--> -->

Serial Pendekar Mabuk 056 Pembantai Raksasa

MAYAT hidup yang penuh belatung itu bergerak lamban menuju tepian hutan. Mayat itu tak lain adalah mayat Resi Dirgantara yang telah dibangkitkan kembali dari kuburnya oleh seorang tokoh aliran hitam yang cantik dan bertubuh ramping. Perempuan yang bisa membangkitkan mayat dari kuburnya itu tak lain adalah Ratu Sangkar Mesum; Penguasa Pulau Cumbu, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode : "Kipas Dewi Murka").

Semasa hidupnya Resi Dirgantara adalah tokoh aliran putih yang ilmunya cukup tinggi. Tapi setelah mendapat pengaruh gaib dari Ratu Sangkar Mesum, kebangkitan mayatnya menjadi liar dan buas. Ia tak mengenal lawan maupun teman, mereka diserang dengan membabi buta dengan tujuan untuk dibunuh. Mayat hidup itu bagaikan tak suka melihat seseorang hidup dengan raga dan sukma secara utuh. Karenanya, siapa saja yang ditemuinya selalu diserang dan dihancurkan.

Kali ini orang yang kepergok perjalanan si mayat hidup itu adalah seorang gadis berjubah merah menyolok dengan baju dalamnya yang tanpa lengan itu berwarna kuning gading. Rambutnya lurus sepundak bagian depan diponi rata. Hidungnya bangir, matanya bundar, bibirnya ranum menggairahkan. Gadis itu berdada montok dengan pinggul yang amat menggiurkan lawan jenisnya. Sayang sekali kecantikannya itu berkesan angkuh dan jarang tersenyum, sehingga tidak setiap pemuda berani mendekatinya.

Gadis yang punya sifat tidak mudah percaya dengan omongan orang itu membawa kendang kecil yang dikalungkan memakai kain selendang merah. Kendangnya berukuran tiga jengkal, terbuat dari kayu coklat tua berukir. Kendang itu yang menjadi ciri penampilannya sebagai murid Nyai Serat Biru yang dikenal dengan nama si Gadis Dungu, walau nama aslinya adalah Indayani.

Pendekar Mabuk yang bernama Suto Sinting itu sangat kenal dengan si Gadis Dungu, karena ia pernah membantu menyelamatkan gadis itu dari ancaman maut para tokoh beraliran hitam. Indayani pernah diduga sebagai tokoh muda yang akan menghancurkan aliran hitam pada usia dua puluh lima tahun nanti, karena ia ditafsirkan sebagai gadis Titisan Dewa Pelebur Teluh. Penafsiran itu ternyata salah, karenanya ia diungsikan oleh sang Guru ke Puncak Gunung Randu untuk menghindari pertikaian akibat salah duga itu, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode : Titisan Dewa Pelebur Teluh").

Gadis Dungu itu keluar dari pengasingannya karena diutus oleh sang Guru untuk menemui seorang tokoh tua yang namanya cukup kondang di dunia persilatan, yakni Resi Pakar Pantun.

Tetapi perjalanannya terpaksa terhenti oleh kemunculan sosok mayat hidup yang seluruh tubuhnya berbelatung menjijikkan. Secara tak langsung mayat itu telah menghadang langkahnya di tepian hutan. Gadis Dungu tak mau melarikan diri walau sebenarnya dalam hatinya merasa jijik dan ngeri melihat penampilan mayat yang tubuhnya telah hancur dan membusuk itu. Ia beranikan diri untuk berhenti dengan hati membatin,

"Apa maksudnya makhluk asing ini menghadangku? Agaknya ia tak bisa diajak bicara lagi. Tapi jika ia bermaksud tak baik padaku, dengan sangat terpaksa aku akan menghancurkannya!"

Mayat hidup itu bergerak lebih mendekat lagi. Langkahnya gontai dan menyebarkan bau busuk yang memuaikan perut.

Keangkuhan si Gadis Dungu itulah yang membuatnya tak mau pergi dari tempatnya berdiri, ia bahkan berseru dengan nada membentak si mayat hidup itu. "Apa maumu menghadangku, hah?! Mau minta dihancurkan?!"

"Krrrraaark... krrraakkh... gggrrhh...," hanya itu yang bisa keluar dari mulut mayat hidup yang bagian bibirnya telah digerogoti belatung berjubel-jubel itu.

Gadis Dungu tak bisa mengenali wajah itu, sehingga ia tidak tahu bahwa mayat tersebut adalah mayat Resi Dirgantara yang pernah dikenalnya semasa kecil. Resi Dirgantara mempunyai adik bungsu: Nyai Serat Biru, sedangkan Nyai Serat Biru adalah gurunya si Gadis Dungu. Seharusnya Indayani menaruh hormat kepada Resi Dirgantara. Namun dalam keadaan tubuh dan wajah hancur begitu, si Gadis Dungu tidak punya hasrat untuk menghormat kepada kakak dari gurunya itu.

"Gggrrhh... kaarrrh... kkhhaark...!" mayat hidup itu perdengarkan suaranya yang serak dan tak jelas maksudnya sambil terus dekati si Gadis Dungu.

Setelah mereka dalam jarak lima langkah, tiba-tiba mayat hidup itu melayang bagaikan terbang dengan jari- jari tangan yang berkuku panjang dan runcing itu siap menerkam. Weeess...! Belatung-belatung berhamburan karena gerakan terbang itu. Bola matanya yang putih rata bergerak-gerak dengan menyeramkan.

Indayani cepat sentakkan kakinya dan bersalto ke belakang dua kali setelah sebelumnya mundur mencapai samping pohon. Akibatnya mayat terbang itu menghantam pohon tersebut dengan keras. Prrrook...!

Krrraaakk... brrruuuuk!

Pohon itu tumbang seketika, batangnya yang sebesar satu pelukan manusia dewasa itu patah karena terjangan mayat hidup tersebut. Si Gadis Dungu terperanjat melihat kekuatan mayat hidup yang mampu mematahkan batang pohon sebesar itu.

"Gila! Rupanya ia punya kekuatan yang cukup besar?! Oh, aku harus hati-hati melawannya."

Sebagian daging yang membusuk ada yang jatuh akibat benturan dengan batang pohon tadi, demikian juga belatung-belatungnya berguguran. Namun bukan berarti semua belatung jatuh dari tubuhnya yang busuk, karena dari dalam kebusukan itu masih tersisa ratusan belatung yang saling berjubel-jubel. Mayat yang tangan kirinya telah buntung itu bagai tidak mempunyai rasa sakit. Walau ia telah jatuh terpuruk karena benturan dengan pohon, namun dalam waktu singkat ia telah bangkit kembali dan menggeram mengerikan dengan gerakan kepala mencari di mana mangsanya berada.

Indayani segera menabuh kendangnya saat mayat itu mulai melangkah mendekatinya lagi. Kendang kecil itu ditabuh dengan dua tangan dan keluarkan bunyi yang nyaring didengar.

Dung plak, plak, dung, dung, plak. Dung, plak, dung, dung!

Plak, dung-dung, plak dung-dung, plak-plak, bledug! Suara gaib kendang membuat mayat akhirnya menari-

nari dengan gerakan kaku. Sesekali terdengar suara geramnya pertanda ia jengkel pada dirinya sendiri yang sebenarnya tak mau menari. Tetapi karena suara gaib dari   bunyi   kendang  itu  berlalu  terus,  semakin  cepat iramanya semakin cepat tariannya. Akhirnya mayat Resi Dirgantara itu berjingkrak-jingkrak mengikuti irama kendang dengan tarian yang tak jelas aturan geraknya.

Dung, biang, dung, biang... plak. Plak, plak, dung-dung.

Biang, piak dung, dung, plak, dung, dung. Biang, biang, duuut... biang, biang, duuut...!

"Goyang terus sampai pagiii...!" ledek Indayani sambil tetap menabuh kendangnya dengan irama cepat. Mayat itu pun menari kian penuh semangat. Gerakannya tak beraturan lagi, kakinya berjingkrak ke sana kemari, tangan kanannya berkelok-kelok tanpa mempunyai gerakan gemulai. Kepalanya kadang menggeleng ke kiri- kanan, sesekali tersentak ke depan, pinggul pun bergoyang lucu.

Ada suara tawa yang tersembunyi di balik pepohonan agak jauh. Suara tawa itu mengikik pertanda datang dari mulut seorang gadis juga. Hanya saja, mulut mungil gadis yang tertawa itu tiba-tiba terbekap sebuah tangan yang datang dari belakangnya. Mau tak mau si gadis tak bisa mengikik geli melihat mayat hidup menari dan bergoyang pinggul.

"Uuff... uuff...! Puih...!" gadis itu menyentakkan tangan yang membekapnya.

"Kenapa aku tak boleh tertawa? Orang berpenyakit kulit itu lucu. Sudah penyakitan masih saja menari berjoget begitu mendengar suara kendang."

"Dia bukan orang berpenyakit kulit. Dia adalah mayat hidup." "Hahh...?! Mayat?!" gadis berwajah mungil itu mendelik dan menjadi tegang.

"Mayat itu dibangkitkan dengan kekuatan gaib oleh seorang tokoh beraliran hitam, tapi karena sudah tidak dikendalikan oleh kekuatan batin orang tersebut, maka mayat itu hidup dengan liar."

"Oh, benarkah beg... begitu...?!" si gadis mulai gemetar. Wajah cantiknya segera berubah pucat pasi.

Pemuda tampan yang mendampinginya tertawa tertahan dan berkata dalam gumam,

"Yang jadi mayat di sana kok yang pucat di sini?!" "Benarkah dia mayat hidup, Suto?!" tanya si gadis

berpakaian kuning berbelahan dada lebar. Gadis berambut lurus panjang sepunggung itu tak lain adalah Dewi Kejora yang akrab dipanggil dengan nama Kejora saja. Sedangkan pemuda tampan berbaju coklat tanpa lengan dengan celana putih itu adalah Pendekar Mabuk; Suto Sinting, yang kemana-mana selalu membawa bambu bumbung tuak.

"Lalu... lalu siapa gadis penabuh kendang itu?

Apakah kau mengenalnya?!"

Pendekar Mabuk ingin menjawab, tapi mulutnya hanya sempat ternganga, karena tiba-tiba ia mendengar suara ledakan yang cukup mengejutkan.

Jegaaar...!

Pandangan matanya segera tertuju pada si Gadis Dungu yang akan disebutkan namanya. Di sana terjadi ledakan yang mengepulkan asap sepintas. Pendekar Mabuk tertegun sejenak melihat kenyataan yang ada di depannya. Mayat hidup itu ternyata telah menjadi hancur dengan potongan-potongan dagingnya menyebar ke mana-mana, menempel pada pepohonan serta daun-daun lebar. Rupanya si Gadis Dungu telah menghantamnya dengan tenaga dalam bersinar biru dari tangannya.

Pada saat si mayat berjoget dengan gerakan semakin cepat, kendali kekuatan tenaga dalamnya pun terlepas. Dan pada saat itulah Indayani menghantamnya dengan sinar biru yang mampu menghancurkan baja. Pada saat itu juga mayat pun hancur menjadi berkeping-keping. Jika kendali kekuatan tenaga dalam masih bekerja secara naluri, maka si mayat hidup itu sukar dihancurkan dengan kekuatan tenaga dalam macam apa pun.

Pendekar Mabuk hanya bisa menggumam, "Celaka! Gadis Dungu tak tahu siapa mayat itu, sehingga dengan seenaknya menghancurkannya!"

"Siapa yang kau maksud Gadis Dungu?" tanya Kejora yang memang kecerdasannya kurang.

"Siapa lagi kalau bukan si penabuh kendang itu." "O, jadi kau mengenalnya?"

"Ya, aku mengenalnya. Sebaiknya kita temui dia!"

Pemuda tampan berbadan kekar dan gagah itu segera membawa Kejora menemui si Gadis Dungu. Kehadiran pemuda berambut lurus tanpa ikat kepala sepanjang pundak itu membuat Indayani terperanjat girang.

"Oh, kau... kau Suto Sinting, bukan?!"

Pendekar Mabuk sunggingkan senyum menawan. "Bukan. Aku adalah si Dogol!"

Suto Sinting memancing ingatan si Gadis Dungu yang dulu tak mau percaya bahwa dirinya adalah Pendekar Mabuk bernama Suto Sinting. Senyum geli mekar di bibir angkuh Indayani karena ingat dulu ia memanggil Suto Sinting dengan nama si Dogol, karena ia tak mau percaya pengakuan Suto Sinting tentang jati dirinya.

"Indayani, maukah kau kukenalkan dengan sahabat baruku ini?" ujar Suto Sinting memperkenalkan Kejora kepada Indayani. Senyum si Gadis Dungu tiba-tiba lenyap begitu memandang ke arah Kejora. Pandangan matanya berkesan sinis, sementara Kejora sendiri juga memandang kurang bersahabat.

"Rupanya kau terlalu mudah terpikat oleh wajah yang tak seberapa cantik itu, Dogol!" ucap Indayani dengan ketus.

Kejora segera bertanya kepada Suto Sinting dengan kepolosannya, "Apakah wajahku kurang cantik, Suto?"

"Hmmm... eeh... anu...," Suto Sinting jadi salah tingkah, tak enak hati mendengar ucapan Indayani tadi.

"Atau barangkali kau memang gemar bersahabat dengan gadis berwajah musang?!"

Kejora kembali bertanya kepada Pendekar Mabuk, "Suto..., apakah wajahku ini mirip wajah musang?"

"Iya...!" jawab indayani dengan ketus sekali. "Suto, musang itu seperti apa?"

"Ya seperti kamu itu!" sahut Indayani. "O, kalau begitu musang itu cantik, ya?!"

"Hhhmmm...!" Indayani buang muka sambil mencibir. Pendekar Mabuk buru-buru mengatasi suasana tak akrab itu dengan mengalihkan pembicaraan. "Ehhhmm... Indayani, mengapa kau keluar dari

pengasinganmu?"

"Aku diutus oleh Guru untuk menemui Resi Pakar Pantun."

"Oh. Resi Pakar Pantun...?!" Suto Sinting kerutkan dahi sedikit. "Ada perlu apa Nyai Serat Biru mengutusmu mencari Resi Pakar Pantun?"

Dengan dagu sedikit terangkat hingga tampak angkuh, Indayani menjawab, "Guru ingin meminta bantuan Resi Pakar Pantun untuk mengurus makam kakak sulungnya; Resi Dirgantara. Sebab, ada kabar yang didengar oleh Guru bahwa jenazah Eyang Resi Dirgantara telah dibangkitkan seseorang. Guru ingin meminta bantuan Resi Pakar Pantun untuk mengembalikan jenazah Eyang Resi Dirgantara ke makamnya. Menurut Guru, Eyang Resi Dirgantara semasa hidupnya adalah sahabat Resi Pakar Pantun."

"Indayani...," ucap Suto Sinting agak ragu. Gadis itu memandang dengan angkuhnya sebagai unjuk lagak di depan Kejora.

"Apakah... apakah kau tak tahu bahwa mayat yang kau hancurkan itu adalah mayat Eyang Resi Dirgantara?!"

"Hahh...?!" Indayani terperanjat kaget, dahinya berkerut tajam, matanya memandang lekat-lekat pada Suto Sinting.

"Aku bicara dengan sesungguhnya, Indayani. Mayat hidup itu adalah mayat Resi Dirgantara yang dibangkitkan kembali dari kuburnya oleh Ratu Sangkar Mesum untuk mengejar dan membunuh Resi Pakar Pantun. Tapi usaha itu sempat kugagalkan dan Resi Pakar Pantun sekarang berada di pondoknya Nini Kalong."

Dengan mengangkat wajah sedikit Indayani berkata, "Kau pikir aku percaya dengan bualanmu?!"

"Aku tidak membual. Kau boleh tanyakan sendiri kepada Resi Pakar Pantun."

"Hmmm...!" Indayani mencibir. "Indayani bukan gadis sebodoh gadismu itu. Aku tak bisa kau tipu dengan kata-kata seperti itu."

"Mengapa kau tidak mau percaya dengan penjelasanku, Indayani? Aku sendiri pernah melawan mayat hidup itu!"

"Jangan sesumbar walau di depan gadis setengil dia, Suto!" sambil Indayani menuding Kejora. "Kau tak akan mampu melawan kekuatan mayat hidup tadi. Hanya akulah yang mampu menghancurkannya, dan kau sudah lihat sendiri buktinya!"

"Kalau aku mau sudah kuhancurkan sejak dulu. Tapi aku ingat bahwa dia adalah mendiang kakak dari gurumu, jadi aku tak berani menghancurkannya. Aku berani bersumpah apa pun, dia memang mayat Resi Dirgantara!"

"Persetan dengan sumpahmu! Urus saja gadismu yang pikun itu! Aku akan mencari Resi Pakar Pantun!" ketus Indayani semakin tajam, lalu tanpa permisi lagi ia melesat pergi tinggalkan tempat itu. Pendekar Mabuk hanya bisa geleng-geleng kepala sambil memandangi kepergian Indayani.

*

* *

2

SETELAH berhasil membunuh orang kepercayaan si Raja Iblis alias Barakoak, dan berhasil pula memporak- porandakan Candi Bangkai dengan hembusan napas badainya, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode : "Utusan Raja Iblis"), Suto Sinting segera berunding kembali dengan ketiga kakak-beradik cantik-cantik itu; Dewi Hening, Kejora, dan si kecil tengil Menik. Perundingan itu menghasilkan putusan pembagian tugas; Dewi Hening pergi ke Lembah Sunyi untuk temui Resi Wulung Gading dan menanyakan tentang keberadaan pusaka leluhurnya yang bernama Panji-panji Agung alias Panji-panji Mayat. Kepergian Dewi Hening, sang kakak sulung itu, didampingi oleh adik bungsunya yang kecil dan tengil; Menik, yang selalu berlagak sok tua itu.

Sedangkan Pendekar Mabuk didampingi Kejora pergi ke Jurang Lindu untuk menemui si Gila Tuak, guru Suto Sinting sendiri. Karena diduga si Gila Tuak juga mengetahui tentang pusaka Panji-panji Agung yang menjadi pusaka warisan dari leluhurnya tiga kakak- beradik itu. Karena menurut cerita Dewi Hening, eyang buyutnya yang bernama Sabang Wirata, juga mendiang nenek mereka yang bernama: Nyai Parisupit, adalah bekas sahabat si Gila Tuak.

"Menurut cerita Nenek," kata Kejora sebelum mereka berbagi tugas, "Eyang Sabang Wirata pernah ditolong oleh sahabatnya yang bernama Ki Sabawana saat mempertahankan pusaka Panji-panji Agung dari tangan Gajahloka. Ki Sabawana itulah yang sekarang dikenal dengan nama si Gila Tuak dan. "

"Gajahloka itu siapa?" potong Suto karena merasa asing dengan nama itu.

Dewi Hening yang menjawab pertanyaan tersebut dengan suara berbisik:

"Gajahloka adalah anak dari Eyang Kurupati. Sedangkan Eyang Kurupati adalah saudara tiri Eyang Sabang Wirata termasuk saudara seperguruan. Gajahloka mempunyai tiga anak, yang bungsu seorang perempuan, dan perempuan itu adalah Ibu dari Barakoak."

"O, jadi Gajahloka adalah kakeknya Barakoak?" "Benar," jawab Dewi Hening yang selalu

menggunakan suara bisik karena suara lantangnya mempunyai kekuatan gaib yang cukup dahsyat, berakibat buruk jika diperdengarkan.

"Sekarang bagaimana nasib Gajahloka? Apakah ia masih hidup?" tanya Suto Sinting.

"Kami tak pernah mendapat penjelasan tentang nasib Gajahloka sekarang ini," jawab Dewi Hening dalam suara desah membisik. "Barangkali gurumu si Gila Tuak lebih tahu tentang Gajahloka ketimbang kami, Suto."

Dari hasil pembicaraan itulah maka mereka berpisah langkah. Sebenarnya si kecil Menik ingin sekali ikut bersama Pendekar Mabuk, tetapi Kejora ngotot bahwa dirinya yang harus ikut mendampingi Pendekar Mabuk. Si kecil Menik yang berotak cerdas dan sok tua itu sempat berdebat lucu dengan Kejora, tapi akhirnya Dewi Hening memutuskan agar si kecil Menik ikut bersamanya ke Lembah Sunyi menemui Resi Wulung Gading.

Namun perjalanan menuju tempat kediaman Gila Tuak itu terhenti akibat berpapasan dengan langkah seorang lelaki berusia sekitar empat puluh tahun. Orang itu berpakaian hijau tua, berbadan kurus dan agak pendek, tanpa kumis dan jenggot, dengan rambutnya yang pendek hitam berikat kepala putih. Pendekar Mabuk sangat kenal dengan orang tersebut yang tak lain adalah pelayan dari Resi Pakar Pantun bernama si Kadal Ginting.

