Amanat Marga (Hu Hua Ling) Jilid 28

Dengan tertawa hambar Bwe Kim-soat menegur, "Kau datang kemari tentu ada urusan. Mari, silakan masuk!"

Tek-ih Hujin tertawa dan berkata, "Adik yang baik, sekian lama tidak bertemu, engkau telah banyak bertambah cantik."

"Kemarin dapat aku tangkap dua ekor kelinci hutan, sungguh sedap rasanya. Apakah mau kujamu makan padamu?" ucap Bwe Kim-soat.

Mereka bicara seperti kenalan lama yang baru bertemu, padahal di dalam hati sama-sama ingin mengeremus pihak lawan.

Mendengar suara Bwe Kim-soat, pedih dan girang hati Lamkiong Peng, sungguh kalau bisa ia ingin berteriak. Namun apa daya, hiat-to bisu tertotok, sungguh gemasnya tak terkatakan.

Bwe Kim-soat berkata pula, "Eh, hari ini tampaknya engkau sangat gembira, barangkali ada sesuatu urusan yang menyenangkanmu?"

"Betul, tentunya perahu sudah hampir selesal kau perbaiki, makanya hatiku sangat senang," jawab Tek-ih Hujin.

Kim-soat tertawa terkekeh. "Aha, engkau sungguh sangat baik. Bila-mana perahu sudah aku perbaiki dan aku berangkat sendiri, tentu engkau akan kesepian. Teringat hal ini, sungguh aku pun ikut sedih."

Dalam hati Tek-ih Hujin menggerutu, tapi di mulut ia tertawa. "Ai, adik sungguh memperhatikan diriku. Cuma engkau pun jangan kuatir, aku tidak bakal kesepian lagi, sebab biarlah kuberi-tahukan padamu bahwa hari ini aku telah kedatangan seorang tamu."

"Oo, apa benar? Wah, tamu itu tentu orang luar biasa. Siapakah dia?"

"Lamkiong Peng!" jawab Tek-ih Hujin dengan dingin.

Seketika tubuh Bwe Kim-soat bergetar, seketika lenyap pula suara tertawanya. "Apa katamu? Lamkiong Peng? Dia datang ke pulau ini?” jeritnya kaget.

Dengan tak acuh Tek-ih Hujin menjawab, "Betul, tamuku itu ialah Lamkiong Peng. Apakah ingin kau temui dia? la justru sangat ingin melihatmu."

"Kenapa kutemui dia?" gumam Kim-soat “Dalam hatiku kuanggap dia sudah mati."

"Masa sudah kau lupakan janji setia kalian? Kau lupa kalian sudah terikat menjadi suami-isiri?"

"Aku tidak lupa, tapi sekarang aku benci dia," ucap Kim-soat dingin. "Ketika di Cu-sin-to aku minta dia membuka mata dan memandang sekejap padaku, apa pun dia tidak sudi, kenapa sekarang harus kutemui dia?" Habis berkata demikian ia terus tinggal pergi.

"Nanti dulu," seru Tek-ih Hujin. "Dengan susah payah orang mencarimu, apa pun juga harus kau temui dia."

Kim-soat merandek. "Menemui dia atau tidak, apa gunanya?" katanya.

"Tunggu sebentar, segera kubawa dia ke sini," seru Tek-ih Hujin sambil berlari pergi.

Sungguh lucu juga! Semula dia berharap Bwe Kim-soat akan memohon padanya agar membawa Lamkiong Peng ke sini, siapa tahu sekarang dia yang memohon Bwe Kim-soat suka menemui anak muda itu.

Lamkiong Peng mendengar percakapan mereka, hatinya terasa duka dan juga girang, sebentar kecewa, sebentar lagi mendongkol karena Bwe Kim-soat tidak dapat memahami jalan pikirannya. Tapi segera terpikir pula olehnya, "Biasanya dia dapat berpikir panjang. Jangan-jangan dia tahu maksud tujuan Tek-ih Hujin, maka sengaja hendak balik memperalatnya..."

Selagi sangsi, dilihatnya Tek-ih Hujin sudah berlari tiba. Ia berjongkok membetulkan baju Lamkiong Peng dan merapikan rambutnya, lalu berkata dengan bengis, "Setelah bertemu nanti, harus kau mohon dia dengan sangat, pengaruhi perasaannya, mohon dia mengampunimu, tahu tidak? Hm, kalau tidak, kau tahu sendiri, apa pun dapat aku lakukan."

Lamkiong Peng mengertak gigi dan tidak bersuara. Tek-ih Hujin lantas mengangkatnya dan menuju ke tempat tadi. Dari jauh Lamkiong Peng melihat sesosok tubuh yang ramping berdiri mungkur di hutan yang rindang itu, seketika hatinya berdebar.

"Kim-soat...,” serunya memanggil.

Tubuh Bwe Kim-soat seperti rada gemetar tapi tetap tidak berpaling.

"Adik yang baik," kata Tek-ih Hujin dengan tertawa. "Lihatlah, Cici sudah membawa datang buah hatimu. Lihatlah betapa kurus dan cemasnya karena rindu padamu."

Sampai sekian lama barulah Kim-soat membalik tubuh, namun sikapnya tetap dingin. Melihat sikap dingin itu, berbagai isi hati yang hendak dilampiaskan Lamkiong Peng serasa tersumbat di kerongkongan dan sukar dikeluarkan.

