Amanat Marga (Hu Hua Ling) Jilid 22

Loh Ih-sian terharu. "Aku sendiri sebatang-kara, dengan sendirinya mati hidup tidak menjadi soal bagiku. Tapi orang lain berumah tangga dan anak istri Iengkap bahagia, mana mereka bisa meniru dirimu dan menyuruh mereka mati begitu saja?" pikirnya.

Maklumlah, lantaran wataknya yang mudah tersinggung, makanya dia putus asa dan mengasingkan diri. Selama dua puluh tahun, dengan segala daya upaya berusaha mengumpulkan duit, sebaliknya pribadinya sama sekali tidak terawat. Sekarang hatinya menjadi dingin dan berdiri termangu tanpa bicara.

Tiba-tiba Lamkiong Peng berseru, "Cara bagaimana kau bikin susah Toako kami? Ke mana perginya sekarang?"

Tek-ih Hujin tersenyum, "Asalkan kau turut perkataanku, urusan Toako-mu tentu akan kuberi-tahukan padamu. Sekarang hari sudah hampir pagi, racun yang kalian minum sudah hampir bekerja. Kalian tidak berani bertempur dan juga tidak mau menyerah, apakah memang ingin menanti ajal saja di sini?"

"Hm, jangan kau gembira dahulu, segala macam racun di dunia ini pasti ada obat penawarnya," jengek Lamkiong Siang-ju mendadak.

"Ah, tidak perlu kau bicara lagi. Aku tahu maksudmu hanya ingin memancing supaya kuberi-tahu seluk-beluk racun ini," kata Tek-ih Hujin dengan tertawa. "Terus terang kukatakan, racunku ini di dunia hanya dipunyai dua keluarga saja, atau dengan lain perkataan juga cuma dua tempat ini saja yang mempunyai obat penawar. Salah satu tempat itu justru jauh terletak di luar perbatasan utara sana. Biar pun sekarang engkau dapat terbang ke sana juga tidak keburu lagi."

Hati Lamkiong Peng tergerak. Didengarnya sang ibu sedang berkata, "Habis cara bagaimana baru dapat kau beri...." Belum lanjut ucapannya, tiba-tiba....

"Kekk!" mendadak seekor burung beo menerobos masuk melalui jendela dan hinggap di atas sebuah peti, lalu mengguncangkan sayap untuk merontokkan air hujan yang membasahi bulunya, kemudian bersuara panjang pula satu kali. Meski kecil burungnya, tapi tampak gagah.

"Aha, sudah datang!" Mendadak Lamkiong Siang-ju berseru girang.

Burung beo itu melayang dan hinggap di pundak Siang-ju serta menirukan ucapannya, "Sudah datang...! Sudah datang...!"

Benar juga segera terdengar suara langkah orang di undakan batu, sesosok bayangan tinggi besar lantas muncul di depan pintu. Orang yang berperawakan raksasa ini memakai baju satin yang sangat mewah, tapi caranya memakai justru tidak teratur. Dari tujuh buah kancing hanya dirapatkan tiga buah saja sehingga dadanya terbuka dan kelihatan dadanya yang bidang dengan simbar (bulu) dada yang hitam lebat.

Rambut orang ini juga semerawut tak teratur, kedua alisnya sangat tebal, mata kiri justru tertutup oleh sebuah kedok mata sehingga menambah keseraman mata kanannya. Tangan kirinya tampak melambai lurus dan lengan kanan menyanggah pada sebuah tongkat hitam, kaki kanan buntung sebatas dengkul. Sorot matanya yang tajam itu sekarang sedang menyapu pandang keadaan sekelilingnya.

Tergetar hati Tek-ih Hujin melihat kemunculan orang aneh ini. Sedang burung beo tadi segera terbang dan hinggap di pundak si buntung kaki dan bermata satu ini.

Lamkiong Siang-ju memberi hormat dan berseru, "Sudah lama kami menunggu, silakan
masuk."

Perlahan orang aneh itu mengangguk, lalu sambil memandang Lamkiong Peng ia berkata, "Inikah putera kesayanganmu? Haha, bagus! Memang hebat!"

Diam-diam Tek-ih Hujin menyurut mundur ke sudut yang agak gelap. Sedang si Tojin berjubah biru dan si kakek berdiri dengan air muka prihatin memandangi pendatang yang aneh ini.

Seperti tak acuh si buntung tersenyum. "Sudahlah, tidak perlu bertempur lagi. Kabut racunmu sama sekali takkan mempan terhadapku," katanya.

Tek-ih Hujin terkesiap. Belum lagi dia bertindak, tongkat lelaki buntung itu mengetuk lantai, perlahan ia melangkah masuk. "Bagus, peti-peti ini sudah siap...," katanya.

Burung beo tadi menirukan, "Bagus...! Bagus...!"

Si Tojin jubah biru dan si kakek kurus saling memberi tanda, berbareng mereka hendak menubruk maju.

Tanpa berpaling lelaki buntung itu mendadak membentak, "Jangan bergerak!"

Seketika kedua orang itu urung bertindak.

Dengan tak acuh lelaki buntung itu membalik tubuh, lalu berkata, "Aha, sekian tahun tidak bertemu, mengapa kalian masih suka main sergap begini?"

Tojin jubah biru terkekeh. "Ah, masakah main sergap? Maksud kami hanya ingin menyapa kepada kenalan lama saja."

"Bagus, bagus...," ucap si buntung sambil membelai bulu burung beo yang hitam legam itu. "Rupanya kalian berdua juga berhasil menemukan Kun-mo-to dan kedatanganmu sekarang hendak memusuhiku, bukan?"

Mendadak si kakek menyela, "Betul!" Sinar matanya mencorong terang dan siap tempur.

Namun si buntung hanya memandangnya sekejap dengan hambar. Ia lalu berkata ke arah lain, "Lamkiong-cengcu, jika puteramu sudah datang, peti juga sudah siap, bila ada arak harap sediakan dua guci. Habis minum segera berangkat!"

"Hm, aku tahu kami tidak kau pandang sebelah mata," jengek si kakek mendadak. "Tapi bila peti-peti ini hendak kau bawa pergi, sedikitnya harus kau langkahi dulu mayatku."

Dengan terkekeh si Tojin jubah biru lantas menyambung, "Meski kungfu kami bukan tandinganmu, tapi jika dua lawan satu, jelas engkau takkan menarik keuntungan. Apalagi, hehe... bukan mustahil keluarga Lamkiong akan berdiri di pihak kami."

