Amanat Marga (Hu Hua Ling) Jilid 24

Mendadak Lamkiong Peng mendengar suara raungan harimau, kiranya di belakangnya adalah kurungan harimau. Tapi karena bunyi cambuk Li-losam, harimau itu lantas mendekam dan tidak berani bertingkah lagi. Setelah mendengar suara Li-losam yang melengking nyaring dan kepandaiannya menjinakkan harimau, hati Lamkiong Peng tergerak.

Tiba-tiba teringat olehnya akan seorang dan ia pun berseru, "Hah, Tek-ih Hujin!"

Li-losam terbahak-bahak. "Haha, bagus, kau pun mengenali diriku!"

Sembari bicara ia terus berpaling ke sana. Waktu ia menoleh kembali ke sini, tahu-tahu mukanya yang dingin kaku serupa orang mati itu mendadak berubah menjadi wajah yang cantik molek, wajah Tek-ih Hujin yang mempesona itu.

Diam-diam Lamkiong Peng gegetun, "Pantas dia dapat menaruh racun pada ikan segar dan pandai menundukkan harimau, kiranya dia adalah samaran Tek-ih Hujin. Sekarang aku jatuh di tangan orang ini, entah bagaimana nasibku nanti?"

Tek-ih Hujin lantas-mendekati Hong Man-thian. Perlahan ia meraba muka Hong Man-thian dan berkata dengan tertawa, "Hong-lotaucu, sudah lama aku merindukan dirimu, cara bagaimana akan kuperlakukan dirimu sekarang, apakah dapat kau terka?"

Mendadak ia mengeluarkan sebuah botol kecil. "Apa kau tahu isi botol ini?" sambungnya.

Hong Man-thian memejamkan mata dan tidak menggubrisnya.

Tek-ih Hujin mengerling genit, ucapnya dengan terkekeh, "Hihi, biar kuberi-tahukan. Isi botol ini adalah obat perangsang lelaki yang paling kuat. Barang siapa asalkan menciumnya sedikit, seketika nafsu berahi akan berkobar. Apakah kau mau menciumnya sedikit saja?!"

Waktu menyamar tadi mukanya kelihatan kaku dingin, tapi sekarang setiap kali bicara wajahnya kelihatan sangat mempesona dan menggiurkan. Gayanya itu membuat Tio Cin-tong dan Iain-lain sama terkesima.

Namun Hong Man-thian tetap diam saja. Tek-ih Hujin lantas menyodorkan botol kecil itu dan berkata, "Eh, coba endus sedikit. Sesudah mencium bubuk ini, meski sekujur badan tidak dapat berkutik, rasanya tentu luar biasa. Kujamin engkau pasti tidak pernah mengalami perasaan demikian...."

Lamkiong Peng belum berpengalaman, ia tidak tahu apa yang bakal terjadi. Ia coba memandang ke sana, dilihatnya botol kecil yang dipegang Tek-ih Hujin semakin mendekati hidung Hong Man-thian. Dengan mata terpejam Hong Man-thian tetap tidak menghiraukannya, namun apa daya, sama sekali ia tidak dapat bergerak.

Pada saat itulah mendadak seorang menjerit. Harimau juga meraung kaget karena jeritan itu. Serentak Tek-ih Hujin berpaling sehingga botol yang dipegangnya sedikit miring dan isinya tertuang setitik dan kabur terbawa angin.

Kiranya si juru masak kudisan itulah yang menjerit. Waktu Tek-ih Hujin berpaling, dengan tergagap ia berkata, "Ken... kenapa engkau berubah menjadi orang perempuan? Ai... apakah engkau dewa yang dapat berubah wujud?"

Tek-ih Hujin tersenyum senang, "Kau lihat aku cakap tidak?"

"Ya, cakap... cakap sekali!" jawab si kudisan dengan menyengir.

"Mendingan kau pun dapat membedakan orang cakap dan tidak," ujar Tek-ih Hujin dengan senang. "Baiklah, lekas pergi membuatkan beberapa macam makanan enak, sebentar boleh kau pandang diriku lebih lama."

Si kudisan tertawa dan berlari pergi.

Tek-ih Hujin membetulkan rambutnya, katanya pula dengan tertawa, "Hong-lotaucu, coba kau lihat, seorang linglung saja mengetahui aku...."

Belum lanjut ucapannya, sekilas diketahuinya seorang kelasi kekar di sebelahnya sedang menatapnya dengan sorot mata merah beringas serupa binatang buas lagi mengincar mangsanya. Ia terkejut dan menegur, "Kau mau apa?!"

Tubuh lelaki itu tampak gemetar, mukanya merah beringas. Mendadak ia pentang kedua tangan terus menubruk maju. Karena tidak tersangka-sangka, tubuh Tek-ih Hujin terpeluk dengan erat.

Dengan kalap lelaki itu berteriak, "Kuharap... kuminta engkau... aku tidak tahan...."

Kiranya karena isi botol tadi sedikit tertuang dan terbawa angin, lalu terhisap oleh kelasi itu. Obat itu adalah obat perangsang yang sangat keras, seketika mengobarkan nafsu berahinya sehingga membuatnya beringas dan lupa daratan.

Sama sekali tak terpikir oleh Tek-ih Hu-jin bahwa kelasi itu berani merangkulnya, seketika ia terpeluk dengan erat. Dirasakan badan orang panas seperti dibakar, bagian tertentu juga membuat hatinya terguncang. Pada dasarnya perangai Tek-ih Hujin memang cabul, dia tidak marah, sebaliknya malah tertawa sambil mengomel, "Orang mampus...."

