Amanat Marga (Hu Hua Ling) Jilid 25

Si kakek lantas membawanya kembali ke ruangan seram itu dan ditaruh di atas dipan. "Begitu selesai barang muatan dibongkar, segera kunaikkan dirimu ke atas kapal. Sudah kuselamatkan jiwamu dengan obat mujarab, masakah engkau belum puas?" jengeknya. Perlahan ia menutup pintu ruangan dan ditinggalkan pergi.

Dengan penuh rasa curiga diam-diam Kim-soat mengerahkan tenaga dalam. Tadi waktu totokan si kakek menyentuh pinggang, sedikit banyak ia sempat mengelak sehingga totokan kakek itu tidak tepat seluruhnya. Maka setelah berusaha sebentar, dapatlah ia melancarkan hiat-to yang tertotok itu.

Segera ia melompat bangun dan berlari ke depan pintu. Ia coba membukanya, ternyata pintu tembaga itu digembok dari luar. Dinding sekeliling juga terbuat dari tembaga, kecuali pintu ini tiada jalan tembus lain. Seketika ia merasa seperti tersekap kembali di dalam peti mati itu. Kecuali ukuran ruangan ini jauh lebih luas dari-pada peti mati, rasa seramnya sungguh tiada ubahnya seperti sedang berada di dalam peti mati.

Sesudah berusaha dan tetap tiada jalan ke luar, akhirnya ia putus asa. Kembali ia berlinang air mata. Dicarinya lagi meja pemujaan tadi, abu jenazah di dalam kaleng masih terletak di situ. Tiba-tiba terpikir olehnya suatu keanehan, jika barang muatan kapal belum dibongkar, kenapa jenazahnya sudah terbakar menjadi abu?

"Dia belum mati, dia pasti tidak mati!” demikian timbul harapan baru.

Tiba-tiba terdengar suara pintu berbunyi perlahan. Cepat ia menyusup ke kolong meja sembahyang, tabir meja yang panjang itu dapat mengalingi tubuhnya. Menyusul terdengar suara orang melangkah ke dalam, terdengar suara si kakek berbaju belacu bersuara heran, "He, di mana orangnya?”

“Huh, memangnya dia tumbuh sayap dan dapat terbang pergi? Apakah dia dapat menghilang?" Suaranya kedua ini lantang, jelas dia Hong Man-thian adanya.

"Selama ratusan tahun Cu-sin-to ini tidak pernah didatangi oleh orang perempuan. Jika kau bawa perempuan ini ke sini, engkau juga yang harus membawanya pergi," jengek si kakek baju belacu.

"Tapi dia sudah menghilang, bukan mustahil engkau yang melepaskan dia pergi," ujar Man-thian.

"Huh, dia justru bersembunyi di kolong meja di depanmu. Begitu kita masuk kulihat tabir meja masih bergoyang, memangnya dia dapat mengelabui aku?" jengek si kakek.

Belum lenyap suaranya, mendadak tabir meja tersingkap dan Bwe Kim-soat melompat ke luar. Segera ia memegang bahu Hong Man-thian dan bersuara, "Dia tidak mati, bukan? Di mana dia sekarang?"

Air muka Hong Man-thian tampak dingin dan tidak bergerak, kini ia pun sudah berganti baju belacu.

Mendadak si kakek tadi berseru, "Betul, dia memang belum mati, tapi selama hidupmu jangan harap akan melihatnya lagi."

Sedih dan juga murka Bwe Kim-Soat. Serentak ia menubruk maju dan hendak menyerang si kakek. Tapi Hong Man-thian lantas menghadang di depannya dan berteriak, "Ikut padaku!”

"Ke mana?!" seru Kim-soat dan si kakek baju belacu tadi.

"Kubawa menemui dia," jawab Man-thian.

Kim-soat melenggong sejenak. "Apa... apa betul?!" serunya girang.

"Tidak!" tukas si kakek baju belacu.

Serentak Hong Man-thian berpaling ke arah rekannya itu dengan sorot mata tajam. Tapi kakek itu tidak menghiraukannya. "Hilang perasaan, hilang nafsu, hilang nama, hilang keuntungan. Keempat pantangan besar yang turun tumurun di Cu-sin-to ini masakah sudah kau lupakan?” katanya perlahan.

"Tidak, tidak pernah kulupakan!" jawab Man-thian tegas.

"Jika begitu, mengapa kau...?"

"Sudah sejak empat puluh tahun yang lalu orang she Hong tidak pernah memikirkan urusan nama, keuntungan dan mengenai orang perempuan lagi, tapi dalam hal perasaan betapa pun tak dapat kuhapus. Biarlah kubawa dia dan menemuinya, segala akibatnya akan kutanggung sendiri dan takkan membikin susah padamu."

Kedua orang saling melotot dengan dingin sampai sekian lama, akhirnya si kakek baju belacu berkata, "Jika kau mau cari susah sendiri, terpaksa masa bodoh...." Lalu ia berpaling dan berkata kepada Kim-soat, "Cuma setelah kau lihat dia, mungkin kau pun akan menderita." Habis berkata ia lantas mendahului melangkah pergi.

Bwe Kim-soat dan Hong Man-thian ikut di belakangnya. Setelah menuruni tebing dan membelok ke kiri, hanya belasan tombak jauhnya mendadak mereka berhenti.

"Sudah sampai," kata Man-thian.

Kim-soat berseru kegirangan dan memburu maju. Tertampak di depan sebuah goa yang gelap terdapat pagar jeruji tembaga. Dengan kaki telanjang dan berbaju belacu Lamkiong Peng tampak duduk bersila di balik pagar beruji itu, kepalanya terbebat kain putih dan berlepotan darah.

Hati Kim-soat serasa disayat-sayat. "Oo... apa dosamu? Mengapa mereka mengurung dirimu di sini?" ratapnya.

Kulit daging pada wajah Lamkiong Peng tampak berkerut-kerut menahan derita, namun mata tetap terpejam.

"Siapa pun, begitu datang ke pulau ini harus bertapa selama seratus hari, baru boleh keluar dari sini," kata Man-thian.

Kim-soat memegang ruji pagar tembaga itu dan berseru, "Mengapa engkau tidak...tidak membuka mata? Lihatlah... aku... aku yang datang!"

Namun kedua mata Lamkiong Peng tetap terpejam tanpa bersuara.

Kim-soat menggoyangkan pagar tembaga sehingga menimbulkan suara nyaring, air mata pun berderai. "Oo, mengapa engkau tidak... tidak menggubris diriku...?" ratapnya pedih.

"Sekarang sudah kau lihat dia. Jelas dia tidak menghiraukan dirimu lagi, maka bolehlah kau pergi saja," kata si baju belacu.

Mendadak Kim-soat membalik tubuh, kemudian ia bertanya, "Baik, aku akan pergi. Cuma ingin kutanya padamu, engkau menawarkan racun pada tubuhku dan menolong jiwaku, untuk ini apakah dia rela bersumpah takkan menghiraukan diriku lagi untuk seterusnya?"