Lelaki yang tak cukup punya keberanian itu segera berlari menyongsong langkah Suto Sinting dengan wajah tegang dan terengah-engah. Pendekar Mabuk sempat berkerut dahi karena merasa heran melihat Kadal Ginting berjalan sendirian, sementara Kejora sempat berlindung di belakang tubuh kekar Pendekar Mabuk karena merasa takut melihat wajah jeleknya si Kadal Ginting.

"Beruntung sekali aku bisa bertemu denganmu, Suto!"

"Biasanya kau mendampingi tuanmu; Resi Pakar Pantun, tapi mengapa sekarang kau sendirian, Kadal Ginting?!" "Itulah kebingunganku, Suto," jawab Kadal Ginting dengan wajah mulai tampak tenang, karena merasa bertemu dengan tokoh sakti yang dapat melindunginya sewaktu-waktu dan bisa diharapkan bantuannya. Tetapi begitu Kadal Ginting mengetahui bahwa Pendekar Mabuk bersama seorang dara cantik jelita, rasa takutnya itu semakin ditekan habis dan dipaksakan agar tak tampak sama sekali, ia malu kepada sang dara cantik jika kelihatan jiwa pengecutnya. Ia tak tahu bahwa Kejora pun seorang gadis yang mudah dicekam perasaan takut.

Dengan sedikit lebih tegas lagi, Kadal Ginting menyambung ucapannya yang tadi terhenti karena matanya melirik Kejora.

"Aku terpisah dengan Eyang Resi sejak pertarungan dengan pihak Ratu Sangkar Mesum. Sampai sekarang aku tak pernah berhasil menemukan Eyang Resi. Apakah kau mengetahui di mana beliau sekarang, Suto? Soalnya upah bulananku untuk bulan ini belum kuterima dari beliau."

Pendekar Mabuk sunggingkan senyum geli. Ia teringat peristiwa pertemuannya dengan Resi Pakar Pantun saat sang Resi dikejar-kejar Ratu Sangkar Mesum, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode : "Kipas Dewi Murka"). Maka kisah itu pun dituturkan oleh Pendekar Mabuk dan Kadal Ginting segera ajukan tanya,

"Kalau begitu, apakah sampai sekarang Eyang Resi masih ada di pondoknya Nini Kalong?"

"Mungkin saja masih di sana, tapi mungkin juga sudah pergi. Aku tak bisa pastikan, Kadal Ginting. Tetapi seandainya Resi Pakar Pantun sudah tidak ada di Hutan Rawa Kotek, kau bisa tanyakan arah kepergiannya kepada Nini Kalong; si Penguasa Hutan Rawa Kotek itu."

Kadal Ginting ingin bicara lagi, tapi tiba-tiba tubuhnya mengejang dan kaku. Matanya mendelik dan mulutnya ternganga bagai tak bisa bernapas lagi.

"Suto, kenapa dia?!" Kejora menjadi tegang dan matanya ikut terbelalak kaget.

Zlaaap, zlaaap...! Pendekar Mabuk melesat dengan cepat bagaikan menghilang, ia menggunakan jurus 'Gerak Siluman' yang kecepatannya melebihi kecepatan anak panah itu. Ia berkelebat menuju kerimbunan pohon di sebelah selatan, karena ia tadi sempat melihat sekelebat warna putih kemliau menerjang punggung Kadal Ginting yang berjarak tiga langkah dari depannya itu. Warna putih kemilau itu datangnya dari balik semak sebelah selatan.

Namun usahanya mencari penyerang gelap tak berhasil. Pendekar Mabuk cepat kembali ke tempat semula untuk memeriksa keadaan Kadal Ginting.

"Ooh...?!" alangkah terkejutnya Pendekar Mabuk ketika kembali ke tempat semula ternyata Kejora sedang terancam bahaya.

Seorang perempuan cantik sedang menodongkan sebilah pedang ke leher Kejora. Tubuh gadis itu berada merapat dengan pohon dan kepalanya sedikit terdongak, ia tak berani berteriak, bahkan bergerak sedikit pun tak berani dilakukan. Perempuan yang menodongkan sebilah pedang itu memandangi Suto Sinting dengan pandangan cukup tajam, senyum sinis tampak mekar di bibirnya yang sedikit tebal namun menggiurkan itu. Sedangkan si Kadal Ginting dalam keadaan tertelungkup tak sadarkan diri. Di punggungnya menancap kuat sebuah benda logam putih mengkilat anti karat berbentuk mata tombak.

"Siapa perempuan itu?" pikir Suto Sinting dalam hati. "Seingatku baru sekarang aku bertemu dengannya. Hmmm... tak jelas siapa yang dimusuhinya antara aku, Kejora, dan si Kadal Ginting. Tapi mengapa ia pergunakan Kejora sebagai sandera? Agaknya ia ingin bicara denganku."

Pendekar Mabuk masih tetap tenang dengan pandangan mata tak mau lepas dari seraut wajah cantik berpakaian seronok. Perempuan itu hanya mengenakan kutang dari kain warna hijau disulam benang emas. Kain penutup dada yang montok itu sangat kecil, hingga seolah-olah menutup bagian ujung seperlunya saja. Kain kutangnya yang melingkar ketat ke belakang itu terbuat dari rantai kuning emas.

Pakaian bawahnya kain hijau berbelahan empat, tinggi belahan sampai ke bawah pinggulnya. Jika bergerak kain itu menyingkap hingga tampak kulit pahanya menantang hasrat bagi lawan jenisnya. Kulit bertubuh sekal itu tampak halus mulus berwarna kuning langsat. Namun pada bagian atas payudaranya yang kiri tampak terdapat sebuah tato bergambar seekor naga berukuran sejengkal.

"Apa maksudmu mengancam sahabatku itu, Nona?!" sapa Suto Sinting kepada perempuan berusia sekitar dua puluh lima tahun itu.

"Aku menuntut kematian pamanku. Kudengar kabar dari para korban yang selamat, Pendekar Mabuk itulah orang yang membunuh pamanku. Dan kau adalah Pendekar Mabuk yang memihak keluarga Dewi Hening, bukan?!"

"Siapa pamanku itu, Nona?!'

"Badai Kutub!" jawab gadis itu dengan tegas. Matanya yang berkesan jalang memandang nanar, namun masih tampak sinar penggoda dari pandangan mata itu. Agaknya perempuan berambut mekar terurai dan berbentuk ikai bergelombang itu punya maksud sendiri dari tatapan matanya. Nyaris tak terlihat sinar kebencian walau sikapnya bermusuhan kepada Pendekar Mabuk.

Ketika Suto Sinting ingin memeriksa keadaan Kadal Ginting, tiba-tiba perempuan yang masih tampak muda dan cantik sekali itu menghardik dengan suara keras,

"Jangan melangkah lagi!"

Maka Suto Sinting pun tak jadi melangkah.

"Satu langkah lagi kau maju, leher Kejora kurobek dengan pedangku ini!" ancamnya penuh kesungguhan, karena genggaman tangannya pada pedang tampak mengencang.

"Lalu apa maksudmu menyerang Kadal Ginting dan menyandera Kejora, Nona?" "Kau harus menebus kematian pamanku; si Badai Kutub. Sebab dialah yang memelihara aku sejak kedua orangtuaku tiada saat aku berusia empat tahun!"

"Aku tak melihat dendam di matamu. Apa yang ingin kau tuntut dariku sebenarnya? Tuntutlah aku dan lepaskan Kejora!"

"Tidak bisa! Gadis ini akan kubunuh jika kau tak mau menuruti permintaanku."

"Apa permintaanmu?" desak Suto Sinting sambil matanya memperhatikan gerakan tangan perempuan itu. Tangan yang tak berpedang itu mengambil sesuatu dari dalam kutangnya, kemudian sesuatu itu dilemparkan kepada Suto Sinting dan dengan cepat Suto Sinting menangkapnya. Wuuut...!

Ternyata sesuatu yang dilemparkan itu adalah obat berbentuk butiran kecil sebesar kotoran kambing, berwarna hitam dan berbau rempah-rempah. Perempuan muda berhidung mancung itu berseru kembali kepada Suto Sinting.

"Telan obat itu, jika tidak maka pedangku ini akan menembus leher gadismu ini!"

"Jaaa... jaaa... jangan...!" Kejora ketakutan sekali, wajahnya pucat dan keringat dinginnya mengalir.

Pendekar Mabuk pandangi obat itu dalam kebimbangan, ia menatap perempuan berdada besar itu dan ajukan tanya dengan sikapnya tetap tenang.

"Obat apa ini?"

"Telan saja, dan kau akan mati dengan tenang tanpa merasakan sakit sedikit pun." "Mengapa kau tidak membunuhku saja?!"

"Terlalu sulit membunuh seorang pemuda tampan berbadan gagah sepertimu!" jawabnya dengan nada tegas tapi mempunyai kesan pujian yang tersembunyi. Suto Sinting akhirnya sunggingkan senyum tipis pada perempuan itu.

"Jadi kau takut bertarung denganku?"

"Ilmuku tak setinggi ilmumu, jelas aku akan kalah. Tapi dengan cara begini maka kau akan mati tanpa harus kujamah dengan pedangku!"

Pendekar Mabuk pandangi tubuh Kadal Ginting sesaat. Luka yang ditembus senjata rahasia itu mulai berasap. Sejenis racun berbahaya mulai bekerja dan sangat membahayakan bagi keselamatan jiwa Kadai Ginting. Seharusnya pelayan sang Resi itu segera diberi minuman tuak sakti yang ada di bumbung bambu bawaan Suto, tetapi agaknya perempuan berbibir ranum menggiurkan itu tidak ingin Suto lakukan pengobatan kepada si Kadal Ginting.

"Orang yang kau serang dengan senjata rahasiamu ini tidak ikut campur dalam pertarunganku dengan si Badai Kutub, mengapa ia kau serang juga? Rasa-rasanya kurang bijaksana jika kau tidak bebaskan si Kadal Ginting ini dari pengaruh racun senjata rahasiamu itu."

"Jangan banyak bicara! Telan obat dariku itu!" sentak perempuan tersebut dengan mata melebar.

"Akan kuturuti tuntutanmu, tapi aku harus selamatkan orang tak berdosa ini lebih dulu."

"Tak ada yang bisa selamatkan orang yang sudah terkena senjata 'Lidah Malaikat'-ku itu, karena racunnya tak bisa disembuhkan oleh siapa pun kecuali oleh diriku sendiri!"

"Apakah kau yakin hanya kau yang bisa menawarkan racun itu? Bagaimana jika kubuktikan bahwa aku mampu membuat tawar racun dalam senjata 'Lidah Malaikat'-mu itu?!"

Untuk sesaat suasana menjadi hening. Perempuan itu agaknya mempertimbangkan kata-kata Suto Sinting. Rasa ingin tahunya mulai terpancar dari gerakan matanya yang sebentar-sebentar tertuju pada tubuh Kadal Ginting.

"Barangkali kau ingin mengetahui bagaimana seseorang mampu mengalahkan kekuatan racun dalam senjata rahasiamu itu?! Kau akan mendapat pengalaman yang amat berharga jika ternyata aku benar-benar bisa menyelamatkan Kadal Ginting dari racunmu!"

"Omong kosong! Selama ini tak pernah ada korban yang bisa selamat dari racun 'Lidah Malaikat', kecuali orang itu segera kuberi penawarnya."

Senyum kalem Suto Sinting tampak mekar tipis, sengaja menggoda ketegaran hati perempuan bertato naga itu. Lirikan mata Suto Sinting pun tampak mengganggu ketenangan dan membuat hati si perempuan berdebar-debar tak karuan.

"Baiklah, kuizinkan kau mencobanya! Aku ingin tahu seberapa jauh kemampuanmu dalam menghadapi racun pada senjata 'Lidah Malaikat'-ku itu!"

Akhirnya pendekar tampan itu mencabut senjata rahasia yang telah menancap di punggung Kadal Ginting. Senjata yang terbentuk menyerupai mata tombak itu melesat keluar dari punggung Kadal Ginting dengan cara telapak tangan Pendekar Mabuk ditepukkan di samping luka. Ploook...! Wuuuut...!

"Gila! Dia mampu membuat senjataku melesat dari tubuh korban hanya dengan menepuk bagian tepi lukanya. Pasti ia kerahkan tenaga dalamnya untuk membuat sentakan hingga mementalkan sen-jata 'Lidah Malaikat'-ku," pikir sang keponakan Badai Kutub itu. Dan lebih menakjubkan lagi, ternyata senjata yang melesat ke atas itu menancap kuat pada dahan sebuah pohon yang cukup keras. Jrrub...! Lalu, daun-daun pohon itu pun berguguran sebagian. Weeerr...!

"Edan...!" gumam batin perempuan yang kelihatan pusarnya itu.

Selama Pendekar Mabuk mengobati Kadal Ginting, perempuan itu memperhatikan dengan hati menyimpan perasaan kagum atas kesaktian si murid sinting Gila Tuak itu. Pengobatan itu dilakukan Suto bukan dengan menggunakan jurus 'Sembur Husada' melainkan dengan cara memaksa mulut Kadal Ginting agar terbuka, lalu sedikit demi sedikit tuak dalam bumbung dituangkan ke mulut itu. Agar tuak tertelan, kepala Kadal Ginting diguncang-guncangkan sampai akhirnya orang itu tersedak dan terbatuk-batuk. Kadal Ginting siuman kembali, namun luka di punggungnya belum sempat mengering.

Pendekar Mabuk membiarkan tubuh Kadal Ginting masih terkulai lemas dalam keadaan telungkup, ia yakin sebentar lagi racun yang telah terlanjur masuk ke dalam tubuh Kadal Ginting akan lenyap dan lukanya akan hilang pula. Sambil menunggu Kadal Ginting sehat kembali, Pendekar Mabuk mulai pandangi si perempuan yang masih menodongkan pedangnya ke leher Kejora.

"Siapa namamu sebenarnya?!" tanya Suto Sinting dengan berdiri dalam jarak lima langkah di depan perempuan itu.

"Kau tak perlu, heeeeggh...!" "Aaaaa...!"

Tiba-tiba perempuan itu mengejang kaku dengan napas terhenti sesaat, matanya terbeliak dengan kepala terdongak ke atas. Pedangnya pun terlepas dari genggaman dan jatuh ke tanah. Hal itulah yang membuat Kejora menjerit dengan wajah sangat ketakutan.

Rupanya ada seseorang yang menyerangnya dari belakang dengan menggunakan jurus totokan jarak jauhnya. Pendekar Mabuk terkesiap ketika memandang ke arah pepohonan di belakang perempuan tersebut. Sedangkan Kejora sudah lebih dulu berlari menghamburkan diri dan memeluk Suto Sinting. Saat Pendekar Mabuk menerima pelukan Kejora itulah orang yang melepaskan totokan dari jarak jauh muncul dari balik pepohonan. Lompatannya yang cepat bagaikan angin berhembus menandakan ilmunya cukup tinggi.

Wuuut...! Jleeeg..!

Dengan cepat Suto Sinting langsung mengenali seorang pemuda tampan berompi dan bercelana hijau, lebih muda dari warna hijaunya perempuan yang mengaku keponakan dari Badai Kutub itu. Kejora sendiri terperanjat kagum memandangi pemuda berkulit kuning bersih dengan rambutnya yang panjang digulung di tengah, sisanya dibiarkan meriap dengan gemulai. Pemuda berpedang sarung perak di pinggangnya itu sunggingkan senyum menawan ke arah Suto Sinting. Tetapi pancaran matanya sempat berkelebat ke arah Kejora, hingga hati Kejora merasa berdesir indah menerimanya.

"Darah Prabu...?!" sapa Suto Sinting bernada penuh persahabatan. Keramahannya pun mengembang lebih ceria lagi ketika pemuda yang bernama Darah Prabu itu kian melangkah mendekatinya.

"Buanglah obat itu. Kalau kau menelannya kau bukan mati, tapi menjadi gila cumbuan." Ia tertawa pelan seperti orang menggumam.

Suto Sinting hanya tertawa kecil pula. "Obat itu sudah kubuang sejak tadi, saat aku mengobati si Kadal Ginting," sambil mata Pendekar Mabuk melirik ke arah Kadal Ginting. Pelayan Resi Pakar Pantun itu mulai menggeliat bangun. Bekas lukanya telah lenyap dan rapat kembali seperti sediakala, seakan ia tak pernah mengalami luka yang mengepulkan asap seperti tadi.

"Kasihan dia, tak tahu masalahnya hampir menjadi korban tingkahnya Peluh Setanggi," Darah Prabu melirik ke arah si keponakan Badai Kutub itu.

"O, dia bernama Peluh Setanggi?!"

"Aku sedang memburunya," jawab Darah Prabu. "Alangkah beruntungnya kau mempunyai buronan cantik seperti dia. Darah Prabu."

Pria tampan yang usianya lebih muda dari Suto Sinting itu hanya tertawa kecil tak berkesan urakan. Darah Prabu memang terdidik untuk menjadi seorang pemuda yang punya penampilan terhormat, sebab dia adalah murid dari Resi Badranaya, tokoh sakti aliran putih yang cukup disegani di rimba persilatan. Pendekar Mabuk bertemu dengan Darah Prabu yang merupakan adik dari Pinang Sari, murid Nini Pucanggeni saat mereka terlibat perkara sebuah pusaka yang merupakan satu-satunya senjata untuk mengalahkan si pemakan daging manusia itu; Gandapura, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode : "Kapak Setan Kubur").

"Apakah dia memang keponakannya si Badai Kutub?" Kejora memberanikan diri bertanya kepada Darah Prabu.

"Memang, tapi dia bukan murid dari Badai Kutub. Dia tidak punya warisan ilmu apa pun dari Badai Kutub," jawab Darah Prabu dengan tatapan mata lembutnya terarah terus ke wajah mungil Kejora.

"Lalu, persoalan apa yang membuatmu memburu Peluh Setanggi?" tanya Suto Sinting, dan Darah Prabu hanya tersenyum-senyum, agaknya ia ragu untuk menceritakan perkara sebenarnya. Pendekar Mabuk sempat berpikir,

"Mengapa ia ragu menceritakan perkaranya dengan Peluh Setanggi? Ada rahasia apa sebenarnya yang harus ia sembunyikan di depanku?" *

* *

3

BEGITU tegangnya Darah Prabu ketika mengetahui Peluh Setanggi lenyap dari tempatnya. Sekelebat bayangan melintas bagaikan cahaya, menyambar Peluh Setanggi dan membawanya pergi ke arah utara. Saat itulah mereka menjadi terkesima sejenak, lalu Darah Prabu pergi berkelebat tanpa pamit pada siapa pun. Weeeess...!

"Dia melarikan diri, Suto!" ujar Kejora dengan wajah tampak sedikit tegang.

"Darah Prabu bukan melarikan diri, tapi mengejar buronannya!" Pendekar Mabuk meluruskan pendapat Kejora.

Kadal Ginting ikut menimpali, "Kelihatannya Darah Prabu sangat ketakutan. Takut kalau buronannya dilarikan jauh-jauh oleh seseorang."

"Aku bisa merasakan kecemasan Darah Prabu. Tapi aku tak bisa mengerti mengapa Darah Prabu sangat khawatir akan keadaan buronan cantiknya itu," ujar Pendekar Mabuk.

"Bukankah kudengar tadi Darah Prabu menyebutkan nama Peluh Setanggi?!"

"Perempuan yang menodongmu dengan pedang tadi yang bernama Peluh Setanggi."

"Kuingat seseorang yang menjadi guru dan mempunyai murid bernama Peluh Setanggi."

"Siapa orang itu?!" Pendekar Mabuk berkerut dahi sambil menatap Kejora.

"Hmmm... ah, sayang aku lupa nama orang itu," jawab Kejora berkesan plin-plan.

"Tadi katanya ingat seseorang yang punya murid Peluh Setanggi, sekarang mengaku tak ingat namanya?! Bagaimana kau ini sebenarnya, Nona?!" Kadal Ginting menggerutu sambil bersungut-sungut. Rupanya Kadal Ginting menjadi segar dan otaknya terasa sedikit cerdas sejak meminum tuak Suto Sinting tadi. Kini ia justru ajukan usul kepada Pendekar Mabuk,

"Bagaimana jika kita ikuti jejak pelarian Darah Prabu?"

"Aku baru mempertimbangkan begitu," kata Pendekar Mabuk, lalu ia menenggak tuaknya beberapa teguk.

"Aku jadi penasaran dengan si Peluh Setanggi itu. Aku ingin membalas melukainya, karena aku tak punya salah padanya tapi dilukai."

"Kalau tujuanmu hanya untuk membalas dendam, kusarankan lebih baik kau segera ke Hutan Rawa Kotek dan menemui Nini Kalong. Kau akan bertemu dengan tuanmu; Resi Pakar Pantun!"

