Amanat Marga (Hu Hua Ling) Jilid 14

Serentak kedua kacung itu berbaring di tanah dan memejamkan mata, seperti tidur benar-benar. Lalu si kakek bertali hitam membalik tubuh, sorot matanya mendadak tertuju ke muka Yim Hong-peng.

Yim Hong-peng cukup cerdik, cepat ia menunduk dan berucap, "Lihai benar kungfu Locianpwe."

"Ah, kan kedua anak kecil ini memang penurut, terhitung kungfu apa?" ujar si kakek ketus. Kedua matanya meram melek dan tidak kelihatan hendak bertindak sesuatu.

Diam-diam Yim Hong-peng membatin, "Sudah lama tersiar di dunia kangouw tentang kawanan elang ini. Katanya Elang Hitam dingin, Elang Hijau sombong, Elang Biru bicara lembut, Elang Merah pemarah, Elang Kuning dan Elang Ungu latah dan nyentrik. Bila melihat Elang Putih, kawanan elang sama tertawa. Tampaknya Elang Hitam ini memang betul dingin luar biasa sesuai namanya Leng Ya-thian (Malam Dingin).”

Dalam pada itu tiba-tiba terlihat asap putih tipis merembes ke luar dari permukaan bumi dan melingkar di sekitar kaki semua orang, kemudian lambat laun asap putih ini buyar ke berbagai penjuru. Seketika mata Yim Hong-peng terbeliak, tersembul semacam senyuman aneh pada ujung mulutnya. Waktu ia memandang ke sana, pertarungan di halaman sana telah bertambah sengit.

Kelihatan Elang Kuning Wi Leng-thian bergerak kian kemari dengan ilmu pukulan yang kuat sehingga si Gelang Terbang Wi Ki tampak kewalahan. Meski ilmu silat Wi Ki tergolong jago kelas satu dunia kangouw, tapi sekarang dia harus memikirkan akibat lebih lanjut dari pertarungan ini, sebab itulah dia tidak berani menyerang sepenuh tenaga sehingga dia lebih banyak bertahan dari-pada menyerang. Dalam sekejap saja belasan jurus sudah berlangsung pula, dia mulai kepayahan

Tiba-tiba Wi Ki membentak, "Sesungguhnya ada urusan apa Boh-liong-ceng dan Jit-eng-tong kalian? Kenapa kalian mendesak orang secara keterlaluan?"

Elang Kuning mendengus, "Hm, Jit-te kami terluka di tempatmu, Lamkiong Peng diuber-uber kalian, apakah semua ini bukan permusuhan?"

Air muka Wi Ki berubah. Cepat ia berputar menghindarkan sekali pukulan, lalu ia balas menghantam untuk mendesak mundur lawan sambil membentak, "Kau bilang Lamkiong Peng? Jadi kedatangan kawanan elang ke wilayah barat sekali ini adalah karena Lamkiong Peng?"

"Betul," jengek Elang Kuning sambil mengelak.

Mendadak sebelah kakinya menendang ke perut lawan, namun telapak tangan Wi Ki lantas memotong ke bawah untuk menebas pergelangan kaki musuh. Meski dia enggan bermusuhan dengan kawanan elang dari Jit-eng-tong, tapi timbul juga rasa gemasnya setelah berulang didesak, gerak serangannya sekarang pun tidak kenal ampun lagi.

Namun Elang Kuning segera berputar lagi ke samping, telapak tangannya lantas menebas iga lawan. Serangan ini sangat cepat dan tampaknya sukar dihindari. Wi Ki menjadi nekat, berbareng ia pun menghantam perut Elang Kuning dengan pukulan dasyat dan sama cepatnya. Tampaknya kedua orang akan sama-sama roboh.

Melihat itu Elang Hitam Leng Ya-thian terkesiap, cepat ia memburu maju. Tapi Yim Hong-peng sudah mendahuluinya melompat maju, kedua tangannya bekerja sekaligus sehingga kedua orang tertolak mundur. Berbareng Elang Kuning Wi leng-thian dan si Gelang Terbang Wi Ki tergetar mundur beberapa langkah. Cara melerai Yim Hong-peng ternyata tidak pilih kasih.

Elang Hitam Leng Ya-thian melenggong dan tidak jadi turun tangan. Mestinya ia sudah siap menghantam punggung Yim Hong-peng, sebab disangkanya cara orang memisah pasti tidak adil. Tapi dia ternyata salah duga, untung dia sempat mengurungkan serangannya. Dilihatnya Yim Hong-peng lagi melirik padanya.

"Cayhe juga cuma menjadi tamu Boh-liong-ceng saja," ujar Yim Hong-peng.

"Oo...?!” Leng ya-thian melengak. Meski air mukanya tetap kaku dingin, namun sikapnya sudah lain.

Sementara itu pertarungan Elang Kuning dan Wi Ki tetap berlangsung dengan sengitnya. Keenam ekor elang yang mengitar di udara tadi kini sudah hinggap di pendopo dengan sayap terpentang dan kelihatan gagah sekali. Giok-he berdiri dekat serambi. Ia coba melirik Elang Putih Pek Kui-thian yang asyik mengurut si Elang Merah.

"Ai, Ban-li-liu-hiang Yim-taihiap ini memang seorang tokoh cerdik. Dia selalu nongkrong di atas pagar dan mengikuti arah angin, selamanya tidak mau rugi," kata Kwe Giok-he gegetun. Meski tidak keras suaranya, tapi cukup jelas didengar Pek Kui-thian.

Tiba-tiba Ciok Tim ikut bicara, "Tak tersangka orang she Cian ini memiliki ilmu silat setinggi ini, padahal usianya juga baru dua puluhan. Tak terduga di dunia persilatan memang ada jalan cepat untuk mencapai tingkatan yang sempurna."

Giok-he tersenyum, ia melirik lagi ke arah Cian Tong-lai. Dilihatnya pemuda yang datang dari puncak tertinggi Kun-lun-san itu sedang berputar di sekitar Elang Biru Na Lok-thian dan Elang Ungu Tong Jit-thian serta Elang Hitam Leng Cin-thian. Sampai sekarang belum nampak dia akan kalah meski satu melawan tiga.

