--> -->

Serial Pendekar Mabuk 11-Tumbal Tanpa Kepala

Suto Sinting, si Pendekar Mabuk itu, menghentikan langkahnya beberapa saat sebelum mencapai perahu yang ditunggangi Badai Kelabu dan Melati Sewu dalam perjalanan membawa jenazah guru mereka. Dewa Racun pun setuju untuk pindah ke perahu milik Badai Kelabu karena jika mengandalkan perahu yang ditungganginya dikhawatirkan akan mengalami kebocoran lagi di tengah perjalanan.

Ketika Pendekar Mabuk menghentikan langkahnya, Dewa Racun dan Badai Kelabu pun ikut berhenti melangkah. Keduanya saling pandang dengan nada heran. Padahal mereka sudah mencapai pantai, dan jarak dengan perahu tidak berapa jauh lagi. Mengapa Pendekar Mabuk harus menghentikan langkah ? Pikir mereka.
"Suara berdenging itu adalah suara rongga karang tertiup angin, Suto," kata Badai Kelabu. "Tak perlu kau curigai hal itu."
"Bukan suara itu yang kucurigai, tapi langkah kaki menginjak dedaunan kering yang kupikirkan !" kata Pendekar Mabuk.

"Mungkin langkah kaki kami, Suto!"

"Kalian sudah mencapai pasir pantai, tak mungkin suara langkah kakinya terdengar kering dan gemerisik!"

"Mak...mak...maksudmu, ada orang yang membuntuti kami ?!" tanya Dewa Racun yang gagap itu.

Suto tidak menjawab, melainkan justru kerutkan dahinya dengan menelengkan telinganya, menyimak suatu suara yang tertangkap oleh indera pendengarannya. Dewa Racun dan Badai Kelabu saling berpandangan sebentar, kemudian mata mereka pun memandang sekeliling penuh selidik.

"Suara itu semakin aneh," ujar Pendekar Mabuk kepada kedua rekannya.
"Suara itu seperti gemerisik tapi bukan daun kering yang diinjak, melainkan seperti... seperti...."
Kata-kata itu terhenti sejenak, dan tiba-tiba kedua tangan Pendekar Mabuk itu bergerak cepat mendorong tubuh Dewa Racun dan Badai Kelabu. Sentakan tangan Suto itu begitu kuatnya, sehingga kedua rekannya itu terlempar ke belakang beberapa tombak            jauhnya sedangkan tubuhnya sendiri cepat menyentak naik, melenting di udara dengan gerakan salto dua kali kebelakang.
Bersamaan dengan itu, dari dalam pasir pantai yang mereka pijak keluarlah sesosok        makhluk               yang mengagetkan, menyentak keluar dan menyemburkan butiran-butiran kecil seperti biji kacang hijau berwarna merah.

Brosss...! Zrappp...!

Kalau saja Dewa Racun dan Badai Kelabu tidak terpelanting jatuh karena dorongan Pendekar Mabuk tadi, pasti mereka terkena semburan butir-butir merah yang menyebar ke setiap arah. Pendekar Mabuk sendiri untung terpelanting dan jatuh pada saat mendaratkan kakinya ke tanah dari bersalto dua kali itu, jika tidak ia pun akan t erkena serbuk aneh yang muncrat dari mulut makhluk yang muncul dari dalam tanah itu.
Makhluk tersebut ternyata manusia biasa, hanya punya keistimewaan mampu menembus dan berjalan di dalam tanah. Orang itu bertubuh kurus dengan rambut panjang meriap tak beraturan. Wajahnya angker tanpa kumis, tulang-tulang pipi dan rahangnya bertonjolan.
Matanya cekung dan alisnya tidak ada. Orang itu mengenakan pakaian hitam yang kotor dan banyak lumpur melekat kering di pakaiannya itu. Rambutnya pun kotor, sebagian ada yang lengket karena lumpur kering.
Pendekar            Mabuk dipandanginya sesaat. Beberapa saat kemudian dari matanya memancarkan sorot cahaya kuning yang berkelebat cepat menghantam tubuh Pendekar Mabuk.
Yang dihantam, karena masih terkesima melihat kemunculan manusia dari dalam tanah itu,         tak sempat melakukan                tangkisan. Hanya menggunakan gerak silumannya yang mampu berlari cepat dalam sekejap.

Zlappp...!

Tahu-tahu Pendekar Mabuk sudah berada di samping Badai Kelabu dan Dewa Racun. Sedangkan sinar kuning yang memancar dari mata orang aneh itu menghantam pasir pantai, pasir itu menyembur keras dan cukup tinggi di-iringi suara letusan yang teredam.

Blabb...!

"Siapa dia, Dewa Racun ?!.
Aku tidak mengenalinya sama sekali ?!" bisik Suto.

Tapi Badai Kelabu yang menyahut , "Perwira Mayat Hidup!"

"Siapa itu Perwira Mayat Hidup ?!"

Badai Kelabu lagi yang menjawab,
"Tokoh sesat yang menjadi lawannya Siluman Tujuh Nyawa".
Menurut cerita mendiang guru, Perwira Mayat Hidup itu sejak dulu bermusuhan dengan Siluman Tujuh Nyawa, dan berulang kali gagal membunuh Siluman Tujuh Nyawa.
Namun selalu berhasil meloloskan diri dari ancaman maut musuh bebuyutannya itu.

Manusia yang berjuluk Perwira Mayat Hidup itu menggeramkan suara ketika mata Suto terlihat menatapinya dengan tajam. Kemudian ia melangkah tiga tindak, sedangkan Badai Kelabu segera mundur dua tindak.
Agaknya perempuan itu merasa takut terhadap Perwira Mayat Hidup, sehingga ia perlu waspada dan bersiap untuk melarikan diri jika terjadi serangan maut dari manusia aneh itu. Dari belakang Pendekar Mabuk, Badai Kelabu sempat berbisik...

"Ilmunya sangat tinggi Suto ! Ia tak bisa di bunuh !
Jika dibunuh, beberapa saat akan bangkit lagi !"

"Ak... ak... aku melihat tadi dia semburkan racun "Sejuta Bangkai' !" kata Dewa Racun. "
It .. itu... racun yang berbahaya ! Tergores sedikit saja kulit kita bisa busuk mendadak!"

Pendekar Mabuk diam saja, menampung segala ucapan dari kedua rekannya itu. Matanya tetap memandang ke arah Perwira                Mayat Hidup yang dianggap paling berbahaya jika tidak terus diperhatikan. Sinar yang keluar dari matanya dapat membunuh sewaktu-waktu dan sangat di luar dugaan.
Beberapa saat kemudian terdengar suara manusia aneh itu yang sedikit serak dan besar, tidak sesuai dengan bentuk tubuhnya yang kurus dan berkulit keriput itu.

"Kalian yang bertarung di Pulau Kidung itu, bukan ?!"

"Benar!" jawab Suto. "Jika yang kau maksud adalah pertarungan di Pulau Kidung yang menewaskan Resi Kidung Sentanu, memang kamilah yang di sana, tapi bukan kami yang membunuh tokoh putih itu !"

"Aku tidak menanyakan siapa yang membunuh Kidung Sentanu!" geram Perwira Mayat Hidup, "Aku hanya peduli dengan tombak maut milik si Jangkar Langit itu !
Kalian yang telah berhasil merampasnya dari tangan si Tapak Baja rupanya!"

"O, kau salah sangka, Perwira Mayat Hidup! Tombak itu tidak ada pada kami!"

"Omong kosong ! Grrr...! Tombak itu pasti telah kau sembunyikan di suatu tempat ! Mengakulah, Bocah Kadal" bentak Perwira Mayat Hidup itu dengan matanya semakin memandang angker dan mengerikan.

Tetapi Pendekar Mabuk masih tetap tenang, ia bahkan menyempatkan diri meneguk tuaknya beberapa kali.

Tapi tiba-tiba tangan Dewa Racun berkelebat ke depan, dan sebuah pisau dilemparkan dengan kecepatan tinggi.

Zingngng...!
Trabb...!

Pisau yang menuju ke dada Perwira Mayat Hidup itu ditangkis dengan telapak tangannya dan disentakkan dengan cepat sehingga dapat membalik arah dan menuju ke Dewa Racun.

Gerakan pisau yang lebih cepat dari semula itu hampir-hampir mengenai tubuh Dewa Racun jika bumbung tuak Pendekar Mabuk tidak segera dihadangkan ke depan dada Dewa Racun.

Jrabb...! Pisau itu menancap di bumbung tuak.

"Ambil, dan jangan lakukan serangan lagi kepadanya!" kata Suto kepada Dewa Racun.
Maka si kerdil pemberani itu pun segera mencabut pisaunya dan mundur tiga tindak, sejajar dengan Badai Kelabu.

Pendekar Mabuk berkata kepada Perwira Mayat Hidup itu,
"Apa maksudmu menuduh kami menyembunyikan tombak maut itu ?!"

"Kalian tidak pantas menjadi pemiliknya!" jawab Perwira Mayat Hidup dengan suara seraknya.
"Akulah yang pantas memiliki Pusaka Tombak Maut itu !
Akulah yang seharusnya memiliki tombak tersebut          untuk membinasakan Durmala Sanca, si keparat jahanam itu !"

"Sayang sekali tombak itu tidak ada pada kami. Kalau saja tombak itu ada pada kami, akan kuserahkan padamu, karena kami pun memusuhi Siluman Tujuh Nyawa !"

"Jangan sebut dia Siluman Tujuh Nyawa !" bentak Perwira Mayat Hidup.
"Dia hanya punya secuil nyawa ! Bukan tujuh      nyawa !
Akulah yang sepantasnya menyandang gelar tersebut !
Bahkan aku pun lebih pantas berjuluk Siluman Sejuta Nyawa!
Sayang sekali julukan itu tidak dikenal orang, dan lebih dikenal dengan nama Perwira Mayat Hidup. Padahal akulah orang yang punya sejuta nyawa !
Siapa yang bisa membunuhku dari seluruh tokoh sakti di dunia persilatan ini ? Tidak ada !"

"Kalau begitu, mengapa kau tak bisa kalahkan Durmala Sanca ?!"

"Karena dia punya sejuta kelicikan !"

"Hmm...!" Pendekar Mabuk sunggingkan senyum.
"Apakah kau tak bisa membalas kelicikannya ?!
Berarti kau masih rendah dan ilmu-mu masih di bawah tingkat ilmunya Durmala Sanca!"

"Grrr...! Biadab kau berani mengatakan aku begitu!"
Perwira Mayat Hidup menggenggam kuat-kuat sambil menggeram keras, ia maju dua t indak dan berkata sambil menuding tegas pada Pendekar Mabuk.
"Kau tak perlu banyak bicara ! Serahkan saja tombak milik Jangkar Langit itu !
Kalau tidak, kuhancurkan kepala kalian bertiga!"

"Tombak itu tidak ada pada kami, tapi dibawa lari oleh Hantu Laut !" kata Pendekar Mabuk tetap dengan tenang.

"Tidak mungkin ! Hantu Laut hanya jongos kapal, dia tidak mungkin bisa merebut tombak itu dari tangan Tapak Baja ! Kau jangan membual kelewat batas, Bocah Kadal !"

"Kalau tak percaya, ya sudah !" Suto angkat bahu se-enaknya, seakan meremehkan kegeraman hati Perwira Mayat Hidup. Suto sengaja melangkah ke arah kanan beberapa tindak, agar tidak membentuk garis lurus dengan keberadaan Badai Kelabu dan Dewa Racun. Sebab ia khawatir jika tahu-tahu Perwira Mayat Hidup menyerangnya, serangan itu akan mengenai kedua temannya jika ia menghindar.

"Bocah Kadal ! Rupanya kau memaksaku untuk bertindak kasar kepadamu, hah ?!" bentak Perwira Mayat Hidup sambil mengikuti gerakan Pendekar Mabuk.
Tiba-tiba orang aneh itu menghentakkan kedua tangannya ke depan.

Wutt ...!
Lalu kedua tangan itu pelan-pelan bergerak mundur bagai menarik tubuh Pendekar Mabuk. Tetapi pada saat itu Pendekar Mabuk menahan napasnya dan tetap berdiri di tempatnya. Tangan Perwira Mayat Hidup masih mengeras kaku ke depan dengan tubuh sedikit melengkung ke belakang. Ia sedang mengerahkan tenaganya untuk menarik tubuh Pendekar                Mabuk yang sedang mengeraskan perutnya, menyimpan tenaga dan napas di bagian perut.
Rupanya mereka adu kekuatan tenaga dalam secara aneh.
Perwira Mayat Hidup bukan sekadar ingin menarik tubuh Suto Sinting, melainkan ingin menjebol jantung agar keluar dari dada Suto dan melayang ke tangannya. Dada Suto pun terasa berdenyut-denyut seakan ingin tersedot ke depan, jantungnya mulai terasa sakit . Pendekar Mabuk bertahan terus hingga tubuhnya gemetar, bumbung tuak yang menggantung di pundak mulai berguncang-guncang.
Urat-urat di leher mulai tampak bersumbulan. Wajah Pendekar Mabuk memerah. Dada kirinya mulai tampak bergerak-gerak. Baju bulu yang dikenakan mulai rontok bulu-bulunya dan beterbangan, lari ke telapak tangan Perwira Mayat Hidup.
Di sisi lain, Badai Kelabu dan Dewa Racun tampak cemas sekali melihat keadaan Suto yang hanya bertahan.
Badai Kelabu sempat berbisik tegang kepada Dewa Racun...

"Suto bisa celaka kalau hanya bertahan ! Lawannya kali ini mempunyai tenaga kuat sekali, daya sedotnya sangat tinggi, karena memang begitulah cara dia mengambil jantung lawan untuk dimakannya !"
Dewa Racun diam, memikirkan suatu cara. Dan tiba- tiba ia nekat mencabut pisaunya dan melemparkannya ke punggung Perwira Mayat Hidup.

Wuttt ...! Debb...! Wusss...!
"Awas !" sentak Badai Kelabu, dan Dewa Racun pun lompat ke kiri. Pisaunya menancap di tanah setelah memantul balik. Pisau itu bagaikan membentur dinding karet yang membal dan sulit ditembus benda tajam.

"Hiih...!" Dewa Racun menghantamkan pukulan tenaga dalamnya yang melepaskan sinar merah dari telapak tangannya. Sinar merah itu berkelebat cepat menyerang punggung Perwira Mayat Hidup, tetapi segera memantul balik dan menghantam pohon kelapa jauh di belakang Dewa Racun dan Badai Kelabu.

Blarrr...!

Pohon kelapa itu pun rubuh seketika. Jika Badai Kelabu dan Dewa Racun tidak lekas merundukkan badan, maka salah satu dari tubuh mereka akan mengalami nasib seperti pohon kelapa tersebut.

"Dalam keadaan seperti itu, dia tidak mempan diserang dengan senjata apa pun !
Jangan lakukan lagi, nanti malah mencelakai diri kita sendiri, Dewa Racun !"
bisik Badai Kelabu.

Sementara itu, kulit tubuh Pendekar Mabuk semakin memerah. Urat-uratnya kian          bertonjolan. Kedua tangannya telah menggenggam kuat-kuat di kanan kiri. Tapi kakinya masih tegar berdiri dan kokoh menahan daya sedot dari lawannya. Namun beberapa saat kemudian, Pendekar Mabuk menyentakkan kedua tangannya dari bawah ke atas,

"Haaah...!" teriaknya keras-keras sambil melepaskan tangannya dalam satu kekuatan yang menyentak.
Wruusss...!

Tubuh Perwira Mayat Hidup terlempar tinggi-tinggi akibat sentakan kedua tangan Pendekar Mabuk itu. Dan ketika itulah, Pendekar Mabuk segera melepaskan pukulan 'Pecah Raga', selarik sinar hijau melesat dari tangan kirinya dan menghantam lurus ke tubuh lawan yang masih di angkasa sana.

Blarrr...!
Kejadian berikutnya sungguh mengerikan. Perwira Mayat Hidup tidak berbentuk lagi. Raganya pecah menjadi serpihan-serpihan yang berhamburan ke mana-mana. Pecahan itu berjatuhan di pasir pantai, termasuk bagian kepalanya yang entah menjadi beberapa bagian.

Pendekar Mabuk terengah-engah. Kulit tubuhnya sudah kembali memulih seperti sediakala walau dengan sedikit demi sedikit. Urat-uratnya mulai mengendur dan tidak lagi bertonjolan keluar di permukaan kulit . Ia melangkah sedikit gontai mendekati kedua rekannya.

Badai Kelabu menyambut dan memapah Pendekar Mabuk, lalu membawanya duduk di sebongkah batu.

"Hampir saja jantungku tersedot keluar dari ragaku!"
kata Pendekar Mabuk sambil terengah-engah.

"Aku sudah mencemaskan hal itu ! Kalau kau bertahan saja, kau bisa mati karena dia mempunyai kekuatan yang begitu besar !" kata Badai Kelabu.

Ketika Pendekar Mabuk menenggak tuaknya, Dewa Racun menyempatkan berkata,

"Il...il...ilmuku tak cukup untuk menandinginya !
Ak...aku sudah berusaha membantumu Suto. Tap..tapi...tidak berhasil !"

Suto menghempaskan napas kelegaan dari mulutnya yang habis meneguk tuak. Badannya kembali terasa segar. Saat itu ia berkata,

"Aku hanya mengkhawatirkan kalau kalian berdua ikut campur dan menjadi sasarannya ! Jelas aku tak dapat menolong kalian pada saat seperti tadi !
Untunglah kau tak banyak berbuat Dewa Racun !
Kalau kau tadi melompat dan menyerangnya, bisa-bisa jantungmu yang disedot keluar olehnya !"

"Ak...ak...aku sudah memperhitungkan hal itu dan... dan tak berani terlalu lancang !"
kata Dewa Racun.
Kemudian, Badai Kelabu berkata setelah ia termenung beberapa saat tadi,
"Menurut cerita mendiang guruku, Perwira Mayat Hidup, bukan orang yang mudah dibunuh ! Biasanya dia akan bangkit lagi dari kematiannya !"

"Tap... tap...tapi sekarang dia mati dalam keadaan pecah begitu, man... maaann...mana bisa hidup lagi ?!" Dewa Racun agak ngotot.
Badai Kelabu sendiri tidak berani membantah, hanya berkata seperti bicara pada diri sendiri,
"Menurut kabar, orang itu punya ilmu 'Aji Cadar Angin' !
Kalau mayatnya kena angin bisa hidup kembali !"

Suto Sinting diam dan termenung cemas beberapa saat. Dewa Racun tidak mempunyai kecemasan seperti Suto. Ia percaya betul, bahwa Perwira Mayat Hidup tidak akan bisa bangkit lagi dari kematiannya karena keadaan tubuhnya telah hancur.

"Seb...seb...sebaiknya, kita segera tinggalkan tempat ini !
Kurasa orang-orang di Pulau Beliung sedang membutuhkan kita dan menunggu-nunggu kedatangan kita, Suto !"

"Baiklah ! Aku setuju !" kata Pendekar Mabuk, lalu berdiri dan menggantungkan bumbung tuaknya di punggung.

"Bagaimana dengan diriku Suto ?!" tiba-tiba Badai Kelabu bertanya dengan nada sedih. "
Aku sudah tidak punya apa-apa lagi, Guru tak ada, teman tak ada, dan...dan aku tak mau kembali ke Pulau Hitam lagi ! Aku masih terbayang kejahatan Guru !"

"Apakah kau mau ikut ke Pulau Beliung ?"

"Kemana pun kau ingin membawaku, aku tak menolak, Suto !"

Pendekar Mabuk tersenyum dan merangkul gadis itu. Ia menepuk-nepuk pundak Badai Kelabu sambil berkata,
"Bangkitkan semangatmu untuk tetap hidup dengan siapapun dan di mana pun !
Sekarang ikut lah ke Pulau Beliung ! Aku yang menjamin keselamatan dan hidupmu di sana!"

Pada saat mereka mulai naik ke perahu, tanpa mereka sadari serpihan tubuh Perwira Mayat Hidup yang telah menyebar itu bergerak-gerak terhembus angin pantai. Serpihan-serpihan itu semakin lama semakin saling berdekatan. Bagian-bagian yang terpisah mengumpul menjadi satu bagai digerakkan oleh hembusan angin dari berbagai arah.

Perahu pun melaju menyusuri jalur pelayaran ke Pulau Beliung. Ketiga penumpangnya dalam keadaan tenang, bahkan Pendekar Mabuk sempat berbicara di buritan bersama Badai Kelabu. Kasak-kusuk mereka mulai menyinggung soal hati dan perasaan secara pribadi.
Mereka tidak tahu, bahwa potongan-potongan tubuh Perwira Mayat Hidup itu telah berkumpul menjadi satu dan saling lekat kembali, hingga membentuk satu bagian tubuh.
Selembar rambut pun kembali lagi pada tempatnya. Semakin banyak angin berhembus semakin bergerak-gerak tubuh mayat yang kembali utuh itu. Sampai pada akhirnya, tampak tubuh mayat terlentang itu bergerak pada bagian perutnya. Ia mulai bernapas sedikit dengan mata membelalak lebar, memandang sekeliling dengan liar.

"Ke mana mereka...?!" geram suara Perwira Mayat Hidup yang telah bangkit kembali dari kematiannya. Ia segera berdiri dan memandang ke lautan.
Terlihat olehnya sebuah perahu yang sedang meninggalkan pulau tersebut.

Di perahu            itu, mata Dewa Racun menyipit memandang ke arah pulau tadi. Jantungnya menjadi berdebar-debar, hatinya gelisah dan lidahnya semakin keluh untuk mengucapkan sesuatu yang dilihatnya. Dalam hatinya ia membatin,..
"Sepertinya ada orang berdiri di pantai ? Rambutnya berserakan ! Potongannya seperti potongan tubuh si Perwira Mayat Hidup ! Apakah benar orang itu bangkit lagi dari kematiannya dengan tubuh sehancur itu ? Ah mungkin aku hanya salah pandang saja !"

*
* *

2
Perahu melaju dengan mulus. Ombak lautan pun tidak bergulung-gulung, lebih berkesan tenang. Tapi sinar matahari mulai susut karena keadaannya sudah mulai mendekati cakrawala barat.
Badai Kelabu sengaja menggantikan Dewa Racun untuk berada di haluan, memegang kemudi agar arah perahu tetap di jalur pelayaran menuju Pulau Beliung. Sementara itu, Dewa Racun segera mendekati Pendekar Mabuk yang sejak tadi menenggak tuaknya sedikit demi sedikit .
Dewa Racun mulai berbicara dengan suara pelan, takut didengar oleh Badai Kelabu,..

"Ap...ap...apakah kau percaya kalau seseorang yang sudah mati bisa bangkit lagi ?"

"Percaya ! Karena memang ada ilmu semacam itu di dunia ini. Guruku pernah bercerita tentang kehebatan ilmu Ki Jangkar Langit, bahwa ia juga orang yang susah dibunuh ! Kematian baginya hanyalah tidur sekejap, yang pada suatu saat akan bisa bangkit lagi karena sesuatu hal !"
Pendekar Mabuk bicara dengan lancar, bukan seperti orang mabuk.

"Kalll... kaaal... kaal... kalau begitu, orang tersebut akan hidup selama-lamanya ?"

"Bukan begitu artinya! Orang itu akan mati apabila sudah tiba saatnya untuk mati dan kembali kepada Yang Maha Kuasa ! Jika belum waktunya garis kehidupan menentukan ia mati, maka walaupun mati beberapa kali, itu hanya suatu kecelakaan biasa yang bisa membuatnya hidup lagi. Kematian di luar kodrat ibarat bagi kita adalah pingsan karena sesuatu hal. Orang pingsan bisa bangkit lagi, bukan ? Nah, demikian pula orang yang punya ilmu seperti Ki Jangkar Langit !"

"Jad... jad... jadi, bagaimana untuk mengalahkan orang yang punya ilmu seperti itu, terutama jika ia adalah orang sesat dan jahat, tentunya sangat sulit untuk dibunuh !"

"Memang sulit !" jawab Suto sambil tersenyum, "Tapi jika garis ketentuan hidupnya sudah mencapai pada titik kematian, secara sengaja atau tidak sengaja, seseorang bisa saja membuatnya mati selama-lamanya. Entah dengan cara bagaimana dan dalam keadaan mati yang seperti apa, kita tidak tahu ! Setiap orang akan menemui jalan kematiannya sendiri-sendiri, yang pada umumnya berbeda-beda cara. Tetapi jalan itu tetap ada. Tidak bisa hilang dari garis ketentuan hidup yang sudah dipastikan dari sang Pencipta !"

Dewa Racun diam dan manggut-manggut . Ada sesuatu yang direnungkan, ada sesuatu yang dipikirkan, ada sesuatu pula yang membuatnya gelisah. Dan kegelisahan itu tertangkap oleh mata dan perasaan Pendekar Mabuk. Karenanya, Suto pun segera bertanya,

"Mengapa kau tanyakan hal itu ? Apakah ada sesuatu yang tertangkap oleh firasat mu ?"

"Tid... tid... tidak ada ! Hanya saja, aaak... aku sedikit mencemaskan kata-kata Badai Kelabu," jawab Dewa Racun.
"Kata-kata yang mana ?"

"Ilmu Cadar Angin !"

"Kau cemas kalau Perwira Mayat Hidup itu bangkit lagi ?"

"Tid... tid... tidak cemas, hanya mmmee...merasa tak enak hati saja ! Sep...sepertinya...."
Dewa Racun tidak teruskan ucapannya. Matanya melirik ke arah buritan. Kejap berikutnya sudah kembali kepada Suto Sinting dan berkata soal lain.
"Meng... meng... mengapa kau tidak gunakan jurus 'Manggala' atau 'Yudha' ?
Buk...bukankah kau mendapat kekuatan baru dari Gusti Ratu Kartika Wangi ?!"

