--> -->

Serial Pendekar Mabuk 44 Pusaka Bernyawa

1
ANGIN bertiup semilir sejuk. Barangkali karena mendung menggantung di langit dan hujan sedang berkemas untuk turun, maka angin pun membawa kelembaban udara yang sejuk. Cuaca seperti itu enak untuk tidur.


Maka bersiaplah pemuda tampan berambut panjang lurus tanpa ikat kepala itu untuk mencari tempat buat baringkan badan. Setidaknya dengan duduk bersandar pun jadilah, yang penting bisa untuk pejamkan mata dan terlena tidur. Pemuda berbaju coklat tanpa lengan dan celana putih lusuh itu tak lain adalah murid sinting si Gila Tuak yang bergelar Pendekar Mabuk: Suto Sinting.

Karena tak ada tempat yang enak untuk baringkan badan, Suto Sinting akhirnya berbaring di atas dedaunan semak tak berduri. Tempat yang sepi dan sangat kecil kemungkinannya dijamah manusia itu membuat Suto Sinting tak segan-segan berbaring di atas dedaunan semak. Daun-daun itu tidak patah, bahkan tidak melengkung terlalu banyak. Padahal daun dan ranting kecil-kecil itu menyangga tubuh Pendekar Mabuk. Tentu saja hal itu dilakukan oleh Suto dengan menggunakan ilmu peringan tubuh yang bekerja dengan sendirinya dalam setiap denyut jantungnya.

Tapi anehnya bumbung tuak yang terbuat dari bambu panjang itu juga diletakkan di atas dedaunan beranting kecil. Padahal umumnya dedaunan itu akan melengkung atau patah rantingnya jika ditindih dengan kayu sebesar lengan. Ternyata daun dan ranting tidak patah walau ditindih dengan bumbung tuak yang isinya masih termasuk penuh. Sebab setelah mengisi tuaknya di sebuah kedai, Suto baru meneguknya sekitar empat kali. Berarti bambu itu lebih berat daripada bambu seukurannya.

"Apakah sang bambu tuak juga punya ilmu peringan tubuh?" pikir seseorang yang memperhatikan Suto dari jarak jauh.

Sepasang mata indah berbulu lentik itu sejak tadi memperhatikan Suto dari jarak sekitar lima belas tombak. Dia adalah seorang gadis cantik tak berbaju. Maksudnya, ia memang tidak mengenakan baju tapi mengenakan rompi. Rompi panjangnya terbuat dari sutera yang tembus pandang. Rompi itu berwarna merah, panjangnya sampai paha. Bagian pinggang diikat dengan kain semacam selendang warna kuning, sedangkan celananya berwarna merah juga sebatas lutut kurang. Celana itu sangat ketat, sehingga menampakkan bentuk lekuk tubuhnya bagian bawah.

Gadis berpakaian seronok itu berambut pendek, seperti potongan lelaki. Tapi bentuk potongannya sangat indah dan sesuai dengan kecantikannya.

Rambut bagian depan berkesan tegak karena dipotong lebih pendek dari lainnya. Kalau ia tidak mengenakan giwang kecil warna merah, ia seperti lelaki. Kalau ia tidak mempunyai bibir segar dan menggemaskan, ia akan dianggap seorang lelaki. Untung nya ia punya dada besar dan sekal tanpa pembalut kecuali rompi merahnya itu, sehingga melalui belahan rompi di dadanya yang menampakkan sebagian sisi bukit dada itu, orang akan mengetahui bahwa dia adalah gadis cantik bertubuh sekal.

"Aku harus menunggunya beberapa saat, setelah ia tertidur nyenyak aku baru bertindak," kata gadis itu dalam hatinya. Mata indahnya yang berkesan membelalak itu memperhatikan Suto tak berkedip dari balik persembunyiannya. Rupanya gadis berusia sekitar dua puluh tiga tahun itu punya maksud tertentu kepada Pendekar Mabuk, sehingga walaupun kakinya dikerumuni semut ia masih betah dipersembunyian nya. Sesekali kakinya disentakkan supaya semut-semut genit itu menyingkir dari kulitnya yang berwarna kuning langsat, bersih, dan halus mulus.

Tangan kanannya sesekali memegangi gagang senjata, berupa pisau panjang bergagang logam kuningan berukir, sarungnya juga dari logam kuningan berukir. Tampak bersih mengkilap karena sering digosok pakai asam dan garam. Mata pisaunya berukuran sepanjang siku sampai telapak tangan. Bentuknya agak kecil, jadi tak bisa disebut sebagai pedang.

Pendekar Mabuk dianggap sinting oleh si gadis cantik itu. "Sudah tahu mau turun hujan, eeh... masih nekat tidur di alam terbuka?! Dasar pemuda sinting, mana bisa membedakan langit mendung dan cerah. Atau jangan-jangan matanya tidak bisa melihat warna dengan benar? Warna hitam mendung dianggapnya warna putih cerah."

Gadis itu tidak tahu kalau Suto Sinting sudah menggunakan ilmu penolak hujan. Biar sering disebut sebagai pemuda sinting, tapi Suto bisa menolak hujan, tapi tak bisa menolak rezeki. Ilmu menolak hujan itu sebenarnya sudah dimilikinya ketika ia turun dari Jurang Lindu, tempatnya digembleng oleh sang Guru, Gila Tuak. Tapi ilmu penolak hujan jarang digunakan Suto karena dianggap ilmu yang terlalu kecil baginya. Kadang-kadang jika kurang khusuk dalam heningnya, ilmu penolak hujan itu sering gagal. Hujan yang ditolak malahan turun dengan deras dan menjadikan ban j ir di sana- sini.

Tapi kali ini Suto sudah menolak hujan dengan khusuk, dan yakin betul bahwa hujan tak akan turun. Tapi keteduhan meganya dapat dinikmati sebagai hawa pengantar tidur.

Pendekar Mabuk tidur begitu nyenyaknya. Maklum, sudah tiga malam ia tidak tidur karena menjaga sebuah perguruan yang ingin diserang kelompok aliran hitam. Setelah kelompok aliran hitam itu berhasil ditumbangkan dan sisanya melarikan diri dari perguruan tersebut, barulah Pendekar Mabuk meninggalkan perguruan itu. Dan rasa kantuknya pun tiba, sehingga dedaunan semak dijadikan alas untuk tidur.

Begitu nyenyaknya sampai-sampai Suto Sinting terdengar mendengkur samar-samar. Dengkur itu mengundang perhatian dua orang pencari kayu bakar. Mereka terkejut melihat ada orang tidur di atas dedaunan semak dengan selamat. Padahal di bawahnya ada tonggak runcing bekas potongan pohon kecil. Seandainya Suto jatuh, pasti punggungnya akan tertancap tonggak runcing itu.

"Orang itu edan apa sakti? Kok tidurny* di atas dedaunan semak begitu?" kata pencari kayu yang bertubuh pendek.

Yang jangkung menjawab, "Apakah kau tak kenal dia? Bukankah dia adalah Pendekar Mabuk yang kondang dengan kesaktiannya itu?"

"Ah, pendekar kok tidurnya di atas pohon."
"Kalau dia bukan pendekar sakti mana mungkin dia bisa tidur di atas pohon setipis itu?"

"O, iya, ya?! Kalau begitu, mari kita cepat pergi dari sini. Jangan mengganggu tidurnya. Nanti kalau kita berisik di sini tidurnya terganggu dan dia bisa marah kepada kita."

Kedua orang itu segera pergi, tapi masing-masing berceloteh tentang kabar yang mereka dengar dari mulut ke kuping tentang kesaktian Pendekar Mabuk. Bahkan yang bertubuh pendek mempunyai pendapat, jika Suto tidak sedang mabuk, tentunya tak akan mau tidur di atas dedaunan sekecil itu. Padahal walau berjuluk Pendekar Mabuk, tapi Suto tidak pernah mabuk. Dulu ketika menempuh pelajaran dari sang Guru, Suto memang sering mabuk. Tapi lama-lama ia seperti bosan mabuk, sehingga walaupun meminum tuak satu bumbung habis, ia tidak akan mabuk. Hanya saja, jurus-jurus yang diajarkan oleh Gila Tuak itu adalah jurus orang mabuk. Meliuk ke sana-sini, terhuyung- huyung seperti mau jatuh, tahu-tahu menghantam lawan.

Mendung menyingkir dengan penuh kesadaran. Sang matahari menerobos celah dedaunan. Matahari sudah mulai bergeser ke barat. Cahayanya masih menyengat dan membuat Pendekar Mabuk terbangun dari tidurnya.

Wuuuut... !

Ia sentakkan pinggulnya dan turun dari atas dedaunan. Badannya menggeliat dengan otot dikeraskan. Mulutnya sempat menguap sebagai sisa kantuknya.

Biasanya bangun tidur Suto Sinting langsung membuka tutup bumbung tuak, menenggak tuak beberapa teguk sebagai penyegar tubuh. Tapi kali ini, Suto Sinting begitu bangun tidur langsung terkejut dan matanya terbelalak.

"Mana bumbung tuakku?!"

Jantungnya berdebar-debar karena tegang. Bumbung tuak itu hilang dari tempatnya. Suto Sinting sempat menduga bumbung itu jatuh. Namun ketika dicarinya di kedalaman semak, ternyata bumbung tuak tidak ditemukan.

"Celaka! Bagaimana mungkin bumbung tuak itu bisa hilang, padahal ia dekat denganku. Setidaknya kalau ia menggelinding jatuh aku pasti terbangun. Apakah ada yang mencurinya?" pikir Suto sambil masih penasaran mencari bumbung tuak di dalam semak-semak.

"Wah, gawat kalau begini?!" gumamnya lirih. "Pendekar Mabuk kok kehilangan bumbung tuak? Hilang pula ciri khas penampilanku! Oh, dewa... kemana bumbung tuakku itu, tolong carikan ya Dewa...!"

Tentu saja kehilangan itu merupakan suatu peristiwa yang baru pertama kali dialami Smo dan sangat menegangkan. Karena bagi Suto bumbung tuak itu bukan sekadar bumbung biasa. Bumbung tuak itu berisi tuak sakti. Tuak mana pun jika sudah masuk ke dalam bumbung itu akan menjadi tuak berkhasiat tinggi; selain bisa untuk sembuhkan segala macam luka dan penyakit, juga bisa untuk melenyapkan benda yang disembur dengan tuak itu, namanya jurus 'Sembur Siluman'. Banyak lagi kegunaan tuak yang sudah masuk ke dalam bumbung tersebut.

Bumbungnya sendiri bukan terbuat dari sembarang bambu. Bambu yang dipakai sebagai bumbung tuak itu sebenarnya merupakan bambu bernyawa, artinya bisa bergerak sendiri menyerang lawan dan mengembalikan pukulan tenaga dalam lawan. Bambu tersebut memang dari jenis bambu besi, tapi ditemukan si Gila Tuak di penjara bumi, lorong gua di bawah Gunung Karak Kato (sekarang Krakatau).

Kesaktian bumbung itu juga bisa menyedot tenaga dalam lawan yang dipancarkan secara berlebihan untuk kemudian dilumpuhkan. Karena sejarah bumbung itu sebenarnya adalah jelmaan dari bocah tanpa pusar yang bernama Wijayasura, yaitu eyang gurunya si Gila Tuak, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode : "Pusaka Tombak Maut").

Hal yang menegangkan Suto lagi adalah keberadaan sebuah pusaka yang tersimpan di dalam bumbung itu. Pusaka Cincin Manik Intan disimpan Suto di dalam bumbung tuak. Jika bumbung itu hilang dicuri orang tentu saja Cincin Manik Intan ikut hilang.

Padahal cincin pusaka itu sangat berbahaya jika dipakai oleh sembarang orang. Bisa membuat orang itu berlaku keji dan semena-mena mencabut nyawa orang lain.

"Aku yakin pasti ada yang mengambil. Tak mungkin bumbung itu digondol kucing atau serigala. Pasti diambil oleh seseorang!" kata Suto bicara sendiri sambil celingak- celinguk di sekitar tempat itu.

Langkah mencari bumbung tuak yang hilang itu terhenti. Mata pendekar muda itu memandang ke arah salah satu sisi, bekas tumbuhnya serumpun bambu. Bambu-bambu hijau yang pernah tumbuh di situ agaknya habis ditebangi oleh seseorang. Sejumlah bumbu masih utuh di salah satu bagian, tapi di bagian lain pohon-pohon bambu itu tinggal sisa tonggaknya yang meruncing berjajar-jajar. Tinggi tonggak rata- rata sebatas paha orang dewasa.

Dan di tempat tonggak-tonggak runcing itu, ternyata ada seorang gadis yang sedang berbaring dengan tenangnya. Tubuh gadis cantik yang mulus itu tetap utuh tanpa luka seujung jarum pun, padahal ia tidur di atas keruncingan tonggak-tonggak bambu.

"Siapa gadis itu?!" pikir Suto Sinting. "Rupanya ia sedang pamer ilmu atau memang sedang menjajal ilmu kebalnya sehingga ia tidur di atas tonggak-tonggak bambu yang runcing dan tajam itu? Hmmm... atau barangkali ia melihatku tidur di atas pohon, lalu ia tak mau kalah dengan menunjukkan kebolehannya yang bisa tidur di atas keruncingan tonggak bambu?!"

Gadis itu tak lain adalah gadis berompi merah yang belahan dadanya tampak lebar sampai ke ulu hati dan tampak kemontokannya sebagian. Suto Sinting tidak mengenal gadis itu, sehingga ia mendekatinya dan ingin melihat dengan lebih jelas lagi wujud kecantikan si gadis bertubuh sekal menantang gairah itu.

Weeet... ! Tiba-tiba tubuh yang terbaring dengan kedua tangan di perut itu melesat bagaikan terbang dengan sendirinya. Di udara ia bersalto beberapa kali, dan kejap berikutnya sudah berdiri di atas sebatang bambu yang terpotong miring hingga keruncingannya semakin tajam. Teeb...!

Dengan satu kaki gadis itu berdiri di atas keruncingan bambu. Matanya terbuka memandang Suto Sinting yang sempat terperangah bengong. Bukan karena kehebatan sang gadis yang bisa berdiri di atas keruncingan bambu, tapi terperangah karena memandang kecantikan yang begitu menantang selera kejantanan seorang pendekar.

Suto Sinting bagai terkesima memperhatikan tiap bagian tubuh gadis itu. Sang gadis sunggingkan senyum bernada sinis. Senyum itu lebih berkesan membanggakan ilmunya.

Terbukti tegurannya menyinggung tentang masa tidur Suto tadi.

"Kau kira hanya kau sendiri yang bisa tidur di atas daun tanpa jatuh?"

Kesadaran si murid sinting Gila Tuak segera membuatnya nyengir dan garuk-garuk kepala. Sang gadis berkata lagi dengan senyum jumawanya,

"Kalau kau bisa pamer ilmu peringan tubuh, aku pun bisa pamer ilmu peringan tubuhku! Sekarang bagaimana pendapatmu tentang ilmuku ini?!"

"Hebat sekali," Jawab Suto Sinting sambil manggut-manggut.

"Pemusatan tenaga dalam pada titik urat saraf tertentu adalah hal yang biasa kulakukan juga."

Si gadis sedikit berkerut dahi. "Kok dia tahu kalau pemusatan tenaga pada urat saraf tertentu? Kalau begitu dia jago juga untuk berbuat seperti yang kulakukan ini?!" pikir si gadis.

"Tapi perlu kau ketahui, Nona... bahwa aku tidur di atas daun bukan dengan maksud pamer ilmu padamu. Aku tak tahu kalau kau ada di sekitar hutan sini. Kupikir tak ada orang, jadi aku berani melakukan hal itu. Kalau kutahu ada orang di hutan ini, aku tak berani lakukan hal itu, sebab takut dianggap pamer ilmu. Padahal ilmuku sangat rendah. Tidak ada sekuku hitamnya dibandingkan ilmu yang kau miliki, Nona. Aku ini manusia biasa, pengembara yang tidak punya bekal apa pun kecuali seutas nyawa dan sejengkal mahkota bagi seorang lelaki...."

Sambil berbicara panjang begitu, diam-diam tubuh Suto Sinting terangkat sendiri secara pelan-pelan. Telapak kakinya mulai tidak menyentuh tanah. Semakin lama bicara semakin naik, hingga sang gadis membelalak melihat Suto bisa melayang-layang di udara tanpa alas berpijak apa pun.

"Waah.. Ini sudah pamer ilmu namanya. Kata-katanya merendah tapi tindakannya meninggikan diri."

Si gadis menjadi kagum dan mengakui kehebatan Pendekar Mabuk secara diam-diam. Tetapi sebagai gadis berilmu ia tak mau mengakui begitu saja. Dengan satu kekuatan tenaga dalam ia menarik tubuh Suto Sinting yang melayang di udara. Tangan nya mengembang ke depan dan menyentak turun dalam jarak lima langkah di depan Suto.

Wuuut...!

Tapi bukan Suto yang tertarik turun, melainkan gadis itu sendiri yang tersentak jatuh dari atas keruncingan bambu tempatnya berpijak. Bruuus...! Hampir saja lehernya tertusuk tonggak bambu di depannya, ia jatuh dalam keadaan tersungkur menyedihkan. Sedangkan tubuh Suto Sinting masih tetap mengambang di udara karena menggunakan jurus 'Layang Raga'-nya itu.

Sang pendekar tampan hanya tersenyum dan akhirnya cekikikan setelah ia turun serta menapakkan kakinya ke bumi. Sang gadis menjadi berwajah merah karena malu dan jengkel sendiri. Akhirnya ia menjadi berang dan membentak Suto Sinting.

"Jangan menertawakan diriku! Kurobek mulut manismu itu kalau kau masih menertawakan diriku!"

"Mau merobek pakai apa, Nona? Pakai tangan atau pakai bibirmu?" goda Suto Sinting.
"Kurang ajar! Hiiih...!"

Gadis itu melompat dan menyambar pisaunya. Pisau dikibaskan ke mulut Suto Sinting.

Wuuut...!

Dengan menarik kepala ke belakang, Suto Sinting berhasil menghindari kibasan pisau tersebut. Lalu jari tangannya menyentil ke arah pergelangan tangan si gadis. Wees...! Tuub...!

"Auh...!" si gadis memekik kesakitan, sebab Suto menggunakan jurus 'Jari Guntur' yang mampu menghadirkan tenaga dalam cukup besar untuk satu sentilan. Akibatnya, bukan saja pisau itu terlempar lepas dari genggaman, tapi tubuh si gadis berputar dua kali di udara karena merasa bagai disapu angin badai berkekuatan besar.

Bruuuk...! Si gadis akhirnya jatuh bersimpuh di tanah. Wajahnya yang punya kesan pemberani itu menyeringai menahan rasa sakit di pergelangan tangannya. Lalu tangan kirinya mengeras dengan telapak tangan melebar. Telapak tangan itu pelan- pelan meraba pergelengan tangan yang membekas biru legam. Beberapa saat bekas pukulan di genggamnya, kemudian kejap berikutnya ia sudah tidak merasakan sakit. Tangan kirinya bagai mengurut dan mencabut rasa sakit itu dalam satu genggaman. Genggaman itu segera ditiupnya dengan kepala sedikit mendongak. Puiiih...!

Ia bangkit lagi dalam keadaan sehat dan segar, seperti tak pernah mengalami luka dan sakit apa pun. Pisaunya segera dipungut dan dimasukkan ke dalam sarungnya.

"Kau memang lebih hebat dariku," ujarnya sambil memasukkan pisau ke sarungnya."Sekalipun kukerahkan seluruh ilmuku, tapi aku tetap tidak akan bisa mengunggulimu, Pendekar Mabuk!"

Dahi sang pendekar berkerut walau bibirnya tetap tersenyum menawan. "Kau mengenal diriku sebagai Pendekar Mabuk?"

"Tentu saja aku mengenal ciri- cirimu. Aku juga mengetahui bahwa nama aslimu adalah Suto, sebutannya Suto Sinting. Gurumu adalah tokoh tertinggi di rimba persilatan yang bergelar Gila Tuak dan Bidadari Jalang."

"Wow...! Lengkap sekali kau mengetahui tentang diriku?" Suto tampak semakin berseri. "Lalu kau sendiri siapa, Nona Cantik?!"

"Pernah mendengar Putri Malu?"
"Pernah. Sejenis daun kumis kucing. "

"Enak saja!" gadis itu bersungut- sungut. "Putri Malu itu namaku. Jangan disamakan dengan kumis kucing."

"Ooo, ho, ho, ho...!" Pendekar Mabuk tertawa geli. "Jadi namamu Putri Malu? Tapi kurasa kau seorang putri yang tidak tahu malu. Buktinya pakaianmu begitu menantang kemesraan seorang lelaki."