"Bluk!" akhirnya dia roboh tertindih lelaki kalap itu.

Mendadak Tio Cin-tong menubruk maju. Sekali menikam dengan belatinya, kontan punggung kelasi itu tertembus. "Berani kurang ajar terhadap Hujin?!" bentaknya.

Lelaki itu meraung keras, tubuh membalik dan binasa.

Muka Tek-ih Hujin tampak merah, cepat ia melompat bangun. "Siapa suruh kau bunuh dia?" omelnya.

Tio Cin-tong melenggong, tapi Tek-ih Hujin lantas berkata pula, "Ah, aku tahu, tentunya engkau cemburu!" Mendadak sebelah tangannya menampar sehingga Tio Cin-tong jatuh terguling.

Dengan muka kereng Tek-ih Hujin menyapu pandang sekejap para kelasi. “Nah, inilah contohnya! Asalkan kalian bekerja dergan baik dan menurut perintah, tentu akan kuberi imbalan yang setimpal. Cuma, siapa pun tidak boleh cemburu, tahu?!" bentaknya dengan bengis.

Lalu ia mendekati Tio Cin-tong dan menjulurkan tangan. Muka Tio Cin-tong tampak pucat dan melongo bingung. Tak terduga Tek-ih Hujin hanya meraba perlahan pada mukanya yang digampar tadi.

Mendadak ia berkata dengan tertawa, "Lemparkan keparat itu ke laut, pergilah pegang kemudi, kerjalah baik-baik, tahu?"

Seperti mendapat pengampunan, cepat Tio Cin-tong mengiyakan dan berlari pergi.

Semua kejadian i!u dapat di saksikan oleh Lamkiong Peng. Ia hanya geleng kepala. Ia merasa bila orang jatuh dalam cengkeraman perempuan seperti ini, sungguh lebih baik mati dari-pada hidup. Dilihatnya si juru masak kudisan telah muncul kembali dengan membawa enam macam hidangan, bau sedapnya sungguh menusuk hidung.

"Biarlah di sini juga kita makan siang, sembari maksudku ingin melihat permainan si tua bangka she Hong itu," kata Tek-ih Hujin.

Dengan cepat para kelasi lantas mengatur meja kursi.

Tek-ih Hujin menuang secawan arak dan dibawa ke depan Hong Man-thian. "Sedap tidak baunya?” katanya.

Lalu ia mendekati Lamkiong Peng dan si makhluk aneh serta mengiming-imingi arak itu di depan hidung mereka. Makhluk aneh Jitko menyeringai, mata pun melotot.

Tek-ih Hujin memperlihatkan botol kecil tadi. "Jangan kuatir, saat ini pendirianku sudah berubah. Biar kalian merasakan dulu siksaan orang kelaparan dan kehausan, habis itu baru merasakan betapa celakanya orang yang dirangsang nafsu berahi," katanya pula dengan tertawa.

Mendadak ia memberi tanda kepada Tio Cin-tong. "Ikat dulu kemudinya, marilah kita minum bersama untuk merayakan kemenangan ini!" ujarnya.

Kecuali Lamkiong Peng bertiga, yang berada di atas kapal kini tersisa tujuh orang saja, jadi tepat untuk memenuhi satu meja. Kawanan anggota Hai-pa-pang meski biasanya sangat garang, tapi menghadapi Tek-ih Hujin, mereka benar-benar mati kutu dan juga kebat-kebit. Yang paling senang jelas adalah Tek-ih Hujin sendiri, bahwa musuh utama selama hidupnya kini dapat ditawan, sungguh hal ini harus dirayakan.

Tek-ih Hujin mengangkat cawan arak dan berseru, "Wahai Hong Man-thian, betapa gagahnya engkau dahulu ketika membakar Ban-siu-san-ceng kami dan aku terusir hingga tiada tempat berteduh. Dua bulan yang lalu, di Lamkiong-san-ceng hampir juga jiwaku melayang di tanganmu. Tapi sekarang di mana kagagahanmu?!" Sembari berolok-olok tidak lupa pula ia menenggak arak. Dia memang ayu, setelah minum arak wajahnya semakin menggiurkan.

Kawanan berandal Hai-pa-pang semua masih takut-takut. Sesudah minum secawan arak, mereka bertambah tabah dan segera makan minum tanpa pantang lagi. Si juru masak kudisan sibuk naik turun membawakan hidangan dan tambah arak, namun lirikan matanya tidak pernah melepaskan gerak-gerik Tek-ih Hujin.

Tiba-tiba Tek-ih Hujin berbangkit dan mendekati Lamkiong Peng. Sambil mengamati anak muda itu ia bertanya, "Adik cilik, berapa usiamu tahun ini?"

Lamkiong Peng diam saja.

Tek-ih Hujin tertawa, katanya pula, "Ai, kenapa malu-malu bicara dengan Taci, bila...."

Belum lanjut ucapannya, mendadak terdengar suara gemerincing. Mangkuk piring sama tumpah, lalu ketujuh lelaki itu sama roboh terjungkal, semuanya mabuk serupa orang mampus.

"Huh, manusia tak berguna, baru dua tiga cawan sudah menggeletak," omel Tek-ih Hujin.

Tak terduga mendadak ia pun mengeluh. "Celaka!"

Cepat ia melompat ke samping si juru masak, segera ia cengkeram pergelangan tangannya.

"Ada... ada apa?" tanya si kudisan dengan melongo.

