--> -->

Serial Pendekar Mabuk 123 Pengawal Pilihan

Siang itu matahari tampak malas-malasan menerangi bumi. Cahayanya agak redup, karena dibayang-bayangi awan tebal. Sepertinya  sang  mata-  hari sengaja bersembunyi di balik gumpalan awan abur abu itu.

Bunga-bunga pun tampak malas mekar dengan bebas. Daun-daun tak mau menampakkan kesegarannya. Bahkan ada yang terang-terangan menjadi layu dengan mengubah warna kehijauannya menjadi kekuning-kuningan

Burung enggan berkicau. Beberapa ekor tampak bertengger di atas pepohonan kering, tapi tak ada yang mau bercici-cuit.

Alam diselimuti duka. Angin gunung menyebarkan burita duka cita.

Katanya, Pendekar Mabuk telah meninggal dunia.

"Betul. Aku mendengar sendiri keterangan itu dari tokoh tua yang  mirip Semar itu. Dia bilang, Pendekar Mabuk telah meninggalkan  dunia dengan selamat."

"Hussy... meninggal dunia kok dengan selamat?!"

Maksudnya... tewas! Pendekar Mabuk sekarang telah tewas dengan sukses. Artinya, tidak ada halangan apa-apa. Eeh... maksudnya... aduh, bagaimana cara menyampaikannya, ya?! Aku sedih sekali, jadi bicaraku morat-marit begini "

Orang-orang kedai termenung. Pada dasarnya mereka  mendapat  kabar bahwa Suto Sinting tewas karena pertarungannya dengan Perwira Tombala. Orang yang mengabarkan kematian Pendekar Mabuk itu adalah tokoh gemuk berperawakan seperti Semar, dengan rambut  potih  yang  hanya tumbuh di ubun ubumiya saja. Tokoh yang berasal dari Gunung Gandul iiu lain adalah si Dewa Kubur alias Ki Murcapana

Pada saat itu, Pendekar Mabuk bertarung malawan  Perwira Tombala.  la terluka berbahaya. Dewa Kubur muncul dan segera menahan tindakan Perwira Tombala yang ingin menuntaskan pertarungannya dengan mau membunuh Suto Sinting. Dewa Kubur memang berhasil menahan serangan pamungkas dari Perwira Tombala ke arah Suto Sinting. Tapi murid si Gila Tuak Itu justru terperosok masuk ke sumur tua yang sukar diukur kedalamannya, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode 'Kencan  di  Lorong Maut').

Merasa gagal menyelamatkan Pendekar Mabuk,  Dewa  Kubur  semakin marah kepada Perwira Tombala Masalahnya ia tahu bahwa Pendekar Mabuk itu adalah murid dari si Gila Tuak, dan si  Gila  Tuak  adalah sahabat karibnya semasa muda. Maka  dihabisinya  Perwira  Tombala, orang Mangol itu.

Perwira Tombala tewas di tangan Dewa Kubur, jenazahnya menempel pada sebatang pohon dalam keadaan tanpa darah, akibat sebuah pukulan  maut Dewa

Kubur.

Tindakan itu diketahui oleh atasan Perwira Tombala, yaitu seorang perempuan cantik yang dulunya menjadi pimpinan  dalam  kapal  layar bertiang figa. Perempuan itu adalah Laksamana Maharani yang dikenal  dengan nama Laksamana Tanduk Naga.

Melihat satu-satunya sisa bawahannya dibuat kering oleh Dewa Kubur, Maharani mengamuk dan menyerang Dewa Kubur. Tetapi  pada  waktu  itu, ada se- orang pemuda yang sedang dalam perjaianan menuju  Bukit  Esa  untuk jumpai kakaknya. Perjaianan tersebut melalui Lembah Seram. Pemuda itu adalah Dimas Genggong, murid dari si Dewa Kubur.Melihat gurunya diserang oleh Laksamana Tanduk Naga, Dimas Genggong unjuk kesaktian, mengambil alih pertarungan tersebut. Tapi ia hampir saja tewas di tungan Maharani. Dewa Kubur menyingkirkan muridnya dan melarijutkan pertarungannya dengan Maharani. Pertarungan itu memakan waktu tidak hanya satu hari, tapi sampai dua hari lamanya, karena Maharani sebentar- sebentar melarikan diri. Sebentar kemudian muncul dan menyerang iagi.

Adu kesaktian itu menimbulkan ledakan-ledakan dahsyat yang

menggelegar bagai memenuhi bumi. Gelegar  ledakan  tersebut  menggetarkan alam sekeliling- i iya, membuat langit-langit lorong di bawah tebing men-

jadi runtuh, nyaris mengubur hidup-hidup Pendekar Mabuk yang kala itu diselamatkan oleh Gitra Bisu, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode: "Kencan di Lorong Maut").

Akhimya, Maharani benar-benar melarikan diri karena terluka parah dalam pertarungan tersebut. Dewa Kubur sembuhkan muridnya, lalu  ceritakan tentang Suto Sinting yang masuk ke sumur tak terukur kedalamannya. Dewa Kubur menyangka Suto Sinting telah tewas, sehingga Dimas Genggong menyebarkan kabar itu dalam perjalanannya ke Bukit Esa. Dewa Kubur sendiri bermaksud pergi menemui Gila Tuak dan Bidn dari  Jalang untuk sampaikan kabar tentang kematlnu Pendekar Mabuk.

Terdengar ratapan tangis di mana-mana. Orang-orang yang mengagumi Pendekar Mabuk, yang men jadi pengikut Pendekar Mabuk dan yang menaruh sim pati kepada pemuda tampan berilmu tinggi itu, maslng masing menitikkan air mata mendengar kabar kematian tersebut.

Pada umumnya, mereka yang menitikkan air mata dukanya adalah para gadis yang menaruh hati kepada Pendekar Mabuk. Sekali  pun  hasrat  mereka dalam mencintai Suto Sinting tidak terbalas secara mutlak,  tapi  rasa persahabatan mereka tetap ada. Rasa persahabatan itulah yang membuat mereka merasa kehilangan seorang teman yang selama ini melekat di hati merokn

Ada yang menangis dengan suara keras, ada ang menangis dengan terisak-isak saja, ada pula yang menangis secara kebatinan.  Salah  satu  gadis yang mena- ngis secara kebatinan adalah murid mendiang Nyai Gagar Mayang. Gadis yang tinggai di Lereng Buana itu mendengar kabar kematian Suto Sinting dari mulut pemuda mantan pelayan  Adipati  Jayengrana.  Pemuda yang kesohor sebagai raja tipu itu tak lain adalah si Mahesa Gibas.

Aku bertemu sendiri dengan muridnya si Dewa Kubur yang bernama Dimas Genggong itu! Aku mendengar sendiri ia bicara dengan orang-orang kedai tentang kematian Suto Sinting. Bocah itu menyampaikan kabar tersebut dengan kedua mata berkaca-kaca seperti mau menangis.  Dia  sangat sedih dan menyesai. Bahkan kndengar dia menggerutu sendiri, menyalahkan gurunya yang kurang tangkas dalam menyelamatkan Pendekar Mabuk. Dia tahu bahwa Pendekar Mabuk itu murid sahabat gurunya yang pernah didengar kisah-kisah kependekarannya. Dia sebenarnya punya rasa kagum kepada kehebatan ilmu Suto Sinting, dan sangat kecewa menghadapi kematian Suto Sinting!'' Mahesa Gibas bertutur dengan wajah duka. Bibir- nya melebar ingin menangis. Matanya berkedip-kedip tapi tak sampai mengucurkan air mata. Tapi gadis yang mendapat laporan tersebut diam tertunduk dengan wajah sangat sedih. Matanya merah  membendung  air mata yang ingin meledak keluar. Gadis yang biasanya tegar dan  konyol  itu tak lain adalah si Perawan Sinting.

“Di mana si murid Dewa Kubur itu sekarang berada?" "Dia menuju ke Bukit Esa!"

"Lalu, di mana Dewa Kubur berada?!"

"Katanya, sedang menuju ke Jurang Lindu untuk menghubungi si Gila Tuak dan Bidadari Jalang."

"Aku harus menemuinya ke Jurang Lindu! Aku harus mendapat penjelasan lebih lengkap lagi tentang kematian Suto Sinting! Jika benar kematian itu disebabkan oleh pertarungannya dengan Perwira Tombala, akan kurajang sekujur tubuh Perwira Tombala dan si  Laksamana  Tanduk Naga itu!'' geram Perawan Sinting.

la tahu persis bahwa kedua orang Mangol itu memang mencari Suto Sinting untuk dijadikan tumbal pembangunan kuil di negeri Mangol sana. Perawan Sinting pernah terlibat dalam peristiwa itu, dengan cara menyusup dan menyamar sebagai calon peserta sayembara memburu pemuda tanpa pusar itu, (Baca se rial Pendekar Mabuk dalam episode: "Pemburu Tumbal"). Karenanya, ia percaya jika Suto Sinting telah ber tarung melawan Perwira Tombala dan Laksamana Tanduk Naga, seperti yang dituturkan dalam kabar tersebut.

"Perwira Tombala memang jahanam busuk ynmj harus dikubur di jamban!" geram Perawan Sinting.

"Tombala sudah tewas!"

"Oh...?! Siapa yang membunuhnya?!"

"Hmmm, jadi begini...," Mahesa Gibas mulai mau unjuk tipuannya. "Waktu itu, aku sedang lewat di sekitar Lembah  Seram.  Kulihat pertarungan Dewa Kubur dengan seseorang. Aku tak tahu kalau dia adalah Perwira Tombala. Maka kulepaskan pukulan mautku ke punggung Perwira Tombala. Orang itu terpental dan dihantam lagi oleh Dewa Kubur hingga tewas! Jadi... terus terang saja, kematian Perwira Tombaia akibat kerjasamaku dengan Dewa Kubur!"

"Hmmm...!" Perawan Sinting mendengus tanda tak percaya. "Jadi kau pernah bertemu dengan Dewa Kubur?!"

"O, iya! Dia orang yang sakti. Walaupun tubuhnya kurus, ceking, kerempeng, tua renta, tapi ilmunya lumayan tinggi!"

Perawan Sinting mencibir, sama sekali tak percaya. Sebab ia pernah mendengar cerita dari mendiang guru- nya, bahwa Dewa Kubur itu bertubuh gemuk seperti tokoh dalam pewayangan yang bernama Semar. Apa yang dikatakan Mahesa Gibas sangat berbeda dengan pcnjelasan mendiang gurunya, sehingga Perawan Sinting semakin yakin bahwa Mahesa Gibas  sedang membual di depannya.

Bagi gadis cantik berwajah berani itu, kabar kematian Suto Sinting merupakan pukulan jiwa yang terberat selama ini. la sangat sayang kepada Suto Sinting. In suka kepada pemuda itu. Rasa cintanya tumbuh di hati dengan suka rela. Walaupun ia tahu, Suto Sinting cenderung menaruh hati kepada calon istrinya yang menjadi ratu di negeri Puri Gerbang Surgawi,  yaitu yang bernama Dyah Sariningrum, tetapi Perawan Sinting tetap menyimpan rasa cinta yang cukup dalam kepada pemuda konyol itu. Rasa cinta tersebut rela dipendam dalam hati, sambil menunggu perkembangan lebih lanjut. Jika sampai Dyah Sariningrum tewas, atau rencana perkawinan itu gagal, maka Perawan Sinting sudah siap meloncat masuk menggantikan kedudukan Dyah Sariningrum di hati Pendekar Mabuk. Sebab itulah, kabar kematian Suto merupakan bencana memilukan bagi hatinya.

Kepergian Perawan Sinting menuju ke Jurang Lindu hanya semata- mata ingin temui Dewa Kubur dan mengharap penjelasan lebih lengkap lagi tentang ke matian Suto Sinting. Ia pergi bersama Mahesa Gibas, walau tak pernah dipedulikan celoteh pemuda itu yang selalu menghamburkan bualan- bualan untuk dapatkan sanjungan. Tapi tak satu  pun  sanjungan  meluncur dari mulut Dariingga Prasti, alias si Perawan Sinting.

Dalam perjaianan menuju Jurang Lindu itu, Perawan Sinting bertemu dengan seorang tokoh tua yang amat dikenal olehnya. Tokoh tua bertubuh kurus do- ngari rambut putih dikonde dan berjubah model  biksii  warna  hijau tua itu tak lain adalah si Raja Mantra dari Muara Angker.

Pertemuan itu kurang manis menurut Perawan Sinting, sebab  ia  melihat Raja Mantra sedang beradu ilmu  kesaktiannya  dengan  seorang tokoh yang sekujur tubuhnya terbungkus lumpur. Mereka  bertarung  tak  jauh dari sebuah rawa yang ada dalam sebuah hutan liar.

Manusia yang sekujur tubuhnya penuh lumpur basah  itu  tak  lain adalah Demit Rawa Lumpur, yang juga sering dinamakan Iblis Rawa Lumpur. Permusuhan antara Raja Mantra dengan Demit Rawa Lumpur sudah berlangsung lama, tapi salah satu dari mereka tak ada yang berhasil membunuh lawan. Bahkan ketika Demit Rawa Lumpur bertarung melawan Pendekar Mabuk untuk membela Tengkorak Liar, ia terpaksa kabur karena Pendekar Mabuk dibela oleh Raja Mantra, (Baca serial Pendekar Mabuk  dalam episode: "Dendam Penjilat Ayu".)

"Sampai kapan pun kau tak akan bisa menghancurkan aliran silatku,

Lagowo!" seru Raja Mantra dengan sikap kalem.

Mahesa Gibas berbisik dari balik persembunyian- nya, "Perawan Sinting, bukankah Raja Mantra adalah tokoh aliran putih?! Dia bersahabat dengan Pendekar Mabuk."

"Ya, aku tahu!"

"Mengapa tidak kau bantu mengalahkan orang berlumpur itu?!"

Kurasa ini urusan orang tua, termasuk juga urusan antar perguruan. Aku tak berani campurtangan kecuali Eyang Raja Mantra terdesak dalam bahaya!" "Jadi, kita tonton saja pertarungan mereka?" "Sementara ini memang hanya begini yang bisa kita lakukan!" tegas Perawan Sinting dengan nada datar.

"Aku sudah bosan mendengar kejayaanmu, Wirambada! Hari ini juga, kuakhiri kejayaanmu dengan jurus baruku! Bersiaplah untuk mati!"  ujar Demit Rawa Lumpur dengan suara menyeramkan.

"Ngomong-ngomong soal mati, sudah lama aku siap mati. Tapi bukan oleh tanganmu, Lagowo!" jawab Raja Mantra. Masing-masing menyebut nama aslinya.

"Nyawamu ditakdirkan mencelat dari tanganku, Keparat tua!" Weesss...! Demit Rawa Lumpur melesat cepat menerjang Raja

Mantra, Kedua tangannya berkelebat seperti memercikkan air. Tapi yang terpercik adalah lumpur-lumpur di tangannya itu. Craaat...!

Raja Mantra tahu-tahu melambung tinggi. Suuut...! Begitu tingginya sampai kepala Raja Mantra membentur dahan pohon. Duuuk...!

"Aduuh...!"

Tapi ia selamat dari kepretan lumpur. Sebab lumpur-lumpur yang memercik dari kedua tangan Lagowo itu ternyata membakar pohon dan tanaman semak yang dikenainya. Buuulll...! Api berkobar di tempat-tempat yang terkena kepretan lumpur. Raja Mantra  segera sentakkan  tongkatnya  ke salah satu batang pohon terdekat. Duuhk...! Tubuhnya yang sedang meluncur turun itu melesat ke arah lain bagaikan anah pannh,

Weess...! Jleeg...! Kini ia berdiri di belakang Demit Rawa  Lumpur  dalam jarak sekitar sepuluh langkah.

"Heeh, heee, heee, heee, heee!"  Raja  Mantra  terkekeh-kekeh melihat Demit Rawa Lumpur kebingungan mencari lawannya. Karena mendengar suara tawa Raja Mantra, maka manusia terbungkus Iumpur itu segera berbalik ke belakang menghadap ke arah lawannya.

"Jurus seperti itu kok dikatakan jurus baru?! Uuuh... kuno!" ejek Raja Mantra dengan tengil.

"Edan! Jurus seperti itu dikatakan kuno?!" gumam Mahesa Gibas. "Lumpurnya bisa membakar pohon, tanah yang dipijaknya bisa  menjadi hangus, itu sudah merupakan gabungan ilmu yang cukup tinggi. Bukankah begitu, Perawan Sinting?!"

Gadis yang ada di sebelahnya diam saja. Pandangan matanya tertuju lurus ke arah pertarungan. Pedang di punggungnya siap dicabut kapan saja jika ia terpaksa harus selamatkan si Raja Mantra.

Demit Rawa Lumpur pun berseru, "Itu memang bukan jurus baruku.

Tapi inilah jurus pamungkas untukmu, Wirambada! Heeaah...!" Kaki kanan Demit Rawa Lumpur menghentak ke tanah satu  kali. Duuhk...! Glegaaar...! Timbul suara ledakan menggelegar,  mengguncangkan alam sekitar- nya. Sentakan kaki ketanah itu membuat mata Mahesa Gibas mendelik, karena ia melihat nyala api dari sentakan kaki ke  tanah  itu  melesat cepat ke arah Raja Mantra. Tahu-tahu rumput dan tanah tempat  Raja Mantra berdiri itu terbakar seketika.

Bluuub...! Wuuuurrss...!

Raja Mantra terkurung api, bahkan tubuhnya terbungkus kobaran api yang membentuk lingkaran bergaris tengah satu tombak.

"Gawat! Eyang Raja Mantra tak sempat loloskan  diri.  Sekarang  ia sulit meloloskan diri karena terjebak api!" gumam Perawan Sinting dengan tegang.

Gadis itu ingin mencabut pedang pusakanya yang bernama  Pedang  Galih Petir. Tetapi niatnya menjadi ragu-ragu, sebab Raja Mantra yang  tinggal tampak kepalanya saja dari bungkusan api itu tidak melakukan usaha untuk meloloskan diri. Raja Mantra justru mengangkat tongkatnya dipegang dengan dua tangan dan menyilang di atas kepala.

"Orang tua itu gendeng!" ujar Mahesa Gibas dalam bisikan.  "Sudah tahu tubuhnya terbakar bukannya lari malah mainan tongkat?!"

Kejap berikutterdengar suara Raja Mantra serukan kalimat-kalimat mantera saktinya dengan ucapan cepat.

"Acang kUrUk, acang kirlk, acang icik icik, gUbras...!

Adem panas, sari rapet, sari Udan, bres, gUbras, gabres.

SimUlU kUtUk kUblUng...!"

Mahesa Gibas berbisik kepada Perawan Sinting,

"Ngomong apa itu?! Apakah dia menguasai bahasa manusia purba?!" "Itu mantera saktinya! Kita lihat saja apa yang terjadi setelah,..."

Belum selesai Perawan Sinting kasih penjelasan, tiba-tiba hujan turun dengan deras di daerah itu. Breessss...! Hujan yang  ajaib  itu  membuat Demit Rawa Lumpur terperanjat kaget. Tapi karena wajahnya berlumur lumpur, maka yang terlihat hanya kedua bola matanya terbelalak lebar.

"Keparat! Dia gunakan ilmu hujan dan salju?!" geram Demit Rawa Lumpur.

Mahesa Gibas juga memaki dalam nada gerutu dan hergegas mau ke tempat teduh. Tapi tangannya dicekal Perawan Sinting hingga ia tak bisa ke mana-mana. "Tetaplah di tempat!" tegas Perawan Sinting dalam nada membisik. "Apakah kau tak sadar, hujan turun dengan seenak udelnya saja!

sepertinya ada dewa di langit sedang buang air dari ember!" "Pasti tak akan lama! Kita "

Sekali lagi ucapan si Perawan Sinting belum usai, hujan telah berhenti total. Kobaran api padam sama sekali. Tinggal tanah yang hangus bersama rumputnya dan masih kepulkan asap. Tapi tubuh Raja  Mantra  dan  pakaiannya tak terbakar sedikit pun.

