coba

Cinta Bernoda Darah, Bab 33 - Anak Patriot, Ayah Pemberontak

Mode Malam
Bab 33

Ketika Suma Ceng melihat berkelebatnya orang dan secara tiba-tiba melihat seorang gadis berdiri di depannya, ia kaget sekali dan cepat bangkit berdiri. Tadinya ia kaget dan mengira Suling Emas yang datang lagi, akan tetapi setelah melihat bahwa yang datang seorang gadis, ia terheran-heran. Akan tetapi ketabahannya kembali ketika melihat bahwa yang datang adalah seorang gadis muda yang cantik sekali. Dengan senyum tenang Suma Ceng bertanya.

˜Siapakah kau dan apa kehendakmu datang secara begini?!

Lin Lin meraba gagang pedang, sejenak ia menentang pandang mata wanita itu sehingga dua pasang mata yang sama jeli dan sama tajam itu saling tatap penuh selidik. Kemudian Lin Lin bertanya, suaranya lantang.

˜Apakah kau yang bernama Suma Ceng?!

Suma Ceng mengerutkan keningnya. Sebagai seorang nyonya yang selalu menjunjung tinggi nama suaminya, segera ia menjawab, ˜Aku adalah Nyonya Pangeran Kiang dan siapakah kau?!

˜Tapi dulu sebelum menikah bernama Suma Ceng?! Lin Lin mendesak lagi.

Terpaksa Suma Ceng mengangguk. ˜Betul, dahulu aku bernama Suma Ceng, dan kau mau apakah tanya-tanya nama kecil orang lain?!

˜Srettt!! Pedang Besi Kuning sudah berada di tangan Lin Lin.

˜Mau membunuh engkau!! bentak Lin Lin dan pedangnya berubah menjadi sinar kuning yang menyambar ke arah leher Suma Ceng. Gerakan ini demikian cepat dan tidak terduga sehingga nyonya muda itu biarpun pandai silat tak sempat untuk menyelamatkan diri lagi, hanya berdiri terkesima dengan mata terbuka lebar. Pedang Besi Kuning menyambar ganas!

˜Tranggggg!! Lin Lin terpental ke belakang berputar-putar sampai lima kali putaran baru ia dapat menghentikan kakinya ketika pedangnya bertemu dengan sesuatu yang amat hebat tenaganya, membuat pedangnya itu terpental dam membawa pula dirinya berputaran. Ia kaget dan marah sekali, namun tidak gentar karena ia memang sudah siap untuk bertempur mati-matian dalam usahanya membunuh wanita yang dibencinya. Cepat ia meloncat dan membalikkan tubuh, siap dengan pedang di depan dada. Tapi mendadak tubuhnya gemetar, wajahnya pucat dan tangan yang memegang pedang menggigil. Kiranya yang menangkis pedangnya, yang kini berdiri tegak di depan Suma Ceng, dengan suling di tangan, yang memandangnya dengan kening berkerut dan mata sayu, adalah.. Suling Emas!

˜Lin Lin, terlalu sekali engkau.. hendak membunuh orang yang tidak bersalah apa-apa?!

Suling Emas menegur sambil menggeleng-geleng kepalanya, wajahnya yang tampan itu kelihatan sedih sekali.

Teguran ini meledakkan gunung berapi kemarahan yang mendesak di hati Lin Lin. Tiba-tiba saja air matanya keluar bercucuran dan ia menudingkan pedangnya ke arah Suling Emas.

˜Kau..! Kau..! Kau yang telah menghinaku.. kini membela dia..! Ah, aku benci padamu! Benci..!! Sambil terisak menangis Lin Lin meloncat dan lari pergi secepatnya.

˜Lin Lin, tunggu..!! Suling Emas mengejar. Di taman itu tinggal Suma Ceng yang berdiri terlongong, sedangkan anak-anaknya ketakutan dan dua orang pelayan sibuk menghibur mereka dengan muka pucat karena takut pula.

˜Mari kita masuk, dan jangan ceritakan kepada siapapun juga tentang peristiwa tadi,! akhirnya Suma Ceng berkata, kemudian ketika berada di dalam kamarnya, tak tertahankan lagi nyonya ini menjatuhkari diri di atas pembaringan dan menelungkup sambil menangis.

˜Lin Lin, tunggu..!! Suling Emas berteriak dan mempercepat pengejarannya. Lin Lin seperti orang gila, berlari cepat sekali karena ia mengerahkan ilmu lari berdasarkan tenaga yang ia peroleh dari latihan ilmunya yang baru di bawah petunjuk Empek Gan. Betapapun juga, latihannya yang masih belum masak itu tidak memungkinkan ia dapat melarikan diri daripada pengejaran Suling Emas. Akhirnya, jauh di luar kota raja, ia dapat disusul oleh Suling Eruas yang mendahuluinya dan membalik, menghadang di tengah jalan.

˜Lin-moi, berhenti sebentar, mari kita bicara baik-baik..!

Dengan air mata membasahi pipinya, Lin Lin melintangkan pedangnya di depan dada dan matanya yang tajam menatap wajah pendekar itu sambil berkata ketus, ˜Bicara apa lagi? Kau sudah puas menghinaku dua kali! Kau menyusul aku apakah hendak menghina lagi dan melihat aku mampus?! air matanya makin deras bercucuran.

Dengan suara sedih Suling Emas berkata,

˜Lin Lin.. Lin-moi, mengapa kau berkata demikian? Tidak sekali-kali aku berani menghinamu. Ah, Lin Lin, tidak tahukah kau betapa hancur hatiku menghadapi semua ini? Kau agaknya tahu sekarang, bahwa.. bahwa aku adalah kakakmu sendiri. Tidak saja aku jauh lebih tua darimu, tapi juga aku.. aku adalah kakakmu, Lin Lin. Aku tidak menghina..!

˜Cukup!!

Lin Lin membentak di antara isak tangisnya, ˜Katakanlah bahwa kau memandang aku sebagai seorang gadis yang tak tahu malu, seorang gadis yang rendah! Kau bukan kakakku, ini kau pun tahu jelas. Aku seorang puteri Khitan, aku hanya anak pungut ayahmu, aku bukan she Kam! Kita bukan sedarah dadaging, bukan seketurunan. Tentang usia.. sudahlah, tentu saja kau menganggap aku seorang gadis tak berharga! Kau.. kau mencinta Suma Ceng yang sudah bersuami dan mempunyai anak. Ah, mengapa kau tidak bunuh saja aku?! Kembali Lin Lin menangis.

Suling Emas menarik napas panjang.

