coba

Kesatria Baju Putih (Pek In Sin Hiap) Bagian 40

Mode Malam
Bagian 40
"Oh?" Wajah Tang Hai Lo Mo tampak berseri. "Maksud Tetua mengajak mereka ke mari untuk memperkuat Bu Tek Pay?"

"Benar. Kalau kami yang pergi mengajak mereka ke mari, mereka tentu tidak akan menolak." sahut siluman Kurus sambil tertawa.

"Setelah mereka ke mari, barulah kita menyusun rencana untuk menghadapi Tui Beng Li, Hong Hoang Leng dan Thian Liong Kiam Khek."

"Baik." Bu Lim sam Mo mengangguk.

"Sebelum kami kembali bersama Kwan Gwa Lak Kui, janganlah kalian sembarangan bertindak" pesan siluman Kurus.

"Ya." Bu Lim sam Mo mengangguk, kemudian Thian Mo bertanya. "Kapan kalian berangkat?"

"Besok pagi," sahut Kwan Gwa siang Koay pasti, " ingat, sebelum kami kembali, kalian jangan bertindak"

"Ya." Bu Lim sam Mo mengangguk.

Keesokan harinya, Kwan Gwa siang Koay berangkat secara diam-diam. Yang tahu keberangkatan mereka Bu Lim sam Mo, Ang Bin sat sin, Liu siauw Kun dan Takara Yahatsu, ketua aliran Ninja.

Di dalam markas pusat Kay Pang, terdengarlah suara tawa terbahak-bahak. Ternyata suara tawa Bu Lim Ji Khie, Tui Hun Lojin, Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong. sedangkan Lim Ceng Im diam saja, tidak ikut tertawa.

"Ha ha ha" sam Gan sin Kay terus tertawa hingga badannya bergoyang-goyang. "Tak disangka sama sekali, kini muncul lagi Thian Liong Kiam Khek dan memberantas anggota-anggota Bu Tek Pay, Aku yakin Bu Lim sam Mo dan Kwan Gwa siang Koay pasti marah besar kali ini."

"Benar." Kim siauw suseng manggut-manggut. "sebab Bu Tek Pay telah menyatakan, siapa berani menentang, pasti dibunuh. Namun mareka belum membunuh Tai Beng Li, pemilik Hong Hoang Leng dan Thian Liong Kiam Khek. sebaliknya mereka malah kehilangan banyak anggota."

"Ha ha" Tai HUn Lojin tertawa. "Itu merupakan pukulan ketiga bagi Bu Lim sam Mo dan Kwan Gwa siang Koay."

"Heran" gumam Lim Peng Hang. "siapa sebenarnya Thian Liong Kiam Khek itu? Kenapa dia juga memusuhi Bu Tek Pay?"

"Memang mengherankan," Gouw Han Tiong menggeleng-gelengkan kemala. "Kita sama sekali tidak tahu siapa mereka."

"Yang jelas mereka berada dipihak golongan putih," sahut sam Gansin Kay dan menambahkan. "Aku yakin mereka akan bergabung melawan Bu Lim sam Mo dan Kwan Gwa siang Koay."

"Walaupun bergabung, mereka tetap tidak akan bisa melawan Bu Lim sam Mo dan Kan Gwa siang Koay." ujar Kim sia uw suseng.

"Tidak salah." sam Gan sin Kay tersenyum. "Tapi jangan lupa satu hal lho"

"Hal apa?" tanya Kim siauw suseng heran.

"Mereka pasti mempunyai guru, dan tidak mungkin guru mereka diam saja, bukan?" sahut sam Gan sin Kay.

"Aku tidak habis pikir, siapa guru-guru mereka?" Kim siauw suseng menghela nafas.

"Pemilik Hong Hoang Leng pasti berasal dari Hong Hoang To, pulau yang misterius itu," sahut sam Gan sin Kay. "Lalu guru Tui Beng Li dan guru Thian Liong Kiam Khek...."

"Sulit diduga siapa guru mereka." Kim siauw suseng menggeleng-gelengkan kepala. "Dalam rimba persilatan kini, siapa yang berkepandaian setingkat dengan Bu Lim sam Mo dan Kwan Gwa siang Koay?"

"Kita justru tidak tahu," sahut Tui Hun Lojin. "Yang sangat terkenal adalah It ceng, Ji Khie dan sam Mo. It ceng telah mati, sedangkan Ji Khie tak berkutik. Lalu masih ada siapa yang berkepandaian setingkat dengan Sam Mo dan Siang Koay?"

"Apa-apaan nih" sela Lim ceng Im mendadak dengan wajah tidak senang. "cuma memikirkan orang lain, sama sekali tidak mau memikirkan Kakak Hiong"

"Nak" ujar Lim Peng Hang menghiburnya. "Tenanglah Tidak lama lagi Cie Hiong pasti kembali."

"Beberapa bulan lalu. Ayah mengatakan demikian. Sekarang juga mengatakan demikian Aku sudah bosan mendengarnya" sahut Lim ceng Im dengan wajah murung.

"ceng Im" Sam Gan sin Kay menatapnya. "Kami juga memikirkan Cie Hiong. Kalau dia sudah sembuh, dia pasti kembali. Kenapa engkau jadi bersungut-sungut terhadap kami?"

"Kakek...." Mata Lim ceng Im mulai basah. "Aku...."

"ceng Im, engkau harus tenang dan tetap sabar" ujar Kim Siauw Suseng lembut. "Aku punya firasat, tidak lama lagi Cie Hiong pasti kembali. Percayalah"

"Kakak Hiong...." Air mata Lim ceng Im mulai meleleh dan bergumam. "Kenapa aku dan Kakak

Hiong selalu berpisah? Kenapa...?"

"Nak" Lim Peng IHang menghampirinya, kemudian membelainya seraya berkata. "Sabarlah Cie Hiong pasti kembali."

"Tapi...." Lim Ceng Im terisak-isak. "Aku...."

Lim Ceng Im berlari ke dalam. Lim Peng Hang menggeleng-gelengkan kepala sambil menghela nafas panjang, lalu duduk kembali dengan wajah murung.

Mendadak masuk sai Pi Lo Kay. Pengemis lua ilu memberi hormat lalu melapar dengan wajah serius.

"Salah seorang anggota kita melihat Kwan Gwa siang Koay pergi, maka segera memberitahukan padaku. "

"Apa?" sam Gan sin Kay tertegun. Begitu pula yang lain. "Kwan Gwa siang Koay pergi ke mana?" "Entahlah." sai Pi Lo Kay menggelengkan kepala.

"Baiklah." Lim Peng Hang manggut-manggut. "Engkau boleh kembali ke tempatmu untuk beristirahat."

"Terima kasih, Pangcu" ucap sai Pi Lo Kay lalu meninggalkan ruang itu.

"Apa sebabnya Kwan Gwa siang Koay meninggalkan markas?" gumam sam Gan sin Kay sambil mengerutkan kening.

"Aku yakin, dia pasti kembali ke Kwan Gwa," sahut Kim siauw suseng.

"Kenapa dia kembali ke Kwan Gwa?" tanya Tui Hun Lojin dengan kening berkerut-kerut. "Mungkin...." Kim siauw suseng berpikir sejenak. " untuk mencari bantuan" "Mencari bantuan?" sam Gan sin Kay menatapnya. "Maksudmu?"

"Untuk memperkuat Bu Tek Pay." Kim siauw suseng menjelaskan. "Mereka khawatir guru Tui Heng Li, Thian Liong Kiam Khek dan pihak pulau Hong Hoang To akan bergabung melawan mereka. Maka Kwan Gwa siang Koay kembali ke Kwan Gwa untuk mencari bantuan."

