Amanat Marga (Hu Hua Ling) Jilid 06

Ketika dilihatnya Ciok Tim berdiri di sana dengan sikap kikuk, betapa pun lugasnya Liong Hui timbul juga rasa curiganya, "Ada apa kalian?"

Giok-he lantas menarik muka. "Aneh pertanyaaanmu ini. Memangnya kau kira ada apa?"

"Seruanku dari... dari bawah tadi masa tidak kalian dengar?" tanya Liong Hui dengan agak tergagap.

"Tentu saja dengar," jawab Giok-he.

"Jika dengar, mengapa tidak menjawab? Bikin cemas orang saja," keluh Liong Hui dengan menyesal.

"Huh, kau linglung, masakah orang lain harus ikut linglung?" jengek Giok-he.

"Aku linglung apa?" tanya Liong Hui dengan melongo.

"Masa kau lupa betapa bahaya keadaan kita, musuh di tempat gelap dan kita di tempat yang terang, tapi engkau sengaja gembar-gembor. Memangnya kau khawatir musuh tidak tahu tempat kita berada dan sengaja memberi-tahukan padanya? Huh, masih berani kau tegur kami segala?"

Liong Hui tercengang, akhirnya menunduk. "Ai, memang pikiran Toaso jauh lebih cermat dari-pada kita," ucap So-so dengan gegetun.

Rasa gugup Ciok Tim tadi sudah mulai tenang kembali, namun air mukanya lantas bertambah kecut. Terhadap Giok-he selain kagum juga timbul rasa takutnya. Sungguh tak terpikir olehnya seorang sudah berbuat dosa malah berani mengomeli orang lain. Terhadap Liong Hui timbul juga rasa kasihan dan juga malunya. Dilihatnya Liong Hui menunduk sejenak.

Mendadak Liong Hui mendekati Ciok Tim dan tepuk-tepuk bahunya sambil berucap, "Maafkan kesalahanku."

Berdetak hati Ciok Tim. Ia menyahut dengan gelagapan, "Meng... mengapa Toako minta maaf padaku...?"

"Tadi aku salah mengomelimu," ujar Liong Hui dengan menyesal. "Meski tidak kukatakan terus terang, sebenarnya dalam hatiku agak curiga. Ai, aku pantas mampus, masakah mencurigaimu?"

Ciok Tim terkesima, darah panas bergolak hebat dalam rongga dadanya. Menghadapi lelaki yang tulus, jujur dan berjiwa terbuka ini, sungguh ia merasakan dirinya sendiri sedemikian kecilnya, sedemikian kotor. Dengan gelagapan ia menjawab, "O, Toako... aku... aku yang...."

Belum lanjut ucapannya, mendadak Giok-he melompat maju dan berseru, "Di antara saudara sendiri, jika terjadi salah paham, asal sudah jelas persoalannya, apa pula yang perlu dikatakan lagi?"

"Betul aku takkan banyak omong lagi," kata Liong Hui sambil memegang pundak Ciok Tim. Tapi mendadak ia berteriak pula sambil memandang ke belakang Ciok Tim dengan tercengang, "Hei, apa ini?"

Dengan kaget Ciok Tim berpaling. Maka terlihatlah pada batu karang di belakangnya itu terukir gambar seorang perempuan berdandan sebagai pendeta To. Rambutnya disanggul tinggi di atas kepala dan pakai tusuk kundai hitam, berdiri tegak dengan tangan kiri lurus ke bawah dan jari tengah dan telunjuk agak menjengkat ke atas. Sedangkan tangan kanan memegang pedang dengan ujung pedang agak serong ke bawah. Mukanya jelas serupa hidup. Pakaiannya dilukiskan berkibar serupa sedang menari. Dipandang di tengah remang malam seperti perempuan hidup berdiri di depan mereka.

Di samping gambar terdapat pula beberapa baris tulisan. Waktu diamati, tulisan itu berbunyi: ‘Liong Po-si, kungfu-mu bertambah maju lagi. Akan tetapi dapatkah kau patahkan juru seranganku ini? Kalau dapat, maju lebih lanjut, jika tidak mampu, segera kembali!

Liong Hui mengawasi gambar itu sekian lama. Mendadak ia mendengus, "Huh, aku saja mampu mematahkan jurus serangan ini, apalagi Suhu!"

"Nada tulisan ini sedemikian angkuh, tapi jurus yang diperlihatkan ini tampaknya tiada sesuatu yang luar biasa. Jangan-jangan ada keajaiban di balik tulisan ini," ujar Ciok Tim.

Tiba-tiba So-so menukas, "Jurus serangan yang kelihatan biasa ini pasti mengandung keajaiban yang tidak dipahami kita."

"Ya, setiap jurus serangan yang kelihatan biasa saja sesungguhnya semakin lihai dan sukar diduga," kata Giok-he. Ia merandek sejenak, lalu menyambung dengan tersenyum, "Sudah sekian lama kalian memandangnya, adakah kalian melihat sesuatu keistimewaan pada gambar ini?"

Liong Hui memandang lagi beberapa kejap. "Pedang terhunus dan siap menyerang, seharusnya kaki pasang kuda-kuda yang tepat. Tapi kedua kaki Tokoh (pendeta perempuan agama To) ini berdiri dengan ujung kaki menatap di depan, sungguh janggal kuda-kudanya ini," katanya.

"Betul, inilah salah satu keistimewaannya," kata Giok-he.

Dada Liong Hui membusung terlebih tinggi, wajah pun berseri-seri. Sambungnya lagi, "Dia berdandan sebagai Tokoh, tapi sepatu yang dipakainya serupa sepatu orang lelaki, ini pun sangat janggal."

"Dandanan tidak ada sangkut pautnya dengan ilmu pedang. Ini tidak masuk hitungan," ujar Giok-he dengan tertawa.

"Mengapa tidak masuk hitungan? Dandanan yang tidak benar menandakan jiwanya tidak baik, ilmu pedangnya juga pasti tidak murni. Ilmu pedang yang tidak bersih mana dapat memperlihatkan keampuhan dan mengalahkan musuh?" kata Liong Hui dengan serius.

"Baik, baik, boleh juga dihitung."

"Dengan sendirinya harus dihitung," kata Liong Hui dengan mantap.

