Petualang Asmara Jilid 13

"Baiklah, Piauw-suheng!" Dia mengejek sambil membungkuk dengan lagak dibuat-buat. "Aku minta engkau jangan mengadu kepada ayah bundaku, ya?"

Kun Liong menggerakkan hidung. Rasakan engkau sekarang, pikirnya! Bocah galak harus dihajar! Dengan angkuh dia menegakkan tubuh mengangkat muka.

"Salah siapa? Engkau telah menyambutku dengan cara yang kurang ajar sekali, bahkan berani memukul aku. Biar kuberitahukan kepada Supek dan Supek-bo, aku ingin melihat bagaimana kalau kau dimarahi, mungkin dipukul!"

"Aihhh... janganlah, Piauw-suheng... ibuku keras sekali. Apa kau tidak kasihan terhadap piauw-sumoi-mu?"

"Huh, enak dan gampangnya. Sudah menghina, sudah memukul, sekarang malah minta tolong segala. Kiranya aku ini orang apa, hah?"

"Piauw-suheng yang baik, kau maafkan aku, ya? Aku tidak marah lagi kepadamu, aku tidak menghinamu lagi. Habis engkau sendiri juga salah. Siapa yang menyangka bahwa engkau putera Paman Yap Cong San kalau melihat... ehhh..."

"Bilang saja kepala gundulku! Kenapa sih ragu-ragu?" Kun Liong menghardik sampai Giok Keng kaget.

"Ya, ya... karena kepalamu yang gundul itu tadi mendatangkan keraguan dan kecurigaan padaku sehingga aku bersikap keras. Ketahuilah, ayah dan ibuku sedang pergi, bahkan pergi ke tempat ayahmu dan aku diberi tugas untuk mewakili mereka menjaga di sini, memimpin Cin-ling-pai. Bayangkan saja alangkah beratnya! Maka begitu melihat engkau yang kucurigai akan mengacau Cin-ling-san, aku terus turun tangan. Maafkan aku, ya?"

Kun Liong merasa bagaikan dielus-elus, enak sekali rasanya. Akan tetapi mulutnya tetap diruncingkan agar kelihatan cemberut dan marah. "Kalau aku membiarkan semua orang menampar kepalaku kemudian cukup dengan permintaan maaf saja, agaknya kepalaku akan remuk dalam waktu singkat. Tidak cukup hanya dengan permintaan maaf."

"Habis, harus bagaimana?" Giok Keng bertanya penasaran. "Apakah aku harus berlutut di depan kakimu?"

Kun Liong ingin sekali menuntut hukuman seperti yang dia lakukan terhadap Hwi Sian, yaitu supaya dara ini pun mencium kepalanya. Akan tetapi dia berpikir panjang. Apa bila sampai dara ini marah, karena wataknya begini keras, bisa berabe. Dan lebih hebat lagi kalau dara ini mengadu kepada ayah bundanya, lebih celaka sekali kalau sampai ayahnya mendengar akan hal itu!

Dara ini takut kepada ibunya yang keras, dan tentu tidak tahu betapa dia pun amat takut kepada ayahnya yang keras pula! Tidak, dia tidak boleh menyuruh Giok Keng mencium kepalanya. Tiba-tiba dia mendapat akal dan menjawab sambil tersenyum.

"Tadi engkau amat menghinaku karena kepalaku yang gundul, bahkan engkau juga telah menampar kepalaku. Nah, sekarang aku baru mau menghabiskan urusan ini sampai di sini saja kalau engkau suka menampar kepalaku sampai tiga kali lagi!"

Mata Giok Keng terbelalak lebar. "Apa...?! Sudah gilakah engkau? Kalau kupukul dengan sungguh-sungguh, tentu akan pecah kepalamu. Jangankan sampai tiga kali, satu kali saja cukup..."

"Sudahlah, menyombong lagi! Biar pecah, lebih baik supaya ayah bundamu tahu bahwa puteri mereka bahkan sudah menyambut kedatangan Piauw-suheng-nya dengan pukulan maut sampai kepalanya pecah!"

"Aihhh... habis bagaimana?"

"Terserah kepadamu. Pendek kata, aku ingin kau mempergunakan tanganmu menampar kepalaku sampai tiga kali!"

Giok Keng menatap kepala gundul itu dengan muka menunjukkan kebingungan hatinya. Tangannya memang telah gatal-gatal rasanya, betapa inginnya dia menampari kepala itu, akan tetapi kalau dia menampar sampai Kun Liong terluka atau mampus, tentu dia tidak akan mendapat ampun dari ibunya. Dia memutar otak dan akhirnya dengan wajah berseri dia berkata, "Baik, akan kutampar kepalamu tiga kali, akan tetapi luput!"

"Eh, mana bisa? Aku tidak menangkis tidak mengelak, mana bisa luput? Padahal engkau puteri Ketua Cin-ling-pai! Siapa mau percaya?"

"Habis bagaimana?"

"Terserah, asal menampar kepala." Kun Liong diam-diam girang sekali dan merasa sudah dapat membalas dendam mempermainkan dara galak itu.

"Kalau pelan-pelan boleh, kan?"

"Pokoknya asal mempergunakan tangan menampar kepala." Jantung Kun Liong berdebar karena dia sudah membayangkan betapa kepalanya akan dielus-elus oleh telapak tangan yang halus itu!

"Baiklah. Nah, awas, aku akan mulai!"

Giok Keng lalu menggerakkan tangan kanannya dan tepat seperti yang dikehendaki dan diduga Kun Liong, telapak tangan yang halus dan hangat itu menjamah kepala gundul itu tiga kali.

"Sudah cukup tiga kali!" berkata Giok Keng sambil melangkah mundur, geli juga meraba kepala yang gundul kelimis itu.

"Terima kasih, enak sekali!" kata Kun Liong sambil membungkuk dan tersenyum lebar.

"Pringas-pringis (menyeringai), bilang saja ingin diusap kepalanya, pakai pura-pura minta ditampar!"

"Sudah pantas saja, Piauw-sumoi, untuk obat kepalaku yang masih terasa nyeri karena tamparanmu tadi. Jadi Cia-supek dan Supek-bo tidak berada di rumah?"

"Tidak, karena itu, lain kali saja kau datang menjumpai mereka. Akan tetapi awas, kau sudah berjanji tidak akan mengadu kepada mereka!"

