coba

Pendekar Sakti Suling Pualam Bagian 07

Mode Malam
Bagian 07

terlampau kurang ajar!"

"Biarkan saja!" sahut Gouw Sian Eng sambil tersenyum lembut. "Yang penting engkau jangan emosi."

Toan Wie Kie manggut-manggut, sedangkan Tu Siao Cui terus memandangnya, kemudian tertawa seraya berkata.

"Bagus! Bagus! Suami memang harus menurut pada isteri! Hi hi hi!"

"Engkau...."        Wajah   Toan      Wie        Kie          tampak kemerahan.

"Engkau sungguh kurang ajar!"

"Hi hi hi!" Tu Siao Cui tertawa geli. "Engkau merasa malu karena aku mengatakan, bahwa suami harus menurut pada isteri?"

'Aku...." Toan Wie Kie tergagap.

"Nona Tu," u;ar Toan Hong Ya ssmbil menatapnya dengan penuh perhatian. "Betulkah delapan puluh tahun lalu engkau bertemu Tayli Sin Ceng?"

"Toan Hong Ya." sanut Tu Siao Cui. "Apa gunanya aku bohong? Kalau Toan Hong Ya tidak percaya, tunggu padri sialan itu ke mari!"

"jangan mencaci guru kami!' seru Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan dengan nada gusar.

"Oh?" Tu Siao Cui menatap mereka. "Padri sialan itu guru kalian?"

"Betul." sahut Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan serentak. 'Maka Kakak jangan menghina dan mencaci guru kami!"

"Aku justru ingin menghajar guru kalian itu," ujar Tu Siao Cui sambil tertawa.

-ooo0dw0ooo-

Jilid : 10

"Kakak...."           Ketika   Toan      Beng      Kiat        ingin      mengatakan

sesuatu, namun keburu di dahului oleh Toan Hong Ya.

"Nona Tu, Tayli Lo Ceng tidak berada di sini, lebih baik engkau pergi saja, jangan membuat onar di tempat ini!"

"Jadi...." Tu Siao Cui mengerutkan kening. "Toan Hong Ya

mengusirku? Begitu kan?"

"Bukan mengusir, melainkan...."

"He he he!" Tu Siao Cui tertawa terkekeh-kekeh. "He he he! Toan Hong Ya, engkau telah membuat hatiku tersinggung. Oleh karena itu, akupun tak ingin membuat kalian susah."

"Nona Tu...." Toan Hong Ya terkejut. "Eng-kau mau apa?"

"Aku ingin bertanding dengan jagoan di sini." sahut Tu Siao Cui memberitahukan. "Putra dan menantumu boleh bertanding Menganku! Kalau aku kalah, aku akan meninggalkan istana ini. Sebaliknya apabila mereka yang kalah, maka akulah yang berkuasa di sini."

"Apa?" Toan Hong Ya terbelalak. "Engkau menghendaki tahta kerajaan ini?"

"Tentu tidak." Tu Siao Cui tersenyum. "Aku hanya ingin berkuasa di sini, sekaligus menikmati kesenangan dan kemewahan. Kalau ada orang yang dapat mengalahkan aku, barulah aku akan meninggalkan istana ini."

"Jadi engkau ingin bertanding dengan Toan Wie Kie dan Lam Kiong Bie Liong?" tanya Toan Hong Ya.

"Ya." Tu Siao Cui mengangguk.

"Itu...." Toan Hong Ya memandang pulra dan menantunya

seraya bertanya, "Bagaimana menurut kalian?"

"Baik." Toan Wie Kie dan Lam Kiong Bie Liong mengangguk. "Kami menerima tantangannya."



"Bagus! Bagus!" Tu Siao Cui tertawa. "Kalau begitu, cepatlah keluarkan senjata kalian!"

"Nona ingin melawan kami berdua dengan tangan kosong?" tanya Toan Wie Kie dengan kening berkerut-kerut.

"Betul." Tu Siao Cui mengangguk sambil tersenyum. "Dengan tangan kosong, aku tetap mampu merobohkan kalian."

"Baik." Toan Wie Kie manggut-manggut, lalu memandang Lam Kiong Bie Liong seraya berkata, "Mari kita bertanding dengan dia menggunakan senjata, dia yang menghendaki begitu."

"Ng!" Lam Kiong Bie Liong mengangguk sambil bertanya kepada Tu Siao Cui. "Nona, engkau tidak akan menyesal?"

"Hi hi hi!" Tu Siao Cui tertawa cekikikan. "Terus terang, dalam dua puluh jurus, kalian berdua pasti roboh."

"Oh?" Lam Kiong Bie Liong menatapnya dingin. "Engkau terlampau sombong, justru engkau yang akan roboh dalam dua puluh jurus."

"Mari kita buktikan!" ujar Tu Siao Cui. "Jangan membuang-buang waktu lagi!"

Toan Wie Kie dan Lam Kiong Bie Liong saling memandang, kemudian mereka mengeluarkan senjata masing-masing, yaitu sebuah kipas dan sebilah pedang.

"Kalian dengar baik-baik!" seru Toan Hong Ya serius. "Ini cuma merupakan pertandingan persahabatan, jadi kularang kalian saling melukai."

"Toan Hong Ya," sahut Tu Siao Cui. "Kalau tidak saling melukai, tentu tidak akan tahu siapa yang berkepandaian lebih tinggi. Karena itu haluslah saling melukai, namun tidak saling membunuh."

"Itu...." Toan Hong Ya tampak gelisah. "Kalau begitu...."



"Jangan khawatir, Ayah!" ujar Toan Wie Kie. "Kami berdua tidak akan terluka, percayalah!"

"Ayah," ujar Toan Beng Kiat. "Biar aku dan Soat Lan yang bertanding dengan dia."

"Benar," sambung Lam Kiong Soat Lan. "Kami berdua saja yang melawan dia, sebab dia lelah mencaci guru kami."

"Kalian jangan turut campur!" Toan Wie Kie mengibaskan tangannya, agar mereka berdua menyingkir.

"Ayah...." Toan Beng Kiat tampak penasaran.

"Nak!" Gouw Sian Eng menariknya menyingkir. "Itu urusan mereka, engkau dan Soat Lan jangan turut campur!"

"Ibu...." Toan Beng Kiat mengerutkan kening.

"Turutilah perkataan ibu, jangan bikin kacau pikiran ayahmu!" bisik Gouw Sian Eng.

Sementara Toan Wie Kie dan Lam Kiong Bie Liong sudah berdiri di hadapan Tu Siao Cui. Suasana pun mulai tegang.

"Nona Tu!" Toan Wie Kie menatapnya. "Betulkah engkau ingin melawan kami dengan tangan kosong?"

"Betul," sahut Tu Siao Cui sambil tersenyum. "Aku tidak omong besar, kalian berdua boleh mulai menyerang aku!"

"Baik!" Toan Wie Kie mengangguk. "Bie Liong, mari kita serang dia!"

Toan Wie Kie mulai menyerang Tu Siao Cui dengan kipasnya, menggunakan ilmu Bu Ceng San Hoat (Ilmu Kipas Tanpa Perasaan), sedangkan Lam Kiong Bie Liong menyerang Tu Siao Cui dengan pedang, menggunakan Thay Yang Kiam Hoat (Ilmu Pedang Surya).

Serangan-serangan itu tidak membuat Tu Siao Cui gugup, sebaliknya ia malah tertawa nyaring sambil berkelit, sekaligus balas menyerang dengan sepasang telapak tangannya.



Badannya melayang-layang ke sana ke mari menghindari serangan-serangan yang dilancarkan Toan Wie Kic dan Lam Kiong Bie Liong, bahkan amat penasaran, karena senjata mereka sama sekali tidak dapat menyentuh pakaian Tu Siao Cui. Namun diam-diam mereka sangat kagum akan kepandaiannya. Walau dengan tangan kosong, tapi Tu Siao Cui sama sekali tidak kelihatan terdesak.

Belasan jurus kemudian, malah Toan Wie Kie dan Lam Kiong Bie Liong yang tampak berada di bawah angin.

"Hi hi hi!" Tu Siao Cui tertawa nyaring. "Kepandaian kalian cuma begitu saja? Hi hi hi! liga jurus lagi kalian pasti roboh!"

"Jangan sombong!" bentak Toan Wie Kie dan mulai menyerangnya dengan jurus-jurus andalannya.

Begitu pula Lam Kiong Bie Liong, ia pun mulai mengeluarkan jurus andalannya untuk merobohkan Tu Siao Cui.

Ketika Toan Wie Kie mengeluarkan jurus Hai Lang Soh Ngai (Ombak Menyapu Daratan), Lam Kiong Bie Liong mengeluarkan jurus Jit Liak Sauh Te (Terik Surya Membakar Bumi).

Dapat dibayangkan, betapa dahsyatnya kedua jurus serangan itu. Tu Siao Cui diserang dari dua arah. Itu membuatnya cukup repot juga. Akan tetapi, mendadak badannya berputar-putar meluncur ke atas, jari telunjuknya bergerak-gerak ke arah Toan Wie Kie dan Lam Kiong Bie Liong.

Ternyata Tu Siao Cui mulai balas menyerang dengan ilmu Hian Goan Ci, menggunakan jurus Hung Sui Soh Te (Air Bah Menerjang Bumi).

Casss! Cessss! Terdengar benturan suara halus, kemudian terdengar pula suara jeritan.



Aaaakh! Aaaakh...! Yang menjerit itu ternyata Toan Wie Kie dan Lam Kiong Bie Liong.

Mereka berdua terkulai di lantai. Gouw Sian Eng dan Toan Pit Lian segera berlari mendekati mereka dengan wajah cemas.

"Kakak Kie, bagaimana engkau?" tanya Gouw Sian Eng pada suaminya.

"Kakak Liong! Engkau... engkau terluka?" tanya Toan Pit Lian cemas. "Bagaimana keadaan lukamu?"

"Kami... kami..." sahut Toan Wie Kie lemah. "Badanku tak bisa bergerak, mungkin... mungkin aku sudah lumpuh."

"Apa?" Bukan main terkejutnya Gouw Sian Eng. "Coba kerahkan lweekangmu!"

"Sudah kucoba,                tapi...." Toan      Wie        Kie          menggeleng-

gelengkan kepala. "Hawa murniku tidak dapat dihimpun."

"Jadi...." Wajah Gouw Sian Eng memucat. "Kepandaianmu

telah musnah?"

"Kira-kira begitulah." Toan Wie Kie menghela nafas panjang. "Aku...."

"Kakak Kie...." Air mata Gouw Sian Eng mulai meleleh.

Bagaimana keadaan Lam Kiong Bie Liong? Keadaannya juga seperti Toan Wie Kie, sama sekali tidak bisa bergerak.

"Hi hi hi!" Tu Siao Cui tertawa nyaring. "Tadi aku sudah bilang, dalam dua puluh jurus kalian berdua pasti roboh di tanganku, sudah kubukti-kan. Hi hi hi!"

"Perempuan jahat!" bentak Lam Kiong Soat Lan. "Engkau kejam! Kenapa melukai ayahku?"

"Aku tidak kejam," sahut Tu Siao Cui. "Kalau aku kejam, mereka berdua sudah jadi mayat."



"Soat Lan...." Lam Kiong Bie Liong menggeleng-gelengkan

kepala. "Diamlah!"

"Ayah, aku dan Beng Kiat harus melawannya," ujar Lam Kiong Soat Lan sambil memandang loan Beng Kiat. "Ayoh, kita serang dia!"

"Baik." Toan Beng Kiat mengangguk. "Soat Lan, Beng Kiat!" bentak Toan Hong

Ya. "Kalian berdua tidak boleh menyerangnya!"

"Kakek," sahut Lam Kiong Soat Lan. "Dia telah melukai ayah, aku harus membalas."

"Kakek," sambung Toan Beng Kiat. "Kami berdua akan bertanding dengan dia."

"Tidak boleh!" bentak Toan Hong Ya lagi sambil mengerutkan kening, kemudian memandang Tu Siao Cui seraya berkata, "Nona Tu, aku harap engkau segera menyembuhkan mereka!"

"Hi hi hi!" Tu Siao Cui tertawa. "Sesuai dengan perjanjian, kalau aku menang, aku berkuasa di sini. Apabila kalah, aku akan pergi. Nah, buktinya aku yang menang. Maka akulah yang berkuasa di sini. Hi hi hi...!"

"Omitohud!" Terdengar suara pujian Budha yang menggetarkan hati. Tak lama muncullah seorang padri tua, yang tidak lain adalah Tayli Lo Ceng.

Begitu melihat padri tua itu, bcrserilah wajah Toan Hong Ya, sekaligus bersujud.

"Bangunlah!" Tayli Lo Ceng tersenyum lembut.

Toan Hong Ya bangun dan kembali ke tempat duduknya. Segeralah Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan berlutut di hadapan padri tua itu.

"Guru!" panggil mereka.



"Bangunlah murid-muridku!" ucap Tayli Lo Ceng.

"Ya, Guru." Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan bangkit berdiri.

Sementara Tu Siao Cui terus memandang Tayli Lo Ceng. Ketika padri tua itu mengarah padanya, wanita itu berkata sambil tertawa dingin.

"Padri sialan! Kebetulan engkau muncul, aku memang sedang mencarimu!"

"Omitohud!" sahut Tayli Lo Ceng. "Nona, cepatlah sembuhkan mereka!"

"Hi hi hi!" Tu Siao Cui tertawa cekikikan. "Kenapa aku harus menyembuhkan mereka?"

"Omitohud!" ucap Tayli Lo Ceng sambil menatapnya tajam. "Siapa engkau? Kenapa hatimu begitu kejam?"

"Padri sialan?" sahut Tu Siao Cui. "Dengarlah baik-baik! Aku bernama Tu Siao Cui. Apakah engkau sudah lupa?"

"Tu Siao Cui! Tu Siao Cui..." gumam Tayli Lo Ceng. "Aku memang sudah lupa."

"Padri sialan, bukankah engkau sangat mahir meramal? Cobalah ramal siapa diriku ini!" ujar Tu Siao Cui sambil tertawa dan menambahkan. "Aku tidak berhati kejam lho! Buktinya aku tidak membunuh mereka, hanya melumpuhkan mereka."

"Itu membuktikan engkau berhati kejam," sahut Toan Beng Kiat. "Engkau ke mari mencari guruku, tapi justru melukai ayahku."

"Bocah!" Tu Siao Cui tertawa. "Mereka berdua bertanding denganku, bahkan aku melawan iiu-rcka dengan tangan kosong. Aku menang ka-n-na kepandaianku lebih tinggi. Bagaimana kalau tadi aku yang terluka? Apakah engkau akan mengatai ayahmu berhati kejam?"



"Aku...." Toan Beng Kiat menundukkan kepala.

"Nah!" Tu Siao Cui tersenyum. "Makanya jadi orang haruslah bertindak adil dan bijaksana seperti Tio Bun Yang!"

"Omitohud!" ucap Tayli Lo Ceng. "Sebetulnya ada urusan apa engkau ke mari mencari aku?"

"Hi hi hi!" Tu Siao Cui tertawa cekikikan. "Tentunya engkau sudah tahu akan kehadiranku di sini. Kalau tidak, bagaimana mungkin engkau muncul tepat pada waktunya?"

"Omitohud!" Tayli Lo Ceng tersenyum. "Engkau masih muda, tapi mulutmu sungguh tajam!"

"Padri sialan, kini engkau sudah tua sehingga jadi pikun. Masa engkau tidak mengenali aku lagi? Cobalah ingat!"

"Aku betul-betul tidak ingat lagi." Tayli Lo Ceng menggeleng-gelengkan kepala.

"Padri sialan, kita pernah bertemu."

"Kita pernah bertemu? Kapan dan di mana?"

"Delapan puluh tahun lampau, pada waktu itu aku dituntun oleh Thian Gwa Sin Hiap-Tan Liang Tie. Nah, sudah ingatkah sekarang?"

"Apa?" Tayli Lo Ceng terbelalak. "Engkau adalah gadis kecil itu? Bagaimana mungkin?"

"Aku memang gadis kecil itu, namaku Tu Siao Cui. Thian Gwa Sin Hiap adalah guruku."

"Omitohud!" Tayli Lo Ceng menggeleng-gelengkan kepala. "Kenapa engkau menyamar sebagai dirinya? Apakah Tu Siao Cui itu gurumu?"

"Aku adalah Tu Siao Cui. Hi hi hi! Engkau lidak percaya kan? Tapi aku masih ingat apa yang engkau pesankan kepada Thian Gwa Sin Hiap delapan puluh tahun yang lampau."



"Omitohud! Aku sudah lupa. Beritahukan-lah!"

"Engkau berpesan kepada Thian Gwa Sin Hiap harus berhati-hati padaku. Padri sialan, engkau sudah ingat itu?"

"Jadi...."  Tayli  Lo  Ceng  tertegun.  "Betul  engkau  adalah

gadis kecil itu?"

"Betul." Tu Siao Cui mengangguk. "Pada waktu itu julukanmu adalah Tayli Sin Ceng, bernama Kong Sun Hok. Ya, kan?"

"Tidak salah." Tayli Lo Ceng menatapnya tajam, kemudian menghela nafas panjang. "Engkau memang serupa dengan gadis itu, tapi...."

"Padri sialan!" Tu Siao Cui tertawa. "Tentu M'iupa karena aku memang dia."

"Omitohud...." Tayli Lo Ceng menggeleng-plengkan kepala.

"Engkau kok masih tampak begitu muda, padahal usiamu sudah delapan puluh lebih."

"Aku mengalami suatu kemujizatan, maka membuat diriku jadi muda kembali seperti gadis berusia dua puluhan." Tu Siao Cui memberitahukan. "Namun enam puluh tahun lebih aku tersiksa dan menderita di dalam goa. Belum lama ini aku baru bebas sekaligus memunculkan diri di rimba persilatan."

"Omitohud! Syukurlah kalau begitu!" ucap Tayli Lo Ceng. Kini padri tua itu sudah yakin, bahwa gadis yang berdiri di hadapannya itu adalah Tu Siao Cui, murid adik seperguruannya yang memiliki kitab pusaka Hian Goan Cin Keng. "Oh ya, bagaimana keadaan Thian Gwa Sin Hiap adik seperguruanku itu?"

"Dia sudah mati," sahut Tu Siao Cui dingin dan menutur. "Setelah aku berusia dua puluh lebih, aku pergi menyelidiki kematian kedua orang tuaku. Ternyata guruku yang membunuh mereka."



"Oh?" Tayli Lo Ceng mengerutkan kening. "Jelaskanlah!"

"Sebetulnya kedua orang tuaku adalah perampok budiman. Mereka merampok demi menolong orang-orang miskin," sahut Tu Siao Cui dengan wajah dingin. "Akan tetapi, Thian Gwa Sin Hiap justru membunuh kedua orang tuaku karena membela seorang hartawan yang selalu bertindak sewenang-wenang."

"Omitohud!"

"Mungkin Thian Gwa Sin Hiap merasa menyesal, maka datang ke rumahku sekaligus membawaku pergi. Di saat itulah bertemu engkau padri sialan."

"Omitohud!" Tayli Lo Ceng menghela nafas panjang. "Adik seperguruanku tidak sengaja membunuh kedua orang tuamu."

"Sengaja atau tidak, dia tetap pembunuh kedua orang tuaku!" sahut Tu Siao Cui gusar. "Seharusnya dia selidiki dulu, barulah turun tangan! Namun dia tidak bertanya ini itu, langsung membunuh kedua orang tuaku! Karena itu, aku membalas dendam!"

"Engkau membunuh adik seperguruanku itu?" Tayli Lo Ceng terbelalak.

"Ya." Tu Siao Cui mengangguk. "Tapi dia pun berhasil memukulku sehingga membuat aku jadi lumpuh puluhan tahun lamanya."

"Omitohud...." Tayli Lo Ceng menggeleng-gelengkan kepala

dan bertanya, "Lalu ada urusan apa engkau ke mari mencariku?"

"Ingin menghukummu!"

"Oh?" Tayli Lo Ceng mengerutkan kening. "Apa salahku maka engkau ingin menghukumku?"

"Delapan puluh tahun lampau, engkau menyuruh Thian Gwa Sin Hiap berhati-hati padaku, secara tidak langsung engkau menyuruhnya melenyapkan diriku." sahut Tu Siao Cui



menam-liahkan. "Seharusnya di saat itu engkau bertanya kepadanya tentang diriku, kemudian engkau pun harus menghukumnya. Tapi engkau tidak melakukan itu, sebaliknya malah menyuruhnya berhati-liati terhadapku. Oleh karena itu, hari ini aku harus menghukummu."

"Omitohud!" Tayli Lo Ceng menghela nafas panjang. "Tu Siao Cui, engkau telah membunuh Thian Gwa Sin Hap, dan kini engkau pun telah melukai mereka berdua. Apakah engkau belum merasa puas?"

"Hi hi hi!" sahut Tu Siao Cui dengan tawa cekikikan. "Thian Gwa Sin Hiap pernah bilang, engkau adalah padri sakti. Karena itu, aku ingin menjajal kesaktian apa yang engkau miliki."

"Omitohud!" Tayli Lo Ceng menggeleng-gelengkan kepala. "Tu Siao Cui, itu tidak perlu. Engkau harus ingat akan dirimu yang muda kembali, itu merupakan suatu berkah. Bersyukurlah kepada Yang Maha Kuasa, jangan membuat dosa!"

"Padri sialan, aku ingin bertanya," Tu Siao Cui menatapnya. "Pernahkah engkau berbuat suatu dosa?"

"Omitohud!" sahut Tayli Lo Ceng. "Setiap manusia tidak akan terlepas dari suatu dosa. Kalau tahu pernah berbuat dosa, haruslah bertobat sekaligus menebusnya dengan perbuatan baik."

"Bagus! Bagus! Kalau begitu, engkau harus bertanding denganku!" ujar Tu Siao Cui sungguh-sungguh. "Apabila engkau mampu mengalahkan aku, tentu aku akan menyembuhkan mereka, bahkan juga akan meninggalkan istana Tayli ini. Tapi seandainya engkau kalah, maka akulah yang berkuasa di sini. Hi hi hi...."

"Tu Siao Cui!" Tayli Lo Ceng mengerutkan kening. "Asal engkau tidak berlaku sewenang-wenang di sini, aku bersedia mengaku kalah terhadapmu. Bagaimana?"



"Dasar licik!" sahut Tu Siao Cui. "Aku pun bersedia mengaku kalah terhadapmu, asal aku berkuasa di sini."

"Omitohud...." Tayli Lo Ceng menghela nafas panjang. "Tu

Siao Cui...."

"Guru," ujar Toan Beng Kiat yang sangat penasaran. "Biar aku dan Soat Lan bertanding dengan nenek sombong itu!"

"Beng Kiat, jangan turut campur!" sahut Tayli Lo Ceng berwibawa. "Engkau diam saja."

"Hi hi hi!" Tu Siao Cui tertawa dan berkata, "Kalian berdua bukan tandinganku, jangan sok jago!"

"Nenek jahat!" bentak Lam Kiong Soat Lan. "I ngkau telah melukai ayahku, aku harus membalas!"

"Gadis kecil!" Tu Siao Cui tertawa. "Hi hi hi! Apakah aku ini mirip nenek jahat?"

"Wajahmu masih muda, tapi usiamu sudah delapan puluh lebih! Aku harus memanggilmu apa?"

"Panggil saja kakak!"

"Kakak jahat sekali!" Lam Kiong Soat Lan menudingnya. "Aku harus membalas!"

"Suruhlah gurumu bertanding dengan aku, bukankah dia akan mewakili kalian membalasku?" sahut Tu Siao Cui sambil tersenyum, kemudian memandang Tayli Lo Ceng. "Padri sialan! Aku dengar engkau memiliki Hud Bun Pan Yok Sin Kang dan Kim Kong Cap Sah Ciang, karena itu aku ingin menjajal ilmu-ilmumu itu!"

"Omitohud!" Tayli Lo Ceng menghela nafas panjang. "Apakah aku tiada pilihan lain lagi?"

"Pilihanmu hanya bertanding denganku!"

"Omitohud...."  Tayli       Lo           Ceng      menggeleng-gelengkan

kepala. "Kalau begitu apa boleh buat!"



"Bagus! Bagus!" Tu Siao Cui tampak gembira sekali. "Kalau aku kalah, aku pasti menyembuhkan mereka dan meninggalkan istana ini. Namun seandainya engkau yang kalah, maka akulah yang berkuasa di sini. Toan Hong Ya juga harus menuruti perintahku, ini merupakan pertandingan bersyarat. Bagaimana?"

"Omitohud...." Tayli Lo Ceng memandang Toan Hong Ya.

"Aku setuju," sahut Toan Hong Ya cepat.

"Tidak akan menyesal?" tanya Tu Siao Cui.

"Ha ha ha!" Toan Hong Ya tertawa gelak. "Apabila Tayli Lo Ceng kalah, engkau boleh berkuasa di sini dan duduk di singgasanaku ini!"

"Oh, ya?" Tu Siao Cui tertawa gembira. "Baik. Tapi engkau jangan menyesal!"

"Aku tidak akan menyesal," sahut Toan Hong Ya sungguh-sungguh. "Nah, kalian boleh mulai bertanding!"

"Bagus! Bagus!" Tu Siao Cui tertawa lgi. "Padri sialan, tentunya kita bertanding tanpa senjata kan?"

"Omitohud...." Tayli Lo Ceng manggut-manggut. "Baiklah."

Tayli Lo Ceng mulai mengerahkan Hud Bun Pan Yok Sin Kang, sedangkan, Tu Siao Cui pun, mulai menghimpun Hian Goan Sin Kang.

"Padri sialan! Aku akan menyerang duluan, berhati-hatilah!" seru Tu Siao Cui sambil menyerang menggunakan ilmu Hian Goan Ci.

"Omitohud..." ucap Tayli Lo Ceng sambil mengibaskan lengan jubahnya menangkis serangan itu.

"Blaam! Scrt! Terdengar suara benturan dan sobekan.



Tayli Lo Ceng dan Tu Siao Cui sama-sama mundur tiga langkah. Wajah Tayli Lo Ceng tampak terkejut, ternyata ujung jubahnya telah sobek terserang Hian Goan Ci.

"Omitohud!" ucap Tayli Lo Ceng. "Sungguh tak terduga, engkau telah menguasai Hian Goan Ci!"

"Hi hi hi!" Tu Siao Cui tertawa. "Baru tahu ya? Nah, lihat seranganku ini!"

Tu Siao Cui langsung menyerangnya dengan ilmu Hian Goan Ci. Kali ini Tayli Lo Ceng terpaksa harus mengeluarkan ilmu simpanannya, yakni Kim Kong Cap Sah Ciang (Tiga Belas Jurus Pukulan Cahaya Emas).

Oleh karena itu, sepasang telapak tangan Tayli Lo Ceng tampak memancarkan cahaya ke-emas-emasan.

Tu Siao Cui terperanjat dan segera meloncat ke belakang. Kemudian ia berdiri tegak di tempat sambil mengerahkan Hian Goan Sin Kang sampai pada puncaknya.

Sementara Tayli Lo Ceng sudah mengerahkan Hud Bun Pan Yok Sin Kang pada puncaknya pula.

Betapa terkejutnya Toan Hong Ya dan lainnya, mereka tahu itu merupakan pertandingan antara hidup dan mati. Teganglah mereka, begitu pula Toan Wie Kie dan Lam Kiong Bie Liong yang telah di papah ke tempat duduk.

Kini jari telunjuk Tu Siao Cui pun memancarkan cahaya putih yang menyilaukan mata. Mendadak ia berteriak sambil menyerang Tayli Lo Ceng. Badannya berputar-putar meluncur ke atas sekaligus menggerakkan jari tulunjuknya ke arah Tayli Lo Ceng.

Tampak cahaya putih yang menyilaukan mata berkelebat ke arah Tayli Lo Ceng. Itulah jurus Hung Sui Soh Te (Air Bah Menerjang Bumi).



"Omitohud!" ucap Tayli Lo Ceng sambil menggerakkan sepasang telapak tangannya. Tampak cahaya keemasan meluncur secepat kilat menangkis cahaya putih itu. Ternyata Tayli Lo Ceng mengeluarkan jurus Kim Kong Cioh Te (Cahaya Emas Menyinari Bumi).

Blaaam! Terdengar suara benturan dahsyat.

Tayli Lo Ceng terhuyung-huyung ke belakang beberapa langkah, begitu pula Tu Siao Cui. Namun wanita itu masih bisa tertawa nyaring.

"Hi hi hi! Padri sialan, engkau memang hebat!"

"Omitohud!" sahut Tayli Lo Ceng sambil menarik nafas dalam-dalam. "Tu Siao Cui, Hian Goan Cimu itu sungguh dahsyat!"

"Hi hi hi!" Tu Siao Cui tertawa lagi. "Padri sialan, terimalah seranganku ini!"

Tu Siao Cui bergerak. Mendadak jari telunjuknya berubah ribuan, sekaligus memancarkan cahaya putih mengarah ke Tayli Lo Ceng.

"Omitohud..." ucap Tayli Lo Ceng sambil mengerutkan kening, kemudian sepasang telapak tangannya bergerak-gerak memancarkan cahaya keemas-emasan.

Tu Siao Cui menyerangnya dengan jurus Cian ('i Keng Thian (Ribuan Jari Mengejutkan Langit), sedangkan Tayli Lo Ceng menangkis mengeluarku jurus Kim Kong Teng Hai (Cahaya Emas Menenangkan Laut).

Mereka berdua sama-sama menggunakan ju-nis ampuh yang sangat dahsyat, maka tidak heran cahaya putih dan cahaya keemas-emasan itu berkelebat ke sana ke mari. Betapa tegangnya Toan Hong Ya dan lainnya, mereka menyaksikan pertandingan itu dengan mata tak berkedip.

Blaaam! Cessss...! Terdengar suara benturan.



Tu Siao Cui terhuyung-huyung lima langkah, sedangkan Tayli Lo Ceng terpental ke belakang beberapa depa dengan wajah pucat pias.

"Uaaaakh...!" Mulut Tayli Lo Ceng menyemburkan darah segar. "Uaaakh...!"

Sementara Tu Siao Cui menarik nafas dalam-dalam mengatur pernafasannya, kemudian tertawa cekikikan.

"Hi hi hi! Padri sialan! Bagaimana? Masih mau melanjutkan pertandingan?"

"Omitohud!" sahut Tayli Lo Ceng. "Aku... aku mengaku kalah. Kepandaianmu memang tinggi sekali."

"Guru! Guru...!" seru Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan serentak.

"Cepat papah guru ke ruang istirahat!" sahut Tayli Lo Ceng. "Wie Kie dan Bie Liong juga harus di papah ke ruang istirahat!"

"Ya, Guru." Toan Beng K'at dan Lam Kiong Soat Lan segera memapah Tayli Lo Ceng, sedangkan Gouw Sian Eng dan Toan Pit Lian memapah Toan Wie Kie dan Lam Kiong Bie Liong.

"Hi hs hi!" Tu Siao Cui tertawa nyaring. "Toan Hong Ya, engkau harus cepat turun dari kursi kebesaran itu!"

"Haaah?" Toan Hong Ya tampak tersentak. "Ba... baik."

"Jangan merasa terpaksa, itu sesuai dengan perjanjian!" ujar Tu Siao Cui sambil tersenyum.

Toan Hong Ya turun dari kursi kebesarannya, dan Tu Siao Cui langsung meloncat ke kursi itu.

"Hi hi hi!" Ia duduk di situ sambil tertawa gembira. "Toan Hong Ya, mulai sekarang aku yang berkuasa di sini. Engkau dan para pengawal serta para dayang harus mematuhi perintahku."



"Ya." Toan Hong Ya mengangguk, tapi berkeluh dalam hati.

"Kalau ada orang yang mampu mengalahkan aku, maka aku akan pergi. Bila tidak, tentunya aku tetap berkuasa di s-ini," tegas Tu Siao Cui dan menambahkan. "Jangan coba-coba meracuni aku dengan minuman maupun makanan, sebab aku akan tahu itu dan... aku pasti membunuh para penghuni istana ini!"

"Kami tidak akan berbuat begitu," sahut Toan Hong Ya dan bertanya, "Nona Tu, bolehkah aku pergi menengok mereka?"

"Silakan!" ucap Tu Siao Cui.

"Tcrimakasih!" Toan Hong Ya melangkah pergi, namun mendadak Tu Siao Cui berseru.

"Toan Hong Ya! Suruh para dayang me-n\npkan makanan dan minuman untukku!"

"Baik." Toan Hong Ya mengangguk, lalu menuju ruang istirahat.

Tayli Lo Ceng duduk bersila di lantai, Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan duduk di samping kiri kanannya. Sedangkan Toan Wie Kie dan Lam Kiong Bie Liong duduk di kursi, Gouw Sian Eng dan Toan Pit Lian menemani mereka dengan wajah murung.

"Ayah!" panggil mereka serentak.

"Kakek!" panggil Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan.

"Ngmm!" Toan Hong Ya manggut-manggut, kemudian duduk di hadapan Tayli Lo Ceng.

"Lo Ceng!" panggilnya dengan suara rendah.

"Omitohud!" sahut Tayli Lo Ceng sambil menghela nafas panjang. "Maaf, aku tidak bisa apa-apa!"

"Lo Ceng!" Toan Hong Ya tersenyum getir. "Aku mohon petunjuk!"



"Omitohud!" Tayli Lo Ceng mengerutkan kening. "Kepandaian Tu Siao Cui itu sungguh tinggi, memang hebat sekali ilmu Hian Goan Ci itu. Aku terluka dalam, mungkin harus beristirahat beberapa bulan baru bisa pulih."

