Amanat Marga (Hu Hua Ling) Jilid 26

Kembali Lamkiong Peng melenggong.

Terdengar Hong Man-thian menghela napas dan berkata pula, "Apakah pernah kau bayangkan bila-mana kawanan kakek yang aneh ini pulang ke daratan sana, lalu huru- hara apa yang akan timbul di dunia persilatan?"

Seketika Lamkiong Peng bungkam, sungguh ia tidak berani membayangkannya.

"Aku tahu pikiranmu," kata Hong Man-thian pula sambil berbangkit. Tongkat besinya sudah hilang, sekarang ia gunakan sebatang tongkat pendek. "Marilah kita pergi minum arak dulu dan menonton permainan menarik."

Segera mereka keluar dari hutan itu. Setiba di depan hutan, Lamkiong Peng berdiri di bawah keteduhan pohon dengan perasaan tidak tenteram. Tidak lama kemudian mendadak suara tambur bergema keras. Lima orang kakek berbaju belacu tampak muncul, di belakang mereka mengikut lima pelayan ‘manusia binatang’ itu dengan menggotong sebuah dipan batu. Di atas dipan duduk bersila Cu-sin-tocu yang berkening lebar dan bersinar mata tajam itu.

Waktu itu tepat lohor. Air muka Cu-sin-tocu yang pucat itu kelihatan seperti tembus cahaya. Dia seperti takut kepada cahaya matahari, maka menyuruh kawanan pelayan menaruh dipannya di bawah pohon yang rindang. Baru saja dipan batu ditaruh, serentak meledak suara tertawa orang. Biasanya di pulau ini sangat jarang ada orang tertawa, apalagi tertawa keras bebas begini.

Cu-sin-tocu menyapu pandang sekejap, lalu membentak ke arah suara tertawa itu, "Siu Yan, kau tertawa apa?!"

Hong Man-thian melompat maju dan berseru, "Hong adalah she keluargaku turun-temurun. Man-thian adalah nama pemberian ayah-bundaku. Seorang lelaki sejati berjalan takkan ganti nama, duduk tidak perlu tukar she. Namaku ialah Hong Man-thian, siapa yang bernama Siu Yan?"

Kiranya Siu Yan adalah nama Hong Man-thian pemberian Cu-sin-tocu, serupa halnya Lamkiong Peng juga diberinya bernama Ci Cui.

Kawanan kakek yang lain sudah sangat lama tidak mendengar ucapan orang segagah berani ini. Meski hati mereka sudah beku, tidak urung agak tergugah juga perasaan mereka sehingga memperlihatkan sikap terangsang. Setitik lelatu api yang jatuh ke sekam bisa juga menimbulkan bara.

Air muka Cu-sin-tocu yang kelam tetap tidak berubah. "Baiklah, apa yang kau tertawakan, Hong Man-thian?" katanya perlahan.

"Aku tertawa geli, sebab kebanyakan orang yang berada di pulau ini rata-rata adalah tokoh yang pernah mengguncangkan dunia persilatan, tapi sekarang semuanya telah berubah serupa mayat hidup dan harus tunduk kepada perintah seorang gila, seorang makhluk cacat. Jika kejadian ini diceritakan tentu tiada seorang pun mau percaya, bukankah aneh dan rnenggelikan?"

Sorot mata Cu-sin-tocu yang tajam menatap wajah Hong Man-thian. Mukanya tambah pucat, tapi tidak segera menanggapi.

Dengan membusung dada Hong Man-thian berteriak pula, "Kedatangan kami ke sini sebenarnya disebabkan sudah bosan kepada kehidupan dunia ramai dan ingin hidup tenang, tapi bukan datang untuk diperlakukan sadis olehmu dan hidup serupa hewan. Ingin kutanya padamu, berdasarkan apa engkau memerintah para tokoh terkemuka dunia persilatan ini?"

Kawanan kakek yang lain tetap tidak bersuara, namun sikap mereka jelas tambah terangsang, begitu pula Lamkiong Peng, hampir saja ia bersorak memuji.

Gemerdep sinar mata Cu-sin-tocu. "Bagus, kau berani bicara dan tertawa, tentunya kau yakin akan mampu menghadapiku. Nah, siapa pula yang sehaluan denganmu, boleh silakan tampil sekalian," katanya perlahan, kata demi kata.

Lamkiong Peng berdiri di bawah pohon di samping belakang Cu-sin-tocu sehingga tidak dapat melihat sinar matanya, hanya dari suaranya memang menimbulkan semacam daya pengaruh yang sukar dibantah. Dilihatnya kawanan kakek yang berdiri di depan sana sama berubah pucat, tidak ada yang berani tampil ke muka, sebaliknya malah kelihatan menyurut mundur dengan takut.

"Hm, jadi cuma kau sendiri saja yang akan melawanku?" jengek Cu-sin-tocu.

Air muka Hong Man-thian juga berubah. Mendadak ia membalik tubuh dan berseru, "Hm, kalian takut apa?! Memangnya kalian sudah lupa pada persetujuan yang telah kita
rundingkan selama ini?"

Kawanan kakek itu berdiri diam saja dengan menunduk. Air muka Hong Man-thian menjadi pucat juga. Perlahan ia berpaling kembali menghadapi Cu-sin-tocu dengan tangan agak gemetar.

"Hm, jadi cuma kau sendiri yang berniat berebut kedudukan Tocu denganku? Kukira gampang urusannya...."

