--> -->

Serial Pendekar Mabuk 53 Titisan Dewa Pelebur Teluh

KAKI Gunung Tunggir yang biasanya dilanda
sunyi, kali ini dihiasi dengan suara-suara aneh. Hem-
busan angin yang menuju ke barat membawa gelom-
bang suara aneh terasa janggal bagi telinga seorang
pemuda berambut lurus sebatas pundak tanpa ikat

kepala. Pemuda yang menyandang bumbung tuak di
punggungnya itu hentikan langkah sejenak kala telin-
ganya menangkap suara aneh tersebut.
"Suara apa itu sebenarnya? Seperti suara ko-
dok, tapi lebih mirip suara burung  gagak? Atau jan-
gan-jangan suara kodok yang sedang mau ditelan bu-
rung gagak? Jangan-jangan suara burung gagak yang
sudah ditelan seekor kodok?" pikir si pemuda berbaju
coklat dengan celana putih kusam dililit ikat pinggang
dari kain merah.
Pemuda itu tak lain adalah murid sinting si Gila
Tuak dan Bidadari Jalang, dua tokoh ternama paling
disegani di antara para tokoh di rimba persilatan. Pe-
muda itu dikenal dengan nama Suto Sinting dengan
gelar kebesarannya: Pendekar Mabuk. Kadang ada
yang menjulukinya dengan nama Tabib Darah Tuak,
sebab ia mampu sembuhkan berbagai macam penyakit
dengan tuak sakti di dalam bumbung bambunya itu.
Namun beberapa orang sering memanggilnya dengan
nama sanjungan 'si tampan', karena memang ia mem-
punyai wajah tampan dan senyum menawan yang
mampu melelehkan hati wanita sekeras baja mana
pun.
Dung, dung, plak.... Dung, dung, plok.
Dung, dung, pak... plak dung, plak dang.
Plak, dung, dung.... 

Pak dudung, pak dudung, pak dudung....
Pendekar Mabuk yang baru saja menenggak
tuaknya beberapa teguk segera kerutkan dahinya
mendengar suara aneh itu. Hatinya pun segera mem-
batin dengan nada penuh keheranan.
"Pak Dudung dibawa-bawa...?! Suara apa itu
sebenarnya, sehingga seperti seseorang memanggil Pak
Dudung?"
Setelah langkahnya makin mendekati sumber
suara tersebut, telinganya ditelengkan untuk menyi-
mak dengan baik-baik, barulah si murid sintingnya Gi-
la Tuak itu menyimpulkan dalam hatinya,
"Sialan! Bukankah itu suara gendang?! Menga-
pa aku sampai terheran-heran dengan suara gendang
seperti itu? Uuh... dasar kuping kebanyakan tuak
mendengar suara gendang saja sampai seperti men-
dengar suara kodok atau burung gagak. Kapan-kapan
aku mau periksa kuping, ah! Jangan-jangan karena
kebanyakan minum tuak, gendang telingaku jadi ber-
karat atau berlapis kerak tuak? Pantas tadi saat di ke-
dai ada orang batuk kedengarannya seperti memanggil
namaku. Ih, memalukan sekali aku ini, masa' pende-
kar kok kupingnya 'tulalit' alias rusak sebelah?!"
Padahal yang membuat pendengaran Suto Sint-
ing kurang jelas bukan karena telinganya rusak, me-
lainkan karena suara gendang itu ditabuh seseorang
sedemikian rupa, sehingga secara sepintas dapat me-
nyerupai suara kodok atau suara gagak. Tentu saja si
penabuh gendang itu orang yang cukup piawai dalam
mengatur sentakan tangan di permukaan kulit gen-
dang. Bahkan barangkali juga ia seorang yang berilmu
tinggi, sehingga mampu menabuh gendang dari satu
tempat yang letaknya cukup jauh tapi mampu diden-
gar sampai di balik dinding tebing tinggi.

"Gila! Ternyata suara gendang itu cukup jauh
dari tempatku tadi?!" pikir Suto Sinting sambil mela-
cak terus, mendekati sumber suara gendang yang di-
dengarnya.
Rasa penasaran membuat Pendekar Mabuk ak-
hirnya tiba di atas sebuah tebing batuan cadas yang
tidak terlalu banyak ditumbuhi oleh pepohonan. Na-
mun di atas tebing itu terdapat gugusan batu yang
menjulang tinggi hingga menyerupai pilar-pilar tak be-
ratap. Dari ketinggian itulah Pendekar Mabuk layang-
kan pandangannya ke bawah tebing yang berjarak se-
kitar lima belas tombak itu.
Di dasar tebing yang juga ditumbuhi pepoho-
nan tak begitu banyak itu tampak seorang gadis berka-
lung tali merah dari bahan kain tebal. Tali merah itu
adalah tali pengikat sebuah gendang kecil yang dapat
ditabuh dua sisi. Gendang itu terbuat dari kayu beru-
kir warna coklat tua. Kulit gendangnya tampak tebal,
terbuat dari kulit binatang, entah binatang apa, yang
jelas berwarna putih kekuning-kuningan. Ukuran gen-
dang itu sekitar tiga jengkal, dengan besar lingkaran
bagian sisi kanan seukuran piring makan, dan sisi se-
belah kiri seukuran mangkuk sayur.
Gendang yang mempunyai hiasan benang me-
rah pada kedua ujung pengikat talinya itu ternyata mi-
lik seorang gadis berusia sekitar dua puluh tiga tahun.
Gadis itu kenakan pakaian jubah merah me-nyolok
berlengan panjang. Baju dalamnya berwarna kuning
gading tanpa lengan, sewarna dengan celana ketatnya
yang seukuran sebetis itu. Rambutnya hanya sebatas
tengkuk, lurus dan halus, bagian depannya diponi ra-
ta. Poni itu sesuai sekali dengan bentuk kecantikan
wajahnya yang berhidung bangir, bermata bundar ben-
ing, dan berbibir mungil menggemaskan.

Rupanya gadis berkulit kuning langsat itu se-
dang menghadapi pertarungan dengan dua orang lelaki
bertampang angker. Keduanya sama-sama berbadan
besar, yang satu brewokan, yang satu hanya berkumis
lebat tapi bola matanya lebih besar dari bola mata si
brewok. Alisnya lebih lebat, dan bentuk hidungnya le-
bih besar. Keduanya sama-sama berkulit hitam ku-
sam, mengenakan rompi panjang berwarna biru tua,
tapi celana mereka berbeda. Si brewok kenakan celana
warna merah, sedangkan si kumis lebat kenakan cela-
na hitam. Keduanya sama-sama bersenjata golok lebar,
mirip senjata algojo yang digunakan untuk memenggal
leher para tawanan yang hendak dihukum pancung.
Ketika Suto Sinting tiba di atas tebing itu, sua-
ra gendang hilang, karena si gadis tidak menabuh gen-
dangnya. Ia berdiri dengan kedua kaki sedikit mereng-
gang, mata menatap kalem kepada kedua lawannya
yang sedang terengah-engah. Kedua lawan itu tampak
terkulai, saling duduk beradu punggung dengan tubuh
berkeringat dan tampak lemas, seperti orang habis lari
jauh. Namun keduanya sama-sama masih pegangi
senjata masing-masing.
"Mengapa kedua orang itu terengah-engah ke-
capekan?!" tanya Suto Sinting dalam batinnya. "Tam-
paknya gadis itu tak keluarkan tenaga sedikit pun, se-
hingga tampak tenang dan tak ada kelelahan pada di-
rinya. Diapakan kedua orang berwajah angker itu?!"
Dari tempatnya bersembunyi, Suto Sinting
mendengar ucapan si gadis yang ditujukan kepada ke-
dua lawannya dalam jarak sepuluh langkah kurang
itu.
"Sebaiknya kalian tak perlu memburuku lagi.
Ku ingatkan pada kalian agar pulang dan temui guru
kailan, katakan bahwa aku bukan gadis kemarin sore

yang mudah ditumbangkan!"
Si brewok berusaha bangkit berdiri dengan se-
dikit sempoyongan karena kedua kakinya terasa le-
mas. Ia masih mencoba untuk bersikap angker dan bi-
caranya masih bernada penuh geram kemarahan. Ia
menuding si gadis dengan pergunakan goloknya.
"Jangan merasa unggul dulu, Gadis Dungu!
Kami belum merasa kalah melawanmu. Kalau kau
sanggup menghindari jurus gabungan kami yang ber-
nama jurus 'Petir Menangis', barulah kau boleh merasa
unggul dan kami akui kekalahan kami!"
"Hi, hi, hi, hi...! Jurus apa itu?! Namanya kok
lucu sekali. Hmm... jurus 'Petir Menangis'?! Apakah
kalian juga punya jurus 'Petir Tertawa' atau jurus 'Petir
Cemberut'?!" gadis itu menertawakan ucapan si bre-
wok, membuat si brewok semakin tampak berang, ia
hanya menggeram dengan tangan kian menggenggam
gagang goloknya dengan kuat. Kejap berikutnya, si
kumis tebal pun bangkit dan merasa tak suka diterta-
wakan oleh si gadis.
"Gadis Dungu!" serunya dengan napas masih
memburu. "Kau boleh menertawakan kami jika kau
sudah terbukti mampu hadapi jurus 'Petir Menangis'
itu!"
"Aku siap menerima jurus kalian asal Jangan
sampai melukai ku," kata si gadis yang agaknya diken-
al dengan julukan si Gadis Dungu.
Kedua lelaki yang usianya sama-sama sekitar
empat puluh tahun itu segera saling meneriakkan kata
pembangkit semangat pertarungan mereka.
"Heeeeaaahhh...!"
Mereka saling melompat berjauhan. Golok be-
sar dimainkan dengan berkelebat ke sana-sini bagai
mengelilingi tubuh mereka. Lalu, dalam satu gerakan

menghentak bumi dengan satu kaki, keduanya sama-
sama melesat saling berpapasan. 
Wuuut...! 
Golok mereka pun saling digesekkan dengan
cepat.
Srrraaaangngngngng...!
Gesekan itu hasilkan percikan api ke mana-
mana. Yang membuat dahsyat jurus 'Petir Menangis'
bukan terletak pada percikan apinya, melainkan pada
suaranya yang menggema panjang dan bernada tinggi.
Suara itu keluarkan gelombang tenaga dalam yang
mampu membuat tubuh si Gadis Dungu tersentak ba-
gai dicabut nyawanya. Ia terlempar jatuh bersama
gendangnya.
Brrrukk...! 
"Aaaahhg...!" si Gadis Dungu mengerang sambil
menyeringai sakit, kedua tangan pegangi dadanya da-
lam keadaan mengejang.
Beberapa pohon berukuran sedang bergetar
akibat bunyi gesekan golok tadi. Gema suaranya masih
memanjang, mengiang-ngiang di telinga, membuat be-
berapa dahan pohon roboh karena terpotong rapi bagai
ditebang dengan pedang yang amat tajam. Bahkan be-
berapa batu yang terletak tak jauh dari mereka menga-
lami keretakan, sebagian ada yang hancur bagaikan
rapuh. Prrus...! Sedangkan daun-daun di sekitar me-
reka pun menjadi berhamburan bagaikan dipangkas
dalam waktu sekejap.
"Ugh...!" Suto Sinting sendiri merasakan satu
sentakan tajam di ulu hatinya. Ia buru-buru menahan
napas dan menyangga ulu hati dengan telapak tangan
kirinya.
"Gila!" gumamnya dalam hati. "Suara gesekan
golok mereka bagaikan mengiris jantung dan me-

nyayat-nyayat urat nadi. Uuuh...! Hatiku terasa perih
sekali bagai diiris pelan-pelan. Kalau tak segera di-
tangkal dengan minum tuak bisa putus semua urat
nadiku! Benar-benar gila jurus 'Petir Menangis' itu.
Apa memang beginikah akibatnya jika benar-benar
mendengar suara petir sedang menangis?!"
Glek, glek, glek...! Suto Sinting buru-buru me-
nenggak tuaknya. Dengan meminum tuak tiga teguk,
rasa sakit di sekujur urat nadi, jantung, dan ulu hati
itu menjadi berkurang. Tiga helaan napas kemudian,
seluruh rasa sakit itu lenyap dan kelemasan urat-urat
kembali kokoh seperti semula.
Gadis Dungu masih menyeringai menahan sa-
kit walaupun ia sudah berdiri dengan satu lutut di ta-
nah. Pada saat itu, kedua orang berwajah angker kem-
bali saling kelebatkan golok mereka di sekitar tubuh,
lalu kedua golok itu dipertemukan lagi dalam satu ge-
rakan bergesekan.
Srrrraaaangngngngngng...!
"Haaagghh...!"
Pohon bergetar kembali, dahan-dahan terpo-
tong, dedaunan terpangkas habis, dan si Gadis Dungu
tersentak dan terguling dengan ratapan memanjang.
Getaran gelombang suara dari gesekan kedua golok
membuat kulit mulus di wajah Gadis Dungu menjadi
tersayat merah, bagaikan bilur-bilur akibat cabikan
senjata tajam. Sementara itu, Suto Sinting hanya me-
nahan napas dan tidak rasakan rasa sakit seperti saat
mendengar suara gesekan golok yang pertama tadi. Hal
itu dikarenakan dalam tubuh Suto masih dipengaruhi
hawa sakti dari tuak yang baru saja diminumnya itu.
Jika tadi ia tidak segera menenggak tuak, maka ia
akan mengalami rasa sakit dan menderita seperti yang
dialami si Gadis Dungu itu.

"Haaah, ha, ha, ha, ha...!" kedua orang berwa-
jah angker itu menertawakan si Gadis Dungu yang
mulai tampak kewalahan dalam menahan rasa sakit
dan perih di sekujur tubuhnya.
"Sekali lagi kami lepaskan jurus 'Petir Menan-
gis', maka sekujur tubuh montokmu itu akan tercabik-
cabik, Gadis Dungu!" seru si kumis lebat dengan mata
melebar girang.
Suto Sinting membatin, "Siapa pun mereka,
aku harus hentikan pertarungan ini. Karena jika ada
orang lain yang tidak terlibat tapi mendengar desing
gesekan kedua golok tadi, pasti akan mengalami luka
yang cukup berbahaya!"
Si kumis lebat berkata kepada si brewok, "To-
gayo, jangan biarkan ia bertahan! Kita cabik-cabik tu-
buh gadis bodoh itu dengan jurus kita sekali lagi!"
"Aku sudah siap, Gayong! Heeeeaah...!"
Gayong, si kumis lebat, dan Togayo si brewok,
mulai kelebatkan senjata mereka untuk saling dige-
sekkan kembali. Suto Sinting sudah bersiap mele-
paskan pukulan jarak jauhnya berupa sentilan dari ja-
ri tangannya yang mengandung kekuatan tenaga da-
lam sebesar tendangan kuda binal itu.
Namun agaknya jurus 'Jari Guntur' si Pendekar
Mabuk terpaksa ditahan untuk sementara. Suto Sint-
ing menjadi penasaran karena ingin melihat sejauh
mana perempuan yang dipanggil Gadis Dungu itu ber-
tahan. Karena beberapa kejap setelah Gayong berseru
membangkitkan tenaga dalamnya, Gadis Dungu tam-
pak bangkit dengan satu lutut masih menapak di ta-
nah. Ia menabuh gendangnya dengan mata terpejam
karena menahan rasa sakitnya. Suaranya terdengar
memekik panjang sebagai tanda melepaskan rasa sakit
dan kemarahannya.

"Hiaaahh...!"
Dung, plak, plak... dung, dung, plak. Dung,
plak, dung, plak, dung, dung, dung, plak...!
Dan mata si Pendekar Mabuk terkesiap dengan
dahi berkerut. Pandangan matanya tertuju pada To-
gayo dan Gayong.
Kedua orang berwajah angker itu tiba-tiba hen-
tikan gerakan mengadu golok saat suara gendang ter-
dengar. Tubuh mereka gemetar bagai melawan kekua-
tan tenaga dalam yang gelombangnya menyebar ke
arah mereka. Tubuh yang bertahan itu lama-lama ber-
gerak kaku mengikuti irama gendang. Tampaknya ge-
rakan tersebut tak diinginkan oleh Togayo dan Gayong,
sehingga mereka sama-sama keluarkan suara geram
dengan hati menahan gerakan tangan agar berhenti. 
"Haaahhhggrr...!"
Dung, dung, plak, dung, dung, plung plak...!
Gadis dungu tetap menabuh gendangnya. Ge-
lombang tenaga dalam yang keluar dari tabuhan gen-
dang membuat Togayo dan Gayong akhirnya bertan-
dak, mereka berjingkrak-jingkrak dalam lenggokan
tangan dan pantat mirip gerakan sepasang bebek ingin
bertelur. Semakin lama semakin cepat, sampai akhir-
nya mereka benar-benar tak bisa menahan gerakan
tubuhnya untuk menari-nari jejingkrakan. Mulut me-
reka pun bagaikan tak sadar keluarkan seruan-seruan
riang, seakan sedang menikmati pesta tarian yang pe-
nuh semangat.
Dung, dung, plak... dung, dung plung plak...
plung, plak....
"Hiah, hiah... huuurra...!"
"Iaha, syuur, syuur, syuur... goyang terus, To-
gayoo...! Heah, heah, ser, ser, ser, ser, asyiiik...!"
Karuan saja si Pendekar Mabuk tertawa cekiki-

kan dari tempat persembunyiannya. Tubuhnya sampai
terguncang-guncang karena menahan tawa geli meli-
hat kedua orang angker itu telah berubah menjadi
riang dan menari jejingkrakan.
"Hebat sekali ilmu si Gadis Dungu itu?!" pikir
Suto Sinting. "Tabuhan gendangnya mempunyai keku-
atan sihir yang mampu membuat lawan menjadi riang
dan menari penuh semangat. Tapi agaknya... oh, ke-
dua orang itu mulai keluarkan darah dari telinga me-
reka?! Gelombang tenaga dalam telah kenai bagian da-
lam tubuh mereka tanpa mereka sadari?!" Gerakan tari
mereka semakin cepat, semakin berkesan acak-acakan
dan mirip tarian liar. Suara mereka berteriak-teriak
menyerukan semangat menari dalam keriangan, tapi
mereka tidak sadar jika bagian dalam tubuhnya telah
dihantam oleh kekuatan tenaga dalam yang terbawa
melalui suara pukulan gendang. Tubuh mereka ber-
tambah melonjak-lonjak dengan cepat. Kepala mereka
tersentak-sentak mirip orang kesurupan. Tapi seruan
suara mereka masih bernada dalam kegirangan. Pa-
dahal dari telinga mereka telah keluarkan darah yang
semakin lama semakin membanjiri pundak masing-
masing. Napas mereka yang terengah-engah tak dihi-
raukan lagi. Mereka menari dan terus menari dengan
gerakan liarnya. Bahkan mereka tak sadar bahwa sen-
jata mereka sudah saling buang ke sembarang tempat
demi kebebasan menari dan bergerak.
"Hiiaaahuuu...! Joget terus sampai pagiii...!
Hiah, hiah!" seru Togayo dengan tubuh berlarian ke
sana-sini dengan gerakan menari. Darah yang keluar
dari telinga pun berceceran ke mana-mana. Demikian
pula halnya dengan si kumis lebar; Gayong.
Dung, plak, dung, plang... dung, plak, dung,
plang...! Bunyi gendang masih terdengar semakin tak

berirama. Gadis Dungu menabuhnya dengan gerakan
cepat. Suara yang kian bertempo cepat membuat To-
gayo dan Gayong pun kian mempercepat gerakan ta-
rinya, bahkan sampai berguling-guling di tanah den-
gan darah mencucur terus dari lubang telinga, bahkan
sekarang ditambah dari lubang hidung mereka pun
mengucurkan darah segar.
Pendekar Mabuk berdecak kagum, geleng-
geleng kepala sambil tertawa dengan suara pelan seka-
li.
"Rupanya tidak semua orang yang mendengar
bunyi gendang ikut menari. Pengerahan gelombang te-
naga dalam melalui suara gendang ternyata bisa di-
kendalikan hanya untuk orang-orang yang dituju oleh
si Gadis Dungu. Buktinya biarpun kedua orang berwa-
jah angker itu berjoget segila itu, tapi aku tidak ikut-
ikutan bergerak seperti mereka. Hmmm... suatu ilmu
yang langka dan perlu kuakui kehebatannya."
Mendadak wajah geli si Pendekar Mabuk beru-
bah tegang seketika, karena tiba-tiba seberkas sinar
merah melesat dari balik pepohonan dan menghantam
punggung si Gadis Dungu.
Wuuutt...! Deeeb...!
"Eehg...!" Gadis Dungu tersentak dan terjungkal
ke depan, lalu berguling-guling. Suara gendang lenyap
seketika. Kedua orang berwajah angker itu terkulai le-
mas di rerumputan. Tubuh mereka terkapar bermandi
darah dengan napas masih ngos-ngosan.
Sementara itu, si Gadis Dungu segera memun-
tahkan darah kental kehitam-hitaman. Tubuhnya ber-
lutut dengan tangan berpegangan pada sebongkah ba-
tu setinggi perut manusia dewasa. Ia memuntahkan
darah beberapa kali dan tampaknya tak bisa bergerak
lagi. Keadaan itulah yang membuat mata si Pendekar

Mabuk menjadi tegang tak berkedip.
"Celaka! Siapa orang yang menghantam si Ga-
dis Dungu dengan sinar merah yang mirip senjata ca-
kra tadi?!" pikir Suto Sinting dengan mata mulai berge-
rak nanar.
"Pertarungan ini benar-benar pertarungan yang
curang!" geram Suto Sinting, seakan hatinya tak bisa
menerima perlakuan si penyerang gelap yang membo-
kong Gadis Dungu itu.
Baru saja ia ingin bergerak terjun ke tengah
pertarungan tersebut, tiba-tiba sekelebat bayangan
melesat dari balik pohon rimbun. 
Wuuutt...! Jleeeg...!
Seorang tokoh tua berjubah hijau tanpa lengan,
sehingga tubuhnya yang kurus sekali itu terlihat jelas,
tahu-tahu sudah muncul di antara Togayo dan
Gayong. Tokoh tua berambut putih sepanjang pung-
gung tanpa ikat kepala itu mempunyai kumis putih
dan jenggot putih sepanjang dada. Sorotan pandangan
matanya tampak dingin, dengan ditambah raut muka
yang bertulang pipi menonjol dan berdagu runcing ke
depan, tokoh tersebut semakin tampak bengis.
"Bangun kalian!" sentaknya dengan suara serak
kepada Togayo dan Gayong. Kedua tangannya menyen-
tak dengan kuku-kuku runcing yang hitam mengem-
bang membentuk cakar. Dari telapak tangan itu me-
nyembur sinar putih bagaikan perak. Kedua sinar pu-
tih menerpa tubuh Gayong dan Togayo.
Wuuusss...! Sinar itu diiringi semburan asap ti-
pis. Asap itu makin lama semakin membungkus tubuh
Togayo dan Gayong. Kejap berikutnya, sinar itu pun
padam secara serentak. Zrrub...! Lalu, Togayo dan
Gayong bagaikan bangun dari tidur.
"Hah...?! Guru...?!" Togayo terkejut, lalu segera

berlutut satu kaki dengan kepala tertunduk, demikian
pula yang dilakukan oleh Gayong di depan tokoh tua
yang ternyata adalah Guru mereka itu. Sang Guru
hanya memandangi dengan mata cekungnya tampak
menyimpan kemarahan entah kepada kedua muridnya
atau kepada si Gadis Dungu itu.
Sementara itu, pandangan mata Pendekar Ma-
buk dari balik gugusan batu itu tampak terheran-
heran. Keheranan itu timbul karena ia melihat Togayo
dan Gayong dalam keadaan sehat tanpa luka apa pun.
Bahkan darah yang berceceran di tubuh mereka le-
nyap tanpa bekas sedikit pun. Kedua orang yang se-
mula terluka parah dan hampir mati itu dapat sembuh
secara ajaib oleh kekuatan sinar putih perak si tokoh
berjubah hijau dan bersabuk hitam itu. Tentunya pe-
nyembuhannya yang ajaib itu merupakan suatu bukti
bahwa ia bukan tokoh berilmu rendah. Usianya yang
sekitar sembilan puluh tahun itu semakin meyakinkan
orang bahwa ia berilmu tinggi dan tidak sebanding jika
melawan Gadis Dungu.
"Manusia bodoh!" sentaknya, rupanya ia marah
kepada kedua murid yang bertubuh kekar itu. "Mela-
wan anak ingusan saja tak ada yang becus! Memalu-
kan nama perguruan saja kalian ini!"
"Maaf, Eyang Guru... dia mempunyai...."
"Mempunyai apa?!" sentak sang Guru dengan
berang. "Lihat, cukup sekali pukul dia sudah tak ber-
kutik!" seraya tangannya menunjuk kepada Gadis
Dungu yang kini dalam keadaan duduk terkapar den-
gan terkulai lemas tanpa daya, bersandar gugusan ba-
tu besar. Wajahnya pucat bagai mayat dengan sisa
sayatan merah akibat keganasan jurus 'Petir Menangis'
tadi.
"Jika begitu, sebaiknya gadis itu saya bereskan

sekarang juga, Guru!" kata Togayo sambil berdiri dan
meraih golok besarnya lagi. Tetapi tangan sang Guru
menyentak ke samping, segumpal tenaga tanpa wujud
terlepas bagaikan angin badai menghantam lengan To-
gayo. 
Wuuut...! Plaaak...! Tangan Togayo tersentak
kuat, tubuhnya terpelanting nyaris jatuh. Golok tak
jadi diraihnya. Sang Guru berkata dengan tegas.
"Percuma jika sekarang kau ingin bertindak!
Gadis itu sudah kuserang dengan jurus 'Racun Jamur
Setan'. Sebentar lagi ia akan mati dalam keadaan men-
jamur dan busuk. Tinggalkan dia, dan kalian kembali
ke perguruan! Cepat!"
"Baik, Guru!" keduanya menjawab serentak. 
Wuuuss...! Mereka pun pergi meninggalkan si
Gadis Dungu yang tak berdaya itu.


