coba

Pendekar Sakti Suling Pualam Bagian 06

Mode Malam
Bagian 06

"Berpakaian putih, mengeluarkan siulan seram dan memakai kedok setan..." gumam Lim Peng Hang sambil berpikir. Kemudian ia memandang Gouw Han Tiong seraya bertanya, "Engkau pernah dengar tentang perkumpulan itu?"

"Tidak pernah." Gouw Han Tiong menggelengkan kepala. "Mungkin perkumpulan baru."

"Mereka menuju utara." Lie Ai Ling memberitahukan. "Aku ingin menguntit mereka, tapi Goat Nio tidak setuju."

"Memang tidak baik kalian menguntit mereka, sebab akan menimbulkan masalah," ujar Lim Peng Hang.

"Aaaah...!" Gouw Han Tiong menghela nafas panjang, "rimba persilatan akan bertambah kacau!"

"Oh ya!" Lim Peng Hang memandang Siang Koan Goat Nio dan Lie Ai Ling. "Bagaimana rencana kalian?"

"Rencana apa?" tanya Lie Ai Ling.

"Siapa di antara kalian yang akan mengantar Yatsumi ke Pulau Hong Hoang To menemui Cie Hiong?" sahut Lim Peng Hang.

"Goat Nio! Bagaimana kalau kita berdua mengantarnya ke Pulau Hong Hoang To?" tanya Ai Ling seakan mengusulkan.

"Aku di sini saja menunggu Bun Yang. Engkau yang mengantar Yatsumi ke sana."

"Itu...." Lie Ai Ling mengerutkan kening sambil berpikir,

lama sekali barulah ia berkata. "Baik lah. Tapi engkau harus menungguku di sini!"

”Ya." Siang Koan Goat Nio mengangguk.

"Ai Ling," tanya Lim Peng Hang. "Kapan engkau akan mengantar Yatsumi ke Pulau Ho Hoang To?"

"Besok pagi," sahut Lie Ai Ling dan menai bahkan. "Biar Goat Nio berada di sini menunggu Kakak Bun Yang, sebab dia rindu sekali kepadanya."

"Oh?" Lim Peng Hang tertawa gelak, "jadi Goat Nio dan Bun Yang sudah saling mencinta?'

"Tidak salah," sahut Lie Ai Ling sambil tertawa. "Kelihatannya Goat Nio sudah menderita sakit rindu."

"Ai Ling!" Wajah Siang Koan Goat Nio langsung memerah. "Engkau...."

"Hi hi hi!" Lie Ai Ling tertawa geli. "Mengaku sajalah, tidak usah berpura-pura!"

"Ha ha ha!" Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong tertawa terbahak-bahak. "Bagus! Bagus sekali!"

Keesokan harinya, Lie Ai Ling dan Yatsumi meninggalkan markas pusat Kay Pang, menuju pulau Hong Hoang To.

---ooo0dw0ooo---


Beberapa hari kemudian, kedua gadis itu suka tiba di sebuah kota. Mereka bermalam di kota itu, dan keesokan



harinya melanjutkan perjalanan lagi. Sepanjang jalan, Lie Ai Ling terusku menerus bertanya ini dan itu kepada Yatsumi.

"Bagaimana keadaan di Jepang? Apakah aman di sana?"

"Kalau aman..." sahut Yatsumi sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Tidak mungkin aku kabur ke sini."

"Di sana juga banyak penjahat?"

"Banyak sekali." Yatsumi memberitahukan "Seperti di Tionggoan ini, bukankah juga banyak penjahat?"

"Ya." Lie Ai Ling manggut-manggut. "Yatsumi, engkau sudah punya kekasih belum?"

"Cuma punya teman biasa," sahut Yatsumi jujur. "Dia pemuda yang baik, namun kepandaian nya tidak begitu tinggi."

"Itu tidak jadi masalah," ujar Lie Ai Lim sambil tersenyum. "Yang penting dia mencintai mu. Engkau tidak boleh mempermasalahkan kepandaiannya."

"Tapi...."              Yatsumi                menggeleng-gelengkan                kepala. "Dia

berasal dari keluarga pembesar, mungkin ayahnya tidak akan setuju."

"Itu urusan kalian berdua. Kalau kalian berdua saling mencinta, berarti tiada urusan dengan orang tuanya."

"Itu tidak bisa." Yatsumi menghela nafas. "Apa bila dia berani menentang kemauan ayahnya, pasti dihukum mati."

"Haaah?" Lie Ai Ling tersentak. "Begitu kolot adat Jepang?"

"Bukan  kolot...."  Yatsumi  memberitahuku  "Itu  memang

sudah merupakan adat di Jepan Orang biasa tidak boleh menikah dengan keluarga-pembesar."

"Sebetulnya di sini pun sama," ujar Lie Ai ling. "Tapi kalau sudah saling mencinta, tentu ada jalannya."



"Jalan apa?"

"Kelak setelah berhasil membunuh ketua ninja itu, engkau harus mencari pemuda itu, lalu kalian berdua kabur ke Tionggoan. Pokoknya kami pasti akan melindungi kalian."

"Terimakasih!" ucap Yatsumi. "Aku...."

"Ha ha ha!" Terdengar suara tawa, setelah itu muncul beberapa orang berpakaian hijau.

"Hmm!" dengus Lie Ai Ling. "Ternyata mereka para anggota Seng Hwee Kauw!"

"Tidak salah, Nona manis," sahut Kepala anggota Seng Hwee Kauw sambil mendekatinya. "Kelihatannya kalian berdua sedang melakukan perjalanan. Tentu kalian merasa lelah dan kesepian. Nah, bagaimana kalau kalian beristirahat sambil bersenang-senang dengan kami berenam?"

"Cepat kalian enyah dari sini!" bentak Lie Ai tjng sambil menghunus Hong Hoang Po Kiam. ”Kalau kalian tidak enyah, aku akan bunuh kalian!"

"He he he!" Kepala anggota Seng Hwee Kauw tertawa terkekeh-kekeh. "Aku tahu, engkau adalah Hong Hoang Li Hiap! Namun engkau tidak mampu melawan kami berenam! Maka dari pada engkau harus celaka, bukankah lebih baik me-layani kami bersenang-senang?"

"Diam!" bentak Lie Ai Ling gusar, kemudian mendadak menyerangnya dengan Hong Hoan, Kiam Hoat.

"Wuah!" Kepala anggota Seng Hwee Kau-itu tertawa. "Ha ha ha! Sungguh sadis! Ingin membunuhku ya?"

Lie Ai Ling tidak menyahut, melainkan terus menyerangnya. Sementara yang lain dan Yatsumi cuma berdiri diam sambil menyaksikan pertarungan itu. Kepala anggota Seng Hwee Kauw-memang berkepandaian tinggi, karena dengan gampang sekali ia berkelit menghindari serangan serangan Lie Ai Ling.



Mendadak Lie Ai Ling menghentikan serangannya, dan Kepala anggota Seng Hwee Kau itu tertawa gelak.

"Ha ha ha! Kenapa berhenti? Engkau bersedia bersenang-senang denganku?"

"Aku tidak mau menyerang orang yang bersenjata!" sahut Lie Ai Ling dingin. "Cepat keluarkan senjatamu!"

"Baik!" Kepala anggota Seng Hwee Kauw segera mengeluarkan senjatanya. Ternyata sebuah pedang tipis yang memancarkan cahaya putih "Engkau memiliki pedang pusaka, aku pun miliki pedang pusaka ini. Ayoh, mari kita ber tarung! Kalau engkau kalah, harus melayani bersenang-senang!"

"Hmm!" dengus Lie Ai Ling dingin, kemudian membentak. "Lihat serangan!"

Lie Ai Ling langsung menyerangnya. Kali ini ia menggunakan Thian Liong Kiam Hoat. Lie Man Chiu yang mengajarnya ilmu pedang tersebut.

"Hebat!" seru kepala anggota Seng Hwee Kauw sambil berkelit, lalu balas menyerang.

Terjadilah pertarungan sengit. Lie Ai Ling menyerangnya mati-matian, tapi Kepala anggota Seng Hwee Kauw itu selalu dapat berkelit. Betapa penasarannya gadis itu, mendadak ia bersiul panjang sambil menggerakkan pedangnya.

Ketika melihat gerakan pedang Lie Ai Ling, Kepala anggota Seng Hwee Kauw itu terbelalak, karena gerakan pedang gadis itu kacau balau. Ternyata Lie Ai Ling menggunakan Cit Loan Kiam Hoat (Ilmu Pedang Pusing Tujuh Keliling), ciptaan Tio Cie Hiong.

Menghadapi ilmu pedang yang amat aneh itu, Kepala anggota Seng Hwee Kauw langsung meloncat ke belakang sambil berseru.

"Cepat serang dia!"



Para anggota Seng Hwee Kauw segera menyerang Lie Ai Ling. Gadis itu membentak keras, sambil menangkis serangan-serangan lawan dengan jurus Ban Kiam Hui Thian (Selaksa Pedang Terbang Di Langit). Tampak pedangnya berkelebat secara kacau balau ke sana ke mari, membuat para anggota Seng Hwee Kauw itu menjadi berkunang-kunang.

Trang! Trang...! Terdengar suara benturan senjata.

Para anggota Seng Hwee Kauw terhuyung huyung beberapa langkah. Namun sungguh sayang sekali, lweekang Lie Ai Ling masih belum begitu tinggi. Kalau lweekangnya tinggi, para anggota Seng Hwee Kauw itu pasti sudah terluka.

"Serang dia lagi!" seru Kepala anggota Seng Hwee Kauw.

Ketika para anggota Seng Hwee Kauw baru mau menyerang lagi, mendadak terdengar suara bentakan keras, kemudian melayang turun seorang pemuda berwajah tampan di sisi Lie Ai Ling.

"Jangan takut, Nona! Aku akan membantumu!" ujar pemuda itu sambil tersenyum. "Engkau beristirahatlah! Biar aku yang melawan mereka'

"Terimakasih!" ucap Lie Ai Ling dengan hati berdebar-debar aneh ketika melihat pemuda itu. lalu melangkah ke sisi Yatsumi.

"Kalian sungguh tak tahu malu!" bentak pemuda itu sambil menuding para anggota Seng Hwee Kauw. "Mengeroyok seorang gadis! Kini aku akan merobohkan kalian semua!"

"Oh?" Kepala anggota Seng Hwee Kauw itu tertawa gelak. "Anak muda, jangan omong besar”

"Aku tidak omong besar!" sahut pemuda itu sambil menghunus pedangnya. Sungguh aneh bentuk pedangnya, karena bergerigi-gerigi.

"Serang dia!" seru Kepala anggota Seng Hwee Kauw.



Para anggota Seng Hwee Kauw segera menyerang. Pemuda itu masih tetap berdiri diam di tempat. Namun ketika senjata-senjata itu hampir menyentuhnya, sekonyong-konyong badan pemuda itu berputar-putar melambung ke atas, dan pedangnya bergerak secepat kilat menyambar kesana ke mari.

Trang! Trang! Trang...! Terdengar suara benturan senjata, kemudian tampak beberapa buah senjata terlempar ke atas.

"Bagus!" seru Lie Ai Ling sambil bertepuk tangan. "Jurus yang hebat sekali!"

"Terimakasih atas pujian Nona!" sahut pemuda itu sambil melayang turun.

"Cukup tinggi kepandaianmu!" ujar Kepala mggota Seng Hwee Kauw. "Sekarang aku akan menghadapimu!"

"Baik!" Pemuda itu manggut-manggut.

"Lihat serangan!" bentak Kepala anggota Seng Hwee Kauw itu sambil menyerangnya.

Pemuda itu tertawa dan sekaligus berkelit, kemudian balas menyerang. Mulailah mereka bertarung dengan seru, dan masing-masing mengeluarkan jurus-jurus andalannya.

Tak terasa pertarungan sudah melewati puluhan jurus. Di saat itulah pemuda tersebut bersiul panjang. Mendadak badannya berputar-putar ka arah Kepala anggota Seng Hwee Kauw, dan pedangnya, yang aneh itu berkelebat dan menyambal ke sana ke mari. Itu membuat Kepala anggota Seng Hwee Kauw tidak bisa berkelit, maka terpaksa menangkis.

Trang...! Terdengar suara benturan keras, dan bunga api berpijar ke mana-mana.

Kepala anggota Seng Hwee Kauw itu memang berhasil menangkis serangan itu, tapi sungguh diluar dugaan, sebab



mendadak pemuda itu meng gerakkan pedangnya membentuk sebuah lingkal an, sehingga membuat pedang lawannya harui berputar juga. Di saat itulah ujung pedang pe muda itu menerobos mengarah ke dada lawannya.

"Aaaakh...!" Kepala anggota Seng Hwee Kauw itu menjerit sambil menyurut mundur beberapa langkah, dadanya sudah berlumuran darah.

"Aku tidak akan membunuhmu," ujar pemuda itu sambil tersenyum. "Cepatlah ajak mereka pergi, jangan coba-coba mengganggu nona ini lagi?

"Sebutkan namamu!" bentak Kepala anggota Seng Hwee Kauw itu, namun kemudian malah merintih-rintih. "Aduuuh...!"

"Namaku Sie Keng Hauw!" sahut pemuda itu "Kalau engkau ingin balas dendam kelak, silakan Tapi... saat itulah engkau akan mati di ujung pedangku!"

Kepala anggota Seng Hwee Kauw itu menatapnya dengan mata berapi-api, lalu melangkah pergi sambil mendekap dadanya. Para anak buahnyaa segera mengikutinya dari belakang dengan kepala tertunduk.

”Terimakasih, Saudara Sie!" ucap Lie Ai Ling, yang ternyata sangat tertarik padanya.

"Kok Nona tahu margaku?" Pemuda itu heran.

"Bukankah barusan engkau memberitahukan kepada Kepala anggota Seng Hwee Kauw itu?" sahut Lie Ai Ling sambil tersenyum manis.

"Oooh." Pemuda itu manggut-manggut. "Nona, naaku Sie Keng Hauw. Bolehkah aku tahu namamu?"

"Aku bernama Lie Ai Ling," Gadis itu memperkenalkan. "Dia bernama Yatsumi, berasal dari Jepang."



"Selamat bertemu! Selamat bertemu!" ucap Sie Keng Hauw. "Aku sungguh gembira sekali berkenalan dengan Nona!"

"Engkau merasa gembira berkenalan dengan-ku atau gadis Jepang itu?" tanya Lie Ai Ling sambil menatapnya.

"Aku merasa gembira berkenalan denganmu," sahut Sie Keng Hauw blak-blakan. "Sebab Nona cantik sekali."

"Oh, ya?" Hati Lie Ai Ling berbunga-bunga mendengar pujian pemuda itu. "Aku pun gembira sekali berkenalan denganmu."

"Sungguh?" Wajah Sie Keng Hauw cerah ceria. "Nona tidak bohong?"

"Aku tidak bohong. Saudara Sie, jangan memanggilku nona, panggil saja namaku!"

"Baik, Ai Ling." Sie Keng Hauw menatapnya dengan mata berbinar-binar. "Oh ya! Bolehkah aku tahu kalian mau ke mana?"

"Kami mau ke Pulau Hong Hoang To," jawab, Lie Ai Ling jujur. "Engkau mau ke mana?"

"Aku mau pergi menemui ayahku." Sie Keng Hauw memberitahukan. "Sudah belasan tahun aku tidak bertemu ayahku."

"Engkau berada di mana selama belasan tahun ini?" tanya Lie Ai Ling heran.

"Berada di tempat guruku belajar ilmu silat“ sahut Sie Keng Hauw. "Aku telah berhasil menguasai seluruh ilmu guruku, maka aku diperbolehkan pulang."

"Siapa gurumu?"

"Maaf! Guru melarangku menyebut nama nya."

"Tidak apa-apa."



"Ai  Ling...."  Sie  Keng  Hauw  menatapnya  dalam-dalam.

"Sayang sekali, aku harus segera pulang. Kita berpisah di sini."

"Yaaah!" Lie Ai Ling menghela nafas panjang "Baru bertemu sudah mau berpisah! Kapan kita akan berjumpa kembali?"

"Itu...." Sie Keng Hauw mengerutkan kening "Oh ya! Aku

harus ke mana mencarimu?"

"Kalau engkau ingin menemuiku, carilah aku di markas pusat Kay Pang!" sahut Lie Ai Ling. ”Aku menantimu di sana."

"Baik." Mendadak Sie Keng Hauw memegang bahu gadis itu. "Kita akan berjumpa lagi, aku pasti ke markas pusat Kay Pang menemuimu."

"Aku...." Lie Ai Ling menundukkan kepala, namun bergirang

dalam hati karena pemuda itu memegang bahunya. "Aku pasti menantimu."

"Baiklah," ucap Sie Keng Hauw. "Sampai jumpa?"

"Sampai jumpa, Keng Hauw!" sahut Lie Ai ling sambil mendongakkan kepala memandangnya. "Aku pasti menantimu di markas pusat Kay Pang."

"Ai Ling! Sampai jumpa...." Sie Keng Hauw meleset pergi.

Walau pemuda itu sudah tidak kelihatan, namun Lie Ai Ling masih berdiri termangu-mangu disitu.

"Ai Ling!" Yatsumi menepuk bahunya sambil 'tersenyum. "Pemuda itu sudah pergi jauh, engkau k masih melamun di sini?"

"Haah...?" Lie Ai Ling tersentak kaget, wajah-nya tampak kemerah-merahan. "Aku____"

"Aku tahu...." Yatsumi tertawa kecil. "Engkau sudah jatuh

cinta kepada pemuda itu. Kelihatannya dia memang pemuda baik, sabar, jujur dan tampan."



"Benar!" Lie Ai Ling mengangguk lalu bergumam. "Sie Keng Hauw! Sei Keng Hauw...."

"Eh?" Yatsumi menatapnya heran. "Ai Ling kenapa engkau?"

"Rasanya aku pernah mendengar nama tersebut," sahut Lie Ai Ling sambil berpikir. "Hanya saja aku lupa dengar di mana?"

Siapa sebenarnya Sie Keng Hauw itu? Di tidak lain adalah putra Sie Kuang Han, saudara Lu Hui San. Ketika Tio Bun Yang, Lu Hui Sai-Siang Koan Goat Nio dan Lie Ai Ling berada di rumah Sie Kuang Han, orang tua itu pernah menyebut nama putranya yaitu Sie Keng Hauw Namun, Lie Ai Ling sudah tidak ingat itu lagi.

"Ai          Ling...." Yatsumi                menatapnya      dalam-dalam.

"Kelihatannya pemuda itu juga sangat tertarik kepadamu."

"Oh?" Lie Ai Ling tertawa gembira. "Bagimana menurutmu, apakah aku cocok dengan dia

"Kalian berdua memang cocok," sahut Yatsumi sambil tertawa. "Ai Ling, aku mengucapkan selamat kepadamu! Engkau telah bertemu p muda idaman hatimu, aku turut gembira."

"Terimakasih!" ucap Lie Ai Ling. "Yatsumi mari kita melanjutkan perjalanan agar bisa cepat tiba di Pulau Hong Hoang To!"

"Baik." Yatsumi mengangguk. Mereka berdua lalu melanjutkan perjalanan Kali ini dalam perjalanan wajah Sie Keng Hauw terus bermunculan di pelupuk mata Lie Ai Ling, sehingga membuat gadis itu tersenyum sendiri.

Diam-diam Yatsumi tertawa geli, namun sikap Lie Ai Ling justru membuatnya teringat kepada pemuda idaman hatinya yang di Jepang.

---ooo0dw0ooo---






Bagian ke tiga puluh delapan Berangkat ke Gunung Thian San

Tiga hari setelah Lie Ai Ling mengantar Yatsumi ke Pulau Hong Hoang To, Siang Koan Goat Nio yang berada di markas pusat Kay Pang mulai tak sabar menunggu, sebab Tio Bun Yang, yang dirindukannya masih belum muncul.

Hal itu membuat gadis tersebut sering duduk melamun. Sikapnya itu tidak terlepas dari mata Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong.

"Goat    Nio...."  Lim         Peng      Hang      dan        Gouw    Han        Tiong

mendekati gadis yang sedang duduk melamun di ruang tengah itu.

"Kakek Lim, Kakek Gouw!" panggil Siang Koan Goat Nio, kemudian menundukkan kepala.

"Goat Nio!" Lim Peng Hang menatapnya seraya bertanya, "Kenapa engkau duduk melamun di sini? Apa yang engkau pikirkan?"

"Aku...." Siang Koan Goat Nio menghela nafas panjang.

"Memikirkan Bun Yang?" tanya Lim Peng Hang lembut.

"Ya!" Siang Koan Goat Nio mengangguk "Aku mencemaskannya, kenapa hingga saat ini dia belum ke mari? Mungkinkah telah terjadi sesuatu atas dirinya?"

"Engkau tidak usah cemas," ujar Lim Peng Han menghiburnya. "Dia tidak akan terjadi suatu apa pun, percayalah!"

"Tapi...."



"Goat Nio...." Gouw Hang Tiong tersenyum "Aku yakin dia

sedang merawat monyet bulu putih itu di Thian San, maka dia belum ke mari."

"Tapi sudah sekian lama."

"Engkau tahu, kan?" Gouw Han Tiong ter senyum lembut. "Monyet bulu putih itu terluka parah, tentunya membutuhkan waktu untuk merawatnya."

"Terus terang, aku...."

"Katakanlah!" ujar Lim Peng Hang dan menambahkan, "Bun Yang adalah cucuku, maka engkau jangan ragu mengutarakan sesuatu ke padaku!"

"Kakek Lim, aku ingin menyusulnya."

"Apa?" Lim Peng Hang terbelalak. "Maksud mu ingin ke Gunung Thian San?"

"Ya." Siang Koan Goat Nio mengangguk.

"Goat Nio____" Lim Peng Hang menggeleng-gelengkan kepala. "Engkau harus tahu! Gunung thian San begitu luas dan dingin sekali, bagaimana mungkin engkau mencarinya di sana?"

"Tentunya lebih baik aku mencarinya di sana dari pada terus melamun di sini."

"Goat Nio!" Lim Peng Hang menatapnya tajam. "Pikirkan baik-baik jangan terlampau cepat mengambil keputusan! Lagi pula bukankah engkau harus menunggu Ai Ling?"

"Kakek Lim, aku sudah mengambil keputusan iu," ujar Siang Koan Goat Nio sungguh-sungguh. Besok pagi aku akan berangkat ke Gunung Thian san."

"Goat    Nio...."  Lim         Peng      Hang      menggeleng-gelengkan

kepala. "Aku tidak bisa melarangmu, kalau memang engkau



sudah mengambil keputusan itu, besok pagi engkau boleh berangkat kegunung Thian San!"

"Terimakasih, Kakek Lim!"

"Kalau engkau bertemu dengan Bun Yang, ajak dia ke mari!" pesan Lim Peng Hang. "Sebaliknya apabila engkau tidak berhasil mencarinya ke Gunung Thian San, engkau harus segera Kembali."

"Ya," Siang Koan Goat Nio mengangguk. Keesokan harinya, berangkatlah Siang Koan Goat Nio ke Gunung Thian San. Seandainya ia bisa bersabar dua tiga hari. gadis itu pasti bertemu Tio Bun Yang. Akan tetapi, saking rindunya kepada Tio Bun Yang membuatnya tidak bisa sabar menunggu, maka ia mengambil keputusan berangkat ke Gunung Thian San.

Tiga hari kemudian, sampailah Tio Bun Yang di markas pusat Kay Pang. Begitu melihat pemuda itu, Lim Peng Hang langsung menghela nafai panjang.

"Kakek...."          Tio          Bun        Yang      tercengang.        "Kenapa               Kakek

menghela nafas?"

"Kakek tahu, engkau ke mari ingin menemui Goat Nio.

Tapi...." Lim Peng Hang menggeleng gelengkan kepala.

"Kenapa dia?" tanya Tio Bun Yang tegan, "Telah terjadi sesuatu atas dirinya?"

"Dia sudah berangkat ke Gunung Thian Sal tiga hari yang lalu." Lim Peng Hang memberitahu kan. "Maksudnya menyusulmu. Kakek menyuruhnya bersabar menunggu di sini, namun dia ber keras berangkat kc Gunung Thian San."

"Lalu adik Ai Ling, apakah dia juga ikut keunung Thian San?” tanya Tio Bun Yang.

"Ai Ling mengantar Yatsumi ke Pulau Hong Hoang To," sahut Lim Peng Hang melanjutkan. "Sedangkan Goat Nio menunggumu di sini. Namun dia tidak sabar menunggu



akhirnya mengambil keputusan berangkat ke Gunung Thian San. Kakek tahu, dia rindu sekali kepadamu.

"Kakek, siapa Yatsumi itu?"

"Gadis Jepang." Lim Peng Hang menjelaskan. 'Ketika Goat Nio dan Ai Ling menuju ke mari, ketika tengah jalan bertemu gadis Jepang itu, yang ternyata putri Michiko, kenalan ayahmu."

"Kenapa Adik Ai Ling mengantarnya ke Pulau Hong Hoang To?"

"Yatsumi ingin belajar ilmu silat kepada ayah-mu, karena kedua orang tuanya mati dibunuh ketua ninja..." tutur Lim Peng Hang tentang Michiko, ibu Yatsumi.

"Oooh!" Tio Bun Yang manggut-manggut setelah mendengar penuturan itu.

"Bun Yang!" Lim Peng Hang menatapnya seraya bertanya. "Bagaimana keadaan kauw heng? Kenapa engkau tidak membawanya ke mari?"

"Kakek...." Mata Tio Bun Yang mulai basah. 'Kauw heng

sudah mati."

"Haaah?" Lim Peng Hang terperanjat, kemudian wajahnya berubah murung. "Itu sungguh di luar dugaan!"

"Kauw heng terkena pukulan yang kan Seng Hwee Sin Kun, padahal pukulan itu diarahkan padaku. Kauw heng telah berkorban demi menyelamatkan nyawaku."

"Aaaah...!" Lim Peng Hang menghela nafai panjang. "Oh ya! Selama ini engkau berada di mana?"

"Aku berada di dalam goa es, di Gunung Thian San..." jawab Tio Bun Yang dan menutur.



"Oooh!" Lim Peng Hang manggut-manggul "Jadi kini engkau telah berhasil menguasai ilmu Kan Kun Taylo Im Kang?"

"Ya, Kakek." Tio Bun Yang mengangguk dan menutur lagi tentang Bokyong Sian Hoa, putri Manchuria itu.

"Pantas engkau tidak ke mari, ternyata engkau membawa putri Manchuria itu ke Pulau Hong Hoang To menemui ayahmu!" ujar Lim Peng Hang. "Tapi Goat Nio dan Ai Ling malah berangkat ke mari, jadi kalian selisih jalan."

"Kakek, aku mohon pamit untuk berangkat ke Gunung Thian San. Aku harus segera menyusul Goat Nio."

"Itu____" Lim Peng Hang berpikir sejenak, lama sekali barulah mengangguk seraya berkata, "Baik lah. Engkau boleh berangkat sekarang, mudah mudahan engkau berhasil menyusulnya!"

"Terimakasih, Kakek!" ucap Tio Bun Yang Pemuda itu segera meninggalkan markas pusat Kay Pang, dan langsung berangkat ke Gunung thian San. Setelah berada di tempat sepi. barulah ia menggunakan ginkangnya.

---oo0dw0ooo---

Sementara itu. Lie Ai Ling dan Yatsumi sudah tiba di Pulau Hong Hoang To. Tentunya mengherankan para penghuni pulau itu, dan Kou Hun bijin langsung menghujaninya dengan pertanyaan-pertanyaan.

"Kenapa engkau pulang seorang diri? Di mana goat Nio? Siapa gadis berpakaian aneh ini? Kenapa engkau membawanya ke mari?"

"Aduuuh!" keluh Lie Ai Ling sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Aku harus bagaimana menjawabnya?"

"Ai Ling," sahut Tio Hong Hoa sambil memandangnya. "Jawablah pertanyaan-pertanyaan itu satu persatu!"



"Ibu, aku sudah lupa apa yang ditanyakan Bibi Mijin," ujar Lie Ai Ling. "Langsung mengajukan begitu banyak pertanyaan sih!"

"Baik." Kou Hun Bijin manggut-manggut. "Aku akan mengajukan satu persatu pertanyaanku. Kenapa engkau pulang seorang diri?"

"Aku mengantar Yatsumi ke mari."

"Di mana Goat Nio?"

"Siapa gadis berpakaian aneh ini?"

"Dia berada di markas pusat Kay Pang."

"Dia bernama Yatsumi, gadis berasal dai Jepang."

"Kenapa engkau membawanya ke mari?"

"Dia ingin bertemu Paman Cie Hiong, maka aku membawanya ke mari."

"____" Ketika Kou Hun Bijin ingin bertanyi lagi, mendadak Sam Gan Sin Kay tertawa gelak

"Bijin! Jangan terus bertanya, kapan gilian Cie Hiong bertanya kepadanya?" ujar pengemi tua itu. "Gadis Jepang itu ke mari menemuinya biar Cie Hiong yang bertanya."

"Pengemis bau!" Kou Hun Bijin melotot. "Memangnya aku tidak boleh aku mewakili Cie Hong untuk bertanya ?”

"Tentu boleh. Tapi...." Sam Gan Sin Kj tertawa lagi. "Ha ha

ha! Apakah engkau tidak merasa capek terus-menerus bertanya?"

"Justru tidak." Kou Hun Bijin tertawa nyaring kemudian memandang Tio Cie Hiong seraya berkata, "Adik, sekarang engkau boleh bertanya padanya."

"Biar Kakak saja yang bertanya," sahut Cie Hiong sambil tersenyum.



"Kalau aku terus-menerus bertanya, pengemis bau yang mau mampus itu pasti bertambah tidak senang," ujar Kou Hun Bijin. "Maka lebih baik engkau saja yang bertanya."

Tio Cie Hiong mengangguk, lalu memandang Yatsumi seraya bertanya,

"Engkau berasal dari Jepang?"

"Maaf!" ucap Yatsumi sambil menatap Tio Cie Hiong. "Apakah aku sedang berhadapan dengan Paman Cie Hiong?"

"Betul."

"Paman, terimalah hormatku!" Yatsumi segera membungkukkan badannya, kemudian memberitahukan. "Aku memang berasal dari Jepang, namaku Yatsumi."

"Siapa yang menyuruhmu ke mari menemuiku?" tanya Tio Cie Hiong heran.

"Ibuku," jawab Yatsumi dengan air mata berlinang-linang. "Ibuku bernama Michiko."

"Oh?" Tio Cie Hiong. Lim Ceng Im dan lainnya terbelalak.

Mereka memang kenal Michiko.

"Duduklah, Yatsumi!" ujar Lim Ceng Im.

"Terimakasih, Bibi!" Yatsumi duduk dan memberitahukan. "Sebelum menghembuskan nafas penghabisan, ibuku berpesan kepadaku harus ke Tionggoan mencari Paman."

"Jadi...." Tio Cie Hiong mengerutkan kening. 'Ibumu sudah

meninggal?"

"Ya." Yatsumi terisak-isak. "Ibu dan ayahku meninggal karena dibunuh oleh ketua ninja baru."

"Ketua ninja baru?" Tio Cie Hiong terkejut.

"Siapa ketua ninja baru itu?"



"Dia adik seperguruan ketua ninja lama, nama nya Takara Nichiba. Kepandaiannya tinggi sekali maka ibuku menyuruhku kabur ke Tionggoan untuk mencari Paman. Aku pun disuruh belajar ilmu silat kepada Paman agar bisa membalas dendam," ujar Yatsumi dengan air mata berderai derai.

"Aaaah...!" Tio Cie Hiong menghela nafas panjang. "Itu merupakan kejadian yang sungguh di luar dugaan!"

"Oh ya!" Kou Hun Bijin menatapnya seraya bertanya, "Bagaimana engkau bisa bertemu Ai Ling dan putriku?"

"Secara kebetulan." tutur Yatsumi dan menambahkan. "Setelah itu, Ai Ling dan Goat Nio mengajakku ke markas pusat Kay Pang. Sesudah berunding, akhirnya Ai Ling mengantarku kemari menemui Paman Cie Hiong."

"Ooooh!" Kou Hun Bijin manggut-manggut kemudian bertanya kepada Ai Ling. "Kalian belum bertemu Bun Yang?"

"Belum," jawab Lie Ai Ling. "Dia tidak berada di markas pusat Kay Pang, mungkin masih berada di Gunung Thian San!"

"Itu gara-gara kalian tidak bisa bersabar,” tegur Kou Hun Bijin. "Maka kalian tidak bertemu Bun Yang."

"Memangnya kenapa?" Lie Ai Ling bingung

"Setelah kalian berangkat ke Tionggoan, beberapa hari kemudian Bun Yang justru pulang." Tio Hoang Hoa memberitahukan. "Dia pulang bersama Bokyong Sian Hoa."

"Oh?" Lie Ai Ling terbelalak. "Ibu, siapa Bokyong Sian Hoa itu?"

