Amanat Marga (Hu Hua Ling) Jilid 23

Anak buah Lok-yap-ceng mestinya penasaran karena orang lain bakal mendapat rejeki nomplok, tapi pihaknya justru diperintahkan mundur. Tapi biasanya mereka sangat tunduk kepada kebijaksanaan sang Cengcu, terpaksa mereka ikut mundur sesuai perintah Toh Siau-giok.

Dan begitulah, setelah gembong Liok-lim itu sama menguraikan perbuatan gagah masing-masing, kemudian mereka lantas bersiap-siap di sekeliling Hong Man-thian.

"Bagus, bagus, kalian ternyata sama gagah perkasa," seru Hong Man-thian. “Sekarang bolehlah kalian siap sedia, sekali kuberi tanda dengan tepukan tangan, bolehlah kalian buka dulu peti dalam sangkar yang sudah terbuka itu."

Perlahan ia lantas angkat tangannya. Jantung semua orang sama berdebar menantikan beradunya telapak tangannya, semuanya melotot dan siap tempur.

"Plok!" begitu tangan Hong Man-thian menepuk, beramai-ramai orang-orang itu lantas menyerbu serupa segerombolan binatang buas menerkam mangsanya. Ada yang menubruk peti besar-kecil di atas kereta, ada yang membuka peti di dalam berbagai sangkar besi itu.

Melihat kelakuan orang-orang yang biadab itu, sebenarnya Lamkiong Peng dan Loh Ih-sian sudah tidak tahan lagi rasa gemasnya. Sedangkan Lamkiong Siang-ju dan istrinya tetap tenang saja. Mereka yakin tokoh kosen angkatan tua seperti Hong Man-thian ini pasti mempunyai maksud tajuan yang di luar dugaan.

Dalam pada itu berpuluh orang itu sebagian besar telah menyerbu peti di dalam sangkar besi tanpa pikir akibatnya.

Mendadak Hong Man-thian membentak, "Tutup pintu sangkar!"

Serentak Lamkiong Siang-ju berempat bergerak cepat, hanya sekejap saja berpuluh pintu sangkar besi itu sudah ditutup rapat.

Kawanan berandal itu lagi lupa daratan ingin merebut rejeki, tentu saja mereka tidak memperhatikan kejadian lain. Ketika mereka menyadari apa yang terjadi, mereka hanya bisa mengeluh dan semuanya sudah terlambat.

Mendadak Hong Man-thian mendekap bibir dan bersuit keras, makin lama makin melengking suitannya sehingga anak telinga orang terasa pekak. Lamkiong Siang-ju berempat saja sama tergetar jantungnya, apalagi kawanan berandal itu, sebagian sudah kelengar, ada yang sanggup bertahan juga tidak urung mukanya pucat dan giginya gemertuk. Toh Siau-giok yang berdiri agak jauh pun merasa lemas kakinya, ingin lari pun tidak mampu.

Di tengah suara suitan dahsyat itu, satu-dua tutup peti besar di antara puluhan buah peti itu perlahan mulai terbuka. Sekonyong-konyong terdengar raungan yang menggetar, seekor singa perlahan menongol dari dalam peti besar itu. Menyusul terdengar pula suara harimau meraung, suara serigala, beruang dan sebagainya. Suara berbagai binatang buas itu serasa mengguncang bumi dan menggetar sukma. Sebagian binatang buas itu muncul dari peti di sangkar besi sana, dari sangkar besi sini
menongol kawanan ular berpuluh ekor banyaknya.

Tadi kawanan berandal itu menyerbu serupa binatang buas kelaparan, sekarang mereka sendiri yang menjadi mangsa kawanan binatang buas yang benar-benar kelaparan itu. Seketika darah berhamburan dan daging beterbangan, sungguh adegan yang mengerikan.

Pada saat itulah dari kejauhan sedang melayang tiba beberapa sosok bayangan orang. Begitu mendengar suara suitan dahsyat itu, serentak mereka berhenti. Seorang di antaranya bertubuh ramping dan gemulai, dia itulah Kwe Giok-he. Di kanan-kirinya dua orang lelaki, yang seorang adalah Yim Hong-peng yang gagah dan yang lain adalah Ciok Tim yang bermuka pucat. Di belakang mereka mengikut empat orang tua, mereka adalah empat di antara Kang-lam-jit-eng atau Tujuh Elang dari daerah Kanglam.

"Suara suitan siapa itu, begitu lihai!" tanya Giok-he dengan kening bekernyit.

"Kalau tidak salah duga, rasanya seperti suara Hong Man-thian yang dahulu seorang diri menerjang dan membakar Ban-siu-san-ceng. Itulah lweekang Boh-giok-siu (Suitan Penghancur Batu Pualam) yang maha lihai," ujar si Elang Hitam sambil mendekap telinganya.

"Masakah tokoh tua itu belum mati?" tanya Giok-he.

"Konon dahulu dengan lweekang-nya yang maha ampuh Boh-giok-siau itu dia dapat menundukkan kawanan binatang buas sehingga Ban-siu-san-ceng dapat dibobolnya," tutur Yim Hong-peng.

"Jika makhluk tua she Hong itu berada di situ, tampaknya kedatangan kita ini hanya sia-sia belaka, marilah kita pergi saja," ajak Giok-he sambil menarik tangan Yim Hong-peng.

Dengan sendirinya tingkah laku Giok-he itu tidak terlepas dari pengawasan Ciok Tim, air mukanya tampak kelam, entah gusar entah sedih, tapi akhirnya ia ikut juga di belakang Giok-he dengan kepala menunduk. Mereka berlari pergi secepat datangnya tadi. Ketujuh orang ini datang dan pergi lagi, dengan sendirinya hal ini tidak diketahui oleh orang-orang yang berada di sana.

Sementara itu suitan Hong Man-thian sudah mereda, namun suara raungan binatang buas belum lagi lenyap, apalagi ditambah dengan suara kawanan binatang buas itu sedang mengganyang mangsanya.

Menyaksikan kejadian ngeri itu, Lamkiong Peng merasa ingin tumpah, tapi darah pun bergolak. Meski jelas diketahuinya orang-orang itu seluruhnya adalah kaum penjahat yang tak terampunkan, tapi dia tidak sampai hati menyaksikan mereka dijadikan umpan binatang buas itu.

Ia memburu ke depan Hong Man-thian dan berseru, "Sudahlah, berhenti!" Dibukanya semua pintu sangkar besi itu.

Hong Man-thian melengak, tapi mendadak ia mendongak dan tertawa keras. Begitu hebat suara tertawanya sehingga kawanan binatang itu sama terpengaruh pula, serupa kena sihir dan mendadak lupa mengganyang mangsanya lagi.

