coba

Kesatria Baju Putih (Pek In Sin Hiap) Bagian 47

Mode Malam
Bagian 47
"Ya, Paman." Tio Cie Hiong mengangguk, namun bagaimana mungkin ia bisa tenang?

Setelah larut malam, barulah Lie Man chiu dan Tio Hong Hoa pulang. Mereka berdua meng-geleng-gelengkan kepala, pertanda tidak menemukan Lim Ceng Im.

"Aaakh..." Tio Cie Hiong langsung menghela nafas. "Kalau begitu, aku harus pergi cari dia." "Sabar" cegah Tayli Lo Ceng. "Tunggu beberapa hari, barulah engkau pergi cari dia "Tunggu beberapa hari?" Tio Cie Hiong terbelalak. "Mungkin ceng Im sudah jadi mayat" "Tenang" Tayli Lo Ceng tersenyum. "Itu tidak akan terjadi."

"Tapi...." Tio Cie Hiong berjalan mondar-mandir.

"Percayalah" Tayli Lo Ceng tersenyum lagi. "Ceng Im tidak akan terjadi apa-apa." "Lo Ceng" It sim sin Ni mengerutkan kening. "Yakinkah itu?jangan main-main Iho" "sin Ni" sahut Tayli Lo Ceng. "Ini masalah serius, bagaimana mungkin aku main-main?" "Kalau begitu..." It sim sin Ni menatap Tio Cie Hiong. "Cucuku, engkau tenanglah" "Ya, Nek" Tio cie Hiong mengangguk.

Sam Gan sin Kay dan Lim Peng Hang tampak agak tenang, karena Tayli Lo Ceng mengatakan begitu.

"Heran?" gumam Tio Tay seng. "Kenapa mendadak Bu Tek Pay menyerang markas pusat Kay Pang? Apakah Bu Lim sam Mo telah mengetahui tentang cie Hiong?"

"Hm" dengus sam Gan sin Kay. "Aku yakin ada mata-mata dalam pihak Kay Pang."

"Benar." Kim siauw Suseng mengangguk. "Kalau tidak, bagaimana mungkin mendadak Bu Tek Pay menyerang kita?"

"Siapa mata-mata itu?" Lim Peng Hang mengerutkan kening.

"Sudah pasti mata-mata itu membaurkan diri dengan para anggota kita," sahut Sam Gan sin Kay. "Kita memang kurang hati-hati, akhirnya jadi begini."

"Untung kita masih bisa meloloskan diri," sela Tui Hun Lojin.

"Kalau mereka tidak menggunakan bom asap beracun, kita masih dapat melawan mereka," ujar Kim siauw suseng.

"Eh?" Tiba-tiba Gouw Han Tiong teringat sesuatu. "Mungkinkah ada yang melihat Kou Hun Bijin ke markas, maka Bu Lim sam Mo mengutus Kwan Gwa Lak Kui, Ang Bin sat sin dan para anggota Bu Tek Pay menyerang kita?"

"Agak tipis kemungkinannya," sahut Lim Peng Hang. "Lebih mungkin mata-mata itu melihat Tio Cie Hiong memasuki markas."

"Itu memang mungkin." sam Gan sin Kay manggut-manggut dan mendadak tersentak. "Kalau ada mata-mata di markas pusat kita, tentunya tahu ada pintu rahasia di belakang markas."

"Celaka" seru Lim Peng Hang cemas. "Kita tidak melihat Bu Lim sam Mo atau Kwan Gwa siang Koay. Jangan-jangan mereka menunggu di belakang markas? Jadi Ceng Im tertangkap mereka."

"Celaka" sam Gan sin Kay juga mulai cemas. "Kalau Ceng Im tertangkap oleh mereka...."

"Omitohud" ucap Tayli Lo Ceng. "Kalian semua tenang saja Percayalah"

"Lo Ceng, kalau Ceng Im ditangkap mereka, sudah barang tentu Cie Hiong yang akan celaka," ujar Tui Hun Lojin.

"Tenang Pokoknya kalian tenang saja" sahut Tayli Lo Ceng. "Tidak akan terjadi apa-apa atas diri Ceng Im, percayalah"

"Lo Ceng" It sim sin Ni menatapnya tajam.

"sin Ni" Tayli Lo Ceng tersenyum. "Engkau tidak mempercayai apa yang kukatakan?"

"Baik." It sim sin Ni mengangguk. "Aku percaya Tapi... apabila terjadi sesuatu atas diri Ceng Im, bagaimana engkau?"

"omitohud" ucap Tayli Lo Ceng. "Itu terserah sin Ni, aku bersedia diapakan juga."

"Bagus" It sim sin Ni manggut-manggut. "Lo Ceng, jangan lupa akan ucapanmu ini"

"Jangan khawatir Aku tidak akan lupa. omitohud...."

"Lo Ceng...." Tio Cie Hiong tetap tidak bisa tenang. "Bagaimana kalau aku pergi ke markas Bu

Tek Pay?"

"cie Hiong" sahut Tayli Lo Ceng sungguh-sungguh. "Apabila engkau muncul di sana, engkau dan ceng Im pasti mati. Nah, terserah padamu, mau ke sana atau mau tunggu di sini."

"Lo Ceng..." ucapan Tayli Lo Ceng membuat Tio Cie Hiong serba salah.

"Cucuku" panggil It sim sin Ni. "Biar bagaimana pun engkau harus tenang dan sabar Lo Ceng sudah mengatakan begitu, engkau harus percaya"

"cie Hiong" sambung Lim Peng Hang sambil tersenyum getir. "Kita memang harus tenang dan sabar, bahkan engkau harus berpikir panjang.jangan sampai terulang kejadian dua tahun yang lampau."

"Paman...." Mata Tio Cie Hiong mulai basah. "Aku tidak habis pikir, kenapa masih ada cobaan ini? Kenapa...?"

"omitohud" ucap Tayli Lo Ceng. "penderitaan justru merupakan awal dari suatu kebahagiaan...."

"Omong kosong" sahut sam Gan sin Kay mendadak. "seandainya cucuku itu mati, apakah juga merupakan awal suatu kebahagiaan?"

"omitohud" Tayli Lo Ceng tersenyum. "Mati dan hidup memang sudah ditakdirkan. Kalau belum takdirnya mati, pasti akan muncul penolong. seandainya sudah takdirnya mati, selagi makan pun bisa mati mendadak."

"Lo Ceng, aku tidak mengerti akan itu," ujar sam Gan sin Kay. "Yang kulihat hanya berdasarkan kenyataan."

"Kalau begitu, apakah kini cucumu telah mati?" tanya Tayli Lo Ceng sambil tersenyum.

"Entahlah." sam Gan sin Kay menggelengkan kepala.

"Entah itu menandakan belum pasti, lalu kenapa engkau sudah menduga yang buruk atas diri cucumu?" Tayli Lo Ceng menatapnya.

"Kalau cucuku tertangkap oleh Bu Lim sam Mo, apakah dia masih bisa hidup?" tanya sam Gan sin Kay.

"Itu kalau. Baik, aku pun menggunakan "kalau" cucumu tertangkap oleh Bu Lim sam Mo, dia pasti masih hidup," sahut Tayli Lo Ceng.

"Aaakh..." sam Gan sin Kay menggeleng-gelengkan kepala. "Aku jadi bertambah pusing."