˜Kau betul. Memang aku pernah mencintanya, mencintanya sebelum ia menikah dengan Pangeran Kiang. Namun kami tidak beruntung, dan dia sudah bahagia di samping suaminya, aku.. aku sudah melupakan perhubungan kami yang lalu. Karena inilah Lin-moi.. karena aku merasa bahwa aku sudah pernah mencinta orang lain, ditambah lagi kenyataan bahwa kau sejak kecil menjadi puteri ayahku, diperkuat dengan kenyataan bahwa aku jauh lebih tua daripadamu, bagaimanapun juga.. tak mungkin aku mau merusak hidupmu. Kau masih muda, jelita, dan perkasa, lagi pula kau Puteri Khitan. Banyak di dunia ini pria yang jauh melebihi aku segala-galanya, menantimu..!

˜Cukup! Kau hendak menambah luka di hatiku? Kau sengaja menghancurkan hatiku yang sudah sakit ini? Alangkah kejamnya kau! Alangkah bencinya aku kepadamu!! Lin Lin menggerakkan pedangnya dengan ancaman hendak menusukkan senjata ini di dada Suling Emas.

˜Bagus begitu.. kau tusuklah dada ini! Lebih baik begitu, Lin-moi. Untuk apa aku hidup lebih lama lagi kalau hidupku hanya mendatangkan sengsara bagi banyak orang?! Suling Emas berhenti sejenak, meramkan matanya membayangkan wajah Suma Ceng, juga wajah Tan Lian yang menjadi korban asmara, kemudian ia membuka lagi matanya. ˜Sudah kupenuhi kewajibanku mewakili ibu menghadapi Thian-te Liok-koai, sudah kupenuhi kewajibanku bertemu dengan adik-adikku seperti pesan ayah. Kau tusuklah dadaku!!

Karena Lin Lin memegang pedangnya dengan gerakan menusuk, maka ketika Suling Emas menubruk ke depan, tak dapat dicegah lagi pedangnya menusuk dada Suling Emas. Lin Lin terkejut dan membuang muka sambil menutupinya dengan tangan kiri. Tangannya yang memegang pedang gemetar sehingga pedang itu menyeleweng, menggores kulit dada kemudian ujung pedang menancap di pundak kanan Suling Emas!

Ketika merasa betapa pedangnya menusuk daging, Lin Lin menjerit kecil dan menarik pedangnya, berdiri terbelalak dengan muka pucat. Suling Emas masih berdiri, mulutnya tersenyum sedih, darah mengucur keluar membasahi bajunya.

˜Mengapa kepalang tanggung, adikku? Tusuklah lagi, yang tepat.. ini dadaku, aku rela mati untuk membebaskanmu dari derita..!

Makin besar mata Lin Lin terbelalak, kemudian ia menjerit lagi dan terisak lari meninggalkan tempat itu. Suling Emas terhuyung-huyung kemudian roboh pingsan.

˜Berhenti! Menyerahlah untuk menjadi tawanan kami!! terdengar bentakan keras dan belasan orang berloncatan keluar dari balik pohon dan segera mereka mengurung Lin Lin yang berdiri tenang. Sekali pandang tahulah Lin Lin bahwa ia dikurung oleh para perajurit Khitan, bahkan di antaranya ada yang ia kenal sebagai perwira-perwira yang pernah ikut rombongan ke Nan-cao menghadiri perayaan Beng-kauw. Dan di belakang belasan orang ini muncul pula rombongan yang merupakan pasukan berjumlah lima puluh orang lebih, lengkap dengan senjata tajam. Sikap mereka rata-rata galak dan tangkas, dan memang suku bangsa Khitan terkenal sebagai orang-orang yang berjiwa gagah perkasa, sudah biasa akan kesulitan hidup yang membuat mereka kuat lahir batin.

Namun menghadapi pengurungan banyak orang itu Lin Lin tidak menjadi gentar. Di dalam hatinya timbul perasaan bahwa mereka ini adalah orang-orangnya, bukan musuh. Maka sambil berdiri tegak dan bertolak pinggang ia menghardik.

˜Kalian ini mau apa? Mengapa hendak menawan aku? Tidak tahukah siapa aku? Aku adalah Puteri Yalina, puteri mahkota yang berhak akan mahkota Kerajaan Khitan!!

Sikapnya yang agung dan kata-katanya yang mantap ini meragukan para perajurit. Akan tetapi seorang komandan berkata keras, biarpun kata-katanya tidak kasar.

˜Kami hanya menerima perintah dari Lo-ciangkun, bahwa apabila Nona muncul di wilayah ini, kami harus menawan Nona.!

Lin Lin tahu siapa yang dimaksudkan dengan Lo-ciangkun (panglima tua) itu. Ia tersenyum mengejek.

˜Hemmm, siapa takut iblis Hek-giam-lo? Kalian ini bangsa Khitan yang terkenal gagah perkasa, yang sejak dahulu setia kepada nenek moyangku, menjadi abdi-abdi setia dari kakekku, raja besar Kulukan, mengapa sekarang bersikap pengecut, tunduk kepada perintah seorang iblis seperti Hek-giam-lo?!

˜Kami bukan pengecut!! bantah komandan itu dengan muka merah. ˜Akan tetapi kami harus tunduk terhadap perintah Lo-ciangkun yang menjadi kepercayaan sri baginda. Kalau kami tidak melakukan perintah, tentu kami dihukum mati. Sudah banyak contohnya pembangkang yang dihukum mati secara mengerikan. Oleh karena itu selain kami takut dihukum, juga kami sayangkan kalau sampai Nona menerima hukuman dari Lo-ciangkun.!

˜Hemmm, siapa takut? Kalian tahu betapa kejamnya iblis Hek-giam-lo, kejam dan menjadi tokoh penjahat di dunia yang hanya menodai nama besar Khitan! Apakah dahulu kakekku, raja besar Kulukan sekejam itu? Baru sekarang, setelah paman tiriku Kubakan menjadi raja dan dibantu Hek-giam-lo, terjadi kekejaman-kekejaman. Hek-giam-lo adalah pengkhianat. Dahulu juga seorang panglima kakekku, akan tetapi karena berdosa kepada mendiang ibuku, maka mukanya menjadi seperti iblis, dan dia membantu paman tiriku yang tidak berhak akan kedudukan raja. Lihat, kalau aku yang mewarisi mahkota yang menjadi hakku, aku tidak akan berlaku kejam. Kalian sudah menghinaku, hendak menawanku, akan tetapi aku tidak akan membunuh kalian.!

Mau tidak mau komandan itu tersenyum. ˜Nona, Lo-ciangkun mengandalkan kepandaiannya yang setinggi langit. Nona hendak mengandalkan apa untuk melakukan kekejaman?!