"Hm, cerdik juga kau," jawab si kakek dengan dingin.

Dengan tersenyum pedih Kim-soat memandang Lamkiong Peng lagi dan berkata, "Peng cilik, engkau salah. Masa engkau tidak tahu aku rela mati bersamamu, mati dalam pangkuanmu dari-pada diselamatkan oleh tangan yang kotor ini?"

Muka Lamkiong Peng tampak berkerut lagi.

Tapi si kakek baju belacu lantas berucap, "Setelah meninggalkan pulau ini, mau mati atau ingin hidup adalah urusanmu, yang pasti sekarang juga harus lekas kau tinggalkan pulau ini.” Sembari bicara segera ia pun menotok hiat-to kelumpuhan Bwe Kim-soat.

Tak terduga mendadak Hong Man-thian menangkis totokannya dengan tongkat dan membentak, "Nanti dulu!"

"Hong-heng, apakah engkau sudah lupa...?"

"Lupa apa?" jengek Hong Man-thian.

"Masa sudah kau lupakan larangan keras di pulau ini?" kata si kakek. "Hanya dengan kekuatan kalian berdua saja ingin kau lawan peraturan Cu-sin-to yang kau kenal, apakah engkau bukan lagi mimpi? Jika sampai para Tianglo di istana mengetahui tindakanmu, tatkala mana kalian pasti akan serba susah, minta mati tak bisa, ingin hidup pun takkan diluluskan."

Air muka Hong Man-thian tampak pucat, tongkat ditarik kembali.

"Peng cilik!" seru Kim-soat pula. "Bukankah engkau mau mati bersamaku? Lebih baik kita mati bersama dari-pada hidup tersiksa di sini. Bukalah matamu, pandanglah diriku.”

Siapa tahu Lamkiong Peng tetap memejamkan mata saja.

"Orang hidup paling-paling cuma mati saja, memangnya sumpahmu begitu penting?"

Namun Lamkiong Peng tetap diam saja.

"Hm, kau sendiri ingin mati.. tapi orang lain justru tidak mau," jengek si kakek baju belacu.

Kim-soat termenung sejenak. Mendadak ia mengusap air mata dan berucap, "Baiklah, aku pergi saja.”

"Ikut padaku," kata si kakek baju belacu.

Keduanya lantas menuju ke tepi laut. Remuk redam hati Bwe Kim-soat, ia tidak menoleh lagi. Air matanya tetap berlinang, tapi tidak lagi menitik.

Lamkiong Peng mendengar langkah si dia yang semakin menjauh dengan bibir terkancing rapat. Akhirnya ia pun meratap perlahan, "O, Kim-soat, aku... aku bersalah padamu...."

Hong Man-thian juga berdiri termangu seperti patung. "Semoga dia dapat memahami kesusahan kita...," ucapnya kemudian.

"Aku tahu dia pasti akan benci padaku selama hidup," kata Lamkiong Peng dengan menitikkan air mata. Tapi aku tidak menyalahkan dia, sungguh aku... aku ingin dia mengetahui untuk apakah aku bertindak demikian."

Apakah benar Bwe Kim-soat takkan tahu? Saat itu dia sudah mulai terombang-ambing lagi di tengah lautan, mati atau hidup sukar diramal. Mungkin dia akan menanggung kehancuran hatinya itu selama hidup. Akan tetapi untuk apakah kedua lelaki sejati serupa Lamkiong Peng dan Hong Man-thian itu harus bertindak demikian?

********************

Goa itu gelap lagi lembab, sekelilingnya penuh tumbuh lumut hijau, bila musim panas penuh nyamuk dan semut. Serupa orang mati saja Lamkiong Peng duduk di dalam goa. Semula dia masih kelihatan menahan penderitaan itu, tapi kemudian perasaannya serupa sudah beku dan tidak memikirkan lagi apa yang menimpa dirinya.

Musim semi berubah musim panas. Baju belacu yang dipakainya sudah robek, kotor lagi berbau, sampai akhirnya hancur menjadi gombal juga tak terpikir olehnya. Makanan yang setiap hari diantarkan oleh ‘orang-hutan’ itu juga sukar ditelan, namun Lamkiong Peng dapat makan minum tanpa mengeluh.

Banyak terjadi perubahan pada fisiknya tanpa disadarinya. Dia hanya tahu jenggotnya mulai tumbuh lebat dan membuatnya kelihatan banyak lebih tua. Sejak hari itu dia tidak melihat Hong Man-thian lagi, juga si kakek berbaju belacu. Hari berganti hari dan entah berselang berapa lama, suatu hari ketika ia sedang duduk semedi, selagi segala apa terasa kosong, sekonyong-konyong....

"Sreek...!" terdengar suara pagar tembaga itu terbuka

Si kakek berbaju belacu berdiri di depan goa dan berkata kepadanya, "Selamat, kini Anda resmi menjadi anggota penghuni Cu-sin-to ini." Meski di mulut ia mengucapkan selamat, namun sikapnya tiada rasa gembira sedikit pun.

Dengan kaku Lamkiong Peng berdiri, sedikit pun dia tidak memandang orang tua itu.

"Mulai hari ini Anda boleh berganti tempat kediaman baru," berkata pula si kakek.

Tanpa bicara Lamkiong Peng ikut dia menyusuri sungai dan menuju ke suatu tempat yang rimbun. Jalan tembus ini kelihatan resik, waktu tembus ke balik hutan sana, tertampak sebuah tanah lapang yang luas mengitari empat deret rumah papan. Setiap deret terdiri dan dua tiga puluh rumah, di depan setiap rumah sama duduk seorang tua berambut ubanan dan berbaju belacu, semuanya duduk lurus kaku.

Kawanan kakek itu beraneka ragamnya, ada yang tinggi, ada yang pendek, ada gemuk, ada kurus. Yang sama adalah air muka mereka, semuanya dingin kaku tanpa memperlihatkan sesuatu perasaan, ada yang memandang ke langit dengan termangu-mangu, ada yang sedang membaca dengan tenang. Puluhan orang duduk bersama di situ, namun tidak terdengar suara sedikit pun.

Waktu Lamkiong Peng lewat di samping mereka, yang asyik membaca tetap membaca, yang melamun tetap melamun, tiada seorang pun yang melirik sekejap ke arah Lamkiong Peng. Kakek itu membawa Lamkiong Peng ke sebuah rumah papan yang terletak di ujung sana, tertampak di atas pintu tertulis dua huruf besar ‘Ci Cui’ yang berarti Air Mandek.

Sambil menunjuk tulisan itu, si kakek berkata, "Inilah tempat tinggalmu yang baru, dan ini pula namamu. Tiba waktunya akan kubawa engkau ke dalam istana, tapi sebelum waktunya engkau dilarang meninggalkan tempat ini barang selangkah pun."

