Amanat Marga (Hu Hua Ling) Jilid 09

Namun sebelum tiba di depan pintu, seorang pelayan tinggi kurus keburu memapak kedatangan mereka, bukan menyatakan selamat datang melainkan merintangi jalan mereka.

"Ada apa?" tanya Lamkiong Peng dengan melenggong.

"Kau mau apa?" pelayan itu balas bertanya dengan sikap sombong.

"Sudah barang tentu ingin makan minum," jawab Lamkiong Peng. "Memangnya restoran kalian ini tidak terbuka untuk umum?"

Pelayan jangkung itu mendengus, "Dengan sendirinya terbuka untuk umum, cuma tamu yang berkunjung kemari dengan membawa peti mati jelas tidak kami terima."

Baru sekarang Lamkiong Peng tahu duduknya perkara. Ia tertawa dan berkata, "Tapi peti ini kosong, kalau tidak percaya biar kubuka."

Selagi ia hendak menaruh petinya, siapa tahu pelayan itu lantas mendorongnya sambil membentak, "Kosong juga tidak kami terima!"

Meski kurus badannya ternyata cukup bertenaga juga, jelas pelayan ini bukan sembarangan pelayan. Karena ramai-ramai itu banyak orang lantas berkerumun.

Sedapatnya Lamkiong Peng menahan rasa dongkolnya. Ia coba menjelaskan, "Kukenal kuasa kalian. Bolehlah memberi keringanan, biarlah kutaruh peti ini di luar."

"Kenal kuasa kami juga tidak boleh, lekas pergi, lekas...!" seru si pelayan dengan gusar.

Agaknya Bwe Kim soat juga dapat melihat Lamkiong Peng tidak mau menimbulkan perkara. Maka ia menarik lengan baju pemuda itu dan berkata, "Di sini tidak terima, biarlah kita cari yang lain saja."

Tanpa rewel Lamkiong Peng meninggalkan pelayan jangkung itu. Didengarnya pelayan itu masih mengomel, "Huh, tidak tanya-tanya dulu tempat apa ini dan siapa yang membuka restoran ini! Memangnya kau tahu siapa Kongcuya kami? Kalau berani bikin onar, mustahil tidak patahkan kakimu...!"

Kim-soat melirik sekejap. Dilihatnya Lamkiong Peng tetap tenang saja tanpa keki sedikit pun. Diam-diam ia merasa heran. Siapa tahu, restoran berikutnya juga menolak tamu yang tidak diterima oleh Koai-cip-lau, berturut-turut tiga restoran lain bersikap sama.

Tentu saja Lamkiong Peng rada mendongkol, terutama mendengar suara ejekan orang yang membuntutinya untuk melihat keramaian. Namun dia tetap tenang saja. Sesudah sampai di suatu gang, ia mendapatkan sebuah rumah makan kecil yang mau menerima mereka. Pemilik rumah makan itu sudah tua, tanpa tenaga pembantu.

Pemilik rumah makan itu menyiapkan mangkuk piring sendiri bagi tamunya sambil berkata, "Mestinya kami juga tidak berani menerima tamu yang ditolak Koai-cip-lau, tapi mengingat tuan tamu masih muda dan membawa keluarga... Ai, konon pemilik Koai-cip-lau mempunyai seorang Kongcuya yang berbudi luhur dan suka menolong sesamanya, di segala pelosok terdapat sahabatnya. Bisa jadi yang tuan temui tadi ialah Yu-jiya yang kabarnya memang lebih galak dari-pada kuasanya."

Begitulah sembari bicara, sebentar saja ia telah menyiapkan santapan sekedarnya. Tanpa banyak omong Lamkiong Peng dan Bwe Kim-soat makan minum secukupnya. Kemudian Lamkiong Peng minta pinjam alat tulis. Ia tulis sepucuk surat ringkas dan dilipat dengan baik, lalu menyuruh seorang anak penjual kacang di tepi jalan. Setelah diberi persen dan pesan seperlunya, anak penjual kacang itu lantas berlalu.

Bwe Kim-soat hanya tersenyum saja dan memandangnya. Ia tidak tanya apa yang dilakukan oleh Lamkiong Peng, seperti sudah menduga apa yang bakal terjadi. Mereka melanjutkan bersantap dengan tenang.

Tidak lama kemudian mendadak dari luar berlari masuk seorang berbaju perlente, yaitu seorang lelaki setengah umur dengan muka putih. Begitu masuk segera ia menjura kepada Lamkiong Peng. Belum lagi orang ini sempat bicara, kembali dari luar berlari masuk seorang lagi dan langsung berlutut di depan Lamkiong Peng dan menyembahnya tanpa berhenti. Nyata orang ini ‘Yujiya’, si pelayan jangkung Koai-cip-lau.

"Eh, ada apakah kalian ini?" ucap Lamkiong Peng dengan tersenyum.

Keadaan ‘Yu-jiya’ itu sekarang sungguh harus dikasihani, berulang menyembah dan minta ampun. Lelaki perlente setengah umur itu pun tampak gugup, katanya, "Ampun, tak tersangka Kongcuya bisa... bisa berkunjung ke daerah barat laut sini."

Si kakek pemilik warung makan jadi melongo juga. Ia hampir tidak percaya kepada apa yang terjadi. Maklumlah, keluarga hartawan Lamkiong turun-temurun terkenal kaya raya, di mana-mana hampir terdapat perusahaan mereka, pegawainya tidak kurang dari puluhan ribu orang. Tapi tidak banyak yang kenal majikan muda mereka, Lamkiong Peng.

Sekarang Lamkiong Peng hanya menulis secarik kertas dan dibubuhi tanda tangan, lalu kuasa Koai-cip-lau dan Yu-jiya tadi telah dibikin kelabakan setengah mati dan tidak tahu apa yang harus dikemukakan terhadap majikan muda dan tidak tahu pula cara bagaimana harus minta ampun.

"Wah, tampaknya kita harus ganti tempat untuk makan lebih enak," kata Bwe Kim-soat dengan tersenyum.

Lamkiong Peng juga tersenyum. Ia lalu mengucap, "Bagaimana Yu-jiya, bolehkah kami membawa peti ini ke sana?"

Dengan sendirinya anak buahnya takkan membiarkan sang majikan muda mengangkat peti mati sendiri. Segera kuasa Koai-cip-lau menyela, "Silakan Kongcu pindah dulu ke tempat sendiri. Sebentar hamba akan menyuruh orang mengangkat peti ke sana." Diam-diam ia pun heran, untuk apakah majikan muda membawa sebuah peti mati kian kemari? Dengan sendirinya ia tidak berani bertanya.

