Amanat Marga (Hu Hua Ling) Jilid 19

"Hm, apakah ini pun jurus serangan seorang Tojin?" jengek Kim-soat sambil menghindar ke samping.

Di sebelah sana Jing Siong dan Tok Go berdua telah mengurung Cian Tong-lai di tengah sinar pedang mereka. Ilmu pedang mereka Liang-gi-kiam-hoat dapat bekerja sama dengan sangat rapat. Meski sangat lihai kungfu-nya, Cian Tong-lai juga rada kerepotan.

Sementara itu Ci Pek Tojin berdiri menghadapi Yap Man-jing. Ia juga gengsi, asal Man-jing tidak bergerak, ia pun tidak mau turun tangan.

"Apa benar kau larang aku pergi?" tanya Man-jing.

"Urusan menyangkut nama baik perguruan kami, terpaksa aku bertindak demikian," jawab Ci Pek.

Man-jing menunduk memandang Lamkiong Peng sekejap, muka anak muda itu kelihatan pucat dan mata terpejam, napas sangat lemah. Ia kuatir dan mendongkol pula, tapi juga tak berdaya, terpaksa ia berkata, "Bila aku bersumpah takkan menyiarkan kejadian yang kulihat ini, tentu aku boleh pergi bukan?"

Ci Pek Tojin berpikir sejenak. Tiba-tiba dilihatnya sisute-nya sudah diatasi Bwe Kim-soat sehingga pikirannya lantas berubah. "Nona berasal dari perguruan ternama, tentu saja dapat kupercayai janjimu," katanya segera.

Mendadak ia menyingkir ke samping dan memberi tanda, "Silakan!"

Man-jing jadi melengak karena urusan berakhir semudah ini, tapi mengingat keselamatan Lamkiong Peng, tanpa bicara lagi segera ia angkat kaki.

Dalam pada itu, dengan mengancam Hiat-to maut di punggung Koh Tong Tojin segera Bwe Kim-soat berseru, "Nah, ketiga Totiang dapat berhenti, barang siapa sembarangan bergerak lagi, terpaksa ku....”

Sampai di sini sekilas dilihatnya Yap Man-jing sedang melangkah pergi dan melompat terjun ke bawah tebing. Tapi lantaran keadaannya juga sangat lemah, mendadak terdengar jeritan Man-jing yang jatuh di bawah. Tanpa pikir Kim-soat mendorong Koh Tong dan ikut melayang turun ke bawah.

Cepat Ci Pek bertiga membangunkan Koh Tong yang terluka itu. Sedangkan Cian Tong-lai segera menyusul Bwe Kim-soat ke bawah tebing.

"Nona Bwe, kita pun dapat pergi saja!" serunya.

Rupanya berhubungan selama beberapa hari ini di antara mereka sudah tambah akrab, Cian Tong-lai jadi semakin terpikat. Dilihatnya Bwe Kim-soat sudah berada di samping Yap Man-jing dan ingin menariknya bangun.

"Tidak perlu! Aku dapat berdiri sendiri," dengus Man-jing menolak bantuan Bwe Kim-soat.

Cian Tong-lai memburu maju. "Hm, sungguh orang yang tidak tahu budi. Baru saja kita membebaskan dia dari kesukaran, sekarang dia tidak tahu terima-kasih lagi," jengeknya.

Meski jatuh terduduk karena lompat dari ketinggian, namun Lamkiong Peng masih tetap dalam rangkulannya. Sekarang Man-jing lantas melompat bangun dan menjawab, "Hm, memangnya kalian yang membebaskanku dari kepungan musuh?"

"Ya, kau sendiri yang tinggal pergi," ujar Kim-soat dengan tertawa. "Eh, adik cilik, kau mau ke mana?"

"Aku pergi ke mana, apa sangkut pautnya denganmu?" jengek Man-jing.

"Siapa yang peduli?" sela Cian Tong-lai dengan gemas sambil menarik lengan baju Bwe Kim-soat. "Jika dia tidak tahu diri, marilah kita pergi saja."

Tapi Bwe Kim-soat tidak menghiraukannya. Katanya pula kepada Man-jing, "Adik cilik, kau gendong seorang sakit, tenagamu lemah, di sekitar sini juga sukar mencari tempat pondokan, hanya seorang diri pula. Sebenarnya ke mana kau mau pergi?"

Man-jing menjadi ragu juga. Tubuh sendiri memang lemah, tidak membawa biaya pula, apalagi tidak kelihatan rumah penduduk di sekitar situ. Jika tidak mendapat pertolongan, sungguh keadaan Lamkiong Peng memang menguatirkan. Sejenak kemudian barulah ia menjawab, "Habis bagaimana?"

"Marilah kita meneruskan perjalanan bersama dan menyembuhkan penyakitnya dahulu," kata Kim-soat.

"Kau mau pergi bersama mereka?" seru Cian Tong-lai. "Bukankah kita akan pergi bersama?"

"Berdasarkan apa kau ikut campur urusanku?” jengek Kim-soat mendadak.

"Bukankah... segala apa sudah kuberi-tahukan padamu, mengapa kau...?"

"Semua itu kau lakukan dengan suka-rela. Apakah pernah kujanjikan sesuatu kepadamu?" jawab Kim-soat dengan ketus.

Cian Tong-lai melenggong. Mendadak ia berteriak, "Tapi... tapi engkau tak dapat pergi... Jangan tinggalkan aku....” Segera ia menubruk maju dan bermaksud merangkul Bwe Kim-soat.

Sambil bekernyit kening Kim-soat membentak, "Lelaki hina!" Kontan sebelah tangannya menghantam.

Cian Tong-lai sama sekali tidak mengelak dan mengelak sehingga....

“Plaak!” pukulan itu tepat jatuh mengenai dadanya dan Cian Tong-lai mencelat jauh ke sana, lalu roboh dan pingsan seketika.

Kim-soat mencibir. “Marilah kita pergi!” katanya kepada Man-jing.