Di dalam sangkar besi masih ada belasan orang yang belum mati dan masih meronta-ronta. Demi mendengar suara lengking tawa Hong Man-thian, serentak mereka terhentak sadar. Cepat mereka merangkak dan menerobos ke luar. Thi Toa-kan kelihatan buntung lengan kanan akibat digigit singa. Thio Hiong-to sekujur badannya berlumuran darah dan terluka parah. Sedangkan Oh Cin sudah hancur lebur dirobek oleh cakar harimau dan sebagian tubuhnya sudah menjadi isi perut binatang buas itu.

Dalam sekejap saja orang-orang yang beruntung masih hidup itu segera melarikan diri. Diam-diam Toh Siau-giok juga bersyukur tidak menjadi mangsa kawanan binatang dan lekas-lekas mengeluyur pergi.

Serentak Hong Man-thian juga beraksi pula dengan tongkatnya. Ia mengetuk tubuh binatang buas itu, lalu dicengkeram kuduknya, terus dilemparkan ke dalam peti. Hanya sebentar saja berpuluh ekor singa, harimau dan serigala telah dibekuk seluruhnya dan ditutup lagi ke dalam peti.

Puluhan ekor ular berbisa itu pun digiring masuk kembali ke dalam peti. Suasana menjadi tenang pula. Kalau tidak ada bekas darah dan ceceran daging, siapa pun tidak tahu baru saja telah terjadi peristiwa yang mengerikan itu.

"Nah, setelah kenyang makan darah dan daging orang jahat, tentu kalian dapat meringkuk dan puasa belasan hari lagi," ucap Man-thian dengan tertawa.

"Beginikah caramu memberi makan kawanan binatang?" tanya Lamkiong Peng.

"Kawanan penjahat itu digunakan sebagai umpan binatang buas, kan cukup adil dan setimpal bagi perbuatan mereka?" jawab Hong Man-thian tertawa.

Seketika Lamkiong Peng melongo dan tidak dapat bicara lagi.

Loh Ih-sian menghela napas. "Sungguh tak terpikir olehku dalam petimu itu tersimpan barang hidup. Anehnya, mengapa kawanan binatang itu sedemikian menurut dan mau mendekam diam di dalam peti? Kalau tidak melihat sendiri, sungguh sukar untuk dipercaya," ujarnya.

"Kalau diceritakan sebenarnya juga tidak perlu diherankan, " tutur Hong Man-thian.

"Caraku mengendalikan kawanan binatang ini tiada ubahnya seperti ilmu tiam-hiat. Pada bagian tertentu tiap binatang juga ada tempat yang lemah. Asalkan dapat kau kuasai tempat dan waktunya secara tepat, sekali ketuk dia takkan berdaya dan akan tunduk padamu."

Selagi mereka asyik bicara tentang cara mengatasi binatang buas, di sebelah sana Lamkiong Peng lagi sibuk menggali liang untuk mengubur sisa tubuh manusia yang berserakan itu. Tidak lama kemudian, kawanan kuda yang juga jatuh kelengar karena suara suitan Hong Man-thian tadi sebagian telah sadar kembali, sebagian lain mati ketakutan melihat binatang buas tadi.

Iringan kereta lantas melanjutkan perjalanan, perasaan semua orang sama tertekan dan jarang yang bicara....

Dua hari kemudian, sampailah mereka di semenanjung Sam-bun-wan. Sejauh mata memandang tertampaklah air laut yang biru dan beriak itu. Sudah sejak jaman kuno perdagangan Tiongkok melalui laut terbuka secara luas. Semenanjung Sam-bun-wan ini adalah pelabuhan perdagangan yang merupakan pangkalan besar bagi padagang di wilayah Ciatkang. Kangsoh dan Anhui. Sebab itulah kota pelabuhan ini sangat ramai.

Menjelang magrib, di jalanan kota lantas penuh orang berlalu lalang. Kebanyakan adalah kaum nelayan yang berbau amis dan pelaut yang berbaju pendek dan berbadan kekar, dada terbuka dan lengan telanjang. Mereka masuk ke kota untuk mencari hiburan, makan minum, dan tidak ketinggalan main perempuan pula.

Dengan sendirinya suasana kota pelabuhan begini dirasakan serba baru bagi Lamkiong Peng. Ia berdiri di luar hotel memandangi keramaian itu. Hong Man-thian sendiri asyik minum arak Iagi. Mendadak ia mengeluarkan sehelai kertas panjang dan dibentang di atas meja. Kertas itu penuh tulisan yang tidak rajin, ada yang gaya tulisannya indah, ada yang tulisannya serupa cakar ayam.

Baris pertama tulisan itu berbunyi: Timbel 300 kati, air raksa 100 kati. Baris berikutnya tertulis: Benang 100 kati, besi seribu kati. Lalu tertulis Iagi berbagai jenis barang keperluan lain. Rupanya kertas itu adalah sehelai daftar belanja. Anehnya kebanyakan barang yang tertulis itu bukanlah barang keperluan sehari-hari.

Yang paling aneh adalah bagian terakhir, barang belanja yang diperlukan ternyata tertulis: Harimau satu ekor, singa jantan-betina sepasang, ular berbisa 120 ekor. Serigala dan macan tutul masing-masing dua ekor.

Waktu Lamkiong Peng dan lain-lain ikut membaca daftar itu, semuanya terheran-heran. Entah apa yang akan di perbuat oleh tokoh-tokoh kosen yang berdiam di pulau misterius Cu-sin-to dengan barang belanjaannya yang luar biasa ini? Yang paling membingungkan adalah baris terakhir yang terbaca oleh Lamkiong Peng, yaitu tertulis: Orang jahat sepuluh.

“Masa orang jahat terhitung juga barang belanjaan? Apa gunanya dan akan dibeli di mana?" tanyanya heran.

"Nanti tentu kau tahu sendiri," ujar Hong Man-thian dengan tersenyum aneh, senyum misterius dan juga mengandung rasa duka.

Lamkiong Peng tidak dapat menerka maksudnya, ia pun tidak bertanya lebih lanjut.

Habis makan-minum, Hong Man-thian lantas keluar untuk belanja, tapi pulangnya ternyata tidak membawa sesuatu barang. Malamnya Hong Man-thian memesan satu meja penuh santapan pilihan. Sambil makan-minum ia mengajak mengobrol macam-macam urusan. Dia memang pandai bercerita sehingga orang lain sama lupa lelah dan kantuk, juga lupa bertanya padanya kapan dan di mana dia akan berlayar.

Tanpa terasa perjamuan berlangsung hingga hampir tengah malam. Tiba-tiba Hong Man-thian menuangkan arak bagi Lamkiong Siang-ju berempat, lalu angkat cawan dan berucap, "Betapa lama berkumpul akhirnya harus berpisah juga, di dunia ini memang tidak ada pesta yang tidak bubar. Bahwa sekali ini Hong Man-thian dapat berkunjung ke Kanglam dan bertemu dengan para sahabat, sungguh kejadian yang menggembirakan. Cuma sayang tidak dapat berkumpul lebih lama. Waktu berpisah sudah tiba, marilah kita habiskan secawan ini dan segera kumohon diri."