Melihat keduanya diam saja, Tek-ih Hujin menarik tangan Lamkiong Peng dan berkata, "Ayolah bicara, kenapa diam saja? Mengapa kau tidak senang melihat dia? Segala apa hendaknya kau katakan, masa malu?"

"Apa pula yang dapat dikatakannya?" jengek Kim-soat. "Lekas kau bawa pergi dia!"

"Masa engkau benar-benar putus hubungan dengan dia?" teriak Tek-ih Hujin.

"Memang tepat ucapanmu," jawab Kim-soat.

Tek-ih Hujin mendengus, "Hm, jika begitu segera akan kusiksa dengan cara yang paling keji, biarkan dia mati dengan tumpah darah, ingin kulihat apakah hatimu tahan."

Sambil bicara tangan lantas meraba hiat-to Lamkiong Peng. Diam-diam ia melirik Bwe Kim-soat dan berharap orang akan turun tangan menolong. Siapa duga Bwe Kim-soat hanya mendengus saja.

"Hm, silakan mampuskan dia, aku pun ingin tahu betapa dia akan tersiksa."

Tek-ih Hujin melengak. Mendadak ia melompat bangun sambil memaki, "Sungguh perempuan hina yang tak berbudi, tega kau saksikan suami mati konyol. Pantas orang kangouw menyebut dirimu perempuan berdarah dingin, ternyata benar engkau berdarah dingin dan berhati keji."

"Terima kasih atas pujianmu,” ujar Kim-soat dengan tertawa. "Jika darahku tidak dingin, entah berapa kali aku sudah mati....”

Mendadak Bwe Kim-soat berhenti tertawa dan mengeluarkan sebuah genta emas kecil, lalu dilemparkan sehingga jatuh di sebelah kaki Lamkiong Peng. Dengan nada dingin ia berkata, "Ini adalah tanda matamu ketika kita mengikat janji, sekarang aku kembalikan padamu. Selanjutnya kita putus hubungan dan tidak ada sangkut paut."

Hati Lamkiong Pong serasa disayat-sayat, telinga seperti mendengung.

Dengan gusar Tek-ih Hujin memaki, "Sungguh perempuan hina! Biasanya cuma lelaki yang menceraikan istri, sekarang berbalik kau ceraikan suami. Sungguh keji dan tidak tahu malu."

"Huh, kukira yang paling keji dan tidak tahu malu ialah dirimu sendiri," ejek Kim-soat. "Silakan kau temani dia di sini. Kapalku sudah selesai kubetulkan, selamat tinggal, aku mau berangkat!"

Sembari tertawa ia berlari pergi secepat terbang. Setiba di dalam hutan, suara tertawanya berubah menjadi ratapan, "O, Peng cilik, hendaknya maklum. Jika aku tidak bersikap demikian tentu sukar mengelabui Tek-ih Hujin yang keji itu."

Belum habis ucapannya darah segar lantas tertumpah ke luar. la melangkah ke depan dengan sempoyongan dan mencari suatu tempat, lalu duduk. la tahu betapa kejinya Tek-ih Hujin, maka sengaja berlagak memutuskan hubungan dengan Lamkiong Peng supaya Tak-ih Hujin putus asa. Dengan sendirinya tindakannya ini harus dibayarnya dengan mahal, sebab ia telah melukai hati Lamkiong Peng. Tapi ia pun tahu, semakin sukses kepalsuannya itu, betapa pun liciknya Tek-ih Hujin juga akan dapat ditipunya.

"Nah, datanglah kemari, Tek-ih Hujin. Kutunggu kedatanganmu ke hutan ini dengan berbagai perangkap? Lekas kau datang!" demikian gumamnya.

Melihat kepergian Bwe Kim-soat tadi, remuk-redam juga hati Lamkiong Peng. Tanpa terasa ia pun tumpah darah.

Tek-ih Hujin mondar-mandir di sekitar Lamkiong Peng, sejenak kemudian mendadak tergerak pikirannya. Ia dorong Lamkiong Peng dan berkata, "Ayo, ke depan sana."

Setelah menyusuri hutan dan mengitar ke samping, tertampak tebing curam menegak di depan, sedangkan di bawah adalah pepohonan lebat. Setelah berpikir, Tek-ih Hujin mencari dua potong batu api.

Terkesiap Lamkiong Peng. "He, apa hendak kau bakar?!" tanyanya dengan berseru.

"Betul," dengus Tek-ih Hujin. "Akan kubakar ludes hutan ini. Coba lihat, perangkap apa yang diaturnya di sini?"

Maklumlah, selama ini dia tidak berani menggunakan api untuk membakar hutan tempat tinggal Bwe Kim-soat, soalnya ia kuatir dibalas dengan cara yang sama oleh lawan. Bila-mana terjadi demikian, tentu keduanya akan gugur bersama. Tapi sekarang dia tidak ada pertimbangan lain lagi. Dikumpulkannya ranting dan daun kering, lalu dibakarnya. Ranting berapi terus dilemparkan ke tengah hutan. Angin meniup kencang, hawa panas, segera api menyala dengan cepat, asap tebal pun membubung tinggi.

"Haha, ingin kulihat apa yang dapat kau lakukan sekarang, kecuali...."

