Amanat Marga (Hu Hua Ling) Jilid 31 (Tamat)

Di ruangan tamu sudah berderet meja dengan hidangan dan arak. Orang berkedok terus duduk di tempat tuan rumah dan menyilakan duduk para tamunya. Kawanan pengemis itu pun tidak sungkan, cuma mereka menjadi ragu-ragu, jangan-jangan di dalam makanan dan arak itu diberi obat racun.

Terdengar orang berkedok mengangkat cawan araknya dan berseru, "Sungguh beruntung malam ini dapat minum bersama dengan para kesatria Kai-pang. Sebagai penghormatanku, marilah kita habiskan satu cawan!"

"Nanti dulu," kata Ih Hong tiba-tiba. "Kedatangan kami ini bukan cari makan dan minum, akan tetapi ingin kutanya, di mana adik perempuanku yang ditawan anak buah Swe-siansing? Bila-mana nasib adikku dan Tik Yang sudah jelas, belum lagi terlambat untuk mengiringi makan minum denganmu."

"Maksud Ih-heng hendak mengajak pulang nona Ih?" tanya orang berkedok.

"Memang begitulah," jawab Ih Hong.

Sembari menuang arak lagi orang berkedok berkata, "Dan bila nona Ih tidak mau?"

"Omong kosong!" bentak Ih Hong aseran. "Sebelum berhadapan, dari mana kau tahu adikku tidak mau pulang?"

Orang berkedok memandangnya sekejap, mendadak ia terbahak-bahak, "Haha, kukira kesatria Kai-pang adalah tokoh gagah perwira, namun hidangan yang sengaja kusiapkan ternyata belum lagi disentuh, sebaliknya urusan kecil yang dipersoalkan."

Tiba-tiba Song Cing terkekeh, "Hehe, memangnya kau kira kami tidak berani makan minum suguhanmu?" katanya menjengek.

Segera ia angkat cawan dan menenggak habis isinya. Melihat pemimpinnya sudah minum, jago pengemis yang lain segera ikut minum. Hanya Ih Hong saja berseru pula, "Bagiku yang penting harus segera kau bebaskan adikku, sebelum itu aku tidak ada selera untuk makan minum."

"Apa susahnya jika ingin melihat adikmu?" ujar orang berkedok. Mendadak ia tepuk tangan dan berseru, "Silakan nona Ih menemui tamu!"

Bi Pek-hiang mengiyakan dengan hormat dan menuju ke ruangan belakang. Sejenak kemudian terdengarlah suara gemerincing perhiasan orang perempuan, Ih Loh tampak melangkah ke luar dengan lemah gemulai. Wajahnya kelihatan cantik bercahaya, sedikit pun tidak ada tanda tersiksa sebagai tawanan.

Lega hati Ih Hong. Segera ia menyapa, "Adik Loh!"

Ih Loh mengerlingnya sekejap, namun tidak memperlihatkan rasa girang sebagaimana layaknya kalau adik bertemu dengan kakak setelah lama berpisah, ia malah mendekat ke samping si orang berkedok dan tersenyum manis padanya.

Kawanan pengemis lama melengak, bahkan Ih Hong juga terkejut.

"Adik Loh, masa tidak... tidak kau kenal lagi kakak sendiri?" kata Ih Hong dengan suara gemetar.

"Mana mungkin aku tidak kenal kakak lagi?" ucap Ih Loh dengan tertawa.

Rada lega hati Ih Hong. "Sekarang kakak datang untuk membawamu pulang," ujarnya.

"Aku cukup senang tinggal di sini, tidak perlu lagi kakak susah payah membawaku pulang jauh ke utara sana," jawab Ih Loh.

"Hah?! Apa engkau sudah gila? Masa engkau tidak ingat lagi kepada rumah dan keluarga kita sendiri?” seru Ih Hong dengan kurang senang.

"Siapa bilang aku gila?" jawab Ih Loh. "Ai... sudahlah, aku masih ada pekerjaan, tak dapat kutemui kakak lagi."

Mendadak Ih Hong membentak, "Adik Loh?!"

Namun Ih Loh terus melangkah pergi tanpa berpaling.

Ih Hong hendak menyusulnya, namun keburu ditahan oleh Song Cing. "Sabar dulu, adik Hong. Tampaknya urusan ini tidak beres, tentu ada sesuatu yang tidak benar,” katanya.

Ih Hong kelihatan lesu. Ia tuding orang berkedok dan mendamprat, "Dengan... dengan obat apa kau cekoki dia sehingga dia kehilangan kesadaran aslinya?"

"Pikirannya cukup jernih, masa terpengaruh obat apa segala?" jawab orang berkedok itu dengan tertawa.

Mendadak Song Cing berseru, "Sungguh orang she Song sangat kagum caramu mengerjai orang sehingga dapat membuat mereka kakak beradik serupa orang asing yang tidak saling kenal lagi. Cuma, orang terang tidak perlu berbuat gelap. Bila-mana Anda seorang kesatria, kenapa tidak membuka kedokmu supaya kami dapat melihat wajah aslimu yang terhormat?"

"Jika kalian berkeras ingin tahu, apa salahnya jika kuperlihatkan?" ucap orang berkedok itu sambil menarik kain kedoknya.

Ketika kawanan pengemis itu melihat jelas wajah orang, mereka sama terkejut.

"Hah, jadi engkau ini Tik... Tik Yang?!" seru Song Cing kaget.

"Betul, memang akulah Tik Yang," jawab orang berkedok itu dengan tertawa.

"Bangsat, kiranya kau manusia berhati binatang ini. Kembalikan adik perempuanku!" teriak Ih Hong dengan kalap, serentak ia menubruk maju dan menyerang.

"Pantas kau pakai kedok segala, kiranya kau bangsat ini!" teriak Song Cing sambil menerjang maju pula.

Akan tetapi Tik Yang tidak menghindar. Mendadak kedua tangannya menahan permukaan meja, maka segera terdengar suara gemuruh, orang berikut kursinya sama anjlok ke bawah sehingga serangan Ih Hong berdua mengenai tempat kosong. Selagi Ih Hong hendak menubruk maju lagi, tahu-tahu bagian yang ambles ke bawah tadi menjeblak ke atas lagi sehingga permukaan lantai rata kembali.

Segera Ih Hong mengangkat sebelah kaki dan menghentak sekuatnya, namun lantai tidak bergeming sedikit pun. Malahan lantas terdengar suara keriat-keriut, dan waktu mereka mendongak, tertampak dari atas menurun jaring baja serupa kurungan, tahu-tahu mereka sudah terkurung.

"Celaka, kita terjebak," seru Song Cing. Ia coba mendobrak kurungan baja itu, namun percuma. Biar pun senjata tajam juga sukar membobolnya, apalagi hanya dengan bertangan kosong.

Bulan sudah condong ke barat. Sesosok bayangan tampak menyelinap ke dalam perkampungan di lereng Lam-san itu. Hanya sekejap saja ia sudah melintasi beberapa deret rumah dan hinggap di wuwungan gedung induk. Di bawah cahaya bulan kelihatan perawakannya yang keras dan wajahnya yang cakap, siapa lagi dia kalau bukan Lamkiong Peng!

Selagi anak muda itu mengawasi sekelilingnya untuk bertindak lebih lanjut, tiba-tiba terdengar suara desir angin, tahu-tahu di belakangnya sudah berdiri seorang lelaki setengah umur berwajah putih, tapi berjubah hitam mulus. Dengan tersenyum orang ini menegur, "Tengah malam buta Anda berkunjung kemari, barangkali ada keperluan yang mendesak?"

´Cayhe Lamkiong Peng adanya, Anda sendiri siapa?" tanya Lamkiong Peng.

Orang bermuka putih itu tampak melengak, "Aha, kiranya Lamkiong-kongcu. Cayhe Bi Pek-hiang, Congkoan perkampungan ini. Sudah lama Cayhe menunggu kedatanganmu di sini atas perintah majikan."

"Siapa majikanmu?" tanya Lamkiong Peng.

"Setelah bertemu tentu Lamkiong-kongcu tahu sendiri." jawab Bi Pek-hiang. "Marilah ikut!"

Lamkiong Peng sudah bertekad akan menyelidiki keadaan perkampungan ini, maka tanpa pikir ia ikut melayang turun ke sebuah ruangan besar yang megah.

"Harap Lamkiong-kongcu menunggu sebentar, segera Cayhe memberi laporan ke dalam," kata Bi Pek-hiang.

Setelah menyilakan Lamkiong Peng duduk, Bi Pek-hiang lalu masuk ke belakang melalui pintu samping. Tidak lama kemudian muncul Tik Yang yang berkedok sutera hitam itu.

"Aha, Lamkiong-heng, selamat bertemu kembali," seru Tik Yang dengan tertawa.

Lamkiong Peng merasa sudah kenal suara orang, tapi dia tidak tahu siapa. "Siapakah Anda?" tanyanya dengan bingung.

"Hah, baru berpisah beberapa hari masa Lamkiong-heng sudah tidak kenal diriku lagi?" sembari bicara Tik Yang terus menanggalkan kedoknya.

Sungguh mimpi pun Lamkiong Peng tidak menyangka orang berkedok ini adalah Tik Yang, tentu saja ia kaget dan juga girang. Ia memburu maju dan menjabat tangan Tik Yang sambil berseru, "Ah, Tik-heng, kiranya engkau adanya!"

Tik Yang menepuk bahu Lamkiong Peng, "Tak kau duga bukan?"

"Ya, sungguh mimpi pun tak terpikir olehku," kata Lamkiong Peng. "Tapi... ai, ada yang tidak benar...."

"Ada apa?" tanya Tik Yang.

Dengan kening bekernyit Lamkiong Peng berkata, "Bukankah Tik-heng bersama nona Ih ditawan Yim Hong-peng? Mengapa mendadak bisa menjadi majikan perkampungan Lam-san ini?"

Tik Yang tersenyum tanpa bicara.

"Dan di manakah nona Ih dan nona Yap?” tanya Lamkiong Peng. "Sesungguhnya apa yang terjadi?"

"Kedua nona itu sedang tidur nyenyak," jawab Tik Yang dengan tertawa. "Perkampungan Lam-san ini sudah menjadi milikku. Kedatangan Lamkiong-heng ini sungguh kebetulan, marilah kita bekerja sama untuk membangun pekerjaan besar."

"Pekerjaan besar apa?" tanya Lamkiong Peng.

"Yaitu melaksanakan rencana sesuai apa yang digariskan oleh Swe-siansing, cara bagaimana merajai dunia bersilatan ini," tutur Tik Yang.

"Apakah engkau sudah gila, Tik-heng? Betul kau sudah masuk ke dalam organisasi Swe-Thian-bang?" tanya Lamkiong Peng dengan emosi.

"Kau tahu aku tidak pernah berdusta," seru Tik Yang.

"Dan bagaimana dengan nona Ih dan nona Yap?” tanya Lamkiong Peng.

"Mereka berdua juga sudah mengikuti jejakku."

"Omong kosong!” bentak Lamkiong Peng. Tapi segera terpikir olehnya, jika orang semacam Tik Yang saja juga rela bekerja bagi Swe Thian-bang. maka anak perempuan semacam Ih Loh dan Yap Man-jing tentu juga sangat mudah mengikuti jejaknya.

