--> -->

Pendekar Mabuk 09-Pusaka Tombak Maut

PERAHU kecil itu merapat ke pant ai bagai t anpa t enaga pendorong. Sat u-sat unya penumpang perahu kecil itu berdiri di burit an perahunya dengan kaki t egak sedikit    merenggang,     badannya            lurus dengan      dada membusung karena montok. Orang t ersebut memiliki wajah cant ik sederhana, tapi mat a kecilnya t ampak t ajam dalam set iap pandangnya.

T ubuh yang t ak terlalu kurus namun cukup padat

berisi it u di bungkus pakaian silat warna hijau muda bert epian kain sat in merah t ua, ikat pinggangnya kain merah t ua juga. Di selipan ikat pinggang it u t erdapat sebilah pedang bergagang kayu hitam dengan sarung

pedangnya yang juga dari kayu hit am mengkilap.

P erempuan berusia sekit ar t iga puluh t ahun it u bersiap diri unt uk t urun dari perahunya. Namun t iba-t iba perahu     kecil                it u          mengalami sent akan     yang mengguncangkan, bahkan hampir saja perahu it u t erbalik jika keseimbangannya t idak dijaga oleh perempuan t ersebut . Apa yang ia t abrak saat it u, jelas t ak ada. It u berart i perahu t ersebut ada yang mengguncangnya dengan dorongan t enaga dalam dari kejauhan t empat .

Ket ika  posisi     perahu sudah    kembali                normal, perempuan it u cepat sent akkan kakinya ket epian perahu, dan t ubuhnya melent ing di udara dengan berjungkir balik sat u kali. Dalam wakt u singkat sepasang kakinya sudah mendarat di pasir pant ai dengan sigap, t angan kanannya memegang gagang pedang, siap mencabut nya sewakt u-wakt u.

Alam pant ai sepi, t iada suara selain desau angin dan gemercik riak pant ai. Tetapi mata perempuan berambut ikal yang diikatkan ke belakang sepanjang punggung it u masih menat ap sekelilingnya dengan penuh waspada. Set iap gugusan bat u atau gerumbulan semak disusuri dengan pandangan mat anya yang t ajam it u.

"Past i   ada         orang    yang      menyambut ku dengan angkuh!" ucapnya di dalam hat i. Ia masih belum bergerak sedikit pun kecuali mat anya yang bergerak liar ke sana-sini.

Set elah ia merasa yakin t ak ada orang di ger umbulan

semak, at au di at as pohon yang menjulur ke pant ai, at au di balik gugusan bat u yang bert ebaran di pant ai it u,

maka ia pun bergerak memandang ke arah perairan, sampai mendapat kan perahunya sendiri. Ket ika ia memandang perahunya, mat anya cepat berkedip dengan hat i sedikit kaget melihat seseorang t elah berada di sana, di burit an t empat nya berdiri t adi.

Seorang lelaki bercelana merah t anpa mengenakan baju, t elah berdiri dengan t egak bagai menant ang keribut an. Orang it u bert ubuh kurus sekali, sepert i t idak mempunyai daging lagi kecuali t ulang yang dibungkus kulit . Rambutnya yang panjang berwarna abu-abu meriap dipermainkan angin pant ai, sebagian mat a cekungnya t ert ut up helai-helai rambut . T angannya lurus ke samping bawah kanan-kiri, t anpa ada kesan ingin mencabut senjat a cakra di pinggangnya. Orang it u t ak lain adalah T engkorak T erbang, si penjaga pant ai di bawah kekuasaan Rat u P ekat .

Melihat orang mirip t engkorak hidup it u berdiri di perahunya, perempuan t ersebut segera serukan kat a,

"T inggalkan perahuku at au kuhant am kau dari sini?!" T engkorak Terbang diam saja, t ak memberi jawaban

apa pun, t api ia t idak mau beranjak pergi dari at as perahu. Mat anya yang cekung it u hanya menat ap penuh sinar permusuhan, sehingga perempuan it u pun segera mengirimkan pukulan jarak jauhnya lewat sodokan t angan  kanannya                yang      bert elapak         t erbuka               dan menghadap ke atas. Zebb...!

T engkorak T erbang sent akkan kakinya dan t ubuhnya

pun melayang bagaikan t erbang, lalu bersalt o sat u kali ke udara, hingga dalam wakt u singkat sepasang kakinya

t elah mendarat di pasir pant ai. Jarak berdirinya hanya lima langkah dari perempuan berpakaian hijau muda it u. T ak ada senyum, t ak ada ucap. T engkorak T erbang memperhat ikan     perempuan        it u          dengan mat a     t ak berkedip.

"Begit ukah caramu menyambut tamu?!" perempuan it u memperdengarkan suaranya yang bening.

T erpaksa orang bert ubuh sangat kurus it u menjawab, "Harusnya aku yang bert anya, begit ukah caramu dat ang bert amu di pulauku?"

P erempuan it u sedikit sipitkan mat a begit u t ahu suara

orang berwajah keras dengan t onjolan t ulang-t ulangnya t ampak jelas it u t ernyat a sangat kecil. Suara T engkorak T erbang memang cempreng dan sangat tak enak didengarnya.

"P ulau Beliung ini bukan pulaumu! Aku t ahu siapa

penguasa di pulau ini!" kat a perempuan it u dengan ket us.

"T api aku pet ugas penjaga pant ai yang punya we wenang unt uk menolak kehadiran orang asing!" balas T engkorak T erbang

"Apakah kau sanggup menolak kehadiran Badai

Kelabu?!"

"Apa sulit nya menolak kehadiranmu, Badai Kelabu?! Sekarang juga jika kau t idak segera angkat kaki dan pergi bersama perahumu, kau akan kuhancurkan sepert i ombak menghancurkan gundukan pasir!"

"Kulayani sesumbarmu it u, Mayat Hidup!"

Sambil berkat a begit u, perempuan yang mengaku

berjuluk Badai Kelabu it u melangkah ke samping, mencari celah unt uk menyerang. T api sebelum ia melakukan penyerangan, t iba-t iba t ubuh T engkorak T erbang t elah lebih dulu melesat t anpa diket ahui sent akan kakinya. T ubuh kurus keront ang it u bagaikan t erbang ke arah Badai Kelabu dan melepaskan sat u t endangan kaki kanannya yang menyamping. Wesss...!

T app...!

Kaki kurus it u dengan mudah ditangkap oleh t angan Badai Kelabu. Mest inya orang yang dit angkap kakinya it u               jat uh           t erpelant ing     karena Badai      Kelabu memelint irnya. T et api, gerakan memelint ir it u diikut i oleh si t ubuh ceking dengan cepat , bahkan ia bergerak bagaikan kipas              yang      membalik            dan        dengan menggunakan kaki kirinya menendang wajah Badai Kelabu.

P lokk...!

T enaga                yang      keluar   cukup    besar.   T endangan menyabet it u membuat wajah Badai Kelabu bukan hanya t erlempar             ke           samping,              namun  juga       t ersent ak ke belakang. Wajah it u menjadi merah. P englihat annya sempat kabur sebent ar. P egangan tangannya pada kaki T engkorak T erbang pun lepas.

Badai Kelabu t erhuyung ke belakang hampir jat uh, sedangkan T engkorak T erbang pun jat uh dalam posisi

t engkurap, kedua t elapak t angannya menapak di t anah. T angan it u segera menghent ak, dan t ubuhnya kembali melent ing t inggi lalu bersalt o sat u kali, dan dalam wakt u singkat sepasang kaki kurusnya sudah menapak di t anah

dengan sigap dan t ampak kekar walaupun kurus sekali.

T engkorak T erbang memperdengarkan t awanya yang merusakkan gendang telinga, "Hiaak, hak hak hak hak hak...!" T ubuhnya t erguncang-guncang karena t awanya.

Badai Kelabu menggeram sambil menarik napasnya.

Dalam hat i ia membat in kat a, "Boleh juga t endangannya. Berat dan mantap. Wajahku t erasa bagai disembur api. P anas sekali. Kalau aku bukan orang berilmu, past i wajahku sudah somplak disabet t endangan kaki kurus it ul Agaknya orang ini punya ilmu yang cukup lumayan juga."

T engkorak T erbang memperdengarkan suaranya lagi, "P ulanglah daripada kau mat i sia-sia di sini, Badai Kelabu!"

"Aku akan pulang set elah melihat mayat mu terkapar di pant ai ini! Hiaaat...!"

Cepat sekali Badai Kelabu t ahu-tahu t elah melesat t erbang dengan kaki mengarah ke wajah T engkorak T erbang. Kaki it u dit ahan oleh t elapak t angan T engkorak T erbang. P lakk...!

P ert emuan t elapak kaki dengan t elapak tangan it u just ru membuat t ubuh Badai Kela bu bersalt o maju sat u kali. T ubuhnya melayang melewat i kepala T engkorak T erbang, dan ket ika gerakan salt onya berguling, kaki kirinya menyepak ke belakang dengan kuat dan t epat mengenai punggung T engkorak Terbang. Bukkk...!

Kaki Badai Kelabu bagai mendapat t empat pijakan

baru, maka t ubuhnya pun t ersent ak maju dan berguling di pasiran pant ai. Dalam kejap berikut t ubuh it u t elah

kembali berdiri membelakangi T engkorak T erbang yang segera membalikkan badan unt uk menghadap lawan.

T api rupanya lawan sedang t ersungkur akibat sepakan kaki yang mirip t endangan kuda t adi. T engkorak T erbang cepat -cepat bangkit dengan wajah dan rambut dikibaskan        karena  bercampur          pasir.     Lelaki kurus keront ang it u menggeram dengan mat a lebih t ajam memandang. Di dalam hat inya ia berkat a,

"Kurang                ajar,       t endangan         bert enaga          dalam    it u

membuat t engkuk kepalaku semut an dan kaku! Lumayan juga dia punya isi. Aku t ak boleh menganggapnya ent eng!"

Badai Kelabu sunggingkan senyum mengejek, ia juga

ucapkan kat a bernada ket us, "Baru sat u jurus saja kau sudah kerepot an menghadapiku, Mayat Hidup! Apalagi lebih dari sat u jurus, kau akan kerepot an menghadapi liang kuburmu sendiri!"

"Jangan bangga dengan t endangan cacingmu it u,

Badai     Kelabu!                Aku        bukan   orang    yang      mudah dirobohkan oleh perempuan pucat macam kau, tahu?! Cuih...!"

T engkorak T erbang meludah seba gai penghinaan.

T et api segera mat anya t erkesiap, dahinya berkerut , karena apa yang dil udahkan dari mulut nya it u t ernyat a adalah darah kent al. Wajah kaget nya dit ert awakan oleh Badai Kelabu, se dangkan T engkorak T erbang hanya membat in kat a,

"Wah, gawat ! Aku t erluka di bagian dalam?!"

T awa    perempuan        berwajah             lonjong it u makin

t erdengar jelas. T api t awa it u sendiri cepat t erhent i set elah ia menyadari beberapa helai rambut nya ada yang rontok, t erbang t erbawa angin. Badai Kela bu menjadi kaget melihat rambut nya mudah t erbawa angin, ia berkat a dalam hat inya,

"Kurang ajar! Rupanya t endangan kakinya yang menampar wajahku tadi benar-benar dialiri tenaga dalam yang cukup besar. P anas masih kurasakan di sekit ar kepala dan panas it u membuat rambutku menjadi rontok?! Edan! Harus segera kulawan rasa panas ini memakai hawa dinginku, biar t ak menjadi bot ak kepalaku karena kehilangan banyak rambut !"

Rupanya di seberang sana, T engkorak T erbang juga

sedang memejamkan mat a dalam sikap berdiri dan menundukkan kepala, ia mencoba mengobat i luka dalamnya dengan t ahan napas beberapa saat . Dan Badai Kelabu pun buru-buru menyalurkan hawa dinginnya di kepala unt uk meredam hawa panas yang hampir meront okkan rambutnya it u.

Kejap berikut nya, mereka berdua sudah kembali

sama-sama siap bert arung lagi. Jarak mereka menjadi

t ujuh langkah, karena masing-masing merasa t ak mau kecurian gerak yang bisa membahayakan jiwa mereka masing-masing. Mat a mereka pun saling pandang t ak berkedip unt uk memperhat ikan set iap gerakan kecil dari masing-masing lawan.

"Kuingatkan sekali lagi, t inggalkan pulau ini supaya

kau masih bisa menikmat i hidup di masa t uamu nant i, Badai Kelabu!"

"Aku t idak akan pergi sebel um bert emu dengan Nyai

Rat u P ekat !"

"Hiiak, hak hak hak hak hak...!" T engkorak Terbang t ert awa      keras dengan     suaranya              yang merusakkan gendang t elinga. Badai Kelabu sempat kerut kan dahi menahan t elinganya yang t erasa sakit . Lalu, T engkorak T erbang serukan kat a lagi.

"Just ru kau akan cepat mat i kalau bertemu dengan

Rat u P ekat !"

"Aku dat ang bukan unt uk bermusuhan dengannya. Aku dat ang sebagai t amu! T amu yang ingin memint a bant uan dari Nyai Rat u!"

"Unt uk sement ara ini, Rat u t idak menerima tamu

siapa pun!"

"Aku bert eman baik dengan Rat u!"

"T idak peduli t eman baik at au t eman jelek, t ugasku adalah menolak siapa pun yang ingin dat ang ke pulau ini! Ket ahuilah Badai Kelabu, unt uk sement ara pulau ini

t ert ut up bagi siapa pun! Orang yang nekat dat ang kemari, berart i musuh kami! Dan aku berkuasa unt uk menghancurkannya!"

"Rupanya Nyai Rat u P ekat sudah memut us tali

persahabat an dengan siapa pun dan menjalin t ali permusuhan dengan t eman-t eman baiknya!"

"Hiak,    hak         hak         hak         hak...!   Boleh    saja        kau

menyimpulkan begit u, Badai Kelabu, t api kau t et ap harus pergi dari pulau ini!"

"Aku akan           memaksa            Nyai Rat u P ekat              unt uk menerimaku!" kat a Badai Kelabu sambil maju sat u

t indak.

T engkorak T erbang pun maju sat u t indak dan berkat a, "Kalau kau bisa mengalahkan T engkorak T erbang, baru kau bisa mendesak Nyai Rat u P ekat! T api kurasa, it u usahamu yang sia-sia, karena kau akan mat i t anpa membawa hasil apa pun, Badai Kelabu!"


"Kita bukt ikan siapa yang unggul di ant ara kit a,

T engkorak T erbang!" sambil berkat a begit u, kedua t angan      Badai Kelabu mulai mekar            jari-jemarinya, perlahan-lahan bergerak ke at as, lalu memut ar lewat belakang sat u persat u.

P ada saat yang sama, T engkorak Terbang pun cepat kerahkan t enaga  yang membuat kedua    t angannya gemet ar. T elapak tangannya saling t erkat up di dada, menempel lekat dengan kaki kian merendah. Dan t iba- t iba kaki yang merendah it u menghent ak ke bumi,

t ubuhnya pun t erlempar ke at as sambil dilepaskannya pukulan jarak jauh bert enaga dalam cukup besar it u. Kedua t angan T engkorak T erbang menyent ak ke depan dan, wessss...! P ukulan t enaga dalam t anpa wujud t anpa warna it u melesat ke arah Badai Kelabu.

"Hiaaat ...!"         pekik     Badai     Kelabu  dengan

menyent akkan kedua t angan dari at as ke bawah, sepert i melepaskan burung dalam genggaman. Wuuuhgg...!

T ali        badai     dilepaskan.         P ukulan               t enaga dalam

T engkorak Terbang t ersent ak ke at as dan menimbulkan suara dent aman yang t eredam. Karena pada saat it u, angin badai dat ang menghant am. T ubuh T engkorak T erbang yang kurus keront ang it u terhempas oleh

kekuat an angin badai yang seolah-olah hanya dalam sat u kelompok saja.

Bat u besar yang ada di belakang T engkorak Terbang ikut t erhempas bergeser t iga langkah dari t empat nya. Se dangkan t ubuh T engkorak T erbang sendiri jat uh membent ur bat u dalam jarak lima langkah lebih dari t empatnya semula. T ubuh kurus it u sepert i bungkusan kosong yang dibuang dan dihempaskan begit u saja t anpa bisa menjaga keseimbangan t ubuh.

Begggh...!

"Uhhg...!" T engkorak T erbang t erpekik dengan suara t ert ahan. T ulang rusuknya t erasa sakit diadu dengan bat u besar, juga ba gian pundaknya t erasa ngilu dan lecet karena    bent uran            bat u t ersebut .                Napas T engkorak T erbang t erasa sesak, seakan dihimpit benda berat dan besar.

P ukulan 'Badai Gunung' it u seakan masih saja menyerangnya walau t ubuh T engkorak T erbang t elah merapat dengan bat u besar. Rambut nya meriap-riap ke belakang,   dadanya t erasa                sakit       sekali. T engkorak T erbang berusaha melawan t ekanan berat dari pukulan

'Badai Gunung' yang belum dihent ikan oleh Badai

Kelabu it u.

Kedua   t angan T engkorak          T erbang              berusaha mendorong sesuat u yang t ak kelihat an di ba gian depannya.                Tenaganya          t erkuras,             urat        dan otot nya mengeras, ia sampai meringis-ringis menahan t enaga yang begit u besar menghimpitnya, bagai ingin membuat

t ubuhnya t ergencet bat u di belakangnya. T et api, sekuat

t enaga T engkorak T erbang, kekuat an besar dari pukulan

'Badai Gunung' it u masih belum bisa dihindari.

Badai Kelabu bel um mau menarik t angannya ke belakang. Mat anya masih t ert uju pada lawan. T enaganya masih dikerahkan, dan semburan angin badai masih

t erarah pada sat u t ujuan. Benda-benda di luar jalur arah angin badai it u t idak ikut t erpent al dan t erhempas. Kekuat an angin badai it u kira-kira hanya membent uk semacam jalur yang lebarnya dua langkah dari sisi kanan-kiri mereka.

"Di mana sumbarmu, T engkorak Dekil...?! Ayo,

hadapi pukulan 'Badai Gunung'-ku ini, hiiaah...!"

Makin keras dat angnya t ekanan badai ke arah T engkorak T erbang, semakin kewalahan orang kurus keront ang it u menahannya. Sampai-sampai, bat u yang dipakai bersandar punggung T engkorak T erbang it u pun bergerak-gerak, mulai bergeser dari t empatnya. Sebent ar lagi past i akan t erhempas juga bersama t ubuh T engkorak T erbang.

Dalam keadaan krit is begit u, T engkorak Terbang

cepat     mencabut           senjat a                cakranya              yang      berujung bergerigi.         Senjat a                it u dipegang menggunakan dua

t angan, bagian ujungnya dihadapkan ke depan. T etapi kaki T engkorak Terbang mulai t erangkat-angkat karena hempasan angin kencang yang hampir menerbangkan t ubuhnya.

"Hiaaaahh...!" T engkorak T erbang pekikkan suara

nyaringnya yang kering dan sember it u.

Roda bergerigi di ujung senjat a cakra berput ar cepat

bagaikan baling-baling. Kecepat an put aran gerigi it u memercikkan api merah. Api it u menyembur ke depan, semakin lama semakin besar dan membuat t ubuh T engkorak Terbang mulai terbebas dari t ekanan angin badai. Sement ara it u, di seberang sana Badai Kelabu masih bert ahan melepaskan kekuat an badainya dengan lebih besar lagi melalui kedua t elapak t angannya yang t erbuka dan ujung t elapaknya menghadap ke t anah. T angan it u pun gemet ar bagai menerima t ekanan yang membalik dari percikan bunga-bunga api senjat a cakra it u.

T ubuh T engkorak T erbang t erasa makin ringan, makin bebas bergerak. Dan tenaga dalamnya t et ap dikerahkan membuat senjat a cakra it u semakin banyak menyemburkan percikan bunga api merah, hingga menimbulkan suara: wooooossss...!

Kejap    berikut,                T engkorak          T erbang              sengaja menjejakkan kakinya hingga t ubuhnya melesat ke at as. P ercikan bunga api hilang. Badai yang dikerahkan lewat t angan perempuan it u menghant am apa saja yang ada pada jalur bekas t empat berdiri T engkorak T erbang.

Dari udara, senjat a cakra it u dikibaskan bagaikan

pedang menebas             kepala   lawan.   Kibasan                it u menyemburkan        nyala     api          kuning  kehijau-hijauan, wuuuut ...!

Badai Kelabu cepat gulingkan t ubuh ke t anah, karena kilatan cahaya kuning kehijauan it u melesat cepat bagai mau memenggal kepalanya. Dengan berguling ke t anah, cahaya kuning kehijauan it u t erhindar dari lehernya, dan

sebagai sasarannya adalah sebatang pohon kelapa yang melengkung ke arah pant ai. Crassss...! Buurrrk...! Bat ang pohon kelapa it u t erpot ong dengan rapi, dan cepat sekali menjadi rubuh pada bagian yang t erpotong it u. Srettt ...!

Badai Kelabu mencabut pedang hit amnya, ia segera melompat ke depan menerjang T engkorak Terbang yang juga melompat ke depan, hingga ke dua senjat a it u beradu dalam sat u suara pekikan Badai Kelabu.

"Ciaaaaat ...!" Duarrr...!

Keduanya sama-sama t erpent al ke belakang dan jat uh t anpa bisa menyangga keseimbangan t ubuh mereka. Bent uran dua senjat a bert enaga t inggi it u melepaskan sat u ledakan dan sentakan yang begit u kuat , yang membuat keduanya sama-sama t erpent al. Lalu, keduanya pun sama-sama cepat bangkit dan siap menyerang lagi.

"T ahan...!" terdengar seruan dari belakang Tengkorak

T erbang. Seruan it u dat ang dari perempuan muda berpakaian serba ungu, dialah put ri penguasa P ulau Beliung it u. Dialah yang berjul uk Cempaka Ungu. Ia menyandang pedang di punggung yang dililit kain ungu.

Cempaka Ungu segera melompat , bersalt o di udara sat u kali dan mendarat di t anah pert engahan antara T engkorak Terbang dan Badai Kelabu. Kehadiran Cempaka Ungu membuat serangan kedua orang it u t ert ahan dan saling menghent ikan gerakan.

"Badai Kelabu!" ucap Cempaka Ungu yang sudah mengenali perempuan yang menggenggam pedang hitam

it u.

"Syukur kau masih mengenaliku, Cempaka Ungu!" kat a Badai Kelabu sambil menghembuskan napas panjang, mengendurkan ket egangannya.

"Apa maksudmu menyerang T engkorak T erbang?"

t anya Cempaka Ungu.

"Jika       bukan   karena  diserang,             aku         t ak         akan menyerang! Jika bukan karena ingin dibunuh, aku t ak ingin membunuh!"

Cempaka Ungu palingkan wajah kepada Tengkorak T erbang. T api sebelum Cempaka Ungu ajukan t anya, T engkorak T erbang sudah lebih dulu serukan kat a keras nyaring,

"Sepert i perint ah Nyai Rat u, aku berhak mengusir t amu siapa saja orangnya. Dan t ugas it u kujalankan!"

"Badai   Kelabu  t eman  baik        ibuku,   Tengkorak

T erbang!"

"T ak peduli t eman baik, karena perint ah ibumu hanya mengusir orang yang mencoba dat ang ke pulau ini, t ak

t erkecuali!"

Cempaka             Ungu     segera  melangkah          mendekat i

T engkorak T erbang dan berkat a dengan suara pelan. "Biarkan dia dat ang menemui Ibu!"

"T ak ada izin dari ibumul Aku tak berani lepaskan dia!"

"Dia bisa kit a gunakan sebagai sekut u, dan akan membant u menghadapi kedat angan Siluman T ujuh Nyawa!"

"Aku t ak berani simpulkan begit u, Cempaka Ungu!"

"Aku yang menjamin dirinya! Biarkan dia dat ang menemui Ibu!"

"Bagaimana kalau aku t et ap melarangnya?"

"Kau      akan      berhadapan       denganku.          Tengkorak

T erbang!"

*

* *



2

IST ANA                Cambuk               Biru pernah        menjadi ist ana berdarah karena kedat angan anak buah Siluman T ujuh Nyawa yang bernama Gagak Neraka. Dalam kait an perist iwa berikut nya, Sut o melihat seorang pengkhianat yang mengadakan kont ak hubungan dengan kekuat an

t enaga bat innya kepada Siluman T ujuh Nyawa. Dalam

perkiraan P endekar Mabuk, akan datang serombongan kapal dari orang-orangnya Siluman T ujuh Nyawa unt uk menyerang P ulau Beliung dan menguasai i st ana t ersebut (Baca serial P endekar Mabuk dalam episode: "Ist ana Berdarah"). Karenanya, P endekar Mabuk dan Nyai Rat u P ekat bersepakat unt uk menolak kedatangan t amu siapa pun juga orangnya, karena dikhawat irkan akan menjadi mat a-mata ut usan Siluman T ujuh Nyawa.

T engkorak T erbang yang bert ugas sebagai penjaga

pant ai, walau gelar panglimanya sudah di bat alkan, tapi ia t et ap menjalankan t ugas dengan penuh t anggung jawab. T ak peduli Badai Kelabu t eman baik dari Rat u P ekat , ia t et ap saja menolak kehadiran t amu t ersebut

dengan cara sekeras apa pun. T et api, Cempaka Ungu mendesaknya unt uk menerima t amu yang sat u it u. T engkorak Terbang bukan t akut kalah t arung dengan Cempaka Ungu, t api t akut kepada ibu gadis it u jika gadis it u dikalahkannya. Mau t ak mau T engkorak T erbang melepaskan musuhnya dan membiarkan Badai Kelabu diba wa oleh Cempaka Ungu ke ist ana.