"Hm, biar pun kau bakar seluruh hutan ini, bila-mana dia sudah berlayar, apa yang dapat kau perbuat atas dia?" jengek Lamkiong Peng.

Tergetar hati Tek-ih Hujin. Ia termangu-mangu sejenak, mendadak ia berteriak, "Baik, biarlah kita mati seluruhnya dan habis perkara!”

Ia tepuk Hiat-to anak muda itu sehingga dapat bergerak bebas, lalu didorongnya sambil
berteriak, "Ayolah terjang sana, susul dia!”

Tak terduga tangan Lamkiong Peng lantas meraih ke belakang, Tek-ih Hujin berbalik ditariknya terus dilemparkan ke bawah. Kontan Tek-ih Hujin tergelincir masuk hutan yang mulai terjilat api itu.

Sambil menjerit, tubuh Tek-ih Hujin disambar lidah api. Cepat ia melompat bangun dan berlari ke tempat yang belum terbakar seperti kesetanan. Tak terduga baru beberapa tombak jauhnya ia berlari, mendadak ia menjerit lagi. Ia jatuh tersungkur, tahu-tahu tubuhnya terkerek terbalik ke atas, rupanya kakinya terjerat oleh rotan yang terpasang di situ, menyusul dari kerindangan pepohonan menyambar ke luar panah kayu sebagai hujan, sebagian panah itu sama menghinggap pada tubuhnya.

Lamkiong Peng tertegun menyaksikan itu. Ia menghela napas dan berlari ke arah datangnya tadi sambil berteriak, "Kim-soat, dia sudah terperangkap, dapatkah kau lihat?"

Ia mengira Bwe Kim-soat tadi sengaja memancing kedatangan musuh, setelah terjebak tentu dia akan muncul. Tak tahunya saat itu Bwe Kim-soat sendiri dalam keadaan tak sadar, meski Lamkiong Peng berkaok-kaok tetap tidak ada jawaban. Ia kecewa dan juga putus asa, mendadak ia pun menerjang ke dalam hutan.

Ia lupa bahwa setiap jengkal tanah di tengah hutan ini penuh perangkap, maka belum beberapa langkah ia lari ke situ segera ia jatuh tersandung. Sepotong batu menyambar dari balik pohon dan tepat menghantam punggungnya, kembali ia tumpah darah dan jatuh kelengar.

Angin laut meniup kencang, api tambah berkobar. Tidak seberapa lama pulau kecil itu sudah berubah menjadi lautan api. Lamkiong Peng bertiga tetap tidak sadar di tempat masing-masing. Api yang berkobar itu semakin mendekat, tampaknya dalam waktu singkat mereka pasti akan terbakar menjadi abu dan tamatlah segalanya....

Pada waktu yang hampir bersamaan, jauh di lautan lepas itu tampak sebuah kapal layar sedang laju mendapat angin buritan. Layar kapal itu tampak indah berwarna-warni, kelasi kapal juga berbaju sutera warna-warni dengan rambut panjang sebatas pundak. Bila diamati baru ketahuan bahwa mereka adalah kaum wanita seluruhnya, cuma semuanya berotot kuat dan berbadan tegap sehingga tidak kalah dengan kelasi lelaki.

Seorang perempuan kekar berambut pendek berdiri di atas geladak dengan bertolak pinggang. Mendadak perempuan ini berteriak, "Aha, daratan!"

Seorang pemuda berbaju perlente menongol dari balik tabir kabin dan lari ke samping si perempuan tegap. Waktu memandang ke depan sana, benar juga di kejauhan muncul bayangan daratan. Segera ia memberi tanda dan berseru, "Putar haluan, maju sepenuh kecepatan!"

Serentak kawanan kelasi betina itu sama bersorak. Kelasi yang sudah lama berlayar tentu saja sangat senang bila-mana melihat daratan.

"Apa sudah kelihatan daratan?" terdengar suara merdu bertanya dari dalam kabin.

Dua nona jelita lantas muncul. Seorang berbaju mewah dan berpupur tebal, memakai ikat kepala kain hijau, gelang tangan berbunyi gemerincing, tampaknya dia adalah pengantin baru. Nona yang lain tidak berdandan juga tidak bersolek, tapi justru kelihatan kecantikannya yang asli.

"Betul, di depan sudah kelihatan daratan," jawab anak muda tadi sambil menoleh.

Perlahan nona bersolek itu menghela napas. "Semoga pulau ini betul Cu-sin-to menurut dongeng itu, supaya adikku ini tidak kuatir setiap hari. Selama ini entah sudah berapa banyak tubuhnya bertambah kurus," ucapnya.

Si pemuda menanggapi, "Bukan cuma dia saja yang gelisah, aku juga....”

Belum lanjut ucapannya, mendadak dilihatnya asap tebal mengepul di daratan sana. Si pemuda pun berteriak kaget, "Hah, timbul kebakaran di sana!"

"Jika di pulau itu ada api, pasti ada manusia yang tinggal di sana. Jangan-jangan pulau ini memang betul Cu-sin-to adanya," ujar nona bersolek tadi.

Si nona berbaju hijau tadi juga kelihatan bersemangat, air mukanya yang dingin mendadak bersemu merah.

Cepat pemuda itu berteriak dan memberi tanda. "Ayo, cepat! Ada kebakaran di pulau itu, api menjalar dengan cepat. Kita harus mencapai sana sebelum api meluas, kalau tidak... Wah...!" la seperti merasakan alamat yang tidak enak, maka sekejap ia pandangi nona baju hijau dan tidak melanjutkan ucapannya.

