coba

Kesatria Baju Putih (Pek In Sin Hiap) Bagian 48

Mode Malam
Bagian 48
"Kauw heng menyertainya, maka engkau tidak usah mengkhawatirkan apa-apa," sela Tio Hong Hoa sambil tersenyum lembut.

"Kakak Hong Hoa...." Lim Ceng Im mulai terisak-isak.

"Jangan menangis, Adik Ceng Im" Tio Hong Hoa membelainya. "Engkau bukan gadis cengeng, kan?"

"Ng" Lim Ceng im mengangguk, kemudian memandang Tlo Cie Hiong dan sekaligus mendekap di dadanya. "Kakak Hiong...."

"Adik Im" Tio Cie Hiong membelainya. "Aku pasti pulang secepat mungkin, engkau tenanglah" "Kakak Hiong...." Air mata Lim Ceng Im meleleh.

Sebelum berangkat, Tio cie Hiong terlebih dahulu menyusun beberapa formasi di depan biara, agar pihak musuh tidak mudah memasuki biara tersebut.

Bukan main kagumnya Tio Tay seng dan it sim sin Ni, karena formasi-formasi itu tampak begitu sederhana, namun justru sungguh lihay dan banyak perubahannya.

Seusai menyusun formasi-formasi tersebut, barulah Tio Cie Hiong berangkat bersama monyet bulu putih, dengan tetap memakai kedok kulit.

Malam harinya, tampak sosok bayangan berkelebat di sekitar markas Bu Tek Pay. Ternyata Tio Cie Hiong yang sedang melakukan penyelidikan di tempat tersebut. Tiada jebakan apa pun di sekitar tempat itu, maka Tio Cie Hiong pun bergirang dalam hati.

Setelah menyelidik sekaligus memperhatikan tempat itu dengan seksama, barulah Tio Cie Hiong kembali ke Gunung Hong Lay san. Betapa gembiranya Lim Ceng 1m. la menyambut Tio Cie Hiong dengan pelukan mesra. "Kakak Hiong...."

"Adik Im...." Tio Cie Hiong membelainya dengan penuh cinta kasih. "Ya, kan? Aku cuma pergi

beberapa hari saja, dan kini sudah kembali ke sisimur "Kakak Hiong...." Lim Ceng Im tersenyum mesra.

"Cie Hiong" seru sam Gan sin Kay mendadak, pengemis sakti itu memang usil sekali. "Bukankah engkau akan pergi lagi esok pagi?"

"Apa?" Lim Ceng Im terbelalak. "Kakak Hiong Engkau akan pergi lagi esok pagi?"

"Kakekmu cuma menggoda," sahut Tio Cie Hiong sambil tersenyum.

"Ha ha ha" sam Gan sin Kay tertawa gelak. "Langsung kaget dan melotot"

"Kakek bau Kakek jahat Kakek...." Lim Ceng im membanting-banting kaki.

"Terus, terus Apa lagi?" sam Gan sin Kay tertawa gelak dan tak henti-hentinya hingga badannya bergoyang-goyang. "Huaha ha ha..."

Kim siauw suseng dan Tui Hun Lojin saling memandang sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"cie Hiong, duduklah" ujar Lim Peng Hang.

"Ya." Tio Cie Hiong duduk. Lim Ceng im duduk di sebelahnya dengan wajah berseri-seri.

"Bagaimana keadaan di sekitar markas Bu Tek Pay itu?" tanya Tio Tay seng. "Apakah terdapat jebakan? "

"Tidak ada jebakan. Aku telah memperhatikan tempat itu dengan seksama." jawab Tio Cie Hiong memberitahukan. "Ternyata markas Bu Tek Pay berada di dalam sebuah goa. mungkin di dalam goa itu terdapat jebakan."

"Kalau begitu...." Lim Peng Hang mengerutkan kening. "Bagaimana cara kita menyerbu ke

dalam?"

"Kita harus memancing mereka keluar," sahut Tio Cie Hiong. "Caranya harus dengan api."

"Benar." sam Gan sin Kay manggut-manggut. "Kita lempar kayu yang telah dibakar ke dalam goa itu, agar mereka berhambur ke luar."

"Tidak salah," sahut Kim siauw suseng. "Kalau mereka tidak keluar, berarti mereka akan mati hangus."

"Ide yang bagus" Tui Hun Lojin mengangguk. "Lalu kapan kita menyerang ke sana?"

"Tentang ini perlu kita rundingkan bersama," ujar Tio Cie Hiong dan menambahkan. "Kita tidak boleh bertindak ceroboh, sebab kita tidak boleh gagal."

Di saat bersamaan, muncul It Sim sin Ni bersama Tio Hong Hoa. It Sim Sin Ni memandang mereka, lalu bertanya dengan kening berkerut. "Kalian sedang berunding untuk menyerang Bu Tek Pay?"

"Ya, lbu,"sahutTioTay seng. "Cie Hiong sudah pulang, dia memberitahukan tentang keadaan di sekitar markas Bu Tek Pay."

"Harus dipikirkan secara matang, Jangan sembarangan menyerang" ujar it sim sin Ni. "Agar tidak mencelakai diri sendiri."

"Kami justru sedang merundingkan itu, Nek." ujar Tio Cie Hiong. "Kami tidak akan menyerang secara ceroboh."

It sim sin Ni manggut-manggut sambil duduk.

"Sayang sekali, aku telah bersumpah tidak akan mencampuri urusan rimba persilatan"

"Memang lebih baik ibu tidak mencampuri urusan ini, sebab akan mengotori tangan ibu," ujar Tio Tay seng dan menambahkan. "Ceng Im akan menemani ibu."

"Aku ikut Kakak Hiong," sela Lim Ceng im cepat. "Pokoknya aku ikut."

"Ceng Im, engkau tidak boleh ikut," ujar Lim Peng Hang. "Kami bukan pergi pesiar, melainkan pergi bertarung."

"Adik Im" Tio Cie Hiong menatapnya lembut. "Engkau di sini menemani nenekku saja." "Kakak Hiong...." Wajah Lim Ceng Im berubah muram.

"Ceng Im" It sim sin Ni tersenyum lembut sambil menatapnya. "Memang lebih baik engkau tidak ikut, Jangan bandel"

"Sin Ni...." Lim Ceng Im menundukkan kepala.

"Jadi kita terdiri dari Bu Lim Ji Khie, Tio Tay Seng, Tio Lo Toa, Tui Hun Lojin, Lim Peng Hang, Gouw Han Tiong, Lie Man chiu, Tio Hong Hoa dan Tio Cie Hiong. Kita semua berjumlah sepuluh orang, sedangkan mereka terdiri dari Bu Lim Sam Mo, Kwan Gwa Siang Koay, Lak Kui dan Ang Bin Sat Sin. Karena itu...." Sam Gan sin Kay mengerutkan kening. "Harus kita atur bagaimana menghadapi mereka yang berjumlah dua belas orang"

"Begini saja," ujar Tio Cie Hiong mengatur.

"Aku menghadapi Bu Lim Sam Mo, paman sastrawan dan kakek pengemis menghadapi siang Koay, paman menghadapi Ciak Bin Kui, sedangkan yang lain menghadapi Ang Bin Sat Sin, Tok Gan Kui, ok Sim Kui, Toa Thau Kui, Tiau Am Kui dan Bu Ceng Kui. Dengan demikian kita dapat mengatasi mereka, bahkan akan dibantu kauw heng pula."

"Ngmm" Kim siauw Suseng manggut-manggut. "Cie Hiong menghadapi Bu Lim Sam Mo, aku dan pengemis bau menghadapi Siang Koay, Tio Lo Toa menghadapi Ang Bin Sat Sin, sedangkan yang lain menghadapi Lak Kui. Benar, memang harus begitu."

"Menghadapi mereka, lebih baik pergunakan Kiu Kiong San Tian Pou (Ilmu Langkah Kilat), karena kauw heng akan membantu kalian," ujar Tio Cie Hiong dan menambahkan. "Kita tidak boleh gagal. Apabila gagal berarti kita yang akan celaka."

"Baik." Tio Tay Seng mengangguk. "Ini merupakan keputusan tetap. Lalu kapan kita berangkat ke sana?"