Di ist ana, Rat u P ekat sedang berbincang-bincang dengan Sut o, si Mat a Elang, dan Dewa Racun. Saat it u Singo Bodong sedang membant u empat prajurit yang membangun kembali pint u gerbang ist ana.

Kedat angan Badai Kelabu disambut dengan baik oleh Rat u P ekat . Bahkan perempuan berusia sekit ar lima puluh t ahunan, mengenakan pakaian hit am sebat as dada yang dit aburi manik-manik emas dengan dirangkap baju jubah put ih dari bahan sut era, dan mengenakan kalung berliont in bat u hit am it u, memeluk Badai Kelabu dengan penuh keakraban.

T et api, Mata Elang yang berdiri di samping Rat u dengan             t egap   dan        berpakaian         serba     merah   it u, memandang penuh kecurigaan kepada Badai Kelabu. Set iap gerakan yang dit imbulkan oleh Badai Kelabu it u t ak luput dari incaran kewaspadaan mata pengawal pribadi Rat u P ekat it u. Sedangkan P endekar Mabuk hanya memandangnya dengan senyum t ipis di bibir, dan Dewa Rac un memperhat ikan dengan mat a sedikit menyipit , merasa pernah melihat perempuan yang baru dat ang it u.

"Semakin cant ik dan hebat kau, Badai Kelabu!" puji

Rat u P ekat yang rambut nya sudah mulai dit aburi uban walau t ak t erlalu banyak.

"Jangan puji aku demikian, Nyai. Aku sedang bersedih, dan menjadi lebih sedih lagi set elah mendengar cerita dari Cempaka Ungu t ent ang musibah yang melanda Ist ana Cambuk Biru ini."

"Ya, aku pun ikut sedih. T api masa berkabungku ini

t ak mau kubuat berlarut -larut . Semua sudah menjadi t akdir Yang Maha Kuasa. Dan... oh, t ent unya kau sudah mengenal kedua t amuku ini, Badai Kelabu," sambil Rat u P ekat menunjuk P endekar Mabuk dan Dewa Racun.

Badai Kelabu memandang kepada Dewa Racun, lalu menat ap Pendekar Mabuk beberapa saat lamanya. Hat inya berdebar-debar menerima senyuman Sut o, si murid sint ing Gila T uak it u, yang berdiri dengan t enang, kedua t angan t erlipat di dada, bumbung bambu t uak

t erselempang di punggung, mengenakan pakaian coklat celana put ih. Baju coklat nya t anpa lengan, rambut nya t anpa ikat kepala, tapi justru membuat Sut o t ampak lebih t ampan daripada seandainya ia memakai ikat kepala.

Cempaka Ungu menjadi t ak enak hat i melihat Badai Kelabu menat ap Pendekar Mabuk t iada berkedip, ia segera palingkan pandang dengan hat i kesal. Dan pada saat it u, Badai Kelabu berkat a kepada Rat u Pekat ,

"T amumu yang kerdil berpakaian bulu serba put ih ini

kukenal dengan julukan Dewa Racun. Aku t ahu dia orang P ulau Serindu, Nyai. T api t amumu yang t ampan it u, baru sekarang aku melihatnya," Badai Kelabu melirik Sut o lagi sekejap.

"Dia murid sint ing si Gila T uak dari Jurang Lindu!" "O, ya... aku t ahu nama si Gila T uak, t api aku t ak

pernah tahu kalau si Gila T uak punya murid senakal it u!" kat a  Badai Kelabu,     karena  ia menganggap senyuman Pendekar Mabuk it u sungguh nakal menggoda hat i.

"Namanya Sut o!" t ambah Rat u P ekat . "Dia yang

menyelamatkan kami dari amukan anak buah Siluman

T ujuh Nyawa."

Badai Kelabu sunggingkan senyum sekejap, melirik Sut o sesaat , kemudian senyumnya hilang. Wajahnya menjadi keruh, dan ia pun ucapkan kat a bernada duka.

"Kedat anganku kemari juga ada hubungannya dengan

Sil uman T ujuh Nyawa, t erut ama dengan anak buahnya yang dikenal sebagai Nakhoda Kapal Neraka yang bernama Tapak Baja it u."

"Hmmm... ada apa dengan Tapak Baja?" "Dia melukai guruku, Nyai."

"Melukai gurumu?" Nyai Rat u P ekat bernada heran. "Set ahuku gurumu orang berilmu t inggi! Bagaimana mungkin dia bisa dilukai oleh Tapak Baja?"

"Karena    sekarang     Nakhoda   Kapal Neraka     it u

mempunyai senjat a yang sangat dahsyat dan sulit dikalahkan."

"Senjat a apa yang dimilikinya?" desak Rat u P ekat .

"P usaka T ombak Maut !"

"Ooh...?!" Rat u P ekat nampak kaget . Bahkan Dewa Racun sempat t ersentak kaget dan memandang Rat u P ekat . Mereka saling pandang sebentar, lalu Rat u P ekat

alihkan padang kepada si Mat a Elang yang rupanya juga ikut t erperanjat demi mendengar P usaka Tombak Maut disebut kan Badai Kelabu. De wa Racun memandang P endekar Mabuk, t api Sut o t et ap t enang. Tak ada rasa kaget kecuali bingung dan berkerut dahi.

"Ccee... cee... celaka!" ucap Dewa Racun dengan gagap, karena mulut nya t idak beraroma ikan bakar. Jika ia habis makan ikan bakar dan sisa aroma ikan masih ada di mulut nya, ia akan bicara dengan lancar.

"Apa hebat nya P usaka Tombak Maut it u?" t anya

Sut o.

"It ... it ... it u senjata pusaka yang berba... ba... bahaya!" kat a Dewa Racun. "T ap... t ap... t api, set ahuku senjat a it u bukan milik si T apak Baja!"

"Benar," sahut Rat u P ekat. "Set ahuku senjat a P usaka Tombak Maut it u milik seorang tokoh sakt i yang berjuluk Ki Jangkar Langit!"

"Jangkar Langit ?" P endekar Mabuk gumamkan kat a.

"Sepert inya guruku pernah menyebut -nyebut                nama

Jangkar Langit."

"Jika kau memang murid si Gila T uak," kat a Rat u P ekat yang baru-baru ini saja dia menget ahui siapa P endekar Mabuk it u, "T ent unya kau pernah mendengar nama Jangkar Langit dari mulut gurumu, karena Ki Jangkar Langit adalah t eman baik gurumu."

"Lalu, di mana let ak kedahsyatan P usaka Tombak Maut it u?" tanya Sut o kepada Badai kelabu. P erempuan it u ingin menjawabnya, t api lidahnya bagaikan kelu. Nyai Rat u P ekat yang menjelaskan pert anyaan it u,

"P usaka Tombak Maut it u adalah sebuah tombak yang ujungnya t erbuat dari t aring babi hut an, alias t aring genjik. Babi hutan it u adalah jelmaan dari tokoh sesat zaman dulu, yang berhasil di bunuh oleh Ki Jangkar Langit. P usaka it u bisa dipakai membunuh orang sat u pulau dengan hanya dit ancapkan pada sat u tanah. T anah it u akan         mengeluarkan gas beracun               dan        seluruh penghuni pulau it u akan mat i. Apalagi jika ada angin besar, maka gas beracun it u pun bisa t erbawa angin ke pulau lain dan menewaskan orang di t empat lain. P usaka it u dapat menggegerkan orang dalam dua-t iga pulau dengan gas beracunnya it u, sehingga diberi nama P usaka Tombak Maut."

Cempaka Ungu yang baru mendengar cerit a it u menjadi t erbengong-bengong menyimaknya. P endekar Mabuk hanya berkerut dahi sambil mulut nya sedikit melongo membayangkan sebuah pusaka yang punya kehebat an sepert i it u. Menurut Sut o, set iap lapisan t anah mempunyai lapisan gas beracun. Jika t ombak it u dit ancapkan di t anah, maka gas beracun akan t erhisap keluar, dan menyebar ke mana-mana. Jadi, tombak it u adalah tombak penghisap racun yang berbahaya bagi keselamat an jiwa manusia.

Badai Kelabu masih mencuri-curi pandang pada P endekar Mabuk. T et api Sut o t idak menghiraukan, sebab ia segera t ert arik dengan ucapan kata dari Dewa Racun yang t erput us-put us karena gagapnya it u,

"T ap... t ap... T apak Baja akan semakin ganas jika memegang senjat a pusaka it u. Ap... ap... apalagi...

apalagi dia adalah salah sat u dari kelima al...al... al...." "Alang-alang!"

"Bukan. Al... algojo! Dia sat u dari kelima algojonya Sil uman T ujuh Nyawa, yang t ugasnya menghancurkan lawan yang harus cepat disingkirkan. P as... pas... pas...."

"Pasar?!"

"Bukan! P a.... P ast i... past i T apak Baja akan semakin merajalela keganasannya dengan menggunakan senjat a pusaka it u."

"Juga semakin ganas," celet uk si Mat a Elang yang sejak t adi diam saja it u.

"Kalau begit u," Cempaka Ungu ikut bicara, "Sangat berbahaya jika Siluman T ujuh Nyawa menugaskan T apak Baja unt uk menyerang pulau kit a ini, Ibu!"

"Ya. Sangat berbahaya," jawab Rat u P ekat dalam t at apan mat a menerawang. "Karena...P usaka T ombak Maut adalah jenis pusaka yang sulit dicari t andingannya, t ak bisa dikalahkan dengan pusaka apa pun juga. Dia mempunyai sifat dan gerakan yang berbeda dari pusaka- pusaka pada umumnya."

P endekar Mabuk mengambil bumbung t uaknya, lalu menenggak t uak di depan mereka t anpa rasa canggung at aupun malu-malu. T uak dit eguk t iga kali, set elah it u dikembalikan pada posisinya semula, ia kelihat an orang yang paling berwajah t enang, walau sudah mendengar banyak t ent ang keganasan P usaka T ombak Maut di

t angan T apak Baja. Bahkan Dewa Racun sendiri

kelihat an            gelisah  memikirkannya,               Cempaka             Ungu t ampak cemas memikirkan nasib ist ananya yang bisa

direbut dengan mudah oleh Tapak Baja.

Sele wat hening sekejap, Rat u P ekat bert anya kepada

Badai Kelabu,

"Lant as apa        maksudmu         dat ang kemari, Badai

Kelabu?"

"Guru t erluka oleh pusaka it u. Dalam wakt u sesingkat mungkin aku harus mencari obat unt uk menyembuhkan luka Gur u. Menurut Guru, hanya ada sat u cara yang bisa menyembuhkan lukanya, yait u dengan menggunakan sebuah bat u yang bernama Bat u Galih Bumi," sambil mat a Badai Kelabu menat ap ke arah kalung Rat u P ekat.

Mendengar nama Bat u Galih Bumi dise but kan, Rat u P ekat terkejut , demikian juga Cempaka Ungu dan si Mat a Elang. Dewa Racun manggut -manggut dalam bungkamnya mulut , sedangkan P endekar Mabuk hanya sedikit kerutkan dahinya, masih kurang jelas apa yang dimaksud Bat u Galih Bumi dan mengapa Rat u P ekat jadi

t erkejut.

T erdengar kembali Badai Kelabu ucapkan kat a, "Guru mengut usku dat ang menemuimu, Nyai. Guru ingin meminjam Bat u Galih Bumi yang kau pakai sebagai kalung it u."

Sut o pun segera manggut -manggut kecil, karena sekarang dia mengert i bahwa t ernyat a yang dimaksud Bat u Galih Bumi it u adalah liont in yang dipakai kalung Rat u P ekat . Bat u hit am sebesar mat a pet e it u dipandangi oleh Sut o beberapa saat. T iba-t iba kepala P endekar Mabuk t ersent ak ke belakang sedikit . Sepert i ada sat u t enaga yang terpancar dari bat u it u dan mencolok

mat anya, membuat kepalanya t ersent ak mundur dalam gerakan tak kent ara. P endekar Mabuk hanya membat in,

"Hmmm... memang ada isinya bat u it u."

T erdengar Dewa Racun berkat a kepada P endekar Mabuk, "Ssssu... Sut o, ikut lah aku sebent ar. Ada yang ingin kubicarakan denganmu!"

Kemudian, Dewa Racun juga berkat a kepada Rat u

P ekat , "Mmma... maa... maaf. Rat u... saya mau ada sedikit pembicaraan dengan P endekar Mabuk."

"Ya, silakan!" jawab Rat u P ekat mulai t erdengar ket us. P ast i sedang menahan suat u pergolakan rasa di dadanya.

"Bagaimana, Nyai? Boleh aku pinjam Bat u Galih

Bumi it u?" desak Badai Kelabu set elah P endekar Mabuk dan Dewa Racun pergi.

Rat u P ekat menjawab, "T idak kuizinkan siapa pun

meminjam ataupun memegang Bat u Galih Bumi ini," seraya ia memegang bat u di kalungnya.

"Nyai, guruku dalam keadaan berbahaya. P ukulan

'Tombak Maut ' bisa membuat jiwa Gur u melayang jika t idak segera diobat i dengan Bat u Galih Bumi."

"Aku tak peduli dengan sakit gurumu. Jika urusannya

sampai pada meminjam Bat u Galih Bumi, aku t idak sanggup memberikan bant uan apa-apa pada gurumu!"

"Kami menjamin akan mengembalikan Bat u Galih

Bumi it u, Nyai Rat u."

"Aku t et ap t idak bisa meminjamkannya. Sebab aku t ahu wat ak gurumu it u sering licik. Bisa-bisa bat u ini t idak kembali ke t anganku dan menjadi miliknya."

"Nyawaku sebagai jaminannya, Nyai Rat u." "Nyawamu t idak sebanding nilai dan harganya

dengan bat u ini, Badai Kelabu," kat a Rat u P ekat semakin hilang kesan persahabat annya.

"Jadi apa yang harus saya lakukan jika Nyai Rat u

t idak mengizinkannya? Saya bingung, Nyai!" ucap

Badai Kelabu bernada sesal.

"P ulanglah dan kat akan kepada gurumu, aku t ak bisa meminjamkan Bat u Galih Bumi unt uk keperluan apa pun, dan kepada siapa pun t ak akan kupinjamkan bat u ini!"

"Padahal, pesan Guru saya harus merebut bat u it u jika t idak boleh dipinjamkan!"

"It u berart i kau harus melawanku, Badai Kelabu!" "Melawan siapa pun saya t ak akan mundur, Nyai

Rat u. Demi menyelamat kan jiwa Guru, saya siap mat i

bert arung dengan siapa pun."

"Badai Kelabu!" sent ak Cempaka Ungu yang mulai t ersinggung dengan ucapan-ucapan Badai Kelabu. "Jika kau memaksa ibuku dan mau melawannya, kau harus hadapi dulu anaknya!" Cempaka Ungu menepuk dada.

"Apakah kau lawan sebandingku, Cempaka?"

"Keparat ! Kau benar-benar t eman yang t idak bisa menghargai nilai persahabat an. Hihhh...!" Tapp...!

T angan Cempaka Ungu yang ingin menghant am

Badai Kelabu it u dit angkap oleh t angan ibunya. Mat a Cempaka Ungu melirik t ajam kepada ibunya dan sang Ibu berkat a,

"Dia memang bukan lawan t andingmu, Cempaka!"

"Biarkan saya menghajar mulut nya, Ibu!"

"Jangan! Aku t ahu, Badai Kelabu punya ilmu lebih t inggi darimu! Bukan kau yang harus melawannya, tapi aku sendiri!"

"At au, biarkan aku yang maju, Nyai!" kat a si Mat a

Elang. Dan t iba-t iba dari sepasang mat a lelaki muda yang berompi merah berhias manik-manik emas it u keluar cahaya sepert i lidi panjang berwarna kuning. Menghantam ke wajah Badai Kelabu.

T et api dengan cekat annya        Badai     Kelabu menyent akkan t angannya ke depan dalam posisi t erbalik. Dari pangkal jari yang bert ulang menonjol it u keluar gelombang t enaga dalam yang menghent ak ke depan, menyambut sinar kuning dari mat a si Mat a Elang. Mest inya, lawan yang t erkena sinar kuning it u akan t erjengkang ke belakang bahkan mungkin t erlempar jauh dari           t empat nya.      T et api,                yang      t erjadi adalah kebalikannya. T ubuh si Mat a Elang tersent ak ke belakang ket ika sinar kuning it u masuk kembali ke mat anya. Wuttt ...! Blluggh...!

T ubuh si Mat a Elang membent ur pilar dengan kerasnya. P ilar it u berada dalam jarak delapan langkah dari t empatnya semula.

Melihat si Mat a Elang terlempar sebegit u rupa dan menjadi sulit bernapas, Rat u P ekat belalakkan mat a garangnya, lalu dengan sat u sent akan t angan kirinya ia berhasil melepaskan pukulan jarak jauh kepada Badai Kelabu. Sang t amu it u pun terlempar keluar dari serambi ist ana, dan Rat u P ekat segera melompat unt uk mengejar

Badai Kelabu ke halaman depan ist ana.

"Badai Kelabu! Jika aku t erpaksa membunuhmu, bukan karena aku t idak menghargai persahabat an kit a selama ini, t api karena aku mempert ahankan bat u pusakaku ini! Jangan kau salahkan diriku jika nyawamu sampai melayang, karena kau t ak mau mengikut i saranku unt uk segera pulang ke P ulau Hit am!"

"Nyai Rat u," kat a Badai Kelabu dengan berdiri t egak siap menyerang, "Sejujurnya kukat akan, aku cukup senang dan gembira menerima t ant anganmu! Kalau t oh aku harus mat i, biarlah aku mat i lebih dulu daripada mat i set elah guruku!"

"Baiklah! Kau rupanya lebih senang mat i di t anganku

daripada mat i di t angan orang lain. Hiaaat ...!"

Rat u P ekat kembali sent akkan t angannya dari bawah ke at as depan, dan Badai Kelabu cepat hent akkan kaki, t ubuhnya melent ing di udara. Kejap berikut, t ubuh it u sudah berdiri t egak menghindari pukulan jarak jauhnya Rat u P ekat .

T angan Badai Kelabu segera bergerak memut ar ke

belakang keduanya, lalu sepert i melepas burung ia lepaskan pukulan 'Badai Gunung'-nya. Wuusss...!

Angin kencang menghempas membuat t ubuh Rat u P ekat mundur sat u t indak. T api kedua t angannya segera bergerak menahan hembusan kuat dari arah lawan. Barang-barang yang ada di belakang Rat u P ekat menjadi

t erbang t ak t ent u arah. Bahkan t ubuh Cempaka Ungu

pun t erlempar keluar dari jalur badai yang menghembus dengan kuat it u.

"Hiihhg...!"

Rat u P ekat bert ahan dari hembusan badai kabut t anpa ada penahan di bagian belakangnya. T ubuhnya sebent ar- sebent ar ingin t erlempar ke belakang, t api dipert ahankan unt uk t et ap berdiri di t empat dengan kedua kaki makin merendah. Kedua t angannya dihadapkan ke depan, berusaha mengeluarkan hembusan angin juga unt uk menahan badai dari t angan t amunya.

Bat u Galih Bumi memancarkan sinar merah dalam

sat u kilasan yang cepat . Badai Kelabu t ak menduga akan mendapat      serangan             sinar      merah   sebesar                jari kelingkingnya. Wuutttt ...!

"Hiaaat ...!" ia memekik sambil gulingkan t ubuh ke

kiri. Rupanya t erlambat sedikit ia bergerak, sehingga bet isnya t erkena sinar merah it u. Jrubbb...!

"Aaahg...!" Badai Kelabu memekik. Bet isnya menjadi

berlubang bagai habis dit embus t ombak at au anak panah yang t ajam. Darah keluar dari bet isnya. Badai Kelabu mencoba berdiri dan t ak menghiraukan lukanya.

Sret t ...! P edang hit am dicabut dari sarungnya, ia

menggeram penuh dendam pembalasan at as luka di kakinya. Tapi t iba-t iba, bat u hit am yang menggant ung di at as dada Rat u P ekat it u kembali mengeluarkan sinar merah. Wuutt tt...!

Trangng...! Badai Kelabu menangkis sinar merah it u

menggunakan pedangnya yang diangkat t epat di t engah dada. Sinar merah membent ur pedang, dan membalik membent uk sudut kecil ke arah t ubuh Rat u P ekat . Seket ika it u pula Rat u P ekat sentakkan kakinya dan

melesat di udara dalam gerakan salt o. Wuggh...!

"Hiaaat ...!" sent ak suara Rat u P ekat sambil t angannya menghent ak   ke           depan. T angan it u mengeluarkan gelombang t enaga dalam t anpa sinar. T ak t erlihat gerakannya, sehingga Badai Kelabu pun t erpukul pada bagian pinggangnya. Beggh...!

"Aaagh...!"          Badai     Kelabu  t ersent ak,         t ubuhnya

melengkung ke belakang dengan mulut t ernganga menahan sakit .

*

* *



3

DALAM sebuah kamar, Dewa Racun berbicara dengan Sut o Sint ing. Sut o yakin pembicaraan it u sangat pent ing, karena Dewa Racun membawanya menjauh dari Rat u P ekat dan yang lainnya. Seba b it u Sut o pun menyimak percakapan Dewa Racun dengan sungguh- sungguh,

"Ak... aku... aku baru t ahu kalau Bat u Galih Bumi

adalah perhiasan yang dipakai kalung oleh Rat u P ekat ." "Ada apa dengan Bat u Galih Bumi? Apakah ada

hubungannya dengan P usaka T ombak Maut ?"

"Bis... bis... bisa ada, bisa juga t idak. Maksudku begini...," Dewa Racun yang kerdil it u segera naik ke at as sebuah bangku supaya wajahnya bisa sejajar dengan Sut o. T api t et ap saja ia lebih rendah dari Sut o, namun dalam bicaranya t idak t erlalu mendongak ke at as sepert i t adi.

"Nyai... nyai... nyai gus... gust iku pernah bilang, bahwa Bat u Galih Bumi bisa unt uk mengobat i luka apa pun, dan juga bisa unt uk menolak kut ukan apa pun. Dul.. dul.. dul u, Nyai Gust i pernah punya gagasan unt uk memiliki Bat u Galih Bumi unt uk memulihkan pengaruh pukulan 'Candra Badar' yang diderit anya dari Siluman T ujuh Nyawa it u. Jad... jad... jad...."

"Jadah?!"

"Bukan. Jad... jadi, bagaimana kalau Bat u Galih Bumi it u kit a rebut dari t angan Rat u Pekat ?"

Sut o t idak langsung menjawab, ia berpikir beberapa

kejap. T api sambil berpikir ia meneguk t uak dari dalam bumbungnya it u. Kemudian barulah ia menjawab,

"Kurasa t ak perlu, Dewa Racun."

"T api nyai gust iku perlu obat pemunah pukulan

'Candra Badar' Bii... biii... biar t ubuhnya t idak t erbakar jika t erkena sinar mat ahari at au sinar alam lainnya."

"Aku bisa mengat asinya. Tak perlu harus mencuri

at au merebut bat u pusaka milik orang lain, supaya kelak suat u saat orang lain juga akan segan mencuri at au merebut pusaka milik kit a."

"Ap... ap... apakah kau yakin bahwa kau bisa

menyembuhkan              penyakit              yang diderit a     oleh       nyai gust iku?"

P endekar Mabuk t ersenyum t enang. "Kit a lihat saja

nant i!" Sut o mau bergegas keluar dari kamar, t api t angan

Dewa Racun menahannya. "T ung... t ung... t ung...."

"Kamu ini mau ngomong apa mau menari? Kok t ang,

t ung, t ang, t ung?"

"Mmmmak... maaak... maksudku, t unggu dulu!" sent ak Dewa Racun dengan jengkel. Sut o t ert awa kecil.

"Sudah kupast ikan, aku t ak mau merebut pusaka milik orang lain at au barang apa pun yang bukan milikku!" t egas Sut o kemudian.

"T ap... t ap., t api bagaimana dengan luka-luka yang

diderit a gurunya Badai Kelabu it u?"

"It u       bukan   urusanku!           Apa        maksudmu menanyakannya?"

"Sep... sep... sep...."

"Sepuluh?"

"Bukan! Se... sepert inya... sepert inya guru Badai Kelabu membut uhkan pert olongan, sedangkan Rat u P ekat bersikeras t idak mungkin meminjamkan Bat u Galih Bumi kepada siapa pun. Aku t akut mereka saling ber... ber... ber...."

"Beranak?"

"Berselisih!" bent ak Dewa Racun. "Pert arungan bisa t erjadi!"

"Jadi, maksudmu kit a harus memihak salah sat u dari mereka?  T idak,   Dewa    Racun!  Aku        t idak     mau mencampuri urusan orang lain, kecuali hanya sebagai pihak penengah! T ugas kit a di sini hanya menjaga serangan dari Siluman T ujuh Nyawa yang bisa dat ang sewakt u-wakt u. T api sampai lima hari kit a di pulau ini, t ak ada ut usan dari Sil uman T ujuh Nyawa yang dat ang menyerang. Berart i kit a harus segera berangkat ke P ulau Serindu. Aku sudah t ak sabar lagi ingin segera bert emu

dengan Dyah Sariningrum, nyai gust imu it u, Dewa Racun. Aku t ak mau ikut campur urusan Badai Kelabu dan Rat u P ekat!"

"Mak... mak... mak...." "Makan."