Semua orang menyangka barang belanjaannya belum lagi lengkap, tentu dia akan tinggal beberapa hari lagi. Siapa tahu mendadak ia mengucapkan kata perpisahan, tentu saja semua orang terkesiap.

Lamkiong-hujin memandang putera kesayangan dengan perasaan berat. Ia bertanya dengan nada penasaran, "Kenapa Hong-taihiap mendadak hendak berangkat di tengah malam buta? Apakah tidak menunggu sampai...?" Belum lenyap suaranya, mendadak kepala terasa pening dan tidak sanggup bicara lagi.

Bahkan Loh Ih-sian dan lain-lain serentak juga merasa kepala pusing dan mata berkunang-kunang, bumi seperti berputar dan langit akan ambruk. Segala benda serasa berputar seperti kitiran.

Lamkiong-hujin terkejut. "Anak Peng...!" serunya kuatir. Segera ia berbangkit hendak mendekati Lamkiong Peng, tapi baru melangkah segera ia jatuh terkulai.

Lamkiong Peng juga tidak tahan oleh rasa pusing. Samar samar dilihatnya sorot mata ibu kesayangan yang kuatir itu, tapi ia pun tidak berdaya dan tidak ingat sesuatu lagi. Entah berselang berapa lama lagi, samar-samar Lamkiong Peng merasa berada di sebuah pulau yang indah, tetumbuhan menghijau permai. Banyak bebuahan yang aneh, bahkan bumi penuh berserakan batu permata.

Di kejauhan ada sebuah istana megah dengan undak-undakan batu kemala dan tiang emas. Di depan istana tampak bergerombol orang mondar-mandir serupa malaikat dewata di sorga-loka. Malahan mendadak dilihatnya ayah-ibunda juga berada di tengah orang banyak itu. Saking girangnya mendadak ia memburu ke sana, tapi tahu-tahu kakinya menginjak tempat kosong, di bawah ternyata jurang yang tertutup mega.

Ia menjerit kaget dan sekuatnya berusaha melompat ke atas. Waktu ia membuka mata, dirasakan keringat membasahi tubuhnya, kiranya baru saja ia mendapat mimpi buruk. Ia berpaling, tampak dirinya berbaring di dalam ruang yang kosong, hanya terlihat sebuah tempat tidur, sebuah meja dengan dua kursi. Di ketinggian ada sebuah jendela kecil, bintang gemerlip di angkasa Iuar.

Rupanya ia telah tertidur sehari semalam. Ia coba menenangkan diri dan meronta bangun. Dirasakan lantai bergoyang-goyang, terdengar pula suara gemercik air di sekeliling, tiba-tiba disadarinya dirinya berada di dalam sebuah kapal yang terombang-ambing di tengah laut.

Kiranya dalam keadaan tidak sadar ia telah jauh meninggalkan ayah-bundanya, meninggalkan tanah kelahirannya, meninggalkan kampung halaman dan orang yang dikenalnya. Kini jaraknya entah sudah berapa jauh, sedetik demi sedetik bertambah jauh terpisah. Pedih rasa hatinya, apakah akan tamat begini saja kehidupannya? Sedangkan budi kebaikan orang tua dan guru belum lagi dibalasnya, masih banyak amal bakti yang perlu dilaksanakannya pula.

Setelah termenung sekian lama, mendadak ia mengepal tinjunya dan bergumam, "Tidak, aku masih harus pulang ke sana, harus!"

Mendadak seorang tertawa dan berkata sambil mendorong pintu kamar, "Haha, bagus! Tekadmu harus dipuji."

Kelihatan Hong Man-thian muncul dengan membawa poci arak, langkahnya agak sempoyongan, jelas karena terlalu banyak menenggak arak.

"Mari keluar," kata Hong Man-thian kemudian.

Ketika Lamkiong Peng ikut ke geladak kapal, tertampak jauh di ufuk timur sana sudah ada cahaya remang-remang. Hanya sebentar saja subuh ternyata sudah tiba. Pemandangan kelihatan indah, tapi keadaan di atas geladak kapal morat-marit penuh tertimbun berbagai macam barang.

Di buritan sana, di samping tiang layar tertaruh sebaris sangkar besi. Isinya tentu saja kawanan binatang buas yang sudah dilepaskan dari peti, semuanya meraung dan menyeringai ketika melihat manusia.

Seorang lelaki kurus dan pendiam dengan dada baju terbuka berdiri di buritan sambil memegang kemudi. Ada lagi seorang lelaki pendek kecil dan agak buntak dengan baju yang dekil, kepala kurapan dan lagi cengar-cengir. Melihat orang ini, timbul rasa jemu dan mual. Kebanyakan pelaut dan nelayan, biar pun kasar dan miskin, rata-rata juga kelihatan sehat dan bersih, tapi orang ini selain kotor dan menjemukan mukanya, suaranya juga tidak enak didengar.

"Siapa orang ini?" tanya Lamkiong Peng.

"Juru masak," jawab Hong Man-thian.

Lamkiong Peng melengak. Terbayang sayur-mayur yang akan dimakannya selanjutnya adalah hasil pengolahan orang dekil ini, seketika rasa mualnya bertambah.

"Kenapa mencari juru masak seperti ini?" gumamnya.

Hong Man-thian tergelak. "Kau tahu, bukan pekerjaan gampang untuk mendapatkan pelaut ini. Biar pun orang yang biasa hidup berkecimpung di lautan, siapa yang mau ikut berlayar tanpa batas waktu dengan kapal yang tak dikenalnya?" katanya.

"Dan cara bagaimana Cianpwee mendapatkannya?" tanya Lamkiong Peng.

Mendadak Hong Man-thian bersuit perlahan. Burung beo piaraannya yang selalu mengintil ke mana pun dia pergi itu lantas hinggap di pundaknya.

"Panggil Jitko," kata Hong-thian.

Segera beo itu berteriak, "Jitko...! Jitko...!"

Mendadak papan geladak tersingkap. Seorang lelaki hitam kekar melompat ke luar dari bawah geladak. Terperanjat juga Lamkiong Peng melihat bentuk orang yang aneh ini. Perawakannya pendek gemuk dan pundaknya lebar sehingga bentuknya mirip peti. Punggungnya agak bungkuk dengan kepala seakan-akan terselip di antara pundaknya. Namun gerak-geriknya justru sangat gesit, sekali lompat sudah berada di depan Hong Man-thian.

Rupanya yang buruk juga sangat mengejutkan. Mulutnya lebar dengan gigi panjang serupa siung, dagunya mencuat ke depan. kelakuannya kasar. Dengan tunduk kepala ia berkata kepada Hong Man-thian, "Apa yang Cukong ingin hamba kerjakan?"