Selagi merasa bimbang, tiba-tiba terdengar orang bergelak tertawa, tahu-tahu di ruangan tamu sudah bertambah seseorang. Waktu Lamkiong Peng mengawasi, terlihat orang ini berperawakan pendek kecil, muka penuh berewok, tapi kepalanya sebesar gantang sehingga sangat tidak seimbang dengan tubuhnya yang pendek kecil. Dia memakai baju warna kelabu gelap, sinar matanya mencorong, usianya antara empat puluhan.

Begitu melihat orang ini, air muka Tik Yang dan Bi Pek-hiang sama berubah dan segera mereka memberi hormat sambil menyapa, "Tong-toako!”

Sikap orang yang dipangil Tong-toako itu sangat angkuh. Ia hanya mengangguk saja, lalu mendekati Lamkiong Peng. Melihat sikap angkuh orang, sedang Tik Yang berdua sedemikian hormat padanya, Lamkiong Peng menduga orang tentu tokoh yang berkedudukan tinggi dan berkepandaian lihai.

"Apakah kau ini Lamkiong Peng?" didengarnya orang telah menegurnya.

"Betul, dan siapa nama Anda yang terhormat?" jawab Lamkiong Peng dengan hambar.

"Namaku Tong Goan, sahabat kangouw memberi julukan Soan-hong-tui-hun-kiam (Si Angin Lesus dan Pedang Pengejar Sukma) padaku," jawab orang she Tong itu.

Diam-diam Lamkiong Peng heran dengan apa yang terjadi sehingga Swe Thian-bang mengerahkan tokoh-tokoh andalannya seperti Ko Tiong-hai, Yim Hong-peng dan Tong Goan ini ke daerah Kanglam.

Terdengar Tong Goan berucap pula, "Atas perintah Swe-siansing, Lamkiong-kongcu diharap ikut berkunjung ke markas pusat kami."

"Maaf. Lamkiong Peng merasa terlampau terhormat untuk menerima undangan tersebut," jawab anak muda itu dengan tidak kalah angkuhnya.

Tong Goan tampak kurang senang, "Dengan maksud baik Swe-siansing mengundang dirimu, memangnya engkau berani menolaknya?" katanya.

Sambil membentak Tong Goan melangkah maju, sebelah tangannya terus bergerak mencengkeram. Dengan gesit Lamkiong Peng mengegos ke samping dan balas menghantam. Ketika Tong Goan menangkis....

"Blang!" terjadi adu tenaga pukulan dan keduanya sama tergetar mundur.

"Boleh juga, anak muda!" seru Tong Goan. "Coba sekali lagi!"

Kedua tangan sekaligus didorong ke depan. Lamkiong Peng tahu tenaga dalam orang sangat lihai, ia tidak berani gegabah. Ia pun mengerahkan tenaga dan menangkis.

"Blang!" kembali terjadi adu tenaga dengan dahsyat dan keduanya sama tergetar mundur lagi.

Pertarungan ini membuktikan tenaga dalam kedua orang ternyata sama kuat. Karuan Tong Goan terkesiap, sama sekali tak terduga olehnya seorang anak muda memiliki kekuatan sehebat ini.

"Hm, ternyata Soan-hong-tui-hun-kiam yang termasyhur tidak lebih cuma begini saja," jengek Lamkiong Peng.

"Baik, sekarang boleh kita coba senjata," kata Tong Goan.

"Silakan, " jawab Lamkiong Peng sambil melolos pedang.

Dengan prihatin Tong Goan mengeluarkan sebatang pedang lemas yang panjang dan sempit. Batang pedang berwarna putih, sedang ujung pedang berwarna hitam gelap. Lamkiong Peng tidak berani ayal, ia siap menghadapi musuh dengan penuh perhatian.

Mendadak Tong Goan membentak, pedang disendal sehingga lurus dan langsung ia menusuk lawan. Lamkiong Peng mengegos ke samping, berbareng pedang pusaka Yap-siang-jiu-loh balas menusuk tiga hiat-to penting di bagian dada Tong Goan. Terdengar Tong Goan mendengus sambil mendak ke bawah, pedang berputar dan kembali ia menusuk Koh-cing-hiat di bahu kiri Lamkiong Peng.

Dan begitulah serang menyerang terus berlangsung dengan sama lihainya. Keduanya sama tahu menghadapi lawan tangguh sehingga tidak berani lengah sedikit pun.

Mendadak Tong Goan membentak tertahan, secepat kilat pedang lemas menusuk lagi. Tapi pada saat yang sama Lamkiong Peng juga membentak, sama cepatnya ia pun menusuk.

“Cring!” terdengar suara sekali, lalu kedua pedang seakan-akan lengket menjadi satu.

Tong Goan kelihatan bergirang. Sedikit diangkat, ujung pedang yang hitam gilap tepat mengarah muka Lamkiong Peng. Karuan anak muda itu terkejut. Ia bermaksud menarik kembali pedangnya, tetapi lantaran tenaga kedua orang sembabat sehingga seketika Yap-siang-jiu-loh sukar ditarik.

Sambil menyeringai senang Tong Goan membentak, "Lepas pedang!"

"Belum tentu bisa!" jawab Lamkiong Peng dengan angkuh.

Tapi baru saja ia berucap, ujung pedang lawan yang hitam gilap itu mendadak meletus dan menyambar ke muka Lamkiong Peng, berbareng ada cairan warna biru dan berbau amis muncrat ke mukanya.

Begitu cepat serangan itu sehingga dalam sekejap saja ujung pedang dan cairan berbisa itu sudah menghambur sampai di depan mata Lamkiong Peng. Di sinilah Lamkiong Peng memperlihatkan kemahirannya. Secepat kilat ia mendoyong ke belakang, bahkan kedua kaki beruntun menendang pergelangan tangan lawan. Cairan berbisa muncrat lewat ke sana, terpaksa juga Tong Goan menarik kembali pedangnya. Sambil menggeliat ke samping dapatlah Lamkiong Peng menegak kembali.

Tong Goan hanya tercengang sejenak. Serentak ia membentak dan menubruk maju lagi, pedangnya yang berbentuk aneh segera membacok lagi. Mendadak terdengar Bi Pek-hiang dan Tik Yang juga membentak sambil menerjang maju, serentak mereka pun menyerang.

Dikerubut tiga lawan tangguh, seketika Lamkiong Peng merasa kerepotan. Hanya dalam beberapa jurus saja keringat sudah memenuhi dahinya. Lamkiong Peng menjadi nekat. Sambil menggertak, tangan kiri menghantam Bi Pek-hiang, pedang di tangan kanan terus menyabet sehingga ketiga lawan terdesak mundur. Selagi ketiga orang itu melenggong, Lamkiong Peng lantas mengangkat tinggi pedangnya dengan kedua tangan, dengan sikap tegak beringas ia berteriak.

"Keparat, biarlah hari ini kubereskan kalian"

Tong Goan tidak gentar melihat sikap kalap anak muda itu, maka ia terus menerjang maju lagi, begitu pula Tik Yang dan Bi Pek-hiang serentak juga menyerang. Dengan kedua tangan memegang pedang, sekali bergerak tiga jurus, Lamkiong Peng menahan serbuan ketiga lawan, menyusul lagi sekaligus menyerang tiga kali. Ia keluarkan ilmu pedang Sin-liong-cap-pek-sik yang lihai, sehingga mau tak mau ketiga lawan terdesak mundur lagi dua tindak.

Pada saat itulah mendadak terdengar lagi suara bentakan nyaring orang perempuan, tertampak Yap Man-jing dan Ih Loh menerjang tiba. Sesudah berhadapan, tanpa bicara lagi mereka terus mengerubuti Lamkiong Peng.

“He, nona Yap dan nona Ih, masa kalian tidak kenal lagi padaku?" seru Lamkiong Peng.

"Peduli siapa kau, sekarang kami adalah majikan di Lam-san-piat-yap (Perkampungan Gunung Selatan) sini. Siapa pun dilarang main gila di sini!" seru Ih Loh. Sembari bicara ia terus menghantam pula.

Lamkiong Peng menangkis serangannya sambil berkata, "Kenapa kalian tidak terima penjelasanku?"

"Tidak perlu penjelasan, serahkan nyawamu!" teriak Yap Man-jing sambil menyerang terlebih gencar.

Tik Yang juga tidak tinggal diam, ia pun menubruk maju dan ikut bertempur.

Di bawah kerubutan orang banyak, apalagi oleh kedua nona yang dikenalnya dengan baik, seketika Lamkiong Peng tidak dapat balas menyerang secara ganas, bahkan ingin rnelepaskan diri pun sulit. Terpaksa ia keluarkan kepandaiannya untuk bertahan melulu. Pada saat itu Tong Goan bertiga sudah mengundurkan diri ke dalam, terdengar suara tertawanya yang menusuk telinga.

Sejenak kemudian Lamkiong Peng kembali terdesak ke tengah ruangan. Setelah bertempur sekian lamanya, betapa pun kuat tenaganya, akhirnya ia juga mulai merasa lemas. Ia sudah mandi keringat dan lelah, gerak-geriknya mulai lamban, jelas tidak mampu bertahan lagi....

Di dalam kamar tahanan berlapis baja sana, kawanan pengemis Yu-leng-kun-kai sedang berdaya untuk meloloskan diri, namun tetap tidak menemukan sesuatu jalan. Semuanya cemas dan gelisah. Sekonyong-konyong atap kamar tahanan itu berbunyi keriat-keriut hingga kawanan pengemis saling pandang dengan bingung dan mendongak. Tertampak sepotong papan besi pada langit-langit kamar sedang tersingkap perlahan, dari situ terjulur seutas tali.

Song Ciong terkejut dan bergirang, cepat ia berseru, "Ayo cepat!"

Segera ia mendahului melompat ke atas, tali itu dipegangnya terus dipakai merambat ke atas sehingga dapat menerobos ke luar. Setiba di atas, segera dilihatnya di samping ruang berdiri seorang setengah umur berwajah putih dan berperawakan sedang, mukanya kaku lagi dingin. Song Ciong tidak kenal orang ini, tapi dapat diketahuinya tentu orang inilah yang menolongnya keluar.

Segera Song Ciong memberi hormat dan menyapa, "Banyak terima-kasih atas pertolongan Anda, budi kebaikan ini takkan kami lupakan."

Sementara itu kawanan pengemis berturut-turut sudah melompat ke luar dan berdiri di samping Song Ciong. Ih Hong melangkah maju dan memberi hormat kepada orang itu. "Sungguh Kai-pang berutang budi atas pertolongan Anda, entah bolehkah mengetahui nama Anda yang mulia?” serunya.

Dengan kaku orang itu menjawab, "Aku cuma diminta oleh Thian-ah Totiang untuk menolong kalian. Bila-mana kalian mau berterima-kasih boleh katakan saja kepada dia."

"Thian-ah Totiang?" Ih Hong bergumam dengan heran. "Rasanya kami tidak kenal padanya."

"Aku tidak urus! Kalian kenal dia atau tidak, tujuanku menolong kalian keluar juga ada suatu permintaan," kata orang itu.

"Silakan bicara saja, asalkan kami sanggup tentu akan kami laksanakan," jawab Song Ciong.

"Kalian kenal Lamkiong Peng?"

Song Ciong menggeleng, tapi Ih Hong lantas berkata, "Rasanya pernah kukenal dia."

"Saat ini dia juga terancam bahaya. Hubungannya denganku sangat erat, tapi lantaran kedudukanku pribadi tidak leluasa untuk tampil menolongnya sehingga terpaksa aku minta bantuan tenaga kalian," tutur orang itu. "Mungkin kalian tidak tahu siapa diriku."