"Kalau begitu..." Tayli Lo Ceng tersenyum. "Jangan memusingkan itu, agar engkau bisa tenang omitohud...."

Sementara Tio Cie Hiong terus menghela nafas panjang, kemudian melangkah ke luar.

Seberalah Tio Hong Hoa dan Lie Man chiu mengikutinya.

"Adik Cie Hiong" panggil Tio Hong Hoa. " Engkau jangan terlampau cemas, aku yakin Ceng Im tidak akan terjadi apa-apa"

"Kak...." Tio Cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala, lalu menengadahkan kepalanya sambil

memandang ke langit. " Hingga saat ini aku tidak habis pikir, kenapa hidupku penuh cobaan? Pada-haL.. aku tidak pernah berbuat dosa."

"saudara Tio" "Lie Man chiu memegang bahunya seraya berkata, "Biasanya orang baik justru banyak cobaan. Kalau iman tidak kuat dan hati tidak teguh, tentu akan berubah menjadi jahat."

"Kalau dipikir-pikir...," sahut Tio Cie Hiong sambil menghela nafas panjang. "Lebih baik aku jadi orang jahat. sebab kalau waktu itu aku membunuh Bu Lim sam Mo, tentunya tidak akan muncul kejadian ini."

"Memang. Namun...." Lie Man chiu menatapnya. "Mungkin akan muncul kejadian lain ya lebih

fatal dari ini."

"Aaakh..." Tio Cie Hiong menghela nafas panjang lagi.

Di saat bersamaan, mendadak monyet bulu putih yang duduk di bahu Tio Cie Hiong meloncat turun, lalu bercuit-cuit sambil menepuk-nepuk dadanya sendiri

"Kauw heng Engkau suruh aku tenang?" Monyet bulu putih itu manggut-manggut. "Maksudmu Ceng Im tidak akan terjadi apa-apa?" Monyet bulu putih itu manggut-manggut lagi.

"Kauw heng, engkau memiliki panca indera keenam maka tahu tentang itu?"

Monyet bulu putih itu bercuit tiga kali, kemudian meloncat ke atas bahu Tio cie Hiong lagi.

"saudara Tio" Lie Man chiu tersenyum. "Guruku mengatakan begitu, monyet sakti ini pun menyatakan yang sama. oleh karena itu, engkau harus tenang dan percaya"

"Ya." Tio Cie Hiong mengangguk. "Mudah-mudahan begitu"

Bab 77 Muncul penolong

Di dalam markas Bu Tek Pay tampak Bu Lim sam Mo tertawa gelak, mereka bertiga kelihatan gembira sekali.

"Ha ha ha" Tang Hai Lo Mo terus tertawa, kemudian berkata. " Walau Bu Lim Ji Khie dan lainnya dapat meloloskan diri, namun mereka telah terluka."

"Bahkan...," sambung Thian Mo. "siang Koay pun berhasil menangkap Lim Ceng Im. Kita siksa gadis itu agar dia memberitahukan kepada kita, Bu Lim Ji Khie dan lainnya bersembunyi di mana. Aku yakin gadis itu pasti tahu."

"Benar." Te Mo manggut-manggut.

"Bawa tahanan itu ke mari" seru Tang Hai Lo Mo memberi perintah.

Tak lama kemudian dua anggota Bu Tek Pay membawa Lim Ceng Im, yang mangan dan kakinya dirantai ke ruang tersebut.

"Hei" bentak Tang Hai Lo Mo. "Engkau harus beritahukan kepada kami, Bu Lim Ji Khie dan lainnya bersembunyi di mana Kalau engkau tidak beritahukan, mukamu pasti kami rusak"

"Aku tidak tahu," sahut Lim ceng Im.

"Engkau tidak mau beritahukan?" Thian Mo melotot. "Tidak takut kami akan merusak wajahmu yang cantik itu?"

"Hm" dengus Lim ceng Im dingin.

"Ha ha ha" Tang Hai Lo Mo tertawa gelak. "Jangan keras kepala, kalau engkau beritahukan, kami pasti melepaskanmu"

"Aku memang tidak tahu." Lim ceng Im tetap tidak mau memberitahukan. "Kalau aku tahu, sudah kuberitahukan. Siapa tidak mau bebas sih?"

"Ha ha" Thian Mo tertawa. "Gadis cantik, engkau cukup cerdik Tapi Jangan harap bisa membohongi kami"

"Kalian tidak percaya, aku mau bilang apa?" Lim ceng Im menggeleng-gelengkan kepala.

"Bagus, bagus Aku ingin tahu berapa lama engkau akan keras kepala" ujar Tang Hai Lo Mo dan berseru. "cepat siapkan sebatang besi panas"

"Ya," sahut salah seorang anggota Bu Tek Pay. Berselang sesaat, ia sudah membawa sebatang besi yang membara.

"Nah Pikir baik-baik" ujar Tang Hai Lo Mo sekaligus mengancam. "Apabila engkau tidak beritahukan, batang besi yang membara ini akan merusak wajahmu"

Lim Ceng Im diam saja, namun sudah ketakutan sekali dalam hati, wajahnya pun pucat pias.

"Ha ha ha" Tang Hai Lo Mo tertawa gelak sambil menghampirinya. "Kutegaskan, apabila engkau tidak beritahukan, wajahmu pasti rusak"

"Aku... aku sungguh tidak tahu...."

"oh? Kalau begitu wajahmu pasti rusak" Tang Hai Lo Mo tertawa terkekeh, lalu mengambil besi yang membara itu, sekaligus disodorkan ke wajah Lim Ceng Im.

"Jangan Jangan..." jerit gadis itu.

"Engkau harus beritahukan Cepaat" bentak Tang Hai Lo Mo.

"Aku... aku tidak tahu...." Lim Ceng Im menggeleng kepala. Tampak air matanya telah meleleh.

"Hm" dengus Tang Hai Lo Mo dingin. "Baik, aku terpaksa harus merusak wajahmu"

Tang Hai Lo Mo kelihatan tidak main-main. Besi yang membara itu semakin dekat ke wajah Lim Ceng Im.

"Jangan Jangan... "jerit Lim Ceng Im ketakutan.

"Ha ha ha" Tang Hai Lo Mo tertawa gelak.

Di saat bersamaan, terdengarlah suara bentakan nyaring yang menusuk telinga.

"Berhenti" Tiba-tiba melayang turun seseorang, yang tidak lain Kou Hun Bijin. wanita itu menatap Tang Hai Lo Mo dengan dingin sekali.

"Bijin...." Bu Lim sam Mo dan lainnya terkejut. Mereka tidak menyangka Kou Hun Bijin akan

muncul.

Sedangkan Lim Ceng Im diam saja, tidak berani berteriak minta tolong kepada Kou Hun Bijin, sebab gadis itu tetap menjaga rahasia.

"Hmm" dengus Kou Hun Bijin dingin, kemudian mendekati Lim Ceng Im, sekaligus memutuskan rantai yang mengikat kaki dan tangannya.

"Bijin...." Tang Hai Lo Mo mengerutkan kening.

"Bu Lim sam Mo" bentak Kou Hun Bijin. "Kalian sungguh pengecut, hanya berani terhadap gadis kecil Aku mau menolongnya, kalau kalian merasa tidak senang, boleh mengeroyokku"

"Bijin...." Bu Lim sam Mo saling memandang, begitu pula Kwan Gwa siang Koay dan Lak Kui.

siang Koay dan Lak Kui tampak serba salah, sedangkan Ang Bin sat sin diam saja.

