coba

Pendekar Sakti Suling Pualam Bagian 01

Mode Malam
Bagian 01

Jilid : 1

PENDAHULUAN

Setelah Bu Lim Sam Mo mati di tangan Pek Ih Sin Hiap. Tio Cie Hiong, maka para ketua tujuh partai besar dan kaum rimba persilatan lainnya, yakin bahwa dunia persilatan pasti aman, tentram dan damai.

Sedangkan Tio Cie Hiong, Lim Ceng im, Lie Man Chiu dan Tio Hong Hoa melangsungkan pernikahan di pulau Hong Hoang To.

Para ketua tujuh partai besar dan para jago silat lainnya hadir semua dalam pesta pernikahan itu, sehingga pesta pernikahan tersebut menjadi meriah dan semarak.Sejak itu, Tio Cie Hiong sama sekali tidak mencampuri urusan rimba persilatan lagi. ia hidup tenang, damai dan bahagia sepanjang masa bersama Lim Ceng Im di pulau itu.

Bagaimana keadaan rimba persilatan setelah Tio Cie Hiong menetap di pulau Hong Hoang To? Betulkah kematian Bu Lim Sam Mo membawa kedamaian dalam rimba persilatan?

Justru sungguh di luar dugaan. Karena di saat Tao Cie Hiong hidup tenang, damai dan bahagia di pulau itu, di rimba persilatan telah muncui Hiat Ih Hwe (Perkumpulan Baju Berdarah).

Siapa ketua perkumpulan itu tiada seorangpun yang mengetahuinya, sebab perkumpulan tersebut sangat misterius, lagi pula para anggotanya rata-rata berkepandaian tinggi Dimana Hiat ih Huie muncul, di situ pasti banjir darah,

Semula Hiat Ih Huie cuma membantai para pembesar yang jujur dan setia, juga membasmi para pemberontak- Akan



tetapi, lambat laun perkumpulan tersebut mulai mengarah pada kaum rimba persilatan golongan putih-

Tak lama setetah itu, muncul pula Tiong Ngie Pay (Partai Keadilan) dan Seng Huiee Kauw (Agama Api Suci), sebingga timbul pula berbagai pertikaian dan bencana dalam rimba persilatan.

---ooo0dw0ooo---


Bagian Kesatu

Penyakit Aneh yang mencemaskan

Pulau Hong Hoang To (Pulau Burung Phoenix) terletak di Pak Hai (Laut Utara). Panorama di pulau tersebut sangat indah menakjubkan, tampak pula belasan ekor burung phoenix berterbangan, bunga-bunga liar pun memekar segar menambah keindahan pulau tersebut,

Pagi ini, terlihat seorang bocah laki-laki sedang berlatih ilmu pukulan dan ilmu pedang di tempat terbuka. Bocah laki-laki itu berusia sepuluh tahun, bukan main tampannya, siapa yang melihatnya pasti akan timbul rasa suka kepadanya.

Siapa bocah laki-laki itu? Ternyata putra Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im bernama Tio Bun Yang. Sejak anak itu berusia tiga tahun, Tio Cie Hiong mulai mengajarnya pan Yok Hian Thian Sin Kang (Tenaga Sakti Pelindung Badan) dan Kan Kun Taylo Sin Kang (Tenaga Sakti Alam Semesta).

Setelah Tio Bun Yang berusia tujuh tahun, mulailah Tio Cie Hiong mengajarnya Tujuh Jurus Giok Siauui Bit Ciat Kang Khi (Ilmu Suling Kumala Pemusnah Kepandaian), Tujuh Jurus Bit Ciat Sin Ci (Ilmu Jan Sakti pemusnah Kepandaian) dan Kan Kun Taylo Ciang Hoat (Ilmu Pukulan Alam Semesta).



Kini Tio Bun Yang telah menguasai semua ilmu itu, hanya saja luieekangnya masih belum begitu tinggi. Sedangkan monyet bulu putih pun tidak mau ketinggalan. Monyet sakti itu juga mengajarnya berbagai ilmu pukulan, Di saat Tio Bun Yang berlatih, monyet bulu putih terus memperhatikannya bagaikan seorang guru.

Berselang beberapa saat, muncullah Tio Cie Hiong bersama

Lim Ceng Im. Mereka berdua lalu duduk di bawah sebuah
Pohon sambil memperhatikan latihan Putra mereka.

"Adik Im," Ujar Tio Cie hong sambil tersenyum, "Aku tidak menyangka, Bun Yang baru berusia sepuluh tahun tapi telah dapat menguasai semua ilmu yang kita turunkan kepadanya. ”

"Benar, memang sungguh di luar dugaan," sahut Lim Ceng Im dengan tersenyum, namun kemudian wajahnya berubah murung.

"Adik Im____" Tio Cie Hiong menatapnya seraya berkata, "Engkau tidak perlu cemas.”

"Kakak Hioong...." Lim Ceng Im menghela nafas panjang,

"Dia mengidap penyakit. ”

"Tidak Perlu cemas," ujar Tio Cie Hiong. "Itu memang Penyakit aneh, tapi engkau tidak Perlu cemas. ”

"Bagaimana mungkin aku tidak cemas?" Lim Ceng Im menggeleng-gelengkan kepala "Penyakit itu mungkin akan mempengaruhi dirinya.”

"Tidak mungkin," sahut Tio Cie Hiong "Aku mahir ilmu Pengobatan, tentunya tahu jelas akan penyakit itu.”

”Kakak Hiong, kenapa dia bisa mengidap penyakit itu?”

"Yaaah" Tio Cie Hiong menghela nafas panjang, "Mungkin sudah nasibnya.”

"Hingga saat ini engkau tidak mampu mengobatinya?”



"Aku telah berusaha mengobatinya, namun belum menemukan obat mujarab untuk menyembuhkan penyakitnya”

"Apakah selamanya dia akan begitu?”

"Menurutku, kalau sudah waktunya penyakit itu akan lenyap dengan sendirinya. ”

"Bagaimana mungkin?”

"Percayalah!" Tio Cie Hiong menggenggam tangan isterinya dengan penuh cinta kasih.

"Adik Im, sejak dia berusia tiga tahun, aku telah mengajarnya pula dengan pendidikan moral, akal budi wejangan dan lain sebagainya. Karena itu, aku yakin, dia pasti seperti diriku. Tidak mau membunuh dan berbuat dosa maupun melakukan hal-hal yang cenderung jahat. Lagi pula Pada dasarnya dia berhati bajik dan berwatak luhur, jadi aku tidak begitu cemas. ”

"Tapi____" Lim Ceng Im menggeleng-gelengkan kepala, "Aku... aku khawatir dia akan sembarangan membunuh orang. ”

"Tidak mungkin." Tio Cie Hiong tersenyum dan menjelaskan, "penyakitnya timbul hanya di saat ia marah besar, sehingga peredaran darahnya berjalan lebih cepat menerjang ke arah syaraf otak, maka kesadarannya akan tertutup. Apabila ia masih dapat menekan hawa amarahnya, tidak akan terjadi apa-apa. Seandainya tidak bisa, Ia pasti mengamuk atau akan membunuh orang yang membuatnya marah besar itu.”

"Itulah yang kukhawatirkan." Lim Ceng Im menghela nafas panjang, "Kakak Hiong, sebetulnya penyakit apa itu? ”

"Semacam tekanan darah tinggi." Tio Cie Hiong memberitahukan, "Akan tetapi, kasih sayang dan kelembutan dapat menjernihkan pikirannya disaat kesadarannya tertutup



oleh hawa kemarahan. Oleh karena itu, penyakitnya tersebut dapat disembuhkan dengan kasih sayang dan kelembutan.”

"Ngmmml" Lim Ceng Im manggut-manggut dan melanjutkan, "Aku masih ingat, setahun lalu ketika ia dipagut ular, seketika itu juga ia membunuh ular itu saking marahnya, bahkan mencincang-cincangnya pula. ”

"Itu dikarenakan ia merasa dirinya disakiti, padahal Ia tidak mengganggu ular. Karena itu. Maka, timbullah kemarahannya hingga ular itu dibunuhnya sekaligus dicincangnya.”

"Bagaimana kelak kalau ada orang menyakiti bukankah ia akan langsung membunuh orang itu?”

"Maka, aku memberikannya pelajaran moral, akal budi dan lain sebagainya agar pikirannya selalu terbuka, tidak terpengaruh oleh hawa kemarahannya," ujar Tio Cie Hiong dan menambahkan, " Aku pun akan mulai mengajarnya ilmu pengobatan dan Ilmu Penakiuk Iblis. Sebab Ilmu Penakiuk Iblis dapat memperkuat imannya, bahkan tidak akan terpengaruh oleh ilmu hitam dan ilmu sihir lainnya.”

"Kakak Hiong!" Lim Ceng Im menatapnya, "Anak kita itu... tidak akan berubah jadi penjahat, kan? ”

"Aku yakin tidak," sahut Tio Cie Hiong sambil tersenyum, "Karena watakku yang baik pasti menurun padanya, ”

"Ooohl" Lim Ceng im manggut-manggut.

Sementara Tio Bun Yang yang telah usai berlatih, ketika melihat kedua orang tuanya, ia langsung mengkampiri sambil tersenyum.

"Ayah, Ibu!" panggilnya sambil duduk,

"Nak!" Lim Ceng Im tersenyum lembut, ”Masih pagi kok sudah berlatih?”

"Ibu, Ayah bilang berlatih ilmu silat pagi-pagi, akan menyegarkan tubuh kita," jawab Tio Bun Yang.



"Benar, Nak." Tio Cie hong membelainya.

"Oh ya, tahukah engkau apa tujuan seseorang belajar ilmu silat?”

”Untuk memperkuat tubuh, membela diri dan untuk menolong sesama manusia. itu tujuan utama belajar ilmu silat," jawab Tio Bun Yang

"Nak," tanya Lim ceng Im " Setelah engkau berkepandaian tinggi, bolehkah engkau membunuh orang di saat engkau disakiti orang?a”

"Ibu!" Tio Bun Yang menatapnya dengan mata bening, "Kita tidak menyakiti orang, kenapa orang lain akan menyakiti kita?”

"Karena orang lain itu berhati jahat, maka suka menyakiti orang," jawab Lim Ceng Im menjelaskan, "Di saat engkau disakiti orang, haruslah tetap bersabar, tidak boleh marah sama sekali. ”

"Ibu, bagaimana kalau ada orang ingin membunuh Bun Yang?" tanya anak itu mendadak.

”Engkau harus mengampuninya, tidak boleh membunuhnya," sahut Lim Ceng im dengan tersenyum lembut " Cukup memusnahkan kepandaiannya saja?”

”Ibu....” Tio Bun Yang tampak berpikir keras, kemudian

bertanya, ”Kalau orang itu jahat sekali, apakah Bun Yang boleh membunuhnya?”

"Tidak boleh." Lim Ceng Im menggelengkan kepala, "Biar bagaimanapun engkau harus mengampuninya. Namun engkau boleh memusnahkan kepandaiannya agar dia tidak bisa melakukan kejahatan lagi?”

Tio Bun Yang mengerutkan kening "Ibu, kenapa orang jahat tidak boleh dibunuh?”



"Nak," sahut Tio Cie Hiong sambil menatapnya lembut, "Membunuh orang adalah perbuatan yang sangat berdosa. Sebagai orang yang berhati bajik, luhur dan mulia, tidak boleh membunuh orang. Siapa yang pernah membunuh orang, kelak dia sendiri atau anak cucunya pasti dibunuh orang pula. Sebab merupakan hukum karma yang tak dapat dielakkan, jadi engkau harus ingat baik-baik!”

"Ya, Ayah" Tio Bun Yang mengangguk.

"Nak!" Tio Cie hong tersenyum sambil mengalihkan pembicaraan "Engkau masih mempunyai paman Toan dan paman Lam Kiong di Tayii. Kalau mereka punya anak, tentunya telah sebesar engkau.”

"Oh?" Tio Bun Yang tertawa kecil "Kenapa ayah dan ibu tidak pernah mengajak Bun Yang ke Tayli menemui mereka?”

"Tayli sangat jauh, lagi Pula ayah dan ibu telah bersumpah tidak akan meninggalkan pulau ini,” sahut Tio Cie Hiong dan menambahkan, "Tapi kelak engkau boleh pergi seorang diri ke Tayli.”

Tio Bun Yang tampak girang sekali, "Kapan Bun Yang boleh berangkat ke Tayli?”

"Tentunya harus menunggu engkau dewasa dulu,” ujar Lim Ceng Im dan melanjutkan, "Jadi sekarang engkau harus giat berlatih, agar memiliki kepandaian tinggi kelak.”

"Ibu, kalau Bun Yang sudah besar, bolehkah Bun Yang pergi mengembara?" tanya anak itu.

"Tentu boleh. Tapi----" Lim Ceng im melirik Tio Cie Hiong

"Kalau engkau pergi mengembara, sudah barang tentu akan berkecimpung dalam rimba persilatan," ujar Tio Cie Hiong cepat " Engkau harus tahu, bahwa banyak orang jahat dalam rimba persilatan. Orang jahat pasti berhati licik, busuk dan tak segan membunuh orang. Karena itu, engkau harus berhati-hati dan harus bersabar menghadapi urusan apa Pun.



ingat, engkau tidak boleh marah agar tidak sembarangan membunuh orang.”

"Ya, Ayah." Tio Bun Yang mengangguk, "Bun Yang pasti selalu ingat akan semua nasihat Ayah.”

"Bagus!" Tio Cie hong membelainya, "Bun Yang adalah anak baik, penuh kesabaran, pengertian dan berhati bajik, luhur serta mulia.”

"Ayah!" Tio Bun Yang tersenyum, "Bun Yang tidak akan mengecewakan Ayah dan ibu.”

"Bagus, bagus!" Lim Ceng Im tertawa gembira dan sekaligus memeluknya erat-erat dengan penuh kasih sayang.

"Kakak Bun Yang! Kakak Bun Yang!" Terdengar suara seruan merdu, kemudian muncul seorang anak gadis berusia sekitar sembilan tahun, cantik, manis dan lincah. Siapa anak gadis itu? Tidak lain Lie Ai Ling, putri Lie Man Chiu dan Tio Hong Hoa.

"Adik Ai Ling!" sahut Tio Bun Yang tersenyum, "Paman, Bibi!” panggit Lie Ai Ling.

"Ai Ling, di mana ayah dan ibumu?" tanya Tio Cie Hiong.

"Mereka sedang sarapan," jawab Lie Ai Ling dan memberitahukan, "Kakek dan kakek pengemis telah mulai main catur.”

"Ooohl" Tio Cie hong manggut-manggut.

"Kauw heng!" Lie Ai Ling membelai monyet bulu putih, "Ai Ling mencari ke sana ke mari, ternyata kauw heng berada di sini!”

Monyet bulu putih bercuit-cuit kemudian sepasang tangannya bergerak-gerak seakan memberitahukan sesuatu.

"Oh, kauw heng berlatih di sini bersama Kakak Bun Yang!" Lie Ai Ling tersenyum, "Kakak Bun Yang, mari kita berlatih!”



"Baik, Adik Ai Ling!" Tio Bun Yang mengangguk. Mereka berdua lalu mulai benlatih.

Tio Cie Hiong dan Lim Ceng im menyaksikannya dengan penuh perhatian, kemudian manggut-manggut.

"Kakak Hiong," bisik Lim Ceng Im. "Kelihatannya kecerdasan Bun Yang tidak di bawah kecerdasanmu. „

"Ya." Tio Cie Hiong mengangguk sambil tersenyum, „Menurutku, dia lebih cerdas dariku. Itu sungguh di luar dugaan, lagi pula----„

"Kenapa?“

"Adik im!" Tio Cie Hiong serius. "Tahukah engkau suatu hal mengenai diri Bun Yang?“

"Hal apa?“

"Dia pun kebal terhadap berbagai macam racun sepertiku” "Oh?" Terbetalak Lim Ceng Im. "Kok bisa begitu?"

”Dua kali aku makan buah Kiu Yap Ling Che, sedangkan dia darah dagingku, maka dia pun kebal terhadap racun apa pun." Tio Cie Hiong memberitahukan,

"Syukurlah!" ucap Lim Ceng Im dengan wajah berseri,

"Bun Yang memang anak, yang luar biasa. Walau baru berusia sepuluh tahun, tapi telah menguasai semua ilmuku, termasuk ginkang (Ilmu Meringankan Badan).”

"Memang." Lim Ceng Im manggut-manggut. "Hanya saja lweekangnya masih dangkali

"Kalau dia terus berlatih, pasti Iweekangnya akan bertambah tinggi”

"Kakak Hiong!" Lim ceng Im menatapnya, "Engkau akan memperbolehkannya pergi berkelana kelak?”



"Itu memang sudah harus, tidak mungkin dia terus diam di pulau ini. Dia barus pergi mencari Pengalaman“

"Tapi----" Lim Ceng Im menggeleng-gelengkan kepala, "Otomatis dia akan berkecimpung dalam rimba persilatan, dan itu akan membahayakan dirinya.”

"Adik Im!" Tio Cie hong tersenyum lembut. Satu bahaya justru akan menambah pengalamannya, sekaligus menggembleng ketabahan hatinya. Kita pun tidak usah mengkhawatirkannya, sebab dia telah berbekal kepandaian tinggi yang kita turunkan kepadanya.“

"Ya." Lim Ceng im manggut-manggut.

"Yang    kusayangkan...."              Tio          Cie          Hiong    menghela            nafas

panjang, "Nenek telah wafat dua tahun yang lalu----”

"Nenek memang sudah tua, sebelumnya nenek pun telah menurunkan kepandaiannya kepada Kakak Suan Hiang.”

"Sudah sepuluh tahun lebih Adik Suan Hiang belajar ilmu silat di pulau ini, mungkin tidak lama lagi dia akan ke Tionggoan untuk menuntut balas kematian ayahnya.“

"Kasihan dia----" Lim Ceng Im menggeleng-gelengkan kepala, "Kini usianya sudah tiga puluh lebih, namun belum menikah!“

"Mudah-mudahan dia akan bertemu lelaki yang baik, jadi dia pun akan hidup bahagia!“

"Kelihatannya dia sudah tiada niat untuk menikah, hanya ingin menuntut balas kematian ayahnya saja“.

"Ngmm!“ Tio Cie hong manggut-manggut.

"Oh ya, belum lama ini Man Chiu kelihatan agak aneh” "Oh?" Lim Ceng Im menatapnya. „Bagaimana anehnya?“



"Dia seling melamun, bahkan hatinya seakan terganjel sesuatu" Tio Cie Hiong mengerutkan kening, "Aku khawatir suatu yang buruk akan terjadi....“

Lim Ceng Im juga mengerutkan kening, "Menurutmu apa yang akan terjadi atas dirinya?“

„Entah?“ Tio Cie Hbong menggelengkan kepala, „Pokoknya suatu yang buruk, sebab dia kelihatan sedang mempertimbangkan suatu kePutusan. Terus terang, aku cemas akan itu.“

"Kalau begitu, engkau harus memberitahukan kepada Kakak Hong Hoa." ujar Lim Ceng Im mengusulkan.

"Tidak bisa." Tio Cie Hiong menghela nafas, "Karena aku tidak tahu jelas, melainkan cuma berfirasat dan juga itu kan urusan Man Chiu dengan Kakak Hong Hoa, aku tidak boleh turut campur.“

„Ya“ Lim Ceng Im mengangguk, „Oh ya, Kakak Hiong! Setelah Bu Lim Sam Mo mati, apakah rimba persilatan sudah aman, tenang dan damai?”

"Adik Im!" Tio cie Hbong menghela nafas panjang, "Rimba persilatan bagaikan laut yang selalu bergelombang, hanya bisa tenang sejenak lalu bergelombang lagi.“

"Maksudmu rimba persilatan tidak bisa tenang selama-iamanya?" tanya Lim Ceng Im sambil menatapnya.

"Adakah laut yang tenang selama-lamanya?“ Cie Hiong balik bertanya, "Tidak ada." Lim Ceng Im menggelengkan

"Nah begitu Pula rimba persilatan," ujar Tio Cie Hiong sambil tersenyum getir, "Sebab kaum rimba persilatan tidak terlepas dan keserakahan, kelicikan dan lain sebagainya. Karena itu, bagaimana mungkin rimba persilatan bisa tenang seiama-iamanya?”



"Kalau begitu----" Lim Ceng im mengerutkan kening, "Bun Yang berkelana kelak...."

"Adik Im!" Tio Cie Hiong tersenyum sambil membelainya, "Engkau Pun pernah berkecimpung dalam rimba persilatan, jadi jangan terlampau mengkhawatirkan Bun Yang!”

"Kakak Hiong...," tanya Lim Ceng im dengan suara rendah, "Perlukah kita menemaninya berkelana?”

"Adik Im!" Tio Cie Hiong tertawa, "Dia pergi berkelana berarti dia telah dewasa, kenapa kita masih harus menemaninya? Bukankah engkau pernah mengembara seorang diri kemudian bertemu aku yang sedang mandi telanjang di sungai?!”

"Kakak Hiong...." Wajah Lim Ceng im langsung kemerah-

merahan, "Kenapa kau ungkit lagi kejadian itu, bahkan sering pula memberitahukan kepada Bun Yang, sehingga membuatnya tertawa geii?”

"Adik Im!" Tio Cie Hiong membelainya dengan penuh cinta kasih, "Itu merupakan kenangan yang sangat indah dan manis lho!”

"Dasar...."  Lim Ceng  Im cemberut "Kakak Hiong, kita...

selamanya tidak akan ke Tionggoan iagi?”

"Tentu harus ke sana, sebab kita harus mengunjungi ayahmu," jawab Tio Cie Hiong. "Sudah dua tahun ayahmu tidak ke mari.”

"Kakak Hiong, kapan kita akan ke markas pusat Kay Pang mengunjungi ayahku?" tanya Lim Ceng Im mendadak.

"Setelah Bun Yang besar”

"Yaahi" Lim Ceng Im menarik nafas dalam-dalam, "Itu masih lama! Bagaimana kalau tahun depan kita ke markas pusat Kau Pang?”

"Lihat saja nanti!" Tio Cie thong tersenyum.



"Oh ya, entah bagaimana keadaan Toan Wie Kie, Lam Kiong Bie Liong dan isteri mereka? Sudah sepuluh tahun lebih kita berpisah dengan mereka, apakah mereka sudah mempunyai anak?”

"Aku yakin mereka sudah mempunyai anak," sahut Lim Ceng Im sambil tersenyum" Kakak Hiong, yang kupikirkan adalah Kim Siau Suseng dan Kou Hun Bijin- Sudah sepuluh tahun lebih mereka menjadi suami isteri, mungkinkah mereka bisa mempunyai anak?”

"Mereka pasti bisa mempunyai anak?” "Apakah mereka akan tetap awet muda?”
"Tidak bisa" Tio Cie Hiong menjelaskan "Setelah menikah, mereka pun akan tua. Karena melakukan hubungan intim, sehingga mempengaruhi tubuh mereka. ”

"Kakak Hiong!" Lim Ceng Im tersenyum. Entah bagaimana anak mereka?”

"Kalau anak mereka laki-laki, tentunya tampan luar biasa. Kalau perempuan, otomatis cantik bukan main," sahut Tio cie Hiong sambil tertawa,

"Eh? Kakak Hiong!" Wajah Lim Ceng im serius, "Kalau mereka mempunyai anak perempuan yang cantik bukan main, kelak entah berapa banyak kaum pemuda akan bertekuk lutut dihadapannya. Ibunya adalah Kou Hun Bijin (Wanita Cantik Pembetot Sukma), maka anak perempuannya"

"Tidak akan seperti ibunya," sambung Cie Hiong. "Kalau mereka mempunyai anak perempuan, aku yakin anak perempuan itu pasti lemah lembut dan kalem”

Lim Ceng Im tersenyum, "Kakak Hiong, entah gadis mana yang akan menjadi jodoh Bun Yang!”

"Adik im!" Tio Cie Hiong tertawa, " un Yang belum dewasa, kenapa engkau telah memikirkan jodohnya?”



"Kita adalah orang tuanya, tentunya harus memikirkannya, bukan?”

"Benar,” Tio Cie Hiong mengangguk, " Pokoknya iyu terserah dia, yang penting adalah gadis yang baik.”

"Betul!" Lim Ceng Im manggut-manggut dan berbisik, "Harus seperti kita berdua.”

"Ha ha ha!" Tio Cie Hiong tertawa gembira.

"Saling mencinta dengan penuh kasih sayang Selama-lamanya!”

--ooo0dw0ooo--


Seusai berlatih ilmu pedang Hong Hoang Kiam Hoat (Ilmu Pedang Burung Phoenix) dan Lui Tian Kiam Hoat (Ilmu Pedang Petir Kilat), Yo Suan Hiang lalu duduk di bawah sebuah pohon,

Berselang sesaat, wajah gadis itu tampak berubah murung. Ternyata ia teringat akan kematian ayahnya. Mendadak sepasang matanya memancarkan sinar berapi~api, kemudian bergumam sambil mengepalkan tinju, "Aku harus menuntut balas! Aku harus menuntut balas.... “

"Suan Hiang!" Muncul Tio Tay Seng, majikan pulau Hong Hoang To menatapnya lembut,

"Guru!” Yo Suan Hiang segera bangkit berdiri, sekaligus memberi hormat,

"Guru tahu bagaimana perasaanmu." Tio Tay Seng mengheia nafas panjang seraya berkata, "Sudah sepuluh tahun lebih engkau belajar ilmu silat di sini, dan kini ilmu silatmu boleh dikatakan sudah tinggi. Kalau ingin menuntut balas kematian ayahmu, engkau boleh berangkat ke Tionggoan.”

"Guru. ." Yo suan Hiang menundukkan kepala.



Tio Tay Seng tersenyum, ”Memang sudah waktunya engkau ke Tionggoan, karena kepandaianmu sudah tinggi. Tapi biar bagaimanapun engkau harus berhati~hati”

"Guru, kapan aku boleh ke Tionggoan?"

"Besok pun boleh. ”

"Guru.." Yo Suan Hiang mulai terisak-isak

"Guru tahu. . ." Tio Tay Seng menatapnya dalam-dalam, "Engkau merasa berat meninggalkan guru dan pulau ini. Tapi biar bagaimanapun engkau harus ke Tionggoan. Karena itu, guru izinkan engkau berangkat esok”

"Ya, Guru" Yo Suan Hiang mengangguk,

"Kakak Suan Hiang!" Muncul Lim Ceng Im dan Tio Cie Hiong.

"Paman, Adik Suan Hiang!" panggil Tio Cien Hiong, yang kemudian memandang Yo Suan Hiang. "Engkau akan ke Tionggoan esok?”

"Ya, Kakak Cie Hiong"" Yo Suan Hiang mengangguk.

"Kepandaianmu memang sudah cukup tinggi, namun aku pernah menyaksikan lweekang ketua perkumpulan Hiat Ih Huie. Kelihatannya dia memiliki iweekang yang sangat tinggi. Engkau harus berhati-hati menghadapinya, jangan berlaku ceroboh!”

"Ya, Kakak Cie Hiong." Yo Suan Hiang mengangguk,

"Begini..." Tio Cie Hiong menatapnya serius seraya berkata, „Berhubung ketua Hiat Ih Huie berkepandaian sangat tinggi, maka alangkah baiknya engkau kuajari Kiu Kiong San Tian Pou (Ilmu Langkah Kilat). Apabila engkau bertemu ketua itu dan tidak sanggup melawannya, engkau masih bisa meloloskan diri dengan ilmu Kiu Kiong San Tian Pou.“



"Betul," ujar Tio Tay Seng. "Cie Hiong, ajarkan kepadanya Ilmu Langkah Kilat! Setelah itu, barulah dia pergi ke Tionggoan.”

"Ya, Paman." Tio Cie Hiong mengangguk lalu berkata kepada Yo SUan Hiang. "Adik Suan Hiang, aku akan mulai mengajarmu Kiu Kiong San Tian Pou.”

"Terima kasih, Kakak Cie Hiong!" Yo Suan Hiang girang bukan main.

"Tio Tocu!" Terdengar suara seruan dan kejauhan, yang tidak lain suara seruan Sam Gan Sin Kay (Pengemis Sakti Mata Tiga), Tetua Kay Pang. "Cepat kemari main catur!”

“Baik! Hari ini engkau pasti kalah!” sahut Tio Tay seng lalu sekaligus melesat Pergi.

Sedangkan Tio Cie hong telah mulai mengajarkan Hiang Kiu Kiong San Tian Pou kepada Yo Suan Hiang. Gadis itu mempelajari ilmu tersebut dengan penuh semangat dan bersungguh.

Dua hari kemudian, barulah Yo Suan Hiang dapat menguasai ilmu itu. Tio Cie hong manggut-manggut gembira, sedangkan Yo Suan Hiang tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih.

"Kakak Cie Hiong, terima kasih! Terima kasih.... ”

"Tidak perlu berterima kasih," sahut Tio cie Hiong lembut, "Kita boleh dikatakan sebagai kakak adik”

"Kakak Hiong." sela Lim Ceng Im mendadak, "lebih baik engkau mengajarnya semacam ilmu pedang untuk melindungi diri, karena engkau bilang ketua perkumpulan Hiat Ih Huie berkepandaian sangat tinggi, Aku khawatir----”

"Adik Im, ilmu pedang Hong Hoang Kiam Hoat dan Lui Tian Kiam Hoat merupakan ilmu Pedang tingkat tinggi yang amat lihay.”



"Tapi belum tentu dapat mengalahkan ketua perkumpulan. Jadi alangkah baiknya engkau mengajar Kakak Suan Hiang semacam ilmu pedang,” usul Lim Ceng Im.

Tio Cie hong berpikir lama sekali, kemudian barulah mengangguk.

"Baiklah. Aku akan ajarkan adik Suan Hiang semacam ilmu pedang," ujar Tio cie Hiong sungguh-sungguh, "Kebetulan aku baru menciptakan ilmu pedang tersebut.”

”Terima kasih, Kakak Cie Hiong!" ucap Yo Suan Hiang terharu "Terima kasih adik Ceng Im!”

"Kakak Suan Hiang, engkau tidak usah mengucapkan terima kasih." Lim Ceng im tersenyum lembut lalu bertanya pada Tio Cie Hiong. " Ilmu pedang apa yang akan engkau ajarkan kepada Kakak Suan Hiang?”

"Adik Im!" Tio Cie Hiong memberitahukan, ”Selama berada di pulau ini, aku terus memikirkan ilmu pedang Im sie Hong Mo-Ku Tek Cun dan ilmu pedang Pek Ih Hong Li-Yap In Nio. itu membuat kepalaku menjadi pusing sekali, namun akhirnya aku berhasil menciptakan semacam ilmu pedang berdasarkan ilmu pedang mereka”

"Oh?" Lim ceng im terbelalak, "Engkau menciptakan ilmu pedang apa?”

"Cit Loan Kiam Hoat (Ilmu Pedang Fusing Tujuh Keliling)," Tio Cie Hiong memberitahukan

"Apa?" Lim Ceng Im, tertegun, lalu tertawa geli seraya berkata, "itu pasti ilmu pedang yang kacau balaul ”

"Benar?" Tio Cie Hiong mengangguk dan berkata kepada Yo Suan Hiang. "Engkau harus ingat, bahwa ilmu pedang tersebut sangat lihay, dahsyat dan ganas, dan setiap jurusnya Pasti memutuskan urat di tubuh lawan. Karena itu, kalau tidak terpaksa, janganlah engkau mengeluarkan ilmu pedang tersebut!"



"Ya." Yo Suan hang mengangguk

"Cit Loan Kiam Hoat terdiri dan tujuh jurus.” Tio Cie Hiong memberitahukan, ”Setiap jurusnya mempunyai tujuh perubahan, jadi tujuh jupus berarti mempunyai empat puluh sembilan perubahan, yang tak terduga. Oleh karena itu, ilmu Pedang tersebut sangat lihay. Engkau harus belajar dengan segenap hati, kalau tidak, sulit bagimu menguasainya,”

"Kakak Cie Hiong!" ujar Yo Suan Hiang berjanji, "Aku pasti belajar dengan segenap hati, pokoknya tidak akan mengecewakanmu”

"Bagus!" Tio Cie Hiong manggut-manggut, kemudian meminjam pedang yang di tangan Yo Suan Hiang. "Aku akan memperlihatkan ilmu pedang itu.”

Tio Cie Hiong mulai memainkan ilmu pedang cit Loan Kiam Hoat. Yo suan Hiang dan Lim Ceng Im menyaksikannya dengan penuh perhatian. Tak seberapa lama kemudian, mereka berdua merasa berkunang-kunang dan kepala mereka pun menjadi pusing sekali,

Ketika Tio Cie Hiong berhenti, Yo Suan Hiang dan Lim Ceng Im jatuh terduduk dengan wajah pucat pias.

"Adik Im, Adik Suan Hiang!" panggil Tio Cie Hiong dengan tersenyum, "Kenapa kalian?”

"Tidak tahan, Pusing sekali," sahut mereka berdua serentak, "Sungguh dan luar biasa sekali ilmu pedang itu! Pantas dinamai Ilmu Pedang Pusing Tujuh Keliling!”

"Karena                itu...."   Tio          Cie          Hiong    mengingatkan,  "Jangan

sembarangan mengeluarkan ilmu pedang tersebut!”

"Kakak Cie Hiong, mampukah aku mempelajari ilmu pedang itu?" tanya Yo Suan Hiang mendadak.

"Adik Suan Hiang!" Tio Cie Hiong tersenyum, "Kalau ada kemauan keras, tentu akan berhasil”



"Ya." Yo Suan hang mengangguk

"Nah, kini aku akan mulai mengajarmu," ujar Tio Cie Hiong dan mulai mengajar Yo Suan Hiang.