"Kalau tidak terpaksa sekali, aku tak akan pergunakan jurus maut ! Bahkan          kalau memang bisa, cukup kugunakan kata-kata untuk mengalahkan lawanku. Karena memang begitulah aku diajarkan bersikap dan hidup di masyarakat oleh guruku si Gila T uak !"

"O, iiiy...iya ! Aku meng...meng...mengerti maksudnya ! Cuma, menurutku Perwira Mayat Hidup itu adalah lawan yang berbahaya dan tak cukup dikalahkan dengan kata-kata. Bahkan...."
Dewa Racun kembali berhenti bicara. Matanya kembali melirik ke arah buritan. Ada kecemasan yang melintas di mata Dewa                Racun. Kecemasan dan kegelisahan itu sejak tadi sudah diketahui oleh Pendekar Mabuk, tapi si tampan itu diam saja dan berlagak tidak melihat kejanggalan tersebut. Namun diam-diam seluruh inderanya dipasang baik-baik dan menyebarkan tingkat kewaspadaan yang tinggi.

"Dewa Racun, masuklah ke barak !"

"Meng... meng... mengapa kau menyuruhku masuk ke barak ?"

Pendekar Mabuk berdiri, memandang rekannya yang kerdil sebentar. Kemudian ia memandang ke arah Badai Kelabu, ternyata gadis itu tetap tenang tanpa memendam kegelisahan apa pun.

"Badai Kelabu, tinggalkan haluan. Masuklah ke barak !"

"Kenapa ?" tanya Badai Kelabu dengan memendam keheranan.

"Biar aku yang kemudikan perahu ini !" jawab Pendekar Mabuk.

"Tapi mengapa kau menyuruhku masuk ke barak ?"

"Supaya kau istirahat ! Dewa Racun juga kusuruh masuk ke         barak supaya beristirahat ! Aku yakin perjalanan menuju Pulau Beliung masih cukup jauh dan melelahkan."

"Aku tidak lelah. Aku justru bersemangat dan senang sekali bisa mendampingi perjalananmu!" senyum Badai Kelabu mekar dengan indah.

Pendekar Mabuk membalas dan mendekatinya, kemudian berkata pelan, "Masuklah ke barak bersama Dewa Racun !"

Badai Kelabu berubah keceriaannya menjadi wajah penuh keheranan. Sebelum ia mengajukan tanya, Suto sudah lebih dulu berkata,

"Turutilah kata-kataku!"

Badai Kelabu dan Dewa Racun akhirnya menurut. Mereka masuk ke barak beratap rumbia lapis kayu papan. Di dalam barak itu, mereka berdua saling beradu tanya,
"Mengapa si tampan itu menyuruh kita masuk ke barak ini ?"

"Ak...ak...aku tidak tahu. Aku juga heran, mengapa dia menjadi agak dingin sikapnya ?"

"Mungkin ada kata-kata ku yang tak berkenan di hatinya ?"

"Kat...kat...kat...kata-kata dari siapa ?" "Barangkali darimu?"

"Mungkinkah begitu ?"
Baru saja Badai Kelabu ingin bicara lagi, tiba-tiba ia urungkan niatnya itu. Kapal terasa terguncang aneh walaupun hanya sedikit guncangannya. Kejap berikutnya terdengar suara,

brukk...!
Dan kedua orang di dalam barak ikut sama-sama terkejut .

"Seperti suara orang melompat dari kedalaman air ke atas perahu !"
"Tapi mengapa Suto diam saja ?"

Tak berapa lama, mereka melihat kilatan cahaya merah yang menerjang punggung Suto. Cahaya merah itu datangnya dari atas atap barak. Mereka berdua terpaku di tempat melihat Suto terkena kilatan sinar merah.

Zlappp...! Bwurrr...!

"Dia terbakar !" sentak Badai Kelabu dan segera berlari keluar dari barak. Tapi Dewa Racun menahan tangannya dan berkata dengan jari telunjuk ditempelkan di mulutnya.
"Ddi...di...diam !" bisik Dewa Racun. "Ak...ak...aku yakin Suto tidak sebodoh itu ! Kit...kita lihat saja apakah benar dia terbakar atau tidak !"

"Tapi jelas ada api yang membungkusnya setelah ia terkena kilatan sinar merah dari atas tempat kita ini !"

"Sssst ...! Tet...tet...teee...tenang dulu !"

Api yang membungkus tubuh Pendekar Mabuk itu tiba-tiba padam dan lenyap begitu saja. Wussst ...! Tubuh Pendekar Mabuk tidak mengalami luka bakar sedikit pun. Rupanya ia menggunakan tipuan pandangan mata dengan mengeluarkan tenaga dalam yang berupa asap membungkus dirinya. Asap itu tembus pandang sehingga tidak terlihat, dan yang terbakar tadi adalah lapisan hawa murni yang berbentuk asap tembus pandang itu.

Pendekar Mabuk segera membalikkan badannya dan menyunggingkan senyum ke arah orang yang ada di atas atap barak. Badai Kelabu terbengong melihat keadaan Suto yang tetap gagah dan tegar itu.

"Bangsat kau !"
terdengar makian suara serak dari atas atap barak. Badai Kelabu dan Dewa Racun segera mengerti, siapa orang yang berdiri di atas atap itu, yang tak lain adalah Perwira Mayat Hidup.

"Rupanya kau memang sengaja ingin adu ilmu kesaktian denganku, Bocah Kadal !"

"Aku tidak bermaksud begitu, tapi aku siap jika kau inginkan !"

"Kau tidak terkejut sedikit pun melihat aku bangkit lagi ?!"

"Itu permainan anak kecil ! Tetanggaku punya anak, dan anaknya juga bisa bangkit lagi dari kematiannya !
Itu hanya permainan anak-anak saja, tak perlu membuatku terheran-heran !"

"Kalau begitu, kutunjukkan jurus mautku yang bisa membuatmu terperangah dan terheran-heran, Hiaaaat ...!"
Perwira Mayat Hidup melompat bagaikan terbang ke arah haluan. Pendekar Mabuk segera melompat juga menyongsong gerakan terbang lawannya. Tapi tiba-tiba tubuh Perwira Mayat Hidup berhenti di udara tanpa beralaskan apa pun. Ia berdiri menghadang gerakan Suto ke arahnya, lalu dengan cepat ia sentakkan tangannya yang mengeluarkan cahaya kuning itu.

Clapp...!

Suto Sinting cepat putarkan tubuh dan sinar kuning itu tepat mengenai bumbung tuaknya.

Tabb...! Wuttt ...!
Sinar kuning itu membalik arah dan mengenai tangan Perwira Mayat Hidup.

Jrrabb...!
Bhuggg...!
Tubuh Perwira Mayat Hidup terpental jatuh ke laut .
Byurrr...!
Dalam sekejap ternyata tubuh itu kembali melayang naik ke permukaan kapal.
Jlegg...!

"Bocah Edan ! Bumbung apa yang ada di punggungmu itu, sehingga bisa membalikkan sinar kuningku itu ?!"

"Bisa juga melepaskan nyawamu selamanya jika kau tak mau menyerah, Perwira Mayat Hidup!"

"Hah...! Tak ada kata menyerah bagiku !" bentaknya dengan wajah semakin angker dan ganas.
"Terimalah jurus maut ku berikutnya ! Hiaah!"
Clapp...! Sinar putih perak menghantam Pendekar Mabuk, keluar dari sodokan jari tangan Perwira Mayat Hidup itu.

Suto Sinting tidak menghindari, melainkan menangkis kembali dengan kibasan bumbung tuaknya.
Sinar putih itu menghantam bumbung dan memantul balik seperti tadi. Tapi kali ini agaknya Perwira Mayat Hidup telah siap siaga, sehingga ia segera melompat ke arah haluan dan sinar yang memantul balik itu jatuh ke laut .

Jrrrosss...! Menyemburlah air laut, tingginya hampir separo tinggi pohon kelapa.

Pada saat itu, Pendekar Mabuk pun segera sentakkan telapak tangannya yang berjari rapat dalam keadaan miring.

Settt ...!
Dan pada saat itu, dua mata pisau kecil yang tidak terlihat oleh mata telanjang telah melesat begitu cepatnya. Yang terlihat oleh Dewa Racun dan Badai Kelabu hanyalah dua sinar emas melesat dan menghantam perut Perwira Mayat Hidup.

Orang tersebut langsung              diam      tak bergerak. Keadaannya tetap dengan tangan terangkat dan seolah-olah ingin lepaskan pukulan dahsyat-nya lagi. Tapi saat itu, Dewa Racun segera keluar dari barak dan mendekati Suto sambil berkata,..

"Ju... juu... jurus "Manggala" telah kau gunakan, Suto ?!"

"Ya. Agaknya tak ada jalan lain kecuali harus melenyapkan-nya dengan jurus 'Manggala" !

Badai Kelabu pun ikut keluar dari barak dan memandangi Perwira             Mayat Hidup yang diam mematung dengan mata masih mendelik ganas.
"Mengapa dia diam saja ? Apakah dia menjadi patung ?"
tanya Badai Kelabu kepada Pendekar Mabuk.

Baru saja Suto ingin menjawab, tapi tiba-tiba datang angin sedikit kencang. Rambut Perwira Mayat Hidup terbang beberapa helai. Badai Kelabu terkejut melihat keadaan seperti itu. Matanya memandang tak berkedip dengan dahi berkerut.

Tak berapa lama, telinga Perwira Mayat Hidup menjadi rontok bagaikan abu yang tersapu angin. Menyusul kemudian bagian jari tangannya. Prusss...! Terbang terbawa angin dan menjadi abu. Makin lama, semakin hilang bagian tubuhnya.
Badai Kelabu baru menyadari bahwa Perwira Mayat Hidup ternyata telah mati sejak ia menjadi patung tadi. Bahkan bukan saja sekadar mati menjadi mayat, namun menjadi abu yang masih membentuk seperti wujud aslinya. Dan kematian itu akibat jurus maut yang dimiliki Pendekar Mabuk, yaitu jurus "Manggala".

Gumpalan abu yang membentuk wujud aslinya itu makin lama semakin habis tersapu angin, dan akhirnya kematian Perwira Mayat Hidup itu tidak meninggalkan bekas secuil pun. Lenyap menjadi abu dan bertaburan di lautan lepas.

Suto berucap kata seperti bicara pada dirinya sendiri, "Kekuatannya pada angin, tapi ia dimusnahkan oleh angin juga!"

Badai Kelabu menghirup napas panjang-panjang dan menghembuskannya dengan satu kelegaan            yang memuaskan hati. Ia berkata kepada Dewa Racun yang baru berhenti dari tertegunnya.

"Luar biasa jurus itu ! Dapatkah aku mempelajarinya dari Suto ?"

Dewa Racun yang kerdil menggelengkan kepala, "Tid... tidak... tidak semua orang bisa, tidak setiap orang memiliki jurus "Manggala" !      Hanya Suto Sinting Pendekar Mabuk itu, yang mempunyai dua jurus langka, yaitu jurus "Manggala" dan jurus "Yudha". Sebab dia adalah seorang "Manggala Yudha" negeri alam gaib yang bernama Puri Gerbang Surgawi !

"Bukankah itu negeri di Pulau Serindu ?"

"It ... it u anaknya, yang di alam gaib adalah ibunya!" Badai           Kelabu  hanya    bisa        manggut -manggut
menyimpan sejut a kekaguman.

* *

Perjalanan Kapal Neraka yang membawa Hant u Laut bersama P usaka Tombak Maut -nya it u mengalami guncangan hebat secara t iba-t iba. Hant u Laut mulai curiga dengan guncangan yang t idak sewajarnya it u. Cepat-cepat ia meraih P usaka T ombak Maut t ersebut , lalu memeriksa ke lambung kapal.

T iba-t iba sesosok t ubuh melesat keluar dari dalam air laut . T ubuh it u bergerak lent ur, meluncur cepat ke at as, langsung kakinya menendang wajah Hant u Laut dari bawah ke atas. P lokkk...!

"Uuhg...!" Hant u Laut t erpekik, selain kaget juga

merasa sakit . Cepat -cepat ia t egakkan t ubuhnya dalam berdiri dan memandang liar ke arah tamu tak diundang

it u.

"Bangsat ! P agi-pagi sudah sarapan kaki!" gerut u Hant u Laut karena saat it u adalah pagi hari dan ia baru saja bangun dari t idurnya, ia kibaskan wajahnya unt uk membuang rasa sakit yang membuat pandangan mat anya berkunang-kunang.

Mat a besar it u menat ap gusar pada sesosok t ubuh

kurus yang sudah berdiri di t epi geladak. T ubuh basah kuyup    it u          berpakaian         serba     put ih    model   biksu. Rambut nya juga berwarna put ih dikonde di t engah kepala, hingga wajahnya yang kurus dan kempot it u t erlihat jelas. Jenggotnya yang panjang menet eskan air karena basah. Lelaki t ua berusia sekit ar t ujuh puluh

t ahun it u berdiri dengan memegang tongkat dari kayu biasa, dan uj ungnya mempunyai cabang berbent uk huruf

'V yang panjangnya t ak sama. Bahkan di bawah

cabangnya t erdapat dua daun yang menguning layu. Dan

Hant u Laut segera mengenali orang it u.

"Rupanya            kau         yang      dat ang dan        menghambat perjalananku ke P ulau Beliung, Jangkar Langit !"

"Ya. Aku yang dat ang, menunt ut kemat ian adikku si T alang Sukma, dan merebut kembali P usaka T ombak Maut -ku it u!" kat a Jangkar Langit dengan t egas. Lalu sert a-merta Jangkar Langit sodokkan t angannya ke depan sebagai sodokan jarak jauh ke arah dagu lawannya. Wuttt!

"Serahkan           tombak                it u!        Kau        t ak         akan      bisa

membunuhku, Hant u Laut!"

Hant u Laut tersedak keras, mulut nya t ernganga,

muncrat darahnya dari mulut it u. Ia cepat berdiri mengambil keseimbangan badannya yang gemuk it u. Ia t erhuyung-huyung dan hampir saja jat uh, unt ung t ombak di t angannya cepat digunakan unt uk menahan t ubuh, hingga ia t ak sempat jat uh.

Jangkar Langit cepat menyerang kembali lawannya dengan pukulan t enaga dalam dari jarak lima langkah. Wuttt ...! T api saat it u Hant u Laut cepat putarkan t ombak di at as kepalanya, lalu keluarlah sinar hijau mengelilingi

t ubuhnya dalam jarak dua langkah. Sinar hijau it u memercikkan but iran-but iran mengkilap sepert i serbuk intan dan membuat pukulan t enaga dalam dari Jangkar Langit       t erpent al           membalik            menyerang         t ubuhnya. Wussst ...! Drabb...!

Jangkar Langit cepat menahan pukulannya yang membalik it u dengan melint angkan tongkatnya yang beraliran tenaga dalam t inggi. T api akhirnya ia terpent al sendiri dan jat uh bersandar pada t epian pagar kapal akibat sent akan pukulan yang membalik t adi.

Dalam kesempat an sepert i it u, Hant u Laut cepat

sent akkan t ombaknya ke depan dan melesat lah sinar merah berkelok-kelok ke arah lawan. Jangkar Langit t erperanjat melihat cepatnya sinar merah menyerangnya, ia tak sempat menangkis at au menghindar sehingga, jrubb!

Sinar it u menikam dadanya. T ubuh Jangkar Langit mengejang dengan mat a mendelik. Kulit wajahnya yang coklat berangsur-angsur menjadi biru dan makin lama makin biru legam. Kulit t angannya dan yang lainnya pun

begit u. Bahkan rambut put ihnya mengerit ing hitam bagai t erbakar kekuat an api yang amat t inggi dari dalam t ubuh.

Akhirnya orang t ua sakt i it u pun menghembuskan napas t erakhir dengan bau hangus t ercium t ajam. Jenggot nya t erbakar t anpa t erlihat bent uk apinya.

"Ha ha ha ha...! Siapa bilang kau t ak bisa dibunuh

olehku?! Sekarang mampuslah kau, Jangkar Langit ! Sinar merah dari t enaga dalamku it u t elah lebih berbahaya daripada kulepaskan lewat t elapak t anganku! Mat i kau di uj ung pusakamu, Jangkar Langit! Hua ha ha ha...!"

Hant u Laut merasa puas melihat kemat ian Jangkar

Langit yang biru legam sekujur t ubuhnya it u. Ia sempat menendang beberapa kali mayat it u unt uk membukt ikan kemat iannya. T ernyat a Jangkar Langit t ak bergerak- gerak lagi, bahkan mungkin unt uk selama-lamanya mayatnya mendelik dengan mulut t ernganga. Asap yang t adi keluar dari mulutnya kini sudah t ak ada.

Angin berhembus cukup baik unt uk pelayaran. Hant u

Laut meneruskan perjalanan dengan dada t erasa makin membengkak, karena bisa mengalahkan orang sakt i sepert i Jangkar Langit . Sesekali ia memandang mayat Jangkar Langit yang masih dibiarkan di t empat nya semula. Jika ia memandang, ia selalu t ertawa kepada mayat it u, seakan unjuk kehebatan di depan Jangkar Langit yang sudah t ak bernyawa lagi it u.

Sampai di pert engahan laut , ket ika arah kapal sudah diubah     menuju                ke           P ulau    Beliung,                Hant u   Laut

menyempat kan diri unt uk membuang mayat Jangkar Langit. Byurrr...! Mayat it u dibuang dengan cara diseret ke t epian dan digulingkan memakai kaki.

"Sudah t ua masih saja berkoar lancang di depan Hant u Laut ! Apa dia pikir Hant u Laut ini budak kapal sepert i dulu?! Hmmm...!"

Hant u Laut mencibir sendiri, kemudian masuk ke

barak     unt uk   mengambil         minuman             araknya,               ia menenggak arak cukup banyak sebagai ungkapan pest a kemenangannya melawan Jangkar Langit .

T et api, ket ika ia ingin menenggak lagi, t iba-t iba

perahunya t erasa t erguncang aneh. Ada suara gemuruh di        ba gian  lambung              kapal.    Hant u   Laut       cepat memeriksanya. T api t iba-t iba, brusss...!             Wajahnya kembali dit erjang lompat an cepat dari orang yang muncul dari kedalaman laut . T ersent ak dan terpelant ing Hant u Laut yang gemuk it u.

Ia cepat berdiri dan t ercengang dengan mat a nyaris

melot ot keluar. Karena ia melihat sesosok t ubuh t ua berdiri di depannya dalam keadaan segar-bugar. Sosok t ua it u tak lain ialah Jangkar Langit!

"Masih hidup juga si t ua bangka ini?! Edan!" geram

Hant u Laut .

*

* *



3

SEMENT ARA it u sebuah perahu berlayar t unggal

sedang melaju di jalur pelayaran arah P ulau Beliung. P erahu it u bermuatan dua orang lelaki. Yang sat u berbadan sedikit gemuk, pendek dan berkumis hit am, yang sat unya lagi bert ubuh kurus, kempot dan lonjong. Yang berwajah lonjong ini mempunyai kumis pendek, kurang dari lebarnya bibir, ia mempunyai nama julukan Golok Makam. Sedangkan yang berbadan agak gemuk dan mengenakan pakaian biru t ua it u bernama Loh Ga we.

Loh Gawe berambut pendek, dililit logam t embaga berhias kerang kuning kecil di t engah dahinya, berusia sekit ar lima puluh t ahun, hingga rambut nya sudah bercampur dengan uban sedikit . Sedangkan Golok Makam berusia         sekit ar                empat puluh      lima t ahun, berambut panjang melewat i punggung t anpa ikat kepala, berbaju rompi hit am dan celananya hit am pula. Ia bersenjat akan sebuah golok yang mempunyai cant olan sepert i mat a kail di bagian ujungnya. Berbeda dengan senjat a Loh Gawe, yait u berupa rant ai sepanjang t iga jengkal yang mempunyai bola besi berduri sebesar genggamannya, bert angkai hit am sepanjang sat u jengkal.

Loh Gawe mempunyai mat a lebih lebar daripada si

Golok Makam. T api keduanya sama-sama bermat a bengis, seakan berdarah dingin. Sebab keduanya adalah ut usan dari Siluman T ujuh Nyawa. Mereka berdua adalah t ermasuk algojo pembantai di ba wah perint ah Durmala Sanca alias Siluman T ujuh Nyawa.

P erahu berlayar t unggal it u t idak begit u besar. T api angin samudera menghembuskan layarnya membuat

perahu it u berjalan cepat . Di bagian haluan berdiri si Golok Makam sebagai pengemudi perahu t ersebut , sedangkan Loh Gawe duduk di bagian burit an dengan wajah     angkernya.         Loh         Gawe    sepert inya         sedang memendam                kemarahan         yang      t ak         t ahu      harus dilampiaskan kepada siapa.

Dari burit an t erdengar suaranya yang menggeram

gemas   beberapa            kali,        kadang mendengus        sambil hent akkan kakinya ke lant ai perahu. Hal it u membuat si Golok Makam palingkan wajahnya memandang Loh Ga we, lalu serukan kat a dari haluan,

"T ahanlah dulu nafsumu, Loh Ga we! Aku percaya Kapal Neraka it u berlayar ke P ulau Beliung! Di sana kit a past i akan bert emu dengan Hant u Laut , dan kit a bisa t anyakan kepadanya siapa yang membunuh kakakmu si T apak Baja it u. Apakah orang-orangnya Resi Kidung Sent anu, at au muridnya si Jangkar Langit! Sebab kulihat mayat T alang Sukma, adik Jangkar Langit , ada di P ulau Kidung juga!"

"Apakah mungkin orangnya Resi Kidung Sent anu ada

yang masih hidup dan bisa mengalahkan kakakku, T apak Baja it u?!" suara Loh Gawe lebih besar dan bernada sepert i orang menggeram dalam gerut uan.

"Set ahuku, Kidung Sent anu mempunyai anak angkat yang bernama Lembu Ireng. Tadi t ak kulihat mayat Lembu Ireng di antara mayat -mayat penduduk P ulau Kidung! Jadi jelas, Lembu Ireng belum t erbunuh oleh T apak Bajai"

"Kalau begit u kit a cari si Lembu Ireng it u dulu!"

"Jangan, Loh Gawe! T ugas kit a adalah menyusul Kapal Neraka dan menyuruh T apak Baja sert a Hant u Laut unt uk menghadap Siluman T ujuh Nyawa. Karena agaknya sang ket ua ingin memberikan t ugas pent ing kepada mereka berdua. Karena T apak Baja sudah meninggal, maka kit a sampaikan saja t ugas ini kepada Hant u Laut ! Biarlah nant i Hant u Laut yang cerit akan perist iwa kemat ian T apak Baja it u!"

Loh Gawe menggeram lagi, lalu sentakkan napasnya

dengan jengkel, ia bangkit dan melangkahkan kaki ke haluan. Sampai di sana ia diam berdiri di samping si Golok Makam dengan mat a memandang ke depan dan memicing bernada dendam. T erdengar Loh Gawe ucapkan kat a berat ,

"Kurasa Jangkar Langit yang menewaskan kakakku it u! Sebab kudengar Tapak Baja berhasil mencuri dan membawa lari t ombak pusakanya yang bernama P usaka Tombak Maut it u!"

"Semuanya baru akan jelas jika kit a bert emu dengan Hant u Laut!" jawab si Golok Makam dengan suara pelan. Kejap berikut suara Golok Makam t erdengar lagi.

"Jangkar Langit tokoh t ua yang t erkenal sakt i!

Mungkin saja ia sekarang sedang mengejar Hant u Laut unt uk memperoleh pusakanya! Ia mengejar Hant u Laut karena T apak Baja t idak memegang tombak pusaka it u! At au... at au barangkali Hant u Laut yang membawa lari pusaka t ersebut ?"

Loh Gawe palingkan wajah, memandang paras muka t emannya yang lonjong berhidung mirip burung bet et

it u.

"P usaka it u dibawa lari Hant u Laut ?!" gumam Loh Ga we. "Jika benar begit u, berart i Hant u Laut saat ini sedang mengamuk di P ulau Beliung, karena P ulau Beliung adalah sasaran berikut nya dari t ugas T apak Baja set elah menghancurkan semua penghuni P ulau Kidung!"

"Karena it u aku yakin, kit a akan bert emu Hant u Laut

di P ulau Beliung!" t ambah si Golok Makam.

"Bagaimana jika t ernyat a di P ulau Beliung kit a t idak t emukan Hant u Laut? Apakah t ugas T apak Baja kit a ambil alih, at au kit a t inggalkan P ulau Beliung unt uk mencari Hant u Laut ?!"

Golok Makam kali ini memandang wajah Loh Gawe

sambil berkat a, "T ugas kit a adalah menyuruh pulang Kapal Neraka, siapa pun yang ada di at as kapal it u! Bukan menghancurkan P ulau Beliung! Siapa t ahu sang ket ua t elah     berubah               pikirannya           unt uk   t idak menghancurkan P ulau Beliung, karena alasan t ert ent u! Jadi, kit a jangan bert indak gegabah dulu! Kit a kerjakan apa yang harus kit a kerjakan!"

Golok Makam dan Loh Gawe t idak t ahu, bahwa saat it u Hant u Laut sedang kewalahan menghadapi Jangkar Langit di at as Kapal Neraka. T ombak pusaka it u berulang        kali         menghujam       t ubuh   Jangkar Langit , kemat ian Jangkar Langit pun t iba berulang kali, namun set iap kali mayat nya dibuang ke laut , Jangkar Langit bangkit kembali. T ubuhnya yang luka-luka separah apa pun, bisa lenyap lukanya t ak berbekas.