Mendadak ia memberi tanda. Serentak kelima kakek berbaju belacu warna kuning melompat maju dan mengepung di sekeliling Hong Man-thian.

"Bila-mana kusuruh mereka menawan dirimu, mati pun tentu kau penasaran," kata Cu-sin-tocu. "Selama ini engkau menjadi salah seorang anggota pengurus di sini, ilmu silatmu tentu selalu terlatih baik. Nah, asalkan dapat kau kalahkan diriku, selanjutnya pulau ini akan menjadi kekuasaanmu."

Tangan Hong Man-thian yang memegang tongkat tampak rada gemetar, agaknya dia sedang mengerahkan tenaga dan siap menyerang bila ada kesempatan. Cu-sin-tocu juga menatap lawannya dengan melotot. Keduanya sama tidak bergerak, namun air muka kedua orang makin lama makin prihatin. Para penonton juga tambah tegang. Lambat laun butiran keringat tampak menghiasi kening Hong Man-thian.

Selagi Hong Man-thian hendak melancarkan serangan, sekonyong-konyong dari dalam hutan sana ada orang membentak, "Nanti dulu!"

Berbareng itu Lamkiong Peng melompat ke luar. Rupanya teringat olehnya berbagai kebaikan Hong Man-thian, ia tidak dapat tinggal diam lagi dan harus menyatakan sikapnya. Selagi semua orang melengak, dengan lantang Lamkiong Peng berseru, "Lamkiorg Peng juga berdiri di pihak Hong-locianpwe!" Dengan sikap gagah ia berdiri di depan Hong Man-thian.

Sorot mata Cu-sin-tocu memancarkan cahaya mengejek. "Hm, kau pun berniat ikut berebut kedudukanku?" tanyanya.

"Salah," kata Lamkiong Peng. "Soalnya pendirianku sepaham dengan Hong-locianpwee adalah, bila-mana aku tidak berani ikut bicara, maka rasanya akan serupa duri di dalam kerongkongan."

"Hah, bagus!" jengek Cu-sin-tocu. "Anak muda serupa dirimu juga berani bicara begini. Apakah kau tidak sayang lagi akan jiwamu? Kau pun takkan menyesal atas sikapmu ini?"

"Aku tahu apa yarg kulakukan, kenapa mesti menyesal?" jawab Lamkiong Peng.

"Bagus!" Mendadak terdengar teriakan orang di kejauhan. Sesosok bayangan melayang tiba secepat terbang dan berhenti di samping Lamkiong Peng, siapa lagi dia kalau bukan Put-si-sin-liong Liong Po-si.

"Hm, kau pun datang!" jengek Cu-sin-tocu.

"Betul, tak kau sangka bukan?" jawab Liong Po-si. "Hong-heng dan Peng-ji, silakan kalian mundur dulu, biar aku belajar kenal dengan tokoh misterius yang disegani ini. Ingin kutahu, kepandaian apa yang dikuasainya?"

Habis bicara, ia ambil tongkat Hong Man-thian, tanpa banyak omong lagi ia mengemplang kepala Cu-sin-tocu. Tak terduga oleh Cu-sin-tocu orang berani bergebrak begitu saja dengan dirinya. Segera lengan bajunya mengebut dengan keras, tanpa kelihatan bergerak serangan Liong Po-si itu dapat dipatahkannya. Namun tongkat Liong Po-si terus berputar, dalam sekejap saja ia menyerang enam tujuh kali.

"Apa benar engkau tidak ingin hidup lagi?!" bentak Cu-sin-tocu yang terbungkus di tengah bayangan tongkat.

"Betul, coba tunjukkan kepandaianmu!” bentak Liong Po-si sambil tetap menyerang.

"Apakah rencanamu itu sudah kau lupakan?"

"Huh, rencana apa?! Hanya untuk menipu anak kecil saja," seru Liong Po-si dengan tertawa.

Cu-sin-tocu menjadi gusar. Mendadak sebelah tangannya meraih, kontan ujung tongkat terpegang, sedangkan tangan yang lain terus menghantam dada lawan. Semua orang menjcrit kaget.

"Kreek!" tongkat patah menjadi tiga bagian, bagian tengah yang patah mencelat dan menancap di batang pohon.

Dengan tongkat patah Liong Po-si tetap menyabet ke depan, namun dadanya tepat kena dihantam oleh Cu sin-tocu sehingga jatuh terjengkang. Namun pundak Cu-sin-tocu juga terluka oleh tusukan tongkat patah Liong Po-si. Para penonton sama terkesiap.

Lamkiong Peng memburu maju sambil berseru, "Suhu...!"

Akan tetapi Liong Po-si lantas melompat bangun dan membentak, "Minggir!"

Cepat ia memburu ke depan dipan batu. Kedua potong tongkat patah digunakan sebagai Boan-koan-pit, sekaligus ia menotok beberapa hiat-to maut di dada lawan. Terkejut juga Cu-sin-tocu oleh serangan kalap Liong Po-si. Kedua tangannya bekerja cepat, menangkis dan balas menyerang dengan sodokan kuat.

"Kembali!" bentak Cu-sin-tocu.

"Tidak!" Liong Po-si bertahan, tongkat patah berputar dan kembali ia menotok lagi dua tiga kali.

