coba

Kesatria Baju Putih (Pek In Sin Hiap) Bagian 38

Mode Malam
Bagian 38
"Engkau tidak perlu ke sana," ujar Tang Hai Lo Mo. "Kami akan mengutus beberapa orang ke sana."

"Hm" dengus Tang Hai Lo Mo dingin. "Kalau dia berada di sana, dan Kay Pang tidak menyerahkannya kepada kita, berarti Kay Pang akan musnah"

"Benar. Kalau benar Michiko berada di sana tapi Kay Pang tidak menyerahkan kepada kita, Bu Tek Pay pasti membantai habis Kay Pang" sahut siluman Gemuk.

"Terima kasih Terima kasih" ucap Takara Yahatsu sambil tertawa gembira. "Aku tidak menyangka, baru tiba di Tionggoan sudah mempunyai kawan baik."

"sebab kita satu aliran, lagipula engkau sudah bergabung dengan kami." sahut Tang Hai Lo Mo.

"oleh karena itu mulai hari ini engkau pun akan hidup senang di sini." sambung Thian Mo.

"Terima kasih Ha ha ha..." Takara Yahatsu tertawa terbahak-bahak.

Bu Lim Ji Khie dan lainnya duduk di ruang depan markas pusat Kay Pang. Kelihatannya mereka sedang membicarakan sesuatu yang cukup penting, karena tampak kening mereka berkerut-kerut.

"Aku yakin dalam satu dua hari ini, pihak Bu Tek Pay pasti ke mari. Kalau mereka mau menggeledah, kita biarkan saja Kita jangan menentang mereka, dan harus tetap bersabar."

"Memang harus begitu," sahut Kim siauw su-seng dan melanjutkan. "Apabila Cie Hiong pulang dan kepandaiannya telah pulih, aku pasti akan turun tangan membantaipara anggota Bu Tek Pay"

"Nafasku sudah mulai sesak karena menahan hawa kegusaran," ujar Tui HUn Lojin.

" Kenapa, setan tua?" tanya sam Gan sin Kay.

"Kita cuma bisa bersabar," sahut Tui Hun Lojin sambil menggeleng-gelengkan kepala. "se-andainya Cie Hiong tidak pulang...."

"Kakak Hiong pasti pulang. Kakak Hiong pasti pulang." sela Lim Ceng Im setengah berteriak. "Jangan berteriak-teriak, Nak" tegur Lim Peng Hang. "Kita masih harus berhati-hati...."

Mendadak sai Pi Lo Kay berjalan ke dalam, lalu memberi hormat sekaligus melapor. "Utusan Bu Tek Pay ke mari."

"sambut mereka" sahut Lim Peng Hang.

"ya, Pangcu." sai Pi Lo Kay segera berjalan ke luar.

Bu Lim Ji Khie dan lainnya saling memandang, dan air muka mereka tampak agak berubah.

" ingat Kita semua harus tenang" pesan sam Gan sin Kay.

Berselang sesaat, sai Pi Lo Kay sudah kembali bersama Ang Bin sat sin, Liu siauw Kun dan belasan anggota Bu Tek Pay.

"selamat datang, utusan ketua Bu Tek Pay" ucap Lim Peng Hang sambil bangkit berdiri, dan yang lain pun mengikutinya.

"Ha ha ha" Ang Bin sat sin tertawa. "Bagus Bagus Kalian memang tahu aturan"

"silakan duduk" ucap Lim Peng Hang.

"Terima kasih" sahut Ang Bin sat sin dan Liu siauw Kun serentak sambil duduk. sikap pemuda itu paling memuakkan.

"Ada perintah apa untuk kami?" tanya Lim Peng Hang.

"Ketua Bu Tek Pay memberi perintah kepada kalian agar menyerahkan Michiko" sahut Ang Bin sat sin.

"Kalau tidak. hari ini Kay Pang pasti musnah" sambung Liu siauw Kun dengan dada terangkat sedikit.

"Apa?" Lim Peng Hang pura-pura terheran-heran. "Kami tidak mempunyai Michiko, apa itu Michiko? Kalau Mi biasa kami punya."

"Ha ha ha" Ang Bin sat sin tertawa gelak. "Lim Pangcu,janganpura-pura tidak mengerti"

"Michiko..." Lim Peng Hang pura-pura berpikir, kemudian manggut-manggut seraya berkata. "Apakah yang kalian maksudkan gadis Jepang itu?"

"Benar" sahut Ang Bin sat sin. "Nah, cepatlah kalian serahkan"

"Maaf" ucap Lim Peng Hang. "Dua hari yang lalu gadis Jepang itu memang ke mari, tetapi pada hari itu juga dia pergi."

"Benarkah?" Ang Bin sat sin tidak percaya.

"Benar." ujar Lim Peng Hang. "Dia ke mari mencari Tio Cie Hiong. Katanya ketua aliran Ninja di Jepang telah membunuh guru dan kakaknya. Dia ingin berlindung di sini, namun kami beritahukan kepadanya, bahwa Tio Cie Hiong sudah mati. Karena itu, dia langsung pergi."

"Lim Pangcu" Kening Ang Bin sat sin berkerut. "jangan-jangan kalian menyembunyikannya "

"Ang Bin sat sin" sela sam Gan sin Kay sambil menatapnya. "Mungkinkah kami akan mempertaruhkan ratusan nyawa hanya karena seorang gadis Jepang yang tiada hubungannya dengan kami?"

Ang Bin sat sin manggut-manggut. "sam Gan sin Kay, ucapanmu masuk akal"

"Tapi kami tidak bisa percaya begitu saja" ujar Liu siauw Kun.

"Lalu apa maumu?" tanya Lim Peng Hang.

"Kami berhak menggeledah" sahut Liu siauw Kun dingin. " Kalau tidak berkeberatan apabila kami menggeledah seluruh kamar yang ada di sini, bukan?"

"Apakah kami berani menentang?" sahut Lim Peng Hang.

"Baik" Liu siauw Kun tersenyum, lalu menurunkan perintah kepada belasan anggota Bu Tek Pay itu. "Cepatlah kalian geledah"

"Ya." sahut mereka lalu mulai menggeledah ke sana ke mari.

Berselang beberapa saat kemudian, para anggota Bu Tek Pay itu sudah kembali ke ruang depan dan melapor.

Lapar kepada Pelindung dan Tuan muda Kami sudah menggeledah semua kamar, tetapi tidak tampak gadis Jepang itu."

Ang Bin sat sin manggut-manggut, kemudian memandang Lim Peng Hang seraya bertam "Gadis Jepang itu ke mana?"

"Maaf, kami tidak tahu," jawab Lim Peng Hang.

"Kalau kalian mengetahuijejak gadis Jepang itu, harus melapor kepada Bu Tek Pay" pesan Ang Bin sat sin. "sebab ketua aliran Ninja sudah berada di markas kami"

"Baik." Lim Peng Hang mengangguk.