Lamkiong Peng tersenyum. Ia mengeluarkan sebuah kantung sutera kecil dan dilemparkan ke atas meja. Katanya kepada orang tua pemilik warung, "Inilah uang makan kami. Satu-dua hari lagi tentu akan kuatur pekerjaan baik bagimu. Di bawah pimpinanmu, kuyakin Koai-cip-lau akan melayani setiap pengunjungnya dengan lebih ramah tamah."

Tanpa menunggu terima-kasih si orang tua, segera Lamkiong Peng melangkah pergi bersama Bwe Kim-soat. Dengan sendirinya orang yang berkerumun juga lantas bubar. Orang tua ini berdiri melenggong di dekat pintu, rasanya seperti habis mimpi saja. Ia duduk di tepi meja dan membuka kantung kecil itu, seketika cahaya gemerdep serupa sinar matahari menyilaukan matanya. Isi kantung adalah empat biji mutiara hampir sebesar jari. Rezeki nomplok ini sungguh datangnya terlalu mendadak, seketika ia terkesima.

Sekonyong-konyong terdengar suara keriat-keriut yang perlahan. Waktu ia menoleh, seketika ia melongo, darah serasa membeku. Tanpa terasa kantung sutera kecil itu tersampar jatuh ke lantai, keempat biji mutiara pun menggelinding ke luar dan berhenti di samping peti mati yang tertaruh di pojok sana.

Suara keriat-keriut itu rupanya suara terbukanya tutup peti mati. Dilihatnya seorang Tojin berjubah hijau dan berlumuran darah merangkak ke luar dari dalam peti. Di bawah cahaya lampu yang guram, muka si Tojin kelihatan beringas menakutkan.

Saking ngerinya si kakek berdiri seperti patung dengan kaki gemetar. Belum lagi dia sempat menjerit, tahu-tahu Tojin berdarah itu menubruk tiba, jarinya yang kuat serupa kaitan mencekik leher si kakek. Hanya sempat terjadi rontaan sedikit, lalu semuanya kembali sunyi lagi. Si kakek roboh terkulai.

Tojin itu celingukan kian kemari. Untung di situ tiada orang lain lagi, semuanya sudah ikut pergi menyaksikan kegantengan Lamkiong-kongcu yang termasyhur itu. Ia menghela napas lega dan buru-buru naik ke atas loteng. Ia tukar pakaian milik si kakek, lalu dengan langkah agak sempoyongan ia menyelinap ke luar warung makan itu, meninggalkan si kakek yang rebah di samping peti mati bersama empat biji mutiara....

********************

‘Putera pewaris keluarga Lamkiong datang ke Limeong’, berita ini telah menggemparkan segenap lapisan masyarakat kota ini. Di Koai-cip-lau diadakan pesta penyambutan yang meriah. Banyak tokoh dari berbagai golongan sama mohon bertemu. Tapi di tengah keramaian itu, diam-diam pemuda itu mengeluyur ke luar dari Koai-cip-lau dan mendatangi lagi warung makan di gang kecil itu.

Ia menjadi heran juga setiba di gang itu. Di situ juga penuh berkerumun orang banyak. Cepat ia memburu ke situ dan menyelinap di tengah berjubelnya orang banyak untuk melongok apa yang terjadi. Dengan sendirinya terlihat olehnya adegan yang mengenaskan itu.

Jika seekor burung mati saja dipendam dengan baik oleh Lamkiong Peng, apalagi jenazah seorang tua yang kematiannya dapat diduga karena perbuatannya. Maka esoknya berlangsunglah upacara penguburan yang ramai. Iringan pelayat panjang serupa barisan, sudah barang tentu semua itu berkat kehormatan Lamkiong-kongcu belaka. Kereta jenazah menuju ke tempat pemakaman di Se-an, sebuah kota kuno di sebelah barat Limeong.

Tidak jauh iringan kereta jenazah keluar Limeong, tiba-tiba dari depan berlari datang seorang lelaki kekar dengan pakaian berkabung. Sesudah dekat dan melihat Lamkiong Peng berada di samping kereta jenazah, langsung ia berlutut dan menyembah. Selagi Lamkiong Peng merasa bingung, lelaki berbaju putih itu sudah bertutur, "Hamba Gui Sing-in. Berkat bimbingan Kongcu, saat ini memimpin perusahaan di Se-an...."

"Baiklah, bicara saja nanti. Saat ini bukan waktunya untuk bicara urusan perusahaan," kata Lamkiong Peng.

Dengan gugup Gui Sing-in menyambung lagi, "Tapi... tapi hamba ingin melaporkan tentang sesuatu peristiwa yang bersangkutan dengan pemakaman ini...."

Baru sekarang Lamkiong Peng tertarik. Cepat ia bertanya, "Memangnya terjadi peristiwa apa?"

Maka Gui Sing-in melapor lagi, "Ketika hamba kemarin mendapat kabar maksud Kongcu akan mengadakan pemakaman ini, serentak hamba menyiapkan sesajian yang diperlukan untuk mengadakan sembahyangan di tengah jalan. Siapa tahu secara kebetulan di Se-an juga ada peristiwa pemakaman secara besar-besaran sehingga hampir seluruh barang sembahyang sebangsa hiosoa, lilin, kertas bakar dan sebagainya terborong habis. Untung dengan harga berlipat barulah hamba mendapatkan sedikit untuk keperluan sekedarnya."

"Sekedarnya pun sudah cukup, bikin susah saja kepada kalian," ujar Lamkiong Peng.

"Terima-kasih atas kebijaksanaan Kongcu," kata Gui Sing-in. "Karena khawatir kereta jenazah akan lewat lebih dulu, maka sejak semalam juga hamba sudah siap di sini dengan meja sembahyang. Menjelang subuh tadi, mendadak debu mengepul di kejauhan. Hamba mengira kereta jenazah telah tiba, siapa tahu yang muncul adalah beberapa penunggang kuda yang semuanya memakai seragam hitam, ikat kepala hitam, bahkan segala sesuatu yang mereka bawa juga serba hitam. Kulihat pada pelana kuda mereka membawa sebuah panji merah kecil, semuanya kelihatan habis menempuh perjalanan jauh. Sikap mereka tampak gelisah dan tidak sabar lagi."

