coba

Pendekar Sakti Suling Pualam Bagian 09

Mode Malam
Bagian 09

"Kalian berdua juga begitu kan?" sahut Lam Kiong Soat Lan balas menggodanya. "Bahkan kalian berdua pun sudah saling mencium. Ya, kan?"

"Eh? Soan Lan?" Wajah Toan Beng Kiat memerah. "Engkau...."

"Soat Lan," ujar Bokyong Sian Hoa. "Kalau sudah saling mencinta, apa salahnya saling mencium pula? Nah, tanyakan kepada kedua orang tuamu, apakah mereka tidak pernah saling mencium?"

"Lho?" Wajah Toan Pit Lian kemerah-merahan. "Kenapa kami terbawa-bawa dalam pembicaraan kalian?"

"Boleh kan?" Bokyong Sian Hoa tertawa. "Agar menyemarakan suasana."

"Oh ya!" Toan Wie Kie teringat sesuatu. "Bagaimana keadaan Goat Nio di markas Kui Bin Pang itu?"

"Dia baik-baik saja. Tapi...." Lam Kiong Soat Lan menghela

nafas panjang. "Kakak Kiam Heng memberitahukan kepadaku, bahwa ketua Kui Bin Pang jatuh hati kepada Goat Nio."

"Oh?" Toan Wie Kie mengerutkan kening. 'Kalau begitu... ketua Kui Bin Pang itu pasti masih muda? Kalian tahu siapa dia?"



"Tidak tahu." Toan Beng Kiat menggelengkan kepala. "Sebab dia memakai kedok setan warna merah, jadi kami tidak pernah melihat wajahnya."

"Oooh!" Toan Wie Kie manggut-manggut. kini kalian bertiga telah tiba dengan selamat. Maka, mulai sekarang kalian bertiga tidak boleh ? Tionggoan."

"Ayah...." Toan Beng Kiat menatapnya. "Kalau ketua Kui

Bin Pang itu sudah dibasmi, tentunya kami boleh ke Tionggoan lagi kan?"

"Tentu boleh." Toan Wie Kie manggut-manggut dan menambahkan, "Namun sementara ini, kalian bertiga tidak boleh ke mana-mana."

"Ya, Ayah." Toan Beng Kiat mengangguk.

"Oh ya!" Lam Kiong Bie Liong memandang putrinya seraya bertanya, "Bukankah Kam Hay Thian telah berpisah dengan Lu Hui San? Kok mereka bisa bersama di markas Kui Bin Pang?"

"Mereka telah akur dan saling mencinta," ujar Lam Kiong Soat Lan.

"Syukurlah!" ucap Lam Kiong Bie Liong sambil manggut-manggut. Di saat bersamaan, Lam Kiong Soat Lan pun menghela nafas panjang.

"Aaaah...!"

"Soan Lan!" Lam Kiong Bie Liong menatapnya seraya bertanya, "Kenapa engkau menghela nafas panjang? Ada sesuatu yang terganjal di dalam hatimu?"

"Aku...." Lam Kiong Soat Lan menundukkan kepala.

"Dia pasti mencemaskan pemuda pujaan hatinya itu," ujar Bokyong Sian Hoa sambil tersenyum. "Ya, kan?"

"Sian Hoa...." Lam Kiong Soat Lan cemberut.



"Jangan cemas!" ujar Toan Beng Kiat sungguh-sungguh. "Tidak akan terjadi suatu apa pun atas dirinya. Oh ya, bukankah dia telah berjanji...."

"Kakak Beng Kiat," tanya Bokyong Sian Hoa bernada menggoda Lam Kiong Soat Lan. "Pemuda ganteng itu pernah berjanji apa kepada Soat Lan?"

"Kalian...." Lam Kiong Soat Lan membanting-lunting kaki.

"Kalau tidak salah..." sahut Toan Beng Kiat sambil tertawa. "Yo Kiam Heng pernah berjanji akan berkunjung ke mari, tujuannya menengok Soat Lan lho!"

"Kalian... kalian sungguh jahat!" Lam Kiong Soat Lan membanting-banting kaki lagi.

"Beng Kiat," tanya Lam Kiong Bie Liong dengan wajah berseri. "Betulkah Yo Kiam Heng akan kemari?"

"Betul, Paman." Toan Beng Kiat mengangguk dan menambahkan, "Kelihatannya dia sangat mencintai Soat Lan."

"Oh?" Wajah Lam Kiong Bie Liong bertambah berseri. "Dia adalah pemuda baik yang juga lemah lembut?"

"Betul, Paman." Toan Beng Kiat mengangguk lagi. "Dia memang cocok dengan Soat Lan, mereka berdua merupakan pasangan yang serasi."

"Syukurlah!" ucap Lam Kiong Bie Liong sambil tertawa gembira. "Ha ha ha! Kini legalah hati kami!"

"Soat Lan," tanya Toan Pit Lian mendadak. ”Engkau mencintai Yo Kiam Heng?"

"Ibu...." Wajah Lam Kiong Soat Lan memerah

"Sebab ibu dengar bahwa Yo Kiam Heng mencintaimu. Kaiau kau tidak mencintainya, bukankah percuma? Ya, kan?" Toan Pit Lian tersenyum. "Oleh karena itu, ibu ingin tahu bagamana engkau, mencintainya atau tidak."



"Ibu, aku...." Lam Kiong Soat Lan menundukkan wajahnya

dalam-dalam dan melanjutkan dengan suara rendah. "Aku juga mencintainya."

"Apa? Ibu tidak mendengar. Coba ulangi sekali lagi!" ujat Toan Pit Lian sambil tertawa

"Ibu jahat!" Lam Kiong Soat Lan menghempas-hempaskan kakinya dan mulutnya pun terus cemberut.

"Ha ha ha!" Toan Wie Kie tertawa gelak. "Syukurlah kini Soat Lan sudah punya kekasih kami turut bergembira!"

"Paman...." Wajah Lam Kiong Soat Lan memerah. "Jangan

terus menggodaku....

Mendadak gadis itu berlari ke dalam menuju kamarnya. Sedangkan Toan Wie Kie dan La Kiong Bie Liong terus tertawa gembira. Toan Pit Lian juga putrinya. tersenyum, lalu ke dalam menyusul putrinya.

Lam Kiong Soan Lan duduk di pinggir ranjang sambil melamun. Tiba-tiba ia mendengar suara langkah, ternyata Toan Pit Lian berjalan perlahan menghampirinya.

"Ibu..." panggil Lam Kiong Soat Lan.

"Nak!" sahut Toan Pit Lian, kemudian duduk di sisinya sambil tersenyum. "Kenapa engkau melamun? Memikirkan Yo Kiam Heng ya?"

"Ibu...."  Lam  Kiong  Soat  Lan  menghela  nafas  panjang.

"Aku... aku mencemaskannya."

"Nak!" Toan Pit Lian membelainya. "Jangan emas, dia tidak akan terjadi apa-apa! Percayalah”

"Tapi...." Air mata gadis itu mulai meleleh. Kalau ketua Kui

Bin Pang mencurigainya, dia pasti celaka."

"Tidak mungkin ketua Kui Bin Pang akan mencurigainya," ujar Toan Pit Lian dan menambahkan, "Sebab Cie Hiong telah



melukai mereka, itu akan menghapus kecurigaan ketua Kui Bin Pang."

"Tapi...." Lam Kiong Soat Lan mengerutkan kening. "Dia

dan Kwan Tiat Him masih harus nenyelamatkan Goat Nio. Bila ketua Kui Bin Pang mengetahuinya, mereka berdua pasti celaka."

"Jangan khawatir!" Toan Pit Lian tersenyum, Mereka berdua pasti berhati-hati, dan akan memperhitungkan keadaan, tidak akan bertindak ceroboh."

"Ibu...." Lam Kiong Soat Lan terisak-isak. ”Aku baru mulai

jatuh cinta kepadanya, namun harus berpisah dengan dia pula! Aaaah...!"

"Bukankah dia telah berjanji akan ke mari menengokmu?"

"Betul. Tapi kapan?"

"Nak!" Toan Pit Lian tersenyum. "Engkaii harus bersabar, suatu hari nanti dia pasti ke mari”

"Tapi...."

"Jangan cemas!" Toan Pit Lian membelainya "Oh ya, Bun Yang masih berada di Pulau Hong Hoang To?"

"Kami berangkat bersama, namun berpencar setelah memasuki daerah Tionggoan. Dia bersama Kakek Lim dan Kakek Gouw ke markas pusi Kay Pang, kami menuju ke mari, sedangkan Kiam Heng dan Kwan Tiat Him ke markas Kui Bin Pang."

"Kalau begitu..." pikir Toan Pit Lian dan melanjutkan. "Bun Yang pasti akan pergi menolong Goat Nio. Berarti dia akan bertemu Kiam Heng dan Kwan Tiat Him."

"Tapi...." Lam Kiong Soat Lan mengerutld kening. "Kakak

Bun Yang tidak tahu tempat markas Kui Bin Pang."



"Nak!" Toan Pit Lian tersenyum. "Ibu yakin Bun Yang tahu itu."

"Kok Ibu begitu yakin?" Lam Kiong Soat Lan heran.

"Bun Yang pasti bertanya kepada Kwan Tiat Him. Nah, tentunya Bun Yang sudah tahu markas Kui Bin Pang berada di mana. Oleh karena itu dia pasti ke sana menolong Goat Nio."

"Setelah Kakak Bun Yang berhasil menolongGoat Nio, apakah Yo Kiam Heng akan meninggalkan markas Kui Bin Pang?"

"Itu sudah pasti," sahut Toan Pit Lian. "Di saat itulah dia akan ke mari menengokmu, maka engkau tidak usah khawatir."

"Ya, Ibu." Lam Kiong Soat Lan manggut-manggut, kemudian dengan wajah agak berseri ia bergumam, "Dia pasti ke mari. Dia pasti kemari menengokku."

-oo0dw0oo-

Tio Bun Yang sama sekali tidak bisa duduk diam. Sudah tiga hari ia berada di markas pusat Kay Pang, namun Cian Chiu Lo Kay masih belum kembali. Itu membuatnya resah dan gelisah

"Bun Yang!" Lim Peng Hang menatapnya. ”Bersabarlah! Mungkin dalam satu dua hari ini Lo Kay akan kembali."

"Engkau harus tenang!" ujar Gouw Han Tiong. Namun ketika baru melanjutkan, mendadak muncul Cian Chiu Lo Kay.

"Pangcu...." Cian Chiu Lo Kay memberi homat kepada Lim

Peng Hang dan Gouw Han Tiong. "Duduklah, Lo Kay!" sahut Lim Peng Hang

Setelah Cian Chiu Lo Kay duduk Tio Bun Yang segera bertanya.



"Bagaimana, Lo Kay, apakah sudah ada infomasi mengenai tempat misteri di Gurun Sih Ih itu?”

"Aaaah...!" Cian Chiu Lo Kay menghela nafas panjang. "Aku sudah menemui beberapa kawan karibku namun mereka ..”

"Mereka tidak tahu tentang tempat misteri itu?" tanya Lim Peng Hang sambil mengerutkan kening

"Mereka cuma pernah mendengar, tapi tidak tahu jelas mengenai tempat misteri itu," jawab Cian Chiu Lo Kay. "Sebaliknya mereka malah menganjurkan agar tidak ke sana."

"Kenapa?" tanya Tio Bun Yang.

"Kata mereka, siapa yang pergi cari tempat misteri itu, pasti tidak bisa kembali," jawab Cia Chiu Lo Kay "Maka...”

"Biar bagaimana pun..." ujar Tio Bun Yang tegas. "Aku harus ke Gurun Sih Ih."

"Bun Yang...." Lim Peng Hang menatapnya dengan kening

berkerut-kerut. "Engkau sudal mengambil keputusan itu?"

"Ya, Kakek." Tio Bun Yang mengangguk "Aku lelaki, harus bertanggung jawab terhada| sesuatu. Lagi pula.... Goat Nio

adalah kekasihki dia berada di tangan ketua Kui Bin Pang. Apakah aku harus tinggal dlam? Kalau begitu aku Jadi Lelaki macam apa?"

"Ngmm!" Lim Peng Hang manggut-manggut. ”Bun Yang engkau memang harus menyelamatkannya sebab itu adalah tugas kewajibanmu." "Tapi...." Gouw Han Tiong mengerutkan

kenling- "Gurun Sih Ih begitu luas, bagaimana mungkin engkau bisa mencari tempat misteri itu?"

"Di mana ada kemauan, di situ pasti ada jalan," sahut Tio Bun Yang dan melanjutkan, "Sebagai leaki sejati dan gagah berani, harus sanggup menempuh bahaya apa pun. Kalau tidak, aku pasti mempermalukan Kay Pang dan pihak Pulau Hong Hoang To. Ya, kan?



"Benar." Gouw Han Tiong manggut-manggut. ”Tapi alangkah baiknya dipikirkan masak-masak, jangan bertindak ceroboh!"

"Ya" Tio Bun Yang mengangguk.

Setelah berunding cukup lama, akhirnya Lim Peng Hang memperbolehkan Tio Bun Yang berangkat ke Gurun Sih Ih. Keesokan harinya, berangkatlah Tio Bun Yang ke gurun tersebut dengan menunggang kuda.

-oo0dw0oo-

Tujuh delapan hari kemudian, Tio Bun Yan telah tiba di Giok Bun Kwan (Kota Perbatasan) Ia mampir di sebuah kedai teh. Setelah duduk, ia memesan teh dan makanan ringan kepada seorang pelayan.

Pelayan itu segera menyajikan apa yang di pesannya. Namun ketika baru mau menghiru tehnya, Tio Bun Yang mendadak tersentak karen mendengar percakapan beberapa pedagang.

"Kini daerah di sekitar Gurun Sih Ih tidak akan aman lagi, sebab belasan hari lalu telah muncul setan iblis di gurun itu."

"Setan iblis apa?"

"Sungguh menyeramkan! Setan iblis itu berpakaian serba putih, wajah mereka sangat menakutkan, bahkan juga mengeluarkan suara yan, amat menyeramkan."

"Oh? Kalau begitu, kita kaum pedagang tida bisa melewati Gurun Sih Ih lagi!"

"Memang begitulah. Aaah, tidak disangka setan iblis itu muncul lagi di Guruh Sih Ih!"

"Kakekku pernah bercerita, dulu setan iblis itu pernah muncul, tapi kemudian hilang begitu saja. Tak disangka kini mereka muncul lagi, ini sungguh membuat gelisah kaum pedagang!"



"Bahkan juga menggelisahkan beberapa suku kecil di sekitar Gurun Sih Ih...."

Ketika mereka berbicara sampai di situ, mendadak Tio Bun Yang menghampiri mereka, kemudian memberi hormat seraya berkata,

"Maaf, Tuan-tuan, bolehkah aku bertanya?"

"Mau tanya apa?" sahut salah seorang pedagang yang berusia empat puluhan. "Duduklah!"

"Terimakasih!" ucap Tio Bun Yang sambil duduk. "Paman tahu tentang tempat misteri di Gurun Sih Ih itu?" tanyanya.

Pertanyaan tersebut membuat para pedagang itu saling memandang dengan air muka berubah, dan kemudian menatap Tio Bun Yang dengan penuh perhatian.

"Anak muda, kenapa engkau bertanya tentang tempat misteri itu?" tanya pedagang yang berusia empat puluhan.

"Aku ingin ke tempat misteri itu," sahut Tio Bun Yang jujur.

"Haaah...?" Para pedagang itu terbelalak. "Anak muda, engkau sedang mabuk atau sedang bergurau dengan kami?"

"Aku bersungguh-sungguh, Paman."

"Bersungguh-sungguh?"

"Ya." Tio Bun Yang mengangguk. "Aku memang ingin ke tempat misteri itu, mohon Paman memberi petunjuk!"

"Anak muda!" Pedagang berusia empat puluhan itu menggeleng-gelangkan kepala. "Engkau masih muda, kenapa mau cari mati?"

"Paman...." Tio Bun Yang menghela nafas panjang. "Aku ke

tempat misteri itu dengan tujuan mencari orang."



"Mencari orang?" para pedagang itu terperangah. "Anak muda, setahu kami di tempat misteri itu cuma terdapat setan iblis, tidak ada orang sama sekali."

"Paman," desak Tio Bun Yang. "Berilah petunjuk, agar aku bisa sampai di tempat misteri itu!"

"Maaf, Anak muda!" sahut pedagang berusia empat puluhan itu. "Kami sama sekali tidak tahu jalan menuju tempat misteri itu, sebab kami tidak pernah ke sana."

"Paman," tanya Tio Bun Yang. "Kira-kira siapa yang pernah ke tempat misteri itu?"

"Tidak ada." Pedagang berusia empat puluhan itu menggelengkan kepala. "Kaum pedagang tidak pernah berani ke tempat itu.

"Aaaah...!" Tio Bun Yang menghela nafas panjang. "Oh ya, di mana ada rumah penginapan?”

"Keluar dari kedai teh ini, engkau berbelok ke kiri, tak lama akan sampai di rumah penginap. Peng Lay."

"Terimakasih, Paman!" ucap Tio Bun Yan lalu kembali ke tempatnya, dan duduk termenung di situ. Para pedagang itu mulai berbisik-bisik membicarakannya.

Lama sekali Tio Bun Yang termenung. setelah itu barulah ia meneguk tehnya, kemudian bersantap.

Berselang beberapa saat, hari mulai gelap, Tio Bun Yang segera membayar minuman dan makanannya, lalu meninggalkan kedai teh itu. Ia menunggang kudanya menuju rumah penginapan. Ketika berada di depan penginapan tersebut, muncullah seorang pelayan menyambutnya dengan wajah berseri-seri. "Tuan perlu kamar?"

"Ya." Tio Bun Yang mengangguk sambil meloncat turun.



Pelayan itu segera menuntun kuda tersebut ke samping penginapan. Setelah menambat kuda itu, ia cepat-cepat menghampiri Tio Bun Yang.

"Tuan," ujar pelayan itu ramah. "Mari ikut aku ke dalam!"

Tio Bun Yang mengangguk, lalu mengikuti pelayan itu ke dalam.

Pelayan itu berhenti di depan sebuah kamar, hiu membuka pintu kamar itu seraya bertanya.

"Tuan cocok dengan kamar ini?" "Ng!" Tio Bun Yang mengangguk.

"Silakan masuk, Tuan!" ucap pelayan itu dengan ramah.

Tio Bun Yang melangkah ke dalam. Dilihatnya kamar itu cukup bersih dan besar, maka ia manggut-manggut.

"Tuan mau pesan makanan dan minuman?" tanya pelayan itu setelah Tio Bun Yang duduk.

"Cukup teh saja," sahut Tio Bun Yang, lalu menyodorkan setael perak untuk pelayan itu.

"Tuan..." pelayan terbelalak ketika melihat uang perak itu. Selama ia menjadi pelayan penginapan Peng Lay, belum pernah ada tamu yang memberikannya setael perak, maka ia mengira Tio Bun Yang sedang bergurau

"Ambillah!" ujar Tio Bun Yang sambil tet senyum

"Tuan...."  Pelayan  itu  menerima  uang  perai  itu  dengan

tangan agak bergemetar. "Terimakasih Tuan! Terimakasih.

Seusai mengucapkan terimakasih berulang kali barulah pelayan itu pergi mengambil teh untuk Tio Bun Yang.

Di saat pelayan itu pergi, terdengar suara isak tangis di kamar sebelah, itu membuat Tio Bu Yang mengerutkan



kening. Setelah pelayan kembali ke situ, segera Tio Bun Yang bertanya

"Siapa yang menangis di kamar sebelah?"

"Itu...." Pelayan memberitahukan. "Seorang wanita berusia

empat puluhan."

"Kenapa wanita itu menangis?"

"Putrinya sakit keras," sahut pelayan sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Entah sudah berapa banyak tabib yang mengobati gadis kecil itu pun tidak tahu sakit apa gadis itu."

"Sakit apa gadis kecil itu?"

"Entahlah." Pelayan menggelengkan kepala "Sebab para tabib yang telah memeriksa gadis tapi... tiada seorang pun yang dapat menyembuhkannya."

"Oh?" Tio Bun Yang mengerutkan kening. ”Kalau begitu, gadis kecil itu pasti mengidap penyakit aneh."

"Mungkin." Pelayan manggut-manggut.

"Aku mengerti sedikit mengenai ilmu pengobatan," ujar Tio Bun Yang memberitahukan. ”Tolong antar aku ke kamar wanita itu!"

"Tuan...." pelayan terbelalak.

”Jangan ragu!" Tio Bun Yang tersenyum. "Antarkan aku ke sana, mudah-mudahan aku bisa menyembuhkannya!"

"Baik, Tuan." Pelayan mengangguk. "Mari ikut aku ke kamar sebelah!"

"Terimakasih!" ucap Tio Bun Yang, sekaligus mengikuti pelayan itu ke kamar tersebut.

Sampai di depan kamar itu, perlahan-lahan pelayan mengetuk pintu.

"Siapa?" suara sahutan dari dalam.



"Pelayan!"

"Masuklah!"

Pelayan mendorong pintu kamar itu. Tio Bun Yang memandang ke dalam, dilihatnya seorang wanita berpakaian aneh duduk di pinggir ranjang sambil menangis terisak-isak, di atas ranjang terbujur sosok tubuh yang kurus.

"Maaf!" ucap pelayan memberitahukan. "Tuan ini mengerti sedikit ilmu pengobatan, maka ingin memeriksa gadis kecil itu."

"Oh?" Wanita itu menoleh. Begitu melihat Tio Bun Yang, yang masih sedemikian muda, menggeleng-gelengkan kepala. "Terimakasih, Tua tapi tidak mungkin Tuan dapat mengobati putriku ini."

"Nyonya," ujar pelayan. "Walau Tuan ini masih muda, namun siapa tahu justru Tuan ini yang dapat menyembuhkan putri Nyonya itu."

"Aaaah...!" Wanita itu menghela nafas panjang. "Sudah belasan tabib berpengalaman di kota ini memeriksanya, tapi tiada satu pun yang mampu mengobatinya. Sedangkan tuan ini masih muda...'

"Nyonya! Siapa tahu...."

"Para tabib itu meminta biaya tinggi, aku sanggup bayar. Tapi... mereka justru tidak sanggup menyembuhkan putriku."

"Bibi," Tio Bun Yang tersenyum. "Aku tidak minta biaya apa pun, percayalah!"

"Tuh!" Pelayan tertawa. "Tuan ini sangat ba hati, tidak seperti tabib lain."

"Oh?" Wanita itu menatap Tio Bun Ya dengan penuh perhatian. "Engkau tidak min biaya apa pun?"

"Ya." Tio Bun Yang mengangguk.



"Kenapa begitu?" wanita itu heran.

"Karena aku bukan tabib, lagi pula sesama manusia memang harus saling menolong," sahut Tio Bun Yang sambil tersenyum. "Aku mengeti sedikit ilmu pengobatan, maka kugunakan untuk menolong yang sakit."

"Oooh!" Wanita itu manggut-manggut. "Tapi putriku...."

"Biar aku segera memeriksanya," ujar Tio Bun Yang sambil mendekati gadis kecil yang terbaring di atas ranjang itu, lalu memeriksanya dengan teliti sekali.

Pelayan itu sangat tertarik, maka tidak meninggalkan kamar itu, terus memperhatikan Tio Bun Yang memeriksa gadis kecil itu.

Berselang beberapa saat kemudian, usailahTlio Bun Yang memeriksa gadis kecil itu. Ia menarik nafas lega seraya berkata.

"Untung aku segera datang! Kalau tidak, lewat dua jam putri Bibi tidak dapat tertolong lagi."

"Oh?" Wajah wanita itu pucat pias. "Kalau begitu, cepatlah tolong putriku ini! Aku mohon...."

Mendadak wanita itu menjatuhkan diri berlutut di hadapan Tio Bun Yang, tapi Tio Bun Yang segera membangunkannya.

"Tenanglah, Bibi!" ujar Tio Bun Yang. "Aku pasti menolongnya."

Usai berkata, Tio Bun Yang menaruh telapak tangannya di ubun-ubun gadis itu, lalu mengeluhkan Pan Yok Hian Thian Sin Kang, dan sekaligus disalurkan ke tubuh gadis kecil itu melalui ubun-ubunnya.

Sesaat kemudian, telapak tangan Tio Bun Yang mulai mengeluarkan asap putih. Justru sungguh menakjubkan, asap putih itu berputar-putar di sekitar kepala gadis kecil itu, kemudian menerobos ke dalam melalui ubun-ubunnya



Menyaksikan itu, pelayan dan wanita itu terbelalak dan mulut mereka ternganga lebar

Lewat beberapa saat setelah itu, barulah Tio Bun Yang berhenti mengerahkan lweekangnya. Ia tersenyum sambil memasukkan sebutir obat ke mulut gadis itu, lalu berkata kepada wanita tersebut.

"Putri Bibi sudah tertolong. Sebentar lagi dia pasti bisa berjalan, dan makan minum seperti biasa."

"Oh? Terimakasih, Tuan! Terimakasih!" ucap wanita itu. Baru saja dia mau berlutut mendadak Tio Bun Yang mengibaskan lengan bajunya sambil tersenyum.

"Bibi tidak usah berlutut!"

"Haaah?" Wanita itu terperanjat, karena merasa sekujur badannya kaku, tapi tak lama sudah normal kembali. "Tuan...."

"Ibu! Ibu..." panggil gadis kecil itu.

"Nak! Nak..." saking girang wanita itu m nangis dengan air mata berderai-derai. "Oh, anakku...."

"Ibu! Aku... aku lapar!" ujar gadis kecil sambil bangun.

"Tunggu, Nak!" sahut wanita itu, kemudian bertanya kepada Tio Bun Yang. "Tuan, putriku sudah boleh makan?"

"Boleh." Tio Bun Yang mengangguk. "Dia sudah sembuh, jadi boleh makan dan minum seperti biasa."

"Oooh!" Wanita itu manggut-manggut. "Pelayan, cepat ambilkan makanan untuk putriku!"

"Hah? Apa?" Pelayan itu tersentak, ternyata saking terkesima akan kehebatan Tio Bun Yang, sehingga membuatnya terbengang-bengong. "Bukan main! Cuma diraba, gadis kecil itu langsung sembuh! Sungguh bukan main!"



Pelayan itu segera pergi mengambil makanan untuk si gadis kecil. Sudah barang tentu ia pun menyiarkan berita tentang itu.

"Kelihatannya Bibi bukan orang Tionggoan. Sebab pakaian Bibi aneh sekali” kata Tio Bun Yang

"Betul, Tuan." Wanita itu mengangguk. "Kami buan orang Tionggoan, melainkan salah satu kecil kecil di sekitar Gurun Sih Ih."

"Oh?" Wajah Tio Bun Yang tampak berseri, ”Kalau begitu. Bibi pasti tahu mengenai tempat misterii di Gurun Sih Ih!"

'Tidak begitu jelas," ujar wanita itu dengan air muka berubah. "Kenapa Tuan menanyakan itu ?”

"Terus terang, aku ingin ke tempat misteri itu ”

"Haaah?" Bukan main terkejutnya wanita itu "Tempat misteri itu penuh dengan berbagai setan iblis, kenapa Tuan ingin ke sana?"

"Bibi!" Tio Bun Yang menghela nafas panjang "Aku ke sana demi menolong seseorang."

"Oh?" Wanita itu mengerutkan kening. "Terus terang, aku pun tidak tahu berada di mana tempat misteri itu."

"Aaaah...!" Tio Bun Yang menghela nafas panjang.

"Tuan," ujar wanita itu dengan wajah serius "Kami pernah melihat tempat itu, namun tidak berani mendekatinya."

"Oh?" Wajah Tio Bun Yang berseri. "Tempat itu berada di mana?"

"Sebelah barat Gurun Sih Ih." Wanita itu memberitahukan. "Tapi tempat itu akan muncul di saat senja. Jadi Tuan harus menuju arah barat Gurun Sih Ih, tapi harus hati-hati jangan sampai tersesat di gurun itu!"

"Terimakasih atas petunjuk Bibi!" ucap Tio Bun Yang.



Di saat bersamaan, muncullah pelayan dengan membawa makanan untuk gadis kecil yang baru sembuh itu.

"Tuan," tanya pelayan setelah menaruh makanan itu di atas meja. "Sebetulnya gadis kecil itu sakit apa?"

"Gadis kecil itu tidak sakit, melainkan keracunan." Tio Bun Yang memberitahukan.

"Keracunan apa?" pelayan itu tersentak.

"Dia makan semacam buah yang beracun, maka keracunan." Tio Bun Yang menjelaskan. "Kalau terlambat bertemu denganku dia pasti mati, sebab tiada seorang tabib pun yang mampu memunahkan racun itu."

"Oooh!" Pelayan itu manggut-manggut dan sangat kagum kepadanya. "Tuan masih muda, tapi ilmu pengobatan Tuan sudah begitu hebat."

"Aku cuma mengerti sedikit ilmu pengobatan."

"Cuma mengerti sedikit sudah begitu hebat, apalagi banyak!" ujar pelayan sambil tertawa.

"Tuan!" Mendadak wanita itu menyodorkan sebuah bungkusan berisi ratusan tael perak kehadapan Tio Bun Yang seraya berkata, "Ini untuk tuan!"

"Terimakasih!" ucap Tio Bun Yang, namun ia tidak menerima bungkusan itu. "Tadi aku sudah bilang, tidak menerima biaya apa pun."

"Terimalah, Tuan!" desak wanita itu.

”Aku tidak akan menerima uang itu." Tio Bun Yang menggelengkan kepala. "Sebab aku menolong dengan setulus hati."

"Tuan...."             Wanita  itu           memandangnya               dengan mata

terbelalak. "Baru kali ini aku bertemu orang yang berhati bajik, menolong orang tanpa pamrih."



"Betul," sambung pelayan. "Aku juga baru kali ini melihat cara pengobatan yang begitu aneh.

Halaman 30-31 ga ada hi hi "Ya." Pelayan segera pergi

Sedangkan Tio Bun Yang duduk sambil memikirkan perjalanan esok. Tak seberapa lama, kemudian, muncullah pelayan itu dengan membawa sebuah kantong kulit besar berisi air minum

”Ini, Tuan," ujar pelayan sambil menaruh kantong kulit berisi air itu di atas meja

"Terimakasih!" ucap Tio Bun Yang

Keesokan paginya, berangkatlah Tio Bun Ya ke Gurun Sih Ih. Dia tidak menunggang kuda karena merasa tidak tega kepada kudanya. Maka kudanya dititipkannya kepada pelayan itu.

-oo0dw0oo-


Bagian ke enam puluh dua

Tewas dan dikurung


Betapa teriknya di Gurun Sih Ih pada siang hari namun sungguh dingin sekali di malam hari Gurun Sih lh ini tiada mata air, maka siapa yang tersesat di gurun itu pasti mati kehausan.

Oleh karena itu, tiada seorang pun yang berani menyeberangi gurun itu apabila cuma seorang diri.

Di tengah-tengah Gurun Sih Ih, justru terdapat sebuah tempat yang amat indah dan subur sungguh merupakan suatu



kegaiban, namun itulah disebut sebagai tempat misteri yang dihuni para setan iblis.

Tidak usah heran. Tempat misteri itu tidak bisa dicapai, sebab hanya bisa dilihat di saat senja hari. Lagipula disekitar tempat misteri itu terus berhembus angin kencang, yang membuat pasir-pasir beterbangan ke mana-mana. Makhluk apa pun tidak akan bisa bertahan di situ, sebab akan terhembus terbang entah ke mana. Akan tetapi, bagi yang tahu tentunya bisa mencapai tempat misteri tersebut, sebab di saat-sat tertentu, angin di sekitar tempat itu berhenti berhembus sejenak.

Betapa indahnya panorama di tempat misteri itu. Pohon-pohon dan rumput-rumput menghijau, tampak pula bunga-bunga bermekaran berwarna-iiiini.

Justru sungguh mengherankan, di sana tampal sebuah bangunan besar berdiri kokoh. Bangunan itu ternyata markas lama Kui Bin Pang.

Di dalam markas itu terdengar suara tawa gelak. Tampak delapan orang sedang bersulang di ruang depan. Mereka adalah ketua Kui Bin Pang, kedua Hu Hoat dan Ngo Sat Kui.

"Ha ha ha!" Ketua Kui Bin Pang terus tertawa. ”Tentunya kalian tidak menyangka, kalau aku tahu tempat ini!"

"Ketua," ujar Toa Sat Kui. "Sungguh beruntung markas berada di sini, sebab tempat sangat indah dan subur, bahkan terdapat beberapa mata air. Jadi kita tidak akan kekurangan makanan maupun air minum, bahkan sangat aman di sini."

"Ha ha ha!" Ketua Kui Bin Pang terus tertawa "Ini adalah tempat misteri. Hanya aku seorang yang tahu cara memasuki tempat misteri ini. Ha ha ha. Pihak Kay Pang dan Pulau Hong Hoang To tidak mungkin bisa ke mari! Kalau mereka berani mari, pasti akan mampus di Gurun Sih Ih."



"Ketua," tanya Yo Kiam Heng mendad "Bagaimana keadaan Nona Siang Koan?"

"Dia baik-baik saja," sahut ketua Kui Bin Pang. "Dia kukurung di ruang bawah. Tidak lama lagi dia akan menjadi milikku. Ha ha ha...!"

"Ketua," ujat Toa Sat Kui. "Bagaimana andainya persediaan makanan kita habis?”


"Gampang. Rampok saja para pedagang yang engkau ^ berjanj. akan


, Wa,au


lewat Gurun Sih Ih." sahut ketua Kui Bin dan menambahkan, "Kalau kalian ingin senang-senang, kalian pun boleh menculik para gadis di sekitar Gurun Sih Ih."

"Terimakasih, Ketua!" ucap Toa Sat Kui girang

"Nah, mari kita bersulang lagi!" ajak ketua Kui Bin Pang sambil tertawa gelak. "Ha ha ha,”

-oo0dw0oo-


Malam harinya, Yo Kiam Heng dan Kwan Tiat Him duduk berhadapan di dalam kamar. Mereka bercakap-cakap dengan menggunakan ilmu menyampaikan suara, agar tidak terdengar oleh yang lain.

"Kiam Heng, kapan kita turun tangan memiting Nona Siang Koan?"

"Itu...." Yo Kiam Heng menggeleng-gelengkan kepala. "Itu

sulit sekali, kita tidak boleh ceroboh kalau ceroboh kita pasti celaka ”

"Terus terang, aku sudah tidak sabar menunggu," ujar Kwan Tiat Him sungguh-sungguh. ”Aku ingin cepat-cepat menolongnya, lalu meninggalkan markas ini."



"Tiat Him," pesan Yo Kiam Heng. "Biar bagaimana pun, kita harus berhati-hati!"

"Aku  tahu  itu,  tapi...."  Kwan  Tiat  Him  menghela  nafas

panjang, kemudian menambahkan, "Aku telah berjanji kepada Tio Bun Yang..”

”Walau engkau telah berjanji kepadanya untuk menolong Nona Siang Koan, namun harus juga lihat situasi. Kalau situasi tidak mengijinkan, janganlah kita turun tangan, sebab akan mencelakai diri kita. Bersabarlah untuk menunggu waktu yang tepat!"

"Kiam Heng!" Kwan Tiat Him menatapnya, kini engkau sudah punya kekasih, maka engkau tak boleh sembarangan menempuh bahaya. Sebab kalau terjadi sesuatu atas dirimu, bagaimana dengan Lam Kiong Soat Lan? Ya, kan?"

"Maksudmu?" Yo Kiam Heng heran.

"Maksudku..." sahut Kwan Tiat Him sungguh sungguh. "Biar aku saja yang menolong Nona Siang Koan. Seandainya tidak berhasil dan diriku celaka di tangan ketua, itu pun tidak apa-apa karena aku tidak punya tanggungan."

"Tiat Him...." Yo Kiam Heng menggeleng gelengkan kepala.

"Engkau tidak boleh bertindak sendiri...."

"Kiam Heng!" Kwan Tiat Him tersenyum getir. "Telah kupikirkan, kini engkau sudah punya kekasih, maka tidak boleh menempuh bahaya menolong Nona Siang Koan. Jadi...

biarlah aku saja yang menolongnya, agar tidak merembet dirimu.

"Itu tidak bisa." Yo Kiam Heng menggelengkan kepala.

"Ingat!" Kwan Tiat Him tersenyum. "Lam Kiong Soat Lan sangat mencintaimu, lagi pula engkau telah berjanji akan ke Tayli menengok nya. Kalau terjadi sesuatu atas dirimu di sini bukankah engkau akan membuatnya menderita?"



"Itu...." Kening Yo Kiam Heng berkerut-kerut, apa yang

dikatakan Kwan Tiat Him memang masuk akal, namun kemudian ia berkata, "Tentang ini, akan kita rundingkan lagi nanti."

"Baiklah." Kwan Tiat Him mengangguk menambahkan, "Pokoknya engkau tidak boleh menempuh bahaya!"

"Tiat  Him...."  Betapa  terharunya  Yo  Kiam  Heng.  Tidak

disangkanya Kwan Tiat Him begitu memikirkan kepentingan teman.

Di saat bersamaan, di ruang tengah juga tampak Toa Sat Kui sedang berbisik-bisik dengan ketua Kui Bin Pang.

"Jadi...."               Ketua    Kui          Bin          Pang      menatapnya.     Engkau

mencurigai kedua Hu Hoat itu?"

"Ya." Toa Sat Kui mengangguk. "Sebab dalam beberapa hari ini, gerak-gerik mereka sangat aneh."

"Aneh bagaimana?"

"Kelihatannya mereka ingin melakukan sesuatu."

"Oh?" Ketua Kui Bin Pang tampak gusar. ”Mereka berdua bekerja sama untuk mengkhianatiku?"

"Kira-kira begitulah."

"Itu... agak tidak masuk akal." Ketua Kui Bin wig menggeleng-gelengkan kepala. "Sebab mereka pun terluka parah di Pulau Hong Hoang To."

"Ketua..." bisik Toa Sat Kui. "Mungkin itu ulna merupakan suatu siasat saja."

"Oh?" Ketua Kui Bin Pang diam beberapa saat lalu melanjutkan, "Tanpa bukti engkau tidak boleh menuduh."

"Ya, Ketua." Toa Sat Kui mengangguk. "Tapi menurut aku, salah satu di antara mereka sedang berupaya menolong Siang Koan Goat Nio."



"Oh, ya?" Ketua Kui Bin Pang tampak kurang percaya.

"Dua malam yang lalu, tanpa sengaja aku melihat Jie Hu Hoat berendap-endap ke sana kemari, kelihatannya seperti sedang mencari sesuatu."

"Lalu bagaimana?"

"Berselang sesaat, dia langsung kembali kamarnya. Aku pun mengintip ke dalam, melihat Jie Hu Hoat duduk di hadapan Toa Hu Hoat”

"Kalau begitu..." ujar ketua Kui Bin Pang. "Jie Hu Hoat itu memang sangat mencurigakan, sedangkan Toa Hu Hoat...."

"Ketua," bisik Toa Sat Kui lagi. "Aku pun suatu cara untuk menjebak mereka."

"Oh? Apa caramu itu?"

"Begini...." Toa Sat Kui berbisik-bisik di telinga ketua Kui

Bin Pang, berselang sesaat, ketua Kui Bin Pang itu manggut-manggut seraya berkata dengan suara rendah.

"Bagus! Bagus! Caramu itu memang sungguh jitu sekali!"

"Terimakasih atas pujian Ketua!" ucap To Sat Kui girang. "Pokoknya dengan caraku itu mereka berdua pasti terjebak!"

