Amanat Marga (Hu Hua Ling) Jilid 13

Siapa tahu, baru saja tubuhnya meninggalkan permukaan tanah, mendadak terasa tenaganya tidak cukup. Ia terkejut, sebisanya tangannya meraih keatas dan dan untung masih keburu untuk memegang belandar. Waktu ia pandang keadaan setempat, debu memenuhi belandar itu, mana ada bayangan orang segala?

Tentu saja ia terkesiap. Segera ia melayang turun lagi ke bawah. Dilihatnya Yim Hong-peng sedang memandangnya dengan tersenyum, cuma senyuman yang mengandung rasa misterius.

Air muka Wi Ki tampak guram. Perlahan ia mendekati meja dan mengambil sebatang jarum baja panjang untuk mengungkit sumbu lampu sehingga cahaya lampu tambah terang, namun tetap sukar menembus kabut yang tebal dan mengurangi keseraman suasana.

Lamkiong Peng sendiri sedang menyesali diri sendiri, mengapa tenaganya bisa terasa habis setelah lelah semalaman. Namun ia tetap tidak gentar! Mendadak ia mendongak dan berseru dengan lantang, "Sahabat ini siapa? Kenapa mesti main sembunyi dalam kegelapan? Apakah tidak punya keberanian untuk menemuiku?”

"Hahaha!" terdengar Yim Hong-peng tergelak. "Jika engkau sudah datang kemari, tujuanmu tentulah ingin minta obat penawar padaku. Akan tetapi saat ini tenaga murnimu sudah lemah, biar pun kau main kekerasan juga takkan terkabul maksud tujuanmu."

Tiba-tiba Lamkiong Peng merasakan telapak tangan sendiri yang berlepotan debu kotoran belandar itu terasa kaku kejang, seperti dikuasai oleh semacam tenaga yang menggerakkan otot dagingnya. Perlahan ia menjawab, "Jika kutukar dengan sesuatu, apakah kau dapat berikan obat penawarnya?"

"Itu harus diketahui dahulu, barang apa yang hendak kau tukarkan?" jengek Yim Hong-peng. "Supaya kau tahu, biar pun diriku seorang kasar, tapi kalau cuma benda mestika biasa atau batu permata bisa saja tidak kupandang sebelah mata."

Dengan tenang Lamkiong Peng menjawab, "Barang yang hendak kugunakan untuk menukarkan obat penawarmu adalah jiwa orang she Lamkiong ini."

Tergetar hati Wi Ki.

Yim Hong-peng juga melengak. "Apa katamu?! Coba jelaskan lagi?"

Dengan lantang Lamkiong Peng berkata, "Asalkan kau berikan obat penawarmu, besok aku pasti kembali lagi ke sini."

"Meski ingin kupercaya kepada janjimu, tapi....”

"Kutahu janjiku tentu takkan dipercaya olehmu," potong Lamkiong Peng, "Supaya kalian tidak sangsi, boleh kau beri minum padaku racun yang bekerja sehari kemudian, lalu serahkan obat penawarmu."

Yim Hong-peng terbahak-bahak, "Haha, bagus, bagus! Tapi ingin kutanya dulu padamu, sesungguhnya apa alasanmu sehingga kau pandang jiwa orang lain terlebih penting dari-pada nyawa sendiri?"

Tanpa pikir Lamkiong Peng menjawab, "Bila orang lain berbudi luhur dan bersedia mati bagiku, kenapa aku tidak boleh mati bagi orang lain? Kan lebih baik kumati bagi orang, mati cara demikian pun akan mendatangkan ketenteraman hati."

"Haha, betul juga! Orang hidup akhirnya pasti mati," seru Yim Hong-peng dengan tergelak. "Tapi usiamu masih muda belia, di rumah ada ayah-bunda, ada pula sahabat dan kekasih, jika sekarang harus mati begitu saja, apakah engkau tidak merasa menyesal?"

Terkesiap juga Lamkiong Peng. Mendadak dia teringat akan pesan tinggalan sang guru dan serta-merta timbul rindu kepada ayah-bundanya. Ia pun ingat hubungan baik sahabat dan cinta kekasih, tapi ia pun tidak dapat melupakan budi kebaikan Tik Yang yang sekarang sedang sekarat itu.

Dengan senyum mengejek Yim Hong-peng memandang anak muda itu, disangkanya perkataannya telah menggoyahkan tekad gugur demi persahabatan anak muda itu.

Tak teduga mendadak Lamkiong Peng menengadah dan berucap tegas, "Mana obat racunnya?"

Air muka Yim Hong-peng berubah, juga Wi Ki dan lain-lain sama terkesiap.

Tiba-tiba dari pojok ruang pendopo yang kelam sana bergema pula suara aneh itu, "Racun berada di sini!"

Serentak Lamkiong Peng berpaling ke sana. Dari tempat yang kelam sana mendadak melayang tiba sebuah talam. Cara bergerak talam ini sangat aneh, serupa dipegang oleh sebuah tangan yang tidak kelihatan dan disodorkan perlahan ke depan Lamkiong Peng. Sekali meraih Lamkiong Peng pegang talam itu. Di atas talam ada sebuah kotak kemala kecil, tanpa curiga Lamkiong Peng ambil kotak kecil itu, sekali tolak ia dorong talam kembali ke sana.

"Brak!" talam kayu membentur dinding dan ternyata tidak disambut orang.

Sang surya sudah mulai terbit di ufuk timur, namun cahaya matahari pagi tetap tidak dapat membelah kabut tebal yang aneh ini. Kembali tercium bau harum sayup-sayup terbawa angin. Dengan sorot mata acuh tak acuh Yim Hong-peng memandang Lamkiong Peng. Terlihat anak muda itu sedang mendongak dan menuangkan isi kotak kemala yang berupa bubuk putih ke dalam mulutnya.

Begitu kukuh dan tegas sikap Lamkiong Peng, seolah-olah yang diminum itu bukan racun segala. Ia angkat secangkir teh yang tersedia di atas meja dan dibuat kumur. Dirasakan telapak tangan berkejang pula, memegang cangkir teh saja rasanya tidak kuat lagi. Ia menjadi sangsi, masakah racun dapat bekerja secepat ini?

