--> -->

Serial Pendekar Mabuk-19 Pembantai Berdarah Dingin

PEREMPUAN tua itu berjalan terbungkuk-bungkuk. Langkahnya sangat pelan dan tertatih-tatih. Kadang ia oleng ke kiri, kadang oleng ke kanan. Malah sesekali mau tersungkur jatuh ke depan. Diperkirakan usianya sudah ratusan tahun. Badannya kurus sekali, seperti tengkorak berjalan. Rambutnya putih kehijau-hijauan. Kulitnya keriput, berlipat-lipat seperti kain kumal yang lusuh. Rambut anehnya itu dikonde kecil di tengah kepala, sisanya meriap ke kanan-kiri dipermainkan angin.

Nenek tua renta yang punya mata cekung dan alis putih itu memakai pakaian hitam sebatas dada yang sering melorot karena kebesaran. Pakaiannya itu compang-camping, robek di sana-sini tanpa tambalan. Jika dipakai melangkah terlalu lebar, celana panjang hitamnya itu sering robek bagian bawah. Karena itu ia berjalan pelan-pelan supaya pakaiannya yang sudah lapuk tidak robek terlalu lebar.

Bibirnya yang keriput berlipat-lipat sering bergerak- gerak mengunyah sesuatu, tapi ia tidak makan apa-apa. Seperti orang sedang membaca mantera, tapi juga tidak ada yang diucapkannya. Gigi depannya sudah habis. Tinggal gusinya yang belum copot. Gigi gerahamnya juga sudah habis semua, sehingga pipinya terlihat kempot.

Anehnya, nenek tua renta yang seolah-olah kalau kena angin terlalu besar bisa tumbang sendiri itu, masih juga menyandang pedang pendek di pinggangnya. Sarung pedang itu diikatkan pada pinggang memakai akar pepohonan. Padahal dilihat dari tenaga dan ketuaannya, nenek ini sudah tidak kuat mencabut pedang. Membetulkan letak pakaiannya yang melorot itu pun sering kesulitan apalagi mencabut pedang.

Waktu ia masuk ke dalam kedai, semua pengunjung kedai memperhatikan dirinya. Sesekali langkahnya menabrak meja, membuat makanan di atas meja itu jadi berantakan. Seorang pemuda berdiri ingin menolong mencari tempat duduk, tapi nenek itu berkata,

"Jangan sentuh diriku!" Dengan gaya genit dan ganjen. Nenek ini berlagak jual mahal dan pura-pura tidak peduli dengan banyak mata yang memperhatikannya. Nenek itu segera mendekati pemilik kedai lalu bertanya dengan suara tuanya yang sedikit serak gemetar,

"Apa di sini jual jagung goreng alias marning?'

Tentu saja para pengunjung kedai tertawa serempak. Bagaimana mereka tidak tertawa geli melihat nenek setua itu, mulutnya sudah tak bergigi lagi, tapi masih menanyakan marning. Padahal orang yang masih sehat saja makan marning tidak berani terlalu banyak, karena gigi bisa pegal mengunyah marning yang keras itu.

Sambil terbungkuk-bungkuk, nenek itu berbalik badan dan menghadap ke arah para tamu kedai tersebut. Lalu dengan suara tuanya ia berseru,

"Kenapa menertawakan aku? Apa tak pantas aku memesan bubur di kedai ini, hah?!"

Pembeli yang duduk paling dekat dengan nenek itu berkata, "Tadi yang dipesan Nenek bukan bubur, tapi marning atau jagung goreng!"

" Tidak mungkin! Aku tadi pesan bubur pada pemilik kedai ini!"
" Marning, Nek!"
" Bubur!" bantahnya dengan mata tuanya melotot bagai ingin lompat ke piring kosong di atas meja itu.

Pemilik kedai segera menengahi, "Jadi, Nenek mau pesan bubur?"

" Iya. Aku mau makan bubur. Di sini ada jual bubur apa?"
" Bubur sagu dan bubur kacang hijau juga ada, Nek!"
" Hmm...! Kuno itu! Aku mau pesan bubur manusia!"
" Hah...?!" pemilik kedai terbelalak kaget.
" Kenapa mendelik padaku?!" sentak nenek itu dengan suara tua.

Pemilik kedai menjawab, "Saya kaget, Nek! Bukan mendelik kepada Nenek. Saya kaget mendengar nenek minta bubur manusia!"

"Kenapa kaget? Cara membuatnya tidak sulit. Ambil satu tamu di sini, bawa ke belakang, getok kepalanya sampai mati, buang tulangnya, rebus dagingnya pakai air panas, diberi merica dan cabe sedikit, setelah empuk tuang di mangkok dan hidangkan di meja! Mudah kan?!"

Salah seorang pengunjung kedai yang mendengar ucapan itu segera berdiri dan berseru dari tempatnya,

"Nenek ini tua-tua kok kejamnya melebihi setan! Tidak punya rasa kasihan di antara sesama manusia!"
"Ada yang lebih kejam lagi, Nak! Begini yang lebih kejam...!"

Nenek itu mencabut pedangnya dengan tersendat- sendat dan susah payah. Setelah pedang dicabut, ia dekati meja salah seorang tamu kedai yang sedang asyik menikmati teh panasnya dengan ketan kelapa. Tiba-tiba pedang itu berkelebat cepat menghantam meja. Crakk...!

"Aaaa...!" orang yang sedang menikmati ketan kelapa itu menjerit seketika, sampai isi mulutnya muncrat ke wajah orang di depannya. Semua mata terbelalak seketika melihat tindakan nenek tua renta itu. Mereka sama sekali tidak menyangka kalau pedang nenek itu berkelebat cepat memotong pergelangan tangan orang yang sedang makan ketan kelapa. Pergelangan tangan itu pun menjadi putus seketika.

Nenek tua itu berpaling memandang orang yang tadi bicara sambil berdiri, kemudian ia berkata,

"Nah, itu yang lebih kejam lagi dari dugaanmu, Nak!"
Dengan senyum tua yang keriput, nenek itu memungut potongan tangan, lalu diberikan kepada pemilik kedai sambil bilang,
"Rebus dan kasih merica sedikit!"

Pemilik kedai mundur tiga langkah. Wajahnya pucat memandangi potongan tangan itu dijinjing jarinya oleh si nenek.

"Rebuslah ini!" kata si nenek lagi.

Pemilik kedai geleng-geleng kepala. Takut dan gemetar. Sementara itu, beberapa tamu segera menyingkir keluar dari kedai, takut menjadi sasaran nenek keji itu. Tetapi ada dua orang yang segera tampil maju mendekati nenek itu dari belakang. Mereka dua orang lelaki yang sama-sama menyandang golok di pinggangnya. Yang satu berpakaian kuning, yang satu lagi memakai baju merah.

Yang memakai baju merah menghardik dengan suara lantang,

"Hentikan tindakanmu itu, Tua renta! Apa maumu datang ke desa ini dan mengacau suasana di kedai?!"

Nenek itu membalikkan badan, menghadap kedua orang tersebut. Wajahnya kaku tanpa senyum, matanya memandang dengan angker. Potongan tangan yang dijinjingnya itu dilemparkan seenaknya ke muka orang berpakaian merah. Tapi orang itu dengan cepat mengibaskan goloknya yang membuat potongan tangan itu mental ke kiri. Pluk! Jatuh di dalam stoples tempat peyek yang lupa belum ditutup oleh pembeli dan sudah ditinggal kabur keluar kedai.

" Apakah kamu bernama Suto Sinting alias Pendekar Mabuk... ?!" tanya nenek itu.
" Bukan! Namaku Gondo!" jawab orang berpakaian merah.

"Yang itu... yang di sebelahmu dan tolak pinggang seperti jagoan kurang sesajen itu, apakah bernama Suto Sinting?"

" Juga bukan," jawab si baju kuning. "Namaku Dekso!"
" Lha yang namanya Suto Sinting itu yang mana?"

"Kami tidak kenal dengan orang yang kau cari itu! Sebaiknya silakan kamu pergi dan jangan ganggu lagi warga desa kami ini!"

"Ganggu sebentar tak apalah," kata nenek itu dengan berjalan tertatih-tatih mendekati sebuah bangku. Lalu, ia duduk di bangku itu. Tapi meletakkan pantatnya kurang tepat sehingga ia jatuh terduduk di lantai. Brukk...!

"Wadaauw...!" teriaknya sambil meringis memejamkan mata.

Sebagian dari mereka yang di luar kedai menertawakan, sebagian lagi diam saja dan merasa benci kepada nenek itu. Mereka yang tertawa karena tidak bisa menahan geli melihat nenek itu jatuh terduduk di lantai dengan pakaian sebatas dadanya melorot sampai ke perut. Pemandangan itu bukan porno lagi, tapi lucu buat mereka. Karena si nenek jadi salah tingkah, antara memegang pantatnya yang sakit dan bingung membetulkan letak pinjung di dadanya.

Pemilik kedai mengeluh dengan wajah takut di dekat seorang pembeli yang juga ketakutan.

"Mimpi apa aku semalam kok bisa kedatangan orang gila sekejam ini?! Padahal seingatku semalam aku tidak tidur!"

Gondo berbisik kepada Dekso, "Seret saja dia! Buang sampai di batas desa sana! Kalau perlu ceburkan saja ke jurang. Orang ini membahayakan kalau dibiarkan terlalu lama di desa kita!"

"Kau saja yang menyeretnya. Aku agak ngeri menghadapi dia!"

"Ah, nyalimu dari dulu tak pernah lebih besar daripada upil!" gerutu Gondo sambil bersungut-sungut. Kemudian ia bergegas mendekati nenek itu.

Bayangan Dekso sendiri, Gondo dapat mengangkat tangan nenek itu dengan ringan, karena tinggal tulang dibungkus kulit saja. Tapi ternyata tidak demikian kejadiannya. Gondo keberatan menarik tangan nenek itu, bahkan sampai menggunakan dua tangan, ia masih belum bisa menarik tubuh nenek itu dari duduknya di lantai menjadi berdiri. "Berat!" katanya kepada Dekso. Nenek itu diam saja dan matanya memandangi Gondo dengan mulut melompong. Lalu, Dekso yang penasaran datang mendekat dan segera menarik tangan nenek itu. Dekso sampai ngotot, urat-uratnya keluar, wajahnya sampai merah, tapi ia tak berhasil mengangkat nenek itu.

"Kalian pada mau perkosa aku, ya?" kata nenek tersebut, tapi tak dihiraukan oleh Dekso dan Gondo. Mereka berdua saling berbisik.

"Berat sekali! Seperti mau mengangkat batu sebesar rumah!"

"Kurasa dia berilmu tinggi, sehingga sulit diangkat!" bisik Gondo. Kemudian Dekso mau bicara, tapi nenek itu sudah bangkit sendiri, sedikit limbung dan mau jatuh, tapi segera bertahan pada sebuah meja.

Ketika ia sudah tegak kakinya, namun badan masih terbungkuk-bungkuk, Dekso pun berkata,

"Sebaiknya segeralah tinggalkan desa kami, Nek!"

"Kau mengusirku?!" ucapnya pelan tapi matanya memancarkan kemarahan. Dengan menahan napasnya nenek itu berkata, "Kalau kau mengusirku, kau bisa menjadi buta, Nak!"

Blarrr..! Terdengar suara petir menggelegar di siang hari bolong. Semua terkejut, kecuali nenek itu. Ia hanya terkekeh-kekeh setelah Dekso berkata kepada Gondo,

"Mataku... Aduh, mataku...! Mataku di mana ini?"
"Kenapa dengan matamu, Dekso?"
"Ak... aku... aku tak bisa melihat apa-apa! Gondo, di mana kau?!"

Dekso meraba-raba mencari temannya. Temannya mundur tiga tindak dengan wajah tegang, sebab ia menjadi takut melihat Dekso benar-benar buta. Bahkan ia menjadi ngeri melihat bola mata Dekso menjadi putih semua, tak ada manik hitamnya.

"Gondo! Tolong aku...!" Dekso panik. Langkahnya menabrak meja dan makanan di atas meja berentakan. Prangng...! Dekso semakin panik, sedangkan Gondo semakin tegang.

"Gondo! Aku...aku buta betul! Gondo di mana kamu...!"

Gondo menyeringai antara ngeri dan terharu. Maka dengan cepat Dekso dipeluknya, kemudian dituntun berjalan menjauh, bahkan keluar dari kedai itu. Tak ada orang yang bersuara sedikit pun. Mereka semua terkesiap di tempat, tegang dan berdebar-debar melihat Gondo benar-benar buta.

Suara nenek itu terdengar lagi, "Siapa yang mau buta lagi?! Ayo, maju...! Jangan sungkan-sungkan!"

Tentu saja tak ada yang mau mendekat. Justru yang menjauh menjadi banyak. Yang berlari terbirit-birit pun ada. Maka, segeralah tersebar berita tentang adanya nenek sihir keturunan raja iblis. Ada yang menyebarkan, siluman tua gentayangan mencari mangsa. Ada juga yang mengatakan, desanya telah didatangi mayat tua dari zaman purba. Pokoknya, mereka seenaknya menyebarkan berita yang pada kesimpulan akhirnya membuat penduduk desa menjadi gaduh dan diliputi perasaan takut. Anak-anak yang sedang bermain dicari oleh orangtua mereka dan dibawa masuk, pintu pun ditutup rapat. Malah ada yang dipaksa masuk bersembunyi di kolong balai-balai.

Berita yang cepat menyebar dan menakutkan masyarakat itu segera sampai di telinga Wigunorekso, tokoh desa yang menjadi kepala desa, juga menjadi jawara di desa itu. Sejak Wigunorekso diangkat menjadi kepala desa, tak satu pun maling yang berani menyambangi desa itu, tak satu pun rampok dan garong yang berani menjamah barang-barang penduduk, tak satu pun pemabuk yang berani bertingkah di desa itu. Karena dulunya, Wigunorekso adalah ketua maling, rampok, garong, pemabuk, dan segala macam orang jahat.

Wigunorekso merasa aneh mendengar kabar ada nenek tua bikin perkara di desanya. Penasaran sekali Wigunorekso jadinya. Maka, ia dan tiga anak buahnya yang jago silat dan berani mati asal gede bayarannya itu, segera mendatangi kedai tersebut. Karena menurut beberapa orang, nenek itu tidak mau keluar dari kedai Wak Gempol.

Pada waktu itu, nenek misterius sedang menikmati secangkir teh panas dengan gula batunya. Delapan potong pisang sudah dilahapnya habis. Kini pisang yang kesembilan sedang dikupas kulitnya, ia tak peduli beberapa mata masih memperhatikan ke tempatnya secara mencuri-curi pandang dari luar kedai, ia tetap makan, minum, dan apa saja yang ingin dilakukan olehnya.

"Hoi...! Sini!" panggilnya kepada pemilik kedai, Wak Gempol. Maka, dengan rasa takut yang kesekian kali, Wak Gempol mendekat, siap melayani permintaan nenek setan itu.

" Gempol..., eh, namamu benar Gempol?"
" Ya. Benar, Nek."
" Gempol, apa kau sudah lama buka kedai di sini?"
" Sudah, Nek!"
" Berapa lama?"
" Hmmm... yah, sekitar tiga tahun lebih!"
" Belum lama, Goblok!"

"O, iya... belum lama, Nek," Wak Gempol terpaksa mengikuti apa kata nenek itu saja, ketimbang dia membantah, nasibnya bisa seperti Dekso atau terpotong tangannya.

" Selama ini apa kau tidak pernah mendengar nama Suto Sinting?"
" Tidak, Nek!"
" Tamu-tamu yang datang kemari tak ada yang mengaku bernama Suto Sinting?"

"Sungguh tidak ada, Nek! Aku berani bersumpah. Malahan aku tidak tahu seperti apa ciri-ciri orang yang bernama Suto Sinting itu!"

"Orangnya ganteng, tinggi, tegap, dan.... Eh, tapi mungkin sekarang dia sudah setua aku ini!" ucapnya seperti bicara pada diri sendiri. Lalu ia termenung beberapa saat, mengunyah pisangnya lagi. Kejap berikutnya dia berkata kepada Wak Gempol,

"Aku tak bisa bayangkan seperti apa wajah Suto yang tentunya sudah setua aku ini! Apakah dia masih ganteng, masih gagah, atau sudah loyo dan peot? Hmmm...," nenek itu manggut-manggut sendiri.

"Apa... apakah orang yang bernama Suto Sinting itu bekas kekasihmu, Nek?"

Mata cekung itu cepat menatap Wak Gempol dengan bengis. Wak Gempol berdebar-debar, jantungnya bagaikan mau jebol karena kerasnya berdetak. Nenek itu menggeram dengan suara tua gemetar yang berkata,

" Jangan lagi-lagi kau bilang begitu, Gempol! Usiamu bisa pendek kalau bicara begitu lagi!"
" Maaf, Nek! Maaf, aku tidak tahu! Maaf...!"
" Suto Sinting bukan kekasihku!"
" Iya, iya.... Bukan kekasihmu! Bukan!"
" Suto Sinting itu musuhku!"
" Iya. Betul Suto itu musuhmu! Betul sekali!"

"Hik hik hik hik...!" Nenek itu tertawa dengan matanya bagai terpejam. Ketika tawanya berhenti, ia sedikit kaget, karena telah masuk seorang berperawakan tinggi, tegap dan berkumis lebat. Tak terlalu gemuk tapi kelihatan kuat otot-ototnya. Orang itu berusia sekitar lima puluh tahun. Mengenakan baju putih rapi, bersih. Dialah yang bernama Wigunorekso, yang didampingi oleh tiga anak buahnya berpakaian biru, merah, dan hitam.

Wigunorekso memandang nenek itu dengan tajam. Pancaran matanya menandakan kemarahan yang terpendam. Wigunorekso tak berkedip ketika nenek itu pun memandangnya dengan polos, seperti orang tak bersalah apa-apa. Tak ada kesan angker di wajah nenek itu.

" Siapa kau sebenarnya, sehingga berani mengganggu ketenteraman desaku ini, nah?!" hardik Wigunorekso.
" Kamu siapa?" tanya nenek itu. "Apakah namamu Suto?"
" Bukan! Aku kepala desa sini. Namaku Wigunorekso!"
" Ah, sayang sekali kau bukan Suto Sinting!" ucapnya dengan lesu.
" Kuminta kau segera pergi dan tinggalkan desa ini! Jangan kembali lagi kalau kau ingin selamat!"
" Hik hik hik hik...! Orang ini galak padaku, Gempol!"

Pemilik kedai itu diam saja dan serba salah, karena itu ia lebih memilih untuk tundukkan kepala saja. Apa yang diperdebatkan oleh kedua orang itu tak mau diikutinya, ia sudah ngeri dan capek menahan debaran jantungnya.

"Cepat tinggalkan desa ini!" bentak Wigunorekso.

Nenek itu memandang, kali ini ia berdiri dan melangkah keluar dari bangku. Matanya memandang dengan angker. Wigunorekso tidak mau kalah angker dalam memandang. Jadi keduanya saling pandang seperti sepasang kuburan.

"Aku tidak mau tinggalkan tempat ini, karena aku masih capek!" kata nenek itu. "Kalau capekku sudah hilang, aku akan jalan lagi!"
"Rantanu! Seret dia keluar dari kedai Wak Gempol!"

Orang yang bernama Rantanu itu berpakaian hitam, dan cepat maju lalu menyeret tangan nenek itu. Tapi sang nenek segera menepiskan tangannya, tak mau dijamah oleh Rantanu. Melihat nenek itu membandel, Rantanu geram. Lalu ia menampar nenek itu dengan kasar.

Wuttt... ! Tabb... ! Tangan Rantanu cepat dipegang oleh nenek itu. Digenggam tak terlalu kuat, tapi Rantanu mendelik dan tak bisa memekik walau mulutnya telah ternganga. Lalu, nenek itu menahan napas sambil berkata dalam geram,

"Matilah kau, Nak...!" Lalu terdengar petir menyambar bumi.

Rantanu tersentak-sentak tubuhnya, kemudian ketika dilepaskan genggamannya, Rantanu jatuh begitu saja, dan wajahnya menjadi pucat pasi, bibirnya biru, napasnya tak ada. Rantanu mati tanpa sebab-sebab yang jelas.

Hal itu membuat Wigunorekso menjadi berang, ia menggeram sambil menggenggam tangan kuat-kuat. Tapi sebelum ia lepaskan murkanya kepada nenek itu, tiba-tiba sang nenek berkata,

"Kalian pun akan mati tinggal tulang sekarang juga!"

Blarr...! Petir menyambar lagi. Wigunorekso jatuh bersama kedua pengikutnya. Tubuh mereka mengepulkan asap dan tak bergerak. Makin lama asap semakin tebal. Nenek itu melangkah keluar karena tak tahan asap. Ia terbatuk-batuk. Dan ketika asap hilang beberapa saat kemudian, ternyata tubuh Wigunorekso dan kedua pengikutnya itu benar-benar tinggal tulang-belulang, tanpa daging tanpa bekas pakaian.

***2

MATAHARI pagi sudah sejak tadi pancarkan sinarnya ke bumi. Cahaya segar jatuh di atas reruntuhan sebuah candi yang ada di lereng sebuah bukit. Candi itu sudah porak-poranda. Konon, semasa kejayaan pemerintah seorang raja, candi itu dibangun sebagai tempat persemayaman putri raja. Mayatnya dikubur di ruang bawah tanah candi tersebut. Tapi tidak ada satu orang pun yang bisa temukan pintu masuk ke ruang bawah tanah itu.

Candi tersebut sekarang dijadikan tempat berlatih jurus-jurus silat aliran Tapak Merah. Seorang lelaki tua berjenggot putih dengan kepala gundul dan memakai kain putih sebelah sisi itulah yang menjadi ketua dan guru dari Perguruan Tapak Merah itu. Orang tersebut bernama Resi Jejak Naga.

Bersama murid-muridnya yang berjumlah sekitar tiga puluh orang, Resi Jejak Naga berlatih ilmu kanuraga di pelataran candi tersebut. Dua murid Resi Jejak Naga yang sudah tinggi ilmunya adalah Tawon Kusuma dan seorang perempuan muda berusia sekitar dua puluh tujuh tahun yang bernama Ratna Pamegat. Mereka berdua yang sering mewakili Resi Jejak Naga dalam melatih murid-murid Perguruan Tapak Merah.

Ketika pagi mulai beranjak mendekati siang, Perguruan Tapak Merah kedatangan seorang tamu yang tak diketahui dari mana asal datangnya. Tamu itu tahu- tahu muncul di jalanan seberang candi, dan dengan tertatih-tatih menghampiri candi tersebut. Tamu itu tak lain dari si nenek aneh yang telah mencuri jubah abu-abu dari sebuah rumah yang menjemur jubah itu. Kini jubah tersebut menutup badan kurus keringnya, sehingga tak terlalu tampak renta, ia berjalan dengan terbungkuk- bungkuk seenaknya saja, seolah masuk halaman rumah sendiri.

Tawon Kusuma segera menghampiri nenek itu dan menyapa dengan suaranya yang keras, "Mau apa kau kemari, Nek?"

"O, aku...? Aku mau mencari orang yang bernama Suto Sinting!"

"Suto Sinting...?!" Tawon Kusuma berkerut dahi, merasa pernah mendengar nama itu tapi tidak tahu siapa pemilik nama itu. Lalu, ia bertanya kepada nenek itu,

"Apakah kau neneknya Suto?"
Nenek itu menggeram tampak bengis. "Aku tidak pernah punya cucu sinting seperti Suto!"
"Atau... bekas kekasihmu?"

Nenek itu jengkel sekali, ia mencabut pedangnya dengan susah payah, sementara Tawon Kusuma memandanginya tanpa mengerti maksud si nenek. Tawon Kusuma malahan merasa kasihan melihat si nenek kerepotan mencabut pedangnya yang sudah berkarat itu. Ia bahkan membantu memegangkan sarung pedang yang selalu mau ikut tercabut jika pedangnya ditarik.

