coba

Kesatria Baju Putih (Pek In Sin Hiap) Bagian 37

Mode Malam
Bagian 37
Berselang beberapa saat, muncullah Lim ceng im, Lam Kiong Bie Liong, Toan wie Kie, Toan pit Lian dan Gouw sian Eng, yang semuanya tampak murung.

"Ayah" ujar Gouw sian Eng memberitahukan pada Gouw HanTiong. "Kami sudah berunding, besok pagi akan berangkat ke Tayli."

"Baiklah." Gouw Han Tiong manggut-manggut dan berpesan. "Kalian harus hati-hati"

"Ya, Ayah."

"Mudah-mudahan tak ada gangguan dalam perjalanan," ujar sam Gan sin Kay. "Karena kalian kembali ke Tayli, sedangkan Bu Tek Pay telah menguasai rimba persilatan, tentunya tidak akan mengganggu kalian."

"Benar." Kim siauw suseng manggut-manggut.

"Ayah..." bisik Gouw sian Eng. "Apabila Kakak Hiong telah muncul kelak. tolong beritahukan kepada kami"

"Ng" Gouw Han Tiong mengangguk, "ingat, sebelum rimba persilatan Tionggoan aman, kalian jangan ke mari"

"Ya, Ayah." Gouw sian Eng mengangguk.

"sampaikan salam kami kepada Toan Hong Ya dan hujin" pesan Gouw Han Tiong.

Gouw sian Eng mengangguk lagi, kemudian mendekati Lim Ceng Im yang menangis terisak-isak.

Kakak Im, jangan menangis Kakak Hiong pasti kembali kelak" ujar Gouw sian Eng menghiburnya .

"Adik Sian Eng" Lim Ceng im menatapnya dengan air berlinang-linang. " Kalian sungguh bahagia, tak pernah mengalami suatu apa pun. sebaliknya aku dan Kakak Hiong selalu mengalami percobaan-percobaan berat. "

Kakak Im" Gouw sian Eng tersenyum. "setelah Kakak Hiong kembali kelak, kalian pasti hidup bahagia."

"siapa tahu akan muncul percobaan berat lagi" Lim Ceng im menghela nafas panjang.

"Tidak mungkin. sebab kali ini merupakan percobaan yang paling berat. Apabila Cie Hiong kembali, berarti sudah tidak ada percobaan lagi. Percayalah" sela Toan pit Lian. Lim Ceng Im mengangguk. "Aaaakh Kakak Hiong...."

Kino markas Bu Tek Pay yang terletak di dalam goa sudah bukan merupakan tempat rahasia lagi. Banyak golongan hitam bergabung dengan partai tersebut, sehingga membuat Bu Tek Pay semakin kuat.

Ketika mendengar berita tentang kematian Tio Cie Hiong, Bu Lim sam Mo, Ang Bin sat sin, Kwan Gwa siang Koay dan Liu siauw Run terus tertawa gembira.

"Ha ha ha Ha ha ha..." seusai tertawa, Tang Hai Lo Mo pun berkata. "Tidak disangka Tio cie Hiong akan mati, seharusnya dia hidup tersiksa"

"Benar." Thian Mo manggut-manggut. "Kita bermaksud membuatnya cacat seumur hidup, tapi dia malah mati."

"Kini siapa yang mampu melawan kita? He he he" Te Mo tertawa terkekeh. "Bu Tek Pay telah berkuasa di rimba persilatan, ini merupakan sejarah baru."

"Ada baiknya juga Tio Cie Hiong mati, itulah contoh bagi kaumBu Lim yang berani menentang kita," ujar siluman Kurus.

"Tidak salah," sahut siluman Gemuk sambil tertawa gembira. "ohya, menurutku alangkah baiknya kita undang ketua tujuh partai ke mari, termasuk Partai Pengemis."

"Untuk apa mengundang mereka ke mari?" tanya siluman Kurus.

"Bukankah tubuh mereka masih mengidap racun?" siluman Gemuk balik bertanya sambil memandang Bu Lim sam Mo.

"Betul." Tang Hai LoMo mengangguk. "Apakah engkau punya suatu ide?"

siluman Gemuk mengangguk. "setelah kita undang ke mari, mereka kita beri obat pemunah racun itu. Tapi mereka semua harus di bawah perintah Bu Tek Pay, Kalau mereka berani menentang, habiskan saja"

"Benar." Tang Hai Lo Mo tertawa gelak. "Artinya Bu Tek Pay memperlihatkan kekuatan."

"Kalau tujuh partai besar berikut Kay Pang berada di bawah kekuasaan Bu Tek Pay, berarti Bu Tek Pay sebagai partai nomor satu dalam rimba persilatan, partai yang paling jaya masa kini dan selanjutnya," ujar siluman Gemuk. "Tentunya merupakan sejarah baru yang tak terlupakan di rimba persilatan."

"Ha ha ha" Tang Hai Lo Mo tertawa gelak. "Baiklah. Kalau begitu kapan kita undang partai-partai itu?"

"sepuluh hari kemudian. sebab kita harus ada persiapan untuk menyelenggarakan berbagai acara." jawab siluman Gemuk.

"Acara apa?" tanya Thian Mo.

"Tari-tarian dan lain sebagainya. Menyenangkan, kan?" sahut Siluman Gemuk sambil tertawa terkekeh. "siapa yang tertarik, boleh menjadi anggota Bu Tek Pay."

"Benar." siluman Kurus tertawa gembira.

"Ha ha ha..." Bu Lim sam Mo dan lainnya juga ikut tertawa, sehingga terdengarlah suara yang riuh gemuruh.

sepuluh hari kemudian, tujuh partai besar berikut Kay Pang telah menerima kartu undangan dari Bu Tek Pay, bahwa pada tanggal lima belas, para ketua harus hadir di markas partai tersebut.

Heran?" sam Gan sin Kay mengerutkan kening. "Karena Bu Tek Pay mengundang semua ketua partai?"

"Tidak mungkinBu Tek Pay akan membunuh kita. Kupikir...," ujar Kim siauw suseng. "TentuBu Lim sam Mo ingin mengumumkan sesuatu."

"Apa yang akan mereka umumkan?" tanya Tul Hun Lojin.

"Mana tahu?" sahut Kim siauw suseng. "Tapi tidak apa-apa, kita hadir saja Kalau tidak. kita semua malah akan celaka."

"Tidak disangka..." LimPeng Hang menghela nafas panjang. "Kay Pang dan tujuh partai besar akan menjadi begini."

"Hm" dengus sam Gan sin Kay. "Kejayaan Bu Tek Pay tidak akan bertahan lama, percayalah Namun untuk sementara ini, kita harus bersabar hingga Tio Cie Hiong muncul."

"Pengemis bau" Kim siauw suseng menatapnya. "Apakah engkau yakin Tio Cie Hiong akan kembali tanpa cacat?"

"Terus terang, aku berfirasat, kepandaian Tio cie Hiong akan pulih seperti sedia kata." sahut sam Gan sin Kay.

"Pengemis bau" Tui Hun Lojin memandangnya dengan mata tak berkedip. "Bagaimana engkau bisa berfirasat begitu?"

"Entahlah." sam Gan sin Kay menggelengkan kepala. "Tapi aku masih ingat akan pesan tertulis dari orang yang membawa pergi Tio Cie Hiong. Bukankah kita di suruh bersabar? Nah, orang itu pasti bisa menyembuhkan Tio Cie Hiong."