˜Eh, kau memandang rendah? Keparat! Lihat baik-baik!! Dengan kecepatan kilat Lin Lin menggerakkan tubuhnya, melakukan jurus sakti memukul dan menendang ke depan. Terdengar teriakan-teriakan kaget dan.. enam orang Khitan berikut komandan tadi berjungkir-balik dan jatuh tumpang tindih, tanpa mereka ketahui mengapa mereka dapat jatuh bangun seperti itu!

˜Nah, kaukira aku tidak dapat menyiksa kalian dan membunuh kalian secara kejam kalau kukehendaki? Akan tetapi biarpun kalian keterlaluan, aku tetap memaafkan kalian karena kalian adalah bangsaku dan orang-orangku. Bangunlah!!

Enam orang itu meringis-ringis dan bangun, akan tetapi kesetiakawanan mereka membuat pasukan itu bergerak dan merapatkan pengepungan. Melihat enam orang kawan mereka dirobohkan Lin Lin, mereka yang tidak mendengar kata-kata Lin Lin tadi kini maju mendesak dan siap untuk mengeroyok gadis itu dalam kepungan itu. Melihat ini Lin Lin membentak.

˜Mundur kalian! Benar-benarkah kalian ini akan melupakan darah nenek moyangku dan membantu pengkhianat? Belum cukupkah bukti tadi bahwa aku cukup kuat akan tetapi tidak mau membunuh kalian yang kusayang sebagai rakyatku? Awas, kalau memang kalian ini hanya terdiri dari orang-orang yang hanya tunduk kalau diperlakukan kejam, jangan salahkan aku terpaksa menggunakan kekerasan!!

Akan tetapi orang-orang Khitan itu tidak mengenal takut. Mereka mendesak makin dekat dan sikap mereka mengancam. Tiba-tiba mata mereka menjadi silau oleh sinar kuning terang yang bergulung-gulung ketika Lin Lin mencabut pedangnya dan menggerak-gerakkannya dengan cepat di atas kepalanya.

˜Mundur! Kalian tidak melihat ini? Pedang pusaka Besi Kuning, pedang mendiang ibuku Puteri Tayami, siapa berani melawan ini? Hayo maju, siapa maju akan kupenggal kepalanya!!

Semua orang Khitan mengenal belaka pedang ini. Mereka yang masih muda dan belum pernah menyaksikan pedang ini, setidaknya pernah mendengar dongeng bermacam-macam tentang pedang ini yang katanya dahulu adalah pemberian raja dewa kepada nenek moyang Raja Khitan. Mereka serentak mundur dan muka mereka menjadi pucat.

˜Kalian tahu, hanya pedang pusaka inilah yang menjadi tanda. Siapa memegangnya dialah yang patut menjadi raja di Khitan. Dahulu pedang ini terlepas dari tangan Kubakan, terampas oleh Kaisar Sung. Raja macam apa dia itu sehingga melepaskan pusaka kerajaan? Dia tidak patut menjadi raja dan dia hanyalah anak dari selir kakek Kulukan. Ibukulah puteri mahkota, dan karena aku anaknya, maka akulah keturunan langsung dari kakek Kulukan, dan aku, Puteri Yalina, yang berhak memakai mahkota Kerajaan Khitan. Hayo, siapa berdiri di pihakku dan siapa berani menentangku?!

Sambil berkata Lin Lin mengacungkan pedangnya ke atas, berdiri tegak dan sikapnya gagah dan agung. Anehnya biarpun belum banyak ia mempelajari bahasa Khitan ketika ia ditawan Hek-giam-lo, namun kini dia dapat bicara dengan lancar dalam bahasa itu. Memang panggilan darah agaknya yang membuat ia merasa tidak asing dengan suku bangsa dan bahasa Khitan. Apalagi ia adalah keturunan dari orang-orang yang berdarah Kerajaan Khitan.

Pada saat orang-orang Khitan itu ragu-ragu dan tidak tahu harus bersikap bagaimana terhadap gadis ini, tiba-tiba di bagian kiri orang-orang itu bergerak minggir, memberi jalan kepada rombongan yang datang. Di antara mereka ada yang berkata dengan suara membayangkan kelegaan hati.

˜Bagus, Pek-bin-ciangkun tiba! Hanya dialah yang dapat memberi keputusan, kita ini perajurit biasa yang tunduk perintah!!

Lin Lin cepat menengok dan ia melihat bahwa yang datang betul adalah Panglima Khitan yang terkenal itu, yang dahulu mewakili Kerajaan Khitan ketika datang pada pesta Beng-kauw. Panglima yang berwajah putih ini datang bersama belasan orang perwira pembantunya dan mereka semua memandang ke arah Lin Lin dengan pandang mata penuh selidik dan wajah keren. Namun Lin Lin tidak menjadi gentar dan ia cepat menghadapi Pek-bin-ciangkun dengan sikap agung dan gagah. Sengaja ia tidak mengucapkan kata-kata seakan-akan sikap seorang puteri yang menerima laporan dari panglimanya!

Pek-bin-ciangkun tentu saja mengenal siapa Lin Lin dan panglima ini sudah pula mendengar tentang asal-usul gadis ini. Maka ia bersikap hormat sungguhpun ia tidak merendahkan diri. Tadi ia sudah menerima laporan lengkap, bahkan ucapan Lin Lin yang terakhir tadi didengarnya pula. Hal ini mengejutkan hatinya. Terang bahwa gadis keturunan langsung dari raja lama ini menuntut haknya dan kalau gadis ini berhasil menghasut, pasti akan terjadi perang saudara!

˜Nona, kami sudah mendengar semua laporan dan mendengar pula ucapan Nona yang amat berbahaya. Ketahuilah, Nona. Kami hanya menjalankan tugas kami, taat kepada perintah raja besar kami. Lebih baik Nona menurut saja kami bawa menghadap raja dan percuma membujuk kami yang semenjak dahulu merupakan perajurit-perajurit setia sampai mati terhadap junjungan kami.! Ucapan yang bersemangat dan gagah ini berhasil menggugah semangat para perajurit dan menghilangkan keraguan mereka.

Lin Lin melihat hal ini menjadi gemas. Dengan sinar mata tajam ia menentang wajah Pek-bin-ciangkun dan berkata lantang.

˜Pek-bin-ciangkun! Melihat usiamu yang sudah lanjut, tentu kau dahulu pernah mengenal ibuku. Tahukah kau siapa mendiang ibuku?!

Sambil menunduk hormat panglima itu menjawab. ˜Ibunda Nona yang mulia adalah mendiang Puteri Mahkota Tayami yang gagah perkasa.!

˜Dan kau tentu tahu pula siapakah kakekku, ayah dari ibuku?!

Kembali panglima itu membungkuk lebih hormat lagi, ˜Beliau adalah mendiang raja terbesar kami yang amat mulia, yaitu mendiang Kulukan yang besar!!