Srett...! Pedang itu berhasil dicabut. Tapi di luar dugaan Tawon Kusurno, pedang itu ditebaskan oleh sang nenek ke lehernya. Zrratt...! Crass...! Darah menyembur ke luar, rambut nenek itu menjadi basah oleh darah. Tawon Kusuma terbelalak kaget, sekaligus meregang nyawanya, ia segera rubuh ke belakang. Brukk...! Lalu tanpa banyak bicara, lepaslah sukma Tawon Kusuma dari raganya, ia mati tanpa diduga-duga oleh dirinya sendiri.

Kalau saja gerakan berkelebat tangan si nenek itu tidak terlalu cepat, mungkin Tawon Kusuma masih sempat gunakan gerakan naluri untuk menghindar atau menangkis tangan nenek. Tapi karena terlalu cepatnya gerakan tangan si nenek, maka Tawon Kusuma tak sempat melakukan apa-apa, sehingga ajal pun diterimanya dengan sangat mengejutkan.

"Siapa yang menganggap aku kekasihnya Suto, kubunuh!" kata nenek itu kepada mayat Tawon Kusuma.

Kejadian itu terjadi dalam jarak agak jauh dari murid- murid yang sedang berlatih di pelataran candi. Mereka tidak memperhatikan keadaan Tawon Kusuma. Ratna Pamegat sedang memberi contoh gerakan jurus-jurus yang harus ditirukan oleh para murid. Resi Jejak Naga ada di dalam candi sedang mengobati seorang murid yang terkena pukulan waktu berlatih dan agak parah keadaannya.

"Huh, hiaah...! Huh, Hiaah...! Huh, hiaah...!"

Para murid tetap berlatih jurus-jurus yang diajarkan oleh Ratna Pamegat dengan semangat tinggi. Nenek itu hanya memandangi dari tempat mayat Tawon Kusuma tergeletak, ia memandang dengan santai saja, sepertinya tidak pernah melakukan apa-apa terhadap seseorang.

Ketika gerakan jurus yang semula membelakangi tempat nenek itu berdiri menjadi berubah arah, mereka berbalik secara serempak sambil melakukan pukulan tebas-balik, maka mereka pun jadi terkejut melihat Tawon Kusuma tergeletak bermandikan darah.

"Tawon Kusuma...?!" seru Ratna Pamegat. Dengan cepat ia melompat mendului para murid yang segera bubar dan menyerbu ke tempat mayat Tawon Kusuma. Ratna Pamegat segera memeriksa keadaan Tawon Kusuma, lalu ia terkesiap setelah mengetahui Tawon Kusuma sudah tak bernyawa.

"Siapa yang membunuh Tawon Kusuma?!" sentak Ratna Pamegat kepada nenek aneh itu. Dengan tenang dan seperti orang tak bersalah, nenek itu menjawab,

"Aku yang bunuh dia!"

Zerrrbbb...! Serempak para murid mengurung nenek itu dengan kuda-kuda siap menyerang, menunggu perintah dari Ratna Pamegat. Nenek itu hanya memandangi sekeliling dengan perasaan heran dan wajahnya berkerut dahi tampakkan rasa aneh melihat mereka mengepungnya.

"Ada apa kalian mengepungku? Apa salahku?!" kata nenek pikun itu.
"Kau telah membunuh saudara kami!" bentak Ratna Pamegat.

"Lho, aku membunuh karena dia menyakiti hatiku! Dia menyangka aku punya kekasih Suto Sinting, padahal Suto Sinting yang kutanyakan kepadanya itu adalah musuhku yang ingin kubunuh! Jadi kalau aku membunuh dia, bocah malang ini, berarti bukan salahku!"

"Nenek edan!" geram Ratna Pamegat. "Hiaaat...!" Ratna Pamegat segera melompat dan menyerang nenek itu. Ia segera mencabut pedang di punggungnya untuk ditebaskan ke leher sang nenek. Tapi dengan gerakan kecil si nenek mengibas tangannya ke samping, maka Ratna Pamegat terpelanting jatuh. Angin kibasan tangan itu cukup kencang dan besar, sehingga keseimbangan tubuh Ratna Pamegat tak terkendali lagi. Tubuh itu terpelanting cukup jauh dan menabrak dua murid lainnya.

Sementara, seorang murid berpakaian abu-abu segera melompat dan mengarahkan tendangan kakinya ke punggung nenek tersebut. Tetapi, dengan satu kali kibasan tangan ke belakang, sambil tubuhnya berbalik arah, kaki murid itu tertangkap oleh sang nenek. Kaki itu segera digenggam kuat-kuat hingga lawannya menjerit kesakitan.

Kaki pemuda itu diputar, diayunkan keliling kepala sehingga tubuh sang pemuda melayang-layang. Begitu cepat putaran itu, sehingga ketika sang nenek melepaskan genggamannya, tubuh itu pun melesat melayang terlempar jauh, lalu membentur dinding candi yang sudah tak beratap rata lagi itu. Prakk...! Kepala orang muda itu menghantam dinding candi, langsung pecah tak tertolong lagi.

"Hiiaaat...!" Kini lebih dari sepuluh orang maju serentak menyerang nenek itu. Mereka menyerang secara bersamaan sehingga nenek itu bingung melayaninya. Akhirnya ia hanya sentakkan kaki kurusnya ke tanah dan tiba-tiba tubuhnya melesat naik ke atas dengan cepat. Gerakan menyergap serentak dari berbagai arah itu membuat mereka kecele dan akhirnya saling berbenturan kepala sendiri. Prokk...! Sang nenek berjungkir balik di udara dan jatuh di pelataran candi dalam keadaan sigap. Kakinya menapak dengan tepat. Jligg...! Tapi segera ia terbatuk-batuk sambil terbungkuk-bungkuk.

Resi Jejak Naga keluar begitu mendengar suara gaduh. Matanya menyipit saat dilihatnya seorang nenek yang berusia lebih tua darinya itu sedang bersiap mencabut pedangnya lagi dengan susah payah. Pada waktu itu, beberapa murid ingin menyerang kembali. Ratna Pamegat yang memberi perintah serang.

Tetapi, tiba-tiba Resi Jejak Naga yang ada di belakang nenek bungkuk itu segera berseru, "Tahan...!"

Para murid yang mau menyerang segera berhenti melangkah. Ratna Pamegat bergegas menghampiri gurunya. Sedangkan nenek itu masih sibuk mencabut pedang dengan susah payah. Maklum, ikat pinggangnya dari akar berumbai-rumbai sehingga sesekali gagang pedang tersangkut dan sarung pedang menjadi ikut jika mau dicabut ,

"Guru, Tawon Kusuma mati dibunuh oleh nenek tua itu!"

Terkesiap mata Resi Jejak Naga. Dipandanginya nenek berambut putih tipis itu dengan mata menyipit. Sang nenek berpaling ke belakang dan ia tak jadi mencabut pedang karena melihat seorang lelaki tua sedang berdiri tak jauh darinya, dalam deretan tangga ketiga dari tempatnya berdiri.

Nenek itu pandangi Resi Jejak Naga dengan mata menyipit juga, dahi berkerut dan muka bersungut- sungut, ia menaiki tangga candi dengan kaki gemetaran dan sangat hati-hati. Lalu, ia sengaja menghampiri lelaki gundul berpakaian putih separo badan itu. Semakin dekat semakin berkerut dahi nenek itu, seakan mempertegas penglihatannya ke wajah Resi Jejak Naga.

Kejap berikutnya terdengar nenek itu bersuara, "Kau mirip dengan Suto Sinting si Pendekar Mabuk! Apakah kau yang bernama Suto Sinting?"

"Bukan! Namaku Jejak Naga!" jawab Resi Jejak Naga dengan menahan kemarahan melihat mayat muridnya tergeletak di beberapa tempat.

"Ya. Kurasa kau tidak mirip Suto Sinting! Kalau Suto menjadi tua, tak mungkin kepalanya sepelontos kamu, Jejak Naga!" ujar nenek aneh itu. Ia tetap merasa seperti orang tak bersalah. Bahkan dengan enaknya ia berkata,

"Muridmu kubunuh tadi!"

Napas Resi Jejak Naga tertahan. Kemudian napas itu ditelannya untuk menahan luapan amarahnya. Tangannya berkelebat ketika Ratna Pamegat hendak maju menyerang. Ratna Pamegat pun segera urungkan niatnya.

"Mengapa kau membunuh muridku?" tanya Resi Jejak Naga. Jawabannya seperti apa yang dilontarkan kepada Ratna Pemegat tadi. Kemudian Jejak Naga berkata,

"Kau berhutang nyawa kepadaku jika begitu. Kau harus membayarnya, Nenek tua!"
"Tidak mau!" kata nenek itu. "Nyawaku hanya satu, sedangkan kau punya banyak nyawa murid. Hilang beberapa tak apalah!"

Ratna Pamegat menggeram, "Seenaknya dia bicara, Guru! Izinkan saya merampungkannya!"

"Jangan," jawab Resi Jejak Naga dengan pelan. "Dia berilmu tinggi. Kau bukan tandingannya!"

Tiba-tiba seorang murid yang sejak tadi sudah menggeletukkan gigi dengan jengkel sekali, segera menghantam nenek itu menggunakan pukulan tenaga dalamnya. Wutt...!

Wresss...!

Pukulan itu menerpa tubuh nenek kurus kering. Tapi tubuh itu tidak bergeming, hanya jubahnya yang berkelebat cepat, rambutnya terhempas angin pukulan, dan kain pada celananya yang robek itu menjadi semakin robek karena hempasan angin kencang. Brett...!

"Kau merobekkan kain celanaku, Anak Muda!" kata nenek itu dengan mata tajam memandang, ia menahan napas dan berkata, "Kau seperti seekor kucing yang gemar merobek-robek pakaian orang!"

Blarrr...!

Semua mata terbelalak kaget begitu mendengar suara petir menggelegar, tiba-tiba pemuda yang menyerang nenek itu berubah menjadi seekor kucing hitam yang berwajah ganas. Kucing itu mengeong, dan berlari tinggalkan tempat. Resi Jejak Naga tak bisa berkata sepatah kata pun melihat satu muridnya berubah menjadi seekor kucing.

"Siapa kau sebenarnya, Nenek tua!" Resi Jejak Naga mulai menghardik suaranya. Nenek itu dengan tenang dan kalem menjawab,
"Kalau kau bisa beri tahu di mana Suto Sinting berada, aku akan kasih tahu siapa diriku!"
"Kami tidak kenal dengan nama Suto Sinting! Kumohon kau tidak mengganggu kami, Nenek tua!"
"Aku tidak mengganggu. Tapi aku diganggu, sehingga aku balas mengganggu!"

Beberapa murid mundur menjauhi nenek misterius itu. Mereka mulai merasa takut dirinya berubah menjadi seekor kucing. Sementara itu, sang nenek segera duduk di batu candi yang berfungsi sebagai lantai, dekat dengan stupa kecil. Di sana ia bersandar dalam bayangan teduh sebuah pohon tak jauh dari candi itu.

Terdengar pelan Ratna Pamegat berkata kepada gurunya, "Siapa Suto Sinting itu?! Apakah Guru tidak kenal dengan orang itu?"
"Tidak. Sepertinya memang pernah kudengar nama itu, tapi hanya sepintas dan tak kutahu siapa orang tersebut!"
"Jadi bagaimana cara mengatasi nenek edan itu, Guru?!"

"Biarlah aku yang atasi dia. Kau suruh saudara- saudaramu untuk menjauhi tempat aku dan dia bicara. Jangan sampai ada yang jadi sasaran kegilaannya lagi! Cari kucing hitam jelmaan Suwogo itu, dan jaga dia baik-baik. Aku akan mendesak nenek itu agar mengembalikan wujud Suwogo ke asalnya!"

Ratna Pamegat segera bicara kepada para murid, sementara Resi Jejak Naga bicara kepada nenek itu. Tetapi para murid merasa keberatan jika harus jauh dari guru mereka itu. Kesetiaan terhadap Guru membuat para murid tak mau jauh-jauh menjaga gurunya dari bahaya nenek misterius itu. Ratna Pamegat tak bisa memaksa mereka sesuai perintah Guru. Karena Ratna Pamegat sendiri tak tega jika harus menjauhi sang Guru, sementara sang Guru berhadapan dengan maut yang mengancam sewaktu-waktu.

Maka beberapa murid hanya berada dalam jarak beberapa tombak dari tempat guru-mereka bicara dengan nenek misterius itu. Sementara Ratna Pamegat sendiri tak berani lebih jauh dari tempatnya sekarang, sekitar empat tombak dari gurunya.

" Kau harus mengembalikan muridku yang menjadi kucing itu!"
" Aku tak bisa!"
" Harus bisa!"
" Jangan paksa aku!" nenek itu menghardik dengan suara tua yang gemetaran. Napasnya terengah-engah setelah itu.
" Jika begitu, lekaslah pergi dan carilah orang yang bernama Suto Sinting itu ke tempat lain. Jangan di sini!"
" Kau mengusirku, Jejak Naga?"
" Ya. Karena kau mengganggu ketenteraman kami!"

Nenek itu berdiri dengan mata memandang ganas. Resi Jejak Naga mundur satu tindak dan bersiap menghadapi serangan sewaktu-waktu, ia segera berkata kepada nenek itu,

"Kalau kau datang dengan baik-baik, mungkin kami akan membantumu mencarikan orang yang bernama Suto Sinting itu! Tapi karena kau datang dengan permusuhan, maka kami pun tak sudi membantumu!"

"Tak mau membantuku juga tak apa-apa!" Nenek itu bersungut-sungut.
"Tapi kau harus segera pergi dari sini! Kami tidak bersedia menerimamu!" sentak Resi Jejak Naga semakin jengkel.

Nenek itu memandang dengan terus-menerus. Sorot pandangan matanya sangat tajam. Dan oleh Resi Jejak Naga, pandangan mata itu dilawannya, ia pun tak berkedip menatap sang nenek dan tak kalah tajam pula sorot pandangan matanya.

Tetapi tiba-tiba tubuh Resi Jejak Naga bagai disapu angin besar yang membuatnya terbang melayang ke arah belakang. Wusss...! Gerakan terbang Resi Jejak Naga membuat semua murid menjadi tegang dan bersiap untuk menyerang.

Resi Jejak Naga terjatuh, tapi segera disambut oleh Ratna Pamegat yang membuat sang resi tak sampai terbanting di lantai candi berbatu keras itu. Resi Jejak Naga pun diturunkan dari topangan tangan Ratna Pamegat.

"Nenek Setan!" sentak Resi Jejak Naga yang sudah tak bisa menahan marah lagi itu. "Kurasa kau memang perlu diberi pelajaran biar sadar di masa tuamu ini! Hihh...!"

Sentakan tangan Resi Jejak Naga keluarkan cahaya merah pijar. Cahaya itu melesat menghantam Nenek Setan. Lalu, oleh si nenek cahaya itu ditangkis dengan menggunakan telapak tangannya. Dess! Cahaya itu jatuh ke lantai dan padam seketika.

"Kau ingin adu ilmu denganku, Jejak Naga?! Baik, baik...! Kau punya ilmu apa saja, keluarkanlah! Aku akan melayani kemarahanmu!" kata sang nenek.

Resi Jejak Naga segera maju beberapa tindak, saat itu sang nenek menuruni tangga dengan hati-hati dan sesekali tampak limbung mau jatuh. Sepertinya ia sudah tidak punya tenaga lagi untuk melangkah, tapi masih dipaksakan. Kesempatan itu digunakan oleh Resi Jejak Naga untuk melepaskan pukulan bercahaya biru. Pukulan itu sengaja dilepaskan berkali-kali, sehingga cahaya biru melesat berturut-turut menghantam sang nenek. Tapi oleh sang nenek cahaya itu ditahan memakai telapak tangannya.

Zlubb... zlubb... zlubb... zlubb...!

Sinar biru berturut-turut dan patah-patah itu seakan diserap masuk ke dalam telapak tangan sang nenek. Dengan suara gemetaran sang nenek berkata,

"Terus, keluarkan terus ilmumu! Sama saja kau menyumbangkan ilmu itu kepadaku secara cuma-cuma, Jej ak Naga. Hik hik hik...!"

Seketika itu Resi Jejak Naga sadar bahwa ia telah memasukkan ilmunya ke raga nenek aneh itu. Ia pun segera menghentikan pukulan sinar birunya, karena ia yakin, semakin banyak sinar biru yang dikeluarkannya, berarti semakin banyak kekuatan jurusnya dihisap oleh nenek aneh itu.

"Kenapa berhenti?" tanya sang nenek. "Jejak Naga, Jejak Naga... tubuhmu sudah bau tanah saja masih banyak bertingkah kau!"
"Kau pun lebih bau tanah, bahkan kau telah bau mayat, Nenek Peot! Sadarilah hal itu!"
"Berani kau mengatakan aku nenek peot, hah? Aku masih cantik! Masih manis, dan masih menawan hati!"
"Cuih...!" Resi Jejak Naga meludah benci.

Nenek aneh itu makin marah, merasa dihina dan direndahkan. Maka ia pun menahan napas sambil berucap kata,

"Kurang ajar kau, Jejak Naga! Kau menganggap aku jijik, tapi sebenarnya tubuhmu lebih menjijikkan! Kepalamu memang masih utuh tapi lehermu sampai ke bawah sudah menjadi tulang belulang dan masih hidup, Jejak Naga!"

Blarrr...! Petir meledak bagai ingin memecah langit. Seketika itu juga, tubuh Resi Jejak Naga berubah menjadi tulang-tulang tengkorak, tapi kepalanya masih utuh dan bisa bicara. Tulang-belulang itu pun masih bisa berjalan ke sana-sini dan bisa dipakai menggerakkan tangan, namun sudah tanpa kulit, tanpa daging dan tanpa isi apa pun. Dari tempatnya berdiri, nenek aneh itu berkata kepada Ratna Pamegat,

"Bawa kemari orang yang bernama Suto, baru kupulihkan keadaan gurumu! Jika tidak, selamanya dia akan menjadi tengkorak hidup!"

* **3
IRING-IRINGAN manusia mulai tampak keluar dari balai desa. Suara mereka menggaung bagaikan sejuta lebah. Langkah kaki mereka pun tampak tergesa-gesa. Iring-iringan itu diawali oleh langkah tiga orang paling depan. Satu orang yang ada di tengah tampak dalam keadaan terikat kedua tangannya ke belakang. Dua orang di kanan-kirinya menggenggam lengannya dengan kuat.

Setiap mata yang berpapasan dengan iring-iringan itu berhenti melangkah dan sempatkan diri memandang. Bahkan beberapa orang yang semula menuju arah berlawanan, begitu melihat iring-iringan itu menjadi kembali arah, mengikuti iring-iringan tersebut. Beberapa orang yang ada di dalam rumah ataupun di warung, juga menyempatkan diri keluar ataupun hanya melongok dari pintu rumahnya.

Salah seorang yang ada di sebuah warung bertanya kepada orang yang berlari-lari menuju lapangan,

"Ada apa itu?!"
"Suto mau digantung!" jawab orang itu sambil berlari.
"Hah...?! Akhirnya dia digantung juga?"

Bergegas keluar dari warung itu seorang perempuan muda yang wajahnya menjadi bahan incaran kaum lelaki. Perempuan itu ikut memandang ke arah iring- iringan yang menuju lapangan. Suara mereka yang lewat bersimpang-siur dengan tegang dan terburu-buru menyerukan kata,

"Suto digantung! Suto mau digantung...!"

Perempuan muda yang cantik dan menyandang pedang di punggung itu segera mendekati seorang lelaki tua-yang berdiri di bawah pohon. Perempuan itu bertanya,

"Iring-iringan apa itu, Pak tua?"
" Suto...! Dia mau digantung!"
"Suto...?!"

Perempuan cantik yang tak lain adalah Ratna Pamegat segera menjadi tegang setelah mendapat jawaban dengan jelas. Wajahnya pun berubah menjadi lebih tegang lagi.

Orang yang dicarinya sejak empat hari yang lalu, ternyata sekarang ditemuinya dalam keadaan mau digantung. Tak disangka sama sekali kalau ternyata orang yang bernama Suto itu punya kesalahan besar di desa itu sehingga mau digantung oleh penguasa setempat.

"Mengapa dia dijatuhi hukuman gantung, Pak tua?" tanya Ratna Pamegat lagi kepada orang tua yang sejak tadi berdiri di bawah pohon menunggu iring-iringan itu lewat di depannya.

"Pendekar Mabuk memperkosa istri Ki Lurah Pogo. Pengadilan memutuskan ia harus digantung, supaya rakyat di desa ini pun tidak ada yang berani bertindak begitu lagi terhadap siapa punl"

"Apakah dia sudah jelas bersalah, sehingga diputuskan untuk digantung begitu?!"
"Ada beberapa orangnya Ki Lurah Pogo yang memergoki perbuatan Suto, dan Nyi Sumirah sendiri telah menuntut atas perbuatan Suto itu!"

Ratna Pamegat diam. Iring-iringan itu lewat di depannya dalam jarak antara empat tombak. Ratna Pamegat segera bergabung dalam iring-iringan itu dan mendengarkan kasak-kusuk mereka yang membicarakan tentang Suto.

"Kalau tidak digantung, nanti di sini banyak pemerkosa yang berbuat seenaknya saja!" kata salah seorang memberi tanggapan terhadap keputusan pengadilan tersebut.

Pemuda berwajah tampan itu seakan menerima saja keputusan yang menimpa dirinya. Hukuman yang akan dilaksanakan di tengah lapangan dan sengaja biar menjadi tontonan orang itu membuat Ratna Pamegat berpikir dengan gelisah. Sesekali ia mendengar suara pemuda yang mau digantung itu berseru,

"Aku tidak memperkosa Nyi Sumirah! Tapi kalau kalian tetap menggantungku, arwahku akan datang lagi untuk memperkosa semua perempuan di desa ini! Setiap malam aku akan datang menggerayangi siapa saja, dari yang tua, muda, maupun yang bocah!"

Ratna Pamegat berjalan lebih cepat untuk dapat mencapai lapangan lebih dulu. Ketika ia sampai di tanah lapangan itu, ternyata tiang gantungan sudah disiapkan. Tiang gantungan itu berupa sebuah panggung kecil yang diapit oleh tiang gawang. Di atas tiang gawang itu terdapat tali gantungan yang sudah siap menjerat mangsa.

Ratna Pamegat berkata dalam hatinya, "Mungkinkah dulunya nenek aneh itu juga diperkosa oleh Suto, sehingga ia dendam sekali dengan pemuda yang bernama Suto ini dan menjadi buas kepada siapa saja! Tugasku adalah mencari Suto supaya Guru dibebaskan dari pengaruh kekuatan gaib nenek aneh itu. Tapi bagaimana aku harus membawa Suto ke Candi Sapta Windu jika orang itu sendiri di sini mau digantung?! Padahal nenek aneh itu sudah berpesan bahwa aku harus bisa menyeret Suto Sinting dalam keadaan hidup-hidup dan menyerahkannya kepadanya! Sedangkan sekarang nyawa orang itu terancam mati gantung?!"

Tak ada pilihan lain buat Ratna Pamegat selain mencari kesempatan untuk membebaskan Pendekar Mabuk dari tiang gantungan. Sejenak ia berpikir, sejenak pula ia mendengar Pendekar Mabuk berseru dari atas panggung tiang gantungan itu dengan lantangnya,

"Ingat, aku tidak memperkosa! Aku tidak memaksa perempuan itu! Tapi aku dijatuhi hukuman gantung! Kuhabisi perempuan di desa ini! Arwahku akan datang merobek-robek setiap perempuan yang habis kutiduri! Aku akan menuntut balas melalui arwahku! Ingat kata- kataku, Ki Lurah Pogo...! Ingat...!"

Tak jauh dari tanah lapangan itu, dua rumah tiba-tiba terbakar secara misterius. Dua rumah itu berdampingan dan sebelahnya lagi ada rumah yang hampir ikut terbakar. Dua rumah yang terbakar itu menimbulkan kepanikan dan kegaduhan mereka yang berkumpul di lapangan. Suasana menjadi kacau, karena api berkobar semakin besar dan menjilat-jilat rumah di kanan kirinya.

Dalam keadaan kacau itulah, tubuh Pendekar Mabuk bagai diterjang angin bercahaya warna Jingga. Wusss...! Para petugas yang siap menggantung Suto menjadi terbengong sekejap melihat tawanannya hilang begitu saja sebelum lehernya dijerat tali gantungan. Dua petugas itu pun berteriak keras-keras,

"Suto hilaaang...! Tawanan kita dicuri orang! Suto hilang!"