"Kalau cuma salah satu di antara mereka berarti yang lainnya tidak tersangkut."

"Kita buktikan saja nanti, Ketua." "Betul. Kita buktikan saja! Ha ha ha...!'

Ketika Yo Kiam Heng dan Kwan Tiat Him baru mau tidur, mendadak mereka mendengar suara ketukan pintu.

"Siapa?" sahut Kwan Tiat Him.

"Ha ha ha!" Terdengar suara tawa. "Kalian berdua belum tidur?"



"Ketua!" Kwan Tiat Him dan Yo Kiam Heng tersentak kaget, kemudian segera meloncat bangun, sekaligus membuka pintu kamar itu.

"Ha ha ha!" Ketua Kui Bin Pang tertawa gelak sambil melangkah masuk, lalu duduk.

Kwan Tiat Him dan Yo Kiam Heng segera memberi hormat, kemudian Yo Kiam Heng bertanya.

"Sudah larut malam Ketua ke mari, apakah ada tugas untuk kami?"

"Ya." Kedua Kui Bin Pang manggut-manggut. ”Aku gembira sekali, karena selama ini kalian berdua sangat setia kepadaku."

"Itu memang harus," sahut Yo Kiam Heng.

"Kebetulan malam ini aku akan pergi bersama Ngo Sat Kui, maka aku akan menyerahkan kunci kepada kalian."

"Kunci apa?" tanya Kwan Tiat Him.

"Kunci pintu ruang bawah," sahut ketua Ki Bin Pang singkat.

"Itu...."  Hati  Kwan  Tiat  Him  berdebar-debar  "Bukankah

Nona Siang Koan dikurung di situ?”

"Betul." Ketua Kui Bin Pang manggut-manggut. "Aku mempercayai kalian, maka kuserahkan kunci ini kepada kalian."

Ketua Kui Bin Pang menyodorkan kunci tersebut ke hadapan mereka, dan Kwan Tiat Him segera menerimanya.

"Jie Hu Hoat," pesan ketua Kui Bin Pang "Simpan baik-baik kunci itu, jangan sampai hilang!"

"Ya, Ketua." Kwan Tiat Him mengangguk dan bertanya. "Kapan ketua dan Ngo Sat Kui akan pulang?"



"Mungkin... besok sore," sahut ketua Kui Bin Pang. "Setelah aku pulang, engkau harus kembalikan kunci itu kepadaku."

"Ya, Ketua," sahut Kwan Tiat Him dan bergirang dalam hati.

"Baiklah." Ketua Kui Bin Pang bangkit berdiri "Kalian boleh tidur, aku dan Ngo Sat Kui aku segera pergi."

Ketua Kui Bin Pang meninggalkan kamar itu.

Kwan Tiat Him cepat-cepat menutup pintu, se-il.mgkan Yo Kiam Heng malah duduk diam di pinggir ranjang, kelihatannya seperti memikirkan u-suatu.

"Kiam Heng," tanya Kwan Tiat Him heran, 'enngkau sedang memikirkan apa?"

"Tiat Him...." Yo Kiam Heng menggeleng-gelengkan kepala.

"Ini sungguh mencurigakan!" "Maksudmu?" tanya Kwan Tiat Him.
"Kenapa mendadak ketua ke mari tengah malam menyerahkan kunci ini kepada kita?" sahut Tiat Kiam Heng sambil bangkit berdiri, kemudian berjalan mondar-mandir. "Mungkinkah... itu melupakan suatu jebakan?"

"Tidak mungkin," ujar Kwan Tiat Him. "Bukankah tadi ketua bilang, dia sangat mempercayai kita, maka kunci ini dititipkan kepada kita? Nah, ini merupakan kesempatan baik bagi kita."

"Aku tetap bercuriga." Yo Kiam Heng menggeleng-gelengkan kepala. "Sebab bukankah dia bisa menyimpan kunci itu di suatu tempat? Kenapa harus dititipkan kepada kami?"

"Ketua khawatir kunci itu hilang, jadi dititipkan kepada kita." ujar Kwan Tiat Him sambil menggenggam kunci itu erat-erat.

"Tiat Him...." Yo Kiam Heng menggeleng-gelengkan kepala.



"Begini..." bisik Kwan Tiat Him. "Berhubung engkau sudah punya kekasih, maka biar aku saja yang menolong Nona Siang Koan."

"Lebih baik kita bersama pergi menolongnya ujar” Yo Kiam Heng. "Bagaimana mungkin aku membiarkan engkau menempuh bahaya seorang diri?"

"Engkau harus tahu, ketua dan Ngo Sat Kin mungkin sudah pergi." Kwan Tiat Him tertawa gembira. "Aku menunggu subuh barulah pergi menolong Nona Siang Koan, engkau tunggu disini saja!"

"Tiat  Him...."  Yo  Kiam  Heng  menghela  nafas  panjang.

"Engkau...."

"Setelah aku berhasil menolong Nona Sian Koan, aku dan dia akan kemari, barulah kita meninggalkan markas Kui Bin Pang ini."

"Tapi...."

"Engkau khawatir akan terjadi sesuatu atasku?"

"Ya."

"Kalaupun aku mati, aku tidak akan menyesal” ujar Kwan Tiat Him sungguh-sungguh. "Sebab aku telah menepati janji kepada Tio Bun Yang. Ia pemuda baik, maka aku harus membantunya."

'Tiat Him...." Yo Kiam Heng menatapnya, "Semoga engkau

berhasil menolong Nona Siang Koan”

"Ng!" Kwan Tiat Him manggut-manggut.

-oo0dw0oo-

Ketika hari mulai subuh, tampak sosok bayangan berendak-endap menuju ruang bawah. Siapa dia? Tidak lain adalah Kwan Tiat Him. sedangkan Yo Kiam Heng menunggu di dalam kamar dengan hati berdebar-debar tegang.



Kwan Tiat Him telah sampai di depan pintu ruang bawah. Di saat itu mulai membuka gembok 'dengan kunci yang dibawanya itu, mendadak terdengarlah suara tawa seram, lalu muncullah enam orang di belakangnya. Mereka adalah ketua Kui Bin Pang dan Ngo Sat Kui. Dapat dibayangkan betapa terkejutnya Kwan Tiat Him.

"He he he! Jie Hu Hoat! Mau apa engkau membuka pintu ruang itu?" tanya ketua Kui Bin Pang dingin.

"Ketua...." Kwan Tiat Him menarik nafas dalam-dalam. Ia

tahu bahwa dirinya sulit meloloskan diri. Karena itu, ia bersiap untuk bertarung mati-matian. "Aku ke mari ingin menolong Nona Siang koan."

"Oh?" Ketua Kui Bin Pang tertawa terkekeh-kekeh. "He he he! Engkau terjebak oleh akal Toa sat Kui. Kini sudah terbukti engkau berkhianat."

"Hm!" dengus Kwan Tiat Him dingin. "Ayoh, mau kita bertarung, aku tidak takut menghadapimu!"

"Ketua!" Toa Sat Kui maju selangkah. "Biar aku yang menghabiskannya."

"Toa Sat Kui!" Ketua Kui Bin Pang menggelengkan kepala. "Engkau bukan lawannya, mundurlah!"

Toa Sat Kui terpaksa mundur. Sedangkan ketua Kui Bin Pang segera melangkah maju sambil menuding Kwan Tiat Him.

"Engkau harus mampus di tanganku!" "Ha ha ha!" Kwan Tiat Him tertawa geli

"Aku akan mati secara gagah, sebaliknya engkau akan menang secara pengecut!"

"Oh?" Ketua Kui Bin Pang tertawa terkekeh kekeh. "He he he! Lihat seranganku!"



Ketua Kui Bin Pang langsung menyerang Kwan Tiat Him dengan jurus yang mematikan Kwan Tiat Him berkelit dan sekaligus balas menyerang.

Terjadilah pertarungan seru. Puluhan jurus kemudian, Kwan Tiat Him mulai terdesak, membuat ketua Kui Bin Pang tertawa gelak.

"Ha ha ha! Jie Hu Hoat. apabila engkau mampu bertahan tiga jurus lagi, maka aku akan melepaskanmu!"

"Baik!" Kwan Tiat Him mengangguk.

"Hati-hati!" seru ketua Kui Bin Pang. Ia mulai mengerahkan Pek Kut Im Sat Kang (Tenaga Hawa Dingin Beracun), lalu menyerangnya dengan Pek Kut Im Sat Ciang (Ilmu Pukulan Hawa Dingin Beracun).

"Jurus pertama!"

Di saat ketua Kui Bin Pang menyerang, pasang telapak tangannya mengeluarkan uap dingin yang mengandung racun.

Kwan Tiat Him tidak berani menangkis selingan itu. Ia bergerak cepat menghindar, tetapi, ketua Kui Bin Pang menyerangnya lagi secepat ilat.

Badan ketua Kui Bin Pang berkelebatan menyilaukan mata dan sepasang telapak tangannya terus mengeluarkan uap beracun

Kwan Tiat Him meloncat ke belakang. Namun di saat itu salah satu telapak tangan ketua Kui Bin Pang menghantam dadanya. Duuuk!

"Aaaaakh...!" jerit Kwan Tiat Him. Ia terpental, dan ketika roboh sekujur badannya tampak mengeluarkan asap, kemudian mulai mencair. namun masih terdengar suara jeritannya yang menyayat hati.

Berselang sesaat, tubuh Kwan Tiat Him tinggal tulangnya saja. Sungguh mengerikan pemandangan itu! Ngo Sat Kui



berdiri mematung ditempat, sedangkan ketua Kui Bin Pang terus tertawa terkekeh-kekeh. "Mari kita ke kamar Toa Hu Hoat!" ajaknya kemudian. "Dia tersangkut atau tidak harus dihukum”

"Betul?" sahut Toa Sat Kui. "Itu sebagai pelajaran baginya."

Mereka menuju kamar tersebut. Sementara Y Kiam Heng terus berjalan mondar-mandir.

Mendadak ia mendengar suara langkah, maka segera meloncat ke tempat tidur.

"Tok! tok! Tok!" Terdengar suara ketukan.

"Siapa?" sahut Yo Kiam Heng.

"Cepat buka pintu!" bentak Toa Sat Kui.

Yo Kiam Heng segera meloncat bangun, tahu telah terjadi sesuatu atas diri Kwan Tiat Him. Setelah membuka pintu, ia melihat ketua Kui Bin Pang juga berdiri di situ

"Ketua...."

"Diam!" bentak ketua Kui Bin Pang. "Bagi Engkau bersekongkol dengan Jie Hu Hoat untuk mengkhianatiku!"

"Ketua," sahut Yo Kiam Heng. "Aku tidak mengerti apa yang Ketua katakan, bolehkah dijelaskan?"

"Hm!" dengus ketua Kui Bin Pang dingj "Aku menjebak kalian dengan kunci itu. Ha ha...!"

"Kunci itu? Bukankah kunci itu berada tangan Jie Hu Hoat?"

"Tidak salah. Dia menggunakan kunci untuk menolong Siang Koan Goat Nio yang kurung di ruang bawah. Ha ha ha! Dia terjebak oleh akal Toa Sat Kui, dan kini dia sudah mati”

"Oh?" Yo Kiam Heng bersikap acuh tak acuh namun hatinya berduka sekali. Kalau ia tidak memakai kedok setan, ketua Kui Bin Pang bisa melihat bagaimana air mukanya.



"Engkau bersekongkol dengan dia atau tidak, aku sama sekali tidak mengetahuinya. Tapi kalian berdua adalah Toa Jie Hu Hoat. Karena dia berani berkhianat, maka engkau pun harus kuhukum."

"Ketua...."

"Toa Sat Kui! Cepat totok jalan darah di bagian punggungnya!" perintah ketua Kui Bin Pang.

"Ya, Ketua." Toa Sat Kui segera menotok jalan darah di bagian punggung Yo Kiam Heng. Pemuda itu tidak berani melawan, karena tidak ingin mati dengan sia-sia. Setelah jalan darahnya tertotok, Yo Kiam Heng langsung lumpuh

Ketua Kui Bin Pang terawa gelak. "Bagus! Bagus! Engkau tidak melawan!" Dia manggut-manggut, kemudian memandang Toa Sat Kui. "Kurung dia di ruang bawah!" perintahnya.

"Ya, Ketua." Toa Sat Kui lalu memapah Yo Kiam Heng ke ruang belakang, sedangkan ketua Kui Bin Pang terus tertawa gelak.

"Ha ha ha! Ha ha ha...!"

-oo0dw0oo-

Ketua Kui Bin Pang dan Lima Setan Algojo duduk di ruang depan. Mereka kelihatan sedang merundingkan sesuatu.

"Bagaimana menurut kalian, karena hingga saat ini Siang Koan Goat Nio masih belum tertarik kepadaku?"

"Apakah Ketua sudah memperlihatkan wajah?" tanya Toa Sat Kui.

"Belum." Ketua Kui Bin Pang menggelengkan kepala. "Aku justru tidak menghendakinya mengenali wajahku."



"Ketua!" Toa Sat Kui tertawa. "Sebetulnya itu tidak menjadi masalah. Lebih baik Ketua memperlihatkan wajah kepadanya, mungkin dia akan tertarik."

"Bagaimana kalau dia tidak tertarik?" tanya ketua Kui Bin Pang.

"Ha ha ha!" Mendadak Jie Sat Kui (Setan Algojo Kedua) tertawa gelak. "Pergunakan Toh Hun Tay Hoat, gadis itu pasti tertarik kepada Ketua!"

"Tapi...."              Ketua    Kui          Bin          Pang      menggeleng       gelengkan

kepala. "Memang, kalau aku menggunakan Toh Hun Tay Hoat, tentu dia akan menurut kepadaku. Tapi...."

"Kenapa, Ketua?" tanya Toa Sat Kui heran

"Aku tetap tidak akan mendapat hatinya” sahut ketua Kui Bin Pang sambil menghela nafas panjang.

"Oooh!" Toa Sat Kui manggut-manggut. "Kalau begitu... aku punya akal."

"Oh?" Ketua Kui Bin Pang tampak girang sekali. "Apa akalmu?"

"Ketua harus menggunakan Toh Hun Tay Hoat untuk mempengaruhi pikirannya." Toa Sat kui memberitahukan. "Agar dia membayangkan Tio Bun Yang sedang berbuat yang bukan-bukan dengan gadis lain. Nah, sudah barang tentu dia akan membenci Tio Bun Yang."

"Betul, betul." Ketua Kui Bin Pang tertawa gembira. "Ha ha ha! Akalmu sungguh bagus, tapi setelah itu?"

"Ketua harus mendekatinya." sahut Toa Sat Kui sambil tertawa.

"Oooh!" Ketua Kui Bin Pang manggut-manggut



"Kok berabe amat?" Sam Sat Kui (Setan Algojo Ketiga) menggeleng-gelengkan kepala. "Pergunakanlah Toh Hun Tay Hoat agar dia tidur bersama Ketua! Beres kan?"

"Itu memang beres." Ketua Kui Bin Pang mengangguk. "Namun selamanya aku tidak akan memperoleh hatinya, bahkan dia pasti membenciku selama-lamanya."

"Ha ha ha!" Sam Sat Kui tertawa. "Ketua Menghendaki tubuhnya atau hatinya?"

"Aku menghendaki dua-duanya," sahut ketua Hui Bin Pang. "Kalau aku cuma menghendaki tubuhnya, tentu aku sudah mendapatkannya."

"Oooh!" Sam Sat Kui manggut-manggut. "Kalau begitu, memang harus menggunakan akal Ta Sat Kui."

"Ha ha ha!" Ketua Kui Bin Pang tertawa terbahak-bahak sambil bangkit dari duduknya "Sekarang aku akan ke ruang bawah menemuinyi Ha ha ha...!"

-oo0dw0oo-

Sementara itu, Siang Koan Goat Nio yang telah dilumpuhkan itu duduk bersandar pada dinding. Gadis itu tampak kurus dan wajah pun puci pias. Ia rindu sekali kepada Tio Bun Yang ia berharap kekasihnya itu akan muncul menolongnya.

Di saat ia sedang melamun, mendadak pintu ruang itu terbuka, dan ketua Kui Bin Pang berjalan masuk.

"Nona Siang Koan..." panggil ketua Kui Bin Pang.

"Hm!" dengus Siang Koan Goat Nio sanil membuang muka.

"Nona Siang Koan...." Laki-laki itu memangil lagi lalu duduk

di hadapannya. "Aku sangat tertarik kepadamu, kenapa sikapmu begitu dingin terhadapku?"

"Sebab engkau pengecut," sahut Siang Koan Hoat Nio.



"Oh?" Ketua Kui Bin Pang tertawa. "Aku menculikmu karena tertarik kepadamu, bukan berarti ingin menyiksamu lho!"

"Kita tidak saling mengenal, kenapa engkau tertarik kepadaku?" tanya Siang Koan Goat Nio sambil mengerutkan kening. "Engkau harus tahu, aku sudah punya kekasih." tambahnya.

"Oh, ya?" Ketua Kui Bin Pang tertawa. "Kalau tidak salah, kekasihmu bernama Tio Bun Yang kann?"

"Betul." Siang Koan Goat Nio mengangguk, ia pemuda baik, tampan dan lemah lembut."

"Oh?" Ketua Kui Bin Pang tertawa lagi. "Nona Siang Koan, mungkin engkau mengira aku sudah tua Ya, kan?"

"Engkau sudah tua atau masih muda tiada urusan dengan diriku. Ayoh, cepat lepaskan aku!" jerit Siang Koan Goat Nio. "Jangan jadi pengecut!"

"Nona Siang Koan," tanya ketua Kui Bin Pang. ”Engkau ingin melihat wajahku?"

"Kenapa aku harus melihat wajahmu?" Siang koan Goat Nio mengerutkan kening sambil mengalengkan kepala. "Tidak perlu!"

"Aku memakai kedok setan, mungkin menjijikkanmu," ujar ketua Kui Bin Pang sekaligus melepaskan kedok setannya. Terlihatlah raut wajahnya yang begitu tampan.

"Wajahmu cukup tampan, tapi kenapa hatimu begitu jahat?" Siang Koan Goat Nio menghela nafas panjang.

"Sebetulnya hatiku tidak jahat," sahut ketua Kui Bin Pang sambil tersenyum lembut. "Buktinya aku tidak menyiksamu."

"Engkau mengurungku di sini, bukankah telah menyiksaku?" Siang Koan Goat Nio menatapnya dingin.



"Nona Siang Koan...." Ketua Kui Bin Pang menghela nafas

panjang. "Aku tidak pernah jatuh hati kepada gadis yang mana pun, hanya kali ini aku jatuh hati kepadamu."

"Sayang sekali!" Siang Koan Goat Vio menggeleng-gelengkan kepala. "Aku sudah punya ke kasih."

"Hm!" dengus ketua Kui Bin Pang, dan mendadak sepasang matanya berapi-api. "Kuberitahukan kepadamu, namaku Kwee Teng An. Kekasihmu adalah musuh besarku."

"Kwee Teng aH?" Siang Koan Goat Nio mengerutkan kening. "Kami tidak mengenalmu, bagaimana mungkin Kakak Bun Yang adalah musuh besarmu?"

"Julukannya adalah Giok Siauw Sin Hiap Kan?” "Betul."

"Nah, dia adalah musuh besarku."

"Itu...." Siang     Koan      Goat      Nio         menggelengkan               kepala.

"Tidak mungkin, sebab Kakak Bun Yang tidak punya musuh."

"Hmm!" dengus Kwee Teng An dingin. "Betapa tahun lalu, Tio Bun Yang memusnahkan kepandaianku, sehingga para penduduk melemparkanku ke dalam jurang. Tapi... aku tidak mati, sebaliknya malah memperoleh kepandaian yang maha tinggi. Ha ha ha...!"

Sebetulnya siapa Kwee Teng An itu? Ternyata ? adalah mantan Cay Hoa Cat (Penjahat Pemetik Bunga). Beberapa tahun lalu, ketika Tio Bun Yang tiba di sebuah desa, para penduduknya itu sedang dicekam rasa cemas, karena munculnva seorang penjahat pemerkosa gadis alias penjahat pemetik bunga.

Tio Bun Yang memusnahkan kepandaiannya, lalu meninggalkan desa itu. Para penduduk desa itu tidak bisa menahan amarah, segera menyeret Kwee Teng An dan kemudian melemparnya ke dalam jurang. Namun Kwee Teng



An tidak mati didasar jurang, sebaliknya malah menemukan sebuah goa tempat tinggal Pek Kut Lojin, ketua Kui Bin Pang lama.

"Kalau begitu..." ujar Siang Koan Goat Nio. ”Engkau pasti orang jahat. Maka Kakak Bun Yang musnahkan kepandaianmu."

"Dia pemuda yang tak bermoral. Aku memergokinya sedang memperkosa seorang gadis desa, maka dia memusnahkan kepandaianku," Kwee Teng An sekaligus mengerahkan ilmu Hun Tay Hoat.

"Omong kosong!" Siang Koan Goat Nio gusar sekali. "Kakak Bun Yang bukan orang semacam itu!"

"Tio Bun Yang memang pemuda yang suka memperkosa." Kwee Teng An terus mengerah ilmu sesatnya itu untuk mempengaruhi pikiran Siang Koan Goat Nio. "Lihatlah! Bukankah dia sering tidur bersama seorang gadis cantik?! Dia adalah Tio Bun Yang! Lihatlah!"

Siang Koan Goat Nio mulai terpengaruh sehingga timbul halusinasinya, sepertinya ia lihat Tio Bun Yang sedang tidur bersama seorang gadis cantik.

"Kakak Bun Yang!" seru Siang Koan Gj Nio dengan suara bergemetar. "Kenapa engkau berbuat begitu? Kenapa?"

"Lihatlah! Tio Bun Yang mulai melepasl pakaian gadis itu!" Suara Kwee Teng An yang mengandung ilmu Toh Hun Tay Hoat.

"Aaaakh!" keluh Siang Koan Goat Nio, seakan melihat Tio Bun Yang sedang melepaskan pakaian seorang gadis. "Kakak Bun Yang...."

"Tuh! Dia sedang mencium gadis itu!" Su« Kwee Teng An.



"Kakak  Bun  Yang...."  Siang  Koan  Goat  mulai  menangis

terisak-isak. Ia melihat Tio Bun Yang sedang mencium gadis itu. "Aku benci engkau! Aku benci engkau!"

"Tio Bun Yang adalah pemuda hidung belang, maka engkau tidak boleh mencintainya! Engkau harus melupakannya!"

"Ya." Siang Koan Goat Nio mengangguk. ”Aku membencinya! Aku harus melupakannya! Kakak Bun Yang, aku benci engkau!"

"Nona Siang Koan, kini engkau sudah tahu Tio Bun Yang merupakan pemuda apa, maka engkau tidak perlu memikirkannya lagi!"

"Ya."

"Nona Siang Koan!" Kwee Teng An tertawa. „Aku adalah pemuda baik dan lemah lembut, engkau harus mencintaiku!"

"Mencintaimu?" Siang Koan Goat Nio terbelalak. Ternyata batinnya masih terdapat sedikit perlawanan terhadap ilmu sesat itu. "Kenapa aku haruss mencintaimu? Aku cuma mencintai Kakak Bun Yang.... Tidak! Aku tidak mencintainya! Aku membencinya!"

"Nona   Siang     Koan...."              Kwee    Teng      An          memegang

tangannya, namun mendadak gadis itu membentak.

"Jangan menyentuhku! Kalau engkau berani menyentuhku...." Ancam Siang Koan Goat Nio. „Aku akan bunuh diri!"

"Eh? Nona Siang Koan!" Kwee Teng An tertegun, karena ilmu Toh Hun Tay Hoatnya tidak mampu menguasai pikiran gadis itu, sehingga membuatnya tidak habis berpikir.

Kenapa dalam batin Siang Koan Goat Nio bisa timbul sedikit perlawanan terhadap ilmu sesat itu? Ternyata sejak kecil ia telah berlatih Giok Li Sin Kang (Tenaga Sakti Gadis Murni). Tenaga sakti tersebut telah memperkuat batinnya, lagipula



cintanya terhadap Tio Bun Yang telah mendalam sekali. Maka, walau pikirannya telah terpengaruh oleh ilmu Toh Hun Tay Hoat, tapi rasa cintanya terhadap Tio Bun Yang tetap bersarang dalam lubuk hatinya.

"Nona Siang Koan!" Kwee Teng An menatapnya. "Engkau sudah melihat Tio Bun Yang berbuat yang bukan-bukan dengan gadis lain, kenapa engkau masih tidak mau mencintaiku?"

"Aku...."               Siang     Koan      Goat      Nio         menggeleng       gelengkan

kepala. "Engkau adalah ketua Kui Bi Pang, aku... aku tidak akan mencintaimu."

"Kalau aku bukan ketua Kui Bin Pang, apakah engkau akan mencintaiku?" tanya Kwee Teng An dengan penuh harap.

"Entahlah." Siang Koan Goat Nio mengeleng-gelengkan kepala lagi. "Kakak Bun Yan masih bisa berubah, apalagi engkau."

"Nona Siang Koan," ujar Kwee Teng A sambil tersenyum. "Percayalah! Aku pasti mencintaimu selama-lamanya."

"Sudahlah!" Siang Koan Goat Nio menghela nafas panjang. "Cepatlah engkau pergi, jangan menggangguku!"

"Baik." Kwee Teng An manggut-manggut. "Aku akan pergi sekarang, tapi engkau jangan memikirkan Tio Bun Yang lagi!"

Siang Koan Goat Nio mengangguk. Kwee leng An bangkit dari duduknya lalu memakai kedok setan, dan meninggalkan ruang itu.

Setelah ketua Kui Bin Pang itu pergi, Siang koan Goat Nio menangis terisak-isak sambil bergumam.

"Kakak Bun Yang, kenapa engkau menyeleweng? Kenapa engkau begitu tega? Aku merindukanmu siang dan malam, tapi kenapa engkau menyeleweng dengan gadis lain?" Air



mata Siang koan Goat Nio berderai-derai. "Kakak Bun Yang, aku... aku benci engkau! Aku benci engkau...!"

Sementara Kwee Teng An sudah berada di ruangg depan. Dia duduk melamun di situ. Ngo Sat Kui juga berada di situ, namun mereka sama-sama diam.

"Aaaah...!" Kwee Teng An menghela nafas panjang. "Entah sudah berapa banyak gadis yang dipermainkan, namun kali ini aku sungguh-sungguh jatuh cinta kepada gadis itu!" katanya.

"Apakah Ketua belum menggunakan ilmu Toh ihin Tay Hoat untuk mempengaruhi pikiran gadis itu?" tanya Toa Sat Kui.

"Sudah." Kwee Teng An mengangguk. "Kini dia sudah membenci Tio Bun Yang, tapi...."

"Kenapa?" tanya Jie Sat Kui.

"Dia tetap tidak mau menerima cintaku," sahut Kwee Teng An sambil menghela nafas panjang. "Sungguh mengherankan, padahal pikirannya sudah terpengaruh ilmu Toh Hun Tay Hoat”

"Oh?" Toa Sat Kui tertegun. "Ketua, lebih baik ajak dia tidur saja!" katanya.

"Itu pasti kulakukan, tapi bukan sekarang," sahut Kwee Teng An seraya tertawa. "Ha ha ha Apabila sudah waktunya, aku pasti...."

-oo0dw0oo-


Bagian ke enam puluh tiga Penolong yang tak disangka

Tio Bun Yang telah tiba di Gurun Sih Ih. Terik matahari mulai menyengat dirinya dan angin pun mulai berhembus



kencang, membuatnya susah membuka matanya. Begitu tiba di Gurun Sih Ih ia terus menuju ke arah barat.

Bukan main susahnya melakukan perjalanan! Gurun Sih Ih. Kalau angin berhembus, pasir pl beterbangan sehingga mata harus dipejamkan.

Dalam perjalanan ini, Tio Bun Yang telah menghabiskan setengah air minum yang di dalam kantong kulit. Udara di gurun itu memang panas sekali, sehingga membuat tenggorokan cepat keling.

Tio Bun Yang terus berjalan ke arah barat. Pakaiannya telah basah oleh keringat yang terus mengucur.

Ketika hari mulai senja, ia menghentikan langkahnya sambil menengok ke sana ke mari. Di saat itu, Gurun Sih Ih tampak kemerah-merahan tertimpa sinar matahari senja. Tiba-tiba Tio Bun Yang terbelalak, karena ia melihat sebuah tempat yang amat indah, ada bukit, pohon dan lain sebagainya.

"Itulah tempat misteri! Itulah tempat misteri!" seru Tio Bun Yang. Ia merasa girang dan ia segera meleset ke depan menggunakan ilmu ginkang.

Akan tetapi, di saat itulah terjadi sesuatu yang aneh. Ternyata tempat misteri itu tampak menjauhi dirinya. Tio Bun Yang terus mengejarnya Menggunakan ginkang, namun tempat misteri yang dilihatnya itu pun semakin menjauh, bahkan akhirnya sirna dari pandangannya.

"Haaah?" Bukan main herannya Tio Bun Yang! Ia berdiri termangu-mangu di gurun itu. ”Tempat misteri itu kok bisa hilang?"

Berselang sesaat, mendadak ia terbelalak karena melihat tempat misteri itu muncul lagi disebelah utara. Segeralah ia meleset ke sana, tetapi, tempat misteri itu pun menjauhinya.

Tio Bun Yang terus mengejarnya, tetapi akhirnya tempat misteri yang dilihatnya itu kembali menghilang. Ia berdiri di



tempat dengan nafas memburu, lalu meneguk air minum yang di dalam kantong kulit.

"Haaah?" Tio Bun Yang terkejut sekali, sebl air minum itu telah habis. "Celaka!" serunya.

Di saat bersamaan, tempat misteri itu muncul lagi di depannya. Tanpa membuang waktu ia langsung meleset ke arah depan, tapi tempat itu mendadak hilang lagi. Sedangkan Tio Bun Yang sudah lelah sekali, dan tenggorokannya pun mulai kering.

"Aaaah...!" keluhnya karena ia mulai kehausan lagi.

Ia berjalan sempoyongan. Saat itu hari sudah mulai gelap. Tiba-tiba tempat misteri itu muncul lagi di depannya. Bukan main indahnya tempat itu karena tampak bergemerlapan.

Tio Bun Yang tidak lagi meleset menggunakan gingkang, sebab ia telah kelelahan. Ia berjalan sempoyongan, dan puluhan langkah kemudian tempat misteri itu pun sirna perlahan-lahan.

"Aaaah...!" keluh Tio Bun Yang. "Aku haus sekali! air! Air...!"

Matanya mulai berkunang-kunang, kemudian dia terkulai. Di saat itulah mendadak muncul seseorang. Ketika melihat Tio Bun Yang, orang itu tampak tertegun.

"Bun Yang..." serunya tak tertahan, lalu membopongnya pergi.

"Si... siapa?" tanya Tio Bun Yang lemah. ”Aku... aku haus sekali! Aku... aku mau minum...."

Orang itu tidak menyahut, tapi langsung membopongnya dan dibawanya melesat pergi. Akhirnya Tio Bun Yang pingsan dalam bopongan orang itu

-oo0dw0oo-



Perlahan-lahan Tio Bun Yang membuka matanya. Ternyata ia telah siuman. Seketika ia meloncat bangun dengan mata terbelalak, karena mendapatkan dirinya berada di tempat yang amat indah.

Padahal ia masih ingat ketika dirinya kelelahan dan kehausan di Gurun Sih Ih, tiba-tiba muncul seseorang. Teringat akan hal itu, segeralah ia menoleh, dan dilihatnya seorang bertubuh tinggi besar duduk di bawah pohon sambil meneguk arak.

"Terimakasih atas pertolongan, Tuan!" ucapnya

"Ha ha ha!" Orang itu tertawa gelak. "Tidak bertemu beberapa tahun, engkau kok telah melupakan aku?"

"Siapa Tuan?" Tio Bun Yang menatapi dengan penuh perhatian.

"Ha ha ha!" Orang itu tertawa lagi. "Engkau berkepandaian tinggi, tapi pelupa!"

"Tuan...." Tio Bun Yang terus mengingat namun tidak bisa

ingat siapa penolongnya "Maaf Tuan, aku memang lupa!"

"Bun Yang!" Orang itu tersenyum. "Kita pernah bertanding di daerah Miauw. Engkau yang membebaskan kedua orang tua Cing Cing. sudah ingatkah engkau?"

"Hah?" Mulut Tio Bun Yang ternganga lalu "Paman Pahto! Paman Pahto...."

Betapa girangnya Tio Bun Yang. Ia langsung menghampirinya, lalu duduk di sisinya.

"Ha ha ha!" Orang itu memang Pahto. "Sudah ingatkah engkau sekarang?"

"Aku sudah ingat, Paman Pahto," sahut Bun Yang gembira. "Tak disangka kita bertemu di sini!"



"Kalau aku tidak kebetulan melihatmu, miungkin engkau akan mati di Gurun Sih Ih," ujar Pahto sambil tersenyum. "Engkau berkepandaian tinggi tapi tak berpengalaman di gurun pasir."

"Terimakasih atas pertolongan Paman!" ujar Tio Bun Yang sambil memberi hormat.

"Ha ha ha!" Pahto tertawa gelak. "Engkau masih tetap sopan seperti beberapa tahun lalu!Aku menangkap ketua suku Miauw dan isterinya, puterinya justru ke Tionggoan minta bantuan kepada ayahmu! Namun malah engkau yang muncul di daerah Miauw bersama Cing Cing itu!"

"Aku masih ingat." Tio Bun Yang tersenyum. ”Aku harus melewati tiga rintangan...."

"Engkau berhasil melewati tiga rintangan itu, kita pun bertanding. Aku kalah dan membebaskan kedua orang tua Cing Cing. Oh ya, gadis itu kelihatan mencintaimu lho!"

"Kini dia sudah bersuami." Tio Bun Yang memberitahukan.

"Eh?" Pahto tertegun. "Dari mana engkau tau dia sudah bersuami?"

"Beberapa bulan lalu, aku datang di daerah Miauw..." tutur Tio Bun Yang tentang itu dan menarnbahkan, "Maka aku tahu Cing Cing sudah bersuami."

"Oooh!" Pahto manggut-manggut. "Engkau sungguh berjiwa besar! Demi mengobati para ketua tujuh partai besar, engkau datang di daerah Miauw mencari rumput Tanduk Naga!"

„Tapi kemudian...." Tio Bun Yang menghela nafas panjang.

"Kenapa?" tanya Pahto sambil memandangnya "Ketika kami pulang ke Tionggoan, Goat Nio

Hal 64-65 ga ada wew



nyaris meloncat bangun. "Ini... inikah tempat misteri yang kucari?"

"Betul." Pahto mengangguk dan menjelaska "Tempat ini berada di tengah-tengah Gurun Si Ih. Bagi yang tidak tahu cuaca dan keadaan disini jangan harap bisa mencapai tempat ini."

"Oh?" Tio Bun Yang memandangnya seraya bertanya, "Kalau begitu, markas Kui Bin Pang berada di tempat ini?"

"Ya." Pahto manggut-manggut. "Markas itu berada di balik bukit, namun harus berhati-hati kalau kau mau ke sana, sebab di sana banyak jebakan."

"Paman Pahto...." Tio Bun Yang menatapnya dengan mata

tak berkedip. "Kok Paman tahu cara mencapai tempat ini?"

"Ha ha ha!" Pahto tertawa gelak. "Aku pun ingin mencari ketua Kui Bin Pang."

"Apa?" Air muka Tio Bun Yang berubal "Apakah Paman teman ketua Kui Bin Pang?"

"Ha ha ha!" Pahto tertawa gelak lagi. "Boleh dikatakan teman, tapi juga boleh dikatakan musuh."

"Maksud Paman?" Tio Bun Yang bingung.

"Tenang!" Pahto tersenyum. "Yang jelas kita tidak mungkin bermusuhan malah aku akan membantumu."

"Oh?" Tio Bun Yang berlega hati. "Terimi kasih, Paman!"

"Bun Yang!" Pahto menatapnya dalam-dalam. ”Beberapa tahun kita tidak bertemu, aku yakin kepandaianmu bertambah tinggi, maka tanganku pun jadi gatal nih."

"Paman...."  Tio  Bun  Yang  menggelengkan  kepala.  "Aku

harap Paman jangan mengajakku bertanding, karena aku sedang pusing!"



"Aku tahu itu." Pahto tertawa. "Tapi biar bagaimana pun kita harus bertanding sejenak."

"Tidak. Lebih baik aku mengaku kalah."

"Begini!" Pahto menunjuk sebuah batu yang cukup besar di hadapan mereka, yang jaraknya kira-kira empat lima depa. "Kita berdua duduk di sini, lalu mengerahkan lweekang untuk mengangkat batu itu. Siapa yang berhasil mengangkat lebih tinggi, berarti yang menang."

"Paman...." Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala. "Hatiku sedang kacau...."

"Bun Yang!" Pahto tampak tidak senang. "Kalau engkau tidak mau bertanding dengan menggunakan cara itu, pertanda engkau tidak menghargaiku."

"Paman...." Tio Bun Yang berpikir lama sekali, setelah itu

barulah mengangguk. "Baiklah. Mari kita bertanding dengan cara itu!"

"Bagus! Ha ha ha!" Pahto tertawa gelak. "Aku mulai lebih dulu."

"Silakan Paman!" sahut Tio Bun Yang.

Pahto mulai menghimpun lweekangnya, kemudian perlahan-lahan menjulurkan sepasang telapak tangannya ke depan, dan mendadak membentak keras.

"Naik!"

Sungguh menakjubkan karena tiba-tiba batu itu terangkat ke atas, dan makin lama makin tinggi lalu berhenti, pada ketinggian beberapa depa. Setelah itu, batu tersebut merosot ke bawah perlahan-lahan ke tempat semula.

"Sungguh hebat lweekang Paman!" ujar Bun Yang memuji. "Tidak bertemu beberapa tahun, lweekang Paman sudah bertambah tinggi.”



"Ha ha ha!" Pahto tertawa terbahak-bahak "Jangan memuji, aku pun tahu lweekangmu makin tinggi. Ayoh, sekarang giliranmu!"

"Ya, Paman." Tio Bun Yang mengangguk. Ia menarik nafas dalam-dalam mulai menghimpun Pan Yok Hian Thian Sin Kangnya, kemudian menjulurkan sepasang telapak tangan ke depan, dan mendadak membentak keras.

"Naik!"

Bukan main! Batu yang itu terangkat keatas dan makin lama makin naik, kemudian berhenti.

Sesungguhnya Tio Bun Yang masih mampu mengangkat batu itu lebih tinggi, namun ia tidak mau berbuat begitu. Setelah itu, batu tersebut mulai merosot ke bawah perlahan-lahan ke tempat mula.

"Hebat!" seru Pahto sambil menghela nafas panjang. "Aku tahu, engkau tidak mau mempermalukan aku."

"Paman!" Tio Bun Yang tersenyum. "Lweekang kita seimbang, jadi kita tidak usah bertanding lagi ?

"Ha ha ha!" Pahto tertawa gelak. "Kalau aku masih mengajakmu bertanding, berarti aku cari penyakit sendiri."

"Paman...."

"Bun Yang," ujar Pahto sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Sejak kita berpisah di daerah Miauw, aku kembali ke Gunung Himalaya untuk menemui guruku. Aku terus berlatih di sana dengan harapan suatu hari akan mengalahkanmu. Hari tak disangka, aku tetap terjungkal di tanganmu."