"Kalau dipikir-pikir memang ada benarnya juga." Tui Hun Lojin manggut-manggut. "Hanya saja kita tidak bisa menduga siapa orang itu."

"Jadi Kakak Hiong pasti akan kembali?" tanya Lim Ceng Im agak tenang.

"Ya." sam Gan sin Kay mengangguk. "Karena itu, engkau harus tabah, tenang dan sabar." " Kakek Bolehkah aku ikut ke markas Bu Tek Pay?" tanya Lim Ceng Im lagi.

"Jangan" sam Gan sin Kay menggelengkan kepala. "Engkau harus tetap di sini, tidak boleh ke mana-mana."

"Ya." Lim Ceng Im mengangguk.

"Nak" Lim Peng Hang memandang putrinya. "Berjanjilah engkau tidak akan ke mana-mana" "Ya. Ayah. Aku tidak akan ke mana-mana, ayah harus percaya" ujar Lim Ceng Im berjanji. Lim Peng Hang manggut-manggut.

Pada tanggal lima belas, Bu Lim Ji Khie, Tui Hun Lojin, Lim Peng Hang, Gouw Han Tiong, para ketua tujuh partai dan kaum golongan hitam telah hadir di markas Bu Tek Pay.

Beberapa anggota Bu Tek Pay tampak sibuk menyuguhkan berbagai macam makanan dan minuman. Berselang beberapa saat kemudian, barulah Bu Lim Sam Mo, Kwan Gwa siang Koay, Ang Bin Sat Sin dan Liu Siauw Kun berjalan ke luar lalu duduk.

"Selamat datang Selamat datang" ucap Tang Hai Lo Mo sambil tertawa terbahak-bahak.

Para hadirin diam saja, karena tidak tahu harus mengucapkan apa. Setelah usai tertawa, Tang Hai Lo Mo berkata lagi dengan suara lantang.

"Hari ini kami mengundang kalian semua ke mari, karena kami ingin memberitahukan sesuatu" lanjut Tang Hai Lo Mo dengan wajah berubah serius. "Yaitu pada hari ini kami akan memberikan obat penawar racun"

Mendengar ucapan itu, Bu Lim Ji Khie dan lain-lainnya saling memandang, karena merupakan hal yang sungguh di luar dugaan.

"siauw Kun" ujar Tang IHai Lo Mo. "Berilah mereka obat penawar racun"

"Ya, Guru," sahut Liu Siauw Kun sambil memberi hormat, kemudian mulai membagi-bagikan obat penawar racun kepada Bu Lim Ji Khie dan lainnya. Setelah mem-bagi-bagikan obat penawar racun, Liu Siauw Kun kembali duduk dengan sikap angkuh.

"Terima kasih, ketua Bu Tek Pay" ucapBu Lim Ji Khie dan lain-lainnya. "Ha ha ha" Tang IHai Lo Mo tertawa gelakl "Setelah kalian makan obat itu, lweekang kalian akan pulih seperti semula."

"Terima kasih" ucap Sam Gan Sin Kay dan bertanya. "Sebetulnya ada apa kalian mengundang kami ke mari?"

"sudah pasti ada sebabnya," sahut Thian Mo.

" Dapatkah dijelaskan?" tanya Kim siauw su-seng.

"Kami mengundang kalian ke mari, karena kami ingin memberikan obat penawar racun untuk kalian, dan itu telah kami laksanakan." sahut Te Mo.

"Terima kasih" ucap Kim siauw suseng. "Tentunya bukan khusus untuk itu, pasti masih ada urusan lain."

"Betul." Tang Hai Lo MO manggut-manggut.

"Apa urusan itu?" tanya sam Gan sin Kay.

"HahahaHahaha" siluman Gemuk tertawa gelak. "Mulai hari ini, Kay Pang dan tujuh partai besar lainnya harus di bawah kekuasaan Bu Tek Pay."

"siapa yang berani menentang, pasti kami basmi" sambung siluman Kurus sambil tertawa dingin. "Bagaimana? Kalian setuju?"

Bu Lim Ji Khie, Tui Hun Lojin, Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong saling memandang, kemudian mereka memandang para ketua tujuh partai sambil memberi isyarat. setelah itu, mereka menyahut serentak. "setuju."

"Bagus Bagus" siluman Kurus tertawa. " Kalian memang tahu diri. Kalau tidak. pasti kalian pasti musnah."

"Mulai hari ini Kay Pang dan tujuh partai besar lainnya harus di bawah perintah Bu Tek Pay. Partai mana berani membangkang, pasti dibasmi." sambung siluman Gemuk. Bu Lim Ji Khie dan lain-lainnya gusar sekali dalam hati, namun mereka tetap bersabar.

"Kamipun sudah tahu...," ujar Tang Hai Lo Mo sambil memandang Bu Lim Ji Khie. "Lam Kiong hujin, Lam Kiong Bie Liong, Toan wie Kie, Toan pit Lian dan Gouw sian Eng telah berangkat ke Tayli. Karena itu, kami mengutus seseorang untuk menyusul mereka."

"Apa?" sam Gan sin Kay tersentak. " Kalian mengutus seseorang untuk mencelakai mereka?"

"Tentu tidak," sahut Tang Hai Lo Mo sambil tertawa. "Kami mengutus seseorang untuk menyerahkan obat penawar racun kepada mereka. Kalau tidak, bagaimana mungkin Iweekang mereka bisa pulih?"

"oooh" sam Gan sin Kay menarik nafas lega.

"ohya" Tang Hai Lo Mo menatap sam Gan sin Kay seraya berkata. "semua markas besar Kay Pang harus diserahkan kepada Bu Tek Pay, dan para anggota Kay Pang di sana dipindahkan ke markas pusat saja"

"Apa?" sam Gan sin Kay terbelalak.

"Karena markas cabang Kay Pang akan kamijadikan markas cabang Bu Tek Pay. sin Kay, engkau tidak setuju?"

"Kami harus berunding sebentar," sahut sam Gan sin Kay, lalu bertanya kepada Lim Peng Hang. "Bagaimana? Engkau bersedia menyerahkan semua markas cabang Kay Pang kepada Bu Tek Pay?"

"Tidak apa-apa," jawab Lim Peng Hang. "Kita serahkan saja"

"Baiklah." sam Gan sin Kay memandang Tang Hai Lo Mo. "Dalam waktu tiga hari, kami pasti mengosongkan semua markas cabang Kay Pang."

"Terima kasih atas pengertianmu" ucap Tang Hai Lo Mo sambil tertawa gembira. "Ha ha ha Mulai hari ini, Bu Tek Pay sebagai partai nomor satu di rimba persilatan, sekaligus sebagai pemimpin rimba persilatan pula "

"HidupBu Tek Pay Hidup Bu Tek Pay Hidup Bu Tek Pay..." seru para anggota sambil bertepuk-tepuk tangan, sehingga ruangan itujadi riuh gemuruh.

"Ha ha ha He he he" Bu Lim sam Mo, Kwan Gwa siang Koay, Ang Bin sat sin, dan Liu siauw Kun terus tertawa terbahak-bahak.

"Acara yang mengasyikkan akan sebera dimulai." ujar Tang Hai LoMo dengan suara lantang, kemudian bertepuk tangan tiga kali.

Kemudian muncullah para pemain musik dan para penari yang terdiri dari kaum wanita cantik. setelah mereka memberi hormat, para pemain musik lalu duduk dan tak lama terdengarlah suara musik yang sungguh menggetarkan kalbu.

