan kepada Hui Khong Taysu."

"Ya." Ngo Khong Taysu mengangguk sambil menerima rumput Tanduk Naga tersebut, kemudian melangkah ke dalam.

Sedangkan Tio Bun Yang terus memandang Hui Khong Taysu yang dlam keadaan dipasung.

Tiba-tiba ketua Siauw Lim itu meronta-ronta sekuat tenaga, bahkan juga berteriak-teriak sekeras-kerasnya.

Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala. Berselang beberapa saat kemudian, Ngo Khong Taysu sudah kembali dengan membawa semang-kok obat, yaitu rumput Tanduk Naga yang telah digodok.

"Harus ditotok jalan darahnya dulu, agar tidak meronta-ronta," ujar Tio Bun Yang. "Setelah itu barulah dicekoki dengan obat itu."

"Ya." Ngo Khong Taysu mengangguk, lalu menaruh mangkok itu di atas meja dan mendekatil Hui Khong Taysu. Mendadak ia menotok jalan darah di punggung Hui Khong Taysu, agar ketuai Siauw Lim itu tak mampu bergerak, barulah Ngo Khong Taysu mencekoki Hui Khong Taysu dengan obat itu.

"Buka saja totokan itu!" ujar Tio Bun Yang.

Ngo Khong Taysu segera membuka totokan! tersebut. Seketika juga Hui Khong Taysu mulai meronta-ronta, sekaligus berteriak-teriak pula

Beberapa saat kemudian, Hui Khong Taysu memejamkan matanya, kemudian ketua Siauw tertidur pulas.



"Taysu!" Tio Bun Yang memberitahukan sambil tersenyum. "Kalau Hui Khong Taysu sudah mendusin, berarti beliau sudah sembuh."

"Omitohud!" ucap Ngo Khong Taysu. "T rimakasih atas bantuan Anda!"

"Terimakasih kembali!" sahut Tio Bun Yang sambil tersenyum, namun senyumnya tampak agak getir.

Tak seberapa lama, Hui Khong Taysu membuka matanya perlahan-lahan, lalu menengok ke sana ke mari dan tampak tersentak.

"Haaah...?" Ternyata Hui Khong Taysu terkejut, karena mendapatkan dirinya dalam keadaan dipasung. "Sute, kenapa aku...."

"Omitohud!" ucap Ngo Khong Taysu dengan wajah berseri. "Syukurlah suheng telah sembuh!"

"Eh? Bun Yang...." Hui Khong Taysu terbelalak. "Engkau ada di sini? Maaf, aku...."

"Taysu," ujar Tio Bun Yang kepada Ngo Khong Taysu. "Cepat buka pasungan itu!"

Ngo Khong Taysu segera membuka pasungan itu. Setelah bebas. Hui Khong Taysu mendekati Tio Bun Yang.

"Omitohud!" ucapnya dan bertanya, "Kok engkau berada di sini?"

"Taysu, aku ke mari memberikan obat." Tio Bun Yang memberitahukan. "Untuk jelasnya, biar Ngo Khong Taysu yang menceritakannya."

"Suheng  terkena  pukulan  Seng  Hwee  Sin  Kun...."  Ngo

Khong Taysu menutur tentang ke-ladian itu, kemudian menambahkan. "Para ketua partai besar lain pun terkena pukulan itu."



"Oh?" Hui Khong Taysu terkejut bukan main. "Kalau begitu, mereka masih dalam keadaan gila?” "Ya." Ngo Khong Taysu mengangguk.

"Bun Yang...." Hui Khong Taysu memandangnya. "Sudikah

engkau menolong mereka?"

"Tentu." Tio Bun Yang mengangguk. "Namun aku harus minta bantuan pihak Taysu.

'Bantuan apa? Katakanlah!" ujar Hui Khong Taysu.

"Aku tidak bisa mendatangi partai-partai besar lainnya, maka aku harap Taysu sudi mengutus beberapa orang ke sana dengan membawa rumput Tanduk Naga." Tio Bun Yang memberitahukan. "Sebab aku masih ada urusan lain."

"Baik." Hui Khong Taysu mengangguk. "Akan kuutus beberapa orang mendatangi partai-partai besar itu."

"Terimakasih, Taysu!" ucap Tio Bun Yang.

"Oh ya!" Hui Khong Taysu memandangnl seraya bertanya. "Sebetulnya masih ada urusan apa yang harus engkau selesaikan?"

"Aku harus berusaha mencari kakekku. Kakek Gouw, Goat Nio dan lainnya. Mereka diculik."

"Omitohud! Siapa yang menculik mereka?

"Taysu, Seng Hwee Sin Kun telah mati. Namun...." Tio Bun

Yang menutur tentang kejadian itu.

"Omitohud!" Hui Khong Taysu menggeleng gelengkan kepala. "Tidak disangka Kui Bin Pang telah muncul di rimba persilatan! Omitohud!”

"Karena itu, aku tidak punya waktu untuk mendatangi partai-partai besar lainnya." ujar Tio Bun Yang sambil



menyerahkan rumput Tanduk Naga kepada Hui Khong Taysu secukupnya, namun ia masih menyimpan sedikit.

"Terimakasih!" ucap Hui Khong Taysu sambil menerima rumput Tanduk Naga tersebut dan bertanya, "Kini apa rencanamu, Bun Yang?"

"Aku...." Tio Bun Yang menghela nafas panjang. "Mungkin

aku akan ke markas Ngo Tok Kauw untuk menemui Kakak Ling Cu. Mudah-mudahan dia bisa memberi petunjuk kepadaku!"

"Petunjuk mengenai markas Kui Bin Pang?" tanya Hui Khong Taysu.

"Ya." Tio Bun Yang mengangguk.

"Bun Yang." pesan Hui Khong Taysu. "Apabila engkau sudah tahu markas Kui Bin Pang itu berada di mana, alangkah baiknya engkau pulang ke Pulau Hong Hoang To untuk berunding dengan orang tuamu!"

"Ya, Taysu."

"Setelah para ketua partai-partai besar itu sembuh, mereka pun pasti membantumu mencari kelua Kay Pang dan lainnya."

"Terimakasih, Taysu!" ucap Tio Bun Yang sekaligus berpamit. "Taysu, aku mohon diri!"

"Omitohud! Selamat jalan!" sahut Hui Khong Taysu, yang kemudian bersama Ngo Khong Taysu mengantar Tio Bun Yang sampai di luar kuil.

"Sampai jumpa, Taysu!" ucap Tio Bun Yang sambil melesat pergi.

"Omitohud!" sahut Hui Khong Taysu, setelah itu ia melangkah ke dalam kuil, diikuti Ngo Khong Taysu dari belakang. Sampai di ruang tengah, mereka berdua lalu duduk berhadapan.



"Suheng!" Ngo Khong Taysu memberitahukan. "Kalau Tio Bun Yang tidak ke daerah Miauw mangambil rumput Tanduk Naga itu, entah bagaimana jadinya suheng dan para ketua partai partai besar lain itu?"

"Omitohud!" ucap Hui Khong Taysu. "Siauw Lim Sie telah berhutang budi kepadanya, begitu pula para ketua partai besar lain. Omitohud!"

"Suheng, aku dan beberapa muridku harus segera berangkat ke Gunung Butong, Kun Lun dan lainnya."

"Ya." Hui Khong Taysu mengangguk. "Ceritakan juga mengenai apa yang telah terjadi di Kay Pang!"

"Ya, Suheng." Ngo Khong Taysu mengangguk dan menambahkan. "Aku pun akan minta bantuan mereka untuk menyelidiki markas Kui Bin Pang itu."

"Omitohud! Omitohud!" Hui Khong Taysu manggut-manggut.

-oo0dw0oo-


Bagian ke lima puluh delapan

Toh Hun Tay Hoat (Ilmu Sesat Pembetot Sukma)


"Ha ha ha! Ha ha ha...!" Ketua Kui Bin Pang terus tertawa gelak, kemudian berkata, "Kini mereka telah berada di tangan kita, termasuk Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan!"

"Namun kita belum berhasil menangkap Tio Bun Yang," ujar Toa Sat Kui memberitahukan. "Apakah ketua punya suatu ide?"

"Ha ha ha! Aku yakin kini Tio Bun Yang pasti cemas sekali! Yang paling dicemaskannya adalah Siang Koan Goat Nio!"



sahut ketua Kui Bin Pang dan menambahkan. "Gadis itu harus tempatkan di ruang lain, jangan dicampur dengan yang lain!"

"Ketua!" Toa Sat Kui memberitahukan. "Tadi kami telah memindahkan gadis itu ke ruang lain."

"Bagus! Bagus! Ha ha ha...!" Ketua Kui Bin Pang tertawa terbahak-bahak. "Oh ya! Kalian semua harus baik-baik memperlakukannya, sama sekali tidak boleh menyakitinya!"

"Ya!" sahut mereka serentak sambil mengangguk, kemudian Toa Sat Kui bertanya. "Apa rencana Ketua sekarang?"

"Rencanaku sekarang, kalian harus mencekoki mereka dengan obat penghilang kesadaran," sahut ketua Kui Bin Pang. "Mereka dalam keadaan tak bergerak karena telah kutotok jalan darah mereka, jadi tidak sulit mencekoki mereka”

"Ketua," tanya Toa Hu Hoat. "Kapan kami mencekoki mereka dengan obat itu?"

"Nanti sore," sahut ketua Kui Bin Pang. "Itu tugas kalian, tapi jangan mencekoki Siang Koan Goat Nio dengan obat itu, gadis itu adalah urusanku."

"Ya." Mereka mengangguk.

"Ha ha ha!" Ketua Kui Bin Pang tertawa gelak. "Setelah mereka dicekoki dengan obat itu, barulah aku menggunakan Toh Hun Tay Hoat (Ilmu Sesal Pembetot Sukma) untuk mengendalikan pikiran mereka! Ha ha ha!"

"Setelah mereka di bawah pengaruhku, aku akan perintahkan mereka membunuh kaum persilatan golongan putih! Ha ha ha...!"

Sore harinya, Ngo Sat Kui dan kedua Hu Hoat itu ke ruang dalam tempat Lim Peng Hang Gouw Han Tiong dan lainnya ditahan.



"He he he!" Toa Sat Kui tertawa terkekeh kekeh. Mereka masing-masing membawa semangkok obat. "Kalian semua harus minum obat! He he he...!"

"Kalian... kalian...." Suara Lim Peng Hang lemah sekali.

"Kami cukup baik lho!" sahut Toa Sat Kui "Sebab masih mau memberi kalian obat."

Lim Peng Hang, Gouw Han Tiong dan lainnya tidak menyahut. Toa Hu Hoat mendekati Lam Kiong Soat Lan, namun gadis itu langsung membuang muka.

"Nona, namaku Yo Kiam Heng." Toa Hu Hoat itu memberitahukan dengan ilmu penyampai suara, maka Ngo Sat Kui dan lainnya tidak mengetahuinya sama sekali. "Engkau tidak usah menyahut, cukup mendengar saja!"

Lam Kiong Soat Lan mendongakkan kepala memandangnya, namun cuma melihat kedok setan warna kuning. Bagaimana wajah Toa Hu Hoat di balik kedok setan itu, Lam Kiong Soat Lan tidak mengetahuinya.

"Nona jangan takut, aku dan Jie Hu Hoat bukan orang jahat!" lanjut Yo Kiam Heng memberitahukan. "Yang ada di dalam mangkok itu obat penghilang kesadaran. Siapa yang minum obat itu, pasti akan kehilangan kesadarannya. Setelah itu, ketua bermaksud menggunakan semacam ilmu sesat untuk mengendalikan pikiran kalian."

Lam Kiong Soat Lan tidak menyahut, namun mendengarkan dengan penuh perhatian dengan kening berkerut-kerut.

"Mangkok yang di tanganku ini telah kutukar dengan obat biasa, maka engkau tidak akan kehilangan kesadaran." Yo Kiam Heng melanjutkan, "Tapi engkau harus pura-pura seperti kehilangan kesadaran. Meskipun engkau tetap akan terpengaruh oleh ilmu sesat ketua, tetapi dalam waktu sepuluh hari, engkau akan normal kembali."



Lam Kiong Soat Lan manggut-manggut. dan Yo Kiam Heng melanjutkan lagi.

"Apabila pikiranmu sudah tidak terpengaruh, engkau harus tetap bersikap seperti masih dibawah pengaruh ilmu sesat itu. Aku akan berusaha mengusulkan agar ketua mengirim kalian pergi menyerbu Pulau Hong Hoang To. Nah, aku yakin Pek Ih Sin Hiap mampu menolong kalian."

"Engkau...."        Sebetulnya         Lam        Kiong     Soat       Lan         ingin

menanyakan sesuatu, namun mendadak dibatalkannya.

"Dasar gadis tak tahu diri!" bentak Yo Kiam Heng. "Aku bersikap baik terhadapmu, tapi engkau malah tidak mau minum obat! Hm...!"

"Toa Hu Hoat!" seru Toa Sat Kui sambi tertawa. "Cekoki saja!"

"Ha ha ha!" Yo Kiam Heng tertawa gelak. Ditotoknya jalan darah Lam Kiong Soat Lan, kemudian dicekokkannya obat itu ke dalam mulut

Seusai mencekokinya, Yo Kiam Heng membebaskan totokannya seraya berkata dengan ilmu menyampaikan suara.

"Teman-temanmu sudah mulai kehilangan kesadaran, maka engkau pun harus pura-pura seperti mereka! Oh ya, Nona Siang Koan Goat Nio, berada di ruang lain, dia dalam keadaan baik-baik saja."

Lam Kiong Soat Lan manggut-manggut perlahan, kemudian melirik yang lain. Dilihatnya mereka tampak termenung semua, maka ia segera bersikap seperti mereka.

"Ha ha ha!" Yo Kiam Heng tertawa gelak. Ngo Sal Kui, tugas kita sudah selesai. Mari kita lapor kepada ketua!"

"Baik." Ngo Sat Kui mengangguk.



Mereka meninggalkan ruang itu. Sementara lam Kiong Soat Lan tidak habis berpikir, siapa Yo Kiam Heng dan kenapa berniat menolong mereka?

Lam Kiong Soat Lan betul-betul tidak habis pikir, kemudian ia memandang Lim Peng Hang, Gouw Han Tiong dan lainnya, yang semua tampak linglung. Bukan main obat itu! Pikirnya dalam hati.

-oo0dw0oo-

Ngo Sat Kui dan kedua Hu Hoat telah sampai di ruang tengah. Toa Hu Hoat Yo Kiam Heng langsung melapor.

"Ketua, kami telah mencekoki mereka dengan obat penghilang kesadaran itu."

"Bagus! Bagus! Ha ha ha...!" Ketua Kui Bin Pang tertawa gembira. "Kalau begitu, kini kesadaran mereka pasti sudah hilang."

"Kapan Ketua akan menggunakan Toh Hun Tay Hoat untuk mempengaruhi mereka?" tanya Toa Sat Kui.

"Sebentar," sahut ketua Kui Bin Pang, yang kemudian menghela nafas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Itu membuat Ngo Sat Kui dan kedua Hu Hoat saling memandang. Mereka tidak mengerti, kenapa mendadak ketua mereka menghela nafas panjang dan menggeleng-gelengkan kepala.

"Ketua," tanya Toa Sat Kui kemudian. "Kenapa Ketua...."

"Aku...." Ketua Kui Bin Pang menggeleng-gelengkan kepala

lagi, lalu melanjutkan ucapannya. "Tadi aku ke ruang itu menemui Siang Koan Goat Nio, namun dia langsung mencaci maki diriku. Padahal aku...."

"Ketua menyukainya?" tanya Yo Kiam Heng mendadak.



"Ya." Ketua Kui Bin Pang mengangguk. "Kelihatannya dia sangat benci kepadaku."

"Ketua," ujar Toa Sat Kui sambil tertawa. "Kalau Ketua ingin mendapatkan dirinya, pergunakan saja Toh Hun Tay Hoat! Bukankah dia akan menurut kepada Ketua?"

"Tapi itu percuma," sahut ketua Kui Bin Pang sambil menghela nafas panjang. "Karena aku cuma akan memperoleh sebuah patung, itu tak berarti sama sekali."

"Betul, Ketua," ujar Yo Kiam Heng. "Itu memang tiada artinya, lebih baik Ketua bersabar, lambat laun gadis itu pasti akan tertarik kepada Ketua."

"Toa Hu Hoat!" Ketua Kui Bin Pang menatapnya. "Bersediakah engkau membantuku dalam hal tersebut?"

"Tentu bersedia, Ketua," sahut Yo Kiam Heng cepat.