" Kalau begitu, kami mau kembali ke markas."

"Tunggu dulu, Guru" potong Liu siauw Kun, kemudian menunjuk beberapa anggota Bu Tek Pay, dan berkata. " Kalian pergi bawa beberapa pengemis ke mari"

"Ya." Mereka segera keluar, dan tak lama sudah kembali bersama beberapa pengemis berusia empat puluhan.

"Tahukah kalian kenapa aku menyuruh kalian ke mari?" tanya Liu siauw Kun kepada pengemis-pengemis itu.

"Maaf, kami tidak tahu," sahut pengemis-pengemis itu.

"Apakah dua hari lalu kalian melihat seorang gadis Jepang ke mari?" tanya Liu siauw Kun sambil menatap mereka dengan tajam dan dingin sekali.

"Kami memang melihat," sahut salah seorang pengemis. "Tapi tak seberapa lama, kami pun melihat dia pergi."

Liu siauw Kun manggut-manggut. "Nah, sekarang kalian boleh keluar" "Ya." Mereka sebera meninggalkan ruang itu sambil menghela nafas lega.

"Guru" ujar Liu siauw Kun kepada Ang Bin sat sin. "sekarang aku baru percaya akan perkataan Lim Pangcu."

"Ha ha" Ang Bin sat sin tertawa. " Engkau memang cerdik Ayoh kita kembali ke markas" "selamat jalan" ucap Lim Peng Hang.

ingat Apabila ada kabar berita tentang gadis Jepang itu, kalian harus melapor kepada Bu Tek Pay" pesan Ang Bin sat sin dengan tegas dan menambahkan. "Kalau kalian lalai melaporkan Hm"

setelah mendengus dingin, Ang Bin sat sin dan Liu siauw Kun melangkah pergi meninggalkan markas pusat Kay Pang.

"Aaakh..." Lim Peng Hang menghela nafas dalam-dalam. "sungguh cerdik Liu siauw Kun"

"Ha ha" Kim siauw suseng tertawa. "Tapi pengemis bau jauh lebih cerdik, sebab telah memperhitungkan itu."

"Ha ha" sam Gan sin Kay tertawa terbahak-bahak. "sastrawan sialan, baru kali ini engkau memujiku Ha ha ha..."

"Pengemis bau Aku benar-benar kagum akan kecerdikanmu, bisa memperhitungkan sampai ke situ." ujar Tul Hun Lojin.

"Tapi ingat Michiko harus terus bersembunyi di dalam ruang bawah tanah, tidak boleh menyamar sebagai pengemis." ujar sam Gan sin Kay.

"Benar." Kim Siauw Suseng manggut-manggut dan melanjutkan, "Pokoknya kita semua harus tetap sabar menunggu kembalinya Tio Cie Hiong."

sementara itu, Tio Cie Hiong yang dirawat oleh monyet berbulu putih sudah bisa menggerakkan badannya, bahkan bisa duduk. Itu sungguh menggembirakan Tlo Cie Hiong. Maka tidak heran kalau ia terus-menerus membelai monyet bulu, putih yang duduk di hadapannya.

"Kauw heng Kalau tidak ada engkau, entah bagaimana diriku? Aku yakin tubuh ku pasti cacat seumur hidup," ujarnya.

Monyet itu bercuit-cuit kelihatannya juga gembira sekali, kemudian mendadak menarik Tio Cie Hiong mengajak berdiri

"Kauw heng...." Tio Cie Hiong memandangnya. " Engkau menyuruhku belajar berdiri?"

Monyet bulu putih manggut-manggut.

"Tapi...." Tio Cie Hiong mengerutkan kening, lalu mengangguk. "Baiklah Aku akan coba berdiri"

Perlahan-lahan Tio Cie Hiong bangkit berdiri, namun sepasang kakinya bergemetar, akhirnya terkulai.

Monyet bulu putih menarik tangannya lagi, dan mulutnya bercuit-cuit seakan menyuruh Tio Cie Hiong bangkit berdiri.

"Kauw heng...." Kening Tio cie Hiong mengucurkan keringat. Namun karena monyet berbulu

putih terus menarik tangannya, maka ia mencoba bangkit berdiri lagi.

Tio Cie Hiong berhasil berdiri, namun sepasang kakinya terus gemetar. la terus bertahan karena monyet bulu putih bertepuk-tepuk tangan, sepertinya memberi semangat kepadanya.

Berselang sesaat, Tio Cie Hiong terkulai dan nafasnya terengah-engah. Monyet bulu putih segera memasukkan sebiji buah ke mulutnya. setelah cairan buah itu masuk ke tenggorokannya, nafas Tio Cie Hiong kembali normal. "Kauw heng, terima kasih" ucap Tio cie Hiong.

Monyet bulu putih bercuit, kemudian terjadilah hal yang di luar dugaan, karena monyet itu menghapus keringat di kening Tio cie Hiong. "Kauw heng...." Tio cie Hiong tertegun. la menatap

monyet itu seraya berkata. "Engkau sungguh baik terhadapku, belum tentu ada manusia yang sebaik engkau."

Monyet bulu putih bercuit-cuit, lalu menjatuhkan diri berlutut di hadapan Tio Cie Hiong. "Kauw heng, kenapa engkau berlutut?" Tio cie Hiong heran. " cepatlah berdiri, jangan begini"

Monyet bulu putih menunjuk ke arah makam, setelah itu bercuit-cuit lagi. Tio cie Hiong manggut-manggut mengerti, "oooh Engkau menganggapku sebagai majikanmu, kan?" Monyet bulu putih itu manggut-manggut.

"Kauw heng" Tio Cie Hiong membelainya. "Kita bersaudara, aku bukan majikanmu."

Monyet bulu putih berloncat- loncatan, kelihatannya gembira sekali, namun Tio Cie Hiong malah menghela nafas panjang. seketika monyet putih berhenti, lalu menatap Tio Cie Hiong sambil menggaruk-garuk kepala.

"Kauw heng, oleh seandainya kepandaianku tidak bisa pulih, sebetulnya tidak jadi masalah, tapi rimba persilatan...."

Bab 61 Thian Liong Hong Hoang Po Kiam (Pedang Pusaka Naga Khayangan dari Poenix)

Tio Hong Hoa terus melatih Hong Hoang Kiam Hoat (Ilmu Pedang Burung Phoenix), menggunakan sebatang ranting, dan tampak ranting itu berkelebatan lebat ke sana ke mari. Ketika ia sedang berlatih, Tio Tay seng menghampirinya dengan membawa sebilah pedang.

"Bagus Bagus" ujarnya sambil tertawa gembira setelah putrinya berhenti berlatih. " Ilmu pedangmu maju pesat, ayah gembira sekali."

"Ayah" Tio Hong Hoa segera menghampirinya. Ketika melihat pedang di tangan ayahnya, gadis itu terbelalak. "Itu... itu Hong Hoang Po Kiam (Pedang Pusaka Phoenix). Kenapa ayah membawa pedang pusaka itu ke mari?"