So-so juga mengangguk. "Ya, ilmu pedang yang tidak bersih, biar pun dapat menjagoi dunia, seketika juga tidak tercatat dalam sejarah. Ucapan Toako memang beralasan."

"Memang betul," sambung Ciok Tim. "Sejak dulu hingga kini sudah banyak juga contohnya. Lihat saja ilmu pedang perguruan Siau-lim dan Bu-tong yang turun-temurun entah sudah berapa angkatan dan sampai sekarang masih tetap dipuji. Sebaliknya berbagai macam ilmu pedang yang pernah menjagoi dunia persilatan karena kekejian dan keganasannya, sampai sekarang hanya namanya saja masih dikenal, namun bekasnya sudah menghilang. Ucapan Simoay sungguh...."

"Sudah cukup bicaramu?" mendadak Giok-he memotong dengan kurang senang.

Ciok Tim melengak.

Maka Giok-he menyambung lagi, "Sungguh aku tidak mengerti, dalam keadaan demikian dan di tempat begini kalian bisa mengobrol iseng. Kalau mau mengobrol selanjutnya kan masih banyak waktu, kenapa kalian mesti terburu-buru?"

Muka So-so menjadi merah juga dan tanpa terasa menunduk.

Dengan tersenyum lalu Giok-he berkata lagi, "Kecuali kedua segi yang disebutkan Toako tadi...."

"Tiga segi," sela Liong Hui.

"Baik, kecuali ketiga segi ini, apa lagi yang kalian lihat?" tukas Giok-he dengan tertawa.

Ciok Tim mengangkat kepala. Meski mata memandang ke arah gambar, pandangannya kabur tidak melihat sesuatu.

Perlahan So-so bicara, "Kulihat titik yang paling aneh terletak pada matanya. Mata perempuan ini terukir terpejam, padahal mana bisa jadi memejamkan mata pada waktu bertempur dengan orang?" Dia bicara tanpa mengangkat kepala. Mungkin karena hal ini sudah dilihatinya sejak tadi, hanya sejauh ini belum dikemukakannya.

"Betapa pun memang Simoay lebih cermat," ujar Liong Hui dengan gegetun.

"Betul juga," kata Giok-he. "Semula aku pun menganggap hal ini sangat aneh. Tapi setelah kupikirkan lagi, kurasa sebabnya dia memejamkan mata sangat beralasan, bahkan merupakan titik paling lihai dari-pada jurus serangannya ini."

"Mengapa begitu?" tanya Liong Hui dan Ciok Tim berbareng.

"Jurus serangannya ini mengutamakan ketenangan, sebaliknya setiap orang persilatan tahu Thian-liong-cap-jit-sik (Tujuh Belas Gerakan Naga Langit) perguruan kita mengutamakan kedahsyatan serangan, terutama empat jurus terakhir, banyak gerak perubahannya sehingga lawan sukar menahannya. Tapi gambar orang perempuan ini hanya meluruskan pedangnya...?"

"Karena pedangnya cuma bergerak lurus sehingga lawan pun sukar mengetahui bagaimana gerak lanjutannya," tukas So-so. "Sama halnya orang menulis, jika pensilnya cuma menggores satu garis, siapa pun tidak tahu apa yang akan ditulisnya, tapi bila dia menggores melingkar atau sesuatu awalan huruf, orang lantas tahu huruf apa yang akan ditulisnya."

"Haha, meski sejak mula kutahu dalil ini, tapi sukar untuk kujelaskan. Setelah diuraikan Simoay, semuanya menjadi jelas. Perumpamaan Simoay dengan menulis memang sangat tepat," kata Liong Hui dengan tertawa.

"Ya, Simoay memang lebih pintar dari-pada kalian," ujar Giok-he.

"Ah, Toaso...." So-so menunduk malu.

"Tapi ingin kutanya padamu, adakah kau lihat bagaimana gerak lanjutan dari-pada pedangnya ini?" tanya Giok-he.

So-so berpikir sejenak. Kemudian ia menjawab, "Meski tidak banyak pengetahuanku, tapi menurut hematku gerak pedangnya ini dapat menimbulkan tujuh gerak perubahan."

"Ketujuh gerak perubahan apa?" tanya Giok-he.

Ciok Tim dari Liong Hui juga sama pasang telinga.

"Jurus serangannya ini tak jelas berasal dari ilmu pedang aliran mana," kata So-so, "Tapi jelas dapat berubah menjadi jurus Gan-loh-peng-sah (Burung Belibis Hinggap di Rawa) dari ilmu pedang Bu-tong-pay."

"Betul, asal ujung pedangnya berputar ke kiri akan jadilah jurus Gan-loh-pang-sah," tukas Giok-he.

Kening Liong Hui bekernyit rapat, dan akhirnya ia mengangguk.

Lalu So-so menyambung lagi, "Dan bila ujung pedangnya menyontek ke atas, akan jadi jurus Liu-ji-ging-hong (Ranting Pohon Menyongsong Angin) dari Tiam-jong-pay. Kalau pergelangan tangannya berputar ke bawah, jadilah jurus Kong-jiok-kay-peng (Burung Merak Membentang Sayap) dari Go-bi-pay." Bertutur sampai di sini, nadanya mulai emosional.

Giok-he tersenyum dan berkata, "Bicaralah perlahan, tidak perlu tergesa."

So-so menarik napas, lalu menyambung, "Kecuali itu, dapat juga berubah menjadi... menjadi jurus...."

Di bawah cahaya bintang yang suram kelihatan wajah Ong So-so berkerut-kerut meringis kesakitan.

"He, Simoay, ken... kenapa?" tanya Ciok Tim kaget.

Dada So-so tampak berjumbul naik-turun. Setelah menarik napas, air mukanya mulai tenang kembali. Katanya, "O, tidak... tidak apa-apa, cuma... cuma dada agak sakit. Sekarang sudah baik."

"Dan apa keempat gerak perubahan yang lain?" tanya Giok-he dengan tersenyum.

"Jurus perubahan lain adalah Koay-hun-loan-moa (Memotong Tali Kusut dengan Cepat) dari Thian-san-pay, Giok-tiang-hun-po (Pentung Kemala Menembus Ombak) dari Kun-lun-pay, Lip-coan-im-yang (Memutar Balik Gelap Menjadi Terang) dari Siau-lim-pay dan jurus Tho-liceng-jun (Dua Saudara Berebut Rezeki) dari Sam-hoa-kiam-hoat tinggalan pendekar pedang Sam-hoa-kiam-khek dahulu."