"Jangan berkata begitu, Paman!" Tio Bun Yang tersenyum. "Sesungguhnya kepandaian Paman sudah tinggi sekali. Kalau bertanding sungguh sungguh, aku pasti kalah."

”Justru akan mempermalukan diriku sendiri." Pahto menghela nafas panjang dan menambahkan "Selain



berkepandaian tinggi, engkau pun berhati besar. Kalau engkau berhati jahat, entah apa jadinya rimba persilatan."

"Oh ya!" Tio Bun Yang teringat sesuatu dan segera bertanya. "Ketika aku berada di Gurun Si ih aku melihat tempat ini. Namun kemudian sirna begitu saja. Kenapa bisa begitu?"

"Itu cuma merupakan pantulan cahaya malam hari." Pahto menjelaskan. "Tempat ini kelihatan berada di arah barat, tapi sesungguhnya tidak berada di sana. Justru berada di tengah-tengah Gurun Sih Ih."

"Oh?" Tio Bun Yang terbelalak.

"Itu adalah kegaiban alam," ujar Pahto di menambahkan, "Siapa pun sulit mendatangi tempat ini, karena di sekitar tempat ini sering terjadi badai dan angin pun terus berhembus kencang. Tapi... di waktu tertentu, badai dan angin kencang akan berhenti sejenak. Itulah kesempatan untuk menerobos ke mari."

"Oooh!" Tio Bun Yang manggut-manggut "Kok Paman tahu tentang itu?"

"Guruku yang memberitahukan," sahut Pahto sambil menggeleng-gelengkan kepala dan melanjutkan. "Pendiri Kui Bin Pang tidak berhati jahil bahkan sering menolong kaum pedagang suku-suku yang tinggal di sekitar daerah Gurun Sih Ih. Pada suatu hari, pendiri Kui Bin Pang menyelamatkan dua anak kecil, kemudian dijadikan muridnya...."

Tio  Bun  Yang  mendengarkan  dengan  penuh  perhatian.

Pahto menghela nafas panjang ia melanjutkan.

"Anak yang lebih besar itu berotak cerdas tapi sangat licik. Sedangkan yang kecil agak bodoh, tapi justru berhati bajik. Kedua anak itu kian harri kian bertambah besar dan kepandaian mereka pun bertambah tinggi, tapi yang kecil tetap di bawah tingkat yang besar. Guru mereka tahu akan



sifat mereka yang mencolok itu, maka secara diam-diam guru itu mengajarkan kepandaian ilmu setingkat tinggi kepada anak yang kecil, tapi... justru diketahui oleh anak yang besar."

"Lalu bagaimana?" tanya Tio Bun Yang tertarik.

"Setelah kedua anak itu dewasa, pada suatu hari pendiri Kui Bin Pang jatuh sakit. Di saat itulah pendiri ia menyerahkan sebuah kitab kepada Si Bungsu, kitab itu adalah Pck Kut Im Sat Im Keng (Kitab Pusaka Pelajaran Lweekang hawa Dingin Beracun)," jawab Pahto sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Di saat itulah muncul murid tertua, yang langsung membunuh pendiri Kui Bin Pang dan merebut kitab pusaka tersebut."

"Hah?" Tio Bun Yang terkejut bukan main. ”Bagaimana nasib Si Bungsu?" tanyanya.

"Untung dia berhasil meloloskan diri." Pahto menghela nafas panjang. "Si Bungsu langsung kabur ke Gunung Himalaya, kemudian berguru kepada seorang pertapa sakti di sana."

"Oooh!" Tio Bun Yang manggut-manggut. ”Bagaimana Paman tahu begitu jelas tentang itu?"

"karena Si Bungsu itu adalah guruku." Pahto Diberitahukan. "Sedangkan murid murtad itu adalah kakak seperguruan guruku atau Pek Kut Lojin. Dia pula yang mengangkat dirinya sebagai ketua Kui Bin Pang, lalu mulai melakukan berbagai kejahatan. Akan tetapi, mendadak tiada kabar beritanya. Hingga kini sudah hampir seratus tahun, kira-kira sebulan lalu, guruku memperoleh informasi, bahwa di Tionggoan telah muncul Kui Bin Pang, dan sedang menuju ke Gurun Si ih Maka, guruku menyuruhku ke mari."

"Kenapa beliau menyuruh Paman ke mari!”



"Untuk membasmi ketua Kui Bin Pang itu sebab guruku tahu bahwa ketua Kui Bin Pang pasti ke markas yang di tempat ini."

"Oooh!" Wajah Tio Bun Yang berseri, "Paman, kapan kita ke markas Kui Bin Pang itu?”

"Sekarang pun boleh."

"Kalau begitu, mari kita ke sana!"

"Baik." Pahto mengangguk, kemudian tersenyum. "Untung guruku telah memberitahukan mengenai semua jebakan yang ada di markas Kui Bin Pang itu, jadi kita tidak akan terjebak sana."

"Syukurlah!" ucap Tio Bun Yang.

Mereka berdua lalu meleset pergi menuju markas Kui Bin Pang, yang di belakang bukit. Dapat dibayangkan betapa gembiranya Tio Bun Yang. Di saat meleset ke sana, Pahto, menggunakan ginkang dan makin lama makin cepat. Ternyata ia ingin menguji ginkang Tio Bun Yang

Pemuda itu tersenyum dan terus mengikutinya, la tidak tertinggal setapak pun, sehingga membuat Pahto makin kagum kepadanya.

"Sungguh tinggi ginkangmu!" ujar Pahto sambil tertawa. "Ginkangku masih berada di bawah tingkat ginkangmu."

"Tidak juga." Tio Bun Yang tersenyum. "Melainkan Paman mengalah kepadaku."

"Bun Yang!" Pahto menghela nafas panjang. ”Engkau memang bersifat baik. Walau berkepandaian tinggi, namun selalu merendahkan diri. aku kagum dan salut kepadamu."

"Paman...." Tio Bun Yang cuma tersenyum, mereka berdua

terus meleset ke arah markas Kui Bin Pang menggunakan ginkang.



-oo0dw0oo-

Berselang beberapa saat kemudian, mereka berdua sudah tiba di suatu tempat di belakang bukit. Pahto langsung berhenti, dan begitu pula Tio Bun Yang.

"              Tuh!" Pahto menunjuk ke depan. "Bangunan .. itu adalah markas Kui Bin Pang yang dilengkapi dengan berbagai jebakan. Walau aku sendiri tahu semua jebakan di sana, tapi kita harus tetap berhati-hati!"

"Ya." Tio Bun Yang mengangguk, lalu memandang ke arah bangunan itu. "Paman, ada puluhan anggota Kui Bin Pang berada di sana”

"Kita harus membantai mereka." sahut Pahto

"Paman!" Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala. "Mereka tidak perlu kita bantai, tapi kita cukup memusnahkan kepandaian mereka.”

"Bun Yang!" Pahto menghela nafas panjang "Engkau masih tetap seperti dulu, tidak tega membunuh."

"Yaaah!" Tio Bun Yang menarik nafas dalam dalam. "Belum tentu mereka jahat semua, maka alangkah baiknya kita melepaskan mereka."

"Baiklah." Pahto mengangguk. "Mari kita kesana!"

Mereka berdua segera meleset ke sana, kemudian melayang turun di hadapan para anggota Kui Bin Pang.

"Haaah...?" Betapa terkejutnya para anggota Kui Bin Pang. Bahkan salah seorang dari mereka langsung membentak, "Siapa kalian? Sungguh besar nyali kalian menerobos ke mari!"

"Ha ha ha!" Pahto tertawa gelak. "Kau adalah anggota Kui Bin Pang, kalau aku tidak menghargai siauw hiap (Pendekar Kecil) ini, aku sudah membantai kalian!"



"Siapa siauw hiap ini?" tanya orang itu.

"Dia adalah Tio Bun Yang." Pahto memberitahukan. "Kekasihnya bernama Siang Koan Goat Nio, ditangkap oleh ketua kalian. Maka, dia ke mari mencari kekasihnya itu."

Para anggota Kui Bin Pang itu saling memandang, kemudian salah seorang dari mereka berkata,

"Memang benar ketua kami menculik nona itu. Tapi... alangkah baiknya kalian segera pergi, kalau muncul Ngo Sat Kui, kalian pasti mati!"

"Bagus, bagus." Pahto tertawa gelak. "Dengan adanya ucapanmu itu, maka aku pun mengampuni kalian. Cepatlah kalian meninggalkan tempat ini!"

"Kami...." Para anggota Kui Bin Pang tampak ragu. "Ketua

pasti akan membunuh kami...."

"Kalian tidak usah khawatir, sebab kami ke sini justru ingin membasminya." ujar Pahto meluaskan. "Sekarang aku menyatakan Kui Bin Pang dibubarkan."

Ketegasan Pahto membuat mereka tertegun, semuanya saling memandang dengan penuh keheranan, lalu salah seorang dari mereka bertanya,

"Berdasarkan hak apa engkau berani menegaskan begitu?"

"Berdasarkan ini," sahut Pahto sambil mem-perlihatkan sebuah medali.

Begitu melihat medali itu, mereka langsung menjatuhkan diri berlutut.

"Kami memberi hormat kepada Ketua!" seru nrka serentak.

"Bagus, bagus." Pahto tertawa gelak. "Ternyata kalian masih mengenali medali ini! Nah sekarang kuperintahkan, kalian segera meninggalkan tempat ini!"



"Ya, Ketua," sahut mereka sambil bangkit berdiri. "Terimakasih!"

Bersamaan itu, muncullah lima orang, yaitu Ngo Sat Kui. Mereka tampak terkejut ketika melihat Tio Bun Yang bersama seseorang, dan Toa Sat Kui segera membentak.

"Tio Bun Yang, sungguh bernyali engkau kemari! Tempat ini merupakan kuburan bagimu!”

"Di mana Goat Nio? Cepat lepaskan dia” sahut Tio Bun Yang.

"Ha ha ha!" Toa Sat Kui tertawa gelak. "Kekasihmu sedang bersenang-senang dengan ketua Ha ha ha...!"

"Apa?" Wajah Tio Bun Yang pucat pias.

"Ngo Sat Kui!" bentak Pahto sambil memperlihatkan medali yang di tangannya. ”Kalian kenal medali ini?"

Begitu memandang medali itu, badan mereka tampak bergetar, kemudian mereka berlima saling memandang.

"Ha ha ha!" Mendadak Toa Sat Kui tertawa gelak. "Mau apa engkau memperlihatkan medali rongsokan itu?"

"Hah?" Wajah Pahto berubah hebat. "Engkau berani menghina medali ini? Engkau memang harus dihukum!"

"Ha ha ha!" Toa Sat Kui tertawa lagi. "Kini Kui Bin Pang sudah mempunyai ketua, maka medali itu tiada gunanya!"

"Oh?" Pahto tertawa dingin. "Jadi kalian berlima berani melawan medali peninggalan pendiri Kui Bin Pang ini?"

"Bahkan kami pun akan membunuh kalian berdua!" sahut Toa Sat Kui, lalu perintahkan para anggotanya menyerang Pahto dan Tio Bun Yang. ”Cepatlah kalian serang mereka!"

Akan tetapi, para anggotanya diam saja.



"Kalian berani membangkang perintahku?" bentak Toa Sat Kui gusar. "Kalian tidak takut dihukum mati?"

"Ha ha ha!" Pahto tertawa seraya berseru, ”Para anggota Kui Bin Pang, cepatlah kalian lepaskan kedok setan itu dan segera meninggalkan tempat ini!"

"Ya!" sahut para anggota Kui Bin Pang itu, lalu segera melepaskan kedok setan masing-masing dan cepat-cepat meninggalkan tempat tersebut.

Toa Sat Kui gusar bukan kepalang melihat tindakan mereka.

"Mari kita serang dia!" bentaknya.

Seketika juga Ngo Sat Kui menyerang Pahto, Tio Bun Yang langsung menyingkir. Ia tidak mau membantu Pahto, sebab takut akan menyinggung perasaannya.

"Ha ha ha!" Pahto tertawa gelak sambil berkelit, lalu balas menyerang.

Terjadilah pertarungan yang seru dan sengit Ngo Sat Kui menggunakan semacam formasi menyerang Pahto, sehingga membuat Pahto tampak kewalahan dan terdesak.

Tio Bun Yang mengerutkan kening menyaksikan keadaan Pahto. Ia ingin turun tangan membantunya, namun khawatir akan menyinggung perasaannya. Akan tetapi, kalau dia tinggal diam Pahto akan celaka. Ia cemas sekali, namun mendadak wajahnya berseri sekaligus berseru.

"Melangkah ke kiri menggeser ke belakang Maju dan meloncat ke atas!" Ternyata Tio Bun Yang memberi petunjuk kepada Pahto secara diam-diam. Itu sungguh menggirangkan Pahto membuatnya tertegun, sebab tidak menyangka Tio Bun Yang mengerti tentang formasi itu.

Segeralah ia mengikuti petunjuk itu, lalu tampak pak formasi tersebut mulai kacau.



"Ha ha ha! Bun Yang, engkau sungguh hebat engkau!" seru Pahto sekaligus menyerang Ngo Sat Kui.

Puluhan jurus kemudian, dua Setan Algojo telah terluka. Di saat itulah Toa Sat Kui melesat ke dalam bangunan itu berseru.

"Kalian berdua, tahan dia! Aku ke dalam melapor kepada ketua!"

"Mau kabur ke mana!" bentak Tio Bun Yang.

"Bun Yang, jangan mengejarnya!" seru Pahto lan menambahkan, "Banyak jebakan di sana!"

Tio Bun Yang tidak jadi mengejar Toa Sat kui, dan tetap berdiri di tempat. Sedangkan Pahto terus bertarung melawan kedua Setan Algojo.

Sementara itu, Kwee Teng An atau ketua Kui Bun Pang justru sedang duduk melamun di ruang tengah. Mendadak muncul Toa Sat Kui, yang dengan nafas terengah-engah langsung memberi hormat dan melapor.

"Ketua! Para anggota telah meninggalkan tempat ini. Saudara-saudaraku sedang bertarung dengan seseorang yang memegang medali milik pendiri Kui Bin Pang."

"Apa?" Kwee Teng An meloncat bangun. "Siapa orang itu?"

"Aku tidak kenal," sahut Toa Sat Kui dan menambahkan, "Dia datang bersama Tio Bun Yang, dan telah melukai kedua saudaraku."

"Apa?" Kwee Teng An tampak terkejut kemudian tertawa dingin. "Ha ha ha! Dia datang mau menolong Siang Koan Goat Nio? hm! Jangan bermimpi!"

"Ketua...!"



Sekonyong-konyong Kwee Teng An mengerahkan tangannya, dan Toa Sat Kui yang tidak berjaga-jaga itu terpukul dadanya.

"Aaaakh...!" jeritnya dan tubuhnya terpental ke belakang. "Ketua...."
"Ha ha ha!" Kwee Teng An tertawa terbahak bahak. "Kalian berlima sudah tiada gunanya bagi ku! Ha ha ha...!"

"Ketua," hatimu sungguh... sungguh kejam” Badan Toa Sat Kui mulai berasap dan tak lama kemudian mulai mencair.

"Ha ha ha!" Kwee Teng An terus tertawa kemudian meleset ke ruang bawah.

Siang Koan Goat Nio duduk bersandar dinding, kelihatannya seperti kehilangan sukma

Pintu ruang itu terbuka dan Kwee Teng berjalan masuk sambil menatapnya, lalu berkata menggunakan ilmu Toh Hun Tay Hoat.

"Goat Nio, engkau harus ikut aku pergi!" "

Ya." Siang Koan Goat Nio mengangguk.

"Bagus! Bagus! Ha ha ha!" Kwee Teng tertawa gelak sambil melepaskan kedok setan kemudian menarik Siang Koan Goat Nio meninggalkan ruang bawah itu.

Berselang beberapa saat kemudian setelah Kwee Teng An membawa Siang Koan Goat Nio pergi, muncullah Pahto dan Tio Bun Yang.

"Eeeh?" Pahto mengerutkan kening. "Ke kekasihmu tidak ada?"

"Celaka!" seru Tio Bun Yang dengan wajah pucat. "Jangan-jangan telah dibawa pergi ketua Kui Bin Pang!"



"Ngm!" Pahto manggut-manggut. "Jie Sat Kui memberitahukan kepada kita, bahwa Siang Koan Goat Nio dikurung di sini, tapi sekarang tidak ada berarti telah dibawa pergi oleh ketua Kui Bin Pang"

"Aaaah...!" keluh Tio Bun Yang. "Kok kita tidak melihat mereka?"

"Tentunya mereka melalui jalan lain, maka kita tidak berpapasan dengan mereka," ujar Pahto, ia kemudian teringat sesuatu. "Oh ya, kita harus ke ruang lain menyelamatkan Toa Hu Hoat."

"Jie Sat Kui memberitahukan bahwa Toa Hu Hoat dikurung di ruang belakang. Mari kita ke luar!" sahut Tio Bun Yang.

Mereka naik ke atas, kemudian menuju ruang belakang.

Pahto membuka pintu itu, tampak Toa Hu Hoat di dalamnya.

”Saudara Kiam Heng!" panggil Tio Bun Yang.

"Saudara Bun Yang!" sahut Yo Kiam Heng lemah dan memberitahukan. "Nona Siang Koan dikurung di ruang bawah."

”Dia tidak ada di sana," ujar Tio Bun Yang sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Telah dibawa pergi oleh ketua Kui Bin Pang."

'Oh?" Yo Kiam Heng tertegun, kemudian menghela nafas panjang. "Saudara Bun Yang, Tiat Him telah tewas."

”Apa?" Tio Bun Yang terbelalak. "Dia telah tewas ?"

Yo Kiam Heng mengangguk. "Dia tewas karena menolong Nona Siang Koan...."

Yo Kiam Heng menutur tentang kejadian dan Tio Bun Yang mendengar dengan wajah murung.



"Kalian berdua harus segera meninggall tempat ini," ujar Pahto memberitahukan. "Sebab aku akan menghancurkan semua jebakan yang ada di sini."

"Paman...." Tio Bun Yang merasa berat berpisah dengan

Pahto.

"Ha ha ha!" Pahto tertawa gelak. "Bun Yang kita akan berjumpa lagi kelak. Percayalah!"

"Oh ya!" Tio Bun Yang memperkenalkan mereka. "Saudara Kiam Heng, paman ini bernama Pahto."

"Paman!" panggil Yo Kiam Heng sekali memperkenalkan dirinya. "Namaku Yo Kiam Heng kakekku adalah Pelindung Perkumpulan Kui Pang."

"Ngmm!" Pahto manggut-manggut sambil memperlihatkan medali itu.

Begitu melihat medali tersebut, Yo Kiam Heng langsung berlutut memberi hormat.

"Ketua...."

"Ha ha ha!" Pahto tertawa. "Aku bukan ketua Kui Bin Pang, cepatlah engkau bangun!"

"Terimakasih!" Yo Kiam Heng bangkit berdiri "Guruku adalah adik seperguruan Pek Kut Lojin." Pahto memberitahukan. Yo Kiam Him terkejut, namun Pahto tersenyum dan berkata, ”Engkau panggil aku paman saja!"

"Ya, Paman." Yo Kiam Heng mengangguk.

"Bun  Yang....."  Pahto  memberitahukan  bagaimana  cara

meninggalkan tempat misteri itu. "Kita berpisah di sini, kelak kita akan berjumpa kembali"

"Paman!" Wajah Tio Bun Yang langsung berwajah murung.



"Oh ya!" Pahto memandangnya seraya berkata. "Aku yakin ketua Kui Bin Pang kembali ke Tionggoan, jadi kalian berdua segera ke Tionggoan saja!"

"Ya." Tio Bun Yang mengangguk. "Terima kasiih atas petunjuk Paman!"

"Cepatlah kalian tinggalkan tempat ini!" desak Pahto. "Sebab aku harus segera menghancurkan lima jebakan yang ada di dalam bangunan ini."

"Paman," ucap Tio Bun Yang. "Sampai jumpa”.

"Sampai jumpa, Bun Yang!" sahut Pahto sekaligus menghiburnya. "Jangan cemas, engkau pun akan berkumpul kembali dengan kekasihmu"

"Terimakasih, Paman!" ucap Tio Bun Yang, lalu menarik Yo Kiam Heng meninggalkan bangunan itu.

-oo0dw0oo-

Tio Bun Yang dan Yo Kiam Heng duduk berhadapan di dalam kedai teh. Kini mereka berdua sudah berada di Giok Bun Kwan ( Perbatasan).

"Apa rencanamu sekarang, Saudara Bun Yang” tanya Yo Kiam Heng sambil memandangnya,

"Engkau?" Tio Bun Yang balik bertanya.

"Saudara Bun Yang," jawab Yo Kiam heng sambil menghela nafas panjang. "Aku teringat kepada Lam Kiong Soat Lan."

"Begini..." ujar Tio Bun Yang mengusul "Lebih baik kita ke markas pusat Kay Pang setelah itu barulah engkau berangkat ke Tayli”

"Ya." Yo Kiam Heng manggut-manggut, namun mendadak berkeluh. "Aaaah! Sungguh mengenaskan cara kematian Tiat Him, aku... harus membalaskan dendamnya!"



"Saudara Kiam heng!" Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala. "Engkau bukan lawannya, jangan memikirkan soal balas dendam!!

"Tapi Tiat Him...." Yo Kiam Heng menghela nafas panjang.

"Dia... dia mati demi menolong Nona Siang Koan."

"Aku tahu itu," ujar Tio Bun Yang berjanji "Aku pasti menuntut balas kepada ketua Kui Pang."

"Aku... aku harus membunuh ketua Kui Bin Pang dengan tanganku sendiri!" Yo Kiam Heng berkertak gigi. "Aku akan terus berlatih di Tayli”

"Saudara              Kiam      Heng...."              Tio          Bun        Yang      menggeleng-

gelengkan kepala. "Aku bingung sekali."

"Kenapa bingung?"

"Entah dibawa ke mana Goat Nio, aku tidak tahu harus ke mana mencari mereka! Aaaah! aku...."

"Menurutku, ketua Kui Bin Pang pasti pergi ke Tionggoan. Mudah-mudahan kita akan bertemu dia di sana!"

"Mudah-mudahan!" sahut Tio Bun Yang. "Ayoh, mari kita melanjutkan perjalanan!"

"Baik." Yo Kiam Heng mengangguk.

Mereka berdua segera melanjutkan perjalanan menuju markas pusat Kay Pang. Dalam perjalanan ini, Tio Bun Yang sering bertanya kepada orang tentang Siang Koan Goat Nio yang dibawa pergi oleh ketua Kui Bin Pang. Akan tetapi, tiada seorang pun pernah melihat mereka.

"Aaaah...!" keluh Tio Bun Yang dengan wajah murung. "Entah dibawa ke mana Goat Nio?"

"Tenanglah, Saudara Bun Yang!" ujar Yo kiam Heng menghiburnya. "Aku yakin engkau pasti akan bertemu Nona Siang Koan."



"Tapi...." Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala dan

matanya mulai bersimbah air. ”Goat Nio...."

Tujuh delapan hari kemudian, mereka berdua baru tiba di markas pusat Kay Pang. Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong memandang mereka dengan penuh keheranan, karena mereka tidak menyangka kalau Tio Bun Yang akan muncul bersama Yo Kiam Heng.

"Kakek, Kakek Gouw!" panggil Tio Bun Yang

"Lo cianpwee!" panggil Yo Kiam Heng sambil memberi hormat.

"Kalian duduklah!" sahut Lim Peng Hang "Bun Yang, engkau kok ke mari bersama Kiam Heng? Di mana Goat Nio?"

"Kakek...." Tio Bun Yang menutur tentang semua kejadian

itu dan menambahkan dengan wajah murung. "Tapi aku tetap tidak bertemu Goat Nio."

"Bun Yang...." Lim Peng Hang menghela nafas panjang.

"Engkau masih mujur," ujar Gouw Han Tionj "Kalau tidak muncul Pahto, engkau pasti mati di Gurun Sih Ih."

"Aaaah...!" keluh Tio Bun Yang. "Lebih baik aku mati di Gurun Si Ih...."

"Bun Yang!" bentak Lim Peng Hang bernada gusar. "Percuma engkau jadi lelaki! Menghadapi sedikit percobaan saja kau sudah begini macam. Tahukah engkau bagaimana pengalaman ayah mu?"

"Aku tahu...." Tio Bun Yang menundukkan kepala. "Kakek,

maafkan aku!"

"Yaaah!" Lim Peng Hang mengehela nafas "Kakek tahu bagaimana perasaanmu, namun engkau harus tabah!"

"Ya, Kakek." Tio Bun Yang mengangguk.



"Kasihan Kwan Tiat Him!" ujar Lim Peng Hang sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Dia mati demi menepati janjinya."

"Padahal aku sudah memperingatkannya, tapi dia tidak mau mendengar sama sekali," ujar Yo Kiam Heng dengan air mata berlinang. "Oleh karena itu, aku harus menuntut balas!"

"Menuntut balas?" Gouw Han Tiong menatapnya. "Dengan apa engkau membalaskan dendamnya?"

"Aku...."  Yo  Kiam  Heng  menggeleng-gelengkan  kepala.

"Kalau pun aku harus terus menerus berlatih, belum tentu dapat melawan ketua Kui Bin Pang itu."

"Engkau tahu siapa dia?" tanya Gouw Han Tiong.

"Tidak tahu." Yo Kiam Heng menggelengkan kepala. "Kepandaiannya tinggi sekali, terutama ilmu Pek Kut Im Sat Kangnya."

"Jadi...." Gouw Han Tiong mengerutkan kening,. "Kwan Tiat

Him terkena ilmu pukulan itu, maka badannya mencair?"

"Ya." Yo Kiam Heng mengangguk. "Aaaah, mati harus bagaimana memecahkan ilmu itu? entah ilmu itu mengandung racun pula."

"Bun Yang!" Lim Peng Hang menatapnya seraya berpesan, "Kalau kelak engkau berhadapan dengan ketua Kui Bin Pang itu, haruslah berhati-hati!"

"Ya, Kakek." Tio Bun Yang mengangguk.

"Kiam Heng!" Lim Peng Hang memandangnya. "Apa rencanamu sekarang?"

"Aku... aku..." jawab Yo Kiam Heng dengan wajah agak kemerah-merahan. "Aku ingin ke Tayli

"Ke Tayli?" Lim Peng Hang tertegun.



"Kakek!" Tio Bun Yang memberitahukan. "Dia ke Tayli ingin menemui Lam Kiong Soat Lan”

"Oooh!" Lim Peng Hang manggut-manggut sambil tersenyum. "Kiam Heng ternyata engkau jatuh hati kepada gadis itu!"

"Aku...." Yo Kiam Heng menundukkan kepala "Dia memang

cantik dan lincah. Engkau sangat cocok menjadi pasangannya." ujar Lim Peng Hang dan bertanya, "Kapan engkau akan berangkat ke Tayli?"

"Besok," sahut Yo Kiam Heng.

"Ngmm!" Lim Peng Hang manggut-manggu "Tentunya kami tidak akan menahanmu di sini silakan berangkat!"

"Terimakasih, Lo cianpwee!" ucap Yo Kiam Heng.

Keesokan harinya, berangkatlah Yo Kiam Heng ke Tayli. Sedangkan Tio Bun Yang tetap tinggal di markas pusat Kay Pang.

-oo0dw0oo-


Bagian ke enam puluh empat Jatuh ke jurang

Tidak salah. Kwee Teng An yang membawa pergi iSang Koan Goat Nio, memang menuju Tionggoan. Kini mereka telah tiba di suatu tempat dekat jurang di Gunung Heng San. Tempat itu dinamai Ban Hoa Ngai (Tebing Selaksa Bunga). Karena di sana banyak bunga beraneka warna.

"Sungguh indah Ban Hoa Ngai ini!" ujar Kwee Teng an. "Goat Nio, engkau menyukai tempat ini?”



"Entahlah." Siang Koan Goat Nio menggelengkan kepala sambil memandang hampa pada tempat tersebut.

"Goat Nio...." Kwee Teng An menatapnya dengan mesra.

"Terus terang, aku sungguh mencintaimu!"

"Aku tidak tahu." Siang Koan Goat Nio mengalengkan kepala.

"Goat Nio...." Kwee Teng An ingin mengatakan sesuatu,

namun mendadak keningnya tampak berkerut, karena mendengar suara langkah yang halus sekali. Segeralah ia menolehkan kepalanya, tampak seorang tua pincang berdiri di belakangan sambil menyengir.

"Asyiiik!" ujar orang tua pincang itu. "Berdua di tempat yang indah seperti ini memang mengasyikkan."

"Siapa engkau?" tanya Kwee Teng An bernada tidak senang.

"Anak muda!" Orang tua pincang menggeleng gelengkan kepala. "Pertanyaanmu sungguh kasar Apakah karena aku telah mengganggumu?"

"Sudah tahu kenapa belum mau pergi?" sahut Kwee Teng An ketus. "Ayoh, cepatlah pergi!"

”Ha ha ha! Orang tua pincang itu tertawa

"Eh?" Orang tua pincang terbelalak. "Anak muda, kenapa engkau tak tahu sopan santun Aku sudah tua, namun engkau masih membent bentakku?"

"Hm!" dengus Kwee Teng An. "Kalau engkau tidak mau pergi, jangan katakan aku kejam!"

"Oh, ya?" Orang tua pincang tertawa gelak "Ha ha ha! Anak muda, sikapmu sungguh sombong!"

"Jadi engkau masih belum mau pergi?" Wajah Kwee Teng An mulai berubah kehijau-hijauan



"Ha ha ha!" Orang tua pincang tertawa terbahak-bahak. "Engkau cukup tampan, tapi kenapa begitu kasar dan kurang ajar?"

Kwee Teng An tidak menyahut, tapi sepasang matanya terus memelototinya.

"Gadis itu cantik sekali, tapi...." Orang pincang menatap

Siang Koan Goat Nio dengan penuh perhatian. "Heran? Kenapa seperti tak bersukma? Hei! Gadis cantik, siapa engkau?'

"Aku...."               Siang     Koan      Goat      Nio         menggeleng-gelengkan

kepala. "Entahlah."

"Hah?" orang tua pincang terbeliak. "Gadis cantik, engkau...."

"Orang tua!" bentak Kwee Teng An dingin. “Kalau engkau masih tetap tidak mau pergi, berarti engkau cari penyakit!"

"Ha ha ha!" Orang tua pincang tertawa. ”Aku memang ingin cari penyakit di sini!”

"Baik. Sambutlah seranganku!" seru Kwee Teng An sambil menyerangnya.

”Wuah, hebat sekali kepandaianmu!" sahut orang tua pincang sekaligus berkelit.

"Hmm!" dengus Kwee Teng An dingin. "Lumayan juga kepandaianmu, tua bangka! Coba sambut lagi seranganku ini!"

"Pasti kusambut! Ayoh, cepatlah serang aku!"

Kwee Teng An tidak menyahut, tapi langsung menyerang. Orang tua pincang cepat-cepat berkelit dan balas menyerangnya. Puluhan jurus kemudian, orang tua pincang semakin terkejut, karena tidak menyangka kalau pemuda di hadapannya itu berkepandaian begitu tinggi



”Tua bangka!" bentak Kwee Teng An sambil menghentikan serangannya.

"Ha ha ha!" Orang tua pincang menarik nafas ”Engkau tidak berani menyerangku lagi?"
”Tua bangka!" sahut Kwee Teng An sambil mengerahkan Pek Kut Im Sat Kang. "Kini aku akan mencabut nyawamu dengan Pek Kut Im Ciang!"

"Hah? Apa?" Wajah orang tua pincang berubah pucat dan mendadak ia meleset pergi laksana kilat

"Ha ha ha!" Kwee Teng An tertawa. "Tua bangka! Untung engkau cepat kabur! Kalau tidak engkau pasti mati di tanganku!"

Siapa orang tua pincang itu? Ternyata guru Sie Keng Hauw, yang kebetulan melewati tempat itu. Lantaran melihat Kwee Teng An Siang Koan Goat Nio, dan mengira bahwa mereka berdua adalah sepasang kekasih, maka ia ingin menggoda. Akhirnya ia malah bertarung den Kwee Teng An. Ketika pemuda itu menyebut Kut Im Sat Ciang, tahulah orang tua pincang siapa pemuda itu, maka ia buru-buru kabur, karena tahu akan kelihayan ilmu tersebut.

Sementara Siang Koan Goat Nio tetap berdiri mematung di tempat, Kwee Teng An mendekatinya sambil tersenyum lembut.

"Goat Nio," ujarnya. "Aku telah mengi orang gila itu. Dia kemari ingin mengganggu kita

"Oh?" Siang Koan Goat Nio tidak memperlihatkan reaksi apa pun.

"Goat Nio!" Kwee Te An memandangi: "Mari kita duduk!"

Siang Goat Nio mengangguk lalu duduk. Teng An pun duduk di hadapannya, setelah itu Teng An terus menatapnya tajam sambil mengerahkan ilmu Toh Hun Tay Hoat.



"Goat Nio!"

"Ya."

"Engkau harus menuruti semua perintahku!"

"Ya."

"Sekarang... engkau harus melepaskan pakaianmu. Cepaat!"

"Ya." Siang Koan Goat Nio mulai melepaskan pakaiannya, tapi mendadak ia kelihatan tersentak. ”Tidak! Aku tidak boleh melepaskan pakaianku di hadapanmu, tidak boleh!"

"Boleh! Engkau harus cepat melepaskan pakaianmu!" ujar Kwee Teng An, suaranya mengandung suatu kekuatan yang tak dapat dilawan.

"Ya." Siang Koan Goat Nio mengangguk, Namun mendadak dalam batinnya timbul perlawanan. "Tidak! Tidak!"

"Goat Nio!" Kwe Teng An terus menatapnya tajam. "Engkau harus tidur bersamaku!"

"Aku...." Mendadak Siang Koan Goat Nio bangkit berdiri.

"Tidak! Tidak!"

"Goat Nio!" Kwee Teng An juga bangkit berdiri dan terus mengerahkan Toh Hun Tay Hoat "Engkau harus menuruti semua perintahku! cepat buka pakaianmu!"

"Aku...." Siang Koan Goat Nio termundur-bhimlur. "Aku...."

"Jangan takut, aku sangat mencintaimu! Mari kita bersenang-senang!" Kwee Teng An mendekatinya.


"Tidak!" Siang Koan Goat Nio terus melangkah mundur, sama sekali tidak menyadari bahwa di belakangnya ada jurang yang menganga



"Goat Nio!" Kwee Teng An tampak penasaran sekali, Ia memang sudah berniat memperkosanya di tempat tersebut. "Goat Nio...."

Mendadak pemuda itu merentangkan sepasang tangannya, kemudian menerjang ke arah Siang Koan Goat Nio dengan maksud memeluknya. Akan tetapi, mendadak gadis itu meloncat ke belakang.

"Haaah?" Betapa terkejutnya Kwee Teng karena loncatan itu justru ke arah mulut jurang "Goat Nio...."

"Aaaakh...!" jerit Siang Koan Goat Nio badannya terus merosot ke bawah jurang yang dalamnya ribuan kaki.

"Goat Nio! Goat Nio...!" teriak Kwee Teng An sambil memandang ke dalam jurang. Badan Siang Koan Goat Nio makin kecil, akhirnya lenyap dari pandangannya.

Kwee Teng An berdiri termangu-mangu dipinggir jurang itu, kemudian menggeleng-gelengkan kepala sambil bergumam.

"Sungguh sayang sekali! Aku belum menikmati tubuhnya dia sudah keburu jatuh ke jurang Tapi aku merasa puas sekali karena Tio Bun Yang sudah kehilangan dirinya! Ha ha ha...!"

Kwee Teng An tertawa gelak, sejurus kemudian barulah berhenti dan mulai berpikir. Kini Kui Bin Pang telah bubar, lagi pula percuma jadi ketua Kui Bin Pang! Kepandaianku sudah tinggi sekali seharusnya aku memanfaatkan kepandaiianku untuk hidup senang. Betul! Betul! Aku harus ke ibu kota, siapa tahu akan hidup senang dan mewah di sana. Setelah berpikir sampai ke sana, maka ia mengambil keputusan untuk berangkat ke ibu kota.

"Ha ha ha!" Kwee Teng An tertawa terbahak-bahak, kemudian meleset pergi.

Di saat itulah muncul seorang tua pincang dari balik pohon dengan kening berkerut-kerut, ternyata apa yang terjadi tadi tidak lewat dari matanya.



Orang tua pincang itu memang cerdik. Setelah melesat pergi, mendadak ia kembali lagi lalu sembunyi di belakang pohon. Karena Kwee Teng An sedang mengerahkan ilmu Toh Hun Tay Hoat, maka tidak tahu akan keberadaan orang tua pincang itu.

Betapa terkejutnya orang tua pincang itu ketika melihat Siang Koan Goat Nio meloncat ke belakang, tepatnya ke mulut jurang itu, sehingga membuatnya nyaris menjerit kaget.

Setelah Kwee Teng An meleset pergi, barulah orang tua pincang itu muncul. Ia berdiri di pingir jurang itu sambil memandang ke bawah.

"Aaaah...!" Orang tua pincang itu menghela nafas panjang. "Sungguh kasihan gadis itu! Tidak mungkin bisa hidup...."

gumamnya sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Padahal pemuda itu telah menggunakan Toh Hun Tay Hoat, tapi batin gadis itu masih bisa melawan ilmu sesat tersebut! Heran? Sebetulnya siapa gadis itu?"

Lama sekali orang tua pincang itu termangu mangu di pinggir jurang, setelah itu menggeleng gelengkan kepala lagi dan melesat pergi.

-oo0dw0oo-

Yo Kiam Heng yang berangkat ke Tayli telah tiba di kerajaan tersebut, dan langsung ke istana Tentunya pengawal kerajaan tidak memperbolehkannya masuk.

"Maaf!" ucap Yo Kiam Heng dan memberitahukan. "Aku ke mari ingin menemui Nona Lam Kiong."

"Engkau siapa dan ada urusan apa ingin menemui Nona Lam Kiong?" tanya salah seorang pengawal sambil menatapnya.

"Namaku Yo Kiam Heng, teman Nona Lan Kiong."



"Oooh!" Pengawal itu segera memberi hormat. Maaf, aku tidak tahu kedatangan Yo tayhiap!"

"Eh?" Yo Kiam Heng terbelalak.

"Yo tayhiap!" Pengawal itu tersenyum. "Nona lam Kiong telah berpesan kepada kami, apabila Yo tayhiap ke mari, kami harus mempersilahkan masuk."

"Oh?" Wajah Yo Kiam Heng berseri. "Terima-kasih!"

"Yo tayhiap," bisik pengawal itu. "Beberapa hari ini Nona Lam Kiong terus melamun, mungkin memikirkan Yo tayhiap. Oleh karena itu, Yo Hiap harus membuat kejutan!"

"Kejutan apa?" Yo Kiam Heng heran.

"Nona Lam Kiong sering duduk seorang diri di halaman, Yo tayhiap masuk saja!" ujar pengawal itu melanjutkan, "Kemunculan Yo tayhiap yang mendadak, tentu akan mengejutkannya."

"Oooh!" Yo Kiam Heng manggut-manggut lalu bertanya, "Di mana halaman itu?"

"Dari sini terus berjalan ke dalam. Di halaman itu terdapat taman bunga." Pengawal itu memberitahukan. "Tadi Nona Lam Kiong duduk di sana”

"Terimakasih!" ucap Yo Kiam Heng lalu berjalan ke dalam.

la tak begitu tergesa-gesa, namun tak lama setelah sampai di taman bunga itu. Dilihatnya seorang gadis cantik duduk termenung di situ, yang tidak lain Lam Kiong Soat Lan.