Walau hanya tujuh jurus, tapi yo Suan Hiang mempelajarinya membutuhkan waktu sebulan lebih, barulah dapat menguasai ilmu pedang tersebut. Setelah itu, ia mohon pamit kepada Tio Tay Seng, Sam Gan Sin Kay, Tio Cie hong, Lim Ceng Im dan lainnya,

”Bibi, kapan kita akan berjumpa lagi?” tanya Tio Bun Yang dengan mata bersimbah air.

"Bun Yang!" Yo Suan Hiang membelainya, "Kita akan berjumpa dalam rimba persilatan kelak,”

”Bibi,” sahut Tio Bun Yang sungguh-sungguh, ”Bun Yang tidak mau berkecimpung dalam rimba persilatan.”

"Kenapa?" tanya Yo Suan Hiang heran.

"Kata ayah, banyak orang jahat dalam rimba silatan.” Tio Bun Yang memberitahukan, "Jadi Bun Yang lebih senang tinggal di pulau ini.”

"Bun Yang____" Yo Suan Hiang tersenyum lembut "Kalau bisa, memang lebih baik tidak berkecimpung dalam rimba persilatan.”

"Ya, Bibi" Tio Bun Yang mengangguk-

"Bibi," tanya Lie Ai Ling, putri Lie Man Chiu dan Tio Hong Hoa sambil terisak-isak. "Kapan

Bibi akan kemari menengok Ai Ling dan Kakak Bun Yang? A

"Ai Ling!" Yo Suan Hiang membelainya, "Kalau urusan bibi sudah beres, bibi pasti kemari menengok kalian. Nah, selamat tinggal!”

"Adik Suan Hiang, selamat jalan!" ucap Tio Cie Hiong.



"Kakak Cie Hiong____" Mata Yo Suan Hiang sudah basah, kemudian berlutut di hadapan

Tio Tay Seng "Guru, aku mohon pamit."

"Berangkatlah!" Tio Tay Seng menatapnya lembut dan melanjutkan, "Kapan pun engkau boleh kemari.”

"Ya, Guru." Yo Suan Hiang mengangguk lalu bertutut di hadapan Sam Gan Sin Kay.

"Kakek, aku mohon pamit!”

"Ha ha ha! Suan Hiang!” Sam Gan Sin Kay tertawa getak. "Jangan cengeng, hapusiah air matamu!”

"Kakek.." Yo Suan Hiang terisak-isak.

"Suan Hiang!" Tio Tay Seng tersenyum, "Bangunlah, jangan terus berlutut! Engkau boleh berangkat sekarang.”

"Ya, Guru" Yo Suan Hiang bangkit berdiri "Adik Ceng Im, sampai jumpa!”
"Sampai jumpa, Kakak Suan Hiang!" sahut Lim Ceng im dengan mata bersimbah air. "Hati-hati setelah sampai di Tionggoan!”

Yo Suan Hiang mengangguk, kemudian mendadak melesat pergi. Tio Tay Seng dan Sam Gan Sin Kay saling memandang sambil menghela nafas Panjang, setelah itu Sam Gan Sin Kay tertawa.

"Tio Tocu, mari kita main catur!”

"Baik. Hari ini engkau Pasti kalah!" sahut Tio Tay Seng sambil tersenyum dan menambahkan.

"Pokoknya sepuluh kosong...”

Mereka berdua melesat pergi, Lie Man Chiu, Tio Hong Hoa dan Lie Ai Ling juga meninggalkan tempat itu Sedangkan Tio



Cie Hiong dan Lim Ceng im saling memandang, kemudian mereka menggeleng-gelengkan kepala,

"Kakak Hiong, dia mulai bergelut dengan bahaya," ujar Lim Ceng Im sambil menghela nafas.

"Mudah-mudahan dia berhasil menuntut balas! Kalau tidak...." Tio Cie Hiong diam, berselang sesaat baru melanjutkan, "Dia pula yang akan celaka.”

"Ayah, bibi mau pergi menuntut balas apa?" tanya Tio Bun Yang mendadak.

"Nak!" Tio Cie Hiong membelainya. "Ayah bibimu itu dibunuh orang jahat, maka dia mau pergi menuntut balas.”

"Jadi... bibi mau pergi membunuh orang jahat?" tanya Tio Bun Yang lagi.

"Ya" Tio Cie Hiong mengangguk.

"Ayah...." Tio Bun Yang mengerutkan kening. "Kata ayah

harus mengampuni orang, kenapa bibi tidak mau mengampuni orang, yang memhunuh ayahnya?"

"Nak," Tio cie Hiong tersenyum. "Sifat, watak dan hati orang tidak akan sama. Ada yang pendendam dan pembenci, ada pula yang uielas asih dan mau mengampuni orang lain. Jadi, bibi itu masih tercekam oleh rasa dendam dan benci, maka dia tidak bisa mengampuni pembunuh ayahnya.”

"Ayah," ujar Tio Bun Yang sungguh-sungguh. "Seandainya Ayah dan ibu dibunuh orang, Bun yang juga pasti membalas dendam, paling tidak harus memusnahkan kepadaian penjahat itu.”

"Nak!" Tio Cie hong tersenyum lembut " Engkau memang tidak salah, namun cukup memusnahkan kepandaian penjahat itu saja.”

"Kalau begitu bibi. . ."



"Dia pun akan memusnahkan kepandaian pembunuh ayahnya," sahut Lim Ceng Im. sambil membelainya, "Membunuh itu tidak perlu, cukup memusnahkan kepandaian para penjahat saja”

"Ya, Ibu." Tio Bun Yang mengangguk. "Bun Yang pasti selalu ingat akan nasihat Ibu.”

"Engkau memang anakku yang baik" Lim Ceng Im memeluknya erat-erat dengan penuh kasih sayang, "Anakku, engkau tidak boleh membunuh siapa pun kelak. Jangan membuat suatu karma yang buruk untuk dirimu sendirit Camkanlah baik-baik nasihat ibu!”

”Ya, Ibu!” Tio Bun Yang mengangguk, ”Bun Yang pasti menurut semua nasihat Ayab dan Ibu, Bun Yang tidak mau jadi anak durhaka, dan tidak mau jadi penjahat. Bun Yang berjanji kepada Ayah dan Ibu!”

"Nak!" Tio Cie Hiong dan Lim Ceng im membelai-beiainya dengan penuh kasih sayang.

-ooo0dw0ooo-


Bagian Kedua

Kejadian yang tak terduga.


Lie Man Chiu, suami Tio Hong Hoa duduk diatas sebuah batu. Sepasang matanya terus mengarah ke laut yang membiru itu- Sayup-sayup terdengar suara deruan ombak, diiringi pula oleh suara desiran angin laut.

Kelihatannya ia sedang mempertimbangkan suatu keputusan. Hal itu dapat diketahui dan keningnya yang terus menerus berkerut-



"Benar." gumamnya dengan suara rendah, "Aku harus mengambil keputusan itu, tidak boleh ragu lagi”

Pada waktu bersamaan, Ia mendengar suara langkah di belakangnya. Tanpa menoleh ia sudah tahu, bahwa itu suara langkah Tio Hong Hoa, isterinya.

"Kakak Chiu..." panggil Tio Hong Hoa, kemudian duduk di sisinya, "Kenapa engkau duduk melamun di sini?”

"Adik Hoa," sahut Lie Man Chiu sambil tersenyum, " Aku sedang menikmati keindahan laut.”

"Oh?" Tio Hong boa menatapnya dalam-dalam, " Tapi kelihatannya engkau sedang memikirkan sesuatu. Apa yang engkau pikirkan? Bolehkah aku tahu?"

"Adik Hoa!" Lie Man Chiu mengambil sebuah batu kecil, lalu dilemparkannya ke laut seraya berkata, "Aku tidak memikirkan apa-apa, percayalah!”

"Kalau begitu, legalah hatiku!" Tio Hong Hoa tersenyum dan menambahkan, "Aku justru khawatir, ada sesuatu yang terganjel dalam hatimu.”

"Tentu tidak” Lie Man Chiu juga tersenyum.

"Oh ya, Yo Suan Hiang telah pergi ke Tionggoan. Entah bagaimana dia, berhasilkah dia menuntut balas?”

"Kasihan dia!" Tio Hong Hooa menghela nafas." Mudah-mudahan dia akan berbasil membalas dendam!”

"Adik HoaI " Lie Man Chiu menatapnya dalam-dalam. "Engkau tidak berniat sama sekali pergi ke Tionggoan?”
”Kakak Chiu!" Tio Hong Hoa tersenyum lembut ”Bukankah lebih tenang hidup di pulau ini Kita sudah mempunyai anak dan hidup bahagia, jadi untuk apa pergi ke Tionggoan?”

"Tapi anak kita " Lie Man Chiu memandang jauh ke depan, "Apakah dia juga harus terus tinggal di sini?”



"Setelah dia dewasa kelak, tentunya dia harus pergi mengembara mencari pengalaman. Engkau tidak mengijinkannya mengembara dalam rimba persilatan?”

"Mengembara cari pengalaman memang harus, namun dunia persilatan penuh berbagai kejahatan dan kelicikan, maka aku kuatir....”

"Ai Ling memiliki sifat baik dan periang Lagi pula____" Tio Hong Hoa memandang lurus ke depan dan melanjutkan, "Dia memang harus mencari pengalaman di luar”

"Ngmmm!" Lie Man Chiu mengangguk "Oh ya, Cie Hiong begitu terkenal dalam rimba persilatan, namun dia malah hidup menyendiri di pulau ini bersama anak isterinya. Bukankah itu sayang sekali?"

"Cie Hiong dan Ceng im memang telah bersumpah tidak akan mencampuri urusan rimba persilatan lagi Namun Ceng Im pernah memberitahukan kepadaku, bahwa mereka memperbolehkan Bun Yang berkelana untuk cari pengalaman."

Lie Man Chiu manggut-manggut dan berkata. „Bun Yang memang sangat cerdas dan baik, aku yakin dia akan menjadi seorang Pendekar gagah kelak“

"Benar." Tio Hong Hoa manggut-manggUt. "Aku sangat menyukainya, dan Ai Ling pun cocok sekali dengan dia”

"Oh?" Lie Man Chiu tertawa, "Aku yakin ada sesuatu di batik ucapanmu itu,” bukanya

"Ya?" Tio Hong boa tersenyum, "Kakak Chiu, alangkah baiknya kita menjodohkan mereka.”

"Adik Hoa!" Lie Man Chiu menggeleng-gelengkan kepala, "Kita tidak boleh menjodohkan mereka",

"Kenapa?”



"Mereka berdua memang sangat cocok dan akur, namun hubungan mereka kini merupakan hubungan kakak adik. Oleh karena itu, kita tidak boleh menjodohkan mereka. Lagi pula mereka masih kecil, belum mengenal cinta. Apabila mereka saling mencinta kelak, barulah kita menjodohkan mereka”

"Baiklah." Tio Hong Hoa mengangguk, ”Aku mengusulkan begitu karena aku sangat menyukai Bun Yang.”

"Engkau boleh menyukainya, tapi jangan dikaitkan dengan perjodohannya." ujar Lie Man Chiu sungguh-sungguh "Mereka masih kecil, maka jangan membuat suatu beban yang menekan pikiran mereka.”

"Ya" Tio Hong Hoa mengangguk, kemudian tersenyum seraya berkata, "Kakak Chiu, mungkin Lam Kiong Bie Liong dan Toan Wie Kie sudah mempunyai anak. Bagaimana kalau suatu hari nanti kita ajak Ai Ling ke Tayli?”

"Boleh." Lie Man Chiu mengangguk, "Tapi harus menunggu Ai Ling dewasa dulu.”

"Tunggu dia dewasa?" Tio Hong Hoa terbelajak. "Bukankah itu masih lama sekali?"

"Tidak apa-apa, kan?" Lie Man Chiu tersenyum. Tio Hong Hoa menghela nafas panjang. "Baiklah."

Pada waktu bersamaan, muncuj Lie Ai Ling menghampiri mereka dengan wajah cerah ceria, Ayah dan ibu ternyata berada di sini! Ai Ling tadi mencari ke mana-mana tapi tidak ada Tidak tahunya ayah dan Ibu mengobrol di sini" ujar Lie AiLing sambil duduk.

"Nak!" Tio Hong Hoa membelainya, " Di mana Bun Yang?”

"Kakak Bun Yang sedang berlatih ilmu pedang." Lie Ai Ling memberitahukan, "Ibu, kepandaian Kakak Bun Yang semakin tinggi lho!”

"Oh, ya?" Tio Hong Hoa menatapnya lembut.



"Kenapa engkau tidak berlatih bersamanya?”

"Ai Ling ingin menemani Ayah dan Ibu," sahut Lie Ai Ling lalu menatap Lie Man Chiu. "Ayah dari tadi duduk di sini?”

"Ya." Lie Man Chiu manggut-manggut.

"Ayah...." Lie Ai Ling menundukkan kepala seraya bertanya,

"Kenapa Ayah sering melamun? Ada sesuatu terganjel di dalam hati Ayah?”

"Tidak." Lie Man Chiu tersenyum sambil membelainya, "Oh ya, paman Cie hong berkepandaian sangat tinggi, engkau harus banyak belajar kepadanya.“

"Ya." Lie Ai Ling mengangguk,

Lie Man Chiu bangkit berdiri, Ia memandang Tio Hong Hoa sepaya berkata, "Adik Hoa. aku mau ke rumah, Engkau mau menemani Ai Ling berlatih bersama Bun Yang?“

"Baiklah." Tio Hong Hoa mengangguk.

"Ai Ling!" Lie Man Chiu menatapnya lembut. "Engkau boleh pergi menemui Bun Yang, ayah ingin pergi beristirahat.”

"Ya, Ayah." Lie Ai Ling tersenyum.

Lie Man Chiu melangkah Pergi, sedangkan Tio Bong Hoa menggandeng putrinya ke tempat latihan Tio Bun Yang.

Tio Cie Hiong terus memberi petunjuk kepada putranya mengenai Cit Loan Kiam Hoat (Ilmu Pedang Pusing Tujuh Keliling). Setelah itu, Tio Bun Yang mulai berlatih. Anak itu tidak menggunakan Pedang, melainkan menggunakan suling kumala, pemberian ayahnya.

"Lweekangnya masih agak dangkal, maka kalau menghadapi lawan yang memiliki tenaga dalam yang tinggi, maka dia akan kewalahan.”



Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im menyaksikannya dengan penuh perhatian, kemudian mereka saling memandang dengan penuh rasa kagum.

”Kakak Hiong...,” bisik Lim Ceng Im. ”Anak kita memang luar biasa, baru tiga hari telah menguasai Cit Loan Kiam Hoat.”

"Dia memiliki daya ingat yang kuat sekali," ujar Tio Cie Hiong sambil tersenyum, "Bahkan juga memiliki bakat alam, maka tidak sulit baginya untuk mempelajari ilmu silat tingkat tinggi.”

"Ng!" Lim Ceng Im mengangguk, "Kakak Hiong, kita harus menjadikannya seorang pendekar berkepandaian tinggi, berhati bajik, bijaksana dan adil”

"Benar.” Tio Cie Hiong manggut-manggut. "Hanya saja....”

"Kenapa?”

"Kini dia telah memiliki Pan Yak Hian Thian Sin Kang, Kan Kun Taylo Sin Kang, Giok Li Sin Kang dan Kiu Yang Sin Kang. Apabila dia terus bersemedi, beberapa tahun kemudian, lweekangnya pasti tinggi.”

"Benar." Tio Cie Hiong manggut-manggut sambil tersenyum, "Dia memang harus menjadi pendekar gagah, berhati bajik, bijaksana dan adil”

"Oh, ya, kupikir. . ."

"Adik Im?" Tio Cie Hiong menatapnya mesra.

"Apa yang engkau pikirkan?”

"Entah siapa jodohnya kelak?" sahut Lim Ceng Im sambil tersenyum,

"Yang jelas harus gadis yang bersifat iemah lembut dengan tatapan sejuk, itu dapat menyejukkan hatinya," ujar Tio Cie Hiong sungguh-sungguh,



"Ooohl" Lim Ceng im manggut-manggut. "Aku tahu, tatapan sejuk itu dapat menghilangkan rasa emosinya di saat marah, bukan?“

"Betul." Tio Cie hong mengangguk,

"Adik cie Hiong!" panggil Tio Hong Hoa dengan tersenyum.

"Oh, Kakak!" sahut Tio Cie Hiong. Kemudian ia membelai Lie Ai Ling. "Engkau ke mana? Kok tidak berlatih bersama Bun Yang?”

"Ai Ling pergi mencari Ayah dan Ibu." Lie Ai Ling memberitahukan, "Ternyata Ayah Ibu mengobrol dekat pantai.”

"Oh!" Tio cie hong tersenyum sambil memandang Tio Hong Hoa. "Apa yang kalian obrolkan di sana?”

"Tidak mengobrol apa-apa," jawab Tio Hong Hoa dan menghela nafas panjang, "Aku melihat dia duduk melamun di dekat pantai, maka aku mendekatinya...”

"Man Chiu duduk melamun dekat pantai?" Tio Cie Hiong mengerutkan kening, "Apakah dia sedang memikirkan sesuatu?”

"Katanya              tidak,     tapi...." Tio          Hong     Hoa        menundukkan

kepala, "Kelihatannya dia memang sedang memikirkan sesuatu.”

"Engkau tidak bertanya kepadanya apa yang sedang dipikirkannya?" tanya Lim Ceng Im.

"Aku sudah bertanya kepadanya, namun dia menjawab tidak. Kemudian kami mengalihkan pembicaraan.... ”

"Mengenai apa?" tanya Tio Cie Hiong.

"Itu..." Tio Hong Hoa tersenyum. "Mengenai Ai Ling dan Bun Yang.”

"Kenapa mereka berdua?" tanya Lim Ceng im.



"Aku suka sekali kepada Bun Yang, maka ingin menjodohkan Ai Ling padanya."Tio Hong Hoa memberitahukan, "Tapi Man Chiu bilang jangan.”

"Kenapa?" Lim Ceng Im menatapnya.

"Man Chiu bilang, mereka masih kecil, jadi belum tahu tentang cinta, Karena itu, tidak boleh membebani pikiran mereka dengan suatu urusan," ujar Tio Hong Hoa memberitahukan.

”Benar apa yang dikatakan Man Chiu” Tio Cie Hiong manggut-manggut. ”Kita sebagai orang tua, tidak boleh menjodohkan anak, Namun boleh menjodohkan pilihan mereka, jadi orang tua tidak akan dipersalahkan oleh anak,"

"Ya." Tio Hong Hoa mengangguk, "Oh ya, Adik Cie Hiong! Entah bagaimana keadaan Lam Kiong Bie Liong dan Toan Ulie Kie, mungkin mereka pun sudah mempunyai anak. Entah kapan kita akan ke sana atau mereka akan ke mari? Aku ingin mengajak Man Chiu ke Tayli, tapi dia bilang harus menunggu Ai Ling dewasa dulu.”

"Kakak!" Tio Cie Hiong tersenyum, "Kami juga rindu sekali kepada mereka, karena sudah sepuluh tahun lebih tidak bertemu”

"Oh, ya!" Mendadak Tio Hong Hoa tertawa geli. "Entah bagaimana dengan Kim Siauw Suseng dan Kou Hun Bijin? Mungkinkah mereka telah dikaruniai anak?”

"Tentu mungkin.g Tio Cie Hiong mengangguk dan menambahkan, "Bahkan aku Pun yakin anak mereka pasti tampan atau cantik.”

"Yaaah!" Tio Hong Hoa menghela nafas. Entah kapan kita akan bertemu mereka lagi!”

"Sudah sepuluh tahun lebih tiada kabar berita mengenaj mereka, yang di Tayli dan yang di Kwan Gwa (Luar Perbatasan)!" ujar Tio Cie Hiong sambil menggeleng-



gelengkan kepala, " Rasanya gembira sekali apabila bisa berkumpul kembali!”

"Benar." Tio Hong Hoa mengangguk, "Oh, ya, bagaimana kepandaian Bun Yang? Apakah telah mengalami kemajuan?”

"Memang mengalami kemajuan pesat, hanya saja lweekangnya masih belum begitu tinggi.” Tio Cie hong memberitahukan "Kini aku sedang mengajarnya Cit Loan Kiam Hoat."

"Cit Loan Kiam Hoat?" Tio Hong Hoa tertegun, "Setahuku, engkau tidak memiliki ilmu pedang itu.”

"Baru kuciptakan belum lama ini," ujar Tio Cie Hiong. "Dan telah kuajarkan kepada Suan Hiang.”

"Oooh!" Tio Hong Hoa manggut-manggut kagum, "Pasti lihay sekali ilmu pedang itu!”

"Memang lihay sekali sebab kuciptakan berdasarkan ilmu pedang, yang dimiliki Im Sie Hong Mo dan Pek Ih Hong Li. Namun tidak mudah mempelajarinya"

”Eeeeh?” Tio Hong Hoa terbelalak ketika menyaksikan Tio Bun Yang sedang berlatih, dan kemudian ia pun merasa pusing "Ilmu itu. ..."

"Itu adalah Cit Loan Kiam Hoat." Tio Cie Hiong memberitahukan "Tapi Bun Yang menggunakan seruling kumala”

"Bukan main!" Tio Hong Hoa menghela nafas saking kagumnya “aku jadi pusing menyaksikan ilmu Pedang itu!”

"Maka ilmu pedang Itu dinamai Ilmu Pedang Pusingng Tujuh Keliling,” sahut Lim Ceng Im sambil tersenyum.

"Adik Cie Hiong!" Tio Hong Hoa menatapnya, "Maukah engkau mengajarkan ilmu pedang itu kepada Ai Ling?”



"Tentu boleh" Tio Cie Hiong tersenyum. "Mulai hari ini aku akan mengajarkan kepadanya.”

"Terimakasih, Adik Cie Hiong" ucap Tio Hong Hoa.

"Eh?" Tio Cie Hiong tersenyum geli "Kok kakak jadi berlaku sungkan kepadaku sih? Tidak usah mengucapkan terima kasih”

"Oh, ya" sela Lim Ceng Im mendadak "Aku pun akan menurunkan Giok Li Sin Kang kepada Ai Ling”

"Bagus!" Tio Cie Hiong manggut-manggut setuju "Ai Ling memang harus belajar Sin Kang itu, sebab sangat bermanfaat bagi dirinya.”

"Adik Ceng Im," ucap Tio Hong Hoa. ”Aku berterima kasih kepadamu!”

"Kakak Hong Hoa....." Lim Ceng Im tertawa geli. "Kok jadi

begitu sungkan? Kita bukan orang lain, lho.”

"Terus terang..." Tio Hong Hoa menghela nafas panjang, "Kalian berdua memang sangat baik terhadapku, maka aku....”

"Kak!' Tio Cie Hiong menggenggam tangan Tio Hong Hoa erat-erat. "Engkau kakakku, tentunya kami harus baik terhadapmu.”

"Terima kasih!" ucap Tio Cie Hiong terharu, "Oh, ya, apakah kalian memperbolehkan Bun Yang berkelana kelak?”

”Itu memang harus,” sahut Tio Cie Hiong. ”Tidak mungkin Bun Yang terus tinggal di pulau ini sampai tua, karena dia harus ke Tionggoan mencari Pengalaman”

"Adik Cie Hiong, bagaimana kalau Ai Ling ikut Bun Yang berkelana kelak?" tanya Tio Hong Hoa mendadak.

”Itu tidak jadi masalah,” sahut Tio Cie Hiong. ”Tapi harus ada persetujuan dan Man Chiu dulu.”



"Ya." Tio Hong Hoa mengangguk, "Oh, ya, entah bagaimana keadaan Tui Hun Lojin dan Lam Kiong hujin di Tayli? ”

”Mereka pasti segar bugar,” ujar Tio Cie Hiong sambil tersenyum, a Paman Gouw Han Tiong telah lama bergabung dengan Kay Pang, mungkin kini sudah menjadi Tetua di sana”

"Mungkin." Tio Hong Hoa manggut-manggut, "Yang paling senang adalah Sam Gan Sin Kay, setiap hari main catur dengan ayah”

"Memang menggelikan," ujar Lim Ceng Im dengan tersenyum, "Dulu kakek sering ribut dan saling mencaci dengan Kim Siauw Suseng. Kinipun begitu, sering ribut dan sating mencaci dengan ayahmu.”

"Itu pertanda mereka akrab sekali." Tio Hong Hoa memberitahukan, "Rupanya kakekmu tidak mau meninggalkan pulau ini.”

"Benar." Lim Ceng Im mengangguk, "Kakek sudah tua sekali, bagaimana mungkin akan meninggalkan pulau ini.”

"Adik Im!" Tio Cie Hiong menatapnya lembut seraya bertanya, "Entah bagaimana keadaan Kay Pang sekarang?”

"Aku yakin bertambah maju," sahut Lim Ceng Im. "Sebab Paman Gouw Han Tiong berada disana”

"Adik Cie Hiong," ujar Tio Hong Hoa. "Aku mau pulang dulu, karena Man Chiu berada dirumah.”

"Baiklah." Tio Cie Hiong mengangguk.

Tio Hong Hoa melangkah Pergi. Tio Cie Hiong dan Lim Ceng im memandang punggung wanita itu sambil menghela nafas panjang.

"Adik im," ujar Tio Cie Hiong dengan kening berkerut, "Kakak Hong Hoa bilang, bahwa tadi Man Chiu duduk



melamun di dekat pantai, Aku yakin dia sedang memikirkan sesuatu,”

”Kira-kira apa yang dipikirkannya?”

”Entahlah Tio Cie Hiong” menggelengkan kepala ”Mudah-mudahan dia memikirkan yang baik jadi tidak akan terjadi sesuatu”

--ooo0dw0ooo--


Pagi ini, mendadak Tio Hong Hoa berlari kesana ke mari sambil berteriak-teriak. tangannya menggenggam sepucuk surat.

”Kakak chiu Kakak chiu. . . .”

”Ayah Ayah. . . .” Lie Ai Ling juga ikut berlari ke sana ke mari sambil berteriak-teriak memanggil ayahnya.

”Ada apa, ada apa?" Betapa terkejutnya Tio Tay Seng. ”Apa yang terjadi?”

”Ayah. . . ”Tio Hong Hoa menangis ”Kakak chiu. . . ."

”Kenapa dia?” Wajah Tio Tay Seng berubah pucat ”Beritahukan kepada ayah, kenapa dia?"

”Dia... dia... telah pergi.” Tio Hong Hoa memberitahukan sambil menangis ”Dia meninggalkan sepucuk surat.”

”Coba ayah baca” Tio Tay seng menyambar surat dan tangan putrinya, lalu membacanya dengan kening berkerut-kerut.

Adik Hoa:

Sebelumnya aku minta maaf karena meninggalkanmu dan Ai Ling, aku terpaksa. Telah lama kupertimbangkan, akhirnya aku mengambil keputusan untuk meninggalkan kalian, sebab aku ingin prgi berkelana demi mengorbitkan namaku. Maka



dalam hal ini, sekali lagi aku mohon maaf kepadamu, juga mohon maaf kepada ayahmu.

Adik Hoa, tentunya engkau tahu. setelah aku memiliki kepandaian tinggi, aku tidak pernah berkelana. Begitu , mulai berkecimpung dalam rimba persilatan, aku bertemu denganmu lalu kita menikah di pulau Hong Hoang To. sejak itu aku tidak pernah kemana-mana. Terus terang, itu sungguh menyiksa hati dan perasaanku. Akhirnya aku mengambil keputusan meninggalkan kalian, demi mengorbitkan namaku dalam rimba persilatan. Aku harap engkau maklum dan bersedia memaafkan diriku, kita pasti berjumpa kembali kelak selamat tinggal dan jagalah Ai Ling baik-baik

Lie Man chiu

”Kurang ajar. Dasar tak tahu diri” Caci Tio Tay seng setelah membaca surat itu, ”Dia betul-betul menyusahkan anak isteri”

Lim Tocu sam Gan sin Kay menepuk bahunya. ”Tenang lah. Jangan terus emosi”

”Pengemis bau” sahut Tin Tay Seng. ”Mantuku itu sungguh kejam, dia meninggalkan anak isteri hanya demi mengorbitkan namanya dalam rimba persilatan Aku tidak menyangka murid Tayli Lo Ceng akan berubah jadi begitu”

”Kakak....” Tio Cie Hiong, Lim Ceng Im dan Tio Bun Yang

menghampiri mereka dengan perasaan tercekam. ”Apa yang terjadi, Kak?”

”Man chiu telah pergi,” sahut Tio Hong Hoa dengan air mata berderai-derai. ”Dia hanya meninggalkan sepucuk surat.”

”Oh?” Kening Tio Cie Hiong berkerut-kerut.

”Cie Hiong, bacalah suratnya ini” Tio Tay seng menyerahkan surat tersebut kepada Tio Cie Hiong.

Setelah membaca surat itu, Tio Cie Hiong langsung melesat pergi seraya berseru, ”Aku akan mencoba mencari dia”



Sementara Lie Ai Ling terus menangis dengan air mata bercucuran, dan Tio Bun Yang memegang bahunya.

”Adik Ai Ling, jangan terus menangis Engkau akan sakit nanti....”

Kakak Bun Yang Lie Ai Ling memeluknya.

”Ayahku begitu tega meninggalkan kami, dia... dia kejam”

”Adik Ai Ling, tenang lah” Tin Bun Yang membelainya. ”Ayahku sudab pergi mencari ayahmu, mudah-mudahan ayahmu akan pulang bersama ayahku Kakak Bun Yang....” Lie Ai Ling terus menangis.

”Ayoh mari kita ke ruang depan menunggu Cie Hiong” ajak Tio Tay seng, yang wajahnya masih tampak merah padam saking gusarnya.

Mereka semua menuju ruang depan. Tio Hong Hoa dan Lie Ai Ling masih terus menangis. Berselang beberapa saat kemudian, Tio Cie Hiong pulang dengan wajah muram.

”Bagaimana?” tanya Tio Hong Hoa kepada Tio Cie Hiong.

”Tiada jejaknya,” sahut Tio Cie Hiong sambil menggeleng gelengkan kepala. ”Aku yakin dia

telah berlayar ke Tionggoan.”

”Lie Man chiu” suara Tio Tay seng mengguntur. ”Binatang kau. Demi mencari nama dirimba persilatan engkau tega meninggalkan anak isteri”

”Tio Tocu” ujar sam Gan sin Kay. ”Dia pergi tidak akan lama, mungkin sebulan dua bulan dia akan pulang.”

”Tidak mungkin.” Tio Tay seng menggeleng kepala, kemudian memandang Tio Hong Hoa seraya bertanya, ”Apakah kalian pernah ribut baru-baru ini?”



”Tidak pernah sama sekali,” sahut Tio Hong Hoa dan menambahkan, ”Tapi belum lama ini dia sering melamun seorang diri”

Tio Tay seng mengerutkan kening. ”Engkau tidak bertanya kepadanya kenapa melamun?"

"Aku sudah bertanya, tapi dia menjawab tidak...” Tio Hong Hoa terisak-isak.

”Aaaakh,., keluh Tio Tay seng. ”Kalau memang dia ingin mencari nama di rimba persilatan, tidak seharusnya dia menikah denganku sepuluh tahun yang lalu Dia... telah membuat kalian menderita kini heran, kenapa Tayli La ceng tidak bisa meramalkan tentang ini?"

"Ayah,” ujar Tia Hong Hoa mendadak. "Aku mau menyusulnya ke Tionggoan.”

"Hoa ji....” Tio Tay seng menghela napas panjang.

Kak Tio Cie Hiong menatapnya. ”Percuma engkau menyusulnya, sebab dia telah mengambil keputusan itu Lagi pula dia pasti tidak akan menemuimu, maka lebih baik engkau tetap tenang di pulau ini"

”Adik Cie Hiong...” Tio Hong Hoa menatapnya penuh harap. ”Bersediakah engkau pergi menyusulnya?”

“Sebetulnya  tidak  jadi  masalah.  Tapi....  “Tio  Cie  Hiong

menggeleng-gelengkan kepala.

"Kenapa?"

”Kalaupun aku berhasil menyusul, dia pasti tidak mau ikut aku pulang.” Tio Cie Hiong menjelaskan. ”sebab dia telah membulatkan tekadnya. seandainya dia mau ikut pulang, tentunya dia tidak akan meninggalkan kalian. Kakak harus mengerti itu".

”Lalu bagaimana aku dan Ai Ling?" Tio Hong Hoa mulai menangis lagi.



"Masih ada aku, Adik Ceng im, Paman dan Kakek pengemis di sisimu Jadi engkau tidak usah terlampau berduka.” sahut Tio Cie Hiong terus menasihatinya.

Sam Gan Sin Kay dan Tio Tay seng saling memandang, kemudian manggut-manggut seakan saling memberi isyarat.

”Cie Hiong, hiburlah dia Paman dan pengemis bau mau pergi main catur,” ujar Tio Tay seng, dan mereka berdua lalu pergi.

”Aaaakh...” keluh Tio Hong Hoa. ”Aku tidak menyangka”

”Ibu..” Lie Ai Ling memandangnya dengan air mata bercucuran. ”Ayah tidak akan pulang lagi?”

”Ai Ling,” sahut Lim Ceng Im cepat. ”Ayahmu pasti pulang, engkau tidak usah terus bertanya kepada ibumu.”

”Ya.” Lie Ai Ling mengangguk.

”Adik Cie hong, maaf” ucap Tio Hong Hoa. ”Aku mau ke kamar untuk beristirahat.”

”Baiklah.” Tio Cie Hiong mengangguk.

Tio Hong Hoa berjalan ke dalam, dan Lie Ai Ling segera mengikutinya. Tio Cie Hiong dan Lim Ceng im memandang mereka sambil menghela nafas panjang.