Air muka So-so sudah tenang kembali, namun sorot matanya masih menampilkan rasa sakit, seperti enggan bertutur pula, tapi terpaksa melanjutkan.

Liong Hui menghela napas. Katanya, "Simoay, sungguh tidak nyana pengetahuan ilmu silatmu seluas ini. Mungkin sebelum masuk perguruan kita engkau sudah banyak belajar kungfu perguruan lain?"

"Ah, mana... tidak...," sahut So-so dengan gelagapan.

"Masa tidak? Aku tidak percaya!" ujar Liong Hui. Ia memandang sang istri dan berkata pula, "Aku justru tidak melihat ada gerak perubahan begitu. Apakah kau lihat?"

"Aku juga tidak," sahut Giok-he sambil menggeleng. "Aku cuma tahu kemungkinan akan berubah menjadi jurus Gan-loh-peng-sah dari Bu-tong-pay dan Lip-coan-im-yang dari Siau-lim-pay, selebihnya aku tidak dapat melihatnya. Maklumlah, aku sendiri tidak pernah lihat Sam-hoa-kiam-hoat dan juga ilmu pedang dari Thian-san-pay dan Tiam-jong-pay, dengan sendirinya tidak tahu kemungkinan akan berubah pada jurus serangan ilmu pedang tersebut."

Liong Hui menarik muka. Dengan sorot mata tajam ia tanya So-so, "Dari mana kau belajar ilmu pedang sebanyak itu?"

"Ya, aku pun rada heran," sambung Giok-he.

Ciok Tim juga memandang So-so dengan penuh tanda-tanya. Wajah So-so kelihatan rada pucat dengan sinar mata gemerdep seperti menyembunyikan sesuatu rahasia.

Maka Giok-he berkata pula, "Pada waktu Simoay mengangkat guru, aku sudah merasa heran. Coba Toako, apakah ingat siapa yang memasukkan Simoay ke perguruan kita?"

"Ya, kutahu. Yang memasukkan dia ialah Suma Tiong-thian, pemimpin umum Ang-ki-piaukiok (Perusahaan Pengawal Panji Merah) yang terkenal dengan tombak besi dan panji merah yang menggetarkan Tiongeiu (Negeri Tengah) itu," jawab Liong Hui.

"Betul," kata Giok-he. "Namun Suma-congpiauthau juga tidak menjelaskan asal-usulnya. Suhu hanya diberi tahu bahwa Simoay adalah putri seorang sahabatnya. Suhu adalah orang jujur dan percaya penuh kepada sahabat sendiri, maka tidak pernah bertanya tentang asal-usul Simoay."

Meski senyuman tetap menghias wajah Giok-he, namun senyuman yang tidak bermaksud baik. Sorot matanya juga terkadang melirik Ciok Tim dan lain saat melirik So-so. Air muka So-so kelihatan pucat, jari tangan pun rada gemetar.

Dengan tersenyum Giok-he bicara pula, "Sekian tahun kita berkumpul, hubungan kita laksana saudara sekandung. Akan tetapi terhadap keadaan Simoay sekarang mau tak mau aku...."

"Meski aku tidak dapat menikah denganmu, asalkan selanjutnya kita dapat bertemu setiap saat kan sama saja," mendadak So-so menukasnya seperti bergumam.

Serentak berubah air muka Giok-he dan Ciok Tim. Tanpa terasa Ciok Tim menyurut mundur selangkah.

"Apa katamu, Simoay?" tanya Liong Hui dengan bingung.

"Oo, tidak... aku omong tanpa sengaja...," jawab So-so dengan tergagap.

"Dia tidak omong apa-apa," sambung Giok-he dengan tertawa sambil melangkah maju.

Segera So-so menyurut mundur.

Tentu saja Liong Hui sangat heran, "Sebenarnya ada apa?"

Mendadak Giok-he berkata dengan tertawa, "Ai, kita memang terlalu. Pekerjaan penting tidak kita urus, sebaliknya mengobrol iseng di sini. Tentang asal-usul Simoay, kalau Suhu tidak tanya dan tidak khawatir, kenapa kita mesti merisaukannya? Kan banyak murid Sin-liong-bun yang belajar dengan membekal kepandaian. Kungfu apa yang pernah dilatih Simoay sebelum masuk perguruan, kan tidak menjadi soal?"

"Aku kan tidak bilang ada soal, cuma...," Liong Hui tambah bingung.

"Ai, untuk apa kau bicara lagi," omel Giok-he. "Jika asal-usul Simoay kurang beres, berdasarkan kehormatan pribadi Suma-congpiauthau pun jauh lebih dari cukup untuk dipercayai."

"Namun...."

"Namun apalagi? Ayolah kita mencari Suhu!" seru Giok-he sambil menarik tangan So-so dan diajak menuju ke balik batu karang sana.

Diam-diam Ciok Tim kebat-kebit, tidak kepalang kusut pikirannya. Sekarang diketahuinya bahwa apa yang dibicarakannya dengan Kwe Giok-he tadi telah didengar oleh So-so. Karuan pikirannya tertekan dan memandangi bayangan punggung si nona yang baru menghilang di balik batu karang sana.

Hanya Liong Hui saja yang berwatak jujur dan serba terbuka, sama sekali ia tidak melihat perbuatan jahat di dalam urusan ini. Ia cuma melenggong saja dan coba bertanya, "Samte, sesungguhnya ada apa?"

"Aku pun tidak tahu," Ciok Tim menunduk. Sungguh ia merasa malu bertatap muka dengan sang Suheng yang jujur dan suka terus terang ini.

Setelah tercengang sejenak, mendadak Liong Hui bergelak tertawa, "Hahaha! Urusan anak perempuan sungguh sangat membingungkan. Sudahlah, aku pun tidak mau pusing mengurusnya." Ia lalu berpaling kepada Ciok Tim dan berkata pula, "Samte, ingin kukatakan padamu, betapa pun memang lebih tenteram dan bebas hidup bujangan. Sekali engkau tersangkut urusan orang perempuan, bisa pusing kepalamu."