"Bijin" ujar Tang Hai Lo Mo dengan kening berkerut. "Sebetulnya aku tidak bermaksud merusak wajahnya, hanya menakutinya agar dia memberitahukan tempat persembunyian Bu Lim Ji Khie dan lainnya."

"Betulkah begitu?"

"Betul, Bijin."

"Kebetulan aku tahu mereka bersembunyi di mana, dan aku akan memberitahukan kepada kalian Tapi aku harus membawa pergi gadis ini, kalian tidak berkeberatan, kan?"

"Itu...." Tang Hai Lo Mo mengerutkan kening lagi. " Kenapa Bijin ingin membawanya pergi?"

"Hi hi hi" Kou Hun Bijin tertawa nyaring. "Tentunya kalian semua tahu, hingga saat ini aku belum punya murid...."

"oooh" Tang Hai Lo Mo manggut-manggut. "Ternyata Bijin ingin menerimanya sebagai murid"

"Tidak salah." Kou Hun Bijin mengangguk. kemudian mendekati Tang Hai Lo Mo dan berbisik. "Bu Lim Ji Khie dan lainnya bersembunyi di Gunung Hong Lay san, di sana terdapat sebuah biara."

"Bijin tidak membohong?" Tang Hai Lo Mo kurang percaya.

"Apa?" Kou Hun Bijin melotot. "Engkau tidak mempercayaiku? Kurang ajar Baik, apabila aku bohong, engkau boleh ambil nyawaku"

"Kalau begitu, aku percaya." Tang Hai Lo Mo manggut-manggut. "Bijin boleh menerima gadis ini sebagai murid."

"Hi hi Hi" Kou Hun Bijin tertawa cekikikan. "Tang Hai Lo Mo, terima kasih atas kebaikanmu" Mendadak Kou Hun Bijin menowel pipinya, setelah itu barulah mengajak Lim Ceng im pergi.

Tang Hai LoMo berdiri mematung di tempat, kemudian mengusap-usap pipinya dan dicium pula tangannya yang mengusap pipinya itu.

"Ha ha ha" Kwan Gwa siang Koay tertawa. "Masih tercium bau tangannya?"

"Haaah..." Wajah Tang Hai Lo Mo memerah seketika. "Aku...."

"Tang Hai Lo Mo, Kou Hun Bijin berbisik apa kepadamu?" tanya Thian Mo ingin mengetahuinya .

"Dia memberitahukan bahwa Bu Lim Ji Khie dan lainnya bersembunyi di Gunung Hong Lay san, " jawab Tang Hai Lo Mo.

"Apakah benar?" Thian Mo kurang percaya.

"Te Mo" ujar Kwan Gwa siang Koay. "Kou Hun Bijin tidak akan membohongi kita, percayalah kepadanya"

"Kalau begitu...." Te Mo mengerutkan kening. "Perlukah kita cari mereka ke gunung itu?"

"Jangan dulu" sahut Tang Hai Lo Mo.

"Kenapa?" Te Mo heran.

"Sebab Kou Hun Bijin juga memberitahukan, bahwa mereka berada di sebuah biara di gunung itu" Tang Hai LoMo memberitahukan. "Biara itu pasti ada penghuninya, sedangkan kita tidak tahu siapa penghuni biara itu. Maka Jangan sembarangan ke sana"

"Heran? Kenapa Kou Hun Bijin bisa tahu?" gumam Te Mo.

"Aku yakin dia pernah melewati gunung itu, jadi tahu..." sela Kwan Gwa siang Koay dan tiba-tiba teringat sesuatu. "Jangan-Jangan... lelaki yang membawa monyet itu berada di biara tersebut?"

"Benar." Tang Hai Lo Mo manggut-manggut. "Ketika Kou Hun Bijin bertanding dengan dia, pasti dia yang memberitahukan."

"Kalau begitu..." Thian Mo mengerutkan kening. "Apa rencana kita sekarang? Perlukah kita serang ke sana?"

"Kita lihat saja bagaimana perkembangan selanjutnya," sahut Tang Hai Lo Mo dan menambahkan. "Aku yakin mereka tidak akan tinggal diam begitu."

"Maksudmu mereka akan menyerang kita?" tanya Te Mo.

"Kira-kira begitulah," sahut Tang Hai Lo Mo sambil tertawa. "Kalau mereka menyerang kita, aku juga punya akal untuk menghadapi mereka. Ha ha ha..."

Lim Ceng Im sungguh berterima kasih kepada Kou Hun Bijin yang telah menolongnya. Ternyata Kou Hun Bijin membawa gadis itu ke Gunung Hong Lay san. sepanjang jalan Kou Hun Bijin terus tertawa.

"Hi hi hi Aku tidak menyangka begitu cepat membalas budi Cie Hiong." Gumamnya. "Dia pasti gembira sekali. Hi hi hi"

"Kok Bibi bisa begilu kebetulan ke markas Bu Tek Pay?" tanya Lim Ceng Im.

"Bukan kebetulan, melainkan aku sengaja ke sana menolongmu," sahut Kou Hun Bijin. "Aku dengar markas pusat Kay Pang telah diserang pihak Bu Tek Pay, bahkan salah seorang anggota Kay Pang mengatakan engkau ditangkap. Karena itu, aku segera ke markas Bu Tek Pay."

"Terimakasih, Bibi" ucap Lim Ceng Im. " Kakak Hiong bilang, Bibi adalah wanita baik. Memang tidak salah...."

"Hi hi Hi" Kou Hun Bijin terlawa nyaring. "Yang paling baik itu Kakak Hiong mu, karena dia berhati mulia. Maka, hari ini engkau pun tertolong."

"Kenapa begitu?"

"Kalau hari itu dia tidak berbuat baik kepadaku, bagaimana mungkin hari ini aku menolongmu, bukan?"

"oooh"

"Ceng Im" Kou Hun Bijin tersenyum. "Engkau memang pintar. Ketika melihatku, engkau tidak memanggilku maka mereka tidak bercuriga sama sekali."

"Terimakasih alas pujian Bibi" ucap Lim Ceng Im. "Tapi Bibi lebih cerdik dari padaku."

"Lho?" Kou Hun Bijin lertawa. " Kenapa engkau mengatakan demikian?"

"Sebab aku tahu apa yang Bibi bisikkan itu."

"Oh?"

"Tentu Bibi memberitahukan kepada Tang Hai Lo Mo, bahwa Bu Lim Ji Khie dan lainnya bersembunyi di Gunung Hong Lay san, bukan?"

"Benar. engkau tahu kenapa aku memberitahukan kepadanya?"

"Bibi tahu mereka tidak akan berani menyerang ke sana. Maka Bibi memberitahukan dengan cara berbisik, seakan tidak menghendaki aku mengetahuinya."

"Hi hi Hi" Kou Hun Bijin tertawa nyaring. "engkau memang pintar oh ya, maukah engkau menjadi muridku?"

"Terimakasih, Bibi Namun aku lebih senang memanggil Bibi, sebab rasanya begitu dekat," ujar Lim Ceng im sungguh-sungguh.

