coba

Kesatria Baju Putih (Pek In Sin Hiap) Bagian 49

Mode Malam
Bagian 49
"Saudara Patoho" Tio Cie Hiong memegang bahunya. "Aku percaya kepadamu, selamanya kita sebagai sahabat"

"Benar. Ha ha" Patoho tertawa gembira. "Selamanya kita sebagai sahabat"

"Baiklah." Tio cie Hiong bangkit berdiri "Saudara Patoho, aku mau mohon pamit"

"Tunggu" cegah Patoho, kemudian ia melepaskan kalungnya yang berbandulkan sebuah medali emas. "Kalung ini kuhadiahkan kepadamu, simpan baik-baik"

"Saudara Patoho...." Tio cie Hiong menggelengkan kepala.

"Saudara Tio" Patoho tersenyum. "Terimalah Kalau tidak, berarti engkau tidak menganggapku sebagai sahabatmu."

"Saudara Patoho...." Tio Cie Hiong terpaksa menerimanya. "Terima kasih Terima kasih"

"Ohya Kalau engkau punya anak kelak. kalung ini berikan kepadanya" pesan Patoho.

"Baik" Tio Cie Hiong mengangguk sekaligus memakai kalung itu di lehernya. "Saudara Patoho, sampaijumpa"

"Saudara Tio..." seru Patoho, namum Tio Cie Hiong telah melesat pergi laksana kilat.

"Sungguh tinggi ginkangnya" gumam Patoho kagum, kemudian menghela nafas panjang sambil bergumam. "Apabila adikku yang menjadi raja kelak. itu..."

Bab 81 Menyelamatkan nyawa seorang Menteri Pensiunan

Tio Cie Hiong terus mencari kabar berita tentang Bu Lim Sam Mo. akan tetapi, Bu Lim sam Mo dan lainnya seakan tenggelam ke dasar laut, sama sekali tiada kabar berita maupun jejak mereka. Itu sungguh mencemaskan Tio Cie Hiong, namun ia tetap berusaha untuk tenang dan tabah.

Malam ini ketika Tio Cie Hiong memasuki sebuah kota, mendadak ia melihat beberapa sosok bayangan berkelebatan, membuat keningnya berkerut. Sebetulnya ia tidak mau mencampuri urusan orang lain, tapi bayangan-bayangan itu sangat mencurigakan, sehingga ia menguntit mereka.

Beberapa sosok bayangan itu berhenti di depan sebuah rumah tua tapi besar sekali. Mereka tampak berkasak-kusuk, setelah itu barulah mereka beriompatan ke dalam. Berselang beberapa saat, terdengariah suara bentrokan senjata di halaman rumah itu.

Tio cie Hiong segera melesat ke atas sebuah pohon di halaman itu, lalu memandang ke bawah.

Tampak seorang pemuda tampan sedang bertarung dengan tamu-tamu tak diundang itu.

Di depan pintu berdiri seorang lelaki berusia enam puluhan, tampak tenang dan berwibawa. "Siapa kalian?" bentak pemuda tampan itu "Mau apa kalian ke mari malam-malam?"

Tio Cie Hiong tercengang, karena suara pemuda itu sangat merdu. sementara salah seorang dari mereka menyahut, kemudian tertawa gelak. "Kami ke mari untuk membunuh kalian ayah dan anak Ha ha ha..."

"oh?" Pemuda tampan itu mengerutkan kening. "Siapa yang menyuruh kalian ke mari?"

"Engkau tidak usah tahu, pokoknya malam ini kalian harus mampus" bentak orang itu sambil memberi isyarat kepada dua temannya.

Itu tidak terlepas dari mata Tio Cie Hiong, dan ia tahu bahwa orang itu memberi isyarat agar kedua temannya segera membunuh orang tua yang berdiri di depan pintu. Karena itu, Tio cie Hiong segera melesat laksana kilat ke hadapan orang tua tersebut.

Di saat bersamaan, kedua orang itu juga sudah sampai di hadapan orang tua tersebut, sekaligus mengayunkan pedang masing-masing. "Ayah..." jerit pemuda tampan itu dengan wajah pucat pias.

Trang Mendadak pedang mereka patah menjadi beberapa potong, kemudian terdengar pula suara jeritan.

"Aaakh..." Kedua orang itu menjerit dan terpental beberapa depa dengan mulut mengeluarkan darah.

"Siapa engkau?" bentak salah seorang dari mereka yang menyerang pemuda tampan itu. "

Kenapa engkau mencampuri urusan kami?"

"Hm" dengus Tio cie Hiong dingin. "Cepatlah kalian enyah, kalau tidak...."

Sementara pemuda tampan itu telah berlari menghampiri ayahnya, kemudian memandang Tio cie Hiong dengan mata terbelalak.

"Ini urusan kerajaan, kami harap engkau tidak turut campur" sahut orang itu.

"Aku memang tidak mau mencampuri urusan kerajaan, namun berkewajiban menyelamatkan nyawa orang Kalau kalian masih tidak mau pergi, berarti kalian cari penyakit"

"Hm" dengus orang itu, lalu berseru. "serang dia"

orang itu dan kedua temannya langsung menyerang Tio Cle Hiong.

"Tuan, hati-hati" seru si pemuda tampan.

Tio Cie Hiong tersenyum, lalu mendadak mengibaskan lengan bajunya. seketika ketiga orang itu terpental beberapa depa, dengan mulut mengeluarkan darah.

"Kalian harus mampus" bentak sipemuda tampan, yang sudah siap menghabiskan nyawa mereka.

"Jangan bunuh mereka" cegah Tio Cie Hiong. "Biar mereka pergi"

"Tapi...."

"Hiang ji Turutilah perkataan tayhiap itu" ujar orang tua tersebut.

"Ya, Ayah." Pemuda tampan itu mengangguk.

"Kalian cepatlah pergi" bentak Tio Cie Hiong dingin.

Mereka berlima menatap Tio Cie Hiong, lalu berjalan pergi dengan sempoyongan.

"Ha ha ha" orang tua itu tertawa gembira. "Terimakasih Tayhiap"

"Maaf" sahut Tio Cie Hiong. "Aku mohon pamit"

"Tunggu" seru orang tua itu berwibawa. "Mari kita masuk untuk bercakap-cakap sejenak Aku sangat kagum padamu."

"Tapi...." Tio Cie Hiong tampak ragu-ragu.

"Tayhiap" orang tua itu tersenyum lembut. "Mari kita masuk. jangan menolak"

Orang tua itu melangkah masuk rumah, sedangkan Tio Cie Hiong masih berdiri di tempat. "Tuan, jangan mengecewakan ayahku" ujar pemuda tampan itu. "Ayolah, mari kita masuk"

Pemuda tampan itu menarik Tio Cie Hiong untuk diajak masuk. menghampiri ayahnya yang sudah duduk.

"Tayhiap. silakan duduk" ucap orang tua itu ramah.

"Terimakasih, Tuan besar" sahut Tio Cie Hiong sambil duduk.

"Ha ha ha" orang tua itu tertawa gelak. "Jangan memanggilku tuan besar, panggil saja aku paman"

"Ya, Paman." Tio Cie Hiong mengangguk.

"Hiang ji, ambilkan arak istimewa" ujar orang tua itu. "Ayah ingin minum bersama dengan. Tay hiap"

"Ya, Ayah." Pemuda tampan itu segera menyuguhkan arak istimewa, dan menaruh dua buah cangkir ke atas meja.

Orang tua itu segera menuang arak ke dalam cangkir, kemudian disodorkan ke hadapan Tio cie Hiong.

"Tayhiap mari kita bersulang" ajak orang tua itu.

"Mari" Tio cie Hiong meneguk. Namun monyet bulu putih yang duduk di bahunya bercuit-cuit maka segeralah Tio cie Hiong menyodorkan cangkir itu kepada monyet itu.