"Mantan putri Manchuria." Tio Hoang Hoa menjelaskan. "Ayahnya adalah raja Manchuria, teman baik pamanmu, tapi kedua orang tuanya sudah meninggal."

"Oooh!" Lie Ai Ling manggut-manggut. "Jadi kakak Bun Yang sudah berangkat ke Tionggoan?"

 "Ya." Tio Hoang Hoa mengangguk.

"Kalau begitu...." Lie Ai Ling tersenyum. "Dia pasti bertemu

Goat Nio di markas pusat Kay Pang, sebab Goat Nio menunggu di sana."

"Syukurlah!" ucap Kou Hun Bijin sambil tertawa gembira. "Legalah hatiku!"

Sementara Tio Cie Hiong terus memandang Yatsumi. Ia merasa iba pada gadis Jepang itu.

"Yatsumi," tanya Tio Cie Hiong sungguh-sungguh. "Jadi engkau ingin belajar ilmu silat?"

"Ya, Paman," sahut Yatsumi sambil menganggukkan kepala.

"Baiklah." Tio Cie Hiong manggut-manggut. ’Aku akan mengajarmu ilmu silat tingkat tinggi.'

"Terimakasih, Paman!" ucap Yatsumi gembira. 'Setelah aku berhasil menguasai ilmu silat tingkat tinggi, aku akan segera pulang ke Jepang untuk membalas dendam kedua orang tuaku."

"Oh ya!" Tio Cie Hiong menatapnya seraya bertanya. "Engkau pernah belajar ilmu silat kepada ibumu?"

"Ibuku  mengajarku  ilmu  Giok  Siauw  Bit  Ciat  Kang  Khi.

Katanya Paman yang mengajarkan padanya," ujar Yatsumi.

"Betul." Tio Cie Hiong manggut-manggut dan menambahkan. "Besok aku akan mulai menggemblengmu."

"Terimakasih, Paman!" ucap Yatsumi, kemu dian melirik Lie Ai Ling seraya berkata. "Paman, di tengah jalan kami dihadang beberapa panjahat Untung muncul seorang pendekar muda membantu kami. Pendekar muda itu tampan sekali."

"Oh?" Tio Cie Hiong tersenyum. "Siapa pendekar muda itu?"



"Dia bernama Sie Keng Hauw," jawab Yatsumi memberitahukan. "Kelihatannya dia dan Ai Ling sudah saling jatuh hati."

"Yatsumi!" Wajah Lie Ai Ling kemerah-merahan. "Jangan omong yang bukan-bukan! Aku akan marah lho!"

"Aku berkata sesungguhnya, kenapa engkau akan marah?" Yatsumi heran. "Seharusnya engkau berterus terang kepada orang tuamu."

"Eh? Engkau...." Lie Ai Ling melotot. "Kok engkau banyak

mulut sih?"

"Ai Ling!" Lie Man Chiu menatapnya tajam

”Bagaimana pemuda itu, apakah dia tergolong emuda baik, jujur, ramah tamah dan sopan?"

"Ayah...." Wajah Lie Ai Ling bertambah merah.

"Hi hi hi!" Mendadak Kou Hun Bijin tertawa berkikikan. "Man Chiu, kenapa engkau begitu kalut?"

"Ai Ling adalah putriku satu-satunya, tentu-iya aku kalut karena dia sudah jatuh hati pada seorang pemuda," sahut Lie Man Chiu sungguh-sungguh.

"Hi hi hi!" Kou Hun Bijin tertawa cekikikan lagi. "Engkau memang keterlaluan dan tidak bisa bersabar. Bukankah engkau boleh bertanya kepadanya di dalam kamar? Bertanya

secara terang-terangan di sini sama juga mempermalukannya."

"Benar." Lie Man Chiu manggut-manggut.

"Sungguh mengagumkan!" ujar Sam Gan Sin Hay sambil tertawa gelak. "Ha ha ha! Bahkan juga sungguh diluar dugaan. Kali ini Bijin bisa berpikir sampai sejauh itu."

"Memangnya aku tidak punya pikiran?" sahut ou Hun Bijin sambil melotot. "Hm! Dasar pengemis bau!"



"Ha ha ha...!" Sam Gan Sin Kay terus tertawa gelak, sedangkan Kou Hun Bijin pun terus melototinya.

"Oh ya!" Mendadak Lie Ai Ling teringat suatu. "Ayah, Ibu, ketika aku dan Goat Nio nuju markas pusat Kay Pang, di tengah jalan aku mendengar suara siulan aneh yang sangat menyeramkan. Setelah itu terdengar pula suara derap kaki kuda."

"Oh?" Lie Man Chiu mengerutkan kening "Kemudian apa yang kalian lihat?"

"Kami melihat segerombolan orang menung gang kuda, mereka terus mengeluarkan siulan aneh yang menyeramkan, bahkan juga memakai kedok setan."

"Apa?" Tio Tay Seng, majikan pulau Hong Hoang To itu tampak terkejut sekali. "Mereka juga berpakaian serba putih?"

"Ya." Lie Ai Ling mengangguk.

"Kui Bin Pang (Perkumpulan Muka Setan)!” seru Tio Tay Seng tak tertahan dan wajahnya tampak berubah. "Mungkinkah mereka itu para anggota Kui Bin Pang?"

"Tio Tocu!" Kou Hun Bijin menatapnya. "Engkau tahu jelas tentang perkumpulan itu?"

"Aku cuma dengar dari almarhum ayahku!” sahut Tio Tay Seng dan menutur. "Ketika ayahku baru muncul di Tionggoan menggunakan Hong Hoang Leng, di luar perbatasan dekat gurun pasir Sih Ih juga muncul sebuah perkumpulan misteri yang para anggota maupun ketuanya memakai kedok setan, dan berpakaian serba putih. Kemunculan mereka pasti disertai dengan suara siulan aneh yang menyeramkan. Mereka membantai ma nusia seperti membunuh semut. Para anggota perkumpulan itu rata-rata berkepandaian tinggi sekali, apalagi ketuanya."

"Aku pernah dengar mengenai Kui Bin Pang itu, kira-kira sudah hampir seratus tahun yang lalu," ujar Kou Hun Bijin.



"Tapi Kui Bin Pang itu cuma bergerak di luar perbatasan, tidak pernah memasuki daerah Tionggoan."

"Benar." Tio Tay Seng manggut-manggut. "Pada waktu itu, ayahku memperoleh informasi tentang Kui Bin Pang, maka segera berangkat ke kota Giok Bun Kwan (Kota Perbatasan). Namun ketika sampai di sebuah desa, ayahku justru malah bertemu dengan ketua Kui Ban Pang."

"Oh?" Sam Gan Sin Kay tertarik. "Lalu apa yang terjadi?"

"Ternyata ketua Kui Bin Pang memasuki daerah Tionggoan dengan maksud menyelidiki keadaan rimba persilatan Tionggoan. Setelah itu, barulah ia akan membawa para anggotanya untuk menyerbu ke rimba persilatan Tionggoan," ujar Tio Tay Seng memberitahukan. "Oleh karena itu, ayahku menantangnya bertarung."

"Mereka berdua jadi bertarung?" tanya Kou iiun Bijin.

"Tentu jadi," jawab Tio Tay Seng dan melanjutkan. "Sebab ketua Kui Bin Pang bersifat angkuh, maka terjadilah pertarungan yang amat seru dan sengit. Beberapa ratus jurus kemudian, ayahku berhasil memukulnya hingga jatuh ke jurang. Namun dada ayahku juga tertendang oleh tendangannya, sehingga membuat ayahku mengalami luka dalam yang cukup parah. Beberapa bulan kemudian, barulah ayahku bisa pulih.'

"Pantas sejak itu tiada kabar beritanya mengenai Kui Bin Pang yang misteri itu!" ujar Kou Hun Bijin. 'Ternyata ayahmu berhasil memukul ketua itu jatuh ke jurang!"

"Tio Tocu," tanya Kim Siauw Suseng. "Tentang kejadian itu tiada seorang pun yang mengetahuinya?"

"Memang tidak," jawab Tio Tay Seng. "Bahkan para anggota Kui Bin Pang pun tidak tahu tentang itu”

"Kalau   begitu...."            Tio          Cie          Hiong    mengerutkan    kening.

"Kenapa kini malah muncul para anggota Kui Bin Pang itu?"



"Aku pun tidak habis pikir," sahut Tio 'Im Seng sambil menggeleng-gelengkan kepala, kemudian menambahkan. "Para anggota Kui Bin Pang itu telah muncul, pertanda perkumpulan itu sudah punya ketua. Karena itu...."

"Hi hi hi!" Kou Hun Bijin tertawa nyaring "Tio Tocu, engkau khawatir perkumpulan itu akab ke mari menuntut balas?"

"Kalau terjadi itu, bukankah ketenangan Pulau Hong Hoang To ini akan terusik?" sahut Tay Seng sambil menghela nafas panjang. "Kita semua ingin hidup tenang dan damai di sini.'

"Paman," ujar Tio Cie Hiong. "Kui Bin Pang itu sama sekali tidak tahu apa yang telah terjadi atas diri ketua yang dulu. tentunya mereka tidak akan ke mari menuntut balas."

"Tapi biar bagaimanapun, kita harus berjaga-jaga,” sahut Tio Tay Seng sungguh-sungguh.

"Ha ha ha!" Sam Gan Sin Kay tertawa gelak. ”Tio Tocu, kalau Kui Bin Pang ke mari, kita habiskan saja mereka."

"Pengemis  bau...."  Tio  Tay  Seng  menggeleng-geengkan

kepala. "Engkau harus tahu, para anggota Kui Bin Pang dan ketuanya berkepandaian tinggi sekali. Terus terang, kemungkinan besar aku bukan tandingan ketuanya."

"Hi hi hi!" Kou Hun Bijin tertawa cekikikan. ”Tio Tocu, kenapa engkau berubah menjadi pengecut?"

"Bijin!" Tio Tay Seng tersenyum getir. "Aku tidak berubah menjadi pengecut, melainkan memikirkan ketenangan pulau ini."

"Sudahlah!" tandas Kim Siauw Suseng. "Belum tentu mereka itu para anggota Kui Bin Pang. kalaupun benar, kita tidak usah takut."

"Tapi...." Tio Tay Seng menghela nafas panjang. "Apabila

Kui Bin Fang muncul di rimba persilatan, pasti akan terjadi pula bencana di rimba persilatan."



"Paman," ujar Tio Cie Hiong. "Itu urusan rimba persilatan, kita tidak usah mencampurinya."

"Ngmmm!" Tio Tay Seng manggut-manggut.

Sementara Lie Ai Ling diam saja dengan pikiran menerawang. Apa yang mereka bicarakan bagaikan angin lalu, sebab pikirannya terus mengarah pada Sie Keng Hauw yang telah mencuri hatinya.

"Ai Ling!" Tio Hong Hoa menatapnya seraya bertanya, "Kenapa engkau melamun. Apa yang engkau pikirkan?"

"Ibu...."                Wajah   Lie          Ai            Ling        agak       kemerah              merahan.

"Yatsumi tidur di kamar mana?"

"Itu..." pikir Tio Hong Hoa sejenak. "Sekamar saja dengan Hui San dan Bokyong Sian Hoa."

"Kalau begitu, aku akan mengantarnya ke kamar untuk beristirahat," ujar Lie Ai Ling sambil menarik Yatsumi ke dalam.

Perlahan-lahan Lie Ai Ling membuka pintu kamar itu, dilihatnya Lu Hui San dan seorani gadis duduk di situ.

"Ai Ling” panggil Lu Hui San gembira.

"Hui San!" Lie Ai Ling menggenggam tangannya erat-erat. "Engkau kok agak kurusan?"

"Aku...." Lu Hui San menghela nafas panjang "Oh ya, mari

kuperkenalkan! Ini adalah Bokyon Sian Hoa, berasal dari Manchuria."

"Selamat bertemu, Sian Hoa!" ucap Lie ai Ling sambil memberi hormat, lalu memperkenalkan Yatsumi. "Dia berasal dari Jepang, namanya Yatsumi”

"Selamat bertemu Nona Hui San dan Non Sian Hoa!" ucap Yatsumi sambil membungkuk badannya.



"Hi hi hi!" Bokyong Sian Hoa tertawa geli, sekaligus balas memberi hormat dengan cara menjura. "Kenapa engkau membungkukkan badanmu dalam-dalam begitu?"

"Ini cara Bangsa Jepang memberi hormat," sahut Yatsumi memberitahukan sambil tersenyum.

"Ooh!" Bokyong Sian Hoa manggut-manggut, kemudian bertanya kepada Lie Ai Ling. "Engkau bertemu Kakak Bun Yang?"

"Tidak." Lie Ai Ling menggelengkan kepala.

"Tapi dia bertemu seorang pemuda tampan. Mereka berdua sudah saling jatuh hati," sela Tatsumi memberitahukan.

"Eh? Engkau kok begitu banyak mulut sih?" tegur Lie Ai Ling sambil melotot.

"Ai Ling!" Lu Hui San tampak gembira. "Siapa pemuda itu? Betulkah kalian berdua sudah saling jatuh hati?"

"Dia bernama Sie Keng Hauw, kami berdua...." Lie Ai Ling

tidak melanjutkan ucapannya, Mainkan tampak tersipu.

"Apa?" Lu Hui San tersentak. "Pemuda itu bernama Sie Keng Hauw?"

"Engkau kenal dia?" Lie Ai Ling heran.

"Mungkinkah dia putra pamanku?" sahut Lu Hui San. "Tentunya engkau masih ingat, pamanku adalah Sie Kuang Han."

"Ooooh!" Lie Ai Ling manggut-manggut. "Aku ingat sekarang, pantas aku merasa pernah mendengar nama itu! Ternyata dia putra pamanmu Sungguh di luar dugaan!"

"Ai Ling..." bisik Lu Hui San. "Ingat, engkau tidak boleh membuka tentang hubunganku dengan Lu Thay Kam!"

"Jadi...." Lie Ai Ling terbelalak. "Hingga kini dia belum tahu

ayah angkatmu adalah Lu Tha Kam?"



"Dia sama sekali tidak tahu," sahut Lui Hu San dengan suara rendah. "Kalau dia tahu, entah apa yang akan terjadi? Sebab dia sangat men dendam kepada ayah angkatku itu."

"Jangan khawatir!" Lie Ai Ling tersenyum "Aku tidak akan memberitahukan tentang itu. oh ya, ayahku sudah tahu?"

"Tentu, tahu," sahut Lu Hui San. "Karena ayahmu mantan wakil ayah angkatku."

"Oh?" Lie Ai Ling terbelalak.

"Ayahmu..." tutur Lu Hui San dan menambahkan. "Namun ayahmu sama sekali tidak membuka rahasiaku itu."

"Oooh!" Lie Ai Ling manggut-manggut. "Baik lah. Aku akan ke kamar untuk beristirahat sebentar. Kalau engkau berjumpa Keng Hauw lalu ajaklah dia ke mari!"

"Baik." Lie Ai Ling mengangguk, lalu melangkah ke kamarnya. Begitu memasuki kamarnya ia terbelalak karena melihat kedua orang tua sudah menunggu di situ. "Ayah, Ibu!"

"Ai Ling," sahut Tio Hong Hoa sambil tersenyum lembut. "Duduklah!"

Lie Ai Ling duduk di sebelah ibunya dengan kepala tertunduk. Gadis itu yakin ibunya akan tanya ini dan itu kepadanya.

"Ai Ling!" Tio Hong Hoa menatapnya seraya bertanya. "Betulkah engkau bertemu seorang pemuda, bahkan kalian berdua sudah saling jatuh hati?"

"Ya." Lie Ai Ling mengangguk malu-malu.

"Siapa pemuda itu?" tanya Lie Man Chiu. ”Apakah dia pemuda yang baik?"

"Dia bernama Sie Keng Hauw. Menurut aku dia memang pemuda yang baik," jawab Lie Ai ling dan menambahkan.



"Justru sungguh di luar dugaan, ternyata pemuda itu saudara Hui San."

"Oh?" Lie Man Chiu tertegun. "Dari mana engkau tahu?"

"Tadi Hui San memberitahukan, maka aku pun ingat...." Lie

Ai Ling memberitahukan sekaligus menutur tentang itu.

"Ooooh!" Lie Man Chiu manggut-manggut sambil tersenyum, kemudian berpesan. "Ai Ling, engkau tidak boleh memberitahukan kepada Hay Thian bahwa Lu Thay Kam adalah ayah angkat Hui San."

"Tadi Hui San juga berpesan begitu," ujar Lie Ai Ling melanjutkan. "Aku pun tak menyangka jikalau Ayah pernah jadi wakil ayah angkatnya."

"Ai Ling...." Lie Man Chiu menghela nafas panjang. "Itu

telah berlalu, jangan diungkit lagu" "Ya, Ayah." Lie Ai Ling mengangguk.
"Ai Ling!" Tio Hong Hoa menatapnya lembut "Apabila engkau bertemu lagi dengan pemuda itu, ajaklah dia ke mari menemui ibu dan ayah!"

"Ibu...."                Wajah   Lie          Ai            Ling        berseri.                "Besok  aku         akan

berangkat ke markas pusat Kay Pang sebab Goat Nio masih menunggu di sana. Lagi pula Keng Hauw akan ke markas pusat Kay Pang menemuiku. Aku... aku harus segera berangkat ke sana."

"Baik," pesan Lie Man Chiu sungguh-sungguh "Setelah kalian berjumpa, ajaklah dia ke mari!"

"Ya, Ayah." Lie Ai Ling mengangguk. Keesokan harinya, Lie Ai Ling berpamit ke pada semua orang.

"Ai Ling, kalau engkau bertemu Bun Yang dan Goat Nio, ajaklah mereka pulang!" pesan Lim Ceng Im.



"Seandainya cuma bertemu Goat Nio...." Kou Hun Bijin juga

ikut berpesan pada gadis itu "Biarlah dia tetap di markas pusat Kay Pang menunggu Bun Yang."

"Ya." Lie Ai Ling mengangguk.

"Ai Ling!" Sam Gan Sin Kay menatapnyi seraya berkata. "Sampaikan pesanku kepada Peng Hang, bahwa menyuruh dia menyelidiki Kui Biu Pang!"

Lie Ai Ling mengangguk lagi, dan setelah itu barulah berangkat. Lie Man Chiu, Tio Hong Hoa, Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im mengantarnya sampai di luar rumah.

"Syukurlah dia sudah punya kekasih!" ucap m Cie Hiong setelah Lie Ai Ling tidak kelihatan.

"Memang sungguh di luar dugaan!" sahut Lie lan Chiu sambil tersenyum. "Pemuda itu saudara Li Hui San!"

'Oh, ya?" Tio Cie Hiong tertegun. "Kok engkau tahu?"

"Ai Ling yang beritahukan," sahut Lie Man hiu menjelaskan. "Pemuda itu bernama Sie Keng Kauw, putra Sie Kuang Han, paman Lu Hui San."

"Aku jadi bingung nih," ujar Lim Ceng Im dengan kening berkerut. "Hui San bermarga Lu, sedangkan Keng Hauw bermarga Sie. Kok ayah Seng Hauw adalah paman Hui San?"

"Perlu kuberitahukan..." ujar Lie Man Chiu n menutur, kemudian menambahkan. "Kini kalian sudah tahu ayah angkat Hui San adalah Lu lay Kam, namun jangan menceritakan kepada Hay Thian!"

"Ooh!" Tio Cie Hiong manggut-manggut. "Tenyata begitu! Baiklah. Kami tidak akan menceritakan tentang itu kepada Hay Thian."

"Tapi...." Lim Ceng Im mengerutkan kening, ”Kelak Hay

Thian pasti mengetahuinya."



"Itu urusan kelak, lagi pula Hay Thian mungkin sudah mencintai Hui San," sahut Tio Hong Hoa

"Mudah-mudahan!" ucap Tio Cie Hiong sambil menghela nafas panjang. "Kini yang kupikirkan adalah Kui Bin Pang itu."

---ooo0dw0oo---


Bagian ke tiga puluh sembilan Menanti dengan penuh kesabaran

Di ruang depan markas pusat Kay Pang, tampah Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong sedang duduk sambil bercakap-cakap.

"Entah Bun Yang berhasil menyusul Goat Nio apa tidak?" ujar Lim Peng Hang sambil menghela nafas panjang.

"Aku justru khawatir mereka tidak bertemu” sahut Gouw Han Tiong. "Sebab Gunung Thian San begitu luas, tinggi dan udaranya dingin. Cara bagaimana Bun Yang bisa mencarinya?"

"Itu...." Lim Peng Hang menggeleng-geleng kan kepala.

Di saat bersamaan, muncul seorang pengemis tua menghadap mereka. Setelah memberi hormat pengemis itu melapor.

"Pangcu, ada seorang pemuda berkunjung kemari."

"Oh?" Lim Peng Hang tercengang. "Siapa pemuda itu? Mau apa dia berkunjung ke mari?"

"Dia bernama Sie Keng Hauw, ingin menemui Lie Ai Ling."

"Kalau begitu..." pikir Lim Peng Hang sejenak. ”Suruh dia masuk!"

"Ya, Pangcu." Pengemis tua itu memberi hormat lalu melangkah pergi. Tak lama muncullah Sie Keng Hauw.

"Pangcu!" Sie Keng Hauw menjura. "Terimalah hormatku!"



"Silakan duduk!" sahut Lim Peng Hang sambil menatapnya tajam.

"Terimakasih!" ucap Sie Keng Hauw lalu duduk.

"Anak muda, sebetulnya siapa engkau?" tanya iuw Han Tiong. "Bolehkah engkau menjelas-n/

"Namaku Sie Keng Hauw. Aku pernah bertemu Lie Ai Ling dan gadis Jepang itu." Sie Keng Hauw memberitahukan. "Dia yang berpesan kepadaku ke mari menunggunya, karena dia sedang mengantar gadis Jepang itu ke Pulau Hong Hoang to ”

"Ooh!" Lim Peng Hang manggut-manggut. ”Tapi dia belum ke mari, mungkin masih dalam perjalanan menuju ke sini."

"Kalau  begitu...."  Sie     Keng  Hauw        bangkit  dari  tempat

duduknya. "Aku mohon diri saja. Beberapa hari kemudian, aku akan ke mari lagi."

"Begini saja," ujar Gouw Han Tiong mengusulkan. "Lebih baik engkau tinggal di sini menunggunya, jadi engkau tidak usah repot ke sana ke mari!"

"Tapi akan merepotkan Paman-paman."

"Tidak apa-apa." Lim Peng Hang tertawa gelak. "Engkau boleh tinggal di sini menunggu Ai Ling. Oh ya, bolehkah kami tahu siapa orang tuamu?"

"Ayahku bernama Sie Kuang Han." Sie Keng Hauw memberitahukan.

"Ooh!" Lim Peng Hang manggut-manggut.

"Oh ya!" Sie Keng Hauw teringat sesuatu, dia langsung memberitahukan. "Aku juga kenal Tio Bun Yang dan Siang Koan Goat Nio. Mereka yang membawa Hui San pergi menemui ayahku.'

„Oh?" Wajah Lim Peng Hang berseri. "Sungguh diluar dugaan, engkau juga kenal cucuku!"



"Apa?" Sie Keng Hauw tertegun. "Bun Yang adalah cucu Paman?"

"Benar." Lim Peng Hang manggut-manggut "Ibunya adalah putriku. Oh ya, engkau juga kena! Lu Hui San?"

"Terus terang, Hui San dan aku bersaudara.” Sie Keng Hauw menjelaskan. "Ayahku dan ayah nya adalah saudara kandung."

"Oooh!" Lim Peng Hang manggut-manggut lagi. "Ternyata begitu! Tak disangka Lu Thay Kam adalah ayah angkatnya!"

"Paman, apakah Bun Yang, Goat Nio dan Hui .San tidak berada di sini?" tanya Sie Keng Hauw.

"Mereka tidak berada di sini. Hui San berada di Pulau Hong Hoang To, sedangkan Bun Yang dan Goat Nio...." Lim Peng Hang memberitahukan.

"Oooh!" Sie Keng Hauw manggut-manggut.

"Keng Hauw," ujar Gouw Han Tiong mendadak sambil tersenyum. "Engkau jangan memanggil kami paman, harus memanggil kami kakek!"

"Maaf!" Sie Keng Hauw cepat-cepat minta maaf. "Aku sama sekali tidak berpikir sampai kesitu, harap Kakek Lim dan Kakek Gouw sudi memaafkan ku!"

"Ha ha ha!" Gouw Han Tiong tertawa gelak. ”Tidak apa-apa."

"Keng Hauw!" Lim Peng Hang menatapnya lain. "Setelah engkau bertemu Ai Ling, bagaimana perasaanmu terhadapnya?" tanyanya.

"Aku..." Wajah Sie Keng Hauw agak kemerah-merahan. "Terkesan baik terhadapnya."

"Juga jatuh hati padanya?" tanya Lim Peng Hang lagi sambil tersenyum.



"Ya." Sie Keng Hauw mengangguk. "Tapi____"

"Kenapa?" tanya Lim Peng Hang cepat.

"Aku tidak tahu apakah dia juga jatuh hati padaku apa tidak," jawab Sie Keng Hauw sambil menghela nafas panjang.

"Keng Hauw," ujar Gouw Han Tiong sungguh sungguh. "Engkau harus bertanya kepadanya, jangan ragu dan merasa malu untuk bertanya!"

"Ya." Sie Keng Hauw mengangguk.

"Ha ha ha!" Lim Peng Hang tertawa gelak "Dia yang menyuruhmu menunggu di sini, tentunya dia juga telah jatuh hati padamu. Kalau tidak, bagaimana mungkin dia akan menyuruh ke mari menunggunya?"

"Benar." Wajah Sie Keng Hauw berseri.

Lim Peng Hang dan Gouw Hang Tiong salii memandang, kemudian keduanya tertawa terbahak bahak.

"Ha ha ha! Ha ha ha...!"

Walau Sie Keng Hauw sudah menunggu beberapa hari, Lie Ai Ling yang ditunggunya belum juga kunjung datang. Namun pemuda tersebut tidak putus harapan atau patah semangat, dia tetap menanti dengan penuh kesabaran.

Menyaksikan itu, diam-diam Lim Peng Han dan Gouw Han Tiong memujinya dalam hati Mereka berdua juga bersyukur dalam hati, karena Lie Ai Ling bertemu pemuda yang baik, sopan, tampan dan penuh kesabaran.

Hari ini Lim Peng Hang, Gouw Han Tiong in Sie Keng Houw duduk di ruang depan sambil bercakap-cakap.

"Heran?" gumam Lim Peng Hang. "Kenapa sudah lewat lima enam hari Ai Ling masih belum kemari?"

"Mungkin dia ada halangan," sahut Sie Keng Hauw. "Itu tidak apa-apa, aku akan tetap menunggunya di sini. Tapi



apakah aku tidak akan Mengganggu Kakek Lim dan Kakek Gouw?"

"Tentu tidak." Lim Peng Hang tersenyum. ”engkau boleh terus menunggunya di sini."

"Terimakasih, Kakek Lim." ucap Sie Keng lauw.

"Aku yakin..." ujar Gouw Han Tiong. "Dia pasti ke mari."

Di saat bersamaan, tampak sosok bayangan berkelebat ke dalam, terdengar pula suara seruan nyaring.

"Kakek Lim! Kakek Gouw!"

"Ai Ling!" sahut Lim Peng Hang dan Gouw lan Tiong sambil tertawa. "Ha ha ha! Akhirnya engkau muncul juga!"

"Ai Ling!" Sie Keng Hauw buru-buru mendekatinya. "Ai Ling!"

"Keng Hauw!" panggil Lie Ai Ling sambil memandangnya dengan mata berbinar-binar. "Sudah lama engkau menungguku di sini?"

"Tidak begitu lama," sahut Sie Keng Hau "Aku...."

"Tidak begitu lama, namun sudah enam hari dia menanti di sini," ujar Lim Peng Hang memberitahukan. "Akan tetapi, dia tetap menanti def ngan sabar sekali."

"Oh?" Wajah Lie Ai Ling berseri. "Terima kasih, Kakek Lim dan Kakek Gouw!"

"Lho?" Lim Peng Hang heran. "Kenapa engkau berterimakasih kepada kami?"

"Karena..." ujar Lie Ai Ling dengan suara rendah, "karena Keng Hauw diperbolehkan tinggal di sini menungguku."

"Ooh!" Lim Peng Hang manggut-manggut sambil tersenyum. "Ai Ling, dia pernah bertanya sesuatu kepada kami!"



"Apakah yang dia tanyakan?"

"Dia bertanya, apakah engkau juga jatuh hati padanya?"

"Dia____" Wajah Lie Ai Ling agak kemerah-merahan, namun hatinya berbunga-bunga. "Kakek Lim, betulkah dia bertanya begitu?"

"Betul." Lim Peng Hang mengangguk. "Nah engkau harus memberitahukan kepadanya!"

"Kakek Lim____" Lie Ai Ling cemberut.

"Baiklah." Ling Peng Hang dan Gouw Hai Tiong bangkit dari tempat duduknya. "Kami ke dalam, silakan kalian berdua saling mencurahkan isi hati masing-masing di sini!"

Usai berkata begitu, Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong berjalan ke dalam sambil tertawa gelak.

"Konyol sekali Kakek Lim dan Kakek Gouw!" ujar Lie Ai Ling dengan suara rendah.

"Mereka tidak konyol, melainkan demi kebaikan kita," sahut Sie Keng Hauw. "Ai Ling, mari kita duduk!"

Lie Ai Ling mengangguk. Mereka lalu duduk sambil saling memandang dengan mata berbinar-binar.

"Eeeh?" Lie Ai Ling menengok ke sana ke mari. "Kok Goat Nio tidak kelihatan?"

"Dia sudah berangkat ke Gunung Thian San." Sie Keng Hauw memberitahukan.

"Apa?" Lie Ai Ling tertegun. "Kapan dia berangkat?"

"Entahlah." Sie Keng Hauw menggelengkan kepala. "Kakek Lim yang memberitahukan kepadaku."

"Aaah...!" keluh Lie Ai Ling sambil menghela nafas panjang. "Kenapa dia tidak sabar menungguku?"



"Karena dia tak tahan menahan rindunya kepada Bun Yang," ujar Sie Keng Hauw. ”Maka dia berangkat ke sana."

"Oooh!" Lie Ai Ling manggut-manggut. "Seandainya aku tidak muncul hari ini, bagaimana engkau?"

"Aku akan tetap menanti dengan penuh ke sabaran."

"Bagaimana kalau aku tidak muncul sama sekali?"

"Aku pasti menyusulmu ke Pulau Hong Hoan To," ujar Sie Keng Hauw sungguh-sungguh. "Namun dengan membawa kekecewaan."

"Lho?" Lie Ai Ling terbelalak. "Kenapa harus membawa kekecewaan?"

"Karena engkau tidak muncul di sini, berarti engkau sudah melupakan aku. Nah, bukankah aku akan kecewa sekali?"

"Keng Hauw...." Lie Ai Ling tersenyum. "Kini aku sudah

berada di sisimu, bagaimana perasaan mu?"

"Aku gembira sekali," sahut Sie Keng Hauw kemudian mendadak menggenggam tangan gadis itu erat-erat. "Ai Ling, engkau jatuh hati padaku?"

"Ng!" Lie Ai Ling mengangguk perlahan. "Engkau?"

"Sama." Sie Keng Hauw tersenyum lembut "Oh ya! Ternyata engkau teman baik Hui San itu sungguh di luar dugaan!"

"Benar." Lie Ai Ling tertawa gembira. "Setelah aku tiba di Pulau Hong Hoang To, barulah aku tahu tentang itu. Hui San yang memberitahukan kepadaku. Pantas aku merasa pernah mendengar namamu!"

"Ai Ling, bagaimana keadaan adikku? Dia baik-baik saja?" tanya Sie Keng Hauw penuh perhatian.

"Dia baik-baik saja," jawab Lie Ai Ling. "Engkau tahu tentang itu dari ayahmu?"



"Ya." Sie Keng Hauw mengangguk. "Bahkan ayahku berpesan, aku dan Hui San tidak perlu menuntut balas terhadap Lu Thay Kam."

"Syukurlah!" ucap Lie Ai Ling. "Tapi ketika itu, Lu Thay Kam justru nyaris mati di tangan Hui San."

"Oh?" Sie Keng Hauw mengerutkan kening. 'Kenapa bisa begitu?"

"Ternyata Lu Thay Kam sangat menyayangi Kui San, maka dia rela mati di tangan Hui San." Lie Ai Ling memberitahukan, kemudian menutur tentang kemunculan Tio Bun Yang, yang menyelamatkan nyawa Lu Thay Kam.

"Aaaah!" Sie Keng Hauw menghela nafas panjang. "Pada dasarnya Lu Thay Kam tidak jahat, tapi dikarenakan politik di istana, maka dia tertaksa bertindak kejam."

"Tapi ada satu hal yang sangat memusingkan," ujar Lie Ai Ling sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Hal apa?"

"Mengenai Kam Hay Thian."

"Memangnya kenapa?"