"Wah, kau tidak percaya kepadaku? Ehh, sumoi, namamu Cia Giok Keng, ya? Sekarang aku ingat. Indah sekali namamu, seindah... orangnya... ehh, maksudku... ehh, kau cantik sekali, Piauw-moi, dan ilmu silatmu lihai bukan main. Aku kagum sekali kepadamu."

"Dan aku benci kepadamu!"

"Oh, ya? Sebaliknya, aku sangat cinta kepada diriku ini!"

"Aku benci, terutama kepalamu."

"Dan aku terutama sekali sayang kepada kepalaku ini." Kun Liong mengelus kepalanya. Betapa dia tidak sayang? Kepalanya mendatangkan banyak ‘untung’ tiap kali dia bertemu dengan dara~dara jelita!

Sambil tersenyum lebar dia lalu menjura dan berkata lagi, "Nah, aku pergi, Piauw-sumoi yang cantik dan galak. Sampai bertemu lagi, ya?"

"Tidak sudi! Sekali pun cukuplah."

"Uihhh, jangan begitu! Bagaimana kalau kelak orang tuarnu minta kau berjumpa dengan aku?"

"Tidak usah, ya!"

Kun Liong tertawa bergelak lalu meninggalkan nona itu yang masih membanting-banting kaki saking jengkelnya.

Biar pun mulutnya tertawa-tawa dan hatinya lega karena sudah berhasil membalas dara galak itu, menggodanya dan berhasil pula dielus-elus kepalanya oleh tangan halus itu, tetapi secara diam-diam Kun Liong merasa penasaran sekali. Harus dia akui bahwa ilmu kepandaian Giok Keng amat hebat dan agaknya kalau bertempur sungguh-sungguh, dia tidak akan mampu menandingi dara itu yang sejak kecil tentu digembleng ayah bundanya yang memiliki ilmu kepandaian sangat tinggi, jauh lebih tinggi dari pada kepandaian ayah bundanya sendiri.

Dia harus mempelajari ilmu silat yang lebih tinggi! Kalau tidak, apa dayanya untuk dapat mencegah perbuatan jahat kalau dia bertemu dengan orang-orang semacam Ban-tok Coa-ong Ouwyang Kok dan Siang-tok Mo-li Bu Leng Ci?

Akan tetapi, ke manakah dia harus belajar ilmu? Kalau saja dia dapat menjadi murid dari supek-nya, Cia Keng Hong, tentu dia akan memperoleh kemajuan hebat. Akan tetapi dia bergidik apa bila mengingat akan kegalakan Giok Keng. Baru bertemu saja sudah cekcok dan berkelahi, apa lagi kalau tinggal serumah. Tentu seperti kucing dengan anjing!

Teringat ini, Kun Liong tertawa. Dara itu dimakinya seperti kucing, dan memang pantas! Dan dia anjingnya. Ha-ha-ha! Mana ada anjing gundul? Kembali dia mengelus kepalanya dan teringatlah dia akan Pek-pek, anjingnya yang berbulu putih seperti kapas, yang dulu menumpahkan obat ayahnya.

Ke manakah anjing itu pergi? Sudah matikah? Kata ayahnya, Pek-pek dahulu ditemukan di dekat Kuil Siauw-lim-si. Ahhh...! Benar! Kuil Siauw-lim-si! Siauw-lim-pai adalah sebuah perkumpulan besar yang memiliki banyak orang sakti. Ayahnya sendiri pun bekas murid Siauw-lim-pai. Dia harus pergi ke Kuil Siauw-lim-si lalu belajar kepada tokoh-tokoh Siauw-lim-pai!

Bukan niat ini saja yang mendorong Kun Liong pergi mengunjungi Kuil Siauw-lim-si, akan tetapi juga ada dugaan bahwa ayah dan ibunya tentu mengunjungi kuil itu pula. Kalau tidak ada di rumah Cia Keng Hong, ke mana lagi ayah dan ibunya akan pergi? Setidaknya tentu akan singgah di Siauw-lim-si, karena ketika ayahnya mencarikan obat untuk para perwira yang terluka, bukankah ayahnya juga pergi ke Siauw-lim-si?

Bekal pemberian kakek pamannya tinggal tak berapa lagi, akan tetapi dengan berhemat, kadang-kadang hanya makan buah-buah dan binatang hutan saja, cukup juga sisa bekal itu mengantarnya sampai ke Kuil Siauw-lim-si. Kuil besar yang berada di lereng bukit itu kelihatan megah, membesarkan hati Kun Liong akan tetapi juga menimbulkan ketegangan karena menduga duga apakah dia akan berhasil mendapatkan keterangan tentang ayah bundanya di kuil itu, dan apakah dia akan dapat menjadi murid Siauw-lim-si.

Menjadi murid Siauw-lim-pai? Tidak mungkin, pikirnya ketika dia tiba-tiba teringat bahwa ayahnya sendiri sudah keluar dari Siauw-lim-si dan tidak diakui sebagai murid. Meski pun ayahnya tidak pernah menceritakan sebabnya, namun dia tahu bahwa dengan menyebut dirinya ‘bekas murid Siauw-lim-pai’ berarti ayahnya tidak lagi diakui sebagai murid.

Kalau para hwesio tokoh Siauw-lim-pai tahu bahwa dia adalah anak Yap Cong San yang sudah tak diakui lagi sebagai murid, mana mungkin Siauw-lim-pai mau menerima dirinya. Pikiran ini membuat dia mengambil keputusan untuk menyelidiki ayah ibunya di kuil itu tanpa mengaku bahwa dia adalah putera mereka.

Demikianlah, pada suatu hari menjelang senja, dia sudah berdiri di depan pintu gerbang Kuil Siauw-lim-si yang menjadi pusat dari Siauw-lim-pai yang terkenal. Berbeda dengan kuil-kuil Siauw-lim-si yang menjadi cabang Siauw lim-pai, kuil pusat ini selain besar, juga amat luas dan dikelilingi pagar tembok yang tinggi dengan pintu pintu gerbang yang dijaga siang malam oleh dua orang hwesio, seperti sebuah benteng saja!

"Apa? Engkau hendak mengabdi kepada kuil kami, orang muda? Dan untuk keperluan itu engkau telah mendahului membuang rambutmu?" tanya kepala penjaga yang telah diberi laporan oleh penjaga pintu gerbang akan datangnya seorang pemuda tanggung berkepala gundul yang datang untuk mengabdi dan menjadi kacung kuil itu.

Karena tidak ingin banyak rewel, Kun Liong menjawab, "Demikianlah, Losuhu, sungguh pun teecu tidak sengaja. Harap saja Suhu sudi menerima teecu."