"Eh?" orang tua itu terbelalak. "Monyet itu bisa minum arak?"

"Ya." Tio cie Hiong mengangguk.

"Hiang ji cepat ambilkan sebuah cangkir lagi" seru orang tua itu sambil tersenyum.

Si pemuda tampan cepat-cepat mengambil sebuah cangkir lalu ditaruhnya di atas meja. Orang tua itu segera menuang arak ke dalam cangkir tersebut, lalu disodorkan ke hadapan Tio cie Hiong.

"Terimakasih" ucap Tio cie Hiong, lalu mengangkat cangkir itu untuk monyet bulu putih.

"Monyet putih Mari kita bersulang" ucap orang tua itu sambil tertawa gembira.

Monyet bulu putih bercuit-cuit lalu meneguk habis arak itu.

"Ha ha ha" Orang tua itu tertawa lagi. "Monyet putih, mari kita tambah lagi"

"Kauw heng, cukup Jangan minum lagi Engkau akan mabuk nanti." ujar Tio cie Hiong.

Monyet bulu putih manggut-manggut. Sudah barang tentu membuat orang tua dan pemuda tampan itu terbelalak.

"Tay hiap Monyet putih itu mengerti bahasa manusia?" tanya orang tua itu heran.

"Ya." Tio Cie Hiong mengangguk.

"ohya" orang tua itu memperkenalkan diri "Aku bernama Yo Huai An, dia putriku, bernama Yo suan Hiang."

"oh?" Tio Cie Hiong memandang pemuda tampan itu "Jadi... dia anak gadis?,"

"Ya." Yo Huai An tertawa gelak. "Hiang ji, cepatlah engkau ganti pakaian"

"Ya, Ayah." Yo suan Hiang mengangguk. lalu melangkah ke dalam. Tak lama kemudian ia sudah kembali dengan mengenakan pakaian wanita.

"Ha ha ha" Yo Huai An tertawa gembira. "Bagaimana Tayhiap? Putriku cukup cantik, kan?"

"Cantik sekali," sahut Tio Cie Hiong. "Tapi kenapa dia suka berpakaian lelaki?"

"Agar tidak diganggu orang," ujar Yo Huai An sambil menatap Tio Cie Hiong. "Tayhiap berkepandaian begitu tinggi, bagaimana kalau Tayhiap menerima putriku sebagai murid?"

"Maaf, tidak bisa" ucap Tio Cie Hiong.

"Tayhiap" Yo Huai An tampak kecewa. "Apakah putriku kurang berbakat, maka Tayhiap menolak"

"Sesungguhnya putri Paman cukup berbakat, tapi... aku tidak bisa menerimanya sebagai murid." "Kenapa?" "sebab aku masih muda.

"Apa?" Yo Huai An tertegun. "Tayhiap sudah berusia empat puluhan, kok masih bilang muda?"

"Paman, sebenarnya usiaku baru dua puluhan."

"Tayhiap" Yo Huai An menggeleng-gelengkan kepala. "Jangan membohongi orang tua, itu tidak baik"

"Tuan" sela Yo suan Hiang mendadak. "Aku ingin menjadi murid Tuan."

"Tidak bisa. Tidak bisa...." Tio Cie Hiong menggoyang-goyangkan sepasang tangannya. "Aku

tidak bisa menjadi gurumu, tidak bisa...."

"Apa alasan Tuan?" Yo suan Hiang penasaran. "Karena aku masih muda."

"Usia Tuan sudah empat puluhan, kok masih bilang muda?" Yosuan Hiang tertawa geli. "Kalau begitu, Tuan keburu tua."

"Aku...." Tio Cie Hiong menghela nafas panjang, kemudian melepaskan kedoknya perlahan-lahan.

"Haah...?" Yo Huai An dan putrinya terbelalak. "Engkau...."

"Paman aku masih muda, kan? Nah, bagaimana mungkin aku menerima putri Paman sebagai murid?" ujar Tio Cie Hiong sambil tersenyum.

"Tayhiap... eh siauwhiap...."

"Paman namaku Tio Cie Hiong. panggil saja namaku"

"cie Hiong, aku... aku tidak menyangka kalau engkau masih sedemikian muda dan amat tampan.

Ha ha ha" Yo Huai An tertawa gelak.

Sedangkan wajah Yo suan Hiang kemerah-merahan. Hatinya pun kebat-kebit ketika menyaksikan ketampanan wajah Tio Cie Hiong. "Tuan...."

"Jangan panggil Tuan, panggil saja...."

"Hiang ji" sela Yo Huai An. "Engkau harus panggil dia Kakak Cie Hiong."

"Ya." Yo suan Hiang mengangguk. kemudian memanggil Tio Cie Hiong sambil menundukkan kepala. "Kakak Cie Hiong...."

"Adik Hiang" Tio Cie Hiong tersenyum.

"Bagus, bagus Ha ha ha" Yo Huai An tertawa gembira. "ohya, kok engkau bisa begitu kebetulan menyelamatkan nyawaku?"

"Aku baru memasuki kota ini, tiba-tiba melihat beberapa sosok bayangan yang mencurigakan, maka aku menguntit mereka." Tio Cie Hiong memberitahukan dan bertanya. "Paman, siapa mereka?"

"Aku tidak kenal mereka, tapi yakin mereka para anak buah Lu Kong Kong," jawab Yo Huai An sambil menghela nafas panjang.

"Lu Kong Kong? siapa Lu Kong Kong?"

"Dia Lu Thay Kam (sida-sida), biasanya dipanggil Lu Kong Kong." Yo Huai An menjelaskan. "Dia sangat berkuasa di dalam istana, bahkan kaisar pun sangat menuruti perkataannya . "

"oooh" Tio Cie Hiong manggut-manggut. "Pantas mereka mengatakan ini adalah urusan kerajaan"

"Aaakh..." keluh Yo Huai An. "Sesungguhnya aku seorang menteri. Karena menasehati kaisar agar memperhatikan kesejahteraan rakyat, akhirnya aku malah dipensiunkan."

"Kenapa bisa begitu?"

"Semula kaisar masih mau mendengar nasehatku, tapi...." Yo Huai An menggeleng-gelengkan

kepala. "Kemudian terpengaruh oleh Lu Thay Kam, sehingga kaisar mengeluarkan surat perintah mempensiunkan aku. Karena itu, kami pulang ke rumah ini. Tak disangka, Lu Thay Kam masih menyuruh anak buahnya untuk membunuhku."

"Kenapa Lu Thay Kam ingin membunuh Paman?"

"Karena aku sering menentangnya."

"Sudah berapa lama Paman dipensiunkan?"

"Sudah dua tahun." Yo Huai An, memberitahukan. "Lu Thay Kam punya rencana bersekongkol dengan Bangsa Manchuria untuk menggulingkan Dinasti Beng. setelah itu, dia ingin jadi kaisar."

"oh?" Tio Cie Hiong teringat pada Patoho yang berangkat ke ibukota untuk menemui Thay Kam itu. "Paman, apakah pihak Manchuria akan bekerja sama dengan Lu Thay Kam?"

"Betum dapat dipastikan. Kalau pihak Manchuria mengajukan syarat yang memberatkan, mungkin Lu Thay Kam tidak akan bekerja sama. Tapi Lu Thay Kam sangat licik, kemungkinan besardia akan memperalat pasukan Manchuria untuk menyerang ibukota. Apabila pasukan itu berhasil, dia pun akan membunuh pasukan tersebut."

"oooh" Tio Cie Hiong manggut-manggut.

"cie Hiong" Yo Huai An menatapnya tajam. "Wan Gwan swee (Jenderal) adalah kawan baikku, bagaimana engkau bekerja padanya?"

"Maaf, Paman" Tio Cie Hiong menggelengkan kepala. "Aku tidak mau mencampuri urusan kerajaan."