Lamkiong Peng hanya mendengus perlahan saja sebagai jawaban.

"Apakah engkau tak ingin tanya apa-apa terhadapku?" tanya si kakek.

"Tidak ada," sahut Lamkiong Peng ketus.

Si kakek memandangnya sekejap, lalu tinggal pergi menuju ke hutan yang rimbun itu. Semua orang yang berada di sini sama memakai baju belacu yang berwarna kekuning-kuningan, namun baju belacu kakek yang menghantarnya ini diwenter menjadi warna lembayung. Kiranya dia termasuk salah seorang pengurus di pulau ini, sebab itulah warna bajunya berbeda dengan kakek lain.

Pengurus pulau ini hanya tujuh orang, Hong Man-thian dan kakek itu terhitung anggota pengurus. Setiap anggota pengurus diberi seorang murid sebagai pesuruh. Si aneh yang bernama Jitko dan ‘orang-hutan’ berbulu emas itu terhitung murid merangkap pesuruh dari ketujuh anggota pengurus. Hal-hal ini baru diketahui Lamkiong Peng di kemudian hari.

Sekarang ia lantas membuka pintu rumah. Dilihatnya rumah ini hampir tidak ada isinya kecuali sebuah dipan, sebuah meja dan sebuah bangku. Di atas meja tertaruh sepotong baju belacu, sepasang sumpit dan sebuah mangkuk kayu dan sejilid buku. Di bawah meja ada sepasang sepatu rami. Panjang dipan itu cuma lima kaki saja, tanpa kasur tiada selimut, yang ada cuma sehelai tikar saja.

la menoleh dan memandang para kakek yang duduk diam itu. "Apakah tempat ini tanah suci yang menurut cerita dalam dunia persilatan sebagai Cu-sin-ci-tian (Istana Para Dewa)? Beginikah kehidupan Cu-sin-tian? Pantas semakin mendekat dengan tempat tinggalnya ini Hong Man-thian tambah sedih. Soalnya di sini tiada orang lain yang mempunyai perasaan sebagai manusia, kecuali dia saja seorang," pikirnya.

Kurungan selama seratus hari di goa yang terisolasi itu telah membuat Lamkiong Peng lebih tawakal, lebih sabar. la pindahkan bangku ke depan pintu, diambilnya buku di atas meja itu. Ia pun meniru kawanan kakek itu, mulai membaca kitab. Tapi begitu dia membuka halaman kulit buku itu, seketika jantungnya berdebar keras. Ternyata kitab itu berjudul ´Tatmo-cap-pek-sik’.

Hendaknya dimaklumi, Tatmo-cap-pek-sik atau Delapan Belas Jurus Ciptaan Budha Darma adalah ilmu silat khas Siau-lim-si. Di dunia persilatan sekarang hampir jarang sekali orang yang menguasai kungfu ini. Bila-mana ada kitab pusaka semacam ini muncul di dunia persilatan tentu akan menimbulkan gelombang perebutan yang ramai dan menimbulkan korban jiwa dan raga. Tapi sekarang kitab pusaka yang diimpi- impikan orang persilatan, di pulau ini ternyata di pandang sebagai buku rombengan saja dan ditaruh secara sembarangan.

Seketika perhatian Lamkiong Peng tak terlepas lagi dari isi kitab itu, dia asyik menyelami ilmu silat yang tercantum di situ. Sampai lohor, ‘orang-hutan’ itu datang dengan membawa dua ember. Para kakek lantas mengeluarkan mangkuk kayu dan sumpit. Masing-masing mengisi semangkuk ransum yang diantarkan itu, lalu sibuk bersantap tanpa bicara apa pun, malahan di antara mereka juga tidak ada yang tegur-sapa.

Tiga hari kemudian ‘orang-hutan’ itu datang lagi dan menukar kitab di atas meja dengan kitab lain. Selagi Lamkiong Peng menyesal, tak terduga ketika kitab baru itu dibuka, isinya adalah kungfu yang sudah lama menghilang dari dunia persilatan, yaitu ‘Bu-eng-sin-kun’, Ilmu Pukulan Sakti Tanpa Wujud.

Begitulah selang lima puluh atau enam puluh hari kemudian, berturut-turut kitab di atas meja Lamkiong Peng telah berganti dua puluhan kali. Setiap kitab selalu berisi ilmu silat yang jarang diketemukan lagi di dunia persilatan sekarang. Tentu saja Lamkiong Peng sangat senang, sedapatnya ia mengingat semua isi kitab itu.

Supaya diketahui bahwa kawanan kakek ini sebelum datang di Cu-sin-to rata-rata sudah pernah berbuat sesuatu yang menggemparkan. Semuanya adalah tokoh Bu-lim ternama yang disegani. Begitu datang ke Cu-sin-to, karena tidak dapat lagi meninggalkan pulau ini, maka kitab pusaka bagi mereka dipandang sebagai barang tak berguna lagi, maka sebagian cuma membacanya secara iseng, malahan ada yang sama sekali tidak tertarik.

Hari berganti hari. Entah berselang berapa lama pula, sejauh itu belum pernah Lamkiong Peng mendengar percakapan kawanan kakek itu. Terkadang ia mengira mereka adalah orang bisu-tuli semua atau mayat hidup. Suatu hari mendadak turun hujan, tapi kawanan kakek ini seperti tidak merasakan guyuran air hujan, tiada satu pun yang menyingkir ke dalam rumah.

Ketika musim rontok hampir berlalu dan musim dingin hampir tiba, mereka tetap memakai baju belacu tanpa mengenal rasa dingin. Namun Lamkiong Peng sendiri merasa menggigil, terpaksa ia mengerahkan lweekang untuk menahan serangan hawa dingin. Lewat beberapa hari kemudian barulah dia merasa biasa.

Baru sekarang diketahuinya kungfu sendiri sudah banyak lebih maju. Rupanya ilmu silat sakti yang dibacanya dari berbagai kitab itu serupa makanan dasar di pulau ini dan telah dicerna seluruhnya olehnya. Maka tidurnya tambah sedikit, makannya juga semakin sedikit, namun semangatnya justru tambah berkobar.

Suatu pagi hari, tiba-tiba diketahui kakek penghuni rumah di depan sudah tidak ada lagi. Siapa pun tidak tahu kemana perginya kakek itu dan tidak ada yang menanyakannya. Mati hidup bagi para kakek itu serupa halnya makan dan tidur saja, seperti urusan biasa. Biar pun ada orang kehilangan kepala di depan mereka juga takkan diperhatikan oleh mereka.

Dengan cepat seratus hari telah lalu pula. Pada waktu pagi, mendadak si kakek berbaju belacu muncul pula di depan pintu Lamkiong Peng dan berkata padanya, "Mari ikut padaku!"