"Hui San mencintainya, namun Kam Hay Thian bersikap acuh tak acuh kepadanya. Lagi pula dia sangat mendendam pada Lu Thay Kam karena....” Lie Ai Ling menceritakan

tentang kematian guru silat Lie dan putrinya yang dibunuh para anggota Hiat Ih Hwe. "oleh karena itu, Kam Hay Thian bersumpah akan membunuh Lu Thay Kam, sedangkan Lu Thay Kam adalah ayah angkat Hui San."

"Itu memang sangat memusingkan." Sie Ken, Hauw menghela nafas. "Oh ya! Apakah Kam Hay Thian belum tahu bahwa Lu Thay Kam adalah ayah angkat Hui San?"



"Belum tahu. Karena itu, engkau juga tidak boleh memberitahukannya apabila kalian bertemu!” pesan Lie Ai Ling.

"Ya." Sie Keng Hauw mengangguk. "Ai Ling aku ingin menemui Hui San. Maukah engkau mengantarku ke Pulau Hong Hoang To?"

”Tentu mau," sahut Lie Ai Ling sambil tersenyum manis. "Karena kedua orang tuaku pingin bertatap muka denganmu."

"Oh? Aku...."

"Engkau tidak mau bertatap muka dengan kedua orang tuaku?"

"Tentu mau dan memang harus. Tapi...." Sie Keng Hauw

tersenyum, "aku agak gugup."

"Kenapa harus gugup?" ujar Lie Ai Ling sambil menatapnya. "Kalau engkau gugup, pertanda... engkau tidak bersungguh-sungguh terhadapku lho!"

"Ai Ling!" Sie Keng Hauw menatapnya lembut seraya berkata, "Aku bersungguh-sungguh terhadapmu, percayalah!"

"Aku percaya." Lie Ai Ling menundukkan ppala.

"Ha ha ha!" Terdengar suara tawa gelak, muncul Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong. ”Bagaimana? Kalian berdua sudah beres menarahkan isi hati masing-masing?"

"Kakek Lim...." Lie Ai Ling cemberut.

"Sudah, Kakek Lim," sahut Sie Keng Hauw sambil tersenyum. "Terimakasih atas perhatian kakek Lim dan Kakek Gouw! Terimakasih!"

"Ha ha ha!" Lim Peng Hang dan Gouw Han tertawa lagi, lalu duduk sambil memandang mereka. "Kalian berdua merupakan pasangan yang cocok dan serasi. Kami turut gembira."



"Kakek Lim...." Lie Ai Ling melotot, lalu mendadak teringat

sesuatu. "Oh ya! Ada titipan pesan dari Sam Gan Sin Kay. Beliau berpesan...."

"Ayahku berpesan apa?" Lim Peng hang heran.

"Menyelidiki gerak gerik Kui Bin Pang (Perkumpulan Muka Setan)!" Lie Ai Ling memberitahukan. "Ternyata orang-orang berpakaian putih dan memakai kedok setan yang pernah kami lihat tempo hari itu, adalah para anggota Kui Bin Pang” "Kui Bin Pang?" Lim Peng Hang dan Gouw

Han Tiong saling memandang, keduanya kelihatan bingung. "Apakah Kui Bin Pang itu merupakai perkumpulan yang baru muncul di rimba per silatan?"

"Entahlah." Lie Ai Ling menggelengkan kepala. "Aku tidak begitu jelas. Tapi kakek Tio tahu tentang Kui Bin Pang itu."

"Oh?" Lim Peng Hang mengerutkan kening "Apa yang dikatakan Tio Tocu mengenai Kui Bin Pang itu?" ,

"Kakek Tio memberitahukan...” Lie Ai Lini menutur sesuai dengan apa yang dikatakan Tio Tay Seng.

Setelah mendengar penuturan Lie Ai Ling muka Lim Peng Hang dan Gouw Han Tion tampak berubah hebat.

"Kui Bin Pang..." gumam Gouw Han Tiong "Tidak salah. Almarhum pernah menceritaka tentang itu."

"Ayahmu tahu jelas mengenai Kui Bin Pang“ Lim Peng Hang tertegun.

"Ketika berusia belasan, ayahku pernah ke kota Giok Bun Kwan. Di kota perbatasan itu ayahku mendengar tentang Kui Bin Pang," ujar Gouw Han Tiong dan melanjutkan. "Perkumpulan itu merupakan perkumpulan misteri, ketua dan para anggotanya berkepandaian sangat tinggi sekali. Namun perkumpulan itu tidak pernah memasuki daerah Tionggoan."



"Kalau begitu...." Kening Lim Peng Hang berkerut-kerut.

"Kenapa kini para anggota Kui Bin Pang itu berada di Tionggoan?"

"Karena itu, Sam Gan Sin Kay menyuruh kita menyelidikinya," sahut Gouw Han Tiong.

"Ngmm!" Lim Peng Hang manggut-manggut. kita harus perintahkan beberapa anggota handal untuk menyelidiki itu."

"Betul." Gouw Han Tiong mengangguk. "Tapi jangan bentrok dengan mereka sehingga menimbulkan hal-hal yang tak diinginkan!" Lim Peng Hang manggut-manggut lagi, kemudian memandang Lie Ai Ling seraya bertanya, iTempo hari engkau dan Siang Koan Goat melihat mereka, apakah engkau masih ingat mereka menuju mana?"

"Mereka menuju utara!" Lie Ai Ling mem-itahukan.

"Baiklah," ujar Lim Peng Hang. "Kami akan menyelidiki tentang itu. Oh ya, Goat Nio tidak lagi menunggu di sini, dia sudah berangkat ke gunung Thian San."

"Keng Hauw sudah memberitahukan kepadaku”ujar Lie Ai Ling. "Kakek Lim, aku dan Keng Hauw harus segera berangkat ke Pulau Hong Hoang To."

"Tidak mau menunggu Goat Nio atau Bun Yang?” tanya Lim Peng Hang. "Ayah dan ibu berpesan kepadaku, aku harus segera membawa Keng Hauw ke Pulau Hong Hoang To," jawab Lie Ai Ling dan menambahkan. "Lagi pula Keng Hauw ingin bertemu Hui San."

"Kapan kalian akan berangkat?"

"Besok pagi. Oh ya! Paman Cie Hiong berpesan, kalau Kakak Bun Yang dan Goat Nio ke mari, tolong suruh mereka segera pulang ke Pulau Hong Hoang To!"



"Baik." Lim Peng Hang manggut-manggut. "Kalau mereka ke mari, pasti kusuruh segera pulang ke Pulau Hong Hoang To."

"Terimakasih, Kakek Lim!" ucap Lie Ai Ling.

"Ha ha ha!" Lim Peng Hang tertawa gelak. "Ai Ling, engkau sungguh beruntung sekali, karena Keng Hauw merupakan pemuda yang baik, tampan dan penuh kesabaran."

Lie Ai Ling dan Sie Keng Hauw telah meninggalkan markas pusat Kay Pang, langsung menuju Pulau Hong Hoang To. Perjalanan ini sung guh menggembirakan mereka. Mereka bersenda gurau, bercanda ria dan memadukan cinta.

Oleh karena itu, tak terasa sama sekali mereka sudah tiba di Pulau Hong Hoang To. Dapat dibayangkan, betapa gembiranya Lie Man Chiu dan Tio Hong Hoa, begitu pula yang lain.

Kou Hun Bijin terus memandang Sie Keng Hauw dengan penuh perhatian, kelihatannya seakan sedang mengamati suatu benda antik.

"Bijin!" tegur Sam Gan Sin Kay sambil tertawa pelak. "Ha ha ha! Kenapa engkau begitu?"

"Ngmmm!" Kou Hun Bijin manggut-manggut. "Pemuda itu memang pantas menjadi suami Ai Ling."

"Ha ha ha!" Sam Gan Sin Kay tertawa gelak lagi. "Kenapa engkau berubah menjadi begitu usil?"

"Hi hi hi!" Kou Hun Bijin tertawa nyaring. 'Aku paling tua di sini, tentunya berhak menentukan sesuatu."

"Oh, ya?" Sam Gan Sin Kay terbelalak.

"Tio Tocu!" Kou Hun Bijin menatapnya seraya bertanya, "Apakah aku tidak boleh menentukan sesuatu di sini?"



"Tentu boleh. Tentu boleh..." sahut Tio Tay Seng sambil tertawa terbahak-bahak.

Sementara Sie Keng Hauw berdiri terbengong-bengong di tempat, sebab barusan Kou Hun Bijin mengatakan bahwa dirinya paling tua, itu sungguh mengherankannya.

"Keng Hauw," bisik Lie Ai Ling memberitahu "Kou Hun Bijin sudah berusia seratus tahun lebih. Suaminya adalah Kim Siauw Suseng yang juga awet muda."

"Ooooh!" Sie Keng Hauw manggut-manggu dengan mata terbelalak.

"Goat Nio putri mereka." Lie Ai Ling mem beritahukan lagi.

"Pantas Goat Nio begitu cantik, ternyata kedua orang tuanya awet muda!" bisik Sie Keng Hauw.

"Anak muda," ujar Tio Tay Seng sambil tersenyum. "Duduklah! Jangan terus berdiri!"

"Terimakasih, Kakek!" ucap Sie Keng Hauv sambil duduk. Kemudian Lie Ai Ling pun duduk di sebelahnya dengan wajah berseri-seri.

"Bocah," ujar Kou Hun Bijin sambil tertawa "Hi hi hi! Mari kuperkenalkan mereka semua Yang duduk di sisiku ini suamiku tercinta, yang dekil itu adalah pengemis bau dan yang duduk ditengah-tengah itu adalah Tio Tay Seng, majikan pulau ini."

Sie Keng Hauw terus-menerus memberi hormat kepada mereka satu persatu. Hal itu membuat Lie Ai Ling tertawa geli dalam hati. Sementar Lie Man Chiu dan Tio Hoang Hoa tersenyum senyum, keduanya tampak merasa suka kepada pemuda itu.

Seusai Kou Hun Bijin memperkenalkan mereka, muncullah Kam Hay Thian, bersama Lu Hui San, Bokyong Sian Hoa dan Yatsumi.



"Ai Ling!" seru gadis Jepang itu gembira

'Syukurlah engkau pulang bersama Sie Keng Hauw!"

"Yatsumi!" Wajah Lie Ai Ling agak kemerah-merahan. Kemudian ia berkata kepada Lu Hui San. "Hui San, tahukah engkau siapa dia?"

"Aku tahu...." Lu Hui San manggut-manggut. "Dia Kakak

Keng Hauw, putra pamanku."

"Adik Hui San!" panggil Sie Keng Hauw sama memandangnya. "Belasan tahun kita tidak bertemu, engkau... engkau sudah dewasa!"

"Engkau juga sudah dewasa," sahut Lu Hui San dan menambahkan. "Aku dengar... engkau dan Ai Ling sudah saling jatuh hati. Ya, kan?"

"Ya." Sie Keng Hauw mengangguk. "Engkau dan Kam Hay Thian pun sudah saling mencinta, bukan?"

"Itu...." Lu Hui San melirik Kam Hay Thian.

"Kami memang merupakan kawan akrab," sahut Kam Hay Thian.

Betapa kecewanya Lu Hui San mendengar ucapan itu, sehingga nyaris menangis.

"Benar." Sie Keng Hauw tertawa. "Kalian berdua memang sudah akrab sekali. Bagus, bagus!"

"Hi hi hi!" Mendadak Kou Hun Bijin tertawa nyaring. "Kalian tingkatan muda, kalau mau muntahkan isi hati atau memadu cinta, janganlah diruang ini! Di tempat yang sepi saja, jadi tidak ada yang mengganggu."

"Biarkan saja!" sahut Sam Gan Sian Kay.

"Kenapa engkau usil?"



"Hai! Pengemis bau!" Kou Hun Bijin melotot "Kenapa engkau selalu menentangku? Mau dihajar ya?"

"Jangan, jangan!" Sam Gan Sin Kay mengoyang-goyangkan sepasang tangannya. "Takut aku”

"Hmm!" dengus Kou Hun Bijin dingin sekaligus mengancam. "Kalau engkau berani lagi pasti kutampar mulutmu!"

"Ampun! Ampun!" sahut Sam Gan Sin Kay

"Sam Gan Sin Kay," ujar Lie Ai Ling memberitahukan. "Aku sudah menyampaikan pesan itu kepada Kakek Lim."

"Terimakasih!" ucap Sam Gan Sin Kay, yang kemudian melirik Sie Keng Hauw. "Kalian berdua memang merupakan pasangan yang serasi."

"Terimakasih, Sam Gan Sin Kay!" ucap Sie Keng Hauw sambil memberi hormat. "Kami ber dua...."

"Ha ha ha!" Sam Gan Sin Kay tertawa gelak "Ha ha ha! Aku tahu, kalian berdua sudah saling mencinta, bukan?"

"Ya." Sie Keng Hauw mengangguk.

"Keng Hauw____" Wajah Lie Ai Ling tampak kemerah-merahan. "Engkau...."

"Ai Ling," ujar Sie Keng Hauw sambil tersenyum. "Di hadapan tingkatan tua, kita harus berterus terang. Tidak boleh merasa malu.”

"Betul! Betul! Ha ha ha...!" Sam Gan Sin Kay terus tertawa gembira, kemudian bertanya mendadak. "Kapan kalian berdua akan melangsungkan pernikahan?"

"Eeeeh?" Sie Keng Hauw dan Lie Ai Ling ling memandang, keduanya tidak tahu harus bagaimana menjawabnya.

"Itu akan dirundingkan nanti," sahut Lie Man Chu. "Sekarang mereka baru tiba, tidak baik mengutarakan itu."



"Oh ya! Ai Ling!" Kou Hun Bijin menatapnya seraya bertanya. "Kenapa Goat Nio dan Bun Yang tak pulang?"

"Aku tidak bertemu Goat Nio," sahut Lie Ai Ling memberitahukan. "Ternyata dia tidak sabar menunggu. Karena saking rindunya pada Kakak Bun Yang, maka dia berangkat ke Gunung Thian san."

"Dia berangkat ke Gunung Thian San menyusul Bun Yang?" Kou Hun Bijin terbelalak.

”Kenapa jadi kacau begitu?"

"Sebab Goat Nio tidak tahu, kalau Kakak Bun Yang sudah ke mari, bahkan juga sudah berangkat kemarkas pusat Kay Pang. Lantaran tidak sabar nunggu, akhirnya dia berangkat ke Gunung Thian San. Beberapa hari kemudian, Kakak Bun Yang justru tiba di markas pusat Kay Pang, namun takk bertemu Goat Nio. Karena itu, Kakak Bun Yang segera berangkat ke Gunung Thian San."

"Mereka berdua...." Kou Hun Bijin menggeleng-gelengkan

kepala. "Main kejar kejaran, kasihan sekali! Mudah-mudahan mereka akan bertemu di Gunung Thian San!"

"Itu tidak apa-apa," sela Sam Gan Sin Kay "Kejar-kejaran itu akan memperdalam cinta kasih mereka, sekaligus membuat mereka semakin rindu satu sama lain."

"Engkau senang ya mengetahui mereka belum bertemu?" tanya Kou Hun Bijin ketus sambil melotot.

"Aku tidak mengatakan senang, namun...! Sam Gan Sin Kay tersenyum. "Itu merupakan suatu cobaan bagi mereka."

"Hmm!" dengus Kou Hun Bijin. "Diam! Jangan banyak omong!"

"Baik! Baik! Aku akan diam." Sam Gan Sin Kay segera menutup mulutnya rapat-rapat.



"Ai Ling," ujar Tio Hong Hoa. "Engkau boleh ke dalam untuk beristirahat. Ajak juga Sie ken Hauw!"

"Ya." Lie Ai Ling segera menarik Sie Ken Hauw ke dalam.

Kam Hay Thian, Lu Hui San, Bokyong Sian Hoa dan Yatsumi pun ikut ke dalam. Mereka semua menuju ke halaman belakang.

"Saudara Kam...." Sie Keng Hauw menepuk bahunya. "Aku

gembira sekali bertemu denganmu."

"Sama-sama," sahut Kam Hay Thian sambil tersenyum. "Aku pun senang sekali bertemu denganmu."

"Hui San adalah adikku, aku harap engkau baik-baik menjaganya!" ujar Sie Keng Hauw mengandung suatu maksud tertentu.

"Itu...." Kam Hay Thian mengerutkan kening.

"Kak," ujar Lu Hui San cepat. "Aku sudah dewasa, tentunya bisa menjaga diri sendiri."

"Adik...."              Sie          Keng      Hauw    menghela            nafas     panjang,

kemudian mengalihkan pembicaraan. "Sayang sekali, aku belum bertemu Bun Yang."

"Dia tampan sekali," ujar Bokyong Sian Hoa mendadak sambil tersenyum. "Bahkan kepandaian nya juga tinggi sekali."

"Sian Hoa...." Lie Ai Ling tertegun. "Eng-kau....

"Aku tahu, Kakak Bun Yang sangat mencintai Goat Nio," ujar Bokyong Sian Hoa. "Goat Nio pun sangat mencintainya. Kalau mereka berdua tak saling mencinta, aku pasti berupaya mendampingi Kakak Bun Yang."

"Ngmm!" Lie Ai Ling manggut-manggut. "Engkau adalah gadis yang blak-blakan, bahkan juga tau diri. Bagus! Engkau memang pantas menjadi adik Bun Yang."



"Ai Ling!" Bokyong Sian Hoa tertawa kecil, ”aku sudah memanggilnya Kakak Bun Yang."

"Sama." Lie Ai Ling tersenyum. "Sejak kecil aku memanggilnya Kakak Bun Yang."

"Lagi pula aku pun harus tahu diri," tambah Bokyong Sian Hoa. "Kakak Bun Yang mencintai Goat Nio, namun dia menyayangiku. Aku sudah merasa puas. Kita harus ingat akan satu hal, cinta tidak bisa dipaksa. Kalau dipaksa justru akan menimbulkan hal-hal yang tak diinginkan."

"Eeeh?" Lie Ai Ling terbelalak. "Engkau paling kecil di antara kita, tapi pikiranmu sudah begitu jauh dan matang. Aku salut kepadamu."

"Yaah!" Bokyong Sian Hoa menghela nafai panjang. "Terus terang, aku merasa kasihan sekali kepada Hui San."

"Lho?" Lu Hui San tersentak. "Kenapa?"

"Engkau begitu mencintai Kam Hay Thian” sahut Bokyong Sian Hoa secara blak-blakan. "Namun sebaliknya dia selalu bersikap acuh tak acuh, kelihatannya dia merindukan gadis lain."

"Sian Hoa____" Air muka Kam Hay Thian tampak berubah.

"Engkau harus tahu, gadis yang engkau rindukan itu mencintai pemuda lain. Maka percuma engkau merindukannya. Lebih baik arahkan perhatianmu pada Lu Hui San! Kalau engkau menolak cintanya, pasti menyesal kelak," ujar Bok yong Sian Hoa.

"Engkau____" Wajah Kam Hay Thian tampak tidak senang.

"Hmm!" dengus Bokyong Sian Hoa. "Hui San begitu baik terhadapmu, namun engkau malah bersikap dingin dan acuh tak acuh terhadapnya. Aku juga anak gadis, tentunya merasa simpati padanya, tapi merasa sebal padamu."



"Sian Hoa____" Yatsumi segera menarik tangan gadis itu. "Jangan terus menegurnya!"

"Dia adalah pemuda yang tak tahu diri," ujar Bokyong Sian Hoa. "Setahuku, Hui San yang membopongnya ke mari ketika dia terluka parah. tapi dia...."

"Sian Hoa!" Lie Ai Ling merasa tidak enak. ”Sudahlah! Jangan...."

"Aku merasa kasihan pada Hui San, sebab batinnya tersiksa sekali," sahut Bokyong Sian Hoa dan menambahkan. "Kalau aku adalah Hui san, sudah kutendang pemuda yang begitu macam!"

"Sian Hoa____" Lie Ai Ling menggeleng-gelengkan kepala.

Kam Hay Thian memandang mereka semua, kemudian meninggalkan tempat itu dengan kepala tertunduk.

"Hay Thian!" panggil Lu Hui San dengan suara rendah.

"Percuma engkau memanggilnya," sahut Bok-Yong Sian Hoa. "Dia adalah pemuda yang tak punya perasaan dan tidak mengenal cinta yang suci murni. Kelak dia pasti hidup menderita karena itu."

Sementara Sie Keng Hauw diam saja. Namun ia terus menatap iba pada Lu Hui San. Dalam hal ini, ia tidak bisa membantu apa-apa.

---ooo0dw0ooo---


Pintu kamar Lie Ai Ling terbuka, Lie Mu Chiu dan Tio Hong Hoa melangkah ke dalam dengan wajah berseri-seri.

"Ayah, Ibu..." gadis itu tercengang, karena sudah larut malam kedua orang tuanya justru datang di kamarnya.

"Engkau belum tidur, Nak?" tanya Tio Hong Hoa lembut.



"Aku baru mau tidur," sahut Lie Ai Ling. "Ada urusan apa, sehingga Ibu dan Ayah ke mari lagi malam?"

"Kami ingin membicarakan sesuatu dengan mu," sahut Tio Hong Hoa sambil duduk di pinggir tempat tidur, sedangkan Lie Man Chiu cuma berdiri memandangnya sambil tersenyum.

"Ibu ingin membicarakan apa?" tanya Lie / Ling heran.

"Nak!" Tio Hong Hoa menatapnya dalam-dalam seraya bertanya, "Engkau sungguh-sungguh mencintai Sie Keng Hauw?"

"Ya." Lie Ai Ling mengangguk.

"Dia juga mencintaimu?" tanya Tio Hong Hoa lagi.

"Ya," jawab Lie Ai Ling dengan wajah agak kemerah-merahan. "Dia memang mencintaiku."

"Syukurlah!" ucap Tio Hong Hoa. "Lalu bagaimana rencana kalian?"

"Rencana apa?" Lie Ai Ling heran.

"Tentunya mengenai pernikahan kalian," sahut Lie Man Chiu. "Kira-kira kapan kalian akan melangsungkan pernikahan?"

"Ayah...." Lie Ai Ling tersipu. "Kami baru saling mencinta,

kenapa Ayah sudah membicarakan itu? Bukankah terlampau cepat?"

"Kalau kalian berdua sudah saling mencinta, apa salahnya segera melangsungkan pernikahan?" ujar Lie Man Chiu sambil tertawa.

"Ayah!" Lie Ai Ling tersenyum. "Aku tidak mau begitu cepat menikah, sebab aku belum ingin punya anak."

"Kami justru ingin cepat-cepat menggendong cucu," ujar Tio Hong Hoa sambil tersenyum. "Karena itu, engkau harus segera menikah."



"Ibu, aku belum mau menikah." Lie Ai Ling cemberut. "Aku masih muda, belum bisa mengurusi bayi."

"Jangan khawatir! Ibu akan mengurusinya," ujar Tio Hong Hoa sungguh-sungguh. "Jadi engkau tidak usah mengkhawatirkan itu."

"Ibu, pokoknya aku belum mau menikah!" Lie Ai Ling membanting-banting kaki.

"Baiklah." Tio Hong Hoa tersenyum. "Terus terang, kami sangat menyukai Sie Keng Hauw Dia memang merupakan pemuda baik, sopan dan penuh kesabaran."

"Dia memang sabar," ujar Lie Ai Ling mem beritahukan. "Dia terus menungguku di markas pusat Kay Pang."

"Ngmm!" Tio Hong Hoa manggut-manggut, "Nak, kini legalah hati kami karena engkau sudah punya kekasih."

"Ibu...." Mendadak wajah Lie Ai Ling tampak agak berubah. "Aku...."

"Ada apa, Nak?" tanya Tio Hong Hoa sambil menatapnya. "Hatimu masih terganjel sesuatu? Katakanlah pada ibu!"

"Aku mengkhawatirkan Hui San." Lie Ai Ling menggeleng-gelengkan kepala. "Dia begitu mencintai Kam Hay Thian, tapi Kam Hay Thian malah acuh tak acuh terhadapnya."

"Nak!" Tio Hong Hoa tersenyum. "Cinta tidak bisa dipaksa, kalau Kam Hay Thian tidak mencintai Lu Hui San, maka Lu Hui San harus menjauhinya."

"Memang." Lie Ai Ling manggut-manggut "Tapi Hui San sudah begitu dalam mencintainya aku khawatir mereka akan terjadi sesuatu kelak”

"Ai Ling," ujar Lie Man Chiu sungguh-sungguh. "Engkau harus berusaha menasihatinya."



"Ya, Ayah." Lie Ai Ling mengangguk dan memberitahukan. "Tadi Sian Hoa telah mencetuskan yang pedas dan tajam terhadap Kam Hay Ihian, mungkin pemuda itu akan tersinggung."

"Oh?" Tio Hong Hoa mengerutkan kening. 'Itu akan menimbulkan suatu masalah di pulau”

"Belum tentu," ujar Lie Man Chiu. "Sebab kam Hay Thian merupakan pemuda yang baik, hanya saja cintanya belum tumbuh terhadap Hui san. Aku yakin suatu saat nanti, dia akan mencintainya."

"Mudah-mudahan!" ucap Tio Hong Hoa, kemudian berkata kepada Lie Ai Ling. "Nak, kami harap engkau dan Keng Hauw jangan begitu cepat meninggalkan pulau ini, tinggallah di sini beberapa bulan!"

"Baik." Lie Ai Ling mengangguk. "Akan kuberitahukan kepadanya, mungkin dia akan menuruti perkataanku."

"Ngmm!" Lie Man Chiu dan Tio Hong Hoa manggut-manggut, kemudian keduanya pun tersenyum. "Syukurlah!"

---ooo0dw0ooo---


Jilid 9

Bagian ke empat puluh

Bu Ceng Sianli (Bidadari Tanpa Perasaan)


Sementara itu, Siang Koan Goat Nio terus melakukan perjalanan menuju Gunung Thian San. Enam tujuh hari kemudian, gadis itu merasa menyesal atas tindakannya. Gunung Thian San begitu luas, tinggi dan hawanya dingin sekali. Bagaimana mungkin ia bisa mencari Tio Bun Yang di sana? Kini barulah terpikirkan olehnya, karena itu ia merasa



menyesal. Seharusnya ia tetap menunggu di markas pusat Kaypang. Namun sudah terlanjur, maka gadis itu terpaksa melanjutkan perjalanan.

Hari ini Siang Koan Goat Nio tiba di sebuah kota kecil. Ia mampir di kedai teh, karena sudah merasa haus sekali

Setelah Siang Koan Goat Nio duduk, pelayan kedai itu langsung menyuguhkan secangkir teh hangat seraya bertanya,

"Nona mau pesan makanan lain?"

"Tidak usah!" sahut Siang Koan Goat Nio.

Di saat ia baru mau mengangkat cangkirnya, mendadak melangkah ke dalam seorang gadis berusia dua puluhan. Bukan main cantiknya gadis itu, sudah barang tentu membuat para tamu terpukau menyaksikannya.

Siang Koan Goat Nio adalah gadis yang sangal cantik, namun ia merasa mengakui akan kecantikan gadis yang baru datang itu.

Karena tiada meja yang kosong, maka gadis itu mendekati meja Siang Koan Goat Nio.

"Adik manis!" tanya gadis itu. "Bolehkah aku duduk di sini?"

"Silakan!" sahut Siang Koan Goat Nio dengan ramah sambil tersenyum lembut. "Aku gembira sekali Kakak mau duduk bersamaku."

"Terima kasih!" ucap gadis itu sambil duduk di hadapannya.

Pelayan segera menyuguhkan secangkir teh, kemudian bertanya dengan sopan dan tersenyum

"Nona mau pesan makanan lain?"

"Sajikan makanan ringan untuk kami berdua!" sahut gadis itu.



"Ya, ya." Pelayan itu mengangguk dan cepat- cepat menyajikan beberapa macam makanan ringan "Adik manis, mari kita nikmati makanan ringan ini!" ujar gadis itu sambil tersenyum ramah.

"Terimakasih, Kak!" ucap Siang Koan Goat Nio, yang terkesan baik pada gadis itu. Mereka berdua mulai menikmati makanan ringan sambil mengobrol, dan gadis itu memandang Siang Koan Goat Nio.

"Adik manis, engkau sungguh cantik!"

"Kakak lebih cantik dariku," sahut Siang Koan Goat Nio. "Oh ya, bolehkah aku tahu siapa Kakak?"

"Panggillah aku Kakak Cui!"

"Baik." Siang Koan Goat Nio mengangguk lalu memperkenalkan diri. "Namaku Siang Koan Goat Nio. Kakak Cui boleh panggil namaku saja."

"Goat Nio, engkau sedemikian cantik, tentunya sudah punya kekasih, bukan?" tanya gadis itu mendadak.

Siapa sebetulnya gadis itu? Ternyata Tu Siao Cui yang berusia delapan puluhan itu, murid Thian Gwa Sin Hiap-Tan Liang Tie. Setelah merendam di sumur alam di dalam goa, maka Tu Siao Cui berubah menjadi muda seperti gadis berusia dua puluhan yang cantik jelita.

"Aku...." Siang Koan Goat Nio menundukkan kepala.

"Kenapa harus malu? Berterus teranglah!" ujar Tu Siao Cui sambil tertawa. "Aku berterus terang kepadamu, aku belum punya kekasih."

"Oh?" Siang Koan Goat Nio tampak kurang percaya. "Kakak Cui secantik bidadari, bagaimana mungkin belum punya kekasih?"



"Yaah!" Tu Siao Cui menghela nafas panjang. "Memang banyak sekali pemuda mendekatiku, tapi mereka kubunuh semua."

"Haaah...?" Siang Koan Goat Nio terperanjat. "Kenapa engkau membunuh mereka?"

"Sebab mereka berlaku kurang ajar terhadapku." Tu Siao Cui memberitahukan. "Belum apa- apa mereka sudah berani meraba-raba diriku."

"Sungguh sadis dan tak punya perasaan!" Siang Koan Goat Nio menggeleng-gelengkan kepala. "Bukankah mereka bisa kau usir, jadi tidak usah kau bunuh?"

"Hmm!" dengus Tu Siao Cui dingin. "Pemuda- pemuda macam itu cuma mengotori dunia, lebih baik dibasmi!"

"Kakak Cui...." Siang Koan Goat Nio terbelalak.

"Hi hi hi!" Tu Siao Cui tertawa geli. "Kenapa engkau terbelalak? Takut padaku ya?"

"Aku tidak takut, hanya tidak menyangka...." Siang Koan

Goat Nio menghela nafas panjang.

"Aku memang Bu Ceng Sianli (Bidadari Tanpa Perasaan)." Tu Siao Cui memberitahukan sambil tertawa. "Maka engkau tidak usah merasa heran aku begitu sadis. Tapi aku tidak sembarangan membunuh."

"Kakak  Cui...."  Di            saat        Siang     Koan      Goat      Nio         ingin

mengatakan sesuatu, mendadak muncul belasan orang berpakaian hijau, yang tidak lain adalah anggota Seng Hwee Kauw.

Ketika melihat Siang Koan Goat Nio dan Tu Siao Cui, para anggota Seng Hwee Kauw itu langsung tertawa gembira.

"Ha ha ha! Ada dua gadis cantik di kedai teh ini, sungguh beruntung kita hari ini!"



Sementara para tamu lain sudah kabur terbirit-birit, sehingga di dalam kedai itu cuma tertinggal Siang Koan Goat Nio dan Tu Siao Cui. Pemilik kedai itu dan beberapa pelayannya sudah menggigil ketakutan, mereka mencemaskan kedua gadis itu.

"Ha ha ha! Nona-nona manis!" Kepala anggota Seng Hwee Kauw mendekati Siang Koan Goat Nio dan Tu Siao Cui. "Bolehkah aku duduk di sini?"

"Tentu boleh," sahut Tu Siao Cui sambil tersenyum manis. "Silakan duduk!"

"Terima kasih! Terimakasih!" Kepala anggota Seng Hwee Kauw itu gembira sekali lalu duduk seraya bertanya, "Kalian berdua berasal dari mana?"

"Dari Kang Lam," sahut Tu Siao Cui.

"Pantas kalian berdua begitu cantik!" ujar Kepala anggota Seng Hwee Kauw itu sambil tertawa. "Ternyata kalian berasal dari Kang Lam!"

"Oh ya!" Tu Siao Cui. Tertawa kecil. "Engkau tampak begitu gagah dan membawa begitu banyak anak buah. Bolehkah aku tahu engkau dari partai mana?"

"Seng Hwee Kauw," sahut Kepala anggota Seng Hwee Kauw itu sambil membusungkan dada, karena barusan Tu Siao Cui mengatakannya begitu gagah.

"Jadi kalian bukan berasal dari tujuh partai besar!" ujar Tu Siao Cui dan menambahkan. "Seng Hwee Kauw tidak begitu terkenal."

"Seng Hwee Kauw sangat terkenal, bahkan tak lama lagi akan menguasai rimba persilatan."

"Oh, ya?" Tu Siao Cui tertawa. "Siapa Ketua Seng Hwee Kauw?"