"Kami tidak tahu," kata Song Ciong.

"Aku adalah majikan yang sesungguhnya dari Lam-san-piat-yap ini," kata orang itu.

Kejut dan heran kawanan psngemis itu, seketika mereka tidak bersuara.

Dengan serius lelaki setengah umur itu berkata pula, "Aku masih ada urusan penting lain dan tidak dapat tinggal lama di sini, kuharap kalian tidak lupa pada janji kalian."

"Lamkiong Peng berada di mana sekarang?" tanya Ih Hong.

Orang itu mengeluarkan sepucuk surat dan diserahkan kepada Song Ciong. "Saat ini dia sedang bertempur mati-matian di ruangan depan sana, silakan kalian menyusul ke sana dan berikan surat ini kepadanya. Sesudah surat ini dibacanya hendaknya kalian melindungi dia meninggalkan tempat ini. Hanya sekian saja pesanku, urusan selanjutnya diharapkan bantuan kalian sepenuh tenaga," demikian kata orang itu, dan habis berkata ia lantas melayang pergi.

Song Ciong dan Ih Hong saling pandang sskejap. Segera Ih Hong berseru, "Ayo berangkat!" Segera ia mendahului berlari ke ruangan depan.

Dalam pada itu pertarungan di ruangan depan masih berlangsung dengan sengit. Lamkiong Peng sudah mandi keringat dan terdesak ke pojok oleh ketiga pengerubutnya. Sambil membentak Ih Hong langsung menerjang ke tengah kalangan pertempuran. Dengan jurus ‘Hing-sau jian-kun’ atau Menyapu Seribu Prajurit, langsung ia serampang pinggang Tik Yang dengan tongkatnya.

Melihat munculnya kawanan pengemis, tentu saja Tik Yang terkejut dan bingung. Belum sempat dia berpikir, tahu-tahu tongkat bambu Ih Hong sudah menyerampang tiba dengan dahsyatnya sehingga ia terpaksa melompat mundur.

Saat itu Song Ciong juga sudah memburu maju, kontan ia pun serang Yap Man-jing. Seketika daya tekan terhadap Lamkiong Peng menjadi ringan. Begitu mendesak mundur Yap Man-jing, Song Ciong lantas menyodorkan surat itu kepada Lamkiong Peng sambil berseru, "Surat untukmu, terimalah!"

Lamkiong Peng melenggong bingung, tapi diterimanya juga surat itu. Pada saat itu kawanan pengemis juga sudah menyerbu ke dalam, dua di antaranya menerjang Ih Loh, tapi bagian yang diserang mereka hanya tempat yang tidak fatal, paling-paling hanya untuk membuatnya pingsan.

Tong Goan dan Bi Pek-hiang yang telah mengundurkan diri juga kaget demi melihat datangnya kawanan pengemis. Cepat mereka memburu maju lagi menyambut serbuan para pengemis. Pertempuran sengit seketika terjadi di ruangan besar itu. Sejenak kemudian dari luar membanjir tiba juga kawanan lelaki berseragam hitam.

Melihat keadaan tidak menguntungkan, cepat Song Ciong mendesak mundur Tik Yang, berbareng ia berteriak kepada Lamkiong Peng, "Lekas buka dan baca surat itu!"

Meski di tengah ruangan terjadi pertempuran gaduh, namun sementara ini Lamkiong Peng malah tidak mendapatkan lawan. Cepat ia membuka sampul dan membaca surat di tangannya, ternyata isinya berbunyi: ‘Jiwa ibumu terancam bahaya, lekas pergi ke tepi timur Thay-oh dan mencarinya di Liu-im-ceng. Kalau terlambat mungkin bisa gawat, lekas berangkat." Penanda tangan surat itu ialah Ban Tat.

Lamkiong Peng merasa sangsi, tapi tulisannya memang dikenalnya sebagai tulisan tangan Ban Tat. Seketika ia terkesima dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Melihat anak muda itu berdiri mematung, Song Ciong teringat kepada pesan lelaki setengah umur sebelum pergi itu.

Segera Song Ciong membentak, "Apa yang tertulis dalam surat itu? Kenapa engkau merasa sangsi? Inilah saatnya jika harus pergi dari sini!”

"Sia... siapa yang menyerahkan surat ini kepadamu?" tanya Lamkiong Peng.

Sekaligus Song Ciong menyerang tiga kali sehingga Yap Man-jing terdesak mundur. Berbareng mundurnya Man-jing, ia menjawab, "Kuterima dari seorang lelaki setengah umur yang berwajah kaku dingin."

"Siapa namanya?´ tanya Lamkiong Peng pula dengan kening bekernyit.

"Aku tidak tahu. Ia cuma bilang surat itu berasal dari Thian-ah Totiang," jawab Song Ciong.

Mendengar nama Thian-ah Totiang atau Imam Gagak, seketika berubah air muka Lamkiong Peng, sebab Thian-ah Totiang memang betul Ban Tat adanya. Seketika Lamkiong Peng merasa sedih dan gelisah. "Terima-kasih atas bantuan kalian, budi kalian takkan kulupakan selama hidup. Karena ada urusan penting, maaf kutinggal pergi dulu!" teriaknya.

"Mau pergi lekas pergi, tidak perlu banyak omong," seru Song Ciong mendongkol.

Tanpa ayal lagi Lamkiong Peng berlari ke luar. Namun Tong Goan tidak tinggal diam, segera ia hendak menubruk maju untuk mencegat. Tapi kawanan pengemis juga serentak menyerangnya sehingga dia terpaksa melompat mundur lagi. Tampaknya segera Lamkiong Peng akan lari ke luar ruangan itu.

Cepat Tik Yang berteriak memberi perintah, "Cegat orang itu!"

Serentak kawanan lelaki berseragam hitam merintangi jalan lari Lamkiong Peng. Namun anak muda itu tidak sabar lagi, pedang berputar dan menyerang tanpa kenal ampun. Terdengar suara jeritan ngeri di sana-sini, seketika beberapa orang dirobohkan. Ia terus menerjang ke luar, meninggalkan pertempuran sengit yang masih berlangsung.

Sang surya sudah hampir terbenam, cahaya senja indah menghias langit. Di restoran merangkap hotel Hong-an-lo-tiam di kota Oh-ciu yang terletak di utara propinsi Ciatkang, di sebuah meja yang dekat pintu masuk, saat itu berduduk seorang pemuda cakap dan gagah didampingi dua orang kacung berusia lima belasan. Pemuda cakap itu berdandan ringkas dan menyandang pedang. Matanya besar dengan alis yang tebal.

Di antara kegagahannya kelihatan wajahnya yang rada murung. Meski di hadapannya sudah siap santapan lezat dan arak sedap, namun tampaknya dia tidak bernafsu makan dan kelihatan menangung rasa sedih. Dia bukan lain dari-pada Cian Tong-lai, murid Kun-lun-pai yang baru saja mulai terjun ke dunia kangouw. Kedua kacung yang mengiringi dia adalah Pek-ji dan Giok-ji.

Cian Tong-lai hanya memegangi cawan arak dan lupa minum, sebentar-sebentar ia menghela napas. Kiranya dia sedang rindu kepada Bwe Kim-soat yang sekali pandang telah menawan hatinya. Sudah hampir setahun mereka berpisah. Meski ketika bertemu dulu Bwe Kim-soat tidak menyatakan perasaannya, tapi juga tidak bersikap jemu kepadanya.

Cian Tong-lai yakin dengan tampang sendiri dan kungfu-nya yang tinggi cukup memenuhi syarat untuk merebut hati si nona, akan tetapi Bwe Kim-soat justru tak acuh kepadanya. Hal ini membuyarkan impiannya yang pernah dibayangkannya dengan muluk-muluk. Melihat majikannya mengelamun dengan murung, Giok-ji dan Pek-ji ikut merasa cemas.

Pada saat itulah tiba-tiba datang seorang sastrawan setengah baya berbaju panjang warna putih. Pada bahu kanan berpegangan seorang gadis jelita dengan rambut terurai.
Di siang hari dan di depan umum seorang gadis menggemblok di pundak seorang lelaki dan masuk ke hotel yang banyak tamu ini, tentu saja membuat setiap orang yang melihatnya sama gempar membicarakannya.

Waktu Cian Tong-lai berpaling, serentak ia berdiri dan menyapa, "Aha, Yim-heng kiranya, selamat bertemu pula!"

Kiranya sastrawan setengah umur ini adalah Yim Hong-peng yang membawa lari Bwe Kim-soat itu. Ia menoleh dan menyengir setelah mengenali Cian Tong-lai. "Eh, kiranya Cian-heng. Selamat bertemu," jawabnya hambar.

"Kenapa Yim-heng membawa...."

Belum lanjut ucapan Cian Tong-lai segera Yim Hong-peng memotong, "Ah, dia saudara misanku. Badannya lagi kurang sehat dan harus kuantar pulang, maka terpaksa tidak kupikirkan sopan santun lagi."

Dengan sorot mata yang agak buram karena banyak minum arak, Cian Tong-lai coba mengamat-amati Bwe Kim-soat yang tertutup oleh rambutnya yang panjang itu. Walau pun tidak terlihat jelas wajahnya, tapi dari garis tubuhnya dapat diketahui pasti seorang gadis cantik, malahan terasa sudah dikenalnya.

Dengan kening bekernyit Cian Tong-lai berkata, "Eh, sanak saudara Yim ini rasanya seperti pernah kulihat."

Berdebar hati Yim Hong-peng. Ia sengaja menjawab dengan tak acuh. "Saudaraku ini memang sering juga berkelana di dunia kangouw, bisa jadi pernah kau lihat.”

Pada saat itulah tiba tiba Bwe Kim-soat mengigau, "Peng... Peng cilik....”

Meski lirih suaranya, tapi cukup jelas terdengar oleh Cian Tong-lai. Walau pun sangsi, namun tak terpikir olehnya bahwa justru gadis inilah Bwe Kim-soat yang dirindukannya itu.

Suara lirih Bwe Kim-soat juga terdengar di telinga Yim Hong-peng. Ia dapat melihat situasi yang kurang menguntungkan bagi dirinya. Cepat Yim Hong-peng mencari alasan bahwa dirinya akan mengantar pulang saudaranya dan langsung masuk ke kamarnya.

Dengan sangsi Cian Tong-lai berkomat-kamit pula, "Aneh, seperti pernah kulihat dia, juga suaranya....”

Tiba tiba Pek-ji berkata, "Kongcu, tidakkah kau lihat nona yang sakit itu seperti nona Bwe?"

"Hus, jangan sembarangan omong!" ujar Giok-ji sambil menarik kawannya.

Tapi Pek-ji lantas mengomel, "Memang betul kulihat dia serupa nona Bwe."

Hati Cian Tong-lai tergetar. Mendadak ia pegang pundak Pek-ji dan menegas, "Kau bilang apa? Coba ulangi!"

Pek-ji menjadi takut, "Hamba... hamba bilang nona tadi seperti... seperti nona Bwe," jawabnya dengan tergagap.

"Ah, pintar juga kau," seru Cian Tong-lai. Tapi ia lantas menggeleng kepala, "Namun bukan, bukan dia."

“Ken... kenapa Kongcu tidak coba menjenguknya ke sana?" ujar Pek-ji.

Ucapan ini menyadarkan Cian Tong-lai. "Betul, kenapa tidak kulihat dia lagi?!" katanya.