"Kalau begitu, kita harus bagaimana?" tanya Toan Hong Ya.

"Kepandaian Tu Siao Cui memang tinggi sekali. Kalau dia berhati jahat tentunya akan menimbulkan bencana," ujar Tayli Lo Ceng dan melanjutkan. "Menurut aku, hanya ada satu orang yang dapat menundukkannya, bahkan Tu Siao Cui pun akan mendengar perkataannya."

"Siapa orang itu?" tanya Toan Hong Ya cepat dan penuh harap.

"Omitohud!" Tayli Lo Ceng memberitahukan. "Orang itu adalah Tio Bun Yang."

"Tio Bun Yang?" Toan Hong Ya tertegun.

"Tio Bun Yang, putra Tio Cie Hiong?" tanya Toan Wie Kie heran.

"Ya." Tayli Lo Ceng mengangguk. "Tentunya kalian pun mendengar tadi, dia bilang Tio Bun Yang sangat adil dan bijaksana. Itu membuktikan bahwa dia sangat kagum dan salut kepada pemuda itu. Maka, aku yakin dia pasti mendengar perkataannya."

"Kalau begitu, kita harus segera ke markas |iusat Kay Pang mengundang Bun Yang ke mari," ujar Gouw Sian Eng dan menambahkan. "Bagaimana kalau aku yang ke sana?"

"Lebih baik kedua muridku yang berangkat ke sana," sahut Tayli Lo Ceng "Mengenai ini, l-iugan sampai Tu Siao Cui tahu!"

"Ya," sahut mereka semua.

"Guru, kapan kami berangkat ke Tionggoan?" ianya Toan Beng Kiat.



"Kalian berdua boleh berangkat sekarang," l-iwab Tayli Lo Ceng. "Jangan membuang waktu, sebab kalau Wie Kie dan Bie Liong tidak segera disembuhkan, mereka pasti lumpuh selama-lamanya."

"Kalau begitu, kami mohon pamit!" ucap Toan Beng Kiat, lalu memandang Lam Liong Soat Lan. "Mari kita berangkat sekarang!"

"Ya!" Lam Kiong Soat Lan mengangguk.

"Kalian berdua harus berhati-hati, jangan membuat masalah di tengah jalan!" pesan Toan Hong Ya. "Dan harus segera pulang!"

"Ya, Kakek," sahut Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan.

"Omitohud!" ucap Tayli Lo Ceng. "Berangkatlah kalian berdua dan harus berhasil mengajak Bun Yang ke mari!"

"Ya, Guru." Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan memberi hormat, setelah itu barulah mereka berdua meninggalkan istana Tayli.

-oo0de0oo-


Bagian ke empat puluh enam Hal-hal yang tak terduga

Hari ini Tio Cie Hiong memanggil Yatsumi dan Bokyong Sian Hoa ke ruang depan. Yang lain pun sudah duduk di situ, tentunya mencengangkan kedua gadis itu.

"Kalian berdua duduklah!" ujar Tio Cie Hiong lembut tapi serius.

Yatsumi dan Bokyong Sian Hoa segera duduk. Kedua gadis itu menundukkan kepala, karena semua mata memandang mereka.



"Hari ini aku panggil kalian ke mari, karena kalian telah menguasai ilmu-ilmu yang kuajarkan," ujar Tio Cie Hiong sambil memandang mereka. "Oleh karena itu, kini sudah saatnya kalian meninggalkan pulau ini."

"Maksud Paman kami boleh ke Tionggoan?" lanya Bokyong Sian Hoa dengan wajah berseri.

"Ya." Tio Cie Hiong mengangguk. "Kalian berdua boleh berangkat ke Tionggoan, dari Tionggoan Yatsumi boleh pulang ke Jepang."

"Tapi alangkah baiknya kalian ke markas pusat Kay Pang dulu," sambung Lim Ceng Im. "Temui Bun Yang dan lainnya di sana!"

"Ya." Kedua gadis itu mengangguk.

"Kepandaian kalian sudah tinggi, namun kali.m harus ingat, jangan sembarangan membunuh «uang, sebab membunuh itu perbuatan yang sangat berdosa!" ujar Tio Cie Hiong sambil memandang mereka.

"Ya, Paman." Kedua gadis itu mengangguk lagi dan bertanya, "Kapan kami boleh berangkat ke Tionggoan?"

"Hari ini," sahut Tio Cie Hiong singkat, namun kemudian menambahkan. "Baik-baiklah kalian membawa diri di rimba persilatan, jangan sok jago dan sombong!"

"Ya, Paman," sahut kedua gadis itu, lalu menjatuhkan diri berlutut di hadapan Tio Cie Hiong. "Terimakasih atas budi baik Paman yang telah membimbing kami!"

"Bangunlah!" Tio Cie Hiong tersenyum dan berpesan, "Yang penting kalian berdua harus mempergunakan kepandaian untuk membela kebenaran. Jadilah pendekar wanita yang berhati bajik, adil dan bijaksana!"

"Ya, Paman." Mereka berdua mengangguk, kemudian bangkit berdiri sekaligus kembali ke tempat duduk.



"Ha ha ha!" Sam Gan Sin Kay tertawa gelak. "Tak lama lagi di rimba persilatan akan muncul dua pendekar wanita pembela kebenaran!"

"Dasar sudah pikun!" sahut Kou Hun Bijin. "Yatsumi harus pulang ke Jepang, engkau lupa ya?"

"Tentu tidak, tapi engkau yang tak punya otak!" ujar Sam Gan Sin Kay sambil tertawa-"Maksudku rimba persilatan Tionggoan dan rimba persilatan Jepang."

"Huh!" dengus Kou Hun Bijin. "Sudah salah omong masih tidak mau mengaku! Dasar pe-< ngemis bau!"

"Ha ha ha!" Sam Gan Sin Kay terus tertawa| gelak, kemudian memandang Kim Siauw Suseng seraya bertanya. "Sastrawan sialan! Kenapa engkau diam saja?"

"Aku tidak mau ikut sinting seperti engkau," sahut Kim Siauw Suseng dan menambahkan. "Engkau sudah tua sekali, tapi malah bertambah usil dan tak tahu diri."

"Oh, ya?" Sam Gan Sin Kay tertawa lagi. "Ha ha ha! Kalau pulau ini tiada kita berdua, pasti sepi sekali!"

"Betul, betul." ujar Tio Tay Seng sambil tersenyum. "Dengan adanya kalian di sini, maka pulau ini berubah ramai dan semarak. Ha ha ha...!"

Karena mereka terus bercakap-cakap, maka Tio Cie Hiong diam saja, tidak berani mengganggu para tingkatan tua itu. Setelah mereka berhenti hercakap-cakap, barulah Tio Cie Hiong membuka mulut.

"Yatsumi, engkau harus berhati-hati menghadapi ketua ninja itu!" pesan Tio Cie Hiong. "Sebab dia pasti memiliki ilmu istimewa, bisa menghilang mendadak dan menyusup ke dalam tanah. Oleh karena itu, engkau harus mempergunakan pendengaranmu."

"Ya, Paman." Yatsumi mengangguk.



"Sian Hoa...." Tio Cie Hiong memandangnya. "Menurut aku,

lebih baik engkau jangan pulang ke Manchuria. tinggal di markas pusat Kay Pang saja."

"Ya, Paman," sahut Bokyong Sian Hoa sambil tersenyum. "Asal aku jangan disuruh jadi pengemis wanita saja."

"Ha ha ha!" Mendadak Tio Cie Hiong tertawa gelak. "Mungkin engkau tidak tahu, ketika aku bertemu Adik Ceng Im, dia justru menyamar sebagai pengemis dekil yang sangat bau."

"Eeeeh?" Wajah Lim Ceng Im langsung memerah. "Mulai buka rahasia pribadi ya?"

"Ha ha ha!" Sam Gan Sin Kay tertawa terpingkal-pingkal. "Aku masih ingat itu. Kemudian Ceng Im berdandan dengan wajah aslinya, yakni merupakan anak gadis yang cantik jelita menemui Cie Hiong. Begitu melihat anak gadis itu, Cie Hiong langsung jatuh terduduk di dalam hati anak gadis itu. Ceng Im memberitahukan bahwa gadis itu adalah kakaknya bernama Im Ceng. Ha ha ha! Sejak itu Cie Hiong pun menderita sakit rindu."

"Kakek  pengemis...."  Wajah  Tio  Cie  Hiong  kemerahan-

merahan.

"Tahukah kalian, cara bagaimana Ceng Im bertemu Cie Hiong?" tanya Sam Gan Sin Kay mendadak.

"Beritahukanlah!" sahut Bokyong Sian Hoa. "Tentunya sangat menarik sekali itu."

"Memang menarik sekali." Sam Gan Sin Kay tertawa terbahak-bahak. "Pada waktu itu. Cie Hiong telanjang bulat mandi di kali, Ceng Im mengintip."

"Kakek...." Wajah Lim Ceng Im bertambah merah. "Jangan

omong yang bukan-bukan!"



"Itu memang nyata kok," sahut Sam Gan Sin Kay. "Engkau sendiri yang bilang, bukan?"

"Hebat!" ujar Kou Hun Bijin sambil tertawa cekikikan. "Hi hi hi! Ceng Im, aku yakin pada waktu itu, hatimu pasti dut-dutan."

"Bijin..." Lim Ceng Im menundukkan kepala.

"Apa itu dut-dutan?" tanya Sam Gan Sin Kay sambil tertawa terbahak-bahak.

"Tanya saja kepada cucumu itu, dia pasti memberitahukan!" sahut Kou Hun Bijin sambil memandang Lim Ceng Im. "Jelaskanlah tentang dut-dutan itu!"

Lim Ceng Im tak menyahut.

"Hi hi hi!" Kou Hun Bijin tertawa cekikikan. "Hi hi hi....!"

-oo0dw0oo-

Yatsumi dan Bokyong Sian Hoa sudah meninggalkan Pulau Hong Hoang To, kini mereka mulai memasuki daerah Tionggoan. Dalam per-lalanan menuju markas pusat Kay Pang, mereka sana sekali tidak menemui gangguan apa pun. Dalam tujuh hari kemudian, -- sampailah mereka di markas pusat Kay Pang.

Bukan main gembiranya Lie Ai Ling. Ia segera memperkenalkan Bokyong Sian Hoa pada Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong.

"Kakek Lim, Kakek Gouw, terimalah hormatku!" ucap Bokyong Sian Hoa sambil memberi hormat.

"Ha ha ha!" Lim Peng Hang tertawa gembira. "Kalian duduklah!"

"Terimakasih!" Bokyong Sian Hoa duduk. Ke tika Yatsumi baru mau duduk, Lie Ai Ling memperkenalkan Tio Bun Yang.



"Dia Kakak Bun Yang, yang pernah kuceritakan kepadamu," ujar Lie Ai Ling sambil tertawa. "Kakak Bun Yang, dia adalah gadis Jepang bernama Yatsumi, engkau pasti sudah dengar tentang dia."

Sementara Yatsumi membungkukkan badannya kehadapan Tio Bun Yang, pemuda itu segera menjura.

"Selamat bertemu, Nona Yatsumi!" ucapnya.

"Selamat bertemu, Kakak Bun Yang!" sahut Yatsumi sambil tersenyum. "Jangan memanggilku nona, cukup panggil namaku saja!"

"Ya." Tio Bun Yang mengangguk.

"Sian Hoa," tanya Lie Ai Ling. "Bagaimana kabarnya yang di Pulau Hong Hoang To?"

"Mereka baik-baik saja," jawab Bokyong Sian Hoa, kemudian memandang Tio Bun Yang seraya bertanya. "Di mana Goat Nio, jantung hatimu itu?"

"Kami...." Tio Bun Yang menghela nafas panjang. "Kami

belum bertemu."

"Oh?" Bokyong Sian Hoa mengerutkan kening. "Hingga sekarang engkau masih belum bertemu Goat Nio?"

"Ya." Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala. "Aku di sini justru sedang menunggunya."

"Oooh!" Bokyong Sian Hoa manggut-manggut.

"Oh ya!" Yatsumi menengok ke sana ke mari seraya bertanya. "Di mana Lu Hui San dan Kam Hay Thian? Kok mereka tidak kelihatan?"

"Mereka...." Lie Ai Ling menghela nafas panjang sambil

menggeleng-gelengkan kepala.

"Kenapa mereka?" tanya Bokyong Sian Hoa tegang. "Telah terjadi sesuatu atas diri mereka?"



"Ketika kami menuju ke mari, di tengah jalan Kam Hay Thian pergi secara diam-diam...." Lie Ai Ling menghela nafas panjang lagi.

"Oh?" Bokyong Sian Hoa mengerutkan kening. "Kok dia begitu? Kalian tahu dia pergi ke mana/

"Tidak tahu." Lie Ai Ling menggelengkan kepala. "Namun Kakek Lim telah menerima suatu lierila yang sangat mengejutkan di ibu kota."

"Berita apa?" tanya Bokyong Sian Hoa.

"Itu...." Lie          Ai            Ling        memandang      Tio          Bun        Yang,     agar

pemuda itu yang memberitahukan.

"Kakak Bun Yang," desak Bokyong Sian Hoa. "Beritahukanlah! Aku ingin mengetahuinya."

"Lu Thay Kam telah mati," sahut Tio Bun Yang sambil menghela nafas panjang. "Dia mati terkena pukulan Kam Hay Thian. Karena itu Lu Hui San pergi entah ke mana. Hingga saat ini sama sekali tiada kabar beritanya tentang Lu Hui San dan Kam Hay Thian."

"Oh?" Bokyong Sian Hoa memandang Tio Bun Yang seraya berkata. "Kalau begitu, pasukan pamanku pasti tidak akan menyerbu ke mari."

"Sian Hoa...." Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala.

"Setelah Lu Thay Kam mati di istana justru malah bertambah kacau."

"Kenapa begitu?" Bokyong Sian Hoa heran.

"Salah seorang menteri langsung merebut kekuasaan Lu Thay Kam. Oleh karena itu, banyak jenderal yang menjadi korban." Tio Bun Yang memberitahukan. "Menteri itu pun bersekongkol dengan pamanmu."



"Itu bahaya sekali," ujar Bokyong Sian Hoa. "Sebab pamanku sangat berambisi ingin menjajah negeri Han ini, kelak pasti akan terjadi peperangan."

"Itu urusan kerajaan, kita tidak usah pusing.' ujar Lie Ai Ling sambil tersenyum.

"Kita adalah bangsa Han, seharusnya kita j memikirkan itu," sahut Sie Keng Hauw dan menambahkan. "Apakah kita harus membiarkan negeri Hari kita dijajah oleh bangsa Manchuria?"

"Eeeh?" Lie Ai Ling menatapnya. "Sejak kapan engkau mencampuri urusan kerajaan?"

"Aku...." Sie Keng Hauw menundukkan kepala.

"Oh ya!" ujar Tio Bun Yang melanjutkan. "Setelah Lu Thay Kam mati maka Gak Cong Heng menjadi ketua Hiat Ih Hwe. Tapi kemudian ia mengajak para anggotanya bergabung dengan Seng Hwce Kauw."

"Jadi...." Bokyong Sian Hoa menggeleng-gelengkan kepala.

"Lu Hui San sama sekali tiada jejaknya?"

"Ya." Tio Bun Yang mengangguk. "Begitu pula Kam Hay Thian. Mereka entah menghilang ke mana. Namun kakekku telah mengutus beberapa orang untuk pergi menyelidiki mereka, hingga kini mereka masih belum pulang."

"Oooh!" Bokyong Sian Hoa manggut-manggut.

Sementara Yatsumi diam saja, tapi sering melirik Tio Bun Yang. Mendadak Tio Bun Yang memandangnya seraya bertanya.

"Nona Yatsumi engkau mau tinggal di sini alau pulang ke Jepang?"

"Aku mau pulang ke Jepang," sahut Yatsumi. "Aku harus membunuh Takara Nichiba, ketua ninja itu."



"Yatsumi," ujar Lie Ai Ling. "Jangan cepat-cepat pulang ke Jepang, tinggallah di sini dulu!"

"Itu...." Yatsumi tampak ragu.

"Yatsumi!" Bokyong Sian Hoa memegang tangannya. "Tinggallah di sini dulu, jangan begitu cepat pulang ke Jepang! Sebab kalau engkau sudah pulang, entah kapan kita akan bertemu kembali."

"Baiklah." Yatsumi mengangguk. "Aku akan tinggal di sini beberapa hari."

"Nah, asyik!" seru Lie Ai Ling sambil tertawa.! "Kita berkumpul di sini, akan bertambah ramai apabila Goat Nio sudah muncul."

"Aaaah...!" Mendadak Tio Bun Yang menghela nafas panjang. "Sudah sekian lama aku menunggunya di sini, tapi...."

"Bun Yang!" Lim Peng Hang menatapnya. "Biar bagaimana pun engkau harus sabar menungJ gunya."

"Kakek!" Wajah Tio Bun Yang tampak murung sekali. "Sudah sekian lama tiada kabar beritanya, aku khawatir telah terjadi sesuatu atas diri nya."

"Itu tidak mungkin, Kakak Bun Yang," sahud Lie Ai Ling menghiburnya. "Tidak akan terjadi suatu apa pun atas diri Goat Nio, percayalah!"

"Aaaah...!" Tio Bun Yang menghela nafas panjang lagi. "Aku... aku...."

"Engkau harus tenang, Bun Yang!" ujar Gouw Han Tiong. "Tunggu lagi beberapa hari, kalau tiada kabar beritanya, barulah kita rundingkan kembali."

"Ya!" Tio Bun Yang mengangguk.



"Nah!" ujar Lim Peng Hang sambil tertawa. "Kalian semua boleh ke belakang, lebih asyik kalian mengobrol di sana."

Mereka mengangguk, lalu beranjak menuju halaman belakang. Begitu sampai di halaman belakang, Lie Ai Ling langsung berseru penuh kegembiraan.

"Horeee! Rasanya bebas setelah berada di sini!" "Memangnya kenapa?" tanya Sie Keng Hauw heran.

"Kalau di hadapan Kakek Lim dan Kakek Gouw, rasanya kurang leluasa dan tidak begitu bebas berbicara," sahut Lie Ai Ling. "Kini kita hebas membicarakan apa pun."

"Benar." Bokyong Sian Hoa tersenyum, kemudian memandang Tio Bun Yang seraya bertanya. "Kakak Bun Yang, selama ini engkau rindu kepadaku?"

"Eh?" Lie Ai Ling terbelalak ketika mendengar pertanyaan itu. "Sian Hoa, kenapa engkau tanya begitu kepada Kakak Bun Yang?"

"Memangnya tidak boleh?" sahut Bokyong Sian Hoa.

"Boleh sih boleh, tapi...." Lie Ai Ling menggleng-gelengkan

kepala. "Itu merupakan pertanyaan yang cukup mesra, tidak pantas lho! Karena Kakak Bun Yang sudah punya kekasih."

"Aku tahu itu." Bokyong Sian Hoa tertawa kecil. "Aku telah menganggapnya sebagai kakak, tentunya aku boleh bertanya begitu kepadanya, bukan?"

"Oooh!" Lie Ai Ling tersenyum. "Kalau begitu memang boleh. Nah, Kakak Bun Yang, jawablah pertanyaannya tadi!"

"Adik Sian Hoa!" Tio Bun Yang tersenyum lembut. "Aku memang rindu kepadamu, sebab engkau adalah adikku."

"Kakak  Bun        Yang...."               Bokyong              Sian        Hoa        langsung

mendekap di dadanya.



"Adik  Sian  Hoa...."  Tio  Bun  Yang  membelainya  dengan

penuh kasih sayang. "Engkau adalah gadis baik yang lincah, kelak pasti bertemu pemuda yang baik."

"Kakak Bun Yang...." Bokyong Sian Hoa cemberut.

"Adik Sian Hoa!" Tio Bun Yang tersenyum. "Aku berkata sesungguhnya, sama sekali tidak menggodamu."

"Betul," sahut Lie Ai Ling. "Kelak engkau pasti bertemu pemuda yang baik, ganteng dan mencintaimu."

"Bagus! Bagus!" Bokyong Sian Hoa melotot. "Ai Ling! Setelah berada di sisi Keng Hauw, engkau pun berani mulai menggodaku!"

"Tidak salah," sahut Lie Ai Ling sambil tertawa dan menambahkan. "Kalau berada di sisi sang kekasih, rasanya memang bertambah berani."

"Idiih!" Bokyong Sian Hoa tertawa geli. "Dasar genit! Kalau begitu, cepatlah engkau menikah dengan dia!"

"Sebetulnya aku memang ingin cepat-cepat menikah dengan Keng Hauw, tapi...." Lie Ai Ling tersenyum sambil

melanjutkan, "Aku khawatir kalian akan merasa iri padaku, maka aku belum mau menikah."

"Siapa yang iri padamu? Dasar!" Bokyong Sian Hoa tertawa, kemudian ucapnya serius. "Mudah-mudahan Kakak Bun Yang bertemu kembali dengan kekasihnya!"

Hari ini Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Im sudah tiba di markas pusat Kay Pang. Ke-'laiangan mereka cukup mengejutkan sekaligus mi-nggembirakan semua orang, terutama Gouw Nan Tiong.

"Kakek!" panggil Toan Beng Kiat.

"Beng Kiat cucuku!" seru Gouw Han Tiong sambil merangkulnya erat-erat. "Bagaimana keadaan ibu dan ayahmu? Mereka baik-baik saja?"



"Ibu       baik-baik              saja.       Tapi        ayah...."               Toan      Beng      Kiat

menggeleng-gelengkan kepala, dan wajah tampak murung sekali.

"Kenapa ayahmu?" tanya Gouw Han Tiong cemas.

"Lumpuh." Toan Beng Kiat memberitahukan. "Ayah Soat Lan pun begitu."

"Betul." Lam Kiong Soat Lan mengangguk. "Ayahku pun lumpuh."

"Oh?" Gouw Han Tiong dan Lim Peng Hang terkejut. "Beng Kiat, apa yang telah terjadi di sana, ceritakanlah!"

"Kalian duduk dulu!" ujar Tio Bun Yang sambil tersenyum. "Jangan terus berdiri!"

"Terimakasih!" ucap Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan serentak lalu duduk.

"Beng Kiat!" Gouw Han Tiong menatapnya seraya berkata. "Ceritakanlah apa yang telah terjadi atas diri ayahmu dan ayah Soat Lan!"

"Ayah dan ayah Soat Lan bertanding dengan seorang gadis. Tidak sampai dua puluh jurus, gadis itu berhasil menotok jalan darah ayah dan ayah) Soat Lan hingga lumpuh." Toan Beng Kiat menceritakan tentang itu. "Kemudian muncul guru kami...."

"Maksudmu Tayli Lo Ceng?" tanya Gouw Han Tiong.

"Ya." Toan Beng Kiat mengangguk.

"Lalu bagaimana?" Tanya Lim Peng Hang tertarik.

"Gadis itu menantang guru bertanding dengan suatu syarat," jawab Toan Beng Kiat memberitahukan. "Syaratnya yakni kalau gadis itu menang, maka dia yang berkuasa di istana Tayli. Apabila guru yang menang, dia pasti segera pergi."



"Oh?" Gouw Han Tiong mengerutkan kening. "Kalau begitu, guru kalian yang kalah, bukan?"

"Kok Kakek tahu?" Toan Beng Kiat heran.

"Kalau guru kalian menang, tentunya kalian tidak ke mari," sahut Gouw Han Tiong. "Kalian ke mari pertanda guru kalian kalah."

"Betul." Toan Beng Kiat mengangguk. "Guru kami kalah dalam pertandingan itu."

"Haaah?" Lim Peng Hang terkejut bukan main, sehingga mulutnya ternganga lebar. "Tayli Lo Ceng kalah bertanding dengan gadis itu?"

"Ya." Toan Beng Kiat menghela nafas panjang. "Kepandaian gadis itu sungguh tinggi! Tapi juga sangat membingungkan...."

"Kenapa membingungkan?" Tanya Gouw Han 'liong heran.

"Sebab gadis itu mengaku telah berusia delapan puluh tahun lebih," jawab Lam Kiong Soat Lan memberitahukan. "Semula guru tidak percaya, tapi kemudian percaya juga."

"Oh?" Gouw Han Tiong mengerutkan kening. "Siapa gadis itu?"

"Bu Ceng Sianli-Tu Siao Cui." Lam Kiong Soat Lan memberitahukan. "Dia sangat cantik sekali, kelihatannya baru berusia dua puluhan. Tapi dia telah berusia delapan puluh tahun lebih."

"Dia... dia adalah Kakak Siao Cui?" Tio Bun Yang terbelalak. "Betulkah usianya sudah delapan puluh lebih?"

"Kakak Bun Yang kenal dia?" tanya Lam Kiong Soat Lan.

"Kenal!" Tio Bun Yang mengangguk. "Kami pernah bertemu, dialah yang membunuh Hek Sim Popo. Tapi kenapa dia ke Tayli cari gara-gara?"



"Itu dikarenakan guru kami," jawab Toan Beng Kiat.

"Tayli Lo Ceng..." gumam Tio Bun Yang. "Oooh! Ternyata dia ingin membuat perhitungan dengan guru kalian, karena guru kalian adalah kakak seperguruan Thian Gwa Sin Hiap."

"Siapa Thian Sin Hiap?" Toan Beng Kiat heran.

"Adik seperguruan Tayli Lo Ceng," sahut Tio Bun Yang dan menambahkan. "Atau paman guru kalian, juga adalah guru Bu Ceng Sianli-Tu Siao Cui."

"Kalau begitu...." Lam Kiong Soat Lan terbelalak. "Bu Ceng

Sianli itu adalah kakak seperguruan kami."

"Memang. Tapi...." Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan

kepala. "Thian Gwa Sin Hiap telah melakukan suatu kesalahan."

"Kesalahan apa?" tanya Toan Beng Kiat.

"Thian Gwa Sin Hiap salah tangan membunuh sepasang perampok budiman. Ternyata sepasang perampok itu adalah kedua orang tua Tu Siao Cui...." Tio Bun Yang menceritakan tentang itu.

"Oooh!" Toan Beng Kiat manggut-manggut. "Ternyata begitu! Pantas dia ke Tayli mencari guru!

"Tapi...."              Lam        Kiong     Soat       Lan         mengerutkan    kening.

"Kenapa dia melumpuhkan ayah?"

"Dalam suatu pertandingan, memang saling menjatuhkan," sahut Tio Bun Yang. "Kita tidak bisa mempersalahkannya. Yang bersalah adalah orang tua kalian. Seharusnya orang tua kalian bersabar."

"Dia begitu sombong, maka ayah tidak bisa bersabar," ujar Lam Kiong Soat Lan memberitahukan.



"Dia berlaku sombong karena ingin meman-i ing emosi ayahmu, karena itu terjadilah pertandingan." Tio Bun Yang menjelaskan.

"Kalau begitu..." sela Toan Beng Kiat. "Guruku bertanding dengan dia, apakah juga karena .?mosi?"

"Bukan." Tio Bun Yang menggelengkan kepala. "Tayli Lo Ceng bertanding dengan dia, ka-w-na membela Tayli dan orang tua kalian."

"Aaah...!" Toan Beng Kiat menghela nafas panjang. "Guru kami kalah, maka Bu Ceng Sianli yang berkuasa di istana."

"Oleh karena itu..." sambung Lam Kiong Soal Lan. "Guru menyuruh kami ke mari menemuimu."

"Oh?" Tio Bun Yang tertegun dan bertanya. "Tayli Lo Ceng pesan apa untukku?"

"Kami harus menjemputmu ke Tayli," sahut Toan Beng Kiat. "Guru kami berpesan demikian."

"Lho? Kenapa?" Tio Bun Yang bingung.

"Kata     guru...."               Lam        Kiong     Soat       Lan         memberitahukan.

"Hanya engkau yang mampu menundukkan Bu Ceng Sianli, dia akan menuruti perkataanmu."

"Itu bagaimana mungkin?" Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala.

"Guru kami yakin itu," ujar Toan Beng Kiat. "Sebab di saat Bu Ceng Sianli berbicara, dia pun mengatakan bahwa engkau sangat adil dan bijaksana. Kelihatannya dia sangat kagum dan salut kepadamu."

"Itu...." Tio Bun Yang mengerutkan kening, "tidak mungkin

aku bisa ikut kalian ke Tayli."

"Kenapa?" Lam Kiong Soat Lan heran.



"Sebab...." Tio Bun Yang menghela nafas panjang, "aku

sedang menunggu Goat Nio, jadi tidak bisa ke mana-mana."

"Tapi...." Toan Beng Kiat memberitahukan dengan wajah

muram. "Kini guru kami terluka, orang tua kami pun lumpuh. Sedangkan Bu Ceng Sianli berbuat semaunya di istana. Menurut guru, hada seorang pun yang dapat menundukkannya kecuali engkau."

"Bukan aku tidak bersedia ke Tayli, melainkan karena aku harus menunggu Goat Nio di sini."

"Bun Yang," ujar Lim Peng Hang. "Menurut kakek, engkau harus berangkat ke Tayli."

"Kakek...." Tio Bun Yang mengerutkan kening.

"Kalau engkau tidak ke sana, Kakek khawatir Bu Ceng Sianli akan bertindak sewenang-wenang di sana." Lim Peng Hang menatapnya. "Mengenai soal Nio, biar kami yang menunggunya."

"Kakek,                itu...."   Kelihatannya      Tio          Bun        Yang      masih

berkeberatan meninggalkan markas pusat Kay Pang, sebab ia harus menunggu Goat Nio.

"Bun Yang!" Lim Peng Hang tersenyum. "Selelah engkau bertemu Tayli Lo Ceng mungkin engkau bisa minta petunjuk kepadanya mengenai Goat Nio, bukan?"

"Betul," sahut Lam Kiong Soat Lan. "Aku yakin guru tahu mengenai Goat Nio, dan pasti mwmberi petunjuk kepadamu."

Tio Bun Yang berpikir, lama sekali barulah ia mengangguk. "Baiklah. Aku akan ikut kalian ke Tayli."

"Terimakasih!" ucap Toan Beng Kiat dan Lam Peng Soat Lan serentak.

Sementara Bokyong Sian Hoa diam saja. Namun begitu Toab Beng Kiat muncul di situ, sepasang matanya terus melirik ke arah pemuda itu. Kelihatannya gadis itu sangat



tertarik padanya Maka ketika Tio Hun Yang mengatakan ikut meieka ke Tayli, ia pun segera menyelak.

"Kakak Bun Yang, aku juga ikut ah!"

"Apa?" Tio Bun Yang terbelalak. "Engkau ingin ikut ke Tayli?"

"Ya." Bokyong Sian Hoa mengangguk sambi tersenyum. "Boleh kan?"

"Itu...." Tio Bun Yang tampak ragu.

"Maaf!" ucap Toan Beng Kiat dengan wajah ceria. "Bolehkah aku tahu siapa Nona?"

"Namaku Bokyong Sian Hoa," sahut gadis itu dengan wajah agak kemerah-merahan. "Bolehkah aku ikut ke Tayli?"

"Tentu boleh, tapi...." Toan Beng Kiat menatapnya, "orang

tuamu memperbolehkan apa tidak?!

"Aku sudah tidak punya orang tua." Bokyong Sian Hoa menundukkan kepala. "Aku pernah tinggal di Pulau Hong Hoang To!"

"Oh?" Toan Beng Kiat tampak tercengang "Nona punya hubungan apa dengan Paman Cie Hiong?"

"Almarhum ibuku adalah teman baiknya. Maka aku...."

"Beng Kiat!" Tio Bun Yang tersenyum. "Dia mantan Putri Manchuria, ayahnya bernama Patoho."

"Apa?" Toan Beng Kiat terperanjat. "Raja Manchuria itu?" "Ya." Tio Bun Yang mengangguk.

"Kami tahu...." Toan Beng Kiat manggut-manggut. "Patoho

adalah raja Manchuria yang baik, tapi sudah meninggal karena dibunuh adiknya."

"Kok engkau tahu?" Bokyong Sian Hoa bingung.



"Sebelum meninggal, ayahmu pernah berkun-jung ke Tayli menemui kakekku." Toan Beng Kiat memberitahukan. "Kakekku adalah Toan Hong Ya!"

"Oooh!" Wajah Bokyong Sian Hoa berseri. "Kalau begitu, Toan Wie Kie adalah ayahmu!"

"Betul." Toan Beng Kiat tercengang. "Kok engkau tahu?"

"Ayahku pernah memberitahukan kepadaku mengenai kalian, tidak disangka kita malah bertemu di sini," ujar Bokyong Sian Hoa sambil tersenyum.

"Nah!" sela Lie Ai Ling. "Itu namanya berjodoh."

"Ai Ling!" Wajah Bokyong Sian Hoa langsung memerah. "Engkau kok usil sih?"

"Hi hi hi!" Lie Ai Ling tertawa geli. "Aku tahu, engkau sangat tertarik kepada Toan Beng Kiat, bukan?"

"Engkau...." Bokyong Sian Hoa membanting-banting kaki.

"Engkau jahat!"

Lam Kiong Soat Lan tersenyum, kemudian memandang Lie Ai Ling seraya bertanya.

"Ai Ling, bagaimana keadaan Kam Hay Thian dan Lu Hui San?"

"Mereka...." Lie Ai Ling menggeleng-gelengkan kepala.

"Kenapa mereka?" Lam Kiong Soat Lan tersentak. "Apakah telah terjadi sesuatu atas diri mereka?"