"Terimakasih!" ucap ketua Kui Bin Pang gilang. "Nah. sekarang pergilah, bujuk gadis itu! Aku akan pergi ke ruang lain bersama Ngo Sat Kui dan Jie Hu Hoat."

"Ya, Ketua." Yo Kiam Heng mengangguk, lalu segera menuju ke ruangan tempat Siang Koan Goat Nio dikurung.

Siang Koan Goat Nio duduk bersandar di dinding ruangan itu. Begitu melihat Yo Kiam Heng memasuki ruangan tersebut, ia langsung mencacinya.

"Kalian semua binatang! Kenapa mengurung kami di sini? Ayoh! Mari kita bertarung!"

"Nona Siang Koan, tenanglah! Aku bernama Yo Kiam Heng, Toa Hu Hoat dalam perkumpulan Kui Bin Pang. Aku tahu, Tio Bun Yang adalah kekasihmu," ujar Yo Kiam Heng menggunakan ilmu menyampaikan suara, agar orang lain tidak dapat mendengar. "Ketua Kay Pang dan lainnya telah dicekoki obat penghilang kesadaran, kini ketua pergi mempengaruhi mereka dengan ilmu Toh Hun Tay Hoat."



Siang Koan Goat Nio tidak menyahut, namun mendengarkan dengan penuh perhatian. Yo Kiam Heng menatapnya, kemudian melanjutkan.

"Aku tidak mencekoki Nona Lam Kiong dengan obat itu...."

Yo Kiam Heng memberitahukan tentang itu dan menambahkan, "Bahkan aku akan mengusulkan agar ketua perintahkan mereka menyerbu ke Pulau Hong Hoang To, karena hal itu merupakan jalan satu-satunya menolong mereka."

"Kenapa engkau ingin menolong mereka?" tanya Siang Koan Goat Nio juga menggunakan ilmu menyampaikan suara.

"Sebab aku tidak setuju terhadap perbuatan ketua," sahut Yo Kiam Heng. "Temanku bernama Kwan Tiat Him juga orang baik. Dia adalah Jie Hu Hoat. Yang jahat adalah Ngo Sat Kui, para anggota dan ketua."

"Oh?" Siang Koan Goat Nio menatapnya dalam-dalam. "Kalau begitu, kenapa kalian berdua tidak mau berontak secara terang-terangan?"

"Kepandaian kami berdua masih di bawah tingkat kepandaian ketua, maka kalau kami berontak secara terang-terangan, sama juga cari mati," ujar Yo Kiam Heng melanjutkan. "Kami tidak mau mati sia-sia, maka harus bergerak secara diam-diam."

"Oh ya, kenapa aku dikurung di ruang ini tidak bersama mereka?"

"Ketua sangat mengistimewakanmu, karena dia tertarik kepadamu." Yo Kiam Heng memberitahukan.

"Hmm!" dengus Siang Koan Goat Nio dingin.

"Nona Siang Koan," pesan Yo Kiam Heng. "Engkau harus bersabar dan jangan membuat ketua gusar, sebab engkau pasti celaka bila dia menggunakan Toh Hun Tay Hoat terhadapmu, engkau pasti menurutinya!"



"Oh?" Wajah Siang Koan Goat Nio berubah pucat. "Aku... aku harus bagaimana?"

"Yang penting engkau jangan membuatnya gusar," sahut Yo Kiam Heng. "Aku disuruh ke mari untuk membujukmu. Agar ketua lebih mempercayaiku, engkau harus pura-pura bersikap agak baik terhadapnya. Seandainya ketua Kay Pang dan lainnya diperintahkan untuk menyerbu ke Pulau Hong Hoang To, aku akan berpesan kepada Nona Lam Kiong, agar pihak Pulau Hong Hoang To ke mari menolongmu."

"Terimakasih!" ucap Siang Koan Goat Nio.

"Ingat! Jie Hu Hoat Kwan Tiat Him adalah temanku, namun engkau harus berhati-hati terhadap Ngo Sat Kui, karena mereka sangat jahat sekali!" pesan Yo Kiam Heng, lalu berbicara seperti biasa, tidak menggunakan ilmu menyampaikan suara. "Engkau harus tahu, ketua sangat baik terhadapmu, maka engkau harus baik pula terhadapnya!"

Siang Koan Goat Nio mengangguk, kemudian bertanya mendadak menggunakan ilmu menyampaikan suara.

"Siapa ketua Kui Bin Pang?"

"Kami semua tidak mengetahuinya," jawab Yo Kiam Heng menggunakan ilmu menyampaikan suara. "Yang jelas dia masih muda seperti aku dan Kwan Tiat Him."

"Oh?" Siang Koan Goat Nio terbelalak.

"Nona Siang Koan, aku tahu kekasihmu adalah Tio Bun Yang," ujar Yo Kiam Heng serius menggunakan ilmu menyampaikan suara. "Aku akan berusaha menemuinya untuk memberitahukannya tentang dirimu di sini."

"Terimakasih, Saudara Yo!" ucap Siang Koan Goat Nio. "Oh ya, kelihatannya engkau tertarik kepada Soat Lan, bukan?"

"Ya." Yo Kiam Heng mengangguk. Tapi...."



"Jangan khawatir!" Siang Koan Goat Nio tersenyum. "Kalau aku berhasil meloloskan diri dari sini kelak, aku pasti membantumu."

"Terimakasih, Nona Siang Koan!" ucap Yo Kiam Heng kemudian berbicara seperti biasa tanpa menggunakan ilmu menyampaikan suara. "Ketua begitu baik terhadapmu, maka engkau pun harus baik terhadapnya...."

Disaat bersamaan, mendadak pintu ruang itu terbuka, tampak ketua Kui Bin Pang berjalan masuk.

"Ketua!" panggil Yo Kiam Heng.

"Ngmm!" Ketua Kui Bin Pang manggut-manggut dan berkata, "Urusanku di ruang itu telah beres. Bagaimana urusanmu di sini?"

"Juga sudah beres. Ketua," sahut Yo Kiam Heng sambil tertawa. "Aku telah berhasil membujuknya."

"Oh?" Ketua Kui Bin Pang kurang percaya, lalu mendekati Siang Koan Goat Nio. "Nona Siang Koan, bagaimana keadaanmu? Baik-baik saja?"

"Aku...." Siang Koan Goat Nio menundukkan kepala. "Baik-

baik saja."

"Ha ha ha!" Ketua Kui Bin Pang tertawa gelak, karena biasanya Siang Koan Goat Nio tidak pernah menjawab, melainkan terus mencacinya, namun kali ini gadis tersebut justru menjawab. Tentunya hal itu sangat menggembirakan ketua Kui Bin Pang itu, maka ia lalu memandang Yo Kiam Heng seraya berkata, "Toa Hu Hoat, engkau boleh ke kamar untuk beristirahat."

"Ya, Ketua." Yo Kiam Heng mengangguk dan segera meninggalkan ruang itu.

"Ha ha ha!" Ketua Kui Bin Pang tertawa gelak, kemudian mendadak memegang bahu Siang Koan Goat Nio.



"Kalau ketua berlaku kurang ajar terhadapku, aku pasti akan marah!" ujar gadis itu sungguh- sungguh.

"Baik! Baik!" Ketua Kui Bin Pang cepat-cepat menurunkan tangannya. "Oh ya, apa yang dikatakan Toa Hu Hoat itu kepadamu?"

"Dia... dia menyuruhku bersikap baik terhadapmu, sebab...." Siang Koan Goat Nio memandang ke arah lain. "Katanya, ketua sangat menaruh perhatian kepadaku."

"Betul! Betul! Ha ha ha...!" Ketua Kui Bin Pang tertawa. "Aku memang sangat menaruh perhatian kepadamu. Kalau engkau menjadi isteriku kelak, pasti hidup senang dan bahagia."

Ucapan tersebut nyaris membuat Siang Koan Goat Nio muntah seketika, bahkan juga nyaris mencaci makinya. Namun ia tetap bersabar, karena teringat akan pesan Yo Kiam Heng.

"Nona Siang Koan, percuma engkau mencintai Tio Bun Yang. Sebab banyak gadis menyukai nya, dia pasti akan menyeleweng di belakangmu” ujar ketua Kui Bin Pang.

"Kakak Bun Yang tidak bersifat begitu, aku mempercayainya," sahut Siang Koan Goat Nio.l

"Oh? Ha ha ha!" Ketua Kui Bin Pang tertawa. "Kini engkau mempercayainya, tapi kelak engkau pasti membencinya."

"Aku tidak akan membencinya."

"Kalau engkau melihat dia berbuat yang bukan-bukan dengan gadis lain, apakah engkau tetap tidak membencinya?"

"Aku...."

"Ha ha ha!" Ketua Kui Bin Pang tertawa lagi. "Setelah terbukti, engkau pasti mempercayaiku!"

"Aku...." Siang Koan Goat Nio menundukkan kepala.



"Nona Siang Koan...." Ketua Kui Bin Pang mulai merayunya,

namun tidak menggunakan ilmu Toh Hun Tay Hoat. Seandainya ia menggunakan ilmu sesat itu, Siang Koang Goat Nio pasti celaka.

-oo0dw0oo-

Di dalam kamar Yo Kiam Heng juga sedang berlangsung pembicaraan serius. Yang duduk di hadapannya adalah Jie Hu Hoat Kwan Tiat Him.

"Tiat Him!" tanya Yo Kiam Heng menggunakan ilmu penyampai suara, agar tidak terdengar nleh orang lain. "Apakah ketua telah menggunakan ilmu sesat itu mempengaruhi mereka?"

"Ya," sahut Kwan Tiat Him, yang juga menggunakan ilmu tersebut. "Ketua telah berhasil mengendalikan pikiran mereka."

"Aaaah...!" Yo Kiam Heng menghela nafas panjang. "Oh ya, aku tidak mencekoki Nona Lam kiong dengan obat penghilang kesadaran."

"Itu telah kuduga." Kwan Tiat Him manggut-manggut. Tapi... apakah dia bisa berpura-pura setelah sadar nanti?”

Aku yakin dia bisa, sahut Yo Kiam Heng. "Sebab dia bukan gadis bodoh."

Kiam Heng, kelihatannya engkau sangat tertank kepada gadis itu. Ya, kan?” Kwan Tiat Him menatapnya.

”Ya." Yo Kiam Heng mengangguk. "Aku memang sangat tertarik kepadanya, maka aku menempun bahaya demi dia pula..”

Cinta memang bisa membuat orang menjadi nekad. Kwan liat Him menggeleng-gelengkan kepala. Biar bagaimana pun, kita berdua harus berhati-hati!”



”Oh ya, aku pun sudah bercakap-cakap dengan Nona Siang Koan." ujar Yo Kiam Heng

"Yah!" Kwan Tiat Him menghela nafas panjang. ”Mudah-mudahan dia bisa menahan diri untuk bersabar! Kalau tidak, gadis itu pasti celaka di tangan ketua."

"Itu yang kukhawatirkan. Oleh karena itu timbullah suatu ide."

"Ide apa?"

"Aku ingin mengusulkan agar ketua perintahkankan mereka menyerbu ke Pulau Hong Hoang To secara tidak langsung aku menyelamatkan mereka."

"Maksudmu ketua Kay Pang dan lainnya?"

"Ya." Yo Kiam Heng mengangguk. "Sudah barang tentu ketua juga akan perintahkan puluhan anggota untuk menyertai mereka ”

"Ide       itu           memang              bagus.   Tapi...."                Kwan     Tiat         Him

menggeleng-gelengkan kepala. Belum tentu ketua akan menerima idemu itu.”

”Justru itu, engkau harus mendukung ideku,” ujar Yo Kiam Heng. ”Barulah ketua akan menerimanya”

”Aku pasti mendukung idemu, namun... belum tentu Ngo Sat Kui akan setuju lho!”

”Itu tidak iadi masalah. Yang penting kita harus menemukan alasan-alasan yang tepat,”

Kwan Tiat Him mengangguk. ”Oh ya, hingga kini aku masih tidak habis pikir. Sebetulnya siapa ketua itu, dan kenapa begitu mendendam kepada Tio Bun Yang

"Kalau kita melihat wajahnya, belum tentu kita akan mengenalnya," sahut Yo Kiam Heng. "sebab kita bukan orang Tionggoan.



”Yaaah! Kwan Tiat Him menghela nafas panjang. "Entah bagaimana nasib Nona Siang Koan...."

"Kita...."  Yo  Kiam  Heng  menggeleng-gelengkan  kepala.

"Tiada jalan sama sekali untuk melolongnya. Aaaah...!" -oo0dw0oo-
Sementara itu, Tio Bun Yang terus melanjutkan perjalanan ke kota Kang Shi. Beberapa hari kemudian, ia telah tiba di tempat tujuan dan langsung ke markas Ngo Tok Kauw.

"Adik     Bun        Yang...."               Ngo        Tok         Kauwcu-Phang  Ling        Cu

menyambut kedatangannya dengan mata terbelalak saking tercengang.

"Kakak Ling Cu!" sahut Tio Bun Yang sambil tersenyum getir.

"Duduklah!" ucap Ngo Tok Kauwcu.

Tio Bun Yang duduk, kemudian menghela nafas panjang dengan kening berkerut-kerut.

"Adik Bun Yang...." Air muka Ngo Tok Kauwcu berubah.

"Kenapa engkau? Apa yang telah terjadi?"

"Kakak Ling Cu...." Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan

kepala. "Telah terjadi sesuatu..."

"Beritahukanlah!"

"Engkau sudah dengar tentang para ketua tujuh partai besar itu?"

"Ya." Ngo Tok Kauwcu mengangguk. "Aku sudah dengar tentang itu, para ketua semuanya telah gila."

"Engkau tahu siapa yang membuat para ketua itu menjadi gila?"

"Seng Hwee Sin Kun."



"Tidak salah." Tio Bun Yang manggut-manggut. "Namun Seng Hwee Sin Kun telah mati di tangan Bu Ceng Sianli dan Kam Hay Thian."

"Oh?" Ngo Tok Kauwcu terbelalak. "Adik Bun Yang, tuturkanlah mengenai kejadian itu!"

"Pada waktu itu, aku dan Goat Nio ke kuil Siauw Lim untuk memeriksa Hui Khong Taysu. Ternyata ketua Siauw Lim Pay itu terkena semacam ilmu pukulan, maka menjadi gila. Namun masih dapat disembuhkan dengan rumput Tanduk Naga, yang tumbuh di daerah Miauw."

"Engkau ke daerah Miauw mengambil rumput Tanduk Naga itu?"

"Ketika kami kembali ke markas pusat Kay Pang, justru telah terjadi sesuatu di sana," lanjut Tio Bun Yang. "Seng Hwee Sin Kun telah mati, lapi kakekku dan Kakek Gouw telah diculik."

"Oh?" Ngo Tok Kauwcu tersentak. "Siapa vang menculik mereka?"

"Kui Bin Pang," sahut Tio Bun Yang sambil menghela nafas panjang. "Atas saran Bu Ceng Sianli, aku dan Goat Nio pergi ke daerah Miauw untuk mengambil rumput Tanduk Naga, kebetulan aku kenal ketua suku Miauw."

"Engkau berhasil mengambil rumput obat itu?"

"Berhasil, namun...." Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan

kepala. "Ketika pulang, kami menginap di sebuah penginapan dengan kamar terpisah. Keesokan harinya Goat Nio...."

"Kenapa dia?" tanya Ngo Tok Kauwcu tegang.

"Hilang entah ke mana," sahut Tio Bun Yang dengan wajah murung.

"Dia hilang?" Ngo Tok Kauwcu mengerutkan kening. "Mungkinkah dia diculik oleh pihak Kui Bin Pang?"



"Memang mungkin." Tio Bun Yang mengangguk, sekaligus memperlihatkan sepucuk surat kepada Ngo Tok Kauwcu.

"Heran!" gumam Ngo Tok Kauwcu seusa membaca surat tersebut. "Nadanya si penulis surat ini sangat mendendam kepadamu. Apakah engkau punya musuh?"

"Seingatku aku sama sekali tidak punya musuh."

"Kalau begitu...." Ngo Tok Kauwcu berpikir sejenak lalu

melanjutkan. "Yang menculik Goatl Nio bukan pihak Kui Bin Pang."

"Kakak Ling Cu!" Tio Bun Yang menghela nafas panjang. "Aku... bingung sekali, tidak tahu harus berbuat apa."

"Adik Bun Yang!" Ngo Tok Kauwcu menatapnya seraya bertanya, "Engkau belum kembali ke markas pusat Kay Pang?"

"Aku sudah kembali ke sana, justru telah terjadi sesuatu lagi di sana."

"Oh?" Air muka Ngo Tok Kauwcu berubah. "Apalagi yang terjadi di markas pusat Kay Pang?!”