Semakin heboh dan kacau suasana di tanah lapang. Rumah yang kebakaran itu menimbulkan kepanikan dan kekacauan yang hebat, hilangnya tawanan mereka pun membuat kekacauan lebih hebat lagi. Semua orang bingung mencurahkan perhatian antara ke rumah terbakar atau ke panggung gantungan.

Salah satu dari orangnya Ki Lurah Pogo berseru, "Perempuan itu telah membawa lari tawanan kita! Dia menuju ke hutan barat!"

Ki Lurah Pogo yang bermata lebar dan berperawakan tegap itu segera berseru kepada beberapa orangnya,

"Kejar mereka! Bunuh di tempat!"

Ratna Pamegat telah berhasil membawa lari pemuda tampan itu. Pemuda tersebut dipanggul di atas pundak dalam keadaan tak bisa bergerak, karena ketika Ratna Pamegat menyambar pemuda itu dari bawah tali gantungan, ia sudah menotoknya lebih dulu lewat lemparan batu kecil. Kini ia bebas membawa lari Pendekar Mabuk walau dalam kejaran beberapa anak buah Ki Lurah Pogo. Mereka yang mengejar berpencar dan memotong jalan untuk melakukan pencegatan di beberapa tempat.

Sampai di suatu tempat bersemak duri, Ratna Pamegat terhadang oleh dua orang anak buah Ki Lurah Pogo. Kedua orang itu langsung menyerang Ratna Pamegat dengan pukulan tenaga dalam mereka yang bercahaya merah.

Ratna Pamegat melompat dalam satu sentakan kaki ke tanah. Pukulan tenaga dalam dari dua arah melesat di bawah kakinya. Wutt...! Lalu saling berbenturan satu dengan yang lain. Blarrr....!

"Serahkan orang itu atau kuhabisi kau sekarang juga, Perempuan Jalang!" teriak yang berpakaian hitam.
"Aku membutuhkan orang ini! Aku terpaksa mencurinya dari kalian. Sangat terpaksa!"
"Keparat kau! Sarju, habisi saja mereka berdua!" teriak yang berpakaian hijau.

Mereka berdua mencabut golok masing-masing. Ratna Pamegat terpaksa menurunkan pemuda yang tertotok jalan darahnya itu. Kemudian Ratna Pamegat mencabut pedangnya juga dari punggung. Matanya menatap dengan tajam, melirik lawannya yang datang dari depan dan dari kiri.

"Hiaaat...!" Yang dari depan menyerang dalam satu lompatan. Goloknya berkelebat menebas leher. Tapi pedang Ratna Pamegat berkelebat menangkisnya dengan cepat. Trangng... !

Yang dari samping pun menyerang dengan tebasan ke arah perut. Ratna Pamegat menyentakkan kakinya, tepat menendang bagian pergelangan tangan orang itu, hingga orang itu terjengkang ke sam-ping akibat terbawa dorongan tangannya yang kena tendang. Pada saat itulah pedang Ratna Pamegat ditebaskan ke samping kiri. Brett... !

"Aaahg...!" orang itu mendelik sambil memekik. Dadanya terkena sabetan pedang Ratna Pamegat.

Yang dari depan menyerang dengan tendangan berputar. Ratna Pamegat terkena tendangan pada bagian wajah. Plokk...! Ia terhuyung ke samping. Orang itu melompat dan membacokkan goloknya. Tapi pedang Ratna Pamegat mendahului menembus lambungnya dengan telak. Blesss...!

"Aaahg...!" orang itu pun mendelik, dan mati beberapa kejap berikutnya.

Pemuda yang dijatuhkan dari pundaknya itu segera diangkat oleh Ratna Pamegat, lalu dibawanya lari lagi. Namun beberapa langkah ia melesat, tiba-tiba kembali tiga orang menghadangnya dengan senjata masing- masing di tangan. Wajah ketiga orang itu memancarkan nafsu membunuh. Ratna Pamegat yang belum memasukkan pedangnya ke sarung pedang itu segera berhenti menahan gerakan. Pemuda itu tetap dipanggul di pundak kiri.

"Perempuan Bodoh! Serahkan pemuda itu biar kami gantung karena kesalahannya!" bentak yang berkumis lebat.
"Maaf, aku terpaksa mencurinya dari kalian karena ada satu keperluan yang amat penting demi jiwa guruku!"
"Persetan dengan gurumu! Serahkan dia! Tinggalkan di situ!"
"Tak bisa...! Aku harus membawanya pulang!"
"Serang dia! Hiaaat...!"

Ketiganya melompat bersamaan dengan senjata siap dihujamkan ke tubuh Ratna Pamegat maupun pemuda itu. Tetapi dengan gerakan cepat yang tak sempat terlihat, pedang Ratna Pamegat berhasil berkelebat menerabas tiap senjata mereka. Dalam satu sapuan, dua senjata mereka terpental jauh, satu keris patah terpotong pedang.

Tubuh mereka bertiga pun sama-sama terpental karena gelombang angin besar yang keluar dari tebasan pedang bertenaga dalam itu. Ratna Pamegat melompat dan segera melarikan diri. Tapi dua dari ketiga orang itu cepat bangkit lalu mengejarnya dengan melepaskan satu pukulan jarak jauh ke punggung Ratna Pamegat.

Hawa panas yang mendekati punggung itu berhasil dihindari Ratna Pamegat dengan melompat ke balik sebuah pohon. Wuttt...! Dua orang itu segera maju menyerang mengandalkan pukulan tenaga dalamnya.

Namun sebelum tangan mereka bergerak menyentak tiba-tiba pedang Ratna Pamegat telah menyapunya dengan cepat dan membuat tangan mereka putus seketika. Satu dari mereka terkena pula tendangan kaki Ratna Pamegat di bagian dada dan memuntahkan darah segar dari mulut orang itu. Sedangkan orang yang tadi tertinggal dua temannya itu kini menyerang dengan senjata tombaknya yang tadi sempat terpental jatuh. Tombak itu dilemparkan ke arah Ratna Pamegat. Tapi oleh perempuan itu dihindari dengan satu lompatan ke samping. Jrubb...! Tombak itu menancap di sebuah batang pohon. Ratna Pamegat pun melompat maju, ketika itu lawannya juga melompat maju, dan crasss...! Tak banyak bicara lagi pedang itu menebas lawan, hingga lawan tersentak ke belakang dalam keadaan dada robek lebar karena tebasan pedang.

Sambil tetap memanggul pemuda yang mau digantung itu, Ratna Pamegat tinggalkan tempat itu. Dalam hatinya ia menggerutu tiada berkesudahan.

"Sial! Kalau bukan karena ulah nenek aneh itu, tak sudi aku menyelamatkan seorang pemerkosa macam dia ini! Kalau bukan demi pulihnya keadaan Guru, tak mau aku menjadi pembela dan penyelamat orang yang bersalah! Perbuatan ini bertentangan dengan hati kecilku, tapi toh tetap harus kulakukan! Mudah- mudahan setelah peristiwa ini aku tidak menemui masalah yang seperti makan buah simalakama ini!"

Arah pelarian Ratna Pamegat mulai mendaki bukit, karena jika ia menyusuri kaki bukit, maka akan banyak pengepung yang ditemuinya. Ki Lurah Pogo menyebar anak buahnya menyusuri kaki bukit, sehingga Ratna Pamegat harus ke arah puncak bukit.

Sekalipun begitu, toh akhirnya ia dipergoki juga oleh seorang lelaki berkumis tebal dan berwajah penuh wibawa. Orang itulah yang dikenal sebagai Ki Lurah Pogo. Sebilah keris sudah digenggam oleh Ki Lurah Pogo. Matanya memancarkan permusuhan sengit yang tak bisa ditawar-tawar lagi.

Ratna Pamegat tidak mau gegabah berhadapan dengan tokoh tua ini. Ia menurunkan pemuda yang seharusnya digantung itu. Kini ia berdiri dengan sikap tegas dan lebih leluasa dalam bergerak. Pedangnya masih di tangan dengan mengucurkan darah bekas luka lawannya.

"Siapa kau sebenarnya, Perempuan Bodoh?!" gertak Ki Lurah Pogo.

"Aku bukan siapa-siapa dalam hal ini. Tapi kumohon Ki Lurah bisa memahami kesulitanku. Aku harus membawa Suto kepada seseorang. Jika tidak kulakukan, maka nasib guruku akan sangat menderita. Guruku, juga beberapa murid perguruan kami secara tak langsung tertawan oleh kekejian nenek aneh berdarah dingin itu! Kami harus menemukan Suto dan menghadapkan kepadanya!"

"Aku tak peduli keadaanmu, keadaan perguruanmu atau tuntutan nenek aneh itu! Aku hanya minta agar kamu tinggalkan bocah busuk yang telah memperkosa istriku, merusak kehormatan harga diriku itu!"

"Maaf, Ki Lurah...! Barangkali pemuda ini pun nantinya akan kami bunuh! Tapi bagaimanapun juga aku harus serahkan dulu kepada nenek aneh itu. Aku bukan membela perilakunya yang jahat, tapi sekadar mencari syarat untuk membebaskan guruku! Jadi bagaimanapun
juga aku harus mempertahankan pemuda ini, Ki Lurah!"

"Kau akan menyesal, Perempuan Bodoh!" geramnya makin kuat.

"Jika memang aku harus menyesal, apa boleh buatlah...! Akan kujalani juga penyesalan itu! Yang Jelas aku harus mempertahankan Suto!"
"Kalau begitu kau pun terpaksa harus kubunuh, Gadis Dungu!"

Keris itu bergetar. Tangan Ki Lurah Pogo ikut bergetar. Keris itu bergerak pelan ke arah dada, lalu dengan satu sentakan kuat keris itu menusuk ke depan dan melesat sinar biru berkelok-kelok menghantam tubuh Ratna Pamegat. Zrabb...!.

Dengan cepat tubuh Ratna Pamegat melompat dan berguling di tanah. Dengan cepat pula ia sudah berdiri kembali. Ki Lurah Pogo mengangkat kerisnya ke atas dan kini keris itu memercikkan api merah dan membuat wujud keris membara bagai besi terpanggang api.

"Hiaaat...!" Ki Lurah Pogo menyerang Ratna Pamegat dengan kibasan keris ke arah dada lawannya. Ratna Pamegat menghindar dan berjungkir balik ke belakang karena seperti mendapat tendangan tenaga yang teramat kuat karena gelombang yang ditimbulkan dari kibasan keris tersebut.

Dengan penuh nafsu membunuh, Ki Lurah Pogo mengejar Ratna Pamegat dan melayangkan tendangannya ke depan. Plakk...! Tendangan itu berhasil ditangkis oleh tangan kiri Ratna Pamegat yang berdiri dengan satu lutut. Kemudian pedangnya pun berkelebat dari bawah ke atas. Wutt...! Crass...!

"Ahg...!"

Ki Lurah Pogo terluka pahanya cukup lebar. Tapi ia tidak berhenti sampai di situ saja. Keris itu segera dihujamkan ke pundak Ratna Pamegat. Tetapi sebelumnya Ratna Pamegat sudah lebih dulu melesat bersalto ke arah belakang, sehingga keris itu mengenai tempat kosong.

Bisa saja Ratna Pamegat menebaskan pedangnya untuk membelah punggung Ki Lurah Pogo. Tapi ia bermaksud untuk tidak membuat kematian gara-gara mempertahankan pemuda pemerkosa yang harus dibawanya lari itu.

Maka dengan sentakan tangan kirinya yang melepaskan pukulan tenaga dalam, punggung Ki Lurah Pogo dihantamnya kuat-kuat. Dess...!

"Uuhg...!" Ki Lurah Pogo terpekik dan terjungkal bersama kerisnya, ia menggeliat kesakitan, punggungnya bagaikan patah total, ia tak bisa bangkit untuk sementara waktu. Matanya pun terbeliak-beliak dengan mulut ternganga tak bisa keluarkan suara lagi.

"Maaf, Ki Lurah... tak ada jalan lain bagiku!" ucap Ratna Pamegat dengan tegasnya. Kemudian, perempuan cantik itu segera memanggul tubuh pemuda tampan yang masih tertotok jalan darahnya itu. Dan ia segera meninggalkan tempat tersebut dengan gerakan cepat, ia mendaki bukit itu, memotong jalan melewati puncak bukit dan menuruni lereng seberangnya. Rasa-rasanya hanya itu jalan yang aman buat Ratna Pamegat dalam
melarikan Pendekar Mabuk, si pemuda tampan tersebut.

Terdengar suara para pengejar dari bawah berseru memaki dan mengancamnya. Para pengejar itu masih tetap berusaha mendapatkan Suto dengan cara bagaimanapun. Jumlah mereka yang mengejar lebih dari tujuh orang. Ratna Pamegat yang kini sudah mencapai puncak bukit berhenti sejenak untuk memperhatikan para pengejar.

Sebuah batu besar segera dihantam dengan pukulan tenaga dalam. Telapak tangan Ratna Pamegat keluarkan cahaya perak berpendar-pendar dan cahaya yang mirip piringan kecil itu melesat menghantam batu yang besarnya seukuran sebuah gubuk. Duarrr...!

Batu itu pecah menjadi bongkahan-bongkahan sebesar genggaman tangan, kemudian menggelinding runtuh ke lereng bukit, menghujani para pengejarnya. Dua batu yang berukuran sedang juga dihantam lagi oleh Ratna Pamegat dan semakin banyak hujan batu yang menghalangi langkah para pengejar itu. Bahkan mereka saling berteriak kesakitan karena ada yang terhantam keningnya, ada yang tertimpa punggungnya, ada yang terbentur mata kaki atau tulang keringnya, sehingga mereka memutuskan untuk berlindung ataupun kembali turun.

Ratna Pamegat segera mengangkat pemuda itu lagi, dan membawanya lari menuruni lereng seberangnya. Dengan langkah cepat ia tinggalkan puncak bukit itu dan menerobos hutan yang bertanaman rapat.

* * *
4

SEORANG perempuan berkebaya hijau dan mengenakan kain sebatas betis tiba-tiba menghadang langkah Ratna Pamegat. Rambut perempuan itu disanggul asal-asalan. Tampaknya ia terburu-buru dalam menghadang langkah Ratna Pamegat.

Ia menggenggam sebilah pisau badik berukuran satu jengkal panjangnya. Matanya memandang tajam, penuh nafsu permusuhan. Ratna Pamegat memperkirakan usia perempuan berkebaya hijau itu sekitar empat puluh tahun. Masih kelihatan sisa kecantikannya di masa remajanya, namun yang kelihatan jelas adalah mata nakalnya.

"Mau kau bawa lari ke mana pemuda itu, Perempuan Binal?!" hardik perempuan berkebaya hijau yang lengannya ditarik sampai siku.

Melihat kalung dan giwang yang dipakai perempuan itu, Ratna Pamegat menduga perempuan itu bukan rakyat jelata. Pasti punya derajat yang lebih tinggi dari sekadar rakyat desa. Kulit tubuhnya pun putih bersih dengan dada membusung sekal. Ratna Pamegat memandang penuh curiga kepada perempuan itu.

"Apa maksudmu menghadang langkahku?"

"Tinggalkan pemuda yang kau panggul itu, dan pergilah dengan cepat!" kata perempuan tersebut. Bibirnya masih tampak merah karena gincu yang masih baru.

"Ada urusan apa kau dengan si pemerkosa ini?!"
"Kau tak perlu tahu! Yang jelas, aku siap membunuhmu jika kau mau membawa lari Suto!"
"Segigih itu kau ingin merebut Suto dariku?" pancing Ratna Pamegat.

"Ya. Karena aku sudah lama mengenal dia. Mungkin lebih dulu aku mengenal dia daripada dirimu! Perlu kau ketahui, aku adalah istri Ki Lurah Pogo itu. Akulah Nyi Sumirah!"

"O, kamu yang namanya Nyi Sumirah?!" Ratna Pamegat manggut-manggut dan mulai meletakkan tubuh Suto ke tanah. Tapi ia belum mau jauh-jauh dari tubuh pemuda itu. Ia bertanya kepada istri Ki Lurah Pogo itu,

"Apakah kau ingin menggantungnya juga?"
"Justru aku datang untuk menyelamatkan dia, menyembunyikannya di suatu tempat yang aman!"
"Bukankah dia memperkosamu?"

Nyi Sumirah sunggingkan senyum tipisnya. "Bodoh sekali aku kalau sampai harus diperkosa oleh si tampan itu! Kalau perlu aku yang memperkosa dia! Buatku, Suto memang mengagumkan dan mampu membikin aku bahagia dalam batin. Jika sekarang kau ingin merebutnya dari pelukanku, kau harus bertarung nyawa denganku!"

"O, tidak! Jangan salah sangka. Aku tidak ingin bercinta dengan pemuda ini, Nyi Sumirah!"

"Omong kosong! Siapa perempuan yang tidak terpikat melihat ketampanannya? Siapa perempuan yang tidak bergairah melihat keperkasaannya?! Kau pasti sudah lama mengidam-idamkan ingin bercumbu dengan Suto! Dan kau manfaatkan keadaan Suto yang mau digantung itu! Hmm...! Tapi jangan kau merasa menang walau sudah bisa membawa lari dia, karena Sumirah tidak akan tinggal diam! Apa pun tuntutannya aku siapkan demi mempertahankan pemuda yang membahagiakan hatiku itu! Nyawa pun siap kukorbankan untuk mendapatkan dia!"

"Lalu mengapa kau diam saja saat Suto dituduh sebagai pemerkosa?!"

"Hmm...!" Nyi Sumirah mencibir. "Kau tidak tahu taktik, Perempuan Bodoh! Kau tidak bisa mengatur siasat untuk mendapatkan buah hatimu! Kalau aku tidak berteriak diperkosa oleh Suto, maka mereka yang memergoki perbuatanku dengannya akan menudingku sebagai istri lurah yang serong! Tapi dengan tuduhan memperkosa, aku selamat!"

"Itu tandanya kau tidak siap berkorban untuk laki-laki yang kau cintai dan kau butuhkan kemesraannya!" tuduh Ratna Pamegat sengaja memancing marah Nyi Sumirah untuk mengetahui apa sebenarnya yang terjadi dalam diri Nyi Sumirah dan persoalan sebenarnya.

"Jangan terlalu bodoh kau, Perempuan Binal! Kalau aku tidak mengaku diperkosa oleh Suto, aku tidak punya kesempatan untuk menyelamatkan dia dari hukuman suamiku!"

"Nyatanya kau tidak selamatkan dia, sampai akhirnya dia hampir digantung!"

"Aku sudah siapkan siasat lain, tapi kau merusaknya! Kau membawa lari dia dengan kebinalan-mu! Hmm...!
Kalau kau mau merebut Suto dari pelukanku, kau harus langkahi dulu bangkaiku!"

"Aku tidak merebut dia dari pelukanmu untuk jatuh ke pelukanku! Aku tidak sudi jatuh ke pelukan pemuda hidung belang macam dia! Aku hanya membutuhkan dia untuk menolong guruku!

"Aku tak izinkan! Kalau kau nekat, aku pun tega membunuhmu!" ancam Nyi Sumirah. Ratna Pamegat diam sesaat, hatinya berkata,

"Rupanya antara Suto dan Nyi Sumirah ini terjadi hubungan gelap di belakang Ki Lurah Pogo! Jadi, sebenarnya Suto ini tidak bersalah dalam hal memperkosa, karena perbuatan itu terjadi antara mau sama mau. Mungkin sudah berulang kali Nyi Sumirah menikmati kemesraan Suto di belakang Ki Lurah Pogo, dan baru saat itu kepergok, sehingga tak ada akal lain buat Nyi Sumirah selain berteriak dan mengakui diperkosa! Sebenarnya ia hanya ingin selamatkan diri sendiri dan tak mau menanggung hukuman!"

"Jangan diam saja!" bentak Nyi Sumirah. "Tinggalkan dia di situ. Pergilah sana, cepat!"

"Aku akan membawa pergi pemuda ini! Apa pun yang terjadi, aku harus membawanya pulang ke perguruanku!"

"Persetan dengan perguruanmu! Hiaaah...!" Badik itu segera ditusukkan ke perut Ratna Pamegat. Tetapi tangan Ratna Pamegat segera menyanggah dan kaki berkelebat menendang dalam posisi tendangan miring. Buggh...! Dada Nyi Sumirah menjadi sasaran empuk
kaki Ratna Pamegat.

Tendangan kaki Ratna Pamegat cukup kuat, membuat Nyi Sumirah terpental jatuh ke belakang antara satu tombak lebih, ia segera bangkit dan menerjang kembali dengan lompatan cepat.

"Hiaat...!"
Prakk...! Begh begh...!

Ratna Pamegat juga melompat naik, dan mengadu pukulan tangan kirinya dengan kaki Nyi Sumirah, lalu tangan kanannya menyodok masuk ke dada Nyi Sumirah lagi dan tangan kiri menyusul pula menghantam pinggang Nyi Sumirah.

Kedua pukulan itu cukup keras, membuat Nyi Sumirah terguling-guling dan memuntahkan darah segar dari mulutnya. Tapi ia masih menatap semakin buas kepada Ratna Pamegat. Daiam keadaan berdiri dengan satu lutut, Nyi Sumirah melemparkan badiknya ke arah dada Ratna Pamegat. Tetapi sebelum badik itu menancap, Ratna Pamegat segera mencabut pedangnya dan langsung ditebaskan ke depan. Trangng...! Badik itu dihantam dengan pedang dan terpental ke arah kiri.

Ratna Pamegat cepat melompat maju, dan menodongkan ujung pedangnya ke leher Nyi Sumirah. Pucat wajah Nyi Sumirah ketika itu. Tapi matanya tetap menatap tajam penuh gejolak api permusuhan.

"Kalau kau masih menghalangi langkahku, kurobek lehermu sekarang juga, Sumirah!" geram Ratna Pamegat.

Tetapi tiba-tiba punggung Ratna Pamegat dihantam dengan pukulan jarak jauh yang cukup besar. Buehgg...!

"Heggh...?!" Ratna Pamegat mendelik, ia cepat berjungkir balik di tanah. Tapi segera bangkit dengan cepat dengan pedang tergenggam di tangan. Matanya segera memandang ke balik pohon. Ternyata Ki Lurah Pogo telah berada di sana dan menyerangnya dari belakang.

"Untung kau cepat datang, Kang," kata Nyi Sumirah sambil menghampiri suaminya, berlagak mesra dan manja.

Ki Lurah Pogo memandang Ratna Pamegat dengan tajam, tapi ia berucap kata kepada Nyi Sumirah,

"Sudah sejak tadi aku datang!"
"Mengapa baru muncul sekarang?! Dia melukaiku, Kang!"

"Sudah pantas kau terluka!" jawab Ki Lurah Pogo. "Karena cukup jelas di telingaku apa yang kau ucapkan kepada perempuan itu tentang Suto!"

Nyi Sumirah terkejut, Ratna Pamegat menyunggingkan senyumannya. Tetapi Ki Lurah Pogo segera memutar kepalanya hingga memandang istrinya dengan tajam dan dingin. Nyi Sumirah merasa terbongkar rahasia hubungannya dengan Suto itu, maka ia segera mundur tiga langkah dalam gerakan pelan, tegang, dan penuh kecemasan.

Ki Lurah Pogo berkata geram, "Tak kusangka selama ini ternyata kau punya hubungan gelap dengan lelaki lain, Sumirah!"
"Dia memperkosaku, Kang! Aku sudah meronta, tapi      "

"Tapi karena enak kamu diam saja dan minta tambah lagi?! Begitu, bukan?!" bentak Ki Lurah Pogo melepaskan amukan murkanya, ia melangkah pelan mendekati Nyi Sumirah, sedangkan perempuan itu melangkah mundur dengan wajah lebih tegang lagi.

Di tangan Ki Lurah Pogo masih tergenggam sebilah keris pusaka. Mata Nyi Sumirah berkali-kali melirik ke arah keris itu dengan cemas, sedangkan Ki Lurah Pogo tak mempedulikan kecemasan istrinya lagi. Ia berkata dengan suara menggeram menakutkan,

"Kalau tahu begini kenyataannya, yang kugantung bukan dia tapi kamu, Sumirah! Kamu adalah istri yang berkhianat kepada suamimu, dan layak untuk digantung. Supaya para istri lainnya tidak mengikuti jejakmu! Tahu?!"