Para penari pun mulai menari lemah gemulai. Bukan main Mereka mengenakan pakaian yang tembus pandang. Apalagi ketika menggoyang- goyangkan pinggul, mereka tampak merangsang sekali.

Bu Lim Ji Khie dan lain-lainnya menggeleng-gelengkan kepala menyaksikan tarian itu, sedangkan para anggota Bu Tek Pay bersorak sorai penuh kegembiraan.

"Mari kita bersulang demi kejayaan Bu Tek Pay" seru Tang Hai Lo Mo, talu tertawa terbahak-bahak. "Ha ha ha..."

sementara Toan wie Kie, Toan pit Lian, Lam Kiong hujin, Lam Kiong Bie Liong dan Gouw sian Eng telah tiba diTayli dan langsung menuju istana. Betapa gembiranya Toan Hong Ya, Hujin dan para pengawal istana. Mereka memberi hormat kepada Toan Hong Ya dan Hujin Toan Hong Ya tertawa gembira.

"Ha ha Duduklah" ucapnya. "ohya, kenapa Tui Hun Lojin dan Gouw Han Tiong tidak ke mari?" "Mereka masih tinggal di markas pusat Kay Pang." jawab Lam Kiong hujin.

"Eeeh?" Toan Hong Ya memandang mereka. "Wajah kalian tampak tidak begitu gembira, apakah telah terjadi sesuatu di Tionggoan?"

"Ya." Lam Kiong hujin mengangguk. "Golongan putih di rimba persilatan Tionggoan telah mengalami masa suram."

"oh?" Toan Hong Ya mengerutkan kening. "Bagaimana kabarnya Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im? Apakah mereka sudah melangsungkan pernikahan?"

"Belum." Lam Kiong hujin menggelengkan kepala.

"Kenapa belum?" Toan Hong Ya heran. "Apakah ada halangan?"

"Benar, Ayah," ujar Toan wie Kie sambil menghela nafas, lalu menutur tentang semua kejadian itu.

"Haaah...?" Air muka Toan Hong Ya berubah. "Cie Hiong... dia...."

"Kepandaiannya telah dimusnahkan." Toan Wie Kie menggeleng-gelengkan kepala. "Tapi seseorang telah membawanya pergi."

"siapa orang itu?" tanya Toan Hong Ya.

"Entahlah." Toan wie Kie menggelengkan kepala. "Namun orang itu bermaksud baik, mungkin akan berusaha menyembuhkannya."

"Aaakh..." Toan Hong Ya menghela nafas panjang. "Cie Hiong perlu kita hormati, sebab dia rela mengorbankan dirinya demi keselamatan kalian semua. Kalau tidak. entah bagaimana nasib kalian?"

"Dia benar-benar pendekar muda yang berhati mulia, namun nasibnya..." Toan pit Lian menggeleng-gelengkan kepala. "Kenapa begitu banyak percobaan berat yang menimpa dirinya?"

"Tidak gampang menjadi orang baik, lebih gampang menjadi orang jahat," sahut Toan Hong Ya sungguh-sungguh dan menambahkan. "sebab orang baik pasti akan mengalami berbagai percobaan kalau hatinya tidak tabah dan kuat imannya, niscaya akan berubah jahat pula."

Bab 59 Hong Hoang To (Pulau Phoenix)

Di Pak Hai (Laut Utara) terdapat sebuah pulau misterius. Pulau itu dinamai pulau Phoenix karena masih banyak burung langka tersebut hidup di pulau itu.

Para nelayan yang tinggal di pesisir Laut Utara, sama sekali tidak berani mendekati Pulau Hong Hoang To, sebab pulau tersebut dianggap keramat, lagi pula sering diselimuti kabut tebal.

Pada pagi ini, tampak seorang gadis berusia dua puluhan sedang berlatih ilmu pedang di pulau tersebut. Beberapa ekor burung Phoenix menyaksikannya sambil memekik girang. Ketika gadis itu berhenti berlatih, terdengarlah suara orang memujinya.

"Bagus Bagus" kemudian muncul seorang tua berusia tujuh puluhan sambil mendekatinya dengan wajah berseri. "Hoa Ji (Anak Hoa), ilmu pedang mu telah maju pesat."

"oh?" Gadis itu tertawa gembira. "Ayah, apakah ilmu pedangku ini dapat mengalahkan orang berkepandaian tinggi di Tionggoan?"

"Ha ha" orang tua itu tertawa gelak. "Jangan terlampau berambisi Engkau tahu bahwa, banyak orang aneh berkepandaian tinggi di Tionggoan, sedangkan kepandaianmu masih cetek."

Gadis itu cemberut. "Aku tidak berambisi, hanya ingin tahu saja. Boleh kan?"

"Tentu boleh." orang tua itu manggut-mang-gut dan melanjutkan. " Kecuali engkau telah berhasil mempelajari Kiu Yang sin Kang, maka engkau pasti bisa mengalahkan orang berkepandaian tinggi di Tionggoan."

"Ayah, kapan aku akan berhasil mempelajari Kiu Yang sin Kang?"

"Itu tergantung dari ketekunanmu berlatih. Mungkin... masih harus dua tahun lagi."

"Kenapa begitu lama?"

"Paling cepat masih harus menunggu setahun lebih. Karena itu, mulai hari ini ayah akan memberimu Kim Yang Tan. pil tersebut dapat menambah lweekangmu."

"Terima kasih. Ayah" ucap gadis itu dan bertanya. "ohya, kenapa Ayah tidak pernah ke Tionggoan?"

"Almarhum kakekmu melarangnya, maka ayah tidak boleh ke Tionggoan," sahut orang tua itu sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Kenapa kakek mengeluarkan larangan itu?" tanya gadis itu heran. la bernama Tio Hong Hoa, ayahnya bernama Tio Tay seng, ibunya telah meninggal beberapa tahun yang lalu.

"Hoa Ji..." Tio Tay seng menggeleng-gelengkan kepala sambil menghela nafas panjang. "Itu rahasia kakekmu, engkau tidak usah mengetahuinya."

"Ayah..." Tio Hong Hoa tampak tidak senang. "Aku cucunya, kenapa tidak boleh tahu rahasianya? Lagipula kakek sudah almarhum..."

"Hoa Ji, kelak ayah pasti menceritakannya," ujar Tio Tay seng sambil tersenyum lembut.

"Ayah, apakah Kiu Yang sin Kang merupakan ilmu yang tanpa tanding di rimba persilatan Tionggoan?" tanya Phang Ling Hiang Hong Hoa.

"Kiu Yang sin Kang berasal dari Kiu Yang cin Keng (Kitab Pusaka Kiu Yang). sebenarnya kitab pusaka itu milik siauw Lim Pay, tapi ratusan tahun silam, telah dicuri orang." Tio Tay seng memberitahukan. " Namun kemudian Tio Bu Kie yang memperoleh kitab pusaka tersebut, bahkan berhasil mempelajarinya . "

"Ayah, siapa Tio Bu Kie?"

"Ayah Tio Bu Kie adalah murid Tio sam Hong, ketua Butong Pay masa itu. Tio sam Hong

berkepandaian sangat tinggi, bahkan kemudian berhasil menciptakan ilmu Thay Kek Kun (Ilmu Pukulan Taichi). sudah barang tentu nama Butong Pay terangkat tinggi, bahkan di atas nama siauw Lim Pay. Tapi akhirnya ayahnya membunuh diri karena menikah dengan putri Mo Kauw. Putri Mo Kauw itu pun membunuh diri sambil menggendong Tio Bu Kie yang masih kecil..."