Hong Man-thian terbahak-bahak. Katanya kepada Lamkiong Peng, "Bersama dia inilah kami berdua berlayar mengarungi samudra raya dengan sebuah perahu kecil dan akhirnya sampai di daerah Kanglam. Kembalinya sekarang tentu saja kami tidak ingin menderita lagi, kami ganti kapal besar ini, tapi juga tambah muatan sedemikian banyak, maka kami juga perlu pakai tenaga pelaut cukup banyak."

"Berapa banyak pelaut yang kau bawa?” tanya Lamkiong Peng.

"Belasan orang," jawab Hong Man-thian. "Apakah kau ingin melihat mereka?"

"Ah, tidak," jawab Lamkiong Peng sambil menggeleng. Setelah melihat bentuk ‘Jitko’ yang serupa binatang dan si juru masak yang memualkan itu, ia pikir kebanyakan pelaut yang mau bekerja di kapal ini tentu juga manusia yang tidak sedap dipandang.

Bangun kapal ini sangat kukuh. Cuma ada sebuah tiang layar, dan sekarang layar itu sudah berkembang dan tertiup angin. Pada buritan terdapat sebuah layar lagi yang juga sudah dikembangkan, karena itu kapal melaju dengan cepat.

Untuk pertama kalinya Lamkiong Peng merasakan kehidupan berlayar di samudra raya ini. Lambat laun terlupalah segala rasa kesalnya, sebaliknya timbul rasa serba baru. Namun juga diharapkannya selekasnya mencapai tempat tujuan, dengan begitu dapat berdaya untuk selekasnya pulang ke Kanglam.

Kebanyakan pelaut yang bekerja di kapal ini memang berwajah bengis, semuanya memandang Lamkiong Peng dengan sorot mata yang waswas serupa binatang buas lagi mengincar mangsanya. Diam-diam Lamkiong Peng juga waspada, sebaliknya Hong Man-thian seperti tak mengacuhkan.

Setiap pagi pada waktu sang surya baru terbit, tentu Hong Man-thian berdiri di haluan kapal. Selain itu dia hanya duduk minum arak di dalam kabin, makin jarang dia bicara, terkadang sehari suntuk tidak buka suara. Selain minum arak sendiri, setiap kali ia pun membujuk Lamkiong Peng ikut minum beberapa cawan arak yang keras itu.

Tapi bila melihat si tukang masak kudisan itu membawakan makanan, hati Lamkiong Peng lantas mual. Tanpa didorong dengan arak memang sukar menelan makanan itu. Tukang masak kudisan itu sungguh sangat jorok, terkadang tidak cuci muka sehingga masih belekan. Untungnya dia memang mahir mengolah makanan yang sangat mencocoki selera, sehingga biar pun menjemukan masih dibiarkan saja.

Sepanjang hari tukang masak itu hanya tertawa linglung, segala urusan tak diacuhkannya. Bila melihat Lamkiong Peng ia suka menyengir, sebaliknya Lamkiong Peng cepat melengos.

Beberapa hari kapal berlayar, laut luas tanpa kelihatan tepinya....

"Apakah masih jauh?" demikian Lamkiong Peng sering bertanya.

"Sabar, setibanya di sana akan kau tahu sendiri," jawab Hong Man-thian dengan dingin.

Makin lama kapal berlayar, air muka orang tua itu pun tambah kelam, arak yang diminum juga tambah banyak. Dengan sendirinya hal ini terasa agak janggal, sebab umumnya orang yang pulang, semakin dekat rumah sendiri seharusnya semakin senang, kenapa dia justru tambah murung?

Malam ini ombak sangat besar, Lamkiong Peng lebih banyak minum arak dan terkenang kepada ayah-bunda, hatinya merasa kesal. Ia melangkah ke atas geladak dan bersandar di haluan. Dilihatnya bintang bertaburan di langit, suasana sepi, hanya debur ombak yang terdengar. Selagi pikirannya merasa lapang, sekonyong-konyong di bawah geladak didengarnya suara tertawa orang yang khas, menyusul ada suara orang melangkah tiba. Suara tertawa itu dikenalnya sebagai suara si tukang masak kudisan itu.

Sesungguhnya Lamkiong Peng tidak suka melihat orang ini, sebab itu dengan kening bekernyit dia berusaha menggeser ke bagian yang gelap. Waktu berpaling, terlihat dua kelasi menarik si kudisan naik ke atas geladak. Mestinya Lamkiong Peng hendak tinggal pergi, tapi demi melihat gerak-gerik ketiga orang ini rada mencurigakan, tergerak pikiran Lamkiong Peng. Cepat ia sembunyi di balik kabin.

Kedua kelasi yang kurus dan gesit itu bernama Kim Siong, seorang lagi si juru-mudi bernama Tio Cin-tong. Kedua orang ini adalah kelasi yang berpengalaman dan disegani di antara sesama kelasi, maka Lamkiong Peng kenal mereka.

Begitu melompat ke geladak dan memandang sekellling, dengan perlahan Kim Siong lantas mendesis, "Sepi!"

"Coba periksa lagi, apakah juru-mudinya kawan sendiri atau bukan?" sahut Tio Cin-tong.

Mereka bicara dengan bahasa sandi kaum bandit, hal ini menimbulkan curiga Lamkiong
Peng. Dilihatnya Kim Siong lantas memeriksa keadaan sekitar geladak. Ia sempat lewat di samping tempat sembunyi Lamkiong Peng, lalu melapor kepada kawannya.

"Aman, hanya juru-mudi berada di kabinnya dan agaknya sedang mengantuk," lapor Kim Siong dengan suara tertahan.

Tio Cin-tong mengangguk. Si juru masak kudisan diseretnya ke samping setumpukan barang muatan. Si kudisan kelihatan sempoyongan, muka pun pucat.

"Sret!" Tio Cin-tong melolos belati yang terselip pada sepatu bot yang dipakainya, lalu belati yang mengkilat itu bergerak-gerak di depan hidung si juru masak.

"Kau ingin mati atau minta hidup?" desis Tio Cin-tong dengan menyeringai.

"Dengan... dengan sendirinya ingin hidup," jawab si kudisan dengan gelagapan karena ketakutan.

"Kalau ingin hidup harus tunduk kepada perintahku," kata Tio Cin-tong. "Terus terang, kami ini adalah tokoh-tokoh yang biasa membunuh orang tanpa berkedip. Jika memang biasa berkecimpung di lautan tentu pernah kau dengar nama kami. Aku inilah Hai-pa (Singa Laut) Tio-lotoa dari Hai-pa-pang (Kawanan Bajak Singa Laut) di sekitar Ciu-san!”