Si buntung bermata satu itu berucap, "Bagus, boleh kalian coba saja nanti... Hehe, dan Nona besar itu, jika obat penawar tidak kau berikan, apakah kau kira dapat keluar dari Lamkiong-san-ceng dengan hidup?"

Air muka Tek-ih Hujin berubah, katanya dengan tersenyum genit, "Eh, jika engkau melarang aku pergi, biarlah aku menemanimu di sini."

"Haha, bagus! Bu-thau-ong, Hek-sim-khek, coba kalian bekuk dia, akan kuberi rasa enak padanya," seru si buntung.

Suma Tiong-thian tertesiap mendengar nama-nama yang disebut itu. Kiranya kedua orang ini adalah ‘Bu-sim-siang-ok’ atau Dua Manusia Jahat Tak Berhati yang terkenal berpuluh tahun lampau itu, pantas kungfu mereka tinggi dan tindak-tanduknya keji.

Pengalaman kangouw Lamkiong Peng belum luas, tak diketahuinya asal-usul Bu-sim-siang-ok yang ditakuti beberapa puluh tahun yang lalu ini.

Si kakek kurus, Bu-thau-ong atau Kakek Tanpa Kepala, tertawa ngekek. "Hehe, kau minta kami membekuk dia...? Hah, barangkali setelah kau masuk Cu-sin-tian, pikiranmu
menjadi kurang waras," ujarnya.

"Hm, apakah kalian memang sudah bosan hidup dan tidak mau minta obat penawar kepadanya?" jengek si buntung.

Bu-thau-ong dan Hek-sim-khek sama me-lengak. “Apa artinya?!” seru mereka.

"Hah?! Rupanya kalian belum lagi tahu?" seru si buntung dengan tertawa. "Baik, ingin kutanya padamu, apakah sebelumnya kalian telah mencium obat penawar?"

Kedua orang sama terkesiap dan tidak dapat bicara.

"Haha, kalian mengira ucapannya tadi hanya untuk menggertak pihak Lamkiong-cengcu saja dan tidak benar telah menebarkan kabut berbisa, soalnya kalian memang tidak tahu kapan dia menyebarkan racun, begitu bukan?"

Muka Hek-sim-khek tambah pucat, wajah Bu-thau-ong pun semakin beringas.

"Huh, jangan kalian percaya kepada ocehannya," kata Tek-ih Hujin dengan tertawa, namun suaranya rada gemetar.

Serentak Bu-sim-siang-ok berputar tubuh. Hek-sim-khek Iantas menegur, "Jadi benar kau gunakan racun?"

Bu-thau-ong juga lantas melangkah maju sambil menjulurkan tangan. "Serahkan obat penawarnya!"

Si buntung kelihatan tertawa senang. Ia bersandar tak acuh di atas peti. "Obat penawar tulen setelah dicium, kontan akan bersin tujuh kali, harus kau coba dulu, jangan sampai tertipu," katanya.

Tek-ih Hujin menyurut mundur. "Jangan... jangan kau percaya, dia bohong!" ucapnya gugup.

"Jika tidak serahkan obat penawar, akan kucincang dirimu, dagingmu akan kumakan bersama arak," bentak Bu-thau-ong bengis.

"Kulitnya putih halus, dagingnya tentu empuk, rasanya pasti enak," tukas Hek-sim-khek.

"Cuma sayang, tentu rada berbau langu," ujar si buntung dengan tertawa.

Dalam pada itu Tek-ih Hujin masih terus menyurut mundur. "Baik, akan… akan kuberi…," katanya. Ia meraba bajunya, tapi mendadak tangannya terangkat. Berpuluh titik perak tajam serentak berhamburan, ia sendiri segera melayang ke luar melalui jendela.

Cepat lengan baju Hek-sim-khek mengibas. Kedua tangan Bu-thau-ong juga menghantam dari jauh sehingga senjata rahasia lawan dibikin rontok. Tanpa berhenti mereka terus mengejar sambil membentak, "Lari ke mana?!"

Pada saat itu juga dari luar menyambar masuk setitik cahaya tajam menuju ke arah Lamkiong Peng. Selagi anak muda itu hendak menangkap senjata rahasia itu, sekonyong-konyong tangan terasa kesemutan.

"Tring!" cahaya perak itu mencelat jauh ke sana.

Entah sejak kapan si buntung bermata satu sudah berada di sampingnya. Jarinya mengetuk perlahan tangan Lamkiong Peng, tongkat yang menyanggah ketiaknya membentur senjata rahasia musuh hingga mencelat. Meski tinggi besar tubuhnya, namun gerak-geriknya ternyata sangat gesit. Lamkiong Peng jadi melengak sendiri.

Dengan tak acuh si buntung melangkah ke sana dan bersandar pula di peti, Ia berkata, "Permainan itu tidak boleh disentuh."

"Tidak boleh disentuh?" Lamkiong Peng menegas.

Si mata satu tertawa. "Meski nona besar itu tidak betul menyebarkan kabut berbisa tanpa wujud itu, tapi senjata rahasianya memang betul berbisa jahat dan tidak boleh disentuh. Kakiku ini justru korban senjata rahasia lakinya pada waktu Ban-siu-san-ceng terbakar dulu. Hampir saja jiwaku ikut melayang, sampai akhirnya bahkan kakiku harus dipotong," katanya.

Semua orang sama terkejut.

Si mata satu menyeringai. "Ah di dunia ini mana ada racun tanpa bau dan tiada wujud? Kalau ada, bukankah nona besar itu dapat malang-melintang di dunia ini tanpa tandingan?" ucapnya pula.

Sinar matanya menyapa pandang wajah semua orang yang kelihatan bingung itu. Ia pun menutur pula, "Kabut pembetot sukma hanya semacam asap berbisa yang tipis dan dapat terlihat oleh mata, racun ini sudah pernah kurasakan. Apa yang kukatakan tadi tidak lebih hanya untuk mengadu domba antara mereka sendiri supaya anjing menggigit anjing, biar nona besar itu merasakan betapa kejamnya kedua kawannya sendiri. Haha, mana mungkin dapat diberikannya obat penawar yang dapat membuat orang bersin tujuh kali? Cuma... nona besar itu juga bukan seteru yang mudah ditandingi. Akhirnya Bu-sim-siang-ok juga takkan menarik sesuatu keuntungan, bisa jadi kedua pihak justru akan sama-sama konyol."