Man-jing hanya menoleh sekejap, akhirnya ikut pergi tanpa bicara. Diam-diam Man-jing membatin, "Pantas setiap orang bilang dia berdarah dingin, tingkah lakunya memang keji dan dingin. Tapi... terhadap Lamkiong Peng tampaknya dia tidak dingin."

Dalam pada itu terdengar Bwe Kim-soat lagi berkata, "Ada sementara lelaki di dunia ini memang menggemaskan. Asalkan kau beri sedikit kebaikan, dia lantas ingin menarik keuntungan darimu. Untung dia bertemu diriku sekarang. Bila-mana terjadi belasan tahun yang lalu, hm, jiwa orang she Cian itu tentu sudah melayang."

********************

Lamkiong Peng berbaring di tempat tidur dan tampak bergulang-guling dengan keringat memenuhi dahinya. Ia sedang bermimpi buruk, seperti beratus senjata lagi menghujam kepalanya, seperti api hendak membakarnya, serupa setan iblis yang tak terhitung jumlahnya hendak mengerubutnya.

Mendadak ia berteriak dan bangun. Waktu ia membuka mata, mana ada api, senjata dan setan segala. Di bawah cahaya lampu hanya kelihatan dua raut wajah cantik molek yang sedang memandangnya dengan cemas. Setelah menenangkan diri, ia pandang Bwe Kim-soat dengan tercengang.

"Engkau... engkau berada di sini?" berkata Lamkiong Peng.

Kim-soat tersenyum manis, sebaliknya Man-jing menunduk sedih. Perlahan ia meninggalkan kamar Lamkiong Peng kembali ke kamar sendiri. Sungguh kusut pikiran Man-jing, sampai jauh malam ia tidak dapat tidur.

"Yang dicintainya ialah Bwe Kim-soat, untuk apa aku bikin susah diri sendiri dengan menyelipkan diri di tengah mereka?" pikir Yap Man-jing.

Setelah dipkir lagi pulang pergi, akhirnya ia menghela napas. Ia membuka daun jendela dan bergumam, "Aku pergi saja, semoga kalian hidup bahagia selamanya dan aku pun....” Tak tertahan menitiklah air matanya.

Ia tidak tahu bahwa pada saat yang sama Bwe Kim-soat juga sedang termenung-menung di kamarnya. Ia pun sedang memikirkan nasibnya dan berkeluh kesah, "Wahai Bwe Kim-soat, mengapa engkau menjadi lupa daratan seperti ini? Masa kau lupa pada usiamu yang sudah tidak muda lagi? Dirimu pun berlumuran dosa, mana setimpal dirimu baginya? Dia sudah sembuh, dia juga sudah didampingi seorang gadis jelita yang pantas baginya, untuk apa lagi kau tinggal di sini?"

Ia menghela napas dan berbangkit, gumamnya, "Biarlah aku pergi saja. Kalau aku tidak pergi sekarang, bisa jadi sebentar lagi aku tidak sanggup pergi."

Dengan sedih ia membuka daun jendela. Dengan perasaan berat ia memandang ke arah kamar Lamkiong Peng. "Aku pergi saja, jangan kau sesalkan diriku, semua ini demi kebaikanmu. Padahal... masa aku tidak ingin mendampingimu selamanya?" gumamnya perlahan. Tanpa terasa air matanya berderai. Dengan mengeraskan hati akhirnya ia melompat ke luar jendela dan meninggalkan kamar hotel.

Tidak ada yang tahu, hampir pada saat yang sama di kamarnya Lamkiong Peng juga sedang bingung memikirkan kedua nona itu. Selama dua tiga hari ini ia berbaring sakit di tempat tidur. Ia sedih akan mala-petaka yang menimpa keluarganya, juga murung bagi persoalan diri sendiri yang terlibat di tengah cinta kasih dua nona itu.

Ia pikir keluarganya sedang menghadapi ujian berat, hari depannya sukar diramalkan. Betapa pun ia tidak dapat membikin susah kedua nona itu. Akhirnya ia pun mengambil keputusan akan tinggal pergi saja demi kebahagiaan kedua nona itu. Ia ingin pulang dulu ke Kanglam untuk menjenguk orang-tua dan mencari tahu, sesungguhnya apa yang terjadi?

********************

Beberapa hari kemudian, di suatu malam yang pekat dengan hujan angin, sebuah pintu gapura megah berdiri tegak dalam kegelapan malam. Di balik gapura itu adalah jalan yang panjang berliku diapit oleh pepohonan yang bergoyang tertiup angin. Guntur menggelegar, cahaya kilat berkelebat, sesosok bayangan orang tampak merandek dan agak ragu untuk meneruskan langkahnya.

Sekujur badannya basah kuyup, bajunya tak teratur, rambutnya semerawut dan di wajahnya ada cucuran air, entah air hujan atau air keringat. Kening orang itu bekernyit, ia menyapu pandang sekelilingnya dengan sinar matanya yang tajam. Nyata dia inilah Lamkiong Peng!

Malam ini juga dia sudah pulang sampai di rumah dan disambut oleh hujan angin yang keras. Kepulangannya membawa tanda-tanya yang belum terjawab, yang membuatnya gelisah dan cemas. Sepanjang jalan dari utara sampai ke selatan, segenap cabang perusahaan keluarga Lamkiong ternyata sudah ditutup seluruhnya. Hal ini membuatnya bingung dan juga kapiran sepanjang perjalanan.

Maklumlah, selama ini ke mana pun dia pergi tidak pernah kekurangan sesuatu. Tapi sekarang dia tidak punya segalanya, dia tidak pernah membawa sangu, untuk makan saja harus menjual baju. Syukurlah sekarang dia sudah tiba di rumah sendiri. Ia membusungkan dada dan mengusap air yang membasahi mukanya, ia melangkah lagi ke depan.

Mendadak dari balik pohon di tepi jalan itu ada orang yang membentak, "Berhenti!"