"Ayah" Tio Hong Hoa menggeleng-gelengkan kepala. "Kenapa kedua orang tua Tio Bu Kie bunuh diri?"

"Karena ibu Tio Bu Kie sering membunuh orang, maka para ketua enam partai besar menuntut terhadap Tio sam Hong. padahal sesungguhnya ayah Tio Bu Kie merupakan murid kesayangan ketua Butong Pay itu."

"Apakah Tio sam Hong yang mendesak ayah Tio Bu Kie membunuh diri?"

"sebenarnya tidak. melainkan ayah Tio Bu Kie yang mengambil keputusan itu, lantaran sangat mencintai istrinya. Kemudian ibu Tio Bu Kie pun membunuh diri sambil menggendong Tio Bu Kie. sungguh mengenaskan kematian kedua orang tua Tio Bu Kie."

"Apakah Tio Bu Kie menuntut balas setelah berkepandaian tinggi?"

"Tidak." Tio Tay seng melanjutkan. "sebab Tio Bu Kie tahu, ibunya yang bersalah. setelah berhasil mempelajari Kiu Yang sin Kang, maka Tio Bu Kie menyatukan Mo Kauw menjadi Beng Kauw untuk merobohkan dinasti Goan (Monggol)."

"Apakah Tio Bu Kie berhasil?"

"Berhasil." Tio Tay seng manggut-manggut. " Karena itu, berdirilah dinasti Beng."

"Tio Bu Kie adalah kaisar pertama dinasti Beng?"

"Bukan. sebab Tio Bu Kie tidak mau menjadi kaisar." Tio Tay seng menggeleng-gelengkan kepala dan melanjutkan. Justru karena itu, terjadilah pergolakan dalam Beng Kauw, dan muncullah salah seorang anggota Beng Kauw bernama Cu Guan ciang. Akhirnya dia yang berhasil menjadi kaisar pertama dinasti Beng, sebab dia menggunakan akal licik,"

"Lalu bagaimana?"

"Setelah menjadi kaisar, Cu Guan cian malah menurunkan perintah membantai para anggota Beng Kauw. Tio Bu Kie sebera membubarkan Beng Kauw. karena tidak menghendaki pertumpahan darah. Lagi pula rakyat hidup menderita di masa itu. Kalau terjadi peperangan, rakyatlah yang akan menjadi korban. Maka Tio Bu Kie tidak mau mengadakan perlawanan, malah membubarkan Beng Kauw."

"Sungguh berjiwa besar Tio Bu Kie, dia mementingkan rakyat tanpa memikirkan kepentingan sendiri."

"Benar Tapi..." Tio Tay Seng menghela nafas. "Setelah Beng Kauw dibubarkan. cu Guan Ciang malah menurunkan perintah menangkap Tio Bu Kie. Karena itu, Tio Bu Kie terpaksa kabur bersama istrinya."

"Tio Bu Kie dan istrinya kabur ke mana?"

"Ke sebuah pulau, namun tiada seorang pun tahu pulau apa itu."

"Ayah Mungkinkah mereka ke pulau ini?"

"Mungkin."

"Kalau begitu... mungkinkah kita keturunan Tio Bu Kie, sebab kita memiliki Kiu Yang Sin Kang."

"Ayah tidak begitu jelas, tapi... mungkin juga."

"Ayah..." Tio Hong Hoa memandangnya dengan penuh harap. "Ayah telah menceritakan tentang Tio Bu Kie, bagaimana kalau ayah ceritakan juga tentang kakek mengeluarkan larangan itu?"

"Hoa Ji..." Tio Tay Seng mengerutkan kening. "Bukan ayah tidak mau menceritakan, melainkan...".

"Kenapa?"

"Sebab apa yang pernah kakekmu ceritakan kepada ayah..." Tio Tay Seng menghela nafas. "Ayah tidak tahu benar atau tidak cerita kakekmu itu."

"Kalau begitu, Ayah ceritakan saja" Tio Hong Hoa tersenyum. "Mungkin aku bisa memberikan sedikit pendapat."

Tio Tay seng berpikir, lama sekali barulah mengangguk.

"Baiklah. Ayah akan menceritakannya. Kira-kira tujuh puluh lima tahun lalu, kakekmu pergi ke Tionggoan. Pada masa itu kaum golongan hitam merajalela di rimba persilatan Tionggoan. Karena itu, kakekmu mulai membunuh mereka, sekaligus meninggalkan Hong Hoang Leng (Tanda Perintah

Poenix). Hal itu sangat mengejutkan kaum rimba persilatan Tionggoan, sebab dua ratus tahun lalu Hong Hoang Leng pernah muncul beberapa kali di rimba persilatan Tionggoan, khususnya membunuh kaum golongan hitam. Kakekmu ke Tionggoan dan membunuh kaum golongan hitam, setelah itu meninggalkan Hong Hoang Leng, tentunya sangat mengejutkan kaum golongan hitam. Akan tetapi, tiada seorang pun yang tahu siapa pemilik Hong Hoang Leng tersebut."

"setelah itu bagaimana?"

"Kebetulan kakekmu menolong seorang biarawati, kemudian mereka berdua saling mencinta, dan akhirnya biarawati itu melahirkan dua anak lelaki."

" Kalau begitu, biarawati itu nenek?"

"Betul." Tio Tay seng mengangguk. " Karena itu, biarawati kembali jadi wanita biasa. Akan tetapi, beberapa tahun kemudian, kakekmu membawa ayah dan pamanmu pulang ke Hong Hoang To."

"Lho? Kenapa?"

"Kata kakekmu, nenekmu menyeleweng dengan lelaki lain. Maka saking gusarnya kakekmu membawa ayah dan pamanmu pulang ke Hong Hoang To, dan nenekmu tidak tahu sama sekali."

"Ayah tahu siapa nenek?"

"Ayah tidak tahu nama nenekmu, tapi... nenekmu sangat cantik dan lembut, karena itu, ayah tidak begitu yakin nenekmu akan menyeleweng dengan lelaki lain. Namun kakekmu bilang menyaksikannya dengan mata kepala sendiri."

"ohya, di mana paman?"

"Ketika pamanmu berusia dua puluhan, dia secara diam-diam meninggalkan pulau ini. Betapa gusarnya kakekmu sehingga ayah yang dihukum, sebab ketika kakekmu membawa ayah dan pamanmu pulang, kakekmu juga melarang kami ke Tionggoan. Siapa berani melanggar larangan itu pasti dihukum berat."

"Dengan cara apa kakek menghukum ayah?"

"Aaakh..." Tio Tay Seng menghela nafas panjang. "Kalau Tio Lo Toa tidak ikut berlutut bermohon kepada kakekmu, mungkin ayah sudah dibunuh."

"Kalau begitu, secara tidak langsung Paman Lo Toa telah menyelamatkan nyawa Ayah."

"Benar." Toa Tay Seng mengangguk. "Dia pembantu yang sangat setia, juga berkepandaian tinggi."

"Ayah, paman tidak pernah pulang?"

"Belasan tahun lalu setelah kakekmu meninggal, ayah pernah mengutus Tio Lo Toa ke Tionggoan menyelidiki pamanmu, ternyata pamanmu sudah mempunyai istri dan anak."

"Oh?"