Padahal nama Jit-eng-tong sudah menggetarkan dunia kangouw dan disegani baik kalangan pek-to mau pun golongan hek-to. Kawanan elang sudah tentu mempunyai kungfu andalan yang lain dari-pada yang lain. Meski sejak tujuh tahun yang lalu kawanan elang itu sudah cuci tangan dan mengasingkan diri, segenap cabang perusahaan pengawalan yang tersebar di berbagai propinsi itu serentak dikukut kembali ke kantor pusat Jit-eng-tong di Kang-leng-hu. Sejak itu tidak pernah lagi kelihatan kawanan elang itu berkecimpung di dunia kangouw.

Tapi sekarang ketujuh bersaudara elang ini mendadak muncul di sini. Kepandaian mereka ternyata belum lapuk mengikuti usia mereka yang tambah lanjut, bahkan watak berangasan sebagian elang itu pun tidak berubah.

Begitulah Cian Tong-lai sendirian melawan ketiga ekor elang dan tetap tidak kelihatan bakal kecundang. Bayang pukulannya menyambar kian kemari, sekilas pandang seolah-olah mempunyai berpuluh tangan. Tampaknya dia menghantam Elang Biru, tahu-tahu pukulannya berbalik menuju si Elang Hijau. Dan selagi Elang Biru merasa longgar, tahu-tahu angin pukulan yang dasyat menyambar ke arahnya lagi.

Meski ilmu pukulan sakti Kun-lun-pai sudah lama termasyhur di dunia persilatan, tapi jurus pukulan yang digunakan Cian Tong-lai sekarang jelas bukan ilmu pukulan Kun-lun-pai. Biar pun yang hadir sekarang rata-rata adalah tokoh Bulim terkemuka, namun tiada seorang pun yang kenal asal usul ilmu pukulannya.

Tiba-tiba Giok-he bersuara terkejut perlahan dengan alis bekernyit. Waktu Elang Putih Pek Kui-thian meliriknya dan melihat air muka orang yang terkejut itu, seketika timbul rasa curiganya. Sementara itu diantara pepohonan di dalam halaman entah mulai kapan telah timbul lagi kabut remang putih sehingga cahaya matahari seakan-akan menjadi guram.

Si Elang Kuning Wi Leng-thian dan Wi Ki entah mulai kapan sudah mengendur gerakannya, agaknya terasa tenaga dalam sendiri sudah kewalahan. Di tengah kabut tebal wajah Leng Ya-thian tampak kelam dan dingin. Kedua kacung masih menggeletak diam di tanah. Hanya Yim Hong-peng saja yang kelihatan tenang, seperti sudah mempunyai pendirian terhadap segala kejadian ini.

Sebagai kepala Thian-hong-jit-eng, Pek Kui-thian membawa Elang Merah Ang Hau-thian ke dekat Kwe Giok-he dan minta dijaga untuk sementara, lalu ia menuju ke tengah kalangan untuk mengamat-amati gerak langkah Cian Tong-lai yang aneh itu. Dilihatnya Elang Biru, Elang Ungu dan Elang Hijau bertiga terdesak kacau hingga tidak sanggup balas menyerang lagi. Hanya karena pengalaman mereka dan tenaga dalam yang kuat sehingga masih bertahan sebisanya.

Dengan kening bekernyit Elang Putih Pek Kui-thian berkata kepada Elang Hitam, "Lakte, apakah dapat kau lihat ciri gerak langkah pemuda ini?"

"Langkah anak muda ini memang sangat ajaib, tapi sukar kupecahkan di mana letak ciri
langkahnya yang hebat ini," jawab Elang Hitam Leng Ya-thian.

Mendadak Pek Kui-thian berseru, "Berhenti, Lo-ngo!"

Elang Kuning terkejut. Ia menghantam sekali, terus melompat mundur ke samping Pek Kui-thian dengan napas terengah. Wi Ki juga kelihatan tersengal-sengal.

"Wi-heng," kata Yim Hong-peng. "Tampaknya tidak sedikit kerepotan yang akan kau hadapi nanti."

"Ai, ada apa semua ini? Sungguh aku tidak mengerti!” Wi Ki menghela napas.

Yim Hong-peng mendengus. "Kawanan elang ini datang ke daerah barat sini, tujuan mereka ialah Lamkiong Peng. Apabila Lamkiong Peng menghilang, betapa pun Wi-heng sukar memberi penjelasan dan mungkin Boh-liong-ceng yang harus menanggung akibatnya."

Air muka Wi Ki agak berubah. Ia termenung memandang kabut yang mengambang di udara.

Dalam pada itu terdengar si Elang Putih Pek Kui-thian lagi berkata, "Tampaknya Lo-ji berdua tidak sanggup bertahan lagi, agaknya aku perlu turun tangan sendiri." Segera ia melangkah maju, kedua tangan bergerak, serentak ia menghantam dengan dasyat. Elang Putih kelihatan lemah lembut, tapi sekali bergebrak ternyata sangat tangkas.

Dengan sendirinya Elang Kuning dan Elang Hitam tidak tinggal diam. Segera mereka pun ikut menerjang musuh.

Tapi mendadak Pek Kui-thian memberi tanda sambil membentak, "Pencarkan diri!"

Segera kelima elang lain sama menyingkir, tapi cepat menubruk maju ke arah Cian Tong-lai secara serentak. Dengan kerubutan lima orang, hanya beberapa jurus saja kelihatan Cian Tong-lai mulai kewalahan.

Dengan sinis Yim Hong-peng berolok-olok pula, "Thian-hong-jit-eng memang hebat. Tampaknya beberapa gebrakan lagi murid Kun-lun-pai ini akan....”

Mendadak Wi Ki menghela napas. Ucapnya dengan menunduk, "Sekali pun kumasuk keanggotaan Pang kalian juga tiada gunanya. Kenapa kau mendesak orang sedemikan rupa?"

"Siapa yang mendesakmu?" ucap Yim Hong-peng dengan menarik muka.

"Apa pun yang akan terjadi, jiwa dan harta bendaku jelas sukar diselamatkan lagi. Ai, aku...."

Selagi Wi Ki berkeluh kesah di sebelah sana Giok-he juga sedang bicara dengan Ciok Tim. Giok-he berkata, "Adik Tim, coba lihat wajah Wi Ki yang muram durja itu dan sikap Yim Hong-peng yang senang itu. Dapatkah kau terka apa yang terjadi di antara mereka?"