Karena bersuara, segera darah segar terpancur dari mulutnya. Rupanya hantaman Cu-sin-tocu yang mengenai dadanya tadi membuatnya terluka dalam. Kuatir juga Lamkiong Peng. Dilihatnya sang guru tetap tidak gentar dan masih menyerang dengan kalap.

Darah yang ditumpahkan Liong Po-si agaknya merangsang lagi semangat kawanan kekek. Segera dua tiga kelompok merubung maju, hanya para kakek penghuni goa itu tetap berdiri di samping tanpa menghiraukan.

"Awas, Suhu," desis Lamkiong Peng kepada gurunya.

"Tocu ini bertempur dengan duduk sejak tadi, jika dia berdiri...."

"Sudah lama orang ini mengalami kelumpuhan akibat latihan lweekang. Kedua kakinya cacat, tidak dapat berdiri lagi," ujar Hong Man-thian.

“Plak! Plok!” Mendadak terdengar lagi suara.

Kembali Liong Po-si tergetar jatuh oleh adu pukulan, tubuh Cu-sin-tocu juga tergoyang. Kiranya kedua orang sama-sama terkena pukulan Iawan.

"He, Suhu, bagaimana keadaanmu?" seru Lamkiong Peng kuatir sambil memburu maju.

"Boleh kau lihat mereka," ujar Liong Po-si dengan tersenyum pedih dan muka kelihatan pucat.

Waktu Lamkiong Peng berpaling ke sana, terlihat kawanan kakek berbaju belacu sama terbangkit semangat perlawanannya, serentak Cu-sin-tocu terkepung di tengah. Cu-sin-tocu duduk diam saja dengan muka pucat, sejenak kemudian mendadak ia pun tumpah darah.

"Huh, kau pun terluka parah," jengek Hong Man-thian. "Apa yang akan kau katakan lagi?"

“Ya, aku terluka parah, apa yang dapat kukatakan lagi? Terpaksa kuserahkan tempatku ini." ujar Cu-sin-tocu. "Bukan cuma kedudukan saja yang kuserahkan, juga jiwaku kuserahkan. Cuma kuharap aku diberi kesempatan untuk membereskan segala sesuatu sebelum ajalku."

Para kakek menjadi ragu. Selagi Hong Man-thian hendak bicara, tiba-tiba Liong Po-si berkata, "Biarkan dia pergi."

Lalu Cu-sin-tocu berpaling ke arah kelima kakek anggota pengurus yang berbaju belacu warna kuning. "Dan bagaimana dengan kalian?" tanyanya.

Para kakek anggota pengurus saling pandang sekejap, tanpa bersuara mereka menyingkir jauh ke sana.

"Bagus, kalian juga meninggalkan diriku," ucap Cu-sin-tocu dengan tersenyum pedih.

Mendadak terdengar suara meraung, menyusul ada orang menjerit. Kiranya kelima manusia binatang itu serentak menerjang tiba. Seorang kakek yang lengah telah dipegang mereka dan terbeset mentah-mentah menjadi dua sehingga darah dan daging berceceran.

Kakek yang lain menjadi murka. Serentak mereka melancarkan serangan balasan, segera terdengar dua kali jeritan ngeri, dua manusia kera itu terlempar dan terbanting binasa.

"Berhenti!" cepat Cu-sin-tocu membentak.

Waktu kawanan kakek itu tersentak kaget, Cu-sin-tocu lantas memberi tanda pada ketiga manusia kera yang tersisa. "Bawa aku pulang!" bentaknya pula.

Cepat ketiga manusia kera mengangkat dipan batu dan dibawa ke goa.

Cu-sin-tocu sempat menoleh dan berkata, "Segera akan kuberi kabar pada waktu matahari terbenam nanti!"

"Memangnya kami kuatir tak ada kabarmu?" jengek Hong Man-thian.

Cu-sin-tocu mendengus. Mendadak ia melirik ke arah Lamkiong Peng seperti hendak bicara tapi urung, lalu ia terus dibawa pergi.

Sementara itu air muka Liong Po-si tambah pucat, napas pun mulai lemah. Melihat keadaan sang guru yang gawat itu, Lamkiong Peng sangat sedih.

Mendadak ia berbangkit dan berteriak kepada para kakek, "Kalian dahulu adalah kaum kesatria pujaan, kenapa sekarang sama berubah menjadi pengecut? Bila-mana tadi kalian ikut bertindak, tentu guruku takkan mengalami cedera seperti ini."

Semua orang sama berdiri termangu, sorot mata mereka tampak buram lagi.

"Wahai Suhu, jika merasa bukan tandingan lawan, untuk apa...?"

Belum lanjut keluhan Lamkiong Peng, perlahan Liong Po-si membuka mata. "Peng-ji, duduk saja, dengarkan suatu ceritaku," katanya dengan tersenyum pedih.

Seketika semua orang sama diam dan ikut mendengarkan apa yang akan diceritakan orang tua itu.

Dengan perlahan Liong Po-si bertutur, “Di suatu hutan jaman purba, suasana tenang dan damai. Siapa tahu mendadak datang seekor binatang buas, setiap hari pasti seekor binatang kecil akan dimakannya. Tentu saja kawanan binatang lain sama panik, tapi tidak ada yang mampu melawan dan terpaksa mereka hidup terinjak-injak di bawah keganasan binatang buas itu....”