"Besok pagi," sahut Tio Cie Hiong.

"Kalau begitu, mari kita istirahat sekarang" usul Sam Gan Sin Kay. "Sebab besok pagi kita harus melakukan perjalanan yang cukup jauh."

"Baik." Tio Tay seng manggut-manggut. "Mari kita ke ruang istirahat"

Mereka menuju ruang istirahat, namun Tio Cie Hiong dan Lim Ceng im malah menuju halaman. "Eh?" Tio Tay seng mengerutkan kening. "Cie Hiong, kenapa engkau tidak mau beristirahat?"

"Ha ha ha" sam Gan sin Kay tertawa. "saudara Tay seng, cie Hiong cukup bersemedi sejenak saja, sudah jauh bersemangat dari kita."

"oh?" Tio Tay seng kurang percaya.

"Percayalah" ujar sam Gan sin Kay. "sebab aku pernah menyaksikannya, jadi engkau tidak usah ragu."

"oooh" TioTay seng manggut-manggut.

Sementara Tio Cie Hiong dan Lim Ceng im telah sampai di halaman. Mereka duduk bersandar di sebuah pohon.

"Kakak Hiong" Lim Ceng Im menatapnya. "Engkau yakin dapat menghadapi Bu Lim sam Mo?" "Ya." Tio Cie Hiong mengangguk.

"Kakek dan kakek sastrawan mampu melawan Kwan Gwa siang Koay?" tanya Lim Ceng im dengan kening berkerut.

"Mungkin akan kalah dalam hal hveekang, namun mereka bisa berkelit dengan Kiu Kiong san Tian Pou, juga akan dibantu kauw heng," jawab Tio Cie Hiong. seketika terdengar suara cuit-cuit monyet bulu putih yang duduk di bahunya.

"Kakak Hiong, kauw heng bilang apa?"

"Dia bilang pasti membantu mereka."

"oh?" Lim Ceng Im tersenyum. "Terimakasih kauw heng oh ya, tolong jaga Kakak Hiong baik-baik ya Kalau dia terjadi apa-apa, aku juga tidak akan hidup,"

Monyet bulu putih bercuit tiga kali, lalu manggut-manggut sekaligus membelai rambut gadis itu. "Terimakasih kauw heng" ucap Lim Ceng Im terharu. "Terimakasih...."

Bu Lim sam Mo, Kwan Gwa siang Koay, Lak Kui dan Ang Bin sat sin tertawa gelak setelah menerima laporan dari salah seorang anggota mereka yang menjaga di luar, bahwa anggota tersebut melihat sosok bayangan berkelebat di sekitar goa.

"Ha ha ha" scusai tertawa Tang Hai LoMo berkata. "Tidak salah kan perhitunganku, salah seorang dari mereka pasti ke mari menyelidiki tempat kita. Karena di luar tidak ada jebakan, tentu mereka akan menyerang ke mari."

"Kalau begitu, bagaimana rencana kita?" tanya Thian Mo.

"Perintahkan kepada para anggota, semuanya harus melawan mereka" sahut Tang Hai Lo Mo dan melanjutkan. "Setelah itu barulah kabur."

"Lalu bagaimana kita?" tanya Kwan Gwa siang Koay.

"Pintu goa akan kututup," jawab Tang Hai Lo Mo memberitahukan. "setelah itu, kita akan pergi melalui terowongan rahasia, kemudian menuju Gunung Hong Lay san."

"Ha ha ha" Kwan Gwa siang Koay tertawa terbahak-bahak. "Mereka sama sekali tidak akan menyangka siasat kita ini. setelah penyerangan mereka sia-sia, mereka pasti pulang."

"Tentunya akan terkejut setengah mati begitu mereka tiba di Gunung Hong Lay san. Ha ha

ha..." Tang Hai Lo Mo tertawa gelak. "Pokoknya kita tangkap saja siapa yang berada di biara itu."

"Benar." Thian Mo manggut-manggut dan menambahkan. "Kita pun Jangan meninggalkan jejak, agar mereka kebingungan."

"Mudah-mudahan Lim Ceng 1m itu tidak ikut, jadi kita bisa menangkapnya lagi" ujar Te Mo dan tertawa keras. "Setelah itu, kita diam saja satu dua bulan agar mereka bertambah kalut dan kebingungan."

"Kita kembali ke mari?" tanya siluman Kurus.

"Tentu." Tang Hai Lo Mo mengangguk. "sebab hanya kita yang tahu tentang terowongan rahasia itu, pihak lain tidak akan mengetahuinya Jadi mereka pasti kebingungan, sedangkan kita tetap menikmati kesenangan di sini."

"Benar." Thian Mo manggut-manggut dan melanjutkan. "Satu dua bulan kemudian, barulah kita mengutus seseorang untuk memberitahukan kepada mereka."

"Ha ha ha" Kwan Gwa Siang Koay tertawa gelak. "Oh ya, bagaimana dengan para pemain musik dan penari?"

"Di saat kita berangkat ke Hong Lay San, kita kurung mereka di ruang batu," sahut Tang Hai LOMo. "Setelah kita pulang ke mari, barulah kita keluarkan."

"Ha ha ha" Thian Mo tertawa terbahak-bahak. "Kalau begitu, kita tunggu saja mereka. Ha ha ha..."

Bab 79 Penyerangan yang sia-sia

Salah seorang anggota Bu Tek Pay memasuki markas melapor kepada Bu Lim Sam Mo, bahwa pihak Kay Pang sedang menuju tempat itu. Begitu menerima laporan tersebut, Bu Lim Sam Mo, Kwan Gwa Siang Koay, Lak Kui dan Ang Bin Sat Sin tertawa terbahak-bahak.

Setelah itu, Bu Lim Sam Mo perintahkan semua anggota agar meninggalkan markas. Dia lalu menekan sebuah tombol rahasia, kemudian pintu goa tertutup seketika.

"Ha ha ha" Te Mo tertawa. "Sekarang kita kurung para pemain musik dan penari itu, barulah kita berangkat ke Gunung Hong Lay San."

"Ohya" Siluman Kurus teringat sesuatu. Kemudian ia memandang Te Mo seraya bertanya serius. "Bagaimana kalau mereka mendobrak pintu goa itu?"

"Pintu goa itu tidak bisa didobrak." sahut Te Mo sambil tersenyum. "Perlu diketahui, pintu goa itu dibuat dari baja yang sangat tebal Jadi tidak dapat dihancurkan dengan apa pun."

"Oooh" Kwan Gwa siang Koay berlega hati.

Setelah mengurung para pemain musik dan penari, mereka meninggalkan markas melalui sebuah terowongan rahasia.

Sementara itu, di sekitar markas tersebut telah terjadi pertarungan, dan sudah banyak anggota Bu Tek Pay yang mati terbunuh.

Sam Gan sin Kay, Tui Hun Lojin dan Lim Peng Hang sama sekali tidak memberi ampun kepada para anggota Bu Tek Pay. Akhirnya anggota-anggota Bu Tek Pay yang belum terbunuh, segera kabur tanpa menghiraukan yang lain.

Itu merupakan pembunuhan besar-besaran, Tio Cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala menyaksikannya .

"Kakek pengemis cukuplah Jangan membunuh lagi" seru Tio Cie Hiong merasa tidak tega menyaksikan anggota-anggota Bu Tek Pay itu dibunuh.

"Mereka sangatjahat, harus dihabiskan." sahut sam Gan sin Kay.

Mendadak salah seorang anggota Bu Tek Pay menjatuhkan diri berlutut di hadapan sam Gan sin Kay. Monyet bulu putih yang duduk di bahu Tio Cie Hiong terus menatap anggota Bu Tek Pay itu dengan tajam sekali.

"Lo cianpwee, ampunilah aku" ujar anggota Bu Tek Pay itu.

"Ha ha ha" Sam Gan Sin Kay tertawa. "Minta diampuni? Hm Sudah berapa banyak orang tak berdosa yang kau bunuh?"

"Aku... aku tidak pernah membunuh orang. sumpah"

"Hmm" dengus sam Gan sin Kay dingin sambil mengangkat longkat bambunya.