"Hemm, urusan menerima seorang kacung harus diputuskan oleh ketua sendiri, karena kami tidak berani bertanggung jawab kalau-kalau ada pihak musuh yang menyelundup."

Dalam hatinya, Kun Liong mencela hwesio ini. Orang yang sudah menjadi hwesio, berarti menyerahkan jiwa raganya kepada agama, dan orang beragama berarti orang yang harus melakukan hidup suci, mengapa masih mengaku punya musuh?

Akan tetapi karena niatnya hanya ingin menyelidiki kalau-kalau ayah bundanya berada di situ dan untuk mencari kesempatan belajar limu silat tinggi, Kun Liong tidak banyak rewel dan mengikuti kepala penjaga yang membawanya menghadap Ketua Siauw-lim-pai. Dia telah mendengar dari ayahnya bahwa Ketua Siauw-lim-pai adalah bekas suheng ayahnya sendiri yang berilmu tinggi dan bernama Thian Kek Hwesio, karena itu dengan jantung berdebar dia menghadap ketua ini.

Memang benar demikian, ternyata Thian Kek Hwesio sendiri yang menerima pelaporan kepala penjaga. Hati Kun Liong menjadi kecut ketika melihat bahwa ketua kuil itu adalah seorang hwesio yang amat menakutkan, berusia lebih dari delapan puluh tahun, tubuhnya tinggi besar dan berkulit hitam, matanya bagaikan kelereng besar, dan sikapnya kereng, kelihatan galak bukan main! Memang demikianlah keadaan Thian Kek Hwesio, wataknya sesuai dengan tubuhnya, kasar dan jujur namun memiliki hati emas!

"Saudara muda, kepalamu kenapakah?"

Suara Thian Kek Hwesio besar dan kasar, namun nada suaranya tidak menyinggung hati Kun Liong yang berlutut di hadapan hwesio itu, di samping hwesio kepala penjaga.

"Teecu makan jamur di hutan dan rambut teecu lalu rontok semua, Lo-suhu." Kun Liong membohong. Dia terpaksa membohong karena kalau dia bicara terus terang, tentu akan berkepanjangan dan dia pun tak akan dapat menyembunyikan keadaannya lagi sehingga akan sia-sialah usahanya.

"Omitohud...! Engkau keracunan, orang muda. Racun yang dapat membuat rambut rontok seperti itu adalah racun yang hebat sekali! Biasanya, racun yang tidak merenggut nyawa hanya merontokkan rambut, berarti bahwa racun itu bertemu dengan racun lain sehingga daya mautnya punah. Engkau masih beruntung!"

Diam-diam Kun Liong kagum sekali. Kini dia mengerti mengapa rambut kepalanya habis. Tentu racun ular dan racun jarum Ouwyang Bouw saling bertanding di dalam tubuhnya, urung mencabut nyawanya akan tetapi berhasil menghabiskan rambutnya!

Kalau dia dapat berguru kepada kakek ini, akan tetapi ahh, tentu tidak banyak selisihnya dengan kepandaian ayahnya. Hubungan mereka hanya sute dan suheng. Bukan, bukan kepada Ketua Siauw-lim-pai ini dia ingin berguru, akan tetapi kepada Tiong Pek Hosiang, guru ayahnya atau sukong-nya (kakek gurunya)!

Dia sudah mendengar dari ayahnya bahwa kakek sakti itu sudah mengasingkan diri di dalam Kuil Siauw-lim-si ini, di dalam sebuah kamar yang disebut Ruang Kesadaran! Dan menurut ayahnya, sampai sekarang kakek sakti itu masih hidup. Tentu sudah amat tua, sedikitnya seratus tahun usianya. Kepada sukong-nya itulah dia ingin berguru!

"Sebetulnya di sini sudah tidak lagi membutuhkan bantuan seorang kacung, karena sudah banyak anak murid yang melakukan semua pekerjaan, akan tetapi karena secara mukjijat sekali rambut kepalamu menjadi habis tanpa dicukur, seakan-akan Tuhan sendiri yang menakdirkan engkau untuk menjadi calon hwesio, maka biarlah pinceng (aku) menerima pengabdianmu. Kau bekerjalah di sini membantu para hwesio kecil, kelak bila memenuhi syarat, engkau boleh menjadi anak murid dan masuk menjadi hwesio. Siapa namamu?"

"Teecu she Liong, bernama Kun," Kun Liong membohong.

"Baiklah, kami sebut engkau Liong-ji (Anak Liong). Kau ikutlah kepada kepala penjaga ini. Berikan sebuah kamar untuk dia bersama para hwesio kecil dan serahkan pula beberapa pekerjaan harian suruh dia bantu," kata ketua itu yang kemudian duduk bersila kembali sambil memejamkan mata. Kepala penjaga itu memberi hormat, lalu menyentuh lengan Kun Liong diajak keluar dari kamar ketua itu.

Demikianlah, Kun Liong yang di situ terkenal dengan sebutan Liong-ji, bekerja di dalam Kuil Siauw-lim-si, membantu tukang kebun. Pekerjaan ini menyenangkan hatinya karena dia lebih bebas.

Dari percakapannya dengan para hwesio kecil yang dipancing-pancingnya secara lihai, Kun Liong mendengar bahwa ayah dan ibunya tidak pernah datang ke kuil ini semenjak yang terakhir ayahnya datang minta obat. Juga dia mendengar bahwa Tiong Pek Hosiang masih bertapa di dalam Ruang Kesadaran tanpa ada yang berani mengusiknya. Dia telah tahu pula di mana letak kamar itu, di dekat kamar gudang penyimpanan pusaka Siauw-lim-pai yang siang malam dijaga oleh empat orang hwesio secara bergilir.

Kecewa juga hati Kun Liong mendengar bahwa ayah bundanya tidak pernah datang ke kuil itu. Apa lagi ketika dia mendapat kenyataan bahwa siapa pun juga, baik dia anggota Siauw-lim-pai atau pun orang luar, tanpa ijin dari ketua sendiri dilarang keras memasuki dua tempat, pertama adalah kamar Ruang Kesadaran yang pintunya selalu tertutup dan kabarnya ketua sendiri tak berani mengusiknya, dan ke dua adalah gudang pusaka yang hanya jarang-jarang dibuka oleh ketua sendiri untuk mengambil atau menyimpan sesuatu. Hilanglah harapannya untuk dapat berguru kepada Tiong Pek Hosiang yang telah belasan tahun lamanya bertapa di dalam kamar itu!

