--> -->

Serial Pendekar Mabuk 13-Prahara Pulau Mayat

Suto Sinting
-------------------------------
----------------------------

Baca Cersil Indonesia Online: Serial Pendekar Mabuk 13-Prahara Pulau Mayat
ANGIN berbau busuk menyebar sejauh seratus langkah dari pantai. Badai laut yang mengamuk nyaris menggulingkan perahu berlayar satu. Suto Sinting ada di atas perahu itu bersama Dewa Racun dan Hantu Laut. Arah perjalanan adalah Pulau Serindu, di mana terdapat sebuah istana yang dipimpin oleh seorang ratu cantik impian Pendekar Mabuk, yaitu Dyah Sariningrum, yang dijuluki sebagai Gusti Mahkota Sejati.

Suto dan Dewa Racun sepakat untuk tidak menentang amukan badai. Mereka tak mau perahunya pecah lagi seperti dalam peristiwa Istana Berdarah. Karena itu, langkah yang diambil oleh mereka adalah mengarahkan

perahu ke pantai pulau berbau busuk itu.

"Kita mendarat!" seru Pendekar Mabuk kepada Hantu Laut yang pegang kemudi di haluan. Tapi karena Hantu Laut yang berkepala gundul dan bertubuh besar tanpa mau memakai baju itu telinganya rada tuli, maka ia pun segera menyahut,

"Siapa yang mau kirim surat?!"

"Kita mendaraaat....!" teriak Pendekar Mabuk dari bawah tiang layar.

"O, mendarat?! Baik!"

Suto segera turunkan layar perahu, ia berseru lagi kepada Hantu Laut,

"Hati-hati, ada karang di depan!" "Apa? Ada kerang delapan?!" "Ada karang di depaaaan...!"

"O, ada karang? Iya! Aku belum buta! Menurutmu di mana letak karang itu? Di depan atau di belakang kita?" seru Hantu Laut. Pendekar Mabuk kesal hati dan tidak menyahut lagi.

Langit gelap karena mendung. Kilat menembus gumpalan hitam itu lalu menggelegar di langit bagai ingin turunkan hujan badai. Melihat cuaca murka begitu, Dewa Racun cepat berseru kepada Pendekar Mabuk dan Hantu Laut yang habis menambatkan perahunya,

"Aku tahu, ddiiis... diiis... di sana ada gua! Kita berteduh di sana sebeeell... sebelll... sebelll...."

"Kenapa sebel?" sentak Hantu Laut mengimbangi suara badai.

"Maksudku, sebel... sebelum! Sebelum hujan turun

dengan deras, kita sudah dapat tempat berteduh lebih dulu!"

Dewa Racun, si kerdil berpakaian putih bulu dengan

panah di punggung dan dua pisau di kanan kiri pinggangnya itu, memang punya penyakit gagap dalam bicaranya. Tapi jika mulutnya sudah terkena aroma ikan bakar, penyakit gagap itu menjadi hilang dan ia bisa bicara dengan lancar. Apabila aroma ikan bakar habis dari mulutnya, penyakit gagap itu kambuh lagi, dan baru akan ucapkan kata benar jika ada yang membentaknya.

Mereka cepat berkelebat ke arah sebuah gua di tebing karang. Mulut gua tak seberapa besar, cukup untuk masuk dua orang. Atap gua pun kelihatannya tak terlalu tinggi, lebih separo tombak dari tinggi tubuh Pendekar Mabuk. Tapi agaknya tempat itu merupakan pilihan yang terbaik daripada harus membiarkan diri diguyur hujan yang sudah pasti disertai angin badai cukup besar.

Tetapi Dewa Racun yang berjalan lebih dulu itu tiba- tiba menghentikan langkahnya ketika mendekati mulut gua. Ia sedikit terkejut dengan munculnya seorang berambut panjang                acak-acakan,      berpakaian         hitam, berwajah kurus dengan kedua bola matanya yang putih. Mulanya Dewa Racun dan yang lainnya menduga orang itu buta. Tapi ketika orang itu sentakkan kaki dan dapat melompat cepat ke atas sebuah gugusan batu di samping gua, Dewa Racun dan yang lainnya yakin bahwa orang itu tidak buta. Hanya bola matanya saja yang putih semua, tidak mempunyai manik mata berwarna hitam.

"Cob... cob... cobalah bicara dengan orang itu," kata

Dewa Racun kepada Hantu Laut. "Katakan kita mau num... num... num...."

"Numbuk padi?!"

"Bukan! Mau num... numpang meneduh di gua itu. Bukan mau mengganggu dia!"

"Kau sendiri saja yang bicara dengannya!"

"Dia hanya akan kebingungan mendengarkan om... om... omonganku! Kau saja yang bicaranya lancar!"

Pendekar Mabuk tertawa pendek, Dewa Racun cemberut sambil melirik Pendekar Mabuk. Kemudian Pendekar Mabuk mendukung perintah Dewa Racun kepada Hantu Laut, sehingga orang berperut buncit dan hanya memakai celana hitam itu segera mendekati orang bermata putih itu, lalu ia serukan kata,

"Kami hanya ingin menumpang sesaat di dalam gua itu! Kami      bukan ingin berbuat jahat kepadamu! Bolehkah kami masuk. Sobat?!"

"Ggrrr...!"            orang    itu justru              mengerang         dengan memperlihatkan giginya yang tidak rata tumbuhnya itu. Mata putihnya melebar.

Hantu Laut mundur beberapa tindak. Tiba-tiba punggungnya digebuk keras oleh Dewa Racun yang bersungut-sungut.

"Jang... jang... jangan injak kakiku, Goblok!"

Dewa Racun cepat menggeserkan diri setelah Hantu Laut mengangkat kakinya. Kemudian Hantu Laut bicara kepada Dewa Racun.

"Dia malahan mengerang seperti singa lapar!" "Bicaramu kurang sop... sop... sopan!"

Suto Sinting cepat berkata pelan bagai berbisik kepada mereka berdua, "Jangan dekati orang itu."

"Kenapa?" tanya Hantu Laut mulai penasaran, karena

Suto bicara sambil matanya memandang curiga pada orang bermata putih itu.

"Dia berbahaya!" kata Pendekar Mabuk pelan. "Apanya yang bercahaya?" tanya Hantu Laut salah

dengar.

"Dia berbahaya, Budek!" Pendekar Mabuk jengkel sendiri. Hantu Laut hanya tertegun bengong setelah tahu maksud kata-kata Suto Sinting.

"Aaak... ak... aku juga curiga," tambah Dewa Racun. "Sebaiknya kita tinggalkan saja tempat ini!" usul

Pendekar Mabuk.

"Tap... tapi sebentar lagi hujan turun! Kit... kita tidak punya tempat bernaung untuk meneduh dan... dan... dan...."

Dewa Racun belum selesai ucapkan kata, tiba-tiba orang bermata putih itu melompat dari tempatnya, melayang bagaikan terbang dan menerkam punggung Hantu Laut. Wuss...!

"Awas!" sentak Suto seketika. Hantu Laut palingkan wajah, dan cepat menendangkan kakinya ke belakang. Bukk...! Tendangan kaki itu cukup keras. Mestinya orang bermata putih itu mental setidaknya empat langkah. Tapi ia hanya jatuh di tempat. Seolah-olah gerakannya hanya tertahan oleh kaki Hantu Laut.

Begitu   jatuh,    orang    bermata               putih     itu           cepat mencakarkan tangannya ke betis Hantu Laut. Wuttt..!

Crass...! Hantu Laut terpekik kecil sambil melompat. Lompatan yang terlambat itu membuat betisnya tergores luka. Rupanya orang bermata putih itu mempunyai kuku tangan yang sedikit runcing dan tajam, walau tidak terhitung panjang.

Pendekar Mabuk segera kibaskan kaki kanannya ke samping      depan.  Plokk...!               Tendangan         kosong itu mengenai wajah orang bermata putih. Kali ini orang itu terjungkal ke belakang, berguling dua kali, lalu bangkit lagi dengan badan rendah dan satu kaki berlutut di tanah. Wajahnya semakin tampak buas dengan mata putihnya yang melebar dan mulutnya menyeringai keluarkan suara aneh.

"Grrrr...!" seperti seekor kucing yang siap menerkam mangsanya.

"Mundur!" seru Pendekar Mabuk kepada kedua

temannya. Tapi Dewa Racun terlambat bergerak. Orang bermata putih itu sudah lebih dulu melompat dari bawah ke                atas,      menerkam          Dewa Racun       dengan kedua tangannya mengembang ke samping depan. Wuttt...!

Brasss. .! Orang kerdil itu cepat sentakkan kedua tangannya        ke           depan.  Belum   sempat tangan  itu menyentuh tubuh penyerangnya, orang bermata putih itu telah terpelanting ke belakang dan terlempar tiga langkah dari tempatnya semula.

Kalau saja Dewa Racun tidak sentakkan pukulan tenaga dalamnya, sudah pasti ia akan diterkam manusia aneh itu. Hanya saja, Dewa Racun merasa heran. Pukulannya tadi sering dipakai menyerang lawan yang

ingin membokongnya, biasanya lawan itu pasti jatuh sambil keluarkan darah dari mulut atau hidungnya. Tapi orang bermata putih itu tidak mengeluarkan darah sedikit pun.

"Tinggi juga ilmu orang ini?" pikir Dewa Racun, ia masih siap menghadapi serangan lawannya dengan tetap berdiri pasang kuda-kuda. Namun Suto berseru,

"Cepat mundur, tinggalkan dia!"

Tapi Dewa Racun menjawab, "Bbbi... biar kuhadapi dulu dia! Aku ingin tahu seberapa kekuatannya, sehingga ia tidak memuntahkan darah walau telah terkena ssse... see... seee...."

"Sesuap nasi?"

"Seranganku!" sentak Dewa Racun.

Pendekar Mabuk tak mau kecewakan Dewa Racun penjemputnya itu. Ia pun segera mengundurkan diri, dan memberi kesempatan kepada si kerdil yang kepalanya botak bagian tengah, hanya bagian tepian kepala saja yang ditumbuhi rambut itu.

Sebelum Dewa Racun bergerak, Pendekar Mabuk telah lebih dulu menenggak tuaknya yang diambil dari bumbung tuak. Bumbung itu selalu ada di punggungnya dan selalu siap dengan cukup banyak tuak. Bumbung itu pula satu-satunya benda yang ada di tubuh Pendekar Mabuk dan bisa digunakan sebagai senjata untuk menangkis serangan lawan.

Kalau saja Dewa Racun tidak berniat mencoba kehebatan orang bermata putih itu, Pendekar Mabuk akan           segera                menggunakan   bumbung            itu untuk

menggebuk orang tersebut. Tapi agaknya Dewa Racun ingin tunjukkan kebolehannya di depan Pendekar Mabuk. Karenanya, Suto Sinting, si Pendekar Mabuk itu, membiarkan diri terhadap apa yang ingin dilakukan oleh Dewa Racun.

Orang bermata putih itu mengerang dengan suara serak, mulutnya menyeringai. Menyeramkan dilihat mata orang sehat. Dan tiba-tiba tangannya berkelebat mencakar-cakar di udara. Wukkk... wukkk!

Dewa Racun merasakan ada angin hendak menampar wajahnya. Karena itu, cepat-cepat ia sentakkan kaki dan melompat mundur ke belakang, ia agak terkejut saat itu, sehingga berkata kepada Suto walau tanpa memandang orang yang diajaknya bicara.

"Dia punya gerak bayangan! Hammm... ham... hammm... hampir saja aku tercakar olehnya!"

"Sudah kubilang, orang itu berbahaya tapi kau masih nekat ingin mencoba kekuatannya!" kata Suto dengan tenang dan tetap memandangi pertarungan antara Dewa Racun dengan orang bermata putih itu.

Dewa Racun segera sentakkan kakinya ke tanah dan tubuhnya terpental naik ke atas sambil ia sentakkan tangannya yang juga membentuk cakar. Sentakan tangan itu menghasilkan satu pukulan tenaga dalam jarak jauh yang menghantam tubuh orang bermata putih. Tapi sebelum pukulan itu mengenai sasaran, orang bermata putih itu melompatkan diri ke samping, kemudian balas menyerang dengan sentakan tangan bercakar ke atas. Waktu itu Dewa Racun masih melayang, sehingga

tubuhnya terpental akibat terkena pukulan jarak jauh orang bermata putih itu.

Behgg...! Dewa Racun jatuh ke tanah berpasir.

Melihat si kerdil jatuh, orang bermata putih segera melompat dan menerkam tubuh lawannya. Tetapi Dewa Racun cepat pula menggulingkan badan dua kali ke samping.

Bruss...! Terkaman orang bermata putih menabrak tanah             berpasir.              Asap      mengepul           hitam.   Rupanya terkamannya itu mengandung kekuatan tenaga dalam yang cukup berbahaya jika mengenai Dewa Racun. Pasir yang tertindih tubuhnya menjadi hitam bagai habis terbakar.

"Orang  ini           tidak      main-main!         Dia          ingin membunuhku!" kata Dewa Racun dalam hatinya. Cepat- cepat Dewa Racun mengambil jarak menjauh. Orang itu bangkit dan tengokkan kepala ke arah Dewa Racun. Dengan cepat ia melompat dan bersalto di udara satu kali. Wusss...!

Dewa Racun cepat mengambil pisaunya yang kanan, lalu tangannya bergerak mengibas cepat. Wuttt...! Crasss...! Tangan orang bermata putih itu terpotong oleh pisau pada bagian pergelangan tangannya. Pergelangan tangan itu jatuh ke tanah, sedangkan pemiliknya masih tetap membelalakkan mata dengan liar dan buas.

Dewa Racun segera melompat ke arah lain dua kali sentakan kaki. Ia memandang heran kepada lawannya. Tangan yang terpotong itu tidak mengeluarkan darah sedikit pun. Dan yang lebih heran lagi, telapak tangan

yang terpotong itu bergerak sendiri, berjalan menyusuri pasir pantai, lalu tahu-tahu melesat cepat ke arah Dewa Racun.

Wussst...!

Tangan itu bergerak mencakar wajah Dewa Racun. Dengan cepat Dewa Racun gulingkan badan ke tanah, sehingga cakaran itu tidak mengenai kepala maupun wajahnya. Wesss...! Cakaran itu lewat di atas kepala Dewa Racun. Menancap kuat ke sebatang pohon kelapa yang berada tujuh langkah dari tempat Dewa Racun berdiri.

Cepat-cepat Pendekar Mabuk melepaskan pukulan dari telapak tangannya. Pukulan itu mengeluarkan sinar hijau yang melesat cepat dan menghantam potongan tangan yang menancap di pohon kelapa. Tarr...! Bunyi letusan kecil timbul dari hantaman sinar hijau, dan potongan telapak tangan orang bermata putih itu menjadi pecah berbentuk serpihan-serpihan daging dan tulang yang menyebar ke mana-mana.

Itulah yang dinamakan jurus 'Pecah Raga' pemberian gurunya si Gila Tuak. Pendekar Mabuk terpaksa melakukan hal itu karena ia tahu bahaya yang akan timbul jika pertarungan coba-coba itu diperpanjang. Bahkan kali ini ia pun kembali sentakkan pukulan 'Pecah Raga' kepada orang bermata putih itu. Orang tersebut sepertinya melihat gerakan sinar hijau dan harus segera dihindari. Tapi ia terlambat. Sinar hijau dari telapak tangan Pendekar Mabuk telah lebih cepat mendahului gerakannya, menghantam dada dengan telak. Tarrr...!

Orang bermata putih itu pecah dengan serpihan tubuhnya menjadi kecil-kecil dan menyebar ke mana- mana. Sebagian ada yang tersangkut di rambut kepala Dewa Racun, hingga si kerdil itu mengibas-ngibaskan kepalanya.

Dewa Racun agak kecewa, ia bersungut-sungut dan berkata,

"Mengapa kau yyya... yyyang selesaikan? Kau pikir aaak... aaku tidak sanggup kalahkan orang itu?!"

"Aku percaya kau sanggup kalahkan dia kalau kau gunakan jurus-jurus andalanmu! Tapi dia tidak bisa kau buat main-main dan coba-coba. Semakin kau potong lagi telapak tangannya yang satu, itu sama saja dengan timbulkan musuh baru!"

"Aaap... aaap... apa maksudmu?"

"Setiap potongan            tubuhnya            bisa        bergerak menyerangmu! Agaknya orang itu punya ilmu istimewa, di mana setiap anggota tubuhnya mempunyai kekuatan sendiri, yang bisa menyerangmu dari berbagai arah. Itu sama saja kau memperbanyak musuh! Dan, tidakkah kau perhatikan bahwa dia tidak mempunyai darah?"

"Iiy... iya...! Aku tahu dia tidak keluarkan darah. Tap... tapi... tapi kenapa dia begitu, aku tidak tahu!"

"Orang itu bukan manusia!' jawab Suto Sinting segera mengambil bumbung tuak dan menenggaknya beberapa teguk.

Dewa Racun kerutkan dahi dan ajukan tanya, "Lalu, jika bukan manusia, dia iiitu... apa?"

"Mayat!" jawab Pendekar Mabuk sambil sunggingkan

senyum kalem.

"Mayat...?!" gumam Dewa Racun seperti bicara pada dirinya sendiri. "Mmma... maaa... mayat bagaimana?"

"Entah. Tapi yang jelas dia mayat yang bisa menyerang dan punya ilmu tinggi semasa hidupnya!"

Dewa Racun masih kurang yakin dengan penjelasan Suto.            Ia            menepiskan tangan        ke           depan, berusaha melupakan kata-kata Suto. Lalu, ia tersentak melihat Hantu Laut ternyata sejak tadi terkapar di bawah sebuah pohon kelapa lengkung.

"Lih... lih... lihat Hantu Laut itu! Kenapa dia?!"

Hantu Laut yang gundul mengkilap itu berwajah pucat, ia menyeringai menahan rasa sakit, hingga tak bisa           keluarkan                suara.    Luka       cakar     di betisnya menimbulkan keanehan bagi Dewa Racun dan Pendekar Mabuk.

Luka itu terdiri dari empat goresan yang saling berdekatan. Karena memang cuma empat kuku orang bermata putih yang sempat mencakar betis besar Hantu Laut. Luka itu kini membusuk hitam dan keluarkan belatung berjumlah banyak. Bahkan ada yang berjatuhan di tanah, di bawah kaki berbetis besar itu. Baunya amis darah, tapi wujudnya menjijikkan sekali.

"Kuku ooor... orr... orang itu punya racun yang bernama Racun Cakar Kubur! Sekali orang kena racun ini, tubuhnya akan cepat keluarkan belatung dan membusuk di bagian lukanya!" kata Dewa Racun.

"Sssaaaa... sssaakiiit...!" ucap Hantu Laut dengan susah payah. Wajah pucatnya keluarkan keringat dingin.

Dewa Racun cepat-cepat menekan telapak kaki Hantu Laut memakai tangan kanannya. Kemudian ia pejamkan mata dan tangan kirinya bergerak dari atas ke bawah, pelan-pelan, bagai kumpulan hawa murni dan disalurkan lewat tangan yang di telapak kaki Hantu Laut.

Belatung-belatung itu berloncatan dari luka, bagaikan mendapat sentakan dari dalam. Makin lama makin banyak yang keluar dari luka dan berjatuhan di tanah. Yang sudah jatuh di tanah itu, tiba-tiba lenyap bagaikan asap tersapu angin. Sampai akhirnya semua belatung habis terlepas dari luka betis dan lenyap setelah sesaat berada              di            tanah.   Tapi                luka        itu           tetap     terkoyak mencucurkan darah segar.

Dewa Racun menghembuskan napasnya, setelah selesaikan pengobatan menawarkan Racun Cakar Kubur. Kemudian ia berkata kepada Suto.

"Akk... ak... aku sudah keluarkan racunnya, tinggal sembuhkan lukanya. Ini pekerjaanmu!"

Pendekar Mabuk hanya tersenyum. Kemudian suruh Hantu Laut menenggak tuaknya beberapa teguk. Hantu Laut menurut, dan pucat wajahnya menyusut.

Gua yang ada di belakang mereka antara jarak tiga puluh langkah itu dipandangi oleh mereka. Pendekar Mabuk ucapkan kata seperti bicara pada dirinya sendiri.

"Berapa banyak mayat hidup yang bersembunyi di gua itu?!"

"Ap... apakah kau yakin di dalam gua itu ada banyak mayat berilmu tinggi seperti orang tadi?"

"Aku hanya khawatirkan hal itu. Aku sendiri tidak

tahu-menahu tentang pulau ini. Kau lebih tahu tentunya, karena kau bilang tadi di perahu, jika sudah mencium bau busuk, itu pertanda sudah dekat dengan pulau tempat tinggalmu?"

"Memang. Aaak... aku tahu tentang pulau ini, tapi tak banyak! Yang kutahu, dulu pulau ini punya banyak penghuni. Namun kurang lebih empat tahun yang lalu, penduduk pulau ini habis bagai disapu badai."

"Kenapa?"

"Kaar... kaaar... karena penduduk pulau ini dibantai oleh Siluman Tujuh Nyawa. Habis semua orang- orangnya, dan mayatnya dibiarkan membusuk, tak ada yang menguburkan mayat sebegitu banyak!"

"Mengapa Siluman Tujuh Nyawa menyerang pulau ini?"

"Kaar... karena penguasa pulau ini tidak mau tunduk

kepada perintah Siluman Tujuh Nyawa."

"Betul," jawab Hantu Laut yang sudah mulai reda rasa sakitnya. Sebagai bekas anggota Kapal Siluman dan bekas anak buah Siluman Tujuh Nyawa, Hantu Laut merasa lebih tahu banyak tentang penyerangan ke pulau itu. Karenanya ia cepat tambahkan keterangan.

"Dulu, aku ikut juga dalam pembantaian di pulau ini. Tapi aku hanya sebagai penjaga kapal, tidak turun ke darat dan ikut membantai. Aku hanya sebagai penonton kekejaman itu. Mayat-mayat bergelimpangan di mana- mana, darah pun membanjir di pulau ini. Dalam waktu satu hari penuh, penduduk pulau ini habis dibantai. Menjelang tengah malam baru kami tinggalkan pulau

ini, yang kalau tak salah dulu bernama Pulau Sumang!" Dewa Racun kembali berkata, "Mayat-mayat itu

membusuk, dan pulau ini mennnn... mennn... menjadi...

menjadi kuburan besar. Kebusukan mayat-mayat itu menyerap ke tanah, dan sampai sekarang masih menyebarkan bau busuk, sehingga pulau ini disebut Pulau Mayat."

"Dulu," sambung Hantu Laut lagi, "Di pulau ini terdapat banyak tulang manusia, berserakan di sana-sini. Tapi sekitar dua tahun yang lalu, pulau ini disapu segelombang badai lautan. Walau tak sampai rusak total, tapi tulang-tulang itu tersapu habis dari pulau ini. Sekarang..., ternyata              pulau     ini           masih    tetap     saja mengeluarkan bau busuk dari resapan air dan tanahnya."

"Siapa   penguasa            pulau     ini?         Apakah dia          ikut terbantai?"

"Tidak," jawab Hantu Luat. "Penguasa pulau ini berhasil meloloskan diri entah ke mana. Orang itu dikenal dengan nama Ki Gendeng Sekarat! Sampai sekarang Siluman Tujuh Nyawa masih mengincar pulau ini, dan masih berharap bisa membunuh Ki Gendeng Sekarat."

"Mengapa sedendam itu Siluman Tujuh Nyawa kepada Ki Gendeng Sekarat?"

"Karena, tiga perempuan simpanan Siluman Tujuh

Nyawa dibunuh oleh Ki Gendeng Sekarat. Siluman Tujuh              Nyawa  murka   melihat tiga         perempuan simpanannya mati di tangan Ki Gendeng Sekarat, karenanya Ki Gendeng Sekarat tetap berada dalam

incaran Siluman Tujuh Nyawa sampai kapan pun!" "Hmmm...,"  Pendekar            Mabuk  manggut-manggut

mendengar kisah itu.

*

* *



2

JIKA semua penduduk dibantai habis, dan Ki Gendeng Sekarat menghilang, lalu siapa mayat orang bermata putih yang menyerang Hantu Laut dan Dewa Racun itu? Apakah dia mayat Ki Gendeng Sekarat yang berilmu tinggi itu? Karena, ternyata setelah diperiksa gua itu hanya berisi satu orang aneh tadi. Gua itu kosong dan mempunyai lorong yang pendek. Gua itu aman sebagai tempat berteduh untuk sementara waktu, karena hujan pun mulai turun dalam gerimis.

Menurut              ceritanya,            Dewa    Racun    dulu       pernah terdampar di pulau itu, yang dulu masih bernama Pulau Sumang. Ia pernah beristirahat di gua tersebut bersama lima prajurit Puri Gerbang Surgawi. Peristiwanya hampir sama dengan saat sekarang, yaitu angin badai mengamuk di lautan, perahu mereka hampir terbalik, lalu mereka mendarat di pulau itu dan beristirahat di gua tersebut.

Tetapi menurut ingatan Dewa Racun, gua yang dihuninya sekarang itu belum sesempit sekarang. Dulu gua itu mempunyai lorong panjang yang gelap. Dewa Racun tak berani menyelidiki kedalaman gua dan

lorongnya, karena lorong itu sering timbulkan suara menyeramkan, seperti suara semburan seekor ular raksasa atau naga. Karenanya, ketika badai mulai reda, Dewa Racun dan kelima prajuritnya itu cepat-cepat meninggalkan gua tersebut.