"Sayang sekali" Yo Huai An menghela nafas. "Padahal saat ini kerajaan sangat membutuhkan orang seperti engkau, tapi...."

"Kakak cie Hiong, engkau berkepandaian begitu tinggi, seharusnya engkau ikut membela tanah air," ujar Yo suan Hiang mendadak.

"Adik Hiang" Tio Cie Hiong tersenyum getir. "Aku tidak mau mencampuri urusan kerajaan, karena aku tidak mau pusing."

"Bagaimana kalau sejarah Han terulang lagi?"

"Maksudmu?"

"Negeri kita ini pernah dijajah oleh Bangsa Mongol. sejak itu berdirilah Dinasti Goan. setelah Dinasti Goan diruntuhkan oleh Beng Kauw, maka berdirilah Dinasti Beng hingga kini. Akan tetapi, kini Dinasti Beng telah bobrok, Bangsa Manchuria pun menyorot kemari. Celakanya, Lu Thay Kam berniat bekerja sama dengan mangsa Manchuria, itu pertanda Dinasti Beng berada di ambang keruntuhan."

"Benar," sambung Yo Huai An. "Kini kaisar cuma merupakan sebuah boneka, yang berkuasa Lu Thay Kam. Belum lama ini, Lu Thay Kam mengeluarkan surat perintah atas nama kaisar untuk menangkap kaum gadis untuk dijadikan selir atau dayang. Coba bayangkan, betapa cemasnya rakyat jelata Yang punya uang masih bisa menyogok agar putri mereka tidak dibawa. Namun bagaimana yang miskin? Tentunya tidak bisa berbuat apa-apa. oleh karena itu, rakyat pun mulai bersatu untuk memberontak."

"Bahkan...." tambah Yo suan Hiang. "Para menteri dan Jenderal yang setia, mulai disingkirkan

oleh Lu Thay Kam. Kelihatannya Dinasti Beng tidak akan tertolong lagi, sebab harus menghadapi para pemberontak. bahkan mungkin tidak lama lagi harus menghadapi serbuan pasukan Manchuria pula."

"Maaf" ucap Tio Cie Hiong sambil menghela nafas panjang. "Aku sama sekali tidak mengerti persoalan kerajaan, lagi pula aku pun tidak mau turut campur"

"Sayang sekali? Yo, Huai An menggeleng-gelengkan kepala.

"ohya, Kakak Cie Hiong" Yo suan Hiang menatapnya. "Kenapa tadi engkau melarangku membunuh para pembunuh itu?"

"Sebah aku telah memusnahkan kepandaian mereka, maka mereka telah berubah menjadi orang biasa." Tio Cie Hiong memberitahukan.

"Kakak Hiong" Yo suan Hiang menatapnya penuh harap. "Sudikah engkau mengajarku ilmu silat?"

"Itu tidak menjadi masalah. Tapi...." Tio cie Hiong. menggeleng-gelengkan kepala. "Aku tidak

bisa lama-lama di sini."

"Cie Hiong" Yo Huai An tersenyum. "Biar bagaimana pun engkau harus tinggal di sini beberapa hari"

"Itu...."

"Jangan menolak. Kakak Cie Hiong" ujar Yo suan Hiang. "Sebab engkau juga boleh mengajarku ilmu silat."

Tio cie Hiong berpikir sejenak. kemudian mengangguk. "Baiklah."

"Terima kasih, Kakak Cie Hiong" Yo suan Hiang girang bukan main. "Terimakasih..."

"ohya Adik Hiang, di mana ibumu?"

"Sudah lama ibuku meninggal."

"Oh"

"Hiang ji sudah larut malam," ujar Yo Huai An. "Ajak Cie Hiong ke kamar tamu itu"

"Ya, Ayah." Yo suan Hiang mengangguk. "Kakak Cie Hiong, mari ikut aku ke dalam"

Tio Cie Hiong mengangguk. lalu mengikuti gadis itu ke dalam. Yo Huai An memandang punggung Tio Cie Hiong sambil manggut-manggut, namun kemudian menghela nafas panjang.

Kenapa Yo Huai An menghela nafas panjang? Ternyata sejak kecil putrinya telah ditunangkan dengan putra seorang Jenderal. Kalau tidak, kemungkinan besar Yo Huai An akan menjodohkan putrinya dengan Tio Cie Hiong, karena ia sangat kagum dan suka padanya.

Sementara Yo suan Hiang telah mengantar Tio Cie Hiong sampai di depan kamar tamu, sekaligus membukakan pintu kamar itu.

"Engkau tidur di kamar ini Kalau merasa tidak cocok, akan kutunjukkan kamar lain," katanya. "Terima kasih," sahut Tio Cie Hiong "Aku merasa cocok dengan kamar ini."

"Kalau begitu, sampai jumpa esok" ucap Yo suan Hiang lalu melangkah pergi dengan wajah cerah ceria.

Tio Cie Hiong melangkah memasuki kamar itu, kemudian membaringkan dirinya ke tempat tidur. Namun sampai larut malam dia tidak dapat tidur karena dalam pikirannya terus terbayang wajah Lim Ceng Im.

Pagi harinya, Tio Cie Hiong pergi ke halaman belakang untuk menghirup udara segar. Di situ ia melihat Yo suan Hiang sedang melatih ilmu pedang. Begitu melihat kemunculan Tio cie Hiong, gadis itu segera berhenti berlatih. "Selamat pagi, Kak" ucapnya.

"Selamat pagi" sahut Tio Cie Hiong sambil tersenyum. "Sedang melatih ilmu pedang?"

"Ya." Yo suan Hiang mengangguk. "Ohya, bukankah engkau telah berjanji...."

"Aku ingat." Tio Cie Hiong tersenyum lagi. "Maka pagi ini aku akan mulai mengajarmu ilmu pedang."

"oh?" Wajah Yo suan Hiang berseri. "Terima-kasih, Kak"

"Aku akan mengajarkan Ilmu Pedang Hong Li Kiam Hoat." Tio Cie Hiong memberitahukan.

"Ilmu pedang andalan Paman Ku Tiok Beng, namun beliau telah meninggal, bahkan Hong Lui Po pun telah musnah."

"oh?" Yosuan Hiang menatapnya. "Ilmu pedang itu hebat sekali?"

"Cukup hebat dan lihay." sahut Tio Cie Hiong dan menambahkan. "setelah itu, akupun akan mengajarkan Kiu Kiong San Tian Pou."

"Terima kasih, Kak" ucap Yo suan Hiang.

Tio Cie Hiong tersenyum, kemudian menyuruh monyet bulu putih turun dari bahunya. setelah monyet itu turun, dia lalu berjalan ke tengah-tengah halaman.

"Adik Hiang, perhatikanlah" Tio Cie Hiong mulai memainkan Hong Lui Kiam Hoat.

Yo suan Hiang menyaksikannya dengan mata terbelalak. Berselang beberapa saat barulah Tio cie Hiong berhenti.

"Kakak Cie Hiong" seru Yo suan Hiang. "Hebat sekali Hong Li Kiam Hoat itu, tapi... bagaimana mungkin aku belajar...."

"Aku akan mengajarmu sejurus demi sejurus," sahut Tio Cie Hiong lalu mulai mengajarkan ilmu pedang tersebut.

Yo suan Hiang terus belajar hingga lupa makan. Maka, Yo Huai An menyuruh pelayan untuk menyiapkan makanan di atas meja di dekat halaman itu.

"Hiang ji" seru Yo Huai An sambil tersenyum. "Cie Hiong, kalian makanlah dulu"

"Ayah" sahut Yo suan Hiang. "Aku belum lapar."

"Makan dulu, Hiang ji" seru Yo Huai An lagi sambil menggeleng-gelengkan kepala, "Seusai makan, barulah berlatih lagi."

"Aku belum lapar, Ayah," sahut Yo suan Hiang dan terus berlatih.