"Justru inilah yang dinamakan Putri Malu. Artinya putri yang punya ke... eh, putri yang punya rasa malu. Kalau tak punya rasa malu aku sudah telanjang."

"Aku akan memandang, " sahut Suto dalam kelakarnya.

Putri Malu hanya mencibir. Manis juga cibirannya, bikin hati Suto geregetan ingin menggigit bibir itu.

Untung Suto sadar bahwa bibir itu bukan kue lapis yang boleh digigit sembarang orang, sehingga sang pendekar tampan pun hanya bisa tarik napas memendam keinginannya.

"Kulihat tadi kau mencari sesuatu di sekitar sini."

Pendekar Mabuk segera ingat pada persoalan gawatnya, ia sedikit berubah wajah menjadi agak tegang. Matanya pun mulai memandang sekeliling.

"Benar. Aku mencari bumbung wadah tuak. Tadi sewaktu aku tidur, bumbung itu kuletakkan di sampingku. Tapi ketika aku bangun, bumbung itu sudah tak ada. Hilang entah ke mana, dan aku sudah mencarinya tapi tak berhasil."

"Jika aku berhasil menemukan, maukah memberiku hadiah?"

Pendekar Mabuk memandang Putri Malu dengan berkerut dahi. Pandangan matanya sedikit menyipit karena ia mulai menaruh curiga.

"Maukah kau memberiku hadiah?" tanya Putri Malu lagi sambil tersenyum dan melirik nakal.
"Hadiah apa yang kau inginkan?"

"Hmmm...." senyumnya semakin berkesan nakal. "Tidak berat, juga tidak mahal."

"Sebutkan! Jangan bertele-tele!" sahut Suto agak keras karena penasaran dan tak sabar ingin segera mendapatkan bumbung tuaknya.

"Aku minta hadiah segumpal kehangatan."
"Maksudmu, singkong bakar atau ubi rebus?"
"Uuuh...!" Putri Malu cemberut jengkel. "Bukan kehangatan berupa makanan!"
"Jadi kehangatan apa yang kau inginkan?"

"Kemesraan. . . , " jawabnya sambil mendekat dan berlagak manja. Bibirnya mulai tampak merekah mengundang selera. Matanya memandang sayu bagai ingin dicumbu.

Jantung Suto Sinting seperti mengalami gempa setempat. Berguncang cepat hingga mengeluarkan keringat dingin. Pikirannya menjadi kusut, pandangan matanya pun mulai buram. Karena ia merasakan ada getaran aneh yang begitu kuat hingga sulit untuk ditaklukkan. Setelah berulang kali menelan ludah dan membiarkan gadis itu mendekat, Suto Sinting segera berkata dengan suara agak parau.

"Aku. . . . Aku tak sanggup memberikannya, Putri Malu."
"Bukan untuk aku," ujarnya. Ucapan itu membuat Suto cepat kerutkan dahi kembali.
"Bukan untuk kamu? Lantas untuk siapa?"
"Untuk ratuku."
"Ratumu...?! Siapa ratumu itu?"
"Gusti Ratu Sukma Semimpi."

Suto Sinting semakin berkerut dahi karena merasa asing dengan nama itu. Sedangkan gadis cantik yang kian mendekat dan menggenggam tangan Suto itu mulai berkata dalam nada mendesah lembut.

"Jika kau mau menuruti keinginanku, maka kau akan memperoleh bumbung tuakmu kembali."

"Kalau begitu kau yang mencuri bumbung tuakku!" sergah Suto tiba-tiba sadar dan dapat menyimpulkan kata-kata Putri Malu. Bahkan langkahnya ditarik mundur dua tindak, matanya mulai memancarkan ketajaman.

Putri Malu tetap tenang, namun kelihatan mengubah sikap menjadi lebih tegas lagi.

"Ya.Memang aku yang menyembunyikan bumbung tuakmu!"

"Wah, kacau juga rupanya!" gerutu Suto Sinting. "Berikan bumbung tuak itu sebelum aku menjadi marah kepadamu!"

"Tak akan kuberikan walau kau marah sebesar apa pun, kecuali jika kau mau kubawa menghadap Ratu Sukma Semimpi dan memberikan kemesraan cinta padanya."

Wuuut... !

Tiba-tiba angin berhembus cepat di sisi mereka. Rupanya ada tokoh lain yang hadir di situ.

* * *2

TUBUH kurus bermata cekung memandang dengan sorot mata yang dingin. Rambutnya yang putih sepanjang punggung diikat dengan ikat rambut dari kain merah. Melihat ikatan rambutnya, sepintas orang akan menduga bahwa ia adalah seorang perempuan tua. Tapi jika melihat kumisnya yang panjang berwarna putih dengan jenggot pendek berwarna putih pula, maka orang akan tahu bahwa ia adalah seorang lelaki.

"Galak Gantung . . . ? ! " gumam Putri Malu bernada heran. Suto Sinting hanya membatin,

"O, kakek ini bernama Galak Gantung? Apa maksud dia datang kemari? Apakah mau menunjukkan kegalakannya, atau mau menggantung Putri Malu? Jangan-jangan malahan mau menggantung diri sendiri?"

Kakek berpakaian hitam dengan dirangkap jubah putih tanpa lengan itu mulai perdengarkan suaranya setelah puas memandangi Putri Malu dan Suto secara bergantian.

"Sejak kapan kau menjadi gadis perayu, Putri Malu?!"

Suara itu kering, tapi mengandung wibawa yang tinggi, bisa bikin orang lain segan padanya. Kemudian ia berkata lagi,

"Tak kusangka kau menjadi gadis penjerumus yang akan mencelakakan orang lain."

"Apa maksudmu bicara begitu, Galak Gantung?!" Putri Malu menghardik tanpa sungkan-sungkan.

Galak Gantung memandang Pendekar Mabuk. Selama dua helaan napas ia belum bicara. Namun ketika mau bicara ia sedikit membungkuk pertanda memberi hormat kepada sang pendekar. Tentu saja hal itu mengherankan bagi Suto Sinting maupun bagi Putri Malu. Dalam hatinya Putri Malu membatin,

"Kenapa dia menghormat kepada Pendekar Mabuk? Bukankah Galak Gantung tokoh tua berilmu tinggi?!"

"Kumohon jangan mau turuti bujukan gadis itu, Anak Muda!"

"Maaf," kata Suto dengan sopan sekali. "Aku kurang mengerti maksudmu, Ki Galak Gantung."

"Ratu Sukma Semimpi bukan keturunan orang baik-baik. Ayahnya bernama Sabung Nyawa, bekas ketua partai perampok di pesisir wetan! Ibunya, Ratu Cabul Kidul, penyihir sesat yang punya kegemaran menjadikan lelaki sebagai budak gairahnya. Demikian pula Ratu Sukma Semimpi, ia hanya ingin menundukkan dirimu dengan modal kemesraannya. Siapa pun yang bercumbu dengannya akan terserap ilmunya dan pria itu akan polos seperti bayi baru lahir lanpa ilmu setetes pun!"

"Bohong!" bentak Putri Malu. "Jangan dengarkan omongan tua bangka
itu, Pendekar Mabuk!"

"Aku orang tua, buat apa aku bicara bohong padamu, Anak Muda!" ucap Galak Gantung dengan nada dingin.

"Racun iblis kau! Hiaaah...!" Putri Malu menjadi berang, iamelompat menyerang Galak Gantung.

Wuuut...!

Putri Malu seperti menyerang angin. Tak ada sasaran yang dikenainya. Galak Gantung sudah berada di belakang Pendekar Mabuk tanpa ketahuan kapan bergeraknya.

"Setan kempot!" gerutu Putri Malu.

"Anak muda, ingat pesanku, jangan mau melayani Ratu Sukma Semimpi. Ilmu dan kesaktianmu akan habis terhisap olehnya pada saat kalian bercumbu dalam kemesraan."

"Mulut busuk!" bentak Putri Malu.

Slaap. . . ! Seberkas sinar hijau dilepaskan dari tangan Putri Malu. Bentuk sinar itu seperti lempengan persegi empat.

Galak Gantung kaget, sempat terkesiap sebentar, lalu tangannya berkelebat seperti menyambar sesuatu. Wuuut... !

Ternyata tangan itu mengeluarkan asap yang menggumpal dan membuat sinar hijau tadi terperangkap di dalamnya. Asap itu segera membubung tinggi melewati pucuk-pucuk pohon, kemudian meledak di angkasa dengan suara menggelegar.

Blegaaarrr... !

Pada saat itu Putri Malu sudah berkelebat bagaikan terbang ke arah Galak Gantung. Weees...! Tangannya menghantam dada Galak Gantung dengan cepat.

Tapi Galak Gantung menangkisnya dengan kaki, sedangkan kedua tangannya masih dikebelakangkan.

Plak, plak, plak, deeess... !

Kaki Galak Gantung menendang perut Putri Malu. Gadis itu terlempar empat langkah dalam keadaan menyeringai. Kemudian Suto Sinting melihat darah segar meleleh dari telinga gadis cantik itu. Kejap berikutnya si gadis terbatuk dan dari mulutnya keluar darah kental.

"Gawat! Dia terluka. Padahal hanya terkena tendangan seringan itu. Berarti penyaluran tenaga dalam si Galak Gantung cukup tinggi. Setiap gerakan mengandung tenaga inti yang membahayakan. Putri Malu bisa mati kalau masih menyerang terus."

Suto Sinting cepat bergerak ke arah depan Putri Malu. Zlaaap...! Gerakannya yang lebih cepat dari gerakan anak panah itu diperhatikan oleh Galak Gantung dengan senyum tipis yang berkesan sinis. Namun bukan bermaksud meremehkan gerakan Suto Sinting.

"Hentikan seranganmu, Ki Galak Gantung!"

"Aku tidak akan menyerangnya kalau dia tidak membahayakan nyawaku!" kata Galak Gantung.

"Hiaaaat...!" tiba-tiba Putri Malu melambung tinggi melewati kepala Suto dan menendang ke arah kepala Galak Gantung.

Wuut,wuut,wuut,wuut,
wwuuut... !

Tendangan bertubi-tubi yang dilakukan dengan cepat sekali itu membuat Galak Gantung melompat mundur dan meliuk-liukkan tubuhnya untuk menghindar. Tapi kejap berikut ia berputar badan dan kakinya menyampar ke arah lawan. Wweeettt...!

Duug, duug, duuug, duuug...!

Satu tendangan menghasilkan serangan beruntun dan semuanya mengenai sasaran. Sentakan terakhir membuat Putri Malu terjungkir balik ke belakang dan jatuh dengan luka memar di beberapa bagian tubuhnya, terutama pada wajah dan belahan dadanya.

Suto Sinting tertegun bengong melihat pertarungan serba cepat itu. Dalam hatinya Suto berkata,

"Jurus-jurusnya galak sekali. Mungkin karena itulah ia berjuluk Galak Gantung? Oh, Putri Malu terluka lebih parah lagi. Aduh, sayang bumbung tuakku hilang! Aku tak bisa mengobati lukanya jika begini?!" hati Suto gundah kembali.

Putri Malu menggeliat bangkit dengan berpegangan batang pohon. Saat itu Galak Gantung ingin lepaskan pukulan jarak jauh dengan mengangkat tangan kanannya. Tapi Suto Sinting segera berseru,

"Hentikan!"

Satu seruan bersuara menyentak telah membuat Galak Gantung hentikan gerak. Wajahnya berpaling memandang Suto Sinting. Yang dipandang melangkah mendekatinya. Galak Gantung segera turunkan tangan tak jadi lepaskan pukulan jarak jauhnya.

"Tidakkah kau malu melawan gadis semuda dia, Ki?! Ilmunya tak sebanding dengan ilmu yang kau miliki!"

"Dia perlu dihajar sebelum menyesatkan orang banyak!"
"Aku akan menanganinya. Serahkan padaku."

"Berjanjilah untuk tidak terpikat dengan bujuk rayunya dan kau tidak akan datang bercumbu dengan Ratu Sukma Semimpi!"

Suto Sinting menarik napas sebentar. "Baik. Aku berjanji. Tapi aku akan menemui ratu itu untuk menanyakan apa maksudnya mengirimkan anak buahnya untuk membujukku!"

Dengan tetap bernada dingin Galak Gantung berkata, "Aku percaya padamu, Anak Muda. Selesaikan masalah Putri Malu itu. Bantulah dia. Sebenarnya aku tidak punya kebencian padanya, juga tidak ingin bermusuhan dengannya!"

"Akan kuperhatikan kata-katamu, Galak Gantung!"

"Jika begitu aku harus pergi sekarang juga untuk menyelesaikan urusanku sendiri. Sampaikan salamku kepada Sabawana dan Nawang Tresni!"

Weeess... !

Galak Gantung pergi dengan begitu cepat sehingga seperti menghilang dari pandangan mata. Kepergian itu membuat Pendekar Mabuk terbengong melompong. Bukan karena kehebatan Galak Gantung yang mampu bergerak cepat itu, tapi karena tokoh tua yang rambutnya diikat ke belakang itu sempat titip salam kepada gurunya Suto dengan menyebut nama asli Gila Tuak dan nama asli Bidadari Jalang.

"Berarti dia sahabat dari guruku? Pantas dia menghargaiku? Setidaknya ia bisa melihat noda merah di keningku yang hanya bisa dilihat oleh orang- orang berilmu tinggi."

Noda merah kecil di kening Suto memang tidak bisa dilihat oleh setiap orang. Noda merah itu diberikan oleh calon mertuanya, yaitu Ibu dari Dyah Sariningrum yang menjadi ratu di alam gaib. Noda merah itu merupakan tanda kehormatan sebagai Manggala Yudha Kinasih di negeri Puri Gerbang Surgawi alam gaib. Setiap orang berilmu tinggi pasti hormat kepada Suto karena mereka tahu bahwa kekuatan Suto bukan hanya terletak pada ilmunya saja, melainkan mampu mengerahkan sepasukan prajurit sakti dari alam gaib. Dan jika prajurit alam gaib itu mulai bergerak, tak satu pun ada yang bisa menandingi kekuatannya, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode : "Manusia Seribu Wajah").

Orang seperti Putri Malu jelas tak bisa melihat noda merah itu, sebab noda merah hanya bisa dilihat dengan indera ketujuh. Jika seseorang hanya bisa menggunakan indera keenamnya, belum bisa melihat noda merah itu, sehingga ia tidak tahu siapa Suto sebenarnya.

Untuk ukuran manusia biasa, Putri Malu tergolong gadis berilmu tinggi, ia mampu mengobati lukanya sendiri dalam waktu singkat dengan meraba bagian yang luka dan mencabut gaib dari luka itu. Rasa sakit itu mampu diambilnya dan dibuangnya dengan satu tiupan yang menyentak ke udara.

Karenanya tak heran ketika Galak Gantung telah pergi dan Suto Sinting tertegun lama dalam renungannya, Putri Malu sudah bisa berdiri dan melangkah dengan sehat seperti tak pernah menderita luka dan sakit apu pun

"Jangan percaya dengan fitnah si Galak Gantung itu!" kata Putri Malu. "Ratu Sukma Semimpi tidak seburuk itu."

Rupanya gadis itu masih ingin membujuk Suto Sinting agar mau dibawa menghadap sang Ratu. Hal itu menimbulkan keheranan dan rasa ingin tahu yang mengusik hati Pendekar Mabuk.

"Kalau kau mau menghadap Ratu Sukma Semimpi dan mau memberikan kemesraan yang diharapkan beliau, bumbung tuakmu akan kukembalikan "

"Kalau aku tidak bersedia, bagaimana?"
"Kau akan kehilangan bumbung tuakmu selamanya!"
"Kalau aku memaksamu dengan kekerasan, apukah kau sanggup melawanku?"

Pulri Malu diam saja. Ia melangkah bagai mempertimbangkan keputusannya. Suto merasa tantangannya akan disambut dulu, setelah Putri Malu dikalahkan barulah si gadis akan menyerahkan bumbung tuaknya.

Tapi tiba-tiba Putri Malu melesat masuk ke semak-semak dan menghilang di sana. Suto Sinting terkejut sekali karena tidak menduga kalau Putri Malu akan melarikan diri.

"Kurang ajar! Dia malah kabur! Bagaimanapun aku harus bisa mengejarnya dan menangkapnya supaya bumbung tuakku dikembalikan!"

Zlaaap... !

Suto Sinting menggunakan jurus 'Gerak Siluman' hingga mampu melesat dengan cepat melebihi anak panah. Semak belukar itu diterabasnya tampa peduli ada duri atau tidak, ia tak ingin kehilangan Putri Malu demi kembalinya bumbung tuak.

"Edan! Benar-benar gadis edan! Ke mana perginya?!" Suto Sinting hentikan pelariannya sebentar, karena merasa kehilangan jejak Putri Malu.

Wuuut... ! Jleeg... !

Suto Sinting naik ke atas pohon. Dari atas pohon ia memandang sekeliling dan memperhatikan setiap gerakan semak. Tapi ia tidak menemukan Putri Malu. Jurus 'Lacak Jantung' yang mampu menyadap suara jantung orang lain di sekitarnya, ternyata tidak memberikan hasil yang diharapkan. Tak ada suara detak jantung sedikit pun kecuali jantungnya sendiri dan jantung hewan-hewan kecil di sekitar tempat itu.

"Sial. Aku pasti salah arah!" geram Suto dengan jengkel. "Mungkin dia menuju ke timur! Naluriku tadi sebenarnya ingin mengarah ke timur, tapi aku terlalu mengikuti alam pikiranku. Benar-benar gadis konyol dia itu!"

Zlaaaap...! Suto Sinting melesat ke arah timur, ia tidak menggunakan jalan darat, melainkan menerabas dedaunan pohon. Seakan melintas dari pohon ke pohon tanpa menimbulkan suara gemerisik. Kecepatan gerak dan ilmu peringan tubuhnya membuat daun-daun bagai dilewati angin kecil.

"Nah, itu dia...?!" sentak hati Suto kegirangan, ia segera menuju ke sebuah lembah di mana terlihat sekelebat bayangan merah. Bayangan merah itu dipastikan sebagai pakaian Putri Malu yang bergerak cepat melarikan diri.

Namun alangkah kecewanya Suto setelah tahu bahwa bayangan merah itu bukan Putri Malu, melainkan seorang nenek berjubah merah dengan tongkat putihnya. Rupanya nenek berambut putih disanggul sebagian itu sedang mengejar seseorang hingga menggunakan gerakan secepat itu. Suto Sinting akhirnya mengikuti sang nenek dari atas pohon, ia ingin tahu apa yang dikejar sang nenek. Mungkinkah Putri Malu juga atau orang lain yang ada hubungannya dengan Putri Malu?

Ketika tiba di tanah lapang yang tidak banyak ditumbuhi pohon, nenek berjubah merah itu tahu-tahu terjungkal ke depan dan berguling- guling. Suto Sinting tidak melihat sekelebat sinar atau senjata apa pun yang membuat sang nenek terjungkal, sehingga ia menyangka sang nenek tersandung batu dan jatuh terguling- guling.

Namun ketika Suto hendak turun dari atas pohon untuk memberikan pertolongan kepada sang nenek, tiba- tiba seorang lelaki tua berjubah putih dengan pakaian dalam hitam dan rambut putihnya diikat ke belakang muncul menyerang sang nenek. Dengan sebatang kayu kering ia menghantam sang nenek.

Wuuut... !
Trak, duaaar... !

Sang nenek menahan pukulan kayu tersebut dengan melintangkan tongkatnya dalam keadaan terbaring. Ketika kayu menyentuh tongkat terjadi satu kilatan cahaya warna putih dan ledakan cukup keras pun menggelegar membahana.

Lelaki tua itu tak lain adalah Galak Gantung yang agaknya berseteru dengan si nenek jubah merah. Rupanya nenek jubah merah bukan mengejar lawan, melainkan dikejar oleh lawan. Suto Sinting jadi ragu untuk turun membantu sang nenek, sebab lawan sang nenek adalah sahabat gurunya sendiri.

"Ada persoalan apa antara mereka berdua? Sudah sama tuanya masih saja lakukan pertarungan. Kalau bukan karena masalah penting, tak mungkin mereka sampai baku hantam sedahsyat itu. Keduanya sama-sama mempunyai tenaga dalam yang mudah disalurkan melalui apa saja. Terbukti hantaman kayu dengan tongkat tadi memercikkan seberkas sinar dan menimbulkan ledakan cukup besar. Hmmm... akan kuperhatikan dari pohon sebelah sana saja, supaya aku tahu persis apa perkara yang mereka pertarungkan itu!"

Zlaaap... ! Suto Sinting pindah pohon. Letaknya lebih dekat dengan pertarungan itu, tapi berdaun lebih rimbun, sehingga keberadaan Suto di situ tak mudah terlihat.