"Bagus, bagus Memang lebih baik engkau panggil aku bibi, aku senang sekali." Kou Hun Bijin tersenyum. "Aku menyatakan di hadapan Bu Lim sam Mo dan lainnya, bahwa aku ingin menerimamu sebagai murid, sesungguhnya itu cuma alasan belaka."

"Kenapa Bibi harus menyatakan dengan alasan itu?" Lim Ceng im tercengang.

"Kalau tidak. bagaimana mungkin begitu gampang aku mengajakmu pergi, bukan?jadi sesungguhnya aku tidak berniat menerimamu sebagai murid."

"Yaah" Lim Ceng im tampak kecewa. "Bibi bikin aku girang setengah mati."

"Ceng Im" Kou Hun Bijin tertawa. "Engkau cukup belajar kepada Cie Hiong, sebab kepandaiannya lebih linggi d ariku."

"Tapi...."

"Begini saja, setelah kita sampai di Gunung Hong Lay san, aku akan mengajarmu Giok Li sin Kang."

Lim Ceng im girang sekali. "Kalau begitu, aku akan awet muda seperti Bibi?"

"Tentu tidak." Kou Hun Bijin menggelengkan kepala.

"Lho, kenapa?"

"Engkau perlu tahu, sebelum aku belajar Giok Li sin Kang, guruku memberiku tiga butir pil." Kou Hun Bijin memberitahukan. "Setelah makan tiga butir pil itu, barulah aku diajar Giok Li sin Kang. Kata guruku, aku akan awet muda karena tiga butir pil itu akan membaur dengan Giok Li sin Kang."

"Kalau begitu, Bibi akan memberiku tiga butir pil itu juga?"

"Hi hi hi" Kou Hun Bijin tertawa. "Ceng Im, tahukah engkau berapa lama guruku membuat tiga butir pil itu?"

"Entahlah."

"Hampir lima puluh tahun."

"Haah?" Mutut Lim Ceng Im ternganga lebar. "Membuat tiga butir pil harus membutuhkan waktu hampir lima puluh tahun?"

"Ya." Kou Hun Bijin mengangguk dan menambahkan. "Lagipula pil itu hanya tiga butir, jadi bagaimana aku memberikan kepadamu? Pil itu sudah tidak ada."

"ooooh" Lim Ceng Im menghela nafas.

"Namun ada gunanya juga engkau belajar Giok Li sin Kang," ujar Kou Hun Bijin menjelaskan. "sebab setelah engkau memiliki lweckang itu, wajahmu tidak akan gampang keriput."

"oh, ya?" Lim Ceng im tersenyum. "Bibi, aku mau belajar lweekang itu."

"Aku pasti mengajarmu setelah kita tiba di Gunung Hong Lay San." Kou Hun Bijin berjanji.

"Terima kasih, Bibi" ucap Lim Ceng Im gembira.

Walau Tayli Lo Ceng mengatakan tidak akan terjadi apa-apa atas diri Lim Ceng im, bahkan ditambah dengan naluri monyet bulu putih menyatakan begitu pula, namun rasa cemas tetap mencekam dalam hati Tio Cie Hiong, sam Gan sin Kay dan Lim Peng Hang.

"Kakek, Paman" ujar Tio Cie Hiong dengan kening berkerut. "Kalau besok masih tiada kabar beritanya adik Ceng Im, aku akan pergi mencarinya."

"Tapi ada baiknya engkau berkonsultasi dulu dengan Tayli Lo Ceng." sahut sam Gan sin Kay mengusulkan.

"Ya." Tio Cie Hiong mengangguk. "Sebelum aku pergi mencari adik Im, tentu aku akan berkonsultasi dulu dengan Tayli Lo Ceng."

"Menurut aku..." sela Tui Hun Lojin. "Tidak akan terjadi apa-apa atas diri Ceng im."

"setan tua" sam Gan sin Kay menatapnya. "Apa dasarnya engkau berkesimpulan begitu?"

"Tentunya kita tahu, berapa usia monyet kauw heng ini? Tentu dia memiliki naluri yang kuat sekali, bahkan juga memiliki panca indera ke-enam, bukan?"

"Memang benar apa yang dikatakan Tui Hun Lojin," sahut Kim siauw suseng. "Aku pun yakin, tidak akan terjadi apa-apa atas diri Ceng Im."

Mendadak monyet bulu putih yang duduk di bahu Tio cie Hiong bercuit-cuit seakan gembira sekali, kemudian meloncat turun dan berjingkrak-jingkrak pula.

"Kauw heng...." Tio Cie Hiong tercengang melihat sikap monyet bulu pulih ilu. " Kenapa

engkau?"

Monyet bulu putih itu berhenti berjingkrak, lalu menunjuk ke atas, setelah itu menunjuk Tio cie Hiong dan mengelus-elus dada.

"cie Hiong...." sam Gan sin Kay terbelalak. "Kauw heng bilang apa?"

"Kalau tidak salah, dia bilang sebentar lagi ada orang ke mari." Tio Cie Hiong memberitahukan.

"Apa?" sam Gan sin Kay tersentak. "Pihak Bu Tek Pay ke mari?" Monyet bulu pulih b ercuit sambil menggelengkan kepala.

"Kalau bukan pihak Bu Tek Pay, lalu siapa...." sam Gan sin Kay mengerutkan kening.

Di saat bersamaan, terdengarlah suara tawa cekikikan yang amat nyaring menusuk telinga. "Haah?" Mulut Bu Lim Ji Khie ternganga lebar. "Kou.... Kou Hun Bijin...." "Kakak" Wajah Tio cie Hiong langsung berseri.

"Hi hi hi" Terdengar suara Kou Hun Bijin. "Adik kecil, aku membalas budi kebaikanmu. Hi hi hi..." Kemudian melayang turun dua sosok bayangan, yang tidak lain Kou Hun Bijin dan Lim Ceng Im. "Adik Im" seru Tio Cie Hiong girang sambil menghampirinya.

"Kakak Hiong Kakak Hiong...," sahut Lim Ceng Im sekaligus merentangkan sepasang tangannya, siap memeluk Tio Cie Hiong.

"Ha ha ha" sam Gan sin Kay yang usil itu tertawa gelak, "itulah jurus memeluk kekasih"

"Kakek...." Lim Ceng Im melototinya, namun tetap merentangkan sepasang tangannya lebar-

lebar. "Kakak Hiong...."

"Adik Im"

"Kakak Hiong" Lim Ceng Im memeluknya erat-erat, kemudian mendekap di dadanya. "Kakak Hiong, aku rindu sekali kepadamu."

"Aku juga," sahut Tio Cie Hiong sambil membelainya.

"Huaha ha ha" sam Gan sin Kay tertawa terbahak-bahak. "Dekap mendekap lagi Asyilik."

"Pengemis bau Engkau memang usil dari kecil sampai dewasa, dari dewasa sampai tua" tegur Kou Hun Bijin sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Bawaan lahir, mau bilang apa?" sahut sam Gan sin Kay dan tertawa lagi.

"Itu bukan bawaan lahir," tandas Kou Hun Bijin. "Melainkan tak tahu diri, sebab engkau tidak boleh melihat orang senang."

"Benar, Bibi," sahut Lim Ceng Im. "Kakekku memang tidak boleh melihat orang senang."

"Eeeh?" sam Gan sin Kay melotot. "Cucuku kok malah membela orang lain, dasar...."