2

HARI itu tidak ada gadis yang lebih beruntung
daripada si Gadis Dungu. Tepat nyawanya terancam
'Racun Jamur Setan' tuak sakti si Pendekar Mabuk
masuk ke dalam tubuhnya. Dalam keadaan sekarat,
Suto Sinting berhasil paksa mulut Gadis Dungu mene-
lan tuak yang diminumkan secara hati-hati. Akibat
terminumnya tuak Suto, keganasan 'Racun Jamur Se-
tan' pun dapat dikalahkan. Gadis Dungu menjadi se-
hat, bahkan merasa seperti tidak pernah mengalami
luka apa pun. Bilur-bilur merah akibat jurus 'Petir
Menangis' yang hampir mencabik-cabik kulitnya itu
pun lenyap tanpa bekas seujung jarum pun.
Ketika gadis berjubah merah menyadari kea-

daannya yang telah pulih kembali, bukan ucapan te-
rima kasih yang terlontar pertama kali dari mulutnya,
melainkan sebuah pertanyaan yang bernada heran di-
tujukan untuk dirinya sendiri.
"Mengapa aku masih hidup?" sambil pandangi
tubuhnya sendiri, tangannya, kakinya, dadanya, lalu
buru-buru menatap ke depan. Di sana seraut wajah
tampan terpampang jelas karena jarak mereka hanya
dua langkah.
"Kau yang menyelamatkan aku dari 'Racun Ja-
mur Setan' itu?!" 
"Entahlah, Nona. Yang jelas aku hanya memi-
numkan tuakku ke mulutmu, dan kau menelannya, la-
lu kau sehat!" senyum menawan si murid sinting Gila
Tuak itu mekar di akhir ucapannya.
Gadis Dungu pandangi Suto Sinting dengan cu-
riga. Yang dipandang semakin cengar-cengir pamer ke-
tampanan. Yang memandang akhirnya berdebar-debar
karena kagum dan terpesona. Tapi ia masih berlagak
menaruh curiga demi kewaspadaannya.
"Baru sekarang ada murid si Dupa Dewa bersi-
kap baik terhadapku. Apakah ini hanya sebuah jeba-
kan agar aku tunduk padamu dan menyerah pada Per-
guruan Serikat Jagal?"
"Kau bicara apa, Nona?" sambil dahi Suto Sint-
ing dikerutkan.
"Kau murid si Dupa Dewa, bukan?"
"Aku murid si Gila Tuak."
Mata si gadis berkalung gendang itu terkesiap.
Selama dua helaan napas tak bicara, pandangan ma-
tanya semakin tajam menatap wajah Suto Sinting, ke-
mudian memandangi seluruh tubuh Suto Sinting pe-
nuh selidik. Akhirnya setelah menatap hingga mengeli-
lingi tubuh Suto Sinting, Gadis Dungu berlagak sinis

dengan cibiran bibirnya yang menggemaskan.
"Kuakui kau cukup berani mengaku-aku seba-
gai murid si Gila Tuak. Tapi perlu ku ingatkan padamu
agar jangan mengaku-aku begitu lagi di depan orang
lain. Kalau sampai pengakuanmu itu didengar oleh
Pendekar Mabuk yang menjadi murid si Gila Tuak se-
benarnya, kepalamu bisa ditumbuk sampai sehalus
tepung! Pendekar Mabuk akan marah besar jika ada
orang yang mengaku-aku sebagai murid si Gila Tuak.
Sebab menurut cerita guruku sendiri, si Gila Tuak
hanya punya satu murid, yaitu bocah tanpa pusar
yang bernama Suto Sinting dan bergelar Pendekar Ma-
buk."
"Aku inilah si bocah tanpa pusar! Aku yang
bernama Suto Sinting dengan gelarku Pendekar Ma-
buk!"
"Hmmm...!" Gadis Dungu mencibir semakin tak
percaya. Senyumannya sangat sinis dan tak enak dira-
sakan dalam hati. Ia berkata dengan tegas-tegas,
"Dengar, yang namanya Pendekar Mabuk wajahnya
sangat ganteng, tampan, menawan hati, tidak sekumal
kau! Aku bukan anak kecil yang mudah kau tipu den-
gan pengakuan palsumu itu!"
"Aku berani sumpah disambar seribu ekor be-
ruk, akulah yang bernama Suto Sinting, murid dari si
Gila Tuak!" Suto pun mulai ngotot dan agak jengkel
terhadap gadis cantik bermata bening indah itu. Tapi
si gadis tetap saja pada pendiriannya dan tidak mau
percayai pengakuan Pendekar Mabuk.
"Tak ada gunanya kau bersikeras mengaku-aku
sebagai Pendekar Mabuk. Jujur saja, kau tidak punya
ketampanan seperti yang dimiliki Pendekar Mabuk."
Suto Sinting menggerutu dalam hati, "Barang-
kali mata gadis ini terbuat dari beling! Masa' dia tidak

mengakui ketampananku?! Seumur hidup selama
menjadi Pendekar Mabuk dan selama dilahirkan tanpa
pusar, baru sekarang kudengar ada gadis yang tidak
mengakui ketampananku. Jangan-jangan otaknya
agak miring?! Gawat kalau begitu, percuma aku ngotot
di depannya kalau otak gadis ini miring ke kiri."
Gadis Dungu menambahkan kata, "Katakan
kepada Dupa Dewa, penyamaranmu tak bisa membua-
tku terpedaya! Lebih baik Dupa Dewa sendiri yang
berhadapan denganku secara ksatria, jangan menye-
rang dari belakang. Itu perbuatan seorang pengecut!"
"Aku tidak kenal siapa itu Dupa Dewa."
"Ah, masih juga berlagak bodoh kau ini! Kurasa
kau sudah tahu betul, bahwa Dupa Dewa adalah orang
yang menyerangku dari belakang dengan jurus 'Racun
Jamur Setan' tadi. Kurasa kau tahu, Dupa Dewa ada-
lah si tua licik berjubah hijau tadi!"
"Aku baru tahu kalau orang berambut putih
panjang berjubah hijau itu bernama Dupa Dewa. Ku-
sangka namanya Parmin atau Soleh, atau yang lain-
nya...!" Suto Sinting sunggingkan senyum canggung
karena dongkol dianggap murid Dupa Dewa.
Gadis Dungu tetap mencibir tak mau percaya
dengan pengakuan Suto Sinting. Akhirnya ia sendiri
merasa jenuh dan berkata, "Terserah kau mau menga-
ku sebagai Pendekar Mabuk atau Pendekar Teler, yang
jelas aku ingin tahu apa maksudmu menyelamatkan
nyawaku dari 'Racun Jamur Setan'-nya si Dupa Dewa
itu?! Apakah kau punya maksud yang sama dengan
kedua teman-mu itu; Togayo dan Gayong?!"
Pendekar Mabuk tarik napas dalam-dalam me-
nahan kejengkelannya. Ia tak mau dengar lagi kata-
kata tersebut. Kini ia yang ganti bertanya kepada si
Gadis Dungu.

"Kalau aku menolongmu dari luka parah tadi,
berarti aku ingin menanyakan siapa namamu? Kalau
sudah ku tahu namamu, kau boleh terluka dan seka-
rat seperti tadi."
Mata bulat  bening berbulu lentik itu alihkan
pandang dengan sikap angkuh. Bibir mungil mengge-
maskan masih mencibir sinis seraya berucap kata
dengan nada ketus, "Pura-pura tidak tahu! Bukankah
kau sudah mengenal namaku sebagai Gadis Dungu?!
Kurasa semua murid Perguruan Serikat Jagal mengen-
al nama Gadis Dungu sebagai namaku! Tak usah ber-
lagak bodoh kau, nanti kalau ada setan lewat kau be-
nar-benar bodoh melebihi seekor kerbau!"
"Aku bukan murid Perguruan Serikat Jagal!"
sentak Suto Sinting dengan menggeram dongkol.
"Kalau begitu kau seorang pengkhianat yang
sudah murtad dari ajaran gurumu; si Dupa Dewa
itu?!"
"Terserah! Anggap saja begitu!" jawab Suto Sint-
ing dengan ketus pula, wajahnya menjadi keruh kare-
na bersungut-sungut.
"Lalu, siapa namamu?!" tanya si gadis dengan
acuh tak acuh setelah keduanya sama-sama diam dua
helaan napas.
"Namaku... namaku ya itu tadi; Suto Sinting!"
"Ah, jawab yang benar!" sambil tangannya men-
gipas di depan hidung, lalu ia bersidekap dengan gen-
dang digeser ke pinggul.
"Aku sudah menjawab dengan benar dan jujur!
Namaku memang Suto Sinting, alias Pendekar Mabuk!"
Gadis itu melirikkan matanya dengan angkuh.
Ia geleng-geleng kepala tanpa suara. Suto Sinting
mendesah kian dongkol, akhirnya meneguk tuaknya
untuk menenangkan kedongkolan hati.

"Kurasa namamu tak jauh dari Togayo atau
Gayong. Hmm... kurasa namamu: Dogol!"
"Otakmu itu yang dogol!" sentak Suto Sinting
dalam geram.
"Ah, mengaku sajalah. Kau bernama si Dogol,
bukan?!"
"Masa bodoh!" geram Suto Sinting sambil hem-
buskan napas membuang kekesalan  hatinya. Ia ber-
paling tak mau pandangi Gadis Dungu. Pandangan
matanya dilemparkan ke semak belukar di bawah po-
hon besar yang telah gundul karena daun-daunnya te-
lah dipangkas oleh bunyi gesekan golok Togayo dan
Gayong tadi.
Di celah-celah sisa ilalang yang belum terpang-
kas oleh jurus 'Petir Menangis' tadi, Suto Sinting me-
nangkap adanya kilatan cahaya putih. Cahaya itu ada-
lah pantulan sinar matahari yang kenai sebuah logam.
Langsung dalam hati Pendekar Mabuk berkata,
"Ada seseorang yang mengintai di sana! Siapa
yang ia incar?! Aku atau si Gadis Dungu itu?!"
Maka Suto Sinting pun segera dekati Gadis
Dungu yang sedang membersihkan pakaiannya dari
debu dan tanah.
"Apakah kau punya musuh lagi selain orang-
orang Perguruan Serikat Jagal itu?!"
"Untuk apa menanyakan musuhku? Mau men-
daftar jadi musuhku juga?!" ujarnya dengan tengil, bi-
kin hati Suto jadi kesal lagi.
Tapi dengan tarik napas kembali, Suto Sinting
berusaha untuk sabarkan diri. Ia berkata dengan pe-
lan.
"Ada orang yang mengintaimu dari balik se-
mak."
"Kau ini berlagak jadi dukun juga rupanya."

"Pandanglah ke arah barat. Perhatikan semak-
semak di bawah pohon besar yang telah gundul tanpa
daun dan ranting itu," bisik Suto Sinting. Tapi si gadis
justru pandangi wajah Suto Sinting dengan sikap tak
peduli bisikan tersebut.
"Kau ingin menipuku lagi? Kau ingin menje-
bakku supaya aku berpaling ke barat lalu kau akan
menciumku secara tiba-tiba?! Hmmm...! Aku bukan
anak kemarin sore yang mudah kau jebak dengan
rayuan gombal kumalmu, Dogol!"
"Aku bicara dengan sungguh-sungguh, Gadis
Dungu! Ada yang mengintai kita dari balik semak itu!"
bisikan Suto Sinting agak ditekan dengan suara berat
sebagai tanda kejengkelan hatinya.
Gadis Dungu justru sunggingkan senyum sinis
dan berkata ketus tanpa mau berpaling ke arah yang
dimaksud Suto Sinting.
"Tipu daya seperti itu tak akan berlaku bagi di-
riku. Aku sudah kebal tipu muslihat seorang lelaki
macam kau, Dogol!"
"Dasar dungu!" geram Suto Sinting, kemudian
serta-merta jarinya menyentil ke arah semak belukar
tersebut. Jurus 'Jari Guntur' dilepaskan, tenaga dalam
berkekuatan seekor kuda meluncur dari sentilan jari
tersebut. 
Tees...!
Guzrraaak...!
"Uuhg...!" terdengar suara orang memekik ter-
tahan. Disusul sekelebat bayangan terlempar keluar
dari balik semak. Tubuh itu melayang tinggi, bersama
rusaknya tanaman semak belukar yang mirip diterjang
badai itu.
Wuuss...! Jleeg...!
Untung orang yang terpekik dengan suara ter-

tahan itu mampu kendalikan keseimbangan tubuhnya,
sehingga ia mampu segera bersalto satu kali, dan
mendaratkan kakinya tepat di depan si Gadis Dungu
dalam jarak lima langkah.
"Paman Comblang...?!" ucap Gadis Dungu ber-
nada kaget sambil matanya pandangi orang yang ber-
wajah pucat karena perutnya terkena tenaga dalam
yang dilepas Suto Sinting tadi.
"Kau kenal dengan orang itu rupanya," ujar
Pendekar Mabuk sambil masih pandangi lelaki berusia
sekitar empat puluh lima tahun, bertubuh agak pen-
dek, sedikit gemuk, tanpa kumis, dan jenggot. Pa-
kaiannya abu-abu dengan rambut pendek tanpa ikat
kepala. Di pinggangnya terselip sebilah golok berga-
gang hitam dengan bentuk kepala ayam jantan.
"Dia pelayan guruku. Comblang Sajak nama
panggilannya," jawab si gadis dengan suara masih ku-
rang ramah.
Orang berkulit gelap itu menghirup napas, me-
nahan rasa mual di perutnya, kemudian sambil masih
pandangi Suto Sinting dengan sikap tak bersahabat, ia
bicara kepada Gadis Dungu,
"Siapa pemuda kurang ajar yang bersamamu
itu, Indayani?!"
"Dia menyelamatkan nyawaku dari ancaman
maut si Dupa Dewa, Paman. Entah apa maksudnya
bersikap begitu, mungkin ingin kupuji atau ingin tun-
jukkan ilmunya yang cetek itu padaku. Yang jelas, pa-
ra mudi Perguruan Serikat Jagal akan benci jika meli-
hat si Dogol ini, sebab ia murid murtadnya Dupa De-
wa!"
"Murid murtad berani nekat. Dia bikin jiwaku
hampir sekarat karena serangannya yang tiba-tiba me-
lesat! Aku perlu membalasnya supaya ia tidak kualat

dan menjadi orang sesat!"
Comblang Sajak mulai kerahkan tenaga dengan
mengangkat kedua tangannya. Tetapi Gadis Dungu se-
gera mencegah dengan satu tangan terangkat ke de-
pan.
"Tak perlu, Paman. Dia bukan orang tandingan
kita. Paman Comblang Sajak hanya akan buang-buang
tenaga jika melawan si Dogol. Ada baiknya kita bicara
saja, apa perlunya Paman sembunyi di balik semak ta-
di?"
Comblang Sajak hembuskan napas dan ken-
dorkan urat-uratnya. Ia tak berani melanggar larangan
si Gadis Dungu. Namun di belakang si Gadis Dungu,
wajah Suto Sinting tampak bergumpal-gumpal me-
mendam kedongkolan karena masih dianggap murid
murtadnya si Dupa Dewa. Rasa ingin menyanggah ke-
terangan tadi segera dibuang, karena Suto merasa hal
itu akan sia-sia belaka.
Namun pandangan mata Suto Sinting masih
belum lepas dari wajah Comblang Sajak yang rupanya
jika bicara selalu menggunakan kalimat bersajak. Ka-
lung bertali hitam dengan bandul logam putih berben-
tuk kelopak bunga yang dikenakannya itu masih me-
mantulkan cahaya matahari. Rupanya bandul kalung
yang terbuat dari logam putih runcing-runcing sebesar
potongan ketimun itulah yang tadi tampak berkilauan
dari tempat persembunyiannya. Agaknya bandul itu
bisa digunakan sebagai senjata sewaktu-waktu karena
keruncingannya tampak tajam dan membahayakan
lawan jika dilemparkan dengan kecepatan tinggi.
"Indayani," ucap Comblang Sajak menyebut
nama asli si Gadis Dungu. Diam-diam nama itu dicatat
dalam ingatan Pendekar Mabuk.
Lanjut Combang Sajak, "Aku sengaja mengintai

dari sela-sela tangkai, karena kudengar kau berdebat
mengurai kata dengan pemuda santai. Jika kau ben-
trok badai dengannya dan kau terdesak tak mampu
menggapai, aku akan langsung datang membantai. Ta-
pi ternyata dia lebih dulu membuatku terbang melam-
bai-lambai."
"Mirip bangkai...," timpal Suto dengan geli.
"Diam kau, Anak Kerbau!" sentak Comblang Sa-
jak.
Gadis Dungu tak hiraukan ketegangan Com-
blang Sajak. Ia ajukan tanya kembali dengan sikap
angkuhnya.
"Lalu, apa maksud Paman menyusulku kemari?
Siapa yang izinkan Paman pergi dari padepokan?"
Comblang Sajak tampakkan wajah murungnya.
Ia maju tiga langkah hingga jaraknya lebih dekat lagi
dengan Gadis Dungu dan Suto Sinting yang masih be-
rada di belakang si gadis kira-kira dua tindak jauhnya.
"Berita duka kubawa ke mana raga berkelana.
Aku sengaja mencarimu ke ujung dunia untuk sam-
paikan berita duka penuh lara," tutur Comblang Sajak
dengan kata berirama.
"Berita duka apa, Paman?! Cepat katakan!" 
"Nyai Guru Serat Biru terluka Racun Batu Bi-
su..."
"Hahh...?!" Gadis Dungu terkejut seketika. Wa-
jah cantiknya berubah menjadi tegang, kemudian maju
selangkah dengan penasaran sekali. Ia mengguncang
pundak Comblang Sajak dengan pertanyaan bernada
menyentak.
"Apakah Guru diserang oleh Peri Kedung Han-
tu?!"
"Benar, Indayani! Peri Kedung Hantu datang ke
padepokan dan menyerang kami tanpa permisi. Sasa-

ran utamanya adalah membunuh Nyai Guru pelayan
pribadi. Waktu itu aku sempat diperintahkan lari, tapi
Bibi Sandami; yang ku calonkan sebagai istri, terpaksa
mati tanpa jampi-jampi."
"Keparat betul si Peri Kedung Hantu itu!" geram
Gadis Dungu dengan mata mengecil memancarkan
dendam kesumat dalam hatinya.
"Nyai Guru masih mampu bertahan dengan na-
pas perlahan-lahan. Tapi tubuhnya tak mampu dige-
rakkan, dan mulutnya bisu tanpa ucapan. Keadaannya
sangat kasihan."
"Apakah kau tak pergi hubungi Tabib Awan Pu-
tih, Paman?!"
"Tabib sudah coba tolong Guru, tapi akhirnya
mengaku tak bisa lawan Racun Batu Bisu. Menurut
Tabib racun itu hanya bisa dilumpuhkan dengan madu
dari Bunga Salju. Bunga itu hanya ada di puncak Gu-
nung Himalayu...."
"Himalaya!" tak sadar Suto ikut membenarkan
ucapan itu.
"Iya, Gunung Himalaya maksud saya. Tapi gu-
nung itu jauh dari pandangan kita. Perjalanannya pun
sangat berbahaya."
Gadis Dungu tampak gusar sekali. Tangannya
bergerak-gerak menggenggam bagai meremas-remas
kebencian yang ada. Suto Sinting mencoba bicara den-
gan sikap tenang.
"Bagaimana jika ku coba untuk mengobati gu-
rumu?"
"Ah, kau...! Aku sedang berduka kau malah
mengajakku bercanda! Aku tidak tertarik dengan can-
damu!" gertak Gadis Dungu membuat Suto Sinting
dongkol kembali. Ia hanya menghembuskan napas se-
bagai penahan kedongkolannya.

"Tabib bilang," kata Comblang Sajak, "Ada
orang yang punya Madu Bunga Salju. Bunganya tak
ada tapi ia simpan madunya.  Tabib bilang, ada dua
orang yang simpan madu tersayang; Peri Kedung Han-
tu dan Putri Kunang."
Suto Sinting terperanjat. "Aku kenal dengan
Putri Kunang. Ia tinggal di Pulau Dadap dan berkuasa
di sana! Aku bisa memintakan madu itu jika kau setu-
ju."
"Putri Kunang?! Hmmm...! Kau pikir hanya kau
yang kenal dia? Aku pun kenal dengan si Putri Kunang
itu!" kata Gadis Dungu. "Aku pun tahu bahwa ia men-
jadi Ratu di Pulau Dadap!"
"Syukurlah kalau begitu," gumam Suto agak
gondok hatinya, lalu terbayang ingatannya kepada se-
raut wajah cantik milik si Putri Kunang, (Baca serial
Pendekar  Mabuk dalam episode: "Cambuk Getar Bu-
mi").
"Paman, mana yang lebih baik menurutmu:
memaksa Peri Kedung Hantu untuk serahkan madu
Bunga Salju atau pergi ke Pulau Dadap untuk temui
Putri Kunang?"
"Kita tak akan unggul lawan Peri Kedung Han-
tu. Ada baiknya pergi ke Pulau Dadap minta bantuan
Putri Kunang sahabatmu itu."
"Baik, kalau begitu, tolong cari tahu di mana le-
tak Pulau Dadap itu, Paman!"
"Baik. Aku akan tanya pada orang yang tahu le-
taknya."
Suto Sinting bersungut-sungut dongkol, "Uuh...
keduanya sama-sama dungu! Mau dibantu malah ber-
lagak sok tahu!"