”Bun Yang,” ujar Tio Cie Hiong berpesan. ”engkau harus sering-sering menghibur Ai Ling, tidak boleh membuatnya kesal”

”Ya, Ayah.” Tio Bun Yang mengangguk. kemudian menatap Tio Cie Hiong seraya bertanya, ”Ayah, kenapa Paman Man chiu begitu tega meninggalkan Bibi dan Ai Ling?”

”Karena Paman Man Chiu masih punya suatu ambisi.” Tio Cie Hiong menjelaskan. ”Dia tidak memikirkan anak isteri, sebaliknya malah ingin mengorbitkan namanya di rimba persilatan.”



”Ayah, kalau begitu Paman Man chiu berhati kejam, karena sudah tidak sayang Bibi dan Ling,” ujar Tio Bun Yang dan menambahkan, ”Bahkan Paman Man chiu pun tidak mempunyai perasaan, begitu tega meninggalkan Ai Ling yang masih kecil. padahal Ai Ling sangat membutuhkan kasih sayangnya.”

”Nak” Lim Ceng Im membelainya. ”Engkau telah melihat itu, maka kelak engkau tidak boleh seperti Paman Man chiu. Ingat baik-baik itu”

”Ibu..” Tio Bun Yang tersenyum. ”Ayah tidak seperti itu, dan Bun Yang pun tidak akan seperti itu pula. Ayah merupakan contoh yang baik bagi Bun Yang, lagipula Bun Yang tidak berhati kejam.”

”Bagus, Nak.” Lim CengIm membelainya lagi. ”ibu merasa puas dan bangga padamu, engkau memang anak baik”

"Bun Yang harus menjadi anak baik, tidak mau mengecewakan Ayah dan ibu,” ujar anak itu sungguh-sungguh .

”Nak. ayah gembira sekali.” Tio Cie Hiong membelainya. ”Nah, sekarang engkau harus mengajak Ai Ling main, agar dia tidak terus menangis memikirkan ayahnya”

”Ya, Ayah”. Tio Bun Yang berjalan ke dalam. Tio Cie Hiong dan Lim Ceng im manggut-manggut sambil tersenyum.

Sam Gan sin Kay dan Tio Tay seng duduk di bawah sebuah pohon. Mereka tidak main catur, melainkan terus memperbincangkan tentang kepergian Lie Man chiu, wajah Tio Tay seng tampak muram sekali.

”Yaaah” sam Gan sin Kay menarik nafas. ”Memang tidak disangka sama sekali mengenai kejadian ini. Man chiu begitu tega meninggalkan anak isteri hanya demi mengejar nama di rimba persilatan.”



”Padahal dia adalah murid kesayangan Tayli Lo Ceng, tapi kenapa....” Tio Tay seng menggeleng-gelengkan kepala.

”Aku yakin Tayli Lo Ceng tahu, namun dia diam saja?"

”Kalau Lo Ceng tua itu tahu, tidak mungkin tidak memperdulikannya. Kukira..." Tio Tay seng mengerutkan kening dan melanjutkan,” Lo Ceng itu tidak mengetahui watak asli muridnya itu."

”Menurutku, itu tidak mungkin. Lo Ceng itu pasti tahu, hanya saja... mungkin ada sebab lain,” ujar sam Gan sin Kay dan menambahkan, ”Kita tidak tahu berada di mana Lo Ceng itu.."

”Yah, sudahlah” Tio Tay seng menggeleng-gelengkan kepala. ”Mungkin sudah nasib putriku".

Pada waktu bersamaan, muncullah Tio Cie Hiong dan Lim Ceng im menghampiri mereka, lalu duduk dengan kening berkerut-kerut.

”Kakek pengemis, Paman” panggil Tio Cie Hiong. Cie Hiong, ”bagaimana Hong Hoa?” tanya Tio Tay seng. Dia masih terus menangis?”

”Biarlah dia menangis, karena bisa membuat hatinya lega,” jawab Tio Cie Hiong. ”Bun Yang berusaha menghibur Ai Ling.”

”Aaakh....” Keluh Tio Tay seng. ”Paman tidak menyangka

akan terjadi itu, padahal Hong Hoa dan Man chiu saling mencinta”

”Ambisi ”ujar Tio Cie hong menggeleng-gelengkan kepala. ”Ambisi telah menutup rasa sayang dan cintanya terhadap Kakak Hoa serta anaknya.”

Cie Hiong Tio Tay seng menatapnya seraya bertanya. ”Bagaimana menurut pendapatmu, apakah Man chiu akan pulang”



”Dia pasti pulang, tapi... tidak begitu cepat,” sahut Tio Cie Hiong. ”sebab dia ingin membuat dirinya terkenal.”

”Aku justru mengkhawatirkan itu,” sela sam Gan sin Kay sambil menghela nafas panjang. ”Dia begitu tega meninggalkan anak isteri, pertanda hatinya sangat kejam dan tak berperasaan. Kemungkinan besar... dia pun akan berubah jahat. Kakek.” ujar Lim Ceng im. ”Mungkin tidak serius tentang itu.”

”Dia ingin mengorbitkan namanya, sudah barang tentu harus melakukan sesuatu yang menggemparkan rimba persilatan. Menggemparkan dengan perbuatan baik memang tidak masalah, sebaliknya apabila dia....” sam Gan sin Kay menghela nafas.

Kakek pengemis Tio Cie Hiong tersenyum. ”Tidak mungkin dia akan melakukan kejahatan, sebab dia pasti masih ingat kepada gurunya.”

”Hm” dengus Tio Tay seng dingin. “Kalau dia masih ingat kepada gurunya, tentunya dia tidak berani meninggalkan anak isterinya dengan cara begitu seharusnYa dia berunding dengan kita.”

Tio Tocu sam Gan sin Kay menggeleng-gelengkan kepala. ”Kalau dia berunding dengan kita, tentunya kita tidak mengijinkannya pergi. Karena itu, dia pergi secara diam-diam.”

”Yaah, tidak disangka nasib putriku menjadi begini” Wajah Tio Tay seng bertambah murung, kemudian melanjutkan, “Kalau dia memang ingin mencari nama dalam rimba persilatan, bukankah dia boleh mengajak putriku?”

Tio Tocu sam Gan sin Kay tersenyum getir. ”Engkau pasti tidak memperbolehkan mereka pergi berkelana, maka dia tidak mau mengajak Hong Hoa.”



“Takdir” gumam Tio Tay seng. ”Mungkin ini merupakan suatu takdir bagi putriku Aaaakh...”

--ooo0dw0ooo--


Lie Ai Ling duduk melamun di bawah sebuah pohon. Tanpa sadar tangannya terus mencabut rumput-rumput di sekitarnya.

”Adik Ai Ling ”Tio Bun Yang menghampirinya sambil tersenyum lembut. ”Aku mencarimu ke mana-mana, ternyata engkau duduk melamun di sini Kakak Bun Yang....” Mata Lie Ai Ling mulai basah.

”Adik Ai Ling” Tio Bun Yang memegang bahunya lalu duduk.”Jangan terus berduka, beberapa hari ini engkau tampak agak kurus, lho”

”Kakak Bun Yang....” Lie Ai Ling mulai menangis terisak-

isak. ”Ai Ling tidak menyangka, ayah begitu kejam.”

”Adik Ai Ling” Tio Bun Yang menghapus air matanya. ”sesungguhnya ayahmu tidak kejam, hanya saja dia tidak bisa menekan ambisinya, sehingga meninggalkan engkau dan bibi.”

”Kakak Bun Yang, bolehkah seorang ayah meninggalkan anak isterinya hanya demi suatu ambisi? tanya Lie Ai Ling mendadak.”

”Seharusnya tidak boleh,” jawab Tio Bun Yang. "Ayah yang baik harus bertanggung jawab, dan ada apa-apa harus berunding dengan yang bersangkutan. Tapi. kesadaran ayahmu telah tertutup oleh ambisinya, sehingga membuatnya tidak berpikir panjang lagi.”

Bukan main Padahal Tio Bun Yang baru berusia sepuluh tahun, sedangkan Lie Ai Ling baru sembilan tahun, namun mereka berdua justru bisa saling tukar pikiran dan



memperbincangkan suatu masalah. Bukankah itu luar biasa sekali?

”Kakak Bun Yang sungguh beruntung, mempunyai ayah yang begitu baik. sebaliknya Ai Ling..” Air mata Lie Ai Ling mulai meleleh.

”Adik Ai Ling” Tio Bun Yang menatapnya lembut. ”Ayahku dan ibumu adalah kakak beradik, maka ayahku boleh dikatakan ayahmu juga. sedangkan Bun Yang adalah kakakmu. Ya, kan?”

”Ng..“ Lie Ai Ling menganggu. „Terima kasih Kakak Bun Yang selalu menghibur Ai Ling“

"Bun Yang memang harus menghiburmu, sebab engkau adikku.“ Tio Bun Yang tersenyum.

”Kakak  Bun        Yang....“               Lie          Ai            Ling        menatapnya      seraya

bertanya. ”Kenapa ayah Ai Ling tidak seperti ayahmu?"

”Adik Ai Ling,” jawab Tio Bun Yang menjelaskan.” itu tergantung pada sifat dan watak. karena semua orang tidak memiliki sifat dan watak yang sama. Karena itu, terdapatlah orang baik dan orang jahat.”

”Oooh” Lie Ai Ling manggut-manggut.” Kalau begitu, ayah Ai Ling termasuk orang jahat, kan?”

”Tidak juga.” Tio Bun Yang tersenyum. ”Ayah mu terlampau berambisi, sehingga membuatnya jadi begitu”

”Kakak Bun Yang” Mendadak Lie Ai Ling menatapnya dalam-dalam. ”Apakah kelak Kakak Bun Yang akan seperti ayah Ai Ling?”

”Tentu tidak.” ujar Tio Bun Yang sungguh-sungguh. ”Bun Yang harus seperti ayah, tidak mau membunuh dan tidak mau menyakiti orang lain. Bun Yang harus menjadi orang baik, bijaksana dan adil,”



”Bagus” Lie Ai Ling tertawa. Ai Ling gembira dan bangga memcunyai kakak yang begini.

Di saat mereka berdua bercakap-cakap, tampak sepasang mata mengintip ke arah mereka. Ternyata Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im. Betapa kagum dan gembiranya hati mereka ketika mendengar percakapan itu, dan mereka pun saling memandang sambil manggut-manggut.

”Ayah, ibu” seru Tio Bun Yang mendadak.”Jangan terus bersembunyi di balik pohon, tidak baik mencuri dengar pembicaraan orang”

Seketika juga Tio Cie Hiong dan Lim Ceng im melesat ke hadapan mereka, tentunya Lie Ai Ling terkejut sekali.

”Paman, Bibi” panggilnya.

”Ai Ling” Lim Ceng Im membelainya dengan penuh kasih sayang.

”Nak” Tio Cie Hiong menatap putranya. ”Bagaimana engkau tahu bahwa kami bersembunyi dibalik pohon?”

”Karena kaki ibu menimbulkan suara, maka Bun Yang tahu kehadiran ibu dan Ayah,” jawab Tio Bun Yang sambil tersenyum. ”Kalau kaki ibu tidak menimbulkan suara, Bun Yang pasti tidak akan mengetahuinya”

”Nak” Tio Cie Hiong menatapnya kagum. ”sungguh tajam pendengaranmu, ayah kagum kepadamu”

”Nak“ Lim Ceng im tersenyum-senyum. „Padahal kaki ibu hanya bergerak sedikit, tapi engkau dapat mendengarnya. Lagipula... engkau sedang bercakap-cakap dengan Ai Ling, kenapa....”

”ibu” Tio Bun Yang tersenyum. ”Ayah pernah pesan, di mana pun kita berada, harus waspada terhadap tempat sekelilingnya".



"oooh" Lim Ceng Im manggut-manggut. „Tapi ini adalah pulau Hong Hoang To, tidak mungking akan muncul musuh.“

„ibu, Bun Yang harus membiasakan begini.Kalau sudah terbiasa, tentu tidak akann melalaikannya " .

„Bagus, bagus “Tio Cie Hiong tertawa gembira. “Itu merupakan kebiasaan yang baik, di manapun kita berada, haruslah waspada. ini sangat penting dan berlaku dalam rimba persilatan”

“Ya, Ayah.” Tio Bun Yang mengangguk.

“Nak” Lim Ceng im menatapnya sambil tersenyum. “sudah lama ibu tidak mendengar suara sulingmu, sekarang ibu ingin mendengarnya.”

”Ya, ibu.” Tio Bun Yang mengangguk lagi, lalu mulai meniup suling pualam pemberian ayahnya. Terdengarlah suara suling yang sangat menyentuh hati dan menggetarkan kalbu.

Tio Cie Hiong dan Lim Ceng im saling memandang sambil tersenyum-senyum, sedangkan Lie Ai Ling terus menatap Tio Bun Yang dengan mata berbinar-binar.

--ooo0dw0ooo--


Bagian ketiga

Kehadiran padri tua


Dua bulan telah berlalu, namun Lie Man chiu tidak pernah kembali ke pulau Hong Hoang To, tentunya membuat Tio Hong Hoa jadi putus asa dan stress, sehingga badannya bertambah kurus.



Hari ini mereka semua berkumpul di ruang depan. wajah

Tio Tay seng tampak murung sekali, sedangkan sam Gan sin
Kay terus menerus menghela nafas panjang.

Tio Cie Hiong, Lim Ceng Im, Tio Hong Hoa, Tio Bun Yang dan Lie Ai Ling duduk diam ditempat.

”Aku harus pergi ke Tionggoan mencari Man Chiu,” ujar Tio Tay seng penuh kegusaran. ”Kalau dia tidak mau ikut aku pulang, apa boleh buat Aku harus membunuhnya Ayah....” Tio Hong Hoa mulai terisak-isak.

”Hoaji” TioTay seng menghela nafas panjang ”jangan kau pikirkan dia lagi, anggaplah dia telah mati suami yang begitu macam buat apa dipikirkan”

”Ayah, kasihan Ai Ling.” Air mata Tio Hong Hoa meleleh.

”ibu,” ujar Lie Ai Ling cepat menghiburnya. ”Ai Ling baik-baik saja. ibu yang harus menjaga diri, karena badan ibu bertambah kurus.”

”Nak....”               Tio          Hong     Hoa        menatap              putrinya               sambil

menggeleng-gejengkan kepala.

”ibu,” ujar Lie Ai Ling memberitahukan. ”KakakBun Yang bilang, bahwa kita harus tabah menghadapi kejadian apa pun.”

”Hidup memang banyak cobaan, maka kita harus tabah.

Nak.... ”Tio Hong Hoa terisak-isak.

”Bibi,” ujar Tio Bun Yang. ”Paman Man chiu telah melupakan Bibi dan Adik Ai Ling, namun Bibi masih terus memikirkannya hingga badan Bibi menjadi kurus. Apakah itu berharga bagi Bibi?”

”Bun      Yang.... ”Tio        Hong     Hoa        menggeleng-gelengkan

kepala. ”Engkau masih kecil, jadi belum tahu bagaimana cinta dan sayangnya seorang isteri kepada suaminya."



”Bun Yang tahu itu,” ujar Tio Bun Yang. ”Namun Paman Man chiu begitu tega meninggalkan Bibi dan Adik Ai Ling, lalu apa gunanya bibi terus memikirkannya? Itu sama juga menyiksa diri sendiri, bahkan akan membuat Adik Ai Ling berduka pula. Apakah Bibi tidak memikirkan Adik Ai Ling, padahal dia sangat membutuhkan kasih sayang Bibi?”

”Bagus, bagus Masih kecil sudah bisa menasihati orang” ujar sam Gan sin Kay mendadak dan menambahkan, ”Hong Hoa, sadarlah Yang harus engkau pikirkan sekarang justru Ai Ling, putrimu. Bukan Man Chiu, yang tak punya perasaan itu. Apa yang dikatakan Bun Yang memang benar. Dia masih begitu kecil, tapi cara berpikirnya malah begitu jauh dan luas.”

”Kakek  pengemis,  aku....  ”Tio  Hong  Hoa  menundukkan

kepala.

Di saat bersamaan, tampak Tio Lo Toa bergegas-gegas berjalan ke dalam dengan wajah serius.

”Tocu Lapor Tio Lo Toa. Tayli Lo Ceng berkunjung.” ”oh? Cepat undang beliau masuk ”sahut Tio Tay seng. ”Ya” Tio Lo Toa segera pergi.
Tak seberapa lama, terdengarlah suara seseorang, yang amat halus.

”omitohud Maaf, kedatanganku telah mengganggu kalin semua” Kemudian muncul seorang padri tua, dan memang benar Tayli Lo Ceng.

”selamat datang Lo Ceng” ucap Tio Tay seng sambil memberi hormat. ”silakan duduk”

”Terima kasih” Tayli Lo Ceng duduk.

Lo Ceng sam Gan sin Kay memberi hormat. selamat bertemu



”omitohud" Tayli Lo Ceng tersenyum. sin Kay, engkau semakin sehat saja tinggal di sini Ha ha ha" sam Gan sin Kay tertawa gelak. "lo Ceng pun semakin segar bugar lho omitohud..”

”Lo Ceng" Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im memberi hormat. selamat bertemu

”Ha ha ha” TayliLo ceng lertawa. ”Kalau masih hidup, kita pasti akan bertemu. Kelihatannya kalian bahagia sekali.”

”Lo Ceng" Mendadak Tio Hong Hoa bersujud di hadapannya. ”Hong Hoa memberi hormat....”

”omitobud” Tayli Lo Ceng menatapnya lembut. semua Itu adalah takdir, juga merupakan nasibmu. Tabahkanlah hatimu demi anak. jangan tercekam oleh rasa keputusasaan Lo Ceng....” Air mata Tio Hong Hoa berderai-derai.

”omitohud” ucap Tayli Lo Ceng. ”Bangunlah”

Tio Hong Hoa bangkit berdiri, dan di saat bersamaan mendadak Tio Bun Yang bersujud dihadapan Tayli Lo Ceng. Bun Yang memberi hormat kepada Lo Ceng

”omitohud” Tayli Lo Ceng menatapnya, kemudian tertawa gelak. ”Bagus, bagus Engkau pasti putra Tio Cie Hiong”

”Betul, Lo Ceng. Tio Bun Yang mengangguk. lalu berkata kepada Lie Ai Ling. ”Adik Ai Ling, cepatlah bertutut memberi hormat kepada Lo Ceng”

”Ya”. Lie Ai Ling segera berlutut di hadapan Tayli Lo Ceng. ”Ai Ling memberi hormat kepada Lo Ceng”

”omitobud” Tayli Lo Ceng menatapnya dalam-dalam. ”Engkau pasti putri Lie Man Chiu omitohud semua itu memang takdir, siapa yang melawan takdir? Kecuali dengan perbuatan yang baik”



”Lo Ceng,” tanya Tio Bun Yang mendadak "Paman Man Chiu meninggalkan Bibi dan Adik Ai Ling, apakah itu merupakan suatu takdir?”

”omitohud Itu boleh dikatakan karma,” sahut Tayli La Ceng ”Anak baik, kalian bangunlah”

”Terima kasih, Lo Ceng” ucap Tio Bun Yang lalu bangkit berdiri Lie Ai Ling juga ikut berdiri dan duduk di tempat masing-masing.

Lo Ceng Tio Tay seng menatapnya Tentunya Lo Ceng sudah tahu akan kejadian di sini

”omitohud” sahut Tayli Lo Ceng Tio Tocu, ”itu boleh d ikatkan suatu karma. Dalam hal tersebut, jangan mempersalahkan siapa pun”

”Lo Ceng” sela sam Gan sin Kay "Lie Man chiu meninggalkan anak isterinya hanya demi mengejar nama, itulah kesalahannya Kenapa Lo Ceng malah bilang jangan mempersalahkan siapa pun?”

”Aku ke mari justru ingin menjelaskan tentang itu,” ujar Tayli Lo Ceng ”Hidup tidak akan terlepas dari takdir, nasib, peruntungan, jodoh, musibah dan karma Berhubung dulu Tio Po Thian pernah meninggalkan isterinya, maka karma itu jatuh pada Tio Hong lion oleh karena itu, harap Tio Tocu harus paham akan hal tersebut”

”Jadi.... ”Tio        Tay         seng      mengernyitkan kening. ”Yang

bersalah dalam hal tersebut adalah almarhum ayahku?”

”omitobud ”Tayli Lo Ceng menghela nafas panjang. ”suatu karma yang diperbuat seseorang, ituakan jatuh pada anak cucunya.”

”Yaah” Tio Tay seng menggeleng-gelengkan kepala. ”Kalau kejadian itu merupakan suatu karma, akujuga tidak bisa bilang apa-apa lagi.”



”Lo Ceng,” tanya sam Gan sin Kay mendadak. ”selama ini Tio Cie Hiong tidak pernah membunuh dan melakukan suatu kejahatan, maka tentu tiada karma buruk bagi dirinya.”

”omitohud” Tayli Lo Ceng tersenyum. ”itu memang tidak salah.”

Lo Ceng Tio Cie Hiong tersenyum. "Bagaimana perjalanan hidup anakku kelak? Tentunya tidak akan terlepas dan suatu cobaan.”

Tayli Lo Ceng menatap Tio Bun Yang. ”Hatinya bajik, imannya kuat dan tidak mudah tergoda maupun terpengaruh. Mengenai penyakitnya itu, kelak akan sembuh dengan sendirinya.”

”Terima kasih, Lo ceng” ucap Tio Cie Hiong.

Lo Ceng, tanya Tio Hong Hoa mendadak. ”Apakah Man chiu akan pulang ke mari?”

”omitohud Kelak engkau akan mengetahui,” sahut Tayli Lo Ceng. ”Yang pasti putrinya akan hidup bahagia kelak."

”Lo Ceng....” Tio Hong Hoa menghela nafas panjang.

”omitohud” Tayli Lo Ceng tersenyum lembut dan menambahkan, ”suatu karma buruk harus dihabiskan dengan perbuatan baik, agar tidak membuat sengsara turunan.”

"Lo Ceng,” tanya Lim Ceng Im. ”Bolehkah putraku pergi berkelana kelak?"

”Boleh. Tayli Lo Ceng mengangguk. ”sebab kelak rimba persilatan sangat membutuhkan kehadirannya."

Tio Cie Hiong dan Lim Ceng im saling memandang, mereka tahu bahwa apa yang diucapkan Tayli Lo Ceng mengandung arti yang dalam. ”Maksud Lo Ceng?” tanya Tio Cie Hiong.

”omitohud ”sahut Tayli Lo Ceng. ”Itu merupakan suatu rahasia, yang jelas dia tidak akan terjadi apa pun."



”Terima kasih, Lo Ceng” ucap Tio Cie hong.

”omitohud” Tayli Lo Ceng tersenyum sambil bangkit berdiri. ”Aku mau mohon pamit, karena harus berangkat ke Tayli”

”Lo Ceng,” pesan Tio Cie Hiong. ”Tolong sampaikan salamku pada Toa n wie Kie, La m Kiong Bie Liong dan lainnya”

”omitohud Pasti kusampaikan,” sahut Tayli Lo Ceng sekaligus melesat pergi. ”sampai jumpa”

”Karma Betulkah itu merupakan suatu karma?” gumam Tio Tay seng sambil menghela nafas panjang. ”Yaah, sudahlah”

”Ayah,” ujar Tio Hong Hoa dengan wajah murung. ”Kini aku telah sadar, bahwa segala sesuatu itu memang merupakan takdir atau karma.Jadi mulai sekarang aku tidak akan memikirkan Man chiu lagi, dan akan baik-baik mendidik Ai Ling?"

”Benar, Hoa ji. ”Tio Tay seng manggut-manggut. ”Memang harus begitu dan legalah hatiku kin”i

”Kakak ”Tio Cie hong memandangnya sambil tersenyum. ”Aku gembira mendengar ucapanmu.”

”Adik Cie Hiong...” Tio Hong Hoa juga tersenyum, namun senyumnya masih tampak getir. ”Mulai sekarang, aku akan baik-baik mendidik Ai Ling."

---ooo0dw0ooo---


Di halaman istana Tayli, tampak beberapa orang sedang duduk sambil bercakap-cakap. Di sana terlihat pula dua orang anak sedang berlatih ilmu silat. Mereka adalah Toan wie Kie, Gouw sian Eng, Lam Kiong Bie Liong dan Toan pit Lian-sedangkan kedua anak itu adalah Toan Beng Kiat, putra Toan wie Kie, dan yang satu lagi adalah putri Lam Kiong Bie Liong, yang bernama Lam Kiong Soat Lan.



”Mereka berdua telah mengalami banyak kemajuan,” ujar Toan wie Kie sambil menunjuk kedua anak itu. ”Hanya saja....”

”Kenapa?” tanya Gouw sian Eng.

”Kepandaian kita terbatas sekali, maka tidak bisa menurunkan kepandaian tinggi kepada mereka,” jawab Toan wie Kie sambil menggeleng-gelengkan kepala.

”Ya.” Gouw sian Eng manggut-manggut. ”oh ya, sudah hampir sebelas tahun kita berpisah dengan Tio Cie Hiong, entah bagaimana keadaan mereka di pulau Hong Hoang To?”

”Ha ha” Lam Kiong Bie Liong tertawa. ”Mereka pasti hidup bahagia di sana.”

”Entah mereka sudah mempunyai anak atau belum?" ujar Toan pit Lian mendadak.

”Aku yakin mereka pasti sudah mempunyai anak.” sahut Lam Kiong Bie Liong dan menambah kan, ”Aku... aku rindu sekali pada mereka.”

”sama,” ujar Toan wie Kie. „Entah kapan kita akan berjumpa mereka lagi”

”Bagaimana kalau kita ke sana?” tanya Lam Kiong Bie Liong mendadak.

„Tidak bisa. Toan wie Kie menggelengkan kepala. sebab ayah pasti tidak memperbolehkan.

„Yaah Kalau begitu....“ Lam Kiong Bie Liong menghelakan

nafas panjang.

„oh ya" Tiba-tiba Gouw sian Eng tertawa geli. Tentunya kalian masih ingat kepada Kim siauw suseng dan Kou HHun Bijin, bukan? Entah mereka sudah mempunyai anak atau belum?”

“Ha ha ha” Lam Kiong Bie Liong tertawa gelak. “suami isteri yang awet muda itu, mungkin sudah mempunyai anak.”



“Usia Kou Hun Bijin seratus lebih, dan usia Kim Siauw suseng hampir seratus. Apakah mereka masih bisa mempunyai anak?" ujar Toan pit Lian.

”Aku yakin mereka masih bisa mempunyai anak.” sahut Gouw sian Eng dan melanjutkan, ”Kalau anak mereka perempuan pasti cantik sekali, dan kalau lelaki, pasti tampan luar biasa.”

”Benar.” Lam Kiong Bie Liong manggut-manggut. ”sebab mereka awet muda, tentunya anak mereka pasti cantik atau tampan.”

”setelah mereka mempunyai anak, apakah mereka akan tetap awet muda?” tanya Toan pit Lian

”Entahlah.” Lam Kiong Bie Liong menggelengkan kepala.

”Menurutku...” ujar Toan Wie Kie setelah berpikir sejenak.

”Kemungkinan besar mereka tidak akan tetap awet muda”.

”Kenapa?” tanya Gouw sian Eng heran.

”Maaf, Adik sian Eng" jawab Toan wie Kie sambil tersenyum. ”Aku tidak bisa menjelaskan, karena cuma menduga saja.”

Ayah Toan Beng Kiat menghampiri mereka. ”Bagaimana ilmu silat Beng Kiat? Apakah sudah ada kemajuan?”

”sudah maju pesat, Nak”, sahut Toan wie Kie sambil tersenyum.

Ayah Lam Kiong Soat Lan menghampiri mereka dengan wajah berseri. ” ilmu silat Soat Lan? sudah ada kemajuan seperti Kakak Beng Kiat?”

"Tentu”, sahut Lam Kiong Bie Liong sambil tertawa. ”Ilmu silatmu telah maju pesat”.

”Ayah”, tanya Toan B eng Kiat mendadak. ”Kalau kami sudah dewasa kelak. bolehkah kami berkelana ke Tionggoan?”



"Itu urusan kelak jadi harus dibicarakan kelak pula”, jawab Toan wie Kie.

”Ibu” Toan Beng Kiat menatap Gouw sian Eng. ”Kata ibu kepandaian Paman Cie Hiong tinggi sekali, benarkah itu?”

”Benar, Nak”. Gouw sian Eng mengangguk.

”Kalau begitu, Beng Kiat ingin belajar kepada Paman Cie Hiong”, ujar Toan B eng Kiat sungguh-sungguh. ”Jadi Beng Kiat bisa berkepandaian tinggi.”

”Paman Cie Hiong tinggal di pulau Hong Hoang To, sangat jauh sekali.” Toan wie Kie memberitahukan

”Ayah, kapan kita pergi menemui Paman Cie Hiong? setelah engkau dewasa kelak."

”Yaah” Toan Beng Kiat menggeleng-gelengkan kemala. ”Itu masih lama sekali”.

”Nak” Gouw sian Eng menatapnya dalam-dalam. ”Kenapa engkau ingin belajar ilmu silat tingkat tinggi?”

”Ibu” Toan Beng Kiat tersenyum. ”Beng Kiat ingin menjadi pendekar, yang selalu menolong orang, maka harus memiliki kepandaian tinggi”.

”Ha ha ha” Tiba-tiba muncul Tui Hun Lojin sambil tertawa gelak. ”Usiamu baru sepuluh tahun,kok sudah ingin jadi pendekar?”

”Bukan sekarang, Kakek Tua”, ujar Toan Beng Kiat. ”Melainkan kelak setelah Beng Kiat dewasa, Beng Kiat ingin berkelana ke Tionggoan”

”oh?” Tui Hun Lojin tersenyum. ”Kalau begitu, engkau harus giat belajar”.

”Ya, Kakek Tua”. Toan Beng Kiat mengangguk.



”Bagus, bagus” Tiba-tiba muncul pula Lam Kiong hujin sambil tertawa-tawa. ”Mau menjadi pendekar harus berhati bajik lho”

”Ya, Nek”. Toan Beng Kiat mengangguk.

Nenek Lam Kiong Soat Lan menghampirinya. ”Soat Lan juga ingin menjadi pendekar wanita, boleh kan?”

”Tentu boleh”. Lam Kiong hujin membelainya. ”oh ya, engkau sudah berlatih ilmu tongkat yang nenek ajarkan itu?”

”Nenek” Lam Kiong Soat Lan memberitahukan. ”Setiap hari Soat Lan pasti berlatih ilmu tongkat dan ilmu selendang.”

”Bagus, bagus” Lam Kiong hujin tertawa gembira, kemudian memandang Lam Kiong Bie Liong seraya bertanya. ”Engkau sudah ajarkan dia Thay Yang Kiam Hoat (Ilmu Pedang surya)?"

”sudah Lam Kiong Bie Liong mengangguk dengan wajah berseri, ”Soat Lan telah menguasai ilmu pedang itu.”

”Bagus” Lam Kiong hujin manggutmanggut.

Di saat bersamaan, mendadak melayang turun seorang padri tua, membuat mereka girang bukan main.

”omitohud?" Padri tua itu ternyata Tayli Lo Ceng.

Toan wie Kie, Gouw sian Eng, Lam Kiong Bie Liong dan Toan pit Lian segera bersujud dihadapan padri tua itu, ”Kami memberi hormat kepada Lo Ceng”

”Ha ha ”Tayli Lo Ceng tertawa. ”Kalian bangunlah”

Mereka bangkit berdiri, kemudian menyuruh Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan memberi hormat kepada padri tua itu.

Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan langsung menjatuhkan diri di hadapan Tayli Lo Ceng.



”Beng Kiat memberi hormat kepada Lo Ceng Soat Lan memberi hormat kepada Lo Ceng"

"              omitohud" Tayli Lo Ceng tersenyum lembut, kemudian menatap kedua anak itu dengan tajam dan manggut-manggut. "Kalian bangunlah”

”Terima kasih”, Lo Ceng Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan bangkit berdiri

Tui Hun Lojin dan Lam Kiong hujin memberi hormat kepada Tayli Lo Ceng Padri tua itu memandang mereka sambil tertawa. ”omitohud”

”selamat datang, Lo Ceng” ucap Tui Hun Lojin- “Angin apa yang membawa Lo Ceng kemari?”

“Ha ha” Tayli Lo Ceng tertawa.” Bukan angin yang membawaku ke mari, melainkan atas kemauanku sendiri"

"Lo Ceng” Toan wie Kie memandangnya” Apakah ada sesuatu penting?”

”Penting dan tidak”. sahutnya sambil memandang Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan-”Terus terang, aku ingin memanfaatkan sisa hidupku untuk kedua anak ini.”

”oh?” Toan wie Kie dan Lam Kiong Bie Liong girang bukan main- "Maksud Lo Ceng ingin menerima mereka sebagai murid?”

”omitohud Memang begitulah maksudku”.

”Terima kasih”, Lo Ceng ucap Toan wie Kie dan Lam Kiong Bie Liong serentak dengan wajah berseri-seri.

”Tapi masih harus kubicarakan dengan Toan Hong Ya, ayahmu?" Tayli Lo Ceng memberitahukan- ”sebab aku akan membawa kedua anak itu ke gunung Thay san, dan akan menggembleng mereka berdua di sana”



Toan wie Kie, Gouw sian Eng, Lam Kiong Bie Liong, Toan pit Lian, Tui HHun Lojin dan Lam Kiong hujin saling memandang, lama sekali barulah Toan wie Kie membuka mulut.

”Lo Ceng, bukankah lebih baik Lo Ceng tinggal di sini?”

”Kalian berkeberatan?” tanya Tayli Lo Ceng sambil tersenyum.