Sementara Tio Cie Hiong hanya tersenyum ketika mendengar perdebatan itu. Berselang beberapa saat barulah ia membuka mulut. "Kakak. kuucapkan banyak-banyak terima kasih kepadamu"

"Adik kecil" Kou Hun Bijin tertawa. "Engkau pernah berbaik hati padaku, tentu aku pun harus

berbuat baik terhadapmu. Nah, Bu Lim sam Mo menangkap Ceng Im, aku yang menyelamatkannya sekaligus membawanya ke mari, agar kalian bisa berkumpul."

"Terimakasih, Kakak" ucap Tio Cie Hiong dan menambahkan. "Apa yang dikatakan Tayli Lo Ceng memang benar."

"Apa?" Kou Hun Bijin tertegun. "Kepala gundul itu berada di sini?"

"omitohud Aku si Kepala Gundul memang berada di sini." Muncul Tayli Lo Ceng, It sim sin Ni, Tio Tay seng dan Tio Hong Hoa.

"Kepala gundul" Kou Hun Bijin tertawa cekikikan. "Ternyata engkau belum naik ke sorga"

"Bijin" sahut Tayli Lo Ceng sambil tersenyum. "Diriku belum bersih dari dosa, bagaimana mungkin begitu cepat naik ke sorga?"

"oh, ya?" Kou Hun Bijin tertawa lagi, kemudian menatap It sim sin Ni. "Hi hi hi Engkau pun belum mati."

"Bijin" It sim sin Ni tersenyum. "Engkau belum mati, tentunya aku juga tidak mau mati."

"Ei sin Ni Terus terang, aku tidak habis pikir hingga saat ini," ujar Kou Hun Bijin sungguh-sungguh. "Kenapa suamimu yang ganteng itu minggat bersama anak-anaknya?"

"Engkau belum tahu sebab musababnya?"

"Aku dengar...." Kou Hun Bijin menatapnya. "Engkau menyeleweng, namun aku tidak begitu percaya Karena... engkau bukan tipe wanita yang suka menyeleweng."

"Terima kasih" ucap It sim sin Ni, lalu menghela nafas panjang. "Itu dikarenakan salah paham."

"Salah paham?" Kou Hun Bijin mengerutkan kening, kemudian menuding Tayli Lo Ceng seraya berkata. "Pasti disebabkan kepala gundul itu, bukan?"

"omitohud Memang disebabkan diriku, sehingga timbul kesalahpahaman itu," sahut Tayli Lo Ceng mengaku.

"Kepala gundul" tegur Kou Hun Bijin. "Engkau tidak tahu diri sih Kepala sudah gundul, tapi masih sering menemui sin Ni, akhirnya rumah tangganya jadi berantakan."

"omitohud" Tayli Lo Ceng tersenyum. "Kalau kepalaku tidak gundul, tentu aku tidak mau menemui sin Ni."

"Maksudmu karena engkau seorang hweeshio, maka tidak jadi masalah menemui isteri orang?"

"Sebelum dia jadi isteri orang, aku sudah tahu dia seorang biarawati. Karena jatuh cinta pada Tio Po Thian, maka dia menikah sekaligus melepaskan jubah biarawatinya. Dia menemuiku karena ingin memperdalam ajaran Budha, namun justru menimbulkan kesalahpahaman itu."

"Suami mana yang tidak akan cemburu melihat isterinya pergi menemui lelaki lain secara diam-diam? Engkau seorang padri sakti, kenapa tidak tahu itu?"

"Hatiku bersih, maka tidak tahu itu."

"Kepala gundul" Kou Hun Bijin tertawa nyaring. "Hatimu bersih? Kalau hatimu bersih harus pergi menemui suaminya, bukan menemui sin Ni ini. Hi hi Masih berani mengaku berhati bersih, berarti hatimu kotor."

"omitohud" Tayli Lo Ceng tersenyum. "Engkau mau bilang apa, aku tetap menerima. Yang penting hatiku bersih, omitohud"

"Kakak Itu memang salah paham," sela Tio Cie Hiong. "Lagipula sudah berlalu, jadi tidak usah diungkit kembali"

"Adik kecil...." Kou Hun Bijin tersenyum. "Menurutku hatimu lebih mulia dan bersih dari si Kepala

gundul itu."

"Kakak...." Tio Cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala. "Tidak baik kurang ajar terhadap Tayli

Lo Ceng, sebab dia pernah menyelamatkan nyawaku."

"sama," sahut Kou Hun Bijin. "Aku juga telah menyelamatkan nyawa Ceng Im. Hi hi hi"

"omitohud" Tayli Lo Ceng manggut-manggut. "Dalam hatimu masih disinari cahaya Budha."

"omong kosong" Kou Hun Bijin tertawa cekikikan. "Yang benar dalam hatiku disinari oleh kebaikan cie Hiong, kalau tidak...."

"Cahaya Budha menuntunmu ke markas Bu Tek Pay, maka engkau berhasil menolong Ceng Im."

"Aku sengaja ke sana, bukan dituntun oleh cahaya Budha."

"Cahaya Budha yang di dalam hatimu, menggerakkan hatimu untuk ke sana."

"Hi hi Hi" Kou Hun Bijin tertawa nyaring. "Dan" dulu engkau selalu omong kosong, saat ini juga masih omong kosong."

"omitohud Kosong itu berisi, berisi itu kosong. segala apa pun berasal dari kosong, maka segala-galanya akan kembali ke kosong pula," ujar Tayli Lo Ceng sambil tersenyum.

"sudahlah Jangan membicarakan soal kosong dan berisi" tandas Kou Hun Bijin. "ohya, sin Ni Engkau sudah bertemu suami dan anak-anakmu?"

"Suamiku sudah lama meninggal, namun anak sulungku berada di sini," sahut It sim sin Ni. "Tay seng, cepat beri hormat kepada Kou Hun Bijin"

"Cianpwee, terimalah hormatku" ucap Tio Tay seng sambil memberi hormat.

"Engkau Tay seng? Kek sudah begini besar?" Kou Hun Bijin terbelalak sambil menatapnya.

"Ha ha ha Ha ha ha..." Mendadak sam an sin Kay tertawa gelak hingga badannya bergoyang-goyang.

"Pengemis bau" tegur Kou Hun Bijin. "Kenapa engkau tertawa?"

"Tay seng sudah berusia tujuh puluhan, tapi engkau malah bilang dia sudah besar. Bukankah itu lucu sekali?" sahut sam Gan sin Kay.

"Itu tidak lucu," sahut Kou Hun Bijin. "sebab ketika aku melihat Tay seng dan it seng, mereka berdua masih kecil, bahkan sering mandi telanjang di sungai."

"oh?" sam Gan sin Kay tertegun. "Jadi engkau kenal Tay seng dan It seng kelika mereka masih kecil?"

"Ng" Kou Hun Bijin mengangguk.

"Bijin Tahukah engkau anak siapa Tio Cie Hiong?" tanya sam Gan sin Kay mendadak. "Tidaktahu." Kou Hun Bijin menggelengkan kepala. "Dia anak siapa?" "Anak Tio It seng." sam Gan sin Kay memberitahukan.

"Apa?" Kou Hun Bijin tertegun. "Jadi.... It sim sin Ni adalah neneknya?"

"Bijin" it sim sin Ni tersenyum. "Aku memang neneknya, namun belum lama ini aku baru tahu."