Suma Tiong-thian berseru senang. "Haha, hampir saja aku tertipu olehnya."

Si mata satu memandangnya sekejap. "Orang yang tidak takut mati tak mungkin tertipu olehnya," jengeknya.

"Memangnya engkau sendiri tidak takut mati?” tanya Suma Tiong-thian.

"Siapa bilang aku tidak takut mati? Orang yang tidak takut mati tentu orang tolol."

Mendadak Suma Tiong-thian menunduk. "Tapi jelas engkau tidak takut mati. Kalau takut, mustahil engkau mau menerjang Bao-siu-san-ceng di tengah malam buta sendirian dan membakar beratus binatang buas serta membinasakan Hok-siu-san-kun...," gumamnya.

"Ah, itu cuma perbuatan ugal-ugalanku pada waktu muda," ujar si mata satu dengan tertawa. “Manusia makin tua makin licik. Hari ini aku juga tidak mau bergebrak dengan orang, terpaksa menggunakan akal licik untuk mengadu domba mereka sendiri."

Dengan tersenyum Lamkiong Siang-ju berucap, "Meski sudah lama kutahu kungfu Anda maha-tinggi, tapi tak pernah terpikir Cianpwee ini ialah Hong Man-thian, Hong-taihiap. Terlebih tidak menyangka setelah pertemuan Wi-san dahulu Hong-taihiap lantas menghilang sekian lamanya dan ternyata masih sehat walafiat."

"Haha, sesudah pertemuan Wi-san, orang kangouw lama mengira kawanan makhluk tua itu sudah mampus semua dan cuma tersisa Sin-liong dan Tan-hong berdua. Tidak ada yang tahu bahwa kawanan tua bangka itu masih banyak yang hidup di dunia fana ini, cuma kebanyakan sudah mengasingkan diri ke Cu-sin-to dan Kun-mo-to. Bicara sesungguhnya, keadaannya tidak banyak bedanya dengan mati."

"Hah, jadi Hong-taihiap inilah yang terkenal di dunia persilatan sebagai Mo-hiam-kuncu (Si Jantan Petualang) Tiang-jiu-thian-kun (Si Kesatria Suka Tertawa)?" tanya Lamkiong Peng.

Hong Man-thian menengadah dan tergelak. "Ah, itu hanya sebutan yang sembarangan diberikan oleh kawan kangouw. Mana aku dapat disebut sebagai Kuncu segala, kalau Siaujin (orang rendah) sih lebih tepat."

Dalam pada itu hujan sudah reda. Cahaya remang subuh sudah kelihatan di luar. Lamkiong Siang-ju dan Loh Ih-sian mengumpulkan batu permata yang berserakan tadi dan dimasukan lagi ke dalam peti. Lamkiong-hujin mengeluarkan seguci arak dan seperangkat baju kering, arak untuk Hong Man-thian, baju diberikan kepada Lamkiong Peng yang basah kuyup itu.

Suasana yang diliputi ketegangan tadi kini berubah menjadi sepi dan haru akan perpisahan. Hong Man-thian dan Loh Ih-sian duduk berhadapan tanpa bicara dan asyik menenggak arak, hanya sekejap saja seguci arak sudah dihabiskan mereka berdua.

"Sungguh kuat takaran minummu!" seru Hong Man-thian sambil menepuk bahu Loh Ih-sian.

Sambil bergelak tertawa Loh Ih-sian menjawab, "Kekuatanmu minum arak juga sangat hebat. Sungguh aku tidak mengerti mengapa engkau sengaja tinggal menyepi di Cu-sin-to, padahal alangkah senangnya jika tinggal di dunia fana sini, kan bisa lebih banyak minum arak beberapa guci lagi."

Hong Man-thian menengadah dengan termangu-mangu. "Alangkah senangnya minum arak… Hah, tidak ada pesta yang tidak bubar. Sekarang sudah terang tanah, sudah waktunya berangkat! Untuk ini kiranya perlu bantuan beberapa kereta Suma-taihiap di luar sana," gumamnya.

"Untuk mengantar keberangkatan anak Peng keluar lautan, biarlah kami antar beberapa jauhnya. Jika tidak keberatan, sudilah Suma-heng tinggal dulu di sini sampai datangnya penghuni baru perkampungan ini."

Suma Tiong-thian mengangguk setuju. "Jangan kuatir, Lamkiong-heng. Meski sudah tua bangka, sedikit urusan ini tentu dapat kubereskan," katanya.

"Biar aku datangkan kereta di luar sana," seru Loh Ih-sian sambil melompat pergi.

"Akan kubantu, Jicek," seru Lamkiong Peng, terus ikut lari ke luar.

Kedua orang berlari menuju ke luar perkampungan. Tertampak sepanjang jalan senjata berserakan, di tengah hutan, di semak belukar. Mayat bergelimpangan, darah sudah bersih terguyur air hujan. Tidak jauh di sebelah sana beberapa ekor kuda tanpa bertuan sedang asyik makan rumput yang segar.

Lamkiong Peng dan Loh Ih-sian baru saja sampai di depan hutan. Mendadak di tengah semak-semak sana berkumandang suara rintihan orang. Keduanya saling pandang sekejap, terus melompat maju. Terlihat dua batang pohon babak-belur serupa habis dipahat dan dibacok oleh senjata tajam. Tetumbuhan di sekitar pohon juga bekas terinjak-injak. Dengan hati-hati kedua orang itu melangkah ke depan.

Mendadak terdengar suara tertawa seram, lantas dua sosok bayangan orang muncul dari balik semak-semak pohon sana.

"Siapa?!" bentak Lamkiong Peng.

Tapi segera dapat mereka kenali kedua orang ini ternyata Bu-sim-siang-ok adanya. Pakaian kedua orang ini kelihatan morat-marit penuh rumput, seperti habis berguling-guling dari sana, sedangkan muka, hidung, mulut dan telinga berlepotan darah, mata mendelik kalap. Berapa tabah Lamkiong Peng dan Loh Ih-sian merasa ngeri juga melihat keadaan kedua orang itu.

"Hehe, obat penawar... mana obat penawar...?" Bu-thau-ong terkekeh, dua tangannya terpentang dan segera menubruk maju.

Lamkiong Peng kaget dan menyurut mundur. Tak terduga baru saja Bu-thau-ong melangkah segera jatuh terguling.