Juru masak itu tampak melengak. "Ah, tentu... tentu hamba akan menurut," jawabnya dengan gemetar.

"Memangnya kau berani membantah?" jengek Tio Cin-tong. Lalu ia mengeluarkan satu bungkusan kertas dan berkata pula, "Nah, besok hendaknya kau masak kuah ayam yang sedap. Separuh isi bungkusan ini masukkan ke dalam kuah dan separuh lagi campurkan pada makanan lain."

"Eh, kuah ayam kan tidak perlu pakai merica," ujar si kudisan dengan lagak seorang ahli masak.

"Sialan," omel Tio Cin-tong. "Ini bukan merica melainkan racun, tahu?! Barang siapa makan setitik saja, dalam sekejap akan mampus dengan mata, hidung, telinga, dan mulut keluar darah. Maka ingat, jangan kau anggap sebagai gula dan kau makan. Sesudah urusan beres dan tuanmu mendapat rejeki nomplok, tentu kau pun akan kami bagi sedikit. Tapi bila urusan ini sampai bocor, biar kami cincang dirimu lebih dulu dan kami buang ke laut sebagai umpan ikan. Tahu?"

Juru masak itu menjura dan mengiyakan berulang-ulang.

Kim Siong tertawa. "Menurut pengamatanku selama beberapa hari ini, rejeki ini memang sukar dinilai jumlahnya. Cuma si buntung itu jelas bukan lawan yang empuk, juga si makhluk aneh itu. Malahan si bagus itu pun kelihatan bisa sejurus dua," katanya.

Tio Cin-tong mendengus. "Hm, kecuali mereka, apakah kau kira Ong Ti, Sun Ciau dan si juru-mudi Li-losam itu adalah orang baik? Kurasa tujuan mereka ikut dalam kapal ini juga tidak bermaksud baik. Besar kemungkinan mereka pun sahabat kalangan hitam, cuma mereka bukan segaris dengan kita. Besok kita kerjai mereka sekalian."

Mereka bicara dengan lirih, namun dapat didengar jelas oleh Lamkiong Peng. Diam-diam anak muda itu terkejut dan bersyukur juga. "Untung kudengar tipu muslihat mereka. Kalau tidak, bukan mustahil akan dikerjai mereka."

Selagi berpikir, sekonyong-konyong dari sebelah kiri terdengar suara mendesir, sesosok bayangan orang melayang tiba. Langsung pendatang ini mendengus. "Hm, Tio-lotoa, keji amat hatimu, sampai kami bersaudara juga akan kau kerjai!"

Air muka Tio Cin-tong berubah. Ia melompat mundur sambil membentak, "Siapa?!"

Bayangan orang itu melangkah maju. Tertampak wajahnya yang kaku, tangan besar dan kaki panjang, dia inilah Li-losam si juru-mudi. Tio Cin-tong dan Kim Siong siap siaga, sebaliknya Li-losam seperti tidak mengacuhkannya.

Perlahan Li-losam melangkah ke sana dan berucap, "Anjing kudisan, serahkan racunnya tadi!"

Juru masak kudisan itu ketakutan dan sembunyi di tengah tumpukan barang muatan sehingga memang mirip anjing kudisan.

Belum lagi si juru masak menjawab, mendadak Tio Cin-tong membentak, "Kau serahkan jiwamu!" Sekali belati terangkat segera ia hendak menerjang maju.

"Nanti dulu," seru Li-losam mendadak. "Rupanya engkau tidak tahu maksudku, kuminta
racun ini tidaklah berniat jahat. Hendaknya ingat, si buntung itu tokoh macam apa, masa dia dapat dibereskan dengan sebungkus racun begini saja? Jika ketahuan, engkau bisa mati konyol malah. Lekas lemparkan racun itu ke dalam laut, biarlah kuatur rencana lain untuk membereskan mereka."

Tio Cin-tong urung menyerang, tapi mulutnya tetap garang. "Hm, kau ini apa? Aku Hai-pa Tio-lotoa harus tunduk padamu?"

"Hm, jadi tidak kau kenal diriku?" jengek Li-losam. Mendadak ia melangkah maju lagi dan mendesiskan dua-tiga kata dengan lirih.

"Trang!" belati di tangan Tio Cin-tong jatuh.

Seketika air muka Tio Cin-tong berubah, badannya gemetar. "Hah...! Engkau... mengapa...?" ucapnya dengan terputus-putus.

"Tidak perlu banyak omong, lekas kembali ke kamarmu dan tidur saja. Tiba saatnya tentu akan aku beritahukan padamu," ujar Li-losam. "Hai-pa-pang kalian telah bekerja dengan susah-payah, tentu kalian takkan kubikin rugi."

Terpaksa Tio Cin-tong mengiyakan dan melangkah pergi dengan menarik Kim Siong. Si juru makan kudisan juga mau ikut pergi dengan takut-takut.

Mendadak Li-losam mencengkeram lengannya sambil membentak, "Kurang ajar! Kau berani berlagak dungu di depan tuanmu? Serahkan nyawamu!" Berbareng itu sebelah tangannya terus menghantam kepala orang.

Lamkiong Peng menjadi heran apakah mungkin si kudisan ini samaran seorang tokoh persilatan?

Dilihatnya juru masak itu ketakutan hingga terkulai lemas di lantai. Pukulan Li-losam tampaknya segera akan membuat batok kepalanya hancur, tapi dia masih diam saja. Tak terduga pukulan Li-losam itu mendadak berhenti setengah jalan, dia hanya menepuk perlahan pada pundak si kudisan dan berkata, "Jangan takut, aku hanya mencoba dirimu saja. Nah, pergilah sekarang!"

Apa yang diperbuat dan apa yang dibicarakannya air muka Li-losam tidak pernah berubah, tetap kaku dan dingin. Habis bicara ia lantas kembali ke tempat kemudi. Si kudisan lantas merambat turun ke bawah geladak, sinar matanya melirik sekejap ke tempat sembunyi Lamkiong Peng seperti tidak sengaja.

Melihat sekeliling tiada orang lagi, perlahan Lamkiong Peng menyelinap kembali ke kamarnya. Tapi baru saja dia menarik pintu kamar, tiba-tiba diketahuinya dalam kegelapan sepasang mata mencorong sedang menatapnya. Orang ini seperti sudah sejak tadi menunggunya di balik pintu. Lamkiong Peng terkejut, segera ia siap menghadapi segala kemungkinan. Tapi setelah diamati, kiranya dia bukan lain dari-pada si makhluk aneh yang dipanggil ‘Jitko’ itu. Jitko menyengir sehingga kelihatan barisan giginya yang putih panjang serupa taring itu, lalu melangkah pergi.