"Budak kurang ajar!" bentak Tek-ih Hujin. "Kau berani menaruh racun dalam arak?! Lekas serahkan obat penawarnya, kalau tidak...."

"Hehehehe!" tiba-tiba si kudisan terkekeh. "Akhirnya kau tahu juga? Cuma, semuanya sudah terlambat." Dia menirukan ucapan Tek-ih Hujin tadi, tentu saja air muka Tek-ih Hujin alias si Nyonya Senang menjadi pucat seketika.

Semangat Lamkiong Peng dan Hong Man-thian sama terbangkit juga melihat kejadian itu.

Terdengar si kudisan lagi tertawa. "Obat ini aku terima dari kalian, dan sekarang aku gunakan untuk kalian, ini kan adil dan pantas?" katanya.

Di tengah tertawa juru masak itu, Tek-ih Hujin segera roboh terkulai.

"Hehe, Nyonya Senang ternyata tidak lama lagi senangnya," si kudisan berolok-olok pula, kelakuannya tetap angin-anginan.

Diam-diam Lamkiong Peng merasa gegetun. Sungguh sukar dinilai dari lahiriahnya, tak terduga orang yang bermuka jelek dan kelihatan bodoh ini ternyata juga memiliki kecerdasan. Kecuali dia rasanya juga jarang ada orang yang sanggup mengelabui mata Tek-ih Hujin.

Dengan langkahnya yang lamban si juru masak kudisan lantas mendekati Lamkiong Peng bertiga dan membuka tali pengikatnya. Tapi karena hiat-to-nya tertotok, maka mereka masih belum dapat bargerak.

"Budi besar tidak berani kubalas dengan ucapan terima-kasih. Untuk selanjutnya masih diharapkan bantuan Anda untuk membuka hiat-to kami," ucap Hong Man-thian dengan sungkan.

"Hiat-to apa maksudmu?" si kudisan bertanya dengan ketolol-tololan.

"Ai, jika Anda sengaja menyembunyikan kepandaian, terpaksa aku pun tak dapat memaksa," ujar Man-thian dengan gegetun.

"Mana... mana hamba tahu hiat-to apa segala, tapi kalau Loyacu mau memberi petunjuk, mungkin... mungkin bisa kucoba," kata si kudisan.

Hong Man-thian pikir, jika orang memang sengaja berlagak bodoh, apa salahnya aku katakan cara membuka hiat-to yang harus dilakukannya? Maka dengan perlahan ia lantas menguraikan bagian mana yang harus dipijat dan ditotok. Juru masak yang kotor itu menuruti petunjuk itu dan meraba-raba tubuh Lamkiong Peng, walau pun begitu diperlukan sekian lamanya baru anak muda itu dapat dibebaskan dari kelumpuhannya.

Hidung Lamkiong Peng mencium bau busuk kudis di tubuh orang hingga rasanya ingin tumpah. Untung segera ia merasa dirinya sudah dapat bergerak. Tanpa tunggu lagi ia melompat bangun sehingga si kudisan tertumbuk sempoyongan. Cepat Lamkiong Peng membuka hiat-to Hong Man-thian yang tertotok. Begitu melompat bangun, Man-thian lantas menjura kepada si kudisan.

"Ah, Loyacu jangan banyak adat," ujar si juru masak dengan gugup.

"Yang aku hormati bukan karena jiwaku kau selamatkan, tapi karena engkau telah membebaskan diriku dari hinaan dan aniaya musuh," ujar Hong Man-thian.

Tiba-tiba terlihat si Jitko sedang menyeret salah seorang kelasi ke tepi kapal.

"He, akan kau apakan dia?" tegur Lamkiong Peng.

"Buang saja ke laut untuk umpan ikan," jawab Jitko.

"Nanti dulu,” kata Lamkiong Peng. "Apa pun juga kita tidak sampai diperlakukan melampaui batas, biarlah jiwa mereka boleh diampuni saja. Taruh saja mereka di dalam sekoci dan hanyutkan sekoci itu. Terserah kepada nasib mereka akan selamat atau ditelan laut, bukan lagi urusan kita."

Hati Lamkiong Peng memang luhur, betapa pun ia tidak sampai hati melemparkan orang-orang yang belum mati itu ke laut. Hong Man-thian menggeleng kepala atas jalan pikiran anak muda itu. Si juru masak kudisan juga tidak membantah. Segera mereka menurunkan sekoci dan memindahkan tujuh lelaki dan seorang perempuan itu ke dalam perahu kecil itu dan dihanyutkan di tengah laut.

Ketika mereka bertiga tertawan, Tek-ih Hujin telah memerintahkan kapal berlayar kembali ke arah semula, sekarang kapal juga tetap laju menuju pulang. Lamkiong Peng pikir juru masak kotor ini sungguh banyak terdapat keanehan.

Ia coba bertanya, "Bila tidak keberatan, apakah boleh kami tanya siapa nama Anda yang sebenarnya?"

"Ah, nama orang rendah semacam hamba mana ada harganya untuk disebut," jawab si kudisan tetap dengan tertawa seperti orang bodoh. “Cuma nama Lamkiong-kongcu justru sudah pernah hamba dengar dari seorang kawanmu."

"Hah, apa betul? Siapa dia?" tanya Lamkiong Peng.

Juru masak itu memandang jauh ke sana. "Orang itu bukan saja kawan Kongcu, bahkan boleh dikatakan orang terdekat Kongcu," katanya kemudian.

"Eh, jangan-jangan engkau kenal Liong-toako-ku?" Lamkiong Peng menegas dengan girang.