Kedua tokoh itu masih sama kuatnya. Berulang kali mereka saling mengadu tenaga dalam, berkali-kali saling terlempar dan jatuh, namun tak satu pun ada yang tampak terluka.

Saat mereka saling memasang jurus dalam jarak tiga tombak, Galak Gantung serukan kata menyentak walau wajahnya tetap berkesan dingin, namun penuh wibawa.

"Kuingatkan sekali lagi, jangan membantu usaha Putri Malu yang ingin mencelakakan murid sahabatku itu, Sumbar Keramat!"

"Urusanku bukan urusanmu.Urusanmu pun bukan urusanku, Galak Gantung! Kalau kau ikut campur urusanku itu namanya lancang! Aku pun tak segan-segan melumpuhkanmu, Galak Gantung!"

"Haruskah persoalan ini merenggut salah satu nyawa kita, Sumbar Keramat?!"
"Anggani adalah muridku. Kalau seorang guru membela muridnya itu adalah tindakan yang wajar!"

"Semasa demi kebaikan memang wajar. Tapi Putri Malu, muridmu itu mempunyai keinginan yang kurang ajar. Mengorbankan orang lain untuk mencapai kepentingan pribadi adalah tindakan yang tidak terpuji, Sumbar Keramat. Apa artinya seorang guru membela murid yang tidak terpuji! Apakah sang Guru juga punya niat tidak terpuji juga?!"

"Tak usah banyak mulut kau, Galak Gantung! Keluarkan kegalakanmu seperti masa muda dulu, aku tak akan mundur setapak pun!" sentak sang nenek berjubah merah. Ternyata dia adalah guru dari Putri Malu yang punya nama asli Anggani.

"Menarik juga percakapan mereka. Tapi aku masih belum jelas apa persoalan sebenarnya?" pikir Pendekar Mabuk dengan mulut mengecap-ngecap karena rindu minuman tuak. Hatinya sejak tadi tak bisa tenang karena tidak berada di samping bumbung tuaknya.

"Jangan menyesal jika aku terpaksa menghancurkan hidupmu, Sumbar Keramat!"
"Sebelum kau lakukan, aku akan melakukan lebih dulu! Heaaah...!"

Nyai Sumbar Keramat sentakkan kaki dan tubuhnya melayang cepat bagaikan terbang. Tongkatnya dihantamkan ke arah kepala Galak Gantung. Tapi sahabat Gila Tuak itu berpindah tempat dalam sekejap. Weesss... ! Tahu-tahu ia ada di belakang Nyai Sumbar Keramat. Lalu kedua tangan Galak Gantung menyentak ke depan dan tiba-tiba tubuh Sumbar Keramat terjungkal sebelum mendaratkan kakinya ke tanah.

Wuuutt...!
Brrrusss...!

Nenek tua berbadan kurus itu tersungkur di rerumputan tinggi, ia seperti boneka yang dibuang sembarangan. Suto Sinting sebenarnya tak tega, tapi ia tak berani mencegah pertarungan itu, karena sepertinya Nyai Sumbar Keramat ingin membantu muridnya dalam membujuk Suto untuk membawanya kepada Ratu Sukma Semimpi, sedangkan Galak Gantung bersikap menggagalkan rencana itu. Galak Gantung tampak membela Suto dan tidak ingin Suto Sinting celaka karena bujukan Putri Malu.

"Galak Gantung...!" seru Nyai Sumbar Keramat. "Kau tak akan bisa mengalahkanku sebelum bersujud di hadapanku!"

Tiba-tiba Galak Gantung berlutut dan bersujud sampai mencium tanah. Pada saat itu Nyai Sumbar Keramat melepaskan pukulan tenaga dalamnya berupa serpihan logam kecil-kecil seperti serbuk besi yang menyembur dari telapak tangan kirinya.

Zraaakkk... !

Galak Gantung gulingkan badan sebelum ia melihat datangnya serbuk mengkilat itu. Wuuut...! Begitu badan berguling ke kiri, langsung lenyap tak berbekas. Blaab...!

Tahu-tahu Galak Gantung sudah berada di bawah pohon, sisi kanan Nyai Sumbar Keramat. Sedangkan serbuk mengkilat itu menghantam tanah. Brruuss... ! Blaaarrr... !

Tanah itu menjadi berongga cukup lebar dan dalam. Lubang tersebut segera terbungkus nyala kobaran api yang membubung tinggi. Rumput dan tanah di sekitarnya pun ikut terbakar pula, hingga salah satu pohon menjadi layu dan akhirnya pasrah terbakar karena tak bisa melarikan diri.

"Kau salah sasaran, Sumbar Keramat!" seru Galak Gantung.

Begitu nenek kempot itu menengok ke samping kanan, saat itu juga tangan kanan Galak Gantung menyambar ikat pinggangnya yang terbuat dari tambang coklat. Srreeet...! Tambang itu disentakkan ke depan dalam satu kali lecutan cepat.

Plaas... ! Zeerrrrtt... !

Leher Nyai Sumbar Keramat terjerat tambang yang mampu memanjang secara ajaib itu. Nyai Sumbar Keramat mengerang dengan suara tertahan. Tangannya yang kiri mencekal tambang yang menjerat leher. Rupanya makin lama jeratan tambang semakin kuat, bagaikan bergerak dengan sendirinya.

Dengan mengerahkan tenaga, Nyai Sumbar Keramat menahan gerakan tambang yang hendak ditarik Galak Gantung. Seluruh tubuhnya yang merendahkan kaki itu bergetar, sementara Galak Gantung sendiri juga mengerahkan tenaga untuk menarik tambang tersebut. Sekali tarik, tubuh Nyai Sumbar Keramat akan melayang dan jeratan di lehernya akan mematikan. Karena itu Nyai Sumbar Keramat mempertahankan agar hal itu jangan sampai terjadi.

Adu tenaga itu sampai membuat tambang berasap. Dalam jarak delapan langkah lebih tambang itu terentang kuat-kuat dan akhirnya terbakar. Mungkin karena tak mampu menahan panasnya tenaga dalam yang disalurkan oleh kedua tokoh tua itu, sehingga bagian pertengahan tambang mulai menyalakan api dan akhirnya api pun merayap menuju kedua sisi.

"Gila! Rupanya keduanya sama-sama punya ilmu yang sebanding, sehingga pertarungan itu menjadi begitu ulet dan alot, saling tak mampu menumbangkan lawan. Barangkali dulu mereka satu guru dan sama-sama mendapat kesaktian yang seimbang, " pikir Suto Sinting dengan gelisah, karena ia bimbang antara ingin melerai pertarungan atau hanya menjadi penonton yang baik.

Yang jelas ia melihat Galak Gantung menyentakkan tangan kirinya dan berhembusnya angin dari telapak tangan itu yang memadamkan api di tambang tersebut. Wuuurbb.. . ! Kini tambang tinggal berasap, namun mereka masih saling tarik dengan tenaga dalam yang dikerahkan habis-habisan.

"Sumbar Keramat...!" seru Galak Gantung dengan suara tertekan. "Biarkan muridmu menghadapi Ratu Sukma Semimpi sendiri tanpa melibatkan Pendekar Mabuk, atau aku harus mengakhiri masa hidupmu jika kau masih ingin membantu muridmu membujuk Pendekar Mabuk?!"

"Keparat kau... ! Heeaahh...!"

Satu sentakan tangan diiringi hentakan kaki membuat Nyai Sumbar Keramat mampu menarik tambang dan tubuh Galak Gantung tersentak. Kakek berjubah putih itu terpental maju dalam keadaan melayang di udara dengan tubuh menukik. Tubuh itu melintasi batas kepala Nyai Sumbar Keramat, dan pada saat itu rupanya Galak Gantung juga kerahkan tenaga hingga mampu menarik tambang. Wuuuut...! Lalu, tubuh Nyai Sumbar Keramat pun tersentak naik dan melayang terjungkir balik. Akibatnya kedua tokoh tua itu seperti mainan di ujung dua tali, saling melayang dan terbuang-buang.

Namun ketika Galak Gantung berhasil tapakkan kakinya di batang pohon dalam keadaan miring, ia berhasil pula menyentakkan tambangnya, sehingga Nyai Sumbar Keramat tertarik dan melayang cepat.

Wuuut...! Brrrusss...!
"Auaahg...!"
"Uuuhg...!"

Suto Sinting ingin tertawa melihat keduanya bertabrakan bagai orang buta beradu dengan orang buta. Keduanya sama-sama roboh dan berdarah.

Keduanya sama-sama terkapar. Tapi agaknya Nyai Sumbar Keramat lebih parah, ia segera tak sadarkan diri alias pingsan.

Pada saat itu, sekelebat bayangan merah datang dari balik dua pohon yang tumbuhnya merapat. Putri Malu muncul dari sana. Rupanya entah sejak kapan gadis itu mengintai pertarungan dari sana dan begitu melihat gurunya pingsan, ia segera muncul untuk melakukan pembelaan. Tapi pada saat itu pula Suto Sinting berkelebat keluar dari persembunyian. Langsung menghadang langkah Putri Malu.

***3

MELIHAT Suto menghalangi langkahnya, Putri Malu langsung melepaskan pukulan tenaga dalam tanpa sinar ke dada Pendekar Mabuk. Wuuut... !

Reggh... ! Suto Sinting tersentak mundur. Dadanya bagaikan ditendang kaki orang sebesar gajah, ia tak sempat menangkis pukulan itu karena ia tak menyangka kalau Putri Malu benar- benar akan memukulnya.

Untung pukulan itu tak membuatnya luka, hanya merasa panas dan sedikit sesak napas. Pendekar Mabuk tidak sampai terjatuh. Hanya tersentak tiga langkah ke belakang.

Ia segera bergeser ke samping kanan, karena Putri Malu ingin melangkah melalui samping kanan. Gadis itu menjadi berang sekali, ia melepaskan pukulan tanpa sinar lagi, kali ini dilakukan dengan dua tangan. Tapi kali ini Suto Sinting siap menghadapinya, sehingga begitu gelombang pukulan itu menghantamnya, Suto pun melepaskan gelombang pukulan tanpa sinar. Wuuukk...! Buuhg...!

Weeeess...! Putri Malu terlempar ke belakang karena pukulan Suto menyatu dengan pukulan sendiri dan menghantam ke dadanya. Tentu saja Putri Malu seperti ditendang seekor banteng liar. Ia jatuh di kejauhan sana, sekitar berjarak tujuh langkah.

"Uuhg...!" Putri Malu mengerang sukar bangun. Pendekar Mabuk cemas, karena bagaimanapun juga ia tak ingin gadis itu mati sebelum menyerahkan bumbung tuaknya. Maka Suto Sinting pun segera menghampirinya untuk memberi pertolongan.

"Jangan sentuh aku!" sentak Putri Malu dengan cemberut.

"Kau bikin aku jengkel, Putri Malu! Sebenarnya setiap masalah bisa kita selesaikan tidak dengan cara begini, melainkan dengan cara baik- baik. Aku tak keberatan menolongmu menyelesaikan persoalanmu asal bumbung tuakku kau kembalikan. Sebaiknya katakan di mana bumbung tuak itu kau sembunyikan, Putri Malu."

"Guruuu...!" tiba-tiba Putri Malu memekik, ia berusaha bangkit tapi jatuh lagi.

Suto Sinting berpaling ke belakang, ia juga agak terkejut melihat Galak Gantung mengangkat tubuh Nyai Sumbar Keramat dan membawanya pergi dengan gerakan cepat.

Putri Malu akhirnya hentikan langkah setelah mencoba berdiri untuk mengejar gurunya, tapi langkahnya terhuyung-huyung, ia menderita luka pada tulang-tulangnya akibat terpukul tenaga dalamnya yang menyatu dengan tenaga dalam Pendekar Mabuk itu. Mau tak mau ia mengobati dirinya lebih dulu.

"Kalau bumbung tuak itu ada, kau dapat kutolong. Dengan meminum tuak itu, maka kau akan menjadi sehat dan segar."

"Diam kau!" sentaknya dengan sewot, ia mengurut kakinya sendiri dengan kedua tangan gemetar, lalu seperti menangkap rasa sakit dan membuangnya dengan satu tiupan ke arah genggaman tangannya. Hal itu dilakukan beberapa kali dan dipandangi oleh Suto Sinting dengan kalem.

"Aku telah mendengar percakapan gurumu dengan Ki Galak Gantung," kata Suto sambil memandang keadaan sekeliling, sementara Putri Malu mengobati dirinya.

"Dari percakapan mereka, aku dapat menyimpulkan bahwa kau sebenarnya punya masalah dengan Ratu Sukma Semimpi itu. Masalahmu itu bisa diselesaikan jika kau bisa membawaku menghadapnya dan kau berhasil membujukku agar melayani kemesraan gairahnya."

Putri Malu memandang dengan sikap terkejut, ia masih duduk melonjorkan kaki. Suto Sinting segera berpaling menatapnya pula dengan kedua tangan bersidekap di dada. Mulutnya sesekali menelan ludah karena haus minuman tuaknya.

"Katakan yang sebenarnya, Putri Malu... apa persoalan yang kau hadapi sehingga kau harus membujukku untuk mau melayani kasmaran sang Ratu itu?"

Putri Malu tidak langsung menjawab. Namun raut wajahnya mulai tampak berubah mengendur, seakan ia sudah merasa tak perlu menutupi sesuatu yang dirahasiakan, ia bangkit menyentak-nyentakkan kakinya sebentar, ternyata sudah terasa enak. Kemudian ia melangkah mendekati gundukan tanah di bawah pohon. Di sana sang gadis cantik dan berambut cepak itu duduk termenung, sehingga Pendekar Mabuk terpaksa mendekatinya lalu berkata dengan sikap ramah, tanpa nada permusuhan .

"Katakan, Anggani... apa masalahmu?"
Putri Malu terkejut lagi dan menatap Suto. "Kau tahu nama asliku?"

"Kudengar gurumu menyebutkan nama itu, dan kutahu nama itu adalah milikmu. Sebab nama itu sangat cantik, sesuai dengan wajahmu."

Anggani menarik napas, lalu menghempaskannya. Suaranya terdengar pelan, tapi penuh kesungguhan. Tak ada kesan bercanda atau berbohong.

"Memang aku dalam kesulitan. Aku tak tahu bagaimana mengatasinya. Yang kutahu hanya dengan cara menyerahkan kau kepada Ratu Sukma Semimpi, sehingga aku bisa bebas dari kesulitan itu."

"Sebutkan kesulitanmu, barangkali aku punya cara lain untuk mengatasinya."

Putri Malu memandang penuh harap. Ada kesedihan di balik mata beningnya itu. Ada penyesalan juga di sana, yang semua itu membuat Pendekar Mabuk semakin penasaran ingin tahu segalanya.

"Ibuku ditawan oleh Ratu Sukma Semimpi."

Pendekar Mabuk terperanjat, matanya memandang tajam karena dahinya pun berkerut.

"Kurasa ia tidak main-main dan juga tidak berbohong. Aku dapat melihat kesungguhan dukanya dari sorot pandangan matanya kali ini," pikir Pendekar Mabuk.

"Mengapa ibumu sampai ditawan oleh sang Ratu?"
"Ibuku adalah seorang tabib. Pernah mendengar nama Tabib Getar Hati?"

Pendekar Mabuk diam berpikir sebentar, kemudian menjawab, "Baru kali ini kudengar namanya."

"Itulah nama ibuku, ia ditawan oleh Ratu Sukma Semimpi karena dituduh salah melakukan pengobatan."

"Pengobatan yang bagaimana?" tanya Suto Sinting ketika Putri Malu diam sesaat.

"Awalnya... sang Ratu menderita luka dalam akibat pertarungannya dengan Penguasa Pulau Campak. Ibuku dipanggil dan disuruh mengobati. Luka dalam yang hampir membusukkan jantung sang Ratu itu berhasil diobati oleh Ibu, tetapi di sini lain, buah dada sang Ratu menjadi kempes dan makin hari makin kecil. Sang Ratu sangat kecewa dan sedih, lalu akhirnya menjadi murka. Karena ia sangat membanggakan dadanya itu yang dipakai sebagai daya pikat bagi lawan jenisnya. Ibu segera ditangkap dan dipenjara. Padahal menurut Ibu, hilangnya buah dada sang Ratu bukan karena salah pengobatan, tetapi sang Ratu terkena kutukan seorang pendeta dari sebuah biara, namanya Pendeta Cermin Bumi. Pendeta itu dibunuh ketika hendak melakukan pertarungan dengan Penguasa Pulau Campak. Sebelum sang Pendeta menghembuskan napas terakhir sempat melontarkan kutukan yang pada intinya membuat sang Ratu kehilangan seluruh daya tarik kecantikannya."

Pendekar Mabuk angguk-anggukkan kepala. Setelah diam sesaat dan merenungi cerita itu, Pendekar Mabuk yang resah karena tidak mendapatkan tuaknya itu segera ajukan pertanyaan lagi,

"Lalu, apa hubungannya dengan diriku? Mengapa kau membujukku agar aku melayani gairah sang Ratu?"

"Ibu akan dilepaskan dari penjara jika penyakit sang Ratu telah sembuh. Karena sang Ratu tetap tidak percaya bahwa hilangnya daya tarik kewanitaan itu karena kutukan, ia tetap menuduh Ibu. Lalu, ibuku menyarankan agar sang Ratu mencari penangkal kutukan itu."

Karena sang gadis diam sampai tiga helaan napas, maka Suto pun segera memancing percakapan agar diteruskan kembali.
"Apa penangkal kutukan itu?"

"Darah Pendekar," jawab Putri Malu dengan pelan.
"Maksudmu membunuh seorang pendekar dan diambil darahnya?"

Putri Malu gelengkan kepala. "Darah sang Ratu harus bercampur dengan darah seorang pendekar dari golongan putih. Pada saat darah sang Ratu tercampuri darah Pendekar, maka kekuatan kutuk itu akan sirna dan apa yang hilang dari sang Ratu akan kembali lagi. Ia akan kelihatan cantik dan tubuhnya menjadi montok seperti dulu kala."

"Mengapa aku yang jadi sasarannya? Apakah ibumu menyarankan begitu?"

"Tidak. Ibu hanya menyarankan mencari darah pendekar. Lalu, sang Ratu menyuruhku mencarimu: Pendekar Mabuk. Karena sang Ratu diam-diam sudah tertarik padamu karena pernah bermimpi tentang dirimu. Untuk membebaskan ibuku, aku harus mencari Pendekar Mahuk dan mampu membujuknya untuk datang kepada sang Ratu."

Putri Malu tundukkan kepala, antara tersipu dan sedih. Lalu ia lanjutkan bicaranya lagi,

"Sudah kuajukan usul untuk mencari pendekar lain, mungkin bisa kudapat dari tanah seberang. Tapi sang Ratu tidak mau. Ia pergunakan kesempatan itu untuk memperalatku guna mendapatkan Pendekar Mabuk. Aku diberi waktu sampai purnama tiba. Apabila sampai malam purnama tiba aku belum mendapatkan Pendekar Mabuk, maka ibuku akan digantung di depan umum."

Wajah cantik itu benar-benar menampakkan kesedihannya. Mata indah bening itu menjadi memerah karena menahan tangis. Suto Sinting menarik napas dan melangkah ke sisi lain sambil berpikir.

"Repotnya aku tidak punya tuak. Kalau aku sekarang punya tuak, barangkali dengan meminum tuakku maka otakku bisa bekerja dengan baik dan bisa memperoleh cara untuk menyelamatkan Tabib Gelar Hati itu," pikir Suto Sinting.

Menurutnya pula, kesalahan tersebut tidak terletak pada Tabib Getar Hati. Kesalahan itu terletak pada diri sang Ratu sendiri. Wajar jika seorang pendeta akhirnya melontarkan kutukan karena merasa diperlakukan semena-mena, hingga akhirnya menemui ajal. Sebenarnya kutukan itu adalah dosa sang Ratu sendiri yang harus dipikulnya. Tapi agaknya sang Ratu tidak mau menanggung kesalahan sendiri, sehingga ia mencari kambing hitam. Tabib Getar Hati dijadikan kambing hitam, selain itu juga karena ia ingin mendapatkan kepuasan pribadinya; kepuasan mendapat kemesraan dari Pendekar Mabuk, juga kepuasan menyerap ilmu sang Pendekar.

"Aku sudah minta bantuan kepada Guru," kata Putri Malu, "Dan Guru siap membantuku tapi rupa nya bekas suaminya itu tidak setuju "

"Maksudmu, Ki Galak Gantung itu bekas suami gurumu?"

"Benar. Aku tak tahu pasti apakah mereka pernah bersuami-istri secara resmi atau hanya sebagai kekasih, yang jelas mereka pernah terlibat masalah cinta di masa mudanya."