”Berkeberatan  sih          tidak,     tapi....” Toan      pit           Lian

menundukkan kepala dan melanjutkan, ”Jelas kami akan berpisah dengan anak,"

”Tujuh atau delapan tahun kemudian, mereka pasti kembali ke sini”, ujar Tayli Lo Ceng dan menambahkan, ”Apabila kalian merasa berat berpisah dengan anak, berarti kalian telah menyia-nyiakan kesempatan."

”Itu...”, ujar Toan wie Kie, ”Bagaimana keputusan ayah kami saja”.

”Ngmm” Tayli Lo Ceng manggut-manggUt, kemudian mengalihkan pembicaraan. ”oh ya, aku ke mari dari pulau Hong Hoang To. Tio Cie Hiong mengirim salam untuk kalian,"

”oh, ya?” Toan Wie Kie gembira sekali. ”Bagaimana keadaan Cie Hiong dan isterinya, apakah mereka sudah mempunyai anak?”

”Ha ha” Tayli Lo Ceng tertawa. ”Mereka berdua akan hidup rukun dan bahagia hingga di akhir hayat nanti. Mereka pun sudah mempunyai seorang putra bernama Tio Bun Yang”.

”syukurlah” ucap Toan wie Kie.

„Lo Ceng”, tanya Toan pit Lian. ”Bagaimana anak itu, apakah seperti ayahnya?”

”Anak itu lebih tampan dan cerdas dibandingkan dengan Cie hong”. Tayli Lo Ceng memberitahukan. ”Bahkan berhati



bajik, mulia dan bijaksana. Kelak dia pasti menjadi seorang pendekar yang luar biasa.”

”oh?” Lam Kiong Bie Liong tersenyum. „Lo Ceng, bagaimana dengan putri kami ini?“

„omitohud“ Tayli Lo Ceng tertawa. „Aku tahu maksudmu, tapi putrimu buka n jodoh anak itu."

”Lo Ceng....” Lam Kiong Bie Liong menghela nafas panjang.

”Aku memang bermaksud menjodohkan putriku kepada anak itu, namun....”

”Kelak putrimu akan ketemu jodohnya sendiri” Tayli Lo Ceng tersenyum dan menambahkan, ”Begitu pula Toan Beng Kiat”.

”Terima kasih”, Lo Ceng ucap Toan wie Kie.

Mendadak muncul Toan Hong Ya dan isterinya. Ternyata salah seorang dayang melihat Tayli Lo Ceng, lalu cepat-cepat melapor.

”selamat datang”, Lo Ceng ucap Toan Hong Ya, dan kemudian isterinya bersujud di hadapan padri tua itu.

”omitohud Kalian bangunlah”

Toan Hong Ya dan isterinya bangkit berdiri, kemudian Toan Hong Ya mempersilakan Tayli Lo Ceng masuk ke dalam.

”Tidak usah ke dalam” tolak Tayli Lo Ceng. ”Kita bercakap-cakap di sini saja”

”Baiklah.” Toan Hong Ya mengangguk.

”Ayah” Toan wie Kie memberitahukan. ”Lo Ceng dari pulau Hong Hoang To”.

“oh? Bagaimana keadaan mereka di sana, Lo Ceng?” tanya Toan Hong Ya.



“Mereka baik-baik saja”. Tayli Lo Ceng memberitahukan. “Tio Cie Hiong pun sudah mempunyai seorang putra, bernama Tio Bun Yang.”

”syukurlah” Toan Hong Ya tampak girang sekali, kemudian bertanya, ”Murid Lo Ceng dan Tio Hong Hoa juga sudah punya anak?”

”Mereka dikaruniai seorang anak perempuan bernama Lie Ai Ling. Tapi....” Tayli Lo Ceng menggeleng-gelengkan kepala.

”Kenapa?” tanya Toan Hong Ya heran-

”Lie Man chiu telah meninggalkan pulau Hong Hoang To”, jawab Tayli Lo Ceng sambil menghela nafas. ”omitohud ”Itu memang sudah merupakan takdir, maka Tio Hong Hoa harus menerimanya .”

”Lo Ceng,” tanya Gouw sian Eng. ”Lie Man chiu pergi ke mana?”

”Dia pergi ke Tionggoan untuk mencari nama. omitohud itu adalah takdirnya, maka aku pun tidak bisa melarangnya. Karena aku tidak boleh melawan takdir itu, kalau aku melawan takdir itu, kelak akan menimbulkan suatu karma lagi bagi mereka.”

”Ituu....”              sebetulnya         Lam        Kiong     Bie          Liong     ingin

menanyakan sesuatu, namun tadi Tayli Lo Ceng telah mengatakan bahwa itu sudah merupakan takdir, maka Ia tidakjadi bertanya.

”omitohud” Tayli Lo Ceng menghela nafas. ”Kejadian itu pun boleh dikatakan merupakan suatu karma. oleh karena itu, janganlah kalian melakukan sesuatu yang akan menimbulkan karma buruk.”

”Ya.“ Toan wie Kie dan Lam Kiong Bie Liong mengangguk.



Hong Ya Tayli Lo Ceng menatapnya seraya berkata. ”Aku berniat menerima Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan sebagai murid“.

„oh?“ Wajah loan Hong Ya berseri. ”Terima kasih, Lo Ceng"

„Tapi mereka berdua harus kubawa ke Gunung Thay San, aku akan menggembleng mereka di sana. Hong Ya berkeberatan mengenai itu?”

„Tentu tidak.“

„Bagus“ Tayli Lo Ceng manggut-manggut, kemudian menatap Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan seraya bertanya, „Kalian berdua mau menjadi muridku?“

„Mau”. sahut kedua anak itu serentak. Namun mendadak Toan Beng Kiat bertanya, ”Apakah kepandaian Lo Ceng tinggi sekali?“

Tayli Lo Ceng tersenyum. ”Di atas gunung masih ada gunung, di atas langit masih ada langit. Artinya kepandaian itu tiada batasnya, engkau harus tahu itu”. katanya.

„Ya”, Lo Ceng. Toan Beng Kiat mengangguk. kemudian menarik Lam Kiong Soat Lan diajak berlutut di hadapan Tayli Lo Ceng. ”Guru, terimalah hormat kami berdua"

„omitohud” Tayli Lo Ceng tersenyum lembut.“ Kalian berdua bersedia ikut aku ke Gunung Thay san?”

“Bersedia”, sahut Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan serentak,

”Kalian harus tahu”. Tayli Lo Ceng memandang mereka. ”Tentunya kalian harus berpisah dengan orang tua, apakah kalian merasa berkeberatan”

”sebetulnya Beng Kiat merasa berkeberatan sekali, tapi demi menuntut ilmu, berpisah sementara dengan orang tua tidak jadi masalah.”



"              omitohud” Tayli Lo Ceng manggut-manggut. ”Soat Lan, bagaimana engkau?”

"seperti Kakak Beng Kiat”, jawab Lam Kiong Soat Lan-

”Kalian berdua pun harus tahu, bahwa tujuh atau delapan tahun kemudian, barulah kalian akan berjumpa orang tua."

”Tidak apa-apa”, ujar Toan Beng Kiat seakan telah mengambil keputusan- ”Kami berdua pergi menuntut ilmu, jadi orang tua kami pun pasti merasa girang."

”omitohud” Tayli Lo ceng tersenyum lembut. ”Bagus, mulai sekarang kalian berdua resmi jadi muridku.”

"Terima kasih, Lo Ceng” ucap Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan serentak dengan wajah berseri.

”sekarang kalian boleh bangun-"

”Ya, Guru”. Toan Beng Kiat menarik Lam Kiong Soat Lan untuk diajak bangun.

"Lo Ceng”, tanya Toan wie Kie. “Kapan Lo Ceng akan membawa mereka ke Gunung Thay san?”

“Besok pagi”, sahut Tayli Lo Ceng memberitahukan-

“Beng Kiat”, pesan Toan wie Kie. “Ayah harap engkau belajar dengan sungguh-sungguh, Jangan mengecewakan Lo ceng”

“Ya, Ayah”. Toan Beng Kiat mengangguk.

”Soat Lan”, pesan Lam Kiong Bie Liong. "Engkau pun harus belajar dengap giat, jangan mengecewakan kedua orang tuamu”

”Ya, Ayah”. Lam Kiong Soat Lan tersenyum.

Tujuh atau delapan tahun kemudian, Soat Lan akan menjadi seorang pendekar wanita.

---ooo0dw0ooo---




Bagian Keempat

Suara suling mengalun di lembah


Di Kwan Gwa (Luar Perbatasan) terdapat sebuah lembah, yang sangat indah menakjubkan. Bunga-bunga liar bermekaran segar dan sayup,sayup terdengar pula suara air terjun yang diiringi oleh kicauan burung.

Mendadak terdengarlah suara suling, yang sangat merdu, dan siapa yang mendengar suara suling itu, pasti akan terbuai.

siapa yang meniup suling di lembah yang sepi itu? Ternyata seorang anak gadis berusia sembilan tahun duduk di atas sebuab batu sambil meniup suling.

Bukan main cantiknya gadis itu Wajahnya mulus kemerah-merahan, hidung mancung dan mulut kecil mungil, sepasang matanya bersinar terang, lembut dan sejuk.

sebetulnya siapa anak gadis yang begitu cantik? Tidak lain putri kesayangan Kim siauw suseng dan Kou Hun Bijin, yang bernama siang Koan Goat Nio.

Pagi ini setelah berlatih Giok Li Kiam (Ilmu Pedang Gadis Murni) dengan mempergunakan suling emas pemberian ayahnya, siang Koan Goat Nio lalu duduk di atas batu sambil meniup suling.

Di saat sedang asyik meniup suling, mendadak gadis itu melihat sesuatu terjatuh dan atas pohon.

segeralah ia melesat ke sana, sekaligus menyambut benda yang jatuh itu, yang ternyata seekor anak burung.

"ciit ciiiit Anak burung itu mencicit.



"Ciauji (Anak Burung)” siang Koan Goat Nio membelainya seraya berkata, ”Kenapa engkau tidak berhati-hati Kalau tubuhmu membentur tanah, bukankah engkau akan terluka? Lain kali engkau harus hati-hati. sekarang aku akan menaruhmu kembali ke sarang.”

siang Koan Goat Nio melesat ke atas pohon, lalu menaruh anak burung itu ke dalam sarangnya.

setelah itu, barulah ia meloncat turun dan kembali duduk di atas batu, dan mulai meniup suling lagi.

Di saat Ia berhenti meniup sulingnya, Kim siauw suseng dan Kou Hun Bijin muncul sambil tertawa-tawa.

"Bagus, Nak ujar Kim siauw suseng. Engkau telah menguasai Toh Hun Mi Im (Suara Pembetot sukma) "

”Ayah, ibu” siang Koan Goat Nio tersenyum. Bukan main lembutnYa senyuman anak gadis

”Nak” Kou Hun Bijin membelainya dengan penuh kasih sayang. ”Engkau tidak melatih Giok Li Ciang Hoat (Ilmu Pukulan Gadis Murni) dan Giok Li Kiam Hoat (Ilmu Pedang Gadis Murni)?”

”ibu, Goat Nio sudah berlatih tadi”. siang Koan Goat Nio memberitahukan- ”setelah itu, barulah Goat Nio meniup suling”.

”oooh” Kou Hun Bijin manggut-nanggut.

”Nak” Kim siauw suseng menatapnya lembut. ”Engkau tidak berlatih Cap Pwee Kim siauw Ciat bat (Delapan BelasJurus Maut suling emas)?"

”sudah, Ayah”. siang Koan Goat Nio mengangguk. ”Goat Nio telah menguasai ilmu itu”.

”Bagus” Kim siauw suseng tertawa gembira. ”Engkau harus terus berlatih agar berkepandaian tinggi, jadi kami tidak akan khawatir kalau kelak engkau pergi berkelana”.



”Ayah” siang Koan Goat Nio tersenyum. ”Kalau tidak salah, Ayah dan ibu pernah memberitahukan pada Goat Nio, bahwa kepandaian Paman Cie Hiong sangat tinggi sekali. Apakah Paman Cie Hiong sudah tiada tanding di kolong langit?”

”Kira-kira begitulah” Kim siauw suseng mengangguk. Tapi... dia sering mengalami cobaan-"

”Ayah pernah menceritakan itu. Goat Nio sangat kagum dan salut kepada Paman Cie hong, sebab dia begitu setia kepada Bibi Lim Ceng im."

"Dia pun berhati bajik, luhur dan mulia”, tambah Kou Hun Bijin "lbu sayang sekali kepadanya.”

”Ayah, ibu," tanya siang Koan Goat Nio. ”sudah berapa lama tidak bertemu mereka?"

”Hampir sebelas tahun”, jawab Kou Hun Bijin- ”Entah mereka sudah mempunyai anak atau belum?”

Kim siauw suseng tersenyum. ”Aku yakin mereka sudah mempunyai anak. mungkin sebesar Goat Nio."

suseng Kou Hun Bijin menatapnya. ”Terus terang, aku berharap dia mempunyai anak laki-laki”

”Kenapa engkau berharap begitu?” tanya Kim siauw suseng.

”Kalau mereka mempunyai anak laki-laki, aku percaya merupakan anak yang baik seperti ayahnya,” ujar Kou Hun Bijin sambil tertawa cekikikan. ”Maksudku ingin menjodohkan Goat Nio pada anak mereka itu”

”Eh? Bijin Kim siauw suseng tertawa geli. ”Putri kita baru berusia sembilan tahun, kenapa engkau sudah kalut tentang jodohnya?”

”Bukan kalut, melainkan memikirkannya”, sahut Kou Hun Bijin sambil tertawa nyaring. Itu sudah merupakan



kebiasaannya, namun siang Koan Goat Nio justru tidak ketularan kebiasaan ibunya itu.

”Aku sih setuju saja,” ujar Kim siauw suseng sambil melirik putrinya. ”Tapi itu juga harus tergantung pada mereka. Apabila mereka saling mencinta, memang tidak ada salahnya kita menjodohkan mereka.”

”Ayah, ibu” siang Koan Goat Nio menggeleng-gelengkan kepala. ”Usia Goat Nio baru sembilan tahun, kenapa sudah membicarakan perjodohan Goat Nio?”

”Kami adalah orang tuamu, sudah barang tentu harus memikirkan dan membicarakan mengenai perjodohanmu. Ya, kan?" sahut Kou Hun Bijin-

”Terima kasih, ibu” ucap siang Koan Goat Nio sambil tertawa kecil. ”Namun terlampau dini membicarakannya”.

”Nak” Kou Hun Bijin menatapnya dalam-dalam. ”Engkau menyukai anak laki-laki yang bagaimana?”

”ibu....” Wajah siang Koan Goat Nio kemerah-merahan-

”Tidak apa-apa”, desak Kou Hun Bijin ”jawab sajaGoat Nio....”

Gadis itu menundukkan kepala sambil melanjutkan, ”Menyukai anak laki-laki yang lemah lembut, berhati bajik dan luhur, alim, kalem dan tidak ceriwis. Harus setia dan mencintaiku selama-lamanya.”

”Nah, itu” Kou Hun Bijin tertawa gembira.

”ibu....” siang Koan Goat Nio tercengang. ”Apa itu?”

”Tio Cie hong berhati bajik, luhur, dan... pokoknya dia serba baik. Begitu pula Lim Ceng Im isterinya, begitu setia dan sangat mencintai suaminya. Kalau mereka mempunyai anak laki-laki, tentunya akan seperti Tio Cie Hiong,” sahut Kou Hun Bijin dan menambahkan, ”Maka....”



Bijin Kim siauw suseng tertawa gelak. ”Kenapa engkau begitu kalut?”

”Aku tidak kalut, tapi menghendaki mantu yang baik. Ingat, Goat Nio adalah anak kita satu-satunya, maka kita harus menaruh perhatian pada perjodohannya.”

”Benar. Kim siauw suseng manggut-manggut. ”Namun itu juga tergantung dan pilihannya kelak.”

”Nak” Kou Hun Bijin memandang putrinya sambil tersenyum. ”Tentunya kami tidak akan memaksa, bagaimana engkau saja kelak.”

”ibu” siang Koan Goat Nio tersenyum. ”Goat Nio tidak pernah berjumpa dengan mereka, lagi pula belum tentu Paman Cie Hiong mempunyai anak laki-laki. seandainya Paman Cie Hiong mempunyai anak perempuan? itu bagaimana?”

”Tidak apa-apa”. Kou Hun Bijin tertawa. ”Namun ibu yakin mereka mempunyai anak laki-laki, yang sangat tampan”

---ooo0dw0ooo---


“Ibu...." Siang Koan Goat Nio tertawa geli. “Ayah tidak

salah, ibu meniang kalut sekali."

“Ibu memang harus kalut.” Kou Hun Bijin tertawa geli. “Oh ya, masih ada Paman Toan dan Paman Lam Kiong. Mereka semua tinggal di Tayli, mungkin mereka juga sudah mempunyai anak.”

“Ibu, kalau berjumpa semua, kita pasti ramai dan gembira sekali,” ujar Siang Koan Goat Nio.

“Benar. Entah kapan kita akan berjumpa mereka!” ujar Kim Siauw Suseng dan menambahkan,



“Sam Gan Sin Kay tinggal di pulau Hong Hoang To, Tui Hun Lojin dan Lam Kiong hujin tinggal di Tayli, sedangkan Gouw Han Tiong telah bergabung dengan Kay Pang. Kita sudah sepuluh tahun lebih tidak menginjak daerah Tionggoan, entah bagaimana keadaan rimba persilatan disana?”

“Ayah, bukankah di Tionggoan terdapat tujuh partai besar?" tanya Siang Koan Goat Nio mendadak. "Partai mana yang paling terkenal?”

“Siauw Lim Pay,” sahut Kim Siauw Suseng.

“Selain Paman Cie Hiong, apakah masih ada orang lain berkepandaian tinggi sekali?”

“Ada.” Kou Hun Bijin memberitahukan. “Tayli Lo Ceng dan It Sim Sin Ni, nenek Paman Cie Hiong!”

“Kepandaian siapa yang paling tinggi?" “Tio Cie Hiong,” sahut Kim Siauw Suseng.
“Dia memang luar biasa, ilmu silat aliran manapun dapat dipahaminya hanya sekali pandang!”

“Oh?” Siang Koan Goat Nio semakin kagum. “Ayah, ingin sekali rasanya Goat Nio bertemu Paman Cie Hiong.”

“Ha ha!” Kim Siauw Suseng tertawa. “Kalau dia mempunyai anak laki-laki, bukankah lebih baik engkau menemui anaknya?”

“Ayah..." Wajah Siang Koan Goat Nio kemerah-merahan. “Heran! Kelihatannya Ayah dan Ibu yakin sekali, bahwa Goat Nio akan berjodoh dengan anak mereka!”

“Kami memang berharap begitu?"

“Bagaimana seandainya anak itu buruk rupa? Apakah Goat Nio juga harus berjodoh dengan dia?”

“Anak mereka tidak mungkin buruk rupa,” ujar Kou Hun Bijin sambil tertawa. “Sebab Tio Cie Hiong sangat tampan, dan



isterinya cantik jelita. Tidak mungkin akan menghasilkan anak yang buruk rupa.”

“Seandainya buruk rupa?”

“Itu....” Kou        Hun        Bijin       dan        Kim        Siauw    Suseng saling

memandang. “Itu terserah padamu.”

“Ayah dan Ibu setuju kalau Goat Nio menikah dengan orang yang buruk rupa?" tanya anak gadis itu mendadak.

“Tentunya tidak setuju;” sahut Kou Hun Bijin.

“Namun kalau dia itu adalah anak Tio Cie Hiong, ibu masih menerimanya.”

“Kalau Goat Nio tidak mau,’ sambung Siang Koan Goat Nio dengan tersenyum.

“Itu terserah engkau saja.” Kou Hun Bijin tertawa dan melanjutkan. “Seandainya anak mereka itu tampan, berhati bajik, luhur dan mulia, itu pun terserah engkau, sebab kami sebagai orang tua hanya merestui, tidak bisa memaksa.”

“Terima kasih atas pengertian Ibu dan Ayah!” ucap Siang Koan Goat Nio. “Oh ya, Ayah! Kapan kita akan ke pulau Hong Hoang To?”

“Setelah engkau dewasa nanti,” jawab Kim Siauw Suseng.

“Ayah....” Siang Koan Goat Nio tercengang. “Kenapa harus

menunggu Goat Nio dewasa?”

“Karena sekarang engkau harus giat belajar, untuk bekalmu berkelana kelak.” Kim Siauw Suseng memberitahukan. “Dulu ayah dan Sam Gan Sin Kay dikenal sebagai Bu Lim Ji Khie, ayah awet muda, begitu pula ibumu.”

“Tapi....” Siang Koan Goat Nio menatap mereka. “Kenapa

kini Ayah dan Ibu tampak agak tua?”



“Karena kami telah menikah, lagi pula sudah mempunyai anak.” Kim Siauw Suseng menjelaskan. “Setelah menikah, kami tidak akan awet muda lagi.”

“Oooh!” Siang Koan Goat Nio manggut-manggut.

“Nak!” Kou Hun Bijin memandangnya seraya berkata, “Kelak engkau pasti berkecimpung didalam rimba persilatan. Perlu engkau ketabui, bahwa banyak kelicikan, kebusukan dan berbagai kejahatan dalam rimba persilatan. Maka, engkau harus berhati-hati, jangan gampang tergoda dan terpengaruh oleh rayuan manis. Sifat lelaki berbeda-beda, ada yang pandai bermuka-muka dan merayu, bahkan pandai berdusta dan lain sebagainya. Engkau harus menjauhi leiaki yang begitu macam."

“Ya, Ibu.” Siang Koan Goat Nio mengangguk.

“Oh ya!” Kim Siauw Suseng teringat sesuatu. “Bijin, aku mempunyai suatu ide, entah engkau setuju atau tidak?”

“Apa idemu?” tanya Kou Hun Bijin heran.

“Putri kita memang cantik sekali, tentu banyak pemuda yang berusaha mendekatinya,” jawab Kim Siauw Suseng sambil tersenyum. “Bagaimana kalau kelak Goat Nio berdandan sebagal anak laki-laki?"

"Itu....” Kou Hun Bijin memandang putrinya.

“ide yang bagus, Ayah.” ujar Siang Koan Goat Nio sambil tertawa kecil. “Goat Nio akan berdandan sebagai anak lelaki, bahkan berpakaian kumal dan wajahnya pun dibikin kotor. Setelah bertemu pemuda idaman hati, barulah Goat Nio berdandan biasa."

“Ngmm!” Kim Siauw Suseng manggut-manggut. “Bagus, bagus! Jadi engkau pun bisa menyelami hati anak laki-laki.”



“Benar.” Kou Hun Bijin tertawa gembira. “Ibu akan mengajarmu cara merias wajah, sehingga wajahmu tampak tidak karuan.”

“Terima kasih, Ibu!” ucap Siang Koan Goat Nio.

“Hi hi hi!” Kou Hun Bijin tertawa cekikikan.

Kim Siauw Suseng menatapnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.

“Untung sifat burukmu ini tidak menurun kepada Goat Nio!” ujarnya.

“Maklum,” sahut Kou Hun Bijin dan tertawa lagi. “Itulah ciri khasku, maka aku dijuluki Kou Hun Bijin. Hi hi hi...!”

-oo0dw0oo-

Kini Siang Koan Goat Nio bertambah giat berlatih. Hari ini Ia berlatih Giok Li Ciang Hoat, Kiam Hoat, Cap Pwee Kim Siauw Ciat bat dan ilmu pukulan lain, ajaran Kwan Gwa Siang Koay dan Lak Kui.

Di saat anak gadis itu sedang berlatih, muncullah Kwan Gwa Siang Koay dan Lak Kui, dan mereka menyaksikannya dengan penub perhatian, kemudian manggut-manggut.

“Paman, Paman!” seru Siang Koan Goat Nio ketika berhenti berlatih.

“Nona Goat Nio,” sahut mereka sambil tertawa gembira. “Kepandaianmu sudah maju pesat.”

“Oh?” Siang Koan Goat Nio tersenyum lalu duduk di bawah sebuah pohon. “Paman semua sudah tiada kepandaian lain untuk diajarkan pada Goat Nio?”

“Sebetulnya       masih    ada,       tapi....” Siluman                Kurus

menggelengkan kepala. “Tidak sesuai untuk diajarkan kepadamu.”

“Kenapa?” Siang Koan Goat Nio tercengang.



“Ilmu andalan kami berdua adalah Tok Im Ciang (Ilmu Pukulan Dingin Beracun), yang akan merusak sepasang tanganmu yang putih halus, jadi tidak boleh diajarkan kepadamu,” Siluman Kurus memberitahukan.

“Apa lagi ilmu andalan kami berenam,” sambung Kwan Gwa Lak Kui. “Itu adalah Ku Lu Ciang-hoat (Ilmu Pukulan Tengkorak), juga tidak boleh diajarkan kepadamu.”

“Oooh!” Siang Koan Goat Nio manggut-manggut. “Paman semua, Goat Nio ingin menanyakan sesuatu, boleh kan?”

“Tentu boleh,” sahut Siluman Gemuk. “Tanyalah!”

“Betulkah Paman Cie Hiong berkepandaian tinggi sekali?” Ternyata ini yang ditanyakan Siang Koan Goat Nio

"Betul." Kwan Gwa Siang Koay mengangguk. "Walau kami semua mengeroyoknya, mungkin kami hanya bisa bertahan sampai lima puluh jurus.

"Haaah...?" Siang Koan Goat Nio terbelalak.

“Paman Cie Hiong begitu hebat sekali?”

“Tidak salah.” Siluman Gemuk manggut-manggut dan memberitahukan “Bu Lim Sam Mo, yang sangat terkenal itu, malah mati karena menyerangnya.

“Apa?!” Siang Koan Goat Nio tertegun. “Kenapa bisa begitu?”

“Karena Cie Hiong memiliki Kan Kun Taylo Sin Kang.” Siluman Gemuk menjelaskan. “Kan Kun Taylo Sin Kang dapat membalikkan lweekang orang yang menyerangnya. Sebetulnya pada waktu itu Cie Hiong tidak berniat membunuh Bu Lim Sam Mo, namun Bu Lim Sam Mo yang cari mati karena menyerangnya dengan Iweekang sepenuhnya. Maka lweekang itu balik menyerang diri mereka sendiri, sehingga membuat mereka bertiga luka parah, dan akhirnya mati.”



“Kalau begitu, Paman Cie Hiong boleh dikatakan tiada tanding di kolong lagit, bukan?”

“Benar.” Siluman Gemuk mengangguk. “Namun Tio Cie Hiong tidak pernah memamerkan kepandaiannya bahkan tidak mau mencampuri urusan rimba persilatan mereka tinggal di pulau Hong Hoang To.”

“Goat Nio sudah tahu itu,” ujar anak gadis itu. “Ayah dan ibu yang memberitahukan.”

“Nona Goat Nio,” ujar Kwan Gwa Siang Koay sungguh-sungguh. “Tio Cie Hiong memang berhati bajik, luhur dan mulia. Kami sangat kagum, salut dan menghormatinya. Lagi pula dia sangat setia terhadap cinta, tidak pernah tergoda oleh gadis lain. Padahal banyak sekali anak gadis jatuh cinta kepadanya, namun dia hanya mencintai Lim Ceng Im.”

“Paman tahu mereka sudah mempunyai anak belum?” tanya Siang Koan Goat Nio mendadak.

“Ha ha!” Kwan Gwa Siang Koay tertawa. “Selama ini kami semua tidak pernah meninggalkan lembah ini, bagaimana mungkin kami mengetahuinya?”

"Aku yakin mereka sudah mempunyai anak,” ujar Tiau Am Kui. “Hanya saja tidak tahu anak laki-laki atau perémpuan.”

“Kalau anak laki-laki, pasti seperti Tio Cie Hiong,” sambung Siluman Gemuk dengan tertawa. “Apabila anak perempuan, pasti cantik jelita.”

“Oh ya?” Siang Koan Goat Nio tersenyum.

“Kalau anak mereka laki-laki, mungkin berusia sekitar sepuluh tahun, seusia denganmu,” ujar

Siluman Kurus dan menambahkan, “Nona Goat Nio, mudah-mudahan engkau berjodoh dengan dia!”



"Heran!" Wajah Siang Koan Goat Nio kemerah-merahan. “Ayah dan Ibu berharap begitu, kalian pun sama! Kenapa sih begitu?"

"Nona Goat Nio,” ujar Siluman Gemuk sungguh-sungguh. “Engkau harus tahu, Tio Cie Hiong berhati bajik, luhur dan mulia, maka anaknya pasti juga begitu. Tio Cie Hiong tampan dan isterinya cantik jelita, tentunya anaknya pasti ganteng, bahkan... mungkin juga dia menggunakan suling pualam. Sedangkan engkau menggunakan suling emas. Bukankah cocok sekali?"

“Paman semua juga harus tahu, bahwa belum tentu mereka mempunyai anak laki-laki. Seandainya mereka mempunyai anak perempuan, sudah barang tentU Goat Nio akan jadi kecewa.”

“Benar.” Siluman Gemuk manggut-manggut. “Mudah2an mereka mempunyai anak laki-laki yang ganteng, berhati bajik, luhur dan mulia!"

“Oh ya,” ujar Siluman Kurus sungguh-sungguh. “Kelak engkau berkecimpung dalam rimba persilatan harus berhati-hati, jauhilah pemuda yang pandai bermuka-mUka dan pandai merayu! Pemudä yang bertipe semacam itu, kebanyakan suka mempermainkan kaum gadis. Nah, engkau harus hati-hati.”

“Terima kaSih atas nasihat Paman!” ucap Siang Koan Goat Nio dan memberitahukan. “Ayah Goat Nio mempunyai suatu ide....”

“Ide apa?"

“Kelak di saat Goat Nio berkelana, Goat Nio akan berdandan sebagai anak laki-laki...."

“Menurut aku, itu tidak perlu,” potong Siluman Kurus.

“Kenapa?" tanya Siang Koan Goat Nio.



“Kalau engkau berdandan seperti itu, otomatis engkau tidak bisa menyelami hati kaum pemuda,” jawab Siluman Kurus. “Namun apabila engkau berdandan seperti kaum gadis umumnya, tentu banyak pemuda akan mendekatimu. Nah, engkau dapat menyelami hati mereka, sekaligus tahu pula sifat, watak dan gerak-gerik mereka, bukan?”

“Benar juga.” Siang Koan Goat Nio manggut-manggut. “Tentang ini akan dirundingkan kelak?"

“Ha ha ha!” Mendadak terdengar suara tawa, kemudian muncullah Kim Siauw Suseng dan Kou Hun Bijin.

Kwan Gwa Siang Koay dan Lak Kui segera memberi hormat, lalu melangkah ke belakang.

“Kami telah mendengar pembicaraan kalian,” ujar Kou Hun Bijin sambil tertawa nyaring. “Tidak disangka, kalian bisa memberi nasihat kepada Goat Nio!”

“Bijin,” sahut Kwan Gwa Siang Koay. “Terus terang, kami sangat menyayangi Goat Nio. Karena itu, kami harus memberi nasibat kepadanya.”

“Bagus, bagus!” Kou Hun Bijin tertawa gembira. “Terima kasih atas kasih sayang kalian terhadap Goat Nio!”

“Sama-Sama,” ucap Kwan Gwa Siang Koay.

“Ilmu andalan kalian adalah Tok Im Ciang dan Ku Lu Ciang Hoat, itu memang tidak bisa diturunkan kepada Goat Nio,” ujar Kou Hun Bijin sungguh.sungguh. “Namun setahuku, kalian memiliki ginkang yang cukup tinggi. Nah, ajarkan ginkang kalian kepada Goat Nio!”

“Benar.’ kwan Gwa Siang Koay tertawa gembira. “kenapa kami tidak memikirkan itu?”

“Terima kaSih, Paman!” ucap Siang Koan Goat Nio.



“Ha ha ha!” Kwan Gwa Siang Koay dan Lak Kui tertawa gelak, “Kalau begitu, mulai besok kami akan mengajarmu ginkang tingkat tinggi.”

“Terima kasih!” ucap Siang Koan Goat Nio lagi.

“Goat Nio!” Kou Hun Bijin menatapnYa sambil tersenyum. “Mereka juga setuju jodohmu adalah anak Tio Cie Hiong.”

“Ibu....” Siang Koan Goat Nio cemberut. “Kenapa Ibu terus

kalut karena urusan itu?”

“Hi hi hi!” Kou Hun Bijin tertawa nyaring. “Orang tua mana yang tidak kalut akan perjodohan anaknya?”

“Ibu,” ujar Siang Koan Goat Nio sungguh-sungguh. “Kalau berjodoh, pasti ketemu. Tidak berjodoh, di depan mata pun tidak akan ketemu.”

”Ha ha ha!” Kim Siauw Suseng tertawa gelak. “Kami akan mempertemukan kalian.”

“Maksud Ayah?"

“Setelab engkau dewasa kelak, akan kami ajak ke pulau Hong Hoang To. Nah, bukankah engkau akan bertemu dia?”

“Ayah!" Siang Koan Goat Nio tertawa geli. “Siapa tahu anak mereka perempuan, Ayah dan Ibu pasti jatuh terduduk di pulàu Hong Hoang To!”

“Kami yakin...,” ujar Kwan Gwa Siang Koay mendadak. “Mereka pasti mempunyai anak laki-laki. Sebab suling pualam akan berjodoh dengan suling emas, dan itu tidak akan salah.”

“Betu!.” Kou Hun Bijin tertawa. “Hi hi hi! Tio Cie Hiong memiliki sebatang suling pualam, pasti diberikan kepada anaknya.”

“Heran?” Siang Koan Goat Nio menggeleng-gelengkan kepala. “Kenapa Ayah, Ibu dan Paman semua terus mendesak Goat Nio?”



“Kami senang apabila jodohmu adalah anak Tio Cie Hiong,” sahut Kwan Gwa Siang Koay sambil tertawa. “Ha ha ha....”