"Maksudnya!" sent ak Dewa Racun. Biasanya jika dia kesulit an mengucap sat u kat a, jika sudah dit ebak oleh orang lain, kat a-kat a yang akan diucapkan segera dapat dit emukan dan dilont arkan. T api jika orang lain it u salah menebak apa yang ingin diucapkan, Dewa Racun sering merasa dongkol hat inya.

"Maksudku, memang t idak harus memihak pada salah sat u, t api ambillah jalan t engah supaya mereka t id... t id... t idak saling berselisih."

"Baiklah, akan kucoba membujuk Badai Kelabu agar t idak bernafsu unt uk merebut at au memiliki Bat u Galih Bumi. Mudah-mudahan dia mau percaya bahwa aku bisa mengobat i penyakit gurunya it u."

"Nnnnnaaah... it u yang kumaksud!" Dewa Racun t ersenyum senang.

"T api, siapakah Badai Kelabu it u? Apakah dia orang jahat ?"

"Ak... ak... aku baru ingat , bahwa dia orang P ulau Hit am yang pernah membant u Rat u P ekat menyerang orang-orangku."

"Jadi, kenapa kit a harus menolongnya dari kesulit an ini?"

"Buk... buk... bukankah Rat u P ekat semula juga memusuhi kit a? Tapi sepert i apa kat a gurumu, si Gila

T uak, kepadamu, bahwa menundukkan lawan t idak harus dengan kekerasan, tapi juga bisa dilakukan dengan kebaikan. Sekarang pun kit a sudah menundukkan Rat u P ekat !"

"O, ya! Benar apa kat amu it u. Guru memang pernah

bilang    be git u padaku.                T anpa   sadar     kit a        t elah menundukkan Rat u P ekat , sehingga t idak punya niat unt uk menyerang nyai gust imu yang bergelar Gust i Mahkot a Sejat i it u!"

"Jadi, apa salahnya kalau kit a juga menundukkan

Badai Kelabu dengan keb... keb... keb...." "Kebakaran!"

"Kebaikan!" sent ak Dewa Racun dengan gemas. Sut o

hanya t ersenyum geli dan cepat melangkahkan kaki keluar dari kamar.

Sampai di pelat aran ist ana, P endekar Mabuk dan

Dewa Racun sama-sama t erperanjat melihat Badai Kelabu s udah t erbujur lunglai dengan darah melumuri kakinya dan di be berapa t empat di t ubuhnya t erdapat luka memar membiru.

P endekar Mabuk dan Dewa Racun t idak melihat bahwa              Ba dai Kelabu baru           saja        t erkena               pukulan punggungnya oleh t elapak t angan Rat u P ekat yang saat it u masih menyalakan pijar merah membara. T angan t ersebut bagaikan berlumur lahar gunung berapi dan mau dihant amkan lagi ke dada Badai Kelabu yang t erkapar t ak berdaya. T api, Sut o segera serukan kat a keras,

"T ahan, Nyai...!"

Suara it u membuat Nyai Rat u P ekat palingkan wajah

ke arah Sut o, juga Cempaka Ungu dan Mat a Elang yang memperhat ikan            dari        sisi          kejauhan.            Sut o                segera melangkahkan kaki mendekat i Rat u P ekat. P erempuan it u       menggeram       dengan mat anya                yang      nanar memancarkan nafsu unt uk membunuh Badai Kelabu.

"Apa maksudmu menahan pukulanku yang terakhir, P endekar Mabuk?!"

"It u perbuat an sia-sia," jawab P endekar Mabuk seenaknya saja. "Tinggalkan dia, Nyai...!"

"Dia akan merebut bat u pusakaku ini, P endekar Mabuk! Mengapa aku harus melepaskan dia?!" sent ak Nyai Rat u P ekat sambil masih bersikap berlut ut sat u kaki, siap hent akkan t angannya yang membara it u.

"Dia punya alasan yang mendesak. Jika alasan yang mendesak it u bisa diat asi, dia t idak akan merebut Bat u Galih Bumi-mu it u, Nyai!"

"T ak ada yang bisa menyelamat kan jiwa orang yang t elah t erkena senjata P usaka Tombak Maut, Sut o! Hanya Bat u Galih Bumi yang bisa menyelamatkannya! Jadi, bagaimanapun juga Badai Kelabu past i t et ap akan menyelamatkan nyawa gurunya dengan merebut bat u ini!"

"Serahkan perkara it u padaku," kat a Sut o, lalu ia menenggak t uak beberapa t eguk. Sisanya masih ada yang disimpan di mulut hingga kedua pipinya sedikit mengembung.

Dari arah belakang terdengar suara Mat a Elang,

"Pendekar Mabuk! Kuharap jangan ikut campur urusan

Nyai Rat u unt uk kali ini! T inggalkan dia!"

Sut o      bahkan menyemburkan               sisa         t uak      dalam mulut nya ke t angan Rat u Pekat yang membara bagaikan lahar gunung berapi it u. Brusss...!

Nyrrosss...!         T iba-t iba            t angan yang      mirip      besi membara it u menjadi hitam dan berasap. Nyala baranya padam. Hal it u t idak menimbulkan rasa sakit pada t angan Rat u P ekat, hanya menimbulkan rasa heran yang sangat besar.

Rat u P ekat membat in kat a, "Gila! P ukulan 'Lahar

Iblis'-ku bisa dipadamkan begit u saja dengan semburan t uaknya?! Luar biasa mengagumkannya anak muda sint ing ini?!"

T angan Rat u P ekat yang hit am segera pulih menjadi

kuning langsat sepert i sediakala t anpa memakan wakt u yang lama. Hanya sekit ar t iga helaan napas t angan it u t elah menjadi bersih dan kering.

Dari kejauhan Mat a Elang menyangka Sut o mulai menyerang Rat u P ekat , maka dengan kekuat an t enaga dalam                yang      disalurkan           lewat sepasang mat anya, keluarlah cahaya merah dari mat a kiri si Mata Elang. Wuutt t.....' Arah melesatnya sinar merah sebesar lidi it u menuju ke punggung Sut o. Melihat gerakan sinar merah melesat ke arahnya, Sut o hanya sedikit memiringkan badannya, hingga sinar it u membent ur t abung bambu

t empat penyimpan t uak. Trass...! Zuuut t...!

Cempaka Ungu t erkejut bukan main sampai t erlont ar suara keras, "Awaaas...!"

Sinar merah yang mengenai bumbung bambu t empat t uak it u membalik, yang semula besarnya sepert i

sebat ang lidi, kini menjadi lebih besar lagi, t iga kali lipat dari besar semula. Kecepat an geraknya pun melebihi kecepatan semula. Hampir saja Mat a Elang t ak sempat menghindari serangan yang membalik ke arahnya jika t ubuhnya t idak disent akkan oleh t angan Cempaka Ungu dengan sekuat t enaga.

Brakkk...! P rokkk...!

T ubuh  Mat a Elang yang didorong keras oleh Cempaka Ungu t erlempar dan membent ur rerunt uhan bekas pint u gerbang. P elipisnya menghant am kuat sebuah                benda   keras,    dan        akhirnya               berdarah,            ia menyeringai sambil memegangi pelipisnya.

Se dangkan sinar merah yang membalik it u juga

hampir saja mengenai t angan Cempaka Ungu saat gadis it u mendorong t ubuh Mat a Elang. Unt ung Cempaka Ungu cepat menarik t angannya dan berguling ke arah samping, sehingga sinar merah it u menghant am t iang penyangga atap di serambi samping. T iang sebesar t iga pelukan manusia it u menjadi gompal pada bagian salah sat u sisinya dihant am sinar merah it u. Brull...! P rakkk...!

Rat u P ekat t erkesima dan memandang t ak berkedip ke             arah       t iang     yang      gompal dengan pasir      dan bebat uannya yang menyembur ke mana-mana. Set ahu sang Rat u, sinar merah dari mat a pengawal pribadinya it u t idak akan sedahsyat it u kekuat annya. P aling bisa hanya menggompalkan t iang marmer sebagian kecil saja, t idak              akan                merusakkan       sampai bat as lewat        dari pert engahan besarnya t iang sepert i saat it u.

Melihat keadaan sedemikian rupa, Rat u P ekat cepat

berdiri dan berkat a kepada Sut o,

"Akan kau apakan perempuan ini?! Dia sudah banyak menderit a luka dalam akibat seranganku!"

"Rasa-rasanya t ak baik jika persahabat an kalian put us hanya karena keadaan yang krit is sepert i saat ini! Biarlah kusembuhkan luka-luka si Badai Kelabu ini, dan akan kubuj uk supaya dia t idak mengincar Bat u Galih Bumi lagi."

"T api     dia          tetap     akan      berkeras              kepala   unt uk

menyembuhkan luka gurunya memakai Bat u Galih

Bumi!"

"Aku yang akan menyembuhkan luka-luka gurunya it u!"

Rat u P ekat kerutkan dahi, t ak yakin akan kemampuan P endekar Mabuk. Sebab ia cukup t ahu keparahan orang yang terkena pukulan P usaka Tombak Maut . Tapi kesangsian di hat i Rat u P ekat hanya dipendamnya saja, ia t idak mau melontarkannya. Karena pada saat it u ia segera               berpaling ke       arah seseorang yang sedang dipanggil P endekar Mabuk t empat orang-orang yang membet ulkan pint u gerbang.

"Singo Bodong...! Angkat dia ke dalam!" t eriak Sut o.

Orang bert ubuh t inggi, besar, berperut sedikit buncit , jarinya  sebesar                pisang   ibarat nya,           segera  dat ang mendekat i P endekar Mabuk. Dialah Singo Bodong, orang berwajah seram, angker, t api t idak punya ilmu apa-apa bahkan berkesan polos dan lugu. Ia diba wa oleh P endekar Mabuk dalam perjalanannya, karena semula ia disangka t okoh keji bernama Dadung Amuk, (Baca

serial P endekar Mabuk dalam episode: "Ut usan Siluman

T ujuh Nyawa").

"Apa yang harus kulakukan, Sut o?" t anya orang berkumis t ebal berpotongan sepert i seorang warok.

"Angkat                perempuan        ini ke     dalam.  Aku akan

mengobat inya."

"Menurut ku dia sudah sangat parah dan t inggal menunggu mat inya saja, Sut o. Sebaiknya...."

"Sebaiknya angkat dia ke dalam!" gert ak P endekar

Mabuk.

Singo Bodong ket akut an. "Baa... baik... baik!" Lalu, ia bergega s mengangkat t ubuh Ba dai Kelabu ke dalam ist ana. Bahkan langsung dibawa masuk ke dalam kamar yang khusus unt uk t idur P endekar Mabuk selama di P ulau Beliung it u.

Rat u P ekat sempat berpapasan dengan Mata Elang

yang memegangi pelipisnya. Darah karena luka bent uran masih keluar dari pelipis it u. Sambil memeriksa luka t ersebut , Rat u P ekat berkata,

"Jangan lawan P endekar Mabuk it u! Dia sangat

berbahaya! Ingat , jangan sekali-kali melawan at au membokongnya! Kau bisa lebih celaka dari saat ini, Mat a Elang!"

"Baik, Nyai...!"

Di dalam kamar it u, t ubuh Badai Kelabu dibaringkan di at as lant ai, bukan di at as t empat t idur. Seba b saat it u, Cempaka Ungu segera ikut masuk ke dalam kamar, dan membent ak Singo Bodong,

"Jangan t aruh dia di at as pembaringan P endekar

Mabuk! Bisa kotor t empat t idur it u, Goblok!"

Singo Bodong t akut . Maka, t ubuh Badai Kelabu dit aruhnya di lant ai. T ubuh it u sangat memprihat inkan. Lemas sekali, dan dingin di t elapak kaki sert a di beberapa t empat lainnya. Napasnya memang masih ada, t api sangat t ipis dan t ak kentara lagi helaannya.

Cempaka Ungu sengaja ikut masuk ke dalam kamar

it u.        Bukan   semat a-mata    ingin melihat      cara        Sut o melakukan penyembuhan t erhadap t ubuh yang t inggal menunggu lepasnya nyawa it u, t api juga menampakkan rasa    was was,              karena  ia             t akut    kalau-kalau         Sut o melakukan kemesraan secara diam-diam dengan Badai Kelabu. Cempaka Ungu menyimpan kecemburuan yang t ak mampu diungkapkan karena Sut o t ak pernah memberi sambut an t erhadap hasrat hat inya.

Buat Cempaka Ungu, kehadiran P endekar Mabuk di

P ulau Beliung adalah ses uat u yang menggembirakan, juga menjengkelkan. Gembira, karena hat inya t erpikat kepada                Pendekar            Mabuk  dan berharap     mendapat sambut an     hangat  dari        P endekar           Mabuk  it u, menjengkelkan                karena  Sut o t ak             pernah memberi sambut an hangat yang diharapkan. T et api secara jujur Cempaka Ungu mengakui, kehadiran P endekar Mabuk t elah membuat hat inya lupa pada seseorang yang sudah sat u tahun menjalin hubungan cinta dengannya.

P engobat an yang dilakukan Pendekar Mabuk sangat sederhana, t api membuat P endekar Mabuk sedikit bingung, ia berpikir beberapa saat , sampai akhirnya Dewa Racun yang berdiri di samping Cempaka Ungu

bert anya,

"Ap... ap... apa yang ingin kau lakukan, Sut o?" "Memasukkan t uak ini ke dalam mulutnya. Dia t idak

bisa menelan apa-apa. Tenggorokannya bagai t erkunci. Harus dilakukan dengan paksa."

"Se... sebaiknya kau masukkan t uak it u lewat semburan dari mulut mu," usul Dewa Racun.

"Maksudnya," Cempaka Ungu menyela bicara, "Sut o menampung t uak               dalam mulut nya,             lalu mulut nya dirapatkan ke mulut Badai Kelabu dan t uak di mul ut P endekar Mabuk disemburkan ke dalam mulut Badai Kelabu?"

"T ep.. t ep... t epat sekali!"

"T idak!" sent ak Cempaka Ungu dengan cemberut , "It u t idak baik dan t idak pant as! P enyembuhan it u penyembuhan mesum namanya!"

Sut o t ahu Cempaka Ungu merasa cemburu, sehingga Sut o hanya t ert awa geli beberapa saat . Wajah Cempaka Ungu menjadi merah dadu menahan malu, karena kecemburuannya diket ahui Sut o dan dit ert awakannya.

"T api... t erserah dialah!" ucap Cempaka Ungu sambil bersungut -sungut             dan        palingkan             wajah,  t ak         mau memandang.

"Singo   Bodong,               carikan  aku         corong  unt uk memasukkan t uak ke dalam mulut Badai Kelabu!"

"Corong...?!" Singo Bodong berkerut dahi.

"Daun   saja!" kat a P endekar Mabuk     kemudian. "Ambil daun unt uk kit a bikin corong, dan t uak ini bisa dimasukkan ke dalam kerongkongan Badai Kelabu

memakai bant uan corong daun t ersebut !"

"Nah, it u baru pengobatan yang jit u!" sahut Cempaka

Ungu lega.

*

* *



4

SUN GGUH         sederhana          pengobatan       it u.        Hanya menelan t uak beberapa t eguk, lalu ist irahat sat u malam, esok paginya semua luka memar telah hilang, luka berdarah di bet isnya menjadi kering dan nyaris hilang. Badan t erasa segar, bahkan Badai Kelabu merasa sepert i mendapat kekuatan baru. Lebih lincah dalam bergerak, lebih lega dalam bernapas.

"Hanya dengan t uak...?" gumam Cempaka Ungu di

dalam hat inya. "Apakah suat u saat nant i kalau aku mengalami luka dalam at au luka luar bi sa cepat sembuh hanya dengan minum t uak? Ah, kurasa t uak it u t idak sembarang t uak. T api..., seingat ku t uak it u diperoleh dari t uak yang diberikan oleh Ibu. Apakah semua t uak yang diberikan oleh Ibu mempunyai khasiat yang begit u t inggi unt uk penyembuhan? Hmm...? Mengapa Ibu diam saja dan tak pernah cerit akan hal it u padaku?"

Kalau saja saat it u Pendekar Mabuk mendengar

percakapan hat i Cempaka Ungu, maka gadis it u past i akan dit ert awakan. Cempaka Ungu berpendapat t erlalu sederhana, ia t idak t ahu bahwa yang mempunyai khasiat mujarab dan hebat adalah bukan t uaknya, melainkan

bumbung t empat menyimpan t uak it u. Sembarang t uak bisa masuk ke bumbung it u, t api t idak sembarang bumbung bambu yang bisa mengeluarkan khasiat dahsyat sepert i it u.

Bumbung bambu it u dulu bekas milik si Gila T uak

semasa mudanya. Bumbung it u diperoleh Sabawana, nama asli Gila T uak, ket ika Sabawana berada dalam penjara bumi. Ia t erperosok ke sana dalam sat u pengejaran. Musuh yang dikejarnya adalah Yopradigda, yang kemudian bergelar Malaikat T anpa Nyawa dan dikalahkan oleh Gila T uak.

Yopradigda pada wakt u it u berhasil mengubah diri menjadi seekor belalang dan t erbang ke sana kemari karena             t akut       t ert angkap        oleh Sabawana.                Dalam pengejaran it ulah Saba wana t erperosok dalam lubang sumur yang amat dalam. T ernyat a lubang sumur it u adalah lorong sebuah gua. Di dalam sana, Saba wana menemukan beberapa lorong berliku-liku. Ia melangkah menyusuri lorong it u, t api t ak dapat menemukan jalan keluar. Bahkan jalan t empat terperosoknya semula juga

t idak bisa dit emukan kembali.

T ak t erasa hari bergant i hari dan bulan bergant i bulan, Sa ba wana sibuk mencari jalan keluar dan t ak pernah berhasil. It ulah sebabnya Saba wana menamakan t empat it u adalah penjara bumi. T et api Saba wana t ak pernah put us harapan, ia selalu berusaha mencari jalan keluar, ke mana pun arah lorong it u berada ia s usuri

t erus walau sering sekali ia merasa melewat i jalan yang pernah dilewat i lebih dari t iga kali.

Di dalam penjara bumi it u, Saba wana akhirnya bert apa. Rasa put us asanya dilampiaskan dalam upaya t erakhir, yait u semadi dengan t ujuan memint a bant uan kepada Hyang Widi agar ia bisa bebas dari penjara bumi.

Di dalam t apanya it u, Sa bawana merasa dit emui oleh

seorang bocah t elanjang berusia ant ara t iga t ahun. Bocah it u berambut t ipis, matanya t ajam, berkesan bandel dan nakal. Bocah it u bert anya kepada Sabawana,

"Apa yang kamu cari di sini, Kak? Bukankah ilmumu

sudah t inggi?"

Sa bawana menjawab, "Aku mencari jalan keluar dari penjara bumi ini," sambil menjawab be git u, hat i Sa bawana bert anya juga, "Siapa sebenarnya anak kecil it u?"

T et api anak t ersebut malah bertanya, "Siapa namamu, Kak?"

Sa bawana yang masih berusia dua puluh dua t ahun it u menjawab,

"Namaku Saba wana, murid dari Eyang P urbapat i." "O, kakak muridnya P urbapat i?"

"Benar, Dik. Siapa namamu dan apakah kau kenal dengan Eyang P urbapat i?"

"Sangat kenal Kak. Eyang P urbapat i juga past i kenal denganku jika kau sebut kan nama Wijayasura."

"O, namamu Wijayasura?"

"Benar, Kak."

"Apakah kau bisa membant uku keluar dari dasar bumi ini?"

Bocah kecil yang masih suka menyedot ingusnya it u

menjawab sambil t ert awa.

"Kakak saja yang sudah besar t idak bisa keluar dari penjara bumi, apalagi aku yang masih kecil. Hi hi hi...!"

Sa bawana          menahan             napas,   agak       dongkol juga mendengar jawaban yang merupakan sat u harapan namun t ernyata harapan kosong yang diperolehnya. Tapi bocah it u segera berkat a lagi,

"T api kalau kakak mau menunggu t umbuhnya sebuah pohon bambu hingga bambu it u menjadi besar dan daunnya mengering, kakak akan bisa menemukan jalan keluar dari t empat ini. Ambillah bambu it u dan pakailah sebagai t empat t uak. Karena aku t ahu kakak suka minum t uak. T ebanglah bambu besi it u dengan pedangmu, set elah it u jangan lagi kakak gunakan pedang it u. Jelas?"

"Jelas, Dik."

"Sampaikan salamku pada Eyang P urbapat i-mu it u!" Wijayasura mau pergi, t api Saba wana cepat bert anya,

"Dik, di mana t empat t inggalmu sebenarnya?"

"Aku ada di pohon bambu it u!" set elah menjawab begit u, bocah t elanjang yang t idak mempunyai pusar it u hilang                lenyap  dari        pandangan mat a             semadinya Sa bawana. Dan seket ika it u Saba wana t ersent ak kaget dari t apanya.

Lebih     t erkejut              lagi ket ika           pandangan         mat anya menemukan sebuah pohon bambu yang masih kecil, t ak jauh dari t empatnya bert apa. P ohon bambu it u aneh. Daunnya hanya t iga lembar, warnanya hijau kehit am- hitaman.                Ket ika  Sabawana           mendekat           dan        ingin memegangnya t iba-t iba t ubuhnya t erpent al mundur,

t erlempar           jauh       ant ara  sepuluh                kaki dari t empat t umbuhnya pohon bambu muda it u.

"Bocah yang mengaku Wijayasura it u mengat akan bahwa dirinya t inggal di pohon bambu t ersebut . Apakah dia menjelma menjadi pohon bambu, atau sebagai penjaga     pohon   bambu?"             pikir       Sabawana           sambil mengusap-usap pinggangnya yang terasa hampir pat ah gara-gara t erlempar jauh t adi.

Sa bawana t erpaksa menunggu t umbuhnya pohon

bambu t ersebut sambil melat ih beberapa jurus silat nya. Sat u keanehan lagi yang t erjadi pada pohon bambu it u t erletak pada pert umbuhannya. Pohon tersebut t umbuh dengan pesat . Gant i hari gant i pert umbuhan. Sat u hari bert ambah panjang sat u jengkal. T et api warna daunnya t et ap hijau kehit am-hit aman dan hanya t iga lembar. P ohon it u t umbuh dengan lurus dan membeng-kak.

Ket ika pohon t ersebut sudah mencapai ket inggian seukuran t inggi t ubuh Saba wana, t iba-t iba daunnya mengering, t api belum berjat uhan. Pada saat it u, Sa bawana mendengar suara gaib yang berjenis s uara anak-anak. Suara it u adalah suara Wijayasura.

"Saba wana, jika t iga daun it u t elah jat uh dengan

sendirinya, tebanglah bagian ujungnya tepat pada ruas pert ama, lalu t ebang pula t epat pada ruas kedua. Set elah it u, pergilah ke arah mana saja sesukamu, kau akan menemukan jalan keluar. Dan karena    aku sudah memberikan                jalan      keluar   padamu,              kau         harus menyerahkan semua ilmumu kepadaku, karena kau meminjamnya dariku...."

Sa bawana kurang jelas dengan kalimat t erakhir? T api ia lebih mement ingkan kalimat-kalimat pert ama. P ohon bambu harus dit ebang bagian pucuk pada ruas pert ama, lalu ruas kedua. P adahal pohon bambu yang t umbuh membengkak it u hanya mempunyai t iga ruas. Ruas ket iga adalah bagian pangkal dekat dengan t anah. Ruas ket iga it u jaraknya sangat dekat dengan ruas kedua, kurang dari empat jari. Ruas kedua dengan ruas pert ama jaraknya cukup panjang. Saba wana mulai paham, bahwa bocah t anpa pusar yang mengaku bernama Wijayasura it u menghendaki agar Sabawana memanfaatkan bambu di ant ara ruas pert ama dengan ruas kedua sebagai bumbung t empat t uak.

Maka,   Sabawana           pun        mulai menebang bambu berwarna coklat dengan sedikit semburat warna hitam pada bagian ruas keduanya. Tent u saja hal it u ia lakukan set elah t iga lembar daun bambu jat uh ke t anah dan lenyap t anpa bekas. Bambu it u t idak mempunyai kekuat an yang melemparkan t ubuh Saba wana ket ika didekat i. Karenanya, Saba wana bisa menebang dengan bebas dan leluasa. Hanya anehnya, ket ika pedangnya dipakai menebang ruas kedua,                pedang it u pat ah bersamaan t erpot ongnya bambu t ersebut . T ent u saja pedang it u t ak bisa digunakan lagi dan dit inggalkan oleh Sa bawana di dekat sisa potongan pohon bambu. Dan anehnya lagi, sisa pot ongan pohon bambu it u menjadi lenyap set elah Saba wana melangkah t iga t indak dari t empatnya         menebang t adi.               Saba wana                mencari-cari bekasnya, t api t ak dit emukan sama sekali. Yang ada

hanya sisa pedangnya yang bergagang menyerupai guci t uak berukuran kecil.

Apa yang dikat akan oleh suara gaib dari Wijayasura it u memang benar. Ke mana pun arah yang dit uju oleh Sa bawana, ia selalu menemukan t empat t erang, sebagai jalan keluar dari gua t ersebut . Dan ket ika ia muncul, t ernyata ia berada di lereng sebuah gunung. Gunung it u dikelilingi oleh laut an. Sabawana segera menyimpulkan bahwa gunung it u berada di t engah laut an. Saba wana mengenal gunung it u bernama Karak Kato, yang unt uk kemudian hari banyak disebut -sebut orang sebagai Gunung Krakat au.