"Masuk akal." sam Gan sin Kay manggut-manggut. " Entah siapa yang akan mereka undang?"

"Selain Kwan Gwa siang Koay, siapa yang berkepandaian tinggi di Kwan Gwa?" tanya Kim siauw suseng.

Sam Gan sin Kay dan Tui Hun Lojin terus berpikir, kemudian mendadak Sam Gan sin Kay berseru kaget.

"Mungkinkah mereka yang akan diundang?"

"Siapa?" tanya Kim siauw suseng dan Tui Hun Lojin serentak.

"Kwan Gwa Lak Kui," sahut sam Gan sin Kay.

"Haaah..." Kim siauw suseng dan Tui Hun Lojin tampak terkejut. "Kwan Gwa Lak Kui (Enam setan Liar perbatasan)?"

"Kuduga mereka yang akan diundang," sahut sam Gan sin Kay sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Tentunya kalian tahu bagaimana kepandaian Kwan Gwa Lak Kui?"

"Kepandaian mereka berenam setingkat dengan kepandaian Kwan Gwa siang Koay, bahkan sangat kejam." sahut Kim siauw suseng dan menambahkan. "Kalau tidak salah, mereka pernah muncul di Tionggoan lima puluh tahun lalu. Kepandaian mereka memang tinggi sekali. Kalau mereka bergabung dengan Bu Lim sam Mo, siapa yang mampu melawan mereka?"

"Celaka" sam Gan sin Kay menghela nafas.

"Memang sudah celaka," sahut Kim siauw suseng sambil tertawa. "Ditambah celaka lagi, juga tidak menjadi masalah."

"Engkau yang tidak menjadi masalah" ujar Sam Gan Sin Kay sambil melotot. "Dasar sastrawan sialan sama sekali tidak memikirkan Cie Hiong, bagaimana mungkin dia melawan Bu Lim sam Mo, Kwan Gwa siang Koay dan Lak Kui."

"Iya, ya?" Kim siauw suseng mengerutkan kening. "Itu... itu bagaimana?"

"Tenanglah" sahut Tui Hun Lojin. "Apakah kalian telah melupakan guru-guru Tui Beng Li dan Thian Liong Kiam Khek serta pihak pulau Hong Hoang To?"

"Benar." sam Gan sin Kay tertawa. "Aku yakin mereka pasti akan bantu Cie Hiong. Mungkin mereka akan bergabung."

"Diam Jangan tertawa" bentak Kim siauw suseng.

"Lho? Kenapa?" sam Gan sin Kay heran. " Kenapa marah-marah"

"Tadi ketika aku tertawa, engkau melotot. Maka kini engkau tertawa, aku harus marah-marah," sahut Kim siauw suseng, tapi kemudian tertawa.

Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiongcuma saling memandang, lalu menggeleng-gelengkan kepala.

Sementara itu, Tio Cie Hiong terus berlatih di atas batu dingin agar lweekangnya pulih. setelah makan buah Kiu Yap Ling che, Tio Cie Hiong mulai menghimpun lweekangnya di atas batu dingin itu.

Ia terus menghimpun lweekangnya dengan penuh semangat, akhirnya berhasil sehingga merasa gembira sekali.

"Kauw heng" Tio Cie Hiong memeluk monyet bulu putih itu erat-erat. "Aku telah berhasil menghimpun Iweekangku, bahkan tulang punggungku telah bersambung kembali."

Monyet bulu putih bercuit-cuit, kelihatannya girang bukan main. Tio Cie Hiong membelainya dengan penuh kasih sayang, karena ia betul-betul telah berhutang budi pada monyet itu

"Kauw heng, mungkin dua tiga bulan lagi setelah kepandaianku pulih seperti sedia kala, aku akan meninggalkan goa ini."

Mendadak monyet bulu putih menatapnya tajam, kemudian bercuit-cuit lagi seakan memberitahukan sesuatu kepada Tio Cie Hiong.

"Oooh" Tio Cie Hiong tersenyum. " Eng kau menagih janjiku, kan?" Monyet bulu putih manggut-manggut.

"Jangan khawatir, Kauw heng" Tio Cie Hiong membelainya lagi. "Aku pasti membawamu, sebaBengkau pun bisa bantu aku memberantas para penjahat."

Monyet itu bercuit-cuit, kemudian meloncal turun dari pelukan Tio Cie Hiong, dan menggerakkan sepasang tangannya.

"Ha ha ha" Tio Cie Hiong tertawa gelak. "Aku tahu, engkau juga memiliki kepandaian tinggi."

Sementara monyet bulu putih terus menggerakkan sepasang tangannya, lalu memukul ke arah sebuah batu yang berukuran cukup besar. Blaaammm Batu itu hancur lebur.

"Haaah?" Tio Cie Hiong terbelalak. la tidak menduga kalau monyet bulu putih itu memiliki Iweekang yang begitu dalam, gerakan-gerakan sepasang tangannya juga bukan main lihaynya.

Setelah memukul batu, monyet bulu putih membalikkan badannya sambil bercuit-cuit, dan tampak bangga sekali.

"Kauw heng" Tio Cie Hiong bertepuk tangan. " engkau sungguh hebat Ayoh, perlihatkan lagi kepandaianmu"

Monyet bulu putih manggut-manggut. lalu mulai ia bergerak.

Tio Cie Hiong terbelalak menyaksikannya, sebab ia tidak pernah melihat monyet bulu putih bergerak seperti itu.

Karena tertarik. maka sudah barang tentu Tio Cic Hiong menyaksikannya dengan penuh perhatian. Berselang beberapa saat kemudian, barulah monyet bulu putih menghentikan gerakannya.

"Bukan main" seru Tio Cic Hiong kagum. "Itu merupakan ilmu pukulan tingkat tinggi. Kauw heng, engkau sungguh luar biasa"

Monyet bulu putih bercuit-cuit melirik Tio Cie Hiong, kelihatan bangga sekali karena dipuji.

"Engkau menyuruhku meniru gerakan-gerakanmu itu?" tanya Tio Cie Hiong. Monyet bulu putih manggut-manggut.

"Baiklah." Tio Cie Hiong tersenyum. "Aku akan mencoba meniru gerakan-gerakanmu itu."

Tio Cie Hiong mulai bergerak. dan monyet bulu putih terus memandang dengan penuh perhatian. Kalau ada kekeliruan, monyet bulu putih pasti bercuit-cuit, lalu bergerak seakan memberi petunjuk. Akhirnya Tio Cie Hiong berhasil mempelajari ilmu pukulan itu, dan monyet bulu putih berjingkrak-jingkrak saking girangnya. "Kauw heng, ilmu pukulan apakah itu?" tanya Tio Cie Hiong.

Monyet bulu putih diam saja, kemudian menggaruk-garuk kepala sambil memandang Tio Cie Hiong.

"Apakah engkau juga tidak tahu?" tanya Tio Cie Hiong sambil tersenyum. Monyet bulu pulih manggut-manggut.

"Kalau begitu...." Tio Cie Hiong berpikir sejenak. "Akan kunamai Kan Kun ciang Hoat (Ilmu

Pukulan Alam semesta), sebab agak mirip Kan Kun Taylo ciang Hoat yang terdiri dari tiga jurus."

Monyet bulu putih bertepuk-tepuk tangan sambil bercuit-cuit, kelihatannya gembira sekali.

Mungkin ilmu pukulan itu memang Kan Kun ciang Hoat.

"Kauw heng, aku masih harus melatih lwee-kangku. Kalau sudah pulih seperti sedia kala, kita akan meninggalkan goa ini."