"Apa yang terjadi di Boh-liong-ceng ini, siapa pun yang akan menang, bagi Wi Ki tetap sukar terlepas dari tanggung-jawab," ujar Ciok Tim.

"Lantas apa lagi?"

"Ada apa lagi?" sahut Ciok Tim bingung.

"Keruwetan hari ini ternyata tidak dapat kau lihat," kata Giok-he. "Tadi waktu kita masuk Boh-liong-ceng, sikap Wi Ki terhadap Yim Hong-peng kelihatan kikuk, tingkah laku Yim Hong-peng juga tidak mirip seorang tamu. Kedatangan orang ini ke daerah pedalaman sekali ini pasti membawa intrik yang tersembunyi. Dia bahkan memaksa Wi Ki masuk ke dalam kompoltan mereka, padahal usia Wi Ki sudah lanjut, berkeluarga pula, semangatnya sudah luntur, jelas ia tidak suka kepada kehendak Yim Hong-peng itu. Tapi dia juga jeri untuk menolaknya, hanya seluk beluk urusan ini pun tidak jelas kuketahui."

Ia tersenyum, lalu menyambung, "Cian Tong-lai ini menguasai kepandaian tinggi. Dia baru berkecimpung di dunia kangouw, kecuali ingin mencari Boh-in-jiu, dengan sendirinya juga ingin menggunakan kesempatan ini untuk mencari nama. Sebab itulah dia sengaja berlagak congkak dan mencari perkara kepada Thian-hong-jit-eng. Dia memang memandang rendah kaum Piausu, apalagi kawanan elang itu pun sudah tua. Siapa tahu apa yang terjadi justru jauh di luar dugaannya. Bukan saja ia gagal menonjolkan diri, bahkan bikin serba susah kepada Wi Ki sebagai tuan rumah. Sebaliknya Yim Hong-peng yang menarik keuntungan dari kanan-kiri, tentu saja dia sangat senang."

Baru selesai ucapannya, sekonyong-konyong terdengar di belakang ada orang tertawa perlahan dan berkata, "Cara nyonya memandang orang dan menilai persoalan ternyata sangat jitu, sungguh sangat mengagumkan!"

Suaranya jelas, serupa timbul di tepi telinga Giok-he. Karuan Giok-he terkejut! Cepat ia menoleh, dilihatnya asap masih mengembang memenuhi ruangan. Si Elang Merah Ang Hau-thian masih duduk di tempatnya, selain dia tiada bayangan orang lain lagi.

Tentu saja Giok-he terkesiap. Tanpa terasa ia bertanya, "Siapa?"

Dengan bingung Ciok Tim berpaling, "Ada apa?"

"Suara tadi, masa tidak kau dengar?" ujar Giok-he.

"Suara apa?" Ciok Tim tambah bingung.

Berdebar hati Giok-he. Ia menggeleng dan berpaling, "Jangan-jangan ilmu Toan-im-jip-bit (Ilmu Mengirim Gelombang Suara) yang digunakan orang tidak kelihatan itu?"

Ia coba melirik sekeliling orang yang hadir. Ia heran siapakah di antaranya yang menguasai ilmu gaib itu.

Tiba-tiba suara tadi mendengung pula di telinganya, "Sejak kumasuk ke pedalaman, apa yang kudengar dan kulihat, ternyata cuma nyonya saja yang terhitung kesatria sejati. Bila-mana nyonya mau bekerja sama denganku, tentu segala urusan besar dapat disukseskan. Jika nyonya setuju bekerja sama denganku, harap nyonya mengangguk perlahan tiga kali."

Saat itu Ciok Tim lagi memandang Giok-he yang menunduk dengan mata terpejam, seperti lagi mendengarkan sesuatu, lalu manggut-manggut dan tersenyum, kemudian membuka mata dan memancarkan cahaya cemerlang.

Saking herannya Ciok Tim coba bertanya, "Ada... ada apa, Toaso?"

"Oo, tidak ada apa-apa," sahut Giok-he dengan tersenyum sambil menuding ke depan.

Waktu Ciok Tim memandang ke sana, dilihatnya gerak langkah Cian Tong-lai bukannya semakin kuat, bahkan kelihatan semakin lesu dan loyo, serupa orang kurang tidur atau terlalu letih. Kabut semakin tebal. Tiba-tiba Ciok Tim merasakan kabut putih itu sangat aneh datangnya. Lambat laun sukar membedakan lagi keadaan ruangan, wajah orang yang hadir di situ pun mulai sukar dibedakan. Segera timbul rasa letih dan mengantuk. Ciok Tim merasa napasnya juga tambah sesak, kelopak mata melambai, bayangan orang mulai kabur dan akhirnya....

Begitu cepat datangnya rasa letih dan kantuk. Sekuatnya ia coba memandang Giok-he yang berdiri di sampingnya. Dirasakan sang Suci seperti mendadak berjarak sangat jauh. Ia berteriak, "Toaso...! Toaso...!"

Sekonyong-konyong dirasakan napas sendiri juga sedemikian jauh. Ia membusungkan dada dan bermaksud lari ke luar, tapi kabut putih itu serasa menindihnya dengan berat sehingga sukar melangkah, baru saja satu-dua tindak segera ia jatuh tertunduk. Samar-samar dirasakan bayangan orang dan pepohonan di taman ditelan seluruhnya oleh kabut tebal, semua orang tidak terlihat lagi.

Tiba-tiba di dengarnya suara orang melangkah ke luar ruang pendopo itu. Ia coba menoleh, tahu-tahu suara langkah itu sudah sampai di sampingnya, hanya dapat dilihatnya sepasang sepatu yang mengkilat bergeser perlahan di tengah kabut.

Lalu terdengar suara tertawa mengejek bergema di tepi telinganya, "Huh, thian-hong-jit-eng apa segala, setiba di sini juga patah sayapnya. Hm, anak murid Kun-lun apa, kedatangannya juga rontok sama sekali.”

Habis itu lantas bergema suara tertawa senang, rasanya seperti suara Yim Hong-peng, lalu segalanya kembali menjadi sunyi. Di tengah kesunyian itulah Ciok Tim terpulas dan ditelan kegelapan....

