coba

Suling Emas, Bab 25 - Kekasih Lama

Mode Malam
‘Kwee-twako! Dengan maksud apakah kau menyerbu istana Hou-han?!

Sikap dan pandang mata Kim-mo Taisu dingin ketika menjawab,

‘Dengan maksud mencarimu, Tok-siauw-kwi.!

‘Kwee-twako! Kau sudah tahu bahwa Tok-siauw-kwi adalah aku. Apakah kau juga seperti mereka, memusuhi aku dan menyebutku Tok-siauw-kwi? lupakah engkau bahwa aku ini Liu Lu Sian?!

Sejenak jantung Kim-mo Taisu terguncang keras. Memang inilah Lu Sian, satu-satunya wanita yang pernah merampas cinta kasihnya secara mendalam! Akan tetapi ia mengeraskan hati dan dengan suara dingin ia menjawab,

‘Tidak ada Lu Sian lagi di dunia ini, dia sudah mati....!

‘Kwee Seng...!!!

‘Juga Kwee Seng sudah mati, yang ada sekarang Tok-siauw-kwi dan Kim-mo Taisu.!

Watak Lu Sian memang keras. Biarpun ia sudah bukan orang muda lagi, namun kekerasan wataknya tak pernah hilang. Kini pandang matanya tajam, alisnya berdiri. Dibandingkan dengan Kwee Seng, ia dahulu bukan apa-apanya dan sama sekali bukan tandingannya, akan tetapi sekarang ia tidak takut. Bahkan ada keinginan hatinya untuk menguji kepandaiannya yang telah maju dengan hebat selama dua puluh tahun lebih ini.

‘Hemmm, begitukah? Jadi selama ini engkau mendendam kepadaku karena peristiwa dua puluh tahun yang lalu itu? Dan sekarang engkau mencariku untuk membikin beres perhitungan lama?!

‘Sudah kukatakan, tidak ada lagi urusan dahulu. Yang ada hanya urusan antara Tok-siauw-kwi dan Kim-mo Taisu.!

‘Bagus!! kata Lu Sian dengan suara mendongkol.

‘Aku Tok-siauw-kwi, selamanya baru sekarang ini bertemu dengan Kim-mo Taisu. Apakah kehendakmu mencariku?!

‘Tok-siauw-kwi, apakah engkau bersekutu dengan musuh-musuh keluarga Kerajaan Tang lama?!

‘Siapakah mereka?!

‘Di antaranya ada orang-orang Khitan, juga Ma Thai Kun, Pouw Kee Lui, dan terutama sekali Ban-pi Lo-cia.!

‘Cih! Mengapa aku harus bersekutu dengan orang-orang macam itu? Kim-mo Taisu, tuduhanmu ini sama sekali tidak masuk akal!!

‘Tok-siauw-kwi, mengapa engkau memusuhi Kong Lo Sengjin?!

Lu Sian mengerutkan kening dan memandang tajam, kemudian tersenyum lebar dan diam-diam Kim-mo Taisu terheran-heran melihat deretan gigi putih di balik bibir merah itu. Benar-benar tidak ada perubahan sedikitpun juga pada diri Lu Sian, pikirnya.

‘Hik! Kakek lumpuh menjemukan itu? Heh, Kim-mo Taisu, aku tidak tahu hubungan apa adanya antara engkau dengan kakek lumpuh itu, dan aku tidak tahu pula mengapa engkau memeriksaku seperti seorang hakim memeriksa pesakitan. Akan tetapi dengarlah baik-baik. Secara pribadi aku tidak mempunyai permusuhan dengan Kong Lo Sengjin si kakek lumpuh. Akan tetapi karena aku tinggal di istana Hou-han dan dia datang menyerbu istana, tentu saja aku menghadapinya! Kalau kakek lumpuh itu tidak kuat menghadapi aku lalu minta bantuanmu, benar-benar lucu dan tak tahu malu!!

‘Tok-siauw-kwi, mengapa engkau mengirim seorang pembunuh ke Min-san untuk membunuh keponakan perempuan Kong Lo Sengjin?!

Lu Sian bangkit kemarahannya. Ia membanting-banting kakinya ke tanah, dan diam-diam Kim-mo Taisu merasa terharu. Benar-benar tidak ada perubahan pada diri Lu Sian. Kebiasaan membanting kaki kalau marah-marah pun masih sama dengan dulu!

‘Kim-mo Taisu! Apakah engkau ini seorang gila? Kalau aku memang menghendaki nyawa seseorang, perlu apa aku menyuruh orang lain? Kalau aku ingin membunuh keponakan Kong Lo Sengjin, biarpun ada seratus orang keponakannya itu, apa kau kira aku tidak bisa melakukannya sendiri? Entah macam apa siluman betina itu sehingga engkau sampai bersusah payah mencari pembunuhnya dan menuduh aku pula.!

‘Siluman betina itu adalah isteriku...!

‘Ohhh...?!?!

Mata Lu Sian terbelalak kaget dan sejenak ia hanya memandang wajah Kim-mo Taisu yang suram muram itu. rasa terharu mengusap perasaan Lu Sian, kemudian rasa gembira timbul, dan tak tertahankan lagi ia tertawa. Mula-mula tertawa lirih, terkekeh-kekeh sampai menutupkan punggung tangan kanan di depan mulut sambil menundukkan muka, kemudian kakinya bergerak maju dan di lain saat ia telah merangkul pinggang Kim-mo Taisu dan menyembunyikan muka di dadanya seperti tadi lagi. Hanya kalau tadi ia menangis terisak-isak, kini ia tertawa terkekeh-kekeh, tubuhnya berguncang-guncang menahan ketawa.

Kim-mo Taisu berdiri tegak, mengerutkan keningnya. Ia amat mengkhawatirkan ini. Menghadapi lawan yang bagaimana berat dan lihai pun ia tidak gentar. Akan tetapi menghadapi Lu Sian, melihat wajah yang masih cantik jelita, pandang mata yang bersinar-sinar, mulut yang amat manis, mencium bau harum yang aneh dan khas dari tubuh wanita ini, benar-benar merupakan hal yang amat berat baginya. Ia bukan seorang yang mudah tergila-gila kepada wanita, akan tetapi tak disangkalnya pula bahwa hatinya lemah apabila berhadapan dengan Lu Sian, wanita yang pernah merampas cinta kasihnya. Akan tetapi, ia teringat akan isterinya, maka ia mengeraskan hati dan meramkan mata.

‘... ah, nasib kita sama... hi-hik, tidak bahagia dalam pernikahan...!

Suara Lu Sian ini membuat Kim-mo Taisu membuka matanya. Pada saat itu Lu Sian yang masih tertawa-tawa kecil mengangkat muka dan ternyata dari kedua mata wanita itu bercucuran air mata. Lu Sian yang terdengar ketawa terkekeh-kekeh itu mengucurkan air mata seperti orang menangis!

Mereka saling pandang, muka mereka berdekatan. Sedetik timbul hasrat dalam hati Kim-mo Taisu untuk mendekap wajah yang pernah ia rindukan ini, untuk mencium kering air mata yang membasahi sepasang pipi itu. Akan tetapi kembali kematian isterinya terbayang di depan mata. Air mata di kedua pipi Lu Sian seakan-akan berubah menjadi merah terkena sinar bulan, semerah darah isterinya yang bercucuran. Dengan kasar ia lalu merenggut kedua pundak Lu Sian, didorongnya menjauhi dirinya.

Seketika terhenti tawa atau tangis Lu Sian. Sinar matanya tajam dan dingin kembali. Lalu ia bertanya, sikapnya menantang.

‘Kim-mo Taisu, andaikata benar aku yang menyuruh bunuh isterimu, habis kau mau apa?! Dengan suara sama dinginnya Kim-mo Taisu menjawab,

‘Kau pun akan kubunuh!!

Lu Sian mencelat mundur lalu tertawa. Kim-mo Taisu bergidik. Benar-benar seperti setan kalau Lu Sian sudah tertawa seperti itu.