"Kau... kau salah duga, Kang...! Maksudku...!"

"Aku mendengar pengakuanmu sendiri di depan perempuan itu!" bentak Ki Lurah Pogo semakin keras, bahkan berkesan berteriak kuat.

Ratna Pamegat membatin, "Terbongkar sudah rahasia Nyi Sumirah. Mau apa dia sekarang? Tapi, itu bukan urusanku lagi. Aku hanya punya urusan membawa Suto pulang secepatnya dan menyerahkannya kepada nenek aneh itu! Kurasa Ki Lurah Pogo tidak akan mengejar Suto lagi, karena ia tahu siapa yang bersalah sebenarnya!"

Pemuda yang masih tak bisa bergerak apa-apa karena totokan jalan darahnya itu, segera diangkat dan dipanggulnya lagi di pundak kiri. Pada saat itu, Ratna Pamegat sempat melihat Nyi Sumirah dipukul wajahnya dengan tangan kiri Ki Lurah Pogo. Pukulan itu sangat keras, membuat hidung Nyi Sumirah berdarah dan bibirnya pecah. Menjeritlah perempuan itu, lalu melarikan diri menghindari amukan keris yang siap ditusukkan ke perutnya. Ki Lurah Pogo mengejar Nyi Sumirah dan Ratna Pamegat pergi ke lain jurusan, tak mau pedulikan urusan suami-istri itu lagi.

Kini terasa bebas sudah Ratna Pamegat melarikan pemuda bernama Suto itu. Tak mungkin ada yang mengejarnya lagi, karena persoalan yang sebenarnya telah terbongkar. Karena itu, Ratna Pamegat dapat berlari lebih cepat tanpa ada penghalang lagi di depannya.

Tiba di sebuah tanah datar, Ratna Pamegat merasa perlu istirahat dan membebaskan totokan pemuda itu. Di situ ada bukit yang tak terlalu tinggi, bahkan berkesan hanya sebagai gundukan tanah cadas yang memanjang. Tebingnya rata, dan bisa untuk dipakai meneduh dari panas, karena bayangan tebing itu jatuh di permukaan tanah datar.

Ratna Pamegat meletakkan pemuda yang sejak tadi dipangguinya dibawa ke sana-sini itu. Ikatan di kedua tangan dan tubuh pemuda itu segera dilepaskan. Keadaan si pemuda kini bebas dari ikatan, tapi masih diam tak bergerak, matanya terbelalak tak berkedip sejak tadi. Ratna Pamegat membebaskan totokan jalan darahnya. Teb, teb...! Dua totokan jalan darah pembebas telah dilakukan. Tetapi anehnya pemuda itu belum terbebas juga dari pengaruh totokan. Pemuda itu masih diam tak berkutik dengan mulut sedikit melongo.

Teb, teb...! Sekali lagi Ratna Pamegat melepaskan totokan pembebas jalan darah. Tapi pemuda itu masih saja diam tak bergerak. Ratna Pamegat menjadi bingung sendiri. Biasanya ia bisa dengan mudah melakukan totokan dan membebaskan totokan, tapi sekarang sepertinya ia salah totok.

Dengan hati-hati, diperhatikannya jalur urat darah yang biasa untuk membebaskan totokan. Ada beberapa tempat, di antaranya adalah di punggung, belakang bawah tulang lengan. Tempat itu ditotoknya juga, tapi tetap tidak membebaskan jalan darah pemuda itu. Bahkan di bagian leher samping, di bawah ketiak pemuda itu ditotoknya, juga tidak membebaskan pemuda tersebut.

Ratna Pamegat menjadi jengkel sendiri, ia menghempaskan napasnya dan duduk di samping pemuda yang digeletakkan itu. Wajahnya bersungut- sungut, hatinya menggeram jengkel pada keadaan tersebut.

"Apa aku harus memanggulnya terus sampai di candi?! Konyol itu namanya! Uuh...! Gara-gara kedatangan nenek aneh itu aku jadi repot begini! Ingin rasanya aku cepat-cepat membunuh nenek itu! Kalau perlu kuperlakukan lebih keji lagi, seperti dia memperlakukan orang lain! Hmm...! Kalau sudah begini mau apa lagi aku?"

Tiba-tiba dari balik batu besar setinggi kerbau yang ada di samping kanan Ratna Pamegat, terdengar suara orang yang mengucapkan kata dengan malas-malasan,

"Kau terlalu lama menotoknya sehingga semua uratnya terkunci!"

Tentu saja hal itu mengejutkan Ratna Pamegat. Ia bergegas melongok ke balik batu itu, ternyata di sana ada lelaki tua yang sedang duduk dengan kepala terkulai dan mendengkur pelan. Matanya terpejam mulutnya sedikit ternganga. Lelaki itu berambut putih, mengenakan ikat kepala hitam, kumis dan jenggotnya pun putih, kulitnya sedikit hitam, mengenakan pakaian serba merah, dan sabuknya hitam.

"Orang ini mengigau atau bicara padaku?" gumam Ratna Pamegat pelan.
Tapi tiba-tiba orang yang tidur pulas itu menjawab, "Aku bicara kepadamu, Cah Ayu!"

Terperanjat lagi Ratna Pamegat mendengar jawaban itu. Dahinya semakin berkerut heran, ia bahkan memutari batu itu hingga bisa berdiri di depan lelaki yang sedikit gemuk itu. Ia perhatikan betul wajah lelaki itu, ternyata memang benar-benar tidur pulas.

Ratna Pamegat memandang sekeliling dengan pikiran bingung. Baru sekarang ia menemui orang tidur bisa bicara jelas. Bahkan sekarang pun Ratna Pamegat mendengar suara orang tidur itu berkata,

"Totoklah pada telapak kakinya yang kiri, maka urat yang mengunci itu akan lepas dengan seketika!"
"Kau... kau bicara padaku, Pak Tua?"
"Lha iya! Masa' bicara sama... batu?" jawabnya seperti orang sedang mengigau. Suara dan ucapannya mengambang.

Karena penasaran, maka Ratna Pamegat berlagak bodoh dan berkata,

"Aku tak bisa melakukan totokan di bagian telapak kaki, Pak Tua. Kalau kau bisa, tolong lakukanlah untuk pemuda itu!"

"Hmm... bisa menotok kok tidak bisa membebaskan, bagaimana kau ini, Cah Ayu...?!" sambil bergumam bak menggerutu, Pak tua itu bangkit dan berjalan sempoyongan bagai orang mengigau. Matanya tetap terpejam, tapi arah jalannya tepat melangkah, ia mendekati pemuda yang masih tertotok jalan darahnya itu, lalu dengan satu sentilan jari tengahnya ke telapak kaki pemuda itu, tiba-tiba si pemuda tersentak dan bisa bergerak.

Matanya berkedip-kedip, mulutnya bergerak- gerak. Tapi ia tak bisa keluarkan suara. Pemuda itu seperti kehilangan suaranya.

Wajah herannya memandang Ratna Pamegat menjadi bercampur cemas dan takut. Bahkan ia tak sanggup keluarkan suara batuk. Lehernya dipijat-pijat sendiri, lalu ia mencoba mendehem, tapi tak ada suara yang keluar dari kerongkongannya. Pemuda itu menjadi tegang, sementara Ratna Pamegat sendiri menjadi terheran-heran dan hanya bisa terbengong.

Kejap berikutnya ia bertanya kepada si tua yang tidur itu,
"Mengapa ia jadi begitu, Pak Tua? Setahuku dia bukan orang gagu! Ia tadi bisa berteriak keras saat mau digantung!"

"Urat yang mengunci itu membuat pita suaranya kaku, tak bisa bergetar. Perlu dikendurkan urat yang ada di bagian lehernya!" jawab Pak tua itu sambil tetap tidur.

"Bagaimana cara mengendurkannya, Pak Tua? Tolonglah!"

Pemuda itu mengangguk-angguk, seakan membenarkan bahwa dirinya juga minta pertolongan untuk suaranya. Pak tua yang masih tidur dengan sedikit mendengkur itu berkata,

"Jangan sekarang. Biarkan dulu darahnya kembali beredar dengan lancar seperti sediakala, supaya jantungnya tidak tersentak pada saat pengenduran pita suara dilakukan."

Kemudian, Pak tua itu mundur dan mencari tempat untuk bersandar, ia tetap tidur dengan kepala sedikit miring terkulai. Kelihatannya enak sekali ia tertidur begitu. Ratna Pamegat merasa heran, tapi memandanginya terus bagai menyelidiki sesuatu benda yang baru saja ditemukan dari zaman purba.

Tiba-tiba Pak tua yang terpejam itu berkata, "Jangan pandangi aku terus. Cah Ayu! Sebaiknya sebutkan siapa namamu, supaya aku bisa membantumu kalau kau butuh bantuanku!"

"Namaku Ratna Pamegat, Pak Tual"
"O, bagus sekali nama itu. Tidak sebagus namaku sendiri."
"Bapak bernama siapa?"
"Panggil aku Ki Gendeng Sekarat!"
"Nama yang lucu," kata Ratna Pamegat sambil tertawa kecil.
"Tapi aku bukan boneka yang lucu, Ratna," kata Ki Gendeng Sekarat.

Orang ini adalah penguasa Pulau Mayat yang memang punya kebiasaan cepat tertidur. Namun sekalipun ia tertidur, ia bisa berbuat dan bertindak apa saja, bahkan kejeliannya bisa melebihi orang yang tidak dalam keadaan tertidur. Itulah sebabnya ia dijuluki Ki Gendeng, karena bisa melakukan apa saja dalam keadaan tidur nyenyak (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode: "Prahara Pulau Mayat").

"Siapakah pemuda itu, Ratna? Kekasihmukah?"

"Bukan, Ki Gendeng! Aku memang mencari-cari dia untuk kubawa pulang ke perguruanku karena sesuatu hal. Tadi dia mau digantung karena dituduh memperkosa istri Ki Lurah Pogo, tapi segera kuselamatkan dan kubawa lari setelah aku tahu dia bernama Suto!"

"Suto...?!" Ki Gendeng Sekarat bernada heran walaupun suaranya pelan.
"Iya. Namanya Suto Sinting, dan dia dibutuhkan oleh seseorang yang sekarang berada di tempatku!"
"He he he he...!" Ki Gendeng Sekarat tertawa sumbang. "Aku juga sedang mencari Suto Sinting, tapi bukan anak ini!"
"Dia bernama Suto, Ki!"
"Tapi bukan Suto Sinting! Kau belum tahu wajah dan perawakan Suto Sinting?"
"Belum!"
"O, dia jauh lebih tampan dan lebih gagah dari pemuda ini!"
"Tapi...," Ratna Pamegat mulai waswas, ia bertanya kepada pemuda yang belum bisa bicara itu, "Namamu benar Suto?"

Pemuda itu mengangguk-angguk dengan tegas. Seakan ingin meyakinkan bahwa dirinya adalah Suto. Tapi Ki Gendeng Sekarat terkekeh lagi dan segera mendekati pemuda itu.

"Tali pita suara sudah boleh dikendurkan," kata Ki Gendeng Sekarat. Kemudian ia sentilkan lagi jari tengahnya ke bawah leher, dan pemuda itu tersentak, lalu terbatuk-batuk dengan suara keras. Sesaat kemudian ia berucap kata, "Terima kasih, Ki...!"

Ratna Pamegat bertanya, "Apakah namamu benar Suto?"
"Iya. Namaku memang Suto."
"Suto Sinting?"
"Bukan! Sutomo, nama lengkapku!"
"Brengsek...!" bentak Ratna Pamegat dengan gusar dan jengkel.

***5
RATNA Pamegat tak tahu harus kepada siapa kedongkolan hatinya dilampiaskan. Begitu susah payah ia mencuri Suto dari tiang gantungan, susah payah mempertahankan dari ancaman Ki Lurah Pogo bersama anak buahnya, sampai-sampai ia dituduh merebut kekasih perempuan lain oleh Nyi Sumirah, belum lagi memanggul Suto ke sana kemari dengan berat, ternyata pemuda itu bukan Suto Sinting. Mual rasa perut Ratna Pamegat memikirkan hal itu. Mual karena tak bisa marah kepada Sutomo atau kepada siapa pun, kecuali kepada dirinya sendiri yang terhitung bodoh dalam perkara ini.

Untung ia bertemu dengan Ki Gendeng Sekarat yang aneh itu, sehingga rasa dongkolnya sedikit terobati. Ki Gendeng Sekarat menyarankan agar Ratna Pamegat melepaskan Sutomo dan tidak perlu memanggul- manggulnya lagi. Maka, Sutomo pun disuruh pergi oleh Ratna Pamegat.

Tetapi pemuda itu malah berkata, "Kalau bisa, biarlah aku bersamamu terus!"
"Tidak bisa! Aku punya urusan sendiri!" sentak Ratna Pamegat.

"Aku akan bantu kamu! Aku sudah kau tolong, aku berhutang nyawa padamu, Ratna. Karena itu, biarlah aku menjadi budakmu. Kapan saja kau membutuhkan kehangatanku, aku siap melayanimu!"

Plokk...! Tanpa tanggung-tanggung Ratna Pamegat menampar wajah si hidung belang itu. Yang ditampar sampai terpental tujuh langkah jauhnya, ia terkapar di sana dan tak bisa bangkit untuk beberapa saat, kecuali hanya mengerang kesakitan.

Tangan Ratna Pamegat segera ditepis oleh Ki Gendeng Sekarat yang sudah tidak tertidur lagi. Ratna
Pamegat ingin melepaskan pukulan berbahaya untuk Sutomo, tapi ditahan oleh Ki Gendeng Sekarat dengan sikap sabarnya.

"Tak perlu layani dia!"

"Tapi dia merendahkan aku secara tak langsung, Ki! Dia pikir aku sama dengan Nyi Sumirah, yang membutuhkan kehangatan dan kemesraan cumbuannya! Dia sangka aku perempuan murahan yang gatal oleh cumbuan lelaki!"

"Tenang tenang tenang...! Jangan melotot padaku!" kata Ki Gendeng Sekarat menyabarkan hati Ratna Pamegat. "Tinggalkan saja dia! Toh dia sudah dapat ganjaran darimu! Lihat, sampai sekarang ia belum bisa bangkit! Kurasa sudah cukup sebagai pelajaran baginya!"

Saat itulah, Sutomo ditinggalkan Ratna Pamegat dan Ki Gendeng Sekarat. Dalam perjalanannya, Ratna Pamegat menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di Candi Sapta Wulan. Sementara itu, Ki Gendeng Sekarat sendiri juga menceritakan perjalanannya mencari Suto Sinting, karena diutus oleh Gusti Mahkota Sejati, Dyah Sariningrum yang menjadi calon istri Pendekar Mabuk itu.

Ki Gendeng Sekarat ditugaskan mencari Suto karena Gusti Ratu Puri Gerbang Surgawi ingin bicara dengan Suto Sinting tentang keadaan Pulau Serindu yang sedang dibangun kembali sebagai Istana Puri Gerbang Surgawi.

Tapi sudah hampir empat minggu Ki Gendeng Sekarat belum bertemu dengan Suto. Malahan sekarang ia menghadapi seseorang yang memburu Pendekar Mabuk, yaitu nenek aneh yang bikin onar di Candi Sapta Wulan itu. Ki Gendeng Sekarat merasa penasaran dan ingin jumpa dengan si nenek itu.

"Bawalah aku ke Candi Sapta Wulan, akan kutemui sendiri nenek aneh yang suka menyebar kesaktiannya itu! Apa maksud dia mencari Suto Sinting? Jika maksudnya ingin membunuh Suto, berarti dia harus berhadapan dengan aku lebih dulu!"

"Apakah kau sanggup berhadapan dengan nenek itu, Ki? Sebab guruku sendiri dibuatnya menjadi tengkorak berjalan seperti itu!"

"Sanggup atau tidak, aku harus bertemu dulu dengan nenek itu! Kalau memang aku tak sanggup menghadapi ilmunya, itu berarti aku sudah mati, Ratna!"

Akhirnya Ratna Pamegat pun setuju unuk kembali ke Candi Sapta Wulan. Pikirnya, kalau toh ia tidak bisa membawa Suto Sinting, ia bisa membawa orang yang bisa diandalkan untuk melawan nenek aneh itu. Hanya sayangnya, Ratna Pamegat tak banyak tahu kesaktian Ki Gendeng Sekarat itu. Ia hanya tahu bahwa Ki Gendeng Sekarat melakukan sesuatu dengan keadaan tetap tidur, dan bisa melepaskan totokan urat yang mengunci dari tubuh seseorang.

Tepat di pertengahan jalan menuju Candi Sapta Wulan, yang jaraknya masih setengah hari lagi, tokoh tua dan wanita cantik yang masih muda itu terhenti langkahnya oleh kemunculan seorang lelaki tua juga. Lelaki itu berjubah abu-abu dan rambutnya juga abu- abu. Ia menggenggam tongkat hitam berkepala seekor buaya. Lelaki tua itu mengenakan ikat kepala putih dengan tubuh kurus dan mata cekung. Usianya diperkirakan sekitar enam puluh tahun lebih.

Kemunculannya yang tiba-tiba dari atas pohon itu membuat Ki Gendeng Sekarat sendiri tertegun kaget. Tetapi Ratna Pamegat tidak terlalu kaget seperti Ki Gendeng Sekarat. Buat Ratna Pamegat, tokoh tua berjubah abu-abu itu bukan orang asing lagi, tapi buat Ki Gendeng Sekarat, baru saat itu ia bertemu dengan tokoh tua yang bermata juling. Orang itu menghadap ke kiri tapi sebenarnya memandang ke arah Ki Gendeng Sekarat.

"Wah, repot berhadapan dengan orang ini," pikir Ki Gendeng Sekarat, "Ke mana arah pandangan matanya bisa mengecohkan diriku! Cacat di matanya itu bisa merupakan kelebihan bagi dirinya, namun bahaya bagi musuh-musuhnya. Menurut dugaanku, melihat dari raut mukanya yang sangar itu, agaknya dia tidak bermaksud baik menghadang langkahku bersama Ratna. Hmmm... ada persoalan apa sebenarnya?"

Ratna Pamegat maju selangkah lebih depan dari Ki Gendeng Sekarat. Matanya memandang lurus kepada lelaki tua bertongkat ukiran kepala buaya. Dan Ratna Pamegat menyapanya,

"Apa maksudmu menghadang kami, Buaya Gunung?"
"Meneruskan persoalan bulan lalu," jawab Buaya Gunung dengan wajah memandang ke arah samping, tapi sebenarnya menatap Ratna Pamegat.

"Rupanya kau masih belum jera juga, Buaya Gunung?! Kau samakan aku dengan perempuan lain yang harus tunduk di depanmu?"

"Ratna Pamegat! Kalau kau bukan perempuan yang cantik, muda, dan bahenol, aku tak akan mengejar- ngejarmu, Ratna Pamegat!"

Sambil mata memandang dengan menyipit benci, Ratna Pamegat berkata dalam nada ketusnya,
"Istrimu sudah tujuh, apa masih kurang?!"

"Ha ha ha ha...! Baru tujuh, Ratna! Belum sepuluh! Tapi aku bermaksud mempunyai istri delapan saja! Kaulah yang kedelapan, Ratna Pamegat!"

"Persetan dengan kemauan rakusmu, Buaya Juling!" geram Ratna Pamegat. "Kalau kau masih tetap mengejar- ngejarku, aku akan membunuhmu tanpa tanggung- tanggung lagi!"

"Ha ha ha ha... ! Kali ini kau tak akan bisa lukai aku seperti bulan lalu, Ratna Pamegat! Kali ini kau pasti akan tunduk padaku, karena kekuatan ilmu 'Pelet Jagat' sudah kukuasai lagi! Ha ha ha...!"

Buaya Gunung terkekeh-kekeh dalam tawanya. Ratna Pamegat segera, mencabut pedangnya. Tapi Ki Gendeng Sekarat yang matanya sudah sayu bagai orang mengantuk itu, segera menahan gerakan tangan Ratna Pamegat yang ingin mencabut pedang. Ki Gendeng Sekarat berbisik,

"Biar kutangani dia, Ratna!"

"Jangan. Ini urusan pribadi, Ki! Dari dulu dia mengejar-ngejarku untuk dijadikan istrinya! Padahal dia sudah punya tujuh istri! Dan kali ini agaknya dia akan menggunakan ilmu 'Pelet Jagat' yang berbahaya bagi kaum wanita itu, Ki!"

"Percayalah, dia tak akan memeletmu, Ratna! Mundurlah, biar aku yang hadapi dia!"
Tiba-tiba Buaya Gunung itu membentak, "Siapa kau, mau ikut campur urusanku, nah?!"

Ki Gendeng Sekarat berbisik kepada Ratna Pamegat,

" Mengapa dia bicara kepada semak-semak itu? Apakah di sana ada orang?"
" Dia bicara kepada Ki Gendeng. Matanya memandang ke arah sini!"
" Ooo...!" Ki Gendeng Sekarat tersenyum menahan geli, kemudian ia berkata dengan senangnya,
" Kau bicara padaku, Buaya Gunung?!"
" Ya, Tolol!" bentaknya dengan ganas.

"Tua-tua jangan terlalu ganas, Buaya Gunung! Nanti kau cepat mati!" kata Ki Gendeng Sekarat dengan senyum-senyum.

"Ratna Pamegat! Apakah dia calon suamimu? Si tua bangka ini apakah bisa memberikan kemesraan padamu seperti aku, hah?! Bodoh amat kau kalau memilih kerbau peot macam dia, Ratna!"

"Sekalipun kerbau peot, tapi bisa mencabut nyawamu sewaktu-waktu, Buaya Gunung!" ujar Ki Gendeng Sekarat sengaja memanaskan hati calon lawannya itu. Ternyata pancingan Ki Gendeng Sekarat kena pada sasaran. Buaya Gunung semakin menggeram penuh kejengkelan. Tak jelas matanya menatap tajam atau tidak, tapi kaki dan tangan Buaya Gunung sudah mulai bergerak-gerak kecil tanda tak sabar ingin melepaskan murkanya.

" Sebutkan namamu sebelum kubunuh kau jadi delapan potong!" bentaknya.
" Ki Gendeng Sekarat namaku! Mau apa kau, Buaya juling?!"
" Kalau kau memang penghalangku untuk mendapatkan Ratna Pamegat, aku mau bunuh kau sekarang juga!"
" Apakah kau bisa melangkahkan kakimu untuk maju mendekatiku?"
" Mengapa tidak?" Sekarang juga kau... kau... kau...."

Buaya Gunung tak jadi melanjutkan kata-katanya karena kakinya menjadi kaku. Sukar digerakkan untuk ke depan atau ke belakang. Sepertinya kedua kaki itu dibanduli batu segunung beratnya. Ratna Pamegat pun berkerut dahi dengan heran.

"Kenapa dia itu, Ki?"
"Kutotok kakinya lewat suaraku tadi!" bisik Ki Gendeng Sekarat.

Buaya Gunung berusaha menggerakkan kakinya, namun tak pernah berhasil sampai napasnya terengah- engah. Kemudian ia berseru kepada Ki Gendeng Sekarat,

"Tua-tua busuk! Kau telah perdaya kakiku hingga tak bisa bergerak! Sekarang terima saja pukulan ''Rawa Kodok'-ku ini, heaah...!"

Buaya Gunung melepaskan pukulan melalui sentakan kepala tongkatnya. Dari kepala tongkat itu keluar selarik sinar hijau memancar terang. Sinar itu menghantam ke arah Ki Gendeng Sekarat. Wutt...!

"Awas, Ki...!' teriak Ratna Pamegat sambil melompat menghindarinya. Tapi Ki Gendeng Sekarat tetap diam di tempat dan menebaskan tangannya ke depan dari arah dada. Tiba-tiba saja di depan Ki Gendeng Sekarat berdiri sebongkah batu besar hampir menutup tinggi tubuh Ki Gendeng. Jlegg...! Batu itu berwarna hitam dan tampak kokoh, berbentuk seperti gundukan batu yang sudah bertahun-tahun ada di situ. Sinar hijau tersebut mengenai batu itu. Trasss...! Zuuttt...! Tiba-tiba membalik dan masuk ke dalam kepala tongkat.