********************

Kegelapan yang tak berujung, kesunyian yang tak berpangkal. Perlahan Lamkiong Peng siuman kembali. Waktu ia membuka mata, tidak terdengar sesuatu suara, juga tidak terlihat apa-apa. Ia menghela napas dan membatin, "Apakah aku sudah mati?"

Mati ternyata tidak menakutkan sebagai mana dibayangkan, namun jauh lebih kesepian dari-pada perkiraannya. Ia coba mengucek mata, tapi tidak terlihat telapak tangan sendiri, apa pun tidak terlihat.

Dalam sekejap itu segala kejadian selama hidupnya seolah-olah terbayang kembali. Setelah dipikirnya dan ditimbang, ia merasa selama hidupnya begitu-begitu saja, tidak penah timbul pikiran membikin susah orang lain, baik terhadap ayah bunda, guru mau pun sahabat. Sepanjang masa hidup selalu dihadapinya secara jujur tulus, tidak pernah terpikir olehnya perbuatan yang licik dan munafik. Ia tersenyum sendiri. Ia pikir, bila-mana cerita tentang surga dan neraka benar ada, sesudah mati mungkin dirinya tidak perlu diputus masuk neraka.

Dalam kesepian, sekonyong-konyong didengarnya sayup-sayup suara musik berkumandang dari kegelapan sana. Lagunya begitu sedih mengharukan, serupa tangisan kawanan setan. Di tengah suara musik yang sayup-sayup itu mendadak bergema teriakan.

"Lamkiong Peng...?..Hahaha, kau sudah datang?!" Lalu terdengar serentetan suara tertawa tajam mengerikan.

Lamkiong Peng mengusap dahinya yang berkeringat dan membentak, "Siapa kau?! Manusia atau setan?! Hm, biar pun setan juga aku tidak takut! Tidak perlu kau main sembunyi!"

"Hahaha!" suara tertawa yang seram itu berubah menjadi tertawa latah yang lantang, "Aku cuma menghendaki kau rasakan bagaimana orang mati, agar kau tahu mati bukan tindakan yang enak, supaya kau kenal berharganya kehidupan."

Dengan geram Lamkiong Peng menghantam ke arah suara itu. Diam-diam ia bersyukur, tenaga sendiri belum lenyap. Siapa tahu pukulannya yang keras itu seperti batu tenggelam dalam lautan, menghilang dalam kegelapan.

Suara tertawa latah itu bergema pula, "Hahaha! Meski tempat ini bukan neraka, tapi jaraknya tidak jauh lagi. Meski kau tidak jadi mati, bila mau sudah belasan kali dapat kumampuskan kau."

"Kenapa tidak kau bunuh diriku? Apakah kau ingin memeras diriku supaya kutunduk padamu?" sela Lamkiong Peng sambil tertawa.

"Ya, memang begitulah maksudku," kata suara itu dalam kegelapan.

"Haha! Jika aku sudah pernah mati sekali, apa halangannya mati sekali lagi?" seru Lamkiong Peng dengan terbahak. "Bila kau ingin kutunduk kepadamu, huh, jangan mimpi!" Lalu ia duduk bersila dan mengheningkan cipta. Tiba-tiba pikirannya terang dan dada terasa lapang.

Dalam kegelapan, sang waktu dirasakan berlalu dengan sangat lambat, tapi rasa lapar justru datang dengan sangat cepat. Lamkiong Peng duduk bersila, perut mulai lapar sekali dan sukar ditahan. Segera timbul pula macam-macam pikiran. Ia berdiri dan coba meraba sekitarnya. Baru sekarang diketahuinya dirinya berada di dalam sebuah goa yang seram, serupa neraka dan tiada terdapat sesuatu benda apa pun. Walau pun kelaparan, kesepian dan berada dalam kegelapan yang mencekam, namun semua itu tak dapat menggoyahkan pendiriannya.

Entah berselang berapa lama lagi, tiba-tiba Lamkiong Peng mencium bau sedap daging dan arak. Ia menelan air liur, biji lehernya naik turun, dan rasa laparnya tambah sukar ditahan. Sejak kecil baru sekarang untuk pertama kalinya ia rasakan betapa susahnya orang kelaparan. Ia memejamkan mata dan menggerutu, "Sialan, aku hendak dipancingnya dengan makanan!"

Bau sedap semakin keras, mau tak mau ia harus mengakui pancingan ini mempunyai daya tarik yang amat kuat. Selagi ia berusaha memencarkan perhatiannya atas bau sedap makanan itu, tiba-tiba terdengar suara orang mendengus di atas.

"Hm! Lamkiong-kongcu, tentu merasa kelaparan itu tidak enak, bukan?"

Dengan gusar Lamkiong Peng menjawab, "Tekadku sudah bulat. Betapa pun kau imingi diriku juga tiada gunanya, tidak perlu banyak omong."

"Sekarang juga sudah kukerek dua ekor ayam panggang lezat tepat di depanmu, boleh coba kau cicipi," kata suara itu.

Meski teguh pendirian Lamkiong Peng, tapi kebutuhan biologis membuatnya tidak tahan. Waktu ia mengendusnya, bau sedap itu tambah merangsang.

Dalam kegelapan suara itu bergema pula, "Di antara kedua ekor ayam panggang ini, seekor di antaranya dilumuri dengan obat bius. Bila-mana kau makan, akan hilang kesadaranmu yang asli dan seluruhnya engkau akan tunduk kepada perintahku. Sebaliknya seekor ayam panggang yang lain tidak diberi racun apa pun. Bila kau berani, boleh silakan bertaruh dengan nasibmu!"

Tanpa terasa Lamkiong Peng menjulurkan tangan. Betul juga, ujung jarinya lantas menyentuh sesuatu yang kenyal. Sungguh hatinya tergelitik, akan tetapi segera ia memejamkan mata dan menarik kembali tangannya sambil membentak, "Tidak! Mana boleh hanya untuk sekedar makan ini aku harus bertaruh dengan nasibku sendiri?"