Mendadak berkelebat sosok bayangan putih ke arahnya, sekaligus menyambar tongkat bambu di tangan sam Gan sin Kay.

Betapa terkejutnya sam Gan sin Kay, sebab tongkat bambu itu telah lenyap dari tangannya. "Eeeh?" sam Gan sin Kay mengerutkan kening. "Kauw heng...."

Tio Cie Hiong segera melesat ke hadapan sam Gan sin Kay. Dipandangnya monyet bulu putih itu seraya berkata.

"Kauw heng, kembalikan tongkat itu kepada kakek pengemis"

Monyet bulu putih menurut. Dilemparkannya tongkat bambu itu ke arah sam Gan sin Kay.

"Cie Hiong Kenapa kauw heng berbuat begitu?" tanya sam Gan sin Kay heran sambil menyambut tongkat bambunya.

"Dia menolong orang itu, pertanda orang itu tidak jahat," sahut Tio Cie Hiong. "Kakek pengemis, lepaskanlah orang itu"

"Benarkah orang itu bukan penjahat?" sam Gan sin Kay tampak ragu. Monyet bulu putih bercuit tiga kali, kemudian manggut-manggut.

"Kauw heng bilang benar." Tio Cie Hiong memberitahukan, lalu bertanya kepada orang itu. "saudara, kenapa engkau mau menjadi anggota Bu Tek Pay?"

"Tuan...." orang itu menghela nafas panjang. "Aku terpaksa, karena anggota Bu Tek Pay telah

mencetuskan ancaman. Kalau aku tidak menjadi anggota Bu Tek Pay, mereka akan membunuh anak isteriku. Karena itu, aku terpaksa ikut mereka. Tapi selama bergabung dengan Bu Tek Pay, aku sama sekali tidak pernah membunuh siapa pun."

"Aku percaya." Tio Cie Hiong mengangguk. "Nah, engkau boleh pergi sekarang."

"Terimakasih, Tuan Terima kasih lo cianpwee" ucap orang itu terharu. "Terimakasih monyet sakti"

Tio Cie Hiong menghela nafas, sedangkan orang itu sudah melangkah pergi. Tak lama kemudian, muncullah Kim siauw suseng, Tio Tay seng dan lainnya. "Bagaimana?" tanya sam Gan sin Kay.

"Sudah kami bereskan semua," sahut Kim siauw suseng sambil tertawa. " Hanya beberapa orang yang kabur."

"Bagus" sam Gan sin Kay tertawa gelak.

"Heran" gumam Kim siauw suseng. "Kenapa Bu Lim sam Mo, Kwan Gwa siang Koay, Lak Kui dan Ang Bin sat sin tidak muncul?"

"Mereka pasti bersembunyi di dalam markas," sahut sam Gan sin Kay. "Mereka takut maka tidak berani keluar."

"Tidak mungkin mereka takut," ujar Tio Cie Hiong dengan kening berkerut. "Aku yakin mereka sedang mengatur suatu siasat untuk menghadapi kita. Karena itu, kita harus hati-hati."

"Cie Hiong" tanya Tio Tay seng. "Bagaimana kalau kita serang ke dalam?"

Tio cie Hiong berpikir sejenak. kemudian baru menjawab.

"Kita ke goa itu dulu, lapi jangan sembarangan masuk" pesan Tio Cie Hiong dan menambahkan. "Di dalam goa itu pasti telah dipasang berbagai macamjeb akan, kita jangan sampai terjebak oleh siasat mereka."

"Benar." Tio Tay seng manggut-manggut. "Tapi kita tetap harus ke goa itu."

"Mari kita ke sana" seru sam Gan sin Kay.

Mereka semua lalu menuju goa tersebut. Na-mun mereka tercengang ketika sampai di depan goa itu, karena goa itu telah ditutup,

"Sungguh di luar dugaan" Tio Cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala. "Goa ini ternyata ada pintunya"

Sam Gan sin Kay mendekati pintu goa, kemudian diketuk- ketuknya dengan sebuah batu.

"Pintu goa ini dibuat dari baja yang sangat tebal, tidak mungkin kita dapat mendobraknya." sam Gan sin Kay memberitahukan.

"Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan sekarang?" Kim siauw suseng mengerutkan kening.

"BerartiBu Lim sam Mo dan lainnya masih berada di dalam goa," sahut Tio Tay seng. "Bagaimana kalau kita tunggu di sini beberapa hari? Mereka pasti mengira kita sudah pergi, tentunya pintu goa ini akan dibuka. Nah, barulah kita menyerbu ke dalam."

"Ngmmm" Bu Lim Ji Khie manggut-manggut. "Kalau begitu, kita tunggu di sini saja beberapa hari."

"Seandainya mereka tetap tidak membuka pintu?" tanya Tio Cie Hiong mendadak.

"PerTanda mereka tidak ada di dalam. Kemungkinan besar mereka sudah pergi," sahut Kim siauw suseng.

"Heran..." gumam Tio Cie Hiong. "Kenapa mereka menghindari kita? seharusnya mereka keluar untuk bertarung dengan kita."

"Mungkinkah..." sela Lim Peng Hang. "Mereka pergi melalui jalan rahasia?"

"Tidak mungkin," sahut Tio Cie Hiong. "Karena aku telah memeriksa dengan cermat tempat-tempat di sekitar ini, sama sekali tidak menemukan suatu tempat yang mencurigakan. "

"Begini saja," usul Tio Tay seng. "Kita tunggu di sini beberapa hari lagi, apabila pintu goa ini tetap tidak dibuka, barulah kita pulang ke Gunung Hong Lay san untuk berunding."

"Baiklah." Tio cie Hiong mengangguk.

Inilah kesalahan mereka. seandainya mereka langsung kembali ke Gunung Hong Lay san, mungkin masih sempat mencegah suatu kejadian di sana. Karena mereka menunggu beberapa hari, justru memberi kesempatan kepada Bu Lim sam Mo, Kwan Gwa siang Koay, Lak Kui dan Ang Bin sat sin.

Walau mereka sudah menunggu beberapa hari, pintu goa itu tetap tidak dibuka. sudah barang tentu mereka tercengang, sehingga timbul pula berbagai dugaan. "Mungkinkah mereka tidak ada didalam goa?" gumam sam Gan sin Kay.

"Jangan-jangan mereka pergi ketika kita mulai menyerang" sahut Kim siauw suseng. "Aku yakin mereka masih punya markas lain yang sangat rahasia."

"Tidak seharusnya mereka pergi tanpa bertarung dengan kita," ujar Tio Tay seng dan menambahkan. " Kemungkinan besar ini merupakan siasat mereka."

"Siasat apa?" tanya Tio Cie Hiong.

"Siasat...." Tio Tay seng berpikir sejenak. kemudian mendadak wajahnya berubah pucat pias. "

Celaka"

"Apa yang celaka, Paman?" tanya Tio Cie Hiong tersentak.

"Kita harus segera kembali ke Gunung Hong Lay san, aku berfirasat buruk," sahut Tio Tay seng. "Mari kita cepat kembali ke sana"

"Haaah...? Tio Cie Hiong terkejut bukan kepalang."Nenek, Adik Im, Tan Li cu dan kedua murid nenek berada di dalam biara."

Tio Cie Hiong langsung melesat pergi, dan yang lain segera mengikutinya dengan perasaan cemas.

Kini mereka telah tiba di Gunung Hong Lay san. Ketika mendekati biara tersebut, Tio Cie Hiong terbelalak karena melihat formasi-formasi yang disusunnya telah porak poranda.

"Celaka" Wajah Tio Cie Hiong bertambah pucat. la melesat ke biara itu laksana kilat. "Nenek Adik Im Adik Im...."

Tiada sahutan. Tio Cie Hiong menerjang ke dalam dan bertambah cemas, karena di dalam biara tampak porak-poranda tidak karuan. "Ibu Ibu..." teriak Tio Tay seng.

"Ceng Im Ceng Im..." teriak Lim Peng Hang dengan wajah pucat pias.

"Nenek Nenek..." teriak Tio Hong Hoa dengan suara gemetar, dan matanya sudah bersim-bah air. "Nenek...."

