coba

Kesatria Baju Putih (Pek In Sin Hiap) Bagian 45

Mode Malam
Bagian 45
"Ide yang bagus" Kwan Gwa siang Koay tertawa. "Apabila benar Kay Pang punya hu-bungan dengan mereka, kami pasti pergi membantai mereka"

"Lalu bagaimana dengan lelaki yang membawa monyet itu?" tanya Tiau Am Kui mendadak.

"Kalau perlu, kami bertiga akan turun tangan membunuhnya," sahut Tang Hai Lo Mo. "Aku ingin tahu, berapa tinggi kepandaiannya."

"Hi hi hi" Mendadak terdengar suara tawa cekikikan yang sangat nyaring sekali, dan tak lama berkelebat sosok bayangan ramping di tengah-tengah ruang itu.

"Haaah...?" Kwan Gwa siang Koay dan Lak Kui terkejut bukan main. Air muka mereka pun berubah. "Kou Hun Bijin"

"Apa?"Bu Lim sam Mo juga terkejut. " Wanita itu adalah Kou Hun Bijin?"

"Ya." Kwan Gwa siang Koay mengangguk.

Wanita yang berkelebat ke dalam itu ternyata Kou Hun Bijin (Wanita Cantik Pembetot sukma). Wanita itu memang cantik sekali, kelihatannya berusia empat puluhan. Akan tetapi, sesungguhnya Kou Hun Bijin sudah berusia seratus lebih. Kwan Gwa siang Koay dan Lak Kui kenal wanita itu, karena guru-guru mereka pernah tergila-gila padanya.

"Hei siang Koay dan Lak Kui Pantas kalian tidak berada di Kwan Gwa, tidak tahunya kalian hidup senang di sini"

"Selamat datang, Bijin" ucap Kwan Gwa siang Koay dan Lak Kui serentak.

"Hi hi hi" Kou Hun Bijin tertawa cekikikan sambil menatap Bu Lim sam Mo. "Kenapa kalian tidak mempersilahkan aku duduk? Tidak senang aku ke mari?"

Bu Lim sam Mo diam karena terpukau oleh kecantikan Kou Hun Bijin. Ketika wanita itu tertawa cekikikan, pikiran mereka menjadi kacau balau.

"Hi hi hi" Kou Hun Bijin tertawa cekikikan lagi. "Kenapa kalian bertiga diam saja?" "Bijin, silakan duduk" ujar Bu Lim sam Mo serentak sambil menarik nafas dalam-dalam. "Terima kasih" ucap Kou Hun Bijin lalu duduk.

sementara Liu siauw Kun terus memandangnya dengan mata tak berkedip. Kou Hun Bijin mengetahuinya, maka ia pun sengaja mengerling ke arahnya. "Anak muda Kenapa engkau terus memandangku seperti macan melihat anak domba? Hi hi hi Engkau tertarik padaku ya?"

"Bijin..." Liu Siauw Kun memang sangat tertarik kepadanya. "Aku..."

"Pemuda ganteng, engkau murid siapa sih?" tanya Kou Hun Bijin dengan suara mengalun merdu.

"Guruku adalah Ang Bin sat sin dan Bu Lim Sam Mo." Liu Siauw Kun memberitahukan. "oooh" Kou Hun Bijin tersenyum. "Ternyata engkau murid kesayangan mereka" "Bijin" ucap Tang Hai LoMo. "Maafkanlah murid kami yang tak tahu apa-apa itu"

"Hi hi hi" Kou Hun Bijin tertawa merdu. "Siapa bilang dia tidak tahu apa-apa? Menurutku, dia sudah berpengalaman lho"

"Bijin, maafkanlah dia" Tang Hai LoMo menghela nafas panjang. "Siauw Kun, cepatlah engkau minta maaf kepada Bijin"

"Ya, Guru," sahut Liu Siauw Kun, kemudian tersenyum-senyum agar Kou Hun Bijin tertarik kepadanya. "Bijin, aku minta maaf"

"Kuterima maafmu, sayang," sahut Kou Hun Bijin sambil mengedipkan matanya. Kedipan mata itu nyaris membuat Liu Siauw Kun pingsan seketika, karena begitu memukau.

"Bijin, angin apa yang membawamu ke mari?" tanya Siluman Kurus.

"Tentunya angin sorga." Kou Hun Bijin tersenyum. "Aku dengar kalian sudah hidup senang di sini, maka aku buru-buru ke mari lantaran ingin hidup senang pula."

"Bijin" ujar Liu Siauw Kun mendadak. "Di sini memang merupakan sorga..."

"Siauw Kun" bentak Tang Hai Lo Mo. Jangan kurang ajar"

"Eeeh Tang Hai Lo Mo, jangan begitu galak terhadapnya" ujar Kou Hun Bijin sambil mengerling ke arah Liu siauw Kun. "Dia tidak kurang ajar, bahkan sangat menyenangkanku."

"Terima kasih, Bijin" ucap Liu siauw Kun dengan hati berbunga-bunga. Pemuda hidung belang itu mengira Kou Hun Bijin sungguh-sungguh tertarik kepadanya.

"Bijin" ujar Kwan Gwa siang Koay. " Kedatanganmu merupakan kehormatan bagi kami, jadi kami pun harus memberitahukan..."

"Aku sudah tahu," potong Kou Hun Bijin. "Kalian berdua dan Lak Kui adalah Tetua Bu Tek Pay, kan?"

"Betul, Bijin." Kwan Gwa siang Koay dan Lak Kui mengangguk. "Bu Lim sam Mo adalah ketua."

"oh, sungguh menarik, sungguh menarik" Kou Hun Bijin tertawa. "Pantas kalian betah di sini"

"Bijin Maukah engkau bergabung dengan kami?" tanya siluman Kurus mendadak sambil tersenyum.

"Boleh juga," sahut Kou Hun Bijin dan bertanya. "Tapi apa kedudukanku di sini?"

"Pokoknya yang tertinggi," sahut Bu Lim sam Mo girang, sebab apabila Kou Hun Bijin mau bergabung, tentunya Bu Tek Pay bertambah kuat.

"Jadi para anggota Bu Tek Pay dan termasuk kalian harus tunduk kepadaku?" tanya Kou Hun Bijin sambil tertawa cekikikan.

"Tentu Tentu" Bu Lim sam Mo mengangguk.

"Kalau begitu..." Kou Hun Bijin berpikir sejenak. kemudian mengangguk. "Baiklah"

"Terimakasih, Bijin" ucap Tang Hai Lo Mo. "Lalu selanjutnya kami harus memanggil apa kepada Bijin?"

"Tetap panggil aku Bijin saja," sahut Kou Hun Bijin sambil tersenyum manis lalu bertanya. "Tang Hai LoMo, bagaimana keadaan paman gurumu?" "Bijin kenal paman guruku?" Tang Hai Lo Mo tersentak.

"Betul." Kou Hun Bijin manggut-manggut. "Dia tidak pernah menceritakan kepadamu tentang diriku?"

"Pernah berpesan..."

"Dia pesan apa?"

"Paman guruku berpesan, apabila bertemu Bijin harus menghormatinya."

"Hi hiHi" Kou Hun Bijin tertawa cekikikan. "Thian Gwa sin Mo paman gurumu itu memang romantis, pernah memijiti aku sampai tiga hari tiga malam."

"oh?" Tang Hai Lo Mo menundukkan kepala.

"Hi hi Jangan merasa malu" Kou Hun Bijin tertawa lagi. "Guru siang Koay dan guru Lak Kui pun pernah mengipas aku tiga hari tiga malam. Aku cuma bilang udara sangat panas, mereka berdua langsung mengipas iku."