"Lima tahun lalu, ayah mengutus Tio Lo Toa ke Tionggoan lagi." lanjut Tio Tay seng sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Paman dan bibimu telah mati di bunuh oleh Bu Lim sam Mo, anak-anaknya entah hilang ke mana."

"Kenapa Bu Lim sam Mo membunuh paman dan bibi?"

"Dikarenakan sebuah kotak pusaka."

"Ayah Bolehkah aku tahu nama paman?"

"Pamanmu bernama Tio It seng, bibimu adalah sin Pian Bi jin-Lie Hui Hong," jawab Tio Tay seng memberitahukan. "Anak-anaknya bernama Tio suan suan dan Tio cie Hiong. Tio suan suan sudah mati."

"Bagaimana Tio cie Hiong?"

"Belum tahu jelas, tapi ayah telah mengutus Tio Lo Toa ke Tionggoan untuk menyelidikinya . "

"Kapan paman Lo Toa akanpulang?"

"Mungkin... hari ini."

"Ayah..." Di saat Tio Hong Hoa baru mau bicara, mendadak muncul seorang tua berusia enam puluhan mendekati mereka.

"Tocu (Majikan pulau) "panggil orang tua itu, yang ternyata Tio Lo Toa yang baru pulang dari Tiong goan.

"Tio Lo Toa Bagaimana kabarnya Tio Cie Hiong?" sahut Tio Tay seng. "Aaaakh..." Tio Lo Toa menghela nafas. "Dia... dia sudah mati." "Apa?" Betapa terkejutnya Tio Tay seng. "Bagaimana dia mati?"

Kepandaiannya dimusnahkan oleh Bu Lim sam Mo, bahkan tulang punggungnya juga dipatahkan. Akhirnya dia mati beberapa hari kemudian."

Kenapa? Kenapa kepandaiannya bisa dimusnahkan oleh Bu Lim sam Mo?" tanya Tio Tay seng dengan kening berkerut-kerut.

"Demi Bu Lim Ji Khie, Kay Pang dan tujuh partai besar lainnya. Maka dia mengorbankan dirinya...," jawab Tio Lo Toa dan menutur tentang kejadian itu.

"Aaakh..." Tio Tay seng menghela nafas panjang. "sungguh malang nasib keponakanku..."

"Ayah" ujar Tio Hong Hoa dengan mata berapi-api. "Aku akan berangkat ke Tionggoan untuk menuntut balas kepada Bu Lim sam Mo"

"Hoa Ji" Tio Tay seng menggeleng-gelengkan kepala. "Dengan kepandaianmu sekarang, engkau masih bukan tandingan mereka."

"selain Bu Lim sam Mo, juga terdapat Kwan Gwa siang Koay." Tio Lo Toa memberitahukan. "Kini rimba persilatan Tionggoan telah dikuasai Bu Tek Pay yang dipimpin Bu Lim sam Mo."

"Ayah, biar bagaimana pun aku harus menuntut balas kepada Bu Lim sam Mo" tegas Tio Hong Hoa. "sungguh kasihan Adik Cie Hiong"

"Hoa Ji" Tio Tay seng menatapnya dalam-dalam. " Kalau memang engkau bertekad, maka engkau harus lebih tekun belajar."

"Ya, Ayah." Tio Hong Hoa mengangguk.

"Tocu tidak berniat ke Tionggoan?" tanya Tio Lo Toa mendadak.

"Aku tidak mau melanggar larangan almarhum ayahku, jadi aku tetap di pulau. Engkau bersama Hoa Jie saja ke Tionggoan kelak." jawab Tio Tay seng. "Tapi jangan bertindak gegabah, harus dengan perhitungan."

"Tocu..." Tio Hong Hoa menghela nafas panjang. "Majikan tua telah meninggal, maka larangan itu tidak berlaku lagi."

"Biar bagaimana pun, aku harus mentaati larangan almarhum, tidak baik melanggarnya," ujar Tio Tay seng sungguh-sungguh.

"Tocu..." Tio Lo Toa menggeleng-gelengkan kepala.

"Ayah" desak Tio Hong Hoa. "Ayah ikut saja kelak"

"Hoa ji" Tio Tay seng tersenyum getir. "Ayah sudah tua, lagi pula dari dulu hingga kini sama sekali tidak berniat ke Tionggoan."

"Ayah" Tio Hong Hoa tertawa kecil. "Anggap saja pesiar di sana, bukankah Ayah senang akan panorama yang indah? Nah, di Tionggoan banyak panorama indah."

Hoa ji" Tio Tay seng menatapnya. "Itu urusan kelak. tidak perlu dibicarakan sekarang. Yang penting, mulai sekarang engkau harus tekun mempelajari Kiu Yang sin Kang."

"Ya, Ayah." Tio Hong Hoa mengangguk. dan mulai hari itu gadis tersebut betul-betul belajar dengan tekun sekali.

sementara itu, di dalam goa yang di puncak Gunung Thiansan, monyet bulu putih merawat Tio Cie Hiong dengan penuh perhatian. setiap hari monyet itu pasti memberinya buah yang mengandung cairan pahit, dan selama beberapa bulan, Tio Cie Hiong hanya makan buah tersebut.

Buah itu memang mujarab, maka kini sekujur badan Tio Cie Hiong sudah mulai bisa bergerak.

tapi masih belum bisa duduk.

"Kauw heng" Tio Cie Hiong menatapnya terharu. " Kebaikanmu melebihi manusia, aku sungguh berhutang budi kepadamu."

Monyet bulu putih bercuit-cuit dan sepasang tangannya digoyang-goyangkan, sepertinya memberitahukan kepada Tio Cie Hiong, jangan merasa berhutang budi kepadanya.

"Kauw heng, hatimu sungguh mulia" ujar Tio Cie Hiong dan menambahkan. "Apabila aku bisa sembuh, aku pasti mengajakmu pergi bersama. Tentunya engkau akan merasa gembira, bukan?"

Monyet bulu putih bercuit-cuit lagi, kemudian bertepuk-tepuk tangan sambil berjingkrak-jingkrak kelihatan gembira sekali.

Di dalam sebuah goa di Gunung Thay san, tampak Tayli Lo Ceng duduk bersemedi bersama seorang pemuda berusia sekitar dua puluh tiga, yang wajahnya sangat tampan.

Berselang beberapa saat kemudian, Tayli Lo Ceng membuka matanya dan tersenyum lembut sambil memandang pemuda itu.

Tak seberapa lama pemuda itu pun membuka matanya. Ketika melihat Tayli Lo Ceng memandangnya, segeralah ia berlutut. "Guru..."

"Duduk saja" Tayli Lo Ceng tersenyum lembut. "Tidak perlu berlutut."

"Ya, Guru." Pemuda itu langsung duduk dan bertanya. "sudah lama kah guru pulang?"

"Belum begitu lama." Tayli Lo Ceng menatapnya dalam-dalam. "Lweekangmu sudah bertambah maju, guru merasa gembira sekali, karena tidak sia-sia aku menggemblengmu."

"Terima kasih atas gemblengan guru." ucap pemuda itu dan bertanya. "Guru baru pulang dari Hong Lay san?"

"Ya." Tayli Lo Ceng manggut-manggut. "Kini It sim sin Ni sudah mempunyai seorang murid perempuan bernama Tan Li Cu..."

Tayli Lo Ceng menutur tentang kejadian yang menimpa Tan Li Cu, dan pemuda itu mendengar dengan penuh perhatian.