Bab 65 Kwan Gwa Lak Kui (Enam Setan Liar Perbatasan)

Kwan Gwa siang Koay telah kembali ke markas Bu Tek Pay bersama Kwan Gwa Lak Kui. Tentunya sangat menggembirakan Bu Lim sam Mo, Ang Bin sat sin dan Liu siauw Kun, begitu pula Takara Yahatsu yang masih tinggal di markas tersebut. "Selamat datang, Lak Kui" ucap Tang Hai Lo Mo tertawa.

"Selamat bertemu" sahut Kwan Gwa Lak Kui serentak sambil tertawa. Mereka berenam adalah Tok Gan Kui (setan Mata satu), Tiau Am Kui (setan Gantung Leher), Bu Ceng Kui (setan Tanpa Perasaan), ok sim Kui (setan Hati Jahat), Toa Thau Kui (setan Kepala Besar) dan ciak Bin Kui (setan Muka Hijau). Wajah mereka seram sekali, maka tidak heran kalau dijuluki Enam setan.

"Silakan duduk" ucap Bu Lim sam Mo.

"Terimakasih" sahut Kwan Gwa Lak Kui lalu duduk.

Seketika beberapa anggota Bu Tek Pay segera menyuguhkan berbagai macam hidangan dan minuman.

"Ha ha ha" Kwan Gwa siang Koay tertawa gembira. "Lak Kui, mari kita makan dan minum" "Ha ha ha" Tiau Am Kui tertawa gelak. "Mari kita bersulang, setelah itu barulah kita makan" "Mari" sahut Kwan Gwa siang Koay, Bu Lim sam Mo dan Ang Bin sat sin.

Mereka bersulang, kemudian barulah bersantap sambil tertawa ria seusai bersantap. mereka bercakap-cakap.

"Siang Koay mengundang kami ke mari," ujar Tiau Am Kui memberitahukan. "Katanya kami berenam akan hidup senang di sini seperti mereka berdua, sebab kedudukan mereka di sini sebagai Tetua Bu Tek Pay. Karena itu, aku ingin bertanya, kenapa kami diundang ke mari?"

"Ha ha ha" siluman Kurus tertawa. "Tentunya untuk hidup senang dan memperkuat Bu Tek Pay"

Tiau Am Kui manggut-manggut. " Kalau begitu, apa kedudukan kami di sini?" "Tentunya sebagai Tetua Bu Tek Pay." siluman Gemuk memberitahukan sambil tertawa. "Bagaimana? Apakah kalian setuju?"

"Setuju." Kwan Gwa Lak Kui mengangguk, kemudian Bu Ceng Kui bertanya dengan serius. "Apakah Bu Tek Pay sedang menghadapi musuh tangguh?"

"Sebetulnya hanya bersiap-siap saja," sahut Tang Hai Lo Mo dan melanjutkan. "Belum lama ini telah muncul beberapa orang menentang Bu Tek Pay."

"Siapa mereka?" tanya Toa Thau Kui.

"Mereka Tui Beng Li, pemilik Hong Hoang Leng dan Thian Liong Kiam Khek." sahut Tang Hai Lo Mo.

"Hong Hoang Leng?" Kwan Gwa Lak Kui tampak agak terkejut. "Jadi Hong Hoang Leng sudah muncul lagi?"

"Ya." Tang Hai Lo Mo mengangguk. "oleh karena itu, Bu Tek Pay harus bersiap-siap menghadapi guru-guru mereka."

"Siapa guru-guru Tui Beng Li dan Thian Liong Kiam Khek?" tanya Tok Gan Kui sambil meneguk araknya.

"Kami belum tahu," jawab siluman Kurus. "Tapi mereka berdua berkepandaian hingga, bahkan telah membunuh anggota-anggota kita."

"oh?" Tok Gan Kui mengerutkan kening, lalu memandang Kwan Gwa siang Koay seraya bertanya. "Kenapa kalian belum bunuh mereka?"

"Kami tidak tahu mereka bersembunyi di mana, maka sulit mencari mereka," sahut siluman Kurus.

"Bagaimana menurut kalian?" tanya siluman Gemuk. "Apakah kalian punya ide?"

"Anggota yang berkepandaian rendah, tentu sulit melawan mereka," sahut Tiau Am Kui sambil mengerutkan kening. " Karena itu, kita harus mengutus anggota yang berkepandaian tinggi untuk membunuh mereka."

"Benar." Tang Hai Lo Mo manggut-manggut dan menambahkan. " Kalau begitu, mulai sekarang aku akan memerintah anggota-anggota yang berkepandaian tinggi agar membunuh Tui Beng Li, Thian Liong Kiam Khek dan pemilik Hong Hoang Leng."

Tiau Am Kui manggut-manggut. " Kalau anggota-anggota itu masih tidak dapat membunuh mereka, barulah kita turun tangan."

"Benar." siluman Gemuk mengangguk. "Nah, sekarang kita kesampingkan dulu urusan ini Mari kita menyaksikan tarian-tarian yang menarik"

Tang Hai Lo Mo segera bertepuk tangan tiga kali, tak lama muncullah para pemain musik dan penari yang cantik. seketika Kwan Gwa Lak Kui melotot saking terpesona.

"Ha ha ha" siluman gemuk tertawa terbahak-bahak. "Kalian berenam boleh memilih para penari itu. Malam ini mereka pasti memuaskan kalian. Ha ha ha..."

"Bagus" Kwan Gwa Lak Kui juga tertawa gelak. "sungguh menyenangkan sungguh menyenangkan"

Kini kepandaian Tio Cie Hiong telah pulih seperti sedia kala. Karena gembiranya pemuda itu memeluk monyet bulu putih sambil berjingkrak-jingkrakan.

"Kauw heng Kepandaianku sudah pulih, hari ini kita akan meninggalkan goa Engkau gembira, kan?"

Monyet bulu putih manggut-manggut, lalu mendadak meloncat ke arah dinding yang berukir gambar dan tulisan.

"Kauw Heng..." Tio Cie Hiong tercengang.

Monyet bulu putih bercuit-cuit, kemudian bergerak cepat memukul-mukul dinding goa. Tak seberapa lama, gambar dan tulisan yang terukir di dinding goa telah berubah tak karuan.

Tio Cie Hiong manggut-manggut. "Kauw heng, engkau memang pintar sekali. Ayoh, kita pergi"

Monyet bulu putih diam saja, kelihatannya sedang memikirkan sesuatu, lalu meloncat ke sudut untuk mengambil sesuatu. setelah itu, ia kembali ke hadapan Tio Cie Hiong, sekaligus menyerahkan sesuatu.

Tio Cie Hiong menerimanya dan terbelalak, ternyata monyet itu memberikan sebuah kedok kulit yang sangat halus.

"Kauw heng Apakah engkau menyuruhku memakai kedok kulit ini?"

Monyet bulu putih manggut-manggut. Tio Cie Hiong tertawa gembira seraya berkata.

"Benar. Aku harus memakai kedok kulit ini, sebab Tayli Lo Ceng memberitahukan kepadaku, pihak Kay Pang telah menyiarkan berita, bahwa aku sudah mati. Aku memang harus memakai kedok kulit ini, agar tidak dikenali orang lain, bahkan aku pun ingin membuat kejutan di markas pusat Kay Pang. Adik Im pasti tidak mengenali aku. Ha ha ha..."

Sementara itu, di markas pusat Kay Pang sedang berlangsung pula pembicaraan serius, berkaitan dengan Kwan Gwa Lak Kui yang telah tiba di markas Bu Tek Pay

Kini Bu Tek Pay bertambah kuat," ujar Sam Gan Sin Kay sambil menggeleng-gelengkan kepala. "sebab Kwan Gwa Lak Kui telah berada di sana."

