--> -->

Serial Pendekar Mabuk 43 Gelang Naga Dewa

1
TIDAK ada yang lebih indah di siang teduh berangin
semilir selain merebah di bawah sebuah pohon. Melepas
lelah dalam buaian angin lembah sungguh merupakan
hal yang menyenangkan bagi Suto Sinting.

Sayup-sayup terdengar suara alunan seruling yang
meliuk-liuk bagai meninabobokan setiap sukma. Suara
seruling itu terdengar di kejauhan sana, arahnya sebelah
barat daya. Suto Sinting tersenyum dengan hati penuh
bunga-bunga indah. Suara seruling itu diresapi betul,
hingga rohnya bagaikan ikut menari gemulai seirama
nada lengking seruling.
"Luar biasa indahnya. Seakan bumi diisi oleh
kedamaian semata. Baru sekarang aku merasakan
keindahan isi dunia. Ooh... alangkah damai dan
bahagianya hatiku siang ini. Biar ada rampok sepuluh
pun masih kuanggap damai dan bahagia. Kenapa begini,
ya? Mungkinkah karena alunan suara seruling itu?"
Pendekar Mabuk menenggak tuaknya kembali.
Semakin indah saja isi dunia dirasakannya, aroma tuak
dan irama seruling bagai suatu paduan yang jarang
dinikmati. Ibaratnya, makan ayam panggang sambil
diberi uang segepok. Jelas itu hal yang teramat indah
bagi siapa saja.
Tak heran jika dalam hati Pendekar Mabuk
mempunyai rasa penasaran. Rasa ingin tahu siapa peniup
seruling itu membuatnya bangkit, tak jadi hanyut dalam
tidurnya. Ia melangkah menuju barat daya sambil
wajahnya berseri-seri dihiasi senyum yang menawan.
Sampai di salah satu lereng berdinding batu, ia
berhenti dengan dahi berkerut. Kepalanya ditelengkan
pertanda sedang menyimak suara seruling lembut
melenakan itu.
"Kenapa suaranya jadi ada di sebelah utara?! Apakah
peniup seruling itu berpindah tempat? Tapi secepat
itukah ia berpindah tempat? Ah, jangan-jangan kupingku
mulai rusak sebelah?"
Semakin lama suara seruling yang didengarnya
semakin melenakan kalbu melayangkan sukma.
Alunannya yang meliuk gemulai itu bagaikan
menghadirkan sejuta khayalan indah yang memikat hati.
Senyum Suto sejak tadi tiada habisnya.
Hati pun menjadi semakin panasaran. Maka dengan
langkah lebih cepat lagi Pendekar Mabuk pergi ke arah
utara. Sasaran utamanya tak lain adalah sumber suara
seruling itu.
Namun ketika tiba di utara, hatinya menjadi terheran-
heran, karena suara seruling itu ada di selatan. Suto
Sinting sempat sangsi dengan pendengarannya, ia segera
menyimak baik-baik suara seruling yang melenakan jiwa
itu.
"Hmmm... benar juga! Pantulan gema membuat ku
salah dengar. Bukan di utara sini, tapi di selatan sanalah
si peniup seruling itu berada. Hmm... mungkin di balik
pohon besar itu!" pikirnya.
Zlappp...! Suto Sinting tak sabar lagi. Ia
menggunakan jurus 'Gerak Siluman' untuk mempercepat
langkahnya. Dalam sekejap ia sudah tiba di sebelah
selatan lembah.
"Gila?! Sekarang suara seruling itu ada di timur?!"
gumamnya dengan dahi berkerut karena terheran-heran.
Ia diam sebentar, menyimak lantun suara seruling itu.
Hatinya kembali berbunga-bunga, lalu timbul rasa
penasaran lebih besar lagi.
Zlappp...! Jurus 'Gerak Siluman' yang kecepatannya
melebihi anak panah itu digunakan kembali untuk
menuju ke timur. Sampai di timur, suara seruling itu
ternyata ada di barat. Jelas sekali datang dari barat.
"Setan pikun!" gerutu Pendekar Mabuk sambil
menghembuskan napas kesal, ia bertolak pinggang
seraya geleng-geleng kepala.
"Rupanya ada seseorang yang ingin mempermainkan
telingaku!" katanya dalam hati. "Aku yakin bukan
telingaku yang salah, tapi si peniup seruling itu
menggunakan kekuatan tenaga angin. Menyalurkan
suara melalui udara dalam kendalian tenaga dalam
sungguh merupakan ilmu langka yang patut mendapat
pujian."
Zlapp...! Suto Sinting pindah ke barat dalam sekejap.
Suara seruling ada di selatan. Masih melantunkan irama
yang melenakan kalbu.
"Kurang ajar! Dia benar-benar ingin menguji ilmuku.
Hmmm... siapa dia orangnya? Apa dia belum tahu kalau
Pendekar Mabuk tak pernah mau menyerah jika
ditantang hal-hal seperti ini?"
Napas ditarik dalam-dalam. Pendekar Mabuk segera
bersiul panjang.
"Suiiiiit... siuuuut...! Suiiiiut...! siiiiiuuuut...
tuituuuuiiit...!"
Wuuurrsss...!
Alam menjadi gaduh. Burung-burung yang sedang
bertelur berteriak dengan bahasanya masing-masing,
beterbangan lari tunggang langgang. Binatang-binatang
yang bersembunyi dalam semak pun lari pontang-
panting sambil menyerukan suara tak jelas. Beberapa
kera berlarian sambil memekik berteriak-teriak bagai
habis dibakar ekornya. Suara seruling itu sendiri juga
mengalun tak karuan nadanya. Kadang tersendat, kadang
lurus, kadang terdengar sumbang.
Jurus 'Siulan Peri' pemberian dari bibi gurunya;
Bidadari Jalang, telah digunakan oleh Pendekar Mabuk
untuk membalas si peniup seruling itu. Jurus itu bisa
membuat telinga orang maupun hewan menjadi pecah
jika disiulkan agak lama sedikit. Karena siulan tersebut
dialiri gelombang getaran tenaga dalam cukup tinggi.
Zlapp, zlapp, zlapp...!
Pada saat suara seruling itu menjadi sumbang dan
tersendat-sendat, Suto Sinting melesat ke berbagai
penjuru dengan kecepatan melebihi anak panah.
Siulannya sudah dihentikan, tapi pendengarannya masih
dipasang baik-baik. Ilmu 'Lacak Jantung' yang bisa
dipakai untuk mendengarkan detak jantung orang lain
segera digunakan pula. Dengan ilmu 'Lacak Jantung'
itulah Pendekar Mabuk akhirnya menemukan di mana
ada orang di sekitar lembah itu.
Wuttt...! Ia berhenti di atas sebuah pohon tanpa
menimbulkan suara gemerisik. Ilmu peringan tubuhnya
membuat ia mampu hinggap di dahan pohon besar
berdaun rindang itu tanpa menggoyangkan satu daun
pun.
"Hmm... kena kau sekarang!" ujarnya dalam hati
dengan tersenyum bangga.
Ia memandang ke bawah, dan di bawah pohon itulah
seorang gadis duduk bersila sambil meniup seruling.
Gadis itu bersila di atas sebuah batu datar. Gadis itu
tidak tahu kalau di atasnya ada orang yang tadi
dipermainkan pendengarannya, ia tetap meniup seruling
dengan tenang, mata terbuka, badannya tegak.
Suto Sinting melongok ke bawah sambil senyum-
senyum. Gadis berjubah kuning dengan pakaian
dalamnya berwarna merah tua itu tampak cantik dalam
keadaan rambutnya digulung dua bagian, kiri dan kanan.
Tapi ada sisa rambut yang terjulur melambai bagaikan
pita.
Lantun serulingnya masih berkumandang hening dan
meneduhkan hati. Suto Sinting menikmati alunan
seruling itu sambil menggigit-gigit setangkai daun
berukuran kecil.
"Dia sangka aku masih kebingungan mencarinya? He,
he, he... dia tidak tahu kalau aku sudah ada di atasnya.
Mainkan saja serulingmu, Nona manis. Jangan berhenti
walau sekejap. Kalau perlu mainkan tanpa napas. He, he,
he...!" hati Suto bercanda sendiri.
Tetapi tiba-tiba suara seruling melengking lebih
tinggi. Walaupun dimainkan dalam serangkaian nada
yang masih enak didengar, tapi makin lama semakin
membuat jantung berdebar-debar. Suto Sinting menarik
napas untuk meredakan debaran jantungnya.
"Gila! Kenapa jantungku jadi berdetak-detak seperti
mau berontak?! Wah, kacau...! Jangan-jangan aku mau
mati? Kok badanku jadi lemas dan gemetaran begini?
Lho... lho...?! Malah ngantuk segala?! Ada apa ini?!"
Suara seruling semakin melengking. Rasa kantuk
kian membujuk. Kelopak mata bagaikan tak mau diajak
damai untuk memandang keindahan yang ada di
bawahnya. Mulut menguap bagai minta disuap. Kepala
pun terkantuk-kantuk, nyawa bagaikan melayang.
Leess...!
Gusrak...! Kraak ..! Brukkk...!
"Aaauuh...!"
Suto Sinting terpekik karena jatuh dari atas pohon.
Pinggangnya terganjal sebatang akar yang menggunduk
mirip batu. Rusuknya bagaikan mau patah. Seketika itu
juga rasa kantuk itu hilang. Yang ada hanyalah rasa
sakit, jengkel, dan malu. Tentu saja ia malu karena ia
jatuh tepat di depan gadis peniup seruling itu.
Gadis itu hentikan kerjanya, ia tetap duduk bersila,
tapi wajahnya memancarkan kemenangan. Senyumnya
adalah senyum melecehkan nasib Suto yang jatuh dari
atas pohon.
"Carilah penginapan kalau mau tidur. Jangan di atas
pohon. Nanti seperti binatang codot," katanya dengan
suara lembut dan merdu.
Suto Sinting segera menyadari bahwa rasa kantuk
adalah kiriman dari gadis berwajah mungil itu. Hawa
kantuk dan lemas dikirimkan melalui getaran nada
seruling yang melengking tinggi tadi.
Pendekar Mabuk segera bangkit dari jatuhnya, ia
meringis canggung, antara memberi senyuman dan
menahan rasa sakit di bagian pinggang dan tulang
rusuknya. Untuk menutupi rasa malunya, Suto segera
berkata dengan suara pelan.
"Bagus juga...."
"Suara serulingku maksudmu?"
"Caramu menjatuhkan aku dari atas pohon, bagus
juga!"
Gadis berbibir mungil itu tertawa kecil. Tawanya
begitu manis menyayat hati. Matanya yang bundar
berbulu lentik itu memandang Suto dengan berbinar-
binar. Seakan di kedua mata itu terdapat genangan telaga
berair bening dan sejuk di badan.
"Aku sengaja mengundangmu kemari," kata gadis itu.
"Mengundangku?" Suto berkerut dahi. "Apakah kau
sudah tahu siapa aku?"
Gadis berkulit kuning itu menganggukkan kepala.
"Kau yang bernama Suto Sinting dengan gelar Pendekar
Mabuk, bukan?"
"Dari mana kau tahu?"
"Dari ciri-ciri pakaianmu, bumbung tuakmu, dan
ketampananmu."
"Kapan kau melihatku?"
"Ketika kau berbaring di bawah pohon sebelah timur
tadi."
Suto terbungkam membayangkan saat-saat berbaring
tadi. Lalu ia memandang gadis itu dengan dahi berkerut.
"Aku tidak melihat seorang pun lewat di dekatku."
"Aku tidak lewat di sana, tapi memandangnya dari
puncak bukit sebelah utara itu."
Suto pun segera melemparkan pandangannya ke arah
utara. Di sana memang ada sebuah bukit agak tinggi.
Puncaknya tanpa tanaman apa pun kecuali bongkahan
batu-batu yang menjulang. Jaraknya cukup jauh menurut
Suto, tapi gadis itu mengatakan,
"Kalau kau kupanggil saat aku di sana, kasihan.
Terlalu jauh dan melelahkan bagimu untuk
mendatangiku ke sana."
"Sejauh itu?! Kau bisa melihatku berbaring dalam
jarak sejauh itu?"
Gadis cantik itu mengangguk. Kini ia bangkit dan
turun dari tempat duduknya. Seruling dari gading berukir
itu diselipkan pada ikat pinggangnya.
"Aku terpaksa memanggilmu dengan cara begini,
supaya kau tidak menyepelekan panggilanku."
"Aku tak mengerti maksudmu, Nona."
"Nanti kau akan mengerti. Yang penting kau pahami,
aku tak pernah memanggil seseorang dengan serulingku.
Tapi karena kau bukan orang sembarangan, maka aku
terpaksa memanggilmu dengan serulingku."
"Dia pikir aku ini ular kobra, dipanggil pakai
seruling?!" gerutu Suto dalam hatinya. Tapi bibirnya
mengucapkan kata yang berbeda dengan hatinya.
"Apa perlumu memanggilku dengan cara seperti itu?"
"Kau harus menolongku."
"Harus...?! Itu namanya kau memaksaku."
"Mungkin memang memaksamu."
Gadis itu memandang Suto dengan sikap tengil tapi
tidak menyakitkan hati. Justru berkesan lucu dan
menyenangkan. Lagaknya yang seperti gadis angkuh
bercampur manja itu membuat Suto Sinting senang
memperhatikannya.
"Siapa namamu. Nona?"
"Katakan dulu kesanggupanmu menolongku, baru
kukatakan siapa namaku."
"Bagaimana aku bisa menolong orang yang belum
kukenal namanya?"
"Jika kau melihat seorang nenek tenggelam di sungai,
apakah kau akan membiarkannya?"
"Tentu aku menolongnya." jawab Suto dengan
semangat.
"Apakah kau akan menolongnya setelah kau
menanyakan namanya?"
Suto tersenyum geli. "Memang tidak mungkin
kutanyakan namanya. Karena keadaannya sangat
berbahaya, jadi tak perlu tanya nama, langsung saja
kutolong. Setelah itu baru kutanyakan namanya."
"Jika begitu, apa bedanya dengan diriku? Mengapa
kau tidak menolongku lebih dulu baru menanyakan
namaku?"
"Karena kau bukan seorang nenek," jawab Suto
mencari kemenangannya.
"Anggap saja aku seorang nenek."
"Tidak ada seorang nenek semuda kamu, secantik
kamu, dan senakal kamu!" goda Suto lagi. Gadis itu
sunggingkan senyum tak jelas; entah senyum geli atau
senyum meremehkan godaan itu.
"Baiklah, aku akan menolongmu," kata Suto akhirnya
menyerah daripada berdebat melantur-lantur
menghabiskan waktu.
"Jadi, kau bersedia menolongku?"
"Ya, aku bersedia. Sekarang sebutkan namamu."
"Namaku... Dinada."
Suto berkerut heran, tapi menyunggingkan senyum
geli. "Namamu aneh sekali. Apakah kau orang dari
seberang?"
Dinada gelengkan kepala. "Aku orang dari Bukit
Kasmaran. Letaknya di sebelah timur sana."
Pendekar Mabuk manggut-manggut sambil beradu
pandang dengan Dinada. Ada getaran halus di hati
Pendekar Mabuk saat pandangan mata beradu agak
lama. Senyum nakal Dinada sengaja dipamerkan, dan
senyuman itulah yang membuat Suto memendam
keresahan, lalu segera buang muka. Ia menenggak
tuaknya sesaat. Dinada melangkah agak menjauh. Kini ia
berdiri dengan pundak kiri bersandar pada dinding,
kakinya menyilang santai. Sehelai ilalang dicabutnya
sebagai mainan tangan berjari lentik indah itu.
"Lalu, apa yang harus kulakukan untuk
menolongmu?" tanya Suto Sinting.
Dinada baru saja mau menjawab, tapi bibirnya yang
sudah merekah itu terhenti karena suara derap kaki kuda
yang datang dari kejauhan. Suto Sinting menelengkan
kepala menyimak suara derap kaki kuda itu.
"Ada yang mau datang kemari," kata Suto pelan,
seperti bicara pada diri sendiri.
Terdengar suara Dinada membuang napas. Suto
Sinting menatapnya dan menemukan keresahan di wajah
cantik itu.
"Kita harus pergi dari sini," kata Dinada. Gadis itu
mau bergerak pergi, tapi segera ditahan dengan suara
Suto.
"Tunggu...!"
Dinada pun berhenti, tak jadi pergi, ia memandang
Suto yang segera bertanya. "Kenapa harus pergi?"
"Apakah kau tak mendengar suara derap kaki kuda
itu?"
"Ya, aku memang mendengar. Apakah kau takut
melihat kuda?"
"Bukan kudanya yang membuatku takut, tapi
penunggangnya."
"Siapa penunggangnya?"
"Si Raja Hantu. Lekaslah pergi dari sini."
"Nanti dulu. Kau tak perlu takut. Siapa Raja Hantu
itu?"
"Pamanku," jawaban pendek itu membuat Suto
bertambah heran.
"Aneh. Kenapa kau takut pada pamanmu?" Suto
tertawa pelan. Dinada menarik napas sebentar, wajah
cerianya hilang.
"Pamanku orang gila. Dilawan salah, tidak dilawan
salah. Jadi sebaiknya dihindari saja."
"Gila apa? Gila harta, gila jabatan, gila pangkat, gila
hormat atau gila betulan?"
"Gila perempuan!" jawab Dinada dengan bibir
mungil membentuk kerucut seperti cemberut.
Suto Sinting malah menertawakan. "Bagiku, adalah
sebuah kodrat jika lelaki gila perempuan. Itu hal yang
wajar."
"Jika seorang Paman ingin memperistri
keponakannya apakah juga hal yang wajar?!"
"Lho...?! Kalau itu memang perlu dihajar. Tapi...
apakah dia ingin memperistrimu?"
"Bahkan dua kali aku nyaris berhasil diperkosanya."
"Wah, kelewatan!" Suto geleng-geleng kepala.
Mulutnya mengeluarkan decak keheranan.
"Makanya kita cepat menyingkir dari sini sebelum ia
berhasil melihatku!"
"Mengapa tidak kita hadapi saja?!"
"Ilmunya sangat tinggi! Kau bisa celaka kalau
berhadapan dengan Paman Raja Hantu."
"Apakah kau pernah melihat aku mencoba
melawannya?"
Gadis cantik berhidung kecil tapi bangir itu kelihatan
makin gelisah. Hal itu disebabkan karena suara derap
kaki kuda semakin dekat dan kian jelas.
"Jangan takut, aku akan ada di pihakmu. Aku akan
melindungimu."
Pendekar Mabuk justru mendekati gadis itu. Sang
gadis jadi salah tingkah. Ingin lari, tapi mendapat
jaminan dari Pendekar Mabuk demikian. Mau diam saja,
khawatir kalau sang pendekar tak mampu mengimbangi
ilmu pamannya.
"Sebaiknya aku lari saja tanpa pedulikan pemuda
ini!" pikir Dinada. Tapi baru saja otaknya berpikir
demikian, derap kaki kuda telah mendekat. Kuda itu
dipacu dengan cepat. Arahnya jelas menuju ke tempat
mereka berada. Dinada merasa sudah telanjur kepergok,
akhirnya tak jadi pergi. Ditambah lagi, Suto mengambil
sikap berdiri di depannya, sehingga Dinada merasa
dilindungi oleh tubuh kekar yang gagah dan berwajah
tampan itu.
"Iieeehhhkk...l" kuda itu meringkik karena tali
kekangnya ditarik kuat-kuat. Hewan tersebut berhenti
sambil mengangkat kedua kaki depannya tinggi-tinggi.
Penunggangnya seorang lelaki berusia sekitar lima
puluh tahunan. Orang itu selain bertampang angker
dengan mata lebar bertepian merah, juga mempunyai
codet di pipi kanan, ia berkulit hitam, tebal. Badannya
tergolong besar.
Dengan rambut panjang sepunggung tak diikat dan
jubah hitam berlengan panjang, ia kelihatan lebih
menyeramkan lagi. Celananya merah, tanpa baju.
Badannya penuh bulu, kecuali wajahnya justru kelihatan
tanpa kumis dan jenggot. Tapi alis matanya sangat tebal,
bisa dipelintir seperti kumis. Sebuah cambuk melingkar
di pinggang kanannya.