"Lu Thay Kam mati di tangan Kam Hay Thiana setelah itu Kam Hay Thian dan Lu Hui San menghilang entah ke mana..." jawab Lie Ai Lini sekaligus menutur tentang kejadian itu.

"Aaah...!" Lam Kiong Soat Lan menghela nafas panjang. "Sungguh kasihan Lu Hui San! entah bagaimana keadaannya? Aku khawatir dia akan menjadi gila."



"Benar." Tio Bun Yang manggut-manggut "Aku pun mengkhawatirkan itu."

"Beng Kiat," tanya Lim Peng Hang mendadak. "Kapan kalian akan berangkat?"

"Sekarang," jawab Toan Beng Kiat.

"Apa?" Lim Peng Hang terbelalak. "Kenapa begitu cepat? Apakah tidak boleh menunggu bel berapa hari?"

"Memang tidak boleh, sebab guru berpesan kepada kami harus segera pulang ke Tayli."

"Beng Kiat!" Gouw Han Tiong menatapnya. "Kalau begitu, lebih baik kalian berangkat esok saja."

"Ya, Kakek." Toan Beng Kiat tidak berani membantah.

"Kakek," ujar Tio Bun Yang berpesan kepada Lim Peng Hang. "Kalau Goat Nio ke mari, suruh dia menungguku di sini, jangan menyusul ke Tayli! Aku khawatir akan selisih jalan lagi."

"Jangan khawatir!" Lim Peng Hang tersenyum. "Kakek pasti menyuruhnya menunggu di sini. Namun engkau jangan lama-lama di Tayli!"

"Ya, Kakek." Tio Bun Yang mengangguk.

Beberapa hari kemudian setelah Tio Bun Yang, Bokyong Sian Hoa, Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan berangkat ke Tayli, justru muncul Ngo Tok Kauwcu-Phang Ling Cu di markas pusat Kay Pang.

Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong menyambut kedatangannya dengan penuh keheranan, namun dengan ramah mempersilakannya duduk.

"Ling Cu, silakan duduk!"



"Terimakasih!" ucap Ngo Tok Kauwcu sambil duduk, kemudian memandang Lie Ai Ling. "Engkau berada di sini. Oh ya, di mana Kam Hay Thian dan Lu Hui San?"

"Mereka...." Lie Ai Ling menggeleng-gelengkan kepala, lalu

menutur tentang itu dan bertanya. "Engkau belum tahu Lu Thay Kam sudah mati?"

"Sudah tahu, tapi tidak begitu jelas tentang kejadian itu," jawab Ngo Tok Kauwcu sambil menghela nafas panjang. "Ternyata begitu!"

"Ling Cu!" Lim Peng Hang memandangnya seraya bertanya. "Engkau ke mari tentunya ada suatu penting, bukan?"

"Betul." Ngo Tok Kauwcu mengangguk. "Aku ingin menemui Adik Bun Yang. Dia di mana?"

"Dia sudah berangkat ke Tayli beberapa hari yang lalu." Lim Peng Hang memberitahukan tentang munculnya Bu Ceng Sianli di Tayli.

"Oooh!" Ngo Tok Kauwcu manggut-manggut. "Aku juga pernah mendengar tentang sepak terjang Bu Ceng Sianli itu. Banyak penjahat yang mati di tangannya. Tapi dia pun membunuh kaum pesilat golongan putih, termasuk beberapa murid partai Butong."

"Kami sudah tahu itu," ujar Lim Peng Hang. "Oh ya, engkau ke mari tentunya ingin menyampaikan sesuatu, bukan?"

"Ya." Ngo Tok Kauwcu mengangguk. "Aku ingin menyampaikan kabar berita tentang Siang Koan Goat Nio."

"Hah? Apa?" Lim Peng Hang tersentak, begitu pula yang lain. "Engkau tahu tentang kabar beritanya?"

"Ya." Ngo Tok Kauwcu mengangguk. "Beberapa bulan yang lalu, Goat Nio ditangkap oleh pihak Seng Hwee Kauw. Pat Pie Lo Koay yang mengirim berita itu kepadaku."



"Pihak Seng Hwee Kauw menangkap Siang Koan Goat Nio?" Betapa terkejutnya Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong. "Engkau tahu bagaimana keadaannya di sana?"

"Dia baik-baik saja. Tapi disekap di dalam ruang batu."

"Ling Cu!" Lim Peng Hang menggeleng-gelengkan kepala. "Kenapa sekarang engkau baru ke mari memberitahukan?"

"Maaf! Karena aku masih harus mengatur sesuatu, begitu pula Pat Pie Lo Koay," ujar Ngo Tok Kauwcu memberitahukan. "Itu demi keselamatan Siang Koan Goat Nio."

"Oooh!" Lim Peng Hang manggut-manggut, lalu memandang Gouw Han Tiong seraya bertanya. "Bagaimana menurutmu?"

"Cukup memusingkan," sahut Gouw Han Tiong sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Sebab Tio Bun Yang tidak berada di sini, kita tidak boleh sembarangan mengambil suatu keputusan."

"Tapi...."              Lim         Peng      Hang      menghela            nafas     panjang.

"Bukankah itu akan membahayakan diri Goat Nio?"

"Tidak," ujar Ngo Tok Kauwcu. "Karena Goat Nio cuma dijadikan sandera saja."

"Ling Cu!" Lim Peng Hang menatapnya. "Menurutmu kita harus bagaimana?"

"Menunggu," sahut Ngo Tok Kauwcu singkat.

"Maksudmu menunggu Bun Yang pulang?" tanya Gouw Han Tiong.

"Menunggu utusan Seng Hwee Kauw ke mari, sekaligus menunggu Adik Bun Yang pulang," jawab Ngo Tok Kauwcu sungguh-sungguh.

"Pihak Seng Hwee Kauw akan mengutus seseorang ke mari?" tanya Lim Peng Hang sambil mengerutkan kening.



"Ya." Ngo Tok Kauwcu mengangguk. "Itu sudah dalam rencana Seng Hwee Sin Kun."

"Tapi Goat Nio akan selamat di sana?" tanya Lim Peng Hang penuh perhatian, namun bernada cemas.

"Jangan khawatir, Goat Nio tidak akan terjadi apa-apa di sana!" jawab Ngo Tok Kauwcu, kemudian memandang Yatsumi seraya bertanya. "Nona ini cantik sekali, tapi dandanannya agak aneh."

"Kakak Ling Cu!" Lie Ai Ling memperkenalkan. "Dia bernama Yatsumi, gadis dari Jepang."

"Oooh!" Ngo Tok Kauwcu manggut-manggut. "Ternyata pesilat wanita dari Jepang!"

"Kakak Ling Cu!" Yatsumi tersenyum. "Paman Cie Hiong adalah teman baik ibuku...."

Yatsumi memberitahukan tentang itu, dan Ngo Tok Kauwcu mendengar dengan penuh perhatian.

"Oooh!" Ngo Tok Kauwcu manggut-manggut lagi. "Ternyata begitu, bahkan engkau pernah tinggal di Pulau Hong Hoang To!"

"Paman Cie Hiong mengajarku ilmu silat. Tidak lama lagi aku akan pulang ke Jepang, aku harus membalas dendam." Yatsumi memberitahukan. "Aku harus membunuh ketua ninja itu."

"Ngmmm!" Ngo Tok Kauwcu mengangguk. "Tapi engkau harus berhati-hati menghadapi nin-ja, sebab kaum ninja memiliki ilmu aneh."

"Paman Cie Hiong sudah memberi petunjuk kepadaku, bagaimana cara menghadapi kaum ninja," ujar Yatsumi dan menambahkan. "Aku sangat berterimakasih pada Paman Cie Hiong."



Ngo Tok Kauwcu tersenyum, kemudian memandang Lim Peng Hang seraya berkata dengan wajah serius.

"Lim Pangcu pernah dengar tentang sekelompok orang aneh di rimba persilatan?"

"Sekelompok orang aneh? Maksudmu?" Lim Peng Hang mengerutkan kening.

"Ketika aku ke mari, aku mendengar suara siulan aneh yang menyeramkan, lalu muncul belasan orang berpakaian serba putih menunggang kuda, mereka memakai kedok setan."

"Engkau melihat mereka?" tanya Lim Peng Mang terkejut.

"Ya." Ngo Tok Kauwcu mengangguk. "Ketika aku mendengar suara siulan aneh yang menyeramkan itu, aku segera bersembunyi di balik pohon Lim Pangcu tahu tentang mereka?"

"Kalau tidak salah, mereka para anggota Kui Bin Pang (Perkumpulan Muka Setan)," jawab Lira Peng Hang memberitahukan.

"Oh?" Ngo Tok Kauwcu mengerutkan kening., "Aku tidak pernah mendengar tentang Kui Bin Pang itu."

"Aaaah...!" Lim Peng Hang menghela nafas panjang. "Sudah hampir seratus tahun Kui Bin Pang itu lenyap, namun kini muncul kembali Entah apa yang akan terjadi?"

-ooo0dw0ooo-


Bagian ke empat puiuh tujuh Orang Tua pincang

Tio Bun Yang, Bokyong Sian Hoa, Toan Beni Kiat dan Lam Kiong Soat Lan sudah tiba di Tayli Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan lang sung mengajak mereka berdua ke ruang



istirahat menemui Tayli Lo Ceng. Begitu sampai di ruang itu, mereka berempatpun segera bersujud di hadapan padri tua itu, yang duduk bersila.

"Omitohud!" ucap Tayli Lo Ceng dengan wajah berseri. "Syukurlah kalian sudah pulang!"

"Guru..." panggil Toan Beng Kiat. "Kami telah berhasil mengajak Bun Yang ke mari."

"Bagus!" Tayli Lo Ceng menatap Tio Bun Yang. "Omitohud! Memang hanya engkau yang dapat menundukkan Bu Ceng Sianli-Tu Siao Cui itu."

"Lo Ceng...." Tio Bun Yang menggelengkan kepala. "Itu

belum tentu."

"Omitohud! Percayalah!" Tayli Lo Ceng ter-i.enyum. "Kalian duduklah!"

Mereka berempat lalu duduk. Tayli Lo Ceng terus menatap Tio Bun Yang dengan seksama, leinudian ucapnya sambil manggut-manggut.

"Engkau akan mengalami berbagai percobaan, maka engkau harus tabah menghadapinya."

"Ya, Lo Ceng." Tio Bun Yang mengangguk.” Oh ya, aku ingin mohon petunjuk."

"Mengenai apa?"

"Sian Koan Goat Nio."

"Omitohud!" Tayli Lo Ceng tersenyum. "Engkau tidak usah khawatir, dia dalam keadaan baik-baik saja."

"Lo Ceng," tanya Tio Bun Yang cepat. "Dia berada di mana?"

"Setelah engkau pulang ke markas pusat Kay Pang, engkau pasti mengetahuinya," sahut Tayli Lo Ceng. "Omitohud!"



"Terimakasih atas petunjuk Lo Ceng!" ucap Tio Bun Yang.

"Omitohud!" Mendadak Tayli Lo Ceng memandang Bokyong Sian Hoa. "Engkau memana sudah ditakdirkan ke mari, bahwa engkau dari Beng Kiat pun sudah saling tertarik dalam hati! Bagus! Bagus!"

"Lo Ceng...." Wajah Bokyong Sian Hoa kemerah-merahan.

"Nanti kalau Bun Yang pulang ke Tionggoan, engkau tetap di sini saja!" pesan Tayli Lo Cengl

"Lo         Ceng,    aku...." Bokyong              Sian        Hoa        menungdukkan

kepala.

"Sian Hoa!" Lam Kiong Soat Lan langsung memegang tangannya. "Engkau tinggal di sini ya. Jadi aku punya kawan."

"Ng!" Bokyong Sian Hoa mengangguk.

"Guru," tanya Toan Beng Kiat. "Bagaimana keadaan ayahku?"

"Masih lumpuh," sahut Tayli Lo Ceng. "Hanya Bu Ceng Sianli yang dapat menyembuhkannya.'!

"Bagaimana keadaan luka guru?" tanya Toan Beng Kiat lagi dengan penuh perhatian.

"Sudah membaik." jawab Tayli Lo Ceng sambil menghela nafas panjang. "Dua bulan kemudian guru baru bisa pulih."

"Lo Ceng...." Tio Bun Yang menatapnya. "Bolehkah aku

periksa sejenak luka Lo Ceng?"

"Omitohud! Silakan!" sahut Tayli Lo Ceng.

Tio Bun Yang segera memeriksa luka di dada Tayli Lo Ceng, lama sekali lalu menggeleng-gelengkan kepala.

"Tak disangka sama sekali Bu Ceng Sianli memiliki lweekang yang begitu dahsyat!" ujarnya sungguh-sungguh. "Padahal Lo Ceng memiliki Hud Bun Pan Yok Sin Kang, namun



serangan lwee-kangnya mampu menerobos pertahanan lweekang Lo Ceng."

"Omitohud!" Tayli Lo Ceng menghela nafas panjang. "Dia menyerangku dengan ilmu Hian Goan Ci."

"Lo Ceng...." Tio Bun Yang duduk di belakang Tayli Lo

Ceng. "Maaf, aku akan mencoba mengobati Lo Ceng!" "Terimakasih!" ucap Tayli Lo Ceng.

Tio Bun Yang menempelkan sepasang telapak tangannya di punggung Tayli Lo Ceng, lalu mengerahkan Pan Yok Hian Thian Sin Kang, sekaligus disalurkan ke dalam tubuh padri tua itu.

Seketika Tayli Lo Ceng merasa ada aliran hangat menerobos ke dalam tubuhnya. Maka ia segera mengerahkan Hud Bun Pan Yok Sin Kang untuk menerima aliran hangat itu.

Berselang beberapa saat kemudian, tampak uap putih mengepul di atas ubun-ubun Tayli Lo Ceng. Sepeminuman teh kemudian, uap putih itu menerobos ke dalam ubun-ubun padri tua itu. Di saat bersamaan, Tio Bun Yang menarik kembali lweekangnya, lalu menghela nafas dalam-dalami sekaligus menurunkan sepasang telapak tangannya.

"Omitohud!" ucap Tayli Lo Ceng. "Terima-kasih, engkau telah menyembuhkan lukaku! Tak disangka lweekangmu begitu hebat!"

"Terimakasih kembali, Lo Ceng!" Tio Bun Yang tersenyum.

"Omitohud! Kalian boleh ke ruang tengah sekarang. Bu Ceng Sianli dan Toan Hong Ya berada di situ," ujar Tayli Lo Ceng.

"Ya." Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan mengangguk. Kemudian mereka berdua mengajak Tio Bun Yang dan Bokyong Sian Hoa kd ruang tengah.



Tampak Bu Ceng Sianli-Tu Siao Cui sedang duduk di kursi kebesaran sambil menikmati berbagai macam buah-buahan, sedangkan Toan Hona Ya duduk di kursi biasa dengan wajah murung.

Akan tetapi, ketika melihat Toan Beng Kiat, Lam Kiong Soat Lan dan seorang pemuda serta seorang gadis muncul, berserilah wajahnya.

"Kakek!" panggil Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan.

"Kalian sudah pulang?" sahut Toan Hong Ya sambil tersenyum.

Sementara Bu Ceng Sianli tidak begitu memperhatikan mereka, sebab sedang sibuk menikmati buah-buahan.

"Kakak Siao Cui!" Panggil Tio Bun Yang.

Bu Ceng Sianli-Tu Siao Cui tampak tersentak kaget ketika mendengar suara itu, dan langsung menolehkan kepalanya ke arah Tio Bun Yang.

"Eeeeh?" Wanita itu terbelalak dan mulutnya ternganga lebar. "Engkau adalah adik kecil?"

"Betul." Tio Bun Yang mengangguk sambil tersenyum. "Kok Kakak duduk di kursi itu?"

"Hi hi hi!" Bu Ceng Sianli-Tu Siao Cui tertawa cekikikan. "Adik kecil, tentunya engkau belum tahu, kini akulah yang berkuasa di istana ini."

"Aku sudah tahu," sahut Tio Bun Yang dan menambahkan. "Maka aku ke mari menemuimu."

"Oh, ya?" Tu Siao Cui menatapnya dalam-dalam. "Engkau kenal Tayli Lo Ceng, Toan Hong Ya dan lainnya?"

"Kenal." Tio Bun Yang mengangguk.

"Oooh!" Tu Siao Cui manggut-manggut sambil tersenyum. "Engkau kebetulan ke mari atau sengaja ke mari?"

 "Beng Kiat dan Soat Lan yang mengajakku ke mari."

"Mereka...." Tu Siao Cui tertegun. "Mereka ke Tionggoan

menjemputmu ke mari?"

"Ya." Tio Bun Yang mengangguk.

"Bukan main!" Tui Siao Cui tertawa, lalu memandang Bokyong Sian Hoa seraya bertanya, "Gadis itu kekasihmu?"

"Bukan." Tio Bun Yang menggelengkan kepala.

"Kalau bukan, kenapa dia juga ikut ke mari?" tanya Tu Siao Cui heran.

"Bu Ceng Sianli," sahut Bokyong Sian Hoa. "Memangnya aku tidak boleh ikut ke mari?"

"Kok galak amat." Bu Ceng Sianli tertawa. "Engkau ikut ke mari pasti punya maksud tertentu, bukan?"

"Itu urusanku, engkau tidak berhak tahu." Bokyong Sian Hoa melotot sambil mendengus dingin.

"Hmm...!"

"Sian Hoa," tegur Tio Bun Yang. "Jangan kurang ajar." "Tapi dia...." Bokyong Sian Hoa cemberut.
"Sian Hoa!" Tio Bun Yang tersenyum. "Anak gadis haruslah sabar, lemah-lembut dan sopan-santun. Jangan berlaku kurang ajar!"

"Betul." Tu Siao Cui tertawa cekikikan. "Engkau memang adikku yang baik, adil, bijaksana dan baik hati! Hi hi hi...!"

"Kakak!" Tio Bun Yang memandangnya. "Kalau aku mengatakan sesuatu, maukah Kakak menurutinya?"

"Aku harus tahu dulu apa yang engkau katakan, maka aku tidak mau berjanji mengikat diriku sendiri," sahut Tu Siao Cui sambil tertawa. "Namun aku sudah dapat menerka apa yang akan engkau katakan."



Tio Bun Yang tersenyum. "Syukurlah kalau begitu! Terus terang, tidak baik engkau berbuat sewenang-wenang di sini."

"Hi hi hi!" Tu Siao Cui tertawa. "Aku ingin lahu bagaimana enaknya jadi orang berkuasa di sini. Memang enak sekali. Mau apa cukup turunkan perintah saja. Hi hi hi!"

"Kakak!" Tio Bun Yang tersenyum. "Kini sudah saatnya Kakak turun dari kursi kebesaran itu."

"Kenapa?"

"Karena aku tidak mau melihat Kakak berundak sewenang-wenang. Oleh karena itu, aku harap Kakak...."

"Oooh, begitu!" Tu Siao Cui tertawa lagi. "bagaimana kalau aku tidak mau?"

"Aku... aku...." Tio Bun Yang tergagap.

"Engkau ingin bertanding denganku?" tanya Tiu Siao Cui sambil menatapnya.

"Aku tidak berani bertanding dengan Kakak, Cuma aku sangat menghargai Kakak."

"Oh, ya? Kalau begitu bersediakah engkau berlutut di hadapanku?" tanya Tu Siao Cui mendadak.

"Kalau aku berlutut di hadapanmu, maka engkau akan menyembuhkan Paman Wie Kie dan Paman Bie Liong?"

"Bahkan aku pun akan meninggalkan istana ini:

"Baik." Tio Bun Yang langsung menjatuhkan diri di hadapan Tu Siao Cui. "Kakak, terimalah sujudku!"

"Eh? Adik kecil...." Tu Siao Cui tertegun. Ia memandang Tio

Bun Yang dengan mata terbelalak. "Kenapa engkau mau berlutut di hadapanku? Apakah karena engkau ingin membela mereka?"



"Aku telah menganggapmu sebagai Kakak, tentunya pantas bagiku bersujud memberi hormat kepadamu. Aku yakin, engkau tidak akan mengecewakanku," sahut Tio Bun Yang sambil tersenyum lembut.

"Hi hi hi!" Tu Siao Cui tertawa cekikikan dan tampak gembira sekali. "Tidak disangka sama sekali, di saat aku berusia delapan puluh lebih, justru punya adik yang begitu cerdik! Hi hi hi! Bangunlah!"

"Terimakasih, Kak!" ucap Tio Bun Yang sambil bangkit berdiri.

"Adik!" Tu Siao Cui meloncat turun. "Nah bukankah aku sudah turun dari kursi kebesaran ini?"

"Kakak...." Wajah Tio Bun Yang berseri. "Oh ya, Kakak masih harus menyembuhkan...."

"Aku tahu." Tu Siao Cui manggut-manggut sambil memandang Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan. "Cepat papah mereka ke mari aku akan menyembuhkan mereka!"

"Ya!" Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan mengangguk, lalu segera berlari ke luar.

Tak seberapa lama kemudian, mereka berdua sudah kembali. Yang memapah Toan Wie Kie dan Lam Kiong Bie Liong adalah Gouw Sian Eng dan Toan Pit Lian.

"Baringkan mereka di lantai!" ujar Tu Siao Cui.

Gouw Sian Eng segera membaringkan Toan Wie Kie di lantai, dan Toan Pit Lian segera membaringkan Lam Kiong Bie Liong di lantai pula.

"Kalian minggir!" ujar Tu Siao Cui sambil mengerahkan Hian Goan Sin Kangnya.

Gouw Sian Eng dan Toan Pit Lian langsung menyingkir. Di saat itulah Tu Siao Cui menggerakkan jari tangannya ke arah Toan Wie Kie dan Lam Kiong Bie Liong. Tampak cahaya putih



berkelebat ke arah tubuh mereka, tak lama kemudian, barulah Tu Siao Cui menghentikan gerak-kannya.

Toan Wie Kie dan Lam Kiong Bie Liong menarik nafas dalam-dalam. Tubuh mereka tampak bergerak lalu bangkit berdiri.

Betapa gembiranya Gouw Sian Eng dan Toan Pit Lian mereka langsung mendekati Toan Wie Kie dan Lam Kiong Bie Liong dengan wajah berseri-seri.

"Kakak Kie, engkau sudah sembuh?" tanya Gouw Sian Eng dengan air mata berderai saking gembira.

"Aku sudah sembuh," jawab Toan Wie Kie.

"Kakak Liong, bagaimana keadaanmu?" tanya Toan Pit Lian lembut.

"Aku sudah sembuh," jawab Lam Kiong Bie Liong.

"Hi hi hi!" Tu Siao Cui tertawa cekikikan. "Adik, mereka sudah sembuh, maka aku harus segera meninggalkan istana ini."

"Kakak...."

"Adik!" Tu Siao Cui tertawa nyaring. "Aku senang sekali, sampai jumpa!"

"Kakak!" seru Tio Bun Yang memanggilnya.

Akan tetapi, Tu Siao Cui sudah melesat pergi sayup-sayup masih terdengar suara sahutannya.

"Adik, kelak kita akan berjumpa kembali...."

"Kakak...." Tio Bun Yang menghela nafas panjang.

"Omitohud...."  Mendadak  muncul  Tayli  Lo  Ceng  sambil

tersenyum. "Syukurlah dia akan me nuju ke jalan yang benar."

"Guru, kenapa baru sekarang guru muncul?” tanya Lam Kiong Soat Lan sambil mengerutka kening.



"Kalau aku muncul sebelum Bu Ceng Sian pergi, dia pasti marah-marah lagi," sahut Tayli Lo Ceng sambil tertawa. "Bahkan mungkin dia tidak akan pergi. Maka aku sengaja muncul setelah di pergi."

"Oooh!" Lam Kiong Soat Lan manggut-manggut.

"Omitohud...." Tayli Lo Ceng menatap Tio Bun Yang dalam-

dalam. "Kelak engkau pula yang harus menyelamatkan rimba persilatan."

"Lo Ceng...." Tio Bun Yang tertegun.

"Bun Yang, engkau harus segera pulang ke Tionggoan." ujar Tayli Lo Ceng. "Jangan lama-lama di sini, sebab masih ada urusan yang harus engkau selesaikan di Tionggoan."

"Ya." Tio Bun Yang mengangguk. "Terima-kasih atas petunjuk Lo Ceng!"

"Omitohud!" ucap Tayli Lo Ceng. "Sampai jumpa!"

"Guru! Guru...!" seru Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan memanggilnya, namun padri itu itu sudah melesat pergi.

"Toan Hong Ya!" Terdengar suara seruan Tayli Lo Ceng. "Toan Beng Kiat dan Bokyong Sian Hoa berjodoh, mereka ditakdirkan menjadi Suami isteri."

"Terimakasih, Lo Ceng!" sahut Toan Hong Ya.

Sedangkan Toan Beng Kiat dan Bokyong Sian Hoa saling memandang, kemudian mereka tersenyum sambil menundukkan kepala.

"Bun Yang, terimakasih!" ucap Toan Hong Ya sambil memandangnya. "Kapan engkau akan kembali ke Tionggoan?

"Sekarang," jawab Tio Bun Yang.

"Apa?" Toan Hong Ya terbelalak. "Sekarang?"



"Sesuai dengan pesan Lo Ceng, aku harus segera kembali ke Tionggoan, karena masih ada urusan yang harus kuselesaikan di sana." Tio Bun Yang memberitahukan. "Aku harus menunggJ Goat Nio di markas pusat Kay Pang."

"Goat Nio?" Toan Hong Ya tampak tercengang.

"Kakek, Goat Nio adalah kekasihnya...." Toan Beng Kiat

memberitahukan tentang itu.

"Oooh!" Toan Hong Ya manggut-manggut.

"Bun Yang." ujar Toan Wie Kie sambil memandangnya kagum. "Sebetulnya kami ingin menahanmu tinggal di sini beberapa hari, namun engkau masih punya urusan di Tionggoan. Sungj guh sayang sekali! Tolong sampaikan salam rindu ku kepada ayahmu!"

"Kalau aku ke Pulau Hong Hoang To, pasti kusampaikan," ujar Tio Bun Yang sekaligus beri pamit. "Maaf, aku mohon diri!"

"Kakak Bun Yang, kapan engkau ke mari?" tanya Bokyong Sian Hoa.

"Entahlah," jawab Tio Bun Yang. "Tapi bukankah engkau boleh ke Tionggoan bersama Beng Kiat?"

"Betul." Bokyong Sian Hoa tertawa gembira. "Nanti kami akan menyusulmu ke Tionggoan."

"Toan Hong Ya, paman-paman!" Tio Bun Yang memberi hormat : Sampai Jumpa ”

Tio Bun Yang melesat pergi, Toan Hoang Ya menghela nafas panjang seraya bergumam.

"Dia memang luar biasa."

"Sayang sekali...." Gouw Sian Eng menggeleng-gelengkan

kepala. "Aku tidak punya kesempatan bercakap cakap dengan dia! Dia begitu cepat kembali ke Tionggoan...."



"Ibu, dia memang harus buru-buru pulang ke nana, sebab harus menunggu Goat Nio!" Toan Glcng Kiat memberitahukan.

"Oooh!" Gouw Sian Eng manggut-manggut. ”Ternyata begitu...."

-ooo0dw0ooo-

Setelah memasuki daerah Tionggoan, kening Tio Bun Yang berkerut-kerut. Ternyata ia mendengar suara langkah mengikutinya. Walau begitu, ia tetap melanjutkan perjalanannya menuju markas pusat Kay Pang.

Akan      tetapi    suara     langkah                itu           terus     mengikutinya.

Mendadak Tio Bun Yang bersalto ke belakang secepat kilat.
Dilihatnya seorang tua pincang sedang menguntitnya.

Karena Tio Bun Yang bersalto begitu cepat, orang tua pincang itu tidak sempat bersembunyi.

"Ha ha ha!" Orang tua pincang itu tertawa gelak. "Anak muda, sungguh cepat gerakanmu!"

"Lo cianpwee!" Tio Bun Yang tertegun. "Kenapa lo cianpwee terus mengikuti langkahku?"

"Eh?" Orang tua pincang melotot. "Siapa yang mengikutimu? Memangnya aku tidak boleh melewati jalan ini?"

"Lo cianpwee...." Tio Bun Yang melongo. "Memang boleh,

tapi...."

"Anak muda!" Orang tua pincang melotot lagi. "Sudahlah! Jangan ganggu aku!"

"Baik!" Tio Bun Yang mengangguk. Ia tahu bahwa dirinya sedang berhadapan dengan orang tua aneh yang berkepandaian tinggi, oleh karena itu timbullah niatnya untuk menguji ginkang orang tua pincang itu. "Permisi!"



Tio Bun Yang melesat pergi menggunakan ginkang. Dugaannya memang tidak meleset, sebab orang tua pincang itu mengikutinya menggunakan ginkang pula.

Akan tetapi, makin lama orang tua pincang itu makin tertinggal jauh.

"Anak muda! Berhenti! Berhenti..." teriaknya!

Tio Bun Yang segera berhenti sekaligus membalikkan badannya sambil tersenyum, lalu beri tanya.

"Kenapa lo cianpwee menyuruhku berhenti?”

"Anak muda!" Orang tua pincang itu memandangnya kagum. "Engkau memang hebat, bukankah engkau Giok Siauw Sin Hiap-Tio Bun Yang?"

"Betul." Tio Bun Yang mengangguk. "Maaf, bolehkah aku tahu siapa lo cianpwee?"

"Engkau tidak usah tahu siapa aku. Yang jelas aku orang tua pincang yang tak berguna," sahutnya dan menambahkan, "Anak muda, mari kita duduk di bawah pohon untuk mengobrol sebentar!"

"Maaf, lo cianpwee! Aku sedang memburu waktu...."

"Anak muda!" Orang tua pincang tertawa. "Takkan lari waktu diburu, yang penting selamat."

"Tapi...."

"Ayohlah!" desak orang tua pincang. "Mari kila mengobrol di bawah pohon!"

"Baiklah." Tio Bun Yang mengangguk. Mereka berdua lalu berjalan menuju sebuah pohon lalu duduk di bawahnya. Orang tua pincang terus memandang Tio Bun Yang dengan mata tak berkedip.

"Anak muda, kepandaianmu sungguh tinggi. Aku kagum padamu," ujarnya sambil menghela nafas panjang. "Padahal



engkau masih sedemikian muda, tapi kepandaianmu sungguh di luar dugaan ”

"Lo cianpwee terlampau memuji." Tio Bun N ang merendah diri. "Sesungguhnya kepandaian lu cianpwee jauh lebih tinggi."

"Ha ha ha!" Orang tua pincang tertawa gelak.

"Engkau tidak menyombongkan diri, tapi malah mau merendahkan diri. Sungguh luar biasa!"

"Lo cianpwee...."

"Aku tahu, engkau sedang memburu waktu.' Orang tua pincang tersenyum. "Namun engkau harus tahu satu hal yang teramat penting."

"Oh?" Tio Bun Yang menatapnya. "Mengenai hal apa?"

"Mungkin engkau tidak tahu bahwa sebetul nya aku berasal dari gurun Sih Ih." Orang tua pincang memberitahukan. "Belasan tahun lalu, aku memasuki daerah Tionggoan ini. Kebetulan aku melihat seorang anak kecil berbakat, maka kuangkat dia sebagai murid, kemudian kubawa ke gurun Sih Ih."

Tio Bun Yang mendengar penuturan orang tua itu dengan penuh perhatian dan orang tua itu melanjutkan penuturannya.

"Beberapa bulan lalu, aku memasuki daerah Tionggoan lagi karena suatu urusan. Aku pun mencari muridku itu, bahkan juga menyelidiki asal-usulmu."

"Oh?" Tio Bun Yang mengerutkan kening "Kenapa lo cianpwee menyelidiki asal-usulku?"

"Sebab menyangkut suatu hal, lagi pula engkau kau adalah teman baik muridku, bahkan juga pernah menyelamatkan nyawa ayahnya." Orarg tua pincang memberitahukan.

"Siapa murid lo cianpwee itu?"

 "Sie Keng Hauw, putra Sie Kuang Han."

"Oh, dia!" Wajah Tio Bun Yang berseri. "Ternyata lo cianpwee adalah gurunya! Sekarang dia berada di markas pusat Kay Pang, sudah punya kekasih...."

"Aku sudah tahu, kekasihnya adalah anak bibimu," ujar orang tua pincang. "Tapi muridku sama sekali tidak tahu aku berada di Tionggoan."

"Lo cianpwee, bagaimana kalau kita bersama pergi ke markas pusat Kay Pang?"

Orang tua pincang menggeleng kepala, kemudian berkata sambil menghela nafas panjang.

"Muridku itu pun tidak tahu asal-usulku. Kalau dia tahu, justru akan membahayakan dirinya."

"Kenapa begitu?"

"Inilah yang akan kututurkan padamu," sahut tuang tua pincang serius. "Penuturanku justru berkaitan pula dengan Hong Hoang To."

"Apa?" Tio Bun Yang tersentak. "Lo cianpwee tahu tentang Pulau Hong Hoang To?"

"Tahu." Orang tua pincang mengangguk. "Maka aku harus menuturkannya. Oh ya, beberapa bulan fni, apakah engkau pernah melihat sekelompok tiang berpakaian serba putih, memakai kedok setan dan menunggang kuda sambil mengeluarkan suara siulan aneh yang menyeramkan?"

"Aku tidak pernah melihat mereka, tapi... kekasih Sie Keng Hauw pernah melihat mereka." Tio Bun Yang memberitahukan.