"Kam Hay Thian. Sie Keng Hauw, Lie Ai Ling dan Lu Hui San yang berada di sana pun telah hilang."

"Apa?" Betapa terkejutnya Ngo Tok Kauwcu.

"Siapa yang menculik mereka?"

"Kui Bin Pang," sahut Tio Bun Yang. "Cian Chiu Lo Kay yang memberitahukan kepadaku."

"Itu...." Ngo Tok Kauwcu menggeleng-gelengkan kepala.

"Lalu bagaimana?"

"Aku      berangkat           ke           kuil         Siauw    Lim...."  Tio          Bun        Yang

memberitahukan dan menambahkan. "Kemudian aku langsung ke mari."



"Sungguh di luar dugaan!" Ngo Tok Kauwcu menggeleng-gelengkan kepala. "Setelah Seng Hwee Kauw musnah, malah muncul Kui Bin Pang!"

"Yaaah!" Tio Bun Yang menghela nafas panjang, kemudian bertanya, "Di mana Pat Pie Lo Koay? Kok tidak kelihatan?"

"Dia pergi mengurusi sesuatu, mungkin dalam satu dua hari ini dia akan pulang." Ngo Tok Kauwcu memberitahukan.

"Kakak Ling Cu!" Tio Bun Yang memandangnya. "Engkau tahu di mana markas Kui Bin Pang?"

"Aku...."  Ngo  Tok  Kauwcu  menggelengkan  kepala.  "Aku

tidak tahu."

"Aaaah...!" Tio Bun Yang menghela nafas panjang. "Kakak Ling Cu, beri aku petunjuk!"

"Petunjuk apa?" Ngo Tok Kauwcu heran.

"Aku harus bagaimana?" Tio Bun Yang memberitahukan dengan wajah cemas sekali. "Aku... aku tidak tahu harus berbuat apa."

"Begini!" Ngo Tok Kauwcu menyarankan. "Engkau harus segera pulang ke Pulau Hong Hoang To, memberitahukan tentang kejadian itu.”

"Tapi...."

"Engkau harus pulang memberitahukannya, ujar Ngo Tok Kauwcu sungguh-sungguh. "Kalau tidak, engkau pasti dipersalahkan. Sebab engka harus tahu, Goat Nio adalah putri kesayangan Kim Siauw Suseng dan Kou Hun Bijin. Bagaimana sifat Kou Hun Bijin itu, tentunya engkau tahu."

"Itu...." Tio          Bun        Yang      berpikir                lama      sekali,   akhirnya

mengangguk. "Baiklah, aku akan pulang ke Pulau Hong Hoang To."



"Adik Bun Yang!" Ngo Tok Kauwcu tersenyum. "Aku pun akan mengutus beberapa orang untuk menyelidiki markas Kui Bin Pang. Kalau pihakku berhasil memperoleh informasi tentang markas Kui Bin Pang, aku pasti ke markas pusat Kay Pang memberitahukan kepada Cian Chiu Lo Kay."

"Terimakasih, Kakak Ling Cu!" ucap Tio Bui Yang lalu berpamit. "Aku mau mohon diri!"

"Hati-hati!" pesan Ngo Tok Kauwcu.

"Ya." Tio Bun Yang mengangguk. "Sama jumpa. Kakak Ling Cu!"

-oo0dw0oo-

Setelah meninggalkan markas Ngo Tok Kauwcu, Tio Bun Yang melanjutkan perjalanan dengan hati cemas dan kacau. Ketika ia berada di dalam sebuah rimba, tiba-tiba melayang turun sosok bayangan di hadapannya, terdengar pula suara tawa cekikikan. Tio Bun Yang mengenali suara tawa itu, maka langsung berseru dengan girang sekali.

"Kakak Siao Cui! Kakak Siao Cui...!"

"Adik Bun Yang!" Terdengar suara sahutan. Tidak salah, yang berdiri di hadapannya memang Bu Ceng Sianli-Tu Siao Cui. "Eeeh? Kenapa engkau tampak kurusan? Kok tidak bersama Goat Nio?"

"Kakak Siao Cui...." Tio Bun Yang tersenyum getir. "Mereka

semuanya telah hilang."

"Siapa mereka?" Bu Ceng Sianli tersentak. 'Kenapa bisa hilang?"

"Goat Nio hilang di kamar penginapan..." tutur Tio Bun Yang, lalu memperlihatkan sepucuk surat kepada wanita itu.

"Eh?" Kening Bu Ceng Sianli berkerut. "Aku yakin penculiknya kenal denganmu. Bahkan dia sangat mendendam kepadamu. Coba engkau ingat, kira-kira siapa musuhmu itu!"



"Kakak Siao Cui!" Tio Bun Yang menggelengkan kepala. "Aku tidak pernah punya musuh."

"Buktinya si penculik itu sangat mendendam kepadamu, pertanda engkau punya musuh. Namun engkau masih bilang tidak. Mungkin engkau lupa."

"Seingatku, selama aku berkecimpung di dalam rimba persilatan,' sama sekali tidak pernah membunuh siapa pun. Lalu dari mana muncul musuh itu? Aku sungguh tidak habis pikir!"

"Aku yakin engkau memang tidak pernah membunuh siapa pun, namun tentunya engkau pernah memusnahkan kepandaian para penjahat. Nah, mungkin si penculik itu salah satu penjahat yang pernah engkau musnahkan kepadaiannya."

"Mungkin." Tio Bun Yang manggut-manggut. "Tapi aku tidak ingat siapa penjahat itu."

"Yaaah!" Bu Ceng Sianli menghela nafas panjang. "Adik Bun Yang, biar bagaimana pun engkau harus tabah."

"Ya." Tio Bun Yang mengangguk. "Kakak Siao Cui, aku justru bingung, apakah si penculik itu punya hubungan dengan Kui Bin Pang?"

"Entahlah!" Bu Ceng Sianli menggelengkan kepala. "Aku sudah ke sana ke mari menyelidiki markas Kui Bin Pang, tapi tiada hasilnya sama sekali."

"Kakak Siao Cui pernah menangkap anggota Kui Bin Pang?" tanya Tio Bun Yang mendadak.

"Pernah. Tapi... tiada gunanya sama sekali."

"Lho? Kenapa?"

"Karena sebelum kutanyakan pada mereka, mereka sudah mati duluan." Bu Ceng Sianli mcmberitahukan. "Ternyata di bawah lidah mereka menyimpan semacam racun. Apabila



mereka tertangkap, maka mereka akan menggigit hancur racun itu."

"Oooh!" Tio Bun Yang manggut-manggut. "Jadi Kakak tidak bisa mengorek keterangan dari mulut mereka?"

"Ya." Bu Ceng Sianli mengangguk. "Oh ya, teman-temanmu itu juga ditangkap oleh pihak Kui Bin Pang?"

"Ya." Tio Bun Yang menghela nalas panjang. "Itu membuatku cemas sekali."

"Adik Bun Yang!" Bu Ceng Sianli menatapnya. "Engkau harus tenang, tidak boleh putus asa."

"Aaaah...!" Tio Bun Yang menghela nafas panjang lagi. "Oh ya, aku sudah ke markas Ngo Tok Kauw di kota Kang Shi."

"Jadi engkau sudah bertemu Phang Ling Cu?"

"Ya.'

"Dia juga tidak tahu di mana markas Kui Bin Pang?"

"Tidak tahu. Namun dia menyarankan agar aku segera pulang ke Pulau Hong Hoang To untuk memberitahukan tentang kejadian ini."

"Ngmm!" Bu Ceng Sianli manggut-manggut. "Itu memang baik juga, sebab Goat Nio adalah putri kesayangan Kou Hun Bijin. Kalau engkau tidak pulang memberitahukan kepadanya, dia pasti marah besar."

"Ya." Tio Bun Yang mengangguk.

"Adik Bun Yang, aku pasti membantumu mencari Goat Nio!"

ujar Bu Ceng Sianli berjanji. "Jadi engkau tenang saja!"

"Terimakasih, Kakak!"

"Oh ya!" Bu Ceng Sianli menatapnya. "Lebih baik engkau mampir di markas pusat Kay Pang, siapa tahu pihak Kay Pang sudah mendengar informasi tentang markas Kui Bin Pang."



"Baik, aku akan mampir di markas pusat Kay Pang."

"Adik Bun Yang!" Bu Ceng Sianli tersenyum. "Sampai jumpa! Semoga engkau cepat berkumpul kembali dengan Goat Nio! Hi hi hi...!"

"Kakak Siao Cui!" panggil Tio Bun Yang Namun Bu Ceng Sianli sudah melesat pergi.

"Adik Bun Yang! Aku pasti membantumu mencari Goat Nio!" serunya sayup-sayup.

Tio Bun Yang menghela nafas panjang. Ia berdiri termangu-mangu di tempat, berselang sesaat barulah melesat pergi. Arah tujuannya adalah markas pusat Kay Pang.

-oo0dw0oo-

Dua hari kemudian, Tio Bun Yang sudah tiba di markas pusat Kay Pang. Cian Chiu Lo Kay menyambutnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Lo Kay!" tanya Tio Bun Yang. "Apakah sudah ada informasi mengenai markas Kui Bin Pang?"

"Tidak ada."

"Selama kepergianku, apakah pernah terjadi sesuatu di sini?"

"Tidak pernah." Cian Chiu Lo Kay menggelengkan kepala lalu memberitahukan. "Aku su-ilah mengutus beberapa pengemis handal untuk menyelidiki tentang markas Kui Bin Pang, tapi tiada hasilnya sama sekali."

"Bu Ceng Sianli juga tidak berhasil menyelidiki tentang markas Kui Bin Pang, namun dia berjanji membantuku mencari Goat Nio."

"Oooh!" Cian Chiu Lo Kay manggut-manggut. Syukurlah dia bersedia membantumu, sebab kepandaiannya tinggi sekali!"



"Aku justru bingung sekali." Tio Bun Yang menghela nafas panjang. "Mungkinkah Goat Nio diculik pihak Kui Bin Pang?"

"Belum bisa dipastikan, maka kita hanya menyelidikinya, " sahut Cian Chiu Lo Kay dan menambahkan. "Yang penting kita hanya menyelidiki markas Kui Bin Pang, sebab Pangcu dan lainnya pasti dikurung di sana!"

"Aaaah...!" Tio Bun Yang menghela nafas panjang.

"Oh ya!" Cian Chiu Lo Kay memandangnya seraya bertanya, "Apa rencanamu sekarang?"

"Aku harus pulang ke Pulau Hong Hoang To."

"Memang benar engkau pulang ke sana, sebab engkau harus memberitahukan tentang semua kejadian ini. Tapi...

alangkah baiknya engkau tinggal di sini beberapa hari, siapa tahu ada informasi mengenai markas Kui Bin Pang."

"Ng!" Tio Bun Yang mengangguk.

"Oh ya, engkau sudah mengobati Hui Khong Taysu?" tanya Cian Chiu Lo Kay.

"Sudah." Tio Bun Yang mengangguk sekaligus memberitahukan tentang itu, kemudian menggeleng-gelengkan kepala. "Kedua orang tua Goat Nio sangat mempercayaiku, tapi... kini Goat Nio malah diculik. Aku...."

"Itu kejadian di luar dugaan, mereka pasti tidak akan mempersalahkanmu."

"Tapi...." Tio Bun Yang menghela nafas panjang. "Kalau

terjadi sesuatu atas diri Goat Nio entah bagaimana aku jadinya!"

"Jangan cemas!" hibur Cian Chiu Lo Kay. "Tidak akan terjadi suatu apa pun atas diri Goat Nio. Percayalah!"

"Lo Kay...." Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala.



"Tinggallah engkau di sini beberapa hari, siapa tahu akan memperoleh informasi mengenai markas Kui Bin Pang!"

"Baiklah." Tio Bun Yang mengangguk. "Aku akan tinggal di sini beberapa hari, setelah itu baru berangkat ke Pulau Hong Hoang To."

-oo0dw0oo-


Bagian ke lima puluh sembilan Penyerbuan ke Pulau Hong Hoang To

Ketua Kui Bin Pang duduk diam di kursi, kelihatannya sedang mempertimbangkan sesuatu. Sedangkan Toa Hu Hoat-Yo Kiam Heng memandangnya dengan hati berdebar-debar, dikarenakan menyangkut keselamatan Lim Peng Hang, Gouw Uang Tiong, Lam Kiong Soat Lan dan lainnya.

"Usul Toa Hu Hoat memang masuk akal," ujar ketua Kui Bin Pang kemudian sambil manggut-manggut. "Itu agar mereka saling membunuh."

"Ketua!" Toa Sat Kui kurang setuju. "Para penghuni Pulau Hong Hoang To berkepandaian tinggi, tentu Lim Peng Hang dan lainnya tidak akan sanggup melawan mereka."

"Itu tidak jadi masalah," sela Jie Hu Hoat-Kwan Tiat Him. "Yang penting mereka saling membunuh. Apabila pihak Pulau Hong Hoang To membunuh mereka, bukankah pihak Pulau Hong Hoang To akan menyesal seumur hidup?"

"Betul!" Ketua Kui Bin Pang tertawa gelak. "Ha ha ha! Itu merupakan pukulan hebat bagi para penghuni Pulau Hong Hoang To!"

"Ngmmm!" Toa Sat Kui manggut-manggut. "Kalau begitu, siapa yang akan mengepalai mereka?" tanyanya.



"Itu..." sahut ketua Kui Bin Pang setelah berpikir sejenak. "Akan kuperintahkan dua puluh anggota berkepandaian tinggi untuk ikut menyerbu ke Pulau Hong Hoang To."

"Bagus!" Toa Hu Hoat-Yo Kiam Heng tertawa gelak. "Ha ha ha! Pulau Hong Hoang To pasti kacau balau!"

"Ketua," ujar Toa Sat Kui sungguh-sungguh. "Siapa yang akan memimpin mereka itu?"

"Salah seorang anggota yang berkepandaian tinggi," sahut ketua Kui Bin Pang dan menambahkan, "Kalian punya suatu usul mengenai itu?"

"Aku punya usul, Ketua," ujar Toa Sat Kui.

"Apa usulmu? Beritahukanlah!" Ketua Kui Bin Pang memandangnya. "Usul yang baik dan tepat pasti kuterima."

"Setahuku..." ujar Toa Sat Kui sambil memandang kedua Hu Hoat. "Kepandaian mereka berdua sangat tinggi, maka bagaimana kalau mereka berdua yang memimpin penyerbuan itu?"

"Itu...." Ketua Kui Bin Pang menatap Toa Hu Hoat dan Jie

Hu Hoat. "Bagaimana menurut kalian?"

"Kalau Ketua perintahkan kami untuk memimpin penyerbuan itu, tentu kami menurut," sahut Toa Hu Hoat-Yo Kiam Heng.

"Baiklah." Ketua Kui Bin Pang manggut-manggut. "Kuperintahkan kalian berdua memimpin penyerbuan ke Pulau Hong Hoang To."

"Tapi..." tanya Toa Hu Hoat-Yo Kaim Heng mendadak. "Apakah Lim Peng Hang dan lainnya akan menuruti perintahku?"

"Mereka tidak akan menuruti perintah kalian berdua," sahut ketua Kui Bin Pang dengan tertawa. "Ha ha ha! Namun ada



satu cara untuk membuat mereka patuh kepada perintah kalian berdua."

"Bagaimana caranya?' tanya Yo Kiam Heng.

Ketua Kui Bin Pang tidak menyahut, melainkan bersiul panjang. Seketika juga muncul Lim Peng Hang. Gouw Han Tiong dan lainnya. Mereka berbaris rapi di tengah-tengah ruangan itu, kelihatannya sedang menunggu perintah dari ketua Kui Bin Pang.

"Kalian semua harus patuh kepada perintah kedua orang itu!" ujar ketua Kui bin Pang sambil menunjuk kedua Hu Hoat.

"Ya," sahut Lim Peng Hang dan lainnya.

"Toa Jie Hu Hoat!" Ketua Kui Bin Pang memandang mereka. "Kalian pendengarkan suara!"

Kedua Hu Hoat itu segera memperdengarkan suara masing-masing, Lim Peng Hang dan lainnyajl mendengarkan dengan penuh perhatian.

"Lim Peng Hang! Kalian semua sudah mengenali suara kedua orang itu?" tanya ketua Kui Bin Pang.

"Kami sudah mengenali suara kedua orang itu," sahut Lim Peng Hang dan lainnya serentak. "Kami semua harus mematuhi perintah mereka berdua."

"Bagus! Bagus!" Ketua Kui Bin Pang tertawa gembira. "Ha ha ha! Toa Sat Kui, cepat ambilkan kedok setan warna biru!"