˜Hemmm, agaknya ingatanmu masih baik. Dan kau tahu, rajamu yang sekarang itu, Raja Kubakan, dia itu terhitung apa dengan aku..?!

˜Dengan Nona, beliau terhitung paman tiri, karena sri baginda adalah putera mendiang Maha Raja Kulukan dari seorang selir.!

˜Hemmm, paman tiri, namun masih ada hubungan darah, masih sama-sama keturunan kakek Raja Kulukan, sungguhpun ibuku puteri permaisuri dan dia hanya putera selir. Akan retapi tahukah kalian semua apa maksud hati paman tiriku itu hendak menangkapku? Aku hendak dipaksanya menjadi isterinya! Bukankah amat gila ini? Tidakkah jelas menunjukkan betapa bejat moral Kubakan yang kini menjadi raja kalian, raja yang tak berhak?!

˜Kami tidak mau mencampuri urusan pribadi orang lain, apalagi urusan pribadi raja kami yang kami junjung tinggi,! bantah Pek-bin-ciangkun sambil mengerutkan keningnya.

˜Bagus!! Lin Lin berseru marah sambil melintangkan pedangnya. ˜Kau juga tidak memandang pedang pusaka ini?!

Pek-bin-ciangkun menghela napas panjang. ˜Tentu saja, kami menaruh hormat kepada pedang pusaka yang sudah banyak berjasa terhadap bangsa kita itu. Akan tetapi, sebagai kepala pasukan pengawal raja, kami harus mentaati perintah yang diberikan atasan kami, yaitu yang terhormat Lo-ciangkun. Menyerahlah Nona, kami akan memperlakukanmu dengan hormat dan baik.!

Lin Lin mengedikkan kepalanya, matanya bersinar-sinar marah. ˜Kalau kalian tunduk dan menjadi kaki tangan Hek-giam-lo si iblis jahanam, biarlah sekarang mengeroyok dan membunuhku. Aku tidak takut!!

˜Ah, Nona Muda. Sesungguhnya kami bukan tidak tahu bahwa kau adalah tuan puteri, keturunan langsung dari Yang Mulia Kulukan. Kami merasa sayang dan segan untuk memusuhimu. Akan tetapi apakah daya seorang anak perempuan muda seperti kau ini? Apakah artinya melawan dengan kekerasan? Siapa tidak tahu bahwa Lo-ciangkun memiliki kesaktian yang tak terlawan? Kuharap saja kau dapat menyadari hal ini dan mari ikut kami menghadap raja. Mungkin hubungan darah kekeluargaan akan menyelamatkan dirimu.!

˜Aku tidak takut terhadap Hek-giam-lo si iblis! Aku tidak takut kepada si muka buruk Bayisan itu, seorang perwira yang berani menghina mendiang ibuku. Suruh dia datang, biar kami mengadu nyawa di sini!! teriaknya nekat.

˜Bayisan..? Apa maksudmu, Nona?! tanya Pek-bin-ciangkun dengan suara kaget.

˜Siapa lagi kalau bukan Hek-giam-lo? Dia adalah Bayisan, apakah kalian masih pura-pura tidak tahu bahwa Hek-giam-lo adalah Bayisan, dahulu perwira kakek Raja Kulukan yang berani menghina ibuku?!

˜Aaahhh..!! Jelas sekali kelihatan Pek-bin-ciangkun kaget bukan main, wajahnya yang putih itu mendadak menjadi merah dan matanya terbelalak tak percaya. Bukan panglima ini saja yang terkejut, juga semua perwira yang mengiringkannya kelihatan kaget dan para perajurit juga ribut mendengar ucapan Lin Lin itu. Suasana menjadi gaduh karena mereka kini saling bicara sendiri dan keadaan baru tenang kembali setelah Pek-bin-ciangkun membentak, menyuruh mereka diam. Kemudian panglima ini menghadapi Lin Lin dan bertanya.

˜Nona, semenjak kecil Nona terpisah dari lingkungan kami, bagaimana Nona bisa mengatakan bahwa lo-ciangkun adalah.. Bayisan?! Panglima yang sudah banyak pengalaman ini tidak mau percaya begitu saja.

Sebaliknya, menyaksikan sikap mereka yang kaget dan mendengar pertanyaan Pek-bin-ciangkun yang demikian sungguh-sungguh, diam-diam Lin Lin menjadi heran tak mengerti. Mengapa mereka semua tidak tahu bahwa Hek-giam-lo adalah Bayisan seperti yang ia dengar dari iblis itu sendiri, dan mengapa pula hal itu membuat mereka kaget? Tentu ada rahasia yang hebat, yang ia tidak ketahui. Dengan hati berdebar penuh harapan Lin Lin bergantung kepada kesempatan ini, lalu ia bercerita dengan suara sungguh-sungguh.

˜Pek-bin-ciangkun, memang tadinya aku sendiri tidak tahu. Akan tetapi ketika aku menjadi tawanan Hek-giam-lo dan kutanya mengapa dia begitu membenciku, dia membuka kedok iblisnya, memperlihatkan muka yang lebih buruk mengerikan daripada kedoknya sendiri, muka yang rusak sama sekali. Hanya sebentar dia memperlihatkan mukanya yang rusak sambil mengaku bahwa namanya Bayisan, dan bahwa di waktu mudanya dahulu ia jatuh cinta kepada ibuku, akan tetapi ibu menolaknya. Menurut cerita dia, ibu malah menyiram mukanya dengan racun yang membuat mukanya menjadi terbakar dan rusak. Akan tetapi aku dapat menduga bahwa tentu ia bermaksud hendak kurang ajar terhadap ibu, maka ibuku melakukan hal itu kepadanya.!

Kembali suasana menjadi gaduh. Dan akhirnya Pek-bin-ciangkun berkata, suaranya berubah lunak dan panggilannya juga berubah, ˜Tuan Puteri Yalina, kami mohon maaf atas kekasaran kami tadi dan mulai saat ini, hamba dan sekalian anak buah hamba berdiri di belakang Paduka untuk menggempur pengkhianat Bayisan beserta raja paman tiri Paduka yang ternyata telah menipu kami semua, mempergunakan pengkhianat untuk membunuh ayah sendiri dan merampas tahta kerajaan.! Setelah berkata demikian, Pek-bin-ciangkun menjatuhkan diri berlutut di depan Lin Lin. Para perwira lainnya juga ikut berlutut, sedangkan para perajurit sambil berteriak, ˜Hidup Tuan Puteri Yalina. Puteri Mahkota Khitan!!