Setelah menaruh kotak kemala dan cangkir teh di atas meja, dengan suara berat ia berkata, "Sekarang serahkan obat penawarnya."

"Obat penawar apa?" tanya Yim Hong-peng.

Seketika Lamkiong Peng menarik muka. Ia membentak, "Kau... jadi kau...?!"

"Racun yang kau minum kan bukan pemberianku," jengek Yim Hong-peng. Habis berkata, lengan bajunya mengibas dan segera ditinggal pergi.

Seketika hati Lamkiong Peng panas seperti dibakar. Ia tidak tahan lagi, segera ia menubruk ke arah Yim Hong-peng. Namun Yim Hong-peng tetap melangkah ke depan dengan tenang. Tampaknya Lamkiong Peng segera akan menerjang tubuhnya. Siapa tahu mendadak serangkum angin keras meyambar tiba dari balik kabut tebal sana, meski tidak bersuara, tapi kekuatannya sukar untuk ditahan.

Seketika Lamkiong Peng merasa seperti didiorong oleh kekuatan dasyat. Tanpa kuasa ia terhuyung-huyung dan akhirnya jatuh terduduk di atas kursi.

Menyaksikan itu, Wi Ki menghela napas panjang. Mendadak ia bertindak ke luar dengan langkah lebar. Sedangkan Yim Hong-peng lantas membalik tubuh dengan perlahan.

Setelah menenangkan diri, dengan gusar Lamkiong Peng membentak, "Bangsat yang tidak pegang janji! Kau...."

Dari balik kabut ada orang yang menjengek, "Hm, memangnya siapa yang pernah berjanji akan memberi obat penawarnya kepadamu?"

Saking gemasnya hingga Lamkiong Peng tidak sanggup bicara lagi.

Terdengar suara aneh di balik kabut berkata pula, "Sekali kau masuk perkampungan ini, berarti jiwamu sudah tergenggam di dalam tanganku. Masakah ada hak bagimu untuk bicara tentang tukar-menukar obat penawar segala?"

Ucapan ini sangat menyakitkan hati Lamkiong Peng, hatinya serasa terkoyak-koyak. Rasa murka dan sedih setelah tertipu, rasa cemas dan putus asa lalu membangkitkan sisa tenaganya yang terakhir. Mendadak ia menubruk ke sana, diterjangnya bayangan di balik kabut yang tebal itu.

Akan tetapi baru saja tubuhnya melompat ke atas, kontan ia tidak tahan dan jatuh menggeletak lagi ke tanah. Sayup-sayup didengarnya suara jengekan orang. Remang-remang sesosok bayangan orang seperti mendekatinya dari balik kegelapan sana. Akan tetapi kelopak matanya terasa sedemikian berat sehingga sukar terbuka lagi, samar-samar hanya terlihat sepasang sepatu yang mengkilat perlahan bergeser mendekat....

********************

Suara langkah kaki yang berat dari jauh mendekat, suaranya dari perlahan bertambah keras. Sinar sang surya yang baru terbit menembus celah-celah tirai dan menyinari kelambu bersulam bunga, berisi tempat tidur yang menyiarkan bau harum semerbak. Bersama dengan mendekatnya suara langkah orang, mendadak kelambu tersingkap.

Seorang pemuda cakap segera berbangkit dan duduk ke tepi ranjang. Mukanya kelihatan pucat, sinar matanya gemerdep takut seperti orang yang merasa berbuat dosa. Cahaya sang surya yang menyilaukan itu membuatnya mengalingi mukanya dengan sebelah tangan. Ia tidak berani menatap sinar marahari, sebab ia kuatir sinar sang surya akan menerangi kejahatan yang tersembunyi dalam lubuk hatinya.

Suara langkah kaki tadi mendadak berhenti di depan pintu. Muka pemuda itu bertambah pucat. Segera ia hendak berdiri, tak terduga dari balik kelambu di belakangnya lantas berjangkit suara tertawa genit. Sebuah tangan putih mulus telah memegang pergelangan tangannya sambil menegur, “Hei, kau mau apa?"

Dengan rasa gugup pemuda itu memandang ke arah pintu.

Kembali suara tertawa di belakang kelambu bertanya lagi, "Boleh kau tanya siapa yang di luar. Tanyalah, kanapa takut?"

Pemuda itu berdehem terlebih dahulu, lalu bertanya dengan suara berat, "Siapa itu?!" Meski cuma satu kata yang sedehana, tapi baginya serasa telah banyak memakan tenaga.

Di luar lantas bergema juga orang berdehem. Dengan gugup pemuda pucat itu duduk kembali ke tempat tidur.

Terdengar suara seorang menjawab dengan rasa takut-takut, "Apakah Tuan tamu ingin meminta sesuatu?"

Pemuda pucat ini mengusap keringat dingin yang membasahi dahinya. Sambil menghela napas lega, ia lalu berteriak, "Tidak!"

Segera bergema pula suara tertawa nyaring di balik kelambu.

Pemuda pucat itu menghela napas. Katanya, "Ai, kukira... kukira Toako yang berada di luar. Semalam aku bermimpi buruk, sebentar mimpi Suhu merangket diriku, lain saat mimpi Toako lagi mendamprat diriku dan...."

Pemuda pucat itu menunduk. Mendadak tangan putih mulus itu menariknya sehingga pemuda itu jatuh kedalam rangkulan yang hangat dan harum sehingga tidak sanggup melepaskan diri lagi, serupa seekor kelinci jatuh ke dalam perangkap si pemburu. Perlahan kelambu tertutup lagi, sejenak kemudian sebelah kaki yang putih bersih pun terjulur ke tepi ranjang yang berguncang perlahan.

"Adik Tim," terdengar suara lembut bergema pula di balik kelambu. "Andaikan benar Toako datang, lantas bagaimana?"

"Aku... aku...,” agaknya pemuda itu tidak sanggup menjawab.