"Seng Hwee Sin Kun. Ketua kami berkepandaian tinggi sekali. Kami semua pun berkepandaian cukup tinggi. Engkau membawa pedang, apakah kalian juga gadis rimba persilatan?"

"Bukan." Tu Siao Cui tersenyum. "Tapi kami pernah belajar ilmu silat, maka kami membawa pedang untuk menakuti para penjahat."

"Oooh!" Kepala anggota Seng Hwee Kauw tertawa. "Kalian berdua sudah berkenalan dengan kami, maka kami berani jamin tiada seorang penjahat pun berani mengganggu kalian."

"Kalau begitu, kami harus berterima kasih kepadamu!" ucap Tu Siao Cui. "Sungguh beruntung kami berkenalan dengan kalian!"

"Tidak salah! Ha ha ha! Bahkan kalian pun tidak akan kesepian, sebab kami semua siap melayari kalian berdua!"

"Oh?" Tu Siao Cui tersenyum. "Maaf, aku tidak mengerti maksudmu! Bolehkah engkau menjelaskan?"

"Engkau harus tahu, kami semua lelaki gagah. Pokoknya pasti dapat memuaskan kaum anak gadis yang mana pun. Nah, engkau mengerti?"

"Aku...." Tu Siao Cui menggelengkan kepala. "Aku masih

kurang mengerti, tolong jelaskan sekali lagi agar aku mengerti!"

"Begini...." Kepala anggota Seng Hwee Kauw itu berbisik.

"Kami semua siap menemani kalian berdua tidur."

"Oh, itu!" Tu Siao Cui tertawa merdu. "Tapi kalau kami tidak mau, bagaimana kalian?"

"Ha ha ha! Jangan sampai kami bertindak secara paksa!"

"Kalau begitu...." Tu Siao Cui menatapnya. "Kalian sudah

sering memperkosa anak gadis?"



"He he he!" Kepala anggota Seng Hwee Kauw itu cuma tertawa terkekeh. "He he he...!"

"Jadi...."               Tu           Siao        Cui          tersenyum.        "Kami    berdua harus

menemani kalian tidur?"

"Betul."

"Goat Nio," ujar Tu Siao Cui. "Bagaimana engkau, apakah engkau bersedia menemani mereka tidur?"

"Kakak Cui! Engkau...." Siang Koan Goat melotot.

"Kita tidak bisa melawan mereka, maka terpaksa harus menemani mereka tidur," ujar Tu Siao Cui sambil memberi isyarat. "Engkau tidak berkeberatan, bukan?"

"Aku...." Siang Koan Goat Nio tidak mengerti akan isyarat

itu. "Terserah Kakak Cui."

"Baiklah." Tu Siao Cui manggut-manggut, kemudian memandang Kepala anggota Seng Hwee Kauw itu seraya berkata, "Kalau begitu, kita harus pergi ke tempat yang sepi."

"Benar! Benar!" Kepala anggota Seng Hwee Kauw itu tertawa gembira, lalu meninggalkan kedai teh itu. Para anak buahnya langsung mengikutinya sambil tertawa terbahak-bahak.

"Mari kita ikut mereka!" Tu Siao Cui menarik Siang Koan Goat Nio.

"Kakak Cui...." Siang Koan Goat Nio mengerutkan kening.

"Tenang saja!" Tu Siao Cui tersenyum. "Aku tahu engkau pun berkepandaian tinggi, tentunya engkau tidak takut terhadap mereka."

Siang Koan Goat Nio tidak menyahut.

Tak seberapa lama kemudian, mereka sudah sampai di suatu tempat yang sangat sepi. Tempat itu merupakan sebuah rimba.



"He he he!" Kepala anggota Seng Hwee Kauw itu tertawa terkekeh. "Bagaimana dengan tempat ini? Kalian berdua merasa cocok?"

"Cocok sekali," sahut Tu Siao Cui. "Kalau begitu, cepatlah kalian buka!" "Buka apa?"

"Buka pakaian kalian," sahut Kepala anggota Seng Hwee Kauw itu sambil tertawa. "Ha ha ha...!"

"Seharusnya kalian yang buka duluan, tidak mungkin kaum wanita yang buka pakaian duluan, bukan?"

"Itu...."  Kepala  anggota  Seng  Hwee  Kauw  memandang

yang lain seraya bertanya. "Bagaimana menurut kalian?"

"Apa yang dikatakan nona itu memang benar, kita kaum lelaki yang harus buka pakaian duluan," sahut mereka sambil tertawa. "Ha ha ha! Pokoknya kita harus bergilir secara adil!"

"Beres." Kepala anggota Seng Hwee Kauw tertawa terkekeh. "Seperti biasa... harus aku yang menikmatinya duluan."

"Ayoh!" desak Tu Siao Cui sambil tertawa genit. "Cepatlah kalian buka, pokoknya kalian semua pasti memperoleh giliran secara memuaskan."

"Eeeh!" Siang Koan Goat Nio terbelalak. "Kakak Cui...."

"Tenang saja!" sahut Tu Siao Cui.

Sementara Kepala anggota Seng Hwee Kauw dan lainnya sudah mulai melepaskan pakaian masing-masing. Setelah tinggal tersisa celana dalam, mereka mendekati Tu Siao Cui dan Siang Koan Goat Nio dengan penuh nafsu birahi.

"Kalian sudah siap?" tanya Tu Siao Cui merdu.



"Nona, kami... kami sudah tidak tahan nih! Ayohlah! Cepatan dikit!"

"Baik," sahut Tu Siao Cui dan mendadak tertawa nyaring sambil menggerakkan jari tangannya ke arah para anggota Seng Hwee Kauw itu.

Sungguh menakjubkan, karena jari tangannya memancarkan cahaya, yang kemudian meluncur laksana kilat ke arah dada para anggota Seng Hwee Kauw.

"Aaakh! Aaaakh! Aaaakh...!" Terdengar suara jeritan yang menyayatkan hati. Belasan anggota Seng Hwee Kauw itu telah terkapar berlumuran darah, dada mereka berlubang tertembus Hian Goan Ci (Ilmu Jari Sakti) yang dilancarkan Tu Siao Cui.

"Engkau... engkau...." Kepala anggota Seng Hwee Kauw

masih sempat menudingnya. "Engkau... engkau siapa?"

"Hi hi hi!" Tu Siao Cui tertawa nyaring. "Aku Bu Ceng Sianli (Bidadari Tanpa Perasaan)! Hi hi hi...!"

"Haaah...!" Mata Kepala anggota Seng Hwee Kauw mendelik-delik, kemudian nyawanya melayang.

"Kakak Cui...." Siang Koan Goat Nio tidak tega menyaksikan

kematian mereka. "Engkau... engkau sungguh sadis!

"Goat Nio!" Tu Siao Cui tersenyum. "Yang sadis aku atau mereka? Seandainya kita tidak memiliki ilmu silat, apa yang akan terjadi atas diri kita? Bukankah mereka akan memperkosa kita secara bergilir? Nah, mereka begitu jahat maka aku harus membunuh mereka demi membela sesama kaum wanita."

"Kakak Cui...." Siang Koan Goat Nio menggeleng-gelengkan

kepala.

"Goat Nio!" Tu Siao Cui tersenyum lagi. "Mereka adalah para penjahat, jadi pantas diberantas. Engkau berhati lemah, itu akan membahayakan dirimu sendiri lho!"



"Tapi...." Siang Koan Goat Nio menghela nafas panjang.

"Cukup melukai mereka saja, tidak perlu membunuh."

"Hi hi hi!" Tu Siao Cui tertawa cekikikan. "Engkau berhati bijak dan penuh rasa kasihan, maka engkau tidak boleh berkecimpung di rimba persilatan. Lebih baik hidup tenang di suatu tempat yang sepi."

"Aku memang tidak ingin berkecimpung di rimba persilatan, hanya saja...." Siang Koan Goat Nio menggeleng-gelengkan

kepala. "Aku sedang mencari seseorang...."

"Mencari seseorang?" Tu Siao Cui menatapnya seraya bertanya. "Mencari kekasihmu?"

"Ng!" Siang Koan Goat Nio mengangguk dengan wajah agak kemerah-merahan.

"Hi hi hi!" Tu Siao Cui tertawa nyaring. "Engkau tidak perlu mencarinya, seharusnya dia yang mencarimu."

"Tapi...."              Siang     Koan      Goat      Nio         mengerutkan    kening,

kemudian menatapnya seraya berkata. "Engkau seperti ibuku...."

"Oh, ya?"

"Engkau dan ibuku sama-sama suka tertawa cekikikan. Heran! Kenapa bisa begitu?"

"Siapa ibumu?"

"Kou Hun Bijin."

"Apa?" Tu Siao Cui terbelalak. "Ibumu adalah Kou Hun Bijin yang awet muda itu?"

"Ya." Siang Koan Goat Nio mengangguk. "Engkau kenal ibuku?"

"Puluhan tahun lalu, kami pernah bertemu." Tu Siao Cui memberitahukan, kemudian menatapnya dengan penuh keheranan. "Engkau adalah anak angkatnya?"



"Aku anak kandungnya, ayahku adalah Kim Siauw Suseng."

"Apa?" Tu Siao Cui tertegun. "Kim Siauw Suseng yang juga awet muda itu ayahmu?"

"Ya." Siang Koan Goat Nio mengangguk, gadis itu memandangnya dengan mata terbelalak. "Tadi engkau bilang, puluhan tahun lalu pernah bertemu ibuku?"

"Benar."

"Bagaimana mungkin?" Siang Koan Goat Nio tidak percaya. "Usiamu baru dua puluhan."

"Hi hi hi!" Tu Siao Cui tertawa cekikikan. "Kalau kubilang usiaku sudah hampir sembilan puluh, engkau percaya?"

"Tentu tidak."

"Ayah dan ibumu awet muda, apakah aku tidak bisa dari tua kembali menjadi muda seperti anak gadis berusia dua puluhan?"

"Itu...." Siang Koan Goat Nio tetap tidak percaya. "Aku

tidak percaya sama sekali."

"Kelak engkau pasti percaya." Tu Siao Cui tersenyum. "Oh ya, Goat Nio, kita terpaksa harus berpisah di sini, karena masih ada urusan yang harus kuselesaikan."

"Kakak Cui...." Siang Koan Goat Nio memandangnya seraya

bertanya. "Tadi engkau menggunakan ilmu apa membunuh para anggota Seng Hwee Kauw itu?"

"Hian Goan Ci!" Tu Siao Cui memberitahukan.

"Hian Goan Ci?" Siang Koan Goat Nio mengerutkan kening. "Ilmu apa itu?"

"Ilmu jari sakti," ujar Tu Siao Cui menjelaskan. "Tadi aku menggunakan empat bagian lwee- kangku, maka dada mereka tertembus oleh ilmu tersebut. Seandainya aku cuma



menggunakan dua atau tiga bagian lweekangku, mereka hanya akan mengalami kelumpuhan."

"Kalau begitu, kenapa engkau tidak melumpuhkan mereka, melainkan membunuh mereka?"

"Engkau harus tahu, mereka adalah penjahat yang suka memperkosa wanita," sahut Tu Siao Cui. "Oleh karena itu, mereka harus diberantas tanpa ampun."

Siang Koan Goat Nio menggeleng-gelengkan kepala.

"Goat Nio!" Tu Siao Cui tersenyum. "Kalau kita berjodoh, kelak pasti akan berjumpa lagi."

"Ya." Siang Koan Goat Nio manggut-manggut.

"Goat Nio, sampai jumpa!" ucap Tu Siao Cui lalu melesat pergi.

Siang Koan Goat Nio berdiri termangu-mangu di tempat, kemudian memandang mayat-mayat yang bergelimpangan itu sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Mendadak muncul beberapa orang berpakaian hijau, yang ternyata para anggota Seng Hwee Kauw. Begitu melihat mayat-mayat itu, wajah mereka langsung berubah.

"Nona yang membunuh mereka?" tanya salah seorang dari mereka.

"Bukan," sahut Siang Koan Goat Nio. "Yang membunuh mereka telah pergi, kalian terlambat ke mari."

"Siapa orang itu?"

"Bu Ceng Sianli."

"Haaah?" Para anggota Seng Hwee Kauw itu tampak terkejut. Mereka saling memandang. "Mari kita bawa mayat-mayat itu ke markas!"



Siang Koan Goat Nio menatap mereka sejenak, kemudian barulah melesat pergi. Para anggota Seng Hwee Kauw itu tidak memperdulikannya, karena sibuk mengumpulkan mayat-mayat itu.

-ooo0dw0ooo-

Siang Koan Goat Nio melanjutkan perjalanan menuju Gunung Thian San. Ketika berada di tempat sepi, mendadak ia mendengar suara siulan aneh yang menyeramkan, kemudian terdengar pula suara derap kaki kuda.

Segeralah ia melompat ke balik sebuah pohon, lalu mengintip ke arah suara siulan aneh yang menyeramkan itu. Berselang sesaat, tampak belasan ekor kuda berpacu cepat. Para penunggangnya berpakaian serba putih dan memakai kedok setan.

Siang Koan Goat Nio mengerutkan kening. Kelihatannya ia sedang berpikir. Akhirnya ia manggut-manggut seakan telah mengambil suatu keputusan.

Setelah kuda-kuda itu lewat, gadis itu langsung melesat menggunakan ginkang mengikuti mereka. Ketika hari mulai gelap, sampailah ia di suatu tempat yang merupakan sebidang padang rumput.

Siang Koan Goat Nio melesat ke atas pohon, untuk bersembunyi di situ sambil mengintip. Tampak di padang rumput itu telah berkumpul lima puluhan orang berpakaian putih.

Di tengah-tengah padang rumput itu terdapat sebuah batu besar. Seorang berpakaian putih perak bergemerlapan dan berkedok setan berdiri di atas batu itu. Di belakangnya berdiri lima orang. Berapa usia mereka, sama sekali tidak bisa di-ketahui, karena semuanya memakai kedok setan.

"Saudara-saudara sekalian! Dalam waktu beberapa bulan ini, aku terus-menerus meluncurkan kembang api



perkumpulan kita, itu agar kalian berkumpul di sini!" ujar orang berpakaian putih perak dengan suara lantang. "Hampir seratus tahun perkumpulan kita bubar secara tidak langsung, itu dikarenakan ketua yang lama menghilang tiada jejaknya di daerah Tionggoan ini. Beberapa tahun lalu, aku terjatuh ke dalam jurang, kemudian tanpa sengaja aku memasuki sebuah goa. Di dalam goa itu aku menemukan sosok tubuh, yang ternyata mayat Pek Kut Lojin (Orang Tua Tulang Putih). Di hadapan mayat itu terdapat sebuah kitab catatan ilmu silat dan catatan mengenai riwayat Pek Kut Lojin, bahkan terdapat pula sepucuk surat dari kulit binatang. Selanjutnya aku harap Ngo Sat Kui (Lima Setan Algojo) menjelaskan kepada saudara-saudara sekalian."

Kelima orang yang berdiri di belakang orang itu melangkah maju, kemudian salah seorang dari mereka berkata dengan lantang.

"Kami berlima adalah Ngo Sat Kui, ayah kami adalah pengawal Pek Kut Lojin, ketua Kui Bin Pang. Beberapa bulan lalu, kami melihat kembang api perkumpulan kita meluncur ke atas, maka kami berlima segera berangkat ke mari. Kami bertemu ketua yang baru, itu telah disahkan oleh ketua yang lama dengan surat keputusan. Kami berlima telah membaca surat keputusan itu, bahkan kami pun telah menguji kepandaiannya. Tidak salah, kepandaian yang dimilikinya adalah kepandaian Pek Kut Lojin, begitu pula pakaian dan kedok yang dipakainya sekarang."

"Bagaimana ketua yang lama berada di dalam goa itu?" tanya salah seorang anggota.

"Ketua yang lama terkena pukulan sehingga jatuh ke dalam jurang," sahut salah seorang Ngo Sat Sin yaitu Toa Sat Sin. "Oleh karena itu, hampir seratus tahun tiada kabar beritanya. Kini perkumpulan kita sudah ada ketuanya, ini merupakan keberuntungan bagi Kui Bin Pang kita."



"Siapa yang memukul jatuh ketua yang lama?" tanya salah seorang anggota lagi.

"Ketua yang lama telah memberitahukan di dalam kitab catatannya, ternyata adalah Tio Po Thian, majikan Pulau Hong Hoang To," jawab Toa Sat Kui dan menambahkan. "Maka pihak Pulau Hong Hoang To adalah musuh besar kita. Kalau sudah tiba waktunya, kita akan membasmi pihak Pulau Hong Hoang To, bahkan juga akan membasmi Kay Pang dan partai-partai lainnya."

Betapa terkejutnya Siang Koan Goat Nio mendengar itu, sementara Toa Sat Kui mulai melanjutkan.

"Kini kita masih belum berhasil menemukan Tianglo (Tetua), dan dua orang Hu Hoat (Pelindung), maka kita belum bisa bergerak. Kami berlima akan berusaha mencari Tetua dan dua Pelindung itu. Kalau mereka sudah wafat, tentunya mereka punya turunan. Apabila turunan mereka tidak mau bergabung, kami berlima harus bertindak tegas terhadap turunan mereka."

"Kami semua pasti setia kepada ketua yang baru!" seru para anggota. "Hidup Kui Bin Pang! Hidup ketua yang baru!"

"Bagus! Bagus!" Toa Sat Kui tertawa gelak. "Ha ha ha! Dua bulan kemudian kita akan bertemu kembali di markas! Sekarang kalian boleh bubar!"

Para anggota Kui Bin Pang itu mulai melesat pergi sambil mengeluarkan siulan aneh yang menyeramkan, dan tak lama terdengarlah suara derap kaki kuda.

Sementara Siang Koan Goat Nio yang mengintip di atas pohon itu belum berani bergerak. Setelah ketua Kui Bin Pang dan Ngo Sat Sin itu melesat pergi, barulah gadis itu menghela nafas lega sambil berpikir.

Berselang beberapa saat kemudian, ia melesat pergi menuju arah timur. Ternyata ia telah mengambil keputusan



untuk kembali ke markas pusat Kay Pang, karena harus memberitahukan kepada Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong tentang apa yang didengarnya tadi. Itu memang penting sekali, sebab menyangkut Pulau Hong Hoang To.

-oo0dw0oo-


Bagian ke empat puluh satu Perkenalan yang merepotkan

Ho Bun Yang terus melakukan perjalanan ke Gunung Thian San. Hari ini ia tiba di sebuah desa. Kebetulan ada sebuah kedai teh di pinggir jalan, maka ia mampir untuk melepaskan dahaga.

Cukup ramai kedai teh itu. Para tamu terdiri dari kaum pedagang dan kaum rimba persilatan, bahkan terdapat beberapa pelancong pula.

Begitu Tio Bun Yang duduk, pelayan kedai itu segera menyuguhkan secangkir teh seraya bertanya.

"Tuan mau pesan makanan lain?"

"Tidak usah," sahut Tio Bun Yang sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Sementara beberapa pedagang bercakap-cakap dengan serius sekali. Wajah mereka tampak memucat.

"Belum lama ini di Gurun Sih Ih telah muncul setan iblis yang menunggang kuda."

"Omong kosong! Mana ada setan iblis me. nunggang kuda? Engkau sudah mabuk ya?"

"Aku tidak mabuk, memang telah muncul setan iblis di Gurun Sih Ih. Aku... aku menyaksikannya dengan mata kepala sendiri. Iiiih, sungguh menyeramkan!"



"Oh? Engkau menyaksikan setan iblis itu dengan mata kepala sendiri?"

"Ya. Setan iblis itu berpakaian putih, menunggang kuda sambil mengeluarkan suara siulan aneh yang menyeramkan. Wajah mereka seram sekali!"

"Engkau melihat jelas wajah mereka?"

"Hanya sekelebatan saja."

"Kalau begitu... mungkin mereka memakai kedok setan."

"Entahlah. Yang jelas sangat menyeramkan Aku... aku nyaris pingsan seketika itu."

"Mereka menuju ke mana?"

"Ke arah Tionggoan. Aku yakin setan iblis itu sudah berada di daerah Tionggoan."

"Setan iblis itu tidak mengganggumu?"

"Kalau setan iblis itu menggangguku, bagaimana mungkin aku masih bernafas sampai di sini?"

"Menurut aku..." ujar pedagang yang tampak agak berpengalaman. "Itu bukan setan iblis, melainkan manusia biasa seperti kita. Hanya saja mereka berkepandaian tinggi, dan berasal dari suatu golongan. Kita bukan kaum rimba persilatan, jadi tidak usah takut, karena mereka tidak ikan mengganggu kita."

"Mudah-mudahan begitu! Tapi kota Giok Bun Kwan sudah mulai sepi, sebab para pedagang tidak berani ke daerah lain melalui Gurun Sih Ih. Aku pun sudah tidak mau berdagang ke daerah-daerah yang berdekatan Gurun Sih Ih. Aku... aku masih merasa seram dan takut."

Pada waktu bersamaan, di meja lain tampak beberapa lelaki berpakaian ringkas. Mereka adalah kaum rimba



persilatan, juga sedang membicarakan sesuatu dengan serius sekali.

"Beberapa bulan ini, di rimba persilatan telah muncul seorang gadis yang amat cantik mempesonakan. Siapa yang melihatnya pasti akan jatuh hati padanya. Gadis itu memang cantik sekali."

"Aku pun pernah mendengar tentang gadis itu. Apakah engkau pernah melihatnya?"

"Tidak pernah. Akan tetapi gadis itu sangat uidis sekali. Siapa yang berani berlaku kurang ajar padanya, pasti dibunuhnya tanpa ampun!"

"Itu sesuai dengan julukannya."

"Engkau tahu julukannya?"

"Tahu. Julukannya adalah Bu Ceng Sianli (Bidadari Tanpa Perasaan). Gadis itu memang tak punya perasaan. Membunuh orang sambil tersenyum, seakan membunuh seekor semut."

Mendengar penuturan itu, Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala. Pada waktu bersamaan muncul pula seorang gadis ke dalam kedai teh itu. Kecantikan gadis itu sulit diuraikan dengan kata-kata. Begitu melihat gadis itu, para tamu terbelalak dengan mulut ternganga lebar.

Tio Bun Yang juga memandang gadis itu sejenak, namun sikapnya tidak seperti para tamu lain. Sementara gadis itu menengok ke sana kt mari, kemudian mendekati meja Tio Bun Yang.

"Adik kecil, bolehkah aku duduk di sini?"

"Tentu boleh, Kakak besar," sahut Tio Bun Yang. Karena gadis itu memanggilnya 'Adik kecil', maka ia memanggilnya 'Kakak besar', itu membuat gadis tersebut tertawa geli.

"Hi hi hi!" Suara tawanya merdu bagaikan kicauan burung, menggetarkan kalbu para lelaki di kedai itu. Gadis tersebut



duduk sambil menatap Tio Bun Yang. "Adik kecil, engkau sungguh tampan dan lucu!"

"Kakak besar," sahut Tio Bun Yang dan nn mandangnya. "Engkau amat cantik dan menggeli kan."

"Oh, ya?" Gadis itu tertawa lagi.

Siapa gadis itu? Tidak lain adalah Bu Ceng Sianli-Tu Siao Cui. Kaum rimba persilatan di kedai teh itu sama sekali tidak mengenalnya. Mereka cuma mendengar tentang dirinya tapi tidak pernah melihatnya.

"Sungguh beruntung pemuda itu!" bisik seseorang kepada temannya. "Gadis yang cantik jelita itu duduk bersamanya."

"Tentu. Karena pemuda itu sangat tampan, tidak seperti kita yang berwajah tidak karuan."

"Kalau aku bisa memperisterinya, jadi budaknya pun aku rela."

"Gadis itu memang cantik sekali. Kelihatannya dia tertarik pada pemuda itu. Kalau tidak, bagaimana mungkin dia mau duduk bersamanya?"

"Sayang sekali dia tidak mau duduk bersama kita di sini!"

"Bagaimana mungkin gadis itu mau duduk bersama kita? Dia masih muda dan cantik sekali, sedangkan kita berwajah tidak karuan dan sudah berusia tiga puluhan."

Sementara gadis itu terus-menerus memandang Tio Bun Yang, sepertinya sedang mengamati sesuatu benda antik yang sangat menarik hatinya.

"Adik kecil, bolehkah aku tahu namamu?"

"Namaku Tio Bun Yang."

"Oooh!" Gadis itu manggut-manggut sambil tersenyum manis. "Kenapa engkau tidak bertanya namaku?"



"Tidak baik sembarangan bertanya nama seorang gadis, aku tidak mau dikatai kurang ajar."

"Kalau engkau menanyakan namaku, tentu aku tidak akan mengataimu kurang ajar," ujar Tu Siao Cui sambil menatapnya dalam-dalam, lalu memperkenalkan diri. "Namaku Tu Siao Cui."

"Tu Siao Cui? Tu Siao Cui..." gumam Tio Bun Yang dengan kening berkerut-kerut. "Tu Siao Cui...."

"Eh? Anak kecil!" Tu Siao Cui tertegun. "Kenapa engkau terus-menerus bergumam menyebut namaku?"

"Aku pernah mendengar namamu, tapi tidak mungkin dia adalah engkau," sahut Tio Bun Yang.

"Oh?" Tu Siao Cui terbelalak. "Di mana engkau pernah mendengar namaku?"

"Aku pernah bertemu seorang tua di dalam sebuah goa di Gunung Hong San. Orang tua itu dibelenggu dengan rantai baja."

"Apa?" Tu Siao Cui tampak terkejut. "Orang tua itu masih hidup?"

"Sudah mati." Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala. "Orang tua itu punya seorang murid perempuan yang sangat jahat. Murid perempuan itulah yang merantainya. Tapi sebelumnya dia pun berhasil memukul murid perempuannya."

"Siapa orang tua itu?"

"Thian Gwa Sin Hiap-Tan Liang Tie."

"Dia yang menceritakan itu kepadamu?"

"Ya." Tio Bun Yang mengangguk. "Ternyata dia salah tangan membunuh kedua orang tua Tu Siao Cui. Demi menebus dosanya, maka dia mengurusi Tu Siao Cui."



"Hmm!" dengus Tu Siao Cui. "Syukurlah dia sudah mampus!"

"Eh? Engkau...." Tio Bun Yang menatapnya heran. "Kok

engkau tidak bersimpati kepadanya?"

"Dia telah membunuh kedua orang tua Tu Siao Cui, kenapa aku harus bersimpati kepadanya?"

"Orang tua itu sangat menyesal, namun Tu Siao Cui itu sangat kejam," ujar Tio Bun Yang. "Tidak ingat budi, malah menyiksanya di dalam goa itu"

"Hi hi hi!" Tu Siao Cui tertawa cekikikan. "Engkau merasa kasihan pada orang tua itu?"

"Ya." Tio Bun Yang mengangguk. "Tapi juga merasa kasihan pada Tu Siao Cui itu, entah bagaimana dia?"

"Engkau juga kasihan pada Tu Siao Cui itu?" tanya Tu Siao Cui bernada girang.

"Yaaah!" Tio Bun Yang menghela nafas panjang. "Dia pun terluka, tapi masih sempat membawa pergi kitab Hian Goan Cin Keng. Itu adalah kejadian enam puluh tahun lampau, maka bagaimana mungkin Tu Siao Cui itu masih hidup?"


Halaman 28-29 tidak ada


"Aku Hek Sim Popo! Engkau pernah mendengar namaku?"

"Hek Sim Popo..." gumam Tu Siao Cui. "Aku tidak pernah mendengar namamu tu, sungguh!"

"Engkau murid siapa? Kenapa berani menentang Seng Hwee Kauw?" tanya Hek Sim Popo sengit



"Engkau tidak usah tahu aku murid siapa !" sabut Tu Siao Cui sambil tertawa nyar.ng. "Para anggota Seng Hwee Kauw itu kurang ajar terhadapku, maka aku membunuh mereka!"

"Hmm!" dengus Hek Sim Popo dingin. "Hari ini engkau harus mampus!"

"Oh, ya?" Tu Siao Cui tertawa cekikikan. "Jangan-jangan engkau dan para anak buahmu itu yang akan mampus!"

"Hek Sim Popo," ujar Tio Bun Yang mendadak. "Seng Hwee Sin Kun, ketua kalian itu sudah pulih?"

"Engkau...."        Hek        Sim         Popo     tersentak,           kemudian

menatapnya tajam. "Engkau adalah Giok Siauw Sin Hiap?"

"Betul." Tio Bun Yang manggut-manggut. "Hek Sim Popo. lebih baik kalian segera enyah dari sini! Jangan cari penyakit! Setelah Seng Hwee Sin Kun pulih, aku akan membuat perhitungan dengannya."

"Giok Siauw Sin Hiap! Itu adalah urusanmu dengan Seng Hwee Sin Kun, namun sekarang aku punya urusan dengan dia!" sahut Hek Sim Popo sambil menuding Tu Siao Cui.

"Bagus! Bagus!" Tu Siao Cui tertawa cekikikan. "H hi hi! Berarti kalian sudah bosan hidup!"

"Bu Ceng Sianli!" bentak Hek Sim Pono. "Hari ini engkau harus mampus!"

"Hek Sim Popo, jadi engkau mau bertarung denganku?" tanya Tu Siao Cui dengan kening berkerut.

"Engkau takut?" sahut Hek Sim Popo sambil tertawa dingin.

"Takut? He he he!" Tu Siao Cui tertawa terkekeh-kekeh. "Aku sama sekali tidak kenal apa itu takut! Mari kita bertarung di luar, agar tidak menghancurkan kedai teh ini!"

"Baik!" Hek Sim Popo mengangguk.



Mereka melesat ke luar, begitu pula para anggota Seng Hwee Kauw dan Tio Bun Yang. Tu Siao Cui dan Hek Sim Popo berdiri berhadapan, dan mula mengeluarkan Iweekang masing-masing.

Tio Bun Yang berdiri agak jauh, namun perhatiannya dicurahkan pada Tu Siao Cui, karena ingin menyaksikan kepandaiannya.

"Lihat serangan!" bentak Hek Sim Popo mendadak, sekaligus menyerang Tu Siao Cui dengan ilmu pukulan andalannya.

Tu Siao Cui tertawa nyaring, kemudian secepat kilat berkelit dan balas menyerang. Ter-jadilah pertarungan yang amat seru dan sengit. Belasan jurus kemudian mendadak Tu Siao Cui berseru.

"Hek Sim Popo! Berhati-hatilah, aku akan mencabut nyawamu!"

"Engkau yang akan mampus!" sahut Hek Sim Popo, dan tiba-tiba menyerang Tu Siao Cu dengan senjata ranasia.

Serrt! Serrrrt! Serrrr...! Senjata-senjata rahasia itu meluncur cepat ke arah Tu Siao Cui.

"Hi hi hi!" Tu Siao Cui tertawa nyaring sambil mengibaskan lengan bajunya.

Sungguh luar biasa! Senjata-senjata rahasia itu terpukul jatuh semua. Di saat itulah Tu Siao Cui mengeluarkan Hian Goan Ci. Tampak sinar putih berkelebat ke arah Hek Sim Popo. Begitu cepat, sehingga Hek Sim Popo tidak sempat ber-kelit, tapi berusaha menangkis.

Cessss!

"Aaaaakh..!" jerit Hek Sim Popo. Ia terhuyung-huyung ke belakang lalu terkapar berlumuran darah. Ternyata dadanya telah berlubang dan nyawanya melayang seketika.



"Hi hi hi!" Tu Siao Cui tertawa. "Dia yang cari mampus, bukan aku yang ingin membunuhnya!"

"Sebetulnya engkau tidak perlu membunuhnya, cukup melukainya saja," ujar Tio Bun Yang sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Oh?" sahut Tu Siao Cui sambil tersenyum "Bahkan aku pun akan membunuh mereka semua!"

Tu Siao Cui ti bergerak, bersamaan itu Tio Bun Yang pun bergerak menggunakan Kiu Kiong San Tian Pou (Ilmu Langkah Kilat).

"Haaah..?" Bukan main terkejutnya Tu Siao Tui, karena Tio Bun Yang sudah berada dihadapannya.

"Sudahlah!" ujar Tio Bun Yang, "Engkau sudah membunuh Hek Sim Popo, jangan membunuh mereka lagi!"

"Adik kecil! Engkau...." Tu Siao Cui mengerutkan kening.

"Engkau berani menghalangiku?"

"Dimana masih bisa mengampuni orang, ampunilah!" sahut Tio Bun Yang dan menambahkan. "Membunuh merupakan perbuatan yang sangat berdosa, janganlah engkau membuat takdir buruk pada dirimu sendiri!"

"Engkau...."        Tu           Siao        Cui          terbelalak,          kemudian            tertawa

geli."Hi hi hi! Kelihatannya engkau pantang membunuh, maka seharusnya engkau pergi bertapa atau jadi bikhu."

Sementara para anggota Seng Hwee Kauw saling memandang. Mereka tahu nyawa mereka dalam bahaya. Namun mereka sama sekali tidak berani kabur, hanya berharap Bu Ceng Sianli akan mendengar perkataan Tio Bun Yang.