Tanpa pikir lagi ia terus berlari menuju ke kamar Yim Hong-peng dan mengetuk pintu. Waktu pintu dibuka dan melihat pendatang adalah Cian Tong-lai, seketika air muka Yim Hong-peng berubah.

"Ada urusan apa Cian-heng?" Yim Hong-peng coba bertanya.

"O, baru saja teringat olehku tentang penyakit sanak keluarga Yim-heng. Jelek-jelek Siaute pernah belajar ilmu pengobatan, kalau mau dapat kubantu....”

"Ah, mana berani aku bikin repot Cian-heng," sela Yim Hong-peng sebelum habis ucapan orang. "Piaumoay-ku ini hanya masuk angin saja, sebentar lagi juga sembuh."

Pada saat itulah kebetulan Bwe Kim-soat membalik tubuh dan mengigau pula, "Peng... Peng cilik...."

Walau pun mukanya sebagian tertutup oleh rambut, namun sekilas Cian Tong-lai dapat melihatnya memang mirip benar dengan Bwe Kim-soat. Tentu saja ia tambah sangsi.

"Dia menyebut Peng siapa?!" bentaknya.

“Dari mana aku tahu siapa yang dimaksudkannya?" ujar Yim Hong-peng dengan tertawa.

"Tentu Lamkiong Peng yang dimaksudkannya. Ah, betul, dia memang nona Bwe adanya," seru Cian Tong-lai sambil menyelinap ke dalam kamar dan bermaksud mendekati nona yang berbaring di tempat tidur itu.

Tentu taja Yim Hong-peng tidak tinggal diam. Cepat ia mendorong dengan kedua tangannya sambil membentak. "Hendaknya tahu aturan sedikit, Cian-heng?!"

“Hm, apa maksudmu menawan nona Bwe ke sini?" damprat Cian Tong-lai sambil mengelak, menyusul sebelah kaki lantas menendang.

Dan begitulah kedua orang lantas saling gebrak. Baru belasan jurus, mulailah Yim Hong-peng merasa kewalahan. Dahinya sudah penuh keringat, napas pun tersengal. Melihat keadaan lawan, Cian Tong-lai segera menyerang terlebih gencar dan ganas. Mendadak Yim Hong-peng mengeluarkan kipasnya dan balas menyerang.

"Hm. memangnya bisa apa dengan kipasmu itu?" ejek Cian Tong-lai.

Yim Hong-peng diam saja, kipasnya terbentang dan merapat Iagi.

"Jret!" mendadak Yim Hong-peng menotok.

“Hahaha!" Cian Tong-lai tertawa mengejek, "Dalam dua puluh jurus akan kubikin kipasmu terlepas dari tanganmu!"

Habis bicara mendadak kedua kakinya menendang secara berantai. Yim Hong-peng terkejut, cepat ia tarik kembali kipasnya sambil melompat mundur. Dengan tertawa dingin segera Cian Tong-lai hendak menubruk maju, tapi pada saat itulah seorang telah membentak.

"Berhenti!"

Pintu terbuka dan masuktah tiga orang. Cian Tong-lai tidak kenal ketiga pendatang ini, tapi air muka Yim Hong-peng seketika berubah dan diam-diam mengeluh. Kiranya mereka ini adalah Sun Tiong-giok dari Kun-mo-to beserta kedua kakek dari kesepuluh jago pengawalnya yang masih tersisa, yaitu Ko Sat dan Wi Gan.

Sambil tertawa Sun Tiong-giok mendekati Yim Hong-peng dan menegur, “Nah, coba sekali ini apakah dapat kau kabur lagi?"

Cian Tong-lai tinggi hati dan angkuh, ia tidak suka terhadap sikap Sun Tiong-giok itu. Segera ia membentak, "Kalian main terobos ke sini, bahkan bicara dengan kasar, sesungguhnya apa kehendakmu?!"

"Hm, memangnya mau apa? Ingin campur urusanku?" jawab Sun Tiong-giok tidak kalah angkuhnya.

"Eeh, jangan ribut dulu, rasanya urusan ini semuanya punya andil," seru Yim Hong-peng mendadak.

Tentu saja Cian Tong-lai tidak mengerti, "Apa artinya ucapanmu?"

Yim Hong-peng menyeringai. "Kan kita bertiga satu tujuan. Kau minta Bwe Kim-soat, dia juga rnengincar Bwe Kim-soat, apalagi aku. Nah, bukankah kita sama-sama punya andil?" jawabnya.

Dengan gusar Cian Tong-lai segera hendak menyerang. Tapi Sun Tiong-giok lantas mencegahnya, “Nanti dulu! Sebagian besar kesepuluh anak buahku telah menjadi korban keganasannya. Utang darah ingin kutagih langsung dari dia, mana boleh sembarangan kau bunuh dia begitu saja?"

"Hai, kau ini kutu apa berani memerintahku?!" teriak Cian Tong-lai dengan gusar.

Mendadak terdengar si kakek Wi Gan membentak, "Huh, mau lari?!" Berbareng itu ia menubruk ke sana terus menghantam.

Kiranya pada waktu Cian Tong-lai bertengkar dengan Sun Tion-giok, diam-diam Yim Hong-peng hendak mengeluyur pergi tapi keburu dilihat Wi Gan. Karena pukulan kakek itu, terpaksa Yim Hong-peng menyurut mundur ke tempatnya semula.

Waktu Sun Tiong-giok memandang ke sana, dilihatnya Bwe Kim-soat berbaring di tempat tidur. Meski berselimut, tapi jelas kelihatan dada dan perutnya bergerak lemah dan napasnya seperti sesak. Segera ia hendak mendekat ke sana, akan tetapi Cian Tong-lai lantas merintanginya.

"Memangnya kau mau apa?" teriak Sun Tiong-giok dengan gusar.

"Lekas menyingkir, memangnya dia apamu?" dengan angkuh Cian Tong-lai menjawab. "Pokoknya berani kau maju lagi, jangan menyesal jika pedangku tidak kenal ampun."

"Hm, hanya dirimu juga mampu merintagiku?" jengek Sun Tiong-giok.

"Boleh kau coba," jawab Cian Tong-lai ketus.

Agar tidak membuang waktu, terpaksa Sun Tiong-giok menahan perasaannya dan berkata pula, "Kau tahu nona Bwe terluka dan keadaannya cukup menguatirkan?"

"Nona Bwe terluka atau tidak, apa sangkut pautnya denganmu?" tanya Cian Tong-lai.

"Soalnya aku telah barjanji kepada Lamkiong Peng akan menyembuhkan nona Bwe dan akan kuserahkan kembali kepadanya," ujar Tiong-giok.

Mendingan tidak tahu, demi mendengar Bwe Kim-soat akan diserahkan kembali kepada Lamkiong Peng, seketika Cian Tong-lai menjadi murka, "Hm jadi maksudmu hendak membela Lamkiong Peng? Rasakan dulu pukulanku ini!" Tanpa pikir ia menghantam dengan dahsyat.

Sejak tadi Sun Tiong-giok bersabar, tetapi sekarang lawan mendahului menyerang, maka ia pun tidak sungkan lagi. Ia sambut pukulan lawan dengan sepenuh tenaga.

"Plak!" kedua tangan beradu. Sun Tiong-giok tetap tegak di tempatnya, sebaliknya wajah Cian Tong-lai tampak pucat dan tergetar mundur selangkah.

"Ini, kau pun rasakan pukulanku," tanpa ayal Sun Tiong-giok melancarkan pukulan yang sama dahsyatnya.

Dengan beringas terpaksa Cian Tong-lai menahan serangan lawan, ia pun menangkis sekuatnya.

"Plak!" kembali kedua tangan beradu, air muka Cian Tong-lai tambah pucat dan tergetar mundur lagi.

"Ini pukulan ketiga!" bentak Sun Tiong-giok pula dan kembali menghantam sepenuh tenaga.

Keadaan Cian Tong-lai sudah payah, matanya pun mulai berkunang-kunang. Namun ia tidak melihat jalan lain, maka terpaksa ia menangkis lagi.

"Blang!"

Wajah Sun Tiong-giok kelihatan pucat dan tergetar mundur dengan dahi berkeringat. Sebaliknya Cian Tong-lai mencelat dan terbanting di tanah dengan mata terpejam. Dengan kulit muka berkerut tersembul senyuman kemenangan Sun Tiong-giok. Perlahan ia mendekati tempat tidur dan mengangkat Bwe Kim-soat. "Ayo berangkat!" katanya kepada kedua kakek. Segera ia mendahului ke luar.

Baru saja melangkah ke luar kamar, mendadak darah segar tersembur ke luar dari mulutnya. Ternyata ia pun terluka dalam cukup parah setelah tiga kali mengadu pukulan dengan Cian Tong-lai. Merasa bukan tandingan orang, terutama kedua kakek Ko Sat dan Wi Gan, terpaksa Yim Hong-peng hanya diam saja.

"Sementara jiwamu diampuni. Bila-mana Siau-tocu sudah sembuh, tentu kami akan bikin perhitungan lagi padamu," jengek Wi Gan terhadap Yim Hong-peng, lalu mereka pun ikut pergi.

Waktu senja telah tiba pula. Di suatu perkampungan yang dikelilingi pepohonan yangliu yang rindang dengan pagar tembok yang kurang terawat, suasana sunyi senyap seperti sudah lama perkampungan itu ditinggalkan penghuninya.

Sekonyong-konyong terdengar derap kuda lari. Seekor kuda tampak membedal tiba, dari peluh yang memenuhi tubuh binatang itu dapat diduga kuda itu telah dilarikan dengan cepat dan baru saja menempuh perjalanan jauh. Begitu sampai di depan perkampungan itu, penunggang kuda lantas melompat turun dan pada saat itu juga kuda lantas roboh terkulai dengan lemas.

Tanpa menghiraukan kudanya orang itu terus berlari ke dalam perkampungan. Kiranya dia adalah Lamkiong Peng yang diberi-tahu tentang keadaan gawat ayah-bundanya dan segera menuju ke Liu-im-ceng ini. Langsung ia menggedor pintu gerbang perkampungan itu. Sejenak kemudian baru terdengar suara orang bertanya di dalam. Suaranya begitu berat dan parau, tapi bagi pendengaran Lamkiong Peng suara itu tidak asing lagi, jelas itulah suara yang sudah lebih setahun tak pernah didengarnya. Suara sang ayah.

Segera Lamkiong Peng berseru, "Ayah, ayah! Aku anak Peng, anak Peng sudah pulang!"

Tak terduga karena jawabannya ini keadaan di dalam rumah lantas sunyi kembali. Tentu saja Lamkiong Peng menjadi ragu dan kuatir, sehingga tanpa pikir lagi ia mendorong pintu hingga terpentang serta berlari ke dalam. Sekilas pandang dapatlah ia menghela napas lega. Dilihatnya ayah-bundanya duduk bersila berjajar di atas sebuah dipan di dalam ruangan sana, sorot mata mereka yang mencorong sedang menatapnya dengan terkesima. Melihat gelagatnya keadaan kedua orang tua ini tidak seburuk berita yang diterimanya.

Setelah pikirannya agak tenang, segera Lamkiong Peng memburu maju dan memberi sembah. "Anak Peng yang tidak berbakti menyampaikan hormat kepada ayah dan ibu," katanya.

Mendadak Lamkiong Siang-ju menatap Lamkiong Peng dengan tajam. "Anak Peng, apakah kau pulang dari Cu-sin-tian sana?" ucapnya.