Suto Sinting menggumam dan manggut-manggut. Putri Malu perdengarkan suaranya kembali,

"Guru hanya sanggup membantuku dalam menundukkan dirimu, tapi tak sanggup mengobati sang Ratu. Sedangkan aku sendiri jika harus bertarung melawanmu, kurasa tak akan mampu menumbangkan dirimu. Kuakui kau punya ilmu lebih tinggi dariku, hingga Galak Gantung hormat padamu."

Suto Sinting tersenyum tipis. Tak enak hati mendengar pernyataan seperti itu. Gadis cantik berwajah duka itu dipandanginya dengan satu tangan menyilang dada, tangan yang satu disangga dan digigit-gigit kukunya.

Anggani berkata lagi, "Satu- satunya cara mengalahkan dirimu dengan mencuri bumbung tuakmu, yang kata orang-orang sebagai sumber kekuatanmu! Tapi walau bumbung tuak sudah kusembunyikan, ternyata kau masih punya ilmu lebih tinggi dariku."

"Ada baiknya kembalikan saja bumbung tuak itu, lalu aku akan berusaha membebaskan ibumu."

Anggani bangkit dan menatap Suto dengan wajah sayu karena haru.

"Kau berjanji dengan sungguh- sungguh? Berani bersumpah akan membantu membebaskan ibuku?!"

Suto Sinting mengangguk.

"Aku berjanji. Tapi aku tak akan membebaskan kutukan itu. Kuanggap kutukan itu adalah hukuman yang layak diterima oleh Ratu Sukma Semimpi. Ibumu tidak bersalah, pendeta yang dibunuh sang Ratu juga tidak bersalah. Yang salah adalah sang Ratu sendiri, dan ia pantas menerima hukumannya."

"Ak...aku...aku akan mengembalikan bumbung tuakmu jika kau berani bersumpah."

"Aku bersumpah akan bebaskan ibumu!" Suto Sinting mengangkat kedua jarinya sebagai tanda sumpah yang
tidak sekadar main-main.

Pelan-pelan bibir Putri Malu mulai mekar. Lalu tersungging senyum kegirangan yang memancarkan keceriaan dari wajah cantiknya. Pendekar Mabuk justru terkesima memandang kecantikan itu berseri kembali.

"Kau amat cantik sebenarnya...," ucap Pendekar Mabuk tanpa sadar. Tapi buru-buru menutup mulutnya setelah menyadari apa yang diucapkannya itu sebenarnya tak boleh didengar oleh Putri Malu. Sementara sang gadis menjadi berdebar-debar mendengar ucapan yang menurutnya terlontar dengan sendirinya dari hati sanubari sang Pendekar Mabuk. Wajah cantik itu menjadi merah dadu menahan malu dan haru.

"Kalau begitu, kita ambil saja bumbung tuakmu."
"Di mana kau sembunyikan?"
"Di atas sebuah pohon yang tak akan kau ketahui tempatnya."

Mereka bergegas pergi ke tempat Suto tidur tadi. Sebuah pohon yang ada di seberang tempat Suto tidur di atas dedaunan semak segera dihampiri oleh Putri Malu.

Dengan sentakan kaki ringan, tubuh Putri Malu melesat ke atas. Wuuut...! Kemudian tubuh itu hinggap di salah satu dahan.

Suto Sinting diam di bawah pohon itu sambil tersenyum-senyum, karena hatinya berkecamuk sendirian.

"Cerdas sekali gadis itu. Akalnya cukup banyak. Melemahkan diriku dengan mencuri bumbung tuak. Lalu bumbung disembunyikan di atas pohon. Tentu saja aku tidak bisa mencarinya, karena aku mencari di daratan. Sebenarnya dia tidak berhati jahat. Dia lakukan begini karena keadaan sangat memaksa, demi menyelamatkan ibunya. Tapi... apa hubungan Putri Malu dengan Ratu Sukma Semimpi? Apakah benar dia anak buahnya atau prajuritnya sang Ratu? Mengapa ia betah punya ratu sesat seperti itu? Apakah dia juga ikut aliran sang Ratu yang gemar menaklukkan lelaki untuk melayani gairahnya? Apakah dia juga bisa menyerap ilmu seorang lelaki dengan melalui pergumulan mesra? Oh, seandainya benar begitu Putri Malu sebenarnya sudah menjadi putri yang tahu malu dan sesat. Apakah aku harus menolong orang sesat? Kata Guru, menolong atau membela orang sesat boleh saja, asal orang itu menjadi baik dan mau meninggalkan aliran hitamnya setelah kutolong. Ah, kurasa jika Putri Malu memang gadis golongan hitam, ia pasti akan mau meninggalkan aliran hitamnya setelah terkesan dengan penampilanku. Eh, sepertinya dia naksir aku! Aku bisa merasakan getaran hatinya saat ia menatapku."

Senyum Suto Sinting kian mekar. Tapi mendadak ia harus hentikan kecamuk batinnya, karena Putri Malu sudah cukup lama di atas pohon namun belum turun juga. Suto mendongak dan berseru,

"Cepat bawa turun, Anggani! Aku sudah tak tahan haus!"

"Naiklah! Tolong bantu aku!" seru Anggani si Putri Malu dari atas pohon. Seruan itu membuat Suto Sinting heran dan curiga. Maka ia pun segera pergunakan jurus peringan tubuhnya. Suuuut... ! Satu hentakan pelan membuat tubuh Suto Sinting melesat ke atas tegak lurus, kemudian bersalto satu kali dan hinggap di sebuah dahan besar.

Putri Malu ada di dahan depannya dalam jarak cukup dekat.

"Bumbung itu tidak ada!" kata Putri Malu dengan nada takut dan sedih.

Suto Sinting terkejut dan matanya segera terbuka lebar memandangi sekeliling pohon. Ternyata di pohon itu memang tidak ada bumbung tuak. Suto menjadi cemas.

"Kau taruh di mana?"
"Di sini. Di sela-sela dahan ini dan kuikat memakai akar. Tak mungkin bisa jatuh."

"Celaka!" gumam Suto Sinting. Kemudian ia bergerak menjelajahi pohon tinggi besar itu. Setelah puas mencari di pohon itu dan ternyata tidak membawa hasil apa-apa, Suto Sinting berpindah ke pohon lain dengan satu lompatan yang menyerupai seekor burung garuda melesat dari pohon yang satu ke pohon yang lain.

Beberapa pohon telah diperiksa oleh Pendekar Mabuk. Sang gadis pun ikut memeriksa enam-tujuh pohon di sekitar pohon tinggi besar itu. Mereka akhirnya bertemu kembali di pohon pertama.

"Ak... aku tidak bohong. Aku menyembunyikannya di pohon ini. Aku ingat betul bentuk pohon ini. Tak mungkin salah."

Wuuuurrt... ! Suto Sinting turun dengan bersalto satu kali.Ia menapakkan kaki ke tanah tanpa suara.Sedangkan Putri Malu ketika mendaratkan kakinya terdengar suara, bluuk...! Itu menandakan ilmu peringan tubuhnya lebih rendah dari Pendekar Mabuk.

"Cari di sekitar semak bawah pohon ini! Siapa tahu jatuh di suatu tempat!" kata Suto Sinting sambil menahan kedongkolan.

Namun sampai beberapa saat mereka menjelajahi semak di sekeliling pohon, bumbung tuak itu tetap tidak ditemukan. Akhirnya Suto Sinting berhenti mencari dan berdiri bersandar pada batang pohon tersebut. Napasnya terhempas dalam keadaan kepala mendongak. Hempasan napas itu dimaksudkan untuk menghilangkan rasa dongkol yang akan membuatnya marah.

Namun ketika napas terhempas, daun-daun pohon menjadi rontok. Dahan dan rantingnya terangkat naik bagaikan disapu badai dari bawah. Suto Sinting kaget dan segera sadar setelah salah satu dari dahan sebesar kaki gajah terdengar meretak keras. Krrraak...!

"Celaka! Hampir saja aku lupa. Pohon ini bisa terhempas patah tak karuan jika aku masih di bawahnya. Rupanya hatiku benar-benar memendam marah, sehingga napasku menjadi napas badai. Oh, ya... aku harus menenangkan diri, menenteramkan hatiku agar tak marah dan dongkol terhadap Putri Malu. Dia tidak sengaja menghilangkan bumbung tuak itu! Aku harus bisa memahami maksud hatinya yang sebenarnya."

Suto Sinting segera menenangkan hati sendiri. Putri Malu terkesima bengong melihat hembusan napas yang mengakibatkan daun rontok, ranting beterbangan, dahan patah, dan pohon bergetar. Gadis itu semakin kagum terhadap ilmu Pendekar Mabuk.

"Napasnya saja bisa bikin dahan sebesar itu menjadi retak? Benar-benar sinting ilmu pemuda tampan yang satu ini!" gumam hati Putri Malu.

Ia tidak tahu bahwa napas Suto akan berubah menjadi badai yang mengerikan jika ia memendam kejengkelan atau kemarahan. Sebab di dalam diri Suto tersimpan Napas Tuak Setan sejak ia meminum Tuak Setan secara tidak sengaja. Pusaka Tuak Setan itu seharusnya dimusnahkan, namun karena terjadi perebutan dengan Mawar Kempot, tokoh sesat dari Pulau Iblis, maka Pusaka Tuak Setan itu tumpah dan terminum masuk ke dalam tubuh Suto. Akibatnya ia mempunyai Napas Tuak Setan yang akan keluar dengan sendirinya jika hatinya memendam kemarahan, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode : "Pusaka Tuak Setan").

"Maafkan aku," ujar Putri Malu dengan wajah sedikit tertunduk, sebagai sikap merasa bersalah atas kecerobohannya itu.

"Aku tidak bermaksud menghilangkan bumbung tuakmu. Aku hanya ingin menyembunyikan di tempat yang aman, yang tak mungkin diganggu orang. Tapi ternyata... bumbung itu justru hilang entah ke mana."

Pendekar Mabuk sengaja menepuk- nepuk pundak gadis cantik itu. Hatinya semakin tenang dan debar-debar kedongkolannya telah susut. Suaranya terdengar lembut di telinga sang gadis.

"Tak perlu disesali, karena mencari bumbung tuak itu tidak cukup dengan menyesali perbuatanmu. Yang perlu kau lakukan adalah mengingat- ingat, kira-kira adakah orang yang melihatmu saat kau menyembunyikan bumbung tersebut?"

"Setahuku tidak ada orang di sekitar sini. Aku telah memeriksanya sebelum naik ke pohon ini!"

"Atau barangkali kau memindahkannya karena suatu alasan?"

Putri Malu diam, mengingat-ingat. Tapi ia akhirnya menggelengkan kepala, ia bahkan menggerutu bagai bicara pada diri sendiri.

"Ini semua gara-gara Guru. Sebenarnya aku tak setuju, tapi Guru mendesakku mengerjakan gagasannya."
"O, jadi semua ini adalah gagasan Nyai Sumbar Keramat?"

"Benar. Guru mengatakan, bahwa jika aku ingin mengalahkan Pendekar Mabuk harus mampu mencuri bumbung tuaknya. Karena menurut Guru, di situlah pusat kekuatanmu berada."

"Kalau begitu, gurumu itu yang mengambil tuak dari tempat persembunyiannya. Dia ingin mengalahkan aku, dan harus menyingkirkan bumbung tuak tanpa diketahui siapa pun, walau oleh muridnya sendiri. Maka ia memindahkan bumbung tuak itu tanpa setahu kau!"

"Tapi Guru tidak tahu kalau aku menyembunyikannya di pohon ini!" sangkal Putri Malu.

"Siapa tahu gurumu mengawasimu terus, sehingga ia tahu di mana kau menyembunyikan bumbung tuak itu."

"Kalau begitu kita segera mencari Guru!"
"Dia dibawa lari oleh Ki Galak Gantung!"

"Pasti ke puncak Bukit Wangi. Di puncak bukit itu Galak Gantung menempati sebuah gubuk sebagai tempat pengasingan baginya."

"Berapa lama perjalanan menuju Bukit Wangi?"

"Sehari semalam dengan langkah biasa. Tapi jika kita menggunakan ilmu peringan tubuh dapat berlari secepat angin, kita mampu menempuhnya setengah hari kurang."

Suto Sinting memandang ke langit. Arah matahari udah condong ke barat.

"Sebentar lagi petang akan datang. Kita pasti terhadang malam di perjalanan. Tahukah kau jalan yang tersingkat menuju ke Bukit Wangi?"

"Melalui pantai. Tapi kita harus melalui batas wilayah kekuasaan Gandapura."
"Siapa itu Gandapura?!"

"Manusia besar seperti raksasa pemakan daging manusia. Dia yang disebul Penguasa Pantai Ajal."

"Lalu apa masalahnya kalau kita melewati batas wilayah kekuasaannya?"

"Kita bisa ditangkap dan dijadikan santapan lezat baginya. Tak satu pun orang asing yang selamat melalui Pantai Ajal, kecuali orang- orangnya Gandapura sendiri. Sampai sekarang ilmunya belum ada yang mengalahkan. Gandapura titisan raksasa yang hidup dua ribu tahun yang lalu."

Pendekar Mabuk diam termenung mempertimbangkan langkahnya. Haruskah ia menumbangkan Gandapura dulu untuk dapatkan bumbung tuaknya kembali?

***4

BAHAYA apa pun akan ditempuh murid si Gila Tuak itu, asalkan bumbung bernyawa itu berhasil diperolehnya kembali. Maka dengan menjamin keselamatan Putri Malu, Pendekar Mabuk mengajaknya ke Bukit Wangi untuk temui Nyai Sumbar Keramat dan Galak Gantung. Mereka sepakat melalui jalan pantai dan melintasi batas wilayah Pantai Ajal.

Putri Malu yang merasa bersalah dan menyesal atas tindakannya itu sempat menjelaskan kepada Pendekar Mabuk,

"Jika nanti guruku melawanmu, aku akan lari sembunyi karena tak tahu harus berpihak ke mana. Jika kau melawan guruku, manfaatkan sesumbarnya. Karena sesumbarnya sering mendatangkan celaka bagi dirinya sendiri jika lawannya tahu memanfaatkan kata-kata tersebut."

"O, pantas Ki Galak Gantung waktu itu langsung bersujud hingga mencium tanah ketika gurumu melontarkan sesumbar, bahwa Ki Galak Gantung tak akan bisa mengalahkan dirinya jika tidak bersujud di depannya. Akhirnya dalam pertarungan itu gurumu banyak menderita luka bahkan sampai jatuh pingsan."

"Galak Gantung memang sudah tahu hal itu, karena cukup lama mereka bergaul; kadang berkasih-kasihan, kadang bermusuhan. Tapi sejak beberapa tahun belakangan ini, mereka berpisah dan saling perang dingin."

"Kenapa begitu?" seraya Suto tertawa kecil membayangkan orang-orang tua saling bermusuhan seperti bocah cilik.

"Biasa, perdebatan aliran dalam perguruan mereka. Guruku menemukan satu aliran baru tapi Galak Gantung menolak aliran itu. Galak Gantung lebih berpedoman pada aliran perguruan mereka."

"Mereka seperguruan?"

"Benar. Mereka dulu seperguruan. Hanya Nyai Sumbar Keramat dan Galak Gantung yang boleh melanjutkan aliran perguruan mereka dan menurunkannya kepada beberapa penerusnya. Salah satu murid yang hampir berhasil mewarisi jurus-jurus Nyai Sumbar Keramat hanya aku, dengan catatan aku pun harus memusuhi Galak Gantung dan tidak perlu menghormatinya. Aku pun heran, mengapa usia mereka sudah sama-sama mencapai delapan puluh tahun lebih tapi masih bermusuhan saja. Sebagai murid aku hanya ikut apa kata Guru."

"Lalu, apa hubunganmu dengan Ratu Sukma Semimpi itu? Apakah kau mengabdi kepadanya sebagai prajurit biasa atau pengawal pribadi?"

"Sebenarnya aku bukan prajuritnya. Aku bukan apa-apanya. Tapi ketika Ibuku ditawan olehnya, aku datang menyerang, tapi aku dikalahkan oleh sang Ratu. Aku hampir dijatuhi hukuman mati. Hukuman mati itu bisa dibatalkan kalau aku mau mengabdi kepada sang Guru. Maka hampir enam purnama lebih aku mengabdi kepada sang Ratu sebagai Prajurit Duta yang kerjanya diutus ke sana-sini, kadang menghadapi lawan berat,kadang juga...."
Kata-kata itu berhenti sampai di situ saja. Putri Malu bagaikan tersumbat tenggorokannya begitu melihat tiga sosok berwajah bengis melompat turun dari atas bebatuan lereng bukit cadas.
"Siapa mereka?!" bisik Suto Sinting dengan heran karena belum pernah jumpa dengan tiga orang wajah bengis itu.
"Gawat!" gumam Putri Malu."Mereka orang Pulau Campak.Kalung hitam berhias tengkorak burung hantu itu adalah lambang orang Pulau Campak "

"Kalau begitu, mereka akan menuntut balas kepada Ratu Sukma Semimpi."
"Benar. Tapi mereka pasti tahu kalau aku orangnya Ratu Sukma Semimpi."
"Dari mana mereka bisa tahu kalau kau orangnya sang Ratu?"

"Pakaianku!" bisik Anggani dengan mata tetap memandang ke arah tiga orang bengis yang melangkah pelan- pelan mendekati mereka. Anggani menyambung bisikannya,

"Baju buntung warna merah tanpa pelapis lagi di dalamnya ini adalah ciri pakaian orangnya sang Ratu. Potongan baju sama, hanya beda warna, sesuai dengan jabatan dan tingkatan masing-masing."

Tiga orang bengis itu masing- masing bersenjata pedang besar tanpa sarung. Gagang pedang mereka diberi hiasan ronce-ronce benang merah. Bentuknya ada yang lurus, ada yang lengkung, ada pula yang ujungnya datar.

Mereka bertubuh besar dan tergolong tinggi. Rambut mereka ada yang panjang sepundak, ada yang pendek, ada pula yang botak tengah. Orang yang rambutnya botak memakai baju biru tua itu mengenakan anting- anting lingkar sebelah kanan.

Sedangkan yang memakai pakaian bercorak bola-bola putih-hitam itu mempunyai rambut pendek, ikat kepala merah, kumis lebat, dan bentuk wajahnya lonjong.

Si rambut panjang tidak mengenakan ikat kepala, sehingga sebagian rambut yang tersapu angin menutupi wajahnya. Tapi kebengisan wajah itu tampak jelas dari matanya yang kecil berkesan keji. Kumisnya juga kecil, melengkung ke bawah hingga dagu, ia mengenakan pakaian hitam tanpa lengan baju, sehingga bentuk lengannya tampak besar dan berotot.

Yang berambut pendek dan berperut besar itu berkata lebih dulu sambil pandangan matanya tertuju kepada Putri Malu.

"Kau pasti orangnya Sukma Semimpi!"

"Bukan!" sentak Anggani. "Aku hanya orang upahannya! Aku tidak mengabdi kepada Ratu Sukma Semimpi!"

"Bohong!" bentak si rambut botak. "Jangan ingkar dari bukti pakaianmu! Kami tak bisa dibohongi, karena kami bukan anak kecil, tahu?!"

"Lalu, ... apa maksud kalian menghadang langkahku?"

"Kau adalah bagian yang harus kami musnahkan!" sahut si rambut pendek berpakaian bola-bola putih- hitam itu. "Semua orang Tanah Ratu harus dibantai habis untuk menebus kematian penguasa kami! Termasuk kau, Gadis Pengecut!" orang itu menuding dengan pedang besarnya.

"Sepertinya harus segera kutangani agar Anggani tidak celaka," pikir Suto Sinting. Lalu ia berbisik kepada Anggani yang berdiri di samping kirinya, "Mundurlah. Biar aku yang melayani mereka."

"Aku juga berani!"

" Aku tak ingin kau celaka, Sayang...," bujuk Suto dengan tenang bahkan berkesan menyepelekan keadaaan tersebut. Sebutan 'sayang' membuat kekerasan hati Putri Malu menjadi lunak. Akhirnya ia mundur selangkah sedangkan Suto maju dua langkah .

"Hei, kau juga orang Tanah Ratu?!" sentak si kepala botak sambil menuding Pendekar Mabuk dengan pedang lengkungnya.

"Aku bukan orang Tanah Ratu. Aku orang Jurang Lindu."

Mereka bertiga saling pandang. Salah seorang menggumam, "Jurang Lindu...? Di mana itu Jurang Lindu?"

"Entah. Mungkin dia asal sebut saja!"

Suto Sinting segera berkata, "Tentu saja kalian tidak tahu di mana Jurang Lindu, sebab kalian bukan hidup di Tanah Jawa. Kalian hidup di sebuah pulau yang mungkin tidak punya Jurang Lindu."

"Lalu apa maksudmu maju ke depan? Mau lindungi gadis itu?!"