"Adik Hiang" ujar Tio Cie Hiong lembut. "Lebih baik makan dulu, jangan melawan orang tua"

"Ya." Yo suan Hiang mengangguk. "Kakak Cie Hiong, mari kita makan bersama"

Tio cie Hiong tersenyum. Kemudian mereka berdua mendekati meja itu dan duduk. Yo Huai An memandang mereka, kemudian menegur putrinya seraya tersenyum.

"Dua kali ayah menyuruhmu makan, tetapi engkau menyahut belum lapar. Begitu Cie Hiong yang menyuruh, engkau langsung mengangguk. Dasar...."

"Eh?" Wajah Yo suan Hiang langsung memerah. "Ayah..."

"Ha ha ha" Yo Huai An tertawa gelak dan menambahkan, "Kalau engkau belum ditunangkan dengan putra Jenderal itu, pasti Ayah jodohkan dengan cie Hiong."

"Ayah..." Wajah Yo suan Hiang bertambah merah. "Kok Ayah mulai bicara ngawur sih?"

"Paman" ujar Tio Cie Hiong sambil menarik nafas lega. "Jadi Adik Hiang sudah ditunangkan dengan putra seorang Jenderal?"

"Ya." Yo Huai An mengangguk. "sejak kecil mereka telah ditunangkan Jenderal dan putranya itu tinggal di ibukota."

"oooh" Tio Cie Hiong manggut-manggut.

"Sayang sekali putriku telah ditunangkan" Yo Huai An menggeleng-gelengkan kepala. "Kalau tidak...."

"Paman" potong Tio Cie Hiong sekaligus memberitahukan. "Aku pun sudah punya tunangan."

"oh?" Yo Huai An menatapnya "Siapa tunanganmu?"

"Lim Ceng Im." Tio Cie Hiong memberitahukan. "Putri Lim Peng Hang, ketua Kay Pang"

"oooh" Yo Huai An manggut-manggut. "Kay Pang memang sangat tersohor dalam rimba persilatan, tidak berada di bawah siauw Lim Pay."

"Paman tahu juga mengenai tujuh partai besar di rimba persilatan?" tanya Tio Cie Hiong heran. "Padahal paman adalah mantan menteri di ibukota."

"Tentu tahu." Yo Huai An menghela nafas panjang. "Banyak sekali pengawal istana berasal dari rimba persilatan, namun mereka telah dikuasai oleh Lu Thay Kam. oleh karena itu, tiada seorang menteri pun berani menentangnya. Aaakh Kelihatannya Dinasti Beng sudah berada di ambang keruntuhan"

"Ayah," ujar Yo suan Hiang mendadak. "Bukankah Wan Goan swee masih berani menentang Lu Thay Kam?"

"Benar .Justru itu.." Yo Huai An menghela nafas. "Dia pun dalam bahaya, sebab Lu Thay Kam

tidak akan tinggal diam. Dia pasti akan mencari akal busuk untuk memfitnahnya di hadapan kaisar." "Kalau begitu..." yo suan Hiang mengerutkan kening.

"cie Hiong" Yo Huai An menatapnya. "Alangkah baiknya engkau pergi bergabung dengan Jenderal Wan"

"Maaf, Paman" Tio Cie Hiong menggelengkan kepala. "Aku tidak mau mencampuri urusan kerajaan."

"Sayang sayang sekali," Yo Huai An menghela nafas panjang. "Padahal saat ini...."

"Ayah," ujar Yo suan Hiang. "Kakak Cie Hiong tidak mau mencampuri urusan kerajaan, percuma Ayah mendesaknya."

"Yaah" Yo Huai An menghela nafas panjang lagi, kemudian menengadahkan kepalanya ke langit sambil bergumam. "Apakah Dinasti Beng akan berakhir dengan begini saja? Aaaakh..."

"Ayah, sudahlah, jangan terus memikirkan itu Lagi pula Ayah telah dipensiunkan oleh kaisar."

"Itu gara-gara Lu Thay Kam," sahut Yo Huai An dan menambahkan. "Lu Thay Kam memiliki kepandaian sangat tinggi, berasal dari sebuah kitab."

"Kitab apa?" tanya Tio Cie Hiong tertarik.

"Di dalam istana terdapat sebuah perpustakaan," jawab Yo Huai An memberitahukan. "Suatu hari, Lu Thay Kam memeriksa perpustakaan, tanpa sengaja ia melihat sebuah kitab Ie Hoa Ciap Bok Cin Keng (Kitab Memindahkan Bunga Dan Menyambung Pohon). Karena tertarik. maka Lu Thay Kam membacanya. Ternyata kitab itu merupakan kitab pelajaran ilmu silat yang sangat tinggi dan dahsyat. oleh karena itu, Lu Thay Kam pun mengambilnya dan mempelajarinya secara diam-diam."

"Ie Hoa CiapBok?" gumam Tio Cie Hiong. "Ie Hoa CiapBok? Rasanya aku pernah mendengar itu, tapi lupa."

"Ayah, apakah kaisar tidak tahu bahwa Lu Thay Kam mengambil kitab itu?" tanya Yo suan Hiang.

"Kaisar tahu, namun langsung menghadiahkan kitab itu kepada Lu Thay Kam," sahut Yo Huai An.

"Paman Lu Thay Kam telah berhasil mempelajari kitab itu?" tanya Tio Cie Hiong.

"Dia memang telah berhasil, maka kepandaiannya bertambah tinggi," sahut Yo Huai An sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Dia boleh dibilang tiada tanding di dalam istana, bahkan warga di ibukota pun sangat takut kepadanya."

"Ayah Aku yakin Kakak Cie Hiong pasti dapat mengalahkannya" ujar Yo suan Hiang mendadak.

"Kalaupun Cie Hiong dapat mengalahkannya, juga percuma." Yo Huai An tersenyum getir. "Sebab Cie Hiong tidak mau mencampuri urusan kerajaan."

"Benar." Tio Cie Hiong mengangguk. "Aku memang tidak mau mencampuri urusan kerajaan. setelah mengajarkan Km Kiong san Tian Pou kepada Adik Hiang, aku pun mau mohon pamit."

"Kakak Cie Hiong Apa kegunaan Kiu Kiong san Tian Pou itu?"

"Apabila menghadapi lawan tangguh, engkau bisa berkelit sekaligus kabur dengan ilmu itu" "Oooh" Yo suan Hiang manggut-manggut. "Kapan engkau akan mengajarkan ilmu itu?" "Setelah engkau dapat menguasai Hong Lui Kiam Hoat," jawab Tio Cie Hiong. "Terima kasih, Kak" ucap Yo suan Hiang.

Seusai makan, Yo suan Hiang mulai berlatih lagi. Tio Cie Hiong menyaksikannya dengan penuh perhatian. Kalau gadis itu melakukan gerakan yang salah, Tio Cie Hiong pasti segera memberi petunjuk. sementara Yo Huai An tersenyum-senyum dan mengurut-ngurut jenggotnya pula sambil manggut-manggut.

Beberapa hari kemudian, Yo suan Hiang telah menguasai ilmu tersebut, maka Tio Cie Hiong mulai mengajarnya Kiu Kiong san Tian Pou. Ketika mempelajari ilmu langkah kilat itu, gadis tersebut memang mengalami kesulitan, namun Tio Cie Hiong mengajarnya dengan penuh kesabaran.

Setelah Yo suan Hiang berhasil mempelajari Kiu Kiong san Tian Pou, Tio Cie Hiong berpamit kepada mereka.

"Nak" Yo Huai An memegang bahunya seraya berkata sungguh-sungguh. "Pintu rumah ini selalu terbuka untukmu, ingat, engkau tidak boleh melupakan kami"

"Aku pasti ingat selalu, Paman" Tio Cie Hiong tersenyum dan berpesan. "ohya, kalau ada sesuatu, langsung saja ke markas pusat Kay Pang"

"Baik," Yo Huai An mengangguk.