Lamkiong Peng terkesiap. Ia berpikir, "Mungkinkah para penunggang kuda itu adalah anak buah Suma Tiong-thian dari Ang-ki-piaukiok (Perusahaan Pengawalan Panji Merah)?"

Didengarnya Gui Sing-in menyambung lagi penuturannya, "Begitu hamba melihat dandanan kawanan penunggang kuda itu, segera hamba tahu mereka bukan orang baik-baik, maka sedapatnya kami menghindarinya."

Diam-diam Lamkiong Peng merasa kurang senang oleh komentar Gui Sing-in itu. Jika benar mereka orang dari Ang-ki-piaukiok, kenapa disangka bukan orang baik-baik?

"Tak terduga," demikian Gui Sing-in menyambung lagi, "begitu melihat rombongan hamba, kawanan penunggang kuda itu lantas melompat turun dan sama berlutut sambil berseru, ´Maaf, Loyacu, kami datang terlambat´, Malahan ada di antaranya lantas menangis sedih."

Lamkiong Peng melenggong. Ia heran, apakah dugaannya juga keliru?

Terdengar Gui Sing-in menutur pula, "Selagi hamba terheran-heran dan ingin tanya mereka datang melayat bagi siapa, tak tahunya kawanan penunggang kuda itu pun sudah sempat melihat tulisan pada meja sembahyang. Mereka menjadi gusar dan berbangkit, kontan mereka mencaci maki."

"Dengan sendirinya hamba tidak rela, kukatakan mereka yang salah lihat, kenapa menyalahkan orang lain? Rupanya mereka menjadi kalap, tanpa bicara lantas menyerang. Hamba sekalian tidak mampu melawan mereka, sebagian saudara terhajar hingga babak belur dan sudah dibawa pulang untuk dirawat. Kawanan penunggang itu lantas pergi dan begitulah. Mohon Kongcu memaafkan."

Lamkiong Peng memandang sekejap ke meja sembahyang yang berada di tepi jalan. Beberapa lelaki yang berlutut itu tampak benjut dengan mata biru. Meski tidak parah, tapi cukup mengenaskan. Lamkiong Peng tetap tenang saja. Ia suruh Gui Sing-in dan kawan-kawannya berbangkit dari sembahyang penyambutan yang dilakukan dengan sederhana itu, lalu iringan kereta jenazah meneruskan perjalanan.

Mendadak timbul pikiran Lamkiong Peng, "Ang-ki-piaukiok itu adalah perusahaan tua dan cukup terkenal di dunia persilatan. Thi-cian-ang-ki (Tombak Baja Panji Merah) Suma Tiong-thian juga terkenal luhur budi, setiap anak buahnya tidak mungkin berbuat kasar begitu. Mungkin telah terjadi salah paham. Bukan mustahil pula beberapa pegawaiku ini yang kurang sopan sehingga membikin marah orang lain." Dia memang pemuda bijaksana, segala sesuatu selalu ditinjau secara adil. Sebelum mencela orang lain, periksa dulu kesalahan pihak sendiri.

Kota kuno Se-an semakin dekat. Tiba-tiba timbul lagi pikiran Lamkiong Peng, "Kawanan penunggang kuda berpanji merah itu datang melayat secara terburu-buru, entah kaum Cianpwee siapa di daerah ini yang wafat. Ai, akhir-akhir ini berturut-turut beberapa jago tua telah meninggal dunia, dunia persilatan semakin sedikit tokoh yang bijaksana. Bukan mustahil akan timbul lagi kekacauan di dunia kangouw." Perasaannya menjadi tertekan dan masygul.

Selagi melamun, tiba-tiba terdengar suara bentakan orang di depan sana. Hanya dalam sekejap saja beberapa orang muncul dan berdiri sejajar merintangi jalan kereta. Seorang yang menjadi pemimpinnya berbaju merah, tapi bermuka pucat dengan mata bersinar. Ia tatap Lamkiong Peng dan menegur, "Hendaknya saudara berhenti dulu!"

Terpaksa iring-iringan kereta berhenti, hanya suara musik yang sendu memilukan tetap bergema.

Lamkiong Peng memandang orang-orang itu sekejap dan menjawab, "Ada petunjuk apa?"

Orang berbaju merah itu memandang sekejap iringan kereta jenazah di belakang Lamkiong Peng, lalu berkata pula, "Agaknya Anda inilah penanggung jawab pada iringan ini?"

Lamkiong Peng mengiyakan.

"Jika begitu, ingin kumohon sesuatu...."

"Silakan bicara!"

"Yakni mengenai iringan kereta jenazah kalian ini, dapatkah memutar ke pintu gerbang barat saja?"

Lamkiong Peg terdiam sejenak. Ia lalu berkata, "Bukankah gerbang timur sudah dekat di depan?"

"Betul di depan adalah gerbang timur," jawab orang itu, ujung mulutnya menampilkan senyuman yang angkuh. "Tapi di gerbang timur sana saat ini banyak kawan kangouw sedang mengadakan sembahyangan untuk menghormati seorang Bu-lim-cianpwe. Apabila saudara tidak berputar ke gerbang barat, tentu tidak leluasa."

Kening Lamkiong Peng bekernyit, "Jika kuganti arah jalan, tentu juga akan kurang leluasa. Jalan raya cukup lebar dan dapat dilalui siapa pun. Hendaknya maafkan, tak dapat kuturut permintaanmu."

Orang berbaju merah itu tampak kurang senang. Ia pandang Lamkiong Peng sekejap, lalu berucap pula, "Aku sih tidak menjadi soal bila saudara tidak mau berganti arah, tapi para sahabat yang di sana itu rasanya sukar untuk diajak bicara." Ia merandek sambil menengadah. Tanpa menunggu tanggapan Lamkiong Peng, ia menyambung lagi, "Hendaknya kau pikir sendiri. Apabila yang meninggal itu bukan tokoh kangouw terkemuka, mustahil sahabat kangouw mau mengadakan upacara penghormatan terakhir baginya di sini. Dan upacara besar-besaran ini, masa boleh diganggu oleh iringan kereta jenazah lain? Maka kuharap sebaiknya saudara mengambil jalan putar saja."