"Adik Soat Lan! Adik Soat Lan!" panggil Kiam Heng sambil mendekatinya dengan wajah berseri-seri.

"Haa?" Lam Kiong Soat Lan terkejut cepat-cepat menoleh. Ketika melihat Yo Kiam Heng, ia justru mengira bahwa matanya telah salah lihat. Maka, ia mengucek-ucek matai "Kakak Kiam Heng? Kakak Kiam Heng...."



"Adik Soat Lan!" Yo Kiam Heng berdiri hadapannya, sekaligus memandangnya dengan mata berbinar-binar. "Adik Soat Lan...."

"Kakak Kiam Heng!" seru Lam Kiong Soat Lan girang sambil meloncat bangun. "Aku... bukan dalam mimpi?"

"Adik Soat Lan," ujar Yo Kiam Heng sambil tersenyum lembut. "Aku telah berdiri di hadapanmu, bagaimana mungkin dalam mimpi?"

"Kakak  Kiam      Heng...."              Lam        Kiong     Soat       Lan         langsung

mendekap di dadanya. "Kakak Kiam Heng...."

"Adik Soat Lan...." Yo Kiam Heng membelainya dengan

penuh kasih sayang. "Aku kemari menengokmu, engkau girang?"

"Aku... aku girang sekali." Lam Kiong Soat Lan terisak-isak saking girangnya. Kemunculan Yo Kiam Heng yang mendadak itu memang merupakan suatu kejutan yang menggembirakan

"Soat Lan!" Tiba-tiba terdengar suara memanggilnya, kemudian muncul Toan Beng Kiat dan Bokyong Sian Hoa. "Soat Lan!"

"Aku di sini." sahut Lam Kiong Soat Lan dengan suara rendah.

Toan Beng Kiat dan Bokyong Sian Hoa langsung ke taman bunga itu. Begitu melihat Lam Kiong Soat Lan berpeluk-pelukan dengan seorang pemuda, terbelalaklah mereka.

"Soat Lan!" panggil Toan Beng Kiat .

"Beng Kiat, dia...." sahut Lam Kiong Soat Lan.

Di saat bersamaan, Yo Kiam Heng menolehkan kepalanya sambil tersenym.

"Saudara Kiam Heng!" seru Toan Beng Kiat tertahan. "Engkau...."



Yo Kiam Heng melepaskan pelukannya, kemudian menghampiri Toan Beng Kiat sambil memberi hormat.

"Saudara Beng Kiat, kita bertemu kembali."

"Saudara              Kiam      Heng...."              Toan      Beng      Kiat        terus

memandangnya. "Oh ya, di mana Saudara Tiat. Kenapa dia tidak datang bersamamu?"

"Dia...." Yo Kiam Heng menghela nafas panjang "Dia telah

tewas."

"Haah?" Bukan main terkejutnya Toan Beng Kiat "Bagaimana kejadian itu? Bolehkah dituturkan?”

"Ng!" Yo Kiam Heng langsung menutur tentang kejadian yang menimpa Kwan Tiat Him. Toan Beng Kiat, Bokyong Sian Hoa dan Lam Kiong Soat Lan mendengarkan penuturan sambil menggeleng-gelengkan kepala. Kemudian Toan Beng Kiat menghela nafas panjang seraya berkata.

"Sungguh kasihan Saudara Tiat Him, dia ber korban demi menolong Goat Nio!"

"Kakak Kiam Heng," tanya Lam Kiong Soat Lan. "Apakah Kakak Bun Yang berhasil menyelamatkan Goat Nio?"

"Goat Nio dibawa pergi oleh Ketua Kui Bin Pang." Yo Kiam Heng memberitahukan tentang itu. "Saudara Bun Yang mengajakku ke markas pusat Kay Pang, setelah itu barulah aku ke mari

"Jadi Bun Yang masih berada di markas pusat Kay Pang?" tanya Toan Beng Kiat.

"Ya." Yo Kiam Heng mengangguk. "Kasihan Kakak Bun Yang, dia pasti cemas dan sedih karena belum berkumpul kembali dengan Goat Nio," ujar Lam Kiong Soat Lan sambil menghela nafas panjang.



"Kakak Soat Lan," sela Bokyong Sian IM sambil tersenyum. "Sebelum Kakak Kiam Heng ke mari, bukankah engkau sangat cemas dan sedih? Kini wajahmu baru kelihatan berseri-seri. ”

"Sian Hoa...." Lam Kiong Soat Lan cemberut

"Hi hi hi!" Bokyong Sian Hoa tertawa geli

"Saudara Kiam Heng!" Toan Beng Kiat menatapnya. "Engkau tahu Ketua Kui Bin Pang membawa Goat Nio ke mana?"

"Entahlah." Yo Kiam Heng menggeleng kepala. "Kalau tahu, saudara Bun Yang dan aku pasti sudah pergi mengejarnya."

"Aaaah...!" Toan Beng Kiat menghela nafas. ”Itu merupakan cobaan berat bagi Bun Yang, mudah-mudahan dia bisa tabah menghadapinya!"

"Kakak Bun Yang pasti tabah," ujar Lam Kiong Soat Lan. "Aku yakin dia akan segera pasti kumpul kembali dengan Goat Nio."

"Itu yang kita harapkan!" Yo Kiam Heng manggut-manggut.

"Kakak Kiam Heng," ujar Lam Kiong Soat Lan dengan suara rendah. "Mari kita ke dalam menemui kedua orang tuaku!"

"Ya." Yo Kiam Heng mengangguk.

"Sungguh kebetulan sekali!" Toan Beng Kiat memberitahukan. "Kedua orang tua Soat Lan sedang bercakap-cakap dengan kedua orang tuaku di ruang tengah. Mari kita ke dalam!"

Mereka berjalan menuju ke ruang tengah. Begitu melihat kehadiran pemuda asing itu, kedua orang tua Lam Kiong Soat Lan dan kedua orang Toan Beng Kiat semuanya terbelalak.

"Ayah, Ibu!" panggil Lam Kiong Soat Lan berseri dan memperkenalkan. "Dia... dia adalah Kiam Heng."



”Paman, Bibi!" Yo Kiam Heng segera memberi hormat. "Terimalah hormatku!"

"Oooh!" Lam Kiong Bie Liong manggut-manggut sambil tersenyum. "Ternyata engkau adalah Yo Kiam Heng yang membuat putriku terus melamun! Ha ha ha...!"

"Ayah!" Wajah Lam Kiong Soat Lan memerah. "Jangan mengada-ada! Aku...."

"Ayah tidak mengada-ada, melainkan berkata sesungguhnya," sahut Lam Kiong Bie Liong tertawa lagi. "Ha ha ha...!"

"Kiam Heng!" Toan Pit Lian menatapi dengan penuh perhatian seraya bertanya, "Bukankah engkau punya seorang teman bernama Kwee Tiat Him? Kenapa dia tidak ikut ke mari?"

"Dia...." Yo Kiam Heng menggeleng-gelengkan kepala. "Dia

telah tewas di tangan Ketua Kui Bin Pang."

"Oh?" Toan Beng Kiat mengerutkan kening "Bagaimana kejadiannya?"

"Malam itu...." Yo Kiam Heng menutur mengenai kejadian

tersebut dan menambahkan, ”Tiat Him mati secara mengenaskan, maka aku harus membalaskan dendamnya."

"Kakak Kiam Heng...." Lam Kiong Soat Lan terkejut.

"Apakah Bun Yang berhasil menyelamatkan Goat Nio?" tanya Toan Wie Kie.

"Tidak." Yo Kiam Heng menghela nafas panjang. "Karena Ketua Kui Bin Pang keburu membawa pergi Goat Nio."

"Aaah...!" Toan Wie Kie menggeleng-gelengkan kepala. "Kasihan Bun Yang, dia belum berkumpul dengan Goat Nio...."

"Bagaimana kepandaian Ketua Kui Bin Pang itu?" tanya Lam Kiong Bie Liong mendadak.“Apakah tinggi sekali?"



"Kepandaiannya memang tinggi sekali." Yo Kiam Heng mengangguk. "Terutama ilmu Pek Kut Im Sat Ciangnya. Siapa yang terkena ilmu pukulan itu, badannya pasti mencair."

"Oh?" Lam Kiong Soat Lan merinding. "Jadi...." Lam Kiong

Bie Liong mengerutkan kening. "Ilmu pukulan itu mengandung racun?”

"Ya." Yo Kiam Heng mengangguk. "Mengandung racun yang amat ganas, dan tiada obat penawarnya."

"Ngmmm!" Lam Kiong Bie Liong manggut-manggut, kemudian menatap Yo Kiam Heng dengan penuh perhatian seraya bertanya, "Betulkah engkau mencintai putri kami ini?"

"Ya," sahut Yo Kiam Heng cepat sambil mengangguk.

”Engkau tahu tentang keluarga Lam Kiong?" tanya Lam Kiong Bie Liong mendadak.

"Aku pernah mendengar," ujar Yo Kiam Heng. ”Keluarga Lam Kiong terkenal akan senjata rahasianya, juga sangat disegani lawan maupun kawan ”

"bahkan juga ada satu peraturan," tambah giok siauw sin hiap Toan Pit Lian sambil tersenyum.

"Peraturan apa?" tanya Yo Kiam Heng hen

"Seperti               apa         yang      pernah kami      alami...."              To           Pit           Lian

memberitahukan. "Karena aku mencintai Kakak Bie Liong, maka ibunya menguji kepandaianku."

"Ibu!" protes Lam Kiong Soat Lan. "Mana ada peraturan itu dalam keluarga Lam Kiong?”

"Ada." Toan Pit Lian mengangguk.

"Itu bohong!" Lam Kiong Soat Lan cemberut "Ibu cuma mengada-ada!"

"Soat Lan," sela Toan Wie Kie. "Ibu tidak bohong, itu memang merupakan peraturan Lam Kiong turun-temurun."



"Tapi...," ujar Lam Kiong Soat Lan. "Di sini Tayli, bukan di rumah keluarga Lam Kiong lbu”

"Peraturan keluarga Lam Kiong tetap berlaku di mana saja," sahut Lam Kiong Bie Liong sambil tersenyum. "Oleh karena itu, Yo Kiam Heng harus bertanding dengan ayah tiga jurus!"

"Ayah!" Lam Kiong Soat Lan mengerutkan kening. "Hapus saja peraturan itu, aku...."

"Soat Lan," sahut Lam Kiong Bie Liong. ”Itu adalah peraturan leluhur, bagaimana mungkin ayah menghapusnya?"

"Adik Soat Lan!" Yo Kiam Heng tersenyum "Aku harus mentaati peraturan tersebut, jangan mengecewakan ayahmu!"

"Tapi...."              Lam        Kiong     Soat       Lan         menggeleng-gelengkan

kepala, kemudian bertanya kepada Lam Kiong Bie Liong. "Ayah, bagaimana kalau Kakak Kiam Heng tidak sanggup bertahan dalam tiga jurus?"

"Tentunya dia harus segera angkat kaki dari sini," jawab Lam Kiong Bie Liong.

"Haaah...?" Wajah Lam Kiong Soat Lan berubah pucat. "Ayah...."

"Adik Soat Lan!" Yo Kiam Heng tersenyum lembut. "Engkau tenang saja! Aku pasti sanggup bertahan."

"Tapi...."              Lam        Kiong     Soat       Lan         menggeleng-gelengkan

kepala. "Aku khawatir...."

"Tidak usah khawatir!" Yo Kiam Heng tampak tenang sekali. Ia berjalan ke tengah-tengah ruangan ituu, lalu memberi hormat kepada Lam Kiong Liong seraya berkata, "Paman, aku mohon petunjuk!"

"Bagus! Bagus!" Lam Kiong Bie Liong menghampirinya sambil terawa gelak. "Ha ha ha...!"



"Paman," tanya Yo Kiam Heng. "Kita bertarung menggunakan senjata atau tangan kosong ?”

"Kita pakai pedang saja," sahut Lam Kiong Liong sambil menghunus pedangnya. "Oh ya, engkau tidak punya pedang?"

”Punya." Perlahan-lahan Yo Kiam Heng melepaskan pedangnya yang dililitkan di pinggang-yaitu pedang lemas.

"Kiam Heng!" Lam Kiong Bie Liong memberitahukan. "Kita bertanding cukup tiga jurus saja. Apabila engkau sanggup bertahan, kami pasti merestui kalian."

"Terimakasih, Paman!" ucap Yo Kiam Heng dan bertanya, "Apakah aku boleh balas menyerang?"

"Tentu boleh." Lam Kiong Bie Liong manggut-manggut, lalu mulai mengerahkan lweekang nya.

Begitu pula Yo Kiam Heng, pemuda itu pun mulai menghimpun lweekangnya siap menghadapi serangan yang akan dilancarkan Lam Kiong Bie Liong.

"Hati-hati!" seru Lam Kiong Bie Liong dan mendadak menyerang.

Lam Kiong Bie Liong menggunakan Teng Yang Kiam Hoat (Ilmu Pedang Surya), menyerang Yo Kiam Heng dengan jurus Thay Yang Poh Cin (Surya Memancarkan Cahaya). Tampak pedang Lam Kiong Bie Liong berkelebatan memancarkan cahaya mengarah ke pemuda itu.

Yo Kiam Heng tidak berkelit, melainkan menggunakan Teng Hai Kiam Hoat (Ilmu Pedang Menenangkan Laut), mengeluarkan jurus Kiam Khi Peng Lang (Hawa Pedang Membendung Ombak) menangkis serangan Lam Kiong Bie Liong.

Trang! Terdengar suara benturan pedang.

Yo Kiam Heng terdorong ke belakang lima ingkah, sedangkan Lam Kiong Bie Liong hanya tiga langkah.



"Bagus! Bagus! Ha ha ha!" Lam Kiong Bie Liong tertawa gembira. "Aku tak menyangka kalau engkau mampu menangkis seranganku! Nah, sambutlah jurus kedua ini!"

Lam Kiong Bie Liong menyerangnya dengan jurusan Jit Cut Tang Hong (Surya Terbit Di Ufuk Timur), yang bukan main lihay dan dahsyatnya.

Yo Kiam Heng tampak terkejut, namun tetap tenang. Mendadak ia menggerakkan pedangnya, maka tampak pedangnya berkelebatan menangkis serangan itu. Ternyata ia mengeluarkan jurus Ban Kiam Teng Hai (Selaksa Pedang Menenangkan Laut). Jurus tersebut justru dapat membendung serangan Lam Kiong Bie Liong, sehingga menimbulkan kekagumannya.

"Jurus ketiga!" Seru Lam Kiong Bie Liong, kali ini ia mengeluarkan jurus yang paling lihay dan dahsyat, yakni jurus Jit Liak Sauh Te (Terik Surya Membakar bumi).

"Ayah!" seru Lam Kiong Soat Lan kaget. Ternyata gadis itu tahu akan kelihayan jurus tersebut.

Akan tetapi, Lam Kiong Bie Liong terus melanjutkan serangannya. Di saat bersamaan, Yo Kiam Heng mengeluarkan siulan panjang, sekaligus menangkis serangan itu dengan jurus Pang Lang Teng Hai (Membendung Ombak Menenangkan Laut), yang merupakan jurus simpanannya.

"Trang!" Terdengar suara benturan pedang yang memekakkan telinga.

Yo Kiam Heng dan Lam Kiong Bie Lion masing-masing termundur-mundur beberapa langkah, dan wajah mereka tampak pucat pias. I

"Ayah! Kakak Kiam Heng!" seru Lam Kiong Soat Lan cemas.

"Jangan khawatir!" bisik Toan Beng Kie "Mereka tidak akan terjadi apa-apa."



Berselang sesaat, barulah Yo Kiam Heng memberi hormat kepada Lam Kiong Bie Liong

"Terimakasih atas kemurahan hati Paman!” ucapnya dengan tersenyum.

"Ha ha ha!" Lam Kiong Bie Liong tertawa gembira. "Engkau memang pantas menjadi suami Soat Lan! Ha ha ha...!"

"Terimakasih, Paman!" ucap Yo Kiam Heng dengan wajah ceria, kemudian melirik Lam Kiong Soat Lan.

Wajah gadis itu langsung memerah, kemudian ditundukkannya dalam-dalam.

Lam Kiong Bie Liong dan Yo Kiam Heng kembali ke tempat duduk. Sementara Toan Beng Kie terus memandang pemuda itu, lalu bertanya

"Engkau dapat bertahan beberapa lama melawan Ketua Kui Bin Pang?"

"Sekitar lima puluh jurus," jawab Yo Kiam Heng jujur.

"Hah?" Toan Wie Kie terbelalak. "Kepandaianmu sudah begitu tinggi, tapi... cuma dapat pilahan lima puluh jurus?"

"Ya." Yo Kiam Heng mengangguk. "Itu kalau dia tidak mengeluarkan Pek Kut Im Sat Ciang! Apabila dia langsung mengeluarkan ilmu tersebut, Mungkin aku tak mampu bertahan sampai lima jurus."

"Oh?" Betapa terkejutnya Lam Kiong Bie liong. "Kalau begitu, kita semua bukan lawannya”

"Ya." Yo Kiam Heng menghela nafas panjang.

"Aaaah...!" Toan Wie Kie menggeleng-gelengkan kepala. "Hanya Cie Hiong dan Bun Yang yang dapat melawannya!"

"Itu juga belum tentu," ujar Yo Kiam Heng. ”Sebab ilmu pukulan Pek Kut Im Sat Ciang mampu menerobos lweekang pihak lawan."



"Kakak Kiam Heng, engkau belum tahu sih. Sesungguhnya Kakak Bun Yang berkepandaian tinggi sekali." kata Lam Kiong Soal Lan.

"Kalau begitu..." ujar Yo Kiam Heng. "Sayang sekali, tiada kesempatan bagiku untuk mohon petunjuk kepadanya."

"Apa?" Lam Kiong Soal Lan melotot. "Engkau mau bertanding dengannya?"

"Tentu tidak." Yo Kiam Heng tersenyum. ”Aku bersungguh-sungguh mohon petunjuk ke-padanya mengenai ilmu pedang."

"Oooh!" Lam Kiong Soat Lan menarik nafas lega. "Kukira engkau ingin menantangnya bertanding”

"Bagaimana mungkin?" Yo Kiam Heng senyum lagi. "Kami adalah teman baik, tentusaja aku tidak akan menantangnya bertanding."

"Oh ya!" Lam Kiong Soat Lan menatapnya "Ilmu pedang apa yang engkau pergunakan untuk menangkis serangan ayahku?"

"Ilmu pedang Teng Hai Kiam Hoat." Yo Kiam Heng memberitahukan dan bertanya. "Kenapa engkau menanyakan itu?"

"Karena ilmu pedang itu sangat hebat lihay," sahut Lam Kiong Soat Lan dengan senyum. "Oleh karena itu...."

"Soat Lan!" Toan Pit Lian terbelalak. "Engkau ingin bertanding dengan Kiam Heng?"

"Tidak." Lam Kiong Soat Lan menggelengkan kepala. "Aku hanya ingin memperlihatkan ilmu pedangku."

"Oooh!" Toan Pit Lian berlega hati. "Itu boleh."

"Terimakasih, Ibu!" ucap Lam Kiong Soat Lan, kemudian berkata kepada Yo Kiam Heng "Kakak Kiam Heng, saksikanlah ilmu pedang ku!"



"Ya." Yo Kiam Heng mengangguk

Lam Kiong Soat Lan berjalan ke tengah- tengah ruangan. Setelah memberi hormat, ia mulai menggerakkan pedangnya. Gerakan pedang itu makin lama makin cepat, membuat Yo Kiam Heng terbelalak. Ia tidak menyangka kalau Lam Kiong Soat Lan memiliki ilmu pedang yang begitu hebat, ternyata gadis itu mempertunjukkan Thian Liong Kiam Hoat (Ilmu Pedang Naga Kahyangan).

Berselang beberapa saat kemudian, barulah ia menghentikan gerakannya dan memandang Yo Kiam Heng seraya bertanya. "Engkau sanggup melawan ilmu pedangku?"

"Aku...." Yo Kiam Heng tampak ragu-ragu.

"Ha ha ha!" Lam Kiong Bie Liong tertawa. ”Pasti sanggup melawan ilmu pedangmu itu!"

"Bagaimana kalau aku menggunakan Kim Kong Cap Sah Ciang (Tiga Belas Jurus Ilmu Pukulan Cahaya Emas)?" tanya Lam Kiong Soat Lan mendadak.

"Kalau engkau mengeluarkan ilmu pukulan itu, tentu Kiam Heng tidak sanggup melawanmu," sahut Lam Kiong Bie Liong.

"Adik Soat Lan," ujar Yo Kiam Heng tertarik, ”Bolehkah engkau mempertunjukkan ilmu pukulan itu?"

"Baiklah." Lam Kiong Soal Lan mengangguk, mulai mempertunjukkan ilmu pukulan tersebut.

Yo Kiam Heng menyaksikannya dengan mulut menganga lebar ia mengakui dalam hati dirinya tidak sanggup melawan ilmu pukulan itu.

Sesaat kemudian, barulah Lam Kiong Soat Lan berhenti, lalu memandang Yo Kiam Heng seraya bertanya.

"Bagaimana? Engkau sanggup melawan pukulanku ini?"



"Tidak sanggup," jawab Yo Kiam Heng jujur "Walaupun aku menggunakan pedang, aku tentu akan kalah."

"Oh?" Lam Kiong Soat Lan tersenyum, kemudian kembali ke tempat duduknya.

"Adik Soat Lan," ujar Yo Kiam Heng kagum "Aku tidak menyangka kalau kepandaianmu begitu tinggi. Oh ya, siapa gurumu?"

"Aku dan Beng Kiat adalah murid Tayli Ceng." Lam Kiong Soat Lan memberitahukan

"Hah?" Yo Kiam Heng tampak terkejut. ”Kalian murid padri tua itu?"

"Engkau kenal guru kami?" tanya Lam Kiong Soat Lan.

"Tidak. Tapi aku pernah dengar dari ayah. Kata ayah, kepandaian Tayli Lo Ceng tinggi sekali bahkan mahir meramal pula," jawab Yo Kiam Heng dan menambahkan, "Mungkin guru kalian mampu melawan Ketua Kui Bin Pang."

"Ha ha ha!" Lam Kiong Bie Liong tertawa "Kiam Heng, kepandaian Bun Yang mungkin sudah lebih tinggi dari Tayli Lo Ceng."

"Bagaimana mungkin?" Yo Kiam Heng kurang percaya.

"Apabila engkau menyaksikan kepandaiannya, barulah akan percaya," ujar Lam Kiong Bie Liong dan menambahkan, "Ayahnya juga pernah bertanding dengan Tayli Lo Ceng."

"Siapa yang menang?" tanya Yo Kiam Heng.

"Kami tidak tahu." Lam Kiong Bie Liong tersenyum. "Hanya mereka berdua yang tahu."

"Oooh!" Yo Kiam Heng manggut-manggut, lalu berkata sungguh-sungguh kepada Lam Kiong Soat Lan. "Mulai besok aku akan berlatih denganmu."



"Maksudmu ingin menuntut balas kepada ketua Kui Bin Pang?" tanya Lam Kiong Soat Lan.

"Ya." Yo Kiam Heng mengangguk.

"Sudahlah!" Lam Kiong Soat Lan menggeleng-gelengkan kepala. "Engkau tidak usah memikirkan itu, biarlah Kakak Bun Yang yang mencarinya."

"Tapi...." Yo Kiam Heng mengerutkan kening.

"Kiam Heng," ujar Lam Kiong Bie Liong serius. "Engkau sudah tidak memikirkan Soat Lann? Kalau engkau ingin menuntut balas kepada ketua Kui Bin Pang, berarti engkau mau cari mati”

”Paman...."

"Saudara Kiam Heng!" Toan Beng Kiat tersenyum. "Engkau tinggal di sini saja, mengenai Ketua Kui Bin Pang, biarlah Bun Yang yang mencarinya."

"Itu...." Yo Kiam Heng masih mengerutkan kening.

"Kakak Kiam Heng!" Air muka Lam Kiong Soat Lan berubah. "Kalau engkau ingin menuntut balas kepada Ketua Kui Bin Pang, lebih baik pergi sekarang saja! Ayoh, cepat pergi!"

"Adik Soat Lan...." Yo Kiam Heng menundukkan kepala.

"Aku...."

"Kiam Heng!" Toan Pit Lian menatapnya "Kami tahu engkau sangat setia kawan, namun menangani Ketua Kui Bin Pang, biarlah Bun Yang yang mencarinya! Sebab engkau bukan lawan Ketua Kui Bin Pang itu, lagi pula engkau harus memikirkan Soat Lan lho!"

"Ya, Bibi." Yo Kiam Heng mengangguk, memandang Lam Kiong Soat Lan seraya berkata "Aku tidak akan pergi mencari Ketua Kui Bin Pang itu."



"Oh?" Wajah Lam Kiong Soat Lan langsung berseri. "Tapi ingat, engkau tidak boleh pergi secara diam-diam lho!"

"Aku berani bersumpah...."

"Aku mempercayaimu." Lam Kiong Soat Lan memandangnya dengan mata berbinar-binar kemudian tersenyum mesra.

"Ha ha ha! Ha ha ha...!" Lam Kiong Soat Liong dann Toan Wie Kie tertawa terbahak-bahak, itu membuat wajah gadis itu memerah, mendadak lari ke dalam....

-oo0dw0oo-


Bagian ke enam puluh lima

Mengabdi pada Menteri Ma


Kwee Teng An telah tiba di ibu kota. Keindahan dan kemewahan gedung-gedung di ibu kota membuatnya terbelalak. Oleh karena itu, ia semakin berniat hidup senang di ibu kota tersebut.

Setelah merasa puas berkeliling-keliling menikmati keindahan ibu kota, barulah ia mampir ke sebuah kedai arak. Ia duduk dengan wajah cerah, lalu memesan seguci arak dan makanan, dan pelayan segera menyajikannya. Ketika Kwee Teng An baru mau meneguk araknya, mendadak ia mendengar beberapaa tamu sedang bercakap-cakap dengan seru sekali.

”Kepala pengawal Menteri Ma mau mengundurkan diri dan pulang ke kampung halaman-maka menteri Ma sedang mencari penggantinya."

"Oh? Siapa yang sanggup menggantikan kedudukan kepala pengawal itu?"



"Hingga saat ini, tiada seorang pun yang sanggup menggantikan kedudukan kepala pengawal itu."

"Kok begitu?"

"Karena menteri Ma mengeluarkan sebuah syarat, siapa yang ingin menggantikan kedudukan kepala pengawal itu harus dapat bertanding seimbang dengannya. Namun hingga saat ini, tidak seorang pun yang sanggup melawan kepala pengawal itu sampai tiga puluh jurus."

"Kepala pengawal itu memang berkepandaian tinggi sekali. Kalau tiada seorang pun yang sanggup bertanding seimbang dengannya, maka Menteri Ma tidak akan melepaskannya pulang ke kampung halaman."

"Oh ya, bukankah putri menteri Ma adalah murid kepala pengawal itu?"

"Betul. Gadis itu cantik sekali, entah siapa yang beruntung mempersuntingnya."

Di saat bersamaan, Kwee Teng An mendekati mereka, lalu memberi hormat seraya bertanya

"Maaf. Di mana tempat tinggal menteri Ma ?”

"Eh?  Anda...."  Mereka  menatap  Kwee  Teng  An  dengan

mata terbelalak, sebab pemuda itu berbadan pelajar.

"Aku ingin bertanding dengan kepala pengawal itu." Kwee Teng An memberitahukan.

"Apa?" Para tamu di kedai arak itu semuanya tertegun. "Anda seorang pelajar, bagaimana mungkin mengerti ilmu silat?"

"Aku justru.sanggup mengalahkan kepala pengawal itu," sahut Kwee Teng An sambil tersenyum. "Nah, beritahukan di mana tempat tinggal menteri Ma!"



"Dari sini berjalan terus, kemudian belok ke kiri...." Salah

seorang tamu memberitahukan.

"Terimakasih!" ucap Kwee Teng An girang. Ia cepat-cepat menyerahkan setael perak kepada pelayan, lalu meninggalkan kedai arak itu, dan para tamu mulai membicarakannya.

"Besok kita pasti tahu siapa yang menang. Nah. bagaimana kalau kita bertaruh?"

"Baik. Engkau pegang siapa?"

"Aku pegang kepala pengawal itu."

”Yaaah, kalau begitu, aku tidak jadi bertaruh! sebab bagaimana mungkin ia sanggup melawan kepala pengawal itu?"

"Bagaimana kalau kita bertaruh tiga lawan satu'"

'Tiga lawan satu? Maksudmu?"

"Tiga tael melawan satu tael. Maksudku begitu bagaimana? Engkau berani bertaruh denganku?”

"Kalau begitu... baiklah."

"Mau bertaruh berapa?"

"Sepuluh tael perak. Kalau kepala pengawal itu kalah, engkau harus bayar aku tiga puluh tael perak."

"Tentu."

"Aku ikut bertaruh!" seru tamu lain. "Aku pegang kepala pengawal, tiga lawan satu!"

"Baik. Aku bertaruh denganmu."

"Mau taruh berapa?"

"Seratus tael perak."

"Hah? Berapa?"



"Seratus tael perai. Apabila kepala pengawal itu kalah, engkau harus membayarku tiga ratus perak."

"Baik. Tapi... bagaimana kalau mereka seri?” "Taruhan kita pun menjadi seri."
"Oh ya, kita bertaruh secara tunai, tidak ada istilah hutang."

"Tentu."

"Kalau begitu, mari kita taruh uang kita pada pemilik kedai arak ini! Dia sebagai saksi dari taruhan kita."

"Baik."

Mereka lalu pergi menemui pemilik kedai arak. Betapa gembiranya pemilik kedai arak

"Aku bersedia menjadi saksi, tapi harus uang imbalannya."

"Pokoknya beres," sahut salah seorang tamu yang bertaruh itu.

"Nah, sekarang mari kita ke sana!"

"Kita pasti tidak diijinkan masuk, percuma kita ke sana."

"Kita menunggu di luar saja. Siapa yang menang kita pasti mengetahuinya. Ayoh, mari kita ke tempat tinggal Menteri Ma!"

Mereka segera meninggalkan kedai arak itu menuju tempat tinggal Menteri Ma. Sementara Kwee Teng An yang berangkat duluan itu sudah sampai di sana.

"Maaf!" ucapnya kepada salah seorang pengapi yang menjaga di pintu. "Aku ingin menemui Menteri Ma."

"Oh?" Pengawal itu menatap tajam. "Engkau siapa dan ada urusan apa ingin menemui Menteri Ma?"

"Aku bernama Kwee Teng An. Aku ke mari ingin bertanding dengan kepala pengawal." Pemuda itu memberitahukan.



"Apa?" pengawal itu terbelalak, kemudian tertawa gelak. "Engkau ingin bertanding dengan kepala pengawal di sini?"

"Ya." Kwee Teng An mengangguk.

"Baiklah!" Pengawal itu manggut-manggut. "Mari Ikut aku ke dalam!"

”Terimakasih!" ucap Kwee Teng An, lalu mengikuti pengawal itu ke dalam. Bukan main kagumnya akan keindahan halaman rumah Menteri Ma itu.

"Tunggu di sini!" ujar pengawal itu. "Aku harus melapor kepada Menteri Ma dan kepala pengawal."

Kwee Teng An mengangguk, lalu berdiri situ sambil menikmati keindahan taman bunga.

Berselang beberapa saat kemudian, munculah dua orang lelaki tua, yaitu Menteri Ma dan kepala pengawal. Begitu melihat lelaki tua berpakaian kebesaran, Kwee Teng An segera berlutut.

"Hamba menghadap Menteri Ma." ucapnya "Siapa engkau?" Menteri Ma menatapnya tajam.

"Nama hamba Kwee Teng An. Hamba keari ingin bertanding dengan kepala pengawal," jawab Kwee Teng An memberitahukan.

"Engkau tampak lemah, bagaimana mungkin sanggup bertanding dengan kepala pengawalku” Menteri Ma menggeleng-gelengkan kepala.

"Hamba sanggup mengalahkannya dalam sepuluh jurus," sahut Kwee Teng An.

"Apa?" Menteri Ma tertegun. "Engkau ber omong besar di hadapanku?"

"Hamba tidak omong besar, pasti hamba buktikan," tegas Kwee Teng An. "Apabila hamba tidak sanggup



mengalahkannya dalam sepuluh jurus hamba bersedia dihukum."

"Engkau bersedia dihukum berat?" tanya Menteri Ma sungguh-sungguh.

"Hamba bersedia," jawab Kwee Teng An cepat.

"Pikirkan dulu!" ujar Menteri Ma. "Agar engkau tidak menyesal nanti."

"Hamba tidak akan menyesal."

"Baik." Menten Ma manggut-manggut dan Menambahkan, "Kalau engkau mampu mengalahkan kepala pengawalku, maka akan kuangkat sebagai pengawal di sini dengan gaji yang memuaskan."

"Terimakasih, Menteri Ma!"

"Tapi seandainya engkau kalah, lenganmu akan kupotong sebagai hukumannya."

"Ya."

Menteri Ma duduk. Di pandangnya kepala ngawalnya seraya berkata. "Lam Sun, bertandinglah dengan dia!"

"Ya, Menteri Ma," sahut kepala pengawal itu sambil memberi hormat. Dia berusia enam puluhan, namun masih tampak gagah. "Anak muda, mari kita ke tengah-tengah halaman!"

"Baik." Kwee Teng An mengikutinya ke tengah-tengah halaman.

"Anak muda, bolehkah aku tahu namamu?" kepala pengawal itu menatapnya tajam.

"Namaku Kwee Teng An. Nama cianpwee?"

"Aku bernama Liok Lam Sun." Kepala pengwal itu tersenyum. "Siapa gurumu, bolehkah aku mengetahuinya?"



"Maaf, cianpwee!" sahut Kwee Teng An. "Aku tak bisa memberitahukan."

"Tidak apa-apa." Liok Lam Sun tersenyum "Tadi engkau bilang akan mengalahkanku dalam sepuluh jurus. Kalau tidak, engkau bersedia hukum berat?"

"Ya, cianpwee."

"Anak muda!" Liok Lam Sun menggeleng-gelengkan kepala. "Engkau terlampau sombong”

"Cianpwee!" Kwee Teng An tersenyum. "Aku tidak sombong, melainkan berkata sesungguhnya”

"Oh, ya?" Liok Lam Sun menatapnya dia tanyanya. "Kita bertanding dengan tangan kosong atau senjata?"

"Terserah Cianpwee."

"Kalau begitu...," ujar Liok Lam Sun setelah berpikir sejenak. "Kita bertanding dengan tangan kosong saja."

"Baik." Kwee Teng An mengangguk.

Sementara di luar sudah berkumpul puluhan orang, yaitu para tamu kedai arak yang akan bertaruh.

"Kalian tidak boleh masuk, cukup di sini saja ujar salah seorang pangawal yang menjaga di situ

"Ya."

"kenapa kalian ingin menyaksikan pertandingan itu?"

"Karena kami... kami bertaruh."

"Bertaruh?"

"Ya."

”Caranya?"



"Tiga lawan satu," Salah seorang dari mereka memberitahukan, kemudian menambahkan, "Siapa Menang menang, pokoknya beres."

"Ngmmm!" Pengawal itu manggut-manggut dan kitanya, "Siapa yang paling besar taruhannya?"

"Kami berdua," sahut kedua orang yang bertaruh tiga ratus tael perak melawan seratus tael perak.

"Berapa banyak taruhan kalian?" tanya pengawal itu.

"Tiga ratus tael perak melawan seratus tael perak," jawab kedua orang itu jujur.

"Hah?" Mulut pengawal itu ternganga lebar. ”Begitu besar taruhan kalian?"

"Ya," sahut salah seorang dari mereka. "Kalau aku menang tiga ratus tael perak, pasti memberimu seratus tael perak."

"Sungguh?" tanya pengawal itu kurang percaya "Sungguh!" Orang itu mengangguk.

"Baik." Pengawal itu memandang ke dalam, ”Nah. mereka akan segera bertanding. Kepala pengawal sudah memasang kuda-kuda, sedangkan pemuda itu cuma berdiri dan tersenyum-senyum saja”

"Apa?" Wajah orang-orang yang bertaruh memegang pemuda itu langsung berubah pucat. "Jangan jangan pemuda itu gila!"

”Tenang!" seru pengawal itu dan memberitahukan, "Pemuda itu dipersilakan menyerang duluan! Yaah! Dia cuma melancarkan pukulan biasa!"

"Melayanglah uangku!" keluh salah seorang dari mereka.

"Kepala pengawal berkelit, lalu mendadak membalas menyerang," lanjut pengawal memberitahukan tentang jalannya pertandingan tersebut



"Bukan main, badan pemuda itu berkelebat entah menggunakan jurus apa menyerang kepala pengawal. Kepala pengawal tampak terdesak, dan meloncat mundur. Akan tetapi... mendadak badan pemuda itu berputar-putar menyerang kepala pengawal. Aah. mataku menjadi silau."

"Bagaimana pertandingan itu?" tanya orang bernada tegang.

"Haaah...?" pengawal itu terbelalak. "Kepala pengawal terpental beberapa depa, dan tidak bisa bangun lagi. Pemuda itu menang."

"Horeee...! Aku menang tiga ratus tael perak!”

"Jangan lupa jatahku lho!" Pengawal itu mengingatkannya.

"Sebentar akan kuantar ke mari, sebab harus ke kedai arak dulu ambil uang itu. Sampai jumpa!" Orang itu segera berlari ke kedai arak begitu pula yang lain. Sedangkan yang kalah terus bergerutu.

"Dasar kepala pengawal itu sudah tua! Kalau tahu dia bakal kalah, aku tidak akan bertaruh”

Memang tidak salah, kepala pengawal itu terpental beberapa depa terkena pukulan yang dilancarkan Kwee Teng An, bahkan mulutnya mengeluarkan darah. Untung Kwee Teng An hanya menggunakan lima bagian lweekangnya, maka liok Lam Sun tidak terluka parah.

Menteri Ma terbelalak, seakan tidak percaya apa yang dilihatnya, karena tidak sampai sepuluh jurus, pemuda itu telah berhasil mengalahkan Liok Lam Sun.

"Anak muda...." Liok Lam Sun bangkit berdiri lalu memberi

hormat. "Terimakasih atas kemurahan hatimu! Sekarang juga aku akan pulang ke kampung halaman, lalu bertani di sana."



"Lam Sun!" Menteri Ma menatapnya. "Cukup lama engkau mengabdi kepadaku, maka aku akan memberimu uang secukupnya untuk membeli sawah."

"Terimakasih, Menteri Ma!" ucap Liok Lam Sun yang kemudian berjalan masuk.

"Ha ha ha!" Menteri Ma tertawa gelak. "Anak muda, mari ikut aku masuk!"

"Terimakasih, Menteri Ma!" ucap Kwee Teng An sambil memberi hormat, lalu mengikuti Menteri Ma masuk.

Begitu menyaksikan kemewahan rumah itu, Kwee Teng An terbelalak dengan mulut ternganga saja

"Silakan duduk!" ucap menteri Ma.

"Terimakasih!" sahut Kwee Teng An dan duduk.

"Teng An!" Menteri Ma menatapnya. "Mulai sekarang engkau tinggal di sini, kedudukanmu adalah kepala pengawal disini, bahkan sebagai pengawal pribadiku juga. Aku ke mana, engkau harus ikut."

"Ya, Menteri Ma."