"Bukan," kata si juru masak.

“Lantas siapa? Apakah Ciok-siko, atau Suma-lopiauthau atau Loh-sacek...?"

Begitulah sekaligus ia menyebut beberapa nama orang yang ada hubungan rapat dengan dirinya, malahan nama Kwe Giok-he, Ong So-so dan Yap Man-jing juga disebutnya. Namun si juru masak tetap menggeleng dan menjawab bukan.

Lamkiong Peng menjadi bingung sendiri. la pikir orang yang rapat dengan dirinya selain yang sudah disebutkan tinggal Bwe Kim-soat yang juga boleh dikatakan orang yang ada hubungan rapat dengannya. Tapi dia berwatak dingin, juga suka pada kebersihan. Misalnya selama sepuluh tahun ia tersekap di dalam peti mati, jika orang lain tentu sudah mati konyol, tapi dia dapat keluar dengan hidup dan pakaiannya masih tetap putih bersih. Mustahil dia tidak jijik melihat orang dekil dan berbau busuk semacam ini? Apalagi mau bicara dengan dia!

Karena itulah akhirnya ia menggeleng dan mengaku, "Wah, rasanya aku tidak ingat lagi ada orang lain yang ada hubungan dekat denganku."

Juru masak itu memandang jauh tanpa bicara. sekian lama barulah ia berkata pula dengan perlahan, "Masa selain orang-orang itu Kongcu tidak mempunyai sahabat lain lagi?"

"Rasanya tidak... tidak ada lagi," jawab Lamkiong Peng.

Juru masak itu termenung sejenak pula. Mendadak ia tertawa dan katanya, "Ah, tahulah aku, tentu orang itu sengaja mengaku sebagai sahabat baik Kongcu." Lalu ia melangkah ke pinggir kapal dan mengelamun seorang diri.

Hong Man-thian yang sedang pegang kemudi itu memandang Lamkiong Peng sekejap. Selagi dia hendak bicara, mendadak si juru masak berteriak, "Wah, celaka!"

"Ada apa?" tanya Man-thian cepat.

Juru masak kudisan itu menuding badan kapal. Waktu Hong Man-thian melongok ke bawah, seketika air mukanya juga berubah hebat. Kiranya badan kapal yang terapung di permukaan air kini tinggal tiga empat kaki saja.

"Hah, jadi kapal ini lagi tenggelam dengan perlahan?!" teriak Lamkiong Peng kuatir.

Hong Man-thian tidak menjawab, sekali lompat tubuhnya yang gede itu melayang ke bawah kabin. Meski tongkatnya sudah terlempar ke laut, namun gerak-geriknya tetap cepat dan gesit.

Segera Lamkiong Peng menyusul ke sana. Setiba di bawah dek, keduanya saling pandang dengan muka pucat. Ternyata di antara celah-celah kabin sudah mulai merembes air laut, makin lama makin keras. Sebagian barang yang terdapat di sana sudah terapung di permukaan air. Malahan rembesan air segera berubah deras, sebentar saja sudah sebatas paha Lamkiong Peng.

"Lekas naik ke atas!" seru Man-thian.

Keduanya lantas melompat lagi ke atas geladak. Jitko yang lagi pasang mata di puncak layar juga merambat turun.

"Bagaimana?" tanya si juru masak dengan kuatir.

"Kapal bocor, air laut sudah merembes masuk dan hampir menggenangi dek bawah. Tidak sampai setengah jam lagi kapal ini akan tenggelam," tutur Hong Man-thian.

Juru masak itu tampak bingung. Mendadak ia mengentak kaki dan berkata, "Pantas sebelum Tek-ih Hujin memperlihatkan jejaknya, setiap hari dia pasti mendatangi dek. Agaknya diam-diam dia sudah membuat lubang di dasar kapal dan setiap hari harus disumbat. Bila-mana akal kejinya berhasil, lubang itu tetap dibikin rapat, jika gagal usahanya, lubang itu akan membesar dan semuanya akan terkubur di dalam laut. Saat ini tentu penyumbat lubang itu sudah jebol dan air laut merembes masuk dengan deras di luar tahu kita."

"Sungguh keji amat perempuan itu," gerutu Lamkiong Peng dengan gemas. “Lantas apa daya kita?"

"Kecuali meninggalkan kapal, masa ada jalan lain?" jengek Man-thian.

"Ai, jika aku tidak memberikan sekoci itu, tentu...," si juru masak juga menyesal.

"Jiwa kami diselamatkan olehmu, buat apa engkau menyesal?" kata Man-thian. "Mati-hidup manusia sudah tercatat takdir, apa artinya mati bagi kita? Cuma akhirnya aku tetap mati di tangan Tek-ih Hujin, sampai di akhirat dia tetap merasa senang, sungguh aku tidak rela!"

"Biar kuperiksa lagi, mungkin bisa...," kata Lamkiong Peng.

“Bisa apa?" ujar Man-thian, "Perbekalan dan air minum sudah terendam air laut, biar pun kita terapung dan tidak karam juga akan mati kelaparan dan kehausan."

Lamkiong Peng melenggong dan urung melangkah pergi.

"Hong-locianpwee sungguh seorang yang tidak gentar mati," ujar si juru masak.

"Aku memang sudah bosan hidup, apa artinya mati bagiku? Cuma sayang, kalian yang masih muda ini harus ikut menjadi korban," ucap Man-thian dengan menyesal. "Jitko, coba kau cari beberapa guci arak lagi. Sebelum mati marilah kita minum sepuasnya."