"Benar, Bijin." Kwan Gwa siang Koay mengangguk. "Guru kami pernah memberitahukan, bahkan juga berpesan kepada kami," sambung Kwan Gwa Lak Kui.

"Bagus Bagus" Kou Hun Bijin tertawa gembira. "Ternyata mereka masih begitu baik kepadaku ohya, Tang Hai Lo Mo Bagaimana kabarnya paman gurumu?"

"Sudah meninggal."

Kou Hun Bijin menggeleng-gelengkan kepala. "sungguh kasihan Guru siang Koay dan Lak Kui juga sudah meninggal, kini aku sungguh merana"

"Aku bersedia menemani Bijin," ujar Liu siauw Kun mendadak.

"Anak muda Engkau boleh menjadi cucuku lho" Kou Hun Bijin memberitahukan sambil tertawa, kemudian menambahkan. "Lumayan juga kalau engkau bersedia menemaniku"

"Terimakasih, Bijin" Liu siauw Kun girang bukang main.

Bu Lim sam Mo, Ang Bin sat sin dan Kwan Gwa siang Koay Lak Kui hanya menggeleng-gelengkan kemala.

"Eeeeh?" Mendadak Kou Hun Bijin mengerutkan kening. "Bagaimana nih?"

"Ada apa, Bijin?" tanya Tang Hai Lo Mo heran.

"Sudah sekian lama aku duduk di sini, tapi kenapa tidak disajikan makanan dan disugguhkan minuman?" Kou Hun Bijin melotot.

"Maaf, maaf" ucap Tang Hai Lo Mo. "Kami belum tahu, Bijin suka makanan dan minuman apa?"

"Pokoknya makanan yang lezat dan arak istimewa," sahut Kou Hun Bijin. "ohya Di sini tidak ada pemain musik dan penari?"

"Ada, ada," sahut Bu Lim sam Mo cepat. Kemudian Tang Hai Lo Mo berseru. "Sajikan makanan yang lezat dan suguhkan arak istimewa setelah itu, suruh para pemain musik dan para penari ke mari"

"Ya." sahut beberapa anggota Bu Tek Pay lalu menyajikan makanan lezat dan arak istimewa.

"Mari kita makan" ujar Tang Hai Lo Mo.

"Hi hi hi" Kou Hun Bijin tertawa nyaring dan mulai makan.

Seusai makan, mereka bersulang sambil tertawa gembira. setelah itu terdengarlah alunan musik, kemudian para penari mulai menari lemah gemulai.

Kou Hun Bijin bertambah cantik sesudah minum. Wajahnya tampak bersemu merah. Arak yang diminumnya sangat keras. Kou Hun Bijin menghabiskan beberapa cangkir, sehingga membuatnya setengah mabuk.

"Hi hi H i" suara tawanya sungguh menggetarkan kalbu dan membetot sukma, membuat Liu siauw Kun terus memandangnya dengan mesra. "Aku... aku juga ingin menari."

Kou Hun Bijin melangkah gemulai ke tengah-tengah ruangan, membaurkan diri dengan para penari, lalu mulai menari sambil tersenyum-senyum. Bukan main indah dan gemulai tariannya. Bu Lim sam Mo, Kwan Gwa siang Koay, Lak Kui, Ang Bin sat sin dan Liu siauw Kun menonton dengan mulut ternganga lebar.

"Pantas..." gumam Tang Hai Lo Mo. "Paman guruku begitu tergila-gila kepadanya"

"Begitu pula guru kami," sambung Kwan Gwa siang Koay dan Lak Kui. "Murid kita itu..." Thian Mo menggeleng-gelengkan kepala. "Kelihatannya dia sudah mabuk kepayang."

"Biarkan saja." Te Mo tertawa. "Kalau siauw Kun bisa menyenangkan Kou Hun Bijin, berarti menguntungkan kita."

"Benar." Tang Hai Lo Mo manggut-manggut. Tapi...," Mendadak Thian Mo mengeluh. "Aku mulai tidak tahan."

"Sama," sahut Kwan Gwa siang Koay dan Lak Kui. "Rasanya ingin mendekatinya."

"ohya, siang Koay" bisik Tang Hai Lo Mo. "Kalian berdua sangat kuat, kenapa..."

"Tang Hai LoMo, hati-hati bicara Kou Hun Bijin tidak pernah berbuat yang bukan-bukan. Melainkan guru kami dan paman gurumu yang tergila-gila kepadanya. Dia dipuja bagaikan bidadari dari kahyangan. Kami... kami tidak berani berlaku kurang ajar terhadapnya, lagi pula kepandaiannya tinggi sekali."

"oooh" Tang Hai Lo Mo manggut-manggut dan menambahkan. "Kalau dia terus menari. kita bakal celaka..."

"Yang celaka duluan muridmu," sela siluman Kurus. "Lihatlah Murid mu sudah melangkah mendekatinya "

"Mungkin dia ingin ikut menari." sahut Tang Hai Lo Mo sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Memang benar apa yang dikatakan Tang Hai Lo Mo, Liu siauw Kun ingin menari bersama Kou Hun Bijin.

"Bijin, bolehkah aku menari bersamamu?" tanya Liu siauw Kun lembut sambit tersenyum menawan.

"Tentu boleh." Kou Hun Bijin tersenyum manis. "Ayolah, kita menari bersama"

"Terima kasih" ucap Liu siauw Kun lalu mulai menari bersama Kou Hun Bijin. Penari-penari lain segera mundur jadi penonton, sedangkan musik terus mengarun.

"Wuah, bukan main" ujar Tang Hai Lo Mo sambil menghela nafas. "Mereka berdua kelihatan seperti sepasang kekasih."

"Aku tidak menyangka..." Kwan Gwa Siang Koay menggeleng-gelengkan kepala. "Siauw Kun begitu pandai menari."

"ohya" bisik Thian Mo. "Bagaimana kalau kita minta bantuan Kou Hun Bijin untuk melenyapkan lelaki yang membawa monyet itu?"

"Ngmm" Tang Hai Lo Mo manggut-manggut.

"Bagus," katanya. "Kami yakin Kou Hun Bijin dapat membunuh lelaki itu," ujar Kwan Gwa siang Koay.

"Tapi ingat, kita harus bicara baik-baik dengan dia, jangan bernada memaksanya, sebab kalau memaksanya, kita pula yang akan celaka" Tiau Am Kui mengingatkan.

Bu Lim sam Mo dan Kwan Gwa siang Koay manggut-manggut. sementara Liu siauw Kun terus menari bersama Kou Hun Bijin dengan wajah ceria, tampaknya gembira sekali. "Anak muda, engkau pandai sekali menari," puji Kou Hun Bijin.

"Bijin, aku bersedia terus menemanimu menari "sahut Liu siauw Kun sambil merangkulnya . "oh, ya?" Kou Hun Bijin tersenyum mesra. "Sungguh senang hatiku"

"Aku pasti menyenangkanmu dalam hal apa pun," bisik Liu siauw Kun. "Pokoknya memuaskan."

"oh?" Ucapan tersebut membuat Kou Hun Bijin gusar, tapi tetap tersenyum dan menari. "Terima kasih"

Berselang beberapa saat, barulah mereka berhenti menari. Musik pun berhenti mengalun, kemudian kembali ke tempat duduk masing-masing.