Sejenak Lin Lin berdiri tegak. Pedang Besi Kuning di tangan kanan, tangan kiri bertolak pingang, kepala dikedikkan, dada dibusungkan dan matanya menyambar-nyambar ke kanan kiri penuh wibawa. Kemudian ia berkata lantang, ˜Harap kalian suka berdiri. Syukurlah bahwa kalian dapat memilih pihak yang benar untuk bersama menghancurkan pihak yang salah. Aku minta Pek-bin-ciangkun suka mengumpulkan para perwira untuk mengatur siasat bersamaku.!

Pek-bin-ciangkun bangkit berdiri, diturut oleh semua anak buahnya yang ternyata berjumlah seratus orang lebih. Kini mereka berkumpul dan berdiri di sekeliling tempat itu dengan harapan baru. Sudah terlalu lama mereka bekerja di bawah tekanan yang menakutkan dari Hek-giam-lo yang mempunyai kekuasaan tertinggi, agaknya malah lebih tinggi daripada raja sendiri. Pek-bin-ciangkun mengajak perwira yang semua ada enam belas orang untuk mengadakan perundingan dengan Lin Lin di bawah pohon-pohon yang rindang daunnya, setelah ia memperkenankan para anak buahnya untuk beristirahat sambil berjaga-jaga.

˜Ciangkun, terus terang saja, aku tidak tahu mengapa setelah Ciangkun dan semua saudara mendengar bahwa Hek-giam-lo adalah Bayisan, Ciangkun lalu tiba-tiba menyatakan mendukung aku? Ada rahasia apakah di balik semua ini?!

Pek-bin-ciangkun menarik napas panjang. ˜Tuan Puteri tidak tahu, memang sepantasnya tidak tahu karena hal itu terjadi sewaktu Paduka masih amat kecil dan ibu Paduka belum meninggal dunia. Bayisan dahulunya adalah seorang Panglima Khitan yang terkenal gagah perkasa. Seperti telah ia akui di depan Paduka, dia tergila-gila kepada Puteri Mahkota Tayami, tetapi ditolaknya dan seperti kenyataannya, ibunda Paduka telah menikah dengan seorang perwita rendahan yang gagah perkasa. Nah, agaknya ia menaruh dendam, apalagi karena Maha Raja Kulukan sendiri tidak menyetujui niatnya mengawini Puteri Tayami. Diam-diam ia lalu melakukan pengkhianatan dan pada suatu malam, Sri Baginda Kulukan meninggal dunia dalam kamarnya. Oleh puteranya, Sri Baginda Kubakan yang sekarang, ketika itu masih seorang pangeran, dikabarkan bahwa sri baginda tua meninggal karena penyakit. Akan tetapi hamba dan para perwira yang tahu akan ilmu silat tinggi, mengerti bahwa meninggalnya sri baginda karena pukulan jarak jauh yang beracun. Kami sudah menduga bahwa hal itu tentu dilakukan oleh Bayisan, akan tetapi ketika kami mencarinya, ia telah lenyap tak meninggaikan jejak. Kiranya pada malam hari itu juga ia berani mati hendak mengganggu Puteri Tayami sehingga disiram racun pada mukanya. Karena itulah kami sekalian mengira bahwa dia pergi takkan kembali lagi, karena malu dan takut akan pembalasan kami.!

Lin Lin mendengarkan dengan penuh perhatian dan merasa tidak sabar ketika panglima itu berhenti sebentar untuk mengingat-ingat peristiwa yang telah puluhan tahun terjadi itu (baca ceritaSuling Emas).

˜Sementara itu, bangsa kita selalu mengadakan perang dengan Kerajaan Hou-han, dan yang menjadi calon ratu bukan lain adalah Puteri Mahkota Tayami. Akan tetapi, ibunda Paduka tewas di medan pertempuran secara aneh karena anak panah yang membunuhnya kami kenal sebagai anak panah yang biasa dipergunakan oleh Bayisan yang menghilang! Dan beberapa tahun kemudian, setelah paman tiri Paduka, Kubakan menjadi raja, muncullah Hek-giam-lo yang kami sebut lo-ciangkun, menjadi panglima tertinggi yang amat berkuasa. Karena dia sakti, dan raja amat percaya kepadanya, maka kami tidak berani bertanya-tanya siapa adanya Hek-giam-lo. Siapa kira, dia adalah Bayisan yang berkhianat!! Pek-bin-ciangkun tampak marah sekali.

Akan tetapi lebih hebat adalah kemarahan Lin Lin. Kiranya Hek-giam-lo adalah pembunuh ibunya! Makin besarlah hasrat hatinya hendak membasmi Hek-giam-lo dan merampas tahta Kerajaan Khitan, ˜Hemmm, bagus sekali! Kalau begitu mari kita serbu kerajaan dan bunuh Hek-giam-lo si pengkhianat!!

˜Sabarlah, Tuan Puteri. Hek-giam-lo amat sakti. Bagaimana kita mampu melawannya?!

˜Jangan takut, percayalah kepadaku. Aku mampu menandinginya, dan andaikata aku kalah dan tewas, berarti aku sudah berjasa, mati untuk bangsaku dalam usaha membasmi pengkhianat!! jawab Lin Lin dengan gagah.

Pada saat itu terdengar suara terompet dan gaduh. Ternyata muncul serombongan pasukan yang dipimpin oleh seorang pemuda yang bermuka putih, pemuda yang tampan dan gagah sekali. Begitu dekat, pemuda yang membawa golok besar ini dari atas kudanya berseru,

˜Hei, kaum pemberontak. Menyerahlah kalian sebelum aku terpaksa menggunakan kekerasan atas nama sri baginda!!

Semua orang terkejut, lebih-lebih Pek-bin-ciangkun yang melihat bahwa pemuda itu bukan lain adalah Kayabu, puteranya dan juga anak tunggalnya. Kayabu ini juga memakai nama bangsa Han, dan ia memilih nama Liao yang kelak menjadi nama Kerajaan Khitan. Liao Kayabu ini seorang pemuda berusia dua puluh lima tahun, gagah perkasa dan tampan, ahli main golok dan anak panah, semenjak muda digembleng ayahnya, malah dalam perantauannya ia belajar ilmu silat tinggi dari para pertapa di sepanjang pegunungan utara.

˜Kayabu, apa artinya ini? Tak tahukah kau bahwa ayahmu berada di sini?! bentak Pek-bin-ciangkun dengan suara lantang.

Pemuda gagah itu sejenak memandang ayahnya, kemudian ia melompat turun dari atas kudanya, berlari menghampiri Pek-bin-ciangkun dan menjatuhkan diri berlutut.