Dengan tenang Pendekar Mabuk menjawab, "Jelas aku melindungi gadis ini, karena gadis ini tidak tahu menahu dosa Ratu Sukma Semimpi. Kalau kalian mau menumbangkan sang Ratu, datanglah ke Istananya. Tumbangkan dengan cara apa pun, gadis ini dan aku tidak akan ikut campur, tidak akan membela sang Ratu! Tapi jangan kalian gunakan gadis ini sebagai sasaran dendam kalian. Aku akan menjadi perisainya!"

Penjelasan itu cukup dimengerti oleh ketiga orang bengis itu. Suto Sinting bermaksud menghindari pertarungan sebab sebenarnya Putri Malu dan dirinya tidak punya masalah dengan mereka.

Tiga orang bengis itu saling pandang. Akhirnya si baju biru berkepala botak itu bertanya,

"Bagaimana menurutmu, Batu Laut?!"

Rupanya orang yang bernama Batu Laut adalah orang yang berambut panjang dan berkumis lengkung ke bawah. Orang ini sejak tadi diam saja. Setelah mendapat pertanyaan dari temannya ia baru perdengarkan suaranya.

"Jangan mau dibodohi anak kemarin sore. Kita kan orang-orang tua. Memalukan sekali kalau dikibuli oleh omongan anak kemarin sore," sambil kepalanya melenggak-lenggok dan suara kecil mirip perempuan. Pendekar Mabuk dan Putri Malu hampir tertawa cekikikan setelah tahu bahwa Batu Laut adalah lelaki bersuara dan bergaya wanita.

"Dia seorang banci?" bisik Suto sambil berpaling ke belakang, karena Putri Malu ada di belakangnya. Putri Malu hanya mengangguk dan tersenyum canggung.

"Jadi, menurutmu kita habisi saja mereka?"

Batu Laut menjawab, "Ya, habisi saja. Terutama yang lelaki itu. Ih... aku sebel sekali sama dia!"

"Majulah dulu kalau kau memang sebal sama pemuda itu!"

"Iiiih... mampus kamu, Cah Bagus.. . ! " ia berlari maju dengan pantat ketinggalan. Lenggak-lenggoknya mirip perempuan genit. Tapi setelah dekat dengan Suto Sinting, lelaki berusia sekitar empat puluh tahun itu menebaskan pedangnya membabi buta.

Wung, wuung, wung, wuuung...!

Gerakan pedang besar itu begitu cepat hingga kibasan anginnya memercikkan ketajaman mata pedang. Seakan tubuh Suto tergores ketajamannya walau sebenarnya pedang itu tak sampai menyentuh kulit tubuh. Mau tak mau Suto Sinting bersalto mundur dua kali. Wuuk, wukkk...!

Ia diam sebentar di sana, memandang si rambut botak. Seakan tak peduli Batu Laut memainkan pedang sampai badannya membungkuk ke tanah untuk mencari kesempatan menebas dengan tepat.
Sedangkan Putri Malu sengaja mundur sampai di bawah pohon, ia hanya bersiap-siap melepaskan pukulan jarak jauhnya yang mematikan jika Pendekar Mabuk terdesak dalam bahaya.

"Hiaaaat...!" suara Batu Laut memekik keras seperti suara perempuan murka.

Putri Malu terperanjat tegang, karena Suto Sinting hanya diam saja. Padahal lawannya sudah sangat dekat, pedang sudah menebas-nebas ke kanan-kiri.

"Mundur...! Lekas mundur!" seru Putri Malu kepada Pendekar Mabuk.

Tapi sang Pendekar tetap diam dengan tersenyum tenang. Sampai akhirnya pedang besar itu berkelebat cepat memenggal leher Pendekar Mabuk. Wuuut... ! Craaas... !

"Sutooo...!" teriak Putri Malu dan segera menghambur menyerang Batu Laut dengan melepaskan pukulan bersinar hijau dari telapak tangannya. Claaap... !

Duaaar... !

Batu Laut menangkisnya dengan pedang besar itu. Rupanya ia menyalurkan tenaga dalam melalui pedangnya sehingga ketika menangkis sinar hijau lurus itu sang pedang dikelilingi oleh sinar merah yang mirip cacing berlompatan.

Ledakan itu menghentak dan membuang tubuh Putri Malu ke tempat semula, di bawah pohon. Gadis itu segera bangkit karena ingat Suto ditebas lehernya dengan pedang besar itu.

Namun ketika ia memandang Suto, ternyata Pendekar Mabuk masih bisa tersenyum dan melangkah tenang ke salah satu pohon di dekatnya. Putri Malu terbelalak bengong memperhatikan hal itu.

"Kulihat jelas sekali pedang itu ditebaskan ke lehernya dan kena! Jelas kena, sebab pedang itu sampai lewat di antara kepala dan badannya. Tapi kenapa ia masih bisa berjalan tenang?"
Keheranan itu juga dialami oleh Batu Laut yang menggeram genit. "Iiih masih hidup juga! Benciiii... aku! Benciii...sekali! "

Lelaki berpakaian bola-bola hitam-putih itu juga memandang heran dan kagum sampai ia maju beberapa langkah memperhatikan Pendekar Mabuk. Namun tiba-tiba ia dan yang lain mendengar suara benda jatuh. Bluuuk...! Karena datangnya dari belakang lelaki berpakaian bola-bola hitam-putih maka orang tersebut menengok ke belakang.

"Hahh...?!" Ia terpekik dengan mulut ternganga lebar dan mata membelalak bagai ingin loncat dari kelopaknya.

"Batu Laut...! Mengapa yang terpenggal justru si Pawang Segara?!"

Batu Laut terpekik juga dengan gaya ganjennya, "Haaah... kok Pawang Segara temanku sendiri yang kepalanya putus?! Aduuuh... bagaimana ini?! Bagaimana ini, Lumut Karang?!"

Batu Laut segera memungut kepala si kepala botak itu, dengan gugup kepala itu ingin ditempelkan kembali ke gembungnya yang roboh beberapa saat kemudian. Akhirnya Batu Laut menangis layaknya seorang perempuan mengalami kematian suaminya.

"Lumut Karang... bagaimana ini?! Yang kupenggal kepala bocah itu, tapi kenapa yang putus kepalanya si Pawang Segara?! Adduuuh... kenapa bisa jadi begini, Lumut Karang! Oh, Pawang Segara... maafkan aku. Aku tidak bermaksud memenggalmu, Pawang Segara. Hik, hik, hik, huuuuuu...!"

Putri Malu semakin tak bisa bergerak sedikitpun. Bahkan untuk mengatupkan mulutnya terasa sulit, ia sangat terkesima dan terheran-heran melihat kejadian itu. Tentu saja ia demikian karena ia tak tahu bahwa Suto Sinting mempunyai jurus "Alih Raga' yang mempunyai kehebatan tersendiri.

Serangan apa pun yang ditujukan kepada Pendekar Mabuk, jika kekuatan batinnya dialihkan ke orang lain, maka orang itulah yang akan menderita. Karenanya sejak tadi Suto memandang si kepala botak karena sedang mengalihkan kekuatan batinnya, di mana setiap sentuhan ke tubuhnya tersalur pindah ke tubuh orang yang tadi dipandangnya. Maka ketika leher dipenggal oleh Batu Laut, bukan leher Suto yang merasakan sakit dan merasa disentuh pedang, melainkan leher orang yang ternyata bernama Pawang Segara itu.

"Anak setan keparat kau!" geram Lumut Karang yang berambut pendek dengan ikat kepala merah itu. Ia segera menyerang Suto Sinting dengan kekuatan tenaga dalam. Pedangnya ditancapkan ke tanah dengan satu kaki berlutut. Jrrub...!

Kedua tangannya mengeras dalam keadaan telapak terbuka. Lalu, kedua telapak tangan itu bagaikan mendorong pedang tersebut dengan satu sentakan yang tak sampai menyentuh gagang pedang. Wuuut. . . ! Dan pedang itu pun melayang sendiri bagaikan terbang ke arah Suto Sinting. Weees...!

Suto Sinting terkejut, lalu segera mengelak dengan memiringkan badan ke kanan. Weeet...!

Jruub... ! Pedang itu menancap di batang pohon. Kurang dari setengah jengkal akan menembus daun telinga Pendekar Mabuk.

Pada saat Suto Sinting mengelak itulah, Lumut Karang melepaskan pukulan tenaga dalam jarak jauh, berupa sinar biru dari tengah telapak tangannya. Suuuut...!

"Awaaass...!" teriak Putri Malu dengan tegang.

Suto Sinting menghindar dengan satu lompatan. Tapi gerakannya terlambat sedikit. Kaki Suto Sinting terkena sinar biru itu.

Blaab...!

"Aaauuh...!" Suto Sinting memekik keras karena kaget dan merasakan sakit bukan kepalang, ia pun segera roboh tak mampu berdiri lagi. Kaki kirinya menjadi memar membiru bahkan seperti mau busuk.

"Mampus kau, Cah Bagus. Kupenggal kepalamu, Iiihh... ! "

Batu Laut gemas sekali, ia segera berlari melompat dengan berjungkir balik cepat, lalu tiba di samping Suto.

Pedang besar diangkat, siap untuk ditebaskan. Putri Malu siap lepaskan pukulan jarak jauhnya yang akan mengarah ke punggung Batu Laut.

Namun tiba-tiba tangan Suto Sinting bergerak lebih dulu melepaskan sinar hijau lurus ke dada Batu Laut.

Claaap... !
Blaaar... !

Jurus 'Pecah Raga' terpaksa digunakan Pendekar Mabuk karena keadaan sangat terdesak. Batu Laut lenyap entah ke mana. Temannya yang berjuluk Lumut Karang sempat kebingungan sesaat mencari ke mana perginya Batu Laut.

Kejap berikutnya ia sadar bahwa Batu Laut telah hancur menjadi serpihan kecil-kecil. Bahkan pedangnya pun hancur menjadi serpihan logam yang berantakan ke mana-mana.

Tubuh Lumut Karang gemetar menahan murkanya manakala ia melihat jari kelingking Batu Laut jatuh di depan telapak kakinya. Wajah bengis itu menjadi semakin buas. Giginya bergemeretak penuh luapan amarah.

"Bangsaaat...! Bocah kemarin sore sudah mampu tumbangkan dua temanku! Kubalas kematian itu! Kubalas kau, Bocah Edan! Heeeaaah...!"

Suto Sinting semakin menyeringai menahan sakit. Luka lebam di kakinya itu mendatangkan kebusukan begitu cepat. Dari batas mata kaki, sekarang sudah sampai ke betis. Bau busuk pun tak tertahankan lagi.

Melihat keadaan Pendekar Mabuk menderita seperti itu, Putri Malu segera lepaskan pukulan tenaga dalamnya bersinar hijau ke arah Lumut Karang.

Pada waktu itu Lumut Karang sedang kerahkan melalui kedua tangannya untuk menghancurkan Pendekar Mabuk. Saat dadanya terbuka, sinar hijau Putri Malu datang menghantamnya. Claaap...!

Deess...!
"Aaahg...!"

Lumut Karang tersentak ke belakang. Tubuh besarnya sempat melayang dalam keadaan melengkung ke depan. Namun ketika kakinya menapak ke tanah lagi, kulit tubuhnya menjadi merah matang dari batas dada sampai kepala. Tubuh itu gemetar dengan mata mendelik tertuju ke arah Putri Malu. Tapi mulutnya segera mengeluarkan darah kental warna merah kehitam-hitaman.

Hidungnya juga mengeluarkan darah, sedangkan kedua telinganya pun melelehkan darah kental dengan warna yang sama. Lumut Karang terluka parah bagian dalamnya.

Namun ia masih berusaha menggerakkan tangannya, seakan ingin mengerahkan tenaga untuk menguatkan diri.

"Aaaggghhh...!" mulutnya mendesah seperti seekor ular besar.

Putri Malu tidak mau tinggal diam. Ia tak ingin memberi kesempatan kepada lawannya untuk memperoleh tenaga baru. Maka dengan gerakan cepat, gadis itu melesat bagaikan terbang, dan kedua kakinya menendang dada Lumut Karang secara beruntun.

Duug, duug, duug, duug, duug...!

Tendangan beruntun yang tentunya dialiri tenaga dalam tinggi itu membuat tubuh Lumut Karang tersentak- sentak mundur tak berdaya lagi. Darah yang keluar dari mulut dan hidungnya semakin menyembur-nyembur. Untuk berteriak atau mengerang sudah tak mampu lagi.

Putri Malu segera daratkan kaki ke tanah. Jleeg...! Ia pasang kuda- kuda untuk lakukan serangan lagi.

Namun gerakannya tertahan oleh melimbungnya tubuh Lumut Karang.

Dada orang bertubuh besar itu seperti nangka busuk. Bonyok dan berwarna biru kehitaman. Jelas dada itu telah rusak karena didera oleh tenaga dalam secara beruntun. Tulang dada patah, namun tak dirasakan lagi oleh Lumut Karang. Badan besar itu akhirnya melayang ke kiri dan roboh tanpa ragu-ragu lagi. Bruuuk...!

Putri Malu mengendurkan ketegangan uratnya ketika ia melihat lawannya menghembuskan napas terakhir. Gadis itu ikut menghembuskan napas karena merasa lega.

Namun ketika ia memandang ke arah Pendekar Mabuk, kecemasan menerkamnya kembali, ia berlari ke arah Suto yang tak bisa berdiri lagi itu.

"Suto, bertahanlah! Kau terkena pukulan beracun yang amat berbahaya. Ooh... badanmu bisa busuk semua. Luka itu bergerak merayap dengan liar."

Putri Malu menyingsingkan celana putih Pendekar Mabuk hingga ke batas lutut, ia terperangah sesaat melihat betis Suto telah habis dimakan racun yang membusukkan tulang dan daging.

"Diamlah! Kucoba untuk mengangkat racun ini...!" kata Putri Malu.

Kemudian dengan kedua tangan mengembangkan jarinya, otot-otot tangan mengeras hingga gemetar, Putri Malu melakukan pengobatan sesuai dengan caranya. Tangan itu tak menyentuh luka sama sekali, namun bergerak mengambang di atas luka. Ia seperti menarik beban berat hingga tenaganya dicurahkan dan tubuhnya gemetaran.

Wuuut... ! Putri Malu bagaikan menyambar seekor nyamuk di atas luka membusuk itu. Kemudian sesuatu yang telah digenggamnya itu ditiup dengan kepala mendongak ke langit. Puiiih...!

Hal itu dilakukan lebih dari lima kali, sampai akhirnya seringai di wajah Pendekar Mabuk mulai hilang. Rasa sakit mulai menipis. Namun luka belum bisa sembuh. Pembusukan masih terjadi di batas betis ke bawah. Bahkan sekarang luka itu bagaikan bergerak merayap mendekati lutut.

" Masih terasa sakit?!"
" Tid. . . tidak. Tapi luka ini masih bergerak terus."
" Aku telah membuang rasa sakitnya. Tapi racun itu susah kusedot pakai tenagaku!"
" Kalau saja saat ini bumbung tuakku ada, aku tak akan semenderita ini, Putri Malu."

Hati gadis itu meratap sedih dan penuh penyesalan. Rasa bersalah semakin menghantui jiwanya. Dan kini ia merasa bertanggung jawab terhadap luka Pendekar Mabuk, ia harus bisa menyembuhkan luka berbahaya itu karena gara-gara ulahnya maka luka itu tak bisa dicegah oleh tuak sakti sang Pendekar Mabuk.

"Maaf, aku harus menotok lututmu untuk membendung gerakan racun yang akan menjalar ke sana!"
"Lakukanlah...!"kata Suto Sinting dengan lemas.

Dengan dua jarinya, Putri Malu menghantam lutut Suto Sinting. Dees... ! Satu totokan membuat Suto tersentak dan memekik tertahan.

Dees... ! Deeees... !

Tiga totokan sudah dilakukan Putri Malu. Ternyata gerakan luka terhenti. Namun bagian yang sudah telanjur mengalami pembusukan tulang dan daging itu semakin menyebarkan bau tak sedap, bahkan melelehkan air yang baunya memualkan perut. Putri Malu sempat pergi ke balik pohon dan muntah
di sana.

Kini Suto Sinting bagaikan kehilangan satu kakinya. Ia tidak merasa punya kaki karena peredaran darahnya sudah ditotok oleh Putri Malu. Hati sang Pendekar menjadi sedih, karena ia merasa sebagai pendekar sudah kehilangan daya kekuatan seperti biasanya.

"Tunggu sebentar, kucarikan daun penangkal racun. Mudah-mudahan di sini ada," kata Putri Malu, kemudian ia berlari cepat mencari daun yang dimaksud. Suto Sinting ditinggalkan di situ sendirian.
"Bumbung tuakku, di mana kau?!" kata Suto dalam hatinya. "Siapa sebenarnya pencuri bumbung tuakku itu?! Celaka betul kalau begini, aku bisa mati busuk kalau racun ini tidak bisa ditawarkan dengan cepat. Uuuh... baunya saja bikin perutku mual sekali, apalagi rasanya!"

Suto Sinting ingat tentang bambu wadah tuaknya itu. Bambu bernyawa itu jelmaan maha gurunya yang sering disebutnya Eyang Wijayasura. Gila Tuak, gurunya, memanggil Wijayasura dengan sebutan 'kakek', karena Wijayasura adalah guru dari gurunya si Gila Tuak.

"Tak ada salahnya kalau aku memanggil Guru; Gila Tuak supaya membantuku mencarikan bumbung tuak itu," pikir Suto.

Kemudian ia segera mengambil sikap duduk lebih teratur lagi. Badannya ditegakkan, kaki kirinya yang sehat ditekuk bagai bersila, kaki yang terluka dibiarkan lurus melonjor.

Mata terpejam dan kedua tangan saling merapat di pertengahan dada. Ia memusatkan pikirannya untuk memanggil sang Guru dari jarak jauh. Tetapi usaha itu terhalang oleh keadaan yang tak bisa dihindari lagi.

Dalam keheningannya itu, Suto Sinting merasakan datangnya sekelebat angin dari arah kirinya. Angin kencang itu berhembus cepat ingin menerjangnya. Seketika itu Pendekar Mabuk sentakkan badan hingga terbaring.Tapi karena luka pembusukan, maka segala gerakannya menjadi lamban, tak selincah biasanya.

Wuuuut...! Angin itu menerjangnya dan Suto Sinting terlambat bergerak. Sesuatu menghantam wajahnya. Plook...! Terasa keras dan ingin memecahkan tulang pipi serta tulang rahangnya.
Suto Sinting sempat terpekik sampai jatuh terbaring. Namun ia cepat bangkit terduduk dan memandang ke arah kanan.

Ternyata di sana sudah berdiri sesosok tubuh berkerudung kain hitam dari kepala sampai kaki. Orang itu berwajah putih dingin tanpa perasaan apa-apa. Ia memegang tongkat El Maut yang ujungnya seperti paruh burung bangau.

Melihat kehadiran orang itu hati Suto Sinting terkejut sekali, sebab ia sadar keadaan dirinya sangat lemah. Suto tahu persis bahwa orang berkerudung kain hitam itu tak lain adalah musuh utamanya yang berjuluk Siluman Tujuh Nyawa.

"Celaka! Dia muncul dalam keadaan aku sedang tak berdaya begini, tanpa bumbung tuak dan tanpa tenaga seperti biasa!" keluh hati Suto Sinting. "Pandangan matanya semakin tajam, bagai ingin menghancurkan jantungku. Haruskah dia kulawan dalam keadaan seperti ini? Oh, benar-benar celaka nasib ku hari ini. Tubuhku terlalu lemah akibat pembusukan ini! Tapi pertarungan ini agaknya tak bisa dihindari lagi. Mudah-mudahan Putri Malu jangan muncul dulu, supaya ia tidak menjadi korban Siluman Tujuh Nyawa itu!"
* * *
5
PENGEMBARAAN Pendekar Mabuk adalah upaya memburu tokoh sesat terkenal yang sukar ditumbangkan. Manusia yang menjalani masa kutukan selama tiga ratus tahun itu tak akan pernah bisa lepas dari dunia hitam, karena ia pernah memperkosa neneknya; Nini Galih, gurunya Bidadari Jalang. Manusia terkutuk itu tak lain adalah Durmala Sanca, yang kemudian dikenal dengan nama Siluman Tujuh Nyawa.

Sekarang usianya baru dua ratus lima belas tahun, tapi Siluman Tujuh Nyawa masih kelihatan muda dan punya ketampanan tersendiri. Wajah putihnya bagai mengenakan bedak tebal itu menampakkan bentuk ketampanan yang tersembunyi. Ketampanan yang pucat semakin terlihat jelas dari warna bibirnya yang biru, matanya tajam dan berkesan dingin, ia satu-satunya orang yang tak pernah tersenyum dan tak mempunyai perubahan air muka.