-oo0dw0oo-

Siang Koan Goat Nio terus ber1atih ginkang, yang diajarkan Kwan Gwa Siang Koay dan Lak Kui. Tampak bayangannya berkelebat kesana-kemari laksana kilat. Itu sangat mengejutkan burung-burung, yang bertengger di dahan, dan seketika juga burung-burUng itu berterbangan ke udara. Gadis itu berhenti berlatih, lalu memandang burung-burung itu sambil berseru.

"Jangan takut, aku cuma berlatih ginkang! Tidak mengganggU kalian sama sekali! Kalian tidak usah takut!"

Setelah berseru begitu, ia lalu duduk di bawah pohon. Mendadak ia teringat akan apa yang dikatakan kedua orang tuanya, dan seketika wajahnya tampak agak kemerah-merahan.

“Aku masih kecil, namun Ayah dan Ibu malah terus membicarakan perjodohanku serta agak mendesak pula,” gumam Siang Koan Goat Nio. “Mungkinkah Paman Cie Hiong mempunyai anak laki-laki?"

Siang Koan Goat Nio kelihatan sedang berpikir, lama sekali baru mulai bergumam lagi. "Kalau anak laki-laki, benarkah tampan dan berhati bajik, luhur serta mulia? Apakah jodohku benar dia?"

Siang Koan Goat Nio mengge1eng~gelengkan kepala, kemudian tersenyum sambil menepuk keningnya.

“Usiaku baru sembilan tahun, kenapa harus memikirkan anak laki-laki? Sungguh menggelikan!”

Siang Koan Goat Nio mengeluarkan suling emasnya, lalu ditiupnya. Begitu lembut dan menggetarkan kalbu alunan suara suling itu, sehingga burung-burung yang berterbangan



tadi mulai bertengger lagi di dahan, lalu berkicau-kicau mengiringi alunan suara suling itu.

Berselang beberapa saat, barulah ia berhenti meniup suling itu, lalu memandang burung-burung yang bertengger di dahan.

“Bagaimana? Sedap didengarkan suara sulingku?”

“Memang sedap didengar.” Terdengar suara sahutan, yang disusul oleh suara tawa yang cekikikan. Kemudian muncullah Kim Siauw Suseng dan Kou Hun Bijin.

“Ayah, Ibu!” panggil Siang Koan Goat Nio.

“Hi hi hi!” Kou Hun Bijin tertawa nyaring. “Nak, engkau memikirkan apa tadi?”

Wajah gadis itu kemerah-merahan. “Goat Nio tidak memikirkan apa-apa,” katanya.

“Jangan bohong!” Kou Hun Bijin menatapnya sambil tersenyum lembut. “Kami telah mendengar apa yang engkau gumamkan.”

"Itu..." Wajah Siang Koan Goat Nio bertambah merah.

“Ha ha ha! Hi hi hi!” Kim Siauw Suseng dan Kou Hun Bijin tertawa. “Mulai berpikir, kan?”

“Gara-gara Ayah dan Ibu sih!” Siang Koan Goat Nio cemberut. “Pikiran Goat Nio menjadi terganggu!”

"Tidak apa-apa, tidak apa-apa." sahut Kou Hun Bijin sambil tertawa, "Wajar bagi seorang anak gadis memikirkan anak laki-laki."

”Bijin!" Kim Siauw Suseng meng-geleng2kan kepala, "Usianya baru sembilan tahun, belum waktunya dia memikirkan anak laki-laki."

"Sekarang ayah bisa omong begitu, tapi kenapa tempo hari terus membicarakan jodoh Goat Nio?" tegur gadis itu.



"Eh? Itu. . . itu. . . ." Kim Siauw Suseng tergagap sambil melirik Kou Hun Bijin.

"Hi hi!" Kou Hun Bijin tertawa, "Nak, kami hanya membicarakan, namun tidak menyuruhmu berpikir lho!"

"Ayah dan Ibu terus membicarakan itu, sudah barang tentu membuat Goat Nio memikirkannya."

"Benar, benar," Kou Hun Bijin manggut-manggut. "Memang ada baiknya engkau memikirkannya, jadi ibu dan ayahmu pun punya harapan."

"Harapan apa?" Siang Koan Goat Nio cemberut.

“Itu tuh!” Kou Hun Bijin tertawa nyaring. “Hi hi hi. . . ." -oo0dw0oo-

Bagian Kelima

Partai Keadilan

Bagaimana Yo Suan Hiang yang telah meninggalkan pulau Hong Hoang To menuju ke Tionggoan? Ternyata setibanya di Tionggoan, ía langsung ke markas pusat Kay Pang menemui Lim Peng Hang, ketua partai Pengemis.

Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong menyambut kedatangannya dengan penuh kegembiraan dan kehangatan.

“Silakan duduk, Suan Hiang!” ucap Lim Peng Hang ramah.

“Terima kasih, Lim Pangcu!” Yo Suan Hiang duduk.

"Bagaimana kabar mereka, yang berada dipulau Hong Hoang To?” tanya Lim Peng Hang sambil tersenyum.

“Semua baik-baik saja.

“Suan Hiang!” Lim Peng Hang memandangnya. “Bagaimana keadaan ayahku, apakah baik-baik saja?”



“Beliau baik-baik saja.” Yo Suan Hiang tersenyum. “Setiap hari pasti bermain catur dengan guruku.

“Oooh?” Lim Peng Hang manggut-manggut gembira.

“Suan Hiang,” tanya Gouw Han Tiong. “Bagaimana Tio Bun Yang? Apakah kepandaiannya telah maju pesat?”

“Anak itu memang cerdas sekali” Yo Suan Hiang memberitahukan “Dia telah menguasai Semua kepandaian ayahnya.”

“Oh?” GouW Han Tiong tertawa. “Ayahnya begitu cerdas, tentunYa dia pasti cerdas pula.”

“Kakak Cie Hiong mernang luar biasa,” ujar Yo Suan Hiang. “Sebelum aku berangkat ke mari, dia telah menciptakan ilmu pedang Cit Loan Kiam Hiat, yang sangat lihay sekali.

"Oh?” Lim Peng Hang tertegUn. “Ilmu Pedang Pusing Tujuh Keliling?”

“Ya.” Yo Suan Hiang mengangguk. “Dia mengajarkan ilmU pedang tersebut dan Kiu Kiong San Tian Pou.

“Kalau begitu....” Gouw Han Tiong tertawa. "Kepandaianmu

pasti sudah tinggi sekali.”

“Tinggi sekali sih tidak, namun dapat menjaga diri,” ujar Yo Suan Hiang merendah.

“Oh ya!” Lim Peng Hang tersenyum seraya berkata, “Suan Hiang, maukah engkau perlihatkan ilmu pedang Cit Loan Kiam bat itu?"

“TentU mau.” Yo Suan Hiang mengangguk sambil bangkit berdiri. Ia berjalan ketengah-tengah ruangan itu, lalu menghunus pedangnya dan mulai mempertunjukkan ilmu pedang tersebut.

Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong menyaksikannya dengan penuh perhatian, namun kemudian merasa



berkunang~kunang dan pusing. Mereka saling memandang dengan mata terbelalak.

Berselang sesaat, Yo Suan Hiang berhenti dan kembali ke tempat duduknya seraya bertanya,

“Bagaimana ilmu pedang Cit Loan Kiam Hoat itu?”

“Sungguh luar biasa!” sabut Lim Peng Hang sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Aku tidak menyangka, kalau Tio Cie Hiong mampu menciptakan ilmu pedang, yang begitu dahsyat dan lihay.”

"Bukan main itu!" Gouw Han Tiong menghela nafas panjang, kemudian menambahkan, “Aku yakin Tio Bun Yang pasti seperti ayahnya.”

“Menurut Kakak Cie Hiong, anak itu malah lebih cerdas dan dirinya” Yo Suan Hiang memberitahukan, “Ceng Im pun bilang begitu.”

“Oh?” Lim Peng Hang tertawa. “Benarkah cucuku itu lebib cerdas dan Cie Hiong’?”

“itu memang benar.” Yo Suan Hiang mengangguk. “Kaiau tidak, bagaimana mungkin dia dapat menguasai semua kepandaian ayahnya? Padahal usianya baru sepuluh tahun.”

“Ha ha ha!” Lim Peng Hang tertawa gembira. “Kelak dalam rimba persilatan akan muncul Seorang pendekar yang gagah dan berhati bajik lagi!”

“Tidak salah.” Gouw Han Tiong manggut-manggut. “Entah bagaimana dengan cucuku, yang di Tayli?”

“Tentunya berkepandaiannya tinggi juga,” sahut Lim Peng Hang.

“Yaah, sayang sekali!” Gouw Han Tiong menghela nafas panjang. “Seandainya cucuku itu perempuan....”

“Engkau akan menjodohkannya pada cucuku?”



“Benar.” Gouw Han Tiong mengangguk. “Tapi... dia adalah cucu laki-laki, mau bilang apa?”

“Lim Pangcu,” tanya Yo Suan Hiang mendadak. “Bagaimana keadaan rimba persilatan sekarang?”

“Hiat Ih Hwe (Perkumpulan Baju Berdarah) mulai unjuk gigi terhadap kaum golongan putih, bahkan ada pula yang dibunuh,” jawab Lim Peng Hang memberitahukan sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Setelah Bu Lim Sam Mo mati, kita semua mengira bahwa rimba persilatan akan aman, tenang dan damai. Tidak tahunya malah muncul Hiat Ih Hwe!”

“Hingga saat ini tiada seorang pun tahu siapa ketua perkumpulan itu,” ujar Gouw Han Tiong dengan kening berkerut. “Suan Hiang, menurutmu siapa ketua Hiat Ih Hwe itu?"

“Pasti Lu Thay Kam.”

“Lu Thay Kam?” Kening Gouw Han Tiong berkerut lagi. “Apakah dia memiliki kepandaian tinggi?”

“Kepandaiannya memang tinggi sekali.” Yo Suan Hiang memberitahukan. Kalau tidak salah, dia telah menguasai ilmu Ie Hoa Ciap Bok (Memindahkan Bunga Menyambung Pohon).”

“Ilmu apa itu?” Gouw Han hong dan Lim Peng Hang tertegun “Kami belum pernah mendengar tentang ilmu tersebut.”

“Kitab Ie Hoa Ciap Bok disimpan di perpustakaan istana, dan siapa pun tidak tahu bahwa kitab itu merupakan pelajaran ilmu silat yang sangat tinggi Pada suatu hari, Lu Thay Kam memeriksa perpustakaan itu. Ia melihat kitab tersebut, dan karena tertarik maka dibacanya. Setelah itu, ia pun mengambil kitab itu dan terus mempelajarinya.”

“Tahukah engkau berasal dan mana kitab itu?” tanya Lim Peng Hang.



“Tidak tahu.” Yo Suan Hiang menggelengkan kepala dan melanjutkan, “Setelah berhasil menguasai ilmu itu, mungkin Lu Thay Kam mendirikan Hiat Ih Hwe guna membunuh para pembesar, yang setia dan jujur.”

“Itu memang mungkin.” Lim Peng Hang manggut-manggut, kemudian menatapnya dalam-dalam seraya bertanya, “Suan Hiang, apa rencanamu sekarang?"

“Rencanaku adalah membunuh Lu Thay Kam,” jawab Yo Suan Hiang dengan jujur “Tapi sebelumnya aku harus pergi ke kota Hay Hong menemui para kenalan ayahku untuk berunding. Karena aku tidak mau berlaku ceroboh."

“Ngmm!” Lim Peng Hang mengangguk. “Suatu tindakan memang harus diperhitungkan matang-matang. Kalau tidak, malah akan mencelakai diri sendiri”

“Terima kasih atas nasihat Lim Pangcu!” ucap Yo Suan Hiang lalu bangkit berdiri. “Maaf, aku mau mohon diri!”

“Suan Hiang,” pesan Lim Peng Hang. “Apabila engkau membutuhkan bantuan, beritahukanlah kepada kami!”

“Terima kasih, Lim Pangcu! Sampai jumpa!” ucap Yo Suan Hiang lalu meninggalkan markas pusat Kay Pang, dan langsung menuju kota Hay Hong.

-oo0dw0oo-

Beberapa hari kemudian, ketika Yo Suan Hiang mampir di sebuah kedai teh untuk melepaskan dahaga, muncul beberapa orang berpakaian merah, dan mereka langsung mendekati Yo Suan Hiang sambil tertawa-tawa.

“Nona, sendirian nih?” tanya salah seorang dan pemuda sambil menatapnya kurang ajar “Bagaimana kalau kami menemanimu?”

“Siapa kalian?” bentak Yo Suan Hiang dingin.



“Ha ha ha!” Orang-orang berpakaian merah itu tertawa gelak. “Nona belum kenal kami?”

“Aku memang tidak kenal kalian!”

“Kalau begitu....” Salah seorang tadi membusungkan dada

seraya berkata, “Aku memberitahukan, kami adalab anggota Hiat Ih Hwe.”

“Oh?” Yo Suan Hiang tertawa dingin. “Bagus, bagus!” “Memang bagus! Nah, biar kami menemanimu! Ha-ha-ha!”
“Jangan di sini!” ujar Yo Suan Hiang. “Lebih baik kita ke tempat yang sepi.”

“Ke tempat yang sepi?” tanya orang itu sambil tertawa gembira.

“Ya.” Yo Suan Hiang mengangguk.

“Bagus!” Orang itu memandang kawan-kawannya. “Bagaimana? Kalian mau ikut aku ketempat yang sepi menemani nona ini?”

“Tentu,” sahut kawan-kawannya sambit tertawa gelak. “Ayo!ah! Mari kita segera ke tempat yang sepi itu!”

“Kalau begitu....” Yo Suan Hiang bangkit berdiri, sekaligus

membayar minumannya lalu melangkah pergi.

Orang-orang berpakaian merah segera mengikutinya dan belakang sambil berbisik-bisik, dan wajah mereka tampak berseri.

“Karena aku maka dia mau ke tempat yang sepi, jadi aku yang harus lebih dulu bersenang-senang dengan dia.”

“Tidak apa-apa. Yang penting kami dapat bagian. Tapi... apakah dia kuat melayani kita semua?”

“Kuat atau tidak, pokoknya dia harus melayani kita. Ha ha ha!”



Tak seberapa lama kemudian, mereka sudah sampai di tempat yang sepi. Yo Suan Hiang membalikkan badannya, lalu menatap mereka dengan dingin sekali.

Tempat ini memang cocok sekali untuk kalian,” ujarnya sambil menghitung, “Satu, dua tiga, empat, lima! Kalian berlima boleh maju serentak!”

“Apa?!” Kelima orang itu tertegun. “Kami maju serentak? Apakah Nona kuat melayani kami?”

"Hm!” dengus Yo Suan Hiang dingin sekaligus menghunus pedangnya. “Kalian semua harus mampus di sini!”

“Eh?” Mereka terperanjat. “Siapa kau?"

“Kalian tidak perlu tahu!” bentak Yo Suan Hiang. “Cepatlah kalian keluarkan senjata masing-masing!”

Kelima orang itu saling memandang, kemudian mengeluarkan senjata masing~maSing.

“Lihat serangan!” bentak Yo Suan Hiang sekaligus menyerang mereka. Ia mengeluarkan ilmu pedang Cit Loan Kiam Hoat dengan jurus Ban Kiam Hui Thian (Selaksa Pedang Terbang Ke Langit). Tampak pedangnya berkelebatan laksana kilat, dan seketika juga terdengar suara jeritan yang menyayat hati.

"Aaakh! Aaaakh! Aaaakh...!”

Kelima orang itu berlumuran darah. Mereka memandang Yo Suan Hiang dengan mata terbelalak, kemudian roboh dan nyawa mereka pun melayang seketika.

Setelah kelima orang itu roboh, Yo Suan Hiang melesat pergi, dan mayat-mayat itu dibiarkannya tergeletak begitu saja.

-oo0dw0oo-



Yo Suan Hiang memasuki kota Hay Hong disaat hari sudah mulai sore. Ketika ia sedang berjalan, tiba-tiba seseorang menghampirinya seraya berbisik.

"Engkau adalah Nona Yo Suan Hiang, putri almarhum Yo Huai An?"

"Anda. . .?" Yo Suan Hiang tersentak.

"Aku kenalan ayahmu. Mari ikut aku!" bisik orang itu sambil melangkah pergi.

Yo Suan Hiang mengerutkan kening, namun tetap mengikuti orang tersebut dengan was-was.

Berselang beberapa saat, orang itu memasuki sebuah bangunan tua, dan Yo Suan Hiang terus mengikutinya.

Setelah berada di dalam bangunan tersebut, orang itu mendekati dinding lalu menekan sebuah tombol kecil. Seketika dinding itu terbuka, ternyata sebuah pintu rahasia.

“Nona Yo, mari ikut aku ke dalam!” ajak orang itu dan melangkah ke dalam.

Yo Suan Hiang mengikutinya, dan kemudian pintu rahasia itu pun tertutup kembali. Di saat bersamaan, muncullah belasan orang.

“Paman Tan!” seru Yo Suan Hiang girang.

Ternyata ia mengenali salah seorang tua berusia lima puluhan. Orang itu bernama Tan Ju Liang, bekas pengawal ayahnya.

“Nona Yo!” Tan Ju Liang memberi hormat. “Silakan duduk!”

“Terima kasih, Paman Tan!” ucap Yo Suan Hiang sambil duduk. “Oh ya, orang itu....”

“Dia muridku, yang kuutus jemput Nona.” Tan Ju Liang memberitahukan.



“Kok Paman Tan tahu kehadiranku di kota ini?” tanya Yo Suan Hiang heran.

“Salah seorang anak buahku melihatmu, lalu segera ke mari melapor kepadaku, maka kusuruh muridku itu pergi menjemputmu ke mari.” Tan Ju Liang memberitahukan, kemudian memandangnYa seraya bertanya, “Engkau ke mana setelah ayahmu meninggal?”

“Aku pergi ke markas pusat Kay Pang, lalu ke pulau Hong Hoang To belajar ilmu silat, tujuanku untuk membalas dendam,” jawab Yo Suan Hiang dan menambahkan, “Aku datang di kota ini justru ingin menemui para kenalan ayahku untuk berunding. Sungguh kebetulan aku bertemu Paman di sini!”

“Oooh!” Tan Ju Liang manggut-manggut. “Para kenalan ayahmu tersebar di mana-mana. Kini engkau telah ke mari, maka akan kusuruh munidku pergi menghubungi mereka.”

“Terima kasih, Paman Tan!” ucap Yo Suan Hiang.

“Tiang Him,” ujar Tan Ju Liang kepada muridnya. “Cepatlah engkau pergi menghubungi mereka, malam ini mereka harus sampai di sini!”

“Ya, Guru.” Cu Tiang Him memberi hormat lalu meninggalkan ruang itu.

“Nona Yo!” Tan Ju Liang menatapnya seraya bertanya, “Bagaimana kepandaianmu sekarang, apakah sudah tinggi sekali?”

“Cukup tinggi,” jawab Yo Suan Hiang.

“Karena menyangkut urusan yang sangat penting, maka aku akan menguji kepandaianmu. Eng- kau tidak berkeberatan, kan?”

“Tentu tidak.”



“Kalau begitu, mari ketengah-tengah ruangan!” Tan Ju Liang melangkah ke sana, dan Yo Suan Hiang mengikutinya.

Mereka berdua berdiri berhadapan. Tan Ju Liang menatapnya sambil tersenyum dan berkata, “Nona Yo, sebelumnya aku mohon maaf, Sebab aku terpaksa harus menguji kepandaianmu!”

“Tidak apa-apa.” Yo Suan Hiang tersenyum. “Jadi begini saja, aku berdiri di sini, Paman Tan boleh menyerangku.”

“Oh?” Tan Ju Liang tertegun.

“Paman Tan, silakan mengeluarkan senjata, aku akan melayani Paman dengan tangan kosong!” ujar Yo Suan Hiang.

“Nona Yo!” Tan Ju Liang menggeleng~gelengkan kepala. “Jangan dianggap main-main lho!”

“Aku tidak main-main.”

“Kalau begitu....” Tan Ju Liang mengerutkan kening sambil

menghunuS pedangnya. “Nona Yo, hati-hati!”

Yo Suan Hiang tersenyum-SenyUm~ dan tetap berdiri tegak di tempat. Itu membuat terbelalak yang lain, sebab kepandaian Tan Ju Liang cukup tinggi.

“Paman Tan, jangan ragu! Seranglah aku!” ujar Yo Suan Hiang karena melihat Tan Ju Liang ragu menyerangnya.

“Baiklah’” Tan Ju Liang mengangguk, lalu mendadak menyerang Yo Suan Hiang dengan pedangnYa.

“Paman Tan,” ujar Yo Suan Hiang sambil berkelit. “Pergunakan ilmu pedang andalan Paman, jangan menggunakan jurus-jurus biasa!”

"Tapi...." Tan Ju Liang tampak masih ragu.

“Percayalah kepadaku!” ujar Yo Suan Hiang mendesaknya. “Paman Tan harus menyerangku dengan sungguh~sunggu~ bahkan harus pula mengeluarkan ilmu pedang andalan!”



Tan Ju Liang berpikir sejenak, kemudian manggut.manggut seraya berkata serius, “Baiklah! Kalau begitu, engkau barus berhati-hati!”

“Ya.” Yo Suan Hiang tersenyum. “Seranglah!"

Tan Ju Liang mulai mengerahkan lweekangnya, lalu mendadak menyerang Yo Suan Hiang dengan Soan-long Kiam Hoat (Ilmu Pedang Angin Puyuh), mengeluarkan Jurus Soan Hong Soh Te (Angin Puyuh Menyapu Bumi)

Pedang itu berkelebatan dan mengarah ke Yo Suan Hiang, dan menimbulkan suara gemuruh. Sungguh dahsyat dan lihay ilmu pedang tersebut, sahingga yang menyaksikan menjadi tegang Seketika.

Akan tetapi, tiba-tjba Yo Suan Hiang lenyap dan pandangan Tan Ju Liang, itu membuatnya terheran-heran

“Paman Tan!” Terdengar suara Yo Suan Hiang di belakangnya. "Aku berada di sini!”

Kini sadarlah Tan Ju Liang, bahwa Yo Suan Hiang berkepandaian tinggi. Maka, ia segera membalikkan badannya, sekaligus menyerang Yo Suan Hiang dengan jurus Soan Hong Loan Hai (Angin Puyuh Mengaduk Laut).

Mendadak badan Yo Suan Hiang berputar-putar melambung ke atas, sehingga Tan Ju Liang menyerang tempat kosong. Jago tua itu penasaran, kemudian bersiul panjang sambil menyerang Yo Suan Hiang. Kali ini ia mengeluarkan jurus yang paling dahsyat dan lihay, yaitu jurus Soan Hong Cien San (Angin Puyuh Memindahkan Gunung).

Terdengarlah suara gemuruh, pedang itu berkelebatan mengurung sekujur badan Yo Suan Hiang.

Pada saat bersamaan, terdengar pula suara tawa yang amat nyaring, dan tampak badan Yo Suan Hiang berkelebat laksana kilat. Setelah itu kembali diam di tempat semula, sedangkan Tan Ju Liang berdiri terperangah dengan mulut



ternganga lebar. Ternyata pedangnya telah berpindah ke tangan Yo Suan Hiang.

“Nona Yo! Bukan main...,” ujarnya kagum. Terdengar pula tepuk sorak yang riuh gemuruh.

“Maaf, Paman Tan!” Ucap Yo Suan Hiang sambil mengembalikan pedang itu.

“Nona Yo!” Tan Ju Liang menatapnya terbelalak. “Aku tidak menyangka, kalau kepandaianmu begitu tinggi. Kini legalah hatiku.”

“Paman                Tan....” Yo           Suan      Hiang     merendahkan   diri.

“Kepandaianku tidak begitu tinggi, tetapi Paman yang mengalah kepadaku.”

“Ha ha ha!” Tan Ju Liang tertawa gembira. “Nona Yo, kepandaianmu memang tinggi sekali. Aku kagum kepadamu.”

“Paman Tan....” Wajah Yo Suan Hiang kemerah-merahan.

“Nona Yo, mari kita duduk!” ajak Tan Ju Liang. Kemudian ia pun memperkenalkan kawan-kawannya.

“Nona Yo!” seru kawan-kawan Tan Ju Liang. “Kami semua pasti setia kepadamu, kita harus menumpas Hiat Ih Hwe!”

“Terima kasih! Terima kasih..." ucap Yo Suan Hiang terharu. “Kita semua harus bersatu demi menumpas Hiat Ih Hwe.”

“Setuju!” seru mereka semua dengan penuh semangat. “Kita harus menumpas Hiat Ih Hwe!”

-oo0dw0oo-

Setelah larut malam, Cu Tiang Him pulang bersama belasan orang, yang terdiri dari orang tua, anak muda dan beberapa wanita berusia empat puluhan.

“Kami memberi hormat pada Nona Yo!” ucap mereka serentak sambil memberi hormat.



“Jangan sungkan-sungkan!” sabut Yo Suan Hiang sambil tersenyum. "Silakan duduk!"

“Terima kasih!” Mereka segera duduk. Ternyata di antara mereka terdapat mantan pengawal almarhum calon mertua Yo Suan Hiang.

“Kawan-kawan!” Tan Ju Liang mulai membuka mulut. “Perlu kalian ketahui, bahwa kini Nona Yo sudah berkepandaian tinggi. Terus terang, aku telah menguji kepandaiannya. Aku menyerangnya dengan ilmu pedang Soan Hong Kiam Hoat, tapi dengan mudah sekali dia merebut pedangku.”

Belasan orang itu saling memandang, kelihatannya mereka tidak begitu percaya. Tan Ju Liang tertawa, kemudian ujarnya sungguh-sungguh.

“Aku tahu saudara Lim berkepandaian tinggi, maka kurang percaya akan apa yang kukatakan barusan. Namun saudara Lim boleh mengujinya.”

“Paman Tan....” Yo Suan Hiang mengerutkan kening.

“Nona Yo,” ujar Tan Ju Liang. “Biar bagaimana pun engkau harus memperlihatkan kepandaianmu, agar mereka yakin dan mempercayaimu.

Yo Suan Hiang berpikir lama sekali, kemudian dalam hati ia mengakui akan kebenaran ucapan Tan Ju Liang, karena itu ia segera berjalan ke tengah-tengah ruangan.‘Paman-paman,” ujarnya tanpa memperlihatkan keangkuhan. “Aku bersedia diuji.”

“Ha ha ha! Bagus!” Lim Cin An menghampiri Yo Suan Hiang. “Maaf, Nona Yo, aku terpaksa harus menguji kepandaianmu!”

“Silakan Paman Lim!” sahut Yo Suan Hiang.



“Baik.” Lim Cin An menghunus pedangnya.“Nona Yo, engkau menggunakan senjata apa?”

“Pedang,” ujar Yo Suan Hiang sambil menghunus pedangnya. Apabila ia melayani Lim Cin An dengan tangan kosong, tentu akan menyinggung perasaan orang tua itu.

“Paman Lim, silakan menyerang!”

“Hati-hati!” Lim Cin An mengingatkannya,lalu mulai menyerang Yo Suan Hiang dengan ilmu pedang biasa.Yo Suan Hiang berkelit tanpa balas menyerang, sedangkan Tan Ju Liang tersenyum-senyum.

“Saudara Lim! Serang dia dengan ilmu pedang andalanmu, jangan ragu!” seru Tan Ju Liang.

Lim Cin An mengerutkan kening, kemudian mulai menyerang Yo Suan Hiang dengan ilmu pedang andalannya, yakni Hui Yun Kiam Hoat (Ilmu Pedang Lawan Terbang) dengan mengeluarkan jurus Pek Yun Phiau-Phiau (Awan Putih Berterbangan).Pedang Lim Cin An terus berputar bagaikan gulungan awan mengarah ke pinggang Yo Suan Hiang jurus itu memang dabsyat dan lihay. Akan tetapi, mendadak badan Yo Suan Hiang berkelebat laksana kilat, tahu-tahu sudah berada dibelakang mantan pengawal istana berusia lima puluhan itu.

Betapa terkejutnya Lim Cin An! Tanpa melihat ia Iangsung menyerang ke belakang dengan jurus lui Yun Kai Goat (Awan Terbang Menutupi Bulan), menyusul lagi jurus Pek Yun Te (Awan Putih Menutupi Bumi). Perlu diketahui, kedua jurus itu merupakan jurus-jurus simpanannya, yang jarang sekali dikeluarkan, kecuali menghadapi lawan tangguh.

Tentu saja sangat mengejutkan Tan Ju Liang, Cu Tiang Him dan penonton lainnya.

Namun mendadak Yo Suan Hiang bersiul panjang, kemudian pedangnya bergerak cepat sekali dan aneh pula. Itu



membuat mata Lim Cin An berkunang-kunang dan merasa pusing. Ternyata Yo Suan Hiang mengeluarkan Cit Loan Kiam Hoat dengan jurus Ouw Thian Am Te (Langit Hitam Bumi Gelap).

Serrt! Serrt! Serrrrrt...! Terdengar suara sobekan.

“Haaah...!” Seru Lim Cin An kaget dan termundur-mundur. Wajahnya pucat pias dan menatap Yo Suan Hiang dengan mata terbelalak. Suasana diruang itu pun menjadi hening sekali.

Memang mengejutkan, sebab pakaian Lim Cin An terdapat belasan lubang. Dapat dibayangkan, betapa dahsyat dan lihaynya ilmu pedang yang digunakan Yo Suan Hiang.

“Maaf, Paman Lim!” ucap Yo Suan Hiang.

“Ha ha ha!” Lim Cin An tertawa gelak setelah hilang rasa kagetnya. “Nona Yo, kepandaianmu memang tinggi sekali, aku tunduk kepadamu.”

“Paman Lim terlampau mengalah” ujar Yo Suan Hiang sambil tersenyum.Bukan main kagumnya Cu Tiang Him terhadap Yo Suan Hiang, Ia sama sekali tidak menduga bahwa wanita muda itu berkepandaian begitu tinggi, sehingga membuatnya menatap Yo Suan Hiang dengan mata berbinar-binar.

"Ha ha ha!” Tan Ju Liang tertawa. “Mari kita duduk semua, karena Nona Yo ingin berunding dengan kita"

”Semuanya duduk sekaligus memandang Yo Suan Hiang dengan penuh kekaguman, dan mereka tampak tunduk kepadanya.

“Nona Yo, kira-kira apa yang akan dirundingkan?” tanya Lim Cin An.

“Maaf, aku ingin bertanya! Kegiatan apa yang kalian lakukan selama ini?” Yo Suan Hiang balik bertanya.



“Terus terang, kami melakukan pemberontakan” Lim Cin An memberitahukan dengan jujur, “Tapi. . . pihak Hiat Ih Hwe selalu berusaha membunuh kami.”

“Oooh!” Yo Suan Hiang manggut-manggut. “Kalian semua berjumlah berapa orang?”

“Cuma dua puluh lima orang.”

“Paman Lim, aku mempunyai suatu ide.”

“Ide apa?” tanya Lim Cin An dan Tan Ju Liang serentak.

“Bagaimana kalau kita mendirikan sebuah partai?” Yo Suan Hiang menatap mereka. “Kalian setuju?”

“Tentu setuju.” Lim Cin An mengangguk.

“Tapi. kita cuma berjumlah dua puluh lima orang.

“Tidak jadi masalah.” Yo Suan Hiang tersenyum. “Sebab kelak pasti ada pesilat golongan putih bergabung dengan kita.”

“Benar.” Tan Ju Liang manggut.manggut.

“Nona Yo ingin mendirikan partai apa?"

“Tiong Ngie Pay (Partai Keadilan),” jawab Yo Suan Hiang sungguh-sungguh dan menambahkan, “Khususnya menumpas Hiat Ih Hwe, sebab kalau perkumpulan ini tidak ditumpas, nyawa para pejuang pun terancam?"

“Tidak salah.” Lim Cin An mengangguk. “Kita tidak berniat menumbangkan Dinasti Beng, hanya membasmi para Thay Kam jahat dan para menteri, yang bersekongkol dengan bangsa Boan (Manchuria).”

“Benar.” Tan Ju Liang manggut-manggut. “Biar bagaimana pun, kita harus mempertahankan Dinasti Beng, jangan sampai Tionggoan dijajah oleb bangsa Boan.”



“Oleh karena itu...,” ujar Yo Suan Hiang melanjutkan, “Kita harus memilih seorang ketua dan wakil, aku memilih Paman Lim dan Paman Tan....”

“Tidak bisa,” sahut Lim Cin An dan Tan Ju Liang.

“Kenapa?” tanya Yo Suan Hiang heran.

“Kepandaian kami jauh di bawah kepandaianmu, maka alangkah baiknya...” Lim Cin An menatap Yo Suan Hiang. “Nona Yo yang harus menjadi ketua.”

“Benar,” sambung Tan Ju Liang.

“Itu tidak boleh.” Yo Suan Hiang menggelengkan kepala.

“Justru boleb,” sahut Lim Cin An sambil tertawa. “Karena Nona Yo putri mantan menteri, yang amat setia, maka pantas menjadi ketua?"

“Tapi “Yo Suan Hiang tampak ragu.

“Kawan-kawan” seru Tan Ju Liang bertanya. “Bagaimana menurut kalian, setuju atau tidak kalau Nona Yo menjadi ketua Tiong Ngie Pay?”

“Setuju,” sahut mereka semua, dan suara Cu Tiang Him yang paling kencang “Kami semua mendukung.”

“Nah!” Tan Ju Liang tertawa. “Nona Yo, jangan menolak lagi!”

“Baiklah” Yo Suan Hiang mengangguk “Malam ini küresmikan berdirinya Tiong Ngie Pay!"

"Hidup Tiong Ngie Pay! Hidup Tiong Ngie Pay!” seru semua orang dengan penuh semangat.