"Dinada...!" sapanya dengan suara keras dan besar,
berkesan kasar. Gadis itu tidak menjawab, ia malahan
buang muka dengan wajah cemberut bercampur takut.
"Apakah kau tidak sayang dengan kecantikan dan
kemulusan tubuhmu, hah?! Kau minta dihajar pakai
cambuk?! Jawab, Dinada!" bentaknya.
Dinada masih diam. Tidak menunduk tapi juga tidak
memandang pamannya. Sikap berdirinya cenderung
memunggungi sang paman. Lelaki berwajah angker
mirip kuburan para jin itu tampak semakin gusar, ia
segera turun dari kudanya dan melangkah mendekati
Dinada tanpa mempedulikan keberadaan Suto di situ.
"Jangan-jangan mata orang ini lamur, tak bisa melihat
aku ada di sini?!" pikir Suto Sinting, lalu ia segera
bergeser ke kiri menutup langkah orang angker sebelum
orang itu lebih dekat lagi. Sikapnya melindungi Dinada
ditonjolkan.
Orang itu pun hentikan langkah dan memandang Suto
Sinting dengan penuh nafsu menghajarnya.
"Minggir kau!" hardiknya.
"Apakah kau pamannya Dinada yang bernama Raja
Hantu?!" Suto bahkan bertanya kalem.
"Iya! Sudah tahu pakai bertanya segala! Mau apa kau,
hah?!"
"Melindungi Dinada!" jawab Pendekar Mabuk
dengan tegas sekali, membuat Raja Hantu terkesiap.
"Anak haram kau! Berani-beraninya bersikap begitu
di depanku, Hah?! Apakah kepalamu belum pernah
pecah?!"
"Pecah memang belum. Tapi retak sering, Paman,"
jawab Suto tampak sabar dan tenang sekali. Tentu saja
sikap itu membuat Raja Hantu semakin berang.
Dua jari tangannya mengeras lurus, lalu ditusukkan
ke depan, seperti menusuk udara. Suttt...!
"Heegh...!" Suto Sinting terpekik tertahan. Ulu
hatinya seperti disodok memakai bambu sebesar betis.
Mual dan sakit sekali. Tubuh pemuda berbaju coklat
tanpa lengan itu sempat terbungkuk karena menahan rasa
sakit itu.
Rupanya Raja Hantu mengirimkan pukulan tenaga
dalamnya berupa sodokan kuat di ulu hati Suto Sinting.
Bahkan kali ini dua jari yang mengeras itu ditebaskan
dari kiri ke kanan, seperti membabat nyamuk. Wettt...!
"Aauh...!" Suto Sinting mengaduh lagi. Pipinya bagai
ditampar memakai kayu balok. Tulang pipi terasa mau
pecah. Suto Sinting sempat terpelanting ke kiri. Ada
bekas memerah di pipi Suto. Hal itu membuat Dinada
menjadi cemas dan salah tingkah.
"Jangan bersikap sekasar itu, Paman!" bentak Dinada.
"Aku akan lebih kasar lagi jika kau tidak mau pulang
bersamaku!"
"Tidak! Saya tetap akan di sini!" tegas Dinada.
"Kalau begitu aku berhak menyiksa anak muda itu.
Karena anak muda itulah yang membuat kau betah
tinggal di sini!"
"Jangan, Paman...!" sergah Dinada.
Raja Hantu hendak menyodokkan keempat jarinya,
mengirimkan sodokan tenaga dalam dari jarak jauh.
Tetapi Pendekar Mabuk lebih dulu menyentilkan jarinya,
melepaskan jurus 'Jari Guntur'.
Tess...!
"Huaahhg...!" Raja Hantu terpental ke belakang dan
membentur moncong kudanya. Sang kuda meringkik
bagaikan perawan tak mau dicium.
Jurus 'Jari Guntur' adalah mengirimkan sentilan
bertenaga kuda dari jarak jauh yang membuat lawan
seperti disepak kuda jantan. Sentilan itu diarahkan di
dada Raja Hantu, sehingga dada orang berwajah angker
itu terasa mau pecah, napasnya sedikit sesak. Kalau tak
ada moncong kuda ia akan jatuh terkapar karena sentilan
bertenaga dalam tinggi itu.
"Jahanam iblis kau!!" geram Raja Hantu sambil
menegakkan berdirinya. "Kuhancurkan kepalamu yang
masih bau kencur itu, heeeaah ..!"
Raja Hantu melompat bagaikan terbang. Suto Sinting
menggeloyor bagaikan orang mabuk hendak jatuh, tapi
ternyata tangannya menyentak pada batang pohon,
membuat tubuhnya bersalto ke belakang. Wuuttt...!
Ia berjungkir balik di atas kepala Raja Hantu. Dengan
cepat kakinya menendang dalam satu sentakan yang
mengejutkan. Desss...! Plokk...!
"Aoww...!" Wajah Raja Hantu menjadi sasaran kaki
Pendekar Mabuk. Akhirnya ia kehilangan
keseimbangan, lalu mendarat di tanah dengan posisi
jatuh menyamping. Brukk...!
"Bangsaaat...!!" teriaknya semakin berang, ia segera
bangkit lalu melepaskan pukulan bersinar merah ke arah
Suto Sinting. Clapp...!
Sinar merah yang keluar dari telapak tangan Raja
Hantu ditangkis Suto Sinting menggunakan bumbung
tuaknya.
Dubb ..! Slappp...!
Sinar itu membalik arah dalam keadaan lebih besar
dan lebih cepat dari aslinya. Raja Hantu terkejut sekali,
ia tak dapat menghindar. Namun tangannya segera
berkelebat menangkap sinar merah tersebut.
Wuuttt...! Trubb...!
Sinar merah bagaikan mengumpul dalam genggaman.
Tangan yang menggenggam itu membara bagai
memancarkan sinar merah berasap. Suto Sinting sempat
terperanjat melihat sinar tenaga dalam yang cukup besar
itu mampu ditangkap oleh tangan Raja Hantu.
Namun sesaat kemudian Raja Hantu berteriak
kepanasan. "Heeaaah...!"
Genggamannya dilemparkan ke arah Suto Sinting.
Wuuttt...!
Gumpalan asap memancarkan warna merah bara
melesat menghantam Suto. Tetapi Pendekar Mabuk
segera melepaskan jurus 'Pecah Raga'-nya. Sinar hijau
melesat dari telapak tangan, diadu dengan gumpalan
asap merah itu. Clapp...!
Blegarrr...!
Ledakan dahsyat terjadi mengguncang tanah
sekeliling. Raja Hantu terpental sambil mengerang
kesakitan karena telapak tangannya menjadi hangus
akibat menangkap sinar merah tadi. Ia dilemparkan oleh
gelombang ledakan hingga tubuhnya terjepit batang
pohon besar yang tumbuh bercabang.
"Suto, lekas naik!" seru Dinada. Rupanya gadis itu
sudah berada di atas kuda dan siap melarikan diri. Suto
masih bingung dan ragu-ragu.
"Lekas naik! Tinggalkan dia!" sentak Dinada dengan
tegang. Maka, Suto Sinting pun melompat ke punggung
kuda, dan Dinada membawanya lari.
"Hooii...! Jangan lari, Jahanam!" seru Raja Hantu
dalam keadaan terjepit.
Dinada tetap berlari memacu kudanya tanpa
menghiraukan seruan pamannya. Suto Sinting hampir
jatuh dari punggung kuda. Ia segera memeluk pinggang
Dinada dengan kikuk.
"Mau ke mana kita?!"
"Ke mana saja. Cari tempat yang aman!"
"Mengapa harus lari?! Aku masih sanggup
melawannya!"
"Dia pasti akan menggunakan cambuknya!" seru
Dinada mengimbangi derap kaki kuda.
"Aku justru ingin mencoba menghadapi senjata
cambuk pamanmu itu! Aku ingin tahu seberapa kekuatan
cambuknya!"
"Bisa menyebarkan racun berbahaya. Sekalipun bisa
kau hindari tapi racun yang menyebar tak akan bisa kau
hindari. Dan lagi kalau kau kena racun cambuknya,
nyawamu tidak akan lebih dari lima helaan napas.
Dia...."
"Awas...!" teriak Suto karena kuda akan lompat ke
jurang di depannya. Dinada berusaha menghentikan
kuda, atau membelokkan ke arah lain, tapi kuda tetap
berlari lurus bagaikan ingin menceburkan mereka berdua
ke sebuah jurang.
"Celaka! Kuda ini tidak mau dikendalikan lagi!"
Wajah Dinada semakin tegang ketika tepian jurang
tinggal beberapa langkah lagi.
*
* *
2
DENGAN satu sentakan napas perut, tubuh Pendekar
Mabuk melesat lompat dari atas punggung kuda.
Tangannya menyambar gadis di depannya. Wuuttt...!
Mereka berdua melayang di udara. Dinada dalam
pelukan Suto Sinting. Gadis itu dipeluk erat-erat karena
khawatir jatuh terjungkal. Sedangkan sang kuda
akhirnya melompat ke jurang tanpa penumpang.
"Iieeehhh...!" jerit sang kuda sebelum masa hidupnya
berakhir di dasar jurang.
Jlegg...! Suto Sinting berhasil mendaratkan kakinya
di tanah dengan masih memeluk Dinada. Gadis itu
selamat dari bahaya, namun tak bisa selamat dari
pelukan Pendekar Mabuk.
Begitu pelukan dilepas oleh Suto, Dinada segera
berbalik menghadap Suto. Tersenyum kaku, lalu... plok!
Suto ditampar dengan tangan kiri.
"Kurang ajar! Menggunakan kesempatan dalam
kesempitan kau, ya?!" gertak Dinada.
Tamparan itu tak seberapa keras, namun cukup
membuat Suto malu. Ia hanya nyengir sambil mengusap-
usap pipinya yang kena tampar.
"Kuda itu dikendalikan dari jarak jauh," kata Suto.
"Iya. Tapi kau tak perlu memelukku sedemikian
rupa!"
"Habis bagaimana? Kalau aku tidak menyambarmu
dengan cara begitu kau ikut terjun ke jurang bersama
kuda itu! Kau akan mati!" Suto agak ngotot. Gadis itu
juga ngotot.
"Iya. Memang tak ada cara lain kecuali dengan
menyambarku begitu. Tapi jari tanganmu jangan
macam-macam! Tak perlu pakai meremas segala."
"Aku... aku meremas karena memegangi kainmu biar
peganganku kuat."
"Kuat. Kuat...! Hemm...!" Dinada bersungut-sungut
sambil melengos. Wajahnya sempat memerah dadu
karena menahan malu akibat remasan Suto yang
dianggap kurang ajar itu. Sedangkan Suto Sinting pun
ikut melengos sambil nyengir kuda, menahan geli dalam
hatinya.
Dalam beberapa waktu mereka sudah tiba di pantai.
Dinada sudah tak berang lagi. Ia sengaja menghentikan
langkahnya untuk beristirahat di bawah pohon yang
masih beberapa langkah jaraknya dari pasir pantai. Di
sana ada batang kayu yang tumbang sudah lama. Di
batang kayu itulah Dinada duduk melepaskan
kelelahannya.
"Mengapa kau tadi tidak menggunakan serulingmu
untuk melawan Raja Hantu?" tanya Pendekar Mabuk
setelah menenggak tuaknya dua teguk.
"Justru aku menghindari puncak kemarahannya
supaya ia tidak menggunakan cambuknya. Kalau aku
menggunakan serulingku, pasti dia akan menjadi kian
marah dan menggunakan cambuknya untuk menyerang
kita."
"Apa kehebatan cambuknya?"
"Sudah kukatakan tadi cambuk itu bisa menyebarkan
racun berbahaya yang sulit dihindari. Karena itulah
dinamakan Cambuk Bintang Berbisa. Jika ia sudah
menggunakan cambuknya, tak pernah ada lawan yang
bisa selamat dari maut."
Pendekar Mabuk menggumam pelan, ia ikut duduk di
batang kayu itu. Bumbung tuaknya dipegang tegak lurus,
seperti memegang tongkat yang ujungnya menempel
tanah.
Ombak samudera kelihatan bergulung-gulung di
kejauhan sana. Sekitar tiga puluh langkah dari tempat
mereka duduk, pasir pantai tampak menghampar putih
bagaikan permadani berbulu domba. Sambil memandang
ke arah ombak yang memercikkan buih laut, Pendekar
Mabuk perdengarkan suaranya.
"Perkara si Raja Hantu itukah yang menjadi
masalahmu sehingga kau ingin meminta tolong padaku?"
"Bukan soal dia," jawab Dinada. "Ada persoalan yang
lebih berat dari masalah pamanku."
"Tunggu dulu," potong Suto. "Sudah lamakah Raja
Hantu mengganggumu dan berniat mengawinimu?"
"Sudah lebih dari empat purnama."
"Mengapa kau tidak melawannya mati-matian?"
"Aku takut benar-benar mati. Selain Raja Hantu
punya ilmu tinggi, dia juga pengganti orangtuaku. Sejak
kecil aku diasuh olehnya. Usia sepuluh tahun aku
berguru. Pulang dari berguru, wataknya sudah berubah
demikian. Aku jadi serba salah, mau kulawan tapi ingat
bahwa dia pengganti kedua orang-tuaku yang telah tiada
dan pernah membesarkan diriku. Tidak kulawan, dia
mengancam masa depanku. Aku jadi bingung sendiri."
"Mengapa kau tidak kabur saja?"
"Ke mana pun aku pergi dia selalu mengetahui tempat
persembunyianku."
"Apakah dia juga tinggal di Bukit Kasmaran?"
Dinada menggeleng. "Bukit Kasmaran adalah tempat
perguruanku."
"Kau tidak minta bantuan gurumu?"
"Guruku telah tiada, ia wafat dua tahun yang lalu."
"Jadi sekarang Bukit Kasmaran dikuasai oleh siapa?"
"Pancasurti yang berjuluk Merak Cabul. Dia kakak
seperguruanku."
"Kau tidak bergabung lagi dengan Bukit Kasmaran?"
Dinada memandang dengan mata bundarnya yang
berbulu lentik itu sambil gelengkan kepala. Bibirnya
yang mungil indah menggemaskan itu bergerak-gerak
memukau dalam bicaranya.
"Merak Cabul sudah menyimpang dari ajaran
perguruan, ia menggunakan perguruan sebagai wadah
pemburu cinta, ia mengumpulkan beberapa pemuda dan
membebaskan orang-orang perguruan bercinta di dalam
pesanggrahan. Perguruan Bukit Kasmaran sudah rusak,
hidupnya bagai sebuah perguruan tanpa susila lagi,
tempat percabulan tanpa batas. Aku tidak setuju dan
keluar dari Bukit Kasmaran."
Pendekar Mabuk manggut-manggut. Gumamnya
terdengar lirih.
"Apakah tak ada yang bisa mencegah perbuatan si
Merak Cabul?"
"Satu-satunya yang bisa melawan dia sebenarnya
adalah anak kandung dari mendiang guruku. Tapi...
orang yang kuanggap saudara sendiri itu ternyata
tingkah lakunya juga kurang beres. Aku terlibat masalah
dengannya dan membuatku menjadi muak padanya.
Kalau saja..."
Tiba-tiba mulut berbibir mungil itu dibekap oleh Suto
Sinting.
"Ssst...!" bisik Suto dengan wajah sedikit tegang.
Dinada mau marah karena mulutnya dicekal seenaknya
oleh Suto. Tetapi ketika melihat wajah Suto menjadi
tegang, Dinada tak jadi marah bahkan ikut tegang juga.
"Aku mendengar suara detak jantung orang lain di
sekitar kita," bisik Suto Sinting. Napasnya terasa
menghangat di pipi dan telinga Dinada. Mulut itu pun
segera dilepaskan karena Dinada menggigit kecil kulit
telapak tangan Suto.
"Sial!" gerutu Suto sambil mengibaskan tangannya
yang digigit.
Wuttt...! Tiba-tiba Dinada lompat ke depan, tubuhnya
melayang di udara dan bersalto satu kali. Suto
terperanjat sekejap, namun bertepatan dengan itu sebuah
benda menancap di tempat duduk Dinada. Jrabb...!
Suto makin kaget. Benda itu adalah senjata rahasia
berbentuk bunga cempaka dari logam putih mengkilat.
Ujung-ujung kelopaknya meruncing sedikit kebiruan,
menandakan senjata itu mengandung racun yang
berbahaya.
Suto ingin mencabut benda itu, tapi Dinada berseru,"
Jangan sentuh!"
Suto menatap Dinada. Sebelum bertanya apa
sebabnya benda itu tak boleh disentuh, Dinada sudah
menjawab, "Benda itu mengandung racun yang jika
disentuh orang bisa bikin mati penyentuhnya!"
Pendekar Mabuk cepat sentakkan kaki dan tubuhnya
pun melesat naik ke atas pohon itu, hinggap di salah satu
dahannya. Wutt....! Bekas tempat duduk Suto terlihat
dua benda yang sama, yang tak diketahui sejak kapan
menancap di batang kayu tempat duduk itu. Hanya Suto
Sinting yang bisa merasakan kehadiran benda tersebut.
Kejap berikutnya terdengar suara tawa mengikik
seperti tawa kuntilanak kesurupan.
"Hi, hi, hi, hi, hi...!"
Tawa itu tidak datang dari satu arah, tapi berkeliling
arah, bagai mengitari tempat tersebut. Tentu saja hal itu
membuat Dinada dan Suto Sinting memandang
berkeliling mencari siapa orang yang tertawa itu.
Wuttt...! Jlegg...!
Dinada langsung menghantamkan pukulannya sambil
berbalik arah. Tapi pukulan segera ditahan, tak jadi
dilepaskan. Karena orang yang datang di belakangnya
itu adalah Suto sendiri yang baru turun dari atas pohon.
"Hampir saja kepalamu pecah!" kata Dinada dengan
jengkel karena kecele, menyangka orang lain yang
muncul di belakangnya.
Mereka segera adu punggung. Mata mereka masih
memandangi sekeliling karena suara tawa itu terdengar
lagi dan berkeliling mengitari tempat itu.
"Jangan-jangan suara burung terbang?" bisik Suto.
"Dugaanku juga begitu. Suara itu ada bagaikan
mengeliling dedaunan pohon."
"Hati-hati saja, kalau bukan seekor burung beo, pasti
orang itu berilmu tinggi."
"Mungkinkah burung beo bisa melemparkan senjata
rahasia?!" bisik Dinada tanpa memandang Pendekar
Mabuk.
"Bisa saja, asal burung itu dibawa oleh seseorang.
Burungnya tertawa orangnya melemparkan senjata
rahasia."
"Jangan bercanda. Kita dalam bahaya!" hardik
Dinada yang tampak cukup tegang menghadapi
gangguan tersebut.
Tiba-tiba datang angin dari hembusan pelan makin
lama semakin kencang. Angin membawa serbuk putih
yang bertaburan ke mana-mana. Serbuk putih itu
menerpa dedaunan, batang, ranting, dan tentunya juga
menghamburi tubuh mereka.
Namun sebelumnya Dinada sudah berseru lebih dulu,
"Debu Neraka...!!"
Dinada segera mencabut serulingnya dan buru-buru
ditiup. Tiupan seruling berirama aneh itu menghadirkan
angin yang bergerak memutar. Angin itu dalam waktu
singkat sudah menjadi semacam topan kecil yang
mengelilingi tubuh mereka berdua, sehingga debu-debu
yang akan hinggap di tubuh mereka terlempar ke arah
lain.
Bau terbakar mulai menusuk hidung. Pendekar
Mabuk terperangah setelah menyadari daun-daun
terbakar. Ternyata semua benda yang terkena debu putih
itu kini dalam keadaan menghangus karena terbakar.
Dahan, ranting, bahkan batang pohon mana pun yang
terkena debu putih itu menjadi hangus terbakar.
"Luar biasa! Rupanya debu putih itu mempunyai
kekuatan membakar cukup tinggi. Pantas kalau
dinamakan 'Debu Neraka'. Untung saja Dinada mampu
mengurung diri dengan hembusan angin serulingnya
hingga tak satu pun debu yang mengenai tubuhku dan
tubuhnya," kata Suto membatin keheranan.