"Hoaji, mulai sekarang engkau harus berlatih dengan pedang pusaka ini." sahut Tio Tay seng.

Tio Hong Hoa tampak girang sekali. "Ayah, apakah aku boleh menggunakan pedang pusaka itu untuk berlatih?"

"Kalau tidak boleh, bagaimana mungkin ayah membawa pedang pusaka ini ke mari?"

"Terima kasih, Ayah" ucap Tio Hong Hoa. "Aku pasti bertambah tekun melatih Hong Hoang Kiam Hoat (Ilmu Pedang Phoenix).

"Hoaji" Tio Tay seng tersenyum. "Ayah juga akan berikan pedang pusaka ini kepadamu."

Tio Hong Hoa kurang percaya. "Benarkah itu?"

"Benar." Tio Tay seng tersenyum dan memberitahukan. " Ketika kakekmu pergi ke Tionggoan, pedang pusaka ini pun dibawanya."

"Jadi kalau aku ke Tionggoan, ayah pasti berikan pedang pusaka ini kepadaku? Ayah tidak bohong kan?"

"Bagaimana mungkin ayah membohong imu?" Kemudian wajah Tio Tay seng berubah serius seraya berkata. "sebetulnya pedang pusaka ini ada pasangannya, hanya saja ayah tidak tahu berada di mana pedang pusaka yang satu itu." Hati Tio Hong Hoa tertarik. "Apakah juga Hong Hoang Po Kiam?"

"Bukan. itu adalah Thian Liong Pokiam (Pedang pusaka Naga Kahyangan)." Tio Tay seng menjelaskan. "Apabila kedua pedang pusaka bertemu, kedua pemiliknya juga akan bersatu hati."

"Maksud Ayah?"

"Thian Liong Pokiam pasti berada di tangan seorang pemuda, maka...."

"Ayah" Wajah Tio Hong Hoa kemerah-merahan. "jangan bicara yang bukan-bukan ah"

"Ayah bicara sesungguhnya." Tio Tay seng tersenyum. "Engkau harus percaya itu."

"Tapi...." Tio Hong Hoa mengerutkan kening. "seandainya pemilik Thian Liong Pokiam seorang

lelaki yang sudah berumur, lalu harus bagaimana?"

"Tidak mungkini sebab apabila pedang pusaka Phoenix muncul, belum tentu pedang pusaka Naga Kahyangan akan muncul. Kecuali pemiliknya seorang pemuda, maka Thian Liong Pokiam itu pasti muncul."

"Ayah" Tio Hong Hoa tertawa geli. "seperti-nya suatu cerita dongeng."

Hoa ji" Tio Tay seng tersenyum lembut. "Eng-kau boleh percaya boleh tidak- lihat buktinya nanti"

"Tocu" Tio Lo Toa menghampiri mereka. Ketika melihat Hong Hoang Pokiam, ia tampak terkejut. "Apakah Hong Hoang Pokiam akan muncul dalam rimba persilatan Tionggoan?"

"Ya." Tio Tay seng mengangguk dan menambahkan. "Bahkan Hong Hoang Leng (Tanda Perintah Phoenix) juga akan muncul dalam rimba persilatan."

"Maksud Tocu?" Tio Loa Toa tercengang.

"Beberapa bulan lagi engkau dan Hoa ji akan berangkat ke Tionggoan, jadi Hoa ji juga akan membawa Hong Hoang Leng." Tio Tay seng memberitahukan.

"Tocu tidak mau ke Tionggoan bersama?" Tio Tay seng menggelengkan kepala.

"Ayah" Tio Hong Hoa tampak kecewa. "Benarkah Ayah tidak mau ke Tionggoan? Memangnya kenapa?"

"Kalian berdua berangkat duluan, ayah akan menyusu," sahut Tio Tay seng dan berpesan. "Hoaji, engkau harus menuruti perkataan paman Lo Toa, jangan berlaku gegabah"

"Ya, Ayah." Tio Hong Hoa mengangguk.

"Nah sekarang cobalah berlatih dengan pedang pusaka ini" Tio Tay seng memberikan pedang pusaka tersebut kepada putrinya.

"Terima kasih, Ayah" ucap Tio Hong Hoa sambil menerima pedang pusaka itu dan mulai berlatih.

Di luar goa di Gunung Thay san, tampak Lie Man chiu sedang melatih Hud Bun Pan Yok Ciang Hoat. sungguh hebat ilmu pukulan itu, terdengar suara menderu- deru merontokkan daun-daun pohon di sekitarnya.

Berselang beberapa saat kemudian, barulah Lie Man chiu berhenti, dan di saat bersamaan muncullah Tayli Lo Ceng sambil tersenyum-senyum, membawa sebilang pedang.

"Man chiu Engkau sudah menguasai ilmu pukulan itu dengan baik, maka kini engkau harus berlatih Thian Liong Kiam Hoat (Ilmu Pedang Naga Kahyangan)," ujar Tayli Lo Ceng.

"Ya, Guru." Lie Man chiu mengangguk sambil memandang pedang yang di tangan padri tua itu. "Guru, bukankah itu pedang pusaka Naga Khayangan?"

"Betul." Tayli Lo Ceng manggut-manggut. "ini memang Thian Liong Pokiam. Mulai hari ini engkau harus berlatih Thian Liong Kiam Hoat dengan pedang pusaka ini."

"Guru...." Lie Man chiu girang bukan main.

"Kini sudah saatnya engkau berlatih dengan Thian Liong Pokiam." Tayli Lo Ceng tersenyum. "Thian Liong Pokiam harus menyatu dengan Hong Hoang Pokiam."

"Apa?" Lie Man chiu tertegun. "Maksud guru...?"

"Tidak lama lagi Hong Hoang Pokiam akan muncul dalam rimba persilatan, maka Thian Liong Pokiam pun harus muncul bersatu padu dengan Hong Hoang Pokiam itu."

"jadi... pasangan Thian Liong Pokiam adalah Hong Hoang Pokiam?"

"Benar. Bahkan pemiliknya juga harus bersatu hati."

"Apa?" Lie Man Chiu heran. "Guru, tolong jelaskan"

"Pemilik Hong Hoang Pokiam pasti seorang gadis yang cantik jelita, sedangkan engkau adalah pemilik Thian Liong Pokiam, maka engkau dan gadis itu harus bersatu hati."

"Guru...." Wajah Lie Man Chiu kemerah-merahan. "jadi guru ingin memberikan Thian Liong

Pokiam kepadaku?"

"Benar." Tayli Lo Ceng tersenyum. " Karena pemilik Hong Hoang Pokiam adalah jodohmu."

"Guru...." Kening Lie Man chiu berkerut. "Bagaimana kalau pemilik Hong Hoang Pokiam itu

seorang nenek?"