"Ya, Ketua." Toa Sat Kui segera melaksanakan perintah itu. Tak lama ia sudah kembali dengan membawa beberapa buah kedok setan warna biru.

"Berikan kepada mereka!" perintah Ketua Kui Bin Pang. .

Toa Sat Kui langsung membagi-bagikan kedok setan warna biru itu kepada Lim Peng Hang dan lainnya.



"Kalian semua harus memakai kedok setan itu!" seru ketua Kui Bin Pang.

Lim Peng Hang dan lainnya segera memakai kedok setan tersebut. Ketua Kui Bin Pang tertawa gelak.

"Ha ha ha! Kini kalian semua dipanggil Setan Muka Biru!" .

"Ya," sahut Lim Peng Hang dan lainnya serentak.

"Toa Hu Hoat!" ujar ketua Kui Bin Pang. "Coba berilah mereka perintah!"

"Ya." Toa Hu Hoat-Yo Kiam Heng mengangguk, kemudian berseru, "Setan Muka Biru! Cepatlah kalian duduk di lantai!"

Lim  Peng  Hang  dan  lainnya  langsung  duduk  di  lantai.

Kemudian Toa Hu Hoat memberi perintah lagi.

"Setan Muka Biru, kalian berdirilah!"

Lim Peng Hang dan lainnya cepat-cepat bangkit berdiri. Itu sungguh menggirangkan ketua Kui Bin Pang.

"Nah! Kini mereka semua sudah di bawah peintah kalian berdua. Besok pagi kalian berdua dan mereka serta dua puluh anggota yang berkepandaian tinggi harus berangkat ke Pulau Hong Hoang To!"

"Ya, Ketua." Kedua Hu Hoat itu mengangguk. Kami berdua siap berkorban demi Kui Bin Pang!"

"Bagus! Bagus!" Ketua Kui Bin Pang tertawa lerbahak-bahak. "Ha ha ha! Ha ha ha...!"

-oo0dw0oo-

Keesokan harinya, berangkatlah mereka ke Pulau Hong Hoang To. Yang menjadi penunjuk jalan adalah Lim Peng Hang.



Enam tujuh hari kemudian, tampak sebuah perahu layar berlabuh di pantai Pulau Hong Hoang To. Ternyata mereka telah tiba ke pulau tersebut

"Siapa kalian?" Mendadak terdengar suar; bentakan, yang tidak lain adalah Lie Man Chiu Betapa terkejutnya Lie Man Chiu ketika melihat para pendatang itu memakai kedok setan. Tahulah ia bahwa mereka dari perkumpulan Kui Bin Pang

"Ha ha ha!" Toa Hu Hoat-Yo Kiam Heng tertawa gelak. "Kami ke mari ingin bertemu Tocu (Majikan Pulau)!"

"Itu..." Kening Lie Man Chiu berkerut. "Baik lah. Mari ikut aku!"

Lie Man Chiu melesat pergi. Kedua Hu Hoat dan lainnya segera mengikutinya dengan menggunakan ginkang.

Berselang beberapa saat kemudian, sampaila mereka di tempat tinggal Tio Tay Seng, dan Li Man Chiu segera berseru.

"Kui Bin Pang datang berkunjung...!"

Belum juga suaranya sirna, muncullah Tio Ta Seng, Kou Hun Bijing, Kim Siauw Suseng. Sa Gan Sin Kay, Tio Cie Hiong, Lim Ceng Im da Tio Hong Hoa.

"Ha ha ha!" Tio Tay Seng tertawa gelak "Angin apa yang meniup kalian ke mari? Ingin damai atau bertarung di sini?"

"Kami ingin membasmi para penghuni pulau ini!" sahut para anggota Kui Bin Pang serentak.

"Ha ha ha!" Sam Gan Sin Kay tertawa terbahak-bahak. "Sungguh kebetulan, tanganku sudah gatal sekali!"

"Toa Jie Hu Hoat," ujar salah seorang anggota. "Cepatlah perintahkan Setan Muka Biru menyerang mereka!"

"Baik." Yo Kiam Heng mengangguk dan berseru. "Setan Muka Biru, cepatlah kalian bunuh mereka yang memakai kedok setan muka putih!"



"Toa Hu Hoat! Engkau,,, engkau berani berkhianat?" salah seorang anggota menudingnya. Ketua pasti tidak akan mengampuni kalian berdua...."

Ucapannya terhenti, karena orang itu mulai diserang oleh salah seorang yang memakai kedok setan warna biru.

Di saat itu mendadak seseorang yang memakai kedok setan biru berlari ke arah Tio Cie Hiong sambil melepaskan kedok setan yang dipakainya.

"Paman! Cepat bantu orang-orang yang memakai kedok setan warna biru!" Orang itu ternyata Lam Kiong Soat Lan. "Mereka adalah Kakek Lim, Kakek Gouw, Kam Hay Thian dan lainnya!"

"Oh?" Tio Cie Hiong terkejut bukan main.

Sebelum ia bergerak, Kou Hun Bijin, Sam ? ian Sin Kay, Kim Siauw Suseng dan Tio Tay Seng sudah bergerak lebih dahulu membunuh para anggota Kui Bin Pang.

"Jangan membunuh orang yang memakai kedok setan warna kuning!" teriak Lam Kiong Soat Lan memberitahukan. "Mereka berdua berpihak kepada kita!"

Dalam waktu sekejap, para anggota Kui Bin Pang itu sudah menjadi mayat Sam Gan Sin Kay tertawa terbahak-bahak.

"Ha ha ha! Sungguh puas hatiku!"

"Pengemis bau," tanya Kou Hun Bijin. "Engkau berhasil membunuh berapa orang?"

"Empat."

"Hi hi hi!" Kou Hun Bijin tertawa cekikikan "Aku berhasil membunuh lima orang."

"Bangga ya?" tanya Sam Gan Sin Kay bernadaj sindiran. "Dasar...."

"Pengemis bau...." Kou Hun Bijin melotot.



"Istriku," bisik Kim Siauw Suseng. "Sudahlah! Jangan ribut dengan pengemis bau!"

Sementara kedua Hu Hoat berdiri mematung di tempat, Lam Kiong Soat Lan menghampiri mereka sambil tersenyum.

"Siapa di antara kalian yang bernama Yo Kiam Heng?" tanya gadis itu lembut.

"Aku," sahut Yo Kiam Heng.

"Saudara Yo, bolehkah engkau melepaskan! kedok setan yang menyeramkan itu?" tanya Lam Kiong Soat Lan sambil memandangnya.

"Boleh." Perlahan-lahan Yo Kiam Heng melepaskan kedok setan yang di mukanya.

"Haaa...!" seru Lam Kiong Soat Lan tak tertahan. Ternyata dia menyaksikan seraut wajah yang sangat tampan. "Engkau...."

”Aku Yo Kiam Heng."

"Oooh!" Lam Kiong Soat Lan manggut-manggut dengan wajah kemerah-merahan.

"Ha ha ha!" Sam Gan Sin Kay tertawa gelak. "Tak disangka sama sekali, engkau begitu tampan”

"Terimakasih atas pujian lo cianpwce!" ucap Yo Kiam Heng.

"Engkau!" Sam Gan Sin Kay menunjuk yang lain. "Cepat lepaskan kedok setan yang menjijikkan itu!"

"Ya." Kwan Tiat Him segera melepaskan kedok setan itu.

"Hah?" Mulut Sam Gan Sin Kay terngangga lebar, karena Kwan Tiat Him juga seorang pemuda tampan. "Siapa engkau?"

"Namaku Kwan Tiat Him, lo cianpwee."

"Ha ha ha!" Sam Gan Sin Kay tertawa gelak. "Bagus! Bagus!"



Sementara Lim Peng Hang dan lainnya terus berdiri mematung di tempat, tidak bergerak sama sekali.

"Saudara Yo. cepat perintahkan mereka melepaskan kedok setan itu!" ujar Lam Kiong Soat Lan sambil tersenyum.

"Ya." Yo Kiam Heng mengangguk lalu berseru, "Setan Muka Biru, cepatlah lepaskan kedok setan kalian!"

Lim Peng Hang dan lainnya segera melepaskan kedok masing-masing seketika terdengari suara seruan yang tak tertahan.

"Ayah! Ayah...!" Yang berseru itu adalah Lim Ceng Im, dan langsung berlari mendekatinya. "Ayah...!"

Akan tetapi, Lim Peng Hang tetap diam dani berdiri mematung, sama sekali tidak menghiraukan Lim Ceng Im.

"Ayah! Ayah...!" Lim Ceng Im memegang lengan Lim Peng Hang erat-erat. "Ayah...!"

"Adik Im," ujar Tio Cie Hiong. "Ayah terkena semacam ilmu sesat, tidak akan mengenalimu!"

"Benar." Yo Kiam Heng mengangguk. "Lo cianpwee itu terkena ilmu Toh Hun Tay Hoat, hanya ketua yang mampu menyadarkannya."

"Oh?" Tio Cie Hiong mengerutkan kening, "tapi kenapa Soat Lan tidak terpengaruh oleh ilmu sesat itu?"

"Sebab aku tidak mecekokinya dengan obat penghilang kesadaran," jawab Yo Kiam Heng memberitahukan. "Maka ilmu sesat itu cuma beri tahan sekitar sepuluh hari."

"Oooh!" Tio Cie Hiong manggut-manggut. "Bagaimana mereka yang dicekoki obat itu?" tanyanya.

"Itu berarti Toh Hun Tay Hoat akan bertahan tahunan, dan membuat mereka menjadi gila," jawab Yo Kiam Heng dan



menambahkan, "Namun ada satu macam ilmu yang dapat menghilangkan ilmu sesat itu."

"Ilmu apa itu?" tanya Tio Cie Hiong cepat.

"Ilmu Penakluk Iblis." Yo Kiam Heng memberitahukan.

"Oooh!" Tio Cie Hiong manggut-manggut sambil tersenyum. "Aku memang memiliki ilmu tersebut."

"Oh?" Wajah Yo Kiam Heng dan Kwan Tiat Him berseri. "Kalau begitu... syukurlah!"

"Kakak Cie Hiong." ujar Lim Ceng Im. "Cepatlah sadarkan mereka dengan ilmu itu!"

"Baik." Tio Cie Hiong manggut-manggut. "Karena sulingku tidak ada, maka aku akan menggunakan suara siulan untuk menyadarkan mereka."

"Cepatlah!" desak Lim Ceng Im.

Tio Cie Hiong menarik nafas dalam-dalam, kemudian bersiulan panjang menggunakan ilmu Penakluk Iblis.

Di saat bersamaan, terdengar pula suara suling mengiring suara siulan tersebut, yang juga menggunakan ilmu Penakluk Iblis, lalu melayang turun seseorang yang tidak lain adalah Tio Bun Yang.

Hal 80-81 hilang

"Dia...  dia...."  Tio  Bun  Yang  menghela  nafas  panjang.

"Ketika kami pulang dari daerah Miauw, kami bermalam di sebuah penginapan...."

"Apa?" Betapa cemasnya Kou Hun Bijin. "Goat Nio diculik? Siapa yang menculiknya?"

"Aku... aku tidak tahu." Tio Bun Yang menggelengkan kepala. "Aku tidur di kamar lain...."



"Goblok sekali engkau!" bentak Kou Hun Bijin. "Kenapa engkau tidak tidur sekamar dengan dia? Karena engkau tidak tidur sekamar dengan dia, maka dia diculik! Engkau...."

"Tenanglah, isteriku!" ujar Kim Siauw Suseng. "Mari kita masuk rumah dulu, setelah itu barulah kita tanyakan kepada Bun Yang!"

"Goat Nio telah diculik, bagaimana mungkin aku bisa tenang?" bentak Kou Hun Bijin.

"Tenang!" bisik Kim Siauw Suseng. "Ayohlah! Mari kita masuk!"

Kim Siauw Suseng menariknya ke dalam. Yang lain pun ikut ke dalam. Setelah duduk, Kou Hun Bijin terus melotot ke arah Tio Bun Yang.

Sedangkan Lim Ceng Im segera pergi ke dapur untuk menggodok rumput Tanduk Naga. Berselang beberapa saat kemudian, ia sudah kembali ke ruang depan dengan membawa obat yang telah dimasaknya.

Ia memberikan obat itu kepada Lim Peng Hang, Gouw Han Tiong dan lainnya. Kemudian ia duduk sambil menunggu bagaimana reaksi mereka yang telah diberi minum obat tersebut.

Beberapa saat kemudian, mendadak Toan Beng Kiat berlari ke arah Gouw Han Tiong seraya berseru.

"Kakek! Kakek...!"

"Beng Kiat cucuku!" sahut Gouw Han Tiong. "Beng Kiat...."

"Kakek! Kakek...!" panggil Toan Beng Kiat.

Sementara yang lain saling memandang, kemudian Bokyong Sian Hoa berseru girang.

"Hui San! Hui San...!"



"Sian Hoa! Sian Hoa...!" sahut Lu Hui San penuh kegirangan.

Itu membual suasana agak ramai, tapi jadi semarak.

"Ha ha ha!" Tio Tay Seng tertawa gelak. Ayoh, duduklah!"

Mereka segera duduk. Sementara Kou Hun Bijin terus memandang Tio Bun Yang. Setelah mereka semua duduk, barulah ia membuka mulut.

"Bun Yang, beritahukan bagaimana Goat Nio bisa diculik orang!"

"Setelah memperoleh rumput Tanduk Nada di daerah Miauw, kami pulang dengan hati riang gembira." Tio Bun Yang mulai menutur. "Kemudian kami bermalam di sebuah penginapan...."

"Mana surat itu?" tanya Kou Hun Bijin.

Tio Bun Yang segera menyerahkan sepucuk surat kepada Kou Hun Bijin. Setelah membaca bersama Kim Siauw Suseng, Kou Hun Bijin bertanya,

"Engkau tahu siapa penculik itu?"

"Tidak tahu."

"Engkau memang goblok!" tegur Kou Hun Bijin melotot. "Kenapa engkau berpisah kamar dengan Goat Nio?"

"Aku...." Wajah Tio Bun Yang memerah. "Aku...."

"Bijin, mereka berdua cuma merupakan sepasang kekasih, bukan sepasang suami isteri. Nah, bagaimana mungkin mereka tidur sekamar?" sahut Sam Gan Sin Kay.

"Itu tidak apa-apa," ujar Kou Hun Bijin lantang. "Yang penting tidak berbuat begitu."

"Kalau sudah sekamar, mungkinkah mereka tidak akan kontak?" tanya Sam Gan Sin Kay sambil tertawa.



"Kalau mau kontak, di tempat mana pun bisa," sahut Kou Hun Bijin, lalu menatap Tio Bun Yang seraya bertanya. "Kenapa.engkau dan Goat Nio pergi ke daerah Miauw?"

"Untuk mengambil rumput Tanduk Naga."

"Jadi kalian berdua sudah tahu mereka minuml obat penghilang kesadaran?" tanya Kou Hun Bijinl

"Kami sama sekali tidak tahu, itu dikarenakanl ingin menolong para ketua partai-partai besar yang terkena pukulan yang dilancarkan Seng Hwe Sin Kun." Tio Bun Yang memberitahukan. "Mereka menjadi gila, hanya dapat disembuhkan dengan rumput Tanduk Naga. Justru aku tidak menyangka sama sekali, rumput Tanduk Naga itu pun dapat menyembuhkan kakek dan lainnya."

"Seng Hwee Sin Kun?" Tio Tay Seng tampak terkejut. "Jadi dia telah berpihak pada Kui Bin Pang?"

"Dia...." Tio Bun Yang memberitahukan tentang keadaan

Seng Hwee Sin Kun, kemudian menambahkan. "Namun dia telah mati di tangan Bu Ceng Sianli dan Kam Hay Thian."

"Betul," sambung Kam Hay Thian. "Bu Ceng Sianli membantuku membunuh Seng Hwee Sin Kun. Di saat itulah Kakek Lim dan Kakek Gouw ditangkap Kui Bin Pang."

"Oooh!" Tio Tay Seng manggut-manggut.

"Aaaah...."          Mendadak          Tio          Bun        Yang      menghela            nafas

panjang. "Aku sudah ke sana ke mari mencari Goat Nio, tapi tiada hasilnya! Aku... aku bingung dan cemas sekali, entah dia diculik oleh siapa?"

"Ketua kami yang menculiknya," sahut Yo Kiam Heng.

"Apa?" seru Tio Bun Yang tak tertahan. "Ketua Kui Bin Pang yang menculik Goat Nio?"

"Ya." Yo Kiam Heng mengangguk.