Di bawah sinar kilat dua sosok bayangan melompat ke luar dari kanan kiri jalan. Lamkiong Peng berhenti dengan melengak. Dilihatnya dua lelaki berbaju hitam dan memakai kedok, yang seorang bersenjata pedang dan yang lain memakai sepasang senjata potlot baja. Keduanya menghadang di depan dan menegur, "Sahabat berani menerobos ke dalam Lamkiong-san-ceng di tengah malam buta begini, apakah engkau sudah tidak sayang lagi pada nyawamu?"

Segera orang yang berpedang itu menusuk leher Lamkiong Peng. Serangannya cepat, jurusnya lihai, sekali serang segera hendak merenggut nyawa orang.

Lamkiong Peng melenggong. Cepat ia berkelit sambil membentak, "Berhenti dulu! Apakah kalian tidak kenal siapa diriku?!"

Orang yang bersenjata potlot baja segera menotok dua hiat-to di dada Lamkiong Peng sambil membentak, "Tidak peduli siapa pun, selama tiga puluh hari ini dilarang masuk ke sini."

Lamkiong Peng melompat mundur dan berseru pula, "Berhenti dulu, aku inilah Lamkiong Peng!"

Orang itu merandek sejenak. Mendadak ia tertawa keras dan berkata, "Haha, Lamkiong Peng, dari mana datangnya Lamkiong Peng sebanyak ini? Termasuk kau sudah ada empat orang memalsukan nama Lamkiong Peng untuk masuk ke sini!" Sembari bicara pedangnya menyerang pula tiga kali sekaligus.

Mau tak mau gusar juga Lamkiong Peng. "Jika kalian tidak percaya, terpaksa aku harus menerobos secara paksa!" teriaknya. Sekali menghantam ia desak mundur orang berpedang itu.

"Saat ini Lamkiong-san-ceng sudah berada di bawah lindungan tujuh belas tokoh terkemuka, biar pun setinggi langit kepandaianmu juga jangan harap akan memasuki perkampungan ini!" teriak orang bersenjata potlot.

Berbareng selesai mengucapkan kata terakhir, potlot bajanya lantas menotok. Serangan orang ini sangat lihai, setiap tempat yang di arah selalu bagian yang mematikan.

Tentu saja hati Lamkiong Peng penuh diliputi tanda-tanya, sungguh kalau bisa ia ingin terbang masuk untuk menemui ayahnya. Tapi apa daya, kedua orang ini ngotot merintanginya dan sukar memberi penjelasan. Menghadapi kerubutan mereka, seketika Lamkiong Peng tidak mampu melepaskan diri.

Terdengar angin berkesiur, kembali tiga sosok bayangan melayang tiba.

Sekilas lirik lelaki berpedang lantas berseru, "Ciok-loji, kita kedatangan musuh lain lagi, lekas kau papaki mereka!"

Lelaki berpotlot yang disebut Ciok-loji itu berkerut kening. "Ketiga pendatang ini tampaknya tidak lemah, lekas kau lepaskan isyarat tanda bahaya saja," katanya.

"Hm, jika malam ini kita tidak mampu mempertahankan pos penjagaan kita ini, selanjutnya apakah kita ada muka untuk menemui orang?" jengek lelaki berpedang. Mendadak tangannya bergerak, tiga larik sinar perak langsung menyambar ketiga sosok bayangan yang melayang tiba di bawah hujan itu.

Ciok-loji tertegun sejenak, segera ia pun menubruk ke sana. Dilihatnya seorang di antaranya mengayun tangannya, kontan ketiga larik sinar perak tergetar balik. Cepat Ciok-loji memukul. Angin pukulan menyambar, ketiga senjata rahasia itu dapat dipukulnya jatuh.

"Siapa sahabat yang menerobos Lamkiong-san-ceng di tengah malam buta ini? Lekas mundur kembali!" bentaknya.

Dilihatnya ketiga sosok bayangan itu berseragam sama, baju hitam dan pakai kedok. Kedua orang di kanan kiri bersenjata golok, yang di tengah bertangan kosong, di bawah kain kedoknya kelihatan jenggotnya yang putih. Ketiga orang itu mendengus, serentak mereka mengerubut maju. Kedua potlot baja Ciok-loji bekerja cepat, serentak ia totok dada ketiga penyatron.

Si kakek berjenggot memberi tanda berhenti kepada kawannya, lalu berseru, "Apakah sahabat yang menghadang ini kedua saudara keluarga Ciok dari Tiam-jong-pai?"

"Kalau betul mau apa?!" jawab Ciok-loji bengis. "Lekas mundur! Kalau tidak, jangan menyesal jika kami tidak sungkan lagi."

"Hm, aku justru ingin coba-coba kepandaian jago Tiam-jong,” jengek Si kakek.

Kedua orang berkedok dan bergolook itu segera menyurut mundur dan si kakek pun perang tanding dengan Ciok-loji. Senjata si kakek berkedok ini adalah cambuk panjang berwarna hitam. Hanya sekali dua serangan saja Ciok-loji sudah terkurung di tengah bayangan cambuk yang dasyat.

"Yim Ong-hong!" seru Ciok-loji terkesiap.

"Betul," kata si kakek berkedok dengan tertawa. "Hahaha, tak tersangka setelah mengasingkan diri dua puluh tahun masih ada kawan Bulim yang kenal diriku."

Lelaki berpedang itu juga terperanjat. Ia sudah kerepotan melawan Lamkiong Peng, kini
diketahui pula si kakek berkedok ini adalah bandit termasyhur pada dua puluh tahun yang lalu, tentu saja ia tambah kuatir. Segera ia merogoh saku dan dilemparkan ke udara. Selarik cahaya meluncur dan meletus di atas, seketika tersebarkan bunga api bagaikan hujan.

Lamkiong Peng juga curiga karena kedua orang itu merintanginya mati-matian. Apabila benar mereka melindungi perkampungannya, mengapa jejak mereka dirahasiakan dan main sembunyi? Jelas karena asal-usul mereka tidak boleh diketahui orang lain. Jika orang berkedok itu benar Yim Ong-hong yang sudah menghilang dua puluh tahun ini, apa maksud tujuan kedatangannya ini?