"omitohud Hahaha..."TayliLo Ceng tertawa. "Tidak mungkin. Engkau harus percaya bahwa pemilik Hong Hoang Pokiam itu seorang gadis cantik,"

"oh?" Lie Man chiu tampak girang.

Kalau Thian Liong Kiam Hoat bersatu dengan Hong Hoang Kiam Hoat, maka merupakan ilmu pedang yang sangat dahsyat."

"Bisakah mengalahkan Bu Lim sam Mo?" tanya Lie Man chiu mendadak.

"Menurut guru...," jawab Tayli Lo Ceng setelah berpikir sejenak. "Masih bisa bertahan."

"Cuma bisa bertahan?"

"Engkau harus tahu." Tayli Lo Ceng memberitahukan. "Bu Lim sam Mo memiliki Pak Kek sin Kang, bahkan kini kepandaiannya bertambah tinggi, tentunya memiliki semacam lwee-kang yang sangat tinggi. Kalau tidak, bagaimana mungkin uratnya yang telah putus itu tersambung kembali?"

"Guru...." Lie Man Chiu menggeleng-gelengkan kepala. "Kalau begitu, bagaimana cara

membasmi Bu Lim sam dan Kwan Gwa siang Koay?"

"Kecuali...." Tayli Lo Ceng menghela nafas. "Kepandaian Tio cie Hiong bisa pulih seperti semula,

barulah Bu Lim sam Mo dan Kwan Gwa siang Koay dapat dibasmi."

"Guru Apakah kepandaian Tio cie Hiong akan pulih?" tanya Lie Man chiu.

"Mudah-mudahan Guru pun tidak berani memastikannya. Namun menurut guru, kepandaiannya akan pulih." sahut Tayli Lo Ceng.

Kalau begitu...." Wajah Lie Man Chiu tampak berseri. " Kami pasti bertemu kelak dalam rimba persilatan. Aku ingin mohon petunjuk kepadanya."

"omitohud omitohud...." Tayli Lo Ceng tersenyum. "Itu memang baik sekali, mudah-mudahan

kepandaiannya akan pulih"

sementara itu, Tan Li cu yang berada di gunung Hong Lay san juga sedang berlatih ilmu pukulan dan ilmu pedang. It sim sin Ni menyaksikannya sambil manggut-manggut gembira.

"Bagus Bagus Kepandaianmu sudah maju pesat, begitu pula Iweekangmu." ujar It sim sin Ni seusai Tan Li cu berlatih.

"Guru Kapan aku boleh pergi mencari Liu siauw Kun?" tanya Tan Li Cu.

"Harus menunggu beberapa bulan lagi." jawab It sim sin Ni. "Tapi engkau harus ingat Janganlah engkau ke markas Bu Tek Pay, sebab engkau akan celaka di tangan Bu Lim sam dan Kwan Gwa siang Koay"

"Apakah Guru tidak dapat mengalahkan mereka?" tanya Tan Li Cu mendadak.

Kalau satu lawan satu, guru masih bisa menang, tapi apabila mereka maju serentak guru pasti kalah," jawab It sim sin Ni jujur.

"Bagaimana kalau guru bergabung dengan Tayli Lo Ceng?"

"Mungkin akan seimbang melawan Bu Lim sam Mo dan Kwan Gwa siang Koay. oleh karena itu, engkau harus memancing Liu siauw Kun keluar."

"Guru...." Wajah Tan Li Cu tampak murung. "Entah bagaimana keadaan cie Hiong?"

"Menurut guru, kepandaiannya agak sulit untuk pulih." It sim sin Ni mengerutkan kening. "Tapi memang cuma dia yang dapat menyelamatkan rimba persilatan."

"Kalau kepandaiannya tidak bisa pulih, bagaimana mungkin dia dapat menyelamatkan rimba persilatan?" Tan Li cu menghela nafas.

"Mudah-mudahan kepandaiannya bisa pulih" ucap It Sim sin Ni dan menambahkan. "Dia merupakan harapan kaum rimba persilatan golongan putih."

Bagaimana keadaan Tio Cie Hiong sekarang? Apakah dia sudah sembuh? Benarkah dia merupakan harapan kaum rimba persilatan golongan putih?

Monyet bulu putih terus merawat Tio Cie Hiong dengan penuh perhatian. Dapat dibayangkan betapa terharunya Tio Cie Hiong. Padahal monyet bulu putih tersebut hewan, namun mempunyai perasaan setia kawan.

Kini Tio Cie Hiong sudah bisa berjalan, hanya terbungkuk-bungkuk. Hal itu membuat hatinya berduka sekali.

"Kauw heng..." ujar Tio Cie Hiong dengan mata bersimbah air. "Keadaanku menjadi begini...."

Monyet bulu putih bercuit-cuitan kemudian memegang tangan Tio Cie Hiong seakan menghiburnya .

"Kauw heng, kalau keadaanku begini, bagaimana mungkin aku meninggalkan goa ini?" keluh Tio Cie Hiong.

Monyet bulu putih bercuit-cuit lagi, lalu menepuk bahu Tio cie Hiong, sepertinya menyuruhnya bersabar.

"Aaakh..." Tio Cie Hiong menghela nafas panjang. "Aku tidak tahu harus bagaimana"

Keesokan harinya, ketika Tio cie Hiong duduk bersandar di dinding goa, tiba-tiba monyet bulu putih melesat ke dalam sambil bercuit-cuit tak henti-hentinya, tangannya membawa sesuatu.

Begitu melihat apa yang dibawa monyet bulu putih, seketika juga Tio Cie Hiong terbelalak.

Ternyata monyet itu membawa buah Kiu Yap Ling che.

"Kauw heng...." Mulut Tio Cie Hiong ternganga lebar. "Itu buah Kiu Yap Ling che, engkau dapat

dari mana?"

Monyet bulu putih bercuit-cuit, lalu memberikan buah tersebut kepada Tio Cie Hiong.

"Terima kasih, kauw heng" ucap Tio Cie Hiong dengan mata basah. la menerima buah itu dengan tangan gemetar saking gembiranya, kemudian dimasukannya ke mulut.

Berselang beberapa saat, sekujur tubuhnya mulai hangat. Kemudian segeralah ia duduk di atas batu dingin, dan mencoba menghimpun hawa murninya.

Bu Lim sam Mo, Kwan Gwa siang Koay, Ang Bin sat sin, Takara Yahatsu dan Liu siauw Kun duduk dengan wajah serius. Kelihatannya mereka sedang membicarakan sesuatu yang sangat penting .

"Bagaimana mungkin Michiko bisa tiada jejaknya?" ujar ketua aliran Ninja dengan kening berkerut.

"Memang mengherankan," sahut Tang Hai Lo Mo. "Tidak mungkin dia hilang begitu saja."

"Padahal para anggota kita telah mencarinya ke mana-mana, tapi...." Thian Mo menggeleng-

gelengkan kemala. "Tiada kabar beritanya."