Terdengar suara terloroh dalam kegelapan. Sejenak kemudian mendadak orang itu menghela napas dan berucap, "Ai, tokoh semacam anda sungguh sayang tidak suka bekerja sama denganku. Betapa pun kuhormati engkau sebagai seorang jantan sejati. Aku tidak tega membunuhmu, juga tidak tega membiusmu dan menganiayamu, makanya kuberi hidup sampai sekarang. Tapi bila kubebaskan dirimu, jadinya tiada ubahnya seperti melepaskan harimau kembali ke gunung. Pada suatu hari kelak, bisa jadi usaha yang telah kupupuk selama bertahun-tahun akan hancur di tanganmu."

Ia menghela napas, lalu menyambung, "Kutahan dirimu di sini sesungguhnya karena terpaksa, hendaknya jangan kau sesalkan diriku. Bila kau mati, aku berjanji akan menguburmu dengan baik-baik."

Dalam kegelapan ada cahaya mengkilat berkelebat.

“Trang!” terdengar suara barang jatuh di samping Lamkiong Peng.

Lalu suara itu berucap lagi, "Sekarang kulemparkan sebilah belati itu untuk membunuh diri. Apabila pikiranmu berubah, cukup kau berteriak dan segera aku datang membebaskanmu. Supaya kau tahu, tinggi goa ini lebih dari enam tombak, dinding sekeliingnya terbuat dari baja, hanya bagian atas saja dapat dipakai keluar masuk. Boleh juga kau coba. Jika kurang tenaga, silakan makan kedua ekor ayam panggang itu. Jangan kuatir, tidak ada yang diberi racun, mungkin akan menambah tenagamu." Dia bicara dengan tulus, serupa sahabat yang memberi nasehat.

Pada saat itulah sayup-sayup terdengar suara orang yang berucap dengan lirih, suaranya halus merdu. "Eh, cara kalian bicara serupa dua sahabat yang akan berpisah. Kau tahu...," sampai di sini tidak terdengar lagi apa yang diucapkannya.

Suara itu bagi Lamkiong Peng sudah sangat dikenal. Hatinya tergetar, ia heran siapakah itu? Didengarnya suara tadi berkata pula, "Bila kita bertemu sepuluh tahun yang lalu, kuyakin kita pasti dapat terikat menjadi sahabat karib. Sayang, sekarang ajalmu sudah dekat. Sebelum kau mati, jika ada sesuatu permintaanmu, tentu akan kulakukan bagimu."

Lamkiong Peng sedang memikirkan suara merdu tadi. Tanpa pikir ia menjawab, "Siapakah suara orang perempuan tadi? Boleh kau perlihatkan dia kepadaku sekejap saja."

Suara itu terdiam, sejenak kemudian baru berkata pula, "Hanya ini permintaanmu?"

Lamkiong Peng mengiyakan.

"Masa tidak ada pesan akan kau tinggalkan bagi orang-tua atau sahabatmu?" tanya suara itu. "Masa sama sekali tidak ada urusanmu yang perlu kuselesaikan bagimu? Tidakkah perlu kau lihat, sesungguhnya siapa yang mengakibatkan kematianmu ini?"

Lamkiong Peng melenggong. Tiba-tiba timbul rasa duka yang tak terkatakan. Kalau dipikir, sesungguhnya teramat banyak urusannya yang belum lagi selesai. Seketika ia merasa putus asa. Ia menunduk dan tidak bicara lagi.

"Bagaimana dengan orang yang ingin kau lihat?"

"Tidak perlu kulihat lagi," kata Lamkiong Peng.

"Tapi sudah kusanggupi padamu, maka boleh coba kau pandang ke atas," kata suara itu.

Mata Lamkiong Peng lantas terbeliak. Ia tahu tutup lubang goa itu telah dibuka, namun dia tetap duduk termenung. Meski diragukannya perempuan itu pasti seorang yang ada hubungan erat dengan dirinya, namun dia tidak ingin memandangnya lagi. Ia tidak mau meninggalkan rasa penyesalan sesudah mati.

Keadaan sunyi sejenak.

“Brakkk!” tutup lubang dirapatkan lagi.

Dalam kegelapan lantas bergema suara musik yang memilukan, suara yang misterius tadi lagi berdendang dan mengucapkan selamat tinggal.

Suara musik itu mempengaruhi juga rasa duka Lamkiong Peng, tanpa terasa air matanya meleleh. Dalam dukanya tiba-tiba timbul semacam keberanian untuk mencari hidup! Ia coba meraba belati yang dimaksudkan orang tadi. Perlahan ia mendekati dinding, sekuatnya ia tusuk dengan belati itu. Seketika tangan tergetar kesakitan, dinding sekeliling memang benar terbuat dari baja.

Lamkiong Peng menghela napas duka dan bersandar di ujung dinding. Ia merasa segalanya sudah tamat, sama sekali tidak ada harapan lagi. Namun titik akhir kehidupan tetap sangat panjang, ia tidak ingin merusak tubuh pemberian orang-tua, tapi juga tidak tahan oleh derita batin selama menunggu ajal ini.

Entah berselang lama lagi, mendadak dirasakan dinding tempatnya bersandar bisa bergerak. Seketika cahaya membuat matanya terasa silau, berbareng tubuhnya lantas roboh terjengkang. Ia terkejut dan cepat melompat bangun. Waktu ia memandang ke depan, dilihatnya seorang tua telah berdiri di situ dengan wajah prihatin dan tangan memegang obor. Ketika si kakek mendorong lagi dengan sebelah tangan, pintu rahasia goa itu lantas menutup kembali.

Lamkiong Peng tercengang, baru sekarang dirasakan dirinya telah terbebas dari bayangan maut. Sungguh tidak kepalang rasa girangnya, seketika ia berdiri melongo dan tidak tahu apa yang mesti diperbuatnya. Orang tua yang membawa obor ini ternyata bukan lain dari-pada si Gelang Terbang Wi Ki, pemilik Boh-liong-ceng.

Kening si kakek tampak terkerut rapat, jelas menanggung tekanan batin. Ia memberi tanda kepada Lamkiong Peng, lalu mendahului melangkah ke luar ke sana.

Di bawah cahaya obor kelihatan lorong di bawah tanah ini penuh sarang laba-laba atau galgasi. Setiap langkah selalu menimbulkan debu, jelas jalan ini sangat jarang dilalui orang. Namun lorong itu berliku-liku, bangunannya juga ajaib dan mengagumkan.