Kalau begitu...." Kim siauw suseng mengerutkan kening. "Tui Beng Li, pemilik Hong Hoang Leng dan Thian Liong Kiam Khek dalam keadaan bahaya."

"Benar." Tui Hun Lojin manggut-manggut. "Pihak Bu Tek Pay pasti berupaya membunuh mereka."

"Tidak apa-apa," ujar sam Gan sin Kay. "Aku yakin guru-guru mereka tidak akan tinggal diam."

"Tidak salah." Kim siauw suseng manggut-manggut. "Apabila pihak Bu Tek Pay mengutus orang-orang berkepandaian tinggi untuk membunuh mereka, tentunya guru-guru mereka pun bertindak."

"Yang kusayangkan...." Tui Hun Lojin menghela nafas. " Yakni Cie Hiong belum pulang. Kalau

dia sudah pulang, mungkin masih dapat mengatasi urusan tersebut."

"Benar." sam Gan sin Kay mengangguk. "Oh ya, di mana Ceng Im?"

"Dia menemani Nona Michiko di ruang bawah tanah," sahut Lim Peng Hang memberitahukan.

Saat ini, Lim Ceng Im memang sedang menemani Michiko Mereka berdua berbicara dengan serius.

"Adik Ceng Im, sudah sekian lama aku bersembunyi di dalam ruang ini. Tapi... Kakak Cie Hiong masih belum kembali. Aku...."

Michiko menghela nafas panjang. "Rasanya aku sudah tidak betah....".

"Kakak Michiko" Lim Ceng Im menatapnya. "iar bagaimana pun engkau harus sabar, mungkin tidak lama lagi Kakak Hiong akan kembali."

"Adik Ceng Im" Michiko tersenyum getir. "Dari tempo hari engkau mengatakan demikian, namun buktinya Kakak Cie Hiong masih belum kembali. Adik Ceng Im, engkau tidak rindu kepadanya?"

"Kakak Michiko, aku...." mata Lim Ceng Im mulai basah. "Aku rindu sekali kepadanya."

"Aaakh..." Michiko menggeleng-gelengkan kepala. "setelah berhasil membunuh Takara Yahatsu ketua aliran Ninja itu, aku pun akan segera pulang keJepang."

"Kakak Michiko..."

"Adik Ceng Im" Michiko menatapnya sambil tersenyum lembut. "Engkau sungguh bahagia, punya calon suami yang begitu baik, setia dan sangat mencintaimu."

" Kakak Michiko Aku yakin engkau pasti akan bertemu pemuda yang seperti Kakak Hiong"

"Mudah-mudahan" sahut Michiko, kemudian melanjutkan. "Adik Ceng Im, apabila dalam waktu dua bulan ini Kakak Cie Hiong masih belum kembali, aku akan pergi mencari Takara Yahatsu."

"Kakak Michiko" Lim Ceng Im menggelengkan kepala. "Engkau akan celaka kalau meninggalkan ruang bawah tanah ini. Engkau sudah menunggu sekian lama, kenapa tidak bisa bersabar lagi?"

"Adik Ceng Im" Michiko menatapnya. "Aku tahu, engkau pun sudah tidak sabar lagi, bukan?"

"Memang." Lim Ceng Im mengangguk. "Tapi tetap harus menunggu, sebab aku yakin Kakak Hiong pasti kembali."

"Aaakh..." Michiko menghela nafas panjang. "Di mana-mana sama, pasti ada orang baik dan orang jahat. Kalian semua adalah orang baik, sedangkan Takara Yahatsu dan pihak Bu Tek Pay adalah orang jahat...."

"Mereka berkuasa dan bersenang-senang, tetapi Kakak Hiong malah menderita." Lim Ceng Im menggeleng-gelengkan kepala. "Sungguh kasihan Kakak Hiong"

"Adik Ceng Im" Michiko memegang bahunya seraya berkata. " Kalau Kakak Cie Hiong sudah pulang, kalian pasti tidak akan berpisah lagi, percayalah"

Mereka berdua saling menghibur, berselang beberapa saat, barulah Lim Ceng Im meninggalkan ruang bawah tanah menuju kamarnya.

Gadis itu duduk di pinggir tempat tidur sambil melamun, entah berapa lama kemudian, bergumam.

Kakak Hiong, kapan engkau kembali? Ka-pan...." setelah bergumam, gadis itu membaringkan dirinya di tempat tidur, dan isak tangisnya pun meledak.

Bu Lim Ji Khie, Tui Hun Lojin, Lim Peng Hang, Gouw Han Tiong dan Lim Ceng Im duduk di ruang dalam markas pusat Kay Pang dengan wajah murung, sementara malam semakin larut.

"Aaakh..." sam Gan sin Kay menghela nafas panjang. "seharusnya Cie Hiong sudah waktunya kembali, tapi kenapa dia masih belum muncul?"

"Mungkinkah dia belum sembuh, maka belum kembali?" sahut Kim siauw suseng sambil mengerutkan kening.

"Apakah orang yang membawa Cie Hiong pergi cuma menghibur kita?" sela Tui Hun Lojin. "Padahal Cie Hiong akan cacat seumur hidup."

"Kalaupun cacat, dia harus kembali," sahut Lim Peng Hang dan menambahkan. "sebetulnya itu tidakjadi masalah, yahg penting dia hidup,..."

"Ayah" ujar Lim Ceng Im terisak-isak. " Ketika dia dibawa pergi masih dalam keadaan luka parah, siapa yang akan merawatnya? Jangan-jangan...."

"Nah, engkau jangan menduga yang bukan-bukan" ujar Lim Peng Hang. "Percayalah Tidak akan terjadi suatu apa pun atas dirinya"

"Ayah" Air mata Lim Ceng Im mulai meleleh. "Aku sama sekali tidak mempermasalahkan itu. seandainya dia cacat, aku akan mengurusinya selama-lamanya...."

Disaat Lim Ceng Im mengucapkan demikian, mendadak berkelebat sosok bayangan ke dalam, tentunya sangat mengejutkan mereka.

"siapa?" bentak Bu Lim Ji Khie serentak.

Tampak seorang lelaki berusia empat puluhan berdiri di tengah-tengah ruang itu. Dia berpakaian putih dan seekor monyet berbulu putih duduk di bahunya.

Walau Bu Lim Ji Khie membentak, lelaki itu diam saja, hanya memandang Lim Ceng Im.

Mendadak monyet bulu putih itu bercuit-cuit, dan lelaki tersebut manggut-manggut.

Bu Lim Ji Khie dan Tui Hun Lojin langsung bangkit berdiri, kemudian menatap lelaki itu dengan tajam.

"Siapakah kau? Kenapa masuk ke mari?" tanya Kim siauw suseng membentak. "Ayoh Cepat jawab"

"Aku memang sengaja ke mari," sahut lelaki itu dengan suara serak.

"Ada urusan apa engkau sengaja ke mari?" tanya Sam Gan Sin Kay dan terus menatap lelaki itu dengan penuh perhatian.

"Ingin menyampaikan sesuatu," jawab lelaki itu lalu bertanya. "Apakah Lim Ceng Im berada di sini?"

"Aku" sahut gadis itu. "Paman ingin menyampaikan sesuatu kepadaku?"

"Ya." Lelaki itu manggut-manggut. "Mengenai Tio Cie Hiong."

"Kakak Hiong? Di mana dia? Bagaimana keadaannya? Apakah lukanya sudah sembuh?" tanya Lim Ceng Im bertubi-tubi.

"Dia... dia...." Lelaki itu menggeleng-gelengkan kepala.

"Kenapa dia?" tanya Lim Ceng Im tegang dan wajahnya sudah memucat. "Beritahukanlah Kenapa dia?"

"Dia... dia sudah mati."