3

KEDUA orang itu akhirnya ditinggalkan oleh
Pendekar Mabuk. Ia merasa sia-sia menyediakan diri
membantu Gadis Dungu yang tidak pernah mau mem-
percayai kata-katanya. Namun anehnya, baru bebera-
pa saat Suto Sinting tinggalkan gadis itu dengan pe-
layan gurunya, tiba-tiba langkahnya terpotong oleh
mereka juga yang datang secara beruntun. Gadis Dun-
gu sengaja berdiri di depan langkah Suto Sinting, lalu
Comblang Sajak menyusulnya dari belakang. Suto
Sinting pandangi Gadis Dungu dengan dahi berkerut
tipis.
Suto Sinting sengaja diam dan tak mendahului
bicara selain hanya menatap dengan kalem. Gadis
Dungu dekati Suto, lalu menyapa dengan suaranya
yang  masih bernada ketus dan berlagak angkuh, se-
hingga kecantikannya kian menggemaskan.
"Kudengar tadi kau bicara tentang Pulau Da-
dap, Dogol! Benarkah kau tahu ke mana arah yang ha-
rus kutuju untuk sampai ke Pulau Dadap?!"
"Dasar dungu!" gerutu hati Suto, namun mu-
lutnya lontarkan kata bernada menyindir jengkel.
"Bukankah kau juga tahu jalan menuju Pulau
Dadap? Kau bukan anak kemarin sore, Gadis Dungu,
pasti kau tahu arah ke sana."
"Daya ingatku agak berkurang sejak terkena ju-
rus 'Racun Jamur Setan' tadi. Aku lupa arah menuju
ke Pulau Dadap itu."
Pendekar Mabuk tersenyum kecil, sengaja di-
buat sinis untuk membalas sikap si gadis tadi.
"Aku tidak tahu arah ke sana. Aku sendiri men-
jadi lupa sejak kau merasa tahu tentang Pulau Dadap.

Sebaiknya suruh pelayan gurumu itu untuk mencari
orang yang tahu arah ke Pulau Dadap."
"Paman Comblang Sajak sudah mencarinya ke
mana-mana, namun ia tidak menemukan orang yang
tahu arah ke Pulau Dadap," ujar Gadis Dungu terang-
terangan membual. Tak mungkin Comblang Sajak su-
dah mencari ke mana-mana, sebab perpisahannya
dengan Suto Sinting belum ada seratus helaan napas.
Karenanya Suto Sinting tertawa geli tanpa suara sam-
bil geleng-geleng kepala, merasa kagum dengan keang-
kuhan dan kebodohan si Gadis Dungu itu.
"Kalau kau membual sebaiknya yang  masuk
akal, jadi bualanmu tidak akan diketahui orang."
"Aku tidak membual! Aku benar-benar mau
menuju ke Pulau Dadap," kata Gadis Dungu, berlagak
tak jelas maksud ucapan Suto Sinting. Kini si pelayan
Nyai Serat Biru angkat bicara juga kepada Pendekar
Mabuk.
"Kami hanya ingin menguji kau punya janji. Ji-
ka kau pemuda terpuji, kau pasti tak akan menolak
untuk tepati janji tanpa sesaji barang sebiji."
Suto Sinting akhirnya tarik napas dalam-
dalam, berusaha memaklumi sikap mereka dan tidak
mempermasalahkan.
"Capailah pantai utara lebih dulu, kemudian...,"
ucapan itu terhenti seketika karena Comblang Sajak
berseru dengan suara tertahan berat,
"Aaahhg...! Heeegh...!"
Gadis Dungu yang ada di depan Comblang Sa-
jak cepat palingkan kepala ke belakang. Mata gadis itu
terbelalak kaget, raut wajahnya pun berubah menjadi
tegang. Perubahan itu dialami pula oleh Pendekar Ma-
buk yang mulutnya ternganga tak bergerak.
Mata mereka berkedip, kesadaran mereka mu-

lai menggerakkan seluruh anggota badan setelah
Comblang Sajak tumbang ke  depan dengan tak ber-
nyawa lagi.
Brrruk...!
"Pamaaann...!" pekik Gadis Dungu segera
memburu ke tubuh yang tumbang ke depan dan seka-
rang dalam keadaan telungkup di tanah itu. Dalam
keadaan seperti itulah, maka Gadis Dungu dan Suto
Sinting menjadi tahu bahwa Comblang Sajak telah dis-
erang dari belakang dengan pisau kecil bergagang pen-
dek sekali dengan hiasan rumbai-rumbai benang un-
gu. Pisau itu berukuran setengah jengkal dan menan-
cap telak di punggung Comblang Sajak hingga gagang
pisaunya hampir terbenam. Di punggung itu terdapat
tiga pisau yang menancap, salah satu pisau tepat ke-
nai tengkuk kepala Comblang Sajak.
Baru saja Suto Sinting ingin membungkuk
mendekati mayat Comblang Sajak, tiba-tiba ekor ma-
tanya melihat beberapa kelebat benda melesat ke arah
Gadis Dungu. Gerakan benda itu sangat cepat, sam-
pai-sampai tak ada waktu lagi bagi Suto Sinting untuk
berteriak memperingatkan Gadis Dungu. Tindakan
yang lebih tepat bagi Suto Sinting adalah menyambar
bumbung tuaknya dari punggung lalu menghadangkan
bambu bumbung  tuak itu ke depan leher si Gadis
Dungu. 
Wuuut...! Traaang...! Slaaap...!
Pisau itu menghantam bumbung tuak, gera-
kannya menjadi berbalik arah dengan lebih cepat dari
gerakan semula. Wuuus...! Pisau itu menembus masuk
ke semak belukar. Sraak...! Kejap berikut terdengar
suara orang berseru tertahan.
"Uugh...!!"
"Apa yang kau lakukan padaku?! Mau meng-

hantamku dengan bambumu itu, hah?!" sentak Gadis
Dungu kepada Suto Sinting dengan wajah berang.
Yang dibentak hanya menggeram dalam hati penuh ke-
jengkelan, hidungnya menyentakkan dengusan napas
yang untung tak sampai menghadirkan kekuatan jurus
'Napas Tuak Setan' yang menjadi jurus sangat berba-
haya dan jarang digunakan oleh si murid sinting Gila
Tuak itu.
"Kau selalu mencurigai aku dengan hal-hal
yang buruk, Indayani! Kau sangka aku ini...," kata-
kata itu terhenti kembali.
Tiga mata pisau bergerak bagaikan cahaya pu-
tih dari tiga arah. Sasarannya adalah tubuh Gadis
Dungu. Rupanya penyerang tersebut bukan hanya sa-
tu orang, melainkan lebih dari satu. Sedikitnya tiga
orang ada di balik semak mengintai nyawa Gadis Dun-
gu dan Suto Sinting.
Melihat tiga cahaya mengkerilap datang dari ti-
ga arah, maka tangan Suto Sinting segera menyambar
lengan Gadis Dungu. Tangan itu disentakkan, sehing-
ga tubuh Gadis Dungu bagaikan jatuh dalam pelukan
Pendekar Mabuk. 
Wuuut...! Pluuk...!
"Aih, kurang ajar!"
Plak...! Pipi kanan Suto Sinting ditampar keras
oleh Gadis Dungu, karena gadis itu menganggap se-
dang ingin diperkosa oleh Suto Sinting. Karuan saja
tamparan itu membuat Suto Sinting menjadi tersentak
seketika dan menggeragap sesaat. Sedangkan tiga pi-
sau dari tiga arah itu saling melesat menemukan tem-
pat kosong. Sasaran ketiganya adalah pohon yang ada
searah dengan kecepatan geraknya. Jrrrub...! Keti-
ganya sama-sama menancap ke batang pohon tanpa
ada perbedaan waktu sedikit pun. Hal itu menimbul-

kan dugaan, bahwa penyerang itu dilakukan oleh tiga
orang dengan isyarat tertentu untuk mencapai kesa-
maan gerak terbang pisau-pisau berbenang ungu itu.
"Lepaskan aku, jangan jamah tubuhku, Setan!"
bentak Gadis Dungu sambil meronta dari pelukan Suto
Sinting walau gerakan merontanya itu cukup lemah,
bagai malas-malasan lepas dari pelukan sang pemuda
berbadan kekar dan tegap itu.
"Lepaskan, Dogol! Kalau kesabaranku hilang,
kuhancurkan wajahmu dengan kuku-kuku jariku ini!"
sambil menunjukkan kelima jari tangan kirinya yang
berkuku tajam.
Tiba-tiba dari berbagai penjuru muncul pisau-
pisau kecil yang melesat serempak ke arah mereka.
Wut, wut, wut, wut, wut...!
Weeesss...! Pendekar Mabuk sentakkan kaki
dan tubuhnya melesat lurus ke atas sambil tetap me-
meluk Gadis Dungu. Dalam sekejap saja mereka sudah
berada di atas sebuah pohon berdaun rimbun. Si Ga-
dis Dungu terperanjat kaget mengetahui keadaannya
sudah berada di atas pohon yang cukup tinggi. Saat ia
dibawa terbang lurus ke atas oleh Suto Sinting, ia ti-
dak merasakan gerakan itu, karena ia masih terkesiap
oleh datangnya pisau-pisau kecil dari berbagai penjuru
itu. Maka ketika ia sadar dirinya sudah berada di atas
pohon dalam dekapan Suto Sinting, mulutnya tak bisa
terkatup untuk sesaat, lidahnya menjadi kelu tak
mampu berucap kata, bahkan menelan ludah pun te-
rasa sulit.
Craaang...!
Pisau-pisau yang jumlahnya sekitar sepuluh bi-
lah itu saling beradu pada satu titik, yaitu titik di ma-
na tadi Suto Sinting dan Gadis Dungu berdiri dalam
satu dekapan. Mata si Gadis Dungu sempat melihat

perpaduan pisau-pisau kecil itu dari atas pohon. Be-
rarti gerakan tubuh Suto Sinting melesat ke atas po-
hon lebih cepat daripada gerakan pisau-pisau terbang
ke titik sasaran.
Seharusnya si gadis berkalung gendang kecil
itu dapat menyimpulkan, bahwa gerakan itu adalah
gerakan peringan tubuh yang sangat tinggi dan hanya
mampu dilakukan oleh orang-orang berilmu lebih ting-
gi darinya. Tetapi nyatanya Gadis Dungu justru me-
nyentak kepada Suto Sinting dengan mata membelalak
berang dan sikap menjengkelkan.
"Lepaskan pelukanmu! Gara-gara ulahmu aku
jadi tak mampu menangkis pisau-pisau itu! Dasar pe-
muda hidung belang!"
"Bukannya terima kasih, malah ngomel?!" geru-
tu Suto Sinting dalam hatinya. Maka ia pun mele-
paskan pelukannya dengan mendengus kesal menahan
kejengkelan.
Gadis Dungu turun dengan memamerkan ke-
hebatannya dalam bersalto di udara. Wuuut, wuuut...!
Jleeg! Kakinya mendarat ke tanah dengan tegap dan
sigap. Kuda-kudanya langsung terpasang penuh kesia-
gaan menghadapi serangan lawan. Dengan wajah pe-
nuh kemarahan ia berseru lontarkan tantangan kepa-
da lawannya.
"Keluar kalian dari persembunyian! Jangan
menjadi pengecut bernyali belut! Jika mau tawuran,
majulah bersama! Aku tak akan gentar hadapi tikus-
tikus licik macam kalian! Keluaaarr...!"
Tak ada yang muncul satu pun dari balik se-
mak dan pepohonan. Suto Sinting memperhatikan dari
atas pohon dengan geleng-geleng kepala. Hatinya pun
membatin kagum, "Keberaniannya patut mendapat
acungan jempol. Tapi kebodohannya sungguh luar bi-

asa! Ia tak sadar kesombongannya itu dapat mencela-
kakan jiwanya setiap saat. Gadis itu benar-benar
punya otak yang sangat berbahaya bagi keselamatan-
nya sendiri! Hmmm... baru sekarang kutemukan gadis
sedungu dia!"
Karena tak ada yang muncul dari persembu-
nyian, Gadis Dungu yang sudah dibakar dendam ka-
rena kematian pelayan gurunya itu segera menabuh
gendangnya dengan dua tangan.
Dung, dung, plak.... Dung, dung, plang.
Plak, dung, plak, dung, blang, plak, dung,
dung....
Suara gendang bertalu membuat semak-semak
makin lama semakin tampak bergerak-gerak. Lalu, da-
ri dalam semak belukar itu muncul sosok manusia
yang menari-nari dengan wajah penuh ceria mengikuti
irama gendang. Mereka muncul dari berbagai arah
sambil bertandak bergoyang pinggul berlenggak-
lenggok. Jumlah mereka ternyata lebih dari sepuluh
orang. Hal itu membuat Suto Sinting terkejut dan ter-
bengong.
"Rupanya aku dan dia telah terkepung sejak
tadi?! Dan... oh, siapa mereka itu?! Manusia dari mana
mereka?!"
Hal yang membuat Suto Sinting semakin tam-
bah terheran-heran adalah sosok para pengepung yang
kini sedang berjoget seiring irama gendang bertalu itu.
Mereka adalah orang-orang kerdil berkulit hitam dan
berkilauan. Sepertinya kulit mereka dibalur minyak
sekujur tubuh. Mereka hanya mengenakan cawat dari
kulit binatang tanpa baju atau pakaian lain. Di ping-
gang mereka mengenakan sabuk yang penuh dengan
pisau kecil. Mereka adalah para lelaki kerdil yang
mempunyai bentuk wajah beraneka ragam; ada yang

lonjong, ada yang bulat, ada yang mungil, ada pula
yang pletat-pletot dengan tulang rahang tak seimbang
besarnya. Rata-rata berambut pendek dan ikal.
Sungguh lucu memandangi mereka saling ber-
joget dengan teriakan-teriakan kegirangan, bagaikan
menikmati pesta yang penuh sukacita. Gadis Dungu
sendiri sempat terkesima memandangi mereka dengan
tangan masih tetap menabuh gendang.
Tetapi agaknya ada satu orang yang berilmu
tinggi. Orang kerdil yang berilmu tinggi itu berambut
panjang, tapi bagian depannya botak. Tampak sudah
tua, terbukti rambutnya sudah beruban tak rata, ia ti-
dak terpengaruh oleh suara gendang, sehingga tidak
ikut-ikutan berjoget. Orang itulah yang segera melem-
parkan pisau terbangnya ke arah punggung Gadis
Dungu.
Wuuuss...! Tepat pada saat itu tubuh Gadis
Dungu berpaling ke arahnya. Pisau itu langsung me-
nancap di dada, bawah pundak kiri si Gadis Dungu.
Jrrrub...!       
"Aaagh...!" Gadis Dungu terpekik. Tubuhnya
mengejang sesaat, lalu meliuk jatuh berlutut. Tangan-
nya tak mampu menabuh gendang lagi. Nafasnya pun
tampak memberat. Ia mulai kesulitan bernapas. Itu
pertanda ia terkena racun ganas yang ada pada pisau
berekor benang rumbai ungu.
"Serang dia! Hancurkan!" perintah si rambut
panjang kepada para manusia kerdil yang sudah ber-
henti berjoget.
"Celaka!" geram Suto Sinting dengan tegang
melihat mata Gadis Dungu mulai sayu pertanda tak
mampu bertahan lagi. Orang-orang kerdil pun segera
menyerangnya dari berbagai arah. Pada saat itulah Su-
to Sinting tak banyak berpikir lagi, segera gunakan ju-

rus 'Gerak Siluman' yang mampu bergerak melebihi
kecepatan anak panah, menyamai kecepatan hembu-
san angin badai.
Zlaaap...! Weees...!
Gadis Dungu disambar dan dilarikan oleh Pen-
dekar Mabuk, sehingga para manusia kerdil itu menye-
rang tempat kosong. Akibatnya mereka saling berta-
brakan dalam satu titik. 
Brrrus...!
"Aaauuh...! Uuuhg...! Heegh...! Waadoww...!"
mereka saling pekik kesakitan. Salah seorang ada yang
berseru bernada tegang dan penuh keheranan.
"Hilang! Gadis itu hilang lenyap begitu saja!"
"Cari! Gali tanah itu, siapa tahu dia menengge-
lamkan diri ke dalam tanah itu! Lekas cariii...!" teriak
si rambut panjang yang agaknya sebagai ketua para
orang kerdil itu. Maka mereka pun segera menggali ta-
nah tempat Gadis Dungu berlutut tadi. Mereka meng-
gali dengan cakar  tangannya  yang bergerak cepat
berkesan liar dan ganas. Mereka tidak melihat gerakan
Suto Sinting menyambar gadis itu karena kecepatan
gerak si Pendekar Mabuk memang tak bisa dilihat den-
gan mata telanjang. Namun bagi orang berilmu tinggi
yang telah kuasai indera keenamnya, ia mampu meli-
hat gerakan dari jurus 'Gerak Siluman'-nya Pendekar
Mabuk itu. Kecepatan gerak seperti itu hanya dimiliki
oleh beberapa tokoh sakti, termasuk guru si Pendekar
Mabuk yang dikenal dengan nama Gila Tuak dan Bi-
dadari Jalang. Kedua tokoh ini namanya masih berada
di urutan teratas dari daftar orang-orang sakti di rimba
persilatan.
Tak heran jika Suto Sinting mampu kuasai ju-
rus 'Gerak Siluman', sehingga dalam waktu singkat ia
sudah berada di suatu tempat yang jauh dari kerumu-

nan orang-orang kerdil itu.
Di bawah tebing berongga menyerupai goa, Su-
to Sinting meletakkan Gadis Dungu dalam keadaan
duduk bersandar pada salah satu dinding goa terse-
but. Suara debur ombak terdengar dari tempat mereka
berada, karena goa itu memang terletak di tepi pantai
yang penuh dengan gugusan batu karang di bagian
depannya. Tempat itu amat sunyi, sehingga Suto Sint-
ing merasa aman membawa si Gadis Dungu ke tempat
tersebut.
Wajah si gadis tampak memucat bagaikan wa-
jah mayat dalam liang kubur. Ia masih berusaha ber-
tahan dengan napas yang sangat berat. Sesekali mu-
lutnya keluarkan desis menahan rasa sakit di sekujur
tubuhnya.
Racun pada pisau yang masih menancap di da-
da kirinya itu membuat bagian dalam tubuh Gadis
Dungu bagaikan dihujam jutaan jarum panas. Dari
ubun-ubun kepala sampai ujung kaki terasa sakit dan
perih sekali. Detak jantungnya pun terasa semakin
melemah, ketegangan urat-uratnya mulai terasa men-
gendur. Gadis Dungu tak mampu lagi gerakkan anggo-
ta tubuhnya kecuali bibir dan lidah. Ia masih mampu
keluarkan suara walau amat pelan.
Matanya yang mengecil sayu berusaha pandan-
gi Suto Sinting yang duduk di atas batu karang datar
di depannya. Pemuda tampan itu tampak tenang, bah-
kan sempat menenggak tuaknya beberapa teguk. Ia
bersikap acuh tak acuh melihat keadaan si gadis yang
amat menderita itu. Sikap tersebut sengaja dilakukan
dengan paksa, walau hati Suto sebenarnya tak tega
melihat penderitaan si Gadis Dungu.
"Dogol...," ucap si gadis dengan lirih, menye-
dihkan sekali kedengarannya. Tapi Suto Sinting me-

maksakan hatinya untuk tabah. Seolah-olah ia tak
berbelas kasihan sedikit pun kepada gadis itu. Sang
gadis memandang dengan penuh harap pertolongan.
"To... tolonglah aku, Dogol...! Saa... sakit sekali
sekujur tubuhku. Tolong... tolong cabutkan pisau ini,
Dogol...."
"Cabut saja sendiri," ujar Suto Sinting  sambil
bangkit dan melangkah ke tepi goa, memandang om-
bak di sela-sela tonjolan batu karang. Si gadis merintih
pelan, kepalanya berusaha berpaling dengan susah
payah sekali. Wajahnya dihadapkan kepada Suto Sint-
ing, memandang dengan sangat menyedihkan hati.
"Dogol... tolonglah aku. Ak... aku tak kuat lagi
menahan racun pada pisau ini. Tooo... long... aku, Do-
gol!"
Dengan tanpa memandang si gadis, Suto Sint-
ing berkata agak keras supaya didengar lawan bica-
ranya.
"Namaku bukan Dogol! Aku adalah Pendekar
Mabuk; Suto Sinting, murid si Gila Tuak!"
"Terserah...," ucap si gadis semakin lirih. "Kau
boleh mengaku murid siapa saja, tapi... tolonglah aku,
selamatkan jiwaku, Dogol! Usahakan agar aku jangan
sampai mati di sini."
"Maunya mati di mana?" sambil Suto Sinting
berpaling memandang dengan keharuan tersimpan da-
lam hatinya.
Gadis itu semakin meredupkan mata. Bibirnya
yang ranum bergerak samar-samar, suaranya pun ter-
dengar kecil sekali.
"Aku... tak mau mati.... Aku belum kawin, Do-
gol. Selamatkan nyawaku ini.... Nyawaku hanya... sa-
tu...."
"Hmm...!" Suto Sinting tertawa pendek. Hatinya

masih dongkol juga karena si gadis tetap saja tak mau
memanggilnya sebagai Suto Sinting. Padahal sikap
acuh tak acuhnya itu diharapkan dapat meluluhkan
hati si gadis dan mengakui bahwa pemuda yang ber-
samanya itu adalah Suto Sinting, Pendekar Mabuk
yang menjadi murid si Gila Tuak. Namun ternyata ga-
dis itu tetap keras kepala walau dalam keadaan se-
menderita itu.
"Sembuhkan sendiri lukamu dengan keangku-
hanmu, Indayani!" sambil Suto Sinting buang muka
kembali, memandang ke arah ombak laut yang meriak
di pantai. Suasana pun menjadi sepi, karena Gadis
Dungu tak perdengarkan suara lagi. Suto Sinting curi-
ga, lalu berpaling menatap ke arah si gadis.
Indayani pejamkan mata dengan tenang. Serin-
gai penahan rasa sakit tak terlihat di wajah cantiknya.
Gadis itu diam tanpa gerakan apa pun. Bahkan gera-
kan dada montoknya yang menarik napas tidak ada
lagi. Suto Sinting menjadi tegang dan sangat cemas
melihat keadaan seperti itu. Ia segera menghampiri
dan memeriksa si gadis.
"Gawat! Tubuhnya telah menjadi sedingin balok
es! Wah, kacau berat kalau begini! Dia mati...?!"
Suto Sinting mulai panik, hatinya diliputi rasa
sesal dan cemas. Jantungnya sendiri menjadi berde-
bar-debar. Ia memeriksa denyut nadi si Gadis Dungu
itu.
"Masih ada denyut nadinya walau lemah sekali.
Oh, mungkinkah masih bisa kuselamatkan?!"
Ia buru-buru membuka tutup bumbung tuak-
nya sambil membatin,
"Alangkah menyesalnya aku jika gadis ini sam-
pai benar-benar mati. Aku tadi hanya main-main, tidak
bermaksud membiarkannya menderita. Aku hanya in-

gin memberi pelajaran terhadap keangkuhannya itu.
Tapi... tapi mengapa dia menjadi selemah ini? Jangan-
jangan ia benar-benar mati sebelum aku berhasil me-
minumkan tuak ke mulutnya?! Adduuh... tumben se-
kali tutup bumbung tuakku ini sulit dibuka?! Ada apa
dengan tutup ini?" Suto Sinting memeriksa bumbung
sejenak.
"Ya, ampuuun... terbalik! Yang kubuka bagian
bawah bumbung. Tentu saja tak akan bisa dibuka, ka-
rena bagian yang berlubang terjungkir ke bawah,
dan... yaa, Dewaaa...! Tuaknya tumpah! Pantas sejak
tadi kudengar suara mengucur, kusangka suara air
laut, ternyata suara tuakku yang tumpah! Sial! Benar-
benar sial ini namanya! Lalu bagaimana dengan nasib
Gadis Dungu jika tanpa tuak dari bumbung sakti ini?!"
Pendekar Mabuk menjadi bertambah panik. Ge-
rakannya semakin menggeragap bagaikan serba salah.