"Tenang, Adik Hoa" Lie Man chiu memegang bahunya. "Nenekku...." Tio Hong Hoa mulai terisak-isak. "Nenekku...."

"Tenanglah" Lie Man chiu menggenggam tangan gadis itu erat-erat. "Tidak akan terjadi apa-apa atas diri nenekmu."

Semeniara Tio Cie Hiong memeriksa semua kamar di dalam biara, namun tidak tampak It sim sin Ni, Lim Ceng Im maupun kedua murid neneknya. segeralah ia ke ruang medilasi, juga tidak kelihata Tan Li cu.

"Aaaakh..." Tio cie Hiong berdiri di tempat. "Adik Im...."

"Ibu...." Tio Tay seng jatuh duduk di lantai. Begitu pula Tio Hong Hoa, sam Gan sin Kay dan Lim

Peng Hang.

Sedangkan Kim siauw suseng, Tui Hun Lojin dan Gouw Han Tiong saling memandang dengan kening berkerut-kerut.

"Ini... ini...." sam Gan sin Kay bersandar pada dinding. "Siapa yang ke mari?"

"Sudah pasti Bu Lim sam Mo, Kwan Gwa siang Koay, Lak Kui dan Ang Bin sat sin," sahut Kim siauw suseng sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Mereka ke mari di saat kita menyerang ke sana."

"Tapi...." Tio cie Hiong juga jatuh duduk di lantai. "Kita tidak melihat mereka."

"Ketika kita menyerang para anggota Bu Tek Pay mereka pasti meninggalkan goa itu, sekaligus menutup pintunya, lalu mengambil jalan lain menuju ke mari."

"Sungguh licik mereka" geram sam Gan sin Kay.

"Mereka jauh lebih pintar dari kita, tentunya sudah memperhitungkan bahwa kita akan menyerang ke sana. Padahal mereka sudah tahu kita berada di sini, namun mereka tidak menyerbu ke mari, ternyata sudah mengatur siasat itu," ujar Kim siauw suseng sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Kita kalah cerdik dibandingkan dengan mereka."

"Berarti mereka telah menangkap nenek, Adik Im, Tan Li cu dan kedua murid nenekku, bukan?" tanya Tio Cie Hiong.

"Memang tidak salah." Kim siauw suseng mengangguk. "Tapi kila tidak usah khawatir, sebab mereka tidak akan mencelakai It sim sin Ni dan lainnya."

"Kalau begitu...." Tio Cie Hiong mengerutkan kening. "Untuk apa Bu Lim sam Mo menangkap

mereka?"

"Tujuan mereka pasti untuk memaksamu menyerah," sahut Tui Hun Lojin. "Karena mereka sudah tahu, bahwa orang yang membawa monyet punya hubungan dengan Kay Pang."

"Aaakh..." keluh Tio Cie Hiong. "Kejadian dua tahun lampau itu akan terulang lagi sungguh di luar dugaan"

"Tapi mereka masih belum tahu engkau adalah Tio Cie Hiong jadi mereka pun tidak akan bertindak sembarangan," ujar Kim siauw su.seng.

"Lalu...." Tio Cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala. "Apa yang harus kita lakukan sekarang?"

"Kita cuma bisa menunggu," sahut Kim siauw suseng singkat.

"Menunggu apa?" tanya Tio Cie Hiong dengan kening berkerut.

"Mereka pasti akan mengutus seseorang ke mari, jadi kita tunggu saja" sahut Kim siauw suseng dan menambahkan. "Dalam hal ini, kita harus tenang dan memperhitungkan langkah-langkah kita. sebab It sim sin Ni dan lainnya berada di tangan mereka."

"Aaakh..." keluh Tio cie Hiong lagi. "Kenapa bisa jadi begini? Aku betul-betul jenuh terhadap urusan rimba persilatan."

"Cie Hiong" Lim Peng Hang menatapnya.

"Biar bagaimana pun, kita memang harus tenang. salah bertindak, It sim sin Ni dan putriku serta yang lain pasti celaka."

"Kalau begitu...," sela Tio Tay seng. "Kita tunggu saja Memang telah terjadi, kalau kita kalut dan bingung juga percuma. Karena itu, kita harus tenang sambil menunggu."

Sudah lewat beberapa hari, namun masih belum ada yang muncul menemui mereka. Itu membuat mereka tercengang dan cemas, sehingga Tio Tay seng dan Tio Cie Hiong terus berjalan mondar-mandir di ruang tengah dengan wajah murung.

Sam Gan sin Kay dan Lim Peng Hang duduk diam dengan kening berkerut-kerut,yang lain juga tampak cemas.

"Kenapa masih belum ada yang ke mari?" tanya Tio Cie Hiong. pertanyaan tersebut entah ditujukan kepada siapa, karena semua orang dalam kebingungan. "Mungkinkah bukan Lim sam Mo yang menangkap mereka?"

"Sudah pasti Bu Lim sam Mo," sahut Kim siauw suseng. "Hanya mereka yang mampu mengalahkan It sim sin Ni."

"Tapi... kenapa belum ada yang ke mari?" Tio Cie Hiong mengerutkan kening.

"Menurutku...," sahut TUi Hun Lojin. "Mereka sengaja membuat kita kebingungan, sekaligus memancing keluar Cie Hiong."

"Kalau begitu, lebih baik aku pergi mencari mereka," ujar Tio Cie Hiong, yang sudah tidak sabaran menunggu.

"Tunggu lagi beberapa hari, apabila tetap tiada orang ke mari, barulah engkau pergi mencari mereka." Tio Tay seng menatapnya.

"Ya, Paman." Tio Cie Hiong mengangguk dengan wajah muram.

Tak terasa sudah lewat beberapa hari, tapi tetap tiada seorang pun muncul menemui mereka.

Itu sungguh mencemaskan Tio Cie Hiong Tio Tay Seng, sam Gan sin Kay dan Lim Peng Hang.

"Aku harus berangkat sekarang," ujar Tio Cie Hiong setelah mengambil keputusan. "Tidak bisa menunggu lagi."

"Engkau berangkat besok pagi saja," ujar Tio Tay seng dan menambahkan. "aku akan berangkat bersamamu."

"Paman, lebih baik aku pergi seorang diri," sahut Tio Cie Hiong. "sebab Paman dan yang lain tidak boleh berpencar. Aku khawatir di saat aku pergi, mereka akan ke mari."

"Benar." Kim siauw suseng manggul-manggut. "Biar Tio Cie Hiong pergi seorang diri saja. Kita tetap berada di sini, dan tidak boleh berpencar, agar tidak mengurangi kekuatan kita."

"Terus terang...," ujar Tio Tay Seng dengan kening berkerut. "Tempat ini sudah tidak aman, lagi pula kita juga tidak mampu melawan mereka."

"Lalu kita harus bagaimana?" tanya sam Gan sin Kay.

"Ibu pernah memberitahukan, tak jauh dari sini terdapat sebuah goa rahasia .Jadi untuk sementara kita tinggal di goa itu menunggu cie Hiong culang ," jawab Tio Tay seng.

"Tio Tocu" Mendadak sam Gan sin Kay menudingnya. "Kenapa tempo hari engkau tidak memberitahukan tentang goa itu? Bukankah It sim sin Ni dan lainnya bisa tinggal di goa itu?"

"Pengemis bau" tegur Kim siauw suseng. "siapa akan menduga Bu Lim sam Mo punya siasat itu? Kalau perlu tinggal di goa ilu, tentunya It sim sin Ni sudah membawa yang lain ke sana. Maka percuma Tio Tocu memberitahukan tentang goa itu kepada kita."

"Iya." sam Gan sin Kay mengangguk. kemudian menjura kepada Tio Tay seng. "Tocu, aku minta maaf"

"Aku memang bersalah, tidak berpikir sampai ke situ," sahut Tio Tay seng sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Tocu" sela Kim siauw suseng. "Kita semua yang bersalah, sebab tidak menduga Bu Lim sam Mo begitu licik."

"sudahlah" ujar Tio cie Hiong sambil menghela nafas. "jangan saling mempersalahkan Yang penting aku akan pergi mencari mereka besok pagi bersama kauw heng."