Kapal layar itu meluncur mengikuti angin buritan, maka tidak lama kemudian sudah mencapai pantai. Sebelum kapal menepi, si pemuda dan kedua nona tadi lantas melompat ke daratan. Nona baju hijau itu paling cemas, serentak ia berlari secepat terbang ke hutan yang berkobar itu.

Si pemuda dan nona berdandan mewah itu melompat ke atas batu karang yang tinggi sambil berteriak, "Adakah orang di tengah pulau?!"

Suaranya keras bergema jauh, namun tenggelam di tengah api yang berkobar dengan suaranya yang gemuruh itu. Dari dalam pulau tiada kelihatan sesuatu jawaban.

Bekernyit kening si nona bersolek, lalu ia berkata, "Jika ada orang di tengah pulau, kenapa tidak ada jawaban? Tampaknya....”

Belum lenyap suaranya, mendadak pemuda berbaju mewah berteriak, "Hei, lihat, apa itu?"

Waktu si nona memandang ke arah yang ditunjuk, terlihat di tengah asap tebal itu, di dalam hutan seperti ada sesosok bayangan tergantung di udara. Keduanya saling pandang sekejap. Segera anak muda itu menanggalkan baju luar untuk membungkus kepalanya.

"Jangan, berbahaya," ucap si nona.

"Selama hidupku sudah kenyang menghadapi hal-hal yang berbahaya, engkau jangan kuatir," kata pemuda itu sambil mengeluarkan sebuah tombak bergagang lemas, sekali putar terjadilah lingkaran sinar.

Dengan gesit ia terus melayang ke sana, menerobos ke dalam hutan. Sesudah dekat, pemuda itu melihat di dahan pohon besar sana bergantung perempuan bermuka jelek dengan terjungkir. Tubuhnya berdarah, rambut terurai dan sebagian sudah terbakar, bila-mana dia terlambat sedikit saja, perempuan ini pasti akan terbakar menjadi arang.

Tanpa pikir ia melompat ke depan. Sekali tebas ia putuskan rotan yang mengikat kaki perempuan itu, Ialu menangkap tubuhnya dan dibawa lari kembali ke atas batu karang tadi. Cepat si nona cantik memadamkan lelatu api yang hinggap di tubuh pemuda itu.

"Tidak terbakar bukan?" tanyanya dengan kuatir,

"Haha, hanya api begitu saja bukan apa-apa bagiku," ujar pemuda itu dengan tertawa.

"Siapa perempuan ini? Kenapa begini rupa?" tanya si nona.

"Jangan urus siapa dia. Jika di atas pulau ada orang, tentu tidak cuma dia saja seorang, sebab apa mungkin dia menggantung dirinya sendiri di situ?"

Belum lanjut mereka bicara, mendadak dari kejauhan sana si nona baju hijau tadi lagi berteriak, "Itu dia, di situ! Lamkiong Peng dia... dia memang benar berada di sini."

Hati si pemuda dan si nona cantik tergetar. "Hahaha, dia telah menemukannya," seru mereka.

Segera mereka berlari ke sana. Tertampak nona baju hijau duduk di atas batu karang sambil memangku seorang. Mukanya cemas, gugup, berair mata, tapi juga gembira.

"Dia... dia terluka," katanya begitu melihat kedua kawannya.

"Apakah parah?” tanya si nona cantik.

"Sangat parah. Untung hanya luka luar dan sudah kuberi obat," tutur si nona baju hijau.

Pemuda itu menaruh Tek-ih Hujin di tanah, Ialu bantu menolong Lamkiong Peng.

"Jangan menangis, adik bodoh. Kan sudah kau temukan dia," ucap si nona cantik sambil mengusapkan air mata si nona baju hijau.

"Tidak, aku tidak menangis, aku terlampau gembira," kata si nona baju hijau. Dia bilang tidak menangis, namun air mata terus meleleh.

Dengan bantuan lweekang pemuda perlente itu, perlahan Lamkiong Peng mulai siuman Waktu membuka mata dilihatnya tiga buah wajah yang sudah dikenalnya, seketika rasa duka dan girang membanjiri hatinya, ia sangka sedang berada dalam mimpi.

Rada gemetar tubuh si nona baju hijau begitu beradu pandang dengan Lamkiong Peng. Segera ia menunduk malu dan melepaskan tangannya yang merangkul anak muda itu.

Lamkiong Peng berdiri. "Tik-heng, sekian lama berpisah, sungguh seperti lahir kembali pertermuan ini," sapanya kepada pemuda perlente itu.

Mendadak si nona cantik bersolek tadi menyela, "Lamkiong Peng, dengan susah payah nona Yap mencarimu kian-kemari, akhirnya jiwamu dapat diselamatkannya, masa tidak kau lihat dia?"

Lamkiong Peng melengak, perlahan pandangannya beralih ke arah si nona baju hijau. "Nona... nona Yap, sungguh aku...," ucapnya.

"Lukamu belum sembuh, lebih baik jangan banyak bicara dulu," kata si nona baju hijau alias Yap Man-jing.

Lamkiong Peng memandang nona cantik bersolek itu sekejap. "Dan ini... ini...," tanyanya dengan ragu.