Kaki putih tadi tampak terjulur lemas, lalu sampai lama tiada suara lagi di balik kelambu. Kemudian sebelah kaki yang lain juga menjulur kebawah. Lalu seorang perempuan cantik dengan rambut kusut perlahan berdiri, bajunya yang tipis melambai ke bawah sehingga menutupi kakinya yang indah. Ia membetulkan rambutnya sambil menghela napas gegetun. Katanya, "Adik Tim, kutahu engkau benar masih suka padaku."

Pemuda pucat itu pun muncul dari balik kelambu dan memandang perempuan menggiurkan itu dengan melenggong. Katanya kemudian, "Aku... aku memang suka padamu, namun Toako setiap saat dapat... dapat datang. Sungguh aku sangat... sangat takut."

Perempuan cantik menggiurkan yang habis main pat-gulipat dengan pemuda pucat ini ialah Kwe Giok-he. Mendadak ia berpaling ke sana dan menatap pemuda itu dengan tajam, katanya, "Jika selamanya Toako takkan kembali lagi, lantas bagaimana?"

Pemuda bermuka pucat itu bukan lain ialah Ciok Tim. Ia melengak sejenak, lalu berucap dengan heran, "Toako takkan kembali lagi?"

Giok-he mendengus perlahan. Ia melangkah ke sana dan duduk di kursi. Katanya, “Jika dia tidak mati kan seharusnya sudah lama dia datang ke Se-an?"

Air muka Ciok Tim tambah pucat. Katanya dengan tergagap, "Mak... maksudmu...."

Mendadak Giok-he memotong. “Tempo hari ketika di puncak Hoa san sudah kulihat jurang di luar rumah gubuk itu. Setiap saat dapat terjadi mala-petaka, bisa jadi di sana tersembunyi sesuatu kejahatan yang belum terbongkar. Tentu kaulihat juga wajah mayat itu penuh rasa kejut dan takut, padahal tubuh mayat itu tidak terdapat tanda luka senjata atau pukulan. Jelas dia mati karena ketakutan.”

“Mati ketakutan?” Ciok Tim menegas dengan melongo.

Giok-he mengangguk. Katanya pula, “Kemudian ketika kau susul tiba, bukankah kau lihat tiba-tiba aku bersenyum?”

“Kukira engkau tersenyum kepada... kepadaku,” kata Ciok Tim.

“Biar pun kusenang karena melihatmu, namun senyumanku itu adalah karena kudengar suara jeritan ngeri di bawah jurang itu.”

“Jeritan ngeri? Kenapa aku tidak mendengar?"

“Waktu itu engkau lagi asyik memperhatikan diriku, dengan sendirinya tidak mendengar. Namun dapat kudengar dengan jelas jeritan yang keras dan cemas, itulah suara Toako-mu. Coba kau pikir, menuruti watak Toako-mu yang keras, bila-mana dia tidak mengalami sesuatu musibah, mana bisa dia mengeluarkan jeritan ngeri itu?"

Ciok Tim terkesima bingung, entah merasa senang, bersyukur, gelisah atau sedih.

Sembari menggulung rambutnya, Giok-he berkata pula dengan perlahan, "Semula aku belum berani memastikannya. Tapi setelah sekian hari tiada kelihatan bayangan Toako-mu, bila dia tidak mati, mustahil sampai sekarang tidak muncul lagi di sini. Dengan nama dan bentuknya, begitu masuk kota Se-an pasti akan dikenal orang dan segera tersiar."

Bola mata Giok-he mengerling dan tersembul senyuman puas yang sukar diraba, lalu berkata pula, "Setelah bertemu dengan perempuan iblis itu, sekali pun semalam Lo-ngo (kelima, maksudnya Lamkiong Peng) dapat menyelamatkan diri, tentu selanjutnya juga tidak berani lagi menongol di dunia kangouw, bahkan pulang ke rumah saja mungkin juga tidak berani...."

Ia sengaja menghela napas, namun senyumnya bertambah cerah. Sambungnya lagi, "Tak tersangka anak murid Ji-hau-san-ceng akhirnya tersisa kita berdua saja. Betapa besar perusahaan yang ditinggalkan suhu itu terpaksa harus kuurus sendiri. Ai, selanjutnya engkau harus membantuku, adik Tim."

Ciok Tim tidak menoleh, bahkan melengos ke arah lain, sebab saat itu air matanya berlinang memenuhi kelopak matanya. Entah air mata terharu, meyesal atau sedih....

********************

Menjelang lohor, Giok-he dan Ciok Tim tampak keluar dari hotel. Langkah Ciok Tim diperlambat sehingga bertahan suatu jarak tertentu di belakang Kwe Giok-he. Jarak yang layak seorang Sute mengiringi sang Suci. Namun sinar matanya tanpa terasa selalu jatuh ke arah pinggang Giok-he yang ramping.

Jalan raya di tengah kota Se-an jelas berbeda dari-pada biasanya, hal ini disebabkan kegemparan yang terjadi semalam. Sampai saat ini perasaan penduduk masih belum tenteram kembali. Juga lantaran toko-toko yang memasang panji ‘grup Lamkiong’ hari ini sama tutup, jelas disebabkan mengalami suatu kejadian yang luar biasa.

Dengan tenang Giok-he melangkah ke arah Boh-liong-ceng, namun segala sesuatu di sekelilingnya tidak terlepas dari pengamatannya. Sebab itulah dia tidak menumpang kereta, melainkan lebih suka berjalan.

Di jalan raya yang kelihatannya tenteram tapi jelas ada kelainan itu akhirnya bergema suara derap kaki kuda dari kejauhan sana. Waktu Giok-he menoleh, dilihatnya tiga ekor kuda tinggi besar dengan pelana yang mengkilat muncul dari belakang.

Kuda belang yang di depan ditunggangi seorang pemuda gagah berbaju satin dan muka cakap. Pedang bergantung di pinggangnya, tubuhnya yang jangkung duduk tegak di atas pelana, sorot matanya yang menampilkan sinar kepongahan mengerling kian kemari seperti tiada seorang pun di dunia ini yang terpandang olehnya. Tapi ketika melihat lirikan mata Kwe Giok-he, mendadak pemuda itu menahan kudanya.