"Lalu di mana It seng?" tanya Kou Hun Bijin.

"It seng dan isterinya mati di tangan Bu Lim sam Mo." sam Gan sin Kay memberitahukan, sekaligus menutur tentang kejadian yang menimpa diri Tio It seng dan isterinya.

"Sungguh di luar dugaan" Kou Hun Bijin menggeleng-gelengkan kemala. "Ternyata Cie Hiong anak Tio It seng"

"Bijin, bolehkah aku bertanya sesuatu kepadamu?" ujar sam Gan sin Kay dengan wajah serius. "Tanyalah"

"Benarkah Tay seng dan it seng sering mandi telanjang di sungai?"

"Benar," sahut Kou Hun Bijin agak tercengang. "Memangnya kenapa?"

"Pantas" sam Gan sin Kay tertawa sambil memandang Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im. seketika juga wajah yang dipandangnya menjadi kemerah-merahan.

"Apanya yang pantas?" Kou Hun Bijin kebingungan.

"Ketika cucuku bertemu Tio Cie Hiong, dia juga mandi telanjang di sungai. Ha ha ha" sam Gan sin Kay tertawa gelak.

"Kakek" Lim Ceng Im langsung melotot dengan wajah memerah.

"oh?" Kou Hun Bijin terbelalak, kemudian tertawa cekikikan. "Kebiasaan almarhum menurun pada anaknya Hi hi hi..."

"Eeeeh?" Mendadak Tui Hun Lojin menatap Kim siauw suseng. "sastrawan sialan Kenapa engkau diam saja dari tadi? sukmamu telah terbetot keluar ya?"

"Setan tua Jaga mulutmu dikit" tegur Kim siauw suseng. "Jangan omong sembarangan"

"Ha ha ha" sam Gan sin Kay tertawa. "Sukmanya memang sudah terbetot keluar sejak bertemu Kou Hun Bijin."

"Pengemis bau" Kim siauw suseng melotot. "Jangan sampai aku marah ya"

"Sastrawan awet muda" Kou Hun Bijin menatapnya sambil tertawa nyaring. "Benarkah sukmamu terbetot keluar sejak melihat aku tempo hari?"

"Aku... mereka...." Kim siauw suseng tergagap. "Aku...."

"Hi hi hi" Kou Hun Bijin tertawa nyaring lagi. "Kalau engkau tertarik pada ku, mengaku saja Jangan malu-malu"

"Eh? Bijin...." Kim siauw Suseng menundukkan kepala.

"Engkau awet muda dan ganteng, sedangkan aku juga awet muda dan cantik pula," Kou Hun Bijin menatapnya sambil tersenyum-senyum.

"Dasar genit" cetus Tayli Lo Ceng sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Apa?" Kou Hun Bijin melotot. "Lo Ceng, engkau berani mengatai aku genit? Coba katakan sekali lagi"

"Kou Hun Bijin, engkau memang genit" Tayli Lo Ceng benar-benar mengatainya sekali lagi.

Sudah barang tentu membuat Kou Hun Bijin gusar bukan kepalang. oleh karena itu langsung saja ia bergerak sambil mengayunkan tangannya. Plaaak sebuah tamparan mendarat di pipi Tayli Lo Ceng.

Tayli Lo ceng diam saja, sedangkan Kou Hun Bijin menudingnya seraya berkata dengan penuh kegusaran.

"Lo Ceng Tujuh puluh lima tahun lalu, aku pernah menamparmu karena engkau mengataiku genit Tujuh puluh lima tahun kemudian yaitu saat ini, aku kembali menamparmu lantaran engkau mengataiku genit pula Hmm"

"omitohud" sahut Tayli Lo Ceng. "Aku memang pantas ditampar karena banyak mulut."

"Ha ha ha" sam Gan sin Kay tertawa terbahak-bahak. "Lo Ceng, bagaimana rasanya ditampar Kou Hun Bijin?"

"Omitohud Cukup sakit tapi itu akan merubah sifat buruknya," jawab Tayli Lo Ceng sungguh-sungguh, bahkan kemudian tersenyum pula.

"Hmm" dengus Kou Hun Bijin. "Dasar tak tahu malu"

"Bijin" Mendadak Tayli Lo Ceng menatapnya dalam-dalam. "Kelak engkau pasti minta maaf kepadaku, sebab pada waktu itu engkau akan mengalami sesuatu yang menggembirakan. omitohud"

"Lo Ceng" Kou Hun Bijin tertegun. "Bolehkah Lo Ceng menjelaskan tentang sesuatu yang menggembirakan itu?"

"Bijin" Tayli Lo Ceng tersenyum. "Engkau akan mengetahuinya kelak. saat ini aku tidak boleh memberitahukan."

"Jangan omong kosong, Lo Ceng"

"Aku tidak omong kosong, kelak engkau pasti membuktikannya." Tayli Lo Ceng menatapnya lagi, lalu manggut-manggul. "omitohud Penglihatanku tidak akan salah."

"oh, ya?" Kou Hun Bijin tertawa, setelah itu memandang Lim Ceng im seraya berkata, "Gadis cantik, aku harus menepati janji.Jadi aku harus tinggal di sini beberapa hari untuk mengajarmu Giok Li sin Kang."

"Terimakasih, Bibi" ucap Lim Ceng Im girang. "Terimakasih...."

Beberapa hari kemudian setelah mengajar Lim Ceng im Giok Li sin Kang, Kou Hun Bijin berpamit, lalu meninggalkan biara itu sambil tertawa nyaring. Akan tetapi, kepergiannya justru membuat wajah Kim siauw suseng berubah murung.

"Sastrawan sialan" sam Gan sin Kay memandangnya sambil tertawa. "Kenapa engkau jadi murung seperti ditinggal kekasih?"

"Ha ha ha" Tui Hun Lojin tertawa. "Dia memang ditinggal kekasih."

"Setan tua" tegur Kim siauw suseng. "Jangan omong sembarangan, jaga mulutmu baik-baik"

"Wuah" sam Gan sin Kay menggeleng-ge-lengkan kepala. "Aku sama sekali tidak menyangka, dalam usia setua ini engkau malah jatuh cinta"

"Pengemis bau" Kim siauw suseng mengerutkan kening, kemudian menghela nafas panjang dan berkata, "Aku sendiri justru bingung, kenapa bisa jadi begini? sungguh di luar dugaanku"

"Eh?" Tui Hun Lojin menatapnya dengan mata tak berkedip. "Jadi benar engkau jatuh cinta pada Kou Hun Bijin?"

"Kita kawan baik, maka aku... aku harus berterus terang, bukan?" Kim siauw suseng memandang mereka. "Aku... aku memang jatuh cinta padanya, hatiku merasa hampa setelah dia pergi."

"omitohud" Mendadak muncul Tayli Lo Ceng, It sim Sin Ni, Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im.

"Lo Ceng...." Wajah Kim siauw suseng kemerah-merahan.

"Aku sudah tahu. Aku sudah tahu...." Tayli Lo Ceng tersenyum. "Itu memang sudah merupakan

takdir, namun takdir yang baik."

"Lo Ceng" sam Gan sin Kay terbelalak. "Apakah Kim siauw suseng dan Kou Hun Bijin akan terangkap menjadi suami isteri?"