4

RUPANYA si cantik yang angkuh itu ke mana-
mana selalu diikuti oleh  dewa keberuntungan. Kea-
daannya yang sekarat dapat dihindari walaupun mela-
lui pertolongan orang lain. Suto Sinting berhasil sela-
matkan jiwa si Gadis Dungu dengan sisa tuak yang

masih ada di bumbung. Tuak yang tersisa tinggal sedi-
kit, mungkin tinggal dua puluh tegukan lagi, dan Suto
meminumkan sebagian tuak yang tersisa ke mulut Ga-
dis Dungu. Tak peduli dengan cara memasukkan tuak
dari mulut Suto Sinting ke mulut si Gadis Dungu se-
perti orang berciuman mulut dengan mulut, yang pent-
ing tuak itu tertelan oleh si gadis, dan nyawa si gadis

pun terselamatkan.
Seandainya gadis itu mengetahui bagaimana
Suto Sinting menuangkan tuaknya hingga tertelan oleh
si gadis, tentu gadis itu akan marah dan merasa ter-
singgung. Sebab sengaja ataupun tidak, bibir Suto
Sinting menempel di bibir si gadis untuk meniupkan
napas pendorong tuak agar masuk ke tenggorokan.
Tapi sudah tentu hal itu tak akan diceritakan
kepada si gadis. Suto Sinting hanya angkat bahu keti-
ka gadis itu bertanya dengan nada ketus dan sikap
mulai angkuh,
"Bagaimana caramu mengobati lukaku!"
"Entah. Aku lupa," jawab Suto membalas den-
gan keangkuhan.
Si gadis segera tidak peduli dengan bagaimana
cara pengobatan yang dilakukan oleh Suto Sinting.
Baginya ia merasa lega karena kesehatannya telah pu-
lih, kekuatannya telah kembali seperti sediakala, bah-
kan tubuhnya merasa lebih segar dari sebelum terkena
pisau beracun. Ia juga merasa lega karena luka di dada
kirinya tidak meninggalkan bekas sedikit pun. Dengan
begitu keadaan kulit tubuhnya tetap mulus tanpa ca-
cat seujung jarum pun.
Senja memancarkan cahaya merah di ufuk ba-
rat. Matahari yang nyaris tenggelam habis dipandangi
oleh Pendekar Mabuk yang duduk di atas sebuah batu
karang datar. Ia sengaja membiarkan Gadis Dungu ada
di dalam goa. Ia bingung memikirkan bagaimana harus
bersikap terhadap Gadis Dungu yang angkuh itu.
Senja yang sebentar lagi akan berganti petang
ternyata menghadirkan deru angin agak kencang.
Rambut Suto Sinting murid Gila Tuak meriap-riap dis-
apu angin. Deru angin itu membuat telinganya tak
mendengar langkah kaki Gadis Dungu yang mendeka-

tinya sambil tetap berkalung gendang kecil. Tahu-tahu
gadis itu lewat di samping Suto, memandang ke arah
cakrawala dengan rambutnya yang bergerai-gerai. Ia
berhenti di bagian samping depan Suto Sinting dalam
jarak dua langkah. Suaranya terdengar tanpa berpal-
ing memandang wajah Pendekar Mabuk.
"Dua kali kau pamer kehebatanmu dengan me-
nyelamatkan nyawaku. Sampai sekarang aku tak tahu
apa maksudmu memamerkan ilmu perdukunanmu itu,
Dogol. Apa yang kau harap dariku sebenarnya?"
"Tak ada yang bisa kuharap darimu," jawab Su-
to Sinting dengan pelan namun punya makna  dalam
bagi orang yang cerdas. Sayang sekali gadis itu agak-
nya benar-benar dungu, sehingga ia tidak merasa ter-
singgung dengan kata-kata yang bersifat merendahkan
dirinya itu.
"Syukurlah jika kau tak mempunyai harapan
apa-apa dariku. Sebab jika kau mempunyai suatu ha-
rapan dariku, kau akan kecewa besar, karena aku tak
pernah memenuhi harapan seorang lelaki hidung be-
lang seperti dirimu."
Selesai bicara begitu, ia berpaling menatap Suto
Sinting dengan sorot pandangan mata berkesan mere-
mehkan sekali. Namun Suto Sinting berusaha untuk
tidak mengambil hati sikap itu. Ia hanya ter-senyum
tipis, kemudian berkata dengan kalem.
"Seandainya aku tahu banyak tentang dirimu,
aku dapat lebih banyak membantu kesulitanmu, Gadis
Dungu."
Setelah membisu beberapa saat dengan tetap
memandang tanpa kedip, gadis itu pun akhirnya aju-
kan tanya kepada Suto Sinting,
"Apa yang ingin kau tahu dariku? Kau senang
mengorek rahasia pribadi seseorang rupanya."

"Terserah penilaianmu, yang jelas kulihat kau
terancam bahaya berulang kali. Berarti  kau mempu-
nyai banyak musuh. Biasanya orang yang punya ba-
nyak musuh, tindak tanduknya dalam bermasyarakat
selalu bikin onar atau merugikan orang lain."
Gadis Dungu mendekatkan wajah dan menatap
lebih nanap lagi.
"Kurobek mulutmu jika sekali lagi mengatakan
diriku sebagai gadis pembuat onar dalam masyarakat!
Aku tersinggung dengan ucapanmu itu, Dogol!"
Pendekar Mabuk hanya sunggingkan senyum
tipis namun punya daya pesona yang cukup mengge-
tarkan hati para wanita. Ancaman itu diremehkan,
bahkan Suto Sinting berkata dengan sedikit ketus un-
tuk membalas keangkuhan si gadis.
"Apakah kau mampu merobek mulut orang
yang telah menyelamatkan nyawamu dua kali ini?"
"Jika hai itu perlu, tak ada pekerjaan yang tak
mampu kulakukan! Kau pikir aku takut berhadapan
denganmu? Hmmm... ilmumu belum seberapa, Dogol!
Jangan merasa hebat di depanku."
Suto Sinting tertawa tanpa suara, tubuhnya
bergerak-gerak dengan senyum kian melebar. Hati pun
sempat membatin penuh rasa heran atas sikap angkuh
yang masih saja sekeras baja itu.
"Tak ada ucapan terima kasih apa pun darinya,
tapi ia justru selalu mengecamku dan merasa berilmu
lebih tinggi dariku. Apakah begitu ajaran dari gu-
runya? Atau... mungkin karena ia seorang wanita, se-
hingga merasa perlu bersikap seangkuh ini di depan
seorang lelaki agar harga dirinya tak direndahkan?"
Setelah lemparkan pandangan ke cakrawala la-
gi, Gadis Dungu perdengarkan suaranya yang berke-
san dingin itu.

"Dua kali aku hampir mati, dua kali kau me-
nyelamatkan nyawaku. Tapi apalah artinya kau sela-
matkan jiwaku sementara kau biarkan perutku kela-
paran begini?!"
"Kau lapar?! Oh, ya... aku pun Juga lapar."
"Dangkal sekali otakmu, Dogol. Seandainya aku
menjadi seorang lelaki yang mendengar seorang gadis
kelaparan, aku akan berusaha mencari makanan un-
tuk mengisi perut si gadis agar tak kelaparan. Setidak-
nya dengan cara begitu si gadis akan menilai bahwa le-
laki itu punya tanggung jawab dan mampu menjamin
kehidupan serta masa depannya."
Suto Sinting geli sendiri mendengar sindiran
seperti itu. Ia segera berdiri sambil menarik napas da-
lam-dalam.
"Aku akan mencarikan makanan untukmu asal
kau mau berjanji menceritakan siapa orang-orang ker-
dil yang menyerangmu dan menewaskan si Comblang
Sajak itu?"
Gadis Dungu gelengkan kepala sambil pandan-
gi Suto Sinting.
"Aku tak mau mengikat janji dengan lelaki ma-
na pun. Bagiku, setiap lelaki akan selalu  meman-
faatkan janji seorang wanita demi kepentingan priba-
dinya sendiri. Kalau kau mau mencarikan makanan
untukku, pergilah tanpa syarat apa pun dariku!"
"Kalau aku tak mau?"
"Jangan harap kau mendapat cerita tentang
orang-orang kerdil dariku!" jawabnya dengan ketus
dan buang muka. Tampak sekali keangkuhan dan si-
kap plin-plan yang membingungkan itu. Namun Pen-
dekar Mabuk hanya sunggingkan senyum menawan,
seakan tak mau memikirkan permainan kata-kata tadi.
Ketika Pendekar Mabuk bergegas pergi, Gadis

Dungu sempat bertanya dengan suara bernada was-
was.
"Mau ke mana kau?"
"Mencari kedai untuk mengisi bumbung tua-
kku!"
"Apakah... apakah aku harus tetap di sini me-
nunggumu?"
Suto Sinting angkat bahu, "Terserah...! Aku tak
mau menyuruh seorang gadis menungguku, karena
aku tak mau terikat janji dengan gadis mana pun."
"Hmm...!" gadis itu mendengus kesal, ucapan-
nya tadi dibalikkan oleh Suto Sinting. Wajah yang ber-
sungut-sungut menahan dongkol cukup menghibur
hati Pendekar Mabuk hingga tawanya terdengar pelan
namun sedikit panjang. Ia pun segera bergegas pergi.
Gadis Dungu melompat ke atas gugusan karang dan
berseru kepada Pendekar Mabuk yang meninggalkan-
nya.
"Apakah kau akan kembali membawa makanan
untukku?"
"Doakan saja semoga aku berpikiran begitu!"
jawab Suto Sinting sambil teruskan langkahnya. Ia tak
pedulikan wajah si gadis yang cemberut berkesan
manja. Ia pun tak tahu kalau si gadis menjadi bimbang
dalam sikapnya dan batinnya pun bertanya,
"Haruskah aku menunggunya di goa ini?
Uuh...! Untuk apa aku menunggunya, nanti dia besar
kepala. Dan lagi, belum tentu ia kembali ke sini lagi
menemuiku. Sebaiknya kutinggalkan saja. Aku harus
kembali ke padepokan untuk menengok keadaan Guru
yang menurut Paman Comblang telah terkena Racun
Batu Bisu itu. Oh, kasihan nasib Paman Comblang,
aku harus laporkan pada Guru tentang kematian Pa-
man Comblang itu. Tapi...," wajah cantik itu mulai di-

liputi kebimbangan kembali.
"Tapi jika aku pergi, bagaimana dengan si Dogol
jika ia kembali lagi kemari dengan membawakan ma-
kanan untukku? Kasihan makanan itu, tak ada yang
menelannya. Bisa-bisa hanya akan dibuang begitu saja
oleh si Dogol!"
Keangkuhan dan kebodohan Indayani telah
membuat rasa penasaran tersendiri di hati Pendekar
Mabuk. Ketika ia menyadari kepergiannya mencari se-
buah kedai, ia semakin merasa heran oleh sikapnya
sendiri.
"Mengapa aku menuruti keinginan gadis ang-
kuh itu? Hatiku tergerak untuk mencari makanan ba-
ginya. Bukankah itu berarti aku punya perhatian ter-
sendiri kepada si angkuh Indayani? Mengapa aku jadi
memperhatikannya, sedangkan ia tidak peduli sama
sekali dengan jati diriku?! Ah, sial amat nasibku hari
ini. Aku jadi diperbudak  oleh  perasaanku. Gadis itu
pandai membuatku penasaran dan sulit bersikap masa
bodo kepadanya!"
Bumbung tuak diisi penuh ketika Pendekar
Mabuk berhasil temukan sebuah kedai di perkampun-
gan nelayan. Ia sempatkan mengisi perutnya sendiri
sekenyang mungkin.
"Aku akan pulang tanpa membawa makanan.
Biar gadis itu tahu bagaimana cara menghargai seseo-
rang  agar orang lain pun menghargainya," pikir Suto
Sinting. Tiba-tiba kecamuk dalam pikirannya itu ter-
henti oleh pembicaraan tiga orang pengunjung kedai
yang duduk di deretan sebelah kirinya.
"Kalau usaha kita ini berhasil; Gadis Dungu
dapat kita tangkap dan kita serahkan kepada Pangeran
Umbardanu, hadiah bagianku akan kugunakan untuk
melamar Suntini, gadis anak Ki Lurah Mangkat itu."

"Cocok! Aku juga punya rencana begitu. Upah
menangkap si Gadis Dungu akan kugunakan sebagai
mas kawin lamaranku kepada perawan belakang ru-
mahku itu!" ujar lelaki berbaju kuning. Ia tampak lebih
tampan dari kedua temannya. Usia mereka rata-rata
sekitar tiga puluh tahun kurang.
Lelaki yang berbaju hijau garis-garis merah itu
berkata menimpali ucapan kedua temannya tadi,
"Kalian boleh saja berkhayal dan mengatur ren-
cana, tapi terlebih dulu pikirkanlah bagaimana cara
menangkap si Gadis Dungu itu. Kabarnya gadis itu li-
cin bagaikan belut dan sukar dilumpuhkan. Kalau kita
tak hati-hati melawannya, bisa-bisa nyawa kita me-
layang di tangan gadis murid Nyai Serat Biru itu. Usa-
hakan juga agar penangkapan ini jangan sampai di-
dengar oleh Nyai Serat Biru, sebab jika sampai hal ini
diketahui Nyai Serat Biru, maka perempuan sakti itu
akan turun tangan dan kita akan semakin kewalahan!"
Kita menangkapnya bukan dengan kekerasan,
melainkan dengan siasat jitu yang pernah kita bicara-
kan itu! Kalau kita menangkapnya dengan kekerasan,
pasti kita akan kehilangan nyawa. Bukankah Pangeran
Umbardanu sudah wanti-wanti kepada kita agar lebih
baik menggunakan siasat  daripada melakukan perta-
rungan dengan si Gadis Dungu?"
"Yang kupikirkan seandainya siasat kita gagal,
mau tak mau kita bertarung dengan murid Nyai Serat
Biru itu. Jika sampai terjadi begitu, jagalah nyawa ka-
lian masing-masing. Lebih baik kita kehilangan upah
dari Pangeran Umbardanu ketimbang kita kehilangan
nyawa. Artinya, kalau keadaan kita terdesak, lebih
baik kita cepat melarikan diri dari pertarungan!"
Yang mengenakan pakaian serba hitam segera
berkata, "Aku yakin siasat kita tidak akan gagal. Te-

nanglah kalian, jangan cemas. Kita akan berhasil me-
nangkap Gadis Dungu itu dan menyerahkannya kepa-
da Pangeran Umbardanu dalam keadaan hidup atau-
pun mati."
Pendekar Mabuk diam-diam berkecamuk pe-
nuh keheranan dalam hatinya. Percakapan ketiga
orang berbadan kekar itu disimaknya baik-baik. Seo-
lah-olah kata-kata itu ditujukan pada dirinya untuk
memancing kemarahan. Tetapi Pendekar Mabuk sen-
gaja diam dan tak mau terpancing apa pun oleh perca-
kapan mereka, bahkan ia bersikap seolah-olah tidak
menyimak pembicaraan tersebut, walaupun dalam ha-
tinya diliputi oleh berbagai pertanyaan yang sulit di-
perkirakan jawabannya.
"Siapa orang yang bernama Pangeran Umbar-
danu itu? Mengapa ia sampai mengupah tiga orang
untuk menangkap Gadis Dungu dalam keadaan hidup
atau mati? Agaknya aku perlu tanyakan hal itu kepada
Indayani. Tapi apakah gadis angkuh itu mau berterus
terang menjelaskan apa sebab ia diburu oleh beberapa
orang?" 
Orang berpakaian hijau garis-garis merah itu
terdengar berkata lagi kepada kedua temannya,
"Kudengar dari Perguruan Serikat Jagal juga
sedang memburu si Gadis Dungu. Apa benar begitu?"
"Menurut pengakuan salah seorang murid Du-
pa Dewa yang menjadi sahabatku sejak kecil, memang
begitulah kenyataannya. Pihak Perguruan Serikat Jag-
al juga memburu si Gadis Dungu. Kabarnya hanya in-
gin melenyapkan riwayat hidup si Gadis Dungu agar
tak sempat mencapai usia dua puluh lima tahun."
Batin sang Pendekar Mabuk pun bertanya, "Ada
apa dengan usianya? Apa yang terjadi jika gadis itu
sampai berusia dua puluh lima tahun?! Ah, ada-ada

saja masalah ini, bikin pikiranku menjadi bingung. Ta-
pi... kasihan juga si Gadis Dungu itu, menjadi bahan
buruan beberapa orang yang agaknya sama-sama in-
gin melenyapkan masa hidupnya."


5

RASA ingin tahu membuat Suto Sinting akhir-
nya membawakan makanan untuk Gadis Dungu. Keti-
ka ia tiba di goa tepi laut, suasana petang sudah beru-
bah menjadi malam. Gadis Dungu diam di depan goa,
berdiri di atas batu karang runcing yang dapat me-
nembus telapak kakinya jika ia tidak pergunakan ilmu
peringan tubuh. Rambutnya dibiarkan meriap-riap
disapu angin pantai. Wajahnya diam membisu disinari
cahaya rembulan pucat yang hanya tampak sepotong
dari balik mega.
Pendekar Mabuk hanya sunggingkan senyum
kecil melihat Gadis Dungu berdiri di atas pucuk ka-
rang runcing mirip mata tombak itu. Namun dalam ha-
tinya merasa kagum memandang kecantikan pucat si
Gadis Dungu dalam keadaan berdiri tegak, berkesan
gagah, dengan kedua tangan bersidekap di dada, gen-
dang berada di samping kanannya.
"Dia memang cantik dan menggairahkan. Tapi
aku tak boleh gegabah main cocor saja. Aku sudah
punya calon istri; Dyah Sariningrum. Aku tak mau ter-
libat hubungan asmara dengan perempuan mana pun
demi menjaga kesucian cintaku, juga demi menjaga
harga diri Dyah Sariningrum yang sebagai Ratu di Puri
Gerbang Surgawi yang bertakhta di Pulau Serindu itu,"
ucap Suto Sinting dalam hatinya

Sambung batin Suto lagi, "Kalau hanya sekadar
cium-cium, tak apalah. Demi kesegaran jasmani dan
rohani saja." Lalu ia mengikik geli dalam hatinya.
Pendekar Mabuk terpaksa mendongak karena
letak berdiri si Gadis Dungu cukup tinggi. Ia berseru
dari bawah si Gadis Dungu itu sambil mengangkat
bungkusan makanan yang dibawanya.
"Indayani, aku membawa makanan untukmu!
Turunlah sekarang juga selagi makanannya masih
hangat!"
Indayani, si Gadis Dungu menjawab, "Naiklah,
Dogol! Bawa kemari makanannya!"
Gadis Dungu tahu, Suto Sinting tak akan bisa
naik mendekatinya, karena bentuk batu karang yang
dipakainya berdiri menyerupai tiang runcing tegak lu-
rus. Tak ada tempat untuk memanjat, bahkan jika di-
lakukan dengan sebuah lompatan, tak ada tempat un-
tuk berpijak di dekatnya. Itulah sebabnya Gadis Dun-
gu sunggingkan senyum sinis, melecehkan kebingun-
gan Suto Sinting yang tak punya jalan untuk mende-
katinya.
Pendekar Mabuk segera sadar dirinya diper-
mainkan oleh Indayani yang pamer ilmu peringan tu-
buh itu. Seruan untuk naik mendekatinya merupakan
tantangan bagi Suto Sinting.
"Lekas, naiklah! Jangan bengong saja di situ,
Dogol!"
Pendekar Mabuk akhirnya tersenyum kalem.
Bungkusan makanan ada di kedua tangannya. Dan ti-
ba-tiba tubuh Pendekar Mabuk terangkat ke udara
dengan sendirinya. Makin lama bergerak makin naik
hingga mencapai keadaan sejajar dengan tempat berdi-
rinya Gadis Dungu.
Si gadis terperangah memandangi tubuh Suto

Sinting yang mampu berdiri di udara tanpa alas berpi-
jak sedikit pun. Tubuh itu bagaikan terbang karena
Suto Sinting menggunakan jurus 'Layang Raga' yang
mampu mengangkat tubuhnya ke udara dengan pe-
musatan tenaga peringan tubuh pada kedua telapak
kakinya.
"Kubawakan makanan untukmu, Indayani!"
ujar Suto Sinting dengan kalem dalam keadaan kedua
kaki mengambang di udara.
Indayani masih tertegun bengong karena terke-
sima dengan kehebatan ilmu Pendekar Mabuk itu. Ka-
ta-kata tadi nyaris tidak didengarnya, sehingga ketika
Suto Sinting mengulangi kata-kata itu, Indayani segera
sadar dan segera menggeragap.
"Eh, hmm... ehh... iya.... Makanan, ya? Iya...
eeh...."
"Makanlah sekarang juga, mumpung masih
hangat," kata Suto Sinting sambil menyodorkan bung-
kusan makanan itu. Indayani menerimanya dengan kedua tangan gemetar, mata menatap lurus pada ke-
dua bola mata Suto Sinting yang terkena sorot rembu-
lan pucat menjadi tampak teduh itu. Senyum Suto
Sinting pun mekar, seakan sebagai ungkapan kata
yang menyatakan bahwa ilmunya lebih tinggi dari ilmu
yang dimiliki Indayani. Hai itu membuat Gadis Dungu
menjadi kikuk. Akhirnya keseimbangan tubuhnya pun
terganggu, ia terpelanting jatuh dari pucuk karang.
"Oooh...!!" pekiknya, bungkus makanan terlem-
par.
Wuuus...! Suto Sinting bergerak cepat me-
nyambar bungkus makanan, sedangkan tubuh si gadis
dibiarkan jatuh terhempas di pasir pantai. 
Brrruss...!
"Dasar lelaki tolol!" maki si Gadis Dungu. "Men-

gapa yang kau sambar makanannya? Seharusnya tu-
buhku yang kau sambar biar tak jatuh begini! Uuh...
pinggangku jadi sakit gara-gara ketololanmu, Dogol!"
"Maaf, kupikir ilmumu tinggi sekali dan mampu
selamatkan diri dari kejatuhan, sedangkan makanan
ini tidak mempunyai ilmu apa-apa, jadi dialah yang
kuselamatkan lebih dulu," ledek Suto Sinting sengaja
memberi sindiran yang akan menjengkelkan gadis itu.
Pendekar Mabuk tertawa cekikikan sambil mendekati
Indayani yang telah berdiri dengan tangan pegangi
pinggangnya yang sakit. Wajah gadis itu cemberut bak
ekor perkutut.
"Manusia tak berperasaan kau, Dogol! Cukup
lama aku menunggumu di sini, terhempas angin dice-
kam dingin, tapi begitu kau datang dan aku dalam ba-
haya, kau tidak segera menolongku."
"Aku tahu kau akan jatuh, tapi aku pun tahu
jatuhmu tak akan berbahaya. Jadi yang kuselamatkan
adalah makanan ini, ketimbang berantakan ke mana-
mana tak jadi kau makan," ujar Suto Sinting semakin
mendekat dan hentikan langkah dalam jarak satu tin-
dak di depan gadis itu. Tinggi tubuh si gadis yang sa-
ma dengan tinggi badan Suto Sinting membuat kedua
mata mereka beradu pandang secara lurus dan sejajar.
"Mengapa kau tidak menunggu di dalam goa
biar tidak kedinginan?" ucap Suto Sinting pelan, pe-
nuh kelembutan.
"Di dalam goa keadaannya gelap."
"Apakah kau tak bisa menyalakan api unggun?"
"Tak ada kayu di sana."
"Kau bisa mencarinya di luar goa?"
"Kau tidak menyuruhku mencari kayu."
"Aku juga tidak menyuruhmu menunggu, tapi
mengapa kau lakukan juga pekerjaan menunggu itu?"