‘Hi-hi-hi-hik! Kim-mo Taisu! Apakah engkau masih menganggap aku seperti Lu Sian dua puluh tahun yang lalu, yang merengek-rengek minta kauajari ilmu silat?!

‘Tidak. Aku tahu bahwa engkau sekarang telah menjadi seorang yang berilmu tinggi. Sudah banyak aku mendengar tentang Tok-siauw-kwi yang menggegerkan dunia persilatan. Akan tetapi aku tidak takut.!

‘Aku pun tidak takut!!

Lu Sian membentak, sambil mencabut pedangnya, pedang Toa-hong-kiam dan sekali tubunya berkelebat ia telah mengirim serangan kilat ke arah leher Kim-mo Taisu.

Cepat dan kuat sekali serangan ini, tak boleh dipandang ringan. Kim-mo Taisu cepat melompat ke kanan untuk menghindari serangan kilat ini, sambil berkata,

‘Kalau kau yang menyuruh orang membunuh isteriku, baru aku akan memusuhimu, Tok-siauw-kwi.!

‘Tidak peduli! Membunuh atau tidak, engkau harus menahan seranganku, jangan kira aku takut!!

Lu Sian membentak, kemarahannya sudah memuncak dan kembali pedangnya berkelebat. Demikian hebatnya gerakannya sehingga tubuhnya lenyap terbungkus gulungan sinar pedangnya. Terdengar bunyi angin menderu dan gulungan pedang itu merupakan segumpal awan yang melayang-layang.

Kim-mo Taisu tidak berani memandang rendah. Cepat ia pun mengeluarkan kipasnya, lalu bergerak mengimbangi serangan Lu Sian. Ketika ia memperhatikan gerakan-gerakan Lu Sian, diam-diam ia terkejut dan kagum sekali. Hebat memang kemajuan wanita ini, sedemikian hebatnya sehingga hampir menyusul dan melampauinya! Yang jelas, dalam hal gin-kang, Lu Sian sudah tidak kalah olehnya, dan gerakan pedangnya luar biasa sekali.

Ia sudah mendengar akan sepak terjang Tok-siauw-kwi yang menggemparkan partai-partai besar karena perbuatannya mencuri kitab-kitab pusaka. Kini menyaksikan gerakannya, ia maklum bahwa tidak percuma Lu Sian mencuri kitab-kitab itu, tentu telah dipelajarinya dan digabungkannya dengan amat baik. Karena itu, Kim-mo Taisu lalu mengerahkan tenaga dan mainkan Cap-jit-seng-kiam digabung dengan Lo-hai-san-hoat untuk menghadapi serangan pedang Lu Sian yang dahsyat itu. gerakannya tenang dan kokoh kuat, tidak saja ia dapat membendung datangnya serangan yang dahsyat seperti air bah itu, namun juga ia masih mendapat kesempatan untuk balas menyerang tidak kalah dahsyatnya.

Lu Sian menjadi penasaran dan menjadi penasaran dan mengeluh di dalam hati. Banyak sudah ia menghadapi lawan tangguh, akan tetapi baru sekarang ia mendapat kenyataan bahwa Kim-mo Taisu benar-benar hebat sekali. Kwee Seng yang dahulu itu ternyata masih tetap kuat, bahkan lebih lihai lagi. Pedangnya yang sukar menemui tanding itu kini seakan-akan menghadapi tembok baja yang sukar ditembus. Bahkan ujung gagang kipas itu masih sempat membagi-bagi totokan yang amat berbahaya.

Berjam-jam mereka bertanding dengan hebat. Kadang-kadang mereka bergerak cepat sehingga bayangan mereka menjadi satu, sinar senjata mereka saling belit. Kadang-kadang gerakan mereka lambat dan dalam jurus-jurus ini mereka bertanding mengandalkan tenaga dalam yang juga seimbang. Matahari pagi sudah muncul mengusir kabut pagi, dan mereka masih terus bertanding seru. Keduanya sudah lelah. Keringat mulai membasahi muka dan leher. Namun belum juga ada yang mengalah.

Tiba-tiba Lu Sian mengeluarkan suara melengking tinggi, suaranya penuh getaran dan pada detik berikutnya, rambutnya yang hitam panjang itu telah terlepas dari sanggulnya dan tahu-tahu telah menyambar ke arah Kim-mo Taisu bagaikan sehelai jaring yang aneh! Kim-mo Taisu terkejut bukan main. Lengking tadi saja sudah mengandung tenaga yang luar biasa. Itulah Ilmu Sakti Coan-im-I-hun-to (Suara Sakti Merampas Semangat), biarpun belum sempurna benar namun sudah amat kuat dan suara itu saja sudah cukup merobohkan seorang lawan yang kurang kuat sin-kangnya! Apalagi serangan ram but itu. hanya seorang yang sin-kangnya sudah luar biasa hebatnya saja mampu mempergunakannya sekuat ini. Tadi ia melihat wanita cantik berambut panjang riap-riapan di istana juga mempergunakan rambut melawannya, akan tetapi dibandingkan dengan penggunaan rambut oleh Lu Sian ini benar-benar amat jauh bedanya. Karena ia tidak menyangka-nyangka bahwa Lu Sian akan menyerangnya secara ini, Kim-mo Taisu menjadi agak bingung. Namun ia cepat mengerahkan tenaganya dan membuka kipas serta mengebut ke arah jaring hitam itu. Buyarlah sebagian rambut yang menyerang, namun masih ada segumpal rambut yang berhasil melibat pergelangan tangan kanan yang memegang kipas dan pada saat Kim-mo Taisu mengerahkan tenaga untuk melepaskan diri, ujung pedang Toa-hong-kiam sudah menyambar ke arah tenggorokan!

Hebat bukan main serangkaian serangan Lu Sian ini, tidak saja cepat seperti kilat, dan sama sekali tidak terduga-duga, juga mengandung tenaga dalam yang dahsyat. Diam-diam Kim-mo Taisu terkejut dan maklum bahwa nyawanya dalam bahaya maut. Namun sebagai seorang pendekar gagah, ia tidak gentar dan cepat tangan kirinya mencengkeram ke arah pedang lebih baik mempertaruhkan lengannya daripada membiarkan tenggorokannya tertusuk. Akan tetapi pedang itu sudah lebih cepat gerakannya dan...!reettt! pedang itu menyambar ke kiri dan bukan tenggorokannya yang terobek, melainkan leher bajunya! Kim-mo Taisu melompat ke belakang karena pada saat itu gumpalan rambut yang membelit lengannya juga sudah terlepas dan terdengar Lu Sian tertawa lirih.

‘Hi-hi-hik! Kim-mo Taisu apakah kau masih mau membunuhku?!

Panas hati Kim-mo Taisu. Memang dalam gebrakan terakhir tadi, ia telah menderita kekalahan. Akan tetapi kekalahannya tadi hanya dapat terjadi karena ia terlena. Ia telah dikalahkan dan telah diampuni pula! Dengan muka agak merah tapi suaranya tetap dingin ia menjawab,

‘Tok-siauw-kwi, kalau kau yang menyuruh bunuh isteriku, kau tetap akan kubunuh!!

Setelah berkata demikian, ia mengeluarkan guci arak dari punggung, menuangkan arak ke dalam mulut dan menggelogoknya, kemudian ia melangkah maju.

‘Hemm, kau masih belum mau mengaku kalah?!

‘Sebelum kau bersumpah bahwa kau tidak menyuruh bunuh isteriku, aku akan menyerangmu terus dan tidak akan mengaku kalah sebelum tewas di depan kakimu. Nah, kaujaga ini!!