Dalam pada itu terdengar Ciok-loji lagi berseru, "Yim Ong-hong, kau berani melanggar sumpahmu sendiri, dan kini mengaduk lagi di dunia kangouw, apakah kau tidak takut Hong-tun-sam-yu akan mencarimu?"

"Hahaha, sudah belasan tahun jejak Hong-tun-sam-yu tidak kelihatan di dunia kangouw, mungkin ketiga tua bangka itu sudah mampus semua, maka sumpahku dengan sendirinya juga batal," jawab Yim Ong-hong dengan tertawa. "Baru-baru ini kudengar di sini ada berjuta tahil perak, tanpa terasa hatiku tergelitik. Anehnya Tiam-jong-siang-kiat yang termasyhur mengapa sudi menjadi penjaga rumah orang. Apakah barang kali kalian juga mengincar harta berjuta tahil ini?"

"Hm, jika kau pun mengincar harta benda yang berada di sini, sama halnya kau lagi mimpi," jengek Ciok-loji. Ia terus berjaga dengan rapat. Meski cambuk Yim Ong-hong menyerang dengan gencar, namun belum juga mampu merobohkan lawan.

"Menyingkir!" bentak Lamkiong Peng mendadak. Sekali hantam ia desak mundur penghadangnya.

Tentu saja kedua Ciok bersaudara tercengang. Juga Yim Ong-hong melengak.

"He, anak muda, apa maksudmu ini?! Jika perkampungan ini berhasil diserbu, tentu engkau akan mendapat bagian yang menarik. Lekas bereskan Ciok-lotoa dulu!" teriak Yim Ong-hong.

Sesudah menyebarkan bunga api tadi dan sejauh ini belum kelihatan datang bala bantuan, diam-diam Ciok-lotoa yang berpedang itu menjadi gelisah. Cepat ia menanggapi ucapan Yim Ong-hong, "Jangan percaya ocehannya, sahabat muda. Orang ini adalah bandit yang terkenal kejam, caranya merampok terkenal main sapu bersih tanpa kenal ampun, mana mungkin dia membagi bagian rezeki padamu? Jika kau bantu kami menggempurnya mundur, mungkin engkau akan mendapat ongkos yang layak."

Diam-diam Lamkiong Peng mendongkol. Sudah dirinya disangka sebagai penjahat, sekarang harta benda keluarganya menjadi incaran pula. Meski dia meragukan tingkah laku kedua Ciok bersaudara, tapi orang memang mempertahankan keselamatan perkampungannya, jelas kawan dan bukan lawan. Sebaliknya komplotan Yim Ong-hong ini jelas adalah penyatron yang mengincar harta keluarganya.

Segera ia melancarkan pukulan dasyat sehingga cambuk Yim Ong-hong sama sekali tidak berdaya menembus pertahanannya. Tentu saja Yim Ong-hong terkejut oleh ketangkasan anak muda itu, hanya dengan bertangan kosong ternyata mampu melawan cambuknya yang lihai ini. Sementara itu kedua Ciok bersaudara sempat mengalihkan perhatian untuk melayani kedua orang berkedok yang bergolok itu.

"Hm, rupanya kedua saudara Li dari Thay-hing-san," jengek Ciok-loji.

Salah seorang berbaju hitam dan berkedok itu balas mendengus. "Hm, tajam amat mata Ciok-loji!" Mendadak ia menarik kedoknya dan bergelak, "Hahaha! Baiklah, biar kuperlihatkan wajah asli tuan besar Li!"

Sang kakak dari kedua Li bersaudara ini bernama Li Thi-hai berjuluk Hoa-to atau Golok Kembangan. Adiknya Soat-to Li Hui-hai, si Golok Salju juga membuang kain kedoknya sambil berteriak, "Nah, setelah kalian melihat dengan jelas wajah kami, bolehlah kalian mengadu kepada raja akhirat!"

Kedua Li bersaudara ini sama berkepala besar dan bermata melotot, bercambang dengan perawakan tinggi besar. Namun golok mereka adalah senjata ringan dan gesit. Keempat golok segera bekerja sama dengan rapat, cahaya perak berhamburan serupa salju, serentak Ciok-loji berdua terserang dengan gencar. Tanpa bicara kedua Ciok bersaudara melayani lawan dengan sama tangkasnya.

Diam-diam Lamkiong Peng membatin, "Sekaligus tokoh Bulim kelas tinggi ini membanjiri Lamkiong-san-ceng, jangan-jangan ayah telah mengumpulkan harta benda hasil penjualan berbagai cabang perusahaan ke sini. Entah apa maksud tujuan ayah dengan tindakannya ini?"

Angin meniup semakin kencang, hujan pun tambah lebat. Di kegelapan hutan sana mendadak meluncur pula tiga larik cahaya terang, lalu bunga api bertebaran di udara, menyusul di sekeliling bergema suara teriakan dan bentakan diseling suara nyaring beradunya senjata. Seketika air muka semua orang sama berubah.

“Tampaknya sebelah sana kedatangan penyatron lagi," desis Ciok-loji kepada saudaranya.

"Antara Yim Ong-hong dan Cin Luan-ih biasanya ada satu tentu ada dua. Selama ini keduanya hampir tidak pernah berpisah. Jika sekarang Yim Ong-hong berada di sini, dengan sendirinya Cian Luan-ih juga sudah ikut datang," kata Ciok-lotoa.

Yim Ong-hong terbahak-bahak. “Biar kukatakan terus terang. Segenap kawan kalangan hitam dari ketiga belas propinsi sudah datang semua ke Lamkiong-san-ceng ini, apa kalian mesti jual nyawa percuma bagi Lamkiong Siang-ju?" katanya. Habis bicara cambuknya bekerja terlebih kencang, ia menyabet kian kemari sehingga kedua Ciok bersaudara agak kerepotan.

Lamkiong Peng tambah gelisah. Ia berpikir, “Ayah tidak mahir ilmu silat. Jika kawanan penyatron ini sampai berhasil menyerbu ke dalam rumah, entah bagaimana akibatnya nanti."