Lenyapnya hujan disertai hembusan angin dinginyang makin lama semakin mencekam. Raja Mantra memutar-mutar tongkatnya dl atas kepala sambil melangkah ke samping untuk hadapi Demit Rawa Lumpur lagi.

Tapi angin yang berhembus makin menggigilkan siapa  saja,  kecuali Raja Mantra sendiri. Angin itu mengandung busa-busa salju yang menempel pada deda unan dan alam sekitarnya. Daun-daun segera  menjadi  putih,  tanah segera menjadi berbusa-busa.

"Heeeaaaahhhh !"

Demit Rawa Lumpur kerahkan tenaga apinya. Tubuh yang  penuh  lumpur itu menjadi merah membara, bagaikan dibungkus  lahar  gunung berapi. Tubuhnya melesat menerjang Raja Mantra. Wuuuss...! Suara yang terdengar adalah suara berdesis seperti bara api terkena air.

Wwooorrssss !

Raja Mantra lepaskan tongkatnya yang berujung bentuk tangan menggenggam. Tongkat itu menghantam tubuh Demit Rawa Lumpur yang sedang melayang di udara. Wuut, jedaaarr !

Tongkat itu terpental ke arah Raja Mantra bagaikan bola memantul balik setelah membentur dinding. Raja Mantra  menangkap  tongkat  tersebut, tapi meleset. Akibatnya, ujung tongkat bagian bawah kenai keningnya dengan telak. Tuuung !

"Aooh...!" Raja Mantra sendiri terlempar ke belakang  dan  jatuh dengan posisi terkapar. Brruuk.. Pakaiannya basah dan kotor akibat tanah becek terkena hujan tadi. Busa-busa salju menempel pada tubuhnya. Tapi ternyata hal itu tidak berbahaya bagi si Raja Mantra. la cepat bangkit dan pandangi lawannya.

Ternyata sang lawan terlempar cukup jauh pada saat terjadi ledakan keras tadi. Lumpur yang mengeras dan menjadi merah bara tadi padam dan terkelupas dengan sendirinya. Demit Rawa Lumpur bagaikan ditelanjangi. Lumpur-lumpur yang membungkus tubuhnya terkelupas  mirip  gips  yang copot dari tubuh penderita patah tulang. Demit Rawa Lumpur menyeringai kesakitan. Tubuhnya bersih dari Iumpur. Tampak ia hanya mengenakan cawat tanpa selembar benang pun.

"lih ..!" Perawan Sinting melengos, tak mau  memandang  orang  setengah bugil itu. Mahesa Gibas tertawa sambil tubuhnya menggigil karena hembusan hawa salju masih berlangsung terus.

Aaaah...! Aaaahh...!" Demit Rawa Lumpur bagaikan orang yang  dikuliti. la tampak menderita sekaii. Tanpa banyak berpikir panjang lagi, ia  segera  lari ting- tempat menuju ke rawa di sebelah kanannya. Jebruuub...! Demit Rawa Lumpur segera terjun ke rawa berlumpur. Kemudian ia menenggelamkandiri dan suara tcriakannya lenyap seketika.

"Rupanya orang itu tak bisa hidup jika tanpa terbungkus lumpur?!" gumam Mahesa Gibas. Tapi kata- katanya itu tak mendapat sambutan dari Perawan Sin- ting. Gadis itu juga melesat keluar dari persembunyian. Weess...!

Dalam waktu setengah kejap, ia sudah berada di tepian rawa. Tempat tenggelamnya Demit Rawa Lumpur itu diperhatikan baik-baik. Yang tersisa hanya ge lembung-gelembung lumpur menyerupai bubur men- didih.

Blekutuk, blekutuk, blekutuk...!

Raja Mantra hentakkan tongkatnya ke tanah. Dees...! Angin salju berhenti seketika. Tapi busa-busa salju masih melekat pada daun, batang, batu, tanah dan semua benda di sekitar tempat tersebut.

"Darlingga...?!" sapa Raja Mantra  begitu mengenali gadis yang berdiri di tepi rawa. Gadis itu segera temui Raja Mantra dan sedikit membungkuk memberikan hormat kepada si tokoh tua itu.

"Maaf, aku tadi melihat pertarungan Eyang dengan manusia  lumpur  itu. Tapi aku tidak berani ikut campur, karena  agaknya  persoalan  yang Eyang hadapi sangat pribadi."

"0, tak apa. Itu tadi hanya pemanasan saja. Sekedar menghilangkan pegal-pegal pada tubuh. Maklum, aku sudah tua. Jarang berolah raga," ujar Raja Mantra de ngan sengaja berlagak tengil, karena  ia  termasuk  tokoh yang gemar bercanda.

Perawan Sinting tersenyum sangat tipis, nyaris tak terlihat. Sementara itu, Mahesa Gibas menghamburknn pujian yang  tak ditanggapi oleh Raja Mantra. Gurunya Rinayi dan Utari itu segera berkata kepada PerawanSinting, setelah ia memperhatikan wajah cantik itu dan menemukan kejanggalan di sana.

"Ada duka di wajahmu, Darlingga. Boleh kutahu apa sebabnya?" "Eyang, apakah Eyang belum dengar bahwa Pendekar Mabuk, Suto Sinting, sekarang sudah... sudah "

"Sudah tidak sinting lagi, maksudmu?"

Perawan Sinting gelengkan kepala dengan sedikit menunduk. Bibirnya digigit sendiri, tidak menyuruh orang  untuk menggigitnya.  Itu menandakan  ia menahan tangis dan duka dalam hatinya.

"Lanjutkan bicaramu, Darlingga!"

"Suto Sinting... sekarang sudah tewas, Eyang "

"Jabang bayi...?!!" Raja Mantra tersentak kaget. "Pendekar Mabuk sudah tiada...?! Ooh, mengerikan sekalil Padahal sebulan yang lalu aku habis bertemu dengannya, tahu-tahu sekarang kudengar kabar kematiannya?!"

Mahesa Gibas menyahut, "Lebih mengerikan lagi  jika  kematiannya sebulan yang lalu, tahu-tahu sekarang Eyang bertemu dengannya."

"Semakin mengerikan jika kau ikut tewas juga, nak" ujar Raja Mantra dengan kesal kepada Mahesa Gibas. Pemuda itu hanya bersungut-sungut jengkel.

"Aku mau ke Jurang Lindu untuk temui Dewa Kubur, Eyang. Sebab, saksi mata yang melihat kematian Suto adalah Eyang Dewa Kubur. Dan sekarang Eyang

Dewa Kubur sedang berada di Jurang Lindu!"

"Kalau begitu, aku ikut ke sana! Aku ingin temui si Gila Tuak. Jika dia tak mau bikin perhitungan terbadap orang yang menewaskan Suto Sinting,  aku sendiri yang akan membalas kematian Suto Sinting itu!" ujar  Raja  Mantra yang menganggap Suto sudah seperti cucunya sendiri.



2 Jurang Lindu berada tak jauh dari Lembah Badai. Daerah yang  bernama Lembah Badai itu dikuasai oleh saudara seperguruan si Gila Tuak yang cantik rupawan. Perempuan yang awet muda itu dikenal dengan nama Bidadari Jalang.

Dulu, perempuan ini masuk dalam aliran hitam. Sering terlibat bentrokan keras dengan si Gila Tuak. Ilmunya sama-sama hebat. Tapi sejak mereka mengangkat murid dari bocah tanpa pusar, Bidadari Jalang masuk dalam aliran putih. Sekarang ia menjadi perempuan berilmu tinggi yang lebih gemar tinggal di Lembah Badai.

Hubungannya dengan si Gila Tuak sudah seperti kakak beradik.  Bidadari Jalang menaruh rasa hormat kopada si Gila Tuak karena ilmunya di bawah si Gila Tuak, juga faktor usianya sedikit lebih muda dari si Gila Tuak. Mereka berdua itulah yang bertanggung jawab atas sepak terjang pemuda tampan yang suka konyol, yaitu Pendekar Mabuk.

Oleh sebab itu, kedatangan Dewa Kubur yang mengabarkan kematian Pendekar Mabuk membuat dua wajah satu  kakek guru itu menjadi  tegang  dan diliputi rona duka yang samar-samar.

Si Gila Tuak tak mau percaya bahwa muridnya itu telah tewas masuk  ke dalam sumur tua tak terukur kedalamannya. Bidadari Jalang  menjadi sangsi dengan sikapnya sendiri, sehingga dukanya menjadi duka yang ragu- ragu. Mengingat yang bicara adalah Dewa  Kubur,  mereka  beranggapan bahwa Dewa Kubur tak mungkin berdusta kepada mereka. Tapi Gila Tuak punya alasan sendiri untuk tidak mempercayai kata-kata Dewa Kubur.

"Dewa Kubur, jika benar muridku tewas di sekitar Lembah Seram, pasti aku akan mendapat firasat ganjil sebelumnya. Setidaknya hatiku menjadi resah dan gundah memikirkan Suto Sinting. Tetapi sejak kemarin- kemarin, aku tak mengalami keresahan apa pun. Tidurku nyenyak, makanku enak!"

"Tapi aku melihatnya sendiri Kakang Sabawana," ujar Dewa Kubur menyebut nama asli si Gila Tuak. "Aku melihat sendiri saat ia terperosok masuk ke dalam su... sumur!"

"Mengapa tak kau selamatkan murid kami itu?!" ujar Bidadari Jalang. "Waktu itu aku sedang menerjang lawannya, si Perwira Tom...

Tombala! Jadi aku tidak sempat me nyambar mu "

"Mulutmu!"

"Muridmu...!" ralat Dewa Kubur yang selalu bicara  menggantung  kalimat akhir. Nada bicaranya memang seperti seorang guru bicara pada muridnya, tak peduli siapa orang yang diajaknya bicara kala itu. Ki Sabawana dan Bidadari Jalang sudah tak aneh lagi dengan ciri bicara Dewa Kubur, sehingga mereka tak merasa sedang digurui.

"Aku tak punya kesempatan untuk melongok sumur itu,  Kakang!  Perwira Tombaia melancarkan serang- annya dengan gencar, sehingga aku terpaksa mela- yani...? Melayaninya!"

"Berapa lama kau melawannya?" tanya Gila Tuak dengan nada  datar  dan berwibawa.

"Cukup lama! Karena semula aku tidak ingin membunuhnya. Hanya ingin mengu...?"

"Mengusungnya."

"Mengusirnya!" tegas Dewa Kubur. "Tapi karena dia cukup alot, maka terpaksa dia kubu...?"

"Kubuntingi."

"Kubunuh! Terpaksa dia kubunuh!" tandas Dewa Kubur. "Belum sampai aku melongok ke sumur, si laksamana Tanduk Naga muncul menyerangku. Akibatnya pertarungan kami pun menjadi pan...?"

"Panjul."

Panjang...!" Dewa Kubur membetulkan maksudnya

Rupanya kedatangan Dewa Kubur ke Jurang Lindu disusul oleh beberapa tokoh lain yang mendengar kabar kematian Pendekar Mabuk dari mulut Dimas Genggong, murid si Dewa Kubur. Beberapa orang yang hadir di

.Jurang Lindu itu antara lain: Sumbaruni, mantan istri Jin Kazmat yang kasmaran pada Suto Sinting. Selain Sumbaruni yang datang dengan wajah sedih, tampak juga si Resi Parangkara, gurunya Puting Selaksa dan Manggar Jingga, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode: "Wanrta Keramat"). Hadir Juga di situ Sawung Kuntet dan  Eyang Cakraduya dari Bukit Sutera,  Ki Dhar mapala alias si Burung Bengal dari Bukit Semayam. Arya Suaka dan gurunya yang berjuluk Geledek Biru, Batuk Maragam dari Karang  Amuk, Awan Setangkai dari Selat Bantai dan beberapa orang lainnya.

Mereka adalah orang-orang yang seeara kebetulan mendengar kabar lebih cepat mendengar kabar kematian Pendekar Mabuk ketimbang yang lainnya. Mereka datang selain ingin mendengar kepastian dari si Gila Tuak, juga ingin menyampaikan rasa ikut berduka cita jika benar Pendekar Mabuk telah tewas tak ditemukan jenazahnya.

Oleh sebab itu, kehadiran Perawan Sinting  bersama  Raja  Mantra yang diikuti oleh Mahesa Gibas, bukan hal yang aneh bagi si Gila Tuak dan Bidadari Jalang. Perawan Sinting langsung berlutut dan tundukkan kepala di depan si Gila Tuak. Bidadari Jalang berdiri dl sampingnya sambil mengingat-ingat wajah Perawan Sinting.

"Siapa gadis ini?" bisik Gila Tuak kepada Bidadari Jalang.

Dengan suara agak keras, Bidadari Jalang berkata, "Kalau tak salah, gadis ini adalah Darlingga Prasti, murid mendiang Gagar Mayang."

"Ooo.../' Gila Tuak yang mengenakan pakaian serba hijau dan jubah kirning itu manggut-manggut sambil menggurnam iirih.

"Benarkah kau murid mendiang sahabatku; si Gagar Mayang dari  Lereng Buana itu, Nak?"

"Benar, Eyang! Aku yang bernama Darlingga Prasti alias Perawan Sinting, murid mendiang guru Nyai Gagar Mayang," jawab Perawan Sinting dengan sopan sekali.

Raja Mantra menyahut, "Aku mendengar kematian muridmu dari gadis

:ni, Kakang Gila Tuak! Aku turut bersedih dan kusampaikan rasa belasungkawaku sedalam-dalamnya."

"Jangan dalam-dalam dulu, Wirambada!" potong si Gila Tuak dengan kalem. "Aku sendiri tak yakin bahwa muridku bias mati  semudah  itu.  Artinya, tidak mengirimkan firasat apa-apa lebih duiu padaku. Aku  tak  yakin”.

"Kudengar,..," ujar Raja Mantra lagi. "Dewa Kubur adalah.saksi hidup yang melihat kematian Pendekar Mabuk?!"

Dewa Kubur menyahut, "Memang benar, aku yang melihat anak muda  itu jatuh ke dalam sumur tua itu! Jelas sekali aku  melihatnya  masuk  ke dalam su...?" "Suling," lanjut Raja Mantra.

"Sumur!" raiat Dewa Kubur. "Kulihat jelas sekali dia masuk dalam sumur, tapi... apa daya aku tak sempat menyam...?"

"Menyambitnya?" "Menyambarnya!"

Batuk Maragam, tokoh tua yang punya kebiasaan  batuk  beraneka  nada itu segera menyahut.

"Masuk ke dalam sumur bukan berarti masuk ke alam kematian, Dewa Kubur! Siapa tahu Suto Sinting tersangkut akar pohon yang tersumbul dari dinding sumur itu?! Kurasa, kematian Suto Sinting perlu dicari buktinya. Harus ada yang bisa temukan jenazah Suto Sinting  walaupun  hanya kepalanya saja. Uuhuk, uhuuk, uhuuk, iihik, ihhik, hook, hoook,  hooekk...  cuih!" Batuk Maragam berhenti bicara. Ucapannya yang bernada seenaknya itu membuat Perawan Sinting tegakkan wajah. Tapi lebih dulu si  Geledek  Biru ajukan tanya kepada Dewa Kubur.

"Di mana letak sumur itu, Dewa Kubur?"

"Di Lembah Seram. Tapi sekarang tempat itu sudah  hancur.  Tebingnya rubuh dan alam sekitarnya rusak akibat pertarunganku dengan Laksamana Tanduk Naga. Dan kulihat sumur itu sudah tertimbun ta...?"

"Tape...?!" sahut Raja Mantra. "Tanah!"

"Oo, sudah tertimbun tanah?" Raja Mantra menggumam dan manggut- manggut.

"Jika begitu, Eyang...," sahut Perawan Sinting,"... aku mohon pamit sekarang juga!"

"Mau ke mana kau?!"

"Mencari mayat Suto Sinting sampai berhasil kutemukan bukti kematiannya!"

Sumbaruni yang menyimpan rasa cemburu kepada Perawan Sinting segera berseru,

"Jangan bodoh kau, Gadis ingusan! Mayatnya pasti sudah tertimbun reruntuhan tebing, seperti yang diceritakan si Dewa Kubur tadi!"

"Aku punya dua tangan. Bisa untuk menyingkirkan tebing itu!" ketus Perawan Sinting, lalu melesat pergi tanpa bisa dicegah lags. Biaasss...!

"Konyol...!" geram Sumbaruni sambi! mendengus kesal.

Memang konyoL Bukan hanya Perawan Sinting saja yang konyol. Ternyata yang namanya Suto Sinting |uga konyol. Bahkkan lebih konyol dari kabar yang di- sampaikan Dewa Kubur stu.

Orang-orang sibuk membicarakan kematiannya, Tapi Suto  Sinting  saat itu justru sedang merebah di atas pangkuan seorang gadis cantik bertubuh tinggi, kekar dan sekal. Gadis itu adalah mantan prajurit Kerajaan Hastamanyiana yang ditugaskan menjaga harta karun di  lorong  maut,  tempat mereka nyaris mati terkubur hidup-hidup.

Prajurit cantik berdada montok itu tak lain adalah si Citra Bisu alias Citra Mandagi. la dijuluki Citra Bisu, karena lebih sering tampak diam menutup mulut rapat- rapat, tapi batinnya bicara dan suara batinnya itu mampu dikirimkan ketelinga lawan orang yang dituju. la memiliki ilmu 'Tutur Selayang' yang merupakan ilmu langka dan hanya dimiliki oleh orang-orang berkekuatan batin tinggi. Dari sekian banyak prajurit Kerajaan Hastamanyiana, hanya dia seorang yang mampu kuasai ilmu Tutur Selayang', sehingga ia kelihatannya selalu membisu dalam kesehariannya.

Tetapi lamanya di dalam lorong penyimpanan harta karun membuat Citra Bisu tak tahu bahwa waktu telah berjalan jauh ke depan. Negeri Hastamanyiana telah hancur dan tidak ada lagi. Salah satu orang Hastama- nyiana yang masih hidup adalah Nini Desah Bengi, yang  kini  menjadi  penguasa Pulau Garong.

Seperti apa kata Citra Bisu, suasana di dalam lorong itu adalah  suasana mati. Waktu tidak bergerak, zaman tidak berganti, segalanya serba abadi. Oleh karenanya, walaupun Suto Sinting merasa tinggal  di  dalam Sorong itu tak lebih dari sehari, tapi kenyataannya di luar  lorong  waktu telah berjalan sampai tiga hari. Tak heran juga jika Citra Bisu keluar dari lorong maut itu dalam keadaan masih muda,  cantik,  seksi  dan menggairahkan.

"Menurut cerita si Kusir Hantu," ujar Pendekar  Mabuk  sambil merebah di pangkuan gadis montok iin"Hastamanyiana hancur pada waktu empat puluh tahun yang lalu. Aku belum lahir."

"Sudah lama sekali?!"

"Karena itulah, jika saat kau masuk ke dalam lorong itu dengan  usia  dua puluh lirna tahun, berarti sekarang usiamu adalah enam puluh  lima tahun."

"Ooh, tua sekali aku ini?!" ujar Citra Bisu, tapi bibirnya  tetap  terkatup rapat. la bicara lewat suara batin, dan ucapan batin Pendekar  Mabuk bisa didengar olehnya.

Gadis itu termenung. la masih sangsi dengan kenyataan yang didengarnya dari pemuda tampan berambut panjang tanpa  ikat  kepala. Tetapi pemuda itu tetap dibiarkan berbaring di pangkuannya, la sendiri bersandar pada sebatang pohon rindang. Mereka sedang menikmati masa istirahat, mengendurkan ketegangan dan kopanikan, karena merasa berhasil lolos dari reruntuhan lorong maut itu.

Tangannya yang berlapis perunggu ukir dari pergelangan  tangan  sampai batas siku, terkulai lemah didada Suto Sinting. Tangan yang satunya sengaja mengusap-usap kening Suto sambil bermainkan anak rambut di sekitar kening.

Pendekar Mabuk sengaja membawa gadis itu dalam suasana santai. Karena setelah lolos dari lorong maut, jiwa mereka sedikit terguncang dan perlu diredakan. Mereka belum tahu harus berbuat apa pada saat ini sehingga mereka harus merenungkanriya setelah jiwa menjadi tenang  kembali.