Sekarang gua itu tidak mempunyai lorong, dan Dewa Racun merasa heran. Lalu timbul pertanyaan dalam batinnya, apa yang terjadi di dalam gua itu setelah ia tinggalkan dulu? Mungkinkah gua itu runtuh dan lorongnya tertutup? Atau sengaja ada orang yang menutup lorongnya agar suara aneh yang mungkin seekor naga itu tidak keluar dari gua dan memakan korban?

Dewa Racun terus memikirkan hal itu, sampai- sampai ia tak sadar telah tertidur pulas. Hantu Laut juga tertidur karena                memang              Pendekar Mabuk             yang menyuruhnya, agar lukanya cepat kering dan sembuh. Tetapi, di luar dugaan mereka, Suto Sinting pun tidur pulas dengan memeluk bumbung tuaknya.

Ketika Dewa Racun terbangun, ia tersentak kaget karena keadaan di dalam gua cukup gelap. Kian terkejut lagi dirinya setelah menyadari bahwa mulut gua tertutup oleh batu besar yang sulit sekali didorong dengan tenaga kasar. Bahkan dengan kekuatan tenaga dalam batu itu tidak bergeser sedikit pun dari mulut gua.

"Ssssu... Sutoo...!" seru Dewa Racun membangunkan Pendekar Mabuk. Suara Dewa Racun bukan hanya membuat Suto Sinting bangun, melainkan Hantu Laut pun terlonjak bangun. Mereka sama-sama tergeragap dan

terkejut mendapatkan gua dalam suasana gelap. Hanya ada celah kecil dari pintu gua yang tertutup, dan celah itu yang membuat bias matahari masuk ke dalam gua.

"Apa yang terjadi, Dewa Racun?"

"Pin... pin... pintu gua tertutup batu besar! Aku tak sanggup mendorongnya!"

Hantu Laut cepat ucapkan kata tegang, "Siapa yang

menutup pintu gua ini?! Siapa...?!" "Ak... aku... aku tidak tahu!"

Lalu, terdengar suara Pendekar Mabuk berseru tegang pula. "Hei...? Di mana bumbung tuakku?"

"Hahh...?!" Dewa Racun kaget. Dalam bias cahaya

kecil itu mereka mencoba mencari bumbung tuak Pendekar       Mabuk,                tapi        tidak      ada         yang      berhasil menemukannya.

"Bumbung tuakku hilang!" geram Pendekar Mabuk. "Celaka...! Pasti ada orang yang mencurinya dan

orang itulah yang menutup pintu gua dengan batu besar itu!" kata Hantu Laut.

"Berarti kita tidur pun karena dorongan suatu tenaga batin yang membuat kita jadi sama-sama tertidur dengan nyenyaknya!" ucap Suto bagaikan bicara pada dirinya sendiri.

"Baag... bag... bagaimana kita keluar dari sini? Tak ada jalan lain untuk bisa keluar selain melalui pintu itu!"

Hantu Laut segera mencoba kerahkan tenaganya untuk mendorong batu besar tersebut. Tapi sampai ia kerahkan tenaga dalamnya pintu batu besar itu belum juga bisa bergeser sedikit pun. Pendekar Mabuk

mencoba mendorong dengan kekuatan tenaga dalam yang ada, tapi batu itu juga tidak bergeming. Batu tersebut sepertinya pucuk dari sebuah gunung yang muncul ke permukaan bumi. Ketiga orang itu sama-sama kerahkan tenaga dalamnya untuk mendorong batu penutup itu, namun tak ada yang sanggup berulang- ulang, karena batu itu tetap tidak bergeming sedikit pun.

"Tak       ada         cara        lain         kecuali  dengan menghancurkannya," kata Suto. Lalu, Dewa Racun maju dan berkata,

"Bbbiar... biar kucoba menghancurkannya!"

Dewa Racun segera sentakkan tangannya ke depan hingga mengeluarkan cahaya merah. Zrrubb...! Sinar merah menghantam batu itu, tapi batu tetap utuh. Lalu, ia gunakan jurus pelebur lainnya, dan ternyata belum juga membuat batu menjadi hancur.

"Bat... bat... batu setan!" umpatnya dengan jengkel. Hantu Laut segera mengambil alih tugas itu. Segala

macam pukulan tenaga dalam milik orang berkepala gundul licin itu ternyata juga tidak mampu memecahkan batu tersebut. Bahkan Hantu Laut sampai mencucurkan keringat di sekujur tubuh, juga menggunakan senjata yoyonya yang bisa keluarkan pukulan tenaga dalam penghancur, tapi batu itu tetap kokoh menutup mulut gua.

"Itu batu atau baja?!" geramnya jengkel sendiri.

Dewa Racun penasaran. Kini ia menggunakan senjata panah berkekuatan tinggi. Pohon dan dinding bisa hancur terkena panah yang ekornya berbulu ungu itu.

Tapi toh nyatanya batu tetap utuh.

"Ter... ter... terpaksa kugunakan jurus 'Halilintar Racun Bumi'!" gumam Dewa Racun. Kemudian ia rentangkan kedua tangannya ke samping, kaki merapat dan tangan kepulkan asap kuning. Setelah kedua tangan ditarik ke samping dada, lalu keduanya dihentakkan ke depan dengan satu sentakan bertenaga tinggi, hingga mulutnya keluarkan pekik.

"Heeaah...!" Blarrr...!

Sinar kuning bergulung-gulung bagaikan spiral itu menghantam batu penutup mulut gua. Ledakan dahsyat terjadi, menimbulkan gelombang angin kuat. Mereka bertiga terpental sampai membentur dinding belakang gua. Tapi ternyata hanya itu yang bisa mereka peroleh, rasa sakit akibat benturan batu dinding gua dengan tubuh mereka. Sedangkan batu penutup mulut gua itu masih tetap utuh tanpa lecet sedikit pun. Bergeser seujung rambut pun tidak.

"Ak... ak... aku menyerah," katanya kepada Pendekar Mabuk dengan napas terengah-engah. "Kkkau... kau saja yang lakukan, pasti berhasil!"

Maka, Pendekar Mabuk segera mengambil tempat di pertengahan ruangan gua itu. Ilmu 'Pecah Raga' yang tadi digunakan untuk menghantam orang bermata putih itu kembali melesat dari tangan Pendekar Mabuk. Sinar hijau itu menghantam batu penutup gua. Clingng..! Suaranya aneh ketika sinar hijau itu menghantam batu tersebut. Dan yang berbahaya lagi, ternyata sinar hijau

itu memantul balik ke arah Pendekar Mabuk. Dengan cepat, Pendekar Mabuk melompatkan diri ke arah kanan dan menabrak Hantu Laut. Bukk...!

Blarr...!

Sinar hijau menghancurkan dinding belakang gua akibat lolos dari elakan tubuh Pendekar Mabuk. Sementara itu, Hantu Laut gerutukan kata tak jelas, karena tubuhnya terkapar telentang dengan ditindih tubuh Pendekar Mabuk. Dewa Racun sendiri terpental sampai ke sisi sudut batu penutup mulut gua itu akibat terhempas oleh gelombang ledakan sinar hijau. Dinding yang terkena sinar hijau itu rontok, pecahannya menjadi kerikil yang menggunung. Sedangkan pintu penutup gua tetap utuh.

"Gawat! Batu itu bukan sembarang batu!" gumam

Suto.

Dewa Racun berkata, "Gun... gun... gun...." "Gundulmu!"

"Gunakan!          Maksudku,         gun...    gunakan               pukulan dahsyatmu yang lain!"

"Jangan!" tiba-tiba Hantu Laut berseru tegang.

"Pukulan sinar hijau saja hampir mencelakakan kita karena memantul balik, bagaimana jika pukulan yang lebih hebat lagi? Bisa-bisa kita mati oleh pukulan dahsyat Pendekar Mabuk yang memantul balik dari batu itu!"

"Benar kata Hantu Laut," ucap Pendekar Mabuk kepada Dewa Racun. "Bisa saja kugunakan jurus pukulan lain yang lebih dahsyat dari yang tadi, tapi aku

takut memantul balik dan mengenai kita sendiri! Aku tak berani gunakan pukulan yang lebih dahsyat lagi!"

"Bag... bag... bag...."

"Bagong!"

"Bukan! Maksudku, bagaimana... bagaimana jika kau gunakan napas Tuak Setanmu, sedikit saja?!"

"Bahaya! Kalau memantul balik dan mengenai kita,

malah kita yang mati terlempar deras badai itu dan tergencet     antara   kekuatan             badai     dengan dinding belakang itu!"

"Kali... kal... kaall...." "Kaleng?!"

"Bukan! Maksudku, kalau... kalau kau menggunakan jurus 'Sembur Siluman', bagaimana? Batu itu biar hilang musnah seperti kau sembur Pusaka Tombak Maut dari tangan Hantu Laut tempo hari?"

"Aku tidak punya tuak! Bumbung tuakku hilang!" kata Suto dengan nada sedikit ngotot. "Mana bisa kulakukan 'Sembur Siluman' jika aku tidak mempunyai tuak?!"

"Jadi," kata Hantu Laut, "Kita akan tetap di sini sampai ajal kita menjemput?!"

"Entah!" jawab Pendekar Mabuk. "Yang kupikirkan sekarang, bagaimana aku bisa mendapatkan bumbung tuakku! Karena bumbung itu bisa menolong kesulitan kita yang seperti ini!"

Semua diam tertegun memikirkan nasib mereka. Semua diam berkerut dahi saling bertanya dalam hati tentang batu itu. Lalu kejap berikutnya Pendekar Mabuk

bangkit, seperti mendapat satu gagasan. Gerakannya itu diikuti oleh mata Dewa Racun dan Hantu Laut. Mereka menaruh harapan besar pada usaha Pendekar Mabuk kali ini.

"Aku akan gunakan jurus 'Lintang Kesumat'!" kata Pendekar Mabuk. "Jika jurus ini gagal, aku tak tahu harus bagaimana lagi."

"Cob... cob... cobalah!" kata Dewa Racun.

Jurus 'Lintang Kesumat' membuat semua jari tangan Pendekar Mabuk berkuku menyala merah membara. Jurus ini biasanya jika dipercikkan ke batu sebesar apa pun atau ke tembok baja sekalipun, akan membuat benda itu meleleh lumer. Karenanya, Suto segera mengibaskan jari tangannya yang berkuku merah menyala itu. Wesst...! Wwwessst...!

Dari kuku itu memercik bunga-bunga api merah kearah batu penutup mulut gua itu. Cratt...! Cratt...! Kemudian bau hangus begitu tajam terhirup oleh hidung mereka. Dewa Racun dan Hantu Laut berdebar-debar, karena menurut mereka, bau hangus itu seperti bau besi terbakar. Hawa panas pun menguasai lingkup mereka. Hantu              Laut       undurkan            diri,                tubuhnya            berkeringat menahan panas. Dewa Racun ikut undurkan diri, bahkan Pendekar Mabuk sendiri melangkah tiga tindak dari tempatnya, mundur menjauhi pintu batu itu.

Kejap berikutnya hawa hangat terasa masih tersisa. Pendekar Mabuk mendekati batu penutup pintu gua. Ternyata batu itu tidak meleleh sedikit pun. Tergores tidak, rompal sedikit juga tidak. Dewa Racun dan Hantu

Laut yang ikut memeriksa batu tersebut menjadi tertegun bagai orang kehabisan akal.

"Berarti, batu ini disaluri tenaga dalam yang sangat

tinggi!" kata Pendekar Mabuk. "Jelas ada orang sakti berilmu tinggi sengaja mengurung kita di dalam gua ini!"

"Menurutmu siapa?" tanya Hantu Laut. "Apakah... Dayang Kesumat?"

"Mungkin saja! Karena dia masih menyimpan dendam padaku, sebab aku murid dari musuh besarnya, yaitu Bibi Guru Bidadari Jalang. Aku juga yang menjadi penghalangnya dalam mendapatkan Pusaka Tuak Setan, hingga ia menaruh benci padaku." (Baca serial Pendekar Mabok dalam episode: "Darah Asmara Gila").

"Baaag... baaag... bagaimana kalau ternyata orang yang menutup mulut gua dan yang mencuri bumbung tuakmu itu adalah Siluman Tujuh Nyawa?" kata Dewa Racun membuat wajah Hantu Laut menjadi kian tegang di dalam keremangan cahaya dalam gua itu.

"Bisa jadi begitu!" kata Pendekar Mabuk. "Mungkin dia tahu aku punya kekuatan pada bumbung tuak tersebut!"

"Tidak mungkin!" bantah Hantu Laut. "Kalau yang datang sewaktu kita tidur adalah Siluman Tujuh Nyawa, aku pasti sudah dibunuhnya! Kalian pun tak akan dibiarkan hidup walau dipenjarakan seperti ini!"

"Masuk akal bantahanmu!" kata Pendekar Mabuk. Lalu ketiganya sama-sama membisu kembali. Mereka

bercucuran keringat. Saling memeras otak mencari jalan

keluar. Tiba-tiba Pendekar Mabuk berkata di tengah kesunyian,

"Kalau kugunakan napas tuakku, pasti batu itu bisa

terhempas dari mulut gua. Tapi jika kekuatan batu itu lebih besar, napas Tuak Setan akan membalik pada diri kita dan mencelakakan kita bertiga. Aku tak berani melakukan hal yang bersifat untung-untungan itu!"

"Bagaimana jika...," Hantu Laut tak jadi teruskan kata, karena Dewa Racun cepat serukan kata,

"Hei, lihat dinding belakang yang runtuh akibat kena sinn... sinn... sinar hijau tadi! Ada celah kecil di balik reruntuhan dinding tersebut...! Seingatku memang di situ ada lorong gelap!"

Pendekar            Mabuk  cepat     memeriksa         reruntuhan dinding. Ternyata memang ada celah kecil sebesar kepala manusia. Tak bisa untuk lewat, tapi menandakan bahwa di balik dinding itu ada lorong. Maka, Pendekar Mabuk pun segera gunakan pukulan jarak jauh bertenaga dalam cukup kuat.

Wuuut...! Blarrr...! Wussst...! Blarrr...!

Hantu Laut dan Dewa Racun terbatuk-batuk. Dinding itu pecah. Tubuh mereka menjadi putih karena terkena debu pecahan dinding. Tetapi, kejap berikutnya Hantu Laut      pun        dapatkan             pandangan         menyenangkan,               ia berseru,

"Lihat, ada lorong yang terbuka!"

"Hmmm... benar!" kata Pendekar Mabuk, lalu ia berkata pada Hantu Laut, "Sobek sedikit kain ikat pinggangmu itu, Hantu Laut. Dan... Dewa Racun, aku

pinjam satu batang anak panahmu!" "Un... un... untuk apa?"

"Bikin obor! Kita masuk lorong itu dan kita periksa

apa yang ada di dalamnya!"

Maka, dengan menggunakan dua pisau milik Dewa Racun yang digesekan, timbullah api yang segera membakar obor darurat itu. Mereka segera menerobos masuk ke lorong gelap yang menurut Dewa Racun dulu selalu kedengaran mengeluarkan suara napas seekor naga.

Lorong itu panjang, berkelok-kelok, berlantai kering keras. Tak ada cahaya sedikit pun kecuali cahaya obor. Dengan bantuan cahaya obor itu, mereka bisa pandangi lumut-lumut yang menempel di dinding lorong yang terasa lembab. Lorong yang lebarnya antara dua tombok itu mempunyai dinding rata walau bukan berarti halus.

Dewa Racun curiga dengan dinding rata itu. Apalagi ketika obor diangkat lebih ke atas, mereka bisa melihat bahwa lorong itu amat panjang walau berkelok-kelok lagi di bagian sana. Kemudian mata Dewa Racun menemukan keanehan pada dinding lorong itu.

"Cob... coba dekatkan ke dinding kiri obormu itu, Hantu Laut!"

Hantu    Laut       yang      memegang         obor      segera mendekatkan nyala apinya ke dinding kiri. Kemudian mereka sama-sama menemukan gambar pada dinding. Gambar itu berupa batu-batuan yang ditoreh oleh benda tajam. Bekas torehannya sudah berlumut, itu pertanda sudah sangat lama torehan tersebut terjadi di dinding itu.

"Mungkin dulu ada manusia purba yang menghuni tempat ini!" kata Suto Sinting. Hantu Laut hanya menggumam sambil manggut-manggut. Tapi Dewa Racun kerutkan dahi dan tak mau bicara, ia menahan tangan Hantu Laut ketika Hantu Laut mau bergerak menjauh, ia masih ingin memperhatikan gambar itu.

"Seep... sepertinya gambar ini melukiskan sebuah perahu yang terombang-ambing diamuk badai lautan."

"Memang... dan masih banyak gambar lain di sepanjang dinding ini," jawab Suto. Lalu, mereka melangkah pelan-pelan sambil memperhatikan lukisan- lukisan di dinding lorong itu. Ternyata memang menggambarkan suatu adegan sebuah perahu yang terdampar di pantai karena amukan badai lautan.

"Mungkin dulu penghuni gua ini pernah melihat perahu yang hampir dimakan badai lautan!" kata Hantu Laut.

"Tap... tapi... tapi coba perhatikan urut-urutan gambar ini!" kata Dewa Racun. "Ini gambar perahu yang ditambatkan oleh seseorang. Itu gambar tiga orang berlarian menuju ke suatu tempat. Itu juga gambar orang bertarung dengan orang kurus. Yang san... san... sana, gambar tiga orang tidur dan... dan... kurasa ini gambar perjalanan kita, Pendekar Mabuk?"

Hantu Laut merinding mendengarnya. Suto diam memperhatikan tiap gambar. Ternyata benar dugaan Dewa Racun. Gambar orang berlarian meninggalkan perahunya itu terdiri atas gambar seorang bertubuh besar, gemuk, dan gundul kepalanya, yang satu bertubuh

pendek kerdil, yang satu bertubuh tinggi tegap. Lalu, gambar orang berkelahi itu pun menunjukkan seorang bertubuh kerdil berkelahi dengan orang bertubuh tinggi kurus. Seperti yang dilakukan oleh Dewa Racun dan orang bermata putih tadi.

"Lihat,   Suto....!"              kata       Hantu    Laut       ikut menterjemahkan gambar. "Ini gambar kita bertiga yang masing-masing menggunakan ilmu tenaga dalam untuk pecahkan batu penutup gua itu! Pertama gambar orang kerdil, menggambarkan Dewa Racun. Lalu, gambar orang gundul, gambarku yang juga gagal pecahkan batu. Lalu, gambar orang kerdil lagi, yaitu gambar Dewa Racun yang mencoba pecahkan batu lagi...."

"Daan... dan yang ini gambarmu, Suto," kata Dewa Racun melanjutkan. "Ini gambarmu mencoba gunakan pukulan tenaga dalammu untuk memecahkan batu penutup gua."

"Tapi gambar batunya tidak ada!"

"Ya, mmemm... memang, memang tidak ada! Entah mengapa tidak tergambar. Tapi... tapi ini gambar kamu dan Hantu Laut yang saling tindih ketika terjadi pantulan balik dari sinar hijau!"

Hantu Laut teruskan kata, "Nah, ini gambar kita yang sedang berusaha membikin obor sederhana ini...! Lalu... lalu...."

"Habis!" kata Pendenar Mabuk bagai menggumam sendiri.

Gambar itu memang habis sampai di situ. Mereka mencari-cari gambar lain, tapi tak ada gambar apa pun.

"Gua ini aneh. Misterius sekali!" gumam Pendekar Mabuk. "Jika gambar itu terjadi sudah ratusan tahun yang silam, atau puluhan tahun yang lalu, tentunya bukan gambar kita yang tertera di sini!"

"Mungkin ada seseorang yang telah melukiskan perjalanan kita sampai di sini!" kata Hantu Laut.

"Secepat itukah orang menggambar perjalanan nasib

kita? Dan lagi, lihat goresan di batu ini! Sudah berlumut dan hampir tidak kentara, sepertinya sudah dimakan zaman cukup lama!"

"Kal...    kalau... kalau     gambar ini           baru,     pasti goresannya masih baru juga," kata Dewa Racun memperjelas maksud Pendekar Mabuk.

"Ya. Dan sejak tadi kuperhatikan pula tanah di bawah kita, tidak ada jejak manusia selain jejak telapak kaki kita."

"Jika begitu, mungkin dulu ada kejadian yang sama persis dengan apa yang kita alami sekarang ini," kata Hantu Laut. "Jumlah orangnya sama, ciri-cirinya sama, dan apa yang dilakukan adalah sama dengan yang kita lakukan!"

"Mungkinkah sesuatu yang bersifat kebetulan bisa sama persis dengan kejadian ini?!" tanya Pendekar Mabuk kepada mereka, juga kepada diri sendiri. "Kalau toh memang bisa sepersis kejadian ini, lantas siapa orang yang melukisnya? Bukankah pulau ini kosong tak

berpenghuni?!"

*

* *

3

TIBA di persimpangan lorong, Pendekar Mabuk dan kawan-kawannya dihadapkan pada dua pilihan; ke kiri atau ke kanan? Mereka berhenti dalam kebimbangan langkah. Dewa    Racun    dan        Hantu    Laut       saling memandang          Pendekar                Mabuk,                seakan  mereka mengharap keputusan yang pasti. Pendekar Mabuk sendiri belum berani ambil langkah tanpa pemikiran dan pertimbangan matang.

"Kedua sinar itu bercahaya," kata Suto pelan. "Yang satu di ujung sana memancarkan sinar kuning, yang satu sinar putih. Sinar kuning itu ada di sebelah kiri kita, dan sinar putih ada di sebelah kanan kita."

Dewa Racun menyahut, "Kit... kit... kita harus pilih salah satu, mana yang punya jalan keluar!"

Dewa Racun memandang ke arah Hantu Laut, lalu

Hantu Laut keluarkan pendapat,

"Jangan-jangan gua ini tempat penyimpanan harta karun. Jika benar gua ini tempat penyimpanan harta karun, berarti yang sebelah kiri kita, yang memancarkan sinar kuning berpendar-pendar itu adalah tumpukan emas, sedangkan yang kanan berpendar-pendar putih itu adalah tumpukan perak."

"Bagaimana kalau keduanya salah?" tanya Pendekar Mabuk. "Bagaimana kalau keduanya hanya jebakan dari orang yang mencuri bumbung tuakku dan yang menutup pintu gua dengan batu gaib itu?"

"Mampuslah kita!" jawab Hantu Laut bagai patah semangat.

Ketiganya kembali diam dan pikirkan pertimbangan.

Bias kedua sinar itu sampai ke persimpangan lorong tempat mereka berdiri, sehingga tanpa obor pun mereka sudah mendapat penerangan dari kedua bias sinar itu.

"Begini," kata Pendekar Mabuk pecahkan hening di antara mereka bertiga. "Kita bercermin dari perbuatan kita sendiri. Kita gunakan patokan, bahwa orang berbuat sesuatu yang buruk sering dikatakan menyimpang ke jalan kiri, orang yang berbuat baik dikatakan berjalan dijalan kanan. Kita sering muliakan tangan kanan sebagai tanda penghormatan terhadap sesama, misalnya menerima sesuatu dari orang lain lebih sopan dengan menggunakan tangan kanan, tapi tangan kiri tidak sopan. Jadi, usulku kepada kalian, kita gunakan lorong kanan, sebagai lorong kebaikan dan kesopanan."

"Bagaimana jika dugaanmu salah?" tanya Hantu Laut. "Mampuslah kita!" jawab Pendekar Mabuk tirukan jawaban Hantu Laut tadi. "Jika dugaan kita tentang

lorong kiri pun salah, mampus pulalah kita ini!"

Dewa Racun segera keluarkan pendapat, "Bba... baar... barr... barangkali kita akan temui kesalahan dan kematian, tapi mati dengan mengambil jalan kanan sebagai tujuan hal yang baik, lebih terhormat daripada mati mengambil jalan kiri, sebagai simbol kejahatan!"

Pendapat Dewa Racun terkesan di hati Suto Sinting dan Hantu Laut. Sebab itulah mereka tak bimbang hati lagi untuk langkahkan kaki mengambil jalan kanan.

Mereka mendekati cahaya putih berpendar-pendar itu. Sementara itu, Hantu Laut cepat berpaling ke belakang untuk melihat suatu gerakan angin yang berkelebat menurut firasatnya. Tapi yang ia temui di belakang hanya kegelapan. Lorong yang memancarkan cahaya kuning itu telah lenyap. Cahayanya padam tak terlihat lagi.

"Aneh. Cahaya kuning itu padam, seperti ada yang meniup atau memadamkannya! Hmmm... berarti di dalam gua ini ada manusianya!" kata Hantu Laut dalam gumam lirih. Gumam itu terdengar oleh Pendekar Mabuk dan Dewa Racun. Tapi mereka tidak kasih pendapat apa-apa kecuali hanya turut menoleh ke belakang sejenak, setelah itu kembali memandang ke arah depan. Sinar putih itu makin terasa terang dan tidak lagi menyilaukan.

Ternyata mereka tiba di sebuah ruangan besar beratap tinggi. Atap itu bolong bagaikan cerobong gunung tempat keluarnya lahar. Cahaya matahari yang masuk ke lubang atap itulah yang membuat terang suasana sekeliling. Cahaya terang membuat mata ketiga orang itu dapat melihat keluasan ruangan tersebut.

Ruangan itu memiliki lorong-lorong pada dindingnya sebagai jalan entah menuju ke mana. Hantu Laut menghitung dalam hati ternyata ada sebelas lorong di situ, dua belas lorong bersama lorong tempat mereka muncul di ruangan itu.