Seteláh suara seruan membuka mulüt dengan bersumpah setia kepada harus kita pikul bersama!”


itu sirna, barulah Yo Suan Hiang wajah serius. “Kalian semua harus Tiong Ngie Pay, dan senang susah



“Ya.” Mereka mengangguk lalu mengangkat sumpah “Kami semua bersumpah setia kepada Tiong Ngie Pay, hidup dan mati demi Tiong Ngie Pay! Apabila kami berkhianat, pasti mati secara mengenaskan!”

"Bagus!” Yo Suan Hiang manggut.manggut gembira. “Kalian semua harus ingat! Para anggota Tiong Ngie Pay dilarang melakukan kejahatan. Siapa yang melakukan kejahatan harus dihukum.”

“Ya,” sahut mereka semua “Apabila kami melakukan kejahatan, kami bersedia dihukum mati!"

“Terima kasih” ucap Yo Suan Hiang lalu bertanya kepada Tan Ju Liang. “Paman Tan, apakah tempat ini aman dan rahasia?"

“Sangat aman dan rahasia,” jawab Tan Ju Liang dan meñambahkan, “Bahkan di luar pun telah dipasang berbagai macam jebakan.”

“Bagus!” Yo Suan Hiang manggut-manggut. "Oh ya, ada berapa ruangan dalam bangunan ini?”

“Lebih dari sepuluh ruangan.” Tan Ju Liang memberitahukan, “Dan setiap ruangan telah dipasang pintu rahasia dan jebakan.”

"Luar biasa!” Yo Suan Hiang kagum sekali. “Paman Tan, siapa yang~ membikin itu semua?"

“Saudara Kim,”sahut Tan Ju Liang.

"Paman Kim!" seru Yo Suan Hiang.

Seketika juga seorang tua berusia enam puluhan, tampil dan memberi hormat kepada Yo Suan Hiang.

“Ada perintah apa, Ketua?” tanyanya hormat.



Mulai saat ini engkau kuangkat sebagai pelindung markas!" sahut Yo Süan Hiang. "Sebab bangunan ini akan dijadikan markas Tiong Ngie Pay.”

"Terima kasih, Ketua!" ucap Kim Han Siong.

"Paman Kim,si1akan duduk kembali!” ujar Yo Suan Hiang.

“Terima kasih, Ketua!" Kim Han Siong duduk kembali.

“Mulai sekarang...,” ujar Yo Suan Hiang lantang. Paman Tan kuangkat sebagai wakil ketua, sedangkan Paman Lim sebagai pelaksana hukum.”

“Terima kasih, Ketua!” ucap kedua orang itu serentak.

“Paman Kim,” pesan Yo Suan Hiang. “Mulai besok harus memperhatikan tempat-tempat di sekitar bangunan ini.”

“Ya, Ketüa." Kim Han Siong mengangguk. “Aku pasti memasang berbagai macam jebakan disekitar bangunan ini, agar tidak gampang diserbu musuh.”

“Bagus!” Yo Suan Hiang manggut~manggut, kemudian berkata dengan serius. “Terus terang, kepandaian kalian masih rendah. Oleh karena itu, mulai besok kalian harus giat berlatih. Untuk sementara ini jangan berurusan dengan pihak ‘Hiat Ih Hwe, sebab kalian harus memperdalam ilmu silat masing-masing!”

"Terima kasih, Ketua!” sahut para anggotä itu serentak.

“Paman Tan, Paman Lim dan Saudara Cu,” ujar Yo Suan Hiang. “Mulai besok aku akan mengajar kalian ilmu silat tingkat tinggi"

“Terima kasih, Ketua!” ucap mereka bertiga, dan yang paling gembira adalah Cu Tiang Him.

“Cu Tiang Him!” panggil Yo Suan Hiang mendadak.

“Ya,” sahut Cu Tiang Him sambil memberi hormat. “Ada perintah apa, Ketua?"



“Engkau kuangkat sebagai kepala regu, maka engkau harus mengajar mereka ilmu silat yang kuajarkan kepadamu,”sahut Yo Suan Hiang.

“Ya, Ketua.” Cu Tiang Him memberi hormat.

“Paman Tan,” ujar ‘Yo Suan Hiang. “Harus diatur beberapa ruangan untuk mereka, sebab sementara ini mereka harus tinggal di sini untuk memperdalam ilmu silat masing-masing.”

“Baik, Ketua.” Tan Ju Liang mengangguk. “Akan kuatur itu, dan harus ada kamar khusus untuk Ketua.”

“Terima kasih, Paman Tan!” ucap Yo Suan Hiang sambil tersenyum.

“Tiang Him,” pesan Tan Ju Liang. “Aturlah mereka ke ruang tengah!”

“Ya, Guru.” Cu Tiang Him rnengangguk.

“Ketua,” ujar Tan Ju Liang hormat. “Mari ikut aku ke dalam!”

“Terima kasih, Paman Tan!” ucap Yo Suan Hiang dan kemudian mengikuti Tan Ju Liang kedalam. Sejak malam itu, lahirlah Tiong Ngie Pay (Partai Keadilan) dalam rimba persilatan.

-oo0w0oo-


Jilid 2


Bagian Ke Enam

Mengabdi pada Lu Thay Kam.


Lie Man Chiu, yang meninggalkan anak isteri itu terus melakukan perjalanan. Ia telah melupakan anak isterinya yang



di Pulau Hong Hoang To, juga melupakan wejangan-wejangan Tayli Lo Ceng, gurunya.

Sejak Bu Lim Sam Mo mati di tangan Tio Cie Hiong, hati Lie Man Chiu terganjel sesuatu. Ternyata ia merasa dengki terhadap Tio Cie Hiong, yang disanjung-sanjung kaum rimba persilatan. Namun karena pada waktu itu ía sangat mencintai Tio Hong Hoa, maka ikut ke Pulau Hong Hoang To, sekaligus melangsungkan pernikahan di pulau tersebut.

Akan tetapi, rasa dengkinya terhadap Tio Cie Hiong semakin menjadi, karena semua orang sangat menghormati Tió Cie Hiong. Padahal ía sudah mempunyai seorang putri, namun dengkinya justru membangkitkan ambisinya, yakni harus menyamai Tio Cie Hiong. Karena itulah ía mengambil keputusan harus meninggalkan anak isteri, demi mengorbitkan namanya agar tenar dalam rimba persilatan.

Lie Man Chiu melakukan perjalanan dari desa ke desa, dan kota ke kota, akhirnya tiba di kota, yang indah dan penuh dengan bangunan mewah. Menyaksikan keadaan itu, ía sangat tertarik akan kemewahan dan kesenangan hidup.

Ketika ia berjalan santai di pinggir jalan, tiba-tiba para penduduk ibu kota minggir semua.

Ternyata muncul pasukan pengawal istana, dan tampak empat pengawal menggotong sebuah tandu mewah.

Seketika para penduduk ibu kota memberi hormat ke arah tandu itu, tentunya membuat Lie Man Chiu terheran-heran. Namun ía yakin, bahwa yang duduk di dalam tandu itu pasti pejabat tinggi. Timbullah suatu perasaan aneh dalam hatinya, yakni ingin rasanya duduk di dalam tandu mewah itu dan dihormati semua orang.

Di saat bersamaan, mendadak muncul tiga orang berusaha mendekati tandu mewah itu. Sudah barang tentu mereka dihadang oleh para pengawal istana itu, sehingga terjadilah pertempuran sengit.



“Kami adalah anggota Tiong Ngie Pay, harus menumpas Thay Kam jahat!” teriak ketiga orang itu sambil menyerang para pengawal istana.

Ketiga orang itu memang berkepandaian tinggi. Terbukti para pengawa! istana itu mulai kewalahan melawan mereka, bahkan sudah ada yang mati pula.

Sementara Lie Man Chiu manggut-manggut sambil menyaksikan pertempuran itu, sekaigus membatin. "Inilah kesempatanku untuk berkenalan dengan para pejabat tinggi itu, siapa tahu kelak aku Juga akan menjadi pejabat tinggi!”

Seusai membatin, ía tersenyum sambil melesat ke arah ketiga orang itu. "Sungguh berani kalian ingin membunuh pejabat kerajaan!” bentaknya.

"Siapa Anda?" tanya salah seorang dan mereka sambil mengerutkan kening.

“Kalian tidak perlu tahu aku siapa!” bentak Lie Man Chiu dingin,

"Anda harus tahu, kami adalah anggota Tiong Ngie Pay!" orang itu memberitahukan.

"Aku tidak perduli!” sahut Lie Man Chiu dan menambahkan sambil menghunus Thian Liong Po Kiam (Pedang Pusaka Naga Kahyangan). “Kalian bertiga harus mampus!”

Ketiga orang itu saling memandang, kemudian menyerang Lie Man Chiu serentak. Lie Man Chiu tertawa dingin. Ia menangkis sekaligus balas menyerang dengan pedang pusakanya.

Sementara gordyn tandu mewah itu terbuka sedikit, dan tampak sepasang mata menyorot tajam ke arah Lie Man Chiu.

“Aaaakh! Aaakh! Aaaakh...!” Terdengar suara jeritan. Ternyata ketiga orang itu telah roboh bermandi darah, dan nafas mereka pun putus seketika.



“Terima kasih, hiapsu (Pendekar)!” ucap komandan pengawal istana sambil memberi hormat.

“Sama-sama,” sahut Lie Man Chiu dan balas memberi hormat.

“Hiapsu, Anda harus menemui majikan kami,” ujar komandan pengawal istana sambil tersenyum.

“Terima kasih!” ucap Lie Man Chiu kemudian mengikutinya.

“Lu Kong Kong!” lapor komandan pengawal istana sambil memberi hormat ke arah tàndu itu.

“Hiapsu ini tetah membantu kita membunuh tiga orang Tiong Ngie Pay.”

Lie Man Chiu tersentak ketika mendengar komandan pengawal istana memanggil Lu Kong Kong kepada orang yang di dalam tandu. Karena ia telah mengetahui Lu Thay Kam, yang sangat berkuasa itu, maka segeralah ia memberi bormat. “Hamba memberi hormat kepada Lu Kong Kong!”

“Ha ha ha!” Terdengar suara tawa gelak didalam tandu. “Bagus, bagus! Engkau telah berjasa, maka engkau boleh ikut ke tempat tinggalku! Berangkat!”

Para pengawal istana langsung berjalan, dan Lie Man Chiu berjalan di sisi tandu dengan wajah berseri. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa akan bertemu Lu Thay Kam tersebut, dan timbul pula suatu harapan dalam hatinya.

-oo0dw0oo-

Mereka telah sampai di tempat tinggal Lu Thay Kam, yakni istana bagian barat. Tempat tinggal Lu Thay Kam itu sangat megah. Di halãmannya tampak taman bunga yang indah, sehingga Lie Man Chiu terpesona begitu melihatnya.

Lu Thay Kam melangkah turun dan tandu, kemudian menatap tajam ke arah Lie Man Chiu. Setelah itu, barulah ia melangkah memasuki istana seraya berkata, “Mari ikut aku!”



“Ya, Lu Kong Kong.” Lie Man Chiu memberi hormat kemudian mengikutinya, dan para pengawal langsung memberi hormat kepada mereka.

Lu Thay Kam mengajak Lie Man Chiu ke sebuah ruangan yang sangat besar, kemudian setelah duduk barulah menyuruh Lie Man Chiu duduk.

“Terima kasih!” ucap Lie Man Chiu sambil duduk.

“Siapa namamu?” tanya Lu Thay Kam sambil menatapnya tajam.

“Nama hamba Lie Man Chiu,” jawabnya memberitahukan. “Hamba sudah yatim piatu.”

“Kenapa engkau mau membantu para pengawal istana membunuh para anggota Tiong Ngie Pay itu?”

“Karena mereka berniat coba-coba membunuh Lu Kong Kong, maka hamba harus turun tangan membunuh mereka.

“Bagus, bagus! Ha ha ha!” Lu Thay Kam tertawa gelak. “Hatimu cukup kejam, sungguh mengagumkan!”

“Terima kasih atas pujian Lu Kong Kong!” ucap Lie Man Chiu sambil memberi hormat.

“Lie Man Chiu!” panggil Lu Kong Kong berwibawa.

“Ya, Lu Kong Kong,” sahut Lie Man Chiu cepat.

“Tentunya engkau ingin hidup senang dan mewah, bukan?” Lu Thay Kam menatapnya dalam-dalam.

“Hamba berterima kasih sekali, apabila Lu Kong Kong bersedia mengatur itu untuk bamba.”

“Ha ha ha!” Lu Thay Kam tertawa gelak. “Jadi engkau ingin mengabdi kepadaku? Terus teranglah!”

“Ya, Lu Kong Kong.”



“Ngmm!” Lu Thay Kam manggut~manggut. “Kepandaianmu cukup tinggi, kebetulan aku memang membutuhkan seorang pembantu.”

“Terima kasih, Lu Kong Kong!” Lie Man Chiu girang bukan main.

“Engkau jangan bergirang dulu!” tandas Lu Thay Kam dan melanjutkan, “Sebab tidak gampang engkau menjadi pembantuku.”

“Kenapa?"

“Kalau engkau mampu menyambut tiga jurus seranganku, barulah kuterima sebagai pembantu?”

“Lu Kong Kong, hamba bersedia menerima tiga jurus serangan Lu Kong Kong.”

“Ha ha ha!” Lu Thay Kam .tertawa gelak. “Berhati-hatilah!”

“Ya, Lu Kong Kong.” Lie Man Chiu mengangguk, lalu berjalan ke tengah-tengah ruangan itu.

Lu Thay Kam bangkit berdiri, kemudian berjalan perlahan-lahan mendekati Lie Man Chiu. “Aku akan menyerangmu dengan pukulan, engkau boleh berkelit maupun menangkis.” Lu Thay Kam memberitahukan. “Apabila engkau sanggup menerima tiga jurus pukulanku, maka kuterima engkau sebagai pembantu.”

“Ya, Lu Kong Kong.”

“Hati-hati!” Lu Thay Kam mengingatkannya sambil menyerang. “Jurus pertama!”

Lie Man Chiu segera mengerahkan Hud Bun Pan Yok Sin Kang, sekaligus berkelit. Akan tetapi, Lu Thay Kam pun menyerangnya lagi.

Kali ini Lie Man Chiu tidak sempat berkelit, maka terpaksa menangkis pukulan yang dilancarkan Lu Thay Kam.



“Daaar...? Terdengar suara benturan keras.

Lu Thay Kam tetap berdiri di tempat, sedangkan Lie Man Chiu terhuyung~hUyUng ke belakang beberapa langkah.

“Bagus!" Lu Thay Kam tertawa. “LweekangmU cukup dalam! Coba sambut jurus terakhir ini!”

Betapa terkejutnya Lie Man Chiu ketika menangkis pukutan Lu Thay Kam, karena ia merasa dadanya sesak Kim Lu Thay Kam menyerangnya lagi, Lie Man Chiu segera mengerahkan Hud Bun Pan Yok Sin Kang hingga ke puncaknya, lalu menangkis dan terdengarlah suara benturan keras.

Daaar...!

Lu Thay Kam terhuyung-huyung selangkah ke belakang, tapi sebaliknya Lie Man Chiu malah terpental beberapa depa, namun tidak mengalami luka dalam.

“Ha ha ha!” Lu Thay Kam tertawa gelak. “Bagus, bagus! Ternyata engkau sanggup menerima tiga jurus pukulanku, maka kuterima engkau sebagai pembantu.”

“Terima kasih, Lu Kong Kong!” ucap Lie Man Chiu dengan wajah berseri, tapi terkejut bukan main dalam hati, karena tidak menyangka kalau Lu Thay Kam berkepandaian begitu tinggi.

“Duduk!ah!” ujar Lu Thay Kam setelah duduk di kursi kebesarannya.

“Terima kasih, Lu Kong Kong!” Lie Man Chiu segera duduk.

“Lweekangmu cukup dalam,” ujar Lu Thay Kam sambil menatapnya tajam. “Tapi engkau harus tahu, bahwa aku cuma mengerahkan tujuh bagian lweekangku, Apabila kukerahkan seluruhnya, engkau pasti sudah jadi mayat.”

“Ya.” Lie Man Chiu mengangguk.



“Engkau sebagai pembantuku, tentunya juga harus berkepandalan tinggi,” ujar Lu Thay Kam sungguh-sungguh. “Oleh karena itu, mulai besok aku akan mengajarmu Ie Hoa Ciap Bok Sin Kang, Ciang Hoat dan Kiam Hoat. Setelah engkau menguasai ilmu tersebut, mungkin aku akan mengangktmu sebagai wakilku.”

"Terima  kàsih,  Lu  Kong  Kong!  Terima  kasih....”  Dapat

dibayangkan, betapa girangnya Lie Man Chiu, karena memang ini yang diharapkannya

“Tapi engkau harus ingat!” Lu Thay Kam menatapnya tajam. “Apabila engkau berani berkhianat, engkau pasti mati di tanganku!”

“Lu Kong Kong,” ujar Lie Man Chiu cepát. “Hamba pasti setia kepada Lu Kong Kong.”

“Bagus!” Lu Thay Kam tertawa. “Tahukah engkau, bahwa di dalam rimba persilatan terdapat Hiat Ih Hwe?”

“Hamba pernah mendengar tentang itu, namun hamba tidak tahu siapa ketuanya,” sahut Lie Man Chiu dengan jujur.

“Akulah ketua Hiat Ih Hwe.” Lu Thay Kam memberitahUkan, “Karena itu, engkau harus menjadi wakilku.”

“Terima kasih, Lu Kong Kong!”

“Engkau juga harus ingat, tidak boleh berkeluyuran di dalam istana ini!” pesan Lu Thay Kam. “Engkau boleh jalan-jalan di halaman ruangan ini dan kamarmu. Tetapi tidak boleh ke dalam.”

“Hamba pasti ingat akan pesãn Lu Kong Kong." Lie Man Chiu berjanji.

“Bagus!” Lu Thay Kam tertawa gelak, kemudian bertepuk tangan tiga kali.



Tak lama kemudian muncullah seorang dayang yang cantik manis, lalu memberi hormat kepada Lu Thay Kam dan Lie Man Chiu,

"Ada perintah apa, Lu Kong Kong?" tanya dayang itu.

"Mulai sekarang, engkau dan para dayang lainnya harus memanggil Lie Man Chiu, tuan muda.” Lu Kong Kong memberitahukan.

“Ya, Lu Kong Kong." Dayang itu mengangguk.

“Tuan muda, terimalah hormatku!"

"Ini. . .” Lie Man Chiu tampak salah tingkah,

“Ha ha ha!" Lu Thay Kam tertawa terbahak-bahak. "Man Chiu, mulai sekarang engkau adalah tUan muda disini. Maka engkau boleb bersenang-senang dengan dayang, yang mana pun.!"

"Ya, Lu Kong Kong." Lie Man Chiu mengangguk.

"Bwee-ji, antar tuan muda ini kekamar." ujar Lu Thay Kam.

"Ya, Lu Kong Kong." Dayang yang dipanggil Bwee-ji itu mengangguk. "Tuan muda silakan ikut aku."

"Lu konng Kong, hamba mohon diri!” ucap Lie Man Chiu lalu mengikuti dayang itu menuju kamar.

Lu Thay Kam memandang punggung Lie Man Chiu kemudian manggut-manggut sambil tersenyum, Setelah itu, ia pun meninggaikan ruangan itu menuju dalam.

0oo0dw0oo0

Seorang gadis cantik manis sedang berlatih ilmu pukutan di halaman tengah. Anak gadis itu berusia sembi1an tahunan, namun pukuIan.pukulannya yang dilancarkannya sungguh hebat, bahkan menimbulkan suara menderu-deru.



Siapa anak gadis itu? Ternyata putri angkat Lu Thay Kam, yang bernama Lu Hui San. Ketika gadis kecil itu berusia tiga tahun, Lu Thay Kam membawanya ke istana ini.

"San San!” panggil Lu Thay Kam sambil mendekatinya.

“Ayah!” sahut Lu Hui San dan langsung mendekap di dada Lu Thay Kam. “Ayah dari mana? Kok tadi tidak kelihatan sih?”

“Tadi ayah pergi karena dda sedikit urusan."

“Ayah....” Lu Hui San menatapnya. "Ayah pergi membunuh

orang ya?”

“San San!” Lu Thay Kam menggeleng-gelengkan kepala. “Ayah bukan seorang pembunuh, bagaimana mungkin selalu membunuh orang?"

“Ayah," ujar Lu Hiu San. “Tidak baik membunuh orang, Thian (Tuhan) akan marah lho!"

“Ha ha ha!” Lu Thay Kam tertawa gelak sambil memmbe1ainya. “Ayah tidak sembarangan membunuh orang, yang ayah bunuh itu adalah para penjahat."

“Oh?” Lu Hui San. tersenyum. “Ayah...."

“Ada apa?” tanya Lu Thay Kam lembut..

“Kenapa San San tidak boleh pergi jalan-jalan? San San merasa bosan sekali terus diam didalam istana, setiap hari cuma melatih ilmu silat.”

“San San!” Lu Thay Kam tersenyum. “Setelah engkau dewasa kelak, tentunya engkau boleh pergi jalan-jalan. Tapi sekarang engkau masih kecil, maka tidak boleh pergi ke mana-mana. Ayah mengajarmu ilmu silat, agar engkau memiliki kepandaian tinggi, mungkin bisa membantu ayah kelak.”

“San San mau pergi berkelana, tidak mau terus diam di dalam istana ini. San San sudah bosan...”



“San San!” Lu Thay Kam membelainya. “Setelah engkau dewasa, tentunya engkau boleh pergi berkelana. Tapi sekarang engkau harus giat benlatih.”

“Ya, Ayah.” Lu Hui San mengangguk.

“San San, engkau terus berlatih di sini, ayah mau pergi menghadap Kaisar,” ujar Lu Thay Kam menambahkan, “Oh ya, kini ayah sudah punya seorang pembantu, namanya Lie Man Chiu!”

“Ayah!” Wajah Lu Hui San tampak berseri “San San boleh pergi menemuinya?”

“Tunggu ayah kembali, ayah akan memperkenalkan kalian,” sahut Lu Thay Kam lalu melangkah pergi, sedangkan Lu Hui San mulai berlatih lagi.

Bwee-ji, dayang yang cantik manis itu mengantar Lie Man Chiu ke sebuah kamar yang sangat indah dan mewah, tentunya menggirangkan Lie Man Chiu. Ia menengok ke sana ke mari setelah memasuki kamar itu, kemudian duduk dengan cèrah ceria.

“Bagaimana?” tanya Bwee-ji sambit tersenyUm. Tuan muda suka kamar ini?”

"Suka sekali." Lie Man Chiu mengangguk.

"Oh ya." Bwee ji menatapnya, "Mulai sekarang semua dayang yang ada di sini pasti mentaati perintah Tuan muda, jadi Tuan muda mau makan dan minum apa, cukup memesan kepada kami saja, Apabila Tuan muda mau mendengarkan musik dan menyaksikan tarian, beritahukan kepadaku!’

“Terima kaSih’” ucap Lie Man Chiu sambil tertawa gembira. Ia tidak menyangka nasibnya begitu beruntung, hidup senang dan mewah setelah bertemu Lu Thay Kam.

"Tuan muda!“ Bwee-ji memberitahUkan dengan wajah ke-merah2an. “Di istana barat ini terdapat puluhan dayang muda



yang cantik-cantik. Tadi Lu Kong Kong sudah bilang,kalau Tuan muda menyukai yang mana, boleh bersenang~senang dengan dia.”

“Artinya bersenang-senang itu?” tanya Lie Man Chiu.

“Artinya....” Wajah Bwee-ji bertambah merah.

"Masa Tuan muda tidak tahu, jangan berpura-pura ah!"

"Aku sungguh tidak tahu," sahut Lie Man Chui, "Jadi bukan ber-pura2."

"Arti ber-senang2 itu. . ." ujar Bwee-ji sambil menundukkan kepala, "Tuan muda menunjuk dayang yang mana, dia pasti akan menemani Tuan muda."

"Oooh!' Lie Man Chui manggut-manggut. "Bukankah saat ini engkau sedang menemaniku?"

"Tuan muda. . ." Bwee-ji menatapnya sambil tertawa geli, "Kok tidak tahu maksudku sih?"

"Apa maksudmu?"

"Maksudku. . . dayang-dayang disini siap menemani Tuan muda tidur. Tuan muda sudah mengerti?"

"Menemaniku tidur?" Lie Man Chui terbelalak.

"Ya." Bwee-ji mengangguk.

"Jadi boleh. . .boleh berbuat itu pula?" tanya Lie Man Chiu agak tergagap, "Maksudnya berhubungan intim dengan dayang manapun."

"Karena tadi Lu Kong Kong telah berpesan begitu, maka. .

.boleh." sahut Bwee-ji dengan malu-malu.

"Oooh!" Lie Man Chiu manggut-manggut, namun ia sama sekali tidak bernafsu untuk itu, sebab ia hanya berambisi mengangkat tinggi namanya.



Disaat bersamaan, muncul seorang dayang menatap Lie Man Chiu sambil tersenyum manis dan memberitahukan. "Lu Kong Kong memanggil Tuan muda keruang khusus."

"Ruang khusus?" Lie Man Chiu tercengang. "Ruang tadi itu." Bwee-ji memberitahukan. "Mari kuantar Tuan muda kesana." "Terima kasih!" ucap Lie Man Chiu.
Bwee-ji mengantarnya keruang khusus itu, lalu meninggalkannya. Lie Man Chiu melangkah kedalam. Ia melihat Lu Kong Kong duduk disitu, dan disisinya berdiri seorang gadis kecil.

Ketika melihat gadis kecil itu, Lie Man Chiu teringat pada putrinya, namun hanya sekilas.

"Hamba memberi hormat kepada Lu Kong Kong!" ucap Lie Man Chiu sambil memberi hormat.

"Duduklah!" sahut Lu Thay Kam.

"Terima kasih!" Lie Man Chiu duduk.

Sementara gadis kecil itu terus memandangnya, kemudian ter-senyum2 seraya bertanya kepada Lu Thay Kam.

"Ayah! Dia adalah Paman Lie?"

"Ng?" Lu Thay Kam mengangguk dan memperkenalkan putri angkatnya, "Man Chiu, gadis kecil ini adalah putriku."

"Nona kecil, terimalah hormat paman!" Lie Man Chiu memberi hormat kepada Lu Hui San.

"Hi hi!" Gadis kecil itu tertawa, "Kenapa Paman Lie memberi hormat pada San San? San San masih kecil lho?"

“Nona kecil adalah putri Lu Kong Kong," sahut Lie Man Chiu sambil tersenyum. “Maka paman harus memberi hormat kepada Nona kecil.”



“Paman Lie!” Lu Hui San tertawa kecil. “Mulai sekarang, paman tidak usah panggil San San nona kecil, cukup panggil San San saja.”

“Itu....” Lie Man Chiu memandang Lu Thay Kam.

“Itu kemauan putriku, turuti saja!” ujar Lu Thay Kam.

"Ya, Lu Kong Kong.” Lie Man Chiu mengangguk.

“Baiklah.” Lu Thay Kam bangkit berdiri. “AkU mau ke kamar, engkau temani putriku!”

“Ya, Lu Kong Kong,” sahut Lie Man Chiu sambil berdiri, dan setelah Lu Thay Kam meninggalkan ruang itu, barulah Ia duduk kembali.

“Paman Lie....” Lu Hui San menatapnya.

“Ada apa, San San?” tanya Lie. Man chiu lembut.

“Berapa sih usia Paman?”

“Tiga pulub lebih.”

“Kalau begitu....” Lu Hui San tersenyum. “Paman Lie pasti

sudah punya anak isteri. Ya, kan?” “Ya."

“Anak laki laki atau anak perempuan?” "Anak perempuan." . “Berapa usianya?"

“Sembilan tahun.”

“Oh?” Lu Hui San tersenyum. “Sama dengan San San, dia pasti cantik, kan?”

“Ya."

“Paman Lie tinggal di mana?”

“Di pulau Hong Hoang To.”



“Pulau Hong Hoang To?” Lu Hui San tampak berpikir. “Tentu jauh sekali dan sini.”

“Memang jauh sekali.” Lie Man Chiu mengangguk dan menambahkan, “Pulau itu indah sekali, terdapat burung phoenix, yang langka.”

“Oh?” Wajah Lu Hui San berseri. “Kalau Paman sempat, bolehkah ajak San San ke sana?”

“San San masih kecil, belum boleh bepergian jauh."

“Setelah San San dewasa kelak, maukah Paman ajak San San ke pulau Hong Hoang To itu?”

“Itu adalah urusan kelak, tidak usah dibicarakan sekarang,” sahut Lie Man Chiu sambil tersenyum.

“Paman Lie....” Mendadak Lu Hui San menatapnya dengan

mata tak berkedip. “Isteni Paman masih hidup?” Lie Man Chiu manggut~manggUt.

“Kalau begitu....” Lu Hui San mengerutkan kening. “Kenapa

Paman tega meninggalkan mereka?"

“Aku ingin mencani nama di ibu kota, maka terpaksa harus meninggalkan mereka. Namun kelak... aku akan kembaljike pulau itu.”

“Paman Lie “ Lu Hui San menatapnya lagi, “Tidak rindu pada anak isteri”

“Aku....” Pertanyaan itu sudah barang tentu membuat Lie

Man Chiu rindu kepada anak isterinya! Akan tetapi, itu pun hanya sekilas.

“San San yakin... putri Paman pasti rindu sekali kepada Paman,” ujar Lu Hui San.

“Entahlah. . . .”



“Kelihatannya....”  Lu  Hui  San  menatapnya  dalam-dalam

“Paman berhati kejam.”

“Kenapa San San berkata begitu?” Lie Man Chiu mengerutkan kening.

“Karena... Pama~ cuma ingin cari nama, tapi tega meninggalkan anak isteri. Bukankah itu kejam sekali? Jadi nama yang lebih penting daripada anak isteri?”

“San  San....”  Air  muka  Lie  Man  Chiu  berubah,  namun

kemudian menghela nafas panjang. “Engkau masih kecil, tidak tahu urusan orang.”

“Tentu tahu,” sahut Lu Hui San. “Sebab San San sering membaca buku, orang yang paling kejam di dunia adalah lelaki yang tega meninggalkan anak isteri. Itu adalah lelaki yang tak punya perasaan, tak punya nurani dan tak punya... kasih sayang.”

“San San!” Lie Man Chiu terbelalak. Ia tak menyangka anak sekecil itu dapat mencetuskan ucapan seperti itu. “Engkau harus tahu, pendirian orang tidak sama. Lagi pula setiap orang pasti mempunyai ambisi, begitu pula Paman.”

“Sungguh kasihan anak isteri Paman!” ujar Lu Hui San sambil bangkit berdiri, kemudian menatapnya dingin seraya berkata, “San San mau kedalam, San San tidak mau mengobrol dengan paman yang telah melupakan anak isteri”

Lu Hui San meninggalkan ruang itu. Lie Man Chiu termangu-mangu, akhirnya ia kembali ke kamarnya. Bwee-ji, dayang yang cantik manis itu menyambutnya dengan senyum lembut, lalu menyugühkan minuman dan berbagai macam hidangan lezat.

-oo0dw0oo-

Di ruang tengah markas Tiong Ngie Pay, tampak Yo Suan Hiang duduk dengan wajah serius. Di sisi kiri kanannya duduk Tan Ju Liang, Lim Cin An dan Cu Tiang Him. Para anggota



berdiri diam dengan kepala tertunduk, begitu pula tiga anggota yang berdiri di hadapan Yo Suan Hiang, wajah mereka bertiga tampak berduka.

“Kenapa kalian tidak mencegah mereka bertiga itu?” tanya Yo Suan Hiang sambil menggeleng-gelengkan kepala.

“Kami telah berusaha mencegah, tapi... mereka bertiga bilang itu adalah kesempatan untuk membunuh Lu Thay Kam,” sahut salah seorang anggota dan menghela nafas panjang. Ternyata mereka melapor tentang kejadian këtiga teman yang dibunuh Lie Man Chiu.

“Kalian tidak kenal siapa lelaki itu?” tanya Yo Suan Hiang dengan kening berkerut.

“Tidak kenal sama sekali. Kami hanya tahu lelaki itu masih muda berusia tiga puluhan, kepandaiannya tinggi sekali!”

“Kalian memang ceroboh.” Yo Suan Hiang mengge1eng-gelengkan kepala. “Aku telah berpesan, jangan coba-coba mencari Lu Thay Kam. Sebab kepandaiannya sangat tinggi sekali, akupun tidak sanggup melawannya.”

“Kami mengaku salah, mohon Ketua menghukum kami!”

“Sudahlah" Lain kali kalian harus hati-hati. Kali ini aku memaafkan kesalahan kalian. Ingat jangan mati sia-sia!” sahut Yo Suan Hiang.

“Terima kasih, Ketua!” ucap mereka bertiga sambil memberi hormat.

“Kalian bertiga boleh kembali ke tempat.”

“Terima kasih, Ketua!” Mereka bertiga memberi hormat lalu kembali ke tempat masing-masing

“Ketua,” tanya Tan Ju Liang. “Betulkah Ketua tidak sanggup melawan Lu Thay Kam?’

"Betul? Yo Suan Hiang mengangguk.



“Ketua,” tanya Lim Cin An. “Kira-kira siapa yang dapat melawannya?”

“Hanya ada dua orang yang dapat melawannya," jawab Yo Suan Hiang memberitahukan. “Yaitu Tio Cie Hiong dan Tayli Lo Ceng.”

“Tio Cie Hiong?” Lim Cin An agak terbelalak, “Bukankah dia Pek Ih Sin hap yang sangat kesohor itu?”