Tokoh paling keji di antara seluruh tokoh kejam ini diburu Suto Sinting bukan saja karena kejahatannya yang di luar batas, tapi juga merupakan maskawin bagi calon istrinya Suto; Gusti Mahkota Sejati yang berkuasa di negeri Pintu Gerbang Surgawi alam nyata. Dyah Sariningrum, nama asli Gusti Mahkota Sejati, pernah menolak lamaran Siluman Tujuh Nyawa, untuk penolakannya itu Dyah Sarlnlngium nyaris kehilangan nyawa. Untung ia segera ditolong oleh Pendekar Mabuk, yang kemudian mereka saling jatuh cinta. Sebagai dendam pembalasan Dyah Sariningrum, ia minta maskawin kepala Siluman Tujuh Nyawa, sehingga Pendekar Mabuk pun memburu tokoh terkutuk itu untuk memenggalnya, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode : "Prahara Pulau Mayat").

Siluman Tujuh Nyawa selain berilmu tinggi juga punya kelicikan yang membuatnya licin seperti belut, sukar diburu dan ditangkap. Namun sekarang tokoh sesat itu ada di depan Suto Sinting, seolah-olah menantang perburuan yang dilakukan Suto selama ini. Sayang sekali keadaan Suto Sinting cukup lemah untuk lakukan perlawanan. Sekalipun Suto tahu bahwa Siluman Tujuh Nyawa hanya akan bisa dibunuh dengan Pedang Kayu Petir, namun setidaknya dalam keadaan bagaimanapun Pendekar Mabuk harus lakukan penyerangan dan perlawanan terhadap orang terkutuk yang membunuh saudara kembarnya, ayah-ibunya dan anaknya sendiri itu. Karenanya, ketika Siluman Tujuh Nyawa diam tak bergerak dalam jarak enam langkah dari Suto dengan mata memandang tajam dan kedinginannya bagai membekukan seluruh darah, Pendekar Mabuk tak mau kalah nyali, ia juga memandang penuh sikap menantang, walaupun keadaan luka di kakinya sebenarnya tidak memungkinkan bagi sang Pendekar untuk melakukan pertarungan.

"Kita bertemu di sini. Kau atau aku yang mati," ucap Siluman Tujuh Nyawa dengan nada bicara yang datar bagai tak berperasaan. Itulah ciri- ciri Siluman Tujuh Nyawa dalam bicara dan berpenampilan di depan siapa saja. Tiap kata tidak mempunyai tekanan khusus, sehingga datar dan lurus saja tanpa irama.

Pendekar Mabuk membalas ucapan itu dengan nada tegas dan melambangkan keberanian dalam jiwanya.

"Apa yang bisa kau lakukan terhadap diriku? Tak ada! Kedatanganmu sama saja menyongsong ajal, Durmala Sanca!" sambil Suto Sinting siap-siap lepaskan jurus maut dari tangannya. Sebab ia tahu bahwa Siluman Tujuh Nyawa mempunyai jurus maut yang bernama 'Lima Dewa Kilat'.

Jurus tersebut sangat berbahaya; berupa lima larik sinar hijau dari ujung jari. Sinar tersebut harus ditangkis dengan sinar yang keluar bersamaan. Jika lawan terlambat keluarkan sinar penangkis, maka lima larik sinar hij au itu tak mampu ditembus atau ditangkis oleh sinar tenaga dalam apa pun. Jurus 'Lima Dewa Kilat' tak ada yang punya kecuali Siluman Tujuh Nyawa.

Itulah sebabnya mata Suto Sinting tak mau berkedip dan tetap waspada supaya tak kecolongan peluang.

"Masa kejayaanmu sebagai pendekar kondang akan berakhir, Suto! Aku tahu kau dalam keadaan lemah, dan aku tak mau kehilangan kesempatan untuk menghancurkan ragamu!"

"Lakukanlah kalau kau merasa mampu!" tantang Suto Sinting.

Wuuut...!

Tiba-tiba tubuh berkerudung kain hitam dari kepala sampai kaki itu berkelebat seperti angin lewat, ia menerjang Pendekar Mabuk dengan mengarahkan senjata El Maut-nya.

Suto Sinting punya kesempatan bergerak menghindar dengan cepat, ia menyentakkan punggungnya ke belakang hingga badannya jatuh ke tanah dengan cepat. Buuk.. . ! Duuk. . . ! Kepala Suto terantuk batu. Untung tak sampai bocor. Sedangkan terjangan Siluman Tuj uh Nyawa yang mirip angin berkelebat itu melintas di atas tubuh Pendekar Mabuk yang terbaring di tanah. Weess...!

Dengan sekuat tenaga Suto Sinting segera berguling ke arah kanan. Kakinya yang luka terbentur batu. Deeeb... !

"Aaaauh...!" Suto Sinting memekik kesakitan. Wajahnya menyeringai hingga tampak amarahnya.

Durmala Sanca memanfaatkan kesempatan itu untuk menyerangnya dengan jurus 'Lima Dewa Kilat'. Namun begitu tangannya bergerak, sebelum sinar sempat keluar dari kelima ujung jarinya, Suto Sinting cepat sentakkan kedua tangannya ke depan. Seberkas sinar biru besar keluar dari tangan Pendekar Mabuk bersamaan dengan melesatnya sinar hijau dari kelima jari Siluman Tujuh Nyawa. Sinar biru besar itu menghantam kelima larik sinar hijau bersamaan. Jraaab...!

Blegaaarrr... !

Ledakan dahsyat terjadi akibat pertarungan jurus 'Lima Dewa Kilat' dengan jurus 'Tangan Guntur'-nya Pendekar Mabuk. Gelombang ledakan yang menyentak hebat itu bukan saja membuat tubuh Suto Sinting terlempar ke semak- semak, namun juga membuat tubuh Siluman Tujuh Nyawa terlempar kuat membentur dinding batu cadas. Kerasnya lemparan tubuh sang tokoh sesat itu membuat dinding batu cadas menjadi gompal dan bebatuan di atasnya pun runtuh menimbulkan suara bergemuruh. Reruntuhannya menimbun tubuh Siluman Tujuh Nyawa yang ada di bawahnya. Namun dengan sekali sentak, batu-batu itu terbang menyebar ke berbagai arah dan tubuh Siluman Tujuh Nyawa berhasil bangkit tegak kembali dalam sekejap.

Gelombang ledakan itu juga membuat beberapa bongkah batu di sekeliling tempat itu pecah ataupun retak, tanah berguncang mengerikan dan pohon-pohon bergetar hebat. Bahkan ada yang sempat tumbang tercongkel akarnya hingga mencuat ke permukaan tanah.

Suto Sinting mati-matian menahan rasa sakitnya. Kaki yang membusuk itu terasa sangat nyeri saat tergores ilalang dan ranting semak. Sekalipun demikian, ia berusaha keluar dari semak-semak dengan merayap menggunakan kedua tangannya.

Kemarahan yang membakar hati Suto Sinting, mendidihkan darahnya. Napas Tuak Setan mulai bekerja, setiap engahan napasnya menghadirkan angin besar yang sempat membuat tanaman kecil terguncang, rumput-rumput sempat jebol dari akarnya. Suto Sinting menyadari akan hal itu.

Maka ketika Siluman Tujuh Nyawa menggunakan tongkat El Maut-nya untuk lakukan serangan berikutnya, Pendekar Mabuk segera membuka mulut dan mengantarkan suara bersamaan keluarnya Napas Tuak Setan.

"Huaaah...!"
Blegeeerrr... ! Wuuuurrrsss... !

Badai besar berkecepatan tinggi menerj ang apa saja yang ada di depan Suto Sinting. Bumi pun berguncang hebat, langit berawan gelap, kilatan cahaya petir bersahutan di angkasa. Keadaan itu seperti awal kedatangan kiamat.

Pohon-pohon tumbang beterbangan, sekalipun yang berukuran besar maupun kecil. Tumbangnya pohon-pohon itu menimbulkan suara semakin gaduh.

Bebatuan tersapu oleh badai yang melanda tempat itu. Bongkahan batu besar pecah menjadi bongkahan kecil, yang berukuran tanggung pecah menjadi kerikil. Yang berukuran kecil terbang bagaikan kapas terhempas angin.

Siluman Tujuh Nyawa semula bermaksud melawan badai Napas Tuak Setan itu dengan berdiri tegak, tongkatnya ditancapkan ke tanah, ia biarkan angin badai menyapu dirinya, menyingkapkan kerudung hitamnya hingga rambutnya yang panjang tampak meriap- riap tersapu angin badai.

Tetapi pertahanan itu segera tumbang setelah sebatang pohon terbang dan menghantam dirinya. Wuuuss...! Bruuusss. . . ! Tubuh sang tokoh sesat pun ikut terbawa terbang dengan kecepatan tinggi, ia terhempas pada dinding batu cadas. Namun saat itu bukit cadas yang berdinding hampir tegak lurus itu mengalami keruntuhan besar. Sebagian puncaknya bagaikan terkikis dan mengalami kelongsoran.

Siluman Tujuh Nyiiwn tertimbun kelongsoran yang terdiri dari gumpalan-gumpalan batu cadas itu. Ditambah lagi beberapa pohon yang terbang menghantam dirinya. Beberapa batu yang terpental sempat menghantam dirinya pula.

"Dia berdarah...?!" gumam Suto Sinting yang memperhatikan lawannya sejak tadi.

Siluman Tujuh Nyawa memang berdarah pada bagian wajahnya. Kayu pohon dan bebatuan runcing yang menghantamnya sempat menggores atau melukai wajah itu. Sedangkan kekuatan tenaga dalam yang dikerahkan Siluman Tujuh Nyawa untuk menahan agar tak ada benda yang menyentuhnya ternyata jebol juga. Akibatnya ia tergencet antara pepohonan dan bebatuan yang menghantamnya dengan dinding bukit cadas yang ditabraknya.

Dari tumpukan benda-benda yang menimbun tubuh Siluman Tujuh Nyawa itu, tiba-tiba keluar beberapa berkas sinar merah yang memancar melalui celah-celah kosong. Kejap berikutnya, tubuh Siluman Tujuh Nyawa tersentak keluar dari timbunan benda-benda itu.

Braaasss... !

Tubuhnya bersinar merah dalam keadaan melayang di udara dengan tongkat El-Maut masih digenggamnya. Tapi karena hempasan badai masih kencang, maka tubuh yang melayang di udara itu terbuang lagi melayang- layang bagaikan daun kering. Tubuh itu menghantam sebatang pohon besar dan kokoh yang masih berdiri dengan meliukkan pucuknya nyaris menyentuh tanah. Blaaar...!

Ledakan besar terdengar akibat benturan tubuh Siluman Tujuh Nyawa yang memancarkan sinar merah dengan pohon besar. Akibatnya pohon besar itu patah di pertengahan batang. Hancur sebagian dan sisanya menjadi hangus terbakar.

Durmala Sanca bangkit dari jatuhnya. Berdiri tegang menahan hembusan badai yang masih mengamuk itu. Matanya tertuju ke arah Pendekar Mabuk. Tangan kanan Suto mulai bersiap melepaskan pukulan jarak jauhnya. Tapi tiba-tiba Siluman Tujuh Nyawa melesat ke arah lain dan menghilang dalam pelariannya, ia masuk ke alam gaib, karena memang ia mempunyai ilmu yang bisa dipakai untuk keluar-masuk alam gaib.

"Keparat! Dia kabur lagi!" sambil Suto Sinting menghantamkan kepalan tangannya ke tanah. Tanah itu menjadi berongga cukup besar.

"Kalau keadaanku tidak sedang seperti ini, kukejar kau ke alam gaib dan kita selesaikan pertarungan di sana!" kata Suto Sinting bagai bicara pada diri sendiri.

Terhembusnya Napas Tuak Setan menghadirkan bencana alam di sekitar tempat itu, bahkan sampai beberapa jauh. Hutan di seberang sana pun menjadi rusak dilanda angin badai dari tempat Suto Sinting berada. Gelegar petir di angkasa masih saling bersahutan. Dan ketika badai itu hilang, suasana alam menjadi porak- poranda. Tempat itu benar-benar seperti habis dilanda kiamat kecil yng mencengangkan mata seorang gadis. Gadis yang berlari-lari dari arah belakang Suto itu tak lain adalah Putri Malu. Wajah sang gadis bukan saja tercengang memandang keadaan alam di depan Suto, melainkan juga merasa cemas sekali akan keselamatan Pendekar Mabuk.

"Sutooo...?! Kau tidak apa-apa?!" ucap sang gadis menampakkan kecemasannya.

Pendekar Mabuk buru-buru meredakan engahan napasnya, menurunkan getar kemarahannya, ia mencoba untuk tampil dengan tenang dan kalem, walaupun masih tampak kaku.

"Dari mana saja kau?" Suto Sinting berlagak mencemaskan Putri Malu dan merasa agak kecewa karena terlalu lama ditinggal pergi. Padahal kepergian Putri Malu adalah suatu keberuntungan bagi Pendekar Mabuk. Karena dengan demikian Putri Malu tidak menjadi korban salah sasaran serangan Siluman Tujuh Nyawa. Setidaknya gadis itu tidak menjadi korban badai Napas Tuak Setan itu.

"Aku mencari daun penangkal racun itu, tapi sampai ke lembah sana tak kudapatkan. Aku justru mendengar suara gemuruh seperti gempa bumi. Lalu aku berlari ke sini dengan hati cemas, takut kau mengalami celaka yang lebih mengerikan lagi."

Suto Sinting sunggingkan senyum tipis. "Aku baik-baik saja "

Tapi mata gadis itu masih memandang heran ke arah pohon-pohon yang tumbang dan bebatuan yang hancur. Kejanggalan ditemukan oleh sang gadis, sehingga gadis itu membatin dalam hatinya,

"Mengapa yang porak-poranda hanya sebatas bagian depan Suto, sedangkan alam di belakang Suto tidak mengalami kehancuran seperti itu? Apa yang terjadi di sini sebenarnya?"

Ketika hal itu ditanyakan kepada Suto, Pendekar Mabuk itu hanya menjawab, "Aku tak tahu. Aku baru saja siuman dari pingsanku."

"Oh, kau sempat pingsan?!"

"Ya, karena menahan rasa sakit yang datang lagi secara bertubi-tubi ini!" sambil ia menunjuk kakinya yang kian membusuk.

Karena senja semakin temaram, Putri Malu berkata kepada Suto Sinting, "Aku tadi melihat sebuah gua di lereng sebelah selatan sana. Bagaimana kalau kau kubawa ke gua itu, lalu kutinggalkan di sana untuk mencari daun penangkal racun?"

"Apakah gua itu aman untuk kita?"

"Aku sempat memeriksa sebentar. Gua itu aman, hanya sedikit agak kotor. Dan lagi... sebentar lagi petang akan tiba. Kita harus segera dapatkan tempat untuk bermalam. Langit menghitam begitu, pasti akan turun hujan."

Pendekar Mabuk tidak mempunyai pilihan lain, ia terpaksa menerima uluran tangan Putri Malu untuk bangkit dan menuju ke sebuah gua yang dimaksud si gadis tadi.

"Bagaimana kalau kau kupanggul? Aku kuat memanggulmu," kata Putri Malu dengan penuh perhatian.
"Tidak perlu," jawab Pendekar Mabuk. "Aku butuh kayu penyangga tubuh. Aku masih bisa melangkah walau harus terpincang-pincang sambil menahan sakit."

"Gunakan pundakku sebagai kayu penopang. Mari kupapah pelan-pelan menuju gua itu."

Sebenarnya tak sulit mencari sebatang kayu untuk menopang tubuh Suto Sinting, tapi Putri Malu agaknya tak inginkan hal itu. Ia lebih suka pundaknya digunakan sebagai pegangan Suto.

Barangkali dengan cara begitu Putri Malu ingin menunjukkan bahwa ia siap berkorban demi menebus kesalahannya, mencuri bumbung tuak sakti sang Pendekar itu. Sikap mengorbankan diri dan membaktikan diri dimiliki oleh sang gadis yang tentunya punya maksud tertentu, berkaitan dengan masalah pribadi dan hatinya. Mungkin juga dengan menyediakan diri menjadi 'tongkat' sang Pendekar yang terluka, Putri Malu dapat menunjukkan kesetiaannya yang penuh dengan ketulusan hati.

Dengan melalui langkah yang susah payah, akhirnya mereka tiba di sebuah gua. Gua itu tidak begitu besar. Kedalamannya sekitar lima belas langkah dari mulut gua. Jalan masuk ke gua itu agak kecil, hanya cukup untuk masuk dua orang bersamaan. Keadaannya agak kotor. Banyak kotoran binatang yang mengering, tapi umumnya ada di bagian yang paling dalam.

Salah satu sisi lantai gua yang datar tampak bersih dari kotoran. Ada tanda-tanda gua itu bekas dipakai orang, karena tempat datar itu dibersihkan dengan menggunakan sekumpulan ilalang yang kini dalam keadaan kering.

Di situlah Putri Malu menempatkan Pendekar Mabuk untuk beristirahat, ia membimbing sang Pendekar untuk duduk pelan-pelan dan bersandar puda dinding gua.

"Di luar langit mendung semakin gelap," kata Pendekar Mabuk ketika Putri Malu akan mencari daun penangkal racun.

"Aku yakin sebentar lagi hujan akan turun. Sebaiknya kau tak usah pergi dulu, Anggani."

"Aku harus pergi," kata Anggani, si Putri Malu itu. "Racun itu kalau tidak segera diobati akan membuat kakimu terpotong dengan sendirinya. Tapi sebaiknya aku mencari kayu bakar dulu untuk persiapan api unggun."

Suto Sinting tak bisa melarang lagi. Gadis itu mempunyai kemauan keras untuk menyelamatkan Suto. Bahkan seolah-olah ia menyediakan diri untuk menjadi perawat sang Pendekar dengan penuh rasa bertanggung jawab. Diam- diam Suto Sinting memuji kesetiaan itu dan hatinya sempat terharu menerimanya.

"Rasa sakitmu kuambil dulu!" ujarnya sebelum pergi mencari kayu bakar. Suto Sinting membiarkan Putri Malu mengambil rasa sakit pada luka busuknya itu.

Selesai mengobati rasa sakit Suto, gadis itu pun keluar dari gua dan mengumpulkan kayu kering. Berulang kali ia keluar-masuk gua mengumpulkan kayu kering hingga menumpuk di salah satu sisi lantai gua yang tidak begitu lebar itu.

Angin berhembus membawa udara dingin. Butiran hujan mulai terasa meresap ke dalam gua dibawa oleh sang bayu. Gelegar guntur bersahutan di angkasa. Alam menjadi lebih gelap lagi.

Untuk menghalau hawa dingin. Putri Malu menyalakan api unggun. Selain keadaan di dalam gua menjadi hangat, juga menjadi terang. Wajah sedih penuh penyesalan terlihat pada kecantikan si gadis berambut cepak itu. Suto Sinting memperhatikan kecantikan itu dengan mulut terkatup dan badan bersandar sedikit merebah. Pada saat si gadis membungkuk untuk menyusun kayu bakar, belahan dadanya terlihat jelas dari tempat Pendekar Mabuk berada. Dua buah bukit menggantung di sana, tampak segar dan menggoda jiwa.

"Setan...!" gerutu Suto Sinting sambil memalingkan wajah, tak berani terlalu lama memandang kemulusan yang begitu sekal menantang itu.

"Kalau aku bukan kekasih Dyah Sariningrum, akan kubiarkan asmaraku mekar dalam pelukannya. Ah, ini godaan. Kau harus tabah, Suto. Kau harus bisa menahan diri untuk tidak hanyut dalam pemandangan yang menggiurkan itu," kata Suto dalam hatinya, bicara pada diri sendiri.

Api unggun telah menyala. Tapi rintik hujan mulai turun membasahi bumi. Putri Malu bangkit dan tampak memandang ragu ke arah luar. Suto Sinting segera berkata kepadanya,

"Urungkan niatmu untuk sementara, Anggani. Hujan akan menjadi deras. Jika kau basah karena hujan kau akan sakit. Lalu siapa yang akan merawatku kalau kau sakit?"

Kata-kata itu sangat menyentuh hati Anggani. Sepertinya mempunyai makna besar bagi hubungan mereka berdua. Anggani pun segera mendekati Suto dan berkata dengan sikap tegar, walau sebenarnya dalam hatinya merasakan keharuan yang dalam.

"Baiklah, aku menurut dengan saranmu. Kupikir memang ada baiknya aku menjaga diri agar aku bisa merawatmu."

Pendekar Mabuk sunggingkan senyum tipis. Sorot matanya tertuju ke mata indah Putri Malu. Sorot mata itu merayap ke hidung bangir, lalu ke bibir menggemaskan, lalu ke dada. Sampai di dada sorot mata itu cepat- cepat naik lagi, tak berani terlalu lama memandangi dada berkulit mulus, takut terjadi pemberontakan dalam jiwanya.