"Guru, nasibnya sungguh malang" ujar pemuda itu sambil menghela nafas, kemudian menundukkan kepala seraya bertanya. "Guru, sebetulnya siapa kedua orang tuaku?"

"Kini sudah waktunya guru memberitahukan."

Tayli Lo Ceng menatapnya. "Engkau bernama Lie Man Chiu. Ayahmu adalah seorang pembesar yang tidak pernah korupsi, akan tetapi, kira-kira dua puluh tahun lalu, kedua orang tuamu dan kakakmu dibantai oleh beberapa penjahat. Kebetulan guru lewat di kota itu, maka masih sempat menolongmu"

"Aaakh..." keluh Lie Man chiu sambil menghela nafas panjang.

"setelah menolongmu...," lanjut Tayli Lo Ceng. "Guru terpaksa menitipkanmu di keluarga petani, dan lima tahun kemudian barulah guru membawamu ke mari."

"Terima kasih atas budi baik guru yang telah membesarkanku." ucap Lie Man chiu, lalu berlutut di hadapan Tayli Lo Ceng.

"Duduklah" Tayli Lo Ceng tersenyum lembut. "Sudah belasan tahun guru menggemblengmu, dan kini kepandaianmu sudah tinggi, maka setahun kemudian engkau boleh meninggalkan goa ini."

"Guru...."

"Guru perlu memberitahukan, kini rimba persilatan telah dikuasi Bu Tek Pay yang dipimpin Bu Lim sam Mo dan Kwan Gwa siang Koay. Karena itu, setahun kemudian, engkau harus membantu Tio Cie Hiong."

"Guru, bolehkah aku tahu siapa Tio Cie Hiong?"

"Tio Cie Hiong adalah seorang pendekar yang berhati bajik..." tutur Tayli Lo Ceng.

"Guru, Tio Cie Hiong sungguh berjiwa besar, dia rela mengorbankan dirinya demi semua orang itu Aku kagum dan salut kepadanya, dan kelak aku pun harus jadi seorang pendekar seperti dia."

"Bagus Bagus" Tayli Lo Ceng manggut-manggut..

"Tapi..." Mendadak Lie Man chiu mengerutkan kening. "Guru, apakah Cie Hiong akan sembuh?"

"Dia akan sembuh, tapi kepandaiannya bisa pulih atau tidak. guru tidak berani memastikannya .

"

"Guru, bagaimana seandainya kepandaiannya tidak bisa pulih?"

"Berarti Bu Lim sam Mo dan Kwan Gwa siang Keay akan tetap menguasai rimba persilatan. "

"Guru..."

"Guru tahu engkau ingin mengatakan apa." Tayli Lo Ceng tersenyum getir. "Tentunya engkau menghendaki guru dan it sim sin Ni melawan Kwan Gwa siang Koay, sedangkan engkau dan Tan Li cu melawan Bu Lim sam Mo, bukan?"

"Ya, guru." Lie Man chiu mengangguk. "Jadi kita bisa membasmi mereka."

"Itu tidak mungkin..." Tayli Lo Ceng meng-gelcng-gelengkan kemala. "sebab kalian berdua

belum mampu melawan Bu Lim sam Mo. Kalau kalian berdua menghadapi mereka bertiga, kalian berdualah yang akan celaka."

Lie Man chiu mengerutkan kening. " Kalau begitu, Tio Cie Hiong...."

"Dia seorang diri mampu melawan Bu Lim sam Mo." Tayli Lo Ceng memberitahukan. "sebab dia memiliki Pan Yok Hian Thian sin Kang dan Kan Ku Taylo sin Kang, hanya saja entah bisa pulih atau tidak kepandaiannya?"

"Guru Tio cie Hiong berada di mana sekarang?"

"Di puncak Gunung Thian san."

"Guru yang membawanya ke sana?"

"Betul." Tayli Lo Ceng manggut-manggut. " Karena di sana terdapat seekor monyet berbulu putih yang sakti, dan cie Hiong boleh dikatakan majikan monyet sakti itu."

"Guru..." Lie Man chiu memandang Tayli Lo Ceng dengan penuh keheranan. "Bagaimana mungkin monyet itu dapat mengobati Cie Hiong?"

"Engkau harus tahu, monyet itu sudah berusia hampir tiga ratus tahun." Tayli Lo Ceng memberitahukan. "Majikannya yang dulu adalah seorang sakti, sudah barang tentu dia pun menjadi sakti, bahkan tak mempan dibacok dengan senjata apa pun."

" Kalau begitu, monyet itu pun berkepandaian tinggi?"

"Tinggi sekali." Tayli Lo Ceng tersenyum dan melanjutkan. "Kemungkinan besar monyet itu mampu mengalahkan guru."

"Begitu lihaykah monyet itu?" Lie Man Chiu terbelalak.

"Kalau tidak. bagaimana mungkin guru menyebutnya monyet sakti?" sahut Tayli Lo Ceng dan

menambahkan. "Monyet sakti itu pun sangat setia kawan, karena itu, guru yakin dia pasti berupaya menyembuhkan Cie Hiong." Lie Man Chiu manggut-manggut.

"omitohud..." ucap Tayli Lie Man Chiu sambil menatapnya tajam. "Pada dasarnya engkau memang berhati baik, namun masih diliputi hawa membunuh. setelah engkau berkecimpung dalam rimba persilatan, janganlah terlampau banyak membunuh orang"

"Guru Aku akan membunuh penjahat. Kalau tidak, para penjahat itu pasti terus melakukan kejahatan."

"omitohud omitohud..." Tayli Lo Ceng menghela nafas panjang. "Tekanlah hawa membunuhmu itu"

"Ya, guru." Lie Man chiu mengangguk.

"omitohud..." Tayli Lo Ceng manggut-manggut. "omitohud..."

Bab 60 Gadis Jepang muncul di markas pusat Kay Pang

Bu Lim Ji Khie, Tui Hun Lojin, Lim Peng Hang, Gouw Han Tiong dan Lim Ceng Im duduk di ruang depan markas pusat Kay Pang. Kini Kay Pang sudah tiada kegiatan apa-apa, sebab di bawah perintah Bu Tek Pay, bahkan semua markas cabang pun telah dijadikan markas

cabang partai Tanpa Tanding itu. Begitu pula tujuh partai besar lainnya, semua di bawah perintah Bu Tek Pay, maka membuat kaum golongan hitam yang berjaya dalam rimba persilatan. Mereka selalu berlaku sewenang-wenang, menyita harta benda orang dan memperkosa kaum wanita.

siapa yang berani melawan, pasti dibunuh tanpa ampun. Para pedagang harus membayar pajak tinggi kepada Bu Tek Pay, sedangkan kaum hartawan diwajibkan membayar uang keamanan. Yang paling menderita adalah rakyat jelata, walau anak gadis atau isteri mereka diperkosa, mereka pun harus diam. Kalau tidak, pasti mati di ujung senjata.

"Aaaakh..." sam Gan sin Kay menghela nafas panjang. "Tidak disangka rimba persilatan akanjadi begini macam"

"Pengemis bau, kita sebagai Bu Lim Ji Khie, tapi cuma bisa duduk diam. sungguh menyedihkan" ujar Kim siauw suseng sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Keadaan yang begini, entah kapan akan berakhir?"

"Kalau Cie Hiong sudah muncul, semuanya pasti berakhir," sela Tui Hun Lojin.