Tiba-tiba Kim-mo Taisu menerjang maju, gerakannya hebat sekali. Ia merasa penasaran dan juga malu bahwa dia tadi dapat dikalahkan oleh Liu Lu Sian, maka kini pendekar ini mengerahkan seluruh tenaga dan mainkan semua kepandaiannya. Hebat bukan main, gerakan-gerakannya kini setelah ia mainkan dua macam senjata. Kini guci arak itu ia mainkan dengan gerakan Ilmu Pedang Pat-sian Kiam-hoat, sedangkan kipasnya tetap mainkan Lo-hai San-hoat. Dua macam senjata dan dua macam ilmu silat ini dapat ia mainkan menjadi perpaduan yang amat serasi dan saling bantu, benar-benar amat hebat. Inilah ilmu kepandaian inti dari Kim-mo Taisu sejak dua puluh tahun yang lalu. Hanya kini ilmunya ini jauh lebih masak karena telah disempurnakan dengan ilmu-ilmu yang ia dapat di dalam Neraka Bumi.

Lu Sian juga merasa penasaran. Ia telah sengaja melepaskan laki-laki ini daripada bahaya maut. Mengapa masih begini nekat? Akan tetapi, ia pun kini merasa terkejut menyaksikan kehebatan serangan lawannya. Cepat ia menggerakkan pedang dan rambutnya menjaga diri dan balas menyerang, namun alangkah kagetnya ketika rambutnya selalu terbang membalik karena kipas di tangan Kim-mo Taisu mengeluarkan kebutan yang luar biasa sekali. Sedikit pun ia tidak mendapat kesempatan untuk balas menyerang lagi setelah Kim-mo Taisu menggerakkan kedua senjatanya yang aneh. Betapapun ia berusaha dan mengeluarkan pelbagai ilmu silat termasuk ilmu tendangan dan ilmu-ilmu lain dari kitab-kitab yang ia curi, tetap saja semua itu berantakan menghadapi perpaduan Pat-sian Kiam-hoat dan Lo-hai san-hoat! Betapapun ia berusaha, tetap saja ia selalu harus mempertahankan diri daripada menggelora datangnya. Dengan gemas Lu Sian lalu mengerahkan tenaga pada rambutnya, mengeluarkan pekik melengking lagi seperti tadi, malah lebih hebat lagi sekarang, kemudian rambutnya menyambar menjadi puluhan gumpal menuju ke arah semua jalan darah lawan.

‘Bagus!! seru Kim-mo Taisu. Memang serangan pembalasan ini luar biasa sekali. Rambut yang halus tebal itu terpecah menjadi banyak gumpalan dan setiap gumpalnya kini menotok jalan darah dengan kuat dan cepat!

Kim-mo Taisu juga mengeluarkan suara melengking panjang yang mengatasi lengking suara Lu Sian, kemudian tubuhnya bergerak-gerak cepat dan kipasnya dikebutkan. Timbullah angin menderu-deru yang berpusing-pusing di sekitar mereka sehingga gumpalan-gumpalan rambut Lu Sian menjadi kacau balau gerakannya, tersapu angin yang kuat ini, bahkan ada yang membalik dan menyerang Lu Sian sendiri!

Kim-mo Taisu menggerakkan kedua senjatanya yang aneh. Betapapun ia berusaha dan mengeluarkan pelbagai ilmu silat termasuk ilmu tendangan dan ilmu-ilmu lain dari kitab-kitab yang ia curi, tetap saja semua itu berantakan menghadapi perpaduan Pat-sian Kiam-hoat dan Lo-hai san-hoat! Betapapun ia berusaha, tetap saja ia selalu harus mempertahankan diri daripada menggelora datangnya. Dengan gemas Lu Sian lalu mengerahkan tenaga pada rambutnya, mengeluarkan pekik melengking lagi seperti tadi, malah lebih hebat lagi sekarang, kemudian rambutnya menyambar menjadi puluhan gumpal menuju ke arah semua jalan darah lawan.

‘Bagus!!

Seru Kim-mo Taisu. Memang serangan pembalasan ini luar biasa sekali. Rambut yang halus tebal itu terpecah menjadi banyak gumpalan dan setiap gumpalnya kini menotok jalan darah dengan kuat dan cepat!

Kim-mo Taisu juga mengeluarkan suara melengking panjang yang mengatasi lengking suara Lu Sian, kemudian tubuhnya bergerak-gerak cepat dan kipasnya dikebutkan. Timbullah angin menderu-deru yang berpusing-pusing di sekitar mereka sehingga gumpalan-gumpalan rambut Lu Sian menjadi kacau balau gerakannya, tersapu angin yang kuat ini, bahkan ada yang membalik dan menyerang Lu Sian sendiri!

Lu Sian kaget dan marah sekali. Cepat ia menggerakkan pedangnya yang menyambar ke arah kipas yang mengebut-ngebut keras itu, dengan maksud untuk merusak kipas yang ampuh dari lawan ini. Akan tetapi begitu pedangnya menempel kipas, Kim-mo Taisu membuat gerakan memutar sehingga pedangnya ikut pula terputar-putar dan akhirnya tanpa dapat dicegah pula, pedang itu terpaksa ia lepaskan karena kalau tidak, tangannya bisa terluka hebat atau salah urat. Pedang terlepas dari tangan dan menancap ke atas tanah sedangkan kipas dan guci arak sudah menyambar ke arah dada dan kepala! Lu Sian dapat menghindarkan totokan kipas, akan tetapi agaknya tidak mungkin lagi menghindarkan hantaman guci arak yang menuju kepalanya, terpaksa ia meramkan mata menanti kematian. Akan tetapi hantaman tak kunjung tiba!

Lu Sian membuka matanya dan melihat bahwa guci arak itu kini berada di depan mulut Kim-mo Taisu yang sedang menenggaknya. Suara arak menggelogok memasuki kerongkongannya. Adapun pedangnya masih menancap di atas tanah dan juga kipas lawannya menggeletak di dekat pedang. Muka Lu Sian menjadi merah sekali. Jelas bahwa dalam jurus terakhir tadi, ia telah kalah. Pedangnya dirampas dan nya wanya terancam. Jelas pula bahwa Kim-mo Taisu sengaja membebaskannya. Kekalahan dan pembebasan ini merupakan penghinaan yang memalukan bagi Lu Sian. Tak biasa ia menelan kekalahan.

‘Kim-mo Taisu jangan sombong! Aku belum kalah! Kita masih seri, baru satu-satu! Mari kita mencari keunggulan tanpa mengandalkan senjata kalau kau berani!! Dengan mata berapi-api Lu Sian menyanggul rambutnya, sedangkan Kim-mo Taisu sudah melempar guci araknya ke dekat pedang dan kipas, lalu tertawa mengejek.

‘Ada ubi ada talas, ada budi ada balas! Tadi kau menghutangkan, kini aku membayar. Akan tetapi engkau hutang nyawa isteriku, belum kau balas. Kali ini aku tidak akan mengampuni engkau lagi, Tok-siauw-kwi!!

‘Siapa mengharapkan pengampunanmu? Kaukira pasti akan dapat menang? Sombong! Kau terima ini!!

Wanita itu menerjang maju dengan cepat, kedua tangannya terkepal dan pukulan-pukulannya bertubi-tubi, sangat cepat namun mengandung tenaga sin-kang yang luar biasa kuatnya.

Kim-mo Taisu cepat mengelak dan mengangkat lengan menangkis. Yang membuat pendekar ini diam-diam menge luh adalah bau harum yang makin hebat semerbak keluar dari tubuh dan rambut Lu Sian setelah wanita ini lelah dan berpeluh. Keharuman ini yang selalu menggelitik hatinya, mengingatkannya bahwa yang ia hadapi sebagai musuh sekarang ini adalah wanita satu-satunya yang pernah merampas cintanya. Selain keharuman yang khas ini, ia pun harus mengakui bahwa ilmu kepandaian Lu Sian kini meningkat secara luar biasa sekali, sudah setingkat dan seimbang dengannya. Kinipun dalam ilmu silat tangan kosong, ia sama sekali tidak boleh memandang rendah, apalagi setelah merasa betapa dari kedua tangan Lu Sian keluar hawa yang amat panas dan kedua kepalan tangan kecil itu mengeluarkan uap, seakan-akan menggenggam api! Ketika ia sengaja menangkis, tangan dan lengan wanita itu benar-benar amat panas. Kim-mo Taisu terkejut dan cepat ia mempergunakan Ilmu Silat Bian-sin-kun (Tangan Kapas Sakti) yang ia mainkan dengan pengerahan tenaga Im-kang untuk melawan hawa panas yang keluar dari tangan Lu Sian.