"Bu Lim sam Mo" ujar Kou Hun Bijin sambil tertawa. "Murid kalian sungguh menyenangkan"

"Oh, ya?" Bu Lim sam Mo tertawa gembira. "Bijin, mari kita bersulang lagi"

"Mari" sahut Kou Hun Bijin sambil mengangkat minumannya.

Mereka semua bersulang sambil tertawa-tawa, kemudian Tang Hai Lo Mo memandangnya seraya menghela nafas panjang.

"Eh? Tang Hai Lo Mo" Kou Hun Bijin tercengang. "Kenapa mendadak engkau menghela nafas?"

"Bijin" Tang Hai Lo Mo menggeleng-gelengkan kepala. "Sebetulnya kami sedang menghadapi seorang musuh tangguh."

"Kalian sedang menghadapi seorang musuh tangguh?" Kou Hun Bijin terbelalak. "Siapa orang itu?"

"Kami tidak kenal dia, namun dibahunya terdapat seekor monyet berbulu putih." Tang Hai Lo Mo memberitahukan.

"Eh? Kalian bergurau ya?" Kou Hun Bijin tampak tidak senang. "Kalian bilang tidak kenal orang itu, tapi kenapa bisa bermusuhan?"

"Dia selalu menentang Bu Tek Pay, bahkan..." Tang Hai Lo Mo memandang Kwan Gwa Lak Kui.

"Bijin, kami berenam pernah menyerang orang itu." TiauAm Kui memberitahukan. "Ketika kami berada di markas cabang."

"oh? Bagaimana hasilnya setelah kalian menyerangnya?" tanya Kou Hun Bijin sambil menatap Tiau Am Kui.

"Dia cuma mengibaskan lengan bajunya, tapi membuat kami berenam termundur-mundur beberapa langkah." Tiau Am Kui memberitahukan dengan kepala tertunduk.

"Apa?" mata Kou Hun Bijin terbeliak. "Dia begitu lihay?"

"Ya." Tiau Am Kui mengangguk.

"Kenapa kalian menyerangnya?" tanya Kou Hun Bijin sambil mengerutkan kening. " Kalian bermusuhan dengan orang itu?"

"Pada waktu itu..." Tiau Am Kui menjelaskan." "Kami sedang bertarung dengan musuh-musuh Bu Tek Pay, mendadak muncul orang itu setelah membuat kami termundur-mundur, dia pun segera membawa pergi musuh-musuh Bu Tek Pay itu."

"oooh" Kou Hun Bijin manggut-manggut. "Bagus Bagus sudah lama aku tidak bertemu orang berkepandaian tinggi, aku ingin bertanding dengan dia. ohya, dia berada di mana?"

"Kami tidak tahu," sahut Kwan Gwa Lak Kui.

"Kalau begitu, aku akan mencarinya," ujar Kou Hun Bijin sambil tertawa. "Aku akan membuatnya berlutut di hadapanku."

"Bijin" ujar Tiau Am Kui. "orang itu berusia empat puluhan, di bahunya terdapat seekor monyet bulu putih."

"Aku sudah ingat itu."

"Kapan Bijin akan pergi mencari orang itu?" tanya Tang Hai Lo Mo.

"Besok pagi," sahut Kou Hun Bijin. "ohya, di sini terdapat taman bunga? Aku paling suka duduk di taman bunga."

"Ada," sahut Te Mo. "Di halaman belakang terdapat sebuah taman bunga yang sangat indah."

"Bagus" Kou Hun Bijin tertawa gembira. "Sekarang aku ingin duduk beristirahat di sana."

Kou Hun Bijin bangkit berdiri. Liu Siauw Kun pun segera berdiri pula seraya berkata. "Biar aku yang mengantar Bijin ke sana."

"Baik." Kou Hun Bijin mengangguk.

"Mari ikut aku ke dalam" ajak Liu Siauw Kun sambil tersenyum.

Kou Hun BUin manggut-manggut lalu mengikuti Liu Siauw Kun ke dalam menuju halaman belakang.

"Ha ha ha" Tang Hai Lo Mo tertawa gelak. "Kita berhasil memperalat Kou Hun Bijin untuk menghadapi orang itu, aku yakin Kou Hun Bijin dapat membunuhnya."

"Benar." Thian Mo tertawa gembira.

"Bu Lim Sam Mo" tegur Kwan Gwa Siang Koay. "Tidak baik mengatakan begitu, sebab Kou Hun Bijin teman baik guru kami."

"Maaf" ucap Tang Hai Lo Mo sambil tertawa. "Aku telah salah omong, karena saking gembiranya."

"ohya" ujar Tiau Am Kui. " Kalian harus memperingatkan Liu siauw Kun, agar dia tidak berlaku kurang ajar terhadap Kou Hun Bijin. sebab Kou Hun Bijin tingkatan tua."

"Tiau Am Kui " Tang Hai Lo Mo tersenyum. "Itu urusan mereka, kita tidak bisa campur."

"Benar," sela Ang Bin sat sin. " Kalian pun telah menyaksikannya, betapa gembiranya Kou Hun Bijin menari bersama Liu siauw Kun."

"Memang." Tiau Am Kui mengangguk. "Tapi usia Kou Hun Bijin sudah di atas seratus lho"

"Kalau mereka saling menyukai, biarkan saja" sahut Ang Bin sat sin sambil tertawa. "Aku yakin Kou Hun Bijin sangat tertarik pada siauw Kun."

Kwan Gwa siang Koay dan Lak Kui saling memandang, kemudian mereka menggeleng-gelengkan kepala.

Benarkah Kou Hun Bijin sangat tertarik kepada Lui siauw Kun? sesungguhnya tidak, sebaliknya malah merasa sebal. sebab Kou Hun Bijin paling membenci kaum lelaki hidung belang, karena itu, ia ingin menggodanya. Kou Hun Bijin bukan wanita jahat, namun ia memiliki daya tarik luar biasa, sehingga kaum lelaki yang melihatnya, pasti tergila-gila kepadanya. Begitu pula Liu siauw Kun.

Ketika melihat Kou Hun Bijin, dia sudah tertarik, dan setelah menari bersama, mulai tergila-gila kepadanya. Perlu diketahui, Liu siauw Kun memang pemuda pengganggu kaum wanita.

Sementara Kou Hun Bijin sudah duduk sambil menikmati keindahan bunga-bunga yang beraneka warna, sedangkan Liu siauw Kun yang berdiri di sisinya terus memandangnya dengan mata berbinar-binar.

"Bijin, bolehkah aku duduk di sisimu?" tanya Liu siauw Kun lembut sambil tersenyum manis. "Tentu boleh," sahut Kou Hun Bijin sambil tertawa merdu. "Duduklah" "Terimakasih" Liu siauw Kun segera duduk dengan wajah berseri-seri.

"ohya, kenapa engkau mau menemaniku duduk di sini?" tanya Kou Hun Bijin mendadak.

"Terus terang..." Liu siauw Kun menjulurkan tangannya memegang lengan Kou Hun Bijin. "Sejak melihatmu, aku..."

"Jatuh hati padaku?"

"Betul."

"Tapi engkau harus tahu," ujar Kou Hun Bijin memberitahukan. "Usiaku sudah seratus lebih lho"

"Aku tahu." Liu siauw Kun tersenyum. "Namun wajahmu sungguh cantik, aku..."

"Wuah" Kou Hun Bijin tertawa. "Engkau memang romantis sekali."

"Selain romantis, aku pun dapat menyenangkan kaum wanita."

"Oh?Jadi engkau sering menyenangkan kaum wanita?"

"Ya." Liu siauw Kun mengangguk dengan bangga. "Dan sekaligus memuaskan mereka pula."