Ketiga orang itu merasakan ada keanehan dalam hati mereka. Ruangan besar yang berbentuk bundar itu

mempunyai garis tengah antara tiga puluh langkah. Di bagian tengahnya ada lantai berbentuk bundar macam piring raksasa. Tapi lantai itu datar, terbuat dari lempengan batu marmer putih dengan ukuran panjang dua tombak lebar satu tombak. Batu-batu marmer itu tersusun rapi, satu dengan yang lainnya sangat rapat, seakan tak ada celah yang bisa untuk memasukkan sehelai kain sutera. Tempat itu bertangga tiga baris yang mengikuti bentuk bundar lantai tengahnya itu. Cahaya matahari dari atap jatuh tepat di pertengahan lantai itu dan memantulkan warna putih marmernya.

"Seseorang telah membangun tempat ini dengan sangat indahnya," kata Suto, entah bicara kepada siapa.

"Men... men... menurutmu, tempat apakah ini?" tanya

Dewa Racun.

"Tak jelas. Mirip sebuah ruangan untuk berkumpul atau sebuah arena untuk berlatih ilmu kanuragan. Tapi aku yakin di ruangan ini ada penghuninya."

"Dari mana kau bisa yakin begitu?" tanya Hantu Laut. "Lihat di atas tiap lorong, terdapat batu berbentuk kerucut yang hangus di bagian atasnya. Batu kerucut

itulah obor yang dinyalakan hanya pada malam hari." Karena keadaan terang, Hantu Laut memadamkan

obornya sendiri. Kemudian ia bergegas mendekati tangga arena. Tapi Pendekar Mabuk cepat menyusulnya sambil menahan pundak Hantu Laut yang berkulit hitam keling itu.

"Jangan gegabah di sini! Aku yakin orang yang mencuri bumbung tuakku dan yang meletakkan batu

gaib itu adalah penghuni ruangan ini. Bisa jadi ia memasang banyak jebakan maut di sini! Salah langkah sedikit kau bisa mati, Hantu Laut!"

"Aku punya naluri untuk sebuah jebakan," kata Hantu Laut, seakan tak mau diremehkan dalam hal jebakan. Maka, ia pun tetap melangkahkan kaki dan pandangi keadaan sekeliling lantai marmer bundar itu. Di sana ada titik merah, tepat di bagian tengah lingkaran. Titik merah itu berbentuk bundar bergaris tengah antara satu jengkal.

Hantu Laut melemparkan senjata yoyonya ke tengah arena. Trakk...! Ditunggu sesaat ternyata tak ada bahaya yang timbul, maka ia pun berani melangkah memasuki lantai marmer bundar itu. Sampai di titik tengah warna merah itu, sekali lagi Hantu Laut menjatuhkan yoyonya yang terbuat dari lapisan baja itu. Trakk...! Setelah ditunggu beberapa saat tak ada bahaya datang, Hantu Laut merasa lega. Berarti tempat itu tidak berbahaya.

Namun ketika Hantu Laut mau mengambil yoyonya, tiba-tiba dari arah samping kiri muncul sebatang tombak yang melesat cepat ke arahnya. Wuusss...!

Hantu Laut sempat melihat dengan ekor matanya, lalu ia cepat gulingkan badan ke lantai arah depan. Wutt...! Dan tombak yang melesat bagai anak panah itu pun menerabas          tempat kosong,                menghantam     dinding samping lorong. Deggg...! Ruangan terasa terguncang oleh benturan tombak dengan dinding itu. Tapi anehnya dinding tidak gompal sedikit pun dan tombak tidak patah ujungnya. Tombak itu hanya jatuh ke lantai dengan menimbulkan suara berdenting yang menggema keras

memenuhi ruangan itu.

Siapa pelempar tombak dari arah kiri Hantu Laut tadi? Tak ada yang tahu, karena tak terlihat ada orang di sana. Dewa Racun cepat berlari ke arah tempat datangnya tombak tadi, dan melakukan pemeriksaan sebentar, ternyata tak ada orang di sana. Ia berseru akan hal itu tentu saja Suto serta Hantu Laut sama-sama heran. Lalu mereka pun saling menduga bahwa orang itu telah bersembunyi di tempat lain, karena pasti dia tahu seluk-beluk jalan rahasia di gua itu.

Hantu Laut berdiri agak di tengah arena ketika ia berkata kepada Pendekar Mabuk itu,

"Mendekatlah kemari. Di sini hawanya lebih sejuk!" Baru saja selesai Hantu Laut ucapkan kata demikian,

tiba-tiba melesatlah sebuah piringan bergerigi yang bergaris tengah dua jengkal. Piringan besar itu melesat cepat dari arah belakang Hantu Laut.

Weengngng...!

"Awas!" seru Suto seketika.

Kepala gundul itu tak sempat menengok ke belakang. Tapi melihat mata Pendekar Mabuk tertuju ke arah belakangnya, ia yakin ada bahaya datang dari belakang. Maka dengan cepat ia kembali berguling di lantai dengan arah menyamping. Gleddukk...! Kepalanya sempat membentur lantai agak keras. Tapi ia luput dari bahaya maut.

Piringan bergerigi dari bahan baja putih mengkilat itu memang luput dari Hantu Laut, tapi segera menyerang Pendekar Mabuk sebagai sasaran berikutnya. Dengan

cepat Suto Sinting sentakkan kedua tangannya dengan pangkal telapak tangan saling berhimpit. Sentakan itu timbulkan                sinar      putih menyilaukan.         Sinar      itu menghantam gerak laju piringan bergerigi. Akibatnya, piringan itu terhenti bergerak, dan bahkan mental ke belakang bagai membentur dinding keras. Trak...! Traangngng...! Piringan itu jatuh dan menimbulkan suara berisik sekali akibat menggema di ruangan itu. Hantu Laut sampai menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya.

Pendekar Mabuk memeriksa piringan itu, dan Hantu Laut cepat pandangkan mata ke sekelilingnya dengan penuh waspada. Dewa Racun lalu memeriksa lorong yang               tadi        ada         di            belakang              Hantu    Laut,      tempat melesatnya piringan bergerigi itu. Tapi di sana kembali tidak ia temukan siapa pun yang patut dicurigai. Tak ada orang, tak ada suara napas tertahan. Lorong itu kosong dan lengang.

Posisi Hantu Laut masih berada di tengah ruangan itu, walau tidak tepat di titik merah. Dan tiba-tiba ia terkejut bukan kepalang. Semuanya pun ikut terkejut karena suasana terang itu tiba-tiba berubah menjadi gelap seketika. Seolah-olah ada yang menutup lubang atap tempat masuknya sinar matahari itu. Seolah-olah siang berubah menjadi malam seketika.

Blappp...!

"Sutoooo...!" seru Hantu Laut dengan nada cemas. "Suto, di mana kau?! Jawablah...!"

Tak ada jawaban yang terdengar oleh Hantu Laut.

Makin cemas hati si keling berkepala gundul licin itu. Ia takut ditinggalkan Pendekar Mabuk dan Dewa Racun.

"Sutooo....!" panggilnya lagi. Tetapi tetap saja tak ada

jawaban.

Pendekar Mabuk sengaja tidak menjawab walau ia bergerak pelan-pelan sambil membiasakan matanya memandang                dalam    gelap.    Pendekar Mabuk menyembunyikan suaranya agar sewaktu-waktu timbul serangan,      orang                yang      menyerangnya tak          dapat mengetahui di mana ia berada. Rupanya pemikiran seperti itu juga dimiliki oleh Dewa Racun, sehingga Dewa Racun pun tak ikut serukan kata sepatah pun.

Hantu Laut semakin berdebar-debar, ia merasa bagai tinggal di alam kesunyian yang amat mencekam jiwa, ia tak berani banyak bergerak, takut tiba-tiba berseliweran tombak   dan        senjata rahasia  lainnya  menghantam tubuhnya.

Kejap berikut, gelap pun berubah menjadi terang kembali.

Byarrr....!

Tersentak kaget hati Hantu Laut menerima kelegaan itu. Ternyata Pendekar Mabuk masih ada di depannya, pada tangga kedua, dan Dewa Racun ada di samping kanannya dari tempatnya berdiri saat itu. Tetapi Dewa Racun dan Suto sama-sama pandangi wajah Hantu Laut dengan mata tak berkedip. Hantu Laut merasakan ada sesuatu yang aneh dari pandangan mata kedua temannya itu. Maka, cepat-cepat ia palingkan wajah ke belakang, dan      ia             tersentak            kaget     sampai                terpekik               di            luar

kesadarannya.

"Hahh...?! Sssang... sang ketua...?l"

Seorang berkerudung hitam dari atas kepala sampai kaki, mengenakan baju dan celana dari kain warna hitam pula. Wajahnya putih kelewat pucat, bibirnya biru, hidungnya mancung, parasnya berkesan tampan muda, tepian matanya sedikit hitam kebiruan. Orang itu memegang tongkat setinggi tubuhnya dengan ujungnya berupa mata sabit lengkung sedikit datar. Tongkat itulah yang dikenal Hantu Laut sebagai pusaka El Maut. Dan hanya satu orang setahu Hantu Laut yang mempunyai senjata tongkat pusaka El Maut, yaitu Siluman Tujuh Nyawa. Dan Siluman Tujuh Nyawa sekarang ada di tengah arena itu dalam jarak tiga langkah berhadapan dengan Hantu Laut.

Gemetar mata Hantu Laut memandangnya, gemetar pula sekujur tubuhnya. Pucat pasi wajah Hantu Laut setelah sadar bahwa saat itu ia berhadapan dengan orang yang dulu ingin dibunuhnya dengan senjata Pusaka Tombak Maut. Hantu Laut mundur dua tindak, sambil berusaha meredakan napasnya yang sesak, degup jantung yang cepat berdetak, gemeretuk gigi yang takut memandang wajah putih mayat berkesan dingin bagai gunung salju.

Sementara itu, Pendekar Mabuk dan Dewa Racun masih sama-sama terkesima. Suto bertanya-tanya dalam hati, siapa orang itu sebenarnya dan dari mana munculnya? Sedangkan Hantu Laut sudah mengetahui bahwa orang itu adalah Siluman Tujuh Nyawa, tapi ia

belum tahu, bagaimana caranya muncul dalam kegelapan tadi? Apakah dia akan selalu datang bersama kegelapan? "'Hantu Laut...!" ucap Siluman Tujuh Nyawa dengan suara tenang tapi berkesan ingin membunuh. "Sengaja aku menemuimu di arena ini karena ingin tentukan nasibmu, berapa napas lagi kamu bisa menikmati hidup! Tapi aku tak mau membunuhmu secara sia-sia! Kamu harus ada perlawanan! Bertarunglah secara jantan

denganku. Hantu Laut...!"

Hantu Laut geleng-gelengkan kepala. Sebab ia ragu untuk menyetujui pertarungan itu, karena Pendekar Mabuk dan Dewa Racun kelihatan diam saja tak mau cepat bertindak mendekati dirinya. Sedangkan Hantu Laut merasa sebagai pihak yang bersalah di mata Siluman Tujuh Nyawa, ia memang telah memberontak keluar dari gerombolan orang sesat itu. Ia keluar karena sudah telanjur berkoar ingin membunuh Siluman Tujuh Nyawa ketika ia masih memegang Pusaka Tombak Maut, milik Jangkar Langit. Pada waktu memegang pusaka itu, ia merasa dirinya kuat dan mampu menggulingkan          Siluman                Tujuh    Nyawa  dan        para sekutunya. (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode: "Tumbal Tanpa Kepala").

Tetapi sejak Hantu Laut dikalahkan oleh Suto Sinting,      si             Pendekar Mabuk itu, tombak pusaka dilenyapkan oleh Suto. Hantu Laut pun kembali menjadi orang lemah, merasa bekas budak Kapal Neraka yang dinakhodai oleh Tapak Baja, orang kepercayaan Siluman Tujuh            Nyawa. Namun sesumbarnya     yang      ingin

membunuh Siluman Tujuh Nyawa itu telah terdengar di telinga yang bersangkutan, lalu diutuslah pengawal pribadinya yang berilmu tinggi dari sekian banyak orang dan sekutunya Siluman Tujuh Nyawa, yaitu Doma dan Damu. Tugas Doma dan Damu adalah membunuh Hantu Laut yang akan menjadi pemberontak dan pengkhianat dalam lingkungan Kapal Siluman. (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode: "Cermin Pemburu Nyawa").

Itulah sebabnya, kali ini Hantu Laut nyaris terkulai lemas karena tahu-tahu ia berhadapan dengan Siluman Tujuh Nyawa di sebuah arena pertarungan, di dalam sebuah gua yang banyak lorong, yang tidak memberi kesempatan bagi Hantu Laut untuk melarikan diri. Karena ia yakin, Siluman Tujuh Nyawa yang ada di depannya itu pasti sudah hafal dengan liku-liku lorong- lorong yang ada di situ, sehingga ke mana pun larinya Hantu Laut, dengan mudah dapat dicegat.

Sengaja Pendekar Mabuk belum mau bergerak, karena dia ingin tahu dulu sejauh mana Siluman Tujuh Nyawa mau bergerak dan menghadapi Hantu Laut. Sedangkan Dewa Racun tak berani bertindak apa-apa sebelum Suto memberi isyarat untuk bergerak.

"Sang ketua... saya telah mencabut sesumbar saya tempo hari! Mohon jangan buka pertarungan dengan saya!"

"Terlambat!" kata Siluman Tujuh Nyawa dengan dingin.

"Saya sudah jenuh hidup sesat! Saya ingin bertobat dan tak mau membunuh lagi!"

"Berarti kau harus mati!"

"Saya bisa bertobat tanpa harus mati!"

"Tidak bisa! Aku harus membunuhmu, Hantu Laut! Kamu adalah sebagian kecil dari dendamku yang tak boleh kubiarkan hidup begitu saja!"

"Ilmu saya tidak seimbang. Jika sang ketua merasa punya             ilmu       tinggi,    bukan   sayalah tandingannya, melainkan si                Pendekar Mabuk itu!"   Hantu Laut menuding    ke           arah       Suto,     ingin      melemparkan ketakutannya ke sana.

Tapi Siluman Tujuh Nyawa yang berdiri di depannya dengan dingin itu tak mau pandangkan mata ke arah Pendekar Mabuk, ia bahkan berkata kepada Hantu Laut yang berkeringat dingin itu,

"Sudah tiba waktumu untuk mati! Aku datang buat menjemput kamu!"

Siluman Tujuh Nyawa yang berdiri di depan Hantu Laut itu segera menggeserkan kaki kanannya ke belakang, tongkat El Maut digenggam kuat dan mulai siap diayunkan untuk menyerang Hantu Laut.

"Rupanya... rupanya saya tak punya pilihan lain. Saya harus melayani tantangan ini!" kata Hantu Laut di sela putus harapannya.

"Bagus! Itu yang kumau! Bersiaplah menyambut kematianmu, Hantu Keling...!"

"Baik! Saya pun ingin mati secara ksatria!" "Heaaat...!" pekik Siluman Tujuh Nyawa, membuat

Hantu Laut gugup dalam mencabut senjata yoyonya. Sementara itu, senjata El Maut sudah siap ditebaskan

dari        kanan    ke           samping               kiri.         Leher    Hantu    Laut sasarannya.

"Tahan!" seru Pendekar Mabuk pada akhirnya, ia pun

bergerak maju.

*

* *



4

SERUAN Pendekar Mabuk tadi sempat membuat orang di depan Hantu Laut menghentikan gerak sebentar. Matanya melirik ke arah Pendekar Mabuk. Dilihatnya        Suto       Sinting  tidak      melakukan          gerak berbahaya maka tebasan itu dilanjutkan ke arah leher Hantu Laut. Wuttt...!

Kembali Pendekar Mabuk menggerakkan kedua tangannya ke depan dengan cepat sekali. Wesss...! Sinar putih menyilaukan yang berbentuk lebar setengah lengkung melesat cepat sekali dari kedua tangan Pendekar Mabuk yang saling merapat pergelangannya.

Debbb...! Sinar putih itu menahan gerakan tongkat El Maut seakan sebagai penangkis yang sukar didobrak lagi. Bahkan tongkat El Maut itu sedikit terpental ke belakang karena kayunya bagai menghantam sesuatu yang amat keras. Kesempatan itu digunakan oleh Hantu Laut untuk sentakkan kaki dan bersalto ke belakang satu kali. Ia jauhi lawannya dan menyerahkan perkara itu kepada Pendekar Mabuk.

Orang berselubung kain hitam dari kepala sampai

kaki itu sedikit sipitkan matanya memandang Suto bak menahan kemarahan. Mata itu melirik ke arah Dewa Racun, ternyata si cebol itu pun sudah siapkan satu anak panah berbulu merah yang dapat membakar lawan. Anak panah itu sudah bertengger di busurnya, siap melesat sewaktu-waktu.

Agaknya               Siluman                Tujuh    Nyawa  yang      kini berhadapan               dengan Pendekar            Mabuk  itu                berpikir beberapa saat menghadapi keadaan yang demikian, ia tak mau bertindak gegabah melawan orang yang satu ini, sehingga yang bisa dilakukan hanya ucapkan kata penuh ketegasan

"Minggir! Jangan turut campur urusanku!" "Semestinya memang tidak," jawab Suto dengan

tenang, walaupun baru kali ini ia berdiri menghadapi lawan tanpa bumbung tuak di punggung, tapi ia mencoba untuk biasakan diri dengan begitu.

Suto melanjutkan kata-katanya, "Urusanmu dengan Hantu Laut adalah urusanmu! Walau aku tahu kau lebih tinggi ilmunya dari Hantu Laut, tapi aku tidak ingin ikut campur!"

"Bagus kalau kau sudah tahu bahwa ilmuku sangat tinggi!"

"Tapi ada satu masalah yang harus kuselesaikan dulu denganmu!"

"Baru sekarang aku melihatmu! Baru sekarang kita bertemu! Kurasa di antara kita tak ada masalah," ucap orang bertongkat El Maut dengan dingin. Nyaris tanpa nada dalam bicaranya.

"Ada!" jawab Suto tetap ngotot tapi kalem. "Ada masalah yang harus kau selesaikan denganku, yaitu tentang bumbung tuakku!"

Orang itu terdiam dengan mata tetap memandang Suto. Cermin pembunuh berdarah dingin terlihat jelas dari wajahnya yang putih tanpa senyum di bibirnya yang biru pucat itu. Orang itu membisu beberapa saat, sampai akhirnya Pendekar Mabuk sendiri yang teruskan kata,

"Bumbung tuakku hilang saat aku tidur di gua tepi pantai. Mulut gua pun tertutup oleh batu yang tak bisa dipecahkan. Jika bukan orang sakti berilmu tinggi macam kau yang mencuri bumbung tuakku dan menutup mulut gua dengan batu gaib itu, tak mungkin ada orang lain yang bisa melakukannya!"

"Bumbung tuak...?!" gumamnya, lalu ia tundukkan kepala seakan berpikir dan mempertimbangkan. Bahkan ia pejamkan matanya pelan-pelan. Sementara Suto Sinting tetap menunggu jawaban sambil sesekali melirik ke arah Dewa Racun dan Hantu Laut, yang posisi mereka ada di sebelah kanan dan kiri Pendekar Mabuk. Dewa Racun tampak tetap siagakan anak panahnya yang sewaktu-waktu siap        dilepaskan          ke           arah orang berkerudung hitam itu.

Karena terlalu lama menurut ukuran Pendekar

Mabuk, ia pun segera berkata,

"Tak perlu ragu, serahkan saja bumbung tuakku itu! Buatmu bumbung itu tidak berguna, tapi buatku sangat berguna!"

Orang itu tidak menjawab. Masih tundukkan kepala

dengan pejamkan mata. Suto memperhatikan terus sampai akhirnya dahinya berkerut dan wajahnya sedikit mendekat memandang wajah orang itu. Kemudian terdengar gerutuan Suto di sela gema ruangan tersebut,

"Sial! Dia malah tidur?!"

"Hah...?!" Hantu Laut terkejut mendengar gumam gerutuan Pendekar Mabuk. Dewa Racun terperangah tanpa suara dengan dahi berkerut pula. Hati Suto jadi jengkel. Sebagai pelampiasannya, Pendekar Mabuk cepat melayangkan kaki kanannya menendang tongkat El Maut bagian bawah. Plakkk...!

Gerakan kaki Pendekar Mabuk tanpa tenaga dalam yang menendang tongkat itu tiba-tiba tertahan dan bagaikan diadu dengan gerakan kaki orang yang tidur itu. Rupanya dalam keadaan tidur, orang berkerudung hitam yang tadi dipanggil sebagai sang ketua oleh Hantu Laut itu, ternyata masih bisa pekakan inderanya, sehingga ia tahu akan mendapat tamparan kaki Pendekar Mabuk pada tongkatnya.

Gerakan kaki orang itu begitu cepat menyambut tendangan kaki Pendekar Mabuk, sehingga Pendekar Mabuk sendiri menjadi kaget, karena tak menduga sama sekali kalau akan mendapat sambutan seperti itu. Sang ketua itu segera membuka matanya dengan sedikit menyipit bagai orang terbangun dari tidur.

"Tidak ada!" tiba-tiba orang itu ucapkan kata demikian.

"Apanya yang tidak ada?" tanya Pendekar Mabuk. "Hmm... kau tadi tanyakan soal apa?" orang itu ganti

bertanya.

"Bumbung tuakku!"

"O, ya! Bumbung tuakmu itu tidak ada padaku!" "Bohong!" Pendekar Mabuk sedikit menyentak. "Terserah apa katamu, tapi aku harus membunuh

Hantu Laut!"

"Tak kuizinkan kau menyentuhnya sebelum kau serahkan bumbung tuakku itu!"

"Kalau begitu kau menantangku!"

"Ya!" jawab Suto dengan tegas dan berani, walaupun tetap bersikap tenang dan kalem.

Orang berkerudung hitam yang berwajah muda dan

tampan itu bergerak melangkahkan kaki ke samping, sepertinya ia malas melayani tantangan Suto Sinting itu. Sambil melangkah malas-malasan, ia ucapkan kata dengan suara sedikit keras,

"Tantanganmu akan kulayani setelah aku membunuh

Hantu Laut!"

"Kau tak akan bisa membunuhnya selama aku masih ada!"          balas      Pendekar            Mabuk  dengan ikut-ikutan melangkah seenaknya, namun tetap tak jauh dari pertengahan lingkaran itu. Keduanya saling melangkah memutar secara tak sadar.

Kemudian, manusia berwajah putih itu menghentikan langkah, Pendekar Mabuk pun mengikuti. Mereka kembali berhadapan bagai menyiapkan pertarungan dengan jarak empat langkah. Tiba-tiba orang berwajah kaku itu ucapkan kata kepada Suto Sinting,

"Baiklah!              Kuturuti               tantanganmu!   Kulayani

kemauanmu, tapi jika kau bisa mengangkat tongkat saktiku ini...!"

Werrr...! Orang itu melemparkan tongkat pusaka El

Maut seenaknya saja. Suto menerima lemparan tongkat yang pelan itu. Tapi tiba-tiba ia jatuh terpelanting dan tongkat itu menindih dadanya, ia ingin mengangkat tongkat itu tapi tak kuat. Ia kerahkan tenaganya sekali lagi, tapi tongkat itu bagaikan gunung yang dijatuhkan di dada Pendekar Mabuk.

"Gila ilmu orang ini!" pikir Pendekar Mabuk dalam kebingungannya. Wajah Suto sempat berkerut karena menahan tongkat yang makin lama terasa semakin berat. Urat-urat lehernya sampai tampak keluar karena kuatnya ia kerahkan tenaga untuk memindahkan tongkat itu dari dadanya. Tapi Suto belum juga berhasil dengan usahanya itu.

"Ha ha ha ha...!" orang berkerudung hitam itu tertawa dengan wajah tetap kaku dan mulut terasa malas untuk digerakkan melebar. Lalu, orang itu berseru dengan nada menghina, "Baru mengangkat tongkatku saja kau tak mampu, apalagi mau menantangku?! Kau masih perlu banyak belajar, Bocah Kencur! Jangan sekali-kali menantangku sebelum kau bisa pindahkan gunung ke seberang lautan!"

Hantu Laut benar-benar heran. Baru sekarang ia melihat Siluman Tujuh Nyawa menakar kekuatan seorang          lawan                dengan melemparkan tongkatnya. Padahal itu sangat berbahaya bagi dirinya sendiri. Jika lawannya mampu mengangkat tongkat itu, berarti

tongkat pusaka El Maut itu akan dimiliki oleh lawannya. Jelas lawannya pasti berilmu lebih tinggi dari dirinya.

Hantu Laut tentu saja heran, mengapa Siluman Tujuh

Nyawa sampai berani mengambil sikap untung-untungan begitu? Biasanya Siluman Tujuh Nyawa andaikata harus menguji ketinggian ilmu lawannya, ia akan menyuruh Doma Damu untuk melawan orang itu. Apakah karena ia tahu bahwa Doma Damu sudah dikalahkan oleh Pendekar Mabuk, sehingga ia menggunakan tongkatnya untuk menguji kekuatan diri Pendekar Mabuk?

"Memang sebaiknya kau tiduran di situ tertindih tongkatku, sementara kuselesaikan urusanku dengan Hantu Laut!" katanya.

Dewa Racun cepat berseru, "Kulepaskan pan... pann... panah ini jika tidak segera kau angkat tong... tong... tong...."

"Tongkrongan?!"

"Bukan!                Tongkatmu,        maksudku!         Lekas     angkat tongkatmu dari tubuh temanku itu!" gertak Dewa Racun.