"Betul," Lamkiong Peng mengangguk. "Anak memang pulang dari sana, cuma....”

"Apakah Cu-sin-tian-cu yang membebaskanmu pulang kemari?" potong sang ayah.

"Bukan...."

Belum lanjut ucapan Lamkiong Peng sang ayah lantas memotong lagi, "Binatang cilik yang tidak bisa pegang janji, memangnya sudah kau lupakan peraturan keluarga yang sudah turun-temurun?"

Lamkiong Peng tidak tahu sebab apa ayahnya mendadak marah-marah. Dengan menunduk ia menjawab, "Anak selalu mentaati peraturan keluarga dan mengutamakan setia kawan dan keluhuran budi."

"Jika begitu mengapa kau tinggalkan Cu-sin-to dan pulang ke sini sehingga mengingkari janji keluarga kita yang sudah turun-temurun?" damprat Lamkiong Siang-ju.

Baru sekarang Lamkiong Peng tahu sebabnya sang ayah marah. Namun kejadian selama setahun ini terlampau banyak, seketika sukar untuk diceritakan seluruhnya. Ia pun bingung harus bertutur mulai dari bagian mana, maka sejenak ia gelagapan.

"Anak Peng," lekas Lamkiong-hujin menyela dengan suara lembut. "Sesungguhnya apa yang terjadi? Sekarang bolehlah kau ceritakan dengan perlahan."

Lamkiong Peng memandang sekejap terhadap sang ibu yang lembut itu. Sesudah menenangkan diri barulah ia bercerita sejak berlayar sehingga pengalamannya di Cu-sin-to serta kejadian selanjutnya. Setelah mengikuti pengalaman Lamkiong Peng itu, sejenak Lamkiong Siang-ju termenung.

Akhirnya Lamkiong Siang-ju menghela napas dan berkata, "Nak, jika begitu ayah telah salah mengomeli dirimu. Tak tersangka dalam waktu setahun yang pendek ini telah kau alami berbagai kesukaran itu, sungguh kejadian di dunia fana ini memang sukar dibayangkan.”

Akhirnya Lamkiong Peng berkata pula, "Setelah anak menerima surat paman Ban yang memberi-tahukan ayah ibu terancam bahaya, maka cepat anak datang kemari. Tampaknya paman Ban hanya menakuti anak saja."

Tiba-tiba wajah Lamkiong Siang-ju berubah muram. Ia pandang istrinya sekejap, lalu berucap, "Nak, memang betul keselamatan ayah dan ibumu dalam bahaya, paling... paling lama kami hanya mampu bertahan hidup dua tiga hari lagi."

´Hah, mengapa bisa begitu?" teriak Lamkiong Peng dengan kaget dan pucat. "Tidak, tidak mungkin! Bukankah ayah dan ibu baik-baik begini, mana bisa...?”

Dengan pandangan tenang Lamkiong Siang-ju berucap, “Meski dari luar ayah dan ibu kelihatan sehat walafiat. tapi sebenarnya kami keracunan berat dan terluka dalam yang parah. Untuk sementara kami dapat bertahan berkat lweekang yang terlatih selama berpuluh tahun. Harapan kami justru ingin bertemu denganmu untuk terakhir kali, mungkin lusa atau esok pagi kami akan…."

"Tidak! Kenapa bisa jadi begini?!" teriak Lamkiong Peng sambil memburu maju dan memeluk lutut sang ibu. "O, ibu, kenapa bisa terjadi begini? Tidak... anak tidak percaya...,” ratapnya.

"Anak bodoh," ucap Lamkiong-hujin dengan menyesal. "Masa ayah dusta padamu?"

"Jika begitu, mohon... mohon diberi-tahu siapakah yang turun tangan keji terhadap ayah dan ibu?” tanya Lamkiong Peng dengan mendelik.

"Siapa lagi kecuali Swe Thian-bang yang sudah kau sebut hendak merajai dunia persilatan itu?" ucap Lamkiong Siang-ju dengan sorot mata mengandung dendam.

"Swe Thian-bang...! Kembali dia!" teriak Lamkiong Peng sambil bangkit berdiri. "Sesungguhnya ada permusuhan apa antara dia dengan kita? Mengapa dia bertindak sekeji ini?"

"Entah cara bagaimana keparat itu dapat menyelidiki seluk-beluk urusanku dan ibumu, maka ia sendiri menemui kita agar mau ikut dalam organisasinya," tutur Lamkiong Siang-ju dengan gemas. “Dengan sendirinya ayah-ibu tidak sudi bekerja sama dengan dia sehingga kedua pihak bertengkar. Tak terduga bangsat itu telah berbuat licik, pada waktu datang mereka sudah menyebarkan racun yang tak berwujud di luar tahuku. Ketika ayah dan ibu bergebrak dengan dia baru merasakan keracunan, dengan sendirinya tenaga terganggu dan akhirnya terpukul luka olehnya....”

Darah dalam tubuh Lamkiong Peng serasa mendidih, tangannya terkepal kencang. "Bangsat! Kalau tidak kucincang dirimu hingga hancur lebur, aku bersumpah takkan menjadi manusia!” teriaknya murka.

Belum Ienyap suaranya, tiba-tiba terdengar suara orang mendengus, lalu sesosok bayangan menyelinap ke dalam rumah. Di bawah keremangan senja Lamkiong Peng melihat pendatang ini seorang cendekia setengah baya, bermuka halus tanpa jenggot dan perawakannya jangkung.

Agaknya Lamkiong Siang-ju dan istrinya sudah menduga akan kedatangan orang ini sehingga mereka tidak terkejut dan tetap tenang saja. Tapi Lamkiong Peng tidak dapat menahan emosi lagi.

Serentak Lamkiong Peng membentak, "Siapa kau?! Ada keperluan apa?!"

Orang itu memberi salam, lalu menjawab dengan tertawa. “Cayhe Siau Bong-wan. Aku datang menjenguk Lamkiong-kongcu, sekalian untuk mengantar mangkatnya ayah ibumu."

“Keparat, jadi kau ini begundal Swe Thian-bang?!" teriak Lamkiong Peng murka.

"Ah, Cayhe tidak lebih hanya tangan kanan-kiri Swe-siansing saja," ucap orang yang mengaku bernama Siau Bong-wan itu.

"Creng!" segera Lamkiong Peng melolos pedang pusaka Yap-siang-jiu-loh dan membentak. "Bedebah! Ayolah maju untuk terima kematian, habis itu baru kubikin pehitungan dengan Swe Thian-bang!”

Siau Bong-wan terkekeh. "Hehe, garang amat Lamkiong-kongcu terhadap tamu. Apakah mampu kau bunuh diriku atau tidak masih tanda tanya. Hanya ingin kutanya, apakah keselamatan orang tua sudah tidak kau pikirkan lagi? Padahal jiwa ayah ibumu tinggal satu dua hari saja, bagaimana nasibnya bergantung kepada keputusanmu sekarang."

Seketika Lamkiong Peng tak dapat bicara. Betapa pun keselamatan orang tua memang membuatnya sangsi untuk bertindak. Siau Bong-wan tertawa licik. "Keluarga Lamkiong kaya raya turun-temurun sekian lamanya, ayah-bundamu juga pernah mengguncangkan dunia kangouw, jika sekarang mereka mengalami nasib seperti ini, memangnya atas perbuatan siapa? Kongcu masih muda dan gagah perkasa, engkau tidak berusaha membangun kembali keluarga Lamkiong dan mengembalikan kehormatannya serta menuntut balas pada sumbernya yang membuat runtuhnya keluarga Lamkiong kalian, tapi sekarang Kongcu cuma memikirkan sakit hati pribadi tanpa menghiraukan keselamatan orang tua. Pikiran sempit demikian sungguh sukar untuk dimengerti," katanya pula.

Lamkiong Peng menjadi ragu dan bingung. Ucapan Siau Bong-wan memang juga betul. Sebabnya keluarga Lamkiong sampai runtuh seperti ini adalah berkat tindakan Cu-sin-tocu, namun jayanya keluarga Lamkiong juga boleh dikatakan berkat Cu-sin-to. Apalagi sekarang Cu-sin-to sudah runtuh dan bubar, Cu-sin-tocu Lamkiong Eng-lok juga sudah meninggal dunia, ke mana lagi dia harus menuntut balas?

la menjadi bingung, siapakah musuhnya yang sebenarnya? Apakah Swe Thian-bang? Memang sekarang terbukti juga Swe Thian-bang telah membikin celaka orang-tuanya, tapi umpama Swe Thian-bang dibunuhnya, apakah mungkin dapat memulihkan marga Lamkiong yang telah runtuh?

Selagi kusut dan bingung pikiran Lamkiong Peng, tiba-tiba Lamkiong Siang-ju bergelak tertawa. "Haha! Jangan kau percaya ocehannya, Anak Peng. Apa pun yang akan terjadi adalah kewajibanku sebagai ahli-waris marga Lamkiong. Swe Thian-bang adalah manusia culas dan keji, secara kejam dunia kangouw hendak ditaklukkannya. Adalah kewajibanmu untuk menumpas kebatilan demi keamanan umum, apa yang kau ragukan lagi, anak Peng?”

Semangat Lamkiong Peng tergugah oleh seruan sang ayah. Serentak ia membentak, "Ayo, bangsat! Majulah untuk menerima kematianmu!"

"Hehehe," Siau Bong-wan terkekeh. "Orang bilang Lamkiong-kongcu ahli waris marga terkemuka dan murid Sin-liong yang tak terkalahkan. Tampaknya memang gagah perkasa, tapi apakah tidak kau pikirkan lagi nyawa kedua orang-tua yang terletak dalam genggamanku?"

Karena ancaman ini, kembali Lamkiong Peng merasa sangsi.

"Maju anak Peng, mampuskan bangsat itu!" teriak Lamkiong Siang-ju.

Segera Lamkiong Peng hendak menubruk maju. Tapi Siau Bong-wan lantas berseru pula, "Haha, obat penawarnya berada padaku. Apakah benar engkau tidak peduli lagi akan mati-hidup ayah-ibumu?"

Baru saja Lamkiong Peng kelihatan ragu, cepat Lamkiong Siang-ju berteriak, "Tidak, anak Peng. Jangan kau lupakan amanat leluhur kita. Bila benar engkau taat kepada ajaran marga, lekas kau mampuskan bangsat itu tanpa menghiraukan kami."

Perasaan Lamkiong Peng serasa disayat-sayat. Ia paham kebesaran jiwa sang ayah, tapi sebagai anak, masa dia tega menyaksikan orang-tua mati begitu saja? Sebab itu ia kemudian berkata, "Tidak ayah, tak dapat ku...."

Belum lanjut ucapan Lamkiong Peng, mendadak Lamkiong Siang-ju mengangkat sebelah tangannya dan mengancam, “Anak Peng, jika kau sangsi lagi segera aku hancurkan kepala ibumu dan segera aku bunuh diri pula. Dari-pada menyaksikan anak tak berbakti yang tidak tegas, lebih baik kami mendahului mangkat!"

"Jangan ayah, jangan...!" ratap Lamkiong Peng. Segera ia menambahkan dengan beringas, "Baik, ayah. Anak siap melaksanakan perintahmu dan bersurnpah untuk membalaskan sakit hatimu!"

Habis berkata, serentak Lamkiong Peng menubruk maju sambil membentak, "Bangsat, serahkan nyawamu!"