Cepat-cepat       Sabawana           pulang ke            pesanggrahan

gurunya,              dan        ia             menemui Eyang P urbapat i,       lalu mencerit akan pengalamannya. Saba wana baru sadar bahwa ia t elah berada di penjara bumi it u selama dua t ahun, t erhit ung dari pamitnya Sabawana kepada sang Gur u. Eyang P urbapat i t erperanjat mendengar cerit a Sa bawana, kemudian guru Sa bawana it u berkat a,

"Mest inya kau t idak memanggil bocah kecil it u

dengan sebut an Dik. Mest inya kau memanggilnya : Eyang."

"Mengapa begit u, Eyang Guru?"

"Karena bocah kecil it u adalah jelmaan dari wujud kecil guruku, yait u Eyang Wijayasura."

"Oh...?!" Sabawana kaget sekali mendengarnya dan merasa t akut .

"Wijayasura        adalah   nama     asli          guruku,                ia menghabiskan sisa hidupnya dengan bert apa di dasar

laut di ba wah gunung Karak Kat o. Eyang Wijayasura adalah manusia t anpa pusar, dan semua ilmuku yang kut urunkan kepadamu adalah ilmu milik beliau. Maka, pesanku kepadamu, Saba wana, jangan t urunkan ilmumu kepada siapa pun, kecuali kau menemukan orang at au bocah yang t idak mempunyai pusar. T urunkanlah ilmu it u kepadanya, dan berikanlah bumbung t uak pusaka ini kepadanya, karena ilmu it u sepert inya dimint a kembali oleh Eyang Wijayasura melalui suara gai b t erakhir yang kau dengar it u...."

Begit ulah asal mula bumbung t empat t uak t ersebut ,

yang menurut Eyang P urbapat i, di bumbung it ulah sukma Wijayasura bersemayam. Dan Sabawana yang kemudian                dikenal dengan julukan Si Gila    T uak menemukan bocah t anpa pusar dari keluarga Wiseso yang terbant ai kecuali bocah it u. Lalu, Saba wana at au Si Gila T uak mengangkat nya sebagai murid. Bocah it u bernama Sut o, dengan nama lengkap: Sut owijaya! Bocah it ulah yang kemudian t umbuh sebagai pemuda gagah perkasa dan t ampan wajahnya, gemar minum t uak sehingga, mendapat gelar P endekar Mabuk dan akrab dipanggil dengan nama Sut o Sint ing, (Baca serial P endekar Mabuk dalam episode: "Bocah T anpa P usar").

Apakah Sut owijaya adalah t it isan dari Wijayasura? Hanya Eyang P urbapat i yang bisa menjelaskannya, karena Si Gila T uak sendiri t idak bisa memast ikannya. Yang jelas, Wijayasura menemui ajalnya dengan cara

'muksa', at au lenyap t ak berbekas, kecuali pakaiannya.

Sut o t idak mencerit akan pengalaman yang didengar

dari mulut si Gila T uak it u kepada siapa pun. Karena menurutnya,           hal          it u t idak              begit u  pent ing               unt uk dicerit akan kepada siapa pun, unt uk menghilangkan kesan menyombongkan diri. Ia hanya mengingat -ingat pesan                gurunya,              bahwa  lebih      baik        mengut amakan kepent ingan orang banyak daripada mengut amakan kepent ingan diri sendiri.

It ulah sebabnya, Sut o pun merasa punya kewajiban menolong guru Ba dai Kelabu yang t erancam mat i karena t erkena pukulan 'P usaka Tombak Maut '. Hanya saja, Badai Kelabu masih sedikit sangsi dengan kemampuan Sut o. Terang-terangan ia berkat a,

"P usaka Tombak Maut adalah pusaka yang ganas dan

berbahaya, apalagi di t angan orang-orang angkara murka! Tak pernah ada lawan yang luput dari ancaman maut P usaka Tombak Maut , menurut cerit a guruku. Jika kau ingin mengobat i guruku, apakah kau punya pusaka lain yang bisa menandingi racun dari P usaka T ombak Maut it u? Apakah kau juga mempunyai Bat u Galih Bumi, sepert i yang dimiliki Nyai Rat u Pekat it u?"

"Aku t idak mempunyai Bat u Galih Bumi," jawa b P endekar Mabuk. "Tapi aku percaya bahwa gurumu past i doyan minum t uak!"

"Kau ini sint ing amat ? Orang sakit kau suruh minum t uak?"

"Kau pun t adinya t erluka parah, dan menjadi sehat sepert i pagi ini karena minum t uakku!"

"Aku hanya sakit biasa. Lukaku bukan karena luka t erkena senjat a P usaka Tombak Maut , sedangkan guruku

sakitnya karena terkena P usaka T ombak Maut !"

"T idak  ada         pusaka  yang      t idak     mempunyai kelemahan? Sama halnya t idak ada orang kuat yang t idak mempunyai kelemahan. Di at asnya orang kuat , ada yang lebih kuat lagi. Di at asnya orang sakt i, ada yang lebih sakt i lagi. Begit ulah falsafah hidup yang mest inya kau sadari, Badai Kelabu!"

P erempuan it u memalingkan wajah, memandang Sut o Sint ing dengan dahi berkerut, lalu ia ceploskan kat a dengan suara pelan,

"Jadi kau merasa lebih sakt i dari guruku?"

"Aku t idak berkat a demikian," jawab P endekar Mabuk sambil t ersenyum bijaksana dan menawan hat i set iap perempuan, termasuk hat i Badai Kelabu sendiri saat it u.

Badai Kelabu mengambil sebut ir bat u seukuran biji

salak dan berkat a, "Bat u hit am ini sangat keras. Guruku bisa meremas bat u hit am ini dalam sat u kali genggaman dan hancur menjadi serbuk-serbuk hitam. Apakah kau bisa melakukan begit u?"

Sambil senyum-senyum P endekar Mabuk mengambil bat u it u dari t angan Badai Kelabu, lalu ia berkat a, "Menggenggam bat u begini...," Sut o menggenggam bat u it u,  "Dan membuatnya          menjadi hancur                berbent uk serbuk-serbuk hit am adalah hal yang amat mudah. Tapi apakah gurumu bisa membuat bat u ini menjadi kembar dua dalam sat u genggaman t angan?"

"Maksudmu, kembar dua bagaimana?"

"Sepert i ini!" Sut o membuka genggamannya. Mat a

perempuan it u t erkesiap melihat bat u dalam genggaman Sut o menjadi dua, sama besar, sama warnanya dan sama bent uknya. Badai Kelabu di buat melongo mulutnya oleh

'permainan' Sut o yang diperolehnya dari ilmu bibi gurunya, yait u Bidadari Jalang. Badai Kelabu t ak mengert i bahwa P endekar Mabuk mempunyai ilmu sihir dari Bidadari Jalang yang dulu pernah dikenal dengan sebut an Rat u Sihir oleh sekelompok golongan, terut ama oleh para t okoh t ua di daerah t anah Jawa Wet an.

Se belum habis rasa kagum Ba dai Kelabu, Sut o kembali berkat a sambil menggenggam lagi dua bat u kembar t ersebut ,

"Meremas          bat u      agar       menjadi               hancur  hanya

dibut uhkan pemusatan t enaga dalam yang dibarengi

t ersalurnya hawa panas int i dalam t ubuh kit a. Maka bat u pun bisa hancur menjadi serbuk hit am sepert i ini...," Sut o membuka genggamannya.

Badai Kelabu kerut kan dahi, karena di t elapak t angan

P endekar Mabuk ia t idak melihat serbuk hitam hasil dari remasan t angannya. Sut o hanya t ersenyum ket ika Badai Kelabu berkat a,

"T ak ada              serbuk hit am!   Bat u it u hilang dari

genggamanmu."

"Siapa bilang? Cobalah kau sent uh bagian at as t elapak tanganku!"

Badai kelabu menyent uhnya dengan jari t elunjuk. Namun sebelum jari t elunjuk it u menyent uh kulit t elapak

t angan P endekar Mabuk, t elunjuk it u merasakan t elah menyent uh segumpalan serbuk kasar yang t ak t erlihat

oleh mat a. Bahkan Badai Kelabu bisa menjumput serbuk it u dan menabur-naburkan di at as t elapak t angan Sut o, t api mat anya t ak melihat sebut ir serbuk pun.

Membat inlah    hat i       Badai     Kelabu, "Luar     biasa kehebat an ilmunya. Serbuk ini bisa menjadi senjat a unt uk menaburi mat a lawan, t oh lawan t idak melihat ada serbuk yang akan dit aburkan?! Rasa-rasanya Guru t ak mungkin bisa melakukan hal sepert i ini! Rasa-rasanya ilmu P endekar Mabuk lebih t inggi daripada ilmunya Gur u. Ya, ya... sekarang aku percaya, dia past i bisa mengat asi luka-luka yang diderit a Guru!"

P endekar Mabuk segera ajukan t anya, "Apakah kau masih        sangsi    dengan kesanggupanku                unt uk menyembuhkan sakit yang diderit a gurumu?"

Badai Kelabu berkata, "Unt uk sat u hal ini, kuakui kau lebih unggul dari gur uku. T api unt uk penyembuhan, aku masih sangsi. Hanya saja, t ak ada jeleknya jika aku mencoba membawamu ke P ulau Hit am dan memberi kesempatan padamu unt uk menyembuhkan Guru. T etapi aku mint a sat u jaminan darimu, Sut o."

"Jaminan apa maksudmu, Badai Kelabu?"

"Jika       Guru t ak             bisa        sembuh,              kau harus rela menyerahkan nyawamu ke t anganku. Kau harus mau kubunuh!"

Sut o Sint ing tert awa sambil mengambil bumbung

t uaknya. T awanya terhent i dan ia berkat a, "Nyawaku t idak semurah it u!"

"Karena aku juga punya jaminan!" kat a Badai

Kelabu.

Sut o meneguk t uaknya beberapa kali, kemudian baru bert anya,

"Jaminan apa?"

"Jika guruku bisa sembuh, kupasrahkan jiwa ragaku kepadamu!"

"Jika aku t idak mengobat i gurumu, apakah kau yakin t ak akan memasrahkan jiwa ragamu kepadaku?"

Badai     Kelabu  diam      t ersekap             malu.     Wajahnya semburat merah dadu karena menahan malu. P endekar Mabuk                menert awakannya         dengan mat a     t et ap memandang kepada perempuan it u. Yang dipandang jadi salah t ingkah. Mat anya menat ap ke mana saja, sampai akhirnya ia kembali menat ap Sut o dan berkat a,

"Baiklah. Kit a t ak perlu saling ada jaminan sepert i it u! Akan kucoba membawamu kepada Guru, walau nant inya Guru akan murka padaku karena aku t ak mendapatkan Bat u Galih Bumi!"

"Murka gurumu bisa kuredakan! T api kumohon

jangan lagi kau berusaha merebut ataupun mencuri Bat u Galih Bumi, karena it u bukan hakmu, bukan pula hak gurumu. Rat u P ekat yang berhak memiliki Bat u Galih Bumi it u! Jika kau merebut nya, berart i kau merusak persahabat anmu dengan Rat u Pekat , bahkan bisa jadi merusak nyawamu sendiri. Sebab aku t ahu, kau bukan t andingan Rat u P ekat , ilmumu masih jauh di bawahnya."

"Kau bermaksud menghinaku?"

"T idak. Aku t idak bermaksud menghinamu at au merendahkan kamu. T api aku bermaksud memacu semangatmu agar t erus menunt ut ilmu set inggi mungkin,

supaya kau t idak direndahkan oleh orang lain!"

Badai Kelabu akhirnya hempaskan napas panjang, lalu berkat a,

"Sulit sekali membantah kat a-kat amu. Sebaiknya memang kit a segera bertolak dari pulau ini menuju P ulau Hit am. Sebaiknya... sebaiknya aku memeriksa perahu dul u sebelum berangkat !"

"Aku hanya akan membawa De wa Rac un. Mungkin dia bisa membant uku!"

T anpa   diket ahui            oleh       mereka,               sepasang             mat a memperhat ikan percakapan it u dan mencuri dengar semuanya. Sepasang mat a it u adalah milik Cempaka

Ungu yang berwajah berang.

*

* *



5

BARU saja menapakkan kakinya di pasir pant ai, Badai Kelabu sudah mendapat serangan dari arah belakang.       Hembusan                angin     panas t erasa melesat mendekat i punggungnya. Badai Kelabu cepat sent akkan kaki dan melesat ke samping. Wuttt...! Dan ia berada di at as sebuah bat u dalam kejap berikut nya.

Beggh...! P ukulan tenaga dalam berhawa panas it u

mengenai pasir pant ai. P asir it u menyembur ke at as dan berhamburan t ert iup angin laut an. Sebagian ada yang memercik di kaki Badai Kelabu.

Sesosok bayangan melesat dari balik rimbunan pohon

pant ai. Bayangan it u berwarna ungu. Dengan cepat Badai Kelabu mengenali bayangan tersebut . P ast i Cempaka Ungu! Jlegg...!

Lompat an Cempaka Ungu t erjadi dua kali. Sat u kali ia melompat dan hinggap di pasir pant ai, sat u kali lagi ia melompat dan hinggap di at as sebuah bat u berukuran t inggi sat u tombak, sama dengan ukuran t inggi bat u yang dipakai berpijak Badai Kelabu.

"Kau      lagi!"      geram   Badai     Kelabu, ia             berani

menggeram       jengkel karena  sejak     perist iwa pert arungannya dengan Rat u P ekat , Cempaka Ungu sudah t idak     lagi                menampakkan  sikap bersahabat dengannya. Cempaka Ungu sendiri merasa bermusuhan dengan           Badai Kelabu karena   beberapa hal yang menjengkelkan hat inya.

"Apa maksudmu menyerangku, Cempaka Ungu?"

"Mest inya kau sudah t ahu, bahwa aku sudah t idak menyukaimu lagi!" jawab Cempaka Ungu dengan sinis dan ket us.

"Aku tak merasa rugi t idak disukai orang macam

kamu!" balas Badai Kelabu t ak kalah ket us dan sinisnya. Keduanya saling berhadapan dalam jarak delapan langkah.

"Jika begit u, sebaiknya kumusnahkan saja dirimu, Badai Kelabu!"

Sret t ...!              Cempaka             Ungu     mengawali          mencabut pedangnya.

"T unggu dulu! Apa alasanmu sehingga bernafsu sekali unt uk membunuhku, Cempaka Ungu? Apakah kau

masih menyangka aku akan merebut at au mencuri Bat u

Galih Bumi milik ibumu it u?"

"Aku sudah t idak berpikir hai it u lagi, Ba dai Kelabu! Karena aku t ahu, kau tak akan mampu merebut nya dari t angan ibuku! Kalau bukan karena P endekar Mabuk yang           menahan             pukulan                ibuku,   nyawamu            sudah melayang sejak kemarin sore, Badai Kelabu!"

"Lalu, apa masalahnya sehingga kit a harus bert arung di sini?!"

"Hmmm..., kau t akut rupanya?!" Cempaka Ungu t ersenyum sinis.

"T akut melawanmu sama saja t akut melawan bocah ingusan! Sama sekali tak ada gent ar di hat iku unt uk melawanmu,                Cempaka             Ungu!   T api       sebelum              aku membelah kepalamu, lebih dulu aku ingin t ahu apa alasanmu sehingga kamu sangat bernafsu mat i di

t anganku?!"

"Pert anyaan yang sombong!" geram Cempaka Ungu. "Badai Kelabu! Kalau kau ingin t inggalkan pulauku ini, cepat lah pergi dan t ak perlu membawa P endekar Mabuk it u!"

"Aku harus pergi dengan membawanya! Karena dia

yang akan menjadi t abib unt uk guruku!"

"Perset an dengan gurumu, Badai Kelabu! Sut o harus t et ap di sini!" sent ak Cempaka Ungu.

"Kau t idak berhak menent ukan dia harus ada di mana! Kau bukan apa-apanya, Cempaka Ungu!"

"Memang! T api dia punya kepent ingan dengan ibuku di pulau ini!"

"Apakah ibumu jat uh cint a kepada P endekar Mabuk? Oh, alangkah pikunnya ibumu it u, sudah t ua masih cari yang muda! Serakah sekali dia?!"

"T ut up mulutmu, Badai Kelabu! Sekali lagi kau menghina ibuku, kut ebas lehermu t anpa ampun lagi!" Cempaka Ungu menjadi gusar.

"Kau pikir mudah menebas bat ang leherku, Bocah

ingusan?!            Ilmu pedangmu                masih    cet ek    dan        t ak sebanding dengan  ilmu pedangku!"              sent ak                Badai Kelabu. Lalu, ia pun mencabut pedangnya. Srett ...!

"Jangan kau meremehkan aku, Badai Kela bu! Ka u

akan menyesal jika sudah t ahu set inggi apa ilmu pedangku!"

"Bukt ikan di depan mat aku! Jangan hanya bisa berkoar saja!" t ant ang Badai Kelabu dengan lant ang. Cempaka                Ungu     semakin               panas    hat i mendengar t ant angan it u, maka ia pun berseru,

"Benar-benar cari mampus kau, hiaaat ...!"

"Hiaaahh...!"

Cempaka Ungu sent akkan kakinya dan t ubuhnya pun melent ing di udara dengan berjungkir balik sat u kali. Badai Kelabu pun cepat melesat ke udara dan berjungkir balik sat u kali, lalu keduanya saling membabat kan pedang ke arah lawan masing-masing.

Trang t rang t rang...!

Gerakan pedang Cempaka Ungu cukup cepat, t api Badai Kelabu t ak kalah cepat dengan gerakan it u. P edangnya                menangkis set iap            sabet an pedang dari Cempaka Ungu. Lalu, kaki kanannya sempat menendang

ke belakang saat t ubuh mereka saling melint as lewat . Begg...!

Badai Kelabu mendaratkan kakinya         di t empat berdirinya Cempaka Ungu t adi, yait u di at as bat u. Se dangkan Cempaka Ungu hampir saja t ersungkur akibat t endangan kaki lawannya yang mengenai bagian pinggang kanan, ia berhasil mendarat di at as bat u bekas t empat         berdiri Badai       Kelabu  dengan sedikit sempoyongan, nyaris jat uh ke bawah.

Se gera Cempaka Ungu membalikkan badan, dan menghirup napas panjang-panjang. P ada saat it u, Badai Kelabu pun s udah siap berdiri menant ang serangan berikut nya. Unt uk sesaat Cempaka Ungu t idak bicara, karena  ia harus segera                menahan napasnya        unt uk menahan rasa ngilu di sekujur t ulang iganya akibat

t endangan Badai Kelabu t adi.

"Bagaimana?      T ersumbatkah  napasmu             karena t endanganku?" ejek Badai Kelabu dengan senyum sinisnya.

"Hmm..., t erlalu ringan t endanganmu! Adakah yang

lebih hebat lagi dari t endangan seekor kucing mabuk t adi?" Cempaka Ungu t ak mau kalah ejek, walau sebenarnya                dalam    hat i Cempaka Ungu mengakui beratnya t endangan lawan.

"Ha ha ha ha... kau boleh berkat a begit u, t api aku t ahu

kau sedang menahan rasa sakit, Cempaka Ungu. Kulihat wajahmu menjadi pucat dan keringat dinginmu keluar di bagian keningmu!"

"Sial! Dia menget ahui keadaanku!" geram Cempaka

Ungu dalam hat inya. Karena rasa malu, maka t anpa bicara apa-apa lagi, ia segera sent akkan kaki dan kembali menerjang ke arah lawannya.

"Hiaaat ...!"

Wugggh...! Wugggh...!

Dua sosok manusia perempuan it u saling t erjang kembali di udara. P edang mereka saling dikibaskan dengan cepat.

Trang t rang t rang...! Buhgg...!

Jleg...! Cempaka Ungu mendarat kan kakinya di t anah, ia t elah berhasil menyodok bagian bawah ket iak lawannya dengan siku yang berkekuatan t enaga dalam. Sodokannya t adi t erasa t erkena t elak. It ulah sebabnya ia membalikkan t ubuh dengan t ersenyum angkuh.

Badai Kelabu berhasil berdiri dengan t egak walau t adi saat mendarat kan kakinya di at as bat u t empat berdirinya Cempaka Ungu it u hampir saja ia t erjungkal jat uh.        Sodokan              keras     bert enaga          dalam    t erasa meremukkan     t ulang  rusuk     dan        menahan             jalur pernapasannya. T etapi ia masih mampu menahan dengan mengeraskan seluruh urat yang ada di sekit ar bagian bawah ket iak.

"Hai, wajahmu merah, Badai Kelabu! Sebent ar lagi kau rubuh karena sodokan sikuku t adi!" ledek Cempaka Ungu.

Badai Kelabu paksakan diri unt uk t ersenyum dari at as bat u, lalu ia berkat a, "Wajahku merah karena menahan nafsu unt uk membunuhmu!"

"Kenapa t idak kau lakukan?" t ant ang Cempaka Ungu.

"Kupikir, sia-sia membunuh anak kemarin sore!" "Kalau nyat anya kau tak mampu membunuhi anak

kemarin sore, mengapa harus merasa sia-sia?"'

"Karena aku punya urusan yang lebih pent ing daripada melayani kenakalan anak kemarin sore! Aku harus segera kembali membawa sert a Pendekar Mabuk it u unt uk menjadi t abib bagi guruku!"

"It u hanya impian kosong, Badai Kelabu! Langkahi dul u mayatku, baru kau bi sa membawa pergi P endekar Mabuk dari pulau ini!"

"Keparat kau! Bocah t ak t ahu diunt ung!" hardik

Badai Kelabu dengan membelalakkan mat anya yang ganas, ia pun segera mengangkat pedangnya ke at as, lalu dit arik t urun dalam sat u sentakan kuat , dan disent akkan kembali ke depan, ke arah Cempaka Ungu. Dan t iba-t iba dari ujung pedang it u t erlepaslah sinar merah cerah dengan gerakan secepat kilat. Zuittt...!

Cempaka Ungu t erkesiap sejenak. Cepat -cepat ia

hadangkan pedangnya unt uk menangkis sinar merah cerah it u. Dubbbh...!

"Aaahg...!" Cempaka Ungu t ersentak ke belakang dan jat uh t erlent ang. Sinar merah memang berhasil dit ahan dengan menggunakan pedangnya yang kedua ujungnya dipegang dengan dua t angan. T api begit u besarnya t enaga dorong yang dat ang dari sinar merah it u, sehingga t ubuh Cempaka Ungu t ak sanggup bert ahan unt uk t et ap berdiri, ia t erpent al ke belakang dalam keadaan sebagian rambutnya t erbakar karena t erkena percikan api sinar merah t adi. Bau rambut t erbakar

sangat kuat menusuk hidungnya.

Melihat lawannya jat uh, Badai Kelabu segera lompat dari at as bat u ke t anah. Jlegg...! P ada saat it u, Cempaka Ungu sedang bergega s unt uk bangkit . Maka dengan cepat Badai Kelabu berlari menyerang dan akhirnya melompat menerjang lawan dengan pedang lurus ke depan.

"Hiaaaaat ...!"

Cempaka Ungu t ak sempat menghindar, karena ia baru saja sa dar. Dengan gerakan cepat ia kibaskan pedangnya ke kiri dan ke kanan menangkis pedang Badai Kelabu.

Trang t rang...! Brreet ...!

"Auh...!" Cempaka Ungu t erpekik, ia t ak menyangka kalau gerakan t ubuh Badai Kelabu akan melesat ke at as ket ika t iba di depannya. T ubuh Badai Kela bu it u melent ing di udara dan bergerak menukik dalam sat u kibasan pedang. P edang it u berhasil menyabet pundak Cempaka Ungu dan t ubuh yang menukik it u cepat kembali pada posisi biasa, lalu mendarat di belakang Cempaka Ungu.

P undak Cempaka Ungu robek akibat sabet an pedang.

Lukanya cukup lebar dan mencucurkan darah segar. Badai Kelabu mengangkat pedangnya dari samping dan segera                menebas ke leher lawannya       yang sedang memunggungi dengan mengerang kesakit an. Wess...! Trang...!

T iba-t iba pedang Badai Kelabu t ak jadi menyent uh leher Cempaka Ungu. P edang it u membalik ke arah

semula,                bahkan t ubuh   Badai Kelabu it u t erbawa hent akan gelombang yang membuat pedangnya terpent al ke samping. T ubuhnya pun t erbawa t erpent al dan jat uh berguling, lalu cepat bangkit dengan sat u kaki masih berlut ut , pedang berdiri t egak di depannya, digenggam dengan dua t angan.

"Set an! Ada yang ikut campur urusanku!" geramnya

dalam hat i. Mat anya mencari sekeliling yang t ampak sepi. T api ket ika ia memandang ke arah perairan pant ai, ia melihat sebuah perahu warna merah mendekat i pant ai. P enumpangnya           empat   orang    lelaki yang           sedang memandang ke arah pert arungan t adi.

"Hmm... siapa mereka?" gumam hat i Badai Kelabu.

"Past i sat u dari mereka yang t adi menahan gerakan pedangku dan menghent akkan dengan kekuatan jarak jauh yang cukup t inggi!"

T erdengar suara Cempaka Ungu berseru kepada salah sat u penumpang perahu merah,              sambil mendekap lukanya yang masih berdarah,

"Sanjaya...!" Cempaka Ungu berlari menyambut

perahu merah it u.

Empat lelaki di at as perahu merah, hanya sat u yang t urun dan segera menyambut langkah kaki Cempaka Ungu yang limbung dan hampir jat uh. T ubuh Cempaka Ungu segera dit ahan oleh lelaki muda berkumis t ipis it u.

"Cempaka! Kau t erluka?!" Sanjaya yang berpakaian merah t ua dari bahan kain beludru dan bermanik-manik perak hias it u t ampak t egang melihat luka di pundak Cempaka Ungu.