Biarpun kini mereka melanjutkan pertandingan tanpa senjata, namun ternyata malah jauh lebih seru daripada tadi. Pukulan-pukulan mereka adalah pukulan-pukulan yang mengandung tenaga dalam. Gerakan mereka kadang-kadang amat cepatnya, berkelebatan dan bayangan mereka bergumul menjadi satu, kadang-kadang mereka bergerak amat lambat dalam mengadu tenaga sin-kang. Karena kini mereka hanya mengandalkan kaki tangan, tentu saja tenaga yang mereka pergunakan lebih besar dan lebih banyak sehingga mereka berdua makin lelah. Memang hebat kini ilmu kepandaian Lu Sian. Tidak mudah bagi Kim-mo Taisu untuk mengalahkannya, sungguhpun diam-diam Lu Sian harus mengakui bahwa dalam banyak hal, lawannya ini sudah mengalah terhadapnya.

Matahari sudah naik tinggi dan kedua orang ini masih saja berkelahi mati-matian. Akhirnya setelah jelas bagi Lu Sian bahwa betapapun juga ia takkan berhasil mengalahkan Kim-mo Taisu, timbul rasa jemu di dalam hatinya. Mereka sudah bertanding sejak tengah malam sampai matahari naik tinggi masih belum ada yang betul-betul kalah atau menang. Ia sudah merasa lelah sekali. Akan tetapi bukanlah watak Lu Sian untuk mengaku kalah. Maka ia lalu mengerahkan semua tenaga dalamnya dan menerjang dengan pukulan maut yang dilakukan dengan kedua tangan terbuka didorongkan ke depan.

Mendengar deru angin pukulan dan merasai hawa panas yang hebat, Kim-mo Taisu terkejut. Karena ia pun sudah amat lelah, gerakannya kurang lincah lagi dan ia tahu bahwa pukulan ini tak mungkin dapat ia elakkan, maka ia cepat mengangkat pula kedua tangannya, menerima pukulan itu dengan pengerahan tenaga sakti.

‘Plakkkk...!!

Dua pasang telapak tangan bertemu dan melekat. Karena keduanya mempergunakan tenaga sakti, maka kedua tenaga yang hampir sama kuatnya itu saling membuyarkan. Kini karena kelelahan, mereka tidak mengadu tenaga sakti lagi dan kedua tangan mereka saling menempel itu terdorong oleh kelelahan mereka, seakan-akan dengan begitu mereka dapat beristirahat, karena dengan kedua telapak tangan menempel, mereka untuk sementara tidak dapat saling menyerang lagi. Peluh sudah membasahi seluruh tubuh.

‘Kwee Seng aku... aku lelah...! Lu Sian terengah-engah, kedua tangannya yang bertempelan dengan kedua tangan Kim-mo Taisu itu seakan-akan bergantung.

‘Aku pun lelah kau hebat sekali...! kata Kim-mo Taisu itu perlahan dan sejujurnya.

Mereka saling pandang. Kelelahan hebat membuat mereka mengantuk. Untuk sejenak agaknya mereka lupa bahwa mereka saling berusaha mengalahkan bahkan saling membunuh. Kini mereka bicara berbisik-bisik seperti sepasang kek asih yang kelelahan dan mabok buaian asmara!

‘Kwee Seng... aku sudah jemu, tak dapat mengalahkanmu, lebih baik kita hentikan saja...!

‘Mana bisa kuhentikan kalau kau memang telah menyuruh bunuh isteriku?!

‘Kwee Seng...! Lu Sian terdiam dan mengatur napas, tangannya masih menempel pada telapak tangan Kim-mo Taisu.

‘Hemm...??! Juga Kim-mo Taisu mengatur napas untuk memulihkan tenaganya.

‘Cantik sekalikah isterimu?!

‘Tidak secantik engkau... akan tetapi bagiku dia itu penuh cinta kasih, penuh kesetiaan dan luhur budi pekertinya....!

‘Uuhhh...!!

Lu Sian merajuk dan marah. Jawaban ini baginya merupakan tamparan, seakan-akan ia dimaki bahwa dia tidak tahu akan cinta kasih, tidak setia dan rendah budinya. Ia mengerahkan tenaga dan mendorong sekuatnya sehingga lekatan tangan mereka terlepas dan keduanya terdorong mundur karena Kim-mo Taisu juga cepat mengimbagi dorongan lawan.

Sambil memekik marah Lu Sian kembali menyerang, seakan-akan lupa bahwa ia sudah amat lelah. Kim-mo Taisu juga mempertahankan diri dan balas menyerang. Sebuah tendangan Kim-mo Taisu menyerempet lutut membuat Lu Sian ter guling roboh. Ia tidak mempertahankan diri saking lelahnya dan begitu punggung dan kepalanya mencium tanah, terus saja ia berbaring, malas untuk bangun lagi karena rasa kantuk hampir tak tertahankan lagi!

‘Hayo katakan sesungguhnya! Siapakah yang menyuruh bunuh isteriku?!

Kim-mo Taisu membentak, siap mengirim pukulan terakhir.

‘Kalau aku yang menyuruh kau mau apa? Andaikata isterimu masih hidup, akan kubunuh juga dia?!

Jawaban ini terdorong hati gemas, akan tetapi juga amat menggemaskan hati Kim-mo Taisu yang menubruk sambil mengirim pukulan ke arah kepala Lu Sian. Wanita ini cepat menggulingkan tubuhnya, lalu meloncat dan mengirim tendangan kilat ke dada Kim-mo Taisu. Kagum sekali Kim-mo Taisu. Gerakan bergulingan lalu meloncat dan menendang ini selain lihai juga amat indah. Namun ia cepat dapat mengelak dan mereka bertanding lagi dengan seru.

Kembali Lu Sian mengirim serangan mati-matian dengan dorongan kedua tangan sambil mengerahkan ilmunya Tangan Api. Kim-mo Taisu menyambutnya dengan gempuran tangan pula sehingga kedua telapak tangan mereka bertemu dahsyat di udara. Hebat sekali pertemuan tenaga ini dan Lu Sian terhuyung-huyung, mukanya pucat sekali. Ternyata ia kalah tenaga dan karenanya ia menderita luka dalam. Namun ia tidak mengeluh, dan setelah terhuyung-huyung ia roboh miring. Kim-mo Taisu yang sudah mabok perkelahian ini dengan tubuh lemas menubruk maju pula dan mengirim pukulan dengan kedua tangan pula. Siapa kira, Lu Sian masih sempat mengangkat kedua tangan menyambut dan kembali kedua pasang tangan mereka bertemu dan melekat seperti tadi. Hanya bedanya, Lu Sian berbaring dan Kim-mo Taisu berlutut!

‘Kwee Seng...! suaranya berbisik terengah-engah. ‘...aku ...aku belum mau mati... aku tidak ingin mati sebelum bertemu anakku... Bu Song...!

Tergetar hati Kim-mo Taisu dan teringatlah ia akan kesemuanya itu. wanita ini bukan hanya bekas kekasihnya, bekas wanita yang paling ia cinta di dunia ini, bukan hanya itu saja, melainkan ibu dari muridnya, ibu dari Bu Song calon mantunya! Bagaimana ia dapat membunuh bekas kekasihnya yang kini menjadi calon besannya.

‘Lu Sian, apakah kau yang menyuruh bunuh isteriku?! tanyanya berdesis di antara katupan giginya.

Lu Sian tersenyum mendengar nama kecilnya disebut.

‘Kalau tadi-tadi engkau bertanya begini, tentu aku akan bicara terus terang,! jawabnya lirih.