"Tring!" sarung pedang bersepuh emas menyentuh pelana kuda dan menimbulkan suara nyaring. Tanpa menghiraukan sopan santun ia memandang Giok-he dari atas ke bawah dan sebaliknya dengan cengar-cengir.

Air muka Ciok Tim berubah masam. Sedapatnya ia menahan rasa gusarnya dan tidak menghiraukan sikap orang yang kurang ajar itu. Sebaliknya sikap Giok-he meski kelihatan prihatin, tapi lirikannya serupa sengaja dan tak sengaja justru mengerling lagi dua kejap ke arah orang, lalu menunduk.

Karena itu pemuda penunggang kuda itu tambah berani. Perlahan ia terus mengintai di belakang Giok-he, sorot matanya tidak pernah meninggalkan pinggang Giok-he yang ramping menggiurkan itu.

Kedua penunggang kuda lain yang mengikut di belakangnya adalah dua kacung yang juga berdandan perlente. Keempat mata mereka yang besar juga sedang memandang Giok-he dengan penuh minat. Dandanan kedua anak ini serupa, bahkan wajah dan perawakan juga sama, namun sikap dan gerak-geriknya agak berbeda. Kalau yang satu tampak pintar dan lincah, yang lain kalihatan pendiam dan prihatin serupa orang dewasa.

Ciok Tim tidak tahan lagi akan rasa gusarnya. Ia menyusul ke dekat Kwe Giok-he. Si pemuda berbaju perlente memandang sekejap. Mendadak ia tertawa, lalu ia melarikan kudanya cepat ke depan.

"Hm kurang ajar benar orang ini!” jengek Ciok Tim.

Kacung sebelah kanan mendadak menahan kudanya dan menegur dengan mata melotot, "Apa katamu?"

Sedangkan kacung yang lain lantas mencambuk pantat kuda kawannya dan mengomel, "Sudahlah, lekas berangkat. Cari gara-gara apa lagi?"

Setelah kedua kacung itu pun melarikan kudanya ke depan, dengan tersenyum Kwe Giok-he tanya Ciok Tim, "Kau kira orang macam apakah pemuda tadi?"

"Hm, besar kemungkinan anak kemarin sore yang baru tamat belajar. Mungkin anak keluarga hartawan yang biasa berbuat semena-mena," jengek Ciok Tim.

Giok-he memandangi bayangan punggung ketiga orang di depan sana. Katanya, "Tampaknya tidak rendah ilmu silat mereka, tentu dari perguruan ternama." Di antara kerlingan dan kerut keningnya agaknya timbul lagi sesuatu pikirannya, hanya hal ini tidak dilihat oleh Ciok Tim.

Setelah melintasi lagi dua simpang jalan, tertampaklah gedung megah dengan halaman luas. Itulah Boh-liong-ceng, tempat kediaman Wi Ki. Baru saja mereka sampai di depan gerbang perkampungan itu, terdengarlah derap kaki kuda yang ramai. Ketiga pemuda penunggang kuda tadi telah menyusul tiba.

Seketika air muka Ciok Tim berubah, gumamnya, "Hm, tampaknya mereka sengaja menguntit kita."

"Jangan cari perkara," ujar Giok-he dengan tersenyum.

Tiba-tiba si pemuda perlente penunggang kuda tadi melompat turun dari kudanya dan tepat berdiri di samping Giok-he. Dengan mendongkol Ciok Tim lantas memburu maju dan memelototi orang dengan sikap bermusuhan. Selagi pemuda perlente itu hendak menyapa, sekonyong-konyong pintu gerbang perkampungan megah itu terkuak, menyusul terdengarlah gelak tertawa lantang.

Tertampak Wi Ki dan Yim-Hong-peng muncul dari dalam sembari berseru, "Aha! Rupanya ada tamu dari jauh, maaf jika tidak kusambut selayaknya!"

Dengan wajah berseri si pemuda perlente lantas berpaling ke sana dan memberi salam hormat. Diam-diam Ciok Tim berkerut kening. Ia heran orang macam apakah pemuda ini sehingga Wi Ki merasa perlu menyambut ke luar.

Di luar dugaan, Wi Ki hanya menyapa sekedarnya saja kepada pemuda perlente itu, lalu langsung menghampiri Kwe Giok-he dan berucap, "Liong-hujin sungkan bermalam di tempatku ini, tentu semalam telah beristirahat dengan tenang."

"Terima-kasih atas perhatian Wi-locianpwe," kata Giok-he sambil memberi hormat.

Baru sekarang Ciok Tim tahu bahwa yang hendak di sambut oleh Wi Ki ternyata mereka berdua, bukan pemuda perlente tadi. Sebaliknya pemuda perlente tadi merasa kikuk karena yang disambut tuan rumah ternyata bukan dirinya. Dengan tercengang ia pandang Wi Ki dan Giok-he.

Ketika dilihatnya Ciok Tim sedang meliriknya dengan sikap mengejek, seketika pemuda perlente mendelik. Dengan suara dongkol ia menjengek, "Apakah tempat ini memang betul Boh-liong-ceng?"

Dengan sinar mata gemerdep Yim Hong-peng menanggapi, "Betul, apakah saudara ini bukan serombongan dengan Liong-hujin?"

Pemuda itu menjengek, "Kudatang dari Tong-thian-kiong di puncak Kun-lun-san, siapa Liong-hujin belum pernah kukenal."

Seketika hati Giok-he, Ciok Tim, Wi Ki dan Yim Hong-peng sama tergetar.

"Aha, kiranya anda ini murid Kun-lun-pai. Silakan masuk, kebetulan meja perjamuan sudah siap, marilah kita minum bersama barang satu-dua cawan,” seru Wi Ki.

Hendaknya dimaklumi, anak murid Kun-lun-pai sangat jarang muncul di dunia kangouw. Biasanya orang kangouw juga sedikit sekali yang berkunjung ke Kun-lun-san. Sejak dahulu Put-si-sin-liong mengalahkan Ji-yan Tojin, ketua Kun-lun-pai dipuncak pegunungan itu, berita mengenai murid utama Ji-yan Tojin yaitu Boh-in-jiu Toh Put-hoan, sangat menonjol di dunia kengouw dan merupakan salah seorang jago pedang yang disegani.