Tapi Siluman Tujuh Nyawa hanya pandangi wajah Dewa Racun beberapa kejap. Tiba-tiba tubuh kecil itu jatuh terduduk, kakinya tak bisa dipakai berdiri, ia berusaha bangkit tapi justru terpelanting jauh dari tempat semula. Kakinya lumpuh mendadak dan sama sekali tak bertulang serta tak berurat sedikit pun.

Siluman Tujuh Nyawa masih terus memandang Dewa Racun. Cepat-cepat Dewa Racun meraih busurnya yang agak jauh dari tangan akibat terpelanting tadi, lalu ia siapkan anak panah lagi ke arah Siluman Tujuh Nyawa.

Tali busur terentang dan anak panah mengancam. "Terpak... terpak... terpaksa aku melakukannya!" kata

Dewa Racun sambil mau melepaskan anak panahnya itu.

Tetapi, tiba-tiba tulang lengannya terkulai bagaikan lepas dari engselnya. Kedua tangan Dewa Racun tak bisa dipakai untuk bergerak. Dewa Racun merasa lumpuh kaki dan tangannya.

Melihat                hal          itu,         Hantu    Laut       menjadi               tegang. Kecemasannya kian membungkus keberanian. Tapi ia sembunyikan hal itu, walau hatinya pun merasa kecewa terhadap Suto dan Dewa Racun yang diharapkan menjadi pelindungnya, ternyata mampu dilumpuhkan Siluman Tujuh Nyawa.

Orang berkerudung hitam bagai utusan dari alam kubur itu mulai melangkahkan kaki mendekati Hantu Laut. Pendekar Mabuk merasa cemas akan nasib Hantu Laut. Dalam keadaan tertindih beban yang amat berat itu, Pendekar Mabuk segera sentilkan jarinya ke arah Siluman Tujuh Nyawa. Sentilan jurus 'Jari Guntur' itu tepat mengenai punggung lawan. Debbb...!

Siluman Tujuh Nyawa merasa mendapat tendangan bertenaga kuda yang amat besar dan keras, ia pun tersungkur jatuh. Brukk...! Tapi lekas berdiri dan membalikkan badan menghadap Pendekar Mabuk, ia menggeram melalui dengusan napas memanjang. Tapi wajahnya masih dingin dan kaku. Hanya matanya yang terlihat lebih tajam memandang Suto sebagai ungkapan kemarahannya.

"Kurang ajar! Berani-beraninya kau melakukan hal

itu kepadaku, hah?!"

Sambil menahan beban berat, Suto berkata, "Aku hanya ingin membuktikan, bahwa biar dalam keadaan terjepit begini, tapi aku masih bisa menumbangkan dirimu! Apalagi jika aku tidak sedang terjepit begini! Dan kujamin kau sendiri tak akan bisa mengangkat kembali tongkatmu ini, karena separo lebih dari ilmumu telah kumusnahkan dengan jurus 'Jari Guntur'-ku tadi!"

"'Jari Guntur'...?!" Siluman Tujuh Nyawa sedikit heran dalam gumamnya itu. Tapi ia tetap pandangi Pendekar Mabuk tanpa perubahan wajah.

"Terus terang, aku curang karena membokongmu! Tapi tak ada jalan lain untuk menyedot separo lebih dari ilmumu, hingga untuk mengangkat tongkat ini pun kau tak akan bisa lagi!"

"Omong kosong!" sentaknya, lalu cepat ia melangkah mendekati Suto dan segera mengambil tongkatnya. Wuttt...!

Bersama terangkatnya tongkat itu, Pendekar Mabuk sentakkan tenaga dalamnya yang tinggi melalui sorot pandangan matanya. Maka, tongkat yang telah didorong oleh tenaga dalam melalui mata itu menjadi sangat ringan                bahkan                bergerak              naik        dengan cepat,   tak terkendalikan oleh pemegangnya.

Pendekar Mabuk cepat bangkit sambil menghela napasnya yang tadi terasa sesak, sedangkan Siluman Tujuh Nyawa terangkat terbang karena kekuatan tenaga dalam yang tinggi dari mata Pendekar Mabuk. Mata Pendekar Mabuk tetap pandangi terus tongkat itu, hingga

kepala Siluman Tujuh Nyawa mencapai langit-langit ruangan yang tinggi itu.

"Keparat! Turunkan aku! Turunkan!" teriak Siluman

Tujuh Nyawa dari atas sana. Suto hanya tersenyum sambil dongakkan kepalanya dan pandangi tongkat itu terus.

Jurus 'Pucuk Rembulan' digunakan Suto Sinting. Kalau saja tadi kekuatan besar yang ditanamkan oleh lawan di tongkat itu tidak dilepaskan lebih dulu, jurus

'Pucuk Rembulan' gagal dipakai mengangkat tongkat itu. Tapi karena lawan sudah mengurangi kekuatan tenaga dalam yang ditanamkan di tongkat itu dengan cara pancingan Suto tadi, maka jurus 'Pucuk Rembulan' tak boleh telat dipancarkannya. Jurus yang menggunakan kekuatan mata itu adalah pemberian Bidadari Jalang, bibi gurunya, yang mampu membuat seseorang atau benda apa pun terangkat terbang jika dipandang dari bawah. Seakan ada tenaga pendorong yang amat besar dan bisa menopang beban tak terlalu berat.

"Turunkan aku, Bocah Ingusan...!" teriak Siluman Tujuh Nyawa  yang      masih    tergantung-gantung       di ketinggian. Rasa heran dan curiga membuat Siluman Tujuh            Nyawa  lupa,      bahwa  semestinya         ia             bisa melepaskan              saja                tongkat                itu           dan        membiarkan menggantung di atas sementara ia melompat turun, atau menggunakan lagi tenaga dalam pembeban tongkat itu seperti tadi, sehingga tongkat dan dirinya akan turun sendiri.

Sesuatu yang mengganggu pikiran dan hatinya dapat

membuatnya menjadi orang bodoh. Dan sesuatu itu kini mulai dipertanyakan ketika Pendekar Mabuk melepaskan jurus 'Pucuk Rembulan' dari tongkat tersebut. Lepasnya jurus itu membuat tubuh Siluman Tujuh Nyawa tersentak turun bersama tongkat El Maut-nya.

Jlegg...! Ia mendarat dengan mantap dan tegak, tanpa ada gerakan limbung sedikit pun. Bahkan ketika ia mendaratkan kakinya di lantai, kaki itu mengepulkan asap tipis warna putih, kejap berikutnya napas itu hilang bagaikan padam dari baranya.

"Kau memang berilmu tinggi, tapi tidak punya kecerdasan!" kata Suto mengecam. Mata orang beralis sangat tipis karena tertutup warna putih semacam bedak itu memandang Suto dengan lebih tajam lagi. Agaknya ia tidak hiraukan kecaman itu, karena ada sesuatu yang dipikirkannya.

"Apakah kita harus teruskan perkara ini dengan pertarungan secara kesatria?" pancing Pendekar Mabuk dalam tantangannya.

Tapi Siluman Tujuh Nyawa itu hanya berkata, "Jurus

'Pucuk Rembulan' kau miliki...?!"

Suto Sinting terkejut mendengar jurus itu disebutkan Siluman   Tujuh    Nyawa, ia             tak          sangka  lawannya mengetahui nama jurus itu. Bahkan Siluman Tujuh Nyawa ucapkan kata,

"Jurus 'Pucuk Rembulan' itu milik Bidadari Jalang!" Mulut Suto terperangah, mata bergerak melebar.

Sebelum ia ucapkan kata, Siluman Tujuh Nyawa segera bicara,

"Jurus 'Jari Guntur' adalah milik si Gila Tuak!" "Bagaimana kau bisa tahu kedua jurusku itu?" tanya

Suto heran.

Siluman                Tujuh    Nyawa  pejamkan            mata      tanpa tundukkan kepala. Tapi makin lama makin bergerak menunduk kepalanya itu, sedikit miring ke kiri. Bibirnya yang semula rapat sedikit membuka. Suto menyangka orang itu melakukan semadi untuk kembalikan daya ingatnya sehubungan             dengan pertanyaan         Pendekar Mabuk. Tapi makin lama semakin kelihatan pulas dan terdengar suara dengkurnya kecil.

"Sial! Tidur lagi dia?!" ucap Pendekar Mabuk sambil memandang Dewa Racun yang masih lumpuh kaki dan tangannya.

"Hai, bangun!" sentak Suto sambil hentakkan kaki ke lantai.

Orang itu tersentak, melonjak ke atas sambil menggeragap. Lalu, ketika kakinya menginjak kembali ke lantai, ia sudah siap dengan kuda-kuda dan jurus pembuka serangan. Tongkatnya dipegang oleh dua tangan dan siap ditebaskan. Tapi Suto segera ulangi tanya,

"Bagaimana kau bisa tahu kedua jurusku itu? Apakah kau kenal dengan kedua guruku juga?"

Siluman Tujuh Nyawa redakan ketegangannya, ia

kembali                berdiri   dengan sikap      santai.   Tongkatnya digenggam tangan kanan dalam keadaan berdiri di sampingnya.

"Apa maksudmu menanyakan aku kenal dengan

kedua gurumu? Kedua guru yang mana?"

"Si Gila Tuak dan Bidadari Jalang!" jawab Pendekar

Mabuk.

Siluman Tujuh Nyawa terkejut dengan cara menarik kepala ke belakang sedikit, tapi wajahnya tetap beku dan dingin.

"Apakah benar kau murid mereka?"

"Ya! Kau takut berhadapan dengan mereka?"

Siluman Tujuh Nyawa tidak kasih jawaban, tapi justru ajukan pertanyaan lagi,

"Sebutkan nama asli mereka jika memang kau murid mereka!"

"Ki Sabawana dan Nawang Tresni!" Suto sebutkan nama asli Gila Tuak dan Bidadari Jalang.

"Edan!" cetus Siluman Tujuh Nyawa, ia hempaskan napas panjang-panjang dengan melangkah ke belakang, lalu membalik lagi, seperti menyimpan kekecewaan, penyesalan dan kegelisahan.

Pendekar Mabuk, Hantu Laut, dan Dewa Racun, sama-sama memandang Siluman Tujuh Nyawa dengan perasaan heran. Hati mereka bertanya-tanya, mengapa Siluman Tujuh Nyawa tampak berubah sikap. Bahkan sekarang ia duduk di tepian lantai bundar itu, kakinya di tangga kedua. Tongkat El Maut-nya digeletakkan begitu saja walau berada tak jauh darinya.

Lama ia termenung di situ dengan sikap duduk, satu kaki melonjor, satu tangan bertumpu ke belakang, sementara wajahnya menatap Suto Sinting. Hantu Laut baru sekarang melihat Siluman Tujuh Nyawa bersikap

duduk tanpa wibawa sama sekali. Bahkan ia sempat garuk-garuk kepalanya walau tetap terbungkus kain kerudung hitam.

Lalu, terdengar ia ajukan tanya kepada Suto, "Jika kau memang murid si Gila Tuak, mengapa kau membela Hantu Laut? Tak tahukah kau siapa Hantu Laut itu?!"

"Aku tahu, dia bekas anak buahmu, yang ingin menentang kekuasaanmu. Karena tak ingin lagi berada di jalan yang sesat! Tapi masalahnya sekarang bukan hanya aku membela dia, tapi karena aku inginkan bumbung tuakku yang kau curi itu."

Siluman Tujuh Nyawa hempaskan napas, seperti kesal pada dirinya sendiri, ia kembali berkata kepada Suto.

"Bumbung tuakmu masih ada! Tidak kupecahkan!" Setelah berkata begitu, Siluman Tujuh Nyawa membuka kerudung hitamnya dari bagian leher ke atas, dan sesuatu yang lengket itu pun ikut terlepas dari wajahnya. Sesuatu yang lengket itu adalah topeng tipis berwajah Siluman Tujuh Nyawa. Kini wajah aslinya terlihat jelas, dan Hantu Laut segera serukan kata kagetnya,

"Ki Gendeng Sekarat...?!"

"Ya. Aku Gendeng Sekarat! Kau masih ingat?!" ujar Ki Gendeng Sekarat kepada Hantu Laut. Tapi Hantu Laut hanya terbengong, demikian juga halnya Dewa

Racun dan Pendekar Mabuk.

*

* *

5

RAMBUT ikal tanpa hitam selembar pun kecuali warna putih uban itu diikat dengan ikat kepala kain hitam. Rambut itu tidak panjang, hanya sebatas tengkuk saja. Kumisnya yang putih, juga tidak terlalu lebat seperti jenggotnya yang putih pula itu. Badannya kurus, tapi tidak ceking. Pakaiannya serba merah, diikat sabuk hjtam lebar. Sebuah kipas warna hitam terselip di pinggangnya itu.

Wajah tua berusia sekitar tujuh puluh tahun lebih itu dikenal Hantu Laut dan Dewa Racun sebagai orang yang berjuluk Gendeng Sekarat. Dialah penguasa Pulau Mayat yang selamat dari pembantaian Kapal Siluman. Itulah sebabnya Gendeng Sekarat bernafsu sekali untuk membunuh Hantu Laut, karena dia tahu Hantu Laut anak buah Siluman Tujuh Nyawa.

"Aku punya dendam terhadap semua anak buahnya Siluman Tujuh Nyawa," kata Ki Gendeng Sekarat sambil membawa masuk mereka ke sebuah lorong, karena ia ingin membawa mereka ke suatu tempat yang sangat rahasia.

Ia berkata lagi, "Bahkan aku mencoba menyamar sebagai Siluman Tujuh Nyawa di depan kalian, karena samaran ini yang nantinya kupakai untuk membantai mereka! Dan ternyata kalian tidak ada yang menyangka bahwa aku adalah Durmala Sanca palsu," kata Ki Gendeng Sekarat dengan menyebutkan nama asli Siluman Tujuh Nyawa.

"Saya kira tadinya Ki Gendeng-lah orang yang selama ini menjadi Siluman Tujuh Nyawa," kata Suto dalam langkahnya yang mengiringi orang tua berbadan segar dan tegap itu.

"Aku bukan orang picik, mengapa harus menjadi orang macam Durmala Sanca. Menyamar sebagai dia saja kupertimbangkan berbulan-bulan. Akhirnya aku berhasil membuat topeng Siluman Tujuh Nyawa dengan menggunakan kulit manusia yang kuolah dan kubuat sedemikian rupa. Maka jadilah topeng wajah yang menurutku sangat persis dengan wajah Durmala Sanca. O, ya... bagaimana kabar si Gila Tuak?"

"Beliau dalam keadaan sehat-sehat saja, Ki," jawab

Suto dengan sopan dan penuh hormat.

"Bidadari Jalang apakah masih jalang seperti dulu?" "Beliau sudah mengasingkan diri dan menghentikan

segala tindakan masa lalunya."

"Bagus!" kata Ki Gendeng Sekarat sambil membelok ke kiri,         dan        Dewa    Racun    serta      yang      lainnya mengikutinya, ia berkata lagi,

"Mungkin kau belum tahu apa hubunganku dengan gurumu si Gila Tuak itu, Suto!"

"Saya baru akan menanyakannya, Ki."

"Aku dulu bekas pelayannya!" kata Ki Gendeng

Sekarat dengan rasa bangga.

"Tapi Gila Tuak pelit, tak mau turunkan ilmunya sedikit   pun        kepadaku.           Aku        ngotot, lalu         gurumu menyuruh aku pergi ke seorang temannya yang bernama Pramban Jati dan berguru kepadanya."

"Apakah Eyang Pramban Jati sekarang masih hidup, Ki?"

"Sudah meninggal.          Bahkan gurumu                yang

menyempurnakan jasadnya, karena ia meninggal dalam keadaan menjadi seekor naga di Gunung Kundalini akibat kutukan Nyai Suketi. Dan Nyai Suketi itu sebenarnya penguasa Gunung Kundalini yang terkenal sakti mandraguna, dia masuk dalam golongan tokoh- tokoh sesat. Tapi ia dikalahkan oleh seorang ratu dari alam halus yang bernama Gusti Ratu Kartika Wangi!"

Srek...! Kaki Pendekar Mabuk terhenti seketika, demikian pula Dewa Racun. Kedua orang itu sama-sama kaget ketika mendengar nama Gusti Ratu Kartika Wangi disebutkan oleh Ki Gendeng Sekarat. Tentu saja Ki Gendeng Sekarat merasa heran melihat sikap dua orang yang memandangnya.

"Kenapa kau kaget?" tanyanya kepada Suto.

"Ki Gendeng kenal dengan Gusti Ratu Kartika

Wangi?"

"Sangat kenal, karena dulu aku pun mengabdi kepada beliau, sebagai penjaga Kolam Sabda Dewa. Tapi karena aku tergila-gila dengan seorang perempuan di alam nyata ini, maka kutinggalkan pengabdianku dan Gusti Ratu Kartika Wangi tidak merasa keberatan. Aku pergi secara baik-baik dan seizin dia. Hmmm... ada apa kau tanyakan hal itu?" Ki Gendeng Sekarat tampakkan kecurigaannya. Tapi Suto menjawab,

"Hmmm... tidak! Tidak ada apa-apa. Aku hanya pernah mendengar cerita tentang Gusti Ratu Kartika

Wangi dari negeri Puri Gerbang Surgawi."

"Benar. Pasti gurumu yang menceritakan hal itu. Dan sekarang, Puri Gerbang Surgawi di alam nyata itu ada di Pulau Serindu. Negeri itu juga dalam ancaman bahaya Siluman Tujuh Nyawa."

Sebenarnya Pendekar Mabuk ingin jelaskan siapa dirinya dan Dewa Racun. Tapi ia takut ada kesan menyombongkan diri di depan orang sakti itu, sehingga ia pun diam saja dan mengikuti terus dengan perasaan tak enak karena mendapat sikap kurang ramah dari Ki Gendeng Sekarat.

Mereka masuk ke sebuah ruangan menyerupai kamar besar. Ruangan itu penuh dengan nyala obor-obor kecil, berkeliling dinding terbagi menjadi tiga baris. Di kamar itu juga ada beberapa peti mati.

Warnanya           hitam    bertutup              tanpa    kunci.    Suto menghitung peti mati itu, ternyata berjumlah delapan belas peti. Entah ada isinya semua atau hanya sekadar pajangan saja.

Hantu Laut tak berani ikut masuk. Agak ngeri ia melihat suasana seram seperti itu, sehingga ia hanya berdiri di pintu masuk saja, sambil bersikap sebagai penjaga keamanan suatu tempat yang sebenarnya tak perlu dijaga itu.

"Di sini aku mempersiapkan bala tentaraku untuk menyerbu Kapal Siluman. Tapi baru ada delapan belas orang. Itu pun yang satu sudah kau hancurkan di depan gua."

"Mak... mak... mak... maksud Ki Gendeng, mayat

yang bisa menyerang orang dengan ilmu 'Cakar Kubur'?" tanya Dewa Racun.

"Ya.        Betul     apa         katamu.               Ilmu       'Cakar    Kubur'

kubekalkan kepada mereka," sambil berkata begitu, Ki Gendeng Sekarat sentilkan jarinya ke tiap-tiap peti mayat. Maka, satu persatu mayat itu pun bangkit dari dalam peti dengan wajah-wajah buas dan liar. Mata mereka serba putih, tapi jelas arahnya tertuju pada Suto dan Dewa Racun.

Pendekar Mabuk dan Dewa Racun terperanjat dan undurkan diri dua tindak. Tapi Ki Gendeng Sekarat cepat berkata,

"Jangan takut! Aku sedang memperkenalkan kalian kepada mereka, supaya mereka tidak menyerang kalian lagi sewaktu-waktu jumpa di jalan."

"Berr... ber... berjumpa pun saya enggan, Ki," kata

Dewa Racun.

Ki Gendeng Sekarat tertawa, ia tundukkan kepala dan pejamkan mata. Suto dan Dewa Racun saling pandang. Hantu Laut disuruhnya masuk, tapi menolak dan memilih berdiri di pintu saja. Sementara itu, mayat- mayat itu menyeringai bagai memamerkan senyum kengeriannya masing-masing.     Bahkan ada         yang melambaikan tangan bagai menggoda anak kecil kepada Dewa Racun. Dewa Racun bersungut-sungut sambil bergeser merapat ke tubuh Suto.

Kejap berikutnya mayat-mayat itu masuk kembali ke dalam peti masing-masing sebagai tempat tidur mereka. Dewa Racun hembuskan napas, selain merasa lega juga

mengusir bau tak sedap yang ditimbulkan dari dalam tiap peti mati itu.

Ki Gendeng Sekarat masih tundukan kepala dan

pejamkan mata. Makin lama makin miring posisi kepalanya. Pendekar Mabuk mulai curiga dan mencolek lengan Dewa Racun agar ikut memandang ke arah Ki Gendeng Sekarat. Lalu, Dewa Racun menggerutu.

"Tidur lagi dddi... dia!"

"Mungkin itu salah satu dari penyakitnya!" kata Suto. "Bangunkan dia!"

"Ki Gendeng!" panggil Pendekar Mabuk dengan suara agak keras.

"Hmmm...!" sahut Ki Gendeng Sekarat dengan masih tertidur.

"Sebenarnya banyak yang ingin kami bicarakan dengan Ki Gendeng. Tapi rasa-rasanya Ki Gendeng perlu istirahat dulu. Biarlah kami di luar gua ini. Tapi, ke mana jalan menuju keluar?"

"Ke kiri, terus ke kanan, kiri lagi, kiri dan ke kanan sedikit, baru ke kiri lagi, terus luurruuus... saja jangan belok-belok, setelah ada dua simpangan lorong, kalian ke kanan, lalu ke kiri lagi, dan akhirnya ke kanan terus, baru setelah itu ke kiri dan kalian akan temui mulut gua tempat kalian datang pertama kali itu!"

Ki Gendeng Sekarat menjelaskan tentang jalan keluar itu sambil kepalanya miring, matanya tetap terpejam dan ia pun pulas tertidur. Pendekar Mabuk dan yang lainnya merasa heran, juga geli melihat kebiasaan tidur Ki Gendeng Sekarat. Karena sudah terbiasa, biar dalam

keadaan tidur pun orang itu masih bisa diajak bicara dan tahu jalan rupanya.

"Ki, kami bingung mengikuti arah petunjuk Ki

Gendeng Sekarat itu!"

"Ah, kalau begitu biar kuantar keluar saja kalian!" Ki Gendeng Sekarat melangkah sambil tetap pejamkan mata, sesekali terdengar ngoroknya.

"Ki Gendeng, tentang bumbung bambu tempat tuak milik saya itu mana, Ki? Saya harus bawa tempat tuak itu!"

"O, iya! Tadi kamu tidak bilang sekalian!" gerutunya sambil kembali lagi masuk ke kamar tadi, lalu keluar sudah membawa bumbung tempat tuak dalam keadaan masih terpejam. Bumbung itu diserahkan kepada Suto sambil berkata,

"Bumbung ini tidak ada gunanya jika kau bawa kemari, selain hanya sebagai tempat tuak."

"Mengapa begitu, Ki?" tanya Hantu Laut beranikan diri mengakrabkan hubungan agar tak canggung.

"Karena segala kekuatan gaib yang masuk ke sini tidak akan bisa bekerja, kecuali tenaga inti, tenaga dalam, tenaga batin dan tenaga kasar kita! Gua ini adalah gua penyadap gaib! Sihir atau teluh tidak bisa masuk ke tempat ini!"

Sambil melangkah mengikuti Ki Gendeng Sekarat yang tidur dengan enaknya itu, Suto ajukan tanya lagi,

"Lalu, bukankah batu besar penutup gua itu adalah batu gaib? Mengapa kekuatannya sangat besar di gua ini?"

"Siapa yang taruh batu? Di mulut gua tidak ada batu! Aku hanya kendalikan indera keenam kalian supaya melihat apa yang ada di depan gua adalah batu besar yang tak bisa ditembus apa pun! Sebenarnya kalau kalian nekat keluar, bisa saja kalian keluar!"

"Tapi waktu kami pukul dengan tenaga dalam kami, batu itu tidak mempan dan pukulan membalik ke arah kami!"

"Karena indera keenammu sudah yakin betul bahwa di depan ada batu besar yang sulit digeser dan dipecahkan!" jawab Ki Gendeng sambil membelok ke kanan. "Kalau indera keenammu mengatakan tak ada batu tak ada apa pun, ya tetap tak ada! Kalian hantamkan pukulan tenaga dalam juga tak akan membalik arah karena tidak ada penghalang apa-apa."

Dewa Racun pandangi Suto, sementara Hantu Laut berbisik,

"Menarik sekali kekuatan kendali indera itu!"

Dewa Racun cepat ajukan tanya dari belakang, "Tapi kami tadi jug... jug... juga melihat gambar-gambar aneh mengenai diri kami. Siapa pelukisnya, Ki?"

"Ya kalian sendiri! Indera keenam kalian yang melukis peristiwa yang pernah kalian alami dan masih hangat di otak kalian!"

"Mengenai cahaya terang yang tiba-tiba gelap dan terang lagi di arena itu, bagaimana?" tanya Hantu Laut yang  sangat                penasaran           sekaligus kagum               kepada kesaktian Ki Gendeng Sekarat.

Sambil tidur dan melangkah Ki Gendeng Sekarat

menjawab, "Sama saja! Indera kalian yang kukendalikan supaya seolah-olah melihat suasana jadi terang, jadi gelap dan jadi terang lagi."

"Termasuk cahaya kuning dan putih yang ada di persimpangan  gua?"    tambah                Suto       Sinting  sambil kembali menenggak tuaknya dalam jalan.