"Bagus! Ha ha ha...!" Menteri Ma tertawa gembira. "Oh ya, engkau ingin minta gaji berapa sebulan?"

"Kini aku sudah mengabdi kepada Tayjin (Tuan Besar), jadi... tentang gajiku, aku tak begitu mempermasalahkannya."

"Bagus! Bagus!" Menteri Ma tertawa gembira "Pokoknya engkau membutuhkan uang, bilang saja kepadaku!"

"Terimakasih, Tayjin!" ucap Kwee Teng An

Di saat bersamaan, Liok Lam Sun juga berpamit kepada Ma Giok Ceng, muridnya. Gadis itu merasa berat sekali berpisah dengan gurunya



"Giok Ceng, aku tidak bisa tinggal di sini lagi sebab ayahmu...."

"Guru!" Mata Ma Giok Ceng mulai basah "Maafkan semua perbuatan ayahku, itu adalah urusan politik kerajaan."

"Maka aku tidak mau terlibat." Liok Lam Sun menghela nafas panjang. "Aku ingin hidup tenang di kampung halaman, namun engkau harus ingat satu hal ”

"Hal apa?" tanya Ma Giok Ceng heran. "Kwee Teng An memang tampan, tapi engkau tidak boleh tertarik kepadanya, sebab dia berhati licik dan jahat."

"Oh?" Ma Giok Ceng tersentak. "Darimana guru bisa tahu itu?"

"Aku melihat pancaran sinar matanya, maka engkau harus berhati-hati!" pesan Liok Lam Sun. baiklah, aku mau mohon diri, selamat tinggal!"

-oo0dw0oo-


Jilid : 14


"Guru...." Ma Giok Ceng mulai terisak-isak. Ia mengantar

gurunya ke depan, justru bertemu dengan Kwee Teng An. Pemuda mata keranjang ini langsung tertarik kepada Ma Giok Ceng.

"Menteri Ma!" Liok Lam Sun berpamit. "Selamat tinggal!"

"Lam Sun!" Menteri Ma menatapnya. "Engkau telah mengambil uang?"

"Sudah, terimakasih!" ucap Liok Lam Sun, kemudian tersenyum kepada Kwee Teng An seraya berkata, "Anak muda, sampai jumpa!"



"Selamat jalan, cianpwce!" sahut Kwee Teng An sambil tersenyum. "Jangan sakit hati ya!"

"Ha ha ha!" Liok Lam Sun tertawa gelak. seharusnya aku berterimakasih kepadamu, karena aku bisa pulang ke kampung halaman."

"Guru...!" panggil Ma Giok Ceng dengan air mata berlinang-linang. "Kapan Guru akan kembali menengokku?"

"Giok Ceng!" Liok Lam Sun menggeleng gelengkan kepala. "Aku tidak akan kembali lagi baik-baiklah engkau menjaga diri! Selamat tinggal!"

"Guru...."

"Liok Lam Sun tersenyum, lalu berjalan pergi tanpa menoleh lagi. Sedangkan Ma Giok Cen terus menangis terisak-isak.

"Nak!" panggil menteri Ma. "Jangan menangii mari ayah perkenalkan, dia adalah Kwee Teng An, kepala pengawal baru di sini!"

"Ng!" Ma Giok Ceng manggut-manggut.

"Nona Ma," ucap Kwee Teng An sopan sambil memberi hormat. "Terimalah hormatku!"

"Maaf!" sahut Ma Giok Ceng sambil berjalan masuk, sama sekali tidak meladeninya.

Kwee Teng An tidak tersinggung, malah tersenyum-senym.

Sedangan Menteri Ma menggeleng-gelengkan kepala.

"Teng An, jangan tersinggung! Mungkin dia sedih berpisah dengan gurunya, lagi pula... dia memang manja." katanya.

"Tidak apa-apa." Kwee Teng An mengangguk mengerti. "Aku tidak tersinggung, sungguh!"



"Bagus! Bagus! Engkau memang pemuda sabar! Ha ha ha!" Menteri Ma tertawa gembira Kemudian ia bertepuk tangan tiga kali dan munculah seorang pembantu wanita.

"Tuan Besar memanggil hamba?"

"Antar kepala pengawal ini ke kamar Liok Lam Sun. Mulai sekarang ia tinggal di kamar itu."

"Ya." Pembantu wanita itu mengangguk, lalu berkata kepada Kwee Teng An. "Tuan, mari ikut aku ke dalam!"

"Ng!" Kwee Teng An manggut-manggut, kemudian memberi hormat kepada menteri Ma. ”Hamba mohon diri!"

"Silakan, silakan!" sahut menteri Ma dan berpesan, "Apabila engkau membutuhkan apa-apa mruh saja para pembantu!"

"Terimakasih, Tuan Besar!" Kwee Teng An memberi hormat lagi, dan setelah itu barulah mengikuti pembantu wanita itu ke dalam.

Berselang sesaat, pembantu wanita itu ber-henti di depan sebuah kamar.

"Tuan, ini kamar Tuan." katanya, kemudian mendorong pintu kamar tesebut. "Silahkan masuk!"

"Terimakasih!" ucap Kwee Teng An sekaligus melangkah ke dalam. Ia menengok ke sana ke mari dan manggut-manggut puas.

"Tuan!" Pembantu wanita itu memberitahukan, "Aku adalah kepala pembantu wanita di sini. Kalau Tuan membutuhkan apa-apa, beritahukan saja!'

"Baik." Kwee Teng An manggut-manggut.

"Tuan masih muda, tapi kepandaian Tuan tinggi sekali," ujar kepala pembantu wanita kagum.

"Oh?" Kwee Teng An tersenyum.



"Tuan...."             Kepala  pembantu           wanita  itu           tampak serius.

"Selain aku sudah berusia empat puluhan para pembantu wanita lain muda-muda semua. Bahkan... cantik-cantik pula."

"Oh, ya?" Wajah Kwee Teng An langsung berseri.

"Pokoknya aku akan menyuruh pembantu yang cantik ke mari melayani Tuan," ujar kepala pembantu wanita itu sambil tertawa kecil. "Tuan pesan minuman apa buah-buahan?"

"Tolong ambilkan buah-buahan dan arak wangi!" sahut Kwee Teng An.

"Baik." Kepala pembantu wanita itu mengangguk, lalu segera meninggalkan kamar itu.

Kwee Teng An menutup pintu kamar, duduk dengan wajah berseri-seri penuh kegembiraaan. Ia sama sekali tidak menyangka kalau dirinya akan menjadi kepala pengawal di rumah menteri Ma. Ia merasa beruntung dan akan hidup senang, bahkan diam-diam telah mempunyai suatu rencana.

Tiba-tiba dia tersentak, ternyata mendengar suara ketukan pintu.

"Siapa?" sahutnya.

"Pembantu wanita yang mengantar minum dan buah-buahan." Terdengar suara sahutan merdu di luar.

"Masuklah, pintu tidak dikunci," ujar Kwee Teng An.

Pintu kamar terbuka. Tampak dua orang gadis cantik melangkah masuk dengan membawa arak wangi dan buah-buahan.

"Tuan, kami bawakan arak wangi dan buah-buahan," ujar salah seorang dari mereka sambil insenyum manis.

"Ha ha ha!" Kwee Teng An tertawa gembira. ”Taruh saja di atas meja!"



Kedua gadis itu mengangguk, lalu menaruh arak wangi dan buah-buahan itu di atas meja. "Tuan mau pesan apa lagi?" tanya gadis itu.

"Bolehkah aku tahu nama kalian?" Kwee Teng An memandang sambil tersenyum-senyum.

"Namaku Lan Lan, dia bernama Ling Ling."

"Ha ha ha!" Kwee Teng An tertawa geli. ”kalau disatukan menjadi Lan Ling!"

"Apabila Tuan memanggil Lan Ling, kami berdua pasti segera ke mari," sahut Lan Lan sambil tertawa cekikikan.

"Bagus! Bagus!" Kwee Teng An manggut-manggut.

"Tuan sudah mau minum?" tanya Ling Ling lembut. "Aku tuangkan arak wangi itu ya?"

"Baik." Kwee Teng An mengangguk. Ling Ling segera menuang arak wangi itu kedalam cangkir, lalu diberikan kepada Kwee T An.

"Silakan minum, Tuan!"

"Terimakasih!" ucap Kwee Teng An mengambil cangkir itu, kemudian meneguknya.

"Mau ditambah?" tanya Ling Ling sambil tersenyum manis.

"Tidak usah." Kwee Teng An menaruh cangkir itu di atas meja.

"Tuan...." Lan Lan cepat menyodorkan bu anggur ke mulut

Kwee Teng An. "Ciciplah buah anggur ini!"

"Terimakasih!" ucap Kwee Teng An sambil membuka mulutnya.

Sambil tertawa gembira Lan Lan memasukk buah anggur itu ke mulut Kwee Teng An, dan pemuda itu langsung mencaploknya.



"Tuan mau dipijit?" tanya Ling Ling mendadak.

"Kalian bisa memijit juga?" Kwee Teng An memandang mereka.

"Tentu bisa," sahut Ling Ling dan Lan Lan serentak.

"Bagus!" Kwee Teng An manggut-manggut "Aku memang merasa pegal, kalian berdua boleh memijitku."

"Ya." Kedua gadis itu mengangguk.

Kwee Teng An membaringkan tubuhnya ke tempat tidur, sedangkan Ling Ling menutup pintu kamar.

"Tuan...." Lan Lan tertawa kecil. "Silakan uka pakaian, agar

kami lebih leluasa memijit Tuan."

"Oh?" Kwee Teng An memandang mereka dengan penuh gairah. "Kalau begitu, kalian pun harus buka pakaian!"

"Idih! Jangan ah!" sahut Lan Lan dengan wajah kemerah-merahan.

"Tuan...." Ling Ling tersenyum. "Itu... harus nanti malam

lho! Tidak baik sekarang, kami takut sewaktu-waktu nona akan ke mari."

"Maksudmu Nona Ma?" tanya Kwee Teng An Jnigan mata berbinar.

"Ya." Ling Ling mengangguk. "Tuan tertarik kepada Nona Ma?"

"Dia begitu cantik, tentu aku tertarik," sahut Kwee Teng An jujur. "Oh ya, dia sudah punya kekasih apa belum?"

"Belum." Lan Lan menggelengkan kepala, kemudian tertawa cekikikan. "Kalau Tuan sudah tertarik kepada Nona Ma, habislah kami berdua."

"Lho?" Kwee Teng An heran. "Memangnya kenapa?"



"Bagaimana mungkin Tuan akan tertarik pada kami yang cuma merupakan pembantu? Ya, kan?" saht Lan Lan dengan cemberut.

"Ha ha ha!" Kwee Teng An tertawa. "Poloknya aku akan bersenang-senang dengan kalian berdua, sekarang kalian pijit aku!"

"Baik, Tuan." Lan Lan dan Ling Ling mulai memijit Kwee Teng An.

Sungguh nikmat pijitan kedua gadis itu, bahkan menimbulkan gairah nafsu birahi, maka mendadak Kwee Teng An memeluk kedua gadis erat-erat.

"Idih! Jangan begini ah! Kami takut kelihatan orang lain." bisik Lan Lan.

"Pintu kamar tertutup rapat, bagaimai mungkin terlihat orang?" sahut Kwee Teng sambil tertawa, lalu tangannya mulai beraksi menggerayangi tubuh kedua gadis itu. Mata kedua gadis itu merem melek, sekali-kali mulut mereka mengeluarkan suara mendesis-desis.

"Aauuuh...!"

"Ooooh...!"

"Bagaimana?" tanya Kwee Teng An. "Kita mulai sekarang saja!"

"Kami tidak bisa tenang, lebih baik nanti malam saja. Tapi... kami pun sudah tidak tahan.”

"Baiklah." Kwee Teng An manggut-manggij "Nanti malam kalian berdua kemarilah, kita akan main sampai sepuas-puasnya!"

"Kuatkah Tuan melayani kami berdua?" tanya Ling Ling.



"Jangankan cuma berdua, sepuluh pun aku sanggup," sahut Kwee Teng An sungguh-sungguh Maklum, pemuda itu mantan pemerkosa wanita

Pada malam harinya Lan Lan dan Ling Ling mengendap-endap ke kamar Kwee Teng An. Namun ketika mereka baru mau mengetuk pintu kamar n mendadak pintu kamar itu terbuka. Kwee Teng An berdiri di situ sambil tersenyum-senyum, kemudian secepat kilat menarik kedua gadis itu ke dalam, sekaligus menutup pintu kamar itu.

"Nah!" Kwee Teng An memandang mereka, sesuai dengan janji, kalian harus membuka baju!"

"Idiih!" sahut Ling Ling sambil tertawa genit. ”seharusnya lelaki yang lebih dulu membuka pakaian."

"Baik." Kwee Teng An tersenyum sambil melepaskan pakaiannya.

Kedua gadis itu memandang dengan mata terbelalak, karena tubuh pemuda itu memang berotot.

"Wuaaah!" seru Ling Ling tak tertahan. "Bukan main!"

"Ha ha ha!" Kwee Teng An tertawa. "Pokoknya malam ini kalian berdua pasti merasa puas. namun aku khawatir kalian cuma kuat satu kali”

"Oh, ya?" Lan Lan tertawa cekikikan. "Kalau begitu, mari kita coba!"

"Itu sudah pasti!" Kwee Teng An tersenyum. ”Aku sudah melepaskan pakaianku, kini giliran kalian!"

"Wuaduuuh!" seru Lan Lan dan Ling Ling ketika melihat ke arah tengah kedua belah paha Kwee Teng An. "Wuaduuuh...!"

"Kalian belum kuapa-apakan, tapi kalian berdua sudah aduh-aduhan. ”Apalagi nanti, kalian berdua sudah merintih-rintih nikmat."



"Hi hi hi!" Kedua gadis itu tertawa, lalu mulai melepaskan pakaian masing-masing.

Tubuh kedua gadis itu memang montok, makin membuat Kwee Teng An semakin bernafsu. Begitu pakaian mereka dilepaskan, pemuda itu langsung memeluk mereka. Tak lama kemudian, terdengarlah suara desah dan rintihan kedua gadis itu.

Keesokan harinya, Kwee Teng An pagi pagi sekali sudah bangun. Walaupun semalam melawan dua gadis menghabiskan beberapa ronde, tapi pemuda itu tetap tampak bersemangat.

Ia berjalan ke luar menuju halaman depan Ketika sampai di halaman itu matanya terbelalak karena melihat Ma Giok Ceng sedang duduk di taman bunga ditemani dua gadis berusia belasan tahun.

"Nona Ma!" Kwee Teng An mendekatinya dengan wajah ceria sambil memberi hormat. "Selamat pagi!"

"Pagi!" sahut Ma Giok Ceng sambil memandangnya. Walau pemuda itu cukup tampan, namun Ma Giok Ceng tidak merasa tertarik, bahkan sebaliknya malah merasa sebal kepadanya.

"Masih Pagi kok Nona Ma sudah bangun?" ianya Kwee Teng An lembut.

"Memangnya aku harus bangun siang?" sahut Ma Giok Ceng ketus.

"Nona Ma!" Kwee Teng An tidak tersinggung bahkan keketusan Ma Giok Ceng, namun malah tersenyum. "Maafkan apabila aku salah omong!"

"Tuan," ujar Ma Giok Ceng. "Aku sedang menghirup udara pagi di sini, jangan diganggu!"

"Nona   Ma...."  Kwee    Teng      An          menatapnya.     'Aku       tidak

mengganggu Nona."



Tatatapan pemuda itu membuat sekujur badan Ma Giok Ceng tergetar, dan gadis itu cepat-u'pat menundukkan kepala.

"Aku...."

"Ha ha ha!" Kwee Teng An tertawa. "Nona, aku sangat tertarik kepadamu. Apakah engkau jugu tertarik kepadaku?"

"Aku...." Wajah Ma Giok Ceng kemerah-me-ahan. "Aku...."

"Ha ha ha!" Mendadak terdengar suara tawa serak, muncullah Menteri Ma menghampiri mereka. "Teng An, engkau sudah bangun?"

"Ya, Tuan Besar," sahut Kwee Teng An sambil memberi hormat. "Selamat pagi, Tuan Besar!"

"Pagi!" ucap Menteri Ma sambil menatap padanya. "Nak, engkau sedang bercakap-cakap dengan Teng An?"

"Ayah...." Wajah gadis itu langsung memerah, Ternyata

tadi Kwee Teng An mengerahkan Tang Hun Tay Hoat terhadapnya, maka gadis itu tampak menurut kepadanya.

"Ha ha ha!" Menteri Ma tertawa. "Nak, engkau harus minta petunjuk kepada Teng An, kepandaiannya tinggi sekali lho!"

"Ayah...," ujar Ma Giok Ceng perlahan. "Aku mau masuk." "Baiklah." Menteri Ma manggut-manggut.

Ma Giok Ceng melangkah ke dalam rumah diikuti kedua pembantunya, sedangkan menteri Ma masih tertawa, kemudian memandang Kwee Teng An seraya berkata.

"Putriku memang begitu, masih malu-malu."

"Dia putri kesayangan Tuan besar, tentunya agak malu-malu dan manja," sahut Kwee Teng An sambil tersenyum. "Namun dia gadis yang lemah lembut."

"Benar." Menteri Ma manggut-manggut. "Teng An, engkau tertarik kepada putriku?"



"Ya, Tuan Besar." Kwee Teng An mengangguk.

"Bagus!" Menteri Ma tertawa. "Ha ha ha! Tapi sebelumnya engkau harus berbuat suatu jasa dulu."

"Jasa apa?"

"Akan dibicarakan lain kali," sahut Mental Ma. "Oh ya, sebagai kepala pengawal di sini engkau harus melatih para anak buahmu."

"Ya, Tuan Besar," ujar Kwee Teng An. "Itu memang tugasku."

"Bagus! Ha ha ha!" Menteri Ma tertawa gelak, ngkau harus mempertunjukkan kepandaian agar para anak buahmu kagum dan salut padamu!"

"Baik, Tuan Besar." Kwee Teng An mengangguk.

"Kalau begitu, engkau harus berseru memang-mereka berkumpul di sini!" ujar Menteri Ma.

"Ya, Tuan Besar." Mendadak Kwee Teng An berseru lantang menggunakan lweekang. "Kalian para pengawal, cepat berkumpul di sini! Ini perintahku, siapa berani membangkang pasti kuhukum!"

Seketika bermunculan para pengawal. Mereka memang sudah tahu Kwee Teng An mengalahkan Liok Lam Sun cuma dalam sepuluh jurus. Itu sungguh mengejutkan, namun di antaranya masih ada yang kurang percaya, mengira Liok Lam Sun sengaja mengalah terhadap pemuda itu.

Setelah para pengawal itu berbaris rapi di situ, barulah Kwee Teng An melangkah maju sambil memperhatikan mereka satu persatu. Para pengawal itu berjumlah sekitar lima puluh orang, namun tiada satu pun yang berkepandaian tinggi, itu membuat Kwee Teng An menggeleng-gelengkan kepala.



"Aku menggantikan Liok Lam Sun, kini aku sebagai kepala pengawal di sini. Oleh karena itu mulai hari ini aku akan melatih kalian!" Ujar Kwee Teng An memberitauhkan. "Mungkin di antara kalian ada yang merasa keberatan, karena aku menggantikan Liok Lam Sun."

"Betul!" sahut salah seorang pengawal. "Kami ingin menyaksikan kepandaian Tuan."

"Ngmm!" Kwee Teng An manggut-manggut kemudian bertanya mendadak. "Oh ya! Di antara kalian siapa yang punya anjing?"

"Kebetulan sekali," sahut salah seorang pengawal. "Semalam kami menangkap seekor anjing."

"Bawa ke mari sekarang!" perintah Kwee Teng An.

"Ya." Pengawal itu segera pergi, dan tak lama kemudian sudah kembali dengan membawa seekor anjing.

Sementara Menteri Ma berdiri terheran-heran di tempat. Ia sama sekali tidak tahu untuk apa anjing itu, maka menatap Kwee Teng dengan mata terbelalak.

"Tuan Besar!" Kwee Teng An memberitahukan. "Kemarin ketika bertanding dengan Liok Lam sun, aku belum mengeluarkan ilmu andalanku. Nah, pagi ini akan kuperlihatkan."

"Oh?" Menteri Ma tercengang. "Jadi engkau masih punya ilmu andalan?""

"Ya, Tuan Besar." Kwee Teng An lalu memandang para pengawal seraya berkata. "Kalian liat baik-baik, akan kupertunjukkan ilmu andalanku!"

Para pengawal saling memandang. Sedangkan anjing itu berdiri di tengah-tengah halaman. Kwee Teng An menatap anjing itu, sekaligus mengerahkan Pek Kut Im Sat Kang.



Mendadak ia membentak keras, lalu memukul anjing itu dengan Pek kut Im Sat Ciang.

Tanpa mengeluarkan suara sedikit pun anjing lalu langsung terkapar, kemudian sekujur badannya mengeluarkan asap, setelah itu mulai mencair.

"Haaah...?" Betapa terkejutnya para pengawal menyaksikan kejadian itu, dan wajah mereka pun pucat pias.

Begitu pula Menteri Ma, keningnya berkerut-kerut. Tak lama kemudian tubuh anjing itu hanya tinggal tulangnya dan suasana pun menjadi hening.

"Ha ha ha!" Mendadak Menteri Ma tertawa terbahak-bahak. "Teng An, aku tidak menyangka engkau masih memiliki ilmu andalan itu. Kalau kemarin engkau menggunakan ilmu itu untuk bertanding dengan Liok Lam Sun, aku yakin dia pasti mati."

"Betul, Tuan Besar," sahut Kwee Teng An. ”Oleh karena itu, hamba tidak menggunakan ilmu itu untuk melawannya."

"Ngmm!" Menteri Ma manggut-manggut, kemudian berseru. "Kalian dengar semua! Mulai hari ini kalian harus memanggil 'Tuan Muda’ kepada Teng An!"

"Ya, Tuan Besar!" sahut para pengawal.

"Ha ha ha!" Menteri Ma tertawa gelak. "Ten An, engkau boleh mulai melatih mereka. Aku mau ke dalam."

"Ya, Tuan Besar," Kwee Teng An memberi hormat.

Menteri Ma berjalan masuk ke rumah. Kwee Teng An memandang para pengawal seraya berkata.

"Mulai sekarang kalian semua harus giat berlatih. Aku akan menggembleng kalian."

"Terimakasih, Tuan Muda!" ucap mereka serentak.



"Siapa yang berani membangkang perintahku pasti kuhukum seperti anjing itu," ujar Kwee Teng An dingin.

Seketika para pengawal menundukkan kepala dengan hati tercekam, Kwee Teng An tersenyum

"Kalian tidak usah khawatir! Aku tidak akan sembarangan menghukum kalian, bahkan mulai bulan ini, gaji kalian semua akan kunaikkan” Kwee Teng An memberitahukan.

"Terimakasih, Tuan Muda!" Betapa girangnya para pengawal itu. Mereka bersorak sorai dengan wajah berseri-seri.

"Tenang!" seru Kwee Teng An. "Mulai searang aku akan mengajar kalian ilmu silat tingkat tinggi, kuharap kalian harus belajar dengan giat!"

"Ya, Tuan Muda!" sahut para pengawal itu serentak.

Mulailah Kwee Teng An mengajar mereka ilmu silat tingkat tinggi. Para pengawal itu pun belajar dengan giat sekali, sebab mereka sangat segan terhadap Kwee Teng An.

Tampak Ma Giok Ceng duduk termenung di dalam kamar. Kedua pembantu berdiri di sisinya dengan kening berkerut-kerut. Walau kedua gadis itu baru berusia belasan, namun sangat cerdas dan berpikiran panjang.

"Nona," bisik salah seorang gadis itu. "Menurutku, pemuda itu bukan pemuda baik."

"Betul," sambung yang lain. "Ketika dia memandang Nona, matanya mendadak bersinar aneh."

"Haaah?" Ma Giok Ceng tampak tersentak. Betul. Pada waktu itu sekujur badanku tergetar, sehingga aku mau menuruti perkataannya."

"Nona!" Salah seorang gadis itu memberitahukan. "Aku pernah membaca sebuah buku cerita tentang seorang gadis terkena ilmu sesat”



"Celaka!" Air muka Ma Giok Ceng berubah hebat. "Jangan-jangan pemuda itu memiliki ilmu sesat."

"Mungkin. Oleh karena itu Nona harus berhati-hati! Kelihatannya ayah Nona sangat menyukainya, maka kami khawatir ayah Nona akan menjodohkan Nona kepadanya."

"Haaah...?" Wajah Ma Giok Ceng berubah pucat. "Kalau begitu, aku harus bagaimana?"

"Nona, hanya ada satu jalan..." bisik gadis itu di telinga Ma Giok Ceng dan menambahkan "Lagipula ayah Nona begitu jahat. Kalau Nona tidak kabur sekarang, tiada kesempatan lagi kelak”

"Aaaah...!" Ma Giok Ceng menghela nafas panjang. "Kalau aku pergi, bagaimana ayahku?!”

"Sementara ini Nona harus memikirkan diri Nona."

"Lalu bagaimana kalian berdua?"

"Setelah Nona pergi, kami berdua pun aku berhenti bekerja di sini. Kami ingin pulang ke kampung halaman."

"Ngmm!" Ma Giok Ceng manggut-manggl "Kalau begitu, aku harus berkemas sekarang."

"Nona harus melalui pintu belakang. Sekarang kami pergi menyapu, Nona harus segera pergi"

"Baik." Ma Giok Ceng mengangguk.

Kedua gadis itu segera meninggalkannya. Ma Kiiok Ceng berkemas dan tak lupa membawa uang serta semua perhiasannya. Setelah itu, ia berendap-endap menuju pintu belakang.

Berselang sesaat, muncullah kedua gadis tadi di kamar Ma Giok Ceng. Mereka melihat pintu lemari terbuka, dan semua pakaian Ma Giok Ceng tidak ada di dalamnya. Segeralah mereka berlari ke kamar Menteri Ma.



"Tuan Besar! Tuan Besar!" panggil mereka sambil mengetuk pintu kamar Menteri Ma. "Tuan besar!"

Pintu kamar itu terbuka. Menteri Ma berdiri disitu sambil menatap kedua gadis itu dengan kening berkerut-kerut.

"Ada apa?" tanyanya.

"Tuan besar! Nona... Nona...."

"Kenapa Nona?"

"Nona... Nona telah pergi!"

"Apa?" Menteri Ma tersentak. "Nona telah pergi? Dia pergi ke mana? Kenapa kalian tidak menemaninya?"

"Kami pergi menyapu di halaman samping, lalu ke kamar Nona, tapi lemari di kamar Nona terbuka dan kosong."

"Aaaah!" Menteri Ma menghela nafas panjang. "Kalian berdua harus ingat, tidak boleh menceritakan hal ini pada siapa pun! Dua tiga hari kemudian, kalian berdua boleh pulang ke kampung halaman."

"Ya! Tuan Besar."

"Sekarang kalian pergi panggil kepala pembantu ke mari!"

"Ya, Tuan Besar." Kedua gadis itu segera pergi memanggil kepala pembantu wanita. Mereka pun bergirang dalam hati, karena Menteri Ma tidak membesar-besarkan urusan itu.

Berselang beberapa saat kemudian, munculah kepala pembantu wanita itu menghadap Menteri Ma.

"Tuan Besar...."

"Cepat panggil Kwee Teng An, aku menunggunya di ruang tengah!"

"Ya, Tuan Besar." Kepala pembantu wanita segera pergi memanggil Kwee Teng An, sedangkan Menteri Ma pergi ke ruang tengah.



Berselang beberapa saat kemudian, tamp Kwee Teng An memasuki ruang itu dengan tergesa-gesa.

"Tuan Besar memanggilku?" tanyanya sambil memberi hormat. "Ada suatu tugas untukku?"

"Duduklah Teng An!" sahut Menteri Ma dengan ramah. "Tapi...." Kwee Teng An ragu untuk duduk "Tuan Besar...." "Duduklah!" desak Menteri Ma.

"Terimakasih, Tuan Besar!" ucap Kwee Teng An sambil duduk.

"Teng An...." Menteri Ma menatapnya. "Tadi putriku pergi

ke rumah familinya. Tentunya engkau tahu, aku cuma mempunyai seorang anak perempuan."

Kwee Teng An mendengarkan dengan penuh perhatian, dan Menteri Ma melanjutkan dengan perlahan.

"Terus terang, sejak melihatmu, entah apa sebabnya aku merasa suka kepadamu." Menteri Ma tersenyum. "Oleh karena itu, aku berniat mengangkatmu sebagai anak angkat. Entah engkau setuju atau tidak?"

"Tuan    Besar...."             Kwee    Teng      An          tertegun.             Ia            mengira

telinganya salah dengar tentang itu.

"Teng An!" Menteri Ma menatapnya dalam-dalam. "Bersediakah engkau menjadi anak angkatku?”

"Terimakasih, Tuan Besar!" Kwee Teng An langsung menjatuhkan diri berlutut di hadapan Menteri Ma.

"Ha ha ha!" Menteri Ma tertawa terbahak-bahak. "Teng An, engkau harus memanggilku ayah angkat!"

"Ayah angkat!" panggil Kwee Teng An cepat, betapa girangnya pemuda itu, karena kini Menteri Ma telah mengangkatnya sebagai anak, dan tentunya ia akan hidup



senang dan mewah, bahkan ia akan dikelilingi oleh gadis-gadis cantik.

"Teng An, bangunlah!" ujar Menteri Ma de-Halaman 24-25 ga ada
melatih mereka dengan sungguh-sungguh, pokoknya tidak akan mengecewakan Ayah."

"Bagus! Ha ha ha...!" Menteri Ma tertawa gembira. "Besok aku akan menghadap kaisar untuk menceritakan tentang dirimu, agar dirimu bisa diterima sebagai pemimpin pengawal istana."

"Terimakasih, Ayah!" ucap Kwee Teng An girang. "Terimakasih!"

-oo0dw0oo-


Bagian ke enam puluh enam Menyelamatkan seorang gadis

Tio Bun Yang betul-betul cemas, dan mulai tidak betah tinggal di markas pusat Kay Pang, bahkan sering melamun. Semua itu tentunya tidak terlepas dari mata Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong.

"Bun Yang," ujar Lim Peng Hang ketika mereka bertiga duduk di ruang depan. "Kelihatannya engkau sedang memikirkan Goat Nio. Ya, kan?”

"Ya, Kakek." Tio Bun Yang mengangguk,

"Engkau punya suatu rencana?" tanya Lim Peng Hang lembut.



"Aku...." Tio Bun Yang menghela nafas panjang. "Aku ingin

ke markas Ngo Tok Kauw menemui kakak Ling Cu. Siapa tahu dia punya informasi mengenai ketua Kui Bin Pang."

"Baiklah." Lim Peng Hang manggut-manggut. ”Kapan engkau akan berangkat?"

"Sekarang."

"Kakek tidak akan melarangmu, tapi engkau harus berhati-hati!" pesan Lim Peng Hang. "Sebab kepandaian ketua Kui Bin Pang itu tinggi sekali."

"Ya, Kakek."

"Bun Yang!" Gouw Han Tiong memandangnya seraya berkata. "Seandainya terjadi sesuatu atas diri Goat Nio, engkau harus tetap tabah!"

"Ya, Kakek Gouw." Tio Bun Yang meng-npguk dengan wajah murung, kemudian menghela nafas panjang. "Aaah...."

"Bun      Yang...."               Lim         Peng      Hang      menggeleng-gelengkan

kepala. "Engkau boleh berangkat sekarang, mudah-mudahan berhasil mencari Goat Nio"

"Terimakasih, kakek!" ucap Tio Bun Yang, lalu berpamit. Pemuda itu langsung berangkat ke markas Ngo Tok Kuaw yang di kota Kang Shi. Ia berharap Phang Ling Cu, ketua Ngo Tok Kauw itu mempunyai informasi tentang jejak ketua Kui Bin Pang

Beberapa hari kemudian sampailah dia disuatu tempat sepi. Tiba-tiba keningnya berkerut ternyata telinganya mendengar suara pertarungan. Secepat kilat ia melesat ke arah suara itu tibanya di tempat tersebut, dilihatnya seorang gadis cantik sedang bertarung dengan seorang lelaki bertampang seram dan belasan orang ngerumuni mereka sambil bersorak-sorak.



"Ha ha ha!" Lelaki bertampang seram tertawa gelak. "Gadis cantik, lebih baik engkau menyerah! Mari kita bersenang-senang, pokoknyi aku pasti memuaskanmu!"

"Diam!" bentak gadis itu sambil menyerang. Namun lelaki bertampang seram itu dengan gampang sekali berkelit.

Puluhan jurus kemudian, gadis itu makin terdesak, akhirnya pedangnya terlepas dari tanga nya.

"He he he!" Lelaki bertampang seram itu tertawa terkekeh-kekeh. "He he he! Gadis cantik alangkah baiknya engkau menjadi isteriku! He he he...!"

"Binatang!" caci gadis itu sekaligus menyerangnya dengan tangan kosong.

Akan tetapi, sambil tertawa lelaki bertampang seram itu menangkap tangannya, bahkan sekaligus memeluknya.

"Jangan kurang ajar! Lepaskan!" teriak gadis itu sambil meronta-ronta.

"He he he!" Lelaki bertampang seram itu jertawa terkekeh-kekeh. "Pokoknya engkau harus melayaniku bersenang-senang!"

"Lepaskan aku! Lepaskan aku!" Gadis itu terus berteriak..

Kakinya menendang, namun menindak tubuhnya terkulai.

Ternyata lelaki bertampang seram itu telah menotok jalan darahnya, sehingga membuatnya tak bisa bergerak.

"He he he!" Lelaki bertampang seram itu tertawa, kemudian mulai meraba-raba sepasang payudara gadis itu.

"Jangan! Jangan!" teriak gadis itu lemah.

"He he he..." Lelaki bertampang seram itu tertawa lagi, namun mendadak tersentak karena mendengar suara bentakan yang mengguntur.



"Jangan kurang ajar terhadap gadis itu!" Berkelebat sosok bayangan ke hadapan lelaki bertampang seram itu. Semula lelaki tersebut tampak terkejut, namun begitu melihat yang ber-diri di hadapannya adalah seorang pemuda, seketika juga ia tertawa gelak.

"Ha ha ha! Anak muda! Engkau ingin cari mati ya?" ujarnya.

"Mm!" dengus pemuda itu, yang tidak lain «Ialah Tio Bun Yang. "Cepatlah kalian enyah! Kalau tidak...."

"Anak muda!" bentak lelaki bertampang seram itu. "Aku adalah perampok sadis. Kalau berani menggangguku, engkau pasti mampus! Serang dia!"

Belasan anak buah perampok itu langsung menyerang Tio Bun Yang dengan berbagai macam senjata.

"Hati-hati!" seru gadis itu cemas.

Tio Bun Yang tersenyum, kemudian mendadak mengibaskan lengan bajunya dan seketika terdengar suara hiruk-pikuk.

Trang! Ting! Biang!

Semua senjata mereka terpental entah kemana. Kemudian badan Tio Bun Yang berputar bagaikan angin puyuh dan terdengarlah suara jeritan.

"Aaakh! Aaaakh...!"

Belasan orang itu terpental beberapa depa dan jatuh gedebuk dengan mulut mengeluarkan darah segar.

"Haah...?" Mulut laki-laki berwajah seram itu ternganga lebar, begitu pula gadis tersebut.

Setelah merobohkan perampok-perampok itu. Tio Bun Yang segera mendekati kepala perampok itu.



"Anak muda!" bentak kepala perampok gusar "Engkau harus mampus di tanganku!"

Kepala perampok itu menyerangnya dengan golok. Tio Bun Yang tersenyum dan badannya bergerak. Seketika juga ia menghilang dari hadapan kepala perampok itu.

"Haaah?" kepala perampok itu terbelalak. Ia menengok ke sana ke mari, namun tidak melihat Tio Bun Yang.

"Aku berada di belakangmu!" Terdengar suara di belakangnya.

Kepala perampok itu cepat-cepat mengayunkan goloknya ke belakang, tapi cuma mengenai tempat kosong, sebab Tio Bun Yang sudah tidak berada di situ.

"Hah?" Kepala perampok itu terkejut bukan main.

Dalam waktu bersamaan mendadak muncul Tio Bun Yang di hadapannya sambil tersenyum-senyum.

"Engkau sering merampok dan memperkosa kan?" tanya Tio Bun Yang perlahan sambil menatapnya tajam.


"Aku...." Kepala perampok itu menghadapi Tio Bun Yang. "Aku...."


betul-betul  ciut  nyalinya


"Terus terang aku tidak pernah membunuh, namun aku tetap akan menghukummu."

"Apa?" Kepala perampok itu melotot. "Engkau berani menghukumku?"

"Kenapa tidak?" sahut Tio Bun Yang dengan tersenyum.

"Aku... aku harus membunuhmu!" teriak kepala perampok itu sambil menyerang Tio Bun Yang dengan goloknya.

Tio Bun Yang tetap berdiri diam di tempat, etlika golok itu mengarah kepadanya, barulah ia mengibaskan lengan bajunya.



Trang! Golok itu terpental.

"Hah?" Betapa terkejutnya kepala perampok itu. Ia memandang Tio Bun Yang dengan wajah pucat pias.

"Aku tidak akan membunuhmu," ujar Tio Bj Yang. "Tapi aku akan memusnahkan kepandaian mu."

"Ampun, Siauhiap! Ampun!" Kepala perampok itu langsung berlutut di hadapan Tio Bun Yang.

"Aku telah mengampuni, maka tidak membunuhmu. Hanya akan memusnahkan kepandaianmu."

"Siauhiap, jangan engkau musnahkan kepandaianku, aku bersumpah tidak akan melakukan kejahatan lagi!"

"Bersumpah?" Tio Bun Yang menggeleng gelengkan kepala. "Itu percuma."

"Siauhiap...."

Akan tetapi, mendadak tangan Tio Bun Yang bergerak dan seketika kepala perampok itu menjerit.

"Aaaakh...!" Mulutnya mengeluarkan darah Ternyata Tio Bun Yang telah memusnahkan kepandaiannya.

"Ayoh, cepat pergi!" bentak Tio Bun Yan Kepala perampok itu berjalan pergi dengan sempoyongan. Para anak buahnya mengikuti dengan langkah tertatih-tatih, membuat gadis itu tertawa geli.

Di saat itulah mendadak Tio Bun Yang menepuk punggung gadis itu untuk membebaskan jalan darahnya yang tertotok oleh kepala perampok. Begitu jalan darahnya terbuka, gadis itu Iangsung meloncat bangun, kemudian menatap lio Bun Yang dengan kagum.

"Nona," ujar Tio Bun Yang. "Kini engkau sudah aman, boleh meninggalkan tempat ini."

"Aku..." Gadis itu menundukkan kepala.



"Kenapa engkau?" Tio Bun Yang heran.

"Aku... aku tidak tahu harus ke mana," sahut padis itu sambil menghela nafas panjang.

"Apa?" Tio Bun Yang terbelalak. "Nona...."

"Aku... aku minggat dari rumah," Gadis itu memberitahukan dengan jujur. "Jadi aku tidak tahu harus ke mana."

"Nona!" Tio Bun Yang menatapnya. "Kenapa engkau minggat dari rumah? Bagaimana kalau aku mengantarmu pulang?"

"Tidak." Gadis itu menggelengkan kepala. "Aku tidak mau pulang, karena aku benci kepada ayah-ku."

"Nona!" Tio Bun Yang menghela nafas panjang. "Tidak baik engkau membenci ayahmu sendiri, engkau akan jadi anak durhaka lho!"