"Paman, Adik Hiang sampai jumpa" ucap Tio Cie Hiong lalu melesat pergi laksana kilat. "Kakak Cie Hiong" seru Yo suan Hiang dengan mata berkaca-kaca. "Kakak Cie Hiong..."

Namun Tio Cie Hiong telah lenyap dari pandangannya. seketika itu juga Yo suan Hiang terisak-isak.

"Hiang ji, jangan berduka" Yo Huai An membelainya. "Kalian pasti berjumpa lagi kelak."

"Aku... aku telah menganggapnya sebagai kakak sendiri, tapi dia..." Air mata Yo suan Hiang berderai-derai. "Dia begitu cepat pergi."

"Yaaaah" Yo Huai An menghela nafas panjang. "seandainya dia mau bekerja pada Jenderal Wan, mungkin Dinasti Beng masih dapat diselamatkan. Namun dia...."

Bab 82 Hiat Ih Hwe (Perkumpulan Baju Berdarah)

Sudah satu bulan lebih Tio Cie Hiong mencari jejak Bu Lim sam Mo, tapi tiada hasilnya sama sekali. Akhirnya ia mengambil keputusan untuk kembali ke Gunung Hong Lay san.

Dalam perjalanan kembali ke Gunung Hong Lay san, Tio Cie Hiong melihat pasukan kerajaan menggiring puluhan kaum gadis.

Sebetulnya ia tidak mau turut campur urusan itu, tapi merasa tidak tega ketika mendengar suara jerit tangis para gadis tersebut.

"Berhenti" bentak Tio Cie Hiong sambil melayang turun di hadapan pasukan kerajaan itu.

Pasukan kerajaan langsung berhenti saking terkejut, sebab suara bentakan Tio Cie Hiong bagaikan bunyi guntur membelah bumi.

Komandan pasukan kerajaan terbelalak ketika melihat seorang lelaki berusia empat puluhan, yang di bahunya terdapat seekor monyet bulu putih melayang turun di situ.

"Siapa engkau? sungguh berani engkau menghadang pasukan kerajaan" bentak komandan

"Maaf" ucap Tio Cie Hiong sambil memberi hormat. "Harap Anda jangan memaksa gadis-gadis itu ke ibukota, sebab mereka masih mempunyai orang tua"

"Sobat" ujar komandan itu dengan kening berkerut. "Lebih baik engkau jangan turut campur urusan ini"

"Kenapa?" tanya Tio Cie Hiong sambil tersenyum.

"Ini perintah kaisar, aku hanya melaksanakan perintah" sahut komandan itu memberitahukan, la berlaku sabar karena tahu bahwa orang yang berdiri di hadapannya memiliki kepandaian tinggi. "Kalau engkau berani menghalangi berarti engkau pemberontak"

"oh?" Tio Cie Hiong tertawa. "Terus terang, kalian semua bukan lawanku"

"Sobat Engkau ingin menyulitkan kami?"

"Tentu tidak. hanya saja...." Tio Cie Hiong memandang ke arah para gadis itu seraya bertanya,

"Apakah kalian secara rela ikut ke ibukota, untuk dijadikan selir atau dayang di istana?"

"Tidak"

"Rela"

Tio Cie Hiong manggut-manggut, kemudian berseru lantang.

"Yang tidak rela harap berdiri di sebelah kanan, dan yang rela di sebelah kiri"

Seketika para gadis itu terbagi menjadi dua kelompok. Mereka yang tidak rela berjumlah dua puluh lima, yang rela berjumlah lima belas.

"Ngmm" Tio Cie Hiong manggut-manggut, lalu berkata kepada komandan pasukan. "Engkau boleh membawa pergi mereka yang rela ikut, namun mereka yang tidak rela ikut harus ditinggalkan di sini"

"Sobat" Komandan itu mengerutkan kening. "Betulkah engkau ingin menjadi pemberontak?"

"Tentu tidak," sahut Tio Cie Hiong sambil tersenyum. "Sebab apabila kalian tidak menurut, yang akan menghajar kalian bukanlah aku, melainkan monyetku ini."

"oh?" Komandan itu tertawa gelak. "Monyet jelek itu mampu melawanku?"

"Bagaimana kalau kita bertaruh?"

Caranya?"

"Monyetku akan melawanmu." Tio Cie Hiong memberitahukan. " Kalau engkau menang, aku tidak akan turut campur urusan ini. Tapi kalau engkau kalah, engkau harus meninggalkan gadis-gadis yang tidak rela ikut ke ibukota. Bagaimana?"

"Baik" Komandan itu mengangguk. "Tapi...."

"Kenapa?"

"Aku sudah biasa menggunakan pedang"

"Tidak apa-apa. silakan menggunakan pedangmu bertarung dengan monyetku."

"Kalau begitu, suruh monyetmu turun" ujar komandan itu sambil menghunuskan pedangnya.

"Kauw heng, turunlah bertarung dengan orang itu Tapi engkau tidak boleh melukainya," pesan Tio Cie Hiong.

Monyet bulu putih bercuit-cuit sambil manggut-manggut, lalu meloncat turun sekaligus bertolak pinggang menantang komandan itu.

"Dasar monyet jelek" caci komandan itu sambil mengayunkan pedangnya ke arah monyet bulu putih.

Pada saat bersamaan, monyet bulu putih bergerak cepat laksana kilat, tahu-tahu pedang komandan itu telah berpindah ke tangan monyet bulu putih.

"Haah?" Komandan itu terkejut bukan main. la berdiri mematung sambil menatap monyet bulu putih dengan mata terbelalak lebar.

"Engkau sudah kalah" ujar Tio cie Hiong.

"Yaah" Komandan itu menghela nafas. "Monyetmu sungguh lihay Aku... aku memang telah dipecundangnya. "

"Kalau begitu, engkau harus menepati janji"

"Ya." Komandan itu mengangguk lalu berseru. "Bagi yang tidak rela ikut kami ke ibukota, boleh pulang ke rumah masing-masing"

Para gadis yang tidak rela ikut langsung bersorak kegirangan. sedangkan komandan itu memberi hormat kepada Tio Cie Hiong, lalu melanjutkan perjalanan.

Akan tetapi, ketika mereka baru mau berangkat, mendadak muncul puluhan orang sambil berteriak-teriak.

"Mari kita habiskan anjing-anjing kerajaan itu Habiskan mereka"

Mereka ternyata para pemberontak, dan langsung mengurung pasukan kerajaan itu. "Hmm" dengus komandan pasukan. "Pemberontak, cepatlah kalian menyerah"

"Ha ha ha" salah seorang melangkah ke depan. orang tersebut ternyata pemimpin pemberontak. "Anjing-anjing kerajaan, kalian harus mampus hari ini"

Suasana mulai mencekam, kelihatannya pertempuran besar-besaran akan segera terjadi.

"Serang " teriak pemimpin pemberontak.

Para pemberontak mulai menyerang pasukan kerajaan, dan seketika terjadilah pertempuran yang kacau balau. Para gadis-gadis terus-menerus menjerit ketakutan.

"Berhenti" bentak Tio cie Hiong mengguntur.

Pertempuran itu langsung berhenti. Ternyata Tio Cie Hiong mengerahkan tenaga dalamnya ketika membentak. sehingga membuat para pemberontak dan pasukan kerajaan terkejut bukan main, dan berhentilah mereka bertempur.

"Siapa Anda?" Pemimpin pemberontak menatap Tio Cie Hiong dengan tajam sekali. "Apakah Anda teman anjing-anjing kerajaan ini?"

"Bukan," sahut Tio Cie Hiong memberitahukan. "Aku kebetulan lewat, sekalian membebaskan para gadis yang tidak rela dibawa ke ibukota." Pemimpin pemberontak itu kurang percaya.