Masuknya sinar hijau ke dalam kepala tongkat berukir kepala buaya itu membuat tongkat tersebut terbakar. Dari ujung bawah sampai atas menyala api dalam satu sentakan mengagetkan. Blapp...! Wukk...!

Buaya Gunung tersentak kaget, ia segera melemparkan tongkatnya sembarangan. Dan pada waktu itu, gugusan batu besar di depan Ki Gendeng Sekarat menghilang dengan sendirinya setelah Ki Gendeng Sekarat menggerakkan tangan menebas batu tersebut. Zlapp...! Kini di depan Ki Gendeng Sekarat tak ada lagi gugusan batu, melainkan tubuh Buaya Gunung yang sedang terheran-heran bingung memandangi tongkatnya yang habis dimakan api. Ia ingin mengambil tongkat itu tapi tak bisa, karena jaraknya cukup jauh dari tempatnya berdiri. Sedangkan untuk melangkahkan kaki, ia tak bisa melakukan karena kakinya tertotok oleh suara Ki Gendeng Sekarat tadi.

"O, ini rupanya kehebatan Ki Gendeng," pikir Ratna Pamegat. "Ternyata mengagumkan dari ilmu yang dimiliki Guru! Atau mungkin Guru juga bisa melakukan kehebatan seperti itu, hanya saja tak pernah diperlihatkan kepada murid-muridnya!"

******
Buaya Gunung menggeram jengkel. Tangannya berkelebat beberapa kali, lalu segera disentakkan ke depan. Dari sisi lengannya keluar cahaya merah bagai bendera yang melesat miring, ingin memenggal kepala Ki Gendeng Sekarat. Tapi dengan gerak tangan cepat pula, Ki Gendeng Sekarat sentakkan kedua telapak tangannya dan melesat pula sinar biru muda yang menyerupai bola besar. Sinar itu begitu cepat terbang ke arah Buaya Gunung, menerabas sinar merah bagai bendera, menghantam tubuh Buaya Gunung dengan sentakan yang amat kuat. Blarrr...!

Bruss...! Buaya Gunung terlempar. Tanah di tempatnya berpijak ikut terbawa beberapa bongkah, bagaikan pohon singkong dijebol batangnya. Tubuh itu melayang jauh, lebih dari sepuluh tombak, dan jatuh terhempas setelah membentur sebuah pohon tinggi.

Krakkk...! Brukkk...! Pohon itu roboh ke arah belakang Buaya Gunung. Benturan tubuh Buaya Gunung jelas sangat keras, sampai bisa menumbangkan pohon besar bercabang tinggi.

Di sana Buaya Gunung terkulai dengan kepala masih bersandar pada sisa batang pohon yang rubuh. Mulutnya berdarah, telinga dan hidungnya juga mengeluarkan darah. Wajah tua Buaya Gunung menjadi pucat pasi.

Tampaknya ia dalam keadaan setengah mati mendapat pukulan sinar biru bagaikan bola itu.

Ratna Pamegat masih terpaku bengong memandangi keadaan Buaya Gunung yang tak disangka-sangka sangat cepat dibuat tak berdaya oleh Ki Gendeng Sekarat. Padahal, ketika Ratna Pamegat mengalahkan Buaya Gunung, ia membutuhkan waktu hampir setengah hari. Tapi Ki Gendeng Sekarat mampu menumbangkan Buaya Gunung yang rakus perempuan itu dengan hanya dua-tiga jurus saja.

Ki Gendeng Sekarat mengajak Ratna Pamegat untuk meninggalkan Buaya Gunung tanpa memikirkan mati atau hidup. Mereka segera menuju ke Candi Sapta Wulan.

Ketika tiba di sana, matahari sudah condong ke barat. Alam menjadi redup karena cahaya siang nyaris pudar ditelan cakrawala. Udara di sekitar Candi Sapta Wulan itu terasa dingin. Angin berhembus sedikit aneh, karena menyebarkan bau tak sedap yang entah dari mana datangnya. Sedangkan Ratna Pamegat dari tadi menghela napas karena merasakan ada sesuatu yang tak enak di hatinya.

"Kau kelihatannya gelisah, Ratna. Ada apa sebenarnya?"

"Entahlah, Ki. Aku sendiri heran mengapa aku menjadi gelisah begini. Aku seperti punya rasa takut, tapi tak tahu takut kepada siapa! Sungguh tak jelas perasaanku, Ki!"

"Hmmm...! Apakah letak Candi Sapta Wulan masih jauh?"

"Sudah dekat, Ki. Di balik rumpun bambu wulung itu, kita bisa melihat ke arah Candi Sapta Wulan yang tinggal reruntuhannya itu!"

"Kalau begitu, percepatlah langkah kita!"

Mereka mempercepat langkah dengan berlari menerabas semak belukar. Kecepatan gerak Ki Gendeng Sekarat seakan telah menyingkapkan semak belukar di depannya sebelum ia lewat ke sana. Dan dalam beberapa kejap berikut, mereka sudah tiba di Candi Sapta Wulan itu dengan wajah tegang.

Terutama Ratna Pamegat yang berwajah tegang, karena ia melihat pelataran candi banyak ditemukan pakaian-pakaian para murid yang tergeletak begitu saja. Celana dan baju para murid bagai terlempar di pelataran candi, sedangkan pelataran itu dalam keadaan sepi, sunyi, tak ada satu pun manusia di sana. Biasanya, entah tiga atau empat orang, pasti ada yang berjaga-jaga di pelataran.

"Ada yang tak beres, Ki...!" gumam Ratna Pamegat. Maka ia pun segera mendului bergerak masuk ke candi, disusul oleh Ki Gendeng Sekarat.

Sebelum Ratna Pamegat mencapai kedalaman candi, Ki Gendeng Sekarat sempat terkejut melihat kemunculan makhluk berkepala manusia dengan tubuh tulang- belulang yang bisa berjalan dan bergerak. Ratna Pamegat segera berseru,

"Guru...! Apa yang terjadi di sini?!"

Resi Jejak Naga yang tinggal tulang dan kepala saja itu memandang sayu dan sedih kepada Ratna Pamegat. Tangannya yang tinggal tulang tanpa kulit dan daging itu melambai, menyuruh Ratna Pamegat untuk mendekat. Kemudian, murid cantiknya itu dipeluk dalam duka. Ratna Pamegat tak pernah dipeluk haru begitu oleh Resi Jejak Naga. Karena itu air mata Ratna Pamegat pun mulai menggenang di mata, walau tetap ditahannya dan tak mau ia menangis di situ.

"Guru, katakan apa yang terjadi? Ke mana para murid lainnya, Guru? Mengapa pakaian mereka ditinggalkan di pelataran sana?!"

Dengan suara parau menahan duka, Resi Jejak Naga berkata,
"Mereka dibinasakan oleh nenek aneh itu!"
"Dibinasakan bagaimana?!" desak Ratna Pamegat.
"Mereka dikutuk lenyap semua, tinggal pakaiannya. Dan kutukan itu terjadi dengan sungguh-sungguh!"

"Jahanam setan kempot itu!" geram Ratna Pamegat. "Di mana dia sekarang berada, Guru?! Di mana dia? Aku ingin membunuhnya!"

"Terlambat, Ratna! Dia sudah pergi tinggalkan tempat ini dan membiarkan aku tetap begini!"
"Nenek gila! Manusia berjiwa iblis dia itu!"

Ki Gendeng Sekarat ikut menampakkan rasa duka dan ikut berkabung, ia melangkah pelan-pelan memandangi pakaian-pakaian itu. Bahkan satu pakaian diambil dan diciumnya sebentar, kemudian ia segera berseru kepada Ratna Pamegat,

"Jiwa mereka masih ada di sekitar sini, Ratna!"

Ki Gendeng Sekarat memandang sekeliling. Seperti mencari sesuatu. Kemudian ia duduk dengan lesu. Entah apa maksudnya. Resi Jejak Naga bertanya,

"Ratna, apakah dia yang bernama Suto Sinting?"
"Bukan, Guru! Dia bernama Ki Gendeng Sekarat! Dia temannya Suto Sinting dan juga sedang mencari Suto."
"Lalu, mengapa kau membawanya kemari?"
"Dia ingin menantang nenek itu, Guru! Dia... dia cukup tinggi ilmunya. Saya terkagum-kagum melihatnya!"
"Kalau begitu, lekas cari nenek edan itu! Mudah- mudahan belum terlalu jauh meninggalkan tempat kita!"
"Baik, Guru!" kemudian Ratna Pamegat berkata kepada Ki Gendeng Sekarat, "Ki Gendeng, kita cari nenek itu sekarang juga!"
Tetapi kepala Ki Gendeng Sekarat mulai terkulai, matanya terpejam dan suara dengkurnya terdengar tipis samar-samar.
"Dia tertidur, Ratna?'
"Ya. Tapi dia bisa melakukan apa saja seperti kalau dia tidak sedang tertidur."

Kemudian, Ratna Pamegat mengajak Ki Gendeng Sekarat mengejar nenek aneh itu. Tanpa merasa keberatan, Ki Gendeng Sekarat pun segera pergi, berlari dengan cepat walau dalam keadaan tetap tidur dan
mengeluarkan suara dengkur yang samar-samar.
*
* *

NENEK aneh itu tiba di sebuah kerumunan orang yang ada di tengah tanah lapang, semacam alun-alun. Di sana ada panggung lebar dengan ketinggian panggung antara satu tombak kurang sedikit.

Dengan langkah tertatih-tatih menggeloyor sana-sini, nenek itu mendekati panggung, mencoba melihat apa yang terjadi di sana. Ternyata di sana sedang terjadi sebuah pertarungan adu ketangkasan diri. Dua orang sedang bertarung menggunakan tombak, yang satu menggunakan tombak bermata golok lebar, yang satunya memakai tombak bermata garpu dua runcing.

Nenek aneh itu mendesak sana-sini dengan suara gerutunya yang tak jelas. Kadang ia sempoyongan didorong orang, entah siapa, sehingga hampir jatuh kalau tak ada orang lain yang menyangga tubuhnya secara tak langsung.

Sampai di depan, nenek aneh itu tengok sana-tengok sini. Lalu ia bertanya kepada seorang lelaki usia tanggung di sebelah kirinya yang tampak serius mengikuti pertarungan di atas panggung.

"Ada apa ini? Kok ramai sekali dan banyak orang?"

Orang itu tidak menjawab karena merasa jengkel dengan pertanyaan seperti itu. Sudah jelas ada pertarungan, masih ditanya 'ada apa' segala? Jelas ini merupakan pertanyaan bodoh yang tidak perlu dijawab, menurut orang usia tanggung itu. Nenek aneh menjadi jengkel juga dan berkata,"Dasar orang bisu, ditanya diam saja!"

Blarrr...! Petir menggelegar di angkasa. Orang-orang sempat cemas memandang langit, takut hujan turun acara seru jadi bubar. Sedangkan orang usia tanggung itu tetap diam saja. Ia tidak sadar dan tidak pernah menyangka bahwa sejak saat itu ia tak akan bisa bicara lagi karena terkena kutukan nenek aneh itu.

Sang nenek segera bertanya kepada orang di sebelah kanannya, seorang lelaki muda berusia sekitar dua puluh lima tahun.
"Ada apa ini, Nak?"
Anak muda itu menjawab, "Ada panggung, Nek."
"Ya, sudah tahu kalau ada panggung," gerutu nenek bersungut-sungut. "Tapi ada apa di atasnya?"
"Ada pertarungan. Sayembara adu otot!"

"Kenapa diadu? Ototnya siapa?" tanya nenek aneh itu berkesan pikun dan menggelikan. Tapi anak muda itu cepat memaklumi karena melihat usia sang nenek yang sudah sangat tua. Maka dengan sedikit sabar anak muda itu menjelaskan.

"Ratu Kemukus membutuhkan seorang senopati, maka dibukalah sayembara adu ketangkasan bertempur. Siapa yang menang, dia menjadi senopati Kanjeng Ratu Kemukus!"

Nenek itu menggumam sambil manggut-manggut.
"Paham, Nek?"
"Paham, paham...!" jawabnya. "Tapi, senopati itu apa?"
Anak muda itu tertawa kecil. "Senopati itu panglima tempur. Kalau perang maju paling depan!"
"Lha, nanti kalau terlalu depan dia hilang, bagaimana?"
"Ya tidak mungkin toh, Nek," jawab sang pemuda dengan tertawa.
"Selain dapat hadiah jadi senopati, dapat hadiah apalagi, Nak?"

"Uang, lima ratus sikal!" jawab pemuda itu. Sikal adalah mata uang yang berlaku di masa itu. Harga satu nasi bungkus atau satu piring dengan lauk ikan ayam senilai setengah sikal.

"Hik hik hik hik...! Banyak juga lima ratus sikal itu! Bisa untuk kawin! Hik hik hik...!" kemudian nenek aneh itu memandang ke atas panggung. Di sana dua Orang sedang berusaha saling menjatuhkan satu dengan yang satunya.

"Apa kau kenal sama Suto Sinting, Nak?"

Anak muda itu berkerut dahi.

"Kalau orang sinting di sini banyak, Nek. Tapi kalau yang bernama Suto, saya tidak tahu!"
"Lha itu... yang bertarung di atas itu bukan bernama Suto?"

"Aku tidak tahu, Nek. Aku bukan petugas pengurus pertarungan itu. Cobalah kau tanyakan kepada para pengawal dan prajurit yang ada di belakang panggung sebelah sana itu!"

Nenek aneh segera bergerak mendesak-desak jubelan penonton yang bersorak jika ada salah satu petarungnya yang terkena pukulan. Nenek itu nekat menemui petugas di belakang panggung. Dengan masa bodoh dia melangkah menginjak-injak kaki orang dan mendapat gerutuan serta cacian macam-macam. Ketika tiba di bagian belakang panggung, nenek aneh itu bertanya kepada salah seorang petugas keamanan dari Istana Ratu Kemukus,

"Apa masih banyak yang mau bertarung di atas?"

"Masih, Nek!" jawab petugas berkumis itu. "Jangan khawatir, masih banyak jago silat yang punya jurus-jurus maut yang belum dapat giliran tampil. Makin lama akan semakin seru!"

"Ada yang namanya Suto Sinting?"

"Suto Sinting...?!" gumam petugas itu sambil kerutkan dahi. Lalu petugas itu menjawab, "Rasa- rasanya tidak ada yang bernama Suto Sinting, Nek!"

"Tidak ada?" gumamnya tampak kecewa. Kemudian nenek aneh itu bertanya kepada petugas tanpa kumis, "Kamu kenal sama Suto Sinting?"
"Tidak," jawab orang itu sambil matanya memandang ke atas panggung.

Melangkah lagi dia dengan terbungkuk-bungkuk dan singgah di depan petugas yang mencatat beberapa nama- nama pe serta. Lalu bertanya pula ia kepada petugas itu dan petugas itu menjawab,

"Tidak ada yang bernama Suto Sinting."
"Masa' orang pintar seperti Suto tidak ikut sayembara begini?"
"Apa dia orang berilmu tinggi?"
"Untuk ukuran orang-orang yang bertarung di sini,Suto cukup sakti. Tapi kalau melawan aku dia belum apa-apanya!"

Petugas itu tertawa sebentar, kemudian sibuk bicara lain dengan temannya. Nenek itu tidak dilayani lagi. Pada waktu itu, di atas panggung sedang terjadi pertarungan yang membuat salah seorang jatuh dan kalah dalam keadaan terluka. Kalau lawannya mau membunuh dia, sudah pasti dengan mudah dibunuhnya. Tapi peraturan di situ tidak boleh membunuh lawan, hanya melukai dan mengalahkan saja sampai lawan merasa jera.

Orang yang menang itu berkepala gundul dan sedang mengangkat tangannya karena dielu-elukan penonton. Tahu-tahu nenek aneh itu nekat naik ke panggung dengan langkahnya yang tertatih-tatih.

"Hei, hei, mau ke mana itu nenek...?!" seru petugas. Mereka ingin mengejar naik, tapi nenek itu sudah sampai di tengah panggung dan mendekati orang berkepala gundul yang baru saja menang tanding tadi.

Naiknya nenek itu mendapat sambutan meriah dari penonton, penuh tawa dan tepukan. Jago yang baru menang itu merasa heran mendapat lawan setua itu dan memandangnya dengan ragu. Tapi ia segera berseru kepada sang nenek,

"Biar kamu tua, aku tak akan mundur melawan kamu!"
"Apa kamu yang namanya Suto?"
"Bukan! Sudah tak perlu banyak tanya nama segala! Kita mulai saja pertarungan ini! Heaaah...!"

Orang itu melompat dan menebaskan tombak berujung golok lebar. Tapi sang nenek diam saja, dan ketika sampai di depan mata, benda tajam itu ditangkap dengan kedua tangan, dijepit kuat dan disentakkan ke kiri sedikit. Trakk...! Patah logam tajam yang tebal itu. Semua mata penonton melotot dan bergumam,

"Hoooo...?!"

Nenek aneh itu segera mencabut pedangnya dengan susah payah. Sementara yang memiliki tombak patah itu masih terbengong karena tidak menyangka akan begitu jadinya.

"Rupanya kau nenek punya isi, ya?" geram orang itu.
"Punya," jawab sang nenek, ia masih sulit mencabut pedang.
"Kuhajar habis sekalian kau, Nek! Hiih...!

Wutt...! Tangan orang itu menghantam dengan tenaga kuat-kuat. Tepat pada waktu itu sang nenek berhasil mencabut pedangnya dan, crass...! Pedang itu berkelebat memotong tangan orang tersebut.

"Aaaa...!" orang itu menjerit kuat-kuat, tangan kanannya buntung seketika tepat di bagian pergelangan tangan. Pada saat ia kesakitan itu, sang nenek mendekati dengan sedikit terburu-buru, lalu kepala orang itu ditebasnya memakai pedang berkarat. Crasss...!

"Uaaaa...!" teriak orang itu lagi, rubuh dan terduduk di lantai.

Crasss...! Sekali lagi pedang itu berkelebat. Dan menggelindinglah kepala orang itu dalam keadaan terpotong lepas dari lehernya.

Penonton menjerit keras-keras. Mereka merasa ngeri. Ada yang cepat buang muka, dan karena terburunya buang muka sampai berbenturan dengan orang yang lain yang melakukan hal yang sama. Ada yang hanya memandang dengan mulut melongo bengong dan mata mendelik. Ada yang tidak buang muka tapi memejamkan mata kuat-kuat dan menjerit panjang.

Seorang petugas berkumis yang tadi ditanyai oleh sang nenek segera naik ke panggung dan berseru,

"Pertarungan ini bukan tempat jagal, Nek!" ia bergegas mendekati nenek itu ingin membawanya turun. Tapi begitu mendekat, pedang sang nenek berkelebat dari bawah ke atas. Crasss...!

"Aahg...!" Orang itu mendelik dalam keadaan masih berdiri, tapi bagian bawahnya segera meneteskan darah, lalu ia pun rubuh. Tubuhnya terbabat pedang berkarat dari bawah sampai ke pertengahan dada.

Penonton makin menjerit ngeri. Lebih-lebih setelah dua orang petugas maju untuk menangkap nenek itu memakai senjata pedang juga, dengan gerakan cepat dan tak terlihat nenek itu berkelebat. Kejap berikutnya kedua orang itu tumbang dengan keadaan dada dan leher mereka terkoyak mengerikan, dan keduanya pun rubuh tak bernyawa lagi.

Beberapa orang naik ke panggung, termasuk calon peserta yang belum mendapat giliran naik panggung tadi. Mereka mulai saling berusaha menangkap nenek aneh itu. Tapi dalam beberapa gebrakan mereka segera tumbang tanpa nyawa.

"Aku mencari Pendekar Mabuk, bukan mencari kalian! Mengapa kalian menyerangku, hah?!" seru nenek itu dengan suara ngotot tapi terdengar pecah dan tak jelas, ia berteriak begitu berulang-ulang sambil membebatkan pedangnya ke kanan-kiri dengan tanpa ampun lagi.

Suasana menjadi kacau-balau. Para penonton saling berlarian menjauhi panggung dalam keadaan takut dan panik. Ada yang jatuh dan terinjak-injak yang lain, sampai akhirnya orang itu mati tanpa pertarungan. Ada yang saling bertabrakan karena berbeda arah larinya. Ada pula yang justru bersembunyi di bawah panggung untuk menghindari saling berbenturan dengan sesama penonton.

Para prajurit Ratu Kemukus berlompatan naik ke panggung untuk menyergap sang nenek. Begitu banyaknya para prajurit yang naik, maka panggung pun rubuh ke bawah. Brrukkk...!

"Aaaa...!" terdengar beberapa jeritan dari bawah panggung, mereka yang bersembunyi di panggung menjadi mati tergencet rubuhan panggung. Tapi yang di atas panggung pun ada beberapa yang mati akibat tertusuk senjata teman sendiri, atau bahkan terkoyak senjatanya sendiri.

Sedangkan nenek itu segera melesat bagaikan terbang menghindari panggung rubuh, ia masih menggenggam pedangnya dan tahu-tahu mendarat di tanah kosong dengan terhuyung-huyung mau jatuh. Mereka yang semula mau lari ke arah tanah kosong itu, kini menjadi berhenti mendadak, dan berbalik arah kemudian berlari dengan lebih cepat lagi. Mulutnya meneriakkan suara ketakutan sambil sesekali menengok ke belakang. Padahal nenek aneh itu diam saja tidak mengejar mereka. Hanya napasnya yang terengah-engah dengan badan terbungkuk-bungkuk dan akhirnya terbatuk-batuk.

Suasana kacau-balau itu segera dilaporkan kepada Ratu Kemukus. Maka sang Ratu pun segera datang ke alun-alun dan menemui nenek aneh itu. Mata sang Ratu memandang sipit pada sang nenek. Sementara itu yang dipandang pun balas menatap dengan sorot pandangan mata menyeramkan. Seakan ingin melahap habis tubuh sang Ratu.

"Mengapa kau mengacaukan sayembara yang kuadakan?! Apa maksudmu membuat onar di wilayahku, hah?!" hardik sang Ratu berwajah cantik jelita. Namun kelihatan tegas, berwibawa dan berkha-risma.

"Aku mencari Pendekar Mabuk, tapi mereka menyerangku! Aku mau dibunuh tapi aku tidak mau. Maka mereka terpaksa kubunuh dengan pedangku ini!" kata sang nenek, lalu berhenti untuk batuk-batuk sebentar. Setelah itu sang Ratu berkata,

"Aku tidak kenal nama Pendekar Mabuk! Kau pikir aku punya hubungan dengan dia, hah?!"
"Kalau tidak kenal dia, ya sudah! Aku mau pergi!"
"Tunggu dulu! Kau kutangkap karena membunuh rakyatku dengan seenaknya saja!"
"Tidak mau!" kata nenek itu sambil melangkah pergi tapi masih memegangi pedangnya.
"Tunggu!" seru sang Ratu.
"Aku tidak mau ditangkap! Jangan memaksaku!" bentak sang nenek sambil meneruskan langkahnya.

Wuttt... ! Ratu Kemukus melompat dan bersalto di udara satu kali, kemudian dalam kejap berikutnya ia sudah berada di depan nenek aneh itu. Menghadangnya dengan berani. Sementara para prajurit pengawal lainnya segera mengurung tempat itu, siap dengan senjata masing-masing.

"Kau tak boleh pergi, Setan Tua! Kau harus kutangkap dan kujatuhi hukuman seadilnya!"
"Aku tidak mau ditangkap! Apa kau tak dengar ucapanku ini?!" nenek itu justru membentak dan mendelik matanya.

"Kalau begitu aku terpaksa mengadilimu di sini, Setan Tua!" kata sang Ratu kemudian seorang petugas pengawal menyerahkan sebilah pedang kepada sang Ratu.

"O, kau mau melawanku, Anak ingusan?!" kata nenek aneh itu dengan beraninya. "Majulah kalau kau mau kurobek dan kukeluarkan isi perutmu! Siapa tahu kau menyimpan bayi haram yang baru menjadi janin di dalam perutmu, hik hik hik hik...!"