Kadal Ginting mengeluh pelan, wajahnya tampak murung, ia merasa dilarang oleh Pendekar Mabuk dan jiwa patuhnya masih membekas di hati, sehingga ia tak berani menentang saran Pendekar Mabuk. Akhirnya ia segera pergi ke Hutan Rawa Kotek setelah mendapat pengarahan dari Suto Sinting tentang jalan menuju Hutan Rawa Kotek.

Si cantik mungil Kejora ajukan tanya kepada Suto Sinting, "Apakah kita juga akan pergi ke Hutan Rawa Kotek?!"

"Untuk apa kita ke sana?"

"Untuk melihat apakah orang yang bernama Resi Pakar Pantun itu masih ada di sana? Karena aku ingin meminta bantuannya untuk membuatkan sebuah pantun percintaan."

"Oh, kau sedang jatuh cinta?!" Suto Sinting tersenyum menggoda.

"Tidak, aku tidak sedang jatuh cinta. Aku hanya sedang mencoba untuk mencintai seseorang."

"Siapa orang yang ingin kau cintai itu?" desak Suto Sinting dengan terang-terangan.

"Orang tadi yang ingin kucintai."

"Maksudmu, si Kadal Ginting, pelayan sang Resi itu?"

"Uuuuhf...!" Kejora bersungut-sungut. "Untuk apa mencintai orang setua dia? Aku ingin jatuh cinta kepada pemuda sahabatmu tadi, hhmmm... siapa namanya pemuda tadi itu?!"

"Darah Prabu?"

"O, ya.... Itulah nama orang yang ingin kucintai. Apakah kau sakit hati jika aku tertarik kepada Darah Prabu?!" tanyanya dengan polos.

Suto Sinting gelengkan kepala. "Kau bebas jatuh cinta kepada siapa pun. Tapi sebaiknya selesaikan dulu urusan kita tentang pusaka leluhurmu itu."

"Kalau kuselesaikan dulu nanti Darah Prabu sudah dijatuhi cinta oleh gadis lain lebih dulu. Nanti aku tidak dapat tempat di hati Darah Prabu."

Tawa si murid sinting Gila Tuak terdengar memanjang walau bernada rendah, ia menertawakan kepolosan Kejora yang bagai tak mengenal rasa malu mengungkapkan isi hatinya.

"Aku akan menyusulnya, Suto. Tapi ke mana aku harus menemui Darah Prabu?!"

"Yang jelas dia pergi ke arah utara."

"Jika begitu aku harus mengejarnya ke utara atau ke selatan?!"

"Ke timur!" jawab Suto Sinting dengan agak dongkol mendengar pertanyaan bodoh itu. Tetapi Kejora tidak merasa tersinggung dan segera bergegas ke timur. Mau tak mau Suto Sinting segera mencegahnya dengan melompat tinggi dan bersalto satu kali. Ia mendarat tepat di depan langkah Kejora.

"Kau ini bodohnya bersusun-susun," kata Suto Sinting. "Mengapa kau mengejar Darah Prabu ke timur?"

"Bukankah arah timur adalah arah yang kau sarankan?"

"Aku tadi hanya jengkel dengan pertanyaanmu. Sudah tahu perginya ke arah utara, ya tentu saja mengejarnya ke arah utara, tak perlu ditanyakan kemana kau harus mengejarnya?!"

"O, kalau begitu aku harus pergi ke utara sekarang juga."

"Aku akan mendampingimu!"

"Tak perlu, aku hanya ingin berdua dengan Darah Prabu. Aku ingin menikmati ketampanannya dan senyuman menggodanya tadi. Kalau kau ikut denganku, aku malu memandanginya."

"Aku akan tutup mata jika kau sudah bertemu dengan Darah Prabu! Yang jelas aku harus menjagamu karena urusan pusaka leluhurmu masih kutangani."

Akhirnya mereka pergi ke utara menyusul pengejaran Darah Prabu. Kecepatan lari mereka tak seimbang dengan kecepatan gerak Darah Prabu. Namun seandainya tanpa Kejora, tentunya Pendekar Mabuk dapat mengejar Darah Prabu dengan menggunakan jurus 'Gerak Siluman'-nya. Jika saat itu Pendekar Mabuk gunakan jurus 'Gerak Siluman', maka Kejora akan tertinggal jauh dan mungkin akan tersesat arah.

Di tepi sungai yang menyerupai padang batu itu mereka temukan Darah Prabu dalam keadaan terkapar. Kejora memandang dengan penuh kecemasan, wajahnya tampak tegang sekali. Pendekar Mabuk memperhatikan luka di dada Darah Prabu. Luka itu membekas telapak tangan berjari empat dengan warna ungu.

Darah Prabu bagaikan mati dalam keadaan kedua tangannya terentang, tubuhnya telentang di atas sebuah batu besar setinggi dada. Agaknya telah terjadi pertarungan antara Darah Prabu dengan seorang berilmu tinggi yang mempunyai jurus sakti, membuat dada Darah Prabu membekas telapak tangan berjari empat warna ungu.

"Sepertinya Darah Prabu tak sempat memberi perlawanan," gumam Suto Sinting di samping Kejora, matanya masih memandangi keadaan murid Resi Badranaya itu. "Darah Prabu belum sempat mencabut pedangnya, ia sudah terkena pukulan sakti yang mungkin sukar dihindari."

"Apakah dia... oh, Suto... tolong periksalah apakah dia sudah tak bernyawa?!"

Pendekar Mabuk menekan leher Darah Prabu bagian samping dengan telunjuknya, ia masih merasakan denyut nadi yang sangat kecil. Denyut nadi itu juga amat lemah, tidak seperti seseorang yang dalam keadaan sehat.

"Ia masih bernyawa, Kejora. Tetapi lukanya sangat parah dan membuatnya sukar bernapas.

"Tap... tapi ia masih punya sisa napas?"

"Masih," jawab Pendekar Mabuk sambil bangkit dari jongkoknya. Matanya memandang sekeiillng dengan cepat, mencari kemungkinan si lawan Darah Prabu masih di sekitar tempat itu. Ternyata kemungkinan tersebut tak ada.

"Lawannya pasti telah pergi," ujar Suto Sinting pelan sekali.

"Siapa lawannya yang membuat ia sampai begini, Suto?"

"Mana aku tahu?! Bukankah aku dan kau baru saja tiba di sini?!"

Kejora diam sebentar, memandang penuh kecemasan namun tak berani menyentuh tubuh Darah Prabu. Kejap berikutnya ia perdengarkan suaranya yang polos dan lugu itu, "Dapatkah kau menyembuhkan lukanya, Suto?"

"Akan kucoba!" gumam Suto Sinting sambil menarik napas. "Tapi kurasa tempat ini tidak aman bagi kita. Darah Prabu harus dibawa ke suatu tempat yang lebih aman lagi."

"Bagaimana jika kita cari sebuah gua untuk merawat Darah Prabu?!"

"Apakah di sekitar sini ada gua?!"

"Seingatku di balik bukit yang kelihatan dari sini ada gua tempat peristirahatan para pengembara."

"Apakah kau pernah ke sana?"

"Belum," jawabnya dengan jujur dan polos tapi justru mendongkolkan hati Pendekar Mabuk. Hanya saja Pendekar Mabuk segera dapat memaklumi kepolosan dan kebodohan itu karena memang demikianlah keadaan pribadi si cantik yang punya nama lengkap Dewi Kejora itu.

"Sewaktu aku dan Menik berada di sekitar sini, Menik pernah bilang bahwa di balik bukit itu ada gua untuk peristirahatan para pengembara. Apakah kau tak ingin mencoba membawa Darah Prabu ke balik bukit itu?!"

"Tak ada salahnya untuk mencoba ke sana!" ujar Pendekar Mabuk, kemudian ia bergegas mengangkat tubuh Darah Prabu.

Tetapi tiba-tiba mereka mendengar suara seseorang bicara di belakang mereka, "Jiwanya tak akan tertolong lagi!"

Mereka berdua terkejut dan segera palingkan wajah ke belakang. Ternyata di atas sebuah batu yang tingginya sebatas perut telah berdiri seorang kakek berambut putih pendek lurus. Tokoh tua itu mengenakan baju dan celana abu-abu, badannya kurus dan agak pendek, gigi depannya tinggal dua.

"Tua Bangka...?!" Pendekar Mabuk menyapa dengan heran, karena tak disangka-sangka ia bertemu lagi dengan tokoh sakti yang sedikit slebor, pemilik sebuah pusaka yang dulu pernah diperebutkan dan Suto Sinting berada di pihak si tokoh tua itu, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode : "Kapak Setan Kubur").

Tua Bangka melompat dari tempatnya ke batu tempat Darah Prabu terkapar dalam keadaan luka dalam itu. Ia pandangi luka membekas tangan berjari empat di bagian dada bidang Darah Prabu itu. Lalu, terdengar suara gumamnya yang pelan namun memanjang.

"Hmmm...," ia manggut-manggut sesaat. "Sudah kuduga, ia terkena jurus beracun yang bernama jurus 'Tapak Ungu', dan hanya satu orang yang memiliki jurus 'Tapak Ungu' itu."

"Siapa orang tersebut, Tua Bangka?!" tanya Pendekar Mabuk dengan rasa ingin tahunya sangat besar.

"Siapa lagi kalau bukan Nyi Mas Gandrung Arum."

Pendekar Mabuk pandangi si Tua Bangka yang bernama asli Ki Sanupati itu. Pandangan mata Suto Sinting mengandung keheranan, dan si Tua Bangka mengetahui maksud pandangan mata yang membutuhkan penjelasan itu. Maka si Tua Bangka pun perdengarkan kembali suara tuanya sambil sesekali matanya memandang ke arah Suto sesekali ke arah Darah Prabu yang ada di bawahnya.

"Nyi Mas Gandrung Arum adalah tokoh aliran hitam yang menjadi penguasa Bukit Esa di daerah Pantai Tawar, ia seorang pendeta perempuan dari aliran hitam yang menguasai ilmu 'Tapak Ungu', sebuah ilmu tenaga dalam beracun tinggi yang cara penggunaannya dengan memukul bagian tubuhnya sendiri. Jika ia berhadapan dengan seorang lawan, lalu ia memukul dadanya sendiri, maka dada si lawan yang terkena pukulan itu dan tak dapat ditangkis maupun dihindari lagi."

Kejora memberanikan diri ajukan tanya kepada si Tua Bangka, "Apakah... apakah dia ada hubungannya dengan perempuan cantik itu, Pak Tua?!"

"Perempuan cantik yang mana? Semua muridnya adalah perempuan cantik. Sebab Nyi Mas Gandrung Arum mempunyai ramuan pengawet kecantikan dan mantra awet mudanya diajarkan pada setiap muridnya."

"Maksudku, perempuan yang tadi menodongkan pedang padaku itu, Pak Tua."

Tua Bangka memandangi Kejora dengan bingung. "Wajahmu cantik sekali tapi bicaramu membingungkan orang seusiaku, Nona. Usiaku bisa menjadi lebih pendek jika terlalu sering bicara denganmu."

Pendekar Mabuk tertawa kecil dan pendek. "Maksudnya, seorang perempuan cantik yang berpakaian seronok. Tadi kami diserang oleh perempuan itu yang menurut Darah Prabu bernama Peluh Setanggi."

"Ooo... Peluh Setanggi?!" Tua Bangka manggut- manggut lagi.

"Agaknya kau mengenalnya, Ki Sanupati."

"Tentu saja aku mengenal si Peluh Setanggi, sebab belum lama ini aku pernah menghajarnya, karena ia akan mencuri Kapak Setan Kubur-ku."

Pendekar Mabuk terkesiap, agak kaget mendengar Kapak Setan Kubur mau dicuri oleh si Peluh Setanggi. Sebelum ia ajukan tanya, Tua Bangka lebih dulu berkata, "Peluh Setanggi memang muridnya Nyi Mas

Gandrung Arum."

"Pantas ia menyerang Darah Prabu, sebab Darah Prabu mengejar Peluh Setanggi," ujar Kejora kepada Suto Sinting.

Tapi hal itu membuat Tua Bangka merasa heran dan berkerut pandangi Kejora.

"Darah Prabu mengejar-ngejar Peluh Setanggi?! Apa kau tak salah ucap, Nona? Darah Prabu beraliran putih, untuk apa ia mengejar-ngejar gadis dari aliran hitam? Bukankah banyak gadis cantik lainnya yang lebih pantas dikejar-kejar oleh Darah Prabu?!"

"Maksudnya, Peluh Setanggi menjadi buronan si Darah Prabu!" sahut Pendekar Mabuk setelah meneguk tuaknya dua kali.

Tua Bangka kian kerutkan dahi. Wajah tuanya tampak diliputi keheranan saat memandang Suto Sinting. Mulutnya yang hanya mempunyai dua gigi bagian depan itu menggumamkan kata bernada heran. "Buronan...?!" kemudian ia merenung dengan menunduk, memandangi Darah Prabu yang masih diam tak berkutik itu.

"Aneh sekali sebenarnya; murid Nyi Mas Gandrung Arum menjadi buronannya Darah Prabu. Padahal Darah Prabu itu muridnya Resi Badranaya, dan Resi Badranaya adalah adik dari Nyi Mas Gandrung Arum."

"Adik...?!" kini ganti Suto Sinting yang bernada heran. "Kalau begitu Nyi Mas Gandrung Arum usianya sudah banyak?!"

"Mungkin sudah mencapai seratus tahun lebih," tukas si Tua Bangka. "Aku pun kalah tua dengannya. Tapi kalau kau melihat penampilan Nyi Mas Gandrung Arum, kau seperti melihat penampilan perempuan cantik yang masih berusia sekitar tiga puluhan kurang."

"Sakti sekali mantra pengawet kecantikannya itu?!" "Yang membuatku heran bukan mantra awet ayunya

itu, melainkan keberanian Darah Prabu memburu si Peluh Setanggi. Padahal menurut cerita dari Badranaya yang pernah kudengar, Badranaya tak akan mengusik perguruan kakaknya, ia tak akan berani ikut campur apa pun urusan Nyi Mas Gandrung Arum, sebab nyawa Badranaya ada di tangan Nyi Mas Gandrung Arum. Hanya perempuan itu yang mengetahui bagaimana cara membunuh Badranaya. Karena rahasia kesaktian Badranaya ada di tangan Nyi Mas Gandrung Arum."

Pendekar Mabuk manggut-manggut sambil menyimak penjelasan itu dengan sungguh-sungguh. Tua Bangka menjadi gelisah, walau kegelisahannya disembunyikan dalam bentuk tarikan-tarikan napas tuanya.

"Persoalan apa yang membuat murid si Badranaya ini berani bertindak selancang itu; menjadikan Peluh Setanggi sebagai buronannya?!" kata si Tua Bangka lagi, seperti bicara pada dirinya sendiri. Lanjutnya kemudian,

"Pasti hal ini akan membuat Nyi Mas Gandrung Arum murka kepada si Badranaya. Dan jika sudah begitu, habislah riwayatnya."

"Mungkinkah Darah Prabu tak mengetahui hal itu, Tua Bangka?"

"Tidak mungkin. Badranaya pasti mewanti-wanti betul kepada muridnya agar tidak mengganggu Perguruan Bukit Esa, dan pasti Badranaya menceritakan hubungan pribadinya dengan Penguasa Bukit Esa itu. Jika ternyata Darah Prabu berani memburu murid Perguruan Bukit Esa Itu, maka jelas tindakannya itu atas seizin Badranaya. Tetapi apa yang membuat Badranaya mengizinkan muridnya memburu murid Nyi Mas Gandrung Arum?!"

"Kurasa Darah Prabu bisa jelaskan setelah kusembuhkan dengan tuak saktiku ini, Tua Bangka. Jadi sebaiknya kulakukan dulu penyembuhan itu atas diri si Darah Prabu ini!"

"Sia-sia...," potong Tua Bangka dengan mencibir. "Racun 'Tapak Ungu' tak ada yang mampu menyembuhkan kecuali pemiliknya sendiri, atau dengan cara dibasuh dengan air Sendang Ketuban."

Pendekar Mabuk tak percaya dengan penjelasan Tua Bangka. Bagaimanapun juga ia masih menganggap tuaknya mampu sembuhkan luka dan menangkal racun dalam tubuh Darah Prabu. Tua Bangka hanya angkat bahu ketika Suto Sinting ingin mencoba menyembuhkan dengan tuak saktinya.

"Kalau memang Darah Prabu bisa sadar, ia tetap akan menderita pengeringan anggota dalam tubuhnya. Jantung, usus, paru-paru, dan apa saja yang ada dalam tubuhnya akan mengering dalam waktu tak lebih dari dua hari. Kelumpuhan tetap akan dideritanya meskipun Darah Prabu bisa membuka mata dan ia tetap tak akan bisa bicara, karena pita suaranya dalam tenggorokan juga ikut mengalami pengeringan akibat racun 'Tapak Ungu' itu," tutur si Tua Bangka yang membuat Kejora menjadi bertambah cemas. Wajah gadis itu tampak sedih sekali.

"Lakukanlah pengobatanmu, Suto. Siapa tahu pendapat Pak Tua itu hanya omong kosong belaka," desak Kejora yang mengharap kesembuhan Darah Prabu. Maka Suto Sinting pun mencoba menuangkan tuak ke dalam mulut Darah Prabu dengan cara memaksa mulut itu terbuka. Tuak pun dituangkan sedikit demi sedikit dan sangat hati-hati sekali.

Krucuk, krucuk, krucuk...!

Tuak berhasil masuk ke tenggorokan Darah Prabu. Tapi hanya sebagian saja, sisanya masih menggenang di dalam mulut yang dingangakan secara paksa itu. Dan tanda-tanda kesembuhan belum terlihat. Si Tua Bangka terkekeh pelan sambil berucap, "Sia-sia saja, Suto! Kau hanya akan membuang- buang tuakmu. Lebih baik kau cari air Sendang Ketuban itu di Gunung Purwa."

"Tuakku baru tertelan sedikit, kita tunggu perubahannya." Pendekar Mabuk masih merasa yakin bahwa kesaktian tuaknya dapat dipakai untuk melawan racun 'Tapak Ungu' itu. Kejora menunggu dengan berharap-harap cemas. Sesekali ia memandangi keadaan Darah Prabu, sesekali beralih pandang pada Suto Sinting.

*

* *

4

PEMUDA tampan murid Resi Badranaya itu ternyata memang hanya bisa membuka mata dan memandang dengan sayu. Mereka membawanya ke sebuah gua di balik bukit yang terlihat dari tepian sungai itu. Pendekar Mabuk tampak lesu karena tuak saktinya tak mampu melawan kekuatan racun 'Tapak Ungu' itu. Ia duduk di atas sebuah batu datar setinggi lutut yang ada di dalam gua.

Kejora berada di samping Darah Prabu yang dibaringkan dengan berbantal dedaunan kering.  Gadis itu tampak kian berwajah sendu dan selalu mencoba mengajak bicara Darah Prabu. Tapi yang diajak bicara hanya bisa memandang dan menggerak-gerakkan bibirnya dengan lemah sekali. Darah Prabu selalu gagal mengatakan sesuatu walau berupa bisikan sekalipun. "Aku suka sama kamu," kata Kejora. "Apakah kau suka padaku, Darah Prabu?"

Gadis itu mendekatkan telinganya ke mulut Darah Prabu, tapi sepatah kata pun tak didengarnya walau bibir bergerak-gerak seperti mengalami kedutan. Sampai telinga itu ditempelkan di mulut Darah Prabu, yang bisa dirasakan Kejora hanya hembusan napas lirih membawa kehangatan tersendiri di telinga Kejora.

"Bicaralah, jangan hanya melongo, nanti mulutmu dimasuki lalat," ujar Kejora dengan nada duka, namun cukup menggelikan hati si Tua Bangka. Tokoh tua yang pernah diselamatkan Suto Sinting dari tiang gantungan itu akhirnya geleng-geleng kepala, kemudian melangkah dari mulut gua mendekati Pendekar Mabuk.

"Masih ingin mencoba menyembuhkan dengan tuakmu?!"

Pendekar Mabuk menggeleng. Tampaknya ia telah pasrah karena sudah mencoba menggunakan penyembuhan dengan jurus 'Sembur Husada', yaitu menyemburkan tuak ke dada Darah Prabu yang membekas telapak tangan warna ungu itu, namun usaha itu juga sia-sia. Bekas telapak tangan warna ungu itu tetap melekat jelas di dada kekar si murid Resi Badranaya. Menurut Tua Bangka, jika warna ungu itu bisa hilang berarti racun yang ada di dalamnya pun akan lenyap.