"Betulkah apa yang dikatakan orang itu?" tanyanya.

"Betul," sahut para gadis itu.

"Kalau begitu...." Pemimpin pemberontak menatap Tio Cie Hiong lagi. "Kenapa Anda menyuruh

kami berhenti bertempur?"

"Untuk apa kalian harus bertempur?" Tio Cie Hiong balik bertanya.

"Kami ingin membebaskan penderitaan rakyat," sahut pemimpin pemberontak itu sungguh-sungguh. "sebab banyak pembesar yang korupsi, sedangkan kaisar cuma tahu bersenang-senang"

"Tujuan kalian sangat mulia." Tio Cie Hiong manggut-manggut. "Tapi kenapa kalian ingin membunuh pasukan kerajaan ini?"

"Mereka telah memaksa para gadis untuk dijadikan selir atau dayang di istana, karena itu kami terpaksa membunuh mereka" sahut pemimpin pemberontak dengan mata berapi-api.

"Engkau harus tahu, bahwa mereka hanya melaksanakan perintah." Tio Cie Hiong menjelaskan. "Lagipula urusan ini telah kuselesaikan dengan damai. Diantara gadis-gadis itu ternyata ada pula yang secara rela mau ikut ke ibukota.Jadi kuharap kalian jangan bertempur dengan mereka Biar mereka membawa pergi gadis-gadis yang rela ikut ke ibukota, tidak perlu bertempur"

"Eh?" Pemimpin pemberontak itu melotot. "Anda berpihak pada mereka?"

"Aku tidak berpihak pada siapa pun. Aku berdiri di atas keadilan dan mencegah pertumpahan darah yang tak perlu," ujar Tio Cie Hiong sungguh-sungguh. "Karena itu, lebih baik kalian antar para gadis yang tak rela ikut ke ibukota itu kembali ke rumah masing-masing "

"Tidak bisa" Pemimpin pemberontak menggelengkan kepala. "Pokoknya mereka harus kami bunuh"

"Sobat" Tio Cie Hiong mengerutkan kening. "Engkau tidak sudi mendengar nasehatku?"

"Maaf" sahut pemimpin pemberontak. "Kami membela rakyat yang tertindas, lagi pula pasukan kerajaan telah banyak membunuh rakyat yang tak berdosa, maka kami harus membunuh mereka"

"Aku tidak mau mencampuri urusan kerajaan dan urusan pemberontak. namun kutegaskan di sini, perbolehkanlah pasukan kerajaan kembali ke ibukota"

"Jadi...." Pemimpin pemberontak tampak gusar sekali. "Engkau ingin melawan kami?"

"Aku hanya ingin mencegah pertumpahan darah yang tiada artinya," sahut Tio Cie Hiong dan menambahkan, "Terus terang, walau kalian berjumlah puluhan orang, aku masih sanggup merobohkan kalian semua."

"Omong besar" bentak pemimpin pemberontak. "Kalau begitu, mari kita bertanding Kalau engkau kalah, jangan mencampuri urusan ini sebaliknya kalau aku kalah, aku pasti menuruti perkataanmu."

"Baik." Tio Cie Hiong mengangguk. "silakan menyerang"

"Aku menggunakan pedang, engkaupun harus menggunakan senjata" ujar pemimpin pemberontak.

"Aku cukup dengan tangan kosong," sahut Tio Cie Hiong sambil tersenyum.

"Kalau begitu... baiklah Hati-hati" Pemimpin pemberontak itu langsung menyerang Tio Cie Hiong dengan pedang.

Tio Cie Hiong tetap berdiri di tempat, namun kemudian mendadak ia mengibaskan lengan baju-nya ke arah pedang lawan. Trang Trang Pedang itu patah menjadi beberapa potong.

"Haaah?" Pemimpin pemberontak itu terbelalak, bahkan mulutnya ternganga lebar.

"Sobat" Tio cie Hiong tersenyum. "Engkau telah kalah"

"Kepandaianmu memang tinggi Aku mengaku kalah dan akan menuruti perkataanmu" Pemimpin pemberontak itu menundukkan kepala.

"Ngmm" Tio Cie Hiong manggut-manggut "Nah, sekarang kalian boleh membawa gadis-gadis itu pergi, ingat, jangan sembarangan membunuh pasukan kerajaan Belum tentu mereka jahat semua, mungkin di antara mereka ada pula yang berhati baik."

"Ya." Pemimpin pemberontak itu mengangguk. kemudian mengajak teman-temannya dan para gadis yang tidak mau ke ibukota meninggalkan tempat itu.

"Sekarang kalian juga boleh meneruskan perjalanan ke ibukota," ujar Tio Cie Hiong kepada komandan pasukan kerajaan.

"Ya." Komandan itu memberi hormat. Terima kasih atas bantuan Anda, mudah-mudahan kita akan berjumpa lagi kelak"

"Ingat" pesan Tio Cie Hiong. “Jangan sembarangan membunuh rakyat, dan laksanakan tugas sesuai dengan keadilan"

Usai berpesan begitu, Tio Cie Hiong pun melesat pergi. Dalam waktu sekejap bayangannya telah lenyap dari pandangan komandan. sudah barang tentu komandan itu terbelalak saking kagumnya. Namun, kemudian ia berkeluh.

"Aaakh Kalau aku tidak mencapai target mengumpulkan para gadis, aku pula yang akan dihukum. Sungguh celaka"

"Komandan" ujar salah seorang anak buah-nya. "Kalau atasan tahu kejadian ini, kita semua pasti dihukum."

"Mungkin...," sela yang lain dengan wajah agak pucat. "Kita akan dihukum mati. sebab kita telah melepaskan sebagian besar para gadis itu, bahkan telah melepaskan pemberontak-pemberontak. "

"Bagaimana menurut kalian?" tanya komandan yang tidak menemukan jalan keluarnya.

"Menurut kami, lebih baik kita melepaskan seragam pasukan kerajaan." sahut salah seorang anak buahnya. "Maksudmu kita kabur saja?"

"Ya. Daripada kita dihukum mati."

"Kalau begitu,..." Komandan itu berpikir lama sekali, kemudian mengangguk seraya berkata. "Baiklah. Mari kita lepaskan seragam pasukan kerajaan, lalu kita kabur ke hutan"

"Horeee" sorak para anak buahnya. "Kita akan bebas Kita akan bebas"

Ketika hari mulai gelap, Tio Cie Hiong memasuki sebuah rimba, mendadak ia mendengar suara desiran. la langsung meloncat ke atas pohon. Tak lama kemudian tampak beberapa sosok bayangan berkelebatan menuju depan. Tio Cie Hiong mengerutkan kening karena melihat mereka berpakaian merah dengan ikat kepala kain merah pula.

"Siapa mereka itu?" tanyanya dalam hati. Ka-rena ingin tahu, maka ia menguntit mereka.

Berselang sesaat sampailah ia di suatu tempat. Tampak puluhan orang berkumpul di situ, semuanya berpakaian merah dan berikat kepala kain merah.

Tio Cie Hiong meloncat ke atas pohon, lalu memandang ke tempat itu. Terlihat seorang berjubah merah, namun mukanya memakai topeng yang dibuat dari tembaga. orang tersebut berdiri di atas sebuah batu besar, dan semua orang-orang berpakaian merah itu memberi hormat kepadanya sambil berseru, "Hidup Hwecu (Ketua Perkumpulan) Hidup Hwecu"

"Ha ha ha" Hwecu itu tertawa gelak. "Bagus, bagus Kalian telah berkumpul di sini semua malam ini Ha ha ha"

"Ada perintah apa, Hwecu?"

"sudah hampir setengah tahun aku membimbing kalian, tentunya kalian tahu apa tujuan Hiat Ih Hwe (Perkumpulan Baju Berdarah) yang kudirikan ini. oleh karena itu, kuharap kalian harus melaksanakan setiap perintah ku"

"Ya, Hwecu."