"Bagaimana keadaannya? Apakah dia baik-baik saja?" tanya Tio Bun Yang tegang sambil rnenanlapnya.

"Dia baik-baik saja," sahut Yo Kiam Heng memberitahukan. "Bahkan aku pun sempat bercakap-cakap dengan dia...."

Yo Kiam Heng menutur mengenai ketua Kui Bin Pang menyuruhnya membujuk gadis itu.

"Ketua Kui Bin Pang memang sangat tertarik kepada Goat Nio," ujar Kwan Tiat Him. "Sebab dia berpesan kepada kami, harus baik-baik memperlakukannya."

"Kalian tahu siapa ketua Kui Bin Pang itu?" tanya Tio Cie Hiong.

"Maaf, Paman," jawab Yo Kiam Heng. "Kami tidak tahu. Yang jelas dia semuda kami."

"Aku pun yakin, ketua Kui Bin Pang itu punya dendam pribadi dengan Saudara Bun Yang." Kwan Tiat Him memberitakukan. "Karena dia pernah bilang akan mencincang Saudara Bun Yang."

"Heran?" gumam Tio Bun Yang. "Siapa ketua Kui Bin Pang itu? Kenapa dia begitu dendam kepadaku?"

"Siapa ketua Kui Bin Pang itu tidak perlu dibicarakan," tandas Kou Hun Bijin sambil memandang Yo Kiam Heng. "Yang penting kalian berdua harus mengantar kami ke markas Kui Bin Pang itu."

"Tidak bisa." Yo Kiam Heng menggelengkan kepala.

"Kenapa?" bentak Kou Hun Bijin.

"Sebab di sana banyak sekali jebakan." Yo Kiam Heng memberitahukan. "Kalau aku mengantar kalian ke sana, sama juga pergi cari mati."

"Engkau tidak tahu jebakan-jebakan itu?" tanya Kim Siauw Suseng.



"Kami semua tidak tahu, kecuali ketua sendiri," jawab Yo Kiam heng jujur dan menambahkan. "Tapi kami akan berusaha menolong Nona Siang Koan."

"Aaaah...!" Kou Hun Bijin menghela nafas panjang.

”Kiam Heng!" Tio Cie Hiong menatapnya seraya bertanya. "Sebetulnyanya siapa kalian berdua?"

"Kakek kami adalah anggota Kui Bin Pang. Kedudukan kakek kami tinggi sekali, yakni Dua Pelindung," jawab Yo Kiam Heng memberitahukan. "Kakek kami menutur tentang Kui Bin Pang kepada ayah kami, lalu ayah kami menutur kepada kami. Maka kami tahu jelas mengenai Kui Bin Pang. Ketika melihat kembang api aneh di angkasa, kami pun tahu bahwa itu kode dari Kui Bin Pang untuk memanggil para anggotanya berkumpul. Aku berangkat ke tempat tujuan, di tengah jalan bertemu saudara Kwan. Kami bercakap-cakap, dan sejak itu kami menjadi teman baik."

"Oooh!" Tio Cie Hiong manggut-manggut. "Lalu kenapa kalian berdua berkhianat?"

"Karena kami tahu bahwa Kui Bin Pang itu perkumpulan jahat. Lagi pula sebelum kami mencapai tempat tujuan, kami bertemu seorang tua.” ujar Yo Kiam Heng. "Orang tua itu adalah anak Tetua Kui Bin Pang. Beliau menasihati kami dan lain sebagainya. Setelah kami bertemu ketua Kui Bin Pang, kami pun sering memberi informasi tentang kegiatan Kui Bin Pang kepada orang tua itu"

"Oooh!" Tio Cie Hiong manggut-manggut lagi dan bertanya. "Bagaimana kepandaian ketua Ku Bin Pang?"

"Sangat tinggi sekali." Yo Kiam Heng memberitahukan. "Bahkan dia pun memiliki sebuah genta maut."

"Genta maut?" Tio Cie Hiong mengerulk; kening.

"Ya." Yo Kiam Heng mengangguk. "Apabil genta maut itu dibunyikan, maka pihak lawan pasti mati."



"Oh?" Tio Cie Hiong mengerutkan kening lagi, namun kemudian manggut-manggut. "Kini para anggota itu telah mati semua, apa rencana kalian sekarang?"

"Tentunya kami harus kembali ke markas”, jawab Yo Kiam Heng. "Sebab kami harus berusaha menolong Nona Siang Koan."

"Terimakasih, Saudara Yo! ” ujar Tio Bun Yang. "Oh ya! Bagaimana kalau aku meny; salah seorang di antara kalian?"

"Jangan!" Yo Kiam Heng menggelengkan kepala.

"Sebab akan membahayakan diri kita. Biar kami saja yang berupaya menolong Nona Siang Koan karena ketua Kui Bin Pang telah mempercayai kami”.

”Itu...”Tio Bun Yang nampak ragu.

"Saudara Tio!” Kwan Tiat Him tersenyum.

"Percayalah! Kalau Saudara yang muncul justru akan membahayakan diri Nona Siang Koan.”

"Kalau begitu...." Tio Bun Yang memandang Kou Hun Bijin

seakan minta pendapat.

"Baiklah." Kou Hun Bijin manggut-manggut. Kalian berdua harus dapat menolong putriku!"

"Ya." Yo Kiam Heng dan Kwan Tiat Him mengangguk.

"Agar aman dan tidak terjadi lagi hal-hal yang tak diinginkan, maka alangkah baiknya Sie Keng Hauw, Lie Ai ling, Lu Kam Hay Thian dan Lu Hui San tinggal di pulau ini, tidak boleh ke Tionggoan."

"Kami..." Mereka berempat saling memandang.

"Benar." Tio Cie Hiong manggut-manggut dan menambahkan, "Sedangkan Toan Beng Kiat, Lam Kiong Soal Lan dan Bokyong Sian Hoa harus segera pulang ke Tayli."



"Memang harus begitu," sahut Sam Gan Sin Kay. "Ilu agar tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan."

"Paman," tanya Lam Kiong Soat Lan pada Tio Cie Hiong. "Mereka berdua pulang ke markas Kui Bin Pang, apakah ketua Kui Bin Pang tidak akan mencurigai mereka?"

"Kalau mereka berdua pulang dalam keadaan seperti sekarang, tentunya akan menimbulkan kecurigaan ketua Kui Bin Pang itu," sahut Tio Cie Hiong sungguh-sungguh. "Oleh karena itu, sebelum mereka ke Tionggoan, aku harus melukai mereka seberat-beratnya."

"Paman...." Lam Kiong Soat Lan terkejut bukan main.

"Adik Soat Lan," ujar Yo Kiam Heng. "Memang harus begitu, agar ketua Kui Bin Pang tidak mencurigai kami."

Wajah Lam Kiong Soat Lan agak memerah, karena Yo Kiam Heng memanggilnya adik, namun gadis itu bergirang dalam hati.

"Ha ha ha!" Sam Gan Sin Kay yang usil itu langsung tertawa terbahak-bahak. "Soat Lan, pemuda itu memanggilmu adik, maka engkau pun harus memanggilnya kakak lho! Jangan malu-malu, aku tahu kalian berdua sudah saling jatuh hati! Ha ha ha...!"

"Kakek Tua!" Wajah Lam Kiong Soat Lan bertambah merah. "Kami...."

"Hi hi hi!" Kou Hun Bijin tertawa cekikikan seraya berkata, "Kiam Heng, kalau engkau berhasil menolong putriku, barulah kuijinkan Soat Lan mencintaimu."

"Isteriku!" bisik Kim Siauw Suseng. "Tidak boleh mengatakan begitu."

"Itu mendorong semangatnya untuk menolong Goat Nio," sahut Kou Hun Bijin dengan berbisik pula.

"Ha ha ha!" Sam Gan Sin Kay tertawa. "Bisik-bisik nih ya!"



"Pengemis bau, jangan terus menyindir!" bentak Kou Hun Bijin sambil melotot. "Hati-hati engkau, sebab aku sedang kesal nih!"

"Oh?" Sam Gan Sin Kay tertawa lagi.

"Ayah," tanya Lim Peng Hang mendadak. "Apakah Bun Yang seorang yang menyertai kami ke Tionggoan?"

"Ya." Sam Gan Sin Kay mengangguk. "Cukup dia seorang diri saja."

"'Kapan kami kembali ke Tionggoan?" tanya Lim Peng Hang.

"Peng Hang!" bentak Sam Gan Sin Kay. "Engkau sudah sedemikian tua, tapi masih seperti anak kecil! Pikir sendiri harus berangkat kapan, tidak perlu bertanya padaku! Dasar!"

"Baik." Lim Peng Hang mengangguk. "Kami akan kembali ke Tionggoan esok pagi."

"Ayah kok begitu cepat kembali ke Tionggoan?" Mata Lim Ceng Im mulai basah.

"Ceng Im!" Lim Peng Hang tersenyum. "Anakmu sudah begitu besar, kok engkau malah seperti anak kecil!"

"Hi hi hi!" Kou Hun Bijin tertawa cekikikan. "Tadi pengemis bau menegur Lim Peng Hang, kini Lim Peng Hang menegur anaknya! Dasar penyakit turunan!"

"Eh? Bijin...." Sam Gan Sin Kay melotot. "Engkau sudah

bisa tertawa? Bukankah engkau masih kesal?"

"Sudahlah!" ujar Tio Tay Seng. "Kalian jangan terus ribut saja! Urusan akan jadi runyam lho!"

Kou Hun Bijin dan Sam Gan Sin Kay masih saling melotot, namun mulut mereka tidak mengeluarkan suara.



"Kalian...." Tio Tay Seng memandang Toan Beng Kiat, Lam

Kiong Soal Lan dan Bokyong Sian Hoa seraya berkata. "Kalian bertiga pun harus pulang ke Tayli esok pagi!"

"Kami...."             Toan      Beng      Kiat,       Lam        Kiong     Soat       Lan         dan

Bokyong Sian Hoa saling memandang.

"Beng Kiat," ujar Gouw Han Tiong. "Kalian bertiga memang harus pulang esok pagi. Setelah ketua Kui Bin Pang dibasmi, barulah kalian boleh pesiar kemari lagi."

"Ya, Kakek." Toan Beng Kiat mengangguk.

"Oh ya!" Gouw Han Tiong memandangnya sambil tersenyum. "Kalau memang engkau dan Sian Hoa sudah saling mencinta, lebih baik cepat-cepat menikah saja!"

"Kakek...." Wajah Toan Beng Kiat kemerah-merahan.

"Kakek tidak salah," ujar Bokyong Sian Hoa. "Setelah sampai di Tayli, kami pasti segera menikah."

"Ha ha ha!" Gouw Han Tiong tertawa gembira. "Bagus! Bagus!"

"Adik Sian Hoa, engkau tidak bohong?" tanya Toan Beng Kiat dengan wajah berseri.

"Aku tidak bohong. Tapi...." Bokyong Sian Hoa menghela

nafas panjang. "Dalam keadaan begini, pantaskah kita melangsungkan pernikahan?"

"Itu...."  Toan  Beng  Kiat  menggeleng-gelengkan  kepala.

"Memang tidak pantas, maka aku lidak akan mendesakmu."

"Kakak Beng Kiat, engkau sungguh berpengertian!" ujar Bokyong Sian Hoa dengan tersenyum mesra.

"Yaaah...!" Gouw Han Tiong menghela nafas panjang. "Kalau begitu, selelah Bun Yang berkumpul kembali dengan Goat Nio, barulah kalian menikah."

"Ya, Kakek." Toan Beng Kiat mengangguk.



"Kini hari sudah mulai gelap, kalian boleh beristirahat," ujar Gouw Han Tiong.

"Ya. Kakek." Toan Beng Kiat mengangguk, lalu menarik Bokyong Sian Hoa ke belakang, Lam Kiong Soat Lan terpaksa ikut ke belakang.

Sedangkan Yo Kiam Heng terus memandang gadis itu, tentunya tidak terlepas dari mata Sam Gan Sin Kay.

"Ha ha ha!" Pengemis tua itu tertawa. "Anak muda, tunggu apalagi? Cepatlah susul dia ke belakang!"

"Kakek Pengemis, aku...." Yo Kiam Heng tampak ragu-ragu

dan malu-malu.

"Cepat susul gadis pujaan hatimu itu!" seru Sam Gan Sin Kay. "Dia sangat mengharap kedatanganku, lho!"

"Ya." Yo Kiam Heng segera ke belakang.

"Ha ha ha!" Sam Gan Sin Kay tertawa gembira. "Kini Soat Lan pun sudah punya kekasih! Bagus! Bagus!"

"Dasar pengemis bau!" Kou Hun Bijin melotot. "Sudah hampir mampus tapi masih tetap usil!"

"Ha ha ha!" Sam Gan Sin Kay tertawa gelak. "Kalau aku mampus, pasti jadi setan usil!"

Sementara Tio Bun Yang, Kwan Tiat Him, Kam Hay Thian dan Lu Hui San terus memJ bungkam..

"Bun Yang, kalian pun boleh ke belakang. Temanilah mereka!" ujar Tio Cie Hiong sambil tersenyum.

"Ya, Ayah." Tio Bun Yang mengangguk, lalui mengajak Kwan Tiat Him, Kam Hay Thian dara Lu Hui San ke belakang.

-oo0dw0oo-



Setelah berada di halaman belakang, suasana di situ pun menjadi ramai, diselingi pula dengan suara tawa yang riang gembira.

"Aku sama sekali tidak menyangka," ujar Toan Beng Kiat sambil memandang Kam Hay Thian dan Lu Hui San. "Kalian berdua bisa akur, bahkan saling mencinta pula."

"Ini yang disebut jodoh," sahut Kam Hay Thian sambil tertawa. "Seperti kalian berdua."

"Oh, ya?" Toan Beng Kiat juga tertawa, kemudian memandang Lam Kiong Soat Lan. "Benarkah engkau sudah jatuh hati kepada Saudara Yo?"

"Eh?" Lam Kiong Soat Lam cemberut. "Kok sekarang engkau jadi usil sih? Mau tahu saja urusan orang!"

"Aku boleh dikatakan sebagai kakakmu, ten-tunva aku harus tahu. Ya, kan?" sahut Toan Beng Kiat sambil tersenyum, lalu memandang Yo Kiam Heng serava bertanya, "Saudara Yo. engkau belum punya anak isteri kan?"

"Belum," sahut Yo Kiam Heng. "Bahkan aku pun belum punya kekasih."

"Kalau   begitu...."            Toan      Beng      Kiat        tersenyum.        "Engkau

sungguh-sungguh jatuh hati kepada Soat Lan?"

"Ya," sahut Yo Kiam Heng cepat tanpa berpikir sejenak pun. "Aku memang telah jatuh hati kepadanya. Maka, aku tidak mencekokinya dengan obat penghilang kesadaran."

"Saudara Yo," sela Kam Hay Thian. "Seandainya engkau tidak jatuh hati kepada Soat Lan, tentu kami celaka semua."

"Jangan berkata begitu, Saudara Kam!" ujar Yo Kiam Heng sungguh-sungguh. "Kalau pun aku tidak jatuh hati kepada Soat Lan, aku juga akan berupaya menolong kalian."

"Terimakasih, Saudara Yo!" ucap Kam Hay Thian. Tiba-tiba ia teringat sesuatu, dan langsung memandang Toan Beng Kiat



seraya bertanya, "Bagaimana kalian tertangkap oleh pihak Kui Bin Pang?"

"Ketika kami sedang melakukan perjalanan menuju markas pusat Kay Pang, mendadak muncul lima orang berpakaian putih dan memakai kedok setan warna hijau. Mereka mengundang kami ke markas Kui Bin Pang dengan alasan bahwa kalian berada di sana. Maka, kami memenuhi undangan mereka. Ternyata undangan itu cuma merupakan perangkap saja." Toan Beng Kiat memberitahukan.

"Oooh!" Kam Hay Thian manggut-manggut. "Karena itu, Soat Lan pun bertemu saudara Yo!"

"Jodoh!" sahut Toan Beng Kiat sambil tertawa, kemudian memandang Tio Bun Yang, yang duduk diam dari tadi. "Eh? Kenapa engkau terus melamun?"

"Aaah...."  Tio  Bun  Yang  menghela  nafas  panjang.  "Aku

sedang memikirkan Goni Nio "

"Jangan khawatir, Saudara Bun Yang!" ujat Yo Kiam Heng. "Aku dan Tiat Him pasli hei upaya menolongnya, percayalah!"

"Aku mempercayai kalian, namun tetap mengkhawatirkannya," sahut Tio Bun Yang sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Di saat bersamaan, Tio Bun Yang melihat Lam Kiong Soat Lan berjalan ke tempat lain, dan memandang ke arah Yo Kiam Heng.