Kagum, hormat dan juga malu Ciok Tim terhadap Suheng yang polos ini. Ia tahu, biar pun ada rasa curiga dalam benak lelaki yang lugu ini, sekarang pun sudah lenyap terbawa oleh gelak tertawanya itu. Meski hati merasa lega, namun diam-diam Ciok Tim tampak malu diri.

Saat itu Giok-he dan So-so telah membelok ke balik batu besar sana. Mendadak Giok-he berhenti.

"Ai, ada apa, Toaso?" tanya So-so.

"Hm, memangnya kau kira aku tidak tahu permainanmu?" jengek Giok-he.

"Apa yang Toaso maksudkan? Sungguh aku tidak tahu," jawab So-so dengan agak keder juga terhadap sang Toaso yang berwibawa ini.

Bola mata Giok-he berputar. Ucapnya, "Sesudah turun nanti, bila mereka sudah tidur aku akan bicara denganmu."

"Boleh," sahut So-so.

Tiba-tiba terlihat Liong Hui dan Ciok Tim menyusul tiba.

Sesudah dekat, Liong Hui bersuara heran, "He, apa yang kalian lakukan di sini?"

"Memangnya kau kira kami datang ke sini untuk mencari angin?" ujar Giok-he dengan tersenyum.

Belum habis ucapannya tiba-tiba Liong Hui berseru pula, "Hah, kiranya di sini juga ada tulisan."

Kiranya di situ tertulis: ‘Liong Po-si, jika cuma tujuh gerak perubahan ini yang dapat kau lihat, lebih baik lekas kau pulang saja’.

Setelah membaca tulisan itu, Liong Hui jadi melenggong. Kiranya perubahan jurus ini tidak cuma tujuh macam saja. Dalam pada itu Ciok Tim juga sudah mendekat.

"Gan-loh-peng-sah, Lip-coan-im-yan...? Hah, ketujuh gerak perubahan yang disebut Simoay tadi ternyata cocok dengan tulisan di sini," kata Ciok Tim sambil menatap tulisan di dinding itu.

"Sungguh sukar dipercaya, hanya sejurus yang sederhana ini bisa membawa gerak perubahan lebih dari tujuh macam," gerutu Liong Hui.

Tiba-tiba terlihat di samping tulisan ini masih ada beberapa huruf lagi, cuma ukiran ini lebih cetek dan juga kurang teratur. Bila tidak diperhatikan sukar menemukannya.

"He, bukankah ini tulisan tangan Suhu?" seru Giok-he.

"Betul," tukas So-so.

Serentak keempat orang berkerumun lebih dekat. Tertampak di situ tertulis, ‘Dengan pedang sebagai senjata utama, dibantu dengan kaki, ilmu pedang sakti, tendangan negeri asing, untuk mematahkan jurus serangan ini cara yang tepat adalah lain dari-pada cara biasa’.

Kecuali tulisan tersebut, ada lagi tulisan lain yang lebih kasar lagi dan berbunyi, ‘Kebagusan jurus seranganmu ini terletak pada lengan kirimu yang merapat pada tubuhmu serta sepatu aneh yang kau pakai ini, memangnya kau kira aku tidak tahu? Hahaha...!

"Haha! Coba lihat, kehebatan jurus serangan ini justru terletak pada sepatunya yang aneh, tadi kau bilang dandanannya tidak ada sangkut pautnya dengan ilmu pedang," Liong Hui juga tertawa senang.

Kening Ciok Tim bekernyit. Ia bergumam, "Untuk mematahkan jurus ini harus memakai cara lain dari-pada cara biasa...? Apa artinya kata-kata ini?"

Giok-he melirik Liong Hui sekejap, lalu memandang Ciok Tim pula. Katanya, "Letak kehebatan ilmu padang ini rasanya sukar dipecahkan biar pun kita peras otak tiga hari tiga malam lagi."

"Tapi aku...?" kata Liong Hui.

"Biar pun secara kebetulan dapat kau terka sebagian, tapi dapatkah kau ketahui di mana letak keajaiban sepatunya ini?" potong Giok-he.

Liong Hui jadi melenggong.

"Masih ada sesuatu yang mencurigakan, tapi tidak kalian lihat," kata Giok-he.

"Hal apa?" tanya Liong Hui.

"Dapatkah kalian menerka cara bagaimana huruf ini ditulis di sini?"

"Sepertinya dengan tenaga jari," ujar Ciok Tim setelah mengamati lagi.

"Ini kan tidak perlu diherankan, tenaga jari Suhu memang maha-kuat," kata Liong Hui.

"Hm, bagaimana dengan kau?" jengek Giok-he.

"Aku mana sanggup," sahut Liong Hui.

"Setelah Suhu menyusutkan tenaganya tujuh bagian, kekuatannya bukankah sebanding denganmu?"

"Ah, betul," seru Liong Hui sambil menepuk dahi sendiri. "Jika begitu, pada waktu menulis ini kekuatan Suhu tentu sudah pulih. Sungguh aneh dan sukar dimengerti! Dalam keadaan begini dan di tempat seperti ini, siapakah yang membuka Hiat-to Suhu yang tertotok itu?"

Giok-he menghela napas, lalu bertutur, "Urusan bertanding kungfu sebenarnya adalah kejadian biasa. Sebelum mendaki Hoa-san kukira urusan ini pasti tidak ada sesuatu keajaiban, meski ada bahayanya juga. Tapi setelah naik ke atas gunung, setiap kejadian yang kita lihat ternyata melampaui kewajaran umum. Dari zaman dulu hingga sekarang rasanya tidak ada urusan pertandingan yang lebih aneh dari-pada apa yang kita alami ini."

Ia berhenti sejenak dan memandang sekelilingnya. Tidak lama kemudian Giok-he lalu menyambung, "Perempuan she Yap itu menggunakan berbagai jalan agar Suhu mau menyusutkan tenaga dalam sendiri dan Suhu ternyata menyanggupi begitu saja. Inilah kejadian aneh yang belum pernah terdengar di dunia persilatan. Lalu si Tojin berjubah hijau yang berusaha merebut sebuah peti mati kosong juga tidak kurang anehnya. Semua ini sudah membuat hatiku tidak enak, siapa tahu kemudian timbul lagi hal-hal aneh yang lebih banyak lagi. Jika kupikirkan sekarang, di balik pertandingan di Hoa-san ini pasti terkandung macam-macam lika-liku dan rahasia. Bisa jadi ada sementara orang telah mengatur rencana sekian lama dan memasang sesuatu perangkap untuk menjebak Suhu, tapi Tan-hong Yap Jiu-pek yang ditonjolkan sebagai pelakunya. Coba kalian pikirkan...!"