Set iap kali Jangkar Langit melesat dari kedalaman air

dan hinggap di t epian geladak Kapal Neraka, mat a Hant u Laut selalu t erbelalak kaget , kemudian pertarungan dimulai lagi. Bahkan Hant u Laut sempat berpikir,

"Mungkin pusaka ini t idak bisa membuat nya mat i! Jadi sebaiknya kugunakan senjat a yoyo sakt iku ini unt uk membunuhnya!"

Hant u Laut masih memegang P usaka T ombak Maut

t api yang digunakan unt uk menyerang Jangkar Langit adalah yoyo sakt inya. Yoyo it u jika dilemparkan dengan t enaga dalam akan melayang menerjang lawan sambil mengeluarkan gerigi beracunnya, t api jika t ali yoyo disent ak ke belakang, yoyo it u akan meluncur kembali ke t angan Hant u Laut dalam keadaan gerigi masuk ke dalam lapisan yoyo.

P ert arungan yang menjengkelkan it u membuat Hant u Laut berulang kali t erkena pukulan t enaga dalam Jangkar Langit. Tet api selalu saja ia masih t egar dan sulit dit umbangkan. Bahkan t erakhir kali Hant u Laut sempat melukai t ubuh Jangkar Langit . Yoyonya menggores lebar pada bagian t engkuk kepala Jangkar Langit.

Jelas-jelas Jangkar Langit mat i akibat racun gerigi yoyo yang juga berkekuat an t enaga dalam it u. Tapi ket ika Hant u Laut melemparkan mayat lawannya ke laut , kejap berikutnya lawannya it u t elah melesat kembali dari kedalaman laut dan bert engger di geladak. Badannya t ampak segar t anpa luka sedikit pun.

"Gila! Ini manusia apa set an?!" geram Hant u Laut

dalam hat inya.

Hant u Laut t idak t ahu, bahwa Jangkar Langit

mempunyai ilmu yang bernama 'Aji Banyu Jiwa'. T idak ada orang yang memiliki 'Aji Banyu Jiwa' selain Jangkar Langit. Guru Sut o Sint ing, si Gila T uak, juga t idak memiliki Ilmu 'Aji Banyu Jiwa'.

'Aji Banyu Ji wa' it u mempunyai kekuat an di air.

Banyu it u sendiri art inya air. Jadi set iap Jangkar Langit mat i dalam keadaan luka separah apa pun, jika jasadnya t erkena air, ent ah air hujan at au air laut , at au air apa saja, maka mayat nya akan bangkit lagi dan luka-luka separah apa pun bisa sembuh kembali secara gaib.

It ulah sebabnya si Gila T uak sendiri merasa segan

t erhadap Jangkar Langit , karena Gila T uak t ahu bahwa Jangkar Langit orang yang sukar dibunuh. Sedangkan Jangkar Langit sendiri merasa sungkan berselisih dengan si Gila T uak, karena ia t ahu si Gila T uak mempunyai P usaka T uak Set an yang dapat memporak-porandakan alam sekit arnya. Keduanya akhirnya saling menghormat i dan saling bersahabat dengan baik. Bahkan dalam sat u pert arungan, jika di sana ada Jangkar Langit dan si Gila T uak, pert arungan it u bisa berhent i dengan sendirinya karena yang bert arung merasa enggan berurusan dengan kedua t okoh t ersebut .

Bibi gurunya dari Sut o Sint ing, yait u Bidadari Jalang, adalah orang terkuat kedua dalam urut an nama-nama t okoh yang sulit dit umbangkan. Tet api jika ia bert emu dengan Jangkar Langit , ia pun merasa sungkan karena selama ini Jangkar Langit t ak pernah t ampakkan kemarahan at au permusuhannya dengan Bidadari Jalang.

T ak heran jika Hant u Laut merasa kewalahan

melawan Jangkar Langit , yang dikenal sebagai manusia yang t idak pernah mau cari masalah dengan siapa pun. Hant u Laut sendiri sebenarnya t erluka parah di bagian dalamnya.   T api       ia             masih    bisa        bert ahan            unt uk menyelamatkan P usaka Tombak Maut it u. Sebaliknya, Jangkar Langit merasa kewalahan juga melawan orang besar bert enaga bison it u, karena kesempat an unt uk menghancurkan Hant u Laut selalu t erhalang gerakan perisai tombak pusaka t ersebut . Sinar hijau selalu digunakan Hant u Laut unt uk melindungi dirinya dari serangan Jangkar Langit . Sedangkan Jangkar Langit sendiri t ahu, bahwa sinar hijau yang keluar dari t ombak yang diput ar-put arkan it u memang sulit dit embus oleh jurus apa pun.

T anpa disadari oleh keduanya, pert arungan it u mulai t erlihat oleh sebuah perahu berlayar biru dengan simbol t engkorak dan t ujuh mat a rant ai yang berwarna put ih. P erahu it ulah yang membawa Loh Ga we dan si Golok Makam unt uk mendekat i Kapal Neraka.

"Loh Gawe...! Lihat Kapal Neraka it u!" kata Golok

Makam. "Sepert inya Hant u Laut sedang bert empur menghadapi tokoh t ua berpakaian serba put ih it u!"

"T ak salah lagi, dialah si Jangkar Langit !" geram Loh Ga we dengan mat a mulai membuas penuh nafsu membunuh. "Dekat i t erus kapal it u! Kit a hajar si Jangkar Langit dari sini!"

Loh Gawe melayangkan pukulan jarak jauhnya yang

berwarna merah membara. Sasarannya adalah punggung

Jangkar Langit yang sedang menghadapi t ebasan-t ebasan

t ombak Hant u Laut . Bahkan, Golok Makam juga ikut melancarkan pukulan jarak jauhnya yang memancarkan cahaya kuning menyala.

T et api Jangkar Langit sangat waspada. Mat a t uanya sangat t ajam dan jeli, sehingga kedua pukulan it u bisa dihindari dengan cara melambungkan diri, berjungkir balik di udara hingga mencapai at ap barak Kapal Neraka it u.

Hant u Langit t erkesiap melihat dua sinar melesat ke

arah kapalnya. Menghindarnya Jangkar Langit membuat kedua sinar it u menjadi t erarah kepadanya. Hant u Laut pun cepat sent akkan kakinya unt uk melesat ke samping dengan gerakan sepert i singa t erbang.

Jlegarr...! Blarr...!

Kedua sinar it u dihant am dengan kekuat an merah yang keluar dari ujung T ombak Maut . Hant u Laut perlu menghancurkan kedua sinar t ersebut , karena jika t idak kedua sinar it u akan menghant am t iang layar ut ama, dan t iang it u past i akan hancur.

"Hant u Laut ...!" seru Golok Makam dari perahunya

yang makin mendekat . "Ist irahat lah, biar kami yang hadapi si t ua rebus it u!"

Hant u Laut serukan kat a, "Hat i-hat i! Jangan malah kalian menghancurkan kapalku ini!"

Jangkar Langit t ak merasa gentar sedikit pun melihat

kemunculan perahu berlayar biru t ua it u. Ia sudah menduga, mereka yang berada di at as perahu adalah sekut unya Siluman T ujuh Nyawa. Buat Jangkar Langit mereka t idak ada apa-apanya. Justru yang t erberat adalah

merebut t ombak pusakanya, sement ara t ombak pusaka it u dipakai bert arung melawan dirinya sendiri. It u sama saja Jangkar Langit melawan kekuat an ampuhnya sendiri.

Wuttt ...! Kejap berikut t ubuh Loh Gawe melent ing di

udara dari perahunya dan t iba di at as geladak Kapal Neraka dengan t egar dan sigap. Mat anya langsung t ert uju pada Jangkar Langit yang masih berdiri dengan

t enang di at as at ap barak.

"Jangkar               Langit!"                bent ak Loh         Gawe.   "Akulah lawanmu! Bukan si gundul Hant u Laut it u!"

"Kau hanya buang-buang wakt u saja!" ucap Jangkar Langit dengan t enang, t ak kelihat an t erengah-engah napasnya.

"T urunlah dari sana, kit a selesaikan hut ang-piut ang kita!"

"Aku t ak punya hut ang padamu!"

"Omong kosong! Kau punya hut ang padaku, karena kau t elah membunuh kakakku Tapak Baja it u! Sekarang aku, Loh Gawe, menunt ut balas kemat ian kakakku it u!"

Jangkar Langit t ersenyum. "P ert imbangkan dulu anggapanmu it u, Loh Gawe! Aku t ak pernah cari perkara dengan orang lain! Kalau saja pusakaku t idak direbut oleh kakakmu dengan licik, dan sekarang dikuasai oleh Hant u Laut , aku t idak mau bert arung dengan siapa pun!" Wussst ...! T iba-t iba       sebuah pukulan jarak     jauh dilancarkan kembali oleh Golok Makam yang masih ada di perahunya. P ukulan it u berwarna kuning menyala dan

menghant am pinggang Jangkar Langit . Bruss!

"Heggh...!"         Jangkar Langit    t ersent ak,         suaranya t ert ahan dengan mat a melebar. P ukulan sinar kuning t epat mengenai pinggang dan membuat pinggang it u somplak mengerikan. Darah pun memercik dari t ubuh Jangkar Langit.

T ubuh it u t ersungkur ke depan. Brukk...! Lalu t erguling jat uh dari at as at ap. P ada saat it u, Loh Gawe segera mencabut senjat a rant ai berbandul bola baja berduri, lalu dihant amkan dalam sat u lompat an ringan ke arah kepala Jangkar Langit . P rokkk...!

Kepala Jangkar Langit koyak lebar, darahnya makin

menyebar mengot ori dinding barak. T ubuh it u ambruk t ak berkut ik lagi. Namun Loh Gawe masih belum puas, ia hant amkan lagi rant ai bandul berduri it u ke dada Jangkar Langit . Grasss...! Dada it u hancur, bolong mengerikan, karena hant aman bola berduri it u disert ai kilatan cahaya merah membara.

Wuttt ! Jlegg...!

Golok Makam mendarat di geladak Kapal Neraka, ia segera menarik t angan Loh Gawe sambil berseru,

"Cukup! Cukup, Loh Gawe! Dia sudah t ewas menyusul kakakmu!"

"Laknat it u akan kuhancurkan hingga berkeping- keping!"

Hant u Laut segera berseru dari tempat yang agak

t inggi, "Jangan kot ori kapalku dengan bangkai orang it u!"

Loh Gawe menat ap mata Hant u Laut . Kemudian napasnya        dihempaskan     hingga   ket egangannya

berkurang, ia segera memasukkan kembali senjat anya ke selipan sabuk hit amnya, lalu ia bicara pada Hant u Laut,

"Aku dat ang bukan sekadar ingin balas dendam kemat ian kakakku, t api ada t ugas dari sang ket ua unt uk menemuimu!"

"Unt uk mengawiniku?!"

"Unt uk menemuimu, T uli!" sent ak Golok Makam.

"O, unt uk menemuiku?! Hmmm... ada apa ket ua menyuruh kalian menemuiku?!" t anya Hant u Laut yang biasanya sedikit sungkan t erhadap Golok Makam dan Loh Gawe karena t ingkatannya lebih t inggi, t api kali ini agaknya Hant u Laut t ampakkan sikap beraninya.

"Kau dipanggil menghadap sang ket ua!" jawab Loh

Ga we.

"Aku harus ke P ulau Beliung dul u!"

"T ak      perlu!    Sang ket ua         ingin      cepat     bertemu denganmu, dan sebenarnya dengan kakakku juga; si T apak Baja. T api ceritakanlah sendiri nant i kepada sang ket ua t ent ang nasib kakakku!"

Hant u Laut         memandang ke                arah       jauh       sambil

melangkahkan kaki mendekat i pagar t epian kapal, ia masih menggenggam P usaka Tombak Maut yang sejak t adi dilirik oleh kedua t emannya it u. Kejap berikut nya Hant u Laut palingkan wajah dan ucapkan kat a kepada Loh Gawe,

"Apakah sang ket ua punya kepent ingan besar, sampai ia membelokkan t ugasku unt uk menunda penghancuran di P ulau Beliung?"

"T ent u. Ini amat pent ing!"

"Kalau begit u, sang ket ua sendirilah yang seharusnya dat ang menemuiku di Kapal Neraka ini!"

T erperanjat Golok Makam dan Loh Gawe mendengar ucapan Hant u Laut . Mereka saling pandang, sementara Hant u Laut berjalan mendekat i haluan, dan memeriksa arah jalur pelayarannya, ia juga melirik ke arah perahu berlayar       biru yang t alinya    dit ambat kan    di pagar kapalnya.

"Aku t ak jelas dengan maksud kat a-kat amu, Hant u

Laut !" kat a Golok Makam. "Kau dipanggil sang ket ua agar segera menghadap!"

"Aku t idak mau!" jawab Hant u Laut. "Jika sang ket ua punya      kepent ingan     denganku,          biarlah  dia          yang menghadapku kemari!"

"Lancang sekali mulut mu, Hant u Laut ?!" sent ak Loh

Ga we dengan dada bergemuruh. Wajahnya pun menjadi t egang. "Apa maksudmu bicara begit u, Hant u Laut ? Apakah kau ingin menent ang sang ket ua? Kau t ak t akut dibunuhnya?!"

"Ha ha ha ha...!" Hant u Laut t ert awa, Loh Gawe

segera bernapas lega, karena menyangka it u t adi hanya kelakar Hant u Laut saja. Mereka t ersenyum pahit sambil memandangi apa yang dilakukan Hant u Laut . Rupanya Hant u Laut mengangkat mayat Jangkar Langit dan dilemparkannya ke laut . T api mayat it u jat uhnya ke perahu berlayar biru.

"Hei, mayat it u jat uh di perahuku!" kat a Golok

Makam. T api Hant u Laut t idak peduli. Bahkan dengan menggunakan ujung t ombak ia put uskan t ambang

penambat perahu it u, hingga kini perahu it u t erapung- apung t anpa arah.

"Gila! Kenapa kau lepaskan t ambat an perahuku?!" sent ak Golok Makam dengan mat a membelalak.

Hant u Laut hanya berkat a, "Aku t idak suka Kapal

Neraka ini menjadi t ambat an perahu asing milik siapa pun! P erahu it u harus kuusir, jika perlu pemiliknya pun akan kupaksa unt uk t inggalkan Kapal Neraka ini!"

T erbakar kulit wajah Golok Makam, mendidih

darahnya mendengar ucapan orang yang selama ini t ak berani bicara selancang it u kepadanya. Bahkan Loh Ga we pun segera bergerak mendekat i Hant u Laut dan ingin menampar mulut si gendut berkepala bot ak licin it u. T api, t angan Hant u Laut cepat berkelebat juga menangkis t amparan it u.

P lakkk...!

Begggh...! T angan yang habis menangkis segera disodokkan ke depan dengan t elapak t erbuka. Dada Loh Ga we menjadi sasaran t elak. Terhant am mundur Loh Ga we saat it u, karena sentakan t elapak t angan Hant u Laut it u berkekuat an t enaga dalam cukup besar. Loh Ga we t ersent ak ke belakang sampai menabrak Golok Makam, yang      sedang bimbang                unt uk   mengejar perahunya at au menghajar si gundul it u lebih dulu?

Hant u Laut         sunggingkan       senyum                lebar      sambil

bus ungkan dadanya, kepalanya sedikit mendongak di bagian dagu, menampakkan keangkuhannya.

"Beraninya kau bersikap begini kepadaku, Hant u

Laut ?!" geram Loh Gawe.

"Kenapa harus t akut ? Kenapa selamanya aku harus menjadi pelayan dan budak-budak kalian? Kalau aku berani berbuat kasar dan t idak menghormat kepada kalian, it u karena aku berani menghadapi kalian!"

"Jahanam bot ak!" sentak Golok Makam. "Sekarang

juga kuperint ahkan kau put ar haluan kapal ini dan kembali menghadap sang ket ua!"

"Aku t idak mau menghadap Durmala Sanca! Kalau mau, dia yang harus menghadapku dengan t erlebih dulu mencium t elapak kakiku!"

"Kurang ajar!" geram Loh Ga we dengan napas mulai

t erengah-engah. "Kuhancurkan mulut mu yang sombong it u sebelum kuseret kau menghadap sang ket ua! Berani- beraninya kau bersikap t ak menghormat kepada kami, hah?"

"Jangankan kalian," kat a Hant u Laut meremehkan.

"Kakakmu saja mat i di tanganku, Loh Gawe!"

"Apa...?!" Loh Gawe semakin mendidih darahnya set elah mendengar, bahwa t ernyat a yang membunuh T apak Baja adalah Hant u Laut .

"Kau membunuh T apak Baja?!" ujar Golok Makam. "Mana mungkiiin...! Ilmumu masih di ba wah alas kaki T apak Baja!"

"T ombak pusaka ini t elah merenggut nyawa T apak Baja, it u berart i ilmuku lebih t inggi dari ilmu yang dimiliki T apak Baja! Jangankan T apak Baja, Durmala Sanca pun akan kubuat menjilat -jilat bekas t elapak kakiku bila perlu!"

"Biadab kau! Hiaaat ...!" Loh Gawe segera mencabut

senjat anya dan menghant amkan ke kepala Hant u Laut dengan               sat u      lompat an,          Wussst ...!           Hant u   Laut menghindar, kakinya segera berkelebat ke samping dan mengenai iga Loh Gawe. Beggg...!

Loh         Gawe    t erguling-guling               di            lant ai    geladak.

T endangan it u cukup kuat dan bert enaga besar. Melihat Loh Gawe jat uh, Golok Makam segera mencabut senjat anya, lalu melompat ke at as sambil menyerang dengan menebaskan goloknya ke kanan-kiri dengan cepat .

Hant u Laut melihat bayangan Golok Makam jat uh di

t iang layar. Maka             dengan cepat t iang layar              it u dit usuknya memakai t ombak. Jrrub...!

"Aaaahhh...!"    Golok    Makam menjerit              sekeras- kerasnya sambil memegangi kepalanya. Kepala it u menjadi bolong dan rusak pada bagian pelipisnya. Lalu, Golok Makam jat uh dengan berkelojot an dan kejap berikut nya t idak berkut ik lagi. Diam unt uk selama- lamanya.

"Bangsat busuk kau!" sentak Loh Gawe begit u

melihat Golok Makam t ak bernyawa lagi. Hat inya mulai gent ar melihat t ombak it u bisa membunuh melalui bayangan Golok Makam.

"Kalau kau mau susul kakakmu, kuant arkan pakai t ombak pusaka ini! Silakan maju, Loh Gawe!" t ant ang Hant u Laut .

"Kau memang t ak perlu diberi ampun sedikit pun,

Set an gundul!" Loh Ga we put ar-put arkan rant ai bandul berdurinya. Lalu, ia sent akkan kakinya ke depan, t ak

sampai melompat t inggi karena t akut bayangannya dit angkap oleh Hant u Laut.

"Hiaaat ...!"

Wungng... wungngng...!

Dua kali bandul rant ainya it u menghant am kepala Hant u Laut , t api Hant u Laut bisa menghindar dengan merunduk. Namun ternyat a it u hanya sebuah pancingan supaya kaki Loh Gawe mudah menendang wajah Hant u Laut . P lokkk...!

Hant u Laut t erkena t endangan Loh Gawe dengan t elak. Wajahnya berdarah pada bagian hidung, ia jat uh t erjerembab ke belakang. Loh Gawe cepat menyerbu dengan menghantamkan bandul besinya, t api belum sempat niat nya                t erlaksana,           Hant u   Laut       t elah

menggoreskan ujung t ombak ke papan geladak, karena di sana t erdapat bayangan kaki Loh Gawe. Brettt ...!

"Aaahg...!" Loh Gawe melonjak kesakit an, bet isnya t ertoreh benda t ajam yang t idak menyent uhnya. Bet is it u menganga lebar dan t erasa sakit di sekujur kaki it u.

"Hiaaat ...!" Loh Gawe cepat sent akkan kaki yang

t idak t erluka it u, hingga t ubuhnya melayang mundur dan hinggap di at as at ap barak.

"Bangsat kau!" geram Loh Gawe. "Kulaporkan kau kepada sang ket ua, biar hancurkan kapal ini bersama nyawamu juga!"

"Laporkanlah! Kurasa     dia          memang sepant asnya menget ahui,      bahwa  akulah   orang    yang      akan menghancurkan kekuasaannya selama ini!" kat a Hant u Laut .   Lalu,       ia             t ert awa              t erbahak-bahak                sambil

membiarkan Loh Gawe t erjun ke laut , selamat kan diri dengan berenang.

*

* *



4

KEP ERGIAN Loh Gawe bukan sekadar kepergian seorang bawahan yang ingin melapor kepada at asannya. Hant u Laut tahu, Loh Gawe ket akut an menghadapi dirinya bersama P usaka Tombak Maut . Karenanya, Hant u Laut semakin bangga at as kekuat an dirinya, dan kian besar t ekadnya unt uk menundukkan Rat u P ekat di P ulau Beliung.

Layar hit am bergambar t engkorak dengan t ujuh rantai it u t erlihat dari pant ai P ulau Beliung. Wakt u it u, Singo Bodong sedang dilat ih jurus-jurus silat oleh orang berpakaian serba put ih, bahkan ikat rambut nya yang pendek it u pun juga berwarna put ih, padahal rambut nya sendiri sudah put ih, bahkan alas kakinya pun dari sandal bert ali put ih. Agaknya orang ini menyukai warna put ih, sehingga pant as ia menamakan dirinya sebagai Jalak P ut ih.

Ket ika menerangkan jurus gerakan cepat , Jalak P ut ih menancapkan    gagang t ombaknya ke   pasir      pant ai. Tombak berujung bulan sabit yang berkilauan t ajamnya it u berdiri dengan t egak dalam jarak lima kaki darinya.

Singo Bodong sedang menirukan gerakan memukul lawan di depan dengan cepat . Tapi gerakan it u t iba-t iba

t erhent i dan membuat Jalak P ut ih membent ak,

"Lakukan lagi! Jangan merasa cepat lelah! Sampai kedua t anganmu t erasa lemah, t erus saja bergerak!"

"T erus ya t erus...! T api lihat lah kapal berlayar hit am it u!" kat a Singo Bodong sambil menunjuk ke arah laut . Jalak P ut ih pun melemparkan pandangan ke sana, dan ia t erkejut melihat gambar t engkorak pada layar hitam kapal it u. Ia gumamkan suara dengan wajah t egang, "Kapal Neraka...?!"

"Bahaya at au t idak kapal it u?!" t anya Singo Bodong lugu, karena memang ia t idak t ahu kehebat an dan kegawat an Kapal Neraka.

"Cepat berit ahu P angeran Berdarah dan rat u di ist ana,

Kapal Neraka dat ang!" "Membawa mayat?"

"Jangan banyak t anya!" bent ak Jalak P ut ih. "Kapal it u

kapal berbahaya! It u kapal sekut unya Siluman T ujuh

Nyawa!"

"Hah...?!" Singo Bodong yang bert ampang angker t api kosong t anpa isi it u menjadi t erbelalak kaget . Mat anya yang besar kian lebar.

"Cepat berit ahu mereka yang ada di ist ana!"

"lyy... iya... iya...!" Singo Bodong pun segera lari dengan langkah sepert i kerbau t akut set an.

Jalak P ut ih segera memasukkan dua jarinya ke mulut

dan bersuit sat u kali dengan nayring, "Suiiit tt ...!"

Kejap berikutnya dua orang muncul dari arah kanan dan kiri Jalak P ut ih. Kedua orang it u t ak lain ialah P enghulu P et ir dan si Lat ah Lidah. Penghulu P et ir

bert anya,

"Ada apa? Mengapa kau memberi t anda bahaya?" "Lihat kapal it u!" sentak Jalak P ut ih. Sentakan it u

memancing kelat ahan si Lat ah Lidah.

"Lihat!" seru       Lat ah    Lidah     sambil   mat anya memandang ke laut .

P enghulu P et ir menggumam t egang, "Kapal Neraka!

Hmm... it u kapalnya Tapak Baja!"

"Iya. T apak Baja," jawab Lat ah Lidah menirukan. "Cepat panggil P angeran Berdarah!" sent ak P enghulu

P et ir kepada si Latah Lidah. T api yang disent ak gant i

menyent ak karena lat ahnya,

"Cepat ! Cepat berdarah! Eh... anu... cepat ... iya cepat ...."

"Kamu pergi segera sana!" bent ak P enghulu P et ir. "Iya, iya...! Aku pergi, eh... kamu pergi! Eh, aku...!"

Lat ah Lidah bergegas pergi, t api Jalak P ut ih berkat a, "T idak perlu!"

"Perlu! Eh, anu... iya, t idak perlu!" kat a si Lat ah

Lidah.

"Singa Bodong s udah kus uruh memberit ahu orang- orang dalam ist ana. Kit a bert iga hadapi kapal it u dulu!"

"T api," kat a P enghulu P et ir agak ragu. Mat anya makin disipit kan dengan t angan menahan silau mat ahari. "Sepert inya Kapal Neraka it u t idak berpenumpang sat u pun!"

"Siapa bilang?!" kat a Jalak P ut ih.

"Siapa?!"             Lat ah    Lidah     menyahut           namun  t ak dihiraukan oleh dua t emannya.

Jalak P ut ih berkat a, "Lihat , ada yang berdiri di haluan!"

"O, iya! Benar! Maklum saja, mat aku sudah agak rabun karena usia yang makin banyak!"

"Banyak! Dijual saja kalau banyak! Eh, anu...

maksudku, anu...!" Lat ah Lidah jadi ribut sendiri. Kedua t emannya sering dibuat jengkel oleh kebiasaan buruk si Lat ah Lidah. Kadang ia dit ampar oleh mereka, t api si Lat ah Lidah t idak merasa sakit hat i.