"Saudara Yo!" Tio Bun Yang tersenyum. "Soat Lan ke tempat lain, cepatlah engkau susul dia! Mungkin dia ingin membicarakan sesuatu kepadamu."

"Oh?" Yo Kiam Heng segera menoleh. Dilihatnya Lam Kiong Soat Lan berjalan ke arah sebuah pohon. Segeralah pemuda itu berlari ke arahnya. "Adik Soat Lan...."



"Kakak Kiam Heng..." sahut Lam Kiong Soat Lan sambil duduk di bawah pohon itu. "Mari kita duduk di sini!"

"Ya." Yo Kiam Heng duduk di sebelahnya.

"Kakak Kiam Heng," tanya Lam Kiong Soat Lan dengan suara rendah. "Setelah engkau berhasil menolong Goat Nio, maukah engkau ke Tayli menengokku?"

"Itu  sudah          pasti.  Tapi...."   Yo  Kiam  Heng  menatapnya

dalam-dalam. "Entah engkau merasa senang apa tidak?"

"Aku senang sekali bila engkau ke Tayli menengokku," sahut Lam Kiong Soat Lan sambil menundukkan kepala. "Kakak Kiam Heng, betulkah engkau sudah jatuh hati kepadaku?"

"Betul." Yo Kiam Heng mengangguk dan bertanya, "Engkau juga sudah jatuh hatikah kepadaku?'

"Ya." Lam Kiong Soat Lan tersenyum manis.

"Adik Soat Lan...." Mendadak Yo Kiam Heng menggenggam

tangannya erat-erat seraya berbisik, "Aku sungguh gembira sekali!"

"Sama," bisik Lam Kiong Soat Lan sekaligus balas menggenggam tangannya.

Di saat Yo Kiam Heng dan Lam Kiong Soat Lan sedang saling mencurahkan isi hati masing-masing, di saat bersamaan Tio Bun Yang dan Kwan Tiat Him juga sedang berbicara serius.

"Sudara Kwan, aku sangat mengharapkan bantuanmu."

"Tapi itu akan membahayakan dirimu," sahut Kwan Tiat Him sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Biar aku dan Kiam Heng menolong Nona Siang Koan."

"Aku ingin tahu berada di mana markas Kui Bin Pang itu," desak Tio Bun Yang.



"Engkau ingin ke sana menolong Nona Siang Koan kan?"

"Ya."

"Aaaah...!" Kwan Tiat Him menghela nafas panjang. "Engkau harus tahu bahwa di sana banyak jebakan. Kalau aku beritahukan itu sama juga mencelakai dirimu."

"Saudara Kwan," ujar Tio Bun Yang sungguh sungguh. "Biar bagaimana pun aku harus ke sana menolong Goat Nio, tidak bisa cuma mengandalkan kalian."

Kwan Tiat Him berpikir lama sekali, akhirnya mengangguk seraya berkata dengan kening berkerut-kerut.

"Baiklah, aku akan memberitahukan kepadamu” "Terimakasih, Saudara Kwan!" ucap Tio Bun Yang girang.

"Tapi engkau tidak boleh berangkat ke sana sekarang!" pesan Kwan Tiat Him. "Engkau harus ke markas pusat Kay Pang dulu, setelah itu barulah ke markas Kui Bin Pang, sebab aku dan Kiam Heng akan membantumu dari dalam."

"Ya." Tio Bun Yang mengangguk.

"Markas Kui Bin Pang terletak di puncak Gunung Mo Kui San (Gunung Setan Iblis)," bisik kwan Tiat Him memberitahukan. "Namun engkau harus berhati-hati, karena banyak jebakan di sana!"

"Terimakasih! Terimakasih!" ucap Tio Bun Yang girang. "Terimakasih!"

Keesokan harinya, Tio Cie Hiong menyuruh Tio Bun Yang memanggil Yo Kiam Heng dan Kwan Tiat Him.

"Paman panggil kami?" tanya Yo Kiam Heng dan Kwan Tiat Him setelah berdiri di hadapan Tio Cie Hiong.

"Ya." Tio Cie Hiong mengangguk dengan wajah serius. "Hari ini kalian semua harus ke Tionggoan. Oleh karena itu, aku harus melukai kalian berdua."



"Silakan turun tangan, Paman!" ujar Yo Kiam Heng dan Kwan Tiat Him serentak.

"Paman!" Lam Kiong Soat Lan dengan wajah agak memucat.

"Adik Soal Lan," ujar Yo Kiam Heng lembut. "Paman Cie Hiong memang harus melukai kami. Kalau tidak, ketua Kui Bin Pang pasti mencurigai kami."

"Tapi...." Mata Lam Kiong Soal Lan mulai basah.

"Soat Lan, engkau tidak usah cemas, aku cuma melukainya, tidak akan membuat dirinya celaka." sela Tio Cie Hiong dengan tersenyum.

"Paman...."

"Soat Lan, engkau harus tenang. Kalau mereka tidak dilukai, justru mereka akan celaka," sambung Lim Ceng Im lembut.

"Bibi...."

Sementara Tio Cie Hiong sudah bangkit dari duduknya, lalu dengan perlahan-lahan mendekati Yo Kiam Heng dan Kwan Tiat Him. Setelah itu, mendadak Tio Cie Hiong mengibaskan lengan bajunya.

"Aaaaakh...!" jerit Yo Kiam Heng dan Kwan Tiat Him. Mereka berdua terpental beberapa depa. kemudian roboh dengan mulut mengeluarkan darah.

"Kakak Kiam Heng! Kakak Kiam Heng!" terriak Lam Kiong Soat Lan sambil menghampiri pemuda itu. "Bagaimana lukamu? Apakah parah sekali?"

"Adik...."  Wajah  Yo  Kiam  Heng  pucat  pias,  begitu  pula

Kwan Tiat Him.

"Aku yakin ketua Kui Bin Pang mampu mengobati kalian," ujar Tio Cie Hiong dan menambahkan, "Walau kalian berdua



telah terluka parah, namun jangan khawatir! Aku akan memberi kalian obat. tapi jangan dimakan sekarang, harus dimakan nanti! Kalau kalian makan sekarang, ketua Kui Bin Pang pasti curiga, karena dia akan memeriksa luka kalian."

"Te... terimakasih, Paman..." ucap Yo Kiam Heng dan Kwan Tiat Him.

Tio Cie Hiong tersenyum, kemudian memberi mereka seorang sebutir obat, lalu kembali ke tempat duduk.

"Sekarang kalian boleh meninggalkan pulau ini." ujar Tio Tay Seng dan melanjutkan. "Beng Kiat. Sian Hoa dan Soat Lan pun boleh berangkat ke Tayli sekarang."

"Ya." Toan Beng Kiat mengangguk.

"Peng Hang!" Sam Gan Sin Kay memandangnya. "Engkau dan Han Tiong serta Bun Yang boleh kembali ke markas sekarang."

"Kakek...!" seru Lim Ceng Im tak tertahan, karena merasa berat berpisah dengan ayahnya.

"Ceng Im, mereka harus berangkat sekarang, kalau tidak, Kay Pang pasti berantakan," sahut Sam Gan Sin Kay.

"Benar." Lim Peng Hang manggut-manggut. "Ceng Im, ayah dan Han Tiong serta Bun Yang memang harus berangkat sekarang.'

"Ayah...." Lim Ceng Im mulai terisak-isak.

"Ha ha ha!" Sam Gan Sin Kay tertawa gelak. "Sudah berusia empat puluh lebih, tapi kok masih cengeng?"

"Ibu!" Tio Bun Yang mentapnya. "Kami harus berangkat sekarang."

"Hati-hati, Nak!" pesan Lim Ceng Im.

"Ya, Ibu." Tio Bun Yang mengangguk.



"Bun Yang!" Tio Cie Hiong menatapnya serius. "Biar bagaimana pun, engkau harus menolong Goat Nio. Tapi... harus berhati-hati, jangan ceroboh!"

"Ya, Ayah." Tio Bun Yang mengangguk lagi.

"Bun Yang!" Kou Hun Bijin mulai bersuara. "Hilangnya Goat Nio adalah tanggung jawabmu, maka engkau harus mencarinya!"

"Ya," ujar Tio Bun Yang sungguh-sungguh. "Kalau terjadi apa-apa atas diri Goat Nio, aku pun tidak akan hidup lagi."

"Bun Yang...." Lim Ceng Im terkejut.

"Ibu...." Mata pemuda itu tampak basah. "Aku-aku sangat

mencintai Goat Nio."

-oo0dw0oo-


Bagian ke enam puluh

Mengosongkan Markas untuk menjebak


Yo Kiam Heng dan Kwan Tiat Him telah tiba di Gunung Mo Kui San. Karena mereka telah melakukan perjalanan, sehingga membuat luka mereka bertambah parah. Tiba-tiba muncul beberapa anggota Kui Bin Pang. Begitu melihat mereka, terkejutlah para anggota Kui Bin Pang itu. "Toa Jie Hu Hoat...."

"Kalian... kalian..." sahut Yo Kiam Heng lemah. "Cepat papah kami ke markas!"

Para anggota Kui Bin Pang itu segera memapah mereka. Berselang beberapa saat kemudian, sampailah di markas tersebut.



Ketua Kui Bin Pang langsung memeriksa mereka, lalu memberi mereka semacam obat.

"Makanlah obat itu!" ujar ketua Kui Bin Pang.

"Terimakasih, Ketua!" sahut Yo Kiam Heng dan Kwan Tiat Him, lalu makan obat tersebut.

"Luka kalian cukup parah," ujar ketua Kui Bin Pang. "Orang yang melukai kalian itu memiliki Iweekang yang sangat tinggi. Beritahukanlah kepadaku siapa orang itu!"

"Dia adalah Tio Cie Hiong." Yo Kiam Heng memberitahukan. "Kepandaiannya memang tinggi sekali. Kami berdua tidak sanggup melawannya, untung masih dapat meloloskan diri."

"Bagaimana yang lain?" tanya ketua Kui Bin Pang.

"Para anggota itu telah terbunuh semua," jawab Kwan Tiat Him. "Sedangkan Lim Peng Hang dan lainnya telah sembuh."

"Apa?" Ketua Kui Bin Pang tampak terkejut. "Mereka telah sembuh?"

"Ya." Kwan Tiat Him mengangguk. "Siapa yang menyembuhkan mereka?"

"Tio Cie Hiong," jawab Yo Kiam Heng dan menambahkan. "Sungguh tak disangka, dia memiliki ilmu Penakluk Iblis!"

"Oooh!" Ketua Kui Bin Pang manggut-manggut. "Pantas dia dapat menyembuhkan mereka!"

"Ketua," tanya Toa Sat Kui. "Kini apa rencana kita?"

"Ha ha ha!" Ketua Kui Bin Pang tertawa gelak. "Siang Koan Goat Nio masih berada di tangan kita, maka aku yakin mereka pasti akan menyerbu ke mari!"

"Itu tidak mungkin." Yo Kiam Heng menggelengkan kepala. "Sebab mereka tidak tahu berada di mana markas kita!"



"Lambat laun mereka pasti tahu," sahut katun Kui Bin Pang. "Oleh karena itu, aku justru punya suatu rencana."

"Ketua punya rencana apa?" tanya Kwan liat Him.

"Kita akan mengosongkan markas ini," sahut ketua Kui Bin Pang sambil tertawa gelak. "Ha ha ha...!"

"Mengosongkan markas ini?" Kwan Tiat Him bingung.

"Betul," Ketua Kui Bin Pang melanjutkan. "Berhubung Siang Koan Goat Nio masih berada di sini, maka aku yakin mereka pasti akan menyerbu ke mari. Nah, markas kosong ini akan mengubur mereka. Ha ha ha...!"

"Maksud Ketua mengosongkan markas ini untuk menjebak mereka?" tanya Toa Sat Kui.

'Tidak salah."

"Kalau begitu... kita akan pindah ke mana?"

"Pindah ke Gurun Sih Ih."

"Apa?" Ngo Sat Kui dan kedua Hu Hoat itu tercengang. "Kita semua pindah ke Gurun Sih Ih?"

"Ya." Ketua Kui Bin Pang manggut-manggut. "Di gurun itu terdapat sebuah tempat yang sangat indah, namun sangat misteri. Markas Kui Bin Pang dulu berada di sana. Bagi orang luar sulit mencapai tempat itu!"

"Oh?" Ngo Sat Kui dan kedua Hu Hoat saling memandang, kemudian Toa Sat Kui bertanya, "Ketua sudah pernah ke sana?"

"Pernah." Ketua Kui Bin Pang mengangguk.

"Kok ketua tahu tempat itu?" Yo Kiam Heng heran.

"Ha ha ha!" Ketua Kui Bin Pang tertawa gelak. "Ketua Kui Bin Pang lama meninggalkan sebuah peta. Aku mengikuti petunjuk dari peta itu, maka sampai di tempat misteri



tersebut, ternyata terdapat sebuah bangunan besar yang penuh jebakan."

"Bangunan itu adalah markas Kui Bin Pang lama?" tanya Toa Sat Kui.

"Betul. Tempat itu berada di Gurun Sih Ih." Ketua Kui Bin Pang memberitahukan. "Bagi orang luar tidak mudah mencapai tempat itu. Kalau pihak Kay Pang atau pihak Hong Hoang To berani ke sana, mereka pasti mati di sana.”

"Kalau begitu, tanya Toa Sat Kui. "Kapan kita berangkat ke Gurun Sih Ih?"

"Sekarang," sahut ketua Kui Bin Pang singkat.

"Sekarang?" Yo Kiam Heng dan Kwan Tiat Him tampak terkejut.

"Ya." Ketua Kui Bin Pang manggut-manggut. "Aku yakin ada orang membuntuti kalian, maka pihak Kay Pang maupun pihak Hong Hoang To pasti sudah tahu markas kita ini. Oleh karena itu. kita harus segera meninggalkan markas ini. Sebelum kita berangkat, aku akan menggerakkan semua alat jebakan. Ha ha ha...!"

-oo0dw0oo-

Lim Peng Hang, Gouw Han Tiong dan Tio Bun Yang telah tiba di markas pusat Kay Pang. Betapa gembiranya para anggota Kay Pang dan Cian Chiu Lo Kay. Mereka bersorak sorai sambil memukul-mukulkan tongkat bambu ke tanah.

"Pangcu! Tetua!" panggil Cian Chiu Lo Kay sambil memberi hormat.

Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong manggut-manggut lalu duduk. Tio Bun Yang pun segera duduk.

"Syukurlah Pangcu dan Tetua sudah pulang!" ucap Cian Chiu Lo Kay.



"Lo Kay, selama ini apakah pernah terjadi sesuatu di sini?" tanya Lim Peng Hang.

"Tidak, Pangcu," jawab Cian Chiu Lo Kay dan menambahkan. "Namun kami menerima suatu informasi dari istana."

"Oh?" Lim Peng Hang mengerutkan kening. "Informasi tentang apa?"

"Menteri Ma yang sangat berkuasa itu telah mengutus beberapa orang ke Manchuria. Kalau tidak salah, menteri Ma bermaksud meminjam pasukan Manchuria untuk menghancurkan para pemberontak yang dipimpin Lie Tsu Seng, sebab kini Lie Tsu Seng telah berhasil menguasai beberapa kota."

"Oooh!" Lim Peng Hang manggut-manggut. "Itu urusan kerajaan, kita tidak perlu ikut campur."

"Pangcu!" Cian Chiu Lo Kay menghela nafas panjang. "Dulu Kay Pang pernah ikut berjuang menggulingkan Dinasti Goan (Mongol), setelah itu berdirilah Dinasti Beng (Ming)."

"Tidak salah." Lim Peng Hang manggut-manggut. "Tapi pada waktu itu, negeri Han dijajah oleh bangsa Mongol. Maka Kay Pang ikut berjuang, kini...."

"Pangcu, kalau pasukan Manchuria memasuki Tionggoan, rakyat Han pasti menderita," ujar Cian Chiu Lo Kay memberitahukan.

"Lo Kay...." Lim Peng Hang menggeleng-gelengkan kepala.

"Itu urusan politik, kita tidak perlu mencampurinya. Apabila pasukan Manchuria menyerbu Tionggoan, barulan kita menahan pasukan Manchuria itu."

"Ya, Pangcu." Cian Chiu Lo Kay mengangguk.

"Bun Yang, kenapa engkau diam saja?" tanya Lim Peng Hang.



"Kakek,                aku...." Tio          Bun        Yang      menggelenggelengkan

kepala.

"Memikirkan Goat Nio?"

"Ya."