"Dia inilah pengantin baru, iparmu alias istriku...." Pemuda baju perlente itu bergelak tertawa.

Lamkiong Peng tercengang, tapi cepat ia berseru girang, "Aha! Tak kusangka Tik-heng sudah menikah, selamat dan berbahagialah!"

Kiranya pemuda perlente ini adalah Tik Yang dan nona cantik itu bernama Ih Loh.

Tik Yang tertawa, lalu berkata, "Haha, dalam urusan lain aku memang ketinggalan jauh, tapi urusan kawin aku telah mendahuluimu, pertemuan kita ini sungguh sangat...."

Mendadak ucapannya terhenti ketika dilihatnya air muka Lamkiong Peng berubah pucat. Ia melenggong dan coba tanya apa yang terjadi. Dengan menyesal Lamkiong Peng lantas menceritakan kisah cintanya dengan Bwe Kim-soat serta sikap Kim-soat terakhir tadi....

********************

Mengenai Bwe Kim-soat, selagi dalam keadaan setengah sadar, samar-samar dia merasakan hawa panas yang sukar tertahan. Waktu ia membuka mata dilihatnya hutan di sekelilingnya sudah hampir berubah menjadi lautan api. Ia terkejut dan cepat melompat bangun. Ketika barusan teringat pada Lamkiong Peng, ia menjadi kuatir akan keselamatan anak muda itu.

Segera ia berlari ke luar hutan. Selagi ia hendak bersuara memanggil, pada saat itulah dilihatnya di ketinggian tebing karang sana ada beberapa bayangan orang. Bahkan Lamkiong Peng yang dicemaskan keselamatannya saat itu justru berada dalam pangkuan seorang gadis. Ia kenal gadis itu, ialah Yap Man-jing. Sesaat itu hatinya terasa pedih, cepat ia menarik diri dan sembunyi.

Percakapan antara Lamkiong Peng dan Tik Yang dapat didengarnya dengan jelas, terdengar olehnya ucapan anak muda itu yang mengatakan dia telah memutuskan hubungan, maka anak muda itu pun tidak ingin melihatnya lagi. Sungguh hancur luluh hatinya.

Terdengar olehnya seorang nyonya cantik mendengus, "Jika perempuan itu sudah meninggalkanmu, buat apa kau pikirkan dia lagi?”

"Aku... aku memang takkan memikirkan dia lagi," sahut Lamkiong Peng dengan lesu.

"Makanya selanjutnya harus kau curahkan perhatianmu kepada adik Yap kita ini," kata nyonya cantik itu dengan tertawa.

"Kau tahu, demi mencari dirimu, betapa dia telah menderita lahir dan batin."

Lamkiong Peng hanya menghela napas sambil menunduk tanpa bersuara.

Tambah remuk hati Bwe Kim-soat. Dari jauh dilihatnya Lamkiong Peng berjajar dengan Yap Man-jing, keduanya sungguh pasangan yang setimpal. Sebaliknya dirinya sendiri compang-camping dan kurus pucat, apakah ada yang tahu bahwa pengorbanannya ini juga demi Lamkiong Peng?

Api berkobar dengan hebat. Tanpa berhenti Kim-soat berlari menuju ke dalam goa. Di ujung goa yang menembus perairan itu sudah siap kapal layar yang telah direparasinya dan siap berlayar. Ia lemparkan tambatan kapal, lalu didorong dengan galah, lambat-laun kapal meluncur ke perairan bebas. Kim-soat melompat ke atas kapal dan pasang layar. Ia datang sendirian, sekarang pun berlayar pulang sendirian. Datangnya tidak membawa apa-apa, pulangnya justru membawa hati yang luka....

Di tempat lain Lamkiong Peng dan Tik Yang sedang berusaha menolong Tek-ih Hujin, namun perempuan itu tampak sudah payah karena luka terbakar. Lamkiong Peng telah memberi-tahukan kepada Tik Yang bertiga tentang siapa Tek-ih Hujin.

Perlahan Tek-ih Hujin membuka mata. Dengan sinar matanya yang guram ia mengerling ke arah Lamkiong Peng sekejap, lalu bertanya, "Bwe... Bwe Kim-soat, di… di mana dia?"

Lamkiong Peng tidak menjawab.

Dengan lemah Tek-ih Hujin menghela napas. "Selama hidupku malang melintang di dunia kangouw telah banyak orang kosen yang kutipu, tak tersangka akhirnya aku juga kena ditipu oleh seorang perempuan semacam Bwe Kim-soat. Wahai Bwe Kim-soat, hebat juga kau!"

"Hm, orang suka menipu tentu juga akan ditipu, kenapa.mesti menyesal?" jengek Ih Loh mendadak.

"Kau tahu apa?" kata Tek-ih Hujin dengan gusar. "Meski dia menipuku, tapi pada saat melompat ke bawah tebing sudah dapat kuduga muslihatnya. Ia cuma berlagak dingin terhadap Lamkiong Peng. Sesudah aku tertipu dan tertawan, lalu dia akan bergabung lagi dengan Lamkiong Peng. Haha! Tapi sekarang senjata telah makan tuan, akhirnya kalian jadi tercerai-berai, betapa pun rasa dendamku terlampias juga. Hahahaha....!”