"Dia... dia...," Cempaka kesakit an, ia sulit bicara. "Penghulu P et ir! Rawat kekasihku ini!" seru Sanjaya

kepada sat u dari ket iga orang di at as perahu merah t ersebut , ia sendiri segera berlari menemui Badai Kelabu yang masih siap menghunus pedang di t angan, berdiri dengan          kaki tegak,          bagai     menunggu          kedat angan lawannya.

"Beraninya kau melukai kekasihku, hah?! Siapa kau sebenarnya, P erempuan Dungu?!" sent ak Sanjaya.

Badai Kelabu mengernyitkan alis. Ia pandangi sesaat pria yang berompi merah dengan mengenakan baju lengan panjang komprang warna hit am, celananya pun merah  dihiasi   rajut an                benang put ih    perak    yang membent uk                hiasan.  Rambutnya         sedikit   panjang bergelombang dengan ikat        kain        beludru                merah bermanik-manik put ih perak. T ubuhnya t inggi, tegap dan kekar. Sebilah keris bergagang kayu merah t erselip di balik sabuk-nya yang berwarna merah pula. Keris it u t epat ada di depan perutnya dan siap unt uk dicabut sewakt u-wakt u.

"Sebelum kau t ahu namaku, t erlebih dulu aku ingin t ahu siapa                dirimu dan          apa         hubungannya    dengan Cempaka Ungu?" t anya Badai Kelabu dengan sikap t enang.

"Sudah kubilang               t adi,      Cempaka             Ungu     adalah

kekasihku!          Namaku               Sanjaya,               bergelar               P angeran

Berdarah!"

"Cukup asing namamu it u di t elingaku! P angeran

Berdarah...?!     Sebuah nama yang belum            kondang,

t ent unya!" ejek Badai Kelabu.

P angeran Berdarah merasa t erhina dan menggeram gusar. Wajahnya yang t ampan kelihat an buas dan liar. Se gera ia sent akkan tangan kanannya ke arah sebuah bat u, wuut ...! ia lepaskan pukulan t enaga dalamnya ke sana. Badai Kelabu hanya melirik dengan menyimpan rasa heran, ia sangka P angeran Berdarah memamerkan ilmunya.

Bat u it u t idak pecah. Badai Kelabu sunggingkan

senyum                t ipis       meremehkan.   Tapi        belum   habis senyumnya, t iba-t iba ia merasakan gelombang hawa panas mendekat inya dengan gerakan cepat , arahnya dari bat u yang habis dihant am P angeran Berdarah. Wuusss...! Beeghh...!

Badai Kelabu t erjungkal jat uh dan berguling-guling bagai dilanda angin t opan yang bert enaga besar. Rupanya pukulan yang dilepaskan P angeran Berdarah it u sengaja dipant ulkan melalui bat u t ersebut unt uk mengecohkan lawan, sehingga lawan menjadi kelabakan. "Edan! Ini jurus yang aneh!" pikir Badai Kelabu. "Hampir saja dadaku jebol t erkena pukulan it u kalau t ak segera              kuikut i gerakan                dorongnya. T ak kusangka pukulan it u memant ul ke arahku, sehingga aku hanya bisa menahan napas unt uk bert ahan menerima hembusan hawa panasnya it u. Kalau t idak kut ahan napasku, habislah aku dibakar gelombang hawa panas yang memant ul it u! Agaknya aku harus berhat i-hat i melawan

orang sat u ini!"

"Bangun kau, P erempuan Dungu!" sent ak P angeran

Berdarah. "Hadapilah aku jika kau memang berilmu t inggi!          Rasa-rasanya     kau memang tak              sebanding melawan Cempaka Ungu! Akulah lawanmu!"

Badai Kelabu cepat sentakkan kakinya dalam posisi bersimpuh, dan t iba-t iba t ubuh it u t elah melayang dengan ringannya, pedangnya segera dit ebaskan ke arah kepala    P engeran           Berdarah.            Wueesss...!        P angeran Berdarah                hanya    menghindar       ke           samping               dan membiarkan pedang it u menebas t empat kosong. T etapi kejap berikut nya, P angeran Berdarah cepat hant amkan pukulannya ke arah gugusan bat u. Wuttt ...! Begit u Badai Kelabu pijakkan kakinya ke t anah, ia t elah mendapat serangan pukulan t enaga dalam yang memant ul dari bat u it u. Wuugggh...!

Beggh...!

"Ehhg...!"            Badai     Kelabu  t ersent ak          karena punggungnya t erkena pukulan pant ul t ersebut. T ubuhnya melengkung kedepan dengan kepala t erdongak, mulut

t ernganga melepaskan pekik t ert ahan.

P ada saat it u, Pangeran Berdarah cepat sent akkan kakinya ke depan dengan kekuat an penuh                unt uk menendang perut Badai Kelabu. Kemungkinan perut it u akan jebol karena P angeran Berdarah menggunakan jurus t endangan 'T urangga Sakt i'.

Sayangnya, sebelum kaki it u menyent uh kulit t ubuh

Badai Kelabu, sebuah pukulan jarak jauh dilepaskan oleh seseorang dan menghant am mat a kaki P angeran Berdarah. Duuggh...!

"Auh...!" P angeran Berdarah t erpekik.

Kerasnya pukulan jarak jauh yang menghant am mat a kaki it u membuat kaki tersebut t ersent ak hingga memutar t iga kali dengan cepat. Kemudian P angeran Berdarah jat uh dalam keadaan pusing karena berput ar cepat t iga kali, dan ia sedikit menyeringai karena merasakan mat a kakinya bagaikan mau pecah.

"Hiaaat ...!" t erdengar pekik t iga orang yang segera

melompat diri t urun dari perahu merahnya. Mereka adalah P enghulu P et ir, si Lat ah Lidah dan Jalak P ut ih. Mereka sama-sama hendak menyerang dua orang yang salah sat unya t adi mengirimkan pukulan jarak jauh dan mengenai mat a kaki P angeran Berdarah. T et api, gerakan ket iga orang yang memihak Sanjaya it u segera t erhent i karena seruan dari Cempaka Ungu.

"T ahan...!"

Hanya sat u seruan, mereka bert iga sepakat hent ikan langkah. T api mat a mereka masih t ajam memandangi wajah P endekar Mabuk dan Dewa Racun. Orang yang mengirimkan pukulan jarak jauh t adi adalah Sut o Sint ing, yang dengan t enangnya berjalan mendekat i mereka sambil menyempatkan diri menenggak t uaknya beberapa t eguk.

P angeran Berdarah masih bisa bangkit walau sedikit pincang, ia mendekat i Sut o dan membent ak, "Siapa kau?!"

"Siapa...?!" bent ak si Lat ah Lidah mengikut i suara keras yang membuat nya lat ah ikut membentak.

"Cempaka Ungu t ent unya bisa menjelaskan siapa diriku dan siapa t emanku ini," kat a Sut o dengan kalem,

sambil ia menepuk-nepuk pundak Dewa Racun, t api t epukannya dikibaskan oleh Dewa Racun, ia t ak suka dit epuk pundaknya.

"Jawab saja        pert anyaanku!"               bent ak P angeran

Berdarah. ,

"Ya. Jawab...!" si Lat ah Lidah membent ak pula. "Jangan kau memancing persoalan denganku, t ahu?!" "T ahu!" jawab si Lat ah Lidah. Pangeran Berdarah

cepat pandangkan mat a padanya, si Lat ah Lidah cepat

menut up mulutnya dengan rasa malu dan bersalah.

Cempaka             Ungu     menggenggam  lukanya                dan mendekat i mereka, ia segera berkat a kepada P angeran Berdarah,

"T ahan amarahmu, Sanjaya! Mereka berdua bukan musuhku!"

"T api dia melumpuhkan t endanganku! Dia harus

kubalas!"

"Harus!" bent ak si Latah Lidah, sepert inya t ak boleh mendengar suara keras yang menyent ak, karena dia akan menirukan ucapan it u walau t ak mengert i maksudnya.

"Balaslah              pada      perempuan        busuk    it u!"      geram Cempaka Ungu sambil menuding Badai Kelabu yang berusaha bangkit dari jat uhnya.

"Cempaka,"        kat a      P endekar           Mabuk  sambil memperhat ikan luka di pundak perempuan it u, "Kenapa pundakmu?! Kau t erluka? Oleh siapa, Cempaka?!"

"Badai Kelabu ingin membunuhku, Sut o!" Cempaka

mengadu.

Sut o mau meraih pundak yang t erluka it u, t api

P angeran Berdarah cepat membent ak, "Jangan sent uh dia!"

"Jangan! Jangan sent uh dia! Aku saja! Eh... anu... anu...!" si Lat ah Lidah kebingungan sendiri set elah menyadari ucapannya,         ia             menut up mulut               dengan

t angannya,        sement ara         P enghulu            P et ir    segera menyeretnya, menjauhi mereka ke suat u t empat di

bawah pohon t eduh.

*

* *



6

P ERSOALAN it u dit engahi oleh Rat u P ekat . P ada dasarnya, Cempaka Ungu t ak mengizinkan P endekar Mabuk meninggalkan P ulau Beli ung, seba b t akut jika sewakt u-wakt u dat ang serbuan dari Siluman T ujuh Nyawa. Walau sebenarnya Rat u Pekat t ahu, bahwa put rinya it u cemburu jika P endekar Mabuk pergi bersama Badai Kelabu, t api ia berlagak t idak t ahu menahu maksud hat i Cempaka Ungu yang sebenarnya.

Badai Kelabu sendiri merasa perlu mempert ahankan

rencananya, yait u membawa Sut o Sint ing ke P ulau Hit am unt uk menyembuhkan gurunya. T api ia harus menyingkirkan Cempaka Ungu lebih dul u, karena Cempaka Ungu dianggap ingin menggagalkan rencana t ersebut , yang berart i ingin membiarkan guru Badai Kelabu mat i karena racun berbahaya dari P usaka Tombak Maut.

P endekar Mabuk t erpaksa mengobat i luka di pundak Cempaka Ungu dengan meminumkan air t uaknya. Rat u P ekat t ak begit u cemas dengan luka it u. Ia bahkan segera alihkan pembicaraan kepada P angeran Berdarah yang dat ang bersama t iga orang t emannya it u. Rat u P ekat belum mengenal ket iga teman P angeran Berdarah, sehingga hal it u perlu dipert anyakan.

"Apa maksudmu dat ang kemari dengan membawa t iga orang it u, Sanjaya? Aku belum mengenal siapa mereka!"

"Ibu Rat u," kat a P angeran Berdarah dengan sopan,

"Saya mohon Ibu Rat u t idak menaruh curiga kepada t iga t eman saya it u, mereka adalah Jalak P ut ih, si Lat ah Lidah dan P enghulu P et ir. Mereka yang akan membant u saya dalam mengejar larinya T apak Baja. P usaka milik Gur u saya t elah dicuri oleh Tapak Baja dan...."

"Aku sudah mendengar," sahut Rat u P ekat. "P usaka Tombak Maut milik gurumu; Ki Jangkar Langit , t elah berada di t angan T apak Baja, si Nakhoda Kapal Neraka it u."

P endekar Mabuk dan Dewa Racun diam saja. T api Dewa Racun manggut -manggut dan baru t ahu bahwa P angeran Berdarah adalah murid dari Ki Jangkar Langit , pemilik P usaka T ombak Maut it u. Pendekar Mabuk pun baru t ahu hal it u, t api ia sepert inya t idak begit u peduli siapa P angeran Berdarah, ia meneguk t uaknya sambil mengikut i percakapan t ersebut .

P angeran Berdarah berkat a kepada Rat u P ekat, "Saya dat ang kemari di samping unt uk menengok keadaan

Cempaka Ungu dan Ibu Rat u, juga mencari t ahu ke mana jejak kepergian si T apak Baja it u. Sebab Guru

t idak akan bisa t enang dalam menghabiskan sisa hidupnya jika P usaka Tombak Maut it u belum kembali ke       t angan                beliau.  Saya       t idak diizinkan  pulang menghadap beliau, jika T ombak Maut belum berhasil dit emukan. Jadi saya harus mencarinya ke segala penjuru dengan bant uan t iga t eman saya yang pernah saya tolong dalam menghadapi beberapa persoalan pribadinya it u, Ibu Rat u."

"Wat ak seorang murid yang baik," kat a Rat u P ekat .

"Ki Jangkar Langit past i suka mempunyai murid sepert i kamu, Sanjaya. T api ket ahuilah, jangan sekali-kali kau mencoba berhadapan dengan murid si Gila T uak...."

"Maaf, Ibu Rat u," pot ong Sanjaya dengan rasa penasaran. "Apakah di sini ada orang yang mengaku murid si Gila T uak? Seingat saya, Ki Jangkar Langit

t idak pernah mengatakan bahwa Gila T uak mempunyai

murid. Jangan sampai Ibu Rat u t erkecoh oleh pengakuan palsu."

"Pemuda yang sejak t adi minum t uak it ulah murid si Gila            T uak!"  jawab Rat u Pekat . Kemudian, mat a P angeran Berdarah menat ap P endekar Mabuk dengan sorot pandangan sinis dan meremehkan.

Sut o      duduk   berseberangan dengan P angeran

Berdarah. P endekar Mabuk selalu duduk bersimpuh, t ak mau duduk bersila. Dengan begit u t ubuhnya selalu kelihat an t egap dan sikapnya senant iasa siap siaga.

"Benarkah kau murid si Gila T uak, t eman dari guruku

it u?" t anya P angeran Berdarah kepada P endekar Mabuk. "Benar," jawab P endekar Mabuk pendek. T api

mat anya t et ap memandang lurus ke arah mat a P angeran Berdarah yang t ampak t idak percaya dengan pengakuan t ersebut .

Diam-diam          pangeran             berhidung           bangir   it u melepaskan kekuat an t enaga dalamnya melalui gerakan jari t elunjuknya. Jari t elunjuk it u bergerak maju, mendorong t ubuh P endekar Mabuk dari jarak jauh. Tapi P endekar Mabuk hanya sunggingkan senyum t enang sambil matanya t et ap memandang P angeran Berdarah.

P angeran Berdarah yang duduknya bersila di lantai marmer yang licin it u t anpa sadar t elah bergeser mundur pelan-pelan. Makin lama semakin mundur, semakin menjauhi t empat nya semula, dan begit u sadar ia sudah ada di t epian serambi ist ana. Sement ara it u P endekar Mabuk t et ap duduk bersimpuh di t empatnya. P angeran Berdarah bergegas maju lagi dengan sikap malu sekali, karena set iap mat a memperhat ikan gerakan mundurnya yang bagai didorong oleh suat u t enaga dari jarak jauh. Niatnya ingin menumbangkan Pendekar Mabuk, tapi kenyat aannya bahkan dirinya sendiri yang t erdorong sampai jauh.

Rat u P ekat t ersenyum t ipis ket ika P angeran Berdarah duduk bersila lagi di depannya.

"Masih ingin mencoba kekuat an ilmu P endekar

Mabuk it u?"

"Hmmm... anu... t idak, Ibu Rat u!" jawab P angeran

Berdarah dengan rasa malu yang sukar dit ut upi lagi.

Dalam hat i P angeran Berdarah berkata, "Mungkin dia memang murid si Gila T uak. Kekuat an sikap duduknya just ru membuat t ubuhku sendiri yang t erdorong. Gila! P andangan matanya begit u t ajam walau tampak lembut , t api menembus sampai ke dalam hat iku, membuat ku menjadi gentar menghadapinya. Hmmm... unt ung t adi di pant ai aku t ak jadi melabraknya. Dan pant aslah kalau pukulan jarak jauhnya membuat t ubuhku t ersent ak berput ar t iga kali!"

Set elah P angeran Berdarah mendengar cerit a t ent ang perist iwa yang membuat istana bermandikan darah, ia pun                segera mengambil kesimpulan yang diajukan sebagai usul kepada Rat u P ekat , yang dianggap calon mert uanya it u,

"Jika benar ada dugaan bah wa anak buah Sil uman T ujuh Nyawa akan dat ang menyerang dan merebut pulau ini dari kekuasaan Ibu Rat u, maka sebaiknya saya dan t iga t eman saya it u akan t inggal di sini beberapa wakt u. Biarlah P endekar Mabuk pergi menyembuhkan gurunya Badai Kelabu. Se belum dia kembali, kami masih t et ap di sini, sambil menunggu siapa t ahu T apak Baja yang dat ang ke pulau ini dan dit ugaskan menghancurkan pulau ini. Sayalah yang akan menghadapinya, Ibu Rat u!"

"Bagaimana menurut mu, P endekar Mabuk?" t anya

Rat u P ekat .

"It u gagasan yang bagus," jawab P endekar Mabuk. "Boleh saya bicara, Nyai Rat u?" kat a Mat a Elang

t iba-t iba. Nyai Rat u anggukkan kepala dan berkat a, "Bicaralah!"

"Bukankah menurut pendapat Nyai Rat u sendiri, T apak Baja adalah orang yang kuat , bengis dan kejam?"

"Memang benar."

"Apakah kit a cukup mampu menghadapi dia, jika sewakt u-wakt u dia dat ang t anpa ada P endekar Mabuk di sini?"

"Kenapa t idak?" sahut P angeran Berdarah. "Saya

sudah    mendapat           jurus unt uk        menghadapi P usaka Tombak Maut , Ibu Rat u. Sebelum saya dit ugaskan mencari P usaka Tombak Maut dan merebut nya dari t angan T apak Baja, Guru t elah lebih dul u mengajarkan bagaimana cara menghadapi orang bersenjat a P usaka Tombak Maut it u. Jika pusaka t ersebut sudah bisa saya rebut , saya       pun        bisa                menggunakannya            unt uk melenyapkan T apak Baja, Ibu Rat u!"

"Bagus! Kurasa kit a t ak perlu cemas lagi, Mat a

Elang!" kat a Rat u P ekat kepada pengawal pribadinya it u.

P enghulu P et ir, yang sejak t adi duduk di belakang

agak samping dari Badai Kelabu, segera menyumbang kat a,

"T apak Baja memang keji dan ganas. Kabar t erakhir

yang saya t erima, bahwa dari sejumlah dua puluh t ujuh orang anak buahnya dalam Kapal Neraka it u, sekarang t inggal sat u orang, yait u yang bernama Hant u Laut. Dua puluh enam anak buahnya it u kebanyakan mat i di t angan T apak Baja sendiri. T et api dengan adanya P angeran Berdarah dan kami bert iga di sini, Rat u t idak perlu cemas lagi. Kami mampu menghadapi T apak Baja dan Hant u Laut . Kami sudah perhit ungkan kekuat an mereka,

dan kami sudah at ur sat u rencana perlawanan sendiri!" Semua mat a t ert uju pada orang berusia lima puluh

t ahun yang berambut abu-abu it u. Rambut nya pendek, t ubuhnya kurus, mat anya sedikit sipit , ia mengenakan jubah panjang warna ungu t ua yang sudah kumal, t anpa mengenakan baju dalam, t api memakai celana abu-abu dengan ikat pinggang kain put ih. Jubahnya it u t ak pernah   dit ut up,              sehingga              t ulang  iganya   t ampak bert onjolan, ia bersenjat a sabit yang panjang gagangnya t iga jengkal. Tapi melihat penampilannya yang kalem, ia berkesan orang berilmu t inggi. Kesannya it u seakan merupakan jaminan t ersendiri bagi kekuat an baru yang akan membent engi P ulau Beliung.

"Nyai Rat u," kat a Sut o. "Saya rasa sekarang sudah jelas, di sini ada kekuat an-kekuatan baru yang siap menghadapi kedat angan orang-orangnya Siluman T ujuh Nyawa. Rasa-rasanya kit a t ak perlu cemaskan lagi kekuat an di sini, dan saya akan segera berangkat ke P ulau Hit am bersama Dewa Racun dan Badai Kelabu."

"Baik. Berangkat lah! Lalu, bagaimana dengan sat u

t emanmu yang mirip Dadung Amuk it u?"

"Saya t it ip Singo Bodong sebent ar. Biar dulu dia di sini, saya akan jemput dia lagi setelah selesai sembuhkan sakitnya guru Badai Kelabu!" kata Sut o. Set elah acara pamit an it u selesai, Sut o pun segera menemui Singo Bodong.

"Singo Bodong, kau kut inggal di sini se bent ar.

Bant ulah mereka sebisamu."

"Kau akan pergi ke mana, P endekar Mabuk?"

"Ke P ulau Hit am, menyelamat kan seseorang yang t erluka parah!"

"T api, kau nant i kembali ke sini menjemputku, P endekar Mabuk!"

"Ya. P ast i aku kembali lagi ke sini menjemput mu."

Dewa Racun angkat bicara, "Dan... dan... dan lagi, perahunya t idak cukup unt uk muat empat orang jika badan besarmu it u ikut sert a! Kam... Kam... Kam...."

"Kampret ?!"

"Kamu!" sent ak Dewa Racun, "Kamu kuruskan badan dul u di sini dengan kerja yang giat , sup... sup., sup...."

"Supri?!"

"Bukan! Supri it u nama t etanggaku dulu! Maksudku, supaya! Supaya mudah belajar ilmu silat jika t ubuhmu t elah kurus!" kat a Dewa Racun.

Buat Singo Bodong, ia merasa lebih enak t inggal di pulau it u. T idak t erlalu ramai, dan sering melihat pert arungan hebat dari tokoh-tokoh dunia persilat an, ia salah sat u orang yang menjadi pengagum pendekar, tapi ia sendiri t idak pernah memiliki ilmu kependekaran. Hanya sedikit ilmu yang diberikan oleh P endekar Mabuk secara t ak disadari it u. Ilmu t ersebut berada di napasnya. Napas Singo Bodong bisa membuat pot bunga dari t anah t erjat uh jika t erkena hembusan napas lewat mulut . P ernah ia mencobanya kepada seorang prajurit ist ana. P rajurit it u hanya t erdorong selangkah ke belakang, tapi unt uk selanjutnya masih bisa menyerang Singo Bodong. Berart i kekuat an napas it u hanya bisa dipakai oleh Singo

Bodong sebagai sarana unt uk menakut -nakut i lawan saja.

Se belum mat ahari t egak di at as kepala manusia, perahu bermuat an t iga orang it u t elah meninggalkan pant ai P ulau Beli ung. P erahu berlayar t unggal it u cukup besar unt uk ukuran t iga orang. Mempunyai ruang unt uk meneduh dan t idur pada bagian haluannya. Ruangan t ersebut berat apkan rumbia dengan t iga jendela, sat u jendela menghadap ke arah haluan, pint unya menghadap ke arah burit an. P erahu it u adalah milik Badai Kelabu yang dibawanya dari P ulau Hit am.

"Kami mempunyai sat u perahu kecil lagi, muat unt uk dua orang. Kurasa guruku t idak keberat an unt uk memberikan perahu it u kepada kalian sebagai upah kesembuhannya," kat a Badai Kelabu yang berdiri di burit an bersama Sut o. Dewa Racun a da di haluan, mengendalikan lajunya perahu yang t ert iup angin.

"Mengapa gurumu sampai berurusan dengan T apak

Baja?" t anya P endekar Mabuk.

"Sebenarnya kami t ak punya persoalan dengan Sil uman T ujuh Nyawa. Hanya karena perahu kami berpapasan dengan Kapal Neraka it u, dan Gur u t idak mau mendekat saat dipanggil oleh Tapak Baja, maka orang ganas it u menjadi marah, lalu menyerang kami."

"Wakt u it u kau ada di perahu yang dit umpangi

gurumu j uga?"

"Ya. Kami t ujuh orang, habis menyambangi seorang t eman di P ulau Belacan. Aku diperint ahkan unt uk kabur oleh Guru dengan cara t erjun ke laut . T api sebenarnya

aku hanya menyelam di bawah perahu, bersembunyi di sana. Keenam t emanku mat i karena amukan T apak Baja bersama t ombak maut it u, dan Guru pun t erluka berat."

"Bagaimana luka-luka yang diderit a oleh gurumu it u, Badai Kelabu?"

"Sekujur t ubuhnya melepuh, t ermasuk bagian wajah. Set iap bagian melepuh yang pecah mengeluarkan bau bus uk yang memusingkan kepala. P adahal Guru hanya t ergores sedikit oleh ujung tombak pusaka it u di bagian bet is kirinya, t api racun yang ada di t aring babi hut an it u amat ganas, dengan cepat menyebar ke sekujur t ubuh."

Dewa Rac un mendengar percakapan it u. Seba gai orang yang ahli di bidang penget ahuan racun, ia pun segera menyahut ,

"It ... it ... it u namanya Racun Gelembung Mayat !" Kedua wajah di burit an segera berpaling memandang

ke arah haluan perahu. Sut o segera berseru dari t empatnya,

"Racun Gelembung Mayat dapat bert ahan berapa lama, Dewa Racun?"

"Paling lama hanya mampu bertahan dua puluh hari. Lewat dari dua puluh hari dia akan mat i membusuk!"

"Apa yang diserang oleh Racun Gelembung Mayat ?" "Pembusukan di bagian gelembung darah orang it u!" Badai Kelabu berbi sik kepada Sut o, "Dia sangat

mengert i t entang racun it u. Jangan-jangan dialah yang mencipt akan P usaka Tombak Maut     it u, P endekar Mabuk?"

P endekar Mabuk t ampilkan senyum ramah. "T idak.

Dia hanya t ahu t ent ang segala jenis racun, t api kadang dia t idak t ahu bagaimana cara mengat asi keganasan racun tersebut . T idak semua racun bisa dimengert i cara menanggulanginya!"