Melihat sikap beringas anak muda itu, segera Siau Bong-wan meraba sakunya dan bermaksud menghamburkan racun asap yang telah disiapkannya. Akan tetapi sebelum dia bertindak, sekonyong-konyong sesosok bayangan melayang tiba secepat terbang. Baru saja Siau Bong-wan berpaling, tahu-tahu pinggangnya terasa kesakitan dan ia pun roboh terkulai tanpa bisa berkutik lagi. Alangkah kejut dan girang Lamkiong Peng, ia pun urung menubruk maju.

"Hah kiranya engkau orang tua!" serunya setelah melihat jelas penolong ini.

Kiranya penolong yang datang tepat waktunya ini adalah seorang kakek botak dengan perawakan kecil dan bermuka jelek, dia bukan lain dari-pada Leh Ih-sian, salah seorang ‘Hong-tun-sam-yu’ atau Tiga Sekawan Pengelana.

"Maaf kedatangan paman agak terlambat sehingga membuat susah kalian," kata Loh Ih-sian terhadap Lamkiong Peng.

Seketika timbul rasa duka anak muda itu demi teringat kepada nasib ayah bundanya. "Ayah dan ibu mungkin...," ucapnya dengan air mata berlinang.

"Jangan kuatir, Hiantit (kemenakan yang baik)," ucap Loh Ih-sian dengan tertawa. "Urusan ini kujamin beres."

Tengah Loh Ih-sian bicara, dari luar sana kembali melayang tiba sesosok bayangan orang. Sesudah berhadapan, kiranya seorang kakek pendek gemuk berdandan sebagai tabib kelilingan.

"Bagaimana, sudah beres semua?" tanya Loh Ih-sian terhadap kakek gemuk itu.

Tanpa bersuara kakek pendek gemuk itu hanya mengangguk saja.

"Hiantit, inilah Toat-beng-long-tiong (Si Tabib Pencabut Nyawa) Cui Beng-kui yang termasyhur itu," segera Loh Ih-sian memperkenalkan kawannya kepada Lamkiong Peng.

Sudah lama Lamkiong Peng kenal nama si tabib sakti itu. Karuan ia kegirangan, cepat ia memberi hormat. Sikap Cui Beng-kui tetap dingin saja, ia cuma mengangguk perlahan tanpa bersuara. Lamkiong Peng tahu tabiat orang yang nyentrik, ia pun tidak tanya lebih lanjut.

"Sungguh beruntung atas kedatangan paman, namun....” kata-nya terhadap Loh Ih-sian.

"Nanti dulu, biar kuperiksa saja ayah-bundamu," sela Loh Ih-sian.

Diseretnya Siau Bong-wan, kemudian bersama Cui Beng-kui mereka lantas masuk ke dalam. Tatkala itu Lamkiong Siang-ju dan istrinya sudah tambah payah dengan napas terkembang-kempis. Tentu saja Lamkiong Peng sangat sedih.

Setelah menaruh Siau Bong-wan, kata Loh Ih-sian kepada Cui Beng-kui, "Nah, sekarang giliranmu untuk memperlihatkan kemahiranmu."

Tanpa bicara Cui Beng-kui mendekati Lamkiong Siang-ju. Diperiksanya nadi suami-istri itu, lalu berucap, "Tidak berhalangan!"

Ia lantas mengeluarkan sebuah bungkusan kecil. Diambil sebuah botol hitam kecil dan menuang dua biji pil serta dijejalkan ke mulut Lamkiong Siang-ju dan istrinya. Akhirnya ia berkata pula, "Selang setengah jam racun dalam tubuh mereka akan punah, habis itu baru akan kuobati luka mereka." Habis bicara ia terus menyingkir ke samping dan duduk bersila sambil memejamkan mata.

Lamkiong Peng bergirang dan juga ragu, namun tidak enak untuk bertanya. Terpaksa ia hanya memandang Loh Ih-sian.

"Jangan kuatir, Hiantit," ucap Loh Ih -sian, "Obat setan tua she Cui ini biasanya cespleng, kita percaya penuh kepada kemahirannya. Aku terima berita dari Ban Tat tentang keadaan ayah-bundamu ini, cepat kuajak setan tua Cui Beng-kui kemari. Kalau bukan terhalang beberapa kroco di luar kampung, tentu sejak tadi sudah berada di sini...," Ia berhenti sejenak, lalu bertanya, "Eh, bukankah kau pergi ke Cu sin-to, kenapa pulang kemari?"

Lamkiong Peng menghela napas panjang, lalu diceritakannya pengalaman selama setahun ini. Loh Ih-sian menggeleng kepala dengan gegetun. ´Sungguh tak tersangka dalam waktu sesingkatnya ini bisa terjadi hal-hal seperti ini. Nanti kalau ayah-ibumu sudah sembuh, boleh kita berunding tentang cara bagaimana membangun kembali marga Lamkiong kalian yang jaya," katanya.

Tengah mereka asyik berbicara, terdengar Lamkiong Siang-ju dan istrinya menarik napas panjang, rupanya kedua orang tua ini sudah siuman. Dengan girang Lamkiong Peng memburu maju sambil berseru, "Ayah! Ibu!"

Lamkiong Siang-ju membuka mata dan memandang sekelilingnya sekejap, ia tersenyum dan berkata dengan lemah, "Aku tahu, tidak perlu kau jelaskan. Tentu kedua saudaraku inilah yang telah menyelamatkan jiwa kami."

"Bukan jasaku. Jika mau berterima kasih harus kau tujukan kepada setan tua she Cui itu," ucap Loh Ih-sian.

"Tidak perlu terima kasih segala, adalah tugasku menyembuhkan saudara sendiri," seru Cui Beng-kui sambil berbangkit. "Sekarang masih harus kuobati luka dalam kalian."

Sambil berkata la lantas mengeluarkan pula sebuah botol putih kecil dan menuang lagi dua biji pil putih serta disuruh minum Siang-ju dan istrinya. Lalu ia bantu menyalurkan tenaga dalam kepada Siang-ju berdua. Tidak seberapa lama, keluar keringat Siang-ju dan badan terasa segar kembali. Cui Beng-kui tersenyum puas dan menyudahi pekerjaannya, ia beri lagi dua biji pil putih kepada suami-istri itu dan suruh mereka istirahat sebentar.

"Bangsat Swe Thian-bang itu sungguh keji," kata Loh Ih-sian kemudian. "Demi keamanan dunia persilatan Tionggoan umumnya, kita perlu menyiapkan siasat untuk menghadapi rencana kejinya."

Siang-ju menghela napas. "Setelah kuberangkatkan anak Peng, mestinya kami bermaksud mengasingkan diri untuk menghabiskan hari tua. Siapa tahu kami tetap tidak terlepas dari incaran gembong iblis semacam Swe Thian-bang itu. Bagaimana Loh dan Cui-hiante, dari pengamatan kalian, dapatkah kalian memberi pendapat tentang kegiatan dan ambisi Swe Thian-bang?" ucapnya.

"Kami hanya tahu dia mempengaruhi tokoh dunia kangouw Tionggoan dengan obat racunnya serta cara-cara kotor dan rendah yang lain. Kini ketujuh aliran dan golongan besar sudah terpengaruh olehnya dan tidak lama lagi akan mengadakan pertemuan besar untuk memilih ketua perserikatan dunia persilatan, hanya waktu dan tempatnya belum ditentukan. Apa Toako sendiri sudah mendapat keterangan lebih banyak tentang iblis itu?"

Siang-ju menggeleng kepala, "Aku pun tidak banyak mengetahui tentang gembong iblis itu. Jika orang she Siau ini mengaku sebagai tangan kanan Swe Thian-bang, barang-kali dari dia bisa kita peroleh informasi seperlunya," tuturnya.

"Betui juga pendapat Toako," seru Loh Ih-sian. Segera ia menepuk dua kali di pinggang Siau Bong-wan sehingga dapatlah orang itu bergerak, lalu ditanyai, "Nah, sekarang kau ingin hidup atau mati? Coba jawab dulu."

Siau Bong-wan bermaksud berdiri, tapi baru saja badan terangkat, kontan ia roboh terguling pula dengan lemas. Baru sekarang ia sadar tenaga sendiri belum dapat dikerahkan. Namun dia tetap bandel, dengan menyeringai ia menjawab, "Hm tidak perlu kau peras diriku. Jika kau ingin keteranganku, lebih dulu kalian harus berjanji akan bekerja bagi Swe-siansing."

"Hm, kematian sudah di depan mata, masih berani kepala batu," jengek Loh Ih-sian. "Tampaknya kau lebih pilih mati dari-pada hidup. Baik, boleh coba kau rasakan Ban-gi-coan- sim-hoat yang sudah lama tidak pernah kugunakan."

Sembari bicara ia terus berjongkok dan menotok beberapa hiat-to tertentu di tubuh Siau Bong-wan. Dalam sekejap saja Siau Bong-wan lantas bergeliat dan melolong. Namun dia memang bandel, meski menahan sakit ia tidak minta ampun sama sekali. Loh Ihsian
terkesiap juga.

"Hah, boleh juga kau!" sambil menjengek ia tambahi lagi dua kali depakan. Seketika Siau Bong-wan berkelojotan.

"Nah, waktunya tidak banyak lagi, hendaknya jawab pertanyaanku. Kapan dan di mana Swe Thian-bang akan menyelenggarakan pertemuan besar tokoh dunia penilatan?" tanya Loh Ih-sian.

Sorot mata Siau Bong-wan yang semula beringas akhirnya berubah guram dan menunjuk rasa mohon kasihan. Akhirnya tercetus juga dari mulutnya, "Ci-hau...."

Tapi cuma satu kata saja ucapannya, dan itulah kata terakhir selama hidupnya karena mendadak darah tersembur dari mulutnya, lalu ia roboh telentang dan tidak bergerak pula. Loh Ih-iian melompat maju dan memeriksa pernapasan orang, ternyata sudah tak bernyawa lagi.

Loh Ih-sian menggeleng kepala dan berucap "Swe Thian-bang amat keji, anak buahnya juga sama nekat."

"Ai, lantas bagaimana sekarang? Sumber keteranganku sudah buntu, adakah jalan lain?" kata Lamkiong Siang-ju dengan menyesal.

Loh Ih-sian garuk-garuk kepala tanpa bersuara.

Mendadak Lamkiong Peng berseru, "Dia menyebut Ci-hau, jangan-jangan maksudnya Ci-hau-san-ceng tempat guruku. Biar segera aku berangkat kesana."

Loh Ih-sian manggut-manggut. "Ya, meski Put-si-sin-liong sudah mati, tapi pengaruhnya belum lagi surut. Bukan mustahil Swe Thian-bang sengaja memilih tempat itu untuk menyelenggarakan pertemuan besar itu." la berhenti bicara dan mengeluarkan satu bungkus kecil obat yang lalu diserahkan kepada Lamkiong Peng. "Jika Hiantit mau berangkat, bawalah obat berasal dari Cui-heng ini yang khusus dibuatnya untuk menghadapi racun andalan Swe Thian-bang. Setiap korban racunnya dapat disembuhkan dengan obat ini," katanya pula.

Dengan senang hati Lamkiong Peng menerima obat itu. Segera ia mohon diri kepada kedua orang-tua dan berbenah seperlunya, lalu berangkat ke Ci-hau-san-ceng....