Monyet bulu putih langsung manggut-manggut. sejak It sim sin Ni dan lainnya hilang tak berbekas, monyet bulu putih itu juga tampak murung sekali.

"Kauw heng" ucap Tio cie Hiong sambil membelainya. "Mudah-mudahan kita dapat mencari mereka"

Sementara itu. di markas Bu Tek Pay yang di dalam goa terdengar alunan suata musik yang diselingi tawa terbahak-bahak. tampak pula beberapa wanita muda menari lemah gemulai sambil tersenyum-scnyum.

"Ha ha ha" Tang Hai Lo Mo terus tertawa terbahak-bahak. "Kini merupakan hari-hari yang penuh kegembiraan"

"Tidak salah," sahut Thian Mo. "Namun dipihak lain pasti kebingungan. Ha ha ha..."

"Mereka pasti tidak menduga, kalau kita berada di dalam markas ini," sela Te Mo sambil meneguk minumannya. "Mereka pasti kelabakan, terutama sam Gan sin Kay dan Lim Peng Hang."

"Siasat kalian bertiga memang hebat sekali" Kwan Gwa siang Koay tertawa gelak. "Bagaimana mungkin mereka akan menduga, kita akan kembali di tempat ini? Mereka pasti berpikir, kita bersembunyi di suatu tempat yang rahasia."

"Kita pun tidak menyangka...," ujar Tiau Am Kui sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Di dalam biara itu terdapat seorang biarawati yang begitu tinggi kepandaiannya. Kalau sam Mo tidak turun tangan, mungkin agak sulit membekuknya."

"Benar." Kwan Gwa Siang Koay mengangguk. "Kita bisa membunuhnya, namun sulit sekali menangkapnya hidup, hidup."

"Heran" Thian Mo menghela nafas. "Biarawati tua itu begitu tinggi kepandaiannya, namun kami sama sekali tidak kenal dia."

"Yang kita kenal hanyalah Lim Ceng Im," ujar Te Mo. "Tempo hari kita menangkapnya, tapi kemudian muncul Kou Hun Bijin."

"Eeeeh?" Tang Hai Lo Mo teringat sesuatu. "Bukankah Kou Hun Bijin bilang mau menerimanya sebagai murid? Tapi kenapa gadis itu malah berada di biara itu? Mungkin Kou Hun Bijin berpihak kepada mereka?"

"Kukira tidak." sahut siluman Gemuk. "Kou Hun Bijin tahu bahwa gadis itu putri Lim Peng Hang, maka membawanya ke Gunung Hong Lay san. Namun ketua Kay Pang itu tidak mengijinkan putrinya berguru kepada Kou Hun Bijin, karena itu Kou Hun Bijin mengembalikan gadis tersebut kepadanya. setelah itu, Kou Hun Bijin langsung pergi jadi aku yakin Kou Hun Bijin tidak berpihak kepada mereka."

"Mungkin begitu." Tang Hai Lo Mo manggut-manggut dan menambahkan. "Kini kita sudah tahu orang yang membawa monyet itu punya hubungan dengan Kay Pang. Kita harus menggunakan Lim Ceng Im dan lainnya untuk memaksa orang itu menyerah, seperti halnya dengan Tio Cie Hiong. Ha ha ha..."

"Sesungguhnya kita tidak perlu takut kepada orang itu Kami akan bertarung dengan dia," ujar Kwan Gwa siang Koay.

"Benar." Thian Mo mengangguk. "Tapi itu agak merepotkan, lebih baik kita paksa dia menyerah."

"Seandainya dia tidak mau menyerah?" tanya Bu Ceng Kui. "Kita harus bertindak bagaimana?"

"Bunuh saja Ceng Im dan lainnya," sahut Tang Hai Lo Mo dan melanjutkan, "setelah itu, barulah kila bertarung dengan mereka."

"Benar." Bu Ceng Kui tertawa gelak.

"Kapan kila akan mengutus seseorang untuk pergi menemui mereka?" tanya siluman Kurus mendadak.

"Satu dua bulan kemudian," sahut Tang Hai Lo Mo. "Kita membuat mental mereka turun dan kebingungan, sedangkan kita tetap bersenang-senang di sini. Ha ha"

"Kita akan berada di dalam markas ini selama satu dua bulan, tentu tidak akan tahu bagaimana keadaan di luar," ujar siluman Kurus. "Seandainya pada waktu itu mereka tidak berada di Gunung Hong Lay san, kita harus bagaimana?"

"Aku sudah memikirkan tentang itu," sahut Tang Hai Lo Mo. "Tentunya kita akan memerintahkan para ketua tujuh partai besar untuk mencari mereka. Nah, bereskan?"

"Benar, benar." siluman Kurus tertawa sambil mengacungkan jempolnya ke hadapan Tang Hai Lo Mo. "Engkau sungguh cerdik, kami kagum dan salut kepadamu."

"Ha ha ha..." Tang Hai Lo Mo tertawa bangga.

"Tapi...." siluman Gemuk menghela nafas. "Banyak anggota kita yang menjadi korban."

"Itu tidak menjadi masalah," sahut Thian Mo. "Yang penting kita sudah menangkap Ceng Im dan lainnya, lagi pula berapa harga nyawa para anggota kita itu?"

"Memang. Tapi...." Toa Thau Kui menggeleng-gelengkan kepala. "otomatis Bu Tek Pay pun

bubar."

"Itu hanya sementara waktu, namun kelak Bu Tek Pay akan menguasai seluruh Tionggoan," ujar Tang Hai Lo Mo sambil tertawa. "Ha ha ha Pada waklu itu, kaisarpun akan takut terhadap kita."

"Benar, benar." Thian Mo dan Te Mo juga tertawa gelak. "Nah, mari kita bersulang lagi"

Mereka lalu bersulang sambil tertawa terbahak-bahak. Para penari pun terus menari lemah gemulai sambil tersenyum-senyum. Akan tetapi, sesungguhnya itu hanya merupakan senyuman paksa. Kalau mereka tidak tersenyum, nyawa mereka pasti melayang.

Bab 80 Bertemu pemuda Manchuria

Mengenai penyerangan Bu Tek Pay ke markas pusat Kay Pang, kemudian pihak Kay Pang

menyerang ke markas Bu Tek Pay kejadian-kejadian itu telah masuk ke telinga para ketua tujuh partai. oleh karena itu, Hui Khong Taysu ketua partai Siauw Lim pun segera mengutus beberapa muridnya pergi mengundang para ketua Butong Pay, Hoa san Pay, Kun Lun Pay, Khong Tong Pay, Go Bie Pay dan swat San Pay, dan itu dilaksanakan secara rahasia sekali.

Kini di ruang tengah biara siauw Lim telah dipenuhi para ketua tujuh partai. Mereka saling memberi hormat lalu duduk.

"Maaf" ucap Hui Khong Taysu. "Aku mengundang kalian ke mari, sesungguhnya untuk merundingkan sesuatu."

"Apa yang akan kita rundingkan, Taysu?" tanya It Hian Tojin, ketua partai Butong.

"Tentang kejadian-kejadian yang belum lama ini, yang tentunya kalian semua pun telah mendengarnya, "jawab Hui Khong Taysu. "Itu berkaitan dengan partai-partai kita. selama ini kita cuma diam saja, namun Kay Pang yang berani menentang Bu Tek Pay."

"Benar." It Hian Tojin mengangguk. " Karena itu, kita semua harus merasa malu terhadap Kay Pang."

"Lalu kita harus berbuat apa?" tanya Wie Hian Cinjin, ketua partai Kun Lun.

"omitohud" ucap Hui Khong Taysu. "sudah waktunya kita bergabung kembali dengan Kay Pang, untuk membasmi Bu Lim sam Mo, Kwan Gwa siang Koay, Lak Kui dan Ang Bin sat sin."

"Taysu sudah berpikir secara matang?" tanya It Hian Tojin sambil mengerutkan kening.

"omitohud" ucap Hui Khong Taysu. "Aku telah berpikir secara matang. Kalau tidak, bagaimana mungkin aku mengundang kalian ke mari untuk berunding?"