"Itu merupakan harapan kita satusatunya," sahut sam Gan sin Kay. "sebab siapa yang dapat melawan Bu Lim sam Mo dan Kwan Gwa siang Koay?"

"Ini adalah kesuraman golongan putih...." Kim siauw suseng menghela nafas panjang.

"sudah setahun..." gumam Lim Ceng im dengan wajah murung. "Entah bagaimana keadaan Kakak Hiong? Mungkinkah dia sudah sembuh?"

"Kita semua berharap dia sembuh dan pulih kepandaiannya. oleh karena itu kita harus tetap bersabar..." ucapan sam Gan sin Kay terputus, ternyata ia melihat sai Pi Lo Kay berlari masuk dengan wajah serius.

"Lapor pada Tetua dan Pangcu" ujar sai Pi Lo Kay. "Gadis Jepang itu ke mari ingin bertemu cie Hiong."

"siapa gadis Jepang itu?" tanya Lim Peng Hang heran.

"Dia Michiko, aku kenal dia," jawab sai Pi Lo Kay memberitahukan. " wajahnya tampak kusut dan murung, pasti ada suatu urusan."

"Kalau begitu, cepat suruh dia masuk" ujar Lim Peng Hang.

"Ya, Pangcu." sai Pi Lo Kay segera ke luar, dan tak lama ia sudah kembali bersama Michiko.

"Maaf Maaf" ucap gadis Jepang itu sambil menengok ke sana ke mari. "Aku ke mari mau bertemu Kakak Tio."

"Maksudmu Tio Cie Hiong?" tanya Lim Peng Hang.

"Ya." Michiko mengangguk. "Aku memanggilnya Kakak Tio."

"Mari kita ke ruang dalam" ajak Lim Peng Hang dan berpesan kepada sai Pi Lo Kay. "Perketat penjagaan di luar, apabila ada anggota Bu Tek Pay ke mari, cepatlah melapor"

"Ya, Pangcu." sai Pi Lo Kay langsung pergi.

sedangkan Lim Peng Hang dan lain-lainnya berjalan masuk. dan setelah duduk. ketua Kay Pang itu menatap Michiko dalam-dalam lalu bertanya. "Ada urusan apa Nona Michiko ingin bertemu Tio Cie Hiong?"

"Aku cuma kenal Kakak Tio di Tionggoan ini, maka aku ke mari mencarinya." jawab Michiko jujur. "sebab dia boleh dikatakan seperti kakakku sendiri"

Berkata sampai di sini, Michiko mulai terisak-isak dengan air mata bercucuran.

"Nona Michiko, apakah telah terjadi sesuatu atas dirimu di Jepang?" tanya Lim Peng Hang.

"Ya." Michiko mengangguk. "Setahun lalu, aku dan kakakku membawa lima Ninja pulang ke Jepang. setelah itu, mereka berlima dihukum mati. Akan tetapi...."

"Kenapa?" tanya Lim Peng Hang.

"Mendadak muncul ketua aliran Ninja. Dia membunuh guru dan kakakku, untung aku sempat kabur. Kalau tidak- aku pun pasti mati." Michiko memberitahukan. Lim Peng Hang manggut-manggut. "Jadi engkau kabur ke mari?"

"Ya." Michiko mengangguk. "Hanya Kakak Tio yang dapat melindung iku, karena aku yakin ketua aliran Ninja itu pasti akan mengejarku."

"Mengejar sampai di Tionggoan ini?" sam Gan sin Kay tersentak.

"Ya," jawab Michiko "Setahun lalu, lima Ninja itu bergabung dengan Bu Tek Pay."

"Celaka" seru sam Gan sin Kay. "Ini... ini...."

"Pengemis bau, kenapa engkau menjadi begitu pengecut?" tegur Kim siauw suseng sambil meng- geleng- gelengkan kepala.

"sastrawan sialan Aku bukan pengecut" sahut sam Gan sin Kay dengan kening berkerut-kerut.

"Yang kupikirkan adalah kita dan para anggota Kay Pang" Kim siauw suseng manggut-manggut.

"Kalau begitu, kita harus mencari akal."

"Ada apa?" tanya Michiko.

"Nona Michiko, tentunya engkau belum tahu, bahwa kini Bu Tek Pay telah menguasai rimba

persilatan Tionggoan, Kay Pang dan tujuh partai besar lainnya berada di bawah perintahnya," ujar Lim Peng Hang.

"Kalau begitu, nanti setelah bertemu dengan Kakak Tio, aku akan segera pergi agar tidak merepotkan di sini," ujar Michiko dan bertanya. "Bolehkah aku bertemu Kakak Tio?"

"Nona Michiko" Lim Ceng im menatapnya. "Kami akan berupaya melindungimu, karena engkau menganggap Kakak Hiong sebagai kakakmu."

Engkau pasti Nona Ceng im, calon isteri Kakak Tio." Michiko memandangnya. " Engkau cantik sekali, pantas Kakak Tio begitu mencintaimu"

"Aaakh..." Lim Ceng im menghela nafas panjang.

"Nona Ceng Im" Tanya Michiko cepat. "Apa-kah telah terjadi sesuatu atas diri Kakak Tio?"

Lim Ceng Im mengangguk lalu memberitahukan. "Dia terluka parah...."

Lim Ceng Im menutur secara jelas mengenai kejadian itu, dan Michiko mendengarkan dengan air mata berlinang-linang.

"Kakakku begitu baik, tapi mati di tangan ketua aliran Ninja. sedangkan Kakak Tio yang berhati bajik, malah mati di tangan Bu Lim sam Mo."

"Nona Michiko" ujar Lim Ceng im dengan suara rendah. "Sebetulnya Kakak Hiong tidak mati, tapi...."

"oh?" Michiko tercengang. "Kalau begitu, Kakak Tio pasti bisa sembuh."

"itulah yang kita harapkan," sahut Lim Peng Hang. "Tapi belum tentu kepandaiannya bisa pulih seperti sedia kala."

"Aaakh..." Michiko menghela nafas panjang.

Karena itu, kita semua harus bersabar untuk menunggu Cie Hiong pulang," ujar Lim Peng Hang. "Mudah-mudahan dia bisa pulang dengan keadaan seperti dulu"

Michiko manggut-manggut, sementara sam Gan sin Kay terus mengerutkan kening, kelihatannya sedang memikirkan sesuatu.

"Nona Michiko Untuk sementara ini, engkau harus bersembunyi." ujarnya kemudian.

"Kenapa?" Michiko heran.

"Kalau pihak Bu Tek Pay tahu engkau berada di sini, dan kami tidak menyerahkanmu kepada Bu Tek Pay. tentunya kita akan celaka semua," sahut Sam Gan sin Kay sungguh-sungguh .

"Kalau begitu aku akan pergi," ujar Michiko lalu bangkit berdiri

"Kalau engkau pergi pasti celaka," ujar sam Gan sin Kay dan menambahkan. "Aku mempunyai akal."

"Pengemis bau Engkau punya akal apa? Beri-tahukanlah" tanya Kim siauw suseng.

"Begini...." sam Gan sin Kay merendahkan suaranya. "Nona Michiko boleh pergi sekarang, lalu

bersembunyi di luar markas Kay Pang ini. Malam harinya aku akan ke sana menjemput." "Maksud cianpwee menjemputku ke mari lagi?" Michiko agak bingung.

"Ya." sam Gan sin Kay mengangguk. "Jadi para anggota Kay Pang melihat engkau pergi...."