"Hiih, hih, hih, nih, hih...!" suara tawa mengikik
terdengar lagi bagaikan terbang mengelilingi pepohonan
yang sudah mengering hangus dalam waktu singkat itu.
Debu putih itu telah lenyap. Seruling pun dihentikan.
Angin topan yang mengelilingi tubuh mereka juga
lenyap. Kini yang tinggal hanyalah asap putih samar-
samar dari batang-batang pohon yang telah gundul
akibat terbakar itu.
"Cepat kita tinggalkan tempat ini!" kata Dinada. Ia
lebih dulu bergerak pergi ke arah pantai. Pendekar
Mabuk mengikutinya sambil mengawasi bagian
belakang, takut diserang dengan senjata rahasia seperti
tadi.
Namun begitu kaki mereka menapak di pasir pantai,
tiba-tiba langkah pun terhenti. Sesosok tubuh tua dan
bongkok menghadang mereka dengan tongkat hitamnya
yang berkepala tombak iblis: seperti garpu dua mata
yang masing-masing ujungnya runcing bagai ujung anak
panah. Sosok tua bongkok itu mengenakan jubah abu-
abu dengan rambutnya yang putih dikonde sebagian,
sisanya meriap dipermainkan angin pantai. Tubuhnya
kurus, kulitnya keriput, hingga wajahnya bagaikan kain
yang sudah setahun tertindih almari. Matanya kecil, tapi
tajam. Mulutnya berkerut-kerut dengan bibir masuk ke
dalam pertanda giginya sudah habis.
Nenek tua bongkok itu tertawa mengikik. Suto
Sinting hanya membatin, "O, rupanya nenek ini yang
tadi tertawa berkeliling?"
Dinada menyapa dengan nada sinis. "Rupanya kau
yang mengganggu kami tadi, Nini Kutang Katung?!"
"Iya. Aku yang menaburkan 'Debu Neraka', biar
kalian berdua mampus. Hih, hih, hih, hih...!"
"Mengapa kau menghendaki kematian kami, Nini?"
"Sebenarnya tidak. Aku hanya sekadar pamer
kesaktian, biar kau dan kekasihmu itu tahu bahwa
ilmuku cukup tinggi, sehingga kalian tidak perlu
menentang kehendakku, dan jangan coba-coba
melawanku. Hih, hih, hih, hih...!"
Pendekar Mabuk berbisik kepada Dinada. "Siapa
orang ini?"
"Nini Kutang Katung."
"Aku baru mendengar namanya. Kalau kata 'kutang'
aku sering mendengar, tapi kalau 'Kutang Katung' baru
mendengarnya sekarang."
"Dia penguasa Pulau Sarang Iblis, musuh pamanku;
Raja Hantu."
Pendekar Mabuk pun angguk-anggukkan kepala
sambil menggumam lirih.
"Apa maksudmu menemui kami, Nini?!" tanya
Dinada.
"Kulihat pusaka itu dititipkan padamu oleh Raja
Hantu! Lalu ia lari dari pertarungan setelah kau
menghilang. Hih, hih, hih... licik sekali kalian. Sekarang
saatnya aku meminta pusaka itu, Mila!"
"Aku tidak membawanya!"
"Omong kosong! Mata tuaku belum terlalu rabun,
sehingga masih bisa melihat kau menangkap pusaka itu
dan membawanya lari. Serahkan pusaka itu atau kubakar
habis tubuhmu yang mulus dan menggoda tiap lelaki itu.
Hih, hih, hih, hih...!"
"Sstt...!" desis Suto kepada Dinada. "Mengapa dia
memanggilmu 'Mila', bukan 'Dinada'?"
"'Mila' hanya ada di dalam 'nada', bukan? Nah, jadi...
eh, tunggu! Kita sedang menghadapi lawan bahaya,
kenapa harus berdebat soal nama?!"
Dinada segera berkata kepada Nini Kutang Katung,
"Apa pun yang akan kau lakukan aku siap
menghadapimu, karena aku memang tidak membawa
pusaka itu, Nini!"
"Bocah gendeng! Itu sama saja kau kepingin mati
sekarang juga! Apakah kau tak bayangkan kalau
kekasihmu itu akan patah hati jika kau mati?!"
"Dia bukan... bukan...," Dinada tak berani lanjutkan
ucapannya, ia melirik pemuda tampan di sampingnya.
Suto Sinting hanya tersenyum tipis dan sedikit angkat
bahu, seakan berkata, "Terserah apa katamu!"
"Aku tidak banyak waktu lagi!" sentak Nini Kutang
Katung. Serahkan pusaka Gelang Naga Dewa itu jika
percintaanmu ingin berlangsung dengan lebih mesra
lagi!"
"Gelang Naga Dewa?!" gumam Suto Sinting dengan
nada kaget.
"Ya. Gelang Naga Dewa!" sahut Nini Kutang Katung
yang walaupun tua tapi kupingnya belum budeg. "Kau
pasti melihatnya, Anak muda! Kau tahu di mana Mila
menyimpan pusaka itu?!"
"Ak... Aku...," Suto bingung menjawabnya, ia
memandang Dinada, tapi yang dipadang berlagak tidak
tahu. Tatapan mata Dinada tertuju pada Nini Kutang
Katung. Nenek itu mendekat dua tindak, bicaranya
tertuju kepada Suto Sinting.
"Pemuda tampan, bujuk gadismu itu agar mau
serahkan pusaka Gelang Naga Dewa ketimbang dia mati
sebelum kau cumbu. Hih, hih, hih, hih...!"
"Bicaralah yang sopan, Nini!" hardik Dinada yang
wajahnya menjadi merah dadu karena malu.
"Mana pusakaku itu!" tegas sang nenek.
"Pusaka itu tidak ada padaku!" bentak Dinada.
"Bukan aku yang membawanya."
"Lalu siapa menurutmu?!"
"Anak Petir!"
Jawaban itu bukan saja membuat Nini Kutang Katung
terkejut, tapi juga membuat Pendekar Mabuk terperanjat
kaget dan memandang Dinada dengan tajam. Karena
nama Anak Petir membuat ingatan Suto melayang ke
masalah huru-hara di Tanjung Samudera beberapa waktu
yang lalu. Gelang Naga Dewa juga ada kaitannya dengan
Ratu Dewi Giok, penguasa Negeri Tanjung Samudera
itu, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode:
"Keranda Hitam").
Mata nenek tua itu kian mengecil ketika Dinada
menjelaskan bahwa pusaka Gelang Naga Dewa ada di
tangan si Anak Petir. Nini Kutang Katung bagaikan
mencari kejujuran melalui sorot pandangan mata Dinada.
Beberapa saat kemudian, "Aku tak percaya benda itu
ada di tangan si Anak Petir! Kau hanya ingin mengadu
domba antara aku dengan si Anak Petir!"
"Terserah kesimpulanmu! Tapi itulah kebenaran yang
ada. Kalau kau menghendaki Gelang Naga Dewa dariku,
kau hanya akan membuang-buang waktu saja, Nini!"
"Aku jadi tak sabar membujukmu! Sebaiknya terima
saja pelajaran baru dariku ini, Gadis bodoh! Heeah...!"
Tongkat ditancapkan di pasir, lalu kedua tangan Nini
Kutang Katung menyentak ke depan seperti ingin
mencengkram. Dari tiap jarinya melesat sinar bintik-
bintik warna hijau. Sepuluh larik sinar itu menyerang
Dinada. Werrss...!
Wutt...! Dinada bagaikan terlempar ke atas karena
kakinya menyentak ke bumi. Tubuhnya melesat tinggi,
sehingga kesepuluh sinar dapat dihindarinya.
Hampir saja Suto terkena sinar itu. Untung ia pun
segera melesat ke samping dan berguling ke pasir pantai
sambil menggenggam bambu tuaknya. Wuttt...! Dan
sepuluh sinar hijau itu menghantam gugusan batu karang
jauh di belakang mereka berdua.
Zrrakkk...!
Gugusan batu karang hancur menjadi debu yang
menyebar ke mana-mana. Padahal gugusan batu karang
itu besarnya melebihi sebuah rumah. Begitu terkena
sepuluh sinar hijau menjadi lenyap begitu saja tanpa
bunyi ledakan yang menggelegar.
Wess...! Dinada mengibaskan seruling gadingnya.
Dari ujung seruling keluar seberkas sinar merah yang
berkelebat bagaikan pita yang menyabet kepala Nini
Kutang Katung.
"Hi, hi, hi, hi...!" nenek bongkok itu hanya tertawa,
tangannya berkelebat bagai menyambar lalat. Ternyata
kibasan tangannya itu menghadirkan angin besar yang
membuat sinar itu pecah sebelum menyentuh tubuhya.
Duarrr...!
Hembusan angin yang dikeluarkan dari kelebatan
tangan Nini Kutang Katung membuat tubuh Dinada
yang baru turun dari lompatannya itu terpental ke
belakang dan jatuh berguling-guling di pasir pantai.
Clapp...! Baru saja Dinada hendak bangkit, seberkas
sinar hijau seperti tadi melesat dari jari telunjuk sang
nenek. Sinar itu hendak menghantam tubuh Dinada yang
belum menyadari kedatangan sinar itu.
Pendekar Mabuk tidak mau biarkan gadis itu hancur
seperti karang, ia segera melepaskan jurus 'Turangga
Laga' dari dua jari yang dikeraskan. Sentakan dua jari ke
depan mengeluarkan sinar ungu yang menghantam
perjalanan sinar hijaunya Nini Kutang Katung itu.
Zlapp...!
Blegarrr...!
Ledakan yang menggelegar membahana membuat
Nini Kutang Katung terjengkang ke belakang dan
terguling-guling bersama tongkatnya yang baru saja
dicabut.
"Dinada, cari tempat berlindung!" seru Suto Sinting
yang mulai menghadang jarak di depan Nini Kutang
Katung. Bumbung tuaknya siap di tangan kanan dengan
tali melilit di telapak tangan kanan:
"Maling kecut! Baru sekarang ada orang bisa
membuatku terjungkal! Mau cari liang kubur kau, hah?!
Heeah...!"
Nini Kutang Katung menyentakkan tongkatnya.
Kedua ujung tongkat yang membentuk anak panah itu
terarah ke depan dan mengeluarkan sinar berkelok-kelok
warna biru. Gerakan sinar itu melesat ke sana-sini
bersimpang siur membingungkan. Suto Sinting tidak
berani menangkis dengan bumbung tuaknya karena
gerakan sinar tak menentu arah. Ia hanya bersalto cepat
ke belakang beberapa kali. Wes, wes, wess...!
Zlapp...! Tahu-tahu pemuda tampan itu sudah berada
di satu gugusan karang yang cukup tinggi.
Clap, clapp...!
Blegarrr...!
Sinar biru tak tentu arah itu tiba-tiba bisa
dilumpuhkan oleh datangnya sinar merah yang
menyerupai bintang berekor. Akibatnya timbullah
ledakan yang cukup dahsyat dan mengguncangkan alam
sekitar tempat itu. Suto Sinting nyaris terpelanting jatuh
dari atas gugusan batu karang itu.
"Keparat! Rupanya kau belum jera melawanku, Raja
Hantu!"
Suto Sinting dan Dinada terkejut, segera memandang
ke arah pepohonan yang tadi terbakar hangus itu.
Ternyata di sana sudah berdiri seorang lelaki berwajah
angker yang tak lain adalah Raja Hantu.
"Kau lawanku, Nini!" sentak Raja Hantu kemudian ia
melesat bagaikan terbang sambil mencabut cambuknya.
"Dinada, cepat tinggalkan tempat ini selagi mereka
bertarung sendiri!" kata Suto Sinting karena ia khawatir
dengan keselamatan gadis cantik itu.
Zlappp...! Dinada disambar Suto dan dibawa lari
dengan gunakan jurus 'Gerak Silmuan'.
"Hei, hei... jangan begini! Kau nakal lagi, Suto!"
teriak Dinada yang dikempit oleh Suto dengan satu
tangan. Tapi suara itu tidak dihiraukan oleh Pendekar
Mabuk yang tetap berlari dengan kecepatan melebihi
anak panah.
*
* *
3
SEBUAH gubuk tak bertuan di dalam hutan menjadi
tempat peristirahatan mereka untuk sementara. Di barat
langit sudah memerah. Sebentar lagi petang akan datang.
Gubuk tak bertuan yang sebagian dindingnya sudah
jebol akan dipakai untuk bermalam oleh Pendekar
Mabuk.
Gadis cantik yang masih memegangi serulingnya itu
sengaja menjauhi Pendekar Mabuk, ia masih jengkel
dengan tindakan Suto menyambarnya dan membawa
lari. Bukan langkah penyelamatan Suto yang
menjengkelkan hatinya, tapi tangan Suto menyentuh
dadanya sewaktu menyambar dan membawanya lari.
"Mengapa begitu saja marah? Aku toh tidak sengaja,"
kata Suto Sinting sambil menahan geli dalam hatinya.
Dinada masih cemberut. Bicaranya bernada ketus.
"Tidak sengaja kok sudah dua kali begitu," gerutunya
dengan bibir mungilnya meruncing.
"Maafkan aku," kata Pendekar Mabuk. "Aku tidak
bermaksud kurang ajar kepadamu. Lupakanlah hal itu."
"Takkan mungkin bisa kulupakan seumur hidupku."
Pendekar Mabuk hanya terkekeh geli, namun tak
berani keras-keras. Takut gadis itu semakin berang.
"Apa maksudmu tak bisa dilupakan seumur hidup?
Terkesan atau...."
"Pikir sendiri!" potongnya menyentak.
"Aku tak bisa berpikir sebelum kau jelaskan tentang
si Anak Petir itu."
Kali ini Dinada mengangkat wajah dan menatap Suto
Sinting.
"Apakah kau kenal dengan si Anak Petir?"
"Dia hampir saja membuat namaku hilang karena
dianggap sudah mati. Dia yang membuat negeri Tanjung
Samudera diserang para sahabatku, karena Ratu Dewi
Giok dituduh telah membunuhku!"
Dahi gadis itu kian berkerut heran. "Jadi, kau juga
mengenal Ratu Dewi Giok?"
"Pemilik pusaka Gelang Naga Dewa itu, bukan?!"
Dinada tertegun memandangi murid si Gila Tuak, ia
tidak menduga kalau murid si Gila Tuak yang ilmunya
sinting itu ternyata mengenal Ratu Dewi Giok.
Bahkan Suto pun bertanya, "Benarkah pusaka Gelang
Naga Dewa ada di tangan si Anak Petir?"
Dinada menarik napas. "Itulah persoalanku yang
sebenarnya. Karena persoalan itu pula aku
memanggilmu dengan seruling dan ingin meminta
bantuanmu untuk merebutkan kembali Gelang Naga
Dewa dari tangan si Anak Petir."
Kini ganti Suto yang terbengong. "Aku memang
sering mendengar nama itu, tapi aku belum pernah
bertemu dengan si Anak Petir. Bagaimana aku bisa
merebut gelang itu?" pikir Suto dalam bengongnya. "Ini
persoalan berat. Menurutku lebih berat dari menangani
tingkah laku si Raja Hantu!"
Dinada menceritakan tentang gelang tersebut.
"Pamanku, Raja Hantu, berhasil mencuri gelang tersebut
dari tangan Ratu Dewi Giok. Akhirnya ia bukan saja
dikejar-kejar oleh orang Tanjung Samudera, melainkan
juga diburu beberapa orang yang menghendaki gelang
tersebut, di antaranya Nini Kutang Katung."
Suto Sinting diam, menyimak cerita tersebut sambil
duduk di atas sebuah batu, di depan Dinada yang dari
tadi menyendiri di samping gubuk tersebut.
"Aku memergoki pamanku bertarung dengan Nini
Kutang Katung. Paman tahu kalau aku ada di sekitar
tempat pertarungan tersebut. Ketika Paman terdesak, ia
melemparkan sesuatu padaku. Aku segera
menangkapnya, dan ternyata Gelang Naga Dewa. Paman
menyuruhku agar lari meninggalkan tempat Aku
menurut karena waktu itu dalam keadaan bingung."
"Lalu, bagaimana bisa jatuh ke tangan Anak Petir?"
"Itulah kebodohanku," kata Dinada dengan rasa sesal
yang dalam. "Anak Petir sudah kuanggap seperti
saudaraku sendiri. Ketika mendiang Guru masih hidup
dan ia masih tinggal di Bukit Kasmaran, Anak Petir
sangat sayang kepadaku, dan mengangkatku sebagai
saudara kandung. Sebab ia dilahirkan oleh Ibunya
sebagai anak tunggal...."
"Ibunya itu yang menjadi gurumu?"
"Benar. Nyai Guntur Ayu adalah nama guruku, ibu
dari si Anak Petir itu. Tapi belakangan kudengar
jalannya semakin sesat. Aku tak percaya, kupikir hanya
sekadar fitnah dari orang-orang yang tidak suka
padanya."
Dinada menarik napas, seperti menekan rasa
kebencian yang bercampur dengan penyesalan. Bahkan
ia bangkit dan melangkah ke bawah pohon. Suto Sinting
hanya memperhatikan dari tempat duduknya, telinganya
masih menyimak kata-kata gadis cantik itu.
"Aku dihadang oleh perempuan mesum: Untari, dia
ingin merebut gelang itu."
"Untari?! Ratu Kelabang Setan itu?!" kata Suto
dengan kaget.
"Benar. Dia adalah murid Nini Kutang Katung."
"Ooo...," Suto Sinting manggut-manggut sambil
mengenang nasibnya ketika terkena pukulan beracun
dari Ratu Kelabang Setan," (Baca serial Pendekar
Mabuk dalam episode: "Keranda Hitam").
"Sebelum aku sempat melumpuhkan Untari, Anak
Petir datang membantuku, ia berhasil membuat Untari
kabur. Lalu, ia membujukku agar menyerahkan Gelang
Naga Dewa dengan alasan demi keselamatanku. Ia
mendesakku agar menitipkan gelang itu sehingga orang-
orang yang menghendaki gelang itu akan terkecoh jika
menggeledahku, ia berjanji akan menyerahkan gelang itu
kepada Paman Raja Hantu. Tapi sampai satu purnama
ternyata ia justru menghilang tak tahu di mana rimbanya.
Gelang Naga Dewa tak pernah dikembalikan. Paman
marah padaku dan mendesakku mengembalikan gelang
itu. Jika tidak nyawaku akan dipakai sebagai gantinya.
Karena itulah aku ketakutan dan bingung tak mengerti
ke mana mencari Anak Petir."
"Jadi rasa takutmu itu bukan karena mau dikawini
oleh pamanmu, bukan?"
"Soal itu bisa kuhindari sendiri. Tapi soal gelang itu
aku tak bisa mengatasinya, karena itu memang salahku."
Pendekar Mabuk manggut-manggut. Sekejap
kemudian terdengar suaranya yang lirih namun cukup
jelas didengar oleh Dinada.
"Kau merasa bersalah karena kau merasa Gelang
Naga Dewa milik pamanmu. Apakah kau tidak
menyadari bahwa pamanmu sendiri mendapatkan gelang
dari hasil mencuri, dan gelang itu bukan hak miliknya
sendiri?"
"Aku menyadari hal itu," kata Dinada sambil
melangkah mendekati Suto Sinting. "Aku sudah punya
niat untuk pergi ke Tanjung Samudera dan
mengembalikan gelang pusaka itu. Tapi ternyata
rintangannya cukup banyak dan aku terbujuk oleh si
Anak Petir."
"Kau ingin mengembalikan gelang itu? Mengapa kau
punya rencana seperti itu?"
"Karena aku kenal baik dan bersahabat dengan salah
satu pengawal Ratu Dewi Giok."
"Siapa...?"
"Bulan Sekuntum!"
"Oh, dia...?!" Suto Sinting manggut-manggut. Ia
kenal betul dengan Bulan Sekuntum dalam peristiwa
Keranda Hitam dulu. Dalam hati Suto berkata,
"Berarti gadis ini sebenarnya berhati mulia. Dia
bukan orang jahat seperti pamannya. Kurasa memang
sudah sepatutnya aku membantunya. Tapi bagaimana
caranya bertemu dengan si Anak Petir?"
Dinada yang bernama asli Milasi itu duduk di batu
samping Pendekar Mabuk. Saat itu sang pendekar
sedang menenggak tuaknya.