Sepert i dikisahkan dalam "P usaka T ombak Maut ", P engeran Berdarah mendapat t ugas dari gurunya, yait u Jangkar Langit , unt uk memburu T apak Baja yang t elah membawa         lari P usaka Tombak        Maut     it u.        Dalam pengejaran it u, P angeran Berdarah memint a bant uan t iga rekannya, yait u Jalak P ut ih, si Lat ah Lidah dan Penghulu P et ir.

P erjalanan perburuan it u sampai ke P ulau Beliung. P adahal wakt u it u P ulau Beliung baru saja diporak- porandakan oleh Gagak Neraka yang dibant u mat a- mat anya bernama P ragulo. Sedangkan anak bungsu Rat u P ekat yang bernama Cempaka Ungu it u adalah kekasih P angeran Berdarah. Maka, t inggallah P angeran Berdarah di P ulau Beli ung it u unt uk sement ara wakt u, sambil menunggu kemungkinan dat angnya penyerbuan orang- orang Siluman T ujuh Nyawa. Sebab pada wakt u it u, menurut dugaan Sut o akan dat ang penyerbuan dari pihak Sil uman T ujuh Nyawa. Sut o Sint ing sendiri wakt u it u harus pergi ke P ulau Hit am bersama Dewa Racun unt uk sembuhkan sakit gurunya Badai Kelabu. Sebel um Sut o

kembali berada di P ulau Beliung, P angeran Berdarah dan konco-konconya t et ap berada di P ulau Beliung unt uk memperkuat pertahanan Rat u P ekat dari serangan Sil uman T ujuh Nyawa.

T et api mereka t idak menyangka sama sekali kalau

yang dat ang t ernyat a adalah Kapal Neraka, yang menjadi ciri Tapak Baja. Mereka t idak tahu, bahwa T apak Baja sudah dibunuh oleh orangnya sendiri, yait u Hant u Laut . Mereka juga t idak menduga kalau t ernyat a P usaka Tombak Maut it u ada di t angan Hant u Laut .

Maka ket ika Hant u Laut mendarat di pant ai pulau it u,

Jalak P ut ih dan kedua t emannya merasa heran melihat orang besar, gemuk, dan gundul it u menggenggam P usaka Tombak Maut. P enghulu P et ir yang t ampil t erdepan dari kedua t emannya sempat berdebar-debar menghadapi Hant u Laut yang menggenggam t ombak t ersebut . Sekali pun begit u, P enghulu P et ir beranikan diri unt uk menggert ak Hant u Laut ,

"Mana  nakhodamu?!    Suruh    dia          t urun    biar kuhancurkan batok kepalanya it u!"

"T apak Baja maksudmu?! Ha ha ha ha...! Jangan berharap bisa bert emu lagi dengan nakhoda gila it u! Dia sudah pergi ke alam kubur! Dia mat i oleh t anganku!"

P enghulu Pet ir memandang Jalak P ut ih, dan Jalak P ut ih memandang si Lat ah Lidah. Lat ah Lidah sendiri pandangkan mat anya ke P enghulu P et ir. Mereka sama- sama kaget mendengar pengakuan Hant u Laut.

Jalak P ut ih maju set indak dan berkat a, "Hant u Laut , kalau t ak salah lihat , t ombak yang kau bawa it u adalah

P usaka Tombak Maut!" "Benar!"

"Serahkan t ombak it u!" kat a Jalak P ut ih.

"T idak. Tidak t erlalu parah," jawab Hant u Laut . "Serahkan, kat aku!" bent ak Jalak P ut ih mengulang

kat a-kat anya.  Bent akan            it u diikut i oleh kelat ahan t emannya.

"Serahkan! Ya, serahkan! Kat a siapa t adi" si Lat ah

Lidah celingak-celinguk kebingungan sendiri.

Hant u Laut t ert awa, kemudian berkat a, "Aku kenal kalian Jalak P ut ih, P enghulu P et ir, dan yang di sana it u past i si Lat ah Lidah!"

"Bagus kalau kamu mengenal kit a-kit a orang!" kat a

Jalak P ut ih.

"T api ada urusan apa kalian dengan t ombak pusaka ini? Kalian bukan pemilik pusaka ini. Ini pusaka milik Jangkar Langit!"

"Kami diut us merebut nya!"

"P ut us rambut ...?!" Hant u Laut berkerut dahi. Kurang jelas pendengarannya.

"Kami diut usnya unt uk merebut pusaka it u, T uli!" "Ya. T uli," sahut si Lat ah Lidah.

Hant u Laut t ert awa mendengar pengakuan Jalak P ut ih. "Bodoh amat si Jangkar Langit it u! Mengut us orang semacam t ikus-t ikus begini akan sia-sia!"

"Hant u Laut ," kat a P enghulu P et ir, "Jangan kau banyak t ingkah di depan kami. Aku t ahu ilmumu masih cet ek! Bakal hancur lebur jika maju menyerang kami!"

"Apa...? Baju?"

"Maju, kat aku!" bent ak P enghulu P et ir. T api suara bent akan it u membuat si Lat ah Lidah kaget dan berseru,

"Maju! Iya, iya... maju. Ciaaat...!"

Si Lat ah Lidah t ahu-tahu melayang dan menerjang Hant u Laut dengan t endangan t erbangnya. Senjat a pisau besarnya dicabut dan digunakan unt uk membabat kepala Hant u Laut . Wutt ...!

Hant u   Laut       merendahkan   badan   menghindari t endangan kaki si Lat ah Lidah, ia melihat bayangan Lat ah Lidah di pasir pant ai, lalu sambil memut ar set engah jongkok ia goreskan t ombak it u di pasir. Bruss...!

"Aahk...!" Lat ah Lidah t erpekik, jat uh t ubuhnya

dengan bersimbah darah. Rupanya ia t erluka lebar dari pinggang kanan sampai ke pundak kiri. Isi perut nya nyaris keluar karena lebarnya luka. Tent u saja hal it u membuat si Lat ah Lidah kejang-kejang beberapa saat , kemudian tersent ak dalam hembusan napas panjang, dan diam t ak bergerak lagi.

Jalak P ut ih dan P enghulu Pet ir t erkejut melihat si

Lat ah Lidah dalam sat u jurus saja langs ung t ewas dalam keadaan          yang      mengerikan.      Jalak      P ut ih   t erbakar darahnya, lalu ia segera mencabut t ombak berujung bulan sabit it u, dan ia sent akkan kakinya unt uk melompat rendah menyerang Hant u Laut .

"Hiaaat ...!" Wuttt ...!

Hant u Laut melompat mundur menghindari tebasan t ombak berbulan sabit it u. Segera P usaka T ombak Maut

beraksi, disent akkan ke depan sepert i mau dit usukkan. Lalu, sinar merah keluar dari ujung t ombak it u dan wwwussst ...! Sinar merah berkelok-kelok it u melesat cepat ke arah Jalak P ut ih.

"Hiiaaat ...!" Jalak P ut ih menahan sinar merah it u

dengan memut arkan t ombak bulan sabit nya di sela-sela jemarinya. P ut arannya begit u kuat dan cepat hingga menyerupai perisai.

T api sinar merah berkelok-kelok it u t et ap menembus

perisai it u. Zrrrap...! Crrasss...!

Jalak P ut ih tersent ak t ubuhnya ke belakang, terpapar di depan P enghulu P et ir dengan t ubuh berkelojot an. T elinga, hidung, mulut , dan mat anya mengeluarkan asap put ih, rambutnya mengerit ing t erbakar. Jalak P ut ih t erkena sinar merah maut yang menembus ul u hat inya. Maka, t ak ampun lagi Jalak P ut ih pun menghembuskan napas t erakhir dalam keadaan hangus t erbakar.

P ada wakt u it u, t ampak Singo Bodong berlari-lari

bersama P angeran Berdarah. Disusul kemudian wajah T engkorak Terbang t ampak di belakang P engeran Berdarah. Singo Bodong menghent ikan langkah saat melihat t ubuh Jalak P ut ih t ersentak dan mat i dalam keadaan t erbakar bagian dalam t ubuhnya. Singo Bodong melongo menyaksikan hal it u.

"Majulah sekalian kau, P enghulu P et ir!" t ant ang

Hant u Laut ,

Orang kurus yang hanya memakai baju jubah yang t idak dikancingkan it u, t ersenyum get ir menut upi rasa was- wasnya, ia tetap bersikap kalem, melangkah pelan

ke samping sambil mencabut sabit bergagang panjang. Senjat anya it u digenggam kuat-kuat sambil sedikit dimainkan.

"Kau boleh saja merobohkan kedua orang ini dengan mudah, t api jangan harap bisa robohkan P enghulu P et ir dalam sat u gebrakan!" kat a P enghulu P et ir menut upi keget iran hat inya.

Hant u Laut segera putarkan tombak it u di at as kepalanya hingga berbunyi gaung memanjang. P ut aran t ombak                mengeluarkan   cahaya hijau       mengelilingi

t ubuhnya dalam jarak dua langkah. T iba-t iba terdengar

suara P angeran Berdarah berseru kepada P enghulu P et ir, "Jangan mendekat! Jauhi dia, P enghulu P et ir!"

Hant u Laut justru berlari mendekat i P enghulu P et ir supaya sinar hijau it u mengenai t ubuh P enghulu Pet ir. T api orang kurus it u cepat sent akkan kakinya dan bersalt o ke belakang dengan lincahnya. Sabit bergagang panjang it u diangkat ke at as, siap unt uk ditebaskan. Tapi lagi-lagi t erdengar suara P angeran Berdarah berseru,

"Jauhi dia, Penghulu P et ir!"

Maka, Penghulu P et ir pun merasa lega mendengar perint ah it u. Ia segera menjauh tanpa ada kesan pengecut dan t akut, ia seolah-olah hanya menurut i perint ah dari P angeran                Berdarah             yang menjadi t uannya  dalam perist iwa pengejaran P usaka Tombak Maut it u.

"Kuhadapi dia!" kat a T engkorak T erbang dengan suaranya yang kecil. T api t angan P engeran Berdarah menghadang dan berkat a,

"Jangan! Tombak pusaka it u berbahaya! Biar aku

yang menghadapinya! Menjauhlah sedikit , T engkorak

T erbang!"

Si             gundul  gemuk  it u          berhent i             menggerakkan t ombaknya. Cahaya hijau yang mengelilinginya berhent i pula. Hilang t anpa wujud lagi. Lalu, P angeran Berdarah serukan kat a kepada Hant u Laut,

"Akulah lawanmu, Hant u Laut !"

"Ha ha ha ha...!" Hant u Laut tert awa panjang, set elah it u baru ucapkan kat a,

"Anak baru kemarin sore mau coba-coba lawan aku?! Dengar, P angeran Berdarah, walau kau muridnya Jangkar                Langit ,  aku         t ak         pernah merasa gent ar berhadapan denganmu! Jangankan kamu, gurumu saja sudah mat i di t anganku dan kubuang ke laut , demikian juga T alang Sukma, adik gurumu it u!"

"Jahanaaam...!" geram P angeran Berdarah dengan

wajah semakin merah karena luapan amarah. Mula-mula ia mencoba unt uk t idak mempercayai kat a-kat a Hant u Laut t ent ang kemat ian gurunya, t api Hant u Laut berkat a lagi,

"Kesakt ianmu dengan  kesakt ian            Jangkar Langit belum ada sekuku hit amnya! Dia memang bisa hidup berulang kali dari kemat iannya! Tapi akhirnya dia t ak berkut ik unt uk selamanya! Kalau tak percaya, carilah perahu berlayar biru dengan simbol t engkorak! Kubuang mayat gurumu di at as perahu it u, dan kut inggalkan t erombang-ambing di t engah lautan lepas sana! Hua ha ha ha...!"

Kat a-kat a it ulah yang akhirnya membuat P angeran

Berdarah             percaya                bahwa  gurunya               memang              mat i t erbunuh oleh Hant u Laut , sebab ia t ahu persis, bahwa gurunya mempunyai 'Aji Banyu Jiwa' yang akan hidup lagi jika t erkena air. Tapi jika Hant u Laut membuang mayat gurunya di sebuah perahu, sudah t ent u mayat it u t idak akan bangkit lagi, kecuali perahunya menjadi basah. Jika sampai sekarang Jangkar Langit t idak muncul-muncul, berart i Jangkar Langit benar-benar mat i. Jika Jangkar Langit t idak mat i, dan sudah bert emu dengan Hant u Laut di t engah laut an sana, mustahil Hant u Laut bisa sampai di P ulau Beliung dengan keadaan segar-bugar sepert i yang dilihatnya kini.

"Benar-benar jahanam kau, Hant u Laut!" geram

P angeran            Berdarah. "Terimalah pembalasanku at as kemat ian Guru! Hiaaat ...!"

P angeran Berdarah mencabut kerisnya dan segera

berlari mendekat i Hant u Laut . Keris it u memancarkan cahaya biru ket ika lepas dari sarungnya. Cahaya biru it u sangat                menyilaukan      mata siapa          pun        yang memandangnya, t ermasuk Hant u Laut .

Mau t ak mau Hant u Laut sent akkan kakinya dan melent ing ke at as dalam keadaan bersalt o ke belakang sat u kali. Lalu, secepatnya ia hadangkan tombak pusaka it u miring ke kanan, ia sent akkan dengan sat u kekuat an t enaga dalam. Dan dari ujung tombak cepat keluarkan kilatan cahaya biru pula.

Kilat an cahaya biru it u melesat cepat menghant am

cahaya biru keris P angeran Berdarah.

Blarrr...!

T erjadi ledakan dahsyat dari bent uran dua cahaya biru it u. P angeran Berdarah dan Hant u Laut sama-sama saling t erpent al ke belakang. Bahkan P enghulu P et ir pun jat uh kelabakan hampir membent ur bat u kepalanya akibat hent akan gelombang yang keluar dari ledakan

t adi. Sedangkan T engkorak T erbang yang berbadan kurus t anpa daging ibaratnya, t ersent ak dan jat uh menabrak Singo Bodong.

Bruss...!

Hant u Laut cepat berdiri sambil berpegangan pada t ombak yang pangkalnya menancap di pasir. Sedangkan P angeran                Berdarah masih t erpaku dalam keadaan set engah berlut ut , ia mengeluarkan darah dari mulut nya, sement ara keris pusaka yang t adi memancarkan sinar biru it u dalam keadaan pat ah menjadi dua bagian.

"Luar biasa kekuat an dahsyat dari t ombak it u," pikir

P angeran Berdarah. "P ant as kalau Guru sangat want i- want i unt uk t idak gegabah menyerang orang yang bersenjat akan                P usaka T ombak               Maut !  T api, bagaimanapun juga aku harus membalas kemat ian Gur u!"

Baru saja P angeran Berdarah berpikir begit u, t iba-t iba

dat ang serangan dari Hant u Laut, berupa asap hitam yang menyembur dari ujung gagang t ombak pusaka it u. Hant u Laut menyent akkan t ombak dalam keadaan t erbalik dan semburan asap hit am melesat membungkus wajah P angeran Berdarah yang baru saja hendak berdiri it u. Wosss...!

"Huaaa...!" P angeran Berdarah t iba-t iba memekik

keras, ia menut up wajahnya dengan kedua t angannya, ia berlari ke laut dan membuka wajahnya. Singo Bodong, T engkorak Terbang, dan P enghulu P et ir hanya bisa memandang dengan mat a lebar dan mulut melongo, melihat wajah P angeran Berdarah melepuh dan sebagian

t erkelupas kulitnya. T erlihat daging merah di balik kulit it u. Merah kehitam-hit aman.

Hant u Laut cepat mengejar P angeran Berdarah dan dengan sat u t ikaman kuat di punggung, t ombak it u menancap t anpa ampun lagi. P angeran Berdarah yang bermaksud mengambil air unt uk menahan rasa panas di wajahnya it u t erpaksa melengkung ke depan t ubuhnya dengan kepala terdongak, kemudian ia roboh dan t ak bernyawa lagi.

Hant u Laut sendiri heran melihat asap hit am bisa keluar dari ujung t ongkat bagian bawah. Karena ia t idak menyangka                kalau     ujung    t ongkat               bagian   ba wah mempunyai kekuat an t ersendiri, yait u bisa mengeluarkan asap beracun yang amat panas jika disent akkan dengan sat u kekuat an t enaga dalam. Padahal Hant u Laut tadi bermaksud hanya mengaget kan P angeran Berdarah supaya berpaling lalu ia bisa menikam bayangan orang it u yang jat uh di depannya.

"Siapa yang ingin menghadapiku lagi, hah?!" sent ak Hant u Laut sambil mat anya memandang liar kepada P anghulu P et ir, Singo Bodong, dan T engkorak T erbang.

P ada saat it u Tengkorak Terbang berbisik kepada

Singo Bodong, "Lekas lari ke ist ana! Sur uh Nyai Rat u dan Cempaka Ungu bersembunyi!"

Singo Bodong pun se gera berlari, dan T engkorak

T erbang berseru kepada Penghulu P et ir, "Bendung dia dengan kekuat an kit a berdua!"

"Siapa yang melendung?!" bent ak Hant u Laut . "Perutku memang besar karena kebanyakan minum darah orang. Bukan melendung karena mengandung?!" Ia   salah      dengar  karena  penyakit              budeknya. Tapi T engkorak T erbang dan P enghulu P et ir t idak melayani kesalahan dengar it u. Mereka segera menyusun kekuat an unt uk menyerang Hant u Laut .

*

* *



5

SIN GO Bodong cepat-cepat menemui Rat u P ekat dan Cempaka Ungu di serambi Ist ana. P ada wakt u it u, Rat u P ekat sedang bicara dengan pengawal pribadinya yang berjuluk si Mat a Elang.

"T engoklah pert arungan di pant ai, Mat a Elang!

Bagaimana keadaannya di sana. dan cepat beri laporan padaku! Kau t ak perlu ikut campur dulu, karena orang it u memegang P usaka T ombak Maut !"

"Baik, Nyai Rat u! Saya berangkat ke sana sekarang juga!"

"Aku ikut !"

"T idak, Cempaka!" sahut Nyai Rat u. "Aku ingin bersama Sanjaya, Ibu!"

"Sanjaya at au P angeran Berdarah sedang menghadapi

lawan t angguhnya! Nant i kau ikut menjadi korban at au just ru mengganggu perhat ian Sanjaya! Kau t etap di sini bersama Ibu, Cempaka Ungu!"

P ada saat Mat a Elang hendak meninggalkan t empat it ulah Singo Bodong datang dengan wajah t egang dan mencerit akan pert arungan maut di pant ai. Cempaka Ungu menjerit dalam t angis mendengar P angeran Berdarah yang bernama asli Sanjaya it u mat i di t angan Hant u Laut . Ia ingin berlari ke pantai unt uk membalas dendam atas kemat ian kekasihnya, t api oleh Rat u P ekat dihalangi.

"Aku harus membalas kemat ian               Sanjaya,               Ibu! Biarkan aku melawan Hant u Laut dengan senjat anya berupa apa pun!"

"Cempaka! Jangan picik ot akmu! Masih banyak pria lain yang mau denganmu, t api hanya sat u nyawa yang ada padamu! Selamat kan dulu nyawamu! Jangan mau mat i konyol karena cint a!" sent ak Rat u P ekat . Cempaka Ungu mengurungkan niat nya manakala melihat wajah ibunya memerah menahan amarah.

"At as saran Tengkorak T erbang,              Nyai disuruh bersembunyi!" kat a Singo Bodong. "Tapi saya t idak t ahu harus sembunyikan Nyai Rat u di mana. Rumah saya jauh!" t ambah Singo Bodong dengan keluguannya.

Mat a Elang berkat a, "Nyai, sebaiknya cepat bergegas

lewat pint u rahasia di kamar Nyai it u!"

"Apakah t idak sebaiknya kuhadapi saja Hant u Laut it u?"

"Jangan, Nyai! Biar saya yang menahan mereka!"

Rat u P ekat berpikir sebent ar, lalu bert anya kepada

Singo Bodong,

"Apa benar orang dari Kapal Neraka it u hanya sat u orang yang berkepala bot ak dan t idak memakai baju?"

"Benar, Nyai! Hanya sat u orang yang sering disebut

oleh Jalak P ut ih dengan nama Hant u Laut ! Saya berani bersumpah, Nyai. Hanya sat u orang. Sisanya saya t idak t ahu ada di mana. Sumpah, Nyai. Saya t idak t ahu! Saya bukan Dadung Amuk!"

Singo Bodong menjawab dengan penuh keyakinan, karena ia takut disangka Dadung Amuk, anak buah Sil uman T ujuh Nyawa yang mempunyai wajah dan pot ongan t ubuh persis Singo Bodong. (Baca serial P endekar Mabuk dalam episode: "Ist ana Berdarah" dan "Ut usan Siluman T ujuh Nyawa").

Baru saja Nyai Rat u P ekat bergegas unt uk melarikan

diri melalui pint u rahasia yang ada di kamarnya, t iba-t iba orang-orang penjaga pint u gerbang berhamburan dengan gaduh. Mereka lari ket akut an, ada yang nekat masuk ke dalam ist ana. Rupanya saat it ulah Hant u Laut muncul di ist ana dan mengejar P enghulu P et ir yang terluka perutnya dan mengucurkan darah segar.

"Nyai, tolong... t olong saya...!" rat ap P enghulu P et ir sambil t erhuyung-huyung. Sampai di depan Rat u P ekat , P enghulu P et ir jat uh t ersungkur, set elah it u t idak berdaya lagi. Mat a Elang segera memeriksanya, t ernyat a P enghulu P et ir sudah t idak bernapas lagi.

"Dia t elah t ewas. Nyai," ucap Mat a Elang dengan pelan, menahan kegeraman amarahnya.

"Rat u P ekaaat ...!" teriak Hant u Laut sambil menaiki anak tangga menuju serambi ist ana.

"Aku harus menghadapi. T erpaksa menghadapinya!" ucap Rat u P ekat sepert i bicara pada dirinya sendiri.

"Jangan, Ibu! Jangan hadapi dia!" Cempaka Ungu

menahan. "Biar Mat a Elang yang hadapi dia, Ibu! Kit a lari saja, bersembunyi lewat pint u rahasia! Lekaslah...!"

"T idak bisa! Mat a Elang harus ikut bersembunyi!" sahut Rat u P ekat, karena Mat a Elang selain pengawal pribadi juga pemuas gairah. Rat u P ekat t idak mau kehilangan Mat a Elang. Karenanya ia t idak mau pergi

t anpa lelaki it u.

"Rat u P ekat ! Mau lari ke mana kau, hah? Mau kabur sepert i orangmu yang kurus kering mirip t engkorak hidup it u, hah?! Ha ha ha...!"

Hant u Laut benar-benar t ak punya rasa t akut sama

sekali. Bahkan semakin t ampak membanggakan dirinya dengan senjat a tombak pusaka it u.

"Hant u Laut !" hardik Rat u P ekat dengan didampingi put rinya yang sudah mencabut pedang ungunya. Rat u P ekat maju set indak dan berkat a,

"Apa hanya ingin memberit ahukan padamu, bahwa

aku sekarang menjadi orang sakt i! P usaka ini ada di t anganku, kurebut dari t angan T apak Baja!"

"Kau merebutnya dari t angan T apak Baja?"

"Ya. Dan sekarang T apak Baja sudah mat i. Mat i di t anganku! Hua ha ha ha...!"

Cempaka Ungu saling pandang dengan ibunya, si

Mat a Elang juga merasa heran mendengar kabar it u,

sedangkan          Singo     Bodong                sudah    sejak     t adi       lari sembunyikan diri di dekat kandang burung, di belakang ist ana.

"Hant u Laut ! Tapak Baja mat i at au t idak, it u urusanmu! Aku t idak ada sangkut-paut nya dengan Tapak Baja!"

"Juga si t ua rent a Jangkar Langit, mat i di t anganku, di

at as kapalku dalam upaya merebut pusaka ini! Ha ha ha...!" Hant u Laut makin t erbahak-bahak, Rat u P ekat kembali terkesiap mendengar Jangkar Langit telah t ewas di t angan Hant u Laut .

"Hant u Laut , kemat ian Jangkar Langit juga t idak ada hubungannya dengan diriku! Jadi sebaiknya t inggalkan saja t empat ini!"

"Siapa   bilang    kemat ian            mereka                t idak     ada hubungannya denganmu, Rat u P ekat?! Justru hal it u perlu kau ket ahui, supaya kau t ahu, bahwa kau pun bisa menyusul mereka ke akhirat jika t ak mau t unduk dengan perint ahku!"

"T ut up mulut mu, Hant u Laut?!" sent ak Rat u P ekat .

"T ut up lut utku...?!"

"T ut up mulut mu!" ulang Rat u P ekat .

"O, t ut up mulutku? Ah, t ak bisa! T ak bisa aku menut up mulut di depanmu, sebelum kamu t ahu isi hat iku, Rat u P ekat !" Hant u Laut segera langkahkan kaki mendekat i pilar agar bisa memandang Rat u P ekat t anpa t erganggu sila unya mat ahari siang it u. Lalu, ia ucapkan kat a lagi,

"Rat u P ekat , aku bisa saja memusnahkan pulau ini

dengan senjata pusaka ini! Orang P ulau Beliung akan mat i semua karena menghirup udara beracun dari t iap jengkal t anah jika tombak ini kut ancapkan ke dalam t anah. Tapi, rasa-rasanya sayang sekali jika kau ikut mat i, Rat u P ekat. Sebab it u, kut awarkan pilihan padamu, kuhancurkan pulau ini, at au kau menjadi ist riku?!"