"Oh?" Kening orang tua pincang itu berkerut-kerut, kemudian menghela nafas panjang. "Aaah! Entah siapa ketua baru itu...."



"Lo cianpwee tidak tahu?"

"Sama sekali tidak tahu. Kini Kui Bin Pang itu belum bergerak, karena belum menemukan tetuanya." Orang tua pincang memberitahukan "Namun belum lama ini, dua pelindung sudah! pergi menemui ketua baru itu."

"Kalau begitu apa hubungannya dengan pihak Pulau Hong Hoang To?" tanya Tio Bun Yang.m

"Kira-kira hampir seratus tahun lalu, ketua Kui Bin Pang memasuki Tionggoan seorang diri," tutur orang tua pincang. "Pada waktu itu, di rimba persilatan Tionggoan justru muncul seorang pendekar yang memiliki Hong Hoang Leng (Tanda Perintah Burung Phoenix)! Pendekar itu tahu tentang ketua Kui Bin Pang memasuki daerah Tionggoan."

"Oh?" Tio Bun Yang tertarik. "Nama pendekar itu?"

"Tio Po Thian."

"Tio Po Thian?" Tio Bun Yang tertegun "Dia... dia adalah kakekku."

"Benar." Orang tua pincang manggut-manggut. "Maka tadi kubilang ada kaitannya dengan Hong Hoang To."

"Kemudian bagaimana?" tanya Tio Bun Yang semakin tertarik.

"Tio Po Thian dan ketua Kui Bin Pang bertemu di suatu tempat, setelah itu tiada kabar beritanya lagi mengenai mereka." Orang tua pincang menggeleng-gelengkan kepala dan melanjutkan, "Kini setelah ketua baru itu muncul, barulah aku tahu bahwa ketua lama itu terpukul oleh Tio Po Thian hingga jatuh ke dalam jurang."

"Oh?" Tio Bun Yang mengerutkan kening. "Kakekku juga terluka?"

"Cuma terluka ringan," sahut orang tua pincang menambahkan. "Ketua baru Kui Bin Pang sedang



mengumpulkan para anggota, namun mereka masih belum menemukan tetuanya."

"Lo cianpwee, kenapa kakekku bertarung dengan ketua Kui Bin Pang itu?" tanya Tio Bun Yang ingin mengetahuinya.

"Memang sungguh di luar dugaan." Orang tua pincang menggeleng-gelengkan kepala. "Ternyata kakekmu tahu tujuan ketua Kui Bin Pang memasuki Tionggoan, maka mencegahnya di tempat itu."

"Apa tujuan ketua Kui Bin Pang ke Tiong-l-oan?"

"Ingin menyelidiki situasi rimba persilatan Tioggoan, setelah itu dia akan menyerbu tujuh Partai besar di Tionggoan. Ketua Kui Bin Pang ingin menguasai rimba persilatan Tionggoan!"

"Oooh!" Tio Bun Yang manggut-manggut. ”Ternyata begitu, lalu bagaimana?"

"Berhubung ketua Kui Bin Pang tiada kabar beritanya, maka tetua dan dua pelindung Kui Bin Pang pun berunding, dan bersepakat membubarkan perkumpulan itu."

"Kenapa harus dibubarkan?" tanya Tio Bun Yang.

"Sebab...." Orang tua pincang menghela nafas panjang."....

Kui Bin Pang tergolong perkumpulan sesat dan jahat, namun cuma bergerak di sekitar gurun Sih Ih sampai di Giok Bun Kwan (Kota Perbatasan). Oleh karena itu, Kui Bin Pang bermaksud mengembangkan sayapnya ke Tionggoan."

"Ternyata begitu!" Tio Bun Yang manggut-manggut. "Tapi sungguh di luar dugaan, kini malah muncul seorang ketua Kui Bin Pang baru."

"Yaaah!" Orang tua pincang menghela nafas. "Sepertinya sudah ditakdirkan, karena orang itu yang menemukan mayat ketua lama berikut buku catatan ilmu silat dan lain sebagainya. Oleh karena itu, para anggota pun tahu bahwa



Tio Po Thian majikan Pulau Hong Hoang To yang memukul jatuh ketua lama itu ke dalam jurang, maka, mereka bertekad membalas dendam."

"Oh?" Tio Bun Yang mengerutkan kening dan bertanya, "Bagaimana kepandaian ketua lama itu?"

"Sangat tinggi sekali, sebab ketua lama itu memiliki Pek Kut Im Sat Kang (Tenaga Hawa Dingin Beracun)" Orang tua pincang memberi tahukan. "Siapa yang terkena Pek Kut Im Sat Kang (Ilmu Pukulan Hawa Dingin Beracun), pasti mati menggigil kedinginan karena terkena racun."

"Kalau begitu, Pek Kut Im Sat Kang sama seperti Pak Kek Sin Kang?" tanya Tio Bun Yang.

"Agak berbeda," sahut orang tua pincang menjelaskan. "Sebab Pek Kut Im Sat Kang mengandung racun, sedangkan Pak Kek Sin Kang tidak. Lagi pula Pek Kut Im Sat Kang jauh lebih lihay dan hebat dibandingkan dengan Pak Kek Sin Kang."

"Kakekku mampu memukul ketua lama itu ke dalam jurang, itu pertanda kepandaian kakekku lebih tinggi, bukan?"

"Betul." Orang tua pincang manggut-manggut. Tapi ada satu hal yang sangat membingungkan."

"Hal apa?"

"Aku dengar, kepandaian ketua baru itu jauh lebih tinggi dibandingkan dengan ketua lama. Aku... aku sungguh tidak habis berpikir tentang itu „

"Mungkin... ketua baru itu juga mempelajari ilmu silat tinggi lain," ujar Tio Bun Yang. "Maka kepandaiannya jauh lebih tinggi dari ketua lama."

'Memang mungkin." Orang tua pincang manggut-manggut lagi dan memberitahukan. "Ketua baru itu pun telah memiliki ilmu sesat."

”Ilmu sesat yang bagaimana?"



"Ilmu sesat itu dapat mengendalikan pikiran orang. maka siapa pun yang terkena ilmu sesat tersebut, pasti akan menuruti semua perintahnya."

"Oh? Kalau begitu, para anggota Kui Bin Pang pasti sudah terkena ilmu sesatnya?"

"Justru tidak."

"Kok tidak?"

"Karena para anggota telah bersumpah setia, jadi tidak perlu dipengaruhi dengan ilmu sesat itu. Sebab kalau ada anggota yang tidak setia, pasti dihukum mati."

"Kalau begitu... mungkinkah Kui Bin Pang akan menyerbu ke Pulau Hong Hoang To?"

"Untuk sementara ini tidak, sebab mereka belum menemukan tetua Kui Bin Pang. Lagi pula Kui Bin Pang belum berani bertindak begitu sebelum menguasai rimba persilatan Tionggoan."

"Jadi Kui Bin Pang berniat menguasai rimba persilatan Tionggoan?" tanya Tio Bun Yang terkejut.

"Ya." Orang tua pincang menghela nafas panjang. "Ketua lama pun berniat begitu, tapi tidak terlaksana karena terhalang oleh Tio Po Thian, majikan Pulau Hong Hoang To. Kini...."

"Maksud lo cianpwee kini tiada seorang pun yang dapat menghalanginya?"

"Ya. Sebab...." Orang tua pincang menggeleng-gelengkan

kepala. "Kepandaian ketua baru itu sangat tinggi sekali. Terus terang, Tio Tay Se tidak mampu menandinginya."

"Lo cianpwee kenal pamanku?"

"Tidak kenal, namun belum lama ini aku telah menyelidikinya, maka tahu tentang dirinya."



"Oooh!" Tio Bun Yang manggut-manggut, kemudian memandang orang tua pincang itu seraya bertanya, "Lo cianpwee kok tahu jelas sekali piengenai seluk-beluk Kui Bin Pang?"

"Anak muda!" Orang tua pincang menatapnya tajam. "Aku akan memberitahukan mengenai identitas diriku, namun engkau tidak boleh memberitahukan kepada siapa pun, termasuk muridku itu. tipi engkau boleh memberitahukan pada Lim Peng Hang, Gouw Han Tiong dan para penghuni Hong Hoang To."

"Lo cianpwee...." Tio Bun Yang tampak kebingungan. "Aku

tidak boleh memberitahukan kepada siapa pun, termasuk Sie Keng Hauw tapi boleh memberitahukan kepada kakekku, Kakek Gouw dan para penghuni Pulau Hong Hoang To, aku...
aku jadi bingung...."

"Maksudku engkau tidak boleh memberitahukan kepada orang lain maupun teman-temanmu. Hanya boleh memberitahukan kepada tingkatan tua saja."

"Oooh!" Tio Bun Yang manggut-manggut mengerti. "Baiklah! Aku berjanji, lo cianpwee."

"Anak muda..." ujar orang tua pincang dengan suara rendah. "Tetua Kui Bin Pang itu adalah ayahku."

"Haaah?" Tio Bun Yang terperangah.

"Maka aku tahu jelas sekali tentang perkumpulan itu, namun...." Orang tua pincang menggeleng-gelengkan kepala,

"...aku sudah tidak mau bergabung dengan Kui Bin Pang, karena Kui Bin Pang bertujuan jahat."

"Lo         cianpwee...."     Tio          Bun        Yang      memandangnya.

"Bagaimana seandainya pihak Kui Bin Pang berhasil menemukan lo cianpwee?"

"Ha ha ha!" Orang tua pincang tertawa gelak. "Tidak mungkin, sebab aku cukup cerdik."



"Maksud lo cianpwee?"

"Ketua baru itu tidak kenal aku. Meskipun dia mengenali ilmu silatku, tetapi, aku telah mengubah semua gerakan ilmu silatku."

"Oooh!" Tio Bun Yang tersenyum. "Jadi Sie Keng Hauw juga mempelajari ilmu silat lo cianpwee yang telah diubah itu?"

"Ya." Orang tua pincang mengangguk.

"Kok lo cianpwee bisa berpikir sampai kesitu?"

"Sebelum ayahku meninggal sudah menceritakan tentang Kui Bin Pang dan ketua lama itu Bahkan ayahku pun khawatir kelak akan muncul ketua Kui Bin Pang. Oleh karena itu, setelah ayahku meninggal, aku mulai mengubah semua ilmu silat ayahku itu."

"Lo cianpwee sungguh cerdas!" ujar Tio Bu Yang sambil tersenyum. "Oh ya, bagaimana kepandaian lo cianpwee dibandingkan dengan ketua baru itu?"

"Cuma bisa bertahan sekitar tiga puluh jurus," sahut orang tua pincang dan menggeleng-gelengkan kepala.

"Kok lo cianpwee tahu?"

"Aku pernah membuntuti para anggota Kui Bin Pang, sampai disuatu tempat aku menyaksikan ketua baru itu sedang mempertunjukkan kepandaiannya."

"Oooh!" Tio Bun Yang manggut-manggul seraya bertanya, "kalau begitu, siapa yang mampu menandingi kepandaian ketua Kui Bin Pang itu?"

"Mungkin engkau, anak muda." Orang tua pincang menatapnya.

"Aku?" Tio Bun Yang tertegun. "Kepandaianku...”



"Anak muda!" Orang tua pincang tersenyum. ”Jangan merendah lagi, aku sudah tahu jelas tenung kepandaianmu."

"Lo cianpwee...."

"Oleh karena itu..." tambah orang tua pincang. 'Aku memang sengaja menemuimu. Mengenai Kui lim Pang, engkau harus berunding dengan ayahmu dan para tingkatan tua lainnya."

"Ya." Tio Bun Yang mengangguk.

"Oh ya, engkau harus ingat!" pesan orang tua pincang. "Jangan beritahukan kepada Sie Keng Hauw tentang diriku!"

"Ya, lo cianpwee." Tio Bun Yang mengangguk lagi.

"Baiklah." Orang tua pincang menepuk bahu Tio Bun Yang seraya berkata, "Anak muda, semoga kita berjumpa lagi kelak!"

"Lo cianpwee...."

"Sampai jumpa, anak muda!" ucap orang tu pincang dan sekaligus melesat pergi.

Kening Tio Bun Yang berkerut-kerut. Ia masih belum bertemu Siang Koan Goat Nio, ini sudah sangat memusingkannya, kini malah timbul urusan tersebut. Tio Bun Yang menghela nafa panjang, lalu melesat pergi.

-oo0dw0oo-


Bagian ke empat puluh delapan Pembicaraan serius di Markas Pusat Kay Pai

Tio Bun Yang terus melanjutkan perjalanan menuju markas pusat Kay Pang. Ketika ia berada jalan yang sepi, mendadak terdengar suara siulan aneh yang menyeramkan serta suara derap kaki kuda.



Segeralah ia meloncat ke balik pohon, mudian mengintip dengan penuh perhatian. Tampak belasan penunggang kuda berpakaian serba putih melewati jalan itu, semuanya memakai kedok setan.

Tentunya Tio Bun Yang tahu, mereka adalah para anggota Kui Bin Pang. Ia tidak menguntit mereka, karena sedang memburu waktu menuju markas pusat Kay Pang.

Setelah para anggota Kui Bin Pang itu lewat, berselang sesaat barulah Tio Bun Yang melesat pergi melanjutkan perjalanan.

Beberapa hari kemudian, sampailah ia di markas pusat Kay Pang. Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong menghela nafas lega.

"Kakek!" panggil Tio Bun Yang dan tercengang ketika melihat Ngo Tok Kauwcu Phang Ling Cu berada di situ. "Kakak Ling Cu...."

"Adik Bun Yang!" Ngo Tok Kauwcu tersenyum.

"Bun Yang," ujar Lim Peng Hang. "Duduklah dulu baru mengobrol, memang banyak yang harus dibicarakan."

"Ya." Tio Bun Yang duduk.

"Kakak Bun Yang," tanya Lie Ai Ling. "Kok Sian Hoa tidak ikut kembali, apakah telah terjadi sesuatu atas dirinya?"

"Memang telah terjadi suatu yang baik atas dirinya," sahut Tio Bun Yang sambil tersenyum. Ternyata dia dan Toan Beng Kiat telah saling mencinta, maka dia pun betah tinggal di Tayli."

"Oooh!" Lie Ai Ling manggut-manggut sambil tertawa. "Syukurlah kalau begitu!"

"Bun Yang!" Lim Peng Hang menatapnya! "Bagaimana urusan di Tayli itu? Apakah sudah beres?"



"Sudah beres." Tio Bun Yang mengangguk

"Bun Yang!" Gouw Han Tiong menatapnya seraya bertanya. "Bagaimana cara engkau memberesi urusan itu?"

"Tidak begitu sulit," jawab Tio Bun Yan sambil tersenyum. "Karena Bu Ceng Sianli-Tui Siao Cui menuruti usulku, dia menyembuhkan Paman Wie Kie dan Paman Bie Liong, lalu pergi”

"Syukurlah!" ucap Gouw Han Tiong dan berlega hati. "Oh ya, bagaimana luka Tayli Lo Ceng?”

"Sudah sembuh."

"Bagaimana keadaan Sian Eng?"

"Bibi Sian Eng baik-baik saja. Tapi aku tidak bercakap-cakap dengan mereka, karena Tayli Ceng menyuruhku cepat-cepat pulang."

"Oooh!" Lim Peng Hang manggut-manggu kemudian wajahnya berubah serius. "Bun Yan sudah ada kabar beritanya tentang Goat Nio.'

"Oh! Dia berada di mana?" tanya Tio Bun Yang girang tapi juga tegang. "Dia... dia bera di mana? Apa yang telah terjadi atas dirinya?"

"Adik Bun Yang, tenanglah!" sahut Ngo Tc Kauwcu. "Siang Koan Goat Nio ditangkap..”

"Apa?" cemaslah Tio Bun Yang. "Siapa yang menangkapnya?"

"Pihak Seng Hwee Sin Kun," jawab Ngo Tok Kauwcu dan menambahkan, "Tapi engkau tidak usah cemas, Goat Nio dalam keadaan baik-baik saja."

"Kakak Ling Cu!" tanya Tio Bun Yang. "Engkau tahu dari mana?"



"Aku memperoleh kabar berita itu dari Pat Pie Lo Koay..." jawab Ngo Tok Kauwcu dan sekaligus menutur, "...maka engkau tidak usah cemas."

"Oooh!" Tio Bun Yang menarik nafas lega, kemudian memandang Lim Peng Hang seraya bertanya, "Kakek, apa rencana kita?"

"Menunggu," sahut Lim Peng Hang singkat.

"Menunggu apa?" Tio Bun Yang bingung. "Apakah kita harus membiarkan Goat Nio terus menderita di sana?"

"Adik Bun Yang!" Ngo Tok Kauwcu tersenyum. "Engkau harus sabar, sebab tidak lama lagi. Seng Hwee Sin Kun pasti mengutus orang ke mari."

"Tapi  Goat  Nio...."  Tio  Bun  Yang  sangat  mencemaskan

gadis pujaan hatinya itu.

"Bun Yang!" Lim Peng Hang menatapnya lembut, sekaligus menghiburnya. "Engkau tenang saja, Goat Nio tidak akan terjadi apa-apa."

"Adik Bun Yang, aku berani jamin, Goat Nio pasti selamat." ujar Ngo Tok Kauwcu sungguh-sugguh.

"Yaaah...!" Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala. "Aku sama sekali tak menyangka kalau Seng Hwee Sin Kun begitu licik dan pengecut, kenapa dia menangkap Goat Nio?"

"Untuk dijadikan sandera," sahut Ngo Tok Kauwcu.

"Aaah!" keluh Tio Bun Yang sambil menghela nafas panjang, kemudian mendadak sepasang matanya berapi-api. "Kalau Seng Hwee Sin Kun berani mencelakai Goat Nio, aku pasti tidak akan mengampuninya!"

"Adik Bun Yang, kita memang tidak boleh mengampuni Seng Hwee Sin Kun," ujar Ngok Tok Kauwcu. "Kita harus membasminya sekaligus memusnahkan markas Seng Hwee Kauw."

 "Ya." Tio Bun Yang manggut-manggut.

"Kakak  Bun        Yang...."               Mendadak          Yatsumi                menatapnya

seraya berkata, "Kini engkau sudah kembali, maka... aku pun ingin pulang ke Jepang."

"Engkau ingin pulang ke Jepang?" tanya Tii Bun Yang. "Yatsumi, bukankah lebih baik engkau tinggal di sini beberapa hari lagi?"

"Aku... aku harus segera membalas dendarr. tidak bisa terus tinggal di sini," sahut Yatsumi.

"Yatsumi!" sela Lie Ai Ling. "Jangan cepai cepat pulang ke Jepang, lihat beberapa hari lagil

"Tapi...."  Yatsumi  tampak  berpikir,  lama  sekali  barulah

mengangguk. "Baiklah."

"Bun Yang, lebih baik sekarang engkau beristirahatlah," ujar Lim Peng Hang. "Nanti malam kita baru bercakap-cakap lagi."

"Ya, Kakek." Tio Bun Yang berjalan menuju kamarnya, pikirannya justru menerawang.

-ooo0dw0ooo-

Malam harinya, Tio Bun Yang datang di ruang lengah menemui Lim Peng Hang dan Gouw Han liong. Kebetulan cuma mereka berdua yang berada di ruang tengah itu, sedangkan yang lain sudah lulur.

"Kakek..." panggilnya.

"Duduklah, Bun Yang!" sahut Lim Peng Hang sambil tersenyum lembut. "Engkau sudah tidak merasa lelah?"

"Ng!" Tio Bun Yang mengangguk sambil duduk. "Kakek...."

"Bun Yang!" Lim Peng Hang menatapnya, 'Engkau ingin menyampaikan sesuatu pada kami?"



"Ya." Wajah Tio Bun Yang tampak serius.

"Mengenai apa?" tanya Lim Peng Hang dan yakin pasti sesuatu yang penting, sebab wajah Tio Bun Yang tampak begitu serius.

"Kui Bin Pang."

"Apa?" Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong tersentak. "Engkau bertemu para anggota perkumpulan itu?"

"Kakek, aku bertemu seorang tua pincang."! Tio Bun Yang memberitahukan. "Orang tua itulah yang menceritakan kepadaku tentang Kui Bin Pang."

"Siapa orang tua itu?" tanya Lim Peng Hangafl

"Kakek dan Kakek Gouw harus berjanji, tidakl akan memberitahukan kepada orang lain!" tegas Tio Bun Yang. "Sebab menyangkut keselamatan!! orang tua itu dan muridnya."

Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong saling memandang, kemudian keduanya mengangguk.

"Baik, kami berjanji," ujar Lim Peng Hang.

"Orang tua itu ternyata guru Sie Keng Hauw." Tio Bun Yang memberitahukan dengan suara rendah. "Juga anak Tetua Kui Bin Pang."

"Haaah?" Bukan main terkejutnya Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong. "Kalau begitu...."

"Memang sungguh di luar dugaan, Kui Bin Pang punya dendam pada kakek tua, majikan lama Pulau Hong Hoang To."

"Maksudmu Tio Po Thian?" Lim Peng Hang terbelalak.

"Ya." Tio Bun Yang mengangguk dan menutur semua yang didengarnya dari orang tua pincang.



"Jadi ketua baru itu berniat menguasai rimba persilatan, bahkan juga ingin membalas dendam terhadap pihak pulau Hong Hoang To?" tanya

Gouw Han Tiong dengan kening berkerut-kerut.

"Ya." Tio Bun Yang manggut-manggut, kemudian menghela nafas panjang. "Urusan dengan Seng Hwee Kauw belum beres, kini malah timbul urusan lain!"

"Bun Yang," tanya Lim Peng Hang. "Orang tua pincang itu memberitahukan kepandaian ketua baru Kui Bin Pang itu kepadamu?"

"Ya. Menurut orang tua pincang itu, kepandaian ketua baru Kui Bin Pang sangat tinggi sekali. Dia memiliki Pek Kut Im Sat Kang (Tenaga Hawa Dingin Beracun), yang sangat lihay dan hebat!"

"Aaaah...!" Lim Peng Hang menghela nafas panjang. "Sungguh di luar dugaan! Lalu kita harus bagaimana? Haruskah kita ke pulau Hong Hoang Po memberitahukan kepada Tio Tay Seng?"

"Kita sedang menghadapi Seng Hwee Kauw, bagaimana mungkin berangkat ke pulau Hong Hoang To?" sahut Gouw Han Tiong sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Menurut orang tua pincang itu, sementara ini Kui Bin Pang belum bisa bergerak, karena belum menemukan tetuanya. Jadi kita tidak usah memikirkan tentang itu, lebih baik kita curahkan perhatian pada Seng Hwee Kauw saja."

"Ngmm!" Lim Peng Hang manggut-manggut dan menambahkan, "Setelah urusan ini selesai, barulah kita ke pulau Hong Hoang To."

"Memang harus begitu." Gouw Han Tiong mengangguk. "Sekarang sudah larut malam, lebih baik engkau pergi tidur."



"Ya." Tio Bun Yang meninggalkan ruang tengah itu, namun tidak menuju kemarnya, melainkan ke halaman belakang.

Tio Bun Yang melihat sosok bayangan di bawah pohon. Ia tertegun dan segera mendekat sosok bayangan itu yang ternyata Yatsumi.

"Eh?" Tio Bun Yang tercengang. "Yatsumi kenapa engkau duduk di sini?"

"Aku...."  Gadis  Jepang  itu  menundukkan  ke  pala.  "Aku

teringat pada almarhum dan almarhumah...."

"Sudahlah, jangan dipikirkan!" ujar Tio Bui Yang sambil duduk di sisinya. "Kini kepandaianmi sudah tinggi, engkau bisa membalas dendam."

"Memang, tapi...."

"Masih ada masalah lain?"

"Aaaah...!" Yatsumi menghela nafas panjang kemudian memandang jauh ke depan. "Terus terang, aku mencintai seorang pemuda."

"Oh?" Tio Bun Yang menatap dalam-dalarr "Siapa pemuda itu? Apakah dia orang Han?"

"Dia juga orang Jepang, tapi...."

"Kenapa?"

"Dia putra seorang pembesar di Jepang, tentunya orang tuanya tidak akan merestui hubunga kami."

"Pemuda itu mencintaimu?"

"Kami... kami sudah saling mencinta. Ketika aku mau berangkat ke Tionggoan ini, aku pun memberitahukan kepadanya. Dia berjanji menantiku dengan setia."



"Kalau begitu, engkau tidak perlu gelisah." lio Bun Yang tersenyum. "Kalian berdua sudah .saling.mencinta, jadi... tidak ada urusan dengan orang tuanya. Ya, kan?"

"Tapi...." Yatsumi menggeleng-gelengkan kepala. "Menurut

adat kami, anak pembesar tidak boleh menikah dengan orang biasa."

"Oh?" Tio Bun Yang menghela nafas panjang. 'Tidak disangka adat Jepang lebih kolot dibandingkan dengan adat Han!"

"Oleh karena itu, aku...."

"Yatsumi," ujar Tio Bun Yang memberi usul. "Setelah dendammu itu terbalas, engkau boleh mengajak pemuda itu ke Tionggoan. Aku yakin orang tua pemuda itu tidak akan menyusul sampai ke mari."

"Aaaah...!" Yatsumi menghela nafas panjang. "Kalau kami berbuat begitu, sama juga menghina dan mempermalukan Bangsa Jepang."

"Lalu... kalian berdua harus bagaimana?"

"Entahlah." Yatsumi menggelengkan kepala. "Aku... aku pusing sekali."

"Oh ya, engkau pernah bertemu orang tua pemuda itu?" tanya Tio Bun Yang mendadak.

"Tidak."

"Begini...." Tio Bun Yang menyarankan. "... engkau harus

memberanikan diri menemui orang tua pemuda itu, aku yakin orang tua pemuda itu pasti merestui kalian."

"Itu... itu bagaimana mungkin?"

"Engkau harus yakin dan percaya diri."

"Betul." Tiba-tiba terdengar suara sahutan, muncullah Lie Ai Ling dan Sie Keng Hauw sambil tertawa-tawa.



"Eh?" Tio Bun Yang terbelalak. "Kalian berdua kok belum tidur?"

"Terus terang," sahut Sie Keng Hauw sambil tersenyum. "Dari tadi kami berdua bersembunyi di balik pohon. Ketika kami ingin keluar menemui Yatsumi, engkau justru ke mari."

"Oooh!" Tio Bun Yang manggut-manggut. "Tentunya kalian berdua mendengar pembicaraan kami.'

"Ya." Lie Ai Ling mengangguk. "Memang tepat saranmu, begitu pula apa yang kau katakan barusan, Yatsumi harus yakin dan percaya diri."

"Tapi...."  Yatsumi  menggeleng-gelengkan  kepala.  "Orang

tua pemuda itu adalah pembesar."

"Percayalah!" ujar Tio Bun Yang. "Pembesar itu pasti juga menghendaki menantu baik. Sedangkan engkau adalah gadis yang lemah lembutJ cantik jelita dan sopan santun. Maka aku yakin orang tua pemuda itu pasti merestuinya."

"Benar," sela Lie Ai Ling sambil tertawa "Yatsumi, engkau harus percaya itu."
"Ya." Yatsumi mengangguk. "Terimakasih atas dukungan kalian, terimakasih."

"Tidak usah mengucapkan terimakasih," sahut Iie Ai Ling sungguh-sungguh. "Kita semua adalah kawan baik, jadi harus tolong-menolong dan bantu membantu dalam hal apa pun."

"Terimakasih," ucap Yatsumi lagi. "Kalau be-ptu, aku mengambil keputusan pulang esok."

"Apa?" Lie Ai Ling terbelalak. "Kok begitu cepat engkau mengambil keputusan, pikir-pikir dulu!"

"Ai Ling!" Yatsumi tampak serius. "Aku harus membunuh ketua ninja lalu pergi menemui pemuda itu."



"Baiklah." Lie Ai Ling manggut-manggut. "Mudah-mudahan engkau berhasil!"

"Terimakasih," ucap Yatsumi sambil membungkukkan badannya. "Terimakasih atas perhatian kalian."

Pagi harinya, ketika Yatsumi sudah bersiap uap meninggalkan markas pusat Kay Pang, di saat bersamaan justru muncul seorang pengemis tua menghadap Lim Peng Hang.

"Lapor pada Pangcu! Kami melihat beberapa anggota Seng Hwee Kauw mengantar seorang! berpakaian serba hitam ke Gunung Hek Ciok San."

"Siapa orang berpakaian serba hitam itu?" tanya Lim Peng Hang heran.

"Maaf Pangcu, kami tidak mengetahuinya," jawab pengemis tua itu.

"Kakek pengemis," tanya Yatsumi mendadak. "Muka orang itu juga ditutup dengan kain hitam?"

"Betul."

"Haaah...!" Yatsumi tersentak. "Kalau begitu, dia pasti Takara Nichiba, ketua ninja itu."

"Oh?" Lim Peng Hang mengerutkan kening. "Berarti dia memburumu sampai ke Tionggoan."

"Ada baiknya juga," ujar Gouw Han Tiong "Jadi Yatsumi tidak usah pulang ke Jepang."

"Kakek...." Tio Bun Yang menggeleng-geleng' kan kepala.

"Aku justru merasa heran, kenapi ketua ninja itu ke markas Seng Hwee Kauw?"

"Mungkin ingin bergabung dengan Seng Hwee Kauw," jawab Lim Peng Hang dan menambahkan "Oleh karena itu, kita pun harus bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan."



"Aku yang menghadapi ketua ninja itu!" ujar Yatsumi dengan mata berapi-api. "Dia membunuh kedua orang tuaku, aku pun harus membunuh nya!"

"Aaaah...!" Mendadak Tio Bun Yang menghela nafas panjang. "Dalam rimba persilatan penuh diliputi dendam dan kebencian, sedangkan di istana diliputi pergolakan politik. Akhirnya... rakyat jelata yang menderita."

"Bun Yang!" Lim Peng Hang menatapnya. "Engkau...."

"Kakek!" Tio Bun Yang tersenyum getir. "Kalau aku sudah berkumpul kembali dengan Goat Nio, alangkah baiknya kami hidup tenang di pulau liong Hoang To."

"Bun Yang!" Lim Peng Hang menghela nafas. ”Apakah Pulau Hong Hoang To akan aman?"

"Kakek...." Tio Bun Yang menundukkan kepala.

"Dulu ayahmu juga berkata begitu, tapi akhirnya toh dia juga yang menyelamatkan rimba peralatan. Kini kelihatannya engkau harus mengikuti jijak ayahmu," ujar Gouw Han Tiong. "Karena kipandaianmu paling tinggi di antara kita semua."

"Yaaah!" Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala. "Sesungguhnya aku sudah jenuh akan urusan rimba persilatan, rasanya ingin hidup tenang di suatu tempat."

"Bun Yang!" Lim Peng Hang menatapnya. "Masih banyak urusan yang harus kau selesaikan, maka engkau harus bersemangat."

"Bersemangat?" Tio Bun Yang tersenyum geli. "Kini Goat Nio dikurung di markas Seng Hwee Kauw, bagaimana mungkin aku bersemangat?"

"Adik Bun Yang!" Ngo Tok Kauwcu mengerutkan kening. "Kalau engkau tidak bersemangat, bagaimana mungkin dapat menolong Goal Nio?"



"Kakak Bun Yang," sela Lie Ai Ling. "Bia bagaimana pun engkau harus bersemangat. Kalau tidak, Goat Nio yang akan celaka."

"Goat Nio...." Tio Bun Yang tampak tesentak. "Benar. Aku

memang harus bersemangat

"Nah, begitu!" Lie Ai Ling tertawa gembira kemudian memandang Yatsumi seraya berkata "Sekarang engkau sudah tahu ketua ninja itu ke markas Seng Hwee Kauw, lalu apa rencanamu!”

"Aku harus ke markas Seng Hwee Kauw mencari ketua ninja itu," sahut Yatsumi. "Aku harus membunuhnya."

"Kalau engkau ke markas Seng Hwee Kauw justru engkau yang akan terbunuh di sana," sahut Ngo Tok Kauwcu. "Engkau tidak boleh ke sana,

"Apakah aku harus diam saja?" tanya Yatsumi sambil mengerutkan kening.

"Kita semua memang harus diam untuk menanti," sahut Ngo Tok Kauwcu dan menambahkan "Percayalah! Tidak lama lagi Seng Hwee Sin Ku pasti mengutus orang ke mari."

"Itu tidak akan meleset?" Yatsumi tampak ragu. "Aku berani menjamin tidak akan meleset” Ngo Tok Kauwcu tersenyum. "Percayalah!"

"Aku percaya," ujar Lim Peng Hang dan melanjutkan, "Seng Hwee Sin Kun pasti berunding dengan ketua ninja itu, lalu mengutus orang ke mari."

"Benar." Gouw Han Tiong manggut-manggut. "Oleh karena itu, kita harus sabar menunggu."

"Baik." Yatsumi mengangguk. "Aku menurut saja." -ooo0dw0ooo-




Bagian ke empat puluh sembilan Utusan Seng Hwee Sin Kun
Di markas Seng Hwee Kauw, terdengar suara tawa gembira. Tampak beberapa orang sedang bersulang. Mereka adalah Seng Hwee Sin Kun, Leng Bin Hoatsu, Pek Bin Kui, Pat Pie Lo Koay dan Tok Chiu Ong. Selain mereka, tampak pula seorang berpakaian serba hitam, yang ternyata Takara Nichiba, ketua Ninja Jepang.

"Ha ha ha!" Seng Hwee Sin Kun tertawa gelak. Takara Nichiba, terimakasih atas kunjunganmu."