"Haaah?" Lim Ceng Im terhuyung-huyung, lalu terkulai pingsan.

Lim Peng Hang meloncat ke arahnya secepat kilat, lalu mengangkatnya. "Ceng Im Nak..." panggilnya.

Perlahan-lahan Lim Ceng Im membuka matanya, kemudian menangis gerung-gerungan dengan air mata berderai-derai.

"Kapan... kapan Kakak Hiong mati?"

"Dua tahun yang lalu."

"Dia mati di mana?"

"Bukankah dia mati di sini?"

"Apa?" Lim Ceng Im melongo dan berhenti menangis. "Dia... dia mati di sini?"

"Ya." Lelaki itu mengangguk. sedangkan monyet bulu putih yang duduk di bahunya berjingkrak-jingkrak sambil bercuit-cuit.

Kemudian lelaki itu menambahkan. "Tapi kini dia sudah hidup kembali."

"Apa?" Lim Ceng Im terbelalak. " Kakak Hiong hidup kembali? Dia...."

"Engkaukah yang membawanya pergi dua la hun yang lalu?" tanya Lim Peng Hang mendadak "Ya." Lelaki itu mengangguk.

"Kalau begitu, di mana dia sekarang?" tanya Lim Peng Hang.

"Dia berada di...."

Ucapan lelaki itu terputus, karena monyet bulu putih bercuit-cuit. la menunjuk Lim Ceng Im, kemudian menunjuk lelaki tersebut sambil cengar-cengir.

Sementara sam Gan sin Kay dan Kim siauw suseng saling memandang, lalu manggut-manggut dan tertawa terbahak-bahak.

Suara tawa itu membuat yang lainnya tercengang. Mereka memandang sam Gan sin Kay dan Kim siauw suseng dengan kening berkerut-kerut. Kemudian Tui Hun Lojin pun turut tertawa gelak. "Ha ha ha..."

"Eeeeh?" Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong terheran-heran.

"Sudah cukup, Cie Hiong Engkau jangan mempermainkan Ceng Im lagi" ujar sam Gan sin Kay. "Kasihan dia"

"Kakak Hiong? Mana? Mana Kakak Hiong?" Lim Ceng Im menengok ke sana ke mari.

Monyet bulu putih bertepuk-tepuk tangan, sedangkan lelaki itu mengusap wajahnya sendiri.

"Aku di sini," katanya.

"Haaah?" Lim Ceng Im terkejut, karena mengenali suara itu. Kemudian ia memandang lelaki itu dan berseru. "Kakak Hiong Kakak Hiong...."

"Adik Im" Ternyata lelaki itu Tio Cie Hiong. Tadi ia memakai kedok kulit pemberian monyet bulu putih itu, maka wajahnya berubah menjadi wajah lelaki berusia empat puluhan.

"Kakak Hiong Kakak Hiong...." Lim Ceng Im langsung mendekap di dadanya dengan air mata berderai-derai. "Kakak Hiong...."

Mendadak monyet bulu putih menjulurkan tangannya membelai rambut Lim Ceng Im, sud barang tentu membuat semua orang tertawa, tapi Lim Ceng Im tidak mengetahuinya, karena mengira Tio Cie Hiong yang membelainya.

"Kakak Hiong jahat Kakak Hiong jahat" Tiba-tiba Lim Ceng Im memukul dada Tio Cie Hiong.

Monyet bulu putih bercuit-cuit lagi, kemudian mendadak menjewer telinga Lim Ceng Im.

"Kauw Heng, jangan bergurau" tegur Tio Cie Hiong. Monyet bulu putih bercuit-cuit lagi, kemudian memandang Lim Ceng Im sambil menyengir.

"Mo... monyet" Lim Ceng Im melotot.

"Ha ha ha" Tio Cie Hieng tertawa dan membelainya. "Adik Im, maafkanlah aku Tadi aku ingin membuat kejutan."

"Kakak Hiong...." Lim Ceng Im mendekap di dadanya lagi dan berbisik, "Mulai sekarang kita

tidak akan berpisah lagi."

"Cie Hiong" seru Sam Gan sin Kay sambil tertawa. "Duduklah Kalau mau dekap- mendekap di dada, lebih baik nanti saja"

"Kakek pengemis...." Tio Cie Hiong tersenyum.

"Kakek konyol ah" Wajah Lim Ceng Im kemerah-merahan.

"Ha ha ha" sam Gan sin Kay tertawa terbahak- bahak. "Ha ha ha..."

"Kauw heng, mari kuperkenalkan" ujar Tio Cie Hiong. "Gadis ini calon isteriku, yang itu adalah Sam Gan sin Kay, Kim Siauw Suseng, Tui Hun Lojin, Paman Gouw dan Paman Lim."

Monyet bulu putih terus manggut-manggut, sikapnya seperti tingkatan tua terhadap tingkatan muda.

"Dasar monyet tak tahu diri...." Caci Sam Gan Sin Kay "Lagaknya...."

Mendadak monyet bulu putih melesat ke arahnya. Scketika terdengar suara Took, kemudian monyet itu kembali ke bahu Tio Cie Hiong.

"Ha a a h...?" Sam Gan Sin Kay mengusap-usap pipinya dengan mulut ternganga lebar. Ternyata monyet bulu putih telah menamparnya. Yang membuatnya terkejut adalah gerakan monyet itu begitu cepat sehingga ia tidak sempat menangkis.

"Kauw heng" Tio Cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala.

Monyet bulu putih menunjuk Sam Gan sin Kay sambil bcrcuit-cuit, lalu menunjuk dirinya sendiri. "Kauw heng" Tio Cie Hiong tersenyum. "Kakek pengemis itu tidak tahu...."

"Monyet si..." Sebetulnya Sam Gan Sin Kay ingin menyebut monyet sialan, namun takut ditampar lagi. "Cie Hiong Monyet itu bilang apa?"

"Dia bilang Kakek Pengemis berani kurang ajar terhadapnya," jawab Tio Cie Hiong memberitahukan.

"Apa?" sam Gan sin Kay melotot. "Monyet itu berani bilang aku kurang ajar?"

"Tahukah Kakek Pengemis berapa usia monyet ini?" tanya Tio Cie Hiong sambil tersenyum. "Mana aku tahu?"

"Usia monyet bulu putih ini sudah hampir tiga ratus tahun."

"Apa?" sam Gan sin Kay terbelalak. " usianya sudah hampir tiga ratus tahun?"

"Benar." Tio Cie Hiong mengangguk. "Tapi aku memanggilnya kauw heng."

"Ha ha ha..." Mendadak Kim siauw suseng tertawa terbahak-bahak hingga badannya bergoyang-goyang .

"Sastrawan sialan" sam Gan sin Kay terheran-heran. "Kenapa engkau tertawa hingga badanmu bergoyang-goyang? Apa yang menggelikan?"

"Ha ha ha" Kim siauw suseng masih tertawa. "Baru kali ini aku menyaksikan orang ditampar monyet."

"Engkau...." sam Gan sin Kay melotot dan mendadak mengayunkan tangannya. Plaak Pipi Kim

siauw suseng kena tampar.

"Pengemis bau" Kim Siauw suseng mencak-mencak. " Engkau sudah gila ya? Kenapa engkau menamparku? "

"Impas," sahut sam Gan sin Kay sambil tertawa. "Monyet itu menamparku, aku menamparmu. Nah, impas kan?"

"Dasar pengemis bau" caci Kim siauw suseng.

Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im tersenyum-senyum. Monyet bulu putih pun bercuit-cuit.

"Kakak Hiong, mari kita duduk." ajak Lim Ceng Im. Tio Cie Hiong mengangguk lalu duduk. Lim Ceng Im duduk di sebelahnya dengan wajah terus berseri.