"Ingat siapa berani berkhianat, pasti kubunuh dengan cara yang mengerikan sekali Maka janganlah kalian coba-coba mengkhianatiku"

"Kami pasti setia kepada Hwecu."

"Tahukah kalian, mengapa perkumpulanku ini disebut Hiat Ih Hwe?"

"Sebab di mana kami muncul, di situ pasti banjir darah."

"Bagus, bagus" Hwecu itu manggut-manggut sambil tertawa cuas. "Ha ha ha Tidak percuma aku membimbing kalian Nah, kini kalian boleh menyaksikan kepandaianku"

Hwecu itu mengerahkan lweekangnya, kemudian mengangkat sepasang tangannya perlahan-lahan, sekaligus membentak keras. seketika terdengar suara gemuruh, ternyata beberapa pohon yang ada di situ tumbang langsung, dan daun-daunnya pun rontok semua. Betapa terkejutnya Tio Cie Hiong melihat kedahsyatan lweekang Hwecu itu.

"Kini kalian telah menyaksikan kepandaianku, maka kalian jangan coba-coba mengkhianatiku"

"Kami tidak berani berkhianat, pasti setia selama-lamanya kepada Hwecu."

"Bagus, bagus" Hwecu itu manggut-manggut, kemudian menunjuk sepuluh orang berpakaian merah seraya berkata, " Kalian yang kutunjuk.. harus segera pergi membunuh Jenderal Wan Kebetulan hari ini dia sedang menjenguk ibunya yang sakit. Bunuhlah dia di tengah jalan"

"Ya," sahut sepuluh orang itu serentak.

"Yang lain boleh kembali ke tempat masing-masing," ujar Hwecu itu dan menambahkan, "Besok malam kita berkumpul di sini lagi"

Usai berkata begitu, Hwecu itu melesat pergi, begitu pula dengan yang lain. Sedangkan Tio Cie Hiong termangu-mangu di atas pohon, sepertinya sedang mempertimbangkan sesuatu, akhirnya menguntit sepuluh orang Hiat Ih Hwe itu.

Sesungguhnya Tio Cie Hiong tidak habis pikir. siapa Hwecu tersebut dan kenapa ingin membunuh Jenderal Wan? Lagi pula ia pun tidak tahu jelas perkumpulan apa Hiat Ih Hwe itu. Karena pernah mendengar nama Jenderal Wan dari Yo Huai An, maka ia mengambil keputusan untuk menolong Jenderal tersebut.

Tampak belasan ekor kuda berlari agak kencang di sebuah jalan, ternyata rombongan Jenderal Wan, yang sedang menuju suatu tempat Jenderal Wan berusia lima puluhan, gagah dan berwibawa.

Dua ekor kuda mendamping Jenderal Wan.

Tampak pula dua lelaki berusia tiga puluhan duduk di punggung kuda-kuda itu. Mereka berdua adalah pengawal pribadi Jenderal wan. "Berhenti" seru salah seorang pengawal itu.

Semuanya langsung berhenti. Hal itu mencengangkan Jenderal Wan, yang juga menghentikan kudanya.

"Ada apa, Ek Liong?" tanya Jenderal Wan dengan kening berkerut.

"Jenderal Wan, barusan aku melihat beberapa sosok bayangan merah berkelebatan di depan. Maka, lebih baik kita berhenti di sini dulu" jawab Ek Liong memberitahukan. "Aku khawatir...."

"oh? " Jenderal Wan memandang ke depan, kemudian tertawa gelak. "Mungkinkah mereka ingin membunuhku?"

"Kita harus berhati-hati," ujar Ek Liong lalu berseru. "Kalian semua harus siap menghadapi segala kemungkinan"

"Ya," sahut para pengawal lain lalu meloncat turun untuk melindungi Jenderal Wan. Pada waktu bersamaan, terdengarlah suara seruan lantang kemudian muncul sepuluh orang berpakaian merah.

"Hiat Ih Hwe muncul, harus banjir darah"

"Siapa kalian? Kenapa menghadang perjalanan kami?" tanya Ek Liong sambil menghunus pedangnya. Ek Houw, adiknya juga ikut menghunus pedangnya.

"Kami ke mari untuk membunuh Jenderal Wan" sahut mereka serentak.

"Siapa yang menyuruh kalian?" tanya Jenderal Wan sambil menatap mereka dengan tajam.

"Jenderal Wan tidak perlu tahu, yang jelas hari ini engkau harus mati" sahut mereka dan mulai menyerang.

Seketika terjadilah pertarungan sengit, dan tak seberapa lama kemudian para pengawal itu roboh dengan tubuh berlumuran darah.

"Jenderal Wan," ujar Ek Liong cemas. "Mereka rata-rata berkepandaian tinggi. Kalau aku dan adikku tidak dapat melawan mereka, lebih baik Jenderal Wan kabur saja."

"Ha ha ha Pernahkah aku gentar menghadapi bahaya?" sahut Jenderal Wan sambil tertawa terbahak-bahak.

"Tapi..." ucapan Ek Liong terputus, karena orang-orang berpakaian merah itu telah menyerangnya .

Ek Liong dan Ek Houw bertarung mati-matian melindungi Jenderal Wan. Belasan jurus kemudian, mereka berdua mulai kewalahan, bahkan bahu Ek Houw telah terluka.

"Jenderal Wan, cepat kabur" seru Ek Liong cemas.

Akan tetapi Jenderal wan tetap duduk di punggung kudanya kelihatannya tidak mau kabur.

"Jenderal Wan... aaaakh" jerit Ek Liong. Ternyata bahunya tersabet pedang lawan.

"Berhenti" Mendadak terdengar suara bentakan yang mengguntur, kemudian tampak sosok bayangan putih melayang turun di depan Jenderal Wan.

Orang-orang Hiat Ih Hwe terkejut bukan main, karena suara bentakan itu membuat telinga mereka seakan mau pecah.

"Siapa engkau?" tanya salah seorang Hiat Ih Hwe.

"Hwecukah yang menyuruh kalian ke mari untuk membunuh Jenderal Wan, kan?" tanya orang itu, yang tidak lain adalah Tio Cie Hiong bersama monyet bulu putih yang duduk di bahunya.

"Engkau... engkau...." mereka tersentak.

"Hm" Dengus Tio Cie Hiong. "Cepatlah kalian enyah, jangan cari penyakit di sini"

"Kami sudah ke mari, biar bagaimana pun harus membunuh Jenderal Wan" sahut salah seorang Hiat Ih Hwe. "Kalau engkau menghadang, kami pun akan membunuhmu"

"oh?" Tio Cie Hiong tertawa dingin sambil melangkah maju. "Kalau begitu, cepatlah kalian turun tangan"

"Baik" orang itu manggut-manggut sambil memberi isyarat kepada teman-temannya. "Mari serang dia"

Seketika juga mereka menyerang Tio cie Hiong dengan pedang. Tio cie Hiong bersiul panjang, dan mendadak bergerak sambil mengibas-ngibaskan lengan bajunya.

Trang Trang Traaaang Semua pedang yang di tangan mereka patah berpotong-potong, lalu terdengar suara jeritan mereka. "Aaaakh Aaaakh Aaaaakh..."

Sepuluh orang Hiat Ih Hwe itu terhuyung-huyung dengan mulut mengeluarkan darah. Mereka semua telah terluka dalam bahkan musnah pula kepandaian mereka.

Sementara Jenderal Wan dan kedua pengawal pribadinya menyaksikan kejadian itu dengan mata terbeliak lebar, sepertinya tidak percaya akan apa yang mereka saksikan itu.

"Siapa engkau? Beritahukanlah agar kami bisa melaporkan kepada Hwecu" ujar salah seorang dari mereka.