Hek-sim-khek juga membentak, "Ganti nyawaku!" Belum lenyap suaranya dia juga terjungkal. Tapi tangannya sempat terangkat, maka selarik sinar hitam gilap lantas menyambar ke arah Lamkiong Peng. Serangan sebelum ajal ini ternyata sangat lihai.

Cepat Lamkiong Peng menggeser ke samping, terdengar suara mendesing menyambar lewat di tepi telinganya. Cahaya hitam gilap itu masih terus melayang ke sana dan menumbuk batang pohon. Kiranya benda itu adalah sebuah kotak kecil.

Untuk sejenak Lamkiong Peng dan Loh Ih-sian siap siaga. Setelah sekian lama kedua orang itu tidak berkutik lagi barulah mereka mendekati, ternyata keduanya sudah mati dengan mata mendelik.

Demi melihat kotak itu, Loh Ih-sian berucap dengan gegetun, "Ai, Tek-ih Hujin itu memang sangat keji, kotak racun ini dikatakannya sebagai obat penawar. Betapa licin juga Bu-sim-siang-ok takkan menyangka obat yang diserahkan Teh-ih Hujin dalam keadaan terpaksa ini justru adalah racun, dan sekali dicium maka celakalah mereka."

Sebagai seorang jago kawakan dugaannya ternyata tidak keliru. Cuma tidak diketahuinya bahwa pada waktu sebelum Bu-sim-siang-ok mencium racun itu, lebih dulu mereka sudah memaksa Teh-ih Hujin mencium dulu obat itu. Setelah menyaksikan tidak terjadi sesuatu, barulah mereka berebut menciumnya. Dan karena itulah mereka jadi benar-benar terjebak, sebab sebelumnya Teh-ih Hujin sudah memakai obat penawar lebih dulu, makanya dia tidak mengalami sesuatu setelah mencium racunnya.

Padahal bubuk racun dalam kotaknya itu kalau disebarkan dan tertiup angin, maka sedikitnya akan menimbulkan korban beratus orang, sebab asalkan mencium hawanya saja cukup membuat jiwa melayang. Apalagi Bu-sim-siang-ok kuatir obat penawar yang mereka endus itu kurang banyak, sehingga mereka mencium sekuat-kuatnya sehingga sekotak kecil bubuk racun itu hampir seluruhnya masuk rongga dada mereka. Karuan jiwa mereka tak tertolong lagi.

Begitulah mereka berguling di tanah dan tersiksa oleh bekerjanya racun. Tubuh serasa ditusuk beribu jarum, tak tertahankan rasa sakitnya. Mereka menjadi kalap seperti orang gila, batang pohon dicakar sekuatnya, rumput dibetot, keadaan itulah yang dilihat Lamkiong Peng tadi. Sedangkan Teh ih Hujin sempat melarikan diri.

Biar pun Bu-sim-siang-ok memang penjahat yang berlumuran darah tangannya, tidak urung Lamkiong Peng terharu melihat kematian mereka yang mengenaskan itu. la mengumpulkan ranting kayu dan rumput kering untuk menutupi mayat mereka dan tinggal pergi.

Ia menemukan beberapa ekor kuda. Selain dipasang pada kedua kereta kosong di luar perkampungan sana, beberapa ekor sisanya dibawa pulang serta. Tertampak ayah-ibunya dan Iain-lain sama berdiri di depan rumah sedang menunggu. Beramai-ramai semua peti lantas dimuat keatas kereta.

Suma Tiong-thian mengucapkan selamat jalan kepada semua orang. Ia pegang tangan Lamkiong Peng dan memberi nasihat agar berjaga diri baik-baik, terutama harus awas terhadap orang perempuan. Rupanya dia belum lagi lupa kepada Kwe Giok-he yang diam-diam berusaha menjatuhkan nama anak muda itu.

Lamkiong Peng terkesiap dan tidak paham maksud orang tua itu, tapi mengiyakannya dengan rasa terima-kasih. Dan begitulah, dengan sekitar dua puluhan peti termuat dalam dua kereta, mereka terus berangkat menuju ke timur.

Loh Ih-sian dan Hong Man-thian menumpang bersama satu kereta dan asyik minum arak sepanjang jalan. Sedangkan Lamkiong Siang-ju bersama anak dan istrinya menumpang pada kereta lain, ketiganya tidak banyak bicara sepanjang jalan.

Malamnya mereka sampai di suatu kota dan mendapatkan rumah pondokan. Kereta diparkir di halaman. Hong Man-thian mencari sepotong kapur dan menulis sebuah huruf ‘koan’ pada dinding kereta.

"Apakah peti perlu diturunkan?" tanya Koh Ih-sian.

"Dengan huruf ‘koan’ ini, siapa pula di dunia ini yang berani mengincarnya?” ujar Hong Man-thian dengan tertawa.

Kiranya tulisan ‘koan’ ini adalah tanda tangannya yang dulu pernah mengguncangkan dunia persilatan. Satu kali dia membantu seorang teman yang harta bendanya dirampok kaum bandit di Thay-hing-san. Tanpa susah-payah Hong Man-thian berhasil meminta kembali harta yang hilang itu. Beberapa peti harta benda itu ditumpuk di lereng bukit sunyi. Peti diberi tanda pengenal huruf ‘koan’, lalu ditinggalkan pulang, kawan yang menjadi pemilik barang disuruh mengambil sendiri ke tempat penimbunan peti.

Tentu saja kawannya kaget, disangkanya harta benda yang baru diminta kembali itu pasti akan dicuri orang lagi. Cepat ia menuju ke tempat yang dimaksudkan yang berjarak tiga hari tiga malam perjalanan itu. Siapa tahu setiba di tempat, harta yang dimaksud ternyata masih utuh tanpa terganggu sedikit pun. Rupanya orang dunia parsilatan setelah melihat tanda pengenal Hong Man-thian itu bukannya mengganggu, sebaliknya diam diam memberi perlindungan malah.

Begitulah dia berkisah kegagahannya pada masa lampau sehingga bertambah semangatnya minum arak. Lamkiong-hujin lantas minta disediakan berbagai jenis arak. Ia mencampur sendiri arak yang paling enak, dan ternyata sangat mencocoki selera Hong Man-thian dan Loh Ih-sian sehingga tiada henti-hentinya kedua orang itu memuji.