Karena cemasnya, mendadak ia bersuit dan melompat tinggi ke atas. Kedua tangannya meraih, secepat klat ujung cambuk Yim Ong-hong terpegang olehnya. Dengan sendirinya Yim Ong-hong menahan cambuknya dengan kuat.

"Gaya Sin-liong, murid Ci-hau!" seru Yim Ong-hong kaget.

Kedua Ciok bersaudara saling pandang sekejap sambil berucap, "Ternyata benar Lamkiong Peng adanya!"

Dalam pada itu Lamkiong Peng juga telah melayang turun ke tanah dan menarik sekuatnya sehingga cambuk Yim Ong-hong terbetot lurus. Kedua orang saling tarik dengan kuat, keempat kaki mereka sampai amblas ke dalam tanah.

DI tengah hujan angin yang lebat, suara suitan semakin ramai dan juga tambah dekat. Di udara muncul bunga api berhamburan. Pada saat itulah sekonyong-konyong sesosok bayangan orang mucul dari dalam hutan. Dengan dua tiga kali lompatan, langsung bayangan ini menerjang ke sini.

"Aha, bagus!" seru Ciok-lotoa dengan girang.

"Tiam-jong-yan juga datang?!" seru Yim Ong-hong kaget sehingga tenaganya mengendur.

Pada saat yang sama Lamkiong Peng terus membentak sambil membetot sekuatnya sehingga cambuk lawan kena dirampasnya.

Bayangan yang menerjang tiba itu, Tiam-jong-yan, si Walet dari Tiam-jong mendengus, "Hm, Yim Ong-hong ternyata benar berada di sini. Dan siapakah sahabat ini?"

"Dia inilah Lamkiong Peng," kata Ciok-loji.

"Apa betul?" Tiam-jong-yan menegas.

"Gaya Sin-liong, tidak mungkin salah!" ujar Ciok-loji.

Diam-diam Lamkiong Peng merasa lega karena akhirnya identitas dirinya dapat dikenali mereka. Ia memberi hormat dan berkata, "Atas kebaikan hadirin yang sudi membela Lamkiong-san-ceng, di sini Lamkiong Peng mengucapkan terima-kasih. Harap kalian bertahan sementara di sini, biar kujenguk dulu ayahku."

Selagi dia hendak tinggal pergi, siapa tahu bayangan orang lantas berkelebat, tahu-tahu Tiam-jong-yan menghadang lagi di depannya.

Lamkiong Peng tercengang. "Apakah anda belum percaya bahwa aku inilah Lamkiong Peng?"

Dengan dingin Tiam-jong-yan menjawab, "Justru lantaran anda Lamkiong Peng, maka terlebih tidak boleh masuk ke sana."

"Meng... mengapa begitu?" tanya Lamkiong Peng dengan tercengang.

"Tiada gunanya banyak bertanya, lekas mundur ke sana!" seru Tiam-jong-yan. Sebelah tangannya lantas menolak ke depan.

Tentu saja Lamkiong Peng bertambah curiga. Sambil mengelak, mendadak tangannya terasa mengencang, kiranya ujung cambuk sebelah sana kena di pegang lagi oleh Yim Ong-hong. Sekali bentak segera Yim Ong-hong menarik cambuk sekuatnya, menyusul lantas diputar dan menyabet kepala Lamkiong Peng. Malahan Tiam-jong-yan juga melancarkan pukulan maut ke dada anak muda itu.

Kedua orang ini terhitung tokoh kelas tinggi, serangannya sangat lihai. Cepat Lamkiong Peng mengelak.

Yim Ong-hong tergelak. "Hahaha! Kukira Tiam-jong-pai kalian juga tidak bermaksud baik...."

Belum lenyap suaranya, kedua telapak tangan Tiam-jong-yan menghantam sekaligus, yang kiri memukul Lamkiong Peng, yang kanan menghantam Yim Ong-hong sekuatnya. Terpaksa Yim Ong-hong menarik kembali serangannya kepada Lamkiong Peng, cambuknya berganti arah di tengah jalan dan menyabet iga Tiam-jong-yan.

Kesempatan itu digunakan Oleh Lamkiong Peng menarik diri, dengan cepat ia hendak melompat ke arah perkampungan. Tak terduga Yim Ong-hong dan Tiam-jong-yan kembali merintanginya.

"Tiam-jong-yan!" bentak Lamkiong Peng. "Percuma engkau dikenal sebagai tokoh perguruan ternama. Apakah sekarang kau pun menjadi bandit yang tamak harta?!"

"Hm, siapa yang menghendaki hartamu?" jengek Tiam-jong-yan.

"Jika begitu mengapa kau ganggu rezeki kami?" tukas Yim Ong-hong.

"Dan mengapa kau pun merintangi jalanku?!" bentak Lamkiong Peng murka.

Muka Tiam-jong-yan tampak masam. Ia tidak menjawab, tapi serangannya tambah dasyat.

Di sebelah sana kedua Ciok bersaudara yang menandingi kedua Li bersaudara tampak sudah mulai unggul. Sedangkan suara suitan dan bentakan di tengah hutan sana terdengar semakin mendekat, malahan sering diselingi suara jeritan ngeri, jelas ada orang terluka dan binasa. Hanya di perkampungan yang terletak di kedalaman hutan sana tetap kelam tanpa terdengar sesuatu suara.

Sekonyong-konyong terdengar orang menjerit di samping. Permainan golok Li Hui-hai menjadi kacau karena barusan pedang Ciok-loji telah menusuk bahu kirinya. Darah muncrat membasahi baju Ciok-loji.

Li Thi-hai terkejut. "He, jite, apakah parah lukamu?" serunya bertanya.

Li Hui-hai menggertak gigi. Ia menerjang maju lagi, serangannya tambah kalap. Mendadak kakinya menendang sehingga sebuah potlot baja Ciok-lotoa terlepas dari pegangan. Li Thi-hai meraung sambil menebas sehingga lengan kiri Ciok-lotoa terluka panjang, sedangkan pedang Ciok-loji juga membalik dan melukai lengan kanan Li Thi-hai. Dalam sekejap keempat orang sama terluka dan berlumuran darah, namun semuanya pantang mundur, mereka tetap bertempur dengan sengit.