"Oh ya" Tio Cie Hiong memandang Bu Lim Ji Khie seraya bertanya. "Kenapa kalian bisa menebakku?"

"Ha ha" sam Gan sin Kay tertawa. "Dari tanya jawab dan tatapan matamu terhadap Ceng Im. Tatapan matamu penuh mengandung cinta kasih, maka aku bisa menebak meskipun engkau memakai kedok kulit." Tlo Cie Hiong manggut-manggut.

Kakak Hiong siapa yang bawa engkau pergi dan siapa yang menyembuhkanmu?" tanya Lim Ceng Im.

"Tayli Lo Ceng yang membawaku ke puncak Gunung Thian san, dan kauw heng ini yang menyembuhkanku." Tio Cie Hiong memberitahukan.

"Selama ini kauw heng yang merawatku, dan memberiku makan semacam buah, kemudian memberikanku buah Kiu Yap Ling che. Kalau tidak, aku pasti cacat seumur hidup. "

"oh?" Lim Ceng Im memandang monyet bulu putih, lalu memberi hormat. "Terimakasih, kauw heng"

Monyet bulu putih bercuit-cuit sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Kakak Hiong, kauw heng bilang apa?" tanya Lim Ceng Im.

"Dia bilang tidak usah berterima kasih," sahut Tio Cie Hiong, kemudian bertanya kepada Bu Lim Ji Khie. "Bagaimana keadaan rimba persilatan sekarang?"

"Aaakh..." sam Gan sin Kay menghela nafas. "Telah dikuasai Bu Tek Pay, yang diketuai oleh Bu Lim sam Mo"

"oh?" Tio Cie Hiong mengerutkan kening.

"Kini Kwan Gwa siang Koay dan Lak Kui juga berada di markas Bu Tek Pay," ujar Kim siauw suseng memberitahukan. "Mereka sebagai Tetua Bu Tek Pay."

"Bagaimana kepandaian Kwan Gwa siang Koay dan Lak Kui itu?" tanya Tio Cie Hiong, yang sama sekali tidak tahu tentang mereka.

Kepandaian mereka tinggi sekali," sahut sam Gan sin Kay dan menambahkan. "setingkat dengan Bu Lim sam Mo."

Kalau begitu...." Tio Cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala. "Partai Bu Tek Pay kuat sekali."

"Benar." Kim siauw suseng manggut-manggut dan memberitahukan. "Tapi belum lama ini telah muncul Tui Beng Li, Hong Hoang Leng dan Thian Liong Kiam Khek menentang Bu Tek Pay, dan sudah banyak anggota Bu Tek Pay yang mati di tangan mereka."

"oh?" Tio Cie Hiong tertarik. "Siapa mereka?"

"Tidak jelas," sahut Kim siauw suseng. "Yang paling misterius adalah Hong Hoang Leng."

"Hong Hoang Leng?" Tio Cie Hiong semakin tertarik. "Apakah Hong Hoang Leng itu?"

"Hong Hoang Leng merupakan tanda maut bagi kaum golongan hitam." sum Gan sin Kay memberitahukan. "Kira-kira tujuh puluh lima tahun lalu. Hong Hoang Leng pernah muncul, sehingga membuat kaum golongan hitam kocar-kacir dan banyak yang mati terbunuh.

"Kali ini muncul lagi dan menentang Bu Tek Pay," sambung Kim siauw suseng. "sungguh mengherankan."

"Siapa pemilik Hong Hoang Leng itu?"

"Tiada seorang pun yang tahu. Konon di laut Puk Hai terdapat sebuah pulau misterius, yakni Pulau Hong Hoang To. Mungkin pemilik Hong Hoang Leng berasal dari pulau itu." sam Gan sin Kay memberitahukan lagi. "salah satu markas cabang Bu Tek Pay telah diberantas oleh pemilik Hong Hoang Leng."

"Kalau begitu, aku akan berusaha menemui mereka," ujar Tio Cie Hiong. "Lalu mengajak mereka bergabung."

"Benar." sam Gan sin Kay manggut-manggut. "Kini engkau sudah kembali, berarti sudah waktunya memberantas Bu Lim sam Mo, Kwan Gwa siang Koay dan Lak Kui itu."

"Tapi jangan bertindak ceroboh, sebab mereka berkepandaian tinggi sekali" ujar Tio Cie Hiong. "

Karena itu, kita harus memikirkan suatu cara untuk menghadapi mereka."

Jalan satu-satunya..." ujar Tui Hun Lojin. "Harus mengajak Tui Beng Li, Thian Liong Kiam Khek dan pemilik Hong Hoang Leng bergabung, barulah kita bisa memberantas Bu Tek Pay."

"Bu Lim sam Mo mengira aku sudah mati, maka aku harus memakai kedok kulit ini," ujar Tio Cie Hiong sungguh-sungguh. "Kalau sudah saatnya, barulah aku membuka kedok kulit ini di hadapan Bu Lim sam Mo."

"Benar." Sam Gan Sin Kay manggut-manggut. Kemudian Tio Cie Hiong memakai lagi kedok kulitnya.

"Kakak Hiong, Michiko berada di sini," Lim Ceng Im memberitahukan.

"Apa?" Tertegun Tio Cie Hiong. "Dia berada di sini?"

"Ya." Lim Ceng Im mengangguk. "setengah tahun lebih dia bersembunyi di ruang bawah tanah, karena Takara Yahatsu ketua aliran Ninja mengejarnya sampai di Tionggoan ini."

"Adik Im, aku tidak paham.Jelaskanlah"

"Gurunya dan kakaknya telah dibunuh oleh ketua aliran Ninja, maka Michiko kabur ke Tionggoan." Lim Ceng Im menjelaskan. "Dia ke mari mencarimu."

Tio Cie Hiong manggut-manggut. "Ternyata begitu. jadi dia ingin membalas dendam terhadap Takara Yahatsu."

"Kepandaiannya masih di bawah ketua Takara Yahatsu, bagaimana mungkin dia bisa balas dendam? Lagi pula ketua aliran Ninja itu telah bergabung dengan Bu Tek Pay, maka kami menyembunyikannya di ruang bawah tanah."

"Adik Im, panggil dia ke mari"

"Ya." Lim Ceng Im mengangguk, lalu pergi ke ruang bawah tanah.

"Cie Hiong, apakah kepandaianmu sudah pulih?" tanya sam Gan sin Kay mendadak sambil menatapnya.

"Pengemis bau" sahut Kim siauw suseng. "Engkau memang goblok? Cie Hiong sudah makan buah Kiu Yap Ling che, maka sudah pasti kepandaiannya pulih seperti sedia kala Kalau tidak, bagaimana mungkin dia kembali?" sam Gan sin Kay manggut-manggut. "Kenapa kadang-kadang aku jadi goblok?"

Di saat bersamaan, Lim Ceng Im sudah kembali bersama Michiko Tio Cie Hiong yang memakai kedok kulit memandangnya. Timbullah rasa iba dalam hati karena gadisJepang itu begitu kurus.

"Adik Michiko" panggilnya.

"Engkau...?" gadis Jepang itu heran, sebab tidak mengenali siapa lelaki berusia empat puluhan itu.

"Kakak Michiko, dia Kakak Hiong." Lim Ceng Im memberitahukan sambil tersenyum. "Apa?" Terbelalak Michiko. "Bagaimana mungkin...."

Tio Cie Hiong segera melepaskan kedoknya. seketika Michiko berseru girang, dan hampir saja memeluknya.

" Kakak Cie Hiong Kakak Cie Hiong...." Gadis itu mulai terisak-isak.