Bagai pet ir menyambar di gendang t elinga, Rat u

P ekat t erbelalak kaget . Cempaka Ungu dan Mata Elang pun t erkejut. Mat a mereka sama-sama menatap t ajam kepada Hant u Laut, t api Hant u Laut just ru cengengesan sambil memandang liar Rat u P ekat dan Cempaka Ungu. Bahkan ia berkata,

"P ut rimu it u cant ik juga. T ak keberatan jika aku harus

mengawini ibu dan anaknya sekalian! Ha ha ha ha...!" "Jahanam kau, Manusia busuk!" sentak Cempaka

Ungu dan siap menerjang Hant u Laut . Tapi t angan

ibunya menahan, hingga gerakan it u pun t ak dilanjutkan.

Namun t iba-t iba Mat a Elang berkat a, "Hant u Laut ! Boleh kau mengawini Nyai Rat u set elah kau bisa membunuhku!"

"It u pekerjaan yang amat mudah!" kat a Hant u Laut . Selesai ia berkat a begit u, t iba-t iba dari mat a si Mat a Elang mengeluarkan cahaya merah menyerang Hant u Laut . Wusss...!

Hupp...! T ab, t ab...!

Hant u Laut segera lompat ke belakang dengan bersalt o dua kali. T iba di t angga serambi, ia siapkan t ombaknya ke arah depan dengan sikap menunggu la wan dat ang.

"Kalau kau merasa cukup sakt i, dat anglah kemari, Bocah Ingusan!" pancing Hant u Laut .

Mendengar pancingan it u, Mat a Elang cepat melesat bagaikan t erbang sambil mencabut pedangnya dari punggung. Sret t...! Dan pedang it u pun dikibaskan unt uk memenggal kepala Hant u Laut .

Tranngg...! P edang it u dit angkis dengan tombak.

Trik, klint ing...! P edang it u pat ah dan jat uh di lant ai bermarmer bening. Mat a Elang t erperanjat kaget melihat pedang pusakanya pat ah.

"Ke mana pedangmu, Bocah ingusan?! P at ah?. Oh,

kasihan sekali! It u pert anda nyawamu sebent ar lagi akan pat ah pula, t ahu?!"

"Keparat kau! Hiaaah...!"

Hant u Laut merundukkan kepala ket ika serangan Mat a Elang menerjang dengan sat u lompat an dan pukulan maut lewat sinar mat anya yang memancarkan cahaya merah sepert i tadi. Hant u Laut bahkan sempat berguling sat u kali di lant ai, kemudian cepat berlut ut sat u kaki dan menggoreskan ujung t ombak ke lant ai. Goresan it u cukup panjang, dan mengenai sekujur panjang bayangan t ubuh Mat a Elang. Crasss...!

"Aaahg...!"

Masih di udara t ubuh Mat a Elang sudah berkelejot . Ia pun jat uh berdebam di lant ai. P unggungnya terluka parah dari paha sampai ke t engkuk kepalanya. Luka it u sangat parah karena t ubuh Mat a Elang bagaikan habis disabet dengan senjat a runcing yang t ajamnya luar biasa. "Mat a Elang...!" pekik Rat u P ekat begit u melihat

Mat a Elang berkelejotan di lant ai dengan bermandi darah. Ket ika rat u menghampirinya, mengangkat kepala Mat a                Elang,    saat        it u          juga pemuda     t ampan               it u menghembuskan     napasnya yang t erakhir, ia          jat uh t erkulai t ak bernapas di t angan Rat u P ekat.

"Biadab kau, Hant u Laut !" geram Rat u P ekat sambil melet akkan kepala mayat Mat a Elang. Rat u Pekat segera berdiri, pancarkan pandangan murkanya kepada Hant u Laut . T api orang gundul mengkilap it u just ru t ert awa

t erbahak-bahak.

"Sudah kubilang t adi, aku ini sekarang jadi orang sakt i berilmu t inggi! Jangan remehkan aku, Rat u P ekat ! Kurasa kau pun perlu pert imbangkan lamaranku tadi daripada mat i cepat sepert i bocah it u!"

"Lamaran sesat! Hadapi dulu aku kalau memang kau merasa berilmu t inggi, hiiih...!"

Rat u P ekat sent akkan napasnya, lalu dari kalung berbat u Galih Bumi it u melesat lah sinar biru t ua ke arah Hant u Laut . Dengan cepat Hant u laut melompat ke samping unt uk menghindari sinar biru it u. Wuttt ...!

Glegarrr...!

Sinar biru it u menghant am sebuah pilar di sudut t eras ist ana. P ilar it u langsung saja berant akan, menjadi kepingan-kepingan             kecil,      dan menggunduk            mirip gunungan bat u kerikil.

"Hebat juga sinar biru dari kalungmu it u, Rat u P ekat ! T ak rugi. aku jika punya istri berilmu t inggi sepert i kamu, Rat u Pekat !"

"T ut up mulut mu! Terimalah kemat ianmu, Hant u

Laut !"

Sret t ...! Hant u Laut sedikit sipit kan mat a melihat Rat u P ekat keluarkan senjat a, yait u cambuk kecil yang t idak t erlalu panjang. Cambuk it u segera dilecut kan ke arah t ubuh Hant u Laut. T arrr...! Keluar sinar kuning dari lecut an it u, menghant am Hant u Laut. T api sinar kuning bisa dihalau oleh Hant u Laut dengan mengerahkan pukulan t enaga dalamnya lewat t angan kiri Blarrr...!

T imbul ledakan cukup kuat akibat bent uran sinar

kuning dengan pukulan t enaga dalam Hant u Laut. Lalu, P usaka Tombak Maut disent akkan dalam keadaan miring. P ada wakt u it u, Rat u P ekat mengirimkan pukulan cambuknya yang mengeluarkan cahaya merah. T api ujung t ombak it u pun keluarkan cahaya biru pet ir dan menghant am cahaya merah it u.

Blarrr...!

Rat u P ekat t erpent al jat uh. T ubuhnya jat uh di lantai dan t erseret sampai lebih dari t ujuh t angkah jauhnya. Se dangkan Hant u Laut juga t erpent al akibat ledakan besar yang t erjadi karena bent uran dua cahaya t adi.

Cempaka Ungu cemaskan ibunya. "Ibu...! Biar aku yang melawannya!"

Wuttt ...! Cempaka Ungu melompat dan menyerang Hant u Laut dengan menebaskan pedangnya. T api dengan cepat Hant u Laut berguling ke samping sambil t et ap memegang t ombak it u. Wuttt ...!

Se benarnya kalau Hant u Laut ingin membunuh

Cempaka             Ungu     sangat   mudah,                sebab    bayangan

Cempaka Ungu wakt u melayang jat uh di depan kaki

Hant u Laut . T api agaknya Hant u Laut merasa sayang jika harus membunuh gadis it u. Dalam hat inya ia sempat berkat a,

"Jangan bunuh gadi s it u! Bi sa kupakai gant ian dengan ibunya jika aku sedang bosan menikmat i yang t ua!"

T erdengar suara Rat u P ekat berseru, "Cempaka!

Minggir kau!"

Seruan it u seruan kemarahan. Cempaka Ungu t ak berani            nekat    menyerang         Hant u   Laut .     Ia            segera menyingkir agak jauh. Saat it u Rat u P ekat t elah berdiri dan melecut kan cambuknya dari jarak dua belas langkah.

Wuttt ...! Tarrr...!

Cambuk               pendek                it u          menjadi               panjang                dengan mengeluarkan  pijar       sinar      biru.                Melesat               cepat menghant am Hant u Laut . T api dengan cekat an Hant u Laut menghadangkan t ombaknya ke atas. Wussst ! Cambuk yang memancarkan cahaya biru berpijar-pijar it u tersangkut melilit di t ombak it u, t epat di bagian ujung

t ombak. Hant u Laut segera sent akkan t ombaknya ke

belakang. Wusss...!

Sent akannya pelan, t api mempunyai kekuat an yang begit u besar. T ubuh Rat u P ekat sampai terbawa t erbang ke arah Hant u Laut . Dan, t angan kiri Hant u Laut segera menyongsong t ubuh Rat u P ekat yang melayang ke arahnya. Begggh...!

Se buah pukulan bert enaga dalam yang t idak seberapa

t inggi t elah dilepaskan Hant u Laut . T epat mengenai pusar Rat u P ekat . P ukulan it u membuat Rat u P ekat

t erpental ke belakang. T angan yang memegangi cambuk pun t erlepas.

"Uuhg...!" Rat u P ekat keluarkan darah dari mulutnya ket ika t ersedak dalam keadaan jat uh ke lant ai.

"Ibu...?!"             pekik     Cempaka Ungu,                segera  berlari

menolong ibunya, ia pun berkat a dengan pelan, "Ibu, keadaan ibu sangat lemah!"

"Aku t idak apa-apa! Tidak apa-apa!"

"T api cambuk pusaka ibu ada di t angannya!"

Rat u P ekat sedikit terperanjat set elah menyadari ia t idak memegang cambuk lagi. Hant u Laut tersenyum- senyum sambil mempermainkan cambuk pendek yang sudah t idak menyalakan pijar biru lagi it u.

"Luar biasa kehebat an pusaka it u!" pikir Rat u P ekat . "Cambukku t ak bisa memat ahkannya. Malahan sepert i t ersedot kuat oleh kekuat an T ombak Maut it u! Celaka! Sekarang cambuk it u ada di t angannya! Aku dan put riku bisa mat i kalau begini caranya!"

Rat u P ekat berdiri t anpa dibant u anaknya lagi. T api

Cempaka Ungu masih ada di sampingnya dan berbisik, "Ibu, kit a lari saja! Ayolah, Bu...!"

"T erlambat! Dia past i akan mengejar kit a!"

"T api bagaimana dengan pusaka cambuk biru it u, Bu? Dia memegang dua pusaka ampuh!"

"Mainkan siasat saja!" bisik Rat u P ekat.

"Rat u P ekat ," kat a Hant u Laut . "P usakamu ada di t anganku! Apakah kau masih inginkan pusaka cambuk ini?!"

"Aku merasa kau t ak akan bisa menggunakan cambuk

it u!"

"Hanya kau seorang yang bisa?" "Ya. Hanya aku!"

"Kalau begit u, terimalah...!"

Wutt ...! Cambuk dilemparkan begit u saja oleh Hant u Laut sambil t ert awa-t awa. Cambuk segera dit angkap oleh Rat u P ekat. Lalu t erdengar Hant u Laut bicara,

"Kurang berbaik hat ikah aku padamu?"

"Aku merasa kau t ak pernah punya hat i baik!"

"Kalau begit u kut ancapkan t ombak ini ke tanah biar semua penduduk P ulau Beliung mat i karena racun!"

"Kau t ak perlu mengancamku begit u, Hant u Laut ! Jangan membawa korban rakyat ku yang t idak seberapa banyak jumlahnya ini!"

"Karena kau t ak mau t unduk padaku, Rat u P ekat !" "Apa          yang harus kulakukan    jika         aku t unduk

padamu?"

"Kau harus menjadi istriku, juga anakmu it u!" Cempaka Ungu cemas dan berbisik dari belakang

ibunya, "Ibu, aku t idak mau! Aku t idak sudi!"

"Diamlah! Ibu yang at ur siasat ini!"

T erdengar suara Hant u Laut mendesak, "Bagaimana? Kalian t erima lamaranku?"

"T idak bisa, Hant u Laut ! Karena ist ana ini dalam ancaman kut ukan maut Siluman T ujuh Nyawa!"

"Kut ukan? Kut ukan bagaimana?!"

"Ist ana ini akan hancur pada saat aku at au anakku menikah dengan seseorang! P ernikahan it u juga akan membawa kemat ianku dan kemat ian Cempaka Ungu!

Jadi usahamu sia-sia, Hant u Laut!"

"Bangsat ! Kubunuh Sil uman T ujuh Nyawa it u!" "Percuma! Kut ukan it u bisa be bas lepas jika di depan

ist ana ini dit anami t ubuh t umbal seorang pendekar sakt i!"

"T idak ada lagi pendekar sakt i kecuali diriku!" sergah

Hant u Laut .

"Selain kau, masih ada sat u orang lagi yang bisa dijadikan t umbal pemusnah kut ukan it u!"

"Siapa?"

"Pendekar Mabuk!" jawab Rat u P ekat . "Pendekar Gebuk?!"

"Pendekar Mabuk!" ulang Rat u P ekat. "Jadi kalau kau

mau mengawini aku dan anakku ini, carikan aku t umbal t ubuh P endekar Mabuk yang bernama Sut o Sint ing."

"Sut o Sint ing...?! Hmmm... aku pernah mendengar

nama it u, tapi di mana dan siapa yang mengucapkannya, aku lupa!"

Saat it u Rat u P ekat berbisik kepada Cempaka Ungu, "T undukkan wajahmu biar kit a kelihat an sedih karena kut ukan it u!"

Hant u Laut sangat percaya dengan ucapan Rat u

P ekat , karena ia melihat kedua wajah perempuan Ibu dan anak it u t ampak murung sedih, seakan tak bisa banyak berbuat karena kut ukan t ersebut . Hal yang membuat Hant u Laut percaya dengan bualan Rat u P ekat adalah pengalamannya selama ini, bahwa            Sil uman T ujuh Nyawa memang sering memasang kut uk at au penyakit

t ert ent u, yang membuat lawan jenisnya akan bergant ung

pada dirinya. Sepert i misalnya sebuah pukulan maut yang bernama 'Candra Badar', t elah dit anamkan pada diri Rat u Gust i Mahkot a Sejat i, yang bernama asli Dyah Sariningrum, di mana perempuan it u telah dibuat t ak bisa keluar dari Ist ananya sebelum Sil uman T ujuh Nyawa dat ang dan membebaskan pukulan tersebut .

It ulah sebabnya Hant u Laut sangat percaya dengan

kat a-kat a Rat u P ekat , hingga ia bert anya,

"Di mana bisa kut emukan P endekar Mabuk it u?" "Dalam perjalanan ke P ulau Hit am! Ke mana-mana

dia          selal u   membawa          bumbung            t empat                t uak      di

punggungnya!"

"Oooh, yaaa...! Aku pernah bert emu dengannya di

P ulau Kidung!"

"Cari dia! P enggal kepalanya. Buang ke laut . T ubuhnya dit anam di depan ist ana ini, sehingga aku dan anakku bebas dari kut ukan it u, lalu kau bisa mengawini kami!"

"Akan kucari P endekar Mabuk! T ak lama lagi aku past i dat ang membawa t umbal!"

*

* *



6

DENGAN              menggunakan   perahunya          sendiri,

T engkorak Terbang berhasil menghindari pertarungan berbahaya dengan Hant u Laut . T et api t erlebih dulu ia sempat bocorkan bagian bawah Kapal Neraka it u, hingga kapal it u makin lama makin miring karena banyaknya air yang masuk ke lambung kapal.

Ket ika Hant u Laut hendak pergi keesokan harinya unt uk mencari t umbal raga dari P endekar Mabuk, ia t erkejut                melihat Kapal     Neraka sudah    t enggelam sebagian. Wakt u it u, Rat u P ekat dan Cempaka Ungu sengaja mengant ar kepergian Hant u Laut sampai di pant ai. Seolah-olah kedua perempuan it u sangat berharap kepada Hant u Laut unt uk berhasil mendapat kan t umbal t anpa kepala dari raga P endekar Mabuk. Hant u Laut t ak sadar                kalau     dirinya                dijebak agar       masuk   dalam pert arungan yang akan merenggut nyawanya.

Rat u P ekat yakin, hanya Sut o Sint ing yang bisa

mengalahkan manusia bot ak dan berhidung bulat dengan senjat a pusakanya it u. T anpa bant uan Sut o, Rat u P ekat merasa kalah t inggi ilmunya. Andai Hant u Laut t anpa P usaka T ombak Maut mungkin dalam sat u gebrakan saja, Rat u P ekat bisa merobohkan t ubuh besar mirip raksasa it u. T api jika t ombak pusaka it u masih di t angan Hant u Laut , Rat u P ekat merasa kalah ilmu dengan orang yang t ak pernah memakai baju it u.

"Lut ung kudisan!" gerut u Hant u Laut . "Ada anak

buahmu yang membocorkan kapalku!"

"Bukankah anak buahku sudah mat i semua di t anganmu?"

"T idak! Ada yang melarikan diri, dan kubiarkan! Si

T engkorak busuk it u yang melarikan diri!"

"Oh, jadi T engkorak T erbang masih hidup?"

"Kalau begini aku t ak bisa pergi!" kat a Hant u Laut dengan menahan amarahnya.

"Kami punya perahu lain yang bisa kau pakai unt uk

mencari P endekar Mabuk it u!" kat a Cempaka Ungu dengan sikap dibuat -buat manis.

"Ah, t ak ada wiba wanya aku pakai perahu at au kapal lain! Kapal Neraka it u membuat ciut nyali pendekar mana pun yang melihatnya!"

"Kalau begit u, biarlah kusuruh beberapa orangku

yang masih t ersisa unt uk menambal kapalmu!"

"At ur    saja        bagaimana baiknya! Akan            kubunuh

T engkorak Busuk it u jika bert emu denganku!"

"Ya, bunuh saja! T api pent ingkan mencari P endekar Mabuk dul u!" bujuk Cempaka Ungu set elah paham bet ul dengan kelicikan ibunya.

Dalam keadaan hanya berdua, Rat u P ekat bicara pada

put rinya,

"T ak ada pilihan lain unt uk menggunakan cara ini! Kit a harus bisa t et ap baik kepadanya, supaya dia t idak menyerang kit a sampai menunggu kedat angan Sut o!"

"T api aku t akut dia memperkosaku, Bu!"

"T idak akan! Karena Ibu sudah kasih t ahu padanya, bahwa set iap lelaki menyent uh t ubuhmu at au t ubuhku, maka kit a bert iga, bersama lelaki it u akan mat i t ermakan kut uk! Dan dia percaya bet ul akan hal it u! Karenanya, bersikap baik t erus kepadanya dan bujuk dia supaya

t et ap bersemangat memburu P endekar Mabuk!"

Cempaka Ungu menampakkan kegelisahannya ket ika berkat a, "Nant i kalau dia bert emu Sut o dan Sut o bisa dipenggalnya, bagaimana?!"

"Ibu yakin, P endekar Mabuk t idak akan mudah dikalahkan! Ingat gerakan-gerakannya ket ika melawan Gagak Neraka? Ingat ket ika ia beradu kesakt ian dengan Mat a Elang?   Dia          bukan   pendekar            yang      mudah dikalahkan dengan senjat a pusaka sepert i Tombak Maut it u! Set idaknya Sut o bisa menghindari kekuat an ilmu yang ada pada P usaka Tombak Maut . At au paling t idak Sut o punya cara sendiri unt uk mengalahkan Hant u Laut !?"

"Yang kupikirkan, bagaimana nasib kita jika Hant u

Laut unggul dalam melawan P endekar Mabuk, Bu!'' "Pada saat Hant u Laut pergi mencari P endekar

Mabuk, kit a bisa lari bersembunyi lewat pint u rahasia,

at au memint a bant uan kepada beberapa sahabatku! Yang jelas, banyak cara yang bisa kit a lakukah jika dia sudah pergi dari pulau ini!"

Hal yang membuat Rat u P ekat t ak bisa banyak

bergerak juga karena Hant u Laut t idak mau berist irahat di kamar t amu. Dia memaksa diri harus berist irahat di kamarnya Rat u P ekat sendiri, sehingga sang rat u t idur at au berist irahat dengan anaknya, di kamarnya Cempaka Ungu. Mereka, t ak bisa lari at au bersembunyi lewat pint u rahasia yang ada di kamar t idur rat u, yang sekarang dit empat i Hant u Laut it u.

Lebih-lebih Hant u Laut t elah ajukan ancaman, jika

Rat u P ekat melakukan perlawanan lagi, maka Hant u

Laut akan sebarkan racun melalui t anah merekah di seluruh pulau it u. P adahal di sit u ada penduduk biasa yang t ak tahu-menahu masalah ist ana. Rat u P ekat merasa punya kepent ingan melindungi penduduk pulau t ersebut , sekalipun jumlahnya t ak seberapa banyak.

Se dih juga hat i Rat u Pekat kehilangan Mat a Elang. Bahkan Cempaka pun sering ikut merasa sedih jika t eringat kemat ian Pangeran Berdarah, kekasihnya. T etapi Rat u P ekat masih bisa menahan kesedihannya. Walau dia sudah kehilangan semua orang-orangnya, t api ia masih punya sat u harapan, yait u kembalinya P endekar Mabuk dan Dewa Racun. Semula Rat u P ekat ingin menaruh harap kepada T engkorak T erbang, t api orang it u t elah melarikan diri dan t ak jelas ke mana arah pelariannya, dan akan kembali at au t idak.

Se benarnya T engkorak T erbang pantang melarikan

diri jika berhadapan dengan lawannya. Bila perlu mat i di t angan lawan lebih baik daripada melarikan diri. T etapi pelariannya it u adalah pelarian mengat ur siasat , ia harus segera menyusul Sut o ke P ulau Hitam. Jika ia mat i di t angan Hant u Laut, siapa lagi yang akan menyusul dan memberit ahukan perist iwa amukan Hant u Laut kepada Sut o? Karena it u, T engkorak T erbang segera melakukan penyusulan t ersebut .

Sendirian ia t erombang-ambing di t engah laut an

bersama perahu kecilnya, ia berharap di perjalanan bisa berpapasan       dengan perahu yang dit umpangi Sut o Sint ing. T api t ernyat a yang dit emuinya perahu lain. T engkorak         Terbang               mengeluh           dengan desah

kejengkelan, sebab kali ini ia kembali berpapasan dengan            perahu berlayar               kuning  dengan gambar t engkorak dan t ujuh mat a rant ai warna merah. Jelas perahu it u adalah perahu anak buahnya Siluman T ujuh Nyawa. T engkorak T erbang t ak bisa menghindari berpapasan             dengan perahu it u,        karena ia              sempat kehilangan angin dan t ak bisa lanjutkan perjalanan dengan cepat , ia hanya bisa gunakan sat u dayung dengan t enaga lemah karena pert arungan dengan Hant u Laut.

P erahu berlayar kuning it u semakin       mendekat . Sepert inya memang sengaja mendekat inya. T engkorak T erbang membat in,

"Kalau t erpaksa harus mat i bertarung melawan

mereka, ya sudahlah! It u namanya nasib yang t ak bisa dihindari! Mudah-mudahan saja t ak lama nant i muncul perahu yang membawa Sut o, jadi aku bisa kasih berit a kepadanya t ent ang keadaan P ulau Beliung sekarang ini!" P erahu berlayar kuning lebih besar dari perahunya

T engkorak          Terbang.              Ket ika  mereka                berdekat an, T engkorak T erbang segera t ahu siapa penumpangnya. Hanya dua orang, yang sat u pernah bert arung melawan T engkorak Terbang, t api melarikan diri karena kalah dengan ilmunya P endekar Mabuk. Orang it u, yang memakai pakaian abu-abu bersabuk hit am dengan hiasan kepala burung gagak, t ak lain adalah Gagak Neraka. Se dangkan lelaki t ua berusia sekit ar enam puluh t ahun it u, cukup t erkenal juga di rimba persilatan, ia t ermasuk anak buah Siluman T ujuh Nyawa yang konon ahli dalam pengobat an, ia dikenal dengan nama julukan T abib

Akhirat, ia mengenakan baju jubah hijau dengan pakaian dalamnya         hit am.  Rambut                abu-abu panjang diikat memakai             ikat         kepala   dari kulit ular.     Ia            selalu menggenggam kapak bergagang panjang, bagaikan orang mau menebang pohon.

Rupanya Gagak Neraka sudah sembuh dari lukanya akibat pert arungannya dengan P endekar Mabuk dalam kasus "Ist ana Berdarah" it u. T ent unya si T abib Akhirat yang mengobat i luka t ersebut . Kini ket ika ia melihat T engkorak T erbang ada di perahu it u sendirian t anpa Sut o, geram kejengkelannya mendidihkan darah. Segera ia melepaskan pukulan t enaga dalam ke arah T engkorak T erbang. Wuttt! T api T engkorak T erbang segera t angkis pukulan it u dengan lompatan t ubuh dari t engah perahu ke burit an.

"T ikus Busuk!" seru Gagak Neraka. "Rasa-rasanya

hari ini adalah hari t erakhir bagimu! Kemat ianmu yang t ert unda t empo hari, perlu kau lanjutkan hari ini!"

"Gagak Neraka! Kalau kau sendiri sudah siap mat i, aku pun siap membunuhmu!"

"T ulang rakus! Hiaaah...!"

Gagak Neraka sent akkan t angan kanannya ke depan, dari          t elapak                t angannya          keluar   jarum    kecil-kecil jumlahnya cukup banyak, warnanya hit am bagai berkarat semua.            T engkorak          T erbang              t ak         mungkin                bisa menghindar karena gerakan jarum maut it u sangat cepat . Sat u-sat unya jalan ia segera lepaskan pukulan 'T angan Mat ahari', yait u dengan menyentakkan kedua t angan bersamaan            dan keluarlah     sinar warna-warni yang

menggumpal bagaikan bola dan melesat dengan cepat .

Brass...! Blegarrr...!

Kedua perahu it u terguncang hebat akibat ledakan dari pukulan 'T angan Mat ahari' dengan jarum-jarum hitam it u. Yang paling hebat get arannya adalah perahu yang dit umpangi T engkorak T erbang. P erahu it u hampir saja t erguling akibat air laut melonjak dan bergelombang hebat . Sedangkan T engkorak T erbang sendiri t ubuhnya sempat t erlempar ke laut dan menjadi basah kuyup.

Gagak   Neraka t erlempar           t ubuhnya           sampai membent ur pint u barak, dan membuat Tabib Akhirat menggerut u jengkel dan menyent ak pada Gagak Neraka, "Hent ikan permainanmu it u! Kalau t ak bisa kalahkan

dia, t ak perlu menyerang lagi!"