Makhluk aneh ltu tampaknya juga tidak menghiraukan hidup atau mati. Ia pergi ke bawah dan mendapatkan dua guci arak. "Tinggal ini saja, yang lain sudah pecah tertumbuk," katanya.

Segera Hong Man-thian rnembuka guci arak dan menenggak arak. Kapal tenggelam dengan cepat. Kawanan binatang buas itu agaknya juga merasakan gelagat tidak enak, semula mereka lesu, sekarang lantas meraung-raung di dalam kurungan.

Lamkiong Peng ikut minum arak dan mendadak menghela napas.

"Kenapa engkau menghela napas?" tanya Man-thian. "Toh setiba di Cu-sin-to, hidupmu juga tidak lebih baik dari-pada mati. Jika dapat mati sekarang kan lebih menyenangkan malah....”

Seketika Lamkiong Peng tidak dapat merasakan makna yang terkandung dalam ucapan orang tua itu. "Jelek-jelek Wanpwe bukanlah manusia yang tamak hidup dan takut mati. Soalnya Wanpwe mendadak teringat kepada seseorang, maka merasa menyesal. Bila-mana orang itu ikut di atas kapal ini, tentu akal keji Tek-ih Hujin takkan terlaksana," katanya.

"Siapa yang kau maksudkan?" tanya si juru masak kudisan dengan mata terbeliak.

Perlahan Lamkiong Peng menjawab, "Bwe...."

"Bwe Kim-soat maksudmu?" tukas si kudisan mendadak dengan badan tergetar.

"Kau kenal dia?” tanya Lamkiong Peng dengan heran.

Juru masak itu tidak menjawab. "Dalam keadaan dan di tempat seperti ini, mengapa engkau teringat kepadanya?" ucapnya dengan gemetar.

Kembali Lamkiong Peng menghela napas. "Teringat padanya? Masa aku teringat padanya?" gumamnya.

Sekilas pandang dilihatnya tubuh si kudisan gemetar dan berlinang air mata. Tentu saja Lamkiong Peng heran. "Kenapa kau...?" tanyanya.

"Dapat mendengar ucapanmu ini, mati pun aku...."

Belum lanjut ucapan si juru masak, mendadak makhluk aneh Jitko berteriak, "Aha, itu dia! Ada daratan...! Daratan...!"

Seketika si juru masak urung bicara lebih lanjut dan bertanya kepada Jitko, "Mana ada daratan?"

"Ya, memang ada daratan!" Man-thian ikut bicara. "Meski manusia adalah makhluk yang paling pintar, tapi daya cium tak dapat menandingi binatang. Coba kau lihat, kawanan binatang buas itu kelihatan lain, tentu dari angin laut dapat mereka mencium bau daratan."

Sementara itu Jitko telah merambat lagi ke puncak tiang layar. Sesudah memandang jauh sejenak, ia lalu merosot turun lagi. Diambilnya sebuah ember dan turun ke dek, sementara itu badan kapal tinggal satu kaki saja di permukaan air. Pada saat bahaya mendadak menemukan titik terang, seharusnya mereka bersyukur dan gembira. Tapi Hong Man-thian dan si juru masak kudisan tidak kelihatan senang sedikit pun.

Lamkiong Peng menjadi sangsi. "Tadi kau bilang setelah mendengar ucapanku, lalu bagaimana?” ia coba tanya lagi.

Juru masak itu termangu-mangu, sejenak kemudian baru menjawab, “Kubilang mati pun engkau menggelikan dan kasihan." Ia berdiri dan melangkah ke pinggir kapal, lalu katanya pula, "Dari nama kawanmu yang kau sebut tadi jelas semuanya pendekar ternama di dunia persilatan, bahkan Yap Man-jing, Ong So-so dan Iain-lain juga anak perempuan yang cantik dan lemah lembut, hanya Bwe Kim-soat saja.... Hm, dia berhati kejam, namanya busuk, usianya juga jauh lebih tua, tapi engkau justru teringat padanya. Bukankah menggelikan dan harus dikasihani?"

Air muka Lamkiong Peng berubah hebat. Mendadak ia menenggak arak dua cawan, perlahan ia mendekati si kudisan dan berkata, "Apa pun yang kau katakan, namun aku tahu dia adalah perempuan yang paling lembut, paling berbudi. Demi untuk menolong orang lain dan membela orang lain, dia rela menderita sendiri, terhina dan tersiksa, dan mengorbankan nama baik sendiri. Meski usianya lebih tua dari-padaku, namun aku rela mendampingi dia selamanya."

Tubuh si kudisan tampak tergetar, tapi tidak berpaling.

Dengan kasih mesra Lamkiong Peng memandangi kepala orang yang penuh borok itu. Secara perlahan ia mengucap, "Dia sebenarnya seorang yang suka kepada kebersihan, tapi demi diriku dia rela membikin kotor diri sendiri. Dia seorang yang tinggi hati, lantaran diriku dia tidak sayang merendahkan diri. Dia begitu baik padaku, namun selagi aku masih hidup dia tidak mau bicara terus terang padaku, melainkan rela menderita sendirian. Sekarang aku menghadapi jalan buntu, apakah dia masih tetap....”
Belum habis ucapannya berderailah air mata Lamkiong Peng.

Dahi si kudisan juga kelihatan berkerut-kerut, air mata pun meleleh membasahi mukanya yang dekil itu.