˜Ayah, sebagai anakmu, aku menghormat dan menjunjung tinggi padamu. Sebagai anakmu, aku harap hendaknya Ayah suka sadar dan insyaf, bahwa Ayah telah terseret oleh bujukan orang untuk turun berkhianat. Ayah, semenjak kecil aku mendapat didikan Ayah yang terutama menekankan agar supaya aku menjadi seorang gagah yang selalu mencinta bangsa dan setia kepada rajanya. Pelajaran Ayah ini sudah berakar di dalam hatiku. Untuk membela bangsaku dan bersetia kepada bangsaku, aku siap menerima kematian, siap mengorbankan apa pun juga. Akan tetapi, hari ini aku mendengar laporan bahwa Ayah berkumpul dengan orang-orang yang hendak memberontak, yang berarti mengkhianati bangsa dan raja. Ayah, sekali lagi, sebagai puteramu, aku mohon Ayah suka sadar dan menarik diri keluar dari persekutuan jahat ini!!

Muka Pek-bin-ciangkun sebentar pucat sebentar merah, sedangkan Lin Lin memandang dengan hati tegang.

˜Kayabu, kau tidak mengerti. Ayahmu tetap seorang yang selalu setia terhadap bangsa dan kerajaan. Ketahuilah bahwa gerakan yang akan diadakan oleh ayahmu adalah justeru gerakan membasmi pengkhianat yang semenjak puluhan tahun merajalela dan baru sekarang diketahui dan akan diberantas. Ketahuilah, bahwa lo-ciangkun sebetulnya adalah si pengkhianat Bayisan, dan sri baginda yang sekarang ini malah mempergunakan tenaganya. Karena itu, tak dapat diragukan lagi bahwa kematian sri baginda tua maupun Puteri Tayami adalah hasil pengkhianatannya yang dibantu oleh Bayisan.!

Para perajurit dalam pasukan yang baru datang, menjadi gaduh mendengar ini, pasukan tak dapat diatur lagi dan mereka saling bicara sendiri dengan ramai. Liao Kayabu bangkit berdiri dan suaranya nyaring mengatasi suara gaduh lainnya.

˜Pek-bin-ciangkun! Aku sekarang bicara sebagai seorang hamba Kerajaan Khitan yang setia! Aku tidak tahu dan tidak ambil peduli akan dongeng tentang pengkhianatan jaman dahulu, akan tetapi kenyataannya sekarang, au bekerja sebagai panglima di dalam Kerajaan Khitan, karena itu aku harus setia kepada raja dan bangsa. Siapapun juga yang mempunyai niat memberontak, dia adalah musuhku. Pemberontakan berarti pengkhianatan, baik terhadap raja maupun terhadap bangsa, karena itu, sudah menjadi kewajibanku untuk membasminya dengan taruhan nyawa!!

Dengan golok melintang di depan dada, Kayabu berdiri tegak menentang pandang mata ayahnya dan juga Lin Lin. Gadis ini diam-diam kagum sekali. Pemuda ini benar-benar gagah perkasa, pikirnya, dan kesetiaannya terhadap Kubakan bukanlah kesetiaan karena dorongan perasaan pribadi, bukan pula dengan pamrih mencari kemuliaan duniawi, melainkan kesetiaan yang jujur dan bersih dari seorang panglima yang gagah perkasa terhadap negara dan bangsanya. Akan tetapi, Pek-bin-ciangkun marah sekali.

˜Anak durhaka! Kau hendak melawan ayahmu sendiri?! Orang tua ini sudah melangkah maju dan mencabut pedangnya yang panjang. ˜Sejak kau kecil aku mendidik dan membangunmu, biarlah sekarang aku sendiri yang membasmimu!!

˜Ciangkun, tahan dulu!! tiba-tiba Lin Lin berseru dan sekali tubuhnya berkelebat ia sudah melewati Panglima Muka Putih ini dan berkata, ˜Puteramu ini seorang panglima sejati yang gagah, harus dihadapi dengan kegagahan pula. Biarlah aku yang menghadapinya. Setujukah kau?!

Pek-bin-ciangkun mengerutkan keningnya, akan tetapi karena ia menganggap Lin Lin sebagai junjungan baru calon ratu di Khitan, tentu saja ia merasa tidak enak kalau membantah. Ia menunduk dan menjawab,

˜Terserah kepada kebijaksanaan Tuan Puteri. Akan tetapi harap Paduka berhati-hati karena bocah ini kepandaiannya cukup tinggi sehingga hamba sendiri pun belum tentu dapat mengalahkannya.!

Biarpun dalam ucapan ini Pek-bin-ciangkun memberi peringatan agar junjungannya berhati-hati, namun mengandung pula kebanggaan seorang ayah terhadap puteranya.

Lin Lin mengangguk, tersenyum manis. ˜Aku mengerti.! Kemudian ia membalikkan tubuhnya menghadapi Kayabu yang masih berdiri tegak dengan sikap menantang.

˜Kayabu, kau seorang panglima yang dipercaya dan setia kepada Sri Baginda Kubakan agaknya. Apakah ini berarti bahwa kau adalah kaki tangan Hek-giam-lo si iblis busuk?!

˜Aku seorang perajurit, seorang ksatria, tidak ada sangkut-pautnya dengan lo-ciangkun, melainkan mengabdi kepada negara dan bangsa!!

˜Bagus! Karena kalau kau kaki tangan Hek-giam-lo, biarpun dengan hati menyesal karena kau putera Pek-bin-ciangkun, tentu kau akan kubunuh. Ketahuilah, aku adalah Puteri Mahkota Yalina, dan sri baginda yang sekarang adalah paman tiriku yang merampas tahta kerajaan dengan cara yang curang dan jahat. Akan tetapi kau tentu tidak peduli akan hal itu semua. Sekarang, sebagai musuh, melihat ayahmu berada di pihakku, apakah kau tidak mau menakluk?!

˜Aku seorang perajurit sejati. Sebelum kalah atau mati takkan menakluk!!

Lin Lin tersenyum. ˜Hemmm, bagaimana seandainya aku mengalahkan kau dan golokmu itu?!

Pemuda itu nampak terkejut, lalu menggelengkan kepala. ˜Tak mungkin!! Lalu ia menyambung. ˜Di antura kalian semua, kiranya hanya ayahku yang akan mampu menandingi aku. Nona, lebih baik kau pergilah jauh-jauh dari Khitan dan hentikan semua niat memberontak ini agar ayahku jangan terseret-seret.!

˜Haiii.. Kayabu, kau benar-benar memandang rendah kepadaku! Majulah, kutanggung paling lama tiga belas jurus aku akan mampu mengalahkan kau!!