"Bagus, bagus" Kou Hun Bijin manggut-manggut. "Pantas engkau begitu berani terhadapku"

"Berani lantaran ingin memuaskan," sahut Liu siauw Kun sambil tersenyum, kemudian tangannya mulai meraba-raba paha Kou Hun Bijin.

"Kok tanganmu sudah mulai usil?" sesungguhnya Kou Hun Bijin sudah gusar sekali, hanya saja tidak diperlihatkan pada wajahnya. 'Hm Dasar pemuda bajingan' cacinya dalam hati.

"Aku yakin, engkau pasti senang."

"Benar. Aku memang senang sekali." Apabila di saat ini Kou Hun Bijin mengayunkan tangannya, Liu siauw Kun pasti mati. Namun Kou Hun Bijin tidak melakukannya, sebab ia tidak mau sembarangan membunuh orang.

"Bijin..." Nafas Liu siauw Kun sudah mulai memburu, karena nafsu birahi telah terbangkit. "Kenapa?"

"Aku..." Liu siauw Kun mulai meraba-raba bagian dadanya, jari tangannya yang usil itu menyentuh- nyentuh payudara Kou Hun Bijin.

"Anak muda" Wajah Kou Hun Bijin merah padam. " Engkau jangan keterlaluan ingat, usiaku sudah di atas seratus..."

"Itu tidak jadi masalah," sahut Liu siauw Kun dan mulai meremas-remas payudaranya. "siauw Kun" panggil Kou Hun Bijin lembut. "Engkau sudah tidak bisa tahan ya?" "Ya, Bijin."

"Engkau jangan terburu nafsu, karena waktu kita masih banyak Kalau tahu kelakuanmu begini, guru-gurumu pasti marah besar."

"Jangan khawatir Bijin" Liu siauw Kun semakin berani, tangannya mulai menyelonong ke selangkangan Kou Hun Bijin. "Guru-guruku tidak akan marah."

"Siauw Kun" Kou Hun Bijin tersenyum. "Engkau harus sabar, kalau tidak, aku tidak akan melayanimu."

"Bijin, aku... aku sudah tidak tahan."

"Aku tahu, namun biar bagaimana pun engkau harus sabar." Kou Hun Bijin membelai rambulnya. "Setelah aku mengalahkan lelaki yang membawa monyet itu, barulah kita bersenang-senang. "

"Bijin, aku mau sekarang. "Jari tangan Liu siauw Kun mulai main di selangkangan Kou Hun Bijin.

Itu membuat kening Kou Hun Bijin berkerut-kerut, bahkan matanya membara, namun ia tetap berkata dengan lembut.

"siauw Kun, kalau engkau terus begini, aku tidak akan memperdulikanmu."

"Bijin..."

"Bersabarlah sayang" Kou Hun Bijin mengecup pipinya. "Tunggu waktu yang tepat, barulah kita bersenang-senang Pokoknya aku pasti melayanimu sepuas-puasnya, asal engkau jangan mati lemas saja."

"Ha ha" Liu siauw Kun tertawa. "Aku sudah berpengalaman, pokoknya engkau pasti merasa puas."

"Baiklah." Kou Hun Bijin bangkit berdiri "Kalau sudah waktunya kita bersenang-senang, aku pasti menemuimu."

"Jangan bohong ya" Liu siauw Kun berdiri, kemudian menciumnya dengan mesra. "Aku sangat membutuhkanmu..."

Tan Li cu terus berjalan tanpa arah tujuan dengan hati duka. Kenapa ia tidak mau bersama Tio Tay seng dan lainnya? Ternyata ketika menyaksikan kegembiraan mereka, hatinya seperti tertusuk-tusuk duri. Bukan karena iri, melainkan karena teringat akan nasibnya. la tahu, apabila dirinya terus bersama mereka, tentunya akan merusak suasana. oleh karena itu, ia mengambil keputusan untuk pergi tanpa pamit dengan mereka, la terus berjalan, akhirnya duduk beristirahat di bawah sebuah pohon untuk melepaskan lelah.

la termenung dengan mata memandang lurus ke depan. Wajah suaminya terbayang di depan matanya, kemudian ayah dan anaknya. Ketika terbayang akan kematian anaknya yang begitu mengenaskan, ia mulai menangis sedih. Mendadak melayang turun sosok bayangan di hadapannya, namun Tan Li cu seakan tidak melihatnya. siapa orang yang baru melayang turun itu? Ternyata Kou Hun Bijin, yang telah meninggalkan markas Bu Tek Pny, tujuannya mencari lelaki yang membawa monyet bulu putih.

"Eh? Kenapa engkau menangis sedih seorang diri di sini? Siapa yang menghinamu?" tanya Kou Hun Bijin lembut, lalu duduk di sisinya. Tan Li cu diam saja, tapi air matanya terus berderai.

"Engkau masih muda dan cantik, kenapa harus begini?" Kou Hun Bijin menggeleng-gelengkan kepala. "Ditinggal kekasih ya?"

Tan Li cu menoleh perlahan-lahan. setelah melihat jelas wanita yang duduk di sisinya, ia tertegun karena tidak menyangka wanita itu begitu cantik,

"siapa Kakak?" tanyanya.

"Hi hi hi?" Kou Hun Bijin tertawa. "Tadi kukira engkau gagu, ternyata tidak. ohya, aku Kou Hun Bijin. Engkau panggil aku Bijin saja"

"Kou Hun Bijin?" Tan Li cu terperangah.

"Ya." Kou Hun Bijin mengangguk. "Nah, bolehkah aku tahu siapa engkau?"

"Namaku Tan Li cu, julukanku Tui Beng Li."

"Wanita Pengejar Nyawa?" Kou Hun Bijin tertegun. " Engkau masih muda, kenapa mau jadi Wanita Pengejar Nyawa? Nyawa siapa yang engkau kejar?"

"Aaaakh..." Tan Li cu menghela nafas panjang. "Aku harus balas dendam, aku harus membunuhnya."

"Engkau harus membunuh siapa?"

"orang itu..." Tan Li cu mulai menangis sedih lagi. "Dia membunuh suamiku, kemudian membunuh ayahku dan... anakku yang belum berusia setahun. Dia... dia menghempas anakku sampai mati."

"Haaah...?" Mulut Kou Hun Bijin ternganga lebar. "Begitu kejam orang itu?"

"Selain kejam, dia juga sering memperkosa anak gadis dan isteri orang." Tan Li cu memberitahukan.

"Apa?" Mata Kou Hun Bijin langsung berapi-api. "Aku paling benci kaum lelaki yang begitu macam. Beritahukan pada ku, siapa orang itu?"

"Aaakh..." Tan Li Cu menghela nafas panjang. "Percuma kuberitahukan, sebab sulit mencari dia."

"Beritahukan saja" desak Kou Hun Bijin.

"Dia berada di markas Bu Tek Pay."

"Apa? orang itu berada di markas Bu Tek Pay?"

"Ya."

"Namanya?"

"Liu siauw Kun."

"Ternyata pemuda bajingan itu Hi Hi Dia memang harus mampus" Kou Hun Bijin tertawa nyaring.

"Bijin..." Tan Li cu menatapnya. "Engkau kenal dia?"

"Hi hi hi" Kou Hun Bijin tertawa nyaring lagi. "Bukan cuma kenal, bahkan dia juga berani berlaku kurang ajar terhadapku. Terus terang, aku memang dari markas Bu Tek Pay"

"Hah?" Tan Li cu terkejut bukan main. "Jadi... engkau punya hubungan dengan pihak Bu Tek Pay?"