Mendadak Lamkiong Peng meratap, "O, Kim-soat, mengapa engkau sampai hati mengelabuiku sejauh ini? Memangnya engkau belum cukup berkorban bagiku...?"

"O, adik Peng...," tiba-tiba si kudisan membalik tubuh dan mendekap anak muda itu.

Dengan erat Lamkiong Peng merangkulnya, kini tak dihiraukan lagi mukanya yang kotor dan baunya yang busuk, sebab ia tahu semua itu tidak lain hanya bualan belaka, samaran Bwe Kim-soat yang cantik dan harum itu.

"Selamanya aku takkan berpisah lagi denganmu. Apa pun yang terjadi dan betapa pun komentar orang atas diriku, aku akan berkumpul denganmu," ratap si kudisan alias Bwe
Kim-soat.

"O, mengapa tidak sejak semula kau katakan padaku? Mengapa engkau lebih suka menderita sendiri?" keluh Lamkiong Peng.

"Engkau tidak tahu, berapa kali ingin kubongkar penyamaranku ini dan memberi-tahukan siapa diriku, tapi aku...."

Begitulah kedua orang saling mengutarakan rasa rindu dan sedih masing-masing tanpa menghiraukan keadaan sekitarnya. Hong Man-thian sendiri duduk termenung tanpa menghiraukannya. Betapa keras hatinya juga tetap terharu oleh cinta murni kedua orang itu.

“Blang!” sekonyong-konyong terdengar suara yang keras disertai guncangan badan kapal.

Kiranya kapal telah kandas, kelihatan jaraknya dengan pantai yang berpasir kuning itu cuma beberapa puluh tombak saja dan genangan air laut belum lagi mencapai geladak. Kegirangan pertemuan kembali setelah berpisah sekian lama, kegembiraan karena hilangnya salah paham, ditambah lagi kegirangan lolos dari maut, sungguh sukar dilukiskan perasaan Lamkiong Peng dan Bwe Kim-soat pada saat itu.

Mereka lantas berenang dan mendarat di pulau karang yang tak diketahui namanya serta tak berpenghuni itu. Melihat kemesraan kedua orang itu, hati Hong Man-thian juga ikut senang dan juga terharu.

Dengan sendirinya Bwe Kim-soat sudah membersihkan semua obat rias yang membuat wajah dan tubuhnya kelihatan kotor dan berbau itu. Kembalilah wajah aslinya yang cantik, cuma sekarang kelihatan agak kurus dan pucat, namun semakin menambah kemolekannya.

Pulau karang ini ternyata cukup subur di bagian pedalamannya. Pepohonan menghijau permai, langit cerah tanpa awan, suasana penuh gairah hidup, segala urusan duniawi yang kotor saakan-akan tak dikenal di sini. Pulau ini banyak tumbuh pohon kelapa, Hong Man-thian duduk mengelamun di bawah pohon sambil minum arak.

Mendadak ombak mendampar dengan dahsyat sehingga kapal yang kandas itu terdampar ke pesisir. Kawanan binatang buas di dalam kurungan menjadi garang lagi demi melihat daratan, semuanya meraung-raung.

Jitko telah mengumpulkan berbagai buah-buahan liar dan beberapa biji kelapa, akan tetapi setelah dibuka airnya sudah kering. Meski makhluk aneh ini kelihatan bodoh, dia ternyata tidak mau diam, selalu ada-ada saja yang dikerjakan. Ia sibuk mencari sesuatu di dalam kapal, akhirnya ditemukan sebuah kampak. Dengan alat ini dia membuat lubang badan kapal yang bocor itu terlebih besar, dengan begitu air yang menggenang di dalam kapal dapat mengalir ke luar dengan cepat. Lalu dia membongkar papan geladak kapal dan mendapatkan bahan pelekat yang biasanya tersedia di dalam kapal, dipaku dan ditambalnya lubang yang bocor itu hingga rapat.

Setelah sibuk setengah harian, akhirnya ia tertawa dan berkata, "Sebentar bila air naik pasang, kapal ini akan menyurut kembali ke tengah laut, dengan demikian kita pun akan terbawa berlayar lagi dari-pada mati konyol di sini. Terutama sepasang pengantin baru kita, bolehlah berbulan madu di tengah lautan."

Lamkiong Peng dan Bwe Kim-soat saling genggam tangan dan saling pandang dengan terharu dan entah apa yang harus diucapkan.

Benar juga, menjelang magrib, air laut naik pasang, maka lambat-laun kapal itu terapung pula di permukaan laut. Jitko memegang kemudi dan pasang layar, perlahan kapal itu melaju lagi ke tengah laut. Perbekalan di dalam kapal sudah hampir ludes, rusak atau hanyut terbawa air laut. Yang masih tersisa dan umpamanya sekedar dapat digunakan juga takkan tahan lebih lama dari beberapa hari saja. Terutama air minumnya, tiada tersisa setetes pun.

Untunglah si makhluk aneh dapat menemukan dua guci arak yang belum pecah. Arak selain dapat melepas dahaga juga dapat digunakan sekedar sebagai tangsal perut. Dan begitulah tiga hari sudah lampau pula. Pada malam hari keempat, mereka telah putus asa karena sudah kehabisan perbekalan, tampaknya mereka hanya menanti ajal saja.

Tiba-tiba si makhluk aneh dapat menemukan lagi seguci arak yang semula disangka sudah pecah, ternyata pada dasarnya masih tersisa setengah guci. Seperti menemukan barang mestika saja mereka bergantian meneguk isi guci itu.