"Kakak!" Tio Bun Yang menatapnya. "Engkau secantik bidadari, haruslah berhati welas asih. Jangan suka membunuh menodai dirimu sendiri, lepaskanlah mereka!"



"Bagaimana kalau aku tidak bersedia melepaskan mereka?"

"Aku terpaksa menghadapimu," tegas Tio Bun Yang. "Karena aku tidak mau melihat engkau membunuh lagi."

"Engkau membela mereka?" Tu Siao Cui mengerutkan kening. "Mereka adalah para penjahat lho!"

"Terus terang, yang kubela adalah dirimu. Sama sekali bukan mereka," sahut Tio Bun Yang sungguh-sungguh. "Engkau pun harus tahu, sebetulnya mereka dan ketuanya adalah musuhku. Tapi aku akan membuat perhitungan dengan Seng Hwee Sin Kun, ketua mereka itu, bukan terhadap mereka."

"Oh?" Tu Siao Cui tersenyum. "Bagaimana engkau membela diriku?"

"Agar engkau tidak berbuat dosa lagi," sahut Tio Bun Yang. "Nah, bukankah aku membelamu?"

"Ngmm!" Tu Siao Cui manggut-manggut. "Masuk akal juga apa yang engkau katakan! Baiklah Aku melepaskan mereka."

"Terimakasih, Kakak!" ucap Tio Bun Yang. lalu memandang para anggota Seng Hwee Kauw seraya berkata. "Cepatlah kalian pergi, kalau pikiran Bu Ceng Sianli berubah celakalah kalian!"

"Terimakasih, Giok Siauw Sin Hiap!" ucap mereka sambil memberi hormat. "Kami telah berhutang budi kepadamu. Sampai jumpa!"

Para anggota Seng Hwee Kauw berjalan pergi, sekaligus menggotong mayat Hek Sim Popo meninggalkan tempat itu.

"Adik kecil!" Tu Siao Cui tersenyum. "Engkau memang berhati bajik, maka tidak seharusnya engkau berkecimpung di rimba persilatan."

"Aaah...!" Tio Bun Yang menghela nafas panjang. "Aku memang sudah jenuh akan rimba persilatan."



"Adik     kecil...."                Tu           Siao        Cui          menatapnya      dalam-dalam,

kemudian ujarnya sungguh-sungguh. "Kelihatannya hatimu terganjel sesuatu. Katakanlah kepadaku, siapa tahu aku bisa membantumu!"

"Terimakasih atas maksud baikmu!" ucap Tio Bun Yang. "Tapi, tiada suatu apa pun terganjel dalam hatiku."

"Adik kecil..." Tu Siao Cui menatapnya dengan mata berbinar-binar. "Entah apa sebabnya, aku merasa suka sekali padamu."

"Kakak...."  Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala,

lalu melangkah pergi.

Akan tetapi, Tu Siao Cui segera mengikutinya. Puluhan langkah kemudian, Tio Bun Yang terpaksa berhenti karena Tu Siao Cui masih terus mengikutinya.

"Eeeh?" Tio Bun Yang mengerutkan kening. "Kenapa engkau terus mengikutiku? Aku masih harus menempuh perjalanan, jangan menggangguku!"

"Adik kecil!" Tu Siao Cui tertawa. "Aku tidak mengganggumu, melainkan ingin melakukan perjalanan bersamamu. Boleh kan?"

"Untuk apa?" Tio Bun Yang menggeleng- gelengkan kepala. "Lagi pula kita baru berkenalan, jadi tidak baik melakukan perjalanan bersama."

"Pokoknya aku harus ikut engkau," tegas Tu Siao Cui dan menambahkan. "Engkau ke mana, aku pasti ikut."

"Engkau sudah gila ya?"

"Aku memang tergila-gila padamu," sahut Tu Siao Cui sambil tertawa cekikikan. "Oleh karena itu, aku harus ikut engkau."



"Kakak! Jangan bergurau, itu... bagaimana mungkin? Sudahlah! Jangan menggangguku! Aku harus segera melakukan perjalanan!"

"Pokoknya aku harus ikut!"

"Engkau tidak boleh ikut!"

"Aku harus ikut! Pokoknya ikut!"

"Kakak...."           Tio          Bun        Yang      betul-betul         kewalahan

menghadapi Bu Ceng Sianli, akhirnya ia duduk di bawah sebuah pohon.

"Hi hi hi!" Tu Siao Cui tertawa cekikikan sambil duduk di sebelahnya. "Adik kecil, kenapa engkau kelihatan takut padaku!"

"Aku tidak takut padamu, melainkan tidak baik kita melakukan perjalanan bersama. Aku sudah punya kekasih, lagi pula kita baru berkenalan."

"Itu tidak jadi masalah." Mendadak Tu Siao Cui memegang tangannya. "Adik kecil, aku suka sekali padamu."

"Kakak...."           Tio          Bun        Yang      mengerutkan    kening. "Terus

terang, aku pun suka padamu. Tapi engkau kuanggap sebagai kakak."

"Terima kasih! Terimakasih!" ucap Tu Siao Cui. Tiba-tiba ia membaringkan dirinya, lalu memandang Tio Bun Yang dengan penuh gairah nafsu.

Tio Bun Yang menghela nafas panjang, sedangkan Tu Siao Cui terus memikat sekaligus menggodanya dengan berbagai gaya merangsang.

Akan tetapi, Tio Bun Yang tetap duduk tenang di tempat, kelihatannya sama sekali tidak terangsang. Betapa penasarannya Tu Siao Cui, ia tidak percaya iman Tio Bun Yang begitu teguh.



Perlahan-lahan ia melebarkan sepasang kakinya, menghadap ke arah Tio Bun Yang. Setelah itu, ia menyingkap pakaiannya sehingga pahanya yang putih mulut itu tertampak sedikit.

Perlu diketahui, Tu Siao Cui juga memiliki semacam ilmu sesat yang merangsang kaum lelaki. Kalau lelaki itu telah terangsang, tapi tidak disalurkan padanya, maka lelaki itu akan mati secara mengenaskan.

Namun Tu Siao Cui justru tidak tahu, kalau Tio Bun Yang memiliki ilmu Penakluk Iblis. Karena itu, ia sama sekali tidak akan tergoda maupun terangsang. Itu sungguh membahayakan diri Tu Siao Cui sendiri, sebab akan terjadi senjata makan tuan.

Tio Bun Yang tahu tentang itu, sehingga timbul rasa cemasnya. Sedangkan Tu Siao Cui sudah tidak bisa menarik kembali ilmu sesatnya itu, membuat wajahnya mulai memucat.

Tiba-tiba Tio Bun Yang teringat sesuatu. Maka ia segera mengeluarkan sulingnya dengan wajah berseri-seri.

Tak lama terdengarlah suara alunan suling yang sangat menyentuh hati. Begitu mendengar suara suling itu, sekujur badan Tu Siao Cui tampak tergetar keras.

Berselang beberapa saat kemudian, wajahnya yang memucat itu mulai berubah seperti semula. Perlahan-lahan ia bangkit duduk di hadapan Tio Bun Yang, lalu menatapnya dengan penuh kekaguman.

"Adik kecil..." ujar Tu Siao Cui seusai Tio Bun Yang meniup sulingnya. "Aku sama sekali tidak menyangka, engkau begitu mahir meniup suling, bahkan suara sulingmu juga mengandung kekuatan yang dapat membersihkan hati maupun batin orang yang tersesat. Aku sungguh kagum padamu!"



"Kakak tidak usah heran," ujar Tio Bun Yang sambil tersenyum. "Kalau aku tidak memiliki ilmu Penakluk Iblis, pasti sudah tergoda!"

"Apa!" Tu Siao Cui terbelalak. "Engkau masih sedemikian muda, tapi sudah memiliki ilmu itu?"

"Sejak kecil aku sudah belajar ilmu Penakluk Iblis." Tio Bun Yang memberitahukan. "Aku juga tahu, kalau engkau memiliki kepandaian yang sangat tinggi sekali. Aku harap, mulai sekarang engkau jangan terlampau gampang membunuh orang, sebab akan menciptakan suatu karma buruk untukmu."

"Adik kecil, terimakasih atas nasihatmu!" ujar Tu Siao Cui sungguh-sungguh. "Baru kali ini aku bertemu dengan pemuda yang begitu luar biasa. Padahal usiaku sudah delapan puluh lebih."

"Kakak!" Tio Bun Yang tersenyum. "Aku tak menyangka, kakak pun suka bergurau."

"Adik kecil, kelak engkau akan percaya mengenai usiaku. Sampai jumpa!" Tu Siao Cui melesat pergi. Sayup-sayup terdengar suara seruannya. "Aku suka padamu...."

Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala, berselang sesaat barulah ia melesat pergi melanjutkan perjalanannya.

-ooo0dw0ooo-

Beberapa hari kemudian, Tio Bun Yang sudah tiba di Kota Kang Shi. Mendadak ia teringat pada Ngo Tok Kauwcu-Phang Ling Cu Maka, segeralah ia menjadi markas Ngo Tok Kauw.

"Adik Bun Yang...." Betapa gembiranya Ngo Tok Kauwcu.

"Aku tak menyangka engkau akan ke mari."

"Maaf, Kakak!" ucap Tio Bun Yang jujur. "Aku bukan sengaja kemari, kebetulan berada di kota ini, maka aku mampir menengok Kakak."



"Terima kasih!" Ngo Tok Kauwcu tersenyum. "Silakan duduk!"

Tio Bun Yang duduk, kemudian memandang Ngo Tok Kauwcu seraya bertanya dengan penuh perhatian.

"Bagaimana keadaan Kakak selama ni?"

"Aku baik baik saja," sahut Ngo Tok Kauwcu. "Oh ya, engkau baik-baik saja? Bagimana keadaan kauw heng?"

"Aku baik-baik saia. Tapi...." Tio Bun Yang menghela nafas

panjang. Kauw heng sudah ma .."

"Oh!" Ngo Tok Kauwcu menggeleng-geleng- kan kepala. "Sungguh kasihan kauw heng itu! Dia berkorban dem menyelamatkan nyawamu."

"Aaaah!" Tio Bun Yang menghela nafas panjang lagi. "Aku berhutang budi kepada monyet bulu putih itu. Maka aku bersumpah, turunanku tidak boleh membunuh monyet jenis apa pun."

"Ngmm!" Ngo Tok Kauwcu manggut-manggut. "Oh ya, kenapa engkau datang di kota ini!" "Aku sedang menuju ke Gunung Thian San."
"Lho?" Ngo Tok Kauwcu tertegun. "Kenapa engkau ke sana lagi?"

"Itu        dikarenakan       Goat      Nio...."  Tio          Bun        Yang

memberitahukan. "Maka aku berangkat ke sana lagi."

"Ternyata begitu! Tapi...." Ngo Tok Kauwcu mengerutkan

kening. "Siapa pun yang pergi ke Gunung Thian San, harus melalui kota ini. Namun para anggotaku tidak melihat adanya seorang gadis menuju Gunung Thian San."

"Oh?" Tio Bun Yang tertegun. "Mungkinkah dia mengambil jalan lain?"



"Tidak mungkin," ujar Ngo Tok Kauwcu. "Perjalanan ke Gunung Thian San harus melalui kota ini, jadi aku yakin Goat Nio belum sampai kota ini.”

"Bagaimana mungkin dia belum sampai di kota ini?" Tio Bun Yang mengerutkan kening. "Dia berangkat duluan karena mengira aku masih di Gunung Thian San"

"Kalau begitu...." Wajah Ngo Tok Kauwcu agak berubah.

"Apakan telah terjadi sesuatu atas dirinya?"

"Itu...." Tio Bun Yang mulai cemas. "Kepandaiannya cukup

tinggi, tidak mungkin akan terjadi sesuatu atas dirinya. Oh ya, engkau tahu bagamana keadaan Seng Hwee Sin Kun? Apakah dia sudah pulih?"

"Aku telah memperoleh informasi mengenai Seng Hwee Sin Kun," jawab Ngo Tok Kauwcu memberitahukan. "Dalam bulan ini dia akan pulih, maka engkau harus berhati-hati."

"Ya." Tio Bun Yang manggut-manggut.

"Adik Bun Yang!" Ngo Tok Kauwcu menatapnya seraya bertanya. "Bagaimana kepandaianmu sekarang? Apakah sudah bertambah maju?"

"Kepandaianku memang sudan bertambah maju..." jawab Tio Bun Yang dan menutur tentang keberhasilannya mempelajari ilmu Kan Kun Taylo Im Kang.

"Syukurlah!" ucap Ngo Tok Kauwcu dengan wajah berseri "jadi engkau pasti sudah dapat menandingi Seng Hwee Sin Kun."

"Mudah-mudahan!" sahut Tio Bun Yang sambil menghela nafas panjang. "Kini yang kupikirkan adalah Goat Nio. Kalau aku belum bertemu dia, sama sekali tidak bisa tenang."

"Adik     Bun        Yang...."               Ngo        Tok         Kauwcu                menggeleng-

gelengkan kepala. "Oh ya, aku akan menyuruh beberapa anggotaku untuk mencari Goat Nio. Apabila ada kabar



beritanya, aku pasti ke markas pusat Kay Pang memberitahukan kepada mu."

'Terimakasih, Kak!" ujar Tio Bun Yang dan melanjutkan. "Tapi biar bagiamanapun, aku harus ke Gunung Thian San. "

"Baik." Ngo Tok Kauwcu manggut-manggut. "Bertemu atau tidak dengan Goat Nio, aku harap engkau ke mari lagi!"

"Itu sudah pasti." Tio Bun Yang mengangguk. "Karena aku pulang dari Thian San harus melalui kota ini."

"Kapan engkau akan berangkat ke Gunung Thian San?"

"Sekarang."

"Apa?" Ngo Tok Kauwcu terbelalak. "Engkau mau berangkat sekarang? Tidak bermalam di sini?"

"Aku harus cepat-cepat sampai di sana," sahut Tio Bun Yang sekaligus berpamit. "Kakak, aku mohon diri!"

"Adik Bun Yang," pesan Ngo Tok Kauwcu. "Pulang dari Gunung Thian San, jangan lupa mampir! Sebab aku pun akan menyuruh beberapa orang pergi menyelidiki tentang Goat Nio."

"Terimakasih, Kak! Sampai jumpa!" ucap Tio Bun Yang lalu berangkat ke Gunung Thian San dengan perasaan cemas.

-ooo0dw0oo-

Beberapa hari kemudian, Tio Bun Yang sudah sampai di Gunung Thian San. Akan tetap walau ia sudah mencari ke sana ke mari di gunung itu, namun tetap tidak berhasil menemukan Siang Koan Goat Nio.

Akhirnya ia menuju goa tempat tinggal monyet bulu putih. Begitu memasuki goa tersebut, ia langsung menjatuhkan d duduk di hadapan makam monyet bulu putih.

"Kauw heng...." Sepasang mata Tio Bun Yang bersimbah

air. "Aku datang di Gunung Thian San ini untuk mencari Goat



Nio, namun dia tidak berada di gunung in Maka aku ke mari menengokmu, kauw heng...."

Tio Bun Yang terisak-isak. Berselang sesaat barulah ia baugkit berdiri dan berkata.

"Kauw heng, aku tidak bisa lama-lama di sini karena masih harus pergi mencari Goat Nio maafkan aku!"

Tio Bun Yang terus menatap makam monyet bulu putih itu, lama sekali barulah meninggalkan goa tersebut.

la melakukan perjalanan dengan menggunakan ginkang. Beberapa hari kemudian ia sudah sampai di kota Kang Shi, dan langsung menuju markas Ngo Tok Kauw.

"Adik     Bun        Yang...."               Ngo        Tok         Kauwcu                menatapnya.

"Duduklah!"

Tio Bun Yang duduk sambil menghela nafas panjang, kemudian menggeleng- gelengkan kepala seraya berkata.

"Kakak, aku tidak bertemu Goat Nio." "Berarti dia tidak ke Gunung Thian San. Aku pun belum memperoleh kabar beritanya."

"Aaah...!" keluh Tio Bun Yang dengan wajah cemas. "Mungkinkah telah terjadi sesuatu atas dirinya?"

"Menurut aku tidak," ujar Ngo Tok Kauwcu. "Kemungkinan besar dia kembali ke markas pusat Kay Pang. Maka alangkah baiknya engkau ke markas pusat Kay Pang saja. Kalau aku memperoleh kabar beritanya, pasti ke sana memberitahukan kepadamu."

"Baiklah." Tio Bun Yang mengangguk. "Kalau begitu, aku harus segera berangkat ke markas pusat Kay Pang. Sampai jumpa Kak!"

-ooo0dw0ooo-



Bagian ke empat puluh dua Siang Koan Goat Nio ditangkap
Sementara itu di markas Seng Hwee Kauw, tampak Leng Bin Hoatsu, Pek Bin Kui, Pat Pie Lo Koay dan Tok Clu Ong duduK dengan wajah serius. Berselang beberapa saat kemudian, terdengarlah suara tawa terbahak-bahak, muncullah Seng Hwee Sin Kun dengan wajah berseri-seri.

"Ha ha ha! Ha ha ha...!"

"Selamat, Ketua!" ucap mereka berempat sambil bangkit berdiri, sekaligus memberi hormat kepada Seng Hwee Sin Kun.

"Terimakasih! Terimakasih! Ha ha ha...!" sahut Seng Hwee Sin Kun tertawa sambil duduk.

Leng Bin Hoatsu dan lainnya juga ikut duduk. Seng Hwee Sin Kun menatap mereka dengan penuh perhatian.

"Tidak sampai setahun aku sudah pulih, bahkan Iweekangku juga bertambah tinggi setelah makan sisa pil Seng Hwee Tan itu. Kini sudah saatnya Seng Hwee Kauw menguasai rimba persilatan."

"Benar, Kauwcu," sahut Leng Bin Hoatsu. "Kini Kauwcu telah pulih, berarti sudah saatnya Seng Hwee Kauw menguasai rimba persilatan."

"Ngmm!" Seng Hwee Sin Kun manggut-manggut. "Oh ya, bagaimana keadaan rimba persilatan selama aku berada di dalam ruang rahasia?"

"Tidak terjadi apa-apa," sahut Pek Bin Kui. "Tapi belum lama ini di rimba persilatan telah muncul Bu Ceng Sianli."

"Bu Ceng Sianli?" Seng Hwee Sin Kun mengerutkan kening. "Siapa dia dan bagaimana kepandaiannya?"



"Dia seorang gadis berusia dua puluhan, parasnya cantik sekali dan berkepandaian sangat tinggi." Pek Bin Kui memberitahukan. "Siapa gurunya dan berasal dari mana serta perguruan mana, kami sama sekali tidak mengetahuinya."

"Oh?" Seng Hwee Sin Kun mengerutkan kening lagi seraya bertanya. "Apakah dia menentang perkumpulan kita?"

"Dia memang sering membunuh para anggota kita, tapi juga pernah membunuh kaum persilatan dari golongan putih," jawab Pek Bin Kui.

"Kalian diam saja? Sama sekali tidak mengambil suatu tindakan terhadap Bu Ceng Sianli itu?" tanya Seng Hwee Sin Kun bernada gusar.

"Kauwcu!" Leng Bin Hoatsu memberitahukan. "Aku telah mengutus Hek Sim Popo pergi memberesinya, tapi...."

"Kenapa?" tanya Seng Hwee Sin Kun dengan kening berkerut-kerut. "Telah terjadi sesuatu?"

"Ya." Leng Bin Hoatsu mengangguk. "Hek Sim Popo telah mati, belasan anggota kita pulang...."

"Apa?" Air muka Seng Hwee Sin Kun berubah hebat. "Hek Sim Popo dibunuh oleh Bu Ceng Sianli itu?"

"Ya," sahut Pat Pie Lo Koay. "Kalau waktu itu Giok Siauw Sin Hiap tidak berada di tempat, belasan anggota kita pun pasti dibunuh."

"Giok Siauw Sin Hiap bersama Bu Ceng Sianli itu?" tanya Seng Hwee Sin Kun sambil mengepal tinju.

"Mereka berdua memang bersama, tapi mereka tiada hubungan satu sama lain." Pat Pie Lo Koay memberitahukan. "Kauwcu, secara tidak langsung kita berhutang budi kepada Giok Siauw Sin Hiap."

"Kita berhutang budi pada Giok Siauw Sin Hiap? Ha ha ha...!" Seng Hwee Sin Kun tertawa gelak. "Omong kosong!"



"Itu memang benar..." ujar Pat Pie Lo Koay.

"Seng Hwee Kauw tidak berhutang budi kepada siapa pun," sahut Seng Hwee Sin Kun ketus. "Oh ya, bagaimana Lu Thay Kam? Apakah dia pernah mengutus orangnya ke mari?"

"Gak Cong Heng, wakil Lu Thay Kam memang pernah ke mari, namun tidak membicarakan apa pun pada kami, hanya sekedar mengobrol lalu pergi," jawab Leng Bin Hoatsu. "Karena Kauwcu menutup diri di ruang rahasia, sejak itu pihak Lu Thay Kam tidak pernah ke mari lagi."

"Ngmm!" Seng Hwee Sin Kun manggut-mang- gut. "Kini Seng Hwee Kauw harus mulai bertindak, maksudku harus membasmi Kay Pang dan partai-partai lainnya, agar Seng Hwee Kauw dapat menguasai rimba persilatan."

"Maaf Kauwcu!" ujar Pat Pie Lo Koay. "Menurut aku, lebih baik kita membereskan Bu Ceng Sianli dulu. Setelah itu, barulah kita membasmi Kay Pang dan partai-partai besar lainnya".

"Kalian tahu Bu Ceng Sianli itu berada di mana?" tanya Seng Hwee Sin Kun.

"Kami tidak tahu," sahut Leng Bin Hoatsu sambil menggelengkan kepala.

"Kalau begitu...." Seng Hwee Sin Kun mengerutkan kening.

"Cara bagaimana kita memberesinya?"

"Kauwcu!" Leng Bin Hoatsu memberitahukan. "Sebetulnya Bu Ceng Sianli bersifat agak sesat. Kalau kita bisa menariknya untuk bergabung, itu sungguh baik sekali."

"Tapi bukankah dia sering membunuh para anggota kita?"

"Benar." Leng Bin Hoatsu mengangguk. "Namun itu dikarenakan para anggota kita yang mengganggunya duluan, maka dia membunuh mereka. Bu Ceng Sianli pun pernah membunuh para pesilat dari golongan putih. Apabila dia mau



bergabung dengan kita, bukankah kita dapat meman-faatkannya untuk membunuh para pesilat golongan putih?"

"Ide yang cemerlang!" ujar Seng Hwee Sin Kun sambil tertawa gelak. "Kalau begitu, kalian harus berusaha mengundangnya ke mari. Itu adalah tugas kalian, laksanakan dengan baik!"

"Ya," sahut mereka serentak, kemudian Pek Bin Kui memberitahukan. "Kauwcu, kami telah menerima informasi, bahwa Siang Koan Goat Nio sedang menuju markas pusat Kay Pang."

"Oh?" Wajah Seng Hwee Sin Kun tampak berseri. "Kalau begitu, cepatlah kalian pergi tangkap dia!"

"Kauwcu," tanya Pat Pie Lo Koay. "Kenapa gadis itu harus ditangkap?"

"Ha ha ha!" Seng Hwee Sin Kun tertawa. "Kalau dia kutangkap, tentunya dia tidak akan tiba di markas pusat Kay Pang. Nah, bukankah itu akan mencemaskan pihak Kay Pang?"

"Maksud Kauwcu menyanderanya?" tanya Pat Pie Lo Koay.

"Kira-kira begitulah," Seng Hwee Sin Kun manggut-manggut. "Setelah itu, barulah kita kirim berita ke markas pusat Kay Pang, agar mereka datang ke mari. Di saat itulah kita membantai mereka."

"Betul." Pek Bin Kui mengangguk. "Kita harus bertindak begitu."

"Tapi...." Pat Pie Lo Koay menggeleng-gelengkan kepala.

"Itu pasti akan mengundang kemarahan pihak Pulau Hong Hoang To, yang tentunya akan membahayakan Seng Hwee Kauw."

"Ha ha ha!" Seng Hwee Sin Kun tertawa terbahak-bhak. "Aku justru ingin memancing mereka ke mari, kalian harus



tahu. Kepandaianku kini boleh dikatakan sudah tiada tanding di kolong langit. Nah, apa yang harus ditakuti?"

Pat Pie Lo Koay diam, sedangkan yang lain justru tertawa gembira. Berselang sesaat Seng Hwee Sin Kun berkata.

"Kalian berempat cepat pergi menangkap Siang Koan Goat Nio, tapi jangan melukainya! Pergunakan bom asap agar dia pingsan, barulah kalian tangkap!"

"Ya, Kauwcu," sahut mereka berempat, lalu berangkat pergi untuk menangkap Siang Koan Goat Nio.

-oo0dw0oo-

Siang Koan Goat Nio terus melakukan perjalanan menuju markas pusat Kay Pang. Ketika sampai di tempat yang sepi, mendadak melayang turun beberapa orang di hadapannya. Mereka ternyata Leng Bin Hoatsu, Pek Bin Kui, Pat Pie Lo Koay dan Tok Chiu Ong.

"Ha ha ha!" Leng Bin Hoatsu tertawa seraya berkata. "Nona, kita bertemu lagi!"

"Kalian mau apa?" tanya Siang Koan Goat Nio dingin sambil mengeluarkan sulingnya.

"Nona," sahut Pat Pie Lo Koay memberitahukan. "Kami ke mari bermaksud mengundangmu ke markas kami, itu adalah perintah Kauwcu kami ”

"Bagaimana kalau aku menolak?"

"Kami terpaksa harus menggunakan kekerasan," ujar Leng Bin Hoatsu. "Oleh karena itu, kami harap Nona menurut!"

"Hmm!" dengus Siang Koan Goat Nio dingin. "Aku tidak akan menurut, pokoknya aku akan melawan mati-matian!"

"Baik!" Leng Bin Hoatsu tertawa dan berseru. "Mari kita serang Nona Siang Koan ini!"



Seketika mereka berempat langsung menyerang Siang Koan Goat Nio dengan tangan kosong. Gadis itu bergerak cepat berkelit, kemudian balas menyerang dengan sulingnya, menggunakan ilmu Cap Pwee Kim Siauw Ciat Hoat (Delapan Belas Jurus Maut Suling Emas).

Akan tetapi, belasan jurus kemudian Siang Koan Goat Nio tampak mulai berada di bawah angin. Di saat itulah ia menggunakan Cit Loan Kiam Hoat (Ilmu Pedang Pusing Tujuh Keliling) ciptaan Tio Cie Hiong.

Begitu Siang Koan Goat Nio menggunakan ilmu tersebut, Leng Bin Hoatsu dan lainnya segera meloncat ke belakang. Pek Bin Kui merogoh ke dalam bajunya, mengeluarkan suatu benda ber- bentuk bulat, lalu dilemparkannya ke arah gadis itu.

Daaar! Benda itu meledak dan mengeluarkan asap.

"Haaah...?" Siang Koan Goat Nio terperanjat.


Ia tahu asap itu mengandung racun, tapi sudah tidak sempat menutup pernafasannya, akhirnya ia terkulai pingsan.

"Ha ha ha!" Pek Bin Kui tertawa. "Kita berhasil, Kauwcu pasti gembira sekali!"

"Mari kita bawa dia pulang!" sahut Leng Bin Hoatsu. "Jangan membuang waktu di sini!"

"Baik." Pat Pie Lo Koay mengangguk, kemudian membopong Siang Koan Goat Nio.

"Ha ha ha!" Leng Bin Hoatsu tertawa gelak.

"Mari kita kembali ke markas!"

-ooo0dw0ooo-



Betapa gembiranya Seng Hwee Sin Kun karena Siang Koan Goat Nio sudah tertangkap. Pat Pie Lo Koay menaruh gadis itu ke bawah. Ternyata gadis itu masih dalam keadaan pingsan.

"Ha ha ha!" Seng Hwee Sin Kun terus tertawa terbahak-bahak. "Kini gadis itu berada di tangan kita, pihak Kay Pang pasti cemas sekali!"

"Kauwcu," tanya Pat Pie Lo Koay. "Kapan Kauwcu akan mengutus orang ke markas Kay Pang?"

"Tidak perlu begitu cepat," sahut Seng Hwee Sin Kun. "Aku ingin membuat pihak Kay Pang dan pihak Pulau Hong Hoang To dicekam rasa gelisah terutama kedua orang tua gadis itu! Ha ha ha...!"

"Kauwcu,"ujar Pek Bin Kui mengusulkan, "Bagaimana kita musnahkan kepandaiannya?" "Itu ..."Seng Hwee Sin Kun tampak ragu, "Tidak perlu,"sela Pat Pie Lo Koay cepat.

"Kalau kita memusnahkan kepandaian gadis itu, sama juga mempermalukan Seng Hwee kauw, bukan?"

"Benar," Seng Hwee kauwcu manggut-manggut. "Kalau begitu,kurung saja dia dan biarkan dia sadar sendiri."

"Ya" PatPie Lo Koay mengangguk,sekaligus membopong Siang Koan Goat Nio lalu dibawa ke dalam. Berselang sesaat, Pat Pie Lo Koay sudah kembali ke ruang depan.

"Bagaimana?"tanya Seng Hwee Sin Kun.dis itu sudah dikurung?"

"Sudah, Kauwcu" Pat Pie Lo Koay mengangguk.

"Baiklah" Seng Hwee Sin Kun manggut-manggut. "Sekarang kalian boleh beristirahat."



"Terimakasih, Kauwcu!"ucap mereka sentak, kemudian pergi ke kamar masing-masing

Begitu memasuki kamar, Pat Pie Lo Koay berjalan mondar-mandir dengan kening berkerut-kerut, kelihatannya ia sedang memikirkan sesuatu, berselang beberapa saat kemudian ia manggut-manggut epertinya sudah mengambil suatu keputusan.

Malam harinya, Pat Pie Lo Koay berjalan berendap-endap menuju halaman belakang, lalu melesat ke atas sebuah pohon. Sungguh di luar dugaan, ternyata ada seekor burung merpati di atas pohon itu.

Pat Pie Lo Koay mengikat sesuatu di kaki burung merpati itu, kemudian menepuk kepala burung merpati tersebut seraya berkata

"Cepatlah engkau terbang ke markas Ngo Tok Kauw, tapi harus berhati-hati!" Burung merpati itu manggut-manggut, lalu terbang meluncur ke angkasa. Pat pie Lo Koay menghela nafas lega, dan segera kembali ke kamarnya.

-ooo0dw0ooo-

Perlahan-lahan Siang Koan Goat Nio membuka matanya, ternyata gadis itu telah sadar dan tampak tercengang karena mendapatkan dirinya berada di dalam kamar batu.

"Eh? Aku berada dimana?" gumamnya sambil menengok ke sana ke mari. "Apakah aku sudah ditangkap?"

Siang Koan Goat Nio mencoba menghimpun lweekangnya, namun tidak berhasil karena sekujur badannya masih lemas.

"Haaah?" Gadis itu terkejut bukan main. "Aku telah kehilangan hawa murni?"

Mendadak pintu kamar batu itu terbuka, Pat Pie Lo Koay berjalan ke dalam. Begitu melihat Pat Pie Lo Koay itu, Siang Koan Goat Nio menudingnya.



"Cepat lepaskan aku! Cepaaat!"

"Tenang, Nona!" sahut Pat Pie Lo Koay. "Kauwcu kami ingin menemuimu, mari ikut aku ke ruang depan!"

"Hmm!" dengus Siang Koan Goat Nio dingin. "Aku tidak sudi menemui Seng Hwee Sin Kun yang licik itu!"

"Nona...." Pat Pie Lo Koay menatapnya dalam- dalam. "Mari

ikut aku agar tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan!"

Siang Koan Goat Nio mengerutkan kening, lama sekali barulah mengangguk, lalu bersama Pat Pie Lo Koay menuju ruang depan.

"Ha ha ha!" Seng Hwee Sin Kun tertawa gelak. "Apa kabar, Nona Siang Koan? Tentunya engkau baik-baik saja, bukan?"

"Hmm!" dengus Siang Koan Goat Nio dingin.

"Silakan duduk, Nona Siang Koan!" ucap Seng Hwee Sin Kun.

Siang Koan Goat Nio duduk, Seng Hwee Sin Kun menatapnya tajam, kemudian tertawa seraya berkata.

"Ha ha ha! Tahukah engkau kenapa kami menangkapmu?"

"Tahu," sahut Siang Koan Goat Nio. "Pertanda kalian semua pengecut!"

"Ha ha ha!" Seng Hwee Sin Kun tertawa gelak. "Kalau kami pengecut, engkau pasti sudah jadi mayat!"

"Oh?" Siang Koan Goat Nio tertawa dingin. "Kalau begitu, cepatlah bunuh aku!"

"Bunuh engkau?" Seng Hwee Sin Kun tertawa lagi. "Kami tidak akan membunuhmu, hanya mengurungmu di sini saja."

"Seng Hwee Sin Kun, lebih baik engkau segera melepaskan aku!" bentak Siang Koan Goat Nio. "Kalau tidak...."