"Mulut tua iblis! Hiaaat...!"

Sang Ratu menebaskan pedangnya dengan cepat. Tapi nenek aneh itu tak kalah gesitnya, ia menangkis dengan pedang berkaratnya. Trangng...! Dan sang Ratu tiba-tiba memutar sambil melayangkan tendangannya. Plok... !

Tendangan itu jatuh di wajah nenek aneh. Keras sekali sentakan kaki sang Ratu, tapi nenek aneh itu masih tetap berdiri tegak bagaikan pilar tua yang sulit dirubuhkan. Wajahnya hanya mengibas sebentar untuk membuang kunang-kunang di pandangan matanya, setelah itu ia memandang sang Ratu dengan lebih angker lagi. Mulutnya yang berbibir keriput berlipat-lipat bak kue lapis legit itu seperti sedang mengunyah sesuatu yang tak jelas. Mungkin ia memainkan gusinya dengan lidah.

Sang Ratu sempat tertegun sebentar dan membatin, "Tangguh sekali dia! Biasanya orang yang terkena jurus 'Tendangan Badai'-ku bisa langsung terpental, tapi dia tetap berdiri tegak tak goyah dari tempatnya?! Setan dari neraka mana dia itu?!"

Dari arah belakang sang nenek, meluncurlah sebuah tombak yang dilemparkan oleh salah satu prajurit yang begitu bencinya kepada orang tua itu. Tak tahan dengan kebenciannya, ia pun melemparkan tombaknya dengan cepat. Arah sasaran adalah punggung nenek aneh itu. Tapi ternyata yang diincar segera berkelebat memutar badan dan mengibaskan pedangnya dari bawah ke atas. Zrangng...! Tombak itu tersentak oleh kibasan pedang, berubah arah dan menancap di dada prajurit lain yang sedang mengepungnya itu. Jrubb...! Matilah prajurit itu.

Wajah sang Ratu semakin geram. Murkanya kian bertambah melihat prajuritnya mati begitu saja. Maka ia pun segera mengirimkan jurus mautnya melalui pedang itu. Pedang ditusukkan ke depan dan mengeluarkan selarik sinar tanpa putus berwarna hijau bening. Sinar itu seperti lidi panjang yang menembus ke tubuh sang nenek. Tapi sebelum sinar itu sampai pada sasarannya, sang nenek cepat membuka tangan kirinya, dan sinar itu ditahan dengan telapak tangan kirinya.

Tubb...! Zrrruppp...! Sinar itu bagaikan masuk ke dalam telapak tangan kiri dan tubuh sang nenek makin lama makin berubah menjadi menyala hijau, ia masih terkekeh-kekeh melihat tubuhnya menjadi menyala hijau pada bagian tepiannya. Bahkan semakin lama semakin menyeluruh, sampai ke bagian perutnya pun memancarkan warna hijau.

"Hik hik hik...! Teruskan! Teruskan...! Aku mendapat tenaga sakti yang luar biasa jika begini. Hik hik hik...!"

Slapp...! Sinar hijau berhenti. Sang Ratu menarik pedangnya dan matanya tak berkedip. Sinar hijau di tubuh nenek itu pun mulai padam sedikit demi sedikit. Sang Ratu berkata dalam hatinya,

"Benar-benar luar biasa setan tua yang satu ini! Orang kena sinar hijau jurus pedangku ini akan hancur menjadi kepingan-kepingan yang tak berbentuk lagi. Tapi dia justru kegirangan dan sepertinya kekuatan dahsyat pedangku ini terserap masuk ke dalam dirinya! Benar- benar luar biasa ilmu setan tua ini! Rasa-rasanya aku tak akan sanggup mengalahkan dia!"

Pada saat itu, tawa sang nenek berhenti, ia terengah- engah sebentar, kemudian berkata kepada Ratu Kemukus,

"Mainanmu adalah mainan murah, Cah Ayu! Kau benar-benar seperti anak kecil yang belum puas dengan mainannya!"
Blarrr...! Petir menggelegar mengejutkan semua orang di situ.

Hal yang lebih mengejutkan lagi buat mereka adalah keadaan Ratu Kemukus. Perempuan cantik yang masih mengenakan mahkota dan menggenggam pedang itu kini berubah menjadi anak kecil sekitar berusia empat tahun. Mahkotanya ikut mengecil, pedangnya pun memendek.

Anak kecil itu kaget melihat keadaan dirinya. Dan menjadi lebih kaget melihat sang nenek yang tertawa terkekeh-kekeh tanpa gigi itu. Dengan cepat anak kecil itu berlari sambil menjerit ketakutan. Pedangnya dibuang begitu saja. Ia menangis mencari perlindungan. Sedangkan para prajuritnya hanya bengong memandangi kejadian itu dengan hati bimbang, antara percaya dan tidak.

"Kalian kenapa hanya diam saja? Selamatkan ratu kalian!" kata sang nenek. "Kok pada diam seperti patung semua!"

Blarrr...! Langit meledak karena loncatan lidah petir. Dan para prajurit yang mengepung nenek aneh itu tiba- tiba berubah kaku dan tak bergeming lagi. Mereka semua menjadi patung, sesuai dengan sikap berdiri dan ketegangan wajah masing-masing. Lebih dari dua puluh prajurit menjadi batu hitam tak ber-nyawa, sehingga alun-alun itu kini menjadi sebuah tempat yang mempunyai prasasti, dan prasasti itu berupa sejumlah patung berwajah tegang.

Mereka yang jauh dari jangkauan nenek aneh itu segera melarikan diri semakin menjauh. Bahkan ada beberapa yang sempat bersembunyi di mana saja. Orang- orang yang menonton di sekeliling alun-alun pun semakin buyar tak tentu rimbanya. Alun-alun menjadi sepi. Dan suara tangis bocah kecil terdengar di sela patung-patung itu.

Sang nenek tak tahu, bahwa segala perbuatannya itu dipantau oleh sepasang mata yang berada di kejauhan. Mata itu memperhatikan dengan heran, tapi tidak bisa banyak berbuat apa-apa. Mata itu adalah mata seekor serigala berbulu hitam.

* * *
7
SERIGALA berbulu hitam itu berlari dengan cepat seperti habis melihat setan tanpa kepala. Ke mana arah larinya, hanya serigala itu yang tahu. Dan seorang pun tak menghiraukan apakah serigala itu lari ketakutan melihat manusia berubah menjadi patung, atau lari karena ingin memberitahukan kepada kawannya bahwa di alun-alun ada nenek aneh yang sangat sakti.

Ternyata ia berlari ke tepi sungai yang berair dangkal dan bening. Tepian sungai itu mempunyai tempat cekung semacam gua yang tak terlalu dalam dan tak terlalu lebar. Di dalam cekungan batu tebing sungai, ada seorang pemuda yang tengah beristirahat menikmati hembusan angin sejuk. Pemuda itu setengah berbaring sambil menyandang bumbung tuak dari bambu. Pakaiannya berwarna coklat tanpa lengan sampai ke bawah, dan celananya putih. Rambutnya panjang tak diikat dengan kain sepotong pun.

Pemuda itulah yang sebenarnya bernama Suto Sinting si Pendekar Mabuk, murid dari tokoh sakti berusia sangat tua, yaitu si Gila Tuak dan Bidadari Jalang. Dalam mengejar musuh utamanya, yaitu Siluman Tujuh Nyawa, yang licin bagai belut dan lincah bagai petir itu, Pendekar Mabuk menemukan petualangannya yang beraneka macam corak kehidupan.

Hanya beberapa waktu belakangan ini saja perjalanan Pendekar Mabuk ditemani oleh seekor serigala jinak. Serigala itu sudah seperti teman sendiri. Sering diajaknya pergi ke mana-mana, bahkan jika malam tiba, sang serigala tidur di samping Suto dengan penuh kesetiaan, siap terjaga sewaktu-waktu jika ada bahaya datang. Dan kali ini serigala yang tadi berlari-lari itu menghampiri Suto Sinting dan melolong panjang.

"Hmm...!" Suto menggumam sambil masih pejamkan mata dengan santai. Bukan tidur.
"Auuu...!" Serigala itu melolong pelan tapi memanjang. Pendekar Mabuk ditarik-tarik bajunya. Mata Suto pun terbuka dengan sedikit malas.
"Ada apa?" sambil ia mengusap-usap kepala binatang itu. Sang serigala menggeram-geram dengan suara kecil.
"Ah, kau mengganggu saja kalau aku sedang istirahat sebentar."

"Auh... auuuh...!" serigala itu mundur-mundur, lalu berbalik lari, sampai beberapa jarak kembali lagi dan meraung-raung pelan, sepertinya memberikan suatu isyarat agar Suto mengikutinya.

"Ada apa sebenarnya?" Suto mengajak bicara anjing hutan itu.

Serigala berlari agak jauh, kemudian melolong dari sana. Pendekar Mabuk bergegas bangkit dan mengikutinya. "Sepertinya ada sesuatu yang ingin ia tunjukkan padaku," pikir Suto sambil melangkah. Serigala itu berlari cepat sekali, sehingga Suto yang hanya jalan kaki biasa menjadi tertinggal. Suto pun berseru,

"Srrii...!"

Serigala berhenti, ia berbalik memandang Suto, kemudian berlari mendekati Suto. Dan pada saat itu Suto pun berkata,

"Jangan cepat-cepat larinya! Aku ketinggalan kalau kau lari secepat itu! Aku sedang malas lari!"

"Uuh uuh uuh...!" serigala itu pun berjalan pelan di depan Suto. Seakan ia mengerti apa yang dimaksud kata- kata Pendekar Mabuk. Sambil melangkah, Pendekar Mabuk itu menenggak tuaknya beberapa kali. Jalan Suto terasa lambat. Serigala itu rupanya tak sabar, ia menggeram dengan mulut menyeringai, seperti orang sedang menggerutu dan marah. Lalu ia melolong keras- keras dan terpatah-patah.

"Kenapa harus cepat-cepat? Sabar sajalah!" kata Suto.

Serigala makin menyeringai sambil mengerang menakutkan. Suto mulai paham dengan bahasa isyarat binatang itu. Maka Pendekar Mabuk pun berkata,

"Baik, baik! Kita pergi secepatnya!"

Serigala berlari lebih dulu. Suto mengejarnya dengan gerakan cepatnya. Bahkan Suto menggunakan gerak silumannya, yang bisa melesat cepat melebihi angin badai. Tahu-tahu ia sudah berada di depan serigala, dan sang serigala melolong panjang, seakan menyuruh Suto menunggunya.

Suto berhenti dan tertawa. "Makanya jangan sombong kamu, Sri! Kalau adu lari cepat sama aku belum tentu kau bisa menang!"

"Ggrrr...!" serigala menggeram dengan seringai, seakan mau menerkam Suto. Karena sudah terbiasa dengan bahasa isyarat itu, maka Suto Sinting pun tertawa dan berkata,

"Eh eh eh...! Tidak boleh marah! Kalau kalah ya kalah saja, tak perlu pakai marah segala!"
"Uh uh uh...!" binatang itu pun meredakan erangannya yang berseringai seram itu. Kemudian ia berlari cepat lagi, dan Suto mengimbangi gerak larinya.

Rupanya serigala itu membawa Pendekar Mabuk ke alun-alun tersebut. Keadaan di alun-alun masih sepi, bagai habis dilanda angin setan kuburan. Dan mata Suto pun menatap ke arah panggung yang roboh, mayat- mayat yang bergelimpangan, juga patung-patung yang berdiri dengan wajah batunya yang menampakkan ketegangan.

"Huk huk huk...!" serigala itu melolong pendek- pendek. Pendekar Mabuk mendekati tiap patung yang
ada di situ. Ia membatin dalam hatinya,

"Sepertinya telah terjadi musibah misterius di alun- alun ini! Mayat bergelimpangan, bekas tebasan pedang terlihat di tubuh korban. Pasti ada orang sakti entah dua atau tiga orang yang membantai mereka. Dan patung- patung ini...? Apa artinya patung-patung ini? Sepertinya dibuat dengan bentuk seragam pakaian yang sama?'

"Auuu...! Auuuu...!" Serigala melolong di balik panggung yang rubuh. Sepertinya ia memanggil Suto agar datang ke sana. Dan ketika itu, Pendekar Mabuk mendengar suara bocah kecil menangis ketakutan. Suto pun segera bergegas ke belakang panggung, mendekati serigala tersebut.

Bocah kecil bermahkota itu bersembunyi di bawah reruntuhan panggung. Wajahnya tampak sangat ketakutan. Bocah kecil itu mengenakan mahkota kecil dan berpakaian seperti seorang ratu. Suto tidak tahu bahwa bocah perempuan itu adalah Ratu Kemukus yang telah berubah menjadi anak-anak.

"Sini, sini... keluar sini! Kakak tidak jahat! Sini...!" Pendekar Mabuk tak bisa menerobos ke bawah reruntuhan panggung, karena di sana juga terdapat beberapa mayat yang bertumpuk. Bocah kecil itu berada jauh dari jangkauan tangan Suto. Setelah dibujuk beberapa kali, barulah gadis kecil itu merangkak keluar dari panggung.

"Ggrrr...!" serigala menyeringai menakutkan.
"Aaaa...!" bocah kecil itu menjerit ketakutan dan kembali masuk ke dalam reruntuhan panggung.
Suto menghardik serigala, "Hai, jangan begitu! Wajahmu menakutkan anak kecil itu! Menjauhlah dulu sana!"

Seringai di wajah serigala menghilang. Binatang itu berjalan pelan menjauhi Pendekar Mabuk. Bocah itu kembali dibujuk, baru ia berani keluar dari persembunyiannya. Kemudian Suto mengangkat dan menggendongnya. Bocah itu berhenti dari tangisnya setelah tahu bahwa Suto bersikap lembut dan sabar. Mengusap-usap rambutnya yang panjang dan bermahkota. Kemudian, di dalam gendongan Suto bocah kecil itu memandangi wajah Suto dengan tidak berkedip. Suto menyunggingkan senyumnya sebagai tanda keramahan. Tapi bocah perempuan kecil itu menjadi tersipu, lalu menyunggingkan senyum juga dengan membuang pandangan matanya, menyembunyikan wajah ke arah belakang Suto. Tangannya dipaksakan Pendekar Mabuk agar merangkul, maksudnya biar tak jatuh dalam gendongan. Tapi gadis kecil itu sepertinya malu memeluk Suto, tangannya dikelebatkan ke belakang.

"Peganglah, Sayang...! Biar kamu tak jatuh...!" kata Pendekar Mabuk.

"Aku malu!" bisik anak kecil itu. Bisikan itu seperti bernada aneh bagi Suto, sehingga Suto pun berusaha memandang gadis kecil itu.
"Kenapa malu?"

Gadis kecil itu tidak menjawab. Suto segera membawanya ke bawah sebuah pohon rindang. Suasana masih sepi. Penduduk masih tak berani menampakkan diri di sekitar alun-alun. Pendekar Mabuk memandangi sekeliling alun-alun, hanya satu-dua wajah yang nongol sebentar, lalu segera tarik kepala dan bersembunyi lagi dengan rasa takut.

"Ada apa sebenarnya?" gumam Suto sambil tetap memandangi sekelilingnya. Tetapi tiba-tiba bocah kecil yang masih dalam gendongan Suto Sinting itu segera berkata,

"Bawalah aku ke sana," suaranya adalah suara bocah, tapi perintahnya seperti perintah orang yang sudah dewasa. Suto merasa heran, tapi tak segera dibahas di dalam hatinya. Karena gadis kecil itu menunjuk ke rumah besar yang ada di selatan alun-alun maka Pendekar Mabuk pun membawanya ke sana, rumah besar bertembok tinggi itu.

"Ini sebuah istana," kata Suto pelan. Gadis yang digendongnya menjawab,
"Memang sebuah istana. Masuklah...!"

Dua penjaga di pintu gerbang dengan keadaan terkoyak tubuhnya dalam keadaan mati berdiri. Sementara yang satu mati bersandar. Langkah Suto menjadi hati-hati setelah nalurinya mengatakan, ada sesuatu yang tak beres di dalam istana itu.

Ternyata ketika ia masuk ke halaman istana, mayat pun bergelimpangan. Di sana-sini darah membanjir, kepala menggelinding. Pemandangan itu membuat gadis kecil menangis terisak-isak sambil memeluk Pendekar Mabuk.

"Pemandangan ini tak sehat dan terlalu kejam untuk seorang bocah seperti gadis ini! Sebaiknya kusembunyikan dulu gadis ini di suatu tempat, lalu aku kembali kemari sendirian! Pasti ada sesuatu yang lebih mengerikan lagi di dalam istana ini!" pikir Pendekar Mabuk.

Suto segera menghampiri sebuah rumah setelah ia berkata kepada serigala hitam, "Carikan tempat bersembunyi yang aman untuk gadis kecil ini, Sri!" Dan binatang itu berlari ke sebuah rumah, lalu melolong dari sana setelah memeriksa keadaan di dalamnya sebentar. Itulah rumah yang dipilihnya sesuai perintah Suto tadi. Maka Suto pun datang ke sana.

Ada beberapa rumah yang pintunya tertutup. Suto mencoba mengetuk rumah itu dulu sebelum masuk ke sebuah rumah pilihan serigala. Tapi tak ada jawaban dari rumah yang pintunya tertutup. Rumah yang lain pun begitu, tak mau membukakan pintu untuk Suto. Mungkin mereka terlalu dicekam rasa takut, sehingga tak bisa membedakan tamu yang baik dan tamu yang bermaksud jahat.

"Terlalu memukul jiwa pembantaian yang terjadi di sini! Pantaslah kalau mereka tak mau menyambut kedatanganku!" kata Pendekar Mabuk dalam hatinya. Kemudian ia melangkah masuk ke sebuah rumah yang sepertinya ditinggalkan oleh penghuninya dalam keadaan panik.

Bocah kecil itu diturunkan dari gendongan Suto. Matanya memandangi Suto terus. Suto tersenyum sambil mengusap air mata gadis kecil itu dan berkata,

"Lupakan pemandangan itu! Jangan ingat-ingat lagi apa yang pernah kau lihat! Tenanglah di sinil Tak akan ada yang mengganggumu!"

Gadis kecil itu menatap ke kanan-kiri, melongok ke bagian dalam rumah, bahkan menatap ke arah dapur dengan cemas. Suto Sinting yang belum tahu apa dan bagaimana dengan gadis kecil itu segera bertanya dengan lugu,

"Ada apa? Kau mau pipis, ya?"
Gadis itu menggeleng.

"Kalau mau pipis, mari kakak antarkan kamu ke belakang. Atau... jangan-jangan kau sudah ngompol...?!" Suto bermaksud memeriksa apakah bocah itu ngompol atau tidak. Tapi ketika tangan Pendekar Mabuk memegang bagian yang biasanya ngompol, bocah yang berdiri di atas sebuah kursi itu menjerit kaget.

"Auuuh...!"

Plakkk...! Tangannya berkelebat menampar Suto. Tentu saja pemuda itu menjadi kaget dan sentakkan kepala mundur. Gadis itu segera merapatkan kedua kakinya dengan sedikit nungging ke belakang. Takut dipegang bagian yang disangkanya ngompol itu.

"Jangan nakal kamu, Sayang...! Kakak hanya ingin tahu apakah kamu sudah pipis di celana atau belum. Kalau belum, ayo kakak antar kamu ke kamar mandi!"

"Jangan sekali lagi berbuat begitu padaku!" kata gadis kecil itu dengan lancar. Walau suaranya seperti anak usia empat tahun kurang, tapi nada bicaranya seperti orang dewasa.

"Kakak tidak bermaksud kurang ajar...!" kata Suto, lalu tak mau meneruskan. Tapi ia menggerutu dalam hatinya.

"Masih kecil saja berlagak malu! Disangkanya aku mau berbuat kurang ajar! Anak siapa dia sebenarnya?! Kecil-kecil sudah galak!"

Bocah kecil itu segera melompat dari atas kursi, berlari melongok ke pintu pagar. Kemudian, ia masuk kembali dan menutup pintu rapat-rapat. Suto hanya memperhatikan saja. Tapi segera bergegas membuka pintu itu lagi setelah mendengar suara serigala meraung- raung kecil di luar rumah, minta dibukakan pintu.

"Aah...!" bocah kecil itu memekik sambil melompat ke kursi, ia takut melihat serigala masuk rumah.
"Tidak apa-apa," kata Pendekar Mabuk. "Dia temanku. Dia tidak galak!"
"Aku takut!"
"Dia bukan jenis serigala yang jahat, Manis! Kau tak perlu takut. Dia justru akan menjagamu dari bahaya selama aku pergi!"
"Kau mau ke mana?" tanya gadis kecil itu berlagak tua di mata Suto. Dan Suto tidak terlalu menghiraukan lagaknya itu. Ia menjawab,
"Aku akan memeriksa isi istana itu! Kau di sini dulu bersama Sri, nanti secepatnya aku kembali!" Suto bagai membujuk dengan lembut.

Akhirnya bocah itu menganggukkan kepala, seakan ia memang berharap Suto melakukan hal itu. Tapi dari sorot pandang matanya, ia kelihatan memendam kecemasan dan ketakutan terhadap nasib Suto jika memeriksa keadaan di dalam istana itu. Karena ia tadi melihat dari kolong panggung, nenek tua yang sakti namun berjiwa iblis itu masuk ke istana dan mengamuk di sana. Hanya saja, mulut gadis jelmaan Ratu Kemukus itu tak bisa mengatakan dan menceritakan tentang nenek aneh itu, karena rasa takut dan jiwa yang terpukul dengan peristiwa itu masih belum bisa membuat ia berpikir dengan baik.

Pendekar Mabuk masuk ke istana sendirian. Matanya menatap sekeliling dengan jeli dan tajam. Istana dalam keadaan porak-poranda. Beberapa bagian dibuat morat- marit oleh suatu pertempuran yang lebih tepat dikatakan sebuah pembantaian. Suto berjalan melangkahi mayat- mayat baik tua maupun muda, lelaki maupun perempuan. Sampai di bagian bangsal keprajuritan, banyak mayat yang terkulai di sana dalam keadaan mengenakan pakaian seragam keprajuritan. Bahkan di bagian dapur pun bertumpuk mayat para pelayan dan juru masak. Tapi masing-masing mayat mempunyai wajah tegang yang berlainan. Ada yang matinya karena benda tajam, ada yang matinya karena pukulan tenaga dalam hebat, ada pula yang tidak berdarah sedikit pun dan tetap berdiri memegang sesuatu, namun dalam keadaan tidak bernyawa.

"Iblis mana yang begitu keji melakukan pembantaian ini?!" pikir Pendekar Mabuk. "Kalau saja waktu itu...."

Suto tidak melanjutkan kecamuk batinnya, karena ia segera melihat sekelebat bayangan menyusup masuk ke bangsal paseban, arahnya dari ruang peristirahatan ke bangsal paseban. Pendekar Mabuk segera melesat cepat dan tahu-tahu sudah berada di bangsal pertemuan yang berpilar empat itu. Di sana ia berhadapan dengan seorang gadis cantik berpakaian jingga. Gadis itu tersentak kaget, lalu menyerang Suto dengan sebuah pedang yang dicabut dari punggungnya. Wuttt...!

Trakk... ! Pendekar Mabuk menyentakkan bumbung tuak, dan bumbung itu cepat berkelebat ke depan, pedang itu tak sempat merobek dada Suto, namun tertangkis oleh bambu tempat tuak itu.

Tapi kaki gadis berpakaian Jingga itu berkelebat menendang dada Suto melalui gerak tipuannya. Buhgg...! Dada Suto kena sasaran kaki, membuat Suto mundur tiga tindak. Gadis itu tak mau membiarkan Pendekar Mabuk ganti menyerang, ia langsung melompat dan menerjang wajah Suto dengan tendangan kaki, sementara tangannya yang memegang pedang sudah terangkat ke atas.

Dengan cepat Suto bersalto ke belakang. Wuttt... wuttt... ! Tendangan dan tebasan pedang perempuan itu mengenai sasaran kosong. Suto berdiri tegak dan tersenyum tipis memandangi gadis itu tertipu serangannya.