Bahwa pemuda perlente ini adalah murid Kun-lun-pai, mau tak mau Wi Ki harus melayaninya dengan cara lain. Ban-li-liu-hiang Yim Hong-peng lantas ikut menyambut juga dengan hormat, seakan-akan dia adalah tuan rumahnya. Sikap pemuda perlente itu tampak tambah congkak, tanpa sungkan ia lantas mendahului masuk ke dalam Boh-liong-ceng.

Diam-diam Ciok Tim mendongkol. Dengan suara tertahan ia membisiki Kwe Giok-he, "Jika orang ini saudara seperguruan Boh-in-jiu itu, artinya dia juga musuh Ji-hau-san-ceng kita. Rasanya aku ingin menjajalnya, ingin kutahu betapa lihainya anak murid Kun-lun-pai."

"Berbuatlah menurut gelagat, jangan sembarangan bertindak," desis Giok-he sambil menarik ujung bajunya.

Sementara itu sang surya sudah memancarkan cahayanya yang gilang-gemilang. Kabut tebal tadi sudah tersapu lenyap, suasana misterius yang meliputi ruang pendopo tadi pun lenyap. Di tengah ruangan memang benar sudah siap meja perjamuan.

Wi Ki lantas berseru dengan tertawa, "Liong-hujin...."

Belum sempat ia menyilakan duduk orang, sekonyong-konyong si pemuda perlente tanpa sungkan lantas menduduki tempat utama, seakan-akan tempat itu memang disediakan untuk dia. Selaku tuan rumah, tentu saja Wi Ki berkerut kening dan kurang senang, ia pikir biar pun anak murid Kun-lun-pai seyogyanya juga tidak boleh sesombong ini.

Ciok Tim juga lantas mendengus menyatakan rasa tidak senangnya. Namun pemuda perlente itu sengaja menengadah dan tidak menghiraukan cemooh orang lain. Giok-he hanya tersenyum saja dan duduk di tempat seadanya. Ciok Tim juga tidak enak untuk bicara, terpaksa ia menahan perasaannya dan duduk di samping Giok-he.

Dengan sendirinya Wi Ki tidak dapat memperlihatkan rasa marahnya. Ia hanya berdehem dan coba menyebutkan nama Kwe Giok-he, Ciok Tim dan Yim Hong-peng, maksudnya agar pemuda perlente itu terkejut dan dapat lebih tahu diri. Siapa tahu nama ketiga orang ternyata tidak membuatnya gentar, ia hanya menyapa pandang mereka sekejap, lalu ia menyebut nama sendiri dengan nada dingin, "Dan namaku Cian
Tong-lai."

Pemuda perlente yang bernama Cian Tong-lai ini tidak bicara lebih banyak lagi, juga tidak bergerak dari tempat duduknya, hanya dipandangnya wajah Giok-he yang cantik itu dua tiga kejap, entah dia sengaja berlagak angkuh atau memang masih hijau sehingga tidak kenal nama tokoh dunia persilatan yang menonjol ini.

Wi Ki juga mendongkol melihat sikap orang yang sombong itu. Ia pikir biar pun Toh Put-hoan juga tidak berani bersikap seangkuh ini. Setelah menyilakan tetamunya minum, dengan tertawa Wi Ki berkata, "Agaknya Cian-heng belum lama terjun ke dunia kangouw, tapi kalau dibicarakan sesungguhnya kita pun bukan orang luar. Beberapa tahun yang lalu ketika suheng-mu Toh-siauhiap baru turun dari Kun-lun-san, dia juga mampir ke tempatku sini dan saling sebut sebagai saudara denganku, haha...!"

Mendadak si pemuda perlente yang mengaku bernama Cian Tong-lai itu memotong, "Toh Put-hoan adalah sutit-ku."

Tentu saja semua orang melengak. Sungguh sukar dipercaya Toh Put-hoan yang lebih tua itu ternyata murid keponakan pemuda she Cian ini.

Sambil tertawa Cian Tong-lai menenggak secawan arak lagi, lalu menuding kedua kacung yang berdiri di pojok ruangan itu dan berkata, "Kedua bocah itulah baru terhitung satu angkatan dengan Toh Put-hoan."

Baru sekarang Yim Hong-peng dan Wi Ki terkejut. Cepat Wi Ki berkata dengan menyengir, "O, maaf. Jika begitu lekas kedua saudara cilik silakan duduk juga untuk minum bersama."

Anak yang bersikap prihatin itu berucap, "Susiok hadir disini, kami tidak berani ikut duduk."

Kacung yang lain menambahkan dengan tertawa, "Asalkan lain kali bila kami berkunjung lagi ke sini jangan Wi-cengcu menyuruh kami berdiri di sini."

Muka Wi Ki berubah merah.

Didengarnya kacung tadi berseru pula dengan tertawa, "Wah, tak tersangka nama Toh-suheng sedemikian tersohor di dunia kangouw, bila tahu tentu Toasupek akan sangat senang."

Cian Tong-lai menyapu pandang sekejap, lalu menyambung dengan ketus, "Kedatanganku ini adalah karena nama Wi-cengcu yang termasyhur bermurah hati dan gemar mengumpulkan orang pandai dan bijaksana....”

Dengan sorot mata tajam ia memandang Wi Ki sekejap. Seketika air muka Wi Ki bertambah merah. Maka Cian Tong-lai menyambung lagi, "Selain itu, ingin juga kucari kabar tentang Toasutit-ku itu."

Berubah juga air muka Ciok Tim sambil memandang Giok-he sekejap.

Perlahan Cian Tong-lai berkata lagi, "Sejak meninggalkan Kun-lun-san, hanya beberapa tahun pertama saja masih ada kabar beritanya, tapi akhir-akhir ini tidak terdengar lagi sesuatu beritanya.” Sampai di sini sinar matanya berkelebat ke arah Ciok Tim, lalu menyambung dengan nada bertanya, "Jangan-jangan sahabat she Ciok ini mengetahui akan jejak Toasutit-ku itu?"

Tergetar hati Ciok Tim sehingga arak tercecer dari cawan yang dipegangnya.