"He he he!" Seng Hwee Sin Kun tertawa terkekeh-kekeh. "Engkau harus tahu apa sebabnya aku mengurungmu di sini! Itu agar pihak Kay Pang dan pihak Pulau Hong Hoang To ke mari, karena aku ingin membunuh mereka semua!"

"Oh?" Siang Koan Goat Nio tidak terkejut, sebaliknya malah tertawa dingin dan berkata. "Seng Hwee Sin Kun, jangan menyombongkan diri! Mungkin engkau yang akan mati di tangan Kakak Bun Yang!"

"Maksudmu Giok Siauw Sin Hiap itu?"

"Ya."

"Ha ha ha!" Seng Hwee Sin Kun tertawa gelak. "Kalau waktu itu monyet bulu putih tidak menangkis pukulanku, Giok Siauw Sin Hiap pasti sudah mati!"

"Hm!" dengus Siang Koan Goat Nio, kemudian bertanya mendadak. "Seng Hwee Sin Kun, kenapa engkau begitu dendam kepada kami?"

"Karena aku memang punya dendam dengan pihak Kay Pang dan pihak Pulau Hong Hoang To!" Seng Hwee Sin Kun memberitahukan. "Terutama terhadap Kou Hun Bijin itu, karena gara- gara dia kakak seperguruanku mati di tangan Kwan Gwa Siang Koay dan Ngo Kui!"

"Oh?" Siang Koan Goat Nio mengerutkan kening. Ia memang cerdik maka tidak membocorkan identitas dirinya.

"Pat Pie Lo Koay, bawa dia ke dalam kamar batu itu!" ujar Seng Hwee Sin Kun. "Dan jangan lupa beri dia minum racun pelemas badan!"

"Ya, Kauwcu." Pat Pie Lo Koay mengangguk, kemudian membawa Siang Koan Goat Nio ke kamar batu.

Gadis itu menurut, karena tahu bahwa melawan pun percuma, bahkan akan membahayakan dirinya. Namun ia tetap berharap Tio Bun Yang akan muncul menolongnya.



-oo0dw0ooo-

Sementara itu, Tio Bun Yang telah sampai di markas pusat Kay Pang. Akan tetapi, Siang Koan Goat Nio tidak berada di markas itu.

"Jadi...."               Lim         Peng      Hang      menatapnya.     "Engkau               tidak

bertemu Goat Nio di Gunung Thian San?"

"Tidak." Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala. "Menurut Ngo Tok Kauwcu, Goat Nio tidak ke Gunung Thian San."

"Kenapa Ngo Tok Kauwcu mengatakan begitu?" Lim Peng Hang heran.

"Sebab siapapun yang pergi ke Gunung Thian San, harus melalui Kota Kang Shi," jawab Tio Bun Yang memberitahukan. "Tapi para anggota Ngo Tok Kauw sama sekali tidak melihat Goat Nio di kota itu. Maka Ngo Tok Kauwcu berkesimpulan, bahwa Goat Nio tidak pergi ke Gunung Thian San."

"Oooh!" Lim Peng Hang manggut-manggut. "Kalau begitu, pergi ke mana Goat Nio?"

"Mungkinkah..." ujar Gouw Han Tiong dengan kening berkerut-kerut, "telah terjadi sesuatu atas dirinya?"

"Goat Nio berkepandaian cukup tinggi, tidak mungkin akan terjadi sesuatu atas dirinya," sahut Lim Peng Hang.

"Lalu kenapa tiada kabar beritanya?" Gouw Han Tiong menggeleng-gelengkan kepala dan menambahkan. "Bun Yang, lebih baik engkau tunggu disini. Engkau jangan ke mana-mana, jadi kalian tidak akan selisih jalan lagi!"

"Ya." Tio Bun Yang mengangguk. "Aku merasa heran, sebetulnya dia pergi ke mana? Kenapa tiada jejaknya sama sekali?"



"Begini," ujar Lim Peng Hang sungguh-sungguh. "Kakek akan menyuruh beberapa orang menyelidiki jejak Goat Nio, engkau tinggal di sini saja,"

"Ya, Kakek." Tio Bun Yang mengangguk. Wajahnya tampak cemas dan muram sekali. "Seandainya Goat Nio terjadi sesuatu...."

"Bun Yang!" Gouw Han liong tersenyum. ''Jangan memikirkan yang bukan-bukan! Goat Nio tidak akan terjadi apa-apa. Percayalah!"

"Mudah-mudahan!" ucap Tio Bun Yang. Kemudian mendadak ia teiingat sesuatu. "Oh ya, apakah Kakek pernah mendengar tentang Bu Ceng Sianli?"

"Bu Ceng Sianli?" Lim Peng Hang menggeleng-gelengkan kepala. "Kakek tidak pernah mendengar tentang dia. Mungkinkah dia adalah pendekar wanita yang baru muncul di rimba persilatan! Engkau bertemu dia?"

"Aku memang telah bertemu Bu Ceng Sianli tu." Tio Bun Yang memberitahukan sambil menghela nafas. "Dia cantik jelita berusia dua puluhan, namun berhati kejam. Dia membunuh orang seperti membunuh semut."

"Oh?" Lim Peng Hang mengerutkan kening. "Dia membunuh siapa?"

"Membunuh  Hek  Sim  Popo...."  Tio  Bun  Yang  menutur

tentang kejadian itu dan menambahkan. "Bahkan dia pun ingin membunuh para anggota Seng Hwee Kauw, tapi aku mencegahnya."

"Kenapa dia membunuh pihak Seng Hwee Kauw?" Gouw Han Tiong heran. "Apakah dia punya dendam dengan pihak Seng Hwee Kauw?"

"Sebetulnya dia tidak punya dendam apa pun dengan pihak Seng Hwee Kauw, hanya dikarenakan para anggota Seng Hwee Kauw menggodanya, maka dia membunuh mereka."



"Engkau bentrok dengan Bu Ceng Sianli itu?" tanya Lim Peng Hang sambil menatapnya.

"tidak" Tio Bun Yang menghela nafas. "Ketika aku mencegahnya membunuh para anggota Seng Hwee Kauw, dia tampak gusar tapi kemudian malah menuruti perkataanku."

"Engkau tahu namanya dan bagaimana kepandaiannya?" tanya Gouw Han Tiong.

"Dia bernama Tu Siao Cui kepandaiannya tinggi sekali," jawab Tio Bun Yang memberitahukan. "Hanya Belasan jurus dia telah berhasil membunuh Hek Sim Popo."

"Oh?" Lim Peng Hang terperanjat. "Kalau begitu, kepandaiannya memang tinggi sekali."

"Bun Yang," tanya Gouw Han Tiong. "Enakau tahu siapa gurunya?"

"Tidak tahu." Tio Bun Yang menggeleng- gelengkan kepala. "Aku justru bingung memikirkannya."

"Kenapa bingung?" Lim Peng Hang menatapnya tajam.

"Kakek jangan salah paham!" ujar Tio Bun Yang dengan wajah agak kemerah-merahan. "Yang kupikirkan adalah identitasnya, sebab aku pernah bertemu Thian Gwa Sin Hiap di dalam goa, di Gunung Hong San...."

Tio Bun Yang menutur tentang itu. Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong mendengar dengan penuh peihatian.

"Thian Gwa Sin Hiap..." gumam Lim Peng liang seusai Tio Bun Yang menutur, kemudian bertanya kepada Gouw Han Tiong. "Engkau pernah mendengar tentang Thian Gwa Sin Hiap dan Tu Siao Cui?"

"Tidak pernah" Gouw Han Tiong menggelengkan kepala.

"Kalau begitu..." ujar Lim Peng Hang. "Bu Ceng Sianli-Tu Siao Cui itu bukan Tu Siao Cui, murid Thian Gwa Sin Hiap itu.



Mungkin kebetulan nama mereka sama, sebab Tu Siao Cui murid Thian Gwa Sin Hiap itu sudah berusia delapan puluhan, sedangkan Bu Ceng Sianli-Tu Siao Cui baru berusia dua puluhan."

”Kakek, aku pun berpikir begitu." Tio Bun Yang memberitahukan. "Tapi Bu Ceng Sianli justru mengaku, bahwa dirinya adalah Tu Siao Cui murid Thian Gwa Sin Hiap itu."

"Menurut aku..." ujar Lim Peng Hang setelah berpikir sejenak. "Gadis itu pasti bercanda denganmu."

"Aku pun beranggapan begitu. Tidak mungkin Bu Ceng Sianli itu adalah Tu Siao Cui murid Thian Gwa Sin hiap." Tio Bun Yang menggeleng- gelengkan kepala. "Tapi dia justru mengatakan, kelak aku akan mengetahuinya."

"Oh?" Lim Peng Hang mengerutkan kening dan berpesan. "Bun Yang, engkau harus berhati- hati terhadapnya. Kakek yakin dia berasal dari golongan sesat."

"Benar, Kakek." Tio Bun Yang mengangguk. "Gadis itu memang memiliki ilmu sesat. Dia... dia menggunakan ilmu sesat itu untuk merangsang diriku."

"Bagaimana engkau?" tanya Lim Peng Hang tegang. "Apakah engkau terangsang olehnya?"

"Tidak." Tio bun Yang tersenyum. "Kakek sudah lupa ya? Aku memiliki ilmu Penakluk Iblis "

"Oooh!" lim Peng Hang manggut-manggut sambil menarikk nafas lega. "Kakek melupakan itu."

"Kakek," ujar Tio Bun Yang sungguh-sungguh. "Kalau aku tidak memiliki ilmu Penakluk Iblis, mungkin akan terangsang."

"Bun Yang," tanya Gouw Han Tiong mendadak. "Bagaimana cara gadis itu merangsangmu?"

"Caranya... " Tio Ban Yarg memberitahukan dengan wajah agak kemerah-merahan, kemudian menambahkan. "Aku



mengeluarkan sulingku sekaligus meniupnya, akhirnya dia tersentak sadar."

"Bukan main!" Gouw Han Tiong menggeleng- gelengkan kepala "lelaki mana yang tidak akan terangsang?"

"Tapi?" Lim Peng Hang mengerutkan kening. "Menurut aku, dia cuma ingin mcncoba dirimu."

"Kenapa Kakek mengatakan begitu?" Tio Ban Yang heran.

"Coba engkau pikir, para anggota Seng Hwee Kauw menggodanya, dia langsung membunuh mereka tanpa ampun! Berarti dia bukan gadis yang bukan-bukan. Namun terhadapmu, dia malah...." Lim Peng Hang menjelaskan. "Nah, bukankah dia ingin mencoba bagaimana keteguhan imanmu?"

"Benar juga, Kakek." 'Tio Bun Yang tersenyum. "Aku sama sekali tidak berpikir sampai ke situ, tapi dia bilang suka kepadaku. Itu sungguh memusingkan pikiranku'"

"Tidak apa-apa," sahut Lim Peng Hang sungguh-sungguh. "Mungkin dia telah menganggapmu sebagai adik, maka berani mencetuskan ucapan itu."

"Kakek, aku memang berharap begitu. Kalau tidak, repotlah aku," ujar Tio Bun Yang sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Karena Goat Nio akan menaruh salah paham padaku."

"Jangan khawatir!" Lim Peng Hang tersenyum. "Kakek akan menjelaskan kepada Goat Nio."

"Terimakasih, Kakek! Terimakasih!" ucap Tio Bun Yang. "Tapi entah kapan Goat Nio akan muncul di sini! Aku... aku mengkhawatirkannya."

"Tenang saja!" ujar Lim Peng Hang menghiburnya. "Percayalah Goat Nio tidak akan terjadi apa-apa."

"Yaaah!" Tio Bun Yang menghela nafas panjang. Mudah-mudahan dia tidak akan terjadi apa- apa!"



-ooo0dw0ooo-


Bagian ke empat puluh tiga Berkumpul di Markas Pusat Kay Pang

Kini kepandaian Kam Hay Thian sudah maju pesat dan lweekangnya pun bertambah tinggi Oleh karena itu, ia memohon pamit kepada Tio Cie Hiong.

"Paman, aku ingin kembali ke Tionggoan."

"Ngmm!" Tio Cie Hiong manggut-manggut. "Memang sudah waktunya engkau kembali ke Tionggoan, tapi engkau harus ingat! Jangan terlampau gampang membunuh orang, sebab akan menimbulkan karma buruk bagi dirimu sendiri! Ingatlah itu!"

"Ya, Paman." Kam Hay Thian mengangguk.

"Hay Thian!" Lim Ceng Im menatapnya seraya berkata. "Hui San adalah gadis yang baik, bahkan sangat mencintaimu. Oleh karena itu, janganlah engkau menyia-nyiakannya!"

"Bibi...." Kam Hay Thian mengerutkan kening.

"Engkau tidak mencintainya?" tanya Lim Ceng Im sambil menatapnya tajam.

"Aku...." Kam Hay Thian menundukkan kepala. "Aku...."

"Hay Thian!" Lim Ceng Im menghela nafas panjang. "Kalau menolak cintanya, engkau pasti akan menyesal."

Kam Hay Thian tidak menyahut.

Tio Cie Hiong memandangnya, kemudian menggeleng-gelengkan kepala.

"Cinta memang tidak bisa dipaksakan, namun... Hui San merupakan gadis yang lemah lembut, bahkan boleh dikatakan



dia yang menyelamatkan nyawamu. Engkau harus ingat itu!" katanya.

"Aku pasti ingat, Paman," ujar Kam Hay Thian. "Tapi mengenai soal cinta, memang tidak bisa dipaksa."

"Baiklah." Tio Cie Hiong manggut-manggut. "Besok pagi engkau boleh kembali ke Tionggoan."

Dalam waktu bersamaan, muncullah Lie Ai Ling dan Sie Keng Hauw. Keduanya lalu menghampiri Kam Hay Thian sambil tersenyum.

"Hay Thian," ujar Sie Keng Hauw sambil memandangnya. "Adikku mencarimu ke mana- mana, ternyata engkau berada di sini!"

"Aku mohon pamit kepada Paman dan Bibi." Kam Hay Thian memberitahukan. "Besok pagi aku akan kembali ke Tionggoan!"

"Apa?" Lie Ai Ling terbelalak. "Besok pagi engkau akan kembali ke Tionggoan?"

"Ya." Kam Hay Thian mengangguk.

"Lalu bagaimana Hui San?" tanya Lie Ai Ling tanpa sadar. "Engkau tidak mengajaknya?"

"Aku...." Kam Hay Thian menundukkan kepala.

"Ai Ling," ujar Sie Keng Hauw. "Bagaimana kalau kita dan Hui San juga berangkat ke Tionggoan?"

"Setuju," sahut Lie Ai Ling dengan wajah berseri.

"Ai Ling," ujar Lim Ceng Im sambil menatapnya. "Lebih baik engkau minta ijin kepada kedua orang tuamu dulu, Keng Hauw juga harus ikut menghadap!"

"Ya, Bibi," sahut Sie Keng Hauw dan Lie Ai Ling serentak, lalu bermohon diri.



Mereka berdua pergi menemui Lie Man Chiu dan Tio Hong Hoa, sedangkan Kam Hay Thian masih tetap berdiri di tempat.

"Hay Thian, pergilah engkau menemui Hui San!" ujar Tio Cie Hiong. "Beritahukan kepadanya, bahwa engkau akan kembali ke Tionggoan esok! Kalau dia mau ikut, ajaklah!"

"Ya, Paman," Kam Hay Thian mengangguk, lalu melangkah pergi dengan kepala tertunduk.

Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im saling memandang, kemudian mereka menggeleng-gelengkan kepala sambil menghela nafas panjang.

"Aku khawatir..." ujar Tio Cie Hiong perlahan, "di antara mereka akan terjadi sesuatu kelak."

"Maksudmu Kam Hay Thian dan Lu Hui San?" tanya Lim Ceng Im.

"Ya." Tio Cie Hiong mengangguk. "Sebab Kam Hay Thian sangat dendam pada Lu Thay Kam, sedangkan Lu Hui San adalah anak angkat Lu Thay Kam itu. Nah, itu...."

"Mudah-mudahan tidak akan terjadi suatu apa pun!" ucap Lim Ceng Im.

"Ya, mudah-mudahan!" sahut Tio Cie Hiong. "Namun semua itu sudah merupakan takdir."

-ooo0dw0ooo-

Lie Man Chiu dan Tio Hong Hoa terbelalak ketika mendengar putrinya menyatakan ingin berangkat ke Tionggoan.

"Apa?" Lie Man Chiu menatap mereka. "Kalian berdua ingin berangkat ke Tionggoan?"

"Ya." Lie Ai Ling mengangguk. "Kami ingin ke markas pusat Kay Pang, mungkin Kakak Bun Yang dan Goat Nio berada di sana."



"Tapi...."              Lie          Man       Chiu       mengerutkan    kening. "Ayah,

ijinkanlah kami ke Tionggoan!" desak Lie Ai Ling. "Sebab besok pagi Hay Thian juga akan kembali ke Tionggoan."

"Oh?" Tio Hong Hoa tertegun. "Dia sudah mengambil keputusan itu?"

"Ya." Lie Ai Ling mengangguk. "Dia sudah minta ijin kepada paman dan bibi, kami ingin berangkat bersamanya."

"Bagaimana Hui San?" tanya Tio Hong Hoa. "Dia pasti ikut,"

sahut Lie Ai Ling. "Ibu, ijinkanlah kami ke Tionggoan!"

"Itu...." Tio Hong Hoa memandang Lie Man Chiu seraya

bertanya. "Bagaimana? Engkau memperbolehkan mereka ke Tionggoan?"

"Kita memang tidak bisa terus menahan mereka di sini, karena itu kita harus memperbolehkan mereka ke Tionggoan," sahut Tio Hong Hoa sambil tersenyum.

"Terimakasih, Ibu!" ucap Lie Ai Ling. "Terimakasih, Bibi!" ucap Sie Keng Hauw dengan wajah berseri dan menambahkan. "Aku pasti baik-baik menjaga Ai Ling."

"Ngmm!" Tio Hong Hoa manggut-manggut. "Bibi mempercayaimu, tapi kalian harus langsung menuju ke markas pusat Kay Pang!"

"Ya, Ibu." Lie Ai Ling mengangguk.

"Ingat!" pesan Lie Man Chiu. "Ada apa-apa, harus berunding dengan Kakek Lim dan Kakek Gouw."

"Ya." Lie Ai Ling dan Sie Keng Hauw mengangguk. Mereka berdua lalu pergi menemui Lu Hui San yang berada di halaman belakang.

Sampai di tempat itu, mereka melihat Kam Hay Thian, Yatsumi dan Bokyong Sian Hoa, sedangkan Lu Hui San menundukkan kepala.



"Ternyata kalian berkumpul di sini!" seru Lie Ai Ling sambil tertawa. "Oh ya! Besok kami akan berangkat ke Tionggoan."

"Ai Ling," tanya Lu Hui San. "Ayah dan ibumu memperbolehkannya?"

"Ya." Lie Ai Ling mengangguk.

"Kalau begitu..." ujar Lu Hui San sambil memandang Sie Keng Hauw. "Aku ikut!"

"Kami memang ingin mengajakmu." Sie Keng Hauw tersenyum. "Besok pagi kita berempat berangkat bersama."

"Yaaah!" keluh Bokyong Sian Hoa. "Tinggal aku dan Yatsumi di sini, sepi deh!"

"Sian Hoa!" Lie Ai Ling tersenyum. "Kalau engkau sudah menguasai semua ilmu yang diturunkan paman, boleh menyusul ke markas pusat Kay Pang."

"Benar." Bokyong Sian Hoa tertawa kecil. "Kita akan berkumpul di sana. Kakak Bun Yang dan Kakak Goat Nio pasti berada di sana."

"Aku yang celaka," sela Yatsumi sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Akan tinggal aku seorang diri di sini. Aku pasti kesepian."

"Begini," ujar Lie Ai Ling. "Alangkah baiknya engkau dan Bokyong Sian Hoa berangkat bersama ke Tionggoan."

"Benar." Bokyong Sian Hoa tertawa gembira. "Yatsumi, kita berangkat bersama nanti."

"Baik." Yatsumi mengangguk.

Keesokan harinya, Kam Hay Thian, Lie Ai Ling, Sie Keng Hauw dan Lu Hui San berpamit kepada semua orang. Setelah itu, barulah mereka berangkat ke Tionggoan.



Dalam perjalanan menuju Tionggoan, yang paling gembira adalah Lie Ai Ling dan Sie Keng Hauw. Mereka berdua terus bersenda gurau sambil tertawa gembira.

Sebaliknya Lu Hui San dan Kam Hay Thian terus membungkam. Itu tidak terlepas dari mata Sie Keng Hauw. Diam-diam pemuda itu menghela nafas panjang,

"Hei!" seru Lie Ai Ling. "Kenapa kalian berdua terus membungkam seperti orang bisu? Ber-cakap-cakaplah!"

"Aku...." Lu Hui San tersenyum getir.

"Hay Thian!" Sie Keng Hauw memandangnya. "Kenapa engkau diam saja? Ada sesuatu terganjel dalam hatimu?"

"Tidak," sahut Kam Hay Thian sambil meng- geleng-gelengkan kepala. "Aku... aku rindu sekali pada ibuku."

"Oh?" Sie Keng Hauw tersenyum. "Jadi engkau ingin pulang menengok ibumu!"

"Entahlah." Kam Hay Thian menghela nafas panjang. "Aku bingung sekali."

"Kenapa bingung?" tanya Lie Ai Ling sambil menatapnya. "Apa yang engkau bingungkan? Bolehkah kami tahu?"

"Itu...." Kam Hay Thian mengerutkan kening, kelihatannya

dia tidak mau memberitahukan.

"Beritahukanlah!" desak Lie Ai Ling.

"Ai Ling, jangan mendesaknya!" cegah Sie Keng Hauw. "Itu tidak baik."

"Aaaa...!" Mendadak Lu Hui San menghela nafas panjang. "Mungkin dikarenakan aku."

"Kenapa dikarenakan engkau?" Lie Ai Ling tercengang.

"Karena...."        Mata     Lu           Hui         San         mulai     basah.   "Yaaah,

sudahlah!"



"Adik!" Sie Keng Hauw memandangnya, kemudian memandang Kam Hay Thian seraya berkata, "Apa kekurangan adikku, sehingga engkau bersikap begitu dingin terhadapnya?"

"Kak!" Lu Hui San memandang Sie Keng Hauw sambil menggelengkan kepala, itu agar Sie Keng Hauw diam.

"Memang," sela Lie Ai Ling sambil memandang Kam Hay Thian dengan wajah tidak senang. "Engkau sungguh keterlaluan, Hui San begitu baik dan amat mencintaimu, tapi engkau malah...."

"Kalian harus tahu perasaanku," sahut Kam Hay Thian, kemudian menghela nafas panjang. "Aku...."

"Kenapa engkau?" tanya Lie Ai Ling ketus.

"Terlampau banyak yang kupikirkan, sehingga membuat diriku...." Kam Hay Thian menggeleng- gelengkan kepala. "Aku mohon maaf!"

"Sudahlah!" Sie Keng Hauw tersenyum. "Biar bagaimana pun, kita semua tetap kawan baik!"

"Terimakasih!" ucap Kam Hay Thian.

Mereka berempat melanjutkan perjalanan lagi menuju markas pusat Kay Pang. Malam harinya mereka bermalam di rumah penginapan. Sie Keng Hauw sekamar dengan Kam Hay Thian, Lie Ai Ling sekamar dengan Lu Hui San.

Keesokan harinya ketika hari baru mulai terang, Lie Ai Ling dan Lu Hui San dikejutkan oleh suara ketukan pintu. Kedua gadis itu segera meloncat bangun seraya bertanya.

"Siapa?"

"Aku!" suara sahutan Sie Keng Hauw.

Lie Ai Ling cepat-cepat membuka pintu kamar. Dilihatnya wajah Sie Keng Hauw agak lain.

"Keng Hauw, apa yang terjadi?"



"Hay Thian pergi tanpa pamit," sahut Sie Keng Hauw sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Apa?" Lie Ai Ling tertegun. "Maksudmu Hay Thian pergi secara diam-diam?"

"Ya." Sie Keng Hauw mengangguk sambil melirik Lu Hui San. Wajah gadis itu nampak murung sekali.

"Dia... dia telah pergi seorang diri?" tanya Lu Hui San seakan bergumam. "Kenapa dia memisahkan diri dengan kita?"

"Dia memang keterlaluan," ujar Lie Ai Ling dengan wajah tidak senang. "Bahkan juga tak tahu diri."

"Sudahlah!" Lu Hui San menggeleng-gelengkan kepala. "Biarlah dia pergi, mungkin itu akan membebaskan beban pikirannya."

"Aku sungguh tidak mengerti," ujar Sie Keng Hauw dengan kening berkerut-kerut. "Kenapa dia begitu macam? Aaaah...!"

"Keng Hauw, mungkinkah dia pergi ke Gunung Hek Ciok San (Gunung Batu Hitam) untuk bertarung dengan Seng Hwee Sin Kun?" tanya Lie Ai Ling dengan wajah berubah.

"Itu...." Pikir       Sie          Keng      Hauw    sejenak,               kemudian

menggelengkan kepala seraya berkata. "Mungkin tidak, kemungkinan besar dia pulang ke rumahnya menengok ibunya. Bukankah kemarin dia bilang rindu sekali kepada ibunya?"

"Benar." Lie Ai Ling manggut-manggut. "Kalau begitu, bagaimana kalau kita ke rumahnya?"

"Engkau tahu rumahnya?" tanya Sie Keng Hauw.

"Tidak tahu," sahut Lie Ai Ling sambil memandang Lu Hui San seraya bertanya. "Engkau tahu?"

"Aku pun tidak tahu," jawab Lu Hui San.



"Yaah!" Lie Ai Ling menggeleng-gelengkan kepala. "Kita bertiga tidak tahu rumahnya, lalu apa langkah kita?"

"Melanjutkan perjalanan, ke markas pusat Kay Pang, lalu kita berunding dengan Kakek Lim dan Kakek Gouw," ujar Sie Keng Hauw.

"Benar." Lie Ai Ling mengangguk. "Kalau begitu, mari kita berangkat! Jangan membuang- buang waktu di sini!"

Sie Keng Hauw dan Lu Hui San mengangguk. Mereka bertiga lalu berangkat ke markas pusat Kay Pang. Lu Hui San membungkam dengan wajah murung sepajang jalan, Sie Keng Hauw menggeleng-gelengkan kepala.

"Adik, sudahlah!" ujarnya lembut. "Jangan terus memikirkan Hay Thian, dia begitu macam, tiada guna memikirkannya!"

"Aku...." Lu Hui San menundukkan kepala. "Tidak disangka,

hatinya begitu dingin!" "Hmm!" dengus Lie Ai Ling. "Dia memang tak tahu diri dan tak kenal budi. Engkau yang membopongnya sampai ke Pulau Hong Hoang To, bahkan demi dirinya engkau pun tahan lapar dan ngantuk terus membopongnya. Tapi sebaliknya dia...."

"Aaaah...!" Lu Hui San menghela nafas panjang. "Jangan mempersalahkannya! Dia adalah kawan baik kita, maka aku...

aku harus membopongnya sampai di Pulau Hong Hoang To itu."

"Hui       San...." Li             Ai            Ling        menatapnya      iba,         kemudian

menggeleng-gelengkan kepala. "Sudahlah! Mulai sekarang engkau tidak perlu memikirkannya lagi!"

"Ng!" Lu Hui San mengangguk. "Aku akan berusaha melupakannya."

"Benar." Lie Ai Ling manggut-manggut. "Engkau memang harus melupakannya, tiada artinya engkau memikirkannya."



-ooo0dw0ooo-

Beberapa hari kemudian, mereka bertiga sudah tiba di markas pusat Kay Pang.

Betapa gembiranya Lie Ai Ling ketika melihat Tio Bun Yang berada di situ. Kemudian gadis itu berseru-seru.

"Kakak Bun Yang! Kakak Bun Yang!" Lie Ai Ling langsung mendekap di dadanya. "Kakak Bun Yang...."

"Adik Ai Ling!" Tio Bun Yang membelainya dengan penuh kasih sayang. "Oh ya, pemuda itu...."

"Dia adalah Sie Keng Hauw. Kakak Bun Yang pasti ingat dia," sahut Lie Ai Ling sambil tertawa gembira.

"Oooh!" Tio Bun Yang manggut-manggut. "Dia putra Sie Kuang Han! Bagus! Bagus!"

"Saudara Tio!" Sie Keng Hauw memberi hormat. "Terimakasih atas budi pertolonganmu yang telah menyelamatkan nyawa ayahku, bahkan mempertemukan Hui San dengan ayahku pula!"

"Saudara Sie!" Tio Bun Yang tersenyum. "Engkau tidak usah berterimakasih kepadaku. Kita semua adalah kawan baik, jadi... harus tolong- menolong dalam hal apa pun."

"Saudara Tio, engkau sungguh berjiwa besar!" ujar Sie Keng Hauw, kemudian memberi hormat kepada Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong. "Kakek Lim, Kakek Gouw!"

"Ha ha ha!" Lim Peng Hang tertawa gelak. "Silakan duduk! Silakan duduk!"

"Terimakasih!" ucap Sie Keng Hauw sambil duduk, Lie Ai Ling duduk di sebelahnya.

"Eeeh?" Gadis itu menengok ke sana ke mari, seperti sedang mencari sesuatu. "Kok Goat Nio tidak kelihatan? Apakah dia berada di dalam?"



"Dia belum kembali," sahut Tio Bun Yang sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Aku sudah ke Gunung Thian San, namun tidak bertemu dia."

"Apa?" Lie Ai Ling terbelalak. "Jadi hingga saat ini dia belum kembali? Apakah telah terjadi sesuatu atas dirinya?"

"Itulah yang ku khawatirkan," Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala lagi.

"Kakak Bun Yang," tanya Lie Ai Ling. "Kenapa engkau tidak pergi mencarinya?"

"Aku  memang  ingin  pergi  mencarinya,  tapi...."  Tio  Bun

Yang memandang Lim Peng Hang. "Kakek melarangku pergi mencarinya."

"Lho? Kenapa?" Lie Ai Ling heran.

"Percuma Bun Yang pergi mencari Goat Nio, sebab kita sama sekali tidak tahu dia berada di mana. Lalu Bun Yang harus ke mana mencarinya? Bukankah lebih baik menunggu di sini, agar tidak terjadi selisih jalan lagi?" ujar Lim Peng Hang, kemudian bertanya, "Oh ya, bagaimana keadaan Kam Hay Thian, Yatsumi dan Bokyong Sian Hoa di sana?"

"Mereka baik-baik saja. Tapi Kam Hay Thian...." Lie Ai Ling

menghela nafas panjang.

"Kenapa dia?" tanya Tio Bun Yang tegang,

"Sebetulnya dia ke mari bersama kami, tapi di tengah jalan dia pergi secara diam-diam," jawab Lie Ai Ling memberitahukan. "Dia memang sengaja memisahkan diri dengan kami."

"Kenapa begitu?" Tio Bun Yang mengerutkan kening. "Apakah kalian bertengkar?"

Lie Ai Ling menghela nafas panjang. "Hui San sangat mencintainya, tapi dia malah bersikap dingin dan acuh tak acuh terhadap Hui San...."



"Ai Ling!" panggil Lu Hui San, agar Lie Ai Ling tidak melanjutkan ucapannya. "Sudahlah! Jangan membicarakan tentang itu lagi!"

"Hui  San...."  Lie  Ai  Ling  menggeleng-gelengkan  kepala.

"Terus terang, aku... aku bersimpati dan merasa kasihan kepadamu."

"Ai Ling!" Lui Hui San tersenyum getir. "Mungkin sudah nasibku, mau bilang apa?"

"Kalau aku bertemu Kam Hay Thian, aku pasti akan menasihatinya." ujar Tio Bun Yang berjanji.

"Bun Yang!" Lim Peng Hang mengerutkan kening. "Percuma engkau menasihatinya."

"Kenapa, Kakek?" tanya Tio Bun Yang heran.

"Sebab...." Lim Peng Hang menghela nafas panjang. "Cinta tidak bisa dipaksa, maka percuma engkau menasihatinya."

"Tapi...." Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala. "Hui San...."

"Terimakasih atas maksud baikmu, Kakak Bun Yang!" ucap Lu Hui San dan menambahkan. "Memang tidak salah, cinta tidak bisa dipaksa. Maka engkau tidak usah menasihatinya mengenai ini, percuma!"

"Tio Bun Yang manggut-manggut, kemudian mengalihkan pembicaraan tentang Bu Ceng Sianli.

"Oh?" Lie Ai Ling terbelalak setelah mendengar penuturan itu. "Bidadari Tanpa Perasaan merupakan gadis yang cantik jelita?"

"Ya." Tio Bun Yang mengangguk. "Tapi dia sadis sekali."

"Hi hi hi!" Lie Ai Ling tertawa. "Kalau dia tidak sadis, bagaimana mungkin memperoleh julukan itu? Namun orang-orang yang dibunuhnya itu adalah para penjahat."