Dan seterusnya setiap persinggahan selalu Hong Man-thian minum sampai mabuk oleh ramuan arak Lamkiong-hujin yang istimewa itu. Entah karena ingin menikmati arak enak atau karena ada sebab lain, perjalanan makin hari makin lambat. Anehnya pada setiap tempat persinggahan Hong Man-thian pasti keluar sampai setengah harian. Pulangnya dia membawa satu kereta penuh muatan, kebanyakan berupa peti besar dan kecil, semuanya tertutup rapat entah apa isinya. Peti yang paling besar serupa peti mati, yang paling kecil juga berukuran dua-tiga kaki panjangnya.

Akhirnya kereta yang dikumpulkan bertambah banyak sehingga merupakan satu iring-iringan kereta. Wilayah timur ini kebanyakan daerah pegunungan dan merupakan sarang penjahat, dengan sendirinya iring-iringan kereta mereka menimbulkan perhatian orang. Banyak lelaki kekar berkuda mondar-mandir mengawasi konvoi mereka, namun Hong Man-thian anggap seperti tidak tahu saja.

Walau pun begitu, kawanan bandit juga heran dan sangsi melihat iringan kereta yang panjang itu ternyata tidak dikawal sebagaimana lazimnya. Karena belum jelas asal-usulnya, seketika pun tidak ada yang berani mendahului turun tangan mengganggunya.

Hari ini rombongan mereka sampai di Tang-yang. Di depan adalah lereng gunung pertemuan antara pegunungan Hwekeh, Thian-tai dan Sa-beng-san. Menjelang magrib mereka pun berhenti pada rumah pondokan. Hong Man-thian keluar lagi mengitari kota.

Esok paginya, rumah pondokan itu mendadak menjadi riuh ramai didatangi orang banyak. Kiranya kemarin Hong Man-thian telah mendatangi semua pandai besi di kota Tang-yang ini dan minta dibuatkan satu-dua buah sangkar besi yang besarnya antara satu tombak sehingga jumlah seluruhnya lebih dari dua puluh buah.

Dengan sendirinya orang lain tidak tahu apa gunanya sangkar besi sebanyak itu. Tapi Hong Man-thian lantas menyuruh orang memindahkan peti ke dalam sangkar besi, lalu dimuat lagi ke atas kereta dan melanjutkan perjalanan.

Kawanan bandit yang selalu mengintai gerak-gerik konvoi mereka ini menjadi geIi. "Biar pun harta benda telah kau simpan di dalam sangkar besi, memangnya kami tidak dapat merampas sekalian bersama sangkarnya?" demikian pikir mereka. Karena itu mereka mentertawai kebodohan pemilik barang ini. Hati mereka jadi mantap dan malam ini juga berniat turun tangan.

Setelah lewat beberapa kampung lagi, di depan adalah lereng pegunungan. Penunggang kuda yang wira-wiri mengikuti iringan kereta mereka tambah banyak, semuanya bertampang jahat menakutkan. Tentu saja para kusir kereta jadi ketakutan. Diam-diam mereka bersepakat, bila-mana kawanan bandit datang, mereka akan menyelamatkan diri lebih dulu.

Lamkiong Siang-ju dan lain-lain juga tidak tahu untuk apa Hong Man-thian membeli sangkar besi besar sebanyak itu. Akhirnya mereka coba minta keterangan kepadanya.

Hong Man-thian tertawa, kemudian ia pun menutur, “Dulu terjadi sebuah lelucon, begini ceritanya. Seorang membawa galah bambu masuk ke kota. Baik bambu melintang mau pun menegak tetap sukar memasuki gerbang kota. Setelah berkutak-kutik sekian lamanya, akhirnya orang itu melemparkan galah bambu ke dalam kota melalui atas tembok benteng. Seorang di tepi jalan terbahak-bahak geli, katanya, ´Bodoh amat orang ini, kenapa galah bambu itu tidak dipatahkan menjadi dua atau tiga potong, dengan begitu kan leluasa pergi ke mana pun´."

Loh Ih-sian melenggong, ia pun tidak paham arti lelucon itu. "Kenapa dia tidak meluruskan bambunya dan menerobos masuk ke kota?" tanyanya lugas.

"Jika dia masuk kota begitu saja kan bukan lagi lelucon namanya," ujar Hong Man-thian dengan tergelak.

Lamkiong Peng juga tertawa geli.

Maka Hong Man-thian melanjutkan, "Jika kawanan penjahat melihat kusimpan peti harta benda di dalam sangkar besi, tentu mereka akan tertawa akan kebodohanku serupa orang yang membawa galah bambu itu. Kan sangkar besi dapat juga diangkut sekalian biar pun peti tersimpan di dalamnya. Mereka lupa bahwa orang yang membawa galah bambu itu mendadak bisa membawa galahnya masuk ke kota dengan lurus begitu saja, untuk ini kawanan bandit itu tentu tak bisa tertawa lagi."

Loh Ih-sian meraba kepalanya yang botak. "Memangnya apa gunanya sangkar besi sebanyak ini?"

"Jika kuceritakan apa gunanya? Tentu juga bukan lelucon lagi," kata Hong Man-thian.

Mendadak burung beo yang selalu hinggap di pundak Hong Man-thian itu ikut bersuara, "Lelucon...! Lelucon...!"

Pada saat itulah sekonyong-konyong tiga anak panah mendenging memecah angkasa sunyi. Kembali burung beo itu berteriak, "Lelucon datang...! Lelucon datang...!"

Lamkiong Siang-ju tidak heran, ia memang sudah menduga akan kejadian demikian. Ia cuma mengatur rombongan kereta menjadi satu lingkaran. Para kusir sama menyingkir ketakutan, mereka kemudian sama berjongkok dalam satu rombongan.

Terdengar dari kanan-kiri suara derap kaki kuda yang ramai, debu mengepul, serentak muncul berpuluh penunggang kuda. Dari arah timur dipimpin seorang bermuka hitam dan berjenggot pendek, kelihatan gagah perkasa. Segera ia berteriak, "Inilah Thian-gwa-hui-lai-poan-cai-thian (Setengah Bukit Melayang Turun dari Langit) berada di sini. Para saudara... siap!" Sambil bersuara ia terus melompat ke atas dan berdiri di atas pelana kudanya dengan gagah.

Segera kawanan penunggang kuda dari beberapa penjuru itu sama berhenti di sekeliling lelaki kekar itu. Dari rombongan sana tampil lagi tiga penunggang kuda yang gagah. Mereka melompat turun dari kudanya dan berkumpul untuk berunding.