Tak terduga mendadak Hong Man-thian berteriak, "Wah, celaka!"

Rupanya dia memiliki lweekang paling tinggi, maka dia paling cepat merasakan sesuatu yang tidak beres pada arak itu. Nyata arak itu beracun, agaknya memang sudah diatur oleh Tek-ih Hujin. Beberapa guci arak yang tersedia itu telah ditaruh racun. Telah diperhitungkannya, bila-mana tidak tenggelam dan kandas, tentu juga penumpangnya akan kehabisan perbekalan dan segala apa dimakan dan diminum, maka arak ini pun tidak terkecuali akan dihabiskan oleh mereka dan tak terhindarlah akan keracunan.

Di antara mereka berempat lweekang si makhluk aneh paling cetek, dia yang menjadi korban lebih dulu. Tahu-tahu matanya mendelik, lalu roboh binasa. Tentu saja Lamkiong Peng kaget. Waktu berpaling, dilihatnya muka Hong Man-thian juga hitam kelam, orang tua itu sudah kaku dengan mata terpejam.

"Hei, kenapa Hong-locianpwee?" seru Lamkiong Peng kuatir.

"Aku...." belum sempat bicara apa pun, Hong Man-thian tampak berkejang dan gigi gemertuk. Tanpa ayal Lamkiong Peng menotok hiat-to tidurnya supaya tidak merasakan siksaan yang melampaui batas.

Orang tua itu sempat berucap, "Terima-kasih,” lalu roboh terkapar.

Waktu ia menoleh, sungguh kagetnya tak terkatakan. Tanpa pamit Bwe Kim-soat ternyata juga sudah rebah seperti orang tidur nyenyak, ujung mulutnya malah kelihatan mengulum senyum.

"Hah...!" ia tidak tahu apa yang harus diperbuatnya. Ia rangkul tubuh Bwe Kim-soat dengan erat, ia pun ingin selekasnya menyusulnya ke alam baka.

Malam tiba, kegelapan yang tidak ada ujungnya. Lamkiong Peng merasa dunia ini sedemikian seram, makin lama makin mencekam, namun rasanya racun dalam tubuhnya tidak cepat bekerjanya. Betapa pun ia tidak tahu mengapa bisa terjadi begini.

Kiranya tempo hari ketika di hutan perkampungan Lamkiong-san-ceng dia pernah menghisap sedikit bubuk racun Tek-ih Hujin yang membinasakan Bu-sim-siang-ok itu. Waktu itu kotak yang dilemparkan Tek-ih Hujin itu menyambar lewat di sisinya dan tanpa terasa terendus bau harum olehnya, cuma saat itu tidak diperhatikan kejadian ini.

Racun yang terhisap olehnya itu tidak segera bekerja, sebab racun buatan Tek-ih Hujin itu merupakan racun maha-dingin, sebaliknya sejak kecil Lamkiong Peng berlatih lweekang yang mengutamakan hawa murni maha-panas, maka setitik racun dingin itu dapat ditahannya. Sekarang racun dalam arak yang diminum itu justru racun maha-panas, sebab itulah Bwe Kim-soat tidak tahan, ia roboh dengan tubuh panas membara.

Bagi Lamkiong Peng, sekaligus terjadi pertarungan dua macam racun dalam tubuhnya, tentu saja hal ini tidak dirasakan oleh Lamkiong Peng sendiri. Akan tetapi apa pun juga, akhirnya racun mulai meluas juga dan membuatnya menggigil, pikiran pun mulai kabur, dan mata berkunang-kunang.

Pada waktu dia hampir kehilangan kesadaran, tiba-tiba dari kejauhan permukaan laut sana berkumandang suara orang berteriak, "Hong Man-thian, apakah engkau sudah pulang?!" Suaranya kedengaran sangat jauh, namun bagi telinga Lamkiong Peng dirasakan juga begitu jelas.

la hanya sempat berpikir, "Ah, barangkali sudah sampai di Cu-sin-to!" Habis itu ia lantas tidak ingat apa pun.

Pada saat itulah dalam kegelapan yang tak berujung itu ada setitik sinar lampu bergoyang-goyang mendekat, mengikuti gelombang ombak menuju ke kapal maut ini....

Di ujung pulau sana mencuat tinggi tebing yang curam. Di atas tebing itu berdiri sebuah rumah yang berdinding tinggi dan kelihatan seram. Sekeliling rumah tiada terdapat daun jendela, di tengah malam yang sunyi ini hanya kelihatan setitik cahaya lampu yang berkelip serupa api setan menghias ruangan yang luas.

Di sekeliling ruang luas ini berderet sebaris meja, semuanya memakai taplak meja warna hitam. Dalam jarak dua tiga kaki jauhnya, tertaruh sebuah tempurung dan di depan ada sebuah Lengpai (papan dengan tulisan nama orang mati), suasana kelihatan seram. Di tengah ruangan besar yang seram ini tertaruh sebuah dipan, ternyata yang rebah di atas dipan adalah seorang perempuan cantik, mukanya pucat, mata terpejam, agaknya dalam keadaan tidak sadar. Dari cahaya lampu yang guram itu samar-samar kelihatan dia adalah Bwe Kim-soat yang mati keracunan itu.

Sumbu lampu yang semakin guram itu bergoyang, ruangan sunyi senyap. Sekonyong-konyong Bwe Kim-soat yang rebah di atas dipan itu bergerak perlahan. Kelihatan dia membuka mata, sorot matanya menampilkan rasa kaget dan ngeri. Ia menyapu pandang sekelilingnya, lalu merangkak bangun. Sesungguhnya dia sudah mati atau hidup? Setan atau manusia?