Tanpa tanya Lamkiong Peng berbangkit dan ikut berangkat. Waktu melalui lapangan luas itu, tiba-tiba diketahui beberapa kakek di antaranya sama menoleh dan memandangnya sekejap dengan sorot mata merasa kagum. Hal ini tidak pernah terjadi selama Lamkiong Peng berada di pulau ini. Tentu saja anak muda itu merasa heran.

“Kiranya orang-orang ini sebenarnya juga punya perasaan, cuma mereka pandai menyembunyikan perasaan masing-masing sehingga biasanya tidak kentara. Tapi apa yang mereka kagumi atas diriku? Apakah karena tempat yang akan kutuju ini?" pikirnya.

Diam-diam Lamkiong Peng menduga, mungkin tempat yang akan dituju adalah Cu-sin-ci-tian atau Istananya Para Dewa, tempat yang penuh misterius itu. Tanpa terasa hatinya menjadi tegang.

Mendadak terdengar suara menggeletar, suara bunyi cambuk berkumandang dari lebatnya pepohonan di sana. Waktu Lamkiong Peng memandang ke sana, kelihatan di dalam pohon sana terjulur tali putih. Pada tali putih yang kecil itu menggelantung tubuh Hong Man-thian yang besar. Tertampak pula si manusia kera itu sedang mengayun cambuk dan menyabet tubuh Hong Man-thian berulang-ulang sambil menghitung.

"Dua puluh delapan...! Dua puluh sembilan...!"

Mendadak tali putus dan Hong Man-thian jatuh terbanting ke tanah. Si manusia kera tidak banyak urusan, segera ia pasang tali lagi dan Hong Man-thian lantas melompat ke atas. Dengan tangan memegang tali, tubuhnya lantas menggelantung pula di udara. Kembali cambuk si manusia kera bekerja lagi menghajar tubuh Hong Man-thian sambil mengulang pula dari semula, "Satu...! Dua...! Tiga...!"

Tali itu tidak besar, sedang cambuknya panjang lagi kasar. Biar pun Hong Man-thian memiliki lweekang yang kuat, untuk menggelantung begitu saja sudah sulit, apalagi mesti menahan didera oleh cambuk. Lamkiong Peng mengikuti sejenak kejadian itu dengan menahan napas. Dilihatnya Hong Man-thian berwajah kaku dan bertahan dengan diam, serupa anak bandel yang sedang dihajar orang-tuanya. Segera Lamkiong Peng melangkah ke depan karena tidak tega rnemandang lagi.

"Itulah hukuman bagi pelanggar hukum di sini," kata si kakek baju belacu. "Setiap hari tiga puluh enam kali cambukan, harus dihajar berturut-turut selama tiga ratus enam puluh hari. Bila tali putus harus diulang kembali. Maka mereka yang berani coba melanggar peraturan di sini perlu bertanya dulu kepada dirinya sendiri, apakah mampu menahan hajaran dan punya keberanian atau tidak?"

Lamkiong Peng diam saja dan terus melangkah ke depan, akhirnya sampai di ujung hutan. Di depan menghadang tebing gunung, tapi tidak kelihatan bayangan rumah. Si kakek mendekati tebing, ia raba dinding tebing, pada suatu bagian yang belenduk perlahan ia menepuk tiga kali. Mendadak terjadi keajaiban pada dinding batu itu, bagian yang belenduk itu berputar, lalu merenggang dan kelihatan sebuah jalan tembus. Tanpa sangsi Lamkiong Peng terus melangkah ke dalam sana bersama si kakek.

"Braak!" segera dindng tebing itu merapat kembali.

Terendus bau amis busuk dalam lorong rahasia ini. Sebuah lentera tergantung di dinding lorong dan memancarkan cahaya yang guram, sedangkan pada ujung lorong terdapat sebuah pintu tembaga. Waktu Lamkiong Peng menoleh, tahu-tahu si kakek baju belacu sudah menghilang. Segala sesuatu di sini seakan-akan di luar dalil umum. Tanpa pikir Lamkiong Peng melangkah lagi ke depan.

Dari kedalaman sana terdengar berkumandang suara melengking tajam, "Kamu sudah datang?" Belum lenyap suara itu, pintu tembaga di ujung lorong itu lantas terbuka.

Segala apa tidak terpikir lagi oleh Lamkiong Peng, dengan bersitegang leher ia masuk ke situ. Dilihatnya di balik pintu ada lagi sebuah lorong, tapi di kedua tepi lorong ini terbuka berbagai goa sehingga serupa sarang tawon. Lubang ini berbaris panjang ke sana dan terdapat di atas bawah dinding lorong sehingga berapa jumlahnya sukar dihitung. Di antara lubang atau goa batu itu terkadang ada orangnya, ada yang kosong, ada yang diterangi lentera, ada yang gelap dan seram.

"Jalan terus ke depan, jangan berpaling!" terdengar suara melengking tajam tadi berseru pula.

Lamkiong Peng terus menuju ke depan dengan langkah lebar tanpa memandang lagi ke kanan-kiri. Diam-diam ia gegetun, "Apakah begini Cu-sin-tian yang termasyhur itu?"

Belum lagi lenyap pikirannya, terdengar lagi suara tadi, "Di sini! Naik kemari!" Jelas suara itu berkumandang dari tempat ketinggian.

Waktu Lamkiong Peng mendongak, tertampak pada dinding di ujung lorong sana juga ada sebuah dekukan yang berwujud goa, tingginya dua-tiga tombak dari permukaan tanah. Segera Lamkiong Peng melompat ke atas. Semula ia ragu apakah dapat mencapai mulut goa itu, maka ia bermaksud mencari suatu tempat hinggapan. Siapa tahu dengan enteng sekali dapatlah ia mencapai tempat setinggi itu dan menyusup ke dalam goa.

Di dalam goa bau amis busuk tambah keras. Di pojok sana terpasang kerai bambu. Di belakang sebuah meja batu besar di depan kerai bambu menongol sebuah kepala berambut ubanan, mata cekung dan hidung besar, sorot mata tajam, dahi lebar, dan dengan dingin sedang menatap Lamkiong Peng.

Tanpa terasa Lamkiong Peng agak ngeri. Ia memberi hormat dan berucap, "Cayhe Lamkiong Peng."

Mendadak kakek ubanan itu membentak, "Ci-cui! Namamu Ci-cui, ingat tidak? Begitu masuk pulau ini engkau lantas sama sekali melepaskan diri dari dunia ramai, harus kau lupakan segala masa lampau, tahu?" Suaranya tajam dan cepat, seperti membawa semacam daya pengaruh yang misterius.

Lamkiong Peng diam saja, ia pandang kakek ubanan itu dengan tenang.

"Sungguh beruntung engkau dapat tinggal di Ci-cui-sit (Ruangan Air Mandek)," kata si kakek dengan tertawa cerah. "Mungkin engkau tidak tahu bahwa Ci-cui-sit itu dahulu dihuni oleh Sin-tiau-taihiap Yo Ko..."