‘Aku tidak tahu bahwa kau masih hidup, tidak tahu bahwa kau punya isteri, bagaimana bisa menyuruh orang membunuh isterimu? Tidak, aku tidak menyuruh bunuh siapapun juga. Kalau ada yang hendak kubunuh, tentu kugunakan tanganku sendiri, mengapa menyuruh orang?!

Kim-mo Taisu melepaskan tangannya dan melompat ke belakang.

‘Mengapa tidak kau katakan demikian sejak malam tadi?!

Ia mengomel sambil menghapus peluh yang memenuhi mukanya., Lu Sian tertawa.

‘Aku ingin melihat sampai bagaimana jauh aku dapat melayanimu. Ternyata kau... kau makin hebat...!

Tiba-tiba wanita ini terhuyung-huyung dan tentu sudah roboh kalau tidak cepat-cepat disambar lengannya oleh Kim-mo Taisu. Sekali melihat tahulah Kim-mo Taisu bahwa Lu Sian menderita luka di dalam yang cukup parah, maka cepat-cepat ia menarik wanita itu duduk bersila di atas rumput.

‘Kau terluka. Biar kubantu kau memulihkan tenaga dan mengobati luka dalam,!

Katanya lirih sambil duduk bersila meramkan mata mengatur pernapasan yang sesak. Kim-mo Taisu memusatkan semangat dan mengerahkan tenaga sakti, menempelkan telapak tangan pada punggung Lu Sian sehingga hawa sakti dari tubuhnya menjalar melalui tangan memasuki tubuh Lu Sian.

Ketika Lu Sian merasa betap hawa yang hangat memasuki tubuh melalui telapak tangan yang menempel di punggungnya, ia tersenyum puas dan wajahnya berseri, akan tetapi ia tidak membuka mata dan tetap mengatur pernapasan. Kedua orang yang setengah malam dan setengah hari saling gempur mati-matian itu kini duduk bersila, diam seperti arca. Setelah hampir dua jam, Lu Sian tidak merasakan lagi sesak dan nyeri di dadanya. Bahkan rasa lelah hampir lenyap.

‘Cukup, Kwee-twako..! katanya lirih. Kim-mo Taisu melepaskan tangannya. Lu Sian memutar tubuh dan kini mereka duduk bersila, berhadapan. Mereka masih mengaso memulihkan tenaga sambil bercakap-cakap perlahan.

‘Kwee-twako, sungguh mati aku tidak mengira bahwa kau masih hidup di dunia ini. Kusangka telah tewas ketika terjerumus ke dalam jurang. Siapa kira, kau hidup, malah sudah beristeri. Bagaimanakah isterimu sampai mati terbunuh orang dan kau menyangka aku yang menyuruhnya?!

Sejenak Kim-mo Taisu tak dapat menjawab. Terbayang kembali semua peristiwa sejak terjerumus ke dalam jurang dan hanyut sampai ke Neraka Bumi. Seakan-akan baru terjadi kemarin.

‘Panjang ceritanya...! ia berkata setengah mengeluh. Tak suka ia menceritakan semua peristiwa itu kepada Lu Sian, oleh karena sesungguhnya Lu Sian inilah yang menjadi sebab daripada semua pengalamannya itu. ia sudah menerima keadaan, tidak mendendam kepada wanita ini, maka ia lalu bertanya.

‘Dan engkau sendiri... bagaimana sampai menjadi penghuni istana Hou-han? Banyak sudah aku mendengar tentang dirimu, tentang Tok-siauw-kwi. mengapa kau yang kabarnya menjadi isteri Jenderal Kam Si Ek, meninggalkan suamimu dan merantau seorang diri?!

Lu Sian menarik napas panjang dan tak terasa lagi dua titik air mata meloncat keluar dari pelupuk matanya. Baru saat ini, setelah ia duduk berhadapan dengan Kwee Seng, bercakap-cakap seperti kepada orang dalam, kepada orang yang dipercaya sepenuhnya, baru sekarang ia merasa menyesal akan semua sepak terjangnya. Ia merasa betapa kini ia amat haus dan rindu akan rumah tangga bahagia, akan hidup tenteram di samping suami yang mencinta dan putera yang berbakti. Ia kehilangan kesemuanya itu. Teringat akan puteranya, ia tak dapat menahan air matanya, lalu menggigit bibir dan mengge leng kepala.

‘Panjang ceritanya...!

Ia pun segan menceritakan semua pengalamannya kepada pria yang pernah mencintainya ini.

Tiba-tiba keduanya terdiam. Ada suara mencurigakan dan mereka waspada. Benar saja, tak lama kemudian terdengar suara bentakan-bentakan keras.

‘Tok-siauw-kwi, hendak lari ke mana kau sekarang?!

Berturut-turut muncullah belasan orang dari sekeliling tempat itu. ada yang berpakaian seperti hwesio, ada pula sebagai tosu, dan rata-rata mereka adalah orang-orang yang berusia lanjut dan gerakan-gerakan mereka membayangkan kepandaian yang tinggi. Kim-mo Taisu diam-diam juga terkejut melihat bahwa di antara belasan orang itu ia mengenal dua orang tokoh hwesio Go-bi-pai, dan beberapa orang tosu Kong-thong-pai dan Hoa-san-pai. Mereka semua adalah rokoh-tokoh yang berilmu tinggi!

Adapun Lu Sian setelah melihat bahwa yang bermunculan ini adalah para musuh-musuhnya yang selama ini selalu mencari kesempatan untuk menyerangnya dan selama ini hanya tertahan oleh kekuatan penjagaan istana Hou-han tidak membuang waktu lagi. Menghadapi mereka ini, kata-kata tidak ada gunanya, maka ia lalu meloncat, menyambar pedangnya yang menancap di atas tanah kemudian menantang dengan pedang melintang di depan dada.

‘Tikus-tikus busuk! Aku berada di sini, siapa bosan hidup boleh maju!!

Agaknya dendam yang sudah bertahun-tahun disimpan di hati membuat belasan orang itupun tidak suka bicara banyak. Mereka terdiri dari tujuh belas orang dan kini serentak mereka menyerbu dan mengurung Lu Sian dengan bermacam-macam senjata di tangan. Segera terjadi pertempuran hiruk pikuk yang kacau balau dan sebentar saja Lu Sian sudah terkurung dan terdesak hebat sehingga wanita ini hanya mampu memutar pedangnya untuk melindungi tubuhnya.

Kim-mo Taisu maklum bahwa biarpun para pengeroyok itu rata-rata memiliki kepandaian tinggi, namun mereka itu masih belum mampu menandingi Lu Sian yang luar biasa lihainya. Akan tetapi, pada saat itu Lu Sian baru saja sembuh daripada luka dalam, tenaganya belum pulih semua dan juga masih amat lelah, maka pengeroyokan banyak tokoh ternama itu tentu saja merupakan bahaya besar. Bukan ini saja yang mengkhawatirkan hati Kim-mo Taisu. Selain bahaya besar di pihak Lu Sian, juga bahaya maut mengancam keadaan para pengeroyok itu. ia maklum bahwa andaikata akhirnya Lu Sian kalah karena lelah dan masih lemah, namun tentu akan banyak sekali di antara lawan yang tewas di ujung pedang Lu Sian sebelum wanita itu roboh.

Benar saja apa yang dikhawatirkan Kim-mo Taisu. Dalam waktu beberapa menit kemudian, tiga orang pengeroyok telah roboh mandi darah oleh ujung pedang Lu Sian, akan tetapi wajah Lu Sian menjadi makin pucat, napasnya terengah-engah dan langkah kakinya mulai terhuyung-huyung. Para pengeroyok mendesak makin kuat dan mereka sudah merasa girang bahwa biarpun kembali mereka mengorbankan nyawa beberapa saudara, agaknya kali ini Tok-siauw-kwi musuh besar yang mereka benci itu takkan dapat meloloskan diri.