Di tengah gelak tawa latahnya, perempuan siluman ini mendadak mendelik. Sekujur badan lantas berkejang, lalu putus napasnya. Tamatlah riwayatnya yang penuh dosa itu.

Mendadak Lamkiong Peng berteriak sekali, terus melepaskan diri dari pegangan Tik Yang. "Dia pasti masih berada di sana...,” serunya parau.

Dengan langkah sempoyongan ia terus hendak berlari ke tengah hutan yang sudah menjadi lautan api itu. Tik Yang terkejut, cepat ia menarik tangannya.

"Lepaskan aku...!” teriak Lamkiong Peng.

Pada saat itulah seorang kelasi perempuan tampak berlari datang sambil berteriak, "Jalan ke pantai hampir tertutup seluruhnya oleh api, harap tuan dan nona lekas keluar dari sini, kalau tidak tentu sukar lagi meninggalkan pulau ini. Baru saja orang lain sudah berlayar...."

"Hah, siapa yang berlayar? Siapa yang kau lihat?" tanya Tik Yang cepat.

"Waktu hamba pasang mata di atas puncak tiang layar, tertampak di ujung pulau sebelah sana meluncur sebuah kapal, sedangkan api telah mengelilingi seluruh pulau ini."

"Siapa penumpang kapal itu, terlihat jelas tidak?" tanya Tik Yang.

"Kapal layar itu mendapat angin buritan dan melaju dengan cepat, hanya sebentar saja sudah jauh sehingga sukar terlihat siapa penumpangnya. Karena kuatir keselamatan nona, maka hamba Iantas lari kemari."

Tik Yang, Ih Loh dan Yap Man-jing saling pandang, dalam hati sama membatin, tentu Bwe Kim-soat yang telah pergi dengan kapal layar itu. Mereka sama memandang Lamkiong Peng. Anak muda itu kelihatan pucat dan berdiri termenung, mendadak tumpah darah dan jatuh pingsan.

Cepat Tik Yang mengangkat tubuh Lamkiong Peng dan mengajak kawan-kawannya berlari ke pantai. Setiba mereka di atas kapal, tempat mereka berada tadi pun mulai terjilat api. Perlahan Lamkiong Peng siuman kembali. Kapal mereka mengitari dulu pulau yang terbakar itu, mereka berharap dapat melihat bayangan kapal Bwe Kim-soat atau menemukan jejak Liong Po-si dan Lamkiong Eng-lok. Namun tiada sesuatu yang mereka lihat.

Hampir sebulan kapal mereka berlayar kembali. Lamkiong Peng berkabung dengan sedih, sepanjang hari dia tidak bicara. Orang lain ikut berduka dan tak berdaya. Waktu kapal sudah dekat pantai, kendaraan air yang berlalu lintas bertambah banyak. Kapal layar mereka ini banyak menarik perhatian kapal Iain, namun tidak ada yang berani mendekat.

Menurut taksiran Tik Yang, tidak berapa lama lagi kapal pasti dapat menepi, dengan sendirinya hati terasa senang. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba dari depan muncul sebuah kapal layar putih, makin lama makin mendekat. Meski kedua kapal seperti akan saling tubruk, namun kapal itu seperti tidak mau menghindar, bahkan tampaknya sengaja menyongsong kedatangan kapal Tik Yang ini.

Tentu saja Tik Yang kaget dan heran. "Mungkinkah kapal bajak? Kalau tidak, kenapa...?” gumamnya.

"Kuharap kapal ini memang kapal bajak laut, supaya aku dapat melemaskan otot melabrak mereka. Sudah sekian lamanya aku kesal," Ih Loh tertawa cerah.

Tidak lama kapal itu sudah dekat. Di haluan berdiri seorang Ielaki berbaju biru sedang mengayun-ayunkan sehelai kain putih sambil berteriak, "Apakah Tik-kongcu yang datang di kapal depan itu? Mohon turun layar sebentar, ada sedikit urusan hendak aku bicarakan."

Selagi Tik Yang merasa ragu, Ih Loh telah mendahului menjawab, "Betul, sahabat ini siapa? Ada urusan apa?"

Layar kapal itu sudah diturunkan sehingga laju kapal menjadi lambat. Tik Yang Iantas memerintahkan juga menurunkan layar dan mengurangi laju kapalnya. Setelah bersimpangan haluan, kedua kapal berdempetan, lalu segera orang itu melompat ke geladak kapal Tik Yang sambil menatap para penumpangnya.

Dengan kurang senang Tik Yang berkata, "Selamanya kita tidak berkenalan, dari mana sahabat tahu aku berada di kapal ini?"

Lelaki itu tersenyum, ia pandang Lamkiong Peng sekejap, lalu menjawab, "Tik-kongcu pesiar ke lautan bersama nyonya, hal ini sudah tersiar luas di dunia persilatan, terutama layar berwarna-warni kapal Tik-kongcu ini mudah dikenali oleh siapa pun."

"Sahabat sedemikian menaruh perhatian kepada kami, sesungguhnya ada urusan apa?" jengek Tik Yang.

Orang itu tersenyum tanpa menjawab. Ia memberi tanda tepukan tangan, segera di atas kapalnya dikerek naik belasan batang galah bambu panjang, pada ujung galah tergantung keranjang dan diantarkan ke kapal Tik Yang.