"Aku menyesal sekali. Benci pada diriku sendiri,"
gumamnya bernada sedih.
"Apa kedahsyatan pusaka Gelang Naga Dewa itu?
Aku belum pernah mendengarnya."
Dinada pun menjawab dengan jelas, "Siapa pun yang
memakai gelang itu, tubuhnya akan kebal terhadap
semua senjata dan semua jenis serangan tenaga dalam."
Pendekar Mabuk tersenyum tipis, pertanda tidak
terlalu heran dan kagum dengan kesaktian seperti itu.
Karena ia sudah sering menjumpai kesaktian seperti itu
dan mampu menumbangkannya. Namun senyum itu
membuat Dinada terhenti bicaranya, ia memandang
seakan menunggu tanggapan dari Suto Sinting. Murid si
Gila Tuak hanya angkat bahu dan berkata, "Teruskan...."
Barulah Dinada meneruskan penjelasannya.
"Di samping itu, jika gelang tersebut dipakai dan
diusap tiga kali, dapat digunakan untuk memanggil
kemunculan seekor naga terbang."
"Naga terbang?!" Suto baru tertarik dan tampak
berubah sikapnya, ia memandang Dinada dengan dahi
berkerut.
"Naga itu akan muncul dari langit dan menemui
pemakai gelang tersebut, ia akan menjadi hamba
pemakai gelang tersebut, dan bisa ditunggangi serta
membawa terbang pemakai Gelang Naga Dewa."
"Maksudmu, naga itu bisa terbang di langit membawa
orang?"
"Ya. Itu naga siluman. Bahkan disuruh bertarung pun
sanggup, dan kabarnya belum pernah ada yang bisa
mengalahkan naga terbang itu."
"Seperti dongeng saja," gumam Suto Sinting dalam
renungannya.
"Memang seperti dongeng. Tapi kalau kau kurang
percaya kau bisa tanyakan langsung kepada Ratu Dewi
Giok."
"Apakah kau tahu kelemahannya?"
Dinada menggeleng. "Itu pun bisa kau tanyakan
kepada Ratu Tanjung Samudera itu."
Dalam lamunannya Suto berkata membatin, "Jika
gelang itu ada di tangan Anak Petir, berarti dia cukup
berbahaya. Tingkahnya akan semakin ganas dan sudah
tentu dia akan bikin ulah yang bukan-bukan. Mungkin
saja ia sekarang sedang menyusun rencana untuk
menyerang Tanjung Samudera, sebab ia tampaknya
sangat bernafsu untuk menguasai negeri itu."
Renungan itu terputus, karena ekor mata Pendekar
Mabuk tiba-tiba menangkap seberkas sinar merah yang
melesat dari balik kerimbunan pohon bambu wulung.
Dengan gerakan cepat Suto Sinting mengangkat
bumbung tuaknya dan melintangkannya di depan dada
Dinada. Gadis itu terkejut dan hampir berang karena
menyangka Suto mau berkurang ajar lagi.
"Kau memang..."
Baru berkata demikian, Dinada kaget melihat sinar
datang menghantamnya. Untung ada bambu tuaknya
Suto. Sinar itu membentur bumbung tuak dan membalik
ke arah semula dengan lebih cepat dan lebih besar lagi.
Wesss...!
Duarrr...!
Entah berapa pohon bambu yang hancur karena
ledakan tersebut. Sinar merah itu membuat rumpun
bambu menjadi berkeping-keping. Sesosok bayangan
melesat dari semak bambu sebelum terjadi ledakan
menggelegar tadi.
Jlegg...!
Bayangan itu menampakkan diri di depan Suto dan
Dinada yang sudah sama-sama berdiri penuh siaga.
Ternyata yang ingin menghantam Dinada dengan sinar
merah tadi adalah seorang perempuan berwajah cantik
jalang. Mengenakan jubah Jingga yang terbuka lepas
bagian depannya. Dada montoknya ditutup dengan kain
tipis warna biru muda, sedangkan bagian bawahnya
dililit kain tipis biru muda juga secara asal-asalan,
sehingga jika tertiup angin akan menyingkap dan
menampakkan isinya secara samar-samar. Rambutnya
meriap, mengenakan ikat kepala dari logam emas
berhias batuan intan. Sebilah pedang lurus runcing tajam
dua sisi itu terselip di pinggang kirinya.
"Jahanam kau, Untari!" geram Dinada memaki
perempuan itu.
Suto Sinting sempat terkesima sebentar karena ia
pernah kenal perempuan tersebut, yang tak lain adalah
Untari alias si Ratu Kelabang Setan. Tokoh mesum ini
pernah terkena jurus 'Anak Rembulan' dan dilumpuhkan
oleh Sumbaruni di pesanggrahannya, (Baca serial
Pendekar Mabuk dalam episode: "Keranda Hitam").
Mata nakal yang menggoda kejantanan setiap pria itu
kini terarah kepada Pendekar Mabuk. Sejak dulu ia
memang mengincar Pendekar Mabuk. Hasrat ingin
mencumbu pendekar tampan itu sangat besar. Namun
Suto Sinting tetap waspada sebab ia pernah terkena
pukulan racun 'Siksa Neraka' yang membuatnya nyaris
binasa.
"Kita jumpa lagi, Pendekar ganteng," ujarnya dalam
senyum yang menggoda hati setiap lelaki.
"Tak kusangka kau bisa lolos dari keampuhan
jurusnya Sumbaruni!" kata Suto Sinting bernada kalem.
Dinada menyahut sambil maju di depan Suto dan
menghadap Ratu Kelabang Setan. Matanya memandang
tajam penuh tantangan.
"Kusangka kau sudah mampus terkena racun dari si
Anak Petir!"
"Untuk apa aku punya guru sesakti Nini Kutang
Katung kalau terkena jurus itu saja tak mampu
mengobati?." tawanya terdengar berkesan
menyombongkan diri menjagokan gurunya.
"Sekarang apa maksudmu menyerangku? Kau ingin
mengambil Gelang Naga Dewa?! Ambillah sendiri di
tangan si Anak Petir."
"Aku sudah tahu kalau gelang itu ada padanya."
Untari melangkah ke samping bagai mencari kesempatan
untuk melepas serangan. "Percakapan kalian dengan
Guru di pantai kuikuti terus. Sayang sekali pamanmu
ikut campur, kalau tidak kau sudah menjadi debu.
Milasi!"
"Gurumu tak akan mampu menyentuhku!" Dinada
juga menyombongkan diri untuk membuat hati lawannya
panas dan penasaran.
Tapi perempuan berpakaian seronok itu hanya
tersenyum sinis. "Lupakan tentang nasib baikmu saat di
pantai tadi. Sekarang kau perlu menyambut hari naasmu,
Dinada. Kalau kau tak mau menjauhi Pendekar Mabuk,
aku akan mengakhiri masa hidupmul" gertak Untari.
Dinada diam. Rupanya ia sempat bingung mengambil
keputusan karena agaknya tantangan Untari menyangkut
masalah Suto Sinting. Pada saat dia mempertimbangkan
langkahnya, Suto mendekati dari belakang dan berbisik,
"Biar kuatasi sendiri perempuan itu!"
"Tidak!" tiba-tiba Dinada berkata tegas. "Aku yang
akan melawannya. Aku tak suka kalau tangannya
menyentuhmu walau dengan alasan memukul!"
"Kok begitu?"
"Biar!" tegas Dinada dengan nada sewot.
"Uuh, ya sudah. Hadapilah sana," gerutu Suto sambil
menjauh.
Dinada berseru kepada lawannya, "Untari, hadapi aku
kalau kau ingin mendapatkan Suto Sinting itu!"
Untari tertawa meremehkan. "Pendekar Sinting?!
Sembarangan saja kau bicara. Pendekar Mabuk tak boleh
dipermainkan namanya seperti itu. Bisa kurobek
mulutmu, Milasi!"
"Robeklah kalau kau mampu menjamahku!"
"Berani amat kau bertaruh nyawa demi dia?! Apakah
dia kekasihmu?"
"Tergantung!" sentak Dinada menampakkan
ketengilannya.
"Kuhabisi masa hidupmu, Milasi! Hiaaah...!"
Wusss...! Untari melompat cepat sambil mencabut
pedangnya. Pedang ditebaskan ke leher Dinada dalam
keadaan tubuhnya masih melayang di udara.
Trrang...! Dinada menangkis pedang itu dengan
serulingnya yang dialiri tenaga dalam hingga seperti
baja. Gerakan Dinada sangat lincah sehinga Untari
berkali-kali gagal menebaskan pedangnya ke tubuh
Dinada.
Namun pada satu kesempatan, Dinada kecolongan.
Ketika ia menghindari sabetan pedang ke arah dadanya,
tiba-tiba kaki kiri Untari menendang ke depan. Wuttt...!
Meleset dari sasaran, tapi itulah langkah maju Untari
sehingga tangan kirinya segera menghentak maju dan
tepat kenai rusuk Dinada.
Krakk...! Terdengar seperti ada tulang yang patah.
Dinada terlempar jatuh di bawah pohon, badannya
tersandar di sana dalam keadaan menyeringai menahan
rasa sakit. Rupanya pukulan itu bukan sekadar pukulan
biasa. Tenaga dalam yang disalurkan melalui pukulan itu
membuat darah meluap naik dan meleleh keluar melalui
mulut Dinada.
Pendekar Mabuk memandang dengan terperanjat dan
cemas, ia ingin bergerak maju menghalangi serangan
Untari. Tetapi langkahnya tertahan dengan suara lirih
dari belakangnya.
"Biarkan mereka!"
Suto Sinting semakin kaget ketika tahu yang berdiri
di belakangnya ternyata adalah Sumbaruni. Dalam
usahanya mencari Anak Petir yang pernah
menghebohkan dunia persilatan dengan ulahnya itu,
Sumbaruni tak sengaja melintasi tempat itu dan
mendengar suara pertarungan, ia penasaran dan segera
datang ke tempat itu.
"Dinada dalam bahaya!"
"Biarkan. Itu urusan dia!" ujar Sumbaruni dengan
ketus dan bernada cemburu, sebab ia menyimpan cinta
kepada Suto hanya saja tidak pernah dilayani oleh si
pendekar tampan itu.
Untari melepaskan jurus pedang mautnya yang
hampir saja menewaskan Dinada. Untung gadis
berseruling itu mampu menangkis setiap tebasan pedang,
sehingga ia selamat dari ancaman maut jurus pedang
yang sulit ditembus itu.
Bahkan Dinada berhasil melepaskan pukulan tenaga
dalamnya ke arah perut Untari. Wuttt...! Buhgg...!
Pukulan tanpa sinar itu membuat Untari terpental
mundur dan terhuyung-huyung. Kesempatan itu
digunakan oleh Dinada untuk meniup serulingnya. Suara
seruling ditiup dengan alunan yang melengking tinggi,
menghadirkan angin kencang ke arah Ratu Kelabang
Setan. Angin itu tak bisa ditembus dengan gerakan
sehingga Untari bagai terpaku di tempat. Semakin lama
kakinya semakin melesak masuk ke dalam tanah.
Rupanya kekuatan tenaga dalam dari tiupan seruling itu
membuat tubuh Untari bagaikan dipantek dan ingin
ditenggelamkan ke dalam tanah.
Ketika kakinya telah mulai masuk ke dalam tanah
sebatas betis, Ratu Kelabang Setan memikik keras-keras.
"Hiaaaatt...!"
Pedangnya digunakan untuk bertolak dalam satu
sentakan ke tanah, lalu tubuhnya pun melesat ke atas
bagai dijebol dari dalam tanah, ia bersalto di udara satu
kali, kemudian tangannya melepaskan pukulan jarak
jauh yang dinamakan pukulan 'Racun Siksa Kubur' itu.
Clapp...! Sinar biru pun melesat menghantam Dinada
yang sedang meniup seruling.
Jrasss...! Sinar tersebut tepat mengenai pinggang
Dinada. Di sisi lain, Suto dan Sumbaruni terperanjat
melihat hal itu, karena mereka tahu Dinada terkena
pukulan beracun yang sangat berbahaya.
"Aahg...!" Tubuh Dinada terkulai lemas. Suto Sinting
segera bergerak menghampirinya dengan menggunakan
'Gerak Siluman'-nya.
Zlapp...!
Pada waktu itu Ratu Kelabang Setan ingin
melepaskan lagi pukulan yang lebih dahsyat ke arah
Dinada. Kemarahannya tak dapat dibendung lagi,
sehingga nafsu menghancurkan Dinada sangat besar.
Melihat keadaan seperti itu, Sumbaruni segera
bertindak karena takut pukulan berikutnya mengenai
tubuh Suto Sinting. Dengan melepaskan pukulan
bersinar merah, Sumbaruni sentakkan kaki dan
melayang maju ke arah Dinada tapi sasaran pukulannya
ke arah Untari.
Clapp...!
Tepat pada waktu itu sinar ungu keluar dari telapak
tangan Untari, sehingga kedua sinar itu pun beradu
dalam keadaan sangat dekat dengan Untari.
Duarrr...!
"Aaahhg...!" Ratu Kelabang Setan terpekik dengan
tubuh terlempar ke belakang dan membentur pohon.
Brukk...!
Untari jatuh terkulai dengan dada dan tangan menjadi
hangus. Namun ia masih berusaha bangkit dan menatap
buas kepada Sumbaruni.
"Bangsat! Lagi-lagi kau ikut campur urusanku!"
"Kau memang patut dimusnahkan, Untari! Kaulah
yang hampir saja membuat kekasihku mati karena racun
'Siksa Kubur'-mu itu! Kini terimalah pembalasanku!"
"Iblis kau! Heeeaat...!"
Untari melayang bagaikan terbang, pedangnya
keluarkan sinar merah membara. Sumbaruni segera
mencabut pedangnya dan digenggam dengan dua tangan.
Pedang itu pun menyala ungu, seperti pakaian dan
jubahnya yang serba ungu.
Trang...! Blegarrr...!
Pedang diadu, ledakan dahsyat terjadi membuat tubuh
Untari terpental tinggi. Ketika tubuh itu melayang turun,
Sumbaruni menyambutnya dengan tubuh melompat naik
dan menyabetkan pedangnya. Wesss...!
Crass...!
"Aaaaahg...!" Ratu Kelabang Setan memekik,
lengannya terluka parah. Koyak oleh sabetan pedang
Sumbaruni. Ketika ia jatuh dan mengerang kesakitan.
Sumbaruni menghampirinya dengan satu serangan
pedang sebagai tindakan untuk menghabisi lawannya.
Wuuttt...! Jrrub...!
Tusukan pedang ke bawah, ternyata masih mampu
dihindari oleh Untari dengan menggelinding ke sisi lain.
Akibatnya pedang Sumbaruni menancap separo bagian
ke tanah bekas tempat Untari terkapar tadi.
"Keparat! Masih bisa lolos kau?!" geram Sumbaruni
sambil mencabut pedangnya.
Namun ketika ia ingin menyerang Untari lagi,
ternyata Ratu Kelabang Setan sudah melarikan diri
dalam keadaan terluka parah.
"Hei, tunggu...! Selesaikan sampai tuntas urusan ini!"
seru Sumbaruni yang segera berkelebat mengejar Untari.
Wesss...!
Sumbaruni tak pedulikan lagi keselamatan Dinada.
Nafsunya lebih besar membunuh Untari yang dianggap
sebagai perempuan berbahaya bagi asmara Suto Sinting.
Sementara di pihak lain, Suto Sinting berhasil
memaksa Dinada untuk meminum tuaknya. Dengan
meminum tuak, maka racun 'Siksa Kubur' yang obat
penawarnya hanya ada pada Untari itu bisa lenyap dalam
sekejap. Bahkan luka patah pada tulang rusuk Dinada
tidak terasa sakit lagi. Kesaktian tuak Pendekar Mabuk
membuat Dinada diam terbengong dan terheran-heran.
Dinada sadar dari keheranannya setelah Suto Sinting
menanyakan, "Masih sakitkah tubuhmu?!"
Gadis berseruling gading itu segera bangkit berdiri, ia
merasakan betul perubahan badannya, ternyata justru
menjadi lebih segar dari sebelumnya.
"Luar biasa tuakmu itu! Pantas kudengar kau disebut
oleh sebagian orang dengan julukan Tabib Darah Tuak."
"Syukurlah kalau sudah sehat! Dulu aku hampir mati
terkena racun 'Siksa Kubur' itu!"
Dinada menarik napas. Matanya memandang
sekeliling, ia baru sadar bahwa Untari sudah tidak ada di
tempat, demikian pula Sumbaruni. "Perempuan itu tadi
kekasihmu?"
Pendekar Mabuk menggeleng sambil tersenyum. "Dia
yang beranggapan begitu padaku."
"Kau pasti melayaninya sebab dia cantik."
"Itu dugaanmu!"
"Ah, kau bisa saja bilang...," ucapannya itu terhenti.
Matanya tertuju pada satu arah.
"Ada apa...?!" tanya Suto heran.
"Aku melihat sekelebat bayangan si Anak Petir."
"Hah...?! Di mana dia? Ke mana perginya?!"
"Ikuti aku...!" kata Dinada sambil berkelebat
mengejar bayangan yang diyakini sebagai gerakan si
Anak Petir itu. Pendekar Mabuk pun berkelebat
mengikuti Dinada karena ia berhasrat untuk bisa bertemu
dengan si Anak Petir dan bikin perhitungan sendiri.
"Ke mana larinya?!"
"Ke timur!"
Zlapp...! Suto mendului Dinada.
4
PENGEJARAN malam membuat suasana menjadi
kacau. Kecepatan yang dipakai Pendekar Mabuk pun
mengakibatkan Dinada tertinggal. Semakin jauh semakin
gelap, sampai pada akhirnya mereka terpisah.

"Dasar bodoh. Mengapa dia tidak berteriak kalau
salah arah? Apa dia sengaja memisahkan diri?" Pendekar
Mabuk menggerutu sambil berusaha mencari Dinada.
Ketika malam semakin kelam, embun mulai datang.
Suto Sinting berhasil menemukan sebuah desa. Lebih
beruntung lagi ia dapat melihat sebuah kedai yang masih
buka.
"Kebetulan, tuakku hampir habis. Kuharap kedai itu
menjual tuak," pikir Suto sambil melangkah mendekati
kedai tersebut.
"Maaf, Den. Kedai sudah mau tutup. Sudah terlalu
malam," kata pemilik kedai yang berusia sekitar enam
puluh tahun. Lelaki kurus berpakain putih lusuh itu
berusaha menolak tamu dengan sopan dan sangat hati-
hati.
"Aku hanya ingin menambah tuakku, Pak Tua."
"O, kalau hanya mau tambah tuak saya bisa melayani.
Mari, saya isi bumbung itu. Tapi saya hanya punya tuak
Karangkajen, tidak punya tuak Majalegi."
"Tak apa. Tuak mana saja aku bisa meminumnya."
Pemilik kedai segera mengisi bumbung bambu
dengan tuak persediaannya. Suto Sinting memperhatikan
dari balik meja makan, ia sempat melirik beberapa
makanan yang masih belum terjual habis. Di antaranya
pisang goreng, ketan kelapa, jadah goreng, talas rebus,
dan beberapa lainnya.
"Sebenarnya perutku lapar, Pak. Kalau Bapak tak
keberatan aku ingin makan. Apakah masih ada nasi
jagung dan sayurnya?"
"Hmmm..." pemilik kedai itu menimbang-nimbang
sebentar, ia kasihan dan tak tega menolak melayani tamu
yang satu itu. Akhirnya ia hanya bicara.
"Nasi jagungnya sudah dingin, Den. Sayurnya juga
dingin."
"Tak apa, Pak Tua. Hidangkan satu piring untukku.
Aku bisa memakannya dengan tempe bacam ini."
Di samping tuak dalam bumbung sudah penuh, Suto
juga memesan tuak dalam poci sebagai minumannya
selesai makan nanti. Pak Tua pemilik kedai
menemaninya makan, karena ia terkesan dengan
keramahan dan kesopanan Suto dalam bersikap.
"Aden dari mana mau ke mana? Kok malam-malam
begini baru mengisi perut?"