"Bun  Yang...."  Lim  Peng  Hang  menatapnya.  "Bukankah

engkau bermaksud pergi menolong Goat Nio?"

"Memang." Tio Bun Yang mengangguk. "Tapi... aku khawatir Kakek tidak memperbolehkan aku pergi."

"Kakek memperbolehkan engkau pergi, namun engkau harus berhati-hati!" pesan Lim Peng Hang dan berkata. "Kakek pun tahu, engkau pasti sudah tahu markas Kui Bin Pang itu berada dimana. ya, kan?"

"Kok Kakek bisa menduga begitu?" Tio Bun Yang heran.

"Engkau bersama Yo Kiam Heng dan Kwan Tiat Him, mungkinkah engkau tidak bertanya kepada mereka?" sahut Lim Peng Hang sambil tersenyum.

"Kakek...."          Tio          Bun        Yang      menghela            nafas     panjang.

"Memang tidak bisa mengelabui mata Kakek."

"Engkau harus ingat, berhasil atau tidak menolong Goat Nio, engkau harus kembali ke sini!" pesan Lim Peng Hang. "Agar engkau tidak terus melamun, engkau boleh berangkat sekarang."

"Terimakasih, Kakek!" ucap Tio Bun Yang. "Terimakasih!"

"Bun Yang!" Lim Peng Hang menatapnya seraya bertanya. "Markas Kui Bin Pang itu berada di mana?"

"Di Gunung Mo Kui San!"

"Gunung Mo Kui San?" Cian Chiu Lo Kay tampak terkejut. "Gunung itu merupakan tempat bermukimnya setan iblis, maka dinamai Gunung Setan Iblis."



"Lo Kay!" Tio Bun Yang tersenyum. "Itu cuma tahyul. Oh ya, Lo Kay pernah ke gunung itu?"

"Tidak pernah." Cian Chiu Lo Kay menggelengkan kepala. "Tapi gunung itu sulit sekali didaki, karena banyak batu curam dan pasir hidup."

"Pasir hidup?" Tio Bun Yang tidak mengerti. "Apa itu pasir hidup?"

"Siapa yang menginjak pasir itu, jangan harap bisa keluar lagi." Cian Chiu Lo Kay menjelaskan. "Sebab pasir itu dapat menyedot makhluk apa pun, karena itu, janganlah menginjaknya."

"Ya!" Tio Bun Yang mengangguk.

"Bun Yang!" pesan Gouw Han Tiong. "Yang penting engkau harus berhati-hati, jangan bertindak ceroboh!"

"Ya." Tio Bun Yang mengangguk lagi. lalu berpamit. "Kakek, Kakek Gouw, aku mohon diri untuk berangkat ke Gunung Mo Kui San!"

"Baiklah." Lim Peng Hang manggut-manggut. "Engkau berhasil atau tidak menolong Goat Nio, haruslah kembali ke sini!"

"Ya. Kakek," ujar Tio Bun Yang "Aku akan kembali ke sini."

"Bun Yang," ucap Gouw Han Tiong. "Mudah mudahan engkau berhasil menolong Goat Nio!"

"Terimakasih, Kakek Gouw!" Tio Bun Yang manggut-manggut kemudian melangkah pergi.

Setelah meninggalkan markas pusat Kay Pang, Tio Bun Yang langsung menuju arah Gunung Mo Kui San. sesuai dengan petunjuk Kwan Tiat Him. Beberapa hari kemudian, ia telah memasuki sebuah desa kecil. Kebetulan ia melihat seorang tua dan segera menghampirinya.



"Paman tua, bolehkah aku bertanya?"

"Anak muda!" Orang tua itu menatapnya. "Engkau ingin bertanya apa?"

"Di mana letak Gunung Mo Kui San?"

"Gunung Mo Kui San?" Orang tua itu tampak terkejut sekali. "Anak muda, engkau mau ke gunung itu?"

"Ya." Tio Bun Yang mengangguk.

"Anak muda!" Orang tua itu menggeleng-gelengkan kepala. "Lebih baik engkau jangan ke sana?"

"Kenapa?"

"Di sana banyak setan dan iblis." Orang tua itu memberitahukan. "Maka sering terdengar suara siulan yang sangat menyeramkan."

"Paman tua!" Tio Bun Yang tersenyum. "Aku ke sana justru ingin membasmi setan iblis itu."

"Oh?" Orang tua itu memandangnya dengan mata terbelalak. "Anak muda, engkau jangan bergurau!"

"Aku tidak bergurau. Paman tua," sahut Tio Bun Yang. Mendadak badannya bergerak menggunakan Kiu Kiong San Tian Pou (Ilmu Langkah Kilat), dan seketika ia menghilang dari hadapan orang tua itu.

"Haaah?" Mulut orang tua itu ternganga lebar sambil menengok ke sana ke mari. "Anak muda, engkau berada di mana?"

"Paman tua, aku berada di sini," sahut Tio Bun Yang, yang tahu-tahu sudah berdiri di hadapan orang tua itu.

"Eeeeh?" Orang tua itu tertegun. "Engkau... engkau bisa menghilang?"



"Kalau tidak, bagaimana mungkin aku bisa membasmi setan iblis?" sahut Tio Bun Yang sambil tertawa. "Sudah percaya. Paman tua?"

"Engkau..." orang tua itu terbelalak. "Apakahl engkau jelmaan Dewa?"

"Kira-kira begitulah." Tio Bun Yang terpaksa' berdusta, agar orang tua itu memberitahukannya letak Gunung Mo Kui San.

"Haaah...?" Orang tua itu langsung menjatuh kan diri berlutut di hadapan Tio Bun Yang. "Maaf! Maaf, aku tidak tahu kehadiran Dewa."

"Di mana letak Gunung Mo Kui San?"

"Sudah tampak dari sini." Orang tua itu memberitahukan sambil menunjuk ke arah timur. "Gunung Mo Kui San itu kadang-kadang tidak tampak karena tertutup awan, bentuknya sangat menyeramkan."

"Terimakasih, Paman tua!" ucap Tio Bun Yang sambil melesat pergi.

"Dewa...!" panggil orang tua itu. Karena tiada sahutan maka orang tua itu segera mendongakkan kepalanya. Namun ia tidak melihat Bun Yang. Cepat-cepat ia bangkit berdiri sambil menengok ke sana ke mari sekaligus bergumam. "Dewa itu bisa menghilang. Tapi... kalau dia jelmaan Dewa, kenapa tidak tahu letak Gunung Mo Kui San? Mungkinkah dewa itu baru turun dari kahyangan, maka tidak tahu jalan?"

Orang tua itu menggeleng-gelengkan kepala, kemudian berjalan pergi dan bergumam lagi.

"Bisa bertemu dewa, pertanda aku sangat beruntung. Tapi... buktinya aku hidup melarat. Mudah-mudahan selelah bertemu dewa itu, hidupku bisa berubah beruntung!"

Plak! Mendadak sebuah bungkusan jatuh di hadapan orang tua itu.



"Hah?" Orang tua itu terkejut bukan main. Kemudian dipandangnya bungkusan itu dengan kening berkerut-kerut. "Bungkusan apa itu?"

"Aku dewa memberikan kepadamu, Paman tua." Terdengar suara sahutan, ternyata Tio Bun Yang yang menyahut, ia belum pergi jauh karena ingin melihat bagaimana sikap orang tua itu, justru malah mendengar gumaman orang tua itu, maka ia melempar sebungkus uang perak ke hadapannya.

"Terimakasih, dewa! Terimakasih!" Orang tua itu langsung menyembah. Setelah itu barulah ia memungut bungkusan tersebut. "Haaah? Betul-betul uang perak! Cukup untuk membeli sawah! Terimakasih, dewa!"

Tiba-tiba orang tua itu mengerutkan kening, kemudian menggaruk-garuk kepala sambil bergumam.

"Heran! Kenapa dewa itu memanggil aku paman tua? Jangan-jangan dia dewa kecil, maka memanggilku dewa tua! Ha ha ha...!" Orang tua itu tertawa gembira sambil berjalan pergi.

-oo0dw0oo-

Sementara Tio Bun Yang sudah hampir tiba di Gunung Mo Kui San. Gunung tersebut menjulang tinggi, bentuknya memang sangat menyeramkan. Bagi yang tak bernyali, tentu tidak akan berani mendekati gunung itu.

"Hik! Hik! Hik...!" Mendadak terdengar suara tawa yang menyeramkan. "Hik! Hik! Hik!"

Tio Bun Yang mengerutkan kening, kemudian menengok ke sana ke mari. Namun tidak melihat apa-apa, kecuali ranting pohon bergoyang-goyang terhembus angin. Di saat itulah terdengar suara tawa yang menyeramkan lagi.

"Hik! Hik! Hik...!" Menyusul terdengar pula suara yang amat menyeramkan, "Aku ingin makan daging manusia! Aku ingin makan daging manusiai"



"Setan iblis dari mana?" bentak Tio Bun Yang. "Cepatlah keluar, jangan terus bersembunyi!"

"Hik! Hik! Hik! Aku akan menghisap darahmu! Aku akan menghisap darahmu!" Mendadak melayang turun sosok bayangan.

Tanpa banyak bertanya lagi, Tio Bun Yang langsung menyerangnya, sehingga membuat sosok bayangan itu kelabakan. ' "Berhenti! Berhenti...!"

"Siapa engkau?" bentak Tio Bun Yang. "Manusia atau setan iblis?"

"Aku manusia, bukan setan iblis," sahut sosok bayangan itu. "Anak muda! Engkau sudah lupa kepadaku ya?"

"Manusia...." Tio Bun Yang menegasi sosok yang berdiri di

hadapannya, ternyata seorang tua berkaki pincang. "Eh? Lo cianpwee...."

"Ha ha ha!" Orang tua pincang itu tertawa gelak. Dia tidak lain adalah guru Sie Keng Hauw. "Aku ingin menakutimu, malah hampir terkena pukulanmu!"

"Lo         cianpwee...."  Tio             Bun  Yang            menggeleng-gelengkan

kepala.

"Sungguh kebetulan kita bertemu di sini!" ujar orang tua pincang dan bertanya. "Bagaimana muridku itu, dia baik-baik saja?"

"Dia baik-baik saja." Tio Bun Yang memberitahukan. "Kini dia berada di Pulau Hong Hoang To."

"Syukurlah!" ucap orang tua pincang sambil tersenyum. "Oh ya, engkau mau ke mana?"

"Mau ke Gunung Mo Kui San."

"Maksudmu ke markas Kui Bin Pang?"

"Ya."



"Percuma engkau ke sana."

"Kenapa?"

"Aku justru dari sana." Orang tua pincang memberitahukan. "Markas Kui Bin Pang itu telah kosong. Untung aku tahu tentang jebakan! Kalau tidak, aku sudah jadi mayat di sana."

"Apa?" Wajah Tio Bun Yang berubah pucat pias. "Markas Kui Bin Pang itu telah kosong?"

"Benar." Orang tua pincang mengangguk.

"Aaaah...!" Tio Bun Yang menghela nafas panjang.

"Anak muda!" Orang tua pincang itu terbelalak. "Kenapa engkau menghela nafas panjang?"

"Goat Nio dikurung di markas Kui Bin Pang itu. entah bagaimana nasibnya?" sahut Tio Bun Yang. "Aku harus ke sana."

"Tunggu!" cegah orang tua pincang.

"Ada apa?" Tio Bun Yang mengerutkan kening.

"Goat Nio adalah kekasihmu kan?" Orang tua' pincang menatapnya.

"Ya." Tio Bun Yang mengangguk.

"Gadis itu telah dibawa pergi tidak ada di markas itu." Orang tua pincang memberitahukan.

"Siapa yang membawanya pergi?" tanya Tio Bun Yang cemas.

"Ketua Kui Bin Pang," jawab orang tua pincang. "Ketua Kui Bin Pang dan lainnya telah pergi semua."

"Mereka pergi ke mana?"

"Ke Gurun Sih Ih."



"Ke Gurun Sih Ih?" Tio Bun Yang tertegun. "Mau apa mereka pergi ke sana?"

"Di Gurun Sih Ih terdapat sebuah tempat misteri." Orang tua pincang memberitahukan. "Markas Kui Bin Pang lama berada di tempat misteri itu."

"Kalau begitu, mereka ke markas itu. Ya, kan?" tanya Tio Bun Yang.

"Betul." Orang tua pincang manggut-manggut.

"Lo cianpwee tahu tempat itu?" tanya Tio Bun Yang penuh harap.

"Aku pernah dengar mengenai tempat itu, tapi...." Orang

tua pincang menggeleng-gelengkan kepala. "Tidak tahu jelas berada di mana tempat misteri itu. Kalau tidak salah berada di tengah-tengah Gurun Sih Ih!"

"Di tengah-tengah Gurun Sih Ih?"

"Kalau tidak salah. Akan tetapi, tempat itu bisa hilang mendadak."

"Hilang mendadak?" Tio Bun Yang tertegun. "Kok bisa hilang mendadak? Bolehkah lo cian-: pwee menjelaskannya?"

"Itu memang merupakan tempat misteri. Kalau kita berada di Gurun Sih Ih, kita akan melihat tempat itu." Orang tua pincang menjelaskan. "Namun begitu kita dekati tempat itu akan hilang mendadak pula."

"Kok bisa begitu?" Tio Bun Yang heran.

"Entahlah." Orang tua pincang menggeleng-gelengkan kepala. "Maka sulit sekali untuk mencapai tempat itu.

"Lo cianpwee pernah ke sana?"

"Tidak pernah."



"Kalau   begitu...."            Tio          Bun        Yang      mengerutkan    kening.

"Bagaimana mungkin ketua Kui Bin Pang mencapai tempat tersebut?"

"Dia dan lainnya pasti bisa mencapai tempat itu." sahut orang tua pincang memberitahukan. "Ketua Kui Bin Pang itu pasti memperoleh peta peninggalan Pek Kut Lojin, maka dia dan lainnya bisa mencapai tempat itu."

"Aaaah...!" keluh Tio Bun Yang. "Aku harus bagaimana?"

"Anak muda," pesan orang tua pincang. "Lebih baik engkau jangan ke sana, sebab sangat membahayakan dirimu!"

"Akan kupikirkan," sahut Tio Bun Yang. "Sekarang aku harus ke markas Kui Bin Pang di Gunung Mo Kui San!"

"Percuma engkau ke sana, markas Kui Bin Pang itu sudah musnah!"

"Sudah musnah?"

"Ya. Telah kumusnahkan dengan bahan peledak, dan kini tinggal puing-puingnya saja." "Oh! Kalau begitu..."

"Anak muda," usul orang tua pincang. "Lebih baik engkau kembali ke markas pusat Kay Pang, berunding dengan Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong!"

"Ya, lo cianpwee." Tio Bun Yang mengangguk.

"Anak muda," ujar orang tua pincang menghiburnya. "Jangan cepat putus asa, percayalah! Engkau pasti akan berkumpul kembali dengan kekasihmu itu."

"Terimakasih. lo cianpwee!"

"Anak muda, sampai jumpa..." ucap orang tua pincang, sekaligus melesat pergi.

Tio Bun Yang berdiri termangu-mangu di tempat. Beberapa saat kemudian barulah ia melesat pergi dengan tujuan kembali ke markas pusat Kay Pang.



-oo0dw0oo-

Tio Bun Yang tiba di markas pusat Kay Pang dengan wajah murung. Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong cuma memandangnya tanpa bertanya apa pun.

"Aaaah...!" Tio Bun Yang menghela nafas panjang sambil duduk.

Setelah Tio Bun Yang duduk, barulah Lim Peng Hang bertanya kepadanya.

"Bagaimana? Kau tidak berhasil mencari Goat Nio?"

"Yaaah...!" Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala. "Ketika hampir sampai di Gunung Mo Kui San, aku bertemu orang tua pincang."

"Orang tua pincang?" Lim Peng Hang mengerutkan kening. "Siapa dia?"

"Dia adalah guru Sie Keng Hauw. Putra tetua lama Kui Bin Pang," ujar Tio Bun Yang memberitahukan. "Aku sudah memberitahukan kepada Kakek, Kakek sudah lupa'"

Lim Peng Hang manggut-manggut "Lalu bagaimana?"

"Orang tua pincang itu memberitahukan kepadaku, bahwa markas Kui Bin Pang yang di Gunung Mo Kui San itu telah kosong."

"Apa?" Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong tertegun. "Markas Kui Bin Pang itu telah kosong?"

"Ya." Tio Bun Yang mengangguk. "Orang tua pincang itu justru dari markas itu, ternyata ketua Kui Bin Pang telah membawa pergi Goat Nio."

"Oh?" Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong saling memandang, kemudian menggeleng-gelengkan kepala.