"Saking tak tahan, akhirnya kawanan binatang itu berkumpul dan mencari akal cara bagaimana merobohkan binatang buas itu. Namun semuanya tak berdaya, hanya seekor kelinci saja menyatakan mempunyai akal yang mampu membunuh binatang buas itu. Tentu saja kawanan binatang lain sama sangsi. Tapi kelinci itu juga tidak bicara apa pun. Ia pulang ke rumah, lalu melumuri diri sendiri dengan air racun yang paling keras, kemudian ia datang ke tempat binatang buas itu dan serahkan diri untuk dimakan....”

"Akhirnya kelinci itu dimakan binatang buas itu, tentu saja dia mati keracunan. Maka suasana hutan itu pun kembali tenteram dan damai. Namun hati kawanan binatang lain sama sedih bagi pengorbanan si kelinci. Coba katakan pengorbanan kelinci itu berharga atau tidak?"

Habis bercerita, keadaan sunyi senyap, tiada seorang pun bersuara. Lamkiong Peng pun menunduk dan mencucurkan air mata terharu.

Put-si-sin-liong Liong Po-si tersenyum, lalu menyambung ceritanya, "Tadi telah kuperiksa sekeliling pulau ini, ternyata tidak ada harapan bagi kita untuk kabur dan sini, maka timbul niatku meniru pengorbanan si kelinci untuk menyelamatkan orang banyak. Serangan Tocu tadi sebenarnya cuma tipu pancingan saja. Ia yakin aku pasti mampu menghindar. Tak tersangka aku justru tidak mengelak dan tidak menghindar, tapi pada detik menentukan yang cuma sekilas itu kulancarkan serangan maut dan melukainya. Meski aku pun terluka, namun pengorbanan ini rasanya cukup berharga."

"Liong-taihiap, sungguh aku...,” tersendat ucapan Hong Man-thian sehingga tidak sanggup melanjutkan.

Ia coba periksa keadaan luka Liong Po-si, kawanan kakek yang lain juga memberikan obat luka. Meski Liong Po-si menyadari lukanya sukar disembuhkan, namun ia pun tidak menolak pemberian obat itu.

Sementara itu sang surya sudah bergeser ke barat, senja sudah tiba. Tertampak seorang manusia kera berlari datang dengan membawa sehelai surat. Cepat Hong Man-thian menerimanya. Dengan kening bekernyit ia membaca dengan suara lantang, ‘Sudah kuputuskan akan mengundurkan diri. Bila di antara kalian ada yang ingin menjadi Tocu, silakan ikut kemari bersama utusan ini untuk berunding lebih lanjut tentang penggantiku’.

Selesai Hong Man-thian membacakan surat ringkas ini, serentak kawanan kakek itu sama gempar. Kelihatan kelima kakek berbaju belacu juga sibuk membicarakan hal ini.

Mendadak Hong Man-thian berteriak, "Bukan tujuan kita untuk menjadi Tocu segala. Tapi barang siapa yang terpilih hendaknya jangan lupa pada pengorbanan Liong-taihiap ini, kalau tidak, harus dia hadapi aku lebih dulu."

"Kau sendiri perlu ke sana...,” kata Liong Po-si terbata-bata.

"Jangan kau pikirkan urusan ini," sela Hong Man-thian. "Yang penting harus kita usahakan meninggalkan pulau ini."

Sementara itu si manusia kera sudah mendahului melangkah pergi dan diikuti serombongan kakek. Cuaca mulai gelap. Belum lagi rombongan ini tiba di tempat tujuan, sekonyong konyong terdengar suara gemuruh bergema dari goa rahasia, suaranya menggelegar dan dalam sekejap suasana lantas sunyi kembali.

"Celaka!" teriak Liong Po-si, kawanan kakek juga sama melengak.

“Ada urusan apa?" tanya Lamkiong Peng.

Tapi Hong Man-thian terus berlari ke sana bersama kawanan kakek.

"Peng-ji, coba kau pun melihat ke sana. Apa yang terjadi sesungguhnya?" kata Liong Po-si.

Lamkiong Peng mengiyakan sambil berlari pergi secepat terbang. Ginkang-nya sekarang sudah berlipat lebih tinggi dari-pada dulu, hanya sekejap saja ia sudah sampai di depan tebing yang curam itu. Tertampak pintu goa rahasia itu tertutup rapat, Hong Man-thian dan kawanan kekek berdiri di situ dengan tertegun.

"Apa yang terjadi?" tanya Lamkiong Peng dengan bingung.

"Wah, kenapa kulupakan langkah ini?" ucap Hong Man-thian sambil menghentak kaki.

"Sungguh tak tersangka keparat ini sedemikian keji....”

Melihat orang tua itu juga bisa gelisah, Lamkiong Peng coba tanya pula apa yang terjadi.

Hong Man-thian menghela napas. "Goa ini sebenarnya tempat yang biasa digunakan untuk bersembunyi orang yang lari dari dataran sana. Lubang masuk keluar goa dibangun serupa makam kuno dengan batu penutup yang bisa anjlok sendiri. Sekarang Tocu itu sudah melepaskan batu penutup sehingga jalan ke luar sudah tersumbat buntu. Kawan-kawan yang berada di dalam goa jelas akan terkubur hidup-hidup bersama dia. Memang sudah kuduga orang itu pasti akan bertindak secara drastis, tapi tak tersangka dia dapat berlaku sekejam ini, kematian sendiri harus disertai teman kubur sebanyak ini,” tuturnya.