"Masih terasa sakit?" tanya Putri Malu dengan suara lembut.

Suto Sinting menggeleng pelan.

"Tapi kau berkeringat, apakah menahan sakit?" sambil keringat di kening Suto segera dihapusnya memakai kain ikat pinggang berwarna kuning. Kain itu dilepas dari pinggang Putri Malu dan digunakan mengeringkan keringat di sekitar kening dan pelipis.

Dengan terlepasnya kain ikat pinggang yang selama ini membuat rompi merah tak berlengan itu menjadi rapat bagian depannya, maka keadaan rompi merah pun menjadi berubah. Rompi itu membuka dan kulit tubuh pun terlihat jelas.

Suto agak risih melihat rompi tanpa kancing itu. Sebab di balik rompi tak ada pelapis tubuh lagi. Namun ia tak berani menegur, karena mungkin jika ditegur Anggani benar- benar menjadi putri malu.

"Barangkali ia punya kebanggaan sendiri memamerkan keadaan seperti itu," pikir Suto Sinting. "Biar sajalah, tak perlu ditegur. Kalau mau ya dipandang kalau tidak mau ya jangan dipanggang, eh... jangan dipandang," lalu Suto tertawa sendiri dalam hatinya.

Malam pun tiba, hujan semakin deras. Namun keadaan Putri Malu berkeringat karena ia habis menyalurkan hawa murninya ke tubuh Suto supaya bisa menghambat keganasan kerja racun di kaki. Hawa murni Putri Malu yang disatukan dengan hawa murni Pendekar Mabuk ternyata tidak menghasilkan perubahan apa-apa pada luka busuk tersebut.

"Cukup sudah usahamu, Anggani. Aku tahu kau sangat menyesal karena mencuri bumbung tuakku, dan kau ingin menebusnya dengan cara merawatku. Aku cukup paham dengan isi hatimu,
Anggani."

Anggani diam termenung memandangi luka tersebut. Tiba-tiba ia perdengarkan suaranya yang enak didengar.

"Kalau kakimu sampai buntung sebelah, bagaimana?"
"Itu namanya takdir."
"Itu hanya anggapanmu saja. Padahal takdirmu belum tentu menghendaki kakimu buntung sebelah."

"Aku selalu beranggapan begitu supaya bisa tetap tenang dan bisa menerima keadaan apa pun tanpa keluh kesah dan jiwa yang lemah. Dengan menerima sang takdir, kita akan memperoleh ketenangan sekalipun dalam keadaan yang menyedihkan. Begitulah caraku mengobati hati jika sedang menghadapi kekecewaan."

"Apakah hatimu pernah dikecewakan oleh seseorang?"
"Sering," jawab Suto kalem.
"Maksudku, seorang wanita."

Suto Sinting tersenyum menawan. "Yang berhubungan dengan masalah cinta?"

Gadis itu ganti tersenyum, tapi kepalanya mengangguk.

"Belum pernah," jawab Suto Sinting. "Aku tak pernah dikecewakan oleh seorang wanita dalam soal cinta. Justru sepertinya akulah yang sering mengecewakan wanita."

"Mengapa begitu?"
"Karena aku sering menolak cinta mereka."
"Apakah kau tak punya selera terhadap wanita?"

"O, sangat tinggi!" jawab Suto cepat sambil tertawa kecil. "Soal selera jangan ditanyakan. Masalah yang kuhadapi bukan soal selera, tapi soal kesetiaan."

"Kesetiaan? ! " Putri Malu berkerut dahi dan mulai curiga. "Apakah kau sudah mempunyai kekasih?"

Suto Sinting menjawab dengan tegas, "Ya. Aku sudah mempunyai seorang calon istri...," kemudian ia menjelaskan tentang Dyah Sariningrum.

Wajah gadis cantik bergiwang kecil warna merah delima itu mulai tampak surut. Keceriaannya bagai terkikis oleh cerita Suto tentang calon istrinya itu. Tapi setelah ia merenung beberapa saat, wajah murung itu mulai tampak berseri kembali. Napasnya ditarik dalam-dalam untuk mengusir kekecewaan. Karena sebenarnya Putri Malu kecewa mendengar Suto Sinting sudah mempunyai calon istri. Walaupun tak diucapkan, namun Suto Sinting mengetahui kekecewaan tersebut.

"Persahabatan kadang lebih kekal daripada percintaan," ujar Suto menghibur hati sang gadis.
"Ya, aku mengerti maksudmu. Aku justru bangga mempunyai seorang sahabat yang punya kesetiaan begitu tinggi terhadap calon istrinya. Jarang sekali kutemui seorang lelaki yang punya kesetiaan sepertimu, Suto."

"Ah, banyak juga. Hanya saja mungkin baru akulah yang kau temui."

Putri Malu sunggingkan senyum kecil. Lalu mereka sepakat untuk tidur setelah Putri Malu berkata,

"Esok pagi aku akan pergi mencari daun penangkal racun. Kurasa esok hari luka busuk ini belum sampai memotong kakimu. Kita masih punya waktu untuk mencari daun penangkal racun."

"Terserah bagaimana caramu merawatku. Aku pasrah," ucap Suto lirih, membuat keteduhan tersendiri di hati sang gadis.

"Sekarang tidurlah, istirahatkan seluruh anggota tubuhmu biar tak membuat racun itu bekerja lebih ganas lagi. Aku akan menjagamu di sini."

"Aku ingin kau tidur juga. Ingat, aku tak ingin kita berdua jadi sama-sama sakit."
"Baiklah, tapi bolehkah aku tidur di sampingmu?"
"Untukmu kuizinkan, tapi untuk perempuan lain akan kutolak."

Putri Malu semakin merasa tenteram, walau ia tahu tak akan bisa mencintai Suto. Ia akhirnya merebah berbantalkan dada kanan sang Pendekar. Suto Sinting merapatkan tangannya, memeluk gadis itu tanpa kenakalan yang mestinya diharapkan oleh sang gadis.

Tidur dengan memeluk Putri Malu terasa nyenyak bagi Pendekar Mabuk. Namun esok paginya, ketika ia terbangun, sesuatu telah terjadi amat mengejutkan. Suto memandang ke samping kanannya, karena ia merasa memeluk Putri Malu semalam. Ternyata yang ada dalam pelukannya, yang bersandar di dada kanannya bukan Putri Malu lagi, melainkan bumbung tuaknya yang hilang itu.

"Hahhh...?! Siapa yang mengembalikan bumbung tuak ini?!" pikir Suto Sinting dengan jantung berdetak-detak karena kegirangan. Matanya sempat memandang ke sisi lain, ternyata Putri Malu tidur sendirian di seberang api unggun.

"Oh, terima kasih, Dewa! Kau telah kembalikan bumbung tuakku dalam keadaan masih penuh. Ooh... terima kasih...!" Suto Sinting bersorak dalam hatinya. Tanpa menunggu lebih lama lagi, ia segera menenggak tuak yang amat dirindukan itu.

Seperti seseorang yang menyimpan dendam cukup lama, tuak itu ditenggak hampir mendekati batas separo bumbung. Akibatnya luka busuk di kaki Suto Sinting mulai mengalami perubahan. Sedikit demi sedikit bau busuknya hilang, cairan yang meleleh menjijikkan itu jadi mengering, warna hitamnya berubah menjadi semakin kecoklatan. Sampai akhirnya luka busuk itu lenyap sama sekali tanpa bekas sedikit pun.

Suto Sinting masih tersenyum- senyum karena kegirangan, ia bahkan lupa membangunkan Putri Malu karena sibuk menciumi bumbung tuaknya.

"Jangan-jangan Putri Malu yang bikin permainan ini? Malam-malam ia bangun dan mengambil bumbung tuak dari persembunyiannya yang asli, lalu ditaruh di dadaku dan ia tidur di seberang sana. Hmmm... tapi kejujuran Putri Malu saat menampakkan penyesalannya itu memang tulus dan tidak dibuat-buat. Atau... Nyai Sumbar Keramat yang mengembalikannya karena melihat aku akur dengan muridnya? Hmm... dari mana dia tahu kami ada di sini? Jangan-jangan bumbung tuak ini jalan sendiri...?!"

Kemudian Suto Sinting ingat peristiwa saat bumbung tuaknya dibuang oleh seseorang ke dalam jurang. Ternyata ketika malamnya ia tidur di dalam gua, bumbung tuak itu kembali berada di dekatnya, karena bumbung itu adalah bumbung bernyawa, yang terjadi akibat kesaktian Eyang Guru Wijayasura dapat menjelma menjadi bambu untuk bumbung tuak.

"Hmmm.. . ya, ya... aku tahu, bumbung tuak ini berjalan sendiri menemuiku walau disembunyikan orang di tempat serapi apa pun!"

Suto Sinting manggut-manggut dan membayangkan peristiwa hilangnya bumbung tuak saat dibuang ke jurang oleh Putri Kunang, murid Dewa Sengat yang kini menjadi penguasa di Pulau
Dadap (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode "Cambuk Getar Bumi").

Putri Malu terbangun dengan sendirinya tanpa dibangunkan oleh Pendekar Mabuk, ia terpekik kaget melihat kaki Suto Sinting sudah pulih seperti sediakala. Bahkan wajah cantik itu sempat menjadi pucat karena kekagetannya. Semakin kaget lagi melihat bambu tuak sudah ada di samping Pendekar Mabuk, ia nyaris tak bisa berkata apa-apa. Lalu, Pendekar Mabuk menjelaskan tentang kesaktian bumbung tuaknya yang sejak kemarin dilupakan itu.

"Kalau begitu kita tak perlu melanjutkan perjalanan ke Bukit Wangi!" kata Putri Malu.
"Betul. Untuk apa kita ke sana? Buat apa menemui gurumu jika bumbung tuak ini sudah ada di tanganku?"

"Jadi sekarang kita berangkat menemui Ratu Sukma Semimpi?"
"Tak ada pilihan lain kecuali menghadapi dia untuk membebaskan Ibumu: si Tabib Getar Bumi."

Paras cantik itu berseri-seri kegirangan. Sorot matanya penuh semangat. Bayangan Ibunya bebas dari tawanan sang Ratu membuatnya berdebar- debar.

"Tapi sang Ratu punya aji pemikat," ujarnya mulai melemah kembali. "Mampukah kau menghadapi aji pemikat yang amat dahsyat itu?!"

"Tahukah kau kelemahan aji pemikat itu?"
"Aku tidak tahu," jawab Putri Malu dengan semangat mengendur.

"Yang penting kita hadapi dulu sang Ratu. Soal mengatasi aji pemikatnya, kita pikirkan setelah berhadapan dengannya. Kita berangkat sekarang saja, Anggani!"

"Aku siap memandumu, Pendekar Tampan!" jawab Anggani mulai bersemangat kembali.

***6

TERSEBUTLAH sebuah wilayah kekuasaan yang dinamakan Tanah Ratu. Tempat itu ada di lereng bukit menghadap ke pantai. Jalanan menuju ke istana berbenteng warna putih itu dibangun begitu rapi dan ditata dengan tanaman hias yang cukup indah.

Di dalam istana berbenteng putih itu bertakhta seorang ratu berusia sekitar empat puluh tahun, namun masih tampak cantik dan menggairahkan. Sayangnya belakangan ini kecantikan tersebut semakin susut akibat kutukan sang Pendeta yang dibunuhnya.

Seperti yang pernah dijelaskan oleh Galak Gantung, Ratu Sukma Semimpi memang tergolong ratu aliran hitam, ia mempunyai ilmu yang dapat menyerap kesaktian seorang lelaki dalam keadaan sedang melakukan percumbuan yang paling dalam. Ayahnya memang bekas seorang ketua perampok, ibunya termasuk perempuan jalang, namun keduanya kini sudah tiada. Darah sesat mewarisi sang anak, hingga jadilah ia seorang Ratu yang hidupnya selalu mementingkan diri sendiri.

Perempuan yang disebut Ratu Sukma Semimpi mempunyai tubuh langsing, sekal, dan termasuk tinggi. Kulitnya putih tanpa cacat, dadanya montok sekali, kegemarannya mengenakan jubah ungu dengan belahan dada lebar dan kain tembus pandang untuk menutup bagian bawahnya. Rambutnya disanggul rapi, namun sesekali diriap untuk memancing minat lelaki.

Namun sekarang keadaan sang Ratu tidak demikian eloknya. Sejak membunuh seorang pendeta dari aliran putih, rambutnya mulai rontok sedikit demi sedikit. Dan akhirnya menjadi gundul tanpa rambut selembar pun. Buah dadanya mengempes, dan nyaris datar seperti seorang lelaki. Kulit tubuhnya mengalami perubahan dari putih mulus menjadi bercak-bercak coklat, seperti akan dipenuhi tahi lalat.

Kesekalan tubuhnya pun mulai mengendor. Betisnya yang semula indah kini menjadi berbusik seperti dilapisi sisik halus. Kekencangan paha dan pinggulnya menjadi seperti balon kekurangan udara. Bulu matanya yang lentik beberapa waktu yang lalu menjadi rontok dan sekarang nyaris tanpa bulu mata. Alis lebarnya yang dulu indah, sekarang tinggal tipis dan tumbuhnya tak beraturan.

Namun demi membanggakan hati, para bawahannya selalu mengatakan bahwa sang Ratu masih tetap cantik.

"Siapa bilang Gusti Ratu berubah? Menurut saya tidak, Gusti Ratu tetap cantik dan menggairahkan para lelaki. Sama seperti dulu, cuma sekarang sedikit kurus karena barangkali Gusti Ratu banyak pikiran!" ujar salah seorang pengawalnya.

Namun sang Ratu sering lemah keyakinan akan dirinya, ia pernah berdiri di depan cermin seharian penuh untuk memperhatikan dirinya, juga meyakinkan batinnya apakah ia masih cantik dan menarik atau sudah tidak sama sekali. Kadang ia merasa sedih jika hati kecilnya mengatakan dirinya sudah tidak menarik, kadang ia merasa yakin bahwa dirinya masih menawan.

Beberapa pemuda dicarinya, ia ingin membuktikan apakah dirinya masih menarik dan menggairahkan bagi seorang lelaki atau tidak. Toh kenyataannya beberapa pemuda yang disuguhkan masih merasa terpikat dan mau melayani sang Ratu.

"Ini menandakan bahwa aku memang masih cantik dan menarik, " kata hati sang Ratu. Padahal para pemuda yang melayaninya itu menjadi tertarik karena ajian pemikat sang Ratu yang terletak pada bibir dan matanya. Tak ada lelaki yang mampu kalahkan kekuatan gaib dari bibir dan mata sang Ratu. Sekali mereka kena pandang, sekali mereka senyum, hati mereka luluh dan keinginan bercumbunya melonjak-lonjak amat tinggi.

Hal itulah yang dikhawatirkan oleh Putri Malu. Karenanya, Suto Sinting mempunyai cara sendiri untuk mengatasi kekuatan aji pemikat sang Ratu. Pendekar Mabuk yang sudah berdampingan dengan bumbung bernyawanya itu juga punya cara sendiri untuk membebaskan Tabib Getar Hati, ibu dari Putri Malu yang menjadi kambing hitam sang Ratu itu.

"Bagaimana hasilnya , Putri Malu?!" sapa sang Ratu dalam pertemuan yang diadakan secara mendadak karena Putri Malu pulang dari tugasnya.

"Mana pemuda tampan yang bergelar Pendekar Mabuk itu?! Mengapa kau datang tidak membawa Suto Sinting, si murid Gila Tuak itu? Apakah kau tak ingin Ibumu selamat? Ingat tujuh hari lagi purnama tiba. Jika kau belum bisa membawa Pendekar Mabuk kemari, maka Ibumu akan kugantung di depan umum!"

"Gusti Ratu," kata Putri Malu sambil menahan kegeraman dalam hatinya. "Saya sudah bertemu dengan Pendekar Mabuk."

"Bagus!" sahut sang Ratu dengan wajah mulai berseri-seri. "Lalu bagaimana?"

"Suto Sinting ada di luar, Gusti!"

"Hah...?! Mengapa tidak kau bawa masuk? Lekas panggil dia, aku sudah tak sabar lagi ingin menikmati kemesraannya!"

"Suto bersedia melayani gairah Gusti Ratu, tapi ia punya syarat sendiri."
"Hmmm... mungkin dia minta upah? Baiklah. Apa syarat yang diminta?"

"Dia ingin dijemput oleh Gusti Ratu sendiri dan berjalan menuju istana berdampingan dengan Gusti Ratu."

"Hik, hik, hik, hik. . . ! Rupanya dia seorang pendekar yang menyukai kemesraan seperti itu. Oh, ya. . . aku tahu maksud hatinya. Suto Sinting seorang pemuda tampan yang manja dengan cinta. Baiklah. Aku akan datang menjemput sang Pendekar! Di mana dia sekarang?"

"Ada di alun alun, menunggu Gusti Ratu di bawah pohon beringin."
"Aha, dia benar-benar pemuda pemalu untuk soal kencan. Hik, hik, hik, hik...!"

Putri Malu segera beranikan diri bicara lagi. "Suto Sinting menghendaki Gusti Ratu membawa ibu saya juga."

Sang Ratu berkerut dahi memandang tajam kepada Putri Malu. Senyum keceriaannya lenyap seketika berganti rona angkuh penuh curiga.

"Mengapa ia menghendaki begitu?"

"Saya ceritakan persoalannya, kemudian dia ingin membebaskan ibu saya. Tapi dia takut Gusti Ratu ingkar janji. Dia inginkan pertukaran secara ksatria. Dia mau melangkah berdampingan bersama Gusti Ratu masuk ke istana, jika Ibu sudah berada di tangan saya."

"Mengapa dia tidak percaya padaku?! Dia pikir aku seorang Ratu yang curang?! Menghina sekali dia?!"

"Maklumilah, Gusti. Sebab dia belum kenal siapa Gusti Ratu. Walaupun saya sudah jelaskan kebaikan Gusti, namun dia ingin buktikan kesungguhan Gusti yang ingin mendapatkan kemesraan dengannya. Sebab dia merasa sudah cukup waktu untuk menikah, namun sampai sekarang belum punya calon istri yang tepat dengan pilihan hati. Ketika saya ceritakan ciri-ciri kecantikan Gusti Ratu, ia tampak gembira dan merasa yakin bahwa Gusti Ratu adalah wanita yang sesuai dengan selera cintanya."

"Hik, hik, hik, hik. .. , " sang Ratu tertawa lagi, hatinya diliputi perasaan bangga. Ini akibat kepandaian Putri Malu menyanjung Ratu Sukma Semimpi, sehingga sang Ratu bagaikan lupa dengan anggapan curang yang tadi sempat membakar hatinya.

"Baiklah. Pengawal..., keluarkan Tabib Getar Hati, dan bawa dia menyambut darah pendekar bersamaku!"

Tabib Getar Hati dikeluarkan dari ruang tahanan bawah tanah. Perempuan berusia lima puluh tahun itu masih tampak segar dan tidak mengalami cedera apa pun. Putri Malu merasa lega melihat ibunya dalam keadaan sehat.

Perempuan yang rambutnya mulai ditumbuhi uban itu segera ditemui oleh anaknya. Putri Malu dipandang dengan mata penuh curiga. Sang Ibu segera bertanya,

"Apakah kau berhasil membujuk Pendekar Mabuk?"
"Ya, aku berhasil, Ibu," jawab Putri Malu dengan menundukkan kepala.

Sang Ibu tampak tidak menyukai keberhasilan itu. "Kau salah langkah, Anggani!" katanya sambil memandang hampa ke arah depan. "Kau menodai rimba persilatan dengan menjadi budak kutukan!"

"Tak ada jalan lain untuk membebaskan Ibu kecuali jalan ini," ujar Putri Malu membela diri dengan wajah penuh sesal.

"Kau sama saja mencoreng muka Ibu di depan Gila Tuak dan Bidadari Jalang. Ibu kenal betul dengan mereka. Rasa-rasanya Ibu merasa lebih baik digantung daripada harus mengorbankan murid si Gila Tuak itu."

"Maafkan aku, Ibu. Aku tak ingin kehilangan Ibu."

"Apalah artinya seorang perempuan seperti aku? Pendekar Mabuk mempunyai arti lebih besar bagi dunia persilatan ketimbang seorang tabib seperti diriku, Anggani. Aku kecewa dengan langkahmu!" sang Ibu semakin ketus dan datar, wajahnya menampakkan kekecewaan secara jelas-jelas. Kemudian ia melangkah meninggalkan anak gadisnya dengan didampingi dua pengawal istana bersenjata pedang.