"Majikan kami tahu Tik-kongcu dan nyonya sudah sekian lama berlayar di lautan lepas, tentu kurang teratur dalam hal makan minum. Maka hamba khusus ditugaskan mengantar sedikit hidangan sekedar memberi servis kepada Tik-kongcu."

"Siapa majikan kalian?" tanya Tik Yang.

"Majikan sedang menunggu di pantai akan kedatangan Tik-kongcu, setelah bertemu tentu Tik-kongcu akan tahu siapa beliau," jawab orang itu dengan tertawa.

Habis berkata ia lantas mengundurkan diri dan kemball ke kapalnya sendiri, lalu layar berkembang dan kapalnya melaju lagi.

Tik Yang saling pandang sekejap dengan Ih Loh. Mendadak nyonya itu membuang belasan macam hidangan itu ke laut. Untuk menghindari segala kemungkinan, mereka tidak mau mengambil resiko makan hidangan itu. Diam-diam semua orang berpikir, apa maksud tujuan orang mengantarkan makanan itu?

Semalaman tidak terjadi apa pun. Esoknya selagi mereka berdiri di haluan kapal, dari jauh muncul lagi sebuah kapal layar. Sesudah dekat, kembali dari haluan kapal pendatang itu ada orang berteriak.

"Adakah Tik-kongcu di atas kapal situ?"

"Di sini aku berada, masa perlu tanya lagi?" jawab Tik Yang dengan tertawa.

Tertampak orang yang berdiri di haluan itu bukanlah lelaki yang kemarin. Sikap orang ini terlebih hormat, oleh-oleh yang diantarnya terlebih baik dari-pada kemarin.

"Semalam kalian baru saja mengantarkan makanan, pagi-pagi sekarang kalian sudah datang lagi. Rasanya majikan kalian agak terlalu sungkan kepada kami," segera Ih Loh mendahului menegur.

Lelaki itu tampak melenggong bingung. "Pang kami baru pagi tadi menerima kabar kepulangan Tik-kongcu suami-istri dan segera Pangcu kami mengirim kami kemari," jawabnya.

"Jadi yang datang kemarin itu bukan temanmu?" tanya Ih Loh.

Lelaki berbaju panjang itu menggeleng.

"Siapa Pangcu kalian, bolehkah kami diberi-tahu?" tanya Ih Loh pula.

"Sesudah berhadapan tentu Tik-kongcu akan tahu sendiri," jawab lelaki itu. Tanpa banyak bicara kapalnya terus putar haluan dan berlayar pergi.

Kembali Tik Yang saling pandang dengan kawan-kawannya. Mereka tidak tahu, sebenarnya apa maksud pengantar makanan ini. Kembali semua antaran itu dibuangnya ke laut.

Menjelang lohor, berturut-turut datang lagi empat kelompok pengantar hadiah, satu terlebih hormat dari-pada yang lain. Antaran yang datang juga semakin bernilai, namun tiada seorang pun mau menceritakan asal-usulnya sendiri, semuanya menjawab nanti tentu tahu sendiri setelah bertemu. Yang paling aneh adalah orang-orang ini tiada satu pun yang kenal Tik Yang, mereka seperti mewakili setiap golongan atau perguruan masing-masing dan berusaha menarik Tik Yang ke pihaknya.

Lewat lohor dari jauh sudah kolihatan bayangan daratan. Seketika semangat mereka terbangkit, para kelasi wanita itu pun bekerja terlebih giat agar selekasnya dapat mencapai pantai. Cahaya senja indah permai, air laut berkilauan dengan ombak yang mendebur. Banyak juga perahu nelayan sedang menuju ke tepi. Di pantai kelihatan bergerombolan puluhan orang, waktu diamati, semuanya adalah orang perempuan.

“Sungguh aneh," ucap lh Loh dengan heran. "Memangnya beberapa kelompok orang yang mengantar oleh-oleh itu sama hendak memungut dirimu sebagai menantu? Kenapa sebanyak ini orang perempuan menanti kedatanganmu?"

Tik Yang tertawa. Pada saat itulah orang-orang perempuan di pantai itu sama bersorak gembira sambil mengangkat tangan. Rupanya pada saat itu berpuluh perahu nelayan telah merapat di pantai dan sama mendarat, lalu saling berdekapan dengan orang-orang perempuan itu. Maklumlah, adat-istiadat penduduk pantai tidak sekolot orang pedalaman, hubungan antara lelaki dan perempuan terlebih bebas dan tidak banyak pantangan.

Tik Yang terbahak-bahak. "Nah, sudah kau lihat jelas mereka sedang menunggu suami masing-masing yang menangkap ikan di laut dan bukan menyambut kedatanganku," serunya.

Hanya sebentar saja kawanan nelayan itu sudah pergi semua bersama anggota keluarga masing-masing.

"Aneh juga, mengapa pengantar makanan kepadaku itu tidak muncul menyambut kedatangan kita?" gumam Tik Yang dengan heran.

"Di balik urusan ini tentu tersembunyi sesuatu yang tidak beres," ujar Yap Man-jing.

Keempat orang lantas mendarat. Dilihatnya kota kecil tepi pantai ini cukup ramai, jalannya rajin dan resik. Setelah bertanya baru diketahui kota ini cukup terkenal di propinsi Ciatkang, yaitu Lok-jing, berjarak tidak jauh dengan teluk Sam-bun-wan, tempat mereka berlayar semula.