"Heh...!" gadis itu mendenguskan napas memandang ketus. Pedangnya tetap terpegang di tangan dalam keadaan di atas kepala, badannya sedikit rendah ke depan dengan tangan kiri di depan dada, kaki kanan memanjang ke belakang. Matanya tajam menatap Suto Sinting.

Suto justru menyempatkan diri membuka bumbung tuak, dan ia menengadah sebentar untuk meneguk tuaknya. Napasnya terlepas lega setelah itu. Senyumnya mekar tipis dengan mata lembut memandang ke arah lawannya yang cantik.

"Manusia keji kau!" geram gadis itu.
"Kau atau aku?" tanya Pendekar Mabuk.
"Jangan berlagak bodoh! Mereka terbantai oleh perbuatanmu!"
"Jangan menuduh, Nona Cantik! Kaulah mungkin pembantainya!"
"Hmm...! Pencuri kalau belum dihajar belum mau mengaku! Hiaaat...!"

Gadis itu melompat sambil melepaskan pukulan tenaga dalamnya melalui tangan kirinya. Sinar kuning melesat bagai kawat, arahnya ke dada Pendekar Mabuk. Namun dengan lincah Pendekar Mabuk mengelak melalui satu lompatan ke samping kanan. Sinar itu mengenai lantai dan lantai itu menjadi hangus setelah mengalami letupan kecil. Tarrr...!

"Hentikan, Ratna!" seru suara di belakang gadis itu.

Pendekar Mabuk terperangah kaget memandang orang berambut putih dan berpakaian serba merah muncul dari sebuah ruangan. Orang itu dalam keadaan tidak tidur, dan Suto sangat mengenalinya. Pada waktu itu, Ratna Pamegat segera berkata,

"Mungkin dialah pelaku pembantaian ini, Ki!"
Ucapan itu tak dijawab oleh Ki Gendeng Sekarat. Justru lelaki tua itu melangkah dengan cepat setelah Suto berseru,
"Ki Gendeng Sekarat...?! Kau ada di sini rupanya?!"

Ki Gendeng Sekarat berpelukan dengan Suto bagai melepas rindu. Kemudian Ki Gendeng Sekarat berkata, "Akhirnya kita bertemu di istana pembantaian ini!" Suto tertawa dan Ki Gendeng Sekarat pun terkekeh sambil menepuk-nepuk pundak pemuda tampan itu.

Ratna Pamegat berkerut dahi dan mengendurkan ketegangannya setelah ia bertanya, "Siapa dia, Ki?"

"Orang yang kau cari, dan yang kucari juga! Ini yang namanya Suto Sinting, si Pendekar Mabuk...!" Ki Gendeng Sekarat menegaskan. Ratna Pamegat' jadi tersipu namun cepat membuang muka untuk sembunyikan malunya.

"Aku baru saja datang untuk menemui Ratu Kemukus," kata Ki Gendeng Sekarat. "Ratu Kemukus adalah Bibi dari Ratna Pamegat. Tapi tahu-tahu keadaan menjadi seperti ini. Lalu kami memeriksa keadaan di dalam istana ternyata semakin lebih mengerikan. Kami tidak tahu siapa pembantai yang bisa berbuat sekejam ini, dan ke mana perginya Ratu Kemukus, kami sedang melacak jejaknya."

"Aku juga baru datang, dan melihat keadaan seperti ini, aku jadi penasaran. Ingin mengetahui siapa pelakunya!"
Ratna Pamegat kini memandang Suto Sinting. Dalam hatinya ia berkata, "Ternyata apa yang dikatakan Ki Gendeng Sekarat memang benar. Suto Sinting jauh lebih tampan dan lebih gagah dari Sutomo! Ah, kenapa aku jadi berdebar-debar memandang ketampanan dan keteduhan matanya?"
***8

MEREKA bertiga tidak tahu, bahwa setelah nenek aneh itu mengubah Ratu Kemukus menjadi kecil dan para pengapung menjadi patung batu, ia segera meninggalkan tempat itu. Tetapi, pasukan pemanah istana segera menghujani panah ke arah tubuh nenek aneh itu. Dan ternyata tindakan tersebut membuat nenek aneh menjadi semakin murka.

Ia melepaskan pukulan jarak jauhnya yang diperoleh dari hasil serapan para musuh yang melepaskan tenaga dalam kepadanya. Pukulan jarak jauhnya itu menghantam pasukan pemanah yang muncul dari tembok istana. Maka, hancurlah kepala mereka yang terkena pukulan dahsyat itu.

Nenek aneh bergegas memasuki istana. Mengamuk di sana dengan pedang berkaratnya. Tak satu pun disisakan hidup. Dan ia mengejar tiga orang istana yang melarikan diri lewat pintu belakang, lalu melepaskan kutukannya sehingga ketiga orang itu menjadi tiga ekor musang.

Hanya saja, setelah itu si nenek aneh pergi ke mana? Tak ada yang tahu. Tapi menurut dugaan para penghuni rumah yang ada tak jauh dari istana dan alun-alun, sang nenek diperkirakan masih mendekam di salah satu rumah penduduk untuk beristirahat. Itulah sebabnya para penduduk yang masih selamat tak berani keluar dari rumah mereka, takut mengalami nasib senaas seperti para korban itu.

Namun berkat usaha Ratna Pamegat, mereka bisa menemukan satu penduduk yang berani menerima kedatangan mereka. Penduduk itu menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di alun-alun sampai ke dalam istana. Penduduk itu menceritakan hal itu dengan tubuh gemetar dan wajah pucat.

"Nenek bungkuk yang sudah tua sekali itu ternyata iblis yang bangkit dari kuburnya," kata lelaki yang berani menceritakan hal itu kepada Suto, Ki Gendeng Sekarat, dan Ratna Pamegat. Sambungnya lagi,

"Saya melihat dengan mata kepala sendiri, nenek itu mengutuk Kanjeng Ratu Kemukus menjadi gadis kecil dan para prajurit yang mengepungnya menjadi patung batu di alun-alun!"

"Mengutuk...?!" Pendekar Mabuk mengulang kata- kata itu dengan nada heran dan dahi berkerut.

"Ya, ya... mengutuk! Saya katakan mengutuk, karena tiap apa yang diucapkannya menjadi kenyataan, Tuan!" kata orang tersebut.

Ki Gendeng Sekarat berkata kepada Suto Sinting, "Kalau begitu benar, nenek aneh yang menghancurkan perguruannya Ratna Pamegat itulah yang melakukannyal"

Ratna Pamegat bertanya kepada orang yang berani menerima kedatangan mereka di rumahnya itu,

"Apakah nenek bungkuk itu menyebutkan nama orang yang dicari?"

"Hmm... Iya, benar! Saya mendengar saat ia belum melakukan keonaran. Saya dengar dia mencari seseorang yang bernama... Suto Sinting! Teman yang di sebelah saya bilang bahwa di sini banyak orang sinting tapi yang mana yang bernama Suto, teman saya tidak tahu!"

"Jelas sudah, kaulah yang dicari orang tua itu!" kata Ki Gendeng Sekarat. Ratna Pamegat juga menceritakan nasib perguruannya dan nasib sang Guru yang terkena kutukan nenek tua itu. Dahi Pendekar Mabuk menjadi berkerut memikirkan, siapa nenek tua yang dimaksud mereka.

"Beberapa waktu yang lalu," kata Suto. "Aku memang berselisih dengan seorang yang bernama julukan Ratu Teluh Bumi. Tapi orangnya belum setua ciri-ciri orang yang kau katakan itu, Ratna!"

Lalu, Suto pun menceritakan bagaimana Ratu Teluh Bumi pada awalnya bertarung dengannya dalam peristiwa "Pusaka Pedang Biru", dan menjadi lebih sakti lagi setelah muncul beberapa waktu kemudian, sebagai orang yang menyebar kutuk ke mana-mana. Sampai- sampai seorang musuhnya bisa dikutuk menjadi seekor kuda berkepala manusia, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode: "Manusia Penyebar Kutuk").

"Lalu aku menyerangnya, dia jatuh terlempar ke jurang. Aku mencarinya untuk melihat apakah dia mati atau hidup. Tapi tak kutemukan bangkainya di jurang itu. Bahkan aku malah diikuti oleh seekor serigala yang sampai sekarang menjadi teman perjalananku!" kata Pendekar Mabuk sambil mereka melangkah meninggalkan rumah orang yang telah menceritakan apa yang dilihatnya itu.

"Barangkali, orang yang kau katakan sebagai nenek aneh itu berusia sekitar lima puluh tahun?"

"Lebih," jawab Ratna Pamegat. "Mungkin usia seratus tahun pun lebih. Jalannya sudah sempoyongan, giginya habis semua, kulitnya keriputan yang tak jelas bentuknya dan sulit dicari pori-porinya!"

"Kalau begitu dia bukan Ratu Teluh Bumi!" kata Suto.
"Lantas siapa menurutmu?!" tanya Ki Gendeng Sekarat.
"Entahlah!" jawab Suto bernada pasrah.

"Bagaimana kalau kita geledah seluruh penghuni dan rumah di sekitar sini!? Siapa tahu dia bisa berubah menjadi muda?" usul Ki Gendeng Sekarat.

"Baik. Kita berpencar. Dan jika melihat dia, pancing dan ajak ke alun-alun, kemudian bunyikan sebuah ledakan dengan pukulan tenaga kalian ke arah mana saja, kami akan segera datang ke alun-alun!" kata Suto Sinting.

Mereka akhirnya berpencar menggeledah rumah demi rumah. Pendekar Mabuk menyempatkan menengok gadis kecil yang disimpannya di sebuah rumah bersama serigala. Pendekar Mabuk masih belum menyimpulkan cerita orang tadi, sehingga ia belum sadar bahwa gadis kecil itulah Ratu Kemukus yang dikutuk si nenek aneh.

Ketika Pendekar Mabuk masuk ke rumah itu, gadis kecil itu segera melompat dalam gendongan Suto sambil menangis ketakutan. Tangisannya tak menimbulkan suara keras. Tapi Suto tahu tangis itu adalah tangis bocah yang tertekan jiwanya. Pasti ada sesuatu yang membuatnya sangat takut.

"Tenang, tenang, Sayang...! Cup cup cup...! Kakak sudah kembali dengan selamat. Jangan menangis...!"
"Ak... aku... aku takut...!"

"Takut kepada siapa? Serigala ini tidak menganggumu, bukan?! Jangan takut!" Suto bertanya kepada serigala, "Apa kamu tadi mengganggunya, Sri?"

Anjing hutan itu menggelengkan kepala sambil menggeram-geram kecil, seakan sangat paham dengan bahasa manusia.

"Lihatlah, Sayang... serigala tidak nakal kok. Jangan takut!"
"Aku bukan takut kepada anjing itu!"
"Lalu kepada siapa dan kepada apa?"

"Aku... aku tadi mengintip dari celah papan itu, aku melihat nenek aneh itu berjalan melewati jalanan di depan rumah ini! Aku takut sekali!"

"Nenek...?! Maksudmu, nenek bungkuk yang jalannya sudah tertatih-tatih itu?" Pendekar Mabuk sedikit tegang.
"Iya. Nenek itulah yang membantai seenaknya semua prajuritku, orang-orangku dan beberapa penduduk di sini!"
"Jadi kau melihat semua pembantaian itu?!"
"Aku melihatnya! Melihat dengan jelas sekali," jawab bocah yang digendong Suto itu.
"Kalau saja aku tak kalah ilmu, aku tak akan menjadi begini! Serba ketakutan dan...."

"Sudah, sudah... jangan diingat-ingat lagi nanti kamu semakin takut, Sayang! Sekarang sebaiknya kamu tidur, dan kakak akan...." Suto diam sejenak, teringat sebaris kata aneh yang diucapkan bocah kecil itu. Maka Suto pun segera bertanya,

"Kau bilang, kau kalah ilmu dengan nenek itu?! Apa maksudmu dengan mengatakan 'kalah ilmu' itu?"
"Aku sudah coba menghadapi dia! Tapi aku kalah, dan dia mengubah wujudku menjadi seperti anak kecil begini...!"

Bocah yang digendong erat-erat itu kini ditatapnya. Suto berdebar-debar dan hampir tak mempercayai kesimpulan di dalam hatinya, ia penasaran dan akhirnya bertanya, "Jadi... kau adalah Ratu Kemukus itu?"

"Ya. Akulah Ratu Kemukus itu...!"

"Oooh...!" Suto menjadi malu dan lemas, ia turunkan gadis kecil itu pelan-pelan. Rasa malu bercampur rasa hormat dan sungkan, semuanya menjadikan Suto salah tingkah. Dalam hatinya ia tersenyum geli dan berkata,

"Pantas dia galak. Pantas berani menamparku. Pantas dia menjerit waktu kuperiksa apakah ngompol atau tidak. Rupanya dia seorang Ratu. Hi hi hi hi... aku jadi malu sendiri kalau begini! Pantas dia malu memelukku dalam gendongan. Hi hi hi...!"

"Aku sudah memeriksa isi istana, tak ada yang selamat! Aku juga bertemu dengan keponakanmu," kata Suto Sinting kemudian.
"Siapa namanya?"
"Ratna Pamegat!"
"Oh, benar! Dia keponakanku. Di mana dia sekarang?"
"Sedang mencari nenek itu!"

Bocah kecil itu tersentak kaget. "Celaka! Tolong cegah dia! Jangan sampai dia mencari nenek itu, nanti menjadi seperti nasibku ini dan mungkin akan celaka seperti prajurit-prajuritku! Aku tak ingin keponakanku menjadi patung seperti nasib mereka di alun-alun itu! Cegah dia!"

Suto merasa diperintah oleh anak kecil. Tapi mengingat anak itu adalah jelmaan dari Ratu Kemukus, maka ia pun menghormat dan berkata dengan tegas,

"Baiklah! Aku akan pergi mencari Ratna Pamegat dan kusuruh dia mendampingimu, Nyai Ratu," Suto tersenyum kaku menyebut nyai ratu kepada bocah sekecil itu. Ratu Kemukus sendiri menjadi tersipu malu.

Pendekar Mabuk bergegas pergi. Tapi sebelumnya tangannya tertahan oleh tangan bocah kecil itu. Bocah tersebut bertanya,
"Apakah kau berani menghadapi iblis tua itu?"
"Kenapa tidak?' jawab Suto dengan tersenyum menawan. Ratu Kemukus tak berani memandang, ia hanya berkata,
"Hati-hatilah, jangan sampai celaka menghadapi dia."
"Baik. Doa restu dari Nyai Ratu yang kuminta sebagai bekalku!"
"Berangkatlah...!" kata Ratu Kemukus dalam wujud bocah.

Tapi ketika Suto hendak membuka pintu dan keluar dari rumah, sang Ratu sempat bertanya lagi,
"Tunggu...! Siapa sebenarnya dirimu, Anak Muda?'
"Aku orang yang dicari-cari oleh iblis tua itu. Namaku Suto Sinting...!"

"Oh...?!" sang Ratu terbengong memandang Suto. Tapi Suto segera pergi keluar rumah, sementara sang Ratu memperhatikan dalam sikap mengintip dari celah pintu. Hatinya membatin, "Gagah sekali dia.... Pantas untuk menjadi senopatiku!"

Blarrr...!

Belum sempat Suto melangkah sudah terdengar suara ledakan. Itu merupakan pertanda, salah seorang dari sahabatnya telah menemukan nenek aneh itu. Dan Suto pun segera bergegas menuju ke alun-alun. Tapi ternyata di sana tak ada manusia. Suto memandang sekeliling, menatap langit, ternyata ada kepulan di arah barat. Kepulan asap itulah yang menjadi tanda baginya, bahwa di sana terjadi pertarungan nenek aneh melawan siapa, Ki Gendeng Sekarat atau Ratna Pamegat?

Pada saat Suto berada di dalam rumah bersama Ratu Kemukus kecil, sebenarnya Ratna Pamegat telah kepergok oleh nenek aneh itu. Sang nenek pun segera terkekeh-kekeh melihat Ratna Pamegat. Ia berkata dengan suara tuanya,

"Sepertinya aku pernah kenal denganmu, Cah Ayu...! Siapa kamu dan di mana aku pernah bertemu denganmu?"
"Ya, kau memang pernah bertemu denganku!" kata Ratna Pamegat sambil memancing kemarahan nenek aneh itu supaya marah dan mengejarnya ke alun-alun. Ratna Pamegat berkata lagi,

"Aku adalah Ratna Pamegat! Guruku telah kau kutuk menjadi tengkorak hidup!"
"O, kau murid Resi Jejak Naga itu?! Ya ya ya... aku ingat sekarang! Bagaimana kabarmu, Nak? Apakah gurumu sehat-sehat saja?"

Nenek itu bicara seperti orang tidak berdosa. Ratna Pamegat menjadi panas hatinya. Lalu, ia mencabut pedangnya dan berseru,

"Guruku dalam keadaan sehat, tapi nyawamu yang sebentar lagi tidak sehat, Iblis Kempot! Aku menuntut balas atas nasib perguruanku itu!"

"Mau menuntut balas? O, boleh, boleh...! Kita tarung pakai pedang ya, Nak? Sebentar...!" Nenek itu sulit mencabut pedangnya. Kesempatan itu digunakan oleh Ratna Pamegat untuk menyerang dengan satu lompatan dan tebasan pedang. Wuttt...!

Zlapp...! Nenek itu bagai menghilang. Tahu-tahu ada di belakang Ratna Pamegat yang sudah telanjur menebaskan pedang dan menemui tempat yang kosong. Nenek itu masih bingung mencabut pedang berkaratnya dengan susah payah. Ratna Pamegat membalikkan badan dengan satu tendangan putar yang amat kuat dan cepat.

"Hiaaat....!"

Plokk...! Wajah tua itu terkena tendangan bertenaga dalam, tapi tak mengalami guncangan sedikit pun. Ratna Pamegat bagaikan menendang pilar beton. Kakinya sendiri yang menjadi ngilu.

"Jahanam kau, Gadis Tolol! Bersabarlah sebentar, aku sedang kesulitan mencabut pedangku ini! Uh uh uhh...!"

Ratna Pamegat tak mau memberi kesempatan sang nenek berhasil mencabut pedang, ia segera menikamkan pedangnya ke depan, leher sang nenek yang menjadi sasarannya. Wusss...!

Zlappp...! Nenek itu sudah ada di sampingnya, berjarak tiga tombak dari Ratna Pamegat. Tusukan itu kembali menemukan tempat kosong. Sang nenek merasa jengkel dengan pedangnya yang sukar dicabut, dan merasa dongkol dengan serangan Ratna Pamegat yang bertubi-tubi itu. Maka ia pun membentak dengan napas tertahan,

"Kamu ini disuruh sabar tidak bisa! Kukutuk jadi manusia berbadan anjing, baru kapok kamu!"

Blarrr...! Gelegar petir terdengar mengagetkan. Itulah suara dentuman yang didengar Suto Sinting. Dentuman itu tidak menimbulkan asap mengepul. Lalu, asap apa yang terlihat oleh Suto dan sekarang sedang dihampirinya itu?

Ternyata asap sebuah rumah terbakar sejak tadi, sebelum Pendekar Mabuk datang ke situ. Maka, Suto pun tidak mengetahui di mana Ratna Pamegat dan Ki Gendeng Sekarat berada, ia mencari dengan mata jelinya.

Sementara itu, keadaan Ratna Pamegat sudah berubah wujud menjadi seekor anjing berbulu coklat dengan kepala manusia. Ratna Pamegat berlari secepatnya sambil menangis, ia berseru di perjalanan pelariannya.

"Ki Gendeng...! Ki Gendeng...!"
Dari kejauhan terdengar suara nenek itu berseru, "Ayo, kita bertarung! Pedangku sudah bisa kucabut sekarang!"

Dalam keadaan menjadi manusia berbadan anjing, Ratna Pamegat tak berani menghadapi nenek aneh itu. Ia berlari kian kemari sambil menyerukan kata memangil- manggil Ki Gendeng Sekarat dan Suto.

"Ki Gendeng, di mana kamu! Sutooo...! Suto tolong akuuu...!"

Rupanya Ki Gendeng Sekarat tertidur di emperan sebuah rumah, ia tampak tertidur nyenyak di atas sebuah lincak, atau balai-balai dari bambu yang biasa ada di serambi atau teras rumah. Ketika mendengar seruan Ratna Pamegat, Ki Gendeng Sekarat pun bangkit dalam keadaan masih tertidur dengan dengkuran halus.

"Mana itu...?" katanya seperti orang mengigau. "Sepertinya suara Ratna Pamegat dalam bahaya...!"

Ki Gendeng Sekarat segera mencari. Arahnya ke alun-alun. Ratna Pamegat sendiri juga sedang berlari ke alun-alun dalam kejaran nenek kempot yang larinya tertatih-tatih, seperti malas-malasan mengejar musuhnya.

"Ki Gendeng...!"

"Ratna...!" seru Ki Gendeng Sekarat, tapi tak bisa keras sekali karena ia dalam keadaan tidur, mata terpejam, dan kepala terkulai ke samping, agak menunduk sedikit. Hanya saja, ia tetap bisa melihat apa yang terjadi pada diri Ratna Pamegat.

Ratna Pamegat menangis di kaki Ki Gendeng Sekarat. Ki Gendeng Sekarat segera jongkok hingga wajahnya berhadapan dengan Ratna Pamegat.

"Ki Gendeng, aku menemuinya dan... dan aku menjadi seperti ini!"
"Ratna, tabahkan hatimu! Bersembunyilah di bawah kolong balai-balai sana. Aku akan menghadapi dia...! Mana dia sekarang?"
"Sedang mengejarku kemari!"
"Kalau begitu, cepat bersembunyi...!"

Ratna Pamegat berlari, ia bersembunyi di kolong balai yang ada di teras rumah orang. Dari sana, ia bisa memandang Ki Gendeng Sekarat yang menghadang langkah nenek berhati iblis itu.

Nenek aneh itu menghentikan langkahnya setelah seorang lelaki berbadan sedikit gemuk menghadang di depannya. Nenek aneh itu bertanya lebih dulu, "

"Apa kau melihat seekor anjing coklat lewat sini, Kisanak?"
Ki Gendeng Sekarat menjawab, "Tidak. Tapi kalau anjing tua kempot dan bungkuk, ada di depanku saat ini!"

"Hik hik hik...!" nenek aneh terkikik-kikik seperti suara kuntilanak sedang sakit tenggorokan. "Kau menghinaku, Tua Bangka! Kau sama saja mengatakan aku anjing peot, tua, dan bungkuk!"

"Anggap saja memang begitu," jawab Ki Gendeng Sekarat.
Nenek itu menahan napas dan berseru, "Kalau begitu, kau pun kukutuk menjadi seekor anak anjing!"

Angin berhembus sedang-sedang saja. Sepi terjadi sejenak. Ki Gendeng Sekarat meraba tangannya. Ternyata masih utuh tangan manusia. Walau ia tertidur, tapi ia bisa melihat bahwa dirinya tak berubah sesuai kutukan yang dilontarkan nenek aneh itu. Sedangkan sang nenek pun merasa heran melihat orang yang dikutuknya tidak segera berubah.

"Kau kukutuk menjadi seekor anak anjing!" ulangnya sambil menahan napas. Tapi alam tetap sunyi. Tak ada petir, tak ada perubahan pada diri lawannya. Sang nenek semakin heran, dan melepaskan kutukan lagi,

"Jadilah babi buntung! Babi hidung mancung! Jadilah babi bunting! Jadilah macan, serigala, monyet...!" semua binatang disebutkan, tapi tak satu pun yang membuat Ki Gendeng Sekarat berubah wujud.

Dari tempat persembunyiannya, Ratna Pamegat mendengar ucapan nenek aneh mengutuk Ki Gendeng Sekarat. Ratna Pamegat menjadi terheran-heran kagum melihat Ki Gendeng Sekarat masih utuh sebagai manusia tua yang gendeng juga ilmunya. Bahkan Ki Gendeng Sekarat terkekeh-kekeh dan berkata,

"Kau ini dagang macam-macam binatang atau mau menyebarkan kutuk?!"
"Iblis neraka mana kamu, hah?! Susah sekali dikutuk jadi apa saja. Kalau begitu, kutebas saja lehermu dengan pedangku ini!"

Wuuttt...!

