--> -->

Serial Pendekar Mabuk 47 Rencong Pemburu Tabib

1
LANGKAH pemuda tampan berbaju coklat tak berlengan itu terhenti seketika. Kakinya yang dibungkus celana putih lusuh itu segera mengarah ke balik pohon, ia bersembunyi di sana. Wajahnya memang tak terlihat, tapi bumbung tuaknya yang menyilang di punggung itu nongol sebagian membuat cara sembunyinya menjadi sia-sia. Untung saja orang yang sedang diincar belum memperhatikan ke arahnya.


Pemuda berambut panjang lurus sebatas pundak tanpa ikat kepala itu tak lain adalah, murid sinting si Gila Tuak. Siapa lagi murid yang sinting kecuali bocah tanpa pusar yang bernama Suto dan bergelar Pendekar Mabuk itu.

Apa yang membuat Suto Sinting hentikan langkah dan ambil tempat sembunyi? O, rupanya ada seorang gadis sedang menuju ke arahnya. Dari kejauhan saja gadis itu sudah tampak cantik, apalagi dari dekat. Tentu lebih cantik lagi.

"Aku ingin kenal dengannya. Wajahnya mirip dengan calon istriku yang menjadi penguasa di Puri Gerbang Surgawi," pikir Suto Sinting.

Ia bergeser sedikit untuk merapatkan bumbung tuaknya agar tidak nongol dari persembunyian. Dalam hati sang Pendekar Mabuk masih membatin,

"Dia benar-benar mirip Dyah Sariningrum, calon istriku itu. Bibirnya ranum, hidungnya mancung, potongan rambutnya yang disanggul naik itu juga mirip sanggulan rambut kekasihku. Bentuk badannya yang elok, bentuk dadanya yang tampak sekal dan membusung padat itu, pas seperti Dyah-ku. Ya, ampun... kenapa dia mirip sekali dengan Dyah-ku? Tapi aku yakin gadis itu bukan Dyah Sariningrum. Bukan pula saudara kembarnya. Sebab Dyah tidak punya saudara kembar. Dyah Sariningrum hanya punya satu kakak yang bernama Betari Ayu dan sekarang menjadi pertapa di Gunung Kundalini, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode: "Telur Mata Setan").

Jadi kurasa ini hanya suatu kebetulan saja. Oh, tapi... tapi... lho, kok begitu dia?"

Pendekar Mabuk menjadi terheran-heran melihat gadis berjubah putih itu menabrak pohon kecil. Lalu mundur sedikit dan melangkah lagi dengan berpegangan pada tongkatnya. Rupanya tongkat yang sepanjang pundak dari kayu biasa itu bukan tongkat pengusir hewan, melainkan tongkat penuntun. Brruss...!

"Aduh, kok jadi begitu dia, ya? Pohon singkong ditabrak saja? Apakah... apakah.... Lho, lho... malah mau terjun ke jurang?! Gawat!"

Zlaaap...! Suto Sinting gunakan jurus 'Gerak Siluman' yang kecepatannya melebihi anak panah, sehingga gerakan cepatnya membuat ia tampak lenyap begitu saja.

Padahal ia bergerak cepat dan menyambar gadis yang hampir melangkah menuju ke jurang. Wuuutt...!
"Lepaskan aku! Lepaskan! Jangan perkosa aku!"

"Siapa yang mau perkosa kamu!" sentak Suto Sinting setelah meletakkan gadis itu di bawah pohon.
"Mengapa kau peluk aku dan kau bawa lari?"
"Karena kau hampir saja masuk ke jurang!"

"Ooh...?! Jurang...? Mana jurang?! Mana...?!" gadis itu clingak-clinguk sambil gerak-gerakkan tongkatnya ke depan. Plook...! Tongkat itu justru kenai wajah Suto.

"Iih...! Apa-apaan kau ini, muka orang disodok-sodok pakai kayu. Kau pikir mulutku ini liang belut?!"

"Hi, hi, hi... maaf, Tuan. Aku tidak tahu kalau tongkatku kenai mulutmu," gadis itu justru tertawa geli, membuat Suto Sinting jadi bersungut-sungut.

Namun kejap berikutnya Suto Sinting berkerut dahi pandangi gadis itu.

"Ooo... dia buta?!" gumam Suto Sinting dalam hati, lalu hati pun terharu dan merasa menyesal mengecam si gadis.

Untuk memperjelas lagi, Pendekar Mabuk memandangnya dengan membungkuk hingga sejajar. Wajahnya tepat ada di depan wajah si gadis. Mata si gadis melek, indah, dan bening, tapi ketika wajah Suto bergerak ke kiri dan ke kanan, bola mata gadis itu tidak ikut bergerak-gerak. Tangan Suto didekatkan ke mata si gadis, lalu digerak-gerakkan, bola mata itu tidak ikut bergerak. Kemudian Suto pindah tempat ke samping kanannya secara diam-diam. Gadis itu bicara dengan seolah-olah merasa Suto ada di depannya.

"Apa yang kau lakukan di depanku, Tuan? Memandangiku, ya?"
"Aku ada di sampingmu, Nona."

"Ooh...?" gadis itu malu dan segera berpaling ke samping dengan sorot pandangan mata datar. "Kau nakal, Tuan. Kenapa tidak bilang padaku kalau pindah ke samping?"

"Maaf, aku tidak tahu kalau kau... kalau kau buta."

"Apa...?!" gadis itu menyentak dan berdiri. "Enak saja mengatakan aku buta! Aku bukan gadis buta!"
"Oh, dia tersinggung?" pikir Suto Sinting.

Pendekar Mabuk pindah ke belakang gadis itu, tapi sang gadis masih ngomel sambil menuding-nuding bagian depannya.

"Jangan bicara seenaknya begitu! Boleh kita buktikan dengan adu ketangkasan, siapa yang kalah nanti, aku atau kau...!" dia menuding ke depan.

"Aku ada di belakangmu, Nona."

Nona yang menjadi galak itu cepat berbalik, "Aku tahu kau di belakangku. Tadi aku sedang malas berputar, tahu?!" ia membentak lagi. Suto Sinting menahan geli dan sedikit tundukkan kepala.

"Maafkan kata-kataku kalau menyinggung perasaanmu, Nona."
"Aku tidak tersinggung, aku hanya mengingatkan padamu bahwa aku bukan gadis buta!"
"Iya, iya... kau bukan gadis buta."

"Sebenarnya aku tadi juga melihat ada jurang di sana," Ia menuding ke arah timur. "Tapi aku sengaja ingin melongok seberapa dalam jurang itu. Bukan tersesat mau terjun ke jurang itu!" ia menuding ke timur lagi.

"Jurang ada di sebelah barat, Nona. Bukan di sebelah timur. Kau salah tunjuk."

"Memang sengaja," bantah gadis itu masih ngotot juga. "Aku hanya ingin menguji kau, apakah kau masih ingat arah mata angin atau tidak. Ternyata kau masih bisa membedakan mana timur dan mana barat!"

Sebenarnya Suto Sinting ingin tertawa terpingkal- pingkal. Tapi takut menyinggung perasaan si gadis dan membuat gadis buta itu semakin marah lagi. Akibatnya ia hanya bisa menutup mulutnya dan badannya bergerak- gerak karena tertawa tanpa suara.

"Sudah buta, masih saja ngotot, ngaku tidak buta?!" gumam hati Suto. "Barangkali dia merasa malu kalau dikatakan gadis buta. Hmmm... sebaiknya tidak kusinggung-singgung lagi tentang kebutaannya itu."

Kemudian dengan suaranya yang lembut, murid si Gila Tuak itu berkata kepada gadis berjubah putih,

"Boleh kutahu namamu, Nona? Dan dari mana asalmu, ke mana arah tujuanmu?"

"Kalau bertanya jangan borongan, aku bingung menjawabnya, Tuan," jawab si gadis dengan nada suara sudah tidak marah lagi.

"Jangan panggil aku Tuan. Panggil saja namaku: Suto Sinting."

"Ooh...?! Benarkah kau yang bernama Suto Sinting, si Pendekar Mabuk itu?!" si gadis tampak terperangah girang.

"Betul, aku Pendekar Mabuk yang bernama Suto Sinting."

"Ah, bohong! Coba kulihat wajahmu...," gadis itu maju selangkah, tangannya meraba-raba wajah Suto dengan tersenyum-senyum, dadanya juga diraba, lengannya sampai tangan diraba pula. Suto Sinting diam saja dan sangat memakluminya.

"Kalau dia tidak buta, tak mungkin mengenaliku dengan meraba-raba begini," pikir Suto.
"Oh, benar. Benar sekali."
"Aku benar-benar Pendekar Mabuk, bukan?"

"Kau benar-benar tampan. Tapi belum tentu kau Pendekar Mabuk. Kabar yang kudengar dari orang- orang, Pendekar Mabuk ke mana-mana selalu membawa bumbung tuak dari bambu. Tapi mengapa bumbung tuakmu kecil dan lembek begini?"

"Yang kau pegang itu jari telunjukku, Nona," kata Suto agak jengkel jarinya diremas-remas. "Inilah bumbung tuakku. Peganglah!"

Gadis itu bukan hanya memegang melainkan meraba bumbung tuak dari atas ke bawah, merasakan bentuknya. Kemudian senyumnya kian mekar berseri.

"Ooh... ternyata impianku terkabul. Kau benar-benar pendekar kondang itu; Suto Sinting! Oooh... tenangnya hatiku bisa bertemu denganmu, Suto!" gadis itu cekikikan, seakan ingin melonjak kegirangan sambil masih pegangi tangan Suto Sinting.

"Rupanya kau sudah lama ingin bertemu denganku."

"Ya, memang begitu. Aku ingin sekali bertemu denganmu. Aku selalu mengidam-idamkan untuk bisa jumpa denganmu. Tapi sekian lama hanya berupa khayalan belaka. Baru sekarang menjadi kenyataan yang amat menggembirakan hatiku."

"Bagaimana mungkin kau punya keinginan selama ini sedangkan kau belum pernah melihatku? Mana mungkin seseorang merindukan orang lain jika ia belum pernah bertemu dengan orang itu?" kata Pendekar Mabuk bernada curiga.

"Memang aku belum pernah bertemu denganmu, tapi aku sering mendengar kesaktian tuakmu. Karenanya aku ingin bisa bertemu denganmu, Suto."

"Apa hubungannya dengan kesaktian tuakku ini?"

"Bukankah kau juga disebut Tabib Darah Tuak? Tuakmu bisa sembuhkan segala penyakit dan bisa menangkal racun apa pun. Aku sangat ingin mendapat kesembuhan darimu dengan cara meminum tuakmu, Suto."

"Kesembuhan apa maksudmu?"
"Aku... aku terkena racun yang membuat...."
"Membuat matamu jadi buta?"

"Aku tidak buta!" sentak gadis itu mulai terpancing kemarahannya. "Racun itu tidak membuatku buta, hanya membuat penglihatanku terganggu. Apa yang kupandang menjadi hitam semua. Mungkin racun yang mengenaiku bernama Racun Hitam."

Suto tersenyum-senyum. Ia tak berani mendesak agar si gadis mengakui kebutaannya. Ia justru mendukung pendapat si gadis dengan berkata,

"O, jadi kau terkena Racun Hitam? Pantas penglihatanmu serba hitam."

"Iya. Menyedihkan sekali selama racun itu belum bisa tersingkirkan dari darahku. Sebab itulah aku mencari Pendekar Mabuk dan ingin mendapat kesembuhan. Jika kau bisa sembuhkan aku dari Racun Hitam, aku akan turuti apa permintaanmu. Apa saja yang kau minta, aku akan berikan."

"Kalau aku minta kau terjun ke jurang?"

"Aku akan terjun ke jurang juga, asal kau memberiku contoh bagaimana caranya terjung ke jurang," jawab si gadis dengan sedikit dongkol. Pendekar Mabuk geli dan merasa suka menggoda gadis itu, sehingga ia menanggapi dengan berbagai canda.

"Apakah kau keberatan untuk mengobatiku, Suto?"
"Tidak, asal kau sebutkan siapa namamu."

Gadis itu diam. Tersenyum malu hingga lesung pipitnya terlihat jelas di mata Suto Sinting. Kontan hati Suto Sinting berdebar-debar karena ingat Dyah Sariningrum yang punya lesung pipit jika tersenyum.

"Semakin mirip Dyah-ku jika ia tersenyum. Celaka! Bisa-bisa aku terpikat dan luluh dalam pelukannya kalau begini caranya. Wah, kacau juga jantungku. Detaknya terlalu cepat!" gumam Suto Sinting dalam hatinya.

Kemudian gadis yang sudah tampak cukup dewasa dengan usia sekitar dua puluh lima tahun itu segera perdengarkan suaranya dalam senyuman malu.

"Namaku tak seberapa bagus. Orang-orang memanggilku: Salju Kelana."

"Salju Kelana...?! Hmmm... cantik sekali namamu. Hampir mirip dengan sahabatku dari Negeri Ringgit Kencana yang bernama Kelana Cinta."

"Oohh...?! Jadi kau kenal dengan adikku?!" gadis itu terperanjat kaget.

Suto Sinting juga ikut kaget. "Jadi... jadi kau kakak dari Kelana Cinta, mata-matanya Ratu Asmaradani itu?!"

"Benar. Aku kakaknya Kelana Cinta. Tapi aku tidak satu perguruan dengannya."

Suto Sinting manggut-manggut, kemudian terbayang jelas wajah ayu berpakaian merah jambu dengan rambut cepak seperti potongan rambut lelaki; Kelana Cinta. Pendekar Mabuk pernah bekerjasama menumbangkan keangkaramurkaan bersama Kelana Cinta, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode : "Seruling Malaikat"). Ia tak menyangka kalau si gadis yang mirip Dyah Sariningrum itu adalah kakak dari Kelana Cinta, sebab kecantikannya hanya punya kemiripan pada hidung dan bibirnya saja.

"Tapi kenapa kau tampak lebih muda dari Kelana Cinta? Mestinya kau yang menjadi adik Kelana Cinta."

"Aku punya ilmu awet muda," kata Salju Kelana. "Usiaku sebenarnya sudah tiga puluh tahun. Tiga tahun lebih tua dari Kelana Cinta."

"Pantas daya pikatmu sangat kuat," sambil Suto tersenyum-senyum. Ia pandangi wajah itu sepuas- puasnya, "Mumpung dia belum bisa melihat," pikirnya.

"Apakah... apakah aku punya daya pikat untukmu, Pendekar Mabuk?" Salju Kelana menampakkan wajah berseri-seri.

"Aku tak sanggup menjawabnya, karena itu rahasia hatiku. Sebaiknya minumlah tuakku ini, supaya Racun Hitam segera sirna dan kau bisa melihat dengan terang kembali."

Pendekar Mabuk segera membantu menenggakkan tuak ke mulut Salju Kelana. Gadis itu meneguknya lebih dari lima tegukan.

"Hei, hei... jangan banyak-banyak nanti aku tak kebagian lagi!" cegah Suto Sinting. Hatinya membatin, "Doyan minum juga gadis ini?!"

Mata sang gadis mengerjap-ngerjap dengan senyum penuh harapan. Beberapa saat setelah itu ia berkata dengan wajah mulai diliputi keraguan.

"Kenapa masih hitam semua? Apakah sekarang malam lagi?"
"Tidak. Sekarang siang hari, Salju Kelana."

Mata indah itu mengerjap-ngerjap kembali, ia mencoba mempertegas pandangan matanya dengan dahi berkerut-kerut.

"Aku belum bisa melihat apa-apa kecuali bentangan warna hitam saja."

Suto Sinting menjadi bimbang dan sedikit cemas.

"Tunggu beberapa waktu lagi. Racun itu masih dihancurkan oleh tuak saktiku."
"Begitukah?" Salju Kelana dalam kebimbangan.

Namun mendadak tubuhnya melenting di udara dengan amat mengejutkan Suto Sinting. Wuuuk...! Ia bersalto satu kali dan tangannya berkelebat ke bawah saat berjungkir balik. Wuuut...! Teeb...!
Salju Kelana turun bagaikan ratu salju mendarat ke bumi karena jubah putihnya yang terbuat dari kain sutera lembut itu melambai-lambai terbawa angin. Pinjung penutup dada montoknya yang berwarna ungu itu mirip seperti batuan permata yang indah dibungkus salju putih.

Jleeg...! Kakinya menapak di tanah, tangan kirinya yang tidak memegangi tongkat itu terangkat ke depan. Tangan yang menggenggam itu bagaikan disodorkan kepada Suto Sinting. Pemuda tampan itu hanya bengong dalam ketidaktahuan.

Genggaman tersebut pelan-pelan terbuka, dan mata Suto terkesiap melihat dua jarum warna hitam ada di telapak tangan Salju Kelana.

"Jarum apa itu? Kau dapatkan dari mana?!"

"Seseorang menyerang kita dengan jarum beracun ini. Entah aku atau kau yang ditujunya. Yang jelas aku sudah berhasil menyambar jarum ini sebelum mengenai tubuh kita."

Suto Sinting tertegun bengong memandangi dua batang jarum hitam di tangan gadis itu. Dalam hati sang pendekar membatin, "Tinggi juga ilmu gadis ini. Aku sendiri yang bisa menggunakan mata dengan sehat tidak melihat gerakan jarum itu, tapi ia yang masih buta ternyata bisa melihat gerakan jarum dan mampu menangkapnya. Cukup kagum aku pada ilmunya. Berarti dia melihat dengan mata batin. Hmmm... berarti mata batinnya sangat tajam, melebihi mata kepala manusia biasa."

Salju Kelana menelengkan kepala, seperti sedang mendengarkan suatu bunyi yang jauh. Kemudian tanpa memandang Suto ia berkata pelan,

"Ada orang di balik pohon sebelah belakangku itu."

Pendekar Mabuk segera menggunakan jurus 'Lacak Jantung' untuk mendengarkan degup jantung orang di sekitarnya. Ternyata apa yang dikatakan Salju Kelana memang benar, ada degup jantung lain yang detakannya lebih cepat dari jantung milik gadis itu maupun jantungnya sendiri. Detakan jantung lebih keras menandakan pemiliknya sedang menahan getaran.

Tongkat kayu segera dihantamkan si gadis pada sebutir batu tak seberapa besar. Trak...! Wuuut...! Batu melayang cepat dan menghantam pohon jati. Duaarrr...!

Pendekar Mabuk terkejut. Ternyata batu itu dialiri tenaga dalam yang meluncur melalui kayu tersebut. Akibatnya ketika batu itu menghantam batang pohon, terjadilah suatu ledakan yang cukup keras dan membuat batang pohon jati itu somplak separo bagian.

"Edan! Kalau yang terkena batu itu kepala manusia bagaimana?!" pikir Suto Sinting dengan mata tak berkedip. Hal yang membuatnya kagum dan terheran- heran adalah keadaan sang gadis yang kelihatan lemah dan cacat namun ternyata mempunyai ilmu cukup tinggi.

Ledakan tersebut membuat sesosok bayangan berkelebat keluar dari balik pohon itu. Wuuuk...!

Jleeg...! Lalu, bayangan itu menampakkan wujudnya sebagai seorang lelaki berusia sekitar empat puluh tahun dengan rambut panjang diikat memakai kain merah dan baju serta celananya berwarna hitam. Orang itu bertubuh tegap, tak seberapa tinggi, tapi mempunyai lengan yang kekar. Bajunya juga tanpa lengan sehingga tampak sepasang tato kepala singa dan kepala naga di kedua lengannya.

"Keparat kau, Salju Kelana! Hampir saja kau hancurkan kepalaku dengan batu itu!" geram orang berwajah angker yang menyandang golok di pinggang kirinya. Ia melangkah mendekati Salju Kelana, tapi dalam jarak enam langkah sudah berhenti.

Salju Kelana maju dua tindak sambil ketuk-ketukkan tongkat kayu di depan langkahnya sebagai alat pencari jalan. Pendekar Mabuk tidak ikut mendekat, karena ia tidak kenal dengan orang bertampang angker itu. Ia justru tetap diam di tempat menyimak pembicaraan mereka, namun matanya tetap awas, menjaga bahaya yang bisa menyerang Salju Kelana sewaktu-waktu.

Dengan memiringkan kepala menyimak suara orang bertato itu, Salju Kelana dapat mengenali orang tersebut, sehingga ia pun segera sunggingkan senyum sinis dan berkata ketus,

"Masih belum jera menemuiku, Calo Mayat?!"

"Sebelum kau mati dan mayatmu berhasil kujual, aku tidak akan jera menemuimu, Salju Kelana!"
Pendekar Mabuk hanya membatin, "Orang wajah angker itu bernama Calo Mayat. Hmmm... lucu juga namanya. Pantas sekali kalau dia menjadi makelar mayat, karena wajahnya tak jauh berbeda dengan kuburan keramat!"

Calo Mayat berkata dengan nada tak bersahabat. "Sekalipun kau sudah punya pengawal ingusan macam pemuda itu, aku tetap bernafsu untuk menjual mayatmu! Karena mayat perempuan cantik semacam kau akan laku mahal dan sangat menguntungkan. Ha, ha, ha, ha...!"

"Barangkali saat ini kau yang akan menjual mayatmu sendiri, Orang Sesat!"

Gertakan itu ditertawakan oleh si Calo Mayat. "Percuma kau menggertakku, Salju Kelana. Nyaliku tak akan berkurang sedikit pun. Aku tetap akan menangkapmu; menjadi mayat saja harganya mahal, apalagi aku bisa menangkapmu hidup-hidup, pasti harganya jauh lebih mahal!"

"Cobalah kau lakukan kalau memang kau sudah cukup ampuh, Calo Mayat!" tantang Salju Kelana tanpa rasa takut sedikit pun.

Calo Mayat panas hati, menggeram dengan penuh hasrat untuk membunuh. Ia pun segera melompat secara tiba-tiba, menerjang Salju Kelana yang masih diam berdiri dengan tenang.

"Heeeeaaat...!"
Wuuut...!"

Slaaap...! Salju Kelana lemparkan dua batang jarum yang tadi ditangkapnya. Setelah lemparkan jarum ke arah lawan, ia bersalto mundur dua kali. Plak, plak...! Ia berdiri tak seberapa jauh dari Pendekar Mabuk.

"Keparat...!" sentak Calo Mayat melihat jarum berkelebat mengarah kepadanya. Ia segera bentangkan telapak tangan kirinya untuk menangkis jarum tersebut. Jrub, jrub...!

Jarum menancap di telapak tangan kiri Calo Mayat. Orang itu tak merasakan sakit sedikit pun. Padahal jarum itu jelas beracun ganas, tapi agaknya Calo Mayat orang yang tidak mempan oleh racun.

Tangan kirinya segera gemetaran, mengepulkan asap tipis, kemudian tangan itu disentakkan ke depan dengan satu teriakan keras. "Heaaah...!" Kaki pun menghentak ke bumi.

Dua jarum di tangan bagaikan terpental membalik arah dan menyerang Salju Kelana. Weet... weet...!

Melihat hal itu Pendekar Mabuk menjadi cemas, khawatir Salju Kelana tidak mengetahui datangnya dua jarum tersebut. Maka dengan gerak cepatnya yang sukar dilihat mata orang biasa itu, Pendekar Mabuk berkelebat menangkis jarum tersebut dengan bumbung tuaknya.

Zlaaap... !

Trang, trang...! Jarum itu bagaikan menghantam besi baja berongga. Bumbung tuak tak mampu ditembus dengan dua jarum, akhirnya jarum itu berbalik arah lagi dengan gerakan lebih cepat. Zraaab...!

Calo Mayat kaget melihat jarumnya kembali menyerangnya dengan cepat sekali. Ia melompat menghindari jarum-jarum itu sambil memaki.

"Bangsat kurap...!"
Jrrabb... !

"Aaaaaa...!" Calo Mayat terpekik keras karena mata kakinya tertusuk salah satu dari kedua jarum tadi. Ia segera jatuh kehilangan keseimbangan. Mata kakinya berasap biru. Ia mengerang panjang menahan sakit.

"Jahanam kau...! Awas, akan kubalas kejahanamanmu ini suatu saat. Uuhh...!"

Wuuut...! Calo Mayat melesat cepat dengan sentakkan kaki yang tidak terkena jarum, ia melarikan diri menabrak apa saja yang ada di depannya. Suto Sinting membiarkan orang wajah angker itu pergi. Sementara itu jarum yang lainnya menancap pada sebatang pohon. Pohon tersebut berasap dan akhirnya menjadi kering, batangnya mengeriput, daunnya berguguran warna coklat kering.

"Dahsyat sekali sebenarnya racun dalam jarum itu," gumam Suto Sinting dengan nada kagum.

Salju Kelana berkata pelan sambil memandang tanpa arah, "Kau kembalikan jarum itu tepat pada sasaran. Calo Mayat memang orang kebal racun. Tapi ia punya kelemahan di mata kaki. Jarum yang menancap di mata kakinya jelas akan membuatnya menderita jika tak segera temukan obat penangkai racun tersebut."

"Dari mana kau tahu kalau jarum itu menancap di mata kaki si Calo Mayat?" tanya Suto dengan heran dan agak curiga.

"Suara menancapnya jarum dan hembusan tubuhnya yang melompat ke atas bisa kubayangkan dalam pandangan mata hatiku," jawab Salju Kelana yang membuat Pendekar Mabuk menggumam kagum lagi.

"Siapa orang itu, Salju Kelana?"

"Makelar mayat. Kerjanya mencari mayat perampuan cantik, dan akan mendapat upah tinggi jika bisa menyerahkan perempuan muda dalam keadaan hidup-hidup."

"Diserahkan kepada siapa nantinya?"

"Gandapura, penguasa Pantai Ajai yang doyan makan daging manusia itu. Apakah kau belum pernah mendengar nama Gandapura?!" Saiju Kelana ganti bertanya, ia tidak tahu bahwa saat itu Pendekar Mabuk terperanjat begitu mendengar nama Gandapura. Sebab ia tahu persis bahwa Gandapura adalah titisan raksasa yang gemar memakan daging manusia, ia banyak mendengar cerita tentang Gandapura, di antaranya dari Ayunda, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode : "Pertarungan Tanpa Ajal").

"Sudah waktunya aku bertindak sebelum korban semakin banyak," gumam Suto Sinting. Rupanya gumaman itu didengar oleh telinga Salju Kelana yang sangat tajam itu, sehingga gadis cantik itu bertanya kepada Suto,

"Apakah kau ingin menghadapi Gandapura?!"
"Ya. Aku harus mengakhiri kekejiannya!"

"Mana mungkin, sedangkan menangkal racun yang membuat mataku begini saja kau tidak bisa. Apalagi menumbangkannya?"

* * *

PENDEKAR MABUK merasa dilecehkan oleh kata- kata Salju Kelana, namun ia menerimanya dengan lapang dada. Ia sendiri heran, mengapa kebutaan Salju Kelana belum sembuh juga walau sudah meminum tuaknya beberapa kali.

Mungkinkah racun yang membutakan mata Salju Kelana itu tidak bisa ditangkal dengan tuak sakti tersebut? Lalu dengan apa cara memulihkan penglihatan Salju Kelana itu?

Keadaan seperti itu sangat diperhatikan oleh Pendekar Mabuk, membuat hati Suto sangat prihatin dan sedih. Karena saat ia memandang Salju Kelana dalam kebutaan, ia seperti memandang kekasihnya; Dyah Sariningrum dalam kebutaan juga.

Secara tidak sadar Suto Sinting merasa ikut bertanggung jawab memulihkan keadaan Salju Kelana. Padahal jika Salju Kelana tidak mirip dengan Dyah Sariningrum mungkin Suto Sinting tak begitu merasa menderita melihat sang gadis berjalan meraba-raba dengan tongkatnya.

"Sebenarnya kau ingin pergi ke mana, Salju Kelana?" tanya Suto Sinting sambil memandangi gadis itu tiada habis. Kemiripannya yang seperti Dyah Sariningrum digunakan oleh Pendekar Mabuk untuk melepas rindu walau hanya dengan memandang.

"Aku ingin menghadiri pertemuan Kadipaten Balungan."
Suto Sinting kerutkan dahi. "Maksudmu mau bertemu dengan Adipati Janarsuma?!"

"Benar. Kau mengenal sang Adipati Janarsuma?!""Aku hanya tahu namanya, tapi belum pernah bertatap muka dengan orangnya," jawab Pendekar Mabuk sambil membayangkan peristiwa yang membawa-bawa nama Adipati Janarsuma, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode : "Kapak Setan Kubur").

"Apakah kau tak diundangnya untuk datang juga?"
"Tidak," jawab Suto. "Apakah ada suatu keperluan yang amat penting?"

"Jika tidak penting, tak mungkin sang Adipati memanggil beberapa tokoh sakti dari berbagai pelosok penjuru, terutama yang muda-muda."

"Aneh. Aku tidak diundangnya? Apakah aku tokoh yang tidak disukai karena telah menggagalkan rencananya dalam memperoleh pusaka Kapak Setan Kubur?" pikir Suto Sinting. "Atau mungkin aku tidak dianggap tokoh sakti?"

"Kusarankan sebaiknya kau ikut saja dalam pertemuan itu, siapa tahu kau yang terpilih untuk menggantikan kedudukannya sebagai adipati, penguasa Tanah Kadipaten Balungan."

Makin berkerut dahi Pendekar Mabuk mendengarnya. Terasa janggal kabar itu diterimanya, sehingga ia pun segera berkata kepada Salju Kelana,

"Menggantikan kedudukannya sebagai adipati bukan dengan cara pemilihan seperti memilih kepala kampung. Biasanya kedudukan adipati diwariskan kepada keturunannya. Atau direbut secara paksa."

"Sang Adipati tidak mempunyai keturunan, sehingga ia ingin mewariskannya kepada seseorang yang
dipandang layak."

Pendekar Mabuk tertawa seperti orang menggumam, "Ini akal-akalan saja! Pasti ada sangkut pautnya dengan Kapak Setan Kubur. Mana ada kedudukan seorang adipati diwariskan kepada orang yang tidak punya hubungan kerabat bangsawan?! Jelas ini suatu pancingan saja, Salju Kelana. Kalian akan masuk dalam jebakan yang mungkin sukar keluarnya."

Percakapan mereka terhenti karena kemunculan sesosok bayangan yang tahu-tahu menerjang Salju Kelana. Terjangan itu bagaikan angin berhembus, begitu cepat dan begitu tiba-tiba.

Wuuuuttt... !

Beehg...! Salju Kelana terkena tendangan pada punggungnya. Suara tendangan begitu keras, sehingga mengejutkan hati Pendekar Mabuk. Agaknya Salju Kelana dijejak dengan satu telapak kaki cukup telak, sehingga tubuh perempuan cantik yang mirip Dyah Sariningrum itu tersentak ke depan dan terjungkal.
Wuuut... ! Untung ia mampu kendalikan keseimbangan tubuh, sehingga ia cepat bersalto sebelum mencapai tanah. Tangannya digunakan sebagai tumpuan. Bahkan tubuh itu terayun naik sedikit, sehingga begitu berbalik kedua kakinya langsung menapak di tanah dan cepat berdiri kembali. Jleeg...!

Matanya langsung memandang ke timur, padahal orang yang baru saja menendangnya ada di utara. Sepertinya gadis itu memandang dengan telinganya yang bergiwang ungu kecil itu.

Pendekar Mabuk hanya terbengong melongo, karena ia sangat kenal dengan penyerang yang punya kecepatan serang melebihi melesatnya jarum hitam tadi. Orang itu adalah seorang gadis yang berwajah cantik, berdada montok dan bentuk pinggulnya menggairahkan. Gadis itu berambut cepak sepeti potongan lelaki,

bibirnya mungil, bulu matanya lentik, mengenakan rompi panjang sampai paha diikat di bagian perutnya memakai kain kuning. Senjatanya pisau panjang sehasta. Salah satu cirinya adalah mengenakan giwang merah kecil.

"Siapa kau, Setan?! Mengapa tahu-tahu menyerangku dengan tendangan yang mestinya mematikan itu?!" hardik Salju Kelana dengan mencari-cari di mana arah lawannya berada.

Gadis berompi merah panjang itu menampakkan wajah marahnya. Matanya memandang tajam kepada Salju Kelana, dan sesekali melirik sengit kepada Pendekar Mabuk. Tentu saja Suto terheran-heran melihat kemunculan gadis itu yang bersikap memusuhinya, ia pun akhirnya menyapa dengan nada ragu.
"Anggani...?!"
Suara pelan itu ditangkap oleh telinga Salju Kelana, sehingga ia pun ikut berkata, "Oh, rupanya kau yang menyerangku, Putri Malu?!"
"Memang aku yang ingin membunuhmu, Salju Kelana!'' ucap Anggani yang berjuluk Putri Malu itu. Ia adalah anak Tabib Getar Hati yang dulu diselamatkan oleh Suto dari tangan Ratu Sukma Semimpi, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode : "Pusaka Bernyawa").

"Anggani, mengapa kau menyerang Salju Kelana?! Kami tidak lakukan apa-apa. Kami hanya berteman!" kata Suto yang menduga Anggani menaruh rasa cemburu kepada Salju Kelana.

"Aku tak peduli kalian berteman atau berkasih- kasihan, yang jelas aku punya urusan sendiri dengan perempuan iblis itu!"

"Jaga bicaramu, Putri Malu!" sentak Salju Kelana.

Kedua perempuan itu sama-sama galaknya, sama- sama beraninya, membuat Pendekar Mabuk kebingungan mengambil langkah. Anggani baik kepadanya, Salju Kelana pun baik dan mirip Dyah Sariningrum. Siapa yang akan dibela jika begitu? Pendekar Mabuk merasa serba salah dalam bersikap.

"Salju Kelana, sudah berapa hari ini aku mencarimu, dan ternyata kutemukan kau di sini!"

"Untuk apa kau mencariku?! Nada bicaramu menandakan kemarahan yang besar. Jelaskan persoalannya supaya kita tidak sailng bunuh secara siasia."

"Tidak ada pembunuh yang sia-sia bagiku, karena aku mencarimu untuk menuntut balas atas kematian ibuku."

"Hahh...?!" Pendekar Mabuk terperangah kaget. Salju Kelana hanya kerutkan dahi dan diam beberapa saat. Perempuan bertongkat itu merasa heran mendengar kabar tersebut, terlihat dari raut mukanya yang langsung berkerut dahi dan membungkam mulutnya.

"Siapa yang membunuh ibumu?" Suto Sinting ingin mengulang jawaban tersebut. Karena dalam hatinya merasa ragu jika Anggani menuduh Salju Kelana sebagai pembunuh ibu Anggani; Tabib Getar Hati.

"Siapa lagi yang membunuhnya kalau bukan tamu terakhir yang datang kepada ibu dan meminta tolong untuk disembuhkan dari kebutaannya! Dialah orangnya yang membunuh ibuku, Suto Sinting! Kalau kau ingin membelanya, belalah dia, aku tak akan takut melawan kalian berdua!"

"Sabar dulu, Anggani...," Suto Sinting mencoba menenangkan gadis yang sudah diburu dendam, karena napasnya sudah tidak teratur lagi, wajahnya mulai semburat merah.

"Aku tidak membunuh ibumu, Bodoh!"

"Jangan mungkir, ibils! Kau orang terakhir yang datang kepada ibuku. Sejurus setelah kau pergi, ibuku sudah tak bernyawa dan tergeletak di atas meja ramuannya."

"Putri Malu!" sentak Salju Kelana. "Kutinggalkan ibumu dalam keadaan masih sehat. Kuucapkan terima kasih walau ia mengaku tidak bisa menangkal racun yang membuat mataku rusak begini! Aku tidak mempunyai dendam atau kebencian apa pun. Aku tidak kecewa jika memang ternyata Ibumu sudah berusaha mengobatiku, namun tidak bisa sembuh."

"Omong kosong! Kau pandai memutarbalikkan cerita untuk menutupi kebusukan hatimu di depan Pendekar tampan itu!" ia menuding Suto dan yang dituding menjadi tak enak hati.

Sebelum Suto Sinting bicara, Salju Kelana sudah lebih dulu menyentak kepada Putri Malu walau arah wajahnya kurang tepat menghadap ke arah lawan.

"Baik kalau kau masih menuduhku begitu! Apa pun yang terjadi, aku tetap tidak merasa bersalah. Tetapi jika kau ingin mengkambinghitamkan aku, majulah dan lampiaskan dendammu kepadaku! Jangan salahkan diriku jika nyawamu terbang dalam dua jurus saja!"

"Persetan dengan jurusmu, kau pikir aku takut dengan gertakan semacam itu! Hiaaat...!"

Putri Malu segera sentakkan kaki dan melesat menerjang Salju Kelana. Gerakan itu disambut dengan tongkat kayunya Salju Kelana yang membabat ke arah depan. Wuuut...! Krraak...!

Lengan Putri Malu terkena pukulan, tapi memang sengaja dikenakan untuk menangkis sabetan tongkat tersebut. Suara tulang patah dengan kayu patah hampir sama. Namun nyatanya Anggani masih mampu menghentakkan kakinya ke depan dan wajah Salju Kelana menjadi sasaran.

Plaaak...! Telapak tangan Salju Kelana menghadang di depan wajah, sehingga telapak kaki Anggani hanya sampai pada telapak tangan itu. Namun agaknya sentakan telapak tangan Salju Kelana diiringi dengan hentakan tenaga dalam cukup besar, sehingga tubuh Putri Malu pun terlempar beberapa langkah jauhnya. Wuuut... !

Brruus...!

Anggani jatuh tersungkur di semak-semak, ia segera bangkit dengan menggeram dan mata memandang kian buas. Suto Sinting melihat gelagat Anggani ingin lepaskan pukulan jarak jauhnya yang berbahaya itu. Maka cepat-cepat Suto melesat di pertengahan jarak kedua perempuan itu sambil berseru keras, "Hentikan! Hentikan semua ini!" Anggani sedikit mengendurkan kedua tangannya yang sudah siap melepaskan pukulan jarak jauh itu. Tapi matanya yang tajam memandang Suto penuh nafsu membunuh. Ia pun berkata dengan suara menggeram,

"Kalau kau tak mau menyingkir, aku akan melepaskan pukulan ini untukmu juga, Sutol"
"Anggani, pandanglah aku! Jangan lakukan kebodohan!"

Anggani seperti gadis kesurupan, tak bisa diajak berunding lagi. Pukulan sinar merah dari telapak tangannya dilepaskan ke arah Pendekar Mabuk. Slap...!

Sinar merah panjang tanpa putus itu menghantam Suto Sinting. Keadaan Suto saat itu serba salah. Jika ditangkis dengan bumbung tuaknya, maka sinar akan membalik kenai pemiliknya dalam keadaan dua kali lipat lebih besar lagi, berarti Anggani akan celaka. Jika dihindari sinar itu akan melesat lurus ke belakang Suto, sedangkan di belakang Suto ada Salju Kelana, tak urung gadis berjubah putih itu akan celaka juga.

Terlalu lama mempertimbangkan, akhirnya Suto Sinting mencoba menghadang sinar merah lurus itu dengan pergunakan jurus 'Tangan Guntur' yang mengeluarkan sinar biru dari telapak tangan. Tapi gerakan itu terlambat. Sinar biru baru memercik sudah dihantam dengan sinar merah itu. Zraaab...!

Jgaaar... !

Pijar api merah menyebar dalam satu hentakan bersama gelegar ledakan yang cukup keras. Pendekar Mabuk terpental melayang di udara, melewati atas kepala Salju Kelana, lalu jatuh terkapar dalam jarak delapan tombak dari tempatnya.

"Ooh...?!" Anggani kaget bagaikan baru menyadari apa yang dilakukannya.

"Sutooo...!" serunya sambil berlari menghampiri Pendekar Mabuk. Tetapi Salju Kelana bergerak lebih dulu. Wuuut...!

Gerakan cepatnya itu menghadang langkah Anggani yang hampir tiba di tempat Suto terkapar. Keadaan Suto Sinting cukup menyedihkan. Kulit tubuhnya menjadi merah matang, bagian dada hingga leher tampak hangus.

"Jangan menyentuhnya, Putri Malu!" sentak Salju Kelana.

"Ak... aku... aku tidak sengaja melukainya. Aku... oh, semua ini gara-gara kau, Setan!" pekik Anggani dengan gusar sekali, ia merasa menyesal melepaskan pukulan berbahaya itu ke arah Suto Sinting. Pukulan itu mestinya ditujukan untuk Salju Kelana, karena dapat menghancurkan tubuh lawan menjadi serpihan kecil- kecil.

Jika ternyata keadaan Suto Sinting masih utuh walau mengalami luka bakar yang amat berbahaya, itu lantaran tenaga dalam yang melapisi tubuh Pendekar Mabuk cukup besar dan mampu menahan sinar merahnya Anggani. Sekalipun demikian, Anggani merasa sangat menyesal, karena bagaimanapun juga Suto pernah berjasa padanya; membebaskan Tabib Getar Hati dari tawanan Ratu Sukma Semimpi. Tak patut rasanya jika ia harus melukai Suto Sinting separah itu.

"Tinggalkan kami dan jangan kau bertemu denganku lagi kalau ingin umurmu panjang!" kata Salju Kelana dengan nada berat, pertanda ia menahan kemarahannya.

"Aku harus membalas kematian ibuku kepadamu!'
"Bukan aku pembunuhnya!" sentak Salju Kelana tampak mulai tak sabar.

"Kau... kau...," Anggani serba salah dan diguncang oleh kegusaran. Dalam hatinya timbul keraguan atas tuduhannya sendiri. Tapi hatinya pun mencemaskan keadaan Pendekar Mabuk yang tak berdaya lagi itu.

"Tinggalkan kami sekarang juga!" gertak Salju Kelana kembali dengan tangan meremas-remas tongkatnya bertanda semakin tak sabar ingin melepaskan kemarahannya.

Anggani tampak menangis tanpa suara mengisak. Ia melangkah mundur, dan kepala Salju Kelana bergerak- gerak pelan memperhatikan bunyi langkah kaki.

Akhirnya Anggani melarikan diri dengan tangis kian menjadi-jadi. Rasa sesalnya begitu menghantui jiwa sehingga ia berlari sejadi-jadinya tanpa arah dan tujuan.

Salju Kelana dekati Suto Sinting, tangannya meraba- raba wajah, dada, dan seluruh tubuh pendekar tampan itu. Suto Sinting masih sadar dengan keadaannya. Ia menahan rasa sakitnya. Napasnya tersendat-sendat,terasa berat dihela.

"Suto...," ucap Salju Kelana. "Suto Sinting... jawablah aku."
"Uuhg...!" Suto Sinting hanya menjawab dengan keluhan bersuara berat.
"Kau terluka parah. Parah sekali, Suto."
"Tu... tuangkan... minumanku. Tu... tuak!"

"Iyy... iya, ya. Sebentar... di mana bumbung tuakmu tadi?" Salju Kelana meraba-raba sekitar tempat itu, sampai merangkak melangkahi tubuh Suto Sinting. Akhirnya bumbung tuak itu ditemukan dan segera diambilnya. Dengan cara meraba pula Salju Kelana menemukan bagian tutupnya. Tutup itu dibuka, dan ia berusaha menuangkan tuak tersebut. Namun terlebih dulu ia harus meraba mencari mulut Suto Sinting. Padahal waktu itu mulut Suto Sinting sudah ternganga, siap menerima tuak. Ketika jari tangan Salju Kelana menemukan mulut itu, ia terkejut sesaat, karena menyangka menemukan lubang aneh yang kemudian disadari sebagai mulut Pendekar Mabuk.

"Minum... minumlah tuakmu ini," nada suara Salju Kelana tampak menahan keharuan yang tak ingin diperlihatkan.

Krucuk, krucuk, krucuk... !

Tuak tertuang pelan di mulut Suto. Pendekar Mabuk berusaha menelannya dengan susah payah, karena tenggorokannya terasa keras dan perih akibat terbakar pukulan Anggani tadi.

Tuak itu sempat mengguyur permukaan wajah Suto Sinting karena Salju Kelana tak tahu kalau mulut Suto telah mengatup. Jika Suto tidak berusaha mengatakan, "Cukup...!" sambil gelagapan, tuak tetap akan dituangkan.

Merasa telah membasahi wajah Suto dengan tuak, Salju Kelana selesai menuangkan tuak itu segera mengeringkan wajah tersebut dengan jubah putihnya. Sadar ataupun tidak, Salju Kelana sudah menunjukkan sikap kesetiaannya dalam merawat Pendekar Mabuk. Namun pemuda tampan itu belum bisa merenungi sikap tersebut, karena yang terpikir olehnya adalah luka parah yang dideritanya itu.

"Bagaimana keadaanmu, Suto?" sambil Salju Kelana meraba-raba tubuh Suto Sinting, ingin memastikan hasil pengobatan melalui tuak tadi.

"Tuangkan lagi," ucap Suto agak lancar. Dan Salju Kelana melayani dengan sabar, seakan penuh ketulusan.

Setelah minum tuak yang kedua, keadaan Suto Sinting mulai membaik. Hawa panas yang terasa membakar bagian dalam tubuhnya mulai hilang. Sedikit demi sedikit tenaganya terasa pulih hingga ia dapat menggeliat bangun.

Salju Kelana memegangi lengan Suto Sinting dengan pandangan mata datar, bagaikan tidak memperhatikan keadaan pemuda tampan itu. Namun ketegangan di wajahnya yang sudah mengendur itu menampakkan kelegaan hatinya.

"Perlukah kubalas tindakan Putri Malu tadi?!" ucapnya pelan sambil masih pegangi lengan Suto
Sinting, sesekali meraba punggung dan dadanya.

"Tidak. Anggani tidak sadar dengan apa yang dilakukan. Kau tidak boleh membalas perbuatannya ini."
"Tapi kau hampir saja tak bernyawa karena ulahnya, Suto."

"Memang. Tapi itu karena ia tak mampu kendalikan jiwanya yang menjadi guncang karena kematian sang ibu. Kita semua akan mengalami hal demikian jika ibu kita meninggal, hanya saja mungkin beda cara pengendaliannya."

"Aku masih sanggup mengejarnya jika kau mau!"

"Jangan, Salju Kelana," Pendekar Mabuk pegangi tangan Salju Kelana. Tangan gadis itu ikut menggenggam pula.

"Keadaanku sudah membaik. Untung ada kau, jika tidak aku tak mampu meraih bumbung tuakku, akhirnya aku akan mati di sini. Terima kasih, Salju Kelana. Kuanggap kau telah selamatkan jiwaku."

"Aku hanya melakukan apa yang bisa kulakukan."

Sebaris kalimat bijak itu membuat Pendekar Mabuk menyimpan pujian di dalam hati. Salju Kelana dianggap gadis bijaksana yang sedikit bengal namun punya nilai kesetiaan.

Pendekar Mabuk semakin tak percaya dengan tuduhan Anggani. Dalam hati kecilnya berkata,

"Tak mungkin Salju Kelana membunuh Tabib Getar Hati. Ia bukan dari aliran sesat. Apalagi ia kakaknya Kelana Cinta. Jika demikian, lalu siapa yang membunuh Tabib Getar Hati yang mempunyai jiwa sabar dan bijaksana itu? Rasa-rasanya aku harus membantu memecahkan persoalan ini dulu sebelum pergi menemui Gandapura!"

***3

ATAS saran dan bujukan Suto Sinting, Salju Kelana tak jadi menghadiri undangan pertemuan di Kadipaten Balungan. Ia diminta ikut membantu menyelesaikan perkara kematian Tabib Getar Hati. Ternyata Salju Kelana bersedia membantu menyingkapkan tabir misteri pembunuhan sang tabib itu.

"Tapi benar bukan kau pelakunya?!"
"Aku berani sumpah, biar cacat seumur hidup jika aku membunuh Tabib Getar Hati," ujar Salju Kelana.

"Aku datang untuk minta disembuhkan dari pengaruh Racun Hitam ini. Tapi setelah dilakukan penyembuhan, Tabib Getar Hati menyatakan tidak sanggup menangkal racun dalam tubuhku ini. Aku disarankan untuk mencari tabib lain. Salah satu nama yang disebutkan adalah namamu: Tabib Darah Tuak. Setelah itu aku pamit pergi mencari Tabib Darah Tuak."

"Kapan hal itu teijadi?" potong Suto Sinting.

"Lima hari yang lalu," jawab Salju Kelana tak ada kesan berbohong sedikit pun. Pendekar Mabuk manggut- manggut. Ia mengenang saat-saat lima hari yang lalu, di mana kala itu ia sedang menyelesaikan persoalan Kapak Setan Kubur.

"Baiklah," kata Suto Sinting yang sudah segera bugar seperti sediakala. "Sekarang kita cari Anggani, kita bantu ia memecahkan rahasia kematian ibunya. Setidaknya ia butuh orang yang dapat menenangkan jiwanya."

"Aku tak keberatan. Hanya saja aku ingin kejujuranmu tentang hubunganmu dengan Anggani, si Putri Malu itu."

Pendekar Mabuk tersenyum. Salju Kelana diam saja, karena tidak melihat senyuman yang begitu menawan dan menggetarkan hati itu.

"Hubunganku hanya sebatas seorang sahabat saja."
"Sahabat istimewa?" pancing Salju Kelana.
"Apa maksudnya sahabat istimewa?"

Gadis itu tersenyum. Lesung pipitnya mendebarkan hati Pendekar Mabuk. Sang pendekar menikmati keindahan lesung pipit yang mekar di atas bentangan wajah cantik mengagumkan itu.

"Barangkali dia calon kekasihmu?"

"Bukan. Kami tidak punya hubungan sedalam itu."
"Bagaimana aku bisa mempercayai kata-katamu."

"Percayailah dirimu dulu, baru kau bisa mempercanyai orang lain," kata Suto Sinting, menirukan wejangan gurunya; si Gila Tuak dan Bidadari Jalang.

Langkah mereka terhenti ketika mendengar suara ledakan di sebelah barat. Pendekar Mabuk segera berkata, "Ada pertarungan di sebelah barat. Aku mau melihat siapa yang bertarung di sana."

"Siapa tahu Anggani. Coba kita periksa sebentar!"

Mereka segera bergegas ke arah barat. Ternyata pertarungan itu terjadi di sebuah lembah berpohon jarang. Seorang perempuan tua berusia sekitar tujuh puluh tahun, mengenakan jubah merah dengan rambut abu-abu dilepas meriap hingga beterbangan terhempas angin, sedang berhadapan dengan lawannya yang tak seimbang.

Pendekar Mabuk terkesiap memandang pertarungan itu dari balik kerimbunan semak. Salju Kelana mendengarkan setiap gerakan yang ditimbulkan dari pertarungan itu, kemudian ia berbisik kepada Suto Sinting.

"Pertarungan ini tidak seimbang."
"Dari mana kau tahu kalau tidak seimbang?"

"Suara napas orang yang satu sangat berat, pertanda ia sudah tua, sedangkan suara napas lawannya masih ringan, menandakan kalau ia masih muda dalam arti jauh lebih muda dibandingkan orang yang bernapas berat itu."

"Benar juga," pikir Suto Sinting. "Rupanya telinga Salju Kelana lebih tajam dari mata pedang. Hebat sekali dia, aku kagum dengan ketajaman inderanya."

Perhatian Pendekar Mabuk tertuju kembali ke arah pertarungan. Ia masih menyimpan keheranan sebab ia kenal betul dengan lawan sang nenek berjubah merah itu. Orang yang sedang terdesak oleh serangan si Jubah merah itu adalah seorang lelaki berkulit hitam, berkepala gundul dan tidak memakai baju. Ia mengenakan celana biru dan ikat pinggang merah.

Orang itu berbadan besar, perutnya gendut, matanya lebar, hidungnya bulat. Berulang kali ia menghindari serangan sang nenek yang menggunakan tongkat hitamnya berujung ukiran kepala monyet. Orang tak pakai baju itu balas menyerang dengan senjatanya berupa yoyo bergerigi. Yoyo itu jika dilemparkan akan mengeluarkan gerigi beracun yang cukup tajam. Tapi jika ditarik balik gerigi itu masuk ke dalam yoyo hingga bisa ditangkap dengan tangan.

Satu-satunya tokoh gundul yang bersenjata yoyo tak lain adalah si Hantu Laut, bekas anak buah Siluman Tujuh Nyawa yang menjadi pelayannya Tapak Baja. Tapi karena Tapak Baja mampu ditundukkan oleh Pendekar Mabuk dan Hantu Laut pun dibuat tak berkutik, akhirnya Hantu Laut menjadi pengikut Suto Sinting dan tinggal bersama sahabat-sahabat Suto di Pulau Beliung di bawah pimpinan Ratu Pekat, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode "Pusaka Tombak Maut").

"Agaknya kau mengenal salah satu dari kedua orang itu, Suto?"
"Dari mana kau tahu?"

"Jantungmu berdetak agak cepat, pasti kau merasa cemas dan tak ingin orang yang kau kenal itu celaka dalam pertarungan itu."

"Benar juga. Rupanya otakmu pun tajam seperti mata pedang."
Salju Kelana hanya sunggingkan senyum. "Siapa orang yang kau kenal itu?"
"Hantu Laut, bekas anak buahnya tokoh tersesat, Siluman Tujuh Nyawa."
"Ooh...?! Jadi kau mengenal Siluman Tujuh Nyawa juga?"

"Dia musuh utamaku. Pengembaraanku ini dalam rangka memburu pelariannya. Tapi sampai sekarang aku belum berhasil menangkapnya. Ia licin bagaikan belut dan licik bagaikan ular."

"Kudengar dia bersembunyi di Jurang Petaka."
"Jurang Petaka...?!"

"Barangkali jika kau ke sana akan temukan si tokoh sesat yang juga kubenci itu."

Percakapan tersebut sebenarnya ingin dilanjutkan, namun Suto Sinting melihat Hantu Laut terkena pukulan tenaga dalam sang nenek melalui tongkatnya. Tubuh besar itu tumbang terjungkal dan tak mampu bangkit lagi. Hantu Laut mengerang kesakitan sambil pegangi dadanya yang membiru legam itu. Sang nenek semakin buas, ia segera menghantamkan kepala tongkatnya untuk memecahkan kepala gundul si Hantu Laut.

"Sekaranglah saatnya kubalas dendamku padamu, murid orang sesat! Heeeaaaah...!"
Pendekar Mabuk cepat sentakkan tangan, dan nyala sinar biru besar melesat dari telapak tangan itu, Jurus 'Tangan Guntur' menghantam tongkat sang nenek dari kejauhan. Wuuus...!

Duaaarrr... !

Sang nenek berjubah merah terpental berjungkir balik di udara. Tongkatnya terlepas dari genggamannya. Ia jatuh setelah membentur pohon. Pendekar Mabuk segera melesat ke pertengahan jarak antara sang nenek dan Hantu Laut.

Zlaaap...! Jleeg...!

"Kutu kucing! Siapa kau, sehingga berani mencampuri urusanku ini, hah?! Kau juga anak buahnya si tengkorak sesat; Durmala Sanca itu, hah?! Kau juga mau cari mampus di sini juga?!"

"Sabar, Nek. Aku bukan anak buahnya Durmala Sanca atau Siluman Tujuh Nyawa itu. Justru aku adalah musuh utamanya yang membuat ia kabur dan sembunyi sampai sekarang."

"Lalu apa maumu menghalangi niatku memecahkan kepala si gundul begundalnya Durmala Sanca itu?!"
"Dia sudah menjadi sahabatku, dan dia bukan orang sesat lagi."

"Omong kosong! Sekali sesat tetap sesat! Hidup sesat!" Nenek berjubah merah itu mengangkat tongkatnya ke atas.

Salju Kelana muncul dengan berjalan meraba memakai tongkat kecilnya. Mata sang nenek berjubah merah melirik ke arah Salju Kelana. Ia terperanjat dengan mata terkesiap.

"Apa yang dikatakannya adalah benar, Nyai. Pendekar Mabuk tidak pernah berbohong," ujar Salju Kelana yang agaknya sudah mengenal si jubah merah itu.

"Rupanya kau sekarang telah bersekutu dengan manusia-manusia busuk ini, Salju Kelana!" geram sang nenek. Sementara itu, Pendekar Mabuk punya kesempatan mendekati Hantu Laut dan menolongnya dengan meminumkan tuaknya sambil sesekali matanya memandang penuh waspada ke arah sang nenek.

"Kami bukan persekutuan, Nyai. Kami adalah sahabat, dan kalau kau melukai salah satu dari kami, kami akan merasa terluka semua."

"Perempuan bodoh!" sentak sang Nyai. "Lalu apa maksudmu ikut datang kemari, hah?"

"Meluruskan anggapanmu, membenarkan kata-kata Pendekar Mabuk. Kuharap kau mau melupakan dendammu kepada lawanmu kali ini. Jika kau ingin lampiaskan dendammu, pergilah ke Jurang Petaka dan temui Siluman Tujuh Nyawa di sana. Lawanlah dia sepuas hatimu sampai retak seluruh tulangmu, kami tak akan menghalangimu, justru mungkin akan membantumu!"

"Celotehmu makin membuat kemarahanku memuncak, Salju Kelana. Jika memang kau ada di pihaknya, terimalah jurus 'Kalang Kabut'-ku ini, Heaaaah...!"

Sentakan tangan berjari renggang menyemburkan asap yang menggumpal menjadi kabut putih kehitaman. Kabut itu menyerang Salju Kelana dan ingin membungkusnya. Salju Kelana tahu kabut itu adalah kabut beracun berbahaya. Karenanya ia segera sentakkan kaki ke tanah dan tubuhnya melenting di udara. Pada saat ia menukik mulutnya semburkan napas kuat-kuat. Puiih... !

Napas itu mengandung bintik-bintik salju yang anginnya sempat terasa dingin di kulit tubuh Pendekar
Mabuk. Semburan itu membuat kabut kiriman si jubah merah menjadi menggumpal sebesar bola dan akhirnya meledak setelah membubung tinggi. Blegaaarr...!

Ledakan itu cukup dahsyat. Tanah dan pepohonan berguncang karena gelombang ledakan itu. Namun di antara mereka tak ada yang terpental atau tumbang di tempat. Hanya saja, si jubah merah terhuyung-huyung mundur ke belakang dan berpegangan pada pohon. Matanya yang kecil kian memandang liar kepada Salju Kelana.

"Keong kudis, kau! Heeeaaah...!" si jubah merah lompat ke depan dengan tongkat besarnya siap dihantamkan ke tubuh Salju Kelana.

Gadis cantik berlesung pipit itu diam saja. Ia tetap berdiri menyamping, menghadap ke utara, sedangkan lawannya ada di timur. Namun ketika lawannya menghantamkan tongkat ke arah kepalanya, Salju Kelana langsung rendahkan badan dan sabetkan tongkat kecilnya ke udara. Tongkat kecil itu beradu dengan tongkat besarnya si jubah merah, sehingga terjadilah ledakan yang kedua karena kedua tongkat itu sama-sama dialiri tenaga dalam cukup tinggi.

Trak, jgaaar...!

Ledakan yang memercikkan bunga api itu membuat tubuh si jubah merah yang melambung di udara itu menjadi terpental dan berputar cepat bagaikan gangsing terbang. Sementara itu, Salju Kelana hanya jatuh terduduk dan mampu bangkit kembali secepatnya.

Bhuook... !

Tubuh si jubah merah jatuh terbanting dengan kerasnya ke tanah yang berlumpur. Di sana sang nenek mengerang panjang tampak kesakitan. Tapi ia bisa bangkit sendiri dalam keadaan berlumur tanah lumpur. Dari kejauhan ia berseru kepada Salju Kelana.

"Tunggu saat pembalasanku, Gadis Borok! Aku bukan kalah melawanmu, tapi aku punya urusan yang harus kuselesaikan sendiri!"

Wuuut...! Nenek berjubah merah itu pergi tinggalkan tempat itu dengan kelebatan yang membuatnya cepat menghilang di balik pepohonan. Salju Kelana masih berseru menuding-nuding ke arah datangnya suara si jubah merah tadi.

"Kalau kau datang lagi, aku tidak akan memberi ampun padamu, Nyai Bantat Maki! Kalau kau memang...,"

"Hei, hei... orangnya sudah pergi dari tadi kok masih tuding-tuding terus?!" tegur Suto Sinting sambil mencolek pundak gadis buta itu.

"Aku tahu kalau dia sudah pergi. Aku memaki bekas tempatnya jatuh tadi!" Salju Kelana tak mau disalahkan agar tak terlihat kebutaannya.

"Siapa nenek itu tadi?"
"Nyai Bantat Maki, bibinya Calo Mayat."

"Ia juga tokoh sesat, tukang teluh upahan!" kata Hantu Laut yang sudah mulai segar kembali itu. "Dulu aku dan Tapak Baja pernah menghajarnya sampai mati. Sekarang dia mau balas dendam padaku. Padahal yang banyak menghajarnya adalah mendiang si Tapak Baja!"

"Sekarang dia sudah pergi, takut dengan sahabat cantikku ini, Hantu Laut," Suto membanggakan kecantikan Salju Kelana dengan suara agak keras. Hantu Laut hanya menyeringai dengan mata menatap gadis itu tanpa mau berkedip lagi.

"Kudengar kau sahabat Pendekar Mabuk, Hantu Laut. Berarti kau sahabatku juga."
Hantu Laut menjawab, "Tidak. Aku tidak sehebat Suto. Ilmuku pas-pasan."

Suto Sinting tarik napas agak dongkol dan berseru kepada Hantu Laut,

"Hei, dia bilang sahabat. Kau sahabatku, bukan kau sehebat aku!"

"Ooo... sahabat?! Iya, memang aku sahabatnya Suto, Nona!" kata Hantu Laut dengan nyengir malu atas salah dengarnya tadi. Ia memang tokoh besar dan bertampang menyeramkan, tapi bertelinga budeg. Bicara dengannya harus keras, jika tidak akan timbul salah dengar dan salah pengertian.

"Mengapa kau ada di sini, Hantu Laut?!"
"Aku diutus oleh Ratu Pekat untuk mencarimu, Suto."
"Mencariku? Apakah ada hal yang penting?"
"Oh, tidak. Ratu Pekat tidak bunting. Dia...."
"Penting!" jelas Suto dengan mulut dilebarkan di depan Hantu Laut.

"Ooo... iya, ada sesuatu yang penting. Anak buah Gandapura sudah mulai mendarat di Pulau Beliung."
Pendekar Mabuk terperanjat. "Anak buah Gandapura...?!"

"Tokoh pemakan manusia itu lho!" Hantu Laut mempertegas.
"Iya, aku tahu! Tapi... tapi apakah Gandapura mau datang ke Pulau Beliung?!"

"Pulau Jelaga sudah dikuasai olehnya. Sahabatmu yang bernama Yayi, yang kini menjadi penguasa Pulau Jelaga, sekarang melarikan diri dan bergabung dengan Ratu Pekat. Ia minta perlindungan kepada kami, dan kami putuskan untuk meminta bantuan kepadamu. Karena Gandapura berilmu tinggi. Ratu Pekat merasa tidak mampu menandingi ilmu si pemakan manusia itu."

Salju Kelana segera berkata, "Gandapura mempunyai ilmu 'Mahkota Neraka', dia tidak bisa mati selama ilmu itu masih ada pada dirinya."

"Bisa!" sahut Suto Sinting. "Dia bisa mati, asal dengan pusaka Kapak Setan Kubur."

"Kudengar kabar dari orang-orang laut, Gandapura sekarang sedang mencari tumbal untuk penolak kesaktian sebuah pusaka yang dapat membunuhnya! Mungkin yang dimaksud pusaka Kapak Ketan Bubur itu tadi."

"Kapak Setan Kubur, Budeg!" sentak Suto Sinting.

"Ooo.... Kapak Setan Kubur?" Hantu Laut manggut- manggut, tidak merasa bersalah. "Kudengar begitu, Gandapura mencari tumbal untuk penangkis pusaka Kapak Setan Kubur itu tadi dengan menggunakan Rencong Iblis. Tetapi rencong itu tidak akan berguna sebagai senjata penolak kesaktian Kapak Setan Kubur jika belum membunuh tujuh belas tabib."

"Tujuh belas tabib?!" gumam Suto Sinting dengan nada heran dan penuh kecurigaan. Salju Kelana segera menimpali,

"Apakah termasuk Tabib Getar Hati?!"

Sebelum Suto Sinting bicara, Hantu Laut sudah berkata lebih dulu, "Yang jelas, karena kau dikenal pula sebagai Tabib Darah Tuak maka kau pun tak luput dari incaran pencari tumbal itu, Suto. Ia akan datang menemuimu dengan membawa senjata Rencong Iblis. Jadi, aku pun disuruh mengingatkan kau untuk hati-hati jika bertemu dengan seseorang yang membawa senjata rencong."

Pendekar Mabuk diam termenung meresapi kata-kata Hantu Laut.

***4

SIAPA orang yang ditugaskan sebagai pencari tumbal untuk senjata Rencong Iblis itu? Menurut Suto, jika tahu siapa orang yang bertugas mencari tumbal tersebut, maka ia dapat mencegah agar kesaktian Gandapura tidak bertambah dengan cara merampas rencong itu atau melumpuhkan si petugas pencari tumbal. Sayang sekali Hantu Laut tidak dibekali keterangan tentang hal itu oleh Ratu Pekat, sehingga ia tidak bisa menjawab pertanyaan Suto Sinting.

Namun bagaimanapun Suto Sinting merasa perlu melakukan pencegahan agar Gandapura tidak menguasai Pulau Beliung. Terbayang wajah sang Ratu Pekat yang dulu diselamatkan oleh Suto Sinting dari serbuan Siluman Tujuh Nyawa, di mana di pulau tersebut kini tinggal para sahabat Suto antara lain, Singo Bodong dan Badai Kelabu (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode: "Istana Berdarah" dan "Tumbal Tanpa Kepala").

"Resi Wulung Gading kurasa mengetahui tentang Rencong Iblis. Aku akan pergi temui sang Resi di Lembah Sunyi," kata Suto Sinting. "Tapi sebelumnya kita harus temui Anggani dulu. Kita jelaskan tentang kematian ibunya itu. Aku yakin orang yang membunuh Tabib Getar Hati adalah utusan Gandapura yang membawa Rencong Iblis."

Salju Kelana bergumam pendek, lalu berkata, "Aku setuju. Tapi bagaimana dengan Hantu Laut? Apakah harus ikut kita juga?"

"Hantu Laut harus kembali ke Pulau Beliung, untuk memperkuat penjagaan di sana!"
"Aku ikut kau saja, Suto," sela Hantu Laut.
"Untuk menemui Resi Wulung Gading tidak perlu rombongan, cukup aku dan Salju Kelana saja."
"Tapi aku takut pulang tanpa membawa kau, nanti Ratu Pekat bisa marah padaku."

"Katakan kalau kau sudah bertemu denganku dan sudah menceritakan segalanya. Secepatnya aku datang ke Pulau Beliung jika sudah lumpuhkan utusan pembawa Rencong Iblis itu."

"Bagaimana kalau ternyata di perjalanan aku bertemu dengan utusan itu?"
"Jangan ganggu dia, nanti kau mati di tangannya!"

"Sebaiknya aku tak perlu mengganggu dia saja, ya? Biar aku tak mati di tangannya. Soalnya kalau mati di tangan orang seperti itu tidak terhormat."

"Memang yang kukatakan tadi begitu! Kau jangan ganggu dia biar kau tak mati!" tegas Suto Sinting agak menyentak-nyentak karena jengkel dengan ketulian Hantu Laut.

"Kita berpisah dulu, Hantu Laut."
"Suto, kusarankan kita berpisah saja sekarang."

"Baru saja aku bilang begitu, Budeg!" bentak Suto Sinting makin jengkel. Hantu Laut hanya mengguman dan manggut-manggut tanpa raut muka orang bersalah.

Perjalanan menuju Lembah Sunyi memakan waktu hampir sehari semalam. Pendekar Mabuk sengaja tidak gunakan jurus 'Gerak Siluman' yang mampu mempercepat perjalanan, karena takut kalau Salju Kelana tertinggal dan tak mengerti arah. Sebab itu mereka terpaksa bermalam di sebuah gua yang biasa untuk singgah para pengembara yang kemalaman.

"Aah... rasa-rasanya aku seperti bermalam dengan Dyah Sariningrum," pikir Suto Sinting sambil pandangi Salju Kelana yang sedang baringkan badan tak jauh dari api unggun. Suto sendiri sebentar-bentar menambahkan ranting agar nyala api unggun tidak padam. Sambil bermainkan ranting yang menyala ujungnya itu, mata Pendekar Mabuk sesekali melirik ke wajah Salju Kelana.

"Gadis ini tidur dengan tidak sama saja. Matanya tak mau terpejam. Orang sangka dia masih melek, sehingga tak akan ada yang berani mengganggunya Padahal ia sudah tertidur dengan nyenyak walau biji matanya tetap terbuka. Oh, benar-benar cantik gadis itu. Baru sekarang hatiku dibuat gemetar oleh gadis lain. Biasanya hanya Dyah Sariningrum yang mampu membuat hatiku bergetar dan jantung berdetak-detak. Sekarang ternyata Salju Kelana mampu membuatku begitu juga. Kalau dia punya wajah tak semirip Dyah-ku, barangkali aku tak akan mengalami hal seperti ini."

Suto Sinting bergeser, duduknya pindah di batu yang tak jauh dari tubuh elok yang terbaring itu. Dalam satu jangkau saja Suto Sinting bisa memegang hidung gadis itu. Tapi ia tak mau lakukan, kecuali hanya memandanginya, seakan menikmati sebentuk kecantikan yang dirindukan, yaitu kecantikan Dyah Sariningrum.

Senyum kebahagiaan pun mekar di bibir sang pendekar, sambil berkecamuk ngobrol sendiri dengan hati kecilnya.

"Mungkin karena rinduku terlalu besar kepada Dyah Sariningrum, sehingga berjumpa dengan Salju Kelana rasa-rasanya amat bahagia dan penuh kegembiraan. Tak bisa kupungkiri lagi, ternyata cintaku teramat besar pada calon istriku yang berkuasa di Pulau Serindu itu. Agaknya selesai masalah ini aku harus pergi ke Pulau Serindu, berjumpa dengan penguasa Puri Gerbang Surgawi yang menggemaskan itu. Akan kucubit pipinya, kugigit bibirnya, ku ah, kuapakan sajalah yang penting melepas rindu pada Dyah-ku. Tapi...," Suto Sinting kian bergeser lagi lebih mendekati Salju Kelana.

Perempuan cantik itu masih tetap diam, kedua tangannya terkulai di samping, bibirnya sedikit merekah, matanya terbuka tanpa berkedip sedikit pun.

Pendekar Mabuk semakin mendekatkan wajah. Hatinya bertambah gemas, karena merasa sedang berada di dekat Dyah Sariningrum. Getaran di hati dan detak jantung pun bertambah cepat.

"Tak tahan aku memandanginya terus," keluhnya dalam hati. Maka tangan Suto pun mengusap pelan- pelan rambut Salju Kelana. Anak rambut yang meriap di kening disingkirkan pelan-pelan dengan jemarinya. Setiap gerak dan sentuhan dialiri rasa kasih sayang yang amat dalam. Ia bayangkan saat itu sedang membelai Dyah Sariningrum.

Lalu timbul tuntutan dalam hati kecilnya untuk tidak sekadar merapikan rambut sang gadis. Maka dengan memberanikan diri dan sangat hati-hati, Suto Sinting mendekatkan wajahnya yang tampan dan bebas jerawat itu. Pelan-pelan sekali kening gadis itu diciumnya. Cupp...!

Ciuman meresap sebentar, kemudian diangkat pelan- pelan. Begitu pelannya hampir tak terlihat gerakan bibir yang sudah menjauhi kening itu.

"Ah sayang kau bukan dia," ucap Suto membatin, "Seandainya kau adalah dia, habislah kau malam ini juga!"

Kemudian pendekar tampan itu tersenyum sendiri, geli memikirkan ulahnya yang salah tingkah karena didera sejuta rindu.

Kegirangan hatinya mendesak tangan Suto untuk bergerak pelan-pelan. Disentuhnya bibir Salju Kelana dengan punggung jarinya. Dirasakan kehangatan yang hadir dari pernapasan yang keluar melalui indung mancung itu. Terasa hangat sekujur tubuh Suto Sinting pada saat napas itu menyapu permukaan tangannya.

Tiba-tiba gelegar petir terdengar mengejutkan. Malam itu mendung datang dan sebentar lagi hujan akan turun. Ledakan petir tadi membuat Salju Kelana tersentak kaget. Suto Sinting buru-buru tiarap dan berlagak tidur dengan dengkuran kecil. Gadis itu kebingungan, kedua tangannya meraba-raba sampai akhirnya menemukan tubuh Suto Sinting di sampingnya.

Napasnya terhempas menandakan hatinya lega, bahwa Suto ada di sampingnya. Tangan itu meraba wajah Suto yang miring ke arahnya. Jarinya merayap di hidung Suto yang bangir.

"O, syukurlah kalau kau sudah tidur," ucap Salju Kelana pelan sekali, namun terdengar di telinga Suto. Murid si Gila Tuak itu tetap diam, berlagak tidur dengan nyenyak.

Tanpa diduga-duga, Salju Kelana membelai rambut Suto Sinting sambil duduk. Rambut panjang Suto dirapikan letaknya hingga mengumpul di atas tengkuk. Mulut pun mengucap kata lirih,

"Semoga kau mimpi indah tentang aku. Walau kau tak berani lakukan apa yang kuinginkan, tapi aku cukup puas melihat kau beristirahat senyenyak ini. Esok kita teruskan perjalanan kita memburu kebenaran, ya Sayang?"

Eh, ternyata gadis itu memberikan ciuman lembut di kening Suto Sinting. Lembuuuut... sekali, sampai-sampai Suto Sinting merasa melayang di udara tanpa menggunakan jurus 'Layang Raga'-nya.

Setelah mencium lembut, sebagai cium curian, gadis itu pun merebah kembali. Kemudian tertidur dengan nyenyak. Matanya tetap terbuka tak berkedip, menatap lurus dengan hampa. Pendekar Mabuk sengaja diam dulu, belum berani bergerak. Maksudnya membiarkan si gadis lelap dulu baru ingin usil lagi. Tapi rupanya terlalu lama diam membuat kelopak mata sulit dibuka kembali. Akhirnya murid sinting si Gila Tuak itu pun benar-benar tertidur dengan nyenyak.

Esoknya, ketika Suto Sinting terbangun, ia menjadi sangat terkejut melihat Salju Kelana sudah tidak ada disampingnya. Bahkan di sekitar dalam gua itu pun tidak ada. Suto Sinting cemaskan diri gadis cantik itu. Ia bergegas keluar dari gua sambil membawa-bawa bumbung tuaknya.

"Kemana dia...?! Sekadar buang air di tempat tersembunyi atau memang sengaja meninggalkan diriku?!" pikir Suto Sinting sambil-matanya memandang ke sana-sini.

Wuuut, wuuuut... !

Suto Sinting melompat dari batu ke batu mencapai tempat yang lebih tinggi. Mata pun menyapu seluruh
alam sekelilingnya.

"Itu dia...!" sentaknya dalam hati.

Pendekar Mabuk benar-benar tersentak kaget, karena saat ia menemukan Salju Kelana, ternyata perempuan cantik itu sedang melakukan pertarungan dengan tiga orang lelaki berwajah tak beres. Mereka bertarung di bawah kaki bukit yang jaraknya cukup jauh dari gua.

"Siapa tiga orang lelaki itu?! Mengapa Salju Kelana terlibat bentrokan dengan mereka? Apakah mereka menggoda Salju Kelana, atau Salju Kelana yang cari gara-gara?! Sebaiknya aku segera ke sana untuk menjaga kalau-kalau gadis yang mirip Dyah-ku itu terdesak bahaya!"

Zlaaapp...! Suto Sinting bergerak sangat cepat, sehingga dalam waktu sangat singkat sudah tiba di balik pohon, tujuh tombak dari tempat pertarungan tersebut. Ia mengintai dari balik pohon itu dengan pandangan mata penuh waspada.

Salju Kelana yang tak bisa bergerak dengan bebas karena kebutaannya itu berusaha mendengarkan tiap gerakan yang ditimbulkan dari lawannya. Tiga lawannya adalah lelaki berusia rata-rata sekitar empat puluh tahun. Mereka sama-sama bersenjata golok. Rambutnya sama- sama panjang sebatas punggung, tapi yang dua diikat dengan ikat kepala kuning dan putih, yang satu lagi tanpa ikat kepala. Baju mereka sama-sama hitam, demikian pula celana mereka. Hanya saja, keadaan tubuh mereka tidak sama kurusnya. Hanya ada satu orang yang berbadan kurus, yaitu yang tidak memakai ikat kepala.

Sedangkan yang mengenakan ikat kepala berbadan besar, tapi bukan gemuk.

Pada waktu si kurus melepaskan tendangan beruntun ke arah wajah Salju Kelana, gadis itu hanya menghindar dengan gerakan kepala dan pundak yang cukup gesit. Seakan tendangan yang cukup cepat itu dapat dilihat arah gerakannya.

Wuk wuk, wuk, wuk... !

Dan pada satu kesempatan tangan Salju Kelana berkelebat dari bawah ke atas dengan kaki merendah satu. Wuuut...! Plaak...!

Kaki yang menendangnya itu tersentak naik dan keseimbangan orang tersebut menjadi limbung. Maka kaki gadis itu pun menyepak bersamaan gerakan tubuh yang memutar. Ploook... !

Wajah si kurus jadi sasaran telak kaki Salju Kelana. Wajah itu bagaikan terbuang begitu kerasnya hingga tubuhnya pun terpental ke samping dan berguling- guling.

Dua orang berikat kepala menyerang dari arah kanan- kiri secara bersamaan. Salju Kelana masih menggeragap dengan tongkatnya. Namun ketika dua tubuh yang melayang itu hampir mendekati Salju Kelana, gadis itu sentakkan kaki dan melesat naik tegak lurus, lalu kedua kakinya menyentak ke samping kanan-kiri secara bersamaan. Wuuuurrt...! Druuuukk ..!

Dada dua orang itu terkena tendangan sekaligus. Keduanya sama-sama terpental terpisah. Mereka bagaikan daun kering yang dibuang seenaknya, melayang tanpa bisa kendalikan diri dan akhirnya membentur pohon yang semula dipunggungi mereka. Brruk...!

"Aaahhg...!"
"Huuhhgg...!"

Mereka mengerang dengan wajah menyeringai kesakitan. Salah seorang tak bisa bangkit dengan cepat karena tulang punggungnya patah. Ia terpaksa merayap berpegangan pohon agar bisa berdiri. Tapi temannya yang berikat kepala kuning itu mampu berdiri dengan cepat dan serukan kata-kata yang berkesan kasar.

"Monyet betina...! Kuremukkan wajah cantikmu itu kalau kau tetap tidak mau serahkan Rencong Iblis itu kepada kami!"

Yang bertubuh kurus juga ikut berseru, "Kami tak akan main-main lagi, Nona Tolol! Kami akan membantaimu tanpa ampun lagi jika kau tetap tak mau menyerahkan Rencong Iblis itu sekarang jugal"
Pendekar Mabuk terperanjat sekali mendengar seruan dua orang tersebut. Hati sang pendekar pun segera membatin,

"Jika mereka mempertaruhkan nyawa dalam pertarungan ini demi mendapatkan Rencong Iblis, maka berarti orang yang diutus Gandapura untuk mencari tujuh belas nyawa tabib, adalah Salju Kelana sendiri. Benarkah begitu?! Benarkah Salju Kelana yang memiliki Rencong Iblis?!"

Jantung Suto Sinting bagaikan tak mau berhenti dari kecepatan detaknya. Dadanya terasa ingin jebol karena detakan jantung yang amat keras, setelah ia mengambil kesimpulan seperti itu. Rasa-rasanya hati kecil Suto tak mau percaya dengan anggapannya sendiri.

"Kuhitung tiga kali kalau kau tak mau serahkan Rencong Iblis itu, maka kau akan mati tanpa bentuk lagi, Nona!" gertak si kurus tanpa ikat kepala.

"Sudah kukatakan, ancaman apa pun yang akan kalian pakai, aku tetap tidak akan serahkan Rencong Iblis itu. Sebab memang aku tidak memilikinya!" kata Salju Kelana dengan suara bernada dingin. Tongkat kecilnya diketuk-ketukkan di tanah, menunjukkan sikap penuh waspada. Ia siap menyambut serangan lawan kapan saja datangnya.

Si kurus berteriak, "Danuyuda, gunakan jurus 'Jala Geni', heeeaaat...!"

Orang berbadan kurus itu menyentakkan tangannya ke depan, demikian pula temannya yang bernama Danuyuda itu. Lalu dari tengah telapak tangan mereka keluar lima larik sinar yang masing-masing tertuju ke arah Salju Kelana. Zraaab...!

Salju Kelana diam sejenak, bagaikan tak menyadari datangnya lima larik sinar dari kanan dan kiri. Namun tiba-tiba tubuh gadis itu memutar cepat dalam satu sentakan putar. Mungkin lebih dari tujuh putaran dalam sekali sentak. Dan putaran itu memancarkan sinar hijau, menyebar ke sekelilingnya.

Blegaarrr...!

Sepuluh larik sinar merah lurus yang menyerang dari kanan kirinya itu menghantam sinar hijau dari tubuh Salju Kelana. Akibatnya timbullah suatu daya ledak yang berkekuatan tinggi. Gelombang ledakannya bukan hanya melemparkan kedua lelaki itu sejauh tujuh tombak, melainkan juga menumbangkan empat pohon di sekelilingnya. Bahkan gugusan batu sebesar anak sapi itu pun pecah menjadi beberapa bongkahan kecil. Tanah bergetar dan daun pun berguguran di sana-sini.


Salju Kelana sendiri hanya jatuh bertahan dengan satu lutut dan berpegangan pada tongkatnyn Namun perempuan berjubah putih itu tidak mengalami luka separah kedua lawannya tadi. Salju Kelana hanya tundukkan kepala sebentar, menyalurkan hawa murni ke seluruh tubuhnya, setelah itu mampu berdiri lagi dengan kepala bergerak-gerak bagai mencari tahu keadaan lawannya dengan menggunakan indera pendengaran.

"Heeeaaat...!"

Tiba-tiba orang yang tadi patah tulang punggungnya memaksakan diri menyerang Salju Kelana dengan satu lompatan bergolok. Golok itu menebas ke samping bagaikan ingin memancung leher Salju Kelana.

Wuuut...! Trrakk...! Pruuusss...!

Tongkat kecil digunakan menangkis golok putih mengkilat dari baja asli itu. Namun, tangkisan itu tidak membuat tongkat kayu kecil itu menjadi patah, melainkan justru golok itu menjadi hancur berkeping- keping bagaikan habis disambar geledek. Tentu saja pemiliknya terbengong-bengong. Dan saat itulah Salju Kelana sodokkan tongkat kecilnya tepat di ulu hati orang tersebut. Deesss...!

"Uuuhhg...?!" orang itu terpekik dengan suara tertahan. Tubuhnya melengkung, mata terbeliak, lalu segera tumbang dengan keadaan menggelepar-gelepar bagaikan ayam disembelih.

Tentu saja sodokan tongkat kecil itu bertenaga dalam tinggi yang bukan saja menyumbat pernapasan orang tersebut, melainkan juga menutup seluruh aliran darah dalam tubuhnya.

Sedangkan dua temannya yang tadi terlempar jauh itu kini berusaha bangkit dengan masing- masing mengeluarkan darah dari mulut, hidung, dan telinganya. Menyadari keadaan seperti itu, mereka berdua segera larikan diri tanpa menghiraukan temannya yang terkapar menyedihkan itu.

Sedangkan Salju Kelana segera melangkah hendak tinggalkan orang yang masih menggelepar-gelepar itu. Namun baru tiga langkah ia menggeloyor jatuh dengan lemas. Brruk...! Lalu mencoba bangkit dan melangkah dengan bantuan tongkat kecilnya itu. Kejap berikut ia tampak menggeloyor jatuh kepalanya nyaris membentur pecahan batu.

"Salju...!" teriak Pendekar Mabuk dengan kecemasan kian meninggi. Ia segera keluar dari persembunyiannya, lalu hampiri Salju Kelana. Pada saat Suto tiba di depan Salju Kelana, perempuan itu jatuh lagi dengan terkulai, namun kali ini tubuhnya ditangkap oleh kedua tangan Suto Sinting.
Dalam keadaan seperti itu, Salju Kelana sempat ucapkan kata lirih,

"Aku... terkena racun 'Jala Geni' mereka, Ooh...!"

"Salju! Salju Kelana...! Bertahanlah! Hooi, Salju...!" Suto Sinting mengguncang-guncang tubuh gadis itu
yang kian terkulai lemas dalam pelukannya .

***5

ORANG yang menggelepar-gelepar dibiarkan saja oleh Suto, tidak sempat terpikirkan olehnya. Pusat perhatiannya kepada Salju Kelana yang makin tampak memucat dan tubuhnya kian dingin. Pendekar Mabuk sangat cemas, khawatir nyawa si gadis hilang saat itu juga.

Maka, demi menjaga datangnya bahaya mendadak lagi, Suto Sinting segera membawa Salju Kelana ke dalam gua yang digunakan untuk bermalam, sampai di dalam gua keadaan Salju Kelana benar-benar mencemaskan. Matanya telah terbeliak menjadi putih dan kian terpejam sayu.

"Celaka! Kalau tak cepat-cepat teratasi racun itu akan membunuhnya tanpa ampun lagi!" gumam Suto dengan sedikit panik. Baru sekarang ia menjadi panik dalam menghadapi seseorang yang terluka. Batu sekarang tangannya menjadi gemetar gugup ketika membuka tutup bumbung tuak untuk lakukan pengobatan.

Suto Sinting mencoba menuangkan tuak ke mulut Salju Kelana. Tetapi mulut itu tak bisa terbuka lebar. Tuak akan mengguyur wajah Salju Kelana jika dituangkan dari bumbungnya.

Maka Suto Sinting segera menenggak tuaknya. Tertelan sedikit dan sisanya masih ada di mulut cukup banyak. Lalu mulutnya ditempelkan ke mulut Salju Kelana. Tuak itu dimasukkan pelan-pelan dengan bibir mengecup bibir Salju Kelana. Hanya dengan cara begitu tuak bisa masuk ke dalam mulut si gadis dan langsung mengalir ke tenggorokan.

Hal itu dilakukan berulang-ulang sampai kulit wajah pucat si gadis menjadi mulai tampak segar kembali. Tubuhnya terasa mulai menghangat. Degup jantung gadis itu diperiksa dengan cara menempelkan telinga ke dada sang gadis. Ternyata sudah mulai bekerja seperti biasanya. Hanya jantung Suto yang masih berdetak- detak cepat, terutama setelah telinganya menempel di dada sang gadis dan dada itu terasa memberikan kehangatan tersendiri bagi Suto Sinting. Dada sekal dan montok itu akhirnya ditinggalkan oleh telinga Suto, karena ia takut ketagihan ingin menempelkan telinga di dada itu terus.

"Dia mulai bernapas dengan lancar," pikirnya sambil pandangi si gadis. "Matanya mulai bergerak-gerak ingin membuka. Oh, syukurlah. Dia tertolong oleh tuakku. Tapi... tapi agaknya perlu sekali lagi kuminumkan tuak sakti ini biar mempercepat penyembuhannya."

Suto Sinting lakukan kembali hal seperti tadi, meminumkan tuak dari mulutnya ke mulut Salju Kelana. Mau tak mau ia mengecup bibir gadis itu lagi dan menyalurkan tuak pelan-pelan.

Bibir gadis itu bergerak-gerak kecil. Bahkan ketika tuak di mulut Suto suuah habis, bibir itu bagaikan menghisap bibir Suto Sinting, seperti bayi yang sedang menyusu tanpa mengetahui bahwa air susunya habis. Hisapan bibir lunak itu membuat Suto Sinting jadi enggan menarik mulutnya dari mulut Salju Kelana. Semakin lama semakin lincah gerakan sang bibir, semakin menimbulkan rasa nikmat di sekujur tubuh Suto Sinting, karena debar-debar di dalam nadinya bagaikan memompa darah untuk beredar keseluruh tubuh dengan derasnya.

Akhirnya lumatan bibir sang gadis mengendur, dan Suto Sinting menarik diri pelan-pelan. Gerakan melepaskan bibir yang sangat pelan itu terasa menimbulkan rasa syur dari ubun-ubun sampai ke telapak kaki.

"Oohh...," gadis itu mendesahkan napas pelan. Tangannya ingin meraih kepala Suto Sinting agar jangan pergi dari bibirnya. Tetapi Pendekar Mabuk sedikit memaksakan diri untuk tetap melepaskan kecupan tersebut. Sang gadis pun membuka mata pelan-pelan. Pandangan matanya masih tampak datar tanpa kesan memandang. Namun dari mulutnya terdengar ucapan lirih yang membuat Suto Sinting tersenyum malu.

"Nikmat sekali cara pengobatanmu, Suto...."

"Ak... aku... aku terpaksa lakukan dengan cara seperti itu, karena tak bisa menuang tuak ke mulutmu. Maafkan aku, Salju Kelana."

"Tak perlu minta maaf," katanya lirih. "Aku justru
ingin terluka lagi kalau begini rasanya."

Suto Sinting tertawa tanpa suara dan itu pun dengan wajah dipalingkan ke arah lain. Hati sang pendekar tampan itu akhirnya membatin serangkaian kata,

"Kalau dituruti bisa ternoda gadis ini. Bahaya sekali keadaan jiwaku saat ini. Aku harus mengekangnya, harus menyadari bahwa gadis ini bukan Dyah Sariningrum. Gawat! Sapuan lidahnya hampir saja membuatku lupa daratan. Hmmm... sayang sekali. Sungguh sayang sekali dia bukan Dyah Sariningrum, dan aku tak berani lakukan perbuatan yang lebih dalam dari yang tadi, karena calon istriku di Pulau Serindu sana dapat mengetahui perbuatanku dengan teropong hatinya. Aku tak mau mengecewakan dia, tak ingin melukai hatinya dengan membiarkan gairahku tercurahkan pada Salju Kelana."

Gadis itu masih berbaring, seulas senyum tipis mengembang, menampakkan kesan bahagianya dalam hati. Namun matanya masih menatap lurus dengan hampa, sekalipun ia berpaling ke arah Suto, tapi pandangan mata itu tak bisa terarah ke wajah Suto Sinting secara tepat.

"Kau telah selamatkan jiwaku, Suto. Alangkah besar hutang budiku kepadamu."

"Kau pun sebelumnya telah selamatkan nyawaku juga. Kurasa kita sama-sama saling menyelamatkan nyawa sehingga tak ada anggapan hutang budi lagi, Salju."

"Mengapa kau selamatkan diriku dari racun 'Jala Geni' yang mestinya membuat jantungku pecah di dalam?"

"Karena aku tak ingin kehilangan kau, Salju Kelana."
"Betulkah kau tak ingin kehilangan diriku?"

Suto Sinting sedikit kikuk menjelaskannya. Ia merasa salah ucap, karena jawabannya tadi bisa diartikan lebih dalam lagi oleh sang gadis. Sebab itulah ia segera mencoba mengatakan maksud lain dari kata-katanya tadi.

"Sebagai seorang sahabat, aku tak ingin kehilangan sahabat yang baik seperti kau. Aku akan merasa sangat kehilangan jika nyawamu sampai melayang karena racun 'Jala Geni' tadi. Barangkali aku akan mencari tiga orang itu dan menumbuk halus raga mereka sebagai ungkapan kekecewaanku jika sampai kau tak tertolong, Salju Kelana."

"Oh, Suto...," gadis itu tersenyum penuh perasaan bahagia. "Mana tanganmu, Suto... berikan tanganmu...," sambil tangan si gadis mencari-cari tangan Suto. Lalu, Suto Sinting memberikan tangannya dan si gadis menggenggam tangan itu kuat-kuatpenuh resapan jiwa yang terbuai mesra. Bahkan ia menempelkan tangan Suto ke pipinya. Dipeluk dan diciumnya tangan itu bagai suatu ungkapan rasa yang amat bermakna sepanjang sejarah Salju Kelana.

"Baru kali ini aku mengenal pria yang mampu menyentuh lubuk hatiku paling dalam," ucap Salju Kelana sambil masih menempelkan tangan Suto di pipinya. Senyumnya kian mekar, hingga lesung pipitnya
membuat detak jantung Suto semakin bertambah keras.

Agar tak terlalu hanyut dalam kemesraan yang ada, Pendekar Mabuk segera alihkan pikirannya ke masalah tiga orang yang memaksa Salju Kelana agar menyerahkan Rencong Iblis tadi.

"Siapa mereka bertiga tadi, Salju Kelana?"

"Mereka murid-muridnya Tabib Lumbung Jagat," jawab Salju Kelana setelah bangkit dan duduk di depan Suto Sinting. Ia mencari-cari tongkat kecilnya, dan Suto mengambilkannya.

Salju Kelana berkata lagi,

"Tabib Lumbung Jagat tewas karena racun. Seseorang mengetahui pertemuan Tabib Lumbung Jagat dengan perempuan berjubah putih dan berwajah cantik. Maka para muridnya menyangka akulah perempuan itu. Mereka juga mendengar kabar tentang Rencong Iblis yang sedang mencari tumbal tujuh belas tabib. Aku sudah mencoba menjelaskan bahwa aku tidak mempunyai Rencong Iblis, tapi mereka tetap tidak percaya dan menuntutku agar menyerahkan rencong itu untuk membalas dendam kepada Gandapura, terutama kepada diriku sendiri yang dianggap membunuh guru mereka."

Pendekar Mabuk bungkam seribu bahasa. Ia tak mengerti harus menanggapi dengan ucapan apa, karena dalam hatinya masih diliputi kebimbangan.

"Benarkah rencong itu tidak ada pada Salju Kelana? Benarkah bukan Salju Kelana yang menjadi utusan pencari tumbal?"

Begitu pikir si murid sinting Gila Tuak itu. Tetapi di mulutnya ia hanya menggumamkan kata lirih sebagai tanda pertimbangan dalam otaknya.

"Perempuan cantik berjubah putih?!"
"Bukan hanya aku perempuan berjubah putih."
"Memang," ucap Suto pelan. "Tapi mengapa mereka tampak yakin sekali bahwa perempuan cantik berjubah putih itu adalah kau?"

"Karena mereka tidak mempunyai pilihan lain. Setahu mereka perempuan berjubah putih itu adalah diriku. Padahal si Kenari Sutera juga berjubah putih."

"Siapa itu Kenari Sutera?" Suto Sinting tertarik ingin mengetahuinya.
"Kenari Sutera adalah murid Begawan Titah Dewa yang tinggal di Bukit Pamanukan."
"Dari aliran hitam atau...."

"Setahuku Begawan Titah Dewa adalah tokoh beraliran putih. Entah kalau muridnya menjadi sesat, mana kutahu?"

Hati Suto Sinting sempat berkata,

"Jika benar Salju Kelana pemegang Rencong Iblis, tentunya aku sudah dibunuhnya, karena dia tahu aku pun dijuluki oleh orang-orang sebagai Tabib Darah Tuak. Dan lagi aku tidak melihat ia menyimpan rencong itu pada tubuhnya. Mungkinkah rencong itu disembunyikan di suatu tempat, yang tiba saatnya nanti akan diambilnya dan ditikamkan ke tubuhku?! Ah, aku kok masih curiga saja, walau sebenarnya aku tak ingin mencurigai dia. Kuingat saat bertemu dengannya, ia mengenalku sebagal Tabib Darah Tuak dan ingin minta diobati. Hal itu membuatku bimbang juga terhadapnya. Ingin sekali kubuang kebimbangan itu, tapi mengapa sulit sekali melakukannya?"

Saat mereka melangkah meninggalkan gua untuk menuju ke Lembah Sunyi, gadis berjubah pulih itu berkata lagi kepada Suto Sinting. Kali ini ia melangkah dengan berpegangan lengan Suto, seakan sepasang sejoli yang sedang menikmati langkah kemesraan.

"Setahuku murid Nyai Sibak Bumi yang bernama Kenanga Puri, juga mengenakan jubah putih. Bisa saja dia yang menjadi pemegang Rencong Iblis Itu. Dan banyak lagi tokoh wanita yang memakai jubah putih. Jadi kau jangan terpengaruh oleh pandangan murid Tabib Lumbung Jagat yang tahunya hanya aku perempuan berjubah putih."

"Tidak. Aku tidak terpengaruh oleh pandangan mereka," Suto mencoba mengelak.
"Wajahmu tampak menaruh kecurigaan padaku, Suto. Aku merasa tak enak berjalan denganmu."

"Maafkan aku. Memang tadi aku sempat terpengaruh oleh anggapan mereka, tapi sekarang sudah tidak punya kecurigaan lagi padamu. Aku percaya, perempuan berjubah putih itu bukan kau."

"Dari mana kau mempercayainya?"

"Karena... karena... karena gadis secantik kau tak mungkin mau membantu tokoh sesat seperti Gandapura. Hatimu pasti cantik seperti wajahmu."

"Jangan menyanjungku, nanti aku semakin hanyut dalam harapanku sendiri."
"Harapan apa?" desak Suto.

"Harapan ingin selalu berada di sisimu. Bukankah harapan itu akan membuatmu muak padaku, Suto?"

Suto tertawa tanpa suara. "Kau terlalu berprasangka buruk. Sebaiknya kita percepat langkah saja supaya lekas sampai di Lembah Sunyi."

Baru saja Suto Sinting menyarankan begitu, tiba-tiba mereka disergap oleh lima orang bersenjata. Mereka rata-rata berusia tiga puluh tahun lebih. Gerakan mereka termasuk cepat juga, karena dalam sekejap Suto dan Salju Kelana telah terkepung rapat dari berbagai penjuru. Wajah mereka menampakkan kemurkaan dan hasrat membunuh yang sangat tinggi.

Suto Sinting sempat terkejut, demikian juga halnya dengan Salju Kelana. Tapi mereka sama-sama cepat kuasai diri hingga bisa kelihatan tenang. Hanya saja, Pendekar Mabuk sempatkan diri bertanya kepada Salju Kelana,

"Apakah kau bisa mengenali lima orang bersenjata parang ini?!"

"Lima orang bersenjata parang? Oh, setahuku hanya orang-orang Perguruan Parang Suci yang bersenjata parang."

"Hmmm...! Kira-kira apa mau mereka?"

Salju Kelana belum menjawab, tiba-tiba salah seorang dari mereka yang berkumis tipis segera membentak dengan suara keras,

"Kurung mereka, jangan beri kesempatan untuk lolos, terutama si jubah putih itu!"

Suto Sinting segera perdengarkan suaranya dengan kalem, "Siapa kalian ini? Mengapa kailan mengurung kami dengan cara seperti ini?!"

"Anak muda, kalau kau mau selamat dan panjang umur, serahkan perempuan berjubah putih itu kepada kami untuk kami bantai beramai-ramai!"

Suto Sinting tersenyum mendengar gertakan orang berkumis tipis itu. Dengan tetap tenang ia bicara kepada si kumis tipis.

"Apa salahnya hingga kalian ingin membantainya?!"

"Dia telah membunuh guru kami dua hari yang lalu! Tak ada cara lain menebus kesalahannya kecuali dengan membantainya!"

"Hmmm... siapa guru kalian itu?"

Seorang yang berambut pendek berseru dari samping kiri Suto Sinting,

"Tanyakan sendiri kepada perempuan biadab itu. Dia pasti mengenal nama Tabib Parang Windul"
"Oh, jadi Tabib Parang Windu terbunuh juga?!" gumam Salju Kelana dengan nada terperanjat.

"Jangan berpura-pura tidak tahu kau, Iblis! Menurut saksi mata kaulah yang membunuh Guru dengan menggunakan sebuah rencong. Kau taburkan racun dalam tubuh guru kami hingga jiwanya tak tertolong lagi."

"Benar-benar biadab kau, Betina!" seru si baju merah. "Heaaat...!"

Orang berbaju merah langsung menyerang Salju Kelana dengan satu lompatan cepat. Parangnya ditebaskan ke arah kepala Salju Kelana. Tetapi gadis itu segera bergerak separo lingkaran, sehingga sebelum parang itu sampai ke tubuhnya, tongkat kecilnya telah berkelebat merobek perut orang tersebut. Tongkat kecil itu bagaikan sebilah pedang yang ketajamannya mampu membedah perut orang dalam waktu sangat singkat.

Satu korban jatuh di tangan Salju Kelana karena sangat terpaksa, demi menyelamatkan nyawanya sendiri.

Melihat temannya terkapar dengan perut robek dan akhirnya menghembuskan napas terakhir, yang lain menjadi kian murka. Kemudian mereka menyerang Salju Kelana secara bersamaan. Tetapi Pendekar Mabuk cepat lakukan tindakan penyelamatan. Tubuh gadis itu disambarnya sambil ia melesat ke udara. Wuuut...!

Hinggap di dahan sebuah pohon. Jleeg...! Salju Kelana masih ada dalam pelukannya.

"Diam di sini, akan kutangani mereka. Hati-hati, ini dahan pohon. Jangan melangkah ke mana-mana."

Salah seorang dari empat yang tersisa itu melesat naik dengan gunakan ilmu peringan tubuhnya. Tepat pada waktu itu Suto Sinting meluncur turun dari atas pohon. Mereka bertemu di udara dan parang pun ditebaskan ke arah Suto Sinting.

Dengan cepat Suto Sinting meraih bumbung tuak dari punggung dan digunakan untuk menangkis tebasan parang tersebut. Traaang...! Suaranya seperti parang menebas baja, karena bumbung itu bukan terbuat dari bambu sembarang bambu.

Begitu parang tertangkis, kaki Suto Sinting segera menendang ke arah dada orang itu. Yang terjadi adalah di luar dugaan para murid mendiang Tabib Parang Windu, orang yang ditendang Suto Sinting itu terpental begitu jauhnya hingga suara jatuhnya tak terdengar oleh mereka.

Tiga orang murid Perguruan Parang Suci itu merasa temannya yang jatuh di kejauhan tidak mempunyai harapan lagi untuk hidup, karena mereka membayangkan dada orang itu sedikitnya jebol akibat tendangan dahsyat Pendekar Mabuk. Tapi ketiga orang tersebut belum mau menyerah. Mereka justru semakin garang dan menyerang Suto secara bersamaan. Wuuuurrss...! Mereka menerjang Suto dari tiga penjuru pada saat Suto mendaratkan kakinya ke tanah.

Pendekar Mabuk menggeloyor bagaikan orang mabuk yang mau jatuh, tapi ternyata bumbung tuaknya menyodok lawan dengan cepat dalam satu gerakan terpatah-patah. Gerakan itu sukar dilihat mata biasa karena cepatnya, sehingga bumbung tuak itu berhasil membuat tiga orang terpental dalam satu gebrakan.

Wuuuurrss...! Buurk...!

Rupanya orang yang tadi terlempar jauh akibat tendangan Suto itu masih hidup. Ia bangkit dan melepaskan pukulan jarak jauhnya yang bersinar hijau bening. Sinar itu semula sangat kecil, tapi semakin melayang jauh semakin besar bentuknya, hingga sampai di depan Suto sinar itu menjadi sebesar buah kelapa.

Tanpa tanggung-tanggung lagi, Suto Sinting menghantamkan bumbung tuaknya dalam satu lompatan ke arah sinar hijau itu.

Buuung... !

Sinar itu memantul balik ke arah pemiliknya dalam keadaan lebih besar lagi dan gerakannya lebih cepat lagi.

Woooosss... !

Tentu saja pemilik sinar hijau itu menjadi sangat terkejut melihat kenyataan itu. Ia segera berlari dan memanjat pohon dengan sangat cepat. Akibatnya sinar hijau besar itu menghantam dua batang pohon yang berjajar rapat.

Blaaang...!

Ledakan mengguncang bumi begitu dahsyatnya, hingga menumbangkan beberapa pohon, termasuk pohon yang dipanjat si pemilik sinar hijau itu. Akibatnya orang tersebut jatuh tergencet pohon yang besarnya tiga rangkulan manusia dewasa.

"Ahhhhgg...!" orang itu mengerang berat, sesaat kemudian suaranya hilang bersama nyawanya. Ia tak mampu menyingkirkan pohon itu.

Tiga orang yang terpental karena sodokan bambu itu berusaha bangkit dengan menahan sakit. Dua di antaranya sempat memuntahkan darah segar. Suto Sinting segera menghardik mereka,

"Jangan teruskan pertarungan ini, kalian akan mati sia-sia. Sebab aku dan perempuan yang di atas pohon itu juga sedang mencari pemegang Rencong Iblis! Kalian salah anggapan. Dan kesalahan seperti itu hanya akan membuang-buang nyawa kalian, seperti dua teman kalian itu. Sia-sia sekali kematiannya!"

"Perempuan yang membunuh guru kami adalah perempuan cantik berjubah putih!"

"Apakah kalian tak berpikir bahwa di dunia ini banyak perempuan cantik, dan dari sekian banyak itu banyak pula yang berpakaian jubah putih?! Mengapa kalian langsung menuduh Salju Kelana yang melakukannya? Apa alasan kalian selain karena cantik dan berjubah putih?!"

"Selain berwajah cantik dan mengenakan jubah putih, perempuan itu mempunyai mata yang cacat! Begitulah menurut keterangan saksi mata kami."

"Mata yang cacat?!" Pendekar Mabuk menggumam dalam hati, dahinya berkerut dengan sendirinya.

Tapi ia berkata kepada tiga orang itu, "Dengarlah kalian, kalau memang Salju Kelana terbukti bersalah, aku yang akan mengadili dan menghukumnya!"

"Siapa kau, sehingga berani bertindak sebagai sang pengadilan?!"

"Aku adalah Pendekar Mabuk; Suto Sinting. Akulah murid si Gila Tuak dan tugasku menegakkan keadilan dan membasmi kejahatan!"

"Ooh...?!" mereka bertiga saling terperangah. Ternyata sejak tadi mereka belum sadar bahwa yang dihadapi adalah seorang pendekar yang namanya sedang kondang dan menjadi bahan sanjungan beberapa tokoh silat aliran putih.

Mendengar nama Pendekar Mabuk, mereka bertiga menjadi ciut nyali, dan merasa sangat menyesal telah berani melakukan pertarungan dengan sang pendekar sinting itu. Akhirnya, mereka bertiga pun segera membawa kedua mayat temannya dengan hati sedih. Sementara yang berkumis tipis itu berkata kepada Suto Sinting dengan nada penuh penyesalan.

"Maafkan kami, tak ada maksud kami untuk menantang, Pendekar Mabuk. Sekuat apa pun tenaga kami melawanmu tetap akan tumbang. Sebaiknya kuserahkan perempuan itu kepadamu, jika benar dan terbukti bahwa dialah pembunuh guru kami, tolong bertindaklah dengan adil dan bijaksana!"

"Terima kasih atas kepercayaan kalian. Aku tidak akan menyimpang dari perintah guruku sendiri!" kata Suto dengan tegas.

Setelah mereka pergi, batin Suto kembali bertanya- tanya, "Benarkah pemegang Rencong Iblis itu bermata cacat? Cantik, berjubah putih, bermata cacat dan... ooh, semua ciri itu ada pada Salju Kelana? Semakin sulit bagiku untuk menghilangkan kecurigaanku kepadanya. Tapi hati kecilku tetap tak mau menuduhnya sebagai si pembunuh para tabib! Oh, aku jadi bingung sekali kalau begini."

Ketika Suto Sinting hendak mengambil Salju Kelana dari atas pohon, ternyata gadis itu sudah tidak ada di tempat. Tentu saja Suto terkejut setengah mati dan kebingungan mencari si cantik berjubah putih itu.

"Celaka! Ke mana gadis itu? Apakah dia melarikan diri?! Dalam keadaan mata buta begitu ia mampu melarikan diri melintasi dahan-dahan pohon?! Ah, rasa- rasanya tidak masuk akal sekali?!" sambil mata Suto memandang ke sana-sini dalam kebingungannya.

***6

BENAR atau salah, Salju Kelana tak boleh lepas dari tangan Pendekar Mabuk. Sebelum perkara itu terselesaikan secara tuntas, Pendekat Mabuk tidak ingin melepaskan Salju Kelana.

"Seandainya memang dia benar-benar si pemegang Rencong Iblis itu, maka aku pun harus bertindak tegas terhadapnya. Sekalipun wajahnya mirip Dyah Sariningrum, tapi jika tindakannya bertolak belakang dengan Dyah-ku, aku tak bisa membiarkannya begitu saja. Setidaknya kuserahkan kepada Guru untuk mendapat perlakuan yang setimpal dengan kejahatannya!"

Sambil memikirkan hal itu, Suto Sinting masih mencoba mencari Salju Kelana yang pergi tanpa tinggalkan jejak. Ia mencari dari pohon ke pohon sehingga dapat melayangkan pandangan matanya lebih luas lagi.

Ketika ia bermaksud turun dari atas pepohonan, tiba- tiba ia mendengar suara dentuman menggema yang datang dari arah utara. Pendekar Mabuk terperanjat dan menjadi tegang dengan mata menatap ke utara.

"Jangan-jangan itu suara pertarungan Salju Kelana dengan seseorang?" pikirnya. Maka tanpa banyak pertimbangan lagi, Suto Sinting segera menggunakan jurus 'Gerak Siluman' untuk melesat dengan cepat menuju ke arah utara. Zlaaap...!

Sebuah dataran berumput lebat menjadi ajang pertarungan. Dan dugaan Suto Sinting tadi ternyata memang benar. Salju Kelana sedang bertarung melawan seorang nenek berjubah merah dengan tongkatnya yang putih. Tampak tak jauh dari mereka, berdiri sesosok tubuh sekal berambut cepak yang tak lain adalah Anggani, si Putri Malu.

"Hmmm... kalau tak salah nenek tua berjubah merah itu adalah Nyai Sumbar Keramat, gurunya Anggani.

Rupanya si Putri Malu itu mengadu kesedihannya kepada sang Guru dan Nyai Sumbar Keramat pun merasa berhak membela sakit hati muridnya. Gawat! Salju Kelana apa bisa unggul melawan Nyai Sumbar Keramat? Karena dulu, tokoh tua yang ilmunya tinggi, sahabat dari guruku sendiri, juga hampir celaka dalam pertarungannya melawan Nyai Sumbar Keramat."

Suto Sinting ingat seraut wajah tua berambut putih panjang yang diikat ke belakang. Orang yang diingatnya itu tak lain adalah Galak Gantung, yang dulu pernah bertarung dengan Nyai Sumbar Keramat karena sang Nyai mendukung rencana muridnya yang ingin menyerahkan Suto kepada Ratu Sukma Semimpi, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode : "Pusaka Bernyawa").

Pada dasarnya, Suto Sinting tidak ingin Salju Kelana dihakimi oleh orang lain. Karenanya ia tak bisa tinggal diam saja ketika melihat Salju Kelana dihajar habis oleh Nyai Sumbar Keramat. Tongkat sang Nyai yang dihantamkan bertubi-tubi ke arah Salju Kelana membuat si gadis berjubah putih terdesak mundur.

Tangkisannya semakin lama semakin lemah karena setiap sabetan tongkat Nyai Sumbar Keramat selalu disertai dengan percikan bunga api yang menandakan tongkat itu dialiri tenaga dalam cukup berbahaya.

"Hancurkan dia, Nyai! Hancurkan dia selagi tak ada Pendekar Mabuk!" seru Anggani dengan suara dendam yang membuatnya hampir serak.

Pendekar Mabuk cemaskan jiwa Salju Kelana, sebab gadis itu terdesak sampai di dekat rawa. Padahal Suto Sinting tahu rawa itu adalah genangan lumpur hidup yang mampu menyedot manusia yang jatuh ke dalamnya. Jika sampai Salju Kelana jatuh ke lumpur hidup, habislah riwayatnya. Pasti ia akan semakin ditenggelamkan oleh Nyai Sumbar Keramat dengan caranya sendiri.

Tak ada pilihan lain bagi Suto Sinting selain menghambur dalam pertarungan itu demi menyelamatkan Salju Kelana. Dengan gerakan yang amat cepat melebihi anak panah, Suto Sinting berhasil melesat dan dalam sekejap tiba di samping Salju Kelana.

Zlapp...! Jleeg...!

"Hentikan, Nyai!" sentak Suto Sinting dengan suara menggelegar. Sentakan suara itu membuat jantung Sang Guru terhentak pula dan gerakannya pun terhenti. Suto Sinting segera meraih tangan Salju Kelana dan
menariknya.

"Diam di belakangku!" perintah Suto Sinting dengan mata tetap memandang ke arah Nyai Sumbat Keramat.

"O, rupanya apa kata muridku memang benar. Pendekar Mabuk sudah menjadi pendekar sesat karena membela kejahatan!" ucap sang Nyai dengan senyum sinis.

Anggani segera berlari mendekati gurunya. Wajah gadis itu masih tampak ketus saat memandang Pendekar Mabuk.

"Sudah kubilang jangan ikut campur masalah ini kalau kau tak tahu persis, Suto. Kenapa kau masih membela si keparat itu!" sentak Anggani sambil menuding Salju Kelana yang ada di belakang Suto dalam jarak tiga langkah.

"Aku bisa rasakan dendam dan murkamu, Anggani. Tapi kau tidak boleh bertindak gegabah. Jika memang Salju Kelana bersalah sebagai pembunuh ibumu, kau harus bisa membuktikannya."

"Buktinya adalah jenazah ibuku yang sekarang sudah dimakamkan itu! Jenazah Ibu dalam keadaan biru legam karena racun ganas yang sulit ditangkal lagi! Itulah racun dari si keparat itu, tahu?!"

Salju Kelana yang dituding-tuding oleh Anggani diam saja. Ia menenangkan napasnya akibat tenaganya terkuras saat melayani serangan Nyai Sumbar Keramat. Sang Nyai pun segera berkata kepada Suto Sinting.

"Matamu telah terbalik, Suto! Seharusnya kau memihak yang benar, tapi nyatanya kau memihak orang yang salah. Lebih baik copot gelar kependekaranmu ketimbang kau kotori dengan sikapmu saat ini!"

Anggani menimpali, "Apakah karena Salju Kelana lebih cantik dariku, maka kau membelanya mati-matian, hah?"

"Anggani...," kata Suto Sinting dengan tenang. "Apakah kau belum mendengar bahwa bukan hanya ibumu yang terbunuh, melainkan beberapa tabib lainnya juga terbunuh oleh satu orang. Orang itu menggunakan Rencong Iblis. Rencong itu mencari tumbal tujuh belas tabib. Jika sudah mendapat tumbal nyawa tujuh belas tabib, maka ia akan menjadi senjata bagi Gandapura untuk menangkap kekuatan Kapak Setan Kubur yang dapat meleburkan Ilmu Mahkota Neraka'-nya."

"Hmmm...! Aku lebih tahu dari kau, Suto!" Anggani mencibir benci.

"Barangkali kau benar. Kau lebih banyak tahu dari diriku. Tapi ketahuilah, banyak orang mengetahui juga bahwa ciri-ciri pemegang Rencong Iblis yang menjadi utusan Gandapura adalah perempuan cantik berjubah putih dan cacat matanya. Tapi apakah kau tidak berpikir bahwa ciri-ciri seperti itu tidak hanya dimiliki oleh Salju Kelana?!"

"Persetan dengan kata-katamu!" sentak Nyai Sumbar Keramat. "Anggani, menyingkirlah! Biar kuhadapi sendiri pendekar sesat ini!"

Anggani mundur pelan-pelan sambil memandangi Suto Sinting, seakan pasrah dengan tindakan gurunya. Ia berlari menjauh bagai tak mau melihat pertarungan itu.

Sementara sang gadis berjubah putih pun bergegas ke bawah pohon, sepertinya memberikan tempat bagi Suto untuk melayani murka sang Nyai.

"Pendekar Mabuk!" seru Nyai Sumbar Keramat, "... Kau boleh saja berdalih apa pun, tapi aku tetap tak ingin melihat seorang pendekar yang sesat langkahnya sepertimu! Lebih baik kau kumusnahkan dan aku akan berurusan dengan gurumu sendiri; Bidadari Jalang atau si Gila Tuak."

"Nyai, sebenarnya aku tidak ingin melakukan pertarungan denganmu. Tapi jika ternyata kau mendesakku, aku terpaksa melayanimu sebagaimana apa yang kau harapkan dariku!"

"Manis tutur katamu, lembut suaramu, tapi busuk hatimu! Aku harus melenyapkan kebusukan itu sampai ke akar-akarnya. Heeaahh...!"

Nyai Sumbar Keramat menyentakkan tongkatnya dalam keadaan kaki tetap di tempat. Kaki itu merendah dan tongkat itu disodokkan ke depan. Seberkas sinar lurus tanpa putus warna kuning menghantam dada Suto Sinting. Tapi dengan cepat Suto Sinting kelebatkan bumbung tuaknya ke depan dada.

Weet...! Daaab...! Duaaar...! Ledakan keras menggema akibat sinar kuning itu menghantam bumbung tuak. Sinar itu jelas sinar berkekuatan tenaga dalam sangat tinggi. Jika tidak ia akan membalik arah dan berubah menjadi lebih besar. Ternyata sinar itu tidak membalik arah dan meledak begitu menghantam bumbung tuak.
Bumbung tuak itu tidak terluka sedikit pun. Membekas hangus pun tidak. Tentunya bumbung tuak itu mempunyai kekuatan tenaga dalam lebih tinggi dari sinar kuning tersebut.

Tubuh Nyai Sumbar Keramat tersentak, namun ia bertahan hingga hanya bergeser ke belakang dua langkah. Pendekar Mabuk sendiri juga tersentak ke belakang satu langkah, dalam sekejap sudah mampu berdiri tegak lagi. Keduanya saling beradu pandangan mata. Suto Sinting lebih tenang dan sorot matanya tidak seganas Nyai Sumbar Keramat.

Di luar dugaan, dari kedua mata Nyai Sumbar Keramat keluar dua baris sinar merah sebesar lidi, lurus tanpa putus. Suto Sinting sempat terperanjat, lalu cepat- cepat menyilangkan bumbung tuaknya ke arah depan mata, sebab kedua sinar merah itu ingin menembus mata Suto.

Dengan menyilangnya bumbung tuak yang digenggam dengan kedua tangan itu, maka kedua sinar merah pun kembali menghantam bumbung tuak secara bersamaan.

Jgaaarrr... !

Sinar biru lebar melesat dari bumbung tuak itu. Sinar biru lebar itu merupakan percikan dari perpaduan tenaga sakti dalam bumbung dengan dua sinar merah.

Sinar biru lebar melesat ke depan dan di luar dugaan menghantam tubuh Nyai Sumbar Keramat. Zrruuub...!
"Aaaahg...!" Nyai Sumbar Keramat terpental terbang sambil memekik. Tubuhnya berasap dan jatuh di semak- semak.

"Guruuu...!" teriak Anggani dengan tegang sekali. Ia berlari menghampiri gurunya yang terperosok di semak- semak. Bahkan sebagian semak-semak itu terbakar begitu tersentuh tubuh Nyai Sumbar Keramat.

"Guru, kau terluka parah! Kau... kau.... Oh, Sutooo...! Biadab kau! Kubunuh kau, Sutooo...!" teriak Anggani. Tapi ketika mau bergerak, kakinya disambar oleh Nyai Sumbar Keramat. Teeb...!

"Guru...?! Akan kubalaskan lukamu itu!"

"Jaa... jangan... buang-buang waktu. Baa... bawa... bawalah aku kepada.... Galak Gantung. Hanya dia yang bisa obati luka seperti ini...!"

"Oh, ba... baik, Guru! Baik!"

Anggani mengetahui bahwa gurunya dalam keadaan sangat parah. Ia tak sempat lakukan apa pun pada diri Suto maupun Salju Kelana. Ia cepat mengangkat gurunya dan berlari menuju Bukit Wangi untuk temui Galak Gantung, bekas kekasih Nyai Sumbar Keramat semasa mudanya.

Sementara itu, ledakan dahsyat tadi ternyata telah membuat tubuh Suto Sinting terpental dan jatuh ke rawa berlumpur hidup. Tubuhnya juga berasap pada saat melayang. Bumbungnya terlepas dari genggaman tangan. Dan tubuh Suto Sinting masuk ke dalam lumpur hidup dalam keadaan luka bakar bagian dalamnya. Ia sangat lemas dan tak berdaya. Tubuh itu terendam lumpur setinggi dada.

Salju Kelana terkejut ketika mendengar suara:

Juubbbss...! Hati gadis itu segera berkata,

"Siapa yang masuk ke rawa berlumpur?! Oh, agaknya Suto Sinting?!"
Lalu ia segera bergerak dengan bantuan tongkatnya sambil berseru, "Sutooo...! Sutooo...!"

Pendekar Mabuk ingin berseru tapi dadanya terasa sakit sekali. Ia pun berusaha untuk bergerak. Namun segera sadar bahwa gerakannya hanya akan membuat badannya semakin tersedot ke dalam lumpur. Kini lumpur itu sudah sebatas pundak. Suto Sinting sempat angkat tangannya sambil berusaha berseru namun suaranya sangat pelan,

"Salju... ambil bumbung tuak...!"
"Suto, kau di dalam lumpur?!"

"Iiy... Iyaa...!" jawab Suto pelan sekali. Salju Kelana mendekati tepian lumpur dengan bantuan tongkatnya untuk meraba tanah di depannya. Langkahnya menjadi hati-hati.

Suto Sinting yang masih mengangkat satu tangannya itu menjadi lebih cemas melihat Salju Kelana melangkah maju mendekati tepian rawa.

"Jangan maju... berhenti!" ucap Suto dengan suara berat seperti orang tua. "Sebelah kirimu tanah lunak. Jangan injak itu. Jangan...!"

Tapi Salju Kelana nekat menginjak tanah lunak itu. Sekali injak tanah pun amblas ke dalam. Blusss...!

Tetapi agaknya ada kayu batu di dalam tanah itu hingga kaki Salju Kelana tak terendam ke dalam lumpur. Suto Sinting sudah pejamkan mata karena ngeri melihat Salju Kelana yang diduga akan terjerembab juga.

Ternyata ketika ia membuka mata, Salju Kelana mendekatinya dengan berjalan di atas lumpur hidup itu. Ia menapakkan kakinya di atas lumpur hidup tanpa terbenam sedikit pun. Tongkatnya digerak-gerakkan mencari sentuhan tubuh Suto.

Pendekar Mabuk memandang kagum terhadap kemampuan Salju Kelana yang ternyata mempunyai ilmu peringan tubuh cukup tinggi juga itu. Tapi Suto tak mampu berpikir lebih banyak lagi, karena rasa sakit di dada membuatnya bergerak dan gerakan itu membuat tubuhnya lebih amblas ke dalam lumpur hingga mencapai sebatas leher. Tangannya masih terangkat ke atas, namun sama sekali tidak mempunyai pegangan.

"Salju...," suara itu membuat Salju Kelana yang hampir melangkah ke arah yang salah menjadi berbalik. Ia seperti berjalan di tanah datar biasa yang keras dan berbatu.

"Salju... aku di sini," ucap Suto Sinting semakin lirih. Kalau saja telinga Salju Kelana tidak mempunyai kepekaan tinggi. Ia tidak akan mendengar ucapan Suto itu.

Akhirnya ia menemukan kepala Suto yang diketuk ketuk dengan ujung tongkatnya. "Ini batu atau kepalamu, Suto?"

"Kep... kepalaku," jawab Suto Sinting dengan semakin lirih, karena lumpur makin menghisap tubuhnya hingga mencapa batas dagu.

"Pegang tongkatku!" perintah Salju Kelana. Tangan Suto yang terangkat ke atas akhirnya menyambar tongkat Salju Kelana. Taab...!

"Gunakan ilmu peringan tubuhmu, aku akan menarikmu pelan-pelan," kata Salju Kelana.

Seandainya Suto tidak gunakan ilmu peringan tubuh, barangkali gerakan Salju Kelana yang menarik tubuh Suto dapat membuat tubuh perempuan itu terbenam sendiri ke dalam lumpur. Tapi karena Suto pun menahan napas dan menggunakan ilmu peringan tubuhnya, maka tarikan tongkat Salju Kelana terasa ringan dan tubuh Suto mampu bergerak. Kini Salju Kelana melangkah dengan tenang sambil menarik Suto Sinting yang berpegangan pada tongkatnya. Ia seperti seseorang yang sedang menuntun seekor kambing.

"Bertahanlan sampai kita mencari daratan, Suto "

"Sekarang sudah sampai di darat. Aku jangan diseret terus!" geram Suto bernada jengkel sambil menahan sakit.

"O, maaf. Aku tidak tahu kalau sudah sampai di darat. Kau sendiri mengapa masih memegangi tongkatku terus sehingga terseret-seret?!"

Suto menggerutu tak jelas. Badannya terbungkus lumpur hitam berbau rumput. Namun ia tidak peduli dan segera menggulingkan tubuh beberapa kali dengan susah payah, lalu mencapai bumbung tuaknya. Ia menenggak tuak dengan gemetar. Air tuak bukan saja mengucur dari mulutnya, namun juga membasahi wajahnya. Ia tetap tidak peduli, yang penting beberapa teguk tuak berhasil diminumnya dan rasa sakit di dada mulai berkurang.

Suto duduk di tanah bersandarkan pohon. Napasnya masih terengah-engah, walau rasa sakitnya semakin ringan. Ia tertegun membayangkan hampir mati terhisap lumpur hidup kalau tak ditolong oleh Salju Kelana. Gadis itu mencoba meraba tubuh Suto, tapi pemuda tampan itu menyentak,

"Jangan pegang aku!"
"Suto...?! Kau marah padaku?" ucap Salju Kelana pelan, bagaikan penuh kesabaran.

Suto Sinting sedikit menyesal mengeluarkan suara keras. Ia segera berkata dengan lunak, "Maksudku, badanku penuh lumpur. Kalau kau memegangku nanti tanganmu kotor."

"Apakah wajahmu juga penuh lumpur?"

Suto menjawab bagai orang menggerutu pelan, "Tidak...."

Kemudian tangan perempuan cantik itu meraba wajah Suto. Ia tersenyum memamerkan lesung pipitnya. Suto berdebar-debar. Kejengkelan di hatinya sirna begitu memandang lesung pipit di wajah cantik yang mirip sekali dengan Dyah Sariningrum itu.

"Ternyata wajahmu masih tampan walau ada sedikit lumpur di pelipismu," ujar Salju Kelana. "Tapi mengapa mulutmu monyong? Kau cemberut, Suto?"

"Aku kesal padamu!" kata Suto memaksakan diri untuk ketus, supaya Salju Kelana mengetahui bahwa hati Suto semula dongkol kepadanya.

"Kau pergi tanpa bilang-bilang padaku. Sudah dua kali kau begitu. Pertama kau menghilang dari gua saat aku masih tertidur dan akhirnya bentrok dengan murid- murid Tabib Lumbung Jagat...."

"Aku bermaksud buang air, dan ketika mau masuk ke gua diserang oleh mereka. Aku membawa mereka lari menjauhi gua supaya kau tidak menjadi sasaran mereka, karena aku tahu saat itu kau masih tidur. Aku tak ingin tidurmu diganggu oleh teriakan atau kegaduhan mereka," potong Salju Kelana.

"Dan tadi kenapa kau tahu-tahu pergi, sementara aku sedang hadapi murid-murid Perguruan Parang Suci?! Bukankah sudah kubilang, jangan ke mana-mana. Diam saja di atas pohon supaya aku mudah melindungimu!"

"Aku disambar seseorang dan dibawa lari. Aku tak tahu siapa yang menyambarku dari belakang. Ketika aku meronta, aku jatuh di tanah ini dan ternyata gurunya Putri Malu yang menyambarku dari atas pohon."
"Mengapa kau tidak berteriak minta tolong, supaya aku tahu kalau kau dalam bahaya."

"Aku tak mau mengganggu kesibukanmu bersama murid-murid Perguruan Parang Suci itu. Pikirku, aku ingin mengatasi sendiri tanpa merepotkan dirimu lagi."

"Uuh...!" Suto Sinting mendengus kesal, wajahnya cemberut. Wajah itu diraba lagi oleh Salju Kelana.

"Kau cemberut, Suto?! Ooh... maafkanlah aku. Jangan marah, aku tidak sengaja meninggalkan kau!" sambil tangannya masih meraba wajah Suto.

"Puih, puih...!" Suto Sinting meludah dan menjauhkan wajah.
"Kenapa, Suto?"
"Tanganmu kena lumpur masuk ke mulutku!"

"Oo... maaf, aku tak sengaja memasukkan lumpur! Maaf, Suto...," Salju Kelana akhirnya tertawa geli, Suto hanya menahan tawa dengan senyum dikulum. Ia meludah-ludah lagi karena masih ada sisa lumpur di bibirnya. Ia sempat menggerutu yang membuat Salju Kelana kian tertawa geli.

"Mulut orang diobok-obok seenaknya... dimasuki lumpur segala! Puih...! Memangnya aku belut, makannya lumpur?!"

Tak seberapa jauh dari tempat itu ada sungai berair terjun tak seberapa tinggi. Untuk menghilangkan lumpur di badan, Pendekar Mabuk terpaksa mandi di bawah pancuran tersebut, sambil mencuci pakaiannya.

Bumbung tuak dititipkan kepada Salju Kelana yang duduk di atas sebuah batu tak jauh dari Suto Sinting.

Walaupun wajah gadis itu menghadap ke arah Suto, namun Suto Sinting tak segan-segan lagi melepas seluruh pakaiannya dan mandi dengan bebasnya.

"Untung dia buta, jadi tak melihat keadaanku saat ini," pikir Suto Sinting.
"Biar pakaianmu aku yang mencucinya, Suto!"

"Jangan. Kau jangan bekerja apa-apa. Duduk di situ saja. Sebentar lagi aku selesai."
"Kau sepertinya sangat sayang kepadaku," ujar Salju Kelana sambil wajahnya seperti memandang Suto tapi arah pandangan matanya datar tak tertuju ke satu titik.

"Apakah kau memang mempunyai rasa kasih dan sayang pada diriku, Suto?!"

"Aku tidak tahu!" jawab Suto kaku. Ia memeras pakaiannya, lalu membentangkan di bebatuan yang terkena terik matahari. Sambil menunggu pakaian kering, Suto mengulangi mandinya agar tubuh semakin bersih.

"Kalau kau sayang padaku, katakanlah terus terang, supaya hatiku bisa menikmati kebahagiaan secara nyata."
"Aku sayang padamu, sebagaimana sayangnya seorang sahabat."
"Hanya itu?"
"Ya, hanya itu!" jawab Suto memaksakan diri sesingkat mungkin.

Tapi dalam hatinya ia bertanya sendiri,

"Benarkah aku sayang kepadanya? Bukankah dia orang yang sedang kucurigai sebagai pembawa Rencong Iblis, pembunuh para tabib itu? Apakah ia juga akan membunuhku? Tegakah ia membunuhku? Jika ia memang pembunuh para tabib dan merencanakan ingin membunuhku juga, mengapa ia menyelamatkan nyawaku dari lumpur maut tadi?"

Pendekar Mabuk diliputi kebimbangan yang meresahkan, sambil tetap membiarkan tubuhnya berdiri tegak diguyur air pancuran dengan segarnya. Sementara itu, Salju Kelana seakan ingin mendekat, ingin memandanginya lekat-lekat, namun gadis itu tak berani lakukan untuk melompat turun ke sungai. Barangkali takut terpeleset, atau ia merasa lebih suka duduk sambil membayangkan Suto mandi.

Yang jelas gadis itu segera berkata, "Sepertinya kau masih menuduhku sebagai pembunuh para tabib itu, Suto. Setega itukah kau mencurigaiku?!"

"Dari mana kau tahu kalau aku masih mencurigaimu?"
"Detak jantungmu sedikit lebih cepat dari biasanya. Benar, bukan?"
Suto tak berani menjawab. Ia bahkan semakin resah.

***7

SEORANG lelaki tua berusia sekitar tujuh puluh tahun melepaskan pukulan tenaga dalamnya berupa sinar biru yang melingkar-lingkar. Pukulan itu terlepas dari telapak tangan kirinya dan menerjang dua orang penunggang kuda yang bersebelahan. Srraaab... ! Blaarrr... !

Dua penunggang kuda itu terjungkal dari atas punggung kuda secara bersamaan. Kedua tubuh menjadi merah matang dan kejap kemudian merenggangkan nyawa. Kemudian orang tua itu berlari lagi ke tempat persembunyian. Karena dua penunggang kuda lainnya datang dari arah timur dan melepaskan tombak ke arahnya. Wuuusss...!

Orang tua berpakaian abu-abu dengan rambut putih pendek itu segera menyelinap di balik pepohonan. Seet...! Tombak berhias benang merah di bawah mata tombaknya itu menancap pada pohon tersebut dengan kuat. Jluub...!

Terlambat sedikit orang bertubuh kurus dan agak pendek itu akan menjadi sasaran tombak tersebut. Untung ia cepat bersembunyi di balik pohon itu, sehingga nyawanya masih melekat pada raganya.

"Dia di balik pohon itu. Hantam dengan jurus 'Rentang Kumala' kita! Heeeaaah...!"
"Hiaaah...!"

Dua sinar merah yang menyerupai cahaya kilat itu menyambar pohon tersebut. Blegaar...! Blaaang...!

Dentumannya begitu menggema bagaikan ingin memecahkan langit.

Pohon itu hancur berkeping-keping. Rata dengan tanah. Tapi kakek berpakaian abu-abu yang gigi depannya tinggal dua itu lenyap tak berbekas. Kedua penunggang kuda mencari mayat kakek itu, tapi tak sesobek pakaian pun ditemukan oleh mereka.

"Dia hilang...!"
"Tak mungkin. Pasti pindah di tempat lain."
Tiba-tiba ada suara yang terdengar di atas sebuah pohon seberang mereka.
"Ya, aku memang pindah di sini!"
"Itu dia...!"

Slaaap...! Salah seorang penunggang kuda lepaskan pukulan jarak jauh lagi dalam bentuk dan jenis yang sama dengan yang tadi. Tapi kali ini kilatan cahaya merah itu dihadapi oleh sang kakek dengan sentakan tangan kirinya yang memancarkan bias sinar hijau. Sinar hijau lebar itu bagaikan terbang cepat ke arah para penunggang kuda. Wuuuttt... !

Di pertengahan jarak sinar hijau itu menabrak sinar merah. Dan dentuman hebat pun terdengar kembali membahana ke mana-mana.

Jlegaaar...!

Kedua belah pihak tidak ada yang tumbang. Kecuali kuda mereka meringkik ketakutan sambil melonjak, menaikkan kaki depannya. Sang penunggang kuda akhirnya turun. Keduanya segera maju ke pertengahan jarak dan salah seorang berseru,

"Turun kau, Pembunuh!"
Zlaaap...!

Orang berpakaian abu-abu itu justru menghilang, membuat kedua penunggang kuda menjadi kebingungan. Tapi kejap berikutnya ia sudah berada di lereng bukit cadas belakang mereka.

"Aku di sini, Nak.... He, he, he, he...!"
"Kejar dia! Kejar terus...!"

Pak tua itu lari mendaki bukit, kedua penunggang kuda mengejarnya dengan tanpa membawa kudanya. Namun tiba-tiba sebelum kedua orang itu mencapai puncak bukit yang tak seberapa tinggi, tiba-tiba sekelebat bayangan menerjang mereka dari samping. Breeess... !

"Aaauh...!" Keduanya terjungkal ke belakang dan terguling-guling menuruni lereng bukit. Pak Tua itu kaget dan hentikan langkah. Lalu ia memandang ke arah lain, ternyata Pendekar Mabuk sudah berdiri di sana dengan senyum tipis tersungging di bibirnya.

"Bocah bandel...! Kau dari mana saja? Kenapa tak segera menemuiku, Suto?!" ujar orang tua itu yang tak lain adalah si Tua Bangka atau Sanupati. Dia adalah pemilik pusaka Kapak Setan Kubur, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode : "Kapak Setan Kubur").

"Aku sedang dalam perjalanan menemuimu, tahu- tahu menghadapi masalah berat, Tua Bangka."
"Hmmm... lalu apakah sudah kau selesaikan masalah itu?!"

Kilatan cahaya merah datang lagi dari kedua orang itu. Claap...! Tua Bangka menangkisnya dengan mengadu sinar hijaunya kembali. Blegaaar...! Tapi ia berlagak acuh tak acuh dan bicara dengan Pendekar Mabuk,

"Aku yakin kau bisa selesaikan setiap masalah yang kau temui, Suto. Sebab aku tahu siapa kau dan seberapa tingginya kecerdasanmu! Jelas kecerdasanku ada di bawahmu."

Claaap... !
Blegaaar...!

Lagi-lagi kedua orang itu menyerang, dan Tua Bangka menangkisnya secara acuh tak acuh, wajahnya tetap memandang Suto Sinting dengan senyum ceria.

"Ada masalah apa dengan kedua orang itu, Tua Bangka?"

"O, biasa. Adipatinya kubunuh, eeeh... mereka ngamuk! Aku dikejar-kejarnya. Yaaah... terpaksa mereka kutumbangkan daripada nyawaku diambilnya."

"Adipati mana yang kau bunuh?!"

"Janarsuma!" jawab Ki Sanupati alias si Tua Bangka dengan santainya. "Kemarin malam dia kubunuh dengan Kapak Setan Kubur, karena dia mengadakan pertemuan dan mempertaruhkan takhtanya untuk diberikan kepada siapa pun yang bisa mendapatkan Kapak Setan Kubur. Kupikir, itu namanya dia mengumpan nyawa orang lain untuk mendapatkan keinginannya. Akhirnya kuselesaikan sendiri sang Adipati itu, sehingga mereka bubar dan tak ada yang mengejar pusaka Kapak Setan Kubur-ku itu. Anak buahnya marah, kutinggal kabur!"

"Oo... pantas," Suto Sinting manggut-manggut.

Claaap...! Blegaar...!

Dua orang itu gagal lagi menyerang dari jarak jauh. Akhirnya mereka bosan dan salah seorang berkata,

"Sudah, tinggalkan saja dia! Kalau yang lain bertanya, bilang saja ia pergi entah ke mana. Larinya sangat cepat!"

Suto Sinting tersenyum mendengar ucapan lirih orang itu. Tapi ia segera memperhatikan Tua Bangka dan berkata,

"Sebenarnya apa yang membuat Adipati Janarsuma bernafsu sekali ingin mendapatkan pusaka Kapak Setan Kubur itu?"

"Dia ingin balas dendam kepada Gandapura, karena anak angkatnya yang tunggal itu diculik oleh orangnya Gandapura dan dimakannya. Kepalanya dipulangkan ke istana kadipaten. Jadi ia bernafsu sekali ingin dapatkan senjata yang dapat untuk melawan titisan raksasa itu, tanpa ia bercermin diri bahwa banyak kepala orang yang dipenggalnya pada saat ia melebarkan wilayah merebut kekuasaan para tumenggung. Kupikir anak angkatnya yang disantap Gandapura merupakan upah perbuatan kejinya selama ini. Jadi pusaka Kapak Setan Kubur tak perlu kupinjamkan kepadanya."

"Oo... begitu masalah sebenarnya?" Pendekar Mabuk manggut-manggut kembali.
"Kau sendiri punya masalah apa, Suto?"
"Tengoklah ke belakangmu, Ki Sanupati!"

Tua Bangka menengok ke belakang, ia terkejut melihat seraut wajah cantik berjubah putih yang berjalan dengan tongkat kecilnya.

"Salju Kelana...?!" Tua Bangka menyapa dengan nada heran.
"Kalau tak salah dengar, kau si Tua Bangka, Sanupati?!"
"Benar! Ada apa dengan matamu, Salju Kelana?!"

"Tidak apa-apa. Hanya sedikit gelap saja. Mungkin karena habis bangun tidur," jawab Salju Kelana, tetap tak mau mengaku dirinya buta.

"Kau buta...?!"

"Tidak. Aku tidak buta. Jangan salah sangka, Ki Sanupati!" sergah Salju Kelana. Ia mendekat dengan hati-hati dan Suto Sinting segera membantunya menuruni bukit itu. Mereka bicara di kaki bukit cadas.

"Dalam perjalananku ke Tibet, aku sempat bertarung dengan Tabib Arak Merah," tutur Salju Kelana yang membuat Suto Sinting terkejut, karena ia pernah mendengar nama Tabib Arak Merah yang menjadi guru Palupi itu, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode : "Tandu Terbang").

"Pertarunganku itu membuat Tabib Arak Merah melukaiku dengan pukulan beracun dan membuatku buta. Beberapa tabib kudatangi, tapi tak ada yang mnmpu sembuhkan kebutaanku kala itu."

"Bukankah pemuda yang bersamamu itu juga seorang tabib? Tabib Darah Tuak!" kata Tua Bangka.

Suto Sinting menyahut, "Aku sudah mencoba memberikan tuakku, tapi ia masih tidak bisa melihat."

"Bukan tidak bisa melihat!" sentak Salju Kelana. "Aku masih dipengaruhi pandangan gelap! Bukan tidak melihat!"

"Iiyy... iya, maksudku begitu," sambil Suto tersenyum-senyum memandang Tua Bangka, melirik Salju Kelana. Tua Bangka mengerti maksud senyuman Suto, sehingga ia tidak mendesaknya dengan pertanyaan yang sama.

"Nasibku agaknya sedang ditimpa kemalangan, Tua Bangka," kata Salju Kelana. "Sudah dalam keadaan begini, masih dicurigai sebagai pembunuh para tabib di sini."

"Pembunuh para tabib?!" Tua Bangka kerutkan dahi. Agaknya ia belum mendengar peristiwa yang sedang heboh di rimba persilatan mengenai pembunuhan para tabib sebagai tumbal Rencong Iblis. Maka Pendekar Mabuk pun segera menceritakan keseluruhannya, sampai pada rencananya untuk berkunjung ke Lembah Sunyi,

menemui Resi Wulung Gading.

"Tunggu dulu," kata Tua Bangka. "Rencong Iblis memang ada, dan ia bisa menangkis kesaktian Kapak Setan Kubur jika racunnya sudah membunuh tujuh belas tabib. Itu memang benar. Tapi... seingatku Rencong Iblis bukan milik Gandapura! Rencong Iblis adalah milik Dewi Kapas Ayu, murid mendiang Pendeta Mata Lima yang telah murtad sebelum pendeta itu wafat."

Suto Sinting berkerut dahi, karena ia merasa kenal dengan Pendeta Mata Lima kakak dari Pendeta Jantung Dewa, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode : "Kitab Lorong Zaman"). Namun untuk sementara Suto lebih cenderung menyimak keterangan Tua Bangka itu.

"Dan setahuku, Dewi Kapas Ayu adalah perempuan cantik yang gemar mengenakan jubah putih. Matanya memang cacat karena bekas terkena pedang lawan yang tak bisa hilang walau dengan ramuan apa pun."

Suto Sinting menarik napas, mulai merasakan kegelapan dalam hatinya. Ia bahkan bertanya karena ingin tahu secara tuntas.

"Lalu, mengapa ia menggunakan Rencong Iblis itu untuk mencari tumbal? Apakah ia ada di pihak Gandapura?!"

"Dewi Kapas Ayu itu sudah telanjur mengikuti aliran sesat, yang jalan pikirannya sedang sangat bertolak belakang dengan kita. Barangkali saja dia mendapatkan imbalan yang setimpal dengan menyerahkan Rencong Iblis yang sudah dicarikan tumbalnya itu. Sebab setahuku, Dewi Kapas Ayu adalah wanita yang gila lelaki dan, aaah... tak pantas diceritakan kerusakan susilanya itu. Mungkin dia mendapatkan beberapa lelaki pengikut Gandapura yang mampu memberikan kepuasan kepadanya, sehingga ia bersikap mengabdi kepada Gandapura dan rela menyerahkan Rencong Iblis itu. Sedangkan Rencong Iblis sebenarnya milik Pendeta Jantung Dewa yang mestinya dimusnahkan, tapi oleh Dewi Kapas Ayu justru disembunyikan di suatu tempat."

"Bagaimana kau bisa tahu semua itu, Ki Sanupati?" tanya Suto bersikap menyelidik.

"Pendeta Jantung Dewa dan Pendeta Mata Lima adalah sahabat karibku, satu perguruan beda tingkatan. Jangan tanya tinggi mana tingkatan mereka dengan tingkatanku, aku tak mau menjawabnya!" sergah Tua Bangka yang agaknya merahasiakan soal tingkatannya itu.

"Jadi, secara tidak langsung sebenarnya Dewi Kapas Ayu adalah lawanku juga, karena rencongnya itu yang akan menandingi Kapak Setan Kubur-ku!" kata Tua Bangka lagi.

"Kalau begitu, kita cari Dewi Kapas Ayu itu sebelum para tabib binasa oleh keganasan racun pada rencongnya!" kata Suto Sinting penuh semangat. Ia bahkan memeluk Salju Kelana dari samping sebagai ungkapan rasa lega, bahwa pemilik rencong ternyata bukan gadis yang mirip Dyah Sariningrum itu.

"Tunggu sebentar," kata Tua Bangka dengan dahi berkerut seperti teringat sesuatu. "Ketika aku dikejar- kejar oleh orang kadipaten, aku sempat melihat ia bergerak ke arah timur. Tapi tak kupedulikan, dan aku tidak tahu kalau dia sedang mencari tujuh belas tabib."

"Kalau begitu kita cegat di pondoknya Tabib Awan Putih," ujar Salju Kelana. "Bukankah pantai tempat kediaman Tabib Awan Putih ada di sebelah timur?!"

Suto Sinting setuju dengan usul Salju Kelana. Mereka bertiga bergegas ke timur, menuju kediaman Tabib Awan Putih yang menjadi sahabat Suto, sahabat gurunya Suto juga, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode : "Mustika Serat Iblis").

Namun belum sampai mereka tiba di kediaman Tabib Awan Putih, saat mereka menginjakkan kaki di pantai, tiba-tiba sekelebat bayangan putih melintas dan menerjang Pendekar Mabuk dari arah samping kanan.

Wuuut...! Bruus...!

Pendekar Mabuk terjungkal ke samping dan berguling-guling. Telinganya berdarah karena sebuah tendangan keras yang datang secara tiba-tiba. Tak jauh dari tempatnya jatuh berdiri sesosok tubuh pemilik wajah cantik berjubah putih perak dengan pinjung hijau muda. Perempuan itu berambut panjang disanggul sebagian sisanya meriap. Ia menggenggam sebilah senjata kecil yang bernama rencong. Gagangnya hitam, sarungnya dari gading. Tak salah lagi dugaan mereka, senjata itulah yang dinamakan Rencong Iblis. Dan perempuan berjubah putih perak dengan mata codet bekas sabetan pedang itu tak lain adalah Dewi Kapas Ayu.

"Kipas Ayu...?!" geram Tua Bangka memandang gadis bermata kecil sebelah karena codetnya itu.

"Kita jumpa lagi Tua Bangka," ujar perempuan berusia sekitar tiga puluh tahun itu. Suaranya agak serak pertanda sering berteriak-teriak.

"Mengapa kau menyerang kami, Kapas Ayu?"

"Yang kubutuhkan adalah Pendekar Mabuk ini. Tabib Darah Tuak sangat berharga bagi rencanaku!"

"Rencana busuk!" sentak Salju Kelana. Ia menjadi marah ketika mendengar Suto Sinting diserang, bahkan kini ia maju di depan Tua Bangka dengan tongkat kecilnya, perlahan-lahan mendekati Suto yang sudah mulai berdiri lagi.

"Siapa perempuan dungu itu, Tua Bangka?!"

"Aku yang bernama Salju Kelana! Kau harus berhadapan denganku lebih dulu sebelum berhadapan dengan Tabib Darah Tuak!" tantang Salju Kelana dengan berani. "Kami hanya bisa memaafkan seranganmu jika Rencong Iblis itu kau serahkan kepada kami!"

"Oh, kau menghendaki Rencong Iblis ini? Silakan. Ambillah...!" Dewi Kapas Ayu mengulurkan tangannya yang menggenggam sarung rencong, seakan menyodorkan rencong itu agar segera diambil oleh Salju Kelana.

Salju Kelana merasa mampu menyambar rencong itu. Walau tak tersambar sarungnya tapi rencongnya berhasil diserobotnya. Namun ketika ia mau bergerak, tiba-tiba sebuah seruan terdengar dari arah balik gugusan batu karang.

"Jangan sentuh rencong itu!"

Semua mata menatap ke arah orang berpakaian serba putih, kurus, bungkuk, rambutnya tipis agak gundul, matanya kecil, jenggot serta kumis putihnya panjang. Orang itu memandang Dewi Kapas Ayu dengan pandangan mata tajam berkesan dingin sekali.

"Tabib Awan Putih...?!" ucap Suto Sinting yang amat kenal dengan orang berusia sekitar delapan puluh tahun itu. Tua Bangka yang juga merasa kenal segera berkata,

"Kebetulan sekali kau datang di tempat ini, Awan Putih. Kami baru saja mau ke tempat kediamanmu!"

"Aku sudah mendengar kabar tentang pembunuhan para tabib. Aku merasa diriku juga terancam oleh Rencong Iblis. Kusarankan, jangan ada yang memegang rencong itu, karena racun ganas itu terletak pada gagang rencong tersebut. Tabib Getar Hati dan yang lainnya ternyata mati karena memeriksa rencong itu dengan memegang bagian gagangnya. Sahabatku, Tabib Kawah Hijau baru saja meninggal, dan sebelumnya menceritakan kedatangan si perempuan iblis itu yang berlagak ingin menanyakan kesaktian rencong itu.

Sedikit saja kulit tubuh kita menyentuh gagang rencong, maka racunnya akan menyebar membusukkan darah kita!"

"Tutup mulutmu, Jahanam!" betak Dewi Kapas Ayu. Matanya mendelik garang kepada Tabib Awan Putih.

Tapi sang kakek berpakaian serba putih itu tidak pedulikan seruan tersebut. Ia berkata kepada yang lain,

"Banyak orang menduga pelakunya adalah Salju Kelana. Tapi aku yakin, Salju Kelana tidak akan lakukan tindakan senista itu!"

"Terima kasih atas kepercayaanmu, Tabib Awan Putih," ujar Salju Kelana yang juga pernah berobat kepada Tabib Awan Putih.

"Baik, sekarang semua sudah tahu siapa aku!" seru Dewi Kipas Ayu. "Sekarang giliranku bertindak terang- terangan merenggut nyawa kedua tabib yang ada di sini! Hiaaaat...!"

Wuuus... !

Gerakannya seperti kapas terbang. Begitu cepat ia menyerang Tabib Awan Putih, sehingga sang tabib terkejut lalu sentakkan kakinya ke tanah, tubuh pun melenting ke atas dan ia hinggap di atas sebuah pohon tepi pantai. Ia berdiri di pucuk daun tanpa membuat daun itu bergerak sedikit pun.

"Kupaksa turun kau, Keparat!" teriak Dewi Kapas Ayu, kemudian ia lepaskan sinar biru menyebar lebar ke arah Tabib Awan Putih.

Sraaaab...!

Tabib Awan Putih mengadu ilmunya dengan mengeluarkan sinar putih perak dari ujung jarinya. Sinar itu kecil, dan tidak sebanding dengan sinar biru tersebut. Namun ketika bertabrakan menimbulkan ledakan yang menggelegar dahsyat dan membuat alam berguncang. Jgaaar... !

Mereka tersentak oleh gelombang ledakan dan saling berjatuhan kecuali Pendekar Mabuk. Tabib Awan Putih sendiri jatuh dari ketinggian tersebut, namun mampu kuasai diri hingga kakinya menapak di tanah dengan tegak. Jleeg...!

Dewi Kapas Ayu jatuh terguling-guling sampai di depan kaki Pendekar Mabuk. Sadar keadaannya dekat dengan Tabib Darah Tuak, ia segera sentakkan rencong itu agar gagangnya mengenai kaki Pendekar

Mabuk.
Wuuut... !

Pendekar Mabuk angkat satu kaki, dan lompat ke atas bersalto tinggi, dan dari sana ia lepaskan pukulan mautnya yang amat mematikan: jurus 'Tangan Guntur'.
Claaap...!

Sentakan tangan keluarkan sinar biru besar dari telapak tangan. Sinar itu tak sempat dihindari Dewi Kapas Ayu dan menghantam telak bagian bawah pusar lawannya. Jraaab...! Bluum...!

"Aaahg...!"

Asap mengepul seketika, tubuh Dewi Kapas Ayu menjadi arang keropos setelah dua helaan napas. Perempuan itu tak bergeming lagi karena sudah tanpa nyawa. Pendekar Mabuk dan yang lainnya hanya memandangi dengan hati lega, karena rencong tersebut ternyata ikut menjadi hangus dan keropos Juga. Dengan begitu, Gandapura tidak akan memiliki pusaka yang mampu menangkis serangan Kapak Setan Kubur jika pada saat pertarungan nanti tiba.

"Akan kukumpulkan para tabib dan kukabarkan peristiwa ini, agar mereka tidak salah duga terhadap Salju Kelana!" kata Tabib Awan Putih sebelum mereka berpisah.

"Terima kasih atas bantuanmu, Tabib Awan Putih," ujar Salju Kelana penuh hormat.

"Tapi, benarkah kebutaanmu belum sembuh, Salju Kelana? Sebab kulihat lapisan bening yang menjadi penghalang pandanganmu itu sepertinya sudah tidak ada lagi."

Pendekar Mabuk terperanjat. Wajahnya sempat merah menahan malu. Salju Kelana tersenyum menunduk dan berkata,

"Sejak aku minum tuak sakti si Tabib Darah Tuak ini, sebenarnya aku memang sudah bisa melihat dengan jelas seperti sediakala, Tabib Awan Putih."

"O, kalau begitu benarlah dugaanku."
Tapi Suto Sinting semakin kaget dan berkata, "Jadi... jadi kau sudah bisa melihat?"

"Ya, sudah bisa. Hanya saja, aku masih ingin melatih kepekaan indera keenamku dengan menganggap segalanya tidak kulihat dengan mata melainkan dengan hati dan rasa."

Suto Sinting segera menarik lengan gadis itu menjauhi kedua orang tua tersebut dan berbisik tegang,

"Jadi, waktu kau kucium dalam keadaan tidur, kau melihatnya?"
"Bukan hanya melihat, namun juga menikmatinya."
"Waktu aku mandi...? Waktu aku mandi kau juga melihatnya?"
"Sangat jelas, Suto."

"Mati aku!" Suto Sinting menepak keningnya sendiri, lalu buang muka tak berani memandang Salju Kelana.

Gadis itu cekikikan dan Suto semakin kelabakan.

SELESAI