Lamkiong Peng merasa ngeri, "Apakah tidak ada jalan untuk menyelamatkan mereka?"

"Sekali batu penyumbat sudah dilepaskan, biar pun malaikat dewata juga sukar masuk-keluar. Bukan saja mereka akan tamat seluruhnya, bahkan keadaan kita juga... juga menguatirkan," tutur Hong Man-thian sambil menggeleng.

"Kenapa jadi begitu?" tanya Lamkiong Peng cepat.

"Kau tahu, semua perbekalan yang tersedia di pulau ini tersimpan di dalam goa. Pulau ini tidak menghasilkan tetumbuhan yang dapat dimakan, binatang juga sangat sedikit. Ai, selanjutnya mungkin kita harus isi perut dengan akar rumput atau kulit pohon."

Perasaan semua orang jadi tertekan, semua merasa sedih.

"Jika pulau ini tidak dapat didiami lagi, lebih baik kita berdaya pulang ke daratan selekasnya," ujar Lamkiong Peng.

"Omong sih gampang, tapi prakteknya maha-sukar," ujar Hong Man-thian.

"Lautan seluas ini, andaikan kita dapat membuat perahu kecil atau rakit juga takkan tahan damparan gelombang ombak yang dahsyat."

"Bukankah tempo hari Cianpwee juga mengarungi samudra jauh dari daratan sana, masa sekarang...?”

"Sekarang musimnya berbeda," ujar Hong Man-thian. "Mestinya di pulau ini ada belasan kapal yang terbuat dari kayu besi yang kuat dan tahan damparan ombak, sebab itulah biasanya kami gunakan kapal itu pada waktu tertentu untuk pergi dan pulang dari sini ke daratan sana. Kini kapal itu tersisa tiga buah saja, tapi sisa ketiga kapal itu juga berada di dalam goa."

Belum lagi mereka merasakan hasil kemenangan, segera mereka diliputi kesedihan lagi akan nasib mereka selanjutnya.

Selama beberapa hari Iuka Liong Po-si sudah ada kemajuan, namun tetap parah. Tenaga pukulan Tocu itu sungguh hebat, kalau bukan Liong Po-si pasti sudah binasa. Untung juga di tengah pulau ada sumber air tawar yang dapat diminum mereka, namun hidup mereka serupa orang yang terkurung di gurun pasir.

Bila-mana Liang Po-si tidur, Lamkiong Peng lantas berbicara dengan kawanan kakek itu mengenai llmu silat. Pada otaknya sudah hafal berbagai macam kungfu sakti yang dibacanya dari kitab-kitab pusaka itu, sekarang ditambah lagi petunjuk kawanan kakek yang berpengalaman luas, tentu saja kemajuannya sangat mengejutkan. Tapi bila teringat olehnya hidupnya akan berakhir di pulau terpencil ini dalam waktu tidak lama lagi, biar pun kungfu-nya maha-sakti juga tidak ada gunanya. Bila teringat demikian, segera hatinya berduka juga.

Selang beberapa hari lagi, hawa bertambah panas. Lamkiong Peng menjaga di samping Liong Po-si dan mengipasnya dengan kipas daun untuk mengusir nyamuk dan lalat.

"Bikin susah padamu saja, anak Peng," ucap Liong Po-si dengan pedih.

"Ah, yang susah kan Suhu," kata anak muda itu. "Suhu, sungguh murid tidak mengerti, mengapa dari puncak Hoa-san engkau bisa datang ke sini?"

Liong Po-si menghela napas. "Kalau diceritakan sungguh sangat panjang.... Hari itu, di puncak Hoa-san kulihat Yap Jiu-pek ternyata belum mati, tentu saja aku kaget dan juga girang. Sepanjang jalan dia telah mempermainkan diriku dengan berbagai cara, dan karena tidak mau menyerah kalah, aku terus menerjang ke atas. Tapi sesudah melihat keadaannya yang mengharukan, rasa dongkolku lantas lenyap."

Diam-diam Lamkiong Peng merasa sang guru yang gagah perkasa itu ternyata juga berhati Iemah terhadap orang perempuan. Segera teringat olehnya akan diri Bwe Kim-soat....

Didengarnya Liong Po-si menyambung lagi, "Sesaat itu aku berdiri tertegun di depannya dan tidak tahu apa yang harus kukatakan. Waktu....”

Belum lanjut ceritanya, mendadak di kejauhan terdengar suara ribut dan jeritan di sana-sini.

"Ada apa?" tanya Liong Po-si.

"Akan kuperiksa ke sana," kata Lamkiong Peng sambil menyelinap ke luar dari gubuk itu.

Dilihatnya di dalam hutan sana bayangan orang berkelebat kian kemari dengan cepat. Terdengar pula suara Hong Man-thian lagi berkata, "Coba periksa sekeliling, kujaga di sini!"

Cepat Lamkiong Peng memburu ke sana. Setiba di tepi sebuah sungai kecil, tertampak menggeletak empat sosok mayat. Wajah Hong Man-thian tampak kelam, tongkat kayu yang dipegangnya berulang menghentak tanah.

"Ken... kenapa mereka mati? Masa....?"

"Coba lihat," ucap Hong Man-thian.

Waktu Lamkiong Peng mengamati, dilihatnya tubuh keempat mayat itu telah berubah menjadi hitam serupa daging busuk, baunya bacin. Padahal tidak terlihat tanda terluka, namun air muka korban kelihatan berkerut serupa orang yang menderita keracunan.