Lekas Giok-he menyela, "Nama Boh-in-jiu memang sudah lama kami dengar, cuma sayang tidak pernah bertemu, cara bagaimana kami tahu jejaknya?"

“Apa betul begitu?" jengek Cian Tong-lai.

Senyum Giok-he tambah menggiurkan. Katanya, "Ucapan murid Sin-liong-bun kukira tidak perlu disangsikan." Mendadak sebelah tangannya menekan, cawan arak mendadak amblas ke dalam meja. Ketika tangannya terangkat, cawan arak ikut mumbul juga. Gerakannya cepat dan gesit, apa yang terjadi itu cuma sekejap saja.

Air muka Cian Tong-lai sedikit berubah. Ia pandang wajah Giok-he yang cantik itu. Mendadak ia bergelak tertawa, katanya, "Seumpama Hujin bukan anak murid Sin-liong-bun juga kupercaya penuh kepada keteranganmu."

Mendadak Ciok Tim mendengus.

Yim Hong-peng tertawa. Katanya, "Arak dan hidangan sudah dingin, ayolah jangan mengecewakan maksud baik tuan rumah."

Belum lenyap suaranya, mendadak terdengar deru angin keras dari udara. Suasana menjadi gelap, berbareng itu terdengar pula suara burung. Beberapa ekor elang terbang lewat di depan pendopo, habis itu lantas terbang mengitar di halaman, seluruhnya ada tujuh ekor burung elang. Berubah air muka Wi Ki, serentak ia bangkit berdiri.

Si kacung yang lincah lantas berseru dengan tertawa, "Hihi, tak terduga di sini juga ada elang sebesar ini, sungguh menarik." Baru habis ucapannya, sekonyong-konyong ia melompat miring ke atas. Kedua tangannya terpentang, terus menubruk ke tengah kawanan elang yang terbang mengitar itu. Kacung itu bergerak dengan santai, tapi meluncur secepat kilat. Bajunya yang perlente itu berkelebat, tahu-tahu sebelah tangannya sudah berhasil menangkap sayap salah seekor elang itu.

"Bagus!" seru Giok-he sambil berkeplok tertawa.

Elang itu bersuara kaget. Keenam ekor elang yang lain serentak terbang balik, sekaligus mereka hendak mematuk si kacung.

Tiba-tiba dari kejauhan ada suara jepretan busur dan bentakan orang, "Pukul!"

Berbareng itu selarik sinar hitam menyambar tiba, semua itu hanya terjadi dalam sekejap. Belum lagi tubuh si kacung turun ke bawah, tahu-tahu cahaya hitam itu sudah menyambar. Paruh keenam ekor elang yang tajam itu pun akan mengenai tubuhnya.

Baru saja Giok-he berseru ‘bagus’, seketika ia menjerit pula, "Celaka!"

Yim Hong-peng, Wi Ki, Cian Tong-lai juga berseru kuatir.

Si kacung mengendurkan cengkeramannya. Kedua kakinya di tekuk, lalu berjumpalitan sekali di udara, dan akhirnya turun ke bawah dengan enteng. Walau pun begitu ujung bajunya juga telah tertembus oleh cahaya hitam tadi.

Kacung yang lain tidak tinggal diam. Ia pun membentak, "Lihat serangan!"

Sekaligus tujuh titik perak terpancar ke depan menyerang ketujuh ekor elang. Keenam ekor elang berbunyi kaget dan terbang ke udara. Seekor sisanya sempat tersambit oleh senjata rahasia si kacung dan jatuh ke tanah bersama si kacung pertama tadi. Cahaya hitam tadi masih menyambar ke depan dengan kencang.

"Crat!", cahaya hitam yang ternyata anak pahan itu menancap di dinding, nyata tenaga pemanah itu sangat kuat.

Dengan muka kelam Cian Tong-lai berbangkit dan berkata, "Wi-cengcu, apa cara demikian Boh-liong-ceng meladeni tamunya?"

Belum lenyap suaranya segera terdengar pula orang berteriak lantang di luar, "Tujuh elang menjulang ke udara, gemilang usaha kami malang-melintang.”

Air muka Wi Ki berubah seketika, gumamnya, "Jit-eng-tong (Klik Tujuh Elang)!"

Pada saat itulah seorang lelaki berbaju hitam muncul dengan membawa sehelai kartu merah besar dan dihaturkan kepada Wi Ki. Waktu Wi Ki membuka dan membacanya, ternyata kartu merah itu tidak terdapat tulisan apa pun, melainkan cuma terlukis tujuh ekor burung elang yang warnanya berbeda dengan gaya yang berlainan dan kelihatan seperti elang hidup.

"Tamu agung, silakan masuk!" segera Wi Ki berseru sambil memburu ke luar.

Kening Yim Hong-peng bekernyit sambil bergumam, "Jit-eng-tong... Jit-eng-tong...," lalu ia pun melangkah ke luar.

Cian Tong-lai memandang bayangan punggung kedua orang itu, sinar matanya menampilkan nafsu membunuh. Ia coba tanya si kacung yang jatuh tadi, “Giok-ji, apakah kau terluka?"

Giok-ji menggeleng perlahan, namun mukanya kelihatan pucat. Sikapnya yang lincah dan periang tadi kini tak tertampak lagi.

"Boleh juga anak ini. Tampaknya dia cuma terkejut oleh sambaran anak panah dan tidak menjadi halangan," ujar Giok-he.

"Hm, anak murid Kun-lun mana boleh...."

Belum lanjut jengekan Cian Tong-lai, sekonyong-konyong berkumandang suara orang ramai dari halaman sana. Tiba-tiba elang yang terluka tadi pentang sayap hendak terbang ke udara, tapi jari telunjuk Cian Tong-lai lantas menuding.

"Crit!" kontang elang yang baru melayang setinggi manusia itu jatuh lagi ke lantai.

"Khikang yang hebat!" seru Giok-he memuji sambil melirik Ciok Tim. Tertampak air mukanya berubah. Sungguh tak tersangka anak muda yang congkak itu memiliki kungfu selihai ini, agaknya lebih hebat dari-pada ketua Kun-lun-pai sendiri.