Memandangi bayangan orang yang tinggi besar, hatinya penuh rasa terima-kasih. Selama hidupnya belum pernah dirangsang perasaan semacam ini. Maklumlah, soalnya dia baru saja menghadapi ‘kematian’ yang membuatnya derita batin dan putus asa.

Lamkiong Peng berdehem, tenggorokannya serasa tersumbat. Ia coba bertanya, "Locianpwe...?"

"Ssst, diam!" desis Wi Ki tanpa menoleh.

Setelah membelok satu tikungan, mendadak Wi Ki menekan pada ujung dinding. Terdengar suara keriat-keriut, lantas dinding di situ menyurut mundur dua-tiga kaki lebarnya. Cepat Wi Ki menyelinap masuk ke situ sambil bergumam, "Oh, jit-eng, jangan menyesal jika tidak dapat kuselamatkan kalian. Aku telah berusaha sepenuh tenaga.”

Selagi Lamkiong Peng merasa bingung, terlihat Wi Ki sudah melompat ke luar lagi dengan mengempit seorang pemuda berbaju perlente dalam keadaan pingsan.

"Gendong dia!" kata Wi Ki dengan suara tertahan.

Lamkiong Peng menurut. Diangkatnya pemuda itu dengan tidak mengerti apa maksud Wi Ki. Setelah merapatkan pintu dinding, Wi Ki mendahului berjalan lagi ke depan dengan langkah berat dan kening bekernyit.

"Lo...,” Lamkiong Peng ingin tanya pula.

Tapi Wi Ki lantas memotong, "Tidak perlu kau berterima-kasih padaku."

"Tapi... sebenarnya...."

"Dunia persilatan segera akan timbul peristiwa besar. Kawanan perusuh dari Kwan-gwa sudah masuk ke daerah Tionggoan. Aku berada di bawah ancaman mereka, harta bendaku yang kudapatkan dari jerih payahku selama berpuluh tahun tampaknya akan hanyut ludes."

Tentu saja Lamkiong Peng tidak paham.

Selagi ia hendak tanya, Wi Ki telah menyambung pula, "Pemuda yang kau gendong ini memiliki kepandaian mengejutkan. Dia adalah murid Kun-lun-pai, namanya Cian Tong-lai. Dia terkena semacam kabut bius yang istimewa dan tidak dapat kutolong, harus selang sekian lama baru dia akan siuman dengan sendirinya. Kalian berdua sama pemuda gagah, hari depan kalian tak terbatas, semoga kalian dapat lari meninggalkan tempat ini dan mencari kesempatan untuk bertindak di kemudian hari. Ingat, janganlah sampai gembong iblis itu berhasil merajai dunia." Dia bicara dengan sedih dan penasaran.

Dengan alis menegak Lamkiong Peng bertanya, "Siapa yang kau maksudkan? Masa dia...?"

"Kepandaian orang ini sukar dijajaki,” potong Wi Ki pula. "Dia mahir menggunakan berbagai senjata rahasia yang aneh dan dupa bius yang mukjizat. Bahkan banyak anak buahnya yang serba pandai sehingga makin menambah kejahatan yang diperbuatnya. Ada anak buahnya yang berjuluk Toat-beng-jiang (Tombak Pencabut Nyawa) dan Tui-hun-kiam (Pedang Sambar Nyawa). Kungfu kedua orang ini sungguh sangat mengejutkan, kita sama sekali bukan tandingannya."

Tergerak pikiran Lamkiong Peng, katanya, "Apakah gembong iblis yang kau maksudkan itu ialah Swe Thian-beng?"

Melengak juga Wi Ki, seperti heran mengapa Lamkiong Peng juga kenal nama itu. Sambil menekan lagi pojok dinding ia menjawab, "Ya, Swe thian-beng."

Baru lenyap ucapannya, tertampaklah cahaya udara. Ternyata mereka sudah berada di pintu keluar lorong.

Terdengar Wi Ki lagi bergumam dengan pedih, "Di Boh-liong-ceng kami sekarang entah terkurung berapa orang. Dengan kekuatanku hanya dapat kuselamatkan kalian berdua, hendaklah lekas kalian pergi selekasnya. Ingatlah selalu pesanku, ilmu silat orang ini sukar dijajaki, janganlah kalian sembarangan bertindak.”

"Locianpwe...."

Belum lanjut ucapan Lamkiong Peng, tahu-tahu Wi Ki mendorongnya ke luar sambil bergumam, "Naga melahirkan sembilan anak, setiap anak berbeda-beda. Biar pun sesama saudara seperguruan, terdapat juga serigala dan harimau di antaranya...."

Terdengar suara keriat-keriut, pintu lorong rahasia itu telah rapat kembali.

Lamkiong Peng berdiri termenung dengan terharu. Waktu ia menengadah, tampak cuaca remang-remang, malam sudah larut. Ketika ia periksa keadaan Cian Tong-lai, muka anak muda itu pucat pasi, namun tidak mengurangi wajahnya yang cakap. Ia coba membedakan arah, lalu membawa Cian Tong-lai berlari ke arah barat daya.

Ia teringat Bwe Kim-soat yang berjanji menunggu kembalinya itu, seketika bergejolak perasaannya yang tertekan itu. Tapi bila teringat Tik Yang yang sekarat, seketika ia menghentikan langkahnya. Terjadi lagi pertentangan batin. Jika dia kembali dengan tangan hampa, maka segala langkah usahanya akan berubah menjadi tidak ada artinya sama sekali. Mana boleh ia menyaksikan Tik Yang yang telah membantunya itu mati keracunan begitu saja?

Selagi bingung dan serba salah, mendadak dirasakannya sebuah tangan perlahan menekan Leng-thai-hiat pada punggungnya, Leng-thai-hiat adalah salah satu hiat-to penting yang berhubungan erat dengan jantung. Bila-mana tergetar dengan keras, seketika orang bisa binasa.

Akan tetapi Lamkiong Peng hanya terkejut sekejap saja, habis itu lantas tenang malah. Ia berpikir, dalam keadaan serba susah, bila mati malah akan merupakan pelepasan baginya, lepas dari segala siksa derita. Karena itulah ia tetap berdiri diam saja dan tidak memberi reaksi apa pun, dengan tenang ia menantikan ajal. Siapa tahu, sampai sekian lamanya tangan itu tetap tidak bergerak lagi.