“Jangan-jangan ada racun dalam air?" sela Lamkiong Peng.

Belum lagi Hong Man-thian menjawab, seorang kakek berlari datang dengan membawa sebuah mangkuk perak. Waktu air sungai diciduk, mangkuk perak segera berubah hitam warnanya.

"Hah, benar. Airnya beracun!" seru Lamkiong Peng kaget.

Seketika Hong Man-thian tak bisa bicara. Jika satu-satunya sumber air di pulau ini juga beracun, maka nasib mereka selanjutnya sukar dibayangkan.

Selagi semua orang tak berdaya, mendadak Lamkiong Peng berseru, "Tidak menjadi soal. Air sungai ini terus mengalir, umpama di hulu sungai diracuni, suatu ketika air yang beracun juga akan habis teralir. Asal kita berjaga di bagian hulu, tentu takkan sampai mati kehausan."

"Hah, betul. Lekas ke sana!" seru Hong Man-thian.

Sementara itu beberapa kakek sudah memeriksa ke sekeliling situ dan telah kembali dengan tangan hampa, dua di antaranya lantas lari ke hulu sungai untuk berjaga.

"Untung sumber air ini terus mengalir. Namun urusan ini belum lagi selesai, sebelum orang yang menaruh racun ditemukan, selama itu kita tetap akan terganggu," ujar Hong Man-thian.

Semua orang saling pandang dan tidak dapat menerka siapa yang menaruh racun dalam air.

Waktu Lamkiong Peng memandang ke sana, mendadak ia berteriak kaget, "He, lihat?!"

Semua orang memandang ke arah yang ditunjuk, ternyata asap tebal mengepul di tengah hutan sana. Di tengah asap terbawa lelatu api, ketika tertiup angin, segera api berkobar terlebih berbahaya.

"Wah, hutan terbakar, " seru Hong Man-thian kuatir.

Serentak mereka memburu ke sana. Hanya sekejap saja mereka sudah sampai di depan hutan, namun begitu sukar untuk mendekat karena kobaran api yang menjilat dengan hebatnya. Angin pun meniup dengan santer sehingga makin menambah berkobarnya api, hanya sekejap saja hutan itu sudah berubah menjadi lautan api. Padahal di dalam hutan ada tetumbuhan yang merupakan sumber hidup mereka, sekarang sudah hangus semuanya.

Selagi mereka melenggong tak berdaya, mendadak dari tengah hutan yang terbakar itu melompat ke luar dua sosok bayangan, kiranya kedua kakek yang disuruh memeriksa sekeliling sana. Baju mereka sudah terjilat api, rambut dan jenggot juga terbakar. Segera mereka menjatuhkan diri dan menggelinding di tanah untuk memadamkan api. Begitu melompat bangun lagi, seorang lantas menuding ke tengah hutan sambil berseru, "Dia...!” tapi baru bersuara demikian, ia lantas roboh lagi.

"Siapa maksudmu?" Lamkiong Peng mendekatinya dan bertanya.

Dilihatnya kulit badannya sama melepuh terbakar, nyata lukanya sangat parah. Berkat lweekang-nya yang tinggi ia bertahan dan menerjang ke luar hutan, namun akhirnya tetap mati karena lukanya. Waktu Lamkiong Peng berpaling, dilihatnya kakek yang satu lagi juga sudah menggeletak tak berkutik.

"Siapa... siapa maksudnya?!" gumam Hong Man-thian dengan beringas. Mendadak ia menambahkan, "Lekas kembali ke sana, jangan sampai tempat tinggal di sana juga dibakar musuh!"

Belum habis ucapannya, serentak mereka lari kembali ke tempat tadi. Sesudah dekat dan melihat gubuk itu tidak berhalangan, barulah hati mereka merasa tenteram.

"Suhu...! Suhu...!" dari jauh Lamkiong Peng lantas berteriak, lamat-lamat ia merasa firarat yang tidak enak.

Benar juga! Setiba di depan gabuk, waktu ia melongok ke dalam, seketika air mukanya pucat. Ia sempoyongan dan jatuh terduduk sambil berteriak, "Oo, Suhu...! Suhu...!”

Ternyata Liong Po-si sudah tidak terlihat lagi di situ, entah menghilang ke mana. Tentu saja Hong Man-thian dan Iain-lain juga kaget. Dalam pada itu suara pletak-pletok api yang menyala terdengar semakin dahsyat.

"Liong-taihiap hilang, kita wajib mencarinya. Hendaknya sebagian berjaga di sini dan sebagian ikut padaku....”

Belum lagi selesai ucapan Hong Man-thian tiba-tiba seorang menjengek, "Hm, kau ini kutu apa?"

Lima orang kakek berjenggot panjang dengan rambut semrawut muncul dari sana. Salah seorang lantas bicara pula, "Suasana pulau ini mestinya aman dan damai, tapi sejak kau pulang dari daratan, keadaan lantas kacau. Seharusnya kau mati saja untuk menebus dosamu, tapi kau malah main perintah di sini."

"Huh! Apakah kalian rela diperintah oleh orang gila itu?!" teriak Hong Man-thian.

"Tapi apa pula yang kau dapatkan sekarang? Jelas kalian pun akan mati kelaparan dan kehausan tanpa berdaya," jengek kakek jenggot panjang itu sembari mendekat.