"Tapi...." Ceng sim suthay menggeleng-gelengkan kepala. "Itu sungguh membahayakan kita,

sebab kita bertujuh bergabung pun belum tentu dapat mengalahkan kedua siluman itu. oleh karena itu, kita tidak boleh bertindak ceroboh."

"Benar." Hui Khong Taysu manggut-manggut. "sesungguhnya partai siauw Lim sudah tidak mau mencampuri urusan rimba persilatan, namun mengingat akan pengorbanan Tio Cie Hiong, maka kita harus membantu Kay Pang."

"Itu tidak salah, tapi kekuatan kita terbatas sekali." Hui Liong sin Kiam, ketua partai Hoa san menghela nafas panjang. "Bagaimana mungkin kita membantu Kay Pang?"

"ohya" ujar It Hian Tojin dengan wajah serius. "Apakah kalian tahu, bahwa belum lama ini dalam rimba persilatan telah muncul Tui Beng Li, Thian Liong Kiam Khek dan Hong Hoang Leng?"

"Tentunya kami sudah tahu," sahut Pek Bie Lojin, ketua swat san Pay. "Mereka justru menentang Bu Tek Pay."

"Kemunculan Hong Hoang Leng memang sangat mengejutkan, sebab tujuh puluh lima tahun lampau, Hong Hoang Leng pernah muncul." ujar wie Hian cinjin ketua Kun Lun Pay.

"omitohud" ucap Hui Khong Taysu. "Hong Hoang Leng pun menentang Bu Tek Pay, itu sungguh membingungkan"

"Jadi bagaimana keputusan kita?" tanya It Hian Tojin mendadak. "Perlukah kita bergabung kembali dengan Kay Pang?"

"Begini saja." usul Hui Liong sin Kiam. "Kita pergi menemui Sam Gan sin Kay dan Lim Peng Hang, kita coba berunding dengan mereka."

"omitohud Memang lebih baik begitu," ucap Hui Khong Taysu. "Tapi kita tidak tahu mereka berada di mana sekarang."

"Mereka berada di Gunung Hong Lay san," sahut It Hian Tojin. "salah seorang muridku bertemu anggota Bu Tek Pay yang kabur dari markas, dia memberitahukan bahwa pihak Kay Pang berada di Gunung Hong Lay san."

"Kalau begitu, mari kita berangkat ke Gunung Hong Lay san Bagaimana?" tanya Wie Hian Cinjin, ketua Kun Lun Pay.

"omitohud Mari kita berangkat sekarang" ucap Hui Khong Taysu. Kenapa hweeshio tua ini ingin sekali menemui sam Gan sin Kay? Ternyata pengemis sakti itu pernah berbisik kepadanya, bahwa Tio Cie Hiong belum mati, maka ia ingin tahu jelas tentang itu Lagi pula ia juga memperoleh suatu informasi mengenai munculnya seorang lelaki berkepandaian tinggi yang selalu membawa seekor monyet putih. Hui Khong Taysu yakin bahwa sam Gan sin Kay pasti tahu siapa lelaki tersebut.

Para ketua tujuh partai besar telah tiba di Gunung Hong Lay san. Di saat mereka sedang mencari ke sana ke mari, mendadak muncul seorang tua sambil membentak mereka. "

“Siapa kalian? Kenapa memasuki Gunung Hong Lay san ini?"

"Omitohud Maaf" sahut Hui Khong Taysu. "Aku ketua partai siauw Lim. Kami ke mari ingin menemui Bu Lim Ji Khie dan ketua Kay Pang."

"Ha ha ha" Terdengar suara tawa, lalu muncul sam Gan sin Kay dan Kim siauw suseng. sam Gan sin Kay menatap Hui Khong Taysu seraya bertanya. "Kepala gundul, ada urusan apa kalian ke mari?"

"omitohud" Hui Khong Taysu tersenyum. "sin Kay, sudah sekian lama kita tidak bertemu. Engkau tetap sehat, omitohud"

"Taysu" Kim siauw suseng menatapnya sambil mengerutkan kening. "Jelaskanlah, ada urusan apa kalian ke mari?"

"Kami ke mari ingin berunding dengan kalian." jawab Hui Khong Taysu dan menambahkan. "se-bab kami sudah tahu pihak Bu Tek Pay menyerang markas pusat Kay Pang, setelah itu kalian pun balas menyerang Bu Tek Pay. oleh karena itu, kami ke mari ingin berunding."

"Baiklah." sam Gan sin Kay manggut-mang-gut. "Mari ikut kami ke goa"

Bu Lim Ji Khie dan orang tua yang muncul duluan itu segera melesat pergi. Para ketua tujuh partai besar pun segera melesat mengikuti mereka.

Tak seberapa lama kemudian, Bu Lim Ji Khie dan orang tua itu berhenti di depan sebuah goa. "Mari kuperkenalkan" ujar sam Gan sin Kay. "orang ini pembantu setia Tio Tocu." "Pemilik pulau?" Hui Khong Taysu tersentak. "Pulau apa?"

"Hong Hoang Te," sahut sam Gan sin Kay memberitahukan. "Ayoh, mari kita ke dalam goa" "omitohud" ucap Hui Khong Taysu lalu mengikuti mereka memasuki goa tersebut.

Setelah berada di dalam goa, sam Gan sin Kay juga memperkenalkan mereka satu persatu. Mereka lalu saling memberi hormat. Para ketua tujuh partai besar terkejut bukan main setelah mengetahui Tio Tay seng adalah pemilik pulau Hong Hoang Te.

"omitohud Kalau begitu, Tio Tecu adalah pemilik Hong Hoang Leng?" tanya Hui Khong Taysu.

"Ya." Tio Tay seng mengangguk dan menambahkan. "Tujuh puluh lima tahun lalu, yang muncul di Tionggoan adalah ayahku."

"oooh" Hui Khong Taysu manggut-manggut dan bertanya. "Kenapa Tio Tocu menentang Bu Tek Pay?"

"Karena Bu Lim sam Mo membunuh adikku, maka kami pihak Hong Hoang Te harus menuntut balas," sahut Tio Tay seng.

"siapa adik Tio Tecu?" tanya It Hian Tojin.

"Adikku adalah Tio It seng."

"Haaah...?" Mulut para tujuh partai besar ternganga lebar. "Tak disangka Tio It seng adalah keturunan pemilik Hong Hoang Leng Kalau begitu, Tio Cie Hiong...."

"Tentunya dia keponakanku, dan Tio Hong Hoa adalah putriku." Tio Tay seng menjelaskan. "It sim sin Ni adalah ibuku."

"It sim sin Ni... It sim sin Ni..." gumam Hui Khong Taysu sambil berpikir keras.

"Taysu kenal ibuku?" tanya Tio Tay seng.

"Tidak kenal, namun aku pernah mendengar dari guruku," jawab Hui Khong Taysu dan melanjutkan. " Hanya tidak begitu jelas, yang di luar dugaan It sim sin Ni ternyata ibumu."

"Itu memang benar." Tio Tay seng tersenyum getir, kemudian menggeleng-gelengkan kepala.

"omitohud" ucap Hui Khong Taysu, lalu memandang sam Gan sin Kay seraya bertanya, "sin Kay, bagaimana Tio Cie Hiong?"

"Eh? Kok...?" sam Gan sin Kay terbelalak. "Kepala gundu...."

"omitohud" Hui Khong Taysu tersenyum. "Jangan pura-pura lupa Bukankah sin Kay pernah berbisik kepadaku...."

"oh Aku ingat." sam Gan sin Kay manggut-manggut. "Kalau begitu, aku akan menjelaskannya. sesungguhnya dua tahun yang lalu, Tio Cie Hiong tidak mati, melainkan dia dibawa pergi oleh Tayli Lo Ceng." tutur sam Gan sin Kay dan melanjutkan dengan suara rendah. " Lelaki yang membawa monyet putih adalah Tio Cie Hiong."

"omitohud syukurlah" ucap Hui Khong Taysu. sedangkan para ketua partai lain terbelalak.

"Lalu di mana Cie Hiong sekarang?" tanya It Hian Tojin.