Malam sunyi senyap, angin meniup santer. Ci-hau-san-ceng yang termasyhur itu juga tenggelam dalam keheningan, hanya pada ruang tengah yang luas itu kelihatan ada cahaya lampu yang agak guram. Di tengah ruangan berjajar tiga buah peti mati, di dalamnya berbaring untuk selamanya Put-si-sin-liong Liong Po-si, Thi-cian-ang-ki Suma Tiong-thian dan Cu-sin-tocu Lamkiong Eng-lok.

Di kedua samping sebuah meja panjang di depan ketiga peti mati itu berduduk Liong Hui, Koh Ih-hong dan Ciok Tim. Ketiga orang itu sama duduk diam dengan khidmat. Akhirnya terdengar Liong Hui menghela napas dan berkata, "Adakah pendapat kalian, apa tindakan kita sekarang?"

Koh Ih-hong dan Ciok Tim saling pandang sekejap.

Mendadak Ciok Tim menggebrak meja dan berseru, "Apa pun yang akan terjadi, Ci-hau-san-ceng tetap harus kita pertahankan. Tidak boleh kita bikin malu nama baik perguruan."

"Tentu saja aku setuju atas sikap Samko ini," kata Koh Ih-hong. "Namun rnelulu tenaga kita bertiga mungkin sukar menghadapi lawan."

"Biar pun tidak mampu melawan juga harus kita pertahankan mati-matian," teriak Ciok Tim.

Ketiga orang lantas bungkam dan termenung pula.

Akhirnya Liong Hui bergumam, “Alangkah baiknya jika saat ini Gote hadir di sini....”

Belum selesai ucapannya tiba-tiba terdengar orang berseru di luar, "Toako, Samko dan Sici, inilah aku sudah pulang!"

Serentak Liong Hui bertiga berpaling. Semuanya melonjak girang sambil berseru, "Hah, Gote, sungguh sangat kebetulan!"

Pendatang ini memang Lamkiong Peng adanya. Sesudah berada di ruang besar, seketika mukanya berubah saat menghadapi peti mati itu.

"Inilah layon Suhu, paman Suma dan paman Lamkiong, Samte yang mengusungnya pulang kemari," tutur Liong Hui.

Dengan air mata berlinang Lamkiong Peng menyembah kepada masing-masing peti mati itu, habis itu barulah ia memberi salam hormat kepada para Suheng-nya. "Siaute menerima kabar ada kemungkinan Swe Thian-bang akan berbuat sesuatu terhadap Ci-hau-san-ceng, maka cepat aku datang kemari. Entah Toako sudah menerima kabar atau belum?" katanya.

"Kenapa tidak?" jawab Liong Hui sambil menunjuk sepucuk surat di atas meja.

Ternyata di atas meja ada sepucuk surat bersampul hitam, cepat Lamkiong Peng mengambil dan membacanya. Begitu selesai membaca, seketika ia menjadi murka. "Bangsat, sungguh terlalu menghina Ci-hau-san-ceng kita. Dan bagaimana tindakan Toako?"

"Justru kuharapkan kedatangan Gote untuk berunding dan cari jalan yang baik," jawab Liong Hui.

"Menurut pendapatku, kekuatan nyata kita memang bukan tandingan gembong iblis itu bersama begundalnya," ucap Lamkiong Peng. "Akan tetapi perkembangan kekuatannya hanya mengandalkan pengaruh racun dan caranya yang kotor. Jika dapat kita sadarkan orang yang terbius oleh racunnya dan membongkar kedoknya yang keji itu, tentu kekuatannya akan dapat kita pereteli sehingga tidak sulit untuk menghancurkan dia. Dan yang utama, tokoh ketujuh aliran dan golongan besar yang terpengaruh, mereka itu harus kita rebut kembali lebih dulu."

Malam tambah larut. Tengah bicara, tiba-tiba terdengar suara tetabuhan yang nyaring menggema angkasa malam sunyi, suara musik itu makin lama makin mendekat.

"Hm, tampaknya kawanan iblis itu sudah datang, harap Toako juga siap menghadapi mereka," kata Lamkiong Peng. "Suruh membuka pintu, kita lihat saja apa yang akan dilakukan mereka."

Segera Liong Hui memberi perintah agar pintu gerbang dibuka. Tidak lama kemudian di tengah kegelapan malam sana muncul berpuluh titik cahaya lentera yang terbagi menjadi dua baris dan beriring-iring masuk ke Ci-hau-san-ceng. Di bawah cahaya lampu, kelihatan di depan adalah delapan anak pemain musik, diikuti serombongan orang yang berdandan berbeda-beda. Di belakangnya lagi kembali dua pembawa lentera kerudung mendampingi sebuah tandu berhias di bawah iringan sekawanan lelaki berbaju hitam.

Setiba di halaman depan ruang tamu, rombongan orang yang berdandan berbeda itu lantas berdiri tegak dengan sikap hormat di kedua samping. Hampir sebagian besar dari rombongan orang ini dikenal Lamkiong Peng. Mereka ialah Yim Hong-peng, keempat tokoh Tui-bun-si-kiam, Bin-san-ji-yu, Ko Hong dan jago Ngo-hou-toan-to Pang Liat dan Iain-Iain.

Yang lebih mengejutkan lagi adalah di antara rombongan ini terdapat juga Yap Man-jing, Tik Yang. Ih Loh dan Kwe Giok-he. Dengan sendirinya mereka sama kelihatan linglung, sudah kehilangan pikiran warasnya dan rela diperalat musuh.

Diam-diam Lamkiong Peng berpikir, “Bila-mana obat pemberian Cui Beng-kui nanti kehilangan khasiatnya, maka akibatnya sukar dibayangkan.”

Dalam pada itu tandu tadi diusung ke depan. Waktu kedua kacung itu menyingkap tabir, keluarlah seorang lelaki setengah baya dengan wajah putih tapi berwibawa. Lamkiong Peng dan Iain-lain sama heran. Sungguh tak terduga gembong iblis yang disegani ini ternyata belum lanjut usia, bahkan tidak mirip orang kangouw umumnya.

Begitu menampakkan diri, dengan suara lantang Swe Thian-bang berseru, "Sungguh sayang waktu hidupnya aku belum sempat berjumpa dengan Liong-taihiap, sesudah beliau wafat baru dapat aku berkunjung kemari. Adalah pantas jika sekarang kuberi penghormatan kepadanya."

la lantas memberi hormat kepada layon Liong Po-si, lalu ia berseru, "Put-si-sin-liong sudah mati, seterusnya Ci-hau-san-ceng harus dicoret dari dunia persilatan. Kukira setiap orang yang hadir di sini sependapat denganku!"

Serentak terdengar anak buahnya bersorak setuju.

"Diam!" bentak Liong Hui dengan melotot. "Ci-hau-san-ceng bersejarah ratusan tahun dan merupakan bintang kejora di dunia persilatan Tionggoan, memangnya kaum lblis semacam kalian ini ingin mengaduk di depan kaum kesatria yang hadir di sini? Jangan mimpi!"

"Hehe, kematian sudah di depan mata, masih berani bicara besar," jengek Swe Thian-bang.

"Hm, anak murid Sin-liong, memangnya takut digertak?" jawab Liong Hui tegas. "Ayo siap, anak murid Ci-hau-san-ceng!"

Serentak terdengar suara gemuruh beratus orang di luar ruangan, berbareng berpuluh obor pun dinyalakan sehingga terang benderang.

"Huh, hanya ratusan orang saja juga berani pamer kekuatan padaku? Cukup sekali tanganku bergerak saja ratusan orang kalian akan menjadi setan!" ejek Swe Thian-bang.

Baru lenyap suaranya, tiba-tiba dari luar ruangan seorang menanggapi, "Haha! Bagus, bagus! Justru kawanan pengemis yang kelaparan ini sudah bosan hidup, kebetulan jika ada yang pandai membuat orang menjadi setan!"

Dari suaranya yang serak itu segera Lamkiong Peng mengenalnya sebagai Ih Hong, tentu saja ia sangat girang.

"Haha, bagus jika kalian minta menjadi setan dari-pada hidup selalu kurang makan!" seru Swe Thian-bang.

Segera ia pun memberi tanda sehingga para pengiringnya sama siap tempur. Melihat gelagatnya, jelas pertarungan sengit sukar lagi dihindarkan. Diam-diam Lamkiong Peng merasa gelisah karena sejauh ini rombongan ayah-bundanya belum kelihatan muncul, padahal tenaga mereka sangat diperlukan.

Dalam pada itu Liong Hui juga sudah memberi tanda. Terdengar suara barisan pemanah memasang panah dan membentang busur di sekeliling ruangan. Diam-diam Yim Hong-peng mendekati Swe Thian-bang dan mengisiki apa yang didengarnya di luar itu. Tampak air muka Swe Thian-bang sedikit berubah, segera ia pun memberi pesan kepada Yim Hong-peng agar menempati posisi yang sudah ditentukan dan siap bertindak.

Selagi ketegangan memuncak dan segera akan terjadi banjir darah, tiba-tiba ada anak buah Kai-pang berseru di luar. "Hong-tun-sam-hiap datang!"

Girang sekali Lamkiong Peng mendengar kedatangan rombongan ayahnya. Dilihatnya Swe Thian-bang juga tersenyum senang. Sejenak kemudian tertampak Lamkiong Siong-ju dan istrinya serta Loh Ih-sian masuk ke ruangan.

"Memang sudah kuduga kalian akan tiba tepat pada waktunya. Kenapa Bong-wan tidak kelihatan ikut datang?" segera Swe Thian-bang menyapa.

Lamkiong Siang-ju memberi hormat, jawabnya, "Kami suami-istri perlu mengajak Lamte bersama sehingga agak terlambat datang, harap dimaafkan. Mengenai Siau-siansing, dia mengatakan ada sedikit urusan lain dan segera akan menyusul tiba."

Swe Thian-bang tampak heran dan sangsi, tapi tidak bertanya lebih lanjut. "Syukurlah Lamkiong-taihiap sudah datang. Sesungguhnya aku harapkan adanya persepakatan antara sesama orang persilatan dan tidak perlu menimbulkan sengketa berdarah. Untuk ini mungkin sekali Lamkiong-taihiap mempunyai gagasan sesuai dengan rencana kita semula?" katanya.

Lamkiong Siang-ju tersenyum. "Kami berterima-kasih atas penghargaan Swe-siansing terhadapku. Ada pun urusan sekarang sedapatnya akan aku selesaikan secara damai," ucapnya. Lalu ia berpaling. "Anak Peng, coba maju sini!" katanya kepada Lamkiong Peng yang berdiri tercengang di sana.

Meski ragu, namun Lamkiong Peng yakin sang ayah pasti mempunyai maksud tertentu. Maka perlahan ia mengisiki Liong Hui dan Iain-lain agar siap tempur, lalu mendekat ke depan sang ayah.

"Anak mohon petunjuk ayah!" ucapnya.

Dengan kereng Lamkiong Siang-ju berkata, "Anak masih muda, seharusnya belajar dari pengalaman orang itu. Bahwa Swe-siansing bermaksud mempersatukan dunia persilatan demi kesejahteraan kaum kita, kebijaksanaan yang luhur ini harus kita dukung. Lekas memberi hormat kepada Swe-siansing dan beri penjelasan lebih lanjut kepada kawan dan saudara seperguruanmu yang lain. Sebentar lagi kita masih akan bermusyawarah lebih lanjut."

Mestinya Lamkiong Peng bermaksud menyatakan pendapatnya, tapi segera ia paham di balik ucapan sang ayah tentu mengandung makna lain. Maka ia hanya mengiyakan saja, lalu ia memberi hormat sekedarnya kepada Swe Thian-bang, dan kemudian mengundurkan diri ke dekat rombongan Yap Man-jing, Tik Yang, Ih Loh dan Kwe Giok-he.