"T api, kau t ahu cara menanggulangi semua jenis

racun berbahaya, P endekar Mabuk?"

"Hmmm... mungkin t idak semua racun kuketahui juga cara penanggulangannya. Tapi, mungkin juga aku bisa menawarkan semua jenis racun dari yang berbahaya dan yang t idak berbahaya."

"Kenapa masih bersifat mungkin? Kenapa kau t idak

t ahu dengan past i, Sut o?"

"Karena aku belum pernah mencoba menawarkan semua jenis racun!" jawab P endekar Mabuk dengan bersikap jujur, namun menyembunyikan kepandaiannya.

Kepandaian yang ada pada P endekar Mabuk, sert a

t ingginya ilmu Sut o, telah membuat Badai Kelabu menjadi sering berpikir t ent ang diri Sut o.

Namun Badai Kelabu menganggap P endekar Mabuk lelaki yang dingin t erhadap perempuan. T erbukt i, semalam ia t idur di dalam kamar berat ap rumbia it u, tapi t ak sedikit pun t ubuhnya t erasa disent uh oleh P endekar Mabuk

Sut o ada di haluan bersama Dewa Racun. Bahkan sesekali Sut o yang mengendalikan lajunya perahu sement ara Dewa Racun t idur dalam keadaan berdiri. Si Kerdil berpakaian put ih bulu it u sudah t erbiasa t idur dalam keadaan berdiri dan bersidekap t angan di dada. Bus ur dan anak panahnya tetap tersandang di punggung

t anpa menjadi gangguan sedikit pun baginya.

Ket ika pagi mulai menyingsing, lalu mat ahari makin menyebarkan sinar panasnya, Badai Kelabu t erkejut melihat arah perahu t ersebut , ia segera berseru kepada P endekar Mabuk yang menjadi pengemudinya.

"Sut o, kit a salah arah!"

"Salah arah?!" Sut o kerutkan dahi.

"P ulau Hit am ada di sebelah kanan perahu kit a ini! Cepat put ar haluan!"

Dewa Rac un t erbangun dari t idurnya, ia mengerjap- ngerjapkan mat a, memandang sekeliling dan        ikut berkat a,

"O, bet ul kata Badai Kelabu. Kit a salah ar... ar...

arah!"

"Kupikir                pulau     di            seberang             sana       yang      jadi sasarannya!" kat a P endekar Mabuk sambil t ert awa, lalu ia biarkan Badai Kelabu mengambil alih haluan dan membet ulkan let ak arah perahu. Dewa Racun pun akhirnya menert awakannya.

"Ist irahat lah, Sut o. Biar kukemudikan perahu ini!"

kat a Badai Kelabu, ia tahu P endekar Mabuk cukup let ih karena semalaman t ak t idur.

"Aku masih kuat melek!"

"Jangan. Nant i kau sakit , Sut o," kata Badai Kelabu dengan lembut , seakan penuh perhat ian dan kasih sayang pada P endekar Mabuk.

P ulau Hit am masih separo hari lagi perjalanan.

P endekar Mabuk belum lama t ert idur, t erpaksa harus dibangunkan    oleh       Dewa    Racun.  Cara

membangunkannya pun t ak berani langsung di sent uh t ubuhnya, melainkan dengan dilempar selembar kecil kain pembersih. Kain it u langsung dit angkap cepat oleh t angan Sut o. Tapp...!

"Ada apa?" t anya P endekar Mabuk set elah t ahu

dirinya dibangunkan Dewa Racun. Orang kerdil it u segera berkat a,

"Kita melewat i sebuah pulau yang berasap!"

"Kenapa berasap?" P endekar Mabuk segera keluar dari kamar berat ap pendek.

"Lihat lah sendiri!"

Begit u P endekar Mabuk keluar dari kamar berat ap pendek it u, Badai Kelabu segera berseru dari haluan, "Ada kebakaran di pulau it u!"

"Pasang                indera   pendengaranmu,             Dewa    Racun. P ercakapan         apa         yang t erjadi di sana?      Firasat ku mengat akan, it u asap api yang buruk!"

Dewa Rac un pun segera menempelkan kedua jari

t elunjuknya ke pelipis, matanya memandang pada pulau bert ebing landai. Hut an-hut annya t ak begit u lebat . Suat u kegiat an dari sebuah kehidupan ada di balik tebing landai it u.

"Sut o, ak... aku... aku mendengar suara orang me... merat ap! Sepert i orang kesakit an!"

"Adakah yang perlu ditolong?"

"Hmmm... iy... iya! Ada orang ber... ber... berseru melepas kemarahannya. T ap... tapi t ak jelas ucapannya."

"Badai Kelabu, arahkan perahu ke pulau it u!" perint ah P endekar Mabuk. "Aku penasaran, ingin t ahu

apa yang t erjadi di pulau it u!"

"Baik,    Sut o!"  Badai Kelabu pun             mengarahkan perahunya unt uk mendekat i pulau yang mengepulkan

asap hit am.

*

* *



7

P ULAU it u bernama P ulau Kidung. P enguasanya seorang resi berusia sekit ar t ujuh puluh t ahun lebih, ia membangun sebuah padepokan, yang makin lama berkembang menjadi desa kecil. P adepokan it u diberinya nama P adepokan Kidung Kencana.

Di sana, Resi Kidung Sent anu mewejang murid- muridnya t ent ang makna hidup dan kehidupan. Ilmu- ilmu kanuragan yang diajarkan kepada para muridnya lebih bersifat kebat inan dan t enaga dalam t anpa jurus- jurus kembangan yang indah sepert i layaknya ilmu silat yang dianut oleh para tokoh rimba persilat an.

Murid Resi Kidung Sent anu bukan hanya kaum lelaki, namun banyak juga kaum wanit anya. Dan mereka saling menikah, saling berumah t angga, lalu membent uk kelompok masyarakat desa yang mat a pencahariannya dari bercocok t anam palawija, sebagian juga ada yang mencari ikan. T et api pada saat it u perahu yang dit umpangi Sut o melewat i bagian belakang pulau, sehingga beberapa perahu nelayan t ak terlihat bert ambat di sana.

P erkampungan kecil it u kini t erbakar. T ent unya ada pihak yang sengaja membakarnya. Karena sebelum

t erjadi kebakaran besar, terlebih dulu mayat -mayat bergelimpangan di sana-sini. P ada umumnya mayat - mayat it u mat i dalam keadaan hangus at au membiru legam. Jelas penyebabnya sebuah racun berbahaya, at au pukulan t enaga dalam yang amat t inggi kekuat annya hingga menghanguskan t ubuh manusia.

Rupanya              P ulau    Kidung  it u          sedang diporak-

porandakan oleh dua orang beraliran sesat . Kini t inggal t iga orang yang masih hidup sebagai penduduk asli P ulau Kidung it u. Dua di ant aranya sedang berdiri menghadapi seorang berkepala gundul, berbadan besar, gemuk, t ak pernah memakai baju. Orang sesat berkepala gundul it u mengenakan celana biru t ua dengan ikat pinggang kain merah. Mat anya besar, hidungnya bulat , perutnya gendut , kulitnya berwarna hit am walau bukan

t ermasuk hitam keling. Orang it u t idak mempunyai alis,

kalau toh ada hanya t ipis sekali, sehingga wajah bundar dengan pipi bengkak it u mirip sekali dengan wajah set an. It u sebabnya ia mengaku dirinya berjuluk Hant u Laut .

Jauh di belakang Hant u Laut, kira-kira dalam jarak lima  belas langkah, berdiri seorang lelaki kurus, jangkung dan agak bungkuk. Hidungnya panjang, wajahnya lonjong, mempunyai mat a sipit t api t ajam. Rambut hit amnya bercampur uban sepanjang pundak dan diikat memakai kain merah. Orang jangkung yang kurus it u mengenakan              baju dan                celana   abu-abu,

dirangkap jubah warna hitam pekat dengan sulaman benang put ih bergambar t engkorak dan t ujuh mat a rant ai di                belakang              jubahnya. Gambar          it u          menunjukkan lambang sekut unya          Siluman                T ujuh                Nyawa. Dan memang orang berwajah bengis it u adalah sat u dari kelima algojonya Siluman T ujuh Nyawa, yang menjadi Nakhoda Kapal Neraka dengan nama julukannya: T apak Baja. Dalam usia enam puluh t ahun lebih it u, Tapak Baja masih bisa memandang dengan awas, gerakan mat anya cukup lincah, sehingga ia t ahu ada sat u orang yang sudah t erluka, namun masih bisa bangkit dan hendak menyerangnya dari samping kiri. Seket ika it u t angannya menyent ak dan sebuah pukulan bercahaya biru melesat menghant am dada orang it u hingga jebol. Berhamburanlah isi dada orang malang it u.

"Hant u Laut ," serunya. "Habisi mereka! T inggal

beberapa gelint ir saja! Aku mau ist irahat dulu!"

"Siapa yang sekarat ?!" sahut Hant u Laut yang memang agak t uli sejak kedua t elinganya pernah dihant am oleh Tapak Baja pada saat orang keji it u marah di at as kapalnya dulu.

"Aku mau ist irahat !" bentak T apak Baja sambil t et ap

memegangi sebuah t ombak bergagang hitam. It ulah P usaka T ombak Maut yang sedang diribut kan di kalangan para t okoh persilat an.

"O, Nakhoda mau ist irahat dulu? Silakan! Biar aku yang merampungkan sisa t ikus-t ikus kecil ini, ha ha ha ha...!" Hant u Laut serukan t awanya yang menggelak- gelak sambil melangkah maju mendekat i dua orang

berusia ant ara dua puluh t ujuh t ahun dan yang sat u berusia ant ara t iga puluh t ahun. Yang berusia t iga pul uh

t ahun t elah memegang golok bengkok ujungnya, ia berpakaian serba biru t ua dengan ikat pinggang put ih, rambut nya yang sebat as pundak juga diikat dengan kain put ih. T inggi t ubuhnya sedang, badannya agak gemuk dibanding t emannya. Orang it u adalah T ambak Lanang, murid kinasih Resi Kidung Sent anu.

Sat u lagi murid kinasih dari Resi Kidung Sent anu

adalah Jalu Jant an, yang kala it u berpakaian serba merah, bert ubuh t inggi, kurus dan bersenjat a sebat ang t oya. Tongkat t oyanya it u berwarna coklat t ua, sepert i t erbuat dari kayu sawo. Ia masih berdiri menunggu lawannya mendekat , walau napasnya t elah ngos-ngosan karena sejak t adi sudah berjumpalit an menghindari serangan lawan yang sulit dit umbangkan it u.

Orang gundul yang menjadi lawannya mendekat dengan sant ai, sepert i anak kecil, ia memainkan yoyo bert ali panjang, ia cengar-cengir memandangi kedua lawannya di kanan-kiri, sementara it u, T ambak Lanang berkat a kepada Jalu Jant an,

"Hat i-hat i dengan mainannya it u! Jangan sampai

t ert ipu lagi!"

Hant u Laut makin mendekat , Jalu Jant an, dan T ambak Lanang bergerak mengepung di kanan kiri. Toya di t angan Jalu Jant an sudah siap dimainkan dalam sat u kibasan at au sent akan keras nant inya. T ambak Lanang pun memainkan pedang bengkoknya di at as kepala, siap dibacokkan sewakt u-wakt u.

"He he he he... t inggal kalian yang hidup di pulau ini! Se bent ar lagi, guru kalian, Kidung Sent anu it u, akan keluar dari t empat pert apaannya! P ast i dia akan t erkejut melihat pulau ini t elah kosong. Dan past i dia lebih t erkejut lagi jika raganya cepat menjadi kosong karena dit inggalkan oleh nyawanya. He he he...!"

"Jangan mimpi bisa mengalahkan Tambak Lanang

dan Jalu Jant an! Badan kebomu it u bisa hancur kucacak- cacak dengan golokku, t ahu?!" bentak Tambak Lanang.

"Minggat lah ke neraka, Set an Gundul! Hiaaat ...!" Jalu Jant an sentakkan kaki, t ubuh pun melesat menyerang Hant u Laut yang memunggunginya. Toya di t angan diarahkan ke depan, dalam sat u kali sent akan ujungnya t erbuka dan mengeluarkan mat a pisau t ajam. Arah mat a pisau it u t ert uju ke t engkuk kepala Hant u Laut .

T et api dengan cepat Hant u Laut membalikkan badan.

Kakinya menendang ke at as, wuttt ...! Trakk...! Toya it u pat ah seket ika. T api kaki Jalu Jant an segera menyusul sebagai gant i toyanya.

Beggh...! Dada manusia berkepala gundul it u t erkena

t elak tendangan kaki kanan Jalu Jant an. T api just ru yang menendang yang t erpental ke belakang, sedangkan yang dit endang hanya t erkekeh-kekeh geli sambil t et ap berdiri.

Sert a-mert a Hant u Laut melemparkan yoyonya ke

arah Jalu Jant an yang masih kehilangan keseimbangan badan it u. Wuttt ...! Crak...! Yoyo it u mengeluarkan gerigi t ajam pada bagian t epiannya. Gerigi it u memut ar cepat dan merobek leher Jalu Jant an. Brett....!

"Ahhg...!" Jalu Jant an memekik t ert ahan. Darah segar muncrat dari lehernya yang robek lebar dan dalam, ia menggelepar-gelepar, sangat menyedihkan.

Melihat                temannya           menggelepar-gelepar    dengan wajah membiru it u, T ambak Lanang semakin mendidih darahnya, ia cepat sent akkan kaki dan melayang menerjang t ubuh Hant u Laut. Golok bengkok ditebaskan membabat leher Hant u Laut, t api orang gundul it u menarik kepalanya ke belakang, sehingga ujung golok hanya lewat sekilas di depan dagunya. Wusss....!

Dalam kesempat an it u. Hant u Laut cepat sent akkan

kakinya ke depan, begg...! Kena t elak pada pinggang T ambak Lanang. T ubuh it u oleng ke samping, lalu disambut dengan t endangan memut ar oleh kaki Hant u Laut .

Wuttt ...! Bukkk....!

T ubuh T ambak Lanang t erpental t iga langkah ke belakang. Sempoyongan ia menahan diri. T endangan it u begit u kuat menerjang pinggangnya hingga t erasa pat ah

t ulang iganya. Tapi T ambak Lanang t ak mau menyerah.

Cepat ia angkat golok bengkoknya ke atas unt uk dit ebaskan ke depan. Tapi tahu-t ahu Hant u Laut melemparkan yoyonya ke arah pergelangan t angan T ambak Lanang. Yoyo it u keluarkan gerigi lagi yang memutar cepat dan berdesing. Crass...! Gerigi it u nyaris memotong pergelangan t angan T ambak Lanang.

"Auh...!"              T ambak               Lanang  segera  mendekap

lengannya yang berdarah it u sambil menahan rasa sakit . Goloknya jat uh di t anah dan cepat dipungut dengan

t angan kiri. T ubuh T ambak Lanang yang membungkuk it u menjadi sasaran empuk bagi senjat a yoyo Hant u Laut .

Yoyo it u dilepaskan bagai mengibas, geriginya muncul lagi dan bergerak cepat . Crass....!

"Auuh...!"           T ambak               Lanang  mengejang.        Kulit punggungnya robek karena kibasan gerigi yoyo t ersebut . P ada         saat        ia             mengejang         dalam keadaan masih membungkuk it u, Hant u Laut segera melompat dan menjejak t engkuk kepala T ambak Lanang dengan keras dan bert enaga dalam cukup besar.

"Hegg...!" t erdengar suara T ambak Lanang set elah suara t endangan begit u keras. Beggg...! Krekk...! P at ah t ulang leher it u.

Darah menyembur keluar dari mulut Tambak Lanang. Mat a orang it u sudah terbeliak-beliak bagai menunggu ajal. T api ia masih berusaha meraih senjat anya yang jat uh di tanah. Namun dalam gerakan cepat dan kuat , kaki Hant u Laut menendang kepala T ambak Lanang di bagian pelipisnya. P lokkk...!

T ambak Lanang t ak mampu t erpekik lagi. T ubuhnya t ersent ak dan jat uh terkapar dalam jarak empat langkah dari t empat nya semula. Di sana t ubuh it u mengejang- ngejang dan mengeluarkan darah dari t iap lubang di kepalanya. Kemudian, t ubuh it u t idak bergerak lagi unt uk selamanya. Sedangkan Jalu Jantan sudah sejak

t adi t ak mampu bergerak at au pun bernapas, karena

nyawanya t elah lepas dari raga akibat robekan di lehernya.

P ada saat kemat ian Tambak Lanang it ulah, Sut o, Dewa Racun, dan Badai Kelabu muncul dari t empat yang lebih t inggi. Dari sana mereka bisa melihat kemat ian T ambak Lanang, dan t epuk t angan T apak Baja yang dit epukkan pada pahanya, dengan sat u t angan t et ap memegangi P usaka Tombak Maut.

P lok plok plok....!

"Bagus, bagus, ba gus...! It u baru namanya kerja yang bagus!"

"Mengejar ikan gabus...?! Ah, unt uk apa aku harus mengejar ikan gabus, Nakhoda?"

"Kubilang, it u kerja yang bagus! Bukan kusuruh mengejar ikan gabus! Dasar budek!" bent ak Tapak Baja dengan mat a mendelik membuat Hant u Laut ciut nyali.

Di balik rimbunan pohon, di at as sana, t iga makhluk saling berbi sik-bisik. Badai Kela bu yang mendului bicara kepada Sut o,

"It u dia orangnya yang bernama T apak Baja!"

"Yang t ua dan memegang t ombak berujung t aring babi hut an it u?"

"Ya. Dan yang berkepala gundul it u a dalah Hant u

Laut , anak buahnya yang t inggal sat u-sat unya it u!" "Mer... mer... mereka habis membunuh dua orang!

T ap... t api Si T apak Baja t idak t urun tangan, hanya Si

Hant u Laut saja yang menangani dua musuhnya it u!" "Aku harus balas menyerang sekarang juga!" geram

Badai Kelabu yang se gera berlari menuruni lereng. Tapi

t angannya cepat ditahan oleh Sut o.

"T unggu dul u! Jangan gegabah! Kit a pelajari dulu

keadaan sekeliling t empat mereka!"

"Kalau tak segera bert indak, mereka bisa kabur secepat nya!"

"Aku yang akan mengejar mereka!" kat a Sut o. "Jangan dulu bergerak, karena kulihat ada sekelebat bayangan kuning menyusup di balik semak belukar di belakang T apak Baja."

Baru saja Sut o selesai mengat akan demikian, t iba-t iba T apak Baja palingkan badan ke belakang dan sent akkan t angannya yang kiri. Wuuttt ....!

Grus ssak....!

P ukulan jarak jauh it u menghant am semak belukar, namun sebelum pukulan it u sampai ke semak belukar, sosok bayangan yang bersembunyi di sana t elah melesat keluar lebih dulu dengan melent ingkan t ubuh ke udara dan bersalt o dua kali, lalu sepasang kaki it u hinggap di salah sebuah dahan pohon yang t umbuh pendek. Orang yang hinggap di pohon pendek berdahan kecil it u mengenakan celana kuning dengan kain pembalut bagian dadanya warna kuning juga, hanya diselempangkan ke pundak kanan, sedangkan pundak kirinya t erbuka t anpa kain penut up. Orang it u berusia ant ara t ujuh puluh t ahun, rambut put ih dikonde kecil di t engah kepala, membawa kalung bat uan besar sepert i t asbih warna merah t ua, but ir-but ir kalungnya it u seukuran dengan biji buah rambut an.

"Siapa... oor... or... orang it u, Badai?" t anya Dewa

Racun.

"Past i dia yang bernama Resi Kidung Sent anu!"

jawab Ba dai Kelabu.

T ernyat a jawaban it u memang benar, sebab t ak berapa lama t erdengar suara T apak Baja menyapa orang kurus berjenggot dan berkumis put ih it u,

"Resi Kidung Sent anu, akhirnya kau keluar juga dari

pert apaanmu, Resi! Hampir-hampir kut inggalkan kau unt uk pergi ke P ulau Beliung, karena aku masih punya t ugas unt uk menggempur Istana Cambuk Biru di sana! Unt ung kau lekas muncul,     jadi aku t idak perlu menunggumu t erlalu lama!"

"Enyahlah kau manusia keji, sebelum t anganku

berlumur darahmu!" geram Resi Kidung Sent anu dengan suara t uanya. Ancaman halus it u dit ert awakan oleh Hant u Laut .

"Ha ha ha ha...! Dia suruh kit a mengunyah, Nakhoda! Melant ur sekali bicaranya! Ha ha ha....!"

P lokkk....!

T awa dari Hant u Laut t erhent i seket ika. Sebuah t amparan sangat keras mendarat cepat di pipinya. T apak Baja yang menamparnya dan segera berkat a dengan nada jengkel.

"Dia suruh kit a enyah! Bukan mengunyah! Enyah it u

pergi!"

Hant u Laut mencibir, "Hmmm... enak saja dia suruh kita               pergi!    Apakah dia          mau       serahkan             nyawa secepat nya?!"

"Kurasa dia sudah t ahu kalau nyawanya akan t ercabut

olehku secepatnya!" kat a T apak Baja dengan sedikit membungkuk karena jangkungnya t ubuh. Lalu, ia

berkat a kepada Resi Kidung Sent anu,

"T urunlah supaya pekerjaanku memusnahkan pulau ini bisa lebih cepat! At au kau ingin mat i di at as sana?"

Resi Kidung Sent anu t idak menjawab. T et api, pohon yang dipakainya berdiri it u bergerak t urun ke bumi secara perlahan-lahan, sampai dahan yang dipijaknya merapat ke t anah.

"Hebat sekali ilmunya. Pohon it u bisa t urun ke t anah bagai mengant arnya t urun ke bumi!" gumam Badai Kelabu dengan t erheran-heran. T et api, Tapak Baja t erdengar berseru meremehkan,

"He he he he... dia unjuk kehebat an ilmunya kepada kita, Hant u Laut! Dia mau pamer ilmu kepada kit a!"

"Ha ha ha ha...!" Hant u Laut ikut menert awakan.

"It u ilmu kecil yang murahan! Bukankah begit u, Hant u Laut ?"

"Ya. It u ilmu kancil yang murahan...."

"Ilmu kecil yang murahan! T uli!" bent ak T apak Baja dengan mat a melotot seram kepada Hant u Laut. "Kalau ada orang bicara, dengarlah baik-baik pakai kupingmu!"

"Ya, ya... baik. Aku akan pakai caping!"

"Kuping, t olol! Kuping it u t elinga!" sambil T apak

Baja membet ot t elinga si Gundul yang budek it u.

T erdengar suara Resi Kidung Sent anu yang bernada bijak it u berkata sambil menahan amarah kuat-kuat .

"Kurasa                sudah    c ukup   kau         membant ai        semua penduduk pulau ini, T apak Baja! T inggalkanlah t empat ini sekarang juga!"

"O, belum seluruhnya t erbant ai habis, Resi Kidung

Sent anu! Masih ada sat u orang yang hidup, yait u kau sendiri! P adahal t ugas yang diberikan oleh Siluman T ujuh Nyawa adalah membant ai habis semua penduduk pulau ini, t anpa kecuali!"

"Mengapa Siluman T ujuh Nyawa sejahat it u kepada

kami? P adahal kami t idak pernah berniat jahat sedikit pun kepadanya?"

"Karena kamu menolak unt uk menjadi sekut unya

Sil uman T ujuh Nyawa, Resi! Dan inilah akibatnya!" "Kalau aku menolak, it u lant aran aku t idak ingin

menjadi orang sesat sepert i kalian!"

"Kalau t idak ingin menjadi orang sesat , sebaiknya mat i saja. Kau t idak akan t ersesat di alam kubur nant i!"

"Sampai kapan pun kami memang t idak akan t ersesat , sebab kami ada di pihak yang benar! It ulah sebabnya kami t idak t akut mat i!" kat a Resi Kidung Sent anu dengan tetap berani bicara t egas di depan dua orang pencabut nyawa murid-muridnya it u.

"Bagus, bagus...!" T apak Baja manggut -manggut . Kemudian ia serukan perint ah kepada Hant u Laut.

"Hant u Laut , bunuh dia!"

"O, t idak. Aku t idak but uh dia!"

"Bunuh! Kat aku, bunuh dia! Bukan but uh dia?!" bent ak T apak Baja yang membuat Hant u Laut menjadi makin gugup.

"O, bunuh?! Baa... baik....!"

Maka, sert a-merta Hant u Laut menyerang Resi Kidung Sent anu dengan t ubuhnya yang melayang dan kakinya menendang lurus ke depan. Dada kurus Resi

Kidung Sent anu menjadi sasaran kaki it u. Dan karena Resi Kidung Sent anu t idak menghindar sert a t idak pula menangkis, maka dada it u menjadi sasaran t elak bagi kaki Hant u Laut yang bert elapak besar it u.

Buegggh...! T erdengar mant ap sekali t endangan it u.

T et api t ubuh kurus it u t idak bergeming se dikit pun. Berguncang pun t idak. Bahkan wajah Hant u Laut t ampak menyeringai merasakan linu pada t ulang kakinya

yang sepert i menendang sebongkah bat u gunung at au

bagai menendang dinding baja padat . "Hancurkan dia!" sentak Tapak Baja. "Luncurkan? O, baik! Akan kuluncurkan dia!"

"Dasar t uli! T erserah apa kat amulah! Kau hancurkan

boleh, kau luncurkan nyawanya juga boleh!"