"Karena aku lapar!" jawab si Gadis Dungu den-
gan nada ketus.
Senyum Pendekar Mabuk mekar kembali. "Ka-
lau begitu, makanlah makanan ini. Aku akan mencari
kayu bakar."
Setelah menerima bungkusan, Indayani berka-
ta, "Masih hangat. Apakah kedai itu ada di dekat sini?"
"Jauh sekali. Jika ditempuh dengan berjalan
kaki hampir setengah hari."
"Mengapa kau bisa cepat kembali?"
"Karena aku sakti!" jawab Suto Sinting sengaja
menyombongkan diri hanya untuk membalas kesom-
bongan Indayani. Tapi gadis itu mencibir sambil pan-
dangi Suto Sinting yang bergegas mencari kayu bakar.
Ia sempat berseru dengan nada ketus.
"Setiap orang bisa mendapatkan makanan se-
perti ini. Tapi bukan berarti dia sakti. Kesaktian tidak
diukur dari cepat atau lambatnya seseorang menda-
patkan makanan...." 
Kata-kata selanjutnya tak didengar Suto Sint-
ing, karena hati pemuda tampan itu berkecamuk sen-
diri dalam gerutuannya. 
"Benar-benar dungu! Yang kumaksud kecepa-
tan gerakku hingga bisa kembali dalam waktu singkat,
adalah kecepatan orang sakti. Tapi ia sangka aku me-
rasa sakti karena bisa dapatkan makanan. Ah, dasar
otak dipenuhi kesombongan, akhirnya tak bisa men-
gerti maksud pembicaraan orang lain?"
Keheningan malam di tepi pantai sungguh me-
rupakan kehidupan damai yang punya keindahan ter-
sendiri. Deburan ombak bagai irama hidup yang men-
gingatkan adanya tantangan pada diri tiap manusia.
Suasana damai itu kali ini membungkus kedua insan
yang berada dalam goa karang. Nyala perapian meng-

hangatkan suasana, membuat hati mereka saling ber-
kata-kata, yang akhirnya terciptalah percakapan dari
kedua belah pihak.
"Cepat atau lambat aku harus bisa dapatkan
Madu Bunga Salju untuk kesembuhan Guru," ujar In-
dayani sambil bermain tepi perapian dengan sebatang
ranting kering.
Katanya lagi, "Nyai Guru Serat Biru sudah ku-
anggap orangtuaku sendiri. Aku dirawat dan dibesar-
kan oleh beliau sejak berusia dua tahun. Ibuku yang
melahirkan diriku tanpa suami, karena ayahku tewas
di pertarungan, adalah sahabat Nyai Guru. Sehingga
pada waktu Ibu mau meninggal karena luka dari lawan
yang tak bisa disembuhkan, Ibu menyerahkan bayinya
kepada Nyai Guru. Maksudku, anaknya yang masih
kecil diserahkan kepada Nyai Guru untuk dirawat dan
dibesarkan. Hatiku sangat pedih setelah mendengar
kabar Nyai Guru terluka 'Racun Batu Bisu'. Aku tak
ingin kehilangan Nyai Guru, jadi harus berusaha den-
gan bertaruh nyawa untuk dapatkan Madu Bunga Sal-
ju."
"Apa alasan Peri Kedung Hantu sehingga mele-
pas jurus racun berbahayanya kepada Nyai Serat Bi-
ru?" tanya Suto Sinting dengan mata memandang pe-
nuh kesungguhan.
"Aku sendiri sedang bingung memikirkan hal
itu. Seingatku, Peri Kedung Hantu tak pernah berseli-
sih dengan Guru. Satu-satunya perselisihan yang per-
nah  terjadi adalah pertarungan Rusa Merah dengan
murid Peri Kedung Hantu yang bernama Selasi Jumpi.
Itu terjadi empat tahun lalu. Dan pertarungan itu
membuat keduanya tewas. Selasi Jumpi tewas seketi-
ka, sedangkan Rusa Merah tewas setelah sampai di
padepokan."

"Apakah perselisihan itu pernah membuat Peri
Kedung Hantu menuntut kepada pihak perguruan-
mu?"
"Nyai Guru segera lakukan pertemuan dengan
Peri Kedung Hantu. Kalau tak salah, mereka akhirnya
sepakat untuk tidak saling mendendam karena kedua
murid sama-sama tewas. Jika sekarang Peri Kedung
Hantu menyerang Nyai Guru, aku tidak tahu apakah ia
menggunakan alasan perselisihan Rusa Merah dengan
Selasi Jumpi, atau menggunakan alasan lain yang be-
lum pernah kudengar penjelasannya."
Setelah diam sesaat merenungi cerita Indayani,
Pendekar Mabuk yang duduk berhadapan dengan ga-
dis itu segera ajukan pertanyaan kembali dengan sua-
ranya yang lembut.
"Apakah Peri Kedung Hantu ada hubungannya
dengan Dupa Dewa, Ketua Perguruan Serikat Jagal
itu?" 
Gadis Dungu kerutkan dahi pandangi Suto
Sinting. Ia tidak langsung menjawab, namun berpikir
sesaat dan sepertinya menemukan sesuatu yang mulai
menegangkan hatinya.
"Kalau begitu...," ucapnya pelan bagaikan ragu-
ragu, Peri Kedung Hantu menyerang Nyai Guru untuk
membela pamannya!"
"Siapa pamannya itu? Dupa Dewa?!"
"Benar. Dupa Dewa adalah pamannya Peri Ke-
dung Hantu. Keduanya sama-sama beraliran sesat,
namun tidak seganas aliran sesat lainnya. Perguruan
Serikat Jagal tidak sembarangan menjagal orang.
Hanya orang-orang tertentu yang terlibat urusan den-
gan mereka atau yang membahayakan bagi mereka
yang akan dijagalnya tanpa ampun lagi. Peri Kedung
Hantu sendiri mengembangkan aliran sifatnya dengan

mencari murid sebanyak mungkin. Karena ia punya
tujuan untuk membentuk pemerintahan sendiri jika
waktunya telah tiba."
"Sejak kapan pihakmu terlibat bentrokan den-
gan Perguruan Serikat Jagal?"
"Seingatku... baru kali ini saja. Dan agaknya
Nyai Guru tidak tahu kalau orang-orangnya Dupa De-
wa menghendaki kematianku. Aku sendiri tak me-
nyangka kalau Togayo dan Gayong tiba-tiba menye-
rangku dengan maksud membunuhku."
"Apa alasan mereka ingin membunuhmu?"
"Aku... aku tak tahu, dan aku tak menanyakan
kala mereka menyerangku."
"Bodoh sekali kau."
"Itulah sebabnya aku dijuluki Gadis Dungu!
Dan Nyai Guru pun agaknya setuju sekali dengan ju-
lukan itu," tutur Indayani dengan polos tanpa rasa ma-
lu sedikit pun.
"Apakah antara pihakmu pernah terjadi perseli-
sihan dengan Perguruan Serikat Jagal?"
"Tidak pernah!" jawab Indayani dengan tegas.
Lalu mereka sama-sama diam, termenung.
Setelah menambahkan kayu bakar pada pera-
pian, Suto Sinting perdengarkan suaranya kembali
dengan nada tenang.
"Tak mungkin Dupa Dewa sampai turun tangan
menyerangmu jika tak terjadi masalah besar pada di-
rimu. Pasti kau melakukan kesalahan yang membuat
mereka berang padamu, Indayani!"
"Kesalahan apa?!" Indayani angkat pundak
tanpa tak mengerti.
"Mungkin karena keangkuhanmu telah me-
nyinggung perasaan mereka, dianggap telah menghina
martabat dan harga diri perguruan mereka."

"Kami jarang bertemu. Pertemuanku dengan
mereka terakhir kali terjadi setahun yang lalu, ketika
Dupa Dewa sakit dan Nyai Guru diminta datang men-
jenguknya."
Suto Sinting sedikit merasakan kejanggalan da-
ri kata-kata itu, maka ia segera bertanya pelan,
"Menjenguk?! Apakah antara Nyai Guru dengan
Dupa Dewa ada hubungan baik sebelumnya?"
"Nyai Guru pernah menjadi kekasih Dupa Dewa
semasa muda. Tapi hubungan cinta mereka putus, ka-
rena Dupa Dewa ternyata sudah beristri. Dan sejak itu,
Nyai Guru tak mau mempunyai kekasih lagi. Sampai
sekarang Nyai Guru masih perawan dan belum pernah
bersuami. Sepertinya ia masih memendam perasaan
cinta di sela kebenciannya kepada Dupa Dewa."
"Oooo...." Pendekar Mabuk angguk-anggukkan
kepala. Di bibirnya tersungging senyum geli mem-
bayangkan percintaan para tokoh tua yang sampai se-
karang masih terdengar ceritanya.
"Aneh sekali jika tak ada persoalan mereka
bernafsu membunuhmu," ujar Suto Sinting sambil me-
renung memandangi nyala perapian. Pandangan ma-
tanya segera dinaikkan dan kini menatap seraut wajah
cantik yang berkesan angkuh itu.
"Setahuku, bukan hanya Dupa Dewa yang ke-
hendaki kematianmu, tapi kelompok orang-orang ker-
dil itu juga agaknya bernafsu sekali untuk membu-
nuhmu. Siapa orang-orang kerdil itu, Indayani? Pasti
kau mengenai mereka."
"Memang. Mereka orang-orang yang menama-
kan dirinya Suku Aboradin, dikenal dengan julukan
Penghuni Liang Lahat."
"Baru kali ini aku melihat keberadaan mereka
di antara kehidupan kita."

"Tentu saja, sebab kau manusia yang miskin
pengetahuan," ujar Indayani dengan mencibir, mere-
mehkan pemuda yang sejak tadi sering menatapnya
itu. Yang diremehkan hanya tersenyum, tak merasa
tersinggung karena sudah mulai terbiasa oleh sikap
seperti itu.
"Suku Aboradin tinggal di lorong-lorong goa
yang ada di sekeliling Gunung Leak Sewu. Di sana ada
banyak goa yang saling berhubungan, bahkan ada lo-
rong yang bisa tembus ke negeri seberang melalui jalan
di bawah dasar lautan. Jumlah mereka cukup banyak,
namun jarang yang menampakkan diri kecuali mereka
yang tergolong dalam kelompok Penghuni Liang Lahat."
"Sejak kapan mereka mengenalmu?"
"Nyai Guru pernah bentrok dengan pihak Peng-
huni Liang Lahat karena menolak lamaran ketua me-
reka yang berjuluk Mayat Bersiul. Pertarungan kami
terjadi sekitar lima tahun yang lalu. Mayat Bersiul
sempat terluka dan nyaris mati  oleh pedang Nyai
Guru. Waktu itu, aku justru tidak ikut campur karena
keadaanku masih sakit."
"Tapi mengapa mereka bernafsu sekali membu-
nuhmu?"
"Aku tak tahu mengapa mereka begitu. Padahal
perkara itu sudah dianggap kadaluwarsa. Mayat Ber-
siul sendiri sudah mempunyai istri cantik dengan dua
orang gundik."
Pendekar Mabuk menggumam panjang. "Mayat
Bersiul itu yang berambut panjang dan botak bagian
depannya, yang melemparkan pisau mengenaimu
itu?!"
"Itu panglimanya yang bernama Rekatak Tiban.
Tapi... iya, ya? Aneh juga kalau Rekatak Tiban ingin
membunuhku?!" gumam Indayani dengan nada uca-

pan seperti bicara pada diri sendiri, pandangan ma-
tanya menjadi datar bagai menerawang sesuatu. Pen-
dekar Mabuk perhatikan perubahan air muka itu den-
gan dahi berkerut. Rupanya ada sesuatu yang meng-
herankan di hatinya, sehingga ia pun bertanya kepada
Indayani,
"Di mana letak keanehan itu, Indayani?" 
"Aku pernah ditolong Rekatak Tiban ketika ter-
jerembab masuk ke kubangan lumpur hidup. Sekali-
pun sikapnya tak begitu ramah padaku, karena ia ta-
hu aku muridnya Nyai Guru Serat Biru, tapi saat aku
hampir mati terkubur lumpur hidup, ia memberikan
pertolongannya. Lalu pada suatu saat aku ganti meno-
longnya, memberikan Galih Kapur Sirih untuk mengo-
bati luka racun anak buahnya yang tak bisa disem-
buhkan kecuali menggunakan Galih Kapur Sirih.
Orang yang terluka itu adalah orang andalan yang se-
lalu mendampinginya dalam setiap tugas. Dan... sete-
lah itu hubungan kami biasa-biasa saja. Makanya ku-
bilang aneh sekali jika Rekatak Tiban terang-terangan
ingin membunuhku."
"Mungkin mereka ada hubungannya dengan
Dupa Dewa?! Barangkali mereka diupah oleh Dupa
Dewa atau Peri Kedung Hantu untuk membunuhmu?!"
"Mungkinkah begitu?!" gumam Indayani dalam
kebimbangannya sendiri. "Rekatak Tiban punya adik
lelaki yang menikah dengan murid Peri Kedung Hantu.
Apakah hubungan itu yang membuat Rekatak Tiban
berpihak kepada Peri Kedung Hantu lantaran Peri Ke-
dung Hantu membela pamannya dalam memusuhi-
ku?!"
Pendekar Mabuk diam seribu bahasa ketika In-
dayani merenung lama. Namun dalam hatinya, Pende-
kar Mabuk bicara sendiri mencari jawaban yang pasti

tentang nasib Indayani yang menjadi incaran beberapa
orang itu.
"Jangan-jangan ia melakukan kesalahan besar
yang membuat mereka murka dan mendendam, se-
hingga bernafsu sekali untuk membunuhnya. Mungkin
gadis ini lupa akan tindakannya yang menimbulkan
dendam pada lawan-lawannya. Maklum, kedunguan-
nya terlalu besar; sehingga tak mampu mengingat ke-
salahannya sendiri. Kalau bukan gadis yang dungu,
pasti ia sudah pulang ke padepokannya mendengar
Nyai Gurunya sakit dan padepokannya dihancurkan
Peri Kedung Hantu."
Setelah mereka saling membisu cukup lama,
Pendekar Mabuk segera memecah kebisuan itu dengan
suaranya yang terlontar penuh kesan hati-hati sekali.
"Satu hal lagi yang ingin kutanyakan padamu,
karena tadi di kedai aku mendengar rencana seseorang
yang ingin menangkapmu dalam keadaan hidup atau
mati. Orang itu mengupah tiga lelaki berbadan kekar,
dan tiga lelaki itulah yang duduk sebangku denganku
di kedai tersebut."
"Siapa orang yang mengupah tiga orang itu?!
Apakah ia belum tahu kalau Gadis Dungu akan murka
jika diusik ketenangannya? Apakah tiga orang itu be-
lum mendengar kabar kesaktianku?!"
"Mendengar atau tidak itu bukan urusanku.
Yang ingin kutanyakan; siapa orang yang bernama
Pangeran Umbardanu itu?!"
"Ooh...?!" Gadis Dungu tersentak kaget, ma-
tanya sempat terbelalak sekejap, wajahnya pun menja-
di tegang. Sorot matanya menatap Suto Sinting sangat
tajam, membuat si Pendekar Mabuk salah tingkah
sendiri.
"Aku hanya mendengar percakapan tiga orang

utusan Pangeran Umbardanu itu. Mereka merencana-
kan menangkapmu dan menyerahkannya kepada Pan-
geran Umbardanu dengan menggunakan siasat yang
telah mereka susun saat itu."
Indayani termenung lama, bahkan tak bergerak
sedikit pun dari sikapnya yang berdada tegak serta
mata tertuju pada Suto Sinting. Cahaya api unggun
menampakkan seraut wajah cantiknya yang disiram
kepucatan setelah mendengar nama Pangeran Umbar-
danu. Hal itu semakin membuat Suto Sinting menjadi
lebih penasaran lagi dan menunggu jawaban yang pas-
ti tentang siapa Pangeran Umbardanu itu.
Dengan suara kaku dan dingin, Gadis Dungu
akhirnya menjawab,
"Pangeran Umbardanu adalah kekasihku."
"Kekasihmu?!" kini Suto Sinting yang terperan-
jat dan memandang penuh keheranan. "Jika dia keka-
sihmu, mengapa dia ingin menangkapmu hidup atau-
pun mati?!"


6

GADIS Dungu menjadi resah setelah tahu Pan-
geran Umbardanu bermaksud membunuhnya. Hubun-
gannya dengan Pangeran Umbardanu sudah berlang-
sung sekitar empat bulan. Pangeran Umbardanu telah
menyatakan jatuh cinta, tapi Gadis Dungu belum
memberi jawaban pasti, walau hatinya menaruh rasa
kagum dan terpikat oleh ketampanan dan kegagahan
Pangeran Umbardanu.
"Ia putra seorang sultan di Kesultanan Siliwin-
du. Ia naksir berat padaku. Ia harus segera menikah

karena sebentar lagi akan menggantikan ayahnya se-
bagai sultan di Kesultanan Siliwindu. Ia ingin jadikan
aku sebagai permaisurinya...."
"Lalu, mengapa kau tak mau menerimanya?
Bukankah itu kesempatan untuk meraih masa de-
panmu dengan gemilang?" tanya Suto Sinting sambil
langkahkan kakinya di awal pagi, ketika mereka me-
ninggalkan goa karang.
"Tak semudah itu mendapatkan diriku. Kau pi-
kir aku perempuan gila hormat dan gila harta, begitu?
Hmmm...!" ia mencibir angkuh. "Untuk apa menjadi
permaisuri  jika suami punya selir lebih dari sepuluh
biji?! Aku tak pernah punya cita-cita untuk dimadu.
Aku tak mau punya madu. Jika ia menjadi sultan ma-
ka ia berhak punya selir. Hmm... enak saja. Nanti cin-
taku digilir bisa tekanan batin dan lahir!"
"Lalu, kau putuskan menolaknya?"
"Belum kuputuskan begitu. Aku masih me-
nunggu kesanggupan janji dan sumpahnya."
"Janji apa?" tanya Suto sambil tersenyum-
senyum.
"Janji untuk tidak mempunyai selir kalau su-
dah menjadi sultan nanti. Dan sebelum ia memberi
janji dan sumpah, aku tak mau memberi jawaban atas
cintanya."
"Barangkali karena sikapmu itulah maka ia sa-
kit hati padamu dan bermaksud membunuhmu?!"
"Ah, mungkin justru karena ia ngebet sekali in-
gin memperistri diriku, maka ia mengupah orang un-
tuk menangkapku."
"Jika penangkapan itu karena rasa cinta, ia ti-
dak akan menyuruh tiga orang itu untuk menangkap-
mu hidup atau mati. Ibarat kata, mayatmu pun laku
dijual oleh ketiga orang itu kepada Pangeran Umbar-

danu. Jika sang pangeran mau mengeluarkan uang
untuk mendapatkan mayatmu, berarti ia tidak punya
perasaan cinta lagi kepadamu, Indayani."
"Itu hanya anggapan sirikmu!" ujar Indayani
dengan bersungut-sungut, tak mau percaya dengan
pendapat Pendekar Mabuk. Ia bahkan menambahkan
kata,
"Atau mungkin malah kau tidak bertemu den-
gan ketiga orang itu. Semua yang kau katakan hanya
bualanmu saja untuk mengacaukan hubunganku den-
gan Pangeran Umbardanu. Sebab setahuku, Pangeran
Umbardanu sangat sayang kepadaku. Dia tergila-gila
padaku, terutama kepada kesaktianku!"
"Kalau aku hanya membual, dari mana ku tahu
nama Pangeran Umbardanu itu?" Suto Sinting menco-
ba meyakinkan penjelasannya.
"Mungkin kau kenal dengan Pangeran Umbar-
danu dan dia ceritakan hubungan cintanya denganku,
lalu kau mengarang cerita supaya hubunganku den-
gannya retak. Setelah retak, kau akan ganti menyata-
kan cinta padaku. Hmmm... akal bulus seorang lelaki
sudah di tanganku semua!" sambil ia menepak telapak
tangan dengan tangan kirinya, bersikap membangga-
kan diri sebagai perempuan yang tak mudah tertipu
rayuan lelaki.
Suto Sinting hanya tertawa kecil tanpa suara.
Langkah mereka tetap menyusuri pantai, karena Suto
Sinting bermaksud mengajak Indayani untuk menca-
pai sebuah teluk tempat kehidupan masyarakat ne-
layan yang pernah disinggahi. Dari teluk itu mereka
dapat menyewa sebuah perahu  untuk menyeberang
menuju ke Pulau Dadap, menemui Putri Kunang dan
meminta Madu Bunga Salju.
Namun langkah mereka terhalang oleh kemun-

culan seorang tokoh tua yang belum dikenal oleh Suto
Sinting. Orang itu tahu-tahu berdiri di depan langkah
mereka tanpa angin atau perlambang lainnya. Tak ada
gerakan dan suara apa pun yang menyertai kemuncu-
lan seorang nenek berjubah hitam dengan badan sedi-
kit bungkuk.
"Nini Kalong...?!" gumam Indayani dengan nada
berkesan kaget dan wajahnya mulai diliputi oleh kece-
masan. Pendekar Mabuk sempat berbisik dengan mata
tetap tertuju kepada nenek berambut putih dibiarkan
meriap tanpa pengikat itu.
"Siapa dia, Indayani?!"
"Nini Kalong, dia yang dikenal sebagai Penung-
gu Hutan Rawa Kotek. Dia musuh bebuyutan Nyai
Guru, karena suaminya dibunuh oleh Nyai Guru da-
lam sebuah pertarungan memperebutkan Pusaka Ki-
pas Dewi Murka. Sampai sekarang Nini Kalong masih
menaruh dendam kepada Nyai Guru dan menganggap
kipas pusaka itu ada di tangan Nyai Guru Serat Biru."
"Agaknya dia menginginkan kematianmu juga.
Kulihat pancaran bola matanya tampak bernafsu seka-
li untuk membunuhmu, Indayani."
"Mungkin karena dia tahu aku murid kesayan-
gan Nyai Guru, sehingga ia ingin lampiaskan dendam
lamanya kepadaku, selagi aku tidak bersama Nyai
Guru."
"Kalau begitu, biarlah aku yang menghada-
pinya."
"Jangan sombong kau, Dogol! Nini Kalong Il-
munya sejajar dengan Nyai Guru. Kau bisa hancur
berkeping-keping jika coba melawannya. Ilmumu tidak
sebanding dengan kesaktiannya. Hanya aku yang tahu
kelemahan Nini Kalong, dan biarlah ia kutumbangkan
dengan kesaktianku! Pergilah menepi, Dogol. Lindungi