"Mungkinkah pihak Kay Pang menyembunyikannya?" tukas Te Mo.

"Tidak mungkin," sahut Ang Bin sat sin. "Kami sudah menggeledah di markas pusat Kay Pang, namun tidak menemukannya."

"Aku pun sudah bertanya kepada beberapa anggota Kay Pang..." sela Liu siauw Kun. "Mereka bilang memang melihat Michiko ke sana, tapi kemudian pergi lagi."

"Mungkinkah beberapa anggota Kay Pang itu berdusta?" tukas siluman Kurus sambit meneguk minumannya.

"Begini..." usul siluman Gemuk. "suruh beberapa orang pergi membawa anggota Kay Pang ke mari Kita siksa mereka agar mereka mengaku."

"Betul." Tang Hai Lo Mo manggut-manggut. "ltulah ide yang tepat sekali Ha ha ha..."

Ketua Biar aku dan Liu siauw Kun yang melaksanakan tugas ini" ujar Ang Bin sat sin. "Baiklah." Tang Hai LoMo mengangguk dan berpesan. "Kalian berdua harus cepat pulang" "Ya, Ketua." Ang Bin sat sin memberi horr mat, lalu mengajak Liu siauw Kun pergi.

sementara Bu Lim sam Mo dan Kwan Gwa siang Koay serta Takara Yahatsu terus makan dan minum sambil tertawa-tawa.

Setelah hari gelap. barulah Ang Bin sat Sin dan Liu Siauw Kun pulang dengan membawa beberapa anggota Kay Pang.

"Ketua, kami telah berhasil membawa mereka ke mari." lapar Ang Bin sat sin.

"Bagus" Tang Hai Lo Mo tertawa. "Ha ha ha Ang Bin sat sin, Liu siauw Kun, kalian duduklah" "Terima kasih, Ketua" Ang Bin sat sin dan Liu siauw Kun lalu duduk.

Bu Lim sam Mo dan Kwan Gwa siang Koay menatap beberapa anggota Kay Pang itu dengan tajam.

"Aku akan mengajukan beberapa pertanyaan, kalian harus jawab sejujurnya" ujar Tang Hai Lo Mo dingini "Kalau tidak...."

"Ketua Bu Tek Pay, silakan tanya, kami pasti menjawab dengan jujur," sahut salah seorang anggota Kay Pang.

"Benarkah pihak Kay Pang tidak menyembunyikan Michiko?" tanya Tang Hai Lo Mo sambil menatap pengemis itu

"Benar." Pengemis itu mengangguk dan me- lanjutkan "Pada waktu itu, gadis Jepang itu memang datang di markas pusat Kay Pang mencari Tio Cie Hiong, tetapi setelah tahu Tio cie Hiong sudah mati, dia lalu pergi"

"Kalian tahu dia ke mana?" tanya Thian Mo.

"Tidak tahu," sahut pengemis itu.

"Benarkah engkau tidak tahu?" Thian Mo menatapnya dingini " Engkau jangan bohong, kini nyawamu berada di tangan kami lho"

"Kami tidak bohong."

"Apakah Michiko kembali lagi ke markas pusat Kay Pang?"

"Tidak. Kalau dia kembali lagi ke markas pusat Kay Pang, kami pasti melihatnya."

"sungguh?"

"Aku tidak berdusta."

Bu Lim sam Mo saling memandang, kemudian Te Mo bangkit berdiri lalu mendekati pengemis itu.

"Benarkah yang kau katakan?" tanya Te Mo yang berdiri di hadapan pengemis itu.

"Ya." Pengemis itu mengangguk.

Mendadak Te Mo mengayunkan tangannya memukul pengemis itu, dan seketika terdengarlah suara jeritan.

"Aaaakh..." Pengemis itu terpental dan mulutnya mengeluarkan darah.

Engkau masih tidak mau memberitahukan kepada kami?" bentak Te Mo sambil mendekatinya. "Ayoh Cepat beritahukan"

"Gadis Jepang itu... memang tidak berada di markas...." Mendadak pengemis itu menjerit lagi.

"Aaaakh"

Ternyata Te Mo telah memukulnya lagi, sehingga pengemis itu terkapar dan mulutnya terus mengeluarkan darah, kemudian nyawanya melayang.

"Ha ha ha" Te Mo tertawa menyeramkan sambil menatap pengemis-pengemis lain. " Kalian masih tidak mau memberitahukan dengan jujur?"

"Kami sudah memberitahukan dengan jujur. Kalau tidak percaya, silakan bunuh kami" "Hm" dengus Te Mo. "Itu akan mengotori tanganku, kalian boleh pergi sekarang" Pengemis-pengemis itu memandang TeMo dengan penuh dendam, lalu melangkah pergi.

"Bawa pergi mayat itu" bentak Te Mo. Pengemis-pengemis itu menggotong mayat tersebut, sedangkan Bu Lim sam Mo, Kwan Gwa siang Koay, Ang Bin sat sin dan Liu siauw Kun tertawa terbahak-bahak.

Betapa gusarnya sam Gan sin Kay dan Lim Peng Hang ketua Kay Pang, mereka terus memandang mayat pengemis yang ditaruh di lantai.

"Kita harus menyerbu ke markas Bu Tek Pay" teriak sam Gan sin Kay. "Kita harus mengadu nyawa dengan mereka"

"Tenang" ujar Kim siauw suseng. "Jangan emosi, urusan akan menjadi runyam."

"sastrawan sialan" bentak sam Gan sin Kay "Te Mo telah membunuh anggota Kay Pang yang tak bersalah, apakah kami masih harus diam?"

"Pengemis bau Pikir panjang" ujar Tui Hun Lojin dengan wajah merah padam. orang tua itu pun gusar sekali. "Kita sudah bersabar sekian lama, kenapa tidak bisa bersabar beberapa bulan lagi?"

"Tapi...." sam Gan sin Kay menghela nafas. "Aaaakh..."

"Ayah" Lim Peng Hang menggeleng-gelengkan kepala. "Biar bagaimana pun, kita harus tetap bersabar Kita harus membalasnya kelak"

"Pokoknya kita harus menghabiskan mereka semua" sahut Kim siauw suseng sambil berkertak gigi. "Mudah-mudahan kepandaian cie Hiong bisa pulih"

"ohya Kejadian ini jangan diberitahukan kepada Michiko, sebab kalau dia tahu, aku khawatir dia akan pergi dari sini." pesan sam Gan sin Kay.

"Kalau begitu, kita harus berpesan kepada Ceng Im." ujar Lim Peng Hang. Di saat bersamaan muncullah Lim Ceng Im.

"Haaah..." jerit gadis itu ketika melihat mayat tersebut. "Ayah, apa yang terjadi?"

"Ceng Im, Te Mo yang membunuhnya," sahut Lim Peng Hang.

Kenapa Te Mo membunuhnya?" Lim Ceng Im mengerutkan kening. "Apakah karena urusan Kakak Michiko?"