Belum habis ucapannya, sekonyong-konyong Liong Hui berlari ke depan sana.

"He, ada apa?" seru Giok-he.

Liong Hui menjawab sambil menoleh, "Kita sudah berada di sini, biar pun bicara tiga hari lagi juga tidak ada gunanya. Yang penting lekas kita mencari dan membantu Suhu. Pantaslah Suhu suka bilang engkau memang pintar, cuma terlalu banyak bicara dan sedikit berbuat."

Air muka Giok-he berubah kecut.

"Tunggu, Toako!" seru So-so dan segera ikut berlari ke sana.

Ciok Tim ragu sejenak dan memandang Giok-he sekejap, lalu menyusul juga ke sana. Giok-he mencibir memandangi bayangan punggung mereka, cepat ia pun menyusulnya. Siapa tahu, mendadak Liong Hui berhenti lagi. Kiranya beberapa tombak jauhnya di depan situ terdapat lagi sepotong batu karang dan juga terukir gambar seorang Tokoh, hanya gayanya agak berbeda.

Jika gambar yang pertama tadi bergaya bertahan, gambar yang ini bergaya menyerang. Juga gambar yang pertama berdiri kukuh, gambar yang ini mengapung di udara dengan pedang menebas, lalu di samping gambar ada tulisan: ‘Liong Po-si, jika jurus bertahan tadi dapat kau patahkan, dapatkah kau hindarkan jurus serangan ini?

Liong Hui hanya membaca sekedarnya dan segera memutar lagi ke sana. Benar juga, di belakang batu ada tulisan lagi.

"Huh, lagu lama!" jengek Ciok Tim yang menyusul tiba.

"Untuk apa membacanya?" Liong Hui pun mengejek dan segera mendahului melangkah lagi ke depan.

Sementara itu Giok-he telah menyusul sampai di sebelah sang suami. Liong Hui memandangnya sekejap sambil menghela napas.

"Tadi aku telanjur omong, jangan kau marah padaku," kata Liong Hui kepada istrinya.

Giok-he seperti mau bicara, tapi segera terlihat ada gambar lagi di batu karang di depan sana, cuma gambarnya sudah dirusak orang. Batu kerikil bertebaran di sekitar situ. Liong Hui saling pandang sekejap dengan Giok-he. Waktu ia memutar lagi ke balik batu, tulisan di belakang juga telah dirusak dan tak terbaca lagi.

Kening Liong Hui bekernyit. "Suhu...?"

"Ya, selain Suhu siapa pun tidak memiliki lweekang sehebat ini," kata Giok-he.

"Mengapa beliau berbuat demikian? Mungkinkah beliau tidak... tidak mampu mematahkan jurus serangan ini?" ucap Liong Hui setengah bergumam.

Giok-he hanya menggeleng tanpa bicara.

Mereka coba menuju ke depan lagi. Tanah batu mulai curam. Beberapa tombak lagi jauhnya, kembali sepotong batu karang menghadang di depan. Di atas batu ada tulisan besar: ‘Kakek usia enam puluh satu tahun Liong Po-si berdendang sampai di sini!’ Tulisan ini jelas terukir dengan tenaga jari. Di bawahnya terdapat lagi empat huruf yang mengejutkan, bunyinya: ‘Tidak pulang untuk selamanya!

Goresan keempat huruf ini tidak sama dengan tulisan di atas. Goresannya lebih halus, tenaganya lebih tajam, jelas diukir dengan senjata sebangsa pedang atau golok. Dengan beringas mendadak Liong Hui menghantam.

"Blanggg!" batu kerikil pada muncrat.

Liong Hui juga tergetar mundur dan jatuh terduduk. Meski dia terkenal Sebagai ‘Si Kepalan Besi’, apa pun juga tubuhnya terdiri dari darah dan daging.

"Ai, kenapa kau marah terhadap sepotong batu? Simpan saja tenagamu untuk menghadapi musuh nanti," kata Giok-he sambil menarik bangun sang suami.

"Hm, kau...?" karena mendongkol Liong Hui jadi tidak sanggup bicara.

Segera Giok-he mendahului menuju ke depan sana. "Toako sangat baik terhadap siapa pun, terutama terhadap Toaso," kata So-so sambil melirik Ciok Tim sekejap.

Muka Ciok Tim menjadi merah dan menunduk. Pada saat itulah mendadak terdengar suara seruan Giok-he di balik batu sana. Cepat mereka memburu maju.

Di balik batu karang ini adalah tepi jurang. Justru di tepi tebing yang curam ini dibangun sebuah gubuk bambu secara gaib. Warna bambu sudah berubah kuning kering. Waktu angin meniup, bambu lantas menerbitkan suara keriat-keriut dan bergoyang seperti mau runtuh. Di depan pintu gubuk tidak ada sesuatu tanda apa pun, di kanan kiri juga tidak ada sesuatu hiasan. Gubuk ini berdiri menyendiri di puncak tebing yang terjal.

Liong Hui berhenti di samping Giok-he dengan melenggong. Mendadak ia berteriak, "Suhu!" Secepat kilat ia menerjang maju dan mendorong pintu gubuk.

"Toako...!" seru Ciok Tim khawatir dan segera bermaksud menyusulnya.

Tapi Giok-he lantas menarik baju Ciok Tim dan berkata, "Tunggu dulu!"

"Tunggu apa?" jengek So-so. "Jika Toako menghadapi bahaya apakah kita juga mesti menunggu?" Dia bicara dengan tajam. Nona yang lembut ini mendadak bisa bicara ketus begini, hal ini membikin Giok-he jadi terkesiap.

Tanpa menghiraukan orang lagi segera So-so memburu maju. Dilihatnya Liong Hui berdiri di ambang pintu dengan termangu. Di dalam rumah gubuk tiada terlihat seorang pun, yang aneh adalah di tengah rumah gubuk yang luang ini terlihat ada lima biji mutiara. Gubuk ini ada empat pintu, tiga comot noda darah, dua bekas kaki dan sebuah kasur bundar yang biasa digunakan orang berduduk semedi.