Diam-diam Lamkiong Peng kurang senang. Ia berkata, "Dunia persilatan mengutamakan keluhuran budi dan setia kawan. Apalagi membela yang besar dan menindas yang kecil, tentu takkan dibenarkan oleh mendiang tokoh besar yang kalian puja itu. Apalagi kalau bicara tentang nama dan kedudukan, melulu peti mati di atas kereta kami ini pun tidak perlu harus mengalah dan mengambil jalan lain."

Orang berbaju merah itu menatap Lamkiong Peng sejenak. Mendadak ia tersenyum, lalu katanya, "Baiklah, jika Anda tidak mau terima nasihatku, terpaksa aku tidak ikut campur lagi." Segera ia membalik tubuh dan melangkah pergi.

Tak terduga seorang lelaki kekar di sampingnya mendadak berteriak, "Yim-toako tidak mau ikut campur, biarlah aku Sih Po-gi yang ikut campur. Wahai sahabat, kubilang putarlah ke arah lain!" Berbareng itu sebelah tangannya terus mendorong pundak Lamkiong Peng.

Air muka Lamkiong Peng berubah. Dengan gesit ia hindarkan tolakan orang, kemudian membentak, "Selamanya kita tidak ada permusuhan, mengapa kau main kekerasan?"

"Hahaha," lelaki itu terbahak. "Kubilang sebaiknya kau putar ke jalan lain, sahabat cilik, tentu paman Sih takkan membikin susah padamu." Sembari bicara kembali dia mendesak maju. Tangannya meraih pula hendak memegang bahu Lamkiong Peng.

Namun anak muda itu mendadak mengegos. Secepat kilat sebelah tangannya balas meraih pergelangan tangan lawan, sekali sengkelit kontan Sih Po-gi terbanting roboh. Tentu saja beberapa kawan Sih Po-gi terkejut, beramai-ramai mereka lantas menerjang maju. Syukurlah pada saat itu juga si baju merah yang disebut ‘Yim-toako’ tadi muncul kembali bersama dua orang tua berbaju hitam dan menyerukan agar pertarungan dihentikan.

"Hm, main kerubut, apakah tidak kenal peraturan Bu-lim lagi?" jengek Lamkiong Peng terhadap si baju merah.

"Hebat juga kepandaian saudara cilik ini, rupanya juga orang golongan kita." kata si baju merah. "Jika begitu urusan menjadi mudah dibicarakan. Kuperkenalkan lebih dulu kedua tokoh kita ini...."

Lalu ia tuding kakek baju hitam sebelah kiri yang bertubuh lebih tinggi dan berkata pula, "Inilah salah seorang dari Bin-san-ji-yu (Dua Sahabat dari Gunung Bin) yang dulu terkenal sebagai Thi-ciang-kim-kiam (Telapak Besi Pedang Emas Sakti) Tiangsun Tan, Tiangsun-toasiansing."

Kakek baju hitam yang disebut itu berdiri diam saja.

Maka si baju merah menunjuk lagi kakek yang lain. Katanya, "Dan ini dengan sendirinya ialah Keng-hun-siang-kiam (Si Pedang Penggetar Sukma) Tiangsun Kong, Tiangsun-jisiansing."

Lamkiong Peng memberi hormat dan merasa heran mengapa kedua pendekar pedang yang terkenal berwatak nyentrik ini juga bisa muncul di sini. Untuk apa pula si baju merah menonjolkan mereka kepadanya?

Didengarnya si baju merah berucap pula dengan tersenyum, "Diriku memang kaum keroco yang tidak bernama, tapi bila kedua Tiangsun-locianpwee ini pun jauh-jauh datang melayat ke sini, memangnya berapa orang kangouw yang mempunyai kehormatan sebesar ini? Masakah saudara cilik ini tidak dapat menerkanya?"

Pada saat itu juga sebuah kereta kuda putih dengan tabir terurai telah melampaui iringan pelayat dan berada tidak jauh di belakang Lamkiong Peng, tapi anak muda itu belum lagi mengetahui. Ia sedang berpikir, "Ya, siapakah tokoh besar yang mati ini sampai Bin-san-ji-yu juga datang melawat?"

Tanpa terasa ia tersenyum getir, lalu menjawab, "Agaknya pengalamanku terlalu cetek sehingga tidak dapat menerkanya, mohon Anda sudi memberi penjelasan."

Mendadak air muka si baju merah berubah serius dan khidmat. Ucapnya dengan menyesal, "Kematian tokoh ini bagi orang kangouw serupa meninggalnya orang-tua mereka. Setiap orang merasa kehilangan sandaran. Beliau tak lain tak bukan adalah jago yang terkenal dengan pedang Yap-siang-jiu-loh, Put-si-sin-liong Liong-loyacu. Nah, sebagai sesama orang dunia persilatan, sekarang tentu saudara takkan keberatan untuk memutar ke jalan lain, bukan?"

Seketika Lamkiong Peng berdiri mematung dan tidak sanggup bersuara.

Si baju merah merasa heran juga melihat sikap Lamkiong Peng yang serupa orang linglung itu. Ia menegur, "Eh, apakah saudara juga kenal Liong-loyacu ini?"

Mendadak Lamkiong Peng menjura padanya, habis ini mendadak ia berlari ke arah Se-an secepat terbang.

Tentu saja Bin-san-ji-yu melengak, serentak mereka pun hendak bergerak. Tapi si baju merah lantas mencegahnya, "Tidak perlu mengejarnya. Tampaknya perguruan anak muda ini pasti ada sangkut pautnya dengan Put-si-sin-Liong. Kepergiannya tentu tidak bermaksud jahat, bisa jadi akan ikut bersembahyang."

Dalam pada itu Lamkiong Peng sedang berlari ke depan. Hanya sekejap saja bayangan benteng kuno sudah tertampak di sana. Di kaki tembok benteng tampak penuh berdiri orang berseragam hitam, semuanya memegang dupa dan antre memberi penghormatan terakhir pada meja sembahyang.

Seorang kakek tinggi besar tampak berdiri di tengah orang banyak dengan sikap khidmat. Mendadak ia berteriak, "Selama hidup Put-si-sin-liong terkenal gagah perkasa. Untuk keperwiraannya, marilah kita bersorak lagi baginya!"

Dan serentak terdengar orang bersorak gemuruh seperti suara yang didengar Lamkiong Peng dalam perjalanan tadi. Dada Lamkiong Peng terasa bergejolak, entah duka atau gembira, tapi ia masih terus berlari menuju ke depan. Belasan orang merasa kaget ketika mendadak seorang pemuda menyelinap lewat di antara mereka. Serentak mereka membentak dan ada yang berusaha merintangi. Namun segesit belut Lamkiong Peng terus menyelinap maju.