"Ya." Lim Peng Hang mengangguk sambil menghela nafas, kemudian berpesan. "Engkau tidak boleh memberitahukan kepadanya. Kalau tahu, dia pasti akan pergi."

"Ya, Ayah." Lim Ceng fm mengangguk dengan wajah murung. "Entah bagaimana keadaan Kakak Hiong? Kenapa masih belum kembali?"

"Mungkin dia belum sembuh," Lim Peng Hang menggeleng-gelengkan kepala. "sebab kalau dia sudah sembuh, pasti sudah ke mari."

Kakak Hiong pasti sembuh Kakak Hiong pasti sembuh..." teriak Lim Ceng Im dengan mata basah.

"Nak. tenanglah Cie Hiong pasti sembuh, hanya masih membutuhkan waktu." ujar Lim Peng Hang.

Bab 62 Tui Beng Li (Wanita Pengejar Nyawa)

Tampak belasan anggota Bu Tek Pay sedang makan dan minum di sebuah kedai. Sekujur badan pemilik kedai itu tampak gemetar, sedangkan beberapa pelayan sibuk melayani mereka.

Memang tidak sulit mengenali para anggota Bu Tek Pay, karena di bagian baju depan mereka terdapat tulisan Bu Tek (Tanpa Tanding). sementara pemilik kedai juga mengeluh dalam hati. Hari ini ia pasti akan rugi besar lantaran kedatangan orang-orang itu, sebab biasanya mereka makan dan minum tanpa membayar.

Di saat belasan anggota Bu Tek Pay itu sedang berpesta pora, mendadak seorang wanita cantik berjalan ke dalam. la mengenakan pakaian serba hitam dan wajah tampak dingin sekali.

setelah duduk. wanita itu pun memesan makanan dan minuman kepada pelayan yang mengha mpirinya .

"sup sapi dan arak"

Pelayan itu manggut-manggut, dan tak lama ia sudah menyuguhkan pesanan wanita itu.

"Nyonya hati-hati Mereka adalah anggota Bu Tek Pay yang selalu mengganggu anak gadis dan isteri orang." bisiknya.

"Terima kasih" sahut wanita itu, lalu mulai bersantap.

sementara belasan anggota Bu Tek Pay itu terus memandangnya sambil tertawa-tawa.

"Waduuh sungguh cantik wanita itu, pasti enak dipakai Ha ha ha" salah seorang dari mereka mencetuskan ucapan yang kurang ajar. "Aku siap melayaninya beberapa ronde."

"Eh? Kami pun kepingin."

"Tapi wajahnya dingin sekali."

"Yang dingin justru enak. Ha ha ha..."

"Kawan-kawan, bagaimana kalau kita bawa dia ke tempat sepi, lalu kita bersenang-senang di sana?"

"setuju."

"Tapi jangan dengan cara paksa, harus dengan akal"

"Benar. Ha ha ha..."

Walau mereka berbicara berbisik-bisik, namun semua pembicaraan mereka tidak terlewat dari telinga wanita itu.

"Hmm" dengusnya sambil tersenyum dingin. "Hari ini aku akan mulai membantai mereka" Berselang sesaat, salah seorang dari mereka mendekati wanita itu sambil tertawa cengar-cengir. "Nona, bolehkah aku duduk di sini?"

"Tentu boleh," sahut wanita itu sambil tersenyum. "Silakan duduk"

"Terima kasih" ucap anggota Bu Tek Pay itu dengan hati berbunga-bunga, karena wanita itu menyambutnya dengan lembut dan senyum pula.

"Apakah orang-orang itu kawan-kawanmu?" tanya wanita itu.

"Benar." Anggota Bu Tek Pay itu mengangguk, kemudian berkata dengan dada terangkat. "Kami anggota Bu Tek Pay yang sangat terkenal. Lihatlah baju kami terdapat tulisan Bu Tek siapa yang bertemu dengan kami, harus beri hormat."

"oh?" Wanita itu tersenyum lagi. " Kalau begitu, aku lupa memberi hormat kepada kalian."

"Tidak apa-apa," sahut anggota Bu Tek Pay itu cepat sambil tertawa gembira. "ohya, Nona dari mana?"

"Aku datang dari Kang Lam."

"Pantas...." Anggota Bu Tek Pay itu manggut-manggut sambil memandangnya. "Nona begitu

cantik. setahuku kaum gadis di Kang Lam memang cantik manis."

"Terima kasih atas pujianmu"

"ohya, apakah Nona masih mau tambah makanan dan minuman?"

"Tidak usah, aku sudah kenyang."

"Nona sudah punya suami?"

"Pernah punya suami, tapi..." Wajah wanita itu berubah murung. "suami ku sudah meninggal, jadi kini aku janda."

Kasihan" ucap anggota Bu Tek Pay itu dan menambahkan. " Kalau begitu, Nona pasti kesepian"

"Ya." Wanita itu menundukkan kepala. "Aku memang kesepian sekali."

"Aku sangat simpati kepadamu. Bagaimana kalau aku dan kawan-kawanku menemanimu? Engkau setuju, kan?"

"Aku seorang janda, tidak mungkin kalian akan merasa senang menemaniku." Wanita itu menghela nafas.

"Ha ha ha" Anggota Bu Tek Pay itu tertawa gembira. "Terus terang, kami senang sekali menemanimu. oh ya, sudah berapa lama suamimu meninggal?"

"Dua tahun lebih."

Kalau begitu...." Anggota Bu Tek Pay itu menatapnya sambit menelan air liur. "selama dua tahun ini, engkau sama sekali tidak... itu... itu...."

"Aku tidak mengerti maksudmu, jelaskanlah"

"Maksudku engkau tidak tidur dengan lelaki?"

"oh, itu" Wanita tersebut tersenyum malu-malu. "Aku... aku wanita baik-baik, bagaimana mungkin sembarangan melakukan itu?"

"Benar Benar Ha ha ha...." Anggota Bu Tek Pay itu tertawa. "ohya, bagaimana kalau kami

menemanimu?"

"Menemani apa?"

"Menemani engkau tidur Jadi engkau tidak akan kesepian lagi."

"Mana boleh?" Wanita itu menundukkan kepala. " Kalian berjumlah belasan...."

"Jangan khawatir, pokoknya beres" "Beres sih beres, namun aku mana bisa tahan?"

"itu bisa diatur. Bisa diatur...." Anggota Bu Tek Pay itu tertawa lagi, kemudian memandang

kawan-kawannya sambil memberi isyarat. Tentunya isyarat itu sangat menggembirakan. "Maaf, aku harus beritahukan dulu kepada kawan-kawanku"

"Silakan" sahut wanita itu sambil tersenyum. Anggota Bu Tek Pay itu mendekati kawan-kawannya, maka seketika itu juga mereka menghujaninya pertanyaan-pertanyaan. "Bagaimana? Engkau berhasil membujuknya?"

"Dia mau ikut kita ke tempat lain?"