Gagak Neraka t akut , karena T abib Akhirat punya t ingkatan lebih t inggi dari dirinya. Gagak Neraka hanya berkat a,

"Aku sekadar menguji kehebat an si t ulang belulang

it u!"

"T ujuan kit a mau membalas kekalahanmu kepada

P endekar Mabuk atau kepada T engkorak rapuh it u?!" "Ya, kepada si Pendekar Mabuk! T api dia t emannya

P endekar Mabuk!"

"Kalau   begit u t anyakan             padanya               saja,       apakah P endekar Mabuk masih ada di P ulau Beli ung at au sudah minggat dari sana?!"

Maka, berserulah Gagak Neraka kepada Tengkorak

T erbang, "Hai, T ulang Babi...! Apakah P endekar Mabuk masih ada di P ulau Beliung at au sudah pergi?! Jawab

pert anyaanku daripada kupaksa kau bicara dengan kekerasan!"

T engkorak T erbang       yang rambut      dan        sekujur t ubuhnya basah kuyup it u sudah berdiri lagi di burit an perahunya, ia berdiri dengan kedua t angan bert olak pinggang, seakan masih berani menghadapi serangan dari lawannya. T api unt uk sement ara ia segera serukan kat a, karena ia sudah t ahu apa yang jadi t ujuan pelayaran perahu berlayar kuning it u,

"Kalau kau mencari P endekar Mabuk, t anyakanlah kepada t emanmu yang berjuluk Hant u Laut !"

"Kenapa harus kepada dia aku bert anya? Apa hubungannya?"

"Pendekar Mabuk ada di P ulau Beli ung, s udah dikalahkan oleh Hant u Laut !"

"Omong kosong!" bent ak Gagak Neraka, lalu cepat ia

palingkan wajah unt uk memandang T abib Akhirat . Bagi mereka, Hant u Laut bukan orang sehebat T apak Baja at au                sehebat               diri          mereka. Mana  mungkin              bisa mengalahkan P endekar Mabuk, yang menurut Gagak Neraka adalah orang berilmu t inggi. T abib Akhirat pun ikut bicara dari perahunya,

"Mana mungkin Hant u Laut bisa kalahkan P endekar Mabuk! Hant u Laut hanya kuli Kapal Neraka! Dia budak suruhan T apak Baja!"

"T emuilah sendiri di P ulau Beliung! T anyakanlah kepadanya, apakah dia kuli kapal, at au budak T apak Baja, at au orang sakt i! Dia sekarang sudah hebat , t idak sepert i dulu! Kalian kalah hebat ! Aku saja lari dari

pert arungan dengannya, karena dia sudah mempunyai pusaka maut !"

"P usaka apa?"

"T anyakanlah    sendiri, aku         t ak         sempat menanyakannya!" jawab T engkorak Terbang. "Yang kut ahu, T apak Baja t elah dibunuhnya!"

"Hah...?!" kedua orang di at as perahu berlayar kuning

it u t ercengang heran.

"Jangan membual di depanku, Bangsat !" t eriak Gagak Neraka  sambil   kirimkan               pukulan                jarak      jauhnya. T engkorak T erbang cepat sentakkan t angan kirinya. P ukulan t anpa sinar saling beradu di pertengahan, menimbulkan   let upan      kecil       yang      t idak     t erlalu mengguncangkan perahu sepert i t adi.

"Cobalah kau dat ang sendiri dan lawan si Hant u Laut it u!            Kujamin               nyawa   kalian    amblas  dalam    sat u gebrakan!"         seru       T engkorak          T erbang, sengaja memanaskan hat i mereka.

"Mana  mungkin              dia          berani   melawan             kami! Kedudukan kami lebih t inggi darinya!" seru T abib Akhirat.

"Jangankan kalian, Siluman T ujuh Nyawa pun akan

dit umpasnya habis jika t ak mau bersujud di depan kakinya!"

"Jahanam! T ut up mulutmu!" bent ak Gagak Neraka.

T abib Akhirat segera menahan tangan Gagak Neraka yang ingin melepaskan pukulan jarak jauhnya lagi. T abib Akhirat berkat a pelan,

"Biarkan dia bicara!"

"Dia mengigau!"

"Kulihat dia memang sepert i orang sedang melarikan diri! Biarkan dia bicara, aku ingin mendengarnya!"

"Kubilang, dia mengigau!"

"Kalau begit u, aku ingin mendengar igauannya!" Kemudian, T abib Akhirat berseru kepada Tengkorak

T erbang,

"Apakah T apak Baja ada di sana? Maksudku, mat i di sana?"

"T idak! Hant u Laut dat ang sendirian. Dia ingin kuasai    P ulau    Beliung unt uk   t empat                t inggalnya selamanya. T api ia berkoar kepada kami, bahwa ia sudah berhasil membunuh T apak Baja, dan sebentar lagi dia akan bunuh Siluman T ujuh Nyawa!"

"Dia berbohong padamu!" kat a Tabib Akhirat. "Menurut ku dia t idak berbohong! Apa yang dikat akan

ada benarnya juga, sebab dia t elah memiliki sebuah t ombak pusaka milik Jangkar Langit!"

"P usaka T ombak Maut ?!"

"O, ya! It u nama t ombak pusaka yang sekarang menjadi             andalannya!       Menurut              rencana,              dia                akan membant ai semua              orang-orangnya Siluman               T ujuh Nyawa, dan dia akan kuasai semua jalur pelayaran dan jajahan Siluman T ujuh Nyawa!"

Gagak Neraka makin panas t elinganya mendengar

berit a it u. Ia berkat a kepada T abib Akhirat ,

"Celaka! Jika omongan t engkorak keropos it u benar, berart i kit a harus kasih laporan kepada sang ket ua!"

"Kita bukt ikan dulu di P ulau Beliung! Sepert i apa

t ingkah Hant u Laut terhadap kita sekarang ini! Jika memang membahayakan, biar kuhabisi sendiri dia!"

*

* *



7

KAP AL Neraka dikerumuni beberapa orang. Bukan karena mereka kagum dan heran melihat kapal yang t erkenal sebagai penyebar maut it u, t api dengan sangat

t erpaksa mereka melakukan t ugas dari Rat u P ekat unt uk

memperbaiki beberapa kerusakan kapal t ersebut. Kepada salah seorang prajurit yang memimpin perbaikan kapal it u, Rat u P ekat berkat a pelan, "Kalau bisa agak dibuat lama sedikit . Jangan t erburu-buru selesai. Mengert i?"

"Mengert i, Nyai Rat u. T api, apakah t idak sebaiknya

biar cepat selesai saja, biar set an gundul it u cepat pergi dari pulau ini?"

"T idak. Aku sangat berharap dia bert emu dengan P endekar Mabuk di sini! Jangan biarkan dia pergi dan t ersesat , hingga t idak bertemu dengan P endekar Mabuk. T erlalu bodoh kalau aku membiarkan dia pergi begit u saja, walau sebenarnya aku bisa punya kesempat an unt uk lari dan bersembunyi. Kalau dia masih hidup dengan tombak pusakanya, dia t et ap akan menjadi ganjalan ket enangan hidup kita di mana saja! Jadi, dia harus mat i.         Dan P endekar  Mabuk-lah          yang bisa mengalahkan dia! Mengert i?"

"Baik. Saya mengert i, Nyai Rat u!"

"Suruh  orang-orang       jangan  cepat-cepat        dalam bekerja! Diperlambat saja, sambil menunggu kedat angan P endekar Mabuk dari P ulau Hit am!" kat a Rat u P ekat dengan tetap berwibawa t erhadap bawahannya.

"Baik, Nyai. T api..., bagaimana jika P endekar Mabuk

t idak kembali lagi kemari? Apa yang harus kit a lakukan?"

"T idak mungkin! P endekar Mabuk past i kembali ke sini. Karena Singo Bodong masih ada bersama kit a. Jika dia ingin meneruskan perjalanannya, past i dia harus kembali ke sini dulu unt uk mengambil Singo Bodong. Dia t eman P endekar Mabuk dan keselamat annya dalam t anggung ja wab P endekar Mabuk."

Selama ini Singo Bodong t akut menampakkan diri di depan         Hant u Laut .       Biar        wajahnya            menyeramkan, kumisnya tebal, badannya hampir sama besar dengan Hant u Laut , tetapi merasa t idak berilmu apa-apa Singo Bodong berusaha unt uk t idak bert at ap muka dengan Hant u Laut . Bila perlu ia akan t undukkan kepala rendah- rendah agar t idak beradu pandangan mat a dengan Hant u Laut . Sebab melihat sinar mat anya saja Singo Bodong sudah ket akut an karena t erbayang keganasan Hant u Laut saat bert arung melawan Jalak P ut ih, P enghulu Pet ir, P engeran Berdarah, si Lat ah Lidah, dan si Mat a Elang.

T et api pada saat Singo Bodong ikut membant u

memperbaiki     Kapal     Neraka karena  memang diperint ahkan oleh Rat u P ekat , Singo Bodong merasa was was            dan                selalu    berusaha             menut up diri     dari pandangan mat a     Hant u   Laut       yang      sering    hadir

memeriksa pekerjaan it u. Sekalipun Singo Bodong sudah            berusaha             menyembunyikan           diri dari t ubuh beberapa pekerja lainnya, namun mat a jeli Hant u Laut masih bisa menangkap keberadaannya di sit u.

Dari pant ai yang kering,                Hant u Laut berseru,

"Dadung Amuk!"

Singo Bodong diam saja walaupun dia tahu, bahwa dirinya dianggap Dadung Amuk. Singo Bodong berlagak t idak mendengar dan t urut memperbaiki kapal t ersebut dengan lebih giat lagi.

"Dadung Amuk...!" seru Hant u Laut lagi. Lalu, ia

dekat i Singo Bodong yang diam-diam semakin berdebar- debar it u.

Wajah Hant u Laut berseri-seri set elah t iba di dekat Singo Bodong, ia cepat meraih pundak Singo Bodong dan berseru girang,

"Dadung Amuk! Oh, t ernyat a kau ada di sini j uga?! Ha ha ha...!" Hant u Laut cepat memeluk Singo Bodong dengan sat u t angan, karena t angan yang sat unya memegangi t ombak pusaka.

Di ba wah sebuah pohon agak jauh, sepasang mat a memperhat ikan kegembiraan Hant u Laut bert emu Singo Bodong. Sepasang mat a it u milik gadis cant ik Cempaka Ungu. Ia diam saja di sana, t api mat anya t erus mengikut i sikap Singo Bodong dan Hant u Laut saat bert emu di samping kapal it u.

Dari keceriaan wajahnya, Hant u Laut t idak t ampak

bermusuhan      dengan Singo     Bodong.               Malahan              dia berkat a,

"Dadung Amuk! T ak usah kau ikut bekerja! Kau... kau... apakah kau t awanan Rat u P ekat, sehingga mau- maunya bekerja menambal kapalku?"

"T api...."

"Sudahlah, ikut lah aku bicara di t empat t eduh it u! Lihat , calon istriku yang sat u sudah menungguku di sana! Kit a dekat i dia, dan kuperkenalkan pada dia siapa dirimu sebenarnya! Ha ha ha ha...!"

Mau t ak mau Singo Bodong mengikut i langkah

Hant u Laut . Ia dirangkul oleh Hant u Laut yang t ampak sangat kegirangan bert emu dengan Singo Bodong, sebab Singo Bodong dianggapnya Dadung Amuk.

Melihat                dua        orang bert ubuh               besar     it u dat ang

mendekat inya, Cempaka Ungu diam saja di t empat nya, ia ingin t ahu apa sebenarnya yang akan t erjadi jika Hant u Laut t ahu bahwa Singo Bodong bukanlah Dadung Amuk. Sedangkan Singo Bodong semakin resah dan kebingungan, takut disangka oleh Cempaka Ungu bahwa dirinya adalah Dadung Amuk.

"Cempaka Ungu, Sayangku...," kat a Hant u Laut

sambil masih merangkul Singo Bodong. "Kenapa kau t idak bilang-bilang padaku bahwa di sini ada Da dung Amuk?! Dia ini orang yang paling banyak berjasa

t erhadapku! Beberapa kali nyawaku diselamat kan oleh

Dadung Amuk! Bukankah begit u, Dadung Amuk?!" "Hmmm... anu... aku... aku bukan Dadung Amuk!

Aku...."

"Lihat, lihat ...! Begit u merendahnya dia di depanku, Cempaka! Dia ini orang yang paling baik padaku, lebih

baik dari saudara kandungku sendiri!"

Cempaka             Ungu masih        diam      saja.       Senyumnya dipaksakan                mekar,  t api       ot aknya               berput ar-put ar memikirkan sikap Hant u Laut t erhadap Singo Bodong. Hant u Laut sepert i bert emu dengan saudara sendiri yang sudah puluhan t ahun t idak pernah jumpa. Berulangkali ia merangkul Singo Bodong dalam t awanya yang benar- benar t ampak gembira.

"Dadung Amuk, kupikir kau t elah t ewas dalam

perist iwa di P ulau T at ar! Sebab aku t ahu, lawanmu di sana cukup t angguh! Sudah lama kit a t idak saling jumpa, Dadung Amuk! Aku sering bayangkan wajahmu jika sedang dalam t ekanan perintah dari T apak Baja! Tapi sekarang, t ak akan ada lagi yang berani memerint ahku dengan                tekanan keras! T ak         akan ada              lagi yang menamparku sepert i dulu, seba b T apak Baja t elah kubunuh dengan tombak pusaka ini! Ha ha ha ha...!"

Singo     Bodong cengar-cengir    salah      t ingkah,               ia

mencoba berkat a, "Iyy... iya, aku sudah mendengar t ent ang kemat ian T apak Baja."

"It ulah aku yang sekarang, Dadung Amuk!"

"T api aku buk... buk... bukan Dadung Amuk!" "Omong Kosong! Ha ha ha...! Aku t ak bisa kau t ipu

dengan kepura-puraanmu. Kau adalah Dadung Amuk! Kau t idak banyak berubah dan t et ap berwat ak pura-pura bodoh sepert i dulu saja! Walaupun kau t anpa t ambang pusakamu it u, t api aku t et ap bisa mengenali dirimu, Dadung Amuk! Ha ha ha...! O, ya... kau t idak perlu ikut bekerja sepert i mereka! Kau bukan orang-orang sepert i

mereka! Dan... dan kenapa kau bisa jadi selemah ini? Apa yang t elah t erjadi pada dirimu, Dadung Amuk?!"

"T idak... t id... t idak ada apa-apa? Sumpah! T idak ada apa-apa!"

"Jujur saja, Dadung Amuk! Aku t ahu kau past i dalam

kesulit an! Aku akan gant i menolongmu, Dadung Amuk! Aku harus menolongmu, karena belum sat u pun jasa baikmu padaku yang sempat kubalas!" sambil berkat a begit u, Hant u Laut menepuk-nepuk pundak Singo Bodong dengan t et ap merangkulkan t angannya ke pundak it u. Kadang ia meremas-remas pundak Singo Bodong sebagai ungkapan rasa kagum dan gembira t erhadap orang yang dianggapnya Dadung Amuk it u.

"Dadung Amuk, jika kau dit awan oleh Rat u P ekat , akan kusuruh dia membebaskan kamu! Dia past i menurut padaku, sepert i halnya Cempaka Ungu ini! Se bab mereka bakal menjadi ist riku dua-duanya, hua ha ha ha...!"

Singo Bodong hanya cengar-cengir, t ak bisa ikut t ert awa sekeras Hant u Laut, sebab hat inya berdebar- debar dalam kegelisahan. Sebent ar-sebent ar ia melirik Cempaka Ungu dengan sorot pandangan mat a penuh kecemasan, seakan ia ingin mint a pert olongan kepada Cempaka Ungu unt uk memisahkan dirinya dari Hant u Laut .

Cempaka Ungu segera t anggap dengan kecemasan it u, karenanya ia segera berkat a kepada Hant u Laut ,

"Hant u Laut , kami t idak t ahu kalau Dadung Amuk it u t eman baikmu. Sungguh kami t idak tahu!"

"Sangat baik aku dengannya! Aku banyak berhut ang nyawa padanya. Art inya, nyawaku sering diselamat kan oleh dia! Dia ini orang sakt i, sejajar dengan T apak Baja. Jangan kamu menganggap remeh pada dia, Cempaka Ungu! Kalau dia sudah mengamuk, bisa habis seluruh penghuni pulau ini. Bisa hancur dalam sekejap ist anamu it u jika ia sudah gunakan t ambang maut nya it u!"

"Ya, karena it u kukat akan t adi, kami t idak tahu kalau dia t eman baikmu. Se baiknya izinkan aku membawa dia menghadap        Ibu,        dan kubicarakan               t ent ang pembebasannya. Jujur saja, dia masih t awanan kami!"

"Lho, kat anya aku bukan t awanan? Kat anya...!" Singo Bodong t erhent i dari bicaranya yang bernada ngotot karena t idak mengert i arah pikiran Cempaka Ungu, dan Cempaka Ungu segera berkat a agak keras.

"Diam kau, dan biarkan aku bicara dengan Hant u

Laut !"

T api Hant u Laut berkat a, "Hei, jangan bent ak-bent ak dia! Bisa hilang kesabaranku jika melihat orang yang berjasa banyak padaku kau bent ak-bent ak!"

"Baiklah. Aku t idak akan membent ak-bent aknya lagi. T api biarkanlah aku membawa dia menghadap Ibu Rat u. Mungkin kalau sudah kujelaskan kepada Ibu siapa Dadung Amuk ini, Ibu past i akan membebaskan dia dan

t idak akan menjadi t awanan kami lagi!"

"Harus begit u! Sudah, ba wa dia ke ist ana, nant i aku menyusul! Aku akan mengawasi pekerja-pekerja it u dul u!" kat a Hant u Laut. Dan sebelum Singo Bodong pergi bersama Cempaka Ungu, Hant u Laut sempat kan

diri berkata kepada Singo Bodong.

"Dadung Amuk, kat akan saja apa yang harus kubant u agar aku bisa membalas budi baikmu selama ini! Aku siap membant umu, Dadung Amuk!"

Singo Bodong hanya mengangguk dengan senyum

yang benar-benar kaku. Set elah it u, ia pun melangkah pergi bersama Cempaka Ungu. T angannya agak dit arik oleh Cempaka Ungu hingga langkahnya menjadi lebih cepat lagi. Singo Bodong semakin berdebar ket akut an dan ia berkat a kepada Cempaka Ungu,

"Berani sumpah segala sumpah, aku bukan Dadung

Amuk, Cempaka! Aku Singo Bodong, sepert i yang dit irukan Sut o t empo hari! Aku bukan Dadung Amuk, Cempaka! Jangan salah duga!"

"Diam kamu! Just ru karena kamu bukan Dadung

Amuk, maka kuajak berunding bersama Ibu."

Di depan              Rat u P ekat ,      Cempaka             mencerit akan perist iwa salah duga it u. Apa yang dikat akan Hant u Laut kepadanya t ent ang jasa dan kebaikan Dadung Amuk juga dicerit akan kembali kepada Rat u P ekat .

"Lalu, apa maksudmu menyampaikan berit a ini, Cempaka?" t anya Rat u P ekat dengan tenang.

"Bukankah Singo Bodong bi sa kit a gunakan unt uk pelindung kit a?"

Berkerut lah dahi Rat u P ekat karena heran mendengar

usul anaknya. Lalu dia bert anya,

"Dia t idak punya ilmu apa-apa, mana bisa melindungi kita?"

"Dia harus t et ap mengaku Dadung Amuk di depan

Hant u laut !"

"Apa...?! Aku harus mengaku Dadung Amuk?! T idak. Aku t idak mau mengaku Dadung Amuk!" kat a Singo Bodong membantah usulan it u, dan ia berkat a lagi,

"Dadung Amuk orang jahat ! Aku bukan orang jahat !"

"Singo   Bodong,"             kat a      Rat u      P ekat   memot ong ucapannya. "Aku t ahu maksud Cempaka. Ini hanya pura- pura saja. Kau mengaku Dadung Amuk, unt uk meredam segala t indakan Hant u Laut yang semena-mena t erhadap kami. Dengan adanya kamu, sebagai Dadung Amuk, Hant u Laut merasa ada orang yang disegani."

"Bet ul. Maksudku be git u, Ibu!" pot ong Cempaka

Ungu bersemangat .

"Ingat kat a-kat a Hant u Laut t adi, kau dianggap orang paling berjasa dalam hidupnya. Kau dianggap orang yang sering selamat kan nyawanya dan lebih baik dari seorang saudara kandung. Dia merasa berhut ang budi kepadamu! Bahkan dia siap membant umu jika kau but uh bant uan apa pun, it u berart i dia akan menurut i segala perint ahmu! Kau disegani oleh Hant u Laut, karena kau t idak pernah memusuhi dia, dan dia t ahu kau dianggap orang berilmu t inggi, sejajar dengan Tapak Baja. Jadi, dengan adanya kau sebagai Dadung Amuk di sini,

t ingkah laku Hant u Laut yang memuakkan it u bisa kau redam!"

"T ap... t api., t api saya t akut berhadapan dengan dia, Nyai Rat u!"

"Kau harus berani. Kalau selamanya kau menjadi orang penakut , maka jiwamu akan dijajah oleh orang

lain! Tak ada orang yang bisa menolongmu kecuali dirimu sendiri! Ja di, kau harus berani berhadapan dengan siapa pun! Ingat , kau punya kekuat an, yait u wajah dan potongan t ubuh yang mirip Dadung Amuk. Anggapan keliru it ulah yang kau gunakan sebagai kekuat anmu!"

Cempaka Ungu menambahkan kat a, "Di depan dia,

kau harus t egas dan kelihat an berilmu t inggi. Dia t ak akan berani melawanmu, karena dia merasa berhut ang nyawa padamu! T unjukkan di depan dia bahwa kau adalah Dadung Amuk yang dikaguminya. Biasanya seseorang akan menurut dengan perint ah orang yang dikagumi dan disanjungnya!"

Rat u P ekat menambahkan kata lagi, "T api kau juga jangan kelihat an semena-mena kepadanya, supaya dia t idak                berbalik benci kepadamu. Just ru t ampakkan sikapmu   memuji                keberhasilannya               dalam    memiliki P usaka T ombak Maut it u, biar dia semakin salut padamu. T api juga jangan t erlalu merendahkan diri di depannya, supaya kau t etap dihormat i olehnya."

"Bagaimana... bagaimana kalau dia t ahu bahwa aku bukan Dadung Amuk yang sebenarnya?"

"T idak mungkin!" sahut Cempaka Ungu. "Kau mengaku sebagai Singo Bodong saja dia t et ap ngotot dan menganggapmu Dadung Amuk!"

"Ya. Kurasa dia t idak akan menget ahui bahwa kau adalah            bukan   Dadung                Amuk.   Dia          t et ap   akan menganggapmu Dadung Amuk. Lebih bagus lagi kalau kau memakai baju merah dan jangan dikancingkan. It u

pakaian yang benar-benar mirip dengan Dadung Amuk!" "Bila perlu," kat a Cempaka Ungu, "Kucarikan kau sebuah t ambang dalam t iga gulungan, bawalah t ambang

it u lalu, kau gant ungkan di pundak kiri."

"Bet ul! It u baru persis sekali dengan Dadung Amuk! Asal lagakmu jangan ragu-ragu dan celingak-celinguk sepert i biasanya. Berlagaklah t egar, perkasa dan berani!"

"Suruh Hant u Laut jangan menempat i kamar pribadi Ibu," kat a Cempaka Ungu. "Dan bila kau punya kesempatan, curi t ombak it u lalu serahkan pada kami!"

"Bet ul!" sahut Rat u P ekat lagi semakin bersemangat .

"Curi tombak it u, t api jangan terburu-buru dan jangan sampai kelihat an gerak-gerikmu. Sebab t anpa t ombak it u, Hant u Laut bisa kurobohkan dalam wakt u yang amat singkat! Sat u jurus pun dia bisa mampus!"

"Ya, memang kelihat annya begit u," gumam Singo

Bodong. "T api... bagaimana aku harus mengat asi rasa t akutku sendiri ini...?"

"Aku mendampingimu t erus," kat a Cempaka Ungu. "Aku mengawasimu dari kejauhan. Jika t erjadi sesuat u, aku maju lebih dulu melindungimu!"

Dadung Amuk sebenarnya orang kejam, ia pernah

bert emu dengan Sut o Sint ing dan bertarung beberapa gebrakan. Namun Dadung Amuk kalah, ia dit ugaskan mencari P endekar Mabuk oleh Siluman T ujuh Nyawa, t api ket ika bert emu dengan Sut o, ia t idak t ahu siapa orang yang dit emuinya it u. Sut o mengaku sebagai P endekar Mabuk, bahkan yang t erakhir kali Sut o mengaku sebagai P endet a T ibet , yang adalah gur u dari

Sil uman               T ujuh   Nyawa. Dadung                Amuk    berhasil dikelabuhi          Sut o.    Ket ika  Dadung Amuk   mengaku dit ugaskan oleh Siluman T ujuh Nyawa membunuh orang yang bernama Sut o Sint ing dan mencari kit ab P usaka Wedar Kesuma, P endekar Mabuk menyuruh Dadung Amuk pergi ke P ulau Hant u, dan mengat akan di sanalah adanya P usaka Kit ab Wedar Kesuma. Maka, Dadung Amuk pun pergi ke P ulau Hant u. P adahal di sana ada t okoh sesat yang cukup t inggi ilmunya, yait u Mawar Hit am (Baca serial P endekar Mabuk dalam episode: "Ut usan Siluman T ujuh Nyawa"). Sampai sekarang belum diket ahui bagaimana nasib Dadung Amuk.