"Hah, rupanya beberapa rombongan bandit ini sudah saling kenal. Semula kukira mereka akan saling cakar-cakaran, agaknya tontonan menarik ini tidak jadi muncul," ucap Loh Ih-sian dengan tertawa.

"Tontonan menarik sih masih ada," ujar Hong Man-thian. "Untuk itu hendaknya kalian jangan turun tangan dulu, turutlah kepada caraku."

Dalam pada itu keempat lelaki tadi setelah berkumpul dan berunding, lalu mereka melangkah maju. Seorang di antaranya yang kurus kecil tapi mata bersinar tajam segera berseru, "Di mana pemilik iringan kereta ini? Harap tampil untuk bicara!" Orangnya kecil, tapi suaranya besar.

Hong Man-thian berlagak bingung dan memandang kian-kemari. "Eh, di mana orang yang bicara itu?" tanyanya dengan wajah serius.

Tentu saja si kurus kecil mendongkol. "Apakah matamu belum melek? Di sinilah aku yang bicara," jengeknya.

Hong Man-thian sengaja berkerut kening. "Ai, rasanya kita belum saling kenal, entah ada petunjuk apa Anda mengajak bicara padaku?" ujarnya.

Si kurus terbahak. "Haha! Supaya kau tahu, aku inilah Jiu-hong-kui-yap (Angin Musim Rontok Menyapu Daun) Toh Siau-giok dari Lok-yap-cen!"

"Haha, Lok-yap-ceng (Perkampungan Daun Rontok), tampaknya nama yang baik juga," seru Hong Man-thian.

"Ketiga orang ini yang satu adalah Oh-taihiap yang terkenal dengan ilmu goloknya dari Hun-cui-koan dan...."

"Untuk apa banyak omong dengan dia?" sela seorang temannya yang bersuara lantang tadi. "Ayolah sahabat, terus terang saja kita buka kartu, memangnya perlu apa kau berlagak bodoh? Tinggalkan keretamu dengan seluruh isinya dan jiwa kalian akan diampuni."

Hong Man-thian mengelus jenggot dan pura-pura kaget. "Hah, kukira kalian datang untuk ikut minum arak bersamaku, tak tahunya kalian mengincar harta benda juga?"

“O, barangkali engkau ini penggemar sanjak," si jangkung menyeringai. "Baiklah, biar aku Thi Toa-kan membawakan sajak bagimu. Nah, dengarkan... Gunung ini aku yang buka, hutan ini aku yang tanam. Jika ingin lalu di sini, bayar dulu uang jalan. Ingat, jangan coba coba bilang tidak, senjata kami tidak kenal ampun."

Mendadak ia ayun kepalan dan menghantam kepala salah seekor kuda. Kontan kepala kuda itu pecah, belum lagi sempat meringkik sang kuda sudah roboh binasa.

Lamkiong Siang-ju dan lain-lain tetap tenang saja. Sebaliknya Toh Siau-giok dan para begundalnya sama berseru kaget, "Wah, tangan hebat!"

Thi Toa-kan tertawa. "Nah, dapat kalian pahami tidak akan sajakku?" katanya.

Hong Man-thian berlagak terkejut. "Wah, kusangka kalian adalah kaum pelancong yang iseng, siapa tahu kalian ini kaum bandit dan perampok...." Diam-diam ia mengedipi Lamkiong Peng, lalu berteriak. "Ai celaka, ada bandit! Ayolah lekas kemari, pengawalku. Hajarlah bandit ini!"

Lamkiong Peng merasa geli. Segera ia tampil ke muka.

Semula Thi Toa-kan dan begundalnya melengak juga, tapi ketika diketahui yang muncul cuma seorang anak muda belia, hati mereka menjadi tabah. Dengan tertawa Thi Toa-kan berseru, "Haha, apakah ini jago pengawalmu? Eh, Toa-piauthau yang terhormat, engkau dari Piaukiok mana? Setelah kenal nama kami, masakah kau berani main kayu lagi dengan kami?"

Belum lenyap suaranya, tahu-tahu Lamkiong Peng melompat maju dan....

"Plok!" pipi Thi Toa-kan telah tergampar dengan tepat.

Karuan Thi Toa-kan melengak. "Binatang...!" teriaknya murka.

Baru saja bersuara, pipi sebelah lain juga kena gamparan keras. Ia tergetar mundur dengan mulut berdarah. Sambil mengusap darah segera ia hendak menerjang maju.

Tapi Toh Siau-giok keburu menarik bajunya dan mendesis, "Sabar dulu!" Lalu ia berkata kepada Lamkiong Peng. “Eh, lihai benar kungfu saudara muda ini. Siapakah namamu dan murid dari perguruan mana?"

"Aku murid Sin-liong, Lamkiong Peng adanya!" seru anak muda itu lantang.

Thi Toa-kan, Toh Siau-giok, dan Oh Cin, si jago golok dan seorang lagi berbaju hitam bernama Tio Hiong-to berjuluk Im-yang-poh, si kampak, saling pandang dengan air muka berubah.

"Hah, Anda inikah Lamkiong Peng?!" seru Toh Siau-giok.

Lamkiong Peng hanya mendengus saja tanpa bicara lagi.

Hendaknya maklum, sejak pertarungan sengit di restoran Koai-cip-lau dan menerjang Hui-goan-san-ceng di tempat Wi Ki dahulu, nama Lamkiong Peng lantas tersiar luas di dunia kangouw dan disegani.

Karuan keempat orang itu sama genta. Thi Toa-kan menyingkir ke samping dan memanggil seorang anak buahnya. Mendadak dijambretnya leher baju orang dan didampratnya, "Inikah hasil selidikanmu? Kau bilang pengawal iringan kereta ini cuma orang tua yang cacat dan reyot, mengapa bisa mendadak muncul seorang Lamkiong Peng?"

Anak buahnya ketakutan. “Hah, dia... dia Lamkiong Peng?" Kontan Thi Toa-kan menjotosnya hingga mencelat.

Segera keempat orang itu berunding apa yang harus dilakukannya lebih lanjut.

Tio Hiong-to mendesis, "Kabarnya Lamkiong Peng ini sangat lihai. Tapi kita sudah telanjur datang, masa harus pulang dengan tangan hampa? Biar pun hebat, dua kepalan takkan mampu melawan empat tangan. Kalau kita maju sekaligus, masa kalian perlu takut padanya?"