"Ha ha ha!" Takara Nichiba juga tertawa gelak. "Terimakasih atas penyambutan kalian."

"Jangan sungkan-sungkan, kita memang harus bantu-membantu!" ujar Seng Hwee Sin Kun. "Ayoh mari kita bersulang lagi untuk penjalinan per sahabatan kita!"

"Terimakasih," ucap Takara Nichiba, mereka mulai bersulang lagi sambil tertawa-tawa.

"Takara Nichiba," tanya Pat Pie Lo Koay "Kedatanganmu di Tionggoan khusus untuk memburu Yatsumi?"

"Betul." Takara Nichiba mengangguk. "Namun aku juga ingin bergaul dengan kaum pesilat di Tionggoan."

"Oooh!" Pat Pie Lo Koay manggut-manggul "Engkau sudah tahu Yatsumi itu berada di mana?

"Aku sama sekali tidak tahu," jawab Takai Nichiba jujur. "Maka aku minta bantuan kalian”

"Jangan khawatir!" ujar Leng Bin Hoatsu san bil tertawa. "Kami sudah mengutus beberapa orang untuk menyelidiki gadis itu."

"Terimakasih, terimakasih..." ucap Takara Nichiba.



Di saat bersamaan, muncullah seseorang menghadap mereka. Setelah memberi hormat, orang itu melapor.

"Kauwcu, kami telah memperoleh informasi bahwa Yatsumi berada di markas pusat Kay Pang

"Oh?" Wajah Seng Hwee Sin Kun berseri "Bisa dipercaya informasi itu?"

"Bisa." Orang itu mengangguk dan menambahkan, "Bahkan Tio Bun Yang, Ngo Tok Kauw-cu, Sie Keng Hauw dan Lie Ai Ling juga berada di sana.'

"Ha ha ha! Bagus, bagus." Seng Hwee Sin Kun tertawa gelak. "Nah, sekarang engkau boleh beristirahat."

"Terimakasih, Kauwcu." ucap orang itu, yang kemudian meninggalkan ruang tersebut.

"Takara Nichiba," ujar Seng Hwee Sin Kun memberitahukan. "Ternyata Yatsumi berada di markas pusat Kay Pang."

"Kalau begitu, aku akan ke sana membunuhnya," sahut Takara Nichiba.

"Sabar!" Seng Hwee Sin Kun tertawa. "Aku justru ingin memancing mereka ke mari. Setelah mereka ke mari, engkau boleh membunuh Yatsumi."

"Baik." Takara Nichiba mengangguk.

"Bagaimana menurut kalian?" tanya Seng Hwee Sin Kun. "Apakah sudah waktunya aku mengutus orang ke sana?"

"Memang sudah waktunya," sahut Leng Bin Hoatsu. "Kita pancing mereka ke mari, lalu kita bantai."

"Kita jebak mereka! Ha ha ha...!" Tok Chiu Ong tertawa.

"Menurut aku..." ujar Pat Pie Lo Koay sungguh sungguh. "Kita tidak perlu menjebak mereka, cukup menantang mereka



bertarung. Kalau dengan akal licik menjebak mereka, itu akan mempermalukan diri kita."

"Ngmm!" Seng Hwee Sin Kun manggut-manggut. "Baik, kita undang mereka ke mari! Kita bertarung dengan mereka di Lembah Kabut Hitam ini! Ha ha ha...!"

"Kauwcu," ujar Takara Nichiba. "Aku akan bertarung dengan Yatsumi, itu adalah urusanku.”

"Baik." Seng Hwee Sin Kun manggut-manggut "Tapi engkau harus berhati-hati menghadapinya."

"Terimakasih atas perhatian Kauwcu," uca Takara Nichiba.

"Kauwcu," tanya Leng Bin Hoatsu. "Kapan Kauwcu akan mengutus orang ke markas pusat Kay Pang?"

"Besok pagi," sahut Seng Hwee Sin Kun memberitahukan. "Aku mengutus engkau dan Pek Bin Kui ke sana."

"Ya." Leng Bin Hoatsu dan Pek Bin Kui mengangguk.

"Undang mereka ke mari tanggal lima belas kita akan bertarung di Lembah Kabut Hitam“ pesan Seng Hwee Sin Kun.

"Ya." Leng Bin Hoatsu mengangguk.

"Ha ha ha!" Seng Hwee Sin Kun tertawa gelak "Setelah kita membasmi mereka, kita pun akan menguasai rimba persilatan! Ha ha ha...!"

-oo0dw0oo-

Lim Peng Hang, Gouw Han Tiong dan lainnya sedang bercakap-cakap di ruang depan markas pusat Kay Pang dengan serius sekali. Yang tampak tidak sabar adalah Yatsumi, bahkan keningnya pun berkerut-kerut.

"Kok hingga sekarang belum muncul utusan dari Seng Hwee Sin Kun?"



"Yatsumi!" Ngo Tok Kauwcu menatapnya. ”Engkau harus sabar. Percayalah, dalam beberapa hari ini. Seng Hwee Sin Kun pasti mengutus orang kemari."

"Kalau beberapa hari ini tetap tidak muncul utusan Seng Hwee Sin Kun ke mari, aku akan kesana membunuh Takara Nichiba."

"Yatsumi, sabarlah!" ujar Tio Bun Yang. "Aku yang paling cemas, tapi tetap harus bersabar."

"Kita semua memang harus bersabar. Kalau tidak, justru kita sendiri yang akan celaka," ujar Lim Peng Hang. "Sebab kita tidak boleh menyerbu kesana, maka kita harus tetap bersabar."

Di saat bersamaan, muncul seorang pengemis tua menghadap Lim Peng Hang, lalu melapor.

"Pangcu! Utusan Seng Hwee Sin Kun ke mari!"

"Oh?" Lim Peng Hang manggut-manggut. "Undang mereka ke mari!"

"Ya, Pangcu." Pengemis tua itu segera pergi.

Tak seberapa lama kemudian, masuklah dua orang yang tidak lain Leng Bin Hoatsu dan Pek Bin Kui. Mereka berdua memberi hormat dengan sikap angkuh, kemudian berkata.

"Seng Hwee Sin Kun mengutus kami ke mari.”

"Silakan duduk!" sahut Lim Peng Hang sambil menatap mereka tajam.

Leng Bin Hoatsu dan Pek Bin Kui duduk seraya berkata dengan suara dalam.

"Kami ke mari untuk menyampaikan sesuatu pada Lim Pangcu, harap Lim Pangcu dengar baik-baik!"



"Ha ha ha!" Ucapan mereka berdua tidak membuat Lim Pang Hang gusar, sebaliknya ketua Kay Pang itu malah tertawa gelak. "Katakanlah!!”

"Kami menantang pihakmu bertarung di Lembah Kabut Hitam," ujar Leng Bin Hoatsu memberitahukan.

"Oh?" Lim Peng Hang tertawa lagi. "Kapan?!”

"Tanggal lima belas," sahut Pek Bin Kui dan menambahkan. "Kami harap kedatangan kalian, jangan tidak berani ke sana!"

"Ha ha ha!" Gouw Han Tiong tertawa terbahak-bahak. "Beritahukan kepada Seng Hwe Sin Kun, kami pasti datang tepat pada waktunya

"Baik." Pek Bin Kui mengangguk.

"Leng Bin Hoatsu," tanya Tio Bun Yan mendadak. "Bagaimana keadaan Goat Nio yan kalian kurung? Apakah dia baik-baik saja?"

"Kalian sudah tahu?" Leng Bin Hoatsu balik bertanya dengan heran.

"Kami memang sudah tahu," sahut Tio Bun Yang dingin. "Beritahukanlah! Bagaimana keadaannya?"

"Dia baik-baik saja," ujar Leng Bin Hoatsu. "Apabila kalian menang dalam pertarungan nanti, Goat Nio pasti dibebaskan."

"Jangan ingkar janji!" Tio Bun Yang menatapnya tajam.

"Ha ha ha!" Leng Bin Hoatsu tertawa gelak. "Perlukah kami ingkar janji? Itu tidak perlu kan?"

"Bagus!" Tio Bun Yang manggut-manggut.

"Oh ya!" Pek Bin Kui menatap Yatsumi. "Bukankah engkau gadis Jepang?"

"Betul." Yatsumi mengangguk dan bertanya, " Takara Nichiba berada di tempat kalian kan?"

 "Kok tahu?" Pek Bin Kui heran.

"Tentu tahu," sahut Yatsumi. "Aku menantangnya bertarung."

"Itu sudah pasti," ujar Pek Bin Kui sambil tertawa. "Ketua ninja itu memang ingin bertarung denganmu."

"Bagus, bagus!" Yatsumi manggut-manggut." Itu yang kukehendaki. Suruh dia bersiap-siap tindik mati!"

”He he he!" Leng Bin Hoatsu tertawa terkekeh, 'sungguh sayang sekali Nona masih sedemikian muda, namun akan mati pada tanggal lima belas! lebih baik Nona bergabung dengan kami, maka ketua ninja itu tidak akan membunuhmu."

"Hei!" bentak Lie Ai Ling mendadak. "Jangan banyak omong kosong di sini! Cepatlah kalian enyah dari sini!"

"Engkau pasti Lie Ai Ling!" Leng Bin Hoatsu menatapnya tajam. "Engkau jangan kurang ajar jangan cari mati sekarang!"

"Mau bertarung?" tantang Lie Ai Ling.

"Engkau...." Wajah Leng Bin Hoatsu merah padam. "Aku

akan membunuhmu!"

"Tenang!" Pek Bin Kui cepat-cepat memegang tangan Leng Bin Hoatsu sambil bangkit berdiri "Baiklah! Kami mohon diri!"

"Silakan!" sahut Lim Peng Hang.

"Lim Pangcu!" Pek Bin Kui mengingatkan "Jangan lupa tanggal lima belas!"

"Pasti." Lim Peng Hang tertawa gelak. "Tanggal lima belas kami pasti ke sana, memenuh undangan kalian."

"Bagus, bagus!" Leng Bin Hoatsu manggut manggut. "Sampai jumpa!"



Setelah mereka berdua pergi, Lim Peng Hang| Gouw Han Tiong dan lainnya segera berunding

"Beberapa hari lagi sudah tanggal lima belas kita harus bagaimana?" tanya Lim Peng Hang

"Mumpung masih ada waktu, alangkah baik nya kita berlatih," sahut Gouw Han Tiong.

"Benar." Lim Peng Hang manggut-manggulj "Kita memang harus berlatih mempersiapkan di untuk bertarung nanti."

"Tapi...."  Tio  Bun  Yang  mengerutkan  kening  kemudian

memandang Ngo Tok Kauwcu seraya bertanya, "Kakak Ling Cu, engkau tahu kekuatan Seng Hwee Kauw?"

"Tahu." Ngo Tok Kauwcu mengangguk. "Di dalam Seng Hwee Kauw terdapat belasan anggota yang berkepandaian tinggi, termasuk Leng Bin Hoatsu, Pek Bin Kui, Pat Pie Lo Koay dan Tok Chiu Ong. Kini ditambah ketua ninja itu."

"Ketua ninja itu lawanku," ujar Yatsumi.

"Ng!" Ngo Tok Kauwcu mengangguk. "Kita pun harus mengatur suatu cara untuk menghadapi mereka."

"Benar." Lim Peng Hang manggut-manggut. "Oh ya, berapa banyak anggota Seng Hwee Kauw?"

"Seratusan orang." Ngo Tok Kauwcu mem-beiitahukan. "Aku sudah mengatur puluhan anggotaku di sekitar Lembah Kabut Hitam, namun kurang kuat menghadapi para anggota Seng Hwee Kauw yang berjumlah lebih besar itu."

"Kalau begitu..." ujar Lim Peng Hang. "Aku pun harus mengatur seratus anggota Kay Pang untuk ikut serta, agar dapat mengimbangi mereka."

"Benar." Gouw Han Tiong manggut-manggut.

"Begini..." ujar Lim Peng Hang sambil memandang Tio Bun Yang. "Engkau melawan Seng Hwee Sin Kun, aku dan Gouw



Han Tiong me-biwan Leng Bin Hoatsu dan Pek Bin Kui, Ling i u melawan Tok Chiu Ong, sedangkan Ai Ling dan Keng Hauw melawan anggota Seng Hwee Kauw yang berkepandaian tinggi."

"Kok Pat Pie Lo Koay tidak masuk hitungan?” tanya Sie Keng Hauw heran.

"Dia orangku." Ngo Tok Kauwcu memberitahukan. "Tugasnya membebaskan Goat Nio di saat terjadi pertarungan."

"Oooh!" Sie Keng Hauw manggut-manggut.

"Tapi kalian harus berhati-hati." pesan Lim Peng Hang. "Sebab banyak jebakan di sana."

"Jangan khawatir!" Ngo Tok Kauwcu ter senyum. "Pat Pie Lo Koay pasti sudah merusak semua jebakan itu."

"Oh?" Lim Peng Hang menatapnya. "Benar kah itu?"

"Benar." Ngo Tok Kauwcu mengangguk. "Aku sudah mengatur itu, jadi kita tidak usah takul akan jebakan-jebakan di sana lagi."

"Kakak Ling Cu," tanya Tio Bun Yang. "Apa kah Seng Hwee Sin Kun tidak akan mencuriga Pat Pie Lo Koay?"

"Tentu tidak." Ngo Tok Kauwcu tersenyum "Sebab Pat Pie Lo Koay sangat cerdik, bisa me ngelabui mata Seng Hwee Sin Kun."

"Syukurlah!" ucap Tio Bun Yang.

"Nah, mulai hari ini, kita semua harus berlatih Tanggal lima belas kita akan sampai di Lembai Kabut Hitam." ujar Lim Peng Hang.

Sementara itu, Leng Bin Hoatsu dan Pek Bin Kui sudah sampai di markas Seng Hwee Kauw. Mereka lalu melapor kepada Seng Hwee Sin Kun.



"Kauwcu, pihak Kay Pang pasti datang pada tanggal lima belas."

"Bagus! Ha ha ha...!" Seng Hwee Sin Kun tertawa gelak. "Kita habiskan mereka nanti!"

"Yatsumi juga berada di sana. Dia akan bertarung dengan Takara Nichiba." ujar Pek Bin Kui.

"He he he!" Ketua ninja tertawa terkekeh-kekeh. "Dia pasti mati di tanganku. Aku harus membunuhnya."

"Kauwcu...."       Pat         Pie          Lok         Koay      memandangnya               seraya

berkata, "Apakah Kauwcu sudah berpikir masak-masak?"

"Maksudmu?" tanya Seng Hwee Sin Kun sambil mengerutkan kening.

"Seandainya kita dapat membunuh mereka, namun...." Pat

Pie Lo Koay mengingatkan. "Kita masih harus menghadapi pihak Pulau Hong Hoang To!"

"Ha ha ha!" Seng Hwee Sin Kun tertawa gelak. Kalian percayalah, aku sanggup menghadapi Tio Cie Hiong dan lainnya. Tentunya mereka tidak akan mengeroyokku."

"Tapi...." Pat Pie Lo Koay menghela nafas panjang. "Pek Ih

Sin Hiap-Tio Cie Hiong ber-kepandaian tinggi sekali."

"Aku tahu itu." Wajah Seng Hwee Sin Kun tampak serius. "Tapi aku masih sanggup menghadapinya, bahkan aku pun yakin kini kepandaianku berada di atas kepandaiannya."

"Syukurlah kalau begitu!" ucap Pat Pie Lob Koay.

"Jadi kuatur begini..." ujar Seng Hwee SinB Kun. "Terlebih dahulu Takara Nichiba bertarung dengan Yatsumi. Seusai mereka bertarung, aku akan turun tangan bertarung dengan Tio Bui Yang. Di saat itulah kalian harus menyerang yang lain, jangan sampai ada yang lolos."

"Ya, Kauwcu," sahut Leng Bin Hoatsu dan lainnya.



"Setelah kita membunuh mereka, pihak Pulau Hong Hoang To pasti muncul," ujar Seng Hwe Sin Kun melanjutkan. "Kalau mereka mengeroyok diriku, tentunya aku kalah. Namun apabila satt lawan satu, aku pasti menang. Ha ha ha...!"

"Kalau tidak salah...." Pat Pie Lo Koay mem beritahukan.

"Sam Gan Sin Kay, Kim Siauw Su seng, Kou Hun Bijin, Tio Tay Seng dan Tio Ci Hiong berkepandaian tinggi sekali. Seandainya mereka muncul nanti, Kauwcu akan menantang mereka satu lawan satu?"

"Ya." Seng Hwee Sin Kun mengangguk. "Mereka pasti tidak akan mengeroyokku."

"Aku yakin Kauwcu pasti menang," ujar Pek Bin Kui sambil tertawa gelak. "Ha ha ha! Tidak lama lagi kita akan menguasai rimba persilatan

"Ha ha ha! Itu sudah pasti!" Seng Hwee Sin Kun juga tertawa. "Oh ya, mulai sekarang, kalian harus berlatih."

"Ya," sahut Leng Bin Hoatsu dan lainnya. 'Pokoknya kami akan menghabiskan mereka semua."

"Pat Pie Lo Koay!" pesan Seng Hwee Sin Kun. "Engkau harus periksa semua jebakan, apabila perlu, kita akan menjebak mereka! Ha ha ha...!"

"Ya, Kauwcu." Pat Pie Lo Koay mengangguk.

"Oh ya!" Seng Hwee Kauwcu menatapnya. "Di saat kami bertarung, engkau harus ke ruang batu untuk membunuh Goat Nio."

"Ya, Kauwcu." Pat Pie Lo Koay mengangguk lagi. "Agar mereka patah semangat, aku akan membawa kepala Goat Nio diperlihatkan mereka. Aku yakin Tio Bun Yang langsung pingsan, begitu pula yang lain. Nah, bukankah gampang sekali membunuh mereka?"



"Betul. Ha ha ha...!" Seng Hwee Sin Kun tertawa terbahak-bahak. "Idemu sungguh cemerlang! Bagus! Bagus!"

-oo0dw0ooo-


Bagian ke lima puluh

Markas Seng Hwee Kauw musnah

Pada hari yang ditentukan itu, Seng Hwee Si Kun dan lainnya sudah menunggu pihak Kay Pang di Lembah Kabut Hitam. Para anggota berbaris rapi dengan senjata di tangan.

Berselang beberapa saat kemudian, muncul lah pihak Kay Pang. Para anggota Ngo Tok Kau bergabung dengan para anggota Kay Pang. Mereka berbaris rapi dengan berbagai macam senjata di tangan.

"He he he!" Seng Hwee Sin Kun tertawl terkekeh. "Selamat datang! Selamat datang!"

"Selamat bertemu, Seng Hwee Sin Kun!" sahut Tio Bun Yang.

"Anak muda!" Seng Hwee Sin Kun menatapnya tajam. "Kau memang panjang umur. Setahun lalu kalau monyet sialan itu tidak menangkis pukulanku, kau pasti sudah mati."

Ketika Seng Hwee Sin Kun menyinggung monyet bulu putih, timbullah rasa duka dalam hati Tio Bun Yang.

"Seng Hwee Sin Kun!" sahutnya sunggul sungguh. "Kalau kau mau membebaskan Goat Nio, aku pasti melepaskanmu."

"Ha ha ha!" Seng Hwee Sin Kun tertawa terbahak-bahak. "Aku akan membebaskan Goat Nio, namun cuma tinggal kepalanya."

"Apa?" Wajah Tio Bun Yang langsung berubah pucat pias. "Engkau... engkau telah membunuhnya?"



"Sementara ini belum," ujar Seng Hwee Sin Kun. "Tapi sebentar lagi kepalanya akan berpisah dengan tubuhnya."

"Engkau____" Suara Tio Bun Yang bergemetar karena menahan emosi.

"Seng Hwee Sin Kun!" Lim Peng Hang menudingnya. "Bersikaplah gagah, jangan jadi pengecut’

"Tentu, tentu," sahut Seng Hwee Sin Kun sambil tertawa. "Kita tidak perlu berbasa basi lagi, langsung saja bertarung."

"Bagaimana cara kita bertarung?" tanya Lim Peng Hang.

"Terlebih dahulu ketua ninja akan bertarung dengan Yatsumi. Itu urusan mereka berdua, kita tidak perlu turut campur," sahut Seng Hwee Sin Kun.

"Baik." Lim Peng Hang mengangguk.

Bersamaan itu, Takara Nichiba pun berjalan ke tengah. Yatsumi segera melangkah ke hadapannya, lalu menudingnya sambil membentak dengan bahasa Jepang.

Takara Nichiba juga menyahut dengan bahasa Jepang yang tidak dimengerti orang. Setelah itu, ia mengeluarkan pedangnya, Yatsumi mengeluarku sulingnya. Mendadak Takara Nichiba memekik keras, kemudian menyerang Yatsumi.

"Hiyaaat!" Gadis Jepang itu pun mcmekikl sambil berkelit, kemudian mulai balas menyerang! dengan ilmu Giok Siauw Bit Ciat Kang Khi.

Serangan balasan itu membuat ketua ninja terkejut bukan main. Tiba-tiba ia bersiul panjangi dan seketika juga sekujur badannya mengeluarkan asap. Terjadilah suatu keanehan, karena ketua ninja itu mendadak menghilang. Itulah ilmu istimewa kaum ninja Jepang. Terbelalaklah yanb menyaksikan itu.

Sementara Yatsumi tetap berdiri di tempat! Ternyata Tio Cie Hiong telah memberi petunjuk kepadanya cara



menghadapi ilmu istimewa itu! Oleh karena itu, Yatsumi sama sekali tidak gugup. Ia berdiri tenang di tempat, namun terus pasang telinga.

Sekonyong-konyong Takara Nichiba muncul di belakangnya sambil mengayunkan pedangnya Yatsumi sudah menangkap suara itu, dan tanpa melihat ia langsung mengayunkan sulingnya ke belakang untuk menangkis pedang lawan.

Trang! Terdengar suara benturan.

Takara Nichiba terhuyung-huyung ke belakang beberapa langkah, begitu pula Yatsumi. DI saat terjadi benturan, ketua ninja itu tampak tersentak.

"Hiyaaaat!" pekik Yatsumi sambil menyerang. Kali ini ia menggunakan Cit Loan Kiam Hoa (Ilmu Pedang Pusing Tujuh Keliling). Tampak Miling di tangan Yatsumi berkelebatan secara kacau balau mengarah ketua ninja itu.

Di saat itulah Takara Nichiba menggunakan ilmu istimewa lagi, yakni ilmu menyusup ke dalam tanah.

Yatsumi tidak terkejut, namun Seng Hwee Sin Kun dan lainnya justru terkejut bukan main, Karena mereka tidak pernah menyaksikan ilmu tersebut.

Tio Bun Yang, Sie Keng Hauw. Lie Ai Ling ilan Ngo Tok Kauwcu juga tidak pernah menyaksikan ilmu itu, tapi pernah mendengarnya. Namun mereka pun tampak terkejut.

Sementara Yatsumi berdiri di tempat, tampak tenang sekali. Mendadak permukaan tanah dibelakang Yatsumi tampak bergerak-gerak menuju kearah gadis Jepang itu, sepertinya ada sesuatu di dalam tanah.

Sekonyong-konyong Takara Nichiba muncul dan dalam tanah, sekaligus menyerang Yatsumi dari belakang.

Kalau pendengaran gadis Jepang itu belum terlatih, ia pasti mati terserang pedang Takara Nichiba. Akan tetapi, Tio Cie



Hiong telah melatih pendengarannya guna menghadapi ketua ninja itu.

Seng Hwee Sin Kun dan lainnya yakin bahwa gadis Jepang itu pasti mati di bawah pedang Takara Nichiba. Namun di saat ujung pedang Takara Nichiba hampir mengenai leher Yatsumi pada waktu bersamaan badan gadis Jepang itu bergerak secepat kilat, berkelebat ke belakang ketua ninja.

"Plaaak! Punggung Takara Nichiba terpukul suling Yatsumi.

"Aaakh...!" jerit ketua ninja itu. Badannya terpental beberapa depa dan mulutnya menyemburkan darah segar.

"Uaaaakh...!"

Ternyata Yatsumi menggunakan Kiu Kiong San Tian Pou (Ilmu Langkah Kilat) untuk berkelit ke belakang Takara Nichiba, sekaligus menyerangnya dengan jurus Kiam Im Ap San (Bayanga Pedang Menekan Gunung). Maka, tanpa ampun lagi punggung ketua ninja itu terhajar suling Yatsumi.

Di saat Takara Nichiba terpental, gadis Jepang itu tidak menyia-nyiakan kesempatan. Tampak badannya bergerak laksana kilat ke arah ketua ninja, sekaligus menyerangnya.

Takara Nichiba sudah terluka parah, bagaimana mungkin ia dapat berkelit maupun menangkis? Akan tetapi, ketua ninja itu tetap berusaha berkelit. Walau ia berusaha berkelit, suling itu tetap menghajar kepalanya.

Plaaak!

"Aaakh...!" jerit Takara Nichiba. Ia terkulai kemudian menatap Yatsumi dengan mata melotot "Engkau... engkau...."

Gadis Jepang itu memandangnya dingin. Berselang sesaat kepala Takara Nichiba terkulai, dan putuslah nafasnya.

Yatsumi melangkah ke belakang dengan mata basah. Ia telah berhasil membalas dendam kedua orang tuanya.



"He he he!" Seng Hwee Sin Kun tertawa terkekeh. "Yatsumi berhasil membunuh Takara Nichiba, kini giliranku maju! Nah, siapa yang akan maju melawanku?"

"Aku!" sahut Tio Bun Yang sambil menghampirinya.

"Bagus, bagus!" Seng Hwee Sin Kun. "Ha ha ha! Hari ini kau pasti mampus!"

"Seng Hwee Sin Kun!" ujar Tio Bun Yang. "Asal kau bersedia membebaskan Goat Nio, aku bersedia melepaskanmu!"

"Ajalmu sudah dekat, kenapa masih banyak cincong!" sahut Seng Hwee Sin Kun, kemudian mendadak menyerangnya.

Tio Bun Yang mengelak. Setelah diserang terus-menerus barulah Tio Bun Yang balas menyerang. Mereka mulai bertarung dengan sengit. Belasan jurus telah lewat dan tiba-tiba Seng Hwee Sin Kun berhenti menyerang.

Ia berdiri tegak di tempat. Tio Bun Yang juga berdiri tegak di hadapannya. Ternyata Seng Hwee Sin Kun mulai mengerahkan Seng Hwee Sin Kang.

Menyaksikan itu, Tio Bun Yang segera mengerahkan Kan Kun Taylo Im Kang. Bukan main Sepasang telapak tangan Seng Hwee Sin Kun berubah kehijau-hijauan, begitu pula mukanya bahkan badannya juga mengeluarkan hawa panas

Sedangkan sepasang telapak tangan dan muka Tio Bun Yang berubah putih bagaikan salju dan sekujur badannya mengeluarkan hawa dingin. D saat itu, mendadak Leng Bin Hoatsu berseru.

"Serang mereka!"

Para anggota Seng Hwee Kauw langsung menyerang para anggota Kay Pang dan Ngo Tol Kauw. Leng Bin Hoatsu menyerang Lim Pen Hang, Pek Bin Kui menyerang Gouw Han Tionj Tok Chiu Ong menyerang Ngo Tok Kauwcu beberapa



anggota Seng Hwee Kauw yang berkepandaian tinggi menyerang Lie Ai Ling dan Si Keng Hauw. Terjadilah pertarungan yang amat seru dan sengit. Pat Pie Lo Koay tidak turun bertarung, melainkan berlari memasuki lembah itu.

"He he he!" Seng Hwee Sin Kun tertawa terkekeh-kekeh. "Tio Bun Yang, kau pasti mampus hari ini!"

"Seng Hwee Sin Kun, lebih baik engkau membebaskan Goat Nio!"

"He he he!" Seng Hwee Sin Kun tertawa terkekeh-kekeh lagi. "Sebentar lagi kau akan melihat kepalanya! He he he...!"

"Seng Hwee Sin Kun!" Betapa terkejutnya Tio Bun Yang. "Engkau...."

"Aku sudah menyuruh seseorang pergi membunuhnya!" Seng Hwee Sin Kun memberitahukan, "Orang itu akan memenggal kepala Goat Nio, lalu membawanya ke mari untuk diperlihatkan kepadamu! He he he...!"

"Seng Hwee Sin Kun!" Betapa cemasnya hati Tio Bun Yang.

Di saat itulah Seng Hwee Sin Kun mulai menyerangnya. Tio Bun Yang segera berkelit dengan ilmu Kiu Kiong San Tian Pou.

"He he he!" Seng Hwee Sin Kun tertawa. ”Aku punya cara menghadapi ilmu Langkah itu, sebab aku telah menciptakan Ngo Heng Pou (Ilmu Langkah Lima Elemen) guna menghadapi ilmu Langkahmu itu! He he he...!"

Sementara pertarungan antara Lim Peng Hang dengan Leng Bin Hoatsu semakin seru. Lewat puluhan jurus kemudian, Leng Bin Hoatsu mulai berada di bawah angin karena Lim Peng Hang menyerangnya dengan Tah Kauw Kun Hoat (Ilmu Tongkat Pemukul Anjing), yaitu ilmu andalan Lim Peng Hang.



Betapa lihay dan dahsyatnya ilmu tongkat tersebut, maka tidak heran kalau ketua Kay Pang itu memperoleh julukan Si Tongkat Maut.

"Aaaakh...!" Mendadak Leng Bin Hoatsu menjerit Ternyata punggungnya terhajar tongkat Lim Peng Hang.

Itu membuat Leng Bin Hoatsu makin bernafsu membunuh Lim Peng Hang. Maka ia jadi nekat menyerangnya tanpa menghiraukan keselamatan dirinya sendiri.

Lim Peng Hang terpaksa menyurut mundur dan mendadak ia bersiul panjang sekaligus balas menyerang. Kali ini ketua Kay Pang menggunakan Sam Ciat Kun Hoat (Tiga Jurus Tongkat Maut)

Tongkatnya berkelebatan mengarah ke Leng Bin Hoatsu, sehingga membuat Leng Bin Hoatsu terdesak. Ternyata Lim Peng Hang mengeluarkan jurus Hoan Thian Cai Goat (Membalikkan Langj Memetik Bulan).

Trang! terdengar suara benturan.

Walau sudah terluka, namun Leng Bin Hoatsi masih dapat menangkis serangan itu. Di saa bersamaan, Lim Peng Hang menyerangnya lagi dengan jurus Liak San Cien Hai (Memecahkai Gunung Memindahkan Laut), yakni jurus yang paling lihay dan dahsyat dari Sam Ciat Kun Hoal

Tongkat Lim Peng Hang berkelebatan sehingga mengeluarkan suara menderu-deru. Kali ini Leng Bin Hoatsu tidak mampu berkelit maupun menangkis lagi, sehingga dadanya terhajar ujung tongkat Lim Peng Hang.

"Uaaaakh...!" Mulut Leng Bin Hoatsu memuntahkan darah segar dan tubuhnya terpental beberapa depa. Ia mendekap dadanya sendiri kemudian roboh dan nafasnya putus seketika.

Sementara Gouw Han Tiong juga telah berhasil membunuh Pek Bin Kui. Tok Chiu Ong juga sudah mati terkena racun Ngo Tok Kauwcu. Sedangkan Lie Ai Ling dan Sie Keng Hauw juga



telah berhasil membunuh para anggota Seng Hwee kauw yang berkepandaian tinggi. Kini mereka dengan tegang sekali menyaksikan pertarungan Seng Hwee Sin Kun yang terus-menerus menyela ng Tio Bun Yang.

Pemuda itu tampak terdesak. Hal itu dikarenakan pikirannya sedang menerawang. Betapa girangnya Seng Hwee Sin Kun, yang terus menyerangnya dengan hebat.

"He he he!" Seng Hwee Sin Kun tertawa dan berkata memecahkan perhatian Tio Bun Yang. 'Orangku itu pasti sudah memenggal kepala Goat Nio! He he he...!"

"Seng Hwee Sin Kun!" Perhatian Tio Bun Yang betul-betul tidak bisa dipusatkan, sehingga punggungnya nyaris terkena pukulan lawan.

"Adik Bun Yang! Engkau harus tenang! Orang yang dimaksudkan itu adalah Pat Pie Lo Koay, dia pergi menolong Goat Nio!" seru Ngo Tok kauwcu

Suara seruan itu membuat Tio Bun Yang lu i semangat, namun justru membuat Seng Hwee Sin kun terkejut bukan kepalang karena melihat Leng Bin Hoatsu dan lainnya sudah jadi mayat.

"Hari ini kalian semua harus mampus!" bentak Seng Hwee Sin Kun sambil menyerang Tio Bu Yang, sekaligus mengerahkan Seng Hwee Sin Kang sampai pada puncaknya.

Tio Bun Yang tahu, maka ia juga mengerahkan Kan Kun Taylo Im Kang sampai pada puncaknya pula.

Seng Hwee Sin Kun menyerangnya dengan jurus Seng Hwee Sauh Thian (Api Suci Membaka Langit). Berkelebat-kelebatlah cahaya kehijau-hijauan mengarah pada Tio Bun Yang, bahkan juga mengandung hawa yang panas sekali.

Tio Bun Yang sama sekali tidak gugup. Ia segera menangkis dengan mengeluarkan jurus Kan Kun Taylo Bu Pien



(Alam Semesta Tiada Batas) Tampak cahaya seputih salju membendung cahay kehijau-hijauan itu.

Blaaam! Terdengar suara benturan dahsyat.