Tak terduga mendadak Liong Hui berteriak dengan mendelik. "Nanti dulu! Paman Lamkiong adalah tokoh pujaanku, sungguh sayang engkau bisa mengemukakan gagasan seperti ini. Bagi anak murid Sin-liong, lebih baik gugur sebagai ratna dari-pada hidup mengekor kepada kaum durjana!"

"Liong-hiantit, kenapa kau bicara seperti ini?" kata Lamkiong Siang-ju dengan kereng. "Memang benar Ci-hau-san-ceng kini berada di bawah pimpinanmu, tapi apakah tidak kau pikirkan kepentingan orang banyak dan lebih suka menjadi orang berdosa bagi dunia persilatan umumnya?"

"Paman Lamkiong!" teriak Liong Hui, "Swe Thian-bang manusia berhati binatang, biar pun kita berdamai dengan dia akhirnya pasti akan dicaploknya juga."

"Kurang ajar!" bentak Swe Thian-bang dengan gusar. "Antara Lamkiong-taihiap dengan pihak kami sudah ada persetujuan, dengan hak apa kau berani ikut bicara, bahkan menghasut? Apakah kau tahu apa hukumannya bagi dosamu ini?"

"Sabar dulu, Swe-siansing," sela Lamkiong Siang-ju. "Seorang pemimpin, bila-mana ingin orang lain tunduk lahir batin hendaknya berlaku bijaksana. Tapi melihat tindak tanduk Swe-siansing sekarang, aku menjadi sangsi apakah pergerakanmu akan berhasil."

Seketika berubah hebat air muka Swe Thian-bang. "Hah, kau pun berani bicara demikian, apakah tidak kau pikirkan lagi keselamatanmu?! Tidakkah kau tahu apa akibatnya pembangkanganmu ini? Apa Siau Bong-wan tidak pernah bicara padamu?" bentaknya.

"Haha!" Siang-ju tertawa. "Siau Bong-wan jangan kau singgung lagi, dia takkan datang lagi untuk selamanya. Semula kusangka Swe-Siansing pasti ada kelebihan dari-pada orang lain, siapa tahu engkau cuma mengandalkan obat racun saja untuk mengelabui mata telinga orang. Baru sekarang terlihat jelas kepribadianmu yang sesungguhnya. Benar-benar patut ditertawakan dan pantas dikasihani."

Merah padam muka Swe Thian-bang saking geramnya. "Memangnya kau kira tanpa obat tak dapat kutaklukkan kalian?" teriaknya.

"Itu perlu dibuktikan dulu," jawab Lamkiong Siang-ju.

"Baik," jengek Swe Thian-bang. Lalu ia berteriak, "Mana Su-tai kim-kong (Empat Jago Utama)?"

Serentak terdengar Yap Man-jing, Tik Yang, Ih Loh dan Kwe Giok-he mengiyakan sambil melangkah ke depan Swe Thian-bang.

Dengan tatapan tajam Swe Thian-bang berseru, “Su-tai-kim-kong harap terima perintah. Segera penggal kepala Lamkiong Siang-ju dan begundalnya yang membangkang!"

Tik Yang berempat kelihatan kaku, serupa terpengaruh obat bius. Terdengar mereka mengiakan dan membalik tubuh, lalu serentak mereka melolos pedang. Akan tetapi mendadak mereka membalik tubuh pula. Empat pedang menotok sekaligus, tapi bukan Lamkiong Siang-ju yang diserang, melainkan Swe Thian-bang sendiri.

Sudah tentu kejadian ini sama sekali tak terduga oleh Swe Thian-bang, maka tanpa ampun dada dan perutnya tertusuk keempat pedang. Namun dia memang tokoh maha-tangkas, sebelah kakinya masih sempat balas menendang dan tepat mengenai bawah perut Kwe Giok-he. Kontan Giok-he menjerit dan roboh terguling. Swe Thian-bang juga tidak tahan lagi. Sambil meraung ia pun roboh terjungkal dengan tangan memegang dada dan perutnya yang mengucurkan darah.

Kiranya tadi waktu Lamkiong Peng disuruh berdamai dengan bekas sahabat dan saudara seperguruannya oleh sang ayah, kesempatan itu telah digunakan oleh Lamkiong Peng untuk memberi obat penawar racun kepada Tik Yang berempat. Sesudah pikiran sehat mereka jernih kembali, diam-diam Tik Yang berempat merencanakan tindakan balasan terhadap Swe Thian-bang, terutama Kwe Giok-he yang merasa telah tersesat dan malu terhadap suami dan para adik seperguruan. Ia menyerang paling ganas dan akibatnya ia sendiri pun tewas kena tendangan Swe Thian-bang. Kejadian tak terduga ini seketika membuat begundal Swe Thian-bang menjadi panik, mereka bingung dan tidak tahu apa yang harus diperbuat, serupa ular tanpa kepala.

Segera, Lamkiong Peng berseru, "Ayo kawan, sikat kawanan durjana ini!"

Serentak orang banyak bersorak ramai dan menerjang maju.

Dengan sendirinya Yim Hong-peng dan kawannya tidak tinggal diam. Mendadak ia menyebarkan kabut putih, sehingga hanya sekejap saja kabut tebal telah memenuhi seluruh ruangan.

Lamkiong Peng pernah melihat kabut berbisa ini dan tahu bahayanya. Cepat ia berteriak, "Awas kabut beracun, tahan napas dan mundur ke luar!"

Karena tebalnya kabut itu, Lamkiong Siang-ju suami-istri dan jago lain tidak sempat lagi menerjang begundal Swe Thian-bang. Beramai mereka berusaha menyingkir. Hanya sekejap saja anak buah Swe Thian-bang sudah terlindung di tengah kabut dan bermaksud kabur.

Dengan menyesal Lamkiong Peng berucap, "Sungguh sayang, meski biang keladinya sudah binasa, namun antek-anteknya sempat lolos!"

Belum lenyap suaranya, sekonyong-konyong terdengar gelak tertawa orang. Sesosok bayangan melayang tiba dari luar didahului oleh cahaya bunga api warna biru yang gemerlapan di tengah kabut tadi, menyusul pendatang itu lantas membentak, "Kawanan tikus semuanya perlihatan diri!"

Aneh juga, begitu kabut tebal itu berbaur dengan cahaya biru itu, seketika kabut menipis dan buyar serupa kabut pagi tertimpa sinar sang surya. Di bawah cahaya lampu terlihat Yim Hong-peng bersama begundalnya sudah mundur sampai di ambang pintu perkampungan.

"Panah!" bentak Liong Hui mendadak.

Serentak terjadi hujan panah bagaikan belalang terbang, pintu gerbang perkampungan teralang dan sukar ditembus. Anak buah Swe Thian-bang yang lari paling depan sana menjerit terkena panah dan roboh binasa, hanya sekejap saja dua puluh hingga tiga puluh orang sudah terkapar.

Melihat gelagat jelek ini, cepat Yim Hong-peng memberi tanda agar begundalnya menyerbu kembali ke tengah ruangan. Dengan membentak gusar segera mereka disambut Liong Hui, Koh Ih-hong, Ciok Tim dan anak buah Ci-hau-san-ceng. Dengan sendirinya Lamkiong Peng dan lain-lain juga lantas ikut bertempur, juga kawanan pengemis pimpinan Ih Hong lantas menyerbu dari luar. Maka terjadilah pertempuran sengit di perkampungan termasyhur ini.

Lamkiong Peng berhadapan dengan Tong Goan satu lawan satu. Hanya lewat beberapa gebrak saja anak muda itu tiba-tiba membentak, pedang pusaka Yap-siang-jiu-loh berkelebat, kontan kepala Tong Goan terbelah menjadi dua tanpa sempat menjerit.

Yim Hong-peng dikerubut Ih Loh dan Tik Yang. Juga cuma beberapa jurus saja tubuh Yim Hong-peng sudah terkacip menjadi tiga bagian oleh kedua pedang Tik Yang dan Ih Loh.

Melihat gelagat tidak enak, Pang Liat dan Iain-lain yang masih tersisa cepat mencari jalan untuk kabur, begitu pula anak buahnya. Karena biang keladi sudah binasa, Lamkiong Siang-ju lantas memberi tanda agar pertempuran dihentikan supaya tidak lebih banyak menimbulkan jatuhnya korban.

Setelah semuanya tenang kembali, dengan terharu Lamkiong Peng berpegang tangan dengan Yap Man-jing. Liong Hui pun sedang mencucurkan air mata dan memandangi jenazah sang istri yang terkapar di lantai itu. Sejenak kemudian barulah Lamkiong Siang-ju teringat kepada pendatang terakhir yang menghamburkan cahaya biru penghapus kabut berbisa tadi. Waktu ia memandang ke sana, ketahuanlah siapa gerangannya. Kiranya tak lain dan tak bukan adalah orang yang dulu menumpang makan di rumahnya, yaitu Ban Tat adanya.

Segera ia mendekati orang itu dan mengucapkan terima-kasih, "Syukurlah kau datang tepat pada waktunya, kalau tidak sungguh sukar dibayangkan bagaimana jadinya."

"Ah, itu pun kewajibanku yang tidak berarti," kata Ban Tat. "Malahan di tengah perjalanan aku bertemu dengan nona Bwe dan mendapat titipan sepucuk surat." Lalu ia mengeluarkan sepucuk surat dan diserahkan kepada Lamkiong Peng.

Tergetar hati anak muda itu. Cepat ia bertanya, "Ke mana dia?"

Ban Tat menghela napas. "Dia... dia sudah ikut ke Kun-mo-to bersama Sun-siau-tocu," katanya dengan menyesal.

Seketika kepala Lamkiong Peng mendengung, hampir saja ia jatuh pingsan.

"Nona Bwe sungguh perempuan hebat," kata Ban Tat pula. "Justru dia rela berkorban demi kesejahteraan dunia persilatan umumnya. Dia yang minta pimpinan Kun-mo-to itu mencegah bargabungnya tokoh ketujuh aliran besar dengan Swe Thian-bang. Kukira sukar bagimu untuk membalas jasanya ini."

Baru sekarang Lamkiong Peng paham apa sebabnya tokoh ketujuh aliran itu tidak muncul membela Swe Thian-bang, kiranya telah mendapat perintah pimpinan Kun-mo-to untuk mengundurkan diri atas permintaan Bwe Kim-soat. Dengan berlinang air mata ia membaca surat Bwe Kim-soat yang antara lain tertulis:

´Hendaknya kau jaga adik Jing dengan baik. Aku ini perempuan yang teramat jelek, tapi aku tetap berharap, semoga kita dapat mengikat jodoh pada jelmaan yang akan datang....

"Semoga....” Lamkiong Peng mengulang kalimat itu. Mendadak tercetus dari mulutnya, "Tidak, tidak! Biar pun ke ujung langit juga akan kutemukan dikau....”

Tiba-tiba sebuah tangan halus memegang lengannya dan suara lembut mendesis di tepi telinganya, "Engkoh Peng!"

Perlahan Lamkiong Peng berpaling. Dilihatnya Yap Man-jing sedang menatapnya dengan sorot mata yang penuh rasa kasih sayang, tanpa terasa ia pegang tangan si nona.

Malam sudah hampir lalu, cahaya subuh mulai menerangi bumi raya ini....

T A M A T