"Dia masih gadis atau sudah bersuami? Dia tersenyum-senyum, apakah dia tertarik kepada kita?"

" Kapan kita ke tempat sepi bersama dia?"

"Tenang" sahut anggota itu bangga. "Begitu aku mendekatinya, kalian sudah lihat, kan? Dia langsung tersenyum kepadaku."

ingat Pokoknya semua harus menikmatinya Engkau jangan enak sendiri lho" ujar kawannya. "Beres" Anggota Bu Tek Pay itu tertawa dan berbisik. "Dia sudah janda..."

"Bagus Bagus Berarti dia sudah berpengalaman untuk melayani kita. Ha ha ha Karena janda, maka dia pasti kuat melayani kita semua."

"Benar Tapi kalian harus ingat, aku yang duluan lho setelah itu, barulah giliran kalian."

"Memang harus begitu. Ha ha ha..."

sementara pemilik kedai dan beberapa pelayan tampak mengerutkan kening, bahkan mereka pun menggeleng-gelengkan kepala, karena tahu apa yang akan menimpa diri wanita itu.

Anggota Bu Tek Pay itu menghampirinya lagi sambil tersenyum-senyum, kemudian ujarnya dengan penuh gaya.

Kawan- kawanku siap menyenangkanmu, maka engkau pasti senang Jangan ragu, percayalah kepada kami"

Wanita itu tertawa kecil. "Aku tidak menyangka akan bertemu kalian yang sedemikian baik. Namun aku ingin bertanya...."

"Apa yang ingin kau tanyakan?"

"Kita mau pergi ke mana?"

"Tak jauh dari sini ada sebuah rumah kosong, mari kita ke sana Kita akan bersenang-senang di sana."

"Terima kasih"

"Ayoh, kita ke sana"

"Baiklah." Wanita itu bangkit berdiri dan berkata. "Aku harus membayar...."

"Tidak usah" Anggota Bu Tek Pay itu tertawa gelak. "Kami selalu makan gratis di sini, maka engkau juga tidak usah membayar"

"Itu merugikan orang, lebih baik aku membayar," ujar wanita itu sambil mengeluarkan uang peraknya.

Begitu melihat uang perak yang ada didalam kantong wanita itu, para anggota Bu Tek Pay langsung terbelalak. Wanita itu tersenyum, lalu menaruh setael perak di atas meja seraya berseru. "Pelayan"

"Ya" seorang pelayan segera menghampirinya. "Mau pesan apa Nona?" "setael perak ini untuk membayar semua, apakah cukup?" tanya wanita itu. "Masih ada lebihnya." Pelayan memberitahukan. "Akan kukembalikan...." " Lebihnya untukmu," ujar wanita itu sambil melangkah pergi.

"Terima kasih Terima kasih" ucap pelayan itu, lalu menghela nafas panjang.

"Mari ikut kami" ujar anggota Bu Tek Pay dan menambahkan. "Uang perakmu begitu banyak, apakah engkau tidak takut dirampok?"

Kenapa aku harus takut?" sahut wanita itu sambil tertawa kecil. "Bukankah aku sudah bersama kalian? siapa yang berani merampokku?"

"Betul Betul" Anggota Bu Tek Pay itu tertawa gelak. "Pokoknya kami akan melindungimu sekaligus menyenangkanmu."

"Terima kasih. Kalian sungguh baik terhadapku"

"Karena itu engkau pun harus baik-baik melayani kami. Engkau harus tahu, Bu Tek Pay berkuasa di mana-mana."

Wanita itu manggut-manggut. "Kalau begitu, aku sungguh beruntung berkenalan dengan kalian."

"Tidak salah." Anggota Bu Tek Pay itu tertawa lagi.

Kira-kira sepenanak nasi kemudian, mereka sudah sampai di depan sebuah rumah kosong.

"Rumah inikah?" tanya wanita itu.

"Betul. Ha ha ha Kita akan bersenang-senang di dalam." Anggota Bu Tek Pay itu tertawa gembira. "Mari kita masuk"

Wanita itu mengangguk, lalu mengikuti mereka memasuki rumah kosong itu. Begitu sampai di dalam, anggota Bu Tek Pay itu menatapnya sambil menelan air liur, bahkan tampak penuh gairah nafsu birahi.

"Kita akan bersenang-senang di sini," ujarnya sambil mengelus-elus pipi wanita itu.

"Iiih sudah tidak tahan ya?" tanya wanita itu sambil tertawa cekikikan.

"Aku memang sudah tidak tahan. Ayohlah kita mulai" Anggota Bu Tek Pay itu tersenyum-senyum. "Aku yang duluan bersenang-senang denganmu, setelah itu barulah giliran kawan-kawanku."

"Kalian berjumlah..." Wanita itu menghitung. "satu, dua, tiga, empat..., lima belas."

"Apakah engkau kuat melayani kami yang berjumlah lima belas orang?" tanya anggota Bu Tek Pay itu.

"Kenapa tidak? Lebih dari itu pun aku sanggup," sahut wanita itu.

"Ha a a h...?" para anggota Bu Tek Pay terbelalak, kemudian mereka tertawa terbahak-bahak. "Ha ha ha..."

"Aku sudah siap melayani kalian" Mendadak wajah wanita itu berubah dingin sekali. Anggota Bu Tek Pay itu gembira sekali. "Kalau begitu, bukalah pakaianmu"

Wanita itu merogoh ke dalam bajunya, kemudian mengeluarkan sebilah pedang yang sangat lemas.

"Hmm" dengus wanita itu dingin sambil menatap mereka dengan bengis sekali. "Hari ini kalian semua harus mati"

Anggota Bu Tek Pay tertegun. " Engkau... engkau siapa?"

"Aku Tui Beng Li (Wanita Pengejar Nyawa)" sahut wanita itu memberitahukan. "Maka kalian semua harus mati di tanganku"

"Jangan bergurau Lebih baik engkau layani kami..." ujar anggota Bu Tek Pay dengan kening berkerut.

Mendadak Tui Beng Li menggerakkan pedangnya, seketika juga anggota Bu Tek Pay itu menjerit.

"Aaakh..." Bajunya sudah berlumuran darah, ternyata dadanya tertembus pedang.

sebetulnya pedang itu sangat lemas, namun ketika Tui Beng Li mengerahkan lweekangnya, pedang itu berubah menjadi keras bukan main. Perlu diketahui, pedang itu adalah Loan Rang Po Kiam (Pedang pusaka Baja Lemas) yang sangat tajam.

"Engkau... engkau...." Anggota Bu Tek Pay terhuyung-huyung sambil mendekap dadanya yang

berlumuran darah, kemudian terkulai dan nyawanya pun melayang.

Kejadian itu sangat mengejutkan kawan-kawannya, maka mereka lalu serentak mencabut senjata masing-masing. "serang" seru seseorang.