"Benar. Memang dia. Tapi... dia tidak mau mencampuri urusan rimba persilatan lagi, melainkan hidup tenang dan bahagia di Pulau Hong Hoang To bersama anak isterinya.”

“Lalu bagaimana dengan Tayli Lo Ceng?” tanya Tan Ju Liang.

“Padri tua itU pun tidak mau lagi mencampuri urusan persilatan,” sahut Yo Suan Hiang. “Begitu pula guruku.”

“Bagaimana kepandaian gurumu dibandingkan dengan Lu Thay Kam?” tanya Lim Cin An mendadak.

“Mungkin...,” pikir Yo Suan Hiang sejenak. “Mungkin... setanding, karena guruku memiliki Kiu Yang Sin Kang.”

“Kalaü Tio Cie Hiong melawan Lu Thay Kám? tanya Tan Ju Liang.

“Tio Cie Hiong pasti menang,” sahut Yo Suan Hiang. “Sebab kepandaiannya sulit diukur berapa tinggi. Terus terang, Cit Loan Kiam Hoat adalah ilmu pedang ciptaannya.”

“Oh?” Tan Ju Liang terbelalak. “Berarti dia telah menjadi maha guru, padahal dia masih muda.”

“Dia mempunyai anak?” tanya Lim Cin An.

“Cuma mempunyai anak satu, namanya Tio Bun Yang.” Yo Suan Hiang memberitahukan dengan nada kagum. “Anak itu sungguh cerdas, bahkan melebihi ayahnya.”

“Oh?” Lim Cin An menatap Yo Suan Hiang.



“Alangkah baiknya dia bersedia membantu kita kelak!”

“Aku pun telah berpikir begitu,” ujar Yo Suan Hiang. “Mudah-mudahan dia bersedia membantu kita kelak!”

“Tapi kapan dia akan berkecimpung dalam rimba persilatan?” tanya Lim Cin An seakan bergumam.

“Masih lama, sebab kini usianya baru sepuluh tahun.”

Yo Suan Hiang tersenyum. “Sepuluh tahun lagi, aku yakin kepandaiannya boleh dikatakan tiada tanding?“

Kalau begitu...,” ujar Tan Ju Liang. “Dia pasti dapat mengalahkan Lu Thay Kam.”

“Aku yakin itu.” Yo Suan Hiang manggut-manggut. “Oh ya, Paman Tan harus memberi pesan kepada para anggota.”

“Pesan apa?”

"Apabila mereka tidak sanggup melawan pihakk Hiat Ih Hwe, harus berusaba meloloskan diri jangan mati sia-sia.”

"Ketua!” Tan Ju Liang menggeleng~gelengkan kepala, "Apabila mereka tidak sanggup melawan, tentunya sulit pula untuk meloloskan diri."

“Itu. . ." Yo Suan Hiang mengerutkan kening, kemudian mendadak teringat sesuatu, yang membuat wajahnya berseri. “Aku akan mengajar Paman Tan, Paman Lim dan Saudara Cu ilmu Kiu Kiong San Tian Pou."

“Ilmu apa itu?” tanya Tan Ju Liang.

“Itu ilmu langkah kilat,” jawab Yo Suan Hiang memberitahukan. “Tio Cie Hiong menurunkan ilmu tersebut kepadaku, dan mulai besok akan kuajarkan kepada kalian!”

“Terima kasih, Ketua!” ucap mereka bertiga serentak.

“Setelah kalian menguasai Kiu Kiong San Tian Pou, kalian pun harus mengajarkan kepada para anggota kita,” pesan Yo



Suan Hiang dan menambahkan, “Itu merupakan ilmu untuk meloloskan diri.”

“Ya, Ketua” Mereka bertiga mengangguk

“Oh ya’” Yo Suan Hiang menatap Tan Ju Liang seraya berkata. “Apabila ada kaum pesilat yang ingin bergabung jadi anggota kita, Paman Tan harus menyeleksi dengan cermat, jangan sembarangan menenima mereka!"

“Ya, Ketua.” Tan Ju Liang mengangguk.

"Mulai besok aku akan mengajar kalian Kiu Kiong San Tian Pou, bahkan juga akan mengajar kalian ilmu pedang Hong Hoang Kiam Hoat,’ ujar Yo Suan Hiang memberitahukan. “Setelah itu, kalian pun harus mengajarkan kepada para anggota kita."

“Ya, Ketua.” sahut mereka bertiga dengan wajah berseri. "Terima kasih atas kebaijaksanaan Ketua!”

“Tidak usah mengucapkan terima kasih,” sahut Yo Suan Hiang sambil tersenyum lembut. “Kita semua harus bersatu demi Tiong Ngie Pay.”

-oo0dw0oo-

Bagian Ke Tujuh

Goa bekas markas Bu Tek Pay


Seorang wanita berusia tiga puluhan duduk termenung dihalaman rumah yang sangat luas. Tampak pula taman bunga yang sangat indah di situ. Wanita itu kelihatan sedang mengenang sesuatu, kemudian menghela nafas panjang dan air matanya mulai meleleh.

Wanita itu bernama Lie Siu Sien, suaminya bernama Kam Pek Kian, namun sudah almarhum.



“Ibu! Ibu....!” Seorang anak lelaki berusia sebelas tahun

menghampirinya. “Kenapa Ibu melamun lagi?”

“Nak!” Lie Siu Sien menggeleng~gelengkan kepala dengan air mata berderai-derai. “Ibu teringat akan ayahmu.”

“Ibu!” Anak lelaki itu duduk di sisi ibunya. Ia bernama Kam Hay Thian. “Ibu jangan terus mengingat, sebab akan membuat Ibu sedih.”

“Nak!” Lie Siu Sien terisak-isak. “Bagaimana mungkin ibu tidak ingat, sebab ayahmu dibunuh orang.”

“Aku masih ingat akan kejadian itu.” Mendadak sepasang mata anak itu membara. “Orang itu membunuh ayah dengan sadis sekali.”

“Pada waktu itu, untung kita bersembunyi dikolong meja. Kalau tidak, kita pun pasti mati ditangan orang itu.”

“Ibu....” Kam Hay Thian menatapnya. “Kenapa orang itu

membunuh ayah?”

“Aaàkh...!” keluh Lie Siu Sien. “Tanpa sengaja ayahmu menolong seseorang, kemudian orang itu memberikan ayahmu sebuah kitab. Tapi akhirnya orang itu mati, karena lukanya terlampau parah.”

“Ibu, kitab apa itu?”

“Kitab Seng Hwee Cin Keng (Kitab Pusaka Api Suci) yang berisi pelajaran ilmu silat tingkat tinggi.”

“Kenapa ayah tidak mempelajari kitab itu?”

“Tidak sempat, karena beberapa hari kemudian, muncullah penjahat itu merebut kitab tersebut, Ayahmu berusaha mempertahankannya tapi malah dibunuh dan kitab itu dibawa pergi oleb penjahat itu.”

“ibu bukankah ayah berkepandaian tinggi? Kenapa tidak mampu melawan penjahat itu?”



"Nak!" Lie Siu Sien tersenyum getir. “Kepandaian penjabat itu lebih tinggi dari ayahmu Kalau tidak, bagaimana mungkin pejahat itu mampu membunuh ayahmu?”

“Ibu” ujar Kam Hay Thian Sungguh..sungguh, “Hay Thian harus membalas dendam.”

“Tidak mungkin, Nak” Lie Siu Sien menggeleng-gelengkan kepala. “Sebab engkau tidak mengerti ilmu silat, lagi pula kepandaian penjahat itu tinggi sekali.”

“Ibu biar bagaimana pun aku harus balas dendam,” ujar anak itu telah membulatkan tekad.

“Aaakh...” keluh Lie Siu Sien. “Tidak disangka sama sekali, beberapa tahun lalu ayahmu mati dibunuh!”

“ibu Pokoknya aku harus balas dendam.” tegas Kam Hay Thian. “Aku akan belajar ilmu silat.”

“Sayang                sekali....”             Lie          Siu          Sien       menggeleng-gelengkan

kepala “Ibu tidak tahu Tio Cie Hiong berada dimana Kalau tahu, engkau boleh berguru kepadanya."

“Ibu!” Kam Hay Thian tercengang. “Siapa dia? Bagaimana kepandaiannya?”

“Dia boleh dikatakan saudara angkat ibu, kepandaiannya sangat tinggi sekali.” Lie Siu Sien memberitatukan. “Dia pernah menolong kakekmu, dan setetah itu bersama caton isterinya pun pernah menolong ibu dan ayabmu ketika ditangkap Muh San Ngo Kui (Lima Setan Gunung Muh San). NamUn mereka lalu pergi, dan hingga kini ibu tidak pernah bertemU mereka.”

“Ibu!” Kam Hay Thian menatapnya. “Bolehkah aku pergi mencari Paman Cie Hiong?”

“Engkau masih kecil, lagi pula belum tentu engkau dapat mencarinya” Lie Siu Sien meng-geleng2kan kepala.



“Ibu, usiaku sudah sebelas tahun! Aku sudah tidak kecil lagi, maka ibu harus mengijinkan aku untuk pergi mencari Paman Cie Hiong.”

“Tionggoan sangat luas, tak mungkin engkau dapat mencarinya.” Lie Siu Sien menggeleng-gelengkan kepala lagi.

“Kalau begitu, aku akan berguru kepada orang láin. Setelah berkepandaian tinggi, aku pasti pulang.”

“Nak....” Lie Siu Sien menghela nafas. “Benarkah engkau

begitu bertekad untuk belajar ilmu silat?’

“Benar.” Kam Hay Thian mengangguk, “Sebab akü baruS balas dendam. Karena itu, ibu harus mengijinkan aku untuk pergi belajar ilmu silat."

“Aaakh...!” keluh Lie Siu Sien. “Engkau ingin meninggalkan ibu?"

"Hanya sementara waktu, beberapa tahun kemudian aku pasti pulang,” sahut Kam Hay Thian

Lie Sw Sien diam, kelihatannya ia sedang berpikir.

“Ibu,” desak Kam Hay Thian “Kalau Ibu tidak mengijinkan aku untuk pergi belajar ilmu silat, bagaimana mungkin aku bisa tenang di rumah?”

“Nak Lie Siu Sien menatapnya dengan màta basah. “Kalau memang engkau bertekad begitu, baiklah, Ibu mengijinkan engkau untuk pergi belajar ilmu silat.”

“Terima kasih, Ibu!” ucap Kam Hay Thian girang.

“Nak!” Lie Siu Sien tersenyum. “Mudah-mudahan engkau berhasil mencari Tio Cie Hiong!”

“Kalau aku tidak berhasil mencari Paman Cie Hiong, aku akan berguru kepada orang lain, yang berkepandaian tinggi.”

“Ngmmm!” Lie Siu Sien manggut-manggut.



“Nak, kapan engkau akan berangkat?” tanyanya.

“Besok pagi.”

“Nak....”  Wajah  Lie  Siu  Sien  berubah  murung.  “Kenapa

harus begitu cepat berangkat?”

“Lebih cepat Iebih baik,” ujar Kam Hay Thian. “Karena aku akan bisa cepat pulang pula.”

“Nak....” Lie Siu Sien menatapnya dengan lembut sekali.

“Baiklah! Engkau boleh berangkat besok pagi, namun harus cepat pulang.”

“Ya, Ibu!” Kam Hay Thian mengangguk.

-oo0dw0oo-

Kam Hay Thian telah berangkat. Sebuah buntalan bergantung di punggungnya, berisi pakaian dan ratusan tael perak pemberian ibunya.

Beberapa hari kemudian, ia telah tiba di kota Leng An yang cukup besar. Tampak sebuah bagunan megah, yang di atas pintunya bergantung sebuah papan bertulisan ‘Liong San Bu Koan’ (Perguruan Silat Aliran Liong San).

Begitu membaca tulisan itu, giranglah hati Kam Hay Thian dan Ia langsung menuju bangunan tersebut.

“Anak kecil!” Dua penjaga menghadangnya. “Mau apa engkau ke mari?”

“Aku mau belajar ilmu silat,” sahut Kam Hay Thian.

“Oh?” Salah satu penjaga itu tersenyum. “Kalau begitu, mari ikut aku ke dalam menemUi guru silat Lie!”

“Terima kasih!” ucap Kam Hay Thian sekaligus mengikuti penjaga itu ke dalam.

Begitu sampai di halaman, Ia melihat belasan pemuda sedang berlatih dengan penuh semangat. Penjaga itu



mengajak Kam Hay Thian kesebuah ruangan. Seorang lelaki berusia lima puluhan duduk di kursi sambil menghirup teh.

“Guru!” Penjaga itu memberi hormat dan memberitahukan, “Anak in mau belajar ilmu silat.”

“Oh?” Guru silat Lie menatap Kam Hay Thian, lalu manggut-manggut seraya bertanya, “Namamu siapa dan di mana tempat tinggalmu?”

“Namaku Kam Hay Thian, aku berasal dari kota lain,” jawab anak itu jujur.

“Engkau ingin belajar ilmu silat di sini?” tanya guru silat Lie sambil tersenyum.

“Ya.” Kam Hay Thian mengangguk.

“Engkau  boleh  belajar  di  sini,  namun....”  Guru  silat  Lie

memberitahukan. “Setiap bulan engkau harus bayar dua puluh tael perak? „

“Ya!” Kam Hay Thian mengangguk lagi, kemudian membuka buntalannya. Dikeluarkánnya dua ratus tael perak, lalu diserahkannya kepada guru silat Lie. “Inilah uangku untuk belajar ilmu silat.”

“Dua ratus tael perak?” guru silat Lie terbelalak. “Dan mana engkau memperoleh uang sebanyak itu?”

“Dari ibuku."

“Engkau tidak merasa sayang memberikan semua uang itu kepadaku?"

“Tentu tidak, sebab aku ingin belajar ilmu silat di sini.

“Kalau  begitu....”  Guru  silat  Lie  mengangguk.  “Baiklah!

Engkau boleh belajar ilmu silat di sini, bahkan boleh tinggal di sini.”

“Terima kasih, Guru!” ucap Kam Hay Thian dan sekaligus berlutut di hadapan guru silat Lie.



“Hay Thian!” Guru silat Lie menatapnya. “Berdirilah!” “Ya, Guru!” Kam Hay Thian bangkit berdiri.

“Hay Thian,” ujar guru silat Lie sungguh-sungguh. “Engkau tidak usah memanggil aku guru, cukup memanggil paman saja.”

“Kenapa?” tanya Kam Hay Thian dengan rasa heran.

“Karena....” Guru silat Lie menghela nafas panjang. “Aku

cuma merupakan guru silat biasa, jadi tidak dapat mengajarmu ilmu silat tingkat tinggi Sedangkan engkau berbakat untuk belajar ilmu silat tingkat tinggi Karena itu, aku merasa malu kau panggil guru.”

“Kalau begitu, aku memanggil paman saja?” "Ya."

Di saat bersamaan, muncul seorang gadis kedil berusia sekitar sepuluh tahun sambil berseru-seru.

“Ayah! Ayah...” gadis kecil itu terbelalak ketika melihat Kam Hay Thian. “Ayah, siapa dia?”

“Dia bernama Kam Hay Thian, ingin belajar ilmu silat pada ayah,” sahut guru silat Lie sambil tersenyum.

“Hay Thian, dia putriku bernama Lie Beng Cu.”

Kam Hay Thian memandang gadis kecil itu sambil mengangguk, dan Lie Beng Cu pun mengangguk sambil tersenyum.

“Berapa usiamu7’ tanya gadis kecil itu kepada Kam Hay Thian.

“Sebelas,” jawab Kam Hay Thian.

“Usiaku sepuluh, jadi aku barus memanggilmu kakak, dan engkau barus memanggilku adik,” ujar Lie Beng Cu sambil tertawa.



“Ya!” Kam Hay Thian manggut-manggut.

“Hay Thian,” ujar guru silat Lie. “Hari ini engkau boleh beristirabat dulu, besok aku akan mulai mengajarmu ilmu silat.”

“Terima kasih, Paman!” ucap Kam Hay Thian girang.

“Beng Cu, antar dia kekamar kosong itu!” ujar guru silat Lie memberitahukan. “Dia berasal dan kota lain, maka harus tinggai disini.”

“Ya, Ayah.” Wajah Lie Beng Cu berseni. “Kakak Hay Thian, mari ikut aku ke dalam!”

“Tenima kasih, Adik Beng Cu!” ucap Kam Hay Thian lalu mengikuti gadis kecil itu ke dalam.

Lie Beng Cu mengajaknya ke sebuah kamar kosong, dan begitu sampai di dalam, gadis kecil itu langsung duduk di kursi.

“Bagaimana? Engkau suka kamar ini?”

“Suka.” Kam Hay Thian mengangguk, sekaligus duduk di pinggir tempat tidur.

“Kakak Hay Thian!” Lie Beng Cu menatapnya. “Kenapa engkau ingin belajar ilmu silat?"

“Karena ingin balas dendam.”

“Balas dendam?” Lie Beng Cu terbelalak. “Balas dendam siapa?”

“Ayahku dibunuh penjahat, maka aku harus belajar ilmu silat untuk membalas dendam itu.” Kam Hay Thian memberitahukan.

“Oh’?” Lie Beng Cu menatapnya dalam-dalam. “Kenapa penjahat itu membunuh ayahmu?



“Karena sebuah kitab....” Kam Hay Thian memberitahukan

secara jujur. “Maka ayahku terbunuh.

“Kalau begitu, kepandaian penjahat itu tinggi sekali.”

“Ya.” Kam Hay Thian mengangguk. “Kalau tidak, bagaimana mungkin penjahat itu dapat membunuh ayahku? Sebab ayahku pun berkepandaian tinggi.

“Ayahmu pernah mengajarmU ilmu silat?" tanya Lie Beng Cu mendadak.

“Hanya mengajarku dasar-dasar ilmu lweekang saja,” sahut Kam Hay Thian dan melanjutkan, “Kata ayahku, lweekang merupakan pokok bagi orang yang ingin belajar ilmu silat tingkat tinggi.

“Benar.” Lie Beng Cu manggut~manggut.

“Ayahku pun berkata begitu, maka aku terus berlatih lweekang.”

"Oh ya, ayahmu bilang kepandaiannya tidak begitu tinggi.

Benarkah itu?" tanya Kam Hay Thian mendadak.

"Entahtah." Lie ~eng Cu menggelengkan kepala. "Aku tidak begitu jelas teñtang itu.”

“Adik Beng Cu!" Kam Hay Thian menatapnya. "Pernahkah engkau mendengar tentang Tio Cie Hiong?’

"Tidak pernah," jawab Lie Beng Cu. “Mungkin ayahku tahu. Lebih baik engkau bertanya kepada ayahku saja.”

“Ya.” Kam Hay Thian mengangguk.

“Kakak Hay Thian,” tanya Lie Beng Cu. “Siapa Tio Cie Hiong itu?”

“Dia saudara angkat ibuku. Kata ibuku kepandaiannya sangat tinggi sekali. Maka aku harus mencari dia, namun tidak tahu dia berada dimana.”



“Begini saja,” usul Lie Beng Cu. “Untuk sementara engkau tinggal di sini sekalian belajar ilmu silat kepada ayahku, setelah itu barulah engkau pergi mencari orang tersebut.”

“Ya.” Kam Hay Thian mengangguk.

“Kakak Hay Thian!” Lie Beng Cu memandangnya sambil tersenyum. "Aku mau pergi sebentar, nanti malam kita makan bersama.”

“Terima kasih!" ucap Kam Hay Thian.

Lie Beng Cu meninggalkan kamar itu, lalu pergi menemui ayahnya yang masih duduk diruang itu.

“Ayah!” panggilnya.

"Beng Cu di mana Hay Thian?" tanya guru silat Lie.

“Di dalam kamar.” Lie Beng Cu duduk disisinya. “Oh ya, Ayah! Kakak Hay Thian ingin belajar ilmu silat karena ingin balas dendam.”

“Oh?” Guru silat Lie mengerutkan kening. “Dia yang memberitahukan kepadamu?”

“Ya.” Lie Beng Cu mengangguk. “Cukup lama kami mengobrol, dan dia memberitahukan secara jujur?

“Ngmm!” Guru silat Lie manggut-manggut dan bertanya, “Apakah kedua orang tuanya dibunuh orang?”

“Ayahnya dibunuh penjahat.”

“Dia memberitahukan sebab musababnya?”

“Ayahnya dibunuh karena sebuah kitab. Padahal ayahnya berkepandaian tinggi, namun masih tidak sanggup melawan penjahat itu.”

“Kalau   begitu....”            Kening  guru       silat        Lie          berkerut.

“Kepandaian penjahat itu pasti tinggi sekali”



“Benar, Ayah.” Lie Beng Cu mengangguk. “Dia mengatakan begitu?

“Ayahnya tidak pernah mengajarnya ilmu silat?” tanya guru silat Lie mendadak.

“Hanya mengajarnya ilmu lweekang, tidak pernah mengajarnya ilmü silat,” jawab Lie Beng Cu.

“Kalau begitu...,” ujar guru silat Lie setelah berpikir sejenak. “Ayah akan mengajarnya Liong

San Kun Hoat (Ilmu Silat Aliran Liong San), agar dia bisa menjaga diri dan memperkuat daya tahan tubuhnya.”

“Ayah....”            Lie          Beng      Cu           menatapnya      seraya   bertanya,

“Pernahkah Ayah mendengar tentang Tio Cie Hiong?”

“Tio Cie Hiong?!” Guru silat Lie tertegun. “Pernah. Memangnya kenapa?”

“Dia ingin mencari orang itu, yang katanya adalah saudara angkat ibunya.” Lie Beng Cu memberitahukan

“Beng Cu,” ujar guru silat Lie. “Kaum rimba persilatan pasti tahu mengenai Pek Ih Sin Hiap Tio Cie Hiong. Ayah pun pernah mendengar tentang pendekar, yang gagah dan berhati bajik itu.”

“Oh?” Giranglah hati Lie Beng Cu. “Ayah tahu orang itu berada di mana?”

“Ayah tidak tahu.” Guru silat Lie menggelengkan kepala dan menambahkan, “Sejak Bu Lim Sam Mo mati di tangannya, dia pun menghilang entah ke mana.”

“Kalau begitu, tentunya Kakak Hay Thian tidak akan berhasil mencarinya,” ujar Lie Beng Cu dengan wajah muram.

“Beng Cu!” Guru silat Lie tersenyum “Itu tergantung dari peruntungannya”



“Ayah!” Lie Beng Cu tersenyUm. “Benarkah Ayah ingin mengajar Kakak Hay Thian Liong San Kun Hoat?”

“Benar.” Guru silat Lie tertawa. “Besok ayah akan mulai mengajarnya. "Oh ya, kenapa engkau begitu menaruh perhatian kepadanya?”

“Ayah....” Wajah Lie Beng Cu tampak kemerah-meráhan.

“Dia anak baik.”

“Ayah tahu itu. Ayah tahu itu.” Guru silat Lie tertawa lagi. “Maka ayah bersedia mengajarnya Liong San Kun Hoat.”

-oo0dw0oo-

Guru silat Lie mulai mengajar Kam Hay Thian Liong San Kun Hoat, tujuannya agar anak itu bisa menjaga diri, sekaligus memperkuat daya tahan tubuhnya, karena guru silat Lie tahu, bahwa anak itu masih akan melanjutkan perjalanan.

Kam Hay Thian belajar dengan tekun sekali, dan terus melatih ilmu lweekang yang diajarkan almarhUm ayahnya.

Pagi ini, Kam Hay Thian berlatih bersama Lie Beng Cu. Seusai ber1atih, mereka duduk untuk beristirahat

“Kakak Hay Thian,” ujar Lie Beng Cu dengan wajah berseri. “Engkau memang cerdas, begitu gampang menerjma pelajaran ilmu silat itu.”

“Engkau lebih cerdas,” sahut Kam Hay Thian sambil tersenyum. "Usiamu masih kecil tapi sudah menguasai seluruh ilmu silat ayahmu.”

“Tentu.” Lie Beng Cu tertawa kecil “Sebab sejak aku berusia lima tahun, ayah sudab mulai mengajarku ilmu silat.”

“Oooh!” Kam Hay Thian manggut-manggut.

“Kakak Hay Thian!” Lie Beng Cu memberitahukan. “Ayahku tahu tentang paman Tio Cie Hiongmu itu.”

“Oh?” Kam hay Thian girang sekali.



“Paman Cie Hiongmu adalah Pek Ih Sin Hiap, yang sangat terkenal. Kepandaiannya memang tinggi sekali, bahkan Bu Lim Sam Mo mati ditangannya.”

“Kalau begitu, ayahmu pasti tahu Paman Cie Hiong berada di mana.”

“Ayahku tidak tahu.” Lie Beng Cu menggelengkan kepala dan melanjutkan, “Setejah Bu Lim Sam Mo mati di tangannya, Paman Cie Hiongmu menghilang entah ke mana.”

“Yaah!” Kam Hay Thian tampak kecewa.

“Kakak Hay Thian’” Lie Beng Cu tersenyum engkau tidak usah putus harapan. Paman Cie Hiongmu sangat terkenal, mungkin ada yang tahu dia tinggal di mana.”

“Kalau begitu, aku harus bertanya kepada kaum rimba persilatan!” ujar Kam Hay Thian.

“Jangan sembarangan bertanya kepada kaum rimba persi1atan." pesan Lie Beng Cu serius.

“Lho? Kenapa?” tanya Kam Hay Thian dengan rasa heran.

“Seandainya yang engkau tanya itu adalah musuh Paman Cie Hiongmu, tentu engkau akan celaka.” Lie Beng Cu menjelaskan.

“Benar. Lalu aku harus bagaimana?" Kam Hay Thian menghela nafas.

“Tenang saja!” Lie Beng Cu tersenyum. “Bukankah engkau bisa bertanya pada ayahku?”

“Betul, betul.” Kam Hay Thian rnanggut-manggut. “Kenapa aku melupakan itu?”

“Kakak Hay Thian!” Lie Beng Cu menatapnya. “Setelah berhasil menguasai Liong San Kun Hoat,apakah engkau akan pergi?”



“Ya. Karena aku harus berusaha mencari Paman Cie Hiong.”

“Kakak Hay Thian....” Wajah Lie Beng Cu berubah muram.

“Setelah engkau pergi, engkau akan ke mari lagi?”

“Tentu.” Kam Hay Thian mengangguk. “Aku pasti ke mari lagi mengunjungimu dan ayahmu.”

“Engkau tidak boleh melupakan aku lho!” pesan Lie Beng Cu. “Sebab aku selalu ingat kepadamu."

"Adik Beng Cu!" Kam Hay Thap tersenyum. n“Aku tidak akan melupakanmu, karena engkau baik sekali kepadaku, begitu pula ayahmu."

"Terima kasih Kakak Hay Thian." ucap Lie Beng Cu sambil tersenyum “Ayoh, mari kita berlatih lagi!”

"Baik." Kam Hay Thian mengangguk.

Mereka berdua mulai berlatih. Apabila Kam Hay Thian melakukan gerakan salah, Lie Beng Cu pasti memberi petunjuk kepadanya, maka Kam Hay Thian sangat girang dan sangat berterima kasih kepadanya.

-oo0dw0oo-

Beberapa bulan kemudian, Kam Hay Thian telah berhasil menguasai Liong San Kun Hoat. Maka guru silat Lie menyuruh putrinya memanggil Kam Hay Than

"Paman memanggiku?” tanya anak itu setelah berada dihadapan guru silat Lie

"Hay Thian!” Guru silat Lie tersenyum lembut "Kini engkau telah menguasai Liong San Kun Hoat, maka sudah waktunya engkau pergi mencari Paman Cie Hiongmu.”

“Oh?” Kam Hay Thian terbelalak. “Paman tahu dia berada di mana?"



“Aku tidak tahu, tapi engkau boleh ke markas Kay Pang,” sahut guru silat Lie memberi petunjuk. “Mungkin ketua Kay Pang tahu dia berada di mana?"

“Jadi aku harus bertanya kepada ketua Kay Pang?”

“Ya.” GUrU silat Lie mengangguk. “Kalau tidak salah, Pek th Sin Hiap Tio Cie Hiong mempunyai hubungan erat dengan Kay Pang. Tentunya ketua Kay Pang tahu dia berada di mana.”

“Dimana markas pusat Kay Pang?”

“Dan sini engkau terus berjalan ke arah timur. Setelah melewati sebuah lembah, engkau akan sampai di sebuah desa. Tanyalah kepada penduduk desa itu, mereka akan membenitahukan kepadamu.”

“Terima kasih, Paman!” ucap Kam Hay Thian dan bertanya. “Kapan aku berangkat?”

“Engkau boleh berangkat sekarang,” sahut guru silat Lie.

"Ayah...."            Lie          Beng      Cu           tersentak.           “Kakak  Hay        Thian

berangkat besok saja!”

“Baiklah.” Guru silat Lie mengangguk sambil tersenyum. “Hay Thian, kalau begitu, berangkatlah engkau besok pagi.”

“Ya, Paman.” Kam Hay Thian mengangguk.

“Oh ya!” ujar guru silat Lie. “Engkau pernah menitip dua ratus tael perak kepadaku, besok pagi uang itu akan kukembalikan kepadamu.”

“Paman, bukankah...”

“Ha ha ha!" Guru silat Lie tertawa “Aku tidak akan menerima pembayaranmu, sebab aku mengajarmu ilmu silat dengan setulus hati Lagi pula engkau membutuhkan uang dalam perjalananmu”

“Terima kasih, Paman’” ucap Kam Hay Thian dengan rasa haru.



“Ha ha ha!” Guru silat Lie tertawa gelak, kemudian memandang putrinya seraya berkata, "Beng Cu, temanilah Hay Thian!”

“Ya, Ayah.” Lie Beng Cu mengangguk, kemudian mengajak Kam Hay Thian ke halaman belakang.

“Adik Beng Cu,” ujar Kam Hay Thian begitu berada di halaman belakang. “Bagaimana kalau kita berlatih?”

Lie Beng Cu menggelengkan kepala, lalu memandangnya dengan wajah agak muram seraya berkata,

“Kakak Hay Thian, besok pagi kita akan berpisah.”

“Ya.” Kam Hay Thian mengangguk. “Aku harus pergi mencari Paman Cie Hiong”

“Engkau harus hati-hati dalam perjalananmu, sebab banyak orang jahat di rimba persilatan,” pesan Lie Beng Cu, “Aku aku mengkhawatirkanmu,”

“Adik Beng Cu!” Kam Hay Thian tersenyum, "Engkau jangan mengkhawatirkanku, aku bisa menjaga diri”

“Kakak Hay Thian....” Lie Beng Cu menundukkan kepala.

“Engkau tidak akan melupakan aku, bukan?”

“Adik Beng Cu,” sahut Kam Hay Thian sungguh-sungguh. “Aku tidak akan melupakanmu, percayalah!”

“Terima kasih, Kakak Hay Thian!” ucap Lie Beng Cu sambil tersenyum, kemudian mengeluarkan sebuah benda, yang ternyata sebuah cincin giok. Diberikannya cincin itu kepada Kam Hay Thian seraya berkata, “Cincin giok ini hadiah dari almarhumah, kini kuberikan kepadamu”

“Adik     Beng      Cu....”   Kam       Hay        Thian     tidak      berani

menenimanya.



“Kàkak Hay Thian,” desak Lie Beng Cu. “Biar bagaimana pun engkau hanus menerima. Kalau tidak, aku... aku akan marah.”

“Adik  Beng  Cu....”  Akhirnya  Kam  Hay  Thian  menerima

cincin itu, lalu dipakal dijari tengahnya.

“Kelak akan kupindahkan ke jari manis. Terima kasih, Adik Beng Cu!”

“Kakak Hay Thian!” Lie Beng Cu tersenyum.“Legalah hatiku engkau mau memakai cincin giok itu, pertanda engkau tidak akan melupakanku!”

“Adik Beng Cu,” ujar Kam Hay Thian sungguh-sungguh. “Selama-lamanya aku tidak akan melupakanmu”

"Terimakasih, Kakak Hay Thianl” ucap Lie Beng Cu dan menambahkan, “Aku selalu menanti kedatanganmu."

“Aku pasti ke mari kelak,” ujar Kam Hay Thian berjanji. “Pasti ke mari.”

-oo0dw0oo-

Lie Beng Cu mengantar kepergian Kam Hay Thian dengan air mata bercucunan bahkan setelah Kam Hay Thian lenyap dan pandangannya tangisnya pun meledak seketika. Guru silat Lie segera membelainya.

“Jangan menangis Nak! Dia pasti ke mari kelak.” ujar guru silat Lie sambil tersenyum. “Ayah tahu, engkau sangat menyukainya."

“Ayah....”

“Kalau engkau tidak menyukainya bagaimana mungkin cincin giok pemberian almarhumah berada di jari tangannya?"

“Ayah tidak marah?”

“Kenapa ayah harus marah?” Guru silat Lie tersenyum lembut. “Kam Hay Thian memang anak baik, maka ayah pun



sangat menyukainya. Kalau tidak, bagaimana mungkin ayah membiarkanmu menghadiahkan cincin giok itu kepadanya?"

"Ayah...." Lie Beng Cu menundukkan kepala.

"Engkau tidak usah berduka, dia pasti ke mari kelak,” ujar guru silat Lie dan menambahkan.

“Ayah tahu, dia pun menyukaimu.”

“Ayah,“ Wajah Lie Beng Cu langsung berubah kemerah-merahan, lalu berlari ke dalam.

Sementara Kam Hay Thian terus melakukan perjalanan menuju markas pusat Kay Pang sesuai dengan petunjuk guru silat Lie. Beberapa hari kemudian ta telah tiba di sebuah lembah.

Karena merasa lelah sekali, ia langsung duduk di atas sebuah batu. Begitu duduk wajahnya tampak berubah seketika, dan cepat-cepat ia meloncat bangun.