"Urusan dunia ramai sudah tidak kupikirkan lagi," jawab Lamkiong Peng dingin.

"Haha, bagus, bagus!" si kakek bergelak tertawa.

Sejak datang di pulau ini untuk pertama kalinya Lamkiong Peng mendengar orang tertawa, tentu saja ia melenggong.

Terdengar si kakek berkata pula, “Berdasarkan ucapanmu ini pantas untuk diberi minum satu cawan." Mendadak ia tepuk tangan sambil berseru, "Ambilkan arak!"

Bahwa di sini juga tersedia arak, Lamkiong Peng tambah heran.

Tertampak kerai bambu tersingkap, sesosok tubuh tinggi kurus terbalut kain putih dengan wajah tidak mirip manusia juga tidak serupa binatang muncul dengan membawa sebuah nampan kayu. Kelihatan rambutnya yang semerawut, matanya siwer, mulutnya lebar dan hampir tak berbibir. Setelah menaruh nampan dengan poci arak dan cawan, orang ini lalu mengundurkan diri lagi.

Seketika timbul rasa ngeri Lamkiong Peng ketika dilihatnya telapak tangan makhluk itu hanya mempunyai dua jari, daun telinganya lancip kecil dan penuh berbulu. Akhir-akhir ini sudah banyak makhluk aneh setengah manusia dan setengah binatang yang dilihatnya, tidak urung ia mengkirik juga melihat makhluk seram ini.

Melihat perubahan air mukanya, si kakek terbahak. "Silakan minum!"

Begitu tangan si kakek mendorong, segera secawan arak melayang ke arah Lamkiong Peng dengan anteng serupa dipegang orang. Tanpa pikir Lamkiong Peng menangkap cawan itu dan ditenggak. Rasa arak agak pedas, tetapi sedap.

"Tentu engkau tidak pernah melihat makhluk hidup semacam tadi. Ketahuilah sesungguhnya dia bukan manusia, melainkan seekor binatang," ucap si kakek dengan tertawa.

"Hah, jadi Jitko itu dan...." kembali Lamkiong Peng mengkirik.

"Ya, semuanya binatang," ujar si kakek dengan tertawa. "Selama hidupku mencurahkan tenaga dalam penelitian ilmu pertabiban. Hasil jerih payahku selama berpuluh tahun adalah dapat kuciptakan belasan ekor binatang menjadi serupa manusia...."

"Hah...?!"

Mendadak lenyap tertawa si kakek, air mukanya berubah menjadi merah dan penasaran. "Kau tahu, sebabnya manusia hidup sengsara dan menjadi cacat, selain karena pengaruh lingkungan juga banyak karena pembawaan yang jahat. Untuk merombak tingkah polah manusia harus diawali dari bentuknya. Selama berpuluh tahun aku berusaha memperdalam ilmu pertabiban. Lebih dulu aku telah merombak wujud diriku sendiri, lalu kupraktekkan berbagai operasi yang selama ini belum pernah dilakukan oleh tabib mana pun...," tuturnya.

Ngeri Lamkiong Peng membayangkan beberapa makhluk aneh yang telah dilihatnya itu.

"Apa yang kulakukan ini tidak dapat kujelaskan begitu saja. Kelak dari apa yang kau lihat dan kau dengar tentu akan paham lebih banyak," kata pula si kakek. "Para penghuni pulau ini meski semuanya adalah bekas tokoh dunia persilatan, tapi mereka yang dapat masuk ke ruangan ini tidaklah banyak. Selama berpuluh tahun ini segala biaya kepulauan ini berkat bantuan dari keluarga Lamkiong kalian, makanya kuberi prioritas kepadamu untuk menghuni ruangan ini."

"Setelah Cayhe masuk ke sini, segala urusanku memang tidak pernah terpikir lagi olehku, hanya satu hal ini masih mengganjal hatiku, yaitu kuharap dapat berjumpa satu kali saja dengan pamanku itu."

"Jika segala urusan lampau sudah kau lupakan, kenapa kau ingin menemui pamanmu?" jengek si kakek.

Lamkiong Peng melengak. Dilihatnya si kakek menarik rnuka dan berkata dengan serius, “Perlu kau tahu untuk apa kuharap setiap penghuni Cu-sin-to ini melupakan segala cita-rasa dan sama sekali putus dari perasaan kasih, nafsu, nama dan keuntungan. Setiap orang yang kuajak berdiam di pulau ini seluruhnya juga merupakan tokoh inti dunia persilatan yang sudah berpengalaman."

"Cayhe memang tidak tahu seluk beluk ini," jawab Lamkiong Peng.

"Soalnya aku ingin membangun sesuatu yang selama ini belum pernah dilakukan siapa pun. Kudatangkan orang pandai untuk menjadi penghuni pulau ini. Dari mereka kuharapkan akan dapat mengembangkan bakat mereka supaya menciptakan sesuatu yang serba baru tanpa gangguan. Bila-mana usahaku ini berhasil, maka suksesku ini takkan dapat dibandingi oleh tokoh sejarah mana pun. Tapi lucu juga, orang dunia persilatan justru memandang Cu-sin-to ini sebagai tempat pengasingan yang misterius dan ditakuti."

"Usaha apa yang Cianpwee lakukan?” tanya Lamklong Peng.

Mencorong sinar mata si kakek, "Tentu pernah juga terjadi atas dirimu. Setiap orang pada waktu masa anak-anak tentu mempunyai banyak khayalan, setelah besar khayalan ini akan menjadi kenangan indah. Waktu kecilmu tentu juga pernah kau pikirkan betapa senangnya bila dapat menghilang, dapat menggembleng besi menjadi emas dan berbagai hal yang mustahil, betul bukan?"

“Ya, memang begitulah khayalan anak kecil," kata Lamkiong Peng dengan tersenyum.

"Padahal hal-hal seperti menghilang atau menggembleng besi menjadi emas adalah khayalan yang jamak, tapi masih ada urusan lain yang jauh lebih menakjubkan yang jarang dibayangkan orang, misalnya ada orang berkhayal tanpa sekolah, asalkan kitab dibakar menjadi abu dan abu diminum bersama air, lalu dia akan pintar secara mendadak. Ada yang berkhayal lampu tanpa minyak akan terang benderang, ada yang berfantasi kereta atau kuda dapat terbang dan menjelajahi jagat raya ini. Ada yang berkhayal setelah minum satu biji obat segera akan merasa kenyang dan tidak perlu makan sepanjang tahun...."

la berhenti sejenak, lalu menyambung dengan tertawa, "´Ada cerita lucu di jaman dahulu. Konon ada orang berkhayal, bila-mana bulu alis seorang tumbuh di jari tangan. maka jari akan dapat digunakan menyikat gigi. Jika lubang hidung tumbuh menghadap ke atas, tentu ingus seorang takkan meleleh. Bila-mana mata tumbuh di muka dari belakang, untuk melihat tentu tidak perlu lagi berpaling. Lelucon inilah yang menjadi khayalanku, tapi sekarang khayalan ini sudah berubah menjadi kenyataan. Umpama sekarang jika kau minta alismu dipindah ke jari atau hidungmu diputar ke atas, segera dapat kulaksanakannya bagimu. Jika tidak percaya bolehlah kau coba."