"Kurang ajar!" gerutu si kakek tinggi besar tadi demi melihat anak muda ini berani main terobos begitu saja di tengah suasana khidmat ini. Selagi dia hendak memerintahkan orang membekuk Lamkiong Peng, tiba-tiba dua orang di sampingnya memberi kisikan, seketika lenyaplah rasa gusarnya.

Dalam pada itu Lamkiong Peng sudah menerjang sampai di depannya dan memberi hormat kepada si kakek.

Gemerdep sinar mata si kakek. Tanyanya, "Apakah kau ini murid kelima Put-si-sin-liong, Lamkiong Peng?" Suaranya lantang berkumandang sehingga dapat didengar orang banyak.

Tentu saja semua orang melengak heran. Maklumlah, selama Lamkiong Peng masuk ke perguruan Put-si-sin-liong memang belum pernah berkecimpung di dunia kangouw, dengan sendirinya para kesatria tidak mengenalnya, meski ada di antaranya yang mengetahui bahwa dia adalah murid ahli waris Put-si-sin-liong.

Lamkiong Peng sendiri juga terheran-heran, dari manakah kakek ini dapat mengenalnya? Namun lantas ia menjawab dengan hormat, "Wanpwe memang Lamkiong Peng adanya!"

Alis si kakek menegak. Dengan bengis ia berkata, "Jika benar kau anak murid Sin-liong, masakah tidak tahu kami sedang mengadakan upacara sembahyang bagi arwah gurumu? Mengapa sembarangan bertingkah di sini dan mengganggu kekhidmatan suasana?"

Dengan prihatin Lamkiong Peng memberi hormat lagi. Ia lalu berseru lantang, "Atas penghormatan para Cianpwee terhadap guruku, sungguh Wanpwe sangat berterima-kasih dan takkan melupakan budi kebaikan ini. Namun...." Mendadak ia menyapu pandang para hadirin, lalu berteriak terlebih lantang, "Ketahuilah bahwa sesungguhnya guruku belum meninggal!"

Belum habis ucapannya terdengarlah pekik orang banyak.

Dengan melotot si kakek tinggi besar juga melengak, katanya, "Put-si-sin-liong belum mati katamu?" Mendadak ia membalik tubuh dan berteriak, "Li Sing, Ong Pun, kemari sini!"

Waktu Lamkiong Peng memandang ke sana, tertampaklah dari belakang si kakek muncul dua orang berbaju hitam dengan perawakan kekar. Ternyata kedua orang ini adalah penggotong peti mati dari Ci-hau-san-ceng itu.

Rupanya sejak Lamkiong Peng meninggalkan mereka untuk mengikuti jejak si Tojin, Liong Hui, Ciok Tim, Kwe Giok-he dan Koh Ih-hong juga naik lagi ke puncak Hoa-san untuk mencari sang guru. Karena menunggu sekian lama tidak ada sesuatu kabar berita, kedua orang ini lantas turun sendiri ke bawah gunung.

Karena mengambil jalan besar, ketika sampai di kaki gunung, tertampaklah berbagai jago silat sama menunggu di situ. Rupanya berita tentang pertandingan antara Put-si-sin-liong dan Put-lo-tan-hong di puncak Hoa-san telah tersiar sehingga menarik perhatian kawanan jago silat itu untuk menyusul kemari dan ingin mengetahui hasil pertandingan itu. Cuma mereka pun kenal watak Put-si-sin-liong, maka tidak ada seorang pun berani sembarangan naik ke atas.

Karena itulah berita yang dibawa kedua orang penggotong peti mati itu sangat menggemparkan kawanan jago Bu-lim itu. Berita itu adalah Tan-hong sudah mati, Put-si-sin-liong juga terjebak oleh tipu muslihat murid Tan-hong dan meninggalkan surat wasiat. Kini anak murid Sin-liong juga sudah tercerai-berai. Meski berita ini tidak benar dan juga agak dilebih-lebihkan, namun dengan cepat lantas tersiar dan menggemparkan dunia persilatan, terutama beberapa propinsi di sekitar tempat kejadian.

Di daerah barat laut ini ada seorang gembong persilatan dan juga kaya raya, namanya Wi Ki berjuluk Hui-goan atau si Gelang Terbang. Karena pengaruhnya yang besar di wilayah ini, dia juga terkenal sebagai Sai-pak-sin-liong atau si Naga Sakti Daerah Barat Laut. Orang kangouw yang jahil ada juga yang menyindirnya sebagai ‘Naga Gadungan’, tapi Wi Ki tidak ambil pusing. Ia sendiri sangat kagum dan hormat terhadap Put-si-sin-liong. Maka berita kemalangan Liong Po-si itu juga sangat mengejutkan dia.

Segera ia mengumpulkan para jago silat untuk mengadakan sembahyang bagi arwah Put-si-sin-liong di kota kuno Se-an ini. Setiap jago silat yang mendengar berita itu serentak juga ikut menyusul ke sini. Yang menambah semarak upacara ini adalah hadirnya tokoh-tokoh yang biasanya cuma terdengar tapi jarang kelihatan, yaitu Ban-li-liu-hiang Yim Hong-peng bersama Bin-san-ji-yu, ketiganya juga ikut hadir.

Begitulah demi melihat kedua penggotong peti mati dari Ci-hau-san-ceng barulah Lamkiong Peng tahu duduk perkaranya. Rupanya memang telah terjadi salah paham! Ia berpikir, "Pantas berita kematian Suhu diketahuinya, pantas juga dia tahu namaku, kiranya atas keterangan kedua orang ini."

Dalam pada itu dengan gusar Wi Ki lagi membentak terhadap Li Sing dan Ong Pun, "Berita tentang meninggalnya Put-si-sin-liong berasal dari kalian, bukan?!”

Li Sing dan Ong Pun mengiyakan sambil menunduk.

"Tapi mengapa Go-kongcu kalian menyatakan Sin-liong belum lagi meninggal?" teriak Wi Ki.

Li Sing saling pandang sekejap dengan Ong Pun dan tidak dapat menjawab.

"Apakah kalian menyaksikan sendiri Sin-liong sudah mati?" desak Wi Ki.

Kepala kedua orang itu tertunduk lebih rendah, dengan takut dan gelagapan Li Sing menjawab, "Hamba... hamba... tidak...."