"Hm, jika kalian bertiga bukan tamak terhadap harta, untuk apa kalian mengadu jiwa bagi Lamkiong Siang-ju?" bentak Yim Ong-hong.

"Dan bila kalian benar membela Lamkiong-san-ceng kami, mengapa kalian merintangi diriku ke sana?" Lamkiong Peng juga berteriak.

Namun Tiam-jong-yan dan kedua Ciok bersaudara tetap bertempur tanpa bicara. Air hujan mengguyur air darah dan menggenangi jalan yang becek. Mendadak terdengar suara bentakan dan jeritan, lalu sesosok bayangan terguling ke luar dari kegelapan hutan sana dengan luka di dada. Sekilas pandang segera Tiam-jong-yan menendang sehingga orang itu terpental.

"Wah, celaka! Si Harimau Gila Tio Kang terjungkal!" teriak Li Thi-hai.

"Hm, jika tidak lekas mundur, tiada satu pun di antara kalian dapat pergi dengan hidup," jengek Ciok-loji.

Belum lenyap suaranya, kembali seorang bayangan menerjang ke luar dari kegelapan hutan sambil menjerit. Langsung ia menerjang ke depan Li Thi-hai. Pedang yang dipegangnya lantas menebas, tapi ia sendiri keburu menyemburkan darah segar, matanya mendelik dan segera roboh terjungkal. Agaknya orang ini binasa akibat telah terkena pukulan yang kuat.

"Celaka, Go-sute terbunuh!" teriak Ciok-lotoa.

Selagi ia hendak memeriksa kawannya, mendadak dua kali tebasan golok Li Hui-hai membuatnya melompat mundur.

"Hm, sahabat Hek-to ketiga belas propinsi sudah berkumpul di sini, Tiam-jong-pai kalian hari ini mungkin akan tertumpas seluruhnya di sini," jengek Li Thi-hai.

"Kentut busuk!" bentak Ciok-loji murka, sekaligus ia melancarkan lima kali tusukan.

Tergerak hati Lamkiong Peng. Ia tidak mau terlibat lebih lama lagi dalam pertempuran yang tak karuan juntrungannya ini. Mendadak ia mendesak mundur Tiam-jong-yan, kebetulan waktu itu cambuk Yim Ong-hong juga menyabet. Selagi Tiam-jong-yan kerepotan menghindari serangan dua jurusan, kesempatan ini segera digunakan Lamkiong Peng untuk melompat ke arah perkampungan.

Baru saja tubuh Lamkiong Peng meluncur ke depan, Ciok-lotoa membentak. Sebelah potlot bajanya disambitkan. Ketika mendengar desing angin tajam menyambar dari belakang, tanpa menoleh Lamkiong Peng melompat sekuatnya ke depan sambil mengibaskan sebelah tangan ke belakang sehingga potlot baja lawan jadi ketinggalan dan jatuh di tanah.

Li Hui-hai menjadi kalap. Selagi Ciok-loji menebas dengan pedangnya, ia tidak lagi menghindar, sebaliknya golok langsung menebas pundak Ciok-lotoa hingga darah muncrat. Sambil meraung kesakitan, Ciok-lotoa menubruk maju, kontan kedua golok Li Hui-hai menikam sehingga menembus perut Ciok-lotoa. Tapi kedua tangan Ciok-lotoa yang kuat juga telah mencekik leher Li Hui-hai. Sebelum Li Hui-hai sempat meronta, tahu-tahu matanya mendelik dan tulang kerongkongannya tercekik patah, darah mengucur dari mulutnya dan ia pun binasa seketika.

Alangkah kejut dan gusar Ciok-loji. Sambil meraung kalap pedangnya juga menusuk iga Li Hui-hai hingga menembus ke iga sebelahnya. Tentu saja Li Thi-hai tidak tinggal diam, goloknya juga membacok sehingga lengan kanan Ciok-loji terpenggal.

"Serahkan nyawamu!" teriak Li Thi-hai parau.

Belum lenyap suaranya, pukulan Ciok-loji juga tepat mengenai dada Li Thi-hai. Kontan Li Thi-hai tumpah darah dan golok jatuh ke tanah. Lengan kanan Ciok-loji pun buntung sebatas pangkal pundak, namun dia tidak merasakan sakit seperti lengan kutung itu bukan miliknya, menyusul kakinya menendang pula ke selangkangan Li Thi-hai. Terdengarlah jeritan Li Thi-hai. Tubuhnya mencelat dan jatuh ke dalam hutan, jelas nyawa pun telah amblas. Kedua tokoh kalangan hitam semuanya binasa dalam sekejap.

Ciok-loji sempoyongan, tersembul senyuman pedih pada ujung mulutnya. "Lotoa, sudah kubalaskan sakit hatimu...," gumamnya. Belum lanjut ucapannya ia pun jatuh kelenger.

Karena tersabet oleh cambuk Yim Ong-hong, Tiam-jong-yan juga kesakitan. Sekilas pandang dilihatnya kedua Ciok bersaudara telah sama menggeletak, tentu saja ia terkesiap. Diam-diam ia berkeluh, "Ai, habislah semuanya!"

Waktu ia memandang ke sana, dilihatnya Yim Ong-hong lagi berjongkok kesakitan kena
tendangannya tadi. "Kau bilang sahabat kalangan hitam ketiga belas propinsi hampir semuanya berkumpul di sini. Apakah benar tujuan kalian adalah harta benda keluarga Lamkiong ini?!" tanyanya dengan nada membentak.

Meski kesakitan, Yim Ong-hong tetap tenang. "Habis untuk apa para kawan berkumpul di sini jika bukan lantaran ada rezeki?" jawabnya.