"Ya." Tayli Lo Ceng mengangguk dan menambahkan. "Namun masih harus menunggu segalanya beres. siapa yang berbuat baik, pasti menerima buah yang manis pula."

"Lo Ceng...." Kentng Tui Hun Lojin berkerut. "Usia Kim siauw suseng dan Kou Hun Bijin...."

"Dari wajah, fisik dan kondisi lubuh mereka, kira-kira berapa usia mereka sekarang?" tanya Tayli Lo Ceng mendadak.

"Empat puluhan," sahut Tui Hun Lojin.

"Nah" Tayli Lo Ceng tersenyum. "orang yang berusia empat puluhan, tentunya masih boleh menikah."

"Tapi usia Kou Hun Bijin sudah di atas seratus, sedangkan usia Kim siauw suseng sudah mendekati sembilan puluh. Itu...." Tui Hun Lojin menggeleng-gelengkan kepala.

"Itu usia mereka, namun fisik maupun kondisi mereka tidak berusia segitu. Tentunya kalian tahu jelas tentang itu," sahut Tayli Lo Ceng sungguh-sungguh. "Lagi pula mereka ditakdirkan menjadi suami isteri. Cobalah kalian pikir, selama ini Kou Hun Bijin dan Kim siauw suseng tidak pernah menikah. Mereka berdua sama-sama awet muda, maka mereka merupakan pasangan yang serasi."

"Ha ha ha" sam Gan sin Kay tertawa terbahak-bahak. "Mereka berdua memang merupakan pasangan yang ideal Aku tidak menyangka Kim siauw suseng akan punya isteri Ha ha ha"

"omitohud" ujar Tayli Lo Ceng. "setiap manusia tidak akan terlepas dari takdir maupun karma. Takdir dan karma buruk dapat dibersihkan oleh perbuatan yang baik, namun takdir dan karma baik akan berubah buruk apabila kita berbuat jahat."

"oooh" sam Gan sin Kay manggut-manggut. "Kalau begitu, bolehkah aku mengajukan satu pertanyaan?"

"Silakan" sahut Tayli Lo Ceng.

"Tempo hari Kou Hun Bijin menampar Lo Ceng, apakah itu merupakan suatu takdir bagi Lo Ceng?" Ternyata ini yang ditanyakan sam Gan sin Kay.

"omitohud" Tayli Lo Ceng tersenyum. "Aku mengatainya genit justru melenyapkan sifat genitnya. Dia menamparku, sudah barang tentu membuat karma burukku hilang pula. omitohud"

"Lo Ceng" sam Gan sin Kay menggeleng-gelengkan kemala. "Aku masih tidak begitu mengerti." "Engkau pasti mengerti kelak." sahut Tayli Lo Ceng dan kemudian menghela nafas panjang.

"Kerajaan Beng mulai bobrok, Dinasti Beng sudah mendekati ambang keruntuhan, siapa pun tidak dapat menyelamatkan dinasti Beng. omitohud"

"Lo Ceng...." It sim sin Ni menatapnya sambil mengerutkan kening. "Maksudmu dinasti Beng

akan runtuh?"

"Ya." Tayli Lo Ceng mengangguk. "Kita semua tidak akan mencampuri urusan kerajaan. omitohud"

"Benar." sam Gan sin Kay manggut-manggut. "setelah urusan dengan Bu Tek Pay diselesaikan, aku ingin mengasingkan diri."

omitohud Itu memang baik sekali," sahut Tayli Lo Ceng, lalu memandang Tio Cie Hiong seraya berkata, "segala apa pun pasti beres, engkau dan ceng Im pun pasti hidup bahagia kelak. Kini aku mau pamit."

"Lo Ceng?" it sim sin Ni tersentak. "Engkau mau ke mana?"

"Aku mau ke Tayli"

"Guru...." Lie Man chiu segera menjatuhkan diri berlutut di hadapan padri tua itu. "Guru...."

"Setelah segalanya beres, barulah engkau menikah dengan Hong Hoa." ujar Tayli Lo Ceng. "Kita semua akan berjumpa lagi nanti, selamat tinggal"

Tayli Lo Ceng melesat pergi, Bu Lim Ji Khie dan lainnya saling memandang, sedangkan Lie Man chiu masih berseru memanggil padri tua itu. "Guru Guru..."

"Man chiu" ujar Tio Tay seng sambil tersenyum. "Gurumu sudah bilang, dia dan kita akan berjumpa lagi. Engkau tidak usah berduka karena berpisah dengan gurumu itu"

"Ya, Paman." Lie Man chiu mengangguk. kemudian memandang Tio Hong Hoa sambil tersenyum mesra.

Bab 78 Siasat licik

Di markas Bu Tek Pay. tampak Bu Lim sam Mo, Kwan Gwa siang Koay, Lak Kui dan Ang Bin Sat sin sedang membahas suatu masalah.

"Kelihaiannya Kou Hun Bijin berpihak pada mereka," ujar Tang Hai LoMo dengan wajah tidak senang. "sebab dia membawa Lim Ceng im."

"Belum lenlu Kou Hun Bijin berpihak pada mereka," sahut Kwan Gwa siang Koay. "Dia tertarik pada bakat gadis ilu, maka mau menerimanya sebagai murid."

"Hm" dengus Thian Mo. "Menurutku, itu cuma alasan belaka. Mungkin dia membawa gadis itu ke Gunung Hong Lay san.

"Aku juga berpikir begitu," sambung Te Mo. "ltu sungguh menjengkelkan, padahal kita begitu menghormatinya."

"sudahlah" sela Tiau Am Kui. " Kita Jangan memperdebatkan masalah itu, seharusnya kita merencanakan sesuatu."

"Benar." Ang Bin sat sin mengangguk. kemudian teringat sesuatu. "ohya, kok siauw Kun masih belum pulang?"

"Ang Bin sat sin" sahut Tang Hai Lo Mo. "Kita tidak perlu memikirkannya, dia mau pulang atau tidak terserah."

"Tapi...." Ang Bin sat sin menggeleng-gelengkan kepala. "Biar bagaimana pun dia murid kita."

"Benar." Thian Mo mengangguk. "Namun kalau dia tidak mau pulang, apakah kita harus memaksanya pulang?"

"Dia tidak mau pulang itu memang urusannya, tapi... yang kukhawatirkan...." Ang Bin sat sin

menghela nafas panjang. "Engkau khawatir dia dibunuh orang?" tanya Te Mo.

"Itu yang kukhawatirkan." Ang Bin sal sin mengangguk. "Mungkinkah Kou Hun Bijin membunuhnya? "

"Tidak mungkin," sahut siluman Kurus. "Tiada alasan bagi Kou Hun Bijin membunuhnya."

"Malam itu Liu siauw Kun pergi, lalu pagi harinya Kou Hun Bijin juga pergi. Karena itu aku berkesimpulan."

"Ha ha ha" Tang Hai Lo Mo tertawa memutuskan ucapan Ang Bin sat sin. "Kou Hun Bijin kelihatan begitu tertarik pada siauw Kun, bagaimana mungkin membunuhnya? Tempo hari Kou Hun Bijin kembali ke mari, aku yakin dia ingin tahu siauw Kun pulang atau belum. Kebetulan kita menangkap Ceng im, maka dia membawa gadis itu pergi karena ingin menerimanya sebagai murid."

"Mudah-mudahan siauw Kun masih hidup," ucap Ang Bin sat sin.