"Betul," sambut Oh Cin. "Betapa pun kita berempat harus mengujinya dulu."

Setelah sepakat, segera mereka maju lagi bersama, cuma sikap mereka sudah tidak segalak tadi.

Toh Siau-giok mendahului bicara. "Jika iringan kereta ini dikawal oleh Lamkiong-kongcu,
mestinya kami akan segera angkat kaki dari sini. Cuma, hehe... ketiga sahabatku ini justru ingin belajar kenal dulu sejurus dua dengan Lamkiong-kongcu, sedikitnya agar menambah pengalaman kami." Dia memang licik, semua tanggung-jawab ia tumplek atas diri ketiga kawannya.

Lamkiong Peng mendengus. "Ayolah, silakan. Mana dulu yang akan maju?!"

Toh Siau-giok menyurut mundur malah, Thi Toa-kan bertiga juga saling pandang dengan ragu. Mereka hanya berani main kerubut, untuk satu lawan satu mereka jeri. Terlebih Thi Toa-kan yang habis merasakan digampar, betapa pun ia tidak berani maju sendirian.

Terdengar Toh Siau-giok berucap di samping. "Ketiga saudara jangan berebut turun tangan, masa di antara saudara sendiri perlu rendah hati?"

Muka Oh Cin tampak merah. Mendadak ia berpaling dan menjengek, "Aneh juga, kenapa mendadak Toh-heng seperti tidak berkepentingan lagi akan urusan ini?"

"Aku memang tidak ingin berebut duluan dengan kalian. Jika Oh-heng juga sangsi, silakan mundur saja menonton di samping," sahut Toh Siau-giok.

Oh Giu menjadi gusar. “Hm, memangnya kau kira aku jeri? Apa halangannya aku maju untuk belajar kenal dengan dia?" ucap Oh Cin. Segera ia melangkah maju sambil melolos golok.

Mendadak Hong Man-thian berseru sambil menggoyangkan tangannya. "Eh, jangan! Nanti dulu!”

Oh Cin melengak dan bertanya, "Ada apa lagi?"

"Lamkiong-piauthau," kata Hong Man-thian. "Hendaknya urusan ini jangan sampai terjadi perkelahian."

Lamkiong Peng melongo heran juga.

Hong Man-thian lantas menyambung, "Sebab kalau perkelahian ini terjadi serentak, kawanan orang gagah ini pasti akan main kerubut. Jika terjadi demikian, wah, aku si tua bangka ini pasti akan celaka. Padahal kuminta engkau menjadi pengawalku justru berharap cukup dengan namamu dapatlah barang kirimanku ini akan sampai di tempat tujuan dengan aman. Sekarang gelagatnya ternyata kurang menguntungkan, rasanya lebih baik kukorbankan sedikit harta bendaku saja, yang penting aman dan selamat."

"Hm, ternyata kau pun bisa berpikir panjang," jengek Oh Cin. "Jika kau mau kompromi, baiklah, akan kudamaikan bagimu."

Si dogol Thi Toa-kan juga lantas membusungkan dada dan berseru, "Mendingan kau dapat melihat gelagat. Kalau tidak, hmm...."

Diam-diam Lamkiong Peng merasa geli dan mengundurkan diri.

Hong Man-thian lantas berkata pula, "Sangkar besi di atas kereta tidak digembok. Bila-mana kalian mau, silakan ambil saja, asalkan jangan dikuras habis, tapi sisakan yang pantas untuk hari-tuaku."

Meski Lamkiong Peng dan lain-lain tahu tingkah orang tua ini pasti menarik, tapi sejauh ini belum lagi diketahui apa sebenarnya maksudnya. Sebaliknya Thi Toa-kan dan Iain-lain sangat girang. Segera mereka memberi tanda kepada anak buahnya dan bersiap hendak membongkar peti.

Mendadak Thio Hiong-to berteriak, "Nanti dulu!"

"Ada apa?" tanya Oh Cin kurang senang.

"Biar pun saudara sekandung, utang-piutang juga harus dihitung dengan betul," kata Tio Hiong-to. "Tampaknya rejeki hari ini tidaklah sedikit. Meski di antara kita sudah kenal baik, perlu juga segala sesuatu diatur secara jelas. Peti-peti ini berukuran tidak sama, isinya juga tidak seragam, Bila-mana antara kita cuma ambil begitu saja, kan bisa kacau dan tidak adil."

"Betul," sambut Oh Cin, "tadi pihak kami turun tangan lebih dahulu, dengan sendirinya hak utama berada padaku. Mengenai Toh-heng, jika dia sudah rela menonton saja di samping, dengan sendirinya ia pun melepaskan haknya."

Seketika orang Lok-yap-ceng menjadi gempar, segera ada yang melolos senjata dan siap tempur. Tapi Toh Siau-giok memberi tanda kepada anak buahnya itu supaya tenang. Rupanya dia sudah menduga di balik urusan ini pasti ada sesuatu yang tidak beres, umpama betul persoalannya semudah ini juga dia sudah siap sedia untuk merobohkan lawan. Di antara keempat pentolan begal ini memang Toh Siau-giok yang paling licik dan licin, selain kungfu-nya lebih tinggi juga lebih pandai menggunakan otak.

Tio Hiong-to lantas menarik muka dan mendengus. "Hm, bilakah Oh-heng pernah turun tangan? Thi-beng, apakah kau lihat?"

"Kalau bicara turun tangan, kukira akulah yang paling dulu," ujar Thi Toa-kan. Teringat pada dua gamparan yang dirasakannya tadi, tanpa terasa mukanya menjadi merah.

Tentu saja Oh Cin kurang senang. Goloknya segera bergerak. "Habis bagaimana cara membaginya menurut pendapat kalian?!" serunya.

"Dengan sendirinya pihak Thian-tai-ce kami berhak mengambil dulu," seru Thi Toa-kan sambil membusungkan dada. Dia memang tinggi besar, sekali membusung mendadak perawakannya bertambah satu kepala lebih tinggi dari-pada orang lain.

"Hm, kalau bicara tentang tubuh dengan sendirinya Thi-heng lebih gede. Cuma sayang, tubuh gede terkadang juga tiada gunanya," ejek Tio Hiong-to.

"Kurang ajar! Kau bilang apa?!" bentak Thi Toa-kan.