Hant u Laut cepat sent akkan t angannya menghant am dada t ipis lelaki t ua it u. Ia menggunakan pukulan berunt un dengan kecepat an t inggi. Beg, beg, be g, beg....! Orang t ua it u t et ap memainkan kalungnya, t anpa ada gerakan menyerang at au menangkis. P ukulan berkepalan besar it u sepert i hembusan angin pegunungan, di biarkan saja t anpa ada t indakan apa pun. Sedangkan yang memukul semakin menyeringai, t angan kirinya dikibas- kibaskan karena merasa sepert i pat ah t ulang-t ulang jarinya.

"Celaka! Berbahaya sekali jika dia hanya bert ahan

saja!" pikir Badai Kelabu. Maka, ia pun segera melompat ke depan dan berlari menghampiri Resi Kidung Sent anu. P endekar Mabuk dan Dewa Racun t erkejut sekali.

*

* *



8

DEWA   RACUN mengecam         kebodohan         Badai Kelabu dengan      rasa        jengkel,                "Das...   das...     dasar perempuan bod... bod... bod..."

"Bodong?!"

"Bodoh!" sent ak Dewa Racun. "Melawan Rat u P ekat saja hampir mampus, sekarang malah mau melawan T apak Baja yang pegang P usaka Tombak Maut ! Cari penyakit saja perem... perem... perempuan it u!"

Dewa Racun mau bergerak t urun, t api t angan Sut o menahan lengannya sambil berkat a,

"Jangan menyerang dul u! Awasi dan jagai saja dia

dari balik pohon bambu di sebelah sana!" sambil P endekar Mabuk menunjuk serumpun pohon bambu yang rapat t umbuhnya it u. Lalu, sambung P endekar Mabuk lagi,

"Aku akan mempelajari gerakan dan cara kerja

P usaka Tombak Maut it u dari sini!"

Dewa Racun mengangguk, lalu segera menyusuri jalan menurun, menyelusup dari pohon ke pohon, hingga menuju rimbunan pohon bambu. P endekar Mabuk meneguk t uaknya beberapa kali, kemudian kembali memperhat ikan T apak Baja yang agaknya belum mau t urun t angan dalam menghadapi Resi Kidung Sent anu. Ia masih marah-marah kepada Hant u Laut yang dianggap

t idak mampu merobohkan lawannya yang sudah t ua rent a it u.

"Gunakan t enagamu, Tolol!" bent ak T apak Baja.

"Aku t idak          punya   t et angga,           bagaimana          harus kugunakan?!"

"T enaga! Kat aku, gunakan t enaga! Bukan t et angga!" T apak Baja bert eriak di t elinga Hant u Laut . Suaranya keras                memekakkan    t elinga,                hingga   Hant u   Laut mengernyit kan alis.

Kejap berikut nya, Hant u Laut mundur t iga t indak, lalu ia sent akkan t angan kanannya dengan t elapak

t erbuka. Wuuhgg....! Tenaga dalamnya dilepaskan unt uk memukul dada Resi Kidung Sent anu.

Begg....!

T elak sekali t enaga dalam besar it u menghant am dada t ipis Resi Kidung Sent anu. T et api orang t ua it u t idak juga bergeser dari t empatnya. Hanya kain penut up dadanya              saja        yang      t ampak                bergerak,            sedangkan t ubuhnya t et ap t egar bagaikan t ebing gunung cadas.

"Keparat bet ul ini orang...!" geram Hant u Laut

dengan jengkel, merasa dirinya dipermainkan oleh kekuat an t ubuh lawannya. Maka, segera ia lepaskan yoyo-nya ke depan dengan sat u sent akan beraliran t enaga dalam yang cukup besar.

Wengng....!

Yoyo it u melesat cepat , lalu kembali t ert angkap t angan Hant u Laut . P ada saat yoyo it u melesat, bukan gerigi t ajam yang keluar dari t epiannya, melainkan sinar merah menyebar bagai kilat an lidah api membara.

Melihat datangnya sinar merah membara it u, Resi Kidung Sent anu t et ap diam, berdiri di t empatnya semula dengan mempermainkan manik-manik kalung pada jemarinya. T erlihat t ak ada niat unt uk menangkis at aupun menghindar.

Sikap it u kian mencemaskan Badai Kelabu. Maka dengan sert a-mert a ia lepaskan pukulan t enaga dalam jarak jauh yang memancarkan sinar kuning dari dua jari yang dit ot okkan ke depan. Sinar kuning it u melesat dengan cepat dan menghant am sinar merah yang hampir mencapai dada Resi Kidung Sent anu.

Blarrr....!

Bent uran kedua sinar menimbulkan ledakan cukup kuat . Gelombang ledakan menghempas ke sekelilingnya. T ubuh Hant u Laut dan T apak Baja sempat t erguncang sedikit karena hempasan gelombang ledakan it u. T etapi Resi Kidung Sent anu t et ap berdiri tanpa goyah sedikit pun.

"Monyet              bet ina!"              geram   Hant u   Laut       set elah menget ahui siapa orang yang memat ahkan pukulan t enaga dalamnya it u.

T apak Baja pun t ampakkan kegarangannya begit u

melihat kemunculan Badai Kelabu, ia segera berseru dari t empatnya sambil t et ap bert ongkat kan P usaka T ombak Maut it u.

"Perempuan liar! Apa maumu ikut campur urusanku, hah?! Mau cari kuburmu at au mau cari bangkaimu?!"

"Kalian memang biadab!" sent ak Badai Kelabu dengan lant ang dan berani. Suara sent akannya bernada

curahan dendam t erhadap apa yang diderit a gurunya akibat ulah kedua orang it u.

"Kurang                ajar!       Dia          mengat akan      kit a        biadab, Nakhoda!"

"Menurut mu bagaimana?"

"Memang!" jawab Hant u Laut .

"Memang bagaimana?!" sent ak T apak Baja dengan mat a mendelik liar.

"Maksudku... maksudku memang dia perlu dihajar,

Nakhoda!"

"Jangan dihajar! T api hancurkan dia! T umbuk sampai lembut !"

"Baik. Akan kupeluk sampai lembut !"

"T umbuk sampai lembut!" ulang Tapak Baja nyaris hilang kesabarannya, ia menggeram bengis kepada Hant u Laut . Wajah t uanya memerah, menampakkan warna murkanya.

"Hiaaat ....!" unt uk menut upi kesalahannya sekaligus

menghilangkan kemarahan Tapak Baja, cepat -cepat Hant u Laut memekikkan semangat t empurnya dengan menggerakkan kedua t angannya yang menggenggam kuat -kuat dan diacungkan ke depan salah sat unya. Tapi ia belum bergerak dari t empatnya, menunggu T apak Baja merasa lega dan menyingkir sedikit menjauhinya.

Bukk...! P unggung Hant u Laut sendiri yang t erkena

serangan dari kaki T apak Baja. Cukup keras t endangan Nakhoda Kapal Neraka it u, membuat Hant u Laut t ersent ak ke depan dan celingak-celinguk kebingungan, t ak t ahu mengapa ia dit endang oleh sang Nakhoda.

"Serang dia!! Jangan t eriak saja!" bent ak T apak Baja. "Baik! Hiaaat ...!" Hant u Laut cepat keluarkan yoyo mautnya. Yoyo it u diput ar-put ar di at as kepala. Wuung wuung wuung....! Wesss...! Hampir saja mengenai wajah T apak Baja jika kepala bengis it u t idak segera dit arik ke

belakang.

"Maju, Goblok!"

Begg...! Kaki T apak Baja menendang pant at Hant u

Laut hingga orang gundul it u t ersent ak maju dua t indak.

Badai     Kelabu  hanya    bergerak              pelan     mencari kesempatan melancarkan pukulan jarak jauh. Ia t ak berani mendekat,          karena  senjat a yoyo     it u dapat melukainya sewakt u-wakt u. Hant u Laut sendiri masih t et ap memut ar-mut arkan yoyonya hingga menimbulkan suara berdengung mirip lebah mengelilingi t empat it u.

Lalu t iba-t iba kedua t angan Badai Kelabu menyent ak

ke depan secara bert urut an. Wutt ... wut tt....!

Buuhg buuhg....!

Dada dan perut Hant u Laut t erkena pukulan jarak jauh dari t angan Badai Kelabu. T ubuh besar dan gemuk it u t ersentak ke belakang. Yoyonya cepat dit arik dan dit angkap          di t angan.           Tapp...!                T ubuh  gemuk  it u t erbungkuk karena merasakan mual di perut nya.

"Jahanam kau...!" geram Hant u Laut dengan mat a lebarnya       memandang      Badai     Kelabu  secara menyeramkan. Tapi Badai Kelabu t idak merasa gent ar sedikit pun. Ia bahkan bersiap melepaskan pukulan

'Badai Gunung'-nya.

Saat it u, T apak Baja berhadapan dengan Resi Kidung

Sent anu dan berkat a dengan suara keras, memancing perhat ian Badai Kelabu.

"Di          depan   si             Gundul it u          kau         boleh    unjuk kekebalanmu. T api di ujung pusaka ini kau t ak akan bisa unjuk kesakt ianmu, T ua bangka! Hiaaat....!"

T apak Baja menghujamkan t ombak it u ke dada Resi Kidung Sent anu. T et api t angan Badai Kelabu cepat menyent ak ke arah sana dan keluarkan nyala api merah t embaga. Wuttt ....!

Trangng....!

Tombak yang baru saja mau bergerak menghujam it u t ersent ak ke samping karena dit abrak oleh nyala sinar merah t embaga. T apak Baja segera berpaling ke arah Badai Kelabu dengan kegeraman yang membakar darahnya.

Namun hat inya yang dibakar kemarahan menjadi

sedikit reda karena ia melihat Hant u Laut lepaskan yoyonya, gerigi yang keluar dari t epian yoyo it u merobek lengan kiri Badai Kelabu. Brett ...!

"Aauh...!" Badai Kelabu memekik t ert ahan. Rasa

sakit segera menguasai sekujur t ubuhnya. Lengan di ujung pundak it u robek dan berdarah. Darahnya merah kehit am-hit aman. Jelas it u darah yang bercampur dengan racun berbahaya. T ubuh Badai Kelabu pun mulai t erasa dingin.

Melihat lawannya t erluka, semangat dan keberanian Hant u Laut menjadi kian meluap, ia pun sent akkan kakinya pada salah sat u bat u dan t ubuhnya yang besar it u melesat cepat dengan kaki t erent ang ke depan.

"Hiaaat ....!"

P lak, buhgg....!

T angan Badai Kelabu cepat menangkis, lalu kaki kanannya bergerak cepat menendang perut Hant u Laut dengan             t endangan            samping. Tendangan      it u          t elak mengenai perut lawan, membuat lawan t erhuyung- huyung ke belakang. Lalu, dengan cepat Badai Kelabu mencabut pedangnya. Srett ....!

"Jahanam najis kau, hiiih....!"

Wusss...! P edang dit ebaskan ke kepala Hant u Laut . Orang gemuk yang t erhuyung-huyung it u masih sempat menghindar dengan merendahkan t ubuhnya. Sambil merendah, ia lepaskan pukulan t enaga dalamnya melalui

t elapak tangan kiri. Wuuttt ...! Buhggg....!

"Ahg...!" Badai Kelabu t ersent ak ke belakang dua t indak.

Se belum Badai Kelabu si gap kembali, Hant u Laut melemparkan              yoyonya               dalam    gerakan                lempar menyamping. Wengng...! Yoyo it u melesat dari arah depan-kanan ke depan-kiri. Brett ...! Gerigi yoyo it u merobek                dada      di            ba wah leher     Badai     Kelabu. Robekannya panjang dan cukup dalam. T ubuh Badai Kelabu t erpelant ing dan jat uh.

"Saat nya kuhancurkan wajah cant ikmu dengan jurus

'Lidah Naga'-ku ini, Set an Bet ina! Hiaaat ....!"

Hant u Laut sent akkan kaki dan melesat di udara dalam sat u garis lurus dari t empat nya berpijak t adi. Lalu, t angannya melepaskan yoyo yang memancarkan warna biru muda ke arah t ubuh Badai Kelabu.

Melihat cahaya it u meluncur deras ke arahnya, Badai Kelabu sempat menghadang dengan pedang hit amnya. Trasss...! Cahaya biru it u membelok arah, melesat ke depan-kanan dan meluncur menuju Tapak Baja yang akan menggerakkan tombak pusaka tersebut unt uk membunuh Resi Kidung Sent anu.

Karena ia melihat sinar biru milik Hant u Laut it u

membelok ke arahnya, maka niat nya unt uk menyerang Resi Kidung Sent anu dit angguhkan. T apak Baja t ahu, sinar biru it u sinar yang berbahaya. Jurus 'Lidah Naga' milik Hant u Laut adalah jurus pemusnah lawan yang t ak bisa dit awar-t awar lagi kedahsyatannya.

Sekalipun            demikian,            T apak   Baja       masih    bisa

menggunakan t elapak t angan kirinya unt uk menahan sinar biru t ersebut . Tappp...! Sinar biru it u padam di t angan T apak Baja. It ulah sebabnya dia di jul uki T apak

Baja, karena t elapak tangannya bagaikan baja, mampu menahan pukulan t enaga dalam berbent uk sinar apa pun. "Habisi dia!" t eriak T apak Baja kepada Hant u Laut , sebab menurut perhit ungan T apak Baja, lawan sudah

lemah dan t inggal dilenyapkan nyawanya.

"Hiaaat ...!" Hant u Laut kembali sent akkan kaki dan melesat t erbang ke at as sambil melepaskan yoyonya lagi. Karena saat it u Badai Kelabu t ert unduk lemah menahan sakit yang membuat wajahnya makin membiru.

Namun, sebelum t angan Hant u Laut melepaskan yoyonya lagi, t iba-t iba sebuah anak panah melesat dengan cepat dan menancap di bawah ket iaknya. Jrubb....!

"Aaoou...!" pekik Hant u Laut , t ak jadi melepaskan yoyonya.

Hant u Laut mengejang ket ika kakinya memijak bumi, ia mencabut anak panah kecil it u dengan seringai kesakit an. Mat anya memandang liar ke arah rimbunan pohon bambu, karena ia t ahu arah dat angnya anak panah it u dari rimbunan pohon bambu di sebelah kanannya. T et api pada saat it u mat anya menjadi berkunang-kunang, ia berdiri dengan limbung dan melangkah mundur

t erhuyung-huyung, kedua t angannya masih merent ang sedikit ke depan unt uk menjaga keseimbangan.

"Hant u Laut ...!" seru Tapak Baja t ampak cemas, ia segera melompat dengan bersalto di udara dua kali, lalu mendaratkan kakinya di belakang Hant u Laut . P ada wakt u it u, t ubuh Hant u Laut hampir t umbang ke belakang. T apak Baja segera menahan t ubuh besar it u.

"Bodoh kau!" bent ak Tapak Baja. Segera ia membuka t angan Hant u Laut yang kanan, kemudian luka bekas t ert ancapnya anak panah beracun it u segera diludahi t iga kali.

Cuih, cuih, cuih....!

Kulit yang t erluka it u bergerak-gerak sepert i tersiram air keras. Asap t ipis mengepul dari luka t ersebut . Lalu, dalam wakt u yang amat singkat luka it u mengering dan akhirnya hilang tak berbekas.

Kesempat an it u digunakan oleh Resi Kidung Sent anu unt uk melesat bagaikan t erbang, mengambil Badai Kelabu agar t idak        menjadi sasaran t erdekat           dari kemarahan T apak Baja. T ubuh berpakaian kuning it u

sepert i seekor kelelawar raksasa yang t erbang dengan cepat nya.

Wuurrrr....!

"Mau ke mana kau, Kunyuk!" sentak T apak Baja sambil mendongak ke at as. Ia segera melepaskan Hant u Laut , lalu sent akkan kaki dan melompat ke salah sat u t empat , ia melihat bayangan Resi Kidung Sent anu bergerak di t anah berumput . T apak Baja segera menoreh bayangan it u dengan menggunakan ujung t ombak pusaka t ersebut . Gress....!

"Ahhg...!" t erdengar pekik Resi Kidung Sent anu

dengan suara t ertahan pada saat ia masih berada di udara. Rupanya dengan menggoreskan ujung t ombak ke bayangan, Resi Kidung Sent anu dapat t erluka dadanya dan berdarah. Resi Kidung Sent anu jat uh berdebum

t anpa keseimbangan lagi. T et api ia buru-bur u bangkit

berdiri bagai t ak menghiraukan lukanya yang menghitam koyak it u.

Wuttt ...! Kalung it u dikibaskan oleh Resi Kidung Sent anu. Kibasan t ersebut mendat angkan angin kencang yang menyent akkan t ubuh T apak Baja. Bahkan t ubuh Hant u Laut pun t erdorong menyerosot di t anah sampai membent ur pohon punggungnya. Buehgg....!

"Aduuuh..!"       Hant u laut          mengerang memegangi pinggang belakangnya yang t erasa pat ah t ulangnya akibat bent uran dengan bat ang pohon besar.

Sement ara it u, Tapak Baja hanya t erhuyung-huyung

dan t ak jadi jat uh karena t ersangga oleh tombak yang dijadikan t ongkat penyangga badannya it u. Ia cepat

balikkan badan dan menggeram buas kepada Kidung

Sent anu.

"Kalau aku harus membunuhmu, bukan karena aku t ak suka padamu, t api aku menyingkirkan iblis yang bersemayam di raga dan jiwamu!" ucap Resi Kidung Sent anu, kemudian cepat -cepat ia lemparkan kalung bermanik-manik merah t ua it u. Wuurrrr...!

T apak Baja melihat kalung it u menyala bagaikan bat uan dari magma gunung berapi. Cepat -cepat ia kibaskan t ombak pusaka it u unt uk menghant am kalung t ersebut .

Blarr...! T rak trak trak blarrr....!

Kalung it u hancur berant akan t ak berbent uk lagi. Tombak P usaka Maut masih berdiri t egak dan ut uh, t anpa                lecet      sedikt i  pun.       Resi Kidung         Sent anu memandang dengan sorot mat a yang dingin, ia cepat gerakkan tangannya, merapat kan t elapak t angan it u di dada. Kepalanya masih tegak, mat a memandang lurus bagai menerawang.

"Hiaat ...!" Tapak Baja melompat dan menyambar-kan

ujung t ombaknya ke leher Resi Kidung Sent anu. Brett ...! Leher it u robek seket ika tergores ujung t ombak yang t erbuat dari t aring babi hut an runcing dan t ajam. Tapi Resi Kidung Sent anu tet ap diam, t idak memberikan perlawanan             dan                gerakan                menangkis          sedikit   pun. Sement ara it u, luka di dadanya semakin melebar, darah yang keluar bukan merah, melainkan hit am.

"Habis sudah riwayat mu, T ua bangka! Hiaaah....!" Beggh...! T apak         Baja       segera pukulkan t elapak

t angannya ke punggung Resi Ki dung Sent anu. P ukulan it u berasap biru. Resi Kidung Sent anu masih diam, berdiri dengan t angan merapat di dada. T api mat anya kali ini dipejamkan, sepert inya sedang menahan segala bent uk serangan yang menyakitkan t ubuh.

T apak   Baja       menjadi               lebih      buas      lagi,        karena pukulannya         t idak     bisa        merobohkan      Resi                Kidung Sent anu. Maka, dengan sat u lompat an ke belakang, ia kibaskan tombaknya menyabet t engkuk kepala Resi Kidung Sent anu. Brett....!

Kulit dan daging bagian t engkuk kepala orang t ua it u

t erkoyak lebar. Darahnya memercik deras. T api Resi Kidung Sent anu masih t et ap diam, bagai melakukan semadi dalam keadaan berdiri.

Dari at as lereng, Sut o membat in, "Resi Kidung Sent anu past i punya kejut an sendiri. T apak Baja akan semakin bernafsu, dan mungkin Resi Kidung Sent anu memancing nafsu amarah T apak Baja biar nant inya nafsu it u sendiri yang akan menewaskan T apak Baja. Hmmm... cukup t inggi ilmu sang Resi. T api, apakah ia memang bisa dilukai dari bayangannya? Apakah dia menyimpan kekuatan pada bayangannya? Kulihat saat T apak Baja menggoreskan ujung t ombak ke t anah, t epat mengenai bayangan sang Resi, dan seket ika it u sang Resi memekik, terluka dadanya. Tapi, t adi pun kulihat bayangannya t erinjak kaki Hant u Laut, toh dia t idak merasakan               sakit .    Apakah melukai lawan   lewat bayangannya                adalah   salah      sat u kehebat an              pusaka t ersebut ?"

Di balik kerimbunan semak bambu, Dewa Racun masih bersembunyi di sana. Ia ingin mengambil Badai Kelabu yang makin membiru dan lemas t ubuhnya. Tapi keadaan Badai Kelabu ada di dekat Resi, dan sang Resi sedang diserang T apak Baja. Dewa Racun t idak mau bert indak gegabah. Salah-salah ia yang menjadi sasaran P usaka Tombak Maut it u.

Namun, melihat sang Resi yang t ercabik-cabik hanya diam saja, Dewa Racun menjadi geram dan tak t ega membiarkannya. Maka, sat u anak panah dilepaskan dari sela-sela bat ang bambu. Zuut tt ....!

Anak panah t ert uju ke arah T apak Baja. T api mat a t ua T apak Baja cukup awas. Ia hindari gerakan anak panah berbul u merah it u. Lalu ia sent akkan t angan kirinya ke rimbunan bambu. Wuttt ....!

Sinar biru melesat dari t elapak t angan. Dewa Racun

cepat hindarkan diri dengan melompat keluar dari persembunyiannya. Wess....!

Brakkk...! Blarrr....!

Rimbunan bat ang bambu pecah menjadi serpihan- serpihan kecil karena t erkena sinar biru dari t elapak t angan kiri T apak Baja.

"Monyet kecil!" bent ak T apak Baja dengan murka yang memerahkan bola mat anya. "Tak perlu kut ahu siapa dirimu, t api kau sudah mencoba menyerangku, berart i kau t ermasuk lawan yang harus kumusnahkan bersama Resi peot ini! Hiaaat ....!"

Dewa Racun melompat hindari serangan tombak yang meluncur cepat bersama pemegangnya. Dewa

Racun sengaja memancing T apak Baja supaya menjauhi Badai Kelabu, supaya jika serangannya meleset t idak mengenai Badai Kelabu yang hidup di ant ara mat i it u.

Sement ara Dewa Racun melompat -lompat dengan lincahnya, hat i P endekar Mabuk menjadi was was, ia membat in,                "Jangan-jangan Dewa Racun       belum menget ahui bahwa P usaka Tombak Maut bisa melukai lawan melalui bayangan lawannya? Celaka! Dewa Racun bisa celaka jika ia t ak menyadari hal it u!"

Sut o baru saja mau bergerak, t iba-t iba mat anya t erbeliak melihat T apak Baja menorehkan ujung t ombak ke pohon. Karena di pohon t erdapat bayangan Dewa Racun, maka Dewa Racun pun t ersent ak kaget sambil

t erpekik dengan suara t ert ahan. "Oohgg...!"

T ubuh  Dewa    Racun    melengkung       ke           depan. P unggungnya robek, darah keluar menghitam di rompi bul unya yang juga robek bagai habis digores dengan benda yang amat t ajam it u. Dewa Racun limbung menahan rasa sakit di sekujur t ubuhnya.

"Mampus kau t ikus bus uuuk...!" t eriak T apak Baja

sambil melompat dan hendak menancapkan t ombak it u ke punggung Dewa Racun.

P endekar Mabuk cepat-cepat melepaskan pukulan jarak jauhnya. Namun, sebelum pukulannya t erlepas, t iba-t iba t ubuh T apak Baja t ersentak dan t erlempar jauh hingga membent ur pohon yang dipakai duduk bersandar oleh Hant u Laut .

Begggh....!

"Uuhg...!"           ia             memekik             kesakit an.          "Ada      yang

menyerang dari persembunyian, Nakhoda!"

P lokk...! Wajah berkepala gundul dit ampar t elak oleh

T apak Baja, lalu ia membent ak,

"Aku t ahu! Aku t ak perlu saranmu!"

Hant u Laut t ak berani bicara lagi. Ia segera bangkit dan berniat menyerang Dewa Racun yang t erluka parah, sedang merangkak mendekat i Badai Kelabu. T etapi t angannya segera dit arik oleh T apak Baja, dan Hant u Laut jat uh t erduduk lagi.

"T ak perlu ikut campur, Tolol! Biar aku sendiri yang melenyapkan si penyerang gelap it u!"

T apak Baja cepat sent akkan t angannya ke t anah dan t ubuhnya melesat lompat dalam keadaan berdiri sigap, ia berseru sambil mat anya memandang sekeliling.

"Bangsat ...!       Keluar   kau!       Hadapilah            aku kalau memang kau ingin mengant arkan nyawamu!"

P endekar Mabuk membat in sambil bergerak pelan mendekat i tempat Dewa Racun dan Badai Kelabu, "Siapa penyerang gelap it u? Cukup t inggi juga ilmunya, hingga dia bisa membuat T apak Baja t erlempar sejauh it u bersama          P usaka Tombak                Maut nya!           Hmmm... sebaiknya t ak perlu kuhiraukan dulu siapa orang it u, yang pent ing kuselamat kan dulu De wa Rac un dan Badai Kelabu! Dewa Rac un adalah penunjuk jalan bagiku unt uk bert emu dengan kekasihku; Dyah Sariningrum. Dewa Racun t ak boleh mat i karena luka-lukanya it u!"