"Jangan takut" Kou Hun Bijin tersenyum lembut. "Aku tidak punya hubungan dengan partai Bu Tek Pay, hanya merupakan tamu terhormat di sana."

"Oooh" Tan Li cu menarik nafas lega.

"Kalau begitu.." tanya Kou Hun Bijin. " sudah lama engkau kenal Liu siauw Kun?"

"Sudah lama aku kenal dia...," jawab Tan Li cu menutur.

"Oooh" Kou Hun Bijin manggut-manggut. "Ternyata begitu Engkau memang harus membunuhnya "

"Tapi dia tidak pernah meninggalkan markas itu." Tan Li cu menggeleng-gelengkan kepala.

"Jangan khawatir Aku bisa memancingnya keluar." ujar Kou Hun Bijin. "Tapi harus menunggu urusanku selesai dulu"

"Engkau punya urusan apa?"

"Aku sedang mencari seseorang untuk bertanding."

"oooh" Tan Li cu manggut-manggut, namun tidak bertanya siapa yang di cari Kou Hun Bijin.

"ohya" Mendadak Kou Hun Bijin menatapnya dalam-dalam. "Liu siauw Kun adalah murid Ang Bin sat sin dan Bu Lim sam Mo, kepandaiannya pasti tinggi. engkau mampu mengalahkannya? "

"Kukira mampu."

"Kalau begitu.." Kou Hun Bijin berpikir sejenak lalu melanjutkan. "Aku pun bisa memancingnya keluar, tapi..."

"Kenapa?"

"Engkau harus menunggu di mana?"

"ohya" Tan Li cu teringat sesuatu. "Tak jauh dari sini terdapat sebuah gubuk kosong, aku menunggu di gubuk kosong itu saja."

"Baiklah. Tapi engkau jangan ke mana-mana Aku pasti membawanya ke gubuk kosong itu."

"Ya." Tan Li cu mengangguk. kemudian menatap ,Kou Hun Bijin dengan heran. "Kenapa...

engkau bersedia membantuku?"

"Karena kita sama-sama wanita," sahut Kou Hun Bijin sambil tertawa nyaring. "Tentunya wanita harus membantu wanita."

"Terimakasih, Bijin" ucap Tan Li cu setulus hati.

"ohya" Kou Hun Bijin tersenyum. " Engkau pasti mengira aku berusia empat puluhan, bukan?"

"Ya. Kenapa?"

"Kalau kuberitahukan usiaku, engkau pasti tidak percaya."

"Sesungguhnya berapa usiamu?"

"Di atas seratus."

"Apa?" Tan Li cu terbelalak. " Engkau tidak membohong iku?"

"Nyatanya memang begitu. Kalau tidak, bagaimana mungkin Bu Lim sam Mo, Kwan Gwa siang Koay dan Lak Kui begitu menghormatiku? Itu dikarenakan aku kenal guru mereka."

"oh? Tapi..." Tan Li cu terus menatapnya dengan mata tak berkedip.

"Aku tidak bohong." Kou Hun Bijin tersenyum. " Ketika aku sampai di markas Bu Tek Pay, Liu

siauw Kun sudah mulai mengincarku. Bahkan kemudian dia berani begitu kurang ajar, meraba-raba diriku. Padahal sudah kukatakan usiaku sudah seratus lebih, namun dia masih tetap kurang ajar. Hm Dia memang cari mati"

"Itu tidak heran, Liu siauw Kun memang pemuda pengganggu kaum wanita. Lagi pula... lo cianpwee sangat cantik sekali."

"Hi hi hi" Kou Hun Bijin tertawa geli. "Aduh Jangan panggil aku lo cianpwee, cukup panggil aku Bijin saja"

"Baiklah." Tan Li cu mengangguk.

"Kalau begitu, aku mau pergi dulu." Kou Hun Bijin bangkit berdiri dan berpesan. "Tunggulah di gubuk kosong itu jangan ke mana-mana"

"Ya." Tan Li cu mengangguk pasti.

"Sampai jumpa nanti" ucap Kou Hun Bijin lalu melesat pergi. Tan Li cu terbelalak menyaksikannya, karena ginkang Kou Hun Bijin tinggi sekali.

Bab 74 Pertandingan yang memberi kesan baik

Telah beberapa hari lamanya Tio Cie Hiong terus mencari Tan Li cu, namun sia-sia karena tiada jejaknya sama sekali.

Hari ini udara sangat panas, Tio Cie Hiong berjalan di bawah terik matahari. Kebetulan di pinggir jalan terdapat sebuah kedai teh. Tio cie Hiong segera ke kedai teh itu untuk melepaskan dahaga.

Pelayan kedai itu langsung menyuguhkan secangkir teh. Tapi Tio Cie Hiong berpesan secangkir lagi, untuk monyet bulu putih yang duduk di bahunya. "Kauw heng, tentunya engkau sudah, haus. Di sini tiada arak. kita minum teh saja." Monyet bulu putih manggut-manggut.

Pelayan itu menaruh secangkir teh lagi ke atas meja. Tio Cie Hiong mengangkat cangkir itu lalu diberikan kepada monyet bulu putih. "Kauw heng, mari kita minum"

Ketika mereka sedang meneguk. tiba-tiba muncul pula seorang wanita yang sangat cantik ke dalam kedai itu, bahkan langsung menuju meja Tio Cie Hiong dan duduk di hadapannya. Padahal masih ada tempat lain yang kosong. Itu pertanda wanita itu memang sengaja duduk di hadapan Tio cie Hiong. Monyet bulu putih menatap wanita tersebut, tapi diam saja.

Tio Cie Hiong mengambil cangkir yang di tangan monyet bulu putih, kemudian di taruh di atas meja.

Walau ada wanita cantik duduk di hadapannya, sikap Tio Cie Hiong tetap biasa-biasa saja.

Wanita cantik itu memandang tangan Tio Cie Hiong, lalu memandang wajahnya dan tersenyum.

setelah itu, barulah memandang monyet bulu putih.

"Monyet cakap. kau tidak mau minum teh lagi?" tanya wanita cantik itu. Monyet bulu putih diam saja.

"Aku tidak menyangka..." gumam wanita cantik itu. "Akan berhadapan dengan orang yang memakai kedok kulit."

Mendengar ucapan itu, Tio Cie Hiong hanya tersenyum. sedangkan monyet bulu putih bercuit beberapa kali.

"Hei Lelaki berkedok" ujar wanita cantik itu sambil tertawa kecil. "Pasti engkau yang membuat Kwan Gwa Lak Kui tor mundur-mundur dengan kibasan lengan bajumu"

"Betul." Tio Cie Hiong mengangguk, "Dari mana engkau tahu?"

"Hi h Hi" Wanita cantik itu tertawa nyaring lalu memperkenalkan dirinya. "Aku Kou Hun Bijin, guru-guru Kwan Gwa siang Koay dan Lak Kui adalah teman baikku."

"Kou Hun Bijin?" Tio Cie Hiong tertegun.

"Bclul." Ternyata wanita cantik itu Kou Hun Bijin.

"Engkau memang cantik sekali," ujar Tio Cie Hiong tersenyum dan menambahkan. "suara tawamu dapat membetot sukma kaum lelaki."

"Tidak salah." Kou Hun Bijin tertawa lagi. "Apakah sukmamu terbetot oleh suara tawaku?"

"Sama sekali tidak. sebaliknya malah membuatku merinding."

"oh, ya?"