"Suto, maukah kau mengantarku ke Pulau Senida untuk membuktikan kebenaran kabar tentang hancurnya Hastamanyiana?!" ujar  Citra  Bisu dengan bibir terkatup. Tapi Suto Sinting merasa mendapat bisikan jelas di telinganya, sehingga ia pun segera menjawab dengan suara batinnya.

"Aku tak keberatan untuk pergi ke Pulau Senida. Tetapi bagaimana dengan harta karun sebanyak itu?!"

"Sudah terkubur dalam lorong itu. Reruntuhan tebing telah menguburkan sejarah harta kekayaan negeri Hastamanyiana yang selama ini kujaga. Kurasa, me mang sebaiknya harta itu terkubur dalam-daiam di dasar bumi agar tak menjadi bencana bagi para pemburu serakah itu!"

"Kau rela menghadapi kenyataan ini?"

"Aku harus rela jika benar Hastamanyiana telah hancur. Tapi jika Hastamanyiana masih berdiri, ratu masih hidup, maka dengan segala daya upaya aku harus bisa mengambil kembali harta itu!"

"Baiklah jika kerelaan hatimu sudah begitu. Kapan kita berangkat ke Pulau Senida?"

"Haruskah menunda waktu?' Citra Bisu ganti ber tanya. Suto Sinting mengerti maksudnya,

"Baik. Kita berangkat sekarang juga!" Suto pun bangkit berdiri. Gadis itu berdiri juga. Tinggi tubuhnya sedikit melebihi ketinggian tubuh Suto Sinting. Batas kepala Suto hanya sampai di bawah daun telinganyayang mengenakan giwang putih kecii dari jenis berlian tulen itu.

"Ke mana arah yang harus kita tuju pertama kali- nya?" tanya Suto Sinting dengan suara batin.

"Ke Pantai Bejat! Karena dari sana kita bisa me- nyeberang dengan perahu atau dengan apa saja menuju ke Pulau Senida!"

"Pantai Bejat...?!" Suto Sinting bergumam dengan suara lirih. la berkerut dahi karena teringat sesuatu yang berkaitan dengan Pantai Bejat.

"Kenapa, Suto...?!" tanya Citra Bisu dengan suara batin.

Suto menjawab dengan batin pula, "Di sana ada orang-orang  Tanah Pasung. Kudengar mereka mendarat di Pantai Bejat!"

"Siapa orang-orang Tanah Pasung itu?!"

"Mereka adalah para pemburu harta karun yang kau jaga itu. Kedatangan mereka kemari dipimpin oleh pe- nguasa Tanah Pasung sendiri, yaitu Ratu Sinden. Dan... dan sebelum aku terperosok jatuh ke lorong maut, dua kenalanku ditawan oleh mereka dan dibawa ke Tanah Pasung, yaitu si Kusir Hantu dan Pematang Hati, cucunya. Mereka menangkap Kusir  Hantu dan cucunya pasti untuk dapatkan keterangan tentang letak  Goa Kembar yang ikabarkan sebagai tempat penyimpanan harta karun itu. Kusir Hantu tinggal di Lembah Seram. Ratu Sinden menyangka si Kusir Hantu pasti mengetahui tempat itu."

"Apakah dia memang mengetahui lorong maut itu?"

"Kusir Hantu justru tak percaya kalau di Lembah Seram tersimpan harta kekayaan negeri Hastamanyiana. la menganggapnya semua itu hanya dongeng belaka. la sama sekali tidak tertarik untuk mencari harta ter- sebut!"

"Apa salahnya jika kita bebaskan mereka dari kerakusan si Ratu Sinden?!"

"Aku sangat setuju!"

Kliik,..! Suto Sinting menjentikkan jarinya di depan hidung Citra Bisu. Wajahnya tampak berseri-seri, pertanda sangat mendukung gagasan Citra Bisu.

Tetapi sebelum merfcka bergegas pergi, tiba-tiba sebatang tombak melesat dengan cepat ke arah punggung Pendekar Mabuk. Wuiiss...! Dengan cepat Citra Bisu menarik lengan Suto ke arahnya. Suto tersentak dan menabrak dada Citra Bisu. Gadis itu menangkap dalam pelukan sambil geser satu langkah ke belakang. Seet….!

Jeeebs...! Tombak itu menancap pada pohon yang tadi dipakai bersandar Citra Bisu. Suto Sinting mendelik tegang melihat tombak itu menancap pada pohon dan tembus ke sisi belakangnya. Dapat dibayangkan alangkah keras dan cepatnya lemparan tombak tersebut. Seandainya tadi tombak itu menancap di punggung Suto, maka tak heran jika akan tembus ke pinggang kirl Citra Bisu, sebab kala itu mereka. berada dalam jarak sekitar dua jengkal.

Hampir saja kita berdua menjadi sate tanpa bum- bu, Citra!"

Citra Bisu tidak layani ucapan Suto Sinting. ia segera menyambar tombak tersebut. Satu sentakan tangan kiri membuat tombak itu lolos dari batang pohon. Siuub...! Citra Bisu meiemparkannya ke arah semak-se- mak tempat munculnya tombak tersebut. Weess...! Jeebs...!

"Aaaaaaa...!" suara jeritan memanjang menandakan tombak itu dapat jodoh di perut pemiliknya sendiri. Menancap tembus tanpa permisi lagi.

Kejap berikutnya, dari semak-semak lainnya berloncatan manusia- manusia berwajah angker bagaikan kutu loncat. Bahkan dari semak di belakang Suto dan Citra Bisu juga muncul wajah-wajah angker yang sudah menyiapkan senjata masing-masing.

Salah satu wajah angker itu mengenakan jubah ungu dan celana ungu kusam. Orang kurus bermata cekung dengan rambut abu-abu itu tak lain adalah si Bandar Santet yang tempo hari merampas peta harta karun dari tangan Belatung Gerhana. Suto Sinting masih ingat betul dengan si wajah angker yang menyelipkan keris gagang merah di sabuk depan perutnya itu.

"Siapa mereka, Suto?" tanya Citra Bisu dengan  suara  batin.  Suto juga menjawab dengan suara batin, sehingga di depan lawannya mereka tampak hanya diam saja.

"Mereka juga para pemburu harta karun itu. Mereka orang-orang  Selat Neraka di bawah pimpinan Bandar Santet."

"Yang mana yang bernama Bandar Santet?" "Yang kurus dan berjubah ungu itu."

"Jelek sekali wajahnya?"

"Menurut istrinya wajah seperti itu adalah wajah ganteng." "Kalau begitu biar kutangani sendiri orang itu!"

"Hati-hati, dia jago santet! Aku pernah dilukai dengan ilmu Pesona Teluh'-nya."

"Kau urus saja para cecunguknya, aku akan jajal ilmu santet si kepompong minder itu!"

Pendekar Mabuk tersenyum menahan tawa. Tentu saja mereka yang mengepung taktahu apa sebab Pendekar Mabuk ingin tertawa geli. Mereka melihat kedua mangsa yang dikepung tetap tenang, saling diam dan tidak tampak berbisik-bisik.

"Tapi kenapa si tampan itu sepertinya mau tertawa geli? Apa yang sebenarnya yang dilihatnya di wajah ketua kita itu?" bisik salah  seorang  anak buah Bandar Santet.

"Sst...! Jangan ngobrol sendiri, nanti ketua marah padamu!" temannya mengingatkan.

Bandar Santet maju dua langkah dengan dingin. Matanya memandang ke arah Suto Sinting yang bersebelahan dengan Citra Bisu dalam jarak tiga langkah.

"Kita bertemu lagi, Bocah sinting!" ujar Bandar Santet dengan suaranya yang datar dan dingin.

"Aku tak punya peta menuju liang kubur, Bandar Santet. Kuharap jangan bikin perkara lagi denganku!" "Ada yang perlu kusampaikan padamu! Pertama....  Peta  dari  si gembrot busuk itu adalah peta palsu! Kedua.... Juru Jagal akhirnya tewas setelah menderita luka parah dan tak bisa disembuhkan."

"Aku turut berduka cita," ujar  Suto Sinting kalem.

"Ketiga...," sambung Bandar Santet, .... Aku ingin menagih nyawa orang-orangku yang kau bunuh!"

"Aku tidak membunuhnya. Orang-orangmu sendiri yang saling bunuh, Bandar Santet!"

"Keempat Kau harus tunjukkan di mana harta karun itu berada. Aku

yakin kau dan Belatung Gerhana tahu di mana tempat itu." "Kau salah duga, Bandar Santet. Aku dan "

"Kelima... hutang nyawamu kuanggap lunas jika  kau  bantu  aku dapatkan harta karun itu."

"Keenam...," sahut Suto Sinting, ".... Aku tak tahu menahu tentang harta karun dan siap adu nyawa denganmu, Bandar Santet!"

"Sebuah tantangan yang bagus, Suto," bisik Citra Bisu dengan suara batin. "Awas, sebelah kananmu ada yang mau lemparkan pisau."

"Aku melihatnya. Tenang saja, Citra!" balas Suto dengan suara batin

juga.

Bandar Santet bersuara geram. "Kau memang sudah bosan hidup,

Anak kucing!"

Wiiiz...! Pisau metayang ke arah leher Suto Sinting dari arah  kanan. Tubuh Suto segera disentakkan ke belakang sambil berseru dalam batinnya.

"Citra, tangkap pisau ini!"

Wees...! Pisau lewat depan mulut Suto. Tangan Citra Bisu berkelebat dengan tubuh sedikit memutar. Taab...! Pisau tertahgkap di tangan gadis itu, tangsung dilemparkan ke arah kiri, sebab di arah kiri ada orang yang ingin melemparkan tombaknya. Wuut...! Jrebb...!

"Aaaaahkk...!"

Pisau itu tepat menancap di ulu hati orang tersebut. Tombak yang sudah diangkat pun jatuh ke tanah, menyusul kemudian orang itu tumbang dengan tersengal- senga! beberapa saat sampai akhirnya tak mau bernyawa lagi. Mati.

Anak buah Bandar Santet menjadi tegang. Tapi si kurus Bandar  Santet tetap tenang. la hanya melirik anak buahnya yang tewas tanpa tindakan apa pun. Namun ia bicara kepada Citra Bisu dengan  nada  lebih dingin lagi. "Terlalu berani kau ikut campur urusan ini, Nona cantik! Apakah kau tak takut mati dengan raga membusuk dan berbelatung?!"

Citra Bisu diam saja, hanya menatap Bandar Santet penuh keberanian. Tapi ia mulai bicara dalam batinnya, dan suara batinnya dikirimkan kepada Suto Sinting

"Dia mulai menggunakan ilmu teluhnya, Suto."

"Celaka! Lekaslah menyingkir biar kuhadapi orang itu!"

"Aku mendengar batinnya mengucapkan beberapa mantera. Dadaku mulai panas! Sebaiknya kuserang dia agar tak sempat melanjutkan bacaan manteranya!"

"Tapi...," Suto Sinting tak sempat ianjutkan ucapan batin, karena tiba-tiba tangan kiri Citra Bisu menyentak ke depan dengan dua jari mengerang kejang. Suuut...! Claap...! Selarik sinar biru melesat dari ujung kedua jari itu. Sinar tersebut menghantam dada Bandar Santet.

Sinar biru itu hanya dipandang oleh Bandar Santet. Tahu-tahu  berhenti sendiri dalam jarak satu jengkal di depan dada. Tapi ucapan  mantera di batin Bandar Santet terhenti mendadak, karena kekuatan dan perhatiannya tertuju ke arah sinar biru itu.

Citra Bisu segera menangkap tangan kirinya sendiri dengan tangan kanan. Bagian yang ditangkap adalah bagian siku. Kemudian kedua tangan itu lebih menyentak maju lagi hingga tubuh Citra Bisu meliuk ke samping. Plak, wuuut...!

Sinar biru yang terhenti iiu menyentak maju. Bandar  Santet  kaget dan segera menghadangkan tangan kanannya. Dees...! Blaaarrr...!

Ledakan yang terjadi tlmbulkan gelombang sentak yang sangat kuat. Bandar Santet terlempar ke atas, rnelayang ke belakang, kepalanya membentur lekukan cabang pohon. Duuk...! Bruuk...! la jatuhterbanting tanpa ampun lagi.

Melihat ketuanya dilemparkan begitu saja, para anak buah pun melabrak Citra Bisu dan Pendekar Mabuk secara serentak. Mereka mulai menyerang dari ber- bagai arah dengan teriakan liarnya.

"Heeeaaaah...!!"

Citra Bisu mencabut pedangnya yang terbuat dari kristal bening. Pendekar Mabuk segera menyambar bumbung tuaknya yang sejak tadi menggantung di pundak kanan. Seet...! Bumbung tuak itu segera dipakai menangkis senjata-senjata yang diarahkan kepadanya. Trang, trang, duaar...! Bumbung bambu itu se- perti besi baja, ketika berbenturan dengan senjata lawan memancarkan cahaya bunga api ke rnana-mana.

Citra Bisu bergerak dengan lincah, menangkis pedang dan tombak  lawan dengan pedang kristalnya. Sa- betan pedang beling itu  ternyata  mampu mematahkan tombak lawan serta beberapa senjata lainnya. Bahkan seseorang yang menggunakan rantai bola berduri mencoba  menyambar  kepala Citra Bisu dari belakang.

Gadis itu merendahkan badan dengan kepala sedikit dirundukkan. Pedangnya berkelebat menyambar rantai bola berduri itu. Craang...! Bluuk...! Bola berduri itu jatuh ke tanah, putus dari rantainya.

"Hiaaat...!" Citra Bisu menebaskan pedangnya ke kanan dan ke kiri, menyambar perut lawan yang ingin mendekatinya. Breet, craas, breet, wreek...!

"Aaaah...! Aaooww...! Aaahk...!"

Enam orang sekali tebas jatuh terkapar dalam keadaan luka robek  pada bagian tubuhnya. Sementara itu, Pendekar Mabuk berhasil menumbangkan delapan orang dalam sekali sambar bumbung tuaknya yang diputar ke atas kepala. Wuuurs...! Putaran bumbung  tuak  itu  datangkan angin kencang dan melemparkan mereka yang mengelilinginya.

Terdengar suara batin Citra Bisu berujar kepada  Suto,  "Aku melompat ke atas pohon. Mau kejar si Bandar Santet itu. Urus yang iainnya, Suto!"

"Lakukan saja, Manis!" sahut batin Suto Sinting.

Wuuut...! Tubuh gadis yang tinggi sekal itu tahu- tahu sudah  ada di atas pohon. la melompat dari pohon yang satu ke pohon yang lain. Dalam sekejap sudah berada di depan Bandar Santet.

Pendekar Mabuk segera pergunakan jurus 'Garuda Mudik'. Bumbung tuak diputar di atas kepala, lalu dilepaskan. Wuuuung...! Bumbung tuak itu melayang sendiri dalam gerakan memutar. Tiap benda yang dilaluinya selalu terhantam dan menjadi berantakan. Beberapa kepala lawannya mengucurkan darah akibat ter- sambar gerakan cepat bumbung terbang itu. Sementara tombak dan golok yang coba-coba menghalanginya torpaksa patah menjadi berkeping-keping setelah bertabrakan dengan bumbung tuak itu.

Trak, taang, prook, traak, prook, wuung...!

Teeb...! Bumbung tuak kembali ke arah pemiliknya. Berhasil ditangkap dengan tangkas dan siap diputar kembali. Taps beberapa lawan segera undurkan diri begitu melihat jurus Garuda Mudik' yang telah membuat empat kepala retak berlumur darah. Mereka yang terluka  tak  punya  harapan untuk hidup lebih seratus hitungan lagi.

Di sisi lain, Citra Bisu berhadapan dengan Bandar Santet. Kali ini ia menggunakan suara mulut.

"Jika kau ingin dapatkan harta itu, kau harus berhadapan denganku.

Akulah si penjaga harta itu dari Kerajaan Hastamanyiana!" "Perempuan keparat! Kau menjadi busuk sekarang ju "

Prook...! Belum selesai Bandar Santet mengucapkan kutukannya, kaki panjang Citra Bisu fcudah lebih dulu menendang mulut orang tersebut. Tendangan ber- tenaga dalam dilakukan sangat kerasdan cepat. Dalam sekejap saja mulut Bandar Santet menjadi remuk. Gigi depannya rontok semua. Bandar Santet tak bisa bicara karena gusinya ikut pecah.

"Grrrrrh !"

Bandar Santet hanya bisa menggerarn dengan seri- ngai kesakitan. Kerisnya dicabut dari tempatnya. Seet...! Claap, claap...! Keris itu memancarkan sinar merah berkerilap, menandakan keris itu mempunyai kesaktian tersendiri.

' Haaaggrr...!" Bandar Santet menyentakkan keris-nya ke depan. Sinar  merah seperti ekor naga menyarn bar tubuh Citra Bisu. Craiaap !

Wiiz, wiiiz, wiiz !

Suuut...! Pedang kristal itu pun segera disentakkan lurus ke depan seteiah ditebaskan dengan cepat beberapa kali. Pedang bening itu menyala biru, dan sinar birunya bagai bertumpuk di ujung pedang,  ialu  melesat  keiuar berupa sinar biru berbentuk mata pedang. Ctaaap !

Jegaaarrr.:.!

Ledakan dahsyat terjadi akibat tabrakan sinar biru pedang dan sinar dari keris. Ledakan itu membuat tubuh Citra Bisu teriempar dalam keadaan separoh wajah menjadi memar membiru, tersambar gelombang angin panas dari ledakan tadi.

Bandar Santet juga teriempar ke  beiakang  dan  melayang-layang dalam keadaan hilang keseimbangan. ia terbanting di atas sebongkah batu sebesar anak sapi. Brook...! Krrak….!

"Aaahk...!" Bandar Santet mengerang karena tulang punggungnya bagaikan patah. Sementara kepalanya sendiri menjadi bocor akibat

.membentur batu tersebut.

Melihat Bandar Santet terluka cukup parah, para anak buah segera bertindak cepat. Bandar Santet disambar oleh salah seorang anak buahnya yang berbadan besar. Wees ! "Lari...!" seru orang itu mernberi aba-aba kepada yang lain. Maka yang lain pun berhamburan pergi tinggalkan tempat itu. Citra Bisu ingin mengejar dalam ke- adaan luka, tapi Suto Sinting berseru dengan suara batinnya.

"Tahan! Jangan kejar mereka!"

"Keparat! Kenapa kau melarangku?!" Citra Bisu berpaling  cepat  ke arah Suto dengan mulut tetap terkatup.

"Kau terluka, Citra! Aku tak ingin lukamu menjadi makin berbahaya jika dipakai untuk mengejar mereka!"

"Lalu apa maumu?" "Minumlah tuakku yang "

Suto Sinting diam, tertegun dengan hati kecewa. la baru sadar bahwa bumbung tuaknya ternyata telah kosong. Tuaknya habis, tinggal empat-lima tetes. Wajah pemuda tampan itu pun menjadi tegang.

"Tuak habis. Citra terluka separah itu. Oh, bagaimana ini?!" keluhnya dalam hati, dan keluhan itu didengar oleh Citra Bisu.

Suto Sinting menjadi lebih tegang lagi begitu ia sadari luka memar membiru itu makin lama makin menghitam. Separoh wajah Citra Bisu mulai membusuk, dan gadis itu menggigit bibir pertanda menahan rasa sakit yang bukan kepalang tanggung itu. 3

Dengan hawa sakti gaburtgan antara milik Pendekar SVIabuk dengan milik Citra Bisu sendiri, akhirnya luka di wajah gadis itu bisa terobati. Memang tak bisa sembuh dengan cepat seperti jika meminum tuak saktinya Suto, tapi setidaknya luka hangus itu dapat segera mengering dan tidak menjadi lebih parah lagi. 4;

"Aku malu dalam keadaan seperti ini, Suto. Wajahku tampak buruk sekali," ujar Citra Bisu.

"Jika begitu, sebaiknya kau kubawa ke pondoknya si Kusir Hantu. Tinggallah di sana dulu, sementara aku pergi mencari tuak. Jika kau minum tuak dari bumbung saktiku ini, maka luka-lukanmu tidak akan membekas sedikit pun, Citra. Kau dapat kembali cantik seperti sediakala dalam waktu singkat."