"Walau para penjahat, tapi seharusnya dia memberi ampun kepada mereka. Dia tidak perlu membunuh, cukup melukai mereka saja," ujar Tio Bun Yang.

"Saudara Tio!" Sie Keng Hauw tersenyum. "Kalau kita memberi ampun kepada para penjahat, justru akan membuat mereka semakin jahat."

"Itu belum tentu," sahut Tio Bun Yang. "Mungkin mereka akan kembali ke jalan yang benar."

"Ha ha ha!" Lim Peng Hang tertawa gelak. "Engkau memang seperti ayahmu, berhati bajik, bijak dan selalu mengampuni orang."

"Kakak Bun Yang memang begitu," sela Lie Ai Ling lalu memandang Sie Keng Hauw seraya berkata, "Engkau harus belajar seperti Kakak Bun Yang lho!"

"Ya." Sie Keng Hauw mengangguk sambil tersenyum. "Aku menuruti perkataanmu."

"Keng Hauw!" Lie Ai Ling tersenyum manis. "Sungguh baik engkau, mudah mudahan selamanya engkau tetap begini terhadapku!"

"Jangan khawatir!" Sie Keng Hauw menggenggam tangannya erat-erat. "Cintaku terhadapmu takkan luntur selama-lamanya."

"Terimakasih, Keng Hauw!" ucap Lie Ai Ling, kemudian mendadak mengecup pipinya.

"Haaah...?" Wajah Sie Keng Hauw kemerah-merahan, namun bergirang dalam hati. Kalau hanya berduaan, pemuda itu pasti balas mengecupnya.

"Ha ha ha!" Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong tertawa terbahak-bahak. "Bukan main kecupan itu, sungguh mengesankan!"



Wajah Lie Ai Ling langsung memerah. Gadis itu tidak menyangka Lim Peng Hang akan menggodanya.

"Kakek  Lim...."  Lie  Ai  Ling  cemberut.  "Memangnya  aku

tidak boleh mengecupnya?"

"Tentu  boleh,   tapi...." Lim         Peng      Hang      tertawa                lagi.

"Alangkah baiknya di saat berduaan saja."

"Kakek Lim...." Lie Ai Ling membanting- banting kaki.

Sementara Gouw Han Tiong terus memandang Lu Hui San, berselang beberapa saat kemudian ia pun bertanya.

"Hui San, apa rencanamu selanjutnya?"

"Aku ingin pergi ke ibu kota menengok ayah angkatku,"

jawab Lu Hui San. "Aku rindu kepadanya."

"Kapan engkau akan berangkat?" tanya Lim Peng Hang.

"Sekarang," sahut Lui Hui San singkat.

"Apa?" Lie Ai Ling terbelalak. "Engkau mau berangkat sekarang? Tidak bisa tunggu besok atau lusa?"

"Ai Ling!" Lu Hui San menghela nafas panjang. "Lebih baik aku berangkat sekarang."

"Baiklah." Lim Peng Hang manggut-manggut. "Tapi engkau harus berhati-hati menjaga diri!" pesannya.

"Ya, Kakek Lim." Lu Hui San mengangguk.

Setelah berpamit, barulah ia meninggalkan markas pusat Kay Pang. Lim Peng Hang, Gouw Han Tiong dan Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala, sedangkan Sie Keng Hauw dan Lie Ai Ling mengantar gadis itu sampai di luar markas.

"Adik!" Sie Keng Hauw menggenggam tangannya. "Kapan engkau akan kembali ke sini lagi?"



"Entahlah." Lu Hui San menggelengkan kepala. "Oh ya, kapan kalian punya waktu, kalian boleh ke ibu kota menemuiku."

"Baik." Sie Keng Hauw mengangguk. "Adik, selamat jalan!"

"Kak!" Mata Lu Hui San mulai basah. "Sampai jumpa!"

"Hui       San...." Mata     Lie          Ai            Ling        sudah    bersimbah          air.

"Selamat jalan!"

"Ai Ling!" Lu Hui San tersenyum getir. "Selamat tinggal, sampai jumpa kelak!"

Lu Hui San melangkah pergi. Setelah gadis itu tidak kelihatan, barulah Sie Keng Hauw dan Lie Ai Ling kembali ke dalam markas sambil menghela nafas panjang.

"Kasihan dia!" Lie Ai Ling menggeleng-gelengkan kepala. "Dia betul-betul patah hati."

"Mudah-mudahan Hay Thian akan mencintainya kelak!" sahut Sie Keng Hauw dan menambahkan. "Aku justru masih merasa heran."

"Heran kenapa?"

"Menurut  aku...."  Sie  Keng  Hauw  mengerutkan  kening.

"Sesungguhnya Kam Hay Thian juga mencintai Hui San, hanya saja ada sesuatu terganjal di dalam hatinya yang membuatnya bersikap dingin dan acuh-tak acuh terhadap Hui San."

"Oh?" Lie Ai Ling tertegun. "Kira-kira apa yang terganjel di dalam hati Kam Hay Thian?"

"Entahlah." Sie Keng Hauw menggelengkan kepala. "Aku tidak mengetahuinya."

"Mungkinkah...." Lie Ai Ling mengerutkan kening. "Kam Hay

Thian tahu Hui San adalah putri angkat Lu Thay Kam?"

"Iya." Sie Keng Hauw mengangguk. "Mungkin karena itu, maka dia bersikap begitu terhadap Hui San."



"Tapi tiada seorang pun memberitahukan pada Kam Hay Thian, bahwa Lu Thay Kam adalah ayah angkat Hui San. Jadi bagaimana mungkin Kam Hay Thian mengetahuinya?"

"Ai Ling!" Sie Keng Hauw tersenyum. "Engkau harus tahu, Kam Hay Thian sangat cerdas, tentunya dia sudah menduga sampai ke situ."

"Kalau begitu...." Kening Lie Ai Ling berkerut-kerut. "Bukan

karena Goat Nio?"

"Pasti bukan," sahut Sie Keng Hauw. "Sebab dia tahu Goat Nio tidak mencintainya, lagi pula dia telah berhutang budi kepada Paman Cie Hiong, tentunya dia tidak berani memikirkan yang bukan- bukan."

"Benar." Lie Ai Ling mengangguk. "Kalau begitu...."

Di saat bersamaan, muncullah Tio Bun Yang sambil memandang mereka, kemudian tersenyum seraya berkata.

"Maaf! Aku telah mengganggu kalian!"

"Kakak Bun Yang," sahut Lie Ai Ling. "Jangan berkata begitu ah! Masa sih engkau akan mengganggu kami."

"Kelihatannya kalian sedang asyik bercakap- cakap, maka...."

"Kami sedang membicarakan Lu Hui San dan Kam Hay Thian," potong Lie Ai Ling memberitahukan.

"Oooh!" Tio Bun Yang manggut-manggut. "Kupikir. Hay Thian mungkin sudah tahu Hui San adalah putri angkat Lu Thay Kam, maka dia menolak cintanya. Padahal Hay Thian pun mencintai Hui San, tapi...."

"Kakak Bun Yang," ujar Lie Ai Ling. "Kami pun berpikir begitu. Kini Hui San telah kembali ke ibu kota, kita harus bagaimana?"



"Kita tidak bisa turut campur," sahut Tio Bun Yang dan menambahkan. "Biar dia yang menyelesaikan urusan itu. Kalau kita turut campur, mungkin akan mengeruhkan urusan itu."

"Benar." Sie Keng Hauw manggut-manggut. "Tapi belum tentu Hay Thian akan ke ibu kota. Aku justru khawatir dia akan pergi menantang Seng Hwee Sin Kun."

"Itu pun mungkin. Sebab...." Tio Bun Yang mengerutkan

kening. "Dia sangat dendam kepada Seng Hwee Sin Kun."

"Kalau begitu...." Wajah Lie Ai Ling agak pucat. "Bagaimana

kalau kita pergi membantu dia?"

"Aku bukan tidak mau pergi bantu dia, melainkan...." Tio

Bun Yang menghela nafas panjang. "Adik Ai Ling, aku harus menunggu Goat Nio."

"Tapi Hay Thian...."

"Ai Ling!" Sie Keng Hauw memandangnya seraya berkata, "Engkau tidak usah cemas, sebab belum tentu Kam Hay Thian akan pergi mencari Seng Hwee Sin Kun, dia tidak akan bertindak sebodoh itu."

Lie Ai Ling manggut-manggut. Tio Bun Yang memandang mereka lalu berkata,

"Mari kita masuk dulu!"

Mereka bertiga masuk. Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong masih duduk di situ.

"Bun Yang," tanya Lim Peng Hang. "Hui San sudah pergi?"

"Sudah, Kek," jawab Tio Bun Yang sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Dia kelihatan berduka sekali."

"Yaah!" Lim Peng Hang menghela nafas panjang. "Entah apa yang akan terjadi?"



"Sesungguhnya," ujar Gouw Han Tiong. "Kam Hay Thian pun mencintainya. Mungkin dia tahu Hui San adalah putri angkat Lu Thay Kam, maka Kam Hay Thian menolak cintanya."

"Kami    juga       berpikir                begitu,  tapi...." Tio          Bun        Yang

mengerutkan kening. "Yang kami cemaskan adalah Kam Hay Thian, mungkin dia pergi menantang Seng Hwee Sin Kun."

"Itu belum tentu," sahut Lim Peng Hang. "Sebab kalian sudah memberitahukan, bahwa Kam Hay Thian pernah bilang rindu sekali kepada ibunya. Karena itu, dia pasti pulang ke rumahnya untuk menengok ibunya."

"Setelah               itu...."   Tio          Bun        Yang      menggeleng-gelengkan

kepala. "Dia pasti akan pergi ke Gunung Hek Ciok San. Aku tidak bisa pergi membantunya, sebab harus menunggu Goat Nio."

"Kakek Lim," tanya Lie Ai Ling mendadak. "Bolehkah kami berdua pergi membantu Kam Hay Thian?"

"Tidak boleh." Lim Peng Hang menggelengkan kepala. "Itu sama juga pergi mencari mati."

"Tapi Kam Hay Thian...." Lie Ai Ling mengerutkan kening.

"Dia adalah kawan baik kami."

"Benar." Lim Peng Hang manggut-manggut. "Dia memang kawan baik kalian, namun belum tentu dia akan pergi ke Gunung Hek Ciok San. Lagi pula sementara ini belum ada kabar beritanya mengenai Seng Hwee Sin Kun, karena itu, aku yakin Kam Hay Thian tidak pergi ke Gunung Hek Ciok San, melainkan akan ke ibu kota."

"Kalau begitu...," ujar Lie Ai Ling. "Hui San dan dia pasti akan bertemu di ibu kota."

"Ada baiknya mereka bertemu. Mudah-mudahan urusan itu dapat diselesaikan dengan baik!" ujar Lim Peng Hang dan



melanjutkan. "Sementara ini kalian bertiga tetap di sini menunggu Goat Nio, jangan ke mana-mana!"

Tio Bun Yang, Sie Keng Hauw dan Lie Ai Ling mengangguk. Di saat itulah Lim Peng Hang teringat sesuatu. Kemudian ketua Kay Pang itu berkata sambil mengerutkan kening.

"Kelihatannya rimba persilatan akan semakin kacau karena kemunculan Kui Bin Pang (Perkumpulan Muka Setan) yang misterius itu."

"Oh ya, apakah Kakek Lim sudah berhasil menyelidiki tentang Kui Bin Pang tu?" tanya Lie Ailng.

"Belum." Lim Peng Hang menggelengkan kepala. "Sebab sulit sekali melacak Kui Bin Pang itu."

"Kui Bin Pang?" Sie Keng Hauw tampak terkejut. "Bagaimana perkumpulan itu muncul di rimba Persilatan lagi?"

"Keng Hauw!" Lie Ai Ling tercengang. "Engkau tahu tentang Kui Bin Pang itu?"

"Tahu sedikit," jawab Sie Keng Hauw memberitahukan. "Guruku pernah menceritakan kepadaku, perkumpulan itu merupakan perkumpulan misteri sekitar seratus tahun yang silam. Tapi perkumpulan itu tidak pernah memasuki daerah Tionggoan, hanya bergerak di daerah Gurun Sih lh dan sekitarnya. Ketua dan para anggota perkumpulan itu berkepandain tinggi sekali, namun pada waktu itu, perkumpulan tersebut mendadak bubar."

"Kalau   begitu...."            Lim         Peng      Hang      menatapnya      tajam.

"Gurumu pasti punya hubungan dengan Kui Bin Pang itu."

"Entahlah." Sie Keng Hauw menggelengkan kepala. 'Aku tidak mengetahuinva."

"Keng Hauw," tanya Gouw Han Tiong. "Bolehkah Kami tahu siapa gurumu?"



"Itu...." Sie Keng Hauw menghela nafas panjang. "Maaf,

Kakek Gouw! Guruku melarangku menyebut nama maupun julukannya, aku tidak berani melanggarnya."

"Ooon!" Gouw Han Tiong manggut-manggut. "Tidak apa-apa. Tap, bolehkah engkau menceritakan lagi tentang Kui Bin Pang :tu?"

Sie Keng Hauw mengangguk, kemudian mulai menceritakan berdasarkan apa yang didengar dari gurunya.

"Kata guruku, ketua perkumpulan itu memiliki ilmu hitam yang sangat hebat, semacam hipnotis. Siapa yang memandang sepasang matanya, pasti akan terpengaruh oleh ilmu hitamnya itu."

"Oh?" Lim Peng Kang mengerutkan kei .ng.

"Tapi kira-kira seratus tahun silam, mendadak ketua perkumpulan itu hilang tiada jejaknya sama sekali. Sudah barang tentu perkumpulan itu jadi bubar. Bagaimana mungkin kini muncul lagi?" ujar Sie Keng Hauw kurang percaya.

"Aku dan Goat Nio pernah melihat mereka...," sahut Lie Ai Ling dan menutur tentang itu.

"Oh?" Sie Keng Hauw tertegun. "Kalau begitu, mereka memang para anggota Kui Bin Pang. Tapi siapa ketua baru itu? Tidak mungkin ketua lama itu masih hidup."

"Kui Bin Pang itu masih belum resmi muncul di rimba persilatan. Mungkin ketua baru itu sedang menghimpun kekuatan, memanggil para anggota yang bubar itu," ujar Lim Peng Hang sambil menghela nafas panjang. "Aaaah! Itu merupakan ancaman bagi rimba persilatan."

"Kalau begitu memang tidak salah," ujar Tio Bun Yang memberitahukan. "Aku pun pernah mendengar tentang Kui Bin Pang dari para pedagang. Mereka bilang melihat setan iblis naik kuda, berpakaian serba putih dan wajah menyerupai



setan iblis, bahkan juga mengeluarkan siulan aneh yang menyeramkan."

"Betul." Lie Ai Ling manggut-manggut. "Mereka memang mengeluarkan siulan aneh yang menyeramkan, memakai kedok setan dan berpakaian serba putih."

"Aaaah...."  Gouw  Han  Tiong  menghela  nafas  panjang.

"Rimba persilatan sudah tidak aman karena Seng Hwee Kauw dan Hiat Ih Hwe, kini malah muncul Kui Bin Pang lagi!"

"Kalau aku sudah bertemu Goat Nio, aku ingin mengajaknya pulang ke Pulau Hong Hoang To," ujar Tio Bun Yang sungguh-sungguh. "Aku sudah jenuh akan rimba persilatan yang tak pernah aman, tenang dan damai. Ada saja pertikaian."

"Lalu bagaimana dengan Seng Hwee Sin Kun?" tanya Lim Peng Hang mendadak sambil menatapnya.

"Dia memang telah membunuh kauw heng, tapi perlukah aku menuntut balas kepadanya?" Tio Bun Yang mengerutkan kening. "Kalau kita balas-membalas kapan akan berakhir?"

"Bun Yang...." Lim Peng Hang menghela nafas panjang.

"Engkau bersifat seperti Cie Hiong ayahmu, namun kalian justru berkepandaian sangat tinggi."

"Kakek...." Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala.

"Bun Yang!" Gouw Han Tiong menatapnya tajam seraya berkata, "Kauw heng menyuruhmu ke goa es belajar ilmu Kan Kun Taylo Im Kang, itu agar engkau dapat melawan Seng Hwee Sin Kun, sekaligus membalaskan dendamnya."

"Tentang itu, bagaimana nanti saja," sahut Tio Bun Yang.

Pemuda itu memang tiada nafsu untuk membalas dendam.

"Itu terserah kepadamu," ujar Gouw Han Tiong. "Kami tidak akan mendesakmu menuntut balas kepada Seng Hwee Sin Kun. Tapi...."



"Bun Yang," sambung Lim Peng Hang. "Kelihatannya tidak lama lagi, suatu bencana akan melanda rimba persilatan, apakah engkau mau tinggal diam?"

"Kakek!" Tio Bun Yang tersenyum. "Itu urusan nanti, lebih baik dibicarakan nanti saja. Kini aku cuma memikirkan Goat Nio."

"Kakak Bun Yang," usul Lie Ai Ling. "Bagaimana kalau kita bertiga pergi mencari Goat Nio?"

"Kakekku sudah bilang tadi, kita harus menunggu di sini agar tidak selisih jalan dengan Goat Nio," sahut Tio Bun Yang. "Jadi kita tidak boleh pergi mencari Goat Nio."

"Memang lebih baik kita menunggu di sini saja," sela Sie Keng Hauw dan menambahkan. "Kita lihat bagaimana perkembangan selanjutnya, setelah itu barulah kita membahasnya."

"Benar." Lim Peng Hang manggut-manggut. "Sekarang kalian pergi beristirahat saja."

"Ya," sahut Tio Bun Yang, Sie Keng Hauw dan Lie Ai Ling serentak, lalu semuanya pergi ke ruangan belakang.

---o0dw0ooo-


Bagian ke empat puluh empat Kedukaan yang memuncak

Ke mana Kam Hay Thian? Apakah ia pergi ke Gunung Hek Ciok San? Ternyata tidak, melainkan pulang ke rumahnya karena sangat rindu kepada ibunya. Kenapa ia memisahkan diri dengan Sie Keng Hauw, Lie Ai Ling dan Lu HuiSan? Memang tidak salah, ia sudah tahu bahwa Lu Hui San adalah putri angkat Lu Thay Kam. Tanpa sengaja ia mendengar percakapan mereka, maka ia tahu Lu Thay Kam adalah ayah angkat Lu Hui San. Oleh karena itu, ia menolak cinta dari



gadis tersebut. Padahal sesungguhnya, ia mulai mencintai gadis itu. Tapi ada selapis tembok menghalanginya, yakni Lu Thay Kam itu. Akhirnya ia mengambil keputusan untuk berpisah dengan Lu Hui San.

Kurang lebih sepuluh hari kemudian, Kam Hay Thian sudah sampai di rumahnya. Ia berlari- lari memasuki halaman rumah sambil berseru-seru dengan penuh kegembiraan.

"Ibu! Ibu! Aku sudah pulang! Ibu...!"

Seorang tua berhambur ke luar menyambutnya. Ia adalah pembantu tua di rumah itu.

"Tuan muda...."

"Paman tua!" panggil Kam Hay Thian sambil tersenyum. "Di mana ibuku? Aku sudah rindu sekali kepadanya."

"Tuan muda...." Pembantu tua itu menundukkan kepala,

kemudian menangis terisak-isak.

"Paman tua...." Wajah Kam Hay Thian pucat pias.

"Tuan    muda...."             Air          mata      pembantu           tua         itu           sudah

bercucuran. "Ibumu sudah meninggal beberapa bulan yarg lalu."

"Apa?" Sekujur badan Kam Hay Thian menggigil, kemudian menjerit. "Ibu! Ibu...!"

"Tuan muda! Tuan muda...!" panggil pembantu t ua itu.

Kam Hay Thian berdiri diam, sepasang matanya mendelik lalu terkulai dan pingsan seketika.

"Tuan muda' Tuan muda.. !" Kalutlah pembantu tua itu, ia berusaha menyadarkannya.

Berselang beberapa saat kemudian, sepasang mata Kam Hay Thian terbuka per lahan-lahan, maka legalah hati pembantu tua itu.

 "Tuan muda...."

"Paman tua...." Kam Hay Thian berlutut di depan meja

sembahyarg dan menangis meraung- raung. "Ibu! Ibu...!"

Pembantu tua itu membiarkannya terus menangis. Itu memang lebih baik dari pada Kam Hay Thian menahan duka dalam hati, akan membahayakan dirinya.

"Ibu! Ibu...!" Kam Hay Thian terus menangis meraung-raung

Lama sekali barulah Kam Hay Thian berhenti menangis, lalu memandang pembantu tua itu seraya bertanya.

"Paman tua! Apa yang terjadi? Apa yang terjadi?" teriak Kam Hay Thian sambil berlari ke dalam rumah.

Sesampainya di dalam rumah, ia melihat sebuah meja sembayang di ruang depan, dan sebuah tempat abu di atas meja itu.

"Bagaimana ibuku meninggal?"

"Nyonya....         nyonya dibunuh,"            jawab    pembantu           tua         itu

dengan air mata berderai-derai.

"Apa?" Kam Hay Thian meloncat bangun. "Ibuku mati dibunuh? Siapa yang membunuh?"

"Para anggota Hiat Ih Hwe."

"Para anggota Hiat Ih Hwe?" Sepasang mata Kam Hey Thian langsung berapi-api. "Kenapa mereka membunuh ibuku?"

"Malam itu..." tutur pembantu tua itu. "Beberapa orang memasuki halaman rumah. Nyonya mendengar suara itu maka segera membuka pintu. Nyonya melihat beberapa orang itu terluka parah. Mereka ternyata para pejuang yang dikejar Hiat Ih Hwe. Nvonya menyembunyikan mereka didalam rumah."

"Kemudian bagaimana?"



"Tak lama muncullah belasan orang berpakaian merah. Mereka adalah para anggota Hiat Ih Hwe. Nyonya melarang menggeledah, namun salah seorang anggota Hiat Ih Hwe mengayunkan goloknya, dan kepala nyonya terpenggal jatuh menggelinding di lantai."

"Haaah...?" Kam Hay Thian nyaris pingsan lagi. Ia menggenggam ujung meja sembayang erat-erat.

Braaaak! Tiba-tiba ujung meja sembayang itu hancur menjadi debu. Ternyata tanpa sengaja Kam Hay Thian mengerahkan Iweekangnya

"Tuan muda...." Pembantu tua itu terkejut bukan main.

"Setelah itu bagaimana?" tanya Kam Hay Thian dengan wajah kehijau-hijauan.

"Para anggota Hiat Ih Hwe mulai menggeledah, akhirnya mereka menemukan pejuang-pejuang itu, dan kemudian mereka bunuh secara sadis sekali." Pembantu tua itu memberitahukan. "Untung mereka tidak menemukan aku, maka aku terhindar dari kematian."

"Aku harus menuntut balas! Aku harus membunuh Lu Thay Kam itu!" ujar Kam Hay Thian dengan mata membara. "Walau dia ayah angkat Hui San, namun aku tetap harus membunuhnya!"

"Tuan muda!" Pembantu tua itu terisak-isak. "Sungguh mengenaskan kematian nyonya!"

"Aku bersumpah, akan membunuh Lu Thay Kam dan membasmi Hiat Ih Hwe!" ucap Kam Hay Thian mengangkat sumpah itu dengan mata berapi-api. Kemudian ia memasang hio dan bersujud di depan tempat abu itu.

-ooo0dw0ooo-

Sementara itu, Lu Hui San juga sudah tiba di ibu kota.

Dapat dibayangkan, betapa gembiranya Lu Thay Kam.

 "Nak..." panggilnya dengan suara tergetar- getar.

"Ayah...." Lu Hui San mendekap di dada Lu Thay Kam.

"Ayah, aku sudah kembali."

"Nak!" Lu Thay Kam membelainya dengan penuh kasih sayang. "Syukurlah engkau sudah kembali, ayah gembira sekali!"

"Ayah...." Lu Hui San terisak-isak.

"Nak!" Lu Thay Kam menatapnya heran. "Kenapa engkau tampak berduka? Apa yang telah terjadi?"

"Ayah...." Lu Hui San menggeleng-gelengkan kepala, lalu

duduk dengan kepala tertunduk.

"Nak...."               Lu           Thay      Kam       duduk   di            hadapannya.

"Beritahukanlah! Apa yang membuatmu berduka?"

"Ayah, aku sudah bertemu Sie Keng Hauw," Lu Hui San memberitahukan. "Tentunya Ayah masih ingat kepadanya, kan?"

"Sie  Keng  Hauw...."  Lu  Thay  Kam  manggut-  manggut.

"Putra Sie Kuang Han kan?"

"Betul, Ayah." Lu Hui San mengangguk. "Kepandaiannya sangat tinggi."

"Oh?" Lu Thay Kam tersenyum. "Bagus! Mungkin dia akan ke mari menuntut balas, bukan?"

"Ayah telah salah menerka." Lu Hui San menggelengkan kepala. "Pamanku melarang kami membalas dendam."

"Oh?" Lu Thay Kam menatapnya, kemudian menghela nafas panjang. "Syukurlah kalau begitu!"

"Tapi...." Lu Hui San menghela nafas panjang.

"Ada apa, San San?" tanya Lu Thay Kam dan menambahkan. "Beritahukanlah! Jangan ragu!"



"Aku...."

"Kenapa engkau?" Lu Thay Kam menatapnya dalam-dalam. "Apakah engkau sudah punya kekasih?"

"Ayah...." Wajah Lu Hui San memerah.

"Beritahukanlah!" desak Lu Thay Kam. "Apakah engkau sudah punya kekasih?"

"Aku..." jawab Lu Hui San dengan kepala tertunduk. "Aku mencintainya, namun... dia tidak mencintaiku."

"Oh? Siapa dia? Sungguh berani dia menolak cintamu?" Lu Thay Kam mengerutkan kening. "Apakah dia tidak tahu aku adalah ayah angkatmu?"

"Mungkin dia tahu, maka... dia berusaha menjauhi diriku," sahut Lu Hui San sambil menghela nafas dan memberitahukan. "Dia bernama Kam Hay Thian."

"Kam Hay Thian?"

"Julukannya adalah Chu Ok Hiap (Pendekar Pembasmi Penjahat)."

"Ayah pernah mendengar itu. Tapi kenapa dia menjauhi dirimu, apakah dia punya dendam kepadaku?"

"Aaaah...!" Lu Hui San menghela nafas panjang lagi. "Para anggota Hiat Ih Hwee membunuh guru silat Lie dan Lie Beng Cu, maka dia sangat dendam kepada Hiat Ih Hwe, mungkin dia pun akan membunuh Ayah."

"Dia punya hubungan apa dengan guru silat Lie dan Lie Beng Cu?"

"Dia berhutang budi kepada mereka ayah dan anak. Karena para anggota Hiat Ih Hwe membunuh mereka, jadi dia pun ingin membalas dendam."

"Tapi...." Lu Thay Kam mengerutkan kening. "Ayah sama

sekali tidak kenal guru silat Lie itu, lagi pula ayah tidak pernah



perintahkan para anggota Hiat Ih Hwe membunuh guru silat Lie maupun putrinya itu."

"Yaaah!" Lu Hui San menghela nafas. "Karena Ayah ketua Hiat Ih Hwe, maka dia pun akan menuntut balas kepada Ayah."

"Oh?" Lu Thay Kam menggeleng-gelengkan kepala. "Lalu apa kehendakmu, Nak?"

"Aku mohon kepada Ayah, jangan turun tangan membunuhnya! Aku.... Aku sangat mencintainya! Aku...."

"Nak!" Lu Thay Kam tertawa gelak. "Baik. Ayah berjanji tidak akan membunuhnya!"

"Terimakasih, Ayah!" ucap Lui Hui San sambil bersujud di hadapan Lu Thay Kam, ayah angkatnya itu. "Terimakasih!"

"Bangunlah Nak!" Lu Thay Kam segera mem-bangukannya. "Engkau memang gadis yang lemah lembut dan baik hati. Ayah merasa bangga sekali!"

"Ayah...." Lu Hui San mendekap di dada Lu Thay Kam.

"Terimakasih!"

"Nak!" Lu Thay Kam membelai-belainya. "Ayah berjanji, kalau dia ke mari membalas dendam, ayah pasti tidak akan membunuhnya. Legakanlah hatimu, Nak!"

Lu Hui San manggut-manggut. Saking terharu gadis itu menangis terisak-isak.

"Nak, bagaimana sifat pemuda itu?" tanya Lu Thay Kam.

"Agak keras hati, namun dia pemuda baik, jujur dan tampan." Lu Hui San memberitahukan.

"Ooooh!" Lu Thay Kam manggut-manggut sambil tersenyum. "Syukurlah kalau begitu!"



"Ayah." ujar Lu Hui San. "Aku kembali justru karena khawatir dia akan ke mari membalas dendam kepada Ayah. Aku ingin mendamaikan kalian."

"Nak...." Lu Thay Kam tertawa gembira. "Kalau dia mau

berdamai dengan ayah, itu memang baik sekali."

"Aku berharap begitu, Ayah." Lu Hui San tersenyum. "Oh ya, bagaimana keadaan Ayah selama ini?"

"Baik-baik saja," sahut Lu Thay Kam. "Tapi...."

"Ada apa, Ayah?"

"Kini dalam istana telah muncul seorang menteri yang cukup berkuasa, hanya ayah yang mampu menyaingi kekuasaannya itu." Lu Thay Kam memberitahukan dengan kening berkerut-kerut. "Belum lama ini, menteri itu mengutus beberapa orang kepercayaannya ke Manchuria, kelihatannya menteri itu berniat bersekongkol dengan bangsa liar itu."

"Oh?" Lu Hui San memandang Lu Thay Kam. "Kalau tidak salah, Ayah pun pernah mengutus orang pergi menemui raja Manchuria, kan?"

"Benar." Lu Thay Kam mengangguk. "Tapi raja Manchuria tidak mau bekerja sama dengan ayah."

"Raja Manchuria itu kenal Paman Cie Hiong, maka dia tidak mau menyerbu ke Tionggoan, otomatis tidak mau bekerja sama dengan Ayah." Lu Hui San memberitahukan. "Tapi raja Manchuria itu telah mati dibunuh oleh adik kandungnya, dan kini yang menjadi raja di Manchuria adalah adik kandungnya itu."

"Oh?" Lu Thay Kam mengerutkan kening. "Kok engkau tahu begitu jelas tentang itu?"

"Aku tinggal di Pulau Hong Hoang To selama ini. Kemudian Bokyong Sian Hoa juga muncul di pulau itu," jawab Lu Hui



San. "Bun Yang yang membawanya ke sana, jadi kami pun berkenalan."

"Siapa Bokyong Sian Hoa itu?"

"Dia putri almarhum raja Manchuria itu..." tutur Lu Hui San dan menambahkan. "Kini dia masih berada di Pulau Hong Hoang To!"

"Ooh!" Lu Thay Kam manggut-manggut, kemudian menghela nafas panjang. "Seandainya para penghuni Pulau Hong Hoang To bersedia membantu kerajaan, ayah yakin Dinasti Beng tidak akan runtuh."

"Maksud Ayah?" Lu Hui San tertegun.

"Aaaah...!" Lu Thay Kam menghela nafas panjang. "Menteri itu berniat meminjam pasukan Manchuria, alasannya pada kaisar yakni demi memberantas para pemberontak yang dipimpin Lie Tsu Seng. Tapi tujuan menteri itu tidak lain ingin meruntuhkan dinasti Beng."

"Menteri itu ingin menjadi kaisar?"

"Betul." Lu Thay Kam mengangguk. "Kalau dia berhasil menjadi kaisar, itu tidak masalah. Namun yang ayah khawatirkan justru pasukan Manchuria itu akan memberontak terhadapnya Nah, bukankah kita akan dikuasai oleh Bangsa Manchuria?"

"Maksud Ayah Bangsa Manchuria akan menjajah negeri kita?" tanya Lu Hui San dengan wajah berubah.

"Kira-kira begitulah." Lu Thay Kam menghela nafas. "Tapi kini menteri itu masih tidak berani bertindak, karena masih merasa segan kepada ayah. Kalau ayah mati, menteri itu pasti bertindak sewenang-wenang."

"Ayah...." Lu Hui San menatapnya. "Lebih baik Ayah hidup

tenang di suatu tempat saja. Aku bersedia mendampingi Ayah."



"Omong kosong!" sahut Lu Thay Kam sambil tertawa. "Bagaimana mungkin engkau mendampingi Ayah? Bukankah engkau harus mendampingi buah hatimu itu?"

"Ayah...." Wajah Lu Hui San langsung memerah.

"Lagi pula..." tambah Lu Thay Kam. "Kalau ayah mengundurkan diri sekarang, menteri itu yang akan memperoleh keuntungan, dinasti Beng pasti runtuh di tangannya!"

"Ayah...."            Lu           Hui         San         memandangnya               dengan penuh

keheranan. "Aku jadi bingung, sebetulnya Ayah jahat atau baik?"