Seng Hwee Sin Kun terhuyung-huyung ke belakang beberapa langkah, begitu juga Tio Bun Yang. Namun kemudian Seng Hwee Sin Kun mulai menyerang lagi dengan jurus Seng Hwe Jip Te (Api Suci Masuk Ke Bumi).

Tio Bun Yang menangkisnya dengan jurus Kan Kun Taylo Hap It (Segala-galanya Menyatu Di Alam Semesta).

Blaaamm! Terdengar suara benturan yang lebih dahsyat.

Seng Hwee Sin Kun terpental beberapa depa begitu pula Tio Bun Yang. Mereka saling memandang, lalu sama-sama maju lagi. Betapa tegangnya Lim Peng Hang dan lainnya. Mereka menyaksikan pertarungan itu dengan mata tak berkedip sambil menahan nafas.

Seng Hwee Sin Kun membentak keras menyerang Tio Bun Yang dengan jurus Thian Te leng Hwee (Api Suci Langit Bumi), sedangkan Tio Bun Yang menangkis dengan jurus Kan Kun Taylo Kwi Gong (Segala-galanya Kembali Ke Alam Semesta).

Daaar! Blaaammm...! Suara benturan dahsyat kedua lweekang itu, disusul pula suara jeritan Seng Hwee Sin Kun.

"Aaaakh...!" Badan Seng Hwee Sin Kun terkulai belasan depa. Begitu pula Tio Bun Yang, bahkan pakaiannya sudah hangus.

"Bun      Yang...."               Lim         Peng      Hang      melesat                kearahnya.

"Bagaimana engkau? Terluka parahkah?"

Tio Bun Yang menggelengkan kepala sambil menarik nafas dalam-dalam. Kemudian barulah menjawab.

"Aku tidak apa-apa, Kakek."



"Syukurlah!" Lim Peng Hang menarik nafas lega

Sementara Seng Hwee Sin Kun yang terpental itu sudah terkulai. Sekujur badannya menggigil dan mulutnya mengeluarkan darah segar. Ternyata ia telah terluka dalam yang sangat parah.

Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala, kemudian menghampirinya dengan maksud ingin memeriksa lukanya.

Akan tetapi, di saat Tio Bun Yang melangkah mendekatinya, tiba-tiba melayang turun lima sosok bayangan putih. Ternyata lima orang berpakaian serba putih, dan memakai kedok setan warna hijau.

"Haaah...!" Bukan main terkejutnya Lim Peng Hang, serunya tak tertahan. "Kui Bin Pang...!"

Kelima orang itu tidak mengucapkan sepatah katapun, langsung membopong Seng Hwee Sin Kun lalu melesat pergi.

Lim Peng Hang dan lainnya terheran-heran menyaksikannya, karena kemunculan kelima orang itu begitu mendadak, begitu pula perginya.

Tio Bun Yang berdiri diam di tempat, sama sekali tidak mencegah mereka. Hal itu membuat Lie Ai Ling penasaran sekali.

"Kakak Bun Yang! Kenapa kau biarkan mereka pergi?"

"Adik Ai Ling..." sahut Tio Bun Yang sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Mereka berlima tidak menggangguku, maka aku pun tidak boleh menimbulkan masalah lain."

"Tapi mereka membawa kabur Seng Hwel Sin Kun," ujar Lie Ai Ling dengan wajah tidal senang.

"Biarlah mereka membawanya pergi, scsungguhnya aku pun tidak berniat membunuhnya," ujar Tio Bun Yang.



"Apakah Kakak Bun Yang lupa bahwa Seng Hwee Sin Kun yang membunuh kauw heng?"

"Adik Ai Ling!" Tio Bun Yang memberitahukan. "Seng Hwee Sin Kun sudah terluka parah, kemungkinan besar dia tidak akan bisa hidup lama lagi."

"Oooh!" Lie Ai Ling manggut-manggut. "Pantas engkau membiarkannya dibawa pergi oleh kelima orang Kui Bin Pang itu!"

"Ng!" Tio Bun Yang mengangguk.

Sementara pertarungan para anggota Seng Hwee Kauw dengan para anggota Kay Pang dan para anggota Ngo Tok Kauw pun sudah berhenti. Banyak sekali para anggota Seng Hwee Kauw yang mati dan terluka, sisanya pada kabur semua.

Tiba-tiba muncul Pat Pie Lo Koay menuntun seorang gadis ke tempat itu. Siapa gadis itu? Tidak lain Siang Koan Goat Nio. Wajahnya tampak pucat pias tapi berseri ketika melihat Tio Bun Yang

"Kakak Bun Yang...!" serunya lemah.

"Goat Nio! Goat Nio...." Tio Bun Yang berlari kearahnya.

"Goat Nio...."

"Kakak Bun Yang...." Siang Koan Goat Nio mendekap di

dada Tio Bun Yang sambil menangis terisak-isak. "Kakak Bun Yang, aku... kukira kita tidak bisa berjumpa lagi."

"Goat    Nio...."  Tio          Bun        Yang      memeluknya     erat-erat,

kemudian membelainya seraya berkata lembut. "Jangan menangis, aku sudah berada di hadapanmu!"

"Kakak Bun Yang, kita harus berterimakasihl kepada Pat Pie Lo Koay." Siang Koan Goat Nio memberitahukan. "Kalau tidak ada paman tua itu, mungkin aku sudah dibunuh."



"Ooooh!" Tio Bun Yang manggut-manggut, kemudian memberi hormat kepada Pat Pie Lo Koay. "Terimakasih, Paman."

"Ha ha ha!" Pat Pie Lo Koay tertawa gelak "Jangan sungkan! Engkau yang menyembuhkanl wajah Ling Cu, maka aku pun harus membantumu."

"Tapi Paman yang menyelamatkan Goat Nio!” Tio Bun Yang memberi hormat lagi kepada Pai Pie Lo Koay.

"Ha ha ha!" Pat Pie Lo Koay tertawa gelak sambil menggeleng-gelengkan kepala dan berkala "Engkau memang pemuda baik, aku kagum dari salut kepadamu."

"Pat Pie Lo Koay!" Lim Peng Hang mendekatinya sambil tertawa. "Terimakasih atas bantuanmu!"

"Lim Pangcu!" Pat Pie Lo Koay menghela nafas panjang. "Aku berhutang budi kepada Tu Hun Lojin, lagi pula Tio Bun Yang yang menyembuhkan wajah Ling Cu. Nah, apakah aku harus tinggal diam?"

"Pat Pie Lo Koay!" Gouw Han Tiong tertawa. "Aku sama sekali tidak menyangka kalau almarhum pernah menolongmu."

"Kalau ayahmu tidak menolongku, tentunya aku sudah mampus dari dulu. Aku sungguh berhutang budi kepadanya."

"Yaah!" Gouw Han Tiong menghela nafas panjang. "Sayang sekali, ayahku sudah tiada!"

"Oh ya!" Pat Pie Lo Koay teringat sesuatu, "kita harus segera meninggalkan tempat ini, karena sebentar lagi akan terjadi ledakan dahsyat."

"Paman telah memasang obat peledak di markas Seng Hwee Kauw?" tanya Ngo Tok Kauwcu.

"Ya." Pat Pie Lo Koay mengangguk. "Sesuai dengan rencana kita."



"Kalau begitu, mari kita cepat meninggalkan tempat ini!" seru Ngo Tok Kauwcu.

Segeralah mereka meninggalkan Lembah Kabut Hitam. Tak seberapa lama kemudian, terdengarlah suara ledakan dahsyat. Tampak asap membumbung tinggi, dan api pun mulai berkobar-kobar melalap markas Seng Hwee Kauw.

"Ha ha ha!" Pat Pie Lo Koay tertawa gembira. Mulai sekarang Seng Hwee Kauw sudah musnah!"

"Seng Hwee Kauw memang sudah musnah, tapi...." Lim

Peng Hang menggeleng-gelengkan kepala.

"Ada apa, Lim Pangcu?" tanya Pat Pie Lo Koay heran.

"Seng Hwee Sin Kun dibawa kabur oleh lima orang berpakaian serba putih yang memakai kedok setan warna kuning...." Lim Peng Hang memberitahukan.

"Haaah...!" Air muka Pat Pie Lo Koay berubah hebat. "Kui Bin Pang...."

"Paman tahu tentang Kui Bin Pang?" tanya Ngo Tok Kauwcu sambil memandangnya.

"Aaaah...!" Pat Pie Lo Koay menghela nafas panjang. "Aku pernah dengar dari guruku tentang Kui Bin Pang. Namun perkumpulan muka setan itu cuma bergerak di sekitar gurun Sih Ih. Lagi pula sudah hampir seratus tahun tiada kabar beritanya. Bagaimana Kui Bin Pang itu bisa muncul di Tionggoan?"

"Pat Pie Lo Koay!" sela Lim Peng Hang. "Mari kita bicara di markas saja!"

"Baik." Pat Pie Lo Koay mengangguk, kemudian mereka semua berangkat ke markas pusa Kay Pang. Seharusnya mereka bergembira atas kemenangan itu, namun mereka malah tampak tercekam, dikarenakan kemunculan lima orang Kui Bin Pang yang membawa kabur Seng Hwo Sin Kun.



-ooo0dw0ooo-

Lim Peng Hang, Gouw Han Tiong dan lainnya duduk dengan wajah serius di ruang depan markas pusat Kay Pang. Berselang beberapa saat, barulah Lim Peng Hang membuka mulut.

"Kelihatannya lima orang Kui Bin Pang itu bermaksud menolong Seng Hwee Sin Kun. Mungkinkah Seng Hwee Sin Kun punya hubungan dengan Kui Bin Pang?"

"Menurut aku tidak," sahut Gouw Han Tiong. "Kalau Seng Hwee Sin Kun punya hubungan dengan Kui Bin Pang, tentunya kita akan berhadapan dengan Kui Bin Pang pula, bukan?"

Lim Peng Hang manggut-manggut. "Kalau begitu, apa maksud pihak Kui Bin Pang menolong Seng Hwee Sin Kun?"

"Mungkin...," ujar Gouw Han Tiong setelah berpikir sejenak. "... ketua Kui Bin Pang berniat menarik Seng Hwee Sin Kun menjadi anggotanya."

"Itu memang mungkin." Lim Peng Hang mengangguk. "Maka ketua Kui Bin Pang mengutus kelima orang itu menolong Seng Hwee Sin Kun."

"Mungkin dan tak mungkin," ujar Pat Pie Lo Koay mendadak. "Guruku pernah bilang, ketua Kui Bin Pang memiliki semacam ilmu sesat yang dapat mengendalikan pikiran orang. Oleh karena itu aku yakin ketua Kui Bin Pang itu punya maksud tertentu terhadap Seng Hwee Sin Kun."

"Maksud Paman ketua Kui Bin Pang akan mengendalikan pikiran Seng Hwee Sin Kun?” tanya Ngo Tok Kauwcu dengan kening berkerut

"Ya." Pat Pie Lo Koay manggut-manggut kemudian menghela nafas panjang. "Kini Seng Hwee Kauw telah musnah, tapi malah muncul Kui Bin Pang yang amat menakutkan itu."



"Menakutkan?" Ngo Tok Kauwcu tersentak "Kenapa menakutkan?"

"Sangat sadis, tidak pernah memberi ampun kepada siapa pun." Pat Pie Lo Koay memberitahukan. "Kelihatannya rimba persilatan akan dilanda banjir darah."

"Paman!" Ngo Tok Kauwcu mengerutkan kening. "Mungkinkah ketua itu adalah ketua yang lama?"

"Tidak mungkin." Pat Pie Lo Koay menggelengkan kepala. "Aku yakin ketua sekarang itu adalah ketua baru."

"Heran?" gumam Ngo Tok Kauwcu. "Sebetulnya siapa ketua baru itu?"

"Sudahlah Ling Cu!" ujar Pat Pie Lo Koay sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Tidak usah memikirkan itu, kita harus cepat-cepat pulang ke markas."

"Ya, Paman." Ngo Tok Kauwcu menganggut lalu berpamit. "Maaf, kami mau mohon diri pulang ke markas."

"Kok begitu cepat pulang, Kakak Ling Cu?” Tio Bun Yang ingin menahannya.

"Adik Bun Yang!" Ngo Tok Kauwcu tersenyum. "Kelak kita pasti berjumpa lagi, sampai berjumpa semua!"

Ngo Tok Kauwcu memberi hormat kepada Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong lalu melangkah pergi. Pat Pie Lo Koay pun memberi hormat kepada mereka, kemudian segera menyusul Ngo Tok Kauwcu.

Lim Peng Hang, Gouw Han Tiong, Tio Bun Yang dan Siang Koan Goat Nio mengantar mereka sampai di luar markas. Setelah mereka berdua melesat pergi, barulah Lim Peng Hang dan lainnya kembali ke markas.

-oo0dw0oo-



Jilid 11

"Yatsumi!" Lim Peng Hang memandangnya sambil duduk. "Engkau telah berhasil membunuh ketua ninja itu, lalu apa rencanamu selanjutnya?"

"Kakek Lim," jawab Yatsumi. "Aku akan segera pulang ke Jepang."

"Ngmmm!" Lim Peng Hang manggut-manggut. "Engkau berasal dari Jepang, tentunya harus pulang ke Jepang."

"Aku...."               Sepasang             mata      Yatsumi                bersimbah          air.          "Aku

sangat berterimakasih kepada Kakek Lim, Kakek Gouw dan lainnya."

"Yatsumi," sela Lie Ai Ling sambil tertawa. "Jangan berkata begitu. Hubungan kita sudah bagaikan kakak beradik."

"Betul," sambung Siang Koan Goat Nio dengan wajah berseri. "Kita boleh dikatakan bagaikan kakak beradik."

"Aku...."  Yatsumi  terharu  sekali,  sehingga  membuatnya

menangis-terisak. "Aku...."

"Yatsumi!" Lie Ai Ling menatapnya dalam-dalam. "Engkau harus yakin dan percaya diri. Begitu engkau tiba di Jepang, harus memberanikan diri menemui orang tua pemuda itu."

"Ai Ling...." Wajah Yatsumi kemerah-merahan.

"Eeeeh?" Lim Peng Hang tertawa gelak. "Kini kalian membicarakan urusan pribadi, maka alangkah baiknya kalian ke halaman belakang saja."

"Betul," sahut Lie Ai Ling sambil tertawa! "Ayoh, mari kita ke halaman belakang!"

Gadis itu langsung menarik Sie Keng Hauw ke belakang. Tio Bun Yang, Siang Koan Goat Nio dan Yatsumi mengikuti mereka dari belakang.'



"Hi hi hi!" Lie Ai Ling tertawa setelah berada di halaman belakang. "Aku gembira sekali."

"Ai Ling!" Sie Keng Hauw menatapnya heran. "Kenapa engkau gembira?"

"Apakah engkau tidak merasa gembira?" Lie Ai Ling balik bertanya. "Kini Kakak Bun Yang sudah berkumpul kembali dengan Goat Nio."

"Betul." Sie Keng Hauw manggut-manggut. "Kita harus mengucapkan selamat kepada mereka berdua."

"Terimakasih, terimakasih..." sahut Tio Bun Yang sambil tertawa gembira. "Terimakasih...."

"Aaaah...." Mendadak Yatsumi menghela nafas panjang.

"Yatsumi," ujar Tio Bun Yang. "Percayalah' orang tua pemuda itu pasti merestui kalian, aku yakin itu."

"Mudah-mudahan!" sahut Yatsumi. "Kalau aku menikah dengan pemuda itu, aku dan dia pasti ke mari mengunjungi kalian."

"Nah!" seru Lie Ai Ling. "Jangan ingkar janji Hio!"

"Aku tidak akan ingkar janji. Percayalah padaku!" Yatsumi tersenyum. "Aku pasti ke mari mengunjungi kalian."

Beberapa hari kemudian, Yatsumi bertolak ke Jepang. Sedangkan Tio Bun Yang, Siang Koan lioat Nio, Sie Keng Hauw dan Lie Ai Ling berangkat ke Pulau Hong Hoang To.

-ooo0dw0ooo-


Bagian ke lima puluh satu

Markas Kui Bin Pang

Tentang musnahnya markas Seng Hwee Kauw, telah tersiar luas dalam rimba persilatan. Setelah mendengar berita



tersebut, para ketua tujuh partai besar segera berangkat ke markas pusat Kay Pang.

"Lim Pangcu," ujar Hui Khong Taysu ketua Siauw Lim Pay. "Kami ke mari memberi selamai kepadamu."

"Ha ha ha!" Lim Peng Hang tertawa gelak "Taysu dan para ketua lain, silakan duduk!"

Mereka duduk, beberapa anggota Kay Pang segera menyuguhkan teh. Seusai meneguk teh, Hui Khong Taysu berkata,

"Lim Pangcu, partaimu sangat berjasa bagi rimba persilatan, karena telah menumpas Seni Hwee Kauw."

"Sesungguhnya...." Lim Peng Hang menggeleng-gelengkan

kepala. "Bukan Kay Pang yang berjasa dalam hal ini, melainkan Tio Bun Yang, Ngo Tok Kauwcu, Sie Keng Hauw, Lie Ai Linj dan Pat Pie Lo Koay."

"Tapi kalau tidak ada Kay Pang, belum tentu mereka dapat menumpas Seng Hwee Kauw," ujar It Hian Tojin ketua Butong Pay

"Yang jelas mereka yang berjasa," tandas Lini Peng Hang. "Tapi...."

"Kenapa?" tanya Wie Hian Cinjin, ketua Kun Lun Pay. "Apakah masih ada masalah lain?"

"Apakah kalian pernah mendengar tentang Kui Bin Pang?" Lim Peng Hang balik bertanya mendadak sambil memandang para ketua itu.

Mereka saling memandang, namun air muka Hui Khong Taysu berubah hebat begitu Lim Peng Hang mengajukan pertanyaan tersebut.

"Kui Bin Pang...?" gumamnya.



"Ya." Lim Peng Hang mengangguk. "Taysu pernah mendengar tentang perkumpulan itu?"

"Guruku pernah memberitahukan tentang Kui Rin Pang yang misteri itu, kenapa Lim Pangcu bertanya tentang itu?"

"Sebab...."          Lim         Pangcu menggeleng-gelengkan                kepala.

"Seng Hwee Sin Kun terluka parah oleh pukulan Tio Bun Yang, namun mendadak muncul lima orang berpakaian serba putih memakai kedok setan membawanya kabur."

"Haah?" Bukan main terkejutnya Hui Khong Taysu. "Omitohud!"

"Taysu!" It Hian Tojin menatapnya. "Beritahu-kanlah tentang Kui Bin Pang!"

"Omitohud!" Hui Khong Taysu menghela nafas panjang. "Sudah hampir seratus tahun Kui Bin Pang tiada kabar beritanya, namun kini malah muncul di Tionggoan. Guruku pernah melihat Kui Hin Pang di daerah gurun Sih Ih. Pada waktu itu Kui Bin Pang sedang membantai suatu suku di daerah gurun Sih Ih. Guruku segera turun tangan menolong suku itu, namun ketua Kui Bin Pang berhasil mengalahkan guruku."

"Oh?" Lim Peng Hang terbelalak. "Begitu imggi kepandaian ketua Kui Bin Pang itu?"

"Omitohud!" sahut Hui Khong Taysu. "Memang tinggi sekali kepandaian ketua Kui Bin Pang ituu. Gurukupun memberitahukan, bahwa Kui Bin Pang cuma bergerak di daerah Sih Ih, tidak memasuki daerah Tionggoan. Tapi kini...."

"Aaaah...!" Lim Peng Hang menghela nafas panjang. "Kini Kui Bin Pang telah memasuki daerah Tionggoan, bahkan menolong Seng Hwee Sin Kun."

"Omitohud!" Hui Khong Taysu menggeleng-gelengkan kepala. "Kalau begitu, tidak lama lagi rimba persilatan akan dilanda banjir darah."



"Siapa ketua Kui Bin Pang itu?" tanya Pek Bie Lojin, ketua Swat San Pay.

"Tidak tahu," sahut Lim Peng Hang dan menambahkan, "Mereka semua memakai kedok setan dan berpakaian serba putih."

"Yaaah!" Hui Liong Sin Kiam, ketua Hwa San Pay menghela nafas panjang. "Seng Hwee Kauw telah ditumpas, tapi muncul lagi Kui Bin Pang!"

"Omitohud!" ucap Hui Khong Taysu. "Kui Bin Pang lebih ganas dan sadis dibandingkan dengan Seng Hwee Kauw, kini kaum rimba persilatan dalam bencana."

"Oh ya!" Beng Leng Tojin, ketua Khong Tong Pay memandang Lim Peng Hang seraya bertanytil "Di mana Tio Bun Yang?"

"Cucuku dan lainnya sudah pulang ke Pulau Hong Hoang To," jawab Lim Peng Hang melanjutkan. "Tentang Kui Bin Pang, dia pasti memberitahukan kepada Tio Cie Hiong."

"Kalau Kui Bin Pang mengganas di rimba persilatan, apakah pihak Pulau Hong Hoang To akan turun tangan menumpas mereka?" tanya It Nian Tojin, ketua Butong Pay.

"Itu bagaimana nanti saja." jawab Lim Peng liang.

"Apabila Kui Bin Pang berani mengusik pihak Pulau Hong Hoang To, sudah barang tentu pihak Pulau Hong Hoang To akan turun langan menumpasnya," ujar Gouw Han Tiong MJiigguh-sungguh.

"Omitohud...!" ucap Hui Khong Taysu. "Kapan rimba persilatan akan tenang aman dan damai? Omitohud...!"

-oo0dw0ooo-

Mo Kui San (Gunung Setan Iblis) terletak di sebelah utara Tionggoan. Gunung tersebut tidak pernah dijamah manusia sebab sangat seram sekali. Konon gunung itu merupakan



tempat bermukimnya para setan iblis, oleh karena itu, tiada seorang pun berani memasukinya.

Akan tetapi, sungguh mengherankan. Di puncak gunung itu justru tampak sebuah bangunan yang sangat besar, sepertinya belum lama dibangun.

Tidak salah. Bangunan megah itu memang belum lama dibangun, itu adalah markas Kui Bi Pang.

Di ruang tengah markas itu tampak belasan orang berkumpul di situ. Yang memakai kedok setan warna merah adalah ketua Kui Bin Pan duduk di kursi batu yang mengkilap, yang memakai kedok setan warna kuning adalah Dua Pelindung. Lima Setan Algojo memakai kedok setan warna hijau, sedangkan para anggota berkepandaian tinggi memakai kedok setan warna putih.

"Ha ha ha!" Ketua Kui Bin Pang tertawa terbahak-bahak. "Ngo Sat Kui (Lima Setan Algojo), kalian berlima berhasil menolong kabur Seng Hwee Sin Kun, pertanda kalian berlima telal berjasa!"

"Terimakasih, Ketua," ucap Toa Sat Kui (Setan Algojo Tertua).

"Maaf, Ketua," ucap salah seorang pelindung dan bertanya. "Kenapa Ketua perintahkan Ngo Sat Kui menolong Seng Hwee Sin Kun?"

"Ha ha ha?" Ketua Kui Bin Pang tertawa gelak. "Tentunya aku punya suatu rencana. H; ha ha...!"

"Bolehkah kami tahu mengenai rencana Ke tua?" tanya Toa Sat Kui.

"Boleh," sahut ketua Kui Bin Pang. "Aku akan menyembuhkan lukanya, sekaligus menggunakan ilmu hitamku untuk mengendalikan pikirannya."



"Oooh!" Toa Sat Kui manggut-manggut. "Ketua ingin mengendalikan pikirannya untuk membunuh orang?"

"Ya." Ketua Kui Bin Pang mengangguk. "Aku akan menyuruhnya membunuh orang-orang tertentu, bahkan juga akan menyuruhnya membuat gila para ketua tujuh partai besar. Setelah itu, barulah kita menguasai rimba persilatan. Otomatis pihak Pulau Hong Hoang To akan muncul .

"Rencana yang bagus," ujar Toa Sat Kui sambil tertawa. "Ketua memang berotak cemerlang."

"Ketua," tanya salah seorang pelindung. "Kenapa kita tidak menyerbu ke Pulau Hong Hoang Ro?"

"Itu sangat membahayakan kita," sahut ketua Kui Bin Pang. "Sebab kita sama sekali tidak tahu keadaan pulau itu. Maka lebih baik biar mereka tang menyerbu ke mari."

"Seandainya pihak Pulau Hong Hoang To tidak menyerbu ke mari?" tanya Toa Sat Kui.

"Ha ha ha!" Ketua Kui Bin Pang tertawa gelak. Kalau kita membunuh Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong, apakah pihak Pulau Hong Hoang To akan tinggal diam saja?"

"Betul, betul." Toa Sat Kui tertawa gelak.

"Kalian semua harus tahu, pihak Pulau Hong Hoang To adalah musuh kita," ujar ketua Kui Bi Pang. "Karena Tio Po Thian yang memukul ketua lama hingga jatuh ke dalam jurang, maka ki harus membalas dendam itu."

"Tapi...." Salah seorang pelindung menggeleng-gelengkan

kepala. "Kita masih belum menemuka tetua, jadi kita tidak boleh bergerak."

"Dalam tiga bulan ini, kalau kita tidak menemukan tetua, aku akan perintahkan para anggota bergerak dalam rimba persilatan, bahkan Seng Hwee Sin Kun yang dibawah



pengaruhku akan mulai beraksi. Ha ha ha...!" Ketua Kui Bi Pang tertawa terbahak-bahak.

"Ketua," ujar salah seorang pelindung. "Bukankah lebih baik kita menunggu tetua?"

"Aku sudah bilang, apabila dalam tiga bulan ini tetua itu masih belum muncul, maka Kui Bin Pang akan mulai bergerak di rimba persilatan!” sahut ketua Kui Bin Pang. "Para anggota harus mulai membunuh kaum pesilat golongan putih, sedangkan Seng Hwee Sin Kun harus membuat gila para ketua tujuh partai besar, bahkan juga harus membunuh Lim Peng Hang dan Gouw Ha" Tiong. Ha ha ha...!"

"Ide yang bagus," ujar Toa Sat Kui. "Aku yakin pihak Pulau Hong Hoang To pasti muncul. Ht he he!"

"Tio Tay Seng, Tio Cie Hiong dan Tio Bui Yang harus mati di tanganku," ujar ketua Kui Bin Pang sambil mengepaliean tinju. "Terutama Tio Bun Yang, aku akan membunuhnya dengan cara vang paling sadis."

-oo0dw0oo-

Sementara itu, Tio Bun Yang dan lainnya sudah tiba di Pulau Hong Hoang To. Betapa gembiranya Tio Tay Seng, Tio Cie Hiong, Lim Hong Im dan lainnya, terutama Kou Hun Bijin.

"Oooh! Goat Nio, syukurlah engkau sudah pulang bersama Bun Yang!" Kou Hun Bijin memeluk Siang Koan Goat Nio erat-erat.

"Ibu...." Gadis itu menangis terisak-isak.

"Nak!" Kou Hun Bijin membelainya seraya bertanya, "Kenapa engkau menangis? Dan kenapa kulanmu kurus? Apakah Bun Yang menghinamu"

"Kakak Bun Yang sangat menyayangiku. Bagaimana mungkin dia menghinaku? Dia...."



"Kenapa dia?" Kou Hun Bijin menatapnya. 'Apakah dia sudah berbuat begitu atas dirimu?"

"Ibu kok omong sembarangan sih?" Wajah Siang Koan Goat Nio langsung memerah.

"Tapi...."              Kou        Hun        Bijin       mengerutkan    kening, kenapa

badanmu kurus? Pasti ada suatu masalah kan?"

"Ibu!" Siang Koan Goat Nio tertawa kecil "Masalah itu telah lewat."

"Eh?" Kou Hun Bijin terbelalak. "BagaimanJ engkau, tadi menangis sekarang malah tertawa?”

"Bijin," ujar Sam Gan Sin Kay sambil tertawa. "Jangan terus berdiri, duduklah!"

"Tumben!" Kou Hun Bijin tertawa cekikikan. "Hari ini engkau begitu baik terhadapku, jangan-jangan...."

"Ha ha ha!" Sam Gan Sin Kay tertawa lagi "Kita sama-sama tinggal di satu pulau, tentunya harus baik satu sama lain, bukan?"

"Betul. Hi hi hi!" Kou Hun Bijin tertawa nyaring sambil menarik Siang Koan Goat Nio untuk diajak duduk.

"Nak...," panggil Kim Siauw Suseng denga suara rendah.

"Ayah!" sahut Siang Koan Goat Nio sambi tersenyum.

"Nak!" bisik Kim Siauw Suseng. "Syukur engkau sudah pulang bersama Bun Yang, ayah merasa gembira sekali."

"Hei!" seru Sam Gan Sin Kay. Jangan bisik-bisik, bicaralahh terang-terangan!"

"Apa urusanmu?" sahut Kim Siauw Suseng "Aku berbisik-bisik dengan putriku kok."



"Ha ha ha!" Sam Gan Sin Kay tertawa geli kemudian memandang Tio Bun Yang seraya berkata, "Bun Yang, ceritakanlah pengalaman kalian!"

"Sungguh bukan main!" sela Lie Ai Ling mendadak. "Memang bukan main!"

"Apa yang bukan main?" tanya Sam Gan Sin Kay terbelalak. "Apakah engkau sudah bermain-main dengan Keng Hauw, maka terus mengatakan Bukan main'?"

"Kakek  tua         pengemis...."  Wajah      Lie  Ai    Ling  kemerah-

merahan. "Maksudku pengalaman kami bukan main."

"Oh?" Sam Gan Sin Kay tertawa. "Kalau begitu, ceritakanlah yang bukan main itu!"

"Goat Nio ditangkap pihak Seng Hwee Kauw...," tutur Lie Ai Ling tentang semua kejadian itu. ".... akhirnya markas Seng Hwee Kauw diledakkan sampai musnah."

"Bagus, bagus! Ha ha ha!" Sam Gan Sin Kay tertawa gembira. "Kini rimba persilatan Tiong-goan pasti sudah aman."

"Tapi...." Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala.

"Ada apa, Bun Yang?" tanya Tio Cie Hiong sambil menatapnya dengan penuh perhatian.

"Ketika Seng Hwee Sin Kun terluka parah, mendadak muncul lima orang berpakaian serba putih dan memakai kedok setan."

"Haaah?" Air muka Tio Tay Seng langsung berubah hebat. "Kui Bin Pang!"

"Kakek tahu tentang Kui Bin Pang?" tanya Tio Bun Yang.

"Aaaah...!" Tio Tay Seng menghela nafas panjang. "Seng Hwee Kauw telah musnah, tapi kini malah muncul Kui Bin Pang, pertanda rimba persilatan Tionggoan akan dilanda banjir darah lagi!"



"Ayah!" Tio Bun Yang memberitahukan. "Aku sudah tahu jelas mengenai Kui Bin Pang itu."

"Oh?" Tio Cie Hiong tertegun. "Beritahukan-lah!"

"Kini Kui Bin Pang memang sudah berada di Tionggoan. Sasaran mereka adalah kita," ujar Tio Bun Yang. "Karena ketua lama Kui Bin Pane punya dendam dengan majikan lama pulau ini. Karena itu, ketua baru Kui Bin Pang ingin menuntut balas."

"Bun Yang!" Tio Tay Seng tersentak. "Engkau tahu dari siapa tentang itu?"

"Aku bertemu seorang tua, dia yang memberitahukan kepadaku," jawab Tio Bun Yang tanpa menceritakan ciri-ciri orang tua tersebut, sebab Sie Keng Hauw berada di situ.

"Siapa orang tua itu?" tanya Tio Cie Hiong.

"Aku tidak tahu, Ayah," sahut Tio Bun Yang sambil memberi isyarat.

"Oooh!" Tio Cie Hiong manggut-manggut karena sudah tahu akan arti isyarat Tio Bun Yangl

"Aaaah...!" Tio Tay Seng menghela nafas panjang. "Cie Hiong, bukankah aku sudah menuturkan tentang itu?"

"Ya." Tio Cie Hiong mengangguk.

"Tidak apa-apa," ujar Sam Gan Sin Kay. "Kalau mereka berani menyerbu ke mari, kita habisiean saja mereka satu persatu."

"Pengemis bau!" sahut Kim Siauw Suseng. "bagaimana mungkin Kui Bin Pang akan menyerbu ke mari? Mereka tidak tolol lho!"

"Tidak salah," ujar Tio Cie Hiong. "Kui Bin Pang tidak akan menyerbu ke mari, tapi kemungkinan besar akan menyerbu ke markas pusat Kay Pang."



"Haah?" Lim Ceng Im terkejut bukan main. "Kalau begitu, bukankah ayahku dalam bahaya?"

"Itu...." Tio Cie Hiong mengerutkan kening.

"Ibu," ujar Tio Bun Yang. "Sementara ini, Kui Bin Pang tidak akan menyerbu ke markas pusat kay Pang."

"Memangnya kenapa?" tanya Lim Ceng Im heran.

"Karena pihak Kui Bin Pang belum menemukan tetua mereka, maka sementara ini Kui Bin Pang belum bisa bergerak," jawab Tio Bun Yang memberitahukan. "Namun entah bagaimana kelak?"

"Aku yakin...." Tio Cie Hiong mengerutkan kening seraya

berkata, "Tidak lama lagi Kui Bin Pang pasti bergerak dalam rimba persilatan. Sasaran Kui Bin Pang pasti Kay Pang dan tujuh partai besar."

"Benar." Sam Gan Sin Kay manggut-manggu dan melanjutkan, "Kui Bin Pang tidak beran menyerbu ke mari, tapi akan memancing kita ke Tionggoan."