Tui Beng Li tertawa dingin sambil memutar-mutarkan pedangnya untuk menangkis, lalu mendadak membentak sambil balas menyerang. Tampak pedangnya berkelebatan menyambar ke sana ke mari dan terdengar pula suara yang menggelegar. "Aaakh..." "Aaaakh..." "Aaaakh Aaakh..."

Terdengarlah suara jeritan yang menyayat hati. Ternyata belasan anggota Bu Tek Pay itu sudah terkapar berlumuran darah, bahkan nyawa mereka pun melayang.

siapa sebenarnya Tui Beng Li? Dia ternyata Tan Li cu. setelah berhasil mempelajari Kiu Yang sin Kang dan Li Tian Kiam Hoat (Ilmu Pedang Petir Kilat), maka It sim sin Ni memperbolehkannya pergi mencari Liu siauw Kun untuk menuntut balas.

Tan Li cu tidak berani datang di markas Bu Tek Pay, sebab gurunya telah berpesan, jangan ke markas Bu Tek Pay mencari Liu siauw Kun, sebab di sana banyak jebakan dan Bu Lim sam Mo serta Kwan Gwa sian Koay berkepandaian sangat tinggi, lebih baik memancing Liu siauw Kun keluar.

Karena pesan tersebut, maka Tan Li cu tidak berani datang di markas Bu Tek Pay, namun ia membunuh anggota-anggota Bu Tek Pay untuk memancing Liu siauw Kun keluar.

Tan Li cu memandang mayat-mayat itu dengan dingin, lalu melesat pergi menuju kedai lagi. la yakin, anggota-anggota Bu Tek Pay lain akan muncul lagi di kedai itu, maka ia kembali ke sana.

Pemilik kedai dan beberapa pelayan terbelalak melihat kemunculan Tan Li cu. Salah seorang pelayan segera menyuguhkan secangkir teh.

"Nona tidak apa-apa?" tanya pelayan itu berbisik. "Ke mana belasan anggota Bu Tek Pay itu?" "Mereka sudah tidak bisa melakukan kejahatan lagi," sahut Tan Li cu sambil tersenyum. "Maksud Nona?" pelayan itu tercengang.

"sudah kukirim ke alam baka." Tan Li cu memberitahukan, kemudian menghirup teh itu. "Apa?" Wajah pelayan itu berubah pucat. "Nona... Nona telah membunuh mereka?" "Ya." Tan Li cu manggut-manggut.

Celaka" Pelayan itu tampak kalut. "Nona harus segera pergi sebab akan muncul lagi anggota-anggota Bu Tek Pay."

"Aku ke mari lagi justru ingin menunggu kemunculan mereka," sahut Tan Li Cu sambil tersenyum.

"Nona...." Pelayan itu menggeleng-gelengkan kepala, lalu segera menghampiri pemilik kedai dan

berbisik-bisik. "Dia... dia telah membunuh belasan anggota Bu Tek Pay itu."

"oh?" pemilik kedai terbeliak. "Kalau begitu, wanita itu pasti berkepandaian tinggi. oh ya, kenapa dia ke mari lagi?"

Katanya ingin menunggu kemunculan anggota- anggota Bu Tek Pay yang lain," sahut pelayan memberitahukan.

"Berarti dia ingin membunuh anggota-anggota Bu Tek Pay lagi." ujar pemilik kedai. "Aku harus siap rugi besar hari ini."

"Kenapa?"

"Kalau mereka berkelahi di sini, bukankah kedaiku akan hancur? Tetapi tidak jadi masalah, sebab para anggota Bu Tek Pay selalu sewenang-wenang, dan sering memperkosa anak gadis serta isteri orang...."

Ucapan pemilik kedai itu terhenti mendadak. karena ia melihat beberapa anggota Bu Tek Pay memasuki kedai nya.

"Mereka datang..." bisik pelayan itu.

"Layani mereka dengan sikap tenang Mereka mau makan apa berikan saja, sebab ajal mereka sudah tiba" sahut pemilik kedai dengan suara rendah.

"Pelayan Pelayan" teriak salah seorang anggota Bu Tek Pay yang baru datang itu. "Ya." Pelayan itu berlari-lari menghampiri mereka. "Tuan-tuan mau pesan apa?" "Cepat hidangkan makanan-makanan yang lezat dan arak" "Ya, ya." Pelayan itu manggut-manggut.

sesaat kemudian, meja itu telah penuh berbagai macam hidangan-hidangan lezat, dan arak yang wangi.

"Ha ha ha" Anggota-anggota Bu Tek Pay itu tertawa gelak. "Mari kita makan sekenyang-kenyangnya "

Mereka mulai makan dan minum. Tiba-tiba salah seorang teringat sesuatu, lalu menengok ke sana ke mari.

"Eh? Ke mana kawan-kawan kita yang datang duluan."

Heran? Kenapa mereka tidak kelihatan?jangan-jangan sudah pergi bersenang-senang dengan wanita.... Wah, ada wanita cantik di sini"

"Bukan main cantiknya wanita itu Ha ha ha Kita akan bersenang-senang dengannya Aku akan mengundangnya makan bersama"

Anggota Bu Tek Pay itu menghampiri Tan Li cu yang duduk dengan kepala tertunduk. "Nona"

Perlahan-lahan Tan Li cu mendongakkan kepalanya, kemudian tersenyum manis. " Engkau memanggilku?" tanyanya.

"Betul." Anggota Bu Tek Pay itu terbelalak ketika menyaksikan senyuman yang sangat menawan itu. "Nona sendirian?"

"Ya."

"Bagaimana kalau Nona makan bersama kami?"

"Itu.."

"Jangan malu-malu Nona, mari makan bersama, kami Ada bermacam-macam hidangan yang lezat-lezat."

"Tapi apakah aku tidak akan mengganggu kalian?"

"Tentu tidak." Anggota Bu Tek Pay itu tertawa gembira. "Mari makan bersama kami"

"Baiklah." Tan Li cu mengikuti anggota Bu Tek Pay itu. Begitu wanita itu duduk, para anggota Bu Tek Pay yang lain memandangnya dengan penuh gairah.

"Mari kita bersulang" salah seorang menyodorkan minuman keras ke hadapannya. "Ha ha ha..."

"Terima kasih" ucap Tan Li cu lalu meneguk minuman itu. "Nona dari mana?"

"Aku dari Kang Lam."

"Apakah Nona sudah punya suami?"

"suamiku sudah mati, kini aku menjanda. Aaaakh..." Tan Li cu menghela nafas. "Aku datang di kota ini untuk mencari famili, tapi tidak ketemu."

Kasihan" salah seorang terus menatap dadanya yang menonjol. "sudah berapa lama engkau menjanda?"

"Dua tahun lebih."

"Apakah engkau tidak merasa kesepian?"

"Tentu. Tapi... tiada lelaki yang baik, jadi aku...."

0 Response to "Kesatria Baju Putih (Pek In Sin Hiap) Bagian 38"

Post a Comment