Akan tetapi alangkah kaget hati mereka ketika tiba-tiba ada angin bertiup keras dan senjata mereka terpental ke belakang oleh tiupan angin itu. Ketika mereka memandang ternyata Lu Sian yang mereka keroyok itu telah duduk bersila meramkan mata, dan sebagai penggantinya, seorang laki-laki perkasa yang tadi duduk bersila telah berdiri dengan tangan kiri memegang sebuah kipas dan tangan kanan sebuah guci arak!

Di antara mereka ada yang mengenal pria ini, maka dengan suara penasaran, seorang hwesio Siauw-lim-pai menegur,

‘Bukankah Sicu ini Kim-mo Taisu? Mengapa mencampuri urusan kami?!

‘Kim-mo Taisu! Kau terkenal sebagai seorang pendekar yang menjujung tinggi kebenaran. Apakah sekarang kau hendak membela seorang iblis betina macam Tok-siauw-kwi?

Pinto menerima perintah Suhu ketua Kong-thong-pai untuk membunuh siluman ini, apakah kau hendak merintangi Kong-thong-pai?! kata seorang tosu.

‘Kami dari Hoa-san-pai kehilangan lima orang murid yang tewas oleh siluman ini!! kata pula seorang tosu lain.

Kim-mo Taisu sudah mendengar akan sepak terjang Lu Sian yang hebat dan menggemparkan dunia kang-ouw dan di dalam hatinya tentu saja ia tidak dapat memebenarkan tindakan Lu Sian. Bahkan sudah sewajarnya kalau orang-orang gagah sedunia memusuhinya dan berusaha membinasakannya. Akan tetapi, mana mungkin hatinya tega melihat bekas kekasihnya yang ia tahu menderita batin ini dikeroyok dan dibunuh di depan matanya?

Dengan sikap tenang wibawa ia berkata sambil menyapu mereka semua dengan pandang matanya, lalu berkata,

‘Cu-wi sudah tahu bahwa aku selalu menjunjung tinggi kebenaran dan kegagahan. Adalah tidak benar belasan orang mengeroyok seorang saja terjadi pertandingan yang tak berimbang. Di manakah sifat kegagahan kalian?!

Seorang hwesio Siauw-lim-pai meloncat ke depan, melintangkan toya di tangannya.

‘Biarkan pinceng maju sendiri melawannya! Pinceng rela berkorban untuk membalaskan kematian empat orang saudaraku!!

‘Benar! Pinto pun berani melawannya seorang diri!! kata seorang tosu.

‘Kim-mo Taisu menganggap keroyokan tidak adil, biarlah kita maju seorang demi seorang melawan iblis betina itu! Dia harus mati atau kita siap untuk mati seorang demi seorang!! kata yang lain.

Kim-mo Taisu maklum bahwa kalau terjadi pertandingan satu lawan satu semua orang ini tentu akan tewas, tak seorang pun di antara mereka yang akan sanggup menandingi kehebatan Lu Sian. Akan tetapi ia pun tidak menghendaki hal ini terjadi, maka katanya.

‘Pertandingan mencari kemenangan karena urusan pribadi harus dilakukan seadil-adilnya. Pada saat ini, Tok-siaw-kwi telah terluka olehku. Dalam pertandingan antara orang-orang gagah, hal ini adalah tidak adil sama sekali. Karena itu, kuharap kalian suka tinggalkan kami dan lain kali kalian boleh menemuinya kalau dia sudah sembuh dari lukanya.!

Semua orang itu menjadi marah sekali. Hwesio Siauw-lim-pai yang bermuka merah itu meloncat maju dengan toya melintang, telunjuk kirinya menuding ke arah Kim-mo Taisu sambil membentak,

‘Kim-mo Taisu! Bicaramu sungguh menyimpang daripada kebenaran! Sungguh mengherankan sekali seorang terkenal seperti Kim-mo Taisu hendak melindungi seorang siluman betina!!

‘Hemm, setiap orang mempunyai kebenarannya sendiri!!

‘Akan tetapi kebenaranmu sendiri itu menyeleweng daripada kebenaran umum. Kami bertindak atas dasar kebenaran umum. Tok-siauw-kwi jahat sekali, dia berhutang nyawa kepada kami, kalau kami kini datang membalas, bukankah itu sudah benar?!

Bantah Si Hwesio Siuw-lim-pai, dan semua temannya membenarkan, sikap mereka mengancam, Kim-mo Taisu menggeleng kepalanya.

‘Aku sama sekali tidak melindungi Tok-siauw-kwi, juga tidak hendak mengatakan bahwa dia benar dalam urusannya menghadapi kalian. Akan tetapi pendirianku ini sama sekali tiada sangkut-pautnya dengan urusan antara dia dan kalian. Pendirianku ini mengenai saat sekarang, dan aku tetap menyatakan tidak benar kalau kalian sebagai orang-orang gagah menantang yang sedang terluka!!

‘Tidak peduli! Dia jahat, kalau dilepas, bila dapat mencarinya lagi?!

‘Oho, begitukah? Kalian tidak memandang mukaku? Dengarlah, kalian boleh saja melakukan segala perbuatan pengecut dan curang terhadap siapa saja, akan tetapi di luar tahuku. Jika masih ada aku di sini, jangan harap kalian dapat melakukan kecurangan, menyerang seorang yang sedang terluka. Nah, aku punya peraturan sendiri, punya kebenaran sendiri, dan aku sudah bicara!!

Setelah berkata demikian, Kim-mo Taisu berdiri tegak lalu menenggak araknya tanpa mempedulikan mereka.

‘Heh-heh-heh! Kim-mo Taisu bicara seperti pokrol bamboo! Saudara-saudara hendak membasmi siluman, masih menanti apalagi? Kim-mo Taisu membela penjahat, dia menyeleweng juga. Kita ganyang saja dia lebih dulu, biar kami bantu!!

Suara ini keluar dari seorang di antara tiga kakek pengemis yang tahu-tahu muncul di tempat itu. kim-mo Taisu tidak mengenal mereka, akan tetapi melihat cara mereka memegang dan menggerakkan tongkat merah di tangan, ia dapat menduga bahwa mereka itu tentulah tokoh-tokoh pengemis yang lihai. Ia teringat akan Pouw Kee Lui yang amat terkenal di dunia pengemis dan dijuluki Pouw-kai-ong Si Raja Pengemis, maka sambil tersenyum mengejek ia berkata.

‘Apakah kalian ini anak buah Si Raja Pengemis Pouw?!

Tiga orang pengemis itu tidak menjawab, melainkan menggerakkan tongkat mereka menerjang maju. Hebat memang gerakan mereka dan cepat-cepat Kim-mo Taisu mengibaskan kipas di tangannya menangkis sambi membuat gerakan memutar sehingga terbebas daripada lingkungan sinar merah tongkat-tongkat mereka. Akan tetapi tokoh-tokohì l menghalau mereka yang mengancam Lu Sian, Kim-mo Taisu lalu melindungi wanita ini dan memutar kedua senjatanya yang berubah menjadi gulungan sinar melindungi tubuh mereka berdua.

Hebat sekali pertandingan ini, jauh lebih hebat daripada tadi ketika mereka mengeroyok Lu Sian. Amukan Kim-mo Taisu benar-benar menggiriskan hati. Beberapa orang telah roboh lagi oleh sambaran angin kebutan kipas. Selama satu jam lebih belum juga para pengeroyok mampu merobohkan Kim-mo Taisu, juga tidak ada yang mampu menyentuh tubuh Lu Sian yang masih duduk bersila memulihkan tenaga. Namun keadaan Kim-mo Taisu makin lama makin payah. Pendekar ini sudah terlalu lama tadi mengerahkan tenaga melawan Lu Sian. Ia amat lelah dan tenaganya sudah banyak berkurang, bahkan kini ia merasa dadanya sesak karena terlampau banyak mengerahkan tenaga sakti, jauh melampaui daya tahan tubuhnya. Namun ia bertekad melawan terus sampai napas terakhir untuk melindungi Lu Sian, mempertahankan kebenaran. Ia maklum bahwa Lu Sian telah menyeleweng dan telah berdosa kepada mereka ini, akan tetapi ia pun tidak senang menyaksikan kecurangan mereka hendak mengeroyok yang telah terluka. Apalagi setelah perjumpaannya dengan Lu Sian ini, ia tidak tega untuk membiarkan bekas kekasihnya dibunuh orang begitu saja di depan matanya.