Kejut dan heran Lamkiong Peng, ia pikir apakah makhluk aneh ini pun mendengar percakapan orang-orang tadi? Mengapa dia tidak bertindak sesuatu? la lantas masuk ke dalam kabin dan mencari Hong Man-thian. Dilihatnya orang tua itu asyik minum arak di bawah cahaya lampu yang sudah redup. Orang dua cacat ini seakan-akan tidak tidur dan juga tidak makan nasi, dia seperti dilahirkan melulu untuk minum arak saja.

Tanpa menoleh Hong Man-thian menegur Lamkiong Peng, "Belum tidur? Apa mau minum dua cawan?"

"Sekarang Cianpwee boleh minum sepuasnya, selanjutnya mungkin tidak dapat minum lagi," kata Lamkiong Peng.

Hong Man-thian tertawa. "Masa di dunia ini ada sesuatu urusan yang dapat membuatku tidak minum arak? Wah, rasanya aku jadi ingin tahu apa urusannya." Habis bicara ia meneggak lagi satu cawan.

"Apakah Cianpwee tahu kelasi kapalmu ini adalah kawanan bajak yang biasa main bunuh dan rampok?" kata Lamkiong Peng, lalu diceritakannya apa yang dilihat dan didengar tadi.

Siapa tahu Hong Man-thian tetap tenang saja.

Dengan kening bekernyit Lamkiong Peng berkata pula, "Meski wanpwe juga tidak menguatirkan gangguan penjahat itu, tapi setelah kutahu maksud jahat mereka, sedikit banyak harus mengawasi gerak-gerik mereka."

"Memangnya kau kira aku tidak tahu?" jawab Hong Man-thian dengan tergelak. "Sejak mereka menginjak kapal ini segera kutahu mereka tiada seorang pun orang baik. Hanya si kudisan yang kelihatan linglung itu bukanlah sekomplotan mereka, sebab itulah kusuruh si kudisan menjadi juru masak. Namun aku tetap mengawasi gerak-gerik mereka. Untuk menjaga segala kemungkinan, di dalam arak sudah kutaruh obat penawar segala macam racun, makanya setiap kali makan kusuruh kau minum dua tiga cawan untuk berjaga. Bila-mana diracun, apabila mereka berani main kekerasan... Haha! Itu berati mereka mencari mampus sendiri. Kau lihat sepanjang hari aku selalu minum arak, apa kau kira aku bisa mabuk?"

Diam-diam Lamkiong Peng menghela napas. "Kehebatan Cianpwee sungguh sukar dibandingi siapa pun," ucapnya.

Hong Man-thian tertawa bangga, lalu berkata pula, "Sebenarnya aku cuma tua keladi dan dapat melihat segala sesuatu dengan lebih jelas. Bila usiamu juga setingkat diriku tentu akan kau rasakan segala tipu muslihat di dunia ini tidak lebih hanya begini-begini saja. Cuma Li-losam itu tampaknya memang seorang tokoh yang tidak boleh diremehkan, entah dia berasal dari orang macam apa?"

"Orang ini pasti mempunyai asal-usul tertentu, tapi di depan Locianpwee masakah dia mampu berbuat sesuka hatinya?" ujar Lamkiong Peng.

"Tidak peduli bagaimana asal-usulnya, yang jelas dia suruh orang she Tio jangan menaruh racun dalam makanan, hal ini menandakan dia cukup cerdik, " ujar Hong Man-thian. "Padahal betapa hebatnya racun atau obat bius, di mana pun dia campurkan, jika tidak aku ketahui hal ini, kan berarti sia-sia hidupku selama sekian puluh tahun di dunia ini."

"Apakah Cianpwee tidak ingin membongkar tipu muslihat mereka?" tanya Lamkiong Peng.

"Jika kubongkar rencana keji mereka dan membunuh mereka, lalu siapa yang akan menjadi kuli di kapal ini?" Hong Man-thian tergelak. "Kawanan penjahat ini memang sial bertemu dengan diriku."

Mendadak hati Lamkiong Peng tergerak. "Apakah mungkin mereka hendak Cianpwee gunakan mereka untuk memenuhi daftar belanja yang terakhir itu?" tanyanya.

"Memang begitulah," ujar Hong Man-thian dengan tertawa. "Sudah kuduga ada orang akan mengantarkan dirinya sendiri, maka aku pun tidak perlu repot mencari-cari orang. Setiba di sana, haha...." Mendadak ia berhenti tertawa dan menenggak arak lagi.

Lamkiong Peng hanya menggeleng kepala saja, dirasakan orang tua ini selain mengagumkan juga menakutkan. Dilihatnya alis orang tua itu berkerut rapat, serupa menanggung urusan yang membuatnya masgul, maka arak terus ditenggaknya secawan demi secawan.

Mendadak ia berpaling dan berkata pula kepada Lamkiong Peng, “Selama hidupku hanya ada suatu penyesalan, apakah kau tahu urusan apa?"

Lamkiong Peng menggeleng dan menjawab tidak tahu.

"Brak!" mendadak Hong Man-thian menggabrukkan cawan arak di atas meja, lalu ber-kata, "Urusan yang membuatku menyesal selama hidup ini adalah minum arak tidak pernah mabuk. Biar pun aku minum sepanjang hari pikiranku tetap jernih. Sungguh aku sangat menyesal mengapa bisa terjadi begini."

"Minum tidak pernah mabuk, itu tandanya takaran minum Locianpwee yang luar biasa, masa dibuat menyesal malah?" ujar Lamkiong Peng.

Kembali Hong Man-thian menenggak tiga cawan pula, lalu berkata, "Manusia minum arak sebenarnya untuk menghilangkan rasa kesal. Orang yang takaran minumnya kurang kuat, cukup sedikit minum saja sudah melupakan semua kesedihan, dan inilah yang dicari. Orang yang kuat takaran minumnya, sudah banyak arak yang diminum tapi tetap tidak mabuk, selain makan waktu juga makan biaya, hal ini kan tidak menguntungkan. Jika serupa diriku, selamanya minum tanpa mabuk, jelas ini kemalangan besar dan terlebih harus disesalkan."

Uraian orang tua ini sungguh tidak dimengerti oleh Lamkiong Peng. Ia tertawa dan berkata, "Selama hidup Locianpwee gagah perkasa, namamu termasyhur di seluruh jagat, sesudah tua pun tirakat di Cu-sin-tian, tempat yang serupa sorga-loka bagi pandangan setiap orang persilatan. Semua ini sukar dibandingi orang lain, mengapa Locianpwee justru menggunakan arak untuk menghapus rasa kesal?"

"Cu-sin-tian...." Hong Man-thian bergumam dengan terkesima. Mendadak ia memberi tanda, "Aku sudah dikawani oleh arak, boleh kau pergi tidur saja."

Sungguh Lamkiong Peng tetap tidak mengerti mengapa orang tua itu selalu murung.