"Tapi ayahku sangat jahat." Gadis itu menundukkan kepala.

"Ayahmu tidak jahat terhadapmu kan?" Tio Bun Yang tersenyum. "Ayo kuantar pulang! Mungkin ayahmu sangat mencemaskan."

"Ayahku tidak akan mencemaskanku." sahut gadis itu."Dia... dia cuma mementingkan diri sendiri."

"Nona!" Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala. "Kalau engkau tidak mau pulang, lalu mau ke mana?"

"Aku..." Gadis itu menatap Tio Bun Yang dengan mata berbinar-binar. "Aku ikut engkau saja."

"Mana boleh." Tio Bun Yang menggelengkan kepala. "Itu tidak baik”

"Kalau begitu..." Gadis itu membanting-bantingkan kakinya. "Lebih baik aku dibunuh kepa perampok itu saja."



"Dia tidak bermaksud membunuhmu, melainkan ingin memperkosamu lho!" ujar Tio Bun Yang. "Kepandaianmu masih rendah, tidak baik berkecimpung di rimba persilatan."

"Siapa bilang aku berkecimpung di rimba pel* silatan?"

"Lho? Bukankah kini engkau telah mulai berkecimpung di rimba persilatan?"

"Aku... aku cuma ingin berkelana."

"Nona...."  Tio  Bun  Yang  menggeleng-gelengkan  kepala.

"Aku masih ada urusan lain, tidak bisa terus-menerus menemanimu di sini."

"Engkau...." Gadis itu terisak-isak. "Engkau kejam!"

"Apa?" Tio Bun Yang terbelalak. "Aku kejam? Padahal aku telah menyelamatkanmu barusan, kenapa engkau masih bilang aku kejam?"

"Karena... karena engkau tidak mau mengajakku pergi." ujar gadis itu dengan suara rendah.

"Nona...." Tio Bun Yang menghela nafas panjang.

"Hei!" Mendadak wajah gadis itu berseri. "Kita jangan bercakap-cakap dengan cara berdiri begini, mari kita duduk di bawah pohon!"

"Nona...."

"Ayolah!" desak gadis itu. Tio Bun Yang menarik nafas dalam-dalam, lalu duduk di bawah pohon dan gadis itu segera duduk di sisinya.

"Nona, aku tidak bisa lama-lama di sini."

"Lho?" Gadis itu menatapnya. "Aku tidak menyuruhmu lama-lama di sini, melainkan Cuma ingin bercakap-cakap denganmu."

"Nona ingin mengatakan apa?"



"Hei!" Gadis itu menatapnya dalam-dalam, ”Bolehkah aku tahu namamu?"

"Namaku Tio Bun Yang."

"Tio Bun Yang..." Gadis itu manggut-manggut, lalu memandangnya seakan sedang menunggu sesuatu, namun Tio Bun Yang diam saja. "Hei! kenapa engkau tidak menanyakan namaku?"

"Aku..." Tio Bun Yang memandang jauh ke depan.

"Namaku Ma Giok Ceng." Ternyata gadis itu adalah puteri kesayangan Menteri Ma, yang minggat dari rumah. Ia terus memandang Tio Bun Yang. "Oh ya, bolehkah aku memanggilmu kak Bun Yang?"

"Boleh." Tio Bun Yang mengangguk.

"Kalau begitu..." Wajah Ma Giok Ceng berseri. "Engkau harus memanggilku adik lho!"

"Ya." Tio Bun Yang manggut-manggut.

"Kakak Bun Yang, kepandaianmu tinggi sekali. Bolehkah engkau mengajar aku ilmu silat?” tanya Ma Giok Ceng mendadak.

"Apa?" Tio Bun Yang terbelalak. "Aku tidak punya waktu."

"Kakak Bun Yang!" Ma Giok Ceng cemberutl "Kenapa sih engkau? Kok kelihatannya tidak begitu senang kepadaku? Apakah engkau merasa sebal kepadaku?"

"Aku tidak merasa sebal kepadamu, melainkankan hatiku sedang resah” Tio Bun Yang menghela nafas

"Resah kenapa? Ditinggal kekasih ya?" tanya Ma Giok Ceng sambil tertawa.

"Aaaah..." Tio Bun Yang menghela nafas lagi. kemudian memandangnya seraya berkata. "Engkau gadis periang, tidak



seharusnya minggat dari rumah. Aku yakin ayahmu sangat memanjakanmu."

"Yaah!" Ma Giok Ceng menggeleng-gelengkan kepala. "Itu memang benar, tapi...."

"Adik Giok Ceng, beritahukanlah kepadaku siapa ayahmu dan kenapa engkau pergi meninggikan rumah?"

"Aku akan memberitahukanmu, namun engkau tidak boleh memberitahukan kepada orang lain! Karena akan mencelakai diriku!" pesan Ma Giok Ceng sungguh-sungguh.

"Baik." Tio Bun Yang mengangguk. "Aku berjanji! Nah, beritahukanlah!"

"Sebetulnya aku adalah putri menteri Ma di ibu kota." Ma Giok Ceng memberitahukan. "Belum lama ini, muncul seorang pemuda di rumahku, Dia mampu mengalahkan guruku, maka ayahku mengangkatnya sebagai kepala pengawal."

"Oooh!" Tio Bun Yang manggut-manggut dan bertanya. "Siapa pemuda itu?"

"Kalau tidak salah, dia bernama Kwee Teng An." Ma Giok Ceng memberitahukan lagi. "Kepandaiannya tinggi sekali dia mampu mengalahkan guruku dalam sepuluh jurus."

"Oh?" Kening Tio Bun Yang berkerut. "Kwee Teng An...."

"Engkau kenal dia?"

"Rasanya aku pernah mendengar nama tersebut, tapi... sudah lupa." Tio Bun Yang mengelengkan kepala dan bertanya. "Lalu kenapa engkau minggat dari rumah?"

"Sebab.... kelihatan dia bukan pemuda baik. Aku khawatir

ayahku akan menjodohkanku padanya, maka aku minggat."

"Sebetulnya engkau tidak usah minggat, kankah engkau bisa menolak apabila ayahmu mej jodohkanmu dengan pemuda itu? Ya, kan?"



"Itu tidak bisa, sebab ayahku pasti terus menerus mendesakku. Lagi pula... kepandaian pemuda itu sangat tinggi, dia pasti bisa memaksaku."

"Adik Giok Ceng," ujar Tio Bun Yang. "Lebih baik kuantar engkau pulang, biar aku yang bicara dengan ayahmu."

"Tiada gunanya." Ma Giok Ceng menggeleng gelengkan kepala. "Engkau tidak pernah mendengar tentang ayahku?”

"Memang tidak."

"Ayahku sangat berpengaruh di sana. Entah sudah berapa banyak menteri dan jenderal yang mati di tangan ayahku."

"Ayahmu juga berkepandaian tinggi?"

"Ayahku tidak mengerti ilmu silat, namun kaisar sangat mempercayainya.”

"Oooh!" Tio Bun Yang manggut-manggut "Jadi ayahmu memfitnah mereka di hadapan kaisar, maka kaisar menurunkan perintah menghukum mati mereka. Begitu kan?"

"Ya." Ma Giok Ceng mengangguk dengan wajah murung.

"Dulu yang berpengaruh di istana adalah Lu Thay Kam, namun sudah mati. Kini malah muncul ayahmu." Tio Bun Yang menghela nafas panjang.

"Engkau kenal Lu Thay Kam?" tanya Ma Giok Ceng dengan heran.

"Kenal." Tio Bun Yang mengangguk, kemudian menutur tentang itu.

"Oooh!" Ma Giok Ceng manggut-manggut. ”Aku tidak menyangka engkau mencintai putri angkatnya itu."

"Engkau jangan salah paham. Yang mencintai Lui Hui San adalah Kam Hay Thian, bukan aku." Tio Bun Yang memberitahukan. "Kini mereka berdua sudah saling mencinta."



"Karena  itu...."  Ma  Giok  Ceng  tersenyum.  ”Engkau  pun

menjadi patah hati. Ya kan?"

"Tentu tidak," sahut Tio Bun Yang. "Aku menganggap Lu Hui San sebagai adik. Masih ada Lie Ai Ling dan Lam Kiong Soat Lan, namun mereka semua sudah punya kekasih."

"Bagaimana engkau? Sudah punya kekasih?"

"Aku...." Tio Bun Yang menghela nafas.

"Aku.”

"Kalau engkau belum punya kekasih, aku... bersedia menjadi kekasihmu." ujar Ma Giok Ceng dengan suara rendah dan wajah kemerah-merahan.

”Eh? Engkau...." Tio Bun Yang terbelalak.

"Kakak Bun Yang!" Ma Giok Ceng tersenyum lembut. 'Begitu melihatmu, aku pun sangat tertarik kepadamu. Aku...."

"Adik Giok Ceng...." Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan

kepala. "Aku hanya bisa menerimamu sebagai adik bukan sebagai kekasih

"Kenapa?" Ma Giok Ceng tampak kecewa

"Sebab aku sudah punya kekasih, namanya Sian Koan Goat Nio." Tio Bun Yang memberitahukan. "Tapi...."

"Kenapa?"

"Dia diculik oleh ketua Kui Bin Pang, aku sedang mencarinya."

"Oooh!" Ma Giok Ceng manggut-manggut "Pantas engkau bilang tidak punya waktu untuk mengajarku ilmu silat, ternyata karena itu!"

"Ya." Tio Bun Yang mengangguk.



"Kakak Bun Yang...." Ma Giok Ceng menatapnya seraya

berkata. "Perkenankanlah aku ikut engkau! Kalau tidak, aku tidak tahu harus ke mana."

"Tapi...."

"Engkau tega membiarkan aku berkeliaran ke sana ke mari? Bagaimana kalau aku bertemu penjahat lagi?"

"Itu... itu...." Tio Bun Yang mengerutkan kening.

"Kakak  Bun        Yang...."               Ma         Giok       Ceng      memandangnya

dengan penuh harap. "Apakah engkau tega meninggalkanku seorang diri di sini?"

"Aku...." Mendadak wajah Tio Bun Yang berseri. "Kebetulan

aku akan ke markas Ngo Tok kauw di kota Kang Shi, engkau boleh ikut aku kesana."

"Terimakasih, kakak Bun Yang!" ucap Ma Giok Ceng dengan wajah berseri. "Terimakasih."

"Ketua Ngo Tok Kauw bernama Phang Ling Cu, dia kakak angkatku." Tio Bun Yang memberitahukan. "Engkau akan aman tinggal di sana."

"Ya." Ma Giok Ceng mengangguk. "Terima-kasih!"

"Kalau begitu, mari kita berangkat sekarang!" Tio Bun Yang bangkit berdiri. Ma Giok Ceng juga ikut berdiri, kemudian mereka berdua berangkat ke kota Kang Shi.

Dalam perjalanan menuju markas Ngo Tok Kauw, Tio Bun Yang mengajar Ma Giok Ceng ilmu silat tingkat tinggi, tentunya sangat menggembirakan gadis itu. Ia terus belajar dengan giat sekali, maka tidak heran kalau kepandaiannya mengalami kemajuan pesat.

Hari ini mereka beristirahat di sebuah lembah. Ma Giok Ceng memanfaatkan kesempatan ini untuk berlatih. Sedangkan Tio Bun Yang duduk termenung di bawah pohon,



ternyata sedang mjemikirkan Siang Koan Goat Nio. Kemudian menghela nafas panjang sambil mengeluarkan sulingnya

Terdengarlah suara suling yang sangat menggetarkan kalbu. Ma Giok Ceng berhenti berlatih dan segera mendekati Tio Bun Yang, lalu duduk di sisinya sambil mendengar suara suling itu.

Berselang beberapa saat kemudian, barulah Tio Bun Yang berhenti meniup sulingnya dan wajahnya tampak murung sekali.

"Kakak Bun Yang!" Ma Giok Ceng memandangnya kagum. "Engkau pandai sekali meniup suling."

"Ya." Tio Bun Yang manggut-manggut.

"Kakak  Bun        Yang...."               Ma         Giok       Ceng      menghela            nafas

panjang. "Engkau teringat kepada Goat Nio?"

"Ng!" Tio Bun Yang mengangguk. "Aku rindu sekali kepadanya. Aaah...!"

"Kakak Bun Yang...." Mendadak Ma Giok teng terisak-isak.

"Aku tidak pernah jatuh hati kepada pemuda mana pun, namun setelah bertemu denganmu, aku justru jatuh hati tapi engkau sudah punya kekasih."

"Adik Giok Ceng, aku menganggapmu sebagai adik, maka aku pun akan menyayangimu."

"Aaah...!" keluh Ma Giok Ceng. "Aku akan lebih bahagia apabila menjadi isterimu. Namun itu cuma merupakan suatu mimpi di siang hari lolong."

"Adik Giok Ceng...." Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan

kepala. "Aku...."

"Kakak Bun Yang!" Ma Giok Ceng tersenyum." Aku kagum kepadamu, karena walau kita berduaan, engkau tidak pernah kurang ajar terhadapku."



"Adik Giok Ceng...." Tio Bun Yang tersenyum. "Aku yakin

kelak engkau pasti ketemu pemuda tampan dan baik percayalah!"

"Kakak Bun Yang?" tanya Ma Giok Ceng mendadak. "Bagaimana engkau seandainya terjadi sesuatu atas dirinya?"

"Aku tidak bisa hidup lagi." "Kalau engkau tidak bisa hidup, aku pun akan... mati," ujar Ma Giok Ceng dengan suara rendah.

"Apa?" Tio Bun Yang tertegun, kemudia menghela nafas panjang. "Adik Giok Ceng, engkau tidak boleh begitu"

"Yaaah!" Ma Giok Ceng menghela nafas panjang "Siapa tahu kelak aku maIah akan menjadi biarawati."

-oo0dw0oo-


Beberapa hari kemudian, Tio Bun Yang dan Ma Giok Ceng sudah tiba di kota Kang Shi. Tio Bun Yang langsung mengajaknya ke markas Nno Tok Kauw. Kedatangan Tio Bun Yang bersama gadis itu sungguh mencengangkan Phang Ling Cu ketua Ngo Tok Kauw.

"Adik Bun Yang...."

"Kakak Ling Cu!" Tio Bun Yang tersenyum "Mari kuperkenalkan, gadis ini bernama Ma Giok Ceng."

"Oooh!" Ngo Tok Kauwcu manggut-manggui

"Kakak Ling Cu!" Ma Giok Ceng segera memberi hormat. "Terimalah hormatku!"

Ngo Tok Kauwcu balas memberi hormat, la mempersilakan mereka duduk.

"Adik Bun Yang ke mari ada urusan penting?” tanyanya kemudian



"Aaah...!" Tio Bun Yang menghela nafas panjang. "Aku...”

"Adik Bun Yang!" Ngo Tok Kauwcu menatapnya. "Engkau belum berhasil mencari Goat Nio ?”

"Belum." Tio Bun Yang menggelengkan ke pala kemudian menutur tentang semua kejadian itu dan menambahkan, "Entah dibawa ke mana Goat Nio?"

"Biar bagaimanapun engkau harus tabah," ujar Ngo Tok Kauwcu. "Aku pun akan membantu mencari jejak Ketua Kui Bin Pang itu.”

"Terimakasih, Kakak Ling Cu!"

"Adik Bun Yang!" Ngo Tok Kauwcu menatapnya seraya bertanya. "Bagaimana cara engkau berkenalan dengan Giok Ceng?"

"...."       Tio          Bun        Yang      memberitahuan.              ”....         maka     aku

menyelamatkannya."

"Oooh!" Ngo Tok Kauwcu manggut-manggut, kemudian memandang Ma Giok Ceng seraya bertanya. "Bolehkah aku tahu identitasmu?"

"Boleh." Ma Giok Ceng mengangguk. "Tapi Kakak Ling Cu tidak boleh memberitahukan kepada orang lain, sebab akan mencelakai diriku."

"Baik." Ngo Tok Kauwcu tersenyum. "Aku berjanji!"

"Aku      adalah   putri      menteri                Ma...."  Ma         Giok       Ceng

memberitahukan tentang semua itu. "Maka aku minggat dari rumah."

"Sungguh tak disangka!" Ngo tok kauwcu menggeleng-gelengkan kepala. "Ternyata engkau adalah putri menteri Ma yang sangat berpengaruh istana!"

"Aaah...!" Ma Giok Ceng menghela nafas panjang. "Ayahku adalah menteri jahat, aku... aku mengkhawatirkannya."



"Oh ya!" tanya Ngo Tok Kauwcu. "Engkau tahu Pemuda itu berasal dari penguruan mana?"

"Tidak tahu." Ma Giok Ceng menggelengkan kepala. "Guruku telah berpesan kepadaku harus berhati-hati terhadapnya. Kata guruku, dia pemuda yang sangat licik."

"Ngmm!" Ngo Tok Kauwcu manggut-manggut "Lalu apa rencanamu sekarang?"

Ma Giok Ceng segera memandang Tio Bun Yang, dan pemuda itu langsung berkata,

"Kakak Ling Cu, sementara ini biar dia tinggal di sini agar dirinya aman."

"Baiklah." Ngo Tok Kauwcu tersenyum. "Dia boleh tinggal di sini. Tapi... markasku ini tentunya tidak bisa menyamai rumah menteri Ma lho!"

"Tidak apa-apa," sahut Ma Giok Ceng cepat "Aku lebih senang tinggal di sini, sungguh!"

"Kini urusan ini telah beres, maka aku harus segera pergi mencari Goat Nio," ujar Tio Bun Yang.

"Kakak  Bun        Yang...."               Wajah   Ma         Giok       Ceng      langsung

berubah murung. "Kok sudah mau pergi?"

"Aku...."

"Adik Bun Yang!" Ngo Tok Kauwcu senyum. "Lebih baik engkau bermalam di sini besok pagi baru berangkat."

"Tapi?!" Tio Bun Yang mengerutkan kening

"Kakak Bun Yang!" Ma Giok Ceng memandang dengan penuh harap, membuat Tio Bun Yang merasa tidak tega berangkat sekarang.

"Adik Bun Yang," desak Ngo Tok Kauwu "Bermalam di sini saja, besok pagi baru berangkat."



"Baiklah." Tio Bun Yang mengangguk.

"Terimakasih, Kakak Bun Yang!" Wajah Ma Giok Ceng langsung ceria. "Terimakasih!"

"Eh?" Ngo Tok Kauwcu tertawa geli. "Giok Ceng, kenapa engkau mengucapkan terimakasih padanya?"

"Aku...." Wajah gadis itu kemerah-merahan. ”Aku...."

"Yaaah...!" Ngo Tok Kauwcu menghela nafas panjang. "Kalau Adik Bun Yang belum punya kekasih, kalian berdua memang serasi."

"Kakak Ling Cu," tanya Ma Giok Ceng mendadak. "Bukankah lelaki boleh punya isteri lebih dari satu?"

"Itu memang kemauan kaum lelaki," sahut Ngo Tok Kauwcu sambil tertawa. "Seandainya engkau sudah punya suami, apakah memperbolehkan suamimu punya isteri muda?"

"Itu...." Ma Giok Ceng menggelengkan kepala. ”Tentu aku

tidak memperbolehkannya."

"Nah! Itulah...." Ngo Tok Kauwcu menghela nafas panjang.

"Maka tidak mungkin Adik Bun Yang akan punya isteri lebih dari satu."

"Aaaah...!" keluh Ma Giok Ceng.

"Giok Ceng!" Ngo Tok Kauwcu tersenyum. ”Ketika pertama kali bertemu Adik Bun Yang. Aku pun sangat tertarik kepadanya. Pada waktu itu aku memakai cadar di muka."

"Oh?" Ma Giok Ceng tertegun. "Kenapa Kakak memakai cadar di muka?"

"Karena wajahku rusak karena racun." Ngo Tok Kauwcu memberitahukan. "Yang menyembuhkan mukaku adalah Adik Bun Yang."

"Oh?" Ma Giok Ceng terkejut. "Kakak Yang juga mahir ilmu pengobatan?"



"Ya." Ngo Tok Kauwcu mengangguk. "Tentu nya engkau tahu, kepandaiannya tinggi sekali."

"Betul. Aku telah menyaksikan kepandaianya. Bahkan dia pun mengajarku ilmu silat tinggi tinggi." Ma Giok Ceng memberitahukan.

"Bagus!" Ngo Tok Kauwcu manggut-manggut kemudian menghela nafas panjang. "Adik Bun Yang memang tampan, baik hati, lemah lembut berpengertian dan berperasaan."

"Wuah!" Ma Giok Ceng tertawa kecil. "Di borong semua!" "Memang begitulah." Ngo Tok Kauwcu mengangguk.

"Kakak Ling Cu!" Tio Bun Yang menggeleng gelengkan kepala. "Jangan terlampau memuji diri ku, karena sesungguhnya aku juga punya kekurangan."

"Kekuranganmu justru merupakan kelebihan bagi orang lain," sahut Ngo Tok Kauwcu.

"Kakak Ling Cu...." Tio Bun Yang menghela nafas panjang.

Keesokan harinya, berangkatlah Tio Bun Yang pergi mencari Siang Koan Goat Nio. Keberangkatannya justru membuat Ma Giok Ceng bermuram durja. Ngo Tok Kauwcu terus menghibur gadis itu, namun malah meledakkan tangisnya yang ditahan-tahan.

Diam-diam Ngo Tok Kauwcu menghela nafas, gadis mana yang tidak akan jatuh cinta pada Tio Inn Yang? Sebab Tio Bun Yang betul-betul pemuda baik dan sangat tampan.

-oo0dw0oo-

Tio Bun Yang terus melanjutkan perjalanan tanpa tujuan. Sore ini ketika ia tiba disuatu tempat, mendadak terdengar suara pertempuran yang hiruk pikuk.

Tio Bun Yang mengerutkan kening, lalu meliat ke arah suara pertempuran itu. Tampak pasukan kerajaan sedang



menyerang para pembrontak.seorang wanita muda bertarung mati-matian. Begitu melihat wanita itu, tersentaklah hatinya, karena wanita itu ternyata Tan Giok Lan yang ikut Yo Suan Hiang, Ketua Tiong Ngie Pay, kemudian Tiong Ngie Pay bergabung dengan Lie Hu Seng.

Betapa gembiranya Tio Bun Yang. Ia segera melesat ke arah Tan Giok Lan.

Pasukan kerajaan yang sedang bertempur itu terkejut bukan main, karena melihat sosok bayangan laksana kilat di atas kepala mereka.

"Kakak Giok Lan!" panggil Tio Bun Yang setelah melayang turun di hadapan Tan Giok Lan

"Haaah...?" Tan Giok Lan terbelalak. "Engkau... engkau Adik Bun Yang?"

"Ya." Tio Bun Yang mengangguk sambil tersenyum, kemudian memandang pemimpin pasukan kerajaan itu seraya berkata, "Paman, lebih baik pertempuran yang tak berarti ini dihentikan saja!"

"Anak muda!" Pemimpin itu menatap Tio Bun Yang dan bertanya, "Siapa engkau?"

"Namaku Tio Bun Yang."

"Apa?" pemimpin itu terbelalak. "Engkau Giok Siauw Sin Hiap?"

"Ya." Tio Bun Yang mengangguk sambil tci senyum. "Paman, untuk apa mengorbankan begil banyak nyawa, dalam pertempuran yang tiada artinya ini?"

"Giok Siauw Sin Hiap," sahut pemimpin itu "Aku ditugaskan untuk membasmi para pemberontak, bagaimana mungkin aku menghentikan pertempuran ini? Cobalah pikir!"

"Sebetulnya aku tidak mau mencampuri urusan kerajaan. namun wanita ini adalah kakak angkatku”



"Giok Siauw Sin Hiap!" Pemimpin itu menggeleng-gelengkan kepala. "Sesungguhnya aku pun tidak menghendaki terjadinya pertempuran ini, tapi... apabila kuhentikan, sampai di markas aku pasti dihukum mati."

"Kalau  begitu...."  Tio  Bun  Yang  tersenyum.  ”Lebih  baik

Paman, tidak usah pulang."

"Tapi aku punya anak isteri."

"Bawa serta anak isteri Paman," ujar Tio Bun Ihing. "Kini situasi semakin gawat, terjadi pertempuran di mana-mana. Lebih baik Paman hidup tenang di suatu tempat, jangan bergelut lagi dengan situasi yang begini macam."

Pemimpin itu berpikir lama sekali, akhirnya Mengangguk seraya berkata sungguh-sungguh.

"Baiklah, aku menuruti nasehatmu."

"Terimakasih!" ujar Tio Bun Yang.

Pemimpin itu memandang para anak buahnya yangg berjumlah ratusan, kemudian berseru lantang

”Kalian semua dengar baik-baik! Pertempuran ini tidak perlu dilanjutkan lagi!" sambil menghela nafas panjang.

"Horee!" Para prajurit itu bersorak girang,

"Siapa yang masih ingin pulang ke markas, silahkan!" lanjut pemimpin itu. "Bagi siapa yang tidak mau pulang ke markas, diperbolehkan pulang! Setelah itu, terserah mau ke mana!"

Para prajurit itu saling memandang, lama sekali barulah mereka berseru serentak.

"kami mau pulang!"

"Baik!" Pemimpin itu manggut-manggut. ”Sekarang kalian boleh pulang, tapi lebih baik lepaskan seragam kalian agar tidak menimbul kecurigaan pasukan lain!"



"Ya!" Para prajurit itu mulai melepaskan seragam masing-masing, setelah itu barulah mereka meninggalkan tempat tersebut.

"Giok Siauw Sin Hiap," ujar pemimpin sambil tersenyum. "Aku akan pulang ke rumah selanjutnya kami akan hidup tenang di suatu tempat. Sampai jumpa!"

Pemimpin itu melesat pergi, Tio Bun Yang manggut-manggut, lalu memandang Tan Giok Lan seraya berkata,

"Kakak Giok Lan, kini sudah aman...."

"Adik Bun Yang...." Tan Giok Lan menatapnya dengan mata

basah. "Sudah sekian lama kita tak bertemu, aku... aku rindu sekali kepadamu,'

"Aku pun rindu sekali kepada Kakak," sahut Tio Bun Yang sambil tersenyum. "Oh ya, bagaimana keadaan Bibi Suan Hiang? Dia baik-baik saja?”

"Bibi Suan Hiang baik-baik saja. Dia pun rindu sekali kepadamu. Adik Bun Yang” Tan Giok Lan menatapnya. "Mari ikut kami pergi menemui Bibi Suan Hiang dan Paman Lie Tsu Seng, beliau pun sering teringat kepadamu!"

"Kakak Giok Lan...." Tio Bun Yang tampak ragu "Aku masih

ada urusan lain, tidak bisa...."

"Ayohlah!" desak Tan Giok Lan. "Bibi Suan Hiang sangat merindukanmu, temuilah dia!"

"Kakak Giok Lan...." Tio Bun Yang berpikir lama sekali,

setelah itu barulah mengangguk. ”Baiklah!"

"Adik Bun Yang...." Wajah Tan Giok Lan langsung berseri,

kemudian berseru lantang. "Mari kita kembali ke markas...!” -oo0dw0oo-


Bagian ke enam puluh tujuh



Pertarungan di Markas Lie Tsu Seng


Di ruang tengah, tampak Menteri Ma dan Kwee Ceng An duduk dengan wajah serius, rupanya mereka berdua sedang membahas suatu masalah penting.

"Teng An," ujar Menteri Ma. "Aku telah mengajukan permohonan kepada kaisar, agar engkau diterima sebagai pemimpin pengawal di istana- Tapi...."

"Kenapa?" tanya Kwee Teng An dengan kening agak berkerut. "Apakah kaisar tidak sudi menerima permohonan Ayah?"

"Kaisar akan menerima permohonanku, tapi aku harus memenuhi sebuah syaratnya.”

"Apa syarat kaisar?"

"Aku harus mempersembahkan kepala Lie Tsu Seng."

"Maksud kaisar aku harus memenggal kepala pemimpin pemberontak itu?"

"Ya." Menteri Ma mengangguk, lalu mengb nafas panjang. "Itu... itu bagaimana mungkin."

"Ayah," ujar Kwee Teng An dengan tersenyum. "Aku akan pergi memenggal kepala Tsu Seng."

"Oh?" Wajah Menteri Ma berseri. Sesungguhnya ia tidak mengajukan permohonan tersebut kepada kaisar, hanya berbohong guna memperalat Kwee Teng An agar membunuh Lie Tsu Seng Sebetulnya Kwee Teng An sangat licik, namun masih kalah licik dibandingkan dengan Menteri Ma.

"Ayah," ujar Kwee Teng An sungguh-sungguh "Kalau aku t,dak berhasil memenggal kepala Lie Tsu Seng, aku tidak akan kembali kesini „



"Bagus! Bagus! Menteri Ma tertawa gembira. "Apabila engkau berhasil memenggal kepala Lie Tsu Seng, kaisar pasti mengangkatmu sebagai pemimpin pengawal istana."

"Tapi...." Mendadak Kwee Teng An mengerutkan kening.

"Ada apa?" Menteri Ma menatapnya.

”Aku tidak tahu pemimpin pemberontak itu ada di mana Ayah tahu?”

”Tentu tahu” Menteri Ma tersenyum dan memberitahukan ”Kini markas Lie Tsu Seng berada di pinggir Kota Lam An."

"Kalau begitu...." Kwee Teng An bangkit dari duduknya.

"Aku akan berangkat sekarang."

"Nak...." Menteri Ma juga berdiri, lalu memegang bahunya

seraya berkata, "Semoga engkau berhasil memenggal kepala Lie Tsu Seng!"

"Percayalah kepadaku, Ayah!" sahut Kwee Ceng An sambil tersenyum. "Aku pasti berhasil memenggal pemimpin pemberontak itu."

"Bagus! Bagus! Ha ha ha!" Menteri Ma tertawa gembira. "Engkau berkepandaian begitu tinggi, tentunya mampu memenggal kepala Lie Tsu Seng! Ha ha ha...!"

"Ayah, aku berangkat." ujar Kwee Ceng An dan berjalan pergi.

Menteri Ma memandang punggungnya. Setelah Kwee Ceng An lenyap dari pandangannya ia tertawa gembira lagi. Namun berselang beberapa saat kemudian wajahnya tampak berubah ternyata ia teringat akan putrinya.

"Giok Ceng! Giok Ceng! Engkau berada di mana? Pulanglah, ayah rindu sekali kepadamu!"

-oo0dw0oo-



Kwee Teng An terus melakukan perjalan siang dan malam, fa bernafsu sekali memeng kepala Lie Tsu Seng, karena ingin menjadi pj mimpin pengawal istana. Apabila berhasil, ma ia pun tidak perlu bergantung pada Menteri lagi. Berpikir sampai di situ, mendadak K Teng An tertawa terbahak-bahak.

Beberapa hari kemudian, ia sudah memasul daerah Lam An. Tampak puluhan tenda di depan sana. Kwee Teng melesat ke sana tersenyum senyum. Ia kelihatannya yakin berhasil memenggal kepala Lie Tsu Seng. Tiba-tiba muncul puluhan pemberontak memandangnya seraya bertanya,

"Siapa engkau? Mau apa engkau ke mari?!

"Ha ha ha!" Kwee Teng An tertawa gelak dan menyahut, "Kalian tidak usah tahu siapa aku. Aku. ke mari untuk memenggal kepala Lie Tsu Sen. Ha ha ha...!"

"Apa?" Para pemberontak itu terbelalak. "Kawan, engkau jangan bergurau dengan kami! Kami semua adalah pejuang...."

"Hm!" dengus Kwee Teng An dingin, kemudian mendadak bergerak.

"Aaakh! Aaaakh...!" Terdengar suara jeritan yang menyayat hati. Tampak beberapa orang terpental dengan mulut menyemburkan darah segar dan kemudian nyawa mereka pun melayang.

"Ha ha ha!" Kwee Teng An terus tertawa gelak. Kemudian badannya berkelebatan ke sana ke mari, dan seketika terdengar lagi suara jeritan

Sangat menyayat hati. Betapa terkejutnya para pemberontak itu, karena sudah belasan orang mati di tangan Kwee Teng An. Salah seorang di antara mereka segera berlari ke tenda Lie Tsu Seng, dan melapor. "Celaka! Di luar ada pembunuh."



"Pembunuh?" Lie Tsu Seng mengerutkan kening. "Siapa pembunuh itu?"

"Entahlah."

"Dia mau membunuh siapa?"

"Dia mau membunuh...."

"Dia mau membunuhku, kan?"

"Betul."

Sementara Yo Suan Hiang, Tan Ju Liang, Lim Cin An dan Cu Tiang Him saling memandang, kemudian semuanya memberi hormat kepada Lie Tsu Seng seraya berkata,

"Kami akan menghadapi mereka!"

"Hati-hati!" pesan Lie Tsu Seng.

Yo Suan Hiang dan lainnya segera meleset keluar ke tempat itu. Mereka melihat Kwee Teng An sedang membantai para penjaga di sana. Di saat mereka baru mau meleset ke hadapan pemuda itu, mendadak terdengar suara tawa cekikikan.

"Hi hi hi! Anak muda, ternyata engkau ke sini membantai para pejuang!" Terdengar pula suara seruan merdu, lalu melayang turun seorang wanita muda yang sangat cantik, sepasang matanya mengerling mempesonakan.

Begitu melihat kecantikan wanita muda itu Kwee Teng An terpukau sehingga matanya terbelalak lebar.

"Nona cantik! Siapa engkau?" tanyanya dengan tersenyum lembut. "Kenapa engkau mencampuri urusanku?"

"Wuah, bukan main lembutnya senyumanmu” Wanita muda itu tertawa nyaring sambil menatapnya. "Tapi... penuh kelicikan!"



"Nona manis!" Kwee Teng An tertawa. "Bolehkah aku tahu siapa engkau?"

"Namaku Tu Siao Cui, juiukanku adalah Bu Ceng Sianli!" Sungguh di luar dugaan, wanita muda itu ternyata Bu Ceng Sianli-Tu Siao Cui..

"Oooh!" Kwee Teng An tersenyum. "Nona Tu, engkau memang secantik bidadari, aku senang sekali bertemu denganmu."

"Oh, ya?" Bu Ceng Sianli tertawa cekikikan "Tapi sebaliknya aku malah tidak senang melihat mu."

"Lho? Kenapa?"

"Aku mengikutimu dari ibu kota, tak kusangka engkau ke mari membantai para pejuang!"

"Terimakasih atas kesediaanmu mengikuti aku dari ibu kota!" ujar Kwee Teng An sambil tertawa tawa. "Itu pertanda engkau suka padaku! Ya. kan?"

"Hi          hi            hi!           Kira-kira               begitulah,"          sahut     Bu           Ceng      Sianli.

"Bolehkah aku tahu asal-usulmu?" tanyanya.

"Namaku Kwee Teng An. Mengenai asal usulku...." Pemuda

itu menatapnya dengan penuh gairah nafsu birahi. "Kelak aku akan memberi-lahukan kepadamu!"

"Oh?" Bu Ceng Sianli tersenyum. "Sudah tiada kelak lagi bagimu!"

Ketika menyaksikan senyuman itu, Kwee Teng An nyaris menerjang untuk memeluknya.

"Nona Tu! Terus terang, aku sangat tertarik kepadamu! Rasanya ingin sekali menemani tidur. aku yakin engkau tidak berkeberatan, bukan?"

"Hi hi hi!" Bu Ceng Suanli hanya tertawa cekikikan, tidak menyahut.



Sementara Yo Suan Hiang dan lainnya me-mandang mereka dengan mata terbelalak. Mereka tuntu sekali tidak kenal Kwee Teng An dan Bu Ceng Sianli, namun mereka berlega hati, karena Bu Ceng Sianli kelihatan berada di pihak mereka.

"Nona Tu, Setelah aku memenggal kepala Lie Tsu Seng, bagaimana kalau kita pergi bersenang-senang?"

"Idiih! Engkau kok begitu genit?"

"Engkau bersedia menemaniku bersenang-senang, kan?"

"Akan kupertimbangkan! Tapi...." Mendadak Bu Ceng Sianli

menatapnya tajam. "Aku tidak mengizinkan engkau memenggal kepala Lie Tsu Seng!"

"Kenapa?" Kwee Teng An mengerutkan kening. "Engkau punya hubungan dengan pemimpin pemberontak itu?"

"Tidak ada hubungan apa-apa!"

"Kalau begitu, kenapa engkau ingin menghalangiku memenggal kepalanya? Apa alasanmu”

"Lie Tsu Seng adalah pejuang demi rakyat maka aku harus melindunginya."

"Oh?" Kwee Teng An tersenyum, kemudian mendadak menatap Bu Ceng Sianli dengan tajam sekali sambil mengerahkan Toh Hun Tay Hoat untuk mempengaruhinya. "Tu Siao Cui, engkau harus menuruti perintahku!"

"Hi hi hi!" Bu Ceng Sianli malah tertawa cekikikan. "Anak muda, percuma engkau mengerahkan ilmu sesatmu, karena aku tidak akan terpengaruh."

"Hah?" Bukan main terkejutnya Kwee Tcn An. "Nona Tu...."

"Hi hi hi!" Bu Ceng Sianli tertawa cekikikan lagi. "Engkau perlu tahu sebelum engkau di lahirkan, aku sudah belajar ilmu sesat!"



"Ha ha ha!" Kwee Teng An tertawa. "Nona Tu, engkau bergurau...."

"Diam!" bentak Bu Ceng Sianli mendadak "Cepatlah engkau enyah dari sini! Kalau tidak aku pasti turun tangan membunuhmu!"

"Oh?" Kwee Teng An tertawa lagi. "Ha ha ha! Engkau kok galak amat? Sungguh kebetulan, aku memang suka gadis galak! Ha ha ha...!"

"Anak muda!" Bu Ceng Sianli mengerutkan kening. "Betulkah engkau tidak mau enyah?"

"Aku sudah jatuh cinta kepadamu, bagaimana mungkin aku akan enyah dari sini?"

"Engkau memang ingin cari mampus!"

"Nona Tu!" Kwee Teng An tersenyum. "Berhubung aku sudah jatuh cinta kepadamu, maka aku tidak mau bertarung denganmu! Tapi... aku kan membunyikan sesuatu untuk engkau dengar!"

Bu Ceng Sianli tercengang, Kwee Teng An mengeluarkan sebuah benda. Ketika melihat benda itu, air muka Bu Ceng Sianli langsung berubah ia segera berseru.

"Cepatlah kalian semua menyingkir! Kalau tidak kalian semua pasti mati!"

Yo Suan Hiang dan lainnya saling memandang, lama sekali barulah Yo Suan Hiang berseru.

"Mari kita menyingkir!"

Mereka semua langsung menyingkir, membuat Bu Ceng Sianli menarik nafas lega.

"Nona Tu!" Kwee Teng An menatapnya "Engkau kenal benda ini?"



"Tidak, tapi pernah mendengar," sahut Bu Ceng Sianli. "Benda itu adalah Genta Maut! Ya, kan?"

"Tidak salah!" Kwee Teng An manggut-manggut. "Engkau tahu Genta Maut ini, berarti l juga akan kelihayannya! Oleh karena itu, baik engkau menyerah."

"Hi hi hi!" Bu Ceng Sianli tertawa nyari "Engkau tidak tahu jelas tentang asal-usulku maka engkau berani omong besar di hadapanku”

"Nona Tu," Ujar Kwee Teng An sun sungguh. "Lebih baik kita damai. Sebab aku sudah jatuh cinta kepadamu."

"Kita boleh damai, tapi engkau harus lepaskan Lie Tsu Seng!"