Pada saat itulah dari balik gunung-gunungan halaman sana bergema bentakan seorang, menyusul sesosok bayangan tinggi besar melayang tiba. Ia berjongkok dan menjemput bangkai elang tadi. Di bawah sinar sang surya kelihatan rambutnya yang putih dan sorot matanya yang guram, orang tua yang tinggi besar dengan baju perlente ini kelihatan sedih sehingga tangan yang memegang bangkai elang rada gemetar.

Ia berdiri termangu sejenak, lalu bergumam seperti mau menangis, "O, Siau-ang... kau... kau mati...?"

Dari balik gunung-gunungan sana lantas muncul pula enam kakek berjenggot dan rambut ubanan, semua dengan baju perlente, namun dari gerak geriknya tidak terlihat ketuaan mereka. Muka keenam kakek ini tidak sama, dandanan mereka serupa, hanya pinggang masing-masing terikat tali sutera berlainan warna.

Seorang diantaranya berwajah putih bermata tajam dan selalu tersenyum. Tali pinggangnya berwarna putih, muncul diapit oleh Wi Ki dan Yim Hong-peng. Ketika melihat si kakek bertali pinggang merah lagi berduka memegangi bangkai elang, segera kakek muka putih bertanya, "Ada pada, Jit-te? Apakah Siau-ang terluka?"

"Mati... bahkan sudah mati...," gumam si kakek tali merah. Mendadak ia berteriak murka, "Siapa yang membunuhnya? Siapa...?!" Suaranya keras mendengung memekak telinga.

Tanpa terasa si kacung yang bernama Giok-ji tergetar mundur setindak.

Mendadak si kakek bertali merah berpaling, sorot matanya terpancar tajam. Sambil memegang bangkai elang ia terus menubruk maju, sebelah tangannya segera meraih pundak si kacung. Giok-ji seperti tertegun oleh keberingasan orang, ingin mengelak tapi tidak keburu lagi. Segera pundaknya terasa kencang dicengkeram tangan si kakek.

"Siau-ang terbunuh olehmu, bukan?!" bentak si kakek.

Kacung itu terkesiap, tapi tangan kanan mendadak bekerja, hiat-to bagian iga si kakek hendak ditotoknya. Terkejut juga si kakek oleh serangan ini, sedikit menggeliat dapatlah ia menghindar. Tak tersangka kaki kiri si kacung juga lantas melayang ke depan, mengarah selakangan si kakek. Dalam keadaan demikian, bila si kakek tidak lepas tangan, seketika dia bisa menggeletak binasa. Terpaksa si kakek menyelamatkan diri lebih dulu, ia melompat mundur.

Tak terduga pundak segera terasa kesemutan, tahu-tahu dicengkeram orang. Suara orang yang ketus bergema di samping telinganya, "Akulah yang membunuh binatang piaraanmu itu."

Kejadian ini berlangsung dengan cepat dan membuat semua orang melenggong. Dengan kuatir cepat Wi Ki berseru, "Hei, Cian-siauhiap! Ang-jitya! Ada urusan apa marilah bicara secara baik-baik!"

Serentak keenam kakek berbaju perlente juga memencarkan diri dan mengepung Cian Tong-lai dan kedua kacungnya di tengah. Namun Cian Tong-lai menghadapi mereka dengan santai saja, ia tetap mencengkeram pundak si kakek bertali merah. Dengan tak acuh ia pandang keenam kakek itu satu persatu, sama sekali tidak gentar terhadap ketujuh kakek yang terkenal sebagai Thian-hong-jit-eng (Tujuh Elang Menembus Langit), ketujuh piaukiok (perusahaan pengawalan) yang termasyhur sejak tiga puluh tahun yang lampau.

Si kakek bertali merah tidak dapat berkutik, hanya matanya mendelik dan jenggotnya seakan-akan menegak. Bahkan ia juga tidak berani bersuara, sebab dirasakan ada arus tenaga kuat tersalur dari Koh-cing-hiat di bagian pundak menembus ke dalam tubuh. Bila-mana tubuh sendiri sedikit meronta, bukan mustahil tenaga tidak kelihatan itu akan bekerja keras dan menggetar putus urat nadi jantungnya.

Keenam kakek berbaju perlente dari Thian-hong-jit-eng itu sangat gusar, tapi tidak berani sembarang bertindak mengingat kawan sendiri berada dalam cengkeraman musuh. Giok-he mengerling sekejap, dilihatnya wajah Wi Ki menampilkan rasa cemas dan kuatir, sedangkan Yim Hong-peng tetap tenang saja. Kedua kacung tadi sedang mengawasi keenam kakek dengan was-was.

Keenam ekor elang tadi kembali terbang mengitar di udara tepat di atas kepala Cian Tong-lai, seakan-akan mengetahui bahaya yang sedang mengancam si kakek bertali merah. Sekonyong-konyong keenam ekor elang sama berbunyi dan menubruk ke bawah, sekaligus mematuk kepala Cian Tong-lai. Berbareng itu keenam kakek juga membentak dan serentak menerjang maju.

Alis Cian Tong-lai menegak mendadak. Sebelah tangannya menampar ke atas, kontan keenam ekor elang terdampar oleh angin pukulan dasyat sehingga tertahan dan tidak mampu menembus angin pukulan. Kesempatan itu segera digunakan si kakek bertali merah untuk mendak ke bawah, terus hendak memberosot ke samping.

"Hm, ingin lari?!" jengek Cian Tong-lai.

Saat itu juga seorang kakek bertali pinggang warna putih sempat melompat tiba lebih dulu. Segera ia menarik kakek bertali pingggang merah dan tak sempat menyerang Cian Tong-lai.

Kedua kacung tadi tidak tinggal diam, mereka songsong si kakek bertali ungu dan kuning. Walau pun usia kedua kacung ini masih muda belia, tapi mereka tidak gentar menghadapi lawan tangguh. Si kakek bertali ungu dan kuning saling pandang sekejap, lengan baju mereka mengibas dan keduanya sama menyurut mundur. Betapa pun tokoh Jit-eng-tong yang termasyhur tidak sudi bergebrak dengan dua anak ingusan.