"Budak kurang ajar!" bentak Wi Ki dengan gusar. "Kalau tidak melihat sendiri, kenapa berani sembarangan omong sehingga membikin malu padaku seperti sekarang ini?" Saking gusarnya, sebelah tangannya menyapu sehingga macam-macam barang sembahyang tersampar jatuh.

Li Sing dan Ong Pun tetap menunduk dengan muka pucat.

"Locianpwee jangan marah dulu," seru Lamkiong Peng. "Hal ini juga tidak dapat menyalahkan mereka."

"Bukan mereka yang disalahkan, memangnya salahku?" kata Wi Ki dengan gusar. "Bila Put-si-sin-liong datang nanti, bukankah aku yang akan dituduh sengaja mengutuki dia supaya lekas mati?!"

Meski kakek ini sudah lanjut usia, tapi wataknya masih keras dan pemberang. Baru sekarang Lamkiong Peng tahu kiranya orang tua inilah si Gelang Terbang Wi Ki. Tampaknya memang rada mirip gurunya, pantas orang kangouw memberi julukan sebagai si Naga Sakti dari Barat Laut, hanya saja perangainya tidak sehalus sang guru.

Maka ia berkata pula, "Peristiwa ini agak panjang untuk diceritakan. Sama sekali tidak ada maksud Wanpwe akan menyesali tindakan Locianpwee ini, sebaliknya Wanpwe merasa berterima-kasih atas maksud baik Locianpwe."

Wi Ki mengelus jenggotnya. Dipandangnya Lamkiong Peng sejenak, lalu ia berpaling kepada Ong Pun berdua, serunya sambil memberi tanda, "Baiklah, boleh kalian pergi!"

Cepat kedua orang itu memberi hormat, lalu mengundurkan diri.

Selagi Lamkiong Peng hendak bicara pula, sekonyong-konyong dari belakang sana bergema suara orang tertawa, "Hahaha! Kiranya saudara ini adalah murid kesayangan Sin-liong. Sungguh beruntung sekali, begitu menginjak daerah Tionggoan segera dapat bertemu dengan kesatria muda perkasa seperti ini."

Lamkiong Peng terkejut dan berpaling. Terlihatlah si baju merah tadi telah muncul pula dengan memegang sebuah kipas lempit. Yang datang bersamanya bukan lagi Bin-san-ji-yu, melainkan dua orang muda-mudi yang ternyata Toaso dan Samsuheng sendiri, yaitu Kwe Giok-he dan Ciok Tim.

Sambil menggoyangkan kipasnya si baju merah berkata pula dengan tertawa, "Yang lebih menggembirakan orang she Yim ternyata secara tidak sengaja dapat kutemui pula kedua murid kesayangan Sin-liong yang lain. Nah, inilah. Siapa mereka berdua ini, tentu kalian sudah tahu!"

Munculnya Kwe Giok-he dan Ciok Tim dengan sendirinya menimbulkan kegemparan pula.

Wi Ki lantas menyapa juga, "Aha, tak tersangka Yim-tayhiap membawa datang lagi dua orang murid kesayangan Sin-liong. Ah, kalian tentulah Ci-hau-siang-kiam yang akhir-akhir ini sangat terkenal di dunia persilatan."

Ciok Tim tampak kikuk, sedangkan Giok-he lantas memberi hormat dan menjawab, "Terima-kasih atas pujian Locianpwe."

Dalam pada itu Lamkiong Peng lantas ikut bicara, "Inilah Toaso kami dan yang itu ialah Samsuheng, Ciok-suheng."

"O, rupanya inilah nyonya si lelaki baja yang termasyhur itu," seru Wi Ki dengan tertawa. "Nyata setiap anak murid Sin-liong memang lain dari-pada yang lain."

"Ah, betapa pun kami tidak dapat membandingi Lamkiong-sute," ujar Giok-he dengan tersenyum.

Lamkiong Peng lagi heran mengapa hanya Giok-he dan Ciok Tim saja yang muncul di sini. Lalu ke mana perginya Liong Hui dan So-so?

Belum sempat dia mengajukan pertanyaan, Wi Ki berkata pula dengan terbahak, "Baiklah, sekarang ingin kutanya kepada kalian. Jika Sin-liong belum meninggal, ke mana perginya beliau sekarang?"

Lamkiong Peng termenung dan berusaha mencari alasan untuk menjawab.

Tiba-tiba Kwe Giok-he mendahului bicara, "Suhu memang sangat mungkin masih hidup dengan baik, cuma di mana jejak beliau sekarang kami pun tidak tahu."

Wi Ki terbelalak heran.

Didengarnya Giok-he berkata pula, "Semalam kami sibuk mencari jejak Suhu di atas gunung. Kami juga mengkhawatirkan keselamatan Gosute."

"O, jadi dia tidak berada bersama kalian?" tanya Wi Ki dengan kening bekernyit.

Giok-he mengiyakan dengan menghela napas perlahan.

Wi Ki tampak kurang senang. Ia menegur Lamkiong Peng, "Jika jejak gurumu belum lagi diketahui, bukannya kau cari tahu keselamatannya, sebaliknya kau sibuk mengurusi orang mati di sini. Hm, murid macam apakah kau ini?"

Lamkiong Peng melenggong. Seketika memang sukar baginya untuk memberi penjelasan, terutama hal-hal yang menyangkut nama baik sang guru, mana dapat diuraikan begitu saja?

Tapi Giok-he lantas berkata, "Usia Gosute masih muda, pula...," ia menghela napas seperti merasa dapat memaklumi apa yang dilakukan sang Sute.

Wi Ki mendengus dan tidak memandang Lamkiong Peng lagi. Katanya pula, "Si lelaki baja Liong Hui pun sudah lama kudengar namanya, mengapa tidak kelihatan juga?"

Karena merasa tidak bersalah, maka dada Lamkiong Peng cukup lapang. Ia tidak menghiraukan sikap Wi Ki dan ucapan Kwe Giok-he yang bersifat negatif itu. Pikirnya, "Memang ingin kutanya keadaan Liong-toako, kebetulan sekarang orang tua ini telah mendahului bertanya bagiku."

Melihat kecanggungan di antara anak murid Put-si-sin-liong itu, diam-diam tokoh kosen dari luar perbatasan, Ban-li-liu-hiang (Meninggalkan Nama Harum Beribu Li) Yim Hong-peng, menaruh perhatian. Ia pikir, apakah di antara anak murid Sin-liong ini terjadi pertentangan atau persaingan? Mengapa ketiganya tidak ada kesatuan ucapan dan perbuatan?