"oooh" Michiko manggut-manggut. Terima kasih, Cianpwee"

"Pengemis bau" Kim Siauw Suseng tertawa. "Aku tak menyangka kalau engkau begitu cerdik."

"Ha ha" sam Gan sin Kay tertawa gelak. "Tentunya aku lebih cerdik dari padamu."

"Kalau begitu, aku pergi sekarang" ujar Michiko sambil bangkit berdiri.

"Nona Michiko. Aku antar engkau ke depan." Lim Ceng Im juga bangkit berdiri sambil tersenyum.

"Terima kasih" ucap Michiko. "Mungkin usiaku lebih besar sedikit dari usiamu, jadi aku akan memanggilmu Adik Ceng Im, dan engkau memanggilku Kakak Michiko."

"Baik, Kak." Lim Ceng Im mengantar gadis itu sampai di depan, kemudian berbisik. "Di luar markas ini terdapat sebuah pohon besar, bersembunyilah di sana Begitu hari sudah malam, kakekku pasti pergi menjemputmu."

"Ya" Michiko mengangguk. "Terima kasih, adik Ceng Im"

Malam harinya, tampak sosok bayangan berkelebat meninggalkan markas pusat Kay Pang. Berselang beberapa saat kemudian, sosok bayangan itu kembali memasuki markas pusat Kay Pang bersama sosok bayangan lain, yang ternyata sam Gan sin Kay dan Michiko

"Bagaimana?" tanya Kim siauw suseng. "Apa-kah tiada seorang pun melihat kalian?"

sam Gan sin Kay mengangguk. "Mari kita ke ruang bawah tanah"

Mereka semua menuju ke dalam. Lim Peng Hang menekan sebuah tombol rahasia, seketika muncul sebuah lubang di lantai.

"Mari kita masuk" ajak Lim Peng Hang lalu masuk ke lubang itu, dan yang lain pun mengikutinya

Ruang bawah tanah itu cukup luas dan bersih. setelah berada di dalam ruang itu, barulah Lim Peng Hang menghela nafas lega.

"Nona Michiko sementara bersembunyilah engkau di sini, nanti setelah aman engkau boleh keluar, tetapi harus menyamar sebagai pengemis."

"Terima kasih, Paman" ucap Michiko

"Kakak Michiko Bagaimana kepandaian ketua aliran Ninja itu?" tanya Lim Ceng im.

"Kepandaiannya sangat tinggi. Aku justru masih merasa heran...." Gadis Jepang itu

mengerutkan kening. "Padahal setahun lalu kepandaiannya belum begitu tinggi, namun kini sungguh tinggi dan lihay. Guru dan kakakku tak sanggup melawannya, akhirnya mati di tangannya."

"Engkau yakin ketua aliran Ninja itu akan ke mari?" tanya sam Gan sin Kay.

"Aku yakin" Michiko manggut-manggut. "Sebab dia tahu aku kabur ke Tionggoan ini."

"Kalau begitu, ketua aliran Ninja itu pasti Bu Tek Pay. Karena kelima muridnya pernah bergabung dengan partai Tanpa Tandihg itu." ujar Lim Ceng im.

"Benar." Kim siauw suseng mengangguk. HKe-mungkinan besar dalam beberapa hari ini, pihak Bu Tek Pay akan ke mari mencari Nona Michiko."

"Ha ha" sam Gan sin Kay tertawa. " Karena itu, timbullah akalku ini, jadi Nona Michiko akan aman di dalam ruang bawah tanah."

"Hanya kitalah yang tahu ruang bawah tanah ini?" tanya Tui Hun Lojin mendadak. "Apakah sai Pi Lo Kay tidak mengetahuinya?"

"Memang hanya kita yang tahu," sahut sam Gan sin Kay. "sai Pi Lo Kay pun tidak tahu."

Tui Hun Lojin manggut-manggut. "Pengemis bau, aku tidak menyangka kalau engkau mempunyai akal yang sedemikian lihay."

"Ha ha" sam Gan sin Kay tertawa gelak. "Kini engkau sudah tahu, kan?"

"Benar Benar...." Tui Hun Lojin juga tertawa.

"Nona Michiko Tenanglah engkau di sini, Ceng Im akan mengantar makanan dan minuman untukmu"

"Terima kasih, Paman" Ucap Michiko terharu. "Terima kasih...."

Ketua aliran Ninja sudah tiba di Tionggoan dan langsung menemui beberapa anggota Bu Tek Pay. setelah tahu identitas ketua aliran Ninja, maka salah seorang anggota partai tersebut mengantarnya ke markas.

Bu Lim sam Mo, Kwan Gwa siang Keay, Ang Bin sat sin dan Liu siauw Kun menyambut kedatangannya dengan penuh kegembiraan.

"Ha ha ha Tang Hai Lo Mo tertawa gelak. "Selamat datang, ketua Ninja"

"Selamat bertemu, ketua Bu Tek^ay" sahut ketua aliran Ninja, yang bernama Takara Yahatsu. "Ha ha" Tang Hai Lo Mo tertawa lagi. "sila-kan duduk, silakan duduk"

"Terima kasih" Takara Yahatsu duduk seraya berkata. "Murid- murid ku pernah bilang, bahwa mereka telah bergabung di sini, maka setelah tiba di Tionggoan, aku pun langsung ke mari."

"Benar- sahut Thian Mo. "Murid-muridmu memang telah bergabung di sini, kemudian mereka berlima bertarung dengan Yasuki Nichiba dan Michiko sesungguhnya mereka dapat membunuh kedua lawan itu, tapi muncul Tio Cie Hiong...."

"Hmm" dengus Takara Yahatsu. "Aku datang di Tionggoan, justru ingin membuat perhitungan dengan Tio cie Hiong. Selain itu, aku pun harus membunuh Michiko yang kabur ke Tionggoan ini."

"oh? Michiko juga sudah berada di Tionggoan?" tanya Te Mo.

"Ya." Takara Yahatsu mengangguk. "Mungkin Bu Tek Pay bisa membantuku mencari Michiko."

"Tentu." Tang Hai Lo Mo tertawa. "Kami pasti membantu dalam hal ini."

"Terima kasih" ucap Takara Yahatsu. "Kalau begitu, aku pun mau bergabung di sini."

"Bagus Bagus" Siluman Kurus tertawa. "Kita bisa bekerja sama."

"Benar." Takara Yahatsu memandangnya. "Maaf, bolehkah aku tahu...."

"Mereka berdua adalah Kwan Gwa Siang Koay, kini sebagai Tetua Bu Tek Pay." Tang Hai Lo Mo memperkenalkan.

Takara Yahatsu manggut-manggut, kemudian bertanya. "Tio cie Hiong berada di mana sekarang?"

"Dia telah kami musnahkan kepandaiannya, dan beberapa hari kemudian dia mati."

"Sayang sekali Padahal aku ingin membunuhnya dengan tanganku sendiri." ujar Takara Yahatsu.

"Dia mati di tangan kami juga sama, bukan?" tanya Thian Mo sambil tertawa gelak.

"Betul." Takara Yahatsu^ juga tertawa. "ohya, apakah para anggota di sini tahu Michiko berada di mana?"

"Itu..." pikir Tang Hai Lo Mo. "Dia pernah tinggal di markas pusat Kay Pang, mungkin dia berada di sana."

"Kalau begitu, aku akan ke sana."

0 Response to "Kesatria Baju Putih (Pek In Sin Hiap) Bagian 37"

Post a Comment