"Orang tua pincang itu pun telah memusnahkan markas Kui Bin Pang itu." Tio Bun Yang memberitahukan. "Dengan cara meledakkannya."

"Bun Yang!" Lim Peng Hang menatapnya seraya bertanya, "Orang tua pincang itu memberitahukan kepadamu, ke mana ketua Kui Bin Pang dan lainnya?"

"Mereka semua ke Gurun Sih Ih."

"Apa?" Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong terbelalak. "Ke Gurun Sih Ih?"

"Ya."

"Kui Bin Pang memang berasal dari Gurun Sih Ih." ujar Lim Peng Hang dan menambahkan. "Berarti mereka ke markas Kui Bin Pang lama yang di Gurun Sih Ih."

"Kakek tahu di Gurun Sih Ih itu terdapat sebuah tempat misteri?" tanya Tio Bun Yang.

"Pernah dengar tapi tidak tahu jelas tentang tempat misteri itu," sahut Lim Peng Hang sambil menggelengkan kepala.

"Aku pun pernah dengar, tapi tidak pernah ke tempat misteri itu," ujar Gouw Han Tiong. "Ayahku yang memberitahukan kepadaku, namun sayang sekali ayahku sudah tiada."

"Tui Hun Lojin tahu jelas mengenai tempat misteri di Gurun Sih Ih itu?" tanya Lim Peng Hang.

"Entahlah." Gouw Han Tiong menggelengkan kepala. "Tapi ayahku pernah ke Gurun Sih Ih."

"Sayang sekali...." Lim Peng Hang menghela nafas panjang.

"Ayahmu sudah tiada!"j

"Oh ya!" Gouw Han Tiong teringat sesuatu. "Mungkin Cian Chiu Lo Kay tahu mengenai tempat misteri itu."



"Mungkin." Lim Peng Hang manggut-manggut lalu bertepuk tangan. Tak lama muncullah seorang pengemis.

"Pangcu memanggilku?" tanya pengemis itu sambil memberi hormat.

"Cepat panggil Cian Chiu Lo Kay ke mari!" sahut Lim Peng Hang.

"Ya, Pangcu." Pengemis itu segera ke depan.

Berselang sesaat muncullah Cian Chiu Lo Kay, yang kemudian memberi hormat seraya bertanya.

"Ada urusan apa Pangcu memanggilku?" "Duduklah Lo Kay!" sahut Lim Peng Hang.

Setelah Cian Chiu Lo Kay duduk, barulah Lim Peng Hang bertanya.

"Engkau tahu tentang suatu tempat misteri di Gurun Sih Ih?"

"Pernah dengar," jawab Cian Chiu Lo Kay tercengang. "Kenapa Pangcu menanyakan tentang tempat misteri itu?"

"Sebab perkumpulan Kui Bin Pang telah ke tempat misteri itu." Lim Peng Hang memberitahukan. "Bahkan ketua Kui Bin Pang itu pun membawa Goat Nio ke sana."

"Oh?" Air muka Cian Chiu Lo Kay tampak berubah. "Kalau begitu, sulitlah mencarinya."

"Maksudmu?" tanya Lim Peng Hang.

"Aku dengar, siapa pun tidak akan bisa mencapai tempat misteri itu," jawab Cian Chiu Lo Kay memberitahukan. "Sebab tempat misteri itu sepertinya cuma merupakah halusinasi saja, tidak nyata sama sekali, dapat dilihat tapi tak bisa dicapai bahkan bisa menghilang kalau didekati."

"Oh?" Lim Peng Hang terbelalak.



"Itu tidak mungkin," ujar Tio Bun Yang. "Hanya omong kosong!"

"Bukan omong kosong." Cian Chiu Lo Kay memberitahukan dengan wajah serius. "Belasan tahun lalu, ada beberapa pendekar mencoba ke tempat misteri itu, namun mereka tidak pernah kembali."

"Kalau   begitu...."            Tio          Bun        Yang      mengerutkan    kening.

"Bagaimana mungkin ketua Kui Bin Pang dan para anak buahnya mencapai tempat misteri itu?"

"Iya." Cian Chiu Lo Kay manggut-manggut. "Berarti ada suatu jalan menuju tempat misteri tersebut."

"Tidak salah," ujar Gouw Han Tiong. "Sebab markas Kui Bin Pang lama berada di tempat misteri itu, hanya saja kita tidak tahu bagaimana cara menuju tempat misteri itu."

"Bun Yang!" Cian Chiu Lo Kay memandangnya. "Engkau bermaksud ke Gurun Sih Ih mencari tempat misteri itu?"

"Ya." Tio Bun Yang mengangguk.

"Kalau begitu, tinggallah engkau di sini beberapa hari!" ujar Cian Chiu Lo Kay. "Aku akan pergi menemui beberapa kawan karib untuk menanyakan tentang tempat misteri di Gurun Sih Ih itu."

"Terimakasih, Lo Kay!" ucap Tio Bun Yang. Karena itu ia tinggal di markas pusat Kay Pang beberapa hari untuk menunggu informasi tersebut.

-oo0dw0oo-


Bagian ke enam puluh satu

Berangkat ke Gurun Sih Ih



Toan Beng Kiat, Lam Kiong Soat Lan dan Bok yong Sian Hoa yang kembali ke Tayli, kini sudah tiba di kerajaan kecil itu. Tentunya sangat menggembirakan Toan Hong Ya dan kedua orang tua mereka. .

"Ayah! Ibu!" panggil Lam Kiong Soat Lan dengan air mata berderai-derai, itu sungguh me- f ngcjutkan kedua orang tuanya.

"Nak!" Toan Pit Lian langsung merangkulnya. "Kenapa engkau menangis? Beritahukanlah kepada ibu, siapa yang telah menghinamu?"

"Ibu...." Lam Kiong Soat Lan terisak-isak. Ternyata gadis itu

selalu memikirkan Yo Kiam Heng yang telah mencuri hatinya.

"Nak!" Lam Kiong Bic Liong membelainya. "Kenapa engkau? Beritahukanlah kepada ayah!"

Menyaksikan itu, Toan Wie Kie dan Gouw Sian Eng pun tertegun. Perlahan-lahan Toan Wie Kie mendekati putranya, falu bertanya dengan suara rendah.

"Beng Kiat. apa yang terjadi atas diri Soat Lan?"

"Tidak terjadi apa-apa." Toan Beng Kiat tersenyum dan berbisik. "Dia mulai jatuh cinta...."

"Oooh-'" Toan Wie Kie manggut-manggut. "Dia sangat kesal karena engkau memaksanya pulang. Ya, kan?"

"Tidak, Ayah." Toan Beng Kiat menggelengkan kepala.

"Kalau tidak, lalu kenapa?" tanya Toan Wie Kie heran.

"Ayah...." Toan Beng Kiat menghela nafas. "Panjang sekali

kalau dituturkan, maka lebih baik kita ke ruang tengah saja."

"Baik." Toan Wie Kie mengangguk. "Mari kita ke ruang tengah!"

Mereka semua ke ruang tengah. Setelah duduk Toan Wie Kie berkata kepada putranya.



"Beng Kiat, tuturkanlah apa yang telah terjadi!"

"Setelah kami memasuki daerah Tionggoan, mendadak muncul lima orang berpakaian serba putih dan memakai kedok setan. Ternyata mereka adalah Ngo Sat Kui dari perkumpulan Kui Bin Pang."

"'Haaah?" Bukan main terkejutnya Toan Wie Kie. "Lalu bagaimana?"

"Mereka mengundang kami ke markas dengan alasan bahwa ketua Kay Pang dan lainnya sudah berada di sana. Oleh karena itu, kami bertiga pun memenuhi undangan itu." Toan Beng Kiat memberitahukan. "Begitu sampai di markas Kui Bin Pang, kami dikurung...."

"Oh?" Lam Kiong Bie Liong mengerutkan kening. "Jadi Ngo Sat Kui menjebak kalian?"

"Ya." Toan Beng Kiat mengangguk dan melanjutkan. "Ternyata Kakek Lim, Kakek Gouw, Kam Hay Thian, Sie Keng Hauw dan Lie Ai Ling juga berada di dalam ruang balu itu."

"Goat Nio pun berada di situ," sela Lam Kiong Soat Lan dan menambahkan, "Tapi kemudian dia dipindahkan ke ruang lain!"

"Oh?" kening Lam Kiong Bie Liong berkerut-kerut. "Setelah itu bagaimana?"

-oo0dw0oo-


Jilid : 13

"Kami dicekoki semacam obat, setelah itu kami mulai kehilangan kesadaran." Toan Beng Kiat memberitahukan. "Apa yang terjadi selanjutnya, kami sama sekali tidak mengetahuinya."

"Aku tahu," sela Lam Kiong Soat Lan.

 "Apa?" Toan Beng Kiat terbelalak. "Engkau tahu?"

"Ya." Lam Kiong Soat Lan mengangguk. "Pada waktu itu, orang yang memakai kedok setan warna kuning tidak mencekoki aku dengan obat penghilang kesadaran melainkan dengan obat biasa. Dia pun memberitahukan namanya, sekaligus menyuruhku harus pura-pura seperti kehilangan kesadaran...."

"Dia adalah Yo Kiam Heng kan?" tanya Toan Beng Kiat sambil tersenyum.

"Ng!" Lam Kiong Soat Lan mengangguk dengan wajah agak kemerah-merahan. "Memang dia."

"Oh ya!" Toan Beng Kiat memandangnya. "Engkau tidak terpengaruh oleh ilmu sesat itu?"

"Juga terpengaruh, namun ketika sampai di Pulau Hong Hoang To, aku sudah tersadar." Lam Kiong Soat Lan memberitahukan.

"Apa?" Toan Wie Kie terbelalak. "Kalian ke Pulau Hong Hoang To?"

"Itu atas saran Yo Kiam Heng kepada ketua Kui Bin Pang," sahut Lam Kiong Soat. "Dia dan temannya memimpin kami serta dua puluh anggota Kui Bin Pang pergi menyerbu Pulau Hong Hoang To."

"Oooh!" Lam Kiong Bie Liong manggut-manggut. "Sungguh pintar Yo Kiam Heng itu!"

"Bagaimana hasil penyerbuan itu?" tanya Toan Wie Kie.

"Begitu sampai di Pulau Hong Hoang To, Yo Kiam Heng langsung memerintahkan kami membunuh para anggota itu. Kebetulan aku tersadar dari pengaruh ilmu sesat itu, maka langsung saja aku berseru agar pihak Pulau Hong Hoang To membunuh para anggota itu."



"Oooh!" Toan Wie Kie manggut-manggut sambil tersenyum. "Para anggota itu pasti mati semua. Ya, kan?"

"Ya." Lam Kiong Soat Lan mengangguk dan melanjutkan. "Di saat itu, barulah Paman Cie Hiong tahu mereka terpengaruh oleh ilmu sesat."

"Ilmu sesat apa itu?" tanya Lam Kiong Bie l umg.

"Toh Hun Tay Hoat (Ilmu Sesat Pembetot Sukma)." Lam Kiong Soat Lan memberitahukan. Siapa yang terpengaruh oleh ilmu sesat itu, pasti akan menuruti perintah ketua Kui Bin Pang."

"Kenapa mereka menuruti juga perintah Yo Kiam Heng?" tanya Toan Wie Kie tidak mengerti.

"Ketua Kui Bin Pang menggunakan suatu cara agar mereka menuruti perintah Yo Kiam Heng dan Kwan Tiat Him," jawab Lam Kiong Soat Lan.

"Siapa Kwan Tiat Him itu?" tanya Lam Kiong bu' Liong.

"Teman Yo Kiam Heng atau termasuk salah satu pelindung perkumpulan Kui Bin Pang," jawab Toan Beng Kiat. "Secara tidak langsung mereka malah menyelamatkan kami."

"Bagaimana setelah itu?" tanya Lam Kiong Bie Liong.

"Setelah itu..." jawab Lam Kiong Soat Lan melanjutkan. "Paman Cie Hiong mulai menyadarkan mereka dengan suara siulan. Di saat itu terdengar pula suara suling mengiringi suara siulan itu, dan tak lama muncullah Tio Bun Yang."

"Mereka berdua berhasil menyadarkan Kakek Lim dan lainnya?" tanya Lam Kiong Bie Liong.

"Berhasil! Tapi...."

"Kenapa?"

"Ternyata Kakek Lim dan lainnya belum sadar betul, sebab mereka masih terpengaruh oleh obat penghilang kesadaran."



"Lalu bagaimana?"

"Paman Cie Hiong memeriksa mereka." La Kiong Soat Lan memberitahukan. "Harus dengan rumput Tanduk Naga, barulah mereka bisa pulih”

"Oh?" Lam Kiong Bie Liong mengerutkan kening. "Apakah Cie Hiong memiliki rumput obat itu?"

"Tidak, tapi Kakak Bun Yang membawa rumput Tanduk Naga itu," jawab Lam Kiong So Lan. "Itu memang kebetulan sekali. Rumput obat itu digodok lalu diberikan kepada kakek Lim dan lainnya, tak seberapa lama kemudian, pulihlah mereka seperti sedia kala."

"Oooh!" Lam Kiong Bie Liong menghela nafas panjang.

"Paman Cie Hiong menyuruh kami segera pulang." Toan Beng Kiat memberitahukan. "Sedangkan Sie Keng Hauw, Lie Ai Ling dan Kai Hay Thian dan Lu Hui San tetap tinggal di Pulau Hong Hoang To!"

"Ngmm!" Toan Wie Kie manggut-manggu "Itu demi keamanan kalian semua. Oh ya, bagaimana dengan Yo Kiam Heng dan Kwan Tiat Him?"

"Mereka berdua kembali ke markas Kui Bi Pang. Tujuan mereka untuk menolong Goat Nio ” jawab Lam Kiong Soat Lan dengan wajah muram.

"Itu..." kening Toan Wie Kie berkerut-kerut. ”Bukankah ketua Kui Bin Pang akan mencurigai mereka?"

"Sebelum kembali ke markas Kui Bin Pang,terlebih dahulu Paman Cie Hiong melukai mereka..." ujar Lam Kiong Soat Lan, yang air matanya mulai meleleh lagi. "Luka Yo Kiam Heng parah sekali."

"Memang harus begitu," sahut Toan Wie Kie. Kalau tidak, ketua Kui Bin Pang pasti mencurigai mereka."



"Paman Cie Hong pun memberi mereka obat." Dan Beng Kiat memberitahukan, kemudian melambaikan sambil tersenyum. "Malam itu.... Soat Loan berduaan dengan Yo Kiam Heng."

"Eeeh?" Wajah Lam Kiong Soat Lan langsung ?merah.

"Beng Kiat!" tanya Toan Pit Lian penuh perhatian. "Yo Kiam Heng masih muda?"

"Masih muda dan tampan," jawab Toan Beng kiat memberitahukan. "Dia dan Soat Lan sudah saling jatuh hati."

"Oh?" Toan Pit Lian tersenyum sambil bertanya pada putrinya, "Soat Lan, betulkah engkau jatuh hati kepada pemuda itu?"

"Beng Kiat omong kosong," sahut Lam Kiong Soat Lan cemberut. "Dia omong sembarangan."

"Baik." Toan Beng Kiat manggut-manggut.

"Kalau aku bertemu Yo Kiam Heng, aku akan memberitahukannya mengenai ucapanmu ini."

"Hah?" Lam Kiong Soan Lan terkejut buka main. "Jangan diberitahukan, aku... aku cuma..”

"Cuma apa?" Toan Beng Kiat menatapnya sambil tersenyum.

"Soat Lan," sela Bokyong Sian Hoa yang diam dari tadi. "Lebih baik engkau mengaku, bahwa engkau telah jatuh hati kepada Yo Kiam Heng Kalau tidak, aku pun akan mengadu kepadanya mengenai ucapanmu barusan."

"Sian Hoa!" Lam Kiong Soat Lan melotot "Engkau kok begitu jahat sih?"

"Makanya engkau harus mengaku!" sahi Bokyong Sian Hoa sambil tertawa geli. "Hi hi hi Ayoh, cepatlah mengaku!"

"Aku...." Lam Kiong Soat Lan menundukkan kepala. "Aku

dan dia memang sudah saling, saling...."

"Saling apa? Lanjutkanlah!" desak Bokyong Sian Hoa.

"Saling jatuh hati," sahut Lam Kiong Soat Lan dengan suara rendah.

"Bagus! Hi hi hi!" Bokyong Sian Hoa tertail geli lagi. "Malam itu kalian berdua saling mencurahkan perasaan masing-masing, kan?"


0 Response to "Pendekar Sakti Suling Pualam Bagian 08"

Post a Comment