"Dia pergi kemarin pagi...," jawab sam Gan sin Kay sekaligus memberitahukan tentang hilangnya It sim sin Ni, cucunya, Tan Li cu dan kedua murid It sim sin Ni.

"Jadi...." Wajah It Hian Tojin berubah agak pucat. "Mereka ditangkap oleh Bu Lim sam Mo?"

"Ya." sam Gan sin Kay mengangguk. "Hampir sepuluh hari kami menunggu munculnya Bu Lim sam Mo, namun tidak muncul sehingga Cie Hiong pergi mencari mereka."

"omitohud" Hui Khong Taysu menggeleng-gelengkan kepala. "Kami sama sekali tidak tahu tentang kejadian itu."

"Sin Kay" sela It Hian Tojin. "sebetulnya kami ke mari untuk bergabung, namun...."

"Terima kasih atas kesediaan kalian bergabung dengan kami, tapi kami terpaksa menolak." ujar sam Gan sin Kay sungguh-sungguh. "sebab akan menyusahkan kalian semua."

"Begini saja," It Hian Tojin tampak serius. "Kami akan berusaha mencari jejak Bu Lim sam Mo. Apabila kami tahu jejak mereka, kami pasti ke mari memberitahukan."

"Terima kasih Terima kasih" ucap sam Gan sin Kay.

"omitohud" ucap Hui Khong Taysu. "Kalau begitu, kami mohon pamit"

"Baiklah." sam Gan sin Kay manggut-manggut. "Kalian harus hati-hati, jangan sampai terlihat oleh anggota Bu Tek Pay"

"Ya." Hui Khong Taysu mengangguk. "omitohud, sampai jumpa"

Sementara itu, Tio Cie Hiong langsung menuju markas Bu Tek Pay, Ia masih penasaran akan tempat itu, maka timbul niatnya untuk menyelidiki lagi tempat tersebut.

Pintu goa tetap tertutup rapat. cukup lama Tio cie Hiong berdiri di situ, lalu menyelidiki sekitar tempat itu. Akan tetapi, sama sekali tidak menemukan suatu tempat yang mencurigakan. Akhirnya ia meninggalkan tempat tersebut dengan perasaan agak kacau, sebab ia tidak tahu harus ke mana mencari Bu Lim sam Mo.

Oleh karena itu, ia mencari mereka ke sana ke mari tanpa arah tujuan. Dua hari kemudian, ia memasuki sebuah rimba. Mendadak ia mendengar suara kecapi yang sangat merdu. Lantaran hatinya tertarik. maka ia meloncat ke atas sebuah pohon, sekaligus memandang ke arah suara kecapi itu.

Tampak seorang pemuda berusia sekitar dua puluh empat tahun duduk di bawah pohon, sedang memainkan alat musik itu. Di sisi kiri kanannya berdiri dua orang lelaki berbadan kekar.

Sungguh merdu suara kecapi itu, sehingga membuat Tio Cie Hiong tanpa sadar mengeluarkan suling kumalanya, lalu meniupnya mengiringi suara kecapi tersebut.

Semula pemuda itu tampak terkejut, tapi kemudian malah tersenyum dan terus memainkan kecapinya. Berselang beberapa saat, barulah ia berhenti seraya berseru:

"Siapa yang meniup suling, silakan memperlihatkan diri" suara pemuda itu cukup berwibawa.

Tio Cie Hiong memandang ke arah pemuda tersebut, kelihatannya bukan orang Tionggoan, sebab pakaiannya agak aneh tapi indah sekali, sedangkan kedua lelaki yang berdiri mematung di sisinya berpakaian ringkas.

Setelah berpikir cukup lama, Tio cie Hiong melesat ke hadapan pemuda itu. seketika kedua lelaki tersebut menghadang di depannya.

"Jangan kurang ajar" bentak pemuda itu. "Kalian berdua cepat mundur"

Kedua lelaki itu mengangguk. lalu mundur ke sisi pemuda tersebut. Tio cie Hiong menatap pemuda itu sambil tersenyum dan menjura. "Maaf, aku telah mengganggu ketenangan Anda"

"Tidak apa-apa." Pemuda itu tersenyum ramah. "silakan duduk.. Tuan"

"Terimakasih" ucap Tio Cie Hiong lalu duduk di hadapan pemuda itu. "sungguh mahir Anda memainkan alat musik itu"

"Tuan pun pandai meniup suling," sahut pemuda itu. "ohya, bolehkah aku tahu nama Tuan?"

"Aku bermarga Tio." Tio Cie Hiong memberitahukan marganya tanpa menyebut namanya. "Anda siapa? Tentunya bukan orang Tionggoan, kan?"

"Aku memang bukan orang Tionggoan." Pemuda itu tersenyum. "Aku datang dari Manchuria, namaku Patoho."

"Manchuria?" Tio Cie Hiong mengerutkan kening, la tahu suku Manchuria tergolong suku liar, tapi pemuda itu justru begitu ramah. "saudara Patoho, setahuku suku Manchuria jarang memasuki daerah Tionggoan, namun saudara Patoho...."

"Terus terang, aku mau ke ibukota." Patoho memberitahukan secara jujur, kemudian menatapnya seraya bertanya, "saudara Tio, kenapa engkau tidak bersedia memperkenalkan namamu? Apakah engkau kurang percaya kepadaku?"

"Saudara Patoho...," Tio Cie Hiong menarik nafas dalam-dalam, setelah itu barulah memberitahukan namanya. "Namaku Cie Hiong."

"Nama yang bagus" puji Patoho dan tersenyum lagi. "Engkau membawa monyet, maka aku yakin bahwa engkau kaum rimba persilatan, dan tentu berkepandaian tinggi, bukan?"

"Tidak juga." Tio cie Hiong tersenyum. "sebaliknya saudara Patoho yang berkepandaian tinggi, aku yakin itu."

"Ha ha" Patoho tertawa. "Sejak kecil aku memang menyukai ilmu silat dan seni musik, namun belum tentu ilmu silatku bisa lebih tinggi dari engkau."

"Engkau terlampau merendah."

"Aku berkata sesungguhnya," ujar Patoho sambil menatapnya. "ohya, karena aku sangat gemar ilmu silat, maka aku harap engkau tidak akan mengecewakanku"

"Memangnya kenapa?" Tio Cie Hiong heran.

"Terus terang, kedua pengawalku ini berkepandaian cukup tinggi. Bagaimana kalau kalian bertanding untuk mempererat hubungan kita?" ujar Patoho sambil tersenyum.

"Kepandaianku sangat rendah, aku tidak berani bertanding dengan kedua pengawalmu," ujar Tio Cie Hiong.

"Nah, engkau telah mengecewakanku." Patoho menggeleng-gelengkan kepala dan menambahkan. "Aku dengar, di rimba persilatan Tionggoan terdapat kaum pesilat yang gagah berani. Namun kenapa engkau begitu pengecut?"

"Aku bukan pengecut." Tio Cie Hiong tersenyum. "Melainkan tidak mau bertanding dengan kedua pengawalmu, sebab akan merusak rasa persahabatan kita."

"Itu tidak akan terjadi, karena kami Bangsa Manchuria selalu menjunjung tinggi kegagahan orang jadi kuharap engkau jangan menolak. layanilah kedua pengawalku beberapa jurus" desak Patoho.

"Kalau begitu...." Tio cie Hiong mengangguk. "Baiklah."

"Terimakasih" Patoho tertawa gembira, kemudian berbicara dengan kedua pengawalnya menggunakan Bahasa Manchuria.

Kedua pengawalnya manggut-manggul, lalu melangkah ke depan. Tio Cie Hiong menggeleng-gelengkan kepala. sesungguhnya ia tidak mau bertanding, namun tidak mau juga dikatakan pengecut. Karena itu, ia terpaksa melayani kedua pengawal itu. "Kauw heng, turunlah dulu"

Monyet bulu putih langsung meloncat turun, kemudian Tio Cie Hiong berjalan ke hadapan kedua pengawal ilu.

"Silakan kalian menyerang dulu" ujar Tio Cie Hiong.

Kedua pengawal itu saling memandang, kemudian menyerang Tio Cie Hiong sambil membentak-bentak keras.