"Adik Michiko" Tio Cie Hiong tersenyum sambil memegang bahunya. "Jangan menangis, aku sudah tahu semuanya"

" Kakak Cie Hiong...." Air mata Michiko berderai-derai.

Monyet bulu putih yang duduk di bahu Tio Cie Hiong langsung membelainya sambil bercuit-cuit, membuat Tio Cie Hiong nyaris tertawa geli.

"Adik Michiko, jangan berduka" ujar Tio Cie Hiong. " Engkau pasti dapat membalas dendam." "Kakak Michiko, duduklah" ujar Lim Ceng Im.

Michiko mengangguk lalu duduk dengan air mata berderai-derai, Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im juga duduk.

"Adik Michiko, kepandaianmu masih di bawah kepandaian Takara Yahatsu. sudah barang tentu engkau belum bisa membalas dendam."

"Kakak Cie Hiong, aku harus bagaimana?"

"Aku akan mengajarmu Tujuh Jurus Giok siauw Bit Ciat Kang Hoat, ilmu ciptaanku. setelah berhasil menguasai ilmu tersebut, engkau pasti dapat membalas dendam." jawab Tio Cie Hiong.

"Terimakasih, Kakak Cie Hiong" ucap Michiko dengan girang. "Terimakasih"

Tio Cie Hiong mulai mengajar Michiko Giok siauw Bit Ciat Kang Hoat. Kenapa Tio Cie Hiong mengajarnya ilmu tersebut? Karena Michiko menggunakan suling sebagai senjata.

Beberapa hari kemudian, gadis Jepang itu telah berhasil menguasai ilmu tersebut.

"Aku yakin kini engkau dapat mengalahkan Takara Yahatsu .Jadi engkau sudah holeh membalas dendam terhadap ketua aliran Ninja itu." ujar Tio Cie Hiong.

"Kalau begitu, aku akanpergi mencari Takara Yahatsu," ujar Michiko

"Tapi...." Tio Cie Hiong mengerutkan kening. "Dia sudah bergabung dengan Bu Tek Pay, sudah

barang tentu pihak Bu Tek Pay akan membantunya." "Benar." sam Gan sin Kay manggut-manggut. "Pihak Bu Tek Pay pasti membantu Takara Yahatsu."

"Kalau begitu, aku harus bagaimana?" Wajah Michiko berubah muram.

"Begini..." ujar Tlo Cie Hiong sungguh-sungguh. " Engkau boleh muncul, tapi jangan membunuh anggota-anggota Bu Tek Pay Aku yakin anggota Bu Tek Pay akan melapor tentang kemunculanmu, karena itu, Takara Yahatsu akan muncul mencarimu. Nah, itu adalah kesempatanmu membalas dendam terhadapnya. Aku pun akan membantumu apabila pihak Bu Tek Pay membantunya."

"Kakak Hiong mau mengikuti Kakak Michiko?" tanya Lim Ceng Im.

"Ya." Tio Cie Hiong mengangguk. "Aku akan mengikutinya secara diam-diam."

"Kakak Hiong, aku ikut" ujar Lim ceng Im.

"Adik Im" Tio Cie Hiong menggelengkan kepala. " Engkau tidak boleh ikut, sebab akan menimbulkan kecurigaan pihak Bu Tek Pay. setelah urusan Adik Michiko beres, aku pasti kembali dan akan berunding lagi di sini."

"Kakak Hiong...." Mata Lim Ceng Im mulai basah. "Kita... kita akan berpisah lagi?"

"Hanya sementara waktu." Tio Cie Hiong tersenyum.

"Kakak Cie Hiong...." Michiko menghela nafas. "Lebih baik engkau tidak usah ikut, kasihan Adik

Ceng Im"

"Kalau aku tidak mengikutimu, mungkin engkau akan celaka," sahut Tio Cie Hiong. "Nak" ujar Lim Peng Hang. "Biarkan Cie Hiong mengikuti Nona Michiko"

"Ayah...." Air mata Lim Ceng Im meleleh. "Baiklah."

"Terimakasih, Adik Ceng Im" ucap Michiko sambil memeluk gadis itu erat-erat. " Engkau jangan khawatir, Kakak Cie Hiong pasti kembali ke sisimu."

Bab 66 Pertemuan yang mengharukan

Malam ini Tio Lo Toa dan Tio Hong Hoa pergi memberantas para anggota Bu Tek Pay di markas cabang lain. setelah berhasil mereka kembali ke penginapan. Akan tetapi, mendadak Tio Lo Toa berhenti sambil mengerutkan kening.

"Kenapa, Paman Lo Toa berhenti?" tanya Tio Hong Hoa. "Ada apa sih?"

"Hoa ji" Tio Lo Toa memberitahukan. "Dari tadi ada seseorang mengikuti kita, orang itu berkepandaian tinggi sekali."

"oh?" Tio Hong Hoa tertegun.

"Omitohud? Ha ha ha..." Mendadak melayang turun seorang padri tua ke hadapan mereka. "sungguh tajam telingamu. Memang hebat orang-orang dari pulau Hong Hoang To"

Tio Lo Toa dan Tio Hong Hoa terkejut bukan main, sebab padri tua itu tahu mereka berdua dari pulau Hong Hoang To. "siapa engkau, Padri tua?" tanya Tio Lo Toa.

"Aku Tayli Lo Ceng," Ternyata padri tua itu Tayli Lo Ceng. la menatap Tio Lo Toa seraya bertanya. "Kalau tidak salah, engkau pasti Tio Tay seng dan-Tio It seng."

"Aku bukan Tio Tay seng maupun Tio It seng," sahut Tio Lo Toa.

"Apa?" Tayli Lo Ceng tertegun. "Kalau begitu, engkau siapa?"

"Aku pelayan di Pulau Hong Hoang To." Tio Lo Toa memberitahukan dan bertanya. "Padri tua kenal majikanku?"

"Tidak, tapi tahu nama mereka," sahut Tayli Lo Ceng sambil memandang Tio Hong Hoa. "siapa gadis ini?"

"Padri tua, namaku Tio Hong Hoa." Gadis itu memberitahukan. "Tio Tay seng adalah ayahku."

"Omitohud Omitohud..." ucap Tayli Lo Ceng dengan wajah berseri. "Sungguh di luar dugaan Omitohud...."

"Padri tua" Tio Lo Toa menatapnya. "Ada urusan apa engkau mengikuti .kami?"

"Karena kalian pemilik Hong Hoang Leng, maka aku mengikuti kalian." ujar Tayli Lo Ceng sambil tersenyum. "Kalian berdua harus ikut aku"

"Padri tua" Tio Hong Hoa mengerutkan kening. " Kenapa kami harus ikut engkau?"

"Padri tua ingin mengajak kami ke mana?" tanya Tio Lo Toa heran.

"Ke Gunung Hong Lay san menemui seseorang," sahut Tayli Lo Ceng.

"Siapa orang itu?" tanya Tio Lo Toa dan semakin heran.

"Dia It sim sin ni," Tayli Lo Ceng memberitahukan. "Kalian berdua harus ikut aku pergi menemuinya."

"Kenapa?" Tio Hong Hoa bingung. "Padri tua, bagaimana kalau kami tidak mau pergi menemuinya? "

"Berarti engkau akan menyesal seumur hidup," sahut Tayli Lo Ceng sungguh-sungguh. "Padri tua" ujar Tio Lo Toa. "Maukah engkau menjelaskan?"

"Setelah sampai disana dan bertemu It sim sin Ni, kalian pasti mengetahuinya. Lagi pula It sim sin Ni sangat mengharapkan kedatangan kalian, terutama gadis ini."

Tio Lo Toa dan Tio Hong Hoa saling memandang. Mereka berdua yakin bahwa padri tua itu tidak berniat jahat, namun kenapa tidak mau menjelaskan sekarang?