Dalam pada itu Giok-he telah menjawab dengan menghela napas, "Toako bersama Simoay berjalan di belakang, kukira sebentar... sebentar lagi dapat menyusul kemari."

Sudah tentu apa yang dikatakan Giok-he ini hampir tidak pernah terjadi sebelum ini, dengan sendirinya Lamkiong Peng merasa heran dan sangsi.

Dengan kening bekernyit Wi Ki hendak bertanya lagi. Pada saat itulah sebuah kereta kuda kecil bertabir kain putih tampak muncul di tengah kerumunan orang banyak. Penumpang kereta tidak kelihatan, hanya sebuah tangan putih halus terjulur ke luar dari balik tabir memegangi tali kendali.

Air muka Lamkiong Peng agak berubah.

Giok-he memandangnya sekejap, lalu berucap dengan tersenyum, "Eh, adik keluarga manakah penumpang kereta ini? Apakah Gote kenal dia?"

Belum habis ucapannya, tabir kereta mendadak tersingkap. Tertampaklah seorang perempuan maha-cantik berduduk di dalam kereta. Ia menyapu pandang sekejap terhadap semua orang, lalu menatap Lamkiong Peng dan bertanya, "Hei, sudah selesai belum percakapan kalian?"

Tentu saja semua silau oleh kecantikan perempuan penumpang kereta ini. Seketika beratus pasang mata sama terpusat ke arahnya.

"Ah, tadi kukira Gote pergi ke mana, kiranya...," Giok-he tersenyum, lalu menyambung lagi, "Wah, alangkah cantiknya adik ini. Sungguh engkau sangat hebat, Gote, baru satu hari saja sudah berkenalan dengan seorang nona secantik bidadari. Tampaknya kalian sudah sedemikian mesranya."

Tiba-tiba Wi Ki mendengus, "Yim-tayhiap, Ciok-siauhiap, hendaknya nanti kalian sudi mampir ke kediamanku untuk sekedar berbincang-bincang lagi. Sementara ini kumohon diri lebih dulu." Lalu ia pun memberi hormat kepada para hadirin dan berseru lantang, "Atas kesudian para hadirin berkunjung kemari dari jauh, marilah suka mampir juga ke dalam kota untuk minum beberapa cawan sekedar pelepas lelah." Habis bicara ia lantas melangkah pergi di tengah berjubelnya orang banyak.

Para hadirin juga lantas ikut bubar dan beramai-ramai masuk ke kota Se-an. Menghadapi sikap dingin orang, hati Lamkiong Peng rada penasaran, cuma sukar untuk memberi penjelasan.

Giok-he tersenyum senang. Setelah Wi Ki pergi jauh, perlahan ia mendekati kereta. Ia pun menyapa, "Siapakah nama adik yang terhormat ini? Ada keperluan apa kiranya engkau mencari Gote kami?"

Bwe Kim-soat duduk diam saja di tempatnya dan memandangnya dengan tak acuh, sama sekali tidak menghiraukan pertanyaannya.

Cepat Lamkiong Peng mendekati dan memperkenalkan mereka, "Inilah Toaso kami dan nona Bwe ini...," dengan sendirinya ia tidak dapat menjelaskan asal-usul Bwe Kim-soat.

"O, kiranya nona Bwe. Sungguh kami ikut bergembira Gote dapat berkenalan dengan nona Bwe," kata Giok-he dengan tersenyum.

Tiba-tiba Kim-soat mendengus. "Hm, si kakek pergi begitu saja, tentu kau sangat senang!"

Giok-he jadi melengak.

Betapa pun Lamkiong Peng tetap menghormati sang Toaso. Ia pun tahu watak Bwe Kim-soat, maka ia menjadi serba salah melihat di antara keduanya tidak ada kecocokan. Cepat ia menyela dengan urusan lain, tanyanya, "Toaso, di mana Toako?"

Mendadak Giok-he melengos dan menjawab ketus, "Tanyakan saja kepada Simoay."

Lamkiong Peng jadi melenggong. Ia heran mengapa orang menjawab secara begitu. Pada saat itu juga mendadak dua sosok bayangan orang melayang tiba dan berhenti di depan kereta, kiranya kedua jago pedang Kong-tong-pay, yaitu Bin-san-ji-yu.

Dengan sorot mata tajam mereka mengawasi Bwe Kim-soat, sampai sekian lama barulah Tiangsun Kong berucap, "Sudah belasan tahun, tak tersangka sekarang dapat melihat lagi seraut wajah ini."

Tiangsun Tan lantas bertanya, "Apakah nona she Bwe?"

Terkesiap Lamkiong Peng. Ia heran mengapa orang dapat mengenal Bwe Kim-soat. Dan ternyata Kim-soat lantas mengangguk.

Air muka kedua saudara Tiangsun berubah masam. Dengan jari agak gemetar Tiangsun Kong menuding dan membentak, "Bwe... Bwe Kim-soat...? Turun sini!"

Giok-he terkejut. Ia berpaling memandang Lamkiong Peng dan bertanya, "Masa dia Leng-hiat Huicu Bwe Kim-soat?

Dengan sendirinya Lamkiong Peng menjadi gugup. Belum lagi dia bersuara, dilihatnya Bwe Kim-soat telah menjawab dengan santai, "Siapa Bwe Kim-soat dan Bwe Kim-soat itu siapa?"

Kedua Tiangsun bersaudara saling pandang sekejap, timbul rasa ragu mereka. Belasan tahun yang lalu mereka berdua pernah dihina dan dipermainkan Leng-hiat Huicu Bwe Kim-soat. Dendam itu sampai kini belum lagi lenyap. Tapi setelah belasan tahun, mustahil wajah Bwe Kim-soat sama sekali berubah?

Tiba-tiba Yim Hong-peng menyela dengan tersenyum, "Kong-jiok Huicu sudah termasyhur sejak belasan tahun yang lalu, sedangkan nona ini paling banyak baru berusia dua puluhan, apakah kedua Tiangsun-heng tidak salah mengenalnya?"

Bekernyit juga kening kedua Tiangsun bersaudara. Kata Tiangsun Kong dengan tergagap, "Ya, kami pun mendengar Bwe Kim-soat sudah mati di bawah pedang Put-si-sin-liong. Soalnya orang ini... orang ini mengaku she Bwe, wajahnya juga mirip...."