"Lantas apa kehendakmu?!" bentak Hong Man-thian.

"Membunuhmu!" teriak si kakek terus menghantam.

"Hm, manusia tidak tahu diri, rela diperbudak orang. Tahu begini rendah jiwa kalian, buat apa aku susah payah berjuang?" kata Man-thian sambil putar tongkatnya, sekaligus ia balas menyerang beberapa kali.

Akan tetapi keempat kakek lain tidak tinggal diam, serentak mereka pun menerjang maju. Betapa pun tangguh Hong Man-thian, akhirnya juga rada kerepotan menghadapi kerubutan keempat kakek. Salagi orang lain siap-siap hendak memberi bantuan, mendadak ada orang berteriak pula.

"Berhenti, berhenti!"

Tiga orang kakek berambut putih membawa tiga sosok mayat berlari datang. Kakek yang paling depan segera berteriak, "Baru saja ada tiga orang kawan disergap di semak-semak sana. Semuanya mati dengan tubuh biru, jelas juga mati keracunan. Keadaan pulau ini penuh bahaya, dalam keadaan demikian kita justru harus bersatu-padu untuk menghadapi kesukaran bersama. Jika saling membunuh, akibatnya cuma akan merugikan kita sendiri."

Uraian ini agaknya telah menggugah hati nurani semua orang, seketika pertempuran berhenti.

"Betul!" seru Hong Man-thian. "Kita harus mencari dulu biang keladi yang menyalakan api dan meracuni air minum itu. Selanjutnya bahkan harus bersatu untuk berusaha mencari hidup bersama. Aku yakin akhirnya kita pasti dapat selamat."

Sekarang tiada lagi yang membantah, semuanya menurut pendapat Hong Man-thian itu. Yang sebagian tinggal di sini untuk berjaga, yang lain lantas berpencar untuk menyelidiki jejak musuh dan juga mencari Liong Po-si.

Ombak mendampar menimbulkan suara mendebur, angin mendesir seakan-akan menyayat daun telinga. Lamkiong Peng berjalan menyusuri pantai. Tampak rumah hitam berdiri megah di depan sana, rumah yang entah telah mengubur berapa banyak pahlawan dunia.

Terpikir olehnya musuh yang tak kelihatan ini. Ia mencari tanpa arah tertentu, padahal sejauh mata memandang pantai kelihatan rata tiada seorang pun. Tiba-tiba terlihat olehnya sebuah sepatu anyaman rumput tertinggal di sela-sela batu sana. Ujung sepatu menghadap ke timur dan kelihatan ada tetesan darah.

Tergerak hati Lamkiong Peng. "Apakah inilah barang tinggalan Suhu?" pikirnya.

Segera ia menoleh ke arah yang ditunjuk oleh ujung sepatu. Tidak jauh, benar juga ditemukan sebelah sepatu lagi, kini ujung sepatu mengarah miring ke barat laut. Tanpa pikir Lamkiong Peng mengikuti petunjuk itu. Dilihatnya tebing karang malang-melintang di tepi laut, dinding tebing terjal sekali, di bawahnya adalah air laut yang berdebar-debur.

Diam-diam ia mengukur dan menaksir. Dapat dihitung tebing karang ini seperti bagian atas goa yang sudah tertutup buntu itu. la coba menyelidiki lagi sekitar situ, dan tebing itu memang sangat rapat dan tiada jalan tembus.

Matahari sudah terbenam, sisa cahaya senja menyinari permukaan laut dan memantulkan pemandangan yang indah. Sudah tentu Lamkiong Peng tidak ada minat untuk menikmati pemandangan itu. Dengan kesal ia duduk di atas batu karang.

Tiba-tiba terdengar suara bicara orang yang perlahan dan sayup-sayup berkumandang dari bawah dinding tebing sana. Lamat-lamat Lamkiong Peng dapat mengenalinya sebagai suara Cu-sin-tocu itu. Dia seperti sedang berkata, "Kenapa Liong Po-si bertelanjang laki? Ke mana pergi sepatunya?"

Sejenak kemudian dan balik dinding tebing sana menongol kepala Cu-sin-tocu yang berdahi lebar dengan rambut semerawut itu. Lamkiong Peng tidak berani bergerak dan mendekam di tempatnya. Dilihatnya Cu-sin-tocu digendong oleh seorang manusia kera, dengan langkah cepat sebentar saja sudah menyusup masuk ke sela sela karang sana.

Tanpa pikir Lamkiong Peng merunduk ke depan. Dengan ginkang-nya sekarang tidak sulit baginya untuk menguntit musuh. Ketika ia melayang turun ke sana, ternyata di bawah hanya air laut belaka dan tiada tempat untuk berpijak. Ia heran, ke mana menghilangnya Cu-sin-tocu dengan manusia kera tadi?

Waktu ia periksa lagi, dilihatnya ada tali rotan yang melambai-lambai tertiup angin di dinding tebing. Ia pikir mungkin tali ini digunakan untuk merambat naik-turun. Segera ia pegang tali rotan itu dan melorot ke bawah. Benar juga, hanya satu dua tombak melorot, dilihatnya sebuah celah-celah batu, segera ia menyelinap ke situ.

Mulut celah batu itu hanya dapat dimasuki dengan memiringkan tubuh, lalu merangkak ke depan. Beberapa tombak ke dalam, tiba-tiba lorong itu melebar. Di depan adalah sebuah goa dengan beraneka macam tonjolan batu, akan tetapi tiada kelihatan bayangan seorang pun.