Oh Cin juga angkat goloknya dan berseru, "Apa pun engkau tidak berhak ambil dulu!"

Tio Hiong-to melirik Toh Siau-giok sekejap lalu berkata, "Kukira biarkan Toh-heng saja yang membagi rata rejeki ini. Kepandaian Toh-heng paling tinggi, anggota Lok-yap-ceng juga paling banyak, aku percaya dia pasti tidak akan menang sendiri dan bikin rugi orang lain." Rupanya dia merasa pihak sendiri tidak sanggup menghadapi pihak yang lain, maka cepat ia ganti haluan dan ingin mencari kawan.

Diam-diam Toh Siau-giok mengawasi air muka Lamkiong Peng dan lain-lain. Dilihatnya anak muda itu tenang-tenang saja, sorot matanya menampilkan rasa geli. Tergerak hatinya, maka dengan tertawa ia berkata, "Ah, soal harta bagiku sih tidak kupikirkan lagi, silakan kalian bertiga membagi sendiri."

Habis berkata, benar juga ia lantas memberi tanda agar anak buahnya menyingkir mundur. Meski penasaran, terpaksa anak buahnya menurut.

Selagi Thi Toa-kan bertiga melenggong, tiba-tiba Hong Man-thian berseru pula dengan tertawa, "Ai, sudah kukatakan silakan bagi saja sendiri, tapi kalian ternyata sungkan-sungkan. Jika begitu, aku ada juga suatu akal baik, mungkin dapat kalian setujui."

Tio Hiong-to kuatir pihaknya akan dikerubut oleh Oh Cin dan Thi Toa-kan, segera ia mendahului menyatakan setuju, "Bagus, jika Losiansing mau turun tangan dengan bijaksana, aku percaya caramu membagi pasti adil."

Oh Cin dan Thi Toa-kan saling pandang sekejap. Dalam hati mereka juga berpikir sama seperti Tio Hiong-to, maka tiada jalan lain kecuali mengangguk setuju.

"Kalian tahu, orang tua semacam aku ini paling takut melihat darah bercucuran, sebab itulah aku rela menyerahkan sebagian harta bendaku ini, yang penting semuanya berjalan aman dan lancar. Cuma kalian harus berjanji juga, setelah mendapatkan pesangon yang layak jangan lagi kalian cari perkara lagi, kalau tidak...," mendadak Hong Man-thian menarik muka dan menyambung, "Kalian sudah menyaksikan sendiri kepandaian jago pengawalku. Bila-mana dia tidak mau turut lagi kepada perkataanku, tentu kalian tahu sendiri akibatnya."

Mau tak mau ketiga orang itu merasa ngeri juga, terutama Thi Toa-kan yang sudah kena hajaran Lamkiong Peng tadi

Cepat Tio Hiong-to mendahului menanggapi, "Baik, asal saja caramu adil, kami pasti setuju."

"Haha, tentu saja adil," kata Hong Man-thian. "Kalian adalah kesatria kaum Liok-lim, makin gagah makin mengagumkan, makin banyak tangan kalian berlumuran darah makin dipuja. Maka sekarang aku ingin tahu dulu, siapa kiranya di antara kalian yang paling gagah perkasa. Asalkan setiap orang dapat menceritakan suatu kejadian nyata dari hasil karyanya yang paling gagah perkasa, maka dia berhak mengambil dulu isi petiku ini. Tapi jika perbuatan yang pernah dilakukannya kurang gemilang, terpaksa harus disilakan menyingkir saja ke pinggir."

Selesai berucap, mendadak tongkatnya terjulur, sebuah peti di luar sangkar dicungkit dan diraihnya ke depannya, lalu berkata pula, "Nah, ingin kutambahkan lagi, peti yang semakin dekat danganku isinya juga semakin berharga. Maka nanti bila-mana di antara kalian harus berebut dulu-mendului, terpaksa kalian harus menggunakan kepandaian sejati masing-masing untuk memperoleh peti ini."

Semula orang-orang itu sama ragu oleh cara aneh yang diuraikan Hong Man-thian itu, tapi kemudian saat peti dibuka dan isinya ternyata penuh batu permata yang sukar di nilai, seketika mata mereka menjadi merah dan lupa daratan. Maklum, kebanyakan manusia tamak kalau urusannya sudah menyangkut harta, maka pikiran mereka hanya menghalalkan segala cara dan tidak kenal malu lagi. Segera mereka berebut duluan menceritakan perbuatannya yang gagah perkasa.

Sambil menepuk dada Thi Toa-kan ber-teriak, "Pernah pada suatu malam di kota Lim-hai sekaligus kulakukan tujuh perkara besar. Kusikat habis setiap orang yang memergokiku dan melawan, kubunuh semuanya sehingga mata golokku pun tumpul. Kejadian ini cukup diketahui siapa pun sehingga tidak perlu kuberi bukti atau saksi. Nah, apakah perbuatanku itu bukan sesuatu yang gagah perkasa?" Habis berkata ia bergelak tertawa bangga.

Oh Cin tidak mau kalah, segera ia menyambung, "Huh, hanya begitu saja belum masuk hitungan. Pernah pada suatu hari, di luar kota Thai-sun, di tengah siang hari bolong sekaligus kukerjai berpuluh anak perempuan yang sedang berziarah ke Gan-tang-san, semuanya kusikat...."

Begitulah mereka seperti kuatir ketinggalan, satu persatu mereka menuturkan ‘karya besar’ masing-masing, bahkan kuatir tidak di percaya, mereka berani memberi bukti dan mengajukan saksi segala.

Seketika apa yang didengar Lamkiong Peng dan Iain-lain adalah kisah kejahatan yang meliputi perampokan, pembunuhan dan sebagainya yang membuat darah meluap. Setiap perbuatannya yang ‘gemilang’ itu pantas dijatuhi hukuman penggal kepala sepuluh kali.

Toh Siau-giok tetap mengikuti semua kejadian itu secara diam-diam, makin dipandang makin dirasakan urusan tidak biasa. Tadi ketika tongkat Hong Man-thian menggaet peti sudah dapat didengarnya suara logam, jelas bukan sembarangan tongkat. Apalagi cara kakek yang kelihatan reyot itu menentukan pemberian isi peti juga harus diragukan. Makin dipikir makin ngeri hati Toh Siau-giok, tanpa terasa ia pun menyurut mundur terlebih jauh.