"O, kalau itu karena jebakan! Memang aku menjebak kalian. Kalau kalian salah pilih ke sinar kuning, maka kalian akan berhadapan dengan ribuan ekor ular berbisa yang paling ganas di dunia ini! Aku menyimpannya di lorong sebelah kiri dari arah kalian masuk tadi!"

Dewa Racun menyahut, "Berarti kelumpuhan saya tadi juga karena tipuan indera keenam saja ya, Ki?"

"O, kalau itu memang kehebatan tenaga dalamku!" jawab Ki Gendeng Sekarat sedikit banggakan diri.

"Dan hilangnya bumbung tuakku juga tipuan indera?"

"O, kalau itu memang kucolong!"

Mereka tertawa pendek. Ternyata ketika mereka melewati dinding bergambar tadi, gambar tersebut sudah tidak ada. Itu pertanda kendali indera telah dilepas oleh Ki Gendeng Sekarat, sehingga apa yang mereka lihat, yang mereka pegang, dan yang mereka rasakan adalah asli apa adanya.

Benar juga kata Ki Gendeng Sekarat, bahwa di mulut gua tak ada batu. Bekas batu besar pun tak ada. Rumput yang seharusnya tertindih batu besar itu tetap mekar dan tumbuh segar. Itu berarti rumput tersebut tak pernah tertindih benda besar.

Di mulut gua, Ki Gendeng Sekarat menghentikan

langkah dan berkata dengan masih pejamkan mata karena tidur. Suaranya pun tetap mengambang sumbang seperti sejak keberangkatan dari dalam kamar penghuni mayat itu,

"Badai sudah reda, kalian bisa teruskan perjalanan kembali! Kalian bisa kembali untuk bicara padaku setelah urusan kalian selesai. Caranya mu... mu... mu...," Ki Gendeng Sekarat membuka matanya, ia sempat bingung sejenak melihat keadaan sekeliling. "Lho, ada di sini aku?"

"Ki Gendeng tadi tidur sambil berjalan," kata Pendekar Mabuk seraya tersenyum ramah, demikian pula Dewa Racun dan Hantu Laut.

"O, begitu? Aku tidur sambil berjalan? Hmmm...!" Ki

Gendeng Sekarat kerutkan dahi.

Tiba-tiba Ki Gendeng Sekarat sentakkan diri ke belakang, matanya membelalak tegang memandang Pendekar Mabuk dan Dewa Racun bergantian. Yang dipandang jadi kebingungan sendiri. Lalu, Suto ajukan tanya,

"Ada apa, Ki? Kenapa Ki Gendeng pandangi kami demikian?"

Sekarang             Ki            Gendeng             Sekarat malahan membungkukkan badan di depan Dewa Racun dan Suto Sinting yang sudah ada lima langkah di depan mulut gua itu, sedangkan Hantu Laut ada di belakang mereka berdua.

"Ampunilah hamba...! Hamba tidak tahu sama sekali!" ucap Ki Gendeng Sekarat membuat Suto dan

Dewa    Racun    tambah                bingung.              Maka,   Suto       pun membisik lirih,

"Wah, benar-benar gendeng dia ini! Kenapa dia

menghormat dan menjadi takut kepada kita?"

"En... entahlah! Ja... ja... jangan-jangan kita yang gendeng! Dia malah tidak mau pandang kita lagi, Suto. Dia tetap tundukkan kepalanya!"

Maka segera Pendekar Mabuk bertanya, "Mengapa Ki Gendeng bersikap begitu kepada kami? Biasa-biasa saja seperti tadi, Ki!"

"Tid... tidak! Saaaya... eh, hamba tidak berani!" "Apa sebabnya?'

"Hamba baru tahu bahwa di dahi Tuan-tuan ada noda merah, sebagai orang kehormatan dari Istana Puri Gerbang Surgawi. Hamba tahu, noda merah itu adalah pemberian dari Gusti Ratu Kartika Wangi!"

"Ooo...," kedua orang itu manggut-manggut, bahkan Hantu Laut ikut manggut-manggut walaupun dia heran, noda merah apa yang dimaksud Ki Gendeng Sekarat itu? Sebab Hantu Laut sendiri tidak melihat ada noda merah di dahi Dewa Racun dan Pendekar Mabuk.

Tidak semua orang bisa melihat tanda merah sebagai anggota kehormatan Puri Gerbang Surgawi yang ada di alam gaib itu. Hanya orang sesama anggota dan orang berilmu tinggi yang bisa melihatnya. Dan tanda kehormatan       noda      merah                merupakan         kehormatan tertinggi yang selalu harus dihormati oleh mereka yang tahu tentang Puri Gerbang Surgawi. Apalagi Ki Gendeng Sekarat pernah menjadi penjaga Kolam Sabda Dewa,

pasti dia akan takut dan hormat kepada Suto dan Dewa Racun. Jika tidak, ia bisa kena hukuman dari Gusti Ratu Kartika Wangi, penguasa negeri gaib itu. Jika tadi Ki Gendeng Sekarat seenaknya mempermainkan indera Pendekar Mabuk dan Dewa Racun, itu karena di dalam gua tanda gaib itu tidak terlihat. Dan sampai sekarang Ki Gendeng Sekarat belum mau tegakkan diri sebelum mendapat ucapan semacam berkat atau doa dari kedua orang itu. (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode: "Manusia Seribu Wajah").

Maka, setelah ingat hal itu, Suto pun segera ucapkan sapaan berkat kepada Ki Gendeng Sekarat.

"Damai hidupmu, panjanglah umurmu!"

Dewa Racun ucapkan sapaan sendiri, "Keselamatan selalu menyertaimu. Bangkitlah!"

Beruntung          sekali     Dewa    Racun    tidak      tergagap

bicaranya,           sehingga              tampak wibawa                dan        penuh kharisma. Maka, Ki Gendeng Sekarat pun segera mengangkat badannya, tegakkan diri sambil mengucap, "Terima kasih." Setelah itu ia sambungkan kata,

"Hamba sama sekali tidak menyangka bahwa...." "Cukup, Ki Gendeng!" potong Suto. "Aku tak mau

kau berlebihan dalam menghormat kami. Biasa-biasa saja. Percuma jika mulut dan sikap menghormat tapi batin tidak menghormat. Cukuplah Ki Gendeng bersikap hormat di dalam hati kepada kami, supaya hubungan kita tidak canggung!"

"Baik kalau memang itu perintah darimu," jawab Ki

Gendeng Sekarat.

"Banyak yang ingin kubicarakan berkenaan dengan negeri Puri Gerbang Surgawi itu! Aku juga ingin bicarakan tentang Siluman Tujuh Nyawa itu! Tapi seperti apa kata Ki Gendeng tadi, memang sebaiknya kami selesaikan dulu urusan kami di Pulau Serindu. Nanti kami baru mampir kemari lagi!"

"Saya setuju dengan rencanamu itu, Suto; Pendekar Mabuk!" kata Ki Gendeng Sekarat masih agak kaku karena hormat.

Dewa Racun ucapkan kata, "Jaga diri baik-baik, supaya kita bisa satukan kekkk... kekkk... kekkk...."

"Wah, macet lagi dia!" pikir Hantu Laut.

"Kkek...                kekkkuatan...    kekuatan             kita         untuk menyerang Kapal Siluman!"

"Baik. Aku sangat setuju dan tunggu perintah." Jawaban itu cukup mantap dan tegas. Tapi kelebatan

tangan Suto yang ingin melambai sebagai tanda pamitan membuat Ki Gendeng Sekarat sangat terkejut lagi. Lalu, dia buru-buru bersujud dan mencium tanah sambil berteriak,

"Ya, ampuun...! Mohon ampun hamba...! Mohon ampun...! Hamba sungguh-sungguh tidak tahu-menahu!" "Ada apa lagi dia ini?" tanya Pendekar Mabuk kepada Dewa Racun. Yang ditanya hanya bengong saja memperhatikan Ki Gendeng Sekarat bersujud di dekat kaki Suto. Hantu Laut semakin bingung dan menggaruk-

garuk kepalanya yang gundul itu sambil bergumam,

"Tak salah lagi namanya! Memang dia gendeng, barangkali!"

Pendekar            Mabuk  cepat     mengangkat       tubuh    Ki Gendeng Sekarat dengan sopan, tapi Ki Gendeng Sekarat tetap bersujud menyembah Suto Sinting.

"Ada apa lagi, Ki Gendeng?"

"Hamba melihat tato di telapak tangan Tuan Pendekar Mabuk! Hamba tahu itu adalah tanda yang diberikan kepada Manggala Yudha Kinasih dari negeri Puri Gerbang Surgawi! Hamba akan dipancung oleh Gusti Ratu Kartika Wangi jika tidak bersujud kepada Tuan Panglima!"

Pendekar Mabuk sebenarnya ingin tertawa keras, tapi takut menyinggung perasaan Ki Gendeng Sekarat, ia pun ikut-ikutan Dewa Racun, menutup mulut agar tak lontarkan tawa dalam suara. Kejap berikutnya, Suto segera berikan salam,

"Damai hidupmu, panjanglah umurmu. Bangkitlah, Ki Gendeng Sekarat! Hormatlah dalam hati saja!" Ki Gendeng Sekarat pun diam. Namun tetap bersujud.

Suto segera memanggilnya, "Ki Gendeng...! Ki Gendeng...!" Terdengar suara ngorok kecil di balik sujudnya. Pendekar Mabuk pun berkata, "Aduh, tidur

lagi!"

*

* *



6

BARU saja mereka akan berangkat meninggalkan

Pulau Mayat, tiba-tiba datang serombongan kapal

berbendera biru muda dengan gambar seekor merpati putih dan rembulan kuning. Kapal utamanya bertiang layar tiga, sedangkan di kanan kirinya terdapat kapal pengawal bertiang dua, di belakangnya dua kapal lagi bertiang dua juga,          dan di            depannya            satu       kapal berbendera sama dengan tiang layar tunggal. Enam kapal itu bergerak merapat ke pantai.

Ki Gendeng Sekarat tak jadi mengucapkan selamat jalan kepada rombongan Suto Sinting. Mulutnya hanya ternganga tak keluarkan bunyi. Matanya memandang lebar ke arah datangnya rombongan kapal berbendera biru dengan gambar merpati putih dan rembulan kuning.

Apa yang dilakukan Dewa Racun sama dengan apa yang dialami Ki Gendeng Sekarat. Dewa Racun yang sudah berada di atas perahu, tertegun bengong dalam senyum keceriaan yang tertahan. Matanya menatap ke arah  rombongan        kapal                yang      makin    mendekat. Sedangkan Hantu Laut yang juga sudah siap di haluan pun berhenti dari semua gerakannya. Tak berkedip pandangi datangnya rombongan kapal itu.

Pendekar Mabuk berdiri di samping Ki Gendeng Sekarat dan melemparkan pandangan matanya ke arah kapal-kapal itu sambil bergumam dalam tanya yang lirih,

"Siapa mereka, Ki Gendeng? "

"Orang-orang Pulau Serindu," jawab Ki Gendeng Sekarat dengan suara mengambang karena terpaku melihat sesuatu yang tak pernah diduga-duga itu.

Pendekar Mabuk tersentak kaget, lalu cepat pandangi wajah Ki Gendeng Sekarat. "Maksud Ki Gendeng,

mereka orang-orang Puri Gerbang Surgawi? "

Sebelum Ki Gendeng Sekarat menjawab, Dewa

Racun telah serukan suaranya dari atas perahu.

"Merr... mmeer... mereka datang! Mereka kemari, Suto!"

Wuuttt...! Orang kerdil itu sentakkan kakinya dan tubuhnya melenting di udara, tahu-tahu sudah berada di depan Pendekar Mabuk.

"Nyai... Nyai Gusti Mahkota Sejati datang, Suto!" "Dyah Sariningrum, maksudmu?!"

"Betul! Kapal bertiang lila... layar tiga itu adalah kapal khusus untuk perjalanan beliau! Aaaku... aku yakin beliau ada di kapal itu!"

Ki Gendeng Sekarat cepat menyahut, "Bukankah Nyai Gusti Mahkota Sejati sedang dalam pengaruh pukulan 'Candra Badar'?!"

"Sssse... sse... setahuku memang begitu. Tap... tapi kapal Sasangga Seto itu tidak akan berlayar jika bukan membawa Nyai Gusti Mahkota Sejati!" kata Dewa Racun. Wajahnya sedikit tegang, antara gembira dan curiga. Tetapi wajah Ki Gendeng Sekarat jelas-jelas curiga, sehingga tiada seulas senyum pun di bibir orang tua itu.

Suto sendiri mengucap kata lirih, "Apa yang terjadi di sana, sehingga ratu tinggalkan tempat dalam keadaan terancam pukulan 'Candra Badar'?!"

Pendekar Mabuk justru kelihatan gelisah. Teringat pukulan 'Candra Badar' yang dihantamkan ke tubuh Dyah Sariningrum, penguasa Puri Gerbang Surgawi

yang ada di Pulau Serindu. Pukulan itu bisa membuat orang yang menderitanya akan hangus terbakar jika terkena sinar matahari, sinar rembulan, bintang, kunang- kunang, dan apa saja yang bersifat sebagai cahaya alam.

Siluman Tujuh Nyawa sengaja melancarkan pukulan itu kepada Dyah Sariningrum untuk memenjarakan ratu cantik jelita itu agar tidak bisa ke mana-mana, dan hidupnya dalam ketergantungan terhadap Siluman Tujuh Nyawa. Hal itu dilakukan karena Siluman Tujuh Nyawa berkeinginan          besar     untuk    memperistri       Dyah Sariningrum. Tetapi lamarannya selalu ditolak.

Pukulan 'Candra Badar' itu tidak bisa lepas dari tubuh Dyah Sariningrum jika bukan Durmala Sanca atau Siluman Tujuh Nyawa yang melepaskannya. Sedangkan Dyah Sariningrum sudah telanjur jatuh cinta dengan Pendekar Mabuk, murid si Gila Tuak yang bernama Suto Sinting. Mereka memang belum pernah bertemu secara nyata, tapi mereka pernah bertemu di alam semadi Suto, hingga Pendekar Mabuk mencucurkan air mata berdarah di luar kesadarannya. Itu pertanda Pendekar Mabuk adalah calon jodohnya Dyah Sariningrum (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode: "Pusaka Tuak Setan"). Untuk selanjutnya, mereka sering jumpa lewat mimpi. Sampai suatu ketika, Dyah Sariningrum mengutus Dewa Racun untuk mencari pemuda tanpa pusar yang bernama Suto Sinting dan bergelar Pendekar Mabuk.

Dyah Sariningrum sendiri sebenarnya anak dari ratu penguasa alam gaib yang beraliran putih, yaitu Gusti Ratu Kartika Wangi. Dyah Sariningrum mempunyai

seorang kakak, guru di Perguruan Merpati Wingit, yaitu Nyai Betari Ayu. Perempuan ini pun sebenarnya jatuh cinta                kepada Suto,     tetapi    demi mendengar             Suto memburu cintanya kepada Dyah Sariningrum, akhirnya Betari Ayu mengundurkan diri, tapi masih tanamkan kasih sayang kepada Pendekar Mabuk. Kini Betari Ayu mengasingkan diri untuk menjadi seorang pertapa di Gunung Kundalini. (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode: "Pertarungan di Bukit Jagal" dan "Utusan Siluman Tujuh Nyawa").

Perjalanan Pendekar Mabuk menuju Pulau Serindu itulah yang menciptakan berbagai petualangan, di mana Dewa                Racun    selalu    berada  di samping          Suto, mendampingi calon suami ratunya itu. Kesetiaan Dewa Racun sebagai utusan yang jujur dan penuh pengabdian itulah yang membuat Ratu Kartika Wangi memberikan gelar kehormatan kepadanya sebagai Duta Terpuji, dan ia berhak mendapat tanda merah di dahinya sebagai orang yang harus dihormati oleh rakyat Puri Gerbang Surgawi di alam gaib. (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode: "Manusia Seribu Wajah").

Sebenarnya setelah singgah di Pulau Mayat lantaran badai lautan mengamuk, Suto dan rombongannya akan bertolak ke Pulau Serindu untuk membebaskan Dyah Sariningrum dari pengaruh pukulan 'Candra Badar', sekaligus menyerahkan Kitab Wedar Kesuma yang menjadi salah satu permintaan Dyah Sariningrum untuk mas kawinnya nanti. Tetapi mengapa sekarang Gusti Ratu Mahkota Sejati itu keluar meninggalkan negerinya

dalam keadaan masih terkena pengaruh pukulan 'Candra Badar'? Mungkinkah Durmala Sanca atau Siluman Tujuh Nyawa telah membebaskan pengaruh pukulan 'Candra Badar' itu? Atas dasar apa ia melepaskan pengaruh pukulan yang menjerat hidup seseorang yang diincarnya selama ini? Mungkinkah Dyah Sariningrum telah memberikan kesuciannya kepada Durmala Sanca sebagai tebusan untuk lepasnya pukulan 'Candra Badar'?

Hati kecil Suto Sinting mengatakan, bahwa itu tak mungkin. Dyah Sariningrum selalu menjaga kesucian mahkotanya. Usianya yang sudah jauh lebih banyak dari Suto dan tetap kelihatan muda serta cantik itu, ternyata masih belum kehilangan kesuciannya, sehingga ia mendapat julukan sebagai Gusti Ratu Mahkota Sejati. Dia          masih    gadis,    dan                kegadisannya    itu           akan dipersembahkan kepada orang yang paling dicintainya, yaitu Pendekar Mabuk.

Dewa Racun berseru kegirangan ketika bertemu dengan kapal terdepan yang dipimpin oleh seorang perempuan                cantik    berpakaian         biru        sisik emas. Perempuan itu adalah si Cakar Jatayu. Jika Dewa Racun adalah orang ketujuh kepercayaan Dyah Sariningrum, maka si cantik bermata sayu Cakar Jatayu itu adalah orang kedua kepercayaan Dyah Sariningrum. Ada pun orang kepercayaan Gusti Mahkota Sejati yang pertama adalah Cendana Wilis, yang memegang pusaka Pedang Kayu Cendana sebagai pengawal pribadi Ratu Mahkota Sejati.

Kapal-kapal itu kini merapat, tapi tak bisa sampai di

tepian pantai. Beberapa orangnya turun, mengawal sebuah peti dari lapisan logam emas berukir yang digotong memakai tandu beratap lengkung. Sebuah payung kerajaan mendampingi peti berlapis emas, menaungi peti tersebut. Peti panjang itu digotong oleh enam prajurit berseragam putih-putih dengan hiasan benang emas pada bagian tepinya.

Ki Gendeng Sekarat menerima rombongan itu dengan keramahan dan rasa penuh hormatnya, ia orang yang paling sibuk mengatur barang-barang dan tempat untuk mereka. Tapi lebih dulu Cakar Jatayu berbicara dengan Ki Gendeng Sekarat, yang di belakangnya berdiri Suto dan Hantu Laut. Sedangkan Dewa Racun mendampingi Cakar Jatayu sebagai penghubung antara orang-orangnya ratu dengan pihak Ki Gendeng Sekarat dan Pendekar Mabuk. Dewa Racun pula yang memperkenalkan Pendekar       Mabuk  kepada si             Cakar     Jatayu,  dan membeberkan siapa Hantu Laut yang sekarang ini, sehingga orang-orangnya ratu tidak memusuhi Hantu Laut.

"Apa yang terjadi sebenarnya, Cakar Jatayu?" tanya Ki Gendeng Sekarat setelah Cakar Jatayu memberi hormat kepada Suto Sinting, karena ia melihat tanda merah di dahi Suto dan Dewa Racun.

"Durmala             Sanca    mengerahkan    orang-orangnya, menyerbu        Pulau     Serindu                dan        membantai                dengan kejamnya!" jawab Cakar Jatayu. "Peristiwa pembantaian itu persis seperti yang ia lakukan terhadap penduduk Pulau Mayat ini dulu. Kami terdesak, dan kami cepat

melarikan ratu dengan menempatkan sang ratu di dalam peti kedap cahaya."

Pendekar            Mabuk  segera  ajukan  tanya,   "Lalu,

bagaimana keadaan di Pulau Serindu saat ini?"

"Dibumi-hanguskan oleh Siluman Tujuh Nyawa!" jawab Cakar Jatayu dengan rona duka tertahan.

"Keterlaluan!" Suto Sinting menggeram dengan

jantung berdetak keras, ia cepat kuasai diri untuk tidak melepaskan amarah sembarangan, karena ia ingat bahwa napasnya akan menjadi badai jika ia marah, sebab ia menelan Pusaka Tuak Setan.

Ki Gendeng Sekarat berkata, "Jika begitu, sebaiknya cepat bawa Ratu Gusti Mahkota Sejati ke dalam guaku. Sembunyikan beliau di dalam gua itu! Sementara yang lainnya bisa menempati gua sebelah utara untuk sementara waktu. Gua itu berhubungan dengan gua mayatku!"

"Jadi, kau izinkan kami mengungsi kemari?"

"Ya! Ini sudah menjadi kewajibanku, Cakar Jatayu!" Hantu Laut ikut membantu menurunkan barang-

barang Ratu Gusti Mahkota Sejati dari kapal. Mulanya ia

sempat diserang oleh empat prajurit ratu karena dianggap          orangnya             Siluman                Tujuh    Nyawa. Tapi pertikaian itu segera dipadamkan oleh Cakar Jatayu dan Dewa Racun.

Ki Gendeng Sekarat mengeluarkan semua mayat- mayatnya untuk menjaga pantai. Sementara itu, peti berlapis emas yang kedap sinar diletakkan di sebuah ruangan tak jauh dari ruang arena yang dipakai

pertarungan Suto dengan Gendeng Sekarat itu.

Di dalam kamar yang berpenerangan delapan obor itu, Cendana Wilis mengizinkan para bawahannya membuka peti tempat persembunyian ratu. Waktu itu, Pendekar Mabuk sedang berbicara dengan Cakar Jatayu di tepian arena berbentuk bundar itu. Arena tersebut dipersiapkan oleh     Ki            Gendeng             Sekarat untuk mengumpulkan para mayat yang akan diajak menyerbu Siluman Tujuh Nyawa. Tapi karena jumlah tentara mayatnya belum memenuhi syarat, maka tempat itu belum digunakan sebagaimana mestinya, kecuali untuk melatih          diri          Ki            Gendeng             Sekarat sendiri                dalam merangkaikan ilmu-ilmunya.

"Apakah Durmala Sanca ikut terjun langsung dalam pembantaian itu?" tanya Pendekar Mabuk kepada Cakar Jatayu.

"Tidak. Dia hanya ada di atas kapal dan memberi perintah kepada para anak buahnya."

"Apa yang menjadi penyebab utama sehingga ia membumihanguskan Pulau Serindu?"

Dengan mata sayu, Cakar Jatayu menjawab,

"Cendana Wilis memotong telinga utusan dari Kapal Siluman yang menyampaikan Kitab Wedar Kesuma palsu kepada Gusti Ratu."

"Ooo...!" Suto manggut-manggut, tangannya masih bersidekap di depan dadanya yang kekar dan bidang itu.

"Kudengar juga kabar dari mulut ke mulut," lanjut Cakar Jatayu, "Siluman Tujuh Nyawa sangat murka dan sakit hati karena pengawal pribadinya yang diutus ke

Pulau Beliung lenyap di tanganmu!" "Hei, dari mana dia tahu hal itu?"

"Dia        mengikuti            perjalanan          kedua   pengawal

kembarnya itu melalui pusaka yang dimilikinya, yaitu sebuah perisai bercermin yang dinamakan Perisai Mata Iblis. Kini dia sudah melihat sendiri seperti apa wujud dan rupa orang yang bernama Pendekar Mabuk."

"O, begitu rupanya? Jadi dia sekarang juga tahu kalau aku ada di sini?"

"Tidak," jawab Cakar Jatayu. "Menurut cerita ratu, Cermin Perisai Mata Iblis hanya bisa dipakai oleh orang yang membawa Cermin Benggala Kembar. Karena dua utusannya itu membawa pusaka Cermin Benggala Kembar, maka dia dapat memantau perjalanannya, sampai matinya di tanganmu!" (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode: "Cermin Pemburu Nyawa").

Ki Gendeng Sekarat muncul dari salah satu lorong, segera menemui Suto Sinting dan Cakar Jatayu. Dengan sangat sopan dan hormat, Ki Gendeng Sekarat menyela percakapan tersebut.

"Ratu ingin bertemu denganmu, Suto. Beliau ingin bicara di sini saja! Apakah kau keberatan?"

"Tidak! Tapi tolong tutup atap ruangan ini supaya tidak ada sinar alam yang masuk!"

"Baik. Akan kulakukan untuk merapatkan semua

lubang cahaya!" kata Ki Gendeng Sekarat, tapi sebelum ia melangkah, kepalanya terkulai, bibirnya sedikit memble, suara dengkurnya yang kecil samar-samar terdengar.

"Hmmm... tidur lagi dia," gerutu Suto dalam gumam. Cakar Jatayu sunggingkan senyum geli melihat Ki Gendeng Sekarat berjalan sambil tertidur. Buat Cakar Jatayu, pemandangan seperti itu sudah bukan hal yang aneh lagi. Semua orangnya ratu tahu bahwa Ki Gendeng Sekarat adalah tokoh berilmu tinggi yang tak pernah bisa menahan kantuk yang menyerangnya secara tiba-tiba.