Tiba-tiba timbul akal keji Tiam-jong-yan. "Setelah mendapatkan bagian rezeki itu, apakah kalian segera angkat kaki dari sini?" tanyanya.

"Sesudah berhasil, tentu saja kami akan pergi. Untuk apa berdiam di sini? Hah, orang pintar sebagai Tiam-jong-yan mengapa mengajukan pertanyaan begini?" sahut Yim Ong-hong tertawa.

Mendadak Tiam-jong-yan alias Kongsun Yan meluncurkan tiga larik sinar lagi ke udara, terdengar letusan disertai bunga api yang bertebaran memenuhi angkasa. Tergerak hati Yim Ong-hong. Ia tahu orang sedang memanggil kawannya, segera ia pun bersuit memberi tanda. Dalam sekejap terdengarlah suara teriakan di dalam hutan yang menyerukan berhenti bertempur.

Segera sesosok bayangan tingggi besar melompat ke luar dari kegelapan hutan sana sambil berseru, "Bagaimana, Yim-lotoa?"

Orang ini berambut ubanan semua, suaranya lantang, namun keadaannya kelihatan runyam. Bajunya tak teratur berlepotan air darah dan air hujan, ia pun bersenjata cambuk. Dia inilah Cin Luan-ih, salah seorang dari Hong-ih-siang-pian, Dua Cambuk Angin dan Hujan, dua tokoh bandit yang pernah mengguncangkan dunia kangouw.

"Tiam-jong-yan lepas tangan! " jawab Yim Ong-hong.

Cin Luan-ih tertawa puas, tapi ia pun terkejut ketika melihat mayat kedua Li bersaudara.

Sementara itu bayangan orang berbondong-bondong melayang ke luar pula dari dalam hutan, sebagian besar melompat ke belakang Hong-ih-siang-pian. Sebagian kecil sisanya, yaitu empat orang Tojin dan tiga pemuda berpedang, mendekati Kongsun Yan. Terkesiap juga Kongsun Yan melihat sisa kawannya itu, tidak terkecuali kawannya juga kaget melihat keadaan medan tempur.

Salah seorang Tojin berjenggot berseru, "Hah, Ciok-toako dan Ciok-jiko...!"

Kiranya di antara ketujuh belas jago Tiam-jong-pai yang datang ini, ada sembilan orang yang terbunuh.

“Sudahlah...," ucap Kongsun Yan dengan menghela napas.

"Sudahlah bagaimana? Apa maksudmu?” tanya si Tojin jenggot hitam yang bergelar Thian-go Tojin.

"Biarkan mereka lewat ke sana," ucap Kongsun Yan perlahan.

"Jiko, mana boleh...?"

Belum lagi Thian-go bicara lebih lanjut, mendadak Kongsun Yan memberi tanda, "Jangan banyak bicara, biarkan mereka lewat!"

Thian-go Tojin mengepal erat kedua tinjunya, suatu tanda tidak rela atas kebijaksanaan sang Suheng. Serentak belasan orang sama melayang ke arah perkampungan sana.

Kongsun Yan lantas mendesis, "Agaknya Samte tidak tahu maksudku. Hari ini kawanan penyatron yang datang tidaklah sedikit. Untuk menghemat tenaga, apa salahnya kita biarkan mereka langsung menuju ke sana, tentu mereka akan disambut golongan lain yang sudah menunggu di sana. Kita boleh tunggu saja di sini, apakah mungkin kita akan membiarkan harta benda diboyong mereka begitu saja?"

Thian-go melenggong. Ia simpan kembali pedangnya dan mengangguk. “Ya, perhitungan Jiko memang harus dipuji," katanya.

Kongsun Yan memandang para anak murid Tiam-jong yang hadir. Ia berucap pula dengan menyesal, "Kalian tahu, demi memenuhi janji dengan kaum iblis pada berpuluh tahun yang lalu oleh leluhur kita, bila-mana sekarang kita dapat membendung musuh dan mempertahankan diri sudahlah lumayan. Yang kuharap asalkan harta benda itu tidak sampai diangkut pergi, untuk itu biar pun jiwaku harus melayang juga aku rela. Ciangbun Suheng sudah.... Ai, selanjutnya hanya Samsute saja yang harus memikul tugas mengembangkan Tiam-jong-pai kita. "

Thian-go Tojin menunduk terharu. Anak murid Tiam-jong-pai yang lain pun sama prihatin menghadapi tugas selanjutnya yang berat. Angin mendesir, hujan masih turun dengan lebatnya membuyarkan darah yang memenuhi tanah di situ.

Malam tambah larut, di bawah hujan Lamkiong Peng terus berlari dengan cepat. Hanya sebentar saja bayangan rumah megah di depan sudah kelihatan. Terbangkit semangat Lamkiong Peng, berbagai tanda-tanya dalam benaknya sejenak lagi akan menjadi jelas. Namun hatinya tetap diliputi ketegangan.

Secepat terbang Lamkiong Peng melompati undak-undakan rumah yang panjangnya lebih dari dua puluh tingkat itu. Tempat ini sudah dikenalnya dengan baik sejak kecil. Begitu kaki menyentuh undakan batu yang dingin itu, timbul juga perasaan hangat dalam lubuk hatinya.

Tak terduga pada saat itu juga mendadak dari dalam rumah bergema suara bentakan perlahan. "Kembali!"

Tiga bintik perak serentak menyambar tiba, dua titik perak di depan, satu titik di lagi belakang. Akan tetapi ketika hampir mendekati sasaran, titik perak terakhir itu mendadak meluncur terlebih cepat dan mendahului yang lain.

Karuan Lamkiong Peng terkejut. Cepat ia mengegos, terdengar suara desing tajam menyambar lewat di samping telinga, berbareng itu ia melompat ke atas sehingga kedua titik senjata rahasia yang lain pun Iuput mengenainya. Waktu ia hinggap kembali di lantai, suasana dalam rumah lantas sunyi senyap seperti tidak pernah terjadi sesuatu.

Cemas hati Lamkiong Peng memikirkan kedua orang-tua. Segera ia berteriak, “Siapa yang berada di dalam? Ini Lamkiong Peng sudah pulang!"