Sebulan telah lewat. Malam itu gelap dan sunyi. Agaknya semua hwesio telah tidur pulas, kecuali tentu saja mereka yang bertugas jaga. Akan tetapi Kun Liong tak dapat tidur. Dia telah membuang waktu sia-sia selama sebulan dan dia sudah mengambil keputusan tetap untuk mencoba menghadap Tiong Pek Hosiang, apa pun juga yang menjadi risikonya.

Ia mendengar bahwa siapa berani melanggar dua larangan itu akan dihukum mati. Biarlah bila dia ketahuan dan dihukum mati. Biarlah jika orang-orang yang sudah menjadi hwesio, berarti memasuki penghidupan suci masih mau menghukum mati orang!

Kalau dalam hal ini dia gagal, besok pagi dia akan minggat dari tempat ini. Hal ini mudah dilakukan karena tugasnya sebagai pembantu tukang kebun memang memungkinkan dia untuk keluar dari pintu gerbang, membersihkan halaman di luar pintu gerbang.

Menjelang tengah malam, setelah keadaan sunyi benar, dengan amat hati-hati Kun Liong keluar dari kamarnya. Dua orang hwesio kecil yang menjadi kawannya sekamar sudah tidur meringkuk di bawah selimut karena malam itu dingin sekali, juga di luar penuh kabut sehingga malam bertambah gelap.

Karena telah hafal akan tempat-tempat penjagaan, Kun Liong dapat menyelinap ke dekat dua kamar terlarang yang letaknya berdekatan itu. Kamar pusaka dan kamar pertapaan Tiong Pek Hosiang. Dia tahu bahwa seperti biasa, tentu ada empat orang hwesio penjaga di depan dan belakang kamar pusaka itu, maka dia sudah mempunyai rencana untuk menyelinap dan menghampiri Ruang Kesadaran dari samping sehingga tidak tampak oleh keempat orang hwesio penjaga. Dia hendak memasuki kamar itu melalui jendela yang selalu tertutup pula.

Akan tetapi ketika dia menyelinap di balik tembok dan mengintai untuk melihat dua orang penjaga di depan kamar pusaka, dia terbelalak kaget melihat dua orang hwesio penjaga itu menggeletak tak bergerak! Tidurkah mereka? Tidak mungkin!

Tertidur di waktu menjaga kamar pusaka bisa mendapat hukuman yang amat berat! Andai kata tertidur, masa dua-duanya? Tentu ada apa-apa yang tidak beres, pikirnya.

Dia lalu menyelinap dengan hati-hati sekali, memutari dua kamar itu dan mengintai untuk melihat dua penjaga yang biasanya duduk di sebelah belakang kamar pusaka. Hampir dia berseru heran dan kaget ketika melihat bahwa kedua orang hwesio ini pun keadaannya sama dengan para penjaga di depan. Tertidur! Atau lebih tepat lagi, menggeletak di lantai seperti orang tidur!

Musuh! Dia teringat akan ucapan kepala penjaga akan kekhawatiran mereka ada musuh menyelundup. Apakah malam ini ada musuh Siauw-lim-pai yang menyelundup masuk ke Siauw-lim-pai? Kun Liong lalu menghampiri kamar pusaka. Terdengar suara perlahan dan dia melihat jendela kamar pusaka sudah terbuka, dan ada cahaya penerangan menyorot dari dalam.

Cepat namun hati-hati sekali Kun Liong menghampiri jendela itu dan mengintai. Tak salah apa yang dikhawatirkannya! Ada tiga orang laki-laki berada di dalam kamar pusaka! Tiga orang lelaki yang membongkar lemari dan sedang mengumpulkan benda-benda pusaka, dibuntal kain dan muka mereka memakai kain penutup.

"Maling...!" Kun Liong berteriak sambil meloncat ke dalam kamar pusaka melalui jendela yang terbuka.

Tiga orang itu terkejut, melepaskan buntalan, bahkan pemimpin mereka yang walau pun mukanya ditutup sebagian dengan sapu tangan namun tampak sebagai seorang pemuda tampan, melepaskan pula buntalannya.

"Robohkan dia, hwesio cilik itu!" katanya kepada seorang di antara mereka.

Orang ini menerjang ke depan dengan totokan yang lihai sekali. Akan tetapi kini Kun Liong telah siap karena dia berhadapan dengan maling-maling yang dianggapnya sangat berbahaya. Melihat totokan ini, dia memasang tubuhnya dan mengerahkan sinkang-nya, menggoyang sedikit tubuhnya sehingga totokan itu meleset mengenai tubuh yang kebal, sedangkan dia sendiri segera membarengi dengan pukulan dari jurus Ilmu Silat Pat-hong Sin-kun, mendorong perut orang itu. Maksudnya hanya mendorong, akan tetapi karena sinkang-nya masih tersalur, orang yang didorong perutnya itu mengeluarkan suara…

"Hekkkhh!" dan roboh pingsan.

"Crattt! Augghh...!"

Kun Liong terhuyung-huyung ketika ada sebuah benda merah menancap di leher kirinya. Pandang matanya gelap dan dia terjungkal keluar dari jendela kamar. Sebelum pingsan dia melihat banyak bayangan hwesio-hwesio berkelebatan masuk ke dalam kamar itu.

Dan memang teriakannya tadi telah menggegerkan Siauw-lim-si. Thian Lee Hwesio, sute Thian Kek Hwesio atau wakil Ketua Siauw-lim-si, memimpin sendiri para muridnya menuju ke kamar pusaka.

Akan tetapi, pemuda yang memimpin pencurian itu lihai bukan main. Dia menyebar jarum merahnya, mencelat ke atas genteng dengan membobol langit-langit kamar itu dan meski pun dikejar, dia sempat menghilang keluar dari Siauw-lim-si. Anak buahnya yang seorang lagi dapat dirobohkan dan ditangkap, bersama seorang lainnya yang telah dibikin pingsan oleh Kun Liong dengan dorongan pada perutnya.

Thian Lee Hwesio merasa cemas melihat buntalan-buntalan yang berserakan. Kalau saja tidak ketahuan, tentu banyak pusaka penting Siauw-lim-pai tercuri. Dia cepat melakukan pemeriksaan dan ternyata ada dua buah benda pusaka yang hilang, agaknya terbawa oleh pencuri yang lihai tadi. Kedua benda itu adalah sebuah pedang dan sebuah hio-louw (tempat abu hio) yang amat berharga karena merupakan pusaka kuno dari Siauw-lim-si! Akan tetapi masih untung bahwa bukan semua yang berada di buntalan terbawa. Hal ini berkat kewaspadaan Liong-ji, karena empat orang hwesio telah tewas!