Dengan langkah terhuyung ia berjalan ke pojok sana, merambat tepi meja dan menegakkan tubuh, lalu dipandangnya Lengpai yang berjajar di atas meja itu. Ia melengak setelah membacanya, sebab ia kenal nama-nama yang tertulis pada beberapa Lengpai itu adalah tokoh-tokoh dunia persilatan masa lampau. Ia heran, tempat apakah ini? Mengapa Lengpai para tokoh ini terkumpul di sini?

Padahal tokoh-tokoh itu berlainan perguruan, bahkan berlainan jaman, mengapa bisa terdapat dan dipuja di sini? Ia coba memandang lagi lebih lanjut. Mendadak air mukanya berubah, ia menjerit tertahan dan jatuh terduduk, air mata pun bercucuran. "O, masa engkau... engkau sudah meninggal?" ratapnya.

Kiranya Lengpai terakhir yang dibacanya itu tertulis, ‘Lamkiong Peng’.

Nama ini serupa belati tajam yang menikam hulu hatinya, seketika tubuhnya serasa dingin.

“Kriuut...!” tiba-tiba terdengar suara, pintu ruangan besar itu terbuka sedikit, lantas sesosok tubuh tinggi kurus dengan jenggot panjang putih dan berbaju belacu menyelinap ke dalam serupa badan halus saja.

Meski sinar matanya mencorong terang, tapi tajam dingin tanpa perasaan. Mukanya juga dingin kaku, serupa mayat yang baru merangkak ke luar dari liang kubur. Ia pandang Bwe Kim-soat sekejap, lalu menegur kaku, "Engkau sudah mendusin?"

"Mendusin...? Memangnya aku tidak mati?" tergetar hatinya dan tangis pun tak tertahan lagi. Jika dia tidak mati, lantas bagai-mana dengan Lamkiong Peng? Apakah anak muda itu sudah mati?

Si kakek baju belacu hanya memandangi dia menangis tanpa mencegahnya.

"Di mana dia... di mana jenazahnya? Aku... aku ingin mati bersama dia!" jerit Kim-soat sambil menubruk maju.

Seperti tidak bergerak, tahu-tahu kakek itu menggeser ke samping. "Apakah tangismu sudah cukup?" sahutnya ketus.

"Lamkiong Peng, di... di mana dia...?" ratap Kim-soat.

"Jika belum cukup menangis, boleh kau menangis sepuasnya," kata si kakek. "Kalau sudah cukup menangis, segera kubawa engkau ke atas kapal. Urusan lain tidak perlu kau tanya."

Mendadak Kim-soat berbangkit. Ia mengusap air mata, tanpa bicara ia terus melangkah ke luar.

"He, kau mau ke mana?" tanya si kakek.

"Engkau tidak mau menjawab, biar kucari dia sendiri, peduli apa denganmu?" jengek Kim-soat, berbareng ia melangkah lagi.

“Hm, berani kau keluar selangkah saja dari pulau ini, segera kupotong kakimu," jengek si kakek.

Si kakek tidak kelihatan bergerak, tapi tahu-tahu sudah menghadang di depan Bwe Kim-soat. Padahal ginkang Kim-soat terkenal tiada tandingannya di dunia persilatan, maka dapat dibayangkan betapa hebat ginkang si kakek baju belacu ini.

"Jika tidak lekas naik kapal dan meninggalkan tempat ini, jangan menyesal bila aku perlakukan dirimu dengan kasar," kata si kakek pula.

Kim-soat melengak, tapi biji matanya lantas berputar. Mendadak ia tersenyum manis. "Ai, kakek setua ini masakah menggoda anak perempuan, apa tidak malu?" katanya.

Kakek itu melenggong. Belum lagi ia bersuara, mendadak Kim-soat melayang lewat di sisinya dan menerjang ke luar pintu yang setengah terbuka itu.

Sementara itu fajar sudah hampir menyingsing. Di tengah keremangan pagi itu kelihatan sebuah sungai mengalir di bawah tebing sana, tampak pula pepohonan lebat di kanan-kiri sungai.

Selagi ia hendak melompat turun dari tebing, sekonyong-konyong terdengar ada orang membentak dari belakang. "Sungguh perempuan licin...!"

Terdengar suara angin menderu, tahu-tahu si kakek berbaju belacu sudah menghadang di depannya dengan sikap dingin.

"Dia sudah mati, mengapa tidak kau perlihatkan jenazahnya kepadaku?" ucap Kim- soat dengan terputus dan air mata pun bercucuran.

Namun kakek itu sama sekali tidak terharu. Mendadak ia bertepuk tangan, maka dari bawah tebing segera melompat ke atas seorang lelaki kekar bertelanjang badan, hanya pada pinggangnya tertutup sepotong kulit macan tutul. Sekujur badan lelaki ini berbulu kuning sehingga tampak mengkilat, mulut lebar dan bersiung, sekilas pandang akan disangka orang-hutan.

"Cukong ada perintah apa?" terdengar lelaki kekar ini berkata.

"Sudahkah semua barang muatan dibongkar?" tanya si kakek.

Orang itu menjawab dengan hormat, "Belum!"

"Lekas selesaikan tugasmu!" si kakek memberi tanda.

Secepat kilat mendadak ia menotok Nui-moa-hiat di pinggang Bwe Kim-soat. Karena tidak tersangka, Kim-soat menjerit dan roboh terkulai.