Bekernyit kening Lamkiong Peng. Ia mendengus, "Kenapa sahabat tidak lekas turun tangan?"

Di bawah kerlip bintang, bayangan orang di belakangnya tampak bergerak mendoyong ke depan. Agaknya orang merasa heran terhadap sikap Lamkiong Peng yang tak gentar itu. Segera terdengarlah suara tertawa ngikik nyaring di belakang.

Bayangan itu berkata, "Lo-ngo, apakah engkau benar-benar tidak takut mati?"

Suara ini hampir serupa dengan suara yang didengar Lamkiong Peng di tempat tahanan yang gelap itu, suara yang sudah dikenalnya. Tergetar hati Lamkiong Peng. Serentak ia membalik tubuh dan berseru, "He, toaso!"

Di tengah remang malam Giok-he kelihatan lagi tersenyum riang.

"Kenapa Toaso juga datang ke sini?" tanya Lamkiong Peng

Giok-he tidak menjawab, sebaliknya ia membuka sebelah tangannya dan berseru, "Coba lihat, apa yang kupegang ini?"

Tergerak hati Lamkiong Peng, tanpa terasa ia berseru, "He, obat penawar? Apakah obat penawar?!"

"Kau memang cerdik, yang kupegang itu memang obat penawar," ujar Giok-he sambil membuka lebar telapak tangannya sehingga kelihatan sebiji pil merah. "Kutahu demi untuk mendapatkan obat penawar ini, kau tidak sayang menyerempet bahaya dengan taruhan nyawa sendiri. Tapi obat ini tetap tidak kau peroleh, begitu bukan?"

Lamkiong Peng menghela napas menyesal sambil menunduk, seperti mau bicara tapi urung.

"Setiba di Boh-liong-ceng," demikian Giok-he bicara pula. "Hatiku ikut sedih demi mendengar urusanmu. Betapa pun kau adalah sute-ku dan harus kubela." Dia bicara dengan tulus penuh perhatian, tapi sinar matanya gemerdep dengan maksud yang sukar diraba. Dengan sendirinya hal ini tidak dilihat oleh Lamkiong Peng.

"Sebab itulah aku berusaha memperdayai Yim Hong-peng yang munafik itu. Akhirnya dapat kutipu obat penawar ini dari dia," demikian Giok-he bertutur pula. "Tapi ketika kupancing dia membawaku ke tempat tahananmu dan ingin menolongmu ke luar, siapa tahu engkau sudah berhasil kabur lebih dulu. Sungguh aku bergirang bagimu dan juga sedih. Tanpa obat penawar, menuruti watakmu yang keras, tidak nanti kau mau pulang ke sana. Sebab itulah tanpa menghiraukan bahaya segera kususul kau ke sini."

Terharu Lamkiong Peng dan juga merasa malu diri. Ia pikir betapa pun sang Toaso tetap baik padanya, hampir saja ia salah menilainya. Ia menengadah, dilihatnya Giok-he sedang memandangnya. Tiba-tiba Lamkiong Peng merasa Liong-hui sesungguhnya adalah lelaki yang beruntung.

Dengan tersenyum Giok-he berkata pula, "Toako dan Simoay mendampingiku, tapi dia seorang yang kaku dan pendiam, seharian paling bicara dua tiga kata denganku. Entah bagaimana dengan Toako-mu? Ai, sungguh kukuatir...."

"Toaso, kukira Toako sudah pulang ke Ji-hau-san-ceng. Bila urusan di sini selesai, segera kita pun dapat pulang," kata Lamkiong Peng.

Kata Giok-he dengan hampa, "Betapa pun aku hanya seorang perempuan. Losam selalu acuh tak acuh. Alangkah baiknya jika dapat berada bersamamu, tentu aku tidak perlu repot...."

"Meski Siaute tidak dapat menjaga Toaso sepanjang jalan, tapi...," tiba-tiba ia mengeluarkan sepotong kemala putih dan diberikan kepada Giok-he. Sambungnya, "Dengan membawa kemala ini, ke mana pun dapat Toaso memperoleh bantuan pada setiap cabang perusahaan setempat usaha keluarga kami."

Ia tidak memandang langsung kepada Giok-he, sehingga tidak diketahui betapa senang hati nyonya muda itu, hanya dirasakan sebuah tangan halus memegang tangannya. Hatinya tergetar dan menyurut mundur setindak, tapi Giok-he telah menaruh pil merah pada tangannya.

Giok-he berkata, "Gote, selesai urusanmu di sini hendaknya segera kau pulang. Bila bertemu dengan Toako, kau juga harus membujuknya supaya lekas pulang."

Kwe Giok-he bicara agak tersendat sehingga Lamkiong Peng tambah rikuh untuk memandangnya. Ia cuma mengangguk saja sambil menunduk.

"Toaso telah banyak membelamu, entah kau pun sudi bekerja sesuatu bagiku atau tidak?" kata Giok-he pula. "Orang yang dalam gendonganmu ini adalah murid Kun-lun dan merupakan musuh kita. Kungfu-nya sangat tinggi, mungkin kita bukan tandingannya. Demi menghilangkan bahaya di kemudian hari, hendaknya kau totok Hiat-to cacat bagian punggungnya."

Lamkiong Peng mendongak dengan tercengang, jawabnya kemudian, "Apabila orang ini berbuat sesuatu kesalahan kepada Toaso, setelah dia siuman nanti pasti akan kulabrak dia mati-matian. Tapi sekarang dia dalam keadaan pingsan, orang menyerahkan dia dalam tanggung-jawabku pula. Apa pun juga tidak dapat kuganggu dia dalam keadaan demikian."

Giok-he tampak kurang senang, jengeknya, "Baru saja kau terima obat penawar dariku, dan segera juga kau membangkang kehendakku. Apa pula yang dapat kuharapkan darimu kelak?"

"Tapi aku... aku...." Mendadak Lamkiong Peng mengembalikan pil merah itu kepada Giok-he dan menambahkan, "Lebih baik kukembalikan obat ini dari-pada berbuat pengecut yang melanggar hati nuraniku."

Selagi ia hendak berpaling dan tinggal pergi, sekonyong-konyong Giok-he mengikik tawa. Katanya, "Ah, aku cuma menguji kejujuranmu saja, apakah engkau masih ingat kepada ajaran Suhu atau tidak, mengapa kau jadi serius terhadap Toaso?" Sembari berkata ia serahkan pula pil merah itu kepada Lamkiong Peng.