Mereka lantas mencari rumah penginapan. Meski tempat ini masih asing bagi mereka, namun kuasa hotel dan kawanan pelayan seakan-akan sangat ramah dan hormat kepada mereka. Begitu datang mereka lantas disambut dengan perkataan, "Selamat datang, Tik-kongcu!"

"Dari mana kalian tahu siapa diriku?" tanya Tik Yang dengan sangsi.

Kuasa hotel tertawa misterius. Ia berbalik tanya, "Ada lima paviliun di hotel kami, semuanya sudah kami bersihkan dan siap untuk dihuni Tik-kongcu."

"Untuk apa lima paviliun? Kami hanya minta dua saja," kata Ih Loh.

"Agaknya Tik-kongcu tidak tahu, hari ini kami kedatangan lima juragan, masing-masing memesan sebuah paviliun bagimu, bahkan uang sewa sudah dibayar lipat dan tamu yang telanjur masuk lebih dulu disuruh pindah," tutur kuasa hotel itu. "Hamba juga lagi heran, Tik-kongcu cuma satu keluarga, paviliun mana yang akan kalian gunakan?"

Tik Yang saling pandang sekejap dengan sang istri. Lalu Ih Loh berkata, "Orang yang pesan kamar itu apakah meninggalkan sesuatu pesan lagi?"

"Hanya meninggalkan uang sewa dan tidak meninggalkan pesan," jawab kuasa hotel dengan tertawa.

"Coba bolehkah kulihat uang yang mereka bayar kepadamu?" tukas Ih Loh.

Kuasa hotel melengak, tapi ia pun tidak berani menolak.

"Masakah dapat kau temukan sesuatu pada uang perak mereka?" tanya Tik Yang.

Ih Loh tertawa. "Rupanya engkau tidak paham. Setiap bentuk uang perak atau uang kertas tentu ada ciri-ciri asal-usulnya, sebab umumnya ginbio (uang kertas sebangsa cek) setiap tempat berlainan buatannya. Dari uang mereka akan dapat ditemukan mereka datang dari mana."

"Tampaknya banyak juga urusan yang kau ketahui," kata Tik Yang.

Maklumlah, Ih Loh adalah adik perempuan Ih Hong, tokoh Kai-pang atau kaum jembel di daerah perbatasan utara. Gerombolan mereka khusus membegal harta benda yang tidak halal dari kaum perampok, koruptor dan sebagainya. Maka pengetahuan uang perak atau uang kertas dari berbagai tempat cukup dikuasai oleh Ih Loh.

Tidak lama kemudian kuasa hotel membawa ke luar satu kotak tempat uang, isinya ada uang perak, dan ada uang kertas. Lebih dulu Ih Loh mengamat-amati sepotong uang perak lantakan. Buatan lantakan perak itu agak kasar, namun kadarnya cukup murni. Hanya dipandang sekejap saja Ih Loh lantas berkata, "Perak ini berasal dari daerah Jinghai, Sekong dan Tibet. Sungguh aneh, mengapa ada orang dari daerah terpencil itu sampai di tepi pantai sini?"

Lalu ia memeriksa lagi empat helai ginbio. Lembaran pertama keluaran Wi-hong-gin-ceng (sebangsa bank jaman kini). Ginbio ini beredar luas di mana-mana sehingga tiada sesuatu yang mencurigakan. Ginbio kedua adalah keluaran daerah Sujoan, ginbio ketiga juga sering terlihat beredar di daerah Kanglam.

“Kenapa orang-orang dari Sujoan yang jauh juga datang kemari? Sungguh sukar dimengerti, apa tujuannya?" ucap Ih Loh dengan gegetun.

Waktu ia periksa lagi ginbio keempat, tertampak bentuknya agak aneh. Sekeliling uang kertas itu terlukis hiasan bunga warna-warni. Selagi Ih Loh merasa heran, mendadak sebuah tangan merampas uang kertas itu. Lamkiong Peng yang sejak tadi diam saja mendadak merebut uang kertas itu, sebab dikenali uang kertas itu semula adalah milik keluarga Lamkiong.

"Tak tersangka ada di antara orang orang ini membayar dengan ginbio keluarga Lamkiong," ucap Tik Yang dengan heran. Sukar diketahuinya dari golongan mana orang itu.

"Siapa yang membayar dengan uang ini?" tanya Lamkiong Peng.

Kuasa hotel rada ketakutan melihat sikap anak muda itu. Ia menjawab dengan tergagap, “Oh..., dari tamu kedua...."

"Paviliun mana yang dipesannya?" tanya Lamkiong Peng.

"Akan kutunjukkan," jawab si kuasa hotel.

Lamkiong Peng melemparkan ginbio itu ke dalam kotak, lalu ikut pergi bersama kuasa hotel. Setelah menembus sebuah pintu yang membatasi antar halaman, tertampaklah sebuah paviliun dengan halaman yang indah, memang berbeda dari-pada di depan.

"Apakah Tuan hendak memakai paviliun ini?" tanya kuasa hotel.

"Betul," jawab Lamkiong Peng dan mendahului masuk ke rumah itu, di situ ia berdiri termenung.

Melihat perubahan sikap pemuda itu, semua orang tidak berani bertanya. Selagi mereka bergegas hendak istirahat, mendadak terdengar suara ramai-ramai di luar hotel serta suara riuh orang berlari....