Belum Ienyap suaranya, terdengarlah orang berseru di dalam. "Ah, kiranya anak Peng adanya!"

Sesosok bayangan secepat terbang melayang ke luar. Belum lagi Lamkiong Peng sempat menghindar, tahu-tahu bayangan orang sudah memegang pundaknya. Sekuatnya Lamkiong Peng meronta, tapi sukar terlepas.

Sekilas pandang dilihatnya rambut orang semerawut, namun kedua matanya terang dan bersinar welas asih, siapa lagi kalau bukan sang ibu. Sungguh mimpi pun tak terpikir olehnya bahwa sang ibu mempunyai kungfu setinggi itu. Selagi ia melenggong, sang ibu telah me-rangkulnya dengan erat.

“Oh, anakku. Engkau sudah pulang, sungguh sangat kebetulan!" seru sang ibunda.

Kasih sayang ibunda sungguh menghibur hati Lamkiong Peng yang cemas, lapar, lelah dan curiga. Di tengah ruangan besar yang guram itu hanya diterangi sebuah lentera kecil yang hampir padam tertiup angin ketika pintu mendadak terbuka. Waktu Lamkiong Peng masuk ke dalam, tertampaklah berpuluh peti besar tertimbun di tengah ruangan, di atas peti penuh menancap berbagai senjata rahasia.

Pada deretan kursi di sekitar sana duduk bersandar beberapa lelaki kekar yang kelihatan lesu, malahan ada yang kelihatan berlepotan darah. Ada yang napasnya terengah dan sebagian memejamkan mata setengah mengantuk, jelas mereka habis mengalami pertempuran sengit dan terluka.

Di tengah ruangan yang agak runyam ini berdiri pula dengan tenang seorang tua berbaju perlente, jenggotnya kelihatan bergoyang tertiup angin, namun sikapnya tetap tenang dan sinar matanya mencorong.

"Ayah! " seru Lamkiong Peng sambil memburu maju dan berlutut di depan orang tua ini. Dia memang ayah Lamkiong Peng, Lamkiong Siang-ju.

Orang tua ini menghela napas perlahan dan membelai kepala anak kesayangannya, sampai sekian lama tidak sanggup berucap apa pun. Dengan penuh kasih sayang Lamkiong-hujin (nyonya Lamkiong) menggunakan sapu-tangannya untuk mengusap air hujan dan air keringat di kepala Lamkiong Peng.

"Nak selama ini kami tentu telah bikin susah padamu, selanjutnya mungkin engkau akan tambah sengsara lagi," ujar Lamkiong-hujin dengan lembut.

Lamkiong Siang-ju hanya tersenyum getir saja tanpa bersuara.

Melihat wajah sang ayah yang rawan dan muka ibunda yang pucat kurus, keadaan di dalam rumah juga tampak runyam, Lamkiong Peng tahu tentu telah terjadi hal-hal yang luar biasa. Cepat ia bertanya, "Ayah, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa berbagai cabang perusahaan kita telah kau tutup? Tiam-jong-pai yang selamanya tidak ada sangkut-paut apa pun dengan kita mengapa sekarang ikut mengepung perkampungan kita, seperti menjaga, tapi juga kelihatan tidak bermaksud baik terhadap kita. Kecuali itu, Kun-mo-to yang sering terdengar di dunia kangouw tapi tidak pernah terlihat orangnya, mengapa juga memusuhi kita? Ayah, mohon jelaskan semua itu, sungguh anak teramat cemas dan gelisah."

"Sabar dulu, nak. Kenapa kau jadi segopoh ini?" ujar Lamkiong-hujin. "Sebentar ayahmu tentu akan menjelaskan duduknya perkara."

Dengan wajah prihatin Lamkiong Siang-ju melangkah ke luar pintu. Setelah memandang sejenak, mendadak ia membalik tubuh dan memberi hormat sambil berkata, "Maaf, jika terpaksa kuperlakukan kalian secara kurang hormat!"

Selagi semua orang yang duduk lesu itu merasa heran, salah satu ada yang berdiri dan bertanya, "Ada... ada apa...?"

Tahu-tahu bayangan Lamkiong Siang-ju berkelebat dan memenuhi seluruh ruangan. Semua orang yang baru berdiri itu sama roboh terduduk lagi di kursi masing-masing serta tak sadarkan diri, hanya sebentar saja lantas mendengkur dan tertidur dengan nyenyak. Melihat ketangkasan sang ayah yang hanya dalam sekejap saja telah menotok hiat-to tidur semua orang, karuan kejut dan heran sekali Lamkiong Peng.

“Hah, kiranya ayah menguasai kungfu sehebat ini?!” serunya dengan nada kagum.

Kiranya di kolong langit ini tidak ada seorang pun yang tahu bahwa bos keluarga Lamkiong yang kaya raya dan termasyhur ini ternyata seorang ahli silat maha tinggi yang jarang ada bandingannya, sampai putera kesayangan sendiri juga baru sekarang tahu hal ini.

Dalam pada itu Lamkiong Siang-ju telah berdiri menghadapi dinding dan berucap dengan suara berat, "Anak Peng, sejak kecil kau hidup tidak kekurangan apa pun, hanya kau saja permata hati ayah-bunda, apa pun kesalahanmu ayah-bunda tidak pernah marah padamu. Apakah kau tahu sebab apa semua ini?"

Lamkiong Peng tidak dapat melihat wajah sang ayah, tapi dari pundaknya yang bergetar, jelas hati orang tua itu sangat dirangsang emosi. Tentu saja ia gugup.

"Anak... anak tidak tahu. Mungkinkah anak berbuat sesuatu kesalahan?" sahutnya.

"Apa yang kukatakan itu adalah karena menyangkut nasibmu selanjutnya," ucap Lamkiong Siang-ju pula. "Soalnya, untuk seterusnya tak dapat lagi kau hidup enak seperti sebelum ini, mungkin malah akan hidup menderita dan harus berani menghadapi ujian berat."