dirimu agar jangan sampai terkena jurus salah sasar
Nini Kalong. Sekujur tubuhmu bisa kering mendadak
bagai keripik singkong jika sampai terkena jurus maut
Nini Kalong."
Pendekar Mabuk  hanya tersenyum masam. Ia
segera menenggak tuak dari bumbungnya. Sementara
itu, Gadis Dungu sengaja maju beberapa tindak ketika
Nini Kalong yang memegangi tongkat hitam itu mulai
melangkah memperpendek jarak.
"Tak kulihat dari mana kau datang, tahu-tahu
sudah menghadang langkahku. Apa maksudmu mun-
cul secara gaib begitu, Nini Kalong?!" sapa Gadis Dun-
gu yang sebenarnya hal itu tak perlu diungkapkan lagi.
Bahkan dengan kedunguannya ia menambahkan tanya
kepada Nini Kalong, "Kau muncul dari mana, Nini?!"
Tentu saja sebagai tokoh kawakan yang berilmu tinggi,
Nini Kalong tak mau menjawab pertanyaan seperti itu.
Ia langsung berkata dengan suaranya yang tua berna-
da serak,
"Aku datang hanya untuk mengakhiri masa hi-
dupmu, Gadis Dungu! Bersiaplah untuk meninggalkan
dunia fana ini, Nak!"
"Aku tak tahu menahu tentang pusaka Kipas
Dewi Murka itu, Nini! Jangan sangkut pautkan diriku
dengan pusaka tua itu! Urusanmu adalah dengan Nyai
Guruku, bukan dengan muridnya. Mengapa kau ber-
maksud membunuhku?"
"Urusan ini memang tidak ada sangkut pautnya
dengan Kipas Dewi Murka. Kematianmu harus tiba se-
belum usiamu mencapai dua puluh lima tahun. Seka-
rang, bersiaplah menerima ajalmu, Indayani yang ma-
lang! Hik, hik, hik, hik...!"
Gadis Dungu membatin, "Agaknya tak bisa di-
hindari lagi. Apa  boleh buat, terpaksa aku mencoba

melawannya demi pertahankan nyawaku dan hi-
dupku!"
Nini Kalong hentikan tawanya. Wajahnya beru-
bah menjadi bengis. Gadis Dungu melangkah ke samp-
ing dengan mata tak mau lepas dari arah lawannya.
Tiba-tiba tongkat hitam Nini Kalong dilempar-
kan bagai melemparkan sebatang tombak ke arah Ga-
dis Dungu. 
Weess...! Gerakan tongkat yang melesat begitu
cepat masih sempat dihindari oleh Gadis Dungu den-
gan memiringkan badan ke kiri. Tongkat itu lolos dari
sasaran. Tapi anehnya ia berhenti di udara dan mun-
dur sedikit lalu menyodok dahi si Gadis Dungu.
Wuuut..!
Rasa kaget karena tak menduga akan terjadi
hal seperti itu membuat tangan Gadis Dungu berkele-
bat menangkis tongkat tersebut. 
Dees...!
"Aauh...!" Gadis Dungu memekik sendiri, tu-
buhnya terpelanting dan jatuh ke tanah. Ia segera ber-
guling-guling jauhi tongkat yang mampu bergerak sen-
diri itu.
Tangan yang dipakai menangkis tongkat men-
jadi hitam berlendir. Tangan itu bagaikan habis dipa-
kai menangkis besi panas yang bukan saja membuat
kulit tangan melepuh namun juga hitam hangus. Pa-
dahal tongkat itu dalam keadaan dingin tanpa kelua-
rkan asap selayaknya besi yang terpanggang hingga
membara.
"Bahaya! Tongkat itu tak boleh kusentuh," pikir
Gadis Dungu. "Selain mampu terbang dan menyerang
lawan, ia juga mempunyai tenaga dalam yang mampu
membuat tubuhku bagai ditendang kuda jika menyen-
tuhnya. Uuh... tulang lenganku terasa patah dan pa-

nas sekali! Agaknya aku harus lakukan pertarungan
jarak jauh, agar tongkat itu tak dapat menyentuhku."
Tongkat hitam ternyata mampu mengejar Gadis
Dungu, bagai seorang lawan yang haus darah. Gadis
Dungu terpaksa bersalto mundur dua kali, kemudian
menyentakkan tangannya untuk keluarkan tenaga
penghancur tongkat. Namun belum sempat tangan itu
menyentak, tongkat sudah melesat dengan cepat
menghantam telapak tangan Gadis Dungu yang sudah
direntangkan di depan dada. 
Duuss...!
"Aaahg...!" Gadis Dungu memekik sambil ter-
pental terbang ke belakang. Ia bagai dihantam dengan
tenaga yang cukup besar. Tubuhnya terjungkal kehi-
langan keseimbangan badan. Sementara telapak tan-
gannya menjadi hangus dan keluarkan asap tipis se-
bagai tanda terbakar oleh ujung tongkat.
"Hik, hik, hik, hik...! Percuma saja kau berta-
han, Indayani. Kau akan mati oleh tongkatku! Hik, hik,
hik...!"
Indayani benar-benar terdesak oleh serangan
tongkat yang seakan mempunyai nyawa dan tahu sa-
saran ke mana harus menyerang. Gerakan tongkat cu-
kup gesit dan lincah, bahkan mampu membelok arah
secara patah. Wut, weess...!
"Indayani dalam bahaya!" gumam Suto Sinting.
"Kalau tak segera dibantu dia bisa mati dihantam
tongkat bertenaga dalam tinggi itu. Rupanya nenek ku-
rus itu bukan tandingan Indayani! Tak mungkin In-
dayani mampu menyelamatkan diri tanpa bantuan da-
ri orang lain, ia tampak kewalahan dan tak mampu
memberikan serangan  balasan. Sementara si pemilik
tongkat enak-enakan nonton sambil cekikikan.
Hmmm...! Aku harus segera bertindak!"

Suto Sinting mulai menggenggam tali bumbung
tuaknya dengan tangan kanan. Pada saat itu tongkat
sakti Nini Kalong sedang melesat mengejar Indayani
yang menjauhkan diri dengan lompatan-lompatan ber-
salto cepat. Weeesss...!
Tubuh pemuda tampan itu tiba-tiba melesat
dalam satu lompatan sangat cepat. Tubuh itu me-
layang melintasi bagian atas tongkat, kemudian bum-
bung tuaknya dihantamkan ke badan tongkat.
Blaaarr...! Jegaaar...!
Benturan tongkat dengan bumbung tuak Suto
timbulkan satu dentuman keras. Dentuman itu teru-
lang kedua kalinya dengan lebih keras lagi. Dan ter-
nyata dentuman yang kedua adalah dentuman peng-
hancur tongkat hitam Nini Kalong.
Prrussk...!
Nini Kalong terbelalak kaget melihat tongkatnya
hancur menjadi serpihan kayu tanpa arti. Peristiwa itu
sama sekali tak diduga-duga, sehingga nenek kurus
itu tertegun bengong beberapa saat tanpa bergerak se-
dikit pun. Namun di dalam hati sang nenek mengge-
ram penuh amarah terhadap tindakan si pemuda tam-
pan itu.
"Biadab bocah ganteng itu! Bumbung bambu
seperti itu bisa hancurkan tongkat saktiku. Baru seka-
rang ada benda lain yang bisa kalahkan kekuatan pa-
da tongkatku! Hmmm... siapa bocah ganteng itu?! Be-
rani-beraninya ikut campur urusanku terlalu dalam.
Barangkali ia perlu kenali siapa Nini Kalong ini!"
Pada saat Nini Kalong membatin sambil pan-
dangi Suto Sinting yang telah mendaratkan kakinya ke
tanah, Gadis Dungu segera menabuh gendangnya den-
gan kedua tangan.
Dung, plak, dung, plak, dung, dung, plak....

Plak, dung, dung... plak dung, dung... plak,
plak...!
Nini Kalong ternyata mampu menahan gelom-
bang getaran suara gendang yang biasanya mampu
mengubah alam pikiran orang lain menjadi mengikuti
irama gendang tersebut. Agaknya Nini Kalong bukan
tokoh tua berilmu sedang-sedang saja. Ia segera me-
nyentakkan tangannya ke arah kiri sambil serukan ka-
ta,
"Hentikan tabuhan dungumu!"
Claaap...! Dari tangan yang menyentak ke arah
Gadis Dungu itu keluar sinar hijau bundar seperti je-
ruk purut yang berpijar-pijar. Kecepatan gerak sinar
itu sukar dihindari lagi, sehingga sinar bundar hijau
pijar itu menghantam telak tulang rusuk kiri si Gadis
Dungu.
Zeeeb...!
"Uuhg...!" Gadis Dungu mendelik bagai tak bisa
bernapas lagi. Tubuhnya tersentak mundur tak terlalu
jauh, namun segera jatuh terduduk dengan lubang hi-
dung dan lubang telinga keluarkan asap tipis. Kulit
wajahnya menjadi merah, disusul dengan kulit lengan
dan bagian leher sampai dada menjadi merah bagaikan
kepiting rebus. Nafasnya tersentak-sentak dengan ma-
ta tetap mendelik tak mampu berkedip.
Hanya si Pendekar Mabuk yang perhatikan
keadaan Indayani dengan hati cemas. Tetapi nenek ku-
rus bermata cekung itu justru memandangi Suto Sint-
ing dengan sorot pandangan mata penuh permusuhan.
Tubuh tuanya segera berkelebat tak bisa dilihat gera-
kannya. Tahu-tahu ia sudah menerjang kepala Suto
Sinting tanpa ampun lagi. 
Bruuus...!
"Uaaahg...!" Suto Sinting terlempar lima lang-

kah ke belakang. Tubuhnya membentur pohon dan ja-
tuh tersentak ke depan tanpa bisa menjaga keseim-
bangan badan lagi. 
Brrruk...!
Hidung si tampan Suto mengucurkan darah se-
gar. Matanya mengerjap-ngerjap bagaikan habis dis-
ambar seekor kuda nil. Kepalanya terasa pecah dan te-
linganya berdengung-dengung. Ia tak tahu kalau telin-
ganya pun mengeluarkan darah segar yang membasahi
pundak kanan-kirinya.
"Gila! Benda apa yang menerjangku tadi?!" pikir
Pendekar Mabuk sambil berusaha bangkit berdiri.
Pandangan matanya yang kabur membuatnya terpaksa
merayapi batang pohon untuk bisa berdiri  tegak. Se-
mentara itu, Nini Kalong sudah berada di belakangnya
dalam jarak lima langkah. Suaranya terdengar meng-
geram penuh curahan murka.
"Jika kau mencoba melindunginya, aku pun
terpaksa harus melenyapkan dirimu, Bocah Bagus!"
Dalam keadaan mata masih buram, Suto Sint-
ing berkelebat membalik badan bersama bumbung
tuaknya yang diayunkan memutar.
Wuuung...!
Gerakan secara naluriah itu menghasilkan ke-
beruntungan bagi Pendekar Mabuk. Karena pada saat
bumbung tuaknya berkelebat memutar, tubuh kurus
Nini  Kalong  sedang menerjangnya dengan kecepatan
gerak seperti tadi. Akibatnya bumbung tuak itu meng-
hantam tubuh yang sedang melayang cepat dengan
kaki berusaha menjejak dada Suto Sinting.
Beehg...! Krrrak...!
Suara tulang patah terdengar jelas. Disusul su-
ara jatuhnya  tubuh sang nenek ke tanah, kemudian
suara erangan orang kesakitan yang tampak ditahan

mati-matian.
Pandangan mata Suto Sinting mulai terang
kembali. Ia segera lompat ke belakang ketika mengeta-
hui tubuh Nini Kalong terkapar di depannya dalam ja-
rak kurang dari satu langkah. Tubuh tua itu sedang
berusaha bangkit dengan susah payah. Rupanya tu-
lang punggungnya patah akibat hantaman bambu
tempat penyimpanan tuak itu. Hantaman bumbung
tuak bukan hanya membuat tulang punggung sang
nenek menjadi patah, namun juga tulang iganya re-
muk dan siku kanannya hancur.
"Setan alas...!" makinya dengan suara sangat
pelan, nyaris tak terdengar. Rasa sakit itu membuat
suara sang nenek bagai hilang karena urat tenggoro-
kannya mengejang keras. Napas tuanya pun tampak
sulit dihela. Hantaman bumbung tuak bagai melum-
puhkan seluruh tenaga Nini Kalong.
"Aku harus membawa kabur Indayani sebelum
nenek tua ini sehat kembali dan menyerangnya lagi!"
pikir Suto Sinting, kemudian ia segera berbalik arah
dan menghampiri Indayani yang berdarah. Tetapi
alangkah kagetnya Suto Sinting begitu mengetahui
tempat terpuruknya Indayani telah kosong. Gadis
Dungu tak terlihat di sekitar tempat itu.
"Celaka! Siapa yang membawa lari Indayani?!
Tak mungkin gadis itu lari sendiri pasti ada yang
membawanya pergi saat aku bertarung dengan Nini
Kalong tadi!"



***


7

PENDEKAR Mabuk kehilangan jejak si Gadis
Dungu. Ketika ia kembali ke tempat semula, ternyata
Nini Kalong masih di tempat dalam keadaan tak ber-
daya. Napas tuanya semakin tersengal-sengal dalam
keadaan mirip orang sekarat.
Pendekar Mabuk iba hati melihat nenek tua
semenderita itu. Batin pun berkata, "Kasihan dia. Jika
kutolong dengan tuak saktiku, mungkin ia bisa je-
laskan apa alasannya ingin membunuh Indayani sebe-
lum gadis itu berusia dua puluh lima tahun. Tapi ba-
gaimana jika ternyata ia justru menyerangku setelah
keadaannya sehat? Hmmm... kalau memang dia begi-
tu, terpaksa kuhabisi tanpa ampun lagi!"
Pemikiran itulah yang membuat Suto Sinting
akhirnya sembuhkan luka parahnya Nini Kalong den-
gan tuak saktinya. Diharapkan sang nenek dapat
memberi tahu siapa orang yang melarikan si Gadis
Dungu itu. Namun ketika sang nenek sudah mulai bi-
sa bicara, ternyata ia merasa tidak tahu-menahu hi-
langnya si Gadis Dungu.
"Yang jelas ia terluka oleh jurus 'Talak Tujuh'-
ku. Darahnya akan menjadi busuk dalam waktu sing-
kat, kulit dan dagingnya akan keluarkan ribuan ekor
belatung, dan jurus itu tak ada obatnya! Tak sampai
sore hari, si Gadis Dungu akan mengalami nasib se-
perti itu," tutur Nini Kalong dalam keadaan masih du-
duk di tanah mengatur pernafasannya.
"Minumlah sekali lagi tuakku ini, biar tenaga-
mu cepat pulih, Nini," Suto Sinting menyodorkan
bumbung tuaknya dengan maksud menuang tuak ke
mulut sang nenek. Rupanya tokoh tua beraliran hitam

itu menyadari kehebatan tuak Suto Sinting, dan ia
membutuhkan pemulihan diri secepatnya. Maka ia
pun menerima tawaran itu. Beberapa teguk tuak di-
tenggaknya kembali.  Tuak tawaran itulah yang mem-
percepat tenaganya menjadi segar serta pernafasannya
menjadi semakin lancar. Dalam hati sang nenek mera-
sa kagum terhadap kehebatan tuak tersebut, sehingga
meluncurlah pertanyaan dari mulut tuanya yang telah
bergigi ompong itu,
"Siapa kau sebenarnya, Anak Muda?!"
"Kalau kukatakan siapa diriku sebenarnya,
apakah kau akan percaya, Nini Kalong?" Suto Sinting
agak sangsi menyebutkan namanya karena ia khawatir
sang nenek tak mau percaya seperti si Gadis Dungu
itu.
"Siapa pun dirimu aku akan mempercayainya,
karena kau telah menyambung nyawaku. Aku berhu-
tang nyawa denganmu walau aku tak suka menerima
kekalahan ini. Katakanlah siapa dirimu, Anak Muda!"
sambil ia berusaha berdiri dan tangan Suto Sinting
membantunya untuk bangkit.
"Aku yang bernama Suto Sinting, si Pendekar
Mabuk, Nek."
Perempuan tua renta itu terkejut, mata ce-
kungnya menatap penuh curiga. Ia sempat bergumam
dalam nada tanya, 
"Murid si Gila Tuak dan Bidadari Jalang itu?!"
"Benar, aku murid mereka, Nek."
"Celaka!" gumamnya lagi dalam nada geram se-
perti menyimpan kecemasan. Matanya beralih pandang
ke arah lain membuat Suto Sinting kerutkan dahi.
"Mengapa kau tampak cemas, Nini Kalong?!"
"Kalau ku tahu kau murid si Gila Tuak dan Bi-
dadari Jalang, tak sudi aku menerima pertolonganmu.

Kedua gurumu itu masih punya hutang nyawa pada-
ku. Seharusnya kubunuh kau sebagai pembalasan
atas kematian Raguli dan Kusmini, adik-adikku itu!"
"Kalau begitu kita lanjutkan pertarungan kita
sampai salah satu ada yang kehilangan nyawa!" tan-
tang Suto Sinting yang merasa tak suka kedua gu-
runya terancam dendam Nini Kalong. Namun agaknya
perempuan tua berjubah hitam itu punya perhitungan
sendiri terhadap anak muda tersebut.
"Kau satu-satunya orang yang mampu hancur-
kan tongkatku. Rasa-rasanya kedua gurumu itu belum
tentu mampu hancurkan tongkatku. Berarti kuanggap
kau lebih tinggi dari si Gila Tuak dan Bidadari Jalang.
Hmmm..., kurasa tak perlu lagi pertarungan ini kita
lanjutkan."
"Kalau begitu, tentunya kau mau jelaskan apa
alasanmu hingga ingin membunuh si Gadis Dungu
itu!"
Pendekar Mabuk menenggak tuak yang ketiga
kalinya, tuak yang pertama ditenggak sebelum ia ber-
lari mencari jejak kepergian Indayani. Dengan begitu
tubuh Suto Sinting menjadi lebih segar lagi dari sete-
lah menenggak tuak yang kedua saat ingin menolong
Nini Kalong tadi.
Setelah diam beberapa saat, Nini Kalong yang
berdiri dengan agak bungkuk itu mulai jelaskan ala-
sannya kepada Pendekar Mabuk yang secara diam-
diam ditakuti itu.
"Apakah kau belum mengerti bahwa beberapa
tokoh aliran hitam akan mengincar kematian si Gadis
Dungu itu, sebelum gadis tersebut mencapai usia dua
puluh lima tahun?!"
"Aku tahu hal itu, tapi aku tak mengerti apa
alasan mereka!" jawab Suto Sinting dengan nada tegas.

"Sebuah kitab kuno baru-baru ini ditemukan di
dasar samudera oleh tokoh tua aliran hitam yang ber-
nama: si Raja Borok. Kitab itu sendiri adalah kitab
Samak Kubur yang berisi tentang ramalan-ramalan
masa depan bagi dunia persilatan aliran hitam."
"Siapa pemilik kitab itu sebenarnya?"
"Aslinya milik mendiang Resi Tambak Nujum
yang tewas dalam perjalanan pulang dari tanah Tibet,"
jawab Nini Kalong sejujurnya. Ia merasa perlu menje-
laskan hal itu dengan maksud agar Suto Sinting tidak
ikut campur lagi dalam urusan tersebut.
"Kitab Samak Kubur sejak dulu kala sangat di-
percaya ramalannya karena selalu tepat dan tidak per-
nah meleset sedikit pun. Kitab itu sempat hilang ber-
sama hancurnya kapal yang ditumpangi Resi Tambak
Nujum dari tanah Tibet. Orang yang menghancurkan
kapal itu adalah Siluman Tujuh Nyawa; manusia ter-
kutuk yang dibenci oleh para tokoh baik dari aliran hi-
tam maupun dari aliran putih."   
"Ya, aku kenal dengan Siluman Tujuh Nyawa
yang sampai sekarang masih menjadi buruanku itu!"
sela Pendekar Mabuk sambil mengenang tokoh sesat
yang dikutuk oleh neneknya sendiri menjadi manusia
terkutuk selama tiga ratus tahun, (Baca serial Pende-
kar Mabuk dalam episode : "Pedang Guntur Biru").
Nini Kalong lanjutkan kata-katanya, "Salah sa-
tu ramalan yang tertulis dalam Kitab Samak Kubur itu
adalah kelahiran seorang bayi dari rahim perempuan
tanpa jari. Bayi itu adalah bayi titisan Dewa Pelebur
Teluh yang akan menjadi malapetaka bagi para tokoh
aliran hitam. Dalam kitab itu dijelaskan bahwa bayi itu
akan menjadi manusia maha sakti yang tak bisa dila-
wan dan bertugas menghancurkan para tokoh aliran
hitam selama satu tahun, yaitu pada saat si bayi beru-

sia dua puluh lima tahun. Satu-satunya orang yang
bisa menumbangkan kekuatan sakti bayi itu hanya si
jahanam; Durmala Sanca alias Siluman Tujuh Nyawa." 
Pendekar Mabuk sengaja tidak memotong cerita
Nini Kalong. Ia hanya manggut-manggut sambil me-
nyimak baik-baik cerita tersebut. Nalurinya mengata-
kan bahwa cerita itu bukan dongeng atau karangan
sang nenek belaka, namun suatu kenyataan yang di-
takuti oleh para tokoh aliran hitam.
"Perempuan tanpa jari itu adalah Punjani, yang
menikah dengan seorang pendeta murtad. Bayi perta-
ma yang dilahirkan Punjani itulah yang menjadi bayi
titisan Dewa Pelebur Teluh. Beberapa tokoh aliran hi-
tam mengetahui Punjani melahirkan bayi yang kemu-
dian diasuh oleh Nyai Serat Biru karena kematian Pun-
jani terjadi pada saat sang bayi masih berusia dua ta-
hun. Bayi itu adalah Indayani; si Gadis Dungu!"
"Hmmm...." Suto Sinting menggumam panjang
dan manggut-manggut kembali. Rasa penasarannya
mulai terkikis dan hatinya merasa lega mendengar
penjelasan tersebut. Tetapi sang nenek peot masih lan-
jutkan penjelasannya yang membuat Pendekar Mabuk
tak mau angkat bicara dulu.
"Sebab itu aku dan beberapa tokoh aliran hitam
lainnya segera mencari Indayani begitu kabar ditemu-
kannya Kitab Samak Kubur tersebar ke mana-mana.
Gadis itu sekarang baru berusia dua puluh tiga tahun.
Sebelum ia mencapai usia dua puluh lima tahun harus
segera dibunuh agar kelak tak menjadi biang petaka
bagi aliran kami."
Pendekar Mabuk membatin, "Pantas Indayani
banyak yang ingin membunuhnya. Bahkan kekasihnya
sendiri; Pangeran Umbardanu juga ingin membunuh-
nya. Berarti Pangeran Umbardanu penganut aliran hi-