"Sesakti itukah tuak dari bumbungmu?"

"Aku tak bisa menjawab. Tapi kau bisa buktikan sendiri jika bumbung ini sudah kuisi dengan tuak dari mana saja."

Baiklah. Aku menurut dengan saranmu, Suto."

Mereka bergegas menuju pondoknya si Kusir Hantu. Suto Sinting juga jelaskan, bahwa di pondok itu CitraBisu tidak akan sendirian.  Sekali  pun Kusir Hantu dan Pematang Hati ditawan oleh  orang-orang  Tanah  Pasung, tapi di pondok masih ada Mahligai Sukma, yaitu adiknya  Pematang  Hati. Juga, ada Tenda Biru dan Panji Klobot, sahabat Suto yang tinggal bersama Kusir Hantu sejak si Tenda Biru lolos dari kutukan  maut berkat bantuan  Suto Sinting, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode: "Gadis Tanpa Raga").

Sudah tentu tempat yang paling dekat dari daerah itu  adalah pondok  si Kusir Hantu, sebab memang Kusir Hantu tinggal di Lembah Seram. Untuk mencapai pondok tersebut tidak membutuhkan waktu lama. Suto Sinting masih hafal jalan-jalan yang harus diialuinya dalam menuju pondok tersebut. Dengan melingkari bukit rmelalui jalur selatan, mereka akan lebih cepat lagi tiba di pondok.

Tetapi perjalanan mereka terhalang kembali oleh satu kejadian yang membuat langkah mereka terhenti. Sebuah pertarungan cukup menarik perhatian Suto ter- jadi di kaki bukit. Pertarungan itu dilakukan oleh  seorang gadis berambut pendek dengan mengenakan jubah tanpa lengan warna biru. Pakaian dalamnya juga berwarna biru tipis. Gadis cantik itu bermata membelalak indah dengan hidung mancung dan bibir sensual.

"Kau kenal dengan gadis itu?" tanya Citra Bisu menggunakan suara batinnya.

"Ya, aku kenal. Dia adalah si Tenda Biru yang kuceritakan tadi." "Lalu, pernuda yang berpakaian biru garis-garis putih itu siapa?"

"Itu murid Nyai Jurik Wetan. Setahuku dia bernama Ragadenta. Sedangkan perempuan yang bersembunyi di balik pohon  seberang  sana adalah Laras Wulung. Ragadehta dan Larang Wulung punya hubungan gelap. Laras Wulung bersedia menjadi budak suruhan Ragadenta dalam mencari harta karun itu, asalkan ia dapatkan darah kemesraan dari Ragadenta "

Suto rnenjelaskan panjang iebartentang siapa mereka, sebab ia memang pernah mengintip kencan Ragadenta dengan  Laras  Wulung  di sebuah rumah gubuk. Saaf itu ia bersama Mangku Randa, dan menyadap persekongkolan mereka dalam mendapatkan harta karun. Keterangan yang didapat Laras Wulung dari Panji Klobot adalah letak goa di sebelah seiatan bukit.

Rupanya usaha mereka temukan Goa Kembar itu gagal. Di selatan

bukit tak ada goa. Panji Klobot jadi tumpuan kekecewaan Ragadenta dan  Laras Wulung. Tapi Tenda Biru yang selama ini secara tak langsung menjadi guru si Panji Klobot merasa tak rela. Ia lakukan pembelaan terhadap sang murid, sehingga terjadilah pertarungan di tempat itu.

Agaknya Laras Wulung tak mau ikut campur dalam pertarungan itu. la berada di tempat jauh, di balik pohon. Tetapi dari tempat Suto berada, sosoknya tampak jelas sekali. Suto Sinting sengaja tidak menggubris keberadaan Laras Wulung. Tapi perhatiannya lebih ditujukan pada Panji Klobot yang babak belur dan terkulai lemas di bawab pobon. Sementara itu; Tenda Biru berusaha melukai Ragadenta dengan pedangnya yang ditebaskan beberapa kali ke arah pemuda tersebut. Tapi dengan  lincah  Ragadenta  selalu berhasil hindari tebasan pedang.

Pada satu kesempatan, Ragadenta berhasil lepaskan pukulan tenaga dalamnya dari jarak lima langkah di depan Tenda Biru. Beet...! Claap...! Sinar merah kecil melesat dari telapak tangan Ragadenta.

Tenda Biru menghindarinya dengan sebuah lompatan ke atas dan bersalto dua kali di udara. Wuuk, wuuk...! Ketika ia daratkan kakinya, sinar merah itu sudah melesat di udara belakangriya. Namun tanpa didu ga-duga, ekor sinar merah itu tiba-tiba menyebar menjadi lebar dan panjang. Bias cahayanya kenai punggung Tenda Biru. Plaass.,.! "Aaahk...!" Tenda Biru tersentak ke depan dan  jatuh  terjungkal.  Kejap kemudian ia terpuruk di tanah dan tak berdaya lagi.  Sekujur  tulangnya bagaikan menjadi .lunak, tak sedikit pun bisa dipakai  untuk  berdiri. Setiap ia mencoba bangkit berdiri selalu jatuh kembali  dengan lemas. Brruuk...!

"Uuuhkk...!" Tenda Biru mengerang dengan berusaha mengangkat kepalanya, namun segera terkulai kembali.

Hemmh ..! Itulah akibatnya bagi orang yang coba- coba melawan Ragadenta!" ujar Ragadenta dengan sinis dan ketus. "Kau akan  mati  kelaparan tanpa bisa memiliki kekuatan lagi, Gadis tolol! Pemuda penipu itu pun akan kubuat sama seperti dirimu!"

"Jahanam! Jangan berani lagi sentuh muridku itu! Aku masih mampu melawanmu!" seru Tenda Biru. Rupanya ia masih punya tenaga  untuk  bersuara. Hanya itu yang dimiliki Tenda Biru. Tapi kekuatan  untuk melepaskan pukulan jarak jauh pun sudah tak ada.

"Jika mereka temanmu, mengapa kau diam saja, Suto?" tegur Citra Bisu melalui suara batinnya.

"Ini persoalan guru membela murid. Kalau kucam- puri, aku takut akan membuat Tenda Biru tersinggung."

"Kurasa keadaan Tenda Biru sudah sebegitu lemah. la butuh bantuan! Ini bukan lagi soal guru membela muridnya, tapi soal hidup dan mati dari perkara salah dan benar."

Suto Sinting diam sejenak, kemudian menggumam lirih dengan suara mulut, "Pendapatmu benar juga, Citra. Tunggulah di sini! Aku akan maksa Ragadenta untuk pulihkan keadaan Tenda Biru!"

Zlaaap...! Jurus 'Gerak Siluman' membuat rambut Citra Bisu  terhempas karena gerakan cepat Suto Sinting. Dalam sekejap  pemuda tampan berbaju buntung warna coklat dan celana putih kusam itu sudah berada di depan Ragadenta yang hendak hampiri Panji Klobot. Kemunculan Suto Sinting itu jelas-jelas bersikap menghadang langkah Ragadenta, sehingga pemuda bertubuh tegap, gagah dan kekar itu terkejut,  lalu  hentikan langkah dengan penuh waspada.

"Suutooo...!" seru Panji Klobot dari tempatnya. Seruan itu  bagai sebuah ratapan yang menghiba, minta pertolongan. Tapi seruan itu membuat Ragadenta berkerut dahi semakin tajam, karena ia mendengar Panji Klobot menyebut nama 'Suto'. Sementara itu, Laras Wulung menjadi gusar dan gelisah karena ia tahu betul siapa pemuda yang menghadang langkah Ragadenta itu. "Apakah kau yang bernama Suto Sinting dengan gelar Pendekar Mabuk?!" tegur Ragadenta.

"Benar! Dan kau adalah Ragadenta, murid Nyai Jurik Wetan." "Dari mana kau tahu?"

"Kurasa itu tak perlu dijawab. Hanya basa-basi saja dan buang-buang waktu. Yang perlu kau lakukan adalah pulihkan kembali keadaan Tenda Biru, sahabatku!"

"Hmmh….!" Ragadenta mencibir, lalu tertawa. "Hah, haa, haa, haa...! Sangkamu siapa dirimu sehingga berani memerintahku dengan cara seperti itu, ha?!"

"Aku tak mau bikin masalah denganmu, Ragadenta. Aku  tahu  kau  murid Nyai Jurik Wetan! Aku pernah selamatkan nyawa gurumu  dari  ancaman maut Siluman Tujuh Nyawa," ujar Suto dengan kalem sambil ia membayangkan peristiwa pertarungan Nyai Jurik Wetan dengan si manusia terkutuk; Siluman Tujuh Nyawa, (Baca serial Pendekar  Mabuk  dalam episode: "Misteri Lembah Seram").

"Jangan bawa-bawa guruku!" sentak Ragadenta.  "Urusan  guruku adalah urusan guruku. Urusanku adalah urusanku! Jelasnya, dengan  cara  halus ataupun cara kasar, kuharap kau menyingkir dari sini sekarang juga!"

"Jika kau tak mau pulihkan keadaan Tenda Biru, aku tak akan pergi  dari sini, Ragadenta!"

"O, keparat kalau begitu! Rasakan paksaanku ini, heeeaah...!!"

Wuuut, claap...! Sinar merah seperti tadi melesat ke  arah  Suto Sinting dari telapak tangan Ragadenta. Jarak pukulan hanya sekitar lima langkah. Sinar itu melesat dengan sangat cepat.

Tapi bumbung tuak yang sudah di tangan Suto Sinting mampu menangkis datangnya sinar tersebut. Begitu sinar merah itu menghantam bumbung tuak, ternyata sinar itu memantul balik dalam ukuran lebih besar dan lebih cepat dari aslinya. Zlaass...!

Deeb, bluub...!

Blaaaarrr...!

Ragadenta kebingungan begitu melihat sinarnya memantul balik dalam ukuran lebih besar. Gerak nalu- rinya segera bertindak. Kedua tangan menyentak ke depan keluarkan sinar hijau lebar. Sinar  hijau lebar  itulah yang menghantam sinar merah hingga timbulkan ledakan cukup dahsyat.

Ragadenta terlempar bagaikan boneka  isi  kapukditendang  pemain bola. Wees...! Melayang begitu saja dan jatuh terbanting tanpa malu-malu  lagi. Bruuuk...! "Aaahhkk...!" Ragadenta mengerang sambii menggeliat. Tubuhnya menjadi merah seperti kepiting rebus. Tentu saja rasa sakit dan perih bergumul menjadi satu seperti pengantin baru bercengkerama. Ragadenta nyaris tak bisa bicara karena menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.

"Bocah Sinting...,11 seru Tenda Biru dengan panggilan khas. Hanya dia

yang sering memanggil Suto dengan sebutan 'Bocah Sinting', dan ia memang selalu memanggil Suto dengan nama tersebut.

Sambungnya dengan suara berat, "Jangan bunuh dia!  Paksa  terus  agar dia mau pulihkan keadaanku, Bocah Sinting!"

"Tenang saja, Tenda Biru. Ada pepatah yang mengatakan: Kutahu apa yang kumau!" ujar Suto menirukan Kusir Hantu yang senang menggunakan pepatah atau peribahasa walau tak pernah nyambung.

Pendekar Mabuk dekati Ragadenta. Pemuda berkumis tipis yang mengenakan pakaian biru garis-garis putih itu mencoba bangkit, tapi baru  bisa sampai duduk di tempat saja. la masih menyeringai menahan rasa sakitnya.

"Bangunlah, Ragadenta! Paksaanku belum selesai!" ejek Suto Sinting seenaknya saja. Tiba-tiba ia mendengar suara batin Citra Bisu yang berada agak jauh darinya. Citra Bisu tetap tak tampakkan diri, tapi Suto Sinting mulai hafal dengan nada suara sedikit serak milik Citra Bisu itu.

Suto, awas ada bayangan berkelebat menuju tempatmu. Dia akan muncui dari arah belakangmu!"

Pendekar Mabuk cepat berlari ke belakang. Tepat ia memandang ke belakang, sekelebat bayangan itu sudah hadir di depan hidungnya. Wees, bruuuss...! Pendekar Mabuk diterjangnya dan terpental hingga jatuh berguling-guling.

"Kampret! Rahangku seperti mau pecah rasanya!" gerutu Suto Sinting sambil bergegas bangkit, mencoba berdiri tegak walau sedikit agak menggeloyor.

Orang yang menerjang Suto Sinting sudah berdiri dengan mata memandang sangat tajam. Orang itu ternyata seorang nenek  bertubuh  kurus, rambutnya putih dilepas tanpa konde. la mengenakan jubah  hijau lengan panjang dengan menggenggam tongkat warna hitam. Suto Sinting segera menyapa si nenek rada bungkuk itu dengan nada jengkel.

"Hebat juga terjanganmu, Nyai Jurik Wetan!"

"Sudah selayaknya seorang guru membela muridnya,  Pendekar  Mabuk!" geram Nyai Jurik Wetan yang merasa tak rela melihat muridnya dibuat seperti kepiting rebus oleh lawannya. "Jika kau berani melukai muridku,  berarti  kau  menantang pertarungan denganku, Pendekar Mabuk! Untuk sementara lupakan dulu jasamu yang pernah selamatkan nyawaku dan nyawa si keropos Kusir Hantu dari keganasan manusia terkutuk itu!"

"Kau seorang guru yang kurang bijaksana, Nyai Jurik Wetan." "Mungkin ini yang kau anggap iebih bijaksana lagi, heeah...!"

Nyai Jurik Wetan melompat kembali ke arah Suto  Sinting.  Tongkatnya dihantamkan ke arah kepala Suto. Wuuut...! Pendekar Mabuk angkat bumbung tuak menghadang tongkat. Traang...! Daaar...! Ledakan kecil terjadi menandakan beradunya kekuatan tenaga daiam dari kedua benda tersebut. Tapi Nyai Jurik Wetan tak sampai terpental mundur. la justru cepat putarkan ba- dan sambil kakinya melayang menyambar wajah Suto Sinting.

Wuut, plaak...! Suto menangkis dengan tangan kiri. Tapi kulit lengan yang menangkis tendangan itu menjadi memar membiru bagaikan menahan hantaman besi baja.

Suto agak limbung ke kanan akibat tendangan itu. Tapi buru-buru rendahkan badan karena harus hindari sodokan kepala tongkat Nyai Jurik Wetan. Suut...! Wuus...!

Pendekar Mabuk terpaksa cepat gulingkan badan ke tanah di depannya. Wuut, seet...! Dalam sekejap ia sudah separoh berdiri. Bumbung tuaknya segera di- silangkan di atas kepala dengan  dipegang  dua  tangan,  karena pada saat itu ia tahu Nyai Jurik Wetan menghantamkan  tongkatnya  dari atas ke bawah, sasarannya adalah kepala lawan.

"Modar kau...! Hiaaah...!"

Jedaar...! Ledakan itu membuat tongkat Nyai Jurik Wetan terpental  ke atas tapi masih dalam genggaman- nya, sehingga  tangannya  ikut tersentak kuat hingga nyaris melintir ke belakang  badannya.  Melihat keadaan seperti itu, Suto Sinting segera menjejakkan kakinya ke belakang. Wuuut, buuhk...! Jejakan itu tepat kenai dada Nyai Jurik Wetan.

"Heehkk...!" Nyai Jurik Wetan terpekik dengan suara  berat.  Tubuhnya terpental mundur dan jatuh terduduk di samping muridnya yang masih belum bisa berdiri. Brruuk...!

Suto Sinting tarik napas dalam-dalam untuk meredam rasa  sakitnya.  la berdiri dengan tegak kembali. Tali bumbung tuak melilit dalam genggaman tangan ka- nannya kuat-kuat.

"Maaf kalau kakiku sedikit.tak sopan, Nyai. Kau mendesakku untuk bertindak tak menghormat padamu!" "Keparat! Kau memang ingin cepat mati, Pendekar Mabuk! Hiaaahh...!" "Tahaaan...!" sentak Suto Sinting. Sentakan itu bagai mempunyai getaran aneh yang membuat Nyai Jurik Wetan terpaksa hentikan niatnya

menyerang lagi.

"Ini persoalan yang tak perlu harus terjadi banjir darah atau korban nyawa, Nyai Jurik Wetan! Boleh saja kau membela muridmu, tapi kau harus tahu bahwa tin- dakan muridmu itu salah!" sambil Suto menuding Ragadenta tegas-tegas.

Tenda Biru berusaha ikut bicara. "Dia menyiksa Panji Klobot, karena menganggap Panji Klobot memberi petunjuk palsu tentang Goa Kembar. Padahal anak itu memang tidak tahu-menahu tentang harta karun yang terdapat di Goa Kembar! Dia memberikan petunjuk palsu karena didesak dan takut dipukuli oleh muridmu, Nyai!"

Mendengar tentang harta karun dan Goa Kembar, Nyai Jurik Wetan bangkit perlahan-lahan. Kemarahannya semakin diredakan. la memandangi muridnya yang masih duduk di tanah. Sang murid tampak gusar sambil menahan rasa sakitnya.

"Bangun kau!" geram Nyai Jurik Wetan sambil men- cengkeram baju Ragadenta dan menarik tubuh pemuda itu seperti menjinjing tas belanjaan. Wuuut...!

"Ouuh...! Guru... Guru, aku menghajar pemuda yang di bawah pohon itu karena dia ingin membuat kita terkecoh dalam mendapatkan letak Goa  Kembar Itu! Pad... padahal... padahal kalau Goa Kembar itu bisa kutemukan, maka aku akan menghubungi Guru dan mencari harta orang Hastamanyiana  itu! Tapi dia ku- rangajar, Guru! Dia melecehkan kita!"

"Kami tidak tahu menahu tentang Goa Kembar, Nyai!" sahut Tenda  Biru sambil tetap terpuruk me-nyedihkan.

"Bohong! Mereka tahu, Guru...' Mereka sengaja menganggap kita  remeh dan melakukan penghinaan terhadap dirimu  secara  tak  langsung, Guru! Jelas mereka lakukan penghinaan itu karena mereka adalah orang- orangnya si Kusir Hantu, musuh Guru itu!" sahut Ragadenta membakar emosi gurunya. Sang guru tampak memandang Tenda Biru dengan nada penuh kemarahan. Suto Sinting segera angkat bicara.

"Jangan mudah percaya dengan hasutan muridmu, Nyai."

"Diam kau!" bentak Nyai Jurik Wetan. "Agaknya aku harus kembali berurusan dengan si keropos Kusir Hantu!"

Dengan kalem dan senyum tipis Suto mencoba meredakan kegusaran Nyai Jurik Wetan yang dulu bekas kekasihnya si Kusir Hantu. "Nyai,  kumohon  jangan   sangkut pautkan  urusan  ini dengan permusuhan pribadimu dengan Kusir Hantu. Muridmu rnemang bermaksud mengambil  harta  karun  itu untuk kepentingan  dirinya  sendiri. ia bersekongkol   dengan seorang  perempuan,  janda mantan pengawalnya mendiang Ratu Cendana Sutera. Perempuan itu adalah kekasih gelapnya yang bersedia diperintah apa saja asalkan mendapat kehangatan dari Ragadenta." "Bohong, Guru!" potong  Ragadenta dengan gusar dan penuh ketegangan. "Aku tidak punya kekasih, Gu- n i! Aku tidak punya teman

wanita yang "

"Apakah kau tak kenal dengan Laras Wulung?!"

"Tidak! Kurobek rnulutmu Pendekar Mabuk! Jangan menghasut diriku  di depan Guru!" Ragadenta semakin gusar, seakan lupa dengan sakitnya, lupa dengan kulit wajah dan tangannya yang menjadi merah seperti kepiting  rebus.

"Aku hanya bertanya padamu, Ragadenta...," ujar Suto tetap kalem. "Apakah kau tak kenal dengan Laras Wulung, perempuan yang gemar

mengenakan pakaian biru tua dan beriubuh sekal menggairahkan, berwajah cantik mempesona, yang selalu menemuimu di sebuah gubuk di tengah  hutan?!"

"Tutup mulutmu, Pendekar Mabuk! Fitnahmu bisa membuat kepalamu kupenggal dengan sabitku ini!"