"Kalian tidak perlu tahu aku siapa, begitu pula Hwecu kalian" sahut Tio Cie Hiong dingin. "Lebih baik kalian jangan kembali ke tempat itu, sebab kepandaian kalian telah kumusnahkan"

"Sampai jumpa" ucap orang itu. Mereka lalu berjalan pergi dengan langkah sempoyongan.

"Ha ha h a” Jenderal Wan tertawa terbahak-bahak. "Terimakasih Tayhiap, engkau telah menyelamatkan nyawaku"

"Jangan sungkan-sungkan, Jenderal" sahut Tio Cie Hiong sambil tersenyum. "Bukankah Jenderal mau pergi menjenguk orang tua?"

"Kok Tayhiap tahu" Jenderal Wan tercengang.

"Kebetulan aku mendengar Hwecu Hiat Ih Hwe memberi perintah kepada orang-orang itu," jawab Tio cie Hiong dan memberitahukan tentang itu.

"oooh” Jenderal Wan manggut-manggut. "Ternyata begitu Kalau Tayhiap tidak muncul, nyawa kedua pengawal pribadiku dan nyawaku sendiri pun pasti melayang."

"Tapi aku tetap terlambat selangkah, sehingga tidak dapat menyelamatkan yang lain." Tio Cie Hiong menghela nafas. "Aku mohon maaf Jenderal Wan"

"Jangan berkata begitu, Tayhiap" Jenderal Wan menggeleng-gelengkan kepala.

"Tayhiap" Ek Liong dan Ek Houw memberi hormat. "Terima kasih"

"sama-sama" sahut Tio Cie Hiong sambil tersenyum. "Jangan berlaku sungkan-sungkan"

"Kepandaian Tayhiap sungguh tinggi, sehingga kami kagum sekali," ujar Ek Liong sambil memandang Tio Cie Hiong dengan penuh kekaguman.

"Kepandaianku tidak begitu tinggi, biasa saja," sahut Tio Cie Hiong merendah. "ohya, mari bantu aku mengubur mayat-mayat itu"

"Ya." Ek Liong dan Ek Houw mengangguk.

Mereka bertiga lalu menggali sebuah lubang besar, kemudian menguburkan semua mayat itu di dalamnya. sementara Jenderal Wan manggut-manggut menyaksikannya. la tidak menyangka bahwa penolongnya itu berhati begitu baik, mau mengubur mayat-mayat para pengawalnya.

"Tayhiap" ujarnya memuji. "Engkau sungguh berhati baik, bagaimana kalau kita mengangkat saudara?"

"Maaf, Jenderal Wan" Tlo cie Hiong menggelengkan kepala. "Kita tidak bisa mengangkat saudara."

"Lho? " Jenderal Wan heran. "Kenapa?"

"Sebab aku masih muda, maka tidak pantas mengangkat saudara dengan Jenderal,"jawab Tio Cie Hiong jujur.

"Ha ha ha Jenderal Wan tertawa gelak. " Usia ku lima puluhan, usiamu empat puluhan. Pantas bagi kita untuk menjadi saudara angkat"

"Jenderal Wan, aku... aku memakai kedok kulit." Tio cie Hiong memberitahukan. "sesung-guhnya usiaku baru dua puluhan, maka lebih baik aku memanggil Jenderal, paman saja."

"Apa?" Jenderal Wan terbelalak. "Engkau memakai kedok kulit?"

"Ya." Tio Cie Hiong mengangguk.

"ohya Bolehkah aku tahu namamu?" tanya Jenderal Wan mendadak sambil menatapnya dalam-dalam.

"Namaku Tio Cie Hiong." Kemudian menambahkan. "Aku telah bertemu Paman Yo Huai An...."

"Apa? Jenderal Wan menatapnya tajam. "Engkau telah bertemu kawan akrabku itu? Bagaimana keadaannya?"

"Beliau baik-baik saja."

"Bagaimana engkau bertemu dia?"

"Malam itu...." tutur Tio Cie Hiong. "secara tidak langsung aku telah menyelamatkan mereka."

"oooh” Jenderal Wan manggut-manggut. "Ia memang tahu aturan, karena tidak menyuruh Tio cie Hiong melepaskan kedok kulitnya.

"Maaf, Jenderal Wan" ucap Tio Cie Hiong. "Aku mohon diri"

"Tayhiap...." Jenderal Wan ingin menahannya, namun merasa tidak enak. "Mudah-mudahan kita

akan berjumpa kembali"

"sampai jumpa, Jenderal Wan"

"Tunggu" seru Ek Liong sambil menggenggam tangannya. "Tayhiap mau ke mana?" "Aku mau pergi ke Gunung Hong Lay san," sahut Tio Cie Hiong jujur.

"Sungguh kebetulan" ujar Ek Liong girang. "Kita menuju arah yang sama, maka bagaimana kalau kita melakukan perjalanan bersama?"

"Bukankah aku akan mengganggu perjalanan kalian?" ujar Tio Cie Hiong.

"Tentu tidak." sahut Jenderal Wan sambil tertawa. "Kami akan merasa gembira sekali apabila Tayhiap bersedia melakukan perjalanan bersama kami"

"Baiklah." Tio Cie Hiong mengangguk.

Betapa girangnya Ek Liong dan Ek Houw. Ternyata mereka mempunyai pikiran yang sama, yakni ingin mohon petunjuk kepada Tio Cie Hiong mengenai ilmu silat.

Ek Liong segera menuntun kudanya ke hadapan Tio Cie Hiong, sedangkan ia satu kuda dengan Ek Houw. Mereka lalu melakukan perjalanan bersama. Kettka hari sudah gelap. mereka terpaksa menginap di rumah seorang petani. Ek Liong dan Ek Houw tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Mereka berterus terang kepada Tio Cie Hiong ingin mohon petunjuk.

"Tugas kalian berdua memang berat sekali, karena harus melindungi Jenderal Wan," ujar Tio Cie Hiong sungguh-sungguh. "Kalau hanya mengandalkan kepandaian yang kalian miliki sekarang, memang sulit menghadapi orang-orang Hiat Ih Hwe itu."

"Ha ha h a Jenderal Wan tertawa. "Kalian berdua ingin mohon petunjuk, tapi kenapa tidak segera berlutut di hadapannya?"

"Ya, ya." Ek Liong dan Ek Houw mengangguk. Namun ketika mereka berdua baru mau berlutut, mendadak Tio cie Hiong mengangkat sebelah tangannya, sehingga membuat kedua orang itu tidak jadi berlutut, lantaran tertahan oleh tenaga yang sangat kuat.

"Kalian berdua tidak usah berlutut, aku tidak berani menerimanya" ujar Tio cie Hiong sambil tersenyum.

"Tayhiap...." Ek Liong dan Ek Houw semakin kagum. "Kami ingin mohon petunjuk mengenai ilniu

silat, harap Tayhiap terima hormat kami"

"Aku pasti memberi petunjuk kepada kalian, namun kalian jangan berlutut Kalau kalian tetap berkeras ingin berlutut, aku malah tidak akan memberi petunjuk kepada kalian, lho"

"Tayhiap...." Ek Liong dan Ek Houw saling memandang, lalu mengangguk seraya berkata. "Kami

menurut perkataan Tayhiap."

"Tayhiap," sela Jenderal Wan sambil tertawa. "Akupun ingin mohon petunjuk. agar bisa menjaga diri pula."

"Maaf" ucap Tio Cie Hiong. "Bagaimana mungkin aku berani memberi petunjuk kepada Jenderal?"

"Kenapa tidak? Jenderal Wan tertawa lagi. "Pokoknya Tayhiap juga harus memberi petunjuk kepadaku"

"Baiklah." Tio cie Hiong mengangguk. "Kebetulan bulan purnama, mari kita ke pekarangan saja"

0 Response to "Kesatria Baju Putih (Pek In Sin Hiap) Bagian 49"

Post a Comment