Kelima biji mutiara terbingkai di atap rumah yang dianyam dengan bambu hijau. Keempat buah pintu tidak sama besarnya, pintu tempat Liong Hui masuk itu paling kecil dan sukar dimasuki dua orang secara berjajar. Di kanan kiri gubuk juga ada pintu yang lebih besar, sedangkan pintu yang terbesar berada di seberang Liong Hui berdiri, dan kasur bundar yang sudah butut itu terletak di depan pintu.

Yang paling tidak sepadan dengan kelima butir mutiara mestika itu adalah kasur butut ini. Kasur bundar ini sudah pipih saking lamanya dipakai. Di samping kasur tua inilah terdapat tiga comot darah segar, secomot darah segar itu terletak di samping bekas telapak kaki sana. Bekas darah lain terletak di sebelah kiri bekas kaki dan ada lagi bekas darah di belakang kasur butut. Dari situ ada lagi tetesan darah yang menuju ke pintu paling besar itu. Sedangkan daun pintu semuanya tertutup rapat sehingga orang yang semula berada di dalam gubuk ini seolah-olah menerobos ke luar begitu saja melalui celah bambu.

Ketika angin meniup masuk melalui celah bambu, tanpa terasa Liong Hui menggigil. Di bawah cahaya mutiara yang kontras, suasana demikian terasa cukup seram. Semuanya serba misterius, terutama tiga comot darah itu yang semakin menambah seramnya keadaan rumah gubuk ini.

Setelah melenggong sejenak, mendadak Liong Hui melompat ke pintu sebelah kiri. Pintu ditariknya terbuka, tertampaklah sebuah jalan berliku menuju ke bawah tebing. So-so juga coba membuka pintu sebelah kanan, di luarnya juga terdapat sebuah jalan berliku menuju ke bawah. Lebar jalan berliku ini sama sempitnya, hanya berbeda derajat kelandaiannya.

Tiba-tiba terpikir oleh Liong Hui, "Kedua jalan ini mungkin adalah jalan yang dimaksudkan pada tulisan di dinding tebing tadi. Tempat tujuan cuma satu, tapi jalan untuk mencapainya ada tiga. Tentulah penghuni rumah gubuk ini sengaja menggunakan cara ini untuk menjajaki kungfu Suhu. Begitu beliau masuk rumah gubuk ini, tanpa bergebrak pun penghuni di sini sudah dapat mengukur sampai di mana kelihaian kungfu Suhu."

Hendaklah maklum, watak Liong Hui cuma jujur dan lugu, tetapi bukan bodoh. Meski ceroboh, tapi tidak kasar. Dalam hal-hal tertentu bukannya dia tidak mengerti, melainkan cuma tidak mau menggunakan pikiran saja.

Kini setelah dipikirnya berulang, mau tak mau ia menjadi prihatin. Pikirnya pula, "Jika penghuni gubuk ini ialah Yap Jiu-pek, mengingat hubungannya dengan Suhu serta kedudukannya di dunia persilatan, tentu dia takkan menjebak Suhu dengan cara licik dan keji. Lantas apa maksud tujuannya berbuat demikian? Bila penghuni gubuk ini bukan Yap Jiu-pek, lalu siapa lagi? Melihat kasur butut ini, dia pasti sudah lama tinggal di sini. Bangunan gubuk bambu ini juga sangat kasar, bahkan terhadap hujan angin pun tidak akan tahan...."

Begitulah dia terus berpikir kian kemari dan tetap tidak menemukan kesimpulan. Dilihatnya So-so telah mendekati pintu yang paling besar itu dan segera hendak membuka pintu.

Sambil memandang bayangan punggung So-so, Giok-he menjengek dengan suara tertahan, "Hm, apa yang diketahui genduk ini sudah terlalu banyak."

"Jika Toaso tahu...." suara Ciok Tim menjadi gemetar dan tidak sanggup meneruskan.

"Orang yang tahu terlalu banyak terkadang suka mengalami bencana tiba-tiba," gumam Giok-he.

Sekilas lirik Ciok Tim melihat sorot mata Giok-he penuh nafsu membunuh. Tanpa terasa ia berseru, "Toaso...!"

Giok-he menoleh, ucapnya, "Aku masih tetap Toaso-mu?"

"Aku... aku takut...." Ciok Tim menunduk dan bergemetar.

Mendadak Giok-he tertawa cerah. Ucapnya dengan lembut, "Takut apa? Tidak perlu takut, biar pun banyak yang diketahuinya pasti tak berani disiarkannya sepatah kata pun."

"Tapi...," Ciok Tim tampak ragu.

"Jangan khawatir! Ia sendiri pun ada rahasia yang tidak ingin diketahui orang lain. Asalkan kugunakan sedikit akal lagi... Hm!" jengek Giok-he dengan menyeringai.

Ciok Tim termangu memandangi wajahnya yang cantik itu, entah bingung dan entah takut. Sekonyong-konyong terdengar jeritan So-so di dalam rumah gubuk itu.

"Lekas!" seru Giok-he sambil mendahului menerobos ke dalam gubuk.

Dilihatnya So-so berdiri di samping Liong Hui menghadapi sebuah pintu yang besar dan sama menunduk ke bawah. Di ambang pintu situ ada sebuah telapak tangan kurus kering berwarna hitam. Dari celah kaki Liong Hui dan So-so dapatlah Giok-he dan Ciok Tim melihat tangan yang kurus kering itu mencengkeram erat ambang pintu yang terbuat dari bambu. Kuku jari sama amblas ke dalam bambu, kuku yang putih kelabu terembes darah.

Cepat Giok-he memburu maju dan menyelinap ke tengah Liong Hui dan So-so. Ia pun berseru, "He, sia... siapakah dia?"

Di luar sana adalah tebing yang terjal dengan gumpalan awan membelit di pinggang tebing. Sesosok tubuh yang kurus kering tampak bergelantungan di luar pintu. Bila-mana tangannya tidak meraih ambang pintu, mungkin sudah terjerumus ke jurang yang tak terkirakan dalamnya.