Tio cie Hiong hanya tersenyum. Mendadak badannya bergerak ke sana ke mari, tahu-tahu kedua pengawal itu telah berdiri seperti patung. Ternyata Tio cie Hiong telah menotok jalan darah mereka, sehingga mereka tak bisa bergerak.

"Haah...?" Mulut Patoho ternganga lebar, karena tidak menyangka kalau Tio Cie Hiong begitu gampang melumpuhkan kedua pengawalnya. la segera mendekati mereka sekaligus membebaskan totokan itu, akan tetapi ia pun terbelalak seketika, sebab tidak mampu membebaskan totokan tersebut. "Eeeeh...?"

"Saudara Patoho" Tio Cie Hiong tersenyum. "Itu adalah totokan istimewa, tidak gampang dibebaskan."

"oh? Ha ha ha" Patoho tertawa. "Engkau memang berkepandaian tinggi. Hanya dalam satu jurus engkau sudah dapat melumpuhkan kedua pengawalku. Aku kagum kepadamu."

Tio Cie Hiong tersenyum, kemudian mengibaskan lengan bajunya ke arah kedua pengawal itu, dan seketika mereka berdua pun bisa bergerak.

Kedua pengawal itu memandang Tio Cie Hiong dengan mala terbelalak. kemudian memberi hormat sambil mengucapkan kata-kata yang tidak dimengerti oleh Tio Cie Hiong.

Tio Cie Hiong balas memberi hormat kepada kedua pengawal, namun memandang ke arah Patoho.

"Kedua pengawalku mengucapkan kata-kata pujian kepadamu." Patoho memberitahukan. "Mereka sangat kagum akan kepandaianmu, begitu pula aku."

Tio Cie Hiong hanya tersenyum, sedangkan Patoho menatapnya dalam-dalam, lalu berkata sambil tersenyum.

"Kalau aku bertanding denganmu, tentu aku kalah. oleh karena itu, aku ingin mempertunjukkan kepandaianku, sudilah engkau memberi petunjuk padaku apabila terdapat gerakan yang salah"

"Saudara Patoho...." Tio Cie Hiong ingin menolak, tapi Patoho sudah mulai mempertunjukkan

ilmu pedangnya. Karena itu, Tio Cie Hiong mau tidak mau harus memperhatikannya .

Ilmu pedang Patoho memang hebat dan lihay, kepandaiannya setingkat dengan Lam Kiong Bie Liong. Akan tetapi, terdapat pula kelemahannya.

"Bagaimana ilmu pedangku?" lanya Patoho seusai mempertunjukkannya. "Apakah terdapat kekurangan atau kelemahannya?"

"Maaf" sahut Tio Cie Hiong sungguh-sungguh. " Ilmu pedangmu memang terdapat sedikit kelemahan. Apabila engkau bertemu lawan tangguh, pasti bisa melihat kelemahan itu."

"Oh?" Patoho kurang percaya. "Benarkah?"

"Benar." Tio Cie Hiong mengangguk, setelah itu ia mulai bergerak. "Haah...?" Mulut Patoho ternganga lebar, karena Tio Cie Hiong mempertunjukkan ilmu pedangnya itu.

"Nah" ujar Tio cie Hiong sekaligus berhenti bergerak. "Jurus ini terdapat kelemahan. Kalau aku menyerang dengan cara demikian, tentu dadamu akan tertusuk pedang ku, bukan?" Patoho memperhatikan dengan seksama, kemudian manggut-manggut seraya berkata, "Benar. Lalu aku harus bagaimana?"

"Engkau harus bergerak begini..." Tio cie Hiong memberi penjelasan sekaligus memberi petunjuk.

Patoho mendengarkan dengan penuh perhatian, berselang beberapa saat Tio Cie Hiong bertanya. "Engkau sudah mengerti?"

"Sudah." Patoho memegang bahunya. "Engkau sungguh hebat, aku senang sekali jadi sahabatmu."

"Kita sudah menjadi sahabat," sahut Tio Cie Hiong sambil tersenyum.

"Mari kita duduk" ajak Patoho.

Mereka berdua duduk di bawah sebuah pohon, sedangkan monyet bulu putih langsung meloncat ke bahu Tio Cie Hiong.

"ohya" Patoho menatap Tio Cie Hiong dalam-dalam dan bertanya serius sekali. "Benarkah kita sudah menjadi sahabat?"

"Tentu." Tio Cie Hiong mengangguk. "Tidak perlu diragukan."

"Kalau begitu...," ujar Patoho setelah berpikir sejenak. "Aku harus berterus terang kepadamu."

"Mengenai apa?"

"Sebetulnya aku ke ibukota menemui seorang Thay Kam (Sida-sida), guna membicarakan suatu kerja sama."

"oh?" Tio Cie Hiong tercengang.

"Aku Putra Mahkota Manchuria." Patoho memberitahukan dengan suara rendah. "Ayah yang mengutusku menemui Thay Kam itu."

"Jadi...." Tio Cie Hiong tersentak. "Pihak Manchuria akan bekerja sama dengan Thay Kam itu

untuk menggulingkan kerajaan Beng?"

"Kira-kira begitulah." Patoho menghela nafas panjang. "saudara Tio, itu bukan atas kemauanku, melainkan atas kemauan ayahku."

"Kalau begitu...." Tio Cie Hiong mengerutkan kening.

"Jangan khawatir, saudara Tio" Patoho tersenyum. "Sebab aku akan mengajukan beberapa syarat berat, agar Thay Kam itu menolak. otomatis akan batal kerja sama itu. Lagi pula aku masih bisa menasehati ayah, hanya saja...."

"Kenapa?"

"Adikku itu...." Patoho menggeleng-gelengkan kepala.

"Kenapa adikmu?"

"Adikku sangat berambisi, selalu berupaya menggeserku." Patoho menghela nafas panjang. "Kalau aku bisa menggantikan ayahku kelak. tentunya tidak ada masalah. Tapi... kalau adikku menjadi raja...."

"Dia ingin menyerang Tionggoan?"

"Menyerang secara diam-diam."

"Maksudmu?"

"Dia akan bersekongkol dengan Thay Kam, sedangkan Thay Kam itu akan mempengaruhi Kaisar Beng, agar Kaisar Beng berada dalam tangannya."

"saudara Patoho" Tio Cie Hiong tersenyum. "Terima kasih atas penjelasanmu, namun aku tidak mau mencampuri urusan kerajaan."

"Engkau orang gagah, kalau tanah airmu diserang pihak lain, apakah engkau akan tetap diam?"

"Tentu. Aku tidak mau memusingkan urusan kerajaan, sebab itu urusan para jenderal."

"Baik." Patoho memegang bahunya. "Kita sebagai sahabat, kalau aku menjadi raja Manchuria kelak. aku pasti tidak akan bekerja sama dengan Thay Kam untuk menggulingkan kerajaan Beng."

"Terima kasih, saudara Patoho Engkau benar-benar sahabatku. Karena itu, aku pun harus berterus terang."

"Oh?"

"Sesungguhnya aku memakai kedok." Tio Cie Hiong melepaskan kedoknya perlahan-lahan.

"Haah?" Patoho terbelalak. "Ternyala engkau lebih muda dariku, bahkan sangat tampan" Tio cie Hiong tersenyum, kemudian memakai kedok itu.

"Saudara Tio, kenapa engkau harus memakai kedok?" tanya Patoho heran. "Apakah engkau dalam kesulitan?"

"Menghindari hal-hal yang tak diinginkan" sahut Tio Cie Hiong sambil tersenyum.

"oooh" Patoho manggut-manggut. "Aku tidak menyangka, engkau masih muda tapi begitu tinggi kepandaianmu. Aku kagum sekali kepadamu."

"Saudara Patoho" Tio Cie Hiong menatapnya dalam-dalam. "Janganlah menciptakan peperangan, sebab rakyat yang akan menderita"

"Jangan khawatir, saudara Tio" Patoho tersenyum. "Kalau aku menjadi raja Manchuria kelak. tentu tidak akan menyerang Tionggoan. Percayalah kepadaku"

0 Response to "Kesatria Baju Putih (Pek In Sin Hiap) Bagian 48"

Post a Comment