Cakar Jatayu memeriksa ruangan itu. Dua puluh obor menerangi tempat tersebut, karena atap berlubang dengan bentuk cerobong gunung berapi itu telah ditutup oleh Ki Gendeng Sekarat dengan segumpal awan hitam yang tak bisa ditembus cahaya matahari. Ruangan itu sangat rapat dari cahaya alam.

Cakar Jatayu juga memeriksa tempat duduk ratu yang ada di tengah lantai bundar dari marmer putih itu. Singgasana itu sempat dibawa dari Pulau Serindu dan dipindahkan ke dalam gua tersebut. Dua orang gadis cantik bagian pengipas sudah siap di kanan kiri tempat duduk ratu. Beberapa orang yang termasuk pejabat istana sudah mengelilingi ruangan itu.

Suto tetap menyandang bumbung tuak di pundaknya, ia berdiri di tepian lantai bundar itu, tiga langkah di samping Cakar Jatayu. Kejap berikutnya, Gusti Ratu Mahkota Sejati; Dyah Sariningrum keluar dari sebuah lorong tempat kamarnya. Kemunculannya didampingi oleh seorang wanita cantik berpakaian kuning emas mengkilap dan ketat, dengan rompi putih beludru berhias emas pula di tepiannya. Rambutnya panjang berponi, matanya bulat bening menambah kecantikannya. Orang

itulah yang menjadi pengawal pribadi ratu, yang dikenal dengan               nama     Cendana              Wilis.     Di                punggungnya tersandang pusaka Pedang Cendana yang baunya menyebar harum di setiap sudut ruangan tersebut.

Pendekar Mabuk sedikit gemetar kakinya ketika melihat              Dyah      Sariningrum        melangkah          menuju singgasana. Mata perempuan cantik jelita berkharisma tinggi itu tiada berkedip menatap ke arah Suto. Bibir mungilnya          yang                indah     bak         kuncup melati   itu sunggingkan                senyum                tipis berkesan    malu-malu. Pendekar Mabuk jantungnya berdegup cepat, dadanya bergemuruh dicekam kegembiraan dan kebahagiaan yang selama ini hanya menjadi buah impian belaka.

Gusti Ratu Mahkota Sejati tampak anggun dan amat mengagumkan mata lelaki yang memandangnya. Dia mengenakan pakaian mirip Betari Ayu, kakaknya. Jubah kuning dengan pakaian dalam warna biru muda dari bahan mengkilap dan lembut, ia mengenakan mahkota pada rambutnya yang disanggul indah itu. Sebuah kalung yang bernama Sangsangan Susun dikenakannya, yaitu kalung emas bertaburan intan berlian bersusun tiga. Kalung Sangsangan Susun merupakan tanda bahwa pemakainya masih gadis. Di samping itu ia juga tampak mengenakan cincin ungu bening yang dinamakan Delima Wulung. Konon cincin itu jika dimasukkan ke dalam kolam, maka air kolam bisa berubah menjadi bayangan suatu kehidupan dari orang yang dikehendaki. Melalui cincin Delima Wulung itulah Dyah Sariningrum sering memperhatikan kehidupan Suto Sinting jika

hatinya sedang dicekam rindu.

Semua pejabat istana yang ada di situ segera tundukkan kepala menghormat Gusti Ratu Mahkota Sejati, termasuk Cakar Jatayu dan Pendekar Mabuk sendiri. Lalu, Gusti Ratu segera ucapkan kata,

"Damaiku adalah damai kita bersama!"

Setelah ratu ucapkan salam begitu, hormat mereka pun selesai. Mereka kembali tegak, termasuk Cakar Jatayu dan Pendekar Mabuk. Mata Dyah Sariningrum cepat alihkan pandang ke arah Suto, dan ia berkata dengan suara lembutnya,

"Lain kali kau tak perlu tundukkan kepala seperti mereka, Suto!"

"Mengapa?" tanya Pendekar Mabuk polos saja. "Karena kau termasuk orang yang seharusnya juga

memberi berkat dalam salammu untuk mereka. Bahkan

kedudukanmu  sebetulnya         lebih      tinggi     dari kedudukanku."

Pendekar Mabuk bingung dengan berkerut dahi, lalu ajukan tanya, "Mengapa saya lebih tinggi dari Gusti Ratu?"

"Dekatlah kemari, akan kujelaskan...!" walau gemetar kakinya, Suto pun segera mendekati sang ratu.

"Bukalah              telapak tanganmu           yang      kanan    dan perlihatkan kepada mereka," kata sang ratu. Suto pun melakukannya, membuka           telapak tangannya           dan dihadapkan kepada mereka.

Ternyata mereka semua terperanjat kaget, kemudian buru-buru mereka tundukkan kepala memberi hormat

secara   serempak.          Pendekar            Mabuk  tak          segera memberikan salam kepada mereka, ia malah bertanya,

"Mengapa Cakar Jatayu dan Cendana Wilis ikut

hormat kepadaku?"

"Kau seorang panglima, dan kau adalah Manggala Yudha Kinasih yang diangkat resmi oleh ibuku, Nyai Ratu Kartika Wangi! Mereka kenal betul dengan tato di tanganmu itu; Suto!"

Dyah      Sariningrum        segera  berdiri   dan membungkukkan badan menghadap Pendekar Mabuk sambil berkata,

"Kau lebih tinggi derajat kedudukannya dibandingkan dengan aku dan Kakak Betari Ayu. Karena kami, sebagai anak Ibu Kartika Wangi, tak bisa menjadi Manggala Yudha Kinasih dari negeri Puri Gerbang Surgawi di alam hening."

"Ooo... begitu," Suto manggut-manggut seperti orang pongah, ia tidak segera ucapkan salam berkat, sehingga mereka masih tetap menunduk tak berani tegakkan diri. Bahkan di tepian lorong menuju kamar ratu, tampak pula Dewa Racun yang ikut membungkuk memberi hormat kepada sang Manggala Yudha Kinasih.

Karena  lamanya               Suto       tertegun              memandangi sekelilingnya, maka ratu pun berbisik, "Lekas ucapkan salam berkatmu, Suto...!"

Dasar sinting, Suto meneguk tuaknya sebentar, setelah itu baru berkata, "Damai hidupmu, panjanglah umurmu...!"

Barulah mereka                tegakkan             badan   sambil

menghembuskan napas lega.

*

* *



7

RUPANYA Ratu Kartika Wangi punya pertimbangan lain. Ia tahu, Pendekar Mabuk akan menjadi suami dari anaknya                yaitu      Dyah      Sariningrum. Padahal     Dyah Sariningrum adalah seorang ratu yang dihormati oleh semua rakyatnya, sedangkan Suto tidak mempunyai jabatan apa-apa. Jika Suto telah menikah dengan Dyah Sariningrum maka ia berada di bawah kekuasaan istrinya.

Ratu Kartika Wangi tak ingin kedudukan Suto lebih rendah dari istrinya. Tak baik untuk hubungan suami- istri jika sang istri mempunyai kedudukan lebih tinggi dari suami, sehingga sang istri akan kurang hormat kepada sang suami. Sebab itu, Ratu Kartika Wangi tingkatkan kedudukan derajat Pendekar Mabuk dengan mengangkatnya sebagai Manggala Yudha Kinasih, panglima pilihan sang ibu yang menguasai negeri gaib, yang kedudukannya lebih tinggi dari seorang ratu di alam nyata. Dengan begitu, kelak Dyah Sariningrum punya   rasa        hormat kepada suaminya             dan        tidak meremehkan sang suami karena merasa sebagai ratu.

Pendekar Mabuk baru tahu, apa alasan utama Ratu Kartika Wangi mengangkatnya sebagai Manggala Yudha Kinasih. Dyah Sariningrum sendiri yang membeberkan

alasan sang ibu tersebut pada waktu Suto selesai menghilangkan pengaruh kekuatan pukulan 'Candra Badar'. Pukulan penjerat hidup Dyah Sariningrum. Suto Sinting menoreh kedua jempol  tangannya hingga mengeluarkan darah, dan kedua jempol tangan Dyah Sariningrum pun ditorehnya pula hingga keluarkan sedikit darah.

Mereka duduk bersila berhadapan. Kedua tangan mereka saling merapat berhadapan. Bekas luka di jempol masing-masing saling merapat, sehingga terjadilah pertukaran darah sebagian kecil dalam diri mereka. Darah Suto masuk ke tubuh Dyah Sariningrum, dan darah Dyah Sariningrum sendiri masuk sebagian ke dalam tubuh Suto. Pada saat penukaran itu, Suto mengalirkan hawa murni dari dalam tubuhnya dan semburkan darah Tuak Setan yang digunakan untuk melenyapkan kekuatan pukulan 'Candra Badar'. Dengan sentakan darah Tuak Setan-nya, maka kekuatan pukulan

'Candra Badar' di dalam darah Dyah Sariningrum menjadi lenyap dan tawar.

"Sekarang kau bebas pergi ke mana saja," kata

Pendekar Mabuk dengan menyeka keringatnya yang mengucur di sekujur tubuhnya akibat cara pengobatan tersebut.

"Aku tak tahu bagaimana harus berterima kasih padamu," kata Dyah Sariningrum. Ia sendiri yang mengambil kain halus sebagai penyeka tubuh, dan ia sendiri yang membantu mengeringkan keringat Pendekar Mabuk dengan sentuhan lembut dan penuh kemesraan.

"Berterima kasih itu mudah," kata Suto, "Tapi membina kasih itu yang sulit!"

Dyah Sariningrum sunggingkan senyumnya di depan

Suto. Hati Suto berbunga melihat senyum berlesung pipit yang luar biasa cantiknya itu. Namun Pendekar Mabuk masih bisa kendalikan diri untuk memendam kegembiraan yang semestinya melonjak seperti anak kecil menerima hadiah dari orangtuanya.

"Aku sudah membawa Kitab Wedar Kesuma sebagai mas kawin untukmu!" ujar Pendekar Mabuk setelah beberapa saat lamanya mereka saling beradu pandang.

"Kitab Wedar Kesuma?! Dari mana kau tahu aku menghendaki mas kawin kitab milik ayundaku Betari Ayu itu?"

"Dewa Racun menceritakan padaku tentang mas kawin yang kau ajukan kepada Siluman Tujuh Nyawa, yaitu sebuah kitab pusaka Wedar Kesuma dan satu hal lagi... mungkin kepalanya Suto Sinting!"

Dyah      Sariningrum        tertawa                pelan.   "Aku      hanya mempersulit dia!"

"Tapi kau memang membutuhkan kitab ini, karena

aku tahu apa maksudmu meminta Kitab Wedar Kesuma sebagai salah satu dari mas kawinmu! Dewa Racun menceritakan segalanya kepadaku!"

Dyah      Sariningrum        tersenyum          bangga ketika menerima Kitab Wedar Kesuma dari tangan Suto Sinting. Di dalam kitab itu selalu tercatat dengan sendirinya semua jurus temuan dan ciptaan dari Betari Ayu dan Dyah Sariningrum. Tetapi Dyah Sariningrum

tidak tahu bahwa di dalam kitab itu pun tercatat dengan sendirinya semua jurus yang digunakan Pendekar Mabuk menyerang         lawannya selama             Pendekar            Mabuk membawa kitab itu yang terselip di punggungnya.

Dyah Sariningrum yang bangga itu pun berkata, "Aku sangat bangga bisa bertemu dengan calon suamiku dan menerima kitab ini...."

"Baru kitab ini yang bisa kuberikan sebagai tanda cintaku padamu, Dyah Sariningrum. Untuk permintaan yang satunya lagi, yaitu kepala Suto Sinting, aku belum sanggup!" canda Suto.

Dyah      Sariningrum hanya          tertawa                kecil       sambil berkata, "Bagaimana jika diganti kepala siluman saja?"

"Kurasa                itu           bukan   mas        kawin,   tapi        memang kewajibanku memenggal kepalanya!"

"Baiklah jika begitu! Kita akan menikah setelah kau

berhasil memenggal kepala Siluman Tujuh Nyawa!" "Akan kulakukan secepatnya, supaya lengkap sudah

mas kawinku!"

"Kuharap kau sendiri yang melakukannya! Bukan orang lain!"

"Aku mengerti harapanmu, dan aku ingin buktikan bahwa aku tak akan kecewakan harapanmu! Karena aku merasa, dengan menyerahkan kepala Siluman Tujuh Nyawa, berarti aku telah menyerahkan kedamaian untuk masa hidupmu, rakyatmu dan sesamamu!"

"Tak ada yang lebih pantas diterima Siluman Tujuh

Nyawa kecuali penggalan kepala!"

"Aku akan menantangnya bertarung!"

"Hati-hati...         aku         tak          harapkan             kepalamu            yang terpenggal!"

Cendana Wilis beranikan diri menemui ratu dan Suto.

Wajahnya tampak tegang walau tetap berkesan tenang. Ratu Gusti Mahkota Sejati segera kerutkan dahi melihat sesuatu                tak          beres    tercermin di       wajah    pengawal pribadinya,

"Ada apa, Cendana Wilis?"

"Kapal kita hilang semua, Gusti Ratu!" jawab

Cendana Wilis.

Ratu terperanjat dan menatap Pendekar Mabuk. Tetapi, Suto justru sunggingkan senyum dan berkata,

"Tak perlu kau cemaskan, Cendana Wilis! Aku yang menghilangkan semua kapal dengan jurus 'Sembur Siluman'-ku!"

"Kenapa hal itu kau lakukan, Suto?"

"Supaya orang-orang Siluman Tujuh Nyawa tidak ada yang melihat kapal kita berlabuh di pulau ini, sehingga mereka akan kehilangan jejak!"

Dyah Sariningrum segera hembuskan napas lega. Tapi Cendana Wilis masih tampak gelisah dan cepat ucapkan kata,

"Tapi di luar ada yang menyerang mayat-mayat prajuritnya Ki Gendeng Sekarat, Gusti Manggala!"

Suto yang dipanggil Gusti Manggala Kinasih jadi

kerutkan dahi, dan cepat bertanya, "Siapa orang yang mengamuk itu?" "Saya belum jelas, Gusti Manggala!"

"Cakar Jatayu apakah tidak bisa meredakan amukan

orang itu?"

"Cakar Jatayu terkena pukulan berbahaya dan ia menjadi lumpuh tanpa daya, Gusti Manggala!"

Suto       cepat     palingkan             pandang              ke           arah       Dyah Sariningrum. Ratu nampak makin gelisah, lalu cepat berkata,

"Aku akan temui orang itu!"

"Jangan!" cegah Suto. "Diamlah di tempat bersama

Cendana Wilis! Biar aku yang tangani orang itu!"

Orang yang sudah berhasil menghancurkan dua mayat tentaranya Ki Gendeng Sekarat itu berambut putih dikonde di tengah kepala. Jenggotnya panjang dengan kumis tebal warna putih pula. Usianya setara dengan usia Ki Gendeng Sekarat. Orang itu mengenakan pakaian model biksu berwarna putih, bertubuh kurus tapi masih kelihatan lincah dan gesit, membawa tongkat kayu bercabang yang diambil dari sembarang kayu di tengah perjalanannya. Orang itu tak lain adalah Jangkar Langit, pemilik Pusaka Tombak Maut, yang hilang dicuri dan dibawa lari oleh Tapak Baja bersama Hantu Laut. Bahkan Jangkar Langit sendiri pernah berhadapan dengan Hantu Laut setelah tombak itu akhirnya direbut oleh Hantu Laut dari tangan Tapak Baja dengan membunuh Nakhoda Kapal Neraka itu. Pada waktu itu, Hantu Laut unggul karena ia memegang Pusaka Tombak Maut. (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode: "Pusaka Tombak Maut").

Jangkar Langit menghancurkan dua mayat setelah ia merubuhkan Hantu Laut yang dibela oleh Cakar Jatayu.

Perempuan bermata sayu indah itu pun akhirnya terkena pukulan berat dari Ki Jangkar Langit. Lehernya membiru legam dan susah dipakai untuk bicara atau bernapas. Sedangkan Hantu Laut sendiri dibuat lumpuh tak berdaya dengan menderita kebutaan di matanya.

Amukan Jangkar Langit itu segera diredakan oleh Ki Gendeng Sekarat sebelum kedatangan Pendekar Mabuk di tempat pertarungan mereka, pinggiran pantai. Ki Gendeng Sekarat mencoba menenangkan hati teman lamanya itu,

"Jangkar               Langit,   tidak      semua  persoalan            bisa diselesaikan dengan kekerasan! Ada baiknya jika kau redakan kemarahanmu dan kita bicarakan secara baik- baik!"

"Aku tak punya kesempatan untuk bicara!" kata Ki Jangkar Langit yang masih ingin menggempur Hantu Laut untuk mendapatkan tombak pusakanya itu. Sebab setahu dia, Hantu Laut-lah yang membawa pusaka itu. Ia belum tahu bahwa pusaka itu sudah dilenyapkan oleh Pendekar Mabuk dengan jurus 'Sembur Siluman'-nya.

"Aku tahu, kau orang yang sabar, Jangkar Langit! Aku percaya, kau orang yang bisa diajak bicara!"

"Untuk merebut tombak pusakaku, aku bukan orang yang bisa diajak bicara! Kembalikan tombakku, atau mati orang itu!" tegas Ki Jangkar Langit.

Ki Gendeng Sekarat mencoba untuk tersenyum dan tampakkan sikap bijaknya. Ki Gendeng Sekarat merasa perlu melindungi Hantu Laut, karena menurut anggapan, Hantu Laut adalah anak buah Suto Sinting. Rasa

hormatnya          kepada Pendekar            Mabuk  itulah     yang membuat Ki Gendeng Sekarat menahan kemarahan Jangkar Langit kepada Hantu Laut.

"Sekali lagi aku berharap padamu, Jangkar Langit... redakan amarahmu dan mari kita bicarakan secara baik- baik!"

"Tak bisa! Sebaiknya menyingkirlah dari hadapanku, Gendeng Sekarat! Jangan kau halangi aku menggempur si botak keparat itu!"

"Ini pulau kekuasaanku, Jangkar Langit. Kau tak berhak usir aku dengan cara apa pun! Tapi aku berhak mengusirmu untuk cepat tinggalkan pulauku!"

"O, jadi sekarang kau memihak anak buah Durmala

Sanca itu?"

"Aku bukan memihak! Aku hanya berdiri sebagai penengah saja!"

"Kalau kau sebagai penengah, berarti kau telah menghalangi      langkahku           untuk    merebut              tombak pusakaku dari tangan setan gundul itu!"

"Kalau aku menjadi penghalangmu, lantas kau mau apa?!" kata Ki Gendeng Sekarat mulai kehilangan kesabarannya.

"Aku tak akan gentar mendengar tantangan halusmu ini, Gendeng Sekarat! Demi memperoleh pusakaku kembali, aku tak keberatan jika persahabatan kita menjadi putus sampai di sini!"

"Kalau itu maumu, aku pun tak akan keberatan kehilangan nyawa seorang sahabat!"

"Jika begitu, lepaskanlah ilmu totokmu yang kau

salurkan melalui suaramu ini! Biarkan aku bergerak melawanmu, Gendeng Sekarat!"

Beberapa            prajurit ratu        yang      memperhatikan

pertarungan itu menjadi terperangah. Mereka baru tahu, bahwa Ki Jangkar Langit sejak tadi berdiri dengan kaki rapat dan tangan berada di belakang dan yang kiri berada di samping memegangi tongkatnya, bukan karena sekadar diam biasa, melainkan karena telah ditotok jalan darahnya melalui suara Ki Gendeng Sekarat. Tenaga dalam itu disalurkan lewat ucapan dan suara Ki Gendeng Sekarat yang mampu membuat lawannya diam tak bergerak bagaikan patung.

Sebuah ilmu yang jarang dilihat oleh para prajurit ratu selama ini. Dalam hati mereka timbul rasa kagum dan pujian yang tinggi untuk Ki Gendeng Sekarat. Dan anehnya lagi, sekarang Ki Gendeng Sekarat justru tundukkan kepala dengan terkulai dan bibirnya sedikit ternganga kendor. Itu pertanda dia tertidur nyenyak hingga mengeluarkan dengkur pelan yang samar-samar.

"Hmm...! Rupanya dari dulu kau belum bisa atasi penyakit tidurmu itu, Gendeng Sekarat!" kata Jangkar Langit.

"Memang belum!" jawab Ki Gendeng Sekarat sambil tetap tertidur. "Tapi buatku itu tak masalah. Karena menahan kantuk itu lebih sulit daripada menahan amarah diri sendiri!"

"Percuma kau bilang begitu kalau tak bisa menahan nafsu kantukmu sendiri!"

"Percuma juga kau bilang begitu kalau kau tak bisa

lepaskan daya totokku?!" ejek Ki Gendeng Sekarat dengan suara sumbang, seperti malas-malasan bicaranya.

Jangkar Langit merasa diremehkan, ia menggeram

gemas. Kemudian ia pejamkan mata pula dengan kepala tetap tegak tak tertunduk. Kedua orang tua itu seperti saling                tidur      dalam    keadaan berdiri.               Tapi        kejap berikutnya, Ki Gendeng Sekarat tiba-tiba memekik sambil melonjak,

"Aaauh...!"

Pekikan itu keras, dan akibatnya totokan jalan darah Jangkar Langit pun lepas. Kini Jangkar Langit bebas bergerak kembali, karena ia telah memancing suara Ki Gendeng Sekarat agar disentakkan bersama tenaga dalam penotok darahnya, dengan cara menghantam ulu hati Ki Gendeng Sekarat melalui sentakan batin.

Jangkar Langit tidak cepat menyerang Ki Gendeng Sekarat yang membuka mata sebentar dan terkantuk lagi itu. Tetapi, Hantu Laut yang sedang menahan rasa sakit di bawah sebuah pohon itulah yang segera diserbu oleh Jangkar Langit, ia melesat bagaikan menghilang dari tempatnya. Tetapi ia sama sekali tak menduga bahwa begitu ia tiba di depan Hantu Laut yang buta matanya itu, ternyata Ki Gendeng Sekarat sudah mendahului menghadang di depannya. Wusttt...! Wuttt...!

"Mau ke mana kau, Jangkar Langit?!" kata Ki Gendeng   Sekarat dengan tetap     tertidur                dan mengeluarkan dengkur kecil.

"Setan alas! Kau benar-benar mau halangi aku, hah! Hihh...!"

Ki Jangkar Langit menebaskan tongkatnya ke kepala Ki Gendeng Sekarat yang terkulai tidur. Tapi dengan cepat tongkat itu bisa ditangkis dan ditangkap oleh tangan Ki Gendeng Sekarat. Tapp....! Lalu, dengan satu sentakan bertenaga dalam cukup tinggi, tongkat itu didorongkan ke depan. Wuttt...! Tubuh Jangkar Langit ikut terdorong mundur bagaikan terbang, karena telapak kakinya tidak dipijakkan ke tanah.

Beggh...! Punggung Jangkar Langit menghantam salah satu batang pohon berdaun rindang. Pohon itu langsung daunnya menjadi layu karena benturan dengan punggung Jangkar Langit itu dialiri tenaga dalam yang cukup tinggi.

Sambil   masih    tertidur,               Ki            Gendeng             Sekarat melangkahkan kakinya maju beberapa tindak untuk mendekati Ki Jangkar Langit. Sementara itu, mereka yang menyaksikan pertarungan itu semakin dibuat terpukau, karena para prajurit bawahan itu baru sekarang melihat orang bertarung dalam keadaan tetap tidur.

Jangkar Langit tetap berdiri di bawah pohon yang habis ditabraknya itu. Lalu ia ucapkan kata,

"Perlukah kita beradu nyawa untuk merebutkan orang keling itu?!"

"Aku hanya melayanimu," jawab Ki Gendeng Sekarat dengan suara sumbang. "Kalau kau mau adu nyawa, aku siap. Kalau kau mau adu debat, aku juga siap!"

"Baik! Mungkin memang sudah takdir, bahwa kita harus adu nyawa untuk mempercepat siapa yang harus lebih dulu mati di antara kita berdua, Gendeng Sekarat!"

"Aku sudah siap!" jawab Ki Gendeng Sekarat walau sebenarnya                ia             masih    tertidur.               "Tapi      sekali     lagi kuingatkan padamu, Jangkar Langit, bahwa tombak itu memang tidak ada pada Hantu Laut. Tombak itu menurut ceritanya, sudah dilenyapkan oleh Pendekar Mabuk, murid teman kita sendiri; si Gila Tuak!"

"Persetan dengan bicaramu! Sudah telanjur di ubun- ubun amarahku padamu, Gendeng Sekarat! Hiiih...!"

Zlllap...! Sebuah sinar putih melesat dari salah satu cabang pada tongkat Ki Jangkar Langit. Sinar putih itu cepat menguasai tubuh Ki Gendeng Sekarat. Tubuh Ki Gendeng Sekarat menjadi berpendar-pendar cahaya putih yang sebentar lagi akan lenyap, tinggal suara lengkingnya yang menjauh dan menghilang pula.

Namun sebelum hal itu terjadi, Suto Sinting telah melesat dari atas sebuah pohon, ia semburkan tuak dari dalam mulutnya. Bruusss...! Tuak itu menyembur ke tubuh Ki Gendeng Sekarat. Dan tiba-tiba sinar putih itu padam tanpa asap sedikit pun.

Saat       itu           Jangkar Langit    terperanjat         hingga membelalakkan matanya. Tak pernah ada orang yang bisa padamkan sinar putih jika sudah mengenai sasaran. Tapi sekarang ia merasa menghadapi kenyataan yang sukar dipercaya oleh hati kecilnya sendiri.