Orang ini mendongak ke atas. Matanya melotot, kulit daging pada wajahnya berkerut dan beringas, penuh rasa dendam dan juga memohon. Rasa dendam dan memohon sebelum ajalnya ini lantas terukir pada wajahnya lantaran membekunya darah dan otot daging, serupa juga telapak tangannya yang masih tetap mencengkeram ambang pintu sebelum dia mati.

Liong Hui berempat memandangi wajah yang beringas ini dengan tercengang. Sampai sekian lama barulah Liong Hui bersuara, "Dia sudah mati!"

Lalu ia berjongkok untuk menarik mayat ini ke atas setelah lebih dulu jari orang yang mencengkeram ambang pintu itu dilepaskan. Mayat itu lantas diletakkan di lantai, tertampaklah tubuhnya yang kurus kering itu memakai baju hitam ringkas. Meski berwajah beringas, namun jelas usianya belum lanjut, paling-paling baru tiga puluhan tahun saja.

Perlahan Liong Hui meraba kelopak mata orang yang tak terpejam sampai mati itu. Ucapnya dengan menyesal, "Entah siapa orang ini. Mestinya dari dia dapat diketahui...."

"Coba geledah bajunya, mungkin ada barang tinggalannya," tukas Giok-he.

"Jangan!" seru Liong Hui sambil berdiri. "Kita tidak mengenal dia, juga tidak ada permusuhan apa pun. Sekali pun dia musuh kita juga tidak boleh mengganggu jenazahnya setelah dia mati. Selama hidup Suhu bertindak luhur dan tetap mempertahankan kehormatannya, mana boleh kita mengingkari beliau dan bertindak kurang bijaksana begini?" Sekali ini dia bicara dengan tegas dan mantap tak terbantahkan.

Terpaksa Giok-he mengalah, "Baiklah, aku menurut padamu!"

Ciok Tim berdehem, lalu berkata, "Menurut tanda-tanda yang terlihat sepanjang jalan, jelas Suhu sudah datang ke sini. Cukup dilihat dari tapak kaki ini saja kan jelas bekas kaki beliau...? Jika tenaga Suhu sudah pulih, maka bekas kaki yang kita lihat di bawah sana pasti juga tinggalan beliau. Namun, lantas ke mana perginya Suhu sekarang?"

Dia seperti bergumam dan juga lagi bertanya akan pendapat orang, tapi tidak seorang pun yang menjawabnya. Seketika ia jadi termangu sendiri. Di tengah kesunyian kemudian Ciok Tim bergumam pula, "Di sini ada tiga comot genangan darah, dapat dibayangkan yang terluka di sini tidak cuma satu orang saja. Sebaliknya pada mayat ini tidak terlihat luka, lantas siapakah yang terluka dan siapa pula yang melukainya?"

"Toako," So-so ikut bicara. "Untuk mencari jejak Suhu, kalau kita tidak memeriksa orang ini...."

"Tidak! Justru demi kebesaran Suhu, kita tidak boleh berbuat sesuatu yang memalukan beliau," ucap Liong Hui dengan tegas. "Simoay, kutahu biar pun banyak urusan yang dapat diperbuat seorang tanpa diketahui orang lain, tapi hati nurani sendiri tetap tercela, bahkan menanggung sesal selama hidup. Misalnya menemukan harta karun atas kehilangan orang lain, menemui perempuan cantik di ruang tersendiri, melihat musuh terancam bahaya, semua ini adalah batu ujian bagi hati nurani setiap orang. Sebabnya orang jahat zaman ini sedemikian banyak adalah karena pada waktu orang melakukan kejahatan selalu berusaha di luar tahu orang lain dan tidak mau tahu apakah tidak malu terhadap hati nurani sendiri. Simoay, kita adalah anak murid pendekar luhur budi, mana boleh berbuat sesuatu yang melanggar hati nurani?!"

Dia bicara dengan perlahan, mantap dan tegas. Meski bicara terhadap So-so, tapi juga seperti sedang memperingatkan yang lain.

Tangan Ciok Tim terasa gemetar, darah bergolak dalam rongga dadanya. Mendadak ia berseru, "Toako, aku... aku ingin bicara padamu... Sungguh aku...."

Ia tidak sanggup bicara lebih lanjut, air mata berlinang dan menyurut mundur dengan menunduk. Sesal dan malu hatinya membuatnya tidak berani mengangkat kepala sehingga tidak diketahuinya wajah Ong So-so yang jauh lebih menderita dari-padanya itu. Hati So-so seperti terlebih menanggung malu dari-pada Ciok Tim, bahkan air matanya lantas menitik.

Karuan Liong Hui tercengang, "Hei, kenapa menangis, Simoay?"

So-so mendekap mukanya dan meratap, "Toako, aku... aku bersalah padamu, berdosa terhadap Suhu...." Mendadak ia menuding mayat yang kurus kering itu dan berkata, "Sebenarnya kukenal orang ini. Aku pun kenal banyak orang lain lagi, juga banyak urusan kuketahui." Karena rangsangan emosi sehingga ucapannya menjadi agak kacau.

"Bicaralah perlahan, Simoay. Ada urusan apa boleh kau katakan saja kepada Toako," ucap Liong Hui.

Ciok Tim terbelalak melihat perubahan sikap So-so itu. Sinar mata Giok-he juga gemerdep, tampak agak gugup.

Perlahan So-so lantas menyambung, "Toako, kau tahu sesungguhnya segenap anggota keluargaku adalah musuh bebuyutan Suhu. Semuanya dendam dan ingin membunuh Suhu. Sebabnya kumasuk ke perguruan Sin-liong juga karena bermaksud menuntut balas terhadap Put-si-sin-liong atas kematian anggota keluargaku."

Ia berganti napas, lalu melanjutkan, "Aku tidak she Ong, juga tidak bernama So-so. Yang benar aku bernama Koh Ih-hong, keturunan Coat-ceng-kiam Koh Siau-thian yang tewas di bawah pedang Put-si-sin-liong."

Belum habis ucapannya tubuhnya lantas terhuyung-huyung, dan begitu berhenti bicara segera ia jatuh terduduk di atas kasur buntut dan dekil itu. Dalam sekejap itu dia telah kehilangan beribu kati tekanan batin yang ditahannya selama ini. Perubahan besar ini sukar ditahan oleh lahir-batinnya sehingga ia jatuh terkulai di tanah sampai sekian lama, lalu ia menangis lagi.