tam. Mungkin ia ditugaskan oleh gurunya untuk
membunuh Indayani demi keutuhan aliran hitam."
Suasana bisu sejurus itu dipecahkan oleh sua-
ra tua Nini Kalong yang memandang Suto Sinting den-
gan sorot pandangan lunak, seakan menyimpan hara-
pan yang dalam.
"Ku mohon kau tidak ikut campur dalam uru-
san ini, Suto Sinting. Jika kau masih memihak gadis
itu, maka kau akan berhadapan dengan sekian banyak
tokoh aliran hitam."
Suto Sinting hanya sunggingkan senyum tipis.
Setelah menengok ke  tempat hilangnya Indayani, ia
berkata dengan nada menyindir ucapan Nini Kalong
tadi.
"Bukankah Indayani telah terkena jurus maut-
mu yang bernama jurus 'Talak Tujuh' itu?! Mengapa
kau masih menaruh harapan agar aku tidak memi-
haknya? Apakah kau punya kekhawatiran bahwa In-
dayani akan selamat dari luka jurus 'Talak Tujuh'-mu
itu?!"
"Jika kau berhasil menemukannya, tentunya
kau akan meminumkan tuak itu kepadanya. Kurasa...
kurasa hanya tuakmu yang mampu mengalahkan ke-
ganasan racun dalam jurus 'Talak Tujuh'-ku itu, Suto
Sinting."
Nini Kalong berkata dengan wajah lesu, seakan
ia kecewa terhadap kesaktian tuak Suto yang mampu
lumpuhkan berbagai macam racun, seperti kabar bu-
rung yang tersebar dan sampai di telinga Nini Kalong
sendiri. Sebenarnya Nini Kalong sempat mempunyai
niat untuk merebut dan melenyapkan bumbung tuak
tersebut. Namun begitu ingat tongkat saktinya saja bi-
sa hancur oleh bambu bumbung itu, maka ia merasa
tipis harapan dan membatalkan niatnya demi kesela-

matan jiwanya.
Sementara itu, Suto Sinting segera mempunyai
gagasan baru, yaitu memburu titisan Dewa Pelebur Te-
luh untuk menyelamatkannya dari luka akibat jurus
'Talak Tujuh' itu. Dalam hati Suto Sinting berkata,
"Aku harus menemukan Indayani secepatnya,
sebelum darahnya membusuk dan raganya berbela-
tung.  Gadis itu harus kuselamatkan, karena kelak
akan menjadi Sang Pelebur Teluh selama satu tahun.
Agaknya aku pun harus mendampingi gadis itu agar
tak terjangkau oleh tangan Siluman Tujuh Nyawa yang
menjadi satu-satunya tokoh sesat berbahaya bagi
nyawa Indayani...."
Nini Kalong berkata, "Kulihat gelagatmu ingin
mencari gadis itu, Suto Sinting. Ku mohon sekali lagi
hentikan niatmu dan jangan campuri urusan ini!"
"Aku hanya ingin mengetahui siapa orang yang
membawanya lari dalam keadaan luka separah itu,"
Suto Sinting merasa tak enak hati, niatnya diketahui
oleh Nini Kalong. Karenanya Ia mencoba beralasan se-
perti itu. Namun tokoh tua yang sangat tinggi ilmunya
itu tidak mudah percaya begitu saja.
"Jika kau masih bersikeras untuk melindungi
Indayani, terpaksa kau harus bertarung denganku lagi
sampai kematianku tiba. Aku rela korbankan nyawaku
demi membela aliran hitamku!"
Tantangan halus itu ditanggapi dengan senyum
tipis oleh Pendekar Mabuk. Wajah sang nenek keliha-
tan semakin cemas, hatinya gusar dan waswas. Akhir-
nya Suto Sinting berkata kepadanya,
"Sepertinya kau cukup yakin bahwa aku akan
menemukan Indayani, padahal kau tahu aku sedang
kebingungan dan tak tahu siapa orang yang melarikan
Indayani."

"Bukan Pendekar Mabuk jika tak bisa temukan
di mana Indayani berada. Aku percaya dengan ke-
mampuan otakmu. Gila Tuak tak akan mau mempu-
nyai murid yang otaknya tumpul."
"Barangkali dugaanmu memang benar. Tapi
mengapa kau paksakan diri untuk menantang perta-
rungan denganku sampai tiba kematianmu? Tidakkah
kau sayang dengan nyawa dan ragamu?"
"Percuma aku lolos dari kematian tanganmu ji-
ka Indayani terselamatkan oleh tuak saktimu. Tak
urung dua tahun lagi, saat Indayani berusia dua puluh
lima tahun, ia akan menjadi bencana bagi hidupku. Ia
akan membunuhku dan aku tak akan mampu menan-
dinginya. Karena memang begitulah yang tersurat da-
lam Kitab Samak Kubur itu, Suto."
"Jika kau ingin panjang umur dan awet hidup,
keluarlah dari aliran hitam dan berhentilah menjadi
orang sesat!"
Nini Kalong diam beberapa saat seperti dihing-
gapi suatu  keraguan yang menggelisahkan. Sejenak
kemudian ia pun berkata dengan suara pelan,
"Tak semudah itu tindakan yang harus kulaku-
kan. Aku sudah telanjur berlumur dosa sampai setua
ini. Tak ada pengampunan bagi orang sepertiku ini,
Suto Sinting."
"Tak ada kata terlambat dalam pertobatan, Ni-
ni! Kujamin keselamatanmu jika kau mau berpindah
aliran dan meninggalkan jalan sesatmu sebagai Pe-
nunggu Hutan Rawa Kotek selama ini!"
Nenek renta kembali bungkamkan mulut pan-
dangi Suto Sinting tak berkedip. Yang dipandang ju-
stru tersenyum-senyum tipis dengan tatapan mata
lembut bagai suatu kekuatan penjinak jiwa yang liar.
Agaknya sang nenek sedang dalam pertimban-

gan yang kian meresahkan hatinya. Namun tiba-tiba
mereka dikejutkan oleh sebuah suara yang muncul da-
ri balik semak belukar di belakang Suto Sinting.
"Lupakan bujukan bocah kemarin sore itu, Nini
Kalong!"
Pendekar Mabuk segera palingkan wajah ke
arah belakang. Matanya terkesiap memandang kemun-
culan seorang wanita cantik yang masih kelihatan mu-
da, berusia sekitar tiga puluh tahun. Tubuhnya sekal
dan menggairahkan tiap lelaki. Dadanya montok pe-
nuh tantangan yang menebarkan hati lawan jenisnya.
Hidungnya mancung, bola matanya mempunyai manik
mata warna coklat, sedikit sayu penuh bayangan cum-
bu.
Nini Kalong menyapa lirih perempuan berambut
sanggul tengah sisanya meriap itu dengan nada bim-
bang,
"Rumisita...?!"
Pendekar Mabuk mendengar nama itu di-
ucapkan, namun ia masih belum mengenali perem-
puan tersebut, sebab nama Rumisita adalah nama
yang baru kali itu didengarnya. Pandangan mata Suto
Sinting tak mau lepas dari wajah cantik Rumisita yang
memancarkan daya pesona cukup tinggi.
"Selancang itu kau bicara di depan orang setua
Nini Kalong, Pendekar Mabuk! Tak takutkah jika mu-
lutmu robek mendadak?!" ujar Rumisita dengan sikap
bermusuhan, wajah cantiknya tampak galak namun
tetap menyebarkan kekaguman bagi setiap lelaki.
"Dari mana kau tahu namaku, sedangkan aku
tak tahu siapa dirimu, Wanita Cantik?!"
Perempuan berjubah kuning tua dengan pin-
jung penutup dada montoknya berwarna ungu seperti
warna celana ketatnya itu, semakin dekatkan langkah

sambil tangannya memainkan sebatang ranting ber-
daun ujungnya yang tampak belum lama dipetik dari
sebuah pohon di sekitar tempat itu.
"Bumbung tuakmu dan ciri ketampanan wa-
jahmu membuatku teringat pada  cerita orang-orang
udik tentang murid sinting si Gila Tuak yang bergelar
Pendekar Mabuk, bernama Suto Sinting. Dugaanku
semakin yakin, setelah kudengar percakapanmu den-
gan Nini Kalong yang bermaksud kurang ajar terhadap
orang setua Nini Kalong. Kuanggap bujukanmu itu su-
atu kelancangan yang patut mendapat hukuman peng-
gal di dalam aliran hitam."
Suto Sinting sunggingkan senyum menawan se-
telah sadar bahwa perempuan cantik itu benar-benar
bermusuhan dengannya. Senyuman lebar itu mengan-
dung kekuatan gaib yang dapat memikat lawan jenis-
nya. Senyuman itu sebuah jurus warisan dari Bibi Gu-
runya; Bidadari Jalang, yang dinamakan jurus
'Senyuman Iblis', di mana ketika Bidadari Jalang men-
jadi orang sesat sering digunakan untuk memikat la-
wan jenisnya, menundukkan kekuatan  dan keangku-
han setiap lelaki yang disukainya.
Agaknya jurus 'Senyuman Iblis' mulai berpen-
garuh dalam jiwa Rumisita. Batin perempuan berjari
lentik mulai gelisah, jantung mulai berdetak cepat, hati
pun berdebar-debar digeluti perasaan kasmaran. Na-
mun ia pandai menyembunyikan dan menahan gejolak
kasmarannya dengan permainan  nafasnya  yang tera-
tur, sesekali tertahan di rongga dadanya.
"Tak kusangka wanita secantik kau ternyata
tergolong dalam tokoh beraliran hitam, Rumisita," ujar
Suto Sinting bernada melecehkan sikap Rumisita. Pe-
rempuan itu sunggingkan senyum tipis sambil men-
gendalikan napasnya agar tak semakin resah.

"Apa pedulimu?!" jawab Rumisita dengan ketus.
"Kau pikir aliran hitam tak bisa menumbangkan aliran
putih?! Jika kau ingin membuktikan kekuatan aliran
hitamku, kau harus siap korbankan nyawamu dalam
dua jurus!"
Suto Sinting tertawa tanpa suara. "Kau menan-
tangku, Rumisita?! Apakah kau cukup mampu me-
numbangkan diriku?!"
"Jika aku tak mampu menumbangkan dirimu
dalam dua jurus, akan kulepas gelarku sebagai Peri
Kedung Hantu!"
"Ooh...?!" Suto Sinting terkejut mendengar na-
ma 'gelar' Peri Kedung Hantu yang sebenarnya hanya-
lah nama julukan belaka itu. Nama tersebut mengin-
gatkan Suto Sinting pada nama Nyai Serat Biru yang
terkena Racun Batu Bisu-nya Peri Kedung Hantu.
Pandangan mata Pendekar Mabuk menjadi ta-
jam. Dengan suara tegas namun berkesan wibawa,
Pendekar Mabuk lontarkan tanya kepada Peri Kedung
Hantu yang ternyata bernama asli Rumisita.
"Apakah kau juga menghendaki kematian In-
dayani?!"
"Sebenarnya tak perlu kau tanyakan lagi, Suto
Sinting. Bagaimanapun juga murid si Serat Biru itu
harus mati sebelum usia dua puluh lima tahun!"
"Oh...," Suto Sinting manggut-manggut. "Ru-
panya hasrat membunuh Indayani itulah yang mem-
buatmu menyerang perguruannya dan melumpuhkan
Nyai Serat Biru dengan Racun Batu Bisu andalanmu
itu, Rumisita?!"
Mata perempuan itu sedikit terkesiap, lalu se-
nyum sinisnya tersungging tipis dengan pandangan
mata sedingin salju.
"Perguruan itu terpaksa kuhancurkan, Racun

Batu Bisu terpaksa kutanamkan pada tubuh Serat Bi-
ru, karena mereka sembunyikan si Gadis Dungu itu!"
"Rumisita...!" tukas Nini Kalong dengan tegas.
"Rupanya kau sudah melanggar peraturan aliran hitam
untuk tidak menggunakan Racun Batu Bisu?! Apakah
kau tak ingat perjanjian tersebut, bahwa Racun Batu
Bisu hanya boleh digunakan untuk melumpuhkan si
Gila Tuak atau Bidadari Jalang saja?!"
"Aku terpaksa, Nini! Serat Biru tak bisa dilum-
puhkan jika tidak menggunakan Racun Batu Bisu!"
"Apa pun alasanmu kau sudah melanggar la-
rangan dan perjanjian dalam aliran hitam!" Nini Kalong
sedikit menyentak.
"Persoalan itu kita bicarakan nanti saja, Nini.
Yang penting kita lumpuhkan dulu bocah kemarin sore
yang ingin berlagak menjadi pelindung si Gadis Dungu
itu!" sambil matanya berpindah ke wajah Suto Sinting.
"Pendekar Mabuk, sebelum kau tampil sebagai
pelindung titisan Dewa Pelebur Teluh itu, hadapilah
Peri Kedung Hantu ini!" ia menepuk dadanya.
"Akan kulayani jika itu maumu, Rumisita!" ja-
wab Suto Sinting tanpa gentar sedikit pun.
Bed, bed, bed...!
Kedua tangan Peri Kedung Hantu bergerak ce-
pat membuka jurus. Badannya tetap tegak walau ka-
kinya sedikit merendah. Pandangan matanya tertuju
lurus ke wajah Suto Sinting.
Pendekar Mabuk hanya melangkah ke samping
dengan lamban, namun sorot pandangan matanya tak
mau lepas dari tubuh elok di depannya. Tali bumbung
tuak sudah tergenggam melingkar di tangan kanannya.
Ia melangkah sambil menenteng bumbung itu bagai
ingin mengitari Peri Kedung Hantu.
Nini Kalong justru mundur ke bawah pohon,

seakan tak mau mencampuri pertarungan itu, namun
ingin menyaksikan kehebatan ilmu Pendekar Mabuk.
Bola mata di balik rongga yang bertulang menonjol itu
bergerak-gerak menyimpan rasa was-was ketika ia me-
lihat telapak tangan Peri Kedung Hantu mulai berasap
tipis.
"Ia langsung menggunakan jurus 'Tangan Ma-
laikat' yang cukup dahsyat itu. Ini menandakan bahwa
Peri Kedung Hantu menyadari kekuatan lawannya
yang tak boleh diremehkan," pikir Nini Kalong. "Tapi
mampukah jurus itu menandingi kesaktian Pendekar
Mabuk yang sering disebut-sebut sebagai anak muda
berilmu gila-gilaan itu?! Jangan-jangan Rumisita sen-
diri yang tumbang oleh kesaktian si tampan Suto Sint-
ing itu?!"
"Hiaaah...!" pekik Peri Kedung Hantu sambil
melesat maju dalam satu lompatan. Kedua telapak
tangannya yang sudah berasap dihantamkan ke dada
Suto Sinting. Tangan pemuda tampan itu berkelebat
cepat menangkis pergelangan tangan lawan. 
Des, des, des, des...! Serangan beruntun berha-
sil ditangkis dengan satu tangan. Bahkan dalam satu
kesempatan tangan kiri Suto Sinting yang dipakai me-
nangkis berkali-kali itu berhasil menyodok ke depan
dan pangkal telapak tangannya menghantam dagu Peri
Kedung Hantu cukup kuat. 
Duuhg...!
"Uufh...!" Peri Kedung Hantu terdorong mundur
tiga tindak dengan terhuyung-huyung nyaris jatuh.
Wajahnya menjadi semburat merah. Hantaman Suto
Sinting mempunyai kekuatan tenaga dalam cukup
tinggi, tetapi hentakan napas tertahan yang dilakukan
Rumisita membuat pukulan bertenaga dalam itu tak
begitu membahayakan jiwanya.

"Gila! Pukulan yang kusangka biasa-biasa saja
sempat membuat dagu Rumisita menjadi biru me-
mar?!" gumam hati Nini Kalong.
Rumisita semakin berang setelah menerima
pukulan yang membuat tulang dagunya seperti remuk
itu. Kedua tangannya berkelebat membuka jurus lagi
dengan asap yang keluar dari pori-pori telapak itu se-
makin banyak.
"Kuhancurkan kepalamu, Jahanam!" seru Peri
Kedung Hantu.
"Majulah lagi, Cantik!" pancing Suto Sinting
sambil tubuhnya menggeloyor bagai orang mabuk in-
gin jatuh tersungkur, namun ternyata tubuh itu hanya
meliuk sebentar dan tegak kembali pada saat kedua
tangan lawan menghantam ke arah kepalanya.
Wut, wut, wut...! Telapak tangan itu kenai tem-
pat kosong. Tapi gelombang tenaga dalam yang telah
telanjur keluar tanpa sinar itu telah menghantam gu-
gusan batu dan akar sebuah pohon besar.
Brruuss...! Jebrrruusss...!
Gugusan batu hancur menjadi serbuk lembut
bagaikan tepung. Pohon besar itu hancur bagian akar-
nya dan tumbang setelah lima hitungan. 
Wwrrrr...! Brrruuukkk...!
Nini Kalong terpental karena dahan pohon ada
yang menyambarnya dari belakang. Ia tak menduga
pohon yang ada di arah sampingnya agak jauh itu
tumbang sampai ke tempatnya berdiri. Akibatnya
punggung bungkuk Nini Kalong terhantam dahan be-
rukuran agak besar dan tubuh itu terpental ke depan,
lalu jatuh tersungkur secara sia-sia.
"Monyet kurap!" makinya dengan hati jengkel
dan segera berusaha bangkit.
Ketika itu, Rumisita mulai lakukan serangan

jarak jauh setelah ia tak berhasil menjejak dada Suto
Sinting. Jejakan kakinya yang bertenaga dalam men-
genai bumbung tuak yang disilangkan di depan dada
dengan dipegangi dua tangan. Akibatnya, tubuh Rumi-
sita terlempar ke belakang dan cepat bersalto untuk
menjaga keseimbangan dalam menapak nanti.
Jleeg...! 
Peri Kedung Hantu berdiri tegak dengan pan-
dangan mata kian garang. Ia segera membentangkan
kedua tangannya ke samping, lalu dengan sentakkan
lembut kakinya menghentak ke tanah. Tubuhnya ter-
bang seperti seekor burung garuda yang mengembang
sayap. 
Wuuusss...!
Lalu dari kedua matanya melesat sinar merah
lurus menghantam Suto Sinting. Clap, clap...! Semen-
tara itu, kedua tangannya segera bergerak lurus, dan
dari kesepuluh jarinya mengeluarkan sinar patah-
patah warna hijau bening.
Slap, slap, slap, slap, slap, slap...!
Pendekar Mabuk sempat terkejut dan sedikit
bingung. Dua sinar merah dari mata lawan yang mele-
sat ke arahnya segera dihindari dengan satu lompatan
ringan lurus ke atas. Wuuut...! Tapi kesepuluh sinar
hijau patah-patah itu menerjang dari bawah dan atas.
Bambu bumbung tuak segera digunakan untuk me-
nangkis sinar-sinar tersebut. Tetapi tiga sinar hijau pa-
tah mengenai paha dan perut Suto Sinting.
Zrruubb...! Jooosss...!
"Aaahg...!" Suto Sinting memekik kesakitan
dengan luka bakar yang mengepulkan asap merah
akibat terkena tiga sinar hijau patah itu. Sisa sinar
lainnya berhasil lolos dari tubuhnya, sebagian lagi ada
yang memantul balik dalam keadaan lebih cepat dan

lebih besar dari aslinya. Wuuutt...! Sedangkan dua si-
nar merah itu menghantam dua pohon yang berada
jauh di belakang Suto Sinting.
Blegaar...! Jegaar...!
Dua pohon itu langsung hancur menjadi serpi-
han-serpihan kecil. Serpihan itu menyebar ke mana-
mana menimbulkan suara gaduh dan menghujani
tempat pertarungan mereka. Sepotong dahan beruku-
ran sebesar telapak tangan jatuh tepat di kepala Nini
Kalong. 
Pletok...!
"Aauh...!" nenek peot itu meringis kesakitan
dan menggerutukan makian tak begitu jelas. Tangan-
nya mengusap-usap kepala yang terkena pecahan da-
han pohon itu.
Tiga sinar hijau yang berubah menjadi lebih be-
sar dari aslinya dan berbalik menyerang Rumisita itu
membuat perempuan tersebut tercengang kaget. Gera-
kan layangnya oleng demi menghindari ketiga sinar
itu. Tapi salah satu sinar ternyata tak mampu dihinda-
ri, sehingga sinar hijau itu menghantam pundak pemi-
liknya sendiri.
Jrrabb...!
"Aaaahhg..!!" Peri Kedung Hantu menjerit keras,
lalu tubuhnya roboh ke tanah bersamaan robohnya
tubuh Suto Sinting.
"Bangsat kauuu...!" geramnya dengan suara be-
rat karena menahan rasa sakit di bagian pundak.
Pundak itu terluka parah, koyak lebar sampai ke ba-
gian punggung. Darah pun menyembur dari luka ter-
sebut, memancarkan cairan hitam bersama kepulan
asap tebal menandakan adanya daya pembakar cukup
tinggi.
Sementara itu Suto Sinting pun mengalami lu-

ka cukup parah. Paha dan perutnya berlubang hitam
sebesar biji salak. Asap masih mengepul dari luka ter-
sebut  bagaikan daging hidup ditusuk dengan besi
membara. Luka itu membuat Suto Sinting banyak ke-
hilangan tenaga untuk menahan rasa sakitnya. Dalam
keadaan seperti itu, bumbung tuaknya terlepas dari
genggaman tangan dan tergeletak dalam jarak satu
jangkauan tangan lebih sedikit. Pendekar Mabuk me-
nyeringai kesakitan saat memaksakan diri untuk me-
raih bumbung tuaknya.
Ketika ia merayap, ternyata Peri Kedung Hantu
masih sempat lepaskan jurus mautnya dari jarak jauh.
Seberkas sinar merah berbentuk tombak melesat den-
gan cepat dari telapak tangannya.
Weeesss...!
Pendekar Mabuk tak melihat gerakan sinar se-
perti tombak itu. Tetapi tiba-tiba sinar biru bagaikan
bintang berekor melesat dari samping dan menghan-
tam sinar merah tersebut.
Blegaaar...!
Benturan kedua sinar itu menimbulkan leda-
kan dahsyat yang mengguncangkan tanah sekitar
tempat itu, menggetarkan beberapa pohon bahkan
sampai ada yang tumbang sebagian. Daun-daun ber-
guguran karena gelombang getaran ledak yang cukup
kuat. Tubuh Rumisita sendiri terdorong mundur dalam
keadaan duduk di tanah. Srrrooottt...! Bhheeg! Pung-
gungnya menghantam batu sebesar anak sapi.
Kerasnya benturan punggung sempat membuat
batu itu retak bagian atasnya. Krrak...!
Rupanya sinar biru tadi datang dari tangan Nini
Kalong yang tidak menginginkan  sinar merahnya Ru-
misita mengenai Suto Sinting. Bahkan nenek itu serta-
merta melesat dengan sangat cepat. Tangan kurusnya

mampu menyambar tubuh Suto Sinting yang mulai
terkulai lemas. Bumbung tuak itu pun berhasil disam-
bar dengan kaki kirinya. Wuuut...! Lalu ditangkap oleh
tangan kiri pula. Taab...! Dalam keadaan hanya seke-
jap tubuh kekar Pendekar Mabuk sudah berada di atas
pundak Nini Kalong.
"Lepaskan dia, Nini Kalong! Hancurkan kepa-
lanya sekarang juga!" teriak Peri Kedung Hantu dengan
sisa tenaganya sambil menyeringai kesakitan.
"Dia telah menyelamatkan nyawaku, sekarang
aku pun ingin membayar hutangku padanya!" kata Ni-
ni Kalong. "Mungkin lain waktu kita akan jumpa ber-
beda suasana, Rumisita!"
Wuuut...! Nini Kalong berkelebat pergi sambil
memanggul Pendekar  Mabuk, sementara Peri Kedung
Hantu hanya bisa menggeram dengan jengkel dan si-
buk menahan rasa sakitnya.
"Jahanam! Apa maksud nenek peot itu mem-
bawanya lari?! Mau dibawa ke mana si bocah gendeng
itu?! Hhmmmrr...!"