"Tidak salah," sahut Kim Siauw Suseng. "Itu lah tujuan Kui Bin Pang. Namun kalau Kui Bir Pang bertindak begitu, tentunya kita tidak akar tinggal diam."

"Kita semua sudah bersumpah tidak akar mencampuri urusan rimba persilatan. Bagaimana! mungkin kita ke Tionggoan?" Tio Tay Seng menggeleng-gelengkan kepala.

"Tio Tocu!" Sam Gan Sin Kay tertawa. "Itu bukan urusan rimba persilatan, melainkan urusan kita. Karena Kui Bin Pang menuntut balas terhadap kita."

"Memang." Tio Tay Seng manggut-manggut "Ini urusan Pulau Hong Hoang To, tiada sangku pautnya dengan Kay Pang maupun tujuh parta besar...."

"Justru termasuk urusan Kay Pang." potong Sam Gan Sin Kay serius. "Sebab Tio Cie Hiong menantu Lim Peng Hang,



ketua Kay Pang. Sedangkan aku mantan tetua Kay Pang pula. Bahkan sudah sekian lama tinggal di Pulau Hong Hoang To ini. Nah, bukankah diriku termasuk bagian dari Pulau Hong Hoang To?"

"Sama," sahut Kim Siauw Suseng. "Aku pun termasuk bagian dari pulau Hong Hoang To."

"Sama," sela Kou Hun Bijin sambil tertawa cekikian. "Goat Nio adalah calon isteri Bun Yang. berarti kami akan berbesan dengan pihak Pulau Hiong Hoang To ini, bukan? Hi hi hi...!"

"Tidak salah, isteriku," ujar Kim Siauw Suseng sambil tersenyum.

"Begitu mesranya!" goda Sam Gan Sin Kay sambil tertawa gelak. "Ha ha ha!"

"Bagaimana menurut kalian?" tanya Tio Tay Seng mendadak dengan wajah serius sekali.

"Kita      lihat       saja        bagaimana          perkembangan selanjutnya.

Beres kan?" sahut Sam Gan Sin Kay.

"Beres?" Kim Siauw Suseng menggeleng-gelengkan kepala. "Kita semua berada di pulau ini, bagaimana bisa tahu perkembangan di Tiong-l-oan?"

"Kalau ada sesuatu, Peng Hang pasti mengutus orang ke mari memberitahukan kepada kita," »ahut Sam Gan Sin Kay.

"Masalah itu lebih baik kita bicarakan nanti jaja," ujar Tio Tay Seng. "Sekarang Bun Yang tlan lainnya perlu beristirahat dulu."

"Betul." Sam Gan Sin Kay manggut-manggut. "Nah, kalian kaum muda pergilah beristirahat!"

"Ya." Tio Bun Yang dan lainnya mengangguk lalu melangkah ke dalam.



"Goat Nio!" panggil Kou Hun Bijin. "Engkau ke kamar, ibu ingin bicara denganmu."

"Ya." Siang Koan Goat Nio mengangguk lal melangkah ke kamarnya.

Sementara Tio Bun Yang sudah berada dalam kamarnya.

Tak seberapa lama kemudia muncullah Tio Cie Hiong.

"Bun Yang...." Tio Cie Hiong memandangnya "Isyaratmu

tadi...."

"Ayah, aku tidak bisa berterus terang di sana” ujar Tio Bun Yang sambil duduk.

"Kenapa?" Tio Cie Hiong duduk di hadapannya.

"Sebab Sie Keng Hauw berada di situ," jawal Tio Bun Yang melanjutkan. "Orang tua yang kuceritakan tadi itu gurunya!"

"Apa?" Tio Cie Hiong tertegun. "Orang tua yang kau ceritakan itu guru Sie Keng Hauw?"

"Ya." Tio Bun Yang mengangguk. "Orang tua pincang itu berpesan kepadaku tidak boleh membuka rahasia dirinya pada Sie Keng Hauw, karena akan membahayakan dirinya."

"Oooh!" Tio Cie Hiong manggut-manggut "Kalau begitu, orang tua pincang itu pasti punya hubungan dengan Kui Bin Pang."

"Tidak salah. Ayah orang tua pincang itu tetua Kui Bin Pang, namun orang tua pincang itu tidak mau bergabung dengan Kui Bin Pang."

"Tapi...." Tio Cie Hiong mengerutkan kenin "..almu silat

mereka—"

"Orang tua pincang itu memang cerdik." Tio Bun Yang memberitahukan. "Sebelum menerima Sie Keng Hauw sebagai murid, beliau telah mengubah semua gerakan ilmu silat yang dimilikinya."



"Oooh!" Tio Cie Hiong tersenyum. "Memang cerdik orang tua pincang itu. Jadi dia yang menceritakan kepadamu tentang Kui Bin Pang?"

"Ya." Tio Bun Yang mengangguk.

"Dia memberitahukan kepadamu siapa ketua baru Kui Bin Pang?" tanya Tio Cie Hiong.

"Beliau juga tidak tahu siapa ketua baru perkumpulan itu, sebab mereka semua memakai kedok setan."

"Dia memberitahukan kepadamu mengenai ilmu silat ketua baru Kui Bin Pang itu?"

"Beliau memberitahukan," ujar Tio Bun Yang. "Ketua Kui Bin Pang memiliki kepandaian yang mngat tinggi, yakni Pek Kut Im Sat Kang (Tenaga Jlawa Dingin Beracun) dan ilmu hitam. Tapi .Menurut orang tua pincang, ketua baru Kui Bin Pang juga memiliki ilmu lain. Jadi kepandaiannya jauh lebih tinggi dari ketua lama."

"Oh?" Tio Cie Hiong mengerutkan kening. "Mungkinkah ketua baru Kui Bin Pang itu berkepandaian lebih tinggi dari Seng Hwee Sin Kun?"

"Entahlah." Tio Bun Yang menggelengkan kepala. "Tapi sungguh mengherankan, kenapa pi-hak Kui Bin Pang menolong kabur Seng Hwee Sin Kun?"

"Mungkin ketua Kui Bin Pang punya suatu rencana tertentu." Tio Cie Hiong menggeleng gelengkan kepala. "Kay Pang dan tujuh partai besar dalam bahaya."

"Kakak  Cie  Hiong...."  Muncul  Lim  Ceng  Im  "...barusan

engkau bilang Kay Pang dan tujuh partai besar dalam bahaya! Lalu kita harus bagii mana? Apakah membiarkan ayahku dibunuh pihak Kui Bin Pang?"

"Itu belum terjadi, engkau tidak usah cemas Tio Cie Hiong tersenyum.



"Kalau terjadi, itu sudah terlambat." Lim Ceng Im menghela nafas panjang. "Kita harus memikirkan hal itu."

"Kita akan berunding dengan paman, Sai Gan Sin Kay dan lainnya. Jadi engkau tidak peri begitu cemas." Tio Cie Hiong menggengga tangannya.

"Heran!" gumam Lim Ceng Im. "Kenapa rimba persilatan tidak pernah tenang? Setelah Bu Li Sam Mo mati, kini rimba persilatan malah be tambah kacau."

"Yaaah!" Tio Cie Hiong menggeleng-gclen kan kepala. "Oleh karena itu, kita hidup tenang di Pulau Hong Hoang To ini."

"Tapi  kali  ini...."  Wajah  Lim  Ceng  Im  tampak  cemas,

"....menyangkut keselamatan ayahku."

"Adik Im, aku tahu itu." Tio Cie Hiong tersenyum. "Tentunya aku harus memikirkan jalan keluarnya kelak."

"Terimakasih, Kakak Cie Hiong," ucap Lim Ceng Im.

"Adik Im!" Tio Cie Hiong tersenyum lagi. 'Ayahmu adalah mertuaku, aku harus memikirkan keselamatannya."

"Kakak Cie Hiong!" Lim Ceng Im tersenyum htihagia.

Betapa gembiranya Tio Bun Yang menyaksikan kemesraan kedua orang tuanya. Ia sangat bersyukur punya orang tua yang hidup bahagia.

"Ayah, Ibu," ujarnya kemudian. "Mengenai musuh Kui Bin Pang, Ayah dan Ibu tidak perlu Memikirkannya. Biar aku yang memikirkannya saja. Ayah dan Ibu tetap hidup tenang dan bahagia di pulau ini."

"Nak!" Lim Ceng Im tersenyum. "Oh ya, kapan engkau akan menikah dengan Goat Nio?"

"Sebetulnya aku sudah ingin menikahinya, tapi kini malah muncul urusan Kui Bin Pang. Oleh karena itu, terpaksalah



harus menunggu urusan m selesai dulu, barulah bisa tenang," jawab Tio Hun Yang.

"Ngmmm!" Tio Cie Hiong manggut-manggut. itu terserah engkau dan Goat Nio, kami pasti merestuinya."

"Terimakasih, Ayah," ucap Tio Bun Yang.

Sementara di kamar lain, yaitu di kamar Siang Koan Goat Nio, juga sedang berlangsung pembicaraan serius.

"Goat Nio," ujar Kou Hun Bijin. "Kapi engkau akan menikah dengan Bun Yang yang ganteng itu?"

"Kok Ibu yang kalut sih?" Wajah gadis iti memerah.

"Goat Nio!" Kou Hun Bijin tersenyum. "Tahu kah engkau, ibu sudah ingin sekali menggendog cucu. Kalau engkau belum menikah dengan Bun Yang, bagaimana ibu menggendong cucu?"

"Ibu...."                Siang     Koan      Goat      Nio         menundukkan  kepala.

"Sesungguhnya kami sudah mau menikah tapi...."

"Kenapa?"

"Kini justru muncul urusan Kui Bin Pang. itu menyangkut para penghuni pulau ini." Siang Koan Goat Nio memberitahukan. "Aku pernah menguntit para anggota Kui Bin Pang."

"Oh?" Kou Hun Bijin terbelalak. "Kalau begitu, Kay Pang dan tujuh partai besar memang dalam bahaya."

"Karena itu...." Siang Koan Goat Nio menggeleng-gelengkan

kepala. "Bagaimana mungkin kami menikah? Kakak Bun Yang pasti memikirkan itu."

"Nak!" Kou Hun Bijin tersenyum. "Itu terserah kalian, dalam situasi ini kalian memang tidak bisa melangsungkan pernikahan."



"Terimakasih atas pengertian Ibu," ucap Siang Koan Goat Nio.

"Tapi...."              Kou        Hun        Bijin       menggeleng-gelengkan                kepala.

"Entah kapan ibu akan menggendong cucu?"

"Benar." Terdengar suara sahutan kemudian Muncullah Kim Siauw Suseng sambil tersenyum, 'kapan ayah akan menggendong cucu?"

"Ayah...." Siang Koan Goat Nio cemberut.

"Sebetulnya..." ujar Kim Siauw Suseng sungguh-sungguh. "....engkau dan Bun Yang boleh menikah sekarang, tiada hubungannya dengan urusan Kui Bin Pang lho!"

"Memang!" Siang Koan Goat Nio mengangguk. "Tapi Kakak Bun Yang pasti tidak mau."

"Biar ayah bicara dengan kedua orang tuanya," ujar Kim Siauw Suseng dan menambahkan. "Kalau kalian sudah menikah, legalah hati kami."

"Ayah jangan membicarakan tentang ini dengan kedua orang tua Bun Yang, aku malu kan?"

"Kenapa malu?" Kou Hun Bijin tersenyum, itu urusan orang tua, ibu dan ayahmu akan menemui Tio Cie Hiong."

"Ibu...."                Siang     Koan      Goat      Nio         menggeleng-gelengkan

kepala.

"Suamiku," ujar Kou Hun Bijin pada Kim Siauw Suseng. "Ayolah! Mari kita ke kamar mereka!"

"Baik, isteriku sayang," sahut Kim Siauw Suseng. Mereka berdua lalu pergi ke kamar Tio Cie Hiong. Siang Koan Goat Nio terpaksa ikut karena ingin menemui Tio Bun Yang.

Mereka justru berpapasan dengan Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im yang sedang melangkah ke luar dari kamar Tio Bun Yang.



"Adik!" Kou Hun Bijin tertawa. "Mari kita ke ruang tengah, aku ingin bicara denganmu!"

"Baik." Tio Cie Hiong mengangguk.

Mereka lalu ke ruang tengah, sedangkan Sian Koan Goat Nio ke kamar Tio Bun Yang. Sebelum gadis itu melangkah ke dalam, Tio Bun Yaij sudah ke luar dari kamarnya.

"Adik Goat Nio!" panggil Tio Bun Yang dengan wajah berseri.

"Kakak Bun Yang...." Siang Koan Goat Ni tersenyum mesra.

"Mari kita ke halaman depan, kita bercakap cakap di sana!" ajak Tio Bun Yang lembut.

"Ya." Siang Koan Goat Nio mengangguk.

Mereka berdua menuju ke halaman depan kemudian duduk di bawah sebuah pohon rindang

"Adik Goat Nio!" Tio Bun Yang memandangnya seraya bertanya. "Ada apa kedua orang tuan menemui orang tuaku?"

"Itu...." Siang Koan Goat Nio tersenyum malu malu. "Ingin

membicarakan sesuatu."

"Mengenai Kui Bin Pang?"

"Bukan." Wajah Siang Koan Goat Nio aga memerah. "Mengenai kita...."

"Mengenai kita?" Tio Bun Yang tertegun "Memangnya kenapa?"

"Kakak Bun Yang, aku berterus terang saja," ujar Siang Koan Goat Nio dengan suara rendah, "kedua orang tuaku menghendaki kita segera menikah."

"Oh?" Tio Bun Yang tersenyum. "Sebetulnya aku pun ingin cepat-cepat menikah denganmu, tapi....

"Terhalang oleh urusan Kui Bin Pang, bukan?"



"Ya." Tio Bun Yang mengangguk. "Kalau kita sudah menikah, tentu engkau akan hamil. Bagaimana kalau di saat itu pihak Kui Bin Pang menyerbu Kay Pang?"

"Itu...." Siang Koan Goat Nio mengerutkan kening.

"Di saat itu, tentu engkau tidak akan membiarkan aku seorang diri ke Tionggoan kan? Sedangkan engkau dalam keadaan hamil, lalu kita harus bagaimana?"

"Kalau begitu, kita jangan menikah dulu," ujar Siang Koan Goat Nio sambil tersenyum dan melimbahkan. "Yang penting kita selalu berkumpul, jangan berpisah."

"Betul." Tio Bun Yang mengangguk sambil tersenyum. "Adik Goat Nio, pokoknya mulai sekarang, kita tidak boleh berpisah lagi."

"Asyiiik!" Terdengar suara tawa. "Berduaan nih ya?" Muncul Lie Ai Ling dan Sie Keng Hauw.
Mereka menghampiri Tio Bun Yang dan Siang Koan Goat Nio sambil tersenyum-senyum.

"Kalian...."  Siang  Koan  Goat  Nio  melotot  "Mengganggu

orang saja!"

"Kalau tidak mau diganggu, lebih baik kalian di kamar saja," sahut Lie Ai Ling sambil tertawa

"Nah! Ketahuan ya!" Siang Koan Goat Nio menunjuk Lie Ai Ling sambil tertawa-tawa. "Engkau dan dia pasti sering berduaan di dalam kamar, Ya, kan?"

"Eh?  Engkau...."  Wajah  Lie  Ai  Ling  langsung  memerah.

"Engkau sudah bisa menggoda orang ya!"

"Siapa suruh engkau mulai duluan?" sahut Siang Koan Goat Nio. "Boleh kan aku menbalasmu?"

"Tentu boleh." Lie Ai Ling lalu duduk. Sie Keng Hauw juga ikut duduk di sisi gadis itu.



"Bun Yang," ujar Sie Keng Hauw sambil menghela nafas panjang. "Sungguh tak disangka kini malah muncul Kui Bin Pang!"

"Yaaah!" Tio Bun Yang tersenyum getir. "Mau bilang apa, mungkin sudah merupakan nasib rimba persilatan."

"Oh ya!" ujar Lie Ai Ling mendadak. "Entah bagaimana keadaan Sian Hoa yang berada di Tayli?"

"Tentunya selalu berduaan dengan Bong Kiat” sahut Siang Koan Goat Nio dan menambahkan

"Kita harus turut bergembira tentang itu."

"Goat Nio, tahukah engkau Bokyong Sian Moa itu sangat cantik?" Lie Ai Ling memandangnya. "Kalau dia belum bersama Beng Kiat, aku yakin engkau pasti cemburu padanya."

"Lho?" Siang Koan Goat Nio tercengang. "Memangnya kenapa?"

"Sebab..." sahut Lie Ai Ling dan bersikap serius, "....gadis

itu sangat baik terhadap Kakak bun Yang."

"Oh?" Siang Koan Goat Nio tersenyum.

"Eh?" Lie Ai Ling terbelalak. "Kok engkau lidak cemburu?"

"Karena aku mempercayai Kakak Bun Yang," jawab Siang Koan Goat Nio sambil melirik Tio Bun Yang dengan mesra.

"Oooh!" Lie Ai Ling manggut-manggut. "Tapi kalau aku melihat ada gadis berlaku baik pada Keng Hauw, aku pasti merasa cemburu."

"Adik Ai Ling!" Sie Keng Hauw tersenyum. "Itu namanya cemburu buta. Engkau tidak boleh begitu lho! Karena akan menimbuliean hal-hal yang tak diinginkan."

"Kakak Keng Hauw!" Lie Ai Ling tersenyum manis. "Aku percaya padamu."



"Nah!" Sie Keng Hauw memandangnya mesra. "Memang harus begitu."

"Oh ya!" Tio Bun Yang teringat sesuatu, "Entah bagaimana dan berada di mana Kam Hay Thian dan Lu Hui San?"

"Mereka...."       Sie          Keng      Hauw    menghela            nafa       panjang.

"Sungguh kasihan mereka! Setelah Lu Thai Kam mati, Lu Hui San pun tiada kabar beritanya. Padahal mereka berdua merupakan pasangan yang serasi, hanya...."

"Kam Hay Thian terlampau keras hati, bahkan juga tidak tahu diri," ujar Lie Ai Ling bernada kurang senang terhadap pemuda tersebut. "Hui San begitu mencintainya, tapi dia malah...."

"Adik Ai Ling!" Tio Bun Yang menggelengi gelengkan kepala. "Dalam hal itu, kita tidak bisa menyalahkannya. Sesungguhnya dia pun sangat menderita sekali."

"Menderita apa?" sahut Lie Ai Ling scngill "Yang paling menderita adalah Hui San. Kalau bertemu Kam Hay Thian, rasanya ingin sekali aku menamparnya."

"Adik Ai Ling." Sie Keng Hauw tersenyum. "Jangan begitu galak, aku jadi takut nih."

"Jangan takut!" Lie Ai Ling tersenyum. "Aku tidak akan menamparmu, sebaliknya...."

"Engkau pasti akan menciumku kan?" sambung Sie Keng Hauw sambil tertawa kecil.

"Idiiih! Dasar tak tahu malu!" Lie Ai Ling cemberut. "Engkau yang sering mencium aku."

"Nah!" Tio Bun Yang tertawa. "Ketahuan ya. Kalian berdua sering cium-ciuman. Pantas di saat kalian berduaan, sering terdengar suara cup-cupan!”

"Eeeh?" Sie Keng Hauw menatapnya terbelalak. "Bisa juga engkau menggoda orang!"



"Sekali-kali," ujar Tio Bun Yang. "Boleh kan?"

"Tentu boleh," sahut Lie Ai Ling sambil memandang mereka. "Kalian berdua tidak pernah berciuman ya?"

"Itu rahasia kami." Siang Koan Goat Nio tersenyum. "Tidak boleh kuberitahukan."

"Oh ya, rahasia nih!" Lie Ai Ling tertawa. "Tapi aku pernah melihat kalian berdua berpeluk-pelukan. Hi hi hi...!"

-oo0dw0ooo-


Bagian ke lima puluh dua

Gadis gila dalam Rimba

Seorang gadis duduk di bawah pohon. Pakaiannya kumal dan mukanya dekil sekali. Gadis itu ber-nyanyi-nyanyi kecil, kemudian menangis meraung-raung dan berteriak-teriak.

"Kam Hay Thian! Aku benci padamu! Aku benci padamu...."

Siapa gadis yang tak waras itu? Ternyata Lu Hui San, yang sungguh mengenasiean keadaannya.

"Engkau membunuh ayah angkatku, aku... aku benci padamu? Tapi...." Lu Hui San terus bergumam sambil

menangis, kemudian tertawa-tawa, ”...tapi aku mencintaimu! Tidak, aku benci padamu! Benci padamu...."

Mendadak melayang sosok bayangan ke hadapan Lu Hui San, yang tidak lain Bu Ceng Sianli-Tu Siao Cui. Setelah berdiri di hadapan Li Hui San, ia menatapnya dengan penuh perhatian

Sedangkan Lu Hui San sama sekali tidak memperdulikannya, terus menangis dan bergumaan

"Kam Hay Thian, aku mencintaimu! Tapi. kenapa engkau malah membunuh ayah angkatku! Engkau tidak mencintaiku



tidak jadi masalah, namun kenapa membunuh ayah angkatku? Kam Haj Thian! Aku benci padamu! Aku benci padamu....”

"Sungguh kasihan gadis ini!" Bu Ceng Sianli Tu Siao Cui menggeleng-gelengkan kepala. "Gara gara cinta jadi tidak waras, aku harus menyembuhkannya."

"Kenapa aku harus membencinya? Kenapa..” Lu Hui San bergumam lagi. "Aku begitu mencintainya, kenapa harus membencinya? Aaaa Kam Hay Thian...."

"Gadis yang bernasib malang!" Tu Siao Cui menatapnya dalam-dalam seraya bertanya, "Siapa engkau?"

"Aku...." Lu Hui San tampak tertegun. "Siapa aku? Siapa

engkau? Kenapa engkau berada sini?"

"Aku adalah Bu Ceng Sianli-Tu Siao Cui."

"Hi hi hi!" Lu Hui San tertawa. "Engkau tak punya perasaan? Tapi engkau begitu cantik lho! Kok tak punya perasaan?"

"Aku membenci kaum lelaki yang tak punya nurani," sahut Tu Siao Cui memberitahukan. "Maka aku sering membunuh mereka."

"Membunuh mereka?" Lu Hui San terbelalak. "Engkau begitu kejam? Aku masih ingat, Kakak Bun Yang selalu berkata, bahwa membunuh melupakan suatu dosa berat...."

"Engkau kenal Bun Yang?" Tu Siao Cui tersentak.

"Kenal." Lu Hui San tersenyum. "Dia pemuda yang sangat baik, lemah lembut dan berhati bajik."

"Betul." Tu Siao Cui tertawa. "Bahkan dia juga sangat bijaksana dan adil, aku kagum dan salut padanya."

"Engkau kenal Kakak Bun Yang?"

"Kenal."



"Siapa engkau?"

"Bukankah aku sudah bilang tadi?"

"Kapan engkau bilang?"

"Tadi." Tu Siao Cui memberitahukan. "Aku adalah Bu Ceng Sianli-Tu Siao Cui, engkau siapa? Bolehkah memberitahukan padaku?"

"Aku...." Lu Hui San menggeleng-gelengkan kepala. "Aku

sudah lupa, tapi aku ingat pada Kam Hay Thian. Dia... dia juga tak punya perasaan."

"Adik!" Tu Siao Cui menggeleng-gelengkan kepala. "Engkau mengalami tekanan batin, maka engkau jadi tidak waras."

"Apa itu tidak waras?"

"Tidak waras artinya gila."

"Hi hi hi!" Lu Hui San tertawa cekikikan "Siapa bilang aku gila? Jangan-jangan engkau yang gila!"

"Adik!" Tu Siao Cui tersenyum lembut, kemudian menggenggam tangannya seraya bertanya "Maukah engkau menjadi temanku?"

"Teman? Apa itu teman?"

"Teman artinya sangat baik satu sama lain bahkan juga saling menolong."

"Oooh!" Lu Hui San manggut-manggut. "Kakak Bun Yang juga sering bilang begitu."

"Nah! Kita harus menjadi teman," ujar Tu Siao Cui dan menambahkan. "Sebab aku jugi kenal Bun Yang. Dia memanggilieu kakak dan aku memanggilnya adik."

"Oh?" Wajah Lu Hui San yang dekil itu tampak berseri. "Baik. Kita jadi teman, aku memanggilmu kakak."



"Tapi...." Tu Siao Cui menatapnya lembut, ”engkau harus

menuruti perkataanku lho!"

"Ya, ya," Lu Hui San mengangguk. "Aku pasti menuruti perkataanmu. Oh ya, engkau perempuan atau lelaki?"

"Perempuan."

"Bagus, bagus. Aku punya kakak perempuan. Aku... aku gembira sekali. Kakak pasti sayang kepadaku bukan?"

"Tentu." Tu Siao Cui tersenyum lembut, lalu membelainya. "Aku sangat sayang padamu, Dik."

"Terimakasih Kakak, terimakasih."

"Nah, engkau harus mandi agar badanmu jadi bersih."

"Aku tidak mau mandi ah!"

"Kenapa?"

"Nanti ada orang jahat mengintip."

"Jangan khawatir!" Tu Siao Cui tertawa. "Aku akan menjagamu. Tidak akan ada orang jahat berani mengintipmu."

"Ya, ya." Lu Hui San mengangguk. "Nanti aku akan mandi!"

"Bagus!" Tu Siao Cui menatapnya lembut. "Sekarang aku akan memeriksamu, agar engkau tepat sembuh."

"Ya, ya." Lu Hui San mengangguk lagi.

Tu Siao Cui segera memeriksa Lu Hui San. Berselang sesaat kening Tu Siao Cui tampak berkerut-kerut seakan terkejut.

"Engkau memiliki Iweekang yang begitu tinggi. Siapa yang mengajarmu Iweekang?" tanya Tu Siao Cui seusai memeriksanya.

"Lweekang? Aku tidak kenal Iweekang," sahut Luu Hui San sambil tertawa dan bertanya, "Kenapa kakak periksaku? Apakah aku sakit?"



"Engkau memang sakit, maka engkau harus menuruti semua perkataanku," ujar Tu Siao Cuil

"Engkau adalah kakakku, aku harus menuruti perkataanmu," sahut Lu Hui San dan menambahkan, "Aku adikmu yang baik, kan?"

"Engkau adikku yang paling baik." Tu Siao Cui menggenggam tangannya erat-erat. "Adikl engkau mengalami suatu pukulan dahsyat. Itu membuat batinmu tergoncang hingga jadi tidal waras. Namun aku mampu menyembuhkanmu sebab aku memiliki Hian Goan Sin Kang!"

Bu Ceng Sianli-Tu Siao Cui memang baik sekali terhadap Lu Hui San yang tak waras itu. Setiap hari ia pasti menyuruhnya mandi dan mengganti pakaian, bahkan juga mengobatinya dengan Hian Goan Sin Kang.

Belasan hari kemudian, Lu Hui San sudah tampak ada perubahan membaik, sehingga Tu Siao Cui merasa girang.

"Adik!" Tu Siao Cui menatapnya. "Sudah ingat siapa dirimu? Beritahukanlah!"


"Aku...  aku...." Kening  Lu           Hui


San


terus


berkerut,


kelihatannya ia sedang berpikir keras

"Aku...."


"Engkau kenal Tio Bun Yang?"

"Tio Bun Yang? Dia Kakak Bun Yang..." sahut Lu Hui San. "Dia adalah pemuda baik, dia... dia yang menolong Kam Hay Thian."

"Siapa Kam Hay Thian itu?"


"Dia...    dia          pemuda               jahat.


Dia...


dia


pembunuh


ayah


angkatku. Aku... aku benci dia."


"Engkau ingat Tio Bun Yang dan Kam Hay thian, tentunya juga ingat akan diri sendiri. Cobalah ingat siapa dirimu!"



"Aku... aku...." Mendadak Lu Hui San berteriak. "Aku sudah

ingat!"

"Nah, beritahukanlah!" Tu Siao Cui tampak gembira sekali.

"Aku Lu Hui San, Lu Thay Kam adalah ayah angkatku. Tapi...." Kini Lu Hui San telah ingat semua itu. "....ayah angkatku mati di tangan Kam Hay Thian."

"Adik Hui San!" Tu Siao Cui memeluknya. 'Syukurlah engkau sudah sembuh, aku gembira sekali." katanya.

"Engkau...." Lu Hui San terbelalak. "Siapa enkau?"

"Aku adalah Bu Ceng Sianli-Tu Siao Cui. Aku yang menyembuhkanmu," sahut Tu Siao Cui memberitahukan.

"Engkau...." Lu Hui San mengerutkan kening, kemudian

mendadak mendekap di dada Tu Siao

Cui sambil menangis terisak-isak. "Kakak”

"Jangan menangis, Dik!" Tu Siao Cui membelainya. "Kini engkau sudah sembuh, maka tidak boleh banyak berpikir yang bukan-bukan."

"Terimakasih, Kakak," ucap Lu Hui San dengan air mata berderai-derai. "Terimakasih...."

"Hi hi hi!" Tu Siao Cui tertawa cekikika "Tidak usah berterimakasih kepadaku, aku ini mengobatimu karena merasa cocok denganmu.”

"Kakak...."

"Hui San, beritahukanlah kenapa Kam Hay Thian membunuh ayah angkatmu?"

"Karena...." Lu Hui San memberitahukan sambil menangis

terisak-isak. "....padahal dia tahu aku sangat mencintainya.

Namun dia tetap membunuh ayah angkatku."



"Cinta...."            Tu           Siao        Cui          menggeleng-gelengkan                kepala.

"Usiaku sudah delapan puluh lebih, namun aku tidak pernah bercinta dengan siapa pun "

”Apa.. ?” Lu Hui Sian terbelalak ”Usia kakak sudah delapan puluh lebih? Itu... bagaimana mungkin?"

"Adik!" Tu Siao Cui tersenyum membohongimu, percayalah!" "Aku tidak membohongimu, percayalah ”

"Aku tidak mungkin percaya. Jangan-jangan Kakak juga tidak waras seperti aku tempo hari”

"Adik!" Tu Siao Cui terpaksa menutur tentang apa yang dialaminya, sehingga membuat dirinya menjadi muda lagi,

”Haaah...?" Mulut Lu Hui San ternganga lebar. "Itu sungguh tak masuk akal lho!"

"Engkau harus tahu," ujar Tu Siao Cui memberitahukan. "Di alam semesta ini memang mengandung kegaiban dan kemujizatan. Apa yang kualami cuma merupakan sebagian kecil dari itu."

"Oh?" Lu Hui San terbelalak.

"Oleh karena itu, menghadapi segala sesuatu luruslah tabah!" Tu Siao Cui menasihatinya. "Dan hingan terlampau cepat putus harapan maupun lulus asa!"

"Ya, Kakak." Lu Hui San mengangguk. "Aku tahu...."

Tu Siao Cui menatapnya sambil tersenyum. "Engkau sangat mencintai Kam Hay Thian. Ya, kan?"

"Ya, Kakak." Wajah Lu Hui San tampak kemerah-merahan. ”Yapi...”

”Dia membunuh ayah angkatmu, itu membuat hatimu terpukul hebat, sehingga menjadi tidak waras sekaligus membencinya pula ” Tu Sioa Cui menggeleng-gelengkan



kepala dan menambahkan ”kalau engkau masih mencintainya, carilah dia!"

"Itu...." Lu Hui San menghela nafas panjang. Hiu tidak

mungkin, sebab dia sama sekali tidak mencintaiku."

"kalau begitu...." Tu Siao Cui menatapnya dalam dalam.

"Apa rencanamu sekarang?"

"Aku...." Mata Lu Hui San mulai basah. "Aku ingin menjadi

biarawati saja. Bagaimana menurut Kakak?"

"Adik!" Tu Siao Cui tersenyum. "Itu terserah engkau, namun apabila engkau dan Kam Hay Thian berjodoh, pasti akan berjumpa kembali."

"Kakak...." Lu Hui San menundukkan kepala "Oh ya, Kakak

kenal Tio Bun Yang?"

"Kenal." Tu Siao Cui tertawa. "Kami sudah mengangkat saudara. Dia memang pemuda yang baik, lemah lembut, sopan, jujur, bijaksana, adil dai berpengertian. Aku kagum dan salut padanya."

"Dia sudah tahu akan asal-usul, Kakak?"

"Sudah tahu."

"Sekarang dia berada di mana?"

"Entahlah?"

"Aaaah!" Lu Hui San menghela nafas panjang "Kalau Kam Hay Thian bersifat seperti dia...."

"Hi hi hi!" Tu Siao Cui tertawa cekikika "Sifat orang mana bisa sama, pasti berbeda."

"Kakak...." Lu Hui San memandangnya dengan air mata berderai. "Aku... aku telah berhutang budi kepadamu."



"Hi hi hi!" Tu Siao Cui tertawa nyaring "Jangan berkata begitu, Adik! Engkau sama seki tidak berhutang budi kepadaku."

"Tapi Kakak telah menyembuhkanku, sudah barang tentu aku berhutang budi kepada Kakak” ujar Lu Hui San sungguh-sungguh.

"Aku menyembuhkanmu tanpa pamrih, maka engkau tidak berhutang budi kepadaku." Tu Siao Cui menatapnya penuh perhatian. "Betuliean eng-kau ingin menjadi biarawati?"

"Ya." Lu Hui San mengangguk pasti.

"Kalau begitu...." Tu  Siao Cui menghela  nafas panjang.

"Tak jauh dari sini terdapat sebuah kuil biarawali, engkau ke sanalah!"