"Saya sedang mencari seseorang. Teman saya hilang,
terpisah di perjalanan. Apakah Pak Tua melihat gadis
berjubah kuning dengan pakaian dalam merah? Ia
membawa seruling gading."
"Kebetulan sejak siang saya tidak melihat gadis
berciri seperti itu, Den," ujar pemilik kedai. "Di mana
Aden terpisah dengan gadis itu?"
"Di hutan sebelah barat sana."
"Wah, jangan-jangan gadis itu menjadi santapan si
Loreng."
"Harimau maksudmu, Pak Tua?"
"Bukan. Tapi... hm... perampok ganas yang kerjanya
merampok kesucian para gadis. Dia tinggal di hutan
sebelah barat sana, Den. Ia dikenal dengan nama: Dewa
Loreng."
Pak Tua itu juga mengungkapkan rasa kagumnya atas
keberanian Suto Sinting melintasi hutan barat pada
malam hari. Menurut Pak Tua, jika matahari telah
terbenam, tak seorang pun yang berani melintasi hutan
tersebut walaupun hanya melewati bagian tepi hutan
saja.
Percakapan itu terhenti karena tiba-tiba seorang
perempuan datang dan langsung bicara kepada Pak Tua,
"Masih punya sepoci arak?! Aku minta dua poci, Pak
Tua."
"Hmm... ehh... tapi kedai ini sudah mau tutup, Den
Ayu. Saya sudah mau istirahat."
"Aku hanya mau minum sebentar! Jangan khawatir,
berapa pun harga arak itu akan kubayar!"
"Ehmm... bukan soal harga, tapi... tapi...." Karena
mata perempuan itu memandang tajam kepada Pak Tua,
akhirnya Pak Tua ketakutan sendiri. "Tapi baiklah... saya
akan ambilkan pesanan Den Ayu."
Suto Sinting berlagak acuh tak acuh kepada
perempuan yang menyandang pedang di punggungnya.
Rambutnya digelung sampai ke atas, tepian kanan-kiri
dibiarkan terjulur sebagian membentuk spiral.
Diam-diam Suto Sinting mengawasi perempuan yang
duduknya sejajar dengannya. Tapi jaraknya agak jauh.
"Cantik juga," kata Suto dalam hati. Ia sudah selesai
makan dan tinggal menghabiskan tuak dalam poci.
Perempuan itu berusia sekitar tiga puluh tahun.
Kecantikannya sudah matang, tidak seperti gadis belia
secantik Dinada. Perempuan itu mengenakan pakaian
hitam dengan jubah tanpa lengan warna putih sutera.
Pinjung penutup dadanya yang berwarna hitam itu
dihiasi dengan benang perak membentuk bordiran
tersendiri. Pinjungnya ketat sekali, sehingga kelihatan
bentuk dadanya yang montok dan kencang itu. Ia
mengenakan pakaian lengkap, dari kalung, gelang,
cincin, sampai gelang kaki. Hal itu membuat Suto
Sinting dapat menduga bahwa perempuan itu keturunan
bangsawan, setidaknya dari keluarga orang berada. Tak
heran jika ia tadi menyombongkan soal uang di depan
Pak Tua.
Matanya yang sedikit lebar tapi indah itu sesekali
melirik Pendekar Mabuk. Bukan berarti Suto tidak tahu,
tapi berlagak tidak berminat memperhatikan perempuan
tersebut. Dengan tenang dan kalem Suto Sinting
menikmati tuak dari poci.
Tiba-tiba tanpa disentuh sedikit pun poci keramik itu
pecah dengan sendirinya. Trak...! Prakk...!
Suto Sinting kaget. Pak Tua pun terkejut dan segera
mengambil kain untuk membersihkan meja.
"Maaf, Den. Pocinya memang sudah lama sekali, jadi
mungkin sudah rapuh."
"Tak apa. Ada yang iseng saja, Pak. Hmmm... o, ya...
aku minta disediakan sepoci lagi, Pak Tua."
"Baik, Den. Baik...!" pemilik kedai jadi ketakutan
sendiri.
Padahal menurut Suto pecahnya poci bukan karena
poci sudah rapuh. Poci itu pecah karena diusik dengan
tenaga dalam perempuan berjubah putih itu. Suto Sinting
merasakan hawa kuat melintas di depannya dan poci pun
pecah. Namun Suto tetap berlagak tidak memperhatikan
perempuan itu.
"Pak Tua...," seru perempuan itu. "Apakah kau punya
satu kamar kosong untuk kupakai bermalam? Akan
kusewa kamarmu itu, Pak Tua. Berapa kau minta
dibayar untuk satu malam?"
Pak Tua pemilik kedai sedikit gugup saat melayani
perempuan yang bernada angkuh itu.
"Hmmm... ehhh... saya memang punya satu kamar
kosong untuk anak saya kalau sedang pulang kemari.
Hmm... tapi... tapi tempatnya kotor. Tidak pantas dipakai
bermalam oleh Den Ayu."
"Bukankah kau bisa merapikan dan
membersihkannya? Akan kuberi upah sendiri untuk
pekerjaanmu membersihkan kamar itu, Pak Tua!"
"Hmmm... iya. Kalau begitu, baiklah. Saya
persiapkan dulu, Den Ayu."
Pak Tua pergi membersihkan kamar tersebut. Di
ruang makan itu hanya ada Suto dan perempuan
tersebut. Lagi-lagi Suto merasakan hembusan angin
melintas di depannya. Suto hanya membatin,
"Hmmm... dia mengirimkan tenaga dalamnya lagi!"
Jari tangan Suto segera menyentil pelan. Hembusan
hawa bertenaga dalam melesat menghantam hembusan
angin tenaga dalam kiriman perempuan itu.
Drakkk...!
Meja terguncang bagaikan ada yang menggebraknya.
Padahal meja itu berbentuk papan datar yang memanjang
dari depan Suto sampai depan perempuan itu. Akibat
getaran meja, poci di depan perempuan itu terguling dan
isinya tumpah berantakan, demikian pula arak yang ada
di depan si perempuan.
Rupanya perempuan itu juga tahu kalau pemuda
tampan di sampingnya menggunakan tenaga dalam, ia
langsung menegur dengan sikap angkuhnya.
"Mau pamer ilmu? Boleh! Kita adu di luar kedai!"
Suto Sinting sunggingkan senyum tipis. "Aku tidak
bisa apa-apa. Untuk apa adu ilmu di luar kedai? Aku
akan kalah."
Senyum perempuan itu semakin tampak nakalnya.
"Maumu adu ilmu di mana?" ia mendekat.
"Tak perlu adu ilmu. Aku bukan orang berilmu
seperti kau yang bisa memecahkan poci dari jarak jauh."
Senyumnya kian melebar, ia duduk di bangku persis
sebelah Suto.
"Tak perlu merendahkan diri. Aku tahu kau punya
segudang ilmu. Semua orang tahu kalau murid si Gila
Tuak itu ilmunya tinggi."
Suto Sinting terperanjat, namun hanya dalam hati.
"Sial. Rupanya dia tahu siapa diriku."
"Tapi tidak selamanya kebanggaanmu sebagai murid
unggulan si Gila Tuak dapat kau sandang. Barangkali
aku akan menumbangkannya dalam waktu dekat ini,"
kata si perempuan angkuh.
Ucapan itu hanya ditanggapi dengan senyum oleh
Pendekar Mabuk, murid sinting si Gila Tuak itu. Seteguk
tuak dihirupnya dari cangkir kecil.
"Siapa kau, Nona? Mengapa nada bicaramu begitu
padaku? Apakah aku memusuhimu?"
Perempuan itu menarik napas. Matanya memandang
Suto sebentar, kemudian dialihkan ke arah araknya yang
tumpah di meja.
"Aku mungkin terlalu sombong bagimu. Maafkan
aku."
"Kau kemalaman di perjalanan?"
"Ya, dan aku butuh tempat untuk beristirahat."
"Kita punya nasib yang sama. Hanya saja kau lebih
beruntung, karena kau lebih dulu memesan kamar
kepada Pak Tua itu, sedangkan aku belum tahu mau
tidur di mana. Mungkin di atas pohon."
Perempuan cantik berlagak angkuh itu kali ini tertawa
berseri. "Kau seperti kelelawar saja. Tidurnya di pohon."
"Kelelawar tidak pernah tidur malam. Jadi aku bukan
kelelawar."
"Macan kumbang, maksudmu?" lalu perempuan itu
semakin melebarkan senyum memperpanjang tawanya
yang bernada sedikit serak.
"Siapa namamu?" tanya Suto dengan suara kalem
diiringi senyum yang mendebarkan hati lawan jenisnya.
"Namaku? Hmmm... panggil saja aku: Aswarani."
"Nama yang bagus sekali."
"Murid si Gila Tuak kudengar memang suka memuji
wanita."
"Itu hanya kabar bohong. Aku jarang memuji wanita,
kecuali memang wanita itu layak dipuji."
"Berapa orang wanita yang menurutmu layak dipuji?"
"Semuanya," jawab Suto sambil tertawa pelan,
menandakan jawabannya itu sebagai kelakar belaka.
"Apa benar kau tak punya tempat untuk bermalam?"
"Benar," jawab Suto Sinting, ia sudah tahu apa yang
akan dikatakan perempuan bermata nakal itu.
"Kau bisa tidur di kamar yang kusewa."
"Kau sendiri tidur di mana kalau aku tidur di kamar
itu?"
"Apa salahnya kalau aku juga tidur di kamar itu?"
katanya dengan senyuman memperkuat godaan. Suto
Sinting menanggapi dengan kalem, walau hatinya
menggerutu karena merasa tak berani berbuat macam-
macam kepada perempuan lain.
Jika Suto melakukan perserongan dengan perempuan
mana pun, maka calon istrinya yang bergelar Gusti
Mahkota Sejati atau Dyah Sariningrum akan mengetahui
dari tempatnya yang jauh; Pulau Serindu. Ratu dari
negeri Puri Gerbang Surgawi itu dapat memantau
tingkah laku Suto Sinting di mana pun berada. Noda
merah di dahi pemberian Ratu Kartika Wangi, calon
mertuanya itu, juga dapat dipakai sebagai tanda apakah
Suto pernah tidur dengan perempuan lain atau tidak
sama sekali. Karena jika Suto pernah tidur dengan
perempuan lain, maka noda merah di kening yang hanya
bisa dilihat oleh orang berilmu tinggi itu akan berubah
warna menjadi merah jambu. Sebab itulah ke mana saja
Suto pergi, ia selalu menjaga gairahnya agar tidak
terpancing jatuh dalam pelukan perempuan semontok
apa pun. Ini merupakan ujian berat bagi Suto. Namun
demikian kenyataannya Suto mampu menjaga
prilakunya hingga tidak pernah dikecam oleh calon
istrinya itu.
"Aku akan tidur di bangku ini saja," kata Suto.
"Kurasa Pak Tua pemilik kedai tidak keberatan asal
kuberi uang sewa bangku."
"Pak Tua memang tidak keberatan, tapi aku sangat
keberatan," kata Aswarani.
"Jangan memancingku untuk berbuat yang bukan-
bukan, nanti kau akan menyesal. Sebab aku lelaki yang
tidak pernah mau tanggung jawab terhadap perempuan,"
Suto menakut-nakuti.
"Aku tak akan pernah menyesal terhadap pria yang
tidak bertanggung jawab. Sebab upah perbuatannya itu
bisa kuambil sendiri berupa nyawanya." Aswarani juga
tak mau kalah gertak dengan menunjukkan
keberaniannya untuk membunuh pria yang mencoba
bermain-main dengannya.
"Sudahlah, tak perlu kita lanjutkan percakapan ini.
Nanti membuat hati kita saling panas. Aku ingin
beristirahat, karena esok pagi harus melanjutkan
perjalanan."
"Ke mana arah perjalananmu?"
"Ke... ke Tanjung Samudera," jawab Suto Sinting.
Padahal ia sendiri tak tahu harus ke mana. Jawaban itu
hanya sebagai kesimpulan hatinya dari sejak tadi sore.
Suto menyimpulkan bahwa si Anak Petir akan
menyerang Tanjung Samudera karena sudah mempunyai
pusaka Gelang Naga Dewa.
"Untuk apa kau pergi ke sana, Suto?" tanya Aswarani
bersikap seperti sudah lama mengenal Pendekar Mabuk.
"Aku ingin bertemu dengan ratu negeri itu."
"Dewi Giok, maksudmu?"
"Oh, kau mengenal Dewi Giok?"
Aswarani mengangguk dengan kalem. "Aku juga mau
bertemu dengannya."
"Aku malah belum pernah bertemu. Tapi aku pernah
menyelamatkan negerinya."
"Aneh. Sudah pernah menyelamatkan negerinya tapi
belum pernah bertemu dengan ratunya?! Apa tidak salah
ucap kau, Suto?"
Pendekar Mabuk nyengir. "Seseorang melarangku
bertemu dengan Ratu Dewi Giok. Akibatnya, sebelum
aku bertemu, aku sudah harus pergi untuk keperluan
lain."
Aswarani manggut-manggut dan menggumam lirih.
Entah apa yang ada dalam terawang pikirannya, yang
jelas ia diam agak lama sampai Pak Tua datang
memberitahukan bahwa kamar telah dibersihkan. Suto
pun bicara dengan Pak Tua meminta izin tidur di bangku
panjang itu. Pak Tua malah mempersilakan Suto
menggunakan kamarnya sendiri, sedangkan ia akan tidur
di bangku panjang. Tapi Pendekar Mabuk menolak usul
pemilik kedai yang sangat hormat padanya itu.
"Suto, bagaimana kalau kita esok berangkat bersama?
Kau bersedia?"
"Hmmmm... baiklah! Asal kau jangan menggodaku
dengan lirikan mata dan senyummu yang bikin hatiku
deg-degan dari tadi."
Aswarani tertawa kecil.
Sebelum mereka pergi tidur, tiba-tiba malam yang
sunyi dirobek oleh suara teriakan seorang perempuan.
Jerit perempuan itu terdengar cukup dekat dengan kedai.
Karenanya, Pendekar Mabuk dan Aswarani tersentak
kaget, demikian pula Pak Tua. Namun wajah pemilik
kedai tampak pucat seketika, ia gemetar dan sangat
tegang.
"Jeritan apa itu, Pak Tua?"
"Pasti... pasti Dewa Loreng mencari korban lagi.
Mencuri anak perempuan dan... dan...," belum selesai ia
bicara, Pendekar Mabuk sudah melesat keluar lebih
dulu.
Aswarani juga melesat keluar menyusul Pendekar
Mabuk. Mereka segera tiba di sebuah rumah yang
gaduh.
Dari rumah itu muncul seorang lelaki berpakaian
loreng: putih hitam, mirip seekor kuda zebra. Badannya
besar dan tampak sedang memanggul seorang gadis.
Gadis yang dipanggulnya dalam keadaan diam terkulai
pertanda habis kena totok. Sedangkan yang menjerit-jerit
di dalam rumah adalah ibu gadis itu dan beberapa
keluarga lainnya.
Melihat kemunculan lelaki berpakaian loreng yang
tak lain adalah Dewa Loreng, Suto Sinting bergegas
untuk menghadangnya. Tetapi pundaknya tiba-tiba
dicekal oleh Aswarani. Langkah pun tertahan, dan Suto
mendengar perempuan itu berkata dalam geram yang
lirih.
"Serahkan padaku!"
Suto Sinting terpaksa memberi jalan untuk Aswarani.
Perempuan itu segera maju dan melompat tepat di depan
langkah Dewa Loreng. Hal itu membuat langkah Dewa
Loreng pun terhenti.
Sisa cahaya rembulan yang tinggal sebagian itu masih
menampakkan bayangan si Dewa Loreng yang dengan
gusar segera melompat menerjang Aswarani dengan
tetap memanggul gadis curiannya.
Wuuttt...! Aswarani berkelit ke samping, lalu
tubuhnya memutar dan kakinya menendang ke belakang,
Wuttt...! Behgg...!
Pinggang Dewa Loreng terkena tendangan telak,
hingga tubuh besar itu terhuyung-huyung mundur.
"Bangsat!" geramnya dengan nada gusar, ia segera
meletakkan gadis itu di tanah, lalu berdiri dengan penuh
nafsu untuk membunuh. Goloknya segera dicabut,
matanya mendelik lebar.
"Perempuan peri! Mau cari mampus kau, hah?!"
Aswarani diam tanpa bicara, tapi sudah bersiap-siap
melepaskan pukulannya. Kedua tangan siap di atas dada,
kaki kirinya ke belakang memanjangkan jarak, badannya
merendah dan matanya memandang tajam.
Orang-orang berkumpul di kejauhan karena
mendengar jeritan ibu sang gadis yang kini tergeletak di
tanah itu. Mereka saling berkasak-kusuk mendukung
tindakan Aswarani. Sementara itu, Suto Sinting hanya
diam saja, tapi matanya bekerja mengawasi seluruh
gerak Dewa Loreng.
"Rupanya ada yang ingin jadi pendekar di desa ini!"
sindir Dewa Loreng. "Sayang nasibnya tak sampai
matahari terbit sudah menjadi mayat! Terimalah jurus
'Golok Emas' ini, Setan betina! Hiaaat...!"
Wut, wut...!
Clapp...!
Aswarani bergerak dua kali, tahu-tahu ujung jarinya
keluarkan sinar lurus warna merah. Sinar itu
menghantam dada Dewa Loreng. Jrabb...!
Duarrr...!
Ledakan itu sempat membuat beberapa orang yang
kaget menjerit panjang. Aswarani berdiri dengan kedua
kaki merapat, tapi satu tangannya masih terulur ke
depan, sedang tangan yang satunya merapat di dada.
Dewa Loreng tidak terdengar suaranya. Nyala api
menyambar seluruh pakaiannya. Dadanya berlubang
bekas hantaman sinar merah tadi. Rupanya Dewa Loreng
tak diberi kesempatan menunjukkan ilmunya di depan
Aswarani. Ia bagaikan disambar petir yang membuatnya
tersentak kaku, kemudian rubuh dalam keadaan tubuh
terbakar dan sudah tak bernyawa.
Suasana malam menjadi terang karena kobaran api
yang membakar tubuh Dewa Loreng. Orang-orang
sempat menyerukan sorak kemenangan. Rupanya
mereka senang melihat kematian Dewa Loreng yang
selalu meresahkan hati mereka, terutama yang
mempunyai anak perawan.
Suto Sinting geleng-geleng kepala. Hatinya
membatin, "Cepat sekali gerakannya, ganas sekali
ilmunya. Rupanya ia tidak mau membuang-buang
waktu. Bahaya juga perempuan itu. Siapa yang
melawannya tidak diberi kesempatan untuk bertobat.
Tapi... biarlah, memang ada baiknya Dewa Loreng
menemui ajalnya sekarang juga daripada menimbulkan
korban lebih banyak lagi."
Suto Sinting sebenarnya ingin menghadapi Dewa
Loreng dengan cara tidak seganas Aswarani. Setidaknya
ia ingin menanyakan tentang Dinada yang menurut
dugaan pemilik kedai tersesat di hutan dan tertangkap
Dewa Loreng. Tapi melihat perbuatan Dewa Loreng
malam itu yang mencuri anak perawan, berarti Dinada
tidak jatuh ke tangan Dewa Loreng. Sebab seandainya
Dinada tertangkap Dewa Loreng, tentunya orang
berbadan besar itu tidak akan mencari mangsa pada
malam itu. Setidaknya ia akan sibuk dengan Dinada.
Suto Sinting melangkah masuk ke kedai lebih dulu.
Beberapa saat kemudian Aswarani menyusul masuk
didampingi oleh pemilik kedai yang berceloteh memuji
kehebatan Aswarani.
"Terlalu ganas kau menghadapi Dewa Loreng," kata
Suto Sinting setelah Aswarani berdiri di depannya.
"Tak ada keramahan buat lelaki yang doyan
memperkosa. Tak ada keramahan juga buat perempuan
yang suka merebut kekasih orang. Aku tak pernah
memberi kesempatan kepada mereka untuk
memamerkan jurusnya. Muak sekali aku melihat orang-
orang seperti itu!"
Suto Sinting tersenyum sambil angkat bahu.
Aswarani menambahkan kata, "Demikian juga apabila
kau bermaksud mempermainkan hatiku, nasibmu akan
sama dengan Dewa Loreng."