Ragadenta mau mencabut sabit yang dibungkus sarung kulit dan sejak tadi masih terselip di pinggangnya. Tapi gerakan tangannya ditahan oleh tangan Nyai Jurik Wetan yang mencekal kuat-kuat.

"Mulut pemuda sinting itu beracun, Guru! Jangan dengarkan celoteh orang mabuk! Aku tak kenal dengan perempuan yang  bernama  Laras  Wulung!"

"Kau kenal, Ragadenta!" sahut Pendekar Mabuk. "Kalian bersekongkol untuk merampok harta karun itu dan membawanya kabur berdua tanpa memberitahu gurumu! Kalian berkhayal untuk hidup mewah dengan harta karun itu!"

"Bangsat! Aku tidak serendah itu!" teriak Ragadenta semakin gusar karena takut rahasianya diketahui sang guru.

"Kau dan Laras Wulung bersepakat untuk tinggalkan gurumu setelah kalian berhasil merampok harta karun itu. Karenanya, kau suruh  Laras Wulung mencari keterangan dari pihak Kusir Hantu. Laras Wulung berhasil temukan Panji Klobot, dan tentunya berhasil mendesak Panji Klobot agar katakan di mana Goa Kembar itu berada. Mungkin karena Panji Klobot yang rendah ilmunya itu takut dengan ancaman Laras Wulung, maka ia memberi petunjuk palsu, bahwa Goa Kembar ada di sebelah selatan bukit. Lalu kau memeriksanya dan ternyata tak mendapatkan goa tersebut. Kau marah dan menyalahkan Panji Klobot!"

"Mulut ular busuk!" geram Ragadenta.

Nyai Jurik Wetan menggeram datar kepada muridnya.

"Di mana perempuan yang bernarna Laras Wulung itu sekarang?!" "Mana kutahu. Aku tidak kenal dengan Laras Wulung, Guru!"

Tiba-tiba terdengar suara berseru dari kejauhan. Suara itu adalah suara batin dari Citra Bisu yang sengaja dikirimkan ke setiap orang di situ, sehingga mereka bagaikan mendengar seruan keras dari arah timur.

"Dia ada di sini...!!"

Semua mata memandang ke arah timur. Rupanya tanpa setahu Suto Sinting, Citra Bisu berhasil menawan Laras Wulung  dan  memaksa  perempuan Itu keluar dari persembunyian. Pedang kristalnya diarahkan ke leher Laras Wulung. Ujung pedang sudah menempel di leher si janda mantan istrinya Badra Sanjaya itu, sementara pedang Laras Wulung berhasif  dilucuti oleh Citra Bisu. Laras Wulung dipaksa berjalan dekati mereka.

"Itu yang bernama Laras Wulung, Nyai!" ujar Suto Sinting.

"Hmmm... berpakaian biru tua, wajah mempesona, tubuh memang tampak menggairahkan...,' gumam Nyai Jurik Wetan.

"Aku tak tahu siapa perempuan itu, Guru! Kumohon jangan percayai kata-kata si bocah sinting itu! Sebaiknya kita tinggalkan saja tempat ini, Guru!" bujuk Ragadenta dengan wajah tegang dan salah tingkah.

Nyai Jurik Wetan, Ragadenta, dan Tenda Biru sendiri merasa asing dengan wajah cantik si Citra Bisu. Tapi rasa ingin tahu mereka  tertunda untuk sesaat. Nyai Jurik Wetan pandangi Laras  Wulung  yang  sudah hentikan langkah dalam jarak dua tombak darinya. Pedang kristal Citra Bisu tetap mengancam leher Laras Wulung. Kapan saja dapat disentakkan menghujam leher itu hingga tembus. Karenanya, Laras Wulung tak berani lakukan tindakan bodoh demi keselamatan jiwanya.

"Benarkah kau bernama Laras Wulung?!" tegur Nyai Jurik Wetan dengan nada tak ramah.

Tapi janda bahenol itu tidak menjawab pertanyaan Nyai Jurik Wetan. la justru bicara kepada Ragadenta yang segera melengos ke arah lain.

"Ragadenta, maafkan aku... aku tak tahu kalau perempuan laknat ini  ada di belakangku dan tahu-tahu mengancamku dengan pedangnya." "Aku tak kenal siapa dirimu. Jangan panggil namaku!" sentak  Ragadenta sambil tak mau memandang Laras Wuiung.

"Kita memang gagal, Ragadenta. Tapi masih banyak kesempatan lain yang dapat kita raih bersama!"

"Aku tidak kenal dengan dirimu, Keparat!" bentak Ragadenta semakin dongkol.

"Apakah kau lupa, aku adalah Laras Wulung, Ragadenta! Ooh... jangan begitu, Ragadenta. Sekali pun kita telah gagal menemukan tempat penyimpanan harta karun itu, tapi kita bisa. "

"Diam kau, Bangsat!" Ragadenta berteriak rnurka. la ingin mencabut sabitnya untuk menyerang Laras Wulung. Tapi tangannya kembali  dicekal oleh sang guru. Teeb !

"Ternyata muridku sudah menjadi seorang pengkhianat!" geram Nyai Jurik Wetan.

"Guru, jangan mudah terhasut oleh wajah-wajah iblis ini! Kita cari harta itu bersama-sama, Guru!"

"Setelah kupertimbangkan, aku tak mau diperbudak oleh  harta!  Kulihat banyak perampok yang berke- llaran di sekitar sini untuk dapat merampok harta karun llu! Aku tak mau jadi korban kerakusan mereka!

Maka

kubatalkan niatku untuk memiliki harta tersebut, karena aku merasa bukan perampok!" tegas Nyai Jurik Wetan.

"Tapi, Guru... harta itu kalau "

"Tutup mulutmu pengkhianat!" sentak sang guru. "Kau  sudah  punya niat berkomplot dengan perempuan haram jadah itu untuk mengkhianatiku! Aku harus me- nerima hukumannya, Ragadenta!"'

"Aku hanya "

Deess !

"Ahhk...!" Ragadenta mengejang seketika setelah dua jari sang guru menotok bagian tengkuknya. Tubuh kejang itu akhirnya terkulai lemas dan jatuh di kaki gurunya. Brruuk !

"Nyai, jangan perlakukan dia dengan kasar!" sergah Laras Wulung tampak tak rela melihat 'kuda jantan'nya dilumpuhkann oleh sang guru. Tapi Nyai Jurik Wetan berucap lebih tajam lagi kepada Laras Wulung.

"Gara-gara rayuanmu, muridku tega mau mengkhianati gurunya! Kau masih punya urusan denganku dan akan kita selesaikan setelah aku menghukum anak ini, Perempuan busukl" Wuuut...! Kaki Nyai Jurik Wetan menyentak naik. Tubuh Ragadenta yang jatuh di kakinya itu meiayang dan ditangkap dengan tangan kiri, kemudiandijatuhkan ke pundak kirinya. Seet...! Nyai Jurik Wetan menatap Suto Sinting dengan tajam pula.

"Kalau bukan muridku yang salah, sudah kuhan-curkan  kepalamu,  Pendekar Mabuk! Lain kali kita bisa buktikan semua omonganku ini!"

Nyai Jurik Wetan bergegas pergi membawa pulang muridnya. Tetapi Suto Sinting segera menahannya dengan suara cepat.

"Tunggu, Nyai...!"

Tubuh sang nenek yang sudah mau membalik itu terpaksa berputar ke arah semula lagi.

"Nyai... bagaimana dengan sahabatku ini. Tenda Biru terluka oleh ilmu muridmu. Kumohon kau mau pulihkan keadaan dia, juga  pulihkan  keadaan  Panji Klobot di sana! Mereka berdua korban kepicikan muridmu, Nyai!"

,"Hhhrrhm...!" Nyai Jurik Wetan menggeram kesal. Tapi ia segera sentakkan ujung kepala tongkatnya ke arah Tenda Biru. Claap...! Sinar putih tipis seperti perak melesat dari kepala tongkat dan menghantam pundak Tenda Biru. Tongkat itu disentakkan lagi ke arah Panji Klobot yang ada di kejauhan sana. Claap...! Sinar putih perak melesat dan  menghantam  dada Panji Klobot.

"Jangan menuntut apa-apa lagi dariku!" geram Nyai Jurik Wetan, lalu dengan cepat ia melesat tinggalkan tempat tersebut. Blaasss...!

"Nyai, tunggu...! Jangan bawa Ragadenta, Nyai! Aku harus bersamanya...!" seru Laras Wulung dengan gusar.

Tapi ketika ia ingin mengejar Nyai Jurik Wetan, lohernya terasa ditekan oleh benda runcing. la ingat dengan pedang kristal yang mengancamnya. Maka ia pun urungkan langkah dan menarik napas  dalam- dalam memendam perasaan dongkolnya. Citra, lepaskan dia!" perintah Suto Sinting dengan suara batin. Citra Bisu masih mendengarnya. "Apakah tak berbahaya Jika kulepaskan?" "Kurasa ia tak akan berani bertindak macam- ma- cam jika ada aku di sini!""Baiklah!" jawab Citra Bisu dengan suara batin pula. Pedang Kristal ditarik mundur, tapi masih digenggam oleh Citra Bisu. Suto Sinting berujar kepada Laras Wulung. "Pergilah, Laras...! Carilah lelaki mana saja asal jangan ganggu sahabat-sahabatku. Jika hal itu kau lakukan, kau akan berhadapan denganku dan aku tak akan beri pengampunan sedikit pun padamu!"

Laras Wulung tank napas lagi. Jengkel tapi tak berani melampiaskan kejengkelannya. Sebab ia tahu persis seberapa tinggi ilmu Pendekar Mabuk.  la merasa tak akan mampu menandinginya.

"Kuharap lain kali kau juga tidak mengganggu pasanganku, Suto!" ujarnya dengan ketus.

"Kita tidak akan saling mengganggu tentunya," sambil Suto berikan senyum rarnah pada Laras Wulung.

Citra Bisu lemparkan pedang milik Laras Wulung. Janda montok itu menangkapnya. la sempat pandangi Citra Bisu dengan tatapan memancarkan dendam. Tapiyang dipandang balas menatap lebih  berani  lagi.  Akhirnya janda bahenol itu segera melesat pergi tanpa pamit pada siapa pun. la pergi ke arah yang sama dengan kepergian Nyai Jurik Wetan. Mungkin  saja  ia akan mengejar Nyai Jurik Wetan untuk merebut Ragadenta, si 'kuda jantan'-nya yang sedang digandrungi itu.

Sinar putih dari Nyai Jurik Wetan tadi ternyata hawa sakti untuk memulihkan keadaan Tenda Biru. Dalam beberapa hitungan saja, Tenda Biru mulai rasakan memperoleh tulang-tulangnya kembali. la bisa berdiri walau masih sedikit sempoyongan. Sementara itu, Panji Klobot pun sudah bisa berjalan dekati mereka.

"Kudengar kau telah tewas, Bocah Sinting," ujar Tenda Biru yang menatap Suto dengan tatapan sangat pribadi.

"Kata siapa aku sudah mati?"

"Kudengar ledakan dahsyat sekali dua hari yang lalu. Kulihat tebing di sebelah sana runtuh. Ternyata ada tokoh tua yang mengaku bernama Dewa Kubur sedang bertarung melawan seorang perempuan yang  mengaku  bernama Laksamana Tanduk Naga "

"Siapa...?!" Suto terkejut karena ingat nama orang Mangol yang memburunya untuk dijadikan tumbal, (Bacai di serial Pendekar Mabuk dalam episode: "Pemburu Tumbal").

Selanjutnya, Tenda Biru menceritakan tentang kematian Perwira Tombala dalam pertarungannya melawan Dewa Kubur. la  mendapat  penjelasan panjang-lebar dari Dewa Kubur, termasuk kabar kematian Suto Sinting. Pemuda itu terbengong beberapa saat setelah tahu dirinya telah dikabarkan meninggal. "Tak perlu sedih, Suto,"' ujar Citra Bisu dengan suara batin. "Akan kubantu menjelaskan pada siapa saja bahwa Pendekar Mabuk masih hidup,"

Suto Sinting menatap luka di wajah Citra Bisu. Rasa iba  hinggap  sesaat di hatinya. Kemudian ia menyuruh Tenda Biru membawa pulang Citra Bisu, sementara ia  akan pergi mencari kedai untuk mengisi bumbung tuak-  nya yang telah kosong itu.

"Tapi kudengar Kusir Hantu dan Pematang Hati  ditangkap  orang- orang Tanah Pasung!" ujar Tenda Biru.

"Dari mana kau tahu?"

"Kami kedatangan orang gemuk sekali yang meng-  aku  bernama Belatung Gerhana. Dia sekarang ada di pondok kami dalam keadaan kakinya patah karena terkena reruntuhan tebing. la ada di pondok bersama Mahligai Sukma. Sedangkan aku dan Panji Klobot ingin * membebaskan Kusir Hantu  dan Pematang Hati, yang menurut penjelasan Belatung Gerhana, mereka dibawa ke Pantai Bejat!"

"Itu akan kuurus secepatnya, Tenda Biru! Sekarang bawa pulang dulu Citra Bisu ini!"

Tenda Biru berbisik, "Siapa dia sebenarnya, Bocah Sinting?" "Kau bisa tanyakan sendiri di pondok nanti!"

Citra Bisu berbisik lewat suara batinnya, "Kuharap kau tidak pergi ke Pantai Bejat sebelum datang menjemputku, Suto! Aku akan marah jika kau pergi ke sana sendiri setelah dapatkan tuak untuk bumbungmu."

"Mengapa kau ingin ikut ke sana?"

"Aku harus ikut membereskan sisa-sisa perampok harta yang kujaga selama ini! Itu memang tugasku. Jangan kau ambil alih!"

Setelah pergi lebih dulu, barulah Pendekar Mabuk berani membatin sebuah pertanyaan untuk dirinya sendiri.

"Haruskah aku patuh kepada aturan Citra Bisu?!"

Suto tak tahu jawaban yang pasti. Tapi ia  punya  pertimbangan  sendiri, "Mana yang lebih penting, mem- hebaskan Kusir Hantu dan cucunya atau mengobati luka Citra Bisu lebih dulu?!"

Ternyata pertimbangan batin itu pun belum diketahui jawaban pastinya. 4

Udara panas membuat Suto Sinting mengikat rambutnya ke belakang dengan akar menyerupai karet. Dalam keadaan rambut panjangnya diikat ke belakang, ketampanannya tampak sedikit beda. Tapi tetap saja  memancarkan pesona yang akan memikat , para gadis dan wanita separuh baya. Tubuhnya yang kekar, tegap, gagah dan terkesan jantan itu sering membuat hati para janda berdebar penuh harap untuk dapat memeluk kegagahan tersebut.

Dalam langkahnya mencari tuak, Suto Sinting tak sempat berpikir tentang gadis lain. Yang ada dalam benaknya adalah  wajah  cantik  Citra Bisu. la terbayang kecupan hangat bibir si prajurit cantik itu. la juga ter- bayang pelukan hangat tubuh tinggi, sekal dan sangat padat itu.

Tapi Suto segera ingat tentang kekasihnya; Dyah Sariningrum yang berkuasa di negeri Puri Gerbang Surgawi. Bagaimanapun mantapnya tubuh Citra Bisu, I menurutnya masih kalah menarik dibandingkan kecantikan dan keelokan tubuh Dyah Sariningrum.

Untuk itu, Suto segera hilangkan bayangan Citra Bisu. la segera memikirkan bumbung tuaknya yang kosong dan mulutnya yang asam karena lama tak meneguk tuak. Tubuhnya pun terasa linu-linu, urat-urat  terasa kaku, luka memar akibat pertarungan juga masih membekas dan terasa sedikit sakit walau sudah diatasi dengan hawa murninya. Hanya tuak yang mampu membuatnya segar kembali.

Sebuah kedai ditemukan di desa kaki bukit, agak jauh dari Lembah Seram. Pendekar Mabuk langsung mengisi bumbung tuaknya. Pemilik kedai sempat me rasa heran saat mengisi bumbung tuak tersebut.

"Apakah tuak ini akan kau jual  lagi,  Kisanak?" "Tidak, Pak Tua. Aku bukan penjual tuak keliling." "Lho, jadi kau akan minum semua tuak sebanyak ini?"

"Begitulah kebiasaanku, Pak Tua. Sehari tak minum tuak seperti tak bisa bernapas sebulan," canda Suto Sinting. Tapi si pemilik-kedai itu berkerut dahi dengan mata melirik ke arah Suto sebentar, lalu memperhatikan tuangan tuaknya lagi.

"Kisanak ini seperti mendiang Pendekar Mabuk saja. Dia juga doyan minum tuak. Tapi sayang, pendekar sakti yang banyak menyelamatkan jiwa orang-orang lemah itu sekarang sudah tiada. Kalau saja Pendekar Mabuk masih hidup, kurasa beliau akan merasa senang jika bersahabat dengsnmu, Kisanak."

Hati pun seperti diiris sembilu. Mendengar namanya dianggap telah mati, bukan main risaunya Pendekar Mabuk. Bahkan ia tak  berani  menyatakan sikap dirinya di depan pemilik kedai. ia khawatir justru akan membuat pemilik kedai menertawakan pengakuannya, atau mengecamnya sebagai orang yang mengaku-aku Pendekar Mabuk.

Untuk itu, Suto Sinting mencoba menahan diri  dan  memaklumi keadaan yang salah kaprah itu. Napasnya ditarik dalam-dalam sambil merasakan derasnya darah bercampur tuak yang diminumnya dari cangkir kedai.

"Kalau saja Pendekar Mabuk itu belum tewas," ujar pemilik kedai lagi

sambil serahkan bumbung tuak yang sudah terisi tuak hingga penuh itu."... seandainya Pendekar Mabuk masih hidup dan singgah di desa ini, pasti orang-orang Tanah Pasung itu akan dibabat habis oleh- nya."

"Orang-orang Tanah Pasung...?!" Suto Sinting memandang  heran kepada si pemilik kedai.

"Rupanya Kisanak memang bukan orang sekitar sini, ya?"

"Memang bukan, Pak Tua. Ada apa dengan orang-  orang  Tanah  Pasung? Siapa mereka sebenarnya?" Suto berlagak bodoh.

"Mereka para pemburu harta karun peninggalan  negeri  Hastamanyiana. Sudah dua malam mereka mengganggu kehidupan di desa ini, Kisanak."

"Mengganggu dalam hal apa?"

"Ternak kami dicuri, kadang dirampok secara paksa. Baik itu ayam, kambing, sapi, atau kerbau. Bahkananjing pun disikatnya juga."

"Untuk apa mereka merampok ternak?"

"Untuk dibawa ke Pantai Bejat, dipakai pesta pora. Kabarnya mereka tiap maiam berpesta pora di Pantai Bejat, sedangkan siang harinya mereka mencari harta karun tersebut. Padahal mereka bukan orang Tanah Jawa! Dengar-dengar mereka berasal dari pulau seberang. Tapi mereka tidak mau pulang ke pulau seberang sebelum berhasil merampok harta  karun peninggalan negeri Hastamanyiana."

Suto Sinting menggumam sambil manggut-mang- gut. Kemudian ia ajukan tanya kepada pemilik kedai yang ikut menemaninya duduk di situ.

"Apakah desa ini tidak jauh dari Pantai Bejat?"

"Kalau ditempuh jalan kaki biasa, tidak sampai setengah hari, Kisanak. Hasil panen kami juga sering kami jual di Pantai Bejat, sebab di sana banyak pendatang dari luardaerah yang sengaja mencari rempah-rempah atau palawija untuk dijual di negerinya masing-masing."

"Kalau begitu, mereka memang harus segera diusir dari Tanah Jawa, Pak Tua."

"lya. Tapi siapa yang berani? Siapa yang mampu kalahkan ilmunya Ratu Sinden, ketua mereka itu?! Seperti kukatakan tadi,  Kisanak...  kalau  Pendekar Mabuk masih hidup dan ada di sekitar desa ini, pasti aku akan meminta bantuannya untuk mengamankan desa ini. Dan menurutku, hanya Pendekar Mabuk yang mampu kalahkan ilmunya si Ratu Sinden itu, Kisanak!" "Pendekar Mabuk belum mati, Pak Tua."