Ki Gendeng Sekarat mengibaskan kepalanya seperti tidurnya disiram oleh air satu ember. Matanya terbuka lebar dan setengah menggeragap. Ketika ia melihat Suto sudah ada di sampingnya, ia lebih bingung lagi dan berkata,

"Ada hujankah tadi?"

"Sedikit, Ki! Mundurlah, biar kuhadapi orang itu!"

Ki Jangkar Langit jadi berpikir dua kali menghadapi pemuda berbaju coklat dan bercelana putih yang telah mampu memadamkan ilmu 'Kejap Netra' itu. Tapi melihat bumbung tuak di punggungnya, Jangkar Langit segera tahu siapa pemuda tampan berambut panjang itu.

"Kaukah murid si Gila Tuak?" "Betul!"

"Pantas kau mampu padamkan ilmu 'Kejap Netra' ku!"

"Supaya tidak timbulkan korban, itu harus saya

lakukan," kata Suto bernada menghormati lawannya yang tua.

"Jika Tombak Maut kau pulangkan di tanganku, maka aku berjanji tak akan timbulkan korban lebih banyak lagi!"

"Memang saya yang lenyapkan tombak itu, hanya sekadar untuk pengamanan saja. Bukan untuk saya miliki sendiri! Sekarang, terimalah Pusaka Tombak Maut ini...!"

Suto maju beberapa tindak mendekati Jangkar Langit dan berbisik, "Jangan pandang saya, Ki. Biarkan saya kembalikan tombak itu melalui tongkat Jangkar Langit itu!    Jika         Jangkar memandang      saya,      saya       sulit mengendalikan jurus 'Jelma Siluman'!"

Ki Jangkar Langit palingkan pandang ke arah Hantu Laut. Suto memandangi tongkat kayu bercabang itu. Dan tiba-tiba, clappp...! Tongkat kayu itu telah berubah

menjadi tombak berujung taring babi. Jangkar Langit terkejut, dan sempat sangsi. Tapi setelah ia mencoba untuk menggunakan tombak itu dengan menebaskannya ke samping, ternyata ada getaran kuat yang diterima oleh telapak tangannya. Itu pertanda tombak tersebut adalah Pusaka Tombak Maut.

"Terima kasih! Suatu saat akan kubalas kebaikanmu!" kata Jangkar Langit sebelum tinggalkan Pulau Mayat itu.

*

* *



8

CENDANA Wilis terheran-heran kagum melihat ilmu Pendekar Mabuk. Gerakan terbang Suto saat semburkan tuak untuk padamkan ilmu 'Kejap Netra' itu membuatnya tak berkedip sedikit pun. Juga pada saat memunculkan kembali tombak pusaka, juga membuat mata Cendana Wilis tak mau berkedip sedikit pun. Dari kejauhan dia memandang, tapi cukup jelas baginya, bahwa Pendekar Mabuk memang layak menyandang gelar sebagai Manggala Yudha Kinasih. Apalagi ketika ia melihat cara sang Pendekar Mabuk sembuhkan luka pada diri Cakar Jatayu dan Hantu Laut, yang dengan hanya meminumkan tuak saja bisa bikin mereka sehat kembali dalam waktu yang tergolong singkat itu, Cakar Jatayu dan Cendana Wilis lebih kagum lagi kepada Suto Sinting.

Ki Jangkar Langit segera tinggalkan tempat dengan

mulai berlayar menggunakan perahu layar biru, milik anak buah Siluman Tujuh Nyawa. Cendana Wilis memperhatikan                kepergian            orang    tua         itu yang menurutnya      memang              tak          seimbang            ilmunya                jika bertarung melawan Cakar Jatayu.

Cendana Wilis tiba-tiba terperanjat kaget ketika melihat seseorang yang berseragam prajurit sang ratu itu muncul dari samping perahu Ki Jangkar Langit. Orang yang muncul itu dikenal oleh Cendana Wilis dengan nama Ludiro. Kemunculannya dari kedalaman air di samping perahu membuat Cendana Wilis curiga, hingga ia cepat menghubungi Suto dan memberitahukan hal itu sambil menunjuk ke arah perahu yang siap berlayar itu.

"Saya rasa ada pihak lain yang menginginkan Tombak Maut itu, Gusti Manggala!" kata Cendana Wilis.

"Hmmm... ya! Kelihatannya begitu!"

Ki Gendeng Sekarat yang waktu itu ada di samping Suto Sinting juga mendengar ucapan Cendana Wilis dan segera memandangi kepergian Jangkar Langit. Lalu, Ki Gendeng Sekarat ucapkan kata,

"Biar saja! Orang itu akan mati di tangan Jangkar Langit! Tak mungkin Jangkar Langit kecolongan lagi pusakanya itu!"

Tetapi, ketika Ludiro melesat timbul dari kedalaman air dan hinggap di buritan perahu dengan ringannya, Cendana Wilis cepat berlari mendekati tepian pantai. Kemudian, kelima jari kanannya menguncup dan disentakkan ke depan seperti seekor ular mematuk

lawannya dari samping. Wesst...! Beggh...!

Pukulan tenaga dalam bernama jurus 'Patuk Kelabang Liar' itu mengenai sasarannya walau dalam jarak lebih dari dua puluh langkah. Pukulan itu tidak bersinar, sehingga sulit dilihat oleh lawan. Ludiro yang sedang berdiri hendak melancarkan pukulan tenaga dalamnya mengarah ke punggung Jangkar Langit, tersentak seketika dan tercebur ke perairan kembali.

Cendana Wilis cepat berlari pada saat Jangkar Langit palingkan wajah ke belakang. Cendana Wilis berseru,

"Dia mau membokongmu, Ki Jangkar Langit!" "Siapa dia?"

"Anak buahku. Maafkan! Tapi kami akan urus dia sesuai hukum kami! Harap jangan jadikan ini perkara!"

"Lakukan yang terbaik menurut ratumu!" kata Ki

Jangkar Langit.

Ludiro segera ditangkap oleh Cendana Wilis, Jangkar Langit segera tinggalkan tempat. Ludiro diseret dan dihadapkan kepada Suto oleh Cendana Wilis.

"Apa yang harus saya lakukan untuk orang ini. Gusti

Manggala?!"

"Buka baju rompinya dan periksa punggungnya!" Ludiro yang pucat pasi karena habis terkena pukulan

'Patuk kelabang Liar' itu, tak bisa berbuat apa-apa. Badannya      lemas    ketika    diseret  dan dilepas         baju rompinya.

Pada mulanya, Cendana Wilis hanya merasa tak enak kepada Ki Jangkar Langit jika ketahuan bahwa Ludiro ingin merebut tombak pusaka tersebut. Setidaknya akan

timbul perselisihan pihak Jangkar Langit dengan pihak sang ratu. Walaupun apa yang dikatakan Ki Gendeng Sekarat tadi memang benar, bahwa Jangkar Langit akan bisa                mengatasi           tindakan              Ludiro.  Tapi        itu           akan menimbulkan kesan jelek pada pihak prajurit sang gusti ratu. Sebab itu, Cendana Wilis cepat bergerak dan menangkap Ludiro sebelum Ki Jangkar Langit yang melakukannya sendiri.

Tetapi, pikiran Pendekar Mabuk tidak hanya sampai di situ. Ia langsung saja menaruh curiga kepada Ludiro dan menyuruh periksa tubuh Ludiro. Ternyata di punggungnya ada         tato        gambar tengkorak           dengan dikelilingi tujuh mata rantai. Itulah simbol yang dimiliki oleh para mata-mata Siluman Tujuh Nyawa.

"Sudah berapa lama dia menjadi prajurit Puri

Gerbang Surgawi?"

"Dua tahun lewat," jawab Cakar Jatayu yang langsung ikut menangani masalah Ludiro itu.

"Berarti sudah dua tahun lewat kalian kemasukan orangnya Durmala Sanca! Mereka memang pandai menyusup dan mengirim berita melalui hubungan batin!" "Kurang ajar!" geram Cendana Wilis dan Cakar

Jatayu.

Cakar Jatayu berkata, "Pantas orang-orang pilihan ratu, seperti Seruni, Giri Santi, Kipas Buana dan yang lainnya dibabat habis lebih dulu oleh mereka. Rupanya mereka sudah mempunyai daftar nama-nama orang kepercayaan ratu yang menjadi prajurit pilihan!"

"Benar. Dan sekarang tinggal kita berdua ditambah

Dewa Racun!" kata Cendana Wilis. "Jika begitu, saya akan             mengggantungnya          sekarang              juga,      Gusti Manggala!"

"Jangan!" cegah Pendekar Mabuk yang membuat Cendana Wilis dan Cakar Jatayu tekejut heran. Bahkan Pendekar Mabuk tambahkan kata,

"Pulangkan dia ke Kapal Siluman!"

"Dia mata-mata, Gusti! Tak bisa kita biarkan perlakuan mata-mata yang sudah dua tahun lebih bercokol di dalam tubuh kita!" ujar Cendana Wilis dengan sedikit ngotot.

"Dengan              maksud                apa         dia          dipulangkan,      Gusti Manggala?" tanya Ki Gendeng Sekarat yang sudah mulai sayu matanya, mau tidur lagi.

"Aku mau pinjam tenaganya untuk menyampaikan salamku kepada Siluman Tujuh Nyawa. Bawa kemari orang yang bernama Ludiro itu!"

Maka, dengan cepat Cakar Jatayu menyeret orang yang bernama Ludiro itu. Tubuhnya masih lemas akibat pukulan 'Patuk Kelabang Liar' yang diterimanya dari Cendana Wilis.

Suto segera pandangi wajah orang bertubuh kurus tapi berdagu lancip itu. Matanya memancarkan kelicikan yang dalam. Suto segera ucapkan kata kepada Ludiro,

"Ludiro, penyamaranmu sudah terbongkar! Kau mata-mata utusan dari Siluman Tujuh Nyawa!"

"Ya. Memang!" jawab Ludiro tetap berani. "Kau kujatuhi hukuman mati!"

"Aku tidak peduli!"

Plakk...! Cendana Wilis menampar Ludiro dengan gerakan tangan yang berkelebat cepat. Tamparan itu disertai lepasnya tenaga dalam, sehingga wajah Ludiro dalam waktu yang amat singkat menjadi memar membiru separo wajah. Orang itu hanya menggigit bibirnya dengan menyipitkan mata menahan rasa sakit di wajahnya.

"Kau kubebaskan, Ludiro!" kata Pendekar Mabuk. "Pulanglah ke Kapal Siluman dan temui sang ketua! Katakan kepadanya, saat purnama mendatang, dia kutunggu di Pulau Padang Peluh! Katakan pula, di sanalah aku membunuh Doma Damu dengan sangat mudahnya!"

Pendekar Mabuk sengaja memancing kata-kata yang memerahkan telinga Siluman Tujuh Nyawa jika ucapan yang serupa disampaikan oleh Ludiro. Tetapi, ternyata kata tantangan itu membuat Ki Gendeng Sekarat menjadi murung, ia ingin memotong ucapan itu, tapi tak berani, karena Suto Sinting lebih tinggi kedudukannya dan harus dihormati. Bagaimanapun juga, Ki Gendeng Sekarat masih merasa menjadi orang Puri Gerbang Surgawi, walaupun bebas tugas.

Buat Cendana Wilis dan Cakar Jatayu, pesan penuh tantangan    itu           sempat membuatnya     berdebar-debar. Karena mereka berdua merasa cemas dan takut kalau ternyata Pendekar Mabuk tak mampu mengungguli ilmunya Siluman Tujuh Nyawa dan mati di tangan orang sesat itu. Bahkan Cendana Wilis sempat ajukan usul,

"Sebaiknya jangan Gusti Manggala sendirian yang

hadapi Siluman Tujuh Nyawa! Berbahaya, Gusti! Dia orang licik, tak mungkin datang sendirian! Pasti dia akan kuras dulu tenaga Gusti Manggala untuk bertarung melawan anak buahnya. Setelah tenaga Gusti Manggala berkurang banyak, barulah dia sendiri yang akan maju!"

"Apa pun yang terjadi, aku harus hadapi dia! Malam purnama mendatang adalah malam kepastian, dia akan merajalela atau lenyap tanpa tinggalkan selembar rambut pun!"

Suto berpikir sejenak, kemudian segera berkata lagi, "O, tidak! Dia tidak akan lenyap, hanya akan terpenggal kepalanya dan kubawa menghadap ke ratu kalian!"

"Sudah pastikah ketentuan ini, Gusti Manggala?" tanya Cakar Jatayu, dan Suto menjawab dengan tegas,

"Ya! Pasti!"

"Jika begitu, saya akan bebaskan Ludiro biar temui Siluman Tujuh Nyawa, bila mana perlu suruh dia sampaikan surat tantangan dari Gusti Manggala!"

"Gagasan yang bagus itu!" kata Pendekar Mabuk sambil mengangkat bumbung tuak dan meneguknya beberapa kali.

Ludiro dilepaskan oleh Cendana Wilis dengan dibekali surat tantangan dari Suto Sinting. Tetapi seperti yang sudah-sudah, tawanan itu dilepas oleh Cendana Wilis setelah satu       telinganya           dipotong              putus menggunakan pisau milik orang lain. Ludiro menjerit tak terbayangkan lagi kerasnya, ia dibekali sebuah perahu, kemudian dilepaskan di lautan.

Pada sisi lain, Ki Gendeng Sekarat minta supaya Suto

masuk ke kamar penyimpanan mayat. Semua mayat memang sudah dilepaskan dan menjadi penjaga pantai, dua di antaranya telah hancur oleh kekuatan dahsyat Jangkar Langit. Kini kamar itu kosong, hanya berisi tumpukan peti mayat, dengan satu peti mayat agak besar yang menjadi tempat tidur Gendeng Sekarat.

"Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan hanya berdua saja!" begitu pada awalnya, sehingga Suto datang ke kamarnya Gendeng Sekarat dengan tanpa diketahui oleh siapa pun.

"Apa maksud Ki Gendeng memanggilku kemari?" tanya Suto.

"Soal tantanganmu dengan Siluman Tujuh Nyawa," jawab Gendeng tak terlalu hormat seperti di luaran. "Aku keberatan kau kirimkan surat tantangan kepada Durmala Sanca!"

"Di mana letak keberatan Ki Gendeng?"

"Ilmunya tak sebanding denganmu! Kau bukan tandingannya, Suto!"

"Mungkin            saja        saya       bukan   tandingannya,   Ki

Gendeng. Tapi saya harus bisa kalahkan dia!"

"Itu tak mungkin!" sahut Ki Gendeng Sekarat. "Kau hanya punya keberanian besar tapi tidak punya ilmu sejajar dengannya! Kau hanya akan mati konyol, Suto! Pikirkanlah hal itu!"

"Jadi apa maksud Ki Gendeng?"

"Batalkan pertarungan itu!" jawab Ki Gendeng

Sekarat sedikit cemberut.

"Saya     tidak      bisa        menarik               mundur                tantangan

pertarungan, Ki!"

"Harus bisa! Kalau kau mati, siapa yang akan menjaga Gusti Ratu?"

"Saya yakin, saya tak akan mati."

"Ah, itu hanya semangatmu saja!" kata Ki Gendeng Sekarat sambil wajahnya semakin cemberut jengkel kepada Suto. Kemudian ia berkata lagi, kali ini sambil berjalan mondar-mandir di depan Pendekar Mabuk, yang tidak berani ia lakukan begitu jika ada orang lain, demi menghargai Pendekar Mabuk sebagai sang Manggala Yudha.

"Coba renungkan kata-kataku...! Siluman Tujuh Nyawa punya umur lebih tua dari umur gurumu, si Gila Tuak itu! Sedangkan kau baru anak kemarin sore. Siluman Tujuh Nyawa punya ilmu cukup tinggi dan pengalaman yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan dirimu! Sedangkan ilmumu belum ada separo dari ilmunya! Dia orang licik dan jahat, kau tidak bisa licik dan tidak mau jahat! Dia tidak punya tanggungan seandainya dia mati, kau punya kewajiban sebagai Manggala Yudha Kinasih. Bagaimana jika kau mati di tangannya? Lantas siapa yang akan diunggulkan oleh Gusti Ratu Kartika Wangi dan Gusti Mahkota Sejati itu?!       Siluman                Tujuh    Nyawa  sudah    cukup    puas menikmati hidupnya yang lama itu, sehingga mati pun sudah sewajarnya, sedangkan kau belum puas menikmati hidup! Kawin pun belum!"

Ki Gendeng Sekarat berhenti tepat di depan Suto, matanya memandang tajam ke arah Suto sebagai mata

seorang guru memandang gemas kepada muridnya. Suto hanya menarik napas dalam-dalam, setelah itu berkata dengan pelan.

"Apa yang Ki Gendeng katakan memang benar. Tapi saya sudah keluarkan surat tantangan! Pertarungan harus terjadi pada malam purnama nanti, Ki!"

"Batalkan saja! Jangan kau yang pergi ke Pulau Padang Peluh, melainkan aku saja yang ke sana! Aku yang hadapi dia, Suto!"

"Tidak bisa, Ki! Harus saya yang hadapi dia!"

"Kau akan mati, Tolol!" bentak Ki Gendeng. "Tapi jika dia berhadapan denganku, dia yang akan mati!"

"Tidak bisa!" debat Pendekar Mabuk. "Saya harus bertarung melawannya pada malam purnama nanti!"

Brakk...! Ki Gendeng Sekarat jengkel sendiri, lalu ditendangnya tumpukan peti mati itu. Dua peti mati hancur seketika, kayu papannya menjadi potongan- potongan kecil. Suto sempat kaget dan cemas melihat Ki Gendeng Sekarat mulai marah.

"Percuma kupertinggi ilmuku selama ini, kalau pada akhirnya aku hanya sebagai penonton kematian-nya!" kata Ki Gendeng Sekarat sambil bersungut-sungut, kembali ia berjalan mondar-mandir. Katanya lagi, "Aku yang punya dendam kepada dia! Aku yang punya kewajiban membalas sakit hati atas kematian penduduk Pulau Mayat ini! Aku yang selama ini memimpikan kematiannya di tanganku! Sekarang kesempatan ini akan kau rebut begitu saja!"

"Aku Manggala Yudha, Ki Gendeng!" ucap Suto

dengan tegas dan sedikit keras. Agaknya ia hampir kehilangan kesabaran juga melihat sifat ngototnya Ki Gendeng Sekarat itu.

Ki Gendeng Sekarat diam, menatap Suto sejenak, lalu alihkan pandang dengan termenung. Suto kembali ucapkan kata,

"Untuk apa aku menjadi Manggala Yudha Kinasih, jika pertarungan maut itu kuserahkan kepadamu?! Hidup atau mati, itu sudah jaminan bagi seorang panglima, Ki Gendeng!         Jadi        jangan  harap    aku         mau       batalkan pertarunganku dengan Siluman Tujuh Nyawa! Apa pun alasannya, pertarungan itu harus terjadi!"

Setelah berkata setegas itu, Suto cepat tinggalkan tempat itu. Ki Gendeng Sekarat diam saja, masih termenung dengan kedongkolannya, sampai kemudian ia tertidur dalam keadaan berdiri bersandar pada dinding.

Rupanya Ki Gendeng Sekarat masih penasaran, ia tak bisa menentang keputusan Suto, karena Suto seorang Manggala Yudha. Maka, ia segera menemui Gusti Ratu Dyah Sariningrum secara diam-diam, kemudian ia bujuk sang ratu agar mau mencegah pertarungan Suto dengan Siluman Tujuh Nyawa itu. Tapi agaknya sang ratu berpihak kepada keputusan Pendekar Mabuk. Sang ratu berkata,

"Membantai kezaliman itu memang tugasnya, Ki Gendeng Sekarat! Kurasa, aku tak perlu cemaskan nasibnya! Hidup dan mati ada di tangan Yang Maha Kuasa, Ki Gendeng!"

"Memang,          Gusti!    Tapi        setidaknya          manusia

diwajibkan bertindak dengan perhitungan. Itu sebabnya manusia dikaruniai otak dalam kepalanya masing- masing! Kalau menurut perhitungan ilmunya Pendekar Mabuk itu masih belum ada separo ilmu Siluman Tujuh Nyawa itu, maka sudah semestinya kita mengingatkan dia, mencegah kecerobohannya, Gusti Ratu!"

Gusti Ratu Dyah Sariningrum sunggingkan senyum kewibawaannya, lalu dengan lembut ia berkata, "Aku tahu apa yang kau cemaskan, Ki Gendeng! Tetapi perlu diingat, bahwa dia adalah panglima negeri tempat ibuku memerintah! Aku tak berani menentang keputusan dia, Ki. Kalau aku desak dia dan melarang dia maju ke pertarungan itu, aku takut kena marah oleh Kanjeng Ibu!"

Dengan lesu dan lemas, Ki Gendeng berkata, "Jadi, kita hanya bisa relakan dia mati di tangan Durmala Sanca, Gusti?!"

"Tugas kita mendoakan! Bukan mengharapkan dia mati!"

"Baiklah kalau memang begitu keputusan Gusti Ratu!" ucap Ki Gendeng Sekarat dengan semakin pelan. Kemudian kepalanya pun terkulai lemas, matanya terpejam dan suara dengkurnya terdengar lirih. Ki Gendeng Sekarat tertidur kembali. Tak peduli di depan Ratu Gusti Mahkota Sejati, jika saatnya ia terserang kantuk yang berat, maka tidurlah dia di tempat itu juga.

*

* *

9

PULAU Padang Peluh adalah pulau yang tandus dari sekian banyak gugusan pulau di wilayah laut utara. Tak ada pohon di sana, kecuali jenis rumput yang tumbuh di beberapa tempat saja. Pulau Padang Peluh mempunyai banyak gugusan batu dan cadas. Luas Pulau itu lebih kecil dari luas Pulau Mayat. Gundukan-gundukan batu atau cadas ada di mana-mana. Salah satu gundukan cadas ada yang membukit. Bagian atasnya datar, walau ada pula gugusan batu yang bertonjolan seperti pohon bersemak-semak, tapi jarak satu gugusan dengan lainnya cukup jauh. Yang paling rapat adalah dua gugusan berjarak tiga langkah, tingginya melebihi tubuh manusia dewasa.

Di pulau itulah dulu Suto menemukan wanita cantik yang terkapar dan butuh pertolongan. Wanita cantik itu adalah Dayang Kesumat, yang merupakan jelmaan dari wujud tua renta si Mawar Hitam, tokoh sesat dari Pulau Hantu. Dan di pulau itulah, Pendekar Mabuk bertarung melawan pengawal pribadi Siluman Tujuh Nyawa yang kembar rupa itu, yakni Doma dan Damu. Sepasang pengawal kembar yang membawa pusaka Cermin Benggala Kembar itu akhirnya hancur di tangan Suto Sinting, menjadi debu yang tak dapat dilihat lagi bentuknya. Juga di pulau itu Doma Damu berhasil mengalahkan ketua kapal Bajak Naga yang bernama si Tua Rakus dengan cermin pusaka Benggala Kembar. Si Tua Rakus menjadi patung batu yang sampai saat ini

masih tetap ada dan dapat dilihat bentuk serta wujudnya oleh Pendekar Mabuk. (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode: "Cermin Pemburu Nyawa").

Seperti apa yang diperkirakan Pendekar Mabuk, malam itu purnama tepat jatuh di atas Pulau Padang Peluh.      Langit                terang   dan        rembulan bundar             itu menyorotkan cahayanya dengan benderang pula. Suto bergegas menuju ke sebuah bukit yang tak seberapa tinggi, namun yang menjadi tempat paling atas dari semua tempat yang ada di pulau tersebut.

Angin    samudera            berhembus        sepoi-sepoi        dan membuat rambut Suto yang panjang itu meriap-riap dipermainkan angin. Dari tempatnya berdiri menunggu lawan, Suto dapat memandang ke arah pantai. Di sana hanya ada satu perahu, yaitu perahunya sendiri, sedangkan kapal atau perahu tunggangan Siluman Tujuh Nyawa belum kelihatan merapat ke pantai.

Karena pulau itu tidak ada tanaman pohon, tempatnya sangat terbuka terang, maka seseorang yang berdiri di pantai dapat melihat dengan jelas sosok Pendekar Mabuk di atas bukit cadas itu. Pendekar Mabuk yang baru saja menenggak tuaknya itu tampak tidak sabar menunggu lawannya datang. Baginya, malam itu adalah malam penentuan bagi hidup Siluman Tujuh Nyawa, juga penentuan bagi hidupnya sendiri.

Pendekar Mabuk sadar bahwa Siluman Tujuh Nyawa berusia jauh lebih tua darinya, bahkan lebih tua dari gurunya sendiri. Apa yang dikatakan Gendeng Sekarat memang benar, Siluman Tujuh Nyawa atau Durmala

Sanca punya cukup banyak pengalaman bertarung di rimba persilatan, juga mempunyai segudang ilmu bertaraf tinggi. Tetapi Suto tidak punya rasa gentar sedikit pun di dalam hatinya. Yang membuat Suto bergemuruh di dalam dadanya adalah ketidaksabarannya menunggu kemunculan Durmala Sanca.

Pantai menjadi sasaran pandangan mata Pendekar Mabuk, karena dari sanalah Durmala Sanca akan muncul menyambut surat tantangan yang dikirimkan Suto lewat mata-mata yang dipulangkan itu. Pendekar Mabuk yakin, Durmala Sanca pasti akan datang menyambut tantangannya, karena selain surat tantangan itu cukup membakar darah, juga membuat darah kian mendidih melihat mata-matanya pulang dengan telinga dipotong satu oleh Cendana Wilis.