Para pengeroyok itu terdiri dari orang-orang pilihan dalam partai-partai persilatan besar, dan tiga orang kakek pengemis itupun lihai sekali. Andaikata Kim-mo Taisu tidak sudah kehabisan tenaga dalam menghadapi Lu Sian selama itu, agaknya pendekar besar ini masih sanggup mengalahkan mereka. Akan tetapi kini biarpun ia masih berhasil merobohkan beberapa orang pengeroyok, namun ia sendiri makin parah keadaannya, tenaganya makin habis dan dadanya terasa makin sesak dan sakit.

Dua jam kemudian, dengan gerakan terakhir yang amat dahsyat, Kim-mo Taisu yang marah kepada tiga orang pengemis itu, berhasil merobohkan dua orang pengemis dengan hantaman kipas dan guci araknya. Seorang pengemis, yang bicara tadi, roboh dan tewas seketika tertotok jalan darah maut oleh ujung kipas, sedangkan orang ke dua patah tulang iganya terpukul guci arak. Akan tetapi pada saat itu juga Kim-mo Taisu menerima sodokan toya baja yang ditusukkan oleh hwesio Siauw-lim-pai. Hebat bukan main sodokan yang mengenai lambungnya ini. Andaikata orang lain yang terkena agaknya tentu akan pecah lambungnya, akan tetapi Kim-mo Taisu yang sudah mengerahkan lweekangnya ke arah lambung, hanya terlempar saja dan pendekar ini merasa betapa lambungnya sakit sekali. Betapapun juga, ia masih mampu melompat berdiri dan sambil menggigit bibirnya, ia menerjang maju lagi dan merobohkan beberapa orang pengeroyok.

Pada saat itu, Lu Sian sudah dapat memulihkan tenaga. Ia membuka mata dan melihat betapa Kim-mo Taisu terdesak hebat dan gerakan bekas kekasihnya ini mulai lambat dan lemah, Lu Sian mengeluarkan suara melengking dahsyat dan tubuhnya mencelat ke udara. Sekali ia menggerakkan kepala, rambutnya merupakan selimut hitam menyambar ke depan dan sekaligus rambutnya telah merampas empat buah senjata para pengeroyok memekik ngeri dan roboh dengan baju di bagian dada hangus, kulit dadanya pun terdapat tanda tapak tangan menghitam dan dua orang itu roboh tewas seketika. Kacaulah para pengeroyok kini. Mereka terdesak mundur, kemudian terdengar hwesio Siauw-lim-pai berteriak keras dan mereka semua menyambar tubuh teman-teman yang tewas atau terluka, lalu meloncat dan melarikan diri dari tempat itu.

Kim-mo Taisu masih berdiri tegak dengan kipas dan guci arak di tangan sedangkan Lu Sian berdiri di sebelahnya, rambutnya terurai dan pedang Toa-hong-kiam di tangan. Sunyi sekali di situ, hanya tampak bekas-bekas darah membasahi rumput-rumput yang rebah terinjak-injak dan daun-daun yang rontok dari pohon karena sambaran angin-angin pukulan dahsyat tadi.

Lu Sian menengok ke arah Kim-mo Taisu dan seketika wanita ini melompat mendekati, cepat menerima tubuh Kim-mo Taisu yang tiba-tiba terhuyung dan roboh pingsan dalam pelukan Lu Sian! Kiranya pendekar ini telah menderita luka hebat di lambungnya, dan tadi ia masih mampu bergerak melawan adalah bukti daripada keuletannya yang luar biasa. Lu Sian memeluk dan mendukung tubuh Kim-mo Taisu seperti seorang ibu mendukung anaknya. Setelah mengumpulkan kipas, guci arak dan pedangnya, ia lalu memanggul tubuh Kim-mo Taisu dan dibawanya lari memasuki hutan yang lebat. Air matanya bercucuran di sepanjang pipinya, akan tetapi mulutnya tersenyum-senyum dan wajahnya berseri.

Sementara itu, setelah jauh dari puncak yang selama ini menjadi tempat tinggalnya, Kim-mo Taisu lalu mengerahkan kepandaiannya dan berlari cepat sekali menuju ke selatan. Teringat akan semua yang baru saja ia alami, Kim-mo Taisu berkali-kali menghela napas. Nasib mempertemukan dia dengan Liu Lu Sian, bahkan melibatkan dia dengan urusan bekas kekasihnya itu yang kini menjadi tokoh iblis betina yang dimusuhi semua orang kang-ouw. Nasib membuat dia terpaksa membela Tok-siauw-kwi Liu Lu Sian sehingga ia melakukan pembunuhan terhadap orang kang-ouw yang mengeroyok Lu Sian. Teringat betapa ia terluka hebat, dibawa lari oleh bekas kekasihnya itu dan dirawat di dalam pondok dalam hutan, dirawat penuh kesabaran dan kemesraan. Lu Sian mencintanya! Dan ia masih mencinta Lu Sian! Hal ini tak dapat mereka sangkal pula.

‘Lu Sian, tidak baik begini, Kita sudah tua dan jalan hidup kita bersimpang jauh.!

‘Mengapa tidak baik, Kwee Seng?, Memang jalan hidup kita tadinya bersimpang jauh, akan tetapi Thian mempertemukan kita dan terbukalah sekarang mataku bahwa sesungguhnya hanya engkaulah laki-laki yang patut kutemani selamanya. Aku dahulu bodoh, Kwee Seng, akan tetapi setelah kini sadar, tak maukah engkau memperbaiki kesalahan yang sudah lewat?!

‘Tidak bisa, Lu Sian. Tidak mungkin lagi...!

Lu Sian menahan isak.

‘Kwee Seng, di mana-mana aku dikurung musuh. Tidak sanggup rasanya aku harus menghadapi semua itu seorang diri. Aku sudah bosan, Kwee Seng. Aku sudah rindu hidup tenteram di samping orang yang kucinta!!

Lu Sian kini benar-benar menangis, menelungkup di atas dada Kim-mo Taisu yang terlentang di atas dipan bambu.

‘Sudah terlambat, Lu Sian. Dan lagi, apakah kau hendak menghancurkan kebahagiaan puteramu sendiri?!

‘Apa...?!

Lu Sian meloncat mundur dan memandang wajah Kim-mo Taisu dengan mata terbelalak.

Kim-mo Taisu tersenyum. Dadanya tidak terasa sakit lagi setelah semalam diobati oleh Lu Sian yang mengerahkan seluruh tenaga dalamnya untuk memulihkan kesehatan bekas kekasihnya. Juga ramuan obat simpanan Lu Sian amat manjur untuk menyembuhkan luka di dalam tubuh.

‘Lu Sian, kau tidak tahu bahwa bertahun-tahun puteramu, Kam Bu Song, telah ikut denganku dan menjadi muridku. Malah kini ia akan menjadi mantuku.!

Lu Sian terbelalak, mulutnya ternganga dan tak terasa lagi air matanya bertitik-titik turun membasahi pipinya. Rasa girang, haru, dan duka menyesak di dadanya.

‘Ceritakan... ceritakan tentang dia...!

Dengan singkat Kim-mo Taisu lalu menceritakan pertemuannya dengan Bu Song dan betapa Bu Song menjadi muridnya, kemudian betapa ia menjodohkan Bu Song dengan Eng Eng.

‘Anakmu itu aneh, dan bijaksana tidak seperti kita, Lu Sian. Dia benci akan ilmu silat dan sama sekali tidak mau belajar ilmu silat, malah ia menganggap ilmu silat, suatu ilmu yang amat jahat.!

‘Hee...? Mengapa begitu? Kalau begitu, dia menjadi muridmu... belajar apa?!