Ia coba maju lagi dan menurun ke bawah. Tiba-tiba dilihatnya di depan seperti ditutup oleh dinding kayu. Waktu ia tertegun....

“Kreek...!” tiba-tiba terdengar suara.

Dari samping sana melompat ke luar dua sosok bayangan, ternyata dua manusia kera yang tanpa bicara terus menerjang Lamkiong Peng. Anak muda itu membentak, kedua tangan menghantam sekaligus. Sebelum lawan mendekat sudah lebih dulu tergenjot hingga mencelat.

“Bluk!" tubuh keduanya menumbuk dinding batu dan tumpah darah, lalu roboh binasa.

Setelah menarik napas, ia coba memandang lebih cermat. Baru sekarang dilihatnya jelas, dinding kayu itu ternyata dinding sebuah perahu yang berdiri tegak. Segera teringat olehnya akan cerita Hong Man-thian tentang perahu buatan dari kayu besi itu, tentu inilah perahu yang dimaksud.

Cepat ia memutar ke sana. Maju lagi adalah sebuah kamar batu yang penuh tertimbun perbekalan dan guci air. Di pojok sana ada sebuah dipan batu dan seorang terbujur di situ. Dadanya kelihatan berjumbul naik-turun, agaknya sedang tidur dengan nyenyak, dan waktu Lamkiong Peng menegasi, ternyata Put-si-sin-liong Liong Po-si adanya.

Tentu saja Lamkiong Peng kegirangan. "Suhu...!” serunya.

Tapi baru dia bersuara, mendadak terdengar seseorang menjengek di belakang, "Hm, kau pun datang, bagus sekali!"

Tergetar hati Lamkiong Peng. Cepat ia berpaling, ternyata Cu-sin-tocu dengan memegang dua tongkat bambu dan digendong manusia kera tadi tahu-tahu sudah muncul di situ. Lamkiong Peng tahu, akibat terlalu lama menghuni pulau terpencil ini, jalan pikiran orang tua ini sudah rada kurang waras. Apa-lagi sekarang setelah kehilangan wibawa, tentu saja sifat gilanya meledak dan ingin memusnahkan setiap orang yang dianggapnya memusuhi dia.

"Semua perbuatan keji itu tentu dilakukan olehmu bukan?" tanya Lamkiong Peng dengan gusar.

Cu-sin-tocu terbahak. "Kecuali diriku, masa ada orang lain? Pendek kata, yang tunduk padaku akan hidup, yang membangkang harus mati. Jika mereka sudah mengkhianati aku, mereka harus kubinasakan sama sekali."

Suara tertawanya serupa orang gila, ketika bicara juga beringas, ngeri juga Lamkiong Peng melihat orang tua yang sudah kalap ini. Perlahan ia menyurut mundur ke dipan batu, tapi manusia kera itu pun mendesak maju.

Mendadak Lamkiong Peng bergerak hendak menyerang, seketika manusia kera itu berbalik menyurut mundur.

"Kau pun berani bergebrak denganku?!" bentak Cu-sin-tocu.

"Tidak cuma bergebrak saja, bahkan ingin kutumpas dirimu!" teriak Lamkiong Peng, terus melancarkan pukulan berantai.

Namun Cu-sin-tocu lantas putar tongkatnya sehingga serangan Lamkiong Peng tertahan. Dengan penuh semangat Lamkiong Peng melancarkan serangan lagi dengan berbagai jurus, di antaranya terseling kungfu yang baru diselaminya dari berbagai kitab pusaka yang baru dibacanya di pulau ini.

"Haha! Anak keluarga Lamkiong memang serba pintar," seru Cu-sin-tocu dengan tertawa. “Meski kau cuma membaca beberapa jilid buku yang kuberi, namun hasil yang kau tarik ternyata tidak mengecewakan." Sembari bicara tongkatnya terus berputar dan mematahkan setiap pukulan Lamkiong Peng.

Perawakan manusia kera itu memang tinggi besar. Cu-sin-tocu mendekap di atas punggungnya sehingga kedudukannya lebih tinggi dan lebih menguntungkan. Lambat-laun serangan Lamkiong Peng semakin berat.

Tiba-tiba timbul pikirannya. Ia tidak lagi menyerang Cu-sin-tocu melainkan hanya mencecar manusia kera itu. Karena kedua tangan harus digunakan untuk mendukung Cu-sin-tocu yang digendongnya di punggung, dengan sendirinya manusia kera itu tidak sanggup menangkis. Ia hanya menggerung murka dan tidak dapat balas menyerang. Setelah berapa kali menghindar, tahu tahu dia sudah menyurut mundur sampai di luar goa.

Segera serangan Lamkiong Peng tambah gencar. Suatu kali ia yakin pasti dapat merobohkan musuh, siapa tahu bayangan tongkat mendadak menyambar tiba sehingga terpaksa ia malah harus melompat mundur.

"Sudah belasan jurus kau serang, sekarang giliranku!" seru Cu-sin-tocu.

Sekarang dia menyerang dengan cerdik sambil melindungi manusia kera yang digendongnya. Karena lawan lebih tinggi, sukar bagi Lamkiong Peng untuk balas menyerang. Kembali ia terdesak mundur hingga mepet dinding. Mendadak tongkat menyambar tiba, cepat Lamkiong Peng menggeser ke samping.