Blappp...! Ki Gendeng Sekarat lepaskan pukulan dari tangan kirinya sebelum pedang menebas. Pukulan itu mengenai tubuh nenek aneh dan terpental jauh tubuh tua kurus dan kering itu. Melayang-layang membentur tembok istana dengan keras. Prokkk...!

***9

DARI arah utara muncul Pendekar Mabuk yang berlari-lari dengan sangat tergesa-gesa. Arah pandangan mata Suto tertuju ke alun-alun. Ia melihat pertarungan Ki Gendeng Sekarat dengan nenek aneh itu. Namun ketika ia hendak menghampiri Ki Gendeng Sekarat untuk membantu menggempur nenek aneh itu, tiba-tiba sebuah suara memanggilnya,

"Suto...! Suto...!"

Bingung juga Suto mencari arah datangnya suara itu. Ia berpaling ke sana-sini sampai akhirnya Ratna Pamegat keluar dari kolong balai dan berseru dengan suara tertahan, "Suto...!"

"Ratna...?!" Pendekar Mabuk terpekik kaget ketika melihat Ratna Pamegat sudah menjadi manusia berbadan anjing cokiat. Cepat-cepat Suto menghampirinya dengan mata tegang.

"Ratna, apa yang terjadi?"
"Nenek itu telah mengutukku menjadi seekor anjing!"

"Edan!" geram Suto Sinting antara terharu dan marah melihat keadaan Ratna Pamegat seperti itu. Giginya menggeletuk dan tangannya menggenggam kuat-kuat.

"Aku mencoba memancingnya ke alun-alun, tapi dia sudah lebih dulu melepaskan kutukannya! Aku dikejar- kejar olehnya, tapi segera ditolong oleh Ki Gendeng Sekarat!"

"Biadab betul nenek itu! Tetaplah di sini, biar aku yang maju!" kata Pendekar Mabuk dan segera bergerak. Tapi Ratna Pamegat memanggil lagi,

"Suto, sebaiknya biarlah Ki Gendeng Sekarat yang menghadapi nenek aneh itu! Dia tidak mempan dikutuk oleh nenek aneh itu, Suto! Aku melihat dan mendengarnya sendiri nenek itu menyebar kutuk beberapa kali kepada Ki Gendeng, tapi Ki Gendeng tetap tegar dan tidak berubah menjadi binatang apa pun!"

"Hmmm...! Aneh sekali! Ilmu apa yang dimiliki Ki Gendeng itu?" kata Suto bagai orang menggumam.
"Kurasa ia mempunyai ilmu penangkal kutuk! Kalau kau yang maju, aku khawatir kau terkena kutukannya, Suto!"

Masih di tempat emperan rumah, Pendekar Mabuk memandang ke arah alun-alun. Ratna Pamegat ada di atas balai-balai yang juga memandang ke arah alun-alun. Ratna Pamegat bertanya,

"Nenek tua itulah yang mencari-carimu dengan mengorbankan banyak nyawa! Apakah kau kenal dengannya, Suto?"

Pendekar Mabuk kerutkan kening dan memandang dengan mata sedikit menyipit. Nenek yang membentur tembok istana itu sedang berusaha bangkit tanpa keluh kesah apa pun. Dan kini berjalan tertatih-tatih mendekati Ki Gendeng Sekarat yang diam, berdiri menunggu lawan sambil kepalanya terkulai ke kiri dan matanya terpejam tidur.

"Melihat bekas pakaiannya, bentuk pedangnya, walau sudah berkarat, kurasa dialah yang benama Ratu Teluh Bumi, atau yang punya nama asli Ajeng Prawesti dari Jenggala. Tapi... mengapa dia menjadi setua itu? Sungguh tak masuk akal jika usianya dan keadaannya menjadi setua itu, karena kami berpisah kurang dari tiga bulan!"

"Mungkin dia nenek dari Ajeng Prawesti!"

"Neneknya...?!" gumam Suto dalam kebingungannya. "Kalau begitu, biarlah kuhadapi dia supaya lebih jelas lagi siapa dia sebenarnya?"
"Bagaimana jika kau kena kutuk, Suto?! Dia sangat mengancammu! Kurasakan begitu besar dan membaranya dendam nenek itu kepadamu!"

"Jika benar dia punya dendam padaku, berarti memang dialah Ratu Teluh Bumi. Jika dia bukan Ratu Teluh Bumi, lantas atas dasar apa dendam padaku?"

Rasa penasaran membuat Pendekar Mabuk nekat menemui Ki Gendeng Sekarat di alun-alun. Sampai di samping Ki Gendeng, Suto pun berkata,

"Mundurlah, Ki. Biar aku yang hadapi si iblis tua itu!"

Namun tiba-tiba sebuah serangan datang dari tangan nenek tua itu berupa pukulan tenaga dalam wama merah bagaikan bola api sebesar buah kelapa. Wusss...!

"Suto, awas...!" Ki Gendeng Sekarat melompat maju menyambut kehadiran bola api itu. Kemudian dengan satu kekuatan tenaga dalamnya, ia menghantam bola api itu menggunakan sentakan kedua tangannya yang ke depan. Brusss...! Blarrr...!

Bola api itu pecah meledak menimbulkan guncangan hebat pada tanah. Dan tubuh Ki Gendeng Sekarat terlempar mundur dalam hentakan kuat.

Zlappp....! Suto melesat menghadang tubuh Ki Gendeng Sekarat. Brekk...! Tubuh Ki Gendeng Sekarat membentur tubuh Pendekar Mabuk, tapi Pendekar Mabuk memang sudah siap menahan tubuh itu, sehingga Ki Gendeng Sekarat tidak cedera sedikit pun. Menabrak Pendekar Mabuk adalah lebih baik daripada menabrak rumah penduduk yang terbuat dari tembok separo bagian.

"Uuf...! Besar sekali tenaga si tua bangka itu! Edan betul dia!" Ki Gendeng Sekarat masih tetap tidur walau bicara begitu, nada bicaranya masih seperti orang mengigau malas-malasan.

"Dia sangat berbahaya, Ki! Sepertinya aku harus melawannya memakai Napas Tuak Setan. Tapi... keadaan tidak memungkinkan. Istana dan rumah-rumah di sekitar sini bisa habis dilanda badai!"

"Dia mengandalkan ilmu kutukannya! Menurutmu apakah dia memang Ratu Teluh Bumi, seperti yang kau ceritakan itu, Suto?"

"Ya. Tapi entah mengapa dia bisa menjadi setua itu! Aku sendiri tak habis pikir. Dan makin tak habis pikir melihatmu tidak mempan dengan kutukannya, Ki!"

"Karena aku tidak memandang matanya pada saat berhadapan! Mata hatiku yang melihat semua gerakannya! Jadi, tutuplah matamu pada saat menghadapinya!"

"Tutup mata?"

"Ya. Kekuatan kutuknya ada di matanya. Jika kita memandangnya, maka kekuatan kutuk itu akan mengalir lewat pandangannya. Sebaiknya...," Ki Gendeng Sekarat berhenti sebentar, melepas ikat kepalanya yang terbuat dari kain hitam itu. Kemudian kain hitam itu diserahkan kepada Pendekar Mabuk.

"Pakailah ini sebagai penutup matamu. Kau bisa bertarung menggunakan mata hati, bukan?!"
"Bisa, Ki!"
"Nah, lakukan cepat...!"

Belum sempat Pendekar Mabuk menggunakan ikat kepala kain hitam sebagai penutup mata, nenek aneh sudah berseru dalam jarak sepuluh langkah.

"Naaah... ini dia harapanku datang! Hik hik hik...! Kau pasti Pendekar Mabuk yang kucari-cari selama ini!"
"Apakah kau Ajeng Prawesti... si Ratu Teluh Bumi itu?!"

"Hik hik hik...! Betul sekali, Anak bagus! Akulah Ratu Teluh Bumi yang kau pukul sampai terjungkir masuk ke jurang keparat itu! Dan sekarang aku mau tuntut balas padamu, Cah bagus, Suto Sinting! Hik hik hik...! Tapi... tapi mengapa kau masih muda? Bukankah kita sudah berpisah hampir seratus tahun lamanya?"

"Kita baru berpisah tiga bulan kurang, Ajeng Prawesti!"

"Omong kosong! Pasti sudah hampir seratus tahun, dan kau punya aji pengawet wajah sehinga bisa tetap kelihatan ganteng dan muda!"

"Ajeng Prawesti, percayalah kita baru tiga bulan berpisah. Dan aku tak sangka kau menjadi setua itu, Ajeng Prawesti!"

"Ya, ya... aku menjadi tua, tapi... tapi tetap kelihatan manis dan menawan tentunya! Hik hik hik...!"

Ki Gendeng Sekarat berbisik dari belakang Suto, "Lekas kenakan penutup matamu, Suto. Dia bisa lepaskan kutuk sewaktu-waktu!"

Suto segera sadar, bahwa ia telah terpancing omongan sehingga lupa menutup matanya. Maka, cepat- cepat Suto menutup mata dengan kain ikat kepala itu.

"Heiii... mengapa pakai tutup mata segala? Aku tidak akan lari bersembunyi, sebab kita tidak sedang main petak umpet, Suto!" kata Ratu Teluh Bumi alias Ajeng Prawesti itu.

Suto tidak menjawab, ia meneguk tuaknya dulu beberapa tegukan, kemudian bumbung tuak tidak dikembalikan ke punggung, tapi ditentengnya sebagai senjata sewaktu-waktu.

"Bersiaplah, Ajeng Prawesti! Lepaskan seluruh dendammu padaku, biar tak lagi membawa korban bagi orang lain!" ucap Suto Sinting dengan keras dan tegas. Dalam hatinya sempat membatin,

"Agaknya pedang berkaratnya cukup berbahaya! Pedang itu harus kulenyapkan dulu...!" Maka, Suto pun menenggak tuak lagi dengan cepat, tapi tidak ditelan, melainkan disimpan di mulut untuk disemburkan sewaktu-waktu.

"Pendekar Mabuk, saatnya telah tiba untuk melepas nyawamu, Nak! Hiaaah...!"

Nenek itu tiba-tiba melompat dengan cepatnya dan hampir tak bisa dilihat mata Ratna Pamegat dari tempat persembunyiannya. Tapi rupanya Pendekar Mabuk pun tak kalah cepat. Zlappp...! Ia telah melesat bagai hilang dari tempat. Tahu-tahu sudah berada di belakang Ajeng Prawesti, dan kakinya menendang ke belakang dengan kuatnya. Buekkk... !

Punggung perempuan bungkuk itu menjadi sasaran telak. Ajeng Prawesti berjungkir balik ke depan, karena hampir saja ia tersungkur jatuh dengan kuatnya. Jlegg...! Kaki nenek tua itu sudah menapak kembali ke tanah dan berdiri menghadap Suto Sinting.

"Manusia keparat! Sebaiknya kau menjadi cacing, Suto!"

Ajeng Prawesti melontarkan kutuknya. Tapi petir tidak menggelegar. Suto masih tetap sebagai Suto, bukan menjadi seekor cacing. Bahkan kini Pendekar Mabuk menyerang dengan kibasan bumbungnya ke kepala Ajeng Prawesti. Bumbung itu dikibaskan ke kepala nenek tua, tapi sang nenek dengan gesitnya merundukkan kepala hingga lolos dari hantaman bumbung tuak. Dan pada saat itulah, Pendekar Mabuk cepat melompat ke atas kepala nenek tersebut. Wuttt... ! Brusss...! Tuak di mulut pun disemburkan. Clappp...! Tiba-tiba pedang berkarat itu pun lenyap karena jurus 'Sembur Siluman'-nya Suto Sinting.

"Monyet busuk! Ke mana pusakaku?!" caci nenek tua itu.

Pendekar Mabuk sempoyongan seperti orang mau jatuh, tapi tiba-tiba bumbungnya menyodok perut Ratu Teluh Bumi dengan kuat. Behggg...!

"Eehg...!" nenek itu menyeringai kesakitan. Tubuhnya melayang dan menabrak tubuh Ki Gendeng Sekarat yang sedang tertidur. Ki Gendeng Sekarat tiba- tiba membuka matanya. Dan agak terkejut melihat nenek itu sudah ada di atasnya, karena Ki Gendeng Sekarat pun jatuh terjengkang akibat benturan keras dari tubuh nenek yang terpental.

"Hei, apa-apaan kau! Sudah tua masih minta dikelonin saja!"

Ki Gendeng Sekarat buru-buru mengangkat tubuh Ajeng Prawesti dengan ringannya, lalu tubuh itu dibuang dalam satu hentakan kuat. Wesss...!

Behgg...! Tubuh itu jatuh di tanah bagian punggung lebih dulu. Nenek tua meraung kesakitan, namun masih nekat berusaha bangkit dan terhuyung-huyung. Kini yang ditatapnya adalah K! Gendeng Sekarat, ia menggeram dengan mata buasnya,

"Manusia gendeng! Kukutuk kau jadi bebek!"

Ratna Pamegat di tempat persembunyiannya menjadi cemas sekali, sebab ia tahu pada waktu kutuk itu dilontarkan, Ki Gendeng Sekarat tidak dalam keadaan tidur, melainkan dalam keadaan melek. Sudah tentu Ki Gendeng Sekarat akan berubah menjadi bebek.

Tapi ditunggu beberapa helaan napas, ternyata Ki Gendeng Sekarat masih tetap utuh sebagai Ki Gendeng Sekarat, tidak berubah menjadi bebek. Bahkan sekarang Ki Gendeng Sekarat tertawa terkekeh-kekeh,

"He he he he...! Kutukanmu ternyata sudah tidak mempan, Nenek Peot! Ilmu kutukmu telah hilang! Mungkin karena semburan tuak dari Pendekar Mabuk itu!"

"Ah, tidak! Ilmu 'Sabda Iblis' tidak hilang dariku! Kau kukutuk menjadi binatang yang paling menjijikkan!"
"He he he...! Bukankah binatang menjijikkan itu adalah dirimu sendiri, Nenek Ompong! He he he he...!"

Rupanya ilmu 'Sabda Iblis' yang dimiliki Ratu Teluh Bumi akibat memakan bunga Sukma Weling di Jurang Petaka itu telah lenyap oleh kekuatan jurus 'Sembur Siluman'-nya Suto Sinting. (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode: "Manusia Penyebar Kutuk"). Ratu Teluh Bumi menjadi tegang dan cemas.

Suto Sinting segera melepas kain penutup matanya begitu mendengar seruan Ki Gendeng Sekarat. Melihat Pendekar Mabuk melepas penutup mata, Ratu Teluh Bumi segera melepas kutukan kepada Pendekar Mabuk dan ternyata kutukan itu pun tidak berguna lagi.

"Keparat busuk! Kau telah melenyapkan ilmuku, Suto! Sekarang terimalah ajalmu ini, Nak! Heaaah...!"

Sebelum tangan nenek tua itu bergerak untuk melepaskan pukulan andalannya, Suto sudah lebih dulu berkelebat bagaikan angin, bahkan lebih cepat dari anak panah yang melesat. Wuttt...! Prakkk...!

Bumbung tuak itu menghantam kepala nenek tua. Kontan nenek tua itu terlempar ke belakang dan terguling-guling bagaikan bungkusan daun kering tertiup angin, ia jatuh terkapar di bawah patung para prajurit yang telah dikutuknya. Kepalanya pecah berlumuran darah.

Melihat Ajeng Prawesti tidak berdaya lagi, Ki Gendeng Sekarat mendekatinya, demikian pula Suto Sinting dan Ratna Pamegat yang lari dari tempat persembunyiannya untuk melihat kematian Ratu Teluh Bumi.

Napas sang nenek iblis tinggal sejengkal kurang, ia dalam keadaan luka parah sekali. Namun mata tuanya yang hampir redup itu sempat memandang orang-orang di sekelilingnya. Bahkan ia masih bisa berucap kata walaupun lirih sekali,

"Pendekar Mabuk, akhirnya kau yang menang dalam pertarungan ini.... Maafkan aku, Suto. Aku terpaksa menunggumu di akhirat untuk teruskan pertarungan ini dan menebus kekalahanku yang sekarang...."

Ki Gendeng Sekarat menggerutu, "Sudah mau mati masih mengancam dendam juga orang ini...?!"
"Biarkan dia bicara," kata Suto pelan.

Ratu Teluh Bumi berkata lagi, "Sampaikan salamku kepada Dayang Kesumat, dan katakan aku juga menunggu pertarungan dengannya di pintu neraka nanti. Sarankan agar dia lekas-lekas menyusulku...."

"Ajeng Prawesti, tidakkah kau ingin bertobat dalam keadaan seperti ini?' kata Suto Sinting yang sudah mengendurkan kemarahannya, bahkan berubah menjadi iba melihat nenek setua itu mau mati.

"Bertobat.,,?! Oh, aku lupa caranya bertobat! Jadi sebaiknya, persiapkan dirimu sebaik mungkin untuk pertarungan kita nanti, sementara itu... aku di sana juga mau cari guru yang lebih hebat lagi!"

Tiba-tiba terdengar suara serigala melolong, "Aaauuuu...!"

Semua mata memandang ke arah seekor serigala yang lari menuju alun-alun sambil ditunggangi bocah kecil yang tak lain adalah Ratu Kemukus. Serigala dan Ratu Kemukus hadir di situ dan ingin melihat kematian nenek iblis itu. Antara Ratu Kemukus dan Ratna Pamegat sama-sama terkejut dan saling menampakkan kesedihan melihat wujud masing-masing. Tapi kejap berikutnya, mereka kembali memandangi nenek kejam yang sedang sekarat itu.

"Ajeng," kata Suto. "Mengapa kau bisa setua ini? Apa yang telah terjadi pada dirimu, Ajeng?"
"Aku... aku kau ceburkan ke dalam jurang itu!"
"Ya, aku ingat!"

"Kau mengejarku bersama serigala itu. Aku...menyembunyikan diri. Keadaanku luka parah saat itu. Aku masuk ke dalam lobang seperti sumur, yang ternyata adalah gua. Dalamnya bukan main, seperti sumur tanpa dasar. Aku di sana sendirian, lama sekali, rasanya seperti ratusan tahun aku hidup di sana, tahu- tahu ketika kutemukan jalan keluar, aku sudah menjadi setua ini. Kupikir memang aku sudah waktunya tua karena terlalu lama di dalam lubang aneh itu. Ternyata... ternyata beberapa orang yang kukenal masih muda dan kau sendiri masih semuda ini, Cah Bagus...!"

Ki Gendeng Sekarat menyahut setelah berwajah tegang sebentar, "Berarti, kau masuk putaran arus waktu! Kau mendekati poros bumi. Di sana waktu berputar lebih cepat dari di sini!"

"Mungkin begitu, tapi... tapi... tapi aku tak kuat lagi. Kulanjutkan saja ceritaku di... di... neraka nanti...," setelah mengucapkan kata begitu, Ratu Teluh Bumi yang dikenal saat itu sebagai nenek aneh atau si nenek iblis, menghembuskan napasnya yang terakhir, ia mati dalam keadaan mata masin melek dan mulut masih ternganga.

Petir menggelegar di angkasa. Awan menjadi hitam, bergulung-gulung menutupi cahaya sore. Angin berhembus makin lama semakin kencang. Dedaunan berserakan diterbangkan angin, dan alam berubah menjadi sepi sejenak. Seakan roh Ratu Teluh Bumi sedang melintas meninggalkan jasadnya, menancapkan dendam di gerbang pintu neraka. Di sana ia menunggu lawan-lawannya untuk meneruskan pertarungan itu.

"Lalu bagaimana nasibku yang menjadi sekecil ini?" keluh Ratu Kemukus setelah mereka menjauhi mayat Ratu Teluh Bumi atau si nenek iblis itu.

"Ya, nasibku sendiri bagaimana? Haruskah selamanya aku menjadi manusia berbadan anjing?" tutur Ratna Pamegat dengan sedih.
Lalu Suto berkata, "Akan kucoba dengan tuakku, mudah-mudahan bisa memulihkan keadaan kalian!"

Suto meneguk tuak, sebagian ditelan, sebagian disimpan di mulut, lalu disemburkan ke tubuh Ratu Kemukus. Brusss...!

Blarrr...! Petir menggelegar dan tubuh Ratu Kemukus kembali menjadi besar dan dewasa seperti sedia kala. Ratu Kemukus tersentak kaget dan kegirangan. Hal serupa juga dilakukan kepada Ratna Pamegat, kembali ia menjadi manusia utuh seperti sedia kala. Bahkan patung- patung di alun-alun itu pun disembur dengan tuak satu persatu dan mereka berubah wujud menjadi manusia kembali.

"Terima kasih, Suto! Kau telah banyak menolongku, terutama menolong rakyatku yang terkena kutuk dan musibah besar ini!" kata Ratu Kemukus dengan tersenyum ceria. Suto pun membalas senyuman yang membuat hati Ratu Kemukus gelisah indah. Suto berkata,

"Maafkan kelancanganku tadi siang, Nyai Ratu."
"Kelancangan apa?" Ratu Kemukus kerutkan dahi.

Pendekar Mabuk tersenyum-senyum dan berkata, "Sekarang saya tidak akan berani memeriksa Nyai Ratu, apakah ngompol atau tidak!"

"Ah, Suto...! Jangan keras-keras nanti ada yang mendengarnya!" bisik Ratu Kemukus sambil tundukkan kepala.

"Aaauuu...!" serigala itu melolong, kemudian ia berlari cepat meninggalkan Suto. Suto merasa heran dan segera mengejarnya.

"Sri...! Sri, mau ke mana kau?! Hei, berhenti...!"

Serigala itu tetap berlari tak mau menghiraukan Suto Sinting lagi. Akhirnya Pendekar Mabuk menggunakan jurus gerak silumannya yang bisa melesat dengan cepat, dan tahu-tahu menghadang di depan serigala. Binatang itu berhenti, lalu mendekam rendah dan meletakkan kepalnya di tanah dalam keadaan matanya melelehkan air. Binatang itu menangis, Suto menjadi heran dan bertanya,

"Mengapa kau menangis? Apa kau cemburu aku bicara dengan Ratu Kemukus?"

Binatang itu hanya mengerang kecil mirip orang merintih. Suto Sinting sempatkan diri meneguk tuaknya. Tiba-tiba serigala bangkit dan menerjang dada Suto. Brukk...! Suto tersedak dan tuak segera tersembur dari mulutnya mengenai tubuh serigala.

Blarrr...! Serigala berbulu hitam itu berubah menjadi gadis cantik dan sangat menarik. Matanya bulat bening, rambutnya hitam lemas, sebatas pundak, hidungnya mancung, bibirnya indah. Gadis itu mengenakan pakaian merah bata dan berikat kepala hijau. Dialah Sumping Rengganis, yang pernah dikutuk Ratu Teluh Bumi karenanya ingin minta kitab yang dicuri oleh Ratu Teluh Bumi (Baca serial Pendekar Mabuk, dalam episode: "Manusia Penyebar Kutuk"). Dan tentu saja Pendekar Mabuk menjadi terkejut sekali.

"Kau...? Kau juga korban kutukan Ratu Teluh Bumi?"

"Ya. Akulah yang bernama Sumping Rengganis, yang menemanimu ke mana saja selama ini, Pendekar Mabuk!"

"Edan!" Suto bersungut-sungut karena menahan malu, dan Sumping Rengganis tersenyum-senyum. Dalam hatinya, Suto berkata,

"Kalau tahu begini aku tidak mau tidur selalu bersamanya, aku tidak mau sering mengusap-usap tubuhnya, aku tidak mau sering menciumi tengkuk kepalanya, dan... dan kalau tahu begini aku tak akan membiarkan ia memandangiku terus sewaktu aku mandi dalam keadaan polos! Aduh, malunya! Pantas setiap aku buang air kecil dia selalu menungguiku di depan...?! Idiiih. J"'

Suto meremas rambutnya sendiri, gemas membayangkan malunya.

Tapi semua itu segera dilupakan oleh Suto, karena Sumping Rengganis tak pernah mau mengatakan apa yang pernah terjadi selama menjadi sahabat Pendekar Mabuk itu. Dan ia pun tetap mendampingi Suto dalam melakukan penyembuhan terhadap orang-orang yang menjadi korban kutukan Ratu Teluh Bumi, termasuk Resi Jejak Naga, guru dari Ratna Pamegat.

SELESAI