"Tidak bisa! Aku kemari justru ingin memenggal kepalanya. Kalau aku berhasil memenggal kepalanya, maka aku akan hidup senang mewah. Tentunya engkau boleh ikut mencicip nya! Ha ha ha...!"

"Kalau begitu...." Wajah Bu Ceng Sianli berubah dingin.

"Aku terpaksa harus menghajarmu!"

"Baik! Aku akan melumpuhkanmu dengan Genta Maut ini!" sahut Kwee Teng An dan ia membunyikan Genta Maut tersebut.

Seketika sekujur badan Bu Ceng Sianli getar keras, sedangkan Yo Suan Hiang dan lain cepat-cepat menutup telinga. Wajah mereka pucat pias, lalu menyingkir lebih jauh. Di saat itu terdengar suara siulan panjang. Ternyata Bu Ceng Sianli mengeluarkan suara siulan untuk menekan Genta Maut itu.

Maka terdengarlah suara siulan dan bunyi Genta Maut yang saling menyusul. Kwee Teng terus membunyikan Genta Maut itu, bukan bermaksud membunuh Bu Ceng Sianli, melainkan iya ingin melumpuhkannya. Sedangkan Bu Ceng sianli terus



mengerahkan Lwee Kangnya bersiul untuk menekan bunyi Genta Maut itu.

Di saat bersamaan, Tio Bun Yang, Tan Giok Lan dan lainnya telah tiba di tempat itu. Ketika mendengar suara-suara tersebut kening Tio Bun Yang langsung berkerut.

"Kakak Giok Lan, kalian semua harus menunggu di sini!" Pesan Tio Bun Yang dan membertahukan, "Sebab kalau kalian mendekati tempat itu, bunyi genta itu pasti mencelakai kalian! aku kenal wanita itu. Kelihatannya ia agak kewalahan menghadapi bunyi genta itu, maka aku harus ke sana membantunya!"

"Hati-hati, Adik Bun Yang!" Ujar Tan Giok Lan.

"Ya!" Tio Bun Yang mengangguk sambil mengeluarkan suling pusakanya. Kemudian ia mencari ke tempat itu dan mulai meniupnya.

Terdengarlah alunan suling yang amat lembut menyamankan. Begitu mendengar suara suling itu, wajah Bu Ceng Sianli langsung berseri, karena ia sudah tahu siapa peniupnya. Sebaliknya Kwee Teng An malah terkejut. Ia terus membunyikan Genta Mautnya sambil paling. Ketika melihat siapa yang muncul, mukanya langsung berubah hebat, karena tidak menyangka kalau Tio Bun Yang akan muncul tempat itu. Oleh karena itu, timbullah nafsu membunuhnya.

Kwee Teng An memperkeras bunyi Genta Mautnya. Betapa terkejutnya Bu Ceng Sianli Namun di saat bersamaan, ia pun mendengar suara suling yang makin lembut tapi bernada tinggi dan terus meninggi.

Bu Ceng Sianli berhenti bersiul, lalu dia bersila di bawah sambil mengerahkan lweekang nya.

Sementara Kwee Teng An terus memperkuat bunyi Genta Mautnya, sedangkan suara suling Bun Yang semakin lembut dan bernada semakin tinggi.



Daaar! Mendadak suara ledakan. Ternyata Genta Maut itu meledak, sehingga membuat Kwee Teng An terpental beberapa depa. Setelah berdiri ia menatap Tio Bun Yang dengan mata berapi

"Adik! Adik...!" seru Bu Ceng Sianli saambil bangkit berdiri.

"Kakak Siao Cui!" sahut Tio Bun Yang den girang. "Kakak Siao Cui...."

"Ha ha ha!" Kwee Teng An tertawa gelak "Tio Bun Yang, engkau memang hebat karena suara sulingmu mampu meledakkan Genta Maut! Tapi engkau akan menderita sekali!"

"Oh?" Tio Bun Yang mengerutkan kening, ketika ia baru mau maju justru Bu Ceng Sianli mencegahnya.

"Adik, biarlah aku yang menghadapinya! Dia berani menghinaku, maka aku harus mengajarnya!"

"Sungguh tak disangka!" Kwee Teng An memandang Tio Bun Yang. "Engkau punya seorang kakak perempuan yang begitu cantik! Ha ha ha! aku sudah jatuh cinta kepadanya!"

"Diam!" bentak Bu Ceng Sianli. "Bersiap-siplah! Aku akan menyerangmu!"

"Yaah!" Kwee Teng An menggeleng-gelengkan kepala. "Kenapa kita harus bertarung? Bukankah lebih baik kita bersenang-senang di tempat tidur?"

"Binataang!" bentak Bu Ceng Sianli gusar, lalu menyerangnya dengan sengit.

"Ha ha ha!" Kwee Teng An tertawa gelak sambil berkelit, kemudian balas menyerang.

Bu Ceng Sianli terkejut karena tidak menyangka pemuda itu berkepandaian begitu tinggi. Demikian pula Kwee Teng An, ia pun tidak penyangka wanita cantik itu berkepandaian tinggi

"Berisi juga engkau!" ujar Bu Ceng Sianli.



"Tentu," sahut Kwee Teng An. "Engkau pun berisi, terutama badanmu dan...."

Kwee Teng An tidak melanjutkan ucapannya. Kwee Teng An terpental ke belakang berapa langkah, begitu pula Bu Ceng Sianli, namun tiada seorang pun yang terluka.

Kira-kira dua puluh jurus kemudian, mendadak Bu ceng Sianli menghentikan serangannya

"Ha ha ha!" Kwee Teng An tertawa. "Nona sungguh hebat Ilmu Jari Saktimu! Dadaku nyaris berlubang."

"Sambut lagi seranganku!" bentak Bu Ceng sianli dan menyerangnya. Kali ini ia mengeluarkan jurus Cian Ci Keng Thian (Ribuan Jari Mengejutkan Langit). Tampak bayangan-bayangan jarinya berkelebatan mengarah kepada Kwee Ceng An.

Pemuda itu tertawa panjang dan tiba-tiba badannya berputar-putar sekaligus sepasang lengannya, Ia menangkis dengan salah satu jurus Pek Kut Im Sat Ciang.

Blaaaam...!! Terdengar suara lagi suara benturan yang memekakkan telinga.

Kwee Teng An terpental beberapa depa, Bu Ceng Sianli pun terpental dengan wajah pucat pasi.

"Kakak Siao Cui!" seru Tio Bun Yang sambil melesat ke arahnya. "Bagaimana? Engkau terluka?"

Bu Ceng Sianli menggelengkan kepala, dan segera mengatur pernafasannya. Sedangkan Kwee Ceng An terus memandang mereka, kemudian tertawa gelak seraya berkata lantang.

"Ha ha ha! Nona Tu, engkau memang hebat! Ilmu jarimu mampu melubangi pakaianku! Tapi aku belum mengerahkan seluruh lweekang karena aku tidak berniat melukaimu! Ha ha Kelak kita akan berjumpa lagi!" Mendadak Kwee Teng An



melesat pergi seraya berseru, "Tio Yang, kini engkau pasti tersiksa sekali hati Ha ha ha...!"

Tio Bun Yang mengerutkan kening, Ia ti mengejar pemuda itu, karena khawatir Bu G Sianli terluka. Oleh karena itu, ia cepat-cepat memeriksa Bu Ceng Sianli dan seusai memeriksa wanita itu, ia menarik nafas lega.

"Untung kakak tidak luka! Ilmu pukulan sungguh beracun! Kalau kakak tidak memiliki lweekang tinggi, tentu sudah celaka oleh beracun itu!"

"Aaah...!" Bu Ceng Sianli menghela nafas panjang. "Aku tak menyangka sama sekali. Kalau pemuda itu berkepandaian begitu tinggi! Kalau aku tidak memiliki Hian Goang Sin Kang, aku pasti sudah celaka di tangannya!"

Di saat mereka bercakap-cakap, tiba-tiba terdengar suara seruan yang penuh kegembiraan

"Bun Yang! Bun Yang...!" Ternyata Yo Suan Hiang yang berseru sambil menghampirinya.

"Bibi! Bibi!" sahut Tio Bun Yang girang.

"Bun Yang!" Yo Suan Hiang menatapnya kemudian membelainya. "Engkau sudah bertambah besar dan ganteng, tapi... kenapa agak kurus ?”

"Bibi...." Tio Bun Yang tersenyum getir.

"Oh ya!" Yo Suan Hiang memberi hormat kepada Bu Ceng Sianli. "Terimakasih atas tertolong Adik! Kalau Adik tidak muncul, kami semua pasti sudah mati di tangan orang itu!"

"Hi hi hi!" Bu Ceng Sianli tertawa cekikikan.

"Kakak!" Tio Bun Yang memperkenalkan mereka. "Ini bibiku."

"Adik!" Bu Ceng Sianli tertawa lagi. "Dia bibi asli atau cuma bibi-bibian?"



"Ayahnya adalah kakak angkatku, maka Bun Yang harus memanggilku bibi," sahut Yo Suan Hiang dan menambahkan, "Engkau pun harus memanggilku bibi!" .

"Oh ya?" Bu Ceng Sianli tertawa nyaring, namamu?"

"Yo Suan Hiang!"

"Aku akan memanggil namamu saja."

"Apa?" Yo Suan Hiang terbelalak dan membatin. "Sungguh kurang ajar wanita muda ini!"

"Hi hi hi!" Bu Ceng Sianli menatapnya. "Engkau mencaciku kurang ajar dalam hati! Ya, kan?" katanya.

"Itu...." Yo Suang Hiang tersentak.

"Bibi,     Kakak    Siao        Cui...."  Tio          Bun        Yang      ingin

memberitahukan tentang Bu Ceng Sianli, namun Yo Suan Hiang sudah memotongnya.

"Tidak apa-apa! Tidak apa-apa." Yo Suan Hiang tersenyum. "Mari kita pergi menemui Lie Tsu Seng!"

"Baik." Tio Bun Yang mengangguk Mereka semua menuju tenda di mana Lie Tsu Seng berdiri di situ. Ia pun sudah melihat kejadian tadi

"Paman! Paman!" Panggil Tio Bun Yang girang.

"Bun Yang!" Lie Tsu Seng memegang bahunya. "Sudah lama kita tidak bertemu. Bagaimana Engkau baik-baik saja selama ini?"

"Aku baik-baik saja, Paman." sahut Tio Bun Yang.

"Syukurlah!" ucap Lie Tsu Seng, kemudian memandang Bu Ceng Sianli sambil memberi hormat. "Lihiap (Pendekar Wanita), terimakasih atas pertolonganmu!"

"Ngmmm!" Bu Ceng Sianli manggut-manggui dengan penuh perhatian lalu menatapnya dengan penuh perhatian



„Engkau memang gagah dan berwibawa, namun kalau engkau berhasil menjadi kaisar kelak, janganlah cuma tahu

bersenang-senang dengan wanita cantik, harus memperhatikan nasib rakyat, jangan hanya mementingkan diri sendiri!"

"Tentu, tentu." Lie Tsu Seng tertawa gelak

Sikap Bu Ceng Sianli yang agak kurang ajar itu tidak membuatnya gusar maupun tersinggung, na mun membuat Yo Suan Hiang mengerutkan kening. Kemudian Lie Tsu Seng mempersilakan duduk. ”Silakan duduk!"

"Terimakasih!" ucap Tio Bun Yang sambil duduk. Bu Ceng Sianli juga duduk dan kemudian berkata kepada Tio Bun Yang.

"Adik, tak disangka kita bertemu di markas Lie Tsu Seng ini!"

"Ya." Tio Bun Yang mengangguk. "Memang sungguh di luar dugaan!"

"Bun Yang !" Yo Suan Hiang memandangnya. ”Kok engkau kemari bersama Giok Lan?"

"Bibi!" Tan Giok Lan segera menutur tentang kejadian itu.

"Oooh!" Yo Suan Hiang manggut-manggut. ”kalau Bun Yang tidak muncul, kalian semua pasti celaka!"

"Ya!" Tan Giok Lan mengangguk.

”Bun Yang!" Lie Tsu Seng memandangnya „Engkau bertambah ganteng tapi kenapa badanmu agak kurus?”

”Paman aku ...” Tio Bun Yang mengelengkan kepala

”Bun Yang,..” Yo Suan Hiang tersentak „Apa yang telah terjadi tuturkanlah pada kami,..”

"Aku...." Tio Bun Yang menutur semua kejadian itu



Yo Suan Hiang dan Lie Tsu Seng mendengarkan dengan penuh perhatian kemudian mereka. menggeleng-gelengkan kepala

„Jadi hingga saat ini engkau belum bertemu Goat Nio?” tanya Yo Suan Hiang dengan kening berkerut-kerut.

"Belum," sahut Tio Bun Yang sambil menghela nafas panjang.

"Aaaah...."  Lie  Tsu  Seng  menggeleng-gelengkan  kepala.

"Dinasti Beng makin bobrok, sedangkan rimba persilatan justru makin kacau-balau!"

"Lie Tsu Seng," tanya Bu Ceng Sianli mendadak. "Betulkah kalian telah berhasil merebut beberapa kota penting?"

"Betul." Lie Tsu Seng mengangguk. Air mukanya tampak agak berubah, karena Bu Ceng Sianli memanggil namanya langsung.

"Bu Ceng Sianli!" Yo Suan Hiang memandangnya dengan kening berkerut. Ia ingin menegurnya tapi merasa tidak enak, sebab wanita muda itu telah menyelamatkan mereka semua

"Hi hi hi!" Bu Ceng Sianli tertawa cekikikan "Suan Hiang, engkau ingin menegur aku karena menurutmu aku sangat kurang ajar, bukan? Nah, perlukah aku minta maaf?"

"Itu...." Apa        yang      diucapkan           Bu           Ceng      Sianli      sungguh

membuat Yo Suan Hiang serba salah, namun bersamaan dengan itu Lie Tsu Seng tertawa gelak.

"Ha ha ha! Itu tidak perlu. Aku sama sekati tidak mempermasalahkan itu," ujar Lie Tsu Seng sungguh-sungguh.

"Bagus! Bagus! Hi hi hi!" Bu Ceng Sianli terawa nyaring. "Lie Tsu Seng, engkau betul-betul berjiwa besar. Tidak sia-sia aku menyelamatkanmu. Hi hi hi!"

"Terimakasih,.terimakasih!" ucap Lie Tsu Seng.



Sementara Yo Suan Hiang terus memandang Tio Bun Yang, kelihatannya menghendakinya menutur tentang Bu Ceng Sianli.

"Bibi...."  Tio  Bun  Yang  tersenyum.  "Kenapa  kau  terus

memandangku?"

"Bun Yang, bibi justru merasa heran," sahut Yo Suan Hiang. "Nona Tu baru berusia dua puluhan, tapi kenapa engkau memanggilnya kakak?"

"Maksud bibi aku harus memanggilnya adik?" tanya Tio Bun Yang sambil tertawa geli.

"Seharusnya begitu." Yo Suan Hiang manggut-manggut.

"Bibi, sebetulnya aku malah harus memanggilnya nenek tua." ujar Tio Bun Yang.

"Eh?" Yo Suan Hiang terbelalak. "Sekian lama tidak bertemu, bibi tidak menyangka engkau suka bergurau."

"Aku tidak bergurau, Bibi," sahut Tio Bun Yang. "Kalau menurut usia dan aturan, aku memang harus memanggilnya nenek tua. Mungkin Bibi dan Paman Lie pun harus memanggilnya nenek."

"Apa?" Yo Suan Hiang melotot. "Bun Yang, kau...."

"Bun Yang!" Lie Tsu Seng menatapnya heran

"Aku yakin engkau tidak bergurau, tapi... jelaskanlah'"

"Sesungguhnya kakak Siao Cui sudah berusia hampir sembilan puluh." Tio Bun Yang memberitahukan. "Maka dia tidak salah memanggil nama Bibi dan nama Paman."

"Haaah...?" Mulut Lie Tsu Seng terngangalebar, kemudian menatap Tio Bun Yang sambil mengerutkan kening. "Engkau... engkau sudah tidak waras ya?"

"Paman!" Tio Bun Yang tersenyum. "Kita melihat kakak Siao Cui berusia dua puluhan, tapi usianya memang sudah



hampir sembilan puluh Itu karena kakak Siao Cui mengalami suatu kemujizatan alam."

"Oh?" Yo Suan Hiang masih kurang percaya

"Bibi!" Tio Bun Yang tersenyum lagi. "Semula aku pun seperti Bibi, sama sekali tidak percaya Tapi kemudian barulah aku percaya, karena ada buktinya "

"Bukan main!" Lie Tsu Seng menggeleng-gelengkan kepala. "Tu lihiap, bolehkah engkau menceritakan tentang kemujizatan itu?"

"Hi hi hi!" Bu Ceng Sianli tertawa cekikikan kemudian barulah menutur tentang apa yang dialaminya

Yo Suan Hiang dan Lie Tsu Seng mendengarkan dengan mulut ternganga lebar saking takjubnya. Apa yang dituturkan Bu Ceng Sianli mirip suatu dongeng, namun justru nyata, "Itu sungguh merupakan kemujizatan alam!" ujar Yo Suan Hiang sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Kalau begitu, aku yang harus mohon maaf kepada lo cianpwee."

"Hi hi hi!" Bu Ceng Sianli tertawa geli. "Jangan Memanggilku lo cianpwee, sebab akan membuat sekujur badanku jadi merinding. Engkau cukup memanggilku kakak saja."

"Kakak!" panggil Yo Suan Hiang girang. "Ohya, kepandaian kakak tinggi sekali. Kami semua berhutang budi kepada kakak."

"Jangan berkata begitu!" Bu Ceng Sianli tersenyum. "Itu memang kebetulan sekali. Aku sedang menyelidiki seseorang, tanpa sengaja aku tiba di ibu kota dan melihat seseorang melakukan perjalanan tergesa-gesa. Itu menimbulkan kecurigaanku, maka aku terus menguntitnya. Akhirnya di tempat ini, aku melihat dia membunuh para pejuang yang menjaga di luar. Segeralah aku memunculkan diri dan melawannya, tapi tak di sangka kepandainnya begitu tinggi."



"Kalau aku tidak memiliki suling pusaka, tentu tidak bisa membuat genta itu pecah," ujar Tio Bun Yang. "Entah genta apa itu? Begitu hebat!".

”Itu adalah Genta Maut." Bu Ceng Sianli memberitahukan. "Guruku pernah menceritakan Genta Maut itu, justru tidak disangka pemuda itu memiliki benda tersebut."

"Ilmu pukulannya sungguh ganas dan beracun!" Tio Bun Yang memberitahukan. "Kelihatannya dia masih belum mengerahkan seluruh lwekangnya. Aku sangat heran kenapa dia tidak mengerahkan seluruh Iweekangnya untuk melukai kakak?"

"Hi hi hi!" Bu Ceng Sianli tertawa cekikik; "Itu karena dia telah jatuh cinta kepadaku. Apabila dia mengerahkan seluruh Iweekangnya, akupun akan mengerahkan Hian Goang Sin Kang sampai pada puncaknya."

"Oooh!" Tio Bun Yang mengangguk. "Kakak tahu ilmu pukulan apa itu?" tanyanya.

"Sepasang telapak tangannya mengeluarkan uap, mirip...."

Bu Ceng Sianli terus berpikir, kemudian baru melanjutkan ucapannya. "Itu mirip pukulan Pek Kut Im Sat Ciang."

"Apa?" Tio Bun Yang nyaris meloncat bangun saking terkejut. "Itu adalah ilmu pukulan Pek Im Sat Ciang?"

"Kalau tidak salah, sebab aku pernah mendengar tentang ilmu pukulan itu dari guruku Mendadak wajah Bu Ceng Sianli berubah hebat "Pemuda itu...."

"Dia ketua Kui Bin Pang!" seru Tio Bun Yang tak tertahan.

"Tidak salah." sahut Bu Ceng Sianli. "Hanya ketua Kui Bin Pang yang mahir ilmu pukulan tersebut."

"Kakak tahu nama pemuda itu?" tanya Tio u n Yang.



"Dia bernama Kwee Teng An." Bu Ceng Sianli Memberitahukan.. "Aku mendengar namanya dipanggil seseorang."

"Kwee Teng An! Kwee Teng An...." gumam Tio Bun Yang

"Dia...."

Mendadak Tio Bun Yang melesat pergi tanpa pamit lagi. Itu sungguh mengejutkan semua orang.

"Bun Yang!" teriak Yo Suan Hiang memangnya.

"Adik!" seru Bu Ceng Sianli. "Adik...!" Namun pemuda itu sudah tidak kelihatan, ternyata ia melesat pergi menggunakan ginkang.

”Heran?" gumam Yo Suan Hiang tidak mengerti. "Kenapa mendadak dia melesat pergi?"

"Aku yakin dia pasti pergi mencari pemuda tadi” sahut Bu Ceng Sianli. "Sebab Goat Nio berada di tangan Ketua Kui Bin Pang itu."

"Apa?" Yo Suan Hiang terkejut bukan main. ”Pemuda itu adalah ketua Kui Bin Pang?"

"Menurutku memang tidak salah," sahut Bu rng Sianli. "Sebab dia tadi menangkis seranganku dengan ilmu Pek Kut Im Sat Ciang."

"Kalau begitu...." Kening Yo Suan Hiang berkerut. "Goat Nio

masih berada di tangannya."

"Maka Bun Yang segera melesat pergi. Dia pasti pergi mencari pemuda itu." ujar Bu Ceng Sianli dan berpamit. "Maaf, aku harus segera pergi menyusul Bun Yang."

Bu Ceng Sianli melesat pergi. Lie Tsu Sen dan Yo Suan Hiang dan lainnya hanya duduk mematung di tempat, kemudian mereka saling memandang dan menghela nafas panjang.



"Aaah...," ujar Lie Tsu Seng. "Aku telah berhutang budi kepada Tu lihiap! Dia menyelamatkan nyawaku!"

-oo0dw0oo-


Bagian ke enam puluh delapan

Kim Coa Long Kun (Pendekar Pedang Ular Emas)


Tio Bun Yang melakukan perjalanan siang malam ke ibu kota. Ternyata ia mengetahui tentang Kwi Teng An dari Ma Giok Ceng. Ketika mendengi nama pemuda itu, maka ia langsung meleset pergi sebab Bu Ceng Sianli juga mengatakan bahwa Kwee Teng An adalah ketua Kui Bin Pang. Sesampainya di ibu kota, tidak sulit mencari rumah Menteri Ma, Ia langsung ke rumah tersebut, tetapi para pengawal di situ jelas menghadangnya.

"Aku ingin menemui Menteri Ma," ujar Tio m Yang. "Siapa engkau dan ada urusan apa mau menemui Menteri .Ma?" tanya salah seorang pengawal.

"Engkau tidak usah tahu!" bentak Tio Bun Yang.

"Eh?" Pengawal itu melotot. "Engkau berani mengacau di rumah Menteri Ma?"

"Cepat antar aku ke dalam!" Tio Bun Yang menatap para pengawal itu. "Aku mau menemui menteri Ma!"

"Tidak bisa!" Pengawal itu menggelengkan kepala. "Kepala pengawal tidak ada, maka engkau tidak boleh sembarangan masuk!"

"Maksudmu Kwee Teng An?" tanya Tio Bun Yang.

"Engkau kenal dia?" Pengawal itu balik bertanya dengan heran.



"Aku memang kenal dia!" sahut Tio Bun Yang berdusta, pada hal ia tidak mengenalnya.

"Itu...." Pengawal itu tampak ragu mempersilahkan Tio Bun

Yang masuk. "Kami...."

Di saat itulah Tio Bun Yang menerobos masuk menggunakan Kiu Kiong San Tian Pou (Ilmu Langkah Kilat) dan seketika juga ia menghilang dari pandangan para pengawal.

"Hah?" para pengawal terbelalak.. "Ke mana pemuda itu? Kenapa bisa menghilang mendadak?"

"Dia... dia...." Salah seorang pengawal menengok ke sana

ke mari. "Hah? Itu...."

Pengawal itu melihat sosok bayangan berkelebat memasuki rumah Menteri Ma, begitu juga yang lainnya.

"Mari kita kejar dia!" Terdengar suara seruan

"Celaka!" keluh seorang pengawal dengan wajah pucat pias. "Pemuda itu telah menerobos ke dalam, kita semua pasti dihukum!"

"Ayoh, mari kita ke dalam!" seru seorang pengawal.

Mereka segera berlari-lari ke dalam, sementara Tio Bun Yang sudah berada di dalam rumah itu.

"Menteri Ma? Menteri Ma...!" teriaknya.

"Ada apa?" Menteri Ma muncul dari kamarnya. Ketika melihat Tio Bun Yang, tertegunlah menteri itu. "Siapa engkau? Sungguh berani engkau memasuki rumahku!"

"Menteri Ma!" Tio Bun Yang menatapnya "Di mana Kwee Teng An? Di mana Kwee Teng An?" tanyanya.

"Kwee Teng An?" Menteri Ma mengerutkan kening. "Anak muda, engkau punya hubungan apa dengannya?"



"Jangan bertanya! Cepat katakan di mana dia!" bentak Tio Bun Yang sambil melangkah maju.

"Engkau..., engkau mau apa?" Menteri Ma ketakutan dan langsung berteriak-teriak. "Pengawal...Pengawal...!"

Seketika muncullah para pengawal, yang langsung menyerang Tio Bun Yang dengan berbagai macam senjata.

Tio Bun Yang cuma mengibaskan lengan bajunya, seketika beberapa pengawal terpental, lalu jatuh terbanting tak bangun lagi.

"Bunuh dia!" teriak menteri Ma. "Cepat bunuh dia"

Para pengawal saling memandang, kemudian mereka mulai menyerang Tio Bun Yang lagi. serperti barusan, Tio Bun Yang tetap mengibaskan lengan bajunya terus, sehingga membuat para pengawal itu terpental ke sana ke mari. Setelah itu Tio Bun Yang mengarah memandang Menteri

"Cepat katakan, di mana Kwee Teng An?"

"Dia..., dia tidak ada di sini," sahut Menteri Ma dengan tubuh menggigil. "Dia... pergi."

"Dia pergi ke mana?"

"Dia..., dia...."

"Kapan dia pergi?"

"Beberapa hari yang lalu." Menteri Ma memberitahukan. "Hingga kini dia masih belum pulang."

"Betulkah dia belum pulang?"

"Betul." Menteri Ma mengangguk. "Aku tidak bohong...."

"Hm!" dengus Tio Bun Yang dingin. "Menteri Ma mengutusnya pergi memenggal kepala Lie Tsu Seng, kan?"

"Itu..., itu...." Wajah menteri Ma berubah pucat. "Aku...."



"Dia tidak berhasil memenggal kepala Lie Tsu Seng, sebab di saat itu muncul seorang pendekar wanita, kemudian aku pun tiba di sana," ujar Bun Yang melanjutkan. "Maka dia tidak berhasil memenggal kepala Lie Tsu Seng, sebaliknya malah kabur."

"Oh?" Menteri Ma tampak kecewa sekali "Tahukah siauhiap dia ke mana?" tanyanya

"Aku justru ke mari mencarinya."

"Kenapa engkau menduganya kabur mari?"

"Dia kepala pengawal di sini, tentunya kembali ke sini."

"Engkau...."  Menteri  Ma  menatapnya  heran  "Dari  mana

engkau bisa tahu dia kepala pengawal di sini?"

"Aku mendengar dari Giok Ceng." Tio Bun Yang memberitahukan sambil memandangnya "Ma Giok Ceng adalah putrimu, kan?"

"Be..., betul." Menteri Ma mengangguk tampak terkejut. "Engkau kok tahu itu?"

"Aku bertemu Giok Ceng."

"Siauhiap," bisik Menteri Ma. "Mari ikut aku ke ruang tengah, kita bicara di sana saja!"

Menteri Ma melangkah ke ruang tengah. Tio Bun Yang terpaksa mengikutinya karena masih ingin bertanya tentang Kwee Teng An.

"Silakan duduk!" ucap Menteri Ma setelah duduk.

"Terimakasih!" Tio Bun Yang duduk.

"Siauhiap!" Menteri Ma menatapnya dalam-dalam. Entah apa sebabnya ia terkesan baik terhadap Tio Bun Yang. "Di mana engkau bertemu anakku?"



Tio Bun Yang memberitahukan, dan Menterii Ma manggut-manggut sambil menarik nafas panjang

"Terimakasih, siauhiap!" ucap Menteri Ma. ”Engkau telah menyelamatkan putriku. Oh ya, bolehkah aku tahu siapa engkau?"

"Namaku Tio Bun Yang."

"Ngmm!" Menteri Ma manggut-manggut. "Tio siauhiap, bolehkah aku tahu di mana putriku sekarang."

"Maaf! Aku tidak bisa memberitahukan. Yang jelas dia berada di tempat yang aman."

"Siauw  hiap...."                Menteri               Ma         menghela            nafas     panjang.

"Hingga kini aku justru masih bingung, kenapa putriku pergi meninggalkan rumah."

"Ada dua sebab yang membuatnya minggat," seru Tio Bun Yang. "Dia telah memberitahukan padaku."

"Dua sebab?" Menteri Ma mengerutkan kening. "Siauhiap, beritahukanlah kepadaku aku mengetahuinya!"

"Pertama...." Tio Bun Yang memberitahukan "Menteri Ma

sering memfitnah menteri lain jenderal yang setia, sehingga mereka dihukum mati oleh kaisar. Kedua dikarenakan menteri ingin menjodohkannya kepada Kwee Teng An maka dia langsung minggat."

"Aaaah...!" Menteri Ma menghela nafas panjang. "Padahal aku tidak bermaksud menjodohkannya kepada Kwee Teng An. Dia..., dia telah salah paham."

”Giok Ceng bilang ayahnya sangat menyukai Kwee Teng An....”

”Dia betul-betul telah salah paham,” potong menteri Ma. ”Sesungguhnya aku Cuma....”

”Memperalat Kwee Teng An, bukan?”



”Yaah!” Menteri Ma menggeleng-gelengkan kepala. ”Aku tahu pemuda itu berhati licik, bahkan sangat berambisi pula. Kalau aku kurang berhati-hati, nyawaku pasti melayang di tangannya.”

”Kalau sudah tahu itu, kenapa menteri Ma masih mau mengangkatnya sebagai kepala pengawal di sini?”

”Siauhiap....” Menteri Ma menghela nafas panjang. ”Kepala

pengawal lama ingin pulang ke kampung halamannya, maka aku terpaksa mencari penggantinya.”

”Maksud Menteri Ma adalah guru Giok Ceng?”

”Ya.” Menteri Ma mengangguk, kemudian tersenyum seraya berkata, ”Bun Yang, aku harap engkau jangan memanggilku Menteri Ma, lebih baik engkau memanggilku paman, sebab engkau adalah teman putriku.”

”Baik, Paman.” Tio Bun Yang mengangguk.

”Oh ya!” Menteri Ma menatapnya seraya bertanya, ”Kenapa engkau ingin menemui Kwee Teng An?”

”Ingin menanyakan sesuatu kepadanya,” sahut Tio Bun Yang dan menambahkan, ”Dia adalah penjahat besar, maka Paman harus berhati-hati terhadapnya.”

„Ya.“ Menteri Ma manggut-manggut. „Bun Yang....“

”Ada apa, Paman?” tanya Tio Bun yang.

”Terus terang, aku..., aku rindu sekali kepada Giok Ceng,” jawab Menteri Ma sungguh sungguh. „Maka aku mohon engkau sudi membujuknya pulang! Dia... adalah putriku satunya.”

”Kalau Kwee Teng An masih berada di sini, aku yakin Giok Ceng tidak akan pulang.”

”Bun Yang, Kwee Teng An tidak akan ke mari lagi,” ujar Menteri Ma memberitahukan.



”Lho? Kenapa?” Air muka Tio Bun yang berubah. ”Kenapa dia tidak akan ke mari lagi?”

”Dia telah berjanji, apabila tidak berhasil memenggal kepala Lie Tsu Seng, dia tidak akan kemari lagi.”

”Aaakh...!” keluh Tio Bun Yang dengan wajah murung. ”Kalau begitu, aku harus ke mana men carinya?”

„Bun Yang!“ Wajah Menteri Ma tampak serius. ”Bagaimana kalau kita saling membantu?”

”Saling membantu?” Tio Bun Yang tertegun ”Bagaimana caranya saling membantu?”

”Engkau pergi membujuk putriku pulang, sedangkan aku akan menahan Kwee Teng An disini jika dia ke mari. Bagaimana?”

”Itu....” Tio Bun Yang berpikir lama sekali dan akhirnya

mengangguk. ”Baik, aku setuju.”

”Kapan engkau berangkat?” tanya Menteri Ma dengan wajah berseri.

”Sekarang,” sahut Tio Bun Yang singkat

”Bagus! Bagus! Ha ha ha!” Menteri Ma tertawa gembira. ”Bun Yang, mudah-mudahan engkau membujuk Giok Ceng pulang!”

”Mudah-mudahan, Paman!” Tio Bun Yang manggut-manggut, lalu berpamit.

Menteri Ma mengantarnya sampai di halaman. Begitu sampai di halaman, mendadak Tio Bun Yang melesat pergi menggunakan ginkang. Dalam waktu sekejap, pemuda itu sudah hilang dari pandangan Menteri Ma.

”Sungguh hebat kepandaiannya!” gumamnya ”Dia adalah pemuda baik. Seandainya dia mecintai Giok Ceng, aku pasti



merestuinya. Mudah-mudahan dia berhasil membujuk Giok Ceng pulang“

-oo0dw0oo-

Tio Bun Yang terus melakukan perjalanan ke markas Ngo Tok Kauw di Kota Kang Shi. Dua hari kemudian, ketika ia memasuki sebuah lembah, mendadak terdengar suara pertarungan.

Sebetulnya Tio Bun Yang memburu waktu kemarkas Ngo Tok Kauw, namun karena ingin tahu apa yang terjadi, maka ia melesat ke tempat pertarungan itu.

Tampak seorang pemuda berusia dua puluh limaan sedang bertarung melawan beberapa orang, belasan orang lainnya sudah tergeletak tak bernyawa. Ketika melihat beberapa orang itu, tersentaklah hati Tio Bun Yang, ternyata mereka adalah It Hian Tojin ketua partai Butong, Wie Thian Cinjin ketua partai Kun Lun dan Ceng Sim suthay ketua partai Go Bie.

Itu sungguh membuat Tio Bun Yang tidak habis pikir, kenapa ketua-ketua partai itu mengeroyok pemuda itu? Karena itu Tio Bun Yang memandang pemuda itu dengan penuh perhatian.

Sebuah pedang berkelebatan di tangan pemud itu, bahkan memancarkan cahaya keemas-emas Tio Bun Yang terbelalak menyaksikan pedang itu, karena pedang itu berbentuk seperti ular. Tiba-tiba Tio Bun Yang mengerutkan kening karena ketiga ketua partai itu mulai terdesak Bun Yang yakin, beberapa jurus lagi ketiga ketua partai itu pasti akan dilukai pemuda tersebut. Justru karena itu, ia berteriak sambil melesat arah mereka yang sedang bertarung. "Berhenti!" Betapa terkejutnya ketiga ketua partai itu begitu pula pemuda tersebut. Mereka segera berhenti bertarung sekaligus memandang. Di saat bersamaan, Tio Bun Yang melayang turun ditengah-tengah mereka.



"Hah?" ketiga ketua partai itu terbelalak namun kemudian wajah mereka tampak berseri "Bun Yang!"

"Para ketua, apa kabar?" tanya Tio Bun Yang "Baik-baik saja?"

"Bun Yang!" It Hian Tojin tertawa gembira "Kami baik-baik saja!"

"Bun Yang!" Wie Hian Cinjin memandangnya seraya berkata, "Kami berhutang budi lagi kepadamu. Kalau tiada rumput Tanduk Naga itu kami masih gila."

"Yang berjasa adalah Hui Khong Taysu," ujar Tio Bun Yang merendah. "Sebab Hui Khong taysu yang mengantar rumput Tanduk Naga itu."

"Hmm!" Pemuda itu mendadak mendengus kngin. "Kalian sudah usai berbasa-basi? Kalau sudah, mari lanjutkan pertarungan ini!"

"Maaf Saudara!" sahut Tio Bun Yang. "Kenapa kalian bertarung? Sudahlah! Jangan dilanjutkan lagi!"

"Hm!" dengus pemuda itu lagi sambil menatap Tio Bun Yang dengan dingin.

"Ketua Butong!" tanya Tio Bun Yang. "Kenapa ketua bertarung dengan orang itu?"

"Dia telah membunuh para murid kami, maka kami turun tangan terhadapnya," jawab It Hian cijin dan menambahkan. "Dia adalah penjahat yang harus dibasmi."

"Maaf!" ucap Tio Bun Yang dan bertanya, ”apakah ketua tahu sebab musababnya, kenapa orang itu membunuh para murid kalian?"

"Kami..." It Hian Tojin tergagap-gagap. "Kami baru bertanya kepadanya, namun dia tidak mau memberitahukan, sehingga terjadilah pertarungan ini”



"Para ketua..." ujar Tio Bun Yang. "Urusan ini serahkan padaku saja, biar aku menyelesaikannya! Bagaimana?"

Ketiga ketua partai itu saling memandang, mereka bertiga tahu bahwa bila pertarungan itu lanjutkan, mereka bertigalah yang akan celaka.

"Baiklah." It Hian Tojin manggut-manggut.

"Kami serahkan urusan ini kepadamu, terimakasih Bun Yang!"

Tio Bun Yang tersenyum, sedangkan ketiga ketua partai itu segera menyuruh murid-murid menggotong mayat-mayat yang tergeletak itu, dan meninggalkan tempat tersebut.

"Engkau memang cerdik," ujar pemuda itu dingin. "Engkau tahu mereka tidak sanggup melawanku, maka menyuruh mereka pergi secara halus."

"Saudara!" Tio Bun Yang tersenyum. "Sudahlah! Kenapa harus memperpanjang urusan ini ? Aku lihat kepandaianmu sangat tinggi, boleh aku tahu siapa engkau?"

"Terus terang," sahut pemuda itu. "Kalau tidak merasa suka kepadamu, bagaimana mungkin aku membiarkan mereka pergi begitu saja?"

"Oh?" Tio Bun Yang menatapnya. "Terima kasih!"

"Mereka bertiga merupakan ketua partai besar, tapi justru tiada kewibawaannya."

"Maksudmu?"

"Aku tidak mau mengatakan, itu demi nama baik perguruan mereka. Tapi mereka malah menyerangku."

"Saudara?" tanya Tio Bun Yang. "Betulkah sebelumnya engkau telah membunuh murid-mu mereka?"

"Betul."



"Kenapa engkau membunuh murid-murid mereka ?" Pemuda itu diam, tak menyahut.

"Saudara," desak Tio Bun Yang. "Beritahukanlah! Sebab aku akan menjernihkan urusan ini kepada ketua-ketua itu."

"Sebulan lalu, aku memergoki murid-murid partai Butong, Kun Lun dan Go Bie melakukan perbuatan terkutuk."

"Mereka melakukan perbuatan apa?"

"Memperkosa di sebuah desa."

"Haaah?" Betapa terkejutnya Tio Bun Yang. ”Me... mereka memperkosa di sebuah desa?"

"Ya." Pemuda itu mengangguk. "Karena itu, aku membunuh mereka semua. Aku paling benci lelaki yang melakukan perbuatan itu."

"Kalau begitu, kenapa engkau tidak mau menjelaskan kepada ketua-ketua itu?" tanya Tio Bun Yang sambil memandangnya.