"Satu-satunya cara untuk menolong jiwa Darah Prabu adalah dengan membasuh bekas telapak tangan itu memakai air Sendang Ketuban," ujar Tua Bangka. "Tak ada cara lain. Sebab jika kita suruh Nyi Mas Gandrung Arum memberikan obat penawar racun, pasti ia akan menolak dan pertarungan pun akan terjadi. Nyi Mas Gandrung Arum itu tokoh wanita yang berbahaya. Tak pernah bertindak tapi sekali bertindak dapat mengakibatkan bencana bagi umat manusia."

"Pantas jika ia bisa menyambar tubuh Peluh Setanggi secepat itu," kata Suto Sinting seperti orang menggumam sendiri. Pandangan matanya tertuju ke luar gua dengan sikap menerawang, bagai orang sedang melamun.

"Itulah, aku sempat waswas ketika mengejar Peluh Setanggi karena ia ingin mencuri Kapak Setan Kubur. Mulanya aku ingin menghajarnya, tapi kupikir-pikir toh usaha pencurian itu gagal. Jadi aku tak perlu mengejarnya sampai ke Bukit Esa. Namun aku perlu temui Nyi Mas Gandrung Arum untuk meluruskan masalah pengejaranku terhadap Peluh Setanggi. Sayangnya aku jumpa kalian dan merasa lebih tertarik dengan perkara yang terjadi pada diri Darah Prabu. Hatiku menjadi penasaran sekali, ingin mengetahui perkara apa yang terjadi hingga si Peluh Setanggi menjadi buronannya?!"

Pendekar Mabuk menarik napas panjang. Setelah itu memandang si Tua Bangka dengan sorot pandangan mata berkesan sayu.

"Aku sendiri menjadi penasaran dengan masalah ini dan menunda kepergianku ke Jurang Lindu untuk temui Guru si Gila Tuak. Agaknya aku perlu mengetahui dulu masalah yang dihadapi Darah Prabu dengan pihak Nyi Mas Gandrung Arum ini."

Tua Bangka agak berkerut dahi, "Kau mau menemui gurumu di Jurang Lindu?"

Suto Sinting mengangguk satu kali.

"Ada masalah apa kau ingin bertemu Gila Tuak? Tentunya ada persoalan yang cukup penting. Benarkah begitu?"

Setelah mengangguk lagi, Suto Sinting pun menjelaskan masalahnya yang dihadapi bersama pihak keluarga Kejora. Pendekar Mabuk menceritakan pertarungannya dengan Badai Kutub yang bertitik tolak dari masalah pusaka Panji-panji Agung.

Tua Bangka terkejut dan wajahnya semakin mendekat.

"Panji-panji Mayat, maksudmu?"

"Benar, Ki Sanupati! Apakah kau tahu tentang Panji- panji Agung atau Panji-panji Mayat itu?!"

Tua Bangka menarik diri sambil menghela napas dalam-dalam, ia berdiri tegak di depan Pendekar Mabuk. Matanya memandang sekilas kepada Kejora yang sedang berusaha mengajak bicara Darah Prabu. Kemudian pandangan mata itu mengarah kepada Suto.

"Sekarang aku baru ingat tentang gadis itu. Rupanya ia anak dari pasangan Jalma Dupi dan Sang Ratri. Waktu aku berkunjung terakhir kalinya ke tempat kediaman Jalma Dupi, gadis itu masih berusia tujuh tahun."

"Jadi kau kenal baik dengan keluarganya Kejora?" "Cukup baik," jawab Tua Bangka. "Dan aku juga sering mendengar pusaka Panji-panji Agung itu menjadi bahan pembicaraan para tokoh tua."

"Apakah pusaka itu memang hak milik keluarganya Kejora?"

Tua Bangka mengangguk. "Jalma Dupi memang pewaris pusaka tersebut. Tapi demi keamanan, Panji- panji Mayat itu dititipkan oleh Nyai Parisupit kepada seorang sahabatnya. Dengan begitu siapa pun yang menyerang keluarga Nyai Parisupit tidak akan/berhasil mendapatkan pusaka Panji-panji Mayat itu."

"Maksudmu, dititipkan kepada Resi Wulung Gading?"

Tua Bangka diam sebentar, tampak berpikir sungguh- sungguh. Kejap berikut ia menarik napas dan berkata,

"Aku tak tahu secara pasti. Yang kutahu, Resi Wulung Gading tak pernah sebut-sebut adanya pusaka itu di tangannya. Setahuku, sekarang ini yang ada padanya hanyalah pusaka Pedang Kayu Petir yang kabarnya pernah kau temukan lalu kau serahkan kepada beliau."

"Jika pusaka itu tidak ada pada Resi Wulung Gading, lantas menurutmu siapa sahabat mendiang Nyai Parisupit yang dipercaya menyimpan pusaka tersebut?"

Setelah diam sesaat, Tua Bangka pun menjawab, "Ada beberapa orang yang kuduga menyimpan pusaka Panji-panji Mayat; Batuk Maragam, Galak Gantung, Badranaya, dan gurumu sendiri; si Gila Tuak."

"Resi Badranaya...?!" gumam Pendekar Mabuk bernada heran. "Apakah Resi Badranaya sahabat Nyai Parisupit?!"

"Semasa mudanya mereka pernah saling jatuh cinta, tapi putus di tengah jalan karena Sabang Wirata, ayah Parisupit tidak setuju jika anaknya berhubungan dengan Badranaya, sebab Sabang Wirata tahu Badranaya mempunyai kakak beraliran hitam yang pernah mencoba menyerang perguruan Sabang Wirata."

"Ooo...," Pendekar Mabuk hanya bisa manggut- manggut.

"Lebih tak suka lagi Sabang Wirata kepada Badranaya, karena kakak si Badranaya yaitu Nyi Mas Gandrung Arum itu memihak Kurupati, saudara tirinya Sabang Wirata yang selalu mengincar Panji-panji Mayat itu! Ketika berusia muda, Kurupati pernah menjadi budak cintanya Nyai Mas Gandrung Arum, sehingga apa pun kesulitan Kurupati dibantu oleh Nyi Mas Gandrung Arum," tambah sang kakek berusia tujuh puluh tahun lebih itu.

"Lalu, bagaimana dengan Batuk Maragam?!"

Suto Sinting mengenal tokoh tua yang sering batuk- batuk sehingga berjuluk Batuk Maragam itu ketika ia dituduh menghamili seorang gadis anak Lurah Cakradayu yang menjadi keponakan dari Batuk Maragam. Gadis itu bernama Dewi Angora. Batuk Maragam sendiri sempat terkecoh oleh penampilan kembar seseorang yang serupa betul dengan Pendekar Mabuk, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode : "Peri Sendang Keramat"). Tapi saat itu Suto Sinting belum tahu bahwa Batuk Maragam mempunyai seorang sahabat yang bernama Nyai Parisupit.

Tua Bangka berkata, "Batuk Maragam pernah menyelamatkan nyawa Nyai Parisupit, dan sejak saat itu persahabatan mereka jadi akrab. Tapi agaknya Batuk Maragam segera menjauhkan diri karena perlu waktu untuk menyelesaikan tugas-tugasnya sebagai satu- satunya orang yang pernah berguru di Pegunungan Sojiyama. Barangkali dalam masa tua belum lama ini, Batuk Maragam pernah berkunjung di kediaman Nyai Parisupit lalu mendapat kepercayaan sebagai penyimpan pusaka Panji-panji Mayat. Sebab setahuku, Batuk Maragam itu sebenarnya juga bisa membangkitkan mayat orang yang telah mati dan menuruti kehendak batinnya."

"Membangkitkan orang yang telah mati...?!" gumam Suto Sinting sambil merenung, ia bicara bagai tertuju pada dirinya sendiri. "Bukan hanya Batuk Maragam saja yang bisa membangkitkan orang mati, melainkan Ratu Sangkar Mesum juga bisa membangkitkan orang mati."

Kemudian ia bertanya kepada Tua Bangka, "Apakah setiap pemegang Panji-panji Mayat atau Panji-panji Agung adalah orang yang bisa membangkitkan mayat?!" "Yang jelas, siapa pun yang membawa Panji-panji Agung di dekat orang yang telah mati, maka walaupun orang itu telah terkubur ratusan tahun, ia akan bangkit kembali dan menjadi pengikutnya, siap menerima perintah dari si pembawa Panji-panji Mayat!" jawab Tua Bangka sambil bicara mondar-mandir di depan Suto

Sinting bagaikan orang dalam kegelisahan besar. "Lalu, mengenai Ki Galak Gantung itu bagaimana?" tanya Suto Sinting lagi, sebab ia merasa cukup kenal dengan Galak Gantung, yang sudah jelas-jelas menjadi sahabat gurunya; si Gila Tuak itu. Suto Sinting teringat kembali saat pertemuan pertama kalinya dengan Galak Gantung dalam suatu peristiwa hilangnya bumbung tuak sakti yang menjadi satu-satunya senjata andalannya itu, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode : "Pusaka Bernyawa"). Tokoh yang menjadi guru dari seorang gadis bernama Kabut Merana itu tinggal di puncak Bukit Wangi, yang hampir saja dibunuh oleh musuh lamanya; si Tulang Naga dengan senjata pusaka cukup berbahaya, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode : "Sabuk Gempur Jagat").

"Galak Gantung pernah bertaruh nyawa dengan seorang tokoh sakti yang ingin membunuh Nyai Parisupit. Tokoh itu adalah kakak dari si Tulang Naga. Tetapi gurumu, si Gila Tuak, segera campur tangan dan membuat kakak dari si Tulang Naga itu tumbang dan tak berkutik sampai sekarang. Itulah sebabnya Tulang Naga menaruh dendam kepada gurumu. Sejak itu hubungan Galak Gantung dengan Nyai Parisupit menjadi sangat akrab. Mereka berlima sering tampak lakukan perundingan di sebuah puncak gunung atau di tengah samudera. Tapi perundingan apa dan bagaimana hasilnya, tak seorang pun yang tahu selain mereka berlima: Galak Gantung, Gila Tuak, Badranaya, Batuk Maragam, dan Parisupit sendiri."

Pendekar Mabuk menarik napas lagi setelah merenung beberapa saat.

"Tua Bangka, menurutmu apa yang harus kulakukan sekarang ini?!"

"Pergi ke Gunung Purwa dan mencari air Sendang Ketuban."

"Gunung Purwa?!" gumam Suto Sinting dengan berkerut dahi, ada sesuatu yang sedang diingat-ingatnya. Tua Bangka berkata, "Di sana ada sebuah telaga berair hijau bening. Jarang orang yang mengetahui letak telaga itu. Air telaga tersebut hanya bisa dipakai untuk mengobati luka racun yang tak bisa ditawarkan dengan obat lainnya. Tapi jika racun itu bisa ditawarkan dengan obat lainnya, maka khasiat air Sendang Ketuban tak

berguna."

"Jadi, air itu hanya bisa untuk sembuhkan sebuah racun yang hanya punya satu penangkal?"

"Benar. Dewata memberikan Sendang Ketuban untuk mengatasi kejahatan manusia yang menjadi satu-satunya kunci penawar sebuah racun. Dengan begitu, manusia tidak akan merasa dirinya paling jago dengan mempunyai satu obat penawar untuk satu racun berbahaya."

Pendekar Mabuk manggut-manggut. Lalu ingatannya menerawang pada sebuah peristiwa yang membuatnya tersesat di punggung Gunung Purwa. Di situ Suto Sinting berjalan bersama Kabut Merana tersesat di sebuah pedesaan yang ternyata adalah sebuah negeri aneh, bernama Negeri Wilwatikta. Penduduknya kaum wanita dan mereka hidup tanpa busana dalam keadaan wajah cantik-cantik serta tubuh meliuk sekal menggiurkan. Haruskah Pendekar Mabuk meminta bantuan masyarakat Negeri Wilwatikta yang sudah dikenalnya itu?

"Pergilah dalam waktu jangan lebih dari satu hari. Karena pada hari kedua, racun 'Tapak Ungu' akan membuat jiwa Darah Prabu melayang alias mati," kata Tua Bangka mengingatkan pada Suto Sinting yang berkemas untuk berangkat ke Gunung Purwa.

"Aku akan datang secepatnya, Tua Bangka!"

"Bagus. Paling lambat lusa siang kau harus sudah sampai sini. Jika kau datang sore hari, mungkin Darah Prabu sudah tak bernyawa lagi."

"Kejora, kau mau ikut aku ke Gunung Purwa?!" sapa Suto Sinting kepada gadis polos itu.

"Aku... aku menunggu di sini saja. Kasihan Darah Prabu tak ada yang menunggunya."

"Biar aku yang menunggunya," sahut Tua Bangka. "Apakah kau juga mencintai Darah Prabu, Pak Tua?!" Tokoh berkulit keriput itu tertawa kecil dan berkata,

"Cintaku hanya sebatas cinta terhadap seorang cucu." "Apakah dia cucumu?"

"Kuanggap sebagai cucuku karena aku kenal betul dengan gurunya yang bernama Resi Badranaya!"

Tapi agaknya Kejora tak mau meninggalkan Darah Prabu. Hatinya sedang terpikat indah kepada pemuda itu, sehingga Suto Sinting pun akhirnya berangkat ke Gunung Purwa sendirian, ia menggunakan jurus 'Gerak Siluman', sehingga mampu bergerak cepat dalam mengupayakan air Sendang Ketuban itu.

Zlap, zlap, zlap, zlap...!

Kecepatan gerak itulah yang diketahui Tua Bangka dan membuat Tua Bangka mewanti-wanti agar Suto Sinting kembali dalam waktu hanya satu hari. Tua Bangka yakin bahwa murid si Gila Tuak itu mampu mencari air Sendang Ketuban dalam waktu singkat. Karena di samping ia tahu bahwa Suto Sinting berotak cerdas, ia juga tahu bahwa Pendekar Mabuk adalah pemuda yang sakti dan mempunyai keberanian sangat besar. Jiwa persahabatannya tinggi, sehingga demi seorang teman pun ia rela bekerja dengan susah payah.

Namun ketika Suto menghentikan langkahnya di perjalanan karena menemukan dua mayat perempuan terkapar di depan langkahnya, tiba-tiba seberkas sinar kuning datang dari arah belakang dan menghantamnya dalam kecepatan yang sukar dihindari. Weeett...! Bumbung tuak yang di punggungnya terhantam sinar kuning itu.

Zrrub...! Blegaaarrr...!

Tak pelak lagi Pendekar Mabuk terjungkal dan berguling-guling karena ledakan itu. Seandainya ia tidak menyandang bumbung tuak di punggungnya, maka ia akan hancur atau binasa karena seberkas cahaya kuning itu. Tapi karena bumbung tuak itu bukan sekadar bumbung dari bambu biasa, melainkan mempunyai kesaktian tersendiri; di antaranya dapat memantul balikkan serangan lawan dan mempunyai kekuatan tenaga dalam tersendiri, maka sinar kuning itu pun meledak pada saat menghantam bumbung tuak tersebut.

Gelombang ledakannya menimbulkan hentakan sangat kuat, karena sebatang pohon yang terdekat dengan Suto Sinting itu sempat patah di pertengahan batang dan tumbang menimpa pohon lainnya. Tentu saja tubuh sekekar Pendekar Mabuk pun terjungkal ke depan dan berguling-guling kehilangan keseimbangan badannya.

Ledakan itu juga menimbulkan hantaman kuat pada tubuh Pendekar Mabuk, sehingga ketika ia hendak berdiri, dada dan punggungnya terasa panas, lalu mulutnya segera memuntahkan darah segar dalam keadaan kepala berkunang-kunang bagai habis dihantam palu godam.

Tenaga pun terasa menjadi berkurang. Pendekar Mabuk merasakan seluruh tulangnya bagaikan remuk dan ia terpaksa bangkit dengan berpegangan pada batang pohon agak merayap. Keadaan lemah itu membuat lawan yang belum diketahui di mana kedudukannya tahu-tahu datang menyerang dengan satu lompatan cepat. Wuuut...! Brruuss...!

Suto Sinting terlempar ke arah semak-semak karena terjangan lawan. Ia tak sempat meraih bumbung tuaknya, sehingga tak sempat pula mengatasi rasa sakit di sekujur badannya. Darah semakin banyak yang keluar, kali ini bukan dimuntahkan lewat mulut saja, melainkan dari lubang hidungnya pun keluar darah segar cukup banyak. Wajah tampan itu menjadi berlumur darah dan mengerikan jika dipandang. Tetapi pada saat lawan ingin melepaskan pukulan jarak jauhnya lagi, Suto Sinting memaksakan diri untuk kerahkan sisa tenaga dalamnya. Pukulan lawan yang berupa sinar merah kecil lurus tanpa putus itu melesat dari pangkal pergeiangan tangan. Claaap...! Suto Sinting masih sempat melepaskan pukulan 'Pecah Raga' yang berupa sinar hijau dari telapak tangannya. Sinar itu mampu memecahkan raga lawan dalam sekejap. Tetapi kali ini sinar hijau itu sengaja dilepaskan untuk menghadang kecepatan melesatnya sinar merahnya lawan, maka kedua sinar itu pun bertemu dan saling tabrak di pertengahan jarak. Jlegaaarrr...!

Bumi berguncang hebat, pohon-pohon bergetar bahkan sebagian ada yang tumbang bagai dilanda gempa. Tanah memercik ke udara karena akar pohon terdongkel ke atas bersama robohnya sang pohon. Daun- daun menjadi rontok dan batu-batu berukuran tak begitu besar menjadi retak, bahkan ada yang pecah dengan pecahan menyebar ke berbagai arah.

Ledakan dahsyat itu membuat lawan terbanting membentur batang pohon besar yang tak ikut tumbang. Daya lempar yang kuat membuat lawan jatuh terpuruk di kaki pohon karena tulang punggungnya terasa patah, ia menyeringai dan mengerang kesakitan. Sementara itu, Suto Sinting hanya terjungkal kembali ke belakang hingga tenggelam dalam kerimbunan semak. Pada saat itulah ia punya kesempatan meraih bumbung tuaknya dan buru-buru menenggak tuak beberapa teguk.

Tuak itu membuat rasa sakit lenyap dalam beberapa saat. Tulang-tulang yang terasa patah menjadi kekar kembali. Badan terasa segar dan siap lakukan pertarungan dalam beberapa jurus pun. Ia berkelebat keluar dari semak-semak itu. Ternyata lawan sudah berdiri dan sedang menyalurkan hawa murninya untuk meredam rasa sakit yang diderita.

"Ratu Sangkar Mesum...?!" gumam Suto Sinting dengan geram kemarahan tertahan.

Suto sama sekali tak menyangka yang menyerangnya adalah seorang perempuan cantik, ramping, montok, bermata jalang. Mengenakan jubah hijau tipis, tanpa pakaian apa-apa lagi di balik jubahnya itu, sehingga perabot dan tetek bengeknya terlihat samar-samar dari luar jubah yang hanya mempunyai satu kancing sebagai penutupnya. Hati Pendekar  Mabuk segera dapat merasakan adanya pancaran dendam pada diri Ratu Sangkar Mesum, karena Suto pernah membuat perempuan aliran hitam itu nyaris binasa pada saat menyelamatkan Resi Pakar  Pantun,  (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode : "Kipas Dewi Murka").

Dendam itu pun kini terucap di sela-sela helaan napas yang masih tampak memburu itu.

"Aku akan menebus kekalahanku tempo hari. Pendekar Tampan! Kecuali jika kau mau tunduk padaku dan melayani asmaraku yang sudah beberapa hari tak tersiram kehangatan lelaki, maka dendam itu akan kulupakan dan kuanggap impas!"

"Manusia pembangkit tenaga mayat...!" sapa Suto Sinting dengan mata sedikit terpicing menandakan kebenciannya terhadap perempuan cantik itu. Katanya lagi,

"Kau boleh memiliki seluruh kehangatan dan kemesraanku jika kau mampu membuatku tak berdaya lagi! Tapi jangan salahkan diriku jika nyawamu melayang dalam perlawananku nanti!"

Senyum sinis berbau mesum mengembang di bibir Ratu Sangkar Mesum yang memang menggiurkan itu. Namun Suto Sinting menutup hatinya untuk tidak memuji dan mengagumi senyuman tersebut. Napasnya ditarik dan ditahan di dalam dada sebagai usaha melawan rasa syur begitu melihat senyuman dan pandangan mata Ratu Sangkar Mesum.

"Melumpuhkan dirimu adalah hal yang mudah, Pendekar Tampan! Tapi jika kau sampai lumpuh tak berdaya, percuma saja kubawa bercinta. Kemampuanmu sebagai lelaki pun akan lumpuh dan aku tak memperoleh kemesraan sedikit pun darimu. Jadi sebaiknya kulenyapkan saja seluruh ilmu dan kesaktian yang kau miliki selama ini. Aku terpaksa menggunakan jurus 'Sumsum Pamungkas' untuk membuatmu tak berilmu lagi! Hi, hi, hi "

Tiba-tiba tawa itu lenyap berganti suara pekik yang menyentak, "Aaaahhg !"