Putri Malu menjadi penunjuk jalan, walau sebenarnya tanpa ditunjukkan sang Ratu sudah tahu sendiri mana jalan menuju alun-alun.

Namun sebagai perantara kedua belah pihak, Putri Malu layak berjalan lebih dulu menuju ke alun-alun. Sang Ratu dibawa pakai tandu. Padahal jarak istana dengan alun-alun sangat dekat. Tidak sampai memakan waktu setengah atau seperempat hari. Mungkin hanya lima puluh helaan napas sudah sampai, sebab alun-alun letaknya di depan gerbang istana.

Di sana, seperti kata Putri Malu, seorang pemuda tampan yang bergelar Pendekar Mabuk sudah menunggu di bawah pohon beringin kembar. Dalam kerindangan pohon itu, Pendekar Mabuk tampak berdiri dengan gagah dan perkasa. Namun ketenangannya tetap terjaga.

Bumbung tuaknya diselempangkan di punggung, hingga dari jauh mirip sebuah pedang pusaka yang menambah kegagahan sang Pendekar.

Perempuan yang kini menjadi wanita paling kerempeng seistana itu segera turun dari tandu. Dua pengawal mendampinginya di kanan-kiri.

Kepalanya yang gundul tanpa selembar rambut dipayungi oleh seorang pembawa payung dari belakang. Ratu Sukma Semimpi segera mendekati Suto Sinting dengan pandangan mata yang berbinar- binar. Semakin dekat semakin mekar senyumnya menandakan kegembiraan hatinya saat itu.

"Selamat datang di Tanah Ratu, Pendekar Mabuk; Suto Sinting!" sapa sang Ratu dengan penuh wibawa.

Suto Sinting membungkuk, memberikan hormat ala kadarnya. Karena ia diberi tahu oleh Putri Malu bahwa sang Ratu suka dengan hormat dan sanjungan.

"Salam hormatku untukmu, Gusti Ratu."
"Terima kasih. Kau benar-benar lelaki yang pandai membuat hatiku bangga dan gembira."

Suto Sinting segera sunggingkan senyum. Hati sang Ratu bergetar melihat senyuman itu. Ia tak tahu bahwa Suto Sinting telah gunakan jurus 'Senyuman Iblis' yang mampu membuat lawan kasmaran dan mau tak mau pasrah kepada Suto Sinting. Jurus itu dilepaskan Suto lebih dulu sebelum ia terkena aji pemikat dari sang Ratu. Dengan membentengi diri memakai jurus 'Senyuman Iblis', aji pemikat apa pun terpancar balik kepada pemiliknya, sehingga si pemilik aji pemikat justru akan semakin tergila-gila kepada Pendekar Mabuk.

"Kudengar kau merasa yakin bahwa aku adalah perempuan yang sesuai dengan selera cintamu, Suto."

"Benar sekali, Ratu!" tegas Suto. "Kau satu-satunya perempuan yang mampu membangkitkan semangat cintaku. Baru mendengar cerita dan ciri-cirimu saja gairahku sudah tergugah. Kini setelah aku berhadapan langsung denganmu, semakin tergugah lagi hasrat cintaku."

"Ah, jangan menyanjungku begitu nanti aku lupa daratan. Hik, hik, hik, hiiik...," sang Ratu bagaikan mengambang di udara mendengar sanjungan itu.

"Tapi aku sangsi padamu, Ratu," ucap Suto pelan.
"Apa yang kau sangsikan?"

"Apakah kau mampu melayani cintaku? Sebab cintaku ini berlebihan, tidak seperti lelaki lain. Karenanya belum pernah ada perempuan yang sanggup melayaniku, sehingga aku tak pernah tertarik untuk memperistri mereka."

"O, soal itu kujamin kau tidak akan mau pergi dariku. Kalau tak percaya, mari kita buktikan kemampuan kita masing-masing."

"Baiklah. Tapi aku ingin mengujimu lebih dulu."

Sang Ratu justru tertawa karena mempunyai pengertian yang berbeda dengan maksud kata-kata Suto Sinting. Bahkan ia berkata dengan tawa genitnya,

"Tak mungkin mengujiku di sini. Aku tak mau dilihat oleh para punggawa dan rakyatku yang menyaksikan pertemuan ini di pinggir alun-alun itu."

"Aku bukan ingin menguji ketangguhan bercintamu secara langsung. Cukup dengan permainan dua- tiga jurus aku sudah bisa mengetahui seberapa besar kekuatanmu bertahan dalam pelukanku, Ratu."

"O, jadi kau menghendaki permainan jurusku?!"
"Aku gemar berjudi, Ratu. Mohon kau mau menerimaku apaadanya."

"Tentu aku mau menerimamu. Sebab aku pun gemar berjudi. Apakah kau ingin mengajakku bermain judi?"

"Kalau kau tak keberatan, aku ingin bermain judi dengan jurus-jurus kita."

"Baiklah. Tapi bagaimana aturan mainnya?" tanya sang Ratu semakin merasa tertarik, karena ia belum pernah mendapatkan lelaki yang mempunyai gaya seperti Suto Sinting itu.

"Jika kau bisa menumbangkan aku dalam tiga jurus, aku akan langsung menggendongmu masuk ke kamar tidur. Untuk berikutnya kita akan menjadi pasangan suami-istri."

"Aku setuju. Sangat setuju sekali!" sahut sang Ratu dengan berapi-api.

"Tapi jika kau yang tumbang dalam permainan tiga jurusku, kau harus bebaskan Tabib Getar Hati, dan persoalan kemesraan kita bisa dirundingkan lagi."

"Mengapa kau menghendaki Tabib Getar Hati sebagai bahan taruhanku?!"

"Karena aku juga seorang tabib; Tabib Darah Tuak. Aku tak tega melihat sahabatku sesama tabib harus kau jadikan tawanan. Aku hanya ingin membebaskan dia supaya dia bisa menolong orang lain yang membutuhkan pengobatan. Soal kemesraan kita, bisa diatur lagi dengan perjudian yang lainnya."

Ratu Sukma Semimpi diam termenung beberapa saat. Ia mempunyai berbagai pertimbangan. Suto Sinting tidak mau memberi kesempatan sang Ratu menemukan pertimbangan yang membahayakan keselamatan Tabib Getar Hati. Karenanya pemuda tampan itu mendesak dengan bujukan yang dibumbui senyuman menawan.

"Mengapa kau ragu-ragu, Ratu? Apakah kau tak menghendaki pembuktian di dalam kamar tidurmu nanti? Aku sudah tak sabar, Ratu. Aku ingin segera mengawali kemesraan kita dengan permainan seperti yang kuinginkan itu."

"Baiklah! Aku setuju, karena aku juga sudah tak tahan ingin membuktikan kehebatanmu di dalam kamar tidurku. Hi, hi, hi...!"

Kemudian sang Ratu mengumumkan permainan tersebut kepada para punggawanya, rakyat yang berkerumun di pinggir alun-alun juga mendengarnya. Sang Tabib sempat heran mendengar permainan itu.

"Tiga jurus aku tumbang, tabib itu bebas dari semua hukuman. Tiga jurus Pendekar Mabuk tumbang, dia akan menjadi suamiku selamanya!" seru sang Ratu, kemudian rakyat dan para punggawa negeri menyambutnya dengan sorak dan tepukan. Mereka mengelu- elukan sang Ratu, seakan sangat menjagokan ratu mereka.

Kemudian orang-orang yang ada di dekat sang Ratu segera menyingkir. Mereka membentuk arena pertarungan cukup lebar. Para prajurit dan punggawa negeri lainnya berada dalam jarak sekitar lima belas tombak.

"Hidup Gusti Ratu...! Hidup Gusti Ratu. . . !" teriak mereka memberi semangat sang Ratu.

Dengan tersenyum-senyum sang Ratu yang merasa dibangga-banggakan itu mulai menghadapi Suto Sinting, ia membuka jurus lebih dulu dengan merentangkan kaki kirinya ke belakang dan mengangkat kedua tangannya ke atas pundak. Satu tangannya mengepal, satu lagi terbuka dengan jari merapat. Badannya sedikit membungkuk ke depan, sehingga mudah lakukan gerakan menghindar jika datang serangan secara tiba-tiba.

Namun Suto Sinting bagai tidak memainkan jurus sedikit pun. Ia hanya berjalan pelan mondar-mandir di depan sang Ratu sambil mata memandang dan bibir sunggingkan senyum. Senyum itu tetap merupakan 'Senyuman Iblis' yang membahayakan bagi perempuan mana pun juga.

"Bersiaplah, Kekasihku...!" geram sang Ratu sambil mengubah posisi kuda- kudanya, makin mendekat lagi.

"Seranglah aku jika kau perempuan yang gemar bercinta."

Sang Ratu bagai ditantang kemesraannya. Untuk membuktikan kehebatan bercintanya, sang Ratu segera melepaskan serangan lebih dulu dengan satu lompatan kecil yang mencapai tanah depan Suto Sinting

"Hiiaah...!"
Jleeeg .. !

Lalu mereka beradu kecepatan tangan dalam memukul dan menangkis.

Plak, plak, plak, plak, plak
Zlaaab... !

Suto Sinting bergerak melingkar hingga berada di belakang sang Ratu. Gerakan itu tak diketahui oleh sang Ratu karena Suto menggunakan Juru 'Gerak Silumannya.

Ketika perempuan itu terbengong sejenak menyangka Suto menghilang, maka terdengarlah suara Suto yang kalem di belakangnya.

"Aku di sini, Ratu."

Begitu sang Ratu berpaling ke belakang, Suto Sinting segera hantamkan telapak tangannya dengan kecepatan tangan yang tak dapat dilihat oleh mata telanjang. Wuuut...! Beeehg... !

"Uuuhg...!" sang Ratu terpental ke belakang empat tindak dan terhuyung-huyung. Dadanya terkena pukulan telapak tangan Suto Sinting yang dialiri tenaga dalam sekadarnya itu.

"Uuuh...! Panas sekali pukulanmu."

"Kau pasti sanggup bertahan, Ratu," Suto tetap sunggingkan senyum dan melangkah ke samping pelan-pelan. Sang Ratu bersiaga lagi dengan jurus lainnya. Tubuhnya memutar pelan-pelan karena Suto Sinting mengelilinginya. Jarak mereka hanya tiga langkah.

Tiba-tiba kaki Suto menyentak dan tubuhnya melesat maju dengan tendangan kaki berkelebat ke arah wajah sang Ratu. Wuuut...!

Plak... ! Sang Ratu berhasil menangkisnya. Tapi ia tak tahu kalau Suto akan menyentakkan kaki kirinya ke tanah dan memutar tubuh dengan cepat, lalu kaki kiri itu menampar pipi sang Ratu.

Ploook... !

Suaranya cukup keras. Tendangan itu membuat sang Ratu terpelanting ke samping dan jatuh bersimpuh. Pandangan matanya menjadi berkunang-kunang. Hatinya mulai dibakar kemarahan. Sementara para penonton bergemuruh seperti pasukan lebah yang mencemaskan sang Ratu.

Dengan kalem, Suto Sinting mengulurkan tangan dan membantu sang Ratu berdiri. Namun begitu sang Ratu bangkit, tangannya menghantam dada Suto Sinting dengan sentakkan pangkal telapak tangan. Deees...!

"Huuuhg.. . ! "

Suto Sinting tersentak mundur beberapa langkah dan sempat merasakan dadanya seperti dihantam memakai palu godam berukuran besar.

Melihat Pendekar Mabuk sempoyongan, Ratu Sukma Semimpi segera melompat dan melayang di udara bagaikan terbang ke arah Pendekar Mabuk.

"Heeeeaaat...!"

Pendekar Mabuk pun cepat sentakkan kaki dan tubuhnya melesat naik. Lalu mereka beradu pukulan telapak tangan di udara.

"Hiaaat...!"
Blaaarr... !

Seberkas sinar merah memercik dari perpaduan telapak tangan itu. Ledakan cukup keras menggelegar memenuhi alun-alun. Tubuh Suto Sinting mendarat kembali dengan kaki tegak, sedangkan Ratu Sukma Semimpi terpental dan terguling-guling di udara, lalu jatuh dengan kepala menukik. Bruukk... !

"Ouuh...!" pekiknya dengan suara tertahan.

Suto Sinting tersenyum kalem, ia mengambil bumbung tuaknya dan menenggaknya dua teguk. Badannya kembali segar. Rasa sakit di dadanya pun segera lenyap.

Ketika sang Ratu bangkit dan ingin menyerang lagi, Suto Sinting berseru dengan wajah tetap memamerkan senyumannya.

"Eiiit... Sudah tiga jurus dan kau tumbang dua kali!"
"Aaah... sial!" sang Ratu menggeram gemas.

"Aku masih punya permainan satu lagi untuk membangkitkan selera bercintaku. Kau pasti akan suka jika seleraku sudah berkobar-kobar, karena sepanjang hari aku tak akan melepaskan dirimu dari pelukan cintaku, Ratu!"

"Baiklah. Kuakui sekarang aku kalah. Akan kutebus di permainan yang kedua."
"Bebaskan dulu tabib itu."

Kemudian sang Ratu yang semakin terpikat oleh senyuman Suto itu segera berseru kepada pengawal, "Bebaskan tabib itu sekarang juga! Lekas...!"

Hal itu dilakukan oleh sang Ratu supaya setiap orang, terutama Suto Sinting, mengakui bahwa sang Ratu punya ketegasan dan tidak pernah ingkar janji. Dengan begitu, maka Tabib Getar Hati pun segera dibebaskan, kedua tangannya yang terikat ke belakang itu dilepaskan. Kemudian Putri Malu menyambutnya dengan pelukan kegirangan. Mereka segera berlari menemui Suto Sinting.

"Rencana kedua!" bisik Suto Sinting kepada Putri Malu.
"Baik. Aku akan membawa Ibu menjauh dulu."

Putri Malu membawa ibunya keluar dari alun-alun. Mereka menyaksikan rencana kedua dari kejauhan. Sementara itu, sang Ratu segera berseru kepada Suto dengan hati penasaran.

"Aku akan menebus kekalahan ini. Sekarang kita bermain dalam satu jurus saja. Kalau kau tumbang, kau harus segera memboyongku masuk ke kamar tidurku. Kalau aku yang tumbang, aku yang akan memboyongmu masuk ke kamar."

"Tidak," tolak Suto tegas. "Kita bermain dua jurus. Kalau kau bisa melumpuhkan aku, kau boleh miliki aku semaumu. Tapi kalau aku bisa melumpuhkan dirimu, aku tidak akan melayani kemesraanmu."

"Hei, apa-apaan ini? Mengapa permainannya menjadi begitu?! Aku tidak setuju!" sentak sang Ratu.
"Dalam permainan kedua ini, kau atau aku yang mati! " tegas Suto Sinting lagi.

Sang Ratu terkesiap, kemudian segera menyadari bahwa dirinya telah tertipu oleh permainan Pendekar Mabuk. Amarahnya menjadi lebih besar lagi.

"Kalau begitu kau sebenarnya menghendaki kematianku, hah?!"
"Apa boleh buat, kecuali kau mau bertobat dan menghentikan segala tingkah lakumu yang sesat itu."

"Keparat! Kau belum tahu siapa aku sebenarnya, hah?! Terima ini jurusku yang bukan sekadar permainan anak kemarin sore. Hiaaah...!"

Sang Ratu lepaskan pukulan bersinar biru bagaikan bola berekor. Wuusss...! Sinar biru itu keluar dari telapak tangannya yang dihantamkan ke arah Pendekar Mabuk. Maka sinar biru itu pun meluncur cepat ke arah sang Pendekar.

Melihat kemunculan sinar biru itu, Suto Sinting segera melepaskan pukulan 'Guntur Perkasa' yang memancarkan sinar hijau. Claaap.. .! Sinar hijau segera beradu dengan sinar biru di pertengahan jarak.

Blaab...! Blegaaarr...!

Cahaya ungu berkerilap dari hasil benturan dua sinar tadi. Ledakan menggelegar pun sempat mengguncang tanah lapang alun-alun, membuat orang- orang menjadi gaduh karena ketakutan. Namun di luar dugaan, ternyata sinar ungu itu menguncup dan membentuk gumpalan sinar biru lagi yang melesat ke arah Suto Sinting. Wuuusss...!

"Gila! Sinarnya masih utuh?!" sentak batin Suto. Ia segera bersalto ke belakang beberapa kali untuk menjauhi sinar biru itu. Wuk, wuk, wuk, wuk. . . ! Kecepatan saltonya sukar dilihat. Tahu-tahu Suto Sinting sudah berdiri dengan bumbung tuak menghadang di depan dada. Sinar biru itu ditangkisnya dengan bumbung tuak tersebut. Tuubs...! Wuuusss...!

Sinar biru itu berbalik ke arah pemiliknya dengan lebih besar dan lebih cepat lagi. Tapi karena jarak mereka sudah cukup jauh, maka sang Ratu punya kesempatan melepaskan kesaktiannya kembali.

Tangannya segera bertepuk satu kali di depan kepalanya, lalu kedua tangan saling menyentak ke depan. Bersamaan terbukanya telapak tangan maka keluarlah hembusan angin berasap merah.

Wuuuss...!

Asap merah itu membentang lebar dan dihantam oleh sinar biru. Duubb...! Wuuusss...!

Ternyata asap merah itu menyerupai karet yang mampu memantulkan sinar biru ke arah Suto Sinting lagi. Tentu saja Pendekar Mabuk terperanjat melihat peristiwa yang belum pernah dialami.

"Ilmunya benar-benar gila perempuan itu!" gerutu Suto dalam keadaan tegang. Akhirnya ia berguling di tanah beberapa kali sambil memeluk bumbung tuaknya. Sinar itu pun lolos dari tubuhnya dan menghantam tiga prajurit yang lari pontang-panting begitu tahu sinar tersebut meluncur ke arah mereka.

Blaaar... !

Tiga prajurit itu tidak berbentuk lagi karena hancur dihantam sinar biru yang mempunyai daya ledak cukup tinggi. Namun bersamaan dengan itu, Suto Sinting yang dalam keadaan berdiri dengan satu lutut itu segera merapatkan kedua tangannya di dada dan disentakkan lurus ke depan. Claaap...!

Sinar ungu sebesar lidi melesat ke arah sang Ratu. Keadaan itu tidak disangka-sangka oleh sang Ratu. Ketika ia hendak menghindar, sinar ungu yang bernama jurus 'Surya Dewata' itu telah lebih dulu menghantam pinggangnya. Jluub... !

Bluuus...! Sinar ungu itu menembus pinggang sebelahnya, bahkan masih terus melesat dan akhirnya menghantam pohon beringin yang tadi dipakai Suto menunggu kemunculan sang Ratu.

Blegaaar... !

Pohon itu tumbang seketika dalam keadaan berlubang besar. Jika pohon sekeras itu berlubang besar, bagaimana dengan tubuh sang Ratu?

Ratu Sukma Semimpi tak terdengar suaranya setelah tadi terpekik dengan suara tertahan. Perempuan itu terkapar di rerumputan dalam keadaan bagian perutnya pecah, isinya berhamburan kemana-mana. Tentu saja sang Ratu pun akhirnya mati akibat jurus 'Surya Dewata' dari Pendekar Mabuk.

Melihat ratunya tewas, para pengawal segera mengepung Suto Sinting. Tapi dengan tenang Suto Sinting berkata, "Kalau ratu kalian saja tumbang di tanganku, apalagi kalian?! Sebaiknya kalian jangan bertindak bodoh! Dalam sekejap aku bisa membuat kalian hilang tak berbekas."

Mereka jadi tertegun dan mulai berpikir. Saat itulah, Suto Sinting bergerak cepat menggunakan jurus 'Gerak Siluman'-nya. Zlaaap...!

Ia bagaikan menghilang dari hadapan para pengepung yang terpaku di tempat itu. Tahu-tahu si murid sinting Gila Tuak itu sudah ada di depan Putri Malu dan Tabib Getar Hati.

"Cepat kita pergi dari sini!" kata Suto Sinting, lalu Putri Malu dan ibunya bergerak lebih dulu meninggalkan Tanah Ratu, Suto Sinting mengawalnya dari belakang. Sampai di luar batas wilayah Tanah Ratu mereka pun berpisah.

"Terima kasih atas bantuanmu, Suto," ucap Putri Malu dengan lirih.
"Sampaikan salamku kepada gurumu; Gila Tuak dan Bidadari Jalang, " kata Tabib Getar Hati.
"Baik, akan kusampaikan, Bibi! Selamat jumpa lagi. Anggani, jaga Ibumu baik-baik!"

Lambaian tangan Suto mendatangkan haru di hati kedua perempunn itu. Namun lebih haru hati Putri Malu, karena ia mempunyai kesan indah tersendiri selama menjadi pencuri pusaka bernyawa milik sang Pendekar Mabuk itu.

SELESAI