Namun tekanan batin itu dengan keras kini telah memukul hati Ciok Tim dan Kwe Giok-he. Sungguh tak terpikir oleh Ciok Tim bahwa Si-sumoay yang biasanya lemah lembut itu sesungguhnya adalah agen rahasia musuh yang mengemban tugas sedemikian besar. Lebih-lebih tak terpikir olehnya bahwa Si-sumoay-nya yang paling disayang dan berhubungan paling rapat dengan sang guru sebenarnya adalah putri musuh yang menanggung dendam kesumat terhadap gurunya itu. Seketika Ciok Tim terbelalak dan menyurut mundur ke sudut sana sambil memandang So-so dengan melongo.

Meski sebelumnya Giok-he juga sudah dapat menduga asal-usul So-so pasti ada sesuatu rahasia yang belum terungkap, tapi tak terduga olehnya gadis yang kelihatan lemah ini mempunyai keberanian untuk membeberkan rahasia pribadinya. Mestinya Giok-he bermaksud menggunakan rahasia orang untuk memerasnya. Tapi sekarang terasa timbul rasa ngeri dalam hatinya, sebab modal yang diandalkannya sekarang telah berubah tidak berguna sama sekali. Jika So-so berani membeberkan rahasia pribadi sendiri, mustahil dia tidak berani membongkar rahasia hubungannya dengan Ciok Tim! Rasa ngeri yang timbul dari lubuk hatinya ini membuat Kwe Giok-he yang biasanya cerdas dan cekatan itu menjadi bingung dan berubah menjadi lemah, mukanya menjadi pucat dan sampai sekian lama tidak sanggup bicara.

Hanya Liong Hui sajayang tetap tenang. Sekarang ia justru berbalik jauh lebih tenang dari-pada biasanya. Perlahan ia mendekati Ong So-so alias Koh Ih-hong. Ia menghela napas dan membelai rambutnya perlahan, tidak sedih juga tidak marah. Ia memanggil lirih, "Simoay...."

Namun panggilan yang lirih ini membuat hati Koh Ih-hong bertambah pedih dan haru. Dengan menangis ia bertutur pula, "Empat puluh tahun yang lalu, kakek pulang dengan terluka parah dan akhirnya meninggal dunia. Kasihan ayahku yang tidak tahan oleh pukulan berat ini. Beliau sangat berduka dan akhirnya kurang waras pikirannya. Sepanjang hari dia cuma berduduk mengelamun di bawah pohon di depan rumah, apa pun tidak dikerjakan dan juga tidak bicara. Berulang-ulang ayah cuma bergumam apa yang diucapkan kakek sebelum menghembuskan napas penghabisan, yaitu kata, ´Apabila jurus seranganku Thian-ce-keng-hun (Mengejutkan Arwah di Ujung Langit) lebih keras sedikit....´ Kata-kata inilah berulang-ulang disebutnya. Sejak aku mulai tahu urusan, aku selalu mendengar gumaman ayah itu sampai meninggalnya ayah. Hatiku sangat sedih setiap kali mendengar ayah mengulangi kata-kata itu." Suaranya semakin lemah dan agak gemetar.

Liong Hui mengikuti ceritanya itu dengan cermat. Mendadak Giok-he seperti mau bicara, tapi segera dicegah oleh Liong Hui.

Terdengar Koh Ih-hong menyambung lagi, "Dendam kesumat selama empat puluh tahun ini membuat hati setiap anggota keluarga kami tak pernah lupa untuk menuntut balas. Setiap saat mereka berusaha memperdalam kepandaian, sebab mereka pun tahu kungfu Put-si-sin-liong kini sudah tidak ada tandingannya di dunia ini."

Ia memandang kegelapan malam di luar dan berucap pula, "Sang waktu terus berlalu dengan cepat, dan kami tetap tidak tahu cara bagaimana harus menuntut balas. Sebab itulah dendam kesumat ini pun kian hari kian tambah mendalam. Ayah-bundaku loksun (sakit TBE) karena menanggung dendam tak terbalas ini dan tersia-sia hidupnya. Selama hidup mereka merana dan tidak pernah gembira." Air matanya bercucuran dan tak diusapnya.

Darah Liong Hui bergolak. Sungguh sukar dibayangkan seorang yang hidup tanpa senyum gembira, tanpa kebahagiaan keluarga, yang ada cuma dendam dan menuntut balas. Betapa pedih dan menakutkan kehidupan demikian!

Dengan tersendat Koh Ih-hong menyambung lagi ceritanya, "Usiaku masih kecil waktu ayah-bundaku meninggal. Famili yang dapat kuandalkan cuma kakak saja, tapi setengah tahun kemudian kakak juga pergi secara mendadak. Maka setiap hari aku pun duduk melamun di bawah pohon yang biasa diduduki ayah itu untuk menunggu pulangnya kakak dan merenungi sakit hati ayah. Hidupnya tidak pernah mendapatkan cinta kasih, tapi telah belajar cara bagaimana mendendam dan menuntut balas...."

Hati Liong Hui tergetar, dapat dibayangkan betapa merana anak yang dibesarkan di tengah keluarga yang penuh dendam itu. Kehidupan anak itu sendiri sudah cukup dibuat berduka.

Namun So-so alias Ih Hong menyambung lagi, "Setahun kemudian kakak pun pulang. Dia membawa pulang sekian banyak sahabatnya. Meski rata-rata usia mereka masih muda, tapi bentuk rupa dan dandanan mereka sangat berbeda satu sama lain, logat bicara mereka juga jelas bukan datang dari suatu tempat yang sama. Namun mereka sama mahir ilmu silat. Meski tinggi rendah kungfu mereka juga tidak sama, namun selisihnya tidak jauh. Kakak pun tidak memperkenalkan mereka kepadaku dan langsung membawa mereka ke sebuah ruangan rahasia. Selama tiga hari mereka tidak keluar. Selama tiga hari itu entah apa yang mereka bicarakan dan entah berapa banyak arak yang telah mereka minum...."

Tangisnya mulai reda, suaranya juga mulai jelas, cuma sorot matanya tetap buram serupa orang yang tenggelam dalam lamunan masa lalu. Masa lalu yang memilukan....