Pendekar Mabuk berkerut dahi dengan memancarkan pandangan penuh keheranan. Tubuh Ratu Sangkar Mesum mengejang dalam keadaan limbung ke depan. Dari ulu hatinya tampak sebatang panah muncul ke depan. Panah itu membara bagaikan besi terpanggang api, sehingga lukanya pun menjadi berasap dan hitam. Darahnya mengering dalam waktu sangat singkat. Rupanya ada seseorang yang memanah Ratu Sangkar Mesum dari belakang tembus ke depan, dan panah yang digunakan bukan panah sembarangan.

Panah itu membuat Ratu Sangkar Mesum mengejang kaku bagaikan patung. Matanya terbeliak dengan kepala mendongak ke atas, mulut ternganga bagai ingin menyerukan pekik kematian yang terakhir kali. Namun pekik itu tak pernah terdengar lagi. Panah membara merah itu telah membuat tubuh Ratu Sangkar Mesum terbakar dari dalam. Warna kulitnya yang kuning langsat dan mulus itu berubah menjadi hitam secara sedikit demi sedikit. Mulutnya yang ternganga keluarkan asap putih samar-samar, namun keadaannya masih berdiri agak melengkung ke depan, kaku bagaikan sebuah prasasti dari batu.

"Siapa orang yang membantuku dengan panah merah itu?!" pikir Suto Sinting dengan tetap berdiri diam di tempatnya.

*

* *

5

PANDANGAN mata Suto segera menangkap sosok bertubuh langsing yang berada di dahan pohon jauh di belakang Ratu Sangkar Mesum. Seorang perempuan berambut sanggul rapi berada di pohon itu. Perempuan tersebut melesat bagaikan terbang dengan jubahnya yang tanpa lengan warna biru laut itu berkibar bagaikan sayap seekor burung betina. Dalam sekejap perempuan berdada besar itu telah berdiri di depan Pendekar Mabuk, memandang dengan sorot mata yang dingin.

Pendekar Mabuk merasa belum pernah jumpa dengan perempuan yang berusia sekitar tiga puluh tahun itu, tapi mungkin juga usianya jauh lebih tua jika ia menggunakan aji pengawet ayu. Yang jelas perempuan itu masih menarik dan sosok tubuhnya yang sekal berkulit sawo matang itu masih mengundang gairah untuk bercumbu bagi lawan jenisnya, ia mengenakan penutup dada warna kuning tipis, sehingga apa yang ditutupi itu dapat terlihat secara samar-samar. Pakaian bawahnya sebuah celana longgar dari kain biru tipis yang menampakkan perabot wanitanya secara samar- samar pula. Apalagi dalam keadaan mendapat sorotan sinar dari belakang, tubuh elok itu terbayang jelas bagaikan tanpa busana lagi.

"Kau yang bernama Suto Sinting dengan gelar sombongnya berjuluk Pendekar Mabuk itu?!"

"Benar. Siapa dirimu sebenarnya? Aku merasa tak pernah mengenalmu!" jawab Suto Sinting dengan keramahan tertahan karena sikap perempuan itu cukup ketus dan angkuh. Namun matanya yang berbulu lentik itu memandang dengan tajam bagai mempunyai dua makna; antara bermusuhan dan berkawan.

Di sanggul perempuan itu terdapat tusuk konde dari sebatang emas berbentuk sumpit. Ujung tusuk kondenya mempunyai hiasan ronce-ronce benang merah, sedangkan ujung yang satunya lagi berbentuk runcing seperti mata jarum. Agaknya tusuk kondenya itu juga bisa digunakan sebagai senjata sewaktu-waktu.

Punggungnya menyandang tempat panah berjumlah enam batang. Sementara di tangan kirinya ia menggenggam busur dari kayu lentur berlapis gading sebagai penghiasnya.

"Kalau aku membunuh si Sangkar Mesum bukan karena aku menyelamatkan nyawamu, tapi karena dia mengkhianatiku. Dia bergabung dengan Barakoak, si Raja Iblis itu, padahal Barakoak adalah musuhku. Jadi aku terpaksa membunuhnya bukan demi menyelamatkan nyawamu!"

"Barakoak masih hidup?" gumam Suto Sinting dalam hati. "Berarti dia tidak ikut mati bersama reruntuhan batu candinya itu?!"

Perempuan itu mencabut anak panahnya yang membara seperti baja dari tubuh Ratu Sangkar Mesum yang sudah tak bernyawa lagi itu. Sluuub...! Ketika anak panah sudah tercabut, warnanya berubah menjadi kuning gading, tak berasap dan tak memancarkan warna merah bara lagi. Anak panah itu segera dimasukkan pada tempatnya yang ada di punggung. Mata perempuan itu mengawasi Suto Sinting, sementara Suto Sinting juga pandangi perempuan itu dengan sikap tenang, ia mencoba menerka-nerka siapa perempuan itu sebenarnya sehingga merasa dikhianati oleh Ratu Sangkar Mesum, namun sampai beberapa saat ia tak menemukan jawaban yang pasti, sehingga sebuah pertanyaan pun diajukan kepada perempuan itu. "Boleh kutahu namamu?!"

Perempuan itu mendekat dengan langkahnya yang tegap, pandangan matanya masih berkesan dingin, seakan meremehkan penampilan Suto Sinting. Dalam jarak tiga langkah ia berhenti, dagunya sedikit terangkat hingga sikap sombongnya semakin terlihat jelas.

"Kau tak perlu tahu siapa diriku. Yang perlu kau ketahui, aku muak mendengar kabar tentang dirimu yang digembar-gemborkan sebagai pendekar sakti dan dipuji- puji oleh mereka. Suatu saat aku akan menantangmu bertarung sampai mati!"

Setelah bicara begitu ia berbalik ingin tinggalkan tempat, tetapi Suto Sinting cepat serukan kata sebagai pencegah langkahnya.

"Tunggu...!"

Perempuan itu hentikan gerakan dan berpaling ke belakang melirik Pendekar Mabuk. Pemuda tampan itu mencoba sunggingkan senyumannya yang menawan. Rupanya ada perubahan tipis di hati perempuan itu yang merasakan desiran halus menatap senyuman Pendekar Mabuk. Namun desiran indah yang samar-samar itu tidak membuat bibirnya membalas senyum Suto Sinting. Hanya saja ia tak jadi melangkah pergi dan kini berhadapan dengan Suto kembali.

"Kau bilang Ratu Sangkar Mesum bersekutu dengan Barakoak. Apakah itu betul? Kusangka Barakoak alias si Raja Iblis itu mati bersama reruntuhan candinya."

"Nyatanya ia dibantu oleh Ratu Sangkar Mesum untuk merebut wilayah kekuasaan Dewi Cumbutari! Ia menjanjikan sesuatu kepada Sangkar Mesum, sehingga Sangkar Mesum bersekutu dengannya menyerang negeri Wilwatikta."

Pendekar Mabuk terperanjat dalam hatinya. Negeri Wilwatikta adalah tempatnya tersesat kala melakukan perjalanan bersama Kabut Merana. Dan perempuan yang bernama Dewi Cumbutari itu adalah penguasa negeri yang masyarakatnya tidak mengenal busana walau terdiri dari kaum perempuan semua itu. Pendekar Mabuk bersahabat baik dengan Dewi Cumbutari yang pernah membantunya dengan teropong indera keenamnya, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode : "Bayi Pembawa Petaka"). Padahal rencana Suto Sinting untuk menemukan Sendang Ketuban akan singgah ke desa yang menjadi negeri Wilwatikta dan meminta bantuan Dewi Cumbutari untuk menemukan sendang tersebut.

"Mengapa kau diam saja?! Kau terkejut mendengar Barakoak masih hidup?!" ujar perempuan berwajah agak lonjong itu.

"Aku hanya memikirkan siapa dirimu sebenarnya," jawab Suto Sinting sedikit berkesan menggoda.

"Wawasanmu begitu rendahnya hingga tak mengenal adanya bajak laut wanita yang kesohor kesaktiannya ini! Aku tak bisa bicara terlalu lama dengan orang yang berwawasan rendah. Sebaiknya kugunakan waktuku untuk menemui Barakoak dan membuat perhitungan dengannya!"

Weeeesss...! Perempuan itu cepat sentakkan kaki ke tanah dan lakukan lompatan panjang mirip terbang, ia melesat pergi tinggalkan Suto Sinting yang masih terbengong di tempat. Dalam hati sang Pendekar Mabuk sempat membatin heran,

"Bajak laut wanita?! Hmm... kalau tak salah Resi Pakar Pantun pernah menceritakan tentang si bajak laut wanita yang memihak Ratu Sangkar Mesum dalam menyerang negeri Bumiloka, tempat Kertapaksi dan keluarganya bertakhta di sana. Kalau tak salah... Resi Pakar Pantun menyebut nama Dewi Geladak Ayu, si bajak laut wanita. Oh, apakah perempuan itu yang bernama Dewi Geladak Ayu?!"

Kemudian Suto Sinting membayangkan pertemuannya dengan Resi Pakar Pantun pada saat sang Resi melawan orang dalam tandu hitam. Kata-kata Resi Pakar Pantun terngiang kembali di telinga Suto Sinting, sehingga hatinya semakin yakin bahwa perempuan itu adalah Dewi Geladak Ayu yang dikenal dengan senjata pusakanya bernama Panah Lebur Sukma itu, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode : "Gundik Sakti").

"Firasatku mengatakan, Dewi Geladak Ayu pergi ke Wilwatikta untuk menemui si Raja Iblis; Barakoak! Kalau begitu aku harus mengikuti langkahnya agar bisa sampai ke Wilwatikta."

Zlaaap...! Jurus 'Gerak Siluman' dipergunakan oleh Pendekar Mabuk. Ternyata kecepatan jurus itu mampu melebihi kecepatan gerak Dewi Geladak Ayu. Dalam waktu singkat perempuan itu telah tersusul oleh Suto Sinting. Bahkan Suto berhasil mendahului di depan langkah Dewi Geladak Ayu. Tetapi ia tak mau tampakkan diri dan tetap mengawasi dari tempat yang tersembunyi. Ke mana pun langkah Dewi Geladak Ayu dibayang-bayangi terus oleh Suto Sinting.

"Oh, dia berhenti...?! Sepertinya ada yang menghadang langkahnya?!" pikir Suto Sinting dari kejauhan, ia bersembunyi di balik batu yang ada di lereng sebuah bukit. Dari tempatnya dapat terlihat jelas kehadiran seseorang yang menghadang langkah Dewi Geladak Ayu. Bahkan dengan menggunakan ilmu 'Sadap Suara', Suto Sinting mampu mendengar dengan jelas percakapan yang dilakukan Dewi Geladak Ayu dengan penghadangnya.

"Kenanga Pilu...?!" gumam Suto Sinting lirih sekali walau hatinya sempat terkejut begitu pandangannya diperjelas.

Kenanga Pilu adalah murid tokoh tua yang beraliran putih dan dikenal dengan nama Eyang Darah Guntur dari Perguruan Tapak Dewa. Gadis cantik berjubah Jingga itu bertemu dengan Suto Sinting dalam keadaan terkena kutukan seorang tokoh sakti beraliran hitam, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode : "Kutukan Pelacur Tua"). Sejak kematian si Pelacur Tua, kutukan itu telah lenyap dari diri Kenanga Pilu, tentunya tindakan Kenanga Pilu menghadang langkah Dewi Geladak Ayu tidak sebrutal dulu. Tetapi mengapa sekarang Kenanga Pilu menghadang langkah Dewi Geladak Ayu dengan sikap bermusuhan? Hal itu sangat menarik perhatian Pendekar Mabuk, sehingga perhatiannya tercurah sepenuhnya ke arah Kenanga Pilu dan Dewi Geladak Ayu.

Dengan pedang di pinggang, Kenanga Pilu berdiri sigap dengan kaki sedikit merentang, jaraknya hanya empat langkah dari Dewi Geladak Ayu. Mereka saling beradu pandang dengan sinis, agaknya keduanya sudah saling kenal, sehingga tak ada rona heran di kedua wajah mereka.

"Apa maksudmu menghadang langkahku, Kenanga Pilu?!"

"Menuntut kematian Paman Guru Juru Taman!" jawab Kenanga Pilu tegas dan membuat Suto Sinting terperanjat kaget.

"Ooh, Resi Juru Taman ternyata sudah tewas di tangan Dewi Geladak Ayu?! Hmmm... baru sekarang kudengar kabar itu. Sejak kapan beliau tewas?!" Suto Sinting membatin penuh keheranan, ia juga mengenal Resi Juru Taman sebagai adik dari Eyang Darah Guntur yang dulu ikut menyelamatkan Kenanga Pilu dari serangan orang-orang yang ingin menuntut balas atas tindakan liar gadis itu.

Renungan Suto atas nasib sial Resi Juru Taman itu terputus, perhatiannya dikembalikan kepada ketegangan di depan sana, karena Dewi Geladak Ayu perdengarkan suara ketusnya.

"Apakah kau tak berpikir menggunakan otakmu, hah?! Kalau orang yang kau sebut-sebut sebagai paman guru saja mati di tanganku, mengapa kau mau coba-coba melawanku?! Bukankah perlawananmu sama saja dengan menyerahkan nyawa secara sia-sia?! Karenanya, kusarankan padamu agar tidak coba-coba menuntut balas padaku, Kenanga Pilu!"

"Persetan dengan saranmu!" hardik Kenanga Pilu, kemudian segera mencabut pedangnya.

Sraaaaang...!

Dewi Geladak Ayu masih diam, hanya sunggingkan senyum sinisnya. Tak merasa gentar sedikit pun terhadap gertakan Kenanga Pilu. Nyalinya tetap besar walau Kenanga Pilu sudah menggenggam pedangnya.

"Dengar kataku, Gadis Bodoh...," ujarnya makin meremehkan Kenanga Pilu. "Kematian Juru Taman bukan karena kesalahanku. Dia sendiri yang bikin ulah berlagak menjadi pelindung bagi pihak negerinya Kertapaksi. Dia sama saja dengan si Pakar Pantun; sama-sama ingin menjadi jagoan dan dapat pujian, akibatnya nyawa si Juru Taman melayang tanpa penghargaan. Kerajaan Bumiloka sudah berhasil kuhancurkan. Sayangnya, Kertapaksi dan gurunya; si Pakar Pantun, melarikan diri tak terkejar olehku. Ternyata Sangkar Mesum pun tak becus mengejar Pakar Pantun, bahkan sekarang dia berkhianat padaku, bersekutu dengan Barakoak!"

"Itu urusanmu, aku tak mau dengar!"

"Kau perlu mendengarkannya, Anak Manis!" ledek Dewi Geladak Ayu. "Kau perlu menyimak keteranganku agar pihakmu tahu bahwa kematian Juru Taman adalah akibat kesalahannya sendiri. Dan kau perlu tahu, Ratu Sangkar Mesum yang selama ini menjadi sahabat baikku
 saja bisa kubunuh jika mengecewakan diriku, apalagi kau yang baru kemarin sore dan bukan apa-apaku! Ilmu yang kau miliki masih jauh di bawah si Sangkar Mesum, tak ada gunanya kau menuntut balas atas kematian paman gurumu itu."

Pendekar Mabuk sempat berpikir, "Kalau begitu negeri Bumiloka telah hancur, dan Kertapaksi masih hidup tapi melarikan diri. Hmmm.... Lantas siapa yang menguasai negeri Bumiloka itu?! Bukankah sebenarnya negeri itu ingin dikuasai oleh Ratu Sangkar Mesum? Tapi perempuan itu kini telah tewas. Apakah dengan begitu Dewi Geladak Ayu ingin menguasai negeri Bumiloka?!"

"Aku punya usul padamu, Gadis Tolol...," ujar Dewi Geiadak Ayu. "Kalau kau ingin bikin perhitungan denganku, datanglah ke Bumiloka dan hadapi anak buahku dulu. Kalau kau unggul melawan mereka satu- persatu, kau boleh melawanku. Jadi aku tak buang- buang waktu dengan melawan gadis kerempeng sepertimu itu, Kenanga Pilu."

"Dalam sekali gebrak anak buahmu akan binasa di tanganku. Justru aku mencarimu untuk bikin perhitungan secara langsung. Kalau kau tak berani berhadapan denganku, berlututlah dan memohon ampunlah padaku, maka aku akan berbijak hati padamu, Geladak Ayu!"

"Keparat...!" geram Dewi Geladak Ayu. "Belum pernah ada orang berani menghinaku seperti itu! Rupanya kau memang ingin cepat menyusul si Juru Taman ke neraka! Dasar perawan dungu! Hiaaah...!" Dewi Geladak Ayu marah mendapat hinaan seperti itu. Ia segera kepretkan tangannya ke depan, dan memerciklah bunga-bunga api warna merah kekuningan bagai air yang memercik ke tubuh Kenanga Pilu. Crraaaap...! Kenanga Pilu melompat mundur satu langkah dengan mengibaskan pedangnya dalam gerakan amat cepat hingga menimbulkan desau angin bergemuruh. Tentu saja tebasan cepat yang berkali-kali itu mempunyai gelombang tenaga dalam hingga dapat semburkan angin kencang yang memadamkan percikan bunga api dalam sekejap. Wuuusss...! Zuuurrb...!

Asap mengepul saat bunga api itu padam serentak. Kenanga Pilu merendahkan kedua kakinya dengan pedang terhenti di atas kepala, tangan kirinya maju ke depan bagai melindungi dadanya dari serangan sewaktu- waktu. Dewi Geladak Ayu semakin berang melihat serangannya dapat dipatahkan lawan, ia segera melompat dalam kecepatan tinggi, menerjang Kenanga Pilu yang sempat terperanjat karena datangnya serangan yang luar biasa cepatnya itu.

Wuuut...! Brrusss...! Crraaak...!

"Aaahg...!" Kenanga Pilu memekik tertahan. Rupanya ia terkena ujung busur panah yang dikibaskan oleh Dewi Geladak Ayu pada saat lakukan terjangan.

Murid Eyang Darah Guntur itu terpental delapan langkah jauhnya. Dadanya berdarah karena luka memanjang sampai ke atas pundak.

Namun agaknya Kenanga Pilu masih mampu bertahan. Semangat membalas kematian paman gurunya masih menyala-nyala dan dapat terlihat dari bola matanya yang berbinar-binar penuh nafsu untuk membunuh itu. Ia masih mampu pergunakan jurus pedangnya, sehingga pedang itu segera dimainkan dengan gerakan cepat.

"Hmmm... dia gunakan jurus 'Tebas Gunung' yang mampu lukai lawan dari jarak sepuluh langkah tanpa menyentuh tubuh lawannya," gumam Suto Sinting dalam hati, sebab ia dulu pernah hampir mati menghadapi jurus 'Tebas Gunung'-nya si cantik Kenanga Pilu itu.

Wung, wung, wung, wung...! Suara tebasan pedang menimbulkan getaran pada pohon-pohon di sekelilingnya. Gelombang tenaga dalam yang meluncur dari tebasan pedang itu mempunyai ketajaman yang sama dengan mata pedang itu sendiri, sehingga angin yang membawa gelombang tajam itu akan memotong tubuh lawannya menjadi beberapa bagian.

Tetapi agaknya Dewi Geladak Ayu memang bukan lawan setanding dengan Kenanga Pilu. Jurus pedang 'Tebas Gunung' dapat dipatahkan dengan busur panah yang dikibaskan ke kanan-kiri dengan gerakan cepat. Kibasan busur itu juga hasilkan gelombang tenaga dalam yang saling bertemu dengan kekuatan tenaga dalam dari jurus pedangnya Kenanga Pilu.

Di pertengahan jarak antara kedua wanita itu, terjadi letusan-letusan kecil semacam petasan rentet dinyalakan.

Tar, tar, tar, trraaattt... tarrr....

Blegaaaarr !

Ledakan besar mengakhiri bunyi rentetan letusan tersebut. Ledakan besar itu timbul setelah tangan kiri Dewi Geladak Ayu menyentak ke depan dan dari telapak tangannya keluar sinar biru sebesar kepalan tinjunya. Sinar biru menghantam cahaya merah yang timbul dari letusan-letusan kecil tadi, hingga terjadilah gelegar ledakan yang menggetarkan tanah di sekitar mereka.

Ledakan itu mengepulkan asap tebal warna putih. Pandangan mata Kenanga Pilu tak mampu menembus ketebalan asap putih tersebut, ia sedang mempersiapkan jurus barunya, tapi tiba-tiba ia seperti ditampar angin badai di sekujur tubuhnya. Wuuut...! Brrruuuss...!