"Memang ya." Tio Cie Hiong manggut-manggut. " engkau teman baik guru-guru Kwan Gwa siang Koay dan Lak Kui, itu membuktikan engkau sudah tua sekali. Namun engkau awet muda, dan tampak baru berusia empat puluhan."

"Betul." Kou Hun Bijin mengangguk. "Engkau pakai kedok kulit sehingga tampak berusia empat puluhan, padahal engkau masih muda."

"Sungguh tajam matamu"

"Terimakasih atas pujianmu"

"Aku yakin, engkau bukan kebetulan ke mari, melainkan sengaja menemuiku. Ya kan?"

"Ya. Aku dengar engkau berkepandaian tinggi, maka sungguh menarik hatiku."

"sesungguhnya, kepandaianku tidak begitu tinggi." Tio Cie Hiong menatapnya dan melanjutkan. "Aku pun yakin, engkau bukan wanita jahat. Tapi... kenapa mau membaurkan diri dengan Kwan Gwa siang Koay, Lak Kui dan Bu Lim sam Mo?"

"Hi h H i" Kou Hun Bijin tertawa cekikikan. "Kek engkau begitu yakin aku bukan wanita jahat?"

"sebab Kauw heng diam saja." Tio cie Hiong memberitahukan. " itu pertanda engkau bukan wanita jahat."

"oh, ya?" Kou Hun Bijin menatap monyet bulu putih. "Maksudmu monyet itu monyet sakti?"

"Kira-kira begitulah."

"Engkau panggil dia Kauw heng, lalu aku harus panggil dia apa?"

"Usianya sudah hampir tiga ratus, jadi engkau harus panggil dia apa?"

"Apa?" Kou Hun Bijin terbelalak. kemudian tertawa geli. "Aku tidak menyangka engkau juga pandai membual...."

Mendadak monyet bulu putih itu bercuit-cuit, tentunya membuat Kou Hun Bijin terheran-heran. "Eh? Kenapa dia?"

"Dia bilang aku tidak membual."

"oh?" Kou Hun Bijin terbelalak. "Monyet itu mengerti bahasa manusia?"

"selain mengerti bahasa manusia, dia juga berkepandaian tinggi sekali." Tio Cie Hiong memberitahukan dengan jujur. "Kou Hun Bijin, aku berkata sesungguhnya Jangan kau anggap aku bohong"

"Baik," Kou Hun Bijin mengangguk. "Aku percaya. ohya, engkau panggil aku Bijin saja" Tio Cie Hiong manggut-manggut.

"Sebetulnya ada urusan apa Bijin menemuiku di sini?" tanyanya kemudian.

"Aku tertarik akan kepandaianmu. oleh karena itu, aku ingin menjajal kepandaianmu itu."

"Bijin" Tio cie Hiong tersenyum. "Bagaimana kalau aku mengaku kalah padamu? Jadi kita tidak perlu bertanding."

"Lho? Kenapa begitu?"

"Untuk apa kita harus bertanding?"

"Terus terang," ujar Kou Hun Bijin sungguh-sungguh. "Sudah puluhan tahun aku tidak bertemu orang yang berkepandaian tinggi, maka ketika aku mendengar engkau berkepandaian begitu tinggi, tanganku langsung gatal."

"Bijin" Tio Cie Hiong menatapnya. "Secara pribadi atau membela Bu Lim sam Mo, Kwan Gwa siang Koay dan Lak Kui untuk bertanding denganku?"

"Tentunya secara pribadi, jangan dikaitkan dengan mereka" sahut Kou Hun Bijin. "Nah, bagaimana? Engkau bersedia bertanding denganku?"

"Yaah..." Tio Cie Hiong menghela nafas panjang. "Untuk apa engkau terus mendesakku untuk bertanding?"

"Hanya ingin tahu bagaimana kepandaianmu. Nah, engkau tidak akan menolak. bukan?"

"Padahal usiamu sudah di atas seratus, tapi kenapa masih bersifat seperti anak kecil?"

"Engkau masih muda, namun malah bersifat seperti orang tua. Hi hi hi" Kou Hun Bijin tertawa geli. "ohya, bolehkah engkau perlihatkan wajah aslimu?"

"Boleh. Tapi... engkau harus memenuhi sebuah syaratku," sahut Tio cie Hiong sungguh-sungguh "oh?" Kou Hun Bijin tersenyum. "Apa syaratmu?"

"Urungkan niatmu untuk bertanding denganku" Ternyata Tio cie Hiong mengajukan syarat tersebut.

"Aku ingin menyaksikan wajah aslimu, juga ingin bertanding denganmu pula." Tegas Kou Hun Bijin. " Kalau tidak. aku pasti penasaran sekali."

"Bijin..." Tio cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala. " Kenapa engkau terus mendesakku?"

"Kalau tidak bertanding denganmu, aku pasti merasa penasaran selama-lamanya."

"Jadi engkau tidak akan puas kalau belum bertanding denganku?"

"Ya." Kou Hun Bijin mengangguk dan menambahkan. "Bahkan aku juga akan penasaran apabila tidak menyaksikan wajahmu yang di balik kedok kulit itu."

"Kenapa engkau menyulitkan diriku, Bijin?" Tio Cie Hiong menghela nafas panjang. "Aku tahu, engkau pasti menjaga suatu rahasia, maka memakai kedok kulit itu, bukan?" "Agar tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan."

"Oooh" Kou Hun Bijin manggut-manggut. "Ayohlah, kita ke tempat yang sepi untuk bertanding"

Tio Cie Hiong berpikir lama sekali, akhirnya mengangguk pula. "Baiklah."

"Bagus" Kou Hun Bijin tertawa gembira. "Bagus..."

Mereka sudah sampai di tempat yang amat sepi, bahkan berdiri berhadapan pula. Kou Hun Bijin terus menatapnya, kemudian tersenyum sambil berkata. "Nah, lepaskanlah kedok kulit itu"

"Bijin..." Tio Cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala, lalu perlahan-lahan melepaskan kedok kulitnya.

"Haah...?" Mulut Kou Hun Bijin ternganga lebar dan matanya terbeliak. "Aku tidak menyangka, engkau begitu tampan."

"Bijin, bolehkah aku pakai kembali kedok kulit ini?"

"Jangan dulu" Kou Hun Bijin menggelengkan kepala. "Aku lebih senang bertanding denganmu tanpa memakai kedok kulit itu."

"Bijin..." Tio Cie Hiong menghela nafas panjang. "Usia mu sudah seratus lebih, tapi sifatmu...."

"Tapi wajahku masih tampak muda, maka sifatku juga seperti anak kecil."Kou Hun Bijin tertawa nyaring tak berhenti-henti.

Tio Cie Hiong mengerutkan kening, tahu kalau Kou Hun Bijin sedang mengerahkan semacam ilmu untuk mempengaruhinya. Karena itu, ia segera mengerahkan ilmu Penakluk iblis.

Kou Hun Bijin terus tertawa, kemudian ia mulai menari-nari di hadapan Tio Cie Hiong. Akan tetapi, Tio cie Hiong hanya tersenyum, tidak terpengaruh sama sekali.

Berselang beberapa saat, Kou Hun Bijin berhenti menari lalu menatap Tio Cie Hiong dengan mata terbeliak lebar.

"Eeeh? Kenapa engkau tidak terpengaruh oleh suara tawa dan tarianku?" tanyanya heran. "Sebab aku memiliki Ilmu Penakluk iblis." Tio Cie Hiong memberitahukan dengan jujur. "Apa?" Kou Hun Bijin tertegun. " Engkau masih sedemikian muda, tapi... memiliki ilmu itu?" "Ya." Tio cie Hiong mengangguk.