"Tapi kukira biarkan saja ingus tetap meleleh ke bawah. Untuk berpaling juga tidak terlalu merepotkan," ujar Lamkiong Peng.

Si kakek terbahak, "Haha, bukan saja khayalanku ini sudah terlaksana sekarang, bahkan hal-hal yang mustahil dan tidak pernah terjadi sekarang juga akan terlaksana."

"Apa betul?" kaget juga Lamkiong Peng.

"Tentu saja betul," ucap si kakek. "Setelah kucuci bersih otak orang-orang itu dari pikiran kolot mereka, selanjutnya akan kusuruh mereka menekuni pekerjaan baru ini." la menuding berbagai goa di kedua dinding lorong dan menyambung pula, "Di dalam goa-goa itulah tempat bekerja mereka. Coba kau bayangkan, bila-mana hal-hal yang dahulu cuma khayalan belaka sekarang dapat terlaksana, bukankah sukses ini akan membuat sejarah baru bagi hidup manusia yang akan datang?"

Lamkiong Peng memandang orang tua ini dengan termangu. Tidak diketahuinya, sesungguhnya kakek ini seorang gila atau manusia super?

Dilihatnya si kakek mendadak menarik muka lagi dan berkata, "Apa yang kubicarakan hari ini sudah terlampau banyak dan banyak pula mengganggu pekerjaan yang lebih penting. Setelah engkau masuk ruangan ini, segala tindak-tanduk dan tutur katamu sudah bebas dari pembatasan. Tapi setiap tahun engkau hanya boleh keluar dan melihat cahaya matahari satu kali. Sekarang boleh kau periksa sekeliling tempat ini, silakan pilih satu ruangan sebagai tempat tinggalmu. Besok akan kupanggil dirimu lagi.”

Dengan ragu dan kejut Lamkiong Peng melompat turun dari goa itu. Dipandangnya lubang goa di kedua sisi dinding lorong, terbayang pekerjaan yang sedang berlangsung di situ. Meski hati penuh diliputi rasa ingin tahu, tapi ia tidak berani menghadap mereka, sebab tak berani dibayangkannya bagaimana jadinya dunia ini apabila berbagai khayalan itu menjadi kenyataan.

Tiba tiba terpikir pula olehnya, "Pantas Hong Man-thian mengumpulkan barang aneh sebanyak itu, pantas juga pihak Kun-mo-to berusaha merebut usaha Hong Man-thian yang akan mengangkut harta benda keluargaku ke sini. Tentunya disebabkan pihak Kun-mo-to juga tahu apa yang sedang terjadi di sini dan kuatir khayalan ini akan menjadi kenyataan, tatkala mana orang Kun-mo-to tentu akan di jadikan budak oleh pihak Cu-sin-tian.”

Tengah berpikir, tanpa terasa ia sudah berada di depan goa pertama. Dilihatnya ruangan goa ini agak longgar. Di bawah remang cahaya lampu berduduk dua orang kakek, di atas meja penuh tertumpuk kertas tulis dan kepingan kayu. Melihat Lamkiong Peng, kedua kakek itu rada tercengang.

Lamkiong Peng tidak berani bertanya nama asli mereka, hanya sekedarnya ia tanya pekerjaan yang sedang dilakukan mereka. Salah seorang kakek itu lantas menjelaskan bahwa mereka sedang mempelajari semacam cara baru membangun rumah, yaitu dimulai dari atap rumah dan menurun ke bawah, akhirnya baru membikin pondasi rumah. Menurut keterangannya, cara mereka itu serupa cara dua macam serangga yang paling pintar membangun sarangnya, yaitu tawon dan labah-labah.

Lamkiong Peng mengucapkan terima-kasih dan pindah ke ruangan yang lain. Tertampak di situ juga penuh tertumpuk bahan riset dua penghuninya, yaitu berbentuk macam-macam kaleng yang berukuran tidak sama serta lapisan tepung terigu yang sudah diaduk. Menurut penjelasan kedua kakek itu, mereka sudah hampir berhasil menciptakan sejenis air obat misterius. Dengan air obat itu sebagai tinta, lalu dituliskan isi kitab pengetahuan apa pun di atas lapisan adukan tepung, kemudian berpuasa sepuluh hari, habis itu panganan tepung dimakan, maka segala ilmu pengetahuan dari isi kitab dapat dikuasai sepenuhnya oleh orang yang makan adukan tepung itu.

Lamkiong Pong mengucapkan terima-kasih atas penjelasan itu, walau pun dengan perasaan bimbang. Di ruangan goa lainnya dilihatnya cahaya lampu terang benderang serupa siang hari. Di sekeliling ruangan tergantung botol kristal yang tak terhitung jumlahnya, dalam botol berisi macam-macam warna air obat. Sekilas pandang mata bisa silau oleh warna-warni botol kristal yang indah itu.

Tapi kakek penghuni goa ini tampak kurus kering tinggal kulit pembungkus tulang. Jenggotnya yang sudah putih seluruhnya memanjang hingga menyentuh lantai. Kiranya kakek ini menekuni ilmu menghilang selama lebih enam puluh tahun. Begitu melihat Lamkiong Peng, segera ia mengajaknya bicara tentang ilmu yang sedang ditekuninya itu, dalilnya sungguh ajaib dan sukar dilakukan.

Lamkiong Peng mendengarkan dengan cermat, tapi sukar memahami intisarinya. Hanya diketahuinya si kakek berusaha membuat tubuh manusia berubah tembus cahaya seluruhnya serupa benda kristal, dengan begitu manusia menjadi serupa benda tak berwujud dan takkan terlihat lagi.

Keluar dari goa ini, pikiran Lamkiong Peng tambah bingung. Selanjutnya ditemui lagi pandai besi yang sedang menggembleng benda logam supaya berubah menjadi emas. Lalu filosof yang duduk tepekur dalam kegelapan dan berbagai kakek aneh yang tidak pernah dilihat dan didengarnya.

Tentu saja pikiran Lamkiong Peng tambah ruwet, sungguh sukar dipastikan apakah kawanan kakek ini memang betul manusia super atau orang sinting, juga tak diketahuinya apakah riset mereka itu akhirnya akan menjadi kenyataan atau tidak. Yang jelas rasa ingin tahu Lamkiong Peng bertambah besar.

Dari lubang goa tingkat bawah sekarang dia memeriksa goa bagian atas. la melompat ke atas. Di suatu lubang goa itu kelihatan gelap gulita seperti tiada jejak seorang pun. Selagi dia hendak tinggal pergi, tiba-tiba dalam kegelapan bergema suara orang.