"Liong-ji, ke mana dia? Suruh dia ke sini!" Thian Lee Hwesio berkata.

Para hwesio mencari-cari, namun mereka tidak dapat menemukan Kun Liong. Thian Lee Hwesio sendiri turut pergi mencari, namun hasilnya kosong sehingga dia termangu dan terheran-heran penuh kekhawatiran. Apakah memergoki maling, lalu pimpinan maling itu menaruh dendam dan membawa lari anak itu? Dengan hati cemas dia lalu menghadap suheng-nya, Thian Kek Hwesio Ketua Siauw-lim-pai untuk membuat laporan.

Ke manakah sebenarnya Kun Liong pergi? Tentu saja pemuda itu tidak dapat pergi ke mana-mana kalau tidak ada yang membawanya karena dia tadi terguling pingsan terkena jarum merah pemuda berkedok sapu tangan yang lihai tadi. Dia terhuyung ke belakang dan terjungkal keluar dari jendela kamar pusaka.

Pada saat siuman kembali, Kun Liong mendapatkan dirinya telah berada di dalam sebuah kamar yang luas dan kamar ini kosong tak ada perabotnya, hanya lantainya bersih sekali, ditilami permadani kuning dan di atas permadani itu duduk bersila seorang kakek yang sangat tua, dengan rambut putih dan jenggot panjang. Lehernya masih terasa sakit dan saat dia meraba lehernya, luka di lehernya telah tertutup obat. Mengertilah dia bahwa dia telah tertolong oleh kakek ini.

Otaknya yang cerdik cepat bekerja. Kakek ini sudah tua sekali, dan bukan hwesio karena rambutnya panjang. Siapa lagi yang dapat menolong dirinya seperti itu selagi dia berada dalam kuil Siauw-lim-si tanpa diketahui orang? Cepat dia bangkit dan berlutut di depan kakek itu sambil berkata,

"Sukong (Kakek Guru), teecu (murid) Yap Kun Liong menghaturkan banyak terima kasih atas pertolongan Sukong dan membawa teecu ke dalam Ruang Kesadaran ini."

Kakek itu tercengang dan mengelus jenggotnya. "Aihhh…, bagaimana engkau bisa tahu bahwa kau berada di Ruang Kesadaran? Tahukah kau siapa aku?"

"Sukong adalah Tiong Pek Hosiang..."

"Hemmm, anak cerdik. Agaknya engkau bukan kacung biasa di kuil. Aku melihat engkau berindap-indap bagaikan maling, tetapi malah memergoki maling-maling itu. Kelakuanmu aneh, aku menolongmu selagi kau pingsan akan tetapi kau dapat mengenalku. Siapakah engkau dan mengapa kau menyebut aku kakek guru?"

"Harap Sukong sudi mengampunkan teecu. Sebenarnya karena ingin menghadap Sukong sematalah maka teecu berani melakukan kelancangan serta membohong kepada para losuhu. Teecu bernama Yap Kun Liong, ayah teecu Yap Cong San murid Sukong..."

"Aha! Kiranya engkau anak Cong San? Engkau menyamar sebagai kacung karena ingin bertemu denganku? Apakah kau disuruh oleh ayahmu?"

"Tidak, Sukong. Teecu menghadap Sukong untuk berguru kepada Sukong."

Kakek itu tersenyum lebar. "Wah, agaknya engkau nakal sekali, sampai-sampai rambut di kepalamu habis karena racun. Mengapa engkau ingin berguru kepadaku? Bukankah ayah dan ibumu memiliki kepandaian juga, apa lagi engkau dapat minta petunjuk supek-mu Cia Keng Hong?"

"Teecu tidak berani minta petunjuk Supek! Teecu sudah dibimbing selama lima tahun..." Tiba-tiba dia teringat akan janjinya kepada Bun Hwat Tosu, maka cepat dia menyambung. "Maaf, teecu tidak dapat menyebutkan namanya karena sudah berjanji."

"Ha-ha-ha, Bun Hwat Tosu sungguh tua bangka yang aneh. Mengapa justru kepadamu dia menurunkan ilmunya?"

"Aihhh...! Teecu tidak pernah menyebut nama beliau...!"

"Jangan khawatir, engkau tidak melanggar janji. Dari gerakanmu ketika kau merobohkan seorang maling, ada dasar gerakan rahasia dari Hoa-san-pai. Dahulu dia pernah berkata kepadaku hendak menciptakan sebuah ilmu silat yang mempunyai dasar delapan penjuru. Benarkah?"

"Sukong sungguh waspada. Memang demikianlah. Selama lima tahun teecu sudah diajar oleh beliau dan diberi ilmu silat tongkat Siang-liong-pang serta ilmu silat tangan kosong Pat-hong Sin-kun, juga latihan tenaga sinkang yang mempunyai daya membetot."

"Ha-ha-ha! Tentu untuk melawan Thi-khi I-beng, bukan?"

"Ehh...! Sukong tahu juga?"

"Kakek tua Hoa-san-pai itu terlalu jujur sehingga segalanya dapat dilihat dari perubahan mukanya. Dahulu dia merasa penasaran sekali kenapa sampai tidak ada ilmu yang dapat menandingi Thi-khi I-beng, maka kalau dia menurunkan sinkang kepadamu dengan daya membetot, tentu dia tujukan untuk melawan Thi-khi I-beng."

Kun Liong mengangguk-angguk sampai dahinya membentur lantai. "Mohon petunjuk dari Sukong."

"Baiklah. Bun Hwat Tosu yang tidak mempunyai hubungan apa-apa denganmu telah rela melatihmu selama lima tahun. Engkau yang masih putera muridku yang paling baik, tentu saja berhak mewarisi ilmu-ilmuku, terutama ilmu yang selama ini kuciptakan di sini. Apa artinya ilmu itu kalau aku mati? Tak dapat kubawa, maka biar engkau yang mewarisinya."

Bukan main girangnya hati Kun Liong. Mulai hari itu, di luar pengetahuan para penghuni kuil, Kun Liong mendapat gemblengan ilmu silat tinggi dari kakek sakti itu. Kenapa hal ini sampai tidak ketahuan oleh para penghuni kuil? Karena memang tidak ada seorang pun hwesio yang berani memasuki ruangan itu, dan setiap hari seorang hwesio pelayan kecil mengantar makanan dan minuman serta semua keperluan Tiong Pek Hosiang, kemudian meletakkannya dengan penuh hormat di depan pintu ruangan yang tertutup lalu pergi lagi. Ransum makanan dan minuman ini cukup untuk makan minum mereka berdua, apa lagi karena kakek itu jarang sekali makan…..