"Engkau memang hebat sekali" Kou Hun Bijin manggut-manggut. "Nah, sekarang mari kita bertanding"

"Kita bertanding dengan tangan kosong saja Bagaimana?"

"Baik."

"Kauw heng, turunlah" ujar Tio Cie Hiong kepada monyet bulu putih, dan monyet itu segera meloncat turun.

"Nah, hati-hati" ujar Kou Hun Bijin. "Aku akan mulai menyerangmu."

Tio Cie Hiong mengangguk sambil mengerahkan Pan Yok Hian Thian sin Kang untuk melindungi

diri

Mendadak Kou Hun Bijin menyerangnya. Tio Cie Hiong berkelit dengan ilmu Kiu Kiong san Tian Pou.

Kou Hun Bijin terkejut, karena Tio Cie Hiong telah menghilang dari hadapannya.

"Hebat" seru Kou Hun Bijin memujinya, lalu menyerang lagi ke belakang tanpa melihat. "Aku tahu engkau menggunakan semacam ilmu langkah aneh, tapi engkau tidak bisa terus berkelit"

Memang benar apa yang dikatakan Kou Hun Bijin. Ketika Tio Cie Hiong baru mau berkelit, Kou Hun Bijin sudah berputar-putar mengelilingi Tio Cie Hiong.

Apa boleh buat, Tio Cie Hiong tarpaksa menangkis dan sekaligus balas menyerang dengan ilmu Bit ciat sin ci.

"Hi hi Hi Hebat sekali" Kou Hun Bijin tertawa nyaring, namun merasa penasaran. oleh karena itu, ia mulai mengerahkan Giok Lin sin Kang (Tenaga sakti Gadis Murni). "Hati-hati Kali ini aku tidak main-main lagi"

Ketika mengerahkan Iweekang tersebut, wajah Kou Hun Bijin memancarkan cahaya putih. Tio Cie Hiong terkejut menyaksikannya. la tahu bahwa Kou Hun Bijin sedang mengerahkan iweekang tingkat tinggi, maka ia mengerahkan Kan Kun Taylo sin Kang.

Tiba-tiba Kou Hun Bijin berseru keras, lalu menyerang Tio Cie Hiong. Betapa dahsyatnya serangan yang penuh mengandung Giok Li sin Kang. Karena itu, Tio Cie Hiong terpaksa menangkis dengan Kan Kun Taylo Ciang Hoat, menggunakan jurus Kan Kun Taylo Bu Pien (Alam semesta Tiada Batas).

"Haaah...?" Kou Hun Bijin terkejut bukan main, karena mendadak lweekangnya berbalik menyerang dirinya sendiri seketika juga ia teringat akan pesan gurunya, Giok Lisin Kang memang tergolong Iweekang yang tanpa tanding di kolong langit. Namun harus berhati-hati, jangan sampai membentur Kan Kun Taylo sin Kang, sebab Iweekang itu akan membalikkan Giok Li sin Kang

menyerang diri sendiri Kalau terjadi itu, maka Giok Li sin Kang akan buyar dan wajahmu langsung berubah tua.

Gugup dan panik Kou Hun Bijin teringat akan pesan tersebut. la ingin menarik kembali lweekangnya, tapi sudah terlambat.

Pada saat bersamaan, Tio Cie Hiong juga melihat wajah Kou Hun Bijin berubah agak keriput. Tersadarlah ia akan iweekang yang dimiliki Kou Hun Bijin, ternyata Iweekang itu yang membuatnya awet muda. Namun apabila Kou Hun Bijin terserang oleh lweekangnya sendiri, maka akan menyebabkannya jadi tua sesuai dengan usianya.

Timbullah rasa tidak tega dalam hati Tio Cie Hiong, sehingga ia cepat-cepat menarik kembali Kan Kun Taylo Sin Kang.

Seketika juga Kou Hun Bijin merasa lweekangnya menyerang lagi ke arah Tio Cie Hiong, ia tahu pemuda itu menarik kembali lweekangnya. Daaar Terdengar suara yang amat keras.

Tio Cie Hiong terpental belasan depa jatuh duduk dengan mulut mengeluarkan darah.

Monyet bulu putih memekik marah, tapi ketika baru mau menyerang Kou Hun Bijin, Tio Cie Hiong berseru lemah. "Kauw heng, jangan kurang ajar"

Monyet bulu putih itu langsung diam, kemudian melesat ke arah Tio Cie Hiong, sekaligus memegang tubuhnya seakan sedang memeriksanya. Setelah itu, monyet bulu putih tersebut bercuit perlahan, sepertinya menarik nafas lega.

"Adik kecil" teriak Kou Hun Bijin sambil mendekatinya. "Bagaimana keadaanmu?"

"Aku... aku tidak apa-apa." Tio Cie Hiong tersenyum, lalu duduk bersila. Kou Hun Bijin duduk di sisinya, matanya tampak basah, sedangkan monyet bulu putih itu terus melototinya.

Berselang beberapa saat kemudian, barulah Tio Cie Hiong membuka matanya, ketika melihat mata Kou Hun Bijin basah, ia tersenyum. "Kakak tidak usah sedih, aku tidak apa-apa"

"Adik kecil..." Kou Hun Bijin terisak-isak. "Sungguh mulia hatimu, aku... aku terharu sekali."

"Kakak" Tio Cie Hiong memandang wajahnya. "Syukurlah wajahmu masih tetap cantik"

"Adik kecil..." Mendadak Kou Hun Bijin menggenggam tangannya erat-erat. "Engkau... engkau tidak terluka?"

"Tidak." Tio cie Hiong tersenyum. "Aku sama sekali tidak terluka."

"Adik kecil, Kauw heng, maafkanlah aku" ucap Kou Hun Bijin setulus hati.

Monyet bulu putih itu bercuit beberapa kali sambil manggut-manggut, Tio Cie Hiong tersenyum lagi dan memberitahukan. "Kauw heng telah memaafkanmu."

"Terima kasih, Kauw heng Tapi... engkau bersedia memaafkan aku?"

"Engkau tidak bersalah terhadapku, kenapa harus minta maaf?"

"Adik kecil, aku kagum sekali kepadamu. Sungguh mulia hatimu Aku pun merasa senang, karena engkau memanggil kakak kepadaku."

"Kakak. lweekangmu sungguh hebat"

"Ohya" Kou Hun Bijin menatapnya dalam-dalam. "Engkau memiliki Kan Kun Taylo sin Kang?"

"Ya." Tio Cie Hiong mengangguk. "Kok Kakak tahu?"

"Guruku pernah memberitahukan, apabila Giok Lisin Kang bertemu Kan Kun Taylo sin Kang, aku pasti celaka."

"Oooh" Tio Cie Hiong manggut-manggut.

"Aku ingin menarik kembali Iweekangku itu, tapi sudah terlambat," ujar Kou Hun Bijin. "Tapi...

kenapa mendadak engkau menarik kembali lweekangmu itu?"

"Karena aku melihat... wajahmu berubah agak keriput, maka aku tahu lweekang itu membuatmu awet muda. Kalau lweekangmu itu buyar, otomatis engkau akan berubah tua sekali. Aku... aku merasa tidak tega, sehingga cepat-cepat menarik kembali Kan Kun Taylo sin Kang."

"oooh" Kou Hun Bijin menatapnya dengan terharu. "Tapi... kenapa engkau sama sekali tidak terluka dalam?"