Terbelalak mata Kayabu dan ributlah semua perajurit mendengar ini. Kayabu terkenal sebagai seorang ahli golok yang pandai. Biarpun kepandaiannya tidak sehebat Hek-giam-lo, namun ia terhitung Panglima Khitan yang pilihan dan mengalahkan panglima ini dalam waktu tiga belas jurus sama sukarnya dengan merobohkan sebuah gunung agaknya. Diam-diam Pek-bin-ciangkun sendiri mengerutkan keningnya. Ia bersimpati kepada Puteri Yalina dan mau membantu karena ingin pula menumpas Bayisan yang menjadi Hek-giam-lo serta mengakhiri pengkhianatan Kubakan. Akan tetapi kalau yang ia bela adalah seorang puteri muda yang begini sombong, yang bersumbar akan mengalahkan puteranya dalam waktu tiga belas jurus, benar-benar keterlaluan dan kelak gadis ini tentu akan menjadi seorang ratu yang sembrono sekali.

Melihat puteranya sambil tersenyum-senyum melangkah maju menghadapi Lin Lin dengan sikap hendak bersungguh-sungguh, panglima tua ini berseru, ˜Kayabu, jangan kurang ajar kau terhadap Sang Puteri Yalina!!

˜Aku ditantang, dan memang musuhnya. Mengapa kurang ajar? Sudah semestinya musuh saling menantang dan siapa kalah harus tunduk. Nona, agaknya kaulah yang mengepalai pemberontakan ini, dan kau pula yang mempengaruhi ayahku dan teman-teman untuk memberontak. Setelah sekarang menantangku, hendak merobohkan aku dalam waktu tiga belas jurus, marilah kita membuat janji. Kalau betul kau mampu mengalahkan aku dalam waktu tiga belas jurus, aku akan menyerah tanpa syarat! Akan tetapi, bagaimana kalau dalam waktu itu kau tidak mampu mengalahkan aku?!

˜Kalau aku tidak manipu, akulah yang akan menyerah tanpa syarat dan akan menghentikan niatku membasmi Hek-giam-lo dan Kubakan!!

˜Tuan Puteri..!! Pek-bin-ciangkun berseru kaget, Hebat janji yang keluar dari mulut Lin Lin itu, karena sekali berjanji, kalau betul tidak mampu mengalahkan Kayabu dalam tiga belas jurus, akan hancurlah semua cita-cita tadi.

˜Kayabu mundur kau! Kalau kau lanjutkan, aku takkan mengakuimu sebagai anak lagi!!

Saking khawatirnya, Pek-bin-ciangkun berkata demikian.

˜Ciangkun, biarkanlah. Pula, kalau kau dan teman-teman yang lain tidak menyaksikan kepandaianku, mana kalian bisa percaya atas bimbinganku?!

˜Tidak, Tuan Puteri. Biarlah hamba yang menghadapi anak hamba yang durhaka ini! Kalau dia kalah, akan hamba bunuh, dan kalau hamba yang kalah, hamba rela mati dalam tangan anak kandung yang durhaka, Kayabu, hayo lawan bapakmu sendiri!! Pek-bin-ciangkun sudah meloncat ke depan akan tetapi tiba-tiba, entah bagaimana, tubuhnya itu mundur sendiri seakan-akan ada tenaga tak tampak yang menariknya dari belakang. Ia menoleh dan melihat Lin Lin tersenyum. Kiranya gadis itu yang tadi menariknya dengan penggunaan tenaga jarak jauh yang amat hebat!

˜Ciangkun, tak tahukah kau bahwa majuku ini karena aku sayang kalau kalian ayah dan anak saling gempur? Anakmu seorang gagah perkasa, tidak semestinya dimusnahkan. Minggirlah!!

Mendengar kata-kata ini dan melihat bukti betapa lihainya Lin Lin yang mendemonstrasikan tenaga saktinya tadi, terpaksa Pek-bin-ciangkun mengundurkan diri dan menonton dari samping dengan hati cemas.

˜Kayabu, kau majulah dan hitunglah jurus-jurus yang kupergunakan. Awas seranganku!!

Lin Lin merasa yakin akan dapat mengalahkan lawannya dalam tiga belas jurus. Tentu saja yang ia maksudkan dengan tiga belas jurus itu adalah jurus-jurus sakti yang ia warisi dari Pat-jiu Sin-ong! Kalau ia mengandalkan ilmu silat biasa, tentu saja tiga belas jurus merupakan waktu yang terlampau sedikit untuk mengalahkan seorang panglima muda yang kelihatannya begitu gagah perkasa. Namun, ia amat percaya akan keampuhan tiga belas jurus sakti peninggaian Pat-jiu Sin-ong, maka ia sengaja menantang untuk memperlihatkan kelihaiannya sehingga para pengikutnya akan percaya kepadanya. Apalagi kalau diingat bahwa dia tadi sudah menyatakan sanggup menghancurkan Hek-giam-lo si iblis sakti, kalau ia tidak mendemonstrasikan kepandaian yang sakti, tentu mereka itu takkan mau percaya.

˜Aku sudah siap!! jawab Kayabu dengan suara lantang. Pemuda ini merasa penasaran dan juga marah. Kalau saja ia tidak menghadapi pemberontakan yang serius dan yang harus diberantasnya dengan segera, tentu ia tidak sudi menerima tantangan yang amat menghina ini. Dia, Liao Kayabu, seorang jagoan besar di Khitan, hanya di ˜hargai! semahal tiga belas jurus saja oleh seorang gadis muda jelita? Benar-benar penghinaan yang amat hebat! Kali ini baginya juga merupakan ujian. Ia harus memperlihatkan kepandaiannya terhadap gadis yang amat cantik jelita ini, yang agaknya adalah puteri keponakan sri baginda sendiri yang baru muncul sekarang. Bukankah kalau ia sanggup bertahan sampai tiga belas jurus, pemberontakan itu sekaligus dapat dipadamkan tanpa pertumpahan darah lagi? Ia harus dapat bertahan, tidak saja bertahan sampai tiga belas jurus, bahkan ia harus berbalik dapat menangkap gadis cantik ini.

˜Awas serangan pertama..! Lin Lin berseru sambil menggerakkan Pedang Besi Kuning yang berubah menjadi gulungan sinar keemasan. Hampir saja Kayabu tertawa menyaksikan serangan jurus pertama itu. Itu sama sekali bukan merupakan serangan, mengapa dimasukkan sebagai jurus serangan? Ia melihat gadis itu menggerakkan pedang ke depan dada dan tangan kiri merangkap tangan kanan merupakan sembah di depan dada, kemudian kedua lengan dikembangkan ke atas kepala dengan pedang dibalik masuk ke belakang lengan kanan, seperti gerakan orang yang menengadah dan memohon berkah dari Thian Yang Maha Kuasa. Inikah jurus serangan? Akan tetapi sesunggqhnyalah, inilah jurus pertama atau jurus pembukaan dari tiga belas jurus ilmu sakti yang oleh Lin Lin disebut Co-sha Sin-kun.