********************

Sementara itu, dua orang tawanan diseret ke depan kaki Ketua Siauw-lim-pai dan dengan suara halus Thian Kek Hwesio, Ketua Siauw-lim-pai, lalu berkata, "Siapakah ji-wi (kalian berdua) dan siapakah pula pemimpin kalian yang sudah mencuri pedang dan bokor kami? Kalian dari golongan mana?"

Biar pun Thian Kek Hwesio bicara dengan suara halus, namun mendatangkan rasa takut dan ngeri di dalam hati dua orang maling itu karena sikapnya memang angker sekali, apa lagi dengan tubuh yang tinggi besar bermuka hitam dan matanya lebar. Mereka mencoba menggerakkan kaki tangan, namun sia-sia belaka karena tubuh mereka sudah lemas dan lumpuh oleh totokan lihai.

"Bebaskan totokan mereka," kata pula Ketua Siauw-lim-pai itu kepada sute-nya, Thian Lee Hwesio yang menggerakkan tangan dan ujung lengannya yang panjang menyambar dua kali ke arah punggung kedua orang tawanan. Mereka mengeluh dan dapat bergerak kembali.

"Nah, sekarang katakan siapa yang menyuruh kalian. Kalau kalian suka berterus terang, tentu pinceng akan memaafkan kalian dan membolehkan kalian pergi dengan aman."

Dua orang itu kembali mengeluh, kemudian saling pandang dan tangan mereka merogoh saku dalam baju. Semua tokoh Siauw-lim-pai yang hadir di situ sudah siap untuk menjaga diri kalau-kalau kedua orang tawanan itu hendak menyerang mereka, atau bersiap untuk menangkapnya kembali kalau mereka mencoba untuk melarikan diri. Akan tetapi, tiba-tiba saja dua orang itu mencabut lagi tangan mereka, meraba leher lantas keduanya terguling, berkelojotan dan mati.

Thian Lee Hwesio meloncat mendekat, memeriksa leher mereka yang menjadi bengkak menghijau. Dengan ails berkerut hwesio tua ini mengeluarkan sapu tangan dan mencabut benda kecil dari leher kedua orang itu, lalu berkata, "Omitohud... kalau tidak salah ini duri kembang hijau...!"

Dia melangkah maju dan memperlihatkan dua batang duri itu kepada suheng-nya, Ketua Siauw-lim-pai. Thian Kek Hwesio memeriksanya sebentar, lalu mengangguk-angguk dan berkata, "Engkau benar, Sute. Tentu inilah duri kembang hijau dan kembang itu hanya tumbuh di tepi Kwi-ouw (Telaga Setan)."

"Kalau begitu mereka adalah orang-orang Kwi-eng-pai (Perkumpulan Bayangan Hantu)!" Thian Lee Hwesio berseru kaget. "Kita harus segera mengejarnya ke sana dan menuntut kepada ketuanya!"

Pada saat itu pula, Thian Kek Hwesio duduk memejamkan matanya dan sikapnya penuh perhatian sehingga sute-nya, Thian Lee Hwesio memandang heran dan tidak mendesak. Memang pada saat itu Thian Kek Hwesio sedang mencurahkan perhatian terhadap suara bisikan halus yang memasuki telinganya seperti hembusan angin lalu, suara yang amat dikenalnya karena suara itu adalah suara gurunya, suara Tiong Pek Hosiang!

"Kacung itu kini menjadi sute kalian yang termuda, dan biarlah urusan pusaka hilang kelak dia yang akan mencarinya."

Thian Kek Hwesio membuka matanya dan berkata, "Sute, tidak usah kita menyusul ke sana. Kelak akan ada orang yang bertugas mengambilnya kembali. Sekarang harap Sute menyuruh para murid memakamkan dua jenazah ini sebagaimana mestinya."

Thian Lee Hwesio memandang dengan penasaran, akan tetapi tentu saja dia tidak berani membantah kehendak ketuanya, mengangguk lantas mengundurkan diri untuk memimpin para anak buah Siauw-lim-pai untuk mengubur dua jenazah maling itu. Diam-diam hwesio tua ini merasa tidak puas dan penasaran sekali.

Boleh jadi Kwi-eng-pai adalah perkumpulan kaum sesat yang amat terkenal dan ditakuti, apa lagi ketuanya yang berjuluk Kwi-eng Niocu (Nona Bayangan Hantu) yang kabarnya menjadi seorang di antara datuk-datuk kaum hitam di waktu itu. Akan tetapi Siauw-lim-pai juga sebuah perkumpulan bersih yang sangat besar. Kalau sampai terdengar oleh dunia kang-ouw betapa Siauw-lim-pai dihina, pusakanya dicuri oleh orang dari Kwi-eng-pai tanpa berani membalas atau mencari, bukankah Siauw-lim-pai akan ditertawakan orang-orang dan para tokoh Siauw-lim-pai dianggap penakut?

Betapa pun juga, Thian Lee Hwesio masih tidak berani membantah kehendak suheng-nya yang menjadi ketua, dan hanya menanti kesempatan baik untuk merebut kembali pedang dan hio-louw pusaka Siauw-lim-pai yang dicuri orang itu. Ada pun Thian Kek Hwesio yang maklum bahwa kini di dunia kang-ouw timbul pertentangan dan persaingan antara mereka yang pro dan anti pemerintah, bersikap bijaksana.

Tidak saja dia hendak mentaati pesan gurunya yang berdiam di Ruangan Kesadaran, dan yang kini menggembleng sute-nya yang termuda, Si Bekas Kacung itu, akan tetapi juga Ketua Siauw-lim-pai yang amat bijaksana ini tidak mau melibatkan Siauw-lim-pai ke dalam gelanggang pertentangan hanya karena dua buah pusaka saja. Kalau dia atau Thian Lee Hwesio atau para tokoh Siauw-lim-pai yang lain maju menyerbu Kwi-eng-pai, tentu berarti melibatkan Siauw-lim-pai ke dalam pertentangan. Sebaliknya, jika kacung yang sekarang digembleng suhu-nya itu yang kelak menyerbu, karena bocah itu bukan menjadi anggota resmi Siauw-lim-pai dan tak ada hubungannya dengan Siauw-lim-pai, tentu Siauw-lim-pai akan bebas dari libatan permusuhan…..