8

RUPANYA Nini Kalong punya kesan tersendiri di
balik pertemuannya dengan Pendekar Mabuk. Melalui
bantuannya Suto Sinting berhasil meneguk tuaknya
dan membuat lukanya menjadi sembuh. Hal itu dila-
kukan setelah Nini Kalong membawanya ke tempat
yang aman, jauh dari pertarungan Suto Sinting dengan
Peri Kedung Hantu.
"Terima kasih atas pertolonganmu, Nini Ka-
long," ucap Suto Sinting saat pertama menyadari di-

rinya telah tertolong dari luka bakar yang semakin me-
lebar itu.
"Kau sudah cukup jauh dari Rumisita. Ia tak
akan mungkin bisa mengejarmu sampai di sini, apa-
lagi dalam keadaan terluka."
"Mengapa kau menyelamatkan nyawaku, Nini?"
"Karena kau menyelamatkan  nyawaku juga!"
jawab nenek bongkok berkulit keriput itu. "Aku sudah
tidak mempunyai hutang padamu. Kelak jangan mena-
gih hutangku padamu. Sudah kubayar hari ini juga!"
ujar sang nenek sambil melangkah menjauhi Suto
Sinting.
"Aku mengerti maksudmu, Nini. Tapi... hei,
mau ke mana kau, Nini Kalong?!"
"Kembali ke Hutan Rawa Kotek."
"Benarkah kau kembali ke sana?" 
"Aku butuh keheningan untuk merenungi uca-
panmu tadi."
"Ucapan yang mana?!"
"Kelak kau akan tahu sendiri jika kita jumpa
lagi, Nak. Selamat tinggal, jaga dirimu baik-baik!"
Weeees...! Nini Kalong bagaikan lenyap ditelan
bumi, padahal ia melesat cepat hampir menyamai ke-
cepatan jurus 'Gerak Siluman'-nya Pendekar Mabuk.
"Apa maksud kata-katanya itu? Tak bisa diter-
ka secara pasti!" pikir Suto Sinting, kemudian ia mena-
rik napas dalam-dalam, menenggak tuak sekali lagi, la-
lu bergegas melangkah ke selatan sambil membatin,
"Yang  terpenting bagiku sekarang ini adalah
mencari si Gadis Dungu. Gadis titisan dewa itu harus
kuselamatkan dari ancaman maut jurus 'Talak Tujuh',
agar kelak ia benar-benar menjadi sang pelebur para
tokoh sesat selain Siluman Tujuh Nyawa. Untuk tokoh
sesat yang satu itu, hanya akulah tandingannya!"

Baru dua langkah bergerak maju, tiba-tiba Suto
Sinting mendengar suara dentuman menggelegar dari
arah utara. Dentuman itu cukup dahsyat, karena ta-
nah tempatnya berpijak terasa bergetar dan langit ba-
gaikan bergemuruh  menyeramkan karena gema leda-
kan tersebut membubung ke angkasa.
"Pasti di sana ada pertarungan sangat seru!"
kata Suto Sinting dalam hatinya. "Hhmmm... perta-
rungan siapa yang sampai hadirkan ledakan sedahsyat
tadi? Aku jadi sangat penasaran ingin melihatnya!"
Maka tanpa berpikir dua kali lagi, Pendekar Mabuk se-
gera melesat ke arah utara mendekati daerah lembah
yang berhutan renggang itu.
Tempat yang aman untuk sementara adalah
sebuah pohon berdaun rindang dengan dahan-
dahannya yang bercabang dan kokoh. Di pohon itu Su-
to Sinting sembunyikan dirinya mengintai pertarungan
yang terjadi dalam jarak sekitar lima belas langkah da-
ri pohon tersebut. Kedua mata Pendekar Mabuk tam-
pak terkesiap setelah mengetahui siapa yang ada di
pertarungan itu.
"Gadis Dungu ada di sana?!" gumam hati Suto
bernada heran.
Indayani, si Gadis Dungu, duduk bersandar
pada sebuah batang pohon yang sudah kering. Kea-
daannya sangat lemah, tak memiliki daya apa pun.
Tubuhnya semakin merah matang, bahkan tampak
membusuk di bagian pipinya. Sedangkan darah yang
mengalir dari hidung dan telinganya tampak hitam
menyebarkan aroma busuk. Untung Suto Sinting be-
rada dalam jarak cukup jauh sehingga bau busuk itu
tidak terlalu tajam bagi hidungnya yang bangir itu.
Tetapi selain si Gadis Dungu, tampak seorang
perempuan cantik berusia sekitar empat puluh tahun

berpakaian jubah putih dengan pakaian dalamnya
warna biru tua, sedang bertarung melawan seorang le-
laki tua berjubah hijau tanpa lengan. Orang itu tak
lain adalah si Dupa Dewa, Ketua Perguruan Serikat
Jagal yang tampaknya hanya sendirian tanpa seorang
murid pun. Dupa Dewa kelihatan bernafsu sekali ingin
membunuh Indayani, namun serangannya selalu dipa-
tahkan oleh si perempuan berjubah putih dengan
rambut disanggul seluruhnya. Sehelai selendang biru
dari kain sutera tipis dikalungkan di lehernya.
Rupanya ledakan dahsyat tadi adalah perta-
rungan adu tenaga dalam antara Dupa Dewa dengan
perempuan berselendang biru itu. Gelombang leda-
kannya membuat Dupa Dewa sempat terdorong ke be-
lakang dan membentur pohon, lalu pohon itu tumbang
akibat benturan bertenaga dalam tersebut. Sedangkan
si perempuan berselendang biru hanya terdorong ke
belakang dengan keadaan kedua kaki masih bisa ber-
diri tegak.
"Hentikan kepicikanmu, Dupa Dewa! Aku tak
ingin di antara kita ada yang tewas hanya karena ke-
bodohan aliranmu!" ujar perempuan berselendang biru
yang memiliki manik mata warna biru kehitaman itu.
Tetapi agaknya Dupa Dewa masih memancarkan mur-
kanya melalui pandangan mata yang sangat tajam dan
ganas.
"Jika kau tak ingin terjadi korban di antara ki-
ta, serahkan anak Punjani itu padaku! Aku tak ingin
gadis itu menjadi pembantai para tokoh aliran hitam
setelah berusia dua puluh lima tahun. Aku tak ingin
Gadis Dungu membunuhku dua tahun lagi. Jika kau
masih membela titisan Dewa Pelebur Teluh itu, maka
aku tak akan segan-segan mengorbankan nyawamu
sebagai tumbal keselamatan aliranku, Serat Biru!"

Suto Sinting terperanjat mendengar nama pe-
rempuan itu disebut oleh Dupa Dewa. Hati sang pen-
dekar tampan pun berkata,
"Jadi... perempuan berselendang biru itu ada-
lah Nyai Serat Biru, guru si Gadis Dungu?! Masih se-
muda dan secantik itukah guru si Gadis Dungu? Oh,
ya... pasti usianya sudah cukup tua, hanya saja kare-
na ia memiliki ramuan atau ilmu awet muda, maka ia
masih kelihatan secantik sekarang. Tapi... tapi bukan-
kah Nyai Serat Biru dalam keadaan sakit karena ter-
kena Racun Batu Bisu? Mengapa keadaannya sesehat
ini?! Apakah sudah berhasil disembuhkan oleh seseo-
rang?!"
Terdengar lagi suara Dupa Dewa berseru kepa-
da Nyai Serat Biru yang masih bersikap melindungi
muridnya itu.
"Jika kau tetap melindungi muridmu itu, maka
lebih baik kalian berdua kulenyapkan dengan jurus
mautku sekarang juga!"
"Dupa Dewa, dengarkan penjelasanku dulu!"
"Aku tidak butuh penjelasanmu!" bentak Dupa
Dewa tampak berang sekali. Matanya memancarkan
nafsu membunuh sangat besar.
"Kalian salah menafsirkan ramalan dalam Kitab
Samak Kubur! Punjani memang mempunyai anak titi-
san Dewa Pelebur Teluh, tapi itu hanya terjadi pada
anak pertamanya."
"Gadis Dungu adalah anak Punjani!"
"Memang. Tapi Punjani mempunyai dua anak
dari mendiang suaminya; si Pendeta Murtad itu. Anak
yang pertama yang lahir dari rahim Punjani adalah
Andardini. Dua tahun kemudian lahirlah Indayani,
muridku itu! Tapi pada saat Indayani berusia tiga bu-
lan, kakaknya meninggal dalam gendongan ayahnya

saat sang ayah melakukan pertarungan dengan cucu
Resi Tambak Nujum yang beraliran hitam itu."
"Kau pikir semudah itukah kau mendustaiku,
Serat Biru!" 
"Ini bukan dusta, Dupa Dewa! Andardini itulah
bocah titisan Dewa Pelebur Teluh, dan bocah itu sudah
tewas dalam usia dua tahun lebih beberapa bulan. In-
dayani, muridku, adalah anak kedua yang tidak men-
jadi bayi titisan Dewa Pelebur Teiuh! Kau tak perlu ta-
kut kepada Indayani walau ia kelak berusia dua puluh
lima tahun, Dupa Dewa!"
"Hentikan bualanmu itu!" bentak Dupa Dewa.
"Aku tak peduli dengan celoteh murahanmu itu, Serat
Biru! Gadis itu harus kubunuh sekarang juga!"
"Kalau begitu kau harus membunuhku lebih
dulu, Dupa Dewa!" ujar Nyai Serat Biru sambil mena-
rik selendangnya yang kini sudah berada di tangan
kanannya.
Hati Suto Sinting berkata, "Kalau begitu Gadis
Dungu adalah korban salah sasaran! Oh, nasibnya le-
bih menyedihkan sekali jika ia mati busuk akibat ra-
cun Nini Kalong tadi. Sebaiknya aku segera memba-
wanya ke tempat aman dan mencoba mengobatinya
dengan tuakku ini!"
Zlaaap...! Suto Sinting berkelebat sangat cepat
hingga tak mampu dilihat mata lagi. Tahu-tahu ia su-
dah berada di belakang Nyai Serat Biru di mana pada
saat itu Nyai Serat Biru segera melompat ke depan
dengan selendangnya dikibaskan ke arah Dupa Dewa.
Wuuut...!
Blaaaarrr...!
Cahaya biru yang melesat dari ujung selendang
menyambar kepala Dupa Dewa. Tetapi dari tangan
Dupa Dewa segera keluarkan cahaya merah yang me-

mercik dalam sekejap dan menyambar sinar biru petir
dari ujung selendang tersebut. Akibatnya terjadilah le-
dakan yang cukup dahsyat dan menyebarkan gelom-
bang hawa panas segera membubung ke angkasa. De-
daunan pohon menjadi sasaran gelombang hawa pa-
nas itu. Daun-daun menjadi kering seketika, lalu ber-
guguran terbawa angin ke arah timur.
Pendekar Mabuk tak pedulikan dulu pertarun-
gan itu. Ia berusaha meminumkan tuaknya ke mulut
Gadis Dungu sampai beberapa tegukan. Setelah ber-
hasil meminumkan tuak, napas Suto Sinting terhem-
pas lega, kemudian ia sendiri ikut menenggak tuak
dengan mata melirik ke arah pertarungan mantan se-
pasang kekasih itu. Agaknya mereka benar-benar telah
bertekad untuk saling membunuh, sehingga kekuatan
mereka sama-sama terkuras dan saling diadu kesak-
tiannya.
Baru saja Suto Sinting ingin memeriksa kea-
daan  Gadis Dungu, tiba-tiba dari balik gerumbulan
semak muncul orang-orang kerdil yang berlompatan
saling menyerang Gadis Dungu. Mereka melemparkan
pisau-pisau kecil yang menghujam serentak ke tubuh
Gadis Dungu. Zrrraaab...!
Pendekar Mabuk cepat ambil tindakan penye-
lamatan dengan menyambar tubuh Gadis Dungu dan
membawanya melesat ke atas pohon. Weeesss...! Aki-
batnya pisau-pisau kecil itu melesat lurus dan menan-
cap pada pohon-pohon di sekitar pertarungan itu. Ke-
munculan orang-orang suku Aboradin yang bertubuh
kerdil dan berkulit hitam mengkilat hanya mengena-
kan cawat itu membuat perhatian Nyai Serat Biru
menjadi terbagi beberapa bagian.
Akibat perhatian yang terbagi, Nyai Serat Biru
terlambat sentakkan selendangnya sehingga serangan

Dupa Dewa berupa sinar merah seperti cakra menge-
nai dada Nyai Serat Biru. Zuuub...!
"Aaahg...!" Nyai Serat Biru memekik tertahan.
Ia terkena jurus 'Racun Jamur Setan' seperti yang di-
alami muridnya tadi siang. Sang nyai segera jatuh ber-
lutut dengan tubuh gemetar. Rupanya ia berusaha me-
lawan pengaruh racun itu dengan kekuatan tenaga inti
yang disalurkan melalui peredaran darahnya.
Suto Sinting meletakkan tubuh Gadis Dungu di
persilangan dahan yang mirip balai-balai bambu. Ga-
dis Dungu disimpan di sana, lalu ia segera meluncur
turun tanpa suara pada saat orang-orang kerdil seren-
tak menyerang Nyai Serat Biru.
"Heeeaaat...!" seru orang-orang kerdil di bawah
pimpinan Rekatak Tiban. Mereka sama-sama meng-
genggam pisau agak panjang dan bermaksud menghu-
jamkan pisau itu ke tubuh Nyai Serat Biru.
Melihat keadaan seperti itu, Suto Sinting segera
melesat dengan gerakan memutar tubuh Nyai Serat Bi-
ru. Gerakan itu adalah jurus 'Gerak Siluman' yang mi-
rip badai memutari tubuh Nyai Serat Biru dalam wak-
tu sekejap. Wuuussst...!
Orang-orang kerdil itu terlempar tunggang-
langgang diterjang gerakan kilat Pendekar Mabuk. Da-
lam sekejap ia sudah berdiri di depan Nyai Serat Biru
tepat ketika Dupa Dewa melepaskan pukulan  pa-
mungkasnya dari jarak tujuh langkah. Pukulan itu di-
namakan jurus 'Halilintar Menjerit', berupa tepukan
keras dari kedua telapak tangannya, dan dari tepukan
itu keluar sinar biru menyebar ke arah depan dalam
jumlah kilatan sinar sekitar sepuluh larik lebih. Sinar-
sinar mirip cacing panjang itu berkelebat dengan gera-
kan berkelok-kelok menuju ke arah
Nyai Serat Biru. Tetapi karena yang ada di depan Nyai

Serat Biru adalah Suto Sinting, maka Pendekar Mabuk
itulah yang menghadapi serangan jurus 'Halilintar
Menjerit'.
Tak ada pilihan lain bagi Suto Sinting untuk
hadapi serbuan sinar-sinar halilintar itu kecuali den-
gan hembusan nafasnya. Dengan satu kali menghen-
tak ke bumi pertanda kemarahannya telah bang-kit,
mulut Suto Sinting terbuka dan menyentakkan nafas-
nya dengan satu kali sentak saja.
"Hahhh...!!"
Jurus 'Napas Tuak Setan' menimbulkan suara
gemuruh menggelegar. 
Biuuurrr...! Badai dahsyat keluar dari mulut
Pendekar Mabuk. Badai berkekuatan  gila-gilaan itu
membuat sinar-sinar biru itu membalik arah lalu me-
ledak sebelum sampai tujuan semula.
Blegaaarrr...!
Alam menjadi seperti kiamat. Pepohonan tum-
bang saling berdentuman. Batu sebesar anak sapi pun
bisa terbawa terbang. Hutan di depan Suto Sinting
menjadi hancur bagai dilanda gempa dan badai dah-
syat. Tubuh Dupa Dewa terhempas terbang memben-
tur-bentur pohon, batu atau apa saja  sambil  mene-
riakkan jeritan memanjang, "Aaaaaa...!!" Semakin lama
suara jeritan itu semakin hilang karena jaraknya yang
semakin jauh.
Orang-orang kerdil yang kebetulan ada di tanah
bagian depan Pendekar Mabuk saling terpental ke sa-
na-sini dengan jerit semakin menghilang. Langit pun
mulai bermega tebal, gumpalan awan hitam bergulung-
gulung di angkasa menghadirkan kilatan cahaya petir
yang menyambar-nyambar.
Dalam sekejap saja tempat tersebut sudah
menjadi porak poranda bagai habis dilanda bencana

alam hingga ke tempat jauh, melewati kaki bukit, men-
capai tepian sebuah desa di seberang persawahan yang
membentang luas. Tanaman padi pun menjadi hancur
akibat dilanda badai mengerikan itu.
Rekatak Tiban dan sisa anak buahnya segera
melarikan diri melihat kejadian yang amat mengerikan
itu. Mereka bergegas lari menuju ke Gunung Leak Se-
wu sebagai masyarakat Penghuni Liang Lahat, yang
menempati goa-goa di sekitar gunung itu. Alam di ba-
gian belakang Suto Sinting sama sekali tidak dijamah
angin badai yang mengerikan itu. Karenanya, Suto
Sinting dapat segera obati Nyai Serat Biru dan mem-
bawa turun Gadis Dungu dari atas pohon. 
Wuuut...! Weeeess...!
"Apa-apaan kau, hah?! Main gendong seenak-
nya saja. Aku bisa turun sendiri dari pohon! Kau pikir
aku bayi kemarin sore?!" sentak Gadis Dungu dengan
berang kepada Suto Sinting, sedangkan Nyai Serat Bi-
ru segera kerutkan dahi dalam memperhatikan si pe-
muda tampan berbumbung tuak itu.
"Kusangka kau belum sehat, jadi aku mengam-
bilmu dari atas pohon!" kata Suto Sinting kepada si
Gadis Dungu.
"Belum sehat, belum sehat...! Apa kau pikir aku
sudah jompo?!" gadis yang masih tetap berkalung gen-
dang itu bersungut-sungut menampakkan keketusan-
nya.
"Indayani!" sentak Nyai Serat Biru yang sudah
terbebas dari Racun Jamur Setan-nya si dupa Dewa
itu.
"Mengapa sikapmu seperti itu kepadanya?! Ta-
hukah siapa dia?!"
"Dia...?! Oh, Nyai Guru belum tahu rupanya.
Dia adalah murid murtadnya si Dupa Dewa. Dia ber-

nama Dogol, Guru!"
"Bukan!" sentak Nyai Serat Biru. "Dia adalah
Pendekar Mabuk, murid sahabatku si Gila Tuak. Dia
bernama Suto Sinting!"
"Guru jangan mudah terkecoh oleh penampi-
lannya!"
"Kulihat noda merah di tengah keningnya.
Hanya orang berilmu tinggi yang bisa melihat noda me-
rah yang menjadi lambang kehormatan sebagai Mang-
gala Yudha Kinasih dari negeri di alam gaib; yaitu ne-
geri Puri Gerbang Surgawi! Mataku tak bisa salah pan-
dang, Indayani!"
Suto Sinting menjadi tak enak hati karena noda
merahnya di kening diketahui oleh Nyai Serat Biru.
Noda merah itu memang pemberian Ratu Kartika Wan-
gi, calon mertuanya, yang menjadi penguasa di negeri
Puri Gerbang Surgawi alam gaib, (Baca serial Pendekar
Mabuk dalam episode: "Manusia Seribu Wajah").
"Jaa... jadi dia adalah.... Pendekar Mabuk,
Guru?!"
"Ya. Dia adalah Pendekar Mabuk. Semestinya
sikapmu tidak sekasar itu dan kau harus berterima
kasih padanya karena dia telah menolong kita!"
"Hmmm... eh...," Gadis Dungu menjadi gugup
dan takut. "Hmmm... eeh... maafkan aku, Pendekar
Dogol, eh... anu.... Pendekar Mabuk...."
Suto Sinting buang muka untuk sembunyikan
senyum gelinya. Gadis Dungu tundukkan kepala, an-
tara malu dan takut baik kepada gurunya maupun ke-
pada pemuda tampan yang selama ini tidak dipercaya
sebagai Pendekar Mabuk itu.
"Maafkan kebodohan muridku, Pendekar Ma-
buk."
"Lupakan soal itu, Nyai. Yang ingin kutanya-

kan, benarkah Indayani bukan gadis titisan Dewa Pe-
lebur Teluh, seperti yang diramalkan dalam Kitab Sa-
mak Kubur itu?"
"Indayani adalah adiknya. Adik dari bocah titi-
san Dewa Pelebur Teluh. Mereka salah sangka karena
tak tahu persis tentang silsilah Punjani, ibu si Gadis
Dungu yang menjadi sahabat karibku semasa muda
dulu."
"Jika begitu, sebaiknya Indayani bersembunyi
dulu sebelum kabar yang sebenarnya menyebar ke se-
luruh rimba persilatan, sehingga ia tidak dijadikan bu-
ronan tak berdosa!"
"Aku sependapat denganmu. Indayani akan ku-
bawa ke puncak Gunung Randu untuk memperdalam
ilmunya di sana sambil mengasingkan diri beberapa
waktu. Apakah kau keberatan, Indayani?"
"Asal... asal sering ditengok Pendekar Mabuk,
saya tidak keberatan, Guru."
Pendekar Mabuk tertawa kecil, sang guru pun
jadi tersipu-sipu  mendengar kenakalan bicara murid-
nya.
"Tapi... bolehkah saya bertanya, apakah benar
Guru terkena Racun Batu Bisu dari Peri Kedung Han-
tu?"
"Benar. Tapi Tabib Awan Putih telah datang
bersama Putri Kunang untuk membawakan Madu
Bunga Salju. Dengan madu itu pun racun itu berhasil
ditanggalkan dan keadaanku sehat kembali."
"Kalau begitu, ada baiknya jika kita berangkat
sekarang ke puncak Gunung Randu, Guru!"
"Baik, Muridku." Sang nyai bicara kepada Suto,
"Sekali lagi kuucapkan terima kasih atas bantuanmu,
Suto. Suatu saat kita pasti akan bertemu lagi."
"Selamat jalan, Nyai Serat Biru. Selamat jalan,

Indayani," ucap Suto Sinting dengan lembut dan cu-
kup menyentuh perasaan.
Indayani berkata, "Jangan lupa, seringlah me-
nengokku ke puncak Gunung Randu agar aku tak me-
rasa jenuh berada di sana, Dogol... eh, Pendekar Dogol,
eeh.... Pendekar Mabuk...."
Tawa lirih pun mengiringi perpisahan mereka,
di mana cahaya senja mulai datang dan pengembaraan
Suto Sinting tetap dilanjutkan memburu musuh uta-
manya : Siluman Tujuh Nyawa.

SELESAI