Resi Kidung Sent anu tet ap berdiri t anpa goyah sedikit

pun. Walau t ubuhnya t elah t erkoyak habis hingga bagian wajahnya bagai nyaris membelah, t api mat anya t et ap

memandang lurus dengan t angan saling merapat di dada dalam sikap semadi, ia t ak menghiraukan dua orang yang menjadi biru kulit t ubuhnya akibat luka goresan P usaka Tombak Maut it u.

Sut o dengan cepat menyambut t ubuh Dewa Racun

dan Badai Kelabu. Gerakannya diket ahui T apak Baja, sehingga Tapak Baja berseru,

"Hai, berhent i! Hadapi aku atau kuserang kau dari belakang?!"

Baru       saja        P endekar           Mabuk  ingin      sent akkan t angannya unt uk melepaskan pukulan jarak jauhnya, tapi lagi-lagi t ubuh Tapak Baja t ersent ak ke depan dan jat uh t ersungkur. Seseorang t elah menyerangnya dari bagian punggung T apak Baja, yang membuat T apak Baja kaget dan t ak bisa menjaga keseimbangan t ubuhnya. Serangan it u jelas serangan bert enaga dalam t inggi, karena Tapak Baja sampai semburkan darah dari mulutnya walau t ak t erlalu banyak, dan masih bisa membuatnya cepat berdiri.

"Perset an dulu dengan siapa penyerang gelap it u,

yang pent ing kubawa lari dul u kedua t emanku ini dan kusembuhkan dulu luka-lukanya, set elah it u baru aku kembali ke sini t anpa mereka!"

Set elah membat in begit u, P endekar Mabuk pun cepat

pergi membawa mereka.

*

* *

9

P ULAU it u mempunyai t ebing, dan di t ebing it u ada gua karang di mana air laut juga masuk ke dalamnya. Gua it u t idak t erlalu dalam, t api cukup lebar. Langit nya rendah, namun bisa dipakai unt uk masuk sebuah perahu. Di gua it ulah Sut o menyembunyikan perahunya. Di at as perahu    it ulah,  Dewa    Racun    dan        Badai     Kela bu dibaringkan set elah dipaksa meminum t uak dari t abung bambu yang selalu ada di punggung P endekar Mabuk it u.

T ak kurang dari serat us hit ungan, set elah minum t uak

beberapa t eguk, rasa sakit di sekujur t ubuh De wa Rac un dan Badai Kelabu mulai berkurang. Napas mereka lancar kembali. T api badan masih t erasa lemas unt uk bergerak.

"Jangan bergerak dulu! Biarkan t enagamu pulih kembali!" kata P endekar Mabuk kepada Dewa Racun yang mencoba unt uk bangkit t api susah.

"Racun di uj ung t ombak it u sangat ganas, Sut ... Sut ...

Sut o! Hawa murniku yang biasa un... un... unt uk menolak racun t ak mampu menghadapi keganasan racun t ersebut . Ber... berart i... berart i racun it u jenis Racun Ludah Dewa."

"Apa it u Racun Ludah Dewa?"

"Ra... ra... racun yang t idak bisa dilawan, karena t idak ada penawarnya."

"T api badanmu yang t adinya dingin sekarang sudah menjadi hangat kembali, Dewa Racun. Demikian juga Badai Kelabu. Bahkan paras pucat mulai memudar dari wajah kalian."

"Yaa... yaa... ya, memang. Just ru aku heran padamu. T u... t u... t uak apa sebenarnya yang kau miliki, hingga t erasa sepert i dapat menawarkan Racun Ludah Dewa...? Sung... sungguh aku heran, Sut o!"

P endekar           Mabuk  hanya    t ersenyum.       Segera  ia

pandangi Badai Kelabu yang sudah bisa mengerang dan menggeliat it u. P endekar Mabuk memberi saran sama sepert i yang diberikan pada Dewa Racun t adi. Badai Kelabu t ak jadi mencoba unt uk bangun, t api ia bisa bicara dengan suara lemah,

"Sudah mat ikah aku...?"

"Belum," jawab Sut o sambil t ersenyum. Mat a Sut o melihat ke arah luka-luka di t ubuh Badai Kelabu,

t ernyata lebih cepat kering daripada luka-lukanya Dewa Racun. Mungkin hal it u dikarenakan Badai Kelabu hanya terkena racun dari gerigi yoyo milik Hant u Laut yang t idak separah racun di ujung t aring babi hutan it u. Racun it u juga cukup berbahaya, hanya saja mudah dit awarkan ket imbang racun dari P usaka Tombak Maut .

"Aku akan kembali ke sana," kat a P endekar Mabuk.

"Kalian t et ap saja di sini sampai aku dat ang kembali membawa P usaka Tombak Maut it u."

"Sut o, jangan berusaha merebut pusaka it u!" kat a Badai Kelabu dengan perasaan cemas. "T apak Baja dan pusaka it u sangat berbahaya unt uk keselamat anmu. Aku t akut kau t erluka, Sut o!" tangannya menggenggam

t angan P endekar Mabuk.

"Aku hanya         ingin      melihat ,              siapa orang yang menyerang T apak Baja dari t empat persembunyiannya!

Karena saat aku hendak membawamu pergi, T apak Baja sedang t erdesak oleh serangan berilmu t inggi," ucap P endekar Mabuk.

"T ak      perlu.    T ak        perlu,    Sut o!    Sebaiknya           kit a t inggalkan saja mereka dan cepat menuju P ulau Hit am. Gur uku        past i     sangat   membut uhkan kamu    dan menunggu-nunggu kedat angan kit a!"

"Sebent ar saja aku ke sana! Secepatnya aku kembali!" "Aku t akut kau jadi sasaran kemarahan Tapak Baja,

Sut o!"

"Aku ada di persembunyian pert ama. Tidak akan t urun!"

Badai Kelabu merasa t ak mungkin bisa mencegah

kemauan P endekar Mabuk yang sangat keras it u. Akhirnya ia hanya berpesan,

"Hat i-hat i, Sut o! T ak perlu ikut t urun sepert i aku

t adi!"

"Mudah-mudahan          keadaannya       begit u!"              jawab

P endekar Mabuk, lalu segera keluar dari gua it u melalui

t epian t ebing karang. Dengan gesit Sut o melompat dari bat u ke bat u, dan dalam wakt u singkat ia sudah kembali berada di t empat persembunyian yang pert ama. Dari ket inggian it u ia bisa melihat keadaan T apak Baja dengan bebas. T api merasa kurang jelas, sehingga ia perlu melompat bagai seekor burung jant an yang t erbang dan hinggap di salah sat u dahan pohon. Dari dahan kedahan ia melompat, sampai akhirnya ia t epat berada di at as pohon yang digunakan Hant u Laut bersandar dalam duduknya.

P ada saat it u, Tapak Baja sedang berhadapan dengan orang berambut merah jagung. Rambut it u panjang lewat pundak t anpa ikat kepala. Alis, kumis, dan jenggot nya juga ber warna merah bulu ja gung. Orang bert ubuh kurus it u mengenakan jubah t anpa lengan sepanjang lut ut berwarna merah t ua, celana dan baju dalamnya yang berlengan panjang it u berwarna hijau muda. Dari kerut an kulit wajahnya, ia t ampak sepert i berusia sekit ar enam puluh t ahun, ia mengenakan sabuk hit am besar, dan menggenggam t ongkat berkayu put ih set inggi lewat kepala. Ujung tongkat nya it u berbent uk kepala singa.

Melihat mat anya yang kecil t api t ajam it u, P endekar Mabuk dapat menduga orang berambut merah it u punya kejelian pandang yang cukup t inggi. Sikap berdirinya yang            selalu    t egak    dengan dada      membusung, menampakkan ia sebagai orang yang pant ang menyerah.

Rupanya bukan hanya P endekar Mabuk yang t idak mengenali t okoh t ua it u, melainkan Tapak Baja sendiri juga t idak mengenalinya. Karena it u, T apak Baja segera ajukan t anya dengan nada kasar,

"Siapa kau, Iblis keriput ! Apa urusanmu denganku, sehingga kau berani menyerangku dari belakang, hah?!"

"T alang Sukma adalah namaku. Jangkar Langit adalah kakakku. P usaka Tombak Maut adalah sasaranku. Dan nyawamu adalah alas kakiku!" jawab si Rambut Jagung yang t ernyat a adalah adik dari Ki Jangkar Langit , pemilik P usaka Tombak Maut it u.

Mendengar pengakuan it u, T apak Baja menggeram penuh nafsu unt uk membunuhnya. T api ia sempat

berkat a dengan lant ang,

"Urungkan niatmu merebut P usaka Tombak Maut ini! Kau hanya akan mat i t anpa art i, Talang Sukma!"

"Demi merebut hak milik kakakku, aku siap mat i di t angan siapa saja, T apak Baja!"

"Aku yang berhak memiliki pusaka ini! Karena pusaka ini, sepert i kau ket ahui sendiri, sudah berada di

t anganku. Berart i akulah yang berhak memilikinya!" "Orang sesat sepert i kau t ak pernah punya hak

memiliki pusaka apa pun, Tapak Baja!"

"Keparat ! T erlalu semborono   bicaramu, T alang

Sukma!"

"T ak perlu beramah t amah bicara dengan pengikut iblis sepert i kau, T apak Baja! T ak perlu sabar bersikap di depan penganut set an sesat sepert i dirimu!"

"Jahanam kau! Hihhh...!" Tapak Baja segera kirimkan

pukulan bert enaga dalam cukup t inggi. Dari t elapak t angan kirinya keluar sinar biru yang disusul dengan sinar merah di belakangnya. Wuttt wuttt ....!

Dua sinar menyerang T alang Sukma yang berjarak

delapan langkah it u. T api oleh T alang Sukma, sinar it u disingkirkan        melalui kibasan tongkatnya         yang disabet kan ke kiri dengan menggunakan dua t angan dan kaki merendah ke belakang Wuusss....!

Arah kedua sinar yang saling susul it u membelok dan

menghant am sebuah pohon jat i. Bezz... bezzz....!

Zzruubbb....!

P ohon  jat i         it u          lenyap, bergant i              serbuk  yang menyerupai t epung dan menggunung di t empat pohon

it u semula berada. T apak Baja t erkesiap melihat kedua sinarnya             bisa        dibelokkan          arahnya,              ia                semakin menggeram karena merasa disepelekan ilmunya.

T alang Sukma melangkah pelan ke samping kiri dengan                memut ar-mut ar             t ongkat               panjangnya                bagai dipermainkan di sela-sela jarinya. Bunyi put aran t ongkat it u mirip serombongan lebah menggaung dan angin put arannya membuat dedaunan t ersingkap. Daun-daun yang t ersingkap it u segera berubah warna dari hijau menjadi kuning kecoklat-coklat an. Jelas kibasan angin it u mempunyai t enaga dalam yang t inggi dan sengaja dipamerkan kepada T apak Baja, biar menjadi bahan perhit ungan bagi T apak Baja.

Namun, agaknya T apak Baja t idak mau peduli dengan kibasan t ongkat berput ar it u. Mat anya segera melirik bayangan Talang Sukma yang jat uh di at as sebuah gugusan bat u. T apak Baja cepat sent akkan kakinya, dan t ubuh pun melayang cepat ke arah gugusan bat u it u. Lalu, ujung t ombak dipakai menghantam gugusan bat u t ersebut . T rakk...!

Blarrr....!

Bat u it u pecah menjadi serpihan pasir yang membara merah mengepulkan asap panas. Sedangkan T alang Sukma t et ap berdiri t egak sambil memut ar-mutarkan

t ongkatnya. Karena pada saat tombak it u dihant amkan

pada      bat u ia t elah melompat lebih    dulu hingga bayangannya pindah di t empat lain. Rupanya Tapak Baja t elah t ert ipu. T alang Sukma t elah menget ahui kehebat an t ombak pusaka milik kakaknya it u, sehingga bisa

mengecohkan gerakan T apak Baja.

Se gera T alang Sukma sodokkan t ongkat nya ke depan dan dari kepala t ongkat it u menyembur sinar kuning dalam sekejap. Zubbb....!

Crab crab crab! Blllaaar....!

Sinar kuning it u bagai t ersedot oleh ujung t ombak dan akhirnya melesat sinar kuning kemerahan dari ujung t ombak, arahnya ke at as dan meledak di angkasa sana. Dua pohon pat ah dahannya, dan jat uh di dekat Resi Kidung Sent anu yang t et ap berdiri dengan sikap semadinya.

Kejap berikut nya T alang Sukma menarik tongkatnya ke belakang, tapi t angan kirinya menyent ak ke depan sepert i                orang    melemparkan sesuat u  dari        t elapak

t angannya. T ernyat a dari t elapak t angan kirinya it u keluar tenaga dalam yang berasap biru. T enaga it u melesat t anpa wujud ke arah T apak Baja, membuat T apak       Baja       segera  menyilangkan t ombak  it u ke samping. T ombak it u dipegang dengan dua t angan dan keluarlah loncat an api biru bagaikan pet ir menyambar t ongkat T alang Sukma set elah t erlebih dulu menembus

t enaga dalam yang meluncur ke arahnya.

Blluub....! T arrr....!

T alang Sukma melompat kan badan ke kanan. Kayu

t ongkatnya        yang put ih          menjadi hit am  di bagian t engahnya, t api belum pat ah. Kayu it u t erkena kilat an cahaya biru yang t erasa menyengat di t elapak t angan T alang Sukma. Hampir saja t angan it u melepaskan

genggaman pada t ongkatnya.

Se gera t ongkat it u dipegang oleh t angan kiri dan t angan kanan mengibas ke samping, memercikkan sinar merah                berbint ik-bint ik menerjang       T apak   Baja. Zrappp....!

T apak Baja cepat melakukan kibasan memut ar pada t ombaknya. Tombak it u memutari kepala dengan cepat dan keluarlah sinar hijau muda yang mengelilingi t ubuhnya. Sinar hijau muda it u membuat but iran sinar merah t adi melet up dan mengepulkan asap hitam pekat t ersembur ke at as.

Bahkan ket ika kaki Talang Sukma menendang sebongkah bat u sat u genggaman t angan, bat u it u melesat ke arah T apak Baja. T api sebelum sampai menyent uh sinar hijau yang mengelilinginya it u, bat u t ersebut t elah hancur            dalam    sat u             ledakan                kecil       yang      cukup mengagumkan bagi orang awam. Rupanya sinar hijau it u menjadi pagar bertenaga t inggi, t erbukt i T alang Sukma

t ak berani menerobos masuk ke dalam lingkaran sinar hijau t ersebut .

"Ayo, dekat lah! Majulah kalau kau memang berilmu t inggi!" t eriak T apak Baja menant ang.

"Aku t ak mau mat i t erbakar!" kat a T alang Sukma. "T api barangkali tongkatku ini bersedia unt uk t erbakar!"

Zubbb...!             T alang Sukma   lemparkan          tongkatnya

dengan kuat . Tongkat meluncur cepat ke arah Tapak Baja, menerobos lingkaran sinar hijau. Zrubbb....! Tongkat it u t erbakar dan menjadi hangus, tapi masih mampu melesat cepat dan menghantam pangkal ket iak

T apak Baja.

Duuub....!

Sent akan tongkat it u begit u keras, sehingga T apak Baja t erpelant ing ke belakang dan jat uh. T ombaknya t erlepas dari t angan, jat uh di depan Hant u Laut .

"Cepat ambil!" teriak T apak Baja. Maka, Hant u Laut dengan cepat berguling sambil meraih t ombak it u. Kini ia berdiri dengan menggenggam tombak. Membawanya lari ke t empat yang aman. Melihat t ombak di t angan Hant u Laut, T apak Baja menjadi lega. Ia cepat berdiri dan siap menghadang serangan Talang Sukma.

P endekar Mabuk ingin t urun dari at as pohon unt uk merebut tombak it u, t api Hant u Laut berdiri di samping Resi Kidung Sent anu. Salah-salah jika P endekar Mabuk menerjang unt uk   merebutnya,     t ombak               it u          bisa dikibaskan sembarangan oleh Hant u Laut dan mengenai Resi Kidung Sent anu. Sut o menahan diri unt uk t idak melakukannya.

T et api di pohon belakang Hant u Laut, P endekar Mabuk melihat Dewa Racun t elah berdiri di sana. Dewa Racun berada lebih bawah dari Badai Kelabu yang bert engger dengan t ubuh segar di at as Dewa Rac un. P endekar Mabuk memberi isyarat agar jangan merebut

t ombak it u dulu, sebel um Hant u Laut menjauhi Resi Kidung Sent anu. Sebab P endekar Mabuk t ahu, orang berkepala                gundul  it u          cukup bodoh     dan        akan menggunakan t ombak it u secara sembarangan jika keadaannya t erdesak. Sut o khawat ir t ombak it u akan menewaskan Resi Kidung Sent anu karena kebodohan

Hant u Laut .

Melihat tombak berada di t angan Hant u Laut , T alang Sukma    segera  mengejarnya.    Tapi        lompat annya dipat ahkan oleh t erjangan T apak Baja dari belakang. Dua pukulan t elapak t angan yang mengepulkan asap merah it u mengenai punggung T alang Sukma dengan t elak. Bleg, bleg....!

"Haagh...?!" T alang Sukma t ersent ak melengkung ke belakang dan jat uh tanpa daya lagi. Ia berusaha mengerang dan menggeliat . Tapi punggungnya yang hangus t erbakar oleh dua pukulan it u t elah membuat nya hanya bisa        berguling ke                samping dan      t ubuhnya t erlent ang di t anah. T ernyat a bekas hangus it u t erlihat nyat a di dada T alang Sukma dan mengepulkan asap berbau sangit . Rupanya pukulan ampuh T apak Baja it u t elah t embus sampai di ba gian dada dan membuat T alang Sukma akhirnya meregang nyawa, t ak berkut ik selamanya.

Sut o segera melompat t urun dari at as pohon sambil menyent ilkan      jari t elunjuknya. Jurus 'Jari Gunt ur' dipakainya. Sent ilan jarak jauh it u mengenai pelipis T apak Baja, dan T apak Baja t erlempar karena sent akan yang begit u kuat t ersebut .

"Bangsaaat...!" t eriaknya sambil t ubuh it u jat uh berdebum di dekat Hant u Laut .

Sut o berdiri t egak menghadap T apak Baja, siap menjadi musuh t andingan yang akan memusnahkannya. T api t anpa diduga-duga oleh P endekar Mabuk dan yang lainnya, Hant u Laut cepat menikamkan P usaka T ombak

Maut it u ke lambung T apak Baja.

Jrubbb....!

"Haagghh...!" T apak Baja mendelik, memegangi t ombak it u, dan makin lama pegangannya makin lemah. Tombak segera dicabut kembali oleh Hant u Laut yang t ert awa keras dan berseru,

"Dendamku t erbalaskan sekarang! Ha ha ha...! Sekian

puluh    t ahun   aku         menyimpan        dendam               t erhadap keganasanmu, Nakhoda! Sekian lamanya kau hina aku dengan kekuasaanmu! Sekarang kau t ak akan bisa memperbudak aku seenaknya saja! Kukirim kau ke neraka sana dan jadilah nakhoda kapal di sana!"

"Han... Han... Hant u Laaa... Lauuut ...!" t ubuh T apak

Baja roboh. T angannya masih meremas rumput kuat - kuat bagai menggenggam kemarahan dan dendam yang t ak bisa t erbalaskan. Karena kejap berikut Tapak Baja meregang nyawa, ia             mat i dalam         keadaan               mulut

t ernganga dan mat a mendelik.

"Sekarang akulah Nakhoda Kapal Neraka! T ak ada yang bisa memerintahku dengan sewenang-wenang! Bahkan Siluman T ujuh Nyawa pun bila perlu kula wan dengan P usaka Tombak Maut ini! Haaa... ha... ha ha ha....!"

T awanya it u t erhent i karena Dewa Racun dan Badai Kelabu t urun dari at as pohon. Hant u Laut segera memandang mereka dengan buas dan liar. Ia siap kibaskan tombak dengan badan sedikit membungkuk.

"Mau apa kalian, hah?!" bent ak Hant u Laut dengan wajah angker.

"Kembalikan pusaka it u kepada pemiliknya!" kat a

P endekar Mabuk.

"T idak bisa! Akan kupakai melawan Siluman T ujuh Nyawa          yang      selama  ini           memerint ahku sepert i memerint ah binat ang!"

"Akan kudukung usahamu it u! Akan kubant u! T api serahkan pusaka it u kepada pemiliknya!" bujuk Sut o Sint ing.

"T idak bisa! Tanpa pusaka ini aku lemah dan t idak

punya kekuat an apa-apa! Aku harus t unjukkan kepada Sil uman T ujuh Nyawa, bahwa aku bi sa menggant ikan jabat an Tapak Baja sebagai Nakhoda Kapal Neraka yang mampu memusnahkan lawan dalam sekejap. P ert ama- t ama akan kuhancurkan dulu penguasa P ulau Beliung, sebagai perint ah lanjut an dari Siluman T ujuh Nyawa. Set elah it u kuhancurkan pulau-pulau lainnya, dan yang t erakhir      Siluman                T ujuh Nyawa    sendiri  akan kuhancurkan sepert i aku menghancurkan isi t ubuh T apak Baja!"

"Dengar, Hant u Laut ...!"

"Jangan mendekat! Kut ancapkan t ombak ini ke t anah, kalian akan mat i menghirup udara beracun!"

Dewa Racun ingin bergerak melemparkan pisaunya yang selalu ada di samping kanan-kiri, t api t angan P endekar Mabuk memberi isyarat agar jangan dulu melakukan     hal it u, karena  ujung t ombak   sudah menghadap ke t anah. P endekar Mabuk melihat angin berhembus cukup kencang ke arah t imur, sedangkan di

t imur ada sat u pulau yang berpenghuni. Racun yang

keluar dari dalam t anah akibat t ombak dit ancapkan ke t anah, bisa terbawa angin ke t imur dan menyebarkan kemat ian di sana.

"Kalau   kalian    masih    sayang  nyawa, jangan mendekat iku dan jangan sampai bert emu denganku, kapan saja, juga di mana saja! Mengert i?!" bent ak Hant u Laut . Kemudian ia cepat sent akkan kaki dan melesat pergi t inggalkan tempat it u.

Melihat P endekar Mabuk hanya diam saja, Dewa

Racun dan Badai Kelabu j uga merasa ragu unt uk mengejar Hant u Laut . T api Badai Kelabu segera ajukan t anya kepada Sut o.

"Mengapa t idak kita kejar dia?"

"Dia orang ngawur! Angin bert iup ke t imur, kalau dia t ancapkan t ombak ke t anah dan gas beracun keluar, bisa

t erbang t erbawa angin dan t erhirup oleh penduduk pulau

sebelah t imur sana. Korban akan berjat uhan!"

"Benar juga," gumam Badai Kelabu. "P ulau t empat t inggalku juga ada di sebelah t imur. Bisa-bisa hawa racun it u t erbawa angin sampai ke pulau t empat t inggalku!"

"Kita      mest i    mengejarnya,    t api       t idak     harus

menyerangnya secepat ini!" kata Sut o.

"Bagaimana dengan Resi Kidung Sent anu it u?" kat a Dewa Racun. P endekar Mabuk segera memeriksanya, dan ia t erkejut , bahwa t ernyat a Resi Kidung Sent anu sudah t idak bernyawa lagi. Ia mat i dalam keadaan berdiri dan dalam sikap bersemadi.

"Kurasa ia t elah mat i sejak t adi," gumam Badai

Kelabu.

"Ya. Kurasa ia mat i sejak dadanya ditoreh dengan t ombak it u melalui bayangan t erbangnya," sambung Sut o.

"Lan...   lant as...               bagaimana          dengan kit a,      mau

mengikut i pelarian Hant u Laut at au... at au... melanjut kan perjalanan ke P ulau Hitam?"

Sut o Sint ing diam beberapa saat , lalu t erdengar gumamnya sepert i bicara pada diri sendiri,

"Dia past i menuju P ulau Beliung. Bahaya! Orang- orang yang ada di P ulau Beliung t ak mungkin bisa menandingi kehebat an P usaka Tombak Maut it u!"

"Sebaiknya pergi dulu ke pulauku!" desak Badai

Kelabu. "Jangan pikirkan Cempaka Ungu dulu!"

"Bukan Cempaka Ungu yang kupikirkan!" sahut Pendekar Mabuk. "Tapi amukan Hantu Laut yang bodoh dan tidak pernah pakai perhitungan dalam bergerak, ia sedang merasa bangga memiliki pusaka itu, tak heran jika ia menggunakannya secara sembarangan! Pusaka itu akan menggegerkan penduduk tiap pulau yang disinggahinya!"

"Jad... jadi... bagaimana?" tanya Dewa Racun dengan

gusar.

Suto masih mempertimbangkan, mengejar pelarian Hantu Laut agar mencegah banyaknya korban yang berjatuhan atau menyembuhkan gurunya Badai Kelabu t erlebih dulu? Hal yang makin menyangsikan P endekar Mabuk adalah, bahwa Hant u Laut ingin membuktikan di mata Siluman Tujuh Nyawa, dia mampu menjalankan

tugas, menggantikan kehebatan Tapak Baja. Sasaran utamanya adalah Pulau Beliung, sedangkan di Pulau Beliung ada Singo Bodong. Padahal keselamatan Singo Bodong ada dalam tanggung jawab Suto.

Haruskah Pendekar Mabuk kembali ke Pulau Beliung

menghadang Hantu Laut ? Atau mengejar Hantu Laut sebelum sampai ke Pulau Beliung ? At au meneruskan perjalanan ke P ulau Hit am yang t inggal separo hari lagi it u?

Pertimbangan Pendekar Mabuk ada dalam kisah selanjut nya.

SELESAI