"Nak...."  Lu  Thay  Kam  menghela  nafas  panjang.  "Pada

dasarnya ayah adalah orang baik, tapi dipaksa menjadi orang jahat."

"Kenapa begitu?"

"Nak..." sahut Lu Thay Kam sambil memandang jauh ke depan. "Ayahku adalah seorang hakim yang sangat bijaksana, adil dan tidak pernah korupsi. Suatu ketika, ayahku menghukum berat seorang anak menteri, karena anak menteri itu memperkosa seorang anak gadis, kemudian membunuhnya pula. Kedua orang tua gadis itu mengadu di pengadilan, maka ayahku segera perintahkan beberapa petugas pergi menangkap anak menteri itu."

"Lalu bagaimana?"

"Para petugas itu tidak berani, sebab terdakwa itu seorang anak menteri. Ayahku tidak perduli, tetap perintahkan para petugas pergi menangkap anak menteri itu. Tentunya membuat gusar menteri itu. Beliau membiarkan para petugas menangkap anaknya. Akan tetapi, menteri itu justru pergi menghadap kaisar sekaligus memfitnah ayahku."

"Oh?" Lu Hui San tertegun. "Kemudian bagaimana?"



"Kaisar turunkan perintah penangkapan ayahku sekeluarga." Lu Thay Kam memberitahukan. "Pada waktu itu, aku baru berusia tujuh tahun. Salah seorang pengawal ayahku berhasil membawaku kabur. Namun kedua orang tuaku dan lainnya ditangkap semua, kemudian dihukum mati."

"Haaah?" Lu Hui San terkejut bukan main.

"Setelah aku berusia sembilan tahun, pengawal ayahku itu membawaku ke istana." Tutur Lu Thay Kam. "Aku dikebiri jadi sida-sida istana."

"Kok Ayah mau dikebiri?" tanya Lu Hui San sambil mengerutkan kening.

"Itu memang atas kemauanku," jawab Lu Thay Kam sambil menghela nafas panjang. "Tujuanku demi membalas dendam."

"Oooh!" Lu Hui San manggut-manggut.

"Ayah semakin besar, sedangkan kaisar itu semakin tua," ujar Lu Thay Kam dan menam-bahkan. "Pada waktu itu, Putra Mahkota sangat baik terhadap ayah. Setelah kaisar tua wafat, Putra Mahkota itu naik tahta. Sejak itu, kaisar baru sangat mempercayai ayah. Mulailah ayah membalas dendam terhadap keluarga menteri itu."

"Ternyata begitu!" Lu Hui San menghela nafas panjang. "Pantas Ayah sering memfitnah para menteri dan jenderal, agar kaisar menghukum mati mereka!"

"Nak," ujar Lu Thay Kam dengan wajah murung. "Ayah menyesal sekali memfitnah ayah kandungmu. Padahal kami berdua kawan baik. Hanya dikarenakan salah pendapat sehingga terjadi suatu perdebatan, akhirnya ayah memfitnahnya."

"Itu sudah berlalu, tidak usah diungkit kembali," tandas Lu Hui San. "Lagi pula paman dan aku telah memaafkan Ayah. Bukankah Ayah bersedia mati di tanganku saat itu?"



"Nak...."  Lu  Thay  Kam  tersenyum  getir.  "Engkau  telah

membuka pintu hati nurani ayah. Mulai sekarang ayah harus menjadi Thay Kam yang baik demi dinasti Beng."

"Kalau begitu, Ayah akan membubarkan Hiat Ih Hwe?"

"Ngmm!" Lu Thay Kam manggut-manggut. "Mungkin ayah akan perintahkan mereka bergabung dengan Lie Tsu Seng."

"Oh?" Wajah Lu Hui San berseri. "Tapi bukankah Ayah sudah bekerja sama dengan Seng

Hwee Kauw? Bagaimana kalau Seng Hwee Sin Kun tahu tentang itu?"

"Tidak ada urusan dengan Seng Hwee Sin Kun. Oh ya, ayah pun sudah dengar bahwa Seng Hwee Sin Kun dilukai oleh monyet milik Tio Bun Yang. Engkau tahu tentang itu?"

"Tahu." Lu Hui San mengangguk sekaligus menutur tentang kejadian itu.

"Oooh!" Lu Thay Kam manggut-manggut. "Ternyata engkau yang membopong Kam Hay Thian ke Pulau Hong Hoang To! Lalu bagaimana keadaan Tio Bun Yang dan monyetnya itu?"

"Kepandaian Bun Yang bertambah tinggi, tapi kauw heng itu sudah mati." Lu Hui San memberitahukan.

"Ngmm!" Lu Thay Kam mengerutkan kening. "Bagaimana kepandaian Kam Hay Thian?"

"Sudah maju pesat di bawah bimbingan Paman Cie Hiong, tapi belum tentu mampu melawan Seng Hwee Sin Kun."

"Kalau begitu, dia masih bukan lawanku," ujar Lu Thay Kam. "Kalau dia ke mari...."

"Ingat Ayah!" Lu Hui San menatapnya. "Ayah telah berjanji tidak akan membunuhnya, jangan ingkar janji lho!"



"Ayah tidak akan lupa itu," sahut Lu Thay Kam sambil tertawa gelak. "Maksud ayah kalau dia ke mari, ayah akan bicara baik-baik dengan dia."

"Oooh!" Lu Hui San langsung berlega hati. "Ayah...."

"Ha ha ha!" Lu Thay Kam tertawa terbahak- bahak. "Ha ha ha...!"

-ooo0dw0ooo-

Beberapa hari kemudian, di saat Lu Hui San sedang duduk termenung di halaman belakang istana tempat tinggal Lu Thay Kam, mendadak melayang turun seseorang yang tidak lain adalah Kam Hay Thian yang mengenakan pakaian berkabung.

"Hay Thian..." panggil Lu Hui San terbelalak dan bergirang dalam hati.

Akan tetapi, Kam Hay Thian menatapnya dengan dingin sekali, tentunya sangat mengejutkan hati gadis itu.

"Hay Thian, kenapa engkau...."

"Dimana ayah angkatmu? Cepat suruh dia ke luar bertarung denganku!" sahut Kam Hay Thian dengan mata berapi-api. "Cepaaat suruh dia keluar!"

"Hay Thian...."

"Diam!" bentak Kam Hay Thian dingin. "Jangan panggil namaku!"

"Kenapa engkau membenciku? Kenapa? Kenapa...?" sahut Lu Hui San dengan air mata berderai-derai. "Jelaskan! Engkau harus menjelaskannya!"

"Karena engkau putri angkat Lu Thay Kam!" Kam Hay Thian memberitahukan. "Semula aku cuma berusaha menjauhimu, tapi kini aku justru membencimu!"

"Kenapa?" Wajah Lu Hui San pucat pias.



"Karena..." sahut Kam Hay Thian sambil ber- kertak gigi. "Beberapa bulan lalu, para anggota Hiat Ih Hwe membunuh ibuku!"

"Apa?" Lu Hui San terbelalak. Barulah ia tahu kenapa Kam Hay Thian mengenakan pakaian kabung.

"Nah, engkau dengar baik-baik! Aku benci padamu dan harus membunuh ayah angkatmu itu!"

"Hay Thian...." Lu Hui San menghela nafas panjang. "Kami

sama sekali tidak tahu tentang itu. Beberapa bulan lalu, bukankah kita masih berada di Pulau Hong Hoang To?"

"Benar! Tapi aku tetap benci padamu, karena engkau adalah putri angkat Lu Thay Kam!"

"Apakah engkau tidak tahu? Sesungguhnya aku putri Sie Kuang Weng. Ayah kandungku justru mati lantaran fitnahan Lu Thay Kam, namun aku dan pamanku telah memaafkannya."

"Hm!" dengus Kam Hay Thian dingin. "Itu karena engkau ingin hidup senang di sini!"

"Hay Thian! Kalau aku ingin hidup senang di sini, tidak mungkin aku pergi berkelana!"

"Sudahlah! Jangan banyak bicara, cepatlah panggil ayah angkatmu itu ke mari!"

"Ha ha ha!" Terdengar suara tawa gelak. "Anak muda, kenapa engkau begitu bernafsu ingin membunuhku?"

Melayang turun seseorang yang ternyata Lu Thay Kam. la memandang Kam Hay Thian dengan penuh perhatian.

"Anjing tua!" bentak Kam Hay Thian. "Hari ini adalah hari kematianmu!"



"Anak muda!" Lu Thay Kam mengerutkan kening. "Kenapa engkau begitu kurang ajar, padahal San San memuji dirimu di hadapanku! Engkau Kam Hay Thian kan?"

"Tidak salah! Engkau memang Kam Hay Thian!" sahut pemuda itu. "Aku ke mari ingin mencabut nyawamu!"

"Hay Thian...." Lu Thay Kam menghela nafas panjang. "Di

antara kita tiada dendam apa pun, kenapa engkau begitu bernafsu ingin membunuhku?"

"Para anak buahmu membunuh guru silat Lie dan putrinya, itu masih dapat kumaafkan! Tapi beberapa bulan lalu, para anak buahmu justru membunuh ibuku secara sadis sekali!" sahut Kam Hay Thian sengit dengan mata berapi-api. "Leher ibuku putus terpenggal oleh salah seorang anak buahmu, sehingga kepala ibuku menggelinding di lantai! Nah, hari ini aku harus membalas dendam!"

"Hay Thian!" bentak Lu Thay Kam. "Itu perbuatan para anggota, bukan perbuatan ayah angkatku! Engkau harus tahu itu!"

"Tapi ayahmu ketua Hiat Ih Hwe, maka aku harus membunuhnya!" sahut Kam Hay Thian dan menambahkan. "Kalau engkau tidak menyingkir, aku pun akan membunuhmu pula!"

"Bagus! Bagus! Cepat bunuhlah aku! Cepat!" Lu Hui San maju ke hadapan Kam Hay Thian. Itu membuat pemuda tersebut terpaksa menyurut mundur beberapa langkah.

"Cepatlah menyingkir!" bentak Kam Hay Thian dengan kening berkerut-kerut.

"Bukankah engkau ingin membunuhku? Nah, cepat bunuhlah aku! Tunggu apalagi?" tantang Lu Hui San yang memang sudah merasa kccewa terhadap pemuda itu.

"Engkau...."        Mendadak          Kam       Hay        Thian     mengayunkan

tangannya.



Plaaak! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi gadis itu.

"Aduuuh!" jerit Lu Hui San kesakitan sambil mengusap pipinya. "Engkau... engkau...."

"Siapa suruh engkau tidak mau menyingkir? Hmmm...!" dengus Kam Hay Thian.

"Anak muda!" bentak Lu Thay Kam. "Sungguh berani engkau menampar putriku! Kalau aku tidak berjanji padanya, engkau pasti sudah mati sekarang!"

"Oh?" Kam Hay Thian tertawa dingin, lalu mendadak menyerang Lu Thay Kam.

Lu Thay Kam terpaksa berkelit, tapi Kam Hay Thian menyerangnya lagi. Apa boleh buat, Lu Thay Kam terpaksa balas menyerangnya. Terjadilah pertarungan sengit, sebab Kam Hay Thian menyerangnya menggunakan Pak Kek Sin Ciang yang mengeluarkan hawa dingin.

"San San! Cepat menyingkir!" seru Lu Thay Kam sambil menangkis serangan Kam Hay Thian.

"Ayah!" ujar Lu Hui San sambil menyingkir. "Jangan ingkar janji!"

"Nak... baiklah! Ayah tidak akan ingkar janji!" sahut Lu Thay Kam

Sementara Kam Hay Thian terus menyerangnya. Lu Thay Kam tampak kewalahan, akhirnya terpaksa mengeluarkan Ie Hoa Ciap Bok Ciang Hoat (Ilmu Pukulan Memindahkan Bunga Dan Menyambung Pohon).

Lu Hui San menyaksikan pertarungan itu dengan hati berdebar-debar tegang. Gadis itu sama sekali tidak menghendaki ada yang mati. Tapi pertarungan itu makin seru, Kam Hay Thian mati-matian menyerang Lu Thay Kam.



Puluhan jurus kemudian, mendadak Kam Hay Thian bersiul panjang sekaligus menyerang Lu Thay Kam dengan jurus Swat Hoa Phiau Phiau (Bunga Salju Berterbangan).

Menyaksikan jurus itu, Lu Thay Kam terpaksa menangkisnya dengan jurus Hoa Khay Yap Cing (Bunga Memekar Daun Menghijau).

Tampak tubuh mereka berkelebatan kemudian terdengarlah suara benturan.

Daaar...!

Ternyata Kam Hay Thian telah mengadu pukulan dengan Lu Thay Kam. Kam Hay Thian terhuyung-huyung ke belakang beberapa langkah, begitu pula Lu Thay Kam.

"Bagus! Bagus!" ujar Lu Thay Kam sambil tertawa gelak. "Engkau memang pantas menjadi kekasih putriku!"

"Jangan banyak omong, anjing tua!" bentak Kam Hay Thian. "Bersiap-siaplah untuk mampus!"

Kam Hay Thian bersiul panjang, kemudian menyerang Lu Thay Kam dengan jurus Han Thian Soh Swat (Menyapu Salju Di Hari Dingin). Tampak sepasang tangan Kam Hay Thian bergerak cepat, sepasang kakinya pun menendang secepat kilat.

"Bagus!" seru Lu Thay Kam sambil menangkis dengan jurus Ki Yauw Yap Lok (Dahan Bergoyang Daun Rontok)

Blaaam! Terdengar suara benturan dahsyat.

Lu Thay Kam dan Kam Hay Thian sama-sama terpental beberapa langkah. Lweekang mereka kelihatan seimbang.

"Ha ha ha!" Lu Thay Kam tertawa gelak. "Anak muda, engkau memang hebat! Tidak heran pilihan putriku jatuh padamu!"



"Anjing tua!" bentak Kam Hay Thian sambil mengerahkan Pak Kek Sin Kang hingga kepuncaknya, kelihatannya ia ingin mengeluarkan jurus yang paling dahsyat untuk menyerang Lu Thay Kam.

Namun itu tidak terlepas dari mata Lu Thay Kam, maka ia pun menghimpun Ie Hoa Ciap Bok Sin Kang sampai pada puncaknya.

"Lihat serangan!" bentak Kam Hay Thian sambil menyerang dengan sepenuh tenaga, mengeluarkan jurus Leng Swat Teng Hai (Salju Menutupi Laut).

Serangan itu sungguh dahsyat dan lihay, bahkan mengeluarkan hawa yang sangat dingin. Apa boleh buat! Lu Thay Kam terpaksa menyambut serangan itu dengan jurus Ie Hoa Ciap Bok (Memindahkan Bunga Menyambung Pohon).

"Ayah...!" Terdengar seruan Lu Hui San, yang tahu jurus tersebut akan merenggut nyawa Kam Hay Thian.

Suara seruan Lu Hui San membuat Lu Thay Kam teringat akan janjinya, maka ia cepat-cepat menarik kembali dua bagian Iweekangnya.

Blaaam! Terdengar suara benturan dahsyat memekakkan telinga.

Kam Hay Thian terhuyung-huyung beberapa langkah, sedangkan Lu Thay Kam terpental beberapa depa, sekujur badan menggigil dan mulutnya mengeluarkan darah.

"Anjing tua! Hari ini engkau harus mampus!" teriak Kam Hay Thian sambil menyerang Lu Thay Kam.

Lu Thay Kam telah terluka dalam, maka bagaimana mungkin mampu menyambut pukulan yang dilancarkan Kam Hay Thian? Ia ingin berkelit tapi sudah terlambat.

"Hay Thian, jangan...!" pekik Lu Hui San.



Akan tetapi, pukulan yang dilancarkan Kam Hay Thian telah menghantam dada Lu Thay Kam.

"Aaaakh...!" jerit Lu Thay Kam. Badannya, terpental bagaikan layang-layang putus tali kemudian jatuh gedebuk sambil menyemburkan darah segar dari mulutnya.

"Ayah! Ayah...!" Lu Hui San berlari-lari mendekati Lu Thay Kam. "Ayah...!"

"Nak...!" panggil Lu Thay Kam sambil tersenyum. "Ayah....

Ayah tidak ingkar janji kan? Ayah....


"Ayah!


Ayah...!"


Lu


Hui


San


memeluknya


erat-erat.


"Ayah...!"

"Nak...!" Lu Thay Kam membelainya. "Ayah merasa puas sekali, engkau... engkau sangat berbakti kepadaku. Tapi... tidak lama lagi engkau akan menjadi sebatang kara...."


"Ayah...!"            panggil  Lu           Hui         San         sambil


menangis


sedih


dengan air mata berderai derai. "Ayah...!"


Sementara Kam Hay Thian cuma berdiri termangu-mangu di tempat, sama sekali tidak tahu apa yang telah terjadi. Kenapa mendadak Lu Thay Kam menarik lweekangnya ketika ia menyerang dengan dahsyat?

"Nak...!" Suara Lu Thay Kam makin lemah. "Nak, ayah... ayah sudah tidak tahan. Engkau... engkau jangan mendendam pada... pada pemuda itu...."

"Ayah...!"

"Nak...!" Mendadak kepala Lu Thay Kam terkulai, ternyata nafasnya sudah putus.

"Ayah! Ayah...!" jerit Lu Hui San sambil menangis meraung-raung. "Ayah, engkau telah berkorban demi janji itu. Aku...

aku yang mencelakaimu, Ayah...."



Mendadak Lu Hui San bangkit berdiri, lalu memandang Kam Hay Thian dengan mata berapi- api.

"Kini engkau sudah puas kan? Engkau sudah puas kan? Ayah angkatku tidak membunuh ibumu, tapi engkau malah membunuhnya. Ketika aku ke mari, aku bermohon kepadanya agar tidak turun tangan membunuhmu! Ayah angkatku menyanggupinya, maka ketika ayah angkatku menangkis dengan jurus Ie Hoa Ciap Bok, ayahku justru menarik kembali lweekangnya, sehingga terluka oleh pukulanmu! Namun engkau begitu kejam, ayah angkatku sudah terluka dalam, engkau masih menyerangnya! Kini ayah angkatku telah mati, engkau merasa puas? Kalau belum merasa puas, silakan bunuh aku juga!"

"Hui San...!" panggil Kam Hay Thian dengan suara bergemetar. "Aku...."

"Jangan panggil namaku!" bentak Lu Hui San sambil tertawa dan menangis. "Aku benci padamu! Aku benci padamu...!"

"Hui San!" Kam Hay Thian ingin mendekatinya.

Akan tetapi, Lu Hui San malah melangkah ke belakang sambil menudingnya.

"Engkau adalah iblis! He he he!" Lu Hui San tertawa terkekeh-kekeh. "Engkau adalah iblis! Engkau pembunuh ayah angkatku! Aku benci, engkau aku benci padamu...!"

"Hui San, maafkanlah aku!"

"Aku tidak akan memaafkan mu! Aku benci padamu...!" sahut Lu Hui San sambil tertawa terkekeh-kekeh. "Aku benci padamu...!"

Tiba-tiba Lu Hui San melesat pergi. Kam Hay Thian ingin mencegahnya, tapi gadis itu langsung menyerangnya.



"Aku benci padamu! Cepat minggir!" bentak Lu Hui San sambil menangis. "Kalau engkau tidak minggir, aku akan bunuh diri di sini!"

"Hui San...." Kam Hay Thian terpaksa menyingkir.

Lu Hui San tertawa terkekeh-kekeh, lalu melesat pergi dan masih terdengar suara tawanya.

"Hui San..." gumam Kam Hay Thian. Mendadak ia melesat pergi, maksudnya ingin menyusul Lu Hui San. Akan tetapi, gadis itu sudah tidak kelihatan.

"Aaaah...!" keluh Kam Hay Thian. "Kalau Hui San jadi gila, itu adalah dosaku! Aku harus mencarinya! Harus mencarinya!"

-oo0dw0oo-


Bagian ke empat puluh lima Tayly Lo Ceng terluka

Di halaman istana Tayli, tampak Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan sedang duduk sambil bercakap-cakap.

"Sudah hampir setahun kita tidak ke Pulau Hong Hoang To, entah bagaimana keadaan di sana?" ujar Toan Beng Kiat sambil menggeleng- gelengkan kepala. "Aku rindu sekali pada mereka."

"Sama," sahut Lam Kiong Soat Lan. "Ingin rasanya sekarang berangkat ke Hong Hoang To."

"Itu bagaimana mungkin?" Toan Beng Kiat menghela nafas panjang. "Orang tua kita tidak akan memperbolehkan kita ke sana, itu sungguh menjengkelkan!"

"Beng Kiat, bagaimana kalau kita pergi secara diam-diam?" tanya Lam Kiong Soat Lan seakan mengusulkan.



"Aku tidak berani." Toan Beng Kiat menggelengkan kepala. "Sebab akan membuat gusar orang tua kita. Lebih baik kita minta ijin saja."

"Tidak mungkin orang tua kita mengijinkan- nya!" Lam Kiong Soat Lan menghela nafas. "Aku sudah rindu sekali pada mereka, lagi pula bosan rasanya terus diam di istana ini."

"Soat Lan!" Toan Beng Kiat menatapnya seraya berkata, "Bagaimana kalau nanti malam kita berunding dengan orang tua kita?"

"Baik." Lam Kiong Soat Lan mengangguk. "Tapi...."

Mendadak ucapan gadis itu terputus, karena terganggu oleh suara tawa cekikikan. "Hi hi hi! Hi hi hi...!”

"Siapa?" bentak Toan Beng Kiat. "Cepatlah menampakkan diri, jangan sampai aku bertindak!"

"Bocah! Engkau mau bertindak apa?" tanya orang yang tertawa tadi, kemudian melayang seseorang.

Begitu melihat orang itu, terbelalaklah Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan, karena orang itu merupakan gadis cantik jelita berusia dua puluhan. Siapa gadis itu? Ternyata Bu Ceng Sianli - Tu Siao Cui.

"Siapa Kakak?" tanya Lam Kiong Soat Lan.

"Hi hi hi!" Tu Siao Cui tertawa nyaring sekaligus balik bertanya. "Kalian berdua siapa?"

"Aku bernama Lam Kiong Soat Lan dan dia bernama Toan Beng Kiat." sahut Lam Kiong Soat Lan.

"Siapa orang tua kalian?" tanya Tu Siao Cui sambil menatap mereka dengan tajam.

"Ayahku bernama Lam Kiong Bie Liong, ibuku bernama Toan Pit Lian," jawab Lam Kiong Soat Lan.



"Ayahku bernama Toan Wie Kie, ibuku bernama Gouw Sian Eng." Toan Beng Kiat memberitahukan.

"Aku tidak kenal." Tu Siao Cui menggelengkan kepala. "Oh ya, kalian punya hubungan dengan Toan Hong Ya?"

"Toan Hong Ya adalah kakek kami," sahut Toan Beng Kiat.

"Oooh!" Tu Siao Cui manggut-manggut. "Kalau begitu, cepatlah kalian antar aku menemui Toan Hong Ya!"

"Maaf, Kakak!" ucap Lam Kiong Soat Lan. "Kami masih belum tahu siapa Kakak!".

"Namaku Tu Siao Cui, julukanku adalah Bu Ceng Sianli. Nah, cepatlah kalian antar aku menemui Toan Hong Ya!"

"Maaf, kami tidak berani!" Lam Kiong Soat Lan menggelengkan kepala. "Sebab akan dimarahi orang tua kami."

"Kalau begitu...." Tu Siao Cui tertawa. "Aku akan masuk

sendiri menemui Toan Hong Ya."

"Kakak!" Toan Beng Kiat segera menghadang di hadapannya. "Ini istana Tayli, engkau tidak boleh berlaku semaumu!"

"Oh?" Tu Siao Cui tertawa cekikikan. "Hi hi hi! Bocah, apakah engkau mampu menghadangku?"

"Kenapa tidak?" sahut Toan Beng Kiat sambil menatapnya. "Kalau Kakak berkeras ingin masuk, aku terpaksa harus bertindak."

"Bertindak bagaimana?" tanya Tu Siao Cui sambil tersenyum.

"Menghadangmu." Toan Beng Kiat kelihatan sudah bersiap menghadangnya apabila Tu Siao Cui berkeras menerobos ke dalam.



"Hi hi hi!" Tu Siao Cui tertawa nyaring. "Aku tahu, kepandaian kalian berdua cukup tinggi. Tapi kalian berdua masih tidak mampu menghadangku."

"Kalau Kakak berkeras ingin menerobos ke dalam, kami terpaksa berlaku kurang ajar terhadap Kakak," ujar Lam Kiong Soat Lan.

"Oh, ya? Hi hi hi...!" Tu Siao Cui tertawa cekikikan.

Bersamaan itu, muncullah beberapa orang. Mereka adalah Toan Wie Kie, Gouw Siang Eng, Lam Kiong Bie Liong dan Toan Pit Lian.

"Siapa Nona?" tanya Toan Beng Kiat dengan kening berkerut-kerut "Ada urusan apa Nona ke mari?"

"Kalian tentu para orang tua mereka berdua," sahut Tu Siao Cui sambil menunjuk Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan. "Ya, kan?"

"Betul." Toan Wie Kie mengangguk. "Ada masalah?"

"Aku menyuruh mereka mengantarku menemui Toan Hong Ya, tapi nereka tidak mau," ujar Tu Siao Cui memberitahukan. "Sebaliknya malah ingin menghadangku."

"Mereka berdua memang harus menghadangmu," sahut Toan Pit Lian dan menambahkan. "Sebab orang luar tidak boleh memasuki istana ini semaunya."

"Kalau aku ingin memasuki istana Tayli ini semauku, kalian mau apa?" tanya Tu Siao Cui menantang.

"Eh?" Toan Pit Lian mengerutkan kening. "Engkau berani menghina kami?"

"Hi hi hi!" Tu Siao Cui tertawa geli. "Sungguh lucu sekali Siapa yarg menghina kalian?"

"Engkau ingin memasuki istana ini semaumu! Berarti menghina kami." sahut Toan Pit Lian.



"Hi hi hi...!" Tu Siao Cui tertawa cekikikan. "Engkau harus tahu, aku mau memasuki istana ini, sebetulnya merupakan suatu kehormatan bagi Toan Hong Ya."

"Omong kosong!" bentak Toan Pit Lian. "Cepat beritahukan, siapa engkau!"

"Namaku Tu Siao Cui, julukanku adalah Bu Ceng Sianli. Engkau sudah tahu aku siapa, cepatlah antar aku ke dalam menemui Toan Hong Ya!"

"Ada urusan apa engkau ingin menemui ayah?" tanya Toan Wie Kie sambil menatapnya tajam.

"Aku ingin menanyakan sesuatu kepadanya," jawab Tu Siao Cui dan menambahkan sambil tersenyum. "Kalian tidak usah khawatir, aku tidak berniat jahat terhadap Toan Hong Ya. Percayalah!"

"Baiklah." Toan Wie Kie manggut-manggut. "Kebetulan ayahku berada di ruang tengah, silakan Nona ikut kami ke sana!"

"Terimakasih!" ucap Tu Siao Cui.

Mereka masuk ke dalam menuju ruang tengah. Toan Hong Ya memang sedang duduk di ruang itu membaca buku. Ketika melihat Tu Siao Cui, terbelalaklah Toan Hong Ya. Itu tidak usah heran. Sebab Tu Siao Cui sangat cantik sekali, bahkan juga memiliki daya tarik yang luar biasa, maka membuat Toan Hong Ya terpukau menyaksikan kecantikannya.

"Ayah!" Toan Wie Kie memberitahukan. "Nona Tu ingin bertemu Ayah."

"Oh?" Toan Hong Ya tercengang. "Ada urusan apa Nona Tu ingin bertemu aku? Siapa yang mengutusmu ke mari?"

"Toan Hong Ya," sahut Tu Siao Cui tanpa memberi hormat. "Aku harus dipersilakan duduk dulu."



"Nona jangan kurang ajar terhadap ayahku!" bentak Toan Pit Lian. "Cepatlah beri hormat!"

"Hi hi hi!" Tu Siao Cui tertawa cekikikan. "Kenapa aku harus memberi hormat kepadanya?"

"Nona!" Toan Pit Lian mengerutkan kening. "Ayahku adalah raja Tayli, maka engkau harus memberi hormat kepadanya!"

"Hi hi hi!" Tu Siao Cui tertawa lagi. "Aku adalah Bu Ceng Sianli, seharusnya ayahmu yang memberi hormat kepadaku."

"Kurang ajar!" bentak Toan Pit Lian gusar.

"Ha ha ha!" Toan Hong Ya tertawa sambil memberi isyarat kepada Toan Pit Lian agar putrinya itu jangan gusar dan melanjutkan. "Nona Tu, engkau masih muda, aku sudah berusia lanjut. Oleh karena itu, engkau tidak boleh kurang ajar terhadapku."

"Berapa usiamu, Toan Hong Ya?" tanya Tu Siao Cui mendadak.

"Tujuh puluh satu," sahut Toan Hong Ya sambil tersenyum. "Engkau harus memanggilku kakek lho!"

"Hi hi hi!" Tu Siao Cui tertawa nyaring. "Toan Hong Ya, tahukah engkau berapa usiaku?"

"Dua puluhan."

"Salah." Tu Siao Cui tersenyum sambil memberitahukan. "Usiaku sudah hampir sembilan puluh."

"Nona Tu!" Toan Hong Ya menggeleng-gelengkan kepala. "Engkau jangan berhumor, itu tidak baik!"

"Toan Hong Ya, aku berkata sesungguhnya," sahut Tu Siao Cui sungguh-sungguh. "Sama sekali tidak berhumor."

"Dasar sinting!" sela Toan Pit Lian dan menambahkan. "Engkau harus segera enyah dari sini!"



"Apa?" Tu Siao Cui melotot. "Perempuan cerewet, engkau berani mengusirku?"

"Kenapa tidak?" sahut Toan Pit Lian gusar. "Apabila perlu, aku akan menghajarmu!"

Tiba-tiba Tu Siao Cui bergerak cepat, tampak badannya berkelebat laksana kilat ke arah Toan Pit Lian.

Plaaak! Terdengar suara tamparan.

Ternyata pipi Toan Pit Lian yang terkena tampar, membuatnya menjerit kesakitan.

"Aduuuh!"

"Engkau...."  Lam  Kiong  Bie  Liong  menudingnya.  "Akan

kuhajar engkau!"

"Kakak!" bentak Lam Kiong Soat Lan. "Engkau berani menampar ibuku? Akan kubalas...."

"Soat Lan!" seru Toan Hong Ya. "Diam di tempat, jangan kurang ajar!"

"Kakek," sahut Lam Kiong Soat Lan. "Dia menampar ibu, aku harus membalasnya."

"Sudahlah!" Toan Hong Ya mengerutkan kening, kemudian menatap Tu Siao Cui tajam. "Nona Tu, engkau ingin cari gara-gara di sini?"

"Aku      ke           mari       secara   baik-baik,            tapi...." Tu           Siao        Cui

menunjuk Toan Pit Lian seraya berkata, "Dia yang cari gara-gara denganku, maka aku memberi pelajaran kepadanya."

"Nona Tu," tanya Toan Hong Ya. "Sebetulnya ada urusan apa engkau datang ke mari menemuiku?"

"Aku ke mari ingin bertanya sesuatu kepadamu." sahut Tu Siao Cui sekaligus bertanya, "Di mana Tayli Sin Ceng-Kong Sun Hok?"



"Apa?" Toan Hong Ya tampak tertegun, sebab orang lain tidak tahu bahwa itu adalah julukan Tayli Lo Ceng ketika masih muda, Kong Sun Hok adalah namanya. Bukankah mengherankan sekali Tu Siao Cui mengetahui tentang itu? "Engkau kenal Tayli Lo Ceng?"

"Aku tidak kenal Tayli Lo Ceng, hanya kenal Tayli Sin Ceng," sahut Tu Siao Cui. "Aku akan membuat perhitungan dengan padri sialan itu!"

"Nona...."            Toan      Hong     Ya           terbelalak.          "Kapan engkau

bertemu Tayli Sin Ceng (Padri Sakti Tayli) itu?"

"Kira-kira delapan puluh tahun lalu."

"Haaah...?" Mulut Toan Hong Ya ternganga lebar, begitu pula yang lain.

"Ayah," ujar Toan Wie Kie. "Dia gadis gila, tidak usah diladeni! Biar kuusir dia!"

"Wie Kie!" Toan Hong Ya menatapnya. "Diamlah!"

"Hi hi hi!" Tu Siao Cui tertawa. "Bagus! Bagus! Sebentar lagi kita boleh bertanding!"

"Sekarang pun boleh!" tantang Toan Wie Kie yang mulai kesal terhadap Tu Siao Cui itu.

"Oh, ya?" Tu Siao Cui tertawa. "Kalau begitu, keluarkanlah senjatamu!"

Ketika Toan Wie Kie ingin mengeluarkan kipasnya, Gouw Sian Eng berkata setengah berbisik.

"Jangan emosi, akan merusak suasana!"

"Tapi...." Toan Wie Kie mengerutkan kening. "Gadis itu


0 Response to "Pendekar Sakti Suling Pualam Bagian 06"

Post a Comment