"Percuma." Pemuda itu menggelengkan kepala. "Sebab ketiga ketua itu tidak akan percaya."

"Engkau bisa membuktikan itu?"

"Tentu."

"Kenapa engkau tidak mau membuktikan kepada ketiga ketua itu, agar tidak terjadi pertumpahan darah ini?"

"Ketiga ketua itu pasti tidak akan percaya, lagi pula aku... demi nama baik ketiga ketua itu. Tapi sebaliknya mereka bertiga malah salam paham kepadaku, itu sungguh mengesalkan."

"Baiklah." Tio Bun Yang manggut-manggut "Apabila aku sempat, aku pasti pergi menemui ketiga ketua itu untuk menjernihkan urusan ini”



"Saudara...." Pemuda itu menatapnya tajam "Sebetulnya

tidak perlu, itu cuma akan menyita waktumu saja."

"Tidak apa-apa." Tio Bun Yang tersenyum getir. "Itu agar tidak terjadi pertarungan lagi.”

"Saudara!" Pemuda itu menatapnya sabil tersenyum. "Engkau bernama Bun Yang, apa julukanmu adalah Giok Siauw Sin Hiap?"

"Betul." Tio Bun Yang mengangguk dan bertanya. "Bolehkah aku tahu nama dan julukan mu?"

"Aku adalah Kim Coa Long Kun (Pendekar Pedang Ular Mas)." Pemuda itu memberitahukan

"Kim Coa Long Kun..." gumam Tio Bun Yang. Ia tidak pernah mendengarnya. "Apakah engkau baru berkecimpung di rimba persilatan?"

"Ya." Kim Coa Long Kun mengangguk. "Oh, Mari kita duduk di bawah pohon, aku merasa cocok denganmu. Kita... mengobrol sebentar,”

"Baik." Tio Bun Yang tersenyum.

Mereka berdua duduk di bawah pohon, kemudian Kim Coa Long Kun menghela nafas panjang.

"Dalam rimba persilatan memang penuh dengan berbagai kelicikan, kejahatan dan kekejaman," ujarnya sambil menggeleng-gelengkaan kepala. "Bahkan sering terjadi pertumpahan darah, seperti halnya tadi. Aaaaaah...!"

"Saudara..." Tio Bun Yang menatapnya tajam, Wajahmu penuh diliputi hawa membunuh, sebetulnya apa gerangan yang telah terjadi atas dirimu?”

"Hmm!" Mendadak Kim Coa Long Kun mendengus dingin. "Itu dikarenakan perbuatan kaum Rimba persilatan."

"Oh? Bolehkah engkau menceritakannya?"



"Aku berasal dari keluarga baik-baik..." tutur Kim Coa Long Kun sambil memandang jauh ke lipan. "Punya orang tua dan kakak perempuan, aku sangat disayang dan dimanja. Akan tetapi, pada suatu malam...."

"Apa yang terjadi?"

"Malam itu...." Lanjut Kim Coa Long Kun sambil berkertak

gigi. Wajahnya pun berubah kehijau-hijauan. "Malam itu terjadi hujan gerimis. aku sedang belajar menulis di dalam kamar, mendadak muncul lima orang bertopeng, yang ternyata perampok. Kedua orang tuaku dan kakak perempuanku keluar dari kamar...."

"Kemudian bagaimana?"

"Kelima bertopeng itu langsung membunuh kedua orang tuaku." Kim Coa Long Kun memberiahukan sambil mengepal tinju. "Setelah memebunuh kedua orang tuaku, mereka berlima memperkosa kakak perempuanku itu."

"Haaah...!" Mulut Tio Bun Yang ternganga lebar saking terkejut. "Sungguh biadab mereka”

"Aku menyaksikan semua itu dengan mata kepala sendiri, karena aku mengintip dari kamar” ujar Kim Coa Long Kun dengan wajah dingin sekali. "Untung kelima perampok itu tidak memasuki kamarku, maka aku lolos dari kematian”

"Saudara...." Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala.

"Aku belajar ilmu silat selama belasan tahun tujuanku untuk membalas dendam." ujar Kim Long Koan, yang wajahnya makin dingin. "Aku harus membunuh kelima perampok itu. Aku harus bunuh mereka...."

"Apakah engkau berhasil membunuh mereka?”

"Aku tidak mengenali wajah mereka karena mereka memakai topeng. Namun aku akan terus menyelidiki mereka. Aku... aku harus membunuh mereka!"



"Saudara...." Tio Bun Yang memegang tangan nya sambil

menatapnya dengan penuh rasa simpati. "Engkau harus tenang!"

"Setelah berhasil menguasai ilmu silat tingkat tinggi, aku akan berkecimpung dalam rimba persilatan dan mulai membunuh para penjahat."

"Oooh!" Tio Bun Yang menganguk.

"Aku tidak punya sanak famili maupun teman aku hidup seorang diri ditemani Pedang Emasku ini." Kim Coa Long Kun memberitahukan. "Apabila Pedang Ular Emasku keluar dari sarungnya, maka aku harus membunuh orang."

"Oh?" terbelalak Tio Bun Yang. "Tadi...."

"Engkau lihat kan tadi? Pedang Ular Emasku ini belum keluar dari sarungnya, ketiga ketua itu masih bernasib mujur."

"Oh?" Tio Bun Yang tertegun. "Pedang Ular Emas itu tergolong pedang yang haus darah?"

"Ya." Kim Coa Long Kun mengangguk, kemudian menatapnya tajam seraya berkata. "Kudengar engkau berkepandaian tinggi sekali, oleh karena itu aku ingin bertanding denganmu."

"Saudara...."

"Engkau jangan menolak!"

"Tapi...."

"Ayolah!" desak Kim Coa Long Kun. "Mari lah bertarung sebentar, jangan mengecewakan aku”

"Saudara...." Tio Bun Yang mengerutkan keningnya. ”Untuk

apa kita bertanding ?”

Kim Coa Long Kun tidak menyahut. Ia langsung bangkit berdiri, lalu menatap Tio Bun Yang higan dingin sekali.



"Kalau engkau tidak mau bertanding denganku maka aku akan pergi membunuh ketiga ketua itu”

"Saudara...." Tio Bun Yang menghela nafas panjang dan

bangkit berdiri seraya berkata. "Baik. Kita akan bertanding dengan tangan kosong atau dengan senjata?"

"Aku akan menggunakan pedangku," sahut Kim Coa Long Kun. "Engkau pun harus menggunakan senjata!"

"Ya." Tio Bun Yang mengeluarkan suling "Inilah senjataku."

"Giok Siauw!" Kim Coa Long Kun manggut manggut. "Pantaslah engkau memperoleh julukan Giok Siauw Sin Hiap!"

"Saudara!" Tio Bun Yang menatapnya”kita sudah berkenalan, lagi pula tiada permusuhan antara kita, jadi... kita tidak perlu saling melukai”

"Ha ha ha!" Kim Coa Long Kun tertawa, ”Kita bertanding cuma ingin mencoba kepandaian. Tentunya tidak perlu saling melukai”

”Oooh!” Tio Bun Yang menarik nafas lega.

”Saudara!" Kim Coa Long Kun menatapnya "Bersiap-siaplah, aku akan mulai menyerangmu”

"Ya." Tio Bun Yang mengangguk.

"Hati-hati!" seru Kim Coa Long Kun sambil menyerang.

Tio Bun Yang segera berkelit. Kim Coa Kun menyerangnya lagi, sedangkan Tio Bun Yang tetap berkelit menggunakan Kiu Kiong San Pou (Ilmu Langkah Kilat).

Itu membuat Kim Coa Long Kun selalu menyerang tempat kosong, sehingga ia tampak panasaran dan mendadak menghentikan serangannya.

Kim Coa Long Kun berdiri tegak, pedangnya diluruskan ke samping dan keningnya berkerut-kerut. Ternyata ia mulai



mengerahkan lweekangnya, karena ingin menyerang Tio Bun Yang dengan Kim Coa Kiam Hoat (Ilmu Pedang Ular Emas).

Tio Bun Yang tidak berani main-main. Ia pun segera mengerahkan Pan Yok Hian Thian Sinkang. Berselang sesaat, tiba-tiba Kim Coa Long Kun memekik keras sambil menyerang Tio Bun Yang. Pedang Ular Emasnya berkelebatan dan memancarkan cahaya keemas-emasan mengarah kepada Tio Bun Yang.

Tio Bun Yang bersiul panjang laIu mendadak badannya berputar-putar ke atas dan sulingnya itu bergerak-gerak

Tranng! Terdengar suara benturan, kim Coa Long Kun termundur-mundur berapa langkah, begitu pula Tio Bun Yang. Mereka saling memandang, sejurus kemudian barulah Kim Coa Long Kun menyerang lagi.

Tio Bun Yang mengayunkan sulingnya, makin lama makin cepat, sehingga hanya tampak bayangan bayangan sulingnya. Ternyata Tio Bun Yang mengeluarkan Cit Loan Kiam Hoat, menggunakan jurus Kiam In Ap San (Bayangan Pedang menekan Gunung) menangkis serangan Kim Coa kun.

Trangggg!! Terdengar suara benturan yang memekakkan telinga

Kim Coa Long Kun terhuyung-huyung ke belakang beberapa langkah, sedangkan Tio Bun Yang berdiri tak bergeming dari tempat.

Setelah berdiri tegak, barulah Kim Coa Lo Kun menatapnya dengan dingin sekali, kemudian mengangkat pedangnya sekaligus menghunusnya perlahan-lahan. Akan tetapi, tiba-tiba ia menghela nafas panjang seraya berkata, "Sudahlah! Kalaupun aku mencabut pedangku, belum tentu dapat mengalahkanmu. Lagi pula kita sudah menjadi kawan, kenapa harus bertanding hingga saling melukai?"



"Saudara!" Tio Bun Yang berlega hati. "Kau memang sudah menjadi kawan, aku..aku girang...sekali."

"Sama." Kim Coa Long Kun tersenyum ”Akupun senang sekali berkawan denganmu, usiaku lebih besar, maka engkau harus memanggilku kakak!"

"Kakak!" panggil Tio Bun Yang.

"Adik!" sahut Kim Coa Long Kun.

Mereka saling memandang, kemudian tertawa gembira.

"Kakak....

"Ha ha ha!" Kim Coa Long Kun masih tertawa "Sungguh menyenangkan, tak disangka kita bertemu di sini dan menjadi kawan baik! Ha ha ha”

"Kakak," ujar Tio Bun Yang berjanji. "Aku membantu kakak menyelidiki kelima perampok itu."

”Terimakasih, Adik!" ucap Kim Coa Long Kun ”oh ya bolehkah aku tahu asal usulmu?"

"Tentu boleh." Tio Bun Yang segera menutur tentang asal-usulnya dan lain sebagainya.

"Ooh!" Kim Coa Long Kun manggut-manggut, kemudian nafas panjang seraya berkata : ”Jadi hingga saat ini engkau belum bertemu Goat Nio ?”

"Belum." Tio Bun Yang menggelengkan kepala dengan wajah murung.

"Hmm!" dengus Kim Coa Long Kun. "Kalau aku bertemu pemuda bernama Kwee Teng An aku pasti membunuhnya!"

"Kakak...."

"Jangan khawatir! Sebelum membunuhnya, pasti bertanya kepadanya tentang Goat Nio."

"Terimakasih, Kakak!"



"Adik!" Kim Coa Long Kun menatapnya. "Kita paksa berpisah di sini, sebab aku harus menyelidiki kelima perampok itu, sedangkan engkau harus pergi ke markas Ngo Tok Kauw."

"Kakak...." Tio Bun Yang merasa berat berpisah dengan

Kim Coa Long Kun.

"Adik!" Kim Coa Long Kun tersenyum. "Sampai jumpa!" "Kakak...!" teriak Tio Bun Yang memanggilnya.

Namun Kim Coa Long Kun telah melesat pergi. Tio Bun Yang termangu-mangu di tempat, lama sekali barulah ia meninggalkan tempat itu.

-oo0w0oo-


Bagian ke enam puluh sembilan Kenangan masa lalu

Tio Bun Yang telah tiba di kota Kang Shi, langsung ke markas Ngo Tok Kauw. Kedatangan sangat mencengangkan Ngo Tok Kauwcu dan Giok Ceng, namun juga membuat mereka gembira

"Adik Bun Yang..." panggil Ngo Tok Kauwcu

"Kakak Bun Yang....” Wajah Ma Giok Ceng berseri-seri.

"Kakak Ling Cu!" sahut Tio Bun Yang sambil memandang mereka. "Adik Giok Ceng...”

"Adik Bun Yang, duduklah!" ucap Ngo Tok Kauwcu sambil tersenyum.

Tio Bun Yang duduk, Ngo Tok Kauwcu menatapnya seraya bertanya.

"Bagaimana? Engkau sudah berhasil mencari Goat Nio?"



Tio Bun Yang menggelengkan kepala. "Belum," sahutnya sambil menatap Ma Giok Ceng. "Aku ke mari karena ada sedikit urusan dengan Adik Giok Ceng."

"Ada urusan apa?" gadis itu tertegun.

"Kwee Teng An ternyata ketua Kui Bin Pang." Tio Bun Yang

memberitahukan. "Ayahmu mengutuskannya untuk membunuh Lie Tsu Seng, namun muncul Bu Ceng Sianli, maka Lie Tsu Seng dan lainnya selamat. Kemudian aku pun muncul sana. Aku menyaksikan pertarungan Kwee Teng An dengan Bu Ceng Sianli, akhirnya pemuda itu kabur."

"Oh?" Ma Giok Ceng terbelalak. "Dia pasti ke rumah."

"Setelah dia kabur, Bu Ceng Sianli mengatakan bahwa dia adalah ketua Kui Bin Pang," ujar Tio Bun Yang.

"Kenapa Bu Ceng Sianli mengatakan begitu?" tanya Ngo Tok Kauwcu heran.

"Itu berdasarkan ilmu pukulannya." Tio Bun Yang memberitahukan. "Bu Ceng Sianli menduga ilmu pukulan itu adalah Pek Kut Im Sat Ciang, yang hanya dimiliki oleh ketua Kui Bin Pang."

"Oooh!" Ngo Tok Kauwcu manggut-manggut. ”Maka engkau segera mengejarnya?"

"Ya." sahut Tio Bun Yang melanjutkan. "Aku pernah mendengar tentang Kwee Teng An dari adik Giok Ceng, karena itu aku langsung berangkat ke rumah menteri Ma."

”Engkau bertemu ayahku?" tanya Ma Giok Ceng terkejut. "Ya." Tio Bun Yang mengangguk

"Engkau....”  Wajah  gadis  itu  berubah  pucat  "Engkau...

engkau mencelakai ayahku?”

"Aku sudah tahu bahwa Menteri Ma adalah ayahmu, bagaimana mungkin aku mencelakai nya?" Tio Bun Yang



tersenyum getir dan menambahkan. "Kwee Teng An tidak kembali ke sana. Ayahmu dan aku pun sepakat untuk saling membantu”

"Saling membantu?" Ma Giok Ceng tertegun "Saling membantu dalam hal apa?”

"Aku ke mari membujukmu pulang, sedangkan ayahmu akan menahan Kwee Teng An, apbila dia kembali ke sana." Tio Bun Yang membentahukan secara jujur.

"Kakak Bun Yang.”tegas Ma Giok Ceng"Aku tidak mau pulang, pokoknya aku tidak mau pulang”

"Adik Giok Ceng!" Tio Bun Yang menatapnya. "Ayahmu sangat rindu kepadamu, maka engkau harus pulang.“

"Tidak. Aku tidak mau pulang. Kalau aku bertemu pemuda itu, ayahku pasti menjodohkan ku kepadanya." ujar Ma Giok Ceng

"Adik Giok Ceng...." Tio Bun Yang menghela nafas panjang.

"Yang mengatakan itu siapa?”

"Itu... itu...." Ma Giok Ceng tergagap. ”Itu cuma dugaan

saja."

”Nah, Itu berarti belum tentu ayahmu akan berbuat begitukan?” ujar Tio Bun Yang „Sesungguhnya.. ayahmu sangat menyayangimu. Kesalahannya hanya ingin memperalat Kwee Teng An saja”

„Kakak Bun Yang..” Ma Giok cng menundukkan kepala

”Adik Giok Ceng...” ujar Ngo Tok Kauwcu tersenyum ,.Engkau arus menuruti perkataan Bun Yang, jangan membuatnya kecewa!"

„Tapi..tapi...” sahut Ma Giok Ceng „Aku tidak mau bertemu Kwee Ten An Aku merasa seram padanya sebab kadang-kadang sepasang matanya menyorotkan sinar aneh”



”Jangan khawatir” ujar Tio Bun Yang berjanji ”Aku pasti melindungimu percayalah!"

”Baiklah” Ma Giok Ceng mengangguk ”Aku ikut engkau pulang"

"Terimakasih, Adik Giok Ceng!" ucap Tio Bun Yang girang

”Lho?” Ma Giok Ceng tertawa geli. „Kenapa engkau mengucapkan terimakasih kepadaku?"

"Engkau bersedia ikut aku puIang berarti aku tidak mengecewakan harapan ayahmu.” Tio Bun Yang memberitahukan.

”Kakak Bun Yang” Ma Giok Ceng menghela nafas panjang ”Padahal hatimu sedang resah masih bisa memikirkan kepentingan orang lain”

"Itu pun karena ayahmu bersedia membantuku," sahut Tio Bun Yang. "Ayohlah! Mari pulang sekarang!"

Ma Giok Ceng mengangguk. Mereka berdiri lalu berpamit kepada Ngo Tok Kauwcu yang baik hati itu.

"Adik Bun Yang," ujar Ngo Tok Kauwcu "Apabila engkau sempat, kunjungilah aku!"

"Ya." Tio Bun Yang manggut-manggut.

"Adik Giok Ceng," pesan Ngo Tok Kauwcu "Nasihatilah ayahmu agar tidak melakukan kejahatan lagi”

"Ya. Kakak Ling Cu." Ma Giok Ceng menangguk. "Aku pasti menasihati ayah...."

-oo0dw0oo-


Betapa gembiranya menteri Ma ketika melihat Tio Bun Yang datang bersama Ma Giok Ceng putrinya.

"Anakku...."



"Ayah...." Ma Giok Ceng mendekap di dada menteri Ma.

"Ayah...."

"Nak!" Menteri Ma membelainya. "Syukurlah engkau sudah pulang, ayah... ayah rindu sekali kepadamu”

"Ayah...." Ma Giok Ceng terisak-isak.

"Jangan menangis, sayang!" ucap menteri Ma sambil tersenyum. "Mulai sekarang, engkau tidak boleh meninggalkan ayah lagi."

"Tapi ayah pun harus berjanji."

"Berjanji apa?"

"Tidak boleh melakukan kejahatan lagi dan tidak boleh menjodohkanku kepada Kwee Teng An."

"Baik, Ayah berjanji!"

"Paman?" tanya Tio Bun Yang mendadak. ”Apakah Kwee Teng An sudah berada di sini?"

"Dia sama sekali belum ke mari," sahut Menteri Ma. "Mungkin dia tidak kemari lagi."

"Aaaah...!" keluh Tio Bun Yang. "Kalau begitu, aku harus ke mana mencarinya?"

"Kakak Bun Yang," ujar Ma Giok Ceng menahannya. "Mungkin dia takut kepadamu, maka tidak begitu cepat ke mari. Oleh karena itu. alangkah baiknya engkau tinggal di sini dulu."

"Tapi...." Tio Bun Yang mengerutkan kening.

"Bun Yang!" Menteri Ma tertawa gembira, „Apa yang dikatakan putriku memang masuk akal, lebih baik engkau tinggal di sini dulu. Siapa tahu Kwee Teng An akan muncul."

Menteri Ma berkata demikian, tidak lain hanya bermaksud menahannya, karena ia memang, sangat menyukainya.



”Tapi... bukankah aku akan mengganggu Paman dan Adik Giok Ceng?" Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala.

"Kakak Bun Yang!" Ma Giok Ceng tersenyum "Kenapa engkau menjadi sungkan?"

"Aku...."  Tio  Bun  Yang  menghela  nafas  panjang.  "Aku

sangat mencemaskan Goat Nio, Kwee Teng An entah menyekapnya di mana?"

"Jangan cemas, Kakak Bun Yang!" Ma Giok Ceng menatapnya lembut. "Mudah-mudahan engkau akan berkumpul kembali dengan Goat Nio”

"Terimakasih!" ucap Tio Bun Yang.

Tio Bun Yang tinggal di rumah menteri itu sungguh menggembirakan Ma Giok Ceng sehingga wajah gadis itu selalu tampak cerah ceria. Namun wajah Tio Bun Yang malah semakin murung, karena Kwee Teng An belum muncul

"Kakak Bun Yang," ujar Ma Giok Ceng ketika mereka berdua berada di taman bunga. "Bagai mana kalau engkau mengajarku ilmu pedang tingkat tinggi, jadi aku bisa menjaga diri?"

"Adik Giok Ceng...." Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan

kepala. "Aku sedang gelisah "

"Kakak Bun Yang...." Ma Giok Ceng memandangnya penuh

harap.

Tio Bun Yang berpikir sejenak, kemudian Mengangguk.

"Baiklah. Mulai sekarang aku akan mengajarmu Lui Tian Kiam Hoat (Ilmu Pedang Petir Kilat), yaitu ilmu pedang andalan It Sim Sin Ni, nenekku."

"Terimakasih, Kakak Bun Yang!" ucap Ma Giok Ceng girang. "Terimakasih...."



"Adik Giok Ceng!" Tio Bun Yang menatapnya sambil berkata sungguh-sungguh. "Engkau harus belajar dengan giat, sebab ilmu pedang Lui Tian kiam Hoat sangat lihay dan dahsyat. Setelah menguasai ilmu pedang itu, engkau bisa melindungi ayahmu, jadi ayahmu tidak usah mencari kepala pengawal lagi."

"Hi hi hi!" Ma Giok Ceng tertawa geli. "Aku yang akan menjadi kepala pengawal!"

”Memang harus begitu." Tio Bun Yang manggut-manggut dan mulai mengajar gadis itu ilmu pedang Lui Tian Kiam Hoat.

Setelah Ma Giok Ceng berhasil menguasai ilmu pedang tersebut, Tio Bun Yang mengajarnya Lui Tian Kiam Hoat (Ilmu Pedang Pusing Tujuh Keliling), ciptaan ayahnya.

"Waduuuh!" keluh Ma Giok Ceng. "Kenapa jadi pusing menyaksikan engkau memainkan ilmu pedang itu?"

"Adik Giok Ceng," sahut Tio Bun Yang serius.

"Ini adalah ilmu pedang Cit Loan Kiam Hoat yang sangat dahsyat. Engkau harus belajar dengan giat karena tidak gampang mempelajari ilmu pedang ini”

"Ya!" Ma Giok Ceng memandangnya.

"Ya." Ma Giok Ceng mengangguk.

"Ilmu pedang ini ciptaan ayahku." Tio Bun Yang memberitahukan sekaligus berpesan. "Kalau tidak dalam bahaya, janganlah engkau mengeluarkan ilmu pedang ini."

"Ya." Ma Giok Ceng mengangguk.

Tio Bun Yang mulai mengajar gadis itu Loan Kiam Hoat dan disaat itulah muncul Menteri Ma sambil tertawa-tawa.

"Ayah!"!" panggil Ma Giok Ceng.

"Paman!" panggil Tio Bun Yang sambil memberi hormat.



"Ha ha ha!" Menteri Ma terus tertawa, kelihatannya gembira sekali. "Bagus! Bagus! ayah tidak usah mencari kepala pengawal cukup engkau saja."

"Betul, Ayah!" Ma Giok Ceng mengangguk "Aku bisa melindungi Ayah, percayalah!"

"Tentu Ayah percaya." Menteri Ma tersenyum. "Siapa yang mengajarmu? Ya, kan?"

"Ayah...." Wajah Ma Giok Ceng memerah

"Ha ha ha!" Menteri Ma tertawa gelak. "Ayolah! Kalian teruskan saja! Ayah mau ke dalam

Menteri Ma berjalan ke dalam rumah.

Tio Bun Yang memandang punggungnya sambil mengnafas panjang."Sebetulnya tidak jahat, hanya saja...." Tio Bun Yang

menggeleng-gelengkan kepala dan melannjutkan, "Terlampau berambisi. Adik Giok ceng...."

"Engkau harus berusaha membujuk ayahmu agar mau mengundurkan diri. Kalau tidak, aku khawatir...."

"Ayahku akan mati dibunuh kan?"

"Kira-kira begitulah."

"Baik. Aku akan berusaha membujuknya agar mengundurkan diri dari jabatannya. Ayahku sudah mulai tua, maka sudah waktunya hidup tenang."

Tak terasa sudah sebulan Tio Bun Yang tinggal di rumah menteri Ma, namun Kwee Teng An masih belum muncul. Itu membuat hati Tio Bun Yang makin kacau. Sedangkan Ma Giok Ceng telah berhasil menguasai ilmu pedang Cit Loan Kiam Hoat. Memang harus diakui, gadis itu sungguh cerdas sekali.

"Aaaah...!" keluh Tio Bun Yang ketika duduk dekat taman bunga.



"Kakak Bun Yang!" Ma Giok Ceng mendekatinya. "Kenapa engkau melamun di sini?"

"Aku...."               Tio          Bun        Yang      menggeleng-gelengkan                kepala.

"Sudah sebulan aku tinggal di sini, tapi Kwee Teng An masih belum muncul. Mungkin dia tidak kembali ke sini."

"Kakak Bun Yang," ujar Ma Giok Ceng lembut. "Engkau harus sabar, coba tunggu beberapa hari lagi!"

"Ya." Tio Bun Yang mengangguk Ia menunggu lagi beberapa hari, namun Kwee Teng An, yang ditunggu-tunggunya tetap tidak muncul, sehingga membuatnya yakin bahwa Kwee Teng An tidak akan kembali ke rumah menteri Ma, maka hari ini juga ia berpamit

”Paman, aku....”

"Bun Yang!" Menteri Ma menatapnya, kemudian menghela nafas panjang. "Aku tahu, engkau mau pergi, bukan?"

"Ya." Tio Bun Yang mengangguk. "Aku mang mau mohon pamit."

"Kakak Bun Yang...." Wajah Ma Giok Ce langsung berubah

murung. "Engkau... engkau sudah mau pergi?"

"Ya. Aku harus pergi mencari Kwee Te An," ujar Tio Bun Yang. "Sudah sebulan lebih aku tinggal di sini, tapi dia tidak muncul. berarti dia tidak akan ke mari lagi."

"Kakak Bun Yang...." Air mata Ma Giok Ceng mulai meleleh.

"Kapan engkau akan ke mari lagi”

"Apabila ada kesempatan, aku pasti ke mari menengokmu," sahut Tio Bun Yang sambil ter senyum. "Kini kepandaianmu sudah tinggi, mampu menjaga diri dan melindungi ayahmu."

"Kakak Bun Yang...." Ma Giok Ceng menatapnya dengan

mata sayu. "Aku...."



"Adik Giok Ceng!" Tio Bun Yang menghela nafas panjang. "Aku tidak bisa terus tinggal di sini. Aku harus, pergi mencari Kwee Teng An, sebab dia yang menculik Goat Nio."

"Kakak Bun Yang, engkau sungguh setia. Alangkah senangnya kalau aku jadi Siang Koan Goat Nio."

"Adik Giok Ceng!" Tio Bun Yang menatapnya lembut. "Aku telah menganggapmu sebagai adikku sendiri...."

"Tentu berbeda," potong Ma Giok Ceng. ”Aaaah! Aku adalah Ma Giok Ceng, bukan Siang Koan Goat Nio! Maka...

engkau pasti menganggap diriku sebagai bayangan lewat saja!"

"Adik Giok Ceng, engkau jangan berkata begitu!" Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala. "Baiklah. Aku... mohon diri! Sampai jumpa”

Tio Bun Yang melangkah pergi. Begitu sampai di luar ia langsung melesat pergi menggunakan ginkang.

"Kakak Bun Yang! Kakak Bun Yang...!" teriak Ma Giok Ceng memanggilnya dengan air mata berderai-derai.

"Aaaah...!" Menteri Ma menghela nafas panjang, kemudian mendekati putrinya seraya berkata. "Nak, dia pasti ke mari lagi kelak."

"Ayah...." Ma Giok Ceng mendekap di dada Menteri Ma.

"Dia... dia tidak akan ke mari lagi Dia... dia...."

"Nak!" Menteri Ma terus menghibur putrinya "Percayalah! Dia pasti ke mari kelak."

"Aaah...!" keluh Ma Giok Ceng. "Kakak Bun Yang! Kakak Bun Yang...!"

-oo0dw0oo-



Di halaman rumah di pulau Hong Hoang tampak beberapa orang sedang duduk-duduk sambil bercakap-cakap. Mereka adalah Sie Keng Hauw, Lie Ai Ling, Kam Hay Thian dan Lu Hui San.

"Aaaah...!" Mendadak Kam Hay Thian menghela nafas panjang. "Entah bagaimana Bun Yang apakah dia sudah berjumpa dengan Goat Nio”

"Aku yakin dia belum berjumpa Goat Nio” sahut Lu Hui San sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Kalau dia sudah berjumpa dengan Goat Nio, mereka berdua pasti pulang ke mari."

"Kita berada di pulau ini, sama sekali tidak tahu bagaimana kabarnya," ujar Sie Keng Hauw dan menambahkan. "Kita pun tidak tahu bagai mana keadaan Yo Kiam Heng dan Kwan Tian Him, juga tidak tahu apakah Toan Beng Kiat dan lainnya sudah tiba di Tayli atau belum."

"Toan Beng Kiat dan lainnya pasti sudah tiba di Tayli," sahut Lie Ai Ling, kemudian keningnya berkerut. "Yang mencemaskan adalah Yo Kiam Heng dan Kwan Tiat Him. Sebab mereka berdua kembali ke markas Kui Bin Pang, apabila ketua Kui Bin Pang mencurigai mereka...."

"Mereka berdua pasti celaka," sambung Sie Keng Hauw. "Aaah! Kita tidak bisa membantu apa-apa!"

”Yaah!" Lie Ai Ling tersenyum. "Entah kapan kita akan diperbolehkan ke Tionggoan?"

"Kalau Bun Yang dan Goat Nio tidak pulang kemari, jangan harap kita bisa ke Tionggoan," ujar Kam Hay Thian.

"Bagaimana kalau kita berunding dengan paman Cie Hiong dan kedua orang tuaku?" usul Lie Ai Ling.

"Percuma." Sie Keng Hauw menggeleng-gelengkan kepala. "Tidak mungkin kita diijinkan pergi ke Tionggoan."



"Lalu kita harus bagaimana?" tanya Lie Ai Ling kesal.

"Omitohud!" Terdengar suara sahutan halus, lebih baik kalian jangan meninggalkan pulau "

"Siapa?" Lie Ai Ling menengok ke sana kemari.

"Omitohud...." Tampak sosok bayangan melayang turun di

hadapan mereka, yang ternyata Tayli Lo Ceng.

"Hah? Padri tua...." Mereka berempat segera bersujud di

hadapan Tayli Lo Ceng.

"Omitohud!" ucap padri tua itu sambil tersenyum. "Bangunlah!"

Mereka berempat lalu bangun. Di saat bersamaan muncullah Sam Gan Sin Kay, Kim Sia Suseng dan Kou Hun Bijin.

"Ha ha ha!" Sam Gan Sin Kay tertawa geli "Padri tua, angin apa yang meniupmu kemari'''

"Tentunya bukan angin topan," sahut Tap Lo Ceng sambil tersenyum. "Aku ke mari atas kemauanku sendiri, tidak tertiup maupun terdorong oleh angin apa pun lho!"

"Hi hi hi!" Kou Hun Bijin tertawa cekikikan "Kepala gundul! Kepalamu makin mengkilap ajal'

"Omitohud!" sahut Tayli Lo Ceng. "Tentunya tidak akan lebih mengkilap dibandingkan dengan wajahmu."

"Hi hi hi!" Kou Hun Bijin tertawa lagi. "Tumben, kepala gundul mau bergurau hari ini. Jangan-jangan langit sudah hampir runtuh!"

"Jangan khawatir!" Tayli Lo Ceng tersenyum "Selagi Kou Hun Bijin masih hidup di kolong langit, langit tidak akan runtuh."



"Kalau begitu, engkau anggap diriku ini"Kepala gundul lah tiang yang menahan langit, agar tidak runtuh ?” tanya Kou Hun Bijin sambil melotot.

"Omitohud!" Tayli Lo Ceng tersenyum. "Kira-kira begitulah."

"Dasar kepala gundul!" caci Kou Hun Bijin. ”Setiap kali kemari pasti cari gara-gara."

"Omitohud!" ucap Tayli Lo Ceng. "Aku kemari tidak bermaksud cari gara-gara, melainkan hanya mengunjungi kalian."

"Oh, ya?" Kou Hun Bijin tertawa nyaring. ”Tayli Lo Ceng mengunjungi kami? Sungguh luar biasa!"

"Padri tua," ujar Sam Gan Sin Kay. "Mari kita ke dalam bercakap-cakap, jangan membuang-buang waktu di sini!"

"Omitohud!" Tayli Lo Ceng mengangguk. Mereka melangkah ke dalam. Tio Tay Seng, Tio Cie Hiong dan lainnya menyambut kedatangan Tayli Lo Ceng dengan penuh kegembiraan.

”Ha ha ha!" Tio Tay Seng tertawa gelak ”Selamat datang, Lo Ceng!"

"Omitohud!" sahut Tayli Lo Ceng. "Terima kasih atas penyambutan kalian, aku gembira sekali”

"Lo Ceng!" Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im memberi hormat.

"Ha ha ha!" Tayli Lo Ceng tertawa. "Kalian berdua semakin mesra saja!"

"Idiiih!" seru Kou Hun Bijin. ”Kepala gundul tahu mesra lho! Sungguh luar biasa!"

"Omitohud!" Tayli Lo Ceng tersenyum.

"Lo Ceng!" Kim Siauw Suseng menatapnya "Kedatangan Lo Ceng kali ini...."



"Sudah kukatakan tadi, aku ke mari hanya mengunjungi kalian," ujar Tayli Lo Ceng. "Sama sekali tiada urusan lain."

"Lo Ceng, bagaimana kabarnya rimba persilatan?" tanya Kim Siauw Suseng

"Biasa-biasa saja," jawab Tayli Lo Ceng. "Habis gelap pasti terbit terang. Begitulah.“

"Kalau   begitu...."            Kim        Siauw    Suseng menghela            nafas

panjang. "Bun Yang masih belum berkumpul dengan putri kami?"

"Jangan khawatir!" ujar Tayli Lo Ceng. "Putri kalian pasti akan berkumpul kembali dengan Bun Yang."

"Terimakasih, Lo Ceng!" ucap Kim Siauw Suseng.

"Omitohud!" ucap Tayli Lo Ceng dan bertanya. "Bagaimana keadaan kalian selama ini baik-baik saja?"

"Baik-baik saja," jawab Tio Tay Seng. "Tapi...”

"Omitohud!" Tayli Lo Ceng menatapnya. "Telah terjadi sesuatu di sini?"

"Ya." Tio Tay Seng menutur tentang kejadian penyerbuan pihak Kui Bin Pang. Tayli Lo Ceng mendengarkan dengan penuh perhatian.

"Omitohud!" ucapnya dan melanjutkan. "Syukurlah mereka telah sembuh!"

"Kepala gundul!" Kou Hun Bijin menatapnya tajam. "Setahuku engkau muncul pasti ada urusan penting, tidak mungkin hanya mengunjungi kami. Itu tidak mungkin."

"Omitohud!" ucap Tayli Lo Ceng. "Entah apa sebabnya, hatiku seakan menyuruhku ke mari. Namun... sungguh mengherankan di sini tidak ada kejadian apa-apa."

"Lo Ceng...." Mendadak Lu Hui San bangkit dari tempat

duduknya.          Gadis     itu           menghampiri     Tayli       Lo           Ceng      lalu



mengeluarkan suatu benda dan diserahkan kepada padri tua itu. "Ada seorang Biarawati tua menitip tusuk konde ini untuk Lo Ceng."

"Haaaah...?" Tayli Lo Ceng terbelalak ketika pelihat tusuk konde itu.

"Giok Cha (Tusuk Konde Kumala)! Aaaaah...!" serunya.

Dengan tangan agak gemetar Tayli Lo Ceng menerima tusuk konde itu, bahkan matanya pun ta berkaca-kaca.

"Omitohud! Inilah dosaku...."

Apa yang terjadi itu sungguh mencengangkan Tio Tay Seng, Sam Gan Sin Kay, Kim Siauw Susng, Kou Hun Bijin dan lainnya,

"Hi hi hi!" Kou Hun Bijin tertawa cekikikan memecahkan keheningan. "Kepala gundul! Ternyata engkau punya kenangan manis dan pahit Hi hi hi...!"

"Omitohud..." Tayli Lo Ceng menggeleng-gelengkan kepala, kemudian memandang Lu Hui San seraya bertanya. "Bagaimana keadaannya? Dia baik-baik saja?"

"Biarawati tua itu kelihatan baik-baik saja. Pada jawab Lu Hui San dan menambahkan. "Tapi ketika menyerahkan tusuk konde ini, biarawati tua itu tampak sedih sekali."

"Aaah...!" keluh Tayli Lo Ceng sambil mengeleng-gelengkan kepala. "Aku telah berdosa terhadapnya! Aku...."

"Hi hi hi!" Kou Hun Bijin tertawa. "Kepala gundul, apakah pemilik tusuk konde itu mantan kekasihmu?"

"Omitohud!" sahut Tayli Lo Ceng. "Memang tidak salah, dia adalah kekasihku yang sangat setia. Dia... dia bahkan menjadi biarawati."

"Lo Ceng," ujar Sam Gan Sin Kay. "Bolehkah dituturkan mengenai kisah cinta itu?"



"Aaaah...!" Tayli Lo Ceng menghela nafas panjang. "Semua itu telah berlalu, tiada gunanya diceritakan."

"Kepala gundul," desak Kou Hun Bijin. "Ceritakanlah agar engkau merasa ringan terhadap dosamu! Kalau tidak, engkau harus terus memikirkan dosa itu lho!"

"Betul," sambung Sam Gan Kin Kay. "Kalau tidak diceritakan, dosa itu harus dipikul sampai ke pintu sorga, dan akhirnya engkau pasti di lempar ke dalam neraka."

"Omitohud...."  Tayli       Lo           Ceng      menggeleng-gelengkan

kepala, kemudian menutur. "Ketika aku berusia sekitar dua puluh, justru merupakan seorang hweeshio muda yang sangat tampan. Suatu hari aku menyelamatkan seorang putri hartawan. Putri itu pergi sembahyangan, di tengah jalan dihadang para penjahat yang ingin memperkosanya. Putri hartawan itu bernama Pek Sian Nio. Aku antar dia pulang, tentunya membuat kedua orang tuanya terheran-heran. Pek Sian Nio segera menceritakan tentang kejadian tersebut membuat kedua orangnya sangat berterimakasih padaku, dan kemudian aku tinggal di sana."

"Kemudian bagaimana?" tanya Kou Hun Bijin.

"Pek Sian Nio baik sekali terhadapku, dan 1 bulan kemudian dia menyatakan cinta kepadaku. Aku tidak terkejut, karena aku pun menyukainya secara diam-diam."

"Hi hi hi!" Kou Hun Bijin tertawa geli. "Hweesio muda jatuh cinta, itu sungguh merupakan dosa berat!"


0 Response to "Pendekar Sakti Suling Pualam Bagian 09"

Post a Comment