Tiangsun Tan lantas menegas lagi, "Kau pun she Bwe, apakah tidak ada hubungan dengan Bwe Kim-soat?"

"Di dunia ini ada berjuta orang she Bwe. Apakah semua orang she Bwe pasti ada sangkut pautnya dengan dia?" jawab Kim-soat dengan tak acuh.

Melihat kedua Tiangsun bersaudara dalam keadaan salah, cepat Yim Hong-peng menimbrung lagi, "Di dunia ini memang banyak orang yang she sama dan juga bermuka mirip, pantas juga bila kedua Tiangsun-heng salah mengenal nona. Harap nona jangan marah."

"Ah, mana kuberani marah kepada kaum kesatria besar, pendekar pedang ternama seperti kalian ini?" jawab Kim-soat ketus.

Yim Hong-peng jadi melongo kikuk. Dalam pada itu Bwe Kim-soat telah menurunkan tabir kereta. Diam-diam Giok-he merasa sirik melihat kecantikan Bwe Kim-soat dan ketajaman mulutnya.

Mendadak Giok-he tanya Lamkiong Peng, "Gote, apakah sekarang engkau akan pulang ke Ci-hau-san-ceng?"

"Tentu saja, bila urusan di sini sudah beres...."

Tiba-tiba Lamkiong Peng teringat pada janji tiga bulan lagi masih harus bertemu dengan Yap Man-jing di Hoa-san untuk menunaikan tugas yang belum selesai bagi Suhu, juga segera teringat kepada Bwe Kim-soat yang perlu ‘perlindungan’. Seketika ia menjadi ragu.

"Toako belum kelihatan menyusul tiba, akan lebih baik bila kau ikut dalam perjalanan kita," ujar Giok-he.

"Tapi... tapi tiga bulan lagi...."

Belum lanjut ucapan Lamkiong Peng, tiba-tiba suara Bwe Kim-soat yang ketus menegurnya, "He, lekas kau selesaikan urusan pemakaman orang tua itu. Aku masih harus pesiar ke Kanglam."

Giok-he mendengus. "Kau mau pergi ke Kanglam? Boleh! Silakan!"

"Tapi mungkin aku pun perlu pergi ke sana," tukas Lamkiong Peng.

"Apa katamu?! Masakah tidak kau turut kataku? Toako tidak di sini, akulah Toasomu," omel Giok-he dengan kurang senang.

Dia sirik terhadap kecantikan dan kecerdasan Bwe Kim-soat. Sungguh ia khawatir Lamkiong Peng didampingi oleh seorang perempuan begini, sebab hal ini tentu akan mempengaruhi rencananya, bahkan akan ketahuan rahasia pribadinya. Maka sedapatnya ia hendak menahan anak muda itu supaya berada bersamanya.

Lamkiong Peng menjadi serba susah. "Kehendak Toaso seharusnya kuturut, cuma...."

Pada saat itulah seorang lelaki berbaju hitam berlari tiba dan minta petunjuk. "Kongcu, apakah kereta jenazah langsung menuju ke makam?"

Lamkiong Peng mengiyakan. Kesempatan ini lantas digunakannya sebagai alasan, katanya kepada Giok-he, "Siaute perlu mengurus pelayatan lebih dulu, biarlah nanti kita berunding lagi."

Lalu ia memberi hormat dan mohon diri kepada Yim Hong-peng dan segera berlari pergi bersama si baju hitam. Yim Hong-peng dan Bin-san-ji-yu juga lantas menuju ke Se-an. Sedangkan kereta kecil yang ditumpangi Bwe Kim-soat lantas mengikut ke arah Lamkiong Peng.

"Toaso, marilah kita mencari... mencari Toako dulu," kata Ciok Tim mendadak.

"Hah, barangkali kau rindu kepada Simoay?" jengek Giok-he, "Anak baik, turutlah padaku. Sekarang kita mampir dulu ke tempat Wi-jitya tadi, kukira Gote nanti juga akan pergi ke sana."

"Tapi...," Ciok Tim tergagap, tapi akhirnya mereka pun menuju ke Se-an.

Dalam pada itu cuaca telah mendung, hujan gerimis mulai turun. Sayup-sayup terdengar suara musik yang sendu di kejauhan....

********************

Se-an, kota kuno yang sekelilingnya cuma gurun tandus belaka memang jarang kejatuhan hujan. Tapi di bawah hujan, kota kuno ini pun tidak tampak kesuraman, sebaliknya menimbulkan gairah hidup.

Bekas kota raja memang sudah tinggal bekas-bekasnya saja, terutama bangunan megahnya sudah banyak yang berubah menjadi tumpukan puing. Hanya kedua menara yang disebut Tai-gan dan Siau-gan (Menara Belibis Besar dan Kecil) masih berdiri tegak di bagian barat kota, seolah-olah tetap memamerkan kejayaan masa lampaunya.

Tidak jauh dari Tai-gan terdapat perkampungan yang menghijau permai, itulah tempat kediaman Sai-pak-sin-liong Wi-jitya, Wi Ki. Selewatnya perkampungan ini, tidak sampai satu li akan sampailah di jalan raya berbatu yang menembus ke gerbang timur kota.

Di bawah hujan rintik-rintik, tiba-tiba dari luar kota berlari datang sebuah kereta dan lima penunggang kuda. Tabir kereta tertutup. Penunggang kudanya adalah kawanan Tojin (imam agama To) yang rambutnya disanggul di atas kepala dan diberi tusuk kundai hitam, berjubah kelabu dengan lengan jubah yang longgar.

Keempat penunggang kuda yang mengawal di samping kereta adalah Tojin setengah umur bermuka pucat, meski matanya bersinar tajam. Pedang mereka tergantung di pinggang. Kawanan Tojin ini mungkin jarang bertemu dengan sinar matahari. Di antara mata alisnya menampilkan rasa keprihatinan.

Seorang lagi yang di depan kereta berwajah kurus kering, rambut ubanan, tidak membawa senjata, dan berbaju longgar. Tangannya yang memegang tali kendali justru putih bersih serupa tangan orang perempuan.

Begitu masuk kota, kelima penunggang kuda dan keretanya langsung lantas menuju ke Bo-liong-ceng, perkampungan naga sakti tempat kediaman Wi Ki. Melihat gelagatnya rombongan orang ini seperti ada keperluan mendesak.