Suto Sinting berkerut dahi. "Apa maksudmu bilang
begitu?"
Perempuan itu memandang Pendekar Mabuk,
kemudian menarik napas panjang. "Tidak apa-apa,"
ujarnya dengan suara lunak. "Aku hanya
memperingatkan kau agar jangan mempermainkan
hatiku."
"Apakah kau pikir aku akan mempermainkan
hatimu?"
"Kalau aku terpikat olehmu dan kau menolakku, sama
saja kau mempermainkan hatiku."
Pendekar Mabuk tertawa pendek. "Apakah hatimu
terpikat olehku?"
"Belum. Tapi mungkin nanti akan begitu, atau tidak
sama sekali! Tergantung bagaimana sikapmu padaku.
Kalau kau memusuhiku, maka kau pun akan seperti
Dewa Loreng. Karena itu, kuingatkan sebelumnya
padamu agar jangan coba-coba menantangku!"
Hanya tawa kecil yang bisa keluar dari mulut
Pendekar Mabuk. Kepalanya sempat geleng-geleng
karena heran terhadap sikap perempuan itu.
"Apakah aku harus menuruti hatimu kalau hatimu
terpikat olehku?"
"Semua orang harus tunduk padaku!"
"Wah, kalau sudah begini lain lagi persoalannya.
Bisa-bisa kau berhadapan denganku, Aswarani!"
"Boleh. Kapan kau ingin berhadapan denganku?!"
katanya penuh nada menantang.
Suto Sinting buru-buru melunakkan sikap dengan
senyum. "Menantang apa dulu? Pertarungan yang
bagaimana dulu? Yang hangat atau yang keras?"
Aswarani segera sadar sedang digoda oleh Pendekar
Mabuk. Akhirnya ia mengendurkan ketegangannya. Tapi
dalam hati Pendekar Mabuk sempat membatin,
"Sepertinya dia tak mau dikalahkan oleh siapa pun.
Kalau dia tetap bersikap seperti itu, bisa-bisa dia akan
menguasaiku. Jika benar dia bermaksud begitu, maka tak
ada jalan lain kecuali melakukan pertarungan berdarah
antara dia dan aku! Tapi... apakah aku tega bertarung
dengan perempuan secantik dia?"
Aswarani masuk ke kamar, sementara Suto diam di
bangku tempatnya makan tadi. Ia ditemani oleh pemilik
kedai yang menceritakan tentang kekejaman Dewa
Loreng.
Beberapa saat kemudian Aswarani keluar dari kamar,
ia berseru memanggil Suto dari depan kamar yang bisa
terlihat melalui pintu dapur.
Suto Sinting membiarkan panggilan itu karena masih
belum selesai mendengarkan cerita pemilik kedai.
Aswarani jengkel dan menghampirinya sambil
memasang wajah galak.
"Aku memanggilmu, apakah kau tuli tak mendengar
panggilanku? Atau memang tak mau datang padaku?"
Suto Sinting memandang kalem, ucapannya juga
terdengar kalem, namun cukup mengena di hati
Aswarani.
"Kau pikir aku ini apamu sehingga harus taat dengan
panggilanmu? Mengapa kau jadi bersikap begitu
padaku?"
Aswarani diam sebentar dan menarik napas.
Ketegangannya dikendurkan. Kemudian ia bicara
dengan nada pelan.
"Maaf, aku belum puas dengan pertarungan tadi!
Mestinya Dewa Loreng tidak sendirian. Jadi aku bisa
membantai kawanannya hingga hatiku puas! Kalau
sudah telanjur marah begini, rasa-rasanya belum puas
jika belum membunuh tiga-empat orang lagi."
Suto berkerut dahi dan membatin, "Wah, gawat!
Jangan-jangan perempuan ini punya penyakit kejiwaan
yang gemar membunuh orang?! Salah-salah aku pun
akan dibunuhnya kalau terlalu dekat dengannya.
Sebaiknya esok aku pergi sendiri tak perlu bersamanya.
Aku yakin, orang seperti dia banyak musuhnya!"
*
* *
5
TERNYATA rencana Suto tak bisa terlaksana.
Aswarani bangun lebih dahulu pada pagi harinya. Maka
ketika Suto pamit kepada Pak Tua pemilik kedai,
Aswarani pun ikut pamit juga. Mau tak mau mereka
berdua keluar dari kedai bersama.
Suto Sinting tak berani melarang Aswarani agar
jangan bersamanya, ia takut menyinggung perasaan
perempuan itu dan membuat si perempuan menjadi
ganas, sehingga bisa menimbulkan korban tak bersalah.
Bahkan untuk berbohong dengan mengatakan tak jadi
pergi ke Tanjung Samudera pun Suto tak berani, karena
ia tahu perasaan perempuan itu cukup peka dan mampu
melihat rasa tidak suka Suto kepadanya. Akibatnya
Pendekar Mabuk pasrah kepada keadaan dan melangkah
bersama Aswarani.
"Mudah-mudahan Dinada juga menuju ke Tanjung
Samudera, jadi aku bisa bertemu dengannya di sana,"
pikir Suto masih ingat kepada gadis peniup seruling itu.
"Dari mana asalmu, Aswarani?!" tanya Suto dalam
perjalanan.
"Yang kau maksud kelahiranku atau perguruanku?"
"Perguruanmu!" jawab Suto tegas.
"Aku dari Perguruan Bukit Kasmaran."
Suto Sinting terkejut. Langkahnya terhenti sambil
menatap Aswarani.
"Kenapa kau terkejut?"
"Kalau begitu kau kenal dengan Dinada?"
"O, ya! Aku sangat kenal."
"Juga kepada ketua perguruan yang sekarang?"
"Siapa?!" Aswarani berkerut dahi.
"Hmmm... kalau tak salah ingatanku Dinada pernah
bilang bahwa Ketua Perguruan Bukit Kasmaran adalah
Pancasurti yang berjuluk si Merak Cabul."
Aswarani tersenyum, Suto Sinting merasakan senyum
itu punya arti tersendiri.
"Ya. Aku kenal dengannya. Sebaiknya kau tak perlu
bicarakan soal dia."
"Kenapa kau tak suka membicarakan tentang Merak
Cabul?"
Pertanyaan itu belum terjawab, tiba-tiba mereka
dihadang oleh kemunculan dua orang berambut panjang
dengan wajah sama-sama angker. Dua orang berbadan
kurus dan bermata kecil menandakan kekejiannya itu,
masing-masing menggenggam senjata tombak berujung
pedang besar dengan pita merah rumbai-rumbai sebagai
hiasan di pangkal pedang. Sikap mereka jelas tak
bersahabat, sehingga Suto Sinting langsung menaruh
curiga adanya ketidakberesan pada dua penghadang
tersebut.
"Siapa kalian ini?!" hardik Aswarani lebih dulu.
"Kami tidak punya urusan denganmu, Perempuan
jalang!" kata yang berbaju hitam.
Yang berbaju merah menimpali, "Urusan kami
dengan pemuda kacangan itu!" sambil menuding
Pendekar Mabuk.
Aswarani memandang Suto Sinting dengan dahi
sedikit berkerut. Suto Sinting malah berkerut dahi lebih
tajam lagi.
"Aku merasa tidak mengenal mereka," ucapnya pelan
seakan ditujukan pada diri sendiri. Tapi Aswarani
mendengarnya dan langsung berkata,
"Tenang saja. Biar kuurus mereka!"
"Tidak. Biar aku saja!" kata Suto sambil bergegas
maju di depan Aswarani. Perempuan itu bergeser ke sisi
lain dan berdiri dengan kedua kaki sedikit merenggang,
kedua tangan bersidekap di dada. Matanya tertuju tajam
pada kedua orang berambut panjang yang rata-rata
berusia sekitar empat puluh empat tahun.
"Maaf, aku tidak mengenal siapa kalian, mengapa
kalian punya urusan denganku?" kata Suto dengan nada
kalem.
"O, jadi kau ingin kenal kami?! Tentunya kau masih
ingat Penguasa Teluk Neraka yang kau bunuh demi putri
Adipati Jayengrana?!"
"Penguasa Teluk Neraka?!" gumam Suto Sinting
yang segera ingat peristiwa itu, (Baca serial Pendekar
Mabuk dalam episdoe: "Sawan Pengantin").
"Aku Gundaraka, adik kedua Penguasa Teluk Neraka,
dan ini adikku: Sancawisa."
"Kami menuntut balas atas kematian kakak kami!
Kudengar kaulah pembunuhnya; karena bumbung tuak
dan ketampanan wajahmu membuat kami yakin bahwa
kau adalah Pendekar Mabuk, murid si Gila Tuak itu!"
"Ya, memang benar. Aku yang membunuh Penguasa
Teluk Neraka itu, tapi aku punya alasan kuat. Semua
kulakukan dengan sangat terpaksa dan..."
"Jangan banyak mulut!" bentak Gundaraka. "Hutang
nyawa harus dibayar dengan nyawa!"
Sancawisa menggeram, "Sudah saatnya dendam kami
tercurahkan! Terima saja ajalmu di tangan kami!
Hiaaat...!"
Sancawisa bergerak dengan senjatanya mulai
disabetkan ke tubuh Suto Sinting. Tetapi tiba-tiba
Aswarani bergerak lebih cepat. Wess...! Tahu-tahu sudah
ada di depan Suto Sinting, seakan jadi perisai Pendekar
Mabuk itu.
Senjata tombak berujung pedang lebar itu ditangkap
dengan kedua tangan dalam keadaan miring. Zrabb...!
Kedua telapak menjepit tangan mata pedang, lalu
disentakkan ke bawah.
Trakk...!
Satu kali sentakan mata pedang yang terbuat dari besi
baja mengkilat itu patah menjadi dua bagian.
Gundaraka tak mau tunggu lama-lama. Saat Aswarani
mematahkan mata pedangnya Sancawisa, ia
menyabetkan senjata dari arah samping. Wess...! Srett...!
Pinggang Aswarani terkena sabetan itu. Tapi ternyata
pinggang tersebut tidak mengalami luka sedikit pun.
Bahkan kain jubah Aswarani tidak robek selembar
benang pun.
Suto Sinting terbelalak kagum. "Oh, tinggi juga ilmu
Aswarani itu?! Pantas dia berani tampil menghadapi dua
orang ini? O, ya... aku tahu dia ingin unjuk kesaktian di
depanku. Hmmm... biarlah dulu dia puas unjuk
kesaktian. Mungkin nanti akan dipakai untuk
menggertakku. Sebaiknya kutunggu saja dari bawah
pohon ini."
Belum selesai hati Pendekar Mabuk berkecamuk, dua
orang yang mengaku adik Penguasa Teluk Neraka itu
sudah dibuat tak berkutik oleh Aswarani. Satu lompatan
ke atas membuat Aswarani menyentakkan kedua
tangannya. Dari kedua tangan yang menghentak silih
berganti itu melesat sinar merah lurus, masing-masing
menghantam tubuh Gundaraka dan Sancawisa.
Slapp... slapp...!
Duarr...! Darrr...!
"Aaaaahh...!" Gundaraka menjerit sambil terpelanting
jatuh, sedangkan Sancawisa tidak sempat berteriak
karena kepalanya hancur oleh sinar merahnya Aswarani.
Gundaraka masih menggelepar di tanah karena
dadanya terkena sinar merah tadi, bukan hanya terbakar
hangus, tapi juga berlubang besar. Dada itu pecah tepat
di bagian sebelah kanan. Kejap berikutnya Gundaraka
tidak berkutik lagi. Ia menghembuskan napas terakhir
setelah mengejang sampai perutnya naik ke atas. Begitu
perut terhempas turun, napas pun lepas bersamanya.
"Gerakannya begitu cepat dan tepat pada sasaran!"
pikir Suto Sinting. "Kurasa Penguasa Teluk Neraka
sendiri seandainya masih hidup dan melawan Aswarani
akan tumbang dalam waktu sekejap."
Wajah perempuan itu menegang. Nafsu
membunuhnya masih terlihat membayang melalui
pandangan mata dan helaan napasnya, ia seperti merasa
belum puas dengan hanya membunuh dua orang. Suto
Sinting mulai paham akan hal itu, maka ia pun segera
bicara menenangkan Aswarani.
"Hebat! Hebat sekali gerakanmu. Sangat mematikan.
Kurasa biar sepuluh orang seperti mereka, akan hancur
dalam satu-dua jurus olehmu! Aku sangat kagum dengan
gerakan jurusmu, Aswarani!"
Tampak napas perempuan itu dihempaskan panjang-
panjang. Raut wajahnya memperlihatkan perasaan lega
dan puas. Bahkan senyumnya sempat mekar walau
hanya seulas.
"O, dia ingin dipuji?!" pikir Suto.
Dengan wajah ceria, Aswarani menyingkapkan anak
rambut yang meriap di keningnya. Gelang perhiasan
yang dipakai di kedua tangannya itu gemerincing bagai
irama kelegaan hatinya.
"Tak kubiarkan siapa pun menantangmu."
Suto mulai menangkap makna kata yang punya
tujuan sangat pribadi. Tapi ia berlagak tak mengerti
maksud Aswarani, sehingga yang terlontar hanyalah
ucapan terima kasihnya.
"Terima kasih, kau telah menyelamatkan nyawaku.
Kalau tidak ada kau, mungkin aku mati dihajar mereka
berdua. Setidaknya babak belur dan terluka parah oleh
serangan mereka."
Suto yakin, dengan kata-kata seperti itu Aswarani
akan semakin bangga dan lebih ceria lagi. Terbukti
senyumnya mekar dengan sangat manis dan
mencerminkan keriangan hatinya. Bandul di kalungnya
yang berhias batuan hijau bening itu segera dibetulkan
letaknya. Aswarani mendekati Suto Sinting dan berkata
dengan mata memandang sedikit sayu.
"Kita lanjutkan perjalanan atau beristirahat di semak-
semak sebentar?"
"Hmmm... ehh... terus saja. Aku ingin lekas sampai di
Tanjung Samudera," kata Suto Sinting sambil
mengawali langkahnya. Aswarani terpaksa mengikuti
langkah itu, walaupun Suto tahu hati perempuan itu
memendam rasa kecewa karena Suto memilih
meneruskan perjalanan.
Belum ada seratus langkah, tiba-tiba seberkas sinar
biru bintik-bintik melesat dari arah lereng bukit yang ada
di samping mereka.
Clappp...!
"Aswarani, minggir!" teriak Suto Sinting sambil
lompat ke arah datangnya sinar biru bintik-bintik itu.
Bumbung tuaknya segera dihadangkan untuk menangkis
sinar tersebut.
Jrabb...! Wusss. .!
Sinar itu memantul balik lebih cepat dan lebih besar
dari aslinya setelah menghantam bumbung tuak. Kejap
berikutnya terdengar suara ledakan menggelegar.
Jlegarr...!
Tiga batang pohon besar-besar bukan hanya tumbang
namun lenyap dan menjadi serbuk halus, tak bisa terlihat
oleh mata lagi. Aswarani tampak tertegun memandangi
kejadian tersebut.
Mereka semakin tegang setelah mendengar suara
tawa cekikikan yang berkeliling bagaikan terbang di
udara.
"Hih, hih, hih, hih...!"
"Celaka! Dia datang lagi?!" gumam Suto Sinting.
Dalam benak Pendekar Mabuk segera terbayang wajah
tua keriput dengan bibir masuk ke dalam mulut. Wajah
itu tak lain adalah wajah Nini Kutang Katung.
Bayangan Pendekar Mabuk memang terbukti. Kejap
berikutnya muncul sesosok tubuh bongkok berjubah
abu-abu dengan tongkat hitam yang ujungnya mirip
garpu dua mata, runcing seperti ujung anak panah.
"Hmmm...! Rupanya kau yang bikin ulah, Nini
Kutang Katung!" kata Aswarani yang ternyata sudah
mengenal tokoh tua, gurunya Ratu Kelabang Setan.
"Hi, hi, hi, hi...! Aku senang sekali jumpa kau, Anak
muda!" kata Nini Kutang Katung kepada Suto Sinting.
Ucapan Aswarani bagai tidak digubris.
Aswarani bergerak maju. Namun kali ini Suto Sinting
yang menahan dengan mencekal pundak perempuan itu.
"Biar aku yang menangani! Dia agak berbahaya."
"Tapi dia...."
"Ganti kau yang melihat pertarunganku!" kata Suto
sengaja sedikit menyombongkan diri supaya Aswarani
tidak berhadapan dengan tokoh sakti itu. Sebab Suto
menyangsikan kekuatan Aswarani jika melawan Nini
Kutang Katung. Menurut perkiraan Pendekar Mabuk,
Aswarani tidak akan bisa menang jika melawan tokoh
tua yang satu ini.
"Aku ingin menebus kelancanganmu saat kita di
pantai itu, Anak bagus!" kata Nini Kutang Katung
kepada Suto Sinting. "Setelah itu aku akan membunuh
perempuan lacur itu!" ia menuding Aswarani.
Mendengar hal itu, Aswarani naik pitam dan siap-siap
melepaskan pukulan jarak jauhnya. Tapi Suto Sinting
berhasil menahannya dengan merentangkan tangan dan
berkata penuh ketenangan.
"Jangan terpancing dia! Tenang. Aku akan
menyelesaikan secepat mungkin."
Pendekar Mabuk berkata kepada nenek bongkok itu,
"Kalau kau masih penasaran padaku, kuharap kau jangan
menyesal jika aku sampai bertindak lebih parah dari saat
di pantai itu, Nini!"
"Hih, hih, hih, hih...! Tak perlu bicara begitu padaku,
Bocah bagus! Gertakanmu tidak akan membuat hatiku
goyah dan semangatku lemah. Perlu kau ketahui, bahwa
Raja Hantu sudah berhasil kubinasakan dan sekarang
tinggal namanya. Kalau kau ingin mencari mayatnya,
datanglah ke pantai tempat kita bertemu dulu."
"O, jadi pamannya Dinada sudah tewas di
tangannya?!" kata Suto dalam hati. "Kalau begitu
perempuan tua ini lebih berbahaya dari dugaanku. Aku
harus lebih hati-hati dalam melawannya."
Nini Kutang Katung menggerak-gerakkan mulutnya,
seperti sedang mengunyah robekan sarung. Suto
berfirasat, lawannya sedang membaca mantra. Maka ia
buru-buru menenggak tuaknya satu teguk.
"Bocah bagus, terimalah jurus 'Bumi Lokamurka'
ini!" ujar sang Nenek. Kemudian ia menghentakkan
tongkatnya ke tanah. Dugg...!
Werrrr...! Bumi bergetar. Tiba-tiba dari ujung tongkat
yang dihentakkan ke tanah itu mengeluarkan selarik
sinar merah sebesar lidi melesat ke pertengahan kaki
Pendekar Mabuk.
Srrapp...!
Sinar yang bagaikan menembus permukaan tanah itu
melesat dengan cepat, kemudian tanah tersebut menjadi
retak dan terbelah menjadi dua bagian.
Grrak...! Werrrr...!
Tanah berguncang hebat. Belahan tanah itu
merenggang lebar, sebagian ada yang longsor ke dalam.
Suto Sinting yang tak menduga akan terjadi hal seperti
itu akhirnya ikut terjeblos masuk ke dalam belahan
tanah.
Bruss...!
"Celaka...!" pekiknya dalam hati. Untung ia
menemukan gumpalan tanah agak keras. Kakinya
menjejak gumpalan tanah agak keras itu, wuttt...! Tu-
buhnya segera melenting ke udara, keluar dari keretakan
tanah.
Wukk, wukk...! Ia bersalto dua kali, lalu mendaratkan
kakinya di tanah yang masih utuh. Jlegg...!
Pada saat itu Suto melihat Aswarani terjungkal
karena goncangan tanah yang merekah itu. Namun
keadaan perempuan tersebut masih jauh dari keretakan
tanah. Suto Sinting segera bergerak ke arah lain dengan
menggunakan jurus 'Gerak Siluman'-nya.
Nini Kutang Katung kebingungan mencari Suto
Sinting, ia menggerutu dengan suara tuanya,
"Ke mana si setan ganteng tadi...?!"
"Aku di belakangmu, Nek!" jawab Suto dengan
tenang.