"Siapa itu?!"

Lamkiong Peng coba memandang ke sana, setelah diperhatikan, tertampak di pojok goa yang gelap itu duduk sesosok bayangan. Di depannya berserakan botol dan kaleng serta benda lain.

"Entah apa pula yang sedang dipelajari orang sinting ini?" demikian pikirnya. Segera ia mengatakan maksud kedatangannya.

Suara serak tua itu berkata, "Aku sedang mempelajari mengubah hawa udara menjadi makanan. Kau tahu hawa udara itu apa? Hawa udara adalah...." Mendadak terhenti ucapannya ketika perlahan ia mendongak.

"Hei, Peng-ji...! Kiranya kau...," serunya dengan suara gemetar.

Hati Lamkiong Peng tergetar hebat, ia merasa ucapan terakhir itu sudah sedemikian dikenalnya. Ia coba mengamati lebih jelas. Dilihatnya bayangan dalam kegelapan ini berambut semerawut, dan sorot matanya tajam. Lamat-lamat dapat dikenalnya siapa orang tua ini.

"Ahh... Suhu!" teriak Lamkiong Peng sambil menubruk maju dan menyembah di depan orang.

Kiranya kakek yang nelangsa yang duduk dalam kegelapan ini tak lain dan tak bukan ialah guru Lamkiong Peng yang termasyhur di dunia kangouw, tokoh nomor satu dunia persilatan yang tak terkalahkan, yaitu Put-si-sin-liong Liong Po-si adanya. Dalam keadaan dan di tempat seperti ini antara guru dan murid dapat berjumpa di sini, sungguh kejadian yang sukar dibayangkan. Tentu saja mereka terkejut, heran dan merasa seperti dalam mimpi.

"Mengapa kau datang ke sini, Peng-ji?" tanya Liong Po-si. Sungguh ia tidak mengerti, anak muda yang baru mulai berkecimpung di dunia kangouw ini bisa datang ke Cu-sin-to yang merupakan tempat pengasingan tokoh tua ini.

Setelah menenangkan diri, Lamkiong Peng lantas menceritakan pengalamannya, terutama mengenai diri Bwe Kim-soat.

Liong Po-si menghela napas. “Orang bilang perempuan cantik kebanyakan bernasib malang, tapi tampaknya kemalangan nasibnya memang jauh melebihi perempuan lain," ucapnya.

Kedua orang duduk berhadapan dengan diam. Terlihat orang tua itu jauh lebih tua dari-pada waktu berpisah di Hoa-san dahulu. Hati Lamkiong Peng merasa pedih, ia coba bertanya, "Ketika murid melihat ukiran tulisan di puncak Hoa-san dahulu, kami menyangka Suhu telah mengasingkan diri ke suatu tempat rahasia. Entah apa yang terjadi sesungguhnya di puncak Hoa-San dahulu, mengapa Suhu bisa sampai di sini?"

"Puncak Hoa-san...." Liong Po-si bergumam dengan menunduk sedih, sampai sekian lama baru ia menghela napas dan bertutur, "Empat puluh tahun yang lalu, untuk pertama kalinya kudengar tempat Cu-sin-tian, terhadapnya lantas timbul macam-macam khayalanku. Sekarang aku benar telah berada di tempat yang dimaksud, akan tetapi aku menjadi sangat kecewa, namun.... Ai, semuanya sudah terlambat!"

Tiba-tiba Lamkiong Peng bertanya, "Suhu, hawa udara yang dimaksudkan apakah sama seperti hawa udara umumnya yang tak berwujud itu? Cara bagaimana Suhu akan membuatnya menjadi barang santapan? Jika hawa udara dapat berubah menjadi makanan, kan di dunia ini takkan ada orang kelaparan lagi?"

Liong Po-si tertawa, "Peng-ji... Kau tahu, orang di pulau ini hampir seluruhnya adalah orang gila. Andaikan tidak gila, setelah mengalami kurungan ratusan hari, setelah dicuci otak dan hidup sebagai orang dalam kuburan. akhirnya pun akan serupa orang gila...."

Teringat kepada kawanan kakek berbaju belacu yang duduk tepekur di depan rumah dan hidup kesepian itu, tanpa terasa Lamkiong Peng menghela napas.

"Orang yang paling gila di antara orang gila itu ialah si Tocu yang berkepala besar itu," tutur Liong Po-si. "Pulau ini berada di bawah pimpinannya. Setiba di sini dan melihat keadaan mereka, aku jadi lebih suka tinggal dan merenung sendirian, maka sengaja kuberi macam-macam komentar yang aneh dan sukar dimengerti."

"Komentar apa?" tanya Lamkiong Peng.

"Kubilang kepada Cu-sin-tocu itu bahwa sebabnya pepohonan dan tetumbuhan lain hidup subur adalah karena menghisap unsur hawa udara. Apabila manusia dapat memisahkan semacam unsur misterius itu dari hawa udara dan dijadikan makanan, tentu akan banyak menghemat tenaga manusia dan jumlah barang. Sedangkan di jagat raya ini penuh hawa udara dan takkan habis terpakai, jadinya tidak bakal lagi ada orang mati kelaparan."

la berhenti sejenak, lalu menyambung dengan tertawa, "Setelah kuberi macam-macam omong kosong itu, Cu-sin-tocu itu sangat tertarik dan kagum pada teoriku. Ia anggap gagasanku itu sebagai rencana besar yang belum pernah ada dalam sejarah. Sebab itulah aku diperlakukan secara istimewa dan diberi tempat tinggal ini dengan segala fasilitas yang ada, makanya pula di sini tersedia arak sebanyak ini."

Meski dia bicara dengan tertawa, namun suaranya penuh rasa hampa dan kesepian. Bahwa jago nomor satu dunia persilatan yang termasyhur ini sekarang juga perlu minum arak sekedar pelipur lara, sungguh mengharukan.

"Peng-ji," kata Liong Po-si pula. "Meski setiap hari aku minum arak untuk menghilangkan rasa hampa dan sepi ini, namun sejauh ini tidak pernah putus asa dan selalu mencari kesempatan untuk bertindak. Bila-mana nanti Tocu memanggil lagi dirimu, boleh kau minta agar dikirim ke sini untuk membantuku mempelajari makanan misterius yang sedang kulakukan ini. Beberapa bulan lagi akan datang kesempatan baik, tatkala mana harapan bagi kita untuk kabur dari sini akan sangat besar."

Terbangkit semangat Lamkiong Peng mendengar keterangan ini. Kiranya di Cu-sin-to ini setiap tahun ada suatu hari raya. Waktu itu setiap orang diberi kebebasan untuk bergembira ria, walau pun pada hakikatnya kaum kakek itu tiada sesuatu yang dapat dibuat gembira, namun sedikitnya ada kebebasan bergerak.