********************

Lima tahun lewat dengan sangat cepatnya. Di dalam Ruang Kesadaran yang terdapat di bagian belakang kompleks bangunan Kuil Siauw-lim-si terasing dari dunia luar, Kun Liong digembleng setiap hari oleh Tiong Pek Hosiang yang sudah menjadi makin tua. Selama lima tahun itu Kun Liong hanya menerima dua macam ilmu yang amat tinggi, yaitu Ilmu Silat Im-yang Sin-kun yang dapat dipergunakan untuk main silat tangan kosong mau pun dengan sepasang senjata apa saja, dan ilmu sinkang yang disebut Pek-in-ciang (Tangan Awan Putih), sinkang yang amat lembut namun mempunyai kekuatan yang amat dahsyat.

Siang malam Kun Liong terus berlatih. Tubuhnya menjadi kurus akibat kurang makan dan mukanya agak pucat karena tak pernah kenyang menerima sinar matahari, tapi matanya kini mengeluarkan cahaya yang aneh dan tajam menusuk seolah-olah menembus jantung orang yang dipandangnya. Yang tidak pernah berubah adalah kepalanya. Tetap gundul, tidak ada sehelai pun rambutnya tumbuh!

Dia sudah menjadi seorang pemuda dewasa berusia dua puluh tahun, tampan wajahnya, amat sederhana gerak-geriknya, dan yang paling menarik adalah kepala gundulnya. Jika melihat kepalanya, semua orang tentu akan menganggapnya sebagai seorang hwesio, akan tetapi pakaiannya sama sekali bukan pakaian hwesio.

Pada suatu pagi, Tiong Pek Hosiang berkata kepada Kun Liong yang sudah menghadap dan berlutut di depannya, "Kun Liong, tibalah saatnya engkau keluar dari ruangan ini dan beritahukan kepada Ketua Siauw-lim-pai agar menyediakan sebuah peti mati sederhana untukku, dan kelak membakar jenazahku di puncak bukit belakang kuil tanpa upacara, tak perlu mengundang orang-orang kang-ouw."

"Sukong...!" Kun Liong terkejut bukan kepalang mendengar pesan kakek itu, memandang terbelalak dan mukanya pucat.

Kakek itu tersenyum lebar. "Mengapa, Kun Liong? Mengapa mendengar aku akan mati engkau menjadi terkejut dan mukamu pucat seperti orang takut?"

"Sukong, siapakah yang tidak ngeri dan takut menghadapi kematian?"

"Mengapa timbul takut, Kun Liong?"

"Karena kita tidak mengetahui apa dan bagaimana kematian itu, Sukong. Kita menjadi ngeri membayangkan apa yang akan terjadi dengan kita."

"Ha-ha-ha, benarkah demikian? Kalau kematian itu sesuatu yang tidak kita kenal, mana mungkin kita menjadi takut akan sesuatu yang tidak kita ketahui? Takut baru timbul kalau kita mengetahui sesuatu akan kematian yang kita ketahui dari dongeng nenek moyang kita, dari tahyul, mengenal siksaan-siksaan setelah mati, semua itulah yang menimbulkan rasa takut, bayangan kita sendiri yang timbul dari dongeng-dongeng itu."

"Tidak hanya itu, Sukong. Teecu sendiri tidak percaya akan adanya dongeng mengenai neraka, akan tetapi teecu merasa ngeri kalau membayangkan kematian."

"Hemmm, kalau begitu, yang kau takutkan bukanlah kematian itu sendiri, melainkan kau takut untuk berpisah dari hidup yang kau kenal ini, takut untuk meninggalkan segala yang kau kenal di dunia kehidupan ini. Andai kata orang-orang yang kau sayang, benda-benda yang kau sukai di dunia ini, dapat bersamamu pergi ke kematian, agaknya takut itu pun akan lenyap. Bukankah begitu?"

Kun Liong berpikir dan mengangguk, "Agaknya teecu tidak akan takut lagi, Sukong."

"Jelas bahwa orang takut akan kematian karena sesungguhnya dia takut akan berpisah dari isi dunia kehidupan yang disukainya. Bagi seseorang yang sudah dapat mematikan akunya sewaktu hidup, tiada perubahan keadaan antara hidup dan mati. Yang berbeda hanya sebutannya saja karena bagi dia yang tiada lagi ber-aku, setiap saat adalah sama, apa pun yang akan terjadi dengan dia. Mengertikah engkau, Kun Liong?"

Kun Liong mengangguk-anggukkan kepalanya yang gundul, akan tetapi mulutnya berkata terus terang, "Teecu mengerti, akan tetapi masih sukar untuk menyelami wejangan ini, Sukong. Akan tetapi, jika benar Sukong hendak pergi meninggalkan kehidupan ini, maka perkenankanlah teecu merawat Sukong sampai saat terakhir."

"Jangan, Kun Liong. Sudah tiba waktunya engkau keluar dari sini, biarlah aku melewatkan sisa waktuku yang tinggal beberapa hari lagi ini seorang diri saja di sini. Nah, sekarang keluarlah dan sampaikan pesanku kepada Thian Kek Hwesio. Pergilah!" Kakek itu sudah memejamkan matanya kembali sambil duduk bersila.

Kun Liong merasa terharu juga. Selama lima tahun dia tidak pernah berpisah dari kakek itu dan setiap hari menerima gemblengan-gemblengan yang amat hebat. Dia berlutut dan membentur-benturkan dahinya di atas lantai di depan kaki sukong-nya itu, menitikkan air mata, kemudian sambil menarik napas panjang dia pun membuka daun pintu, keluar dari ruangan itu, menutupkan lagi dari luar dan melangkah ke ruangan dalam.

Dua orang hwesio penjaga terkejut sekali melihat ada seorang pemuda gundul keluar dari Ruangan Kesadaran. Cepat mereka melompat menghampiri dan siap untuk menerjang, akan tetapi mereka melongo ketika mengenal Kun Liong, apa lagi karena Kun Liong cepat menjura kepada mereka dan berkata,

"Ji-wi Suhu apakah sudah lupa kepada Liong-ji? Aku mendapat pesan dari Sukong untuk disampaikan kepada Thian Kek-losuhu."

"Kau... kau kacung Liong-ji...? Bagaimana bisa keluar dari Ruangan Kesadaran?" Salah seorang di antara dua hwesio itu bertanya, membelalakkan kedua matanya dan hampir tidak percaya.

"Panjang ceritanya, akan tetapi Thian Kek Losuhu tentu mengerti, karena itu harap bawa aku menghadap beliau."