Baru saja Pendekar Mabuk berpikir demikian, tiba- tiba ia merasakan ada gerakan hawa panas yang sangat cepat menyerang arah punggungnya. Wuussst...! Cepat- cepat Suto membalikkan badan sambil melepaskan satu pukulan tenaga dalam dengan gerakan tangan terayun cepat bersama berputarnya tubuh. Wusssh...! Blarrr...!

Dua pukulan tenaga dalam membuat bumi bagai berguncang. Pukulan itu beradu tanpa bentuk dan sinar. Pendekar Mabuk sempat mundur satu tindak karena hembusan angin kencang dari benturan dua tenaga dalam yang timbulkan daya ledak tinggi itu.

Tetapi mata Pendekar Mabuk tidak melihat bentuk manusia di depannya. Tak ada gerakan yang bisa dicari oleh mata dan bisa diserang tiba-tiba. Mata Suto

memandangi sekelilingnya dengan liar. Kini terasa lagi semburan hawa panas dari arah samping kirinya. Wuusss...!

Pendekar Mabuk cepat melompat dan bersalto ke depan, lalu begitu mendarat ia cepat gerakkan badan ke kanan dan satu sentakan kuat dari telapak tangannya mengeluarkan tenaga dalam tanpa rupa lagi. Wusssh...!

Blarrr...!

Ledakan itu menandakan pukulan lawan berhasil dihancurkan oleh pukulan Suto Sinting. Tetapi lawan yang melepaskan pukulan itu masih belum kelihatan. Ini berarti Durmala Sanca tidak mau tampakkan diri dalam pertarungannya   untuk                membuat            Suto       kebingungan mengarahkan serangan-serangannya.

"Tampakkan       wujudmu!           Kita        bertarung            secara kesatria, Durmala Sanca!" seru Suto Sinting dengan badan membungkuk miring ke kiri bagai orang mau jatuh karena mabuk, tapi sebenarnya Suto bukan sedang mabuk. Gerak gaya jurusnya memang mirip orang sempoyongan akibat kebanyakan minuman arak atau tuak.

Karena Suto tak bisa melihat bentuk lawannya, maka ia segera memejamkan matanya dan merasakan setiap gerakan yang datang mendekatinya. Dengan cara seperti itulah Pendekar Mabuk melihat di mana posisi lawan berada dan apa yang akan menyerangnya.

"Hmmm... sebuah gerakan lembut tipis datang dari arah kiriku. Pasti sebuah senjata tajam yang dilayangkan untuk menebas leherku!" pikir Pendekar Mabuk dalam

terpejamnya mata. Maka dengan cepat ia merundukkan kepalanya, dan tiba-tiba benda yang bergerak itu berkelebat di atas kepala Pendekar Mabuk. Wussh...!

Pendekar Mabuk tahu lawannya ada di sebelah kiri, jaraknya tak sampai empat tindak karena ia menyerang dengan senjata. Setidaknya tongkat El Maut yang punya jarak tak lebih dari tiga langkah. Maka dengan cepat Pendekar Mabuk menggunakan pukulan 'Sekat Nadi' jarak jauh yang dapat menotok jalan darah lawan di bagian mata kakinya. Jari tangan Pendekar Mabuk disentilkan beberapa kali dan pukulan 'Sekat Nadi' jarak jauh meluncur cepat bertubi-tubi setinggi tak lebih dari satu jengkal di atas permukaan tanah. Tabb tab tab tab tab...  dub! Kena.          Pendekar            Mabuk  merasakan pukulannya        mengenai            mata      kaki        lawan.   Lalu ia membuka matanya dan ternyata wujud yang menghilang dari pandangannya tadi sudah berada di depannya dalam nyata. Berdiri dengan kerudung hitam dari kepala hingga kakinya, menggenggam tongkat panjang berujung sabit sedikit lengkung. Itulah senjata pusaka El Maut. Orang berwajah putih dengan bibir biru dan mata memandang dingin itu segera menggeserkan langkah ke kanan. Terdengar suaranya yang datar berkata,

"Cukup lumayan ilmumu, Anak muda...! Tak sia-sia aku datang kemari memenuhi tantanganmu!"

"Bersiaplah untuk menjadi kesatria! Jangan berani menyerang sambil sembunyi, itu sifat seorang banci pengecut!" kata Pendekar Mabuk sengaja memancing panas hati lawannya.

Lawannya justru tertawa terbahak-bahak. Pendekar Mabuk kerutkan dahi sedikit. Tapi ia segera melompat sambil bersalto ke samping kanan, karena suara tawanya itu timbulkan getaran gelombang aneh yang terasa mau menyerangnya. Sambil melompat Pendekar Mabuk melepaskan satu pukulan jarak jauh menggunakan kibasan tangan kirinya. Weesss...! Plakkk...!

Tawa membahak itu tiba-tiba terhenti. Wajah putih itu  terlempar            ke           samping               dengan kaki        nyaris terpelanting. Rupanya Pendekar Mabuk mengirimkan tamparan jarak jauh yang bertenaga dalam cukup tinggi, sehingga wajah putih itu tersentak kuat ke samping. Tawanya       yang mengandung          getaran                gelombang berbahaya itu hilang seketika, berubah menjadi suara geram yang mendendam.

"Haiaaatt...!"

Lawan melompat tinggi dan bersalto satu kali ke arah Pendekar Mabuk, lalu senjata El Maut-nya ditebaskan dari samping kanan ke kiri. Wuttt...! Hampir saja mengenai leher Pendekar Mabuk jika Pendekar Mabuk tidak segera berguling ke tanah, lalu bangkit dan sentakkan kakinya ke tanah. Tubuh Pendekar Mabuk melesat ke atas dan bersalto satu kali ke arah belakang Wuuttt...!

Pendekar Mabuk berada di tempat yang lebih tinggi, yaitu sebuah gugusan cadas sebesar kerbau. Lawannya juga berada di gugusan batu sedikit lebih tinggi dari tempat Suto. Jarak mereka ada antara enam langkah. Dua tubuh siap berdiri melepaskan serangan lagi di

bawah bayangan cahaya purnama terang.

Lawannya segera sentakkan tongkat ke depan, dan dari ujung tajam di pucuk tongkat itu keluar cahaya merah  membawa                percikan-percikan cahaya             biru. Gerakannya begitu cepat, sehingga Pendekar Mabuk pun cepat     meraih                bumbung            tuaknya                dan        digunakan menangkis cahaya merah bintik-bintik biru itu. Crasss...! Wurrrrh...!

Cahaya itu membalik dengan lebih besar dan lebih cepat lagi. Lawannya terkejut, dan cepat menggulingkan badan ke kanan, nyaris jatuh dari gugusan cadas itu. Wess...! Blabbb...! Cahaya merah berbintik-bintik biru itu mengenai batu tinggi dan batu tersebut lenyap bagai ditelan bumi. Bahkan batu di belakangnya pun ikut lenyap juga.

"Jahanam kau!" geram lawannya terdengar lirih. "Heaaah...!"

Siluman Tujuh Nyawa yang berwajah kaku itu segera sentakkan kakinya, dan tubuhnya pun melesat melayang bagaikan terbang. Suto pun melakukan hal yang sama sehingga dua-duanya saling melesat di udara, saling membenturkan diri dengan senjata siap menyerang lawan. Pendekar Mabuk hanya menggunakan bumbung tuaknya yang berkelebat cepat menangkis sabetan senjata El Maut itu. Trangngng...!

Mendadak tubuh Suto Sinting yang melayang di udara itu berjungkir balik setelah menangkis dan kakinya menyentak ke belakang dengan kerasnya. Baagggh...! Kaki Pendekar Mabuk yang menyala hijau

muda itu mengenai punggung lawannya dengan telak sekali, karena serangan tendang itu sama sekali tak diduga dapat dilakukan Pendekar Mabuk dalam keadaan terbang begitu.

Akibatnya, tubuh lawan terlempar lima tombak jauhnya dan membentur sebuah gugusan batu hitam. Prakkk...! Batu itu retak tapi tak sampai berjatuhan. Tubuh lawannya terhempas jatuh ke tanah dengan suara pekik tertahan.

Suto berdiri dengan tegak menunggu lawannya bangkit kembali. Tapi lawannya itu seperti mengalami kesulitan untuk bangkit kembali. Tulang punggungnya terasa hilang. Tak bisa ia merayap dan berdiri, ia terengah-engah dalam keadaan duduk di tanah setelah tiga kali berusaha bangkit tapi gagal. Pendekar Mabuk sengaja membiarkan dulu lawannya begitu, karena ia punya kesempatan untuk meneguk tuaknya beberapa kali.

"Sungguh tak kusangka gerakan mabukmu di udara cukup hebat!" kata lawannya yang mulai reda helaan napasnya. Pendekar Mabuk yang berdiri dalam jarak empat langkah dari lawan itu hanya tertawa pelan.

"Kurasa kau masih mampu berdiri untuk meneruskan pertarungan, Durmala Sanca! Ayolah, aku tak ingin menyerang orang yang sedang terluka!"

"Baik! Tapi tunggu sesaat lagi. Kupulihkan tulang punggungku yang hilang karena tendangan mautmu itu! Dapat dari mana jurus itu?!"

"Mengapa kau ingin tahu?!"

"Aku mengagumi jurus itu, karena... karena...," suaranya makin pelan, kepalanya makin terkulai tunduk. Matanya terpejam pelan-pelan, sementara punggungnya tetap bersandar pada batu di belakangnya. Suto jadi kerutkan dahi kuat-kuat.

"Matikah dia...?!" pikir Pendekar Mabuk dengan merasa aneh.

Terdengar suara dengkur yang samar-samar dari mulut yang masih tetap terkatup rapat itu. Suto makin terkesiap melihat lawannya tertidur. Lalu, segera ia teriakkan suara menyentak penuh kejengkelan hati,

"Gendeng Sekarat!"

"Hai...!" sahut lawannya yang tertidur dengan suara malas-malasan.

"Lepaskan topengmu!" sentak Suto. Ada rasa sesal yang menjengkelkan setelah tahu orang itu adalah Ki Gendeng Sekarat yang menyamar sebagai Siluman Tujuh Nyawa.

Dalam,  keadaan               tertidur,               Ki            Gendeng             Sekarat melepaskan topengnya sesuai perintah Suto Sinting. Wajahnya terlihat jelas sebagai wajah Ki Gendeng Sekarat yang termasuk orang konyol menurut pandangan Suto. Orang itu bahkan tetap tertidur walau sudah melepas topeng dan mendengar suara geraman Suto.

"Mengapa kau menyamar lagi sebagai Durmala Sanca, hah?! Mengapa kau menyerangku?!" sentak Suto dengan hati tetap dongkol, karena rasa sesal yang telah melepaskan pukulan dan tendangan maut ke arah Ki Gendeng Sekarat.

Orang tua yang tidur itu menjawab, "Aku ingin merebut pertarungan ini dari tanganmu! Jika aku bisa lumpuhkan kamu tanpa harus membunuh, aku akan punya kesempatan bertarung dengan Siluman Tujuh Nyawa! Supaya kau terpancing bertarung denganku, aku terpaksa menggunakan pakaian dan topeng samaran ini!" "Sial! Bodoh betul kau ini, Ki! Kau bisa mati kalau

melawanku!"

"Jika memang itu akhir yang kutemui, aku telah siap! Prahara di Pulau Mayat toh telah membuatku mati, seandainya aku tidak cepat sembunyikan diri ke dasar bumi! Aku sembunyi bukan untuk lari, tapi untuk cari kesempatan membalas perbuatan Durmala Sanca dalam peristiwa berdarah Prahara Pulau Mayat, sekian tahun yang lalu! Kesempatan ini sudah ada, ilmuku sudah cukup, tapi kau ingin merebutnya! Aku tak rela! Aku harus     mengalahkanmu              dulu       jika                memang              begitu caranya!"

"Nyatanya bagaimana?"

"Ya. Kau memang punya keunggulan yang tidak kusangka-sangka! Kupikir kau hanya punya keberanian tanpa kematangan ilmu kanuragan!"

Sebuah sinar merah menyala melesat dari arah samping belakang Pendekar Mabuk. Cepat sekali gerakannya, hampir tak bisa dilihat. Tetapi Ki Gendeng Sekarat cepat sentakkan tangannya dan keluarlah sinar putih yang melesat cepat dari pangkal pergelangan tangannya. Wuttt...! Sinar putih itu menghantam sinar merah yang hampir mengenai punggung kiri Suto.

Blarrr...! Sinar merah itu hancur dan timbulkan gelombang ledak yang besar, sehingga tubuh Suto tersentak hampir menabrak batu yang dipakai bersandar Ki Gendeng Sekarat dalam tidurnya.

"Terima kasih, kau telah selamatkan nyawaku, Ki!" ucap Suto setelah menyadari ia dalam sedikit kelengahan tadi.

"Terima kasih itu gampang," kata Ki Gendeng Sekarat sambil tetap tertidur, "Yang penting sekarang hadapi dia dulu. Dia sudah datang dari arah timur. Sambut dia, Gusti Manggala Yudha...!"

"Baik. Tapi sebelumnya minum dulu tuakku ini! Lekas...!"

Sambil masih tertidur, Ki Gendeng Sekarat membuka mulutnya dan Pendekar Mabuk menuangkan tuaknya ke mulut itu. Glek glek glek...! Setelah itu Suto cepat menyambut kedatangan lawannya dari arah timur.

Sebuah kapal berbendera hitam telah berlabuh di pantai. Sebuah lagi masih terlihat jauh mendekati pulau itu juga. Rombongan orang-orang kapal itu turun dan mendekati bukit tersebut tanpa sosok Siluman Tujuh Nyawa. Rombongan yang mendaki itu melihat Suto berdiri di tepi tebing, mereka segera hentikan langkah. Nakhoda Salju berseru,

"Itu dia! Seraaaang...!"

Mereka                serempak            menyerang         Pendekar            Mabuk dengan pukulan tenaga dalam jarak jauh. Umumnya mereka menggunakan pukulan-pukulan handal yang sangat membahayakan. Beberapa sinar aneka warna

keluar dari tangan mereka masing-masing. Semua arah sinar melesatnya ke tubuh Suto.

Melihat penyerbuan seperti itu, Suto pun merasa

panas hatinya dan ia menarik napasnya lalu dihentakkan keras-keras. "Haaah...!"

Wuuaarrrr.....!

Badai datang mengamuk dari mulut Pendekar Mabuk, ia               telah      menggunakan   napas    Tuak      Setan    yang menggulung habis para keroco itu. Sinar aneka warna yang meluncur dari tangan mereka membalik arah karena sapuan badai besar yang mengerikan. Sinar itu ada yang mengenai pemiliknya, dan yang menerpa orang lain. Ada yang hancur tubuhnya, ada pula yang hitam menghangus. Ada pula yang selamat dan berusaha melarikan diri. Tapi badai besar melemparkan mereka tak beraturan. Ada yang terhempas menghantam batu besar hingga kepalanya pecah, tapi ada pula yang tertindih batu yang menggelinding dari atasnya. Bahkan ada yang saling berbenturan kepala sampai keduanya mati mengerikan.

Langit tiba-tiba menjadi gelap, walau masih ditembus cahaya rembulan pucat. Kilatan cahaya petir biru berloncatan dari langit satu ke langit lainnya. Gelegar suara            gunturnya           mengerikan.      Badai     Tuak      Setan memporak-porandakan pulau yang tandus dan yang hanya mempunyai tonjolan-tonjolan batu mirip pilar- pilar        raksasa itu.                Batu-batu            tersebut              patah    di pertengahannya karena hembusan badai. Ada pula yang tumbang dan menjatuhi tubuh anak buah Siluman Tujuh

Nyawa yang sedang melarikan diri.

Di pantai, terjadi kekacauan pula. Air laut bagai disingkapkan naik dan menggulungkan ombak besar, melemparkan Kapal Siluman sehinga kapal itu akhirnya pecah dan berantakan ke mana-mana. Tapi kapal yang baru datang dari arah utara itu masih dalam keadaan tenang mendekati              pulau     itu,         karena  arah       badai menghembus dahsyat ke timur. Badai itu membuat Ki Gendeng Sekarat yang tidur menggumam,

"Celaka! Anak itu ternyata punya napas Tuak Setan?! Pantas ia berani melawan Durmala Sanca...?!"

Tiba-tiba sebuah hantaman tak terlihat melesat dari

belakang Suto. Wusss...! Dabbb...! Suto terpelanting hampir jatuh ke lereng bukit itu. Pukulan tersebut datang secara mendadak dan tak diketahui wujudnya, tak terasa getaran gelombangnya.

Pendekar Mabuk merasakan pundaknya bagai hancur remuk karena pukulan itu. Tapi matanya tidak melihat bentuk manusia penyerangnya. Bahkan ia tak merasakan getaran gelombang panas berikutnya yang membuat ia terjengkang                kembali                saat        mau       berdiri. Buggh...! Srappp...! Rasa panas menyerang tubuh seketika. Suto berguling ke belakang dan mencoba mengatasi rasa sakitnya itu dengan menahan napas. Matanya menatap ke sana-sini dengan liar. Tak ada bentuk manusia penyerang yang dilihatnya. Tak ada gerakan yang dapat dirasakan mendekat.   Pendekar                Mabuk  terpaksa pejamkan mata untuk tingkatkan kepekaan inderanya. Tapi, baru saja ia pejamkan mata, tiba-tiba, crasss...!

Dadanya bagai dirobek oleh benda tajam yang tak terlihat bentuknya. Suto berdarah, ia terpental ke belakang, dan cepat berguling sambil seringaikan wajah menahan sakit. Luka itu cukup dalam dan panjang, mengucurkan darah segar yang membasahi bajunya.

Tiga pukulan tenaga dalam dilepaskan Suto Sinting ketiga arah. Wuttt... wuttt... wuttt...! Tapi tak satu pun ada yang mengenai sasaran selain batu-batu tak bersalah. Bahkan ia tiba-tiba terkena luka di ujung pangkal pundaknya. Luka tebasan yang menyerempet tipis itu timbulkan darah      kembali                dan        rasa        sakit       yang memanaskan          tubuhnya.                Suto       mengerang         sambil berusaha melompat beberapa kali menjauhi lokasi tersebut.

"Sukar sekali kulacak gerakannya! Aku tak bisa menotok mata kakinya jika begini caranya!"

Wungngng...! Beegggh...!

"Aaahk...!"          Pendekar            Mabuk  memekik tertahan dengan tubuh terlempar karena pukulan jarak jauh telah menghantam tubuh belakangnya, sedangkan waktu itu bumbung tuak sudah ada di tangannya. Punggung Pendekar Mabuk menjadi sasaran telak bagi lawan.

Pendekar Mabuk cepat menenggak tuaknya lagi untuk sembuhkan luka sendiri. Baru saja selesai menenggak tuak, tubuhnya diserang lagi dari samping kanan, yang membuat lengan kanan Suto terluka! Crass...!

"Aauh...!" Suto terpekik tak sadar. Cepat-cepat ia bersalto ke depan, melenting di udara dan bersalto lagi

hingga ia mencapai tempat tinggi dari sebuah gugusan batu.

"Musuh tak bisa dilihat! Ini berarti ia ada di alam

gaib!" pikir Pendekar Mabuk. Maka dengan cepat ia mengusap keningnya yang bertanda merah dengan tangan kirinya. Sllappp...!

Ki Gendeng Sekarat sendiri terbengong melihat Suto hilang lenyap tak berbentuk. Tak bisa dicari di mana ia berada.        Tapi                suara     pukulan                dan ledakan-ledakan terdengar di sana-sini. Suara benturan senjata El Maut dengan bumbung bambu juga terdengar menggema sesekali. Ini pertanda di alam gaib, Pendekar Mabuk bertarung dengan sengitnya melawan Durmala Sanca yang sejak tadi menggunakan ilmu silumannya. Suto bisa mengejar lawannya ke alam gaib karena ia telah mempunyai tanda merah di keningnya yang jika diusap dengan tangan kiri dapat berada di alam gaib, tempat makhluk-makhluk sesat berada.

"Hiaaaat....!" "Heeaaah...!"

Trang...! Beg beg brasss...! Bluhkk...! Tiba-tiba Ki

Gendeng Sekarat melihat tubuh Siluman Tujuh Nyawa jatuh dalam keadaan nyata, seperti jatuh dari langit. Rambutnya yang terbuka dari kerudung hitam itu tampak     basah.   Rupanya              Pendekar            Mabuk  telah menggunakan jurus 'Jelma Siluman' dengan semburan tuaknya, sehinggga sosok tubuh yang hilang dari pandangan mata itu bisa menjelma kembali. Ini dilakukan Suto setelah ia gagal menotok mata kaki

lawannya beberapa kali.

Kini ganti Suto yang menghilang dari pandangan mata Siluman Tujuh Nyawa. Orang itu menggeram dengan gigi menggeletuk dan mata melebar.

"Keluar kau, Bangsat!" teriaknya.

Jleggg...! Suto pun tampakkan diri di depan Durmala Sanca. Tubuhnya tetap segar dan sehat, tanpa luka sedikit pun. Durmala Sanca terkesiap melihat kehebatan lawannya. Maka, segera ia kerahkan ilmu 'Siluman Tujuh'-nya dengan mengangkat kedua tangan dan menghentakkan suara keras-keras, "Heeaaa...!"

Clap clap clap clap....! Tujuh manusia sama rupa dan sama wujudnya berjajar di samping kanan Siluman Tujuh Nyawa. Tujuh manusia sama rupa itu segera mengepung Suto Sinting, membuat Ki Gendeng Sekarat menjadi tegang sendiri melihatnya. Pada saat itu, Suto pun cepat tempelkan tangan kanannya ke dada dalam posisi telapak tangan berdiri lurus ke atas. Matanya terpejam kurang dari satu helaan napas, dan tiba-tiba, clap clap clap clap clap...! Tujuh manusia kembar Pendekar Mabuk muncul dari samping kanan Pendekar Mabuk.

"Edan! Dia juga bisa keluarkan manusia kembar tujuh?!" sentak Ki Gendeng Sekarat terkejut, ia dalam keadaan terbangun. "Setahuku, ilmu itu yang dinamakan jurus 'Sapta Tingal', yang dimiliki oleh Bidadari Jalang...?! Rupanya diturunkan kepada anak muda itu?! Edan! Sekarang ada delapan kembar melawan delapan kembar?! Mana dari mereka yang asli?!"

Delapan manusia berwujud kembar Pendekar Mabuk itu juga mengagetkan lawan. Tapi pertarungan segera dimulai. Delapan manusia kembar melawan delapan manusia kembar dengan tingkah dan jurus yang berbeda- beda. Tentu saja suasana menjadi ramai, saling pekik, saling pukul, saling timbulkan ledakan.

Prak prak...! Trang...! Bungng...! Plak...! Trangng...! Duerrrr...!

Ramai sekali keadaan di pertarungan itu. Kapal yang tadi berada di kejauhan sudah mendarat di pantai. Mereka adalah rombongan Cakar Jatayu dan Cendana Wilis yang diperintahkan Gusti Ratu Mahkota Sejati untuk mengawal pertarungan Suto. Tapi mereka sempat dibuat bingung melihat ke arah bukit, pertarungan menjadi massal. Mereka juga bingung membedakan mana Durmala Sanca yang asli dan mana Suto Sinting yang asli. Dewa Racun dan Hantu Laut yang ikut pula hadir di situ, dibuat melompong oleh keadaan kembar delapan tersebut.

Kejap berikutnya, terdengar suara pekikan keras dari mulut Siluman Tujuh Nyawa itu.

"Aaaahg...!"

Pendekar Mabuk berhasil melukai Siluman Tujuh Nyawa yang asli dengan jurus 'Pukulan Guntur Perkasa' yang membuat lawan memar membiru dan bisa cepat menjadi busuk. Seketika itu pula, tujuh nyawa kembar Durmala Sanca lenyap, tinggal satu yang mengerang kesakitan. Pendekar Mabuk cepat kembalikan wujud kembar tujuhnya, slappp...! Kini menjadi satu Pendekar

Mabuk yang asli.

"Kalau kugunakan jurus 'Manggala', aku tak bisa penggal kepalanya! Jadi, aku harus gunakan jurus lain untuk memenggal kepalanya," pikir Pendekar Mabuk kala itu.

Tapi belum sempat ia bergerak, Durmala Sanca telah lebih dulu melesat pergi sambil tinggalkan suara,

"Kali ini aku kalah, tapi kelak aku akan datang mengalahkan kamu lebih parah dari ini, Suto!"

Clappp...! Ia menghilang dari pandangan siapa saja. Suto ingin mengejarnya, tapi suara Cendana Wilis terdengar,

"Gusti Manggala...! Jangan kejar dia! Sebaiknya kembali ke Pulau Mayat! Gustinda Betari Ayu datang, ingin bicara!"

"Katakan pada Nyai Betari Ayu, aku sedang mengejar

Siluman Tujuh Nyawa!"

"Tapi, Gusti Manggala... tunggu dulu...!"

Clappp...! Pendekar Mabuk        menghilang setelah mengusap keningnya dengan tangan kiri. Ia mengejar lawannya yang melarikan diri ke alam gaib. Mereka hanya bisa terbengong dan saling membisu seketika.

Ki Gendeng Sekarat segera berkata, "Sudahlah! Biar dia mengejar orang sesat itu! Sebaiknya aku yang mewakili Gusti Manggala untuk menemui Nyai Betari Ayu...!"

Ki Gendeng Sekarat melangkah. Tapi kepalanya terkulai kembali dan suara dengkur tipis terdengar, ia tidur sambil menuju ke kapal.

SELESAI