Esoknya Lamkiong Peng dipanggil menghadap Cu-sin-tocu itu. Mulanya dia akan memberi tugas khusus kepada anak turunan keluarga Lamkiong, tapi demi mendengar permintaan Lamkiong Peng yang ingin ikut mempelajari ‘rencana besar’ itu, segera ia meluluskan permintaannya.

Hidup dalam goa yang gelap, sang waktu terasa berlalu dengan sangat lambat. Tapi sekarang Lamkiong Peng sudah berhasil belajar sabar. Entah sudah lewat berapa lama lagi, baginya segalanya berlalu dengan tenang tanpa berubah sesuatu apa pun. Hanya Cu-sin-tocu terkadang memanggilnya menghadap dan selalu menatapnya dengan penuh perhatian serta bertanya sekedarnya dengan hambar.

Dapat dirasakan oleh Lamkiong Peng sinar mata Cu-sin-tocu yang aneh itu lambat-laun mulai keruh dan kelihatan sedih. Setiap kali bertemu lagi, rasa kusut dan sedih itu seakan-akan selalu bertambah besar. Diam-diam Lamkiong curiga, apakah mungkin Cu-sin-tocu telah merasakan tanda bahaya yang bakal menimpa pulau ini?

Selama ini Liong Po-si sangat jarang bicara. Sedangkan Lamkiong Peng sendiri tekun menyelami berbagai ilmu silat yang telah dibacanya itu. la merasa ketajaman pandangan sendiri tambah kuat, tubuhpun tambah enteng. Sukar baginya untuk mengukur sampai di mana kemajuan kungfu sendiri.

Suatu hari selagi dia duduk tenang di dalam goa bersama sang guru, mendadak di luar sana bergema suara tambur. Tidak lama kemudian seorang melompat masuk ke dalam goa, kiranya si kakek berbaju belacu dahulu itu. Ia pandang sekejap keadaan goa itu, lalu berucap, "Sudah tiba harinya!" Meski air mukanya kelihatan kaku, tapi sorot matanya memancarkan semacam cahaya misterius seakan-akan banyak rahasia yang diketahuinya.

Tergetar hati Lamkiong Peng. "Tiba hari apa?" tanyanya.

"Tiba hari kebebasan untuk berbuat apa pun sesukamu," ucap si kakek dengan dingin. Lalu ia melompat pergi lagi.

Lamkiong Peng tercengang. “Mungkinkah dia tahu?" ujarnya perlahan.

"Apa pun yang diketahuinya, selanjutnya dia takkan tahu apa-apa lagi," jengek Liong Po-si.

"Maksud Suhu, akan kita lenyapkan dia?" tanya Lamkiong Peng.

"Betul," perlahan Liong Po-si menepuk pundak anak muda itu. "Tunggu kesempatan dan bertindak menurut keadaan. Jika tidak ada kapal atau rakit, dengan berenang pun kita akan tinggalkan tempat ini." Dari nada ucapan orang tua ini dapat dirasakan tekadnya yang bulat itu oleh Lamkiong Peng.

Berbareng mereka lantas keluar dari goa. Pintu rahasia goa itu sudah terbuka. Waktu melangkah ke luar, segera terasa angin sejuk menghembus dan membangkitkan gairah hidup Lamkiong Peng yang sudah sekian lama tersirap. Dilihatnya kawanan kakek itu tetap duduk di depan rumah masing-masing dengan kaku dan linglung, hanya jenggot mereka yang panjang berkibar tertiup angin.

Setelah menyusuri hutan, sampailah mereka di rumah bambu itu, cuma keadaan gubuk yang semula jelek itu sekarang sudah berbeda jauh. Gubuk ini tetap tidak ada sesuatu pajangan istimewa, tapi di lapangan depan rumah bertumpuk banyak bunga segar dan makanan. Di atas gundukan api unggun sedang dipanggang beberapa ekor kambing, kijang dan sebagainya. Bau sedap daging panggang bercampur dengan bau harum bunga terbawa angin sejuk sehingga membuat tempat yang semula seperti kuburan ini mendadak penuh diliputi gairah hidup.

Di sini berkumpul kawanan kakek yang belum sempat masuk ke goa gunung sana, di antaranya banyak yang berbaju lebih teratur dan resik. Mereka asyik menanti dimulainya pesta pora ini, tapi di antara mereka sempat dilihat Lamkiong Peng saling memandang dengan sorot mata yang aneh seakan-akan tersembunyi sesuatu rahasia.

Tergerak hati Lamkiong Peng. "Mungkinkah kawanan kakek ini pun sedang merancang sesuatu? Bisa jadi mereka akan memberontak atau ingin kabur dari sini," pikirnya.

Waktu ia menoleh, entah ke mana perginya Liong Po-si, orang tua itu sudah menghilang. Selagi Lamkiong Peng merasa ragu dan bermaksud mencari jejak sang guru, tiba-tiba terdengar di samping sana, di bawah pohon ada suara orang tertawa. Cepat ia berpaling, dilihatnya Hong Man-thian duduk bersandar di bawah pohon. Bajunya sudah compang-camping, mukanya kelihatan kuyu, jelas telah banyak tersiksa selama beberapa hari ini. Jenggotnya juga tak teratur, namun sinar matanya tetap bercahaya dan memandang dengan tajam.

Lamkiong Peng tidak dapat menahan perasaannya. Ia mendekati orang tua itu dan berkata dengan terharu, "Cianpwee, lantaran kami engkau yang mendapat susah."

"Susah...?" senyuman Hong Man-thian berubah menjadi ejekan. "Justru penderitaan inilah yang merangsang kehidupan kami yang hampa ini. Penderitaan ini yang membangkitkan semangat perlawananku ini."

Mendadak ia memegang pundak Lamkiong Peng dan berkata dengan semangat. "Coba lihat kawanan kakek di sebelah sana itu, dapatkah kau lihat sesuatu kelainan pada diri mereka?"

Lamkiong Peng dapat merasakan kekuatan pada ucapan orang tua ini. Segera teringat olehnya sinar mata kawanan kakek yang aneh itu, seketika berdetak jantungnya. "Ah, apakah kalian hendak...."

"Betul, diam-diam sudah kuhasut mereka, kubakar semangat dan rasa gusar mereka. Maka hari ini juga di pulau ini akan terjadi peristiwa besar. Kalau bukan kawanan orang gila di dalam goa itu yang menuju ke neraka, biarlah kami saja yang mati. Umpama mati juga lebih baik dari-pada hidup cara begini bagi mereka."

Lamkiong Peng mengangguk sependapat. "Ya, tapi mana kapalnya? Di sini kan tidak ada kapal?" katanya setengah bertanya.

"Kapal? Untuk apa?" tanya Hong Man-thian.

Lamkiong Peng melengak, "Tidak ada kapal cara bagaimana dapat pulang ke sana?"

"Pulang?" Siapa bilang mau pulang?" jengek Hong Man-thian.