Dua orang hwesio itu saling pandang, kemudian mereka mengiringkan Kun Liong pergi menghadap Thian Kek Hwesio yang tentu saja tidak kaget melihat munculnya Kun Liong. Kakek tinggi besar ini memandang penuh kagum, juga diam-diam dia girang mempunyai seorang sute (adik seperguruan) begini muda dan gagah.

"Liong-ji, engkau baru keluar sekarang?" Ketua Siauw-lim-pai itu menyambut Kun Liong dengan kata-kata ini.

Kun Liong segera berlutut di depan kakek itu dan berkata, "Pertama-tama teecu mohon maaf sebanyaknya bahwa teecu telah membohong kepada Locianpwe. Teecu sebetulnya she Yap bernama Kun Liong, teecu adalah putera tunggal Ayah Yap Cong San di kota Leng-kok."

Para hwesio yang kebetulan berada di kamar itu terbelalak kaget, akan tetapi Thian Kek Hwesio tersenyum dan mengangguk-angguk. "Pengakuanmu ini semakin menggirangkan hatiku, Yap-sicu karena berarti bahwa Sicu adalah orang sendiri. Tentu saja pinceng (aku) memaafkan hal itu."

"Terima kasih atas kebijaksanaan Locianpwe. Dan hal ke dua yang perlu teecu laporkan adalah bahwa selama lima tahun ini, teecu berada di dalam Ruangan Kesadaran bersama Sukong."

"Hal itu pun pinceng sudah tahu, Yap-sicu, dan pinceng merasa girang sekali mendengar bahwa Suhu berkenan menurunkan ilmunya kepada seorang pilihan seperti Sicu. Mudah-mudahan saja Sicu dapat menggunakan pelajaran dari Suhu itu untuk membela keadilan dan kebenaran."

"Tentu saja teecu akan memperhatikan pesan Locianpwe. Dan laporan ke tiga dari teecu adalah pesan dari Sukong bahwa Sukong minta supaya Locianpwe suka menyediakan sebuah peti mati yang sederhana untuk Sukong dan kelak Sukong minta agar jenazahnya diperabukan di puncak bukit di belakang kuil tanpa upacara dan tidak perlu memberi tahu orang-orang kang-ouw."

"Omitohud...!" Thian Kek Hwesio merangkapkan kedua tangan ke depan dada kemudian memejamkan kedua matanya. "Pinceng akan melaksanakan semua perintah Suhu."

"Sekarang teecu mohon diri dari Locianpwe, akan meninggalkan Siauw-lim-si," kata Kun Liong sambil memberi hormat.

"Nanti dulu, Sicu. Tidakkah Suhu memerintahkan sesuatu untuk Sicu kerjakan?"

"Tidak, Locianpwe."

"Jika begitu, agaknya Suhu menghendaki agar pinceng yang minta bantuan Sicu. Dahulu ketika Suhu memberi tahu kepada pinceng bahwa Sicu diambilnya sebagai murid, Suhu mengatakan bahwa Sicu-lah yang kelak akan ditugaskan untuk mencari kembali dua buah pusaka yang dahulu dicuri oleh maling-maling itu. Karena itu, kini pinceng mengharapkan bantuan Sicu untuk mendapatkan kembali dua buah pusaka yang dicuri itu."

"Ahh, jadi maling-maling itu berhasil membawa pergi dua buah pusaka? Pusaka apakah yang dibawanya dan siapakah maling itu, Locianpwe?"

"Yang diambil adalah sebatang pedang Liong-bwe-kiam (Pedang Ekor Naga) dan sebuah hio-louw emas berukirkan burung hong bermata kemala. Ada pun pencurinya, kalau tidak salah dugaan kami adalah tokoh-tokoh dari Kwi-eng-pai yang berpusat di pulau di tengah-tengah Telaga Kwi-ouw (Telaga Hantu)." Hwesio tua itu lalu menceritakan mengenai dua orang anggota maling yang tertangkap dan betapa mereka membunuh diri dengan duri kembang hijau sehingga tidak sempat mengaku.

"Yang mengkhawatirkan hati kami adalah Sute Thian Lee Hwesio. Suhu telah memesan bahwa Sicu yang akan mencari kembali pusaka-pusaka yang tercuri, akan tetapi Sute tak sabar lagi dan dua bulan yang lalu Sute Thian Lee Hwesio secara diam-diam sudah meninggalkan kuil dan menurut para murid, katanya Sute menyatakan bahwa dia pergi untuk merampas kembali pusaka-pusaka itu. Oleh karena itu, pinceng harap sukalah Sicu membantu dan menyusul Sute ke Kwi-ouw untuk membantunya mengambil kembali dua pusaka yang tercuri."

"Baikiah, Locianpwe. Teecu akan berusaha sedapat mungkin untuk mendapatkan kembali dua pusaka itu."

Setelah Thian Kek Hwesio memberi petunjuk kepada Kun Liong di mana letaknya Telaga Hantu, maka Kun Liong pun berangkat meninggalkan kuil itu. Setelah berada di luar dan melihat pemandangan alam yang amat indah, terlupalah olehnya akan hal-hal yang tidak menyenangkan, akan kematian sukong-nya, akan tugas berat yang dipikulnya, dan yang terasa olehnya hanyalah kelegaan hati yang membuat dadanya seperti melembung dan ringan.

Betapa indahnya pemandangan alam yang telah dipisahkan darinya selama lima tahun! Keluar dari Ruangan Kesadaran yang hanya berupa empat dinding tembok itu kemudian memasuki dunia luas ini, dia seolah-olah seperti hidup lagi, seperti memasuki dunia baru! Hawa yang amat sejuk segar terasa, nikmat dan sedap sekali memasuki paru-parunya, membawa keharuman bau tanah, rumput, pohon dan kembang-kembang.

Ingin dia bernyanyi-nyanyi, begitu senang dan gembira hatinya. Begini agaknya perasaan seekor burung yang dilepas dari kurungan selama bertahun-tahun…..

********************

Traktiran: (7891767327 | BCA A.n Nur Ichsan) / (1740006632558 | Mandiri A.n Nur Ichsan) / (489801022888538 | BRI A.n Nur Ichsan) ataupun bisa melalui via Trakteer yang ada dibawah

DONASI VIA TRAKTEER Bagi para cianpwe yang mau donasi untuk biaya operasional Cerita Silat IndoMandarin dipersilahkan klik tombol hati merah disamping :)

Posting Komentar