‘Belajar ilmu membaca dan menulis, menggambar dan menulis indah. Belajar sastera. Malah sekarang ia hendak kusuruh menempuh ujian di kota raja, setelah lulus ujian barulah pernikahan dilangsungkan. Lu Sian, kau tentu setuju, bukan, demi kebagaiaan puteramu?!

Lu Sian menundukkan mukanya.

‘Kalau begitu... dia... dia tentu membenciku...!

‘Dia tidak membenci siapapun juga. Hanya, tentu saja dia tidak tahu bahwa ibunya adalah Tok-siauw-kwi...!

‘Aahhh...!!

Lu Sian terisak menangis. Akan tetapi kekerasan hatinya segera menguasai hati dan pikirannya. Ia meloncat berdiri.

‘Tidak peduli! Biar dia menjadi putera ayahnya, menjadi orang baik-baik, menjadi pembesar!! Liu Lu Sian lalu meloncat pergi dan meninggalkan Kim-mo Taisu.

‘Lu Sian...!!

Kim-mo Taisu memanggil, akan tetapi wanita itu tidak kembali lagi. Diam-diam ia menarik napas panjang, amat kasihan melihat nasib bekas kekasihnya itu. Ia maklum bahwa ceritanya tentang Bu Song tadi menghancurkan hati Lu Sian dan mendatangkan tekanan batin yang hebat sekali kepada wanita itu merasa kehilangan segala-galanya. Betapa tidak harus dikasihani kalau seorang wanita seperti Lu Sian itu, oleh perbuatannya sendiri di waktu muda, setelah tua kini dimusuhi semua orang, bahkan tidak dikehendaki oleh puteranya sendiri?

Kim-mo Taisu sendiri sama sekali tidak pernah bermimpi bahwa nasibnya sendiri juga amat buruk. Ia menyedihkan keadaan Lu Sian, menaruh kasihan kepada Lu Sian, akan tetapi sama sekali ia tidak tahu bahwa pada saat itu keluarganya tertimpa bencana hebat. Kwee Eng, puteri tunggalnya, satu-satunya orang yang menjadi keluarganya di dunia ini telah direnggut maut nyawanya dalam keadaan yang amat menyedihkan!

Kim-mo Taisu bukanlah seorang bodoh, akan tetapi ia seorang yang lemah. Peristiwa-peristiwa yang menimpa dirinya diterimanya dengan perasaan hancur dan menyebabkan ia menanam bibit kebencian dan dendam yang mendalam terhadap musuh-musuh keluarga isterinya. Kematian isterinya dan puterinya membuat pendekar ini hanya mempunyai satu cita-cita di dalam hatinya, yaitu membalas dendam dan membasmi musuh-musuh keluarga isterinya.

Mulailah ia merantau dan mulai saat itu, nama Kim-mo Taisu menjadi terkenal sebagai seorang yang sepak terjangnya menakutkan. Para tokoh yang merasa pernah bermusuhan dengan Kerajaan Tang, yang pernah bermusuhan dengan Kong Lo Sengjin atau Sin-jiu Couw Pa Ong diam-diam menyembunyikan diri, takut bertemu dengan Kim-mo Taisu yang amat hebat ilmu kepandaiannya itu

***

!Eng-moi....! Eng-moi...!!!

Bu Song berteriak-teriak memanggil dan mencari-cari Eng Eng. Pondok sunyi dan kosong. Ia lari ke pinggir anak sungai di mana biasanya Eng Eng suka pergi bermain, akan tetapi di sana pun kosong.

‘Eng-moi...! Di mana kau...??!

Ia memanggil-manggil lagi dan mencari terus sambil berlarian ke sana ke mari. Akhirnya ia berhenti di belakang pondok, mengerutkan keningnya. Aneh benar, pikirnya. Biasanya kalau ia pergi disuruh suhunya turun puncak, gadis itu selalu tentu menjemput atau menyongsongnya di tengah jalan, atau menantinya dan begitu ia datang tentu akan menghujani pertanyaan-pertanyaan. Mengapa sekarang gadis itu tidak tampak? Ia tahu bahwa suhunya telah pergi. Eng Eng hanya seorang diri di puncak, mengapa sekarang tidak ada?

‘Eng-moi...!!!

Ia melindungi kanan kiri mulutnya dengan kedua tangan lalu berteriak-teriak memanggil-manggil lagi ke empat penjuru. Hanya gema suaranya sendiri yang menjawab dari jauh. Bu Song makin gelisah akan tetapi juga mendongkol, lalu mengingat-ingat. Pernah gadis itu mempermainkannya. Pernah ketika Suhunya menyuruh ia memanggil Eng Eng, gadis itu sengaja bersembunyi, membiarkan ia mencari-cari sampai lelah. Ia teringat. Dahulu, ketika gadis itu mempermainkannya dan bersembunyi, Eng Eng pergi ke hutan penuh bunga di sebelah timur puncak.

Memang hutan itu indah sekali, merupakan sebuah taman bunga dan pohon-pohon cemara bermacam-macam bentuknya. Juga lereng bukit itu tanahnya tertutup rumput-rumput hijau gemuk. Wajah Bu Song berseri lagi, timbul harapan baru. Tentu di sana sembunyinya. Akan tetapi ia mengerutkan kening. Tidak mudah mencari Eng Eng di sana. Hutan kembang itu luas sekali dan banyak terdapat pohon-pohon besar sehingga kalau gadis itu bersembunyi, sukar baginya untuk dapat mencarinya, ia teringat dahulupun ia tidak dapat mencarinya. Terbayang semua kejadian yang lalu, Bu Song tersenyum lalu lari ke dalam pondok, mengambil sebatang suling bamboo dari kamarnya lalu berlari-lari lagi keluar dan menuju ke timur.

Memang luar biasa sekali ketahanan tubuh Bu Song. Tanpa diketahui sendiri oleh pemuda ini, ia benar-benar memiliki tubuh yang luar biasa kuatnya dan hal ini hanya diketahui oleh suhunya Kim-mo Taisu saja. Jangankan seorang pemuda yang tak pernah belajar ilmu silat. Seorang ahli silat yang lumayan sekalipun kiranya belum tentu dapat bertahan seperti Bu Song yang sehari ini telah melakukan perjalanan jauh naik turun gunung tanpa mengenal lelah. Sekarang pun, baru saja tiba di pondok ia sudah pergi lagi mencari Eng Eng dengan perjalanan sejam lebih naik turun puncak!

Ketika tiba di hutan itu, tak dapat ia cegah lagi ia memandang ke timur, ke arah puncak yang kemerahan. Selalu ia tidak dapat menahan hatinya memandang puncak yang kemerahan itu dan diam-diam ia bergidik. Suhunya telah berulang kali melarang dia dan Eng Eng untuk pergi ke puncak itu. yang oleh suhunya disebut Puncak Api. Pernah suhunya bercerita bahwa puncak itu adalah tempat yang amat berbahaya, selain sukar sekali didaki, juga di sana terdapat binatang buas, jurang-jurang curam dan tanah-tanah yang dapat longsor apabila terinjak, di samping rumput berbisa pula. Alangkah jauh bedanya dengan hutan penuh bunga yang indah ini.

Benar seperti dugaannya, hutan bunga itupun sunyi, tidak tampak bayangan Eng Eng. Akan tetapi ia yakin bahwa gadis itu tentu bersembunyi di suatu tempat dalam hutan itu dan terkekeh-kekeh ketawa di tahan melihat ia datang mencarinya. Ia maklum pula bahwa percuma ia berteriak memanggil. Biar sampai serak suaranya, Eng Eng takkan muncul, bahkan akan mentertawakannya. Maka ia pun lalu duduk di atas batu hitam lebar yang halus, tempat yang biasa ia gunakan untuk duduk dan bercakap-cakap dengan Eng Eng. Di dekat batu ini mengalir anak sungai yang jernih sekali sehingga batu-batu putih merah dan hijau tampak di dasarnya.

0 Response to "Suling Emas, Bab 25 - Kekasih Lama"

Post a Comment