"Aaaahg...!" Kenanga Pilu memekik lagi. Kejap berikut Pendekar Mabuk melihat Kenanga Pilu roboh bersimbah darah. Luka tebasan ujung busur menjadi bertambah. Kini bagian perut dan leher Kenanga Pilu terluka dalam dan mengerikan. Luka itu cepat menjadi hitam bersama darahnya pertanda luka tersebut mengandung racun berbahaya.

"Untuk melegakan jiwamu, kukirim nyawamu ke neraka sekarang juga, Perawan Bodoh! Hiaaaah...!"

Dewi Geladak Ayu ingin habisi nyawa Kenanga Pilu dengan jurus pukulan jarak jauh yang diduga akan menghancurkan raga Kenanga Pilu. Tetapi Suto Sinting cepat bertindak, ia berkelebat ke arah pertarungan dengan menggunakan jurus 'Gerak Siluman'-nya. Zlaaap...! Gerakan melesat itu juga dibarengi terlepasnya sentilan maut yang dinamakan jurus 'Jari Guntur' bertenaga dalam melebihi tendangan seekor kuda jantan. Teess...! Wuuut...! Beehg...! "Aoh...!" tubuh Dewi Geladak Ayu terpental terbang akibat hantaman gelombang berkekuatan tinggi itu. Ia tak jadi melepaskan pukulan penghancur raga. Sementara itu, Kenanga Pilu segera disambar oleh Suto Sinting dan dibawanya lari dengan gerakan yang sukar dilihat secara utuh, hanya menyerupai kilatan cahaya coklat-putih, sesuai warna baju dan celana Pendekar Mabuk

Dalam sekejap saja Kenanga Pilu sudah berada di balik bukit cadas jauh dari Dewi Geladak Ayu. Tentu saja hal itu membuat si bajak laut wanita kebingungan mengetahui lawannya telah lenyap bagai ditelan bumi.

"Keparat! Ke mana si perawan bodoh itu?!" geramnya sambil bangkit berdiri dan memandangi alam sekitarnya. "Hem... dadaku seperti dihantam dengan batu sebesar gunung! Kurang ajar! Siapa orang yang berhasil menghantamku sepanas ini?! Kalau tak segera kulawan dengan hawa murniku, bisa jebol dadaku dan kehilangan napas selamanya!" Dewi Geladak Ayu pun segera menarik napas dengan memicingkan mata, memusatkan pikiran dan kekuatannya pada hawa murninya.

Sedangkan di balik bukit, Suto Sinting sibuk menuang tuak ke mulut Kenanga Pilu. Namun agaknya ia terlambat. Racun dalam luka Kenanga Pilu sangat ganas dan akibat banyaknya luka juga maka Kenanga Pilu pun akhirnya menghembuskan napas terakhir sebelum menelan tuak saktinya Pendekar Mabuk.

"Oooh... terlambat!" keluh Suto Sinting dengan sedih. "Racun itu bekerja lebih cepat dari usahaku menuangkan tuak ke mulutnya. Sial!"

Pendekar Mabuk hanya bisa memandangi Kenanga Pilu yang sudah tak bernyawa dengan hati sedih bercampur kecewa. Angin yang berhembus bagaikan mengantar kematian Kenanga Pilu saat berada di samping sang Pendekar Mabuk.

"Aku tak boleh kehilangan jejak Dewi Geladak Ayu agar tak tersesat mencapai desa Wilwatikta. Sebaiknya mayat Kenanga Pilu kuletakkan di tempat yang tersembunyi dulu, nanti pulang dari mengambil air Sendang Ketuban akan kuambil dan kuserahkan kepada gurunya."

Zlaaaap...! Pendekar Mabuk bergegas menyusul Dewi Geladak Ayu setelah meletakkan mayat Kenanga Pilu di relung batu cadas yang menyerupai gua kecil itu. Dewi Geladak Ayu meneruskan perjalanannya menemui Barakoak di desa Wilwatikta, namun ia tak sadar bahwa ada seseorang yang membayang-bayangi perjalanannya itu selain si Pendekar Mabuk.

*

* *

6

KETIKA perjalanan sudah mulai mendekati kaki Gunung Purwa, bayangan yang mengikuti Dewi Geladak Ayu itu mulai tampakkan diri dengan cara merobohkan pohon di depan langkah Dewi Geladak Ayu. Pohon itu dihantamnya dengan kekuatan tenaga dalam hingga tumbang dan hampir saja menjatuhi Dewi Geladak Ayu. Duaaar...!

Kreeaaakkk...! Brruuuhk...!

Hampir saja Dewi Geladak Ayu tertimpa pohon besar itu jika tidak segera bersalto ke belakang beberapa kali dengan lincah dan cepat sekali. Perempuan itu selamat dari ancaman maut pohon besar yang seluruh batangnya berduri semacam pohon kapuk randu. Ia hinggap  di salah satu bongkahan batu setinggi dada manusia dewasa. Dari sana ia memandang ke arah sekeliling dengan cepat dan melepaskan pukulan jarak jauh bersinar merah lurus tanpa putus.

Slaaaap...! Blegaaar...!

Dua pohon tumbang lagi karena hantaman sinar merah lurus itu. Dari semak-semak di bawah pohon itu melesatlah sesosok bayangan ungu yang bersalto di udara dan hinggap di atas sebongkah batu setinggi perut manusia dewasa. Jleeg...!

Pendekar Mabuk memperhatikan dari tempat persembunyiannya, dan ia terkejut melihat sesosok bayangan ungu yang menjelma di atas batu itu. Bayangan ungu itu ternyata seorang pemuda tampan dengan potongan baju lengan seperti Suto Sinting, tapi warna bajunya ungu tua, demikian pula warna celananya. Pemuda itu mempunyai rambut lurus panjang sepundak seperti Suto Sinting, tapi mengenakan ikat kepala dari kain merah beludru berhias benang emas. Pemuda gagah itu menyandang pedang di punggungnya, dan dilihat dari kemewahan pedangnya jelas ia bukan pemuda sembarangan. Pendekar Mabuk yang terperanjat segera menyebut sepotong nama yang dikenalnya dengan suara lirih, menyerupai orang menggumam kagum.

"Inupaksi...?!"

Pemuda berusia dua puluh tiga tahun itu memang Inupaksi. Ia adalah anak Prabu Digdayuda penguasa kerajaan Bumiloka. Wajah tampannya mirip dengan Kertapaksi, sebab ia memang adik dari Kertapaksi. Tapi mereka berbeda guru. Kertapaksi adalah murid Resi Pakar Pantun, tapi Inupaksi bukan. Pendekar Mabuk ingat pertemuannya dengan Inupaksi beberapa waktu yang lalu ketika dalam perjalanan menyusuri lereng Gunung Purwa juga, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode: "Bayi Pembawa Petaka").

"Tak salah lagi, Inupaksi pasti akan menuntut balas atas kehancuran negerinya kepada Dewi Geladak Ayu," pikir Suto Sinting. "Namun apakah Inupaksi mampu menumbangkan kesaktian Dewi Geladak Ayu?!"

Dewi Geladak Ayu memandang dengan mata sedikit terpicing. Rupanya ia merasa heran melihat penampilan anak muda yang mirip Kertapaksi itu. Ia pun menyapa dengan nada dingin.

"Wajah dan penampilanmu serupa betul dengan Kertapaksi yang lari tunggang langgang melawanku itu. Apakah kau punya hubungan saudara dengan Kertapaksi?!'

"Aku adalah adiknya. Akulah yang bernama Inupaksi!" jawab Inupaksi dengan nada tak ramah. "O, pantas kau lebih ganas dari Kertapaksi," ujar Dewi Geladak Ayu dengan senyum sinis yang tipis. "Rupanya kau ingin menyusul kematian ayahmu; Prabu Digdayuda itu! Aku tak segan-segan menghancurkan sisa keturunan si Digdayuda!"

"Kau memang perempuan busuk yang pantas dilenyapkan dari muka bumi!" geram Inupaksi menampakkan kemarahannya.

Lalu, dengan secara tiba-tiba tangan Inupaksi menyentak ke depan dan dari tangan itu keluar kepingan-kepingan logam putih mengkilat dalam bentuk kelopak bunga. Jumlah kepingan logam yang keluar dari telapak tangan itu sekitar sepuluh keping, melesat bersama tertuju ke arah dada Dewi Geladak Ayu. Zzriilng...l

Dewi Geladak Ayu tidak menghindar, tapi menadahkan tangannya ke depan. Logam-logam mengkilap yang merupakan senjata rahasia beracun ganas itu dihadang oleh telapak tangan kanan Dewi Geladak Ayu. Zzzuuurrb...! Kemudian tangan itu menggenggam, ternyata kepingan logam itu telah mengumpul menjadi satu dalam genggaman. Dewi Geladak Ayu tunjukkan kesaktiannya yang mampu menangkap seluruh benda beracun itu tanpa mengalami luka sedikit pun pada telapak tangannya. Justru sekarang kepingan-kepingan logam itu dilemparkan kembali ke arah Inupaksi. Zrrriing...! Wuuut, wuuut...!

Inupaksi melompat melebihi ketinggian layang kepingan-kepingan logam tersebut. Akibatnya kepingan- kepingan logam itu menancap pada pohon yang ada di belakang Inupaksi. Juuurrb...!

Namun lompatan maju Inupaksi itu mendekati Dewi Geladak Ayu, sehingga ketika tubuhnya melayang turun, Inupaksi melepaskan pukulan bersinar biru seperti piringan dalam jarak cukup dekat. Claaap...! Dewi Geladak Ayu masih berdiri di atas batu dan merendahkan kedua kakinya dengan tangan kanan disentakkan ke depan. Claaap...! Sinar merah seperti bola melesat dari telapak tangan itu dan bertabrakan dengan sinar birunya Inupaksi.

Blegaaarrr...!

Ledakan dahsyat terjadi mengguncangkan alam sekeliling, termasuk tumbangnya beberapa pohon akibat gelombang sentakan amat kuat dari ledakan tersebut. Inupaksi sendiri terlempar ke atas dengan tanpa keseimbangan badan, melayang-layang tinggi dengan gerakan panik. Sedangkan Dewi Geladak Ayu terlempar jatuh dari atas batu. Namun ia segera bangkit dan berlutut satu kaki, kemudian ia sentakkan jari tangannya yang merentang tegak kaku itu. Dari ujung jari tengah keluar selarik sinar seperti lidi panjang warna merah. Zuuuub...!

"Aaahg...!" terdengar suara pekikan Inupaksi saat tubuh itu melayang turun dan disambut dengan sinar merah sebesar lidi. Sinar itu kenai pinggang Inupaksi yang membuat baju Inupaksi terbakar dan hangus pada bagian pinggangnya. Inupaksi akhirnya jatuh berdebam di tanah dengan suara mengerang kesakitan. Matanya terbeliak-beliak, tubuhnya menggelinjang kaku. Salah satu tangannya mencoba mendekap luka bakar di bagian pinggangnya itu.

"Gawat! Inupaksi terluka parah, jiwanya dapat melayang dalam waktu beberapa saat lagi. Aku harus segera bertindak!" pikir Suto Sinting yang bergegas ingin menyambar Inupaksi.

Tetapi tiba-tiba sekelebat bayangan putih melintas di depannya, menuju ke arah pertarungan. Bayangan putih itu bergerak dengan kecepatan tinggi dan menyambar tubuh Inupaksi. Wuuuut...!

Bertepatan dengan tersambarnya tubuh Inupaksi, Dewi Geladak Ayu melepaskan pukulan sinar merah sebesar kepalan tangannya. Wuuusss...! Sinar merah itu akhirnya menghantam tempat kosong karena Inupaksi sudah lebih dulu disambar seseorang. Blegaaarr...!

Kalau saja Inupaksi masih ada di situ, ia pasti akan hancur berkeping-keping karena hantaman sinar merah besar tersebut. Karena Inupaksi sudah tidak ada di tempat, maka sinar merah itu menghantam tanah dan menyemburlah tanah tempat jatuhnya Inupaksi tadi. Percikan tanah menyebar ke angkasa membuat alam sekitarnya bagaikan mengalami hujan debu. Tempat jatuhnya Inupaksi menjadi berongga besar sekali seperti kubangan kerbau dengan kedalaman sekitar satu lutut lebih dan berasap tipis.

Dewi Geladak Ayu clingak-clinguk mencari kepergian lawannya. Akhirnya ia temukan lawannya di sebelah timur, dalam keadaan dipanggul oleh seorang lelaki tua berbadan gemuk. Pandangan Suto Sinting pun terarah ke timur, menatap orang gemuk berjubah putih, rambut pendek, dan kumis serta jenggotnya juga putih rata.

"Jubah Kapur...?!" gumam hati si Pendekar Mabuk yang mengenal tokoh tua itu.

Jubah Kapur adalah ketua gelandangan yang termasuk tokoh aliran putih, guru dari Inupaksi. Pendekar Mabuk bertemu dengan tokoh sakti yang mengenal gurunya itu ketika terlibat peristiwa kematian seorang bayi yang digantung oleh ayahnya sendiri, (Baca serial Pendekar Mabuk dalam episode : "Bayi Pembawa Petaka").

Rupanya si Jubah Kapur selalu membayang-bayangi kepergian muridnya, dan siap selamatkan sang murid jika dalam keadaan berbahaya. Kali ini Jubah Kapur sengaja hentikan langkah di atas gundukan tanah sambil memandang ke arah Dewi Geladak Ayu. Tampaknya perempuan itu pun sudah mengenal si Jubah Kapur, sehingga ia segera serukan kata kepada tokoh serba putih itu.

"Lepaskan pemuda itu biar puas hatinya jika sudah kukirim ke neraka seperti kedua orangtuanya! Kalau kau ingin ikut campur urusanku, datanglah kemari dan hadapi aku, Jubah Kapur!"

"Belum saatnya aku menghadapimu, Perempuan Bajak! Tapi ada saatnya sendiri di mana kita akan bertemu dan saling mengadu nyawa! Tunggulah saatnya, pasti akan tiba!" Wuuut...! Jubah Kapur berkelebat pergi tinggalkan Dewi Geladak Ayu yang masih merasa dongkol dengan tingkahnya Inupaksi. Kepergian si Jubah Kapur ternyata meninggalkan suara yang menggema bagai memenuhi hutan sekitar situ.

"Jika aku sudah mengobati muridku, aku akan mencarimu untuk bikin perhitungan, Geladak Ayu, yu, yu, yu...!"

Pendekar Mabuk membatin, "Gelombang suara itu pasti mempunyai kekuatan tenaga dalam hingga bisa menggema sebegitu jelasnya. Hmmm... agaknya Dewi Geladak Ayu tidak mau memburu Jubah Kapur, ia lebih mengutamakan mencari Barakoak untuk mengadu kesaktian. Rupanya si Raja Iblis itu benar-benar musuh utama yang harus dilenyapkan oleh Dewi Geladak Ayu! Tapi... hei, siapa itu yang berkelebat di sebelah barat?!"

Pendekar Mabuk memandang curiga ke arah barat. Di sana tampak sekelebat bayangan berlari menelusup di balik pepohonan. Sementara itu Dewi Geladak Ayu yang tak tahu diikuti oleh Pendekar Mabuk segera tinggalkan tempat dan teruskan perjalanan. Suto Sinting tak tahu kalau Dewi Geladak Ayu telah pergi, karena pusat perhatiannya lebih tertarik ke arah barat.

"Ooh... rupanya orang itu terluka?!" pikirnya saat melihat orang yang berlari itu hentikan langkah dengan terhuyung-huyung dan bersandar pada sebatang pohon. Pendekar Mabuk memicingkan matanya, agar pandangan matanya semakin jelas. Lalu, hatinya pun membatin, "Sepertinya aku mengenal orang itu?!"

Zlaaap...! Suto Sinting bergegas pergi ke arah barat. Dalam sekejap saja ia sudah berada tak jauh dari seorang perempuan yang miskin busana. Perempuan berkalung tali hitam dengan bandul kulit kerang kuning mengkilap itu tidak mengenakan pakaian semestinya, ia hanya menutup bagian-bagian penting pada tubuhnya dengan secarik kulit binatang warna hitam. Dadanya ditutup pada bagian ujung saja dengan kulit binatang, bagian bawahnya pun ditutup seperlunya saja dengan kulit binatang berbulu hitam yang menggunakan tali melilit di pinggang. Sisa tubuhnya yang mulus berwarna kuning langsat itu tidak mengenakan selembar benang pun. Pendekar Mabuk tak merasa heran melihat keadaan tersebut, karena ia tahu cara berbusana seperti itu merupakan ciri khas orang-orang desa Wilwatikta.

"Ciwuiani...?!" gumam hati Suto Sinting yang mengenal perempuan tersebut sebagai orang kepercayaan dari Ratu Dewi Cumbutari, penguasa negeri Wilwatikta.

Ciwuiani tampak terluka pada bagian atas dada kiri dekat pundak. Luka itu menghangus hitam dan masih kepulkan asap. Agaknya ia sedang melarikan dari dari sebuah pertarungan. Di punggungnya pun tampak luka koyak bagaikan habis disabet dengan senjata tajam. Wajah perempuan berusia dua puluh tujuh tahun itu tampak pucat sekali, mencemaskan hati Pendekar Mabuk. Maka ia pun segera menghampiri Ciwuiani yang masih berdiri berpegangan batang pohon. "Ciwuiani...?! Apa yang terjadi?!"

Ciwuiani memandang dengan mata sayu, makin lama matanya semakin redup dan tubuhnya kian terkulai lemas. Pendekar Mabuk segera menangkap tubuh tanpa busana itu sebelum jatuh ke tanah.

"Lukanya cukup parah!" gumam Pendekar Mabuk, sambil bergegas meminumkan tuak ke mulut Ciwuiani.

"Minumlah tuakku ini untuk obat lukamu! Minumlah sedikit demi sedikit, Ciwuiani!" bujuk Suto Sinting dengan hati berdebar-debar, takut terlambat seperti saat ia ingin mengobati Kenanga Pilu tadi.

Bertemu dengan Pendekar Mabuk yang juga sering dijuluki sebagai Tabib Darah Tuak adalah suatu keberuntungan besar bagi orang yang terkena luka seperti Ciwuiani. Andai saja Ciwuiani tidak mau meneguk tuak saktinya Pendekar Mabuk, mungkin sebelum senja nyawanya sudah melayang. Tapi karena Ciwuiani mau meminum tuak saktinya Suto, maka sedikit demi sedikit luka koyak di punggungnya mengatup dan menjadi rapat seperti sediakala. Bahkan darah yang berceceran bagai terserap habis oleh pori- pori kulitnya. Luka hangus di dada kirinya pun perlahan- lahan berubah warna dan menjadi seindah warna aslinya. Ciwuiani akhirnya tertolong dan tubuhnya menjadi segar, lebih segar dari sebelum melakukan pertarungan dengan seseorang.

"Oh, untung aku bertemu denganmu, Pendekar Mabuk. Seandainya tidak, tak tahulah sudah di mana rohku saat ini," ujarnya sambil memulihkan pernapasannya.

"Siapa yang menyerangmu sedemikian parahnya, Ciwuiani?!"

"Suto, negeri kami diserang raksasa."

"Raksasa...?!" dahi Pendekar Mabuk berkerut karena merasa janggal mendengar ucapan tersebut.

"Rakyat kami banyak yang mati dihancurkan oleh si raksasa itu. Bahkan sekarang Ratu Dewi Cumbutari sedang bertarung menghadapi raksasa itu. Beliau serukan perintah agar kami berlari menyebar arah, masing-masing disuruh menyelamatkan diri dari amukan raksasa keparat itu."

"Raksasa...?!" Pendekar Mabuk masih menggumam dalam renungan keheranannya. "Raksasa dari mana maksudmu?"

"Entahlah. Kami tak tahu dari mana raksasa itu berasal. Yang jelas ia ingin menguasai wilayah kami. Ia mengaku bernama Raja Iblis "

"Barakoak!" sahut Suto Sinting dengan suara menyentak.

"Ya, dia juga menyebutkan nama aslinya: Barakoak," ujar Ciwuiani. "Dia sangat liar dan buas. Aku melihat sendiri anak buahku dimakan lengannya setelah lehernya dipatahkan, ia mengunyah daging manusia seperti mengunyah lalap daun mede."

"Celaka!" geram Suto Sinting dengan pandangan menerawang.

"Sebenarnya aku ingin membantu Gusti Ratu Cumbutari, tapi Gusti Ratu marah dan menyuruhku melarikan diri."

"Kita bantu sang Ratu sekarang juga!" sambil Suto Sinting menarik tangan Ciwuiani, tetapi perempuan itu menahan diri dengan wajah diliputi kecemasan.

"Raksasa itu berbahaya, Suto! Dia bisa menelan bulat-bulat jika murkanya kian meninggi."