Esok paginya ia naik ke atas geladak. Dilihatnya Tio Cin-tong, Kim Siong dan Li-losam masih tetap bertugas seperti biasa. Dengan sendirinya ia pun berlagak tidak tahu apa-apa, cuma diam-diam ia pun gegetun bagi nasib malang beberapa orang ini.

Selama beberapa hari terakhir ini Hong Man-thian juga tampak pendiam, hanya cara minum araknya tambah banyak. Melihat orang tua itu semakin lama semakin lesu, hati Lamkiong Peng juga ikut tertekan dan lesu serupa binatang buas di dalam kurungan itu.

Maklumlah, di tengah lautan makanan dan air minum adalah benda paling berharga, dengan sendirinya tidak ada ransum yang cukup bagi kawanan binatang itu. Ditambah lagi ombak besar yang mengombang-ambingkan kapal, betapa pun kawanan binatang itu pun mabuk sehingga binatang yang biasanya buas dan garang tersiksa hingga lemas dan lesu, sama sekali kehilangan kegarangannya, sampai suara meraung pun jarang terdengar.

Memandangi Hong Man-thian dan memandang pula kawanan binatang buas itu, tanpa terasa Lamkiong Peng menghela napas.

Layar mengembang, kapal terus laju di tengah lautan yang tiada kelihatan ujung pangkalnya. Li-losam dengan wajahnya yang kaku itu duduk di pinggir kapal dan sedang memancing ikan. Menjelang magrib, Hong Man-thian juga membawa buli-buli arak dan bersandar di tiang layar untuk menyaksikan orang mancing.

"Masa ikan laut juga mau dipancing?" tanya Lamkiong Peng dengan tertawa.

"Asal ada umpan, ikan di mana pun dapat dipancing," ujar Hong Man-thian.

Belum lenyap suaranya, mendadak Li-losam menarik tali pancing, benar juga seekor ikan kakap kena dikailnya.

"Aha, bagus! Ikan ini pasti sangat lezat, cuma sayang di sini tidak ada ahli masak serupa ibumu," kata Hong Man-thian dengan gegetun.

Menyinggung ibunya, Lamkiong Peng menjadi sedih, tapi segera ia tertawa cerah dan berucap, "Rasanya caraku masak pun lumayan."

"Apa betul?" Hong Man-thian menegas dengan girang.

"Tentu saja betul," jawab Lamkiong Peng. Untuk membuat senang hati orang tua ini, dia
benar-benar bawa ikan hasil kaitan Li-losam itu ke dapur.

Hendaklah maklum, kepandaian memasak pun diperlukan kungfu (sesuatu keahlian disebut kungfu, jadi arti kungfu tidak identik dengan ilmu silat) yang khas, antara lain cara memotong, bahannya, apinya, dan rempah-rempahnya. Semuanya memerlukan kepandaian dan pengetahuan khusus. Bakat Lamkiong Peng memang tinggi. Selain ilmu silat dan kesusastraan, dalam hal masak-memasak ia pun belajar dan cukup menguasainya.

Maka tidak seberapa lama seporsi Ang-sio-hi sudah di bawa ke luar, ternyata memang sangat hebat, baik warna, bau mau pun rasanya, semuanya memenuhi selera Hong Man-thian. Sembari makan Ang-sio-hi berulang-ulang ia menenggak arak, hanya sebentar saja seekor ikan sudah tersisa kepala dan ekornya saja.

"Kenapa kau sendiri tidak makan ang-sio-hi buatan sendiri?" Sesudah kenyang makan baru Hong Man-thian ingat kepada Lamkiong Peng yang sejak tadi hanya menyaksikan dia makan.

Dengan tersenyum Lamkiong Peng menyumpit ekor ikan. Ekor ang-sio-hi biasanya kering dan rasanya seperti keripik, dengan nlkmatnya anak muda itu mengunyah keripik ekor ikan itu. Ia pun gembira melihat Hong Man-thian makan Ang-sio-hi dengan bernafsu.

Waktu menoleh, Hong Man-thian melihat si makhluk aneh ‘Jitko’ berdiri di samping dan biji lehernya naik turun, tampaknya hampir mengiler. Dengan tertawa ia berseru, "Apakah kau pun ingin makan? Ambil saja kepalanya!"

Tanpa disuruh lagi segera Jitko comot kepala ikan terus dijejalkan ke dalam mulut dan dikunyah kulit bersama tulangnya. Caranya makan sungguh rakus, serupa binatang buas saja.

"Haha, ibunya ahli masak, anaknya juga lumayan...." Selagi Hong Man-thian berseru memuji, mendadak suaranya berubah serak dan mata melotot. Ia meraung, "Wah, celaka!" Langsung sebelah tangannya terus mencengkeram ke arah Lamkiong Peng.

Karena bingung, Lamkiong Peng diam saja, tapi gerakan Hong Man-thian itu ternyata bukan menyerang melainkan merampas sisa tulang ikan yang masih belum habis dimakan anak muda itu.

"Bangsat, aku jadi terjebak juga olehmu!" bentak Hong Man-thian dengan beringas.

Langsung ia sambitkan tulang ikan yang dirampasnya itu ke arah Li-losam yang memegang pancing dan berdiri di pinggir kapal sana. Namun cepat Li-losam sempat mengegos.

Hong Man-thian lantas berteriak, "Makanan beracun! Lekas binasakan kawanan bangsat ini!" Serentak ia melompat bangun dengan tongkat berputar.

Tanpa ayal si makhluk aneh Jitko segera bertindak. Ia meraung serupa binatang buas, terus menerkam. Salah seorang anggota Hai-pa-pang itu seakan-akan pecah nyalinya sehingga tidak tahu caranya menghindar. Segera ia terpegang, kesepuluh jari Jitko mencengkeram masuk ulu hatinya, baru saja ia menjerit sudah lantas binasa.

Waktu Jitko menarik tangannya, isi perut orang itu kena dirogoh ke luar seluruhnya, bahkan isi perut korbannya terus dilalapnya serupa binatang buas benar-benar. Kelihatan sinar matanya yang jelalatan, mukanya penuh berlepotan darah, sembari tertawa aneh ia menerkam lagi korban yang lain.

Karuan orang itu ketakutan setengah mati, segera ia hendak kabur. Tak terduga belum lagi lenyap suara tertawanya, mendadak kedua mata jitko mendelik, terus jatuh terjengkang, darah tampak mengucur dari mulutnya.

Sekali hantam Lamkiong Peng juga membinasakan seorang lelaki, lalu bergebrak dengan Kim Siong. Tapi baru satu-dua gebrakan tiba-tiba kepala terasa pening dan hampir tidak tahan. Diam-diam ia mengeluh. Namun betapa pun ia tidak ingin jatuh di tangan kawanan bandit ini. Segera ia bergerak hendak terjun ke laut.