Kalian jangan ragu, aku berniat baik. Omitohud..." ucap Tayli Lo Ceng. "Ayolah, ikut aku ke Gunung Hong Lay san"

"Baiklah" Tio Lo Toa dan Tio Hong Hoa mengangguk.

Mereka berdua lalu mengikuti Tayli Lo Ceng pergi ke Gunung Hong Lay san. sepanjang jalan Tayli Lo Ceng diam saja. Tio Lo Toa dan Tio Hong Hoa tidak habis berpikir, kenapa padri tua itu mengajak mereka pergi ke Gunung Hong Lay san menemui It sim sin Ni.

Tampak It sim sin Ni duduk bersila di ruang tengah. Mendadak ia mendengar suara seruan di luar, yakni suara seruan Tayli Lo Ceng.

"sin Ni Aku telah membawa mereka ke mari" "Siapa mereka?" sahut It sim sin Ni.

"Pemilik Hong Hoang Leng." Tayli Lo Ceng memberitahukan.

"Haaah?" It sim sin Ni terkejut dan girang. "Lo Ceng, cepat ajak mereka ke mari Aku berada di ruang tengah."

Tak lama kemudian muncullah Tayli Lo Ceng bersama Tio Lo Toa dan Tio Hong Hoa. It sim sin Ni terus menatap Tio Lo Toa dan Tio Hong Hoa.

"sin Ni" Tayli Lo Ceng memberitahukan sambil tertawa. "Yang tua itu Tio Lo Toa, pelayan setia di pulau Hong Hoang To, sedangkan gadis cantik itu Tio Hong Hoa, putri Tio Tay seng."

"Haaah...?" It sim sin Ni terbelalak. "Lo Ceng, apakah engkau sudah memberitahukan tentang diriku?"

"Belum," sahut Tayli Lo Ceng. "sebab aku ingin membuat suatu kejutan."

"Lo Ceng" It sim sin Ni menggeleng-gelengkan kepala. "Kenapa engkau seperti anak kecil?"

"Omitohud" Tayli Lo Ceng tertawa. "Alangkah bahagianya bisa menjadi anak kecil" sementara Tio Lo Toa dan Tio Hong Hoa terus saling memandang, tampaknya kebingungan.

"Maaf" ucap Tio Lo Toa dan bertanya. " Kenapa sin Ni menyuruh Lo Ceng membawa kami ke mari?"

"Sebab aku mempunyai hubungan dengan gadis ini." sahut It sim sin Ni sambil memandang Tio Hong Hoa dengan penuh kasih sayang, kemudian air matanya bercucuran. "Hong Hoa, tahukah engkau siapa aku?"

"Maaf sin Ni, aku tidak tahu" Tio Hong Hoa menggelengkan kepala.

"Tahukah engkau siapa Tio Po Thian?" tanya It sim sin Ni mendadak. Tio Hong Hoa menggeleng kepala lagi.

"Hoa ji" Tio Lo Toa memberitahukan. "Tio Po Thian adalah kakekmu."

"oh?" Tio Hong Hoa terbelalak. "sin Ni kok tahu nama kakekku?"

"Aaaakh..." It sim sin Ni menghela nafas panjang. "Tentu aku tahu nama kakekmu, sebab kakekmu adalah suamiku."

"Apa?" Tio Hong Hoa dan Tio Lo Toa terbelalak.

"Tio Tay seng dan Tio It seng adalah anak-anakku. Jadi engkau adalah cucuku." It sim sin Ni memberitahukan dengan air mata berlinang-linang.

"Nenek...." Tio Hong Hoa segera berlutut di hadapan It sim sin Ni. "Nenek...."

"Bangunlah, Cucuku" It sim sin Ni tersenyum lembut. "Duduklah"

"Nenek...." Tio Hong Hoa menangis terisak-isak saking gembiranya. la sama sekali tidak

menyangka kalau neneknya masih hidup, bahkan kini bisa bertemu di biara ini.

Hamba Tio Lo Toa memberi hormat kepada Nyonya besar" ucap Tio Lo Toa sambil memberi hormat.

"Duduklah" ujar It sim sin Ni.

"Terimakasih" Tio Lo Toa dan Tio Hong Hoa duduk. sedangkan Tayli Lo Ceng masih tetap berdiri "sin Ni, bolehkah aku ikut duduk di sini?" tanya padri tua itu sambil tertawa-tawa.

"silakan duduk. Lo Ceng" sahut It sim sin Ni sambil tersenyum. "Kenapa berlaku sungkan sungkan? "

"Terimakasih, sin Ni" ucap Tayli Lo Ceng. "Omitohud...."

"Kuucapkan terimakasih kepadamu, Lo Ceng" It sim sin Ni tersenyum lagi. "sebab engkau telah membawa cucuku ke mari."

"Omitohud Omitohud...." Tayli Lo Ceng juga tersenyum. "Tidak usah mengucapkan terimakasih

kepadaku, memang sudah takdirnya engkau harus bertemu cucumu."

"Hong Hoa" It sim sin Ni menatapnya lembut. "Tahukah engkau kenapa kakekmu meninggalkan nenek?"

"Ayah pernah memberitahukan, tapi ayah pun kurang jelas," ujar Tio Hong Hoa dan melanjutkan. "Kakek pernah bilang kepada ayah...."

"Oh ya Kakekmu sehat-sehat saja?"

"sudah lama kakek meninggal."

"Aaakh..." It sim sin Ni menghela nafas panjang lalu bergumam. "Po Thian, kenapa engkau tidak memberi kesempatan kepadaku untuk menjernihkan kesalahpahaman itu?"

"Jadi...." Tio Hong Hoa tersentak. "Kakek salah paham terhadap Nenek?"

"Ya." It sim sin Ni menghela nafas. "Dia mengira aku menyeleweng, padahal tidak sama sekali. Dia langsung meninggalkanku dengan membawa ayahmu dan pamanmu, yang masih kecil."

"Kenapa kakek mengira Nenek menyeleweng?" tanya Tio Hong Hoa. "Maukah Nenek menjelaskan?"

"Ketika itu..." tutur It sim sin Ni. "Kebetulan muncul Lo Ceng ini, maka Nenek sering pergi menemuinya...."

"Omitohud" ucap Tayli Lo Ceng. "Nenekmu menemuiku hanya untuk membahas soal ajaran Budha, lagipula kami merupakan teman baik sejak kecil. Hubungan kami bagaikan hubungan saudara, ketika itu aku adalah rahib, nenekmu adalah biarawati."

"Kalau begitu, kenapa Nenek tidak menjelaskan kepada kakek?" tanya Tio Hong Hoa heran.

"Hanya tiga kali nenek pergi menemui Lo Ceng ini, namun tak diduga kakekmu mengikuti secara diam-diam." It sim sin Ni menggeleng-gelengkan kepala. "Karena itu, timbullah salah paham tersebut. sesungguhnya nenek mau menjelaskan agar tidak terjadi kesalahpahaman, namun kakekmu telah membawa Tay seng dan It seng pergi entah ke mana."

"Kakek pulang ke Hong Hoang To."

"Nenek tidak tahu. Kalau tahu, nenek pasti menyusul ke pulau itu. Aaakh semua itu telah berlalu, namun nenek gembira sekali, hari ini bisa bertemu denganmu. Oh ya, ayahmu dan pamanmu baik-baik saja?"

"Ayah baik-baik saja. Tapi paman...."

"Kenapa pamanmu?"

"Apakah nenek belum tahu?"

0 Response to "Kesatria Baju Putih (Pek In Sin Hiap) Bagian 40"

Post a Comment