Sement ara it u, Rat u P ekat dan Cempaka Ungu

mendandani Singo Bodong sehingga mirip bet ul dengan Dadung Amuk. Mengenakan pakaian longgar warna merah, celana hit am, menggant ungkan t ambang di pundak kirinya, rambut diikat kain bat ik model warok yang memang sudah kesehariannya dipakai Singo Bodong, ikat pinggang hit am besar, dan mengenakan akar bahar hit am yang juga sudah kesehariannya dikenakan Singo Bodong. Semakin yakin Hant u Laut bahwa orang it u adalah Dadung Amuk. Hanya saja, ia merasa heran, mengapa Dadung Amuk menjadi t awanan rat u.

"Rasa-rasanya t ak mungkin kau bisa mengalahkan

ilmu dan kesakt ian Dadung Amuk, Rat u Pekat ! Bahkan kau bisa membuat dia t unduk dan menurut padamu, sungguh hal yang t idak masuk akal bagiku!"

Jawab Rat u P ekat, "Dia dat ang ke pulau ini dalam

keadaan               linglung.               Menurut              dugaanku,           dia          t elah melangkahi akar Mimang."

"Apa it u akar Mimang?"

"Akar yang jika dilangkahi, bisa membuat orang yang melangkahi lupa akan dirinya, lupa jalan menuju pulang."

"Ooo...," Hant u Laut manggut -manggut . "Kalau

begit u dia lupa t entang ilmu-ilmunya?"

"Ya. T api secara gerak naluri, t enaga dalamnya bisa t ersalur      keluar   dengan sendirinya,          dan        it u lebih berbahaya, karena t idak pakai ukuran bat in! It ulah sebabnya kami menganggap dia bukan sepert i t awanan biasa."

"Bebaskan dia!" kat a Hant u Laut .

"Sudah kubebaskan. Sejak aku t ahu dia t eman baikmu yang banyak menolong kamu, sering menyelamat kan kamu, dan kamu punya hut ang nyawa kepadanya, aku t elah membebaskan dia. T api dia masih saja t ak mau pergi meninggalkan pulau ini."

"Jangan paksa dia unt uk pergi! Biarkan dia bert indak

at as       kemauannya!    Aku        sangat   menaruh             hormat kepadanya!"

"Ya. Aku t ahu apa yang kau harapkan. Aku t elah laksanakan!"

Hant u Laut semakin bangga melihat penampilan

Singo Bodong yang dianggapnya sudah kembali sepert i Dadung Amuk dalam kesehariannya. Singo Bodong pun jika bert emu dengan Hant u Laut memasang lagak wi bawa dan t egas, walau hat inya penuh kecemasan.

"Kuharap kit a bisa sus un kekuat an di sini unt uk melawan sang ket ua dan para keroconya! Kau set uju, Dadung Amuk?"

"Sangat set uju!"

"Bagus! Ha ha ha...! Kit a akan gilas Si luman T ujuh

Nyawa menjadi Siluman T ujuh Pot ong!"

"Ha ha ha ha...!" Singo Bodong paksakan diri t ert awa t erbahak walaupun t et ap sumbang didengarnya. Lalu, Singo Bodong berkat a,

"T api aku kurang set uju jika kau t idur dan menempat i kamar pribadi Rat u P ekat !"

"Kenapa? Dia calon ist riku!"

"It u kalau kau bisa memenggal kepala P endekar

Mabuk!"

"Harus bisa! Bila perlu, aku mint a bant uanmu unt uk melawan dia."

"Kurasa t idak perlu. Kau sudah cukup kuat dan t angguh dengan t ombak pusaka it u! Kau bisa mengat asi orang sakt i mana pun t anpa bant uan dariku lagi!"

"Ah, jangan berkat a begit u padaku, Dadung Amuk.

Dari dulu kau selalu membangkit kan semangat dan keberanianku! Aku jadi minder di depanmu, Dadung Amuk!"

"T ak apa. Aku juga hanya sekadar memujimu," jawab Singo Bodong, keceplosan pengakuan polosnya. T api, segera ia berkat a,

"Kuharap kau t idak menempat i kamar pribadi Rat u.

Apa kau set uju?"

"Hmmm... baiklah, aku set uju! Lant as di mana aku

harus t idur         selama kapalku belum   selesai dalam perbaikan?"

"Banyak kamar di dalam ist ana ini, dan kau bisa pilih sendiri!"

"Demi persahabat an dan persaudaraan kit a, kut urut i

keinginanmu, Dadung Amuk. Tapi, bolehkah aku t ahu mengapa kamu melarangku menempat i kamar rat u?"

"Karena rat u menyuruhku bilang begit u padamu." "Jadi, kau diperalat oleh Rat u P ekat ?"

"Hmmm... anu... begini... bukan diperalat . Rat u sebenarnya menaruh hat i melihat keperkasaanmu. Tapi dia t idak ingin kehilangan daya t arik t erhadapmu jika kamu masih menempat i kamar pribadinya. Jadi, dia ingin agar aku menyampaikan isi hat inya, bahwa dia t ak mau kehilangan rasa t ert arik kepadamu. Jika kau t et ap menempat i kamar pribadinya, dia akan kecewa dan rasa t ert arik padamu berkurang, bahkan bisa hilang. Dia t akut kehilangan hal it u, Hant u Laut! Jadi saranku, jangan kecewakan dia supaya dia semakin kagum dan t ert arik padamu!"

"Ha ha ha ha...! Ya, ya... aku t ahu maksudnya! Aku akan t urut i saranmu it u!"

Singo Bodong merasa lega, t ernyat a ia bisa bicara t anpa menimbulkan kecurigaan Hant u Laut . Lalu, ia berkat a lagi sambil duduk di bangku t aman samping ist ana.

"Sebenarnya sudah lama aku ingin melawan sang

ket ua!"

"O, ya?! Kalau begit u kit a memang sangat cocok

bert emu di sini!" Hant u Laut bersemangat dan t ampak gembira sekali.

"T api aku merasa ilmuku masih rendah dan belum seimbang unt uk melawan Siluman T ujuh Nyawa! Dia sangat kuat dan t inggi ilmunya!" Singo Bodong berlagak mengeluh. Sejauh ini, ia selalu diperhat ikan oleh sepasang mat a, yait u mat a Cempaka Ungu yang berada di kejauhan at au di balik persembunyian.

Melihat Singo Bodong mengeluh sepert i pat ah

harapan, Hant u Laut segera membangkitkannya lagi dengan menyombongkan pusaka t ersebut ,

"Jangan merasa lemah, Dadung Amuk! Sekarang aku sudah memiliki pusaka t ombak ini! Siluman T ujuh Nyawa t ak akan berkut ik melawan kit a! Kau lihat sendiri, Rat u Pekat bisa t unduk padaku karena aku mempunyai tombak pusaka ini!"

"Kau memang t ampak lebih perkasa jika memegang t ombak it u!"

"Ah, kau pun juga kelihat an masih perkasa dan gagah! Jangan selalu memujiku, Dadung Amuk!"

Singo     Bodong                dan        Hant u   Laut       sama-sama memandangi P usaka T ombak Maut yang selalu ada di

t angan Hant u Laut . Singo Bodong memandangnya dengan kagum. T ercet us ucapan polosnya sebagai Singo Bodong yang t idak diket ahui Hant u Laut .

"Hebat sekali pusaka ini! Bagaimana bangganya rasa hat iku jika bisa memainkan jurus dengan menggunakan t ombak ini!"

"Mudah saja!" kata Hant u Laut. "Sent akkan t enaga

dalam seringan apa pun bisa menjadi besar jika disalurkan           lewat     t ombak               ini.          Kurasa  kau         bisa memainkan t ombak ini. T ak beda dengan t ombak- t ombak lainnya dalam permainan jurusnya. Kau sudah menguasai jurus t ombak, karena kulihat dulu kau mengalahkan P ancar Gunung dengan sebuah t ombak biasa, kau ingat saat kau selamat kan nyawaku dari P ancar Gunung it u, Dadung Amuk?"

"Hmmm... kapan, ya? Oh, ya ya...! Aku ingat ," jawab

Singo Bodong. "T api gerakan t ombak wakt u it u t ent unya t idak sama dengan gerakan t ombak ini?!"

"Sama   saja!      Kalau     t ak         percaya,               cobalah memainkannya sebent ar!"

Hant u Laut menyerahkan tombak it u kepada Singo Bodong. Wutt ...! Hampir saja tombak it u jat uh karena Singo Bodong t ak pernah pegang tombak yang t ernyat a cukup berat unt uk ukuran t angannya. T ombak biasa pun

t ak pernah dipegangnya, apalagi t ombak pusaka yang

t ent unya punya bobot kesakt ian t ersendiri di dalamnya. "Coba mainkan beberapa jurus t ombakmu! Aku dulu

mengagumi kecepat anmu dalam memainkan t ombak!" "Hmmm... ya... ya....!" Singo Bodong sebenarnya

bingung, dia harus memainkan bagaimana, sebab dia t idak t ahu jurus tombak. Karenanya, t ombak it u hanya dipegang-pegang saja, kadang dit ent engnya         sepert i menent eng t as at au kayu pot ongan biasa. T ak pant as sekali sebagai orang sakt i yang bersenjat akan tombak.

Sement ara it u, Cempaka Ungu yang memperhat ikan dari t empat t ersembunyi sudah mulai berdebar-debar

hat inya.               Singo     Bodong sudah   berhasil memegang t ombak it u. T inggal ia ba wa lari at au dilemparkan di suat u t empat , maka Cempaka Ungu akan mengambilnya. T api Singo Bodong t idak segera melarikan t ombak it u. Ia bahkan hanya menimbang-nimbang berat tombak di dalam t angannya.

Se dangkan Hant u Laut just ru merasa bangga dan

senang melihat Dadung Amuk palsu memegang t ombak it u. Seakan ia bisa membagi rasa bangga kepada orang yang banyak memberi jasa padanya it u.

"Ayolah, mainkan sat u-dua jurus t ombakmu, Dadung

Amuki"

"Aku t ak bisa!" Singo Bodong serahkan tombak kembali kepada Hant u Laut .

"Ah, mainkanlah dulu! Aku t ak akan mencuri jurusmu!" Hant u Laut t ak mau menerima t ombak, bahkan mendesak Singo Bodong unt uk memainkan jurus

t ombak.              "Lekaslah,           ingin      kulihat  kegesitanmu

menebaskan tombak it u, Dadung Amuk! Aku sangat bangga pada jurus-jurusmu!"

Dalam hat i Cempaka Ungu sudah t ak sabar lagi. "Cepat bawa lari, Goblok! Bawa lari...!" Cempaka Ungu menggeram sendiri di persembunyiannya. T api Singo Bodong hanya celingak-celinguk dengan hat i berdebar-

debar.

*

* *

8

KAP AL Neraka masih dalam perbaikan. T iba-t iba muncul perahu berlayar kuning. Siapa lagi orang di at as perahu berlayar kuning it u jika bukan Gagak Neraka dan T abib Akhirat. P andangan mat a mereka t ert uju pada Kapal Neraka.

T abib Akhirat berkat a kepada Gagak Neraka t anpa

palingkan wajah, "Rupanya benar apa kat a t engkorak keropos it u! Kapal Neraka berlabuh di P ulau Beliung!"

"Jadi apa yang dikat akan t engkorak keropos it u memang benar semua? T ermasuk T apak Baja yang dibunuh Hant u Laut , dan sikap Hant u Laut yang ingin memberont ak kepada sang ket ua?"

"Ya. Kurasa memang begit u! Sekarang yang kit a hadapi bukan P endekar Mabuk, melainkan Hant u Laut ! Jika kau ingin balas kekalahanmu t empo hari kepada P endekar Mabuk, kau harus kalahkan Hant u Laut it u dul u! Karena P endekar Mabuk adalah t awanan si Hant u Laut , menurut pengakuan tengkorak keropos t adi!"

"Hant u Laut ...?!" gumam            Gagak   Neraka.                "Dia

memiliki P usaka T ombak Maut it u!"

"Jangan t akut! Kau harus jaga jarak dalam menyerang dia. Jangan t erlalu dekat, karena gerakan t ombak it u sangat berbahaya! Bert arunglah dalam jarak jauh saja!"

"Kau sendiri t idak akan ikut menghajar Hant u Laut ?'

"T ent u saja aku ikut ! T api aku ingin kau dul u yang maju, jadi aku bisa pelajari jurus-jurus kelemahan t ombak maut it u!"

Seorang prajurit yang ikut perbaikan kapal it u segera

berlari ke ist ana unt uk memberitahukan kedat angan perahu berlayar kuning. P rajurit it u menget ahui, bahwa orang yang ada di at as perahu it u past i orang suruhan Sil uman T ujuh Nyawa, karena ia melihat gambar t engkorak dan rant ai bermat a t ujuh.


P ada wakt u prajurit it u belum t iba di ist ana, Singo Bodong sudah hampir membawa lari t ombak pusaka t ersebut . Tapi ket ika ia didesak t erus unt uk memainkan sat u jurus t ombak oleh Hant u Laut , dan ia kibaskan t ombak it u dengan sembarangan, Hant u Laut sempat t erpental dan Singo Bodong pun cepat melepaskan t ombak it u. Karena dari ujung tombak keluar sinar kilat biru yang segera melesat dan mengenai sebuah pohon. P ohon it u langsung hancur dari ujung sampai akarnya. Singo Bodong yang kaget , juga t erpent al karena ledakan pohon, dan tombaknya t erlepas jat uh.

Bahkan hampir-hampir  kilat an  cahaya biru it u mengenai Cempaka Ungu yang bersembunyi t ak jauh dari pohon yang meledak it u. Karena takutnya, Singo Bodong gemetar dan segera mengambil t ombak it u lalu menyerahkannya kembali kepada Hant u Laut sambil berkat a dalam kepolosan asli Singo Bodong.

"Mmma... maaf, aku t idak sengaja! Sungguh aku t idak sengaja, Hant u Laut ! Ak... aku... aku t idak t ahu kalau benda ini bisa keluarkan cahaya biru pet ir. Maaf...! Jangan marah padaku...!"

"Ha ha ha ha...!" Hant u Laut t ert awa melihat wajah

Dadung                Amuk    palsu     menjadi               ketakutan           karena kagetnya.

"Ini kukembalikan tombakmu. Ak... aku tak bisa menggunakannya!"

Hant u Laut menerima tombak it u sambil masih t ert awa t erbahak-bahak. Lalu ia ucapkan kat a,

"Dadung Amuk, Dadung Amuk... t ernyat a kau

sekarang menjadi orang jenaka yang pandai melucu. Kepura-puraanmu it u sungguh menggelikan hat iku! Kau pandai berlagak dan bersandiwara, sekarang! Bukan main merendahnya kau di depanku...! Ha ha ha...!"

"T uan   Nakhoda!"          seru       prajurit yang      memang diharuskan memanggil Hant u Laut dengan sebut an T uan Nakhoda. "Ada perahu Siluman T ujuh Nyawa merapat ke pant ai!"

"Apa warna layarnya?" "Kuning!"

"Aku t anya apa warnanya! Bukan menyuruhmu unt uk

kencing!"

"Lha, iya! Warna layarnya kuning, T uan Nakhoda!" "O, kuning?! Hmmm...!" Hant u Laut berpikir sejenak,

lalu menggumam, "Tabib Akhirat!"

Hant u Laut segera bege gas t inggalkan ist ana sambil membawa              P usaka Tombak                Maut.    Sement ara         it u, Cempaka Ungu segera mendekat i Singo Bodong dan membent ak,

"Bodoh! Tolol! Goblok...!"

Singo Bodong yang bersosok Dadung Amuk it u hanya berkedip-kedip mat anya sambil mengerut kan t ubuh jika mendapat sat u bent akan dari Cempaka Ungu.

"T ombak sudah di t anganmu, mengapa t idak segera

kau bawa lari dan kau serahkan padaku?!" "Ak... aku... aku takut !"

"Aku ada di rumpun tanaman melat i it u!"

"Aku t idak t ahu kau di sana! Seharusnya kau berseru dari sana dan mengatakan bahwa kamu ada di sana, jadi...."

"Sudah,                sudah!  Dasar     manusia               dungu!"               omel

Cempaka             Ungu.    "Hampir               saja        sinar      biru        tadi menghant amku dari ba wah pohon yang hancur it u! Huhh...! Manusia kelewat dungu kau ini!" geram Cempaka Ungu dengan menahan rasa jengkel.

"Ada apa, Cempaka?! Suara ledakan apa it u t adi?!" Rat u P ekat muncul, lalu Cempaka Ungu mengadukan hal it u. Rat u P ekat hanya berkata,

"Jangan t erlalu menyalahkan Singo Bodong! Dia memang orang bodoh berot ak udang rebus! T api pada kesempatan   lain                nant i,   kau         harus lebih          dekat mendampinginya. Jika terlihat dia sudah memegang t ombak it u, kau segera serang Hant u Laut dan robohkan dia dengan jurus andalanmu! Jika dia sudah roboh, t ombak it u bisa kit a kuasai!"

"Dia t adi berada t erlalu dekat dengan Singo Bodong,

jadi aku t akut pukulan jarak jauhku just ru mengenai si dungu it u!"

"Sudahlah, t ak perlu t erlalu jengkel kepada Singo

Bodong. T api yang pent ing kit a sudah mendapat kan kelemahannya. Suat u saat nant i, past i t ombak it u jat uh ke t angan kit a!"

"Kalau begit u, Ibu saja yang mendampingi dia,

supaya Ibu lebih cepat menghant am Hant u Laut jika t ombak sudah di tangan Singo!"

"Baiklah, aku yang akan mendampingi Singo Bodong dari kejauhan. Sekarang, di mana Hant u Laut ?"

Singo Bodong menyahut , "P ergi ke pant ai, Nyai

Rat u. Ada perahu dat ang berlayar kuning."

"Perahu berlayar kuning? Apakah perahunya Sut o?" gumam Rat u sepert i bicara sendiri.

"Saya rasa bukan Sut o, Nyai. Sebab t adi saya dengar

Hant u Laut menyebutkan sat u nama." "Siapa...?"

"T abib Akhirat !" "Hah...?!"

Wajah rat u t erbelalak kaget , dan kelihat an cemas. Cempaka Ungu heran melihat perubahan ibunya yang menjadi sangat cemas dan gelisah it u. Maka, Cempaka Ungu pun ajukan tanya,

"Kenapa Ibu cemas?"

"T idak apa-apa," jawab rat u sambil bergegas pergi. Cempaka Ungu mengejar dan mendesak, "Siapa

T abib Akhirat it u? Jelaskan aku, Bu!"

Rat u P ekat hent ikan langkah, ia pandangi wajah anaknya           it u          dengan suat u    keraguan             yang menggelisahkan. Cempaka Ungu semakin heran dan penasaran.

"Jelaskan padaku, siapa T abib Akhirat it u?" "Bekas kekasihku."

"Ooo...," Cempaka Ungu manggut -manggut sambil t ert awa geli. T api Rat u P ekat segera berkat a,

"Kau lahir dari benihnya!"

"Hah...?!" Cempaka Ungu t erkejut , t awanya hilang seket ika.

"Dia        yang      membuahi          aku         dan        akhirnya               aku mengandung bayimu. T api ant ara aku dan dia t idak ada ikat an suami-ist ri. Dia pergi ent ah ke mana, dan t ak kut ahu kalau dia ternyat a bergabung dengan Siluman T ujuh Nyawa."

"Ja... ja... jadi, dia ayahku, Bu?"

"Ya. Dia ayahmu yang sebenarnya."

"Bukankah kat a ibu, ayahku adalah Garuda P aksi, yang sekarang sudah t ewas it u? Bukankah Garuda P aksi juga ayah dari kedua kakakku yang juga sudah t ewas it u?"

"Kedua kakakmu memang anak dari Garuda P aksi. T api kau bukan! Garuda P aksi t idak menyangka kalau aku punya hubungan gelap dengan Tabib Akhirat, dan dia t idak t ahu bahwa bayi yang kukandung it u adalah benih dari T abib Akhirat !"

"Ap... apakah... apakah T abib Akhirat t ahu bahwa

aku anaknya?"

"Sewakt u kau berusia   dua        bulan,   dia          pernah melihat mu. Tapi set elah it u dia menghilang lagi dan baru sekarang muncul kembali!"

"Kalau begit u aku harus se gera ke pant ai dan

menemuinya!"

Wuttt ...! Cempaka Ungu cepat melesat pergi dengan sat u lompat an bert enaga ringan. Rat u P ekat berseru memanggilnya,

"Cempaka! T ahan niat mu it u!"

T api Cempaka Ungu t idak menghiraukan seruan t ersebut . Rat u P ekat pun akhirnya bergegas pergi mengejar                Cempaka             Ungu.    Singo Bodong sempat

t ert egun bengong dan t ak mengert i apa yang harus

dilakukan. T et api akhirnya ia pun berlari sepert i kerbau t akut set an menuju ke pant ai, unt uk melihat apa yang t erjadi di sana.

Orang-orang yang mengerjakan perbaikan Kapal

Neraka it u berhent i bekerja. Mereka memandangi suat u ket egangan yang t erjadi di ba wah pohon kelapa yang meliuk agak rendah ke pantai. Ket egangan it u t erjadi ant ara Hant u Laut dan Gagak Neraka. Sedangkan T abib Akhirat dengan dinginnya berdiri agak jauh dari mereka. "Aku mendengar kabar kurang enak dari seseorang

t ent ang dirimu, Hant u Laut!"

"Kabar t entang aku beranak?!"

"Kabar kurang enak!" t egas Gagak Neraka. "O, kabar kurang enak?! Ya, mungkin saja!" "Kau membunuh Tapak Baja?"

"Bet ul! Aku yang membunuhnya!"

"Kau mau memberont ak kepada sang ket ua?"

"Bet ul! Aku akan membunuh sang ket ua!" jawab Hant u Laut t anpa t edeng aling-aling lagi, art inya secara blak-blakan dia berkat a apa adanya.

"Sayang sekali sikapmu berbalik begit u, Hant u Laut ! P adahal aku baru mau usulkan pada ket ua unt uk mengangkat kamu menjadi pengawal pribadiku!"

"Aku t ak sudi! Mau apa kau?!" t ant ang Hant u Laut.

"Aku t erpaksa menyeret mu agar mendapat hukuman dari sang ket ua!"

"Mampukah nyawamu menyeret ragaku?!"

"Habis sudah kesabaranku, Hant u Laut! T erimalah pukulan maut ku ini, hiaaat ...!"

Gagak   Neraka melepaskan       pukulan                yang mengandung jarum-jarum hit am it u. Wusss...! Jarum- jarum hit am menyembur ke arah dada Hant u Laut. Tapi dengan kecepat an t inggi pula, Hant u Laut kibaskan t ombaknya miring ke samping, dan sinar biru keluar dari ujung t ombak it u. Clappp, clappp...!

Blarrr...! Sat u ledakan menghant am serombongan jarum hit am. Tapi sinar biru berikutnya menerabas kepulan asap ledakan it u. Hampir mengenai kepala Gagak Neraka. Unt ung Gagak Neraka terjengkang jat uh akibat ledakan it u, sehingga ia lolos dari sinar biru yang kedua.

Dari t empatnya berdiri, T abib Akhirat berseru, "Jauhi

dia! Jauh!"

Mendengar        seruan T abib Akhirat ,   Hant u Laut menduga siasat t arungnya sudah diket ahui oleh T abib Akhirat. Maka, sebelum Ga gak Neraka sempat menjauh, Hant u Laut segera melayang menerjang Gagak Neraka dengan tombaknya.

Sret t ...! T rangngng...!

Tombak it u dit ahan oleh senjat a Gagak Neraka yang berupa piringan bergerigi set engah lingkaran. Tapi piringan it u pecah dan bent uran kedua senjata it u menimbulkan ledakan, juga memancarkan cahaya merah

membara. Cahaya it u mengenai dada Ga gak Neraka, ia menjadi limbung dalam berdirinya. Seket ika it u pula Hant u Laut sent akkan t ombaknya ke depan dan sinar merah berkelok-kelok melesat dari ujung t ombak. T ak sempat dihindari oleh Gagak Neraka. Jrasss...!

"Aaahg...!"          Gagak   Neraka mendelik.            Mulut nya keluarkan asap dan lubang t elinga sert a hidung pun berasap. Gagak Neraka menggelepar-gelepar di pasir, bau hangus menyebar di udara. Lalu, Ga gak Neraka berhent i                menggelepar     ket ika   T abib    Akhirat mendekat inya mau menolong. Rupanya saat it ulah saat

t erakhir Gagak Neraka hembuskan napasnya, dan set elah it u t ak berkut ik lagi t anpa secuil nyawa pun.

"Kau benar-benar ket erlaluan, Hant u Laut ! Kau jahanam busuk! T emanmu sendiri kau bunuh sepert i ini!" geram Tabib Akhirat .

"Apakah kau mau menyusul nyawanya, Tabib

Akhirat?!"

"Kususulkan       nyawamu            lebih      dul u,     Bangsat ! Hiaaat...!"

T abib Akhirat kibaskan kapaknya yang bergagang panjang sambil melompat menyerang Hant u Laut . Wuttt ...! Kibasan it u memercikkan serbuk-serbuk hitam bert aburan. Hant u Laut cepat bersalt o ke belakang dua kali. Ia t ak berani hadapi serbuk it u, karena ia t ahu serbuk hit am it u racun yang amat berbahaya dan ganas.