Tiba-tiba Kayabu berseru keras dan terkejut bukan main. Cepat-cepat ia mengubah kedudukan kakinya dan memasang kuda-kuda yang amat kuat karena dari arah Lin Lin datang hawa pukulan yang seperti angin gunung bertiup perlahan. Bukan merupakan serangan langsung, akan tetapi karena hawa pukulan atau angin ini timbul hanya karena gadis itu menggerakkan lengan ke atas, benar-benar mengejutkan sekali. Baru bergerak seperti itu saja sudah mengandung hawa pukulan yang terasa dalam jarak tiga meter, apalagi kalau dipergunakan untuk memukul! Kayabu sama sekali tidak tahu bahwa jurus pertama ini memang bukan jurus serangan, melainkan jurus untuk mengumpulkan hawa murni dan mengerahkan sin-kang!

˜Jurus ke dua..!! kembali Lin Lin berseru dan kembali Kayabu menjadi geli karena jurus ke dua ini dimainkan dengan amat lambat sehingga Pedang Besi Kuning itu jelas sekali bergerak menusuk ke arah pundak kirinya. Kayabu biarpun merasa geli menyaksikan jurus-jurus yang lucu dan tidak ada bahayanya sama sekali ini, tidak mau memandang rendah. Dia seorang pemuda yang cukup hati-hati dan banyak pengalamannya dalam pertandingan, maka menghadapi tusukan lambat ke arah pundaknya ini ia cepat menggerakkan golok besarnya.

Tentu saja mudah baginya untuk mengelak. Akan tetapi menurut pengalamannya, biasanya serangan yang lambat itu hanyalah merupakan pancingan dan serangan sesungguhnya baru akan datang setelah yang diserang mengelak. Inilah sebabnya sengaja Kayabu tidak mau mengelak, melainkan ia menggerakkan goloknya untuk menangkis sambil mengerahkan seluruh tenaganya karena ia berniat mengakhiri pertempuran tak seimbang ini dengan memukul runtuh pedang gadis itu.

˜Cringgg..!!

Kayabu mengeluh dan meloncat ke belakang. Sabetan goloknya tadi keras sekali, akan tetapi ia merasa betapa telapak tangannya seperti dibeset kulitnya oleh gagang goloknya sendiri. Kiranya dengan sin-kang yang mujijat, gadis itu telah membuat Pedang Besi Kuning yang ditusukkan dengan lambat itu tergetar amat kuat dan halus sehingga tidak tampak. Maka begitu golok lawan membentur pedangnya, getaran kuat ini menjalar melalui golok dan sampai ke gagang, membuat telapak tangan lawan menjadi panas dan sakit-sakit. Makin keras Kayabu menangkis, makin keras pula telapak tangannya terkena getaran. Pemuda Khitan itu cepat mengatur keseimbangan tubuhnya dan siap-siap menghadapi serangan selanjutnya. Kini ia tidak berani memandang ringan sama sekali, bahkan timbul rasa ngeri dan khawatir di hatinya.

˜Awas jurus ke tiga..!! Lin Lin berseru dan pandang mata Kayabu berkunang-kunang karena tiba-tiba gadis itu lenyap sama sekali, terbungkus oleh gulungan sinar pedang kuning yang mendatangkan angin berpusing-pusing. Gadis itu seakan-akan telah berubah menjadi angin puyuh yang berputar-putar makin mendekatinya! Kayabu tidak tahu bahwa Lin Lin telah mengeluarkan jurus yang amat hebat dari ilmu sakti Cap-sha Sin-kun, yaitu jurus yang disebut Soan-hong-ci-tian (Angin Puyuh Keluarkan Kilat). Karena tidak tahu harus bagaimana menghadapi gulungan sinar kuning yang berpusing itu, Kayabu lalu mengeluarkan seruan keras goloknya berkelebat membacok ke depan.

˜Wesss.. wesss..!! Aneh sekali, sinar goloknya membabat gulungan sinar, seakan-akan membabat bayangan saja, tidak mengenai apa-apa. Dan tiba-tiba dari dalam gulungan sinar kuning itu menyambar ujung Pedang Besi Kuning seakan-akan kilat cepatnya.

˜Aiiihhhhh!! Kayabu menjerit dan goloknya terlepas karena kulit tangannya tergores pedang dan sebelum ia tahu apa yang terjadi, lutut kakinya terkena totokan ujung sepatu Lin Lin dan tak tertahankan lagi ia roboh tertelungkup!

Pek-bin-ciangkun dan para perwira lainnya memandang dengan bengong. Kejadian itu bagi mereka teramat aneh. Para perajurit yang merasa simpati kepada Lin Lin bersorak gemuruh, sedangkan Kayabu bangkit berdiri dengan muka merah.

˜Bagaimana, Kayabu? Sudah puaskah kau ataukah kau hendak melanjutkan percobaanmu?!

˜Aku bukanlah seorang yang buta dan nekat. Aku tahu bahwa kepandaian Nona amat tinggi dan aku bukan lawan Nona. Setelah aku kalah, silakan Nona gerakkan pedang itu membunuhku!!

˜Tidak, Kayabu. Aku tidak akan membunuhmu, malah aku minta sukalah kau membantuku menumbangkan kedudukan paman tiriku yang dibantu oleh iblis Hek-giam-lo untuk melepaskan bangsa kita daripada penindasan si lalim.!

Sepasang mata pemuda itu seakan-akan mengeluarkan kilat. ˜Aku adalah seorang perajurit sejati, bagiku tidak ada pilihan lain, mati dalam perjuangan atau menang. Tak perlu kau membujukku, setelah kalah, mati bukan apa-apa bagiku!! Sambil berkata demikian, pemuda ini menggerakkan goloknya ke arah lehernya sendiri.

˜Kayabu..!! Pek-bin-ciangkun memekik penuh kekhawatiran. Sebagai seorang pendekar gagah, ia tidak khawatir atau ngeri melihat putera tunggalnya menghadapi maut, akan tetapi ia benar-benar akan merasa hancur hatinya kalau puteranya itu tewas membunuh diri, suatu perbuatan yang dianggap pengecut dan rendah. Sama sekali ia tidak menyangka puteranya akan melakukan perbuatan itu sehingga tidak ada kesempatan lagi bagi Pek-bin-ciangkun untuk mencegahnya. Akan tetapi, sinar kuning menyambar dari tangan Lin Lin, terdengar suara keras dan golok di tangan Kayabu patah-patah dan terlempar sampai jauh. Pemuda itu mencelat mundur dengan muka pucat.

Pek-bin-ciangkun melangkah maju dan melayangkan tangannya menampar pipi puteranya dua kali sehingga pipi itu menjadi merah dan dari ujung bibirnya keluar sedikit darah.

0 Response to "Cinta Bernoda Darah, Bab 33 - Anak Patriot, Ayah Pemberontak"

Post a Comment