Hati Lamkiong Peng menjadi lunak lagi. Ucapnya, "Asalkan bukan tindakan seperti ini, terjun ke lautan api sekali pun akan kulakukan bagi Toaso dan Toako."

"Apa tidak ada perbedaan antara Toako dan Toaso dalam pandanganmu?" tanya Giok-he.

Kembali Lamkiong Peng melenggong bingung.

Didengarnya Giok-he berucap pula, "Asalkan pandanganmu terhadap Toako dan Toaso tidak ada perbedaan, maka senanglah hatiku." Tiba-tiba ia menjulurkan sebelah tangannya dan berkata pula, "Untuk memastikan apa yang kau katakan barusan ini, sudilah kau jabat tangan Toaso."

Sekilas pandang Lamkiong Peng merasa tangan orang yang putih bersh itu menimbulkan rasa was-was yang sukar diceritakan.

"Kenapa, apakah tangan Toaso kotor?" tanya Giok-he melihat anak muda itu ragu-ragu.

Perlahan Lamkiong Peng mengangsurkan tangannya untuk menjabat tangan Giok-he. Baru saja ia hendak menarik kembali tangannya, mendadak genggaman Giok-he mengerat, hawa hangat harum tersalur dari telapak tangan ke lubuk hatinya.

"Gote," terdengar Giok-he berucap dengan lembut. "Hendaknya jangan melupakan malam ini....”

Tergetar hati Lamkiong Peng. Sebelum selesai ucapan orang, segera ia menarik tangan dan berlari pergi. Gemerdep sinar mata Giok-he memandang bayangan anak muda yang menghilang dalam kegelapan itu, tersembul senyuman aneh pada ujung bibirnya.

Tiba-tiba dari kegelapan muncul lagi sesosok bayangan dan melayang cepat ke arah Giok-he serta memegang tangannya, "Jangan melupakan malam ini apa?" Setelah merandek, segera sosok bayangan itu membentak pula, "Barang apa yang kau pegang ini?!" Suaranya mengandung rasa gusar dan cemburu. Tidak perlu ditanya lagi, jelas orang ini ialah Ciok Tim.

Dengan ketus Giok-he mengipatkan tangannya dan mendengus, "Hm, kau ini apaku? Kau ingin memerintahku?"

Berubah juga air muka Ciok Tim, “Kau... kau...?! Ai, terhadap Toako... aku...."

Sambil mendengus Giok-he membuka telapak tangannya dan berkata, "Kemala ini pemberian Gote padaku. Dengan kepingan kemala ini, dalam sehari saja bila perlu dapat kutarik berpuluh laksa tahil perak, apakah kau pun dapat menyediakan?"

Ciok Tim tercengang. Rasa gusar membuat air mukanya berubah menjadi malu, sebab itu ia meremas tangan sendiri dengan pedih. Mendadak ia membentak dan mencengkeram pundak Giok-he dengan keras, seakan-akan ingin merobek tubuhnya yang bernas itu, seolah-olah ingin mengorek hatinya yang dingin itu.

Berubah juga air muka Giok-he. Jari tangan kanannya terjulur dan bermaksud menotok iga anak muda itu. Tapi baru menyentuh bajunya, nafsu membunuhnya mendadak berubah lunak. Tiba-tiba ia tertawa menggiurkan, "Eh, ada apa kau? Lepaskan, aku kesakitan!"

Suaranya menggetarkan kalbu, membuat tangan Ciok Tim agak gemetar. Akhirnya ia menghela napas panjang, melepaskan tangan dan menunduk.

Perlahan Giok-he memijat pundak sendiri dan berkata, "Oo, sakit sekali cengkeraman tanganmu. Lekas urut bagiku."

Tanpa terasa Ciok Tim menjulurkan tangannya dan meraba bagian yang dimaksud. Giok-he memejamkan mata, seperti menikmati rabaan anak muda itu. Jari Ciok Tim tambah beraksi dengan cepat dan mulai menurun ke bawah. Sorot matanya memancarkan cahaya kerakusan seperti binatang liar yang kelaparan.

Perlahan tubuh Giok-he menggeliat. Ia lalu berucap seperti orang mengigau, "Sungguh bodoh kau. Memang kau kira aku ada berbuat apa terhadap Lo-ngo? Hm, aku kan cuma... cuma ingin memperalat dia saja. Oh, kau mau apa?!" Mendadak ia berteriak sambil memberosot lepas dari pegangan Ciok Tim.

Karuan anak muda itu melenggong, serupa kucing liar yang sedang berahi mendadak disiram air dingin.

Giok-he memandangnya dengan senang. Ia tahu anak muda ini seluruhnya telah jatuh ke dalam cengkeramannya, sudah masuk dalam perangkap yang diaturnya, telah menjadi budaknya. Dengan lembut ia lantas berkata, "Adik Tim, tentunya kau tahu betapa hatiku terhadapmu. Asalkan kau turut apa yang telah kuatur, segala hasil usahaku kelak adalah milikmu. Cuma kau pun perlu tahu, meski kusuka padamu, namun banyak urusan yang tidak dapat kutinggalkan hanya lantaran dirimu. Banyak persoalan dunia persilatan yang tidak kau pahami. Demi hari depan kita, mau tidak mau harus kukerjakan hal-hal yang sukar kau bayangkan, untuk ini hendaknya kau maklum."

Dengan bimbang Ciok Tim mengangguk.

Maka Giok-he menyambung lagi, "Maka apa pun tindakanku selanjutnya, jangan kau ganggu. Jika kau terima permintaanku ini, selamanya tentu kau dapat berada bersamaku. Kalau tidak...," sampai di sini ia tidak meneruskan lagi, melainkan terus membalik tubuh dan melangkah ke sana.

Ciok Tim berdiri melongo di tempatnya. Ia merasa pedih dan juga mendongkol, sungguh ia tidak tahu apa yang harus diperbuatnya.

Pada saat itulah Giok-he berpaling dan berseru, "He, untuk apa berdiri di situ? Ayolah ke mari.”

Tanpa terasa Ciok Tim ikut melangkah ke sana. Dalam kegelapan terdengar pula suara tertawa yang menggiurkan....