T abib Akhirat t ak mau kasih kesempat an pada

lawannya unt uk menyerang, ia mendesak Hant u Laut dengan  t ebasan-t ebasan            kapaknya.           Set iap  kali

dibabat kan, kapak it u berbunyi, Wungngng...! Sambil keluarkan serbuk hit am. Hant u Laut melesat lompat ke belakang. T api T abib Akhirat mengejarnya t erus, hingga sat u saat , ia ayunkan kapaknya ke depan dari at as ke bawah, lalu melesat lah sinar kuning ke arah Hant u Laut ,

Seharusnya sinar kuning it u bisa dit angkis dengan sent akan t ombak miring yang keluarkan cahaya pet ir biru, at au dengan put arkan t ombak mengelilingi kepala yang keluarkan cahaya hijau. T api kesempatan it u t ak dimiliki Hant u Laut . Sinar Kuning it u hanya dihindari dan akhirnya menghant am gugusan bat u. Gugusan bat u pun pecah menimbulkan dent uman keras.

Blarrr...!

P ecahan bat u it u ada yang melesat mengenai kepala gundul Hant u Laut . P letakk...! Currr...! Darah mengucur keluar dari kepala Hant u Laut . Bahkan t ubuh Hant u Laut sempat berguling-guling di pasir akibat gelombang hent akan daya ledak tadi.

T iba-t iba T abib Akhirat menyerang dengan kapaknya yang diayunkan dari kanan ke kiri. Sasarannya adalah leher Hant u Laut yang saat it u sedang bergegas unt uk berdiri.

"Modar kau sekarang, Jahanam!" geram Tabib

Akhirat.

"Ayah...!"            panggil  Cempaka             Ungu     dari        arah belakang. Tabib Akhirat palingkan wajah mendengar seruan it u. Di sana ia melihat Cempaka Ungu berdiri di depan Rat u Pekat . T abib Akhirat t ersent ak dan cepat

t eringat t ent ang hubungan gelapnya dengan Rat u P ekat.

"Rat u P ekat , diakah bayi it u?!"

Dari jauh Rat u P ekat anggukkan kepala. Tabib Akhirat makin t erpukau, t erkesima dan t erharu melihat benihnya telah t umbuh sedewa sa it u. T abib Akhirat lupa akan lawannya. Cempaka Ungu berlari ingin memeluk T abib Akhirat. T api pada wakt u it u, Hant u Laut melihat bayangan Tabib Akhirat jat uh di at as gugusan cadas. Maka dengan cepat ia lemparkan t ombak it u ke cadas t ersebut . Wuttt ...!

"Jangaaan...!" t eriak Cempaka Ungu melihat apa yang dilakukan Hant u Laut . Maka dengan cepat Cempaka Ungu berkelebat menut up bayangan T abib Akhirat . T epat pada wakt u it u t ombak menancap di gugusan cadas. Jrubbb...!

"Aaahhg...!"

Cempaka mengejang memegangi perutnya. Rupanya t ombak it u menancap t epat di bayangan perut Cempaka Ungu. P erut pun menjadi bolong dan mengucurkan darah.

"Cempakaaaa...!" t eriak Rat u P ekat sambil melesat

t erbang menuju anaknya.

"Set an!" geram T abib Akhirat , karena ia sendiri t erluka di bagian pahanya. Rupanya saat bayangan Cempaka Ungu jat uh menut up bayangan T abib Akhirat , T abib sempat melompat ke at as karena t akut dilempar t ombak secara langsung oleh Hant u Laut. Bayangan perut Cempaka dan paha T abib Akhirat menjadi sat u, dan tert ancap T ombak Maut it u. Karenanya, selain Cempaka Ungu sendiri t ert usuk t ombak perut nya, T abib

Akhirat pun tert usuk t ombak pahanya. P aha it u berdarah dan menghit am.

Keringat banyak mengucur dari t ubuh T abib Akhirat , sement ara it u, Cempaka Ungu segera diba wa lari oleh Rat u P ekat ke ist ana. Di perjalanan, Cempaka Ungu berkat a,

"Ibu, aku t ak kuat lagi...!"

"Kuatkan anakku! Kuatkan! Ibu akan sembuhkan kamu dengan bat u Galih Bumi...!"

T api alangkah kecewanya Rat u P ekat, karena begit u t iba di ist ana, sebelum ia mengambil air yang akan dipakai merendam bat u Galih Bumi dan diminumkan kepada Cempaka Ungu, t ernyata gadis it u sudah menghembuskan napasnya yang t erakhir. Rat u P ekat t ak dapat bert eriak dan mengucap kat a apa pun. Tapi wajahnya menjadi merah dan nafsu unt uk membunuh Hant u Laut menjadi berkobar besar.

*

* *



9

RAT U P ekat segera kembali ke pant ai unt uk bikin perhit ungan dengan Hant u Laut. T ak ada gent ar sedikit pun pada diri Rat u P ekat . Mat i pun ia siap demi menebus kemat ian anaknya.

Di pant ai, t ernyat a T abib Akhirat merasa t ak sanggup bert ahan melawan Hant u Laut. Lukanya makin parah, ia harus sembuhkan lukanya lebih dul u, baru kembali menghadapi Hant u Laut. Karena it u, ia segera berlari

dengan cepat menuju perahunya, ia sempat berpapasan dengan Singo Bodong yang menurut dugaannya adalah Dadung Amuk.

"O, kau bersekongkol dengannya sekarang, Dadung

Amuk?!"

"Buk... bukan... bukan! Aku...!"

"T unggu pembalasanku!" kat a Tabib Akhirat dengan penuh dendam. Lalu, ia cepat melompat ke perahunya, ia sent akkan kedua t angannya set elah memasang layar, dan angin kencang keluar dari t angannya mendorong layar perahu it u unt uk bergerak cepat .

"Dadung Amuk! Kenapa t idak kau cegah dia t adi!" sent ak Hant u Laut kepada Singo Bodong. Yang disent ak hanya gelagapan t ak bisa menjawab.

"Bodoh amat ! Dia bisa menjadi sumber penyakit bagi kita nant inya!"

Singo Bodong berusaha menguasai kegugupan nya, dengan senyum kaku yang dipaksakan ia berkata, "Bib... bib... biarlah! Biar dia cerit akan kehebat anmu di depan Sil uman T ujuh Nyawa. Supaya... supaya Siluman T ujuh Nyawa punya perhit ungan tersendiri jika ingin melabrak kita!"

"O, begit u? Bagus kalau be git u maksudmu. T api...." T iba-t iba Hant u Laut t erpental bersama bunyi let usan keras.

Duarrr...!

Cambuk biru berkelebat menghantam t ubuh Hant u Laut . Unt ung yang t erkena pukulan cambuk it u adalah bagian ujung t ombak, sehingga ledakannya yang besar

hanya membuat Hant u Laut t erpent al dan berguling- guling. Singo Bodong pun t erkapar dalam jarak empat langkah dari t empat nya. Kepalanya t erasa pening akibat t erbent ur bat u.

T et api pada wakt u it u, P usaka Tombak Maut t erlepas

dari t angan Hant u Laut. T ombak it u jat uh di dekat Singo

Bodong. Cepat -cepat Hant u Laut bert eriak, "Dadung Amuk, cepat ambil tombak it u!"

Singo Bodong yang ket akut an segera mengambil

t ombak it u. Rat u P ekat merasa lega, tombak sudah ada di t angan Singo Bodong. T api sayangnya, ket ika Hant u Laut memint anya, Singo Bodong menyerahkan dengan segera karena perasaan t akut nya.

"Babi bodoh! Tombak it u diserahkan kembali pada si set an gundul! Dasar bodoh!" geram Rat u P ekat .

Kemudian Hant u Laut sengaja mendekat i Rat u P ekat

yang sudah siap melecutkan tombaknya lagi.

"Rat u P ekat , mengapa kau menyerangku, hah?!" "Karena kau t elah membunuh anakku!" bent ak Rat u

P ekat dengan murkanya.

"It u di luar kesadaranku! Aku t idak sengaja! Yang ingin kubunuh adalah T abib Akhirat ! Bukan Cempaka! It u kesalahan Cempaka sendiri, mengapa dia melindungi bayangan Tabib Akhirat !"

"Karena dia ingin melindungi nyawa ayahnya!"

bent ak Rat u P ekat .

Hant u Laut t erbengong sekejap. T api segera ia t ersent ak kaget karena t iba-t iba cahaya biru melesat dari kalung bat u Galih Bumi. Zuttt ...!

Mau t ak mau Hant u Laut segera menghadapi lepasnya sinar biru dari bat u Galih Bumi it u dengan sinar biru dari ujung t ombaknya. Blarrrr...!

Keduanya sama-sama t erpent al ke belakang. Lalu keduanya sama-sama bangkit kembali. Hant u Laut melompat lebih mendekat i Rat u P ekat hingga kini jaraknya hanya t ujuh langkah.

"Rat u P ekat , jangan paksa aku membunuhmu!"

"Kau      harus     kubunuh              jika         kau         t idak     mau membunuhku!"

"Bukankah kau sudah berjanji akan menjadi ist riku?

Jangan t akut , sebent ar lagi kapalku selesai diperbaiki, dan aku akan memburu t umbal raga P endekar Mabuk! Aku akan dat ang dengan membawa t umbal t anpa kepala, Rat u P ekat ! Jangan bermusuhan denganku!"

"Aku      sudah    t idak     but uh   t umbal lagi         unt uk

perkawinan kit a! Bukan t umbal P endekar Mabuk t anpa kepala yang kukehendaki sekarang, t api t umbal kepala bot akmu it u!"

"Rat u P ekat , sabarlah! Tahan nafsumu! Ini hanya

kesalahpahaman saja! Aku t idak bermaksud membunuh Cempaka! Aku... aku akan segera berangkat mencari t umbal t anpa kepala        dari raga P endekar Mabuk! Sekarang juga aku akan berangkat !"

"Aku t idak but uh t umbal lagi!" bent ak Rat u P ekat .

"Jika kau masih ingin mengawiniku, carilah t umbal kepalaku! P enggal kepalaku dan t anam di depan ist ana, lalu kawinlah dengan ragaku!"

"Rat u... dengarkan dulu kata-kataku...."

"Aku t ak but uh kat a-kat amu! Aku but uh nyawamu unt uk menggant ikan nyawa put riku! Hiaaat ...!"

Wusss...! T arrr...!

Cambuk melecut dengan pijar biru yang menyala- nyala it u. Hant u Laut t erpaksa kibaskan t ombaknya memutari kepala dan nyala sinar hijau mengelilinginya. Cambuk biru it u melecut berulang kali namun tak bisa menembus sinar hijau yang melingkari t ubuh Hant u Laut .

T ar t ar t ar t ar...!

Blarr blarr blarr blarrr...!

Rat u P ekat        benar-benar      mengamuk.        Cambukan mautnya membabi but a. Set iap ledakan akibat bent uran cambuk biru dengan sinar hijau it u membuat t ubuh Hant u Laut terdesak mundur sat u t indak.

Rat u P ekat kehabisan tenaga karena melecutkan

cambuknya dengan penuh pencurahan t enaga dalamnya, ia merasa perlu berhent i sebent ar. T api Hant u Laut masih put ar-put arkan tombaknya dan nyala sinar hijau masih mengelilingi t ubuhnya.

Di luar dugaan, sekelebat bayangan melesat dari arah belakang Hant u Laut , melompat i bagian at as kepalanya. Brusss...! Ada se suat u yang menyembur dari at as kepala Hant u Laut . Bayangan it u cepat mendaratkan sepasang kakinya di depan Hant u Laut. Jleggg...!

"Sut ooo...!" t eriak Rat u P ekat kegirangan.

Hant u Laut t ert egun melihat pemuda berbaju coklat t anpa      lengan  dan        mengenakan     celana   put ih.   Di punggungnya t ersandang bumbung bambu t empat t uak.

T angan Hant u Laut masih berput ar-put ar mengelilingi kepalanya.

"Oh, kau rupanya?! Aku ingat kit a pernah bert emu di P ulau      Kidung!"              kat a      Hant u   Laut .     Sut o      hanya sunggingkan senyum t ipis, lalu mengambil bum bung

t uak dan menenggaknya t iga t eguk.

"Mau apa kau kemari? Mau jadi t umbal t anpa kepala?!"

"T idak. Aku hanya ingin menahan kekejamanmu!"

"Majulah kalau kau berani! T ombak       ini akan menghant am kepalamu menjadi remuk!"

"T ombak yang mana?!" t anya P endekar Mabuk dengan senyum makin lebar.

Hant u Laut yang merasa masih memegang tombak dan diput ar-putarkan di kepalanya it u menjadi t ersent ak kaget set elah ia melihat ke t angannya, t ernyat a sudah

t idak memegang tombak lagi. Hant u Laut kebingungan memandang sekeliling dan berkat a,

"Mana t ombakku t adi? Lho... mana tombakku?!"

T erdengar suara t awa Dewa Racun yang ada di belakang Hant u Laut . Dewa Racun bahkan berkat a,

"Ap... ap... apa yang kau cari, Gundul? Un... un...

undur-undur at au kerang laut ?!"

"Diam    kau,       Bangsat!              Aku        mencari                tombak pusakaku!"

"T ak perlu dicar... car... cari! T ombakmu sudah musnah oleh ilmu 'Sembur Siluman' milik anak muda t ampan it u!"

Hant u Laut cepat palingkan wajah kepada Sut o.

"Mana t ombak pusakaku t adi, hah?!"

Sut o menjawab dengan t enang, "Sudah kumakan!" Hant u Laut menggeram, merasa panas hat inya karena

kehilangan senjat a yang menjadi andalan kekuat annya. "Dasar Anak Monyet!"

"Sut o, minggirlah! Biar aku yang menghadapi dia," kat a Rat u P ekat. "Akan kuhancurkan sekujur t ubuhnya unt uk membalas kemat ian Cempaka Ungu!"

"Apa...?! Jadi, Cempaka Ungu...?!" P endekar Mabuk

t erkejut dan menjadi tert egun beberapa kejap. Dewa Racun dan Badai Kelabu yang ikut bersama P endekar Mabuk dari P ulau Kolam Sabda De wa it u, saling pandang dengan dahi berkerut mendengar kemat ian Cempaka Ungu.

Kesempat an it u digunakan oleh Hant u Laut unt uk melarikan diri, karena ia sadar, t anpa tombak pusaka it u kekuat annya tak akan mampu menandingi Rat u P ekat . T et api ket ika Sut o mendengar seruan Badai Kelabu yang menyapa Hant u Laut ,

"Hai, mau lari ke mana kau?!"

Cepat-cepat Pendekar Mabuk kirimkan jurus 'Jari Gunt ur'-nya. Jarinya menyent il dan t enaga dalam yang keluar dari sent ilan it u mengenai bawah ket iak Hant u Laut . Tebbb...! Seket ika it u pula Hant u Laut diam t ak bergerak. T api ia masih sadarkan diri, dia masih bisa bicara dan bernapas dengan baik. Bahkan dia masih berusaha unt uk bergerak melangkah at au melompat . T api gerakan it u sia-sia. Ia t elah bert otok jalan darahnya dengan menggunakan jurus 'Jari Gunt ur'-nya P endekar

Mabuk.

"Sut o, lepaskan monyet gundul it u! Biarkan dia bert arung denganku supaya dendamku at as kemat ian Cempaka bisa t erbalaskan!" kat a Rat u P ekat .

"Nyai Rat u, membalas dendam kepada siapa pun it u

pekerjaan yang paling mudah. T api menahan diri unt uk t idak menjadi budak dendam, it u pekerjaan yang amat sulit ! T idak semua orang bisa. Nyai. Dan seseorang bisa menjadi hebat jika dia bisa mengalahkan dendam di dalam hat inya sendiri!"

"Aku t idak bisa!" Nyai Rat u P ekat hampir menangis.

"Nyai harus bisa! Kamu orang kuat, orang berilmu t inggi, dan orang hebat di P ulau Beliung ini! Mengapa t idak bisa kalahkan dendam sendiri? Nyai past i bisa kalahkan nafsu sendiri!"

"Aku t idak bisa!" t eriak Rat u P ekat sambil segera

melompat dan menerjang Hant u Laut dengan membabi but a. Dihant amnya Hant u Laut bert ubi-t ubi, dihajarnya habis-habisan orang berkepala gundul it u.

Karena dia t ak bisa bergerak apa-apa, maka ia hanya

bisa        bert eriak            meraung-raung                kesakit an.          Darah mengucur dari beberapa t empat t ubuhnya. Hant u Laut menjerit-jerit mint a t olong ent ah kepada siapa. Rat u P ekat menghajarnya dengan t angan kosong sambil memekik-mekik melampiaskan dendamnya.

Badai Kelabu mendekat i Sut o dan berkat a, "Hant u Laut akan mat i hancur di t angan Rat u P ekat ! Ini t ak adil, Sut o! Hant u Laut t ak bebas bergerak!"

"Biarkan               dulu Rat u P ekat puas melampiaskan

dendamnya. Kujaga dia a gar t ak sampai mat i!" kat a

P endekar Mabuk.

Set elah beberapa saat rat u menghajar habis Hant u Laut hingga t ubuh dan wajah Hant u Laut babak-belur, nyaris rusak semuanya, P endekar Mabuk pun segera serukan kat a,

"Cukup, Nyai!"

Sat u      sent akan            membuat            Rat u      P ekat   hent ikan serangan, lalu dia menangis dalam kelelahan dan curahan rasa duka, mengingat kemat ian put rinya yang t inggal sat u-sat unya it u.

P endekar Mabuk memandang kemunculan Singo Bodong, ia sempat t erkejut , karena Singo Bodong memakai pakaian dan membawa t ambang sepert i yang disandang Dadung Amuk. Dewa Racun pun sempat

t erkejut melihat nya. Tapi Singo Bodong segera berkat a,

"Aku disuruh Nyai Rat u pakai pakaian ini!"

Sut o dan Dewa Racun hembuskan napas kelegaan. Mereka t ahu, orang it u memang Singo Bodong. Lalu, Sut o perint ahkan Singo Bodong unt uk membawa pergi Rat u P ekat .

"Bawa Rat u ke ist ana! Badai Kelabu, bant u Singo

Bodong bawa rat u ke ist ana dan t enangkan dia!"

Rat u P ekat masih menangisi kemat ian Cempaka Ungu. Ia dibimbing pelan-pelan oleh Badai Kelabu, dikawal oleh Singo Bodong berpakaian Dadung Amuk. Sement ara it u, Hant u Laut sempat merat ap berseru,

"Dadung Amuk... tolong aku!"

"Aku bukan Dadung Amuk! Kalau aku Dadung

Amuk, kau t idak kubiarkan membawa P usaka T ombak Maut t adi!" kat a Singo Bodong. Kemudian ia t inggalkan Hant u Laut yang t erluka parah baik luar maupun dalamnya.

"Kaukah pendekar yang suka mabuk it u?!" t anya

Hant u Laut kepada Sut o, dan Sut o hanya mengangguk membenarkan.

"Kau memihak Rat u P ekat ?!"

"Kurasa it u lebih baik daripada aku memihakmu!"

"T api... t api dia ingin menjadikan kamu t umbal ist ana!"

"T idak mungkin!"

"Aku      yang...  yang      disuruhnya         memenggal kepalamu!"

"It u hanya siasat rat u saja! Karena kau t erlalu takabur dengan senjat a t ombak pusaka it u! Sekarang, t akaburlah kalau kau bisa t akabur! Sombonglah kalau kau bisa sombong!"

Hant u Laut t ak bisa bicara, ia sendiri heran, begit u cepat P endekar Mabuk ini membuat dirinya sama sekali t ak berkut ik. P adahal semula ia sangka dirinya akan menjadi orang yang sulit dikalahkan.

"Kalau aku mau membunuhmu dengan ilmuku, sekarang juga aku sudah bunuh kamu. Tapi it u t akabur!" kat a Sut o.                "Kalau   aku         mau sembuhkan              kamu, sekarangpun aku bisa sembuhkan kamu!"

"Kenapa kau t idak lakukan?!"

"Cobalah bert anya pada dirimu sendiri, apakah orang jahat sepert i kamu pant as mendapat penyembuhan?

Bukankah lebih baik kau menderit a luka-luka separah ini?"

Dewa Racun makin menggoda lagi, "Wah, een... enn... enaknya matanya yang lebar it u dicolok saja pakai pisau. P as... past i jerit annya akan melengking...!"

Sret ...! Dewa Racun mencabut salah sat u pisaunya. Hant u Laut ket akut an dan berseru,

"Jangan! Jangan...! Oh, kumohon jangan kau colok mat aku dengan pisau it u! Sakit sekali!"

"T ent u saja sak... sak... sakit ...! Tapi kala kau lukai orang lain, kau t idak memikirkan bahwa hal it u menyakitkan orang t ersebut !"

"Ampunilah aku...! Tolonglah aku! Aku t idak akan

bersikap sepert i yang sudah-sudah! Aku t elah sadar, bahwa ket inggian ilmu apa pun masih t et ap ada yang bisa mengalahkan dan mengunggulinya...! Tolonglah aku, P endekar Mabuk! Aku akan mengabdi padamu jika kau mau menolongku!"

"Aku t idak suka bert eman dengan orang keji," kat a

P endekar Mabuk.

"Ak... aku... aku t idak akan berbuat keji lagi! Aku... t obat !" Hant u Laut t undukkan kepala menahan sakit yang luar biasa di sekujur t ubuhnya. Wajah dukanya it u disembunyikan dengan penuh kepasrahan. Sut o melihat kepasrahan it u begit u t ulus, kemudian ia berkat a,

"Kuberi kau kesempat an unt uk memperbaiki t ingkah lakumu selama ini! Jika kau tak mampu perbaiki t ingkah lakumu, t erpaksa aku t ak mau peduli lagi dengan nyawamu!"

"Ba, ba, baaaik... baik! Beri aku kesempatan sat u kali ini!"

P endekar Mabuk pun melepaskan t ot okannya. T ab...! Brukk...! Hant u Laut rubuh dengan napas terengah- engah. T ubuh yang penuh luka it u t erkulai di atas pasir pant ai.

"Meng... mengapa kau lepaskan dia?" t anya Dewa

Racun.

"Pengampunan harus ada! Kesempat an bertobat harus diberikan           kepada orang yang telah              pasrah  akan hidupnya!"

"Bagaimana kalau t ernyat a dia t idak bertobat , t api semakin gila dari se... se... se... sekarang?!"

"Dia yang t anggung hukumannya! Entah dari mana hukuman it u datangnya! Yang jelas dari Dia, tapi melalui siapa, kit a t ak pernah t ahu, Dewa Racun!"

Kemudian Sut o menyuruh beberapa prajurit dan orang-orang yang mengerjakan perbaikan kapal it u unt uk menggotong Hant u Laut ke ist ana. Sut o dan Dewa Racun mengikut i dari belakang sambil Dewa Racun berkat a,

"Kita t er... t er... t erlambat dat ang. Tombak pusaka it u

sudah banyak merenggut korban nyawa di sini!" "It u pun bukan kehendak kit a, Dewa Racun!"

"Yyya... ya, memang bukan kehendak kita! T api,

bagaimana jika kit a t ak jadi berangkat ke P ulau Serindu malam ini? Apakah it u juga bukan kehendak kit a?"

"Kehendak kit a hanya sesuat u yang kit a usahakan dan bisa berhasil. It ulah kehendak yang diizinkan oleh Dia.

T api sesuat u yang di l uar bat as kemampuan kita adalah bukan                kehendak            kit a!      Hanya   Dia          yang                mampu melakukannya. Jika kit a malam ini gagal t ak jadi berangkat ke P ulau Serindu, it u karena pert imbangan lain dalam ot ak kit a! Kecuali jika memang ada halangan dat ang t iba-t iba, it u baru kehendak Dia yang menahan kita unt uk bersabar sement ara wakt u."

Dewa    Racun    manggut -manggut ,       lalu         bert anya, "Halangan apa misalnya, Sut o?"

"Kedat angan kapal Siluman T ujuh          Nyawa  dan pert arunganku dengan Sil uman T ujuh Nyawa, bisa menjadi penghalang langkah kit a!"

"Ap... apa... apakah kau t elah siap menghadapi

Sil uman T ujuh Nyawa...?!"

"Kapan pun aku selalu siap menundukkan kekejaman siapa pun!" jawab P endekar Mabuk dengan mant ap dan t egas. Dewa Racun menyukai ket egasan sepert i it u. Dia semakin bangga bert eman dengan Sut o. T api t iba-t iba t erlint as kecemasan dalam hat i Dewa Racun yang segera berkat a kepada Sut o,

"Sut o, bag... bagaimana dengan Singo Bodong t adi?" "Apa maksudmu?"

"Benarkah dia... dia Singo Bodong? Apakah bukan

Dadung Amuk?"

"Bukankah kat a dia Nyai Rat u yang menyuruhnya berpakaian sepert i Dadung Amuk, yang t ent u saja punya t ujuan unt uk mengecohkan Hant u Laut t adi?"

"Ya, memmm... memm... memang. T api, bagaimana kalau t ernyat a Dadung Amuk memang hadir di pulau ini,

dan dia menget ahui penyamaran Singo Bodong, lalu Singo Bodong dibunuh, sedangkan dia t ampil sebagai Singo Bodong yang berpura-pura menjadi Dadung Amuk?"

Sut o diam sebent ar, kemudian menggumam lirih,

"Iya. Kalau t ernyat a it u t adi Dadung Amuk asli, bagaimana nasib Rat u P ekat yang kusuruh membawanya ke istana?! Kalau begit u... kalau begit u kit a susul mereka cepat -cepat ke ist ana!"

P endekar Mabuk melesat lebih dulu ba gaikan anak panah,        lalu         Dewa    Racun    mengikut inya   dengan gerakannya yang lincah walau t ubuhnya kerdil dan langkahnya pendek. P endekar Mabuk diliput i kecemasan hingga tak menghiraukan lagi diri Dewa Racun yang t ert inggal di belakangnya.

SELESAI