"Karena aku masih memiliki Pan Yok Hian Thian sin Kang yang melindungi diriku." Tio Cie Hiong memberitahukan. "Bahkan aku juga sudah dua kali makan buah Kiu Yap Lie Che."

"Syukurlah" Kou Hun Bijin tersenyum. "oh-ya, adik kecil Kini maukah engkau memberitahukan namamu?"

"Namaku Tio Cie Hiong."

"Apa?" Terbelalak Kou Hun Bijin. "Aku pernah dengar tentang Tio Cie Hiong itu. Bukankah dua tahun lalu dia sudah mati? Kek engkau juga bernama Tio Cie Hiong?"

"Tio Cie Hiong adalah aku, aku adalah Tio Cie Hiong itu," sahut Tio Cie Hiong sambil tersenyum. "Lho?" Kou Hun Bijin terheran-heran. "Kok begitu?"

"Sebab..," ujar Tlo Cie Hiong dan menutur tentang itu, kemudian menambahkan. "Maka aku harap Kakak menjaga rahasia itu Kalau tidak. pihak Kay Pang pasti celaka."

"Jangan khawatir" Kou Hun Bijin tersenyum. "Kita sudah jadi kakak adik, tentunya aku harus menjaga rahasia ini."

"Kalau begitu, aku sudah boleh pakai kedok kulit itu?"

"Boleh."

Kemudian Tio cie Hiong memakai kedok itu, monyet bulu putih segera meloncat ke atas bahunya.

"Jadi... kauw heng ini yang mengobatimu hingga sembuh?" tanya Kou Hun Bijin sambil memandang kagum monyet bulu putih.

"Benar." Tio Cie Hiong manggut-manggut. "Kalau tidak ada Kauw heng ini, aku sudah cacat seumur hidup."

"Kauw heng" Mendadak Kou Hun Bijin memberi hormat kepadanya. "Terimalah hormatku"

Monyet bulu putih itu bercuit beberapa kali, kemudian balas memberi hormat kepada Kou Hun Bijin, sudah barang tentu Kou Hun Bijin tertawa geli karenanya.

"Hi hi hi Kauw heng, engkau sungguh lucu dan baik"

"Kakak" Tio Cie Hiong menatapnya. "Jangan membaurkan diri dengan mereka, itu tidak baik."

"MaksudmuBu Lim sam Mo, Kwan Gwa Siang Koay dan Lak Km?"

"Ya."

"Adik kecil" Kou Hun Bijin menghela nafas. "Biar bagaimanapun, aku masih harus kembali ke markas Bu Tek Pay."

"Kenapa?" Tio Cie Hiong menatapnya. "Maukah kakak menjelaskan?"

"Tentu mau." Kou Hun Bijin manggut-manggut. "Karena aku telah berjanji pada seorang wanita muda yang bernasib malang, akan kembali ke markas itu untuk memancing keluar seseorang."

"Siapa orang itu?"

"Dia masih muda, namun..." Kou Hun Bijin menggeleng-gelengkan kepala. "Dia membunuh suami, ayah dan anak wanita itu."

"Apakah Liu siauw Kun?"

"Kok engkau tahu?"

"Wanita muda yang bernasib malang itu tentunya Tan Li Cu, bukan?"

"Lho?" Kou Hun Bijin tercengang. "Kok engkau tahu tentang itu?"

"Sebab aku kenal Tan Li Cu..." ujar Tio Cie Hiong dan menutur, kemudian menambahkan. "Tan Li cu dan Thian Liong Kiam Khek terkena asap beracun, aku yang menolong mereka. sejak itu, Liu siauw Kun tidak pernah muncul."

"oooh" Kou Hun Bijin manggut-manggut. "Liu siauw Kun itu sungguh kejam, aku merasa kasihan pada Tan Li Cu, maka berjanji akan membantunya untuk memancing Liu siauw Kun keluar."

"Kakak..." Tio Cie Hiong tersenyum. "Hatimu cukup baik, hanya saja...."

"Sifatku buruk. kan?" Kou Hun Bijin tersenyum, lalu menghela nafas panjang sambil memandang jauh ke depan. "Adik kecil, sesungguhnya aku sangat membenci kaum lelaki. Karena itu, aku sering membuat kaum lelaki tergila-gila kepadaku. setelah tergila-gila, mereka kutinggalkan, sehingga frustasi. Bahkan ada yang bunuh diri minum racun, gantung diri dan lain sebagainya."

"Kenapa Kakak melakukan itu?"

"Adik kecil, ketika aku berusia dua puluhan, aku pernah dikecewakan sekaligus hatiku disakiti oleh kekasihku sendiri."

"Kok begitu?"

"Yaahh" Kou Hun Bijin menghela nafas panjang. "Aku berasal dari keluarga miskin, begitu pula kekasihku itu. Tapi kemudian dia berkenalan dengan seorang gadis dari keluarga kaya raya."

"Bagaimana dia bisa berkenalan dengan gadis orang kaya itu?"

"Dia bekerja di rumah gadis orang kaya itu, kebetulan gadis itu melihat sekaligus jatuh hati kepadanya. oleh karena itu, orang tua gadis itu menikahkan mereka. Coba bayangkan, betapa kecewa dan sakitnya hatiku"

"Kak" Tio Cie Hiong tersenyum. "sebetulnya Kakak tidak usah merasa kecewa maupun sakit hati, relakan saja dia menikah dengan gadis itu"

"Adik kecil, kekasihku itu..." Kou Hun Bijin menggeleng-gelengkan kepala. "Aku... aku telah menyerahkan kesucianku kepadanya."

"Kak" Tio Cie Hiong menghela nafas panjang. "Itu salah Kakak, kenapa mau menyerahkan kesucian kepadanya?"

"Karena aku... aku mencintainya, dan dia juga sangat mencintaiku. Kemudian dia terus merayuku untuk berbuat, aku percaya dia akan bertanggung jawab, maka...."

"Setelah itu bagaimana?"

"Aku mau bunuh diri, tapi di saat itulah aku bertemu seorang biarawati tua. Beliau merasa iba kepadaku, maka menerimaku sebagai murid." Kou Hun Bijin memberitahukan. "Hampir dua puluh tahun aku belajar silat tingkat tinggi kepadanya. Pada suatu hari guruku memberiku tiga butir pil, dan aku disuruh memakannya. setelah aku makan pil itu, guruku mengajarku Giok Li sin Kang.

Guruku mengatakan bahwa Giok Li sin Kang tergolong iweekang yang sulit dicari tandingannya dalam rimba persilatan. selain itu, aku pun akan awet muda karena telah makan pemberiannya itu juga pengaruh dari Giok Lisin Kang. Betapa gembiranya aku mendengar itu . Namun ketika guruku sakit, guruku berpesan agar aku berhati-hati, jangan sampai Giok Li sin Kang membentur Kang Kun Taylo sin Kang. sebab apabila terbentur, Giok Li sin Kang akan berbalik menyerang diriku. Kalau Giok Li sin Kangku buyar, aku akan berubah tua."

"ooooh" Tio Cie Hiong manggut-manggut. " Untung aku melihat perubahan wajahmu, dan sempat menarik kembali Kan Kun Taylo sin Kangku. Kalau tidak..."

"Aku sudah berubah menjadi nenek." Kou Hun Bijin tersenyum. "Adik kecil, sekali lagi aku mengucapkan terima kasih kepadamu"

"Itu tidak perlu, Kak." Tio Cie Hiong tersenyum.

0 Response to "Kesatria Baju Putih (Pek In Sin Hiap) Bagian 45"

Post a Comment