"Dia pasti terus menerus bersenang-senang dengan kaum wanita, sehingga lupa pulang," sahut Thian Mo sambil tertawa gelak.

"Itu memang mungkin." Ang Bin sat sin manggut-manggut, sebab ia tahu silat Liu siauw Kun. "sekarang kita kembali pada pokok pembicaraan. Apa rencana kita sekarang?"

"Bagaimana menurut kalian?" tanya Tang Hai Lo Mo.

"Kila harus menyerang ke Gunung Hong Lay san," sahut Ang Bin sal sin. "Mungkin lelaki yang membawa monyet itu berada di sana."

"Kalau dia berada di sana, justru akan merepotkan kita," ujar Tang Hai Lo Mo sambil mengerutkan kening.

"Lalu kita harus diam saja?" tanya Ang Bin sat sin.

"Diam berarti kita sedang bergerak," sahut Tang Hai Lo Mo, yang kelihatannya sudah punya suatu ide.

"Aku tidak mengerti." Ang Bin sat sin menatapnya. "Lo Mo, tolong jelaskan arti ucapanmu barusan"

"Yang bergerak adalah otak kita," sahut Tang Hai Lo Mo memberitahukan. "Kita harus memerintahkan para anggota kita untuk membantai anggota-anggota Kay Pang."

"Tujuannya?" tanya Kwan Gwa siang Koay.

"Membuat marah Sam Gan Sin Kay, Lim Peng Hang dan lainnya," sahut Tang Hai Lo Mo sambil lertawa. "Apabila mereka marah, pasti menyerang ke mari."

"Engkau sudah punya suatu siasat untuk menghadapi mereka?" tanya Thian Mo sambil menatapnya.

"Benar." Tang Hai Lo Mo manggut-manggut. "Kalau mereka menyerang ke mari, aku pasti membuat kejutan."

"Kejutan apa?" Tanya Kwan Gwa siang Koay. "Bolehkah diberitahukan pada kami semua?" "Tentu boleh." Tang Hai Lo Mo tertawa. "Markas kita ini berada di dalam perut gunung. Tiada

seorang pun tahu di dalam goa ini terdapat sebuah terowongan rahasia yang menembus ke gunung lain, hanya kami bertiga yang tahu."

"Apa hubungannya penyerangan mereka dengan terowongan rahasia itu?" tanya Ang Bin sat sin tidak mengerti.

"Tentu ada hubungannya," sahut Tang Hai Lo Mo serius. "Apabila mereka menyerang ke mari, kita akan pergi melalui terowongan rahasia itu, lalu kita ke Gunung Hong Lay san. Aku yakin masih ada orang di sana, kita tangkap mereka. Nah, bukankah itu merupakan suatu siasat yang luar biasa?"

"Benar." Ang Bin sat sin, Kwan Gwa siang Koay dan Lak Kui tertawa terbahak-bahak. "Itu memang siasat yang jitu, juga merupakan kejutan Ha ha ha"

Para anggota Bu Tek Pay mulai membantai sisa-sisa anggota Kay Pang, sehingga membuat mereka harus bersembunyi di tempat yang aman, namun banyak yang menjadi korban pembantaian itu.

Tentang pembantaian itu, juga telah masuk ke telinga sam Gan sin Kay, Lim Peng Hang dan

lainnya. Betapa gusarnya sam Gan sin Kay dan ketua Kay pang, mereka berdua terus marah-marah sambil memukul meja.

"Percuma marah-marah, Pengemis bau Lebih baik kita memikirkan suatu cara untuk menghadapi mereka," ujar Kim siauw suseng.

"Cara apa?" tanya sam Gan sin Kay berang. "Kita cuma diam saja di sini...."

"Karena itu, kita harus berpikir bersama," sahut Tui Hun Lojin. "Tiada gunanya engkau marah-marah tidak karuan."

"Aaakh..." keluh sam Gan sin Kay. "Tidak disangka, Kay Pang akan menjadi begini"

"Begitu pula tujuh partai besar lainnya," sambung Kim siauw suseng dan menambahkan. "Bahkan tujuh partai besar pun telah menutup pintu perguruan masing-masing."

"Kalau Bu Tek Pay tidak dibasmi, Kay Pang dan tujuh partai besar sama sekali tidak bisa bangkit," ujar Lim Peng Hang sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Jadi...," sela Gouw Han Tiong. "Kita terpaksa harus menyerang markas Bu Tek Pay."

"Kita tidak boleh bertindak gegabah," sahut Tio Tay seng. "sebab kekuatan kita masih terbatas."

"Kalau begitu...," sam Gan sin Kay menghela nafas panjang. "Apakah kita harus terus diam saja?"

"Tentu tidak,"ujar Tio Tay seng dan melanjutkan. "Kita justru harus memikirkan suatu cara untuk menghadapi mereka."

"Paman" Tio Cie Hiong mulai membuka mulut. "Menurutku, lebih baik aku pergi menyelidiki keadaan di luar markas Bu Tek Pay. seielah itu, barulah kita rundingkan lagi."

"Kakak Hiong...." Lim Ceng Im tersentak.

"Saudara Tio" ujar Lie Man Chiu sungguh-sungguh. "Bagaimana kalau aku yang pergi?"

"Jangan" Tio cie Hiong menggelengkan kepala. "Lebih baik aku saja."

"Kakak Hiong...." Wajah Lim Ceng Im berubah murung. "Engkau mau pergi lagi?"

"Ya." Tio Cie Hiong tersenyum lembut. "Tapi tidak lama, kira-kira cuma beberapa hari."

"Bolehkah aku ikut?"

"Adik Im" Tio cie Hiong menggelengkan kepala. "Kalau engkau ikut, aku malah akan jadi repot. Kauw heng yang ikut bersamaku."

Monyel bulu putih bercuit sambil manggut-manggut, kemudian menunjuk Lim Ceng Im dan menggeleng-gelengkan kepala.

"Kauw heng bilang engkau tidak boleh ikut." Tio Cie Hiong memberitahukan sambil tersenyum. "Adik Im, engkau harus menurut."

"Kakak Hiong. aku...." Mata Lim Ceng Im mulai bersimbah air.

"Nak" Lim Peng Hang memegang bahunya. "Cie Hiong pergi cuma beberapa hari saja. Lebih baik engkau menemani it sim sin Ni atau melatih Giok Li sin Kang."

"Aaakh..." Lim Ceng im menarik nafas panjang. "Heran Kenapa harus berpisah, berkumpul dan berpisah lagi? Aku sungguh tidak mengerti."

"Setelah urusan dengan Bu Tek Pay beres, kalian berdua pasti tidak akan berpisah setapak pun,"

ujar sam Gan sin Kay sambil tertawa. "Ceng im, engkau tenanglah."

"Kakek...." Lim Ceng im menggeleng-gelengkan kemala. "Tempo hari Kakek juga berkata

demikian, buktinya aku tetap akan berpisah dengan Kakak Hiong."

"Itu karena urusan dengan Bu Tek Pay belum beres. Pokoknya engkau tenang saja Percayalah, tidak lama lagi pasti beres" ujar sam Gan sin Kay menghiburnya. "Lagipula Cie Hiong pergi cuma beberapa hari saja."

0 Response to "Kesatria Baju Putih (Pek In Sin Hiap) Bagian 47"

Post a Comment