Dan karena daya tubrukan kawanan elang tadi tertahan oleh angin pukulan Cian Tong-lai, burung-burung itu merandek, lalu segera menubruk lagi ke bawah. Saat itu juga Cian Tong-lai sudah terkepung oleh ketiga kakek yang bertali pinggang berwarna hijau, hitam, biru. Sekali bergerak, kembali ia desak mundur ketiga kakek itu, lalu menjengek, "Huh! Main kerubut, dibantu pula kawanan hewan. Kiranya beginilah jago silat daerah Tionggoan."

Muka si kakek bertali hitam tampak dingin. Mendadak si kakek bertali biru bersuit perlahan sambil menggeser ke samping kawannya. Kawanan elang yang sedang menubruk ke bawah mendadak terbang lagi ke atas.

Si kakek bertali hijau berseru, "Lakte, mundur dulu, biar kubelajar kenal dengan orang angkuh ini!" Segera ia melancarkan beberapa pukulan dasyat. Meski perawakannya paling kecil, tapi kekuatannya sangat mengejutkan.

Si kakek bertali putih sempat menarik kakek bertali merah ke pinggir kalangan, dan kebetulan arahnya di samping Giok-he berdiri.

Dengan simpatik Giok-he bertanya, "Tampaknya tidak ringan luka Locianpwee ini. Aku bawa obat luka dalam. Jika sekiranya perlu boleh Locianpwee pakai.”

Si kakek bertali putih tersenyum. Katanya, "Terima-kasih, cuma saudaraku ini hanya tertotok Hiat-to kelumpuhannya saja, sebentar lagi dapat bergerak lagi dengan bebas."

Dalam pada itu si kakek bertali hijau sudah bergebrak beberapa jurus dengan Cian Tong-lai. Keduanya sama bergerak dengan cepat, namun tenaga pukulan si kakek bertali hijau ternyata tidak tahan lama, tampak ia sudah mulai lelah.

Si kakek bertali kuning bergeser ke sisi Giok-he dan bertanya dengan suara tertahan, "Apakah anak muda ini sekomplotan denganmu?"

"Jika kami sekomplotan, tentu dia takkan berbuat sekasar itu kepada para Locianpwe," jawab Giok-he dengan menyesal.

Sementara itu si kakek bertali putih sedang menguruti tubuh si kakek bertali merah. Tanpa menoleh ia menukas, "Pemuda itu adalah anak murid Kun-lun-san. Ilmu silatnya tidak rendah, hendaknya Lak-te disuruh jangan gegabah."

Si kakek bertali kuning termenung sejenak, lalu ia mendekati Wi Ki. Saat itu Wi Ki juga merasa serba susah dan tidak tahu cara bagaimana harus melerai.

Tiba-tiba si kakek bertali kuning menghampiri Wi Ki dan mendengus, "Hm, tak terduga orang Cong-lam-pai bisa ada hubungan dengan murid Kun-lun-pai."

Selagi Wi Ki melengak dan belum sempat menjawab, si kakek bertali kuning berkata pula, "Sebenarnya kedatangan kami tidak berniat jahat, melainkan ingin mencari murid seorang sahabat lama dan minta Wi-cengcu suka membantu. Siapa tahu cara demikianlah sambutan di sini!" Si kakek bertali kuning ini sudah tua, tapi wataknya tetap sangat keras. Habis bicara segera ia melancarkan pukulan.

Di sebelah sana si kakek bertali ungu bernama Tong Jit-thian dan si biru bernama Na Lok-thian sekaligus lantas menerjang juga ke arah Cian Tong-lai. Kakek bertali hijau yang sedang menempur Cian Tong-lai itu bernama Leng Cin-thian. Dahulu dia terkenal dengan Tai-li-kim-kong-jiu, Pukulan Bertenaga Raksasa, tapi sekarang dia ternyata bukan tandingan pemuda she Cian yang sombong ini.

Diam-diam Giok-he dan Ciok Tim terkesiap menyaksikan ketangkasan Cian Tong-lai. Begitu pula Yim Hong-peng, juga menampilkan rasa kagum serupa pertama kalinya melihat Lamkiong Peng dahulu.

Kedua kacung segera bergerak juga hendak menghadang Tong Jit-thian dan Na Lok-thian, tapi mendadak bayangan hitam berkelebat. Seorang kakek kurus tinggi dengan muka kaku dingin berdiri di depan mereka, sorot matanya tajam menimbulkan rasa ngeri orang. Perlahan si kakek bertali hitam mengangkat tangannya, kedua kacung itu terkesiap dan tanpa terasa menyurut mundur setindak, sorot mata mereka sama menatap tangan si kakek kurus kering dan hitam ini.

Tak terduga tangan si kakek hanya terangkat saja dan tidak bergerak lagi. Wajahnya juga tetap kaku tanpa memperlihatkan sesuatu perasaan, hanya sorot matanya yang mencorong tajam tetap menatap kedua kacung itu. Sorot matanya seperti membawa semacam daya gaib yang sukar dilukiskan, sekali pun Yim Hong-peng juga terkesiap demi beradu pandang dengan sorot mata aneh itu.

Diam-diam Yim Hong-peng heran. "Aneh, apakah sorot matanya itu pun mengandung semacam kungfu mukjizat?"

Tiba-tiba teringat olehnya ada semacam kungfu istimewa yang sudah lama menjadi dongeng di dunia kangouw. Tanpa terasa ia memandang ke sana. Dilihatnya muka kedua kacung itu pucat pasi, keempat biji matanya yang besar terbelalak lebar, tapi kaku tak bergerak melainkan cuma menatap telapak tangan si kakek yang hitam itu. Setiap kali si kakek melangkah maju setindak, seperti kena sihir, setiap kali pula kedua kacung itu pun menyurut mundur setindak. Berulang si kakek mendesak maju tiga tindak dan kacung itu pun mundur tiga tindak.

Dengan suara aneh si kakek berkata perlahan, "Berdiri saja di sini dan jangan bergerak."

Benar juga, kedua kacung itu lantas berdiri termenung tanpa bergerak, hanya mata melotot dan muka bertambah pucat.

"Hari sudah hampir gelap, tidurlah!" ucap pula si kakek.