Ternyata batu itu merosot ke bawah, kemudian terdengar pula suara ‘Kreeek’ dan dinding tebing di tempat terbuka.

Betapa terkejutnya Kam Hay Thian, dan ia lalu berdiri termangu-mangu di tempat. Berselang beberapa saat, barulah ia memberanikan diri mendekati goa itu sambil memandang ke dalam, yang keadaannya gelap gulita, tak tampak apa pun.

“Goa apa itu?” gumamnya sambil mengerutkan kening Akhirnya ia melangkah ke dalam, dan setelah ia berada di dalam, pintu goa itu tertutup kembali.

“Haaah...!" Kam Hay Thian terkejut bukan main, namun tidak merasa takut lalu berkeluh.

“Celaka, aku akan terkurung di dalam goa ini!”

Kam Hay Thian berdiri di tempat sambil memandang ke dalam, tapi tidak tampak apa pun karena gelap sekali.



Beberapa saat kemudian, ía memberanikan diri melangkah ke dalam sambi! meraba-raba, Ternyata goa itu merupakan sebuah terowongan, yang sangat panjang. Entah berapa lama kemudian tangannya meraba dinding yang sangat dingin, yang ternyata pintu baja.

"Kok ada pintu di sini?” gumam Kam Hay Thian sambil meraba ke sana ke mari, dan tànpa sengaja menekan sesuatu.

"Kreeeek! Pintu baja itu terbuka dan cahaya yang cukup terang menyorot ke luar.

Kam Hay Thian girang bukan main dan segera masuk. Setelah ia sampai di dalam, pintu baja itu pun tertutup kembali.

“Tempat apa mi?” gumam Kam Hay Thian sambil menengok ke sana ke mari. Ternyata ia berada di sebuah ruangan, yang sangat indah dan agak terang, bahkan terdapat kursi, meja dan perabotan lainnya.

Di dinding ruangan itu juga terdapat beberapa buah pintu Karena tertarik ia pun memasuki salah satu pintu tersebut. Betapa girang hatinya, sebab di ruangan kecil itu tersimpan makanan kering dan lain sebagainya.

Setelah memeriksa ruang kecil itu, ia pun memasuki pintu-pintu lainnya. Ternyata semuanya merupakan ruangan, dan salah satunya menyimpan berbagai macam alat musik. Sesudah memasuki semua ruangan tersebut, Kam Hay Thian kembali ke ruang depan, yang sangat besar itu.

Saking girangnya, ia terus meraba-raba Seluruh dinding ruang depan tersebut. Kemudian bersamaan dengan terdengarnya suara ‘krek’, muncullah sebuah lubang di bagian dinding itu. Kam Hay Thian terbelalak, karena melihat sebuah kotak yang sangat indah tersimpan di dalamnya.

Ia menjulurkan tangannya mengambil kotak tersebut, kemudian ditaruhkannya di atas meja.



“Kotak apa ini?” ujarnya sambil memperhatikan kotak tersebut. Kemudian dengan hati-hati sekali dibukanya kotak itu. Ternyata di dalamnya berisi dua buah kitab, yang tentunya membuat

Kam Hay Thian tercengang.

Berselang beberapa saat kemudian, barulah ia mengambil kedua kitab itu, sekaligus dibacanya.

Ternyata kitab itu adalah kitab peninggalan Pak Kek Sian Ong dan kitab Hian Bun Kui Goan Kang Khi (Kitab Pelajaran Menghimpun Dan Menyatukan Tenaga Murni).

Setelah membacanya, dapat dibayangkan betapa girangnya hati Kam Hay Thian, karena tahu bahwa kedua kitab itu merupakan kitab pelajaran ilmu silat tingkat tinggi. Tidak salah, kedua kitab itu memang milik Bu Lim Sam Mo. Kam Hay Thian tidak tahu, tanpa sengaja ía memasuki tempat tersebut, yang merupakan bekas markas Bu Tek Pay.

Karena ayahnya pernah mengajarnya dasar-dasar ilmu lweekang, maka terlebih dahulu ía mempelajari kitab Hian Bun Kui Goan Kang Khi.

-oo0dw0oo-




Bagian Ke Delapan

Sumber penyakit aneh


Kini Tio Bun Yang telah berusia lima belas tahun. Ia bertambah tampan dan gagah. Kepandaiannya pun bertambah tinggi, bahkan telah menguasai Ilmu Penakiuk Iblis dan ilmu pengobatan pula.



Tentunya sangat menggirangkan Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im. Namun kedua orang tuanya masih tercekam rasa cemas, karena Tio Bun Yang mengidap semacam penyakit aneh. Yakni tidak boleh marah, apabila marah maka Tio Bun Yang akan kehilangan kesadarannya, sehingga membuatnya membunuh apa pun yang ada di hadapannya.

Hingga saat ini, Tio Cie Hiong masih tidak tahu sumber penyakit aneh tersebut. Padahal ia terus menerus mengobati putranya itu dengan berbagai macam obat, namun tetap tidak dapat menyembuhkannya.

Pagi ini, Tio Bun Yang duduk bersemedi dibawah sebuah pohon melatih lweekangnya. Ia menghimpun Pan Yok Hian Thian Sin Kang, lalu Kan Kun Taylo Sin Kang setelah itu Giok Li Sin Kang.

Di saat menghimpun hawa murni Giok Li Sin Kang, wajah Tio Bun Yang berubah menjadi pucat. Berselang sesaat, mulailah Ia menghimpun Kiu Yang Sin Kang. Wajahnya yang pucat pias itu mulai berubah merah padam, dan keringatnya mulai merembes ke luar dan keningnya.

Makin lama wajahnya makin bertambah merah, kemudian mendadak ia berteriak keras sambil meloncat bangun, sekaligus membuka sepasang matanya. Sungguh mengejutkan, karena sepasang matánya tampak membara.

Ia memukul kesana kemari seperti orang gila, dan banyak pohon yang hancur terkena pukulannya. kelihatannya Ia telah kehilangan kesadarannya, dan terus mengamuk memukul kesana kemari.

Lama sekali barulah ia berhenti, lalu terkulai dan pingsan. Di saat bersamaan, muncullah Lie Ai Ling dan monyet bulu putih.

“Kakak Bun Yang! Kakak Bun Yang!” panggil Lie Ai Ling, sambjl menggoyang~goyangkan bahunya. Monyet bulu putih pun segera memeriksanya, dan setejah itu bercuit-cuit.



“Kauw heng,” tanya Lie Ai Ling. Kini gadis itu telah berusia empat belas tahun. “Bagaimana keadaan Kakak Bun Yang, dia tidak apa-apa?”

Monyet bulu putih mengangguk, dan karena itu Lie Ai Ling menarik nafas lega.

Berselang beberapa saat kemudian, badan Tio Bun Yang mulai bergerak, Lie Ai Ling segera memanggilnya.

“Kakak Bun Yang! Kakak Bun Yang!”

Tio Bun Yang membuka matanya, lalu menghela nafas panjang sambil duduk dan kelihatan lelah sekali.

"Kakak Bun Yang, kenapa engkau?” tanya Lie Ai Ling penuh perhatian. “Kok engkau pingSan di Sini?”

"Aku” Tio Bun Yang menggelengkan kepala.

“Engkau sakit?” Lie Ai Ling menatapnya.

“Aku tidak sakit, hanya saja....” Tio Bun Yang mengerutkan

kening, “Berat sekali rasanya kepalaku.” “Kenapa begitu?"

“Entahlah. Aku pun tidak mengerti,” sahut Tio Bun Yang dan bergumam. “Aku sedang melatih lweekang....”

"Lalu?”

"Lalu....” Tio Bun Yang terus berpikir sambil bergumam.

“Aku menghimpun Pak Yok Han Thian Sin Kang, kemudian Kan Kun Taylo Sin Kang Setelah itu, ketika aku menghimpun Giok Li Sin Kang, aku merasa peredaran darahku mulai bergejolak. Lebih-lebih ketika aku menghimpun Kiu Yang Sin Kang, dadaku terasa mau meledak, sehingga membuatku berteriak keras dan kehilangan kesadaran."

“Oh?” Lie Ai Ling terbelalak, kemudian menengok ke sana ke mari. “Engkau memukul hancur pohon-pohon itu?"



“Entahlah.” Tio Bun Yang menggelengkan kepala. “Aku tidak mengetahuinya?"

“Kakak Bun Yang!” Lie Ai Ling menatapnya. “Aku melihat engkau tergeletak pingsan disini, maka segera memanggilmu sambil menggoyang-goyangkan bahumu.”

“Oh?” Tio Bun Yang mengerutkan kening. Tampaknya ia sedang berpikir lagi. Namun mendadak ia tersentak, kelihatannya telah menyadari satu hal. “Apakah dikarenakan itu?”

“Dikarenakan apa?” tanya Lie Ai Ling.

“Adik Ai Ling, Kauw-heng, mari kita pulang!” Tio Bun Yang bangkit berdiri. “Aku harus memberitahukan kepada ayah.”

-oo0dw0oo-

Tio Cie Hiong, Lim Ceng im, Tio Tay Seng dan Sam Gan Sin Kay di ruang depan dengan wajah serius. Ternyata Tio Bun Yang membertahukan tentang kejadian itu, bahkan Lie Ai Ling pun menambahkan.

"Aku melihat kakak Bun Yang pingsan, dan pohon-pohon di sekitar tempat itu háncur berantakan.”

“Ngmm!” Tio Cie Hiong manggut-manggut. “Tidak salah lagi, itu pasti sumber penyakit Bun Yang!”

“Maksudmu Cie Hiong?” tanya Tio Tay Seng.

“Pan Yok Han Thian Sin Kang dan Kan Kun Taylo Sin Kang berhubungan erat sekali, boleh dikatakan merupakan saudara kandung,” jawab Tio Cie Hiong menjelaskan “Giok Li Sin Kang bersifat lembut mengandung hawa im (dingin), sedangkan Kiu Yang Sin Kang bersifat keras mengandung hawa Yang (panas). Oleb karena itu, terjadilah gejojak hawa murni yang bertentangan di dalam tubuh Bun Yang, sehingga menyebabkan tekanan darahnya tidak normal, sekaligus



menyerang syaraf otaknya, maka menimbulkan penyakit aneh itu.”

“Kalau begitu harus bagaimanana tanya Lim Ceng im cemas.

“Tidak apa-apa.” Tio Cie Hiong tersenyum. “Kini aku sudab tahu sümber penyakit itu, dan aku dapat menyembuhkannya."

"Bagaimana caranya?” tanya Tio Tay Seng.

"Aku harus membantunya mengeluarkan hawa murni Giok Li Sin Kang dan Kiu Yang Sin Kang," jawab Tio Cie Hiong sungguh-sungguh. "Kalau tidak, tidak lama lagi dia pasti gila.”

“Haaah...?” Lim Ceng Im dan Tio Tay Seng terkejut bukan main, begitu pula Sam Gan Sin Kay.

“Untung cepat mengetahuinya, kalau tidak Bun Yang pasti cetaka.” Tio Cie Hiong menghela nafas lega.

“Itu kesalahanku,” ujar Lim Ceng Im menyesal. “Karena aku mengajarkannya Giok Li Sin Kang.”

“Aku pun bersalah.” Tio Tay Seng menggeleng-gelengkan kepala. “Karena menginginkan Bun Yang menjadi pendekar tanpa tanding, maka aku pun mengajarnya Kiu Yang Sin Kang. Akhirnya malah jadi begini.”

“Adik Im dan Paman tidak bersalah.” Tio Cie Hiong tersenyum. “Itu pertanda sangat sayang pada Bun Yang. Pada waktu itu aku pun tidak tahu akan menjadi begini. Namun masih tidak terlambat, aku mampu mengeluarkan hawa-hawa murni itu dan tubuh Bun Yang.”

“Syukurlah!” ucap Tio Tay Seng sambil menarik nafas lega.

“Bun Yang, duduklah bersila di lantai!” ujar Tio Cie Hiong dan menambahkan, “Ayah suruh apa, engkau harus menurut.”

“Ya, Ayah.” Tio Bun Yang mengangguk, lalu duduk bersila di lantai.



Tio Cie Hiong duduk bersila di belakangnya, kemudian sepasang telapak tangannya ditempelkan pada punggung Tio Bun Yang.

“Bun Yang, himpunlah hawa murni Giok Li Sin Kang!” ujar Tio Cie Hiong.

Tio Bun Yang mengangguk, kemudian menghimpun hawa murni Giok Li Sin Kang. Tak lama wajahnya mulai memucat, Tio Cie Hiong segera mengerahkan Pak Yok Han Thian Sin Kang ke dalam tubuh Tio Bun Yang, dan berselang sesaat ia berkata. “Buka mulutmu!”

Tio Bun Yang membuka mulutnya. Sesaat kemudian tampak uap putih mulai keluar dari mulutnya.

“Terus himpun Giok Li Sin Kang, jangan berhenti!” pesan Tio Cie Hiong dengan suara rendah.

Tio Bun Yang mengangguk perlahan dan terus menghimpun Giok Li Sin Kang. Berselang beberapa saat, tidak tampak lagi uap putih ke luar dan mulut Tio Bun Yang.

“Himpun hawa murni Kiu Yang Sin Kang!” ujar Tio Cie Hiong sambil berhenti mengerahkan Pak Yok Han Thian Sin Kang.

Tio Bun Yang mulai menghimpun hawa murni Kiu Yang Sin Kang, dan tak lama kemudian wajahnya mulai memerah.

Tio Cie Hiong segera mengerahkan Pan Yok Han Thian Sin Kang ke dalam tubuhnya. “Buka mulutmu!" ujarnya kemudian.

Tio Bun Yang membuka mulutnya, tampak pula uap putih ke luar dan mulutnya, yang mengandung hawa panas.

“Jangan berhenti menghimpun hawa murni Kiu Yang Sin Kang!” pesan Tio Cie Hiong, keningnya mulai berkeringat.

Tio Bun Yang terus menghimpun hawa murni Kiu Yang Sin Kang, sedangkan Tio Cie Hiong pun terus mengerahkan Pan



Yok Han Thian Sin Kang ke dalam tubuhnya untuk mendesak ke luar hawa murni Kiu Yang Sin Kang itu.

Berselang beberapa saat kemudian, mulut Tio Bun Yang tidak mengeluarkan uap lagi, dan wajahnya pun telah normal kembali. Sebaliknya Wajah Tio Cie Hiong menjadi pucat pias. Ia segera berhenti mengerahkan Pan Yok Han Thian Sin Kang, sekaligus menarik kembali tangannya dari punggung Tio Bun Yang.

Tio Bun Yang bangkit berdiri, sedangkan Tio Cie Hiong masih duduk bersemedi. Berselang sesaat, barulah ia bangkit berdiri sambil menghela nafas panjang dan berkata,

“Untung aku memiliki lweekang tinggi dan dua kali makan buah Kiu Yap Ling Che! Kalau tidak, aku pasti sudah tàrluka dalam!”

“Ayah....”            Tio          Bun        Yang      segera  bersujud              dihadapan

ayahnya. “Maafkan Bun Yang telah menyusahkan Ayah!”

“Nak!” Tio Cie Hiong tersenyum lembut sambil membangunkannya “Kini ayah, ibu dan lainnya telah berlega hati, karena engkau telah sembuh.”

“Terima kasih Ayah!” ucap Tio Bun Yang.

“Nak, duduklah!” Tio Cie Hiong tersenyum lagi sambil duduk.

“Ya, Ayah.” Tio Bun Yang duduk di sisi Lim Ceng Im. “Ibu, mulai sekarang Ibu tidak perlu cemas lagi.”

"Nak....” Lim Ceng Im membelainya dengan penuh kasih

sayang.

“Ha ha ha!” Sam Gan Sin Kay tertawa gelak.

“Tio Tocu, urusan in sudah beres. Maka kita pergi main catur!”



“Baik.” Tio Tay Seng mengangguk Mereka berdua lalu pergi main catur.

“Adik Im,” ujar Tio Cie Hiong sungguh-sungguh. “ini merupakan pengalaman bagiku. Seseorang memang tidak boleb belajar bermacam-macam ilmu lweekang, sebab akan mencelakai diri sendiri.”

“Benar.” Lim Ceng Im mengangguk “Untung Bun Yang cepat menyadani hal itu, kalau tidak....”

“Dia pasti gila.” Tio Cie Hiong menghela nafas Panjang.

“Oh ya!” Lim Ceng Im teringat sesuatu. "Kini dia telah memiliki Ilmu Penakiuk Iblis, itu tidak akan mempengaruhinya?"

"Tentu tidak.” Tio Cie Hiong tersenyum. "Karena Ilmu Penakluk Iblis merupakan semacam ilmu kebatinan tingkat tinggi, jadi dapat memperkuat batinnya.~’

“Oooh!” Lim Ceng Im manggut-manggut. “Kakak Hiong, sungguh kasihan Kakak Hong Hoa! Selama lima tahun ini, dia hidup dengan hati tersiksa."

“Itu karena ulah Lie Man Chiu.” Tio Cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala. “Selama lima tahun ini, dia sama sekali tidak pulang. Entah dia menjadi apa di rimba persilatan?”

“Kakak  Hiong....”             Lim         Ceng      Im           menatapnya      sambil

tersenyum. “Untung engkau tidak seperti Lie Man Chiu!”

“Adik  Im....”  Tio  Cie  Hiong  menatapnya  mesra  dengan

penuh cinta kasih. “Bagaimana mungkin aku akan seperti Lie Man Chiu?”

“Paman, Bibi,” sela Lie Ai Ling mendadak. “Ayahku memang jahat, tega meninggalkan kami. Aku pun tidak mau mengakunya sebagai ayah lagi, sebab dia... dia membuat ibu menderita!”



“Ai Ling....” Tio Cie Hiong terkejut. Ia lupa akan keberadaan

Lie Ai Ling di situ.

“Paman adalah lelaki yang paling baik didunia, juga sebagai ayah yang paling baik. Sebaliknya ayahku merupakan lelaki yang paling jahat di dunia. Demi mengangkat namanya dirimba persilatan, dia begitu tega meninggalkan kami.”

"Ai Ling...,” ujar Lim Ceng Im dengan suara rendah. “Engkau tidak boleh berkata demikian dihadapan ibumu, sebab akan membuat ibumu sedih lho!”

"Ya, Bibi!” Lie Ai Ling mengangguk.

“Adik Ai Ling!” Mendadak Tio Bun Yang menarik tangannya. “Mari kita pergi berlatih!”

“Ya, Kakak Bun Yang.” Lie Ai Ling mengangguk. Mereka berdua lalu meninggalkan ruangan itu.

Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im menghela nafas panjang, sementara monyet bulu putih itu duduk diam saja di kursi.

“Adik Im!” Tio Cie Hbong tersenyum. “Kini legalah hati kita, karena Bun Yang telah sembuh.”

“Ya.” Lim Ceng Im mengangguk dengan wajah berseri, kemudian berkata, “Kakak Hiong, bagaimana menurutmu mengenai Bun Yang dengan Ai Ling?”

“Maksudmu?” Tio Cie Hiong agak terbelalak.

“Mereka berdua begitu akrab dan cocok, mungkinkah mereka berjodoh menjadi suami isteri?” sahut Lini Ceng Im.

“Adik Im!” Tio Cie Hiong tertawa. “Mereka berdua memang akrab dan sangat cocok sekali. Bahkan juga saling mengasihi dan saling mencinta pula.”

“Kalau begitu....” Wajah Lim Ceng Im berseri. “Aku sangat

menyukai Ai Ling.”



“Adik Im!” Mendadak Tio Cie Hiong tampak serius. “Engkau jangan salah paham. Mereka saling mencinta bagaikan kakak adik kandung, bukan merupakan sepasang kekasih lho!”

“Oh?” Lim Ceng Im tertegun.

“Menurutku...” ujar Tio Cie Hiong. “Mengenai perjodohan Bun Yang, terserah padanya. Kita sebagai orang tua hanya merestui saja, jangan bantu dia memilih. Sebab dia bisa pilih sendiri, jadi terserah dia saja.”

“Ya.” Lim Ceng Im mengangguk, kemudian tersenyum geli. “Kakak Hiong....”

“Ada apa? Kenapa engkau mendadak tertawa geli?”

“Aku teringat pertemuan kita pertama kali. Engkau bertelanjang bulat mandi di kali,” sahut

Lim Ceng Im yang masih tertawa geli. “Mungkinkah Bun Yang akan mengalami hal seperti itu?"

“Mudah-mudahan!” ucap Tio Cie Hiong samtertawa gelak. “Itu yang kuharapkan.”

“Dasar...!” Lim Ceng Im mencubit paha suaminya, dan kemudian Tio Cie Hiong memeluknya erat-erat dengan mesra sekali.

-oo0w0oo-

Tio Hong Hoa duduk melamun di dekat taman bunga. Matanya terus memandang bulan purnama, yang bersinar terang, lalu menggeleng-gelengkan kepala sambil menghela nafas panjang.

“Sudah lima tahun! Sudah lima tahun...” gumamnya dengan mata basah. “Kakak Chiu, kenapa engkau belum pulang? Aku... aku rindu sekali kepadamu, begitu pula Ai Ling putri kita itu. Kakak Chiu, apakah engkau telah melupakan kami? Aaakh..!”



“Ibu! Ibu....” Muncul Ai Ling menghampirinya.

“Al Ling!” Tio Hong Hoa menatapnya sambil tersenyum getir. “Kenapa engkau belum tidur?”

“Ibu belum tidur, bagaimana mungkin Ai Ling bisa tidur?” Lie Ai Ling duduk di sisi ibunya.

“Nak....”  Tio  Hong  Hoa  membelainya  lembut.  “Sungguh

kasihan engkau....”

“Yang harus dikasihani adalah Ibu.” Lie Ai Ling menatapnya iba. “Karena Ibu tampak agak tua dan rambut ibu pun mulai memutih. Ibu, sungguh kejam ayah, Ai Ling benci kepadanya!”

“Nak....” Tio Hong Hoa menghela nafas panjang. “Tidak

baik engkau membencinya, sebab biar bagaimana pun dia adalah ayahmu.

"Hmm!” dengus Lie Ai Ling dingin. “Percuma punya ayah begitu macam, iebih baik anggap dia sudah mati.”

“Nak!” Wajah Tio Hong Hoa berubah pucat. “Engkau....”

“Hanya demi mengangkat nama, dia tega meninggalkan kita,” ujar Lie Ai Ling sengit. “Lihatlah Paman Cie Hiong, dia hidup tenang dan bahagia bersama anak isterinya di pulau ini, tidak seperti ayah, yang mementingkan dirinya sendiri.”

“Sifat  manusia  berbeda....”  Tio  Hong  Hoa  menggeleng-

gelengkan kepala. “Nak, walau ayahmu begitu tega meninggalkan kita, namun ibu tetap mencintainya, dan merindukannya pula!”

“Ibu....” Lie Ai Ling terbelalak. “Ayah begitu jahat, tapi

kenapa ibu masih mencintai dan merindukannya?”

“Nak, sebetulnya ayahmu tidak jahat.” Tio Hong Hoa menjelaskan. “Dia cuma terlampau berambisi, lagi pula mungkin sudah merupakan nasib ibu. Maka... engkau jangan mempersalahkannya.”



“Ibu....” Lie Ai Ling menghela nafas. “Sungguh besar jiwa

Ibu, tapi, sebaliknya ayah....”

“Yaah!” Tio Hong Hoa tersenyum getir. “Mungkin juga merupakan takdir, ibu harus menerima itu dan memaafkan ayahmu.”

“Ibu,” sahut Lie Ai Ling sungguh-sungguh. “Pokoknya Ai Ling tidak akan memaafkan ayah.”

“Nak, engkau tidak boleh begitu.”

“Tidak boleh begitu? Jadi dia boleh meninggalkan kita sesuka hatinya? Lelaki macam itu lebih baik kita lupakan saja!”

“Nak, dia ayahmu. Jangan lupa itu....”

“Ibu, di saat ayah meninggalkan kita, di saat itu pula Ai Ling sudah tidak punya ayah.”

“Adik Ai Ling....” Mendadak muncul Tio Bun Yang. Apa yang

dikatakan Lie Ai Ling masuk kedalam telinganya. “Engkau tidak boleh berkata begitu. Ayahmu memang bersälah, namun tetap ayahmu, maka engkau harus memaafkannya. Aku yakin suatu hari nanti, ayahmu pasti menyesal akan perbuatannya itu.”

“Kakak Bun Yang....”  Sungguh mengherankan, gadis itu

tidak berani berdebat dengannya.

“Bagaimana mungkin ayahku akan menyesal? Itu...tidak mungkin.”

“Adik Ai Ling!” Tio Bun Yang menatapnya lembut. “Engkau harus tahu, Paman Chiu meninggalkan kalian lantaran suatu ambisi. Itu bukan berarti dia tidak mencintai kalian. Dia tega meninggalkan kalian karena nuraninya telah tertutup oleh ambisinya itu. Akan tetapi, suatu hari nanti pintu nuraninya pasti terbuka kembali, yang akan membuatnya menyesal dan pasti berlutut dihadapan ibumu untuk memohon



pengampunan. Oleh karena itu, engkau harus memaafkannya agar pintu nuraninya terbuka. Mengerti?”

“Mengerti, Kakak Bun Yang.” Lie Ai Ling mengangguk. “Aku pasti menuruti nasihatmu.”

“Bagus!” Tio Bun Yang tersenyum lembut sambil membelainya. “Aku sangat bersyukur dan legalah hatiku, karena engkau sudah mengerti dan mau menuruti nasihatku.”

“Kakak Bun Yang!” Lie Ai Ling menatapnya seraya berkata. “Engkau adalah kakakku yang paling baik di dunia!”

“Terima kasih, adik Ai Ling!” Tio Bun Yang tersenyum lagi. “Nah, mulai sekarang engkau tidak boleh berdebat dengan ibumu lagi. Kasihan ibu yang dirundung duka dan sangat menderita.”

“Ya.” Lie Ai Ling mengangguk, kemudian merangkul Tio Hong Hoa sambil menangis terisak-isak. “Ibu, maafkan Ai Ling!”

“Nak....”  Tio  Hong  Hoa  membelainya  dengan  air  mata

berderai-derai, kemudian berkata kepada Tio Bun Yang. “Terima kasih Bun Yang, engkau dapat menasihati Ai Ling!”

“Bibi, Bun Yang menyayanginya, maka harus menasihatinya,” ujar Tio Bun Yang. “Lagi pula Ai Ling boleh dikatakan sebagai adikku.”

“Bun Yang....” Tio Hong Hoa terharu bukan main. “Sifatmu

sungguh baik sekali, seperti sifat ayahmu.

“Bibi!” Tio Bun Yang menatapnya dalam-dalam. “Bun Yang harap mulai sekarang, Bibi jangan berduka lagi! Bun Yang yakin suatu hari nanti, Paman Chiu pasti pulang.”

“Mudah-mudahan!” sahut Tio Hong Hoa. “Memang itu yang bibi harapkan.”

-oo0dw0oo-



Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im duduk santai di ruang depan sambil bercakap-cakap, Wajah mereka tampak ceria dan bahagia.

“Adik Im,” ujar Tio Cie Hiong. “Bun Yang telah menguasai seluruh kepandaianku, hanya saja lweekangnya masih dangkal”

“Jadi harus bagaimana agar lweekangnya mencapai ke tingkatmu?” tanya Lim ceng Im.

“Itu agak sulit.” Tio Cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala. “Sebab aku pernah makan buah Kiu Yap Ling Che, maka lweekangku menjadi tinggi”

“Kalau begitu....”

“Adik Im!” Tio Cie Hiong tersenyum. “Itu adalah buah ajaib dan langka, yang lima ratus tahun berbuah sekali, jadi tidak gampang orang memperoleh buah ajaib itu.”

“Oooh!” Lim Ceng Im manggut.manggut “Kalau begitu, Bun Yang harus terus melatib lweekangnya, bukan?”

“Ya.” Tio Cie Hiong mengangguk.

“Harus melatih berapa lama?”

“Mungkin sepuluh tahun, bahkan juga dua puluh tahun. Aku tidak begitu jelas.”

“Yaah!” Lim Ceng Im menghela nafas panjang.

Di saat bersamaan, tampak sosok bayangan putih melesat ke dalam, lalu duduk di hadapan mereka.

“Kauw-heng!” Tio Cie Hiong tersenyum. “Dari mana engkau?”

Monyet bulu putih langsung manggut-manggut, kemudian bercuit-cuit tampak gembira sekali.



“Kalau begitu, pergilah panggil Bun Yang kemari!” ujar Tio Cie Hiong kepada monyet bulu putih.

Monyet bulu putih itu bercuit-cuit sambil menggerak-gerakkan tangannya Tio Cie Hiong manggut-mangggut dan berkata. “Barusan engkau menyaksikan latihan Tio Bun Yang?”

Monyet bulu putih itu manggut-manggut, kemudian sepasang tangannya bergerak sekaligus menarik nafas

“Maksudmu lweekangnya masih dangkal?”

Monyet bulu putih manggut-manggut lagi, lalu menunjuk ke atas, menunjuk dirinya sendiri dan menunjuk ke sana ke mari

“Apa?” Tio Cie Hiong terbelalak

“Kakak Hiong,” tanya Lim Ceng Im. “Kauw-heng bilang apa?”

"Dia bilang ingin mengajak Bun Yang pergi ke Gunung Thian San,” jawab Tio Cie Hiong memberitahUkan “Bun Yang harus berlatih disana, agar lweekangnya bisa mencapai tingkat tinggi.”

“Oh?” Lim Ceng Im tertegun “Kakak Hiong, bagaimana menurutmu?”

"Harus kita rundingkan dengan paman dan kakekmu,” sahut Tio Cie Hiong. “Aku tidak berani mengambil keputusan sekarang”

“Ada apa?” Mendadak muncul Tio Tay Seng bersama Sam Gan Sin Kay.

“Paman, Kakek pengemis!” panggil Tio Cie Hiong.

“Cie Hiong!” Tio Tay Seng menatapnya. “Kelihatannya engkau sedang merundingkan sesuatu dengan kauw heng. Apa yang kalian rundingkan?”

“Paman!” Tio Cie thong memberjtahukan. “Kauw-heng mengajukan suatu usul.”



“Oh?” Tio Tay Seng tersenyum, “Kauw-heng mengajukan usul apa?”

“Dia ingin mengajak Bun Yang pergi ke Gunung Thian San.”

“Maksudnya Bun Yang berlati di tempat tinggalnya, di Gunung Thian San?” tanya Tio Tay Seng.

“Ya.” Tio Cie Hiong mengangguk, “Bagaimana menurut Paman?”

"Ha ha ha!” Sam Gan Sin Kay tertawa mendadak. “Itu merupakan suatu kesempatan bagi Bun Yang, maka kalian harus mengijinkan kauw-heng mengajaknya ke sana.”

“Cie Hiong,” ujar Tio Tay Seng sungguh-sungguh. “Terus terang, Paman tidak keberatan”

“Tapi “Tio Cie Hiong melirik Lim Ceng Im.

“Kakak Hiong!” Lim Ceng Im tersenyum. “Aku pun tidak berkeberatan, itu memang merupakan suatu kesempatan bagi Bun Yang. Lagi pula kauw heng sangat sakti, siapa tahu dia akan memetik buah ajaib Kiu Yap Ling Che untuk Bun Yang.”

Monyet bulu putih bercuit sekali, lalu melesat pergi. Tak lama kemudian hewan itu telah kembali bersama Tio Bun Yang.

“Ayah memanggil Bun Yang?”

“Ya.” Tio Cie Hiong mengangguk. “Bun Yang, kauw-heng ingin mengajakmu pergi ke Gunung Thian San. Apakah engkau setuju?”

“Mau apa kauw heng mengajak aku ke sana?” tanya Tio Bun Yang dengan rasa heran.

Monyet bulu putth segera bercuit-cuit, Sekaligus menggerak-gerakkan tangannya.



“Oooh!” Tio Bun Yang manggut-manggut sambil tersenyum. “Ternyata kauw-heng menghendaki agar aku berlatih di sana!”

“Bagaimana?” Tio Cie Hiong menatapnya. “Engkau setuju?”

“Tentu setuju.” Tio Bun Yang mengangguk. “Karena itu merupakan kesempatan bagiku, maka aku tidak mau mengecewakan maksud baik kauw-heng.”

“Kalau begitu, kapan engkau dan Kauw heng akan berangkat?” tanya Lim ceng Im.

“Besok pagi,” sahut Tio Bun Yang. “Ibu tidak berkeberatan, bukan?”

“Tentu tidak, namun engkau harus berhati-hati...” Ucapan Lim Ceng Im terputus, karena mendadak monyet bulu putih bercuit-cuit.

Lim Ceng Im tersenyum “Kauw-heng bisa menjaganya, bukan?”

Monyet bulu putih manggut-manggut, dan Tio Bun Yang tersenyum.

“Ibu, aku pun bisa menjaga diri,” katanya sungguh-sungguh.

“Ngmm!” Lim Ceng Im manggut-manggut.

“Bun Yang!” Tio Cie Hiong menatapnya dalam-dalam. “Engkau dan kauw-heng boleh berangkat besok pagi, tapi begitu usai berlatih dsana engkau dan kauw-heng harus segera pulang. Jangan berkelana dulu, engkau harus ingat”

“Ya, Ayah." Tio Bun Yang mengangguk, “Bun Yang pasti mematuhi pesan Ayah."

“Bagus!” Tio Cie Hiong manggut-manggut.

“Oh ya!” Tio Bun Yang teringat sesuatu “Bun Yang harus memberitahu bibi dan adik Ai Ling”



“Mereka berada di ruang belakang, pergilah menemui mereka!” ujar Tio Cie Hiong.

“Ya, Ayah.” Tio Bun Yang berjalan ke ruang belakang.

0 Response to "Pendekar Sakti Suling Pualam Bagian 01"

Post a Comment