Begitu Nini Kutang Katung membalikkan badan
menghadap ke arah Suto, tangan Pendekar Mabuk segera
menghentak ke depan. Clappp...!
Sinar hijau keluar dari tangan Suto Sinting. Jurus
'Pukulan Guntur Perkasa' digunakan menghantam nenek
sakti itu. Sang Nenek segera mengibaskan tongkatnya
begitu melihat sinar hijau ke arahnya.
Wuttt...!
Duarr...! Tongkat itu patah dihantam sinar hijau.
Bahkan sinarnya masih menembus ke arah sasaran dan
tangan Nini Kutang Katung menahan dengan cara
menghadang memakai telapak tangannya. Jrabb...!
Wuussss...!
Tubuh tua itu terlempar delapan langkah ke belakang,
ia seperti daun kering yang dihembus badai. Jatuhnya
terjungkal beberapa kali, namun keadaan tubuhnya
masih utuh.
"Kuat sekali dia?!" pikir Pendekar Mabuk.
Biasanya lawan yang terkena pukulan 'Guntur
Perkasa' akan memar membiru pada bagian yang terkena
sinar hijau itu. Memar itu akan cepat membusuk, dan
akhirnya sekujur tubuh menjadi membusuk. Tetapi kali
ini agaknya lawan Suto cukup tangguh.
Tokoh tua itu hanya terbatuk-batuk dan
mengeluarkan dahak darah segar. Tangannya masih utuh
tanpa memar biru sedikit pun. Ini menandakan kekuatan
tenaga dalam yang melapisi tubuh Nini Kutang Katung
sangat tinggi. Pendekar Mabuk tidak cukup
menggunakan jurus 'Guntur Perkasa' saja. Harus
menggunakan jurus lain untuk menumbangkan nenek
bongkok itu.
"Sebaiknya kugunakan jurus 'Pecah Raga'. Apakah ia
masih mampu menahan jurus yang satu ini?" pikir
Pendekar Mabuk sambil melangkah ke sisi samping,
matanya memandang setiap gerakan Nini Kutang
Katung yang kebingungan melihat tongkatnya patah
menjadi dua bagian. Namun bagian yang berujung
seperti garpu runcing itu masih tergenggam di tangan
kanannya.
"Heaaah...!" Nini Kutang Katung angkat kedua
tangan dengan tongkat terbawa ke atas. Kedua tangan itu
gemetar. Angin panas mulai terasa samar-samar.
Kemudian debu putih mulai turun dari langit.
"Debu Neraka...?!" pikir Suto Sinting, langsung
teringat debu-debu putih yang mampu membakar setiap
benda yang tertaburi.
Pada saat yang sama, sekelebat bayangan melintas di
depan Pendekar Mabuk. Wuttt...! Jlegg...!
"Dinada...?!" seru Suto bagai tak sadar.
Gadis berjubah kuning itu langsung meniup
serulingnya. Tiupan seruling mendatangkan angin yang
berputar-putar semakin lama semakin cepat. Akibatnya
debu-debu putih itu tak jadi turun, melainkan menyebar
entah ke mana.
"Keparat kau, Mila...!!" geram Nini Kutang Katung
yang merasa jurusnya dikalahkan oleh seruling Dinada.
Ia segera menghentakkan sisa tongkatnya itu. Namun
sebelum ujung runcing tongkat itu keluarkan sinar biru
yang mampu bergerak membingungkan lawan itu,
Aswarani segera melesat dan menendang tangan Nini
Kutang Katung.
Plakk...! Wuttt...!
Tongkat itu terlepas dari genggaman, melesat terbang
dan jatuh di kedalaman semak belukar.
"Rasakan ini, hiih...!" Aswarani menghantamkan
telapak tangannya ke wajah Nini Kutang Katung. Tapi
telapak tangan sang Nenek juga segera menghantam
sehingga mereka beradu telapak tangan. Blarrr...!
Ledakan terjadi ketika tangan mereka beradu.
Ledakan itu membuat Nini Kutang Katung terlempar
lagi dan nyaris jatuh ke rongga tanah yang retak itu.
Sedangkan Aswarani hanya tersentak mundur tiga
tindak.
Tubuh Nini Kutang Katung mengepulkan asap bagai
terbakar bagian dalamnya. Napasnya pun mulai sulit
dihela. Menyadari keadaan seperti itu, Nini Kutang
Katung merasa perlu mundur sesaat untuk sembuhkan
luka dalamnya, ia pun segera melarikan diri tanpa pamit.
Lompatan cepat Nini Kutang Katung dikejar oleh
Aswarani yang bernafsu sekali membunuhnya.
Perempuan itu tak bisa merasa lega dan tenang jika nafsu
membunuhnya sudah sampai ke ubun-ubun tapi
lawannya belum terbunuh.
"Sampai di mana pun akan kukejar kau, Kutang
Katung!!" teriak Aswarani sambil berkelebat cepat.
"Tunggu...!" teriak Dinada, kemudian mengejar
Aswarani. Tapi Suto Sinting bergerak lebih cepat dengan
jurus 'Gerak Siluman'-nya itu.
Zlappp...!
Tahu-tahu ia sudah ada di depan Dinada, menahan
gerakan gadis yang kemarin terpisah darinya itu.
"Tahan. Tak perlu kau kejar, biar diselesaikan oleh
Aswarani!"
"Minggir kau!" bentak Dinada. Ia berusaha lolos dari
hadangan Suto Sinting, namun hal itu sulit dilakukan
karena Suto selalu merintanginya.
"Dinada, tenanglah dulu! Ada berita bagus untuk
dirimu tentang pamanmu; si Raja Hantu itu!"
"Aku akan mengejarnya dulu! Minggir, Suto...!"
"Hei, sabar! Nenek itu tak akan lepas dari kejaran
Aswarani!"
"Bodoh!" sentak Dinada dengan cemberut. Kemudian
ia melemas karena merasa sudah tertinggal jauh, tak
mungkin terkejar lagi. Dinada duduk di atas sebuah batu,
di bawah pohon teduh. Wajahnya cemberut dan tak mau
memandang Suto Sinting.
"Lagak manjanya mulai keluar lagi," gumam Suto
dalam hati. Ia hanya tersenyum tipis lalu mendekati
Dinada pelan-pelan.
"Dari mana saja kau, Dinada?! Mengapa sampai
terpisah dariku?!"
Dinada diam saja. Mulutnya masih meruncing.
Sesekali ia mendesis dengan tangan mengepal kuat
pertanda menahan kejengkelan.
"Aku tak sengaja meninggalkan kau, Dinada. Jangan
marah padaku. Aku sudah mencoba mencarimu keluar-
masuk hutan itu, tapi kau tidak kutemukan. Bahkan aku
memanggilmu berulang-ulang, tapi tak kudengar
jawabanmu. Jangan salahkan aku, Dinada."
"Kau memang bodoh!" sentak Dinada lagi mirip
gadis manja.
"Baiklah. Kuakui kebodohanku. Aku berjanji lain kali
tak akan meninggalkanmu, kecuali aku pamit pergi
memisahkan diri."
"Bukan soal itu!"
Pendekar Mabuk berkerut dahi sambil tersenyum.
"Maksudmu bagaimana, Nona manis?" bujuk Suto.
"Kau telah melakukan hal yang paling bodoh tentang
perempuan itu!"
"Aswarani itu, maksudmu?!"
"Iya!" bentak Dinada dan bibirnya yang mungil
menggemaskan meruncing kembali.
Suto Sinting tertawa pelan. "Tentang Aswarani aku
tidak punya perasaan apa-apa. Aku bertemu dengannya
di kedai. Lalu, kami sama-sama ingin pergi ke Tanjung
Samudera. Hubunganku hanya sebatas teman biasa. Kau
jangan cemburu dulu, Dinada. Kalau saja..."
"Aku tidak mencemburuimu!" potong Dinada dengan
ketus. "Aku hanya menyesali tindakan bodohmu!"
"Di mana letak kebodohanku?"
"Membiarkan dia pergi mengejar Nini Kutang
Katung!"
"Ooo...," Suto Sinting manggut-manggut. "Jadi
mentang-mentang dia orang Perguruan Bukit Kasmaran,
lantas kau menganggap aku harus mendampinginya terus
sekalipun mengejar Nini Kutang Katung?!"
"Bukan itu maksudkuuu...!!" Dinada tampak gemas
sekali.
Pendekar Mabuk kian heran. "Jadi apa maksudmu
sebenarnya, Dinada?!"
"Aswarani adalah nama aslinya, ia menggunakan
nama julukan: Anak Petir!"
"Hahh...?!" Suto Sinting terkejut bukan kepalang.
"Ja... jadi dialah orang yang bernama Anak Petir?!"
"Iya! Apakah kau tidak melihat Gelang Naga Dewa di
tangan kanannya tadi?!"
"Hmmm... eehh... iya, memang aku melihat dia
memakai gelang, tapi bukan hanya satu. Tangan kanan
dan kiri memakai gelang, cincin, kalung, juga gelang
kaki."
"Yang terbuat dari perunggu, berbentuk naga
melingkar dua kali, dengan mata naga berwarna merah
delima, bukankah itu pusaka Gelang Naga Dewa?!"
"Ya ampuun...! Mana kutahu, aku belum pernah
melihat Gelang Naga Dewa dan kau tak pernah
menceritakan ciri-ciri bentuk gelang pusaka itu. Ak...
aku.... Oh, sial!"
Pendekar Mabuk menepuk kepalanya sendiri, ia
berjalan mondar-mandir dengan gusar.
"Dari dulu yang bernama Anak Petir itu kusangka-
lelaki! Aku tak pernah menyangka kalau si Anak Petir
adalah julukan yang dipakai seorang perempuan. Dan...
dan lagi tak pernah ada yang menjelaskan padaku bahwa
Anak Petir itu seorang perempuan. Mungkin mereka
sangka aku sudah tahu hal itu!"
"Lalu, bagaimana kalau sudah begini?!" sentak
Dinada, dan Suto Sinting hanya bisa tertegun bingung
sendiri.
*
* *
6
ANAK mendiang Nyai Guntur Ayu itu ternyata
seorang perempuan, bukan seorang lelaki seperti yang
dibayangkan Suto sejak mula pertama mendengar nama
Anak Petir. Baik Sumbaruni, Bulan Sekuntum, Untari,
dan yang lainnya menyebut-nyebut nama Anak Petir di
depan Suto Sinting. Tetapi tidak ada satu pun yang
menjelaskan bahwa ia seorang lelaki atau perempuan.
Hanya kesimpulan dalam bayangan Suto sendiri yang
menganggap Anak Petir adalah seorang lelaki.
Tentu saja Suto tidak menaruh kecurigaan apa pun
ketika bertemu dengan Aswarani di kedai. Bahkan ketika
melihat Aswarani kebal oleh senjata Sancawisa,
Pendekar Mabuk hanya menganggap biasa saja. Tidak
mempunyai dugaan bahwa kekebalan tubuh itu
dikarenakan Aswarani mengenakan Gelang Naga Dewa.
Juga ketika Suto melihat perhiasan yang dikenakan
Aswarani, tak sedikit pun punya kecurigaan bahwa salah
satu gelang tersebut adalah gelang pusaka yang sedang
diperebutkan beberapa orang.
Pendekar Mabuk merasa seperti ditipu mentah-
mentah oleh Aswarani. Padahal yang menipu adalah
anggapannya sendiri. Jika ia tahu bahwa Aswarani
adalah orang yang bernama Anak Petir, tentu saja sudah
dilumpuhkan sejak pertemuan di kedai.
"Aku yakin Anak Petir tidak bermaksud lari begitu
melihatku," kata Dinada dalam perjalanan mengejar
Aswarani dan Nini Kutang Katung. Sambungnya lagi,
"Untuk apa dia lari karena kedatanganku? Dia tidak
akan takut kepadaku, juga kepada siapa saja. Sebab dia
sudah punya pusaka andalan di tangannya."
"Dia memang hebat, kulihat sendiri gerakannya
dalam melawan Dewa Loreng dan kedua adik Penguasa
Teluk Neraka itu. Tapi sempat timbul rasa heranku
terhadap mendiang pamanmu yang kini telah terbunuh
oleh Nini Kutang Katung itu."
"Mengapa heran?"
"Pada waktu pertarungan pertama; bukankah Raja
Hantu sudah memegang Gelang Naga Dewa? Mengapa
ia tidak bisa tumbangkan Nini Kutang Katung, bahkan
gelang itu dititipkan kepadamu?"
"Tentu saja karena gelang itu baru diperoleh dari
pencuriannya. Gelang itu hanya akan berguna jika
pemakainya sudah lakukan puasa selama tujuh hari
sambil memakai gelang tersebut. Jika belum lakukan
puasa selama tujuh hari, gelang itu tidak bedanya dengan
gelang biasa bagi pemakainya."
"Apakah gelang itu sudah ada tujuh hari di tangan
Anak Petir?"
"Lebih," jawab Dinada cepat. "Tentunya sudah
dipuasai oleh Aswarani."
Percakapan demi percakapan dilakukan sambil
memandang ke sana kemari, mencari suara pertarungan
yang terjadi antara Nini Kutang Katung dan Aswarani.
Tetapi suara pertarungan itu tidak mereka dengar, gerak
bayangan orang berlari pun tidak mereka lihat.
Dinada hampir putus asa. Hatinya kesal
membayangkan kebodohan Pendekar Mabuk. Untung
pendekar tampan itu pandai menghibur hatinya,
sehingga semangat yang nyaris sirna itu mampu
terangkat lagi. Sampai pada akhirnya mereka mendengar
suara ledakan menggelegar di arah selatan.
"Mungkin itu pertarungan mereka!" kata Dinada
dengan semangat penuh.
"Kita harus cepat ke sana sebelum Aswarani
menghilang lagi!" Suto mendului bergerak ke arah
selatan.
Di bawah kaki bukit itu, sebidang tanah bergunduk-
gunduk menjadi tempat pertarungan dua tokoh berilmu
cukup tinggi. Namun di sisi lain, Suto Sinting dan
Dinada melihat sesosok mayat tergeletak dengan luka di
bagian perut. Isi perutnya berhamburan keluar.
Dinada berkerut dahi dan berbisik kepada Suto,
"Mayat siapa itu?"
Suto masih ingat sosok lelaki kurus bertampang
tengil sok berani. Rambutnya panjang tipis diikat dengan
kain warna coklat muda. Lelaki itu memakai pakaian
serba hitam yang sekarang basah oleh darah. Orang yang
sekarang sudah menjadi mayat itu tak lain adalah
Mandor Gangsing, anak buah Ki Lurah Tunggoro.
Mandor Gangsing dan Gaung Cablak pernah
diperintahkan untuk membawa pulang Bulan Sekuntum,
karena Ki Lurah Tunggoro ingin mengawini Bulan
Sekuntum. Tapi pada waktu itu Bulan Sekuntum berhasil
melumpuhkan Gaung Cablak yang bertubuh tinggi besar
itu, hanya saja Suto Sinting segera menolong Gaung
Cablak dengan tuaknya, lalu diperingatkan agar jangan
berani-berani mengganggu Bulan Sekuntum lagi, (Baca
serial Pendekar Mabuk dalam episode: "Keranda
Hitam").
Dan kini yang ada di pertarungan bukan Aswarani
melawan Nini Kutang Katung, melainkan Bulan
Sekuntum melawan seorang lelaki berkumis lebat
berusia sekitar empat puluh lima tahun, mengenakan
pakaian rapi warna hijau berkrah leher tegak. Ketika
Suto Sinting menjelaskan kepada Dinada tentang mayat
itu, Dinada segera terperanjat dan berkata,
"Oh, ya... aku baru ingat. Kalau begitu lelaki yang
berpakaian hijau dengan senjata keris itu adalah Ki
Lurah Tunggoro."
"Kau kenal dengannya?"
"Aku hanya tahu namanya dan pernah jumpa sekali.
Dia adalah adik bungsu dari kesebelas saudara mendiang
Guru Nyai Guntur Ayu."
"Jika begitu benar kata Bulan Sekuntum, bahwa Anak
Petir adalah keponakan dari Ki Lurah Tunggoro."
"Lalu pertarungan ini apakah karena Gelang Naga
Dewa?"
"Kurasa ini pertarungan pribadi. Ki Lurah Tunggoro
sakit hati lamarannya ditolak oleh Bulan Sekuntum dan
bikin perhitungan sendiri."
"Kita harus membantu Bulan Sekuntum!" kata
Dinada penuh semangat.
"Jangan. Biarkan Bulan Sekuntum menunjukkan
harga dirinya di depan Lurah Tunggoro. Kecuali jika ia
dalam bahaya kita selamatkan dengan segera." kata Suto
Sinting sambil bergeser ke tempat yang lebih enak
dipakai untuk menyembunyikan diri.
Bulan Sekuntum tampak masih tegar dan lincah.
Pedangnya dimainkan ke kanan-kiri sambil maju
mendekati Ki Lurah Tunggoro.
Sementara itu, Ki Lurah Tunggoro yang bersenjata
keris tanpa lengkung itu sedang mencari kesempatan
bagus untuk menyerang Bulan Sekuntum. Agaknya ia
tidak punya pilihan lain; daripada menanggung malu dan
sakit hati karena lamarannya ditolak Bulan Sekuntum,
lebih baik mengadu nyawa untuk menebus
kegagalannya.
Ki Lurah Tunggoro sempat berseru dalam
amarahnya, "Pantang bagiku ditolak oleh perempuan
macam kau, Bulan! Kematianmu adalah tebusan yang
setimpal untuk kelancanganmu menolak lamaranku.
Hiaaah...!"
Keris itu disentakkan ke depan dari jarak lima
langkah. Lalu seberkas sinar putih lurus melesat dari
ujung keris. Slappp...!
Sinar putih itu mengincar ulu hati Bulan Sekuntum.
Dengan menyalurkan tenaga dalam melalui pedangnya,
Bulan Sekuntum menghadang sinar putih tersebut.
Desss...! Sinar itu menghantam pertengahan pedang.
Bulan Sekuntum menahan dengan tubuh bergetar kaki
merendah, pandangan lurus ke arah lawan.
Sinar yang belum mau putus itu bagai memancarkan
kekuatan lebih besar lagi hingga tubuh Bulan Sekuntum
sedikit terdorong ke belakang. Namun tampaknya ia
masih mampu menahan desakan sinar putih tersebut.
Kejap berikut sinar putih itu warnanya berubah pelan-
pelan menjadi kemerah-merahan, dan akhirnya warna
merahnya menjadi terang. Pedang yang ditegakkan itu
mulai berasap. Bulan Sekuntum terdesak, tubuhnya
semakin bergetar kuat
Tiba-tiba ujung pedang Bulan Sekuntum keluarkan
sinar merah yang melesat ke arah tangan Ki Lurah
Tunggoro. Clappp...! Trak, duarrr...!
"Auh...! Setan!" Ki Lurah Tunggoro melompat ke
belakang sambil mengibaskan tangannya. Sinar merah
itu kenai genggaman Ki Lurah Tunggoro hingga
pecahkan gagang keris. Tangan itu sendiri segera
kepulkan asap tanda terbakar. Sementara kerisnya
terlempar jauh tanpa gagang lagi.
Ki Lurah Tunggoro segera keraskan semua urat-
uratnya, mengerahkan tenaga untuk melawan rasa panas
yang membakar tangannya.
Bulan Sekuntum sentakkan kaki dan melesat
menerjang Ki Lurah Tunggoro dengan pedangnya.
Wuuttt...!
Namun tiba-tiba Ki Lurah Tunggoro melemparkan
sesuatu dari tangan kirinya. Ternyata sinar hijau seperti
bola kecil yang diarahkan kepada Bulan Sekuntum.
Pedang pun dikibaskan untuk menangkis tenaga
dalam berbentuk sinar hijau itu. Wusss...! Dam...!
Ledakan tersebut membuat Bulan Sekuntum terpental
tak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya, ia jatuh
terguling-guling sampai dalam jarak tujuh langkah dari
tempatnya.
"Bulan Sekuntum terluka," bisik Dinada. "Lihat,
wajahnya mulai pucat dan kebiru-biruan! Kita harus
segera bertindak."
"Jangan dulu," cegah Suto. "Bulan masih mampu
bangkit, ia pasti akan menyerang kembali."