"Apa pun bahayanya akan kuhadapi dia!"

Ciwuiani masih diam pandangi Suto Sinting dalam keraguan. Tangannya masih memegang pedang tanpa darah. Agaknya ia tak mampu lukai lawannya sedikit pun, hingga pedangnya masih tampak bersih. Itu berarti Barakoak memang orang yang tak bisa disepelekan begitu saja. Apalagi Suto Sinting ingat kata-kata Kejora, bahwa Barakoak mempunyai ilmu 'Urat Bumi' yang menjadi andalannya.

Ciwuiani berkata dengan lirih, "Raksasa itu tak bisa dilukai dengan senjata apa pun. Ia bagaikan manusia tanpa darah."

Kata-kata Ciwuiani itu memang sama dengan keterangan Kejora beberapa waktu yang lalu. Tapi apakah itu berarti Suto Sinting harus membatalkan niatnya dalam menolong Ratu Dewi Cumbutari?

*

* *

7

MEMANG pantas jika Ciwuiani menganggap si Raja Iblis; Barakoak, sebagai raksasa yang buas, karena Barakoak seorang berwajah sangar yang bertubuh tinggi besar. Ketinggian tubuhnya melebihi tinggi badan Suto Sinting. Jika berdampingan, Suto Sinting hanya sebatas pundaknya saja. Badannya kekar dan keras bagaikan batu, berkulit gelap tapi bukan hitam keling.

Barakoak berkepala gundul, namun ia mempunyai brewok yang tumbuh dengan liar tak teratur. Matanya besar, bibirnya tebal. Jika menyeringai tampak giginya yang besar-besar pula. Wajahnya itu layak dikatakan sebagai wajah paling angker di antara para wajah perampok.

Ia mengenakan jubah tanpa lengan warna merah dengan tepian dilapis kain satin hitam mengkilap. Celananya berwarna hitam satin dengan sabuk putih berhias logam-logam emas. Di balik kain jubahnya yang merah itu ia tidak mengenakan baju lagi, sehingga dadanya yang mirip seonggok batu gunung itu tampak berbulu tak teratur.

Kedua tangannya yang berlengan besar seperti batang pohon kelapa itu mempunyai jari-jari cukup besar. Orang mengatakan jari-jarinya sebesar pisang raja. Itu hanya kata kiasan belaka, yang jelas jari-jari besar itu berkulit tebal dan mempunyai kuku runcing walau tak seberapa panjang. Kakinya mengenakan gelang binggel dari logam emas, jika berjalan bagaikan mengguncang bumi. Ia mengenakan kalung rantai emas berbandul tengkorak bayi. Kedua lengannya kanan kiri bertato gambar naga terbang dari batas ujung lengan sampai ke pergelangan tangan. Memang menyeramkan penampilan sosok Barakoak, sehingga layak berjuluk si Raja Iblis. Suaranya yang menggelegar bagaikan menghentakkan jantung lawannya. Mata besarnya yang bertepian merah sering membuat darah lawan bagai tak mengalir lagi jika memandang tanpa kedip.

Sekalipun demikian, seorang perempuan cantik berambut panjang dengan ikat kepala dari rantai emas berbandul merah saga di tengah keningnya, terpaksa harus beradu nyawa dengan si Raja Iblis itu. Perempuan yang tanpa busana, tapi bagian kehormatannya ditutup dengan kulit harimau loreng itu berjumpalitan ke sana- sini menghindari serangan Barakoak. Perempuan itulah yang dikenal sebagai Ratu Dewi Cumbutari, penguasa negeri Wilwatikta.

Gerakannya yang lincah sering mengecohkan serangan Barakoak yang liar itu. Namun manusia tinggi besar itu tidak mudah dilumpuhkan walau telah berkali- kali terkena tebasan pedang birunya Ratu Dewi Cumbutari.

Sementara itu, pemukiman rakyat negeri Wilwatikta sudah dibuat porak poranda oleh amukan Barakoak. Rumah-rumah mereka yang terbuat dari anyaman jerami berbentuk kerucut sebagian telah terbakar dan masih mengepulkan asap, sebagian lagi rusak tak dapat dihuni lagi. Sedangkan mayat-mayat pun tampak bergelimpangan di sana-sini. Pada umumnya kaum perempuan tanpa busana lengkap itu mati dalam keadaan mengerikan; pecah kepalanya, robek dadanya, buntung lehernya, amburadul isi perutnya dan sebagainya. Pemandangan di desa Wilwatikta itu seperti pemandangan di neraka. Negeri itu menjadi ladang pembantaian bagi si Raja iblis yang ingin menguasai wilayah tersebut.

Dengan sebilah pedang rampasan, Barakoak mengamuk sambil berteriak-teriak memekakkan telinga. Ratu Dewi Cumbutari masih tangguh menghadapi lawannya yang sama sekali tak seimbang itu. Kelincahan Dewi Cumbutari itulah yang membuat Barakoak sulit melukai tubuh sang Ratu cantik.

Trangg... trrang ...!

Mereka beradu pedang dalam sekelebat. Ketika pedang di tangan Barakoak ditebaskan ke depan dari atas ke bawah, Dewi Cumbutari sudah berada di belakangnya. Zaaap...! Kemudian pedang Dewi Cumbutari yang memancarkan warna biru pijar itu menghujam punggung Barakoak sambil lakukan lompatan ke atas. Jrrruubb...!

Pedang itu tembus sampai ke depan perut. Barakoak diam sambil menggeram dan kepalanya berpaling ke belakang.

"Gggrrrmmm...!"

Dewi Cumbutari segera mencabut pedangnya dan bersalto ke belakang menghindari sabetan pedang lawan. Sluuub...! Ketika pedang dicabut, luka bolong itu mengatup bersama gerakan terlepasnya pedang yang menembus punggungnya.

Zuuullp...! Daging dan kulit tubuh Barakoak menjadi rapat kembali, sepertinya tak pernah mengalami luka seujung jarum pun. Peristiwa itu terlihat jelas di depan mata Pendekar Mabuk yang bersembunyi di balik reruntuhan rumah jerami bersama Ciwuiani. Perempuan yang bersamanya itu segera berbisik lirih,

"Itulah kehebatan si Raja iblis. Dari tadi tubuhnya tak bisa kami lukai, karena setiap terluka, luka itu cepat mengatup dan lenyap sebelum darahnya keluar. Akibatnya senjata kami tak ada yang berlumur darah."

"Itu yang dinamakan ilmu 'Urat Bumi', salah satu ilmu yang menjadi andalan si Barakoak," bisik Suto Sinting, ia sengaja tak mau segera maju menyerang Barakoak, karena ia perlu mempelajari kelemahan ilmu 'Urat Bumi' itu.

Barakoak hanya tertawa terbahak-bahak ketika melihat perutnya tak terluka sedikit pun.

"Hah, hah, hah, nah...! Sudah kubilang, kau tak akan bisa mengusirku dari sini, Dewi Cumbutari! Kau tak akan bisa unggul jika masih bersikeras menentangku! Kusarankan sebaiknya kau menyerah dan jangan melawanku, supaya nasibmu tidak seperti anak buahmu yang terkapar di sana-sini itu!"

"Sejengkal pun tanah ini akan kupertaruhkan dengan nyawaku!" ujar Ratu Dewi Cumbutari. "Di sini tinggal kau dan aku, Barakoak! Setinggi apa pun kesaktian ilmumu akan kulayani sampai titik darah penghabisan!"

Pendekar Mabuk sempat berbisik dalam gumam, "Ratumu benar-benar punya keberanian besar. Pembelaannya terhadap tanah negeri ini tak tanggung- tanggung lagi."

"Itulah sebabnya kami diperintahkan lari menghindari amukan si Raja iblis. Semula Barakoak dibantu oleh Ratu Sangkar Mesum, tapi entah di mana ia sekarang. Setelah mengejar dua orang andalan kami, ia menghilang tak muncul-muncul lagi."

"Dua orang andalan itu telah mati. Kurasa si Ratu Sangkar Mesum itulah yang membunuh mereka."

"Ooh... benarkah begitu?! Apakah kau menemukan mayat mereka?!"

Pendekar Mabuk anggukkan kepala. "Kutemukan saat dalam perjalanan kemari. Keduanya tak bernyawa. Ketika aku ingin memeriksanya, tiba-tiba aku diserang Ratu Sangkar Mesum. Namun kini perempuan itu telah mati pula."

"Kaukah yang membunuhnya?!"

Dengan tetap memandang ke arah pertarungan, Pendekar Mabuk gelengkan kepala sebagai jawaban pertanyaan Ciwuiani.

"Ratu Sangkar Mesum mati dibunuh oleh Dewi Geladak Ayu, si bajak laut wanita itu!"

"Aku pernah mendengar nama itu, tapi belum pernah melihat seperti apa rupa si bajak laut wanita itu!"

"Kalau kau ingin melihat rupa si bajak laut wanita, pandanglah pohon yang ada di seberang sana, dekat reruntuhan gapura itu!" Suto Sinting menunjuk ke arah yang dimaksud. Ternyata di sana memang sudah berdiri sosok perempuan cantik memegangi busur panahnya. Agaknya ia sudah berada di balik pohon itu sejak tadi, sebelum kedatangan Suto Sinting.

Rupanya Dewi Geladak Ayu juga sedang mempelajari kelemahan Barakoak, sehingga sejak tadi ia hanya memperhatikan pertarungan si Raja iblis dengan Ratu Dewi Cumbutari. Ia sendiri tak mengetahui bahwa Pendekar Mabuk sudah ada di tempat itu, jauh di seberangnya dan sesekali mencuri pandang ke arahnya.

"Agaknya Barakoak telah menguasai ilmu 'Urat Bumi'. Cukup sulit bagiku untuk mengalahkan ilmu itu, tapi akan kucoba dengan panah 'Lebur Sukma' yang selama ini tak pernah ada tandingannya," pikir Dewi Geiadak Ayu sambil matanya memperhatikan gerakan Dewi Cumbutari menghujamkan pedang yang berwarna biru pijar ke perutnya Barakoak.

Orang bertubuh tinggi besar itu sengaja tidak menghindar saat menerima tikaman pedang pada perutnya. Bahkan kedua tangannya sedikit merentang, seakan memberi peluang bagi lawan untuk menghujamkan pedang ke tubuhnya.

Bluuuuss...! Slaaap...!

Pedang menembus sampai ke punggung, tapi ketika ditarik kembali, lubang tusukan itu mengatup dengan sendirinya bersama lolosnya mata pedang dari perut. Dewi Cumbutari sentakkan kaki dan tubuhnya melambung naik, pedangnya berkelebat mengibas dari atas ke bawah. Craaasss...! Wajah Barakoak nyaris terbelah dari kening sampai pusarnya. Tapi luka ternganga itu merapat kembali dalam waktu hanya sekejap, sehingga tubuh itu tak terluka sedikit pun.

"Hah, hah, hah, hah, hah...!" ia tertawa terbahak- bahak dengan dada sedikit membusung.

Ratu Dewi Cumbutari dibuat penasaran oleh ilmu 'Urat Bumi' itu. Kemarahannya membuat sesak pernapasan, namun agaknya ia tak mudah menyerah begitu saja. Kali ini ia pergunakan jurus pedang lainnya.

Dengan satu sentakan kaki ke tanah, pedang yang diarahkan ke dada Barakoak itu tiba-tiba mengeluarkan sinar hijau lurus tanpa putus sebesar kelingking. Slaaaapsss...! Sinar hijau itu tepat kenai dada Baiakoak, tembus sampai ke punggung, bahkan sampai kenai sebatang pohon dan pohon itu langsung hancur karena meledak. Blaaarr...!

Ketika sinar hijau itu padam, lubang yang tembus dari dada sampai punggung itu mengatup kembali dan dada Barakoak tak mengalami luka sedikit pun. Bahkan bekas menghitam hangus pun tak ada di dada itu.

"Hah, hah, hah. hah...! Sekarang giliranku menyerangmu, Cumbutari! Heeeeaaah...!"

Barakoak berteriak memanjang, suaranya bagai ingin memecah langit karena kerasnya. Tangannya menghentak ke depan, dan dari tengah telapak tangan itu menyembur asap ungu dengan derasnya. Wuuuusss...! Di sela-sela semburan asap ungu tampak selarik sinar putih yang menghantam ke dada Dewi Cumbutari. Pedang berpijar biru segera menghadang tegak lurus di depan dada, dan sinar putih itu menghantam pedang tersebut. Trrak, jegaaarrr...! Ledakan dahsyat terjadi hingga mengguncangkan tanah dan pepohonan di sekitar tempat itu. Dewi Cumbutari terpental setelah lebih dulu tersapu asap ungu. Tubuh sekal itu bagai dilemparkan dengan tenaga yang amat kuat. Melayang tinggi dan jatuh dalam jarak sekitar sepuluh langkah dari tempat berdirinya semula.

Brruk...!

"Aaaahg...!" Sang Ratu mengerang dengan tubuh kejang. Warna kulitnya menjadi berbintik-bintik ungu, seakan darahnya keluar dari pori-pori tubuh dan berwarna ungu, bukan berwarna merah seperti darah biasanya.

"Huah, hah, hah, hah, hahhh...! Akhirnya kau modar juga oleh jurus racun 'Lidah Bromo' yang tak ada obatnya itu, Cumbutari! Huah, hah. hah, hah...!"

Ciwuiani menjadi tegang, ia bergegas ingin menyambar tubuh Ratu Dewi Cumbutari, namun tangannya dicekal dan ditahan oleh Pendekar Mabuk.

"Ratu terkena racun ganas! Aku harus segera menolongnya!"

"Kau benar, tapi cari kesempatan yang baik untuk membawanya pergi supaya Barakoak tidak melihat keberadaan kita di sini!"

Sang Ratu dalam keadaan sekarat. Darahnya yang tersumbul dari pori-pori kulit menjadi banyak dan berwarna ungu. Tubuh sang Ratu bergetar seperti orang terkena penyakit ayan. Mulutnya ternganga mengeluarkan busa dan busa itu pun berwarna ungu.

Barakoak masih menertawakan lawannya yang tak berdaya lagi. Namun tiba-tiba tawa itu terhenti seketika karena sebuah anak panah melesat dan menembus lehernya. Weesss...! Jluuub...!

Barakoak hanya terkejut dan palingkan pandangan ke arah datangnya anak panah. Sementara itu, anak panah yang membara merah bagai besi terpanggang api itu lolos terus, dari leher kiri tembus ke leher kanan dan melesat terus hingga menghantam sebuah pohon. Blegaaar...! Pohon itu pecah menjadi serpihan kayu yang menyebar ke mana-mana. Sang anak panah segera kembali ke arah semula dengan cepat. Wuuut...!

Jluuub...! Ploosss...!

Kini tengkuk kepala Barakoak yang ditembus anak panah itu sampai ke leher. Anak panah lolos dari leher depan dan melesat kembali kepada pemiliknya. Dewi Geladak Ayu segera menangkap anak panah itu dengan tangan kanannya. Teeb...! Warna merah membara pun padam seketika. Tetapi luka bolong di leher Barakoak segera merapat kembali dan leher itu menjadi utuh bagai tak pernah ditembus panah dua kali.

"Rupanya kau mau membokongku, Geladak Ayu?!" geram si Raja Iblis dengan pandangan matanya yang berang, ia segera melangkah dekati Dewi Geladak Ayu yang telah berdiri tegak dengan kaki sedikit menganga, seakan siap menghadapi serangan lawannya.

Zlaaap...! Pendekar Mabuk berkelebat cepat nyaris tak terlihat oleh Ciwuiani. Tahu-tahu ia telah kembali sambil membawa tubuh Ratu Dewi Cumbutari yang sekarat. Tuak sakti segera dituangkan ke mulut sang Ratu. Tuak itu tertelan sedikit demi sedikit, namun tidak membuat kesembuhan bagi luka racun yang diderita sang Ratu.

"Celaka! Tuakku tidak bisa mengalahkan racun 'Lidah Bromo' ini?!" gumam Suto Sinting dengan wajah tegang. Sang Ratu masih menyentak-nyentak dalam keadaan kejang.

"Kudengar racun 'Lidah Bromo' tak pernah ada obatnya," bisik Ciwuiani. "Kalau begitu, Ratu harus segera dibawa ke Sendang Ketuban."

"Hahh...?! O, iya... Sendang Ketuban?! Di mana letak Sendang Ketuban?!" tanya Suto Sinting penuh semangat, karena ia segera ingat tujuan semula pergi meninggalkan Kejora, Tua Bangka, dan Darah Prabu.

"Ikutlah aku...!" ujar Ciwuiani sambil merunduk- runduk agar gerakannya tak terlihat Barakoak. Pendekar Mabuk mengangkat tubuh Ratu Dewi Cumbutari dan mengikuti langkah Ciwuiani.

Ternyata yang dinamakan Sendang Ketuban terletak di dalam istana jerami yang digunakan sebagai singgasana sang Ratu Dewi Cumbutari. Sendang itu berupa kolam berair hijau bening yang saat itu dalam keadaan kotor sekelilingnya karena hancurnya istana jerami tersebut. Namun sehelai jerami atau kotoran lain tak ada yang sampai jatuh ke permukaan kolam berair hijau itu.

Ciwuiani segera menyiram tubuh sang Ratu dengan air kolam tersebut. Wajah sang Ratu dicuci dengan tergesa-gesa, dan cairan-cairan ungu itu bagai menguap dengan sendirinya. Makin lama semakin  lenyap sehingga tubuh Ratu Dewi Cumbutari menjadi bersih seperti sediakala.

Sungguh ajaib air Sendang Ketuban itu. Ratu Dewi Cumbutari segera sehat tanpa rasa sakit sedikit pun. Bahkan ia segera menyadari bahwa Pendekar Mabuk sudah berada di sampingnya.

"Kau datang juga rupanya," sapa sang Ratu kepada Pendekar Mabuk dan Suto Sinting hanya berikan senyum ramah yang cukup menawan hati lawan jenisnya.

"Tujuanku sebenarnya mencari air Sendang Ketuban untuk sembuhkan luka seorang sahabat, Ratu."

"Kalau begitu kau bisa membawanya pulang dalam sebuah guci. Tapi terlebih dahulu aku akan menyelesaikan pertarunganku dengan si Raja Iblis itu! Akan kuusir dia dari tanah kekuasaanku ini!"

"Tak perlu, biar aku yang mengusirnya, Ratu!" kata Suto Sinting dengan lembut. "Barakoak bukan tandinganmu! Akulah sekarang yang akan maju melawannya!"

Ratu Dewi Cumbutari hanya memandangi Suto Sinting dengan pandangan anggun berkesan bangga terhadap Pendekar Mabuk.

*

* * 8

HATI Pendekar Mabuk merasa lega telah mengetahui letak air Sendang Ketuban. Menurut cerita Ratu Dewi Cumbutari, air Sendang Ketuban memang berkhasiat khusus untuk luka atau penyakit yang tak ada obatnya. Air itu selalu dalam keadaan bersih dan bening dengan warnanya yang hijau kemilau itu. Menurut keterangan sang Ratu, air itu tak bisa kotor, karena setiap ada kotoran, seperti sehelai daun kering yang jatuh di permukaan air tersebut, maka daun kering itu akan lenyap bagai menguap dan hilang tanpa bekas sedikit pun sehingga air tetap kelihatan bersih dan bening.

Persoalan air Sendang Ketuban dikesampingkan dulu oleh Pendekar Mabuk. Kini yang dipikirkan adalah menghadapi Barakoak yang berjiwa iblis keji itu. Mereka bertiga menemui Barakoak di tempat pertarungan semula. Tetapi mereka terhenti di tempat persembunyian Suto Sinting dan Ciwuiani semula. Dari sana mereka menyaksikan pertemuan antara Barakoak dengan Dewi Geladak Ayu.

"Biarkan dulu si Geladak Ayu selesaikan urusannya dengan Barakoak, baru kau bertindak jika kau memang ingin bertindak." ujar Ratu Dewi Cumbutari yang agaknya sudah mengenal Dewi Geladak Ayu.

"Persoalan apa sebenarnya yang membuat Dewi Geladak Ayu bermusuhan dengan Barakoak, Ratu?" tanya Suto Sinting dengan rasa ingin tahunya.

"Barakoak pernah membantai habis anak buah Geladak Ayu dalam satu kapal yang dipimpin oleh adik kandungnya si Geladak Ayu. Kapal itu sendiri dihancurkan oleh Barakoak di depan mata Geladak Ayu."

"Apakah Gusti Ratu kala itu menyaksikan sendiri?!" sahut Ciwuiani.

"Tidak. Geladak Ayu yang menceritakan padaku, ketika kami mengadakan pertemuan dengan beberapa tokoh silat lainnya, di puncak Gunung Purwa ini untuk membicarakan pusaka kuno yang bernama Panji-panji Mayat."