"Kakak...."

"Adik!" Tu Siao Cui tersenyum lembut. "Jangan berduka, kita akan berjumpa lagi kelak!"

"Kakak...."

"Kita berpisah di sini. Kalau tekadmu telah niat, berangkatlah engkau ke kuil biarawati itu!"

"Ya."

"Adik, sampai jumpa!" ucap Tu Siao Cui sambil melesat pergi.

"Kakak! Kakak...!" teriak Lu Hui San memanggilnya, namun Tu Siao Cui sudah tidak kelihatan.

Lu Hui San menghela nafas panjang, lalu melesat pergi menuju kuil biarawati tersebut.

-oo0dw0oo-

Lu Hui San berdiri di depan Pek Yun Am (Kuil biarawati Awan Putih). Berselang beberapa saat kemudian, pintu kuil itu



terbuka. Tampak dua biarawati berjalan ke luar. Segeralah Lu Hui San memberi hormat

"Maaf, aku ingin menemui ketua kuil ini!"

"Oh?" Kedua biarawati menatapnya deng penuh perhatian. "Ada urusan apa engkau ingi menemui ketua kami?

"Aku...."               Lu           Hui         San         menundukkan  kepal     "Aku      ingin

menjadi biarawati di sini. Maka, pq kenankanlah aku menemui ketua kalian!"

"Siancay! Siancay!" pujian para biarawati pada Sang Budha. "Mari ikut kami ke dalam!"

"Terimakasih!" ucap Lu Hui San dan kemudian mengikuti mereka ke dalam.

"Silakan duduk! Kami ke dalam membe tahukan kepada ketua," ujar salah seorang biar] wati itu

"Terimakasih!" ucap Lu Hui San sambil duduk

Tak seberapa lama kemudian, kedua biaraw itu sudah kembali ke sana dengan wajah berse "Ketua bersedia menemuimu, mari ikut ka ke ruang samadi!" Biarawati itu memberitahuku sekaligus mengantar Lu Hui San ke ruang samaj Tampak seorang biarawati tua duduk bersih kedua biarawati itu berdiri di luar

"Sian Kouw (Biarawati Welas Asih)!" pangj Lu Hui San sambil bersujud di hadapan biarawa* tua itu.

Biarawati tua itu menatapnya tajam tapi lembut, berselang sesaat ia menggeleng-gelengkan kepala.

"Siancay! Siancay! Duduklah!" ucap biarawati lua itu.

"Ya!" Lu Hui San segera duduk dengan kepala tunduk.

"Aku adalah Khong Sim Nikouw. Siapa engkau dan mau apa ke mari?" tanya biarawati tua itu sambil tersenyum lembut.



"Khong Sim Nikouw, aku... aku ingin menjadi 'iarawati," jawab Lu Hui San dengan mata basah.

"Namamu?"

"Lu Hui San."

"Hui San!" Khong Sim Nikouw tersenyum lagi. ”Engkau tidak berjodoh menjadi biarawati, sebab engkau harus menikah dan punya anak."

"Tapi...."

"Siancay! Siancay! Engkau ingin menjadi biarawati karena merasa putus asa terhadap sesuatu, artiinya tidak dengan setulus hati, maka engkau tidak bisa menjadi biarawati."

"Khong Sim         Nikouw,               terimalah             aku...." Lu           Hui         San

menangis terisak-isak.

"Siancay! Siancay!" Khong Sim Nikouw memndangnya lembut. "Engkau cuma menghadapi suatu percobaan, haruslah tabah menghadapinya. Kaau engkau menjadi biarawati, engkau tidak akan mencapai kesempurnaan, malah akan membuatmu menderita kelak."

"Aku... aku sudah membulatkan tekad menjadi biarawati."

"Itu dikarenakan engkau merasa putus asa Padahal sesungguhnya itu cuma merupakan suatu percobaan."

"Khong Sim Nikouw...."

"Engkau berkepandaian tinggi, namun masih tidak bisa memusatkan pikiran dan mcnguatkan batinmu. Akhirnya engkau menjadi tidak waras Kalau tiada seseorang menyembuhkanmu, saat ini engkau masih dalam keadaan tidak waras."

"Haaah?" Lu Hui San terkejut. Ia tidak menyangka Khong Sim Nikouw tahu tentang itu.



"Siancay! Siancay!" Khong Sim Nikouw tersenyum. "Aku bisa melihat sampai ke dalam hatimu”

"Oh?" Lu Hui San semakin terkejut.

"Karena suatu hal dan putus cinta, maka engkau ingin menjadi biarawati. Begitu kan?"

"Ya."

"Oleh karena itu, aku tidak bisa menerimanl Engkau tidak berjodoh menjadi biarawati, namun engkau boleh tinggal di sini."

"Terimakasih, Khong Sim Nikouw!" ucap Lu Hui San dan cepat-cepat bersujud di hadapan biarawati tua itu.

"Siancay! Siancay!" Khong Sim Nikouw itu senyum lembut dan penuh welas asih, kemudian menambahkan. "Kebahagiaan sudah berada di ambang pintu, tunggulah dengan sabar!"

Ucapan itu membuat Lu Hui San tertegun, la memandang Khong Sim Nikouw dengan tidak mengerti, sedangkan biarawati tua itu hanya tersenyum-senyum.

-oo0dw0oo-

Di sebuah kedai arak di suatu kota, tampak seorang pemuda dekil sedang meneguk arak. Pemuda itu sudah dalam keadaan mabuk, namun masih terus meneguk arak yang di atas meja.

"Ha ha ha!" Pemuda itu tertawa gelak. "Aku telah membunuh ayah angkatnya, dia... dia pasti membenciku! Sesungguhnya... aku pun sangat mencintainya, hanya saja...."

Pemuda itu terus tertawa sambil mengoceh. Siapa pemuda itu? Ternyata Hay Thian, yang tidak berhasil mencari Lu Hui San. Karena merasa berdosa terhadap gadis itu, maka ia terus ber-mabuk-mabukan.



"Tuan...."             Pelayan                mendekatinya   kemudian            bertanya.

"Engkau sudah mabuk, jangan minum lagi!"

"Engkau takut aku tidak mampu bayar?" sahut Kam Hay Thian. "Ha ha ha! Aku memang tidak punya uang."

"Tuan...." Pelayan itu mengerutkan kening.

"Jangan khawatir, aku pasti bayar!" ujar Kam Hay Thian, yang kemudian meneguk araknya sambil tertawa-tawa. "Ha ha ha! Hidup tiada artinya, lebih baik bermabuk-mabukan sepanjang hari! Ha ha ha...!"

Di saat bersamaan, seorang gadis cantik jelita melangkah ke dalam kedai arak itu. Para tamu terbelalak seketika. Kecantikan gadis itu telah membuat mereka terpukau.

Kam Hay Thian yang dalam keadaan mabuk pun telah melihat kehadiran gadis itu. dan lansung tertawa gelak seraya bergumam.

"Gadis cantik selalu bernasib malang. Di mana ada gadis cantik, di situ pasti akan timbul masalah Ha ha ha...!"

"Hi hi hi!" Gadis itu tertawa cekikikan sambil menghampirinya, lalu duduk.

"Pemuda dekil, kenapa engkau mencela kaum gadis cantik?" tanyanya.

"Engkau memang cantik...." Kam Hay Thian menatapnya.

"Tapi nasibmu sial."

"Omong kosong!" Gadis itu melotot, kemudian tertawa seraya bertanya. "Pemuda dekil, siapa engkau?"

"Aku Chu Ok Hiap (Pendekar Pembasmi Penjahat)! Siapa Nona?"

"Hi hi hi! Aku Bu Ceng Sianli." Sungguh diluar dugaan, gadis itu ternyata adalah Bu Ceng Sianli-Tu Siao Cui.



"Bidadari Tanpa Perasaan?" Kam Hay Thian terbelalak. "Engkau memang secantik bidadari, bagaimana mungkin tak berperasaan? Itu tidak mungkin!"

"Aku memang tak berperasaan terhadap kaum lelaki." Tu Siao Cui menatapnya penuh perhatian. "Kelihatannya engkau sangat membenci kaum wanita, itu apa sebabnya?"

"Sebetulnya aku tidak membenci kaum wanita, malah aku...

aku telah melakukan suatu dosa terhadap seorang wanita,"
sahut Kam Hay Thian. "Maka dia sangat membenciku."

"Kenapa begitu?"

"Dia sangat mencintaiku, namun aku menolak tintanya karena suatu hal. Aaaah! Memang aku yang bersalah."

"Chu Ok Hiap, bolehkah aku tahu namamu!"

"Namaku Kam Hay Thian."

"Apa?" Mata Tu Siao Cui langsung membara, dan tangannya melayang ke arah pipi Kam Hay thian.

Plaak! Plook! Plaaak! Plooook!

"Aduuuh!" Kam Hay Thian menjerit kesakitan, mabuknya pun langsung lenyap. Ia mengusap pipinya sambil memandang Tu Siao Cui dengan mata terbelalak. "Kenapa engkau menamparku?"

"Aku memang harus menghajarmu?" sahut Tu Siao Cui.

"Eeeh?" Kam Hay Thian segera melesat k luar. "Engkau kok tidak tahu aturan? Aku tida berlaku kurang ajar terhadapmu, tapi kenapa engkau ingin menghajarku?"

"Aku mewakili Lu Hui San menghajarmu!"

"Apa?" Kam Hay Thian tertegun. "Lu Hui San?"

"Ya." Tu Siao Cui mengangguk. "Nah, bersiap-siaplah! Aku akan mulai menghajarmu!"



"Silakan!" sahut Kam Hay Thian.

"Terimalah tendanganku!" seru Tu Siao Cui sambil menendangnya beberapa kali dengan sekuat tenaga.

Duuk! Duuuk! Duuuuk!

Kam Hay Thian tetap tak bergeming dari tempatnya dan membiarkan dirinya ditendang. Untung Tu Siao Cui tidak mengerahkan lweekangnya. Seandainya Tu Siao Cui mengerahkan lweekangnya untuk menendang, Kam Hay Thiai pasti sudah terluka parah.

"Hi hi hi!" Tu Siao Cui tertawa. "Ternyata engkau masih tahu diri, sama sekali tidak melawan!"

"Aku malah sangat berterimakasih kepadamu, sebab engkau bersedia mewakilinya menghajari ku?" sahut Kam Hay Thian. "Ayolah! Hajar aku lagi!"

"Tidak!" Tu Siao Cui menggelengkan kepala. "Kini engkau telah sadar akan kesalahanmu, maka aku tidak akan menghajarmu lagi!"

"Terimakasih!" ucap Kam Hay Thian. "Oh ya, aku...."

"Engkau ingin tahu Lu Hui San berada di mana kan?" Tu Siao Cui tertawa nyaring.

"Betul, betul. Nona, beritahukanlah!"

"Aku akan memberitahukan, tapi harus ada syaratnya."

"Apa syaratmu?"

"Syaratku...."     Tu           Siao        Cui          tersenyum-senyum.      ”Engkau

harus menyembah di hadapanku."

"Baik." Kam Hay Thian langsung menjatuhkan diri berlutut di hadapan Tu Siao Cui.



"Hi hi hi!" Tu Siao Cui tertawa cekikikan. ”Ternyata engkau masih punya nurani! Engkau membunuh ayah angkatnya, namun dia tetap mencintaimu. Karena itu, dia jadi gila."

"Apa?" Wajah Kam Hay Thian memucat. "Dia... dia jadi gila?"

"Tapi kini sudah sembuh."

"Oooh!" Kam Hay Thian menghela nafas lega. "Siapa yang menyembuhkannya?"

"Aku," sahut Tu Siao Cui. "Aku yang menyembuhkannya."

"Terimakasih, Nona!" ucap Kam Hay Thian sambil membentur-benturkan kepalanya di tanah. ”Terimakasih...!"

"Hi hi hi!" Tu Siao Cui tertawa nyaring. "Lu Hui San berada di Pek Yun Am, engkau harus menuju ke timur."

"Terimakasih! Terimakasih!" ucap Kam Hay Thian. Ketika ia mendongakkan kepalanya, ia terbelalak karena Tu Siao Cui sudah tidak berada di hadapannya. "Sungguh tinggi kepandaian gadis itu!"

Setelah bergumam, barulah ia melesat pergi ke arah timur, sesuai dengan petunjuk Tu Siao' Cui.

-oo0dw0oo-


Bagian ke lima puluh tiga Berlutut dengan setulus hati
Perlahan-lahan Kam Hay Thian mengetuk pinti Pek Yun Am. Berselang sesaat terbukalah pintul itu. Dua biarawati berdiri di situ sambil menatapnya dengan penuh keheranan.

"Maaf, aku telah mengganggu ketenangan Pek Yun Am!" ucap Kam Hay Thian sambil memberi hormat.

"Siancay! Siancay! Ada urusan apa engkau ke mari?"



"Aku... aku ingin bertemu Lu Hui San."

"Lu Hui San?"

"Ya." Kam Hay Thian mengangguk. "Dia berada di sini kan?"

"Betul." Salah satu biarawati itu mengangguk. "Lu Hui San memang berada di sini. Bolehkah kami tahu siapa engkau?"

"Namaku Kam Hay Thian." "Oooh!" Kedua biarawati itu manggut-manggut. "Baiklah. Engkau tunggu di sini, kami kedalam memberitahukan kepada ketua! Ingat, jangan sembarangan masuk!"

"Ya." Kam Hay Thian mengangguk. Kedua biarawati itu berjalan ke ruang samadi. Sampai di pintu ruang itu, salah seorang dari mereka melapor.

"Ketua, Kam Hay Thian ke mari."

"Siancay! Siancay!" sahut Khong Sim Nikouw sambil manggut-manggut, kemudian memandang Luu Hui San yang duduk di sisinya. "Hui San, engkau sudah dengar kan?"

"Ya, Sian Kouw (Biarawati Welas Asih)." Lu Hui San mengangguk. Air mukanya tampak terus berubah tak menentu.

"Bagaimana? Engkau bersedia menemui pemuda itu?"

"Tidak," jawab Lu Hui San. "Aku tidak mau menemuinya, aku benci dia."

"Siancay! Siancay!" Khong Sim Nikouw tersenyum. "Kenapa ucapanmu berlawanan dengan suara hatimu?"

"Aku...."               Lu           Hui         San         menundukkan  kepala   kemudian

berjalan ke depan, dengan air mata berderai-derai.



Sementara Kam Hay Thian menunggu disitu




”Dia ke mari pertanda dia telah sadar akan kesalahannya, maka engkau harus memaafkannya, sekaligus menerimanya pula," ujar Khong Sing Nikouw dan menambahkan dengan sungguh-sund guh. "Ketika engkau baru ke mari, bukankah ak pernah mengucapkan sesuatu?"

"Maaf, Sian Kouw! Aku... aku lupa." "Kebahagiaan telah berada di ambang pinti tunggulah dengan sabar. Inilah yang kuucapkai hari itu, dan kini sudah tiba. Engkau mengerti ”

"Sian Kouw...." Lu Hui San terbelalak. "Tapi...”

"Engkau masih ragu terhadapnya?"

"Ya"

"Kalau   begitu...."            Khong   Sim         Nikouw                "Engkau               boleh

mencoba bagaimana hatinya”

"Caranya?" Lu Hui San tertarik. "Kedua muridku itu akan memberitahukan kepadanya, bahwa engkau tidak sudi menemuinya. Apabila dia berlutut di depan kuil dengan setulus hati, berarti dia bersungguh-sungguh terhadapmu. Mengerti?"

"Mengerti."

"Siancay! Siancay!" ucap Khong Sim Nikou lalu berseru. "Kalian berdua beritahukan kepada nya, bahwa Lu Hui San tidak sudi menemuinya”

"Ya, Guru," sahut kedua biarawati itu kemudian berjalan kedepan.

Sementara itu Kam Hay Thian menunggu disitu dengan hati

berdebar-debar. Ketika melihat kedua biarawati menghampirinya, ia segera bertanya, "Bagaimana, Sian Kouw?"



”Siancay! Siancay!" Salah satu biarawati itu menggeleng-gelengkan kepala. "Lu Hui San tidak sudi menemuimu. Maaf. kami tidak bisa berbuat apa-apa?"

"Sian Kouw...." Wajah Kam Hay Thian pucat pasi

"Siancay! Siancay!" Kedua biarawati itu menghela nafas panjang, kemudian melangkah kedalam sekaligus menutup pintu

"Adik Hui San! Adik Hui San! Aku ...aku rindu padamu..." gumam Kam Hay Thian kemudian menjatuhkan diri berlutut di depan Pek Yun Am itu.

-oo0dw0oo-

Khong Sim Nikouw, Lu Hui San dan kedua murid biarawati tua itu duduk di ruang samadi. Wajah Lu Hui San terus berubah tak menentu.

"Siancay! Siancay!" ucap Khong Sim Nikouw sambil memandang Lu Hui San. "Sudah tiga hari tiga malam Kam Hay Thian berlutut di situ tanpa makan dan minum, itu pertanda dia berlutut dengan setulus hati. Maka, engkau harus menyelami perasaannya sekarang."

"Sian Kouw...." Lu Hui San menundukkan kepala.

"Hui San!" Khong Sim Nikouw tersenyum lembut. "Kini sudah saatnya engkau meninggaliean Pek Yun Am ini."

"Sian Kouw...."

"Oh ya!" Mendadak wajah Khong Sim Nikouw berubah serius. "Aku yakin Tu Siao Cui yang menyuruhnya ke mari. Tu Siao Cui muda kembali itu merupakan suatu berkah bagi dirinya. Kini di. telah berbuat kebaikan. Siancay! Siancay! Kalau engkau bertemu dia, sampaikan pesanku kepada nya! Dia harus banyak berbuat kebaikan untuk menebus dosanya terhadap Thian Gwa Sin Hiap Engkau harus menyampaikan pesanku ini kepada nya, karena demi kebaikannya pula."



"Ya, Sian Kouw. Aku pasti menyampaikan kepadanya."

"Siancay! Siancay!" ucap Khong Sim Nikow sambil memandangnya. Ia mengeluarkan sebuni tusuk konde lalu diserahkan kepada Lu Hui San. seraya berkata, "Simpan tusuk konde ini baik-baik kalau engkau bertemu Tayli Lo Ceng, berikan kepadanya!"

"Haaah?" Lu Hui San tertegun. "Sian Ko kenal Tayli Lo Ceng?"

"Siancay! Siancay!" Khong Sim Nikouw menghela nafas panjang. "Sudah hampir delapan puluh tahun kami tidak bertemu. Siancay! Siancay! Semua itu telah berlalu, lagi pula aku...."

"Guru...." Wajah kedua muridnya berubah pucat pias.

"Siancay! Sincay!" Khong Sim Nikouw tersenyum. "Segala apa yang ada di dunia, itu hanya kepalsuan belaka. Kosong dan segala itu memang kosong."

"Sian Kouw...." Lu Hui San tercengang mendengarnya.

"Hui San!" Khong Sim Nikouw tersenyum lembut. "Engkau boleh pergi sekarang bersama pemuda itu. Tempuhlah hidup yang bahagia! Jangan menyia-nyiakan hidup yang teramat singkat m!

"Ya, Sian Kouw." Lu Hui San segera bersujud. ”Sian Kouw, aku mohon diri!"

"Bangunlah, Hui San!" Khong Sim Nikouw berpesan, "Simpanlah baik-baik tusuk konde itu!"

"Ya, Sian Kouw." Lu Hui San mengangguk sambil bangkit berdiri, kemudian berpamit dengan air mata bercucuran.

"Semoga engkau hidup bahagia, Hui San!" ucap Khong Sim Nikouw sambil memandangnya dengan lembut sekali.

"Sian Kouw...."



"Pergilah!" Khong Si Nikouw memejamkan matanya.

Lu Hui San bersujud lagi. Setelah memberi hormat kepada kedua biarawati itu, barulah melangkah ke luar. Kedua biarawati itu men antarnya sampai di depan kuil, setelah itu mereka menutup pintu.

"Adik Hui San! Adik Hui San...!" seru Ka Hay Thian dengan mata bersimbah air. "Adik Hui San...."

Lu Hui San tidak menyahut, namun air mata nya sudah berderai-derai. Perlahan-lahan Kam. Hay Thian mendekatinya, lalu menjatuhkan dan berlutut di hadapan gadis itu.

"Adik Hui San, maafkanlah aku!"

"Kakak Hay Thian...." Lu Hui San juga menjatuhkan diri berlutut di hadapan pemuda itu "Aku... aku memaafkanmu."

"Terimakasih, Adik Hui San!" ucap Kam Hay Thian sambil menjulurkan tangannya untuk memegang bahu gadis itu. "Adik Hui San, aku... aku cinta padamu."

"Kakak Hay Thian..-." Lu Hui San menangis terisak-isak saking girang. "Aku... aku sudah mencintaimu sejak pertama kali melihatmu. Tapi engkau..."

"Adik Hui San!" Kam Hay Thian menatapnya lembut. "Itu telah berlalu, jangan kau ungkit lagi Yang jelas... kini kita sudah saling mencintai takkan berpisah selama-lamanya.”

"Kakak Hay Thian...." Lu Hui San mendekap di dadanya.

"Aku... aku bahagia sekali."

"Adik Hui San, maafkanlah aku yang telah membunuh ayah angkatmu! Sekali lagi aku minta maaf!" ucap Kam Hay Thian sambil membelainya dengan penuh cinta kasih.

"Ibumu juga dibunuh oleh para anggota Hiat Ih Hwe. Yaaah! Sudahlah! Semua itu telah ber-lalu, anggaplah sebagai mimpi buruk saja!"



"Ya." Kam Hay Thian mengangguk, sekaligus mengangkatnya bangun. "Adik Hui San, apa rencanamu sekarang?"

"Aku sudah rindu kepada pamanku. Bagaimana kalau kita ke sana?" sahut Lu Hui San malu-malu.

"Benar." Kam Hay Thian manggut-manggut. Aku memang harus mengunjungi pamanmu."

"Kalau begitu, mari kita berangkat sekarang!" ajak Lu Hui San.

"Baik." Kam Hay Thian mengangguk. Mereka berdua berangkat ke tempat tinggal ie Kuang Han. Dalam perjalanan itu mereka Li senda gurau penuh kegembiraan.

-oo0dw0oo-


Dalam perjalanan menuju tempat tinggal Sie Kuang Han, Kam Hay Thian dan Lu Hui San juga mendengar tentang musnahnya markas Seng Hwe Kauw. Itu sungguh menggembirakan mereka berdua. Namun ada satu hal yang membuat Kam Hay Thian tidak habis pikir, yakni tidak adanya kabar mengenai Seng Hwee Sin Kun.

"Heran!" gumam Kam Hay Thian dengan kening berkerut-kerut. "Kenapa tiada kabar beritl mengenai Seng Hwee Sin Kun? Apakah Bun Yan berhasil membunuhnya?"

"Kalau Bun Yang berhasil membunuhnya, tentunya akan tersiar berita tersebut. Namun tidak. Mungkin..." ujar Lu Hui San setelah berpikir sejenak. "Seng Hwee Sin Kun berhasil melolosieah diri."

"Itu memang mungkin." Kam Hay Thian manggut-manggut "Lebih baik kita tanyakan kepada Kakek Lim nanti"

"Benar." Lu Hui San mengangguk.



Beberapa hari kemudian, mereka sudah sampai di tempat tinggal Sie Kuang Han. Betapa gembiranya orang tua itu ketika melihat Lu Hui San datang bersama seorang pemuda.

"Paman!" panggil gadis itu.

"Hui San!" Sie Kuang Han tertawa gembira "Ha ha ha! Duduklah!"

"Paman,               dia          Kam       Hay        Thian...."              Lu           Hui         San

memperkenalieannya, dan pemuda itu segera mem beri hormat.

"Paman, terimalah hormatku!" ucap Kam Hay I hian.

"Tidak usah sungkan-sungkan! Ha ha ha!" Sie Kuang Han tertawa gelak. "Ayolah! Duduk!"

Lu Hui San dan Kam Hay Thian lalu duduk. Sie Kuang Han memandang Lu Hui San seraya bertanya.

"Kenapa Keng Hauw tidak kemari?"

"Dia...." Lu Hui San tersenyum. "Dia berada di Pulau Hong

Hoang To, dan sudah punya kekasih."

"Oh?" Wajah Sie Kuang Han berseri. "Siapa kekasihnya!"

"Lie Ai Ling, putri kesayangan Lie Man Chiu dan Tio Hong Hoa." Lu Hui San memberitahukan.

"Oooh!" Sie Kuang Han manggut-manggut gembira. "Syukurlah!"

"Paman," ujar Lu Hui San. "Lu Thay Kam telah mati."

"Oh?" Sie Kuang Han tampak terkejut. "Apakah dia mati dibunuh?"

"Ya." Lu Hui San mengangguk.

"Siapa yang membunuhnya?" tanya Sie Kuang llan sambil menghela nafas panjang.

"Dia." Lu Hui San menunjuk Kam Hay Thian.



"Apa?" Sie Kuang Han terbelalak. "Kok bisa begitu? Hui San, tuturkanlah kejadian itu!"

"Paman...." Lu Hui San menutur tentang semua kejadian

itu, kemudian menambahkan. "Aku aku telah memaafkannya."

"Aaaah...." Sie Kuang Han menghela nafas "Mungkin itu

sudah merupakan takdir!"

"Paman," ujar Kam Hay Thian sambit mengeleng-gelengkan kepala. "Aku telah melakukan kesalahan, sebab kini istana bertambah kacau Muncul seorang menteri berniat berkhianat."

"Yaaah! Dinasti Beng sulit dipertahankan lagi segera akan tumbang!" Sie Kuang Han menghela nafas panjang. "Oh ya, kalian tinggal di sini beberapa hari!"

"Ya!" Lu Hui San mengangguk. "Kami akan tinggal di sini beberapa hari, setelah itu hari berangkat ke markas pusat Kay Pang."

"Itu memang baik sekali." Sie Kuang Han manggut-manggut. "Oh ya, kalau kalian bertema! Keng Hauw, suruh dia kemari bersama Lie Ling!"

"Ya, Paman." Lu Hui San tersenyum. "Pama pasti akan menyayangi Ai Ling, sebab dia canti lincah dan periang."

"Syukurlah kalau begitu!" ucap Sie Kuang Ha sambil tertawa gembira. "Ha ha ha!"

-oo0dw0oo-

Beberapa hari kemudian, Lu Hui San dan Kam Hay Thian berpamit kepada Sie Kuang Han. Mereka berdua langsung menuju markas pusat Kay Pang. Kini jalinan cinta mereka bertambah dalam, maka tidak heran kalau wajah mereka tampak bahagia.

Kira-kira empat hari kemudian, mereka sudah Sampai di markas pusat Kay Pang. Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong menyambut kedatangan mereka dengan mulut ternganga



lebar, karena mereka tahu tentang Lu Hui San dan Kam Hay thian. Namun kini mereka justru muncul bersama, maka mencengangkan Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong.

"Kakek Lim, Kakek Gouw!" panggil Lu Hui san sambil tersenyum.

"Kalian...."           Lim         Peng      Hang      terbelalak.          "Silakan                duduk!

Silakan duduk!"

Lu Hui San dan Kam Hay Thian duduk, sedangkan Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong masih terus memandang mereka dengan penuh rasa heran.

"Kami...." Lu Hui San menundukkan kepala.

"Bukankah  kalian...."  Lim  Peng  Hang  menggaruk-garuk

kepala. "Kok kini malah ke mari berduaan?"

"Kakek  Lim,  kami...."  Kam  Hay  Thian  memberitahukan

tentang kejadian mereka itu dan menambahkan, "....kalau aku
tidak bertemu Bu Ceng Sianli-Tu Siao Cui, mungkin tidak bisa bertemu Hui San."

"Oooh!" Lim Peng Hang manggut-manggu "Ternyata begitu, syukurlah!"

"Kakak Hay Thian!" Lu Hui San menatapnya "Jadi Kakak Siao Cui yang memberitahukanmu mengenai diriku berada di Pek Yun Am?"

"Ya." Kam Hay Thian mengangguk sambil tersenyum. "Kami bertemu dia di kedai arak. Setelah tahu aku adalah Hay Thian, maka dia langsung menampar dan menendangku."

"Dia yang menyembuhkan aku."

"Dia pun memberitahukan kepadaku." Kam Hay Thian menggeleng-gelengkan kepala. "Adik Hui San, aku...."

"Kakak Hay Thian!" Lu Hui San tersenyum lembut. "Itu telah berlalu, jangan diungkit sehingga merusak suasana!"



"Ya." Kam Hay Thian mengangguk. "Oh ya kepandaian Nona Siao Cui itu sungguh tinggi sekali."

"Engkau tahu berapa usianya?" tanya Lu Hui San mendadak.

"Dua puluhan," sahut Kam Hay Thian ”masih begitu muda, tapi kepandaiannya sangat tinggi sekali."

"Engkau keliru." Lu Hui San tertawa kecil "Keliru?" Kam Hay Thian heran. "Keliru napa?"

"Usia Kakak Siao Cui sudah hampir sembilan puluh, bukan dua puluhan lho!" Lu Hui San memberitahukan.

"Apa?" Kam Hay Thian terbelalak, kemudian tertawa gelak. "Adik Hui San, aku tidak menyangka engkau bisa bergurau juga."

"Itu memang benar, aku tidak bergurau." ujar Lu Hui San sungguh-sungguh lalu menutur tentang apa yang dialami Tu Siao Cui.

"Itu... itu sungguh merupakan suatu kegaiban. Nenek-nenek berusia hampir sembilan puluh, namun masih tampak remaja. Tak masuk akal tapi nyata, sungguh luar biasa!" Kam Hay Thian menggeleng-gelengkan kepala. "Seperti halnya dengan Kou Hun Bijin."

"Tapi kini Kou Hun Bijin sudah kelihatan tua, karena dia menikah dengan Kim Siauw Suseng," ujar Lim Peng Hang. "Kalau tidak, dia dan Kim Siauw Suseng pasti tetap tampak seperti berusia empat puluhan."

"Kalau begitu..." tanya Lu Hui San. "....Bu Ceng Sianli akan

tua juga bila menikah?"

"Mungkin." Lim Peng Hang mengangguk. "Oh ya! Di mana Kakak Bun Yang, Ai Ling dan lainnya?" tanya Lu Hui San mendadak.



"Mereka sudah pulang ke Pulau Hong Hoang to," jawab Lim Peng Hang. "Apakah kalian sudah laliu tentang Seng Hwee Kauw?"

"Sudah, tapi tidak begitu jelas," ujar Kam Hay

Thian dan bertanya, "Kok tiada kabar beritanya mengenai Seng Hwee Sin Kun?"

"Aaah...." Gouw Han Tiong menghela nafas panjang. "Seng

Hwee Sin Kun terluka parah oleh pukulan yang dilancarkan Bun Yang, tapi disaat itu mendadak muncul lima orang berpakaian serba putih dan memakai kedok setan."

"Oh?" Kam Hay Thian terperanjat.

"Kui Bin Pang?" Air muka Lu Hui San berubah.

"Ya." Gouw Han Tiong manggut-manggut "Kelima orang itu membawa kabur Seng Hwe Sin Kun."

"Kakek Gouw, apakah Seng Hwee Sin Kun punya hubungan dengan Kui Bin Pang itu?" tanya Kam Hay Thian.

"Entahlah." Gouw Han Tiong menggeleng gelengkan kepala, kemudian memandang Lim Pera Hang seraya berkata, "Pangcu, engkau saja yang memberitahukannya!"

Lim Peng Hang menghela nafas panjang, lama sekali barulah membuka mulut dengan wajah serius.

"Ketua lama Kui Bin Pang punya dendam dengan majikan lama Pulau Hong Hoang To. Sebetulnya Kui Bin Pang cuma bergerak di sekita Gurun Sih Ih..." tutur Lam Peng Hang sejelas jelasnya, setelah itu menambahkan pula. "...tiada seorang pun tahu siapa ketua baru Kui Bin Pari lu."

"Kakek Lim," tanya Lu Hui San. "Mungkinkah Kui Bin Pang akan menyerbu Pulau Hong Hoang To?"

"Kalau Kui Bin Pang berani menyerbu kesana, malah lebih baik," sahut Lim Peng Hang. ”Namun Kui Bin Pang tidak akan menyerbu kesana, mereka tidak sebodoh itu."

"Kalau begitu, apakah Kui Bin Pang diam saja?" tanya Kam Hay Thian.

"Sesungguhnya mereka sudah mulai bergerak, Tapi secara diam-diam," jawab Lim Peng Hang. Buktinya kelima orang itu telah muncul menolong Seng Hwee Sin Kun. Ya, kan?"

"Heran?" gumam Kam Hay Thian. "Kenapa Kui Bin Pang menolong Seng Hwee Sin Kun? Mungkinkah punya suatu tujuan tertentu?"

"Itu memang mungkin." Gouw Han Tiong manggut-manggut. "Kalau tidak, bagaimana mungkin pihak Kui Bin Pang akan menolongnya? Hanya saja... kita tidak tahu apa tujuan Kui Bin Pang itu."

"Aaaah...." Kam Hay Thian menghela nafas panjang. "Seng

Hwee Sin Kun belum mati, aku harus membunuhnya!"

"Kakak Hay Thian!" Lu Hui San memancingnya dengan kening berkerut. "Engkau...."

"Adik     HuiSan, aku...." Kam       Hay        Thian     menundukkan

kepala.


0 Response to "Pendekar Sakti Suling Pualam Bagian 07"

Post a Comment