Siapa tahu mendadak Tio Cin-tong sempat menarik ikat pinggangnya. "Huh, masa kau ingin mati dengan enak?!" katanya sambil menyeringai.

Di sebelah sana, secepat terbang Hong Man-thian lantas menubruk Li-losam. Melihat betapa lihai orang tua itu, mau tak mau Li-losam merasa takut. Ia tidak berani melawan tapi melompat mundur sambil menjengek, "Hm, tua bangka! Masakah engkau tidak segera roboh?!”

Namun gerakan Hong Man-thian terlampau cepat baginya, sekali raih baju Li-losam sempat dipegangnya. Saking kagetnya Li-losam meronta sekuatnya.

"Bret!" baju Li-losam robek, nyalinya pun pecah. Tanpa pikir ia terjun ke dalam laut untuk menyelamatkan diri.

Serentak Hong Man-thian membalik tubuh, tongkatnya menyambar seorang lelaki. Perawakan orang ini sangat kekar, mukanya juga buas. Ia bermaksud menangkis, tapi tahu-tahu dia kena dicengkeram Hong Man-thian dan diangkat terus dilemparkan hingga terbanting di geladak. Ia hanya sempat meraung, segera kepalanya pecah dan otaknya berhamburan.

Tanpa berhenti Hong Man-thian menubruk pula ke arah Kim Siong. Ia menyadari bahwa dirinya sudah keracunan, maka niatnya akan membinasakan segenap penjahat di atas kapal. Tak terduga racun yang masuk tubuhnya teramat banyak, obat bius ini pun lain dari yang lain. Biar pun memiliki lweekang tlnggi, dia tetap tidak tahan. Terasa matanya berkunang-kunang, bayangan Tio Cin-tong mulai berubah jadi dua, dan dari dua menjadi empat dan lebih banyak lagi, semuanya melayang kian kemari di sekitarnya. Ia tahu tidak sanggup bertahan lagi. Sungguh celaka, seorang gagah perkasa harus jatuh di tangan orang pengecut tak dikenal.

Mendadak ia meraung sambil melemparkan tongkatnya, lalu roboh terkapar. Serangan terakhir ini menggunakan segenap sisa tenaganya, tentu saja dahsyat sekali. Ketika tongkat itu menyambar tiba, Kim Siong seperti tidak tahu cara bagaimana harus menghindar. Rupanya nyalinya pecah saking takutnya sehingga dia melongo seperti patung. Karuan dadanya ditembus oleh tongkat baja dan terpantek di lantai kapal.

Semua ini terjadi dalam sekejap. Kelasi kapal yang beruntung tidak mati menjadi ketakutan juga, semuanya gemetar. Yang tersisa tanpa cedera hanya si juru masak kudisan saja yang sibuk bekerja di dapur. Ketika mendengar ramai-ramai di geladak dan jeritan ngeri, buru-buru ia naik ke atas untuk melihat apa yang terjadi.

Dalam pada itu Lamkiong Peng, Hong Man-thian dan si makhluk aneh Jitko sudah roboh terkapar. Hanya burung beo saja yang masih terbang kian kemari dan hinggap di sana-sini sambil menjerit, "Lucu...! Haha, lucu...!"

Dengan basah kuyup Li-losam merangkak ke atas kapal lagi. Setelah memandang sekeliling ia berucap, “Mendingan, cuma mati empat. Lemparkan mereka ke laut, cuci bersih papan geladak. Esok akan kubereskan mereka bertiga."

Meski mengalami kejadian ini, Li-losam tetap tenang saja. Ia totok beberapa kali pada tubuh Lamkiong Peng, Hong Man-thian dan si makhluk aneh Jitko. Totokan ini pun tidak mengurangi rasa kuatirnya, ia tambahi lagi ikatan tali yang ketat pada tubuh ketiga tawanannya, habis ini barulah ia tinggal pergi.

Tio Cin-tong dan Iain-lain tentu saja sangat kagum atas hasil tipu Li-losam itu, mereka lantas membersihkan lantai geladak.

Kiranya tadi Li-losam menggunakan obat bius yang paling keras pada umpan pancing. Ikan yang dapat dikailnya itu telah makan umpan yang penuh racun. Karena tidak menduga akan hal ini, apalagi Hong Man-thian melihat sendiri ikan itu baru saja ditangkap dari dalam laut, ang-sio-hi juga diolah sendiri oleh Lamkiong Peng, maka tanpa sangsi ia makan ikan saus manis itu.

Tak tersangka bahwa ikan yaug dianggapnya pasti bersih itu justru telah ditaruhi obat bius yang tidak dapat dipunahkan oleh sembarangan obat penawar. Ketika Hong Man-thian menyadari apa yang terjadi dan bermaksud menolak ke luar racun yang masuk tubuhnya, namun sudah kasep. Akhirnya tokoh yang tidak ada bandingannya toh kena diringkus orang tanpa berdaya.

Setelah lewat sekian lama, ketika hari sudah pagi, Li-losam sudah kenyang tidur dan keluar dari kamarnya. Setelah ia menyuruh orang menyiram Hong Man-thian bertiga dengan air dingin, akhirnya barulah mereka bertiga siuman. Segera Lamkiong Peng merasakan cahaya matahari yang menyilaukan mata, namun tubuh sama sekali tidak dapat berkutik.

Terdengar Li-losam mendengus, "Hm, hanya dengan sedikit perangkap saja kalian lantas terjebak. Rupanya hanya begini saja kelihaian kalian."

Waktu Lamkiong Peng memandang ke sana, terlihat Hong Man-thian dan si makhluk aneh Jitko juga teringkus seperti dirinya dan tidak dapat bergerak. Tertampak Li-losam memegang cambuk panjang, dan ujung cambuk menuding hidung Hong Man-thian

Terdengar Li-losam menegur, “Eh, Hong Man-thian, apa pula yang akan kau katakan? Konon kungfu-mu maha-lihai, kenapa sekarang kau pun mati kutu dan jatuh dalam cengkeramanku?"

Meski sejak tadi sudah siuman, namun sejauh ini Hong Man-thian tidak membuka mata. Kini mendadak ia mendengus. "Hm, aku memang sudah bosan hidup, mau bunuh atau mau sembelih boleh terserah kepadamu!"

"Sudah berpuluh tahun kutunggu kesempatan seperti ini, baru sekarang kau jatuh dalam tanganku. Bila kubiarkan kau mati dengan enak rasanya aku akan berdosa terhadap diriku sendiri." Suara Li-losam sebenarnya serak, tapi dua kalimat terakhir itu mendadak berubah tajam dan nyaring.

Seketika Hong Man-thian terbelalak, mukanya berubah pucat. "Hah, kiranya...!" Ia berseru.

"Haha, bagus! Akhirnya dapat kau kenali diriku, cuma sudah terlambat!" seru Li-losam sambil tergelak. Berbareng cambuknya menggeletar di udara.