Deeeg..! Jantung Suto Sinting langsung tersentak begitu mendengar Panji-panji Mayat diucapkan oleh Ratu Dewi Cumbutari. Pendekar Mabuk pun segera ajukan tanya dengan penuh semangat namun dalam lahiriyahnya ia bersikap kalem seakan kurang tertarik dengan pusaka kuno itu.

"Apakah kau tahu banyak tentang pusaka itu, Ratu?" "Entahlah. Yang jelas, sampai sekarang tak ada orang

yang mengaku memegang pusaka Panji-panji Mayat. Ada yang bilang terbakar habis, ada yang bilang tenggelam di dasar samudera dan... aku benar-benar tak tahu ke mana perginya pusaka kuno itu. Sudah lama aku melupakan pusaka tersebut."

"Apakah kau semula juga ingin memiliki pusaka itu, Ratu?"

"Ya, karena pusaka itu adalah milik leluhurku." "Leluhurmu...?!"  Suto  Sinting  terkejut  dalam suara

berbisik. "Bukankah... bukankah pusaka itu milik leluhur mendiang Jalma Dupi yang menikah dengan Sang Ratri dari negeri Puri Gerbang Surgawi?!"

"Aku adalah adik Jalma Dupi yang telah dianggap hilang dan mati oleh keluargaku."

"Ooh...?!" Suto Sinting semakin kaget mendengar penjelasan itu. "Berarti kau adalah bibinya Dewi Hening, Dewi Kejora, dan Dewi Menik?!"

Kini sang Ratu ganti terperanjat. "Dari mana kau tahu nama anak-anak kakakku itu?!"

"Ak... aku diminta bantuannya mengurus tentang pusaka Panji-panji Agung aiias Panji-panji Mayat itu oleh mereka. Dan... kupikir mereka sudah tidak mempunyai keluarga lagi. Barangkali mereka juga tidak tahu kalau masih mempunyai seorang bibi yang masih hidup."

Ratu Dewi Cumbutari diam sejenak, lalu menarik napas panjang-panjang sambil pandangi percakapan Dewi Geladak Ayu dengan Barakoak. Beberapa saat kemudian ia perdengarkan suaranya yang mirip orang menggumam itu.

"Satu-satunya orang yang tahu persis tentang Panji- panji Mayat adalah ratu negeri Puri Gerbang Surgawi yang berkuasa di Pulau Serindu."

"Apa...?!" Suto Sinting semakin kaget dan terheran- heran.

"Tanyakanlah kepada Gusti Mahkota Sejati, Ratu di negeri Puri Gerbang Surgawi yang mempunyai nama asli Dyah Sariningrum. Sebab dialah yang menyarankan kepada Sang Ratri agar pusaka itu dititipkan kepada seseorang sebelum direbut oleh keluarga si Raja Iblis itu!"

"Dyah Sariningrum...?!" Pendekar Mabuk sempat berdebar-debar mendengar ucapan itu, sebab nama Dyah Sariningrum sebenarnya adalah sebuah nama yang selalu terukir di hati dan terucap di kalbunya. Barangkali sang Ratu belum tahu bahwa Dyah Sariningrum adalah calon istri Suto Sinting sesuai dengan garis kodrat yang telah diketahui oleh si Gila Tuak.

Suto Sinting tinggal menyerahkan satu maskawin untuk Dyah Sariningrum, yaitu kepala Siluman Tujuh Nyawa, tokoh sesat yang terkutuk dan telah memakan korban ratusan nyawa orang tak berdosa itu.

Blegaaar...!

Lamunan Suto tergugah oleh bunyi ledakan yang menggelegar membuat tanah bergetar bagai dilanda gempa setempat. Ledakan itu timbul akibat pertarungan Dewi Geladak Ayu dengan Barakoak yang sudah tidak membutuhkan bincang-bincang lagi. Dewi Geladak Ayu tampak terpental akibat ledakan tersebut, sedangkan Barakoak masih berdiri tegak dan kokoh, bagaikan gunung yang sukar dirobohkan.

"Kedatanganmu sama saja membuang nyawa tanpa arti, Geladak Ayu! Kau tak akan unggul melawanku, Perempuan Jalang!" geram Barakoak dengan matanya yang memandang penuh nafsu membunuh.

Dewi Geladak Ayu segera bangkit dari jatuhnya, ia mengambil sebatang anak panah dari punggungnya. Rupanya anak panah yang tadi sempat menembus leher Barakoak telah hancur akibat ledakan tadi. Barakoak menghantam anak panah yang dilepaskan ke arahnya dengan pukulan tenaga dalam yang tak sempat dilihat Suto Sinting. Tahu-tahu telah terjadi ledakan dan Dewi Geladak Ayu terpental lima langkah dari tempatnya berdiri semula.

Kini Dewi Geladak Ayu bersiap lepaskan anak panah yang sudah dipasang di busurnya. Anak panah itu memancarkan sinar hijau berpendar-pendar pada bagian ujungnya. Tentunya mempunyai kedahsyatan lebih tinggi dari yang telah hancur itu.

"Masih kurang puas kau?! Cobalah lepaskan semua anak panahmu ke dadaku! Kau akan tahu bahwa aku adalah orang terkuat yang tak bisa dirobohkan oleh siapa pun!" gertak si Raja Iblis dengan mata mendelik penuh tantangan.

Suaranya yang keras menghentak menggetarkan dahan-dahan pohon. Dewi Geladak Ayu sempat grogi, sehingga anak panahnya jatuh ke tanah dan segera dipungutnya lalu dipasang ke tali busur. Tali busur pun mulai direntangkan.

Pendekar Mabuk melihat kecemasan mulai membayang di wajah Barakoak. Dalam hati sang Pendekar Mabuk berkata,

"Ia kelihatan takut dengan panah itu, tapi ia beranikan diri dan Dewi Geladak Ayu tak mengetahuinya. Hmmm... mengapa Dewi Geladak Ayu tak mau segera lepaskan panahnya? Padahal dada itu terbuka lebar-lebar dan... dan... oh, sekarang Barakoak menutup dadanya seakan tak mau menerima panah itu. Mengapa begitu?!" Anak panah segera dilepaskan. Claaap...! Sinar hijau di ujung anak panah itu menjadi besar berpendar-pendar bagai api tertiup angin. Barakoak tidak membiarkan anak panah itu menembus dadanya, ia menghentakkan kakinya ke bumi. Duuhg!

Dengan tangan tak berpedang terangkat ke atas, anak panah yang meluncur ke arahnya itu berhenti di udara tanpa gerakan sedikit pun. Warna hijau di ujung anak panah itu padam seketika. Hal itu membuat mata Dewi Geladak Ayu tampak tercengang, demikian pula mata Ratu Dewi Cumbutari, Pendekar Mabuk, dan Ciwuiani. Mereka memandang heran melihat kemampuan Barakoak menghentikan anak panah di udara.

"Hebat sekali ilmunya?! Anak panah bisa dihentikan di udara tanpa bergerak sedikit pun?!" ujar Ciwuiani bernada kagum.

"Heeeeah...!" seru Barakoak sambil menghantamkan pukulannya ke anak panah itu. Prrraak...! Anak panah pun remuk tanpa dentuman sedikit pun. Lalu tiba-tiba pedang di tangan kirinya dilemparkan ke arah Dewi Geladak Ayu dengan gerak seperti melempar tombak.

"Makan pedang ini, haaah...!" Wuuuus !

Dewi Geladak Ayu melesat naik melebihi ketinggian terbang pedang tersebut. Wuuuut...! Pedang itu berkelebat di bawah kaki Dewi Geladak Ayu. Dan tiba- tiba kaki perempuan itu menapak di permukaan pedang, sehingga pedang yang melayang itu berhenti sejenak, kemudian kaki itu menyentak ke depan dan pedang itu berbalik arah. Kini pedang itu melesat ke arah Barakoak. Wuuusss...!

Barakoak hanya menggeram ketika pedang itu datang dan menghujam dadanya hingga tembus ke  belakang lalu lolos terus sampai menemukan tempat untuk menancap. Luka bolong di dada mengatup kembali dengan cepat tak sampai meneteskan darah sedikit pun.

"Kuremukkan batok kepalamu, Perempuan Rakus...!

Heeeaah...!"

Wuuus...! Tubuh tinggi besar bagaikan raksasa itu melompat dengan kecepatan tinggi, menerjang tubuh Dewi Geladak Ayu yang sedang turun dari gerakan melayang tadi. Brrrus...! Ploook...!

Terdengar suara pukulan telak mendarat di pipi Dewi Geladak Ayu. Pukulan itu sempat memancarkan sinar merah sekejap, lalu padam seketika. Berarti pukulan itu mempunyai kekuatan tenaga dalam yang cukup tinggi dan beradu dengan hawa murni yang disalurkan oleh Dewi Geladak Ayu ke daerah kepalanya.

Sekalipun demikian, tubuh perempuan cantik itu pun terlempar berguling-guling di tanah. Beberapa anak panahnya terlepas dari tempatnya. Dewi Geladak Ayu menggeram sambil meraih salah satu anak panahnya. Keadaan hidung dan mulutnya sudah berdarah mengerikan.

"Ajalmu telah tiba, Barakoak! Roh adikku akan senang melihat kematianmu dari alam sana! Hiaaah...!"

Wuuut...! Anak panah itu melesat cepat ke arah Barakoak dalam keadaan memercikkan cahaya biru bagai lidah-lidah petir. Barakoak bukan diam saja, melainkan berusaha menghindari anak panah itu dengan satu lompatan cepat dan berguling di tanah satu kali. Suara gerakannya bagaikan gemuruh bebatuan menggelinding dari atas lereng bukit. Gluuduk, wuuurrs...!

Dalam sekejap Barakoak sudah bangkit kembali dan anak panah itu menghantam gugusan batu di kejauhan sana. Blegaaar...! Batu besar itu pun hancur menjadi serbuk hitam yang beterbangan ke mana-mana.

"Mengapa ia menghindari anak panah itu?" pikir Suto Sinting secara diam-diam. Matanya memandang terus ke arah pertarungan tanpa berkedip.

Dewi Geladak Ayu hendak mengambil anak panah yang tersisa dan terjatuh di tanah. Namun tiba-tiba Barakoak melompat dan kakinya jatuh tepat di tangan Dewi Geladak Ayu. Bluuuk...!

"Aaaauh...!" perempuan itu menjerit kesakitan, tangannya bagai ditindih dengan besi sebesar almari. Kaki kiri Barakoak segera menendang wajah cantik itu. Ploook...!

Tubuh Dewi Geladak Ayu tak bisa terpental karena tangannya diinjak kaki kanan Barakoak. Akhirnya perempuan itu menjadi sasaran kaki kiri Barakoak yang menendangnya secara bertubi-tubi. Biarpun darah menyembur dari mulut Dewi Geladak Ayu, namun Barakoak bagai orang kesetanan, tetap menghajar perempuan itu dengan tendangan kakinya yang bertenaga dalam. Bahkan tubuh montok itu sempat terkapar dalam keadaan tangan terlepas dari injakan kaki lawan. Namun kini justru dadanya yang menjadi sasaran Barakoak. Dada itu diinjak-injak seenaknya dengan suara geram kebencian menggema panjang.

Brus, brus, brus, bruuhk, brruhk...!

"Heeehehgg...!" Dewi Geladak Ayu mendelik dengan mulut semburkan darah kental.

"Modar kau! Modar kau! Heeeah...!" Barakoak menggeram penuh nafsu menumbuk tubuh sekai itu.

Zlaaap...! Ploook...!

Tiba-tiba tengkuk kepala Barakoak terasa dijatuhi batu sebesar gunung. Rupanya Pendekar Mabuk tak tega melihat perempuan cantik itu diinjak-injak oleh Barakoak. Ia berkelebat menggunakan jurus 'Gerak Siluman' untuk menerjang tubuh raksasa itu. Akibatnya, tubuh besar itu terjungkal dan berguling-guling sampai sejauh lima langkah dari tempatnya berdiri.

"Bangsaaat...!" teriak Barakoak. "Rupanya kau ikut campur juga, hah?! Melihat bumbung tuak dan ciri pakaianmu, pasti kau yang bernama Pendekar Mabuk, yang menghancurkan Candi Bangkai tempatku bertakhta!"

"Memang akulah si Pendekar Mabuk, murid Gila Tuak!" jawab Suto Sinting dengan tegas.

"Gggrrmm...! Kuhancurkan kau sebagai pembalasanku atas kelancanganmu tempo hari. Heaah...!"

Tiba-tiba kedua tangan Barakoak menyentak ke depan dan gelombang angin yang menyerupai badai berhembus cukup kuat. Wuuussss...!

Pendekar Mabuk terpental tunggang langgang. Tubuhnya terbawa terbang dan membentur-bentur pohon serta reruntuhan rumah jerami. Guzraaak...! Akhirnya ia terhempas masuk dalam reruntuhan rumah jerami. Seketika itu pula Barakoak lepaskan sinar merahnya dari ujung jari telunjuk. Claaap...! Sinar merah meluncur cepat kenai reruntuhan jerami.

Blaarrr...! Reruntuhan jerami terbakar, apinya berkobar-kobar. Suto Sinting ada di dalamnya.

"Sutooo...!" teriak Ratu Dewi Cumbutari dengan tegang, ia dan Ciwuiani berlari mendekati kobaran api. Namun belum sampai terlalu dekat, sekelebat bayangan keluar dari dalam kobaran api. Zlaaap...! Pendekar Mabuk berhasil lolos dari kobaran api dengan gerakan cepatnya, ia segera berdiri tak jauh dari Ciwuiani. Matanya memandang tajam pada Barakoak setelah menenggak tuaknya sesaat. Barakoak menghampirinya dengan menggeram buas.

"Ciwuiani, pinjam pedangmu...!" kata Suto sambil mengulurkan tangan ke samping, tapi matanya masih memandangi Barakoak. Ciwuiani serahkan pedangnya, lalu Pendekar Mabuk segera maju dengan bumbung tuak diselempangkan ke belakang.

"O, kau mau pakai senjata?! Boleh saja, kalau perlu bawa semua senjata dan hujamkan ke tubuhku! Kau tak akan bisa melukaiku, Pemuda Hina!"

Sreeek...! Ujung pedang digesrekkan ke tanah. Barakoak terbelalak kaget dan hentikan langkah dengan wajah tegang. Pendekar Mabuk segera maju mendekat. Barakoak mundur dua langkah sambil menyimpan kecemasan.

"Mau apa kau, haahhh...!" teriaknya sambil melepaskan serangan berupa sinar biru dari kedua telapak tangannya. Wut, wuuut...! Sinar itu dihindari Suto Sinting dengan bersalto di udara dalam ketinggian melebihi kedua sinar tersebut. Wes, wes...! Tubuh itu melayang melintasi atas kepala Barakoak. Pedang pun segera ditebaskan dalam gerakan cepat. Beeet...!

Crraasss...!

"Aaaahhhggrr...!" Barakoak memekik keras, pundak kanannya terbelah nyaris putus. Darah menyembur ke mana-mana. Sang Ratu dan Ciwuiani terperangah bengong melihat Pendekar Mabuk mampu lukai si Raja Iblis itu.

Baru saja kaki Suto Sinting menyentuh ke bumi, tubuhnya telah melesat kembali ke atas. Wuuut...! Pada saat itu Barakoak oleng ke kiri dan membalik badan hingga berhadapan dengan Suto Sinting. Namun tangan Pendekar Mabuk sudah telanjur berkelebat menebaskan pedang dari kanan ke kiri. Wuuut...! Crrraasss...!

"Oohh...?!"

Suara pekikan itu bukan datang dari mulut si Raja Iblis, melainkan dari mulut Ratu Dewi Cumbutari yang terkejut dan kagum melihat Suto Sinting berhasil memenggal kepala Barakoak. Gerakan pedang yang cepat membuat Barakoak sempat mendelik walau lehernya telah putus ditebas pedang. Ketika ia terhuyung ke belakang, kepalanya pun segera menggelinding jatuh ke tanah. Plook...! Kejap berikutnya tubuh tanpa kepala itu pun tumbang berdebam bagai sebatang pohon roboh. Bluuuuk...!

Semua mata yang memandang kejadian itu terbelalak tak berkedip. Semua mulut ternganga bengong. Mereka merasa seperti berada di alam mimpi melihat Barakoak yang mempunyai ilmu 'Urat Bumi' itu ternyata mampu dipenggal oleh Pendekar Mabuk tanpa menggunakan pedang pusaka. Sementara pedang pusaka milik Ratu Dewi Cumbutari justru hancur pada saat digunakan menangkis sinar dan asap beracun ungu tadi.

Setelah menyadari si raksasa Barakoak telah tumbang terpenggal kepalanya, Ratu Dewi Cumbutari segera hampiri Suto Sinting dengan senyumnya yang ceria. Ciwuiani sendiri sunggingkan senyum kemenangan sambil menerima pedangnya kembali dari tangan Pendekar Mabuk.

"Terima kasih atas bantuanmu," hanya itu yang bisa diucapkan oleh Ratu Dewi Cumbutari dengan mata berkaca-kaca memendam tangis keharuan dan kebahagiaan karena negerinya bebas dari ancaman maut si Raja Iblis.

Pendekar Mabuk hanya menepuk-nepuk pundak sang Ratu tanpa sungkan-sungkan, lalu terselip sebaris kata menggelitik darinya.

"Kau semakin cantik jika mengucapkan terima kasih selembut itu, Ratu. Tapi bagiku lebih penting mendapatkan air Sendang Ketuban daripada mendapatkan ucapan terima kasih, sebab seorang sahabat dalam keadaan terancam maut jika tak segera dapatkan air Sendang Ketuban itu."

"Ciwuiani akan menyiapkan air itu untuk kau bawa pulang. Jangan pikirkan hal itu lagi!" jawab Ratu Dewi Cumbutari.

"Uuuhhg...!" terdengar erangan Dewi Geladak Ayu, si bajak laut wanita yang terluka parah itu. Pendekar Mabuk segera hampiri perempuan tersebut, kemudian memberi minum dengan tuaknya. Tuak sakti itulah yang membuat nyawa Dewi Geladak Ayu tertolong dan ia menjadi sehat kembali seperti sediakala.

"Mengapa kau menyelamatkan nyawaku?" ucap sang bajak laut wanita masih bernada angkuh.

"Karena kau pernah menyelamatkan nyawaku pula dari ancaman jurus mautnya Ratu Sangkar Mesum," jawab Suto Sinting dengan seulas senyum menawan.

"Satu lagi yang ingin kuketahui, dari mana kau bisa temukan rahasia menembus ilmu 'Urat Bumi'-nya si Barakoak itu?"

"Hanya bersifat untung-untungan. Kulihat ia merasa cemas dan takut ketika anak panahmu jatuh ke tanah, ia tak berani membiarkan anak panah itu menembus tubuhnya. Juga ketika kau memungut anak panah yang berantakan, ia hanya berani menghindari anak panah itu sampai berjungkir balik di tanah. Maka kesimpulanku, ilmu 'Urat Bumi' akan tumbang jika menggunakan senjata yang sebelumnya harus terkena debu atau tanah lebih dulu. Kucoba menggoreskan pedangku ke tanah, dan kulihat ia terkejut serta ketakutan. Maka yakinlah aku bahwa tanah menjadi kunci untuk melumpuhkan ilmu 'Urat Bumi'-nya itu."

Dewi Geladak Ayu menghembuskan napas. Lalu berkata dengan nada datar,

"Kau bukan hanya tampan, namun juga cerdik!

Kapan-kapan kita bertemu lagi!"

Wuuuutt...! Bajak laut wanita itu segera melesat pergi tanpa pamit kepada Ratu Dewi Cumbutari. Namun agaknya sang Ratu tidak peduli hal itu. Perhatiannya lebih tertuju kepada Suto Sinting yang dianggap sebagai pahlawan, penyelamat negeri Wilwatikta. Tak heran jika kepulangan Suto Sinting diantar oleh sang Ratu sendiri sampai di perbatasan. Lambaian tangannya menyertai perjalanan pulang Suto Sinting yang membawa guci berisi air Sendang Ketuban. Namun sebelum ia tiba di gua, terlebih dulu ia mengambil mayat Kenanga Pilu dan dibawanya ke Perguruan Tapak Dewa. Selesai memberi penjelasan apa adanya, barulah berangkat menemui Kejora, Tua Bangka, dan Darah Prabu yang menderita racun berbahaya itu.

Namun di perjalanan benak Suto Sinting sempat bertanya pada dirinya sendiri,

"Jadi sebenarnya siapa yang menyimpan pusaka Panji-panji Agung itu? Benarkah calon istriku; Dyah Sariningrum, mengetahui rahasia Panji-panji Agung itu?!"

SELESAI PENDEKAR MABUK