"Hahh...?! Belum mati?!" pemilik kedai itu terbeia- lak, tapi segera kendurkan ketegangan kagetnya. la terkekeh pelan.

"Ah, Kisanak ini ada-ada saja "

"Pendekar Mabuk adalah aku sendiri, Pak Tua."

"Aah... Kisanak ini bereanda!" sambil Pak Tua ma- kin  terkekeh geli  dan menepak pelan lengan Suto Sinting.

"Aku bersungguh-sungguh, PakTua. Pendekar Mabuk belum mati!" "Sudah   mati!   Kisanak   ini   kurang   mengikuti   perkembangan zaman

rupanya.  Atau...  terlambat mendengar  kabar besar itu?  Uuh hampir  semua

orang di muka bumi sudah mendengar kabar bahwa Pendekar Mabuk sudah mati. Matinya menyedihkan sekali "

"Pak Tua, akulah si Pendekar Mabuk itu!"

"Sebagai pengagum Pendekar Mabuk, aku sangat sedih begitu mendengar kernatiannya," ujar pemilik kedai itu, seakantak mautanggapi kata-kata Suto lagi. Hal itu membuat Suto Sinting tarik napas menahan ke- jengkelan.

"Seorang tokoh dari Gunung Gandul yang berjuluk Dewa Kubur, ternyata gagal menyelamatkan Pendekar Mabuk. Pemuda gagah perkasa itu tercebur masuk ke sumur tua, padahal sumur itu tanpa dasar. Artinya, ke- dalaman sumur tak bisa diduga. Ditambah lagi, sumur itu sekarang sudah tertimbun reruntuhan tebing. Tebing itu runtuh akibat pertarungan Dewa Kubur dengan perempuan dari Mangol yang bernama Laksamana  Tanduk Naga. Tapi kabarnya perempuan itu bisa lolos dari ancaman maut  Dewa Kubur. Hanya saja, Lawannya Pendekar Mabuk yang kalau tak salah bernama Perwira  Tombala, orang  Mangol  juga,  tewas di  tangan  Dewa  Kubur. Aah...

sayang sekali Dewa Kubur tak bisa selamatkan Pendekar Mabuk. Coba kalau

dia bisa selamatkan Pendekar Mabuk, pasti mereka dapat menggulung habis orang-orang Tanah Pasung!" "Cukup, cukup...! Aku sudah dengar cerita itu, Pak Tua!"

"Naaah... sudah dengar toh? Jadi sekarang Kisanak percaya kalau Pendekar Mabuk sudah mati?!"

"Pak Tua, coba hitung berapa harga makanan dan minuman tuakku.

Aku mau buru-buru pergi."

"Lho, sudah sore begini mau pergi ke mana, Kisanak? Apakah tidak sebaiknya bermalam di sini saja?"

"Aku harus segera sampai ke Pantai Bejat!"

"Lho, mau apa ke sana? Cari mati juga?! Lebih baik bermalam saja di sini. Kami menyediakan kamar sewaan kok."

"Aku mau bertemu dengan Ratu Sinden itu, Pak tua. Dua orang kenalanku ditawan oleh mereka. Aku harus  segera  membebaskan  mereka dan menghentikan segala tindakan si Ratu Sinden yang merugikan  pen-  duduk Tanah Jawa ini!"

Aaah, Kisanak ini selera bercandanya tinggi sekali rupanya.  Kok seperti Pendekar Mabuk saja keberanian Kisanak."

"Aku titisan Pendekar Mabuk!"

"Oooo... titisan?! Ya, ampuuun... pantas Kisanak punya keberanian dan penampilan seperti almarhum Pendekar Mabuk...?!"

Suto Sinting menggerutu dalam hati, "Giliran mengaku titisan  Pendekar Mabuk dia percaya sekali! Uuh, dasar bodoh!"

Pendekar Mabuk memilih cepat pergi dari kedai ketimbang harus mengalami tekanan batin terus-terusan. Yang penting, bumbung tuak sudah terisi penuh. Ketenangan terkuasai sepenuhnya. Walaupun hati sering berdesir pedih jika ingat namanya sudah dianggap mati, tapi dengan menenggak tuak dari bumbung saktinya, kepedihan itu pun sirna dalam sekejap.

Seandainya pemilik kedai itu mau percaya bahwa Pendekar Mabuk memang masih hidup, mungkin Suto memilih untuk bermalam di desa  itu.  Hari memang sudah sore, sebentar lagi akan menjadi senja, lalu petang akan datang. Memang seharusnya beristirahat di suatu tempat sambil mempertimbangkan, pulang ke Lembah Seram untuk obati luka Citra Bisu  atau melabrak ke Pantai Bejat, bebaskan Kusir Hantu dan Pematang Hati.

Agaknya sikap pemilik kedai membuat Suto tak punya  pilihan  untuk  lanjutkan perjalanan. Sampai di tengah jalan ia berhenti dan mempertimbangkan langkah berikutnya. Rambutnya yang diikat ke belakang itu ingin dilepas dari pengikatnya, tapi gerakan itu terhenti. "Ooh, mungkin karena rambutku diikat ke belakang begini  maka  pemilik kedai itu tidak mengenali bahwa diriku adalah Pendekar Mabuk?!" pikirnya, lalu tak jadi melepas ikatan rambut.

"Berarti wajahku sedikit berubah kalau rambut diikat ke belakang. Mungkin keadaan rambutku yang selalu terurai tanpa ikat kepala ini menjadi ciri-ciri yang sangat dikenali oleh mereka  sebagai  Pendekar  Mabuk. Hmmm... jadi kalau baju coklatku ini kuganti, celana putihku juga kuganti, mungkin aku semakin tidak dikenali sebagai Pendekar Mabuk?!  Tapi bagaimana dengan bumbung tuakku?! Pasti akan dikenali sebagai bumbung tuaknya Pendekar Mabuk! Lalu, bagaimana jika bumbung  tuak  kubalut  dengan kain, sehingga tidak semata-rnata tampak seperti bumbung tuak? Ooh... penampilanku pasti akan berbeda lagi."

Pendekar Mabuk menetapkan langkahnya untuk menuju ke  Pantai  Bejat dan membebaskan Kusir Hantu dan Pematang Hati. Pekerjaan itu dirasakan lebih pen- ting daripada menyembuhkan luka Citra Bisu. Toh luka gadis itu tidak akan merenggut nyawa kalau sampai dua tiga hari baru terobati.

Suto memperhitungkan untuk membebaskan Kusir  Hantu  dan Pematang Hati bukan pekerjaan yang mu- iliih. Pasti mereka berdua dijaga sangat ketat. Tapi jika In bisa tundukkan si Ratu Sinden, pasti anak buah Ratu Sinden akan ketakutan dan membebaskan Kusir Hantu serta Pematang Hati.

"Jika mereka menawan Kusir Hantu dan Pematang Hati, aku harus

bisa menawan Ratu Sinden!" tegas Suto dalam hati. "Jika Ratu Sinden berhasil menjadi tawananku, maka ia bisa kupaksa agar memberi perintah kepada anak buahnya untuk bebaskan Kusir Haritu dan Pematang  Hati.  Untuk dapat menawan Ratu Sinden, sebaiknya aku tampil beda. Jangan seperti Pendekar Mabuk, nanti belum-belum mereka sudah persiapkan ben- teng pertahanan dan itu akan buang-buang waktu dan tenaga."

Baru saja Suto Sinting ingin mencari sarana untuk mengubah penampilannya, tiba-tiba ia melihat sekelebat bayangan melintas  di  seia- sela pohon seberang arahnya. Bayangan hitam  itu  berlaritak  seberapa cepat, masih bisa diikuti dengan pandangan  mata. Suto ter- peranjat sebab  ia merasa kenal dengan orang yang beriari terbirit-birit bagai dikejar setan itu.

"Kalau tak salah dia si Sawung Kuntet?!" gumam Suto Sinting dalam

hati. Lalu ia melihat seseorang juga yang beriari menyusul Sawung Kuntet. Orang itu berpakaian kuning kunyit dan menggenggam kapak. la  seorang  lelaki bertubuh lebih tinggi dari Sawung Kuntet. Agaknya  lelaki  itu  beJ  usaha untuk membunuh Sawung Kuntet. Maka tak banyak pertimbangan lagi, Suto Sinting segera bertinda selamatkan Sawung Kuntet, sahabatnya.

Zlaaap, ziaap...!

Dalam sekejap Suto Sinting sudah tiba di depan langkah Sawung Kuntet. Tapi orang pendek berkumis seperti kelelawar itu justru berteriak kaget begitu melihat siapa yang menghadang di depan langkahnya. "Huuaaaaa...! Setaaaaaan...!!"

Sawung Kuntet lari ke arah lain. Pendekar Mabuk tertegun sesaat, merasa aneh melihat Sawung Kuntet ketakutan bertemu dengannya. Lalu, ia segera ingat bahwa dirinya sudah dianggap mati, sehingga mungkin Sawung Kuntet tak percaya bahwa ia bertemu dengan Pendekar Mabuk.

"Pantas dia bilang 'setan' sambil ngacir?!" gumam Suto Sinting sambil bergegas mengejar Sawung Kuntet lagi.

Zlaaap, zlaaap...! Jurus Gerak Siluman1 yang mem- punyai kecepatan

sama dengan kecepatan cahaya itu membuat Suto Sinting dalam waktu dua kejap sudah berada di depan langkah Sawung Kuntet. Orang yang □  ambutnya terbelah seperti parit itu berteriak ketakutan lagi.

Huaaaaaa...! Seeee...!"

Wuuut...! Suto Sinting menyambarnya. la melesat keatas pohon sambil membungkam mulut Sawung Kuntet dengan tangannya. Bleeb...!

Sampai di atas pohon, Suto Sinting berkata pelan. lauyan berteriak lagi, Bodoh! Orang yang mengejarmu sedang kebingungan mencarimu!"

"Taap... tapi... tapi kau sudah anu... anu...," Sawung Kuntet gugup. Kata-kata 'anu' yang selalu digunakan sebagai pengganti kata  yang  dimaksud, segera dapat dipahami oleh Suto.

"Kau menyangka aku sudah mati, bukan?!"

"liyy... iya...! Bukankah memang benar kau sudah anu...?! Kudengar anumu hilang... di... di "

"Anuku. masih ada, Tolol!"

"Maksudku, kudengar mayatmu hilang di suatu tempat dan tidak bisa ditemukan lagi."

"Kau yakin aku benar-benar sudah mati?" "Jus... jus... jus "

"Apanya yang jas-jus-jas-jus ?!" hardik Suto dengan suara berbisik. "Jus... tru... justru aku diutus Eyang Cakraduya untuk mencari anumu, eeh... mencari mayatrnu yang "

"Ssst...! Soal itu dibahas nanti saja!" bisik Suto sambil membungkam mulut Sawung Kuntet lagi. "Sekarang aku ingin tahu, siapa orang yang mengejarmu itu?!"

"Dia... dia Lebak Suram. Musuh lamaku. Aku sudah hampir lupa dengannya, tapi dia masih ingat bahwa aku pernah  membuntungi  kaki adiknya. Sekarang dia man balas buntungi anuku.... Aku tak sudi. Kalau aku

t.i punya anu, lantas bagaimana kalau aku mau anu?!" "Yaah, pakai anu palsu, kan bisa!"

"Husy ! Sembarangan saja usulmu!"

"Maksudku, dia mau buntungi kakimu, yaah... untuk sementara kamu pakai kaki palsu dulu."

"Dia bukan mau buntungi kakiku, tapi benar-benar anuku ini yang mau dibuntungi!"

Suto menahan tawa geli dengan menutup mulut sendiri begitu melihat tangan Sawung Kuntet meme- gangi bagian celananya.  Rupanya  yang dimaksud Sawung Kuntet memang benar-benar 'anu'-nya yang ingin dibuntungi orang Lebak Suram itu.

"Kalau anuku buntung, mana bisa pakai anu palsu!" gerutu Sawung Kuntet.

Mereka tak sadar, bahwa orang Lebak Suram itu sudah tiba di bawah pohon tempat mereka bersembunyi. Suara kasak-kusuk Sawung Kuntet memancing perhatian orang tersebut, sehingga orang tersebut mengetahui buronannya ada di atas pohon.

"Tikus sawah...! Turun kau!" sentak orang itu membuat Suto  dan Sawung Kuntet diam serentak.

"Kalau tak mau turun, kuhancurkan pohon ini bernama badan busukmu itu!" ancam orang tersebut.

"Kau di sini saja!" ujar Suto, lalu ia melompat turun dari atas pohon. Wuuut...! Jleeg...! Kini ia berhadapan dengan orang berperawakan kekar seperti potongan lubuhnya.

"Siapa kau?! Aku tak punya urusan denganmu!" nmitak orang itu. Aku sahabatnya Sawung Kuntet!"

"Oo, jadi kau mau bela si tikus sawah itu?!" "Tunggu, sabar dufu. Akan kujelaskan bahwa. "

"Keparat kau! Hiaaah !" Wees...! Orang itu menerjang Suto Sinting dengan kapak bergagang panjang dihantamkan ke arah kepala. Suto Sinting sangat sigap.  Bumbung tuak yang sudah ada di tangan kanannya itu segera diangkat ke atas dan menahan hantaman kapak tersebut. Traang...! Wuuut...! Tangan orang itu terpentak kelar ke belakang, seperti menghantam sebongkah karet membal.  la sempat sempoyongan mau tumbang ke belakang.

".Jangan menyerangku dulu, Sobat! Aku mau bicara secara  damai!" ujar Suto Sinting. Tapi emosi orang itu tampaknya sukar dibendung lagi, sehingga ia tak menghiraukan ucapan Suto sedikit pun.

Kubabat habis kau bersama tikus botak itu, heeaaah...!"

Tees, tees...! Suto Sinting kirimkan jurus Jari Guntur -nya. Dua sentilan bertenaga dalam itu dilepaskan ke arah dada orang itu. Gerakan melayang orang itu tersentak dan menjadi oleng ke belakang  karena  dada nya terkena sentilan jurus Jari Guntur'. la merasa seperti ditendang kuda jantan dua kali di bagian dada.

Brruuk...! Orang itu pun tumbang. Napasnya ter  sengal-sengal  lima kali, kemudian terkulai lemas. Ia pingsan tanpa malu-malu lagi. Dadanya tampak membiru akibat sentilan Jari Guntur' tadi.

"Bandel! Kubilang bicara saja secara damai, malah ngotot! Yah, beginilah akibatnya. Rasakan sendiri!" gerutu Suto Sinting sambil memperhatikan orang tersebut. Sementara itu, Sawung Kuntet melompat turun dari atas pohon. Wuuut...! Gedebuk...!

"Adaaoow...!" Sawung Kuntet dalam posisi pung- gung duluan. Suto Sinting hanya memandang dengan senyum geli.

Tapi ketika ia kembali memperhatikan orang ber- pakaian  kuning kunyit itu, tiba-tiba terlintas gagasan untuk mengambil pakaian orang tersebut.

"Ukuran badannya sama denganku. Tingginya juga sama. Hmmm... kurasa sebaiknya aku menukar pakaianku dengan pakaian orang ini saja?!" pikir Suto saat itu.

Melihat Suto Sinting melepasi pakaian orang  tersebut,  Sawung Kuntet terbelalak kaget. la buru-buru dekati Suto dengan sedikit terpincang-pincang karena jatuh tadi.

"Gila kau, Suto. Sudah tak waras lagi apa? Kau mau anu-anukan orang



itu?!"



"Gundulmu! Aku bukan banci, Tolol!"

"Lalu... lalu kau mau apakan dia?! Mengapa kau copot anunya?" "Anunya tidak kucopot! Hanya pakaiannya yang kulepasi!" "lya, maksudku untuk apa kau copoti pakaiannya?!" "Aku ingin bertukar pakaian dengannya."

"Maksudmu... kau bosan dengan warna pakaianmu itu?!"

Pendekar Mabuk akhirnya menjelaskan rencananya secara rinci.  la  juga menjelaskan nasibnya yang masih mujur dan tidak mati seperti yang dikabarkan dari mulut ke mulut itu.

"Jadi... kau ingin anukan si Kusir Hantu dan cucunya?! Kau ingin menyamar dengan anu berbeda agar bisa dekati Ratu Sinden?"

Bukan dengan anu berbeda. Anuku tidak akan berbeda, yang berbeda penampilanku."

"lya. Maksudku juga begitu!"

"Kuharap kau bisa membantuku, Sawung Kuntet."

"Baik. Akan kubantu, asal setelah itu kau harus temui Candu Asmara, cucu Eyang Cakraduya itu."

"Ada apa dengan Candu Asmara?"

"Dia sakit begitu mendengar kabar kematianmu. Anunya panas." "Husy...! Apa kau pegang anunya, kok tahu kalau panas?"

"Maksudku, badannya panas!" sentak Sawung Kuntet jengkel sendiri jika yang diajak bicara tak me- ngerti maksudnya.

Tapi ia segera tertawa begitu melihat Suto Sinting mengenakan baju lengan panjang dan celana longgar warna kuning kunyit. Menurutnya, penampilan Suto lucu dan kaku. Tidak seperti biasanya.

"Lalu bagaimana dengan orang ini, ya?" gumam Suto Sinting sambil memperhatikan si pemilik pakaian kunyit. Beruntung orang itu mengenakan celana kolor sebagai rangkapan pakaiannya, sehingga ketika baju dan celana kuning kunyitnya diambil, ia tidak teianjang bulat-bulat. Tapi  menurut Sawung Kuntet, keadaan orang itu tidak perlu dipikirkan lagi.

"Orang-orang Lebak Suram itu pencuri semua! Mereka biasa mencuri barang-barang penduduk mana saja. Biar sekarang dia merasakan bagaimana sedihnya jika anunya dicuri orang. Maksudku, pakaiannya...!"

"Tapi kasihan dia. Pasti akan kebingungan kalau nanti dia pingsan dan mendapatkan pakaiannya tak ada. Biarlah kutinggalkan saja baju  dan  celanaku ini sebagai gantinya!"

Pendekar Mabuk pun bergegas pergi. Sawung Kuntet mengikutinya. Tapi tanpa setahu Suto, baju coklat dan celana putih kusam itu diambil lagi oleh Sawung Kuntet. Digulung sekecil mungkin dan diikat dengan  tali dari akar lentur. Setelah agak jauh melangkah, Suto baru menyadari bahwa baju dan celananya dibawa oleh Sawung Kuntet.

"Pulangkan ke sana! Kasihan orang itu nanti kalau siuman tak punya pakaian."

"Dia sendiri tak pernah kasihan kepada penduduk desa yang selalu dicuri barang-barangnya, masa' kita harus anu sama dia?!" bantah Sawung Kuntet. "Sudahlah, urusan itu urusanku. Kalau memang dia mau tuntut pakaiannya yang hilang, biar dia yang menuntutku. Aku tidak takut dengan anunya "

"Anunya lagi, anunya lagi "

"Maksudku, tidak takut dengan tuntutannya!"

Bumbung tuak pun dibungkus rapi dengan lembaran-lembaran batang pisang kering. Sepintas tak terlihat bahwa benda itu adalah bumbung tuak. Rambut Suto dirapikan ke belakang, diikat mode! ekor kuda. Bain kuning kunyit lengan panjang sedikit digulung le- ngannya sampai mendekati siku.

"Aku punya gagasan baru!" ujar Sawung Kuntet. "Bagaimana jika kubuatkan anu dari getah pohon Sing- kalang?!"

"Aku sudah punya anu, kenapa mau kau buatkan anu lagi?"

"Maksudku, dibuatkan tato dengan getah pohon Singkalang. Bisa dipakai untuk mempertebal alismu juga."

"Bisa hilang?"

"Jika kena air memang lama-lama akan anu. Tapi setelah empat-iima hari baru bisa luntur dan anu sendiri.""

"Boleh juga," jawab Suto sambil tertawa geli mom bayangkan usul Sawung Kuntet itu.

Salah satu kepandaian Sawung Kuntet, selain llmu

kanuragan setengah matang, ia juga pandai melukis. ia bisa membuat tato dengan gambar bagus di dada Suto Sinting.

"Tatonya gambar perkutut saja, ya?" ujar Suto mengusuikan pada Sawung Kuntet.

"Perkutut ?! Uuuh, tato kok gambar perkutut! Ku- rang sangar!"

"Kalau begitu gambar kuburan saja."

"Uuh norak!"

"Hmmm, bagaimana kalau gambar ketupat rebus?!"

"Haah, haa, haa, haa...," Sawung Kuntet tertawa geli. "Ketupat dan sambal gorengnya, begitu?!"

Suto pun geli juga membayangkannya. "Gambar tato harus berkesan angker. Misalnya kepala macan, atau kapala... kepala... anu... maksudku, kepala..."

"Kepala nenekmu saja, bagaimana?!" sela Suto dengan konyol. Sawung Kuntet bersungut-sungut menggerutu. Akhirnya, soal gambar  tato diserahkan kepada Sawung Kuntet. Suto ikut saja  dengan  gagasan  lelaki yang berpakaian serba hitam itu.

Agaknya Suto Sinting tidak kecewa setelah Sawung Kuntet selesai kerjakan gambar tato dari getah pohon Singkalang. Tato itu bergambar seekor kuda jantan mengangkat kedua kaki depannya. Tidak terlalu besar, tapi cukup jelas jika belahan baju Suto tidak dirapatkan.

Alis Suto pun dipertebal dengan getah pohon Singkalang yang berwarna biru, lama-lama menjadi berwarna kehitaman. Alis itu selain tebal juga sedikit naik, sehingga wajah Suto Sinting tampak lebih beda dari biasanya.

"Kumis bagaimana?"

"Jangan, nanti kelihatan palsu," tolak Suto.

"Diberi bintik-bintik saja, jadi seperti kumis dan cambang habis di- anu... maksudku, habis dikerok."

"Boleh, boleh...!" ujar Suto dengan semangat. la tertawa geli lagi.

la sempat bercermin lewat genangan air di sawah-sawah. Semakin geli melihat perubahan wajahnya. Tampan tapi berkesan agak liar sedikit. Tak mudah orang mengenalinya sebagai Pendekar Mabuk. Apalagi ia mengenakan akar bahar sebesar kelingking yang melingkar di lengan kirinya. la tampak lebih perkasa lagi, walau berkesan ganas. 5

Sawung Kuntet membayang-bayangi dari kejauhan. Mereka tiba di Pantai Bejat pada hari berikutnya, sebab malam itu Suto Sinting bertemu dengan Ki Partolo, paman dari Mayangsita. Mereka sempat berbincang- bincang di rumah sahabatnya Ki Partolo tentang kekuatan si Ratu Sinden.

Waktu itu, Mayangsita berada di kediaman gurunya. Jadi gadis penggugup dan latah itu tidak sempat bertemu Suto Sinting. Esoknya Suto berangkat berdua dengan Sawung Kuntet. Tetapi jarak mereka berjauhan. Sawung Kuntet ditemani oleh Ki Partolo, di mana keduanya akan berlagak tidak kenal dengan pemuda berpakaian kuning kunyit, alias Suto Sinting.

Pantai Bejat memang tempat berlabuhnya kapal- kapal dagang dari berbagai daerah. Mereka datang ke Pantai Bejat karena hutan  wilayah  Pantai Bejat banyak ditumbuhi rempah-rempah. Desa-desa di sekitar Pantai Bejat adalah desa subur-makmur, banyak petani palawija yang menjual hasil pertaniannya kepada para pedagang dari seberang.

Tetapi Pantai Bejat juga mempunyai sisi lain. Tempat yang sepi dan berhutan liar itu terletak agak jauh dari  bandar  pelabuhan  yang sebenarnya. Tempat itu berada di ujung teluk yang membelok  ke  arah  barat. Di sanalah orang-orang Tanah Pasung melabuhkan kapal mereka. Satu kapal besar dan empat perahu berlayar tunggal ditambatkan di pantai berdinding karang tak terlaiu tinggi. Mereka bisa melompat dari tepian karang ke tepian kapal atau perahu.

Gubuk-gubuk darurat didirikan oleh mereka di tepian hutan pantai. Mereka menggunakan rumbia sebagai dinding dan atap gubuk. Agaknya tak satu pun orang bandar pelabuhan yang berani mendekati ke pe- mukiman orang-orang Tanah Pasung itu. Bahkan jika orang Tanah Pasung datang ke bandar pelabuhan yang ramai itu, orang-orang yang tinggal di sekitar situ diliputi rasa was-was dan cemas.

"Mereka seperti iblis! Sering bikin keonaran, dan tak segan-segan membunuh orang tak bersalah!" ujar seorang pemilik kedai yang berbadan gemuk itu.

Sebelum mendekati daerah gubuk-gubuk liar orang Tanah  Pasung, Suto sengaja sempatkan singgah di sebuah kedai yang tergolong bersih dan tempatnya cukup lebar. Selain makan dan minum, Suto juga bermaksud mencari kabar tentang keadaan di pantai ujung sana. "Jika siang begini, iblis-iblis itu pergi mencari harta karun. Menjelang sore mereka pulang."

"Berhasilkah mereka mendapatkan harta karun itu?"

"Setahuku tak pernah berhasil. Tapi mereka agaknya juga tak mudah menyerah."

"Kudengar mereka menangkap dua orang yang dapat  dijadikan pemandu jalan menuju goa penyim- panan harta karun itu?" pancing Suto.

"Ya, kudengar memang begitu, Nak. Tapi entah bagaimana hasiinya. Mungkin mereka tangkap orang yang salah. Toh nyatanya sampai sekarang  tak ada kabar bahwa mereka telah dapatkan harta karun itu,"' ujar  si  pemilik kedai yang berusia sekitar empat puluh lima tahun.

"Beberapa hari yang lalu...," sambung si pemilik kedai. "... ada seorang pemuda yang mau coba-coba membebaskan kedua tawanan itu. Dari sini terdengar ledakan beberapa kali dan pekik pertarungan. Tapi... entah bagaimana nasib pemuda itu. Mungkin mati, mungkin juga meiarikan diri, karena si Ratu Sinden itu ilmunya memang hebat!"

Pendekar Mabuk termenung sesaat. Lalu ia ingat dengan sahabatnya yang tunanetra.

"Mangku Randa...?! Ya, kurasa yang dimaksud  pemilik kedai ini adalah  si Mangku Randa. Sebab waktu berpisah denganku, dia bertekad mengejar orang- orang Tanah Pasung. Selain ingin bebaskan  Kusir  Hantu  dan Pematang Hati, ia juga ingin balas dendam atas kematian ibunya  yang  dibunuh Ratu Sinden. Tapi... bagaimana nasib anak itu sekarang?"

Suto Sinting agak mencemaskan keselamatanMangku Randa. Pemuda anak mendiang Nyai Sindang Rumi itu sangat berapi-api mencari pembunuh ibunya. Setelah diketahui si pembunuh adalah Ratu Sinden, ia bertekad membalas kematian ibunya dengan berusaha membunuh Ratu Sinden, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode: "Misteri Lembah Seram"). Tapi hati kecil Suto sangsi dengan kemampuan Mangku Randa untuk kalahkan si Ratu Sinden. Lebih-lebih sampai saat Suto lolos dari lorong maut, ia belum bertemu dengan pemuda itu, atau mendengar kabar yang pasti tentang Mangku Randa.

"Kalau kau mau menyewa kamar di atas, masih ada tiga kamar yang kosong, Nak," bisik si pemilik kedai.

"Kupertimbangkan dulu, Paman. Jika memang aku butuh bermalam di sini, aku akan bilang padamu!"

"Untuk sementara Jangan bicara dulu tentang orang-orang Tanah Pasung." "Mengapa begitu, Paman?"

"Dua orang Tanah Pasung baru saja masuk kemari," bisik si pemilik kedai sambil melirik ke arah pintu masuk. la pun bergegas pergi, berlagak menyambut kedua tamu itu dengan ramah. Suto Sinting memperhatikan  kedua orang tersebut. Satu di antaranya pernah dilihat wajahnya  saat ia  dan Mangku Randa dikepung oleh mereka.

Suto Sinting berlagak tak peduiikan kemunculan dua orang itu. Tapi diam-diam ia gunakan ilmu 'Sadap Suara yang membuatnya dapat mendengarkan percakapan dari jarak jauh.

"Apakah kau percaya dengan pengakuan tawanan kita itu?!"

"Kurasa dia sudah bicara apa adanya. Dia memang tidak tahu tentang Goa Kembar. Tapi dia kenal orang yang rnengetahui goa itu. Dia tak mau terlibat urusan ini, sehingga menyebutkan nama Pendekar Mabuk sebagai orang yang menjadi kunci di mana harta karun itu tersimpan."

Hati Suto pun kaget mendengar namanya disebut- kan. Tapi ia tetap bersikap tenang. Meneguk tuak dari cangkir dan menikmati pisang goreng dengan santai sekali.

"Tapi menurut teman kita yang kemarin ditugaskan memeriksa tebing itu, ternyata tebing itu sudah runtuh. Mestinya pintu masuk  ke  goa  tersebut juga sudah ter- himpit reruntuhan."

"Bukankah tawanan kita bilang, masih ada pintu rahasia yang hanya diketahui oleh Pendekar Mabuk?! Jadi, kurasa Nyai Ratu Sinden berikan perintah yang benar. Menangkap Pendekar Mabuk dan memaksanya bicara adalah langkah yang paling tepat."

"Tapi kudengar Pendekar Mabuk ilmunya cukup tinggi. Kurasa kalau yang ditugaskan menangkap Pendekar Mabuk adalah diriku, maka aku lebih baik berpu- ra pura gagal walaupun sudah adu muka dengan  Pendekar  Mabuk."

"Dasar pengecut!"

"Masalahnya... aku belum kawin, masa' aku harus mati muda di tangan Pendekar Mabuk. Aku yakin ilmuku tak ada sekuku hitamnya  dengan  Pendekar Mabuk!"

"Makanya, Nyai Ratu sendiri turun tangan mencari Pendekar Mabuk!

Tidak hanya mengandalkan kita-kita orang!"

Diam-diam Suto sunggingkan senyum tipis mendengar percakapan kedua orang itu.

"Kurasa ini akal-akalannya Kusir Hantu," ujar Suto membatin, "Dia punya siasat menjebak Ratu Sinden agar berhadapan denganku. Hmmm... boleh juga siasatnya itu. Tapi, mengapa bukan dia sendiri yang bertarung menghadapi Ratu Sinden? Mengapa Kusir Hantu tidak memberontak, setidaknya mengadakan perlawan- an atas penangkapannya itu?! Jangan- jangan dia me- nyimpan rahasia yang membuatnya tak berani melawan Ratu Sinden?!"

Tiba-tiba dua orang Tanah Pasung itu tampak terburu-buru ingin segera pergi. Bahkan mereka tak meninggalkan uang sebagai biaya makan- minum mereka di kedai itu. Tiga pemuda pelayan kedai melihat kepergian mereka. Salah satu ingin mengejar dua orang tersebut, tapi pemilik kedai yang gemuk segera membe- rikan isyarat  dengan  kepala  menggeleng. Pelayan tersebut tak jadi mengejar dua orang Tanah Pasung.

"Hmm... enak sekali mereka. Makan tinggal makan minum  tinggal minum, tahu-tahu pergi begitu saja. Tanpa ucapan terima kasih  sedikit  pun,'' gumam hati Suto Sinting. "Rasa-rasanya perlu diberi pelajaran biar mereka tahu aturan sedikit!"

Suto Sinting ingin lepaskan sentilan Jari Guntur'- nya. Tetapi perhatiannya segera tersita oleh kemunculan seorang perempuan cantik berusia sekitar dua puluh tujuh tahun. Perempuan itu muncul dari pintu te- ngah, sedangkan dua orang tadi keluar dari pintu samping.

"Edan! Dewi apa ini yang turun ke  kedai?! Dewi nasi liwet atau dewi  teh tubruk?!" puji Suto dalam hatinya, karena perempuan berpakaian ketat mengkilap berwar- na merah muda itu memang berparas cantik sekali. Be- berapa lelaki yang ada di kedai itu menatapnya tidak berkedip, termasuk  Suto Sinting.

Pancaran pesona dari wajah dan tubuhnya yang sirital itu mempunyai daya tarik sekuat magnet kutub utara. Semerbak wangi rempah-rempah bercampur melati menyebar di seluruh ruangan makan kedai tersebut. Karenanya, niat Suto memberi pelajaran kepada dua orang Tanah Pasung itu menjadi batal total. Pandangan matanya bagai lengket tertuju pada langkah perempuan cantik berhidung mancung dan berbibir sedikit tebal tapi berbentuk indah menantang gairah.

Gaun ketatnya yang berwarna merah jambu itu berpotonganterusan. Mempunyai belahan panjang dari bawah  sampai  ke pertengahan paha. Saat  ia melang-kah, belahan gauri ketatnya  itu  tersingkap-singkap,  membuat paha dan betisnya yang putih mulus itu menjadi incaran mata para lelaki, termasuk Suto Sinting.

"Sayang lagaknya kelihatan angkuh dan sombong, mengurangi  nilai  daya tariknya," ujar Suto dalam hati. "Tapi... bentuk matanya yang indah dan sedikit sayu itu seakan mampu  menyingkirkan  kesan  angkuhnya. Hmmm... siapa perempuan ini?!"

Rambut disanggu! rapi, giwang berkeriiap beriian, kalung berbandul batu permata, gelang pun berhias permata, ditambah jubah perangkap gauh berwarna ungu muda, maka tampaklah ia sebagai perempuan kaya  yang  gemar pamer kekayaannya. Jubah ungu mudanya dihiasi bulu-bulu  iembut pada tepiannya. Bulu- bulu iembut dan tampaknya haius itu berwarna  ungu tua. Jubah tipisnya yang beriengan panjang seakan hanya sebagai hiasan pelengkap busana saja. Sebab tipisnya kain jubah  membuat  bentuk  tubuhnya yang berda- da montok dan berpinggul meliuk sekal itu tetap tam- pak jelas dari luaran.

Hanya saja, tidak semua lelaki di dalam kedai itu berani

memandangnya secara terang-terangan. Kebanyakan mereka melirik dengan sembunyi-sembunyi, ada yang berpura-pura sambil mengambil kerupuk, ada yang berlagak sambil meneguk minumannya, ada pula yang  seolah-olah  sedang mengamati cincin di jarinya sendiri. Hanya satu-dua yang berani memandang terang-terangan termasuk Suto.

Pandangan mata Suto terpaksa terang-terangan sebab perempuan itu berjalan melintas di depan meja- nya, lalu menemui si pemilik kedai yang gemuk itu. Saat perempuan itu melintas di depan  Suto,  matanya  yang sedikit sayu melirik nakal kepada Suto Sinting. Senyum tampak  mekar dengan tipis. Hampir tak terlihat. Tetapi Pendekar Mabuk terang-terangan sunggingkan senyum tanpa canggung-canggung.

Saat lirikan nakal perempuan itu belum berakhir, Suto sudah buang pandangan ke arah pisang goreng yang tersaji di depannya. Dengan cuek ia menyantap pisang goreng, tanpa melirik ke arah perempuan itu lagi. Tapi telinganya masih mendengar suara si perempuan saat bicara kepada pemilik kedai.

"Kudengar kedaimu ini juga penginapan, Pak Gemuk?"

"Oh, hmm, iya... benar. Kami menyewakan kamar- kamar di  Soteng atas! Apakah... apakah "

"Apakah tempat ini aman?" sahut perempuan itu. "O, iya.,. tentu aman!"

"Aku ingin menyewa satu  kamar untuk  bermalam beberapa hari." "Baa... baik, akan kusuruh pelayan menyiapkan lebih rapi lagi Nona...

eh, Nyai... eeh, Ibu... eh...," Pak Gemuk serba saiah memberi sebutan pada perempuan itu. Kemudian ia memanggil peiayannya dan menyuruh peiayan mengantar perempuan itu ke kamar sambil merapikan kamar tersebut. Sebelum pergi ikuti pelayan, perempuan itu terde- ngar berkata kepada Pak Gemuk.

"Apakah kau menyewakan tenaga keamanan?" "Mak... maksudnya... maksudnya pengawal pribadi?"

"Betul. Aku butuh pengawal pribadi yang  berani  menjamin keselamatan jiwaku selama bermalam di penginapanmu!"

"Hmm, eeeh... nanti akan kucarikan. Segera akan kukirim seseorang sebagai pengawal pribadimu, Nyo- nya, eeh... Nona... eeh, Nyai... eeh, hmm, anu...,'

"Kirim pengawal secepatnya ke kamarku! Cari yang tangguh dan  berilmu tinggi!"

"Baa., baik!" Pak Gemuk membungkuk-bungkuk penuh hormat.

Perempuan itu naik ke tangga kayu berukir yang ada di sisi  kiri ruangan. Tepat berhadapan dengan tempat duduk Suto. Tetapi Suto Sinting acuh tak acuh, me- nyantap pisang gorengnya sambil  mencuil-cuil  tepung yang membungkus pisang tersebut.

Namun sebenarnya ekor mata Suto masih memper hatikan langkah perempuan cantik itu saat menaiki tangga menuju ke loteng atas. Suto pun tahu perempuan itu sempat memperhatikan ke  arahnya lagi sebelum menghilang di ketinggian loteng. Namun pemuda konyol  itu  tetap berlagak tak merasa dipandangi.

Lenyapnya perempuan itu, membuat orang-orang yang ada di kedai saiing berkasak-kusuk. Masing-masing memberikan pujian,  penilaian, pendapat dan sebagainya. Bahkan ada yang bicara tentang khayalan me- sumnya hingga timbulkan gelak tawa di antara teman semeja.

Suto hanya diam, membatin dalam hatinya, "Cantik sekali dia. Daya pikatriya sangat tinggi. Jantungku sam- pai berdetak-detak kencang begini, pertanda ia mempunyai daya pikat yang memang tinggi. Seperti sebongkah besi semberani yang ingin menarik sebatang jarum. Sukar  sekali  dilawan atau dihindari."

Pendekar Mabuk segera tuangkan tuak dari dalam bumbungnya. Padahal tuak dalam cangkir masih ada sedikit. Tapi dengan meminum  tuak  dari  dalam bumbung saktinya, waiau dituang ke daiam cangkir lebih dulu, tetap saja akan mempunyai khasiat tersendiri.

Debar-debar dalam dadanya mulai reda. Detak jantung menjadi normal kembali. Daya pikat yang tadi seperti besi semberani itu  bisa  diatasi  dengan ketenang- an. Tuak itulah yang menenangkan jiwa dan batin Pen- dekar Mabuk. Beberapa saat setelah itu, pelayan yang mengan- tarkan perempuan cantik tadi turun dari loteng. la lang- sung menemui Pak Gemuk dan berbisik-bisik sebentar. Kemudian Pak Gemuk datang menemui Suto Sinting dan bicara dengan suara membisik pula.

"Perempuan tadi ingin bicara denganmu, Nak."

Tentu saja kabar itu mengejutkan Suto walau tak sampai tersentak kaget. ^

"Aku tidak kenal dengannya."

"Dia ingin menyewamu  sebagai  pengawal  pribadi,Nak." "Menyewaku...?!   Ooh,   dia   pikir   aku   berilmu   tinggi   seperti yang

diharapkannya?!" Suto Sinting tertawa pendek seperti orang menggumarn. "Paman,  katakan   kepada  dia,  aku   tidak   sanggup  menjadi pengawal

pribadinya. Aku takut mati!"

"Oh, tolonglah, Nak... temui saja dia dan  katakan  sendiri  penolakanmu. Jangan kami yang mengatakan- nya, nanti dia kecewa dengan pelayanan kami dan pin- dah ke penginapan lain, Nak."

Suto menghembuskan napas panjang. "Baiklah kalau semua ini demi pelayanan usahamu, Paman. Akan kutemui dia dan kukatakan sendiri penolakanku!"

"Ooh, terima kasih... terima kasih...!" Pak Gemuk tampak girang sekali. Rupanya ia benar-benar takut tamu kaya itu kecewa karena menganggap pelayanan- nya kurang memuaskan. Hanya disuruh memanggilkan seseorang saja tak mampu, tentu saja hal itu akan rne- ngecewakan si tamu kaya tersebut.

"Kasihan si Paman Gemuk itu. Kalau tamu kaya itu kecewa, lalu pindah penginapan, jelas si Paman Gemuk akan merasa kurugikan," pikir  Suto  Sinting sambil me- naiki tangga menuju loteng, diantar oleh  pelayan  yang tadi membawa perintah dari perempuan cantik itu.

Kamar perempuan cantik itu terletak di ujung tang- ga. Hanya lima iangkah dari ujung tangga. Si pelayan mengetuk pintu, lalu terdengar seruan suara wanita dari dalam kamar.

"Masuuuk...!"

Pelayan pun pergi. Suto Sinting membuka pintu itu sendiri dan berdiri di ambangnya. Si perempuan sudah tak mengenakan jubah, hanya  gaun terusan tanpa le- ngan warna merah jambu mengkilap, seperti terbuat dari kain satin bermotif bunga kecil-kecil. Senyumnya tipis dan dingin saat menyambut kemunculan wajah Suto Sinting dari balik pintu. la berdiri di dekat jendeia yang menghadap ke barat. Rupanya ia tadi sedang menikmati pemandangan pantai barat melalui jendeia kamar tersebut.

"Masuklah, jangan di pintu saja!" ujarnya bernada perintah. Kesan ramahnya tak ada. Suto Sinting sedikit kikuk  karena  hati kecilnya merasa tak suka diperintah demikian. Tapi rasa ingin tahu siapa perempuan  cantik  itu membuat hati kecilnya mengalah dan tak mau peduii dengan sikap kurang ramah itu.

"Tutup pintunya!" perintah perempuan itu lagi. Suto Sinting menutup pintu dengan menyimpan rasa dong- kol dalam hatinya. Rasa dongkol itu segera lenyap setelah perempuan itu duduk di tepian ranjang  berkasur  lebar. Dari sana matanya yang sayu pandangi Suto tak berkedip.  Suto  Sinting menelan napas untuk mene- nangkan kegundahan dalam hatinya.

"Mengapa kau memanggilku, Nona?! Kurasa, kita tidak saling kenal," ujar Suto sedikit kaku.

"Namaku Yunda. Kau boleh memanggilku Yunda saja. Tak perlu embel- embel Nona, atau Nyai atau seje- nisnya. Yunda saja cukup!"

"Yunda...?!" gumam Suto Sinting mengulang,  seakan  mencatat  nama itu dalam ingatannya.

"Duduklah...!" Yunda menyilakan Suto duduk. Tak jauh  dari  ranjang ada kursi ukir berbantalkan busa merah. Tapi Suto Sinting tidak duduk di situ, la berjalan de- kati jendela, memandang ke arah luar. Dari tempatnya tampak suasana Pantai Bejat sebelah barat yang dihuni oleh gubuk-gubuk orang Tanah Pasung. Tapi perhatian Suto tidak sedang ke arah sana sepenuhnya. Separoh perhatiannya tertuju pada Yunda.

"Kau punya nama?"

"Tentu saja punya," jawab Suto sambil berpaling menatap Yunda. "Siapa namamu?"

Suto tak langsung menjawab. la ingat sedang laku- kan penyamaran, sehingga ia harus mengubah namanya juga agar tak dikenali orang.

"Namaku... Kanda. Hmm, lengkapnya... lengkapnya Panji Kanda," Suto ingat Panji Klobot.

la tambahkan lagi, "Tapi orang sering memanggilku  dengan  nama Kanda. Dan memang di antara para pe ngembara, aku dikena! dengan nama Kanda."

"Yunda dan Kanda...?! Aneh sekali?!'' perempuan itu sunggingkan senyum kecil. "Sepertinya kita sudah dijodohkan untuk saling bertemu di sini." "Ah, tidak juga!" sangkal Suto Sinting. "Sebelum hari menjadi  sore, aku sudah harus tinggalkan pantai ini."

"Ke mana...?"

"Lanjutkan pengembaraanku!" jawab Suto berlagak sebagai pengembara.

Yunda bangkit dan dekati Suto. "Kuharap tak perMu buru-buru lanjutkan perjalanan. Aku butuh seorang pe- ngawal pribadi."

"Aku bukan seorang pengawal," ujar Suto sambil beradu pandang.  "Tapi aku yakin kau mampu menjadi seorang pengawal pribadi bagi

perempuan seperti diriku!"

Kepala menggeleng, bibir sunggingkan senyum kalem. Mata perempuan itu makin sayu, bagaikan terbius oleh senyum Suto. Padahal senyuman itu wajar- wajar saja. Tak menggunakan jurus 'Senyuman Iblis' pemberian Bidadari Jalang. Jurus senyuman itu dapat membuat perempuan mana pun menggelepar-gelepar dihujani gairah ingin bercumbu dengan Pendekar Ma- buk.

"Kau keliru, Yunda. Aku bukan orang berilmu tinggi. Menjamin keselamatanku sendiri belum tentu mampu, apalagi menjamin keselamatan orang lain!"

Pintu diketuk, pelayan masuk membawakan mi- numan. Setelah  itu pergi lagi. Yunda menuangkan minuman teh ke dua cangkir. Suto  Sinting masih pandangi ombak di lautan jauh yang bergulung-gulung.

Yunda menawarkan minuman itu. Suto mendekati meja dan  memaksakan diri untuk meneguk teh hangat. Padahal sebenarnya ia  tak  doyan air teh, karena sudah terbiasa dengan tuak. Tapi demi melengkapi penyamarannya, ia harus paksakan diri untuk seolah-olah  terbiasa  minum teh.

"Benda apa yang kau bawa-bawa itu?" tanya Yunda menatap bumbung

tuak yang dibungkus gedebong pisang kering dan diikat kuat-kuat serta rapi itu.

"Perbekalanku dalam pengembaraan," "Apa isinya?"

"Madu...!" jawab Suto Sinting.

"Madu...?! Ooh, pantas badanmu kelihatan kekar, rupanya kau suka minum madu?"

"Aku juga suka makan sarang lebah madu. Aku masih menyimpan  sarang lebah itu, lengkap dengan lebahnya. Kau mau?" "O, tidak! Jangan kau buka di sini! Aku paling takut dengan lebah!" tolak Yunda sambil sembunyikan se- nyum geli. la agak jauhi  Suto,  lalu  duduk di kursi ukur berbantalan busa merah.

"Kanda, sesungguhnya aku benar-benar butuh seorang pengawal pribadi. Dan saat di bawah tadi, hatiku

mengatakan bahwa kauiah orang yang pantas menjadi pengawal pribadiku." "Sekali lagi kukatakan, aku tidak bisa menjamin nyawaku sendiri!" "Seorang pengawal pribadi tidak harus bertarung melawan bahaya."

Pendekar Mabuk mendekat. Bumbung tuaknya di- letakkan tak jauh dari ranjang, bersandar dinding. la du- duk di tepian ranjang, karena posisi duduk Yunda mulai bertumpang kaki. Belahan gaunnya tersingkap, kemulusan pahanya terpampang jelas. Mata Suto ingin memandang lebih jelas lagi. Karenanya ia duduk di tepian ranjang.

"Lalu apa tugas seorang pengawal pribadi, jika bukan bertarung melawan bahaya?"

Dengan wajah sedikit terangkat berkesan angkuh, Yunda menjawab dengan nada datar.

"Menyelamatkan hati yang sedang kesepian, mene- mani jiwa yang sendirian, dan banyak lagi yang bisa dilakukan oleh seorang pengawal  pribadi."

Suto Sinting tersenyum lebar, tak memberi komentar.

"Kusediakan upah besar untukmu, jika kau mau mengawal hatiku, Kanda!"

Suto makin lebarkan senyum, lalu gelengkan kepala.

"Tawaranmu memang sangat menantang danmenggoda, Yunda. Tapi  aku tak bisa menerimanya. Aku tak bersedia menjadi pengawal hatimu. Aku  bukan pria yang bisa dibeli, Yunda!"

Suto meneguk teh hangatnya, karena Yunda juga meneguknya pula. "Maaf, aku tidak bermaksud membelimu, Kanda. Aku mencoba

memberikan sesuatu agar kau tak mera- sa kurugikan. Jika  upah membuat kau merasa kubeli, bagaimana kalau... kau menjadi temanku saja? Mene- maniku selama beberapa hari."

Si pemuda diam dan berpikir sesaat. Yunda merasa punya kesempatan mempengaruhi pikiran tersebut.

"Di sini aku tidak punya teman, Kanda. Setidaknya aku butuh seorang teman untuk bertimbang rasa."

"Sebenarnya kau datang dari mana, Yunda?" "Dari...," Yunda diam sejenak, berjalan ke meja, meletakkan cangkir minumnya. Lalu ia duduk di samping Suto. Kaki kiri ditumpangkan di kaki kanan. Sema- kin jelas kulit pahanya di depan Suto Sinting, semakin  berdebar hati Suto dibuatnya.

"Terus terang saja, Kanda... sebenarnya aku dari  Pegunungan  Gobi. Aku mencari ayahku yang kabarnya berada di Tanah Jawa ini. Ayahku, yang tentunya sekarang sudah lanjut usia itu, dulunya ia seorang panglima  di negeri Hastamanyiana. "

Suto Sinting tersentak mendengar nama Hastamanyiana disebutkan. Tapi ia dapat meredam rasa kagetnya itu dalam hati, sehingga mimik wajahnya tampak biasa-biasa saja.

"Tapi kudengar," lanjut Yunda. "... Hastamanyiana telah lama hancur. Seorang kenalan ibuku belum lama ini mengatakan, ia melihat bertemu  dengan ayahku di Tanah Jawa dalam keadaan tua sekali."

"Siapa nama ayahmu?"

Setelah diam dua helaan napas dan sedikit  tunduk-  kan  kepala, seakan membendung rasa dukanya, Yunda pun sebutkan nama  ayahnya  dengan suara pelan.

"Ayahku bernama Gila Tuak!"

"Hahh ?!"

Kali ini Suto Sinting tak bisa menahan rasa kaget- nya. Matanya tlrbelalak lebar dan wajahnya semburat merah. la nyaris  tak  percaya  dengan pendengarannya sendiri saat Yunda menyebutkan nama gurunya: si Gila Tuak alias Ki Sabawana itu. Namun ia buru-buru sadar akan penyamarannya sehingga rasa kagetnya cepat dikuasai.

"Mengapa kau terkejut, Kanda? Apakah kau kenal dengan nama Gila Tuak?"

"Hmmm, yaah... aku memang pernah mendengar nama  itu.  Kurasa semua orang di rimba persilatan pasti pernah mendengar nama si Gila Tuak, tokoh tertinggi di rimba persilatan itu."

"Kau pernah bertemu dengannya? Kau tahu di mana tempat tinggalnya?"

Suto Sinting gelengkan kepala. "Aku tidak tahu. Aku hanya mengena! namanya saja. Belum pernah bertatap muka dengan beliau."

"Kudengar kabar terakhir dari seorang tokoh tua, Gila  Tuak mempunyai murid tunggal yang bergelar Pendekar  Mabuk  alias  Suto Sinting." Suto kuasai kembali rasa kagetnya dengan tank napas panjarig dan manggut-manggut.

"Aku mencari muridnya itu. Kabarnya, si Pendekar Mabuk lebih sering berkeliaran ketimbang Gila Tuak," ujar Yunda lagi. "Menurutku, dengan mencari Pendekar Mabuk dan menemukannya, aku bisa minta diantar untuk bertemu dengan ayahku di tempat kediamannya yang sukar dicari itu."

Suto menggumam dalam hati dengan jantung berdebar-debar. "Mengapa guru tak pernah ceritakan tentang anaknya ini?

Mungkinkah karena guru merasa malu mempunyai hubungan cinta dengan seseorang yang sampai menghasiikan satu keturunan secantik ini? Mengapa pula guru tak pernah bilang kalau dulu pernah menjadi panglima Hastamanyiana? Apakah ada guru menganggap hal itu tidak penting diceritakan di depanku? Atau... mungkinkah ada rahasia tersendiri di balik masa lalu guru yang pernah punya hubungan cinta dengan perempuan dari Pegunungan Gobi?!"

Perempuan cantik itu bergeser lebih mendekat  lagi.  Suaranya  menjadi pelan, seperti membisik. Pandangan matanya tertuju lekat-lekat ke wajah Sujo dengan bola

mata kian sayu.

"Maukah kau menemaniku, Kanda?"

Suto Sinting bingung menjawab, tapi matanya memandang  wajah  cantik berbibir menggairahkan itu.

"Maukah kau membantuku mencari Pendekar Mabuk, lalu  pergi menemui ayahku si Gila Tuak itu?"

"Aku... aku... aku akan coba," jawab Suto terkesan ragu-ragu.

Belahan gaun semakin lebar. Paha putih mulus semakin  nenantang  untuk dielus. Pendekar Mabuk mencoba belahan diri untuk tidak bertindak nakal. Tapi tatapan mata Yunda yang beradu dengan pandangan matanya sejerti menghadirkan kekuatan aneh yang menggetarkanjiwa.

Getaan jiwa itu rnakin lama makin menyentuh hasrat dan nenyalakan  api gairah. Suto merasa dituntut oleh batimya sendiri. Dituntut untuk dapatkan sebentuk kehan<atan dari perempuan itu.

Kanda, kau sudah punya kekasih?"

"Hrnm,eeh, hmmh... su... sudah," Suto mencoba melawan tuntutan batinnya walau terasa sangat sukar dan berat skali.

"Kau pernah mencium kekasihmu?" "Hmmmeehmm.. ya, pernah." Aku belm pernah," ujar Yunda dengan suara  mulai  bernada  desah. Aku ingin sekali dicium oleh seorang lelaki perkasa sepertimu. Aku merindukan kehangatan dari pria yang sesuai seleraku, Kaulah pria yang sesuai seleraku, Kanda. Kecuplah aku walau sekali saja."

"Hmm, eehh, eehh, hmmm "

"Kecuplah walau sebentar saja, Kanda," suara itu makin mendesah, makin mendekat, hembusan napasnya menghangat di wajah Suto. Sebagai pemuda yang waras, kehangatan napas itu semakin membakar jairah bercumbunya dan membuat dadanya tersentak-sentak bagai ingin jebol jika tak dituruti kemauan batiniya itu.

"Kanda... peluklah aku...," desah Yunda semakin lebih mendekatkan bibirnya ke bibir Suto.

Pria mana yang tahan menerima tantangan seperti itu? Sekali pun ia seorang pendekar, jika sudalrasakan hembusan napas  hangat  dan  mendengar desahan se lembut itu, tak ayal  lagi  ketangguhannya  da&m berta- han akan runtuh juga. Lebih-lebih pandatgan mata Yunda mempunyai kekuatan yang mengobanan api asmara lawan jenisnya, tak ada lagi yang bis.dilakukan Suto Sinting kecuali menempelkan bibirnya  ke  bibir  perempuan itu. Cuup !

Bibir itu dikecupnya dengan lembut. "tapi kecupan itu dibalas oleh Yunda dengan menyodorkan lidahnya, sehingga mau tak mau lidah itu  terpagut oleh bibir Suto. Lidah mereka saling bertemu, saling  memilin,  dalam deburan api asmara yang kian bergolak. Tak heran jika Suto Sinting pun akhirnya melumat bibir prempuan cantik itu. Si perempuan membalas luman bibir dengan lebih berapi-api lagi, bahkan berkesan ganas.

Kedua tangannya memeluk Suto, meremas-remas punggung dengan remasan yang menggelitik. Sampai akhirnya perempuan itu justru lebih  ganas menyerang dengan kecupan yang merayap  di  seluruh  permukaan wajah Suto, lalu turun ke leher dan mengecup leher  Suto  sesekali.  Lidahnya menyapu leher itu dengan gerakan liar.

Sesaat kemudian, serangan mesra itu berhenti. Mereka saling hempaskan napas panjang. Yunda segera baigkit, berdiri di depan Suto Sinting. Tali pengi- kat gaun yang ada di samping mulai dilepaskan. Tiga simpui tali yang merapatkan gaun merah jambunya itu ditarik satu-satu, Tees, tees, tees..,!!

Kini gaun itu terbuka lebar. Sesosok tubuh  mulus berdada  montok  dan kencang terpampang jelas di depan mata Suto Sinting. Tubuh putih mulus itu tidak mengenakan pelapis apa pun di balik gaun merah jambunya. Bahkan perempuan itu menanggalkan gaun itu dengan pandangan mata sayu yang makin memberikan tantangan untuk bercumbu.

Jiwa yaag melayang-layang di langit asmara membuat mereka berdua tak pedulikan lagi suasana saat itu. Mereka juga lupa menutup  jendela  kamar yang tetap terbuka. Mereka sangka tak  ada orang yang mengintip  dari jendela itu.

Tetapi di itas pohon seberang sana, ternyata ada orang yang betengger memperhatikan ke arah dalamkamar. Orang itu bukan ingin menikmati kemesraan yang berlangsung di dalam kamar, melainkan punya tujuan lain dari pengintaiannya.

Sebatang anak panah dilepaskan dari atas  pohon.  Zeeeb,  wiiizzz...! Api asmara membuat Suto Sinting lengah. Tiba-tiba Suto tersentak dan terpekik dengan suara tertahan, karena anak panah yang melesat itu menancap di lengan kirinya. Juuub..,.!

"Aahk...!"

"Kanda...?! Ooh...?!" Yunda terkejut dengan mata membelalak lebar melihat anak panah menancap di lengan kiri Suto.  Seandainya  Suto  pada saat itu tidak sedang merayapkan lidahnya mendekati pundak Yunda, maka lehernya yang akan tertancap anak panah tersebut. Beruntung ia sedang merayapkan lidahnya mendekati pundak Yunda, bermaksud akan ke leher perempuan itu, sehingga lengannya sedikit naik dan panah itu menancap di lengannya.

"Uuhkk...!" Suto Sinting mengerang, sekujur tubuhnya cepat menjadi

panas. Panah itu beracun ganas.

Yunda menjadi murka karena merasa kemesraannya diganggu oleh datangnya anak panah tersebut. la cepat menyambar pakaiannya sambil berguling ke lantai menghindari anak panah yang kedua Suto Sinting sendiri jatuh berlutut di lantai sambil mendekap lengan kirinya.

Dengan gerakan sangat cepat, Yunda kenakan pakaiannya kembali tak terlalu rapi. Jubah disambarnya sambil memandang  ke  arah pohon.  la melihat di pohon sana seseorang sedang menyiapkan anak panah yang kedua. Tanpa banyak bicara lagi, perempuan itu meiompat keluar jendeia bagaikan terbang. Atap-atap rumah pen duduk dipakainya berpijak sesaat.

Tubuhnya melesat begitu cepatnya, sehingga Suto Sinting tak  sempat melihat ke mana arah kepergian perempuan itu.

Yang dilihatnya adalah pohon berguncang, daun nya berguguran. Pasti habis diterjang sesuatu. Yunda itulah si penerjang pohon. la memburu orang yang melepaskan anak panah tadi. Orang tersebut beriari menghindari kejaran Yunda.

"Ternyata dia berilmu tinggi juga?" ujar Suto dalam hati. Tapi ia tak bisa lanjutkan komentarnya tentang perempuan  cantik  itu.  Sekujur tubuhnya bagaikan di- aliri darah yang rnendidih,

la buru-buru menenggak tuaknya setelah  mencabut  anak  panah dengan erangan memanjang. Beberapa saat setelah tuak ditenggak, luka bolong itu mulai merapat kembali. Rasa panas berangsur-angsur hilang. Suto Sinting kenakan pakaiannya kembali, kemudian melesat lewat jendeia dengan gunakan jurus 'Gerak Si- luman'-nya.

Zlaaap, zlaaap...!

Suto Sinting m.engejar Yunda, lantaran ia merasa harus meiindungi perempuan yang mengaku sebagai anak si Gila Tuak. Tapi benarkah Gila Tuak mempunyai seorang anak secantik Yunda? Benarkah Gila  Tuak  pernah terlibat skandal dengan perempuan dari Pegunungan Gobi?

Jawabannya ada dalam kisah mendatang. Ikuti terus kelanjutan kisaH ini.

SELESAI