Tetapi tiba-tiba Ki Lurah Tunggoro mengangkat
kedua tangannya ke atas dalam keadaan telapak tangan
terbuka. Gerakan bertenaga penuh itu ternyata
menghasilkan kilatan cahaya petir yang melesat dari
langit dan menyambar-nyambar ke arah Bulan
Sekuntum.
"Dia gunakan jurus 'Geledek Murak'?!" kata Dinada
dengan suara menegang. "Itu tak boleh digunakan
kecuali orang Perguruan Bukit Kasmaran!"
"Dari mana dia peroleh jurus itu?"
"Entah. Mungkin dari Anak Petir. Yang jelas Guru
tidak pernah mengajarkan jurus itu kepada orang lain,
walaupun kepada adiknya sendiri! Kurang ajar! Pasti
jurus itu telah dijual oleh Anak Petir kepada pamannya,
entah dengan imbalan apa!"
Duarrr...! Blarrr...! Blegarrr...! Duarrr...!
Bulan Sekuntum dihujani puluhan petir, ia melompat
ke sana kemari hindari lidah petir yang menyalakan sinar
biru berkerilap itu.
Melihat Bulan Sekuntum terdesak, Dinada segera
mencabut serulingnya dan meniupnya dengan alunan
lembut namun suaranya melengking tinggi. Alunan
seruling itu menghadirkan angin kencang, dan angin itu
membawa kumpulan mega bergerak di atas mereka.
Mega-mega itu bagaikan menyekap kilatan cahaya petir,
sehingga serangan hujan petir itu terhenti seketika.
"Bangsat! Ada yang mau ikut campur rupanya!"
geram Ki Lurah Tunggoro, sambil teliganya menyimak
suara seruling.
Bulan Sekuntum yang terluka dalam itu juga mulai
memasang telinga dan memandang ke arah datangnya
suara seruling. Hatinya menggumam,
"Kurasakan kehadiran Milasi di sini! Hmm... dia
menolongku dengan serulingnya! Kesempatan ini tak
boleh disia-siakan."
"Aku tahu kau murid Guntur Ayu! Keluar dari
persembunyianmu, Bangsat!" teriak Ki Lurah Tunggoro,
lalu ia melepaskan pukulan jarak jauh ke arah
kerimbunan semak. Pukulan itu berupa sinar hijau
seperti yang dilepaskan untuk Bulan Sekuntum tadi.
Slappp...!
Bulan Sekuntum menjegal cahaya hijau tersebut
dengan sentakkan tangannya yang menghadirkan
gelombang berasap merah. Hal itu dilakukan setelah
melompat dan bersalto cepat menghadang sinar hijau.
Wusss...! Zrabbb...! Blegarr...! Sinar hijau pecah di
pertengahan jarak karena dibungkus pukulan berasap.
Tapi kejap berikutnya Bulan Sekuntum telah melesat
dengan berjungkir balik ke tanah menggunakan satu
tangannya. Tab, tab, tab, tab...!
Begitu cepat gerakan jungkir baliknya itu, tahu-tahu
ia sudah ada di depan Ki Lurah Tunggoro, dan
pedangnya berkelebat menyabet dari kanan ke kiri.
Wuttt...! Crrassss...!
"Aaahg...!" Ki Lurah Tunggoro tersentak kaku,
kepalanya terdongak, lehernya koyak karena sabetan
pedang Bulan Sekuntum.
Suara seruling berhenti. Dua orang di persembunyian
itu memandang tak berkedip ke arah Ki Lurah Tunggoro
yang mulai limbung. Bulan Sekuntum masih pegangi
pedangnya dan diam tak bergerak dalam keadaan habis
menebaskan pedang.
Brrukk...! Ki Lurah Tunggoro akhirnya tumbang, dan
Bulan Sekuntum melepaskan sikap diamnya, ia
menghempaskan napas lega sambil menarik pedang dari
gerakan semula. Matanya memandang lurus pada
lawannya yang sedang meregang nyawa.
"Bukan dia lawanmu, tapi aku...!"
Terdengar seruan dari balik pohon setelah terlihat
sekelebat bayangan melintas cepat. Ternyata Aswarani
baru saja datang dan ia melihat pamannya terkapar tak
berdaya. Bahkan saat Ki Lurah Tunggoro melepaskan
napasnya yang terakhir, Anak Petir itu sedang
menghampirinya.
"Bedebah kau!" geramnya kepada Bulan Sekuntum,
matanya memandang liar dan buas. "Kau telah
membunuh pamanku, kini aku yang harus mencabut
nyawamu, Bulan!"
"Kusiapkan nyawaku untuk menebus gelang itu!"
kata Bulan Sekuntum tak pernah merasa takut kepada
siapa pun.
Dinada dan Suto Sinting menjadi lebih tegang lagi.
"Itu dia...!" bisik Dinada. "Itu si Anak Petir yang kita
cari-cari!"
"Sekarang sudah waktunya kita muncul memihak
Bulan Sekuntum!"
"Tapi dia memakai Gelang Naga Dewa!" Dinada
menampakkan kecemasannya.
"Aku yang akan menghadapinya!" kata Pendekar
Mabuk dengan tegas tapi berkesan tenang, ia meneguk
tuaknya sesaat, kemudian melompat keluar dari balik
semak bersama-sama Dinada.
Suto berseru, "Bulan, mundurlah kau!"
Bulan Sekuntum kaget melihat Suto Sinting ada
bersama Dinada. Tapi hatinya menjadi tenang dan
keberaniannya bertambah. Sedangkan Aswarani segera
memandangi Pendekar Mabuk dengan mata masih
tampak buas dan ganas.
"Suto, menjauhlah dari Bulan agar kau tak menjadi
korban salah sasaran!"
"Justru aku yang akan menghadapimu, Anak Petir!"
kata Suto Sinting membuat Aswarani menyipitkan mata
memancarkan permusuhan.
"O, jadi si gadis laknat itu sudah menceritakan
padamu tentang siapa aku?!" sambil Aswarani menuding
Dinada.
Suto Sinting maju dengan tenang dan berkata,
"Semuanya sekarang sudah kuketahui, kaulah orang
yang kucari dan pernah membuat namaku hampir hilang
karena dianggap mati oleh kalangan dunia persilatan!
Kau punya urusan pribadi denganku, Anak Petir!"
"Baik! Kudengar kau pun juga menantang
pertarungan denganku. Semula aku ingin melupakan
tantangan itu, tak ingin melayaninya. Karena kupikir kau
pemuda yang layak dibelai, bukan layak dihancurkan.
Tapi karena sikapmu sudah tak mau bersahabat lagi
denganku, terpaksa kulayani tantanganmu. Sekarang, di
sini juga, kita awali pertarungan kita. Tunjukkan kepada
perempuan-perempuan itu bahwa kau mampu
mengungguli ilmuku! Tapi tentunya kau tahu bahwa
sekarang aku mengenakan Gelang Naga Dewa ini!"
Aswarani menunjukkan gelang yang dimaksud
dengan mengangkat tangan kirinya, ia menyambung
kata,
"Kau tak akan mampu kalahkan aku jika gelang ini
masih ada di tanganku, Suto!"
"Kusarankan, kembalikan gelang itu pada
pemiliknya!"
Anak Petir tertawa. "Hah, hah, hah, hah...! Kau mau
coba-coba memerintahku, Pendekar Mabuk?! Oh, jangan
harap ucapanmu bisa membuatku tunduk dan menuruti
perintahmu! Gelang ini adalah nyawaku. Kalau memang
kau inginkan gelang ini kembali kepada pemiliknya,
rebutlah dan pertaruhkan dengan nyawamu!"
Sebelum Pendekar Mabuk bergerak, tiba-tiba
terdengar suara dari arah belakang Aswarani.
"Anak Petir, akulah lawanmu!"
Seruan itu ternyata datang dari mulut perempuan
berjubah Jingga. Dia adalah Untari, atau si Ratu
Kelabang Setan, ia datang sambil memanggul sesosok
tubuh yang telah hangus. Sesosok tubuh hangus itu
dilemparkan ke depan Aswarani setelah jaraknya
mencapai empat langkah.
"Kau yang membunuh guruku ini!" sentak Untari.
"Aku tahu persis jurus yang membakar tubuh dengan
lubang besar di dada adalah milikmu, Anak Petir!"
"Tak salah dugaanmu. Memang aku yang membunuh
gurumu!" kata Aswarani dengan tegas.
Rupanya dalam pelariannya yang dikejar Sumbaruni,
Untari sempat bersembunyi dan mengobati lukanya.
Kemudian tempat persembunyian itu diketahui
Sumbaruni dan ia lakukan pertarungan dengan bekas
istri jin itu. Tapi ia terdesak dan lari lagi, Sumbaruni
mengejarnya kembali
Dalam pelariannya itulah ia temukan mayat gurunya
yang dalam keadaan dada berlubang serta hangus
sekujur badan, ia tahu hal itu adalah perbuatan Anak
Petir, karenanya ia mencari Anak Petir sambil
menghindari Sumbaruni. Ternyata ia temukan si Anak
Petir sedang berhadapan dengan Pendekar Mabuk.
Kemarahannya semakin meluap, nafsu untuk membunuh
Anak Petir kian berkobar karena ia tak ingin Suto
Sinting yang ingin dijadikan pasangan bercintanya itu
mendapat celaka dari si Anak Petir.
"Sekarang apa maumu, Untari?!" bentak Aswarani.
"Menghancurkan ragamu, Biadab!" geram Untari,
kemudian ia kerahkan tenaga dalamnya dengan
mengeraskan kedua tangan dan kaki merendah. Tangan
yang diangkat ke atas itu tiba-tiba menyentak ke depan
dan dua berkas sinar merah melesat menghantam dada
Aswarani yang sedang bertolak pinggang.
Wuttt...! Blarrr...!
"Hah, hah, hah, hah...!" Anak Petir tertawa seperti
seorang lelaki. Tubuhnya tak terluka sedikit pun. Hanya
dibungkus asap sekejap, lalu tampak utuh dan tetap
segar. Gelang Naga Dewa membuatnya kebal terhadap
pukulan tenaga dalam apa pun.
Hal itu membuat Suto Sinting berpikir mencari cara
untuk mengalahkan Aswarani. Sementara Untari lakukan
serangan lagi dengan jurus-jurus mautnya, di kejauhan
sana tampak seseorang berlari cepat bagai kilatan cahaya
ungu. Ternyata orang itu adalah Sumbaruni.
"Sumbaruni...!" seru Bulan Sekuntum. "Jangan
campuri dulu urusan mereka. Kita jadi penonton saja!"
"Aku setuju! Hmmm... kulihat gelang pusaka ratumu
ada di tangan Anak Petir. Itu pertanda naas telah tiba
bagi Untari!" kata Sumbaruni yang kemudian mendekati
Suto Sinting dan berbisik,
"Apakah kau ingin melawannya?!"
"Aku harus tumbangkan dia karena dua hal; peristiwa
di Tanjung Samudera dan merebut gelang pusaka itu
untuk dikembalikan kepada pemiliknya!"
"Lakukan dengan hati-hati. Tapi kalau kau terdesak
aku terpaksa ikut campur! Lumpuhkan dulu kekuatan
pada gelangnya!" bisik Sumbaruni, setelah itu bergabung
dengan Dinada serta Bulan Sekuntum di kejauhan sana.
Ratu Kelabang Setan kewalahan, karena semua jurus
andalannya tak bisa menumbangkan Aswarani. Bahkan
ia sempat menghadirkan seribu kelabang yang muncul
dari tanah dan menyerang kaki Aswarani. Namun
dengan sekali hentakkan kaki ke bumi, seluruh kelabang
itu musnah berasap meninggalkan bau tak sedap.
"Sudah puaskah kau menyerangku, hah?!" hardik
Aswarani.
"Tak akan puas sebelum kau mati menebus nyawa
guruku!" jawab Untari sambil bersiap melepaskan
pukulannya lagi.
"Dasar keparat bodoh kau! Hiaaat...!"
Aswarani berguling ke tanah satu kali, lalu begitu
bangkit tangannya keluarkan sinar biru. Clapp...! Sinar
biru itu melesat dan menghantam pinggang Untari.
Gerakan yang begitu cepat itu tak dapat dihindari
oleh Untari, sehingga ia tersentak kaget ketika sinar itu
menghantam pinggangnya.
Jrabb...! Blarrr...!
Ledakan itu membuat Untari terbuang jauh, lalu jatuh
dalam keadaan berselubung asap. Ketika asap menipis
dihembus angin, tubuh Untari sudah tak berbentuk lagi.
Pinggangnya pecah, sekujur tubuhnya hangus seperti
nasib Nini Kutang Katung. Tentu saja tak ada napas lagi
padanya.
"Lihat, Suto...!" kata Aswarani. "Betapa cepatnya
gerakanku, dan betapa dahsyatnya jurusku tadi. Maukah
kau seperti itu, Sayang?!"
"Kau tak akan bisa melakukan terhadap diriku!"
"Mulut besar! Kubuktikan sekarang juga! Hiaaah...!"
Clappp...! Sinar biru melesat menghantam Pendekar
Mabuk. Tapi bumbung tuak segera berkelebat ke depan
dan menghadang sinar biru itu.
Trabb...! Zlapp...!
Sinar itu membalik ke arah pemiliknya lebih cepat
dan lebih besar. Tapi Aswarani sudah pernah melihat
kehebatan bumbung itu, sehingga ia sudah menduga
akan terjadi hal demikian. Maka dengan satu kali
lompatan bersalto, ia lolos dari sinar baliknya itu.
Blegarrr...! Sinar itu menghantam pohon besar. Dua
pohon lenyap berubah menjadi debu.
"Kau boleh bangga dengan bumbung tuakmu, tapi tak
akan mampu menahan jurusku kali ini, haaah...!"
Claappp...! Sinar merah besar terlepas dari tangan
Aswarani. Suto Sinting menghadangnya lagi dengan
bumbung tuak, namun kali ini sinar tidak membalik arah
melainkan meledak di depan Suto.
Blegarrr....
Pendekar Mabuk terbang melambung ke udara.
Peristiwa itu pernah dialaminya ketika ia ingin
menyelamatkan Bulan Sekuntum dalam peristiwa
Keranda Hitam dulu. Kini keadaan Suto terkapar dengan
luka memar di sekujur tubuhnya. Semua yang
menyaksikan hal itu menjadi tegang dan cemas.
Namun kali ini Suto Sinting tak sampai pingsan, ia
segera menenggak tuaknya untuk menyembuhkan luka.
Sisa tuak masih ditampung di mulut.
Ketika itu, Anak Petir melompat dengan mencabut
pedangnya dari punggung. "Sekarang terbukti aku dapat
memenggal kepala Pendekar Mabuk! Hiaaah...!"
Suto Sinting sentakkan kaki ke bumi. Wuuttt...!
Tubuhnya melenting di udara cukup tinggi. Ketika
Aswarani menebaskan pedang di tempat kosong, Suto
Sinting semburkan tuak dari mulutnya.
Brrusss...!
Semburan itu tepat kenai Gelang Naga Dewa.
Tak ayal lagi, jurus 'Sembur Siluman' membuat
gelang itu lenyap dari tangan Anak Petir
"Celaka...?!" Anak Petir menjadi tegang. Matanya
mendelik lebar melihat Gelang Naga Dewa lenyap dari
tangannya.
Pada kesempatan itulah Suto Sinting yang sudah
mendaratkan kaki ke bumi segera melepaskan jurus
pukulan 'Pecah Raga' yang berupa sinar hijau dari
telapak tangannya. Clapp...!
Blegarrr...!
Anak Petir tak sempat menghindar lagi. Sinar hijau
itu menghantam perutnya dan ledakan menggelegar
terdengar begitu dahsyat. Bersamaan dengan itu, tubuh
si Anak Petir pun pecah menjadi serpihan kecil-kecil.
Terdengar suara tepuk tangan dari tiga perempuan
yang menyaksikan pertarungan tersebut. Wajah mereka
berseri-seri dan segera berlarian menghambur diri
mendekati Pendekar Mabuk. Mereka tampak ingin
memeluk Suto sebagai ungkapan rasa gembira mereka.
Suto Sinting kebingungan dan segera sentakkan
kakinya ke bumi lalu tubuhnya pun melenting di udara.
Wuuttt...!
Tebb...! Pendekar Mabuk hinggap di atas pohon tanpa
timbulkan gerakan sedikit pun pada dedaunan pohon itu.
Senyumnya mekar di sana dengan sangat menawan.
"Turunlah! Kenapa kau menghindar!" seru
Sumbaruni.
"Aku takut kalian peluk bertiga!"
Mereka tertawa. Bulan Sekuntum yang jarang tertawa
kali ini ikut tertawa Manis sekali, tapi sama nilai
kemanisannya dengan Dinada dan Sumbaruni.
"Tak ada yang ingin memelukmu! Jangan besar rasa
dulu!" seru Dinada sambil masih memegangi
serulingnya.
Suto Sinting pun segera lompat turun ke bawah
bagaikan seekor burung garuda menampakkan
keperkasaannya. Wuusss...! Jlegg...! Lalu, ketiga
perempuan itu mendekat. Ketiganya menyergap Suto
dalam pelukan.
"Mati aku kalau begini!" gumamnya dalam tawa.
Ketiga perempuan itu buru-buru sadar dengan apa
yang dilakukan.
"Terlalu jauh aku mengungkapkan rasa bahagiaku?!"
pikir Dinada yang segera mengundurkan diri dengan
malu.
"Oh, kenapa aku harus begini? Aku terbawa rasa
gembiraku yang berlebihan! Aduh, memalukan sekali!"
kata Bulan Sekuntum yang cepat-cepat melepaskan
pelukan dan mundur tiga langkah.
Sumbaruni pun berkata, "Ya, ampuun... hangat sekali
tubuhnya. Tapi, tidak begini cara menuangkan
kebanggaanku. Ah, seperti perempuan murahan saja aku
ini," lalu Sumbaruni lepaskan pelukan dan menjauh tiga
langkah juga.
Pendekar Mabuk lepaskan napas lega. Ketiga
perempuan itu saling menyembunyikan senyum sebagai
ungkapan rasa malu.
"Selamat, kau berhasil menumbangkan angkara
murka, Suto," kata Dinada dengan suara pelan dan
senyum menawan.
"Lalu bagaimana dengan gelang pusaka itu?" tanya
Sumbaruni.
"Seperti janjiku, harus dikembalikan kepada
pemiliknya; Ratu Dewi Giok!"
"Jelmakan kembali gelang itu," ujar Bulan Sekuntum.
"Jangan sampai lupa seperti saat kau menyembur
pedangku. Hampir saja kau lupa menjelmakan kembali
kalau tidak kutegur sebelum keluar dari kedai!"
Pendekar Mabuk tertawa kecil ingat peristiwa itu.
Kemudian ia berkata, "Tidak akan kujelmakan di sini.
Kalau ada tokoh jahat lain yang menghendaki bisa jadi
bahan rebutan lagi. Sebaiknya antarkan aku menghadap
Ratu Dewi Giok, Gelang Naga Dewa akan kujelmakan
di sana! Langsung kuserahkan kepada beliau!"
"Aku harus ikut!" sergah Sumbaruni.
"Kenapa kau ngotot sekali kelihatannya?"
"Siapa tahu kau main mata dengan sang Ratu!"
Bulan Sekuntum hanya mencibir lalu melengos, Suto
Sinting tersenyum kian lebar, ia memaklumi
kecemburuan itu, sebab ia tahu Sumbaruni sebenarnya
sangat mencintainya. Sekalipun sudah ditolak namun
tetap nekat. Suto hanya bisa angkat bahu, kemudian
mereka berempat pergi ke Istana Tanjung Samudera.
Dengan jurus yang bernama 'Jelma Siluman', pusaka
Gelang Naga Dewa itu diwujudkan kembali oleh
Pendekar Mabuk di depan Ratu Dewi Giok, kemudian
diserahkan kepada sang Ratu. Mata indah sang Ratu
memandangi Pendekar Mabuk dengan penuh rasa
kagum. Sumbaruni tampak masam menyembunyikan
kecemburuannya. Suto